Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:06 [musik] 0:08 Brail TV. 0:16 Asalamualaikum warahmatullahi 0:17 wabarakatuh. Allahumma shalli ala 0:19 Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad. 0:21 masih dipancarlaskan di Jalan Masjid 0:23 Silaturahim nomor 36, Radio Silaturahim 0:26 dan Rasil TV untuk Islam yang satu untuk 0:29 Indonesia bersatu. Gimana kabarnya Iwan 0:31 dan Ahwat ee Ahad malam ini? Semoga Iwan 0:34 dan Ahwat di Ahad malam ini diberikan 0:37 kesehatan dan juga keberkahan. 0:39 Ee malam Ahad Ahad malam ini kita masih 0:43 berada di program Bahlul Bahlulan. 0:46 Bahlul Bahlan, kali ini masih bersama 0:48 saya Oni Saputra dan ditemani oleh Syekh 0:52 Uncle Firman Muslim Tahir dan tamu 0:55 spesial kita yang sangat-sangat spesial 0:57 yaitu Sayid Ali. Okeat tanpa berpanjang 1:01 lebar kita langsung saja sapa beliau. 1:04 Asalamualaikum. 1:05 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:06 wabarakatuh. 1:06 Dan juga Sayid Ali. Masyaallah tamu 1:10 spesial kita ini. 1:11 Super spesial. 1:12 Super spesial. 1:13 Super spesial. [tertawa] 1:14 Gimana kabarnya Sayid Ali? 1:16 Alhamdulillah. 1:17 Sayid Ali ini kenapa super spesial? 1:19 Dia punya 1:20 account sosm yang 1:22 canggih namanya 1:23 Umatan Wahidah. 1:24 Oh masyaallah 1:25 ada dialognya namanya Aba Ali. 1:27 Aba Ali. Oh [tertawa] 1:29 Abali. 1:30 Ali dan Baba itu keren-keren loh. 1:31 Kerenkeren. Ali Baba dan Ali. Oh 1:33 keren-keren. Harus lihat. Harus lihat 1:36 ngebahas ganja, membahas rokok, membahas 1:38 sabu, membahas 1:40 ee 1:41 macam-macam 1:43 agama kontemporer. Kontemporer ya. Heeh. 1:45 Masyaallah. Nanti Iwan Nawat boleh tuh 1:47 dicek di umatan 1:49 Wahid. Ada di YouTube, ada di Instagram, 1:51 ada di TikTok. 1:53 Masyaallah. Oh, yang kemarin sempat naik 1:55 juga ya itu Fitnyak satu [tertawa] yang 1:57 mengenai siapa tuh? 1:58 Panji. 1:58 Panji. Iya. Saya saya lewat saya lewat 2:01 saya lihat saya lihat lewat di beranda 2:02 saya tuh. Iya iya. 2:04 Sombong banget kenal Ali enggak 2:05 ngelihat-lihat ya. 2:07 Udah udah lihat cuman pura-pura aja. 2:10 [tertawa] 2:10 Gimik gimik gimik 2:11 gimik aja. Gimik. Gimana Uncle? Ada 2:13 cerita apa nih tadi bahlul? Ini kita dua 2:15 bahlulak yang bahul cuma satu [tertawa] 2:17 doang 2:19 disama-samain lah 2:21 oke oke oke. Gimana unkel? Ada cerita 2:23 apa uncle? 2:24 Tapi ee sebelumnya saya mau cerita dulu 2:26 bahwa tema hari ini saya akan membahas 2:27 mengenai perkawinan. 2:29 Spesially karena Ondi baru kawin lagi 2:31 akhirnya. 2:32 Alhamdulillah. 2:32 Alhamdulillah. 2:35 Gitu dong macamnya. Terus, terus ialah 2:37 akhirnya kita ikut senang ya. Senang 2:39 banget nih. 2:40 Oke. Tapi cerita Bahlul yang saya akan 2:42 bahas gini. 2:43 Jadi, suatu ketika 2:44 setelah terjadi diskusi panjang antara 2:46 Raja Harun Al-Rasyid dengan Bahlul, 2:49 akhirnya Raja bilang gini, "Bah Lul, 2:51 gimana 2:52 kamu mau minta apa ke saya? Apapun 2:55 permintaan yang kamu minta akan saya 2:56 berikan." Lantas Bahlul bilang, "Serius, 2:59 Raja." "Iya, apapun yang kamu minta akan 3:02 saya berikan." Oke. Saya mengajukan tiga 3:04 permintaan. Kata Raja, "Silakan 3:07 permintaan pertama. Pastikan, tolong 3:10 raja pastikan bahwa saya tidak akan mati 3:12 dan tidak akan tua." 3:15 Lantas Raja bilang, "Ya enggak bisa, 3:16 Bah. Lu saya enggak bisa seperti oke. 3:19 Kalau gitu permintaan yang kedua. Kalau 3:21 raja tidak bisa memastikan saya tidak 3:23 bisa mati dan tidak tua, pastikan pada 3:26 saat saya mati nanti saya akan masuk 3:28 surga." 3:30 Raja bilang, "Enggak bisa juga, Bah. 3:32 Loh, saya enggak bisa memastikan itu. 3:33 Oke, kalau gitu permintaan terakhir aja. 3:37 Kalau Bapak, kalau Raja tidak bisa 3:38 memastikan saya tidak ee pasti masuk 3:41 surga, tolong deh. Paling enggak 3:42 pastikan saya tidak akan menyentuh api 3:45 neraka. 3:47 Raja bilang, "Wah, Bahlul itu saya 3:49 enggak bisa. Enggak mungkin saya 3:51 mengabulkan permintaan itu padamu." 3:53 Lantas Bahlul bilang, "Kalau raja tidak 3:55 bisa mengabulkan permintaan saya itu, 3:58 ngapain saya menggantungi hidup saya ke 3:59 raja?" 4:00 Ingat raja tuh cuman raja di dunia bukan 4:03 sesungguhnya raja. 4:05 Gitu nih cerita bahlul simpel tapi 4:08 dalam. Kenapa? Kita ini sering 4:10 menggantungkan diri ke orang. 4:12 Iya betul. 4:13 Menggantungkan diri ke makhluk. Nah, 4:15 kenapa nyambungnya ke perkawinan? Ada 4:17 ceritanya nih. 4:19 Ada ceritanya. Gimana? Seru. Seru. 4:20 Gimana? 4:21 Oke. Dalam perkawinan Ondi saya cerita 4:23 dulu nih sedikit. 4:24 Heeh. 4:25 saya cerita dikit berdasarkan data yang 4:28 saya ee kumpulkan. 4:31 Ondi tahu apa? 4:34 ee 4:38 pada tahun 4:40 2023 sampai 2024 he 4:44 selama 3 dekade terakhir 4:49 tingkat perkawinan di Indonesia 4:51 mengalami titik terendah 4:53 dalam sejarahnya yaitu hanya tercatat 4:57 sebagai hanya tercatat sebanyak satu 5:01 ee 1,5 juta pernikahan 5:05 Sedangkan tingkat perceraian di tahun di 5:08 tahun yang sama 2023 dan 2024 5:11 mencapai titik tertinggi 5:15 yaitu sampai 4. 400.000 kasus perceraian 5:20 di mana 77% di antaranya adalah gugat 5:23 cerai. 5:24 Artinya perempuan yang mengajukan 5:26 gugatan untuk perceraian. 5:30 Canggih ya. Canggih ya. Canggih. 5:35 Nikahnya dikit, 5:36 cerinya banyak. 5:37 Cerinya banyak. Kenapa saya ngangkat 5:39 ngangkat tema ini? Pertama karena Oni 5:41 baru kawin. 5:42 Kedua, 5:44 kurang lebih 3 hari yang lalu 5:45 saya ngobrol dengan anak saya yang 5:47 paling gede. 5:49 Temannya ada yang ngomong gini, 5:52 "Lu emang Mas lu emang masih percaya 5:54 sama sama ikatan perkawinan?" Gua sih 5:56 enggak percaya lu. 5:57 Gua sih udah enggak gua tuh udah enggak 5:59 mau kawin lah. Gua enggak enggak mikir 6:00 untuk nikah. Enggak ada niat ke situ ya? 6:02 Heeh. Kenapa? Dia sampai ngomong gini, 6:06 "Tolong kasih lihat ke saya 6:09 keluarga yang bapak ibunya masih utuh. 6:14 Yang masih utuh tolong kasih lihat ke 6:16 saya Bapak dan Ibu yang makan malamnya 6:20 duduk bersama. 6:22 Tolong kasih lihat ke saya karena dia 6:24 agama Islam. 6:26 Keluarga yang masih menjalankan salat 6:30 magrib berjamaah. 6:34 Alhamdulillah di lingkungan kita itu hal 6:36 yang wajar. Di lingkungan kita nih di 6:38 Cibubur nih. Iya. I 6:40 itu hal yang wajar. 6:42 Tapi ternyata di luar enggak juga, Le. 6:44 Iya, benar. 6:44 Enggak juga, Bib. Enggak juga. Ada yang 6:47 bapaknya sibuk aktif di masjid lupa 6:49 ngurus anaknya. 6:51 Anak diperintah salat kamu ke masjid 6:53 kamu ini gini. Tapi enggak diajak. 6:56 Sedangkan tolong dibenarin kalau salah, 6:59 Bib. Hampir semua perbuatan yang 7:02 baik-baik Rasulullah itu memberi contoh 7:04 bukan hanya mengajak. 7:08 Seorang bapak hanya sibuk memikirkan 7:09 salat di masjid. Salat di masjid. 7:11 Sebelum melangkah ke masjid 7:14 bikin dulu anaknya nyaman salat jemah. 7:16 Benar enggak, Bu? 7:18 Kadang-kadang bapaknya pengin terlihat 7:20 bahwa ahlul masjid tapi lupa di 7:22 rumahnya. 7:24 Iya. Nah, saya gara-gara anak saya 7:26 ceritanya itu, Beb. Langsung cari. Wah. 7:29 Ternyata benar 7:31 efeknya. Kenapa nih? Hal ini perlu kita 7:33 bahas Ondi tahu Jepang itu sekarang 7:36 krisis 7:37 Oh. 7:38 Manusia, Bib. 7:39 Iya. SDM. Iya. 7:40 Kris SDM. Kris manusia karena orang 7:44 enggak mau nikah. 7:45 Oke. 7:48 Karena tanggung jawab. 7:50 Karena beban segala macam. Beban anak. 7:53 Andaikan yang nikah karena di Jepang itu 7:56 punya budaya kerja itu kalau kamu pulang 7:59 jam on time walaupun jam kerja 9 to5 8:02 gitu tapi kalau kamu pulang on time 8:07 dicemoohkan. Jadi pulangnya jam 10. 8:09 malam baru pulang. Terus lagi di Jepang 8:12 ada budaya menghabiskan uang untuk ee 8:15 minum-minum dulu alkohol 8:16 foya-foya. Oke. Bukan bukan niat 8:18 foya-foya culture. 8:20 Oh, 8:20 culture. 8:22 Nah, Anda gini. 8:25 Kalau kita laki-laki pulang malam terus, 8:29 maka kualitas sperma akan turun. Kalau 8:32 kualitas sperma akan turun, kira-kira 8:34 mudah enggak punya anak? 8:35 Susah. 8:38 Makanya Jepang mengalami krisis seperti 8:39 itu. Pertama, mereka sudah malas nikah 8:42 karena dibebani, harus menafkahi ini, 8:44 ini, ini, ini, ini, segala macam. 8:47 kedua 8:49 ee budaya kerja yang seperti itu 8:51 dan itu terjadi di Indonesia seperti 8:53 itu. 8:54 Indonesia 8:54 saya sedikit teman saya tuh bilang gini 8:57 sekarang tuh di lingkungan kita kata 8:59 teman saya itu anak-anak udah enggak mau 9:02 ada niatan buat nikah karena gini budaya 9:05 adat dijadikan keharusan seperti ee 9:08 resepsi. Resepsi itu kan budanya gede. 9:11 Oh iya 9:11 enggak sedikit. 9:12 Itu kan adat budaya kan sebenarnya. Dan 9:15 itu dijadikan alasan mereka enggak mau 9:16 nikah karena butuh modal gede. Satu itu 9:19 kan. Terus kedua juga nanti membayi 9:21 pasangan katanya kan. Terutama laki-laki 9:24 membayi istri. Terus kalau si istri 9:26 perempuan nanti lahir sakit 9:29 nanti taruhannya nyawa nanti meninggal 9:31 mati dia enggak mau punya anak dan 9:32 akhirnya enggak ada kepikiran buat 9:35 nikah. Itu salah satu faktor budaya adat 9:38 dijadikan keharusan. Lihat BB ahli masih 9:40 muda istri tiga. 9:41 Eh salah satu istri anak tiga. Salah 9:43 salah salah. Salah suetuknya [tertawa] 9:48 kayak gini 9:50 saya kaget loh loh [tertawa] saya pikir 9:52 oh benar gitu tapi Bib kalau 9:55 diperhatikan kenapa hal itu terjadi nih 9:57 ternyata 9:59 mereka lupa dalam perkawinan itu 10:03 mereka melupakan satu hal penting 10:05 apa itu 10:07 ini kalau menurut ana bib gantungkan 10:10 harapanmu, 10:12 fokus utamu 10:13 Doamu pada Allah bukan pakada kinerja. 10:18 Bukankah Allah yang menjamin setiap 10:20 perkawinan Allah akan mendatangkan 10:21 rezeki? Setiap anak memiliki rezekinya 10:24 sendiri sampai hewan melata pun Allah 10:26 jamin rezekinya. Kok Allah yang 10:28 menciptakan makhluk enggak ngjamin 10:30 rezeki? Kita kerja harus kerja itu 10:32 ikhtiar. Tapi jangan berpikir bahwa 10:34 keberhasilan kita karena ikhtiar kita. 10:37 Kita harus memposisikan Allah sebagai ee 10:41 peran utamanya. 10:43 kita nih enggak aduh kerja aja begini 10:46 begini begini ya. Iya. Makanya kalau 10:48 kamu ngandelin keberhasilan kerja karena 10:51 kinerja kamu kamu akan mendapatkan dari 10:53 hasil kerja kamu. Tapi kamu lupa Allah. 10:56 Sedangkan Allah kan bisa memberikan 10:58 dikali 10 dikali 70 kayak gitu orang 11:02 suka lupa. Padahal dalam perkawinan itu 11:04 ada apa, Bib? Sakinah, mawadah, 11:06 warahmah. Semua dalam perkawinan. Semoga 11:09 pada perkawinan on ini menjadi 11:11 perkawinan sakinah mawadah warahmah. 11:13 Sakinah mawadah warahmah ada di tangan 11:14 siapa, Bu? Tangan Allah. 11:16 Tan bukan kita. Sakinahnya itu hadiah 11:19 dari Allah. Setelah kita berusaha 11:21 menjadi keluarga yang baik, maka tutuan 11:24 rahmat Allah akan turun. Setelah cucuran 11:26 rahmat Allah turun, maka akan 11:28 terciptanyaah keluarga mawadah. Ya, 11:30 sakinah. 11:30 Nah, setelah terjadi rahmat dan mawadah 11:32 datang, maka akan tersiram lagi sakinah. 11:35 Itu semua berharapnya siapa? Enggak ada 11:37 usaha kita Allah semua. 11:41 Kalau pikir itu yang harus di kasih 11:44 paham ke 11:44 Iya. Pertanyaannya pertanyaannya 11:48 ini ustaz banyak banget sekarang. 11:50 Betul. 11:50 Majelis taklim banyak banget. Pengajian 11:52 capek banyak banget itu baliho di 11:55 mana-mana pengajian-pengajiannya kok 11:57 kualitas manusianya makin terdegradasi. 12:00 Jangan-jangan pengajian dan majelis 12:02 taklim itu cuma dijadikan hiburan, bukan 12:05 mengisi hati dan akal 12:08 juga. Mungkin kualitas ustaznya menurun 12:11 juga kali itu. 12:11 Ah sahih. 12:13 Sekarang orang ngelihat ustaz vira bukan 12:15 ustaz berkualitas bagus. 12:18 Kalau dulu terkenal karena kualitasnya 12:20 bagus ya, Bib ya. 12:21 Seang karena follower ya mungkin kali 12:22 ya. 12:22 Karena follower ngejadiin ustaz follower 12:25 banyak kan pernah aneh ceritanya jadiin 12:27 ustaz follower banyak gampang. 12:29 Yang susah itu 12:32 ustaz yang istikamah. 12:36 Kalau Babah sempat bilang kan yang 12:39 pertama kali dihukum di akhirat itu di 12:41 api neraka itu para ulama. 12:43 I 12:45 ini bisa pertama kali 12:46 enggak menyadarkan umat dijadikan kuda 12:49 pacu untuk mereka untuk kepentingan 12:51 dunianya. 12:54 Ini kita masuk pasal penyelewengan agama 12:56 enggak ya? Penghinaan agama ya? 12:58 Lapor [tertawa] 13:00 aneh nyerang ulama deh. Babbab 13:02 perkawinan ini saya akan menyerang 13:03 ulama, pemerintah, orang tua. Siap-siap 13:07 kupingnya pada panas semua. [tertawa] 13:10 Eh, BB tambahin BB. 13:11 Kalau menurut Sayid Ali sendiri gimana 13:13 nih? Said dong. 13:14 Sayid Ali. Ali aja yang harus pakai 13:15 Sayidsid. 13:16 Tanggapan gimana mengenai sekarang tuh 13:17 ee apa maksudnya itu perkawinan di zaman 13:21 sekarang tuh? 13:22 Karena mungkin juga sekarang kalau kita 13:24 lihat kan faktor ee perempuan dan 13:26 laki-laki semakin selektif. Jadi kayak 13:29 ada yang dulu pernah ana tanyakan ke 13:31 Baba juga. Sekarang misalnya perempuan 13:33 usianya misalnya jaraknya ada harus ada 13:35 selisih misalnya maksimal 5 tahun dia 13:37 enggak mau terlalu tua enggak mau 13:38 usianya di bawah dia terus misalnya 13:40 harus harus ee penghasilannya di atas 13:43 dia kan ada persyaratan-persyaratan itu 13:45 kan misalnya dua digit misalnya 13:46 laki-lakinya. Jadi banyak 13:47 kriteria-kriteria misalnya kayak harus A 13:50 B C D yang akhirnya bukannya malah 13:52 menjadi panduan menjadi pagar berlapis 13:55 ya kan perempuan biasanya sih perempuan 13:57 kita lihat ya sangat selektif karena 13:58 takut mungkin dalam berbagai hal mungkin 14:00 takut hidup sengsara dengan situasi 14:01 ekonomi yang semakin marit-marit kayak 14:03 sekarang kan jadi dia semakin menambah 14:06 ee kriteria-kriteria yang akhirnya malah 14:08 membuat dia semakin susah kan dalam 14:09 memilih perempuan laki-laki Anda 14:15 bang ada masalah jadi kayak Ee jadi 14:18 bukan menjadi apa bukan bukan tuntunan 14:21 agama tapi dari tuntunan tuntutan dari 14:23 sosial gitu yang membentuk akhirnya 14:26 semakin ekspektasi ee pasangan Munaudi 14:29 sekarang juga semakin tinggi. Jadi 14:32 berharap mungkin kalau nikah penginnya 14:34 sudah berumah, penginnya apa segala 14:35 macam. Jadi tidak dipersiapkan untuk 14:37 menghadapi tantangan hidup. Tapi ketika 14:40 berhadapan pada realita kehidupan dia 14:42 merasakan goncangan. Akhirnya kan banyak 14:45 terjadi kayak perceraan seperti kata 14:46 uncle firman sebutkan sebelum 14:48 enggak kayak Pertamina enggak mau 14:50 dimulai dari nol. [tertawa] 14:51 Iya benar 14:52 maunya sudah terisi penuh gitu. 14:54 Nah itu terus 14:57 lagin coba atau apa yang antum kira-kira 14:59 saya tambahin dikit. 15:00 Ondi tahu enggak penyebab perceraian 15:03 terbesar apa? 15:04 Apa tuh? 15:05 Apa menurut Ondi? 15:06 Kalau saya pribadi mungkin faktor 15:08 ekonomi 15:09 ekonomi 15:09 menurut lebih Pali apa? Faktor 15:13 biasa paling besar sih ekonomi atau ee 15:16 hal-hal mungkin hal-hal yang kecil yang 15:17 sering jadi 15:18 percaya enggak ekonomi itu salah kalau 15:20 dibilang penyebab perceraian terbesar 15:21 apa dong 15:22 salah 15:23 oke 15:25 kalau penyebab ekonomi adalah faktor 15:27 perceraian terbesar maka perceraian 15:30 terbanyak dilakukan oleh 15:32 orang miskin 15:32 orang miskin 15:33 enggak nih 15:35 ternyata penyebab perceraian terbesar 15:38 sebesar 63% disebabkan adalah 15:43 pertengkaran yang terus-menerus. 15:46 Akumulasi berarti akumulasi dari hal-hal 15:47 kecil kali ya. 15:48 Kenapa nyambung ke cerita Bahlul tadi? 15:50 Benar. 15:51 Terkadang suami bertingkah sebagai raja. 15:55 Oh. 15:57 Yang kaya nih. Yang kaya nih kita 15:58 berbicara misalnya di sudut panjang ya. 16:00 Saya sudah ngasih kamu duit, ngasih uang 16:02 belanja, rumah enak segala macam. Kamu 16:04 kenapa tidak melayani A B C D E? 16:08 dituntut istri kayak gitu. Sebetulnya 16:10 kamu kawin sama istri apa sama pembantu? 16:13 Punya asisten segala macam gitu. 16:15 Kadang-kadang orang menindas istrinya 16:17 enggak. Perkawinan itu kan teamwork. 16:19 Iya. 16:20 Ya kan? Ada kutub utara, kutub selatan. 16:24 Karena perbedaan kutub itu bersatu dalam 16:25 ikatan perkawinan. Harusnya kerja sama. 16:28 Ya kan? Karena kesuksesan suami 16:31 tergantung doa istri juga bukan begitu. 16:33 Contoh Firaun tuh berhasil banget, 16:36 sukses banget. Heeh. 16:38 Terkaya banget. Memimpin hebat, 16:39 kekuasaannya hebat. Istrinya salehah. 16:42 Heeh. Heeh. 16:44 Iya. Iya. 16:44 Suaminya amburadul tapi sukses. Tapi 16:46 istrinya salehah. 16:47 Ya pernah enggak asing kas ceritanya 16:49 begitu kali ya? 16:50 Kayaknya enggak asing. [tertawa] 16:53 Aneh enggak? Aneh enggak? 16:54 Aneh. Aneh. 16:55 Harusnya Firaun dihancur-hancur dong. 16:57 Enggak. Karena dia sudah terlalu 16:58 membangkang dan istrinya akhirnya 17:00 berlepas tangan baru hancur. Istrinya 17:03 salehah, istrinya Firaun. Asiah ya, Bib. 17:06 Ya. 17:07 Nah, ternyata karena pertengkaran 17:11 kalau orang dulu kan gini, misalnya 17:12 punya anak perempuan, kamu nanti nurut 17:15 ya, Nduk sama suami kamu. Ah, ingatan 17:17 ibunya nurut sama suami kamu. Patuh si 17:20 laki-laki. Saya nih waktu mau kawin cuma 17:23 diingetin ya. Kamu jadi suami yang 17:25 bertanggung jawab. Lindungi istri kamu, 17:28 bimbing istri kamu, perlakukan istri 17:31 kamu sebagaimana kamu mau diperlakukan 17:34 oleh orang lain. Saya kan pengin 17:36 diperlakukannya baik-baik. Tentu saya 17:38 harus memperlakukan istri saya 17:39 baik-baik. 17:42 Satu itu. Ini karena enggak suami pengin 17:44 jadi raja, si istri pengin jadi ratu. 17:48 Wah, udah berantem deh. Terus pernah ada 17:50 nasihat dari babah juga kemarin masalah 17:53 pernikahan. Jadi yang kita ee yang 17:54 sering jadi fokus karang muda-mudi 17:56 sekarang tuh langsung kayak Bang uncle 17:58 Fir jadi menuntut haknya dia tapi 18:02 kewajiban nomor dua bilang jalankan dulu 18:04 kewajiban kita semisal sebagai suami dan 18:06 sang juga menjalankan kewajibannya 18:08 sebagai istri. Nah, insyaallah baru 18:09 setelah itu insyaallah dari dari 18:11 masing-masing pasangan juga pasti akan 18:13 ada timbal balik gitu. Jadi jangan 18:14 terfokus kamu harusnya begini, harusnya 18:16 begini begini. Padahal kita belum 18:18 menjalankan kewajiban kita sebagai suami 18:22 ee kayak istilah orang Indonesia. Kalau 18:25 kamu menunjuk 18:27 jari yang ke hadapan kamu tuh lebih 18:28 banyak daripada ke hadapan orang lain. 18:31 Iya enggak? Kan begini. 18:32 He 18:33 oni harusnya begini dong. Yang ke 18:35 kitanya kan lebih banyak. Itu istilah 18:37 orang dulu tuh sering bilang kayak gitu 18:39 seharusnya si suami bilang saya seperti 18:42 yang Habib Ali bilang, harusnya saya 18:44 seperti ini, seperti ini. Masing-masing 18:46 pihak berusaha menjadi yang terbaik 18:49 untuk masing-masing. 18:51 Kira-kira mudah enggak? Enggak mudah. 18:52 Dan itu akan terus belajar. Saya sudah 18:55 perkawinan berapa tahun, terus belajar 18:58 enggak luput kesalahan tiba-tiba ada ada 19:00 sck dikit ada apa segitu itu hal yang 19:02 wajar. Tapi sama-sama punya tekad ingin 19:05 menjadi yang terbaik buat masuknya. Yang 19:07 paling penting kuncinya satu, sama-sama 19:08 punya tekad mencari rida Allah. 19:11 Kalau target arah kitanya berbeda, ingin 19:14 mencari rida Allah, niat-niat perkawinan 19:16 ibadah, sedangkan istri pengin niatnya 19:18 pengin punya anak, pengin menumpukan, 19:19 itu enggak bakal enggak bakal ketemu tuh 19:21 susah. Arahnya dulu samain mencari rida 19:24 Allah. 19:26 Ternyata 63% karena 19:29 terus masalah-masalah kecil. 19:32 Saya banyak di punya kenalan, teman saya 19:35 orang kaya, suami istri, pengusaha 19:37 dua-duanya. Cerai 19:39 cerai 19:40 padahal udah udah 19:41 udah 19:42 BGnya cerai cerai. 19:45 Iya. 19:45 Dan saya pikir cerainya karena 19:46 perselingkuhan enggak enggak merasakan 19:50 kehangatan dalam rumah. 19:55 Misalnya pulang. Nah, kadang-kadang 19:57 sekarang kan perempuan apa-apa kalau 19:59 suaminya misalnya sampai terselingkuh 20:00 langsung judulnya oh pelakor. 20:02 Iya 20:03 loh koksek dulu kalau suami enggak 20:05 dilayanin, dicuekin apa segala macam 20:08 tiba-tiba di luar ya namanya namanya 20:11 laki-laki tuh istilah zaman sekarang beb 20:14 apa 20:16 Gen itu lebih senang sama laki-laki umur 20:18 40 tahun ke atas. Kenapa? 20:20 Tolong dicatat nih yang masih muda-muda. 20:22 Karena laki-laki 40 tahun ke atas biasa 20:24 lebih mapan. Eh, 30 tahun kayaknya deh. 20:26 Oke, 30 tahun ke atas. Lebih mapan. 20:29 Benar-benar 40 ya. 20:30 Lebih perhatian, lebih penyabar 20:32 dibanding yang muda. 20:33 Iya, betul. 20:34 Itu yang baru-baru lulus SMA. 20:36 Iya. 20:37 Yang baru-baru lulus itu ternyata 20:39 berdasar survei itu yang terjadi. 20:40 Dan itu fakta, Pak. 20:41 Fakta. Dan itu enggak itu survei. 20:44 Teman saya kayak gitu yang teman-teman 20:46 teman saya yang seusia saya yang 30 20:48 nikahnya sama yang baru lulus SMA ada 20:50 beberapa 20:51 itu fakta bukan survei. 20:53 Iya. 20:53 Iya. Kan kalau saya berdasar survei 20:55 karena saya kan enggak main yang kayak 20:56 gitu. [tertawa] 20:58 Jadi harus di harus pertama setiap istri 21:01 crossing seperti tadi introspeksi diri 21:06 laki-laki juga kan. Penyakit laki-laki 21:08 di mata ya, Bib ya. 21:09 Betul. 21:09 Penyakit perempuan di kuping. 21:13 Sebenarnya ulama itu saya mau nanya, 21:14 Bang. Sebenarnya ulama itu 21:15 kalau ulama kali ulama sayid Ali. 21:18 [tertawa] Sebenarnya ulama itu udah 21:20 memberikan apa ya maksudnya arahan 21:22 enggak sih tentang ee 21:25 pernikahan I pernikahan dalam dalam segi 21:27 agama gitu kan. Karena sekarang tuh 21:29 banyak faktor yang tadi Bang Iman bilang 21:31 kan tuh kan mungkin karena kekurangan 21:33 tahuan kekurang tahuan mereka tentang 21:35 agama kan jadi akhirnya cekcok segala 21:37 macam berantem jadi satu sama lain tuh 21:39 enggak mengerti dan enggak 21:40 memberitahukan gitu harusnya begini nih 21:43 nanti kamu begini entar kita begini ya 21:45 gitu nanti kita di agama Islam bagaj 21:47 begini begini nah apakah ulama enggak 21:50 mengajarkan beb atau gimana biar kalau 21:53 ditanya ulama mengajarkan banyak ini kan 21:54 di depan di hadapan ee anak kan buku 21:58 tantangan wawasan Al-Qur'an tentang 22:00 pernikahan ya yang bagian kebetulan 22:01 babnya misalnya Prof. Quraisy. Quraisy 22:03 misal menjelaskan bagaimana kayak tali 22:05 temali perekat pernikahan. Banyak banyak 22:07 sekali ulama-ulama yang membahas hal-hal 22:09 cuma kan ee kebanyakan mereka juga tidak 22:12 mendapatkan pendidikan yang tepat dari 22:13 kecil tentang agama. Jadi akhirnya 22:15 mereka juga enggak mencari, enggak 22:16 merasa butuh bimbingan kan gitu. Kan 22:17 kebanyakan sekarang anak-anak muda 22:18 sekarang kan enggak merasa butuh 22:20 bimbingan dari orang dari guidance dari 22:22 orang tuanya mereka enggak enggak enggak 22:23 apa tidak tidak indahkan gitu kan. 22:25 misalnya mereka enggak mereka enggak 22:26 pedulikan saya berkenan sama pernikahan 22:29 sama anak merasa dengan ee dengan 22:32 dirinya sendiri sudah cukup gitu. Kalau 22:34 kita cari kalau kita misal mencari guru 22:36 yang tepat, nah insyaallah bimbingan itu 22:38 akan datang juga kayak misal-masalah 22:41 dalam pernikahan di sini qua ya bilang 22:45 ee perakat pernikahan itu ada cinta 22:47 pertama yang paling dasar karena paling 22:48 kecil mawaddah rahmah dan amanah Allah. 22:52 Jadi di situ ada kalau seandaipun kata 22:54 cintanya pupus dan mau ada ee putus gitu 22:57 masih ada rahmat. Kalau seandainya 22:58 rahmat sudah enggak ada, masih ada 23:00 amanah. Jadi seandainya kalau misal 23:01 seandai pasangan itu beragama, beriman 23:03 gitu maka amanahnya terpelihara. Jadi 23:06 tidak mungkin terjadi perceraian. 23:08 Ini dari dari Prof. Qurais. Jadi 23:10 mawaddah itu karena selama ini Anda juga 23:13 baru kurang begitu memahami apa arti 23:15 mawadah. Mawadah itu adalah kelapangan 23:17 dada dan kekosongan jiwa dari kehendak 23:19 buruk. dikehendak. Jadi itu adalah cinta 23:22 plus ini kan dari sini aja kan kita bisa 23:24 lihat bagaimana bagaimana menghadapi 23:27 misalnya ke dalam pernikahan itu apa 23:28 yang harus diekspektasi terhadap 23:30 pernikahan apa yang kewajiban harus 23:32 jalani sebagai seorang suami sebagai 23:34 istri apa jadi bahkan di sini dilarang 23:37 menceraikan istri ketika cinta itu 23:39 hilang 23:40 menarik. Jadi dalam surah An-Nisa di 23:42 sini di profes bahas. Jadi pergaulilah 23:44 istri-istrimu dengan baik dan apabila 23:46 kamu tidak lagi menyukai atau mencintai 23:48 mereka jangan putuskan tali-tali 23:50 perkawinan karena boleh jadi kamu tidak 23:52 menyenangi sesuatu tetapi Allah 23:54 menjadikan padanya di balik itu kewajib 23:56 kebaikan yang banyak. Jadi 23:58 menjadikanakan sekarang jadi ekpek 24:00 ketika apalagi dengan gempuran-gempuran 24:03 kayak eh Korea apa namanya drama Korea 24:06 Drakor 24:07 Dracin. Oh iya ganti dracin. Nah kalau 24:09 dracin temanya pengusaha sukses nyamar 24:11 jadi pelayan gitu. [tertawa] 24:14 Itu 24:14 drama pendek. 24:15 Drama pendek itu parah banget itu. 24:16 Nyandu nyandu banget itu. Itu harus 24:18 dijauhi karena sekali kita lihat kita 24:20 bakal kepatok gitu. 24:21 Siapa tahu kalau di senjata 24:23 bisa jadi nih menyamar jadi keluar 24:25 hasil. Jangan bilang juga cukup ak sama 24:28 Sid aja tahu 24:29 kan dari dari baru kita baru ana buku 24:31 tadi buku masalah pernikahan ini. Jadi 24:33 ee bimbingan bagaimana kewajiban apa 24:36 haknya apa. Kita harus ketahui dulu itu 24:39 sebelum kita menjalankan pernikahan. 24:40 Jadi kedewasaan yang dibutuhkan dalam 24:43 pernikahan itu kedewasaan mental. Bukan 24:45 hanya bukan kemapanan, tapi kedewasaan 24:48 ee real. Kalau misalnya ada ada orang 24:51 yang pernah bilang gini, ada menariklah 24:53 dia katanya zaman dulu orang tua kita 24:55 itu ketika menikah mereka menyadari 24:57 bahwa di dalam pernikahan itu memang ada 24:59 pergulatan hidup. Jadi susah, sedih, 25:01 senang itu memang bagian. Jadi mereka 25:03 menikah dengan pemahaman bahwa emang 25:06 susah ee susah apa susahnya hidup, 25:08 pergulatan, suka duka dalam pernikahan 25:10 itu ada resiko 25:12 resiko 25:12 sudah dikasih tahu seperti itu. Nah, 25:15 sekarang ekspektasi orang terhadap 25:16 pernikahan dengan adanya drakord-drak 25:18 macam-macam itu kan ketika seakan-akan 25:20 nikah itu mendapatkan pasangannya 25:22 misalnya k dari perjalanan seorang 25:23 CEO-nya sama COnya itu kan sampai heren 25:25 nikah itu kan setelah itu jadi 25:26 seakan-akan setelah menikah itu 25:29 enak 25:29 enak happy ending apa heavily ever after 25:31 gitu kan jadi dia tidak melal setelah 25:33 itu ya Cinderella aja bisa ribut 25:35 ibaratnya sama pasangannya kan gitu itu 25:37 kan tidak diteruskan kan itu menjadi 25:39 mahal mahal sebenarnya pernikahan itu 25:40 menjadi babak awal 25:42 perjuangan 25:44 jangan mikir 25:45 Aduh nikah. Oh mau kawin sama orang e 25:48 semua pengin pengin kawin sama yang 25:50 ganteng, baik, kaya 25:53 saleh. Terus w lu ngih ngasih ngasih 25:56 standar ketinggian banget dirinya. Emang 25:57 kayak gimana gitu kan. 25:58 Lah dokter kalau kasih standar tinggi 26:00 gimana? 26:00 Enggak jelek. [tertawa] Enggak seorang 26:02 punya standar boleh. Maksudnya jangan 26:04 gini, jangan langsung pengin 26:06 pengin hidup enak. 26:07 Heeh. 26:08 Ee nikah dengan oh tandanya hidup kamu 26:10 enggak bahagia. Nah, itu yang saya tadi 26:12 kan bilang saya akan menyalahkan kepada 26:14 para ulama, orang tua, pejabat, ya kan. 26:18 Kenapa orang tua enggak mengambil peran 26:20 banyak untuk menyadari anak-anaknya, 26:22 melakukan pendidikannya bahwa perkawinan 26:24 ini ibaratnya mobil. Mobil itu starting 26:27 dari gigi satu dulu, lambat baru melaju 26:29 ke kencang. 26:31 Nah, satu kesalahan orang tuanya. 26:33 Kenapa? Karena 26:36 orang tuanya dituntut dengan kebutuhan 26:38 ekonomi yang tinggi. Ini kesalahan 26:39 pemerintah nih. 26:41 Pemerintah nih punya peran karena kalau 26:43 sampai banyaknya perceraian selain 26:45 keluarga ulama, pemerintah punya peran. 26:49 Karena apa? Karena kenapa? Hidup 26:51 masyarakat sampai demikian ditekang di 26:53 sekarang penjomplangannya kaya sama 26:54 miskin tuh wah parah banget nih. Parah 26:57 banget. Saya ketemu orang dalam 26:59 garasinya ada Rollsroyce. 27:01 Mobil itu harga mobilnya 10 miliar. 27:05 Ada McLaren. 27:09 Mobil dia yang paling murah itu Land 27:10 Cruiser. 27:11 Itu di atas 2,5 miliar. 27:14 Di atas itu mobil paling murahnya. Mobil 27:16 paling murahnya. Dan itu kurang lebih 27:18 dia ada tujuh mobil ya. 27:20 Tujuh mobil. Dan bayangin, tapi di satu 27:24 sisi kita ngelihat orang yang rumahnya 27:27 kontrakannya sepetak, tanah lantainya 27:30 masih tanah. 27:33 Ke mana peran pemerintah menjaga 27:35 stabilitas antara jurang si kaya dan si 27:37 miskin? Kalau yang satu biasa 27:39 berpuas-puas dengan ekonomi, satu sangat 27:41 tertekan. Dan biasanya kalau enggak 27:44 salah kata 27:46 Syekh Mutawali Assa'arawi ngomong 27:47 begini, "Kalau di suatu negara 27:51 ada orang yang sangat kaya dan ada orang 27:53 yang kelaparan, tandanya ada yang salah 27:55 dengan negara itu." 27:59 Ya kan? 28:00 Karena tuntutan ekonomi, maka seorang 28:02 bapak lebih banyak menghabiskan waktu 28:04 untuk pekerjaan sehingga lupa menjadi 28:07 seorang bapak jauh dari anak-anaknya. 28:11 Sehingga ini ada garis merah, sehingga 28:13 anak lebih memilih dekat dengan 28:15 teman-temannya dan enggak dekat dengan 28:18 orang tuanya. Nyambung ke pembahasan 28:20 kita minggu lalu. 28:21 Nanti baru nyesal pas kehilangan orang 28:23 tua. 28:25 Beneran pahit? Kalau kehilangan orang 28:27 tua beneran sakit sesakit-sakitnya. 28:32 Yuk, anak muda, kalau orang tua kalian 28:34 habis waktunya untuk di luar untuk 28:37 mencari ekonomi, yang anak muda deh, 28:39 yang anak-anak yang ngambil peran 28:40 dekatin bapaknya. Pak, capek ya? Pijitin 28:45 bapak tuh. Mayoritas Bapak tidak akan 28:47 mengakui kepusingan dia, stresnya dia. 28:50 Mendingan ditelan dikit. Lebih ditelan 28:52 sendiri daripada curhat ke anaknya. Dia 28:54 hanya pengin tahu anaknya bahwa bapak 28:56 ini bahagia. Coba anak yang dekatin 28:59 bapaknya. 29:02 Kalau ada komunikasi itu sehingga 29:04 terjadi kedekatan lagi, rahmat Allah 29:07 turun. 29:08 Kalau rahmat Allah turun 29:11 ente ini kita ini hidup berharap rahmat 29:13 Allah. Rabbanaunahmah 29:16 wahr 29:17 kan banyak doa yang judulnya pakai 29:19 rahmah. Rahmah rahmah. Kita melakukan 29:21 itu karena kitanya enggak saling cinta, 29:22 enggak saling dekat. enggak mengejar 29:24 rahmat itu sehingga anak sama bapak 29:27 jauh. 29:29 Makanya ada negara-negara fatherless 29:31 country. 29:33 Fatherless country salah satu efeknya 29:35 adalah menjadikan anak-anaknya menjadi 29:38 gay. 29:40 Gay itu homo atau lesb itu rata-rata 29:44 banyak di negara fatherless country. 29:48 Indonesia 29:50 sudah masuk lingkup negara fatherless 29:53 country. 29:55 Kenapa? Bapaknya sibuk di luar. Sibuk di 29:58 luar. Akhirnya bosnya menuntut habisin 30:01 selesai kerja yuk kita our time. Karaoke 30:05 apa segala makin dikit. 30:09 Seenggak rahmat enggak turun. Zaman dulu 30:11 kayaknya orang tua magrib tuh sudah di 30:13 rumah ya. 30:13 Iya. Saya tuh masih saya tuh saya itu 30:16 merasakan salat magrib jemaah dengan 30:18 ayah. Padahal ayah saya tuh poligami 30:20 loh. Istrinya enggak satu. Tapi dalam 30:25 seminggu seringkiali kami salat magrib 30:28 berjamaah. 30:30 Dan pasti orang-orang orang-orang zaman 30:32 dulu tuh yang seusia saya itu pasti 30:35 sering salat magrib jamaah, makan malam 30:37 bareng. 30:39 Berarti berarti dapat dipastikan itu 30:41 orang tua magrib ada di rumah. 30:43 Ada di rumah. ngobrol bercengkerama 30:45 sehingga rahmat Allah turun sehingga 30:47 negaranya enak, keluarganya enak, 30:50 masalah mudah diselesaikan. Sekarang 30:53 kita cuma disuguhi tontonan men yang 30:56 mendidik manusia menjadi materialistik. 30:58 Seolah-olah kebahagiaan itu hanya 31:01 dinilai dari duit. Iya sih. Enakan 31:04 nangis di atas BMW ya dibanding dari 31:05 atas bajay ya, [tertawa] Bib ya. Tapi 31:07 enggak begitu juga judulnya gitu. Bill 31:10 Gate tadi di 31:12 Bill Gate cerai 31:13 satu kedua juga di katanya bilang 31:14 katanya banyak harta banyak uang sama 31:17 cer 31:18 Bilg curhat nangis katanya capek oh 31:20 [tertawa] 31:22 oh 31:23 besti begini le begini le yang ilis saya 31:26 le [tertawa] 31:29 yang berasa sekarang makin ke sin makin 31:30 berasa padat kali ya kayak dulu kan e 31:33 semua tuh serba santai gitu kan 31:36 di jalan juga enggak begitu macet enggak 31:38 begitu padat jadi orang bisa lebih awal 31:40 pulang segala macam kayak sekarang semua 31:42 tuh kayak hidup biarpun dengan segala 31:44 macam teknologi yang ada bukannya 31:46 meringankan beban gitu kayak semakin 31:48 membuat hidup itu kayak penuh sesek gitu 31:50 kanin 31:51 kayak ini yang yang menarik ya kemarin 31:53 tadi masalah kita drama-drama potongan 31:55 pen Cina itu itu pemerintah Cina sampai 31:57 melarang jadi penggunaan tema CEO 32:00 menyamar CEO nikah sama perempuan kayak 32:02 karena memang berdampak pada mental 32:05 masyarakatnya. 32:07 Jadi untuk ee drama mikronya itu sudah 32:09 diband permanen. Jadi kalau tema-tema 32:11 itu masih diperbolehkan di drama yang 32:15 panjang yang normal, tapi dalam dosisnya 32:17 juga harus mereka ngatur gitu. Jadi Cina 32:19 tuh sampai ngatur dramanya tuh di mikro 32:21 drama itu tidak boleh lagi dipakai 32:22 tema-tema gitu. Karena takutnya 32:23 perempuannya ekspektasiin semua gitu 32:25 pada penginnya nyari CEO yang 32:26 bergeletakan di jalan gitu. 32:28 Kalau pengis 32:30 [tertawa] 32:31 dan itu dikritik. Jadi Jepang sebenarnya 32:32 sudah lama mengkritik budaya Cina yang 32:35 bikin cerita-cerita tuh yang terlalu 32:37 koyal gitu dan itu dijadikan lelucon 32:39 sama orang Jepang karena memang 32:41 sumbernya orang apalagi dari drama-dama 32:43 mungkin karena kebanyakan ee Cina kan 32:44 jumlahnya besar 32:46 2 miliar kalau engak salah ya B ya. 32:48 Jadi mungkin karena banyak orang-orang 32:49 yang di bawah ekonomi di bawah mungkin 32:51 dikasih sugukin ee cekokan media-media 32:54 seperti mikro-mikro drama yang membuat 32:56 akhirnya ekspektasinya rusak tentang 32:59 pernikahan. 33:01 Kita break dulu kali ya. 33:03 Break dulu diondinya bisa ngopi. 33:05 Aduh. Masyaallah tabarakallah. Iman dan 33:07 akhwat. 33:08 Kita masih di bahlul-bahlulan. Bahlul 33:10 kali ini sangat spesial karena 33:12 menghadirkan Sidor 33:15 bergabung sama uncle Firman dan Oni. 33:17 Masyaallah. Sama saya juga sangat suatu 33:18 kehormatan bisa didatangi oleh Sayid Ali 33:20 ke sini kan. Masyaallah. Iwan dan Nawat 33:23 kita masih ngebahas tentang perkawinan 33:25 dan ini masyaallah banyak banget 33:27 ilmu-ilmu yang bisa kita ambil. Semoga 33:30 Iwan dan Ahwat yang mempunyai anak 33:31 remaja, anak pemuda yang usianya sudah 33:34 mulai menikah bisa dikasih pemahaman 33:36 dulu sebelum mereka itu melangkah untuk 33:38 menikah. Baik Iwan dan Awat tadi kita 33:41 sudah ngebahas tentang masalah 33:42 perkawinan dari Uncle Iman jadi Sayid 33:46 Ali. Acara balbka ini sangat spesial ya 33:48 karena dihadiri oleh Sayid Ali. 33:50 Masyaallah. Masyaallah. Ee tadi kita 33:53 sudah berbicara banyak panjang lebar 33:55 Iwan dan Nawat jangan ke mana-mana. N 33:57 nanti setelah ini kita akan berbicara 33:58 perkawinan. Enaknya katanya kata kata 34:02 Anggal Iman enaknya perkawinan atau 34:05 pernikahan ya. Okeat tetap di radio 34:07 silaturahim dan Rasil TV untuk Islam 34:09 satu untuk Indonesia bersatu. 34:27 Masih di radio silaturahim dan Rasil TV 34:29 untuk Islam yang satu untuk Indonesia 34:31 bersatu. Kita masih di acara bahlul 34:34 bahlulan hewan dan awat. Masih bersama 34:35 saya, uncle firman, dan tamu spesial 34:38 Syid Ali. Kita masih membahas 34:41 perkawinan. 34:43 Kata Angkel Firman tadi, perkawinan itu 34:44 seperti pelangi diamat indah dan 34:47 berwarna ya kan. Namun pelangi hadir 34:50 setelah hujan turun gitu kan. Jadi 34:52 intinya nikmati prosesnya agar kita bisa 34:55 mendapatkan hasil yang indah seperti 34:58 itu. Nawa soh 35:01 bukan ancaman lagi sekarang perkawinan 35:03 bukan ancaman lagi. [tertawa] 35:05 Nah jadi kita masih lanjut lagi nih. Ee 35:09 perkawinan itu indah sebenarnya kalau 35:10 kita bisa menikmatinya bukan begitu di 35:12 anjemondi. 35:13 Enggak dong [tertawa] bukan begitu unkel 35:15 ya. 35:15 Oh gitu. 35:16 Oh gitu. Masyaallah. Lanjut uncel. 35:17 Gimana kali ini masalah perkawinan? 35:19 Kita kayaknya bikin dua seri ya 35:20 perkawinan ya datang lagi boleh. 35:23 Saya tadi kan penuh ancaman perkawinan. 35:26 Aduh 35:26 kita kasih yang enaknya dulu ya B ya. 35:28 Kita kasih yang enaknya 35:30 ternyata ternyata nih. 35:32 Heeh. 35:34 Pada saat Ondi menetapkan diri mau kawin 35:38 Heeh. 35:40 Ondi akan punya backingan terkuat yang 35:42 pernah ada. 35:44 Itu 35:46 ibaratnya kalau Oni mau kerja kan kalau 35:48 ada orang dalam enak tuh ya 35:51 lancar 35:52 ya kan 35:53 ini Ondi pada saat Oni mau kawin Oni 35:55 udah ada hypernya orang dalam deh bukan 35:59 bukan orang dalam lag penentunya sudah 36:00 ngebondi 36:03 pada saat Ondi mau kawin Allah akan 36:04 menjamin rezeki Ondi ya kan asal niatnya 36:07 benar 36:08 kurang enak apa ente dijamin bos aja 36:12 ente percaya misalnya kita nih Ada yang 36:13 dijamin kamu kok kerja gini gini gini 36:15 gini kamu nanti gajinya dinaikin segini. 36:18 Banyak yang percaya, "Wah, makasih Bos 36:20 kerjanya lebih sungguh-sungguh." 36:21 Mau sungguh-sungguh 36:23 manusia 36:25 kok Allah yang ngejamin enggak yakin. 36:27 Allah yang ngejamin loh dalam perkawinan 36:29 itu Allah turut serta. 36:32 Ondi punya rezeki sendiri, istri Ondi 36:34 punya rezeki sendiri. Pada saat kawin 36:36 bukan jadi berkurang rezekinya Ondi, 36:37 tapi akan ditambah berkali-kali lipat. 36:39 Allah akan menjamin rezekinya ya, Bib. 36:42 Ya, insyaallah 36:42 punya anak, anak punya rezeki. Jangan 36:44 bilang, "Aduh, sekarang ekonomi susah, 36:47 enggak usah punya anak deh. Child free 36:49 deh. Child free 36:51 childf apa alasannya? Malas punya anak, 36:55 malas ngurus enggak? Ngurus anak tuh ada 36:58 keindahannya sendiri. Di bayangin pas 37:00 anak lahir kan di saya ini enggak berani 37:04 gendong anak nih. Tapi pas pada saat 37:06 anak pertama melahirkan ee lahir 37:08 tiba-tiba disuruh ngeazanin 37:11 itu punya getaran tersendiri. Benar 37:15 ada kebahagiaan sendiri. Enak punya anak 37:18 walaupun tiba-tiba ada momen ngurus anak 37:20 capek bangun tidur tapi punya anak tuh 37:22 enak. Kita nikmatin masa merangkaknya 37:26 lucunya. Anak saya yang paling gede tuh 37:28 Abdu. Sekarang sudah kerja dulu waktu 37:30 kecil setiap orang yang mau manggil dia 37:32 kasih aja makanan Abdab dia dia senterin 37:35 [tertawa] dikejar 37:36 ayam kali ah 37:36 iya ayam kayak 37:38 kayak gini gitu 37:40 benar dia tuh enggak mauan misalnya 37:43 kalau lagi digendong habis sini enggak 37:44 mau tapi kok diiming-iming makanan mau 37:48 bait itu kejadian 22 tahun yang lalu 37:51 detik masih ingat jelas seorang-orang 37:53 kayak kejadian 37:53 tapi sekarang enggak kan 37:54 hah 37:55 sekarang enggak kan 37:55 sekarang asal ada yang cantik [tertawa] 37:58 bukan begitu 37:59 Kirain pasti Abdu Abdu chicken itu 38:02 bapaknya bapaknya [tertawa] 38:04 Abdabdu burger-burger gitu 38:07 pertama ekonomi oni 38:09 he 38:10 asal perkawinan benar ya mencari rida 38:12 Allah 38:13 menjadikan perkawinan ini suatu bentuk 38:15 ibadah 38:16 ya kan Allah akan menjamin rezeki Ondi 38:19 betul 38:20 ya tenang ada jangan yakinan usaha oni 38:26 usaha tapi yakin hasilnya dari Allah. 38:28 Iya. Iya. 38:31 Pertama, jadi seakit apa sama Allah? 38:35 Sejauh sekuat apa si iman? 38:37 Iman dan akhwat bareng kali ini 38:40 menegaskan bahwa ini buat saya pelajaran 38:42 buat saya [tertawa] 38:43 buat kita semua. Buat kita juga 38:45 sama-sama masih berproses kan gitu. 38:46 K saya ngomong sendiri ini kadang-kadang 38:48 suka enggak yakin. Aduh ini kerjaan lagi 38:50 mentok mentok kerjaan. Padahal kerjaan 38:52 kita itu hanya ikhtiar. Yang memberikan 38:54 rezeki itu bukan klien kita atau bos 38:56 kita, Allah. 38:58 Kan sebagaimana juga sering diucapkan di 38:59 mimbar Jumat kan nasihat ini bukan hanya 39:02 untuk jemaah tapi untuk khatib pribadi 39:04 juga begitu kita memberikan nasihat itu 39:06 berlaku dua arah jugaul betul 39:08 enggak? Nah, seperti tadi Habib Firman 39:10 sebutkan itu angkel firman dari surah 39:12 Al-Isra kan. Nah, di sini ana baca 39:15 terjemahan aja kan. Janganlah kamu 39:17 membunuh anak-anakmu karena takut 39:18 miskin. Kamilah yang memberi rezeki 39:20 kepada mereka dan juga kepadamu. 39:22 Tuh, 39:23 sesungguhnya membunuh mereka itu adalah 39:24 suatu dosa yang besar. Jadi, jangan 39:25 takut. Jadi, kan karena orang child free 39:27 kan karena enggak mau 39:28 he 39:29 punya anak kan dan Allah sudah menjamin. 39:31 Jadi, jangan apalagi kalau sampai 39:33 terjadi kayak e pengguguran segala 39:34 macam. Jadi jangan takut miskin karena 39:37 rezekinya anak-anak kita itu Allah yang 39:39 tangguh bukan kita. Kita berproses 39:41 mencari tapi hasilnya itu Allah berikan. 39:43 Jadi jangan kita mengira dari hasil 39:45 usaha kita itu rezeki itu datang. Bukan. 39:47 Sayidah Maryam ketika habis melahirkan 39:49 kan Allah suruh suruh goyangkan pohon 39:51 kurma. Bayangin coba uncle firman sama 39:53 anak goyangin pohon kurma berdua. Belum 39:55 tentu jatuh. Belum mau datang belum 39:58 tentu. 39:58 Tapi sayid Maryam tetap disuruh berusaha 40:01 habis melahirkan 40:03 lagi lemas-lemasnya. 40:05 Itu dia kan dari situ terlihat bagaimana 40:07 effort itu membuka membuka pintu rezeki 40:09 tapi bukan rezeki itu bukan datang dari 40:10 dari hasil usaha kita 40:13 kan begitu 40:14 ibaratnya oni pintu gagangnya on giniin 40:16 tapi enggak didorong kebuka enggak 40:18 enggak 40:18 ibaratnya kita yang cuman gini 40:19 selebihnya kita serahkan ke Allah 40:22 masyaallah 40:22 jadi jadi orang yang manja sama Allah 40:24 aja lah kita sudah punya backingan yang 40:27 terkuat yang yang paling kuat banget 40:29 manja aja ke Allah mau usaha ya Allah 40:32 saya mau usaha ini jadikan ini pendatang 40:35 rezeki ya Allah jadikan usaha apa yang 40:38 saya lakukan ini sebagai sebagai ibadah 40:39 saya niatin ibadah ya Allah saya ya 40:41 Allah yakin bakal hasil karena saya 40:44 yakin padamu ya Allah manja aja 40:46 nah itu niat niat itu terhadap 40:48 pernikahan penting banget tuh angka 40:50 firman 40:50 jadi bagaimana kita niat itu bukan hanya 40:52 sekedar memenuhi kebutuhan biologis tapi 40:54 niat itu bagaimana bukan bukan jadi 40:56 bukan gua ee pengin nikah karena pengin 40:58 begini begegitu tapi gue nikah karena 41:01 ingin menyempurnakan agama 41:03 Tuh besar enggak? 41:06 Bukan. Wah, saya nikah pengin punya 41:07 anak. Oke, itu enggak salah. Tapi 41:10 saya nikah karena ingin menyempurnakan 41:12 agama. Niatnya semulia itu kira-kira 41:15 Allah akan menjamin enggak? 41:16 Menjamin. 41:16 Weh, banget 41:18 gitu, Dek. Harus semangat. 41:20 Tapi jangan saya nikah untuk 41:23 menyempurnakan agama. salat enggak mau 41:26 nurut sama suami enggak mau suami sayang 41:29 ke istri enggak mau enggak berusaha 41:31 menyesuaikan kewajibannya menafkahi 41:33 keluarga kewajiban suami loh 41:35 betul sih 41:35 ya kan tapi hasilnya memang ditak yang 41:37 penting usaha dulu ya Bib ya 41:38 betul betul betul 41:40 sisanya serahkan ke Allah 41:41 tapi sekarang tuh banyak banget B sama 41:43 Sayid Ali 41:45 ee mereka kita nikah nih nikah kan nah 41:49 udah udah nikah nih kadang-kadang suka 41:52 pasangan ini suka masing-masing gitu loh 41:54 masing-masing kayak ya udah lu uruskan 41:56 urusan lu, gua urusan urusan gua gitu 41:57 aja. 41:58 Makanya perkawinannya begitu aja. 42:00 Nah, iya. Nah, 42:00 kayak sayur tempagi Arab. 42:01 Nah, itu jadi hambar gitu kan enggak 42:03 enggak ada rasanya. Nah, itu untuk untuk 42:06 mengantisipasi ataupun untuk solusinya 42:08 itu bagaimana tuh? 42:09 Kesadaran. 42:10 Kesadaran. 42:11 Sadar. 42:13 Kalau enggak sadar tabuk. Eh, bukan 42:14 [tertawa] gitu. Malah makin jadi makin 42:18 jadi kesadaran bahwa gini saat mau 42:21 menikah semuanya harus sadar. Sadar 42:23 enggak bahwa ini nih kita nih ibadah nih 42:26 untuk menyempurnakan agama. Kalau belum 42:29 sadar cari guru yang untuk menyadarkan 42:30 kita. 42:31 Nah, itu 42:32 cari ulama. Ulama jangan U baru. U lama. 42:36 Iya. Ulama. Kalau U baru cuman untuk 42:38 konten. 42:39 Iya. 42:39 Kalau Ulama bikin mikirin umat. 42:42 Iya. 42:42 Kalau U baru yang dilihat nanti 42:44 followernya sama viewer. 42:45 Ya kan? Dan penuh gimik. Kalau ulama 42:48 untuk umat. 42:50 Ulama ya. 42:51 Ulama. Makanya ulama. 42:53 Ulama 42:53 kalau Ubaru begitu yang dipentingin 42:55 sosmat. Iya. I 42:56 ulama yang beneran. Iya. 42:59 Kalau saya dari saya sendiri gimana tuh? 43:02 Gimana tuh coba? 43:03 Iya. Tadi solusinya gimana tuh untuk 43:05 pasangan yang masing-masing gitu kan 43:07 yang ya udahlah gua dengan gua, lu 43:09 dengan gua. 43:09 Ya. Pertama kan seperti tadi yang 43:11 disebutkan bahwa niat itu harus 43:14 diluruskan. Bahwa niat kita nikah untuk 43:15 apa. Biarpun misalnya ee kita 43:18 membentengi. Jadi menikah kita 43:19 menyempurnakan agama dengan apa? dengan 43:21 membentengi diri kita dari hal-hal yang 43:23 bisa mendatangkan ee kemudaratan atau 43:25 maksiat segala macam itu kan. Jadi 43:27 kenapa bisa dibilang ada sepertiga 43:28 agama, du ee setengah dari agama? Karena 43:31 kan hal-hal yang dosa yang bisa 43:33 menggelincirkan orang tuh biasanya 43:34 datang dari orang-orang yang yang single 43:36 gitu kan. Godaan itu maksiat segala 43:38 macam itu datang dari orang-orang yang 43:39 tidak terbentengi. Makanya kalau 43:41 orang-orang yang perempuan sudah menikah 43:42 atau yang dalam naungan ayahnya dia 43:45 muhsonat kan perempuan yang sebenarnya 43:46 yang dibentengi gitu kan. Jadi perempuan 43:48 itu ketika dia menikah dia mendapatkan 43:50 perlindungan kan. Jadi tugas seorang 43:52 laki-laki itu kan arijalu qawamuna. 43:55 Qawam itu sebenarnya yang yang protek 43:57 jadi sebagai ini ee pelindung. Pelindung 44:01 dan pemimpin juga salah satu artinya 44:02 juga. Jadi masing-masing juga harus 44:05 menyadari tugasnya apa. Jadi pertama 44:06 gitu jadi ekspektasi pernikahan tuh 44:07 jangan cuman dibalut oleh kayak 44:10 cinta-cintaan doang yang ala kadar gitu 44:12 kan tapi harus dibangun atas dasar 44:15 keimanan kan gitu. H 44:16 masing-masing orang menyadari tugasnya 44:18 sebagai suami apa, tugasnya sebagai 44:19 istri apa, baru saya itu minta haknya 44:21 kan gitu. 44:22 Kalau insyaallah kalau misal suami 44:24 menjalankan ee kewajibannya entar 44:26 perempuannya juga insyaallah sadar. 44:29 Biasanya kan perempuan gitu kalau 44:30 misalnya ditoel gitu kan atau misalnya 44:31 dituntut dia akan malah ee berpaling 44:34 lah. Makanya jalankan dulu tugasnya 44:36 sebagai suami sayangi istri, muliakan 44:38 istrinya. Insyaallah effort dari sana 44:42 juga akan berbalas lah. Betul enggak? Di 44:45 sini ada yang makai di dalam bukunya 44:47 Wawasan Al-Qur'an, rahmah adalah kondisi 44:49 psikologis yang muncul di dalam hati 44:51 akibat menyaksikan ketidakberdayaan 44:53 sehingga mendorong yang bersangkutan 44:55 untuk memberdayakannya. Jadi dari ee 44:57 sakinah mawadah warahmah itu yang 45:00 menjadi perekat. Jadi itu itu harus 45:02 ditumbuhkan. Kalau misalnya mawadah 45:03 warahmah itu enggak langsung muncul tapi 45:05 harus diusahakan 45:07 baru ee apa namanya? Rumah tangga yang 45:09 sakinah mawadah ramah itu dibangun atas 45:11 dasar keimanan. 45:14 butuh effort. Jadi enggak sekedar 45:15 makanya kan orang dia jangan menikah 45:17 dengan harapan happy ending. Itu enggak. 45:19 Itu pernikahan tuh bukan akhir gitu loh. 45:21 Itu yang jadi problem itu kan karena 45:22 dianggap pernikahan tuh setelah nikah 45:24 tinggal senang-senang doang. Padahal di 45:26 situ kan effortnya baru dimulai di situ. 45:29 Dan kadang-kadang orang tua gitu, "Wah, 45:31 anak saya nikah, tugas saya selesai." 45:34 Nah, itu dia. 45:35 Apalagi kan kita lihat di berbagai 45:36 budaya misalnya di mungkin negara-negara 45:38 yang menganggap perempuan sebagai 45:40 liability atau sebagai beban kan kayak 45:42 mungkin di India kan. 45:44 Bagaimana ee mereka tuh dari usia 14 45:47 tahun dinikahkan supaya orang tua 45:49 terbebaskan gitu kan. Karena emang kan 45:51 karena memang budaya India itu kan yang 45:53 melamarkan perempuan. 45:55 Jadi yang membayar mas kawin itu 45:56 perempuan. Jadi kalau semakin banyak 45:58 anak perempuan 45:59 orang tuanya modar 46:00 gitu. [tertawa] 46:02 Oh gitu. He. 46:03 Dan I itu juga jadi faktor juga ya, jadi 46:05 faktor ee orang tuh berpikir untuk 46:08 menikah kalau enggak ada iman. 46:10 Iman. 46:11 Yang lain tuh kalau misalnya kayak 46:12 berbagai macam kayak atribut kayak dari 46:15 ee budaya kan seringkiali budaya 46:16 membalnya uang mahar yang besar semakin 46:18 tinggi 46:19 semakin tinggi perempuannya 46:20 pendidikannya semakin besar gitu kan. 46:22 Jadi ibaratnya seakan-akan orang tua tuh 46:23 pengin modal itu dibalikin gitu modal 46:26 investasinya banyak tua. 46:28 Iya betul. Makanya kalau mau nikahin pas 46:30 lagi sebelum tamat SMA gitu. biar 46:33 lagi magang 46:33 lagi magang 46:35 gitu dong. [tertawa] 46:37 Aduh. 46:37 Jadi ee semua hal-hal yang misalnya yang 46:40 berkaitan sama budaya pernikahan itu 46:41 kalau selama dia tidak ee bertentangan 46:43 dengan nilai-nilai Islam enggak masalah. 46:45 Tapi jangan jadikan sebagai syarat itu 46:47 dia itu cuman sebagai preferensi aja 46:51 bukan tuntunan, bukan bukan kewajiban 46:53 harus begini harus begitu. Kalau enggak 46:54 ya susah. Semakin sekarang kan makin ada 46:56 banyak ee perempuan-perempuan mungkin 46:58 apalagi perempuan biasanya dilemanya 46:59 perempuan-perempuan mungkin yang 47:00 berpendidikan tinggi sama yang biasanya 47:02 yang mapan kali ya karena dia misalnya 47:05 di usia 30-an 47:07 dia ee gajinya besar dia pengin suaminya 47:11 gajinya lebih tinggi daripada atas dasar 47:13 bukan atas dasar mata ya tapi dia punya 47:14 pengalaman buruk tentang keluarganya 47:17 ayahnya yang ee kurang berperan jadi dia 47:19 ketakutan jadi ada trauma itu menghantui 47:22 dia sampai ke dia dewasa jadi dalam 47:24 memilih 47:25 ee pasangan dia akan takut sekali dia 47:27 berhadapan sama figur yang seperti 47:28 bapaknya dulu yang meninggalkan ibunya 47:30 gitu. Banyak kejadian-kejadian kayak 47:31 gitu kan. Nah, harusnya kita kembali, 47:33 nah kembali ke Allah kembali. Bagaimana 47:35 Quran menjelaskan kriteria-kriteria 47:36 orang memilih seorang pasangannya gitu. 47:41 Dalam Islam kan kita ini saudara 47:43 iya 47:43 saudara punya keterikatan. 47:46 Setiap orang nih punya kewajiban untuk 47:48 menyadarkan saudaranya lagi. Bapak 47:50 misalnya punya masa lalu yang kelam, 47:52 maka jangan tularkan kekelaman masa 47:54 lalunya kepada anaknya. 47:55 He 47:56 anak yang merasa bapaknya jauh. He. 47:58 Bukan berarti menjauh bapaknya. Dekatin 48:01 bapaknya. Lingkungan yang ngelihat ini 48:03 keluarganya kayaknya keluarga retak 48:05 jangan dicuekin. Ikut campur. Dalam 48:07 Islam itu ikut campur untuk hal yang 48:10 baik itu sunah ya, Bib ya. 48:13 Jangan sampai terjadi kerusakan dalam 48:15 masyarakat karena ketidakpedulian. 48:18 Kita harus dalam satu umat. Jadi, 48:20 apalagi peran ulama yang memiliki ilmu 48:23 lebih banyak, apalagi peran pemerintah 48:25 yang bisa mengatur, membuat regulasi 48:27 bagaimana supaya orang-orang yang punya 48:29 keterbatasan ekonomi 48:32 terbantu sehingga bisa melakukan perka 48:35 misalnya perkawinan atau mempermudah 48:36 perkawinan segala macam atau 48:38 kebiasaan-kebiasaan perkawinan harus di 48:41 gedung begini. Coba misalnya pemerintah 48:44 fasilitasi 48:46 ada gedung yang free digunakan 48:48 khusus 48:48 saya ngelihat di daerah an daerah mana 48:50 sih? Di Indonesia kok di daerah Sumatera 48:53 gitu ada bupatinya setiap sebulan sekali 48:57 apa tiap berapa bulan sekali bikin kawin 48:59 massal. 48:59 He 49:00 kawin massal misalnya didaftar misalnya 49:03 dalam perkawinan kawin massal itu empat 49:05 orang apa berapa orang gitu. Jadi 49:07 pemerintah daerahnya yang menyediakan 49:08 gedung dan makanan 49:10 serta 49:11 untuk undangan kawinan itu. 49:13 Bagus enggak? 49:14 Baguslah. 49:15 Bagus. 49:15 Bagus banget itu. 49:16 Orang semangat nikah. 49:17 Iya. 49:18 Bahkan mobil bupatinya itu boleh dipakai 49:21 untuk mobil penganten misalnya untuk 49:22 lamaran apa gitu boleh dipinjamkan asal 49:25 untuk hari di pada Sabtu atau Minggu 49:27 libur. 49:28 Heeh. 49:29 Di Sumatera dia gitu anak kenal soalnya 49:32 bupati. Kenal kenal 49:34 itu mas 49:35 lombat ituat. 49:38 Iya. Nah, coba kalau setiap kepala 49:40 daerah punya kepedulian kayak gitu bukan 49:43 dia sudah kawin dia nyari simpanan 49:44 bukan. Peduliin orang yang gitu bukan 49:47 saleh secara individual tapi saleh 49:49 secara komunitas. 49:50 Komunitas. Oh iya. 49:51 Jadi dia kuat. Jadi dia saling bertaut 49:54 ketika ada saudara yang membutuhkan 49:56 dibantu. Kan harusnya kita bahu membahu 49:57 kan karena perintah 49:59 perintah dalam dalam agama kan seperti 50:01 itu kan. Ketika ada yang susah dibantu. 50:03 Bahkan ketika ada yang berhutang dia 50:05 enggak mau mau bayar, berikan dia 50:07 tenggat waktu lagi atau enggak ikhlasin 50:09 aja gitu. Bahkan Allah bilang, "Udah 50:11 lupain aja. Insyaallah Allah bakal 50:12 ganti." Jadi ibaratnya Allah yang 50:14 menjamin kalau misalnya enggak dibayar 50:15 hutang ente sama seseorang itu biar 50:17 Allah yang ganti nanti. Kalau ente 50:18 ikhlaskan dia, dia bukan tidak mau 50:20 membayar misal dalam kondisi misalnya 50:21 dia kayak enggak mampu enggak bukan atas 50:23 dasar sadar secara sadar ya. Bukan 50:25 secara dia mau ee menunda hutangnya dia, 50:27 tapi dia tidak mampu. Kata Allah, "Coba 50:29 kasih dia keringanan, waktu lagi 50:30 tambah." Atau enggak kalau emang dia 50:32 enggak bisa, masih tetap enggak bisa 50:34 bambu bayar, ikhlasin Allah yang ganti. 50:37 Kalau Allah yang ganti pasti dapat 50:38 bonus. Ya, makanya sebenarnya keimanan 50:40 itu kan sebenarnya kita dalam kondisi 50:41 kan orang apa ya ketika misalnya dalam 50:43 kondisi kesusahan kayak sekarang kan 50:44 orang seringkiali ya kan sekarang beda. 50:47 Tapi kan kita ketika Allah menjamin kan 50:49 justru iman itu diuji ketika emang dalam 50:51 kondisi kita enggak masuk di akal dalam 50:53 kondisi secara hitungan matematis kita 50:54 enggak akan mendapatkan keuntungan ada 50:56 yang malah boncos itu misal kalau nikah 50:57 tapi yakin 50:59 Allah bakal memberikan bantuan. Ada 51:00 seorang ada kisah dulu yang sering 51:02 cerita ana lupa entar ana carilah 51:03 riwayatnya seperti apa. Ketika ada 51:05 seorang ada seorang e sahabat datang ke 51:07 Rasulullah. Rasul, saya miskin banget, 51:10 saya melarat gitu. Terus Rasulullah 51:12 jawab apa? Cari carilah kekayaan dalam 51:14 pernikahan. Bayangin coba kalau misalnya 51:15 anak yang nyuruh begitu pasien itu gila 51:18 kan? Enggak. Tapi ini Rasulullah carilah 51:19 kekayaan dalam pernikahan. Karena orang 51:21 dengan ke pernikahan tuh pintu-pintu 51:23 rezeki terbuka. Asal orang yang 51:25 berusaha, orang yang beriman, bertakwa 51:27 itu 51:29 Rasulullah begitu carinya kaya dari kok 51:32 kita maksudnya cari janda kaya. 51:34 Enggak, bukan begitu. [tertawa] 51:35 Bukan begitu. Lu pikirin orang situ 51:36 mungkin 51:37 kok bisa loh kok bisa pemikiran enggak 51:41 enggak enggak 51:41 bukan Allah yang akan mendatang bayangin 51:43 menarik yang di situ 51:44 karena akan datang kekayaan 51:46 tapi saya pribadi ngerasain Bang saya 51:48 sendiri ngerasain saya saya berpikir 51:50 gini 51:51 oh janda kaya 51:52 enggak gitu gituak [tertawa] gitu gitu 51:54 gitu konsepnya jadi saya ngerasa tuh 51:57 kayak ee usaha yang saya bangun itu saya 52:00 berpikir gini oh mungkin Allah belum 52:02 ngasih rezeki banyak nih dalam usaha 52:05 ini. 52:06 Karena saya masih sendiri gitu kan. Saya 52:08 berpikirnya mungkin di saat sudah 52:09 menikah Allah bakal tambah nih 52:11 he 52:12 nikmat ataupun rezekinya gitu. Saya 52:14 berpikir berpikir seperti itu. Akhirnya 52:15 saya oh ya udah deh nanti kalau sudah 52:16 nikah saya mau 52:17 usaha lagi deh 52:19 biar nanti Allah tambah lagi rezekinya. 52:21 Begitu Bang. 52:21 Benar. 52:22 Alhamdulillah. 52:23 Tambah satu aja gitu. Gimana? Tambah 52:24 lagi 52:25 enggak juga [tertawa] 52:25 enggak juga. 52:27 Itu itu mungkin ak. 52:29 Oh enggak enggak [tertawa] enggak 52:31 seperti itu. Pemikiran begitu ya. 52:33 Masyaallah. berar ketika berk orang 52:36 asalkan 52:37 kita yakin g kan bagaimana kan ee Allah 52:40 bilang aku tergantung prasangka baik 52:41 hamba kita harus berprasangka positif 52:43 gitu. 52:44 Iya iya iya. Tapi kalau bilang 52:46 perkawinan isinya ribut melulu, udah deh 52:48 enggak bakal hasil ya, Bib ya. 52:50 Mau bisnis kayak gimanap pun udah 52:52 berantakan walaupun di di hitungan 52:53 matematik, wah untungnya 1,5 triliun 52:55 nih. Berantakan dah. 52:57 Kalau isinya tuh ribut terus 52:58 isinya enggak udah istrinya damai dah. 53:00 Walaupun kita berpesangka baik, 53:01 istri enggak perlu terlalu usil kerjaan 53:03 suami, yang penting doain. 53:06 Suami pulang capek, sayang. 53:08 Sabar, 53:08 sabar. [tertawa] 53:12 Iya. Iya ini ada ada 53:15 justru ada cerita ente dulu ini curhatan 53:18 ente dulu 53:18 ada ada yang dengar kayaknya bakal laya 53:20 ditus 53:21 bukan dan perkawinan begitu ni jadi 53:24 kalau perkawinan itu akor insyaallah 53:25 Allah jaminul 53:27 enggak mungkin dalam perkawinan enggak 53:28 ada ribut sedikit sedikit-sedikit pasti 53:30 ada cuman jangan isinya ribut mulu 53:32 pasti iya betul betul 53:33 ini Allah yang ngejamin kadang-kadang 53:35 enggak ada kerjaan aja tiba-tiba ada 53:36 hasilnya 53:37 iya apagi kita kerja 53:39 benar kamu baru ingat Rasulullah yang 53:41 bilang kayak dari 53:45 iya iya 53:46 tapi salah ente ngomong ente ngomong 53:48 sekali kali wah kayaknya 1 2 3 4 53:51 katanya kalau misalnya istri-istri 53:52 salehah itu mendoakan supaya suami kaya 53:54 kalau satu kan kurang kuat tambah lagi 53:57 satu lagi gitu kali ya 53:59 [tertawa] 54:00 janganjangan berpikir kayak gitu doanya 54:01 makin banyak gitu kan 54:04 ya 54:06 jangan jangan satu aja dulu kalau satu 54:08 kadang-kadang gini pada saat satu kita 54:10 mendapatkan maaf 54:13 Belum tentu kita yang kedua tuh dapat 54:16 juga enggak 54:16 susah. Susah. 54:17 Iya. 54:18 Hati orang tuh beda-beda. 54:19 Baik. 54:20 Ada yang siap menghadapi itu. Kemampuan 54:21 orang pun si beda-beda. Beda. 54:25 Oke Wad lanjut nih Wawat nih. Saya mau 54:28 nanya nih Bib sama Sayid sama uncle 54:31 Iman. Berarti kita sebagai imam gitu kan 54:35 laki-laki kalau mau menikah berarti kita 54:38 harus siap dan harus mempelajari ilmu 54:41 agama dong yang cukup atau mungkin lebih 54:44 karena sekarang 54:44 cukup aja dulu cukup sekarang aja cukup 54:46 belum terpenuhi lebih gimana [tertawa] 54:48 lebih soal soalnya sekarang itu banyak 54:50 tuh ee pemuda yang ingin menikah itu 54:54 mereka tuh landasan ilmu agamanya 54:56 sedikit gitu loh dan akhirnya yang tadi 54:58 Bang bilang banyak perceraian kan. 55:01 He 55:01 gitu kan. Nah, ini seperti apa nih 55:03 tanggapan Bimbal ini? 55:05 Kalau dulu ana pernah lihat ada iklan 55:07 brosur dari kalau enggak salah agama 55:09 Katolik atau Protestan ya, dia ada 55:12 pendidikan peran nikah yang dilakuin 55:15 sama mereka. Jadi kewajib mereka buat 55:16 bagi pasangan muda-mudi yang mau menikah 55:18 wajib mengikuti kayak konseling dulu 55:20 baru setelah itu kalau sudah dianggap 55:22 ada kayak ee layak baru mereka dapat 55:24 izin. 55:25 Jadi sebenarnya pendidikan peran nikah 55:27 juga kayaknya perlu diadakan juga buat 55:28 kaum muda-mudi yang sekarang gitu. Apal 55:30 kalau dianggap kurang itu di 55:32 perlu sengaja bekal ada ada di 55:34 ekspektasi terhadap pernikahan tuh 55:36 diluruskan sedikit biarun tidak mungkin 55:38 bisa lurus lempeng banget. Jadi yang 55:41 berpengaruh-pengaruh buruk dari 55:42 drakor-drakor atau drama Cina segala 55:44 macam itu harus di agak di harus 55:46 ekspektasi harus diturunkan supaya 55:48 ketika berhadapan dalam pernikahan itu 55:49 mereka bisa lebih realistis gitu. Nah, 55:51 itu bagaimana kewajiban suami, kewajiban 55:53 istri itu bisa diberikan mungkin sebulan 55:56 kali kayak kursus sebulan atau misalnya 55:58 sebulan sebelum nikah mereka mengikuti 55:59 pendidikan dari ulama yang punya 56:02 kapasitas kapabilitas 56:03 supaya seenggaknya ada bekal gitu kan. 56:05 itu kan perlu perlu di perlu jadi bukan 56:07 cuma dan bukan bukan cuma bekal secara 56:10 ee dalam hal kayak konseling tapi 56:12 mungkin juga harus disiapkan sebenarnya 56:13 di dari negara yang negara-negara Islam 56:15 juga kalau bisa kita mungkin dari 56:17 ulamanya sendiri ada bekal misalnya 56:19 mungkin ada kayak modal untuk ee usaha 56:22 kan atau mungkin juga kontrakan 56:24 diberikan jadi seenggaknya mereka ada 56:27 itu perlu nah itu tugas tugas negara 56:29 sebenarnya begitu kan 56:30 bisa kok bisa orang gaji komunisaris 56:32 Pertamina aja bisa R miliar sisin dikit 56:34 aja lah 56:35 misalnya K potonglah gaji komisaris 56:37 Pertamina itu jadi ee R00 juta ya kan 56:41 R00 juta a bisa disuplly buat berapa 56:43 orang kalau misalnya satu orang tuh 56:44 dikasih R juta kan banyak 56:45 iya sih 56:46 baru satu orang ber gitu ya kan kita apa 56:49 kita bongkar-bongkaran gaji nih yang 56:50 yang bikin jurang terlalu tinggi nanti 56:53 ajaalah kita bongkar-bongkar boroknya 56:55 pemerintah khusus 56:56 iya iya 56:56 lanjutan berikut 56:57 harus [tertawa] 56:59 saya demet 57:00 ada ada juga ini kan se ayat dari 57:02 Albaqarah 187 kan e hunas 57:07 kan eh ist e-istri kamu adalah pakaian 57:11 untuk kamu dan kamu adalah pakaian untuk 57:12 mereka. Nah, ini sebenarnya dalam banget 57:14 karena yang ini menurut ee yang ana 57:16 lihat realitas sekarang apalagi di media 57:18 sosial ini yang jarang orang pahami 57:20 gitu. Karena ketika ada masalah biasanya 57:23 sekarang 57:23 diumbar 57:24 diumbar. Nah, itu di bahkan dibuka 57:26 diumbar-umbar sama selepgram yang 57:27 notabnya tampilannya religius gitu kan. 57:30 Kalau dunia rapi, keluarganya 57:32 terlihatnya agamis. Tapi ketika 57:34 berhadapan sama misalnya anggaplah 57:35 suaminya melakukan tindakan ee maksiat 57:38 gitu kan. Nah, dengan dia membongkar itu 57:40 di media sosial dia semya mengumbar 57:42 aibnya kan. Dan itu kan sepernya 57:43 dilarang keras dalam Islam kan mengumbar 57:46 aib itu apa aib pribadi apalagi kan. 57:47 Nah, di sini kan harusnya kita berfungsi 57:49 jadi satu kesatuan. Jadi suami istri itu 57:51 kalau ketika suaminya di apa kayak 57:53 ibaratnya orang yang ee tangan diborgol. 57:56 Nah, kita dorong satu orang itu masuk ke 57:58 jurang, kita akan ikut terseret kan 57:59 gitu. Atau mungkin orang misalnya ee dia 58:02 terlibat dalam korupsi satu perusahaan 58:04 penggelapan dana. Nah, ana tahu dari 58:06 awal karena diuntungkan ana diam enggak? 58:08 Tapi ketika ana tidak lagi enggak ana 58:11 ngadu nih uncle firman nih nil uang tapi 58:14 ana nikmatin. Iya nikmatin. Tapi saya 58:15 sudah enggak dapat saya laporin. Makanya 58:17 kan gitu kan pasti kita terseret dong. 58:19 Iya enggak? Dalam hal kalau misalnya 58:20 kita suka menjelekin pasangan kita, kita 58:22 akan ikut jelek gitu. 58:23 Iya. 58:24 Dan itu dia bukan kita menjelekkan 58:25 pasangan kita doang tapi ayah misalnya 58:27 atau ibu dari anak-anak kita. Entar yang 58:29 kekasihan anaknya. Oh, itu kasihan 58:30 banget. 58:31 Kadang-kadang aneh suka agak nyalahin 58:33 gini juga ya. Sekarang ini kan semua 58:36 memperlihat 58:38 ee karena dunia sosmet begitu luas ya 58:41 kan. 58:41 Dunia sosmet ini nih tipu-tipu dunia 58:43 pencitraan. 58:44 Dunia tipu-tipu 58:45 kadang-kadang orang yang tebar tebar 58:47 flexing kebucinan. Iya kan 58:50 bucin sok mesra segala macam segala 58:52 macam. Entar yang lihat pasti ada yang 58:54 ngiri, ada yang jealous, ada apa pengin 58:56 gua enggak mungkin loh kalian flexing 58:58 kebucingan itu pasangan kalian digodain 59:00 sama 59:03 ya ngomong ada kok yang gitu ada kok. 59:06 Berapa banyak orang yang akhir yang 59:07 awalnya flexing kebinan akhirnya 59:09 berantakan juga? 59:11 Banyak banyak 59:13 k dunia tipu-tipu. Flexing pencitraan 59:16 semua. 59:17 Ada orang yang hasad kali mungkin bisa 59:18 sebut. Jadi orang-orang yang tidak yang 59:20 yang tidak rela kita berbahagia dan dia 59:22 akan melakukan segala macam upaya untuk 59:24 merusak kebahagiaan itu kan 59:26 bisa jadi bukan karena ingin e hasad BB 59:28 tapi ngiri ingin merasakan 59:30 hal yang itu. 59:31 Iya mungkin dia pengin nikmat itu ke dia 59:33 gitu bukan ke itu. Ibaratnya ni oni 59:35 misalnya ngelihat sesuatu nih dilihat 59:38 biasa tapi sering sering dilihat kok 59:40 ganteng ya ganteng ya padahal biasa 59:42 lama-lama dilihat terus 59:44 ibaratnya kalau orang dulu kan ee 59:48 cinta dari mata turun ke kaki eh ke hati 59:50 gitu ya ke kaki kejauhan 59:52 kaki jauh diinjak-injak 59:54 iya dilihat-lihat dilihatin mungkin 59:57 jatuh cinta wah kayaknya bisa didekatin 59:59 kalau sudah dekat ah berusaha ah dimilik 1:00:02 pas sudah dimiliki K rasanya belum tentu 1:00:04 sama kan kadang-kadang makanya hati-hati 1:00:07 juga flexing bucin-bucin itu 1:00:10 kan sebenarnya ee bucinah kan kalau kita 1:00:12 bicara masalah kayak itu kan sebutnya 1:00:14 public display of affection kan 1:00:16 wei 1:00:17 eh kemraan di depan umum itu sebenarnya 1:00:20 dianggap ee kurang sopan tabu tapi 1:00:22 dilarang jadi makanya e sebenarnya 1:00:24 mempertonton kemesraan di depan umum itu 1:00:26 baik suami istri pun sebenarnya dilarang 1:00:28 sebenarnya tidak bisa jadi dianggap ee 1:00:31 banyak sebenarnya itu kan hal-hal yang 1:00:33 harusnya bersifat pribadi kan peranah di 1:00:35 di balik layarlah bukan dipertonkan di 1:00:37 depan layar gitu. Itu mungkin yang jadi 1:00:39 masalah karena terus dipertontonkan 1:00:40 dijadikan konten halaman yang bukan efek 1:00:42 negatif bukan efek positif gitu kan. 1:00:45 Oke 1:00:47 siap 1:00:47 kita berhubung sudah dibat waktu nih. 1:00:49 Siap ada seri berikutlah. 1:00:51 Ada seri berikutnya ya. Kayaknya seru 1:00:52 nih ngomong masalah perkawinan nih. 1:00:54 Mungkin ada ini apa crossing statement. 1:00:56 Oh jangan kan masih masih lanjut ya. 1:00:59 Lanjut untuk yang minggu yang akan 1:01:00 datangnya lagi 1:01:01 atau kalau lagi mood 1:01:03 kok gitu konsisten dong kok. 1:01:05 Iya kalau lagi mood maksudnya yang akan 1:01:07 datang kita bahas ini lagi apa yang lain 1:01:09 yang lain. Iya. Siap siap siap. Oke Wan 1:01:10 dan Ahmad. Masyaallah 1:01:12 akhirnya kita sudah di penghujung waktu. 1:01:14 Ee sebenarnya kita masih banyak banget 1:01:16 pengin cerita, pengin ngobrol masalah 1:01:17 perkawinan, tapi 1:01:18 masih pengin curhat. 1:01:19 Masih pengin curhat. [tertawa] 1:01:21 Tapi waktu juga yang harus memisahkan 1:01:23 Iwan dan Ah. Eh, terima kasih Iwan dan 1:01:26 Ahmad sudah mendengarkan 1:01:29 sedikit ya ee kisah kita di sini bersama 1:01:33 Duo Bahlul dan juga tidak Bahlul Sayid 1:01:35 Ali. [tertawa] 1:01:36 Satu Bahlul gitu bukan dua. 1:01:38 Masyaallah. Terima kasih Iwan Hawat. Ee 1:01:42 tetap Iwan dan Hawa eh stay di radio 1:01:44 silaturahim untuk Islam satu untuk 1:01:45 Indonesia bersatu. Kita akan bertemu di 1:01:48 Ahad selanjutnya di tiga tiga Ahad 1:01:52 selanjutnya ya di Ahad ketiga pokoknya 1:01:54 gitulah. Okeat terima kasih banyak saya 1:01:57 Saputra dan juga uncle Firman Muslim 1:01:58 Tahir dan Sayid Ali mohon undur diri 1:02:01 wabillahi taufik walhidayah 1:02:02 wasalamualaikum warahmatullahi 1:02:04 wabarakatuh.