Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Radio Sahabat Muslim yang satu masih
- bersama kami Ikhwan Ahmad di acara
- kajian kitab Mukhtarul Hadits An
- Nabawiyah bersama Ustadz Ahmad Zaki.
- Dan sudah banyak SMS yang masuk Ustadz,
- saya bacakan saja. Iya. Ini yang pertama
- datang dari Bapak Hamdan di Jakarta
- Selatan. Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Pak Ustadz
- kalau kita terlewatkan sholat subuh
- karena bangun kesiangan, apakah ketika
- bangun kita bisa melaksanakan sholat
- subuh tersebut walaupun sudah masuk
- waktu dzuhur? Bagaimana cara
- melaksanakannya, Ustadz? Iya.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Allahumma alhimna rusydana wa alimna ma
- yanfa'una wa zidna ilman.
- Sholat adalah
- kewajiban yang paling utama.
- Dia menempati rukun Islam yang kedua
- setelahnya syahadat.
- Sholat adalah
- satu-satunya amal yang pertama kali akan
- dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
- Sebagaimana Nabi katakan awwalu ma
- yuhasabu bihil abdu yaumal qiyamati
- sholatuhu.
- Sholat ini merupakan parameter.
- Kalau memang orang seseorang sholatnya
- baik, maka
- hidup kesehariannya Baik. Dia akan baik.
- Ketika diberikan jabatan, dia akan
- amanah.
- Nah, jadi sholat ini merupakan parameter
- di luar sholat. He eh.
- Jadi sholat ini enggak ada
- istilah
- kita
- enggak mengerjakan sholat. Iya. Walaupun
- sudah di luar waktunya,
- tetap wajib kita qadha.
- Kalau sekali-kali kita lupa, pernah
- siapapun juga bisa lupa, mau saya, mau
- yang lain bisa lupa. He eh. Setelah saya
- ingat bahwa saya tadi malam oh lupa
- sholat maghrib, lupa sholat Isya, maka
- saat ini juga
- saya harus mengqadha sholat.
- Jadi mengqadha kalau sekonyong-konyong
- mengqadha
- memang tidak boleh, enggak ada qadha
- sholat. He eh. Umpama saya punya
- rencana, nanti ini Ashar saya enggak
- sholat dulu deh, saya capek, nanti saja
- malam sekalian saya sholat Isya. He eh.
- Kalau sengaja saya tinggalkan sholat ee
- fardhu yang lima waktu dengan niat saya
- nanti saya
- kerjakan dobel, saya rapel, saya qadha,
- itu tidak ada qadha dalam sholat, benar.
- Tapi kalau memang sudah terlanjur,
- kita enggak sengaja bangun kesiangan He
- eh.
- atau saya kelupaan, ini bisa terjadi
- manusiawi,
- enggak dosa. Tapi begitu saya ingat,
- spontan saya harus sholat.
- Kapanpun walaupun sudah di luar
- waktunya, jadi tetap Bapak wajib qadha.
- Iya.
- Kalau ada yang mengatakan enggak perlu
- karena Rasulullah enggak pernah qadha
- sholat, jangan bandingkan diri kita
- dengan Nabi. Nabi memang enggak pernah
- meninggalkan sholat, Nabi enggak pernah
- kesiangan.
- Kalau kita kesiangan sering,
- sholat kita enggak beres, itu biasa.
- Salah kita banyak, dosa kita banyak.
- Nabi enggak pernah
- kelupaan sholat, Nabi enggak pernah
- kesiangan.
- Jadi wajar kalau Nabi enggak pernah
- mengqadha sholat.
- Karena Nabi enggak pernah bersalah. He
- eh.
- Kalau kita seperti Bapak bertanya,
- nah ini bukti bahwa Bapak
- bisa terjadi
- kesiangan, kelupaan, saya juga mungkin
- bisa melakukan hal itu.
- Tapi ketika saya ingat, maka sesegera
- mungkin
- wajib saya qadha sholat. Jadi yang
- namanya mengqadha dengan sengaja, dengan
- rekayasa tidak boleh, tidak ada qadha
- dalam sholat. Tapi ketika sudah
- terlanjur
- saya enggak mengerjakan karena lupa,
- maka wajib saya
- qadha sesegera mungkin. Jadi kalau yang
- meninggalkan sholat dengan sengaja,
- dia sadar,
- maka dia sholat sunnah seumur hidup pun
- enggak ketebus.
- Jadi ini jangan bermain-main dengan
- sholat, begitu ingat langsung kita
- lakukan kemudian ditambah dengan
- istighfar kepada Allah Subhanahu wa
- Ta'ala atas kelalaian kita. Wallahu
- a'lam.
- Baik. Itu niat sholatnya qadha gitu ya?
- Iya, jadi niat sholatnya umpamanya
- sholat Ashar nanti ushalli fardhul Ashri
- qadha'an lillahi ta'ala. Kalau yang
- langsung itu ada'an, ushalli fardhul
- Ashri ada'an lillahi ta'ala. Jadi
- kata-kata ada'an diganti dengan qadha'an
- ya.
- Tapi jangan disengaja ya, Ustadz ya.
- Iya, jangan ada rekayasa.
- kondisi-kondisi memang kita tidak apa
- tidak sadar gitu ya.
- Iya, betul. Baik, semoga terjawab dan
- kembali ke SMS datang dari hamba Allah.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi Pak Ustadz di rumah saya
- ada lukisan hewan, apakah itu bisa
- menyebabkan kurang keberkahan di rumah
- saya? Katanya tidak boleh, katanya tidak
- dibolehkan memasang lukisan
- gambar-gambar makhluk hidup di rumah
- orang-orang Islam, Ustadz.
- Iya.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Memang masalah ini
- banyak sekali ya perbedaan-perbedaan
- sudut pandang.
- Jadi
- saya tidak
- mau menjawab halal atau haram.
- Karena
- cukup banyak
- perbedaan. Memang banyak sekali cukup
- banyak riwayat-riwayat
- yang
- ee mengatakan
- bahwa
- para pelukis
- nanti di hari kiamat
- akan diminta pertanggungjawabannya
- untuk menghidupkan, memberikan ruh pada
- lukisan-lukisannya.
- Dan
- ada lagi riwayat yang mengatakan mereka
- akan diazab dengan sekeras-kerasnya
- azab. Ini wallahu a'lam, saya juga
- walaupun saya tahu riwayat-riwayatnya,
- tapi
- ee saya enggak mau jadikan standar
- hukum.
- Karena kalau saya jawab A atau B, nanti
- banyak ulama-ulama lain yang mungkin
- berbeda dengan saya.
- Jadi karena radio ini juga radio
- pemersatu, He eh.
- ee saya enggak mau
- bicara soal perbedaannya.
- Nah, tapi sedikit-sedikit memang ada.
- Jadi
- ini
- ee dari saya pribadi, Iya.
- setahu saya kalau sekedar
- gambar atau lukisan,
- kita ini sebagai manusia cenderung
- kepada yang indah-indah, senang kepada
- yang indah-indah.
- Kalau dikatakan
- tidak
- malaikat rahmat tidak masuk,
- itu nanti dilihat lagi.
- Jadi
- gambar atau lukis yang memang sebenarnya
- dilarang, ini umpamanya.
- Saya berapa kali ke rumah seseorang, ke
- rumah teman, ke rumah siapa,
- ada gambar. Gambarnya dia enggak
- disengaja, biasanya kalender-kalender
- itu banyak toko emas suka mengeluarkan
- kalender, perusahaan suka mengeluarkan
- kalender yang mana gambar-gambarnya itu
- artis-artis. He eh. Nah, kita tahu
- bagaimana seorang artis
- yang memang pekerjaannya itu tidak
- dibenarkan dalam agama kita.
- Karena dia mengumbar aurat.
- Nah, jadi sosok artisnya ini dia bukan
- seorang wanita shalihah. Bagaimana kita
- membangakan, kita jadikan
- hiasan dinding di rumah kita, wanita
- yang
- eh jauh dari agama, wanita
- yang
- nasysyisah, wanita yang ahli maksiat.
- Dan di gambarnya juga itu tidak menutup
- aurat.
- Kegiatan
- eh katakan pahanya
- dan organ-organ apa bagian tubuh-tubuh
- yang menarik.
- Itu memang benar dilarang, dilarang
- keras.
- Ya.
- Kalau sekedar
- kita
- eh foto anak-anak kita
- foto kita sama istri
- itu tetap, jadi menurut saya ini ya
- saya enggak mengatasnamakan agama
- ya, saya takut kalau mengatasnamakan
- agama nanti juga banyak orang yang
- mengatakan hal berbeda. Jadi ini
- pandangan saya pribadi itu masih enggak
- apa-apa
- tapi
- foto-fotonya yang tidak dilarang.
- Nah, seperti binatang-binatang ini
- enggak ada yang buka-bukaan aurat memang
- enggak pakai pakaian ya. Jadi hukum
- enggak berlaku buat binatang.
- Tapi memang ada juga yang melarang.
- Nah, saya enggak enggak berani masuk ke
- agamanya dilarang atau dibolehkan. Nah,
- cuma kalau sebatas foto-foto anak kita,
- foto keluarga
- kita taruh di ruangan keluarga.
- Jadi kalau foto saya sama istri
- umpamanya jangan kita taruh di ruang
- tamu. Semua orang bisa melihat, apalagi
- memang dalam keadaan tidak berjilbab.
- Ya, ya boleh-boleh saja sah-sah saja
- saja saya di tempat tidur saya foto saya
- lagi tidur berdua saya foto umpamanya
- ya sah-sah saja tapi jangan ditaruh di
- ruang tamu.
- Kalau di kamar tidur kita atau di ruang
- makan yang lihat cuma anak-anak saya.
- Yang namanya kita di keluarga perempuan
- istri kita di rumah ya kan enggak
- seserapi kita keluar rumah. Kalau keluar
- rumah mau tahajjubah rapat tertutup tapi
- ketika di rumah ya pakai rok pendek itu
- biasa
- pakai baju yang ketat, kaos yang ketat
- ya enggak masalah.
- Karena
- dalam rumah
- enggak ada yang lihat. Nah, jadi ketika
- saya ambil gambar saya dengan istri saya
- dengan keadaan istri yang seperti itu
- sekedar saya di kamar saya lihat, saya
- pajang di kamar atau enggak ada yang
- lihat kecuali anak-anak saya juga atau
- mahram
- keluarganya, orang tuanya, ibunya
- itu enggak masalah.
- Nah, tapi di luar itu ini enggak wajar.
- Kalau foto suami istri dalam keadaan
- di kamar, di tempat tidur kemudian kita
- pajang di ruang tamu.
- Nah, ini buat saya itu sesuatu yang yang
- enggak etis dan saya juga belum pernah
- menjumpai ulama-ulama yang shalih yang
- bertakwa kepada Allah
- melakukan hal tersebut walaupun mereka
- juga punya foto-foto di
- rumah mereka atau di ruang
- keluarga masing-masing ya. Nah, dari itu
- kalau ada foto-foto pengantin
- kemudian istrinya disuapin makan,
- dipajang di luar ruangan tamu ini saya
- termasuk orang yang enggak suka. Cukup
- sudah jadi dokumen, jadi kenangan untuk
- kita dan anak-anak bukan untuk orang
- lain. Wallahu a'lam.
- Baik, semoga terjawab dan kembali ke
- pertanyaan dari WhatsApp.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi dari Pak
- Burhanuddin di Magelang ya.
- Eh saya dikaruniai kemampuan sejak kecil
- dapat melihat makhluk-makhluk tidak
- kasat mata. Apakah dalam Islam hal
- tersebut ada penjelasannya Pak Ustaz?
- Dan apakah tidak mengganggu keimanan
- kita? Ya.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Saya belum pernah menemukan ya
- dalil
- masalah ini
- ataupun
- fakta-fakta ulama-ulama, cerita-cerita,
- riwayat
- sampai saat ini saya belum pernah
- menemukan
- dari kalangan ulama atau orang-orang
- shalih
- punya kelebihan seperti ini
- ataupun dalil-dalil yang menerangkan
- adanya
- kejadian seperti ini.
- Tapi secara kenyataan
- saya banyak sekali jumpai baik itu
- tetangga, teman
- dan orang-orang yang pernah saya kenal
- mereka sering bercerita bahwa saya punya
- indra keenam.
- Saya beri saya mampu bisa melihat yang
- ghaib
- yang enggak nampak.
- Saya juga enggak bisa menjawab apa-apa.
- Jadi saya belum pernah menemukan dalil.
- Jadi kalau ditanya
- eh kenapa dan kenapa
- saya juga enggak mampu menjawab. Tapi
- ini secara pribadi saya lagi ya saya
- enggak mengatasnamakan agama
- buat saya, pandangan saya pribadi ini
- adalah ujian.
- Iya. Ujian dari Allah Subhanahu Wa
- Ta'ala andai kata memang benar punya
- kelebihan seperti itu.
- Apakah kita orang yang diuji dengan
- kelebihan seperti ini
- kita mampu
- menahan diri.
- Kita tidak tergoda.
- Apakah hal ini menjadi kesombongan buat
- kita?
- Apakah hal ini menyebabkan kita syirik
- kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala?
- Atau memang
- ada
- setan, makhluk jahat yang memang sengaja
- untuk menjerumuskan kita. Dia bisa
- menampakkan di hadapan kita yang memang
- kalau manusia biasa seperti saya seumur
- hidup saya belum pernah melihat
- penampakan.
- Baik di manapun juga di tempat-tempat
- yang angker, di rumah dan di manapun
- juga sampai saat ini dari kecil sampai
- sekarang saya belum pernah melihat
- yang namanya setan menampakkan
- dirinya.
- Nah, jadi kalau ada orang yang suka
- diperlihatkan itu semata-mata ujian dari
- Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
- Atau memang setan ingin menggoda kita,
- menjerumuskan kita.
- Apakah
- ketika setan menampakkan dirinya di
- hadapan kita berulang-ulang kali
- kemudian kita merasa
- hebat, merasa bangga bisa melihat yang
- ghaib dan lain-lainnya.
- Mungkin itu ujian buat
- kita yang punya diri.
- Kalau memang itu merupakan satu ujian
- ataupun setan sengaja untuk
- menjerumuskan kita maka kita berlindung
- kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
- Nah, coba saja kita banyak berzikir,
- kita tobat kepada Allah, kita berdoa
- apakah ini sebuah ujian dari Allah
- Ta'ala atau ini sebuah perangkat dari
- setan itu sendiri.
- Nah, kita minta kepada Allah Subhanahu
- Wa Ta'ala.
- Nah, semoga mendapatkan
- jawaban dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
- Kalau memang itu sesuatu yang tidak baik
- buat kita minta agar Allah Ta'ala
- hilangkan
- kelebihan itu, indra keenam yang kita
- sebut indra keenam dari diri kita kalau
- memang itu sesuatu yang tidak baik. Tapi
- kalau memang bersumber dari Allah Ta'ala
- memang itu ujian dari Allah Ta'ala minta
- kebaikan dari ujian tadi jangan sampai
- ujian ini menjadi fitnah buat kita yang
- akhirnya kita menjadi sombong
- menjadi jauh dari Allah Ta'ala
- merasa hebat, merasa bangga.
- Nah, ini jadi semuanya buat menurut saya
- pribadi ini adalah ujian dari Allah
- Subhanahu Wa Ta'ala. Wallahu a'lam.
- Ya.
- Dari Bunda Rido di Depok Ustaz,
- assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi. Pak Ustaz jika ada
- saudara menginap di rumah kita tidak
- berhijab dan tidak shalat meskipun kita
- sudah mengajaknya berulang kali, apa
- yang harus kita lakukan untuk hal itu
- Ustaz?
- Nah, bismillahirrahmanirrahim.
- Jadi kalau masalah tidak shalat tadi
- saya sudah terangkan ya.
- Jadi shalat ini enggak ada
- tawar-menawar. Ketika orang meninggalkan
- shalat itu berdosa besar.
- Apalagi kalau meninggalkan shalat di
- rumah kita.
- Dia berdosa di rumah kita.
- Berarti dia nyumbang dosa ke rumah kita.
- Apalagi itu baru satu orang, gimana
- kalau banyak yang
- meninggalkan shalat di rumah kita.
- Biasanya kalau ada hajatan
- kita bikin resepsi pernikahan anak kita
- banyak sekali gara-gara kita
- bikin resepsi pernikahan anak kita orang
- yang sibuk, yang tukang masaknya, pagar
- ayunya akhirnya enggak pada shalat di
- rumah kita.
- Berarti berapa banyak
- dosa yang dikerjakan di rumah kita. Ini
- menyebabkan
- yang tadi akhirnya rumah kita tidak
- mendapatkan keberkahan dari Allah
- Subhanahu Wa Ta'ala.
- Tapi tetap kita punya kewajiban.
- Kita sampaikan
- walaupun
- dia tidak mau mengerjakan tapi sampaikan
- jangan sampai dia tidak shalat di rumah
- kita. Tadi saya katakan di antara
- penyebab rumah kita sial, enggak berkah
- mungkin saja disebabkan karena istri
- kita enggak tutup aurat. Mungkin saja
- istri kita banyak berdosa
- suka ghibah, mungkin shalatnya lalai dan
- lain sebagainya itu menyebabkan
- tidak
- ada keharmonisan di rumah tangga kita
- menyebabkan tidak nyaman.
- Nah, apalagi ketika ada orang lain
- dengan sengaja berulang-ulang kali maka
- ini menjadi kewajiban
- Tetap kita tegur.
- Kita kasih tahu.
- Bahkan kalau memang dia
- tidak juga
- nerima
- ya dengan kata-kata yang lebih kasar
- lagi.
- Jadi katakan enggak usah kita ajak masuk
- cukup di depan di latar kalau memang ada
- perlu nya itu selesai.
- Jadi jangan berlama-lama.
- Karena ketika waktu salat masuk
- kita tidak ajak salat salah.
- Diajak salat ya akhirnya jadi masalah
- juga. Nah lebih baik
- jaga jarak
- dengan orang-orang seperti ini karena
- dia enggak lagi punya rasa malu harusnya
- punya rasa malu sebagai seorang muslim
- muslimah ketika di rumah orang
- enggak salat. Kalau di rumah sendiri
- mungkin enggak ada yang tahu.
- Tapi ini di rumah orang lain.
- Harusnya malu dong kalau saya umpamanya
- ketahuan saya enggak salat
- ya saya malu.
- Harusnya saya harus punya rasa malu tapi
- kalau sudah enggak punya rasa malu
- bahkan ditegur juga
- enggak ditanggapi.
- Nah ini berarti ada
- sudah cacat iman.
- Jadi kalau terus-menerus seperti ini
- dampak ke sananya itu sangat enggak
- baik.
- Setan saja ya iblis.
- Iblis saja itu jijik kepada orang yang
- meninggalkan salat.
- Itu iblis ya padahal iblis ini.
- Jadi ketika
- dia iblis berjumpa dengan orang-orang
- tarikus sholah orang Islam ini bukan
- bicara non muslim kalau non muslim
- memang enggak wajib salat.
- Tapi kalau ada orang Islam yang tarikus
- sholah dia meninggalkan salat.
- Memang enggak salat dia tinggalkan salat
- atau kalau dia salat pun jarang-jarang.
- Lebih banyak
- meninggalkannya hanya sekali seminggu
- sekali umpamanya dia dia salat atau
- setahun sekali.
- Itu tergolong tarikus sholah.
- Nah iblis ini
- yasta'izubillah
- min hadzal mar ya jadi iblis berlindung
- kepada Allah dari orang yang seperti
- itu.
- Dengan kata-kata ya iblis mengatakan aku
- dilaknat oleh Allah Ta'ala cuma karena
- ketika aku diperintah hanya sekali aku
- diperintah aku enggak laksanakan.
- Kemudian aku dilaknat oleh Allah Ta'ala.
- Nah sedangkan engkau sudah berapa ribu
- waktu salat Allah perintahkan tapi
- engkau enggak salat. Adzan sehari lima
- kali dipanggil oleh Allah Ta'ala tapi
- enggak pernah dilakukan.
- Nah jadi kalau iblis saja
- cuma sekali dia tidak taat kepada Allah
- dia tidak mau sujud kepada Nabi Adam
- ketika diperintah
- dilaknat diusir oleh Allah Ta'ala dari
- surga.
- Apalagi engkau.
- Nah berarti aku jijik kepada engkau.
- Jadi iblis saja masih jijik kepada orang
- yang
- tarikus sholah.
- Nah jadi kita sikapi tetap kita dakwah
- tapi
- jangan sampai kita
- apa
- meninggalkan salat di rumah kita
- berulang-ulang ya. Jadi jangan sampai
- kejadian jadi kita jaga jarak dakwah
- tetap kita sampaikan nah tapi tetap nah
- kita ada jarak ya wallahu a'lam.
- Subhanallah iblis juga tidak suka sama
- orang yang tidak salat ini. Iya.
- Luar biasa ini kita meninggalkan salat
- waduh. Gitu ya Pak Donny ya.
- Eh selanjutnya ke SMS datang dari Bapak
- atau Ibu ya Ibu Suri di Depok ya.
- Eh assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullah. Ustadz saya kalau salat
- sudah berusaha untuk khusyuk tapi
- tiba-tiba
- kok bisa hilang dan pindah ke hal-hal
- yang lain dan ini tidak disengaja. Terus
- bagaimana caranya agar kita bisa menjaga
- salat dengan baik dan khusyuk Ustadz.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Khusyuk ini sesuatu yang sulit
- bukan gampang ya.
- Kalau teorinya kita sebut-sebut khusyuk
- harus khusyuk itu memang gampang
- tapi
- prakteknya ini sangat sulit sekali.
- Ini di antaranya yang bertanya
- saya kira sudah berusaha tapi enggak
- juga khusyuk. Termasuk saya juga
- termasuk banyak Ustadz-Ustadz atau para
- Kiai yang memang
- mengalami apa yang Bapak alami.
- Itu semuanya saya kira sama.
- Jadi yang namanya khusyuk
- enggak harus
- kita
- lupa ingatan.
- Jadi yang namanya khusyuk
- sekedarnya ya ini untuk tingkatan kita
- karena kita-kita bukannya Nabi bukan
- Rasul memang kelas kita kapasitas kita
- kualitas keimanan kita ketakwaan kita
- ibadah kita memang sampai di situ.
- Kita memaksakan diri
- ini juga sulit. Umpama saya
- salat dengan memejamkan mata saya merem.
- Coba deh Bapak Ibu
- coba merem waktu salat apakah jadi
- khusyuk?
- Saya kira enggak juga khusyuk
- bukan
- identik dengan memejamkan mata.
- Terkadang
- saya kejam pejamkan mata saya
- pikiran saya lebih jauh lagi.
- Kalau saya melek saya buka mata saya
- pandangan saya hanya sebatas di ruangan.
- Di luar itu
- saya enggak bisa lihat tapi ketika saya
- pejamkan mata kita mata enggak lihat
- tapi pikiran ke sana kemari.
- Nah jadi
- enggak bisa dilambangkan dengan
- mata kita
- merem.
- Nah jadi ini
- memang batas kemampuan kita sampai di
- situ tapi tetap kita harus berusaha.
- Jadi begini
- yang namanya
- kita khusyuk kita itu paling satu detik.
- Waktu saya mengatakan Allahu Akbar
- takbiratul ihram saya sadar
- saya salat saya menghadap Allah Ta'ala.
- Lepas dari itu saya enggak sadar lagi
- pikiran saya ke mana-mana.
- Pikiran saya ke Tanah Abang ke pasar ke
- keluarga ke rumah ke anak dan
- sebagainya.
- Itu yang saya alami dan kebanyakan orang
- juga mengalami hal yang sama.
- Tapi jangan kita biarkan masa iya saya
- lagi salat di masjid fisik saya di
- masjid lidah saya baca Fatihah tapi hati
- dan pikiran saya ke mana-mana.
- Nah jadi begitu kita sadar bahwa saya
- lagi salat kembali lagi.
- Hilangkan pikiran-pikiran yang enggak
- bagus
- khayalan-khayalan.
- Walaupun baru satu atau dua detik
- kemudian lenyap lagi hilang lagi pikiran
- kita ke mana-mana lagi.
- Ketika kita sadar oh iya
- kok saya jadi begini.
- Kan saya lagi salat kok kenapa jadi
- mikirin artis mikirin makan dan
- sebagainya.
- Kembali lagi konsentrasi lagi walaupun
- hilang lagi. Jadi berulang-ulang
- memang kemampuan kita sampai di situ.
- Ini saya enggak mengada-ada.
- Saya kira masing-masing semua kita
- merasakan hal itu.
- Bagaimanapun kita upayakan memang
- kualitas kita sampai di situ. Jangan
- kita bandingkan diri kita dengan Nabi
- dengan para sahabat yang menurut cerita
- Sayyidina Ali bin Abi Thalib ketika di
- panah dalam salat beliau enggak
- merasakan apa-apa sama sekali.
- Ya itu khusyuk beliau sudah sampai di
- situ. Memang ketakwaan beliau ilmu
- beliau ibadah beliau
- tingkatan beliau memang sudah setinggi
- itu.
- Nah jadi jangan kita
- mau memaksakan diri kita mau apa
- sebanding dengan sahabat sebanding
- dengan Nabi.
- Kita enggak akan bisa.
- Nah tapi tetap kita berusaha menjadi
- orang-orang yang
- ahli ibadah yang khusyuk berusaha
- kembalikan konsentrasi kita dalam salat.
- Paling itu yang bisa kita lakukan lebih
- dari itu saya juga enggak bisa menjawab
- apa-apa lagi ya wallahu a'lam.
- Memang seperti itu saja kadang-kadang
- suka ke mana-mana pikirannya. Iya.
- Tapi kalau dicoba terus insya Allah bisa
- khusyuk saja walaupun tingkatannya
- mungkin enggak seperti selevel sahabat
- Nabi atau Nabi sendiri.
- Iya iya. Baik.
- Ini SMS yang terakhir karena kita
- dibatasi waktu ya dari
- Ibu Dharma di mana nih? Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Ustadz kalau almarhum Bapak
- saya seminggu sakitnya enggak sadar
- apakah kita anaknya yang harus wajib
- qodhoin mengqodho salatnya mungkin ya
- dan bagaimana cara mengqodhonya Ustadz.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Agama ini
- berlaku buat akal
- buat yang berakal.
- Dari itu agama enggak berlaku buat anak
- kecil karena anak kecil belum sempurna
- akal sehatnya
- sampai dia baligh.
- Agama enggak berlaku buat orang yang
- gila.
- Agama juga enggak berlaku buat orang
- yang
- saat tidur karena akalnya enggak ada
- pada saat itu enggak berlaku akal
- sehatnya.
- Begitu juga orang yang lagi pingsan.
- Begitu juga orang yang koma.
- Pada saat itu enggak berlaku. Jadi
- berlaku pada akal sehat dalam keadaan
- sadar ketika saya sadar
- saya wajib salat. Ketika saya dalam
- keadaan enggak sadar maka saya enggak
- wajib salat.
- Jadi berlaku pada akal
- kesadaran.
- Jadi enggak berdosa
- orang yang koma seminggu dua minggu
- sebulan dua bulan katakan sampai
- meninggal dalam keadaan koma maka gugur.
- Dia enggak lagi wajib.
- Kalau kita sebagai anak, sebenarnya
- enggak enggak wajib juga.
- Ini juga soal perbedaan ya, masalah
- fidyah salat.
- Eh, banyak yang mengatakan enggak enggak
- ada ya. Eh, salat bisa diqada,
- dikerjakan oleh orang lain.
- Nah, jadi
- ini saya keluar dari perbedaan lagi ya.
- Saya walaupun ada, walaupun ada yang
- mengqada,
- saya juga enggak berani mau menyalahkan.
- Kalau ada yang mengatakan tidak ada qada
- dalam salat, mengqadakan orang lain,
- juga saya enggak mau mengatakan boleh
- atau enggak boleh.
- Eh, cuma saya mengatakan kalau kita
- sebagai anak ingin berbuat baik,
- katakan saya salat hadiah,
- saya salat sunah, kemudian kita minta
- kepada Allah subhanahu wa taala, "Ya
- Allah,
- aku hadiahkan pahala salatku ini untuk
- ibu bapakku."
- Nah, itu enggak insyaallah enggak
- masalah. Boleh-boleh saja kita berbuat
- baik, kita beramal saleh dengan tujuan
- hadiah pahalanya untuk orang tuaku.
- Saya sedekah
- dengan niat mudah-mudahan dosa ibu bapak
- saya digugurkan.
- Nah, itu namanya niat baik. Nah, jadi
- boleh kita mempersembahkan amal kita,
- saya baca Fatihah,
- saya baca Quran, saya baca Yasin, surah
- Kahfi, dan lain-lainnya. Kemudian saya
- minta kepada Allah, "Ya Allah, sampaikan
- pahalanya kepada ibu bapakku."
- Ini menurut saya tetap saya mengatakan
- boleh, saya mengatakan sampai. Walaupun
- ada
- pihak lain yang mengatakan enggak
- sampai, itu ya terserah, enggak masalah.
- Jadi, ini kalau buat saya
- tetap sampai.
- Nah, adapun mengqada salat yang lima
- waktu buat ibu bapak kita,
- itu juga ya ada yang mengatakan boleh,
- sah-sah saja, tapi dalam segi hukum
- enggak wajib. Karena orang yang
- akalnya
- tidak
- apa?
- Tidak
- atau katakan ya orang yang tidur, orang
- yang sedang koma,
- itu akalnya enggak berfungsi. Jadi,
- agama hanya berlaku kepada akal sehat
- dalam keadaan sadar.
- Lebih dari itu, agama enggak berlaku.
- Jadi, khitab
- eh
- firman Allah
- ditujukan kepada
- akal. Makanya dalam salah satu riwayat
- dikatakan addinu aqlun, la dina liman la
- aqlalah. Agama ini rasional, agama ini
- berlaku buat akal. Maka, tidak ada
- istilah agama kepada orang yang tidak
- berakal. Makanya ada lagi riwayat yang
- mengatakan rufi'al qalam an salasin,
- pena ini diangkat. Berarti tidak ada
- pencatatan, rafi'al qalam an salasin.
- Ya, an naim hatta yastaikiz, orang yang
- tidur
- sampai dia bangun.
- Wa anil majnun hatta yufiq, orang yang
- gila kecuali kalau dia sudah sembuh dari
- gilanya.
- Nah, ter termasuk wa anil mugma ya.
- Jadi, orang yang ayan atau orang yang
- pingsan
- atau koma
- sampai dia siuman.
- Ah, jadi
- tiga ini pena enggak berlaku atau hukum
- Allah,
- perintah larangan enggak berlaku.
- Kecuali kalau sudah kembali pulih lagi.
- Nah, para pendengar Radio Silaturahim
- rahimakumullah,
- inilah
- beberapa pertanyaan
- yang bisa saya jawab, tapi sesuai dengan
- keterbatasan pengetahuan saya.
- Adapun bila ada yang berbeda dengan
- saya, semuanya sah-sah saja kalau memang
- memiliki argumen, memiliki dasar dari
- Quran, dari sunah Rasul yang bisa
- dipertanggungjawabkan.
- Jadi, apa yang saya
- jawab, itu tidak mutlak. Bisa saja saya
- salah dan orang lain benar.
- Itu hanya keterbatasan pemahaman saya
- dalam
- agama, dalam memahami kitabullah dan
- sunah Rasul-Nya. Nah, semoga kita
- semuanya selalu mendapatkan bimbingan
- dari Allah taala, Allah ampuni segala
- kesalahan kita, Allah maafkan, dan Allah
- ampuni segala dosa-dosa kita. Amin ya
- rabbal alamin. Wa ma taufiqi illa billah
- alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.
- Subhanakallahumma wa bihamdik, asyhadu
- alla ilaha illa anta, astagfiruka wa
- atubu ilaik.
- Wa sallallahu ala nabiyina Muhammadin wa
- ala alihi wa sahbihi wa sallama.
- Walhamdulillahirabbilalamin.
- Wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam demikian yang dapat kami
- sampaikan di acara kajian Kitab
- Mukhtarul Hadis An Nabawiyah bersama
- Ustaz Ahmad Zaki. Semoga dapat menambah
- ilmu agama kita juga menambah iman dan
- takwa kepada Allah subhanahu wa taala.
- Saya Fahril temani Kang Yusuf Subangkit
- pamit. Subhanakallahumma wa bihamdika,
- asyhadu alla ilaha illa anta,
- astagfiruka wa atubu ilaik.
- Wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.