Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:05 [musik] 0:15 [musik] 0:21 Bismillahirrahmanirrahim. 0:23 Asalamualaikum warahmatullahi 0:24 wabarakatuh. Ikhwan akhwat 0:26 rahimakumullah. bersyukur sekali kita 0:29 bisa bersama-sama di acara Bincang 0:32 komunikasi yang hadir sebulan sekali ya 0:34 di setiap minggu pertama bersama Dr. 0:37 Laila Monaganim. Mudah-mudahan bahasan 0:40 hari ini akan sangat mempersuasi kita 0:44 apalagi yang sudah senjak usia nih atau 0:47 bisa juga ee yang serumah dengan yang 0:50 senja usia. Tidak lupa salam selawat 0:52 kita lantunkan untuk junjungan umat 0:55 kekasih kita Muhammad Rasulullah 0:57 sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak 1:00 kita mendapatkan syafaat beliau dan 1:02 dipertemukan dengan beliau di saat yang 1:04 sangat kita rindukan di yaumil akhir. 1:07 Ikhwan akhwat, Mbak Mono sudah hadir di 1:09 sini. Kita sapa beliau. Asalamualaikum 1:12 warahmatullahi wabarakatuh. 1:13 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:14 wabarakatuh. 1:15 Sehat, bugar, aman. 1:17 Alhamdulillah. 1:17 Sudah lama enggak ketemu ya. 1:20 Jadi tadi waktu di off air bicara soal 1:23 usia yang senja dan komunikasi ee 1:27 persisnya seperti apa nih? 1:28 Ya, kita mau bahas komunikasi oke saat 1:33 pensiun. Kan kita hidup bersama dengan 1:36 berbagai generasi ya, Makuneng. 1:38 Iya. dengan orang yang mungkin ee 1:42 kitanya yang sudah pensiun atau keluarga 1:46 kita yang sudah pensiun, pasangan atau 1:49 orang tua dan lain sebagainya. 1:51 Iya. Jadi memang pensiun itu sebuah fase 1:54 kehidupan ya ikhwan akhwat yang menandai 1:58 babak kita beranjak dari yang tadinya 2:00 sibuk banget kemudian menjadi kurang 2:03 sibuk meskipun mungkin juga masih ada 2:05 kesibukan yang lain dan kesudahan dengan 2:10 aktivitas kerja kita sebelum pensiun 2:12 tentu beda banget. Nah, seperti apakah 2:15 gerangan yang harus kita jaga pelihara 2:17 terkait dengan komunikasi kita? Yuk, 2:20 kita simak dengan telinga jiwa kita. 2:22 Silakan, Mbak Mona. 2:23 Terima kasih Wan Akhwat yang dirahmati 2:25 Allah. Asalamualaikum warahmatullahi 2:27 wabarakatuh. 2:29 Ee kita ketemu lagi ngebahas tentang 2:32 komunikasi ya. Ee 2:36 saat ini kita bahas tentang pensiun. 2:39 Pensiun itu transisi besar 2:42 di dalam kehidupan kita ya. peralihan 2:45 dari kehidupan kerja yang cenderung 2:49 sangat aktif ee dan ee berubah dari ee 2:56 kewajiban formal bekerja yang rutin 3:00 begitu ya. dampaknya besar sekali secara 3:03 fisik, emosional, sosial, dan ekonomi. 3:07 Ee coba kita lihat ya bagaimana data ee 3:12 dari 3:13 ee apa namanya kebijakan dari pemerintah 3:18 2015 itu ee orang-orang yang pensiun 3:21 cenderung dalam konteks ini adalah ee 3:24 apa namanya? Orang yang bekerja di 3:26 sektor formal ya. Eh, 2015 itu 56 tahun, 3:33 2019 57 tahun, 2023 3:38 ee 58 tahun, 2025 59 tahun dan 3:44 diprediksi 2002 eh 204565 3:49 tahun. Bayangin makin ee ini ya ada 3:52 perubahan-perubahan. 3:54 Eh, coba kita eh ngobrolin sedikit 3:57 tentang sebuah film yang ngebahas 4:02 tentang ee bagaimana kehidupan seorang 4:05 yang sudah pensiun. Eh, A man called Oto 4:08 ya. 4:08 Wow. 4:09 Ini beberapa tahun lalu filmnya gitu ya. 4:12 Film oleh Tom Hang. Ini menceritakan 4:15 kisah yang sangat menyentuh ee seorang 4:19 lansia yang berjuang menghadapi masa 4:21 pensiun. dia kehilangan 4:24 ee anggota keluarganya dan proses 4:26 adaptasi dalam perubahan hidupnya itu 4:29 digambarkan di dalam ee film tersebut 4:32 gitu ya. Jadi pensiun sebagai titik 4:35 balik dari identitasnya. Dulu Oto itu ee 4:41 ee punya pekerjaan tetap dan dia merasa 4:45 dia punya tujuan, dia punya struktur 4:48 yang jelas, dia punya identitas yang 4:50 jelas gitu ya dalam kesehariannya. waktu 4:52 pensiun 4:54 dia merasa itu hilang gitu ya. Saat 4:57 pensiun itu bukan hanya kehilangan 5:00 pekerjaan, dia juga ee rasa diri yang 5:04 terikat dengan rutinitas dan 5:05 produktivitas itu menjadi semacam krisis 5:10 eksistensi diri gitu ya. 5:14 Aku dulu kerja sekarang aku siapa ya 5:16 gitu. Itu itu yang terjadi ya di dalam 5:18 film tersebut gitu ya. kehilangan dan ee 5:23 ketidak 5:24 siapan dia dalam beradaptasi dengan 5:27 perubahan atau jadi resistance gitu ya. 5:30 Ee kemudian ee pasangannya meninggal, 5:33 istrinya dulu begitu membuat hidupnya 5:35 hangat dan teratur. Jadi kehilangan ee 5:38 pekerjaan dan pasangan hidup dari si Oto 5:42 pemain e utama ini dia menolak adaptasi 5:47 ee secara sosial dan secara emosional 5:50 dan dia nolak teknologi baru. Kemudian 5:54 dia nolak orang-orang yang ada di 5:55 lingkungan rumahnya dan dia berpegang 5:58 teguh pada rutinitas lama yang ee sudah 6:02 mapan di dalam kesehariannya gitu ya. 6:05 Akhirnya dia mulai menyadari, dia mulai 6:07 melakukan perubahan yang membuat dia 6:09 bisa beradaptasi gitu ya. Di film itu e 6:13 ada tetangga-tetangganya dia yang hangat 6:16 dan spontan gitu ya, membuat dia jadi 6:18 mau membuka diri, bantu orang lain, 6:22 menemukan kembali ee hubungan-hubungan 6:25 sosial dengan lingkungannya. Dan ini 6:28 adaptasi ini penting sekali dari ee 6:32 menyendiri, terisolasi gitu ya. Jadi mau 6:35 terlibat sama orang lain dari merasa 6:38 kehilangan. Jadi dia mencari makna-makna 6:42 baru dalam hidupnya gitu. Dari orang 6:45 yang mengontrol dan kaku dia jadi lebih 6:48 fleksibel dan lebih punya empati. Jadi 6:50 adaptasi 6:52 setelah pensiun itu penting sekali dari 6:57 penolakan dan kehilangan arah. Ee 7:01 akhirnya dia mau ketemu-ketemu 7:03 orang-orang baru di lingkungannya atau 7:05 orang-orang yang dia dulu enggak begitu 7:08 perhatikan karena rutinitas dia gitu ya. 7:11 Ee kemudian ee jadi dia mau menyesuaikan 7:13 diri dan akhirnya menerima dan 7:16 berinteraksi kembali sama orang lain. 7:18 Jadi apa kuncinya? komunikasi sebagai 7:22 jembatan dari orang mau beradaptasi ee 7:26 terhadap kehidupan barunya dari dia 7:29 komunikasinya defensif gitu ya, kayaknya 7:31 menutup diri dan lain sebagainya. ee 7:34 bicaranya singkat, sering nolak 7:37 interaksi karena dia punya trauma, 7:40 karena usia dan rasa kehilangannya dia. 7:44 Jadi dia mau membuka diri dan lebih 7:48 empati sama orang. ternyata komunikasi 7:52 antar pribadi ee yang hangat gitu ya dan 7:57 tulus itu bisa menjadi pemulihan jiwa 8:02 dan bisa beradaptasi secara sosial. Jadi 8:06 ee eh contoh dari film yang saya 8:11 sampaikan tadi itu sebenarnya refleksi 8:13 dalam kehidupan nyata kita yang mungkin 8:15 saja karena kita lintas generasi, kita 8:18 hidup bersama saat ini dengan enam 8:19 generasi tradisionalis, Baby Boomers, X, 8:23 Millenial, Gen Alpha. sama-sama dalam 8:26 enam generasi tersebut begitu yang 8:28 beda-beda dan di antaranya ee tentunya 8:32 sangat mungkin ada yang sudah mm melalui 8:35 pensiun gitu ya. Jadi ee beda ee ketika 8:39 ketika yang ee sudah pensiun ini ee 8:43 berinteraksi sama orang yang ee mungkin 8:46 masih aktif atau anak-anak yang lebih 8:47 muda, generasi yang sekarang milenial, 8:50 Genzi atau Alfa gitu ya. Beda bahasa, 8:54 beda emosi, beda ekspresi, beda 8:58 nilai-nilai gitu ya. ee maka ini perlu 9:02 ee punya empati, punya ee 9:06 tindakan-tindakan real yang lebih pas 9:09 gitu ya. Jadi komunikasi efektif 9:12 tidak selalu 9:14 bergantung pada kesamaan bahasa, tapi 9:19 kemauan kita untuk membuka hati ee dari 9:22 orang yang ngobrolnya ee karena orang 9:25 menutup diri, jadi dia ngomongnya 9:27 sendiri. akhirnya mau dialog sama orang 9:30 gitu ya, dari monolog ke dialog dari 9:33 orang yang ngedengerin dirinya sendiri 9:35 akhirnya mau ngedengerin orang lain, 9:37 ngerespon orang lain dengan penuh 9:40 perhatian dan akhirnya jadi hidup ini 9:43 jadi lebih bermakna begitu. Transformasi 9:46 dari orang yang punya kontrol dan ee 9:49 ngeluh gitu ya. Jadi ee terhubung sama 9:53 orang lain dan penuh ee kasih sayang. 9:56 Nah, ee Iwan akhwat yang dirahmati 9:59 Allah, kita akan ngebahas lebih dalam 10:01 lagi tentang pensiun. Nanti ee kita akan 10:05 ada ee tamu yang spesial juga. Tapi 10:09 sebelumnya izinkan saya membahas dulu 10:11 beberapa overview terkait ee pensiun ya, 10:15 Mbak Nuning. 10:17 Ee pensiun itu punya sisi positif begitu 10:22 ya. 10:23 Iya. eh waktu luang jadi lebih bebas, 10:27 bisa fokus ke banyak hal, ke hobi, ke 10:30 traveling, ke berkebun, belajar banyak 10:33 hal baru, atau mendekat lagi kepada 10:38 spiritualitas, kepada Allah, ya. 10:40 Kemudian ee bisa ee menghayati luar 10:45 biasa ya aku bisa bernafas gitu ya. ee 10:49 kemudian ee menghayati arti dari ee 10:54 ngobrol sama orang lain, arti dari diam 10:58 ee dan bisa menghayati semua fase-fase 11:01 dalam kehidupan ini gitu. Kemudian yang 11:05 positif lagi dari em pensiun adalah 11:09 bebas dari tuntutan pekerjaan. Enggak 11:11 ada deadline, no deadline, ya. ee 11:15 kemudian juga ee ee enggak ada ee atasan 11:21 ee atau tekanan pekerjaan gitu ya. 11:25 Atau juga ee perlu memberikan support 11:28 yang ee apa menjadi kewajiban kepada 11:32 bawahan dan lain sebagainya atau tekanan 11:35 ee target-target dan lain sebagainya 11:37 gitu ya. Terus juga jadi dekat sama 11:40 keluarga, banyak waktu untuk anak, untuk 11:45 cucu, untuk pasangan juga ee peluang 11:48 berkarya dengan cara baru. Ternyata 11:51 pensiun juga kita bisa memulai berkarya 11:54 dengan ee ee apa hobi kita gitu yang 11:59 selaras dengan impian kita gitu. 12:01 Misalnya kita suka nulis atau kita suka 12:05 jadi mentor atau kita suka jadi advisor 12:09 atau kita suka berkebun, bikin usaha 12:12 yang kita nyaman dan menjadi tokoh di 12:15 komunitas kita ee ee dan lain 12:19 sebagainya. E tetapi sebagai catatan 12:21 kalau kita memang mau mulai bisnis itu 12:23 adalah sebuah perjuangan yang perlu ee 12:28 kesungguhan gitu ya. Tapi kalau merasa 12:31 bisnis ini adalah bagian dari hobi gitu 12:34 ya, tidak ada ketergantungan 12:36 yang ee sangat lekat dengan kebutuhan 12:41 keseharian, itu akan jadi lebih nyaman 12:43 begitu ya. Ee kita bisa main di 12:45 hobi-hobi masa kecil, bikin 12:48 barang-barang dari kayu atau ee apa 12:52 namanya? Bikin ee karya-karya yang kita 12:55 suka, makanan dan lain sebagainya. 12:58 kita buang semua gengsi gitu ya. Itu itu 13:01 bagus banget. 13:02 Ee jadi banyak banget sisi positif 13:05 ketika kita menjalani pensiun. Nah, ada 13:10 kondisi-kondisi 13:12 ee pensiun yang kita akan alami gitu ya, 13:16 kecenderungannya gitu ya secara fisik, 13:19 tantangan-tantangannya ya, secara fisik 13:21 dan kesehatan daya tahan tubuh makin 13:24 menurun. memang eh namanya juga e tubuh 13:29 itu bagai ikan mesin gitu ya. Udah udah 13:31 dipakai sekian lama. Jadi memang ada ada 13:34 proses penyusutan begitu ya. Ada lebih 13:37 banyak waktu untuk jaga kesehatan juga 13:40 dengan itu. Tapi juga risiko dari 13:42 penyakit karena kerusakan bertahap pada 13:45 sel tubuh kita, jaringan, organ tubuh, 13:49 fungsinya menurun karena penuaan gitu 13:52 ya. Penuaan alami ya. ee itu fungsinya 13:56 menjadi menurun dan ee cenderung ee 14:00 orang juga mengalami tantangan-tantangan 14:02 baru, tekanan darah tinggi, diabetes, ee 14:06 apa namanya 14:08 ee ee kroposat ee tulang dan lain 14:11 sebagainya gitu ya. dan ee penurunan 14:15 kesehatan mental dan fisik juga bisa 14:18 saja terjadi karena kurangnya aktivitas 14:21 secara psikologis jadi depresi, jadi 14:24 dimensia ringan atau juga fisik jadi 14:27 makin melemah secara psikologis dan 14:30 emosional juga 14:32 stres ya merasa hilang identitas, bosan 14:36 ya yang sangat aktif biasanya yang punya 14:39 posisi aktif ee dulunya saat bekerja 14:42 bisa jadi mengalami post syndrome, 14:45 merasa enggak lagi penting, berguna, 14:47 atau diakui sehingga hilang rasa 14:50 produktif dan identitas. Jadi, ada 14:54 kelebihan dan kekurangan dari ee diri 14:58 kita ketika kita mm pensiun, Mbak 15:01 Nuning, ini sebagai overview. Nah, 15:03 nantinya kita akan ngelihat 15:05 apa sih tantangan-tantangan komunikasi 15:08 ee yang kita hadapi ketika kita pensiun. 15:12 Tapi sebelumnya barangkali Mbak Nuning 15:13 kita bisa diskusi dulu dengan ee apa ee 15:17 kita bisa memperkenalkan ada tamu kita 15:21 sahabat 15:22 ee saya Mas Rifki. Ee mudah-mudahan nih 15:27 sudah bisa ini. Monggo Mbak Non. 15:29 Iya ikhwan Akhwat. Jadi nanti akan hadir 15:32 juga ke ruang dengar kita Dr. Rifq Abdul 15:37 Aziz Som, Mom. Beliau adalah dosen dan 15:42 peneliti di bidang komunikasi 15:44 interpersonal dengan fokus kajian pada 15:48 komunikasi lansia. Wow. Ederly 15:51 communication. Aha. Dan dinamika 15:54 psikososial pasca pensiun. 15:58 Beliau menyelesaikan studi doktoralnya 16:00 di Universitas 11 Maret disertai 16:03 disertasi yang berjudul Komunikasi 16:05 Interpersonal dalam Membangun Resiliensi 16:09 lansia yang mengalami post retirement 16:13 syndrome. Wow. Penelitian dan 16:15 publikasinya banyak menyoroti aspek 16:18 resiliensi komunikasi, hubungan antar 16:21 generasi, serta peran media di dalam 16:24 mendukung kesejahteraan emosional 16:27 lansia. Keren banget. Nanti kita simak 16:30 ya. Sementara ee informasi tambahannya 16:33 selain aktif meneliti, Dr. Rifki ini 16:36 juga terlibat dalam berbagai kegiatan 16:39 pengabdian masyarakat yang fokusnya pada 16:42 literasi media digital. bagi lansia 16:46 komunikasi inklusif, kemudian juga 16:50 pemberdayaan 16:52 komunitas yang berbasis teknologi. Wow. 16:56 Jadi terkait dengan ini semua karya 16:58 ilmiahnya yang sudah diterbitkan di 17:01 berbagai jurnal nasional dan 17:03 internasional 17:04 seperti Journal of Social and Political 17:08 Sciences dan The Messengers. Ia juga 17:12 menjadi pembicara pada konferensi 17:15 internasional seperti International 17:18 Conference of Humanities and Social 17:20 Science atau ICH HSS ya. Temanya 17:24 Communication Resilience in Elderly 17:28 Retir wis keren banget. [tertawa] 17:30 Mudah-mudahan eh linknya dengan beliau 17:34 sudah sambung. 17:35 Halo, Mas Rizki. Mas Rifkiore 17:40 Bu Mona. Hai. 17:43 Iya, senang banget Mas Rifki bisa 17:46 bergabung di sini. 17:48 Ini keren banget nih, Mas nih. Hai, Mas 17:50 Rifki. 17:51 Eh, kita lagi ngebahas tentang 17:54 komunikasi oke saat pensiun gitu ya. Dan 17:57 kalau ee lihat riset-researchnya Mas 18:00 Rifki ini banyak juga berkaitan dengan 18:02 itu. Bisa cerita sedikit enggak tentang 18:04 gimana sih masalah komunikasi 18:08 saat pensiun dan apa solusinya? Oke, 18:11 masalahnya dulu deh. Potensi-potensi 18:14 masalah dalam ee apa? Komunikasi terkait 18:17 pensiun. 18:21 Putuskah? Enggak. 18:23 Oke. Halo. Oke. Suaraus 18:26 ya. Mas Rifki kedengaranah? Bisa 18:28 terdengar tadi. 18:31 Oke. Bisa diulang pertanyaannya. 18:34 Jadi gini eh kan Mas Rifki nih ceritanya 18:37 research-nya banyak terkait dengan eh 18:39 komunikasi ee apa namanya saat pensiun 18:43 gitu ya untuk Erderly gitu ya. Jadi, 18:46 gimana sih masalah-masalah yang 18:48 berpotensi terjadi pada seseorang yang 18:53 ee setelah pensiun gitu? Saat pensiun 18:55 itu 18:59 sangat menariknya ketika kita bicara 19:01 soal pasti kan manusia itu merasa ini 19:06 adalah dari kehidupan. 19:08 Heeh. 19:09 Yang paling kerasa adalah yang e dari 19:11 beberapa hal yang memang saya lihat 19:14 setelah observasi 19:16 yang terjadi dan siap itu merasa 19:18 kebingungan. 19:20 Merasa apa? 19:21 Kebingungan. 19:22 Oh kebingungan. Oke. 19:26 Apa yang harus dia lakukan dan apa yang 19:28 harus dia bangun setelah pensiun. 19:31 Heeh. Heeh. 19:34 kita lihat dari sisi komunikasi 19:36 ee pertama 19:39 pasangan yang sejogianya 19:43 yang mendukung itu ee apatali tidak 19:46 memberikan secara peluh 19:50 karena ya saya e berada di posisi yang 19:54 sama 19:56 nih ceritanya gitu kan. Nah, sisi lain 20:00 anak-anak jelaskan jelas. Kurang jelas 20:03 ya 20:05 sinyal. Oke. Oke. Iya. Ee bisa mohon 20:09 maaf bisa lanjut agak kurang jelas bisa 20:12 ee lebih lambat lagi. 20:15 Baik ya. Di sisi lain 20:19 ketika kita bicara tentang kerjaan 20:23 dengan alat setelah tensi sebetulnya hal 20:27 itu 20:29 sangat susah untuk tidak karena 20:32 anak-anak mungkin 20:35 sibuk atau 20:37 jarak yang membedakan atau jarak yang 20:41 terjauh untukai. 20:44 Sedangkan kalau misalnya lansia tersebut 20:47 harus datang ke rumah anak-anaknya itu 20:51 di sini sudah tidak 20:55 juga 20:58 bisa memutus komunikasi. 21:01 Heeh. 21:04 Yang lebih jauh lagi ya 21:08 adalah pemerintah di Indonesia. 21:11 Heeh. 21:12 mempersiapkan bagaimana pension ini bisa 21:17 bisa resilien 21:20 artinya 21:22 setelah manusia infans 21:24 lebih inas saja silakan untuk hidup 21:27 secara mandiri tanpa dibekali 21:31 kamu itu mau apa, kamu itu harus seperti 21:34 apa setelah pensiun. 21:35 Iya. 21:38 itu ee yang sering saya dapatkan di 21:42 lapangan dan itu adalah 21:47 besar bagi kita. 21:53 Iya. 21:54 Ee 21:56 itu itu tentangannya ya. Jadi ee 21:59 tantangannya 21:59 Iya betul. E kalau kalau sebelum ee masa 22:03 kecil itu ee dijaga oleh pemerintah 22:06 dengan sekolah gitu ya, setelah selesai 22:08 sekolah dia masuk dunia kerja gitu ya, 22:10 setelah pensiun silakan gitu ya. Enggak 22:13 ada enggak ada panduan atau atur apa ya 22:16 ee kegiatan-kegiatan yang menjaga mereka 22:18 begitu ya. 22:21 Kurang ya belum ya belum banyak. 22:22 Betul. Kurang belum banyak. 22:25 Akhirnya apa solusinya? adalah mereka 22:28 lebih banyak ee berdiam diri di rumah. 22:31 Iya. 22:32 Hm. 22:33 Sehingga itu menjemput ee 22:36 menyebabkan masalah-masalah psikologis. 22:39 Iya. 22:40 Nah, mungkin kalau mungkin ee gak kena 22:44 atau gini sering melihat kok lansia 22:47 setelah pensiun sini lebih lagi 22:50 melihat kebisingan lebih tidak 22:52 terkendali. 22:53 Heeh. Terus ee 22:56 suaranya seperti dibuta, 22:59 terus komunikasi instruksionalnya juga 23:03 kan saya sama diatur kerja mungkin kalau 23:05 misalnya saya eh peneliti saya sempat 23:09 menemukan satu istilah post retirement 23:11 syndrome. 23:12 Heeh. Nah, pos syndrom ini merupakan 23:17 power syndrom. 23:21 Artinya eh 23:23 lansia-lansia ini tidak hanya yang 23:26 memiliki power saja. yaikuti 23:29 masalah-masalah ee dari psikologi 23:31 komunikasi 23:33 tapi untukikasi 23:36 seluruh pensiunan mulai dari 23:40 dapat dan sudah sampai tidak men pasti 23:44 mempasi 23:46 ini hal-hal yang memang e sangat 23:53 profesional. 23:56 Nah, menakan kembali pengalan ketika pas 24:01 pensiun itu kan sebetulnya hal yang 24:04 dilakukan 24:10 peran-peran 24:14 atau akhir itulah 24:17 sangat-sangat diharapkan. Heeh. 24:20 Bisa jadi anak, bisa istri, dan bisa 24:23 jadi teman sekali. Nah, apa yang 24:26 menuntut media 24:31 ee komunikasi interpersonal yang 24:35 dilakukan untuk melakukan untuk 24:37 membangun residen silat itu sangat 24:40 tergantung kepada 24:44 kalau kita bicara di masa ini media 24:48 sosial itu sangat penting jari jari atau 24:53 pancak kaki Kalau enggak mungkin bahasa 25:00 apa? Bahasa 25:02 lansinya mereka sering bicara se itu 25:09 hal yang 25:11 ee 25:13 media sosial bagi 25:20 sayang ya begitu bagus. 25:21 Iya. Enggak enggak terlalu dengar ya 25:23 jadinya ya. Oke. Eh, Mas Rifki, jadi eh 25:27 post retirement syndrome sindrom pasca 25:31 pensiun gitu ya. Ee karena kesepian itu 25:35 banyak sekali ee masalah isolasi apalagi 25:39 ee tidak aktif secara sosial ya. karena 25:41 tadi ee ee banyaknya karena aktivitas ee 25:46 yang diagendakan oleh pemerintah itu 25:50 tidak cukup ee banyak gitu ya sehingga 25:54 kecenderungannya mereka akan tinggal di 25:57 rumah gitu ya dan teman makin sempit 26:00 gitu ya. Kalau di kantor kan banyak 26:02 teman, ketemu teman dan secara ee ini 26:05 otomatis gitu ya. Dan ee kemudian belum 26:08 lagi tadi pendapatannya ya ee bisa jadi 26:12 uang pensiun ee ada atau ee atau ada 26:18 yang tidak ada gitu ya. Ee jadi sibuk 26:21 makan tabungan nanti ee habis-habis 26:23 habis habis gitu ya. Kalau tidak 26:25 dikelola dengan baik uangnya juga jadi 26:27 masalah keuangan ya. 26:29 Oke. Terus ee ketika masalah-masalah 26:33 lain dalam komunikasi khususnya itu 26:36 seperti apa? Itu kan tadi apa yang 26:38 membuat potensial menjadi ee post 26:42 retirement syndrome tadi ya. Oke, mangga 26:44 silakan. 26:48 Kalau dari sisi komunikasi 26:49 ee 26:52 hal yang paling amat sangat ee 26:57 timbul 26:58 Heeh. pada lansia adalah ketika 27:01 aspirasinya tidak bebas tersampaikan. 27:03 Oke. 27:04 Banyak banyak keterbatasan keterbatasan 27:07 dari mereka 27:08 Heeh. 27:09 yang memang dibungkam. Artinya lansia 27:13 ini merasa ragu. 27:15 Heeh. 27:16 Dia dia mau bicara dengan anaknya, dia 27:20 timbul perasaan, "Ah, saya takut ganggu 27:22 anak saya nih." gitu. 27:23 Heeh. Heeh. He. 27:25 Sementara 27:27 sementara kalau dia bicara dengan istri 27:29 atau ee rekan 27:31 serumahnya 27:32 Heeh. 27:33 rata-rata kan mereka punya kondisi yang 27:35 sama. 27:35 Heeh. 27:37 Artinya 27:39 sama-sama lansia dan sama-sama punya 27:41 emosi yang 27:42 ee mutsu 27:45 tidak di ee 27:50 apa tidak bisa diprediksi seperti itu. 27:52 Iya. 27:53 Iya. 27:55 itu hal yang sangat menarik ya 27:58 maksudnya. 27:58 Iya. Iya. 27:59 Saya ee saya melakukan penelitian di 28:02 bidang lansia. Observasi saya mendalam. 28:06 Heeh. Heeh. dan hampir menyentuh kalau 28:08 dari komunikasi dibilang etnografi 28:11 karena memang ternyata 28:13 karena memang ternyata banyak sekali 28:16 realitas-realitas sosial yang baru 28:18 muncul ketika individu itu mencapai 28:21 umur-umur lansia di atas ee 60 tahun 28:26 mulai dari komunikasinya, mulai dari 28:28 bagaimana dia mengelola relasinya dan 28:31 juga bagaimana mereka harus membangun 28:34 kembali kebiasaan-kebiasaan an baru 28:37 pasca pensiun. 28:39 Nah, itu ee hal yang sulit dilakukan 28:43 oleh lansia kalau misalnya memang tidak 28:47 ada dukungan dari orang-orang sekitar 28:49 atau dari signifikan ada 28:51 gitu. 28:53 Oke. Ee jadi ee ee aspirasi tidak 28:57 tersampaikan. apa yang dia pikir dan 29:00 rasakan tidak secara 29:04 baik bisa diekspresikan gitu ya. Bisa 29:07 enggak memberikan beberapa contoh ee 29:10 dari pengalaman penelitian yang ee 29:13 mungkin relate dengan ee apa kehidupan 29:16 kita saat ini gitu terutama untuk e 29:19 orang yang ee pensiun. Ee bisa ada 29:22 beberapa contoh barangkali. 29:25 Oh ya. Ee yang relate itu sebetulnya 29:28 banyak ya. 29:29 Heeh. 29:31 Ee pengalaman-pengalaman yang memang 29:35 seperti kan kalau misalnya 29:38 banyak lansia yang memang pensiun itu 29:40 mereka berawal dari pejabat ya Bu Mona 29:43 ya. 29:43 Iya pejabat. 29:45 Betul. Nah kalau misalnya pejabat itu 29:48 kan pasti dia punya komunikasi 29:50 instruksional yang jelas. 29:53 Iya. 29:54 Apa apa-apa dilayani, apa-apa pakai 29:57 ajudan, apa-apa pakai supir. 30:00 Nah, hal yang pernah saya temui lucu itu 30:04 adalah gini, mereka selalu curhat. 30:06 Ee, Mas Rifki, setiap pagi itu seminggu 30:09 pertama 30:09 Heeh. 30:10 saya itu setelah pensiun saya kok 30:12 tiba-tiba buka lemari ya. 30:14 Heeh. 30:15 Dan saya nunggu di depan teras. 30:17 Heeh. 30:18 Buka lemari pakai seragam dan nunggu 30:20 depan teras waktu. 30:21 Ah. Bapak kenapa nunggu di depan teras? 30:24 Saya nunggu dijemput sama supir kantor, 30:26 Mas. 30:27 Walah, itu ee kok bisa begitu? Iya, 30:31 bayangkan saya 40 tahun lebih dilayani 30:35 seperti itu dan sekarang saya harus di 30:38 rumah tanpa ada yang melayani. 30:42 Nah, terus Bapak gimana saya bilang 30:45 untuk bisa bertahan crafting normal 30:47 membangun kembali kebiasaan baru 30:49 tersebut? Eh, itu cukup waktu yang lama 30:52 itu long time katanya. 30:54 Heeh. 30:56 Ini terjadi pada siapa? Terjadi pada 30:58 pensiunan ASN. 30:59 Heeh. Heeh. 31:01 Nah, terus saya tanya kenapa jadi Pak? 31:04 Bapak gimana maksudnya setelah pensiun 31:06 itu tidak dipersiapkan? 31:08 Heeh. Heeh. 31:09 Tidak ada sama sekali, Mas. Mereka 31:11 bilang jadi ya sudah pensiun itu 31:14 dilepas. Nah, itu tadi yang saya bilang 31:16 ya. 31:17 terus ee bisa bertahannya seperti apa. 31:19 Nah, akhirnya saya ee kembali ke 31:22 anak-anak. Tapi 31:23 anak-anak juga saya ragu nih pada 31:26 awalnya, Mas Rizki. Ragunya kenapa? 31:29 Karena kan mereka sibuk nih ceritanya 31:31 katanya. 31:31 Heeh. 31:32 Terus saya datang nginp di rumahnya 31:34 lebih dari 2 hari itu merasa tidak 31:38 betah. 31:39 Heeh. 31:39 Tapi di sisi lain, 31:42 Heeh. 31:42 Komunikasi dengan cucu juga 31:44 ada gap. banyak-banyak bahasa yang beda. 31:47 Terus udah gitu ee 31:51 cucu-cucu juga mainnya sekarang sudah 31:53 pakai gadget, pakai games. Kami di sini 31:55 terisolasi rasanya Mas Rizki gitu. Nah, 31:58 itu kan perasaan terisolasi tuh saya 32:00 sampai garis bawahi ya. Kok bisa mereka 32:03 merasa terisolasi dengan 32:05 ee keadaan yang memang mereka tidak 32:07 inginkan gitu kan. 32:09 Iya. He. 32:09 Nah, akhirnya ee 32:13 sampai berapa lama mereka bisa keluar 32:15 dari hal tersebut? Rata rata 32:18 Heeh. 32:19 6 bulan sampai tahun. 32:23 6 bulan sampai setahun. 32:26 Betul. Rata-rata 6 bulan sampai setahun 32:28 mereka baru bisa keluar dari 32:32 yang ee dibungkam tersebut. 32:34 Heeh. 32:35 Caranya seperti apa? Ternyata ketika 32:37 mereka dikenalkan dengan media sosial, 32:40 Facebook apalagi 32:42 mereka menemukan komunitas-komunitas 32:43 yang awalnya mereka tidak tekuni seperti 32:47 mereka jadi olahraga, jadi sepeda gitu 32:50 kan. 32:51 Nah, di situ kan ada pertukaran 32:53 informasi, akhirnya komunikasinya dibung 32:55 ee dibungkam kembali. Mereka punya teman 33:00 senasib dan sepertanggungan. 33:04 Nasib dan sepertanggungan. I 33:06 iya 33:07 sama-sama menerima gaji pok setiap 33:09 bulan. 33:09 Heeh. Heeh. 33:11 Terus hingga akhirnya nah itu yang yang 33:14 paling yang paling penting adalah mereka 33:16 kembali ke ee teman-teman sekolahnya. 33:19 Nah, reunian. Iya. 33:21 Kenapa reunian yang memang sangat 33:22 penting? Karena 33:24 kan kalau teman sekolah seangkatan pasti 33:26 umurnya sama semua ya. 33:27 Iya. [tertawa] 33:29 Artinya mereka ketika ee berbincang 33:33 terus ketika bertemu 33:35 hal yang sama terjadi itu 33:37 Iya. 33:37 Mereka pecahkan bersama gitu. 33:39 Iya. Jadi kadang-kadang kalau ketemu Kak 33:41 saya kalau reunian itu hal yang dibahas 33:43 itu pasti penyakit, diabetes, obat 33:46 alternatif 33:47 [tertawa] 33:49 yang yang 6 bulan pertama sampai setahun 33:52 pertama setelah pensiun itu. 33:57 Oke. 33:59 Ee 33:59 bilang jadi 34:00 He 34:02 Mas Rifki. Oke, sebentar ya. Saya saya 34:05 penasaran nih. Tadi Mas Rifki menyatakan 34:08 bahwa di Indonesia 34:11 ee ee pengelolaan 34:16 dari pemerintah terkait 34:20 lansia atau 34:23 ee ya lansia ya retirement period itu 34:26 gitu ya itu kurang banyak gitu ya. Nah, 34:30 ya contoh seperti apa sih yang bagus itu 34:33 dan di negara mana yang eh apa namanya 34:37 yang ideal seperti apa tuh? 34:39 Oh, oke. Ee ini berkaitan dengan baru 34:43 saja kemarin saya menulis sebuah hiba 34:45 penelitian. 34:46 Heeh. 34:47 Ee saya membandingkan dengan angka 34:49 harapan hidup di Jepang. Nah, mungkin ee 34:53 Bu Mona dan pendengar dan Bu Nuning bisa 34:56 melihat atau 34:59 meresapi satu kata dari bahasa Jepang, 35:01 Nomewaku. 35:03 Nah, 35:04 di Jepang sana itu 35:07 artinya lansia-lansia itu ee disiapkan 35:10 untuk mandiri hingga tua. 35:12 Hm. 35:14 Bahkan mereka itu siap loh maksudnya 35:16 untuk ee tidak merepotkan anak-anaknya 35:19 dan ee mereka mau hidup sendiri di panti 35:23 jompo. Nah, saya tuh heran kenapa kok 35:26 bisa mereka semandiri itu secara sistem 35:30 mendukung artinya panti-panti jompo juga 35:32 disiapkan dengan proper oleh pemerintah. 35:34 Nah, 35:36 seperti apa kalau misalnya di Indonesia 35:38 kita kok tidak bisa meniru seperti itu 35:40 gitu loh. artinya menimbulkan 35:42 menciptakan lingkungan yang ee inklusif, 35:45 siap untuk ee menerima lansia-lansia 35:48 gitu. 35:49 Heeh. 35:49 Nah, mungkin perintah bisa nih awal 35:52 awal-awal memperkenalkan ee atau membuat 35:55 sebuah lingkungan yang inklusif untuk 35:58 bagi pensiunan gitu kan. Kita coba 36:01 mungkin awal-awalnya dari ee bikin 36:03 perumahan yang memang ee lansia khusus 36:06 untuk lansia gitu. 36:08 Nah, itu kan sangat penting ya. Jadi 36:09 disiapkan di perman itu disiapkan 36:10 fasilitas kesehatan, terus taman-taman, 36:13 fasilitas olahragaus lansia. Nah, di 36:15 Jepang tuh ada 36:17 sampai seperti itu, 36:20 gitu. Jadi ee mereka tuh sudah siap, oh 36:23 saya mau tua itu nanti aja di panti 36:25 jompo, ah gitu. Dan mereka tidak merasa 36:28 dibuang, Bu Mona di Jepang 36:32 karena apa tadi? Disiapkan di satu 36:34 lingkungan yang memang mereka mendukung 36:35 satu sama lainnya. H 36:37 artinya mereka bertemu teman sebaya tuh. 36:39 Teman sebanya yang dibilang teman 36:41 senasib sepertanggungan. Sama-sama tua, 36:44 sama-sama pensiunan, sama-sama mungkin 36:47 kalau misalnya timbul dengan penyakit ee 36:49 komorbidnya yang sama gitu kan. Jadi 36:51 saling mendukung akhirnya. 36:54 Heeh. Nah, maaf tadi tadi kan ada rumah 36:58 yang di ini untuk lansia dan sebagainya. 37:00 Itu itu di Jepang itu dipersiapkan oleh 37:04 pemerintah atau bagaimana? 37:07 yang di Jepang itu. 37:08 Heeh. 37:10 Yang di Jepang ada beberapa yang 37:11 disiapkan oleh pemerintah memang. 37:13 Oke. Di sini di kita kan juga ada ya 37:16 panti jompo dan lain sebagainya. Mungkin 37:19 belum begitu me apa ee merakyat ya belum 37:24 begitu. Itu itu cuman untuk artinya 37:27 lebih banyaknya di rumah gitu ya. 37:29 Di rumah. 37:30 Oke. 37:30 Iya kan? 37:31 Iya. Heeh. 37:31 Nah, satu lagi. Satu lagi yang perlu 37:33 dibaris bawahi ketika anak-anak 37:35 menyimpan orang tuanya di panti jompo. 37:37 Heeh. 37:38 Kalau di kita stigmanya kan pasti anak 37:39 durhaka ya. 37:40 Heeh. Heeh. Ada stigma tertentu. 37:42 Nah, itu yang yang harus kita ubah ya 37:45 maksudnya. 37:46 Heeh. 37:46 Mungkin pandi jompo tuh mereka inginkan 37:48 loh. Maksudnya mereka butuhkan loh. 37:50 Heeh. 37:50 Gitu. 37:51 Heeh. 37:51 Daripada kita membiarkan orang tua yang 37:54 memang ee secara komunikasi, secara 37:56 psikologis tidak aman, diam di rumah. 37:58 Heeh. Tapi kalau misalnya disimpan di 38:01 panti jompo, panti jomponya yang proper 38:02 loh ya, bukan panti jompo yang memang 38:04 kita seolah-olah dibuang gitu loh. 38:06 Iya, betul. 38:08 Yang memang ada pengurusnya, yang memang 38:11 ee ada fasilitas kesehatan ya. Saya 38:12 yakin ada sih di Indonesia gitu ya. Tapi 38:14 memang masih berbayar dan mahal sekali 38:16 gitu kan. 38:17 Secara secara kalau di Jepang itu sudah 38:19 masuk dalam biaya asuransi kesehatan 38:22 lansia gitu kan mereka. 38:24 Oke. Iya. Ya, itu beda bedanya dari situ 38:26 ya. itu memungkinkan akses untuk 38:29 diperoleh. 38:30 Di sini bisa juga untuk diperoleh, 38:33 tetapi high cost ya ada lumayan Heeh. 38:38 high cost kalau mau yang benar-benar ee 38:40 rama lansia, aksesibilitas, 38:43 eh nyaman gitu ya, itu memang high cost. 38:45 Tapi kalau yang di Jepang mungkin sudah 38:49 tersedia untuk pilihan ya sebagai 38:52 pilihan masyarakat begitu ya. 38:55 Iya betul. pilihan masyarakat karena kan 38:57 memang ee di Jepang juga banyak yang 38:59 tidak menikah ya Bu Mona ya. 39:00 Heeh. 39:01 Heeh. 39:01 Jadi mereka tuanya memang sudah ada 39:04 pilihan. 39:05 Heeh. 39:05 Ya sudah gitu kan. 39:07 Heeh. 39:07 Itu ee seperti hal yang biasa saja gitu 39:09 mereka tua di panti jompo gitu. 39:12 Iya. Jadi ee berarti jompo yang memiliki 39:15 sistem yang baik ya ee membuka ee 39:21 komunikasi yang baik, fasilitas akses ee 39:26 memungkinkan mereka memiliki partisipasi 39:28 aktif di dalam ee ee kesehariannya gitu 39:33 ya. punya dukungan sosial dari 39:35 teman-temannya juga gitu ya sehingga ee 39:38 mereka bisa mandiri, mereka bisa 39:41 berdaya. Ee itu juga ternyata penting. 39:45 Ada beberapa saat yang lalu teman 39:48 menjelaskan sebuah penelitian itu lansia 39:52 yang dikasih 39:54 ee apa namanya? support orang yang 39:58 ngedukung ya kayak misalnya perawat dan 40:00 lain sebagainya. eh itu e yang yang 40:03 segala-gala dibantuin gitu ya atau cukup 40:06 banyak di-support gitu ya. Ternyata 40:08 lebih cenderung lebih cepat sakitnya 40:10 lebih lama gitu ya, lebih cepat gitu ya 40:12 dibandingkan sama yang diminta mandiri. 40:15 Jadi artinya pengelolaan untuk rumah 40:17 lansia itu juga perlu dipikirkan sebaik 40:21 mungkin sehingga ee ee apa namanya 40:24 kebutuhan-kebutuhan 40:27 ee ee fisik, emosional, ee spiritual, 40:32 kebutuhan 40:34 lainnya gitu ya, itu apa di dilayani 40:37 gitu ya, difasilitasi. 40:39 Betul. Iya, betul, betul. Dan satu lagi 40:43 yang hal yang e menarik itu beberapa 40:45 klinik-klinik dan beberapa panti jompo 40:47 di Jepang itu hampir 50% perawat dan 40:51 yang memang melayaninya orang Indonesia. 40:53 Heeh. 40:55 Oh. 40:55 Saya saya heran maksudnya kok bisa orang 40:58 Indonesia ya? 40:59 Ternyata orang Indonesia sana terkenal 41:02 dengan ngemong dan highx communication. 41:04 Betul betul betul betul. kita tuh kita 41:06 tuh dikenal dengan orang sabar, 41:09 melayani, mengayomi dan itu yang 41:12 dibutuhkan sama lansia kan sebetulnya. 41:14 Iya dekat ya ngomong ya sayang gitu ya 41:19 ngerasa ini orang tuanya gitu ya. Jadi 41:22 itu penting tu ya perasaan itu ya. Heeh. 41:24 Betul. Itu saya sedikit bangga. Oh 41:27 ternyata masih ada campur tangan orang 41:29 Indonesia ya. 41:30 Iya iya iya iya iya. 41:32 Oke, sedikit lagi ee ee selain dari yang 41:36 tadi ya, aspirasi tidak disampai tidak 41:39 tersampaikan dalam konteks komunikasi 41:41 gitu ya. Jadi merasa enggak dibutuhkan 41:44 lagi atau kesepian, terisolasi dan lain 41:46 sebagainya. Ee dan ada perubahan dengan 41:50 tadi ya e dari pekerja profesional jadi 41:53 pensiunan atau dari pejabat jadi ini dia 41:56 harus menyesuaikan. Dia harus yang 41:58 gayanya gaya gaya gaya nyuruh gitu ya, 42:00 gaya formal. Jadi hilang itu. Lalu 42:04 solusinya seperti apa? Apa solusi yang 42:07 perlu ee seorang 42:10 ee yang menjadi pensiun itu perlu 42:14 adaptasi dari sisi komunikasi dan juga 42:16 bagi lingkungannya perlu seperti apa 42:19 tuh? Bisa sharing. 42:21 Oke. 42:21 Heeh. 42:22 ini ee kita menempatkan diri sebagai ee 42:26 lingkungan apalagi ee pasti di 42:30 lingkungan kita seringlah beberapa kali 42:33 pasti ada yang ee tiba-tiba pensiun, ada 42:35 yang beberapa kali pensiun. Kalau saya 42:37 ee seharusnya sebab menempatkan diri 42:41 ee karena kita di Indonesia ya budayanya 42:43 kolektif artinya ee kita nyatuan lah 42:48 kalau misalnya bahasa ee ininya bahasa 42:52 harusnya. Nah, saya kadang-kadang kalau 42:54 misalnya di lingkungan RTRW saya maafin 42:56 RTRW ya Mas saya tinggalnya masih di 42:59 ini. 42:59 He. 42:59 Cuma RTRW ada yang baru pensiun. Saya 43:01 kadang-kadang suka ajak ngobrol. 43:02 Heeh. Heeh. He. 43:04 Terus ee gimana Bapak Ibu sudah pensiun 43:07 gitu bla bla bla. Terus 43:09 saya arahkan kalau misalnya pasti satu 43:12 hal yang paling utama e mereka muncul 43:14 adalah kembali ke Tuhan. Nah. 43:16 H. Terus saya bilang ee Bu, Ibu ikut 43:21 pengajian ini aja atuh cobain. Gitu kan. 43:24 Ee nanti nanti saya kasih linknya ya 43:26 gitu. Ada di Ustaz ini semangat kan 43:28 akhirnya menemukan arah gitu. 43:32 Terus 43:35 di lingkungan saya karena satu 43:36 lingkungan pasti kan pendidikan mereka 43:38 tidak jauh dari saya ya. Artinya tidak 43:40 jauh tuh ee bisa jadi satu almamater 43:43 gitu kan. 43:44 Heeh. 43:44 Saya tanya juga ee Bu, Ibu dulu SMA-nya 43:47 di mana sih gitu? Oh, di sini. Oh, 43:51 Bu, ternyata ada ikatan alumninya loh. 43:53 Ibu mau saya gabungin enggak ke sana? 43:55 Wah, itu mereka tuh 43:57 sangat senang tuh sebetulnya. 43:58 Heeh. 43:59 Jadi, 43:59 Heeh. 44:00 kita sebagai lingkungan yang memang ee 44:04 tidak mengenali atau tidak tahu, kita 44:07 harus jemput bola. Artinya ee kita harus 44:10 menciptakan resiliensi itu mulai dari 44:13 kita, kita yang sadar gitu loh. Mereka 44:17 itu enggak sadar. Mereka sedang ada di 44:20 sisi yang tidak baik-baik saja secara 44:22 komunikasi. I 44:24 mereka membutuhkan bimbingan-bimbingan 44:26 yang memang kita sudah tahu nih apa yang 44:28 dibutuhkan dan apa yang harus dilakukan 44:30 oleh lansia ketika ee pensiun yang tadi 44:33 ee pertama arahkan kepada apa yang 44:36 memang biasanya lansia lakukan ketika 44:38 setelah pensiun biasanya yang tadi 44:40 kembali ke Tuhan mereka butuh 44:42 kegiatan-kegiatan spiritual. 44:45 Heeh. 44:45 Gitu. Jadi sebagai anak, sebagai ee 44:48 orang yang di sekitarnya coba arahkan ke 44:51 sana. Karena biasanya di 44:53 pengajian-pengajian itu mereka menemukan 44:55 orang-orang yang klop. 44:57 Iya, 44:59 gitu. Bisa sharing secara agama atau 45:02 mungkin nanti jatuh-jatuhnya jadi 45:04 arisan. Ibu saya juga yang pensiunan 45:06 semenjak diikutin saya suruh ikut 45:08 pengajian. Jadi, agendanya setiap hari 45:10 enggak berhenti. [tertawa] 45:13 I, Mas Rifki kan ee ee kan ketika 45:17 pensiun itu ee akan lebih baik di rumah 45:20 gitu ya. ee jadi lebih intens interaksi 45:24 dengan pasangan hidup gitu ya. Ee pas 45:27 yang yang biasanya berangkat pagi, 45:29 pulang sore gitu ya atau pulang malam. 45:31 Nah, sekarang ini stay stay ee dan ee 45:34 hadir terus gitu ya. Enggak semua 45:36 pasangan siap bisa jadi ributan ee 45:39 karena beda harapan, beda kebutuhan, 45:42 ruang privasi atau tidak mampu 45:45 menyampaikan secara terbuka apa yang 45:47 dipikir dan dirasakan itu solusinya 45:50 seperti apa dari seseorang yang pensiun 45:52 itu kepada pasangannya atau dari 45:54 pasangannya kepada orang yang pensiun 45:57 tersebut? 46:00 Nah, ini juga yang sangat sulit 46:02 dipecahkan ya ketika pelanggaran harap 46:05 di antara pasangan pensiunan. 46:07 Heeh. 46:08 Nah, ee 46:12 karena kan sebetulnya ketika konflik 46:13 terjadi mereka jauh dari anak-anak ya. 46:16 Jadi kita sebagai anak-anak juga enggak 46:18 tahu apa konflik yang terjadi kan. 46:20 Makanya banyak tuh yang memang sudah 46:22 pensiun dan tua lansia mereka mohon maaf 46:24 bercerai gitu kan. 46:25 Heeh. Heeh. Betul. Artinya ee di situ 46:29 memang ada konflik yang memang sudah 46:31 tidak bisa lagi diselamatkan. 46:33 Iya. Iya. 46:35 Sebagai pasangan nanti mungkin yang 46:36 sudah tua dan mungkin ee 46:40 ya kita harus memahami bagaimana 46:43 karakteristik masing-masing. Artinya 46:45 ketika ee wanita mungkin akan lebih 46:48 banyak berbicara dibandingkan pria ya. 46:50 Dan ketika 46:53 pasti komunikasinya akan sangat sekali. 46:57 Nah, itu tidak banyak diketahui oleh 46:59 pria sebetulnya. 47:01 Heeh. 47:01 Jadi, artinya ego dari masing-masing 47:04 masih tinggi. 47:05 Heeh. Heeh. 47:06 Nah, bagaimana caranya? Nah, diarahkan 47:10 kita sebagai anak-anak, sebagai yang 47:12 masih muda, 47:14 klik pasti karena ada pelanggaran 47:16 harapan gitu ya. Ketika mungkin ee 47:19 setelah pensiun, "Mama kok jadi enggak 47:21 pernah masak ya?" gitu. Mama kok jadi 47:23 enggak pernah ini? Enggak pernah itu ya. 47:24 mungkin dari ee suaminya. Nah, kita 47:26 anak-anaknya harus memberi ee pengertian 47:30 karena mereka sendiri tidak akan bisa 47:32 memecahkan secara langsung. 47:33 Heeh. 47:35 Mereka berdua secara komunikasi tuh akan 47:37 sering cekcoklah istilahnya. 47:40 Heeh. 47:40 Banyak sekali. Meskipun di luar harmonis 47:44 tapi secara nyatanya cok itu di rumah 47:47 itu. Itu saya dari 2 bulan saya 47:49 observasi penelitian ya. Saya hampir 47:52 tiap hari ke rumahnya cek cok. Tapi 47:54 ketika di depan panggung-panggung 47:55 depannya ya harmonis gitu. 47:58 Iya. Iya. Kayak bagus baik-baik saja ya 48:00 di belakang [tertawa] 48:03 perjuangan 48:03 di belakangnya. Mereka mah marah-marah 48:05 terus kalau misalnya mau pergi ee tuh 48:08 kan mama mah susah banget diaturnya gitu 48:11 kan. [tertawa] Tapi ketika di depan 48:13 panggung gitu mereka it's oke-oke aja 48:16 gitu tuh. 48:17 Terus akhirnya siapa ya? Iya. I 48:20 anak-anaknya udah udah udah siapa sok 48:22 duluan mandi duluan gitu. Udah udah udah 48:24 udah sok ini, ini gitu kan. Akhirnya 48:27 nah. 48:27 Iya iya iya. Jadi 48:29 itu jadi mereka pasti pasti berkonflik 48:31 enggak ada enggak ada enggak ada 48:32 solusinya. Karena kalau ketika lansia 48:35 egonya tinggi, hal kecil apapun juga 48:37 pasti akan menimbulkan konflik. 48:39 Iya iya iya iya. 48:41 Mungkin memang harus lebih bijaksana ya 48:44 nerima perubahan ya, nerima transisi. 48:48 Betul. saya setuju lebih dekat dengan 48:50 pemilik ee semesta ini ya kepada Allah 48:54 ya. 48:54 Betul. 48:55 Heeh. 48:55 Betul. Jadi komunikasi transendentalnya 48:58 yang harus diperbaiki awal-awal ketika 49:00 setelah pensiun. 49:01 Betul. Dan Bu ee bikin komunikasi 49:04 terbuka dan empati gitu. mau dengerin 49:07 pikiran dan perasaan pasangan, mau 49:09 ngertiin, tidak menghakimi, itu juga 49:12 penting ya untuk di ee jadi memahami 49:16 khawatirnya pasangan, memahami apa yang 49:18 diharapkan, mungkin itu harus diulang 49:22 lagi gitu belajarnya gitu. Karena kan ee 49:25 [tertawa] 49:26 ketika sudah menikah kan e dengan 49:29 masing-masing bekerja atau salah satu 49:31 bekerja itu kan beda gitu suasananya 49:33 dengan yang hadir selalu gitu ya kan. 49:37 Iya betul. Jadi apalagi kalau sudah 49:39 lansia kan dibilangnya dia mempunyai 49:42 kemunduran kembali seperti balita ya. 49:44 Iya. 49:45 Nah, jadi ee dua-duanya nih gitu 49:48 maksudnya sama-sama egonya tinggi. Lu 49:50 pengin kayak gini misalnya lu pengin 49:52 kayak gini dalam tanda kutip ya. 49:53 Iya. 49:54 Enggak bisa enggak bisa dipatahkan gitu 49:56 maksudnya 49:57 itu susah sekali. 49:59 Iya. 50:00 Nah, makanya untuk apa? Mencari 50:01 kesibukan masing-masing. Jadi saya tuh 50:03 suka memberikan pengertian kalau 50:05 misalnya saya ke PWRI terus anak-anaknya 50:07 curhat kan. Ee Mas Rifki ee kok ibu 50:10 bapak saya tuh mereka enggak pernah mau 50:12 pergi bareng. Enggak apa-apa, Mas. Saya 50:13 bilang, "Ngakah mereka pergi 50:15 masing-masing." Saya bilang, "Suaminya 50:17 mau ke mana, istrinya mau ke mana? 50:19 Jangan pernah kita mempersatukan kalau 50:21 mereka enggak mau bersatu." 50:23 Iya. 50:24 Karena gini, di bayangin aja ya, Mas, 50:27 Mbak. Mereka itu pernikahan mungkin 50:28 sudah lebih dari 40 tahun ya. 50:30 Heeh. 50:30 Nah, 40 tahun satu rumah, satu atad, 50:35 komunikasi intens gitu kan. 50:37 Iya. Heeh. 50:39 Terus ee ditambah lagi selama 40 tahun 50:42 itu kan mereka bekerja juga kan. Jadi ya 50:44 udah gitu komunikasinya pada saat 50:46 mungkin malam aja atau ee pagi aja gitu 50:50 atau weekend aja ya kan. 50:52 Iya. 50:52 Nah ini setelah pensiun 20 lihat 50:56 muka-mukanya terus udah gitu ditambah 50:59 egonya yang mu berubah. 51:03 Iya. Iya. 51:04 Terus ee ditambah lagi ada 51:06 perubahan-perubahan secara fisik. 51:10 Iya iya iya iya betul sekali 51:12 betul itu juga itu juga konflik 51:15 sebetulnya banyak yang kayak 51:16 istri saya sudah istri saya sudah cantik 51:18 lagi kenapa [tertawa] ya gini-gini 51:20 aduh saya bilang itu kan sudah takdir ya 51:22 maksudnya tapi itu yang memang sering 51:25 iya 51:25 menjadi masalah 51:26 Mbak Mona 51:27 oke 51:27 Mas Rifki ada yang bertanya nih boleh ya 51:31 disampaikan 51:32 boleh 51:33 jadi dari Ibu Ida dukungan orang sekitar 51:36 penting seperti yang tadi dilakukan. 51:39 Apa dong yang bisa saya lakukan untuk 51:43 membuat orang di rumah saya, ayah ibu 51:46 itu sudah di atas 65 tahun merasa 51:49 dihargai dan dihormati? Karena saya 51:53 kadang-kadang takut salah. 51:55 Terima kasih. 51:56 Iya. Iya. Oke. Ee silakan Mas Rifki. 52:04 Oke, Bu Ida. Ee jadi sebetulnya untuk 52:07 membuat semua orang dihargai, ciptakan 52:09 lingkungan yang enak dulu deh, gitu. 52:12 Bisa mungkin makan makan malam, gendarin 52:15 malam bareng 52:17 atau bisa jadi liburan bareng. 52:21 Itu itu biasanya yang sangat 52:23 diidam-idamkan oleh lansia ya. 52:25 Heeh. 52:26 Liburan bareng anak, liburan bareng 52:28 cucu. Nah, di situ kan mungkin akan 52:30 timbul tuh unek-unek terus. 52:33 Karena apa? Karena ketika liburan 52:35 biasanya ee timbul 52:39 ee sifat-sifat asli dari individu. 52:42 Heeh. 52:44 Heeh. 52:45 Siapa yang egonya paling tinggi? Siapa 52:47 yang membutuhkan? Siapa yang mau 52:49 didengar? Pada saat liburan itu setiap 52:51 penelitian 52:53 itu kita kelihatan. Nah, bisa jadi 52:57 liburan deh, piknik gitu. 52:58 Iya. 53:00 Nah, nanti di situ kita lihat kalau 53:02 misalnya memang ada yang lebih tinggi 53:05 egonya dan memang ada yang mau 53:07 disampaikan itu nanti akan kelihatan. 53:10 Iya. 53:11 Iya. 53:12 Gitu. Terus kalau kalau misalnya enggak 53:14 bisa liburan ya tadi makan malam aja 53:17 bareng atau makan bersama. 53:19 Iya. 53:19 Atau mungkin lebih intens kumpul 53:21 keluarga 53:22 ee menimbulkan forum-forum yang memang 53:25 bikin nyaman 53:27 gitu. Jadi kita yang harus menciptakan 53:29 suasana itu ya. 53:31 Betul. Kita kita yang sadar 53:33 karena harus ada harus ada satu individu 53:36 yang satu keluarga enggak boleh saling 53:39 cuek sama sekali. 53:40 Iya. 53:41 Oke. Satu lagi nih dari Pak Sudiarto. 53:44 Usia sudah ee tidak disebutkan di sini 53:48 pegawai kos. Oh, pegawai yang kos di 53:51 tempat kosnya bapaknya sudah berusia 70 53:54 tahun. 53:55 Heeh. Apa dong yang bisa saya lakukan 53:58 mendengar siaran ini? Jadi tertarik deh. 54:00 Bagaimana menunjukkan peduli dan empati 54:03 kepada yang punya kos-kosan kami yang 54:07 sudah usianya 70 tahun itu. Dia pendiam 54:10 soalnya, Mbak Nuning. Ohoh. Gimana nih, 54:14 Mas Rifki? 54:17 Ajak ngobrol, Mas. Pakarto ajak ngobrol 54:19 dulu deh. Kalau enggak ajak ngobrol, 54:21 kalau agamanya Islam, ajak salat bareng 54:24 ke masjid. 54:26 itu itu sangat merasa dihargai tuh 54:28 pasti. 54:29 Iya. 54:30 Nah, kalau misalnya sudah ajak baleng 54:32 seorang ke masjid, 54:34 Mas Sujar tuh bisa beli makanan ke 54:36 Goofood, makan bareng, sharing. 54:38 Iya, iya, iya. [tertawa] 54:40 Nah, itu itu yang yang dirasakan banyak 54:42 lansia itu mereka dihargainya mulai dari 54:44 hal sekecil sesepele itu. 54:48 Iya. Iya. 54:48 Enggak usah kita ekspektasi kita harus 54:51 ngobrol tentang pekerjaan latar belak. 54:54 hal-hal sesepelek kita ajak 54:56 kalau misalnya waktunya ibadah kita ajak 54:58 ibadah bareng. 54:59 Iya setuju. 55:02 Terus kalau misalnya ada kalau ada 55:04 event-event di lingkungan ee 55:06 kehidupannya kita libatkan kerja bakti 55:08 misalnya atau misalnya jadi DKM. 55:11 Jadi DKM di nah itu mereka senang banget 55:13 tuh pasti. 55:14 Iya iya berharga ya. 55:16 Karena karena 55:17 betul karena kan semasa mereka kerja 55:19 mereka sangat diakui ya. 55:21 Betul. Mereka sangat diakui, mereka 55:23 sangat diterima, mereka sangat dilihat, 55:24 dipandang. 55:25 Betul. Betul. 55:26 Cara seperti itu dilibatkan lagi di 55:28 organisasi sekitar. 55:30 Terus pemikirannya kita gunakan kembali. 55:32 He. 55:33 Lewat misalnya, lewat individu yang ee 55:35 penasihat Karang Taruna bisa jadi gitu 55:37 ya. 55:38 Nah, itu menjadi solusi 55:40 sebetulnya bagi mereka-mereka yang ee 55:42 pendiam. Nah, bisa jadi diamnya ee Bapak 55:45 Kos itu kan kita tanda tanya ya, apakah 55:48 dia dia ee dalam sisi ada sisi masalah 55:51 psikologis atau memang orangnya 55:53 introvert. 55:54 Oke. 55:56 Oke, 55:57 Mbak Mona satu lagi Mbak Mona nih 55:59 ee soal rumah yang ramah lansia tadi ini 56:03 dari ee tidak disebutkan namanya Mas 56:06 Rifki. Saya pernah dengar ada kok di 56:09 tempat kita ini di Jakarta perumahan 56:12 yang untuk lansia itu bahkan terkoneksi 56:15 satu rumah dengan rumah yang lain. Ada 56:17 pintu yang terhubung. 56:18 Iya. Luar biasa. Itu banget. 56:19 Cuman waktu itu saya tidak ee enggeh 56:22 banget ada di lokasi mana. 56:24 Iya informasinya terima kasih ya. 56:26 Oke, Mbak Mana silakan. Oke, ee Mas 56:29 Rifki terima kasih banyak sudah sharing. 56:31 Ee ini ee menginspirasi dan 56:34 mudah-mudahan ee makin banyak ee 56:38 akademisi dan praktisi yang bisa 56:42 mendukung untuk ee kita semua seluruh ee 56:47 apa namanya? kekuatan bangsa ini baik 56:50 dari pemerintah, dari organisasi sosial, 56:53 dari akademisi, dari berbagai ee apa 56:57 stakeholders untuk sama-sama mendukung 57:00 lansia eh ramah lansia gitu ya ee 57:03 program-program ramah lansia dan 57:06 termasuk dari sisi bagaimana mendukung 57:08 komunikasinya 57:10 dari lansia ee sebagai bahasan dari ee 57:13 ee sore hari ini ya. Terima kasih banyak 57:16 untuk sharing-nya eh Mas Rifki. 57:18 Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya. 57:22 Siap. Kita bertemu secara langsung 57:24 biar bisa 2 jam. 57:26 Keren banget soalnya 57:28 kita semua nih sudah senja usia. 57:30 Iya sudah. [tertawa] 57:31 Makasih ya Mas Rifki ya. 57:32 Makasih Mas Rifki. Bye. 57:34 Sama-sama. 57:35 Asalamualaikum warahmatullahi 57:37 wabarakatuh. 57:37 Waalaikumsalam. 57:39 Mbak Nuning. Saya mau tambahin beberapa 57:41 hal. 57:41 Iya dong. 57:43 Jadi ee kalau tadi Mas Rifki membahas 57:46 tentang bagaimana ee apa namanya 57:49 perasaannya gitu ya, merasa terisolasi 57:52 dan ee tantangan-tantangan yang terjadi 57:54 dari pasangan dari dari dengan ee beda 57:58 generasi tadi gitu ya, anak cucu yang 58:00 beda gayanya, mereka lebih digital, 58:02 mereka lebih informal gayanya. Sementara 58:05 orang yang lebih senior itu cenderung 58:06 lebih formal gaya-gayanya gitu ya. 58:09 ee terus sulit untuk ngomongin 58:11 perasaannya, enggak terbiasa 58:14 mengekspresikan dulu kan. Udahlah diam 58:16 aja deh kalau ada apa-apa gitu ya. 58:18 Sementara mereka kalau mau 58:19 mengekspresikan gayanya beda lagi ee 58:22 merasa kesepian atau juga mereka merasa 58:25 kehilangan bisa jadi sampai kehilangan 58:28 makna hidup itu berat banget begitu ya. 58:30 Ee ee apa namanya? Gaptek lagi ya. 58:35 mending ee jadi e eh untung-untung 58:38 kemampuan untuk minimal untuk media 58:40 sosial oke gitu ya. Tapi kalau misalnya 58:43 ada masalah-masalah dengan media sosial 58:45 atau dengan gadget juga kadang-kadang 58:47 masalah gitu ya. Eh maka supporting saya 58:50 setuju banget tadi ya dari Mas Rifki ya. 58:53 Supporting kita sebagai orang-orang yang 58:55 bisa mendukung ee ee orang-orang yang 58:57 sudah lansia di lingkungan kita gitu ya. 59:00 Itu apa yang perlu kita lakukan gitu ya 59:03 untuk mendukung mereka. Eh, bisa jadi 59:06 mereka juga punya masalah fisik ya, 59:08 gangguan fisik, pendengaran kurang jelas 59:11 ngomongnya juga daya ingat juga dimensia 59:14 ya. Jadinya ngomongnya miskomunikasi 59:17 atau akhirnya udah deh saya enggak usah 59:19 ngomong deh sama orang gitu ya. Nah, 59:21 gimana caranya komunikasi dengan 59:23 pasangan? ee 59:26 yang perlu dilakukan adalah mau membuka 59:29 diri tadi ee 59:31 melihat ini transisi yang wajar dalam 59:34 hidup gitu ya. Mau lebih dengerin, mau 59:37 lebih ee dekat sama pasangan, mau lebih 59:39 terbuka menyampaikan pikiran dan 59:41 perasaan ee 59:44 meskipun tadi ee sulit gitu ya, akhirnya 59:47 sendiri-sendiri gitu ya. Karena kan 59:48 kebutuhan pasangan itu ada yang ingin 59:51 bareng, ingin sendiri. Mungkin bisa 59:53 sama-sama memberikan ruang kalau mau 59:56 sendiri, tapi juga bisa menjalankan 59:58 rutinitas bersama. Jalan pagi bareng, 1:00:01 olahraga bareng, masak berkebun, atau 1:00:03 juga ee apa namanya? Ngobrol gitu ya. Ee 1:00:07 karena kalau kita sudah saling terbuka 1:00:09 bisa jadi maksudnya bisa saling mengerti 1:00:11 pikiran dan perasaan. mau empati gitu 1:00:14 ya, apa yang dia pikirin curhat, 1:00:16 dengerin curhat itu bakal lebih enak. ee 1:00:19 balik balik lagi menghormati ruang 1:00:21 pribadi tadi ya ee dan adaptif dengan 1:00:24 peran-peran baru. Terus sama anak kayak 1:00:26 gimana ee yang perlu dilakukan sebagai 1:00:29 ee lansia atau orang yang telah 1:00:33 menjalani ee pensiun gitu ya ee bisa 1:00:37 lebih ee jaga komunikasi dengan ee 1:00:41 generasi yang berbeda dengan anak cucu 1:00:43 begitu ya. Pahami cara berpikir mereka. 1:00:46 Jadi ee ee yang bisa kita kendalikan 1:00:49 adalah diri kita sendiri. Maka kita 1:00:52 siapapun posisi kita, kita yang berusaha 1:00:55 mengadaptasi. Ee orang-orang lain yang 1:00:58 ada di lingkungan kita. Alhamdulillah 1:01:00 juga bisa mengikuti ee upaya untuk 1:01:05 mendukung ee kita. Tetapi yang perlu 1:01:07 berubah adalah saya sendiri. Begitu ya. 1:01:11 ee jaga ee bisa memahami orang yang 1:01:15 berbeda gaya, berbeda ee kemampuan 1:01:18 digital gitu ya. Malah malah bisa 1:01:21 meminta tolong ee dekatin mereka dan 1:01:25 bisa ngertiin mereka, hindari menggurui. 1:01:27 Karena nanti kalau mereka misalnya 1:01:29 ngerespon dengan enggak enak, nanti 1:01:31 jadinya jadi ilfil juga gitu ya. Jadi 1:01:34 pendengar yang baik. Anak-anak kadang 1:01:35 juga butuh didengerin, bukan dinasehhati 1:01:38 gitu ya. ee menghargai perspektif mereka 1:01:42 karena sudah berbeda ya, sudah bukan 1:01:43 anak-anak lagi gitu ya. Ee ee kemudian 1:01:47 juga libatkan dalam kehidupan keluarga, 1:01:50 dalam kegiatan-kegiatan keluarga. ajak 1:01:52 main, diskusi, cerita, dongeng, 1:01:54 ketemuan, membangun koneksi emosional, 1:01:58 terus belajar teknologi. Ah, ini dia ya 1:02:01 [tertawa] refleksi untuk ee orang-orang 1:02:04 ee senior ya, lansia ya, belajar 1:02:07 teknologi gimana caranya ee ee jadi ee 1:02:12 kayak misalnya saya ngasih tahu sama ibu 1:02:13 saya begitu ya. Nomor satu dicatat ya. 1:02:17 Nomor satu ini dipencetnya ini, ini, 1:02:20 ini. Nomor dua. Jadi enggak apa-apa ibu 1:02:23 saya juga mau nulisin gitu ya. Ini nomor 1:02:25 satu ini yang dipencet 1:02:28 video atau menghapus foto atau apa 1:02:31 informasi yang supaya tidak berlimpah 1:02:34 ini banget bikin hang dan lain 1:02:35 sebagainya itu juga di diajarkan dengan 1:02:39 cara yang lebih pelan dan lain 1:02:41 sebagainya sampai ditulis gitu ya. Saya 1:02:43 setuju tadi dengan lingkungan sosial 1:02:45 ikut komunitas, ikut RT RW, berbagi 1:02:48 pengalaman ya manfaatkan orang-orang 1:02:51 senior ee untuk bisa mengajar, bisa jadi 1:02:55 ngaji, bisa jadi pembicara di majelis 1:02:58 taklim, membimbing generasi muda atau 1:03:02 juga ee ee ee apa menghindari untuk 1:03:06 komentar negatif sama beda generasi 1:03:08 karena memang generasi itu ee beda 1:03:11 pendekatannya. sama satu lagi keluarga 1:03:13 besar Mbak Nuning ya ee tetap jalin 1:03:16 silaturahim dengan keluarga besar secara 1:03:18 rutin ee ee ee kalau tadi ee dengan 1:03:22 lingkungan teman-teman alumni dan lain 1:03:25 sebagainya. Tapi keluarga besar itu 1:03:27 adalah kekuatan ee menurut saya penting 1:03:29 sekali ya acara-acara hadir untuk 1:03:33 membangkitkan ee ikatan-ikatan lagi. 1:03:36 Hindari ributan sampai misalnya ributan 1:03:39 warisan atau isu-isu sensitif gitu ya. 1:03:43 Dan bagaimana narik lagi supaya 1:03:45 nilai-nilai luhur keluarga besar juga 1:03:47 makin makin kuat gitu ya. Tetap hidup, 1:03:50 tetap ada kedekatan kita karena memang 1:03:52 ee keluarga itu betapa pentingnya gitu. 1:03:55 Jadi ee pensiunan itu memang 1:03:58 challenging gitu ya, komunikasinya 1:04:00 berbeda dengan kehidupan ee biasa 1:04:04 lainnya gitu. Gitu Mbak Nuning. 1:04:06 Masyaallah keren banget ya. Jadi ikhwan 1:04:10 akhwat, kesempatan untuk memahami 1:04:14 orang yang lanjut usia, bisa yang 1:04:17 serumah atau bisa juga tetangga dan 1:04:20 sebagainya tadi sudah mempersuasi kita 1:04:22 untuk ayo deh jangan diam aja katanya. 1:04:26 Sementara kalau ada yang punya hobi 1:04:29 menggambar, merenda, menulis ya itu juga 1:04:33 bisa jadi kegiatan para senja usia. 1:04:37 Iya. Sementara kalau 1:04:40 tadi ada perumahan yang terkoneksi 1:04:42 antara satu rumah 1:04:43 cuman sayang mesti dicari di Google kali 1:04:45 ya. 1:04:46 Ee jadi ee kami di keluarga saya kita 1:04:49 sudah mulai diskusiin lucu banget ya 1:04:51 kita punya rumah connected satu sama 1:04:53 lain satu rumah. Saya punya saudara yang 1:04:56 punya kayak begitu Mbak Nun tetapi itu 1:04:58 keluarga keluarga. Jadi bukan bukan ee 1:05:01 bukan umum gitu. 1:05:02 Umum. Iya iya 1:05:04 iya. Biasanya Mbak Mona sejauh ini kita 1:05:06 masih ada sedikit waktu. He. 1:05:08 Orang pensiunan itu kalau diajak ngobrol 1:05:10 tuh topik yang menarik bagi mereka apa 1:05:12 selalu masa lalu? Enggak juga. 1:05:14 Iya. Bisa masa lalu, bisa presentation 1:05:16 saat ini mereka ngerasain apa yang 1:05:18 mereka harapkan, apa yang mereka ee 1:05:21 inginkan. Ee cita-cita ke depan. Jadi 1:05:24 yang dulu, sekarang, dan masa datang 1:05:27 yang connected relate sama mereka. itu 1:05:30 yang perlu kita kita diskusikan, kita 1:05:33 tanya, kita cari diskusinya yang menurut 1:05:37 mereka tuh seru gitu. Itu itu ee apa ya 1:05:42 resolve untuk mereka begitu, Mbak 1:05:44 Nuning. 1:05:45 Iya. Iya. Ya, 1:05:46 kalau terkait dengan usia terus agak 1:05:49 enggak dengar gitu, gimana caranya? 1:05:51 Iya, ini tantangan ya. [tertawa] 1:05:54 Ngomongnya bisa lebih pelan, bisa lebih 1:05:57 keras ya. pelan dan keras gitu ya. Itu 1:06:01 lamban. Heeh. 1:06:04 Heeh. Sampai terdengar, sampai sama 1:06:06 makna. Di kepala kita jambu air, di 1:06:09 kepala beliau jambu air juga gitu. Jadi 1:06:12 dong tik gitu. 1:06:13 Iya. Iya. 1:06:13 Heeh. 1:06:14 Terus kan kadang-kadang ketika kita 1:06:16 ngobrol dengan ayah ibu 1:06:18 Heeh. 1:06:19 Ada saatnya kita memberikan ee masukan 1:06:22 atau saran itu biar enggak nyinggung 1:06:24 seperti apa komunikasinya. Ya, ini ini 1:06:27 dari kitanya ya kepada orang tua ya. 1:06:29 Muda. Heh. 1:06:30 Ya, kita bisa ee sampaikan misalnya itu 1:06:33 memang penting sekali ya dengan 1:06:36 hati-hati ee ayah ibu sampaikan saja 1:06:40 gitu ya bahwa menurut saya nih gitu ya 1:06:43 ee begini begini begini gitu. Jadi kita 1:06:46 sampaikan menurut pendapat saya begini 1:06:49 begini begini ee apa namanya bisa saja 1:06:54 ee ayah atau ibu punya pendapat yang 1:06:57 berbeda. Saya pendapatnya begini dan 1:07:01 alasannya kenapa rasional di balik ee 1:07:05 piki apa ya yang kita sampaikan itu, itu 1:07:07 membuat perbedaan gitu. Jadi orang tuh 1:07:09 bisa ngerasa ini tulus, ini enggak 1:07:12 tulus. Itu dari situ gitu, Mbak Nuning. 1:07:13 Iya. Iya. Ada enggak sesuatu yang kalau 1:07:16 bisa hindari bahas tentang bla bla bla 1:07:18 terhadap ayah ibu gitu biasanya? 1:07:21 Ee 1:07:23 saya belum kebayang sekarang ya ee apa 1:07:27 yang perlu dihindari. Ee 1:07:31 kayaknya ketika memang itu penting itu 1:07:33 perlu dibahas ya 1:07:35 apapun ya 1:07:36 enggak apa-apa. Heeh. 1:07:37 Heeh. Karena memang 1:07:39 keluarga kan gitu. 1:07:40 Heeh. 1:07:42 Dan kita waktunya sudah di penghujung. 1:07:45 Bisa jadi kalau ada yang mau ditambahkan 1:07:49 sebagai closing statement bahasan kita 1:07:51 kali ini. 1:07:51 Iya, terima kasih Mbak Nuning. Ee 1:07:53 alhamdulillah hari ini kita ngebahas 1:07:55 tentang komunikasi oke saat pensiun gitu 1:07:59 ya atau ee ini relate dengan lansia. Dan 1:08:03 alhamdulillah tadi sudah ada pakar ee 1:08:06 yang membahas terkait yang melakukan 1:08:09 penelitian terkait dengan ee apa namanya 1:08:12 ee komunikasi dengan lansia atau dengan 1:08:15 orang yang pensiun gitu ya. Ee kita 1:08:18 sudah dengarkan dari Mas Rifki. 1:08:20 Alhamdulillah. Terima kasih. Sebagai 1:08:22 catatan ee 1:08:25 komunikasi itu penting, kunci untuk 1:08:28 keluar dari keterasingan. Karena orang 1:08:30 yang cenderung sudah pensiun itu 1:08:33 cenderung mengalami perubahan-perubahan 1:08:37 dari biasanya aktif menjadi ee apa ee 1:08:41 banyak di rumah begitu ya. ee maka 1:08:45 bagaimana caranya kita tetap menemukan 1:08:48 makna hidup kita sendiri yang sebagai 1:08:51 orang yang sudah pensiun atau lansia 1:08:53 perlu menemukan makna hidup, beradaptasi 1:08:56 dengan perubahan karena yang pasti 1:08:58 adalah perubahan dan berkomunikasi 1:09:01 secara empati itu menyembuhkan diri kita 1:09:04 sendiri dan untuk ee bikin ee hubungan 1:09:07 kita lebih bermakna membangun 1:09:09 hubungan-hubungan baru. ee bahkan di 1:09:13 saat yang paling sunyi di dalam hidup 1:09:15 kita gitu ya, kita perlu ee berefleksi 1:09:18 kembali dan berusaha untuk ee ee apa 1:09:23 memperbaiki terus gitu komunikasi kita 1:09:26 dengan lingkungan-lingkungan terdekat 1:09:27 kita begitu. 1:09:29 Ee dan terutama juga dekat komunikasi 1:09:32 dengan Allah Subhanahu wa taala. Semoga 1:09:34 bermanfaat diskusi kita hari ini, Mbak 1:09:36 Nuning. Terima kasih. 1:09:37 Insyaallah. 1:09:38 Jadi untuk Mas Rifki terima kasih sekali 1:09:43 burung merpati terbang tinggi 1:09:46 hinggap di dahan pohon cemara. Terima 1:09:48 kasih hadirnya Mas Rifki mempersuasi 1:09:52 lansia untuk bicara. Mbak Mona juga 1:09:55 terima kasih banyak ya. Mudah-mudahan di 1:09:57 kesempatan lain karena banyak juga yang 1:10:00 lansia tuh merasa perlu banget 1:10:03 mendapatkan tambahan-tambahan seperti 1:10:05 ini. 1:10:05 Betul. Yang jelas lagi satu lagi ah 1:10:08 pantunnya. 1:10:10 Petik bunga di Taman Indah rangkai dalam 1:10:12 pot bunga cantik. Masa pensiun tiba 1:10:15 sudah tapi komunikasi tetap menarik. 1:10:19 Billahi taufik wal hidayah. 1:10:20 Wasalamualaikum warahmatullah 1:10:22 wabarakatuh.