Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:16 Assalamualaikum Bang Ichsanudin Nursi. 0:19 Waalaikumsalam 0:21 warahmatullah wabarakatuh. 0:23 Alhamdulillah. 0:24 Alhamdulillah sehat semuanya. 0:27 Insyaallah. 0:27 Sudah olahraga pagi-pagi ini lari atau 0:30 ngangkat apa pagi ini olahraganya? 0:34 Ya, nampaknya kesehatan ini menjadi 0:37 sebuah ikhtiar mengejar takdir sehat ya. 0:40 Takdir ini harus dikejar Bang, tapi 0:43 yang sekarang masalah ini banyak hutang 0:46 yang dikejar baik pemerintah maupun para 0:50 para apa ya para masyarakat bahkan badan 0:54 usaha milik negara pun uring-uringan 0:56 akibat hutang dan produktivitas yang 0:59 jomplang. 1:00 Sehingga Pak Jokowi bilang kalau sakit 1:02 di apa tuh? 1:04 Suntik mati. Suntik mati katanya. Kalau 1:07 suntik mati kalau enggak salah hampir 1:09 berapa persen 70% tah pada sakit semua 1:12 ya. 1:13 Ini gimana rakyat sakit, BUMN sakit ini 1:16 negeri para penyakit atau Abang 1:18 Ichsanudin Nursi bisa lihatlah bagaimana 1:21 jawabnya. Tapi kan ada berita nih Jokowi 1:23 teken PP BUMN kena Corona bakal disuntik 1:27 PMN 25 triliun. Satu lagi Jokowi heran 1:31 BUMN sakit kok dapat suntikan modal 1:34 negara. Ini berita dari orang yang sama 1:36 hanya waktunya saja yang beda. Silakan 1:39 Bang Ichsanudin Nursi membahas masalah 1:40 yang satu ini. 1:46 Saya sejak 1:49 sejak 1:52 Megawati ya 1:56 menjadi presiden gitu. 1:58 Waktu itu menteri BUMN-nya Laksamana 2:00 Sukardi. 2:02 Yang kemudian melahirkan undang-undang 2:04 BUMN. 2:07 Sampai dengan sekarang 2:10 saya enggak ngerti cara penguasa 2:12 memahami BUMN. 2:15 Dulu ketika Tanri Abeng sebagai menteri 2:17 BUMN-nya saya berani dengan tegas 2:20 mengundang Tanri Abeng untuk fastabiqul 2:24 khairat. 2:26 Dan itu tugas saya nyatakan secara 2:28 terbuka di forum gitu ya. 2:30 Anda di posisi Anda, saya di posisi saya 2:33 mari kita fastabiqul khairat untuk BUMN. 2:37 Kenapa karena latar belakangnya adalah 2:42 negara ini punya tugas menyejahterakan 2:46 masyarakatnya gitu. 2:48 Memajukan kesejahteraan gitu posisinya. 2:51 Dan cara memajukan kesejahteraannya itu 2:53 antara lain melalui BUMN. 2:58 Karena itu sebelum memajukan BUMN 3:00 saya tegas-tegas menyatakan di Mahkamah 3:02 Konstitusi 3:04 betapa pentingnya pemerintah 3:05 memilah-milah komoditas 3:08 mana komoditas hajat hidup orang banyak 3:11 mana komoditas 3:13 komersial 3:15 mana komoditas kuasi bahkan kalau 3:17 menggunakan 3:19 terminologi lebih rinci dia bukan 3:22 dalam tiga klasifikasi dia dalam lima 3:24 klasifikasi. 3:26 Tapi alih-alih melakukan 3:27 pengklasifikasian itu pemerintah malah 3:30 malah tadi 3:32 BUMN 3:34 seakan-akan haram ikut restrukturisasi 3:36 perbankan saat itu. 3:38 Padahal saat itu menurut saya dalam 3:40 rangka meminimalkan beban APBN 3:43 dia bisa menjadi alat yang paling ampuh 3:46 untuk melakukan restrukturisasi 3:47 perbankan. 3:49 Bahkan ketika Sri Mulyani menutup 3:51 sejumlah swasta di 3:54 terkena suspend tepatnya. 3:56 Terkena suspend di 2008 saya menggagas 4:00 BUMN di saya gabung jadi satu dengan 4:02 sejumlah perusahaan swasta yang di 4:04 suspend di pasar modal yang tapi 4:06 komoditasnya sama batubara. 4:08 Dalam rangka menjamin pasokan batubara 4:10 ke PLN sehingga PLN mendapat pasokan 4:12 batubara murah dan harga listrik murah. 4:14 Tapi gagasan itu ditolak posisinya gitu. 4:18 Lalu 4:19 itu 2008 posisinya. 4:21 Sebelumnya ketika seorang teman menjadi 4:24 ketua komisi 6 dan komisi 6 dalam komisi 4:26 BUMN 4:28 dan Agung Laksono sebagai ketua MPR 4:30 waktu itu ketua DPR saya menggagas 4:33 kenapa Anda mesti mendengar para 4:35 konsultan asing untuk berkantor di DPR 4:37 dalam rangka memperbaiki BUMN? 4:40 Jawaban mereka aneh gitu. 4:44 Jadi artinya sejak awal saya tidak 4:46 melihat sebagaimana yang saya viralkan 4:48 tulisan saya. Jadi saya semalam mencoba 4:51 mengingat-ingat tulisan saya 4:54 13-20 tahun lalu tentang BUMN. 4:57 Dan saya lihat bagaimana cara saya 4:59 menyampaikan pemikiran saya tentang BUMN 5:01 baik di bangsa di buku bangsa terbelah 5:04 maupun dalam berbagai 5:07 mungkin saya enggak bilang puluhan 5:10 tapi di ratusan gitu 5:12 forum tentang BUMN. 5:15 Karena salah satu tugas 5:16 salah satu mandatori kalau pakai bahasa 5:19 kerennya sekarang gitu. 5:20 Salah satu amanah konstitusi itu adalah 5:23 menyejahterakan dengan salah satu 5:25 caranya dengan BUMN. 5:27 Nah di era Joko Widodo ketika November 5:30 2014 5:32 Pertamina dikalahkan oleh keputusan 5:34 meliberalisasikan pasar 5:36 meliberalisasikan harga 5:39 harga premium 5:40 saya langsung putus harapan. Jujur saja 5:43 saya bilang saya langsung putus harapan. 5:45 Kenapa karena energi adalah hajat hidup 5:47 orang banyak dan ketika 5:49 12 November itu 5:51 2014 5:53 harga premium berubah dari 6.500 ke 5:56 8.500 padahal saya baru saja diundang 5:58 oleh seorang menteri untuk menunggu apa 5:59 yang sedang terjadi saat itu. Dan 6:01 gagasan saya adalah 7.500 saat itu. 6:05 Saya langsung melihat betapa mudahnya 6:08 dalam tanda petik 6:12 memberikan rekomendasi demikian kuat 6:14 kepada pemerintah Indonesia dan itu 6:16 adalah 6:17 strong recommendation dari Bank Dunia. 6:20 Bank Dunia sudah kerja saat itu sejak 6:22 sejak yang namanya awal reformasi agar 6:24 memang sektor energi dibebaskan. Mereka 6:27 bilang reformasi sektor energi yang 6:28 motifnya adalah memang meliberalisasikan 6:31 sektor energi. 6:32 Jadi kalau ambil ke sana maka jelas 6:34 sampai dengan sekarang kita bisa lihat 6:36 kegagalan pemerintah yang pertama adalah 6:38 kegagalan memahami 6:41 bagaimana sesungguhnya mandatori tentang 6:43 BUMN. 6:44 Itu yang saya sampaikan ke 6:46 saya sebut saja ke tapi tidak saya sebut 6:48 nama ya 6:49 ke salah seorang petinggi di negeri ini 6:51 ketika Joko Widodo memberikan pengarahan 6:52 tentang BUMN saya bilang pengarahannya 6:54 tidak kokoh. 6:57 Bagaimana seharusnya BUMN itu berpijak. 6:59 Terus terang saya bilang tidak kokoh 7:00 walaupun itu pembicaraan saya pribadi 7:01 dengan yang bersangkutan ya. 7:03 Tapi dia termasuk orang yang 7:06 berpengaruh gitu ya. Saya bilang enggak 7:07 kokoh pemahaman BUMN-nya. 7:09 Karena paper saya sekali lagi bukan 7:11 satu, dua, tiga tapi belasan 7:14 belasan dan dalam berbagai forum gitu 7:17 posisinya. 7:18 Apalagi menyangkut bagaimana pasal 33 7:21 tentang cabang-cabang produksi yang 7:23 penting menguasai hajat hidup orang 7:24 banyak dikuasai oleh negara. 7:26 Lalu diterjemahkan sebagai jika hajat 7:28 hidup orang banyak dikuasai oleh 7:29 orang-orang maka rakyat banyak yang 7:32 ditindasnya itu itu makna ekonomi 7:34 politiknya luar biasa dalam konstruksi 7:36 mana public goods, mana commercial 7:38 goods, mana kuasi gitu posisinya. 7:40 Itu di cara berpikirnya. 7:42 Lalu ketika Laksamana Sukardi menjadi 7:45 menteri BUMN gitu posisinya. 7:47 Saya jelas-jelas mengatakan bahwa 7:50 sesungguhnya ada problema besar ketika 7:53 Laksamana itu di situ. Maka dia dengan 7:55 bahasa mengejek kepada seorang teman 7:57 ketika dalam sebuah forum dia sebagai 7:59 keynote speaker saya pembicara dan saya 8:01 tidak 8:05 datang bersama dengan bersangkutan 8:06 dia bilang salam ya buat Pak Ichsanudin 8:08 Nursi kata dia ke teman saya gitu 8:11 sebagai cara mengarah. Saya 8:12 senyum-senyum ya 8:16 Sama seperti bagaimana saya diucapkan 8:17 selamatnya selamat berjuang membela 8:19 bangsa negara saya tahu itu bahasanya 8:20 dia kan. Selamat sendirian jalannya. 8:23 Iya saya tahu lah itu enggak masalah. 8:25 Dan ketika 8:26 terus-menerus ada PMN ada penyertaan 8:28 modal pemerintah 8:30 buat saya itu bukti bahwa kesalahannya 8:33 sudah kesalahan struktural. 8:36 Karena kebayang enggak kalau sebuah BUMN 8:38 saya tawari kerja sama dengan pembelian 8:40 tunai mereka menghindar. 8:42 Dan itu saya sampaikan ke petinggi tadi. 8:45 Terus terang saya bilang bagaimana 8:46 mungkin Anda merekrut manusia-manusia 8:48 kayak gini saya bilang. Saya ajak mereka 8:50 kerja sama untuk mengoptimalkan benefit 8:52 bagi profit bahkan ya. Profit bagi BUMN 8:54 sekarang tapi si direksinya menghindar 8:57 dan itu sudah berjalan 3 bulan bahkan 8:59 ketika kami datang kepada mereka bukan 9:01 saya yang datang anak buah tentu kalau 9:02 saya yang datang mereka takut enggak mau 9:04 toh. 9:04 Mereka enggak tahu kalau saya di 9:05 belakang itu adalah saya gitu posisinya. 9:08 Datang dengan konsep beli putus dan 9:10 konsep perjanjian dan saya jamin bahwa 9:11 pembelian itu tunai jadi tidak cerita 9:13 ada hutang-piutang. 9:15 Enggak dilayani tuh. 9:19 Terus terang saya tertawa tertawa ngakak 9:22 gitu. Tahu enggak jawabannya apa? 9:24 Jangankan 9:25 perusahaan itu Bang jawaban mereka salah 9:27 satu. Jangan perusahaan itu Bang. Lihat 9:29 tuh PT KAI katanya bagaimana. Lihat tuh 9:32 Garuda tuh kayak gimana. Saya bilang lu 9:34 ngapain ada di situ kalau kayak gitu 9:35 saya 9:39 Saya terus terang saya tertawa 9:41 terbahak-bahak loh ini sungguh. Jadi 9:43 ketika saya lihat BUMN saya sungguh 9:44 tertawa terbahak-bahak. 9:47 Di 9:48 satu sisi saya sedih tapi di sisi lain 9:51 ini orang sesungguhnya ngapain sih 9:52 karena saya tahu 9:53 ketika sebuah BUMN itu 9:56 yang BUMN-nya BUMN yang yang yang eh 10:00 istilahnya basah gitu posisinya. 10:02 Itu jadi sapi perah sejumlah direksinya 10:04 saya tahu itu. 10:05 Ehm. Bagaimana mereka mendayagunakan 10:07 untuk kepentingan pribadi mereka lalu 10:08 mereka meleper itu posisi politik mereka 10:10 saya tahu. 10:12 Karena saya pernah melakukan audit untuk 10:13 itu gitu posisinya. Ehm. Dan saya 10:16 nyatakan wih enggak sangka ya ternyata. 10:18 Anda bisa lihat berapa berapa orang BUMN 10:20 eh orang-orang dari dari direksi BUMN 10:22 yang jadi menteri, yang jadi macam-macam 10:24 posisinya kan bisa dilihat. 10:25 Iya. Itu bukan sekedar pada prestasi 10:27 bahwa mereka memang punya 10:28 profesionalitas tinggi. 10:31 Itu itu salah satu indikator bahwa 10:32 sesungguhnya eh saya bilang pada itu 10:34 pada ketua ketua Komisi 6 dan ketua DPR 10:36 saat itu sesungguhnya kalian kalah dalam 10:38 berpolitik dengan direksi dan komisaris 10:39 BUMN. 10:41 Yes. Karena mereka bermain politik tanpa 10:42 tanpa duit dari kantong saya bilang. 10:47 Berganti dengan Jadi ketika eh mau 10:48 disuntik mati ah ini lagi-lagi kesalahan 10:52 konsep. Ini Kesalahan konsepsi, 10:54 kesalahan teori, kesalahan mandatory 10:57 gitu. 10:58 Enggak ngerti enggak ngerti motif 11:00 posisinya gimana. 11:02 Nanti meletakkan Undang-Undang Dasar 11:04 yang pasal 33 menegaskan bahwa 11:05 cabang-cabang produksi yang penting bagi 11:08 negara dan yang menguasai hajat hidup 11:10 orang banyak dikuasai oleh negara. 11:12 Gimana cara menguasai kalau 11:14 disuntik-suntikin itu, Bang? 11:17 Apa masih ada nih literasi apa 11:19 konstitusional kita tentang ini? Ehm. 11:22 Wallahualam. Kalau kalau kalau bicara 11:24 Saya terus terang kalau eh saya semalam 11:27 saya viralkan gitu ya karena terus 11:29 terang saya tadi saya punya di satu sisi 11:32 saya 11:33 tertawa geli gitu tapi di sisi lain saya 11:35 punya kesedihan mendalam gitu melihatnya 11:37 gitu ya. Jadi saya viralkan terpaksa 11:39 tulisan-tulisannya 20-13. Ada teman 11:41 nanya lagi ngapain, Bang? Gua lagi 11:43 viralkan tulisan gua 13-20 tahun lalu 11:45 tentang BUMN saya bilang. 11:49 Karena ada tadi ada rapat gila dalam 11:52 hati begini gua sudah mikir sekian puluh 11:54 tahun lu belum saya dengar kalau 11:55 kondisinya itu sekarang gitu ya. 11:57 Kan jauh banget ketinggalan begitu. Pada 11:59 saat yang sama saya lihat bagaimana Cina 12:01 berhasil dengan dengan dengan dengan 12:04 pertarungannya melawan corporate 12:05 capitalism. Jadi pakai terminologi 12:08 terminologi si para rakus itu bilang ini 12:11 corporate capitalism melawan state 12:12 capitalism gitu. 12:14 Yang disebutkan corporate capitalism itu 12:15 corporate korporasi. Yang disebut dengan 12:17 state capitalism adalah korporasi BUMN 12:19 posisinya. 12:20 Itu terjadi dan itu mereka rumuskan 12:22 ketika yang namanya Amerika kalah perang 12:24 dagang melawan Cina. Coba kebayang 12:25 enggak? Itu saya angkat dalam 12:27 terminologi di ceramah saya di mana-mana 12:29 gitu posisinya. Artinya sesungguhnya 12:31 BUMN itu kalau dikelola dengan baik dan 12:33 dalam posisi kita negara yang benar dan 12:35 keteladanan yang benar dari para 12:37 politisi dan para pemimpin negara maka 12:39 BUMN itu 12:40 ibarat sebuah kendaraan perang dengan 12:43 amunisinya yang luar biasa sesungguhnya. 12:46 Anda bisa lihat bagaimana Malaysia. 12:48 Ehm. Eh hebat mereka kalau bicara 12:51 tentang 12:52 BUMN. Anda bisa lihat Singapura. 12:55 Singapura hebat memainkan posisi BUMN 12:58 luar biasa posisinya. Bahkan dia bisa eh 13:01 dalam tanda petik ya dalam tanda petik 13:02 menjarah Indonesia itu dengan BUMN. 13:06 Maka dia menjadi pemberi pinjaman 13:07 terbesar bagi Indonesia Singapura karena 13:10 permainan BUMN-nya. Bagaimana dia 13:11 menguasai hajat hidup orang banyak 13:13 Indonesia dan sehingga eh sehingga eh 13:16 pasar kita dianggap sebagai pasar dia. 13:18 Itu dahsyat itu luar biasa itu strategi 13:20 ekspansi pasar yang luar biasa itu. 13:24 Itu enggak bisa melakukan ekspansi itu 13:25 dan negara lain menolak ekspansi pasar 13:27 BUMN. Coba kebayang enggak? Pertanyaan 13:29 besarnya menjadi kita ini siapa ya? Kita 13:31 yang bodoh atau mereka yang begitu 13:33 cerdas gitu? Atau sebaliknya kita yang 13:35 tidak berdaya dan mereka demikian 13:37 berdaya kan masa sih orang Indonesia eh 13:39 saya jadi begitu bersemangat saya 13:41 ngomongnya. Saya heran gitu loh. 13:43 Saya heran banget gitu posisinya. 13:46 Banyak orang memang yang yang heran. 13:49 Memang negeri ini negeri heran karena 13:52 apa negeri yang sedemikian masifnya 13:55 bocoran tapi kok masih kuat karena 13:57 alamnya entah gimana. 13:59 Nah yang jadi masalah sekarang, Bang, 14:01 lah kemarin Pak Jokowi sebelumnya 14:03 sebelum cerita BUMN cerita masalah 14:05 pinjol. 14:07 Tah kenapa orang Indonesia ini kan, 14:09 Bang, umumnya itu paternalistik 14:11 mengikuti contohnya akhlak orang lain 14:14 ya. 14:15 Pinjol ini enggak tanggung-tanggung, 14:16 Bang, 260 triliun potensi pinjol itu 14:20 online. Ah ini menyebabkan masyarakat 14:22 banyak yang enggak bisa tidur tambah 14:23 lagi penyakit darah tinggi dan lain-lain 14:25 ribut keluarga, perceraian dan 14:27 lain-lain. 14:28 Nah ini baru diberantas tapi 14:31 kan pemerintah sangat kuat harusnya ya. 14:33 Apa yang terjadi dari fenomena ini dan 14:36 apakah benar sudah ada banyak kemiskinan 14:38 ekstrem yang luar biasa atau bagaimana? 14:41 Silakan, Bang. Oke. 14:43 Eh ingat kasus 14:45 kartu kredit? Nah, betul. 14:47 Yang digerebek dipentung orangnya sampai 14:50 Sampai mati ya? Mati. 14:52 Iya. 14:53 Eh itu bukti bahwa sesungguhnya 14:55 perilaku pemerintah yang membudayakan 14:58 yang doyan minjam ulang ya perilaku 15:01 pemerintah yang doyan minjam itu meniru 15:03 menular ke masyarakat. Ehm. Nepak kata 15:05 orang Betawi bilang. Nepak benar dong. 15:07 Nepak ya. 15:08 Dan eh apalagi kemudian terjadi 15:10 pembenaran-pembenaran atas pinjaman itu 15:12 gitu posisinya. 15:14 Itu nular dia posisinya. Katanya orang 15:16 yang minjam orang yang dipercaya gitu 15:17 katanya gitu. Iya betul itu dengan 15:19 bahasa kayak gitu. Dan saya ingat betul 15:21 bagaimana eh eh kaum teknokrat dari 15:24 universitas-universitas ternama di 15:27 negeri ini gitu ya saya enggak usah 15:28 sebut nama universitasnya karena itu 15:30 bangga kita baru saja mendapat 15:32 kepercayaan dari ini dengan menerima 15:34 pinjaman. Itu ngomongnya di DPR loh. 15:38 Saya bilang 15:38 kemudian malah saya saya menggagas 15:40 terbalik. 15:41 Kalau saya jadi Anda saya bilang saya 15:43 bukan minjam tapi saya bikin debt relief 15:44 saya bilang. 15:47 Kaget itu si profesor tadi yang kemudian 15:49 jadi apa sih ya apa sih doktor lulusan 15:52 luar negeri yang jadi menteri keuangan 15:53 itu saya gituin kaget ya. 15:57 Saya enggak bangga itu sudah menjadi 15:58 karena saya tahu ketika saya menjadi 16:00 penerima pinjaman saya jadi jadi istilah 16:02 saya modern slavery system. 16:05 Modern slavery system. 16:06 ngomong bukan Ichsanuddin Noorsy modern 16:08 slavery system itu dia dalam konsepsinya 16:10 meminjam dengan riba. 16:12 Yang ngomong itu New York Times. 16:14 Nah. Dahsyat itu. Tapi mereka bilang 16:16 Jepang, Amerika juga pinjamannya banyak 16:18 tuh kita enggak salah itu gimana 16:20 logikanya, Bang? 16:21 Oh 16:23 itu yang saya bilang logikanya sangat 16:25 mereka enggak nyampe itu logikanya. Nah 16:27 itu. Ada lima indikator untuk tidak bisa 16:29 dibedakan antara posisi pinjaman 16:31 Indonesia dengan posisi pinjaman Jepang 16:34 dan posisi pinjaman eh 16:36 eh Amerika sendiri. Eh saya ngomong di 16:38 sebuah radio swasta beberapa minggu lalu 16:40 ketika menyangkut soal government 16:42 shutdown-nya eh eh Biden di bawah Janet 16:46 Yellen ya posisinya. 16:47 Yang pertama 16:48 adakah Indonesia menghasilkan dolar 16:51 untuk barang nilai tambah? 16:54 Enggak ada ya? Enggak Satu enggak ada 16:55 ya? Itu tergantung 16:57 Enggak punya karena yang kita ekspor 16:59 yang menghasilkan dolar itu barang 17:00 mentah. 17:02 Sehingga kita tidak punya nilai tambah. 17:03 Jadi economic value added-nya namanya. 17:05 Ekonomi bernilai tambah yang 17:07 menghasilkan dolar kita enggak punya. 17:09 Satu. 17:10 Ya. 17:12 Yang kedua 17:13 adakah pinjaman kita itu bermata uang 17:16 kita jauh lebih dominan? 17:18 Enggak enggak ada. Pinjamannya dolar. 17:21 Yang ketiga 17:22 yang ketiga siapa sesungguhnya pemilik 17:24 pinjaman-pinjaman jangka pendek itu? 17:27 Jawabannya asing karena Sri Mulyani 17:28 sendiri bilang saya kepingin 17:30 sesungguhnya 17:31 surat-surat utang pemerintah dikuasai 17:32 oleh domestik. Iya kayak Jepang lah 17:35 model tapi enggak bisa. Bukan 17:37 non-residential. Itu indikator 17:39 berikutnya gitu ya diambil posisinya. 17:42 Yang ketiga adakah kita punya cadangan 17:43 emas yang cukup? 17:45 Ada masih dalam 17:47 masih di dalam bumi loh. 17:49 Enggak punya. 17:50 Yang kelima yang paling menarik kalau 17:51 Anda bandingin Jepang dengan yang 17:53 namanya bandingin Cina dengan bandingin 17:55 yang namanya juga Amerika. 17:57 Adakah surat utang negara lain bermata 17:59 uang dolar kita pegang? 18:01 Wah, berat tuh. 18:06 Saya enggak saya enggak terbang. Masya 18:08 Allah la haula wala quwwata illa billah 18:11 gitu posisinya. Jadi bagaimana mungkin 18:13 Anda kemudian enggak enggak pinjaman 18:14 kita masih aman. Ada lima indikator saya 18:16 ajukan saya memang enggak bisa jawab 18:17 pasti. 18:18 Pasti enggak bisa jawab. Dan itu pernah 18:20 saya ajukan pertanyaan itu ke para 18:21 petinggi negeri ini makanya saya 18:23 mengajukan konsep debt relief. Debt 18:25 relief itu apa tuh jelasnya? Konsep debt 18:27 relief itu atau kemudian restrukturisasi 18:29 utang itu ketika saya ajukan pada tahun 18:31 98-99 18:32 Berani bicara untuk mengenai IMF itu 18:34 dengan konsep itu sesungguhnya gitu. 18:38 Tidak punya mental untuk ke sana karena 18:41 integritasnya mungkin lain kisah, Bang. 18:44 Gini loh kita tuh boleh minjam 18:48 tapi jangan sampai dia ngejerat dan 18:49 menjebak. Kita boleh minjam. 18:52 Tapi eh satu yang kedua selain tidak 18:54 menjerat menjebak tidak boleh berbasis 18:56 riba. Nah. 18:58 Ini Jadi tidak Islam itu tidak melarang 19:00 Anda meminjam tapi pinjam itu berstatus 19:03 darurat. Jadi kalau pakai kajian kajian 19:05 ekonomi konstitusi istilah saya pinjaman 19:08 statusnya darurat jika Anda 19:09 sungguh-sungguh tidak punya uang. Tapi 19:11 kalau Anda kemudian merasa hidup Anda 19:12 masih berlebih, hidup Anda masih cukup 19:14 ngapain juga mesti pinjam-pinjam uang 19:16 gitu, Bang. Indonesia hidupnya berlebih 19:18 kok. 19:20 Anda berlebih dari segi sumber daya 19:21 alam, Anda berlebih dari segi pasar 19:24 Anda berlebih dari segi yang namanya 19:25 posisi. 19:27 Iya kan pasar Anda ya pasar Anda Anda 19:29 kasih ke orang lain, sumber daya alam 19:31 Anda kasih ke orang lain, letak posisi 19:33 negeri Anda Anda kasih ke orang lain. 19:35 Lalu yang Anda kasih untuk diri Anda 19:37 apa? 19:39 Enggak ada kan. 19:42 Maka kemudian Anda memunculkan situasi 19:44 darurat dengan argumen kayak gitu muncul 19:46 kesalahan keduanya wah ini kita eh 19:49 kurang nih apa indikatornya? 19:50 Keseimbangan primer negatif terus tuh. 19:53 Nah, kita butuh nih untuk pertumbuhan 19:54 ekonomi dengan alasan dibutuhkan 19:56 pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan 19:58 cepat. Nah. 20:00 Sudah salah tiga kali pertumbuhan 20:01 ekonomi yang tinggi dan cepat. Iya 20:03 dengan dengan istilah akselerasi 20:06 akselerasi pertumbuhan. Ehm, growth 20:09 acceleration. Dengan istilah tambah lagi 20:11 pakai istilahnya orang sana sustainable 20:13 development goals 20:15 posisinya. 20:17 Itu dinikmati oleh segelintir orang saja 20:19 begitu kan enggak kebanyakan orang 20:21 karena Dan yang dibilang dinikmati 20:24 segelintir orang itu kan disahkan oleh 20:25 teori dengan nama trickle down effect. 20:27 Zaman bahula timbul lagi. 20:30 Tapi daunnya rupanya meresap semua 20:32 enggak ada efeknya gitu. 20:34 Iya lah makanya ketika masuk ke 20:36 istilahnya masuk ketemu dengan konsep 20:38 kemiskinan kemiskinan saya enggak tahu 20:40 juga tuh Ini Pak Pak Wapres katanya. 20:43 Aneh di Karawang, di NTT apa tapi 20:45 kembali lagi ke data katanya datanya ini 20:48 nah kata ketemu kemiskinan pertama yang 20:51 dikomentari datanya dulu tapi 20:53 kenyataannya tah demikian kalau Anda mau 20:55 jalan-jalan ke berbagai daerah. Titip 20:58 salam buat K.H. Ma'ruf Amin Wakil 21:01 Presiden Republik Indonesia. Dulu di 21:03 bawah Wakil Presiden Boediono itu ada 21:06 tim penanggulangan percepatan 21:08 penanggulangan kemiskinan. Iya. 21:10 Itu dalam rangka menyelaraskan data dari 21:13 berbagai pihak. Pertanyaannya adalah 21:15 titip salamnya adalah data itu ada apa 21:17 enggak? Nah, ini. 21:19 Ini ini ini ini urusan kita nih masih 21:22 data saja ya. 21:23 Jadi jangan ngomong dulu soal Cianjur, 21:25 soal Karawang, soal Bandung, soal 21:28 Cianjur apa Indramayu, lalu soal NTT, 21:32 soal Poso, Palu yang kemiskinannya 21:34 ekstrem. Enggak ada istilah ekstrem 21:37 kalau pakai akademik adanya istilah 21:38 kemiskinan absolut sama kemiskinan 21:40 relatif gitu. Gitu dia. Sama kemiskinan 21:43 kultural dan struktural. 21:46 Belum lagi kemiskinan hati itu yang 21:48 lebih parah lagi 21:49 karena Saya bilang kemiskinan harga 21:51 diri. Nah, kan sudah ada tuh data lima 21:53 orang satu orang potensi sakit jiwa nah 21:56 itu. 21:58 Nah, tadi pinjol tadi dalam studi 22:00 development goals itu sesungguhnya 22:01 mental disorder seperti saya bilang 22:03 waktu berapa lama dengan Faisal Tariq 22:06 waktu kita ngejelasin tentang empat 22:08 negara mengidap mental disorder karena 22:10 latar belakang kesulitan keuangan kan. 22:13 Jadilah kemudian pinjol berpotensi 260 22:15 triliun jadilah ribuan pinjol yang 22:18 ditutup-tutupi itu kan artinya 22:21 ada sejumlah pihak ya bukan sejumlah 22:23 pihak ya 22:24 banyak kalangan sadar bahwa sesungguhnya 22:26 banyak orang mengatasi kebutuhan hidup 22:28 dengan modal berhutang. 22:29 Gali lubang tutup Jadi sesungguhnya kita 22:31 sudah mencontoh Amerika menjadi bangsa 22:33 berhutang. Ehm. Rakyatnya rakyat yang 22:35 suka berhutang gitu loh. 22:37 Bagaimana kemudian kita dekat dengan 22:39 berkah dan rahmat Allah kalau hutangnya 22:41 hutang riba wah jauh sudah. Sebenarnya 22:44 Bung Hatta sudah bilang masalah koperasi 22:46 tapi koperasi juga menjadi masalah di 22:48 negeri ini. Bahkan menteri koperasi itu 22:51 tanda kutip ya macam orang buangan gitu 22:53 ah ini taruh di menteri koperasi bukan 22:55 yang membanggakan ah gimana 22:57 Bang ini koperasi ini apakah bisa jadi 23:00 sokoguru? 23:01 Ehm. 23:02 Gitu. Kesalahan konsepnya sejak sejak 23:05 sejak Soeharto hingga sekarang. Ehm. 23:08 Sejak Soeharto ketika Soeharto 23:10 mendirikan induk koperasi unit desa Ehm. 23:12 dia bikin koperasi Bhayangkara, dia 23:14 bikin koperasi Ehm. angkatan laut, 23:17 koperasi koperasi angkatan darat, bikin 23:20 koperasi induk koperasi angkatan udara 23:22 hanya dalam rangka menyaingi 23:24 induk koperasi unit desa dalam rangka 23:26 pengambilan. Ehm. Itu kan soal 23:28 pengambilan suara gitu itu elektoral. 23:30 Oh, jadi orientasinya ke suara lagi. 23:33 Jadi koperasi bancakan gitu. 23:35 Supaya orang desa orang desa tidak 23:37 unggul dibikinlah koperasi-koperasi 23:39 angkatan laut, angkatan darat, angkatan 23:42 darat, angkatan Bhayangkara itu 23:44 kesalahan awalnya konsepnya begitu 23:45 dengan bahasa lain 23:46 koperasi menjadi sarana politik 23:48 berkali-kali. Niatnya nya salah ya 23:50 nawaitunya salah begitu. 23:53 Jadi dia mereka tidak pahami yang 23:55 disebut dengan cabang-cabang produksi 23:56 yang kemudian 23:58 tadi 23:59 dipisahkan antara badan-badan usaha 24:01 swasta, badan usaha koperasi sama badan 24:03 usaha korporasi. 24:05 Ehm. Itu yang mestinya di ditegaskan 24:08 gitu di itu daerah Soeharto di era 24:10 SBY pernah muncul undang-undang koperasi 24:12 yang juga kemudian dibatalkan oleh 24:13 Mahkamah Konstitusi. Ehm. Nah, di era 24:16 sekarang saya sebenarnya pernah 24:17 menyampaikan di era Joko Widodo ketika 24:20 Menteri Koperasi I Gede Yudha siapa 24:22 namanya bukan menteri koperasi sekarang. 24:24 Iya. Di menteri koperasi ini saya pernah 24:26 menyampaikan waktu itu lawan bicara saya 24:29 Burhanuddin Abdullah dalam rangka 24:31 peluncuran bukunya Sri Edi Swasono 24:33 Profesor Doktor Sri Edi Swasono. 24:35 Saya memahami koperasi itu dalam 24:37 konstruksi sesungguhnya yang bukan cuma 24:40 sekedar himpunan sosial gitu loh bukan 24:43 cuma sekedar berkumpulnya sejumlah orang 24:46 untuk kepentingan ekonomi kan jadi 24:48 kepentingan berhimpunnya 24:51 sekelompok orang dalam rangka 24:52 kepentingan ekonomi itu yang harus 24:54 dibangun teorinya dulu gitu. 24:56 Nah, ini tidak ada maaf ya karena ini 24:58 disertasi saya gitu. 25:00 Jadi ketika saya membongkar 25:03 perilaku serakah gitu ya moral hazard 25:06 itu Iya. dalam dalam perbankan dalam 25:09 dalam industri keuangan 25:11 saya balik ke pasal 33 yang saya temukan 25:13 itu tadi bahwa 25:15 pengertian koperasi sebagai sekelompok 25:17 orang gitu ya yang berkumpul dalam 25:19 rangka menjalankan usaha gitu posisinya 25:21 sehingga dengan undang-undang cipta 25:23 kerja sekarang tiga orang sudah bisa 25:24 bikin koperasi itu kan salah persepsi. 25:27 Mereka tidak memahami bahwa dalam teori 25:29 dasar koperasi adalah modal sosial, 25:32 sinergi, akomodatif, ekuilibrium gitu ya 25:35 dengan modal finansial. 25:37 Jadi tidak boleh pemilik modal finansial 25:39 lebih tinggi suaranya dari pemilik modal 25:41 sosial. Tidak boleh pemilik modal sosial 25:44 lebih tinggi suaranya dari pemilik modal 25:45 finansial enggak boleh. 25:47 Itu koperasi maunya gitu maunya koperasi 25:49 itu lalu kemudian ditentukan 25:51 komoditasnya di situlah hebat konsepnya 25:53 Bung Hatta. Jadi Bung Hatta sesungguhnya 25:56 bermaksud menjembatani antara produksi 25:59 dengan konsumsi. 26:01 Nah, konsep di balik di balik konsep 26:03 Bung Hatta di mana dengan basis 26:05 sosiologi ekonominya ya 26:07 itu menghendaki agar jembatan produksi 26:10 ke konsumsi itu distribusinya dipegang 26:13 oleh koperasi. 26:15 Ada yang bilang Bang dari quasi public 26:18 goods 26:19 jadi dari public goods ke commercial 26:21 goods di tengah-tengahnya ada quasi nah 26:23 quasinya itu dipegang oleh yang namanya 26:24 koperasi. Jadi ada pemilahan komoditas 26:28 itu sesungguhnya mempengaruhi badan 26:30 usaha itu yang saya maksud sebagai 26:31 bagaimana bentuk kelembagaan 26:33 pelaku-pelaku ekonomi yang punya 26:35 hubungan kental dengan yang disebut 26:38 dengan komoditas jenis komoditas tadi 26:40 gitu. Jadi public goods ya sudah BUMN, 26:42 commercial goods ya sudah badan usaha 26:44 swasta, quasinya siapa ya sudah 26:46 koperasi. Nah, keren 26:48 Itu itu kan perpecahan awal antara Bung 26:50 Karno dengan Bung Hatta ketika PLN Bung 26:53 Karno 26:54 tidak sepakat dengan Bung Hatta mau 26:56 dikoperasikan oleh Bung Hatta begitu 26:59 bukan Bang? Iya jadi waktu itu 27:02 sesungguhnya serangan terhadap PLN itu 27:05 sudah sejak awal ya di mana Bung Hatta 27:07 menghendaki bahwa pemegang saham dari 27:10 PLN listrik negara 27:11 PLN itulah koperasi 27:14 sesungguhnya begitu posisinya saya lihat 27:16 sehingga nanti perwakilan koperasi 27:18 menentukan siapa direksinya dan dalam 27:21 rangka tadi memenuhi hajat hidup orang 27:23 banyak. 27:24 Sekali lagi ini saya teringat konsep 27:26 bagaimana saya berdebat saya sebut kali 27:28 ini namanya saya berdebat dengan Purnomo 27:30 Yusgiantoro Profesor Doktor Purnomo 27:32 Yusgiantoro 27:34 tentang energi gitu posisinya. Fenomenal 27:37 bahwa dari energi primer ke energi 27:39 sekunder kita sudah diinvasi dan 27:40 diintervensi habis-habisan saya buktikan 27:42 dokumennya. 27:43 Nah, kalau kita mau menghendaki energi 27:45 adalah hajat hidup orang banyak maka 27:46 mestinya kita strukturkan dari energi 27:49 primer ke energi sekunder itu 27:51 kita strukturkan kepemilikannya bukan 27:53 kemudian dipegang oleh segelintir orang 27:55 saya bilang. Kenapa? Karena 27:57 undang-undang dasar 45 tidak menghendaki 27:58 hajat hidup orang banyak dipegang oleh 28:00 segelintir orang karena rakyat banyak 28:02 akan dinasionalisasi itu dalam 28:03 perdebatan saya di Q TV saya ingat betul 28:05 di tempat Sugeng Sarjadi. Tapi lagi-lagi 28:07 karena dia merasa ekonom energi pertama 28:10 di Indonesia gitu ya posisinya dia 28:12 ekonom pertama. Iya. Di bidang energi 28:14 Purnomo Yusgiantoro itu. 28:16 Tapi jadi begitu gitu dan ketika kita 28:18 mundur pada gagasan kemudian kita lihat 28:20 perdebatan kayak gitu tajamnya 28:22 sesungguhnya cara-cara berpikir Soekarno 28:24 tidak konsisten dengan cara-cara 28:26 berpikir sosialisme sosialismenya dia 28:28 begitu. 28:32 Nah, gitu ngelihatnya. Nah, 28:35 bagaimana yang di sini sekarang di mana 28:37 sesungguhnya ini perdebatan ramai saya 28:40 di Mahkamah Konstitusi saya ingat betul 28:41 gitu ya saya yang lawan pihak-pihak sana 28:44 gitu posisinya saya sebagai 28:47 saksi ahli yang membela kepentingan 28:49 pasal 33 tegaknya pasal 33 dengan sumpah 28:53 di depan Mahkamah Konstitusi dengan 28:55 maaf ya subhanallah astagfirullahalazim 28:57 la haula wala quwwata illa billah dengan 28:58 badan tubuh yang tegak gitu menghadapi 29:00 para majelis hakim Mahkamah Konstitusi. 29:03 Saya mengatakan kalau kita memang setia 29:05 dan tidak ingin menjadi pengkhianat 29:06 dalam penegakan pasal 33 undang-undang 29:08 45 mestinya kita 29:10 mengembalikan seluruh 29:12 kekuasaan koperasi itu ke dalam pasal 33 29:15 dan tidak kita preteli seperti sekarang. 29:18 Ini kan dipreteli. Betul Dari mulai 29:20 pembangkit ke jaringan, ke distribusi 29:23 kok sudah habis sudah enggak 29:24 karu-karuan. 29:25 Ya, 29:26 itu artinya kita enggak usah bicara 29:29 enggak usah bicara 29:30 trisakti. 29:33 Wah, telat kita bicara 29:34 Sedangkan kalau sudah bicara nawacita 29:36 kita enggak usah bicara soal Indonesia 29:37 tumbuh dan tangguh, kita enggak usah 29:39 bicara Indonesia maju, enggak usah 29:41 bicara begitu maju apanya maju bagi 29:43 siapa. Iya. Kerja kerja kerja kerja 29:46 artikel saya juga harus kerja siapa dan 29:48 kerja dengan konsep apa? 29:50 Kan enggak mungkin kita berpikir cuma 29:51 sepotong-sepotong kayak gitu, itu enggak 29:53 mungkin gitu. Kita menggunakan sebuah 29:55 jargon-jargon, sementara jargon-jargon 29:57 itu sesungguhnya bermuatan kekuatan 29:58 korporasi, kan kacau itu. 30:00 Gitu. Saya tidak membenci korporasi loh. 30:03 Jadi, 30:04 ini terbukti bagaimana saya bisa 30:05 bersahabat dengan sejumlah penguasa 30:07 korporasi di Indonesia. Saya bilang saya 30:09 bersahabat ya. Tapi kita perlu 30:11 menjadikan saya sebagai mitra untuk 30:13 berdialog dengan mereka gitu. Dalam 30:15 rangka mempertajam pekerjaan korporasi 30:17 mereka gitu. 30:20 Nah, 30:22 Bang, ini ini ini hari Maulud hari ini. 30:25 Kak, saya saya baca berita tadi itu ada 30:28 ternyata ada perjuangan rancangan 30:31 undang-undang ekonomi syariah. 30:33 Entah undang-undang dasar kita masih 30:34 kurang atau apa. Sebenarnya kalau mau 30:36 tuh, kalau mau ada nawaitu. Nah, 30:39 Rasulullah tuh kan sudah mencerminkan. 30:42 Kita suka alergi Indonesia bersyariah. 30:45 Tapi undang-undang ekonomi syariah ada 30:47 tuh. 30:48 Apa sebenarnya Bang yang kurang dari 30:52 Rasulullah sebagai pedagang? Apakah 30:54 kurang cukup literasi itu sebagai bangsa 30:57 yang katanya banyak umat Islamnya? Entah 31:01 muslimnya berapa, tapi Islamnya pasti 31:02 banyak di sini. Gimana Bang? 31:05 Yang pertama, 31:07 saya ingat betul ketika RUU Perbankan 31:09 Syariah digagas di BI, 31:12 saya adalah salah satu pembicara yang 31:14 membuat sejumlah Deputi Gubernur BI 31:17 melongok. 31:19 Karena salah satu kata kunci saya adalah 31:21 tidak mungkin Anda menerapkan 31:23 perbankan syariah dengan mengabaikan 31:26 tiga hal. 31:27 Yang pertama, 31:28 ketidakjujuran. Yang kedua, serakah. 31:32 Yang ketiga, sistem akuntansi. 31:35 Maka dia 31:37 Bagaimana mungkin Anda bicara tentang 31:38 perbankan syariah tapi 31:40 dalam cara-cara pengelolaannya Anda 31:42 tidak jujur gitu posisinya. 31:45 Tidak jujur pada tujuan uang di di di 31:48 daya gunakan, tidak jujur dalam posisi 31:50 perhitungan, tidak jujur dalam posisi 31:52 bagi hasil dia. 31:53 Harus ada kejujuran. Walaupun Anda 31:54 bilang, "Kan kami punya sistem 31:56 akuntansi." Saya tanya balik, justru 31:58 karena menggunakan sistem akuntansi, 31:59 akuntansinya akuntansi mana nih? 32:03 Akuntansi Barat atau akuntansi enggak 32:04 kita sudah menggunakan sistem akuntansi 32:06 akuntansi syariah. Ya, tapi kan itu sama 32:08 dengan akuntansi Barat internasional 32:11 financial report system yang Anda ganti 32:13 bajunya menjadi gamis. 32:16 Oh, dikerudungin. 32:17 Katanya sama. 32:19 Karena memang zakat ini kan serakahan 32:21 kan? Zakat kan luar biasa kalau masuk ke 32:23 dalam pajak itu pasti orang tuh ingin 32:25 berimbang hidup yaumil akhir ya dengan 32:27 zakat. Asal pemerintah benar-benar bisa 32:29 mengelola. Ini kan masalah kepercayaan 32:31 kan? Problematiknya trust. Trust, 32:33 kepercayaan. 32:34 Kejujuran dan kepercayaan. 32:36 Jadi ketika ketika Anda mengubah 32:38 misalnya sesuatu dan dibalik ke ini kan 32:42 ketika Anda 32:43 mengkomunikasikan sesuatu gitu ya, 32:46 yang tersurat itu kan orang lihat akan 32:48 yang tersiratnya. Dibalik yang tersurat 32:51 dilihat yang tersirat, dibalik yang 32:52 tersirat ada dilihat yang terselubungnya 32:54 posisinya. Jadi ada explicit message, 32:57 ada implicit message, ada yang namanya 32:59 tacit message. Kalau pakai bahasa 33:01 Alquran, ada niat-niat yang terselubung 33:04 dibalik sihir gitu. 33:06 Istilahnya begitu gitu. Jadi harus 33:07 dilihat sihir itu gitu bahasa. Kalau 33:09 pakai kajian-kajian filsafat harus 33:12 dilihat simbolik torture-nya gitu 33:13 istilahnya. Kekerasan simboliknya. Ini 33:15 di ceramah saya juga, ceramah saya di 33:17 mana-mana nih kalau sudah bicara 33:18 simbolik torture posisinya. 33:20 Apa yang saya mau sampaikan di sini? 33:22 Kalau kita lihat cerita tentang 33:26 kebijakan-kebijakan pemerintah misalnya 33:29 tentang ekonomi syariah gitu posisinya. 33:32 Sesungguhnya karena mereka melihat 33:34 memang potensi ekonomi Islam di 33:36 Indonesia luar biasa. Itu dia. Tapi 33:39 belum tergarap dengan baik posisinya. 33:41 Dan karena itu mereka 33:43 kelompok kelompok Islam yang merasa 33:45 tidak tidak represent tidak terwakili 33:48 dengan dengan yang mereka mereka ambil 33:49 jarak dengan caranya sendiri. 33:51 Ikhtiar. Ambil jarak Komunitas 33:53 komunitas. 33:53 Misalnya dengan kalimat kami tidak ingin 33:55 terlibat dengan riba. Kalau mereka ambil 33:56 jarak sendiri. Enggak ada urusan dengan 33:58 pemerintah gitu cara mereka. Ya, mereka 34:00 menghindar aja. Sudahlah kita tidak 34:02 ingin berurusan dengan 34:02 kebijakan-kebijakan pemerintah. Contoh 34:04 sederhananya begitu gitu posisinya. 34:07 Lalu 34:08 ini bukan cuma sekedar riba, tapi juga 34:10 ini persoalannya namanya tadi soal 34:12 kejujuran, keserakahan dan sistemnya. 34:15 Dalam cerita literasi tentang bagaimana 34:18 Muhammad Rasulullah memperoleh gelar 34:20 Al-Amin, 34:22 itu kan kata kuncinya jujur kan? 34:24 Tidak serakah. 34:27 Tidak ada persepsi, terang dan tunai 34:30 posisinya istilahnya begitu. Dan kalau 34:32 mau diambil dalam kerangka begitu, 34:33 apapun yang dikatakannya adalah benar 34:35 dan lurus gitu. Benar, lurus dan baik 34:37 kata kuncinya. 34:39 Sehingga 34:40 ketika dia belum menjadi itu aja 34:43 Hajarul Aswad diangkat oleh dia dengan 34:45 dengan amanah yang luar biasa itu karena 34:47 tadi perilaku yang paling baik 34:49 ditonjolkan di situ posisinya. 34:51 Ketika kita mau menerjemahkan itu dalam 34:53 ekonomi syariah, sesungguhnya 34:55 pesan politik yang menjadi pesan 34:57 terselubungnya adalah keinginan 34:59 menggarap sistem perekonomian berbasis 35:01 syariah yang sesungguhnya belum syar'i, 35:02 itu maksud saya. 35:05 Jadi kita harus betul-betul bicara 35:07 syar'i ini. 35:08 Dan hakikat syar'i itu bukan sekedar 35:10 fikih, tapi kita harus cari hakikat dan 35:13 makrifatnya. Baru akhlaknya itu memenuhi 35:15 sistem hakikat dan makrifatnya. Jadi 35:17 pakai struktur hakikat makrifat maka 35:19 akhlaknya harus amalan shalihah. Bukan 35:21 cuma sekedar bicara tauhid, tasawuf, 35:23 tauhid, fikih dan akhlak. Dan kemudian 35:25 di situ ada 35:26 fikih terjemah dengan akhlak tapi 35:27 kemudian 35:29 muncul perdebatan para kalangan ahli 35:30 fikih dalam persoalan misalnya katakan 35:33 asuransi, dalam persoalan perbankan dan 35:36 tidak 35:37 harus jelas. Memang kalau kita ambil 35:39 prinsip-prinsip yang dibangun oleh 35:41 Majelis Ulama Indonesia ada beberapa hal 35:44 yang memang merujuk. Tapi dalam beberapa 35:45 hal lain juga tidak misalnya tentang 35:46 reksa dana syariah, pasar modal syariah. 35:49 Nama saja itu sudah reksa dana syariah, 35:51 pasar modal syariah. Bagaimana mungkin 35:53 Anda tidak merujuk ke dalam sistem 35:54 akuntansinya gitu? Bagaimana mungkin 35:56 Anda tidak merujuk ke dalam posisi 35:58 persepsinya? Bagaimana mungkin Anda 35:59 tidak merujuk pada soal kejujuran dan 36:00 keserakahannya? Terkeluar kalimat, "Ya 36:02 udah ini syar'i." 36:04 Gimana coba? Paling tidak sementara. 36:07 Nah, akhir. 36:08 Bang, menjelang 40 menit kita sebagai 36:11 penutup nih. 36:13 Hari ini harusnya hari libur ya digeser 36:15 besok. Entah banyak orang liburan apa 36:18 enggak hari ini. Apa literasi Rasulullah 36:22 ketika kita memperingati ini dan 36:25 bagaimana kita, keluarga, pendengar 36:27 Radio Silaturahim 36:29 dari segi pengelolaan ya paling tidak 36:31 yang Bang Ihsanuddin Nusi dikenal orang 36:34 sebagai ahli ekonom 36:35 dan Rasulullah ini sebagai 36:37 panutan kita. 36:39 Mungkin singkat saja silakan Bang biar 36:42 ditelaah oleh pendengar. Silakan. 36:43 Saya ambil Pak kalau tadi bicara tentang 36:45 literasi maka saya 36:46 harus membangun referensinya referensi 36:48 perdebatan kaum orientalis dulu ya. 36:52 Rujukan saya referensi saya bukunya 36:55 Ahmad Deedat. 36:57 Buku Ahmad Deedat yang kemudian 36:59 dituangkan oleh Michael Hart. 37:02 Eee eee 37:05 ini 37:06 eee Michael Hart menulisnya adalah 100 37:09 tokoh itu. 37:11 Nah, kriterianya tiga 100 tokoh itu. 37:14 Dia melindungi para pengikutnya. 37:17 Dia melindungi, dia mencerdaskan dan 37:20 menyejahterakan 37:22 para pengikutnya. 37:24 Dan terakhir dia membangun keyakinan 37:25 kepada para pengikutnya bahwa perjalanan 37:27 ke depan adalah benar. 37:29 Ini tiga-tiganya tidak gampang loh. 37:32 Yang pertama dia memberikan perlindungan 37:34 sampai dia mengorbankan dirinya. 37:36 Contoh sederhana bagaimana Siti 37:39 bagaimana Khadijah berkorban kekayaannya 37:42 luar biasa. Dari orang sangat kaya gitu 37:44 posisinya akhirnya sampai dengan posisi 37:46 meninggal pun 37:47 dia tidak punya apa-apa. Itu kan karena 37:49 dia betul-betul berjihad di jalan Allah 37:51 dengan jiwa dan hartanya. 37:54 Posisinya. Ada keberanian untuk itu gitu 37:56 posisinya. Dan itu justru dalam rangka 37:59 mendukung sepenuhnya perja perjuangan 38:02 suaminya Muhammad Rasulullah. 38:04 Dan itu dilakukan oleh Rasulullah dalam 38:06 rangka melindungi umatnya sehingga dia 38:08 mengutamakan umatnya daripada dirinya 38:10 posisi. Dan itu terbukti ketika dia mau 38:12 meninggal dengan panggilan ummati 38:14 ummati. 38:16 Karena dia tidak ingin umatnya 38:18 terzalimi, dia tidak ingin umatnya 38:20 tersakiti, dia tidak ingin umatnya 38:22 kemudian menjadi bagian dari nar posisi. 38:26 Itu kalimat melindunginya luar biasa itu 38:28 posisi. Yang kedua, dia mencerdaskan dan 38:30 dia menyejahterakan. Ketika kita bicara 38:33 iqra misalnya, kalau konsep belajar itu 38:35 kita mulai dengan iqra lalu kita 38:37 relasikan dengan tadabbur, subhanallah 38:40 astagfirullah. Seperti yang saya 38:41 sampaikan berkali-kali di radio, dia 38:43 bukan cuma sekedar konsep 38:45 eee teaching pengajaran gitu. 38:48 Bukan sekedar konsep learning 38:49 pembelajaran, bukan sekedar konsep 38:51 training gitu ya, bukan sekedar konsep 38:53 coaching, semuanya ada di situ. 38:56 Bagaimana ketika dia terima iqra lalu 38:59 kemudian berlanjut dengan para sahabat, 39:00 itu betul-betul mencerdaskan. Apa 39:02 indikator mencerdaskannya? Karena dia 39:04 merelasikan kekuatan kalbu dengan 39:05 pikiran. 39:08 Jadi indikator kecerdasannya adalah 39:09 menarik relasi utuh antar kekuatan kalbu 39:12 dengan kekuatan pikiran dan berwujud 39:14 dalam tindakan, itu kecerdasan. 39:17 Kecerdasan itu bukan cuma sekedar pada 39:19 logika rasionalisme istilah saya. 39:22 Bukan cuma sekedar pada empirisme 39:25 yang disebut dengan realism itu tadi 39:26 gitu. Sebagaimana sekarang manusia di 39:28 dunia dikuasai oleh cara-cara berpikir 39:30 realism atau rasionalism gitu posisinya. 39:33 Yang saya sebut sebagai ini kan 39:34 sesungguhnya baik komunis maupun 39:36 neoliberal menuju sistem fasis. Itu kan 39:39 basisnya materialisme. Materialisme 39:41 empiris maupun materialisme rasionalis 39:43 gitu posisinya. 39:44 Nah, itu ternyata kalau dalam pandangan 39:46 Rasulullah itu tidak mencerdaskan. 39:48 Karena kecerdasan menurut Rasulullah 39:50 adalah kecerdasan di mana kita memahami 39:51 kehidupan kita di dunia dalam rangka 39:53 menjemput kematian gitu. Dan itu kita 39:55 persiapkan dengan baik, itu mencerdaskan 39:57 posisinya. 39:58 Berikutnya adalah soal menyejahterakan, 40:01 itu tadi. 40:02 Ditunjukkan oleh Utsman bin Affan 40:03 bagaimana transaksi, ini saya saya tidak 40:06 dalam konstruksi sekedar sekedar pada 40:08 rujukan bagaimana riwayat Rasulullah, 40:11 tapi karena ini saya yakini saya saya 40:12 yakini dan saya jalani maka 40:16 ya ayyuhalladzina amanu lima taquluna ma 40:19 la taf'alun itu bukan cuma 40:21 saya melakukannya gitu. Dan sejahtera, 40:23 apa indikatornya? Saya pernah bicara di 40:25 di TV swasta. 40:26 Anak SMA saya mampu gaji 5 juta tuh, itu 40:29 pemerintah enggak mampu. 40:30 Itu di misalnya kayak gitu-gitu. Artinya 40:32 memang sistem kebijakan ekonomi yang 40:34 berbasis keislaman itu kokoh luar biasa. 40:38 Tetapi juga pada saat yang sama 40:39 tantangannya kokoh luar biasa karena 40:41 manusia selalu dihinggapi penyakit apa? 40:44 Serakah dan tidak jujur. 40:46 Selalu dihinggapi penyakit itu. Jadi 40:48 serangan keserakahan dan serangan 40:50 ketidakjujuran itu serangan itu datang 40:51 per detik. 40:53 Sama seperti bagaimana kita diminta 40:54 untuk rabbi aujidni kamin hamajati 40:57 syayatin musisib 40:58 ataupun rabbi 41:00 au ya'durun misal. 41:02 Rabbi aujidni au ya'durun. Jadi 41:03 bagaimana kita berlindung pada 41:05 bisikan-bisikan setan yang bikin tidak 41:06 jujur dan serakah dan bagaimana kita 41:08 menghendaki agar kita jauh dari 41:10 kelompok-kelompok ini gitu, dihindari 41:12 oleh gerakan mereka gitu posisinya. 41:15 Itu mencerdaskan. Jadi gerakan 41:17 perekonomian apa indikatornya? Ya tadi 41:19 hadis bicara kurma dengan kurma, garam 41:21 dengan garam, perak dengan perak, emas 41:23 dengan perak, lalu gandum dengan gandum 41:26 posisinya kan sampai kayak gitu ya. 41:27 Disisakan Pak pabrik Gus itu jelas 41:29 sekali posisinya. Demikian juga hadis 41:31 yang menyatakan bahwa tanah, air dan api 41:34 itu adalah hajat hidup orang banyak 41:36 posisinya. 41:37 Posisi. Jadi ada kejelasan tentang 41:39 tentang tentang komoditas. Ada kejelasan 41:41 juga ada tentang sistem distribusi. 41:43 Hadis menyatakan dilarang memotong 41:45 membeli barang yang dalam perjalanan 41:47 menuju ke pasar. Apa artinya? Anda tidak 41:49 boleh menjadi 41:50 menjadi 41:52 apa ya? Pengijon. 41:54 Anda tidak boleh menjadi orang-orang 41:56 yang membeli barang yang dalam 41:57 perjalanan sehingga nanti di pasar Anda 41:58 jual lebih mahal, enggak boleh. 42:02 Enggak boleh. 42:03 Dalam bahasa dalam bahasa kerennya 42:06 Anda dilarang menjadi pemburu rente. 42:09 Sudah. 42:10 Sudah. 42:11 Ketika kita aplikasikan ke dalam Utsman 42:13 bin Affan yang disebut dengan 42:14 menyejahterakan, itu ternyata penerapan 42:16 teori persaingan. 42:18 Luar biasa. Jadi bukan Barat yang 42:20 menerapkan teori persaingan, Islam. 42:22 Bagaimana harga, bagaimana kualitas, 42:25 bagaimana delivery, bagaimana inovasi. 42:27 Dipukul si Yahudi tadi dengan cara 42:28 seperti itu tadi. 42:30 Jadi konsep ekonomi Islam itu dalam 42:32 ini karena saya menulis ya, jadi saya 42:34 bukan bukan ngomong dan saya menulis dan 42:36 kemudian juga saya menerapkan, itu luar 42:38 biasa sekali posisinya. 42:40 Nah, itu dalam konsep tentang 42:42 mencerdaskan posisinya menyejahterakan. 42:44 Lalu lalu terakhir membangun 42:46 keyakinan kepada pengikutnya bahwa 42:48 perjalanan ke depan adalah benar. Ini 42:50 yang luar biasa. 42:51 Kalau pakai bahasa ayatnya hudallinnas 42:54 wa bayyinatin minal huda wal furqan. Oh, 42:56 aduh di sini ternyata. Jadi tidak banyak 43:00 pemimpin yang mampu membangun keyakinan 43:02 kepada pengikutnya bahwa perjalanan ke 43:03 depannya adalah benar. 43:05 Enggak banyak. 43:06 Tapi Muhammad dari pengikut yang 4 orang 43:08 kemudian bisa membangun miliaran manusia 43:11 dan pengikut miliaran manusia itu 43:12 sebagian besar bersedia berkorban untuk 43:14 tegaknya ajaran itu dan kalau dihina 43:17 berani menghadapinya. Nah, di sini 43:19 kelihatan 43:20 bahwa kaum orientalis itu atau kaum 43:23 Yahudi itu selalu mendiskreditkan 43:24 posisinya. Terjadilah sungguh-sungguhnya 43:27 perang nya perang abadi. Jadi dalam 43:29 konstruksi misalnya membangun keyakinan 43:31 bahwa perjalanan ke depan adalah benar, 43:33 itu bukan pemikiran manusia. 43:35 Maka kelebihan pada Muhammad Rasulullah 43:37 adalah dia Alquran yang hidup dan tetap 43:40 hidup ketika kita bicara hadis-hadisnya. 43:42 Jadi begitu, saya memahaminya ada tiga. 43:44 Alquran yang hidup adalah Muhammad 43:45 Rasulullah, Alquran yang tergelar adalah 43:47 alam semesta, Alquran yang terbukukan 43:49 adalah Alquran yang seperti kita ketahui 43:50 dengan mushaf misalnya apakah mushaf 43:52 Madinah atau mushaf Makki dan Madani 43:53 posisinya. 43:54 Tapi dia sendiri Allah sendiri 43:56 menyatakan Alquran itu sebagai sesuatu 43:58 yang terjaga dan terpelihara 44:00 keasliannya. Apa artinya? 44:02 Alam tidak akan pernah berganti dengan 44:04 posisi begitu ya terus seakan terjaga 44:06 dan terpelihara dengan keputusan Allah. 44:08 Berarti juga ada sesuatu yang tetap 44:10 hidup karena Muhammad adalah Alquran 44:11 yang hidup. Berarti hadis-hadisnya sahih 44:14 itu posisi akan tetap dan namun sesuatu 44:16 yang hidup posisinya. 44:17 Dan terbukukan Allah sendiri yang 44:19 menjaga. Apa indikatornya? Banyak yang 44:20 tetap hafidz walaupun dari yang hafidz 44:23 tadi misalnya tidak tidak memiliki 44:26 pemahaman atau belum memiliki pemahaman 44:28 yang dalam pada hubungan ayat yang satu 44:30 dengan ayat yang lain. Tapi minimal itu 44:32 menjadi bukti ketika ada Alquran yang 44:34 salah sang hafidz bisa membuktikan itu 44:35 salah bacaannya gitu. 44:37 artinya? 44:39 Ada sebuah ketetapan Allah yang manusia 44:42 tidak bisa menggugatnya 44:44 dan itu terwujud pada Alquran sebagai 44:46 terbukan, Alquran yang hidup pada 44:48 Rasulullah, Alquran tergelar sebagaimana 44:50 alam semesta. 44:51 Lalu pertanyaan berikutnya, layak kah 44:53 kita kemudian menjadi mencari petunjuk 44:54 yang lain? Nah, jawabnya nanti Bang. 44:59 Ah, Pak 45:00 845 46 37 detik. 45:04 Waktu pula yang menutup kita pagi hari 45:06 ini. 45:07 Silakan Bang ditutup pagi ini karena 45:10 panjang ini kalau 2 jam enggak cukup ini 45:12 nanti 45:14 hari Minggu kita cari bincang khususlah 45:16 kalau Bang Isnanuddin Nursi ya, kita 45:18 cari waktunya. Silakan Bang kita tutup. 45:21 Iya. Kehidupan ke depan ini makin makin 45:24 berat. 45:26 Sebagaimana 45:28 hadis-hadis menyatakan 45:29 bahwa nanti akan ditemukan seorang 45:32 pemimpin yang 45:35 berdusta tapi dipercaya gitu. 45:38 Kehidupan ini makin berat karena orang 45:40 makin cinta pada dunia gitu misalnya. 45:43 Kehidupan ini makin berat karena sesuatu 45:45 yang benar bisa dijungkirbalikkan 45:47 menjadi sesuatu yang salah dan salah 45:49 dijungkirbalikkan menjadi benar 45:50 posisinya. 45:51 Kehidupan ini makin berat karena ee 45:54 hubungan ee 45:56 persaudaraan ee berbasis keagamaan 45:59 justru ditentang tapi hubungan berbasis 46:01 yang namanya kematerialisme itu justru 46:02 dijunjung tinggi posisinya. 46:05 Nah, dari sana ee dalam posisi 12 Rabiul 46:08 Awal seperti sekarang ini 46:10 kita sesungguhnya tidak bisa tidak 46:12 memang harus menjawab 46:14 ya ayyuhalladzina amanu shallu alaihi wa 46:15 sallimu taslima. 46:17 Jadi ee kita diminta untuk tetap 46:20 Allahumma shalli ala Muhammad wa ali 46:21 Muhammad itu muncul dalam sebuah 46:23 keikhlasan dari kalbu dan dari pikiran. 46:26 Karena pada saat kita mengucapkan 46:27 Allahumma shalli wa sallim wa barik 46:28 alaihi itu 46:30 ee jantung kita noktah yang ada dalam 46:32 satu noktah yang ada dalam jantung itu 46:34 terhubungkan frekuensinya dengan dengan 46:37 Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi 46:38 wa sallam. 46:39 Dan mudah-mudahan kita sebagai 46:40 pengikutnya mendapatkan 46:42 hari akhir. 46:44 Salah menjadi tanggung jawab saya Isnan 46:45 dari dan pendengar taksir pemirsa Rasuli 46:47 TV, tapi benar karena kehendak Allah 46:49 subhanahu wa ta'ala. Wabillahi taufiq 46:51 wal hidayah. Assalamualaikum 46:52 warahmatullahi wabarakatuh. 46:53 Waalaikumsalam warahmatullahi 46:55 wabarakatuh.