Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
2:37 Bismillahirahmanirahim, assalamualaikum 2:39 warahmatullah wabarakatuh. 2:41 Allahuma sholi ala sayyidina Muhammad 2:43 ali sayyidina Muhammad. 2:45 Alhamdulillah kita berjumpa lagi hari 2:47 ini, hari Rabu tanggal 28 Rabiul Awal 2:50 1445 Hijriah atau tanggal 13 Desember 2:55 2000 23. 2:58 Kita jumpa lagi dalam acara apa namanya 3:01 acaranya? Mualaf Talk. Mualaf Talk ya, 3:03 Mualaf Talk. 3:06 Biasanya itu rekaman tapi ini siaran 3:08 langsung. Silakan nanti kalau Anda mau 3:10 bertanya boleh. 3:12 Kami tunggu di nomor 8111999 3:16 720. 3:18 Kami menghadirkan seorang pria ganteng 3:21 lahirnya di Jakarta tanggal 26 September 3:23 tahun 75. SD-nya? 3:26 SD-nya di mana? Di Santo Mikael. Mikael. 3:29 Oh, Mikael. Iya, di Santo Mikael. 3:31 SMP-nya di Van Kalis, Paskalis. Paskalis 3:36 3. Paskalis 3. 3:38 SMA-nya Don Bosco 3:41 Pulomas ya, bisa digambarkan ya. 3:43 Kemudian di Trisakti. 3:45 Kemudian kuliah di NTU, di Nanyang 3:48 University di Singapura. 3:50 Kemudian kuliah di Pancasila ngambil 3:53 hukum. 3:54 Bekerjanya di logistik, di pernah di 3:58 di bagian logistik pernah di Fedex. 4:00 Pernah di Caraka Andalan Semesta. 4:04 Pernah di Lion Express, pernah di Tra 4:05 kindo, CKB. 4:08 Pernah di pokoknya urusannya urusan ini 4:10 nih. 4:12 Urusan apa namanya logistik ya, 4:14 pengiriman barang, pengiriman dan 4:15 penyimpanan barang. 4:17 Jadi maka itu beliau ini 4:20 sering 4:21 naik pesawat dari dari pulau ke pulau, 4:23 dari kota ke kota. Nanti kita gambarkan 4:25 bagaimana 4:27 ketika terjadi 4:29 turbulensi. 4:32 Assalamualaikum Bapak Victor 4:35 Ari Subekti. Waalaikumsalam 4:38 warahmatullah wabarakatuh Pak Krisna. 4:39 Yang sudah berganti nama Ahmad Faiz. 4:43 Tadinya agamanya Katolik. Ayahnya 4:47 Katolik, ibunya Katolik. 4:49 Kemudian adik-adik juga Katolik jadi 4:50 dikepung ya. 4:52 Tapi ya Allah alhamdulillah Allah kasih 4:54 hidayah buat 4:56 Mas Victor. Gimana lu eh 5:00 awal mula terjadinya hidayah itu? 5:04 Awal mula terjadinya hidayah. Langsung 5:06 nih Pak Pak Krisna. 5:07 Alhamdulillah, bismillahirahmanirahim. 5:09 Allahuma sholi ala Muhammad wa ali 5:11 Muhammad. Jadi eh baliknya di tahun eh 5:15 tahun di tahun 98 Pak Krisna waktu saya 5:18 itu di Batam. 5:20 Di Batam hidup sendirian, saya kerja di 5:23 sana ya. Terus 5:26 ada beberapa kejadian. 5:28 Ya mimpi ya, mimpi juga terus pada saat 5:32 dulu tuh eh mendengarkan 5:35 azan, azan Maghrib itu bisa nangis gitu 5:38 ya. Jadi 5:39 karena pada saat itu sempat galau kan 5:41 dari agama yang lama 5:43 itu sempat ada pertanyaan-pertanyaan 5:44 tidak bisa terjawab. Ehm. Nah, jadi 5:47 akhirnya pencarianlah gitu. 5:50 Kalau 5:51 Pak Krisna tahu namanya itu ada grup 5:53 musik REM tuh. Ehm. Losing My Religion 5:55 ya kayak begitu tuh. 5:57 Ehm. Losing My Religion jadi wah apa 5:59 benar gitu ya. Ehm. Kok begini gitu ya. 6:01 Banyak pertanyaan tak bisa terjawab. 6:03 Sehingga saya mendapatkan mimpi, 6:06 mendapatkan semacam pencerahan ya. 6:08 Pencerahan bahwa ya alhamdulillah Islam 6:11 menjadi pilihan saya akhirnya begitu. 6:14 Oleh Ustaz di Batam ya. 6:16 Dulu ehm sama Ustaz Fanani. Beliau tuh 6:19 waktu itu bertugas di Masjid Al Falah di 6:22 daerah Pelita di Batam. 6:24 Saya enggak tahu mungkin 6:26 eh kabarnya bagaimana karena sudah putus 6:27 hubungan. Eh tapi beliau yang berjasa 6:30 pada saat itu mengenalkan pertama kali 6:32 mengenai Islam. 6:33 Bahkan saya ngadu pertama pun dengan 6:35 beliau. Ehm. Begitu. Ketika Mas Victor 6:38 masuk Islam orang tua tidak tahu ya 6:40 waktu itu ya? Belum belum tahu. Belum 6:42 tahu belum tahu. Setelah berapa lama 6:43 baru dikabarin bahwa kami sudah masuk 6:45 Islam gitu. 6:47 Terus terang saya memberitahukan itu 6:48 tahun 2000. Setelah setelah berapa tahun 6:51 jadi? 2 tahunan ya, 2 tahunan itu. 6:53 Reaksinya kayak apa itu? 6:55 Eh. 6:57 Modelnya kayak sinetron Pak Krisna. Hah? 6:59 Kayak sinetron. Saya kasih tahu Ibu saya 7:01 langsung tutup pintu jegrek enggak 7:02 masuk-masuk kamar lagi. Ehm. Ya enggak 7:05 enggak keluar-keluar kamar lagi. Masuk 7:06 kamar sudah tutup pintu setelah itu saya 7:09 bengong sendirian di ruang tamu kan. 7:11 Loh. 7:12 Masuk pintu masuk kamar ya sudah enggak 7:14 keluar-keluar lagi. Akhirnya saya 7:16 putuskan saya keluar dari rumah. 7:17 Ehm. Gitu. 7:18 Saya ngekos waktu itu. Alhamdulillah oh 7:20 sudah sudah kos ya bukan bukan namanya 7:22 rumah ya. Iya. Oke. 7:25 Terus tentu masuk Islam kan tidak 7:28 tidak diam-diam saja juga harus mencari 7:30 ilmu ya untuk bagaimana mengamalkan 7:32 Islam itu. Nah, itu juga salah satu 7:35 salah satu concern saya tuh Pak Krisna. 7:37 Mualaf di Indonesia itu 7:39 itu jarang ada yang bisa membimbing. 7:41 Kalaupun ada itu tidak tidak semua 7:44 masjid di Indonesia itu memiliki yang 7:46 memang untuk bimbingan para mualaf. 7:48 Ehm. 7:48 Ya itu mungkin ada masjid-masjid besar 7:51 seperti Masjid Sunda Kelapa atau masjid 7:54 yang besarlah ya Istiqlal gitu mungkin 7:55 ya. 7:56 Kalau masjid-masjid kampung tuh jarang 7:58 Pak Krisna. Enggak ada ya? Enggak ada. 8:00 Nah, itu makanya kadang kala 8:02 ada teman-teman mualaf itu akhirnya 8:04 banyak yang pindah lagi karena tidak 8:06 mengerti gitu kan. Lalu bagaimana juga 8:10 kalau mereka hidupnya ada di Jakarta eh 8:11 bukan di Jakarta atau ada di daerah kan 8:13 susah untuk mencari teman gitu kan. Nah, 8:15 sehingga 8:17 eh concern concern saya seperti itu. 8:19 Tapi mungkin sekarang sudah banyak ya. 8:21 Ini masukan juga untuk para DKM nih ya. 8:23 Iya iya. Bagaimana kalau ada iya. Tamu 8:26 masjid yang baru masuk Islam itu mesti 8:29 dilayani. Iya. Iya memang 8:32 kemari-kemari itu kadang kala juga ada 8:34 yang mengaku mualaf gitu ya. Mengaku 8:36 baru masuk Islam tetapi ternyata hanya 8:37 untuk kepentingan komersial kan gitu ya 8:39 ada juga kan Pak Krisna. 8:41 Atau bertanya apakah di sini bisa 8:43 menerima syahadat. 8:44 Bisa kita terima tapi ternyata untuk ya 8:47 motifnya itu untuk mungkin menikah lagi 8:49 kan gitu ceritanya. Jadi ya kita juga 8:51 harus hati-hati tapi paling tidak kita 8:53 mendapat ada gambarnya ada peta gitu ya 8:55 ada peta eh siapa saja yang mau 8:59 mualaf gitu untuk masuk Islam itu ada 9:01 semacam lembaga. Tapi kalau di sekitar 9:02 sini kan banyak ya kan banyak sekali 9:04 itu. 9:05 Nah, kalau di dalam menghadapi Natalan 9:07 ini bagaimana tuh? Natalan? Tanggal 25 9:10 saya datang. Datang ke orang tua datang 9:12 datang tetap. Selamat merayakan Natal. 9:15 Ehm. Ya. Natal dalam pengertian eh 9:18 Silaturahim. Kelahiran Nabi ya Natalan 9:19 silaturahim ya. Ya silaturahim lah saya. 9:21 Saya bilang selamat merayakan Natal 9:22 sudah gitu aja. 9:23 Bukan selamat Natal tapi selamat 9:24 merayakan Natal. Rayakan saja kan gitu. 9:28 Ya sebagai bagian dari anak kepada orang 9:30 tua Pak Krisna. Berbakti anak kepada 9:32 orang tua ya. Berbakti ya. Kita tetap 9:34 menjalin hubungan bagaimanapun juga 9:36 eh Bapak Ibu saya kan orang tua saya. 9:38 Iya betul. Saya enggak boleh milih kan. 9:40 Ehm. Ini juga satu satu pesan juga ke 9:43 teman-teman pendengar dan juga pemirsa 9:46 kalau punya orang tua apalagi seiman ya 9:49 imannya muslim gitu ya jangan 9:50 disia-siakan. Ehm. 9:52 Itu kalau sampai disia-siakan, sampai 9:54 dilupakan itu masya Allah. Ehm. Karena 9:56 saya kangen gitu kadang-kadang tuh saya 9:58 kangen kalau 9:59 pada saat lagi habis salat Id gitu kan 10:00 wah ada keluarga sungkeman bareng gitu 10:03 kan ya saya cuman diam. Karena tidak 10:06 bisa seperti itu. 10:07 Saya sungkemannya sama mertua akhirnya. 10:08 He em. Sama mertua saya mertua muslim 10:11 ya? Iya saya anggap sebagai orang tua 10:12 sendiri akhirnya. 10:13 Tapi kakek dari ibu katanya muslim ya? 10:17 Kakek saya polisi muslim tapi kejawen. 10:20 He em. Kejawen jadi masih ya masih 10:23 ya salat salat ya salat tapi juga masih 10:26 percaya dengan hal-hal kejawen begitu 10:28 Pak. 10:28 He em. 10:29 Kalau tiap Jumat atau apa itu pasti ada 10:31 semacam dupa atau kembang gitu ya ya 10:34 namanya orang-orang Jawa zaman dulu kan 10:35 gitu. 10:36 He em he em he em. 10:38 Masyaallah ya. 10:39 Oke Iwan dan ahwat masih di acara Mualaf 10:42 Talk 10:44 bersama 10:46 Bapak Victor Ari Subekti 10:49 yang dia juga bekerja di bagian logistik 10:53 pernah pindah ke FedEx 10:56 pernah juga di Lion Express. Masih di 10:59 Lion Express 11:00 masih ya di Caraka Andalan Semesta Mas 11:03 pernah ya? Caraka Andalan Semesta 11:04 pengiriman bahan peledak itu. Oh. 11:07 Peledak apa untuk untuk anu tambang? 11:09 Tambang. 11:10 Untuk tambang ya? He em. 11:11 jadi kayak 11:12 pengiriman seperti detonator emulsion 11:15 gitu lalu untuk nanti ditaruh dalam 11:17 tabung untuk meledakkan tambang. 11:19 Gitu. Nah karena pekerjaannya 11:23 Mas Victor ini adalah logistik sering 11:26 berpindah-pindah dari satu pulau ke 11:28 pulau lain satu kota ke kota lain dan 11:30 menggunakan pesawat terbang 11:31 sering terjadi turbulensi. 11:35 Pada saat itu biasanya orang baru ingat 11:37 Tuhan agama apapun kalau 11:39 di pesawat itu 11:43 apa pasti ingat tuh Tuhan tuh Pak hanya 11:45 kendaraan pesawat terbang aja yang ada 11:47 ada buku doa ya Iya. semua agama Betul. 11:50 kalau kendaraan yang ada kan enggak 11:51 Enggak ada betul saya kalau kalau saya 11:53 tuh saya sering bilang sama teman-teman 11:55 lalu saya sering update juga ke sosmed 11:57 gitu kan untuk ya sekedar sharing lah. 12:01 Pada saat kita terbang lagi kita di 12:02 pesawat gitu ya 12:04 lalu terjadi turbulensi atau tidak 12:05 terjadi turbulensi 12:07 itu disebutnya kita sebut sebutnya 12:09 sebagai ngaji hakiki kalau saya bilang. 12:11 Ngaji hakiki. Ngaji hakiki betul karena 12:13 kenapa 12:14 pada saat turbulensi 12:15 waduh itu kita enggak tahu kan 12:17 seperti apa keadaan di luar sana lalu 12:20 bagaimana dengan keadaan pesawatnya 12:22 bagaimana yang mengemudikan atau 12:23 pilotnya kan begitu kita hanya berpasrah 12:25 berpasrah ajalah. Pasrah 12:28 meskipun goyangan besar atau goyangannya 12:29 ringan gitu kan wah itu kita sudah 12:31 pasrah. 12:32 Nah di situ biasanya kalau lagi goyangan 12:33 besar tuh Pak Krisna saya pernah tuh 12:34 naik pesawat itu goyang benar 12:37 sampai 12:38 sampai yang tadinya beda server jadi 12:40 satu server 12:42 dia tadinya bilangnya yang lain gitu 12:44 terakhir ngikutin saya Allah Allah Allah 12:45 gitu ya karena saking betul-betul sudah 12:47 sudah goyang sekali lah sudah sudah 12:49 turbulensi berat gitu kan. 12:52 Turbulensi tingkat tinggi kalau kita 12:53 bilang gitu nah itu saya sering kalau 12:56 lagi kita lagi di atas itu ya saya ngaji 12:58 saya zikir 12:59 saya baca Quran karena saya orangnya 13:01 enggak bisa tidur goyang dikit pasti 13:03 saya bangun gitu dan saya lebih suka 13:06 kalau di pesawat tuh di sebelah kanan di 13:10 window yang kita bilang di dekat kaca 13:11 itu jadi saya ngelihat awan ngelihat apa 13:14 sehingga bilamana wah 13:15 bentar lagi masuk awan nih bentar mau 13:16 siap-siap siap-siap gitu ya jadi kita 13:18 sudah siap-siap tuh 13:19 zikir lalu kita bawa 13:21 apa bawa tasbih ya saya zikir terus tuh 13:24 saya zikir zikir terus astagfirullah 13:25 subhanallah walhamdulillah gitu 13:27 nah kadang-kadang lucunya gini 13:29 Pak Krisna 13:31 saya pengen bilang Allahu Akbar Allahu 13:32 Akbar Allahu Akbar tapi tiba-tiba mulut 13:34 saya itu bergerak jadinya astagfirullah 13:36 astagfirullah astagfirullah 13:38 pada saat kemarin di luar kendali ya di 13:40 luar kendali 13:41 Ustaz Heri 13:43 mengajarkan saya Ustaz Heri Nurdi pada 13:44 saat kemarin umroh waktu kita kajian di 13:47 apa di halaman 13:49 Masjid Nabawi itu Ustaz Heri bilang 13:51 begini kalau seumpama kita zikir 13:53 ternyata zikir kita berubah 13:55 itu adalah sebenarnya kehendak dari 13:56 Allah He em. Jadi ya saya teruskan 13:59 jadi 14:00 pada tadinya tuh Allahu Akbar gitu 14:02 Allahu Akbar Allahu Akbar 14:04 tapi tiba-tiba jadi astagfirullah 14:05 astagfirullah jadi astagfirullah terus 14:07 astagfirullah astagfirullah sampai 14:08 selesai pokoknya 14:09 begitu Pak Krisna jadi ya saya dulu kan 14:11 kalau dulu kan kaget uh kok berubah ya 14:13 kan gitu sudah berapa kali nih kan gitu 14:15 kan nah sekarang ini tetap 14:17 saya lanjutkan zikirnya seperti 14:18 Bagaimana dengan penumpang lain yang 14:19 mungkin itu agamanya juga yang lain juga 14:22 ya iya mereka juga ingat Allah orang 14:24 akhirnya pasti bicara pasti teriaknya 14:26 Allah He em. percaya itu saya pernah kok 14:29 saya Apapun. Tadinya kan nyebutnya lain 14:32 nih 14:33 ya itulah kita tahulah 14:36 begitu-begitu kan saya saya kan Allah 14:37 Allah begitu kan 14:39 terakhir saking 14:40 goyangnya kencang begitu nyebutnya Allah 14:42 Allah. 14:44 Enggak ada yang bilang Muhammad gitu ya 14:45 Iya. Yang di depan teriaknya Muhammad 14:47 Muhammad gitu sampai kita bilang sudah 14:49 sudah selesai sudah selesai sudah 14:50 selesai 14:51 sudah selesai turbulensi gitu waduh 14:53 Biasanya turbulensi berlangsung berapa 14:55 lama? 14:56 Ada yang selama perjalanan saya pernah 14:59 mengalami 30 menit tuh turbulensi 15:02 wah itu goyang 15:04 kiri kanan tuh gelap jadi ngelihat ke 15:05 window tuh gelap 15:07 gelap gulita gitu Pak Krisna gelap sudah 15:09 gitu ada sambaran petir gitu kan gitu 15:11 sudah goyang begitu kan waduh 15:13 sehingga ya ya kita kuat-kuatan mental 15:16 deh di situ kan kuat-kuatan mental 15:18 tapi kalau seumpama yang paling parah 15:21 itu saya pernah sekitar 5 menit 15:23 itu sampai 15:25 sampai pramugari itu sampai terpental He 15:27 em. lagi nyajiin makanan terpental buak 15:29 gitu 15:30 pernah saya 15:32 Untuk jalur-jalur mana nya biasanya 15:34 terjadi turbulensi itu misalkan kalau ke 15:37 arah Ambon enggak terlalu ini Iya kalau 15:40 saya berapa kali ke Ambon itu saya kira 15:42 kan wah 15:43 ini lautan gitu ya tapi meskipun Ambon 15:46 itu hujan 15:48 lebih Lebih clear ya? 15:49 lebih clear clear sky kalau kita bilang 15:51 clear sky 15:52 terus apa namanya mungkin juga ya 15:54 mungkin pilotnya pada saat itu bagus 15:56 gitu kan yang sudah pengalaman 15:59 mohon maaf nih kalau saya bilang kalau 16:02 ke arah Medan tuh di daerah Palembang 16:04 sama di daerah Pekanbaru pasti goyang Oh 16:06 gitu ya? Pasti goyang. 16:08 Ke arah Medan itu goyang pasti saya 16:10 waktu kemarin tuh yang sampai 16:11 teriak-teriak itu ke Palembang Pak 16:12 Krisna Palembang kan cuma 1 jam ya 1 jam 16:15 flight kan itu goyangnya kencang banget 16:17 tuh 16:18 pas lagi manuver ke arah kanan saya 16:20 ingat banget tuh tiba-tiba kayak 16:22 ditabrak awan gitu wur langsung gubrak 16:24 gubrak gubrak gubrak begitu 16:25 istri saya pegangan saya anak saya juga 16:28 depan teriak-teriak wah ramailah 16:31 pokoknya 16:32 Lucu banget. 16:33 Tapi itu ngaji hakiki Pak Krisna kita 16:35 wajib tuh punya seperti itu Iya itu 16:37 makanya kenapa karena 16:39 kita cerita itu karena itu juga ada 16:40 hubungannya dengan keimanan ya Iya. He 16:43 em. 16:43 Dulu waktu saya berangkat ke Batam ya 16:45 saya enggak punya agama itu ya 16:47 istilahnya saya losing religion 16:48 Dalam keadaan begitu. Wah itu saya 16:49 Bingung teriaknya waduh 16:51 serba salah akhirnya saya teriaknya 16:53 Allah juga Allah Allah gitu ya dulu kan 16:56 naik Sempati waktu Sempati masih ada tuh 16:58 naik Sempati saya Jadi kayak gitu juga 17:00 iya waktu itu kan Sempati kan Sempati 17:03 kan pesawatnya kan ya kita tahulah ya 17:05 Sempati kayak gimana kan pesawatnya 17:06 zaman dulu wah itu luar biasa luar biasa 17:09 itu 17:11 kalau yang ingat yang dulu-dulu jadi 17:12 lucu ketawa-ketawa sendiri Pak Krisna 17:14 Oke Anda juga boleh sharing ya di sini 17:18 silakan kami tunggu Anda mau bertanya 17:20 boleh di 08111 17:23 999720 17:25 atau telepon di 021845 17:30 15 17:31 12 kami masih bersama 17:34 Bapak Victor Ari Subekti yang kemudian 17:37 berganti nama menjadi Ahmad Fai Faiz 17:41 Faiz 17:42 tapi orang tetap manggil Pak Victor aja 17:43 ya? Iya. 17:45 Saya juga belum rubah tapi itu Ahmad 17:46 Faiz mudah-mudahan nama saya nanti di 17:48 akhirat lah 17:49 paling enggak paling tidak nanti di 17:51 batu nisan saya ada Ahmad Faiznya Oke. 17:53 Ahmadnya soalnya dari K.H. Musanif Oh 17:55 K.H. Musanif 17:57 Musanif kalau Faiznya dari Abi Ikhya Oh. 18:01 datang ke rumah kebetulan 18:03 Abi mampir ke rumah tuh saya dikasih 18:04 nama Faiz gitu ya saya terima 18:07 Tapi hubungan dengan Bapak Ibu masih 18:09 baik-baik aja ya? Harus baik Pak Krisna 18:11 Harus baik. 18:11 Harus baik apalagi sekarang mau Natal 18:13 kan mau belanja-belanja ya kita 18:15 siap-siaplah Oke. 18:17 Pak Victor ini juga pengurus DKM dari 18:21 Masjid Al Mulk Al Mulk di kantor Di 18:24 kantor di di Lion Express 18:27 Sana banyak kegiatannya kegiatan 18:29 keagamaan nya Nah itu saya sempat sempat 18:32 diskusi dengan Habib Ikhya tuh bahwa 18:36 kita pengen mengadakan kajian rutin 18:37 kadang-kadang dulu 18:39 tahun lalu tuh sebelum Covid kita tuh 18:41 mengadakan kajian rutin tuh dari Rumah 18:42 Fiqih tapi yang datang lo lagi lo lagi 18:44 kan gitu lo lagi lo lagi jadi jarang 18:46 yang datang jadi kita lagi membuat lagi 18:49 membuat semacam program yang sekiranya 18:50 tuh bisa ya menariklah menarik gitu kan 18:53 jadi 18:54 nanti saya diskusi lebih lanjut dengan 18:56 Habib Ikhya dan ceritanya tuh itu 18:58 perjuangan tuh 18:59 ya bukannya mau riya tapi 19:01 ceritanya tuh di atas tuh dulu tuh tidak 19:04 di tidak apa tidak tidak difungsikan 19:07 sebagai masjid jadi 19:09 kayak semacam ruangan tuh ruangan yang 19:11 tidak terpakai 19:12 saya itu minta sama ke bos saya itu 19:15 hampir setahun untuk bisa dijadikan 19:17 masjid 19:19 akhirnya di approve dikasih modal untuk 19:21 bangun masjid di situ 19:24 sekarang enggak juga masih ya masih yang 19:26 penting kita bisa salat barenglah Pak 19:27 Krisna Bisa untuk berapa jamaah di situ 19:29 menampung berapa jamaah? 19:31 Satu shift kita itu ada 250 jamaah 19:34 laki-laki Oh luas ya? 19:36 Iya jadi lumayan sih 250 sampai 300 19:39 He em. Lumayan di Masjid Al Mulk kita 19:42 bilangnya Al Mulk karena kita sering 19:45 mendawamkan surat Al Mulk yang paling 19:47 gampang tabarakalladzi biyadihil mulk 19:50 barengan sama yang lain gitu 19:52 Masyaallah. Ini ada yang bertanya dari 19:54 Pak Edi. 19:56 Pak Victor, apakah ada hubungan jaringan 19:57 dakwah dengan Koh Steven, almarhum? 20:01 Eh, sebagai ini aja, sebagai apa 20:04 namanya, eh supporter saja, tapi tidak 20:07 full di dakwah karena saya sibuk 20:08 bekerja, Pak. 20:10 Ehm. 20:11 Iya. 20:11 Oke, kemudian dari Bapak Masud di Batam. 20:14 Salam Pak Victor. Waalaikumsalam. Eh, 20:17 izin nasihatnya. Sejak kapan Bapak yakin 20:20 bahwa Islam itu bukan kejawen? 20:22 Menurut saya itu pun menyimpang dan 20:25 masih banyak di daerah Jawa. Dan saya 20:27 pernah di Malaysia ada Kristen juga 20:29 sepertinya kejawen. Dan saya pernah ke 20:32 Pontianak juga sama. Banyak Kristen tapi 20:35 percaya pada 20:37 bakar-bakar menyan nya yang bukan untuk 20:39 pengharum ruangan. 20:41 Eh, syukron. Jadi, artinya bukan cuma di 20:44 Islam saja, tapi di agama lain juga ada 20:46 kayak gitu-gitu. Betul? Ada, ya. Ehm. 20:48 Tapi enggak, tidak se 20:51 tidak sekompleks eh kejawen, kalau kita 20:54 bilang. Ehm. Kalau kejawen itu kan yang 20:56 di laksanakan sama 20:58 yang saya itu 20:59 Mbah Kung, kalau kita saya bilang itu 21:00 Mbah Kung itu, eh 21:03 tradisional sekali, Pak Krisna. Jadi, 21:04 kalau contoh gini, 21:07 almarhum punya ibu yang sudah meninggal. 21:09 Nah, pada saat tanggalnya tanggal di 21:11 tanggal di mana ibu almarhum tersebut 21:14 lahir, itu disiapin tuh. Ada telur, ada 21:17 kopi, ada kembang tujuh rupa, begitu. 21:21 Ehm. Nah, dulu saya kan iseng tuh. Jadi, 21:23 telurnya saya ambil. Saya makan. 21:26 Iya, tapi dulu kan masih kecil enggak 21:28 suka kopi pahit kan, gitu. Jadi, dulu 21:30 tuh sering ngambilin ngambilin telurnya, 21:32 gitu. Terus kadang-kadang waktu ke rumah 21:34 ke rumah kakek kan dulu kan di Keranji 21:36 kan, di daerah Bekasi Barat. Di Komplek 21:38 Inkopold tuh. Ehm. Jadi, saya datang ke 21:40 sana tuh, 21:41 "Kok telurnya hilang terus ya Allah, ini 21:42 sopo sing sing ngambil?" gitu. Saya 21:44 ketawa gitu. Padahal saya ngambil itu. 21:47 Oke, ini ada saran dari Bapak Rahman 21:49 Rosta. 21:51 Mas Krisna, mohon saran sebaiknya 21:53 dipanggilnya Ahmad Faiz saja yang 21:55 disebut juga jangan Victor nya enggak 21:57 boleh diulang-ulang. 21:59 Oke, baik-baik. Ahmad Faiz, masyaallah. 22:04 Ehm. 22:06 Ahmad Faiz belajar Quran dari mana? 22:09 Quran? Ehm. Saya diajarin secara intens 22:13 itu sama Ustaz Asep. Ehm. Ustaz Asep itu 22:17 yang 22:17 Ustaz Asep di Umar bin Khattab ya dulu 22:19 ya? Bukan. Yang di Legenda Wisata. Oh, 22:21 Legenda Wisata. Legenda Wisata. Saya tuh 22:22 baru bisa 22:23 Al-Ittihad ya, berarti di Al-Ittihad, 22:24 ya. Di tahun 2007-2008 saya baru bisa 22:27 lancar ya, Pak Krisna. 22:28 Ehm. Itu ngaji sama beliau. 22:30 Dulunya sama Ustaz Eko. 22:32 Lalu, Ustaz Eko berhenti, saya berhenti 22:34 karena galak. 22:35 Ehm. 22:36 Iya, galak. Karena dulu sama Ustaz Eko 22:38 tuh bismillah itu harus berulang-ulang 22:40 tuh. Bismillah, ulang. Bismillah, ulang, 22:41 gitu. Iya, harus betul makharijul 22:44 hurufnya kan, gitu. 22:45 Lalu, sama Ustaz Asep ya agak yang agak 22:47 ringan, gitu loh. Jadi, Ustaz Asep udah 22:49 lanjutin aja, enggak apa-apa. Nanti 22:50 kalau salah, nanti saya yang benerin. 22:51 Nah, sama beliau tuh. Ehm. Ustaz Asep. 22:53 Nah, sekarang masih ada. Beliau tuh yang 22:55 di depannya Legenda Wisata itu, di eh 22:59 masjidnya K.H. Ali Ehm. yang waktu 23:01 kemarin waktu bulan lalu meninggal dunia 23:04 tuh. Di di daerah Cibubur juga. Ehm, 23:06 taulah. 23:08 Mas Ahmad Faiz ini eh, siapa mualaf yang 23:12 paling dikagumi yang artinya dia lalu 23:13 konsisten, gitu. 23:16 Istikamah. Muhammad Ali. 23:18 Muhammad Ali? 23:18 Muhammad Ali. 23:20 Luar biasa. Muhammad Ali pernah dia apa, 23:22 gimana yang ngerokok ya? 23:24 Kenapa dia ngerokok supaya apa? 23:27 Ini dia 23:27 Gimana kalau kebakar artinya untuk 23:30 mengingat 23:31 mengingat dosa-dosanya? Iya, 23:32 mengingatkan untuk 23:34 sakitnya di api neraka ini belum 23:35 seberapa. Tapi, yang saya suka dari dari 23:38 Muhammad Ali itu bilangnya begini kan, 23:39 siapa yang enggak kenal Muhammad Ali 23:40 kan. Tapi, dia pernah ditanya sama TV 23:42 apa sama penyiar TV kan, ditanya. 23:45 "Kamu, apakah kamu punya bodyguard?" Oh, 23:47 saya punya bodyguard. Bodyguard saya tuh 23:48 keren. Ehm. Bagus, paling hebat dari 23:50 seluruh semuanya. Ehm. "Siapa bodyguard 23:52 kamu?" Allah. Wah. 23:54 Hebat. 23:55 Luar biasa. Lah, kita kadang-kadang nih, 23:58 saya lagi pergi ke mana, lagi pergi ke 24:00 contohnya ke pedalaman, gitu ya, Pak 24:02 Krisna, ya. Saya harus punya backup. 24:03 Backup nya apa? Paling enggak harus bawa 24:05 pistol atau bawa apa kan, gitu. Tapi, 24:07 saya lupa dulu bawa ada Allah. Jadi, 24:09 aduh dulu tuh saya bilang 24:10 "Kok begini banget ya hidupnya?" gitu 24:12 loh. Sekarang akhirnya ke mana-mana yang 24:14 penting yang penting kita tahu Allah, 24:16 kita berbuat baik, orang pasti berbuat 24:18 baiklah, gitu. Intinya sih gitu, Pak 24:19 Krisna. 24:20 Ketenangan apa yang 24:23 eh, Mas Ahmad Faiz ini rasakan setelah 24:26 masuk Islam? 24:27 Ehm. 24:28 Paling saya tuh paling sering naik 24:29 pesawat. 24:30 Ehm. Lalu, saya pernah bertanya sama Abi 24:32 Ihya. "Bi, saya pernah kalau saya naik 24:35 pesawat kok takut, gitu ya?" 24:38 Takut goyang tuh digoyang tuh takut 24:39 banget, gitu. Abi cuma bilang begini, 24:42 "Berarti kamu lagi masih nyimpan dosa." 24:45 Ehm. 24:46 Ya, bener juga ya. 24:47 Ehm. "Kalau kamu masih nyimpan dosa, 24:49 pasti kamu takut. Pasti kamu takut. Ehm. 24:52 Jadi, ya dosa kamu ya kamu hilangin 24:53 dulu. Kamu enggak akan takut. Karena 24:55 kamu siap nanti ketemu sama Allah." Ehm. 24:58 Dari situ, Pak Krisna, saya mencoba itu 25:00 berbuat baik. Mencoba jadi jangan sampai 25:03 ya menyimpanglah, gitu loh. Itu udah, 25:05 itu aja deh. 25:06 Iya, saya ngerasain bener. Jadi, kalau 25:08 lagi 25:09 waktu kemarin bulan September lalu saya 25:11 umrah tuh bareng sama Ustaz Heru. Itu 25:13 kan goyang di di atas Kolombo kan goyang 25:15 bener. Tapi, saya cuek aja saya gitu. 25:16 Ah, 25:17 udah bersih kan. Apalagi pulangnya kan 25:19 udah bersih kan. Goyang. Istri saya juga 25:21 "Ah, udah bersih." Mau meninggal juga 25:22 enggak apa-apa, syahid gitu kan. 25:24 Jadi, saya sekarang begitu. Karena saya 25:26 sering naik pesawat lah, sering 25:27 pergi-pergi. 25:28 Saya mencoba memperbaiki diri saya. 25:31 Ehm. Gitu. Jadi, saya mencoba saya 25:33 bersihlah, gitu. Sehingga pada saat 25:34 nanti kejadian itu ya wallahualam. Kalau 25:36 seumpama ada kejadian memang umur saya 25:38 sampai segitu. Ya, pada saat saya udah 25:40 siap gitu, Pak Krisna. 25:41 ya. Iya, gitu. Ehm. Itu itu salah satu 25:44 nasihat yang terbaik yang saya pernah 25:45 dapatkan. 25:46 Jadi, Abi itu cuma bilang 25:48 Abi Ihya cuma bilang begini, "Ya, 25:50 kamu pasti masih nyimpan dosa." Ya, 25:52 bener juga kali. 25:55 Masyaallah. 25:55 Simpel ya, Pak Krisna, ya. Ehm. 25:57 Masyaallah. 25:58 Mas Ahmad Faiz pernah belajar juga sama 26:02 Bapak Ary Ginanjar, ya? 26:04 Eh, dulu di ESQ, iya. Saya sampai black 26:06 belt di situ. 26:06 Ehm. Oh. 26:07 Total Action, sampai Total Action. 26:08 Total Action, ya. Iya. Apa kesan yang 26:12 pelajaran apa yang bisa didapat dari 26:14 katanya harus jujur, ya. Iya. 26:18 Aduh, 26:19 omongan di luar konteks. Hahaha. 26:21 Pokoknya harus jujur, ya. Jujur. Ehm. Di 26:23 ESQ itu Pak Ary Ginanjar bilang begini, 26:25 "Kalau kamu mau tobat, ada dua. Ehm. 26:27 Nomor satu, kamu dikasih musibah baru 26:29 tobat, nyesel minta ampun. Yang kedua, 26:31 ikut ESQ training." Hahaha. Kan kalau 26:34 ikut ESQ training kalau kita 26:34 betul-betul, Pak Krisna, itu kita 26:36 bakalan nangislah. Ehm, betul. Nangis 26:37 kejer deh, gitu. Sekencang-kencangnya 26:39 kita kan, gitu. Jadi, 26:41 akhirnya Pak Ary bilang, "Mau ikut yang 26:43 mana? Mau ikut dapat musibah atau ikut 26:45 apa ikut training ESQ?" 26:47 Nah, di training ESQ itu kita diminta 26:48 untuk tobat. 26:49 Ehm. Nah, pada saat tobat itu 26:52 alhamdulillah tobat nasuhalah istilahnya 26:54 kan, gitu. Kita mencoba untuk yang 26:55 terbaik, yang berbuat baik, menjadi yang 26:57 benarlah, gitu. Muslim yang benar. Ya, 26:59 alhamdulillah sih. 27:00 Terus kalau ada kesalahan, kita minta 27:02 maaf sama keluarga-keluarga kita. Jadi, 27:04 tadi saya cerita kan. 27:06 Oke, oke. 27:07 sama istri langsung. Langsung minta maaf 27:09 sama istri, ya. Sama istri, sama anak. 27:13 Ehm. 27:15 Dari siapa lagi ini? Masyaallah, dari 27:18 Haryo Suryo. Asalamualaikum. 27:20 Ustaz Krisno, Pak Krisna, tolong jangan 27:22 memojokkan 27:24 kejawen sesat karena kejawen orang Jawa 27:26 sar makna dan arti yang sangat dalam 27:28 kehidupan itu. 27:30 Karena itu ajaran keja keja 27:32 Kanjeng-kanjeng Sunan. Jadi, bukan untuk 27:34 menyembah selain Sang Pencipta, Allah, 27:37 iya. 27:38 Terima kasih masukannya, Bapak Haryo 27:41 Suryo. Jadi, 27:43 kejawen juga 27:44 belum tentu sesat. Ehm, gitu ya. Iya. 27:48 Asalamualaikum, Bapak Ahmad Faiz. 27:51 Waalaikumsalam, warahmatullahi. 27:52 Insyaallah istikamah dalam iman dan 27:54 Islam dan terus ikut membumikan Islam. 27:56 Barakallah dari 27:58 Ibu Tini. 28:00 Ehm, amin. Terima kasih, Bu. 28:01 Oke. 28:02 Ehm. 28:05 Eh 28:07 apa lagi yang eh 28:09 Mas Ahmad Faiz rasakan setelah masuk 28:11 Islam? 28:12 Ketenangan apa? 28:14 Kepastian kalau seumpama nanti kita 28:19 sudah meninggal. Ehm. Jadi, after life, 28:20 gitu ya. Ehm. Kalau bilangnya itu after 28:22 life. Ehm. 28:24 Kalau di agama saya yang 28:27 lama 28:28 lama itu tidak di detailkan. Ehm. Pak 28:30 Krisna. 28:31 Tapi, kalau di Islam itu di detailkan. 28:34 Lewat eh Quran, lalu lewat hadis-hadis. 28:38 Ehm. Jadi, kita diminta sama Allah 28:42 diberikan petunjuk, gitu ya. Agar kita 28:44 membenahi diri. 28:46 Sehingga kita bisa seperti bayi baru 28:48 lahir kembali. Ehm. 28:50 Nah, pada saat nanti ketemu sama Sang 28:51 Pencipta kita, Allah, dan mudah-mudahan 28:53 juga dalam barisannya Rasulullah, kita 28:55 siap, gitu loh. 28:57 Karena memang 28:58 yang namanya hidup ini kan sebetulnya 29:00 kan ujian, ya. Ehm. Ya, ujian. Jadi, ya 29:03 kita siap nih bagaimana caranya kita 29:05 bisa kembali dengan tenang. Bisa kembali 29:08 dengan nyaman. Gitu. Ehm. Apa yang 29:10 paling indah yang 29:12 Mas Faiz rasakan 29:15 ketika masuk Islam? Yang paling indah 29:16 apa? 29:17 Yang paling indah 29:19 menurut saya kedamaian di hati. Jadi, 29:23 saya sekarang kan kebetulan saya ini 29:26 banyak eh, kasus-kasus di bidang hukum. 29:29 Ehm. 29:30 Misalnya, Bang. Eh, contohnya kemarin 29:32 tuh mengenai masalah narkoba di kantor, 29:35 lalu ada masalah 29:37 apa penganiayaan ringan itu kan saya 29:39 urus dengan polisi, dengan pihak 29:40 berwajib, gitu ya, Pak Krisna, ya. Itu 29:42 kadang kala 29:43 kalau pusing ngurusin kasus itu, ya saya 29:45 zikir aja, zikir. Lalu saya minta 29:47 dimudahkan, dimudahkan, dimudahkan. 29:50 Akhirnya dimudahkan gitu. Mungkin 29:51 kadang-kadang juga enggak enggak enggak 29:54 enggak enggak gol gitu ya, tidak gol. 29:56 Tapi ya paling tidak kita tenang. Jadi 29:58 kita tenang, kita tidak harus gitu. 30:00 Nah mungkin zikir saya ini kurang bagus, 30:02 mungkin ya, mungkin. Karena 30:06 salat saya juga mungkin belum tepat 30:07 waktu 100%. Lagi sibuk meeting, lagi 30:10 sibuk, lagi ngerjain ini apa, saya baru 30:12 salat gitu ya, setelah azan gitu. 30:15 Ya itu mungkin salah satu yang membuat 30:17 zikir-zikir saya itu enggak enggak 30:18 enggak tembus atau enggak enggak enggak 30:20 manjur lah begitu. 30:22 Tapi kemarin seru nih Pak Krisna. Saya 30:24 cerita nih, ini teman-teman saya di 30:25 kantor tahulah, itu saksinya masih 30:27 hidup. Ada Pak Andri Jamas, ada Pak 30:30 Gufri, ada juga eh Pak Nunu dan juga ada 30:34 Pak Hendra. Ini teman-teman saya nih di 30:36 saya bisa ini loh, bisa 30:39 eh apa namanya menetralisir 30:42 orang yang kesurupan. 30:44 Baru saja. Bulan lalu. 30:46 Itu dengan zikir, saya baca Ratib 30:48 Al-Attas. 30:50 Oke dia zikir apa mengeluarkan 30:52 mengeluarkan kata-kata apa dia waktu 30:54 kesurupan itu? Ini eh cucunya Prabu 30:57 Siliwangi. Oh gitu. 30:59 Tapi pakai bahasa Jawa. Jadi mungkin 31:00 salah salah ini kali, salah salah salah 31:03 kode. Bukan dia. Kalau Prabu Siliwangi 31:05 harusnya Sunda ya. Ini pakai bahasa 31:06 Jawa. 31:08 Jadi saya ketawa di situ. 31:09 Terus? Ya saya 31:11 pakai zikir apa 31:13 Sambil dipegang pundaknya atau gimana? 31:14 Iya, 31:15 saya pakai air, saya mukanya saya 31:18 lap-lap gitu ya. 31:19 Saya basuh gitu kan. 31:21 Tapi saya zikir Ratib Al-Attas. 31:24 Gitu. Yang terjadi kemudian 31:27 sembuh. Sembuh. Sadar. Heeh, tadinya mau 31:29 ngamuk-ngamuk. Terus sadar? 31:30 megangin. Empat orang yang megangin? Oh 31:32 iya. Iya. 31:33 Empat orang yang megangin. 31:35 Termasuk Ahmad Faiz juga? Saya bagian 31:38 ini, bagian yang nyiram-nyiram air, 31:41 yang doain-doain gitu ya, sama yang apa 31:44 mukulin pakai sorban. 31:47 Sorban dari ustaz tuh saya pukul-pukul. 31:49 Berapa menit dia rian sadar kembali? 31:50 Waduh, satu jam lebih. 31:52 Satu jam lebih? Iya, itu capek banget 31:53 Pak Krisna, capek banget. Terus zikir 31:56 terus, zikir. 31:57 Iya, Ratib Al-Attas tuh saya hajar gitu. 31:59 Eh alhamdulillah bangun langsung gitu. 32:01 Masyaallah. Pengalamannya itu jadi kalau 32:03 seumpama orang kemasukan ya atau 32:05 kesurupan, badannya dingin. Oh oke. Nah 32:08 kebetulan yang pegang itu namanya Pak 32:10 Deni. Tapi begitu sudah sudah normal 32:12 jadi hangat. 32:13 Jadi hangat lagi badannya. Oh begitu. 32:15 Saya juga baru tahu, oh kalau itu dingin 32:17 ya kalau begitu. 32:20 Tapi Pak Krisna 32:21 Ya Anda masih di acara Mualaf Talk. 32:25 Kami mengundang Bapak Victor Ari Subekti 32:29 yang sekarang mengganti nama jadi Ahmad 32:31 Faiz. 32:33 Beliau lahir tanggal 26 September, 32:36 bekerja 32:37 di logistik. 32:40 Pernah di FedEx, pernah di Caraka 32:42 Andalan Semesta, di Tra Kindu, CKB, 32:46 Cipta Kridabari. 32:48 Beliau pernah, sekarang di Lion Express 32:51 ya. 32:51 Kalau di dalam dunia kerja 32:55 apa yang bisa diamalkan dari nilai-nilai 32:57 Islam? 32:58 Kita harus mengajak teman-teman kita Pak 33:00 Krisna, itu 33:03 harus lebih taat kepada Allah. 33:05 Harus lebih taat kepada eh ajaran-ajaran 33:08 dari Rasulullah. 33:10 Jadi 33:11 banyak sekali teman-teman ya, ya dan ini 33:13 fenomena masih terjadi. 33:16 Contoh paling gampang 33:18 eh di kantor kan ada masjid. Jadi itu 33:20 anak-anak yang ada di lantai 1 2 3 kan 33:22 bisa lantai naik ke lantai 6 gitu kan. 33:25 Nah itu pada saat salat Jumat itu baru 33:29 di azan yang kedua mereka baru pada 33:30 datang. 33:32 Wah itu saya sedih sebetulnya. 33:34 Saya tuh mau bisa buat position approach 33:36 gimana gitu ya. 33:38 Personal approach enggak mempan-mempan 33:40 gitu akhirnya ya kita saya hanya berdoa 33:42 saja lah, semoga teman-teman nih yang 33:44 maksudnya anak-anak muda kebanyakan 33:45 anak-anak muda semua nih bisa sadar. 33:48 Gitu. 33:49 Dan kadang-kadang kalau yang yang jarang 33:51 salat ya kadang-kadang saya 33:52 sindir-sindir, lu salat lu. 33:54 Kemarin teman gua masih muda sudah sudah 33:56 meninggal lu 33:58 Iya Pak, saya juga mau salat Pak gitu. 34:00 Ada juga yang saya tarik salat jadi 34:01 salat gitu. 34:03 Jadi kita berusaha untuk dakwah agar 34:06 semua orang salat ya gitu. Yang penting 34:07 salat dulu, mau khusyuk mau enggak yang 34:10 penting salat dulu gitu kan. 34:11 Mau ngerti mau enggak salat dulu, belum 34:14 ngerti berjamaah. Nanti belajar kan gitu 34:17 ya. 34:18 Itu yang saya tanamkan Pak Krisna. 34:20 Kalau di kantor gitu. 34:22 Yang kedua adalah amanah, kalau kita 34:24 sudah punya tugas ya selesaikan sampai 34:26 selesai. 34:27 Itu kan amanah kan gitu, amanah. Dan apa 34:29 adanya alias jujur. 34:32 Jadi kita pada saat kita punya punya 34:34 masalah atau punya jujur saja, kita 34:36 enggak ngerti jangan ditutupin atau ABS 34:38 asal bapak senang gitu kan, jangan. 34:40 Ngomong saja gitu itu lebih enak 34:43 sebetulnya. 34:44 Kalau peluang-peluang yang memancing 34:46 orang untuk tidak jujur misalnya 34:50 korupsi, pengiriman segini jadi segini 34:52 itu bisa enggak? Saya sering 34:54 ada 34:54 Saya sering menangani mitra-mitra kami 34:56 yang memang ya bandel-bandel ya, ada 34:58 celah lalu mereka ngambil keuntungan 35:00 dari dari perusahaan kami kan gitu di 35:03 Lion Express. 35:04 Ya itu ya saya harus menindak gitu loh. 35:08 Pada saat menindak nanti 35:10 ada alasannya kan gini, saya akan 35:12 mengganti Pak tapi saya lagi sakit jadi 35:13 menggantinya bisa mencicil gitu ya. Nah 35:15 itu kadang-kadang 35:17 ya kita serba salah gitu ya. Jadi 35:19 kadang-kadang tuh saya minta petunjuk 35:21 dari dari Allah saya salat. Saya juga 35:24 minta petunjuk dari guru-guru saya. 35:26 Untuk ya paling enggak dikeker lah gitu 35:28 atau dimonitor lah ini gimana gitu cara 35:30 penyelesaiannya gitu Pak Krisna. 35:32 Yang penting 35:33 jangan sampai kita mendzalimi orang sih. 35:36 Kalau bisa adil, ya kalau memang mereka 35:38 kalau istilahnya kalau diperas ampasnya 35:40 sudah enggak ada ya sudah lah. 35:41 Kita bilang ya maunya seperti apa yang 35:43 penting harus diselesaikan, harus 35:44 tanggung jawab. 35:45 Nah 35:47 sekitar 3 bulan yang lalu 35:49 itu kurir saya ditusuk Pak Krisna. 35:51 Masyaallah. Mau diambil uangnya sama 35:53 barangnya tuh di daerah Sunter. 35:56 TSK-nya sudah ketangkap. 35:58 Lalu keluarganya minta damai. Saya 36:00 bilang wah damai Bu pasti tenang saja 36:02 damai. Kebetulan ibunya yang datang tuh. 36:03 Damai Bu enggak apa-apa tapi anaknya Ibu 36:05 harus tanggung jawab dulu. 36:07 Sesuai dengan hukum yang berlaku. 36:08 Tanggung jawabnya berupa di penjara atau 36:10 gimana? Penjara, pidana, pidana. Berapa 36:12 lama kira-kira itu? Ya tergantung nanti 36:14 tuntutan dari pihak saya kan Pak. Tapi 36:17 kalau enggak salah penganiayaan berat 36:19 itu bisa sampai 10 tahun ya. 36:21 Gitu. Kalau kasus itu dari 36:23 si korban dapat penggantian enggak dari 36:25 kantor? Dapat di-cover enggak biaya 36:26 Di-cover, semua di-cover, kita cover. 36:28 Bahkan bantuan hukum juga kita berikan. 36:31 Gitu oke oke. 36:33 Di-cover. 36:34 Baik eh kami masih berbincang-bincang 36:36 dengan Ahmad Faiz. 36:38 Beliau dulu namanya Victor Ari Subekti, 36:40 sekarang sudah 36:42 masuk Islam. 36:44 Ayahnya masih di sana, ibunya juga 36:46 masih, adik-adiknya masih. Jadi 36:47 sendirian ya. Sendirian. Jadi kalau 36:49 lebaran bagaimana apa yang dirasakan? 36:51 Saya lebaran setelah dari rumah mertua 36:54 saya langsung ke rumah Ibu. 36:56 Ke rumah Ibu saya karena Ibu saya tuh 36:58 ternyata 36:58 di rumah Ibu saya itu tempat kumpul bude 37:00 saya sama tante-tante saya juga di situ. 37:03 Ada datang juga mereka. Bude sama tante 37:05 tuh juga muslim kan jadi datang juga ke 37:07 situ. 37:08 Nah tapi alhamdulillah tuh 37:10 Ibu saya ngerti kan kalau saya tuh ya 37:13 Islamnya bukan fanatik tapi benar-benar 37:14 melaksanakan Islam kan jadi 37:17 menyiapkan suatu kamar, kalau ada 37:19 salibnya diturunin dulu, beli sajadah 37:22 gitu sajadah terus kalau saya mau salat 37:24 disiapin salat gitu. Jadi alhamdulillah 37:26 jadi sudah 37:27 sudah ada tepo seliro nya kalau orang 37:29 Jawa 37:31 gitu. Apa yang eh Mas Ahmad Faiz doakan 37:35 setiap habis salat kepada kedua orang 37:38 tua? 37:40 Semoga Allah bisa mengabulkan doa saya 37:42 nih kalau seumpama nanti pada saat di 37:44 akhirat mereka 37:47 kalau mereka mendahului saya atau 37:48 mungkin saya mungkin mendahului mereka 37:50 dulu saya kan enggak tahu ya. Tapi saya 37:51 selalu berdoa kalau bisa 37:53 di nafas terakhir pun bisa menyebutkan 37:56 kalimat syahadat. Itu saja. Amin, 37:59 masyaallah. 38:01 Mmm ini dari 38:04 Assalamualaikum masyaallah tabarakallah 38:06 dari siapa enggak disebut namanya nih. 38:10 Eh 38:12 dari 38:16 dari Inggit, Ibu Inggit. Terima kasih 38:19 Ibu Inggit. 38:20 Oke. Silakan Anda juga boleh memberi 38:23 sharing atau komentar 38:25 untuk acara ini kami tunggu di 08111 38:29 999720 38:32 atau telepon di 021845 38:36 1512. 38:38 Anda juga boleh mengusulkan siapa nih 38:40 mualaf yang pantas untuk diwawancara, 38:42 silakan 38:43 eh 38:45 kasih 38:46 kabar ke kami di 08111 38:50 999 38:52 720. 38:56 Mmm 38:58 eh 39:01 Mas Faiz, apakah sekarang menjadi 39:05 anggota DKM? 39:07 Iya ya? 39:08 Iya, saya DKM di kantor. 39:10 Apa saja yang harus diurus dari DKM itu? 39:13 Nomor satu kita mempersiapkan eh 39:16 sarana-sarana 39:17 Khatib Jumat enggak? 39:18 Kadang-kadang kalau seumpama khatibnya 39:20 lagi enggak datang. 39:21 Eh waktu itu pernah kita mengundang Kiai 39:23 Khalid enggak datang karena beliau sibuk 39:25 gitu. Lalu Kiai Khalid bilang, "Nih 39:27 bacakan saja 39:28 eh apa namanya khotbah Jumat saya." Ya 39:30 sudah saya naik ke mimbar. Alhamdulillah 39:32 waktu itu pernah belajar. 39:33 Alhamdulillah. Masyaallah. 39:37 Oke 39:38 Jadi khatib badal, badal, badal. 39:40 Mmm 39:44 Saya ingin dengar deh Pak Faiz baca 39:46 Quran tapi kalau kalau enggak keberatan 39:49 kalau keberatan ya enggak apa-apa. 39:52 Masalahnya saya sudah batal wudu. Oh, 39:53 batal wudu ya. Oke, oke, baik-baik. 39:56 Mohon maaf Pak nanti kalau kita ketemu 39:57 di masjid di Al-Ittihad atau di mana 39:59 boleh kita tadarusan bareng. Mmm. Tapi 40:03 sudah sudah menjadi enak ya kebiasaan ya 40:05 setiap hari mesti baca Quran ya. 40:07 Oh, iya. Saya kan zikir saya tuh eh 40:09 paling enggak itu surah At-Taubah gitu. 40:11 Lau anzalna hazal Quran 40:13 ala jabalin la raitahu khasyi'an 40:15 mutashaddi'an min khasyatillah. Nah, itu 40:17 saya baca tujuh kali. Mmm. Terus eh lau 40:20 anzalna hazal Quran ala jabalin la 40:22 raitahu khasyi'an mutashaddi'an min 40:23 khasyatillah. Wa tilkal amsalu 40:25 nadhribuha lin nas. Itu juga saya baca 40:26 itu dari Al-Hasyr. Gitu. Itu saya selalu 40:29 itu sering. Bagaimana cara menghafal 40:31 Quran itu? 40:32 Diulang-ulang, Pak Krisna. Iya, kalau 40:35 dulu saya belajar dari Ustaz Asep tuh 40:37 diulang-ulang. Mmm. Sampai bosan sampai 40:39 kita ngantuk. Diulang-ulang satu ayat 40:41 ya? Iya, satu ayat lalu eh beralih ke 40:43 ayat berikutnya lalu ulang lagi dari 40:45 satu itu satu ada ayat yang pertama ayat 40:47 kedua gitu. Ya, berulang lagi berulang 40:48 Berapa kali ngulang itu? 40:51 Mmm. Biasa kalau kalau Ustaz Yusuf 40:53 pernah ngajar 40 kali katanya. Iya, saya 40:55 enggak hitung sih. Enggak hitung. 40:57 Pokoknya sampai hafal saja sampai hafal 40:58 saja gitu. 40:59 Eh. Enggak hitung saya. Dan di 41:01 Pokoknya sampai selesai gitu kan. 41:02 Alhamdulillah Mmm. bisa tuh. 41:05 Saya tuh punya punya surah itu yang saya 41:07 suka itu surah dari Al-Mu'minun. Mmm. 41:10 Saya suka banget tuh. Mmm. Kenapa suka? 41:12 Qad aflahal mu'minun alladzina hum fi 41:14 sholatihim khasyi'un. Jadi, kita dikasih 41:16 tahu tuh di dalam surah itu 41:18 bagaimana menjadi orang yang mu'min. 41:20 Mmm. 41:20 Nah, itu. Qad aflahal mu'minun alladzina 41:23 hum fi sholatihim khasyi'un. 41:25 Sholatnya harus khusyuk gitu. 41:26 Jaga kemaluan. 41:29 Mmm. Itu jadi banyak nanti akhirnya itu 41:31 firdausihum li firdaus dapat dapat 41:34 dapatnya surga firdaus 41:35 Mmm. surga yang paling tinggi. Cuma 41:37 susah Pak Krisna. Mmm. Susah banget jadi 41:40 khusyuk. 41:41 Sholat pertama nih. Allahu Akbar gitu 41:43 ya. 41:44 Mmm. Bismillahirrahmanirrahim gitu. Wah, 41:46 langsung ingat tuh. 41:47 Tadi belum ngerjain ini ya. 41:49 Aduh. 41:50 Entar harus ketemu sama jaksa nih pagi. 41:51 Gitu-gitu. Masyaallah. 41:53 Jadi, susah kita khusyuk benar 41:55 masyaallah. Belajar itu seumur hidup 41:57 belajarnya. Ketika dulu Mas Ahmad Faiz 42:00 masih di agama lain 42:03 apa pikiran Mas Ahmad Faiz tentang 42:05 Islam? 42:09 Ini mohon maaf ya. Iya, iya. Kan dulu 42:10 nih dulu ya. Sekarang mah enggaklah 42:12 sekarang enggaklah masyaallah. Jadi, 42:13 dulu itu saya selalu melihat orang Islam 42:15 tukang minta-minta. Mmm. 42:17 Iya. Jadi, kalau kadang-kadang tuh kalau 42:18 kita pakai peci topi eh pakai topi eh 42:21 peci gitu ya pakai peci atau kopiah 42:24 lalu pakai eh apa namanya baju koko gitu 42:27 ya terus assalamualaikum permisi dari 42:30 yayasan ini minta sumbangan gitu. Mmm. 42:32 Itu benak saya dulu gitu Pak Krisna. Oh, 42:33 dulu ya maksudnya. 42:34 Dulu itu. Jadi, wah tukang minta-minta 42:36 gitu kan. 42:37 Bahkan dulu diledekin tuh. 42:39 Diledekin saya tuh. Jadi, saya pakai 42:41 peci gitu adik saya bilang 42:43 assalamualaikum 42:45 Eh. permisi Pak gitu kurang ajar gitu. 42:48 Aduh, tapi ya Bagaimana itu bisa lalu 42:50 merubah pikiran 42:53 Mas Ahmad Faiz itu? 42:54 Itu kan oknumnya. Jadi, enggaklah enggak 42:56 kayak begitu Islam enggak kayak begitu. 42:57 Banyak eh ya 42:59 muslim-muslim yang ada di Indonesia yang 43:00 ada di dunia tuh lebih wah lebih 43:02 canggihlah daripada itu. Jadi, oknum 43:04 sebetulnya. Saya tuh kadang-kadang sedih 43:06 gitu ya kalau seumpama ada yang datang 43:09 dari yayasan ini dari yayasan itu gitu 43:11 ya. Ya, kita kalau punya kita sedekahkan 43:13 enggak apa-apa ya tapi 43:15 kadang-kadang tuh jadi sifatnya penipuan 43:17 gitu loh Pak Krisna. Karena kan sering 43:18 tuh ya kita lihat dari orang-orang lalu 43:21 diikutin sama televisi gitu kan ternyata 43:23 dia ada basecamp-nya gitu ya. 43:26 Jadi, 43:27 ya kalau bisa sih kita sebagai umat 43:28 muslim bisa bersatu bisa mandiri 43:32 sehingga kita bisa 43:33 eh apa namanya merubah citra kita ini 43:36 loh untuk merubah citra kita ya. Saling 43:38 membantu gitu ya. 43:40 Ya, sekarang ini kita kan fokusnya kan 43:41 ke Palestina nih. Mmm. Iya kan 43:42 Palestina. Kebetulan saya kan senang 43:44 banget sama MER-C. Mmm. Karena membangun 43:46 rumah sakit Indonesia di Gaza kan. Wah, 43:48 tuh. 43:49 Dan salah satu tokoh yang saya kagumi 43:51 itu ya almarhum Dokter Jos Josrizal. 43:53 Mmm. Itu ya Allah itu saya tuh kalau 43:56 bisa ya 43:57 meskipun lagi lagi sempit pun saya 43:59 usahakan untuk bisa 44:01 transfer ke MER-C lah gitu. Mmm, betul. 44:03 Karena kalau disuruh perang juga enggak 44:04 mungkinlah. Mmm, mmm. 44:06 Nembak enggak jago gitu kan. Dengar 44:08 suara bom 44:09 sudah ngompol kali. 44:11 Dengar suara buar 44:12 ngompol kali saya sudah. Tapi ngikutin 44:14 terus ya perkembangan Palestina ya. Ikut 44:17 ikut Pak Krisna. Di Ras itu kan setiap 44:19 hari selalu perkembangan kita. 44:21 ya itu. Enggak usah Pak Ikhsan. Pagi 44:23 pagi kan tuh itu kan saya dengarin di 44:25 mobil. Nah, saya dengarin terus eh saya 44:27 kan juga ikut Telegram tuh Telegram yang 44:29 eh Filistin Al-Arabiyah tuh saya ikut. 44:33 Kadang kala tuh eh apa namanya kan beda 44:35 waktu 5 jam atau 4 jam ya 4 5 jam gitu 44:36 ya. 44:37 Ada ada apa namanya ada kejadian tuh 44:40 pasukan muslimin lagi diserang 44:42 habis-habisan gitu kan. 44:43 Saya mengusahakan kalau lagi berjamaah 44:45 saya itu apa qunut nazilah gitu selalu. 44:48 Apa yang paling menyentuh dari peristiwa 44:50 Palestina ini? 44:52 Anak-anaknya di sana tuh korban-korban 44:55 perang tuh masyaallah mereka tuh kuat 44:57 banget ya. 44:58 Mmm. Terus bapak-bapak yang kehilangan 45:00 anak-anaknya tuh kok kuat gitu loh. 45:02 Kalau saya mungkin gila kali Pak Krisna. 45:04 Mmm. Kalau saya sudah gila kali. 45:06 Dan mereka tuh tetap 45:08 enggak mau pindah dari Gaza gitu Iya. 45:10 tetap standby di sana gitu masyaallah. 45:13 Berani 45:14 mereka berani mereka tawakal. 45:17 Itu gimana caranya gitu. 45:20 Saya mau belajar tuh benar. 45:22 Mau belajar ya. Mmm. Berani dan tawakal. 45:24 Jadi, pasrah. Mmm. 45:26 Masyaallah. 45:27 Assalamualaikum Mas Faiz. Mas Faiz tidak 45:30 fanatik kepada satu ustaz kan Pak 45:32 belajarnya ke banyak ustaz bukankah 45:34 begitu? Alhamdulillah. Mmm. 45:35 Alhamdulillah. Saya belajar ke ke mana 45:37 saja Pak. Mmm. Ke mana saja ustaz mana 45:39 saja saya belajar. 45:41 Khalid Basalamah pun saya Mmm. sering 45:42 dengarin gitu ya. Mmm. Jadi, enggak 45:45 enggak enggak saya enggak enggak itu 45:46 saya enggak apa tidak terlalu 45:47 Enggak fanatik satu ustaz gitu ya. 45:49 Jadi 45:50 Tapi ya ada murabbi ya. Mmm. Murabbi itu 45:52 istilahnya yang bisa membuat kita nangis 45:54 gitu ya. Itu ya mungkin pegangan gitu ya 45:56 pegangan. 45:58 Oke. 46:02 Ehm. 46:04 Mas Faiz bagaimana rezeki ketika dulu 46:06 masih 46:07 sebelum Islam dengan setelah Islam 46:09 apakah ada perubahan? 46:13 Alhamdulillah waktu sebelum Islam saya 46:15 sudah kerja Pak. Di Batam kan saya dulu 46:17 kerja. Di sana jadi sebagai branch 46:18 manager kan di sana di FedEx waktu itu. 46:21 Nah, pada saat muslim ya alhamdulillah 46:24 karir naik gitu ya. Tapi ada naik 46:26 turunnya juga kan gitu. Jadi, ya 46:29 ya ada yang bilang kan setelah masuk 46:31 Islam tuh 46:33 apa apa namanya eh ada yang terpuruk 46:36 gitu ya. Kalau saya merasakan 46:37 teman-teman saya tuh pada menjauh. Mmm. 46:40 Mmm. 46:41 Kan dari dari SD sampai SMA kan saya kan 46:43 sekolah di Katolik kan. Jadi, menjauh. 46:46 Ya, jadi saya punya teman-teman baru. 46:48 Mmm. 46:49 Jadi, kalangan masjid ya. Iya. Eh. 46:51 Teman-teman baru. 46:52 Di Masjid Al-Ittihad Kota Legenda aktif 46:54 juga ya? 46:55 Dulu saya aktif karena karena istri saya 46:57 sekarang aktif di 46:59 MT muslimahnya jadi saya enggak mau 47:01 terlalu dominan gitu ya. Jadi, istri 47:03 saya aktif di 47:04 di Al-Ittihad sedangkan saya ya jadi 47:07 pembina di Al-Mulk di kantor. Mmm, 47:12 oke. Dan saya lebih suka tuh gini Pak 47:14 Krisna kalau lagi ke masjid tuh saya 47:15 enggak mau enggak mau dikenal. Jadi, 47:16 kayak jamaah biasa. Mmm. Enak. 47:20 Kita mau nanya kita mau itu jadi enak 47:22 gitu loh. 47:24 Pengin gitu loh. 47:25 Saya sering ke masjid-masjid yang lain 47:26 Pak Krisna. Oke, baik. 47:28 Enak gitu. Masyaallah. 47:30 Oke. 47:33 Terima kasih Mas Ahmad Faiz atas eh 47:37 pencerahannya saya jadi terkesan juga. 47:40 Oke, terima kasih. Mmm. 47:44 Terima kasih. 47:44 Eh kapan Mas Faiz ada di Ras lagi ya? 47:46 Insyaallah nanti kita undang lagi ya Mas 47:48 Faiz ya. Dekat. Ahmad Faiz Faiz. 47:54 Eh. 47:56 Mas Faiz kalau sholat subuh di mana? 47:59 Sholat subuh di Al-Ittihad ya? Iya, 48:01 sholat subuh di Ittihad tapi saya 48:02 kadang-kadang sering terlambat bangun. 48:04 Mmm. Jadi, karena saya pulang malam 48:05 terus. Mmm. Jadi, saya kadang-kadang di 48:07 shaf terakhir langsung pulang. 48:09 Karena saya harus berjalan 4 km setiap 48:12 hari. Pak Krisna. Kenapa? 48:14 Eh detak jantung saya tuh sudah enggak 48:16 seimbang. Mmm. Jadi, begini enggak jadi 48:18 dokter bilang menyarankan jogging setiap 48:20 hari 4 km. Ya, itu lagi saya jalanin 48:22 gitu. Jadi, jogging dulu. Habis jogging 48:24 mandi berangkat. Mmm. 48:27 Nah, eh bulan-bulan ini saya lagi ini 48:29 lagi mendidik anak saya untuk bisa 48:32 sholat berjamaah. Jadi, kita berjamaah 48:33 di rumah. 48:34 Gitu ya kalau bisa lagi itu saya ke 48:36 masjid kalau lagi 48:38 sama anak saya sama istri saya di rumah. 48:40 Ya, go with the flow ajalah 48:42 gitu. Go with the flow. 48:44 Mmm, ya dan ya halo assalamualaikum Mas 48:46 Faiz eh apakah sudah pernah umroh? 48:50 Oh, sudah sudah sudah sering. Oh, sudah 48:52 sering ya? Oh, iya waktu tadi cerita 48:55 cerita sama Ustaz Heri Nurdi ya. 48:58 Oke. 49:02 Sepertinya pertanyaan sudah 49:04 sudah terjawab semuanya nih. Oke, oke. 49:08 Oh, ada yang minta nomor telepon. Oh, 49:09 nanti kalau ketemu nanti saja datang ke 49:10 ke Ras ya. 49:13 Oke, sepertinya kita sudah dibatasi oleh 49:15 waktu. Terima kasih 49:18 Mas Ahmad Faiz atas kunjungannya ke Ras 49:21 atas sharing-nya tentang 49:24 apa tadi tuh semangat beragamanya ya. 49:26 Iya. Ada yang terakhir mau disampaikan? 49:28 Ya, kita jadi gini Pak Krisna ini kadang 49:30 kala kan 49:31 eh ghirahnya Islam ini kan sangat-sangat 49:33 kencang kuat ya di eh 49:37 kita jangan terlalu fanatik kita hidup 49:39 tuh eh 49:40 dengan masyarakat yang lain kita berbaur 49:43 jadilah kita seperti eh oksigen he em di 49:46 mana saja kita dibutuhkan siapa saja 49:48 bisa membutuhkan jadi oksigen lebih enak 49:50 masya Allah di mana saja kita bisa 49:52 diterima jadilah oksigen yang dibutuhkan 49:54 oleh setiap orang 49:56 iya setiap apapun 49:57 selama orang itu mau hidup kan harus ada 49:59 oksigen kan begitu jadilah oksigen jadi 50:01 kita tuh netral he em ya istilahnya itu 50:03 kita jalanin dengan baik begitu loh dan 50:06 pada saat nantinya kembali kepada Allah 50:08 kita sudah siap begitu Pak Ustadz sudah 50:10 ya dari saya 50:11 mantap terima kasih 50:14 eh Mas Ahmad Faiz 50:17 baik ya demikian tadi acara eh Mualaf 50:20 Talk kita akan jumpa lagi pada Rabu 50:23 depan setiap 50:25 pukul 1 siang atau pukul 13 50:28 saya Muhammad Krisna Niza dan 50:32 Algi Fahrurazi mohon pamit wabillahi 50:34 taufik wal hidayah wassalamualaikum 50:36 warahmatullahi wabarakatuh 50:37 waalaikumsalam