Mengungkap Sosok Jenderal Sudirman yang Sederhana dan Tangguh

Cibubur, Rasilnews — Nama Jenderal Sudirman mungkin sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Ia dikenal sebagai panglima besar yang memimpin perjuangan di masa-masa sulit kemerdekaan. Namun, di balik kisah besar itu, ada cerita-cerita sederhana dari keluarga yang justru membuat sosoknya terasa lebih dekat dan manusiawi.

Kisah ini disampaikan dalam program Ahlan Wa Sahlan di Radio Silaturahim dengan tema “Belajar Dari Keteladanan Jenderal Soedirman“. Program ini dikenal menghadirkan tamu dari berbagai kalangan—mulai dari pejabat, artis, hingga tokoh masyarakat—dengan cerita-cerita segar, inspiratif, dan sering kali jarang diketahui publik.

Dalam kesempatan tersebut, Ganang Priambodo Sudirman, cucu dari Jenderal Sudirman, membagikan kisah yang ia dengar sejak kecil tentang sang kakek. Meski tidak pernah bertemu langsung—karena ia lahir sekitar 15 tahun setelah sang panglima wafat—nilai-nilai perjuangan itu tetap hidup dalam kesehariannya.

“Sejak kecil saya tinggal dengan nenek di Jogja. Setiap sore menjelang Maghrib, setelah mengaji, beliau sering memanggil kami dan bercerita,” kenangnya.

Cerita-cerita itu bukan tentang sosok pahlawan yang jauh dan tak tersentuh. Justru sebaliknya, Sudirman digambarkan sebagai pribadi yang sederhana—“orang biasa” dengan cinta yang luar biasa kepada bangsa dan negara.

Yang paling membekas bagi Ganang adalah bagaimana kakeknya tetap berjuang di tengah kondisi sakit. Dengan kondisi paru-paru yang tidak sempurna, tubuh yang lemah, bahkan harus ditandu, beliau tetap memimpin pasukan di garis depan.

“Beliau pernah ditegur oleh istrinya karena sakitnya. Tapi jawabannya sederhana, ‘Kalau bukan kita yang melakukan sekarang, siapa lagi?’,” ujar Ganang.

Kalimat itu menjadi gambaran kuat tentang bagaimana seorang pemimpin berpikir—menempatkan kepentingan bangsa di atas segalanya, bahkan di atas kondisi diri sendiri.

Lebih jauh, Jenderal Sudirman juga dikenal memiliki pandangan jauh ke depan. Ia tidak pernah berjuang demi hasil yang langsung dirasakan.

“Beliau selalu yakin, apa yang ditanam hari ini, meskipun tidak kita lihat hasilnya, suatu saat akan dipetik oleh generasi berikutnya,” tuturnya.

Nilai itulah yang menurut Ganang perlu terus dijaga. Ia menilai, generasi saat ini perlu memahami akar sejarah agar tidak kehilangan arah.

“Kalau kita tidak tahu akar kita, kita bisa kehilangan arah. Padahal, sekuat apa pun sesuatu, kalau tidak punya akar yang kuat, pasti rapuh,” katanya.

Dalam perjalanan hidupnya, Sudirman memulai karier militernya melalui PETA, hingga akhirnya memimpin pasukan dalam Pertempuran Ambarawa—salah satu momen penting dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Namun bagi Ganang, sosok Sudirman tidak hanya bisa dilihat dari sisi militernya saja.

“Beliau memang dikenal sebagai Bapak TNI, tapi buat saya, beliau juga seorang guru bangsa,” ujarnya.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin bukan hanya pada fisik atau jabatan, tetapi pada keyakinan, keberanian, dan keikhlasan dalam berjuang.

Tentang Program

Program Ahlan Wa Sahlan di Radio Silaturahim merupakan program talkshow yang menghadirkan berbagai narasumber dari kalangan pejabat, artis, hingga tokoh masyarakat. Melalui obrolan santai namun bermakna, program ini mengangkat kisah-kisah inspiratif, unik, dan penuh hikmah yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Dukungan Dakwah Rasil TV
Bagi masyarakat yang ingin turut mendukung dakwah melalui Rasil TV, donasi dapat disalurkan melalui:

Bank Syariah Indonesia (BSI)
No. Rekening: 722 22300 33
a.n. Yayasan Wakaf Rumah Qur’an Silaturahim

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *