Pengaruh AS terhadap Israel Dipertanyakan, Konflik Timur Tengah Dinilai Kian Kompleks

Jakarta, Rasilnews — Pengaruh Amerika Serikat terhadap Israel kembali menjadi sorotan setelah eskalasi konflik di Timur Tengah terus berlanjut meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa kali mendorong upaya de-eskalasi. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana Washington mampu memengaruhi kebijakan keamanan Israel serta dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan tatanan geopolitik global.

Dokter umum sekaligus tokoh kemanusiaan Indonesia yang dikenal luas sebagai dokter yang malang melintang di daerah konflik, -Sarbini Abdul Murad atau dr ben- menilai hubungan antara Amerika Serikat dan Israel menunjukkan dinamika yang kompleks, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran dalam beberapa waktu terakhir.

Dokter yang pernah menapaki kakinya di Gaza Palestina ini menilai berbagai perkembangan yang terjadi menunjukkan bahwa upaya Amerika Serikat untuk mendorong perdamaian atau menekan eskalasi konflik tidak selalu berjalan sesuai harapan karena adanya kepentingan strategis yang berbeda antara Washington dan Tel Aviv.

“Selama ini banyak pihak melihat bahwa pengaruh Israel terhadap pusat-pusat kekuasaan di Amerika Serikat sangat kuat. Karena itu, ketika muncul perbedaan sikap di antara keduanya, perlu dilihat lebih dalam apakah benar terjadi perbedaan kepentingan atau hanya bagian dari dinamika politik yang lebih besar,” ujar dr. Sarbini dalam Dialog Topik Berita Radio Silaturahim.

Ia menjelaskan bahwa Israel selama bertahun-tahun memandang Iran sebagai ancaman utama terhadap keamanan nasionalnya. Karena itu, berbagai upaya diplomasi yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran kerap mendapat respons yang berbeda dari pemerintah Israel.

Menurut dr. Sarbini, salah satu tujuan strategis yang selama ini diinginkan Israel adalah melemahkan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat berbagai upaya perundingan sering kali berjalan di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya mereda.

Meski demikian, ia menilai konflik yang terus berlangsung berpotensi memperpanjang ketidakstabilan kawasan dan meningkatkan risiko krisis kemanusiaan di sejumlah wilayah terdampak.

“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat sipil, khususnya di Gaza dan wilayah konflik lainnya, dapat terlindungi dari dampak peperangan yang berkepanjangan,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya jalur diplomasi dalam menyelesaikan konflik. Menurutnya, Iran selama ini cenderung memanfaatkan perundingan sebagai instrumen untuk mencapai kepentingan strategisnya tanpa harus menanggung biaya besar akibat perang terbuka.

Namun demikian, dr. Sarbini menilai proses diplomasi tidak akan mudah karena setiap pihak memiliki kepentingan politik dan keamanan yang berbeda.

“Perundingan pada dasarnya juga merupakan bentuk pertarungan kepentingan. Setiap negara berusaha memperoleh posisi terbaik untuk melindungi kepentingan nasionalnya,” ujarnya.

Kasus USS Liberty Kembali Mencuat

Selain membahas konflik Israel-Iran, dr. Sarbini juga menyoroti kembali menguatnya tuntutan investigasi terhadap insiden serangan Israel terhadap kapal perang Amerika Serikat USS Liberty yang terjadi pada 8 Juni 1967.

Kasus tersebut kembali menjadi perhatian setelah anggota Kongres Amerika Serikat, Thomas Massie, mendesak dilakukannya penyelidikan baru atas insiden yang menewaskan 34 personel militer Amerika Serikat dan melukai lebih dari 170 lainnya.

Menurut dr. Sarbini, kasus tersebut masih menyisakan banyak pertanyaan karena hingga kini masih terdapat perbedaan pandangan mengenai penyebab dan tanggung jawab atas serangan tersebut.

“Permintaan investigasi baru ini lebih diarahkan untuk mengungkap fakta sejarah secara utuh agar masyarakat Amerika memahami apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa USS Liberty saat itu sedang menjalankan misi pengumpulan informasi intelijen di kawasan Mediterania ketika terjadi ketegangan dalam konflik Timur Tengah. Meskipun Israel menyatakan insiden tersebut merupakan kesalahan identifikasi target, sebagian kalangan di Amerika Serikat masih mempertanyakan penjelasan tersebut.

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *