Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:06 [musik] 0:08 Brail TV. 0:15 Bismillahirrahmanirrahim. 0:17 Asalamualaikum warahmatullahi 0:19 wabarakatuh. Allahumma shalli ala 0:20 Muhammad wa ala ali Muhammad. 0:22 Dipancarlaskan dari jalan Masjid 0:23 Silaturahim nomor 36, Cibubur, Jatiya, 0:26 Bekasi. Gimana kabarnya Iwan danwat 0:28 malam hari ini? Semoga Iwan danan Haut 0:30 kabarnya baik-baik saja dan juga selalu 0:33 dipenuhi dengan keberkahan. Malam hari 0:35 ini acara e bahul-balulan bersama saya 0:37 On Saputra ditemani oleh seperti biasa 0:40 guru saya Syekh [tertawa] 0:43 Uncle Firman Muslim Tahir. 0:45 Asalamualaikum unkel. 0:46 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:47 wabarakatuh. Andi 0:48 gimana kabarnya unkel? 0:49 Alhamdulillah. 0:50 Masyaallah. 0:51 Ih ngaku-ngaku guru. Bukan guru. Ah 0:53 tapi apa 0:53 ya? Bukanlah. Pantesan Oni jadi sesat ya 0:56 kan. [tertawa] 0:58 Aduh, 0:59 ini acara kita ketiga ya. 1:00 Iya. Ini action 3. Bahlul-bahlulan. 1:03 Bahlul bahlulan. A ketiga. Ada cerita 1:06 apa nih saya hari ini? 1:07 Oni sudah jadi terkenal sekarang nih. 1:08 Enggak juga dong. 1:10 Enggak juga. Biasa aja. [tertawa] 1:12 Terkenal dari mananya. 1:13 Iya. 1:14 Gimana? 1:15 Kita ketiga ya, siaran ketiga ya. Kita 1:17 masih ngobrol ngobrolan tentang si 1:19 Bahlul dulu ya. 1:20 Iya. Kemarin kan kita udah bahas si 1:21 Bahlul dua dua dua action tuh. Dua 1:23 episode tuh. 1:24 Itu menurut saya tuh ya Allah masyaallah 1:26 banget dah pokoknya. Nah, sekarang ada 1:29 cerita apa nih? Se 1:30 di tahun baru ke mana dulu? Ke 1:32 Iya benar. Sekarang tuh udah memasuki 1:35 tahun 2026. 1:36 Tahun 2026. 1:37 Masyaallah. 1:39 Ondi natalan di mana? 1:40 Eh enggak dong. 1:40 Oh iya enggak ya? Lupa dikirain Oni ikut 1:42 juga ya. 1:43 Enggak enggak tahun baru 1:43 dikira dikira saya oni hari Jumat di 1:45 masjid. 1:46 Heeh. 1:46 Eh benar. 1:47 Hari Minggu di gereja [tertawa] 1:49 dua dua 1:50 jadi tukang parkir. 1:51 Enggak ya? 1:52 Kirain beribadah gitu. [tertawa] Enggak 1:54 dong. 1:55 Aduh. 1:56 Karena saya tahun baruan enggak ke 1:58 mana-mana uncle cuman di rumah tidur. 2:01 Tidur setahun. 2:02 Setahun. 2:02 Iya, 2:03 betul banget. 2:03 Terus 2:04 dari 2005 ke 2006 sama juga? 2:06 Sama. 2:07 Suara petasannya agak berkurang ya tahun 2:08 ini ya. 2:09 Alhamdulillah. Alhamdulillah. 2:10 Nah, itu itu efek dari apa tuh 2:12 kira-kira? 2:12 Kayaknya di yang kan banyak diumumimin 2:14 ya. Hari ini kita tahun ini kita tidak 2:16 karena kan masih rentetan musibah gitu 2:19 saudara-saudara kita. 2:20 Nah, kan 2:22 itu saya benar juga itu angkel. 2:23 Jadi saya 2:24 tapi lebih enak tidurnya. 2:25 Iya. lebih nyaman gitu, enggak keganggu 2:27 sama bisingan petasan itu. Biasanya tuh 2:29 di sini di Rasil ini 2:32 itu masyaallah itu petasan di mana-mana 2:35 dan terutama di belakang di tetangga nih 2:36 itu biasa sampai setengah jam petasan 2:38 doang. 2:39 Mending setengah jam sampai jam berapa 2:40 kita dari sebelum tahun baru sampai jam 2:43 iya i itu itu 2:45 biasanya seperti itu. Dan alhamdulillah 2:47 sekarang tuh enggak ada 2:49 sepi ya 2:49 sepi gitu kan. Masyaallah masyaallah 2:51 suaranya masih bisa ditoler ya. 2:53 Nah itu suara korok juga kedengaran. 2:55 Hah? Suara kodok kedengaran. 2:56 Suara kedengaran. 2:57 Nah, itu cocok. [tertawa] 2:59 Mirip. Mirip mirip. Oke. Saya ada cerita 3:02 apa dari Uncle dari Bahlul sekarang nih. 3:04 Oke. Bismillahirrahmanirrahim. 3:06 Seperti biasa 3:08 saya akan pembukaan saya akan cerita 3:10 tentang si Bahlul. 3:11 Heeh. 3:13 Pada suatu ketika Raja Harun Al-rasyid 3:16 he 3:17 datang ke pekuburan umum. 3:21 Di sana tiba-tiba melihat ada orang 3:23 sedang menggali-gali kuburan. Oh, lantas 3:26 Raja Harun Arasyid meminta para 3:28 pengawalnya, "Tangkap itu orang. Kok 3:30 berani-beranian ya buka-buka kuburan?" 3:33 Langsung ditangkap katanya si Bahl 3:37 Raja Harun Al Rasyid bilang, "Eh, Bahlul 3:39 lagi." "Eh, Bahlul ngapain kamu di 3:42 sini?" 3:43 Terus kata Bahlul, "Oh, Raja, saya di 3:47 sini ketemu teman-teman saya di sini. 3:49 Teman-teman saya lagi sedang istirahat. 3:52 Kata Raja, "Kok teman-teman kamu mereka 3:55 ini mayat?" Enggak, Raja. Mereka ini 3:57 teman-teman saya. 3:58 Mereka tidak pernah menggunjingi saya. 4:01 Mereka tidak pernah ngejelek-jelekin 4:03 saya. Mereka tidak pernah ngomongin 4:05 sesuatu di belakang saya. 4:07 Dan mereka mengingatkan saya pada 4:08 kematian. 4:10 Terus raja, saya mau bertanya pada satu 4:13 hal ke raja. Kata rajanya, "Apa bahlul? 4:16 Mau nanya apa?" 4:17 Raja tahu enggak bahwa di tempat ini 4:20 tengkorak tengkorak pemimpin orang kaya 4:24 dengan tengkorak para pembantu sama 4:26 bentuknya raja. 4:28 Rajanya diam kan? Oh gitu B. Iya sama 4:31 bentuknya. 4:33 Tes bal bilang, "Raja, saya mau 4:35 memberitahu hal-hal yang kedua lagi. 4:37 Raja tahu enggak ternyata antara orang 4:40 kaya, pejabat, dan orang-orang miskin di 4:43 pekuburan ini, posisi tidurnya dan 4:46 tempat tidurnya sama, Raja?" 4:49 Terus saja. Oh, iya, Mbah Lu kan. Ini 4:52 yang terakhir paling penting. Apaan, 4:54 Mbah Lu? Nih, Raja lihat tongkat saya, 4:56 saya kasih garis-garis 4:58 ya. Apa tuh, Bahl maksudnya? 5:01 Ternyata raja. 5:02 antara orang kaya pejabat dengan orang 5:05 miskin kedalaman kuburannya sama Raja. 5:08 Oh 5:09 terus iya balul iya sama Raja. Jadi buat 5:12 apa disombong-sombongin segala sesuatu 5:14 yang masih hidup? Sedangkan pas nanti 5:16 kita sama semua raja. Wah rajanya 5:19 langsung menyelekit 5:20 gak dar nasehat bahl sebetulnya kan 5:23 emang kita gitu n 5:24 iya sih betul betul. 5:25 Kita ini 5:27 pasti akan mati. Iya. 5:29 Tapi seringki kita ini bertindak 5:31 seolah-olah kita hidup untuk selamanya. 5:34 Ngumpulin harta sebanyak-banyaknya. 5:37 Seolah-olah harta itu akan menjadi modal 5:39 investasi buat akhirat kita. 5:41 Seolah-olah kekayaan yang kita kumpul 5:44 entar dijadi buat bikin istana di 5:47 akhirat. 5:47 Istana akhirat. 5:48 Makanya akhirnya korupsi lah, garonglah, 5:51 apa segala macam punya duit banyak dia 5:53 pikir bisa dibawa ke akhirat. Dikbur aja 5:55 enggak bisa. 5:56 Selesai di situ. Orang banyak yang lupa 5:58 tentang kematian itu. 6:01 Kenapa saya buat tema tentang kematian? 6:04 Sebetulnya nih siaran hari ini nih saya 6:07 masih kurang mood. 6:08 Kurang mood untuk siaran. Tapi kita kan 6:12 sudah komitmen ya. 6:13 Kita sudah komitmen. 6:15 Salah sat menurut saya kalau kita sudah 6:17 dikasih kesempatan, dikasih waktu dan 6:19 sudah komit harus dipegang teguh kecuali 6:21 punya alasan uzur yang syari. 6:23 Syari. Kalau gampang 6:27 melepaskan komitmen itu ciri-ciri orang 6:29 munafik lah. 6:31 Sebetulnya saya ini lagi malas nanti 6:32 siaran karena 6:35 saya itu baru-baru ini dalam 43 hari 6:38 saya kehilangan ibu mertua saya dan ibu 6:40 saya dalam 43 hari. 6:44 Dan saya hubungan dengan ibu mertua 6:46 bagus, 6:48 hubungan dengan ibu saya bagus apalagi 6:50 sama ibu saya. Iya, Bu. 6:51 Orang-orang yang kenal saya dan ibu saya 6:53 tuh tahulah bagaimana saya 6:56 iya 6:56 dengan ibu saya. Atas dasar itu saya 6:59 hati saya sedang gunda gulana. 7:02 Sebetulnya malas siaran. Tapi kita harus 7:03 komit tetap harus komit. 7:05 Iya. 7:05 Ya kan? 7:06 Dan saya bersyukur juga saya tinggal di 7:09 lingkungan sini saat kondisi enggak 7:11 enak, hati kacau. Ada Ustaz Husein yang 7:14 ngingetin saya. M Farid, Mian ngingetin 7:18 saya. Alhamdulillah di lingkungan 7:20 baik-baik. Ondi yang rela datang untuk 7:22 dia di ban ledekan 7:24 ya kan. 7:24 Kapan 7:25 itu pas [tertawa] pas acara tahlilan kan 7:28 ada siap 7:28 jadi ban penghibur oni. Jadi penghibur 7:31 saya. 7:32 Ada siapa waktu itu yang datang tuh? 7:33 Banyaklah 7:34 banyak ya 7:34 banyak. Ada Dora Emon. 7:36 Dora Emon. 7:37 Iya. [tertawa] 7:40 Aduh. 7:40 Jadi di situ saya nyadar 7:44 umur itu enggak ada yang menduga-duga. 7:47 Betul. 7:48 Saya saat itu Allah perlihatkan secara 7:52 langsung begini. Mertua saya itu 7:56 meninggalnya satu ini. Jadi 8:00 saya ingat banget hari Kamis saya dan 8:02 istri berkunjung ke tempat mertua. 8:04 Heeh. 8:05 Silaturahim. 8:07 Istri saya ngobrol mertua saya sehat 8:08 lagi ngobrol bercanda, apa segala macam. 8:12 Jumat paginya 8:15 ibu saya sakit. 8:17 lemas segala macam. Wah, kita justru 8:20 mengkhawatirkan fokus teralih ke ibu 8:22 saya 8:23 yang kondisinya lagi menurun. Mertua 8:26 hari Kamis kita lihat lagi 8:26 segar-segernya. 8:29 Nah, di hari Jumat saya ada sedikit 8:31 kegiatan. Saya keluar dulu. Istri saya 8:34 bilang, "Man, aku nemenin kamu deh." He. 8:36 Takutnya kamu suasana hati enggak enak, 8:38 entar jadi kenapa-napa. 8:40 He. 8:40 Oh, ya udah. Pada saat perjalanan saya 8:43 ketemu orang sedikit, tiba-tiba ada 8:45 telepon. Oh, 8:46 dari ada WhatsApp 8:48 dari keluarga istri. He. 8:50 Ternyata 8:52 dapat kabar 8:53 bahwa ibu mertua meninggal pada sehari 8:55 sebelumnya sehat. 8:58 Jadi dalam kondisi sehat bisa 9:00 ketawa-tawa segala macam. Tiba-tiba 9:03 dalam kondisi tidur 9:04 Heeh. 9:05 pas dibangunnya asar enggak bisa bangun 9:07 lagi. 9:07 Oh. 9:09 di lahan waktu beberapa waktu yang lalu 9:11 ibu saya meninggal dengan proses 9:15 sakit dulu 9:16 dan jaraknya enggak terlalu lama ya 9:17 jaraknya cuman beda selisih 43 hari 43 9:20 hari 9:22 ee bagi saya ditinggal mendadak itu bagi 9:27 istri saya pasti itu berat 9:30 karena tanpa persiapan 9:31 iya iya 9:32 tanpa persiapan tiba-tiba kehilangan 9:34 orang tua heeh 9:36 lantas kalau Saya alhamdulillah Allah 9:38 kasih persiapan 9:40 bisa menata hati dulu, melihat kondisi 9:43 sedikit demi sedikit turun, 9:45 mempersiapkan mental walaupun tetap 9:47 enggak siap. 9:47 Iya. 9:50 Di situ akhirnya kita berpikir 9:53 Allah nih banyak sudah memperingatkan 9:55 kita mengenai ke tentang kematian. 9:57 Kematian. 9:58 Contoh di surat Al-Ankabut ayat 57 ini 10:00 paling sering disebut-sebut orang klu 10:02 nafsin 10:03 zaqatil maut. Setiap yang bernyawa pasti 10:06 akan merasakan kematian. Itu pasti. 10:07 Iya. Satu tuh. Satu. Saya sebutin lagi 10:10 dalam surat Al-Anbiya ayat 34. 10:14 Wama ja'alna libasyarim manqoblikal 10:18 khuld. Kami tidak menjadikan keabadian 10:21 bagi seorang manusia. 10:23 Tidak menjadikan. Jadi tidak ada yang 10:24 abadi. 10:24 Keabadian. 10:25 Terus saya 10:27 terus kita lihat lagi surah jumah he 10:31 ayat 8 yang artinya nih biar cepat ya. I 10:34 sesungguhnya kematian yang kamu lari 10:36 darinya pasti akan menemuimu. 10:40 Ini masih banyak ayat-ayat lain yang 10:41 menjelaskan bahwa kematian itu pasti. 10:45 Iya. Iya. 10:46 Allah sudah menjelaskan kematian tuh 10:48 pasti datang. Yang tidak pernah 10:50 dijelaskan kapan? 10:52 Oh, 10:54 waktunya ya. 10:55 Waktunya. 10:57 Siapa bilang hanya orang tua yang akan 10:59 mati? 10:59 Betul. Betul. 11:00 Kita menyaksikan sendiri. Saya semalam, 11:03 kemarin malam 11:05 baru dapat kabar dari teman saya, 11:07 keponakannya dia umur 9 tahun meninggal 11:11 kelelep di laut. 11:12 Oh, 11:12 umur 9 tahun masih sangat muda. 11:17 Terus beberapa waktu yang lalu orang 11:21 seumuran saya 11:22 he 11:23 meninggal karena sakit. 11:26 Terus saya menghadapi orang tua dengan 11:28 mertua yang memang sudah cukup tua. 11:31 Secara gamblang dilihat ada variatif 11:33 perbedaan umur. 11:36 Jadi kalau ditanya kapan kita akan mati 11:42 itu ya rahasia Allah 11:43 enggak ada yang tahu. 11:44 Enggak ada yang tah 11:44 matinya pasti tahu. 11:46 He 11:46 Allah tahu kapan kita mati. Kitanya 11:48 enggak akan tahu kapan kita mati. Tapi 11:50 pasti mati. 11:53 Kalau Ondi per kan gini, 11:56 Ondi mau pergi nih waktu itu ke Jogja. 11:58 Heeh. Heeh. 11:59 Sebelum pergi apa yang Ondi lakukan? 12:01 Persiapan. 12:02 Persiapan. 12:02 Heeh. 12:03 Ondi mau pergi hari Sabtu. 12:05 Heeh. 12:06 Maka Ondi sudah siap-siap di hari Kamis 12:08 dan Jumat. He. 12:09 Sehingga Sabtu sudah tinggal berangkat. 12:11 Cus. 12:11 Iya. Oke, 12:13 kita semua akan pergi ke alam lain, 12:17 hanya saja waktunya tidak tahu. 12:19 Harusnya, harusnya setiap saat kita 12:22 melakukan persiapan menuju perjalanan 12:24 kita. 12:26 Itu dia. Betul, betul, betul, betul. 12:29 Tapi seringki kita enggak mikirin 12:31 persiapan itu. 12:32 Iya. Ah, masih muda. 12:34 Iya, 12:35 masih muda. 12:38 Belum tua 12:40 udah masih muda nih. Mau macam-macam dua 12:42 masih nanti tua tobat loh. Siapa tahu 12:44 meninggalnya pas muda. 12:45 Seharusnya seharusnya. Coba mindsetnya 12:47 gini. Saya membaca sebuah tulisan dari 12:52 Jalaluddin Rumi. 12:54 Kalau enggak salah Jalaluddin Rumi yang 12:55 berkata begini, 12:57 "Pada saat saya melihat orang yang lebih 12:59 muda dari saya, 13:01 maka saya akan berkata, 13:03 "Ini orang lebih baik dari saya." 13:06 "Ini anak muda lebih baik dari saya 13:08 karena dosanya lebih sedikit dari saya." 13:10 Heeh. 13:10 Karena usia saat bertemu orang yang 13:13 lebih tua, maka saya akan berpikir bahwa 13:15 orang ini lebih baik dari saya karena 13:17 amal salehnya lebih banyak dari saya. 13:21 Jadi merasa diri kita tuh buruk, kurang 13:23 baik gitu ya. 13:23 Kok orang lain lebih baik dari kita? 13:25 Iya. 13:26 Coba itu diterapkan. Mumpung masih muda, 13:29 mumpung belum bikin banyak dosa, stop 13:31 yuk. Tambahin perbuatan baiknya. Jadi 13:35 kalau pada saat tiba-tiba mendadak, yuk 13:37 jalan berangkat ke alam lain. 13:40 Siap 13:41 siap jangan nunggu tua. 13:44 Betul betul. 13:46 Kalau Ustaz Zen kan bilang kematian tuh 13:48 indah, enak. Kita tidak akan merasakan 13:51 sakit lagi. 13:54 Kalau Ondi mau menuju surga, 13:56 ya 13:57 kuncinya apa? 13:59 Mati dulu. 14:00 Kalau enggak mati, Oni enggak bakal bisa 14:02 ngerasain surga. 14:02 Enggak bisa. Betul. 14:04 Begitu juga ke neraka. 14:05 Betul. 14:06 Begitu juga siksa kubur. 14:07 Betul. 14:07 Begitu juga salah satu doa kita, "Ya 14:09 Allah, jadikan kuburan orang tua kita 14:10 taman-taman surga." Kalau kita ingin, 14:13 kalau kita pengin merasakan taman surga, 14:15 kan harus mati dulu nih. 14:16 Betul. Betul. 14:17 Kalau enggak, enggak. 14:19 Makanya persiapan itu harus ada dulu. 14:21 Harus ada dari awal. Kita semua akan 14:23 mati. Pasti akan mati. 14:27 Waktunya tergantung. Ibaratnya ee kayak 14:31 polisi. Polisi selalu standby untuk 14:33 perintah dadakan. 14:35 Iya. Iya. 14:35 Polisi aja selalu standby di perintah 14:39 makhluk. 14:39 Heeh. 14:40 Masa kita enggak standby menghadapi 14:42 perintah atau panggilan khalik? 14:47 Iya. Enggak. 14:48 Iya. Lagi. 14:50 Iya. Iya. I. 14:51 Tumbenin. Benar ya? 14:52 Iya. 14:52 Masyaallah. [tertawa] 14:54 Tapi, Bang. Tapi anehnya itu ya di zaman 14:57 sekarang gitu ya banyak banget orang tuh 15:00 yang mereka tuh enggak peduli akan itu 15:02 gitu, Bang. Nah, itu faktor karena emang 15:06 minimnya pengetahuan agama tentang itu 15:08 atau memang dia itu ngerasa ah gue nih 15:11 udah enak nih di dunia nih. Gitu. 15:14 Apalagi para pejabat ya terutama gitu 15:16 kan. 15:17 Kunci utama itu karena hubud dunia. 15:20 Hubud dunia. 15:21 Cinta dunia. di dunia boleh dicintai, 15:24 boleh di tangan aja, jangan dibawa ke 15:25 hati. 15:26 Oh, 15:29 kita harus mikirin dunia juga, tapi 15:31 jadikan dunia itu sebagai jembatan untuk 15:33 menuju akhirat. 15:34 Iya, 15:34 gitu. Kalau kita berbicara pejabat yang 15:36 korupsi segala macam itu, seperti tadi 15:38 saya pernah saya bilang. 15:40 Heeh. 15:40 Mereka pikir kekayaan yang dia kumpul 15:43 bisa menjadi modal untuk bikin istana di 15:45 surga. Oh, 15:47 lu duitnya enggak laku, Ni. 15:48 Iya sih, [tertawa] 15:49 duitnya enggak laku. 15:50 Enggak laku. 15:50 Apalagi kurs rupiah yang dibanding dolar 15:52 rendah, ya kan? [tertawa] 15:55 Enggak ada artinya. Enggak ada artinya. 15:56 Benar. Benar. 15:57 Mereka lupa bahwa di dunia ini 15:58 sementara. Ni pernah enggak ke kuburan? 16:01 Pernah. 16:02 Oke. 16:03 Pernah. 16:03 Pernah ke kuburan. Ondi perhatikan 16:06 tanggal-tanggal kematian di setiap nisan 16:08 itu. 16:08 Iya. Saya sering perhatiin 16:10 ya. 16:11 Iya. 16:13 Ada yang usia kematiannya 16:16 Heeh. 16:17 Orang ini lahir tahun segini, 16:20 meninggal tahun segini. Heeh. 16:22 Ternyata waktu dia hidup dengan waktu 16:24 dia dikubur lebih lama waktu dia 16:26 dikubur. 16:26 Dikubur. Iya. 16:27 Perhatiin banyak loh. 16:28 Iya. Iya. Benar. Benar. Benar. Benar. 16:29 Benar. Benar. Dari pas dia meninggal 16:32 sampai sekarang tuh lama. Iya. Benar. 16:33 Benar. 16:33 Iya. Iya. 16:34 Ada yang baru ada yang baru baru lahir 16:38 terus meninggal. 16:38 Meninggal. Iya. 16:40 Saya beberapa waktu yang lalu ee ziarah 16:44 ke makam ayah saya di daerah karet. 16:46 Heeh. 16:46 Di situ saya lihat kuburan. 16:48 Heeh. 16:49 Seorang anak 16:51 lahir dan meninggal di tanggal yang sama 16:53 dan tahun yang sama. 16:54 Tahunnya itu 16:56 tahun 2012. 16:59 Sehari. 17:01 Dari 2012 sampai sekarang berapa tahun? 17:03 Lama. Udah 14 tahun. 17:05 14 tahun. 17:07 Ada yang lebih tua lagi. Meninggal tahun 17:09 berapa? 17:11 Kakek sayalah. Kakek saya. Kakek saya. 17:14 Kakek saya itu meninggal di tahun 17:18 67. 17:21 Usianya berapa tahun? Dari 67 ke 17:23 sekarang sudah berapa? 17:23 Udah udah udah lama. 17:27 Hampir 50 17:27 banyak. Jadi jangan pikir kita hidup di 17:29 dunia enggak lama nih. 17:30 Iya 17:31 kan kalau enggak salah Rasulullah pernah 17:34 bilang nih kasannya gini. Usia umatku 17:37 nih 17:40 antara 60 sampai 70 tahun. Emang kita 17:43 enggak di bukan usia-usia lama nih. 17:46 Iya. 17:46 Kita singkat enggak seperti nabi-nabi 17:48 lain. 17:48 Nabi lain. Heeh. 17:49 Umatnya nabi lain enggak singkat 17:51 gitulah. Orang tuh suka lupa diri. Dia 17:53 pikir hidup selamanya. Enggak. Sebentar. 17:57 Iya. 17:59 Dan kita bayangin tuh Iwan tuh kalau 18:01 misalnya kita di dalam kubur itu selama 18:02 dari kita mulai meninggal sampai 18:04 sekarang itu ngapain aja gitu ya. 18:06 Masyaallah. 18:07 Kalau orang saleh kuburnya enak kan 18:09 kuburnya jadi di taman-taman surga ya 18:11 kan? 18:11 Taman surga. Iya. 18:12 Kalau dia ahli maksiat gimana? 18:14 Iya makanya itu ya Allah siksa kubur itu 18:18 ya. 18:18 Heeh. 18:19 Ya Allah saya terkadang Iya. Kadang 18:23 terkadang dipikir terlintas itu di saat 18:25 kita meninggal terus kita menung kita 18:28 kan di kalam kubur menunggu kiamat ya 18:29 Bang ya 18:30 ya menunggu dibangkitkan menunggu 18:31 dibangkitkan kan I kan nah itu kita 18:33 ngapain gitu di sana gitu kan ya 18:35 rutenya gimana kalau saleh sih belum 18:37 apa-apa udah enak 18:39 sudah jadi taman-taman surga nah itu 18:40 kalau ahli maksiat masyaallah 18:45 kayak pejabat yang ngebohong pertanya 18:46 jawabannya gimana 18:47 iya sih 18:48 pejabat-pejabat yang bohong pejabat yang 18:50 garong iya 18:51 ya 18:52 Wakil-wakil rakyat yang tidak 18:53 menjalankan amanahnya. Eh, Anda kalau 18:56 berbicara wakil rakyat harusnya 18:57 menjalankan amanah dari orang yang 18:59 memberikan kepercayaan kepada Anda. 19:01 Kalau Anda cuman mikirin perut dan bawah 19:03 perut, Anda kacau. Anda enggak amanah. 19:05 Iya, 19:07 betul, betul, betul, Bang. 19:09 Dan harus selalu diingatin seperti ini 19:12 nih biar 19:13 pada sadar gitu. 19:14 Bahkan kita bukan siapa-siapa masa 19:15 nginget. Kita bukan siapa-siapa. 19:17 Iya. Kita cuman dua balul ya. 19:18 Cuman dua bal. 19:21 Kepala kita. 19:21 Apalah kita [tertawa] 19:23 ya bagus-baguslah. K keingat kedengar 19:25 bagus-baguslah. Kalau enggak ya namanya 19:27 juga bukan siapa-siapa 19:29 siapa-siapa. Siapa lu ya? 19:30 Kita dibutuhkan saat mereka nyari suara. 19:32 Udah dapat suara enggak butuh lagi sama 19:33 kita. 19:34 Itu dia itu dia. Itu dia. Benar, Bang. 19:36 Masyaallah. Masyaallah. Masyaallah. 19:38 Masyaallah. 19:39 Masyaallah. Makanya para ah kok mau 19:42 ngingetin lagi. Jangan deh. [tertawa] 19:43 Jangan. Makanya dan akhwat banyak 19:46 berbuat baik mungkin ya supaya kita tuh 19:49 bisa bisa kata seperti angkal firman 19:51 tadi bisa mempersiapkan di saat Allah 19:52 itu memanggil kita gitu kan di saat 19:55 Allah tuh sudah mencabut nyawa kita gitu 19:57 kan ya salah satunya dengan mendengaran 20:00 dengan mendengarkan radio rasil ini kan 20:02 banyak banget yang bermanfaat gitu 20:05 banget 20:05 amin amin 20:05 ya kanan ya 20:06 iya insyaallah 20:07 masyaallah 20:08 ini kita jeda dulu apa 20:09 jeda dulu dah jeda dulu jeda dulu 20:11 oke dan akhwat jangan ke mana-mana Ee 20:14 tetap di acara Bahlul-bahlulan bersama 20:16 saya Wondi Sapurra dan juga Uncle 20:17 Firman. Kita akan membahas yang lebih 20:20 seru lagi. Tetap ee stay di Radio Rasil 20:24 untuk Islam satu untuk Indonesia 20:26 bersatu. 21:27 Radio Silaturahim dan Rasil TV untuk 21:29 Islam 1 untuk Indonesia bersatu. Iwan 21:33 dan Ahwat. Balik lagi bersama saya On 21:35 Saputra dan angkel Firman di acara 21:36 Bahlul Bahlulan. Saya sedikit akan 21:38 membacakan ee tulisan yang saya baca ee 21:44 yaitu adalah tulisannya seperti ini. 21:48 Penuhi rasa cinta maka Anda akan banyak 21:50 dicintai. Siapa yang banyak berbuat baik 21:53 maka akan banyak mendapat kebaikan. 21:55 Begituun sebaliknya. Itulah rumus dunia. 21:58 Jangan terlena oleh manusia buah dunia 22:00 karena akan membawa kepahitan buah 22:02 akhirat. Ingat, dunia bukan tempat 22:05 tinggal tapi dunia tempat untuk 22:06 meninggal. 22:07 Wih. 22:08 Begitu Bang. 22:09 Betul, betul betul betul betul. 22:10 Itu yang saya baca sedikit. Lanjut, 22:13 Bang. Gimana, Bang? 22:13 Karena semua yang dikubur di dunia ya. 22:14 Iya, betul. 22:16 Enggak ada yang dikuburnya di akhirat 22:17 enggak ada. Jadi benar-benar 22:19 ih oni hebat gitu, Ustaz. Wondi 22:22 enggak juga dong. [tertawa] Saya hanya 22:24 seorang bahlul 22:26 kan bahlul orang saleh sebetulnya 22:28 pura-pura pura. Iya. Lanjut. Terus ee 22:30 setelah tadi Bang ee kita sedikit 22:33 menyinggung tentang kematian. Apa lagi 22:36 Bang yang bakal kita ee sampaikan ke 22:40 Iwan Ahwat nih melalui udara ini? 22:41 Ni. 22:45 Kan kita sering dengar nih terutama di 22:47 ceramah-ceramah. 22:48 Heeh. Heeh. Heh. 22:49 Semua orang yang meninggal akan 22:51 terputus. dengan urusan dunia. 22:54 Iya. 22:55 Kecuali tiga hal. Satu, 22:58 ilmu memang bermanfaat. He. 23:00 Dua, amal saleh. Amal zahir. 23:03 Yang ketiga, nih, 23:05 doa dari 23:07 anak yang saleh. 23:08 Oke. 23:10 Bukan doa dari anak loh, 23:11 enggak titik. 23:12 Oh, 23:13 doa dari anak yang saleh. 23:15 Anak yang saleh. 23:15 Oke. 23:17 Pertama, 23:18 kita persiapkan kematian kita karena 23:20 kemanitian itu mendadak. Oke. 23:22 Kayak ada di surat Ala'raf ayat 34. Saya 23:26 baca artinya. Setiap umat mempunyai 23:27 ajal. 23:28 Iya. 23:29 Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat 23:30 meminta penundaan sesaat pun 23:33 dan tidak pula dapat meminta percepatan. 23:36 He. 23:36 Jadi kita harus standby kapan kita mati. 23:39 Oke. Untuk diri kita sendiri kita harus 23:42 mempersiapkan. 23:44 Kita akan mati. Waktunya tidak 23:47 diketahui. 23:48 Betul. 23:48 Oleh karena itu, kita harus selalu siap 23:50 standby. 23:51 Betul. 23:52 Lantas tadi yang saya ingin saya ingin 23:54 saya sampaikan tiga hal. He. 23:57 Semua urusan terputus 23:59 kecuali tiga hal. Amal saleh, ilmu yang 24:02 bermanfaat, dan doa dari anak-anak yang 24:03 saleh. 24:04 Oke. 24:05 Ondi sayang enggak, Ibu? Ondi 24:07 sayang banget, Bang. 24:08 Yakin, sayang. 24:08 Yakin. 24:09 Yakin sayang. Oke. 24:12 Ternyata 24:14 menjadi saleh itu bukan hanya untuk 24:16 keuntungan Ondi sendiri, tetapi untuk 24:19 keuntungan ibu Ondi sendiri. 24:22 Kenapa? Kalau jadi orang yang saleh 24:25 jelas keuntungan buat ondinya apa. 24:26 Iya. Iya. Iya. 24:27 Kalau Ondi jadi orang-orang bertakwa 24:29 jelas keuntungannya apa. 24:31 Kalau Ondi jadi orang bertakwa Allah 24:33 yang akan menjamin kehidupan ondi. Allah 24:35 akan memberikan rezeki dari arah-hara 24:37 yang diduga-duga ataupun tidak. Itu 24:40 keuntungan buat Oni ya. 24:43 Hidup Ondi akan berbahagia. 24:47 Hidup Ondi penuh dengan keberkahan. K 24:49 bertakwa dan saleh itu untuk kepentingan 24:52 Ondinya. Kalau Oni emang sayang ke Ibu 24:54 Ondi menjadi orang saleh itu Oni bisa 24:57 menolong 24:59 Ibu Ondi karena ternyata bukan doa dari 25:03 anak. 25:05 Doa dari anak saleh Ni. 25:09 Kalau anaknya tukang maksiat kira-kira 25:12 gimana mau doain orang tua ya untuk 25:14 dirinya sendiri? 25:16 Enggak. 25:18 Saya tuh kemarin kepikiran, ah doa anak 25:20 saleh. 25:22 Apakah saya termasuk anak yang saleh? 25:25 Sehingga saya bisa mendoakan orang tua 25:27 saya sehingga apabila saya kirim 25:29 alfatihah sampai pahalanya buat orang 25:32 tua saya. Apakah saya saat saya bacakan 25:35 istigfar buat orang tua, saya akan 25:37 menandaikan derajat orang tua saya di di 25:39 akhirat kelak? 25:42 Kan itu 25:43 betuliman 25:43 kan ada yang bilang ngirim orang ngirim 25:46 alfatihah 25:47 nyampe gitu 25:48 emang nyampe 25:49 ya kalau enggak nyampai balik lagi gitu 25:50 kan enggak rugi juga tapi nyampai kan lu 25:53 amal lu bini niat kita apa kita amal 25:55 saleh baca fatihah 25:57 untuk buat kita kasih orang tua 25:59 kadang-kadang kita suka lupa menilai 26:00 bahwa Allah itu maha baik 26:02 betul 26:03 ya kan Allah tuh enggak kaku nih enggak 26:05 sekaku manusia nih 26:07 iya 26:08 kita itu terlalu menggambarkan Kan Allah 26:11 itu adalah sosok yang kejam dan 26:13 menakutkan. Enggak le. Allah itu penuh 26:16 cinta kasih. Penuh kepedulian rahman, 26:19 rahim sayang kepada umatnya. Kenapa 26:22 dibikin menjadi sosok yang begitu 26:24 mengerikat sebegitu kakunya? Enggak ni. 26:26 Allah itu baik. 26:28 Betul. 26:28 Kita kembali lagi ke doa anak yang 26:30 saleh. Oke. Kita belum saleh ni. 26:32 Misalnya kita belum saleh. Tapi pada 26:34 saat orang tua kita meninggal, kita 26:36 begitu terpukul sehingga kita ingin 26:38 bertobat. Apa yang terjadi bagi 26:41 orang-orang yang bertobat ni? 26:43 Masyaallah. 26:44 Saat kita bertobat, maka seluruh doa 26:46 dosa kita Allah hapuskan. 26:47 Hapuskan. 26:49 Dan dosa itu digantikan pahala. 26:51 Pahala. 26:52 Kurang baik apa? 26:54 Masyaallah. 26:55 Ibaratnya Oni punya utang ke saya, 26:58 Oni bayar utang ke saya. Kalau manusia 27:00 kan oke selesai. 27:01 Iya. 27:02 Ya kan? Ini enggak. Ondi bayar hutang ke 27:05 saya, saya kasih duit lagi ke Oni. 27:07 Seperti itu perumpamaannya. Masyaallah. 27:11 Kita belum jadi saleh. Berusaha saleh 27:12 itu aja sudah menjadi suatu kesalehan. 27:17 Kita belum saleh, belajar saleh aja. 27:19 Terus 27:19 berusaha berniat menjadi saleh sudah 27:21 jadi amal saleh. 27:22 Masyaallah. Masyaallah. 27:24 Kita ada niat tobat aja tu. 27:26 Kita bertobat. Kita bertobat. Niat tobat 27:28 sudah Allah catat sebagai sebuah tobat. 27:30 Kita lakukan tobatan, melakukan 27:31 perbuatan. Manusia itu enggak luput dari 27:33 salah nih. Pasti salah terus. 27:34 Betul. Makanya 1000 kali berbuat salah, 27:37 100 kali bertobat. 27:41 Allah terima. Masyaallah. 27:45 Cuman kita aja sering seolah-olah Allah 27:46 tuh sosok yang menakutkan, yang begitu 27:48 kaku, yang begitu kejam 27:51 dan nge-judge yang enggak-enggak. Ya, 27:54 mana mungkin Allah menerima. Sok tahu 27:56 banget kalau Allah mau gimana. 27:58 Makanya tuh saya 28:00 ibaratnya bos perusahaan aja bisa pilih 28:02 kasih. Nah, itu 28:03 bos perusahaan aja bisa berbuat 28:05 semau-maunya dia. Apalagi Allah yang 28:07 maha semaunya. 28:08 Iya. 28:08 Eh, maha semaunya, maha segalanya. 28:09 Maha segalanya. 28:10 Oh, iya. Saya kasih, saya terima amal 28:12 salehnya. Iya, saya kasih, saya berikan. 28:15 Kan kita enggak tahu kita ilmu kita 28:17 enggak ada se apa-apanya ilmu Allah. 28:19 Kenapa kita merasa ilmu kita sederajat 28:21 dengan ilmu Allah sampai menganggap 28:22 bahwa mana bisa diterima sama Allah. 28:24 Loh, kalau kata Allah ya kalau saya mau 28:25 kenapa? 28:26 Bukannya 28:27 Allah punya hak fetoh. 28:28 Nah, itu lebih lebih dari manusia. 28:30 Lebih dari manusia. Manusia aja bisa 28:31 kayak gitu. Presiden 28:33 lebih dari presiden. 28:34 Iya. 28:34 Enggak ada apa-apa presiden. 28:35 Iya. 28:36 Paling gua presidennya tukang bohong. 28:37 Hah? 28:38 Iya kan? 28:38 Betul sekali itu. 28:40 [tertawa] 28:41 Si anak buahnya juga ya. 28:42 Apalagi anak buahnya tukang bohong juga. 28:43 Aduh 28:44 kelar sudah. 28:46 Iya kan? Nah. Jadi kita menjadi orang 28:50 saleh, orang baik itu 28:52 Heeh. 28:52 yang untung kita. 28:54 Betul. 28:55 Bukan hanya kita aja. Orang tua kita 28:57 juga. 28:58 Makanya ni 29:00 Ondi kan punya anak nih. 29:01 Punya 29:02 posisi Ondi itu ibaratnya seperti 29:04 burger. He 29:05 mau burger. 29:06 Iya. Tingkat-tingkat 29:07 punya orang tua. 29:08 Heeh. 29:09 Dan punya anak. 29:09 Anak ya. 29:10 Ondi menjadi saleh bisa berbakti kepada 29:12 orang tua. 29:13 Orang tua akan merasakan keuntungannya 29:15 nanti. Heeh. 29:16 Dan kalau Oni jadi orang saleh, anak 29:18 Ondi akan mencontoh Ondi. 29:19 Betul. 29:21 Kalau Oni memberi contohnya buruk, ya 29:22 Ondi siapa aja. 29:24 Betul. 29:24 Anak itu kan seperti kertas putih 29:26 ibaratnya. 29:26 Iya. Tergantung apa yang dituliskan, 29:28 maka akan hasilnya seperti itu. 29:30 Kalau menjadi orang yang saleh, 29:32 saleh 29:32 gua tidak akan pernah jauh jatuh dari 29:35 jauh dari pohonnya. 29:36 Kayak ginilah. Oni sekarang ngomongnya 29:37 agak logat-logat Sunda. Heeh. 29:41 Coba dengerin style ngomong orang tua 29:42 oni. 29:43 Heeh. 29:44 Mirip enggak? 29:45 Mirip. 29:45 Mirip. Saya ayah saya orang Sumatera 29:48 Barat nih. 29:49 Heeh. 29:49 Tapi kadang-kadang orang suka ng bilang 29:52 orang Sunda ya. Karena ibu saya logam 29:54 kayak gitu. Saya punya kedekat lebih 29:55 dekat lebih sering berinteraksi dengan 29:57 ibu kebawa kita pasti dari hal itu aja 30:00 kebawa gitu. 30:02 Makanya kan ada yang bilang, "Wah, kalau 30:03 bapaknya diabetes, orang tuanya 30:05 diabetes, anaknya diabetes." 30:06 Dibetes. 30:07 Ada yang bilang bukan karena gen juga, 30:09 tapi karena pola hidup. 30:10 Pola hidup. 30:12 Iya iya iya iya. Rata-rata orang 30:15 Sumatera Barat n 30:16 he 30:17 bapaknya senang makanan Padang, anaknya 30:18 juga makan senang Sumatera Barat. Jarang 30:20 tuh bapaknya senang makanan Padang, 30:22 anaknya senang makanan Jogja. Jarang 30:23 tuh. Ya iyalah. [tertawa] 30:25 Iya. Karena kan udah di 30:26 karena polanya gitu dari kecil 30:27 dikasihnya seperti itu ya. Iya. Iya. 30:29 Iya. 30:29 Jadi kalau Oni berusaha jadi orang baik, 30:32 anak OD akan mencontoh 30:33 Iya. 30:34 Pendidikan yang terbaik itu kan dengan 30:36 contoh. 30:36 Iya. Betul. Betul. 30:37 Contoh gini, Rasulullah aja bilang gini, 30:39 "Betul betul. 30:40 Salatlah kalian sebagaimana kalian 30:43 melihatku salat." 30:46 Iya. 30:46 Contoh loh. Ngasih contoh. 30:47 Iya. Iya. Iya. 30:48 Rasulullah bersedekah ngasih contoh. 30:51 Diikutin semua contoh banyaknya. Karena 30:54 percontohan. 30:55 Iya. Iya. Iya. Apa yang kita lakuin ya? 30:56 Iya. 30:57 Sehari-hari. 30:58 Iya. Iya. 30:58 Kita memberi contoh yang baik itu. Nah, 31:00 itu yang bisa jadi modal tabungan untuk 31:02 akhirat kita, bukan uang yang kita 31:04 kumpulin. 31:08 Iya. 31:10 Tapi tidak disadari banyak manusia juga 31:11 itu seperti itu, Bang. 31:12 Iya. Nanti 31:13 masyaallah. Miris, miris. banyakbanyak 31:16 maksudnya yang yang mereka tuh yang yang 31:18 mereka lakuin tuh ya semaunya karena 31:22 egonya, karena nafsunya gitu kan. 31:24 Iya. 31:24 Akhirnya terjurumus 31:25 itulah kita kalah sama nafsu ya. 31:28 Iya. Dan akhirnya anaknya pun mengikuti 31:31 alur bapaknya seperti itu. 31:32 Iya. Bapaknya ngambil duit jin anaknya 31:34 jadi 31:35 Iya [tertawa] 31:36 begitulah. 31:37 Iya. 31:37 Makanya anaknya entar di akhirat bisa 31:40 menuntut pertanggungjawaban. Ya Allah, 31:42 saya ini begini karena orang tua saya 31:44 ngasih saya makan dari duit haram, 31:45 perilakunya seperti itu segala macam. 31:48 Gimana saya mau saleh ya Allah? 31:49 Iya. Masyaallah, Masallah. Masyaallah. 31:52 Makanya seorang bapak bertanggung jawab 31:53 terhadap istri dan anak-anaknya 31:55 dua sekaligus ya. 31:56 Oh iya, 31:57 istri dan anak-anak. 31:58 Heeh. 32:00 Ya Allah. 32:01 Apakah mereka enggak berpikir ya yang 32:03 melakukan kezaliman gitu? 32:05 Nah, itulah. 32:05 Hah? 32:06 Iya. 32:08 Karena mikir dunia dunia selamanya. 32:11 akhirat sementara gitu. 32:13 Akhirat dong belum belum tentu dapat 32:14 [tertawa] 32:15 akhirat belum tentu gitu ya. 32:17 Ya kan sampai ada artis yang pernah 32:18 nantang. Woh nanti di neraka saya ketemu 32:20 teman-teman saya ketemu artis ini ini, 32:22 ini. Kan sedeng itu orang berakal enggak 32:25 akan ngomong gitu. 32:25 Iya 32:26 tangan kamu dibakar aja sakit. 32:28 Sakit 32:28 api neraka tuh lebih dari itu. 32:31 Masa iya sih? Katanya kan kulit ketemu 32:32 kulit sakit. Enggak enggak katanya kan 32:35 gitu ya. Tuh enggak katanya Bang begitu 32:37 katanya Bang 32:37 ya. aja kita kan dari tanah oni disambit 32:40 di kepelin tanah disambit ke oni sakit 32:42 enggak nih? Sakitlah apanya tanah keras 32:43 tuh. Sakit. 32:44 Iyaudah 32:45 kan di tanah juga. 32:46 Iya makanya 32:47 itu pikirannya ke mana gitu, Bang? Yang 32:49 seperti itu ya. 32:50 Nantang. Siapa aja orang yang nantang 32:51 Tuhan. 32:52 Ya Allah. 32:53 Siapin akibatnya. 32:55 Ini umur dunia enggak lama lagi di 32:57 iya. 32:57 Enggak lama lagi di enggak lama lagi. 33:00 Buat apa gitu kita ya 33:01 harus ingat-ingat deh. Ingat-ingat. 33:03 Emang berapa tahun lagi yakin kiamat 33:06 masih jauh? 33:07 Enggaklah. Pasti semakin mendekat. 33:08 Semakin mendekat. Semakin mendekat. 33:10 Iya. Begituun ajal kita kematian semakin 33:12 dekat gitu. 33:13 Iya. Kita ulang tahun kan berarti sisa 33:14 umur kita di dunia semakin berkurang. 33:16 Iya. 33:17 Bukan semakin bertambah. 33:18 Iya. 33:18 Angkanya semakin bertambah. 33:20 Cuman umur kita berkurang. 33:21 Umurnya berkurang. 33:22 Iya. Seperti yang ya seperti sekarang 33:24 tahun barulah gitu kan ya. Tahun baru 33:25 itu bukan 33:26 bukan tahun baru. Berarti kita itu 33:29 meriah terus kita 33:30 sebentar lagi kita makin sebentar lagi 33:32 mendekati kematian kita. 33:33 Nah itu makanya kan 33:35 dan kita enggak tahu kapan kita matinya 33:36 ya kan. 33:37 Banyak-banyak jarak ke kuburan dah ya. 33:39 Iya. 33:40 Kita mengingat kematian kali ya. 33:41 Iya. Ziarah kuburan kan salah satu 33:43 fungsinya itu untuk mengingat kematian. 33:45 Iya kan? 33:46 Dan yang saya pengin ingatin lagi ini 33:49 untuk ikhwan akhwat yang masih memiliki 33:52 orang tua. 33:55 Yang masih memiliki orang tua entah 33:57 orang tuanya masih muda, entah orang 34:00 tuanya udah tua 34:02 dekatin ke orang tua. 34:05 Urus orang tua sebaik-baiknya. 34:07 Di percaya di percaya di ini yang saya 34:10 rasain di 34:16 saat Oni kehilangan orang tua hidup Oni 34:19 tidak akan sama. 34:24 Iya 34:28 bagaikan setengah 34:29 Ondi akan merasa ada bagian tubuh Ondi 34:31 yang hilang. 34:32 Iya. 34:37 Ondi akan 34:42 oni akan kehilangan semangat untuk 34:43 menjalani hidup nih. 34:49 Jangan disia-siain orang tua ni. 34:51 Iya. 34:52 Jangan diselesain orang tua. Saya ini 34:54 bukan anak yang penurut sama orang tua. 34:56 Orang tua ngomong, "A saya sering kena 34:59 marah sama ibu saya. 35:02 Anak bandel saya. Tapi saya sadar ibu 35:06 saya marah gitu karena sayang ke saya, 35:08 karena peduli ke saya. Jangan jadiin 35:10 dendam. Jangan jadiin dendam. Jangan. 35:14 Orang tua kamu marah kamu, negur kamu 35:16 karena sayang, karena pengin kita 35:18 selamat. 35:20 Karena pengin anaknya selamat dan pengin 35:22 dirinya sendiri selamat supaya enggak 35:24 diminta di pertanggungjawaban di hadapan 35:26 Allah kelak di akhirat. 35:28 Tapi di seringkiali orang tuh menyesal 35:31 pada saat akhir. Penyesalan itu di akhir 35:33 bukan di awal. Kalau di awal pembukaan. 35:38 Jangan sa orang itu ngomong ke saya 35:41 begini, 35:43 "Ente udah alhamdulillah ya ente puas 35:45 ngurus ibu." Enggak ni? Beneran enggak 35:48 ni? 35:52 Enggak puas, Dek. 35:59 Sekarang baru nyerasa kurang. 36:03 Walaupun banyak orang bilang ente 36:04 ngabisin waktu buat orang lain. Enggak, 36:06 enggak. Kurang tetap. 36:09 Jadi untuk teman-teman yang masih punya 36:10 ibu, punya bapak, 36:13 ibu minta apa turutin. 36:17 Bapak minta apa turutin asal untuk yang 36:19 baik-baik. Jangan sia-siakan keberadaan 36:22 mereka. 36:24 Ondi lihat orang tua Ondi, Ondi lihat 36:27 ayah Ondi 36:29 kulitnya sudah mulai berkerut. 36:30 Iya. 36:31 Rambutnya sudah mulai memutih, 36:34 giginya sudah mulai tanggal. 36:35 Heeh. 36:36 Itu sebuah tanda-tanda dia. Wow. 36:41 Allah sudah ngasih tanda-tanda sejelas 36:43 itu. Kita enggak mau sadar. 36:45 Di Al-Qur'an bilang, "Afalah kamu tidak 36:47 berpikir." 36:51 Teman-teman, boleh-boleh 36:51 bersenang-senang segala macam boleh. 36:53 Tapi jangan pernah sakiti hati orang 36:54 tua. 36:58 Minta doa orang tua sebanyak mungkin. 37:01 Minta doa ayah, minta doa orang 37:04 ibu. Minta doa ibu. Saya ini kalau 37:08 dengar cerita ayah saya gimana ayah saya 37:10 berbakti ke ibunya dan menuntut anaknya 37:12 supaya berbakti ke ibu, ke orang tua, ke 37:15 ibu tuh seperti apa? Enggak ada 37:17 apa-apanya di enggak ada apa-apanya. 37:24 Dan saya masih menyesal saya enggak 37:25 berbakti selayaknya. 37:32 Kalau bisa ditukar, apapun saya lakukan 37:34 untuk ngundur waktu gitu. 37:36 Allah 37:38 seperti itu. Tadi saya bilang penyesalan 37:40 itu adanya di ending. 37:43 Kalau di awal pembukaan 37:44 pembukaan. 37:46 Enggak 37:48 perlu kita belajar di pengalaman diri 37:49 kita sendiri nih. Coba belajar di 37:52 pengingat ee pengalaman orang lain. 37:56 Di kalau ente berbakti ke orang tua di 38:00 ente berbakti ke ayah, 38:03 ente berbakti ke ibu ente ya. 38:07 Rida Allah, rida orang tua nik. 38:08 Iya. 38:09 Kita hidup ini mencari rida Allah. Kita 38:11 nih hidup ini cuma untuk beribadah dan 38:14 mencari rida Allah. 38:16 Orang tua udah rida. Ayah, ayah, ibu 38:19 udah rida. Ente udah punya backingan 38:20 terkuat dua. 38:21 Ya Allah. 38:23 Tinggal backingan ente. Ente minta 38:24 berdoa ke Allah. Bayangin ente doa, 38:27 ayah, ente doa, ibu ente doa. Biasa doa 38:30 orang tua untuk anaknya lebih khusyuk, 38:32 lebih serius dibanding doa dirinya. 38:34 Doanya untuk dirinya sendiri. 38:38 Iya. Enggak 38:38 betul, B. 38:39 Coba ente ngedoain anak ente. 38:42 Pasti ente lebih detail. Ya Allah, 38:44 tolong jadikan anak saya anak yang saleh 38:46 dan salehah. Ya Allah, 38:47 berikanlah dia kesehatan jasmani maupun 38:49 rohani. Ya Allah, mudahkanlah segala 38:52 urusannya. Ya Allah, penuhilah segala 38:53 kebutuhannya. Ya Allah, bukakan pintu 38:55 kemudahan atas segala urusannya. Ya 38:57 Allah, berikanlah jodoh-jodoh yang baik. 39:00 Kita doa serius banget untuk anak kita 39:02 tuh dijeberin segala ininya, ininya, 39:04 ininya, ininya, ininya. Kadang-kadang 39:05 buat kita sendiri rabbana atina fid 39:06 dunya hasan wafil akhirat. Amin. Yuk, 39:09 berangkat gitu kan. 39:10 Betul. 39:11 Untuk anak khusus gitu. Begitu pun ibu 39:13 kita. Orang tua kita begitu ni. Orang 39:15 tua kita begitu 39:18 orang tua kita lu terluka. 39:21 Ibu Ondi lebih nangis, lebih pedih 39:23 daripada Ondi. 39:24 Iya. 39:25 Cuman dia enggak memperlihatkan itu. 39:27 Ondi pusing, Ibu Ondi lebih pusing 39:29 daripada Ondi. 39:32 Ondi sakit. Ibu Ondi lebih mikirin 39:34 sakitnya Ondi daripada 39:36 Ondi sendiri. 39:38 Kadang-kadang ondinya udah biasa-biasa. 39:41 Ibu ini masih mikirin. 39:44 Cerita sedikit ya. Iya. 39:45 Ibu saya ini kan stroke sudah cukup 39:48 lama. 39:48 Heeh. 39:51 Jadi ibu saya tuh kalau nelepon saya, 39:53 saya bindeng. 39:54 Heeh. 39:56 atau saya sehari enggak datang ke 39:57 rumahnya dan tahu kabar saya ini sakit. 40:00 Ibu saya sakit. 40:01 Oh. 40:01 Karena kepikiran, kenapa iman nih? Iman 40:04 gini gini gini gini. 40:05 Saya sudah segede gini nih. Anak saya 40:07 sudah gede. 40:08 Heeh. 40:09 Saya yakin hampir semua ibu memikirkan 40:12 anaknya lebih daripada dia memikirkan 40:14 dirinya sendiri. 40:17 Iya. 40:18 Dan di kalau ente udah dapat rida orang 40:21 tua, udah dapat maaf dari orang tua, 40:23 selesai. Nah, 40:26 Ondi usahakan tiap ketemu Ibu Ondi, Ondi 40:28 minta maaf. 40:31 Nah, maafin Ondi ya atas kesalahan Oni. 40:33 Pasti jawaban orang tua kamu enggak ada 40:36 salah. 40:38 Kalau ada salah pun udah dimaafin. 40:42 Enggak mung saya rasa ya hampir enggak 40:44 ada orang tua maafin ee dosa saya ya. 40:47 Iya kamu ini memang anak durhaka 40:50 kayaknya [tertawa] 40:51 enggak ada deh kayak kayaknya ada 1001 40:53 jarang. Kalau ada yang kayak gitu ya 40:55 kita pikirin dua ini ibu gimana atau ini 40:57 anak kali salahnya udah keterlaluan gitu 40:59 ya kan. 41:00 Astagfirullahalazim. 41:01 Tapi semua ibu onit kalau datang ketemu 41:03 minta maaf Bu maafin ya maafin salah 41:05 saya Bu saya banyak salah. 41:07 Bu, ridain saya, Bu. Desek itu di desek 41:11 itu. Minta maaf terus. 41:14 Tapi kebanyakan anak-anak zaman sekarang 41:18 pada gengsi satu, kedua biasanya itu 41:20 minta maaf itu pas lebaran doang. 41:22 I 41:23 kalau gengsi ke orang tua kan 41:24 kebanyakan tuh seperti itu. 41:25 Gengsi ke orang tua tuh lucu nih. 41:27 Kotoran aja dipegang sama tu orang tua. 41:29 Iya makanya. 41:30 Iya. Enggak. 41:33 jelek-jeleknya itu anak aja orang tua 41:35 orang tua tahu dan orang tua anggap itu 41:37 bagus. 41:37 Iya. 41:38 Ya kan? 41:39 Enggak ada anak orang enggak ada orang 41:40 tua yang bilang kamu tuh gimana ya nak 41:42 ya muka kamu kok jelek ya? [tertawa] 41:46 Enggak ada. 41:47 Enggak ada ni. 41:47 Enggak ada. 41:48 Semua orang tua uh kasep ganteng bager 41:51 saleh gitu kan. 41:53 Iya 41:53 enggak ada nih anak saya kenapa jelek 41:55 banget ya? Kayak gini enggak ada nih. 41:56 Si jelek sih jelek sih jelek enggak ada 41:58 engak ada. Saya ngelihat foto saya waktu 41:59 kecil nih. Jelek banget. [tertawa] 42:01 Beneran saya ngelihat foto saya waktu 42:04 kecil lagi digendong ibu saya. Ini udah 42:06 hitem botak. Jelek deh saya. Tapi ibu 42:10 saya cerita ini pas ibu ngelin iman 42:12 ngelihat ini anak lucu banget gini tetap 42:14 dibilang lucu. 42:15 Padahal saya saya ngelihat sendiri lucu 42:16 dari mana jelek [tertawa] kok. 42:18 Beneran nanti nanti saya kasih lihat 42:20 deh. Jelek nih. Beneran nih. 42:21 Jangan enggak sanggup saya 42:22 jelek. [tertawa] Tapi tetap ibu saya 42:24 ceritanya anak lucu banget. 42:27 Waduh gitu ya. Kadang-kadang cintanya 42:29 ibu itu, cintanya orang tua tuh sudah 42:31 membutakan segalanya. 42:32 Iya. 42:32 Kenapa kita enggak bisa berbalik seperti 42:34 itu? Sini. 42:34 Nah, itu saya banyak ya kita 42:37 minta maaf ke orang tua cuman ee 42:41 lebaran. 42:42 Iya. Itu itu banyak itu bukan itu jadi 42:44 kebanyakan seperti itu, Bang. Orang 42:46 anak-anak sekarang tuh pas lebaran 42:48 doang. Satu itu. Kedua, 42:50 ada kisah kalau enggak salah tuh seorang 42:53 anak tuh menitipkan ibunya gitu ke panti 42:57 gitu kan dia enggak mau ngurus. Nah, itu 43:00 Mas. Allahu Akbar. Astagfirullah. Itu 43:05 sedih itu sedih, Bang. 43:07 Saya mungkin saya emang saya sedih tapi 43:09 saya enggak mau ber menilai itu. Ee 43:11 takut. Tapi emang sedih ya kalau ada 43:14 anak meninipkan orang tuanya ke panti 43:16 itu sedih ya? 43:17 Iya, makanya 43:17 sedih ya. 43:19 Karena di Oke. Anggap orang tua kita 43:21 sakit. 43:23 Setiap keringat yang berkecucuran pada 43:26 saat Ondi mengurus orang tua Ondi, 43:29 kira-kira Allah akan catat sebagai amal 43:31 saleh enggak? 43:32 Catatlah. Catat 43:33 pasti. 43:36 Kalau Allah enggak mau catat, kalau 43:37 enggak mau dicatat sebagai amal saleh, 43:39 bisa enggak? Bisa. 43:41 Bisa. Udah saatnya kamu membalas budi 43:43 orang tuamu. Walaupun kamu tidak mungkin 43:45 bisa membalas budi orang tuamu. He. 43:47 Tapi tetap di Allah yang maha pengasih, 43:49 maha penyayang, maha karim, maha 43:51 bijaksana akan mencatat keringat 43:53 kecapaian letih oni yang mengurus orang 43:55 tua sebagai amal saleh. 43:56 Iya. 43:58 Selain mencatat sebagai amal saleh, 43:59 menggugurkan dosa-dosanya. Apalagi kalau 44:01 sampai pas oni ngurus orang tua ondi, 44:03 orang tua oni dari lubuk terdalam 44:05 mendoain, "Ya Allah, ini oni anak saya 44:08 kasihan banget. Ya Allah tolong ya Allah 44:10 berikanlah kebahagiaan buat dirinya di 44:12 dunia dan akhirat ya Allah 44:15 saya rida untuk dirinya kelar dah 44:18 insyaallah bahagia dunia akhirat 44:24 orang mungkin akan melihatnya bahagia 44:26 itu dari sisi materi. 44:28 H 44:28 orang kaya bahagia 44:30 orang miskin enggak bahagia. Enggak di 44:32 samp cuma emang sih ada istilah begini 44:34 lebih enak nangis di atas BMW daripada 44:36 nangis di atas bajai itu benar gitu. 44:39 Tapi enggak semua bahagia itu buat dari 44:43 kayak 44:44 saya punya kenalan. 44:45 He 44:47 ee 44:48 dia pengusaha tambang. 44:50 Heeh. I 44:51 pengusaha tambang. Tapi 44:54 dia enggak bisa tidur sendiri. 44:57 Oh. 44:58 Selalu dalam ketakutan. 45:00 Oh. 45:01 Jadi dia minta ada pengawal untuk 45:04 nungguin dia tidur 45:06 sampai segitunya. 45:07 Iya. 45:08 Oh. Dan itu pun tidur sering kebangun. 45:11 Oh, enggak tenang. 45:13 Enggak tenang. Kaya kaya banget 45:17 kita kok tidur kan enak nih. Tiba-tiba 45:19 tidur lu kayaknya baru malam. Oh, lu kok 45:20 udah azan subuh gitu ya? 45:22 Pules banget tidur. 45:23 Iya. Heeh. Enggak ada yang dibebani 45:25 gitu. 45:25 Iya. Padahal kayaknya tasurnya enggak 45:27 tebal-tebal banget. Pakai kipas enggak 45:29 pakai AC segala macam. Saya banget itu. 45:32 [tertawa] 45:33 Tapi bisa nikmat ya kan? 45:35 Bisa ketawa segala macam. Dites tensi. 45:37 tensinya normal, tetap jantungnya 45:39 normal, penyakit enggak ada. 45:40 Iya. 45:41 Ini yang kayak itu darah tinggi, 45:44 kolesterol, asam, urat, komplit paket 45:47 combo. Ibaratnya supermarket serba ada. 45:50 Aduh, 45:50 ya Allah. 45:51 Itu karena kepikiran itu ya. Bahagia 45:54 bukan nilai dari materi, bukan. Bukan. 45:57 Bahagia itu adanya di sini. 45:59 Betul. Bukan di sini [tertawa] 46:04 yang Iya. Tadi baik lagi. Yang begini 46:05 mah karena hubut dunia. 46:06 Iya. Iya. Teman-teman semua, pendengar 46:09 hasil semua 46:12 ee yuk kita persiapkan diri kita untuk 46:15 kematian. 46:17 Untuk yang teman-teman yang masih punya 46:18 orang tua, yuk habis dengar ini dekatin 46:23 orang tua kalian. 46:25 Salam ke orang tua kalian, 46:27 minta maaf. 46:27 Cium tangan orang tua kalian, 46:30 cium kaki orang tua kalian. Enggak 46:32 apa-apa kok. 46:34 Saya yakin enggak dosa. 46:37 Saya yakin kan ada yang bilang enggak 46:39 boleh menundukkan kepala kepada makhluk. 46:40 Enggak menundukkan kepala kok. Kita 46:43 nyium kaki orang tua bukan karena 46:45 menyembah kok. Kalau dia bilang nyum 46:47 kaki itu menyembah, dia tandanya 46:49 menganggap Tuhan itu enggak pintar. 46:51 Sedangkan Allah maha pintar. 46:53 Allah tahu apa yang ada di hati kita 46:54 nih. 46:54 Iya betul. 46:55 Allah mengetahui dan bisa melihat. Allah 46:58 mengetahui dan bisa melihat sesuatu yang 47:00 berwarna hitam berada di ruangan hitam. 47:03 dan berada pada saat malam yang gelap. 47:05 Allah tahu 47:10 betul 47:10 cium tangan orang tua, cium kaki orang 47:12 tua, bikin orang tua bahagia. 47:16 Sebisa mungkin, sesering mungkin ketemu 47:18 orang tua. Paling enggak telepon kalau 47:20 orang tuanya jauh, telepon. Telepon 47:22 orang tua tanyain kabar. 47:27 Kalau orang tua berkeluh kesah, sakit 47:28 apa, dengerin. Dengerin. Orang tua 47:30 kadang-kadang cuman pengin didengerin 47:32 doang. 47:34 Mumpung masih ada. Kalau enggak ada 47:35 nyesal ni. Beneran aja nyesal 47:39 gitu. Udah sejam belum? Udah. 47:44 Masyaallah. 47:45 Enggak berasa, Bang. Kita berbicara 47:48 tentang kematian dan 47:51 mungkin saya pulang dari sini langsung 47:53 ke rumah orang tua kayaknya nih buat 47:56 minta maaf terus juga meluk dan juga 48:00 cium gitu kan ya. Karena saya pribadi 48:02 pun emang jarang gitu. Jarang kalau 48:05 kalau kalau kalau komunikasi sering 48:07 datang sering cuman ee jarang melakukan 48:09 hal yang seperti tadi gitu tuh cuma 48:13 cuman seatas ngobrol biasa gitu. 48:16 Ya Allah. 48:16 Manjain dong orang tua. 48:18 pengin ya kan hidup itu kan kayak gini 48:20 di 48:22 kayak anak kecil dewasa nanti ujungnya 48:25 kayak anak kecil lagi 48:26 waktu anak waktu kecil gimana orang tua 48:28 manja-manjain kan nya-nya kan segala 48:30 macam man 48:31 sekarang orang tua oni membutuhkan itu 48:33 di 48:33 mungkin itu 48:34 sayangin dong 48:35 peluk ciup 48:37 mak mau apa mak mau dibeliin apa sayang 48:40 apa susahnya manggil ke ibu pakai sayang 48:42 sekarang 48:42 iya 48:45 tuh dua yang bikin saya itu selalu 48:49 sedih. Satu tentang orang tua, kedua 48:51 tentang anak. 48:52 Hm. 48:52 Ituang itu kalau udah bahas masalah itu 48:55 udah bikin hati tuh langsung tek gitu 48:57 kan kayak langsung klek gitu. Ya Allah 49:01 gimana 49:01 pokoknya udah pokoknya selama masih 49:02 mumpung masih punya yang masih punya 49:04 orang tua buru-buru ke orang tuanya 49:06 sekarang. 49:06 Allah 49:07 ya jangan nyesal jangan nyesal. Walaupun 49:09 kalian ngerasa walaupun kata orang 49:11 kalian sudah berbakti 49:13 ya tapi pada saat kehilangan orang tua 49:15 kalian merasa kurang kok. 49:17 Benar 49:19 yang kenal saya bilang ente 49:21 alhamdulillah mannya udah puas ngurus 49:22 ibu enggak enggak enggak 49:26 dan enggak tahu gimana pedihnya hati di 49:28 ditinggal orang tua 49:30 mungkin bisa doa bang buat 49:32 dia aja lah udahlah 49:33 buat orang tua buat yang ibunya sudah 49:35 enggak ada gitu yang masih sakit gitu ya 49:38 kita alfatihah aja ya 49:40 iya 49:42 semoga Allah memberikan 49:44 ridanya rahmatnya untuk kita semua. 49:47 Amin. Amin. 49:48 Semoga untuk orang tua kita yang sakit, 49:51 diri kita yang sakit, Allah angkat 49:53 Amin. Amin. 49:54 kesehatannya eh angkat penyakitnya. 49:57 Allah berikan kesehatan, 49:58 Allah berikan kelapangan, Allah berikan 50:00 kemudahan, Allah cukupi kebutuhannya. 50:03 Amin. 50:04 Allah 50:07 permudah segala urusannya. Amin. Amin. 50:08 Dan bila memang sudah di ujung ajal 50:11 pokoknya 50:12 diangkat dalam keadaan husnul khatimah 50:14 hadirin 50:16 fatihah. 50:28 Oke. Baik, Ikhwan dan akhwat. Sebelum 50:30 kita berpisah sedikit saya akan bacakan 50:33 tulisan yang saya punya gitu ya. 50:38 Mari kita belajar dari kejadian yang 50:39 sering kita lihat yang mungkin kita 50:42 pernah rasakan hidup di dunia ini tidak 50:44 akan lama. Rumah mewah akan berubah 50:47 menjadi liang lahad. Kendaraan mahal 50:50 akan berubah menjadi kendara keranda 50:52 yang gratis dan digotong oleh sanak dan 50:55 saudara. Baju bermerek akan berubah 50:57 menjadi kain kafan putih polos. Itu yang 51:01 akan nanti ketika kita sudah mati. 51:03 sanak saudara dan teman hanya akan 51:05 mengantar sampai ke liang kubur. Mereka 51:08 tidak akan menemani. Siapa yang akan 51:10 menemani? Hanya amal baik kitalah yang 51:13 akan menemani. 51:14 Semoga apa yang kita lakukan kemarin, 51:17 hari ini, dan seterusnya bisa menjadi 51:19 amal saleh untuk kita. Semoga menjadi 51:21 penerang di saat gelap di alam kubur 51:23 kita. Dan semoga menjadi pahala yang 51:25 terus bergerak untuk di akhirat kelak. 51:28 Dulu ada, kini tiada. Dan hanya air mata 51:32 yang mengiringi saat jasad ini telah 51:34 tiada. Saya On Saputra dan juga Angel 51:37 Firman di acara Bahlul Bahlulan. Mungkin 51:40 kita akan ketemu lagi di 3 minggu ke 51:42 depan. Terima kasih sudah menyaksikan 51:45 dan mendengarkan kita kurang lebih 1 jam 51:48 ya. Saya undur pamit. Wabillahi taufik 51:50 walhidayah. Wasalamualaikum 51:52 warahmatullahi wabarakatuh. 51:53 Waalaikumsalam warahmatullahi 51:54 wabarakatuh.