Islam Tak Kekurangan Figur Pemimpin Hebat

Tajuk Rasil
Rabu, 7 Jumadil Akhir 1445 H/ 20 Desember 2023

Artikel Hidayatullah.com, oleh: Kholili Hasib

Dalam sejarah Islam, terdapat model terbaik pemimpin negara. Terbaik sedunia di masa itu. Mereka disebut “Khulafa ar-Rasyidin”, artinya para Khalifah yang mendapatkan petunjuk Allah SWT. Istilah yang digunakan untuk menyebut empat orang Khalifah yang memimpin umat Islam setelah wafatnya nabi Muhammad ﷺ. Mereka adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan, dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhum. Kebaikan karakter kepemimpinan mereka sudah sangat terlihat sebelum dipilih. Salah satunya bisa kita simak kisah Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar.

Sayidina Abubakar As-Shiddiq dalam pidato pertamanya saat diresmikan menjadi Khalifah, dia tak terlihat bergembira apalagi berpesta. Petikan sebagian pidatonya: “Saudara-saudara, saya telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena saya yang terbaik di antara kalian. Untuk itu, jika saya berbuat baik bantulah saya dan jika saya berbuat salah luruskanlah. Patuhilah saya selama saya mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika saya durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhi saya. Semoga Allah melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita.”

Lalu ketika sayidina Umar bin Khattab dilantik menjadi khalifah. Saat itu dia justru menangis. Orang-orang-pun bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau menangis dengan jabatan ini?” Umar menjawab, “Saya ini tegas, banyak orang yang takut pada saya. Kalau saya nanti salah, lalu siapa yang berani mengingatkan,” Lalu, seorang Arab Badui dengan pedang terhunus berkata; “Saya yang akan mengingatkan Anda dengan pedang ini.” “Alhamdulillah,” jawab Umar radhiallahu ‘anhu.

Lihatlah sikap kedua Khalifah di atas. Abu Bakar tidak sombong, arogan dan tidak ambisius saat terpilih menjadi pemimpin. Ia mengatakan “Jika saya berbuat salah luruskanlah”. Abu Bakar siap menerima masukan. Membuka pintu untuk nasihat, tidak menutup telinga dan tidak salah keluarkan kata-kata. Beliau bertutur lembut, sopan tapi tegas. Abu Bakar tidak hanya pintar dan cerdas. Tetapi jujur dan tawadhu’. Setiap berpidato selalu menyentuh hati. Ketika berkhutbah selalu mengandug uswah, bijak dalam bertindak. Abu Bakar selalu tepat dalam memutuskan kebjakan. Tidak merugikan yang kaya dan tidak mengecewakan yang miskin. Ini karakter pemimpin cerdas dan adil.

Sementara sayidina Umar bin Khattab justru bersyukur jika ada yang mengingatkan ketika salah. Justru ia khawatir jika tidak ada orang yang berani mengingatkan. Beliau merupakan tipikal pemimpin paling tegas di antara empat Khalifah, dan paling tawadhu. Pantas saja ia dicintai rakyatnya dan disegani Romawi (musuhnya). Utusan Raja Romawi pernah terheran-heran dengan penampilan baju Khalifah Umar. Heran karena seperti baju yang dikenakan mirip baju rakyat. Tetapi wibawanya menyamai Raja Romawi.

Tidak ada pemimpin kerajaan-kerajaan besar dunia; Romawi dan Persia yang menyamai kehebatan dua Khalifah ini. Dua khalifah memang diseleksi oleh orang-orang terbaik. Yaitu sahabat Nabi. Wajar akhirnya yang terpilih adalah orang-orang terbaik. Oleh karena itu Khalifah itu juga seorang imam. Ilmunya terdepan, akhlaknya terdepan, wibawanya dan kecerdasannya paling depan. Imam diikuti dan rakyat adalah makmum. Dua khalifah tersebut dicintai seluruh rakyatnya. Bahkan, musuh-musuhnya hampir tidak berkenan menghinanya. Apa yang mau dibully? Para musuhnya malah terkagum. Inilah tanda pemimpin yang hebat dan adil. Dicintai rakyat dan disegani musuh.

Selain khulafa ar-rasyidin, Di zaman Kekhalifahan Bani Umayyah, kita kenal Umar bin Abdul Aziz. Khalifah yang sangat amanah dan berilmu. Bahkan beliau termasuk kategori ulama, pengagumnya sangat banyak. Namun, ia tidak sombong karena faham hakikat kekuasaan itu titipan Allah, bukan untuk kesombongan. Ia sederhana. Kelewat hati-hati dalam menjaga supaya ia ’bersih’. Suatu hari salah satu kerabatnya memberi hadiah buah apel, namun beliau menolak secara halus – meskipun ia sangat menginginkan untuk mencicipi buah apel- Beliau menolak hadiah tersebut karena khawatir hal itu menjadi risywah (suap), padahal kerabat beliau tidak bermaksud memberi suap.

Pemimpin hebat itu berasal dari rakyat-rakyat hebat yang memilihnya. Kita perlu pemimpin yang memiliki visi dan misi yang kuat dan jelas. Salah satunya dalam bidang Pendidikan. Sarapan dan susu memang penting. Tetapi gizi otak dan hati lebih penting lagi. Apa visi dan misi pendidikan seorang pemimpin untuk menuju Indonesia emas? Semua kebutuhan yang menunjang pendidikan harus dipenuhi dulu. Itulah karakter dan mental pemimpin yang yang hebat. Karena seorang Muslim tidak pernah kekurangan teladan hebat. Persoalannya sekarang, berminatkah para pemimpin kita hari ini menjadikan mereka sebagai teladan dan model? Dari segi kekuasaan, mereka sukses. Maka layak ditiru mentalnya oleh pemimpin kita.

Wallāhu ‘Alam bis-shawāb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *