Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:05 Brail [bernyanyi] 0:06 TV. [musik] 0:12 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 0:14 warahmatullahi wabarakatuh. Allahumma 0:17 shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad. 0:19 Subhanallah walhamdulillah 0:20 walailahaillallah Allahu Akbar. 0:23 Dipancarluaskan dari jalan Masjid 0:24 Silaturahim nomor 36 Cibubur Jatiya 0:28 Bekasi. 0:30 Radio Satri dan Rasil TV untuk Islam 0:32 yang satu untuk Indonesia bersatu. 0:35 Gimana kabarnya Iwan dan Ahwat? Semoga 0:37 selalu diberikan kesehatan dan juga 0:38 keberkahan. Masyaallah. 0:42 Aduh. Balik lagi bersama saya Unisap 0:43 Putra di acara Bahlul Bahlulan dan juga 0:46 tentunya bersama guru saya yang selalu 0:48 dan selalu memberikan motivasi buat saya 0:51 dan buat Ikhwan danwat semuanya. Siapa 0:53 lagi kalau bukan uncle firman Muslim 0:55 Tahir. Masyaallah. Gimana kabarnya 0:58 uncle? Sapa dulu. Sabar dulu. 0:59 Asalamualaikum [tertawa] warahmatullahi 1:00 wabarakatuh, Unkel. 1:01 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:02 wabarakatuh. Gimana kabarnya, Unkel? 1:03 Alhamdulillah baik. Gimana Oni? Baik, 1:05 On. 1:05 Alhamdulillah unkel baik. Ini kita 1:08 edisi lebaran 1:08 perdana habis lebaran 1:10 di bulan Syawal. 1:11 Kita mungkin ucapin dulu uncle 1:13 ke Iwan Rahwat. 1:14 Iya. 1:15 Minal aidinallah 1:17 mina. Mohon maaf lahir dan batin. Iwan 1:20 dan akhwat. Semoga hewan dan akhwat 1:22 puasanya kemarin tuh diterima oleh Allah 1:24 subhanahu wa taala dan di bulan Syawal 1:27 ini mendapatkan keberkahan dan suci 1:29 fitri kembali. 1:31 Ini puasa enggak? 1:31 Puasa dong. 1:32 Mokel berapa kali [tertawa] 1:34 bahasan kita terakhir tuh kita sempat 1:36 mokelokel. 1:38 Kalau itu sih rahasia. [tertawa] 1:39 Oh iya rahasia. 1:40 Yang jelas puasa. Masyaallah. 1:42 Cuman oni dan Allah yang tahu. 1:44 Iya betul. Mokel berapa kali? [tertawa] 1:47 Tapi insyaallah enggak lah. Pokoknya 1:48 setiap kumur-kumur 1:50 tiga kali kumur yang keluar dua 1:52 [tertawa] 1:52 itu dan mokel. 1:55 Ya Allah ya. Masyaallah kangen banget 1:58 saya nih. Kangen banget kita. 1:59 Saya enggak mau [tertawa] 2:01 firman 2:04 di acara bahlul-bahlulan di Ahad malam 2:06 ini. 2:07 Di Ahad malam ini bahlul-bahulan kita 2:09 mau ngangkat apa nih? 2:10 Wah kita ngangkat meja. Boleh 2:12 meja. Jangan dong. [tertawa] Keberatan. 2:13 Apa 2:15 kita mau bahas apa nih? 2:16 Kita bahas apa ya? Karena ini 2:18 apa nih? 2:18 Suasana lebaran walaupun sudah telat ya 2:21 ujung lebaran ujung sawyawal. 2:22 Ujung sawyawal 2:23 kita masih bahas lebaran 2:25 terus kita bahas sekarang lagi hot 2:28 adalah perang di sel horm. 2:31 Enggak apa-apa ya bahas agak berat dikit 2:33 ya. 2:33 Ya bolehlah enggak apa-apalah walaupun 2:35 saya mungkin harus menyesuaikan. Iya 2:37 enggak nyampai 2:39 ngomong itu enggak [tertawa] 2:42 paling enggak heeh aja l kalau enggak 2:44 ngerti aja gitu ya. Oh gitu gitu ya. 2:47 Pokoknya kalau on dibilang oh gitu heh 2:49 tanya engak ngerti [tertawa] gitu 2:51 takut salah takut salah gitu terus 2:53 seperti biasa 2:54 seperti biasa 2:54 saya akan bercerita tentang kisahnya 2:56 Bahlul 2:58 ya ini mirip-mirip dan kondisi saat ini. 3:02 Heeh. Jadi pada suatu ketika Bahlul 3:05 bertemu dengan seorang tokoh di 3:09 Baghdad namanya Abu Fadq. Lalu Abu Fadiq 3:13 ini bilang ke Bahlul, "Bahul, saat ini 3:16 ini orang-orang sedang resah karena 3:18 kenapa? Harga barang sedang naik. Kamu 3:21 enggak ikut resah, Bahlul. Kamu enggak 3:24 panik harga barang sedang naik. 3:26 Lantas apa jawaban Bahlul?" Ah, tuh 3:27 keren banget nih saya baca nih. Demi 3:30 Allah, aku tak peduli berapapun harga 3:33 barang-barang naik. Sungguh Allah telah 3:36 menuntun kita untuk beribadah kepadanya 3:39 dan Allahlah yang berjanji pada kita 3:41 untuk memberi rezeki sebagaimana yang 3:45 telah dia janjikan kepada kita. 3:47 Allah. 3:49 Berarti jangan takut ya. Tapi kalau kita 3:52 pikir pikirnya dia saya ini nyetir 3:55 mobil. Heeh. 3:57 Wah, jadi ketahu umur saya ya. 3:58 Oh, iya. Enggak apa-apa, enggak apa-apa. 3:59 [tertawa] 3:59 Saya itu nyetir mobil saat bensin. 4:02 Heeh. Harga 4:03 harga 700. 4:04 Saya masih belum lahir kayaknya. 4:06 Udah. 4:06 Oh, belum dong. 4:08 Cuman belum masih belum di jadiin anak 4:11 angkat gitu ya? 4:12 Oh, [tertawa] enggak. 4:12 Enggak dong. Enggak dong. Jadi udahlah. 4:15 Tahun tahun ini lahir tahun berapa? 4:17 90. 4:19 Ini '97. 4:20 Eh, sudah berarti masih belum sekolah 4:21 kan. 4:22 Bensin saat umur R 9697 tuh Rp700. 4:27 Oh 4:28 sekarang bensin berapa? 4:29 Udah 4:30 Petralight aja R.000.000 4:32 iya 4:33 di 4:34 pertamak 12.300 4:36 Dulu 700 itu premium apa masih ada 4:38 premium dulu. 4:39 Premium kalau enggak salahum 4:40 kalau enggak salah pertama 1.000 apa 4:42 gitu. 4:43 He 4:44 jauh kan? 4:44 Oh jauhlah. 4:45 Dan alhamdulillah kita terus kan bisa 4:47 menjalani h 4:47 posisi belum Krismon itu ya? 4:49 Belum. 4:49 Iya iya iya iya. 4:50 Heeh. Dolar waktu itu masih 1500 2.000 4:55 sekarang berapa? 4:56 17.000 ya? 4:57 Heeh. Heeh. 4:59 Alhamdulillah ada kenaikan harga kayak 5:00 gitu. 5:01 Heeh. 5:01 Kita hidup masih jalan-jalan aja ya. 5:03 Nah, itu karena Allah yang berjanji akan 5:06 menjamin rezeki kita. 5:08 Panik enggak usah panik karena kan Allah 5:11 yang jamin rezeki kita ya kan. Tapi ada 5:14 tapinya. 5:16 Ada tapinya. [mendengus][menghela napas] 5:17 Seharusnya pemerintah introspeksi diri 5:20 pemerintah. 5:21 Heeh. Bagaimana menjaga kestabilan 5:23 harga. Contoh di pergi ke Singapura. He. 5:27 Singapura ada satu barang 5:29 yang waktu saat saya SMA itu harganya 5:32 dolar. Heeh. 5:33 Sampai sekarang masih 9 dolar barang 5:35 itu. Kenapa bisa begitu ya? 5:37 Pemerintahnya ngejaga kestabilan harga. 5:39 Oh, 5:44 nilai rupiahnya turun. 5:45 Heeh. 5:47 Turun. 5:48 Mungkin karena korupsi enggak terlalu 5:49 banyak di sana ya. 5:50 Bisa jadi di sini. W ampun 5:55 harga tablet R juta dijadiin R juta ya 5:57 kan. masuk ini lagi ikatalog yang semua 6:00 orang bisa ngoreksi harga tablet R juta 6:03 ini jadi Rp9 juta. Wah itu pertanggung 6:06 jawabannya gimana tuh? 6:09 Nah tapi mungkin ini juga har ada 6:11 kenaikan-kenaikan harga ini salah 6:12 satunya disebabkan oleh perang yang 6:15 terjadi di 6:16 Timur Tengah. 6:17 Timur Tengah. Timur Tengah. 6:19 Tapi sebelum perang kita ke bab lebaran 6:21 dulu. 6:22 Nah itu 6:23 min aidin wa faidin kita kembali. 6:28 dan menuju kemenangan. 6:29 Nah, 6:30 ada salah satu orang yang katanya ulama 6:32 menyebutkan kembali apa? 6:34 Kembali makan [tertawa] 6:37 kok. 6:38 Iya, karena setelah lebaran kita boleh 6:39 makan lagi. 6:40 Tapi enggak harus gitu dong. Harus 6:41 jawabnya 6:42 iin aja. 6:43 Mungkin 6:44 knowledge-nya, level keimanannya sebatas 6:47 puasa itu menahan makan, enggak bisa 6:49 makan lagi. 6:50 Jadi pada saat 6:51 mina aidin itu kita kembali ke mana? 6:53 Kembali makan. 6:54 I 6:55 Anda benar. He. 6:57 Dan pelannya di situ. 6:59 Anda benar gitu aja. Oke. Karena yang 7:01 Anda pikirkan adalah makan. Oke. 7:04 Ada yang bertanya, "Kita kembali ke 7:06 mana?" Enggak jelas mau kembali ke mana. 7:07 Emang pergi dari mana? Oke. 7:09 Mungkin dia itu yang hidupnya 7:12 mengawang-ngawang, 7:13 enggak tahu tujuan hidupnya. 7:14 Ah, iya. I 7:15 jadi dia enggak enggak enggak percaya 7:17 bahwa waktu puasa itu kalau orang 7:20 bertobat tuh Allah hapusin dosa-dosanya. 7:22 Jadi pada saat lebaran kita kembali ke 7:25 fitrah bersia enggak percaya itu enggak 7:27 apa-apa juga 7:28 dia tersesat dalam kehidupannya sendiri 7:32 enggak tahu kembalinya Minaid ini 7:35 tapi bagi kita yang barangkapan kita 7:37 kembali fitrah 7:39 kita menuju kemenang mungkin karena di 7:41 dalam hati kita kita berharap ya Allah 7:43 semoga puasa ini bisa membersihkan diri 7:46 kita, mensucikan diri kita menjadi baik 7:49 sehingga di bulan Syawal kita enggak 7:51 kotor lagi nih. Nih putih kan kalau 7:54 mobil bersih udah bersih itu ngejaganya 7:57 lebih enak ya dibanding yang dekel dekil 7:58 tanah ke mana-mana nih. 8:00 Dan kita juga tenang Bang 8:01 dan kita tenang kita berharap kita 8:03 merasa mungkin kita ini banyak dosa. 8:05 Iya 8:06 kita berharap selama puasa dosa kita 8:08 diampunin Allah 8:09 jadi bersih kita. Makanya berharap kita 8:11 beranggapan bahwa mina aidin wa faidin 8:13 itu kita kembali ke fitrah. 8:16 Boleh enggak itu? 8:17 Boleh dong. 8:18 Ya boleh. Mudah-mudahan itu yang benar 8:19 ya. Jadi pendapat apapun min aidin 8:22 terserah terserah. Kalau taqbalallah 8:25 mininkum itu enggak perlu diucapkan saat 8:28 lebaran aja kapanpun. Itu kan saling 8:30 mendoakan. 8:30 Saling mendoakan 8:31 enggak apa-apa. 8:31 Doa yang baik itu balik ke balik ke kita 8:33 lagi. 8:34 Iya. Doa yang jelek balik ke kita lagi 8:36 juga. 8:37 Iya. 8:37 Iya. 8:38 Jadi jangan doain orang yang jelek dia. 8:39 Jangan. 8:39 Bahkan orang-orang salah itu bilang 8:41 jangan doakan orang yang zalim itu 8:44 kejelekan. 8:45 Iya. 8:45 Misal ya Allah azab dia. Itu orang-orang 8:47 yang salehnya levelnya tinggi tuh. He 8:49 janganjangan. Tapi doain ya Allah bikin 8:52 dia tobat, bikin dia taat kembali 8:54 kepadamu. 8:56 Itu orang-orang yang saleh. 8:57 Kalau saya sih dizalimin. Masih 8:58 ngedoanya Allah dapatinya orang dapat 9:00 azab [tertawa] deh. 9:02 Karena kan do doa orang yang terzalimin 9:03 kan diijabah. 9:04 Iya. Oh ini gimana? 9:06 Hah? 9:06 Oh ini kalau dizalimin orang doanya 9:07 gimana? 9:08 Sama. 9:08 Oh iya kita masih normal. Alhamdulillah 9:10 kita belum jadi orang saleh gitu. Belum 9:12 karena biar dijabah gitu kan. 9:14 Kita masih level standar gondok juga 9:16 gitu. 9:16 Iyalah dijualin full rakut. Iya pokoknya 9:19 mukul gatal kita pakai senjata pamungkas 9:21 kita doa doa dah 9:23 deh gitu. 9:23 Masyaallah lebaran ke mana aja ni? 9:25 Lebaran saya silaturahmi aja Bang ke 9:28 sanak saudara 9:29 diterima. 9:29 Alhamdulillah masih. 9:30 Oh masih dibuka pintunya. Alhamdulillah. 9:32 Awalnya mau ditutup 9:34 cuman saya bilang jangan tutup dulu. 9:36 Saya sekarang sudah bersih gitu. 9:37 Oh iya udah mandi 9:38 lebaran. 9:39 Udah mandi 9:39 mandi dong 9:40 soalnya sudah punya istri. Engak enggak. 9:42 Iya iya iya 9:43 gitu. 9:44 Tapi ini kebiasaan tiba-tiba Bang saya 9:46 ke rumah ya. Oke, ni saya sudah depan 9:48 rumah lah. Saya lagi di kamar mandi. 9:49 Udah depan rumah. [tertawa] I 9:51 gitu sih. 9:52 Iya. Iya. Kan silaturahmi itu kan saya 9:54 dadakan senangnya 9:55 gitu. Jadi biar lebih afdol. 9:57 Oh ini senangnya dadakan. Orang yang 9:58 didatangin enggak senang dadakan gitu 10:00 kan. Kalau salah satu [berdehem] 10:02 adab menerima tamu itu adalah 10:04 menyuguhkan. 10:05 Menyuguhkan. Oh khawatir. 10:07 Iya 10:07 khawatir di 10:08 kalau gua kalau saya masih di kamar 10:10 mandi mau nyuguhin oni apa? Air 10:12 [tertawa] sabun 10:15 enggak gitu dong. 10:18 Tunggu dulu lah, J. Pak, saya sudah di 10:20 bawah Pak. Bagasi sendiri ke mana aja 10:21 tuh pas kemarin lebaran 10:23 saya itu lebaran kemarin. 10:26 Biasa kan rumah saya yang dijadiin 10:27 tempat singgahan. 10:28 Heeh. Kumpulan 10:30 I ada tempat singgahan. 10:32 Akhirnya kemarin itu sebentar 10:36 adik-adik sama kakak kumpul di rumah 10:38 saya dulu. He. 10:39 Habis itu kita yang singgah ke 10:41 mana-mana. Ke kakak, ke kakak, ke 10:43 saudara, apa, kita yang berkunjung gitu 10:46 ya. Dan enggak enak juga ya karena 10:47 lebaran pertama tanpa ibu ya. 10:49 Iya. I 10:50 dan ada pegawai ibu juga bilang, "Bang, 10:53 ini ini pegawai ibu nih loyal banget. 10:55 Udah kali sudah kerja sama Ibu 20 10:57 tahun." 10:57 Uh, masyaallah. 10:59 Dan hampir enggak pernah lebaran di 11:00 kampung ya? 11:01 Kampung karena sudah ngerasa nyaman. 11:03 Iya. 11:04 Masyaallah. 11:05 Terus bilang, "Bang, izin, Bang. Boleh 11:08 enggak lebaran tahun ini saya di 11:09 kampung?" Oh, boleh, boleh. Silakan, 11:10 silakan. 11:11 Oh, 11:11 biarlah di kampungnya. Biar dia 11:13 karena mereka pun merasa kehilangan. 11:14 Iya. Udah, 11:15 ya Allah. Iya. 11:16 Jangan paksain kita yang lagi berduka 11:18 untuk bikin open house ya. Enggak atau 11:20 kita yang diundang. 11:21 Ada juga sih orang yang bilang maksa 11:24 nyuruh saya open house karena biasa 11:25 makan banyak di rumah ibu saya. 11:28 Aduh ya Allah. [erangan] 11:31 Gitu. 11:31 Itu ada cita lagi Bang set selain itu 11:33 mungkin Bang Iman tuh ee jalan-jalan 11:36 sama keluarga. Iwan juga mungkin 11:38 jalan-jalan sama keluarga gitu kan saat 11:40 lebaran biasanya tuh ada waktu di mana 11:43 tuh 11:43 Oh ini terim ke keluarga ya? keluarga 11:46 terus ini keragunan 11:47 enggak gituakit [tertawa] itu beda 11:50 keluarga itu, Bang. Itu beda keluarga 11:52 itu. Beda keluarga keragunan ada masanya 11:56 itu. [tertawa] 11:56 Ada masanya. 11:57 Ya Allah kok bisa loh kepikiran. Aduh, 12:00 mungkin ini W punya cerita gitu kan pas 12:02 lebarin kemarin ngapain aja dan ke mana 12:04 aja gitu bisa dikirimkan [berdehem] 12:06 cerita tersebut di 12:07 dibacain nanti 12:08 telepon dibacain nanti di 0811999720 12:13 atau WhatsApp oni aja langsung biar 12:15 dibacain 12:16 enggak ee enggak gitu dong 12:18 entar bikin ke WhatsApp Rasil enggak 12:19 dibacain 12:20 dibacain dibacain pasti dibacain nanti W 12:21 dan Hawa tapi nanti enggak sekarang gitu 12:24 kan nah terus Bang Iman 12:25 selain Bang Iman tuh silaturahmi ke 12:28 keluarga segala macam gitu kan di momen 12:30 lebaran kali ini ya pastilah kita merasa 12:34 kesedihan ya karena ada kekurangan yang 12:36 biasanya gitu kan ya. Nah itu untuk 12:38 mengisi itu gimana Bang caranya itu 12:41 karena waktu pasti ada dua seperti itu. 12:43 Yang enggak pernah saya lakukan selama 12:44 lebaran adalah ziarah. 12:46 Ziarah. 12:48 Tahun ini saya ziarah ke ibu. 12:50 Masyaallah. 12:51 Ziarah ke ibu mertua. 12:53 Heeh. 12:54 Ziarah ke bapak mertua. 12:56 Ziarah ke ayah juga akhirnya. Jadi, 12:59 oh 13:00 ee ya baru kali inilah lebaran tuh 13:02 ziarah kuburan 13:04 bisa enggak? 13:05 Dan ini kemarin saya ngobrol sama 13:09 keluarga juga, Bang. Jadi kan kalau di 13:12 perkampungan itu kan makam ee kakek 13:15 nenek kita itu kan dia di makam ini kan 13:18 di perkampungan juga ya bukan di komplek 13:21 pemakaman umum ya 13:22 tapi di perkampungan di kebun-kebun ya 13:25 kebun-kebun yang kita siapin lah gitu 13:27 kan ya [berdehem] wakaf buat makam. Nah, 13:29 itu ternyata salah satu ee 13:33 apa makna ataupun 13:36 wasilah sejarah itu bisa ziarah kubur ya 13:38 itu bisa menyambung tali silaturahmi 13:40 keluarga yang sudah putus, Bang. 13:41 Iya. 13:42 Kenapa? Karena kita ziarah ke makam uyud 13:45 kita nih 13:45 bin Pulan misalnya buyut kita dari kakek 13:48 nenek kita punya orang tua nah kita ke 13:50 situ. Nah, ternyata keturunan yang lain 13:52 juga ada yang ziarah ke situ. 13:54 Oh, ketemu. 13:55 Akhirnya ketemu di makam itu. 13:56 Jadi ngobrol, 13:56 jadi ngobrol. Akhirnya kita jadi nyamuk 13:58 satin lagi yang tadi Pak Pobor gitu ya. 14:02 Jadi hidup lagi. Nah itu ternyata makna 14:04 jenis dari ziarah kubur tuh. 14:06 Iya itu diperkabungan seperti itu. 14:08 Masyaallah. Saya jadi mikir oh ternyata 14:10 di balik ziarah di balik ziarah kubur 14:13 ini loh maknanya selain kita mendoakan 14:15 ya. 14:16 H 14:16 gitu kan. Jadi kita membuka kembal 14:18 silaturahmi yang sudah keputus yang 14:20 sudah mati gitu. Iya, benar. 14:21 Itu ternyata saya baru baru baru 14:23 kepikir, ya Allah, ternyata orang dulu 14:26 tuh ataupun Islam itu mengajarkan tuh 14:28 ziarah kubur itu sisi positifnya seperti 14:31 ini. 14:32 Tapi saya kan pas kemarin tuh waktu Ibu 14:33 meninggal tuh ya saya lupa ya siapa aja 14:35 yang saya kasih tahu ya. 14:36 Heeh. 14:37 Ada beberapa yang 14:38 dekat sama Ibu enggak tahu Ibu 14:40 meninggal. Jadi pas 14:41 ee mau pas lebaran kita kasih tahu biasa 14:45 Mbak 14:45 Heeh. 14:46 ditanya 14:47 Heeh. 14:47 "Ibu lebaran ikut mana?" Ikut pemerintah 14:50 apa? 14:51 ee Muhammadiyah gitu. 14:53 Terus Mbak tuh bilang, "Oh, enggak, kita 14:55 enggak open house." Loh, kenapa? Heh, 14:57 kan Ibu udah jadi ternyata banyak yang 14:59 enggak ada beberapa yang belum tahu juga 15:01 bahwa Ibu enggak ada. 15:03 Oh, 15:04 jadi akhirnya ngumumin kayak gitu deh. 15:06 Nah, itu, Bang. Itu bagian dari cerita 15:08 dari 15:08 tapi lebaran paling enak. Enggak enak 15:09 sih tahun ini bagi saya. 15:10 Iya. Iya, iya. Sama saya juga sama, 15:11 Bang. Sama kan nenek kan pas banget 15:14 meninggalnya kan pas puasa gitu kan. Pas 15:16 kemarin kita kumpul di mana tuh kayak 15:19 ada yang kurang gitu. 15:20 Biasanya tuh kayak kita bercandain terus 15:22 kita salaman lebaran barengan kan. Terus 15:25 kan tapi on bubuh istri sekarang. 15:27 Betul 15:28 ya. Ada plusnya ada minnya gitu. 15:30 Minusnya itu tadi karena 15:32 saya ketemu di rumah Ustaz Heri ya 15:33 lebaran. 15:34 Iya itu 15:36 ketemu Bang Iman lagi pas banget Bang 15:39 Iman tuh 15:39 aduh ngumpet-ngumpet ngapain ketemu dia 15:41 ketemu juga. 15:42 I gimana ngumpet kan ngumpet di mana? 15:44 [tertawa] 15:45 Dikelin kongan 15:47 kan enggak muat. Ya Allah julit lagi lu. 15:50 Aduh udah rahmat kita mungkin 15:53 [berteriak] 15:54 mau cerita sejarah ee kemarin lebaran 15:56 silakan dikirimkan ke nomor yang tadi. 15:58 Lanjut Bang Iman 15:59 break dulu apa enggak lanjutnya gimana? 16:00 Lanjut aja dulu. 16:01 Lanjut aja terus lebaran kita 16:03 berhubungan langsung perang ya. 16:05 Nah itu Bang Mus itu kayak kayak kita 16:07 kan ini kan lebaran ini kan kita kan 16:08 [mendengus] di apa sih? dibarengi sama 16:11 kejadian-kejadian tuh yang mungkin kita 16:14 kalau saya pribadi orang awam enggak 16:16 enggak terduga gitu. Tiba-tiba ada ee 16:19 peperangan di Timur Tengah yang yang 16:21 mengakibatkan tuh berdampak ke semuanya 16:23 gitu kan. Itu terjadi tuh di awal-awal 16:26 di pertengahan atau awal Februari gitu 16:27 kan sebelum puasa ya. He 16:30 gitu kan. 16:31 Nah itu menurut Bang Iman sendiri gimana 16:34 tuh 16:35 apa 16:35 lebaran dan peperangan itu 16:37 ya begitulah. Mungkin ada sedikit 16:40 gambaran cerita 16:41 gini 16:43 yang saya 16:47 saya ini jadi kadang-kadang suka sedih 16:51 ya ee di saat perang gini 16:55 He 16:56 banyak orang banyak mayoritas mayoritas 16:59 saya berbicara mayoritas mayoritas umat 17:02 itu sadar tentang pentingnya persatuan 17:07 yang penting kita sama-sama sama kiblat 17:09 kita, sama 17:10 Quran kita sama nabi kita sama. Udah 17:15 kita bersatu sebagai satu saudara 17:17 muslim. 17:18 Tapi ada orang-orang yang ngakunya 17:21 Islam. He 17:23 ada orang-orang ini yang ngakunya Islam, 17:27 jenggotnya panjang. 17:28 Heeh. 17:30 Tapi lebih berkubu ke Zionis. 17:33 Oh. 17:34 Yang jelas-jelas 17:36 saudara kita di Gaza dihajar. 17:39 Jadi Banon di hajar, di Yaman dihajar, 17:42 di mana-mana dihajar. Ada 17:44 saudara-saudara kita yang ngakunya Islam 17:47 tapi lebih berkubuh kepada Zionis. 17:49 Jangan-jangan dia takian. 17:50 Ah, bisa jadi 17:51 pura-pura Islam atau yang 17:52 bisa jadi 17:53 ya kan jelas-jelas 17:56 apapun alasan itu perang, kita sebagai 17:59 orang Islam harus bersatu. 18:01 Islam ini enggak pernah menang di 18:04 semenjak kitanya terpecah belah. Nah, 18:06 itu 18:08 Rasulullah 18:10 menyatukan umat 18:12 jumlahnya kecil aja bisa meraih 18:14 kemenangan. 18:15 Kita ini sekarang sudah ada yang bilang 18:17 bahwa Islam itu agama terbanyak di 18:20 dunia. Ada yang bilang nomor dua dengan 18:23 selisih yang dikit. Tapi kok kita bisa 18:26 enggak bisa ngapa-ngapain? Padahal di 18:28 perhatiin semua negara Islam kaya. 18:31 Iya betul. 18:32 Sebutin negara apa? 18:33 Iya betul. 18:36 Negara yang banyak mayoritas umat Islam. 18:38 Brunei kurang kayak apa dengan kekayaan 18:40 minyak. Brun. 18:41 Iya betul. 18:42 Indonesia. Oni tahu Indonesia itu adalah 18:44 negara dengan produksi gas alam, liquid 18:48 gas 18:49 terbanyak di dunia. 18:50 Oh. 18:51 Indonesia. Dan itu bisa diekspor 18:54 Indonesia. 18:58 Saudi Arabia. 18:59 Heeh. 18:59 minyaknya. 19:00 Heeh. 19:01 Ada negara lain emasnya. 19:04 Oh. Jadi daerah-daerah yang mayoritas 19:06 umat Islam, 19:09 alhamdulillah dengan rahmat Allah 19:11 berikan kekayaan. 19:14 Tapi kenapa kita enggak bisa kuat? 19:17 Karena kita mau dipecah belah, kita 19:20 enggak mau solid, kita senangnya 19:22 bermusuhan. 19:24 Enggak cukup musuhan dengan yang beda 19:25 agama. Yang seagama pun kita jadi musuh. 19:29 Enggak cukup yang satu agama 19:30 dicari-cari. Oh, kamu bedanya begini. 19:32 Oh, kamu qunut. Kita enggak kan. kita 19:33 enggak bisa temenang. H 19:36 dicari aja beda. Kenapa sih? Padahal 19:38 persamaan kita umat Islam itu jauh lebih 19:40 banyak daripada perbedaannya. 19:42 Tapi kita lebih senang bermusuhan. Nah, 19:45 efek kita bermusuhan di kita jadi lemah. 19:49 Efek kita yang jadi lemah 19:50 gampang. 19:51 Maka orang-orang, kelompok-kelompok yang 19:54 tidak suka dengan Islam gampang 19:56 nginjak-nginjak kita. 19:57 Iya. 19:57 Gampang ngadu domba. Kita break dulu. 20:00 Oke. Baik. Ahmad kita pembahasannya 20:03 semakin seru dan semakin menggegar 20:07 seperti yang terjadi saat ini ya. Ee 20:10 Iwan dan jangan ke mana-mana tetap di 20:12 Rahim dan Rasil TV. Kita akan kembali 20:15 setelah jeda berikut ini. 20:23 Brasil [musik][bernyanyi] 20:24 TV. 20:30 Masih bersama saya Oni Saputra di acara 20:32 Bahlul Bahlulan di Ahad malam ini. Ibu 20:35 akhwat masih bersama uncle firman. Tadi 20:38 kita sudah bahas masalah perang sedikit. 20:40 itu cuman ya apa sebutnya tuh kalau 20:44 sekarang t-shirt [tertawa] 20:46 bukan t-shirt kalau t-shirt kaos t-shirt 20:48 oh t-shirt 20:49 iya kalau t-shirt itu kaos 20:50 makanya kan bang imam ini 20:51 kan orang sunda p-nya jadi [tertawa] 20:53 jadi p 20:54 maklumin aja ya orang sunda 20:56 pantta apa pesware gitu kan 20:57 itu pesware. 20:58 Heeh. Tahu [tertawa] enggak pesware 20:59 apa tuh 20:59 pesware yang begini. 21:00 Oh pesware. Oh 21:02 oh ya udah pepanta 21:03 pantta begini 21:05 [tertawa] 21:06 itu bisa. Ya Allah oke banget. I anggal 21:10 5 nih ee kita bicara masalah perang ya. 21:14 Perang itu sudah berkecamuk sudah berapa 21:15 lama ya? Udah hampir berbulan-bulan lah. 21:18 40 [berdehem] hampir 2 bulan ya. 21:19 Iya sudah berbulan-bulan. Nah itu kan 21:21 efeknya kan sangat 21:22 efek 21:23 efek 21:23 bukan efek. 21:23 Iya Sunda maklum 21:25 efeknya [tertawa] itu sangat luas gitu 21:26 kan ya. efeknya sangat luas dan banyak 21:29 di kalangan masyarakat ini sudah mulai 21:32 was-was, 21:33 sudah mulai enggak tenang nih kehidupan 21:36 nih sudah mulai enggak stabil nih. Salah 21:37 satunya itu yang saat ini dirasakan sama 21:41 masyarakat dengan kenaikan plastik. 21:44 Wih. 21:45 Nah, kenaikan plastik itu berdampak yang 21:47 sangat signifikan di 21:48 karena semua rata-rata berhubungan 21:51 dengan plastik ya urusan kita ya. 21:52 Nah, itu operasi plastik aja naik kali 21:54 ya. Bisa jadi. [tertawa] 21:56 Tapi enggak usahlah, enggak usah, enggak 21:58 usah sampai sejauh itu. Enggak usah kita 22:00 juga. 22:00 Iya, kita ambil aja lah yang udah enggak 22:02 kepakai. 22:04 Ya Allah, kok bisa loh sampai ke pikiran 22:05 ke sitang ya? Out of the box ya. 22:07 [tertawa] The box. 22:08 Kaget saya. Nah, itu di kalangan 22:11 masyarakat ini udah sampai segitunya 22:13 gitu karena gara-gara pasik naik, 22:16 sembakau pun akhirnya pada naik. 22:18 Walaupun mungkin enggak seberapa, tapi 22:20 ada efeknya gitu. Bang Eman ngelihat 22:23 ngelihat hal ini gimana, Bang? 22:26 Iya. 22:28 [berdehem] 22:29 Iya. Baru plastik aja ya itu. 22:31 Itu padahal ee BBM di Indonesia masih 22:33 stabil. [berdehem] 22:35 BBM di Indonesia masih stabil. 22:38 Ee baru plastik 22:40 eh potong tapi bagaiman MBG pakai 22:42 plastik enggak? 22:43 Oh pakai 22:44 pakai ya? 22:44 Pakai. 22:45 Iya. Terus lanjut Bang [tertawa] 22:47 MBG stabil. 22:48 MBG stabil. Stabil. Stabil MBG. 22:51 Terus, Bang. Terus 22:53 berplastik aja itu naik. Padahal ee BB 22:55 masih stabil. Kadang-kadang nih di Heeh. 22:58 [berdehem] 22:58 Ee harga pasar itu dipengaruhi faktor 23:03 ras dan paniknya manusia. 23:05 Eh, itu dia, Bang. 23:06 Karena panik, takut apa-apa nimbun. 23:10 Pendi. Ingat enggak waktu pas 23:13 ee perang masih berlangsung, 23:15 He. 23:15 Ada isu bahwa BBM akan naik. He pom 23:19 bensin-p bensin set padat itu, Bang. 23:22 Saya ngerasain di malam itu saya enggak 23:24 tahu ada pengumuman seperti itu. Saya 23:26 mau ngisi mau ngisi bensin tuh kok saya 23:28 bilang kok rameai. Terus saya bilang 23:30 saya cari lagi tuh kok masih ramai. 23:31 Hampir semua pom ramai Bang. 23:33 Iya 23:33 hampir semua pom. Enggak tahunya pas 23:35 saya baca berita ada info begitu besok 23:38 mau naik katanya. 23:39 Iya 23:39 ternyata 23:40 isu hoang. 23:41 Isu hoang. Heeh. 23:42 Jadi gini. Pertama kita ini di pertama 23:46 kita ini pertama 23:48 dalam al-hujurat ya. 23:49 He 23:50 kita itu diperinta untuk ngasih tabayun. 23:52 Tabayun. 23:53 Cari informasi sebaik-baik. Gampang kok 23:55 nyari informasi. Satu. Kedua, jeleknya 23:59 era sosmet ini orang berbohong itu 24:02 gampang. 24:03 Iya. 24:03 Orang berbohong gampang dan orang enggak 24:05 takut lagi dosa berbohong. 24:07 Iya. Jadi bikin isu nyebar fitnah, bikin 24:09 kepanikan orang macam e dengan mudah 24:13 efeknya mereka enggak pelajarin. 24:15 Iya iya iya iya. 24:16 Ketiga, Ni. 24:17 Ketiga. 24:19 Dan ini yang paling penting menurut 24:20 saya. 24:21 Kita harus sadar, 24:23 kita harus yakin. 24:24 He. 24:25 Allah itu yang ngasih rezeki kita nih. 24:27 Aduh. Bukan Amerika atau Iran, bukan 24:30 Prabowo atau Anis Baswedan, tapi Allah 24:34 yang ngasih rezeki kita. Enggak usah 24:37 panik, rezeki kita cari, tapi kita bisa 24:40 menuntut kepada pemerintah. Ini gimana 24:42 nih sikap kita? Kenapa kita bisa 24:44 menuntut? Pertama di 24:48 only browsing sekarang 24:51 peta migas Indonesia di mana ada 24:55 BP, ada perusahaan-perusahaan asing 24:57 menyedot minyaknya dari Indonesia 25:00 ya. Menyedot dari Indonesia dibawa 25:03 keluar untuk disul diah. 25:06 Akhirnya masuk lagi ke Indonesia. Kenapa 25:09 tidak kita sendiri yang menyedot, kita 25:10 sendiri yang mengelola. 25:13 Saya ini orang awam. Cuman pasti orang 25:15 awam seperti saya banyak yang bertanya 25:17 loh ini British Petrol 25:20 nyedotnya di Indonesia perusahaan 25:22 Inggris. 25:23 H 25:24 exon mobil 25:26 di Indonesia. 25:27 Indonesia. 25:28 Ada 25:30 perusahaan Korea namanya Copex, 25:32 Korean Petrol Oil Company. ada di daerah 25:36 ee Seram. 25:38 Seram. 25:39 Seram. Seram. Seram. Maluku. Malu. 25:42 Maluku. Terus ada lagi 25:45 banyaklah mereka nyedotnya kayak 25:47 Indonesia. Kan saya kita sebagai orang 25:50 awam, orang bodoh langsung berpikir 25:51 kenapa enggak kita aja nguasain semua. 25:53 Iya. Dan kelola 25:54 satu. 25:55 H. 25:56 Terus kenapa enggak kita kelola? 25:57 Iya. Itu 25:58 emang kita enggak bisa ngelola? Kalau 25:59 enggak bisa, kenapa kita enggak beli 26:01 teknologinya? Nah, daripada uang itu 26:03 kita hamburkan untuk hal-hal yang enggak 26:05 jelas. 26:06 Contoh hal-hal yang enggak jelas. 26:09 Ngapain pejabat 26:10 anggarin mobil dia? Anggarin mobil dia 26:13 untuk mobil dinasnya sampai 8 miliar. 26:15 Di mobil R miliar aja udah bagus di ih 8 26:18 miliar. 26:18 8 miliar. 26:19 Eh, merek itu tuh mah bisa dapat 26:21 apa yang kuda [tertawa] 26:23 satu. 26:24 Terus 26:26 sortir tuh pejabat daerah-daerah yang 26:27 korupsinya seperti itu. Kumpulin 26:29 uangnya. 26:31 Saya yakin alat-alat untuk pengeluaran 26:33 minyak itu kalau He. 26:35 Kalau pemerintah kita secara serius 26:37 melakukan pembersihan dan perbaikan bisa 26:40 kok. 26:40 Kita ambil contoh Iran itu semenjak 26:43 tahun 0 diembargo di banyak hal. 26:45 Iya betul. 26:46 Kok dia bisa stabil? 26:47 Iya 26:50 kita enggak bisa belajar kita. Kenapa 26:52 kita enggak belajar? Kita nih enggak ada 26:53 embargo nih. 26:54 Kita hanya diembargo di beberapa titik. 26:57 Ada hal-hal yang Indonesia diembargo 26:59 ada. Enggak. Tapi sepertinya kan kemarin 27:02 kan baru-baru ini Indonesia tuh bekerja 27:05 sama dengan Amerika untuk masalah 27:06 militer. Heeh. 27:08 Dulu Indonesia pernah diembargo kalau 27:10 enggak salah saat Indonesia lebih 27:12 memilih pesawat buatan Inggris dibanding 27:16 Amerika 27:17 atau lebih memilih pesawat buatan Rusia 27:20 dibanding Amerika. Sehingga dampaknya 27:22 Indonesia alusita Indonesia diembargo 27:24 oleh Amerika. 27:25 Tapi pun itu enggak semua. 27:27 Hanya beberapa hal. 27:28 Hanya beberapa hal. Iran itu banyak 27:30 banget yang diembargo. Mereka bisa 27:31 stabil, 27:33 mereka bisa punya bagit listrik, bisa 27:36 punya pembangkit listrik tenaga nuklir. 27:38 Mereka BBM-nya murah. 27:40 Iya. Ya, 27:41 mereka ngolah sendiri. 27:44 Indonesia ini kaya banget nih. 27:46 Iya, betul. 27:46 Saya sebutin di Aceh itu 27:48 ada emas. 27:49 Heeh. 27:49 Ada minyak, 27:50 ada gas. 27:52 itu yang yang besarnya 27:55 di di Indonesia 27:58 daerah NTB. He. 28:02 Daerah NTB spesifiknya Bima, 28:05 spesifiknya lagi di daerah Oitui nama 28:08 desanya. 28:10 Itu ada kandungan rodium metal. 28:13 Rodium metal. 28:13 Tahu enggak on rodium metal nanti 28:15 browing 28:15 buat mana apa itu 28:16 rodium metal roadmap. Nama perusahaan 28:18 yang bisa dan boleh mengelolanya ada 28:21 roadm internasional eh radio metal apa 28:24 internasional. 28:26 Indonesia ada nih. 28:28 Semua kandungan-kandungan energi ada di 28:31 Indonesia nih. 28:32 Hm. 28:32 Kita nih kaya banget kalau kita mau 28:34 kelola sendiri. 28:35 Tapi kok kita ni ya Allah mata uangnya 28:39 rendah, 28:41 mutangnya banyak. Oh, 28:44 udah nemu 28:44 udah 28:45 apa? 28:45 Rodium metal itu dia kayak jenis kayak 28:47 mas putih gitu ya. 28:48 I 28:48 logam transisi putih keperakan yang 28:50 sangat langka. 28:51 Sangat langka 28:51 keras dan tahan korosi. 28:53 Yes. Itu nanti dibikin cairan. Dibikin 28:55 cairan fungsinya salah satunya apa? 28:57 Besi itu kan ada pori-pori. 28:59 Heeh. 28:59 Itu cairan. Nanti setelah jadi diekstrak 29:01 jadi cairan dijadi bahan pelapis. 29:03 Pelapisnya buat apa? Roket, rudal. 29:06 Oh, 29:07 coba browing. Itu baru satu 29:10 langka loh. Sangat langka. 29:11 Iyalah. Ada di Indonesia, di Bima, di 29:13 desa O itu 29:14 berarti kita ben lu enggak nanya kok gua 29:16 tahu. 29:16 Iya itu makanya saya mau nanya tahu Bang 29:19 [tertawa] 29:20 bisa bisa enggak menyombongkan diri 29:21 dikit gua bisa tahu? 29:23 Jangan jangan 29:23 jangan 29:24 ini kita buka harus kita rahasiakan. 29:26 Oh gitu. Takut [tertawa] ya? Takut. 29:28 Terus terus terus terus Bang. 29:30 Nah 29:32 di Pulau Jawa ada gas. 29:33 Heeh. 29:34 Di Sumatera Barat. Di Palembang. Heeh. 29:36 Di Palembang. 29:37 Palembang, Lampung. 29:40 Nanti saya lihatin videonya. Orang 29:43 kampung gali tanah keluar minyak. 29:45 [berdehem] Segampang itu. 29:46 Orang kampung keluar di tanahnya keluar 29:48 gas. Kaya banget di Indonesia. 29:51 Iya ya. 29:52 Kaya banget. Enggak seharusnya Indonesia 29:54 ini punya utang yang banyak. Tapi 29:56 kenapa? 29:59 Kalau sesuatu 30:01 nih bahasa singkatnya adalah kalau 30:04 sesuatu dipercayakan kepada yang bukan 30:07 ahlinya tinggal tunggu kehancurannya. 30:09 Itu hadis Rasulullah. 30:11 Rasulullah yang ngomong. Mungkin 30:13 Indonesia ini kebanyakan memberikan 30:16 sesuatu hal yang penting bukan pada 30:19 ahlinya. 30:20 Itu 30:20 satu. Yang kedua, 30:23 orang ahlinya ini fasik. 30:25 Fasik 30:26 tahu fasik. Lebih cinta kepada keburukan 30:29 dibanding kebaikan sehingga jadi rusak. 30:33 Coba Indonesia dipegang orang-orang yang 30:34 benar. 30:35 Saya yakin orang kita bisa bincang di 30:38 Iran kok. Yakin. 30:41 Tapi di Indonesia itu, Bang, yang saya 30:43 sedikit tahu tuh orang yang ahli di 30:45 bidangnya itu malah dimusuhin, Bang. 30:46 Iya, 30:47 dimusuhin. 30:49 Jadi saya punya kenalan. 30:50 Oh, 30:52 dia. Saya enggak mau cerita detailnya. 30:56 Dia itu tinggal di Amerika 30:59 10 tahun 31:01 di bagian selatan Amerika. 31:03 Heeh. 31:04 [mendengus] Saat dia selesai membuat 31:06 desertasi, He. 31:08 Dia ditawarkan kerja. 31:10 Heeh. 31:11 Dapat tawaran kerja dinasa atau si AI. 31:13 He. 31:15 Dinasa itu banyak orang Indonesia, 31:16 banyak orang India. 31:18 Oh, 31:20 banyak ya. 31:22 Ih, Indonesia kok 31:23 atau kalau misalnya kita enggak kalau 31:24 misalnya konokatasi banyak itu dalam 31:27 jumlah, 31:27 heh. 31:28 Kita ber 31:30 tokoh-tokoh pentingnya. 31:33 Ondi tahu kan di handphone ada 5G, 4G, 31:36 3G. 31:37 Cari siapa salah satu yang menciptakan G 31:40 itu? Orang Indonesia. 31:42 Oh, 31:43 orang Indonesia banyak pintar di 31:45 Iya, itu makanya kan enggak usah 31:46 jauh-jauh saya cerita dikit anaknya Pak 31:49 Parabo itu Mas Didit. 31:50 Heeh. [berdehem] 31:51 Mas Didit itu pernah jadi salah satu tim 31:53 bagian desainnya Volkswagen. 31:56 Oh, 31:56 mobil 31:57 orang Indonesia nih. 31:59 Iya, iya. [mendengus] 32:01 kita nih hebat nih. Tapi sayangnya 32:06 kembali lagi orang Indonesia ini minim 32:08 literasi. 32:10 Orang Indonesia ini malas baca. Orang 32:13 Indonesia ini malas tabayun. Orang 32:15 Indonesia ini enggak mau susah penginnya 32:17 senangnya. 32:18 Daripada kita di belakang dapat R.000, 32:21 mendingan di depan dapat 1.000. 32:23 Itu 32:23 daripada dapat makanan besar, mendingan 32:25 nanti tunggu sebentar, usaha dulu, 32:27 mendingan sekarang dapat remah-remah. 32:31 gitu nih. Saya ambil contoh lagi. Saya 32:34 kemarin baru baru dapat cerita 32:36 bahwa ada ada seorang ustaz bilang gini, 32:39 "Israel itu turunannya Yakub." 32:42 Terus 32:43 Israel turunannya Yakub. 32:46 Jadi Israel itu hamba Allah. 32:49 Dia maksudnya muji-muji negara Israel 32:51 ujungnya. Bedain Bani Israil 32:54 dengan negara Israel harus dibedain. 32:57 Kita baca sejarah sedikit. Eh, oke. Bani 33:00 Israel terdiri dari 12 suku. 33:02 Heeh. 33:03 Keturunan [berdehem] Yakub. 33:04 12 suku. 33:05 Oke. 33:06 Ondi sekarang buka dan ikhwan akhwat 33:08 buka. Kalau saya salah tolong kritisi. 33:11 Buka yang namanya Bani Khazar. 33:15 Bani Khazar. 33:16 Bin Khazar. 33:18 Hazar itu tadinya suku dibilangnya 33:21 adalah suku yang berpindah-pindah. 33:23 Hm. 33:23 Berada di Eropa. 33:25 Eropa Timur di Turki, Rusia. ee sebagian 33:28 Mongolia apa itu ada bangsa Hazar. H 33:32 bangsa Hazar ini akhirnya yang banyak 33:35 mengikuti menganut agama Yahudi ini 33:37 sekarang. 33:38 Oh 33:39 oke. 33:40 Bangkah bangsa Hazar ini mukanya lebih 33:44 identik ke orang-orang Eropa Timur. 33:45 He. 33:47 Bangsa Yahudi asli mukanya lebih identik 33:50 ke Timur Tengah. 33:51 Oh. 33:52 Makanya kalau orang Yahudi misalnya kita 33:53 kritik sekarang mereka wah kamu 33:55 antisemit. 33:56 Semit itu Arab. 33:59 Palestina tuh Arab, muka-muka Arab gitu. 34:02 Tapi lihat Netanianhu mukanya gimana? 34:05 Lebih condong ke barat ya. 34:07 Coba cross cek bangsa Hazar inilah yang 34:10 jadi pencetus pendirienda 34:12 berdirinya negara Israel. 34:14 Keturunan-keturunan bangsa Hazar. Enggak 34:15 termasuk 12 suku yang mereka bilang ini 34:18 ya Israel ini yang saya sedihkan. 34:22 Ustaz yang ngomong kayak gini pengin 34:23 ngebela Israelnya sedemikiannya. 34:27 Iya. Iya. 34:30 Di orang baik itu enggak mungkin 34:31 ngezalimin orang di sampai membunuh babi 34:34 buta. Semua peraturan PBB, semua 34:37 peraturan internasional untuk keamanan 34:39 internasional hampir semuanya dilanggar 34:41 PBB. Eh, hampir semuanya dilanggar 34:43 Israel. 34:44 Israel 34:46 enggak ada takutnya. 34:48 Baru gencetan senjata puff langsung bom 34:50 lagi 34:52 di Gaza gitu. Gencetan senjata. Hari ini 34:54 gencetan senjata sorenya melakukan 34:56 pembunuhan lagi. Dan yang gak masuk 34:59 logika ada ustaz-ustaz yang mengaku 35:01 Islam ngebela 35:05 ini otaknya di mana sih? 35:08 Berani buka ada ustaz lagi. Ustaz yang 35:10 penganutnya banyak bercerita bahwa 35:12 begini begini begini. Padahal browsing 35:14 dikit buktinya kelihatan. 35:16 Enggak malu berbohong. Dia itu ustaz. 35:21 Bohongnya itu didengar. Enggak takut 35:23 pertanggung jawabannya di hadapan Allah. 35:29 Itulah jeleknya. Kenapa umat Islam 35:32 gampang diadu [berdehem] domba? Punya 35:34 kepentingan masing-masing. Tuhannya duit 35:36 di 35:37 Iya betul. 35:37 Enggak takut sama Allah. Takutnya 35:39 miskin. [menghela napas] 35:41 Iya sih kita semua enggak mau miskin, 35:43 enggak mau hidup susah. Kita penginnya 35:44 hidup enak, rezeki berkecukupan. Beli 35:47 apa bisa. 35:49 Ee harga naik, harga naik kita enggak 35:51 perlu panik. 35:52 Tapi bukan itu segalanya. Kita harus 35:54 takut sama Allah. Hidup kita ini kita 35:56 canangkan untuk ibadah. Kita mencari 35:59 hidup mencari rida Allah. Itu penting. 36:01 Susah. Tapi kita harus berusaha. Niatkan 36:04 hidup ini untuk ibadah. Jadi kita enggak 36:06 tunduk sama duit nih. Kita punya harga 36:08 diri. 36:09 Dan orang-orang seperti itu enggak takut 36:10 dihisab pertama ya. 36:11 Yang lebihnya takut lagi ustaz seperti 36:13 itu. Jadi sebelum para penjudi penzina 36:16 ustaz duluan dihisab. Iya. Makanya 36:18 makanya jangan jadi ustaz [tertawa] 36:21 ya. Ya cuman yang benar gitu. 36:25 Tapi emang godaan itu semakin tinggi 36:27 pohon anginnya makin bergedi. 36:28 Nah gitu. Semakin gede Bang Iman 36:31 semakin banyak makan. 36:32 Semakin [tertawa] banyak makan ya. Kita 36:33 break dulu ya. Ya Allah ya Allah ya 36:36 Allah. Iwan dan Awat kita masih di 36:39 balu-baluan dan makin seru ya karena 36:42 pembahasannya 36:43 udah semakin sangat 36:46 sangat apa ya? sangat bikin saya tuh 36:49 ngerasa knowledge atau pengetahuan yang 36:51 bertambah lagi gitu. Oh, masyaallah. 36:52 Masyaallah. Oke, tetap di radio Silahim 36:56 dan Rasil TV untuk Islam 1 untuk Indos 36:57 bersatu dan gimana kita akan kembali 36:59 setelah jeda berikut ini. 37:06 Berasil TV [musik] 37:13 balik lagi bareng saya On Saputra di 37:14 radio silatahim untuk Islam 1 untuk 37:16 Indonesia bersatu Iwanwat. Kita sekarang 37:19 sudah berada di segmen terakhir ee acara 37:22 bahul-bahulan. Tadi kita sudah bahas 37:24 masalah perang di Timur Tengah yang 37:26 berkecambuk dan juga masalah ee di mana 37:30 negara-negara Timur Tengah itu dulunya 37:32 punyaai sejarah masing-masing yang 37:34 akhirnya sekarang terjadi peperangan. 37:37 Ya, itu si sebenarnya dari dulu sih, 37:39 cuman mungkin efek dominonya sekarang 37:42 gitu kan. Nah, terus Bang Iman. 37:45 Lanjutnya nih ee kita bicara efek nih. 37:49 Efek yang dihasilkan dari peperangan 37:52 ini. Tadi kan kita kan sedikit mengulas 37:55 ee bahlul enggak takut gitu kan dengan 37:57 kenaikan harga segala macam karena dia 38:00 punya Allah gitu kannya. 38:02 Nah, sedangkan kita nih sebagai 38:05 masyarakat, sebagai rakyat kita yang 38:07 jadi korban dari efek peperangan yang 38:10 ada gitu. Ini sebenarnya kesalahan ini 38:14 dan kita harus ngapain gitu. Ini 38:16 kesalahan dari penguasa atau kitanya nih 38:20 sebagai masyarakat yang harus punya ee 38:22 opsi atau punya 38:25 taming atau punya apalah gitu. Gimana 38:27 menurut? 38:29 Pertama 38:29 he 38:31 gua bingung pertanyaan oni ya. Pertama 38:34 gini, kalau kita kita jangan mencari 38:36 salah, kita mencari solusi. Tapi kalau 38:38 berbicara kalau kita berbicara salah 38:40 nih, 38:41 ada satu hal yang harus Oni ingat. 38:42 Apa tuh? 38:43 Pemimpin itu adalah cerminan 38:45 masyarakatnya. 38:45 Oh. 38:46 Satu, kalau on beranggap pemimpin kita 38:49 jelek, mungkin karena masyarakatnya 38:50 jelek. Mau disuap, mau disogok, mau 38:54 diatur, mau dibodohkan. Jadi kalau ada 38:58 suatu pemimpin yang melakukan 39:00 pembodohan, 39:01 melakukan membuat masyarakatnya miskin 39:03 dan terek dan mengemis gitu. 39:06 Kalau pemimpin sudah bisa bikin 39:07 masyarakatnya bodoh, miskin dan mau 39:09 ngemis, udah gampang diatur. 39:13 Contoh, contoh masyarakatnya bodoh, kita 39:16 minim literasi, 39:18 kita malas baca, kita enggak mau 39:19 tabayun. Oke. 39:23 Berapa banyak anak-anak yang bertindak 39:28 enggak sesuk? Kita mikir kok bisa ya dia 39:30 bertindak seperti itu ya? 39:33 Orang bertindak enggak mikir sebab 39:36 akibatnya. [berdehem] 39:37 Pokoknya saya mau bertindak ini udah 39:38 enggak mikir. Oh, kalau saya bertindak 39:40 ini akibatnya nanti bisa gini. 39:44 Kan kita harus bertik seperti itu. 39:46 Sayidina Ali pernah bilang orang beriman 39:48 itu akalnya berada di belakang lidahnya. 39:51 Oh. 39:53 Apa fungsinya? Maksudnya selain berucap, 39:56 bertindak, mikir dulu. 39:57 Heeh. 39:58 Mikir dulu baru berucap. 40:00 Lidahnya berada di belakang akalnya. 40:02 Akalnya. 40:03 Mikir dulu baru ngomong. Bu ngomong baru 40:06 mikir baru minta maaf. Enggak. itu bukan 40:08 orang bodoh. Orang pintar harusnya 40:12 mikir dulu sebelum berucap bertindak. 40:14 Jadi kebertanya siapa salahnya? Kita 40:16 runtutin. Pertama salah masyarakat. 40:19 Kedua, 40:21 kita ini enggak yakin sama Allah. Nah, 40:24 itu 40:26 kalau kita yakin sama Allah 40:29 paling enggak kita takut berbuat dosa. 40:32 Paling enggak. Ini enggak. 40:35 Kita lebih yakin [berdehem] 40:37 harus bahagia di dunia walaupun akhirnya 40:40 di akhirat mencelakakan. Berapa banyak 40:42 di orang habis korupsi pergi umrah? 40:44 Iya betul. 40:45 Korupsi [berdehem] pakai duit haji. Eh 40:47 dikorupsi pakai duit. Ya Allah kok 40:51 nyampai ke situ ya? Enggak sengaja itu 40:53 banget ya. 40:54 Kok bisa loh 40:55 habis korupsi pergi haji. 40:57 Pergi haji. 40:58 Menteri haji menteri menteri agama korup 41:01 eh. 41:01 Enggak enggak enggak enggak dongak. 41:04 Tapi iya juga [tertawa] 41:07 tapiakus 41:09 terus terus 41:10 kita ini 41:12 enggak takut dosa ni. 41:14 Eh iya itu 41:14 enggak takut Allah. 41:16 Iya tapi pada saat susah nerima musibah 41:19 ya Allah saya sedang dapat ujian. 41:22 Dia korupsi ya maksiat iya nipu iya. Pas 41:24 dapat salat jarang atau salat cuman 41:27 fisiknya doang. Pas Allah tegur masuk 41:29 penjara saya dapat ujian. Loh kamu 41:32 enggak sekolah kok dia dapat ujian. 41:35 [tertawa] 41:36 Dari mana? 41:37 Dari mana? Bukan itu azab atau DP? DP 41:41 hukuman nanti. 41:42 Baru DP. 41:42 Baru DP. [tertawa] Baru DP. Aslinya 41:45 baru DP. Karena ditahan aja masih bisa 41:47 pulang lebaran di rumah. 41:48 Iya. Iya. Lagi. Iya. Terus. [tertawa] 41:50 Iya kan? 41:51 Iya. Lagi kita enggak. Nah, karena 41:54 masyarakatnya begini kita enggak takut 41:56 dosa, kita malas belajar. 42:00 Padahal kan kita setelah sering bilang 42:03 apa ya, ini mungkin bukan hadis tapi 42:06 quote ya. 42:07 Carilah ilmu sampai ke negeri Cina. Itu 42:10 quot 42:11 Timur Tengah 42:12 dulu dianggapnya [berdehem] itu adalah 42:13 Cina itu negeri yang jauh. 42:15 Oh. 42:16 Tapi mereka tahu karena ada perdagangan 42:20 Cina ini salah satu sumber ilmu juga. 42:22 Carilah ilmu sampai 42:26 carilah ilmu dari apa? dari timbangan 42:29 sampai ke liang lahan 42:32 itu. Jadi jangan berhenti kita berhenti. 42:34 Kita ini enggak nih malas. Beda ya 42:36 sekolah sama mencari ilmu. 42:38 Kadang-kadang orang sekolah itu cuma 42:39 nyari ijazah. 42:41 Betul. 42:41 Walaupun pakai ijazah palsu 42:44 akhirnya. 42:45 Akhirnya 42:45 enggak. 42:46 Iya. 42:47 Masih. Itu 42:48 enggak tahu ya. 42:49 Oh iya. Terus [tertawa] 42:49 tapi ini kita mencari ilmu. Mencari ilmu 42:51 tuh di mana? Mencari kebijakan dari 42:53 mana-mana. Iya. 42:55 Sekolah itu penting. Tapi kadang-kadang 42:57 orang nih cuma nyari ijazah. 42:59 Iya. 42:59 Supaya bisa nyalon. 43:00 Eh, iya sih benar. 43:02 Iya kan? 43:03 Heeh. 43:03 Akhirnya 43:04 banyak 43:04 akhirnya ketahuan pakai jajas palsu dan 43:06 pasar pramukanya dibakar. 43:08 Enggak deh kita enggak jangan. 43:11 Jadi gini sebelum jauh terlalu jauh. 43:12 Kalau masyarakatnya solid. 43:14 Heh. 43:14 Pertama saya mengiriti masyarakat karena 43:17 gini kita kalau mau ngeritik jangan ke 43:19 orang lain dulu, 43:20 ke kita dulu. 43:21 Karena satu jari ke orang, tiga jari ke 43:23 kita. Oke, kita koreksi diri kita, Dok. 43:26 [mendengus] 43:28 Kita ini bagaimana sih hidup kita? 43:31 Perbaikin diri kita. Perbaikin diri kita 43:33 dulu ya. Jadi masyarakat yang baik. 43:36 He. 43:37 Kalau kamu jauh dari agama, paling tidak 43:40 jadi masyarakat yang baik. Karena 43:43 perbuatan baik itu berlakunya universal. 43:46 Contoh, 43:47 [mendengus] 43:48 semua agama, agama apapun, negara 43:50 apapun, maling itu jahat. 43:51 Iya, betul. Oke. 43:54 Nyakitin orang tuh enggak baik. 43:56 Heeh. 43:56 Berbuat kasar itu ngerampas hak orang 43:59 itu enggak bukan berbuat baik. Agama 44:01 apapun dasarnya itu. 44:02 Ya. Kalau kamu bukan religius nih. 44:04 Heeh. 44:05 atau kalau kamu bukan beragama Islam, 44:07 kita berbicara itu. Jadi orang baik dulu 44:09 deh. Jadi orang baik. Step naik berikut. 44:13 Jadi [berdehem] orang yang mendekatkan 44:14 diri kepada agama. 44:15 H. 44:16 Belajar agama tuh total. Jangan cuman 44:19 lulus ee lulus baca tulis. Kadang-kadang 44:24 orang lulus baca tulis jadi beragamanya 44:26 ngaur. 44:26 Heeh. He. 44:27 Yang dia baca salah lagi. 44:28 Heh. 44:29 Udah yang dibaca salah, yang diingti 44:31 cuman setengah. 44:32 Setengah. 44:33 Tapi ngomongnya kayak paham. Paling 44:34 paham dan paling benar. 44:37 [mendengus] 44:37 T saya kenal tuh siapa orangnya. 44:38 Pas dicrossek dikit kan malu. 44:40 Malu 44:41 gitu 44:42 dan banyak kayak gitu. 44:43 Banyak. Nah, 44:43 banyak 44:44 dan dia berani speak up di media sosial. 44:47 Nah. Karena kenapa? Karena sekarang 44:50 hidup kita ini kebanyakan orang tuh 44:52 tidak mencari rida Allah. Allah itu 44:54 bukan tujuan utamanya. Banyak yang jadi 44:57 tujuan utamanya aja popularitas. Nah, 44:59 kalau [berdehem] bahasa medianya kan 45:01 begini, bad news is a good news. 45:04 Berita jelek ini adalah berita 45:06 kadang-kadang sengaja bikin ee suatu hal 45:09 yang menaik perhatian orang walaupun hal 45:12 yang salah. 45:12 Iya. 45:13 Ujung-ujung minta maaf selesai kok. 45:14 Iya. 45:15 Masyarakat Indonesia banyak yang pikun. 45:16 Tapi gitu kan sama aja menghinakan 45:18 dirinya sendiri, Bang. 45:18 Ya apai kalau tujuan tujuannya apa? I 45:21 kalau tujuannya popularitas dapat 45:23 kalau tujuannya terkenal 45:25 iya 45:25 sudahud dapat. Tapi kalau tujuannya 45:27 Allah ya salah. 45:29 Itu gitu. Jadi kita semua harus 45:31 introspeksi diri dulu yuk. Satu. Kedua, 45:35 yakin Allah adalah yang maha segalanya. 45:38 Allah yang maha memberi rezeki. 45:39 Allah yang maha kaya. Allah yang maha 45:41 pengasih, maha penyayang, maha 45:43 bijaksana. Kadang-kadang nih kita ini 45:45 sering berbicara Allah itu seolah-olah 45:47 sosok yang menakutkan. He. 45:50 Wah, kamu bacaannya kayak gitu, salat 45:52 kamu salah enggak diterima. Kamu kalau 45:56 ditakut-takutin 45:57 saya ini kejadian nyata. 45:58 Heh. Heeh. 45:59 Nanti namanya saya sebut ee pas berdua 46:01 nama on. 46:01 Iya. OP R aja. 46:02 Teman saya ini mau tobat. 46:03 Heh. 46:04 Dia nemu buku 40 kesalahan dalam salat. 46:07 Ya Allah. 46:07 Akhirnya dia enggak salat gara-gara baca 46:10 buku itu. 46:10 Buset berat banget, Bro. [tertawa] Gitu. 46:13 Ya Allah, 46:16 berat banget, Bro. Sad kan udah salat 46:18 dulu jadi makmum aja, ikutin aja gerakan 46:20 imam. Iya, betul. 46:21 Karena beberapa ulama beranggapan bahwa 46:24 bacaan imam tuh mewakili bacaan kita. 46:26 Sudah 46:28 ditakut-takutin 46:30 dengan tulisan 40 kesalahan dalam salat. 46:33 [menghela napas] Dia jadi, "Wah, berat 46:34 banget salat. Entar dulu deh, gua 46:35 belajar dulu salat baru terus ada yang 46:38 saya punya kepon sepupu 46:41 kalau salatnya enggak khusyuk enggak 46:42 diterima. Akhirnya dia malas-malas 46:43 salat. Dia mau belajar khusyuk dulu baru 46:45 salat [tertawa] 46:48 gitulah. 46:49 Dan cara salat juga kan ada juga tuh 46:51 yang kalau caranya salah entar salat 46:52 juga salah gitu juga kan. 46:53 Itulah karena pertama gini kita ini 46:56 malas mencari kita senangnya disuapin. 46:59 Kita enggak tabayun kita enggak kerosek 47:01 minim literasi. literasi 47:03 kita pokoknya kayak saya ngomong ke 47:05 Ondi, Ondi enggak nyari nyari lagi info 47:07 yang lain padahal siapa tahu saya 47:08 menyampaikan [berdehem] 47:09 informasi yang salah. 47:11 Niatnya mungkin niatnya benar tapi salah 47:13 info oni. Kalaui cari lagi info lain 47:16 bisa memperbaikin saya 47:18 gitu. Tu. Jadi sebelum kita memperritik 47:20 misalnya mau ngeritik pemerintah, tujuan 47:22 pertanyaan oni, 47:22 he 47:23 tujuan pertanya saya minta kita kritik 47:25 ee introseksi diri dulu 47:27 gimana 47:28 ya pemerintah siap-siap aja bertanggung 47:31 tanggung jawab 47:32 kalau dia mengambil kebijakan yang 47:33 tidak baik untuk masyarakat begitu. 47:39 Berarti cuman tadi ya apa ee intropeksi 47:43 sama satu lagi apa? 47:44 Yakin sama Allah. 47:44 Yakin sama Allah. 47:45 Paling penting yakin sama Allah dulu. 47:46 sama 47:47 karena setelah yakin sama Allah baru 47:48 kita bisa introspeksi kita benar 47:53 gitu di emang susah Iwan untuk melakukan 47:57 itu karena kita kadang-kadang merasa 47:58 paling benar dan merasa suka benar gitu 48:01 diap di antara orang lain gitu kan ya. 48:03 Oke, terima kasih ee uncle firman. 48:06 Terima kasih atas Andi 48:08 atas ilmu yang telah diberikannya sampai 48:11 akhirnya kita bisa memahami gitu kan. 48:14 Kita harus intropeksi dan harus yakin 48:16 kepada Allah dan juga kita jangan 48:19 berkecil hati kali Bang ya dengan 48:20 kondisi saat ini ya. 48:21 Iya. Karena di hakiti di hati kita apa 48:23 ada apa? 48:24 Ada semesta. Wih, [tertawa] 48:27 s 48:29 itu ungkapan dari 48:32 jalalumi. 48:34 Jadi Iwan haat jangan berkecil hati 48:36 karena di dalam hati kita terdapat 48:37 semesta 48:38 tuh kan ya. Ya, semesta itu kan Allah 48:40 yang memberikan kan. 48:41 Dan jangan lupa Allah itu seperti 48:42 prasangka habar. 48:43 Nah, itu 48:45 dan juga jangan jangan jangan apa jangan 48:48 jangan takut dan jangan segan untuk kita 48:50 tuh selalu berzikir ingat Allah. 48:52 Ih, penutupnya dannya banyak banget ya. 48:54 Iya. Oh iya, udah sih, tutup aja 48:55 langsung. 48:56 Kan gitu, Bang. Karena kita kan 48:57 mengingatkan kebaikan. 49:00 [tertawa] 49:01 Oke, Iwan Iwan dan Akwat ee terima kasih 49:03 telah 49:05 ee bersama kami menyimak dan juga 49:07 menyaksikan bahlul-balulan. 49:09 Mungkin kita nanti ketemu lagi di 49:12 Ahad-ahad ke depannya ya. Ee saya enggak 49:15 ada statement nih. 49:16 Enggak ada kan? Enggak pernah ada. 49:17 Oh, iya. Enggak ada 49:18 closing statementnya di on. 49:19 Oh, iya iya. Tapi tadi udah disebutin 49:21 Bang 49:23 jadi Iya. Enggak jadi enggak jadi deh. 49:24 Terima kasih saya dan juga uncle firman 49:27 ee undur diri. Wabillah subhanak asadua 49:32 an wabufik walidah. Wasalamualaikum 49:35 warahmatullahi wabarakatuh.