Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Brail TV.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh.
- Ustaz Husein, Bapak Abu Bakar, dan
- ikhwan akhwat di manaun radio
- silaturahim bisa didengarkan.
- Alhamdulillah kita bersama-sama kembali
- di acara psikologi keluarga.
- Mudah-mudahan sepenggala acara ini mampu
- mempersuasi kita dan meringankan langkah
- kita menghadapi apapun yang ada di dalam
- keluarga kita. Tidak lupa salam selawat
- kita lantunkan untuk junjungan umat
- kekasih kita Muhammad Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak
- kita mendapatkan syafaat beliau dan
- dipertemukan dengan beliau di saat yang
- sangat kita rindukan di yaumil akhir.
- Ikhwan dan akhwat,
- hari ini mudah-mudahan apapun yang
- menjadi masalah bisa membuat kita
- terbuka dan memahami hal-hal.
- Tapi sebelumnya kita akan bersama-sama
- membaca ummul kitab.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim.
- maiki yaumiddin
- iyaka na'budu wa iyyaka nasta
- ihdinasirathal
- mustaqim
- shathalladzina
- an'amta alaihim
- ghairil maghdubi alaihim
- waladin.
- [Tertawa]
- Amin.
- Jadi, Ustaz, ada beberapa kasus yang
- masuk. Insyaallah kalau bisa dibahas
- hari ini semua. Tapi seandainya emm
- waktunya kurang memadai bisa kita
- selesaikan di minggu yang berikutnya.
- Kasus pertama Ustaz dari hamba Allah di
- Tangerang.
- Suami saya baru saja terkena PHK.
- Kondisi finansial kami drastis.
- Cari kerja selama berbulan-bulan juga
- enggak ada hasil. Dia kemudian jadi
- gampang marah, sering menyendiri dan
- sering menyalahkan takdir. Ustaz, mertua
- saya juga terus saja menuntut agar kami
- segera bangkit. Bahkan menyindir-nyindir
- suami saya yang katanya kurang beriman,
- rezekinya seret. Saya bingung, "Ustaz,
- harus bagaimana?"
- Di satu sisi saya ingin mendukung suami
- tetapi tertekan dengan kondisi keuangan
- dan perkataan mertua. Bagaimana cara
- saya menyikapi keadaan ini agar tetap
- sabar dan ikhlas? Bagaimana pula cara
- saya membantu suami agar keluar dari
- keterpurukan ini tanpa saya ikut-ikutan
- depresi? Itu yang pertama. Kemudian yang
- kedua dari Ibu Rina.
- Anak saya SMP 13 tahun punya smartphone
- smartphone karena teman-teman seusianya
- juga sudah punya semua. Eh dia sangat
- tergantung pada smartphone itu, pada
- media sosial. Akhlaknya berubah, kurang
- menghargai orang tua, sulit diajak
- beribadah, lebih milih bermain game atau
- chatting dengan smartphone-nya. Saya
- khawatir, Ustaz, kalau dia terjerumus
- dalam pergaulan yang tidak baik di dunia
- maya, bagaimana cara bisa mendidiknya
- agar menggunakannya si teknologi itu
- secara positif saja tanpa merusak akhlak
- dan keimanannya,
- tanpa membuatnya memberontak kalau saya
- membatasi penggunaan smartphone-nya.
- Tahu enggak, Ustaz? pernah saya cek
- HP-nya, ternyata ada beberapa kakak
- kelasnya yang menyatakan suka dengan
- dia. Saya takut kalau anak saya salah
- bergaul. Meskipun realitanya anak-anak
- sekarang memang seperti itu. Apalagi
- sekarang ini di sekolah umum campur
- antara anak laki dan perempuan. Saya
- ingin masukkan ke pesantren, dia
- berontak, dia enggak mau, Ustaz. Oke.
- Kemudian yang lainnya, asalamualaikum,
- Ustaz. Apakah dalam pernikahan laki-laki
- lebih unggul dari wanita? Kalau terjadi
- laki-laki ini kalah sama wanita dalam
- berbagai segi, karena di dalam setiap
- mengambil keputusan selalu wanita yang
- mengambilnya. Apa saja? Tanya sama
- Bunda, tanya sama Bunda. Anak-anak
- sampai besar sekarang ini ada yang SMP,
- ada yang kelas 6 yang memimpin adalah
- ibunya. Nah, kalau sudah terjadi seperti
- ini apa ya? Laki-laki lebih unggul dari
- wanita, Ustaz.
- Sementara ada seorang istri yang selalu
- mau menang sendiri. Setelah dikasih
- kesempatan, dia enggak mau. Akhirnya
- saya sebagai suami jadi deh yang
- menangani semua kesalahan dan
- perbuatannya.
- Saya pusing, Ustaz. Mohon pencerahannya.
- Ya, ikhwan akhwat. Empat kasus ini mari
- kita simak bagaimana mengatasinya.
- Silakan, Ustaz.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Hamdulillahi rabbil alamin.
- Allahumma sholli ala Muhammadin wa ali
- Muhammad.
- Subhanak la ilma lana illa ma alamtana
- innaka antal alimul hakim. Wala haula
- wala quwwata illa billahil aliyil adzim.
- Allahumma atina minika rahmah waimna min
- ladunka ilman nafi bimaamt
- allahumahdinaulam
- waakrijna minulumati
- wahdina ilaatikal
- mustaqim
- asalamualaika ya rasulullah
- assalamu alaina wa ala ibadillahi shihin
- wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh ullah. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Pertama-tama kita akan menjawab
- persoalan dengan ibu kita yang
- mengeluhkan anaknya kecanduan jejet.
- penyebab kecanduannya karena sang ayah
- menghadiahkan anak tersebut
- smartphone
- yang membuat akhirnya dia asyik ya
- menghabiskan waktunya. Mau tidak mau
- akan menimbulkan gangguan di saat
- berlebihan orang menggunakan
- smartphone atau handphone ya. baik untuk
- hiburan, baik yang berhubungan dengan
- media sosial,
- dia tidak merasakan waktu berlalu
- yang mengakibatkan terjadinya keletihan
- fisik,
- baik itu mata ya,
- begitu juga kelesuan
- yang membuat orang akhirnya tidak
- bersemangat untuk hal-hal yang positif
- juga menimbulkan gangguan mental, cemas,
- emosional,
- susah untuk dikendalikan. Dan saya
- rasakan cucu saya yang tadinya ee asyik
- bermain handphone ya,
- kalau diambil handphone-nya akan keluar
- betul-betul apa emosinya dan marahnya
- yang tidak terkendari. Tapi
- alhamdulillah semenjak dia masuk
- boarding school, bergaul dengan
- teman-temannya aktif dalam olahraga,
- kegiatan-kegiatan yang lain, Allah kasih
- terjadi perubahan. Terjadi paling kalau
- dia pulang ke rumah pada saat berlibur,
- dia memegang handphone karena dia asyik
- dengan bola kebetulan.
- Tapi memang kenyataan bahwa handphone
- ini luar biasa.
- di belakang handphone setannya tidak
- tanggung-tanggung. Bukan setan kecil,
- tapi setan besar.
- Karena orang yang asyik tanpa
- mengendalikan dirinya,
- orang tersebut bisa merambah ke sana
- kembali yang menimbulkan kerusakan buat
- dirinya.
- Kita tahu apa yang disediakan melalui
- internet ini berbagai macam menu bahkan
- tidak dicari dia menawarkan dirinya.
- Apalagi di saat dia mulai mengalami masa
- puber, pemberian orang tua yang tidak
- mencukupi, tahu-tahu
- pinjol menjadi jalan keluar buat
- dirinya. Berapa banyak anak yang membawa
- petaka ke dalam kehidupan orang tuanya
- akibat pinjol.
- Karena kemudahan yang mereka berikan
- akhirnya mengakibatkan anak-anak kita
- menjadi korban. Saya bingung ke mana
- para pemimpin kita, wakil rakyat kita,
- apa yang sedang mereka lakukan
- membiarkan pinjol judi online ya terus
- berkembang
- yang akan mengakibatkan akhirnya banyak
- orang masuk dalam perangkap setan. Kasus
- bunuh diri kemarin pun ketika seorang
- wanita bunuh diri karena suaminya
- terlihat hutang menjadi beban buat dia.
- Dicemohkan oleh lingkungan sampai
- menyebabkan dia meracuni dua anaknya.
- Kemudian dia bunuh diri. sambil berkata,
- "Tidak apa-apa, Nak. Saya masuk ke
- neraka asal kalian tidak hidup
- penderita."
- Oleh karena itu, pejabat pemerintah
- kita, termasuk wakil rakyat kita,
- termasuk ulama kita, mereka
- berkontribusi dalam kejahatan tersebut
- kalau mereka tidak serius menghadapinya.
- Pemerintah yang punya wewenang
- seharusnya menghentikan hal tersebut.
- Jadi handphone ini bisa membuat orang ya
- yang tadinya baik, terkendali,
- berkenalan dengan wanita-wanita yang
- tidak baik, akhirnya mengenal
- kebiasaan-kebiasaan yang merusak
- otaknya, merusak jiwanya, dan juga
- merusak akhlaknya.
- Ini masalah serius bisa menimbulkan
- gangguan fisik, gangguan mental dan
- kalau sudah terlanjur amat sulit untuk
- bisa diperbaiki. Tak ubahnya bagaikan
- orang yang kecanduan narkoba bahkan
- lebih dahsyat lagi.
- Oleh karena itu, bagaimana kita
- mengalihkan anak kita dengan sendirinya?
- Kita kembali
- ke dalam kitab Allah Subhanahu wa taala.
- kembali kita meneladani Nabi kita
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- dalam mendidik anak kita. Hadiah orang
- tua untuk anaknya dalam usia tersebut
- sebetulnya
- merupakan sikap yang akan menjerumuskan
- anaknya
- yang tadi tidak dikenal dengan hadiah
- tersebut tanpa ada aturan, tanpa ada
- pengendalian waktu mengakibatkan anak
- tersebut mau tidak mau apa? Punya
- kebebasan.
- Oleh karena itu diperlukan ada aplikasi
- pengaturan waktu dalam hal ini untuk
- mengatur jam-jam dia memegang HP karena
- tidak mungkin dielakkan. Kalau di rumah
- tidak bisa, di luar dia akan berkumpul
- bersama teman-temannya. Ada pengendalian
- waktu. Nah, yang paling utama di sini
- pertama-tama orang tua berhadapan dengan
- anak seperti ini
- harus betul-betul melakukan pendekatan
- emosional.
- pendekatan emosional.
- Karena kedekatan kedekatan emosional
- antara orang tua dan anak itu membangun
- kedekatan yang luar biasa. Membuat anak
- tidak canggung-canggung ya untuk
- menghibur dirinya kumpul bersama
- ayahnya, bersama ibunya, curhat. Ya,
- tapi begitu ada gap antara anak dengan
- orang tua ini akan akan mengakibatkan
- betul-betul apa? Dampak-dampak yang
- negatif buat anak.
- tidak mendapatkan ventilasi dari orang
- tua, dia akan cari teman-teman
- yang akan memberikan solusi solusi yang
- apa? Yang tidak baik sesuai dengan
- kondisi keadaan mereka di luar.
- Jadi membangun kedekatan emosi bersama
- anak-anak ini penting sekali.
- Oleh karena itu, tidak cukup hanya kita
- berikan dia pengetahuan, wawasan, tapi
- adakan kedekatan.
- bisa ngobrol bersama kita, bisa tertawa
- bersama kita. Ya, kemudian kita juga ya
- merangkulnya, memeluknya, mengecupnya
- pada saat-saat kita akan pergi atau
- pulang ke rumah. Ini subhanallah
- merupakan apa? Merupakan
- cara yang paling indah membuat anak itu
- ya merindukan orang tuanya. Di saat
- orang tuanya pergi, kalau zaman dulu ibu
- yang telepon, sekarang anak yang
- telepon. Ya kok belum pulang sampai
- sekarang?
- Kita tunggu di rumah, kita kangen sama
- kamu. Nih, itu kenyataan.
- Bagaimana orang tua yang dekat dengan
- anaknya selalu dirindukan oleh anaknya.
- Hingga ayahnya pulang, si anak asyik
- berbicara dengan orang tua, curhat,
- tertawa, tanpa ada gap, tanpa ada apa?
- Rasa takut di hati anak terhadap orang
- tua. Jadi, wibawa yang dibuat-buat
- jangan sekali kita jadikan sebagai gap
- antara kita dengan anak supaya orang
- tua, anak-anak itu hormat pada kita.
- Anak tersebut hormat kepada kita karena
- takut bukan karena kecintaan. Tapi di
- luar dia akan bercerita menceritakan
- orang tuanya yang tidak mengerti
- perasaan.
- Jadi banyak hal sebetulnya bisa
- dihilangkan dengan kedekatan emosi.
- Kemudian
- dalam kedekatan tersebut hendaknya orang
- tua jangan
- sering marah-marah pada anaknya. Tidak
- berusaha untuk memberikan solusi,
- mengetahui keadaannya, perasaannya, tapi
- sering marah-marah. Marah-marah
- melampiaskan emosinya.
- Kamu nih tidak tahu diri. Orang tua
- banting tulang bekerja siang malam untuk
- membiayai sekolah kamu. Sekarang kamu
- abaikan sekolahnya.
- Dia ini dalam kondisi lemah, jiwanya
- dalam keadaan sakit, terjerat. Ucapan
- orang tua akan membuat orang tersebut
- berputus asa. Hingga banyak anak-anak
- tanpa disadari akibat ulah orang tuanya
- kehilangan harapan hidup.
- Karena orang tua sering
- membanding-bandingkan. itu lihat tuh
- anaknya fulan, lihat anaknya fulan,
- lihat anaknya fulan. Dia merasa dirinya
- belum bisa berbuat apa-apa. Bahkan ada
- yang sudah tamat SMA, masuk perguruan
- tinggi, kemudian sekolahnya gagal. Orang
- tua bukan menjadi tabib yang baik, malah
- menjerumuskan anaknya.
- Kamu mau jadi apa nanti? Bagaimana kamu
- akan menghidupkan keluarga kamu kalau
- kamu seperti ini? seharusnya orang tua.
- Kalau memang anak tersebut tidak lulus
- sekolah, bukan berarti dia gagal. Yang
- sekolah bukan berarti sukses. Apa
- artinya jenjang akademi tertinggi? Kalau
- seandainya dia bukan menjadi orang yang
- bijak, kalau dia enggak mampu katakan
- untuk menyelesaikan sekolah, dia bisa
- bekerja, bisa wirausaha. Orang tua bisa
- memberikan solusi dan melakukan
- pendampingan bersama anaknya.
- Ada satu orang tua,
- anak-anaknya sebagian tamat dari luar
- negeri, sebagian ya sekolahnya tidak
- sempurna.
- Orang tuanya kaya raya,
- kebetulan dia bekerja dalam bidang
- properti.
- Dia panggil anak-anaknya,
- "Kalian cari tanah."
- Cari tanah.
- Cari tanah, ya. Kemudian kalian bangun.
- Ayah berikan modal keuntungan bagi dua.
- Si anak
- perasa dirinya sudah dewasa, punya
- kebutuhan, mau berumah tangga. Kan kalau
- dia harus cari kerjaan di luar tanpa ada
- pengalaman sebelumnya, dia akan bingung.
- Orang tua cari kerjaan di luar dong.
- Tidak segampang itu. Ini orang yang baru
- kalau kita berikan tekanan yang berat di
- luar kemampuan dia. Apalagi orang tua
- mengatakan, "Tahu enggak dulu orang tua
- kamu tuh dagang pisang goreng, dagang
- cabe, dagang ini hingga seperti ini. Ini
- enggak mungkin bisa diterapkan pada
- anaknya." Betul gak? Karena apa? Karena
- ini anak orang kaya, sedangkan bapaknya
- anak orang miskin. Jadi kalau dagang
- pisang goreng, dagang cabe, dia enggak
- malu. Tapi kalau tahu bapaknya punya
- aset macam-macam.
- Sedangkan anaknya apa? Anaknya disuruh
- seperti orang tuanya dulu enggak mungkin
- sama sekali. Beda keadaannya.
- Allah kasih. Subhanallah. Karena orang
- tua dekat dengan anaknya
- memberikan kepercayaan buat anaknya. Si
- anak mulai mencari tanah. Mend datang ke
- hadap orang tua. Ini tanah yang saya
- lihat. Abah aja perhatikan sesuai dengan
- pengalaman dia. Nak periksa suratnya
- dulu diteliti suratnya, diteliti ininya.
- Nah, sekarang kamu cari tukang gambar,
- kamu gambar. Orang tua enggak tangannya
- semuanya enggak diatur suruh cari tukang
- gambar. Nanti begitu gambar sampai orang
- tua berikan koreksi ya. Berikan koreksi.
- Koreksi yang mencerdaskan dia.
- Setelah itu mulai disuruh membangun.
- Dijelaskan tahapan-tahapan yang pertama.
- kedua, ketiga, sekali, dua kali.
- Subhanallah apa? Si anak punya rasa
- percaya diri yang luar biasa.
- Subhanallah. Berkembang anak-anak ini
- menjadi pengusaha. Waktu orang tuanya
- meninggal meninggalkan warisan,
- anaknya enggak butuh pada warisan.
- Karena apa? Karena semuanya sudah
- mandiri.
- Jadi, bukan hanya anak laki-laki, anak
- perempuan pun diberikan apa?
- Jadi, bagaimana orang tua bisa menjadi
- teman bersama anaknya, menjadi
- pendamping
- yang memberikan dukungan baik secara
- finansial kalau dia mampu, kalau tidak
- secara emosional. Berikan kepercayaan
- karena kepercayaan yang tertanam di hati
- mereka lebih berharga dari modal.
- Tapi begitu kepercayaan anak kita atau
- kepercayaan seorang laki-laki
- dihilangkan oleh cerocosan istri atau
- cerocosan dari orang luar mengakibatkan
- dia pasti kehilangan kepercayaan.
- Oleh karena itu,
- kedekatan
- emosi antara orang tua dengan anaknya
- ini anak ini merupakan apa? Kekayaan
- orang tua akan menjadi generasi yang
- akan datang dan juga merupakan amanat
- buah hati mereka. Kalau mereka enggak
- bersabar dekat dengan anak mereka,
- bagaimana mereka bisa apa? Bisa bersikap
- baik pada orang lain. Ini buah hatinya.
- Jangan diserahkan pada orang lain, tapi
- kita dekat. Biar anak-anak juga curhat
- pada ibunya, curhat pada bapaknya. Duduk
- sama-sama. Nah, berkaitan dengan gadget
- ini kalau orang tua bisa membangun
- kedekatan bersama anak-anaknya, Nak,
- coba tinggalkan HP dulu. Kita kumpul
- sama-sama. Selagi ayah ibu kamu masih
- hidup, kita bisa berbicara nanti kalau
- ayah ibu kamu sudah pergi, kamu akan
- menyesal.
- Kemudian ajak salat berjamaah. Ya, yang
- perempuan bersama ibunya, ayah bersama
- anak laki-lakinya di luar atau ayah
- katakan pulang dari masjid bisa salat
- bersama anak-anaknya.
- Kemudian adakan acara-acara hiburan yang
- menyenangkan tapi mendidik.
- Tanpa harus mereka pergi keluar belanja
- di luar bisa orang tuanya memasakkan apa
- yang kalian suka. Kira-kira berikan
- tugas buat anaknya masing-masing.
- Bikin atau hidangan makanan yang mereka
- suka dimakan di rumah bersama-sama itu
- lebih baik daripada sering mondar-mandir
- ke restoran atau beli makanan online.
- Ini enggak membangun kebersamaan. Betul
- gak?
- Oleh karena itu, saya sendiri saya
- paling suka makan di rumah dari tangan
- istri daripada makan di acara-acara
- undangan. Kita bawa makan ke rumah,
- makan bersama-sama kita nikmatnya luar
- biasa. Lihat anak kita, cucu kita
- menikmati makanan yang mereka makan kan
- bahagia kita.
- Nah, di samping kedekatan emosi, kita
- juga harus bertanya kepada mereka apa
- kira-kira alasan mereka? Mereka katakan
- lebih banyak menghabiskan waktu di HP.
- Nah, kita berikan solusi yang baik. Ajak
- berpikir. Jangan marah-marah
- pembekalan yang kita berikan buat
- dirinya. Jangankan kita juga kesal.
- Betul gak? Kita juga kesal kalau dengar
- cerometan. Orang Tegal bilang ngeromet
- enggak berhenti sama sekali. Tapi kalau
- diajak bicara dengan baik-baik, anak
- punya rasa percaya dan bangga sama orang
- tuanya. Sampai tanpa orang tua ngajak
- anaknya keluar, anak Mbah itu Mbah ya.
- Kenapa? Dia merasa pada saat dia pergi
- sama orang tuanya
- betul-betul merasa terhibur dan rasa
- percaya diri muncul di hatinya.
- Kemudian di samping itu coba kita
- alihkan mereka kepada aktivitas kegiatan
- olahraga.
- Olahra olahraga baik itu mau futsal,
- baik itu katakan pingpong, badminton,
- berjogging, ya. Tapi bersama-sama Bapak,
- Ibu semana kumpul bersama-sama. Lain
- suasananya kalau mereka jalan sendiri.
- Kalau kita bilang sama kita, "Kau pergi
- olahraga lagi, dia enggak bakal mau.
- Apalagi asyik mejajat." Tapi kalau Bapak
- Ibu yang kita olahraga, yuk nanti kita
- makan-makan bubur di Senayan, kita makan
- ini kan lain kan? Atau kita makan-makan
- nanti setelah olahraga kita itu akan
- membuat
- nanti apa? Muncul perlawanan dari
- dirinya untuk menghadapi kecanduan
- jajet. Dia merasakan ada
- kenikmatan-kenikmatan lain yang lebih
- indah. Kalau ini lesu, capek, bikin
- penat, menghilangkan gairah semangat
- dengan olahraga, kumpul bersama orang
- tua, makan-makan, suasana beda kan?
- beda.
- Oleh karena itu, alihkan dari yang
- negatif ke arah yang positif dengan
- penuh kecintaan. Sebagaimana Nabi
- memperlakukan anak-anaknya dengan penuh
- kecintaan hingga pada saat Nabi akan
- wafat, anak itu lebih suka menyusul sang
- ayah daripada apa? Daripada kumpul
- bersama suami dan anak-anaknya seperti
- Sayidah Fatimah. Ketika diberitahukan
- bahwa Rasulullah akan kembali menghadap
- ke hadapan langsung dia menangis. Rasul
- bisikan, "Kamu orang yang pertama
- menyusul aku." Langsung tertawa. Padahal
- dia punya anak yang dicintai, punya
- suami. Tapi karena kecintaan pada
- ayahnya yang selalu memuliakan dirinya,
- dia merasa kehilangan ayah, kehilangan
- segala-galanya.
- Saya punya anak kecil-kecil selalu kalau
- pulang dari sekolah curhat bicara pada
- ibunya.
- Apa saja di luar? Nah, ibu di sini
- jangan merasa sempit.
- Mama capek enggak mau dengar lagi. Tapi
- dengarkan keluhan mereka. curhat mereka
- kumpul bersama anak-anak menjadi teman
- mereka akan menghasilkan insyaallah
- buah-buah yang amat indah. Buahnya tidak
- layu, tidak busuk ya, tidak kusam, tapi
- buah yang ceria dengan penuh harapan.
- Oleh karena itu saya ingat satu ajaran
- Mbaking
- soddiq la tusoddiq.
- Believe or not believe.
- Ada perkebunan apel sama tomat.
- perkebunan tersebut ya di samping
- pemupukan juga mendengarkan musik-musik
- yang lembut, yang indah,
- kata-kata yang baik ya. Subhanallah apa?
- Ternyata buahnya betul-betul apa?
- Banyak dan betul-betul hasilnya luar
- biasa.
- Ini buah-buahan kan kita lihat enggak
- ada hubungan dengan kita kan. Begitu
- juga ketika kita di rumah depan dulu,
- setiap pagi kita membaca Al-Qur'an
- bersama ikhwan ya, bersama-sama pohon
- rambutan yang lama tidak berbuah
- ternyata menghasilkan buah yang luar
- banyak mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an.
- Jadi jangan jadikan rumah kita seperti
- kuburan. Isi dengan zikir sama-sama isi
- juga dengan Al-Qur'an. Salat berjamaah.
- Jangan yang kita ya isi yang kita
- sibukkan hal-hal yang membuat kita
- lalai, lupa kepada Allah Subhanahu wa
- taala. Dan jangan kita jemu untuk
- mengajak anak kita salat.
- Seperti Allah menggambarkan Ismail wana
- ymuru ahlahu bisati wazakah. Ismail
- sabar untuk mengajak keluarganya
- mengerjakan salat dan mengeluarkan
- zakat. Artinya anak-anak ini tumbuh
- tergantung nutrisi yang diberikan orang
- tua. Kalau nutrisi yang sehat, anak
- sehat.
- Tapi kalau nutrisi yang tidak baik,
- cacian, makian, marah-marah, ya.
- Kemudian juga hal-hal yang tidak baik
- akan mengakibatkan anak menyerap semua
- apa yang datang dari orang tuanya.
- Kemudian ketauladanaan.
- Orang tua kalau mengajak pada kebaikan
- dia harus lebih dulu.
- Tapi kalau dia mengajak kebaikan tapi
- anaknya melihat orang tuanya lain,
- bagaimana anaknya menghormati orang
- tuanya?
- Thibun yudawi thibu maribu. Seorang
- dokter mau mengobati apa pasiennya.
- Sedangkan dokternya sakit. Seperti
- pasien datang ke dokter paru-paru, si
- dokter batuk-batuk enggak berhenti.
- Ditanya, "Dok, kenapa, Dok, kok
- batuk-batuk?" Saya tertular penyakit
- paru-paru dari pasien saya. Kira-kira
- meyakinkan enggak pasiennya dokternya
- sakit malah bisa ngobati apa? Ngobati
- anaknya. Jadi ketauladan orang tua itu
- penting sekali. Ayah ibunya bagaimana
- mereka memberikan contoh yang baik.
- Kemudian doa
- seperti yang kita bahas dalam kajian
- yang lalu, orang tua diajarkan oleh
- Allah untuk berdoa. Rbi azni an askur
- nikmatakallati
- anamta alaiya waa walidaiya wa aala
- shihanardah
- wa aslihli firiyati inni tubtu ilaika wa
- inni minal muslimin. Ini ayat terdapat
- dalam ayat-ayat suratul ahqaf.
- Wahai Tuhanku, bantulah aku. Mudahkan
- aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang Kau
- limpahkan atas diriku, baik itu rezeki,
- anak-anak yang Kau anugerahkan,
- kesehatan, berbagai macam nikmat dan
- nikmat yang Kau limpahkan atas kedua
- orang tuaku hingga mereka dapat mendidik
- saya, membesarkan saya dengan penuh
- kasih dan rahmat. Kemudian waali shihan
- tard, bantu aku juga untuk mengerjakan
- amal saleh yang kau ridai.
- Wa aslihli firiyati. Perbaiki ya Allah
- bagiku anak-anak keturunanku. Inni
- ilaika wa inni minal muslimin. Aku
- bertobat padamu dan aku nyatakan diriku
- orang yang berserah diri kepadamu. Doa
- itu merupakan kekuatan yang luar biasa
- dahsyatnya.
- Sampai dalam hadis, la yaruddul qada
- illua. Tidak ada yang bisa mengubah
- ketentuan Allah kecuali hanya doa.
- Jadi banyak-banyak berdoa setiap habis
- salat berdoa untuk memohon ampun bagi
- kedua orang tua kita, orang-orang yang
- berjasa kepada kita dan mohon agar
- anak-anak kita Allah Subhanahu wa taala
- perbaiki dan sempurnakan akalnya. Tapi
- sebelum berdoa untuk anak, doa dulu
- untuk orang tua. Karena mereka
- berbagi bukan dengan hal yang kecil,
- tapi dengan seluruh hidup mereka untuk
- kita semuanya. Sedangkan anak kita
- merupakan ee apa-apa yang lahir dari
- kita.
- Artinya kita tidak berhutang kepada
- mereka sebagaimana hutang kita kepada
- orang tua. Doa untuk orang tua di
- samping berselawat pada Rasul pembuka
- jalan untuk pengabulan doa. J sebelum
- kita berdoa untuk yang lain, kita berdoa
- untuk kedua orang tua kita. Rabbighfirli
- wahi waidai warhamhuma kama rabbaaniir.
- Baru kita berdoa untuk anak kita.
- Jadi untuk mengalihkan anak kita dari
- hal yang negatif dan positif tidak bisa
- dengan cara kekerasan. Kalau kita
- lakukan akan menjadi musuh, kita
- akan menjadi lawan dan semakin kita
- bersikap keras semakin dia menjadi-jadi
- untuk menyakiti perasaan orang tuanya.
- Oleh karena itu, ada anak-anak ya enggan
- pulang terlalu malam bukan karena agama.
- Bukan karena agama sama sekali.
- selalu dia cepat-cepat pulang ke rumah.
- Bahkan kalau sekolah juga orang-orang
- bermain ke sana kemari si anak tidak mau
- langsung pulang ke rumah. Kenapa kamu?
- Kamu anak ibu ya? Dia bilang orang tua
- saya penuh perhatian. Mereka menunggu di
- rumah saya tidak ingin membuat mereka
- bingung.
- Jadi si anak ini karena kecintaan orang
- tua tidak ingin membuat orang tuanya
- susah.
- Nah, bagaimana kalau ada dukungan dari
- agama ya? Kemudian juga dukungan dari
- lingkungan yang baik dalam rumah. Jadi
- kesimpulannya hendaknya kita perlakukan
- buah hati kita dengan mulia. Mereka akan
- memperlakukan kita dengan mulia. Maka
- ibu jangan suka merasa sempit untuk
- mendengarkan curhat dan jangan gampang
- marah-marah sama anak.
- Hadapi dengan cara yang lapang dada
- lego. Sebagaimana perlakuan kita, mereka
- juga akan memperlakukan kita dengan hal
- yang sama.
- Ini yang pertama. Yang kedua,
- seorang istri mengeluhkan suaminya dalam
- pengambilan keputusan selalu diserahkan
- kepadanya.
- Padahal
- dalam tuntunan agama katanya ya,
- perempuan itu di bawah laki-laki di mana
- laki-laki lebih unggul dari perempuan.
- Sebetulnya ucapan ini laisa ala itlaqih.
- Perlu kita pahami
- bahwa Allah Subhanahu wa taala jadikan
- pria dan wanita ba'buhum min ba'
- sebagian mereka dari sebagian yang lain.
- Hak seorang ibu itu besar sekali. Sampai
- ketika Rasul ditanya, "Siapa yang paling
- utama berhak untuk menerima
- kebaktianku?" Rasulullah mengatakan,
- "Ummuka
- man ya Rasulullah?" "Ummuka tumma man ya
- Rasulullah?" "Muka
- Oleh karena itu dalam wasiat Allah
- setelah memerintahkan untuk bersikap
- baik pada ayah ibu secara khusus
- disebutkan peran ibu."
- umuhu
- dalam ayat yang lain surah Luqman hamalu
- wahnan al wahnin wau
- jadi kalau kita lihat di sini sesuai
- dengan pengorbanan ibu yang begitu besar
- dia mendapatkan imbalan yang lebih besar
- daripada sang ayah
- nah dalam kehidupan rumah tangga Allah
- tidak jadikan pria sebagai lawan wanita,
- wanita sebagai lawan pria tapi sebagai
- pasangan ya yang bekerja sama
- saling apa? Saling menyayangi,
- memperlakukan pasangnya dengan perlakuan
- yang mulia yang membawa rasa sakinah,
- menumbuhkan rasa cinta dan rahmat hingga
- mereka dapat menjalankan peran mereka
- sebagai ayah maupun ibu dengan
- sebaik-baiknya.
- Jadi Allah tidak jadikan pria sebagai
- lawan, tapi Allah jadikan sebagai
- pasangan
- bekerja sama. Allah tuangkan di hati
- mereka rasa mawad danah menembuhkan rasa
- sakinah. Wam ayatihiqum
- anfusikum azwaja. Oleh karena itu dalam
- dalam bahasa Arab laki-laki zaud
- perempuan juga zaud tanpa menggunakan
- pembedaan apa? Pembedaan tanda.
- Dalam bahasa Arab enggak ada zaujah
- kecuali dalam bahasa pasar yang ada
- zauj. Laki-laki mengatakan anti zauji wa
- ana zaujuki. Seperti apa?
- Waula minhuma haituuma
- wlamkun
- anta waujuk. Wahai Adam, tinggallah kamu
- bersama zaujuk pasangan kamu.
- Di sini menempatkan pria dan wanita itu
- apa? Dalam keadaan yang setara tetapi
- dalam pengambilan keputusan dalam
- kebijakan
- diserahkan kepada laki-laki. Itu pun
- kalau memang apa? memenuhi syarat untuk
- pengambilan keputusan.
- Memenuhi syarat dalam pengambilan
- keputusan. Allah mengatakan, "Arijalu
- qawamuna alanisa." Laki-laki. Ya, mereka
- bertanggung jawab untuk meluruskan
- mengayomi wanita-wanita mereka baik itu
- istri maupun anak-anak mereka. Bima
- fadallahu ba'bahum alin dengan keutamaan
- yang Allah berikan pada masing-masing.
- Pria dengan keutamaannya, wanita dengan
- keutamaannya.
- juga dengan nafkah yang mereka berikan.
- Lalu wanitanya memberikan dukungan buat
- suaminya
- gaibi bimafidallah. Dan wanita mukminah,
- wanita yang saleh ini yang taat pada
- Allah, hormat dan taat pada suaminya.
- Perlu diketahui bahwa perempuan itu akan
- selalu menjadi kenangan indah bagi suami
- bukan karena kecantikannya.
- Karena kalau kecantikan isi di rumah
- dibandingkan dengan di luar apalagi
- tahun demi tahun model yang bermunculan
- apa?
- Tidak mungkin sama sekali bisa menjadi
- pengikat sukma buat suaminya. Tetapi
- ketaatan istri, rasa hormatnya,
- lemah lembutnya ini yang akan selalu
- apa? Terbayang dalam benak suami.
- Terkadang dia tertawa sendirian melihat
- apa yang dilakukan istrinya. Walaupun
- banyak wanita-wanita yang menarik, tapi
- hatinya akan selalu ingat pada istrinya.
- Bukan kecantikan, bukan gelar ya, bukan
- dandan maupun penampilan, tapi kesetiaan
- istri, ketaatannya. Falihatu hafidatun
- eh fasalihatu qonitat hafidatun lil
- ghaib. Dia menjaga kehormatan suaminya
- baik depan suami maupun di belakang
- suaminya. Bima hafidallah itu dengan
- penjagaan Allah terhadap mereka. Karena
- mereka menjaga Allah subhanahu wa taala.
- Jadi wanita bukan makhluk yang lebih
- inferior dibandingkan laki-laki. Tapi
- Allah jadikan mereka sebagai pasangan
- yang bekerja sama. Nah, sebagai pemimpin
- Allah Subhanahu wa taala angkat
- laki-laki ya. Karena kalau dua-duanya
- memimpin sama dengan mobil ya dikendarai
- dua orang ada gasnya, ada remnya, ada
- setirnya. Kira-kira apa jadinya? Bayang
- enggak Allah serahkan kepada laki-laki
- dengan kesiapan fisiknya ya, kesiapan
- mentalnya. L bagaimana kalau seandainya
- laki-lakinya ternyata kurang bijak? Yang
- bijak istrinya. Yang bijak istrinya.
- Maka dalam hal ini biasanya si laki-laki
- kalau menemukan kekurangan pada dirinya
- ya tidak sebijak istrinya, dia lebih
- suka biar istrinya ambil keputusan. Saya
- kenal satu orang, ustaz
- mengajar, mendidik, tapi berkaitan
- dengan kebijakan. Dia bilang, "Saya
- lebih suka istri saya ngambil keputusan.
- Saya nyaman, tenang, saya punya hati."
- Karena meang istrinya kebetulan apa?
- Bijak. Lalu orang bertanya, "Apa enggak
- boleh perempuan ya mengambil keputusan
- kalau dia merupakan orang yang lebih
- bijak?" Contohnya jangan jauh-jauh.
- Balqis ketika dia kumpulkan para pemuka
- kaumnya, dia bertanya,
- "Bagaimana pandangan kalian?" Saya
- menerima surat dari Sulaiman.
- Innahu bismillahirrahmanirrahim.
- Walla talu alaiya wauni muslimin.
- Para pembuka kaumnya mengatakan, "Nahnu
- ulu quatin wa ulu basin syadid." Kita
- ini merupakan satu kekuatan yang luar
- biasa kuat dan dahsyat.
- Kami serahkan keputusan di tangan kamu.
- Silakan kamu putuskan.
- Balqis mengatakan dalam peperangan itu
- pasti akan terjadi kerusakan rakyat
- menjadi korban. Innaluka
- qaran
- whaillatan.
- Mereka bisa mengubah orang-orang yang
- tadinya mulia menjadi hina korban dari
- peperangan. Tapi saya akan menguji
- Sulaiman mengirimkan dia hadiah.
- Ingin tahu bagaimana jawaban Sulaiman.
- Kalau dia seorang nabi, seorang rasul,
- sikapnya pasti berbeda dengan seorang
- yang ambisi, kekuasaan maupun harta.
- Ketika Tuusan datang membawa hadiah,
- Sulaiman tertawa.
- Kalian bangga dengan hadiah yang kalian
- bawa. Kembali pada ratu kalian. Kalau
- mereka tidak datang, kami akan bawa dan
- kerahkan pasukan yang mereka tidak mampu
- untuk lawan.
- Balqis begitu mendengar kisah tersebut
- dia tahu ini bukan manusia apa yang
- ambisius
- langsung berangkat bersama rombongan
- tiba di kerajaan Sulaiman dia
- menyaksikan kemegahan yang tidak pernah
- disaksikan sebelumnya diajak masuk ke
- istana
- ubin terbuah dari kristal akhirnya dia
- menganggap itu air diangkat bajunya
- melebihi betisnya Sulaiman mengatakan
- innahu sharhun mumaradun min qwar itu
- merupakan bangunan ya lantai yang
- dibangun Apa? Dari apa? Dari batuan yang
- melahirkan apa? Mirip dengan mirip
- dengan apa? Mirip dengan kaca. Min
- qawarir.
- Balqis pada saat itu menyadari
- kebodohan dia selama ini. Rbi inni
- dolamtu nafsi wa aslamtu ma sulaiman
- lillahi rabbil alamin. Wahai Tuhanku,
- selama ini aku menzalimi diriku
- menyembah selain Engkau mempersekutukan
- engkau dan aku sekarang berserah diri
- kepadamu bersama Sulaiman. Arti Sulaiman
- yang begitu kaya raya ternyata tunduk di
- hadapan Allah. Masa dia yang lebih kecil
- menyombongkan diri. Nah, kita mau tanya
- kalau Balqis katakan serahkan keputusan
- pada para pemuka kaumnya mengumumkan
- perang apa yang terjadi?
- Apa yang terjadi? Bencana kan?
- Menteri luar negeri kita Retno.
- Kita lihat dia seorang wanita tapi dia
- berani bersikap tegas bahkan bicara di
- hadapan PB terhadap kejahatan Zionis dan
- dia ikut berdemo. Dia bukan orang yang
- berjilbab tapi jiwanya kalau kita
- perhatikan
- merupakan jiwa yang penuh dengan
- kemanusiaan
- dan keadilan. Tapi banyak kita jumpai
- negeri kita laki-laki ternyata apa?
- Jiwa mereka merupakan jiwa yang rendah.
- Melakukan tindakan korupsi,
- kemudian mencekik juga masyarakat dalam
- kesusahannya.
- Tidak punya rasa risi dan rasa malu
- karena tidak pernah merasakan
- penderitaan rakyat di bawah. Jadi kalau
- kita perhatikan sama-sama,
- kalau terjadi kondisi di mana suami
- istri, suaminya mungkin lemah ya satu
- sisi dia serahkan kepada istrinya.
- Ini bukan bukan berarti apa? Bukan
- berarti ee bahwasanya laki-laki lebih
- inferior dari perempuan atau perempuan
- lebih inferior dibandingkan laki-laki di
- saat yang memimpin laki-laki. Tidak.
- Mereka harusnya bertindak bijak.
- Bertindak sebagai apa? Orang yang bijak.
- Yang bijak dalam arti bagaimana mereka
- bekerja sama dan masing-masing
- mengetahui dirinya.
- Karena banyak kita jumpai laki-laki
- sibuk bekerja mencari nafkah. Tapi
- subhanallah keputusan bahkan dalam
- mendidik anak mengarahkan si perempuan
- jauh lebih bijak.
- Artinya si perempuan mengarahkan
- anak-anaknya ke arah yang positif.
- Pendidikan agamanya diperhatikan. Kalau
- suami ngajak untuk jalan-jalan ke sana
- kemari untuk hiburan di tidak. Kita
- lebih utama berikan pendidikan buat
- anak-anak kita. Kita dengarkan perempuan
- jangan gara-gara perempuan kita apa?
- Kamu ini perempuan tahu apa? Itu ucapan
- yang tidak benar. Bagaimana Rasul
- memuliakan wanita sampai putrinya pun
- dipanggil Ummu Abiha. Istri-istrinya pun
- demikian. Tidak pernah kita saksikan
- Rasul memperlakukan wanita dengan
- perlakuan yang merendahkan atau
- menghina. Betul gak? Bahkan seorang
- wanita berani mencegah Sayidina Umar
- mengatakan, "Dulu kamu pada masa
- jahiliah ya bermabuk maabukan,
- berkelahi, ya melakukan
- perbuatan-perbuatan jahiliah. Sekarang
- Allah memberikan hidayah kamu dan
- mengangkat kamu sebagai pemimpin kami.
- Bertakwalah kepada Allah dalam urusan
- kami." Itu yang diajarkan Islam. Jadi
- memandang remeh perempuan itu jahiliah,
- bukan Islam.
- Mandang perempuan itu jahiliah.
- Oleh karena itu dalam dalam apa? Dalam
- tradisi jahiliah perempuan baik istri
- maupun anak itu disepelekan. Istri orang
- tuanya yang bukan ibu kandungnya kalau
- orang tuanya meninggal diwarisi bisa
- diambil sebagai istrinya. Sampai Allah
- larang walaihuak abuk minisa.
- Begitu juga warisan anak perempuan
- diabaikan disepelekan.
- Tapi Islam datang memuliakan mereka.
- Tidak mungkin laki-laki akan mulia, satu
- bangsa mulia kecuali kalau laki-lakinya
- memuliakan wanita dan wanitanya
- memuliakan laki-laki. Allah jadikan
- mereka pasangan sebagian mereka dari
- sebagian yang lain. Kita kalau bukan
- dari ibu kita dari mana? Sampai Imam Ali
- ketika Sayidah Fatimah meninggal dunia,
- dia minta kepada sahabatnya mencarikan
- istri yang lahir dari orang-orang yang
- berjiwa besar.
- Bukan yang rambutnya panjang, yang
- cantik, yang enggak. Minta wanita yang
- berasal dari orang-orang besar. Karena
- apa? Karena anak kita ini akan lahir
- sesuai dengan apa? Dengan akhlak pribadi
- istri dan keluarganya. Orang Arab bilang
- istansib bilikal. Kalau mau cari anak
- yang unggul, lihat siapa paman-paman
- dari ibunya.
- Jadi ee pandangan wanita bahwasanya
- dirinya lebih inferior dari laki-laki
- sebagaimana doktrin yang dicekokin di
- tengah-tengah masyarakat jahiliah atau
- di saat laki tidak mampu dia lebih
- inferior. Tidak. Coba kamu kan
- menyayangi suami kamu. Suami kamu
- menyayangi kamu. Kamu ada kekurangan,
- suami harus memaklumi. Suami ada
- kekurangan, istri memaklumi. Dan kalian
- bukan lawan,
- bukan sedang bertanding, sedang bekerja
- sama.
- Jadi dalam hal ini kita menjumpai banyak
- kasus. perempuan lebih pintar mengatur
- masalah keuangan, mendidik, mengarahkan,
- laki-lakinya asyik main gafle, main
- domino.
- Ya, mungkin dua pertanyaan saya pikir ya
- ee sudah terjawab dulu. Sekarang kita
- mendengarkan dari Ustaz Abu Bakar yang
- senyumnya saja sudah merupakan solusi.
- Iya. Jadi, ikhwan akhwat, kalau yang
- barusan kita dengar kedekatan kita
- dengan ee pasangan kita, dengan orang
- tua kita dan anak-anak itu akan
- mempengaruhi begitu banyak yang terjadi
- dalam keluarga kita. Apa yang akan bisa
- kita dengar lagi dari ustaz kita, dari
- Pak Abu Bakar? Yuk, kita simak.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah,
- begitu banyaknya sesuatu yang diberikan
- kepada kita dari Allah yang senantiasa
- kita nikmati, kita hargai,
- kita dapatkan sesuatu yang baikbaik
- baik.
- Semua itu adalah kebaikan-kebaikan yang
- Allah berikan kepada hamba-Nya.
- Kebaikan-kebaikan itu akan meningkatkan
- diri kita, akan menjadikan diri kita
- sesuatu yang kuat dan benar-benar kuat.
- Kebaikan-kebaikan ini kadang-kadang
- dilupakan.
- Kita mendapatkan kebaikan tetapi kita
- lupakan,
- kita pinggirkan, kita mencari dari diri
- kita.
- Bagaimana dengan prosesnya bahwa
- anak kita keranjingan atau ee
- gadgetnya?
- Dia selalu penuh dengan proses gadget.
- Jadi anaknya ini penuh dengan gadget.
- Kalau diambil gadgetnya dia akan marah.
- Dia akan marah, dia akan banting, dia
- akan lakukan sesuatu cuman karena
- gadget.
- Masyaallah.
- Anaknya ini sudah termakan
- arus yang namanya
- media sosial.
- Jadi media sosial ini benar-benar
- menguasai pikiran.
- Pikirannya sudah dikuasai oleh media
- sosial.
- Apa yang terjadi?
- Kita perhatikan
- sejak belum adanya gadget juga ada, tapi
- anak itu keluar ke mana? Ke lari. Tapi
- dia tidak menggunakan gadget.
- Kalau sekarang dia menggunakan gadget
- ya. Jadi begitu gadget ini menguasai
- media sosial ini menguasai
- pikiran-pikirannya,
- apa yang terjadi?
- Karena kita tidak mengawali
- ketika gadget ini datang pada dirinya,
- dia melek, dia memperhatikan,
- dia melihat. itu ada gadget, itu ada
- media sosial, dia akan masuk, dia akan
- lakukan, dia akan mengerjakan. Kita
- enggak sadar kita biarkan dulu.
- Kita membiarkan dia.
- Padahal itulah efek-efek yang nantinya
- akan dikuasai.
- Jadi ketika dia melek, kita perhatikan
- seperti yang tadi dikatakan oleh Ustaz
- Husin, bagaimana mendidik itu.
- Jadi ketika dia mau melag, dia melagar
- kita sekitar usia 4 tahunan kita berikan
- informasi-informasi
- yang menarik, yang menyenangkan yang
- kedekatan
- kedekatan dirinya kepada dirinya
- berarti bahwa dia mendekat kepada
- dirinya. Oh, saya akan melakukan ini,
- saya akan mengerjakan itu, saya akan
- melakukan berikan informasi
- pergi pengajian.
- Kalau usia 4 tahun jangan dilihatin
- gadget,
- tapi diberikan informasi nih ada
- pengajian. berikan pengajian, berikan
- mengetahui,
- kenalkan dirinya dengan berbagai macam
- pendidikan
- agama.
- Kalau dia sudah masuk kepada pendidikan
- agama, pastikan dirinya kuat.
- Dan yang kedua, teruskan dirinya itu
- ajak
- ajak dia ke sesuatu yang berada
- bersama-sama dengan yang tadi sudah
- dikatakan oleh suatu sinin bahwa
- bersama-sama kita melakukan sesuatu.
- Apa itu? bermain, berolahraga,
- bercerita, berkomunikasi,
- ajak bersama-sama.
- Ketika dia diajak,
- dia akan melihat ke sana kemari,
- perhatian, ajak dia ke keluarga yang
- lain, pergi silaturahim ke sana ke mari
- untuk berinteraksi.
- Jadi bukan dengan diam
- ada gerakan gerakan gerakan bergerak
- dia.
- Kalau dia bergerak dari kecil insyaallah
- dia tidak akan terpaku sama gadget
- setelah besar.
- Gadget itu kalau diperlukan kita pakai,
- kalau enggak diperlukan kita enggak
- pakai.
- Ketika kita perlukan, kita gunakan.
- ketika dia tidak perlukan ya sudah main
- game cuman sebentar selesai
- bukan terus dengan pasangan-pasangan
- tidak. Nah, dengan kita ajak ke mana
- silaturahim dia lebih dekat. Oh, dia
- mampir ke sana bertemu dengan orang
- berkomunikasi. Bukan berkomunikasi
- dengan gadget. Ada orang ngobrol. Oh.
- Oh. Ya. Oh, oh. Iya. Bukan itu, tapi
- perhatikan dirinya.
- dia akan selalu memperhatikan
- perhatikan kita dengan berbagai macam
- kes kemudian
- berikan informasi sama dia bahwa
- perbuatan ini adalah baik, perbuatan ini
- adalah baik, perbuatan yang baik seperti
- ini. ada perbuatan-perbuatan
- setiap kali dia mungkin sudah besar ee
- 10, 12, 15 tahun ketika dia melakukan
- sesuatu,
- dia melakukan sesuatu yang tidak baik,
- kita tidak berkomunikasi,
- kita tidak mempermasalahkan yang tidak
- baik. kita letakkan,
- kita masukkan dirinya pada perbuatan
- yang baik.
- Jadi kalau dia berbuat baik, kita
- berikan apresiasi kita, "Oh, hebat,
- bagus, benar, masyaallah itu yang
- menjadikan perhatian dirinya.
- Jadi, setiap kali dia melakukan sesuatu,
- berikan informasi yang baik. Insyaallah
- dia akan menjadi baik.
- Kenalkan yang pertama itu kenalkan
- sesuatu yang baik sejak dari 4 tahun.
- Kenalkan kenalkan agamanya, kenalkan
- perbuatannya.
- Yang ketiga, bersama-sama kita ajak,
- kita ajak silaturahim, kita ajak ke
- mana, kita ajak ke mana agar supaya dia
- berinteraksi.
- Dan yang ketiga, kenalkan, informasikan,
- informasikan perbuatan-perbuatan baik.
- Jadi perbuatan-perbuatan baik ini yang
- dikenal, yang dia harapkan. Dia selalu
- berbuat baik, dia selalu menikmati.
- Insyaallah ketika itu akan lebih baik.
- Dan yang kedua,
- he
- ee ketika
- pasangan suami istri,
- pasangan suami istri itu sudah
- dipasangkan oleh Allah dengan
- sebaik-baiknya.
- Orang yang baik akan mendapatkan
- kebaikan, orang yang enggak baik akan
- mendapatkan ketidakbaikan. Oleh karena
- itu, carilah kalau seseorang
- mencari sesuatu yang baik pasti akan
- dapat. Maka sebelum menikah, perhatikan
- diri kita. Perhatikan diri kita.
- Konsentrasikan pikiran kita yang baik,
- yang menyenangkan.
- Insyaallah istri kita akan menyenangkan.
- Kebaikan-kebaikan diri kita akan
- menghasilkan ya kebaikan pada istri.
- Kalau seorang suami baik, pasti istrinya
- baik. Istrinya baik, pasti suaminya juga
- baik. Apa yang terjadi? Seorang suami
- itu baik, tapi istrinya enggak baik.
- Mungkin enggak tidak?
- Tidak terjadi. Ketika ada kebaikan dari
- satu, akan datang kebaikan berikutnya.
- Maka dari itu, perbaiki diri kita.
- perbaiki diri kita. Ketika kita ingin
- menikah, perbaiki diri kita, maka
- insyaallah dia akan menjadi baik.
- Baik. Nah, pasangan sekarang ini itu
- berpasangan
- untuk mendapatkan
- seperti yang tadi dikatakan pasangan itu
- untuk berkomunikasi,
- mencari jalannya
- dan jelaskan bahwa keputusan ada pada
- seorang suami.
- keputusan pada seorang suami. Walaupun
- ide-ide itu cemerlang dari seorang
- istri, sampaikan ide-ide itu dan
- sampaikan bahwa saya sudah sampaikan.
- Nantinya
- yang memutuskan adalah seorang suami.
- Walaupun ide-ide itu bagus,
- berikan kepada suami agar suami yang
- berbicara.
- dia yang berbicara itu insyaallah jalan
- yang terjadi. Kalau yang terjadi seperti
- ini dikit-dikit cerahin sama ibunya itu
- ada tugas seorang ibu.
- pada tugas seorang laki-laki ada
- tugasnya,
- maka masing-masing mempunyai tugas
- masing-masing.
- Nah, perhatikan ketika
- berpasangan, insyaallah dia akan lebih
- baik.
- Insyaallah.
- Masyaallah,
- tidak mudah ternyata ya. Karena kalau
- yang satu dominan, yang satunya lagi
- misalnya juga
- apa ya mau menang sendiri gitu. Ustaz
- masih ada sedikit waktu boleh tambahkan.
- Yang paling berbahaya dalam hidup ini
- selalu memenang sendiri.
- akhirnya mengabaikan kebenaran,
- mengabaikan hak-hak orang lain,
- menilai dirinya lebih daripada kursnya.
- Ini berbahaya sekali. Tapi orang yang
- bijak itu yang tahu dirinya,
- yang tahu menempatkan segala sesuatu
- pada tempatnya. Seorang laki-laki yang
- memuliakan istrinya itu, istrinya
- betul-betul akan
- tumbuh dalam kemuliaan.
- Seorang laki-laki yang betul-betul tulus
- ya memperlakukan istrinya juga akan
- mendapatkan imbalan yang tulus dari
- istrinya.
- Kecuali ya kalau wanita-wanita ini ya
- memang bukan pasangan yang tepat buat
- dia. Dia bukan memilih pasangan dengan
- kriteria yang baik. Mungkin dia melihat
- ya dari tubuhnya menggiurkan cara
- bicaranya
- pesonanya. Begitu dia menikah dia
- temukan ternyata apa? dia salah pilih.
- Dia hanya lihat casing tidak melihat
- isinya seperti orang beli mobil.
- Betul gak? Terkadang terpengaruh oleh
- iklan, tapi ternyata ya begitu dia beli
- mulai menyusahkan dia. Sebentar-sebentar
- masalah, sebentar-bebentar masalah. Oleh
- karena itu Allah berfirman dalam
- Al-Qur'an, "Ya ayyuhalladzina
- amanutaqulah waunu maasirin."
- Wahai orang-orang yang beriman,
- bertakwalah kepada Allah
- dan hendaklah kalian dalam bergaul,
- berkumpul bersama orang-orang yang
- jujur.
- Allah enggak mengatakan, "Jadilah kalian
- orang-orang yang jujur." Enggak cukup.
- Tapi apa?
- hendaklah kalian tempatkan diri kalian
- dalam pergaulan bersama orang-orang yang
- jujur hingga terus kita ini berkembang.
- Kalau kita kumpul bersama orang yang
- bodoh yang cara bicaranya enggak baik
- ya, yang suka mencaci kita bukan hanya
- tidak berkembang, malah kita mengalami
- apa? Kemunduran, tertular penyakit yang
- tidak baik bersama para pembohong
- lama-kelamaan kita tertular kebohongan
- juga. Tapi kalau kita kumpul bersama
- orang yang jujur dan tulus, begitu juga
- memilih istri harus lebih berhati-hati.
- Yang tulus, yang jujur, yang baik, ini
- yang akan membawa kebahagiaan buat kita.
- Jadi kita harus tahu bahwa pasangan
- suami istri bukan dijadikan
- satu sebagai lawan yang lain. Si
- perempuan menunjukkan dirinya lebih
- unggul dibandingkan laki-laki dengan
- pendidikan dia yang tinggi. Itu
- kebodohan yang luar biasa. Atau
- laki-laki ingin menunjukkan keunggulan
- dia. Kalau bicara depan teman-temannya,
- lihat saya punya istri tuh enggak berani
- berkotek, enggak berani berkutik. Kalau
- saya pulang langsung diam semuanya.
- Enggak ada kehangatan, kemesraan sama
- sekali. Ini bukan bukan rumah tangga
- yang dibangun. Ini merupakan penjara.
- Dia perlakukan istrinya bukan sebagai
- pasangan yang mulia. Padahal kalau
- istrinya dimuliakan, diperhatikan,
- diperlakukan dengan baik, insyaallah
- melahirkan anak juga dia akan apa? Akan
- menjadi pembantu yang sebaik-baiknya
- dalam apa? Dalam mendidik anak-anak
- kita.
- Nah, saya berikan contoh
- bagaimana ya ee kejadian
- seorang laki-laki yang suka memandang
- remeh istrinya.
- Kalau dia pulang ke rumah, istri sama
- anaknya semua diam lagi tertawa senang,
- gembira. Begitu suami pulang langsung
- hing di rumah.
- Suami pulang bagaikan apa? seorang
- jenderal ya
- yang merasa bangga di hadapan
- prajuritnya semuanya mengangkat topi dia
- beranggapan ini pendidikan yang baik
- karena apa karena dia lihat orang tuanya
- juga seperti itu.
- Dilihat orang tuanya itu kalau ngomong
- sama si kamu perempuan ada tahu apa
- kamu urusan masak urus anak
- jadi enggak pernah sama sekali apa duduk
- sama istrinya berkumpul bersama-sama
- tidak dia didik istrinya ya seperti
- prajurit di hadapan atasannya
- akhirnya anak-anak yang tumbuh itu
- tumbuh subhanallah ya ada yang ikut
- bapaknya nya
- ada yang tidak puas terhadap bapaknya,
- berbelas kasihan terhadap ibunya yang
- diperlakukan tidak baik. Nah, anak yang
- tumbuh seperti ini dia kan apa? Akan
- ragu terhadap agamanya. Karena si bapak
- selalu menggunakan agama. Kamu tidak
- akan masuk surga kalau suami kamu tidak
- rida.
- Sampai suaminya main perempuan kalau
- istrinya bantah langsung diancam. Kamu
- tidak akan masuk surga kalau suami kamu
- tidak rida, tidak memberikan nafkah
- secara baik, tidak bertanggung jawab.
- Ini pemahaman yang salah. Agama enggak
- seperti ini.
- Agama perintahkan laki-laki bertanggung
- jawab. Perempuan juga diperintahkan
- bertanggung jawab sesuai dengan peran
- mereka masing-masing. Kemudian di
- samping keadilan, ada keseimbangan, ada
- juga ihsan. Istrinya sakit, tidak mampu
- sama sekali untuk melayani dia, mengurus
- dia. Ya,
- mengingat kebaikan sebelumnya, istri
- suami bisa bersabar. Saya kenal satu
- orang dokter, teman.
- Dia menikah setelah punya anak empat
- masih muda istrinya sakit. Ini sebagian
- besar waktunya di tempat tidur. Suami
- itu tidak menikah lagi. Dia urus
- istrinya dengan baik. Diawat istrinya.
- Dan kalau saya tanya, "Kamu enggak
- berpikir lagi menikah?" "Sudah, Ustaz."
- Saya peduli dan perhatian terhadap
- istri. Baru setelah beberapa tahun
- kemudian istrinya meninggal dunia, baru
- dia berpikir untuk kawin.
- Waktu dia mau kawin pun dia bawa
- anak-anaknya kumpul di rumah sama-sama.
- Paling enggak untuk membuat anaknya bisa
- menerima ya dengan hati yang lapang.
- Kita kagumi pria seperti ini. Saya kenal
- seorang alim besar,
- seorang alim yang berilmu ya dan dikenal
- di dunia.
- Dia baru menikah beberapa saat sama
- istrinya. Istrinya subhanallah mengalami
- gangguan.
- Tidak sadar sekian lama. Jadi waktunya
- itu apa?
- Berlalu
- si istri dalam keadaan tidak sadar.
- Nanti kadang sadar
- nanti tidak sadar. Si suami dengan setia
- merawat istri. Setiap dia mau berangkat
- ke luar negeri, dia bisikin istrinya,
- ditanya, "Kamu mau apa?"
- Bahasa komunikasi mereka dengan tangan
- mereka berpegangan.
- Istri, suami pulang dari sana dibawakan
- untuk istrinya. Pada usia hampir
- mendekati 70 tahun, si istri rupanya
- tersadar bangkit. Dia bilang sama
- suaminya, "Kalau kamu menikah lagi,
- silakan menikah lagi." Suaminya bilang,
- "Terlambat."
- terlambat. Artinya dia tidak berpikir
- untuk menikah lagi karena kecintaan pada
- istrinya. Jadi kalau kita perhatikan
- hidup di samping ada keadilan, ada
- ihsan.
- Keadilan terkadang tidak mampu dipenuhi
- oleh pasangan kita, teman kita karena
- kelemahan dia. Allah perintahkan kita
- untuk memberikan maaf dan berbuat ihsan.
- Suami yang tadinya kerja keras tah-tahu
- kecelakaan ya, tidak bisa kerja menjadi
- orang yang tidak mampu untuk bekerja,
- sakit di tempat tidur. Kalau istri yang
- saleh, dia ingat kebaikan suaminya dulu.
- Dia setia, dia rawat suaminya dan sama
- sekali tidak bergeser.
- Ada ya istri begitu melihat suaminya
- enggak mampu lagi berkontribusi, apalagi
- sakit, dia merasa muda, langsung diminta
- berpisah. Saya kagum.
- dengan sebuah kisah seorang laki-laki
- pasangan suami istri muda. Subhanallah
- ya saling mencinta, saling menyerangi.
- Tahu-tahu si suami mengalami kecelakaan.
- Jadi orang yang mirip dengan idiot.
- Istrinya rawat suaminya dengan baik. Di
- barat ya, bukan di sini. Di barat
- dirawat suaminya. Sampai satu hari si
- istri itu masih ingin punya anak karena
- masih muda dia ingin punya anak kan.
- Akhirnya dia putuskan untuk berpisah
- dari suaminya.
- Tapi dan dia menikah dengan pria lain.
- Tapi dengan syarat bahwa saya mau
- menikah dengan kamu tapi izinkan saya
- merawat suami saya sama seumur hidup.
- Sudah enggak bisa apa-apa suaminya tapi
- enggak ada yang melawat dia. Si istri
- menikah dengan pria lain
- kemudian tetap dia merawat suaminya dan
- suami yang baru ternyata dengan legowo
- bisa menerima.
- Jadi bukan dia meninggalkan suami karena
- dia ingin abaikan, tapi ingin punya
- anak.
- Jadi kalau dalam hidup ini ada rahmat,
- ada kecintaan, ya indah.
- Tapi kalau hidup dengan kebencian,
- dengan permusuhan atau mementingkan diri
- sendiriak.
- Jangankan manusia kucing saja kalau
- punya tinggal
- diabaikan, diserahkan sama kita, kita
- marah luar biasa.
- Kita marah menyaksikan kucing yang tidak
- punya tanggung jawab. Jadi kalau
- laki-laki kerja sama-sama istri, dalam
- sebagian hal istri mengambil keputusan
- karena bijaknya atau dia lebih mampu,
- jangan kita merasa kecil
- dan si istri juga jangan merasa bangga.
- Seolah-olah suaminya lebih inferior
- dibandingkan ini. Kata inferior enggak
- berlaku. Yang ada apa? Ba'bukum min
- ba'bin. Kalian, sebagian kalian dari
- sebagian yang lain. Allah jadikan hunna
- libasul lakum wa antum libasulah. Mereka
- pakaian. yang menutupi kalian, kalian
- pun pakaian bagi mereka. Jadi kalau
- perempuan buka kejelekan suaminya sama
- dia nelanjangi dirinya
- atau laki-laki ceritakan kejelekan
- istrinya sama dengan menelanjangi
- dirinya kan.
- Cuma sayang perempuan sekarang kalau
- ribut langsung foto suami dihilangkan
- mulai cerita suaminya begini begini
- begini atau apa sebaliknya laki-laki
- betul-betul aneh kalau laki-laki suka
- bercerita, bertutur mengenai istrinya.
- Istrinya begini, istrinya begini,
- istrinya begini. Kemudian tahu-tahu
- ternyata mereka rujuk kembali lagi. Malu
- gak?
- H
- malu. Apalagi netizen ini paling jahat.
- Nitizan ini paling suka menyebarkan
- berbagai macam isu ya. Dan mereka senang
- kalau lihat suami istri berantem. Sampai
- yang paling unik
- ada televisi datang ke suami istri yang
- sedang rukun. Coba kalian pura-pura
- ribut supaya apa? mendapatkan uang dua
- belah pihak televisi juga punya berita
- artis terkenal ribut sama suaminya mulai
- mereka bikin drama soal mereka ribut
- bayangkan coba jadi ternyata harta
- kehormatan pun dijual belikan,
- kebahagiaan rumah tangga pun dijual
- belikan
- jadi jangan pernah kita merasa lebih
- baik dari orang lain. Jangan merasa kita
- ini lebih unggul. Jangan merasa kita ini
- semau kita ya kamu ikut pendapat saya
- dan itu yang terbaik. Nah, ini saya
- pernah alami kasus seperti ini di masa
- kita kanak-kanak perempuan tahu apa?
- Kalau kamu ajak musyawarah perempuan,
- jangan ikuti pendapatnya.
- Tanpa melihat baik buruk, kamu harus
- apa? Melawan pendapat dia. Kalau dia ke
- kanan, kamu ke kiri. Itu yang benar.
- Ini kan merupakan logika jahiliah.
- Kita dengarkan apa yang dia ucapkan.
- Kalau benar kita hargai. Jazakillah
- khairan. Saya punya nenek
- saya lihat termasuk sabar dan bijak
- memberikan masukan-masukan yang baik.
- Dan saya merasa saya termasuk masih
- kecil anak yang agak nakal suka main di
- luar. Tapi kalau nenek kita panggil
- dengan lemah lembut itu bagaimanapun
- jauhnya kita balik pulang ke rumah.
- Kenapa? Karena dia perlakukan kita
- dengan budi bahasa yang indah dan kita
- merasakan kecintaan. Dia takut kalau
- sampai kecintaannya hilang.
- Tapi kalau bahasa instruktur
- seperti di militer,
- kita bakal bilang, "Kamu ini hanya mau
- ditaati tapi sama sekali tidak
- mengetahui perasaan kita bagaimana."
- Coba kamu selami dong perasaan kita
- tanya, mendengarkan curhat kita. Kan
- indah sekali malam ini. Betul. Jadi
- kesimpulannya dalam berumah tangga tidak
- ada satu yang lebih jago dari yang lain,
- yang lebih unggul dari yang lain. Tapi
- bekerja samamalah dalam keridaan Allah
- Subhanahu wa taala. Insyaallah Anda akan
- mendapatkan buah-buah yang amat indah.
- Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla
- ilahailla anta astagfiruka wa atubu
- ilaik walu minkum. Wasalamualaikum
- warahmatullah wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ikhwan akhwat. Ternyata memang kedekatan
- kita dengan pasangan, dengan anak-anak,
- dengan ayah bunda memunculkan
- kehangatan, pemahaman, dan saling
- menghargai. Yuk, kita optimalkan. Dan
- ini merupakan sarapan kita nutrisi rohan
- yang masyaallah luar biasa sekali. Ustaz
- Husein, Ustaz Abu Bakar terima kasih
- sekali untuk apa yang jadi bahasan kita
- kali ini. Billahi taufik wal hidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.