Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:08 Rasul TV 0:15 Assalamualaikum Bang Ichsanudin Noersy, 0:18 apa kabar? 0:19 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:22 wabarakatuh. 0:24 Para pendengar Rasul dan pemirsa Rasul 0:25 TV yang saya hormati. Begitu. 0:30 Luar biasa, luar biasa. Ini hari-hari 0:33 Selasa. 0:34 Iya. Ini hari yang banyak 0:37 ditunggu-tunggu orang tentang TNI ya, 0:39 hari 0:40 ulang tahun TNI, dulu hari ABRI. Saya 0:42 tuh kalau masih SMP-SMA dulu pergi kita 0:44 ke mana tuh, lapangan Senayan ya, buat 0:47 ngelihat naik-naik ke tank lah gitu ya. 0:50 Ah, tapi nampaknya 0:52 hari ini pun ditandai oleh berbagai 0:55 sepak terjang dari Menteri Keuangan 0:57 dan juga adanya kisah tentang 1:01 apa tuh, kotak Pandora lagi, Pandora 1:03 mulu ini satu lagi, Pandora Papers. Ah, 1:06 ada lagi keseret-seret beberapa orang di 1:08 dalam nama itu. Pajak pula menjadi 1:11 masalah ketika Menteri Keuangan akan 1:14 menerapkan kisah pajak baru, entah bela 1:16 si kecil atau yang mana. Mungkin Bang 1:19 Ichsanudin Noersy bisa menerangkan 1:21 kepada pendengar rentetan 1:23 peristiwa sekarang dan masa depan ini 1:26 menambah kacamata kita lebih luas, 1:28 wawasan tambah mentereng. Silakan Bang 1:31 Ichsanudin. 1:32 Eh. 1:34 Karena 1:35 karena kita di ekonomi ya He em. dan 1:37 ekonomi politik nanti kita bicara baru 1:39 soal TNI ya. Betul. Kita bicara dulu 1:41 soal pajak ya. Pajak dulu betul yang 1:44 bikin uring-uringan nih bagian orang. 1:47 Sejak saya di DPR dulu saya 1:50 memang memasalahkan 1:52 pajak itu pada tataran 1:54 eh 1:56 lima hal. 1:59 Yang pertama ee 2:00 persoalan tarifnya. 2:03 Ehm. 2:03 Tarif nominalnya dan 2:06 tarif ee efektifnya gitu. 2:10 Ee apa perbedaan antara tarif nominal 2:13 sama tarif efektif? 2:15 Kalau misalnya mereka menetapkan 10% 2:18 Ehm. 2:19 nanti real-nya ee karena statusnya 2:22 menghitung sendiri gitu ya Ehm. terus 2:24 terjadi pemeriksaan 2:27 nanti mereka dengan pengawasan bisa 2:28 ngomong lebih bisa ngomong kurang. 2:30 Makanya bisa 2:32 jadi masalah macam-macam di Majelis 2:33 Pertimbangan Perpajakan. Ehm. 2:36 Jadi yang pertama soal tarif. 2:39 Yang kedua soal administrasinya. 2:41 Oh ini ramai nih soal administrasi. 2:44 Nah pada konstruksi soal administrasi 2:46 ini 2:47 ada perbedaan perdebatan dari dulu. 2:51 Ehm. Ee dalam sosialisasi kita bilang 2:53 warga negara ini wajib bayar pajak atau 2:56 pembayar pajak? 2:57 Kan beda istilahnya kan? 2:59 Iya. Kalau 3:00 tax obliges 3:02 tax obligator sama tax payer beda kan? 3:05 Iya, betul-betul. 3:07 Kan tidak semua warga negara punya 3:10 ee punya kemampuan bayar atau punya 3:13 kalau bisa bayar. 3:15 Nah di sini terjadi pengklasifikasian 3:17 ee menjadi tiga. 3:19 Ee willingness to pay dan capacity to 3:22 pay. Ehm. 3:23 Ada kerelaan ada keikhlasan membayar 3:26 tidak ada kemampuan membayar. 3:28 Ada orang punya kemampuan membayar tapi 3:30 dia tidak mau membayar. 3:32 Iya. Saya lihat begitu. Ada orang punya 3:33 kemampuan tapi dia tidak mau willingness 3:35 to pay-nya enggak ada tapi dia punya 3:37 capacity to pay-nya ada gitu. 3:40 Nah ada orang yang punya kapasitas ada 3:41 orang yang punya kemampuan dia bayar tuh 3:43 dua-duanya. Ehm. Nah ada orang yang 3:45 punya kemauan membayar tapi dia tidak 3:47 punya kapasitas membayar gitu. 3:50 Kayak orang-orang miskin kan dia punya 3:52 terpanggillah untuk membantu negara. 3:53 Bantu negara, betul. Iya. 3:56 Nah, yang keempat tidak ada kemampuan 3:58 dan tidak ada kapasitas, tidak ada 4:00 kemauan dan tidak ada kemampuan. 4:01 He em, he em. 4:03 Kita tidak masalahkan ini karena ini 4:04 termasuk dalam pasal 34 fakir miskin dan 4:06 anak terlantar kan. 4:09 Itu enggak enggak bisa dimasukkan. Nah, 4:11 ketika digeser itu baru dua hal ya. Iya. 4:14 Nanti urusan yang ketiga eh soal eh soal 4:16 kemudian 4:18 eh bagaimana eh 4:20 pengembaliannya, bagaimana keadilannya. 4:22 Pengelolaannya. 4:25 Iya. Bocornya kebocorannya lagi. Iya, eh 4:29 artinya soal peredaran pajaknya karena 4:31 kan eh peredaran pajak itu 4:33 juga menunjuk tentang taxation. No 4:35 taxation without representation. Jadi, 4:37 tidak ada perpajakan tanpa sistem 4:38 perwakilan yang benar. Nah, 4:40 lima hal itu ternyata dari apa yang saya 4:42 persoalkan sekitar satu generasi lalu 4:44 hingga sekarang berjalan. Apa 4:45 indikatornya? He em. Indikatornya ada 4:48 minimal kita dapat tiga di sini. He em. 4:51 Pertama, utang luar negeri itu bisa 4:53 dibayar kalau rakyat Indonesia membayar 4:55 kan itu dekat kalimatnya kan. 4:57 Kalimat Menteri Keuangan itu kayak gitu. 4:59 Kayak gitu. Bahkan 5:01 NIK mau dijadikan NPWP. Nah, ini kan 5:04 lucu lagi. 5:04 Itu itu aplikasinya. 5:06 Eh, aplikasi. 5:06 Aplikasi aplikasinya adalah karena 5:08 kalimatnya adalah warga negara itu utang 5:11 negara bisa dibayar kalau warga negara 5:13 mau bayar pajak. Maka, diaplikasikan 5:14 dengan nomor induk kepegawaian menjadi 5:17 NPWP. Nah, tadi berkaitan kan tadi. 5:19 Iya, iya. Kan istilahnya wajib pajak 5:20 wajib pajak bukan taxpayer bukan WP ya. 5:22 Wajib pajak. Jadi, semua orang dikenakan 5:24 sebagai wajib pajak. 5:26 Nah, ini nanti akan menimbulkan rasa 5:27 ketidak 5:28 ketidakadilan ketika bicara tentang eh 5:30 pembagian, 5:32 tentang peradilan, tentang macam-macam 5:34 di situ di dalam. 5:34 Tax amnesty kedua itu kan. 5:37 Iya. 5:38 Berkaitan di situ Nah, itu eh makanya 5:40 digeserlah isu dari posisi 5:43 eh kegagalan pajak diubah menjadi NIK. 5:46 Padahal kan 5:47 eh saya bilang ini kan bermula dari 5:49 kegagalan fiskal, indikatornya adalah He 5:52 eh. pengembalian pajak kepada pembayar 5:55 bukan ya istilahnya bagaimana wajak 5:58 pajak dikembalikan kepada masyarakat 5:59 dalam bentuk public services gitu ya. He 6:02 eh. Itu kan tidak nyata, apa 6:04 indikatornya lihat Bansos misalnya, 6:06 lihat KKP yang paling tidak dalam era 6:07 terakhir ini. He eh. Banyak dikorup gitu 6:10 dan korup di mana-mana. 6:11 Itu kan gambarannya kayak gitu gitu. 6:14 Jadi ada hal yang diserahkan oleh 6:16 masyarakat tapi masyarakat tidak 6:17 mendapatkan nilai balik, nilai kembali, 6:19 return-nya itu enggak ada gitu. Yang 6:21 diserahkan oleh masyarakat adalah 6:23 kedaulatan rakyatnya. Yang diserahkan 6:25 oleh masyarakat adalah pajaknya, ya kan 6:28 posisinya. Ya mereka bayar pajak. Yang 6:30 diserahkan masyarakat adalah pengelolaan 6:32 negaranya posisinya, pengelolaan 6:35 pemerintahan. 6:36 Tapi masyarakat mendapatkan ini ini 6:39 kalau di di Amerika sana asalan data aja 6:42 ini juga ini pernah saya kutip juga di 6:44 Prancis tapi menjadi 6:46 referensi utama saya gitu. Why people 6:48 don't trust the government, itu dimulai 6:50 dari perpajakan. 6:51 Iya. 6:51 Tapi jangan salah ketika disebut dengan 6:53 why people don't trust the government, 6:55 kenapa masyarakat tidak percaya, rakyat 6:57 tidak percaya kepada pemerintah. He eh. 6:59 Itu nanti berus bisa berubah menjadi 7:01 masalah He eh. social distrust 7:03 ketidakpercayaan sosial dan politik 7:05 distrust gitu. Kalau 7:07 semua rakyat dijadikan sebagai pembayar 7:10 pajak 7:11 He eh. bukan sebagai wajib pajak gitu 7:13 ya. 7:14 He eh. 7:14 Seluruh masyarakat wajib pajak 7:18 dan berarti anak-anak yang baru lahir 7:19 pun 7:20 nanti mereka sudah dapat KTP juga. 7:22 induk kependudukannya. 7:23 Iya. He eh. 7:25 Jadi begitu dan bagaimana dengan 7:27 Pak tenaga kerja asing yang punya yang 7:29 yang punya juga KTP, wah itu kan seru 7:31 tuh jadinya. He eh. Jadi buat saya eh 7:34 ada sisi negatifnya cuma satu nih, eh 7:36 cuma sisi nega sisi positifnya cuma satu 7:39 nih. Iya. Artinya eh, tidak suka akan 7:42 terjadi eh, kesinkronisasi data. Itu 7:45 bagus kalau lagi disinkronisasi data. 7:49 Tapi negatifnya luar biasa daripada 7:51 positifnya gitu. Kalau kita lihat ya, 7:53 sinkronisasi data antara pajak sama 7:55 kependudukan jadi luar biasa bagusnya. 7:57 Tapi akhirnya big data, nanti akhirnya 7:59 soal kebocoran data, kan gitu kan? 8:01 Ujungnya kan? Karena big big data adalah 8:03 bisnis gitu posisinya. 8:05 Eh, di satu sisi bagus gitu, 8:07 sinkronisasi tapi juga akhirnya jadi 8:09 bisnis. Tapi di sisi lain negatifnya 8:10 juga banyak. 8:11 Nah, saat itulah terbukti bahwa 8:13 sesungguhnya eh, fiskal itu kering 8:15 kerontang istilah saya. Jadi wawancara 8:18 saya yang tidak ditulis oleh sebuah 8:20 media gitu ya. 8:21 Saya bilang ini kan gambaran bahwa 8:22 fiskal ini kering kerontang, bahwa 8:24 memang fiskal mengalami krisis. 8:26 Eh, itu digambarkan oleh tax ratio yang 8:28 tidak eh, tercapai, itu digambarkan oleh 8:31 keseimbangan primer yang terus-menerus 8:32 membesar posisinya. 8:34 Keseimbangan primer adalah penerimaan 8:36 perpajakan eh, untuk bayar untuk bayar 8:38 bunga saja enggak mampu gitu. Itu 8:40 gambarannya. 8:41 Untuk bayar bunga saja kesim jadi 8:43 kemampuan penerimaan negara untuk bayar 8:44 bunga saja enggak mampu, maka itu 8:46 keseimbangan primernya negatif gitu. 8:48 Yang disebut dengan keseimbangan primer 8:50 posisinya. 8:51 Nah, di situlah muncul gagasan tax 8:53 amnesty itu, di situlah muncul 8:55 harmonisasi perpajakan gitu posisinya. 8:58 Nah, eh, 9:00 ini jangan salah, ini nanti eh, eh, 9:02 ketika semua hak eh, ketika semua hak 9:05 masyarakat diambil gitu ya, tapi 9:07 kemudian masyarakat tidak menerima 9:10 haknya gitu ya, posisinya. Waduh, ini 9:12 jadi masalah besar. 9:14 Eh, eh, posisinya menjadi apakah model 9:17 perpajakan, sistem fiskal, nah ini dalam 9:21 kerangka ekonomi makronya. 9:23 Apakah sistem fiskal itu dia eh, ajek 9:26 dan rujuk gitu ya, eh, dengan yang 9:28 namanya sistem pro sistem politiknya, 9:31 eh, sistem keadilannya dan sistem 9:33 hukumnya. Sepanjang sistem fiskalnya, 9:36 sistem ekonomi makronya yang saya doakan 9:38 sistem ekonomi makro itu ada lima 9:39 komponen yang saya tidak perlu saya 9:41 ulang begitu ya posisi. He em. Itu tidak 9:43 ketemu dengan namanya sistem politik, 9:45 sistem sosial dan sistem hukumnya. 9:47 Yang muncul adalah eee 9:50 political distrust. 9:52 Gitu. 9:52 Itu yang eee kita ingatkan lewat Rasyid 9:54 nih. He em. Kita ingatkan lewat Rasyid. 9:56 Jadi eee eee misalnya katakan eee 10:02 rangkap jabatan gitu misalnya rangkap 10:03 jabatan. Wah. Jabatan yang akan terjadi 10:06 di waktu mendatang gitu ya. Itu akan 10:08 menimbulkan masalah karena ternyata 10:10 tidak berlaku rumus eee eee sesungguhnya 10:14 eee sistem rekrutan itu harus sehat 10:16 sejak awal. Dan ketika sistem rekrutan 10:18 tidak sehat dia akan melahirkan 10:20 eee eee pengambilan posisi yang tidak 10:22 sehat dan pengambilan posisi yang tidak 10:23 sehat itu mengakibatkan kebijakan fiskal 10:26 yang tidak sehat padahal masyarakat 10:27 diwajibkan bla bla bla bla bla bla gitu. 10:30 Ah itu political distrust. Itu loh eee 10:32 runtunan berpikirnya misalnya begitu. 10:34 Ada bicara soal misalnya alokasi 10:36 anggaran. Alokasi anggaran itu sendiri 10:38 sudah tidak sehat padahal fiskalnya 10:39 sudah sedemikian rupa kebijakannya. Itu 10:41 yang saya bilang fiskal eee alokasi 10:43 anggaran itu tergantung pada mindset, 10:44 tergantung pada kebijakan politik. 10:46 Political will istilahnya seperti apa 10:48 begitu. 10:49 Nah itu eee saya melihatnya dalam posisi 10:51 Nah ketika dikaitkan dengan Pandora, 10:53 Pandora adalah 10:54 Pandora. 10:55 He em. eee satu eee dokumen tentang 10:57 sejumlah orang yang punya perusahaan 11:00 cangkang 11:01 eee untuk eee beberapa motif. He em. 11:05 Kalau dalam dunia perpajakan dianggap 11:06 sebagai eee upaya melarikan diri dari 11:09 pembayaran pajak itu posisinya. He em. 11:12 Tapi kalau dilihat dalam praktek bisnis 11:14 internasional 11:15 Ini merupakan kendaraan untuk 11:17 berinvestasi di beberapa tempat. He em. 11:19 Tanpa memerlukan, tanpa perlu kehadiran 11:22 resmi eee real-nya mereka eee origin 11:25 origin origin corporate-nya, origin 11:27 company-nya ada di mana. Keaslian dia 11:29 ada di mana begitu. 11:30 Maklumi. Eee istilahnya eee bukan origin 11:33 country-nya di mana dia? Itu enggak 11:34 perlu. Cukup cukup pakai British Virgin 11:37 Island, Seychelles Forest. Ada 35 pulau 11:39 yang kayak gitu. Uh, banyak. 11:41 Termasuk Panama, Seychelles Forest gitu. 11:43 Ada 35 pulau yang British Virgin Island. 11:45 Malaysia juga punya kalau enggak salah. 11:48 Nah, itu tujuan kedua. Tujuan ketiga 11:50 sesungguhnya 11:51 beberapa negara tertentu 11:54 memang lebih happy menerima 11:57 perusahaan-perusahaan cangkang daripada 11:59 origin country. Karena 12:01 mereka juga melakukan hal yang sama gitu 12:03 misalnya. Ada beberapa negara kalau 12:05 misalnya pakai negara Indonesia, mereka 12:08 nolak. Tapi kalau pakai korporasi dari 12:12 perusahaan-perusahaan cangkang kayak 12:13 gini gitu ya. He eh. 12:15 Special Purpose Vehicle SPV-nya posisi 12:17 gitu ya. He eh. 12:18 Itu lebih terima, lebih diterima. 12:21 Beberapa negara di Itali misalnya atau 12:22 negara di Eropa untuk melihat perusahaan 12:24 untuk melihat perusahaan datang dari 12:26 Indonesia, 12:27 mereka memicingkan sebelah mata. Tuh. 12:31 Itu real. Mereka memicingkan sebelah 12:33 mata. Tapi kalau mereka menerima 12:35 perusahaannya dari misalnya dari 12:36 perusahaan-perusahaan 12:38 dari cangkang dari dari 12:41 Tax Haven Island gitu ya posisinya. He 12:43 eh. Misalnya perusahaan-perusahaan yang 12:44 mereka 12:45 ya mereka bisa terima welcome. Walaupun 12:47 kemudian nanti ada ada beberapa urusan. 12:50 He eh. Itu positifnya. Negatifnya tadi 12:53 bisa menjadi pelayan pajak. Negatifnya 12:55 lagi posisinya itu ketika kemarin waktu 12:58 BPPN melakukan restrukturisasi, 13:01 salah satu restrukturisasi BPPN kan 13:03 adalah perusahaan lama yang menjadi 13:05 obligor BPPN kan tidak boleh membeli 13:07 kembali kan. 13:08 Dilarang membeli kembali. Itu terjadi 13:10 pembelian kembali melalui 13:11 perusahaan-perusahaan cangkang kayak 13:13 gitu. He eh. 13:14 Ini ngisi enggak usah cerita isinya di 13:15 sini. Iya. Itu jadi taktik hidup. 13:18 Iya, betul. 13:20 Jadian. 13:21 Itu artinya. Nah, karena itu orang 13:23 melihatnya negatif. Nama saya sendiri 13:25 masuk di Panama Paper. Betul. Jadi bukan 13:27 di Pandora. Jadi Pandora. sebelum 13:28 Pandora Papers ada Panama Papers. Hmm. 13:31 Sebelum Pana setelah Panama Papers ada 13:33 Paradise Papers. Hmm. Ada level di sini. 13:37 Hmm. Di Paradise Papers itu Ratu 13:39 Elizabeth 13:40 levelnya. Ada Hashim Djojohadikusumo, 13:43 ada beberapa nama dari Indonesia di 13:44 Paradise Papers. Bukan awal. Di Panama 13:46 Papers itu banyak banyak perusa 13:48 perusahaan-perusahaan yang yang ada di 13:50 situ gitu ya. Hmm. Lalu kemudian ada ya 13:53 saya tidak tahu motifnya tapi di situ 13:54 saya tahu pergaulannya kayak gimana gitu 13:56 Mas Tisha. Hmm. Dan salah satunya memang 13:58 dalam rangka kembali ke Indonesia Hmm. 14:01 untuk menjadi investor setelah 14:03 perusahaan cangkang itu menerima 14:04 investasi dari pihak lain. Iya. Jadi 14:06 seolah-olah itu perusahaan bukan 14:07 perusahaan dari dalam negeri padahal 14:09 perusahaan dalam negeri. Kenapa? Karena 14:11 ingin memanfaatkan tax holiday yang 14:13 terkadang 14:13 luar ya. diberikan oleh satu diberikan 14:16 oleh pemerintah. Sekarang misalnya tax 14:17 holiday-nya 20 tahun posisinya. Iya. 14:20 Kalau pakai perusahaan dalam negeri tax 14:21 holiday enggak dapat kan. Nah, iya. 14:23 Akal-akalan itu. 14:24 Tapi kalau pakai perusahaan asing dapat 14:25 tax holiday 20 tahun. 14:27 kaya. Nah itu dimanfaatkan. Caranya 14:28 gimana? Kan dibikin studi banding. Hmm. 14:30 Studi bandingnya udah bikin aja 14:31 perusahaan di luar cost-nya kan cuma 5 14:33 dolar, cuma 10 dolar gitu kan posisinya. 14:35 Hmm. Paling top 15 dolar posisinya. Jadi 14:38 PMA ya. Perusahaan cangkang. Hmm. Jadi 14:40 perusahaan cangkang itu datang ke si 14:42 Indonesia saya ingin berinvestasi 14:43 begini-begini dengan fasilitas yang 14:45 diberikan Indonesia misalnya tax 14:46 holiday. Wah bayangin tax holiday 20 14:49 tahun dibanding dengan biaya 14:51 berapa 50 dolar atau 60 dolar atau 100 14:53 dolar kan gitu. 14:54 Tapi ini bukan termasuk yang 11.000 14:57 triliun itu bukan lain lagi kan itu kan 14:59 Beda beda. Beda. Memang itu soal Hmm. 15:02 soal 15:03 karena 15:04 di situsnya hilang 11.000 triliun itu. 15:06 Hah, oh hilang ya? 15:07 Udah hilang udah enggak ada. Artinya 15:09 sesungguhnya Hmm. ini nanti berkaitan 15:11 dengan tax amnesty pertanyaan 15:12 selanjutnya. 15:13 Iya sebenarnya karena ada kedua nih tax 15:14 amnesty yang katanya dulu orang pikir 15:16 ini terakhir enggak bakalan ada lagi eh 15:18 ada lagi ini. 15:20 Hmm. Jadi dalam kaitan dengan dengan 15:22 Pandora Papers dan dalam kaitan dengan 15:24 Tax Amnesty. Ini ini memang eh saya 15:27 bilangnya begini kemarin dalam sebuah 15:29 wawancara dengan sebuah media gitu ya. 15:31 Hmm. Ini kejahatan perpajakan di depan 15:33 mata mereka enggak urusin. Saya saya 15:35 pernah bilang sama wakil menteri 15:36 keuangan yang dulu dari UGM, saya lupa 15:38 siapa namanya. Bukan Suahasil ya. Kalau 15:40 sekarang kan wakil menteri keuangannya 15:41 Suahasil. Hmm. 15:43 Yang dulu dari UGM itu profesor siapa 15:44 itu dari BPKP gitu. Saya ingatin dia 15:47 dari BPKP karena menjadi 15:49 Hmm. ini mitra bicara saya gitu ya di 15:51 sebuah universitas 15:53 dalam satu debat Tax Amnesty gitu. 15:54 Begitu juga beberapa anggota komisi 11 15:57 berkali-kali itu di TV gitu ya. Dan saya 15:59 buktikan bahwa pengertian amnestinya 16:00 bukan begitu. Saya senang Dokter 16:02 Mardiasmo ya? bukan yang 16:04 yang yang kesalahannya luar biasa lalu 16:06 kemudian Anda berikan tarif yang 16:09 yang murah gitu. Hmm. 16:11 Ini ini harus bicara data loh tentang 16:13 bagaimana mereka tahu tentang eh bahwa 16:16 ini ada kejahatan. Kan artinya begini 16:18 eh latar belakang Tax Amnesty ini kan 16:20 artinya mereka tahu bahwa eh sejumlah 16:22 perusahaan melakukan kesalahan 16:23 perpajakan kan. 16:24 Hmm. 16:24 Iya. Ah gitu. Artinya ada kejahatan 16:26 perpajakan kan. Bisa diatur nih, 16:27 diberesin. Ah iya. Dibenarkan oleh 16:30 undang-undang sebagai bentuk pengampunan 16:32 dengan cara bayar tarif bayar dengan 16:34 tarif tertentu kan gitu logikanya. Iya. 16:36 Itu yang disebut dengan Tax Amnesty. Oke 16:38 kalau begitu sekarang kalau Anda tahu 16:40 mereka punya kesalahan atau Anda tidak 16:42 tahu, bagaimana sekarang kalau tidak 16:43 sebelum kita keluarkan Tax Amnesty, 16:45 kejahatan perpajakan itu kita bongkar 16:47 saja sendiri gitu. Di situlah saya 16:48 kemudian ribut sama Fuad Rahmani. Hmm. 16:51 Di 2014 16:53 di FISIP UI Iya. bagaimana sesungguhnya 16:56 eh eh problem perpajakan sampai akhirnya 16:58 kenapa saya menggugat misalnya kenapa 17:00 mesti menggunakan pinjaman Bank Dunia 17:02 hanya dalam rangka memperbaiki sistem 17:03 perpajakan. Wah itu seru tuh kalau 17:05 sampai di situ. 17:06 Oh itu itunya Pak ininya ngomongnya gitu 17:08 ya perdebatan diskusinya. 17:10 Hmm. Nah eh itu cerita eh sampai dengan 17:13 Pandora. Artinya kalau pakai saya kutip 17:16 misalnya pendapat Obama. 17:18 Tidak berarti orang yang namanya masuk 17:20 di Paradise Papers, di Panama Papers, di 17:22 Pandora Papers itu adalah orang-orang 17:24 yang bersalah, bukan berarti terjadi 17:25 pelanggaran. 17:26 Nah, di situ saya berpendapat lebih 17:28 lanjut, karena itu diperlukan 17:30 investigasi lebih lanjut, penyelidikan 17:32 lebih lanjut, kenapa nama-nama itu ada 17:34 di situ. Apa aktivis, apa aktivitas 17:37 bisnisnya atau corporate activity-nya 17:39 gitu ya, selama mereka aktif di situ, 17:42 itu kan bisa ditelusuri, bisa dijawab. 17:44 Ada aktivitas bisnisnya atau mereka cuma 17:46 sekedar pinjam nama sebentar lalu untuk 17:48 balik ke Indonesia, bisa terjadi begitu 17:49 gitu. 17:50 Ehm, ehm. 17:51 Eee, atau kemudian mereka cuma sekedar 17:52 menampung investasi dari pihak luar 17:54 karena mereka tidak mau terkena 17:56 peraturan-peraturan Indonesia yang 17:57 aneh-aneh gitu posisinya. Jadi mereka 17:59 gunakan cangkang company, 18:01 perusahaan-perusahaan special purpose 18:03 vehicle ini gitu loh. Ehm, iya. 18:04 Posisinya offshore company ini. Nah, 18:06 namanya kalau cangkang, perusahaan 18:08 cangkang itu offshore, offshore company 18:10 ini untuk datang ke Indonesia, padahal 18:11 si offshore company ini memang bawa 18:12 uang. 18:13 Bawa uang tetapi dengan syarat dia 18:14 terikatnya dengan pakai hukum 18:16 internasional. Kenapa? Karena Indonesia 18:17 lebih tunduk pada hukum internasional 18:19 daripada hukumnya sendiri yang 18:20 yang terkadang tumpang tindih enggak 18:21 karu-karuan gitu misalnya. Ehm, ehm, 18:24 ehm. 18:24 Itu contoh-contoh dari posisi itu gitu, 18:26 dari per prakteknya begitu gitu yang 18:28 mereka lakukan. Itu yang saya kira eee, 18:31 hampir-hampir media tidak terlampau 18:33 membuat, menulisnya secara dalam. Eee. 18:37 Eee, beberapa media tidak melihat ini 18:39 dalam kerangka praktek bisnis gitu. 18:40 Sebuah 18:41 majalah pernah menulisnya secara 18:43 mendalam gitu ya. 18:44 Eee. Ketika dia ngebongkar satu 18:46 transaksi 18:48 antara Indonesia dengan Cina gitu 18:49 posisinya. 18:50 Tapi kemudian kan tidak berlanjut lebih 18:52 lanjut. Dalam investigasi itu pun dia 18:53 investigasi posisinya. Jadi tidak ada 18:56 yang namanya membongkar Pandora Papers, 18:59 eee, Pan, Pa, Paradise atau kemudian 19:03 Panama Papers itu tanpa investigasi, 19:05 makanya ini konsorsium eee, wartawan 19:08 investigatif kan posisinya. 19:10 Ehm, iya, betul. Yang artinya 19:12 kalau kita mungkin dalam kerangka itu 19:15 ehm, dalam kerangka misalnya kita 19:17 memperbaiki perpajakan, ada motif dari 19:19 pemerintah untuk meningkatkan penerimaan 19:21 perpajakan. Ada motif dari pemerintah 19:23 untuk meningkatkan tax coverage ratio, 19:27 misalnya. Bukan bukan sekedar tax ratio, 19:29 tapi tax coverage ratio-nya dinaikin di 19:32 NIK lah, tax amnesty lah, semuanya 19:33 dinaikin posisinya. 19:35 Iya. 19:36 Dia ingin memperbaiki hanya pada sisi 19:38 penerimaan. Nah, kan gitu kan. Berarti 19:42 dia hanya ingin memperbaiki hanya pada 19:43 sisi penerimaan. Padahal dia tidak 19:46 memperbaiki pada sisi pembiayaan. Ehm. 19:48 Nah, sisi pembiayaannya ternyata mereka 19:50 malah membiayai orang kaya, gitu 19:52 misalnya dalam alokasi yang pernah saya 19:54 Keadilan di sini dipertanyakan, begitu 19:56 jadinya. Ah, itu dalam prinsip 19:57 perpajakan ditegaskan, 19:59 bahwa yang namanya perpajakan harus 20:01 menegak menegakkan keadilan, bukan cuma 20:03 sekedar menariknya. Kenapa? Karena wujud 20:06 perpajakan adalah wujud dari sisi 20:08 perwakilan. Nah, berarti sisi politik 20:10 ketemu deh politik fiskal saya. Politik 20:13 fiskal politik itu bisa gimana gitu 20:14 ngelihatnya. 20:17 Nampaknya akan kejadian di tahun depan 20:20 ini apa perubahan, karena hari Kamis ini 20:22 diketok palu urusan yang satu ini. 20:25 Ehm, ceritanya ah, entah ya ada yang 20:28 bilang skenario gelaplah, inilah Pak 20:30 SBY, dia juga bikin pusing negeri ini 20:32 sebelumnya kan panjang lagi kisah dari 20:35 masa lalu. Kalau 20:37 pejabat itu suka main salah-salahan, 20:39 sementara membedakan penguasa dengan 20:42 pengusaha sekarang makin garuk-garuk 20:44 kepala kita karena beban politik ini. 20:47 Nah, itu bagaimana Bang Ichsanudin 20:48 Noorsy? Ini orang-orang mempersiapkan 20:51 2024 ini. Ini di era Soeharto dulu 20:55 masih ada upaya, ehm, 20:57 pemisahan, pemilahan antara 21:00 pengusaha dengan penguasa, walaupun 21:01 kemudian pada tahun 78-an 21:04 gitu ya, 21:05 sudah muncul istilah dwi fungsi. Dwi 21:07 fungsi, tapi bukan dwi fungsi ABRI ya. 21:09 Iya. Dwifungsi pengusaha yang penguasa 21:12 pengusaha penguasa yang pengusaha gitu 21:13 posisinya. Tapi yang posisi si pengusaha 21:16 itu tidak tegas-tegas tampil sebagai 21:19 orang-orang yang punya jabatan publik 21:20 gitu. Mereka ada di politik, tapi mereka 21:22 tidak punya jabatan publik gitu. Kalau 21:24 sekarang kan enggak, pengusaha dan 21:26 penguasa itu masing-masing punya jabatan 21:28 publik dan vulgar gitu. Iya. Vulgar aja, 21:31 artinya itu dwifungsi yang pertama. Kan 21:33 dwifungsi ABRI-nya enggak ada posisi. 21:35 Dwifungsi yang kedua tadi alih fungsi di 21:38 sejumlah jabatan dalam rangka pemilu 21:39 serentak. Ini ada berarti ada dua 21:41 fungsi, ada dwi ada dua dwifungsi. 21:44 Double dwi apa istilahnya? Dwifungsi 21:47 ganda. Dwifungsi ganda. 21:49 Ini ada dwifungsi ganda. 21:51 Ah, di satu sisi ada penguasa yang 21:53 pengusaha, tapi di sisi lain nanti ada 21:56 juga dwifungsi di politik hukum. 22:00 Artinya apa? Artinya diakumulasi 22:02 kekuasaan itu hanya pada pada segelintir 22:05 orang tertentu. 22:07 Itu yang sesungguhnya menjadi sangat 22:09 berbahaya ketika kekuasaan 22:11 dikonsentrasikan pada segelintir 22:13 kelompok tertentu dan sementara di bawah 22:16 punya rasa ketidakadilan yang menguat. 22:17 Ini yang saya bilang eh harus 22:19 ditimbang-timbang secara mendalam apakah 22:22 memang eh pengkonsentrasi kekuasaan pada 22:25 segelintir tertentu itu melahirkan rasa 22:27 keadilan di tengah yang namanya 22:28 perekonomian makin belum jelas masa 22:30 depannya di mana dan beban fiskal pada 22:32 masyarakat makin tinggi beban fiskal. 22:35 Iya. 22:36 Eh eh eh eh 22:37 artinya beban masyarakat bertumbuh ber 22:39 berkali-kali di tengah mana mana namanya 22:41 eh hak mereka hak mereka kedaulatan 22:44 rakyat mereka ya. 22:45 Itu diambil dengan cara-cara yang yang 22:47 tidak tidak 22:49 tidak apa ya? Tidak ajak gitu. Diambil 22:51 dengan cara-cara yang yang menimbulkan 22:53 banyak pertanyaan gitu. 22:54 Yang yang menimbulkan banyak 22:56 permasalahan dirasa gitu. Di pikiran 22:58 mereka bilang oh Mahkamah Konstitusi 22:59 benar keputusannya begitu. Tapi hati 23:01 mereka masih bilang "Enggak nih, ada 23:03 yang satu yang salah gitu." 23:04 Jadi, istilahnya dalam posisi eh 23:06 kedaulatan pelaksanaan proses kedaulatan 23:08 rakyat dan pelaksanaan kedaulatan rakyat 23:09 dan penjelmaan kedaulatan itu 23:12 ada bau kentut gitu loh. 23:15 Tercium ketidakberesannya, misalnya. Ada 23:17 bau tapi mereka tidak tahu siapa dari 23:19 mana sumbernya. 23:22 Itu yang ketemu nanti dengan problematik 23:24 yang tadi yang saya bilang 23:25 eh dwifungsi ganda gitu. 23:28 Mmm. Ganda dwifungsi ini yang yang 23:31 diketemukan dengan sistem politik itu 23:33 akan menimbulkan masalah tertentu. Nah, 23:35 pertanyaan kalau begitu, kalau begitu 23:37 kita sedang menuju ke mana ya? Nah, itu 23:38 yang saya bilang, mari kita hati-hati 23:41 melihat posisi ini. 23:42 Hati-hati melihat posisi ini, apakah 23:44 kita sedang menuju eh istilah saya 23:46 continuous improvement gitu ya 23:48 posisinya. 23:49 Kalau pakai eh 23:51 kalau pakai bahasanya eh faaslih gitu 23:53 ya, bukan eh goyir posisinya. Kalau 23:57 kalau asli kan berarti terus-menerus 23:58 perbaikan, kalau goyir kan dari kondisi 24:00 yang baik terus menurun gitu ya. Ini 24:02 kita sedang ke mana sesungguhnya? Apakah 24:04 memang ini sedang dalam rangka sedang 24:06 memperbaiki kehidupan berbangsa 24:07 bernegara dalam seluruh gatra kehidupan, 24:11 saya ulang ya, dalam seluruh gatra 24:12 kehidupan, atau kemudian akhirnya kita 24:14 memang sedang menuju yang seperti yang 24:16 dirasakan oleh banyak orang. Kok ini 24:19 makin hari terasa makin beban kehidupan 24:21 makin tinggi bukan makin ringan gitu. 24:23 Eh ke 24:24 ke model-model kepemimpinan nasional 24:26 bukan menjadi aset bagi bangsa ini, 24:28 bukan menyelesaikan masalah gitu ya. 24:30 Bukan kemudian malah mem membangun 24:32 kebahagiaan atau membangun kebersamaan, 24:35 ini kok dia bukan aset, dia bukan 24:37 kekayaan, dia tidak membangun dia 24:39 menimbulkan masalah dan tidak membangun 24:41 kebersamaan, kan masalah jadinya. 24:45 Itu yang yang saya maksud dengan 24:46 dwifungsi ganda tadi posisinya gitu yang 24:49 harus dilihat lebih lanjut. 24:51 Eh dalam model kayak gini jelas-jelas, 24:53 jadi 24:54 eh persoalan perpajakan, persoalan itu 24:57 kan ujung-ujungnya akhirnya soal model 25:00 rekrutmen untuk orang-orang yang duduk 25:03 di jabatan publik. Wah, itu itu 25:05 manajemennya sampai di situ tuh. Model 25:07 rekrutmennya gitu. Nah, model rekrutmen 25:09 anggota dewan, model rekrutmen pejabat 25:12 publik, model rekrutmen itu kayak 25:13 gimana? Model partai politik sebagai 25:16 satu-satunya pemegang saham sebagai 25:18 porsi namanya tiga di undang-undang 25:20 amandemen itu gitu atau di pasal 26 eh 25:22 23 positif. Itu kayak gitu deh saya 25:25 melihatnya. Yang saya bilang harus kita 25:26 ubah banyak sekali konstruksi 25:28 kesalahan-kesalahan yang sedang kita 25:30 lanjutkan ini gitu. Kuncinya jadinya 25:32 kepemimpinan ya. Kita enggak usah 25:34 jauh-jauh lah ke Umar bin Abdul Aziz 25:35 walaupun 3 tahun ya. Kita lihat nih, 25:38 Bang, kita jalan-jalan lah ke berbagai 25:39 negara buat ambil potret ya. Ini hari 25:42 ini Angel Merkel membuat speech yang 25:46 luar biasa sejak 31 tahun 25:49 Jerman bergabung dengan Jerman timurnya. 25:52 Luar biasa pembicaraan dia dan luar 25:54 biasa figur seorang Angel Merkel sebagai 25:59 pemimpin boleh dibilang leading di Eropa 26:01 lah ya. 26:02 Apa yang Bang bisa kita ambil contoh? 26:04 Orang mau kok bayar pajak tinggi di sana 26:06 asal jelas penggunaannya atau bagaimana 26:09 kisahnya, Bang? Kita data miskin aja 26:11 masih wara-wiri sekarang ini di sini. 26:13 Ya, apa? Eee, yang mengejutkan bahwa 26:15 saya saya baru aja baca buku New World 26:17 Order ya. Heeh. Saya baca buku untuk 26:20 yang ke berapa kali gitu ya. Heeh. Lalu 26:22 kemudian saya bongkar satu per satu dan 26:25 saya biasa biasa baca buku dengan model 26:26 baca cepat gitu ya. Heeh. Jadi model 26:28 scanning. Boleh kursus gitu. 26:30 Tapi dalam hal ini saya baca dengan 26:32 lebih hati-hati gitu. Heeh. 26:34 Karena saya sedang sedang sedang mencari 26:37 jawaban 26:38 ini mau ke mana tatanan dunia baru yang 26:40 mereka 26:41 yang mereka Dicanangkan ini arah. Lewat 26:45 lewat digital currency gitu. Iya, betul. 26:47 Agenda apa yang 26:49 ternyata di situ disebut Angel Merkel 26:51 itu bagian dari Heem. Bilderberger. Oh, 26:55 begitu. 26:57 Eee, saya enggak terkejut karena banyak 26:59 pemimpin dunia memang bagian dari 27:01 Bilderberger. Walaupun mereka bilang, 27:02 "Ya, kami hadir dua, tiga kali, tapi 27:04 selebihnya kami enggak hadir." Tapi di 27:05 situ mereka sudah 27:07 sudah dalam Biasanya kalau sudah masuk 27:09 ke luar. 27:10 Heem. 27:11 Iya, iya. Nah, itu satu. Yang kedua, 27:13 Heem. memang eee dalam tampilan 27:16 Bilderberger ada sisi positif, ada sisi 27:18 negatif. Heem. Kan yang yang mau 27:20 dibangun oleh Trilateral Commission, 27:22 Bilderberger, Council on Foreign 27:24 Relations gitu ya posisinya ya. 27:27 Eee dan kemudian Freemason posisinya. 27:29 Kan ada empat institusi itu yang mereka 27:31 bangun posisinya. 27:33 Memang ada hal positif. Hal positifnya 27:34 adalah menyatukan seluruh umat manusia 27:36 dalam satu ajaran. Heem. Tapi ajarannya 27:38 ajaran apa dulu? 27:40 Nah, 27:42 Itu khilafah. Heem. Ini nantinya akan 27:44 akan akan Iya, memang tuh apa nubuat 27:47 buat kita kan sebuah nubuat akan tiba 27:48 masanya. 27:49 Iya. Heem. Mau bikin kayak gimana kek, 27:51 arahnya ke sana kok gitu. Heem. Itu 27:53 khilafah. Jadi saya sampai tiga kali 27:55 saya ngomong, itulah khilafah. Heem. 27:57 Jadi khilafah Jadi konsep khilafah itu 27:58 yang dalam Alquran mereka ambil, tapi 28:01 kontennya bukan Alquran. Heem. Nah, 28:04 Merkel ini ditampilkan sebagai salah 28:06 satu pemimpin yang punya memang punya 28:08 karakter pribadi. Jadi karakter 28:10 pribadinya bagus gitu kebetulan. Heem. 28:13 Punya eee jalan dalam tim mereka tidak 28:16 hanya dari mereka yang menye 28:17 kepemimpinan yang buruk, ada juga dari 28:19 mereka yang kepemimpinan yang itu bagus. 28:20 Tampil lah Angela Merkel. Heem. Gitu 28:22 contoh sederhananya. Dan itu dia untuk 28:25 masuk kayak gitu itu talent scouting-nya 28:27 panjang, Amien Rais, Tan Salim. Dipantau 28:30 tuh. 28:30 Angela Merkel itu di ikuti betul talent 28:32 scouting-nya, di ikuti betul terus. 28:35 Kayak gimana? Ini bisa enggak dianggap 28:36 sebagai bagian dari keluarga mereka 28:38 gitu. Heem. Ini bisa enggak dianggap 28:39 sebagai bagian dari 28:41 Heem. The Cabal gitu. The Cabal. 28:45 Bahkan pendengar belum paham 28:48 Kita bikin diskusi sendiri. 28:49 sendiri Bongkar tuh, bongkar ya, rajin. 28:52 Ya istilahnya dibongkar sendiri oleh 28:54 sendiri supaya tidak supaya memahami apa 28:56 yang saya maksud gitu karena ini saya 28:59 bilang referensi saya seperti saya 29:00 bilang pada sebuah diskusi dengan satu 29:02 ustaz di MUI, ini saya ngomong begini 29:05 referensi saya 29:06 banyak sekali kalau Anda mau boleh Anda 29:07 fotokopi dengan cost, saya baru saja 29:09 fotokopi sekitar 8 juta saya bilang 29:11 kalau mau silahkan saja ke 29:14 Artinya itu bukan satu dua buku kita 29:16 kumpulkan saya pakai untuk melihat 29:18 posisi buku itu begitu. Supaya saya 29:20 tidak disebut sebagai konspirasi. Iya. 29:22 Yang mereka takut menyebutnya sebagai 29:24 konspirasi, padahal ini mereka kan setan 29:27 sendiri waktu meminta waktu menerima 29:29 sebagai laknat dari Allah dia bilang ya 29:31 Allah sanggupkan aku, Allah bilang iya 29:33 aku sanggupkan kamu, ya Allah aku 29:35 berikan kesempatan untuk terus 29:36 mengganggu Allah bilang silahkan kecuali 29:38 hambaku yang ikhlas. Itu kan ada ada 29:40 tantangan gitu loh, dia terima laknat 29:42 itu, dia terima yang namanya 29:44 hukuman itu tapi kemudian dia balik, dia 29:46 balikkan lagi oke gua terima laknat itu 29:48 katanya. 29:50 Tapi gua akan begini gua akan begini, 29:51 Allah bilang silahkan, oh itu ceritanya 29:53 panjang akhirnya saling, dalam 29:55 aplikasinya eh serius loh saya ngomong 29:57 ini. 29:58 Saya ngomong serius serius banget ini 30:00 karena mereka sedemikian rupa 30:01 menggunakan konstruksi ajaran Alquran 30:03 tapi mereka jungkir balikkan. 30:06 Itu yang saya bilang ya tapi 30:08 sesungguhnya kalau balik lagi ke ke Anis 30:11 176 gitu 30:13 Posisi sesungguhnya andai kata umat 30:15 Islam sendiri menggunakan strategi yang 30:17 yang betul-betul diajarkan mereka lemah 30:20 sesungguhnya, nah di situ pertanyaan 30:22 besar, oh kalau gitu umat Islam tidak 30:24 menggunakan strategi Alquran ya, ya 30:26 iyalah menggunakan strategi demokrasi. 30:28 Ya itu, itu dia, iya memang ya persatuan 30:31 orang baru diskusi Iran sama Saudi saja 30:35 Eh sebagian negeri sudah uring-uringan 30:37 kan, memang efektif kalau memecah belah 30:39 ini paling efektif, kalau persatuan 30:41 terjadi makanya radio kita akan ini 30:43 untuk Islam yang satu. Yang satu, itu 30:46 itu penting supaya kita betul-betul 30:48 utuh. 30:49 Nah, balik lagi ke pertanyaan Angela 30:50 Merkel. 30:51 Ya wajar saja kan kita pernah menyebut 30:53 berkali-kali ada dua perempuan yang 30:56 hebat di dunia di dalam era pandemi. 30:58 Salah satunya adalah Perdana Menteri eee 31:01 Selandia Baru. dan eee 31:03 Kanselir Angela Merkel. Kan kita pernah 31:05 sebut berkali-kali kan. Dan ternyata 31:07 dunia memang mengakui Angela Merkel 31:08 kayak gitu. Tapi dari latar belakangnya 31:10 begitu gitu Pak Ustaz. 31:12 Apa indikatornya? Indikatornya 31:13 sesungguhnya eee tidak ada 31:16 perusahaan-perusahaan di Jerman yang 31:17 dalam kondisi pandemi yang tidak 31:19 tidak berputar. Mereka tetap running 31:21 well, mereka bagus. 31:22 Tapi jangan salah, mereka penyuka makan 31:24 babi. Oh. Itu. 31:27 Juga drinken, drinken. Nah, itu. 31:30 Wah, ini. Minum birnya bagus. Iya, luar 31:32 biasa ya. Makan makannya itu bagus di 31:34 posisinya. 31:37 Iya. Gitu ngelihatnya. Ya, dan mereka 31:40 bisa menyatakan bahwa produk mereka 31:41 punya nilai lebih. Misalnya ketika Anda 31:43 membandingkan produk Jerman sama produk 31:45 Jepang misalnya. 31:47 Eee tetap beda kan. Betul. 31:49 Made in Jerman. Baik elektroniknya 31:50 maupun otomotifnya, kan gitu kan. Betul. 31:52 Misalnya, ya misalnya kan kayak gitu. 31:54 Sehingga Jepang berusaha betul bikin 31:56 sesuatu yang premium tetap saja enggak 31:58 bisa juga. Begitu juga kalau berhadapan 32:00 sama Cina. Walaupun Cina dapat hak bikin 32:02 Audi, wah tetap saja enggak bisa juga 32:04 itu setara sama yang aslinya gitu. 32:07 Ah. Luar biasa. Ini dunia memang terus 32:10 berubah Bang. Pandemik ini seperti Bang 32:12 Iksanuddin ingatkan akan banyak berubah. 32:15 Sekarang kita me apa sedekah masjid saja 32:19 sudah pakai QR. Sudah mulai berkurang 32:21 itu. Jadi duit apa cashless itu sudah 32:24 berlangsung terus. Nah, 32:26 Bang, ini 32:28 orang ini juga sudah mulai berubah pola 32:31 pola apa pola silaturahmi, pola ibadah, 32:35 pola dakwah juga berubah di tengah 32:38 pandemi. Lebih-lebih pola ekonomi yang 32:40 akan banyak pengangguran atau juga pola 32:42 pekerjaan baru ke depan. Abang bisa Bang 32:45 Ihsanudin Nursi ingatkan dengan 32:47 perubahan zaman ke depan ini, apalagi 32:49 anak-anak yang mengalami. Kalau kita kan 32:51 ngalamin berbagai zaman nih. Tapi kalau 32:53 yang baru-baru ini kan waduh, macam mana 32:55 ini anak kita ke depan itu. Gimana, 32:57 Bang? 32:58 Eh, yang pasti kehidupan dunia akan 33:00 dipenuhi dengan sesuatu yang artificial. 33:03 Oh. 33:04 Wah, itu memang paling 33:05 benar. He eh. Apakah itu artificial 33:07 intelligence? He eh. Apakah itu dalam 33:09 pengertian artificial mapping? He eh. 33:12 Apakah itu dalam pengertian artificial 33:15 pledging, keterikatan gitu? Itu semuanya 33:17 artificial. Masya Allah. 33:19 Pak, ya Allah. Alhamdulillah Ihsan tadi 33:22 mengerti maksud saya. He eh. Ini 33:23 berbahaya. 33:25 He eh. Karena alimil ghaibi was 33:27 syahadah, sesungguhnya Allah-lah yang 33:29 menguasai ilmu tentang yang ghaib dan 33:30 yang kenyataan itu posisinya. Nah, 33:33 sementara yang disebut dengan eh 33:35 syahadah itu kenyataan itu He eh. di 33:37 tingkat level manusia, itu dibikin 33:39 artificial. He eh, he eh. 33:42 Kebayang enggak maksud saya? Maksud saya 33:43 antara sesuatu yang maya sama sesuatu 33:45 yang nyata, He eh. itu dijembatani 33:47 dengan sesuatu yang artificial. Dan yang 33:49 artificial itu dipedomani. He eh. Waduh. 33:52 Gitu. 33:54 Di situ yang dibilang tadi, "Sepanjang 33:56 kamu memegang Alquran, maka kamu tidak 33:58 akan pernah tersesat. Iya. Kamu tidak 34:00 akan pernah jadi pengikut setan." He eh. 34:02 Jadi, eh ini ceramah saya di beberapa 34:05 tahun lalu ya, ketika saya menyebut 34:07 change kuadrat ya, satu perubahan dunia. 34:10 Eh, karena artificial intelligence. 34:12 Orang cuma menerjemahkan ceramah saya 34:14 itu filmnya cuma 3 menit 49 detik. Saya 34:17 putar film. He eh. 34:19 Saya putar video. 34:20 Judulnya change kuadrat gitu. Betapa 34:22 kehidupan itu diubah sedemikian rupa 34:23 oleh namanya artificial. He eh. Lalu 34:25 orang cuma memahaminya, eh kebetulan 34:27 saya ceramah pada mahasiswa gitu 34:28 posisinya. 34:30 Mereka bilang, "Oh, ini dunia akan 34:31 robot." Saya bilang, "Enggak." Dunia 34:33 akan dipenuhi dengan artificial. 34:35 Artificial itu maya. Artificial itu 34:38 semu, false. Ehm. Artificial itu pseudo. 34:41 Ehm. Jadi, kalau pakai istilah psikologi 34:43 ya, dia pseudo, dia false, dia eh dia 34:46 virtual, dia dia tidak real posisinya 34:49 gitu. Ya, kemudian orang akan berusaha 34:51 untuk menerjemahkan secara real karena 34:53 ada pedoman dari sesuatu yang 34:54 artificial. Ehm. 34:55 Bagaimana robot menjadi pembimbing 34:57 kehidupan kita? Kan aneh kan? Iya. 34:59 Bagaimana artificial menjadi pembimbing 35:01 kehidupan? Kan aneh gitu posisinya. 35:03 Seperti misalnya katakan beberapa 35:05 YouTube menjadi pedoman-pedoman kita 35:07 gitu ya, karena kita tidak ingin 35:09 berpedoman pada ya bisa saja kan. Contoh 35:11 sederhana, saya misalnya belajar dari 35:13 YouTube tentang katakan gerakan-gerakan 35:16 olahraga yang yang merupakan perpaduan 35:19 dari gerakan bela diri-bela diri Cina 35:23 dengan gerakan India dengan gerakan mana 35:25 gitu ya. Kan ada tuh yang menemukan 35:27 paduan-paduan kayak gitu misalnya. 35:28 Ehm. Sehingga eh olahraga dalam waktu 35:31 singkat selama 30 menit dia efektif 35:33 karena seluruh persendian itu seluruh 35:35 otot, seluruh persendian, seluruh saraf 35:37 itu bergerak. Itu kan ketemu tuh ada 35:39 tuh. Saya dapat itu gitu. Tapi saya 35:41 enggak mau belajar dari orang, saya 35:42 belajar saja dari situ saya lihat. Itu 35:43 saya belajar dari sesuatu yang 35:44 artificial. Saya nyatakan dalam tindakan 35:47 saya. Coba kalau sesuatu yang 35:48 artificial-nya negatif, menjadi negatif 35:50 enggak? Betul. Negatif. 35:52 Pasti itu. Padahal kita ngoreksi. Saya 35:54 kan milih-milih gitu karena saya punya 35:56 pengetahuan. Oh, ini sumber gerakan 35:57 Cina. Oh, ini sumber gerakan India. Oh, 35:59 ini sumber gerakan eh Jepang. 36:01 Dan masif. 36:02 Itu kan kita milih. Kita ngelihat gitu 36:04 maksudnya. 36:06 Nah, bah itulah ke depan kita berhadapan 36:09 dengan sesuatu yang artificial. Makanya 36:11 mereka bilang new world, dunia baru. New 36:12 world bahkan pakai double. Ehm. 36:14 New new world. Ehm. 36:16 Iya. Dunia baru yang baru gitu. Dunia 36:18 baru yang baru posisinya. New new world 36:20 posisinya. Nah, 36:22 bagaimana dunia baru yang baru? Yaitu 36:24 artificial. Bagaimana kemudian kita 36:26 harus menyikapi? Kalau saya tetap, saya 36:28 enggak mau kembali ke mana-mana. Saya 36:30 tetap kalau silaturahim, saya 36:32 kalau saya keluarga saya menolak untuk 36:34 ikutan silaturahim via Zoom. Saya enggak 36:36 ikut. 36:37 Saya menolak. 36:39 Saya lebih suka saya pergi ke masjid 36:41 gitu ya, 36:42 atau saya pergi ke satu pertemuan 36:44 daripada saya mesti ikut-ikutan Zoom 36:45 gitu. Saya enggak suka tuh. Kalau enggak 36:47 terpaksa apa saya enggak ikut Zoom. 36:49 Kalau teman sudah Bang, tolong Zoom 36:51 Bang, Bang, tolong Zoom. 36:53 Setelah dia berkali-kali, okelah. Saya 36:55 penuhi 36:56 misalnya satu teman sampai berkali-kali 36:57 Bang, tolong Bang, Zoom. Saya enggak mau 36:59 Zoom karena eh orang itu tidak akan 37:01 mendapatkan bahasa tubuh saya. Orang itu 37:03 tidak akan mendapatkan satu relasi rasa, 37:06 ilmu rasa saya, ilmu pikiran saya, ilmu 37:08 tindakan saya. Dia enggak ngelihat itu 37:10 gitu loh. Itu artifisial karena dia cuma 37:12 ngelihat sepotong. Dia tidak sempurna 37:15 melihat iqra-nya itu. Kan sesungguhnya 37:17 ketika sedang berkomunikasi, kita 37:19 mendapatkan iqra gitu. Iqra itu 37:21 totalitas pembelajaran. Saya ulang ya, 37:23 kalau sederhananya iqra itu ya totalitas 37:25 pembelajaran. 37:26 Learning totality itu ada di iqra 37:28 posisinya. Kalau pakai bahasa bahasa 37:30 sananya learning totality, totalitas 37:32 pembelajaran. Nah, kalau begitu 37:34 sesungguhnya yang disebut dengan 37:35 artifisial ke depan, dia sesungguhnya 37:37 sedang menggerus nilai-nilai. 37:41 Karena ajaran menyatakan kita tidak 37:42 boleh memutus silaturahim. Sambung 37:44 silaturahim dengan siapapun yang memutus 37:46 silaturahim. Dan kemudian Anda 37:48 menyambung silaturahim artifisial ya, 37:50 Pak. 37:51 Jadi palsu istilahnya. 37:54 Atau semu. Silaturahim semu posisinya. 37:57 Kalau di an an an an an an an an an an 37:59 an an an an an an virtual sudah terjadi 38:00 silaturahim. Tapi real enggak terjadi 38:03 silaturahim. Kecuali Anda kemudian terus 38:05 menukar informasi, terus menukar berbagi 38:07 rasa, lalu kemudian dinyatakan dalam 38:08 pertemuan nyata. Itulah. 38:11 Lain lagi posisinya. Itu yang saya 38:13 maksud. Jadi artinya saya berkali-kali 38:15 bilang permainan artifisial ini 38:17 sesungguhnya bagian dari maaf ya 38:21 protokol Zion. 38:23 Itu si mata satu kan handphone kita juga 38:25 si mata satu. Si mata satu, itu kamera 38:28 itu kamera. Jadi artinya sesungguhnya 38:30 kalau ke depan itu kita sadari bahwa 38:32 sebagian artificial itu sebagian tidak 38:34 seluruhnya. Heeh. Sebagian ee artificial 38:37 itu adalah bagian dari protokol Zion. 38:39 Heeh. Maka sesungguhnya kita sudah 38:41 diingatkan. Alhamdulillah hari ini kita 38:43 mengingatkan semua pendengar Radio 38:44 Elshinta. Heeh. 38:45 Suka tidak suka, setuju tidak setuju, 38:48 Anda harus berpegang pada Alquran dan 38:50 Hadis karena peperangannya makin kencang 38:52 begitu. Ini tidak mungkin rendah 38:54 intensitas saya harus mengatakan pada 38:56 Elshinta Radio Elshinta pendengar Radio 38:57 Elshinta dan pemirsa Radio Elshinta TV. 38:59 Intensitas peperangannya itu tidak 39:01 mungkin tidak mungkin rendah. Ini 39:03 dinaikin call-nya. Salah satu 39:05 indikatornya adalah kemarin ketika yang 39:07 namanya salah satu perusahaan mereka itu 39:11 sudah sudah menemukan obat ee Covid-19 39:14 sehingga vaksin tidak diperlukan. Heeh. 39:18 Kan artinya diantara mereka sendiri seru 39:20 peperangan. Tapi pada saat yang sama dia 39:22 bilang iya ini variannya naik lagi. Jual 39:24 war book posisinya. Kan luar biasa. 39:27 Gimana coba? Duit lagi. 39:29 Duit lagi ceritanya. Kan saya bilang 39:31 your vaccine and Covid is a business for 39:33 you. 39:34 Nah, artinya kalau kita mau ngambil 39:36 kerangka ini jauh lebih dalam lagi ee 39:40 melihat situasi sekarang intensitas 39:42 kehidupan ini tidak bisa tidak memang 39:44 mengajak mereka yang beriman untuk 39:46 kembali ke dalam ajaran. Amin. Untuk 39:49 kembali ke dalam peganglah ajaran itu 39:50 dengan dengan kaffah posisinya. Dengan 39:53 benar begitu posisinya. Betul. Kalau 39:55 memang niat baik ya sudah lakukan dengan 39:56 baik. Kalau niat baik Anda kemudian Anda 39:58 malah jadi ditipu ya silakan Anda proses 40:01 secara hukum atau kemudian Anda biarkan 40:03 saja terserah posisinya. Tapi terus 40:05 terang kebaikan tidak perlu dibalas 40:06 dengan dengan dengan air tuba tidak 40:08 perlu. Kalau mereka membalas dengan air 40:10 tuba suatu saat Allah akan memberlakukan 40:12 rumusnya. Allah akan memberlakukan 40:14 hukumnya. Jadi ketika kebaikan umat 40:16 Islam pada bangsa ini misalnya dibalas 40:19 dengan air tuba posisinya, percayalah 40:21 akan terjadi sesuatu yang yang luar 40:22 biasa. Saya ulang ya. He eh. Saya harus 40:24 mengingatkan ke semua orang nih. Ketika 40:26 kebaikan umat Islam di Indonesia ini 40:28 posisinya, itu dibalas dengan air tuba, 40:30 percayalah akan terjadi sesuatu yang 40:32 maha dahsyat. 40:34 Iya. Saya tidak tahu apa, tapi saya 40:35 harus katakan ini. Biasanya saya ngomong 40:37 kayak gini, maaf ya, subhanallah la 40:39 haula wala quwwata illa billah. Saya 40:40 takut gitu posisinya. He eh. Karena 40:42 biasanya proyeksi-proyeksi saya kayak 40:43 gini kejadian gitu loh. 40:45 Saya khawatir gitu posisinya. Jadi, 40:47 jangan sampai kebaikan umat Islam, 40:49 toleransi umat Islam yang sudah sampai 40:50 pada batasnya gitu, terus dibalas dengan 40:53 dengan macam-macam. Ini jangan enggak 40:54 boleh ini. Ini enggak boleh. Enggak 40:55 boleh terjadi. 40:57 Terakhir, terakhir Bang. Penutup, 40:59 penutup. Kita pahami betul umat Islam 41:01 ini tetap berpegang pada Alquran dan 41:02 Amin, amin, amin. Ah, itu sebagai 41:05 penutup di di akhir bincang kita tentu. 41:08 Berpegang pada Alquran dan sunah. 41:10 Mudah-mudahan ini menjadi pengingat bagi 41:12 diri saya, bagi Aisyah dan Thalib, bagi 41:15 pendengar 41:16 Res ya, TV, Res ya, radio dan semua 41:19 pihak, supaya kita memang dalam ikatan 41:21 kebaikan. Mari kita berinvestasi pada 41:23 kebaikan dan kebenaran, karena memang 41:25 perintahnya adalah berinvestasi pada 41:28 kebenaran. Amin, amin, amin. 41:30 Mohon maaf jika salah dan kalau benar 41:32 itu karena Allah semata. Wabillahi 41:34 taufik wal hidayah. Wassalamualaikum 41:37 warahmatullahi wabarakatuh. 41:38 Waalaikumsalam warahmatullahi 41:41 wabarakatuh.