Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:15 Halo, Assalamualaikum warahmatullahi 0:17 wabarakatuh Bang Ishanuddin. 0:20 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:22 wabarakatuh Anda dan pendengar aktif 0:25 serta pemirsa Rasil TV yang saya 0:26 hormati. 0:27 Baik. 0:28 Insya Allah pagi ini kita berkah dan 0:29 dalam ridho-Nya, amin. 0:31 Amin, amin. Dan semoga selalu sehat nih 0:34 Bang Ishanuddin ya. 0:35 Amin, insya Allah. 0:37 Kita melihat Bang Ishanuddin ini di pagi 0:40 hari ini kita mengangkat beberapa hal di 0:43 antaranya nanti potret bangsa ini 0:47 dikaitkan dengan kemarin kan kita 0:49 memperingati hari eh kesehatan mental 0:52 ya. 0:53 Antara 0:54 banyak orang yang melihat sebenarnya di 0:58 pandemi yang sudah mulai melandai ini 1:00 antara pemulihan ekonomi, 1:02 fisik dan mental bangsa ini kan 1:04 disoroti. Apalagi ketika 1:07 ketika krisis krisis mental orang bisa 1:10 bilang gitu ya, muncul tekanan ekonomi, 1:12 masalah kesehatan jiwa ini meningkat 1:15 gitu ya. Masalah kesehatan jiwa 1:16 meningkat. 1:18 Ini menjadi pembuka kita nih Bang 1:19 Ishanuddin dari dialog kita. Bagaimana 1:21 Bang Ishanuddin melihat bahwa tekanan 1:23 ekonomi bisa memicu masalah kesehatan 1:24 jiwa dan juga kaitannya dengan mental 1:26 bangsa ini, mental pemimpin dan mental 1:28 rakyat saat ini. 1:31 Eh sekitar 5 tahun ya, 5 tahun lalu 1:36 eh 5 6 5 4 5 tahun lalu 1:41 saya menyampaikan bahwa 1:45 eh research sustainable development 1:46 goals itu 1:48 tentang mental disorder. 1:51 Jadi penyakit tekanan jiwa itu tidak 1:53 mentalis, ada kelainan. Hmm. 1:56 Ada ketakberaturan. 1:58 Ada posisi mental yang menjadi 2:01 tidak terstruktur rapi. Ya, mental yang 2:04 mental di dalam tekanan. 2:05 Iya. 2:07 Lalu di-riset salah oleh Sustainable 2:09 Development Goals itu 2:11 sebab-sebabnya. 2:13 Di dalam rangka melihat 2:16 bagaimana pembangunan berkelanjutan itu 2:18 bisa berlanjut berdasarkan 17 pilar. 2:21 Pilarnya itu kan antara lain pilar 2:23 kesehatan, pilar pendidikan dan 2:25 pilar kemiskinan, pilar pengangguran, 2:27 pilar lingkungan gitu. Makanya mereka 2:29 menggunakan istilah triple P. 2:31 Hmm. 2:32 Eee 2:33 triple P itu soal bagaimana hubungan 2:36 masyarakat dengan lingkungannya, dengan 2:38 planet gitu. 2:39 Bagaimana kemudian pertumbuhan itu 2:42 terjadi. 2:43 Lalu bagaimana hubungan antar masyarakat 2:45 dengan baik juga terjadi itu posisinya. 2:48 Dan karenanya disebut sebagai green 2:50 economy. 2:50 Hmm. Hmm. 2:52 Dari sanalah riset itu dibuat. 2:56 Dan riset itu kemudian menghasilkan ada 2:59 empat negara yang mengidap mental 3:01 disorder tinggi waktu itu. 3:03 negara. 3:03 Hasilnya pernah saya sampaikan juga tapi 3:05 karena 3:06 ini menyangkut soal riset di di 3:08 Indonesia baru-baru ini terjadi tapi 3:10 sesungguhnya 3:11 Sustainable Development Goals pernah 3:13 melakukan riset sekitar 4-5 tahun lalu 3:15 gitu. 3:15 Hmm. 3:16 Eee risetnya ternyata yang mengidap 3:19 empat empat penyakit itu 3:22 eee warga yang mengalami tekanan jiwa 3:24 itu demikian tingginya. 3:26 Hmm. 3:26 Itu terdiri dari Amerika 3:29 Hmm. 3:30 Inggris 3:31 UK ya. 3:32 Hmm. 3:32 United Kingdom. 3:34 Eee 3:35 juga Australia. 3:37 Australia. 3:37 Dan terakhir Indonesia. 3:39 Hmm. 3:41 Nah, ketika dicoba di 3:43 cari penyebabnya 3:45 penyebabnya ekonomi. 3:46 Hmm. Hmm. 3:47 Amerika yang yang cukup mendalam akibat 3:49 ekonominya. 3:51 Yakni eee 3:54 para perempuan yang mengalami kesulitan 3:56 ekonomi 3:57 menjadi ee suka makan, begitu ya, punya 4:01 problem masalah macam-macam. 4:02 Dan akibat suka makan, suka ngemil, 4:03 badannya jadi gemuk. 4:05 He em. 4:05 Begitu ya. 4:06 Jadi, fat lady, istilahnya, 4:08 perempuan-perempuan gemuk. Dan karena 4:10 mereka juga punya problem pada 4:11 penampilan, 4:13 Iya. 4:13 maka mereka berbondong-bondong mencari 4:14 obat untuk kurus, begitu posisinya. 4:17 Iya, iya. 4:18 Ee ee di sana terjadi jadi kerja sama 4:20 menarik antara 4:22 industri makanan dan industri farmasi. 4:24 Industri farmasi, he em. 4:25 Itu juga terjadi di Inggris, itu terjadi 4:27 juga di Australia. 4:28 He em. 4:28 Terjadi juga di Indonesia. 4:32 Lalu apa soalnya dengan Indonesia? 4:35 Ternyata Indonesia soalnya sebabnya 4:36 adalah riba. 4:37 He em. 4:39 Mereka terkena penghisapan luar biasa 4:41 melalui riba. 4:42 He em. 4:43 Hidup mereka resah, gelisah enggak 4:45 karu-karuan. 4:46 He em. 4:46 Lalu mereka juga mengemil, makan, dan 4:48 kemudian mereka juga butuh untuk 4:50 menguruskan badan, begitu. 4:52 Iya, iya. 4:54 Nah, artinya problem ekonomi memang ee 4:57 ee halo? 4:58 Iya. 4:59 Ee artinya problem ekonomi memang selalu 5:01 mengakibatkan problematik pada kejiwaan, 5:03 begitu posisinya. 5:04 He em. 5:05 Itu riset 4-5 tahun lalu dilakukan oleh 5:07 Sustainable Development Goals, jadi 5:08 bukan sesuatu yang baru. 5:09 Iya. 5:10 Nah, ee ditambah dengan problem pandemi, 5:12 ya pasti orang-orang akan mengalami 5:14 karena terjadi penurunan daya beli yang 5:16 dahsyat, begitu pada saat yang sama. 5:19 Beban hidup meningkat karena harga 5:21 melonjak, listrik naik, posisinya. 5:23 He em. 5:23 Ee ee 5:25 ee per hari ini harga minyak 5:27 internasional naik jadi 80,52 5:31 dolar per barel, dan itu berarti nanti 5:33 akan terpicu ke harga di Indonesia 5:34 karena Indonesia punya ketergantungan 5:36 energi. 5:37 Iya. 5:37 Lalu ee pajak-pajak juga naik, begitu 5:40 posisinya. Akibatnya ya orang punya 5:43 beban ekonomi yang tinggi, 5:44 He em. He em. Betul. 5:46 Beban ekonomi tinggi akhirnya ke 5:47 persoalan, persoalan jiwa. 5:49 He em. 5:49 Posisi nya. 5:49 He em, he em. 5:50 Nah, itu membuktikan di satu sisi eh 5:52 kondisi ekonomi begitu, tapi di sisi 5:54 lain 5:54 secara sosiologis itu menyatakan bahwa 5:57 keguyuban kita 5:59 ikhwanul kita gitu, hubungan 6:01 persaudaraan kita, ukhuwah kita ukhuwah 6:03 islamiyah itu itu menurun bobotnya. 6:06 Iya. 6:07 Karena tidak lagi terjadi 6:08 tolong-menolong untuk misalnya eh atau 6:11 katakan eh tolong-menolong untuk saling 6:13 memberi makan satu sama lain menurun 6:15 walaupun kita lihat tiap hari Senin, 6:17 tiap hari Kamis atau tiap hari Jumat 6:19 He em. 6:20 masjid-masjid memberikan makan gratis. 6:22 Tapi keguyuban kita, hubungan eh 6:25 persaudaraan kita, kegotongroyongan kita 6:27 dalam hari per hari 6:29 sesu sesungguhnya hari ke hari makin 6:31 menurun. Dalam bahasa yang lain 6:33 silaturahimnya memang menurun dan kalau 6:35 silaturahimnya memang menurun 6:37 ya mereka sukses menjalankan gagasan apa 6:40 yang disebut dengan protokol Zionis 6:42 gitu. 6:42 Oh. 6:43 Padahal agama menyatakan jangan pernah 6:45 putus silaturahim. Kan putus. Kalau 6:47 dalam silaturahim kan kita saling 6:48 berbagi rezeki kan. 6:50 He em, he em. 6:50 Eh saling berbagi rezeki itu entah 6:52 makan, entah minum, entah berbagi rasa, 6:55 entah berbagi pengetahuan, entah berbagi 6:57 info gitu ya. 6:58 He em. 6:58 Itu semuanya itu rezeki posisinya. 7:00 Makanya jangan pernah putus silaturahim. 7:02 Tapi kita terkena kan dengan pandemi, 7:04 kita putus silaturahim, kita kurangi 7:06 silaturahim. Ya kena akhirnya. Ada ter 7:09 dalam bahasa dalam bahasa keren ya 7:11 terjadi eh social alienation 7:14 Iya. 7:15 dan sosial. 7:16 He em. 7:16 Karena kita setuju dengan eh dengan 7:18 posisi mengambil jarak, setuju dengan 7:21 tidak bersilaturahim secara langsung 7:23 gitu posisinya. 7:23 He em. 7:24 Itu penyakit itu. Itu makanya saya tidak 7:26 pernah setuju dengan yang saya sebut 7:28 sebagai protokol kesehatan itu saya 7:30 tidak terlampau setuju itu dengan itu 7:32 gitu. Makanya saya 7:32 Fokus ke 7:33 Inna sholati wa nusuki itu makanya 7:34 disebut wajjahtu wajhiya lilladzi 7:36 fatharas samawati 7:37 He em, he em. 7:37 Apalagi kemudian memang perintahnya 7:39 jangan putus silaturahim. 7:41 He em. 7:41 Dan karenanya saya orang yang salah 7:42 satunya mungkin paling minim ikut-ikut 7:44 webinar. 7:45 Hanya terpaksa saya ikut webinar. Kalau 7:47 mau langsung sama saya, oke, saya 7:49 offline gitu. Tapi jika tidak, saya 7:50 enggak setuju gitu. 7:52 Saya tidak saya tidak akan memenuhi 7:53 undang-undang undangan online yang saya 7:55 anggap tidak urgen yang yang urgensinya 7:58 rendah gitu, enggak usahlah gitu. Kalau 8:00 mau offline, oke gitu. 8:01 Posisinya. 8:03 Nah, itulah secara tidak langsung. Jadi, 8:04 secara ekonomi terpukul, secara sosial 8:06 juga terpukul. Berarti kan pukulannya 8:08 ganda. 8:10 Pukulan ganda sosial alienation 8:12 keterasingan sosial. Pukulan ekonomi, 8:14 beban ekonomi makin berat. Ya, jadi 8:16 mental disorder, tekanan jiwa. Secara 8:19 politik ada rasa ketidakadilan politik 8:21 hukum gitu posisinya. 8:23 Ah, iya bertubi-tubi jadi jatuhnya gitu 8:26 ngelihatnya angka. 8:27 Indonesia problemnya seperti sekarang. 8:30 Apalagi terus ada seorang seorang yang 8:32 punya nama gitu yang walaupun saya baru 8:34 baca di Project Syndicate menyebut the 8:36 amazing man gitu ya. Padahal 8:42 Saya saya bilang saya dengan satu data 8:43 aja tulisan di Project Syndicate soal 8:45 the amazing man itu patah gitu. Misalnya 8:48 soal tax ratio yang saya ambil dari 8:50 tahun 2010 hingga 2020. Itu kan ambruk 8:52 enggak karu-karuan. Neraca pembayaran 8:55 yang terus-menerus negatif menurun gitu 8:56 ya. Neraca perdagangan yang juga jarang 8:59 sekali membaik posisinya. Utang yang 9:00 terus meningkat. Sementara PDB yang naik 9:03 tidak diikuti dengan meningkatnya tax 9:04 ratio. Itu kan angka-angka yang secara 9:06 secara umum saja sudah ketahuan bahwa 9:08 sesungguhnya ada problematik pada bangsa 9:11 ini. Dan itu kemudian menjadi ramai di 9:12 media sosial gitu. 9:14 Kebayang enggak Anda baca juga di media 9:15 sosial sesuatu yang membingungkan yang 9:17 tidak memberikan pedoman kehidupan, 9:19 tidak memberikan kepastian, tidak 9:20 memberikan arahan dengan baik. Pada 9:22 lingkungan hubungan sosial menurun 9:25 karena Anda di paksa untuk menjaga 9:27 jarak, dilarang untuk melakukan 9:28 silaturahim dengan baik begitu 9:29 posisinya. Social distancing, tekanan 9:31 ekonomi tinggi. Coba gimana itu 9:33 pusingnya. 9:35 Gitu Angga. 9:38 Melihat juga ini 9:39 bagaimana, eh, 9:41 beberapa hal yang akhirnya masyarakat 9:43 itu seperti beban itu makin bertambah 9:46 yang diharapkan untuk bisa menjalankan 9:49 dan juga bertanggung jawab terhadap 9:51 negeri ini, di antaranya itu, ya, banyak 9:54 pihak yang terkait, ya, dari mulai 9:58 pimpinan, pucuk pimpinan, presiden, 10:00 sampai juga dengan eh, pejabat-pejabat 10:03 lain. Hari ini kemarin, eh, hari ini dan 10:07 kemarin, ya, eh, Bang Isnan Nurhadi, 10:09 Tempo mencatat 10:11 bahkan ada beberapa beritanya, gitu, ya, 10:14 dirinci dengan sangat jelas 10:17 bahwa ada tiga janji presiden, ini di 10:20 bidang ekonomi, yang tidak ditepati. Dan 10:22 ini masalah gitu untuk rakyat, gitu. 10:26 Yang se bertubi-tubi gitu bahwa janji 10:28 itu tidak ditepati, dari mulai taks 10:30 enusi sampai dengan, eh, kereta cepat, 10:33 ya. Namun, setelah Tempo men apa 10:35 menerbitkan berita itu, 10:37 kalau di medsos itu kan enggak lama, 10:39 enggak perlu lama, gitu, ya, 10:40 untuk para buzzer itu langsung 10:43 mereka menyerang dengan, "Wah, ini 10:45 kereta cepat, kereta cepat 10:46 Jakarta-Bandung ini peningkatan 10:48 pertumbuhan ekonominya akan, wah, pesat. 10:51 Nanti juga akan ada nilai positif dalam 10:54 perkembangan ekonomi. Nanti masyarakat 10:56 juga ini akan terjamin. Bahkan sampai 10:57 2030 Indonesia akan masuk ke 11:00 ekonomi yang tingkatnya itu pesat, 11:03 tujuh, apa, lima, masuk tujuh besar, 11:05 gitu. Nah, melihat hal-hal ini, gitu, 11:07 ya, 11:08 ini kan menjadi sesuatu yang 11:11 apa buat bangsa ini, Bang eh, Bang Isnan 11:13 Nurhadi? 11:15 Saya di Bangsa Terbelah di halaman 11:18 halaman 162 sampai dengan 168 itu, 11:22 eh, di bab khusus menguatnya Cina di 11:24 Indonesia, 11:25 Hmm. 11:26 saya juga membahas soal kereta api cepat 11:27 Jakarta-Bandung. 11:28 Hmm. 11:30 Di situ bahkan sekarang menjadi berita 11:31 di, 11:32 di satu 11:34 satu media gitu ya. 11:35 He eh. 11:37 Di JPNN gitu, mau membahas kereta api 11:39 cepat. 11:40 Iya. 11:40 Yang pertama, eh ketika kita lakukan 11:42 studi banding dengan kereta api cepat di 11:44 Iran, kereta api cepat di Amerika, 11:46 kereta api cepat di beberapa negara, 11:48 investasi kita kemahalan. 11:49 He em, he em. 11:51 Yang pertama, sebelum saya bicara 11:53 tentang akhirnya APBN menanggung gitu 11:55 posisinya. 11:56 iya. 11:56 Yang kedua, eh saya bikin studi banding, 12:00 eh 12:02 dari model gitu. Saya kebetulan eh salah 12:05 satu warga negara Indonesia 12:07 yang menikmati kereta api cepat di Cina 12:10 dari 12:11 eh 12:13 Beijing ke Shanghai, dari Shanghai ke 12:15 Beijing gitu ya. 12:16 he em. 12:17 Waktu itu ditulis dengan kecepatan 400 12:20 km/jam. 12:22 Tetapi kemudian eh diturunkan menjadi 12:25 278 sampai dengan 300, karena kalau 12:27 sampai 400 km/jam itu 12:30 pernah menimbulkan korban nyawa gitu 12:32 posisinya. 12:33 he em. 12:33 Eh dan memang nyaman. 12:35 He em, he em. 12:36 Bersih, nyaman, saya akui gitu ya. 12:38 Dan saya kira sekarang eh kereta api 12:40 cepat Cina eh salah satu kereta api 12:43 cepat, salah satu ya, 12:44 He em. 12:45 yang cukup baik di dunia. 12:46 Iya. 12:47 Tetapi saya sendiri punya studi banding, 12:48 karena pada tahun 1994 saya sudah 12:51 menggagas eh double track 12:53 Jakarta-Bandung. 12:54 He em, he em. 12:55 Eh Cikampek-Purwakarta kita bikin double 12:58 track gitu, dengan metodologi dengan 13:00 dengan dengan teknologi dari Skoda. 13:04 Posisi Skoda itu yang yang kemudian 13:06 dipakai oleh Jerman Barat sebagai Krupp 13:08 ya, ingat ya. Jadi kalau Anda ingin 13:10 kereta api yang kepalanya hitam itu, itu 13:12 kan tulisannya Krupp kan. 13:14 Iya. 13:14 Nah, kalau Krupp itu asalnya Skoda. 13:17 Skoda itu adalah salah satu industri 13:19 kereta api yang bentukannya paling aman 13:21 di dunia gitu. 13:22 Dan itu diadopsi oleh Jerman sama 13:24 Perancis posisinya. 13:25 He em. 13:26 Kan ada model Jerman, ada model 13:27 Perancis, ada model Inggris, ada model 13:29 Jepang misalnya kita lihat ada lima 13:31 aliran eh perkeretaapian di dunia dan 13:33 kemudian muncullah di 13:35 di periode di sejak Cina itu mereka 13:38 punya ini tersendiri 13:40 iya 13:40 nah eh 13:42 pada saat itu sesungguhnya studi sudah 13:44 dilakukan untuk Indonesia kereta api 13:46 cepat Jakarta-Bandung studinya sudah 13:47 dilakukan oleh Jepang gitu 13:50 he em 13:50 makanya ketika diberikan ke Cina Jepang 13:52 marah 13:53 he em 13:54 eh tapi kemudian Jepang mendapat 13:56 mendapat 13:58 buah juga dari kemarahannya 14:00 he em 14:00 dia punya proyek Jakarta-Surabaya double 14:03 track 14:04 dengan memperbaik jadi dari mulai 14:06 Cikampek ke sana tuh akan terus dibikin 14:08 nanti double track dan itu proyeknya 14:09 Jepang posisinya 14:11 termasuk perbaikan sistem sinyal, 14:12 perbaikan macam-macam itu proyeknya 14:14 Jepang artinya pinjaman Jepang 14:15 iya iya 14:17 eh itu dari segi modal dan dari segi 14:19 pertarungan antara Cina dengan Jepang di 14:21 Indonesia 14:22 he em 14:23 saya ingat betul kata-kata kata-kata eh 14:25 Luhut Binsar Panjaitan iya Jepang suka 14:27 macam-macam sih makanya kita lari ke 14:28 Cina gitu posisi 14:30 itu kalimatnya 14:32 eh dan saya ingat betul bagaimana sehari 14:34 sebelum diputuskan NHK datang pada saya 14:37 gitu 14:38 NHK 14:39 statement saya adalah salah satu kajian 14:41 saya adalah 14:41 he em 14:42 Jepang terlampau lama mendikte Indonesia 14:44 dari segi industri moda transportasi 14:46 gitu 14:46 he em he em 14:47 sehingga memang pemerintah Indonesia eh 14:49 perlu mencari alternatif 14:50 he em 14:51 tetapi sesungguhnya juga bukan 14:52 Jakarta-Bandung yang dibutuhkan 14:54 iya 14:55 iya 14:55 jadi waktu Deddy Yusuf sebagai wakil 14:57 gubernur gitu posisinya dengan Ahmad 15:00 Heryawan sebagai gubernur Jawa Barat ya 15:03 eh saat itu sesungguhnya saya sudah dua 15:05 tahun menggagas pentingnya dibangun 15:08 lintas selatan 15:09 he em 15:09 dari mulai Merak sampai dengan 15:11 Banyuwangi ah mulai saja dulu dengan 15:13 Jawa Barat DKI jadi mulai Banten eh 15:17 mulai Banten sama eh Jawa Barat itu 15:19 dibangun double track-nya dari Merak 15:21 sampai dengan posisi ke Cilacap sana 15:23 untuk membuka kawasan selatan yang 15:25 relatif jelek transportasinya, jelek 15:28 infrastrukturnya itu akan membuka 15:30 habis-habisan kawasan wisata 15:32 karena kawasan wisata di Pulau Jawa 15:33 Selatan itu bagus sekali selain memang 15:35 sumber daya juga bagus posisinya 15:38 dan bahkan saya menggagas sampai dengan 15:40 Banyuwangi jadi kalau baca berita hari 15:41 ini saya bilang saya akan cium tangan 15:44 pada Presiden Republik Indonesia Joko 15:46 Widodo 15:47 jika 15:48 dia menghentikan proyek pembangunan ibu 15:51 kota tapi memindahkan misalnya dengan 15:52 membangun doubletrack Merak sampai 15:54 dengan Banyuwangi dengan membangun 15:56 doubletrack Bitung sampai dengan Bitung 15:58 Manado ya Bitung dari dari Bitung sampai 16:01 dengan Makassar misalnya atau kemudian 16:03 menjahit Kalimantan kalau menjahit 16:04 Kalimantan saya gagas dari tahun 2000 16:06 2009 16:08 2009 2010 posisinya 16:10 atau kita bangun Banda Aceh Lampung 16:12 doubletrack itu saya akan cium tangan 16:15 kenapa sampai seperti itu karena itu 16:18 keberpihakan kepada publiknya tinggi dan 16:20 kita tidak membu tidak memperluas ruang 16:23 ruang pemasaran bagi industri otomotif 16:25 yang sudah menempatkan Indonesia dalam 16:27 cengkeramannya gitu posisinya saya tidak 16:30 benci industri otomotif tapi saya ingin 16:32 menyatakan saya berpihak pada kedaulatan 16:33 ekonomi bangsa saya gitu posisinya saya 16:36 ulang saya tidak membenci industri 16:37 otomotif tapi saya berpihak pada 16:39 kedaulatan ekonomi bangsa saya posisinya 16:42 saya saya perlu mengangkat harkat 16:43 martabat bangsa saya terutama dalam 16:45 kedaulatan ekonomi 16:48 ketika Jakarta Bandung kemudian tidak 16:50 lagi mampu berlanjut karena kekurangan 16:52 keuangan posisinya disebabkan pada 16:54 pandemi 16:55 maka suka tidak suka 16:57 setuju tidak setuju BUMN yang terlibat 16:59 dalam kereta api cepat Jakarta Bandung 17:01 Bandung Jakarta yang kita lihat begitu 17:03 begitu 17:06 progresif 17:07 kecepatan pembangunan cukup signifikan 17:10 gitu ya suka tidak suka menuntut BUMN 17:12 yang terlibat di dalamnya untuk 17:14 menyetorkan kekurangan permodalan dan 17:16 ketika BUMN yang kekurangan permodalan 17:18 itu enggak punya duit gitu ya, 17:21 negara harus menyetor posisinya. Negara 17:24 harus tetap melanjutkan komitmennya. 17:26 Munculah kemudian dari tidak keinginan 17:28 melibatkan APBN jadi melibatkan APBN. 17:31 Nah, di sana kelihatan jadinya bukan 17:33 cuma sekedar misalokasi, bukan sekedar 17:36 misalokasi gitu loh. Bukan sekedar salah 17:39 gitu ya, dan bukan sekedar kehilangan 17:41 alokasi, bukan sekedar kehilangan 17:42 orientasi alokasi. Tapi betul-betul dia 17:45 tidak dalam rangka memenuhi kebutuhan 17:47 masyarakat gitu posisinya. 17:49 Dia tidak lagi dalam rangka menjawab 17:51 bagaimana sesungguhnya problematik yang 17:52 sedang dihadapi. Itu yang muncul dari 17:55 proses kereta api cepat, apalagi dia 17:56 masuk ke wilayah-wilayah strategis 17:58 pertahanan seperti di Halim gitu 18:00 posisinya. 18:01 Itu kan pernah jadi masalah ketika dia 18:03 melakukan pengukuran, ada dua orang 18:05 sedang melakukan pengukuran ke wilayah 18:06 yang tertutup bagi bagi orang asing 18:08 posisinya. 18:09 Tambah lagi yang disebut dengan kereta 18:11 api cepat Indonesia sesungguhnya Cina 18:13 sedang menjual lima hal. 18:16 Cina sedang menjual uang, 18:18 satu ya. Saya ulang, Cina sedang menjual 18:20 uang karena dengan tingkat suku bunga 18:22 tertentu sudah dia hitung pasti 18:23 posisinya. 18:25 Walaupun statusnya adalah turnkey 18:27 project. Yang kedua, Cina sedang menjual 18:29 teknologinya 18:31 gitu posisinya. Yang ketiga, Cina sedang 18:33 menjual produk-produknya seperti 18:35 besinya, 18:36 semennya, dan berbagai kebutuhan lainnya 18:39 termasuk keretanya sendiri dia butuh 18:41 dijual posisinya gitu. Cina sedang 18:43 menjual tenaga kerjanya. 18:45 Dan yang kelima yang paling menarik, 18:47 Cina akan mereguk dalam hitungan berapa 18:49 puluh tahun terakhir. Saya tidak tahu 18:51 berapa puluh tahun itu kereta yang 18:52 kemahalan itu akan lunas gitu posisinya. 18:54 Sementara kita tahu MRT saja 18:56 dia baru dua generasi baru bisa selesai 18:59 itu MRT yang dari Lebak Bulus sampai 19:01 dengan 19:02 sampai dengan Duku Atas gitu yang 19:04 dibangun oleh Jepang. Jadi 19:06 kita punya kebiasaan hal-hal yang 19:08 strategis itu kita serahkan ke tangan 19:09 asing gitu. 19:10 Nah, nah, heem, heem. 19:11 Itu itu kebiasaan yang salah gitu 19:13 posisinya. Saya seperti saya protes 19:15 misalnya dulu pada Fuad Rahmany, Dirjen 19:17 Pajak ya. 19:18 Ketika bicara tentang bagaimana 19:19 peningkatan tax ratio yang kemudian 19:21 ternyata ada dalam strateginya 19:23 pinjamannya ke Bank Dunia. Saya bilang 19:24 bagaimana mungkin Anda mau meningkatkan 19:26 tax ratio tapi basis berpikirnya Anda 19:28 ambil dengan cara berhutang dan Anda 19:29 mencontek dengan sesuatu yang tidak 19:31 layak gitu posisi. Salah satu contohnya 19:33 itu 2014 di ee di di FISIP UI posisi 19:37 diskusinya waktu itu gitu ya. 19:39 Nah, hal begini nih yang yang jadi 19:41 jangan sekedar melihat pada posisi 19:42 overpricing-nya. Jangan cuma sekedar 19:44 melihat nanti akan meningkat 19:45 pertumbuhan. Kalaupun meningkat 19:46 pertumbuhan trickle down effect-nya 19:48 gagal kok. 19:49 Iya, iya. 19:50 Namanya saja trickle down effect 19:53 efek menetes menghina betul gitu loh. 19:55 Sementara yang yang blok-blokan 19:57 gede-gede itu gitu yang gelondongan gede 19:59 gitu dimakan sama mereka, menetesnya itu 20:01 dikasih ke rakyat. Wong efek yang 20:03 menetesnya saja gagal. 20:04 Heem. 20:05 Apalagi yang gelondongannya gitu. Itu 20:07 itu yang saya bilang ee saya pusing gitu 20:10 ngadepin orang-orang yang 20:11 argumen-argumennya tidak berbasis data 20:13 gitu posisinya. Nah, kalau kita misalnya 20:15 masuk 20:16 Bang Isanudin. 20:16 Kita tambah lagi dengan ee sekarang 20:18 posisinya kita tidak jelas nih dalam 20:19 percaturan internasional dalam 20:21 percaturan. Kan Anda tahu beberapa 20:23 negara kemarin shut down ee kotanya 20:26 karena pasokan listriknya kurang. 20:28 Betul. Cina juga termasuk yang paling 20:30 besar. 20:30 dengan global climate change. Itu kan 20:32 berkaitan dengan program yang namanya ee 20:35 pengurangan penggunaan batu bara. 20:36 Heem, heem. 20:37 Semuanya tunduk pada posisi aturan 20:39 internasional tentang ee pengurangan gas 20:41 emisi rumah kaca yang sumbernya salah 20:43 satunya adalah pembangkit listrik 20:44 berbasis batu bara yang harus dikurangi 20:46 kalau saya tidak salah 2025 sudah harus 20:49 ee minim tinggal berapa persen gitu 20:50 posisinya. 20:51 Heem. 20:52 Dan itu karenanya sekarang mereka 20:53 menggenjot habis-habisan ekspor gitu 20:55 posisinya. 20:56 Heem. 20:56 Ee lalu kemudian setelah nanti setelah 20:58 2025 pengurangan pengurangan batu bara 21:01 itu akan terjadi pada sejumlah power 21:03 plant termasuk di Indonesia. 21:04 Heem. 21:05 Nah, ee kebayang enggak situasinya kayak 21:08 apa gitu? 21:09 Ada situasi yang tidak jelas, di satu 21:11 sisi ada persoalan di IT, di ICT dalam 21:15 konstruksi misalnya bagaimana digital 21:16 currency, bagaimana soal 5G, bagaimana 21:19 nanti relasinya dengan digital currency 21:21 itu dengan industri perbankan, di satu 21:23 sisi posisi dengan yang namanya energi, 21:25 di sisi lain juga dengan persoalan 21:26 namanya pangan. 21:28 He em, he em. 21:30 Jadi, 21:31 dan kita tidak dapat eh, satu eh, 21:34 blueprint cetak biru yang jelas arahnya 21:36 kemana kecuali plan. 21:37 Memang mereka bilang, "Kami sudah punya 21:38 APBN 2022." Misalnya sudah mereka 21:41 rancang, katakan begitu ya. Karena 21:43 kebijakan makroekonominya kan sudah 21:45 sudah mereka luncurkan 2022 kebijakan 21:47 makroekonomi itu. Mereka bilang eh, eh, 21:50 eh, 21:51 kebijakan makro itu bicara tentang 21:52 besaran-besaran yang akan dicapai pada 21:54 2022. Yang saya bilang itu sebenarnya 21:55 target. 21:56 He em. 21:56 Dan mereka tidak pernah berani 21:57 menyatakan itu sebagai target. Sejak 21:59 saya di dewan dulu saya sebutnya itu 22:00 target. 22:01 He em. 22:01 Bukan sasaran, apa bukan eh, eh, asumsi. 22:04 Kan mereka menyebutnya asumsi kebijakan 22:06 makro eh, fiskal eh, 22:09 di 2022 atau 2021 sebelumnya misalnya 22:11 gitu. Saya bilang itu bukan asumsi tapi 22:13 itu sebenarnya target. Jadi artinya ada 22:15 problem besar pada bangsa ini dari mulai 22:18 orientasi perencanaan, perencanaannya 22:20 sendiri, lalu kemudian pada 22:22 pengalokasiannya dan pada 22:23 pelaksanaannya. Dalam bahasa lain, 22:25 pasal 23 dalam konstruksi APBN 22:27 bermasalah. Nah, akumulasi itulah yang 22:29 mengakibatkan 22:31 fiskal itu gagal. Di situlah yang saya 22:32 sebut 22:33 dari 2010 itu tax ratio menurun. Di 2020 22:37 tax ratio cuma 7,9 posisinya. Bahkan 22:40 ketika sunset eh, ketika tax amnesty 22:42 dijalankan eh, pada 2016 berdasarkan 22:46 Undang-Undang 11 tahun 2016 posisinya, 22:48 itu cuma terjadi 0,1% 22:51 perbaikan tax rationya gitu. 22:53 He em, he em, he em. 22:55 Tidak juga menunjukkan satu keberhasilan 22:56 perpajakan. Nah, ketika eh, keberhasilan 22:59 perpajakan itu Sri Mulyani sendiri 23:01 menyebut bukan sesuatu yang bisa 23:03 dibanggakan gitu ya. Jadi pada Desember 23:05 2020 kemarin, Sri Mulyani menyatakan 23:08 deklarasi yang jelek itu bukan sesuatu 23:09 yang patut dibanggakan. Maka 23:11 sesungguhnya dia menyatakan pekerjaan 23:13 gua enggak bisa dibanggain nih gitu. 23:15 Cuma masalahnya begitu gitu posisinya. 23:17 Dan ketika posisi itu kayak gitu, maka 23:19 mereka bikin tax amnesty lagi. Mereka 23:21 masukin harmonisasi perpajakan. Andai 23:23 harmonisasi perpajakan kelihatannya 23:25 tidak ada masalah, tapi ternyata masalah 23:27 pada posisi PPN, pada posisi PPh, dan 23:29 pada posisi PNBP. 23:30 Jadi siklus masalahnya bertubi-tubi 23:32 gitu. Maka muncul pertanyaan saya 23:34 seperti biasa. Ini mestinya 23:36 penyelenggaraan pemerintahan itu 23:38 mestinya merupakan aset bagi warga 23:40 negara, bagi rakyat gitu. Tapi kenapa 23:42 dia malah jadi beban ya gitu. 23:47 Gitu anggapannya. 23:48 Dari penjelasan mengenai bagaimana APBN 23:52 akhirnya menggunakan digunakan untuk 23:54 proyek kereta cepat saja. Tadi menarik 23:57 juga ketika Bang Iskanur Nursi justru 24:00 malah melihat pemerintah akan akan lebih 24:04 berpihak ke rakyat ya kalau misalkan 24:05 pembangunan malah dialihkan ke bagaimana 24:08 lintas Sumatera, bagaimana 24:10 em apa mengoptimalkan juga Jawa dan 24:13 Kalimantan. 24:15 Bukti ketika melihat masalah 24:18 kereta cepat saja 24:19 itu karut marut sebenarnya perencanaan 24:22 proyek infrastruktur ini Bang Iskanur 24:23 Nursi. Orientasi planning-nya asing. 24:26 Siklus masalahnya tadi bertubi-tubi. 24:29 Kembali ke mana ini Bang Iskanur Nursi 24:30 harusnya kita? 24:32 Kalau kalau diambil dari kerangka itu 24:34 ya. 24:35 Saya 24:36 em kan saya bilang tahun 94 itu saya 24:38 sudah bicara tentang em bagaimana 24:41 mengantisipasi 24:43 em jalan raya yang okupansi rate-nya 24:46 gitu ya. 24:47 Okupansi okupansi traffic-nya. 24:50 Itu makin tinggi. Jadi beban traffic-nya 24:52 itu makin tinggi posisinya. 24:55 Itu tahun 94 itu. 24:57 Waktu itu Tutut Tutut 25:00 bicara dengan orientasi Inggris sehingga 25:02 double track Jakarta-Bandung dia 25:04 menggunakan Inggris, saya enggak. 25:06 Posisi saya menggunakan Skoda. 25:08 Apa yang saya mau bilang? Itu soal 25:10 bagaimana sesungguhnya kita melihat ke 25:11 depan. 25:12 He em, he em. 25:13 Ini loh kalau jalan raya kayak gini, 25:14 kemampuan kita membangun jalan raya 25:16 lebih rendah dari pertumbuhan industri 25:18 otomotif, maka mestinya ada kebijakan 25:20 imbangan gitu ya. Kebetulan MRT sudah 25:22 dirancang duluan sebelum Anies gitu. 25:24 Jadi ke tolong Jakarta sedikit ketolong. 25:27 Tapi tahu ternyata tetap saja 25:28 diberlakukan ganjil genap. Kenapa? 25:30 Karena pertumbuhan jumlah kendaraannya 25:32 itu melampaui dari kemampuan mengatasi 25:35 eh transportasi publik. 25:38 Angga. 25:39 He em, he em. 25:40 Kalau sebuah negara punya problematik 25:42 pada transportasi publik, 25:44 maka sesungguhnya dia punya problematik 25:46 pada yang disebut dengan perencanaan 25:47 pembangunan. 25:49 Ketika kita bicara perencanaan 25:50 pembangunan bermasalah, maka kata 25:52 kuncinya adalah dia punya problematik 25:54 apa yang disebut dengan pada tata ruang. 25:56 He em. 25:57 Maka bisa kita lihat untuk kawasan 25:59 Jakarta. 26:00 Eh Anda mungkin akan terkejut ketika 26:02 Sabtu-Minggu itu eh kawasan Bekasi, 26:04 Cibubur itu macetnya luar biasa. 26:07 Sangat. 26:08 Dan itu dan itu sudah berjalan 26:10 bertahun-tahun gitu posisinya. 26:12 He em, he em. 26:12 Jadi kalau kita ambil Kota Madya Bekasi, 26:14 kita ambil yang namanya Cibubur, kita 26:16 ambil yang namanya Depok gitu posisinya, 26:18 kita ambil Tangerang Selatan, kita ambil 26:20 Tangerang, kita ambil yang namanya 26:21 Karawaci, kita ambil yang namanya Binong 26:23 semuanya. 26:24 He em. 26:25 itu. Itu macetnya luar biasa. Itu ada 26:27 problematik tata ruang. 26:28 He em. 26:29 Betapa tata ruang yang dikembangkan luar 26:31 biasa tidak diikuti oleh namanya 26:34 ketersediaan accessibility masyarakat 26:36 secara baik. Apa itu eh public 26:38 accessibility? Access public access 26:40 public. Ya jalan raya. Bukan jalan 26:42 berbayar. 26:44 Ini di diatasi dengan jalan berbayar. Ya 26:46 berarti ada bisnis dong. 26:48 He em, he em. 26:48 Gitu loh. Maka Anda bisa Anda lihat 26:50 semua yang namanya pembangunan properti 26:52 berbondong-bondong mendekati jalan tol, 26:53 jalan berbayar. Berarti ada satu pihak 26:56 dari satu sisi ada peningkatan biaya. 26:58 Berarti ada pihak yang menikmati 26:59 keuntungan, gitu logikanya. Ya tadi para 27:02 pemodal ketemu tesis saya di SDG itu. 27:05 Jadi saya pernah bicara tentang SDG itu 27:08 basis berpikirnya cuma satu. 27:11 Bahwa kesinambungan perekonomian dunia 27:13 itu bisa terjadi disebabkan oleh 27:15 meningkatnya tabungan global dan 27:18 meningkatnya investasi global. Saya 27:19 punya pertanyaan. 27:20 Kalau gitu siapa sesungguhnya yang 27:22 meningkatkan tabungan global? 27:24 Ya orang kaya. Ya berarti SDG itu dalam 27:27 rangka mempertahankan eksistensi orang 27:28 kaya, saya bilang. 27:30 Itu YouTube langsung ban tuh, langsung 27:32 enggak boleh tayang lagi. 27:35 Nah, balik lagi ke persoalan tadi. Jadi 27:38 sebuah kebijakan pembangunan sangat 27:39 ditentukan oleh tata ruang. Dan saya 27:41 ingat betul ketika saya di kementerian 27:44 gitu, di satu kementerian kalau saya 27:46 sebut apa gitu. Ribut-ribut tata ruang. 27:48 Saya berhadapan dengan Bappenas dengan 27:50 Menko Perekonomian. Tapi kemudian kandas 27:52 di Setneg karena dua kementerian itu 27:55 melakukan 27:57 penelikungan gitu ya, sehingga 27:58 rumusan-rumusan yang kita sepakati 28:00 kembali lagi sesuai dengan kemauan 28:01 mereka. Itu pertarungan politik itu. 28:04 Itu pertarungan politik tata ruang. 28:07 Kenapa? Karena tata ruang itu pasti 28:09 dipengaruhi oleh kepentingan swasta. 28:11 Apa artinya? Swasta tidak pernah 28:13 berhenti berjuang mengambil yang namanya 28:16 ruang hajat hidup orang banyak. Swasta 28:18 tidak akan pernah berhenti mengambil 28:20 ruang pelayanan publik. Public goods dia 28:22 ambil, public services dia ambil. Salah 28:25 satu wujud public services diambil itu 28:26 di tata ruang. Salah satu wujud yang 28:28 namanya public services itu diambil 28:30 adalah jalan berbayar. 28:32 Gitu loh. 28:33 Gitu lihatnya. Jadi tidak tidak sekedar 28:36 bicara tentang anggaran yang sudah 28:37 berorientasi pada 28:39 kemasyarakatan, alokasinya sudah 28:41 ditujukan kemasyarakatan. Terus kemudian 28:43 juga mereka bicara tentang 28:45 katakan 28:47 perencanaannya sudah baik. No, kita 28:48 lihat dulu secara menyeluruh. Jadi, ada 28:50 pendekatan eh pendekatan menyeluruh gitu 28:53 ya, apa yang disebut dengan pendekatan 28:54 komprehensif dan integratif. Dimulai 28:56 dengan perencanaan tata ruang sampai 28:58 akhirnya kita tahu bahwa memang 28:59 output-nya, outcome-nya gitu posisinya. 29:02 Sampai dengan terakhir multiplier 29:03 effect-nya, itu memang 29:06 me-leverage eh pendapatan masyarakat, 29:08 me-leverage pelayanan publik yang makin 29:10 baik. Dua kata kunci itu me-leverage 29:13 kesejahteraan masyarakat, me-leverage eh 29:15 pelayanan publik. Itu enggak bisa diukur 29:17 dengan ease to doing business yang 29:19 mereka bangga-banggakan itu gitu loh. 29:21 Itu makanya saya memprotes IDB, ease to 29:23 doing business yang sekarang sedang 29:25 disebutkan oleh eh IMF dan Bank Dunia 29:27 karena menyangkut soal Kristalina 29:29 Georgieva tadi gitu loh. 29:31 Apalagi nih, apalagi ya Bang Ichsan 29:33 Nursy ya. 29:34 Iya. 29:34 Seluruh proyek-proyek infrastruktur ini, 29:37 apakah memang yang salah pemain di 29:39 negeri ininya atau memang pemain 29:41 asingnya yang lebih canggih gitu ya 29:43 sampai sampai ya kita kan terlibat ya 29:46 yang sampai nyewa apa sebut itu BCG lah 29:49 ya, Boston Consulting Group. Yang di 29:52 proyek kereta cepat aja, fee-nya luar 29:55 biasa itu Bang Ichsanudin. Jadi, bukan 29:57 hanya asing itu terfokus ke Tirai Bambu 29:59 ya. Sebenarnya banyak juga pihak-pihak 30:01 asing ini yang ingin mengeruk gitu kan. 30:04 Ya, itu tadi karena tadi eh 30:07 eh jadi tadi ya, saya pernah cerita 30:09 tentang bagaimana saya tidak setuju 30:11 program pinjaman bank luar Bank Dunia 30:14 pada pintar. Pintar itu project eh tax 30:17 eh reform gitu ya posisinya. 30:19 Perbaikan penerimaan perpajakan. 30:22 Apalagi yang namanya pada proyek-proyek 30:23 yang sifatnya fisik gitu. 30:25 Apa anak-anak Indonesia, saya bilang 30:27 anak-anak Indonesia tepatnya kalau pakai 30:29 pengalangan. Apa yang memang putra-putra 30:31 Indonesia itu tidak mampu? Saya ingat 30:33 betul bagaimana pembangunan eh jalan tol 30:35 Jagorawi gitu ya. Itu pekerjaannya 30:37 anak-anak ITB loh. 30:40 Pekerjaannya anak ITB itu sampai tingkat 30:42 bagus, kerataannya bagus gitu ya. Kan 30:44 jalan tol terbaik di Indonesia adalah 30:46 Jagorawi. Anda setuju atau tidak setuju? 30:48 Tingkat kerataannya bagus gitu ya, eh 30:50 kepadatannya bagus gitu posisinya. Itu 30:53 yang kerja walaupun memang di 30:54 konsultansi atau diawasi oleh pihak 30:56 asing karena posisinya memang pertama 30:58 pinjam. 30:59 Tapi kalau Anda kemudian melihat 31:01 jalan-jalan yang lain kan waduh tingkat 31:03 kerataannya tidak terlampau baik, 31:04 tingkat kepadatannya jelek gitu. 31:07 Ah, nah hal-hal begitu menunjukkan 31:11 secara sistematik 31:13 dengan merujukkan pada kebebasan 31:15 berinvestasi 31:17 kebebasan perekonomian sesungguhnya 31:19 Indonesia mengidap lima I yang saya 31:21 bilang. Ada inflasi, ada intervensi, ada 31:25 infiltrasi 31:27 gitu. Lalu Anda ditakut-takuti kalau 31:28 Anda enggak begini nanti akan Anda 31:30 indeks persaingannya turun. Kalau Anda 31:32 tidak begini ya maka Anda is doing 31:34 business-nya jelek. Itu Anda tidak akan 31:36 menjadi tujuan investasi maka tidak akan 31:38 terjadi pertumbuhan. Faktanya Anda punya 31:40 target 7% tetap aja 4% enggak bisa bikin 31:42 apa-apa. Dan pada posisi 5% tax rasionya 31:45 tidak membaik tuh. 31:46 Pada posisi pertumbuhan 5% yang namanya 31:48 neraca pembayaran tidak baik, 31:50 keseimbangan primer juga negatif gitu 31:51 loh. 31:53 Artinya sesungguhnya kita punya 31:54 problematik dari mulai orientasinya, 31:57 orientasi itu menentukan 31:59 orientasi berpikir ya. Itu menentukan 32:01 bagaimana perencanaan, perencanaan 32:02 menentukan bagaimana yang namanya 32:04 anggaran APBN, anggaran menentukan 32:06 bagaimana alokasi, alokasi itu terus 32:08 bagaimana pelaksanaan, bagaimana 32:09 pengawasan, bagaimana output-nya. 32:11 Jadilah seperti sekarang gitu posisinya. 32:13 Nah, eh 32:15 konsultan kayak gitu bukan cuma sekedar 32:16 Boston Consulting Group yang kayak gitu. 32:19 Bukan hanya itu. 32:19 satu konsultan yang sudah demikian lama 32:21 bercokol di sebuah BUMN gitu. 32:24 Lama-lama lama ini lama ini dari zaman 32:27 dulu nih. 32:28 Iya, bahkan dulu ketika di saya di DPR 32:31 saya menemukan satu konsultan yang 32:32 berkantor di satu kementerian. 32:34 Setelah reformasi ada satu konsultan 32:36 yang berkantor di kantor DPR dan saya 32:38 protes pada pada ketua DPR dan pada 32:40 ketua komisi. 32:42 Dan mereka fine-fine saja itu tidak 32:43 merasa terganggu dengan adanya konsultan 32:45 dan LSM asing di kantor di kantor DPR. 32:48 Itu saya protes pada ketua komisi dan 32:49 pada ketua DPR dalam sebuah 32:51 diskusi terbuka. Saya ingat betul itu. 32:53 Masalah kedaulatan ya. Waduh. 32:55 Betul-betul saya ingat. Dan mereka 32:56 merasa nyaman dengan itu. Sementara saya 32:58 dulu gitu ya. 32:59 Maaf ya, maaf. Ketika saya munculkan 33:01 kayak gitu, langsung saya gempur 33:03 posisinya. Anda tahu enggak ketika 33:04 sebuah undang-undang direkayasa oleh 33:06 asing, itu saya mendapatkan bukti 33:08 langsung loh. Karena dia duduk di 33:09 sebelah saya. Itu di era reformasi loh, 33:11 Angga. 33:11 Kok bisa duduk sebelah? 33:12 reformasi. Jadi sebuah pembahasan 33:14 undang-undang yang dibiayai oleh asing 33:16 itu posisinya ya. 33:17 Itu asingnya ngawasi dari atas. 33:22 Saya duduk di sebelahnya karena saya 33:23 sedang mengawasi bagaimana anggota dewan 33:26 itu melakukan pembahasan gitu. Jadi dia 33:28 lantai dua kan kita kan. 33:30 Dan saya resmi dengan surat bahwa saya 33:31 mengikuti pembahasan 33:33 undang-undang dari mulai RUU diajukan 33:36 sampai dengan akhirnya paripurna. 33:37 Paripurna kan ECS ya posisinya. 33:40 Itu saya ikuti dan saya selalu ketemu 33:42 orang asing di atas itu. Saya tanya dari 33:43 mana? Dia sebut dia dari mana. Wah, 33:46 subhanallah. 33:49 La haula wala quwwata illa billah. 33:50 Sampai di situ. Gitu. 33:53 Itulah kenyataan yang kita hadapi, 33:55 Angga. Makanya saya saya ngambil tesis 33:56 tadi. Misalnya dapat dokumen bahwa 33:59 investasi asing itu 5i, saya dapat 34:01 kenyataan di lapangan juga kayak gitu 34:02 gitu. 34:03 Gitu juga ya. 34:04 Bahkan dalam perdebatan soal amandemen 34:06 Undang-Undang Dasar 45, Kota Libatan 34:08 Asing demikian kental gitu. 34:11 Apakah praktiknya Bang Iskanudin sampai 34:13 ke praktiknya sampai ke gitu ya ketika 34:15 pemerintah itu membangun infrastruktur 34:18 dengan biaya yang membengkak 34:21 akhirnya harus dijual dengan harga yang 34:23 murah. 34:26 Eee 34:27 kesulitan fiskal kan sebenarnya dengan 34:30 tax amnesty 34:31 eee dua, terus rendahnya 34:34 ee, tax ratio dan tudingan 34:37 ee, G7, tudingan OECD bahwa ee, 34:41 Indonesia adalah negara paling rendah 34:43 tax ratio-nya di kawasan Asia Pasifik. 34:45 Heem. 34:45 Maka sesungguhnya Indonesia seperti yang 34:46 saya bilang berkali-kali di Rashid 34:48 mengalami krisis fiskal. 34:49 Heem. 34:51 Jadi dalam, kalau pakai bahasa 34:53 teman-teman itu, ee, kita akan mengalami 34:55 krisis APBN gitu ya. Saya enggaklah, 34:57 saya cuma bilang krisis fiskal. Kalau 34:58 krisis fiskal itu artinya nya krisis 35:00 penerimaan gitu. 35:01 Heem, heem. 35:02 Ee, kalau krisis penerimaan sesungguhnya 35:04 cuma tinggal apakah Anda mau berbagi 35:05 sama masyarakat apa enggak. Sepanjang 35:08 Anda melakukan konsentrasi kekuasaan, 35:10 konsentrasi ekonomi pada kelompok 35:11 tertentu, masyarakat enggak mau berbagi. 35:13 Heem. 35:13 Anda bisa lihat kok bagaimana cara 35:15 tertutupnya masyarakat berbagi. Itu 35:17 bukti bahwa sesungguhnya masyarakat 35:19 mengambil jarak dengan kekuasaan. Itu 35:21 indikator di pajak. Ee, saya bilang saja 35:23 tax ratio itu menga, menggambarkan ee, 35:26 karena ada kajiannya di Harvard. Ini 35:28 menjadi kurujukan saya dengan dengan 35:30 baik ya. Why people don't trust the 35:31 government. Itu kajiannya di Harvard 35:33 itu. Untuk menunjuk bahwa sesungguhnya 35:35 masyarakat enggak percaya pada 35:36 pemerintah gitu posisinya. Nah, kalau 35:38 sampai alokasi anggaran di, ee, di BUMN, 35:43 bahkan dengan PMP, dengan penyertaan 35:44 modal pemerintah membangun infrastruktur 35:47 demikian mahalnya, over pricing 35:49 istilahnya. Kalau pakai bahasa, bahasa 35:51 itunya, mark up, digelembungkan 35:54 posisinya gitu ya. 35:55 Heem. 35:55 Digelembungkan sedemikian rupa. Lalu 35:57 setelah digelembungkan dijual murah. Itu 35:59 karena sekali lagi karena tekanan 36:00 fiskal. 36:01 Heem. 36:03 Pada posisi mark up, Anda mendapat 36:05 tekanan dari kelompok partai politik. 36:07 Masa, misalnya begitu gitu. 36:09 Karena ee, kalau ee, istilah, istilah 36:11 yang muncul 36:12 sementara kan kita kesulitan nih 36:14 mendapatkan data bagaimana sesungguhnya 36:16 real price-nya. Ee, saya misalnya sekali 36:19 lagi ee, ber, heran bertanya-tanya 36:21 kenapa sih mesti tergopoh-gopoh bangun 36:23 jalan tol gitu. 36:24 Kenapa kita enggak rencana, rancang 36:26 dengan matang, ee, memberdayakan 36:28 masyarakat tadi dengan kereta api dengan 36:30 posisinya kayak gitu-gitu ya. 36:31 Heeh. 36:32 Masyarakat terlibat dalam bentuk 36:33 kepemilikan saham karena tanahnya 36:35 dibebaskan. Tidak di tidak di hargai 36:38 dengan posisi undang-undang pertanahan 36:40 dengan posisi yang kayak gitu-gitu ya. 36:42 Heeh. 36:42 Itu kan akan menunjukkan keterlibatan 36:44 masyarakat secara utuh. 36:45 Heeh. 36:46 Itu yang saya sebut di di Kalimantan 36:49 Timur sampai akhirnya beberapa 36:52 Ya enggak usah saya sebut ya. 36:54 Iya. 36:54 Tata ruang provinsinya tidak cocok 36:56 dengan tata ruang kabupatennya sehingga 36:58 sejumlah bupatinya bermasalah dan hingga 37:00 hari ini jalan tolnya tidak selesai tuh 37:02 posisinya. Nah. Kalau sudah sampai pada 37:04 posisi terjadi pembengkakan maaf 37:07 posisinya atau over pricing istilah saya 37:09 kemahalan gitu posisinya. 37:10 Heeh. 37:10 Lalu dijual dengan dengan fire sale. 37:14 Lagi-lagi itu bukan cuma sekedar pada 37:16 kesalahan perencanaan, itu kesalahan 37:18 pelaksanaan gitu. 37:21 Berarti ada problem sistem gitu kalau 37:24 bahasa sederhana. 37:25 Problem sistem ini berkaitan dengan 37:27 perilaku. 37:28 Nah. 37:28 Dengan dengan aktor. Jadi ada dua 37:31 masalah, dan masalahnya masalah utama 37:32 semua. Apa itu? Sistem dan aktornya. 37:35 Sistem dan aktornya. 37:36 Nah tapi masyarakat tidak bisa bikin 37:37 apa-apa karena sistemnya memang memberi 37:39 ruang bahwa partai politik adalah 37:41 satu-satunya pemegang saham dari 37:44 pemilu sampai dengan penyelenggaraan 37:45 pemerintahan. 37:47 Heeh. 37:48 Satu-satunya pemegang saham cuma 37:51 Heeh. 37:51 Partai politik. 37:52 Dan yang mereka berikan 37:53 apa? Masyarakat cuma punya satu. 37:55 Menyerahkan kedaulatannya dalam posisi 37:57 pemilu lalu kemudian apa keduanya? 38:00 Heeh. 38:01 Membayar pajak. Ya sudah berarti 38:02 masyarakat korban gitu. 38:05 Dan mereka hanya melakukan 38:07 istilahnya tuh ya lip service gitu ya. 38:11 Muka yang manis gitu ya. Apalagi di 38:14 era-era pemilu apalagi di tadi untuk 38:17 penyaluran tadi. Masyarakat tuh hanya 38:18 digunakan untuk itu. 38:20 Tapi 38:21 Iya jadi kalau dari teori dari teori 38:25 politik gitu ya 38:26 He em. 38:26 saya ngambil ilmu politiknya sekarang. 38:28 He em. 38:29 Dari ilmu politik itu eh apa yang 38:31 disebut dengan 38:33 eh manipulasi aspirasi. 38:36 He em. 38:36 Enggak enak ngomongnya nih. 38:38 Karena eh manipulasi aspirasi masyarakat 38:40 itu dimanipulasi. 38:41 He em. 38:42 Diterima seolah-olah gitu ya, tapi 38:44 kemudian dikotak-katik gitu. 38:45 He em. 38:46 Real-nya aspirasi masyarakat yang real 38:48 yang bisa diadopsi diadaptasi cuma 10, 38:50 90 kepentingan mereka. Itu manipulasi 38:52 namanya. 38:53 He em. 38:53 Atau manipulasi itu bisa jalan. Iya, 38:55 masyarakat butuh jalan, jalan raya gitu. 38:58 He em. 38:58 Ya deh, dibikinnya jalan tol gitu. 39:00 He em. 39:00 Iya, masyarakat butuh jembatan, tapi 39:02 jembatannya berbayar. Itu manipulasi. 39:04 He em. 39:06 Itu itu salah satu bentuk aspirasi yang 39:08 dimanipulasi. 39:09 Lalu ada ada yang kedua, aspirasi 39:12 disimpangkan. Masyarakat enggak butuh 39:14 pembangunan kota baru, masyarakat butuh 39:16 pada bangun kota baru, bangun double 39:17 track kereta api misalnya. 39:18 He em. 39:19 Itu itu posisinya disimpangkan karena 39:21 tidak ada kebutuhan untuk membangun ibu 39:23 ibu kota baru misalnya. Contohnya 39:24 misalnya gitu-gitu. Kalau enggak begitu, 39:26 apalagi studi studi keamanannya kayak 39:28 gitu gitu. 39:29 He em. 39:29 Studi tentang keamanan dan ketahanannya 39:31 kayak gitu. Jadi kalau ada dua itu kan 39:34 bukan cuma sekedar studi perekonomian, 39:35 bukan cuma sekedar studi lingkungan, 39:37 bukan cuma sekedar studi tata ruang, eh 39:40 tata ruang darat, tata ruang laut, tata 39:42 ruang udara, tapi juga soal keamanan, 39:44 ketahanan dan seterusnya bahkan sampai 39:45 studi tentang 39:46 eh bagaimana ke depannya kayak apa. 39:48 Baik. 39:49 Nah, itu yang kedua posisinya. Yang 39:50 ketiga 39:51 eh aspirasinya normatif. 39:53 He em. 39:54 Ya, eh normalnya cuma segitu, tapi 39:56 enggak bikin lebih gitu. Cuma ya segitu. 39:59 Ya, normal aja sesuai dengan normal aja. 40:01 Normalnya berapa? Oh, mereka bangun 40:03 jalan, ya udah lah bangunin jalan 40:04 sekedarnya. 40:05 Sekedarnya. 40:05 Lalu berikutnya, mereka butuh apa? Butuh 40:08 eh beras dengan harga 8.000 per kilogram 40:10 misalnya. 40:11 He em. 40:11 Disediakan aja beras bukan beras yang 40:13 8.000 kilogram karena 40:14 yang bagus yang premium harganya bisa 40:16 12,5 12.500. 40:19 Itu posisi yang nominal yang normal. Ada 40:22 juga yang nominal. 40:24 Nominal ya sesuai saja dengan angka 40:26 posisi. 40:27 Berarti dengan itu bagaimana ya? 40:29 ada lah. 40:30 Yang terakhir yang paling enggak enak 40:31 semantik. 40:32 Semantik. 40:34 Aspirasinya disemantikan gitu. 40:36 Filosofinya benar gitu. 40:39 Ya, lalu kemudian bahasanya benar. 40:43 Tapi tindakannya enggak benar. 40:45 Sekedar filosofi saja. 40:46 Itu tadi yang Anda bilang wajah manis, 40:49 wajah benes gitu. Itu dalam bahasa 40:51 bahasa bahasa politik bahasa kajian 40:54 ekonomi politiknya semantik gitu. 40:56 Baik Bang Ihsan Nursyid kita ini 40:58 dibatasi waktu nih terakhir ya. 41:00 Ya. 41:01 Sebenarnya menuju menuju tadi yang Bang 41:04 Ihsan sebut nih kedaulatan ekonomi 41:05 bangsa kalau dilihat dari sistem sama 41:07 pelaku ekonomi sekarang harusnya 41:11 bagaimana sih? 41:13 Karena Anda bicara seharusnya berarti 41:14 kita bicara tentang konstitusional ya. 41:18 Nah kalau kita bicara konstitusional itu 41:19 saya bicara ekonomi konstitusi. 41:21 Nah kalau saya bicara ke ekonomi 41:22 konstitusi basisnya itu adalah pasal 33 41:25 ayat 1, 2 dan 3 dilaksanakan dengan 41:28 pasal 23, pasal 27, pasal 28, pasal 31, 41:32 pasal 32, pasal 34 yang basisnya adalah 41:35 gitu ya negara berdasarkan ketuhanan 41:38 yang maha esa yang payungnya adalah kata 41:39 pembukaan yang pilar-pilarnya ini dia 41:41 kata kuncinya. 41:42 Semangat para penyelenggara negara. 41:45 Ketika pasal 33 nya disingkirkan dengan 41:47 ayat 4, ketika pasal 23 nya bersifat 41:50 tadi seperti penjelasan kita dari awal 41:51 sampai dengan akhir gitu. 41:53 Lalu pasal 27 nya bukan tiap-tiap warga 41:56 negara berhak atas pekerjaan tapi 41:58 tiap-tiap penduduk artinya orang asing 42:00 yang dapat pekerjaan. 42:01 Maka tidak akan beres dengan pasal 31 42:03 nya soal pendidikan. 42:05 Apalagi pendidikannya filosofinya 42:06 dicabut norma-norma etikanya, 42:08 norma-norma moralnya enggak jelas kemana 42:10 arahnya gitu sisi. 42:11 Maka tidak ketemu juga dengan pasal 32, 42:14 bagaimana bahasa itu harus berbaik itu 42:16 posisinya dan tidak ketemu dengan pasal 42:18 34. 42:20 Bahwa fakir miskin dan anak terlantar 42:21 dipelihara negara tidak ber- berbasis 42:23 pada hitung-hitungan swasta tapi 42:24 betul-betul dipelihara oleh negara. 42:25 He 42:26 Dengan begitu berarti tidak berbasis 42:27 pada Ketuhanan Yang Maha Esa, pasal 29 42:30 ini enggak dapat. 42:30 He 42:31 Berarti tidak ketemu dengan kata 42:32 pembukaan, maka hilanglah peran kata 42:35 pembukaan. 42:36 Bahwa sesungguhnya ekonomi konstitusi 42:37 itu memerintahkan agar bangsa ini 42:40 terbebas dari ketertindasan. 42:42 Ketertindasan. 42:42 Bahwa bangsa ini mesti bebas dari yang 42:44 namanya kebodohan, bahwa bangsa ini 42:45 mesti bebas dari kemiskinan. 42:47 He 42:48 Bahwa bangsa ini mesti bebas dari 42:49 ketimpangan. Yang paling akhir yang 42:51 paling penting. 42:52 Bangsa ini mesti bebas dari kehinaan. 42:54 Kenapa? Itu tadi karena ekonomi 42:55 konstitusinya tidak dijalankan dengan 42:57 sebaik-baiknya gitu. 42:59 Itu prinsip ekonomi konstitusi yang saya 43:00 bangun yang kemarin BPIP 43:02 menyelenggarakannya dengan sebutan 43:04 ekonomi Pancasila tapi mereka tidak 43:06 punya basis teoretikal yang kuat gitu 43:08 posisinya. 43:09 Nah, saya basis teo- 43:10 He 43:10 nya kan jelas, bagaimana modal sosial 43:12 sama dengan modal finansial. 43:13 He 43:13 Yang modal sosial finansial itu bukan 43:15 sekedar sama dengan tapi dia statusnya 43:16 adalah sinergi. 43:18 Sinergi. 43:18 bisa sinergi itu disebabkan oleh 43:19 dukungan, 43:21 He 43:21 dorongan, berkat rahmat Allah Yang Maha 43:24 Kuasa. 43:25 He 43:25 Dan didorong oleh keinginan luhur. Jadi 43:28 bukan keinginan kelompok, 43:29 He 43:29 bukan keinginan oligarki, bukan 43:31 keinginan pebisnis tapi ke- 43:33 keinginan luhur. Nah, keinginan luhur 43:35 artinya para penyelenggara negara harus 43:37 bebas dari kepentingan pribadi, 43:38 He 43:39 harus bebas dari kepentingan kelompok. 43:40 Ini kan enggak ada bisa lihat mereka 43:42 berbondong-bondong me- menegakkan, 43:44 menjalankan kepentingan segelintir 43:45 orang. 43:46 He 43:46 Gitu ceritanya. Jadi ada problematik 43:49 mendasar memang. Itu yang mau saya 43:50 bilang tadi, eh jangan-jangan kita 43:52 memang sudah masuk dalam posisi krisis 43:54 krisis kehidupan berbangsa bernegara 43:56 kalau kayak gini gitu. 43:57 iya. 43:57 Gitu kan. Nah, kalau sudah sampai di 43:59 situ, ya mestinya kita mawas diri, kita 44:02 eh mawas diri, kita bisa introspeksi 44:04 diri, eh kita berkontribusi pada 44:06 kesalahan atau kita bagian dari 44:08 persoalan gitu posisinya, 44:10 atau kita justru bagian dari pemecah 44:12 masalah gitu. Istilah saya ada tiga, 44:14 kita bagian dari persoalan, atau kita 44:16 menambah persoalan, atau kita kemudian 44:19 berupaya untuk menyelesaikan masalah. 44:21 Bagian dari solusi. 44:21 Dalam Islam karena kita diminta untuk 44:23 menjadi umat yang terbaik, kita diminta 44:25 menjadi khoirul bariyah, pribadi-pribadi 44:27 yang baik posisinya gitu ya. 44:29 Kita diminta menjadi umat yang terbaik, 44:31 kuntum khoirul ummat posisi, dan kita 44:33 diminta untuk menjadi pribadi yang 44:35 bermanfaat gitu, khoirun nas anfa'uhum 44:37 linnas. 44:38 Maka kita tidak boleh menjadi bagian 44:39 dari masalah, walaupun kita dituding 44:41 sebagai intoleran, kita dituding sebagai 44:43 radikal, kita dituding, tapi kita bisa 44:45 menunjukkan bahwa kita bukan, kita bukan 44:47 intoleran, kita bukan radikal, kita 44:49 justru bermaksud untuk menegakkan 44:51 setegak-tegaknya konstitusi 44:52 undang-undang 45 itu, yang diperintahkan 44:55 oleh pendiri republik, bahkan 44:56 diperintahkan oleh namanya Bung Karno, 44:58 walaupun Bung Karno di tengah jalannya 44:59 terakhirnya setelah itu banyak berubah 45:00 gitu. 45:01 Iya iya. 45:01 Tapi minimal gagasan-gagasan awal Bung 45:03 Karno itu bisa kita terima, ketika dia 45:05 bicara sosial, sosialis, religius 45:08 posisinya gitu, bagaimana nasionalis, 45:10 sosialis, religius itu bekerja. Kalau 45:12 itu kita ambil dalam kerangka berpikir 45:13 menegakkan harkat martabat bangsa, maka 45:15 sesungguhnya bangsa ini tidak akan 45:17 seperti ini gitu. 45:18 Iya. 45:18 Itu yang terus terang saya 45:21 dalam posisi kerisauan yang amat sangat 45:23 mendalam karena ketidakjelasan posisi 45:24 hari ini dan berarti ketidakjelasan 45:26 posisi ke depan. 45:27 Baik, baik. 45:28 Orang baru ribut misalnya tentang 45:29 bagaimana sengketa Taiwan, saya sudah 45:30 ngomong 2000, 2019, 45:34 saya sudah ngomong posisi 45:36 bagaimana Laut Cina Selatan itu saya 45:37 sudah ngomong dengan seorang yang 45:39 sekarang tidak lagi jadi menteri gitu 45:40 ya, dan dia kemudian di era Jakarta 45:42 pertama Jokowi ini sudah saya, sudah 45:43 saya sebut ini lho Laut Cina Selatan 45:45 akan kayak gini. 45:46 Baik baik. 45:47 Yang jadi masalah sesungguhnya berarti 45:49 bukan cuma sekedar aktornya yang punya, 45:52 punya orientasi enggak benar. 45:54 Jangan-jangan juga wawasannya. 45:58 Demikian Angga, 46:00 saya minta maaf kalau saya salah. 46:01 Itu yang terakhir pengen banget bahas 46:03 tuh minggu depan wawasan itu. 46:05 Bagaimana literasi itu menentukan nasib 46:07 bangsa. 46:08 Betul sekali, ketika Anda bicara 46:09 literasi, 46:11 saya ingat betul saya menjelaskan Iqra 46:12 itu sampai 2-3 jam. 46:13 Insya Allah pekan depan, insya Allah 46:14 pekan depan. 46:15 Insya Allah, amin, amin, amin. 46:16 Terima kasih, Bang Isanuddin, ya. 46:18 kalau saya minta maaf kalau saya salah 46:19 pada pada pendengar Radio, pada pemirsa 46:21 Radio Al Hijrah TV, gitu ya. Sambil 46:23 memohon maaf dari Allah. 46:25 Iya. 46:26 Kalau benar memang karena kehendak 46:27 Allah, karena memang kita wajib berjalan 46:29 di di siratal mustaqim posisinya, gitu 46:32 ya. Supaya kita bisa berbagi dalam 46:34 kebaikan, gitu. Tujuan kita sekali lagi 46:35 kita berbagi kebaikan. 46:37 Insya Allah. 46:37 Karena memang Islam mengajarkan yang 46:38 kebaikan. 46:39 Insya Allah. 46:40 Islam kontribusinya kebaikan, jadi 46:41 sesuai dengan dengan sesuai dengan bulan 46:44 Rabiul Awal ini kehadiran Rasulullah 46:46 dalam rangka rahmatan lil alamin, dalam 46:48 rangka uswatun hasanah, maka 46:49 sesungguhnya pembicara kita adalah 46:50 pembicaraan kebaikan, bukan pembicaraan 46:52 keburukan. 46:53 Insya Allah. 46:53 Demikian, Angga. 46:54 Semoga selalu sehat, ya, Bang Isanuddin, 46:56 ya. 46:57 Ya. 46:57 Assalamualaikum. 46:59 Waalaikumsalam warahmatullahi 47:00 wabarakatuh.