Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ikhwan Akhwat
- rahimakumullah.
- Alhamdulillah wasyukurillah kita
- dikaruniai kesempatan untuk bersama-sama
- di acara bincang komunikasi yang
- mudah-mudahan membuat kita semakin mahir
- ya, bukan hanya berbicara tapi juga
- mempersuasi siapapun dengan
- apa yang kita ingin dapatkan. Dapat di
- sini tentu dalam tanda petik ya, karena
- komunikasi adalah dua arah yang
- tentunya
- akan menjadi bagian yang selalu dan
- selalu kita tingkatkan. Tidak lupa salam
- selawat kita lantunkan untuk junjungan
- umat kekasih kita Muhammad Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam, semoga kelak
- kita dipertemukan beliau di saat-saat
- yang sangat kita rindukan di yaumil
- akhir.
- Seperti biasa narasumber kita adalah
- Dokter Lely Monaganem yang sudah hadir
- di sini, kita sapa beliau.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Halo Mak
- Nuning, apa kabar? Semoga sehat-sehat.
- Suaranya tuh selalu wah keren banget Mak
- Nuning ini ya.
- Eee selamat Ramadan buat semua Ikhwan
- dan Akhwat, Mak Nuning dan seluruh
- sahabat di Rasel
- eee di berbagai kota di Indonesia.
- Eee hari ini nih kita akan ngebahas
- tentang Ramadan ya, komunikasi Ramadan.
- Ramadan tanpa drama, eee gitu Mak
- Nuning. Drama yang seperti apakah yang
- kita tidak ingin dengar? Betul.
- [tertawa]
- Silakan Bu Mona. [berdehem]
- Terima kasih Bu Nuning. Sekali lagi
- Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah,
- wabarakatuh.
- Eee alhamdulillahirobbil alamin,
- washolatu wassalamu ala asrofil ambiya'i
- wal mursalin wa'ala alihi washohbihi
- ajma'in amma ba'd.
- Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah,
- mmm [berdehem]
- saya mau dongeng sedikit tentang dialog
- eee dengan Allah. Jadi ada
- anak muda yang
- eee
- dia itu
- menjalani hidup bagai air gitu ya.
- Eee tetapi dia cukup baik, dia melakukan
- sholat, puasa,
- berdoa, eee zakat dan lain sebagainya
- sesuai dengan kewajiban.
- Eee waktu Ramadhan tiba,
- dia juga melakukan puasa Ramadhan tapi
- enggak enggak sungguh-sungguh gitu,
- enggak klik banget gitu rasanya. Nah,
- suatu malam eee ketika tarawih dia
- mendengarkan eee ada eee imam yang
- membaca ayat
- "Dan apabila hambaku bertanya padaku,
- padamu tentang aku,
- maka jawablah sesungguhnya aku dekat.
- Aku mengabulkan
- permohonan
- orang yang berdoa
- apabila dia berdoa kepadaku." Itu ada di
- dalam surat Al Baqarah
- ayat 186.
- Jadi dengan ayat itu dia mikir, "Mmm,
- begitu ya? Selama ini aku kok
- biasa aja. Apa benar nih Allah dekat
- nih? Eee kenapa kok aku enggak ngerasain
- eee
- apa ya?
- Kekuatan itu gitu. Aku enggak ngerasain
- seklik itu gitu. Nah,
- jadi akhirnya si pemuda ini
- namanya Ali, dia akhirnya tidur.
- Malamnya dia salat tarawih, eh salat
- tahajud. Kemudian dia
- di
- salah satu sujud ya, terutama di sujud
- terakhir dia benar-benar nangis gitu.
- Apa sih selama ini
- kok aku enggak bertelalu
- apa namanya ngerasain energi dekat
- dengan Allah gitu.
- Selama ini aku ngerasa jauh.
- Eh,
- aku enggak benar-benar ngomong. Biasanya
- cuman ada aturan bacaan yang dihafal,
- itu aja yang diulang-ulang gitu.
- Enggak tahu dari mana mulainya, tapi dia
- mulai ngerasa
- kayaknya benar deh Allah itu bisa
- ngedengerin orang ngomong
- real gitu, perasaan real gitu. Maka dia
- mengeluarkan unek-unek
- terdalam yang dia miliki dari hatinya.
- Rasanya hari itu ringan gitu ya.
- Dari mulai malam itu dia mulai sering
- ngomong sama Allah. Jadi kalau ada
- apa-apa dia berbicara dengan Allah. Dia
- mulai ngerasain doanya itu real banget
- gitu. Yang dia rasakan dia sampaikan,
- yang dia rasakan dia sampaikan.
- Harapannya, pujian-pujian dan lain
- sebagainya. Ketika ada masalah besar dia
- sampaikan dengan tulus lalu dia merasa
- kayaknya ada solusi deh. Harusnya kayak
- gini, harusnya kayak gini. Dia rasain
- itu gitu.
- Dan
- dia merasakan makin dekat dengan Allah.
- Nah,
- lalu
- si teman ini mencari tahu lagi gitu ya,
- apa sih ciri-ciri orang yang dekat
- dengan Allah? Allah tuh sayang sama kita
- gitu ya.
- Dijauhkan dari perbuatan dosa katanya.
- Jadi ketika dia mau berbuat dosa,
- dia merasa
- eh kayaknya susah gitu. Kayak nya ada
- udah deh gini dulu, udah deh gitu dulu
- gitu. Jadinya akhirnya yang tadinya mau
- berbuat dosa itu akhirnya menjadi
- dibatasi.
- Atau
- dimudahkan berbuat kebaikan. Mau
- bantu orang tiba-tiba ada ada
- informasi-informasi.
- Ada eh keinginan untuk melakukan sedekah
- juga cepat enggak mikir panjang gitu ya.
- Terus juga dikasih kesabaran ketika
- ketika ada ujian. Dia merasakan
- indikator-indikator itu mulai terasa
- pada dirinya.
- Eh
- di Alquran surat Al-Insyirah
- setelah kesulitan ada kemudahan atau
- bersama kesulitan ada kemudahan.
- Itu yang membuat dia semakin dekat
- dengan Allah. Jadi komunikasi dengan
- Allah eh menjadi makin intens
- dengan adanya
- Ramadan ini.
- Ada juga seorang anak yang dapat eh chat
- dari ibunya gitu ya. Nak, aku kangen
- banget
- eh dianterin ke masjid salat tarawih
- bareng sama kamu di masjid gitu.
- Pesan itu langsung mak jleb gitu ya ke
- perasaan anak ke perasaan anaknya.
- Eh dan dia me menyadari iya ya
- kayaknya udah lama deh aku jauh dan aku
- juga enggak peduli sama orang-orang yang
- ada orang-orang penting ada di
- sekelilingku gitu.
- Jadi komunikasi
- yang tulus atau bahkan yang sangat
- sederhana pun bisa saja membuat
- perubahan besar pada seseorang untuk
- bisa lebih dekat kepada Allah gitu.
- Eee
- Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah,
- Ramadan ini
- eee
- eee dijanjikan bahwa dibukakan
- pintu-pintu langit kemudian ditutup
- pintu-pintu neraka
- dan
- setan-setan akan dibelenggu gitu. Jadi
- apalagi bahkan eee di bulan Ramadan ini
- ada satu malam yang lebih baik dari
- 1.000 malam. Itu yang eee tepat untuk
- kita dekati.
- Eee ikhwan dan akhwat yang dirahmati
- Allah, jadi Ramadan adalah sebuah
- sekolah atau pesantren yang kurikulumnya
- langsung diturunkan, langsung dijaga
- oleh Allah subhanahu wa taala.
- Jadi eee kegembiraan Ramadan itu
- no drama ya. Bukan drama ini real gitu
- ya. Kegembiraan Ramadan itu memang eee
- ada di dalam hati-hati kita yang
- benar-benar bisa melihat betapa
- keagungan Ramadan ini, keberkahannya ini
- betapa banyak sekali yang kita dapat
- peluang-peluang berharga di bulan
- Ramadan. Maka pantas sekali sejumlah
- negara melakukan
- eee eee apa ya? Melakukan eee
- eee ungkapan kegembiraan melalui
- berbagai cara gitu.
- Ada yang eee sebelum Ramadan kita kita
- dapat eee tulisan-tulisan atau twibbon
- atau atau eee apa puisi atau pantun atau
- ungkapan-ungkapan
- eee selamat Ramadan dan lain sebagainya.
- Di Semarang itu ada dugderan gitu ya.
- What is dugderan? Dugderan itu ada
- jualan-jualan
- eh apa namanya? Eh
- biasanya dari tanah-tanah liat gitu ya
- eh
- ini memori saya tahun 70-an ya.
- [tertawa]
- Ada jualan permainan tanah-tanah liat
- terus buat masak-masakan tuh anak-anak
- kecil, celengan dan lain sebagainya gitu
- ya di dugderan itu. Eh ada juga bahkan
- ada barongsai gitu ya. Eh ada juga eh eh
- apa ikut-ikut menyambut begitu ya.
- Kemudian di Jawa Barat eh ada munggahan.
- Munggahan itu eh tradisi Islam suku
- Sunda yang sangat kuat sekali. Mereka
- akan datang ke rumah keluarga ini itu
- dan lain sebagainya atau juga eh bahkan
- mengecat rumah, beres-beresin rumah,
- pasar kaget ya. Kemudian
- berburu takjil. Kemudian di beberapa
- negara di di Mekah ya. Ada eh apa
- namanya? Ada meriam di udara sebagai
- penanda eh
- mulainya Ramadan.
- Eh di Pakistan ada cemilan-cemilan khas
- sama seperti di Indonesia
- cemilan-cemilan khas yang kita lihat di
- sepanjang jalan di mana saja banyak
- sekali cemilan-cemilan khas yang eh eh
- apa namanya? Di di di di
- disajikan gitu ya. Siap untuk eh dijual
- atau kita nikmati. Ada samosa, ada
- pakora dan lain sebagainya. Di Mesir ada
- lampion ya. Eh dipajang sepanjang
- Ramadan, lentera warna-warni dan lain
- sebagainya. Kemudian juga ada
- makanan-makanan, kue-kue kering kalau di
- negara-negara tertentu seperti Irak
- misalnya begitu ya.
- Di Sri Lanka, di Maldiv ya. Eh sebelah
- barat Sri Lanka itu eh ada
- tradisi-tradisi yang khusus untuk eh
- menyediakan makanan-makanan khusus khas
- Ramadan. Ada kue tepung, ada kue ikan
- dan lain sebagainya gitu ya. Jadi, orang
- bisa bisa sambil eh
- menyampaikan puisi di di saat berbuka
- puasa bahkan begitu ya. Di Maroko gitu
- ya ada ada eh gondola tradisional dan
- lain sebagainya. Di Indonesia eh
- saya enggak tahu ya. Kalau dulu sangat
- sering ya sahur
- sahur gitu ya. Kalau sekarang eh sudah
- jarang sih saya dengarnya.
- [tertawa]
- Di kampung saya.
- Hah? Di kampung-kampung. Di
- kampung-kampung masih ada ya.
- [tertawa]
- Di kampung saya
- eh enggak dengar ya.
- Eh di Australia juga ya dan lain
- sebagainya. Jadi, penyambutan terhadap
- Ramadan luar biasa.
- Eh kenapa? Karena ini adalah
- masa yang sangat berkah. Jadi, doa-doa
- doa-doa selama 30 hari every time itu
- benar-benar berharga sekali gitu.
- Eh eh doa kepada Allah, dekat kepada
- Allah, eh reflektif lagi gitu ya. Ini
- ini ini ungkapan ini juga
- khusus untuk saya sendiri supaya makin
- diingatkan terus. Baik, Ikhwan dan
- Akhwat. Eh itu adalah eh eh
- komunikasi dengan Allah.
- Nah, apalagi? Komunikasi saya dengan
- saya, komunikasi kita dengan diri kita
- sendiri.
- Nih eh ada sebuah eh kisah gitu ya.
- Eh seorang bapak yang jualan takjil ya
- eh
- tapi dia sangat dermawan.
- Dia itu biasanya jualan di pinggir
- jalan, tapi dia saat ini enggak dijual
- tapi dikasih gratis gitu.
- Masyaallah. Eh
- dia bilang begini, "Ramadan itu bukan
- cuman cari untung, kata dia gitu.
- Ini juga kesempatan buat berbagi,
- sedekah lagi dibuka sedemikian rupa,
- diajak kita melakukan sedekah. Eee Allah
- pasti akan mengganti dengan rezeki yang
- lebih baik. Itu ungkapan yang dia terus
- ingatkan kepada dirinya. Jadi, eee ini
- adalah eee bentuk dia eee berefleksi
- kepada eee pengalaman batinnya dia yang
- eee diekspresikan kepada orang lain.
- Kemudian, eee ikhwan dan akhwat, saya
- ingin
- eee mengingatkan tentang puasa itu
- adalah
- momen yang sangat berharga untuk kita
- berkomunikasi dengan diri kita sendiri.
- Eee pembentukan konsep diri, bagaimana
- kita ngelihat ke diri kita gitu ya.
- Seperti tadi, oh iya ya, aku nih
- ternyata jauh ya sama Allah. Aku nih
- ternyata
- eee masih bisa
- Allah tuh selalu tersedia, Allah itu
- selalu dekat gitu, Allah tuh selalu
- welcome gitu. Kalau kalau saya mau
- mendekat itu akan
- dengan sangat eee cepat Allah itu me
- menyambutnya begitu ya. Nah,
- refleksi-refleksi bagaimana kita
- berkomunikasi dengan diri itu, itu
- adalah proses kesadaran diri yang
- penting sekali.
- Jadi, eee di bulan Ramadan ini berkah
- banget untuk kita bisa eee
- mengingat-ngingat untuk enggak ngomong
- kotor, enggak ngomong jorok, enggak
- bohong, enggak berbuat yang enggak
- benar, tapi terus berbuat yang baik.
- Karena Ramadan adalah saat yang tepat
- untuk memulai perbuatan yang baik dan
- menghindari perbuatan yang buruk.
- Refleksi-refleksi diri untuk
- berkomunikasi dengan diri itu dan dalam
- perilaku yang nyata ini
- sangat-sangat berharga.
- Eee
- berlatih diri berbuat baik dan menjaga
- lisan, menahan diri untuk berbuat yang
- tidak
- baik itu eee bagus untuk kita lakukan.
- Kemudian latihan untuk bersyukur ya,
- refleksi dirinya ya. Latihan untuk
- disiplin sama waktu, manajemen waktu.
- Aduh, ini penting sekali ya. Saya
- sendiri merasakan
- ini jam segini, cepat sekali waktunya.
- Kadang-kadang aduh, masih ngantuk nih,
- tidur lagi. Tapi eee sadar lagi, bentar
- ya, ini sayang banget nih waktunya nih.
- Oke, kerjakanlah. Jangan
- tidur-tidur-tidur-tidur.
- Coba lebih optimal dan lain sebagainya.
- Jadi, refleksi diri memang eee lebih
- berharga di bulan Ramadan ini.
- Nah, komunikasi dengan sesama ini juga
- saat momentum yang paling real gitu ya.
- Eee
- eee saya ingat eee ketika berada di eee
- beberapa tahun yang lalu ya. Eee
- pergi ke sebuah restoran untuk buka
- puasa ya. Eee kemudian
- eee karena antrenya panjang, baru sadar
- bahwa itu antrenya panjang banget gitu
- ya. Padahal sudah satu jam sebelumnya.
- Tapi antrenya panjang banget. Cuman
- memang pikirannya adalah ini memang eee
- eee mau berbuka gitu ya. Jadi, ya sudah
- tetap di dijalanin.
- Ketika buka itu eee tempatnya belum
- tersedia gitu ya. Tempatnya belum
- tersedia. Terus ada orang ur
- tahunya bahwa itu mulai buka itu ketika
- orang sudah mulai krese-kresek gitu ya.
- Ambil makanan, ambil minuman dan lain
- sebagainya. Lalu ee, karena kami waktu
- itu sama teman-teman
- ee, memang ee,
- di dalam sebuah kegiatan ya. Jadi,
- memang ee, on the spot kita jalan di
- sana.
- Jadi, ee, pada saat itu
- aduh, ini gimana nih, enggak ada ini
- nih, enggak ada enggak ada apa-apa. Ada
- orang nawarin, "Mau minum?" kata dia
- gitu.
- Dikasihin tuh minumannya sama ee, apa
- kurma.
- Masya Allah.
- Rasanya berkah banget. Rasanya bahagia
- banget gitu. Kebayang enggak sih, ee,
- kita yang waktu itu masih punya duit
- gitu buat belanja gitu. Tapi masih bisa
- bersyukur sekali karena orangnya kalau
- lagi lapar dikasih makanan itu blessing
- banget ya gitu. Jadi, ee,
- gimana ya, ee,
- kebaikan kepada orang lain itu
- sangat-sangat berharga.
- Ee, dalam berbagai bentuknya. Tidak
- hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan
- perilaku.
- Ee, ibadah khas adalah zakat di dalam
- bulan Ramadan. Ini adalah bentuk dari
- komunikasi kita karena kita ee, di
- diberi aturan untuk menjalankan
- ee, ibadah yaitu berzakat. Lalu, dengan
- zakat itu untuk orang lain gitu. Jadi,
- komunikasi sosial di bulan Ramadan ini
- sangat-sangat kental. Kita dilatih untuk
- punya empati. Enggak cuman dalam dalam
- pikiran, tapi juga perilaku. Enggak
- cuman dalam pikiran dan perasaan, tapi
- juga perilaku gitu. Merasakan orang
- lain. Ee, kita juga ee, apa namanya, me
- me mencarikan solusi yang dihadapi oleh
- orang lain ketika seseorang ee,
- menghadapi kesulitan. Terutama dalam
- konteks finansial gitu ya di dalam bulan
- Ramadan ini. Menggerakkan ekonomi, ee
- menghilangkan kesenjangan sosial. Jadi,
- banyak sekali manfaat yang kita bisa
- peroleh ee di dalam bulan Ramadan ketika
- kita ee melihat dari perspektif ee
- komunikasi sosial, begitu.
- Ramadan juga ruang belajar untuk kita
- merasa terhubung dengan orang lain,
- gitu.
- Itu tadi ee dikasih dikasih cemilan aja
- gitu ya, iftar gitu ya.
- Pada saat pada saat nunggu, padahal ee
- ya intinya kita sama-sama punya duit
- gitu buat makan, tapi lagi bener-bener
- enggak ada nih di depan mata nih, itu
- aja seneng banget. Bayangin yang enggak
- punya duit, enggak punya makan gitu,
- lapar gitu. Betapa bersyukurnya, betapa
- kita ini serasa connected, terhubung.
- Ee punya punya apa ya, ee
- punya kesadaran dan hubungan yang
- sangat kuat di dalam bulan Ramadan. Bisa
- merasakan penderitaan orang lain,
- beratnya situasi ini. Jadi,
- ee Ramadan adalah ruang belajar yang
- sangat bermakna untuk kita semua.
- Ee kepedulian untuk bagi-bagi takjil,
- kan itu sudah ada ya list-nya ya. Ini
- siapa yang mau ikutan? Siapa yang mau
- ikutan ini? Siapa yang mau ikutan itu?
- Itu tuh disosialisasikan di dalam ee
- grup WhatsApp atau himbauan-himbauan
- gitu ya. Ayo, siapa yang mau ikutan ini?
- Siapa yang mau ikutan itu? Itu luar
- biasa, masyaallah gitu ya.
- Ee jadi, Ramadan menjadi pesantren
- terbuka yang bikin kita menjadi lebih
- terjaga untuk berbuat baik ee dan
- membatasi
- ee untuk berbuat buruk. Ini
- mewah banget, ya. Mewah banget. Jadi,
- tadi tuh ee, ee, ini bukan drama, no
- drama, ini real gitu ya.
- Ee, ini real dan ini sangat berharga.
- Bagaimana kita berkomunikasi dengan
- Allah, kita berkomunikasi dengan diri
- kita sendiri, refleksi, kita terhubung
- dengan orang lain.
- Orang-orang yang ada di sekitar kita
- gitu.
- Ee, Mbak Nuning, ee, kita mau lanjut
- tentang komunikasi keluarga yang semakin
- dekat begitu ya setelah ee, di atau di
- bulan Ramadan ini. He em. Ee, sebelumnya
- ada yang mau disampaikan dulu Mbak
- Nuning? Em.
- Dari apa yang sudah disampaikan, yang
- memberikan terima kasih bahasannya ada
- beberapa, Mbak Cin, kemudian Pak Hadi.
- Dan ini terkait dengan
- tanpa drama. Kalau sebelum masuk ke
- Ramadan dramanya sudah bersimbah air
- mata, pastilah masih ada drama ya Mbak
- ya. Tapi kami menyimak bagaimana caranya
- untuk tetap bisa bersyukur, berterima
- kasih kepada Allah meskipun ditempa atau
- didera derita. Iya. He em.
- Jadi, ee,
- ini enggak drama-dramaan tapi real.
- [tertawa]
- Real. Nangis sama Allah real.
- Ee, sedih
- omong sama Allah real. Karena setiap
- manusia itu
- ee, dikasih
- ee, apa namanya, dikasih
- ee, manusia itu bisa berbuat buruk, bisa
- berbuat baik gitu ya. He em. Kalau yang
- baik benar terus adalah malaikat, yang
- berbuat ngaco mulu adalah setan gitu ya.
- Manusia punya dua pilihan untuk bisa
- membuat ngambil yang benar atau yang
- enggak benar gitu ya. Nah, sekarang
- dengan bulan Ramadan ini
- eee
- kita berusaha untuk tulus apa adanya
- eee enggak drama-dramaan tapi tulus
- ngomong sama Allah tulus ngomong sama
- diri sendiri, tulus terhubung dengan
- orang-orang baik yang ada di lingkungan
- kita atau menciptakan lingkungan yang
- baik dari lingkungan-lingkungan kita.
- Termasuk juga lingkungan keluarga gitu.
- Banyak sekali eee keberkahan di bulan
- Ramadan. Kenapa? Karena
- eee perjumpaan itu minimal dua kali
- [tertawa]
- iya kan? Sahur
- masa sahurnya di luar kan jarang ya
- sahur di luar ya.
- Buka. Nah, ini buka nih kadang-kadang
- challenge juga ya kalau kalau kalau
- kalau eee sekarang ini kan masih libur
- ya hari Sabtu, Minggu gitu ya masih
- libur. Tapi kalau hari kerja biasanya
- juga kadang eee ini ada challenge juga
- gitu ya. Tetapi kebanyakan
- eee durasi waktu kerjanya aja [berdehem]
- menjadi lebih cepat kayak misalnya di
- Jawa Barat eee saya dengar ada berita
- setengah tujuh tuh mulai ngantor tuh
- Lebih pagi. pagi-pagi gitu dipagiin
- gitu. Jadi supaya siang sorenya lebih
- cepat gitu.
- Eee ma maka itu kan kan habis sahur masa
- tidur ya kan? Ngapain tidur juga ya kan?
- Mendingan eee buru-buru berangkat ke
- kantor itu I think it's a good idea juga
- gitu. Nah, dengan kita eee eee ada
- perjumpaan dengan keluarga komunikasinya
- menjadi meningkat. Eee ada ada
- refleksi-refleksinya,
- percakapan itu mahal banget. Bonding,
- keakraban di dalam keluarga itu menjadi
- kuat gitu. Karena kita eee punya eee
- interaksi yang intens di rumah gitu.
- Jadi secara kualitas, secara kuantitas
- itu akan menjadi lebih
- eh berharga
- gitu ya. Di bulan Ramadan komunikasi
- dengan eh keluarga, dengan saudara,
- dengan
- eh apa namanya keluarga besar gitu ya.
- Apalagi nanti udah di ujung-ujung nih
- ada ada ada eh ini ya eh Idul Fitri
- begitu ya. Dan sebelumnya biasanya ada
- eh buka puasa bersama dengan keluarga
- biasanya gitu ya. Dengan buka bersama
- dengan keluarga dan ada Idul Fitri,
- kedekatan itu luar biasa gitu.
- Eh kemudian eh kita juga bisa jadi
- sebagian orang melakukan eh em munggahan
- tadi ya, berkunjung ke orang yang lebih
- dituakan gitu ya. Eh atau juga eh salat
- tarawih bersama. Itu salat tarawih
- misalnya eh di masjid atau di rumah, itu
- kan keeratannya menjadi jadi lebih
- tinggi gitu. Jadi, eh buka bersama itu
- berkah banget gitu. Berkah banget.
- Masak-masak, mikirin, ah makannya apa
- ya? Maunya apa ya? Masak bareng yuk,
- nyiap-nyiapin bareng yuk. Ini
- sahur bersama, iktikaf nanti ada momen
- iktikaf di eh 10 hari terakhir begitu
- ya. Bagiin zakat fitrah, takbiran
- bersama keluarga, mudik ya.
- [tertawa]
- Itu luar biasa itu pengalaman-pengalaman
- berharga di bulan Ramadan begitu ya yang
- i menguatkan komunikasi di di antara
- kita, di dalam keluarga kita gitu. Iya,
- Mbak Nuning. Iya.
- Dan ini harus kita eh manfaatkan karena
- kan pasti ada
- apa namanya silaturahmi yang antara
- keluarga nanti juga HBH-an. Iya. Dan
- buka bersama ini ya gratis. Betul, betul
- banget. Mhm.
- Nah, ada beberapa aturan Mbak Nuning
- tentang perilaku sebaiknya di bulan
- Ramadan. Harusnya every time gitu ya.
- Tapi paling tidak bulan ini.
- bulan Ramadan lebih beres deh begitu ya.
- Ayo kita simak dengan telinga jiwa kita,
- jangan sampai kelewatan.
- [tertawa]
- Jangan bohong. Aduh, ini ini Susah nih
- ya.
- mudah.
- [tertawa]
- Ini enggak mudah direflektif juga nih
- ya.
- Eh. Mhm.
- Al, barangsiapa yang tidak meninggalkan
- perkataan dusta
- ya
- malah mengamalkannya
- maka Allah tidak butuh dari rasa lapar
- dan haus yang dia tahan. Udah deh,
- enggak usah puasa deh kalau masih
- bohong-bohong gitu loh kira-kira ya.
- Itu ada dalam eh hadis ya.
- Menahan diri dari perbuatan sia-sia.
- Aduh, itu juga enggak sederhana tuh ya.
- Menahan diri dari perbuatan sia-sia.
- Yang enggak enggak perlu-perlu udah deh
- gitu ya.
- Mhm, mhm. Eh.
- Eh, puasa bukan menahan lapar dan haus
- saja, tetapi juga menahan diri dari
- perbuatan buruk. Jadi bayangin coba.
- Puasa kita tetap produktif, puasa kita
- tetap berkinerja, itu keren banget
- orang-orang yang bisa seperti itu ya.
- Jadi dengan puasa enggak drama-dramaan,
- aku lapar,
- [tertawa]
- aku tidur aja, aku begini, enggak gitu
- ya. Tetapi produktif begitu ya.
- Apabila orang mencelamu
- atau berbuat usil, usil nih kepadamu
- katakanlah
- aku lagi puasa.
- Aku lagi puasa.
- Jadi
- itu bikin orang
- yang
- ngusilin rasanya disentil gitu ya, jadi
- mikir gitu ya.
- Eee.
- Ketika kita berpuasa, kan di di kita ini
- eee setiap hari
- tidak mungkin tidak berkomunikasi.
- Dari mata, dari telinga, dari eee
- penciuman dan lain sebagainya.
- Itu sensasi yang kita rasakan, lalu
- pikiran kita seperti apa, lalu kita bisa
- menyampaikan kepada orang lain atau
- kepada diri kita sendiri.
- Ini atau apa gitu ya. Jadi
- eee di dalam diri kita, kita menghindari
- informasi-informasi yang masuk ke dalam
- mata, telinga, penciuman kita yang
- menimbulkan maksiat. Jadi, jagalah
- penglihatanmu,
- jagalah pendengaranmu,
- jagalah penciumanmu, jagalah tindakanmu,
- perilakumu, ucapanmu, begitu ya.
- Janganlah kamu jadikan hari puasamu
- dan
- hari tidak
- puasamu sama saja.
- Jangan.
- Pokoknya ini mah lebih keren, lebih
- berharga, no drama.
- [tertawa]
- Jadi, eee begitu kira-kira Mbak Nuning
- yang kita perlu lakukan sebagai umat
- Islam
- yang eee mendapat berkah ya.
- Kan kita sering doanya gini nih.
- Semoga kita dikasih kesempatan untuk
- bertemu Ramadan berikutnya. Dan ini
- sekarang ini lagi dapat kesempatan nih
- gitu ya.
- Eee.
- Eee saya punya ipar Mbak Nuning beberapa
- beberapa hari sebelum Ramadan eee
- dipanggil
- oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
- Dan ini artinya dia tidak bisa menikmati
- Ramadan lagi gitu. Jadi, begitulah.
- Eee maka kita perlu berterima kasih ya,
- dengan kesempatan berkah ini
- untuk melaksanakan Ramadan
- sebaik-baiknya
- dan termasuk memperbaiki diri kita,
- termasuk memperbaiki komunikasi kita,
- Mbak Nuning.
- Dan soal jaga tadi ikhwan akhwat mana
- yang paling sulit? Jaga mata, jaga
- telinga, jaga lidah, jaga mulut atau
- jaga hati? Iya. Nah, dari yang
- disebutkan tadi kalau menurut
- Pak
- Yusuf ya [tertawa] Heeh.
- itu yang paling susah adalah jaga hati.
- Heeh.
- Gimana caranya, Mbak? Iya. Oh, tanyain
- dong. Iya.
- Jagalah hati.
- Oh, nanti diputerin tuh lagunya tuh sama
- Fahri tuh. Fahri cariin lagu gitu.
- Jadi jagalah hati ya, memang betul
- sekali, betul sekali. Maka itu tadi no
- drama gitu ya, karena eh hati kita
- bilang ah aku mah begini, aku mah
- begini.
- Eh
- fokus saja dengan dengan jadi eh clear
- banget di kepala kita apa sih apa sih
- hal-hal berharga yang kita bisa dapatkan
- di bulan Ramadan. Pelajari itu dan itu
- eh kita kita pahami, kita hayati.
- Dan berarti apa yang harus kita lakukan?
- A, B, C, D udah lakukan saja gitu.
- Eh oh saya enggak boleh bohong, jangan
- bohong. Oh saya enggak boleh gibah,
- hindari gibah. Oh saya eh perlu eh ber
- eh produktif begitu ya atau saya perlu
- baca Alquran lebih banyak atau saya
- perlu beribadah, zikir di jalan. Setiap
- kali jalan masih kok ada kesempatan gitu
- ya, zikir, membaca apa saja untuk eh
- membuat kita menjadi lebih lebih eh apa
- ya lebih eh sadar gitu ya dengan dengan
- eh siapa diri kita, siapa diri kita,
- siapa Allah dan lain sebagainya. Jadi,
- eh
- hal seperti itu menurut saya, itu
- akan membuat kita menjaga hati kita.
- Karena kita berkomitmen penuh gitu.
- Eh kemaren-kemaren
- mungkin tidak seperti itu, sekarang
- sayang, sama seperti yang tadi saya
- ceritakan di awal.
- Seorang yang akhirnya menyadari,
- "Iya ya, aku kayaknya gini-gini aja deh.
- Enggak ada yang lebih, selama ini cuman
- ngejalanin aja, enggak optimal, enggak
- ngelakuin secara
- eh apa namanya? Secara benar gitu ya,
- atau atau melakukannya enggak pakai hati
- gitu.
- Enggak pakai perasaan, enggak pakai
- keterlibatan emosi.
- Cuman ya udah karena wajib,
- saya saya kerjakan saja. Maka, jaga hati
- kita karena itu milik kita.
- Eh
- do your best and it is enough.
- Percaya sama Allah, karena Allah yang
- Maha tahu, Maha
- eh
- mengarahkan. Maka, kita minta sama
- Allah. Kita minta dan
- kita berusaha untuk menjalankan sesuai
- aturannya. Itu
- jaga hati yang menurut saya
- sebaiknya kita lakukan.
- Ini refleksi ya untuk diri saya sendiri
- juga gitu ya.
- Saya mencoba mengimajinasikan
- kata-kata gondelan sama Allah gitu.
- [tertawa]
- Jadi,
- "Iya ya, iya ya, harus gitu ya." gitu.
- Jadi, gondelan nih, gondelan nih, ya
- kayak anak-anak nih, "Ayo dong, aku gini
- dong, tolongin aku dong." gitu. Atau
- situasi saya lebih seperti ini, saya
- ingin begini, saya ingin berbuat apa?
- Diomongin.
- Dan itu
- diskusi-diskusi yang berharga.
- Membuat hati kita menjadi lurus sesuai
- dengan
- eh aturan Islam bahwa Allah adalah
- Tuhan, kita adalah hamba yang enggak ada
- apa-apanya gitu.
- Jaga hati
- penting banget menurut saya sih.
- Meskipun tidak mudah.
- Tidak mudah betul. Tidak mudah.
- Baik, terima kasih Ibu Dharma di Bekasi
- buat Mbak Mona.
- Ibu Ustazah Mona. Mona. Terima kasih
- dengan bahasannya ya. Juga dari ini
- tidak ada namanya.
- Andai kata bisa setiap saat kita
- menjadikan hari-hari seperti di bulan
- Ramadan, tentu indah sekali.
- Tetapi banyak yang justru terjadi
- membuat kita tidak fokus di Ramadan
- karena entah itu pekerjaan atau yang
- lainnya.
- Bagaimana caranya memisahkan antara ini
- lagi Ramadan loh, ayo tinggalkan yang
- lain. Saya tidak punya cara.
- Eh menurut saya eh menjadi produktif itu
- bagus. Ya. Tapi kita harus lebih pandai
- untuk eh
- komitmen kepada diri sendiri, tegas pada
- diri sendiri karena kuncinya di
- ketegasan gitu.
- Oke, ini Ramadan, ini ada waktu untuk eh
- ibadah, ini ada waktu untuk berkinerja.
- Yang sia-sia sia. Tadi kan ada aturannya
- nih, jangan yang sia-sia dong gitu yang
- enggak penting-penting nih kayak
- scrolling terus-terusan yang ngabisin
- waktu gitu ya. Ini ngabisin waktu, ini
- enggak enggak enggak penting. Oke,
- sesekali misalnya oke saya butuh rehat
- ya, saya butuh eh rehat 10 menit, 5
- menit, 10 menit. Oke, boleh kita eh
- refreshing gitu ya.
- Tapi balik lagi udah deh, udah ya.
- Nego-nego, eh that's what I do.
- Nego-nego sama diri sendiri gitu ya.
- Oke, sudah ya.
- Mainnya beres dulu ya, sekarang fokus ke
- ma- kepada yang lain. Produktif eh,
- dengan kinerja yang
- kita yakin ini adalah ibadah loh kerja
- saya ini untuk kebaikan bersama dan lain
- sebagainya begitu ya.
- Dan juga
- eh, untuk ibadah seperti eh, yang
- disarankan di dalam bulan Ramadan ini
- gitu. Me- melak- bukan
- tambahan-tambahan,
- salatnya ditambah
- eh, dengan sunah-sunah, dengan
- zikir-zikir, di jalan masih bisa, sambil
- di jalan, sambil nunggu kendaraan,
- sambil nunggu apa, sambil jalan masih
- bisa zikir-zikir gitu. Jadi mmm
- saya rasa komitmen diri aja yang penting
- untuk kita lakukan. Jadi komunikasi saya
- dengan saya itu penting. Tentu saja
- dengan guidance-guidance yang jadi
- rujukan ya. Supaya panduannya benar
- begitu.
- Iya.
- Baik, kita lanjut lagi terkait dengan
- bagaimana komunikasi dengan keluarga.
- Nah, sekarang sama medsos Mbak Nuning.
- [tertawa]
- Jadi eh, coba rehat gitu ya atau
- pinter-pinter main
- berselancar di dunia maya gitu ya.
- Jangan banyakin drama main-main, ah, aku
- lagi laper nih, jadi scroll ikan kalau
- scrolling tuh
- 10 menit, 30 menit, 1 jam, 2 jam, itu
- cepat banget gitu.
- Enggak ada, enggak enggak enggak kerasa
- gitu capeknya.
- Gitu ya. Jadi
- kita coba bernegosiasi sama diri sendiri
- ngapain saya ngabisin waktu itu gitu.
- Atau ketika kita memang menggunakan
- media sosial atau gadget, kita pilih
- yang ber- harga untuk eh, pengembangan
- diri kita, bukan yang eh, apa,
- ngabis-ngabisin waktu begitu ya,
- melakukan hal yang sia-sia.
- Ini juga refleksi untuk saya sendiri
- begitu ya.
- Maka kita lebih fokus ke diri kita
- sendiri.
- Ee menghindari hal-hal yang bersifat
- negatif yang bikin kita
- ee
- rugi.
- Dan menambah hal-hal yang ber- bersifat
- positif dengan cara kita tahu dulu apa
- saja yang bisa kita lakukan, maka
- kerjakan itu ee sebaik-baiknya.
- Menikmati segala hal yang ada di
- lingkungan kita.
- Ini adalah kesempatan untuk berbuat baik
- begitu ya. Lebih produktif. Ee apa
- namanya, ee jangan habis-habiskan waktu
- untuk berkomunikasi di media sosial yang
- enggak berharga, yang enggak berguna,
- yang ngabisin-ngabisin waktu juga
- begitu.
- Ee Mbak Nunung, kadang-kadang kita juga
- ketika kita merasa oke, saya gunakan
- media sosial tapi saya
- ee produktif.
- Enggak apa-apa. Misalnya kita share ee
- ayat-ayat yang penting atau share sunah
- yang
- ee klik begitu ya dengan konteks yang
- kita mau bahas, itu enggak apa-apa.
- Artinya kita sadar, bukan berarti
- no media sosial begitu ya, enggak sama
- sekali. Tetap tapi kita punya kontrol
- yang baik terhadap diri kita sendiri
- begitu ya.
- Mmm mungkin kita bisa manfaatkan melalui
- gadget ada tadarusan ya, dengerin
- ceramah dan lain sebagainya begitu.
- Ee gosiping, nah ini juga perlu banget
- nih untuk kita ini. Karena gosip itu
- seru. Heeh, ngabisin waktu yang jadinya
- enggak laper.
- [tertawa]
- Enggak berasa. Iya kan? Jadi, gosip itu
- eh perlu kita hindari, ya. Kadang-kadang
- kan kita ngomongin sesuatu kayaknya
- makin seru, makin seru, makin seru gitu
- ya. Eh, ini tidak membatalkan tetapi
- bisa mengurangi pahala dari puasa kita
- gitu ya. Dan bisa jadi kalau gosipnya eh
- ngaco gitu ya, itu juga bisa jadi
- berdosa begitu ya.
- Puasa membuat kita jadi menghindari
- untuk berkata kotor, bertengkar,
- eh naikin suara karena kan laper nih, ya
- kan? Bisa saja eh te- te- eh apa
- namanya? Kekerasan,
- eh tinggi nada itu menjadi lebih tinggi
- gitu pada saat kita berpuasa. Apalagi
- misalnya nyuruh orang-orang di
- lingkungan, di rumah suruh bantuin
- ini-itu enggak jalan-jalan, enggak move
- on gitu ya. Itu nanti marah-marah dan
- lain sebagainya. Itu juga bisa menjadi
- eh enggak positif untuk kita gitu. Jadi,
- banyak ributan di rumah, banyak
- kekerasan, banyak drama di rumah gitu
- ya. Eh, jadi berbicara yang penting dan
- eh kalau lagi ini istigfar, zikir dan
- lain sebagainya itu makin penting untuk
- kita lakukan.
- Eh, refleksi yang juga menarik Mbak
- Nuning adalah hidup sederhana.
- Mbok yo makanan-makanannya yang
- sederhana aja bulan Ramadan ini. Enggak
- perlu harus segala ada yang berlimpah
- ruah yang kayaknya di pikiran ini serius
- banget gitu buat buat makan gitu ya.
- Eh, itu
- itu penting untuk kita sadari. Kemudian
- kekerap eh apa? Eh, kohesivitas ya, ke-
- keeratan di dalam keluarga itu juga
- penting. Saling bantu, eh jangan malah
- ngerepotin orang tua kita gitu ya. Eh,
- ngerepotin orang tua itu kerap kali
- kerap kali terjadi ketika bulan bulan
- Ramadan sampai di lebaran begitu ya.
- Nanti misalnya si
- apa namanya eh sibuk untuk ah aku mau
- istirahat deh karena kan lagi liburan
- gitu ya. Jadi nanti ngabisin waktu yang
- seharusnya sama orang tua bisa buat eh
- apa
- buat dia nyaman tetapi malah menambah
- berat untuk orang tua kita. Please
- please hati-hati dengan itu gitu ya.
- Oke Mbak Nuning. Anything else? Jadi
- kalau jangan merepotkan orang tua
- padahal
- maksud Ibu dan biasanya di rumah Ibu itu
- adalah ingin membuat anak-anaknya
- menjadi jauh lebih bersyukur di bulan
- Ramadan He em. sebagai anak harus gimana
- nih? Iya, sebagai anak kasih tahu diri
- Mbak Nuning. Oh STD ya, sikap tahu diri.
- He em. [tertawa] Tahu diri bahwa eh dia
- ada ada pergantian tampuk kepemimpinan
- gitu ya.
- [tertawa]
- Tampuk tanggung jawab gitu ya. Jangan
- gara-gara dia kan sudah dewasa nih sudah
- dibantu dari kecil dari dari bayi dari
- kecil. Setelah dia dewasa dia jangan eh
- malah menambah berat pada orang tua
- apalagi orang yang tua ya yang secara
- fisik juga lemah tidak bisa eh apa
- namanya dibebani terlalu banyak lagi
- sementara dia juga enggak enak ingin
- memberikan yang terbaik kepada
- anak-anaknya. Ya tahu diri aja itu
- memang penting sekali nih. Ini ini
- banyak masalah nih terjadi nih. Ini
- mungkin akan menjadi eh isu yang akan
- muncul nanti gitu ya di akhir bulan
- Ramadan gitu ya Iwan dan Nafas tetapi
- eh, kita pikirkan dari sekarang. Jangan
- sampai ngerepotin orang tua kita.
- Nyenengin aja, permudah aja orang tua
- kita. Karena apa? Hectic banget tuh di
- bulan Ramadan akhir-akhir itu. He eh.
- Eh, eh, kebutuhan untuk kebutuhan besar,
- eh, persiapan di rumah, eh, repot
- banget. Biasanya repot. Karena itu
- memang budaya kita, gitu ya.
- Nah, dengan dengan begitu, eh, anak-anak
- yang sudah dewasa, eh, eh, malah malah
- membebani gitu. Karena orang tua kan
- enggak enak juga untuk tidak me, apa
- namanya, menyamankan anak-anaknya
- begitu, ya. Jadi, eh, banyak dramanya
- tuh, drama-drama yang bikin, eh, kasihan
- gitu hati orang tua kita gitu.
- Oke, Mbak Nuning.
- Ada pertanyaan yang tidak ada yang, eh,
- namanya tidak ada. Kalau pulkam atau
- pulang kampung, itu
- akan mem, mem menghabiskan biaya cukup
- banyak. Padahal orang tua juga sudah
- enggak ada, cuma saudara-saudara.
- Bagaimana kalau dana pulang kampungnya
- dibuat untuk yang lain, untuk
- donasi-donasi tertentu?
- Nanti dianggap enggak peduli atau gimana
- nih bagusnya? He eh.
- Saya sih setuju ya untuk dilakukan
- untuk, eh, bantu, eh,
- lingkungan-lingkungan atau orang-orang
- yang membutuhkan begitu, ya. Eh, tetapi,
- eh, pulang kampung itu tetap perlu
- menurut saya, ya. Pada bers, eh,
- silaturahim pada keluarga.
- Iya. Mungkin tidak di momen Lebaran.
- Bisa saja momennya di momen-momen lain
- begitu, ya. Karena kan Lebaran itu kan
- arus lalu lintasnya sangat banyak
- begitu, ya. Sangat
- sangat, eh, apa,
- ribetlah di jalannya begitu, ya. Jadi
- jadi kita juga bisa berhitung atau juga
- bisa mencarikan momen-momen lain ketika
- memang perlu ada pertemuan-pertemuan
- keluarga besar itu begitu ya. Tidak di
- masa-masa itu ketika kita merasa
- eh kayaknya di sana nanti ngerepotin
- anggota keluarga kan
- iya kan jadinya bisa jadi kan kita kita
- sendiri yang tahu perhitungannya begitu
- ya. Implikasinya terlalu merepotkan dan
- dan lain sebagainya. Atau ketika kita
- misalnya memang merasa itu diperlukan
- dan itu adalah eh refreshing yang memang
- diperlukan ya enggak apa-apa kita
- berangkat setelah kita memang meyakini
- kita mampu untuk melakukannya. Tapi
- kalau tidak kita saya ingin mengatakan
- tetap diperlukan untuk silaturahim.
- Tetapi momennya barangkali kita bisa
- agendakan tidak harus di bulan Ramadan
- secara physically datang begitu ya.
- [berdehem]
- Bisa jadi bergantian ke sini atau ke
- sana atau juga eh apa namanya momennya
- setelah sekian lama setelah Ramadan
- begitu. Ketika kita me melihat emak kan
- kita juga dengan adanya keluarga besar
- yang akhirnya misalnya orang tua eh
- sudah berpulang kita bisa masing-masing
- punya agenda-agenda lain begitu yang
- tadinya tuh fokus menjadi berubah-rubah
- begitu. He em. Jadi
- agenda untuk pertemuan keluarga tetap
- berharga tapi barangkali momennya bisa
- kita pertimbangkan.
- Ketika itu jadi concern begitu ya
- terutama jauh, biayanya besar, enggak
- ada dana dan lain sebagainya atau
- dananya lebih baik buat yang lain
- begitu.
- Demikian.
- Jadi tetap silaturahim dengan keluarga
- itu
- banget itu. harus diupayakan meskipun
- tidak harus di
- saat
- apa lebaran
- lebaran itu kita bisa bisa pakai telepon
- sekarang kan media kan luar biasa kan,
- pakai video call.
- Video Call, ya kan, gitu.
- Baik, sebelumnya silakan dilanjut kalau
- ada materi yang perlu ditambahkan.
- Nah, Mbak Nuning, kan kalau perempuan
- itu kan ada haidnya ya.
- Iya. Rek seminggu gitu ya.
- Rek gitu ya, atau ada orang-orang yang
- sakit gitu.
- Ya, ee
- toleran saja gitu, jangan ee me secara
- ekspresif menunjukkan saya makan di
- depan gitu ya. Ee
- me menyembunyikan diri saja gitu, yang
- berpuas, yang tidak berpuasa ketika
- memang diperlukan ya ee me
- ngambil tempat yang ee tepatlah begitu
- ya. Ee untuk tidak secara apa ya, secara
- terbuka gitu ya.
- Ee jadi dramatis tuh bikin kita jadi
- yang lain jadi enggak nyaman begitu ya.
- Nah, yang berpuasa pun E
- enggak perlu sakit hati gitu ya, memang
- masing-masing ya kan, yang rapornya juga
- masing-masing nanti gitu ya,
- dibagikannya ee dikasihkannya rapornya
- masing-masing kepada Allah gitu ya, jadi
- sudah deh enggak usah terlalu ini,
- tetapi siapapun yaitu kita, siapa ini
- kita nih, kita lagi berpuasa, kita harus
- menghargai yang tidak berpuasa. Kita
- lagi tidak berpuasa, harus juga menga
- menghargai yang berpuasa begitu. Jadi,
- yang harus dibenahi adalah saya titik
- gitu ya.
- Ee
- di ada kok, ada kok, boleh kok enggak
- berpuasa kok gitu ya, dengan catatan
- tertentu, ada aturannya gitu ya, lagi
- haid, lagi sakit, perjalanan dan lain
- sebagainya begitu.
- Ee itu Mbak Nuning.
- Iya, sangat sebetulnya
- terkait dengan menjaga lisan, menjaga
- pandangan mata, telinga dan sebagainya
- tadi.
- Orang yang biasa kasar, remnya ada di
- mana nih? Iya.
- Kebiasaan itu kan tidak mudah untuk
- dibuang.
- betul-betul. Yang biasanya dia kasar.
- Eee, sementara eee.
- Kan gini. Bulan Ramadan adalah momen
- tepat banget. Untuk mengoptimalkan
- perbuatan baik dan menghilangkan
- perbuatan buruk gitu. Jadi ini bisa jadi
- energi untuk kita.
- Mulai, saya tidak akan kasar. Sadarin
- deh, ketika mau mengungkapkan sesuatu
- dipikir dulu karena, karena kalau kalau
- pakai eee automatic pilot langsung aja
- tet teret gitu ya. Kan biasa kasar nih,
- jadi keluar kasarnya. Tapi ketika kita.
- Eee, masukin dalam pikiran dulu.
- Bentar ya, saya mau ngomong ini nih.
- Oke. Udah bener nih gini-gini-gini
- ngomongnya, baru ngomong. Memang ada
- hang sih, iya. Dari enggak biasa jadi
- biasa gitu ya.
- Itu kan perlu pembiasaan dan perlu ada
- diulang-ulang terus gitu ya. Tahu
- konsepnya, tahu gimana cara ngomongnya
- yang benar, dirasakan, dihayati. Oke
- ini, ya dan itu dilakukan. Itu.
- Itu tepat sekali gitu, jadi.
- Bisa kok, yakin banget. Apalagi dengan
- komitmen kita, apalagi dengan keyakinan
- bahwa kalau kita meninggalkan yang buruk
- dapat pahala, melakukan hal yang baik
- dapat pahala juga. Jadi double-double
- nih gitu.
- Dan itu akan membuat kita jadi pribadi
- yang lebih baik. So.
- Let's do it. Saya tahu itu tidak mudah
- tapi bisa, ya bisa, bisa banget.
- Iya, puasa itu kan menjaga dari.
- Makan minum, tapi menjaga atau puasa
- dari berkata kasar itu juga keren banget
- ya.
- Betul banget.
- Betul banget. Karena puasa itu tidak
- hanya menahan lapar dan haus
- eh. tetapi juga
- eh perilaku yang baik kita.
- Menahan bohong itu tidak mudah loh.
- Betul, [tertawa] betul sekali, betul
- sekali.
- Oke.
- Baik, lanjut. Oke, Mbak Nuning, eh
- sepertinya itu yang ingin kita eh bahas
- pada hari ini.
- He eh. Jadi kita perlu hidup sederhana
- eh enggak perlu yang apa ya, berlebihan
- selama bulan Ramadan. Kan kadang-kadang
- pikiran nih, aduh ingin makan ini, A B C
- D. Takjilnya aja ada A B C D E F G H
- gitu ya, atau beberapa gitu ya. Terus
- menu ini, enggak enggak kuat, enggak
- cuman
- beberapa Suap. suap aja udah udah enough
- deh gitu ya. Iya. Ngapain gitu. Udah
- cukup aja. Dengan kita ngambil yang
- cukup aja itu juga jadi positif kok
- gitu. Kita jadi bisa lebih apa, eh lebih
- berhemat, lebih
- eh peduli sama orang lain. Oh iya, ini
- sisa ini masih bisa saya gunakan untuk
- yang lain dan lain sebagainya. Jadi kita
- lebih
- lebih apa ya, enggak enggak enggak
- buang-buang, enggak melakukan hal-hal
- yang tidak diperlukan begitu. Mumpung
- baru hari kedua nih Ikhwan Akhwat.
- betul. Menjaga hati, menjaga telinga,
- mata, lidah dan pikiran serta yang
- lain-lain, mudah-mudahan bisa kita
- tingkatkan ya. Dan karena ini live, Anda
- bisa telepon.
- Kalau biasanya kalau Zoom atau
- ya, hari ini kalau mau telepon silakan,
- tapi kalau masih sibuk di dapur silakan
- dilanjutkan. Kita jeda sejenak, nanti
- kami kembali ke ruang dengar Anda.
- Rasul TV
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- Terima kasih masih bersama Rasul untuk
- Islam yang satu dan
- kita tengah bersama-sama bahas Ramadan
- tanpa drama nih.
- Heeh.
- Untuk
- maaf dan memaafkan itu kelihatannya satu
- kata yang sangat umum kita dengar ya.
- Iya. Tapi tingkat kesulitannya bagi
- sementara orang cukup tinggi loh Mbak
- Mona. Gimana nih? Eee
- menyumbat tenggorokan kalau
- [tertawa]
- beberapa orang bisa sampai kayak gitu
- gitu ya karena berat banget dia mau
- minta maaf gitu ya. Susah banget ya mau
- minta maaf ya gitu.
- Eee
- ya bet- betul betul Mbak Nuning. Jadi
- eee ada asumsi yang salah di dalam eee
- pikiran seseorang ketika mau minta maaf
- itu dia seolah-olah mau mempertontonkan
- kelemahan dirinya gitu atau dia yakin
- dia
- eee dia berbuat dia tidak terlalu yakin
- bahwa dia berbuat salah tapi dia harus
- minta maaf bahwa dia juga ada yang
- salah. Jadi nego-nego di kepalanya terus
- juga dia harus eee apa mempertontonkan
- kelemahannya itu membuat jadi tercekak
- gitu ya mau minta maaf aja gitu.
- Eee susah banget. Nah
- eee
- Mbak Nuning eee
- kenapa orang sering malas minta maaf.
- Jadi, itu karena ego, ya. Jadi, ada
- riset di eh eh Queensland, ya.
- Bahwa orang yang enggan meminta maaf,
- biasanya merasa dirinya punya power yang
- lebih besar dari orang lain.
- Eh, dan dia ngerasa
- dia harus ngejaga self esteem-nya gitu.
- Dengan dia enggan meminta maaf, itu dia
- merasa dia
- eh apa, egonya terjaga gitu.
- Jadi, dia terbelenggu untuk tidak
- meminta maaf.
- Padahal,
- minta maaf itu adalah sangat baik gitu
- di dalam Islam.
- Eh, meminta maaf itu sangat mulia
- begitu.
- Eh,
- memaafkan
- itu sangat baik, tapi meminta maaf itu
- berat banget gitu. Jadi,
- minta maaf itu perlu kita biasakan. Nah,
- maka saya suka sekali ya di dalam
- berbagai pertemuan itu, orang-orang yang
- saleh-salehah itu, ketika ketemu itu
- sering aduh, mohon maaf ya kalau ada
- kesalahan. Itu keren banget. Saya punya
- teman ya di sebuah grup WA.
- Dia sudah cukup senior begitu ya. Eh,
- beliau itu setiap hari menambahkan kata
- mohon maaf lahir batin, ya. Eh, salam
- dan mohon maaf lahir batin kalau ada
- hal-hal yang kurang berkenan selama ini.
- Saya tuh awal-awal membaca-membaca
- begitu ya.
- Iya ya, ini keren banget ya. Jadi, dia
- meyak-memastikan bahwa
- eh apa yang mungkin pernah terjadi itu
- itu eh
- dia apa ya, dia urai gitu ya dengan
- meminta maaf.
- Nah, bagus adalah
- kalau cuman maaf ya, maaf ya, itu kan
- kelihatannya umum. Yang bagus adalah
- ketika memang ada real kesalahan, lalu
- kita bisa secara spesifik menjelaskannya
- dan meminta maaf. Ini maafnya karena
- gini gitu.
- Itu keren banget.
- Itu keren banget, karena dia membuat eh
- maaf itu enggak cuman maaf ya gitu aja,
- tapi maafnya itu kenapa ya maaf gitu.
- Itu itu bagus banget. Dan
- eh biasanya di di awal bulan Ramadan
- kita kan
- Sudah lakukan itu ya.
- Lakukan itu ya, tapi itu kan memang
- cenderung ya basa-basi begitu ya. Eh
- makanya kita kasih nilai tambah lagi
- bahwa
- itu real.
- Eh terutama sama orang-orang yang
- eh perlu eh kita minta in maaf gitu ya.
- [tertawa]
- Gitu Mak Nuning. Mememaafkan kesalahan
- orang lain bisa jadi
- tidak sulit juga dilakukan. Tapi ketika
- torehannya itu meninggalkan bekas dan
- jadi beban panjang, caranya untuk bisa
- memaafkan dia gimana? Mak maafin dia ya?
- Iya.
- Eh jadi
- kita memaafkan orang lain itu
- ketika kita nah bulan Ramadan ini kan
- bagus ya. Ini adalah bulan di mana kita
- bisa
- memastikan untuk memulai atau
- mengoptimalkan
- perbuatan baik dan meninggalkan
- perbuatan buruk. Dengan keyakinan itu
- kita akan dapat berkah yang besar karena
- kita siap untuk memaafkan orang lain.
- Memaafkan orang yang sudah nyakitin hati
- kita gitu ya. Dan kita bisa
- eh apa loloslah begitu ya, lulus dalam
- eh apa eh Ramadan ini gitu.
- Ee karena kita bisa menahan ego kita.
- Kita yakin bahwa setiap orang pasti
- berbuat kesalahan, pasti berbuat
- kesalahan. Namanya juga namanya juga
- manusia ya. Manusia enggak pernah enggak
- salah gitu kan, pasti pernah salah,
- pasti pernah berbuat salah. Ada berbuat
- baik juga, tapi pasti ada berbuat
- salahnya. Jadi ee dengan kita dengan
- kita menyadari bahwa kita adalah manusia
- yang lemah, kita adalah orang yang pasti
- berbuat salah dan orang lain juga
- berbuat salah gitu ya dan orang lain
- sudah mau minta maaf ke kita itu sudah
- keren banget gitu.
- Maka sayang kalau kita enggak maafin.
- Ini
- ini
- ini berharga banget kalau bisa ya bisa
- kita lakukan.
- Heeh, heeh.
- Momen meminta maaf dan memberikan maaf
- ini jadi fenomena psikologis ya Mbak
- Mona ya.
- betul banget.
- Yang kalau kita lakukan
- ee kebersamaan
- untuk bisa
- meminta maaf itu juga sesuatu yang tidak
- mudah apalagi kalau tingkat sosialnya
- berbeda. Iya.
- Tadi waktu Mbak Mona cerita tentang
- seorang pedagang yang menggratiskan
- Iya. dagangannya ini ada yang terharu
- sekali mendengarnya terkait dengan
- memberikan di bulan Ramadan ini gratisan
- dagangannya. Itu pedagang kaki lima di
- pinggir jalan kah Mbak Mona?
- Iya, iya betul. Jadi dia ee
- apa namanya ee
- mau bersedekahnya dengan cara itu gitu.
- Luar biasa, luar biasa.
- Memang dia ada yang sebagian dijual,
- tapi sebagian juga ada yang disedekahkan
- gitu.
- Dahsyat kan, keren banget kan orang yang
- kayak gitu gitu.
- Nanti kalau sudah enggak lebar eh sudah
- enggak bulan Ramadan, kalau kita pernah
- melewati dia Heeh. Betul,
- [tertawa]
- betul. next time-nya gitu.
- Mbak Nuning, jadi gini.
- Kenapa kita perlu
- eee
- ulang-ulang penjelasan untuk berbuat
- baik, untuk menghindari berbuat buruk,
- untuk meminta maaf, untuk memaafkan,
- untuk pokoknya seperti itu. Karena
- manusia itu
- banyak khilafnya. Jadi ketika
- diingatkan, ayo bersedekah, ayo
- berzakat, ayo berbuat baik, ayo gini,
- ayo salat, ayo tambah zikir lebih
- banyak, ayo baca Alquran. Itu
- terus-menerus diung, diingatkan. Ini kan
- namanya juga pesantrennya kita nih
- setahun, satu bulan ini gitu. Di momen
- di pesantren ini, ini berkah banget.
- Kalau enggak lagi bulan Ramadan,
- kecenderungan untuk ajakan-ajakan itu
- bisa jadi tidak se
- aktif gitu ya,
- kita dalam keseharian di bulan Ramadan
- begitu.
- Atau bahkan ketika kita scroll, kalau
- kita enggak
- pakai pakai gadget ya. Kalau kita kan
- itu kan ini ya, apa namanya tergantung
- algoritma ya. Kalau kita sering menonton
- yang religi-religi, keluarnya banyak
- religi-religi yang datang. Sementara
- kalau kita enggak nonton yang seperti
- itu, nanti keluarnya ya yang repeated
- yang biasa kita tonton. Nah, bayangkan
- coba ya, kalau kita
- eee
- sudah apa membiasakan dengan
- ungkapan-ungkapan atau memasukkan
- informasi-informasi yang berbuat baik,
- menghindari berbuat buruk, kita akan
- menjadi terbiasa gitu. Kita akan menjadi
- terbiasa dan
- ini menjadi energi berharga untuk jadi
- bersih dan masuk ke dalam
- eee 11 bulan berikutnya gitu ya.
- Eee
- eee dengan modal-modal yang kita
- dapatkan di bulan Ramadan ini.
- So,
- benar, jagalah hati.
- [tertawa]
- Jangan kau nodai. Jangan nodai hati. Ini
- satu, entah statement atau pertanyaan,
- tidak ada namanya. Bagaimana kita bisa
- memberikan maaf kepada pengelola negeri
- yang membuat negeri ini menjadi
- berantakan. Bagaimana caranya memaafkan?
- Membiarkan saja atau ee oh.
- Iya. [tertawa]
- Jadi, ee beberapa hari yang lalu saya
- ikut menulis di media, di ee
- Kompasiana, ketika ada pernyataan
- tentang
- kabur saja dulu gitu ya.
- [tertawa]
- Ada hashtag kabur saja dulu gitu ya. Ee
- saya menulis ee jangan dong gitu.
- Anak-anak Indonesia yang keren-keren
- ini, ayo mau ke sekolah ke luar negeri,
- mau belajar ke luar negeri, mau
- kabur.
- mau ee apa ee
- bekerja selama sekian lama, nanti
- kembali lagi atau belajar dan
- sebagainya, itu bagus. Monggo, silakan.
- Tapi jangan energinya marah gitu. Aku
- mau kabur deh, kan itu kan marah kan
- energinya. Ee atau juga kesannya kayak
- aku enggak mau peduli lagi gitu sama
- kondisi ini. Kan
- PR kita bersama nih, ini rumah kita
- bersama. Kita harus sama-sama rapiin,
- sama-sama beresin. Barangkali kita juga
- berkontribusi untuk membuat itu terjadi
- gitu. Karena enggak mungkin ada banjir
- kalau
- pasti ada hubungannya dengan kita gitu.
- Pasti kontribusi itu pasti ada link-nya
- gitu. Mungkin kita enggak cukup berdoa
- gitu, minimal ya kan.
- Yang ter
- ee ini ya, terakhir lah gitu ya. Kan
- tadinya kita dengan ee tangan ee ya ya
- artinya dengan real kita action gitu ya,
- berbuat. Ambil alih, ambil bagian, ambil
- posisi di situ gitu ya. Kedua,
- kita dengan omongan gitu ya, seperti
- yang saya lakukan. Saya tidak lagi di
- posisi struktural dulu pernah berada di
- posisi eh apa lembaga negara, sekarang
- eh eh saya mengungkapkannya dengan
- kata-kata gitu ya, dengan tulisan gitu
- ya. Dan eh selanjutnya eh atau juga
- dengan eh ajakan-ajakan di ruang-ruang
- kelas atau di ruang-ruang publik di mana
- saya memungkinkan untuk melakukannya.
- Dan juga berdoa. Saya ingat banget Mbak
- Nunung.
- He em. Tahun 2013 ketika saya
- berkesempatan untuk melaksanakan ibadah
- haji,
- saya
- tersadarkan
- ketika ada orang di depan saya gitu ya,
- He em. ibu-ibu berdoa dan sambil
- mencucurkan air mata, dia bilang begini,
- "Ya Allah,
- eh beresin para pemimpin di negara kami.
- Beresin eh jaga dia, jaga pokoknya
- doa-doanya itu tentang negara."
- Saya terkagum-kagum Mbak Nunung. Masya
- Allah itu luar biasa ibu itu ya. Dia
- dengan sungguh-sungguh didoain semuanya
- tuh. Bahwa Indonesia ini tolong dan itu
- saya dengerin secara tulus gitu. Itu
- ibu-ibu yang eh apa namanya em
- yang punya tanggung jawab sosial. Eh
- yang biasa saya sebut PSR, personal
- social responsibility. Punya tanggung
- jawab sosial yang sangat tinggi untuk eh
- minimal doain deh gitu. Dan itu
- sungguh-sungguh doanya sambil bercucuran
- air mata. Lalu saya tulis itu Mbak
- Nunung. Saya tulis ya, saya tulis eh
- omongan-omongan dia itu sambil saya eh
- ini lalu saya tulis di sebuah media ya,
- di Republika waktu itu.
- Saya tulis eh apa ya?
- Ini nih yang perlu kita lakuin nih,
- jangan-jangan nih kita kurang doain nih
- sama para
- [tertawa]
- sama kondisi negara Indonesia ini gitu.
- Jangan-jangan itu gitu. Dan karena
- Ramadan adalah bulan di mana doa banyak
- dikabulkan, yuk kita semua lantunkan
- doa, panjatkan doa agar negeri kita
- menjadi jauh lebih aman, nyaman. Iya,
- iya, iya. Dan dan semuanya punya
- kesadaran Mbak Nuning untuk yang punya
- tugas menegakkan, menegakkan, dikasih
- energi untuk menegakkan. Amin,
- insyaallah. Heeh. Oke, ini pertanyaan
- dari Batam nih Mbak Mona.
- [berdehem]
- Tema yang tak akan pernah habis untuk
- dibahas, memaafkan.
- Memang enak diucap tapi sulit.
- Cuma enggak boleh nyerah, ada tip yang
- dipraktikkan sahabat Nabi Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam hingga
- dibilang Rasulullah itu ahli surga tiga
- kali, yaitu memaafkan orang sebelum kita
- tidur. Jadi jangan nunggu Ramadan baru
- maaf-maafan, makanya susah untuk
- melupakan. Sepertinya memang pemahaman
- agama yang perlu didalamin sih.
- Bagaimana menurut pendapat Ibu Mona
- dengan kisah ini? Syukron, Abu Muaz di
- Batam.
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- adalah
- referensi penting
- untuk kita.
- Maka dengan kita belajar
- dari beliau, apalagi dengan kisah-kisah
- yang jelas gitu ya.
- Eh bukan drama ya, real ceritanya. Kita
- jadi
- eh punya panduan, panutan, oh seperti
- apa harusnya gitu.
- Meskipun enggak mudah ya, sulit untuk
- minta maaf atau ngakuin kesalahan, itu
- juga
- eh sulit. Maka kita juga perlu untuk
- eh punya pegangan-pegangan. Jadi itu-itu
- referensi yang berharga dari Rasulullah,
- tapi juga kita punya pegangan-pegangan
- personal gitu ya untuk gimana sih supaya
- kita tuh kuat gitu untuk melaksanakan
- itu. Ada beberapa tips baru nih. Ehm.
- Yang pertama adalah
- kita pikirin apa yang terjadi
- dan perbuatan apa yang bikin kita minta
- maaf.
- Apa sih real kesalahannya? Kita pikirin.
- Barangkali kita perlu perlu tulis gitu
- ya karena karena itu masih kan dipikirin
- terus ditulis. Misalnya ya kadang-kadang
- kan kita perlu
- eh
- menalarkan kenapa kok
- kita perlu minta maaf
- di bagian mana gitu. Jadi eh
- dengan kita oh ini ini nih, saya
- ngomongnya nanti begini nih gitu ya.
- Dengan kita ini kita bisa ngatur oh
- ngomongnya gini gini gini gini. Terus
- kita latihan untuk ngomong. Kan tadi ini
- berat nih untuk minta maaf nih ya kan.
- Mari kita pikirin, oke pantas nih saya
- minta maaf nih. Kali kita tulis dulu,
- kita runutin, oke saya ngomongnya ini
- dulu misalnya begitu ya. Ini terutama
- hal-hal yang penting banget ya karena
- yang berat ya.
- Terus latihan, gimana ngomongnya?
- Latihan.
- Eh
- jelas, eh rasakan apakah omongan itu
- sudah jelas gitu ya.
- Eh akui kesalahannya dengan tulus dan
- terasa tulus. Tulus dan terasa tulus
- gitu ya. Eh jangan banyak alasan-alasan,
- jangan banyak alasan-alasan bagus untuk
- bilang bahwa kita tuh enggak bagus gitu.
- [tertawa]
- Terus eh menyesali
- eh enggak nyalahin orang lain lagi,
- enggak memperbesar cerita jadi banyak
- dramanya lagi gitu ya.
- Eh terus dengerin respon dari orang yang
- kita minta in maaf itu. Barangkali dia
- mau merespon, oke. Ngertiin bagaimana
- responnya dia gitu ya.
- He em.
- Itu di antaranya beberapa catatan yang
- perlu kita
- eh, gunakan ketika kita mau meminta
- maaf.
- Ini, ini situasinya memang kita salah
- gitu ya. Bukan tadi mohon maaf lahir
- batin, selamat lebaran, selamat puasa,
- bukan itu gitu ya. Tetapi situasinya
- memang ada sesuatu yang perlu kita
- maafkan, perlu kita meminta maaf dan ke
- kita minta maaf dengan sungguh-sungguh
- sehingga kita enggak bawa kesalahan ini
- nanti di dunia, di akhirat nanti gitu.
- Kan rugi. Iya kan?
- Bayangin apalagi orang yang pernah kita
- sakit hatiin terus dia dengan
- sungguh-sungguh bilang
- "Oke, catatannya nanti sama Allah ya."
- Wah, itu berat banget tuh. Saya takut
- banget sama orang-orang yang sampai bisa
- bilang kayak begitu tuh gitu.
- Dan takutlah sama orang yang bisa
- ngomong kayak gitu.
- Iya ya, kita sudah di ujung nih satu
- pertanyaan dari Ibu Aminah.
- Ehm, terima kasih sekali.
- Kalau
- ini Mbak Mona He em. Saya sering minta
- maaf baik di WA atau langsung mungkin
- ya. Anak, menantu tapi enggak pernah
- dibalas.
- Iya.
- Enggak apa-apa.
- bagaimana sebagai orang tua?
- [tertawa]
- Minta maaf itu kan komitmen untuk
- menjaga hubungan ya. He em. Jadi, eh
- do our best and it is enough.
- Kita lakukan yang terbaik dan itu cukup.
- Udah, nanti juga sadar sendiri.
- Maka kalau kita bisa minta maaf dalam
- situasi yang nyaman, maafin ya Bunda
- enggak bisa
- eh, membuat kamu sepenuhnya puas atau
- maafin ya pernah sibuk sendiri waktu eee
- kalian masih kecil, maafin ya Bunda
- enggak bisa me nyelesaikan semua
- kebutuhan yang kamu inginkan.
- Eee kan ada keinginan ada kebutuhan ya.
- Yang kebutuhan mungkin diselesaikan tapi
- keinginan mungkin enggak seperti yang
- kalian inginkan, atau juga Bunda enggak
- sabar, Bunda begini, ma mohon maaf ya
- gitu. Enggak apa-apa udah, yang penting
- kita udah lakukan yang terbaik. Nanti
- pelan-pelan anak-anak juga akan
- menyadari.
- Semoga
- ini refleksi juga untuk saya ya.
- [tertawa]
- Iya, kita rangkum bahasan terkait dengan
- Ramadan.
- Ramadan. No drama.
- [tertawa]
- Oke baik Ikhwan dan Akhwat yang
- dirahmati Allah, terima kasih ya sudah
- bersama hari ini. Jadi eee ah
- alhamdulillah
- alhamdulillah wasyukurillah [bernyanyi]
- Terima kasih ya Allah saya dikasih
- kesempatan
- eee masuk Ramadan tahun ini, semoga kita
- semua bisa selesai Ramadan tahun ini dan
- semakin kita menyadari betapa banyak
- berkah Ramadan kita ini gitu. Maka
- jangan sia-siakan mumpung baru hari
- kedua, jangan sampai kita sia-siakan
- Ramadan ini eee dengan eee eee
- berkomunikasi yang intens kepada Allah,
- dengan berkomunikasi yang reflektif
- kepada diri kita sendiri untuk
- mengoptimalkan berkah Ramadan ini.
- Kemudian berkomunikasi efektif dengan
- orang-orang di sekitar kita yang memang
- lahannya adalah komunikasi sosial di
- bulan Ramadan ini lagi berkah-berkahnya
- kita dikasih melalui berbagai jalur
- zakat, amalan, sedekah, kebaikan dan
- lain sebagainya. Kemudian dengan
- keluarga kita intens sekali luar biasa
- melalui media sosial juga kita perlu
- pandai-pandai
- dalam memanfaatkannya
- dan jangan lupa kesempatan emas untuk
- menggugurkan ya, setahu saya baru
- kemarin saya dengar tuh Ramadan itu kita
- nih kayak dipretelin gitu ya dosa-dosa.
- [tertawa]
- Nah, ini kesempatan nih makanya jangan
- ragu untuk mengungkap kan maaf jika itu
- diperlukan
- dan kita merasa itu salah gitu ya dan
- berikan maaf ketika orang memintanya
- begitu.
- Wabillahi taufik walhidayah
- wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Mohon maaf kalau ada yang
- kurang berkenan. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Ikhwan akhwat dari apa yang sudah kita
- dengar sering-sering minta maaf tuh
- keren banget. Meminta-minta tuh kan
- enggak bagus ya, tapi untuk meminta maaf
- itu paling luar biasa. Terus pemberian
- yang nilainya tinggi banget juga adalah
- pemberian memberi maaf. Jadi kata maaf
- itu mudah-mudahan ada dalam genggaman
- kita selama Ramadan ini
- maaf memaafkan dan meminta maaf yang
- akan berlanjut sesudah Ramadan nanti ya.
- Baik ikhwan akhwat mudah-mudahan kita
- bisa tingkatkan empati dan peduli kita
- pada hal-hal yang terkait dengan yang
- dibahas oleh Dokter Laila Ganim sore
- hari ini.
- Sekali lagi terima kasih banyak.
- Sama-sama Mbak. Billahi taufik
- walhidayah wassalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.