Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 Bismillahirrahmanirrahim. 0:01 Alhamdulillahiabbil alamin. Allahumma 0:03 sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali 0:06 sayyidina Muhammad. Asalamualaikum 0:08 warahmatullahi wabarakatuh. 0:10 Waalaikumsalam. 0:11 Ikhwan dan akhwat, pendengar radio 0:12 silaturahim dan juga pemirsa Rasil TV 0:15 yang dirahmati Allah. Alhamdulillah kita 0:17 kembali berjumpa Iwan Ahad di Ahad sore 0:19 hari ini tanggal 24 Rabiul Awal 1448 0:24 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 6 0:28 September 2026. Dan seperti biasa di 0:31 Ahad pertama setiap bulannya kita hadir 0:34 acara bincang komunikasi bersama Dr. 0:38 Laila Monaganim yang alhamdulillah telah 0:40 hadir di studio. Kita sapa bagaimana 0:42 akhwat. Asalamualaikum warahmatullahi 0:44 wabarakatuh Bu Mona. Waalaikumsalam 0:46 warahmatullahi wabarakatuh, Mas Fahi. 0:48 Apa kabar? Apa kabar Bunda? Sehat. 0:49 Alhamdulillah. Alhamdulillah bisa 0:52 kembali memandu acara ini, Bunda ya. 0:54 Masyaallah. Masyaallah. 0:56 Dan hari ini tema yang akan disampaikan 0:59 di mana adalah mengenai sulit bicara 1:02 dari hati ke hati. Nah, loh ini 1:05 kadang-kadang kita juga mengalaminya ya 1:07 gitu Bu ya. 1:08 Betul. 1:09 Apa yang menjadi faktor orang tuh sulit 1:11 bicara dekat dekat hati ya? Betul. 1:13 Apakah faktor ee apa namanya komunikasi 1:16 aja atau ada ego tertentu nih Bu? 1:18 Ada ego tertentu, ada keengganan. 1:21 Iya. Banyak mungkin orang ee bicara 1:24 masalah politik, masalah ekonomi, 1:26 masalah faktor apapun gitu ya. Tapi 1:28 kalau menyangkut masalah pribadi, hati 1:30 gitu kadang juga suka 1:32 gimana gitu ya Bu ya. 1:33 Iya. Gimana gitu ya. Nah, hari ini akan 1:35 membahasnya Bonda nanti juga yang ingin 1:37 bergabung bertanya Iwan Ahmad bisa 1:39 bergabung berkomentar ataupun bertanya 1:41 silakan di 0811999720. 1:47 Silakan Bu Monda materinya. 1:48 Terima kasih. Asalamualaikum 1:50 warahmatullahi wabarakatuh. 1:53 Iwan dan akhwat yang dirahmati Allah. 1:55 Alhamdulillah hari ini kita ketemu lagi 1:57 dan kita akan ngebahas 2:01 kok sulit ya 2:02 ngomong dari hati ke hati gitu. Ee Iwan 2:06 dan Akhwat pernah enggak kita [berdehem] 2:09 pikiran kenapa sih kalau ngomong sama 2:14 orang yang paling kita cintai kita 2:17 justru 2:18 paling mudah ngambek gitu? [tertawa] 2:21 Ee kenapa begitu? Mungkin karena kita 2:24 terlalu sibuk untuk ingin didengerin, 2:29 kita juga enggak sempat untuk 2:31 ngedengerin. 2:32 Ee padahal itu adalah kebutuhan yang 2:35 juga sangat penting gitu bagi setiap 2:38 orang. 2:39 Kadang orang yang paling dekat dengan 2:43 kita justru orang yang paling sulit 2:47 untuk diajak ngomong dari hati ke hati. 2:49 Hm. Padahal paling dekat ya. gitu. 2:52 [tertawa] 2:53 Susah 2:54 mau ngomong aduh sesuatu yang secret 2:58 gitu ya. [tertawa] 3:00 Kayaknya enggak enak gitu ya. Heeh. 3:03 Kita tinggal serumah nih sama pasangan, 3:07 terus ee tiap hari ketemu anak atau tiap 3:11 hari ketemu orang tua, sering ngomong 3:14 sama orang tua. Tapi 3:18 benar-benar enggak sih kita ini 3:20 ngedengerin perasaannya dia atau kita 3:23 didengerin perasaan kita gitu ya. 3:27 kita bisa tadi Mas Fahri bilang kita 3:30 bisa ngomongin masalah politik, masalah 3:32 isu-isu yang 3:34 terkini ya atau apa namanya suasana saat 3:39 ini dan lain sebagainya bisa berjam-jam 3:42 tapi belum tentu hati kita bertemu gitu. 3:47 kita 3:48 tanya tapi kita enggak benar-benar 3:51 dengerin atau juga kita ngasih nasehat 3:56 tapi kita lupa memahami. Bahkan seringki 4:01 satu kalimat dari orang yang kita cintai 4:05 bisa menyakitkan daripada 1000 kata dari 4:09 orang lain. Nah, mungkin karena itu 4:13 bicara dari hati ke hati bukan tentang 4:17 siapa yang paling pintar ngomong. 4:20 Ini tentang kesediaan untuk berhenti 4:24 sebentar, nurunin ego dan 4:30 ngomong aku ingin ngertiin kamu. Gitu. 4:34 Jadi ee karena pada akhirnya yang buat 4:39 satu keluarga dekat bukan karena kita 4:44 ee tidak pernah berbeda atau enggak 4:47 pernah bertengkar begitu ya. Tapi karena 4:50 setelah semua itu ee mereka masih punya 4:54 ruang untuk kembali berbicara dan saling 4:57 dengerin. Jadi ada pulang ada rumah gitu 5:01 ya, rumah untuk hati masing-masing. 5:03 Begitu. [mendengus] 5:05 Misalnya suami pulang kerja ee kemudian 5:10 istri merasa enggak diperhatiin gitu ya. 5:14 Suami pulang makan terus sibuk sama HP. 5:19 istri kesal gitu ya, bukan ngomong dari 5:22 hati ke hati, 5:25 pulang-pulang 5:26 HP terus gitu. Di rumah juga enggak 5:30 pernah kasih perhatian, jadi marah gitu 5:33 ya. Nah, kalau ngomong dari hati ke 5:36 hati, aku tahu kamu capek kerja, tapi 5:41 akhir-akhir ini aku ngerasa kita jarang 5:47 ngobrol. 5:50 Aku sebenarnya kangen banget ngobrol 5:52 sama kamu. Meskipun cuma sebentar aja, 5:56 mungkin 15 menit kita bisa ngobrol dari 5:58 hati ke hati gitu. Bisa enggak kita 6:01 sambil makan kita ngobrol sebentar gitu 6:05 atau sebelum tidur kita ngobrol. 6:09 Ee jadi sebenarnya pesannya jangan 6:14 ngomongin tuduhan. 6:16 Maka yang perlu kita lakukan adalah 6:18 menyampaikan perasaan dan kebutuhan 6:21 gitu. Itu ngomong dari hati ke hati 6:25 kepada pasangan kita. Contoh lain adalah 6:28 anak pulang sekolah nilainya jelek nih 6:33 gitu. 6:35 Anak ngambil hasil ujian 6:39 tapi nilainya 6:41 enggak baguslah mengecewakan gitu ya. 6:44 dia khawatir orang tuanya enggak nyaman 6:47 gitu. 6:49 Ee 6:50 coba kalau ngomong tidak dari hati ke 6:54 hati, 6:56 makanya belajar 6:58 main HP terus kamu jadi apa gitu. Itu 7:02 itu ngomong enggak dari hati ke hati. 7:05 Nah, kalau dari hati ke hati orang tua 7:07 bisa ngomong kayak gini, 7:11 "Mama lihat nilai kamu turun. 7:15 Mama emang kecewa, 7:18 tapi mama lebih ingin tahu 7:24 kamu punya kesulitan apa di mata 7:26 pelajaran ini 7:29 atau ada sesuatu 7:32 yang bikin kamu akhir-akhir ini susah 7:34 belajar. Kenapa? 7:37 Nah, kalimat itu atau ee pernyataan itu 7:41 bisa 7:43 membuka pintu supaya anaknya bisa 7:45 bercerita begitu. 7:47 Bisa jadi ternyata bukan malas, bukan 7:53 karena 7:54 ee dianya enggak belajar, tapi karena 7:57 dia punya masalah sama temannya, dia 8:00 punya masalah sama kesehatannya. 8:03 Bu. Ee jadi dia enggak bisa memahami 8:05 pelajaran 8:07 atau matanya 8:09 atau dia merasa tertekan ada bullying 8:12 gitu. 8:14 Jadi 8:16 kita cari tahu tidak menghakimi. Maka 8:19 memungkinkan untuk bisa bicara dari hati 8:21 ke hati. 8:24 Atau 8:25 orang tua terus menanyakan kapan nikah, 8:28 kapan nikah gitu ya. 8:30 [mendengus] 8:31 Dan itu 8:34 bisa jadi ada jawaban dengan emosi gitu. 8:37 Jangan ikut campur deh ini hidup saya 8:40 gitu. Jadi marah. Nah, gimana kalau 8:44 orang tuanya 8:46 ee 8:48 atau 8:50 anaknya ngomong sama orang tuanya gitu 8:52 ya, Ibu? Aku tahu 8:57 ibu tanya karena sayang 9:00 dan ingin ngelihat 9:03 aku bahagia. 9:05 Aku juga ingin punya keluarga. 9:08 Tapi waktu pertanyaan itu terus muncul, 9:12 aku jadi merasa tertekan. 9:16 Kalau nanti ada sesuatu yang ingin aku 9:18 ceritakan, 9:20 aku pasti cerita ke ibu. 9:23 Nah, untuk sekarang 9:25 mendingan kita ngomong hal yang lain aja 9:27 dulu ya. 9:31 Ee 9:33 pernyataan itu membuat 9:36 kita bisa menetapkan batasan tanpa 9:41 kehilangan rasa hormat gitu kepada orang 9:44 tua. Jadi ngomong hati ke hati itu 9:50 perlu kita biasakan. 9:53 Bicara hati ke hati 9:56 bukan berarti tanpa emosi. 9:59 Justru kita belajar ngubah 10:03 emosi jadi kata-kata yang bisa diterima 10:06 dan didengar oleh orang yang kita 10:09 sayangi. 10:12 Ada tiga kata kunci yang mudah diingat. 10:18 Kita perlu rasakan, kita perlu 10:20 dengarkan, kita perlu sampaikan. Rasain, 10:25 dengerin, 10:26 sampaikan. 10:28 Bukan marah, menuduh, nantinya menyesal. 10:32 Begitu. 10:36 Nah, pertanyaannya adalah kenapa 10:41 kita makin sulit bicara dari hati ke 10:43 hati? 10:44 Kenapa kita bisa punya ratusan teman 10:50 tapi ngerasa sendirian? 10:55 Kenapa 10:57 chat sering menimbulkan salah paham? 11:01 Kenapa orang 11:05 lebih berani ngomong kasar di medsos? He 11:10 [berdehem] 11:10 i. Jadi 11:12 berbagai situasi itu membuat kita 11:16 tidak mudah untuk ngomong dari hati ke 11:19 hati. Memang kita tahu teknologi itu 11:21 bisa mempercepat 11:23 komunikasi gitu ya, tapi belum tentu 11:26 memperdalam komunikasi. 11:30 Kita perlu kembali pada komunikasi yang 11:32 bisa menghadirkan orang manusia. 11:35 didengerin, 11:37 dipahami, diakui perasaannya 11:41 dan bisa memberikan makna pada ee 11:47 interaksi kita gitu dengan orang lain. 11:50 Komunikasi bukan tentang bertukar pesan 11:53 saja, tapi tentang memahami manusia. 11:57 Ee 11:59 saya buat 12:02 desain batik ya. He desain batik 12:05 batik komunikasi 12:07 yang menjelaskan tentang komunikasi 12:10 bukan sekedar bicara tapi memahami 12:14 manusia. 12:17 ee 12:21 emang kita makin mudah berkomunikasi 12:24 tapi tidak mudah memahami karena ee 12:30 teknologi memungkinkan kita bisa 12:31 berinteraksi sama banyak orang. 12:33 Betul. Memudahkan ya? 12:35 Memudahkan tapi sulit untuk 12:36 berkomunikasi. Kita tinggal ngetik, 12:39 tinggal vote, kita tinggal kirim video 12:42 call gitu ya. [tertawa] 12:45 ngunggah pesan H 12:47 very easy. Tapi anehnya 12:51 kita 12:54 makin mudah terhubung belum tentu makin 12:57 mudah ngertiin orang lain. 13:01 Jadi yang berubah adalah cara kita 13:04 berkomunikasi dan memperlakukan manusia 13:06 lainnya. 13:09 kita makin banyak berkomunikasi tapi 13:12 makin sedikit ngedengerin gitu. Makin 13:15 banyak sharing tapi makin sedikit 13:17 ngedengerin. 13:18 Seolah searah gitu ya. 13:19 Seolah searah timbal balik begitu. 13:21 Betul. 13:23 Ee kalau timbal balik kadang-kadang cuma 13:27 nungguin waktu gitu. 13:28 He. 13:29 Oh habis ini saya ngomong cekrek bukan 13:32 ngertiin gitu. 13:34 Heeh. Jadi ngerespon dengan omongan itu 13:37 gitu. [mendengus] 13:39 Di medsos orang lomba untuk kasih komen, 13:44 bagi info, macam-macamlah gitu ya. 13:47 Sharing ee bagi ini, bagi itu gitu ya. 13:53 Komunikasi [mendengus] 13:53 bukan hanya saya ingin ngomong apa, tapi 13:58 apa yang sedang dirasakan 14:02 dan ingin disampaikan pada orang lain. 14:06 Jadi ngedengerin itu penting sekali, Mas 14:09 Fahri. 14:11 Ada orang ngomong, "Aku baik-baik aja 14:14 kok." 14:16 Tapi komunikasi yang empat 14:19 itu membuat kita bertanya, "Benar enggak 14:22 sih dia baik-baik aja? 14:25 Ada yang enggak butuh nasehat, 14:28 tapi butuh ada orang hadir dan 14:31 mendengarkan." Jadi, ada satu 14:34 ee pekerjaan baru ya 14:37 yang ee saya tonton beberapa saat lalu 14:41 di ee China. 14:44 Hm. Kerjaannya adalah nemenin orang. 14:48 [tertawa] 14:49 Heeh. 14:51 Ee sekali nemenin dibayar 1 juta gitu 14:53 ya. [tertawa] 14:55 Cuma nungguin nemenin nemenin makan atau 14:58 nemenin pergi ke mana atau ngapain gitu 15:01 ya. 15:02 Karena orang tuh butuh 15:06 ada hadir gitu orang lain atau diajakin 15:09 ngobrol gitu. 15:11 Jadi begitu begitu butuhnya orang untuk 15:14 terhubung sama orang lain. I 15:16 dan itulah komunikasi bukan cuman 15:19 saya nyampaiin pesan dan Anda 15:21 menyampaikan pesan. That's it gitu ya. 15:23 Jadi he 15:24 ee 15:25 cuma sharing pesan aja gitu. 15:26 Cuma sharing pesan. Kalau permainan itu 15:30 permainan bowling gitu ya. He 15:33 gantian satu kirim ee bolanya kemudian 15:38 gantian yang lain kirim bora baru lagi 15:41 cekrek gitu. 15:42 Tapi ee kayak tenis gitu 15:45 ya. 15:46 Oper-operan ngobrol gitu ya. TikTok 15:48 [tertawa] gitu. 15:50 Chat membuat kita kehilangan banyak 15:52 bahasa manusia. Chat ini gitu. Heeh. 15:57 Enggak ada nonverbal, 15:59 enggak ada ekspresi. 16:01 Ekspresi suara juga hilang intonasi. 16:05 Ee enggak ada tatapan, enggak ada jeda 16:09 gitu ya. Jedanya juga ya ee begitulah. 16:14 Paling 16:15 kadang ada spasi ke bawah aja itu sudah 16:17 ada jeda gitu. Sudah lumayan 16:19 kadang-kadang orang lupa gitu ya. 16:21 Iya. 16:21 Bahkan bahasa tubuh enggak ada gitu. 16:25 kalimat ya sudah 16:29 bisa berarti nerima, bisa berarti 16:31 kecewa, bisa berarti marah atau pasrah. 16:34 Tapi ketika disampaikan dengan ekspresi 16:37 suara ya sudah gitu ya itu lain lagi 16:41 atau 16:42 ya sudah gitu. [tertawa] 16:45 ee teknologi digital itu mempercepat 16:48 tetapi makna menjadi rawan salah tafsir. 16:55 Iwan dan Akhwat. Ee kenapa kita lebih 16:58 berani menyakiti orang di 17:01 dunia digital? 17:05 Saat ketemu kita bisa sopan di media 17:08 sosial komentarnya bisa menghantam, 17:11 tajam 17:12 ee enggak peduli gitu ya. Banyak kasus 17:15 kayak gitu. 17:15 Banyak kasus seperti itu. Malah diam 17:18 dios. 17:19 Dios. Iya. 17:21 Tega banget ya ngomongnya ya gitu. 17:24 Ee karena mungkin di balik layar 17:29 kita tidak pernah melihat atau kita 17:32 enggak perlu melihat manusia yang sedang 17:34 menerima pesan kita. 17:35 Heeh. 17:36 Kita melihat akun, kita melihat profil 17:39 seseorang atau nama pengguna itu saja. 17:43 Padahal di balik akun itu tuh ada 17:45 orangnya loh gitu. 17:49 Orang yang punya perasaan. 17:52 Maka ee salah satu tantangan komunikasi 17:56 digital 17:57 adalah mengembalikan 18:00 kehadiran manusia dalam komunikasi yang 18:04 dimediasi oleh teknologi. 18:06 Iya. 18:09 Sebelum menekan sen, 18:13 kita perlu ngomong, 18:16 "Kalau orang ini duduk di depan saya 18:18 nih, dia nerima pesan ini nih, gimana 18:21 nih dia perasaannya gitu." Jadi kita 18:24 memahami manusia. 18:27 Kalau jawabannya tidak, 18:30 mungkin kita perlu edit lagi tuh 18:33 tulisannya. Makanya kalau nulis tuh 18:36 perlu di check and receck, read and 18:39 reread gitu. 18:40 Iya. 18:44 Hal yang tidak di bisa didelegasikan 18:46 sepenuhnya kepada teknologi adalah 18:48 kepedulian. 18:53 Saya memahami perasaan kamu. 18:58 Tapi manusia yang sungguh memahami 19:01 perasaan orang lain harus hadir, 19:05 ngedengerin, peduli. 19:07 Di tengah makin 19:09 canggihnya 19:11 digital, apakah manusia 19:14 masih mampu 19:16 berkomunikasi secara manusiawi dengan 19:18 manusia lainnya? Ini pertanyaan 19:20 reflektif yang perlu kita lihat kembali. 19:23 Harusnya komunikasi bikin orang merasa 19:26 saya didengerin, saya dihargai, saya 19:30 dipahami, saya enggak sendirian, saya 19:33 mampu menghadapi persoalan ini. 19:35 Perasaan-perasaan itu perlu kita bangun. 19:40 Dan ini shifted karena 19:43 teknologi. 19:43 Betul. 19:45 Teknologi akan terus berkembang. 19:49 eh akan semakin pintar artificial 19:53 intelligence, media sosial atau media 19:56 komunikasi makin 19:58 makin cepat, komunikasi makin mudah, 20:03 tapi ada satu hal yang enggak boleh kita 20:05 kehilangan. kemampuan untuk menjadi 20:08 manusia bagi manusia lain. 20:11 Dan sebab komunikasi atau manusia itu 20:14 tidak ingin, tidak hanya butuh 20:19 informasi, mereka butuh dimengerti, 20:22 dipahami, 20:24 dijadikan manusia. 20:26 Tidak hanya butuh pesan, mereka butuh 20:30 kehadiran orang. 20:32 tidak hanya butuh koneksi, 20:35 tapi butuh hubungan yang ada maknanya, 20:37 gitu. 20:40 Teknologi 20:41 boleh makin pintar, tapi komunikasi juga 20:44 jangan kehilangan 20:46 kemanusiaannya. 20:50 Nah, Iwan dan akhwat, kita akan membahas 20:53 tips bicara dari hati ke hati. Begitu, 20:56 Mas. 20:58 Pertama adalah menciptakan 21:01 rasa aman agar orang berani mengatakan 21:05 sebenarnya. 21:09 Mulai dari niat, 21:11 bukan dari masalah. Jangan mulai 21:14 percakapan dengan 21:17 saya harus bikin dia ngerti. 21:20 Mulailah saya ingin memahami kamu. 21:27 Ini beda banget nih 21:30 ee 21:31 plot twist gitu ya. [tertawa] 21:34 Kita jadi ngertiin orang. Saya 21:38 kayaknya attach deh kayaknya kalau bisa 21:41 saya ingin ngertiin kamu tuh 21:44 nyentuh banget tuh. 21:45 Nyentuh banget tuh gitu. 21:46 Heeh. 21:47 Klik langsung gitu. 21:51 kamu kok sekarang berubah sih gitu. Itu 21:54 enggak enak kedengarannya. Aku ngerasa 21:58 akhir-akhir ini kita agak jauh ya. 22:01 Aku ingin tahu 22:04 sebenarnya kamu sedang ngerasain apa ya? 22:07 Itu jadinya lebih 22:10 oke kayaknya dia mau ngebuka deh gitu 22:12 perasaan itu gitu. 22:16 ee bicara tentang perasaan bukan 22:19 penghakiman. 22:22 Pakai pola sederhana. 22:25 Saya ngerasa 22:28 ini ini waktu kamu gini-gini dan saya 22:32 berharap kamu gini gini gini gitu. 22:38 Aku merasa kurang dekat akhir-akhir ini 22:42 ketika kita jarang ngobrol. Aku 22:45 sebenarnya kangen 22:48 kita punya waktu dan ngobrol berdua. 22:55 Beda sama aku ngerasa kamu kurang 22:58 perhatian lagi deh. 23:02 Ini perbedaan yang signifikan gitu ya. 23:08 Yang pertama ngebuka dialog. Yang kedua 23:11 siap-siap bikin orang bela diri gitu. 23:13 seolah-olah di dihakimi gitu yang tadi 23:19 kamu enggak perhatian lagi deh gitu ya. 23:21 Padahal sebenarnya kita mau ngomong 23:24 aku kangen deh sama kamu deh sebenarnya. 23:26 Gitu. 23:27 Tapi cara ngomong itu 23:30 emang harus kita 23:33 update, upgrade juga [tertawa] 23:36 harus dipilih-pilih. Jadi yang pertama 23:39 tadi bikin rasa aman ya. Niatnya juga 23:42 bikin rasa aman. Yang kedua, 23:45 bicara tentang perasaan. Ada rumusnya 23:48 nih, "Saya ngerasa begini waktu kamu 23:51 begini dan saya maunya gini, saya 23:54 berharap begini, gitu." 23:56 Pemilihan kata mungkin ya. 23:58 Pemilihan kata. Heeh. 23:59 Supaya tidak kesannya menghakimi atau 24:01 menjad. 24:01 Betul. Betul. Jadi ngomongin perasaan 24:04 saya ngerasa 24:06 akhir-akhir ini kita jarang ngobrol ya 24:09 gitu. Saya ngerasa agak jauh ya sama 24:11 kamu ya rasanya. Soalnya karena kita 24:14 jarang ngobrol. 24:17 Gimana kalau kita sediain waktu 24:21 ee tiap hari 15 menit yuk 24:24 untuk 24:26 ee ngobrol perasaan masing-masing. 24:29 Senangnya kamu, happy-nya kamu hari ini, 24:31 dan lain sebagainya gitu. 24:35 Terus hal lain adalah 24:38 dengerin sampai beres. 24:41 Jangan disela. 24:43 Dari hati ke hati itu gagal karena kita 24:49 bukan karena kita enggak enggak pandai 24:51 ngomong 24:52 i, 24:52 tapi karena kita terlalu cepat jawab, 24:55 terlalu cepat nyela gitu. He. 24:58 Waktu pasangan, anak dan orang tua 25:01 ngomong gitu ya. 25:03 Ee 25:06 beberapa saat lalu anak saya telepon 25:08 ngobrol H 25:10 ee bilang begini, 25:12 "Oke, Bunda, saya mau cerita ya, tapi 25:14 tolong dengerin sampai selesai ya." 25:18 Reflektif banget tuh saya gitu. Oke, 25:20 oke, oke. 25:22 Ee dari awal dia sudah mengingatkan gitu 25:25 ya. 25:26 Oh, iya ya. Saya dengerin. Oh, iya ya. 25:29 Oh, iya gitu ya. Gitu ya. Setelah 25:32 selesai plong banget katanya. 25:36 Ee 25:38 jangan langsung ngasih nasehat. 25:40 [tertawa] 25:41 Ee insting orang tua biar saja begitu 25:45 gitu ya. 25:46 Langsung reaktif gitu. 25:47 Langsung [tertawa] reaktif 25:48 ya. Cepat kalau sehat. 25:50 Iya nih harusnya gini-gini ngono gitu 25:52 ya. Jangan banding-bandingin, 25:56 jangan motong, 25:59 ee jangan buru-buru cari siapa yang 26:01 salah. gitu ya. Ee ini ini insting 26:05 natural manusia begitu ya. Apalagi 26:08 saking sayangnya. 26:10 Tapi coba kan ingin ngomong dari hati ke 26:13 hati kan tadi hati ke hati itu susah 26:15 gitu ya. Gimana ngomong dari hati ke 26:18 hati gitu. 26:20 Jadi 26:22 yang 26:24 kamu rasakan sebenarnya gitu ya. 26:27 Ah, 26:31 kalimat sederhana ini ngasih pesan 26:36 perasaan kamu tuh sampai deh ke aku deh 26:40 dengan suami jangan hanya ngomongin 26:42 tugas, 26:45 omongin dunia batinnya juga gitu. 26:49 Hubungkan suami istri sering berubah 26:51 jadi komunikasi fungsional. Si ini 26:53 tugasnya apa? Si ini tugasnya apa gitu. 26:57 udah makan, besok jemput anak, tagihan 27:00 apakah sudah dibayar. Sesekali tanyakan 27:02 sesuatu yang lebih dalam gitu. Nah, 27:04 air-air ini apa yang paling bikin kamu 27:08 capek? Ya, 27:10 ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan 27:11 tapi belum sempat kamu omongin. 27:16 Apa yang bisa aku lakukan supaya kamu 27:18 merasa lebih didukung? 27:23 Dan jangan lupa untuk berbagi 27:27 tentang diri kita sendiri 27:30 dari hati ke hati 27:32 bukan wawancara. 27:36 Dengan anak 27:38 jangan buru-buru jadi orang tua. Jadilah 27:41 tempat aman. 27:43 Anak sering tidak butuh 27:46 solusi. 27:49 Mereka butuh orang yang mau dengerin 27:52 sekali lagi sampai ada yang 27:54 [tertawa] 27:54 bayar. 27:55 Heeh. Untuk mendengarkan saja 27:58 dengerin aja 27:59 ada ya. 28:00 Mungkin kita enggak tahu gitu. Ee itu 28:03 saking kehidupan tuh transaksional 28:06 seperti itu gitu. 28:07 Iya. He. 28:09 Padahal kita butuh, kita punya 28:11 orang-orang dekat di rumah kita gitu 28:13 yang harusnya tuh ngisi itu gitu. 28:16 Iya. I. 28:16 Heeh. 28:18 Ketika anak ngomong, "Aku benci 28:20 sekolah." 28:23 Jangan langsung 28:26 jangan gitu. Sekolah itu untuk masa 28:28 depan kamu. Nanti kamu begini begak 28:32 [tertawa] 28:33 kali lebar kali tinggi. 28:35 Tapi itu seolah benar gitu ya. 28:37 Tapi anak enggak mau nerima ya. 28:40 [tertawa] 28:41 Iya. Butuh untuk memahami dulu baru tahu 28:44 masalahnya. Heeh. He [berdehem] 28:46 betul. Itu sepertinya benar. 28:49 Ee kamu kelihatan lagi enggak nyaman di 28:52 sekolah ya? Coba deh cerita. 28:56 Hm. 28:56 Apa ada apa 28:59 bikin anak jadi oke oke. Ada ruang aman 29:03 gitu untuk bercerita. Heeh. 29:07 Bahkan ketika anak melakukan kesalahan, 29:10 pisahkan perilaku 29:12 salahnya dengan harga dirinya, gitu. 29:15 Hm. 29:16 yang kamu lakukan emang salah, 29:20 tapi kamu tetap anak Bunda. 29:26 Yuk, kita cari tahu kenapa bisa seperti 29:30 itu. 29:33 Ini sangat penting. Jadi anak merasa 29:37 ee 29:39 bisa terbuka 29:41 ee 29:43 bisa jujur menyatakan apa yang 29:46 dipikirkan gitu. Dengan orang tua kita 29:51 dengerin pengalaman bukan hanya 29:53 berpendapat gitu dengan orang tua kadang 29:56 kita merasa mereka terlalu banyak 30:00 menasehati gitu ya. 30:02 Ee 30:04 tapi di balik nasehat saya sekarang ini 30:07 bahkan menunggu dinasehati oleh orang 30:11 tua [tertawa] saya ingin dinasehati, 30:13 ingin dikasih tahu gini gini gini 30:15 tapi orang tua saya udah jarang jadi ya 30:19 udah dengerin aja gitu ya. Heeh. 30:24 Kadang kita juga butuh seperti itu. 30:26 Iya. ini nasihat 30:27 he saking berusaha untuk ee memahami 30:31 begitu ya padahal memang kadang-kadang 30:33 dibutuhkan 30:36 ee sementara mungkin karena orang tua 30:39 saya sudah sepuh begitu ya sementara 30:41 sama 30:43 ee kita kepada anak-anak sudah langsung 30:45 ngasih tahu gitu, ngasih panduan. 30:49 [tertawa] 30:49 [terkesiap] 30:50 Ee 30:53 di balik nasehat memang 30:58 sering ada kebutuhan untuk merasa masih 31:00 berarti. 31:04 Ee daripada ngomong udah mama jangan 31:08 ikut campur itu masa depan saya sendiri. 31:10 Misalnya kayak begitu ya. 31:12 Aku tahu mama sebenarnya khawatir dan 31:15 ingin yang terbaik untuk aku. 31:20 Tapi 31:22 boleh aku ceritakan dulu gimana aku 31:24 ngelihat masalah ini? 31:28 Jadi kita bisa dengerin sudut pandang 31:30 yang dia tuh punya perspektif apa yang 31:32 membuat dia 31:35 mm 31:37 merasa 31:40 ee 31:42 itu terjadi itu kenapa sehingga dia juga 31:44 merasa dihargai sudut pandangnya gitu. 31:49 Begitu kira-kira. 31:51 Baik 31:52 Mas. [berdehem] 31:53 Iya, kita jeda dulu ya mungkin menunggu 31:57 yang ingin bergabung di acara bincang 31:59 komunikasi sore hari ini Iwan Ahwat 32:01 mengenai sulit bicara dari hati ke hati. 32:04 Nanti kita akan kembali lagi setelah 32:06 jeda nas bersama kami Iwan 32:10 Radio Rasil untuk Islam yang satu masih 32:11 bersama kami Iwan Awat di acara bincang 32:14 komunikasi bersama Dr. Laila Monaganim. 32:18 Tema yang disampaikan adalah mengenai 32:19 sulit bicara dari hati ke hati. Jadi 32:21 sudah disampaikan beberapa poin yang 32:24 telah disampaikan Bu Mona untuk mengenai 32:26 ee tips-tips apa nih untuk ee kita 32:29 menghindari sulit berbicara dari 32:31 hatikati ya Bu ya. 32:32 Iya. 32:33 Kalau dari segi gender itu biasanya 32:34 wanita apa pria yang sulit [tertawa] 32:36 hati? Karena ada juga kan wanita yang ee 32:41 menuntut laki-laki untuk ee ngerti 32:43 padahal dia belum menjelaskan. Nah 32:45 gimana [tertawa] 32:46 ada yang gitu 32:48 tanpa ngomong harus ngerti. bukan 32:50 membaca pikiran ya. 32:51 Iya. Semua orang jadi apa? Ahli membaca 32:54 pikiran begitu [tertawa] 32:56 harapannya itu karena enggak enggak 32:58 ngomong dari hati ke hati ya kan? 33:00 [tertawa] 33:01 Iya. Mm. Perempuan itu ee memang banyak 33:06 ngomong ya ee cenderung gitu ya. Tapi 33:09 ee 33:10 ke kepandaian 33:13 ee memanfaatkan supaya punya 33:16 keterampilan ngomong yang dari hati ke 33:19 hati itu 33:21 perlu juga gitu. 33:22 Cari suasana, cari waktu ya kan? 33:26 Minta waktu supaya sama-sama 33:29 menyediakannya kan. itu perlu dilakukan. 33:33 Ee makanya kayak tadi tuh aku saya 33:36 merasa 33:39 ee 33:41 itu tadi ya saya merasa mm agak ada 33:46 jarak deh atau merasa kayaknya ada 33:50 Heeh. Ada yang kurang nyaman gitu 33:53 karena kita jarang ngobrol misalnya 33:55 gitu. 33:57 Gimana kalau kita cari waktu yuk setiap 34:00 hari jam ee 15 menit aja buat ngomongin 34:03 ini misalnya gitu ya kan. Jadi ee 34:09 ada saya merasa apa 34:13 karena apa sehingga kita maunya apa 34:16 gitu. 34:16 He 34:17 itu sederhanalah rumusnya gitu ya. 34:21 Bisa kita lakukan seperti itu gitu. 34:23 Iya. Nah, kalau cowok memang biasanya 34:27 yang diomongin kalau cewek kan 34:29 ngomonginnya hati ke hati gitu ya, 34:30 cenderung hati ke hati. 34:33 Ee 34:35 tapi cowok 34:37 cenderungnya ngomonginnya masalah 34:39 praktis gitu ya. Heeh. Nah, 34:43 ngomong dari hati ke hatinya itu 34:47 jangan ngomongin ee gosip aja atau 34:51 ngomongin 34:52 ee yang ee feeling perasaan dan lain 34:55 sebagainya yang enggak produktif gitu. 34:58 Tapi gimana ngomong dari hati ke hati 35:00 yang produktif gitu. Itu yang perlu 35:02 dilakukan. Tepat sama orang yang tepat 35:04 gitu. 35:05 Tepat 35:05 kadang-kadang kan sama pasangan 35:07 kadang-kadang enggak enak ya ngomongnya 35:08 ya gitu. He 35:10 itu kan 35:12 ngomong hal yang sensitif misalnya 35:13 enggak enak ya ngomongnya ya. 35:14 Heeh. 35:16 Karena ada terjadi di keluarga gitu. 35:18 Heeh. 35:19 Atau ngomong sama orang tua, ngomong 35:22 sama anak, ngomong sama ya itu tadi gitu 35:24 ya lingkungan-lingkungan atau 35:27 orang-orang yang ada di lingkungan kita 35:29 dalam konteks personal gitu. 35:31 Iya. Iya. 35:32 Heeh. 35:32 Kadang terhalang oleh perasaan tidak 35:34 enakan itu ya. tidak enak gitu ya. 35:36 Atau ee punya pengalaman 35:39 tidak [berdehem] dipahami. 35:40 Hm. Jadi malas ah ngomong lagi. G 35:42 jadi malas ah [tertawa] ngomong lagi. 35:44 Baik melanjutkan apa ada yang masuk nih? 35:48 Ada yang masuk pertanyaan yang ee datang 35:50 di WhatsApp rahasia dari Ibu Pani nih Bu 35:52 Mona. Asalamualaikum warahmatullahi 35:53 wabarakatuh. 35:54 Waalaikumsalam 35:55 Mbak Mona. Izin bertanya. Saya tipe 35:57 orang yang terbuka dan banyak teman. 35:59 Iya. 36:00 Dan suka bergaul tetapi saya tidak bisa 36:02 terbuka kepada orang tua atau keluarga. 36:04 Iya. 36:05 Saya tidak mau terbuka untuk masalah 36:06 yang tidak enak, tetapi untuk keadaan 36:08 yang saya terbuka. Karena prinsip saya 36:11 ketika kita terbuka masalah yang tidak 36:13 enak itu hanya membuat mereka bersedih. 36:16 Tetapi kalau kita memberi kabar yang 36:18 indah membuat mereka bahagia. Salahkah 36:20 sifat saya seperti ini, Ibu Mona? 36:23 Demikian. 36:23 Iya. Ee menurut saya ee kita bisa 36:29 menakar dengan kondisi kita sendiri gitu 36:31 ya. Apakah misalnya gini 36:34 ee ee 36:37 ibu saya sudah cukup sepuh begitu ya, 36:40 jadi saya enggak akan banyak meng 36:42 ngomongin sesuatu yang nanti bikin 36:45 beliau berpikir punya pikiran, punya ini 36:47 gitu. 36:48 He. Kepikiran gitu ya. 36:49 Heeh. 36:50 Tapi ketika emang perlu disampaikan ee 36:54 menyampaikan sesuatu 36:56 ee yang dari hati ke hati, "Ma, aku 37:00 inginnya Mama kayak gini gini gini ke 37:02 aku gitu ya." 37:04 Ya, enggak apa-apa gitu. Ee atau 37:06 misalnya ee situasi ee 37:12 situasi yang sensitif misalnya 37:14 i 37:15 mungkin kayak gimana misalnya contohnya. 37:17 Iya. Misalkan kita tuh suka membantu 37:20 orang tua berbagi rezeki begitu Bu. 37:22 Misalkan ada 37:23 kalau misal tiba-tiba kita enggak ngasih 37:25 karena sesuatu hal 37:26 kita dan kita enggak ngumpulin ke orang 37:28 tua jadi salah paham nantinya. Nah, 37:30 seperti itu begini. 37:30 Nah, iya kan situasi itu kan bisa saja 37:32 terjadi. 37:33 Kalau situasi itu ee ada kan ada yang 37:37 perlu kita omongin ada yang enggak perlu 37:38 kita omongin gitu. He. 37:40 Ketika itu kita sedang dalam ee situasi 37:43 yang terbatas gitu 37:46 dan kita ee perlu menurut saya perlu 37:49 diomongin karena kalau enggak diomongin 37:51 nanti bisa jadi ada pikiran-pikiran apa 37:54 mungkin 37:54 prangka-prasangka 37:55 prasangka-prasangka. Oh, kali sama 37:57 pasangannya enggak boleh misalnya 37:59 begitu. [tertawa] 38:00 Iya kan? Heeh. Atau oh kali ada apalah 38:04 whatever mungkin ada ini itu gitu ya. Ee 38:07 nah makanya kita bisa sampaikan, 38:10 "Ma, boleh aku sampaiin ya, bahwa saat 38:14 ini tuh saya sedang ada 38:18 beberapa Heeh. 38:20 beberapa kebutuhan yang agak urgen. 38:25 Jadi, mohon maaf ya, gitu. 38:28 Sebaik mungkin kita sampaikan dengan 38:33 ngomong dari hati ke hati gitu." 38:34 Iya. 38:34 Heeh. 38:35 Ee mohon maaf ya, Ma. Misalnya kita 38:38 sampaikan sebaik mungkin yang membuat ee 38:42 orang tua jadi 38:44 ee tidak Heeh. tidak berpikir yang 38:48 sesuatu yang kita bayangkan itu akan 38:50 terjadi. Jadi sebenarnya ee pasangan aku 38:55 atau misalnya 38:56 istri atau suami itu sangat mendukung 38:59 dan ingin banget untuk bisa bantuin. 39:01 Tapi saat ini 39:04 lagi ada biaya yang urgen jadi 39:07 insyaallah 39:09 sementara mohon [tertawa] maaf ya mak 39:10 gitu misalnya gitu 39:12 ya kan kita bisa sampaikan itu ada yang 39:15 perlu kita omongin 39:18 ee dari hati ke hati gitu. 39:20 Hm. 39:21 Heeh. 39:22 ada yang kita secara ee bijak kita tahu 39:29 itu sensitif nih kalau diomongin nih 39:31 gitu ee bikin masalah, bikin ribetin 39:35 gitu. 39:35 I 39:36 udahlah enggak usah itu mah masalah 39:38 teknis kita lah gitu bisa dikerjain 39:40 sendiri gitu. Heeh. 39:43 Begitu. Jadi ee sebenarnya 39:45 pertimbangannya pertimbangan 39:47 rasional dan emosional serta 39:49 kebijaksanaan kita gitu. 39:52 Tapi jangan sampai kita tahu ini 39:55 penting, 39:56 enggan kita ngomong atau ego 39:59 atau kita tidak mampu memahami orang 40:01 lain. Jadi kita 40:03 ee menghindari gitu atau misalnya mama 40:06 ini atau orang tua kita ee ayah atau ibu 40:10 kita misalnya ee cuek banget gitu ya 40:14 kesannya lagi emosional sama kita. 40:17 Kan kita perlu ngomong ya kan 40:19 kan kita perlu nanya. 40:21 Hm. 40:22 dari hati ke hati gitu. Ada apa sih 40:25 gitu? Kita perlu ee apa menyampaikannya 40:30 dengan tulus gitu. 40:34 Ma, aku sayang 40:36 banget sama Mama. 40:40 Mmm. [mendengus] 40:43 You are everything for me. Heeh. 40:47 Mmm. Aku ngerasa 40:50 air-air ini mama kok banyak yang banyak 40:52 diam-diam aja ya atau ayah tuh banyak 40:55 diam-diam aja ya. Ada apa ya? Boleh aku 40:59 tahu ada masalah apa? Itu kan kita mau 41:02 tahu gitu. 41:04 Heeh. Nah itu ngomong dari hati ke hati 41:06 itu kita buka pintunya dengan niat baik 41:11 dengan cara menyampaikan yang baik. Mau 41:13 dengerin dengan baik begitu. 41:15 Benar. Betul. 41:15 Heeh. 41:16 lebih ke cara menyampaikan gitu. Cara 41:19 membuka komunikasi dengan orang tua kita 41:20 gitu ya, Bu ya. Heeh. 41:22 Iya. Berarti ada yang bilang, "Oh, orang 41:25 itu itu jangan ngomong yang enggak 41:26 enak-gak enak katanya. Enggak baik itu 41:28 tidak sebenarnya." 41:29 Iya. 41:30 Baik gitu ya. Harusnya memang harus 41:31 disampaikan gitu ya. 41:32 Iya. keti kan kita punya ee 41:35 pertimbangan-pertimbangan 41:37 he 41:37 kalau ngomongin masalah ini anak kita 41:41 lagi 41:42 ee riweuh lah gitu ya atau masalah rumah 41:46 bocor begini-beginilah atau masalah ini 41:48 masalah itu lah udahlah 41:51 ee kita beresin sendiri enggak usah 41:52 ngeribetin gitu ya. Heeh. ee 41:56 enggak usah ee apa ada masalah misalnya 42:02 yang kira-kira orang tua sudah sepuh 42:04 terus kita nambahin beban lagi tambahin 42:07 ini itu enggak usahlah gitu. 42:10 kami akhirnya ee me 42:14 mendiskusikan udahlah omongin yang 42:17 kira-kira ee tidak menjadi masalah 42:23 kepada orang tua yang sudah sepuh 42:25 begitu. Tetapi kan ada ini kan ngomong 42:28 hati ke hati. Ada yang perlu kita 42:30 omongin dari hati ke hati. Seperti tadi 42:32 masalah-masalah 42:33 misalnya orang tua ngerasa enggan untuk 42:36 minta tolong sama anak ya kan 42:39 kan kita harus ngomong dari hati ke 42:40 hati. M please 42:43 mama ini penting banget buat aku. 42:46 He. 42:47 Kalau ada apa-apa please ngomong. 42:51 Justru aku merasa sedih kalau mama 42:53 enggak ngomongin 42:55 kesulitan apapun yang mama rasakan. Itu 42:58 kan ngomong hati ke hati gitu. 43:00 Iya. 43:00 Heeh. 43:02 Jadi 43:02 pakai prolog dulu awalnya gitu ya 43:04 seperti itu pemuk langsung jangan 43:05 jebret-jebret. 43:06 Iya betul betul [tertawa] betul betul 43:08 hati ke hati. 43:08 Kadang ada orang yang tip yang suka 43:10 ngomong darder gitu ya. B gimana 43:13 [tertawa] jelak suka pakai perlolo gitu 43:16 ini ya ini gitu ya. 43:19 Iya. 43:20 Makanya kita harus memahami manusia. 43:23 Heeh. 43:24 Memahami ini siapa orangnya seperti apa, 43:28 gimana cara memulainya, 43:30 pakai suasana yang nyaman gitu loh. 43:33 Heeh. 43:35 Coba deh kita belajar ke situ. Ngertiin 43:37 orang. 43:39 Jadi gini, ee saya pernah punya teman 43:44 terus sudah gitu saya coba shift karena 43:47 kadang-kadang kan waktu waktunya tuh 43:48 cepat banget gitu ya, ada kerjaan ini 43:50 itu ini itu. 43:53 Saya coba untuk ngobrol sama dia, 43:55 dengerin dia. Ternyata tuh menarik gitu. 43:59 Iya. 43:59 Heeh. ternyata tuh menarik untuk 44:01 ngertiin dia itu menarik gitu loh. 44:04 Eh, 44:06 dalam beberapa situasi sebelumnya 44:08 misalnya saya punya pekerjaan yang aduh 44:11 cepat deh harus cepat tek tek gitu ya. 44:13 Jadi habis ini ngerjain ini, habis ini 44:15 ngerjain ini. 44:16 Terus kemudian ketika saya coba shifted, 44:18 bentar bentar ngertiin dia deh sebagai 44:21 manusia deh. He 44:23 indah loh ternyata gitu. 44:27 ee 44:29 dengan segala kelebihan kekurangannya 44:31 itu jauh lebih nyaman gitu kita tuh 44:34 ngertiin seseorang seperti itu gitu. 44:39 Coba deh [tertawa] 44:41 heeh 44:42 dipraktikkan coba deh 44:43 dipraktikkan deh. Coba deh ngertiin anak 44:45 misalnya dengerin. Heeh. 44:48 Kadang-kadang kan ee insting orang tua 44:49 tuh 44:50 nasehatin aja gitu ya. 44:51 Heeh. Langsung [tertawa] ee kasih 44:53 nasehat gitu. 44:55 Peranak juga perlu didengar gitu. 44:58 Kita berperan sebagai seolah-olah 44:59 sebagai teman gitu ya mungkin ya. Susah. 45:01 Heh. Heeh. 45:04 Oke. Ada lagikah atau kita lanjut dulu? 45:07 Ee ada lagi Bu yang masuk. Ini dari 45:09 Bapak Ahmad Fauzi di Cibubur Bekasi. 45:11 Asalamualaikum warahmatullahi 45:12 wabarakatuh. 45:13 Waalaikumsalam. 45:14 Bu Mona. Mengapa terkadang kita lebih 45:16 mudah berbicara dengan orang yang jauh 45:19 daripada dengan orang yang paling dekat 45:21 dengan kita [berdehem] 45:22 seperti pasangan atau anak begitu? 45:24 Apakah ini karena ada luka yang belum 45:26 terselesaikan dalam hati atau bagaimana? 45:29 Itu tadi si lukanya harus dibahask. 45:31 [tertawa] 45:32 Makanya dari hati ke hati harus dimulai 45:35 dari siapa? Dari saya. 45:38 Bukan dari dia. Harusnya kayak gini gini 45:40 gini ke saya gitu. Tapi saya yang harus 45:44 membuka, memulai gitu dan ngertiin sudut 45:49 pandangnya gitu. 45:53 dengerin kenapa ya? Oh, gitu toh cara 45:57 pandang dia toh gitu. 45:59 Coba dengerin deh. Heeh. Aku ngerasa 46:06 ee 46:07 kita jarang 46:11 kita ada 46:13 apa ya, ada jarak gitu dalam 46:18 ee 46:19 perasaan perasaan 46:22 kita tuh ada jarak gitu sama istri 46:25 misalnya gitu. Enggak kayak dulu nih 46:28 waktu pertama kita pacaran. 46:31 Ee aku ingin kita tuh 46:35 makin 46:37 bisa sharing apa aja secara terbuka 46:42 dan 46:44 ee 46:46 enggak ada sesuatu yang bikin enggak 46:48 nyaman di antara kita gitu. 46:51 Maaf ya selama ini kalau aku membuat 46:54 kamu 46:56 merasa 46:57 enggak nyaman. 47:00 Gimana kalau kita luangin waktu untuk 47:03 bisa ngebuka hati kita masing-masing? 47:07 Apa yang kurang dari aku, 47:09 apa yang 47:12 ee perlu aku perbaiki dan juga apa yang 47:15 aku rasain terhadap kamu gitu. 47:18 Jadi saling-saling ngebuka. 47:21 Iya. 47:23 Aku ngerasa enggak nyaman deh kalau kamu 47:26 pagi-pagi 47:30 ee 47:32 minta ee 47:37 aku udah siapin 47:40 ee makanan 47:43 ee tapi enggak ngasih tahu dari malam 47:46 misalnya begitu. Heeh. 47:50 Jadi kan kalang kabut gitu. Kalau 47:54 pagi-pagi aku mau makan ini, ini, ini. 47:56 Heu 47:56 dadakan gitu ya. Susah 47:59 itu kan ngeganggu tuh. Itu situasi yang 48:02 Oh, iya ya. 48:04 Mak sense ya gitu ya kan? 48:06 Iya. Iya. 48:08 Oh iya ya. Aku aku ngerti. 48:12 Oke, kalau gitu 48:15 tiap malam 48:18 ee aku kasih tahu ya atau ee saling 48:21 ngingetin deh gitu. Besok akan perlu apa 48:25 gitu 48:26 atau ada apa atau enggak ada apa gitu. 48:29 Kita bahas ya supaya jangan pagi-pagi 48:31 jadi ngeganggu gitu. He. 48:35 Atau misalnya bayar tagihan. Aku enggak 48:38 nyaman deh kalau 48:40 ee bayar e ini 48:45 beli bensinnya 48:47 ee 48:49 udah tipis gitu ya. Udah. 48:51 Heeh. Mau kosong banget. 48:53 Udah mau kosong banget gitu. 48:54 Baru diisi. 48:55 Aku enggak nyaman 48:57 makanya jadinya marah gitu. Nah, 48:59 itu kan 49:01 ada isu ada. Jadi bisa jadi tuh 49:04 masalahnya teknis atau masalah perasaan. 49:06 aku enggak ngerasa kamu dengerin aku 49:09 gitu dengan itu ya kan bisa macam-macam 49:11 tuh keluarnya 49:12 emang enggak mudah ngomong dari hati ke 49:14 hati apalagi sama orang keluarga sendiri 49:17 karena kita punya 49:19 makin dekat justru makin sulit gitu 49:21 ngomong gitu ya 49:23 ini paradoks 49:25 sama orang asing kita bisa sangat sopan, 49:29 bisa sangat nyaman ngomongnya 49:32 tapi sama pasang sama anak sama orang 49:35 tua Justru kita mudah nyela, kita mudah 49:39 marah, kita mudah berasumsi, 49:42 kita mudah [berdehem] bilang, "Kamu 49:44 emang begitu sih," gitu ya. Jadi, 49:47 jadi dengan omongan-omongan ini yang 49:49 terus tertahan 49:51 ee terus kita ngingat lagi belum 49:54 selesai, kemarin marah sebel belum 49:57 selesai gitu ya. Jadi numpuk-nubuk terus 50:00 makanya harus diurai gitu. Nah, 50:02 diurainya itu ngomong dari hati ke hati 50:04 gitu. 50:05 Iya. 50:06 untuk memahami manusia, memahami orang 50:09 tersebut gitu, orang penting tersebut 50:11 gitu. Konflik ada dalam setiap hubungan 50:14 yang penting. Karena kita punya hubungan 50:16 yang penting sama orang itu. Karena kita 50:19 adalah manusia yang punya perbedaan 50:22 keunikan masing-masing. 50:25 Laki perempuan, 50:27 wajahnya aja beda, tipenya beda, 50:29 karakternya beda, ee keinginannya beda, 50:33 harapannya beda. Tentu saja berbeda 50:35 begitu. konflik 50:38 tidak ee tidak ada dalam hubungan yang 50:41 enggak penting. Biarin aja, aku enggak 50:43 peduli. I kan 50:45 selalu dah gitu. [tertawa] 50:47 Karena itu orang itu enggak penting 50:49 untuk kita gitu. Tapi kalau orang yang 50:51 penting kan 50:51 pasti konflik gitu ya. 50:53 Pasti konflik pasti gitu. 50:54 Karena dia penting gitu ya. 50:55 Karena dia penting untuk kita gitu. 50:57 Karena kita maunya kamu harusnya kayak 50:59 saya kan gitu ya banyaknya ya [tertawa] 51:02 gitu. 51:03 Betul. 51:04 Ee kenapa orang yang kita cintai justru 51:08 sering jadi orang yang paling mudah kita 51:10 sakiti dengan kata-kata? 51:13 Jadi kita sering mendengar untuk 51:15 menjawab bukan untuk memahami. Itu juga 51:19 ini 51:21 tidak sederhana. 51:22 Saat 51:24 orang anak ngomong, orang tua langsung 51:27 ngasih sehat. Ee 51:28 suami mengeluh, istri langsung ngasih 51:30 solusi. Nih harusnya gini gini gini 51:32 gini. orang tua cerita anak langsung 51:35 ngebantah gitu ya. Ee jadi transaksional 51:40 i 51:41 bukan memahami. 51:43 Jadi dengerin orang itu adalah sebuah 51:46 bentuk dari kasih sayang gitu. Dan ini 51:49 yang perlu kita kembangkan. Bahasa cinta 51:53 adalah mendengarkan gitu ya. H 51:56 ee 51:57 orang yang 51:59 [mendengus] kita sayangi 52:01 belum tentu merasa disayangi. 52:04 Suami menunjukkan cinta. 52:07 Jadi gini ee 52:11 suami itu nunjukin cinta dengan kerja 52:13 keras gitu ya. Dia 52:15 dia enggak pakai omongan, tapi pakai 52:17 perilaku misalnya begitu ya. 52:20 suami butuh perhatian dan butuh ada 52:24 percakapan begitu ya. E anak butuh ada 52:27 kehadiran dari orang tua gitu ya. Orang 52:30 tua juga butuh penghargaan. 52:32 Nah itu tuh kalau bisa dikasihin. Nah 52:36 yang yang ngasihin itu siapa? Kita yang 52:39 memulai. Karena 52:41 Anda tidak dapat mengubah perilaku orang 52:43 lain. Anda hanya dapat mengubah reaksi 52:45 Anda atas perilaku tersebut. Jadi yang 52:47 berubah adalah saya gitu. saya mulai 52:49 gitu, jangan sayang nagih gitu. Karena 52:52 kalau saya yang nagih belum tentu orang 52:54 yang kita tagih itu mau ngasih gitu. 52:56 [tertawa] 52:58 Berarti di diri kita sendiri aja ya. 52:59 Heeh. 53:00 Mulainya dari saya gitu, saya titik 53:02 gitu. Karena 53:03 harusnya kamu gini, harusnya kamu gitu, 53:06 nanti enggak jadi-jadi, harusnya saya 53:08 yang memulai untuk percakapan hati ke 53:10 hati sehingga dia mau hati ke hati gitu. 53:12 Heeh. Ngikutin akhirnya Allah ngikutin. 53:15 Iya. Jadi dia akhirnya berperilaku 53:17 seperti yang kita mau. He. 53:19 Tapi kita yang mulai dulu, gitu. Jadi 53:22 masalahnya bukan kurang cinta, 53:26 tapi cinta yang dikomunikasikan dengan 53:28 bahasa yang berbeda. Kadang-kadang 53:30 ekspresi-ekspresinya itu beda gitu. 53:35 Kapan harus bicara, kapan harus diam? 53:40 Ee diam bisa jadi kebijaksanaan, tapi 53:43 diam juga bisa jadi hukuman. Aku 53:46 diam karena aku butuh waktu untuk 53:49 tenang. 53:51 Ini beda dengan aku diam 53:55 supaya kamu merasa bersalah. 53:58 Jadi bukan sekedar talk and don't talk, 54:02 tapi bagaimana dan untuk apa kita diam. 54:06 Aku diam untuk bikin kamu tenang. 54:09 Sampaikan aja itu, gitu. 54:13 Maaf ya kalau jadi salah sangka. Berarti 54:17 kita harus ngomong yuk kita ngomong 54:19 gitu. Ada yang mau sharing? 54:23 Iya. 54:23 Ada 54:24 ada yang ingin curhati seperti Buuna? 54:25 Boleh saya bacakan? Panjang juga nih 54:27 kayaknya. 54:27 Boleh. [tertawa] 54:29 Tid tidak menyatakan nama hamba Allah. 54:31 Asalamualaikum warahmatullahi 54:32 wabarakatuh. Bu Mana 54:33 Waalaikumsalam. [berdehem] 54:35 Beberapa waktu yang lalu saya pernah 54:37 kirim WhatsApp kepada seorang akhwat 54:40 yang tentunya sudah saya kenal 54:41 sebelumnya. 54:42 Heeh. 54:42 Dan yang paling intens obrolan tatap 54:45 muka saya dengan beliau sekitar tiga 54:47 kali dan paling berkesan pertemuan 54:49 terakhir yang kemudian setelah itu saya 54:52 malah selalu membayangkan beliau, ingat 54:55 selalu beliau. He 54:56 pertanyaannya apakah ketika kita ingat 54:58 seseorang lantas orang tersebut juga 55:01 ingat kita? Heeh. 55:02 Dan yang kedua, isi dari WhatsApp saya 55:04 itu kepada beliau adalah ungkapan hati 55:07 akan kerinduan yang sangat kepada 55:09 beliau. Saya tulis dalam bentuk puisi 55:11 seakan-akan saya mengadu kepada Allah. 55:14 Nah, tulisannya panjang. Pertanyaan, 55:16 kira-kira bagaimana perasaan hati beliau 55:18 setelah membaca pesan tersebut? Apakah 55:21 lebai atau bagaimana? Begitu ya. Dari 55:22 efek pesan itu, nomor saya diblokir 55:25 meskipun tidak seketika. Kemudian 55:27 beberapa hari yang lalu tanpa sengaja 55:29 dua kali bertemu 55:32 tanpa sengaja di berpapasan begitu 55:34 beliau seperti buang muka dan marah 55:36 kepada saya. Dari situ saya malah tambah 55:39 rindu kepada beliau ini. Mohon 55:41 tanggapannya mengenai hal ini. Bu 55:42 iya 55:43 apakah salah mengirim pesan atau 55:44 bagaimana katanya. 55:45 Iya. 55:47 Ee 55:49 orang bukan pembaca pikiran gitu ya. 55:52 Jadi kita harus omongin. 55:54 Nah, ee 55:56 seseorang untuk bisa apa ya menyukai ee 56:01 orang lain itu kan ada ada apa ada 56:07 pertimbangan-pertimbangan. 56:09 Menurut pendapat saya ee 56:13 perempuan itu cenderung rasional 56:15 [tertawa] 56:17 pada saat mencari pasangan. 56:20 laki-laki cenderuk emosional. Ee 56:24 meskipun sering dibilang bahwa perempuan 56:26 itu emosional gitu ya, tapi menurut saya 56:30 perempuan itu rasional kalau mau cari 56:32 pasangan. Dia bil dia pikir ini cowoknya 56:35 ini ee oke enggak untuk saya, nyaman 56:38 enggak untuk saya ee bisa ee membuat 56:42 saya merasa terlindungi enggak, membuat 56:44 saya merasa 56:45 ee safe enggak untuk masa depan saya dan 56:48 lain sebagainya. 56:50 Nah, laki-laki ee pada saat dia berpikir 56:54 itu dia benar bisa rasional gitu ya. 56:57 Memang betul ya rasional berpikir tapi 56:59 ee pada saat dia mencintai seseorang 57:02 lebih emosional gitu. 57:04 Jadi ee 57:07 ketika ketika si ee perempuan tersebut 57:13 ee sama-sama suka biasanya 57:15 saya cukup percaya ada energi gitu ya. 57:17 He. 57:18 Jadi bisa jadi telepati rasanya ketika 57:21 Heeh. terhubung ketika ada rasa sayang 57:24 ee sama-sama terhubung. Tapi ketika si 57:28 ee 57:29 seseorang itu ee tidak memiliki perasaan 57:33 yang sama bisa jadi tidak terlalu 57:35 terhubung begitu. Iya kan? 57:37 Ee nah ungkapan yang disampaikan melalui 57:42 puisi itu 57:44 ee bisa saja dipahami gitu ya sebagai 57:48 bentuk dari rasa sayang. Tapi apakah 57:50 perempuan tersebut menyukai atau tidak 57:53 itu mungkin terekspresi dari reaksi dia 57:58 kan. dia seolah-olah ee dari awal tu 58:01 memblokir kemudian 58:03 tidak menerima ee apa 58:06 menghindar gitu ya ketika berpapasan 58:08 begitu. 58:09 Nah, 58:10 berarti sekarang kuncinya ada di tangan 58:14 ee 58:15 apa ee hamba Allah ini gitu ya. Apakah 58:19 akan melanjutkan atau tidak gitu ya? Ya 58:22 tentu saja berdoa terus kepada Allah 58:24 untuk mendapatkan jodoh yang terbaik. 58:27 Tetapi ketika misalnya memang mau 58:29 mendekati dia, ya coba aja lagi dengan 58:32 usaha ee yang berbeda. Karena orang 58:35 bukan pembaca pikiran. Mungkin puisi 58:38 tadi ee bisa jadi dimaknai iya atau 58:41 tidak, tapi juga orang kan akan ngelihat 58:44 usahanya. Apakah dia menunjukkan ee 58:47 upaya yang sungguh-sungguh bahwa dia 58:50 adalah 58:51 eem misalnya ini laki-laki gitu ya, 58:53 laki-laki ya kayaknya ya. 58:54 Laki-laki. 58:55 Laki-laki ya. Misalnya laki-laki ini 58:57 nunjukin upaya yang sungguh-sungguh, dia 58:59 bisa menunjukkan ee apa namanya? Ee 59:04 pendekatan-pendekatan yang nunjukin saya 59:06 serius nih, saya begini nih, saya begitu 59:09 nih. Gitu. Karena kadang-kadang cowok 59:12 yang enggak ngomong itu saya punya punya 59:14 cerita seorang teman 59:17 dia suka sama seseorang sama-sama suka 59:19 kayaknya tapi si cowoknya enggak ngomong 59:21 gitu. He 59:22 yang terjadi adalah akhirnya dia memilih 59:25 pas ee ee yang lainnya karena yang 59:28 lainnya itu yang ngomong gitu. 59:30 Jadi ee karena dia enggak ngomong enggak 59:33 enggak enggak ngomong secara secara 59:36 jelas gitu. 59:37 Ee dia berpikir dengan kedekatan 59:41 tertentu atau upaya-upaya tertentu itu 59:43 adalah bahasa cinta gitu. 59:45 Padahal belum tentu ngerti. 59:46 Padahal belum tentu dimaknai ee secara 59:49 verbal. Jelas. ee ini maksudnya ini 59:51 pernyataan ini karena cewek juga butuh 59:54 kepastian ya kan butuh butuh konfirmasi 59:57 yang ini kan ee apalagi misalnya 1:00:00 keinginannya sampai ke jenjang 1:00:01 perkawinan gitu ya 1:00:03 itu kan arahnya ke sana ya jadi perlu 1:00:05 ketegasan yang 1:00:07 yang spesifik gitu enggak cuman 1:00:10 tanda-tanda aja gitu 1:00:11 tanda-tanda doang kodo [tertawa] aja 1:00:13 terus lu mau ngapain gitu gue gitu kan 1:00:15 gitu tuh ee ini ya teman saya bilang 1:00:18 begitu gitu tu ya udah ketika ketika 1:00:22 akhirnya dia akhirnya membuat pilihan si 1:00:24 cowok itu nyesalnya [tertawa] luar biasa 1:00:27 duluan gitu ya 1:00:29 kemarin kayaknya lu suka juga deh gitu 1:00:32 ya iya karena kalau lu enggak ngomong 1:00:34 gitu gitu 1:00:35 kadang iya memang perlu kejelasan gitu 1:00:37 ya 1:00:37 perlu kejelasan perempuan itu perlu 1:00:38 kejelasan gitu 1:00:40 nah ee jika ternyata perempuan itu ee 1:00:45 apa kejelasannya itu ya upayakan dengan 1:00:48 tunjukin kualitas diri. Iya kan? 1:00:50 Tunjukin kualitas diri. Tunjukin artinya 1:00:53 kualitas dirinya itu juga membuat si 1:00:56 perempuan merasa teryakinkan untuk safe. 1:00:58 Ee karena itu mau mau buat pasangan 1:01:02 hidup ya gitu. [tertawa] 1:01:04 Enggak main-main nih masa depan nih 1:01:06 gitu. Jadi ya harus jelas gitu ya kan. 1:01:10 Setelah itu disampaikan dengan jelas. 1:01:12 Ketika si ceweknya ternyata tidak merasa 1:01:15 tidak, ya. 1:01:17 Ya, ya sudah gitu cari aja yang ee apa 1:01:22 menyamankan gitu ya, yang real ya. 1:01:25 [tertawa] 1:01:25 Siap. Terima kenyataan gitu ya. 1:01:27 Heeh. Ada kok. Insyaallah ada jodohnya. 1:01:30 Insyaallah. Dan maaf nih hamba Allah 1:01:32 mungkin zaman sekarang ee jarang ya ee 1:01:35 wanita yang tersanjung dengan 1:01:37 puisi-puisi ya. Jarang [tertawa] 1:01:39 beda zaman mungkin ya. 1:01:40 Iya. Ee oke puisi terus maksudnya apa 1:01:44 gitu kan? 1:01:45 Puisi doang maksudnya apa gitu. 1:01:48 Iya kan? 1:01:49 Oke. Ee kamu bagaikan bunga yang begini 1:01:52 begono bla bla bla gitu ya. 1:01:54 So what gitu. Iya kan? Terus kalau si 1:01:57 ceweknya enggak enggak tertarik juga ya. 1:02:00 Maksudnya begini menurut saya lebih 1:02:02 ketika misalnya tujuannya adalah untuk 1:02:05 menjadikan dia pasangan, please 1:02:07 tunjukkan dengan kualitas diri. 1:02:09 Betul. ee yang ee meyakinkan untuk jadi 1:02:13 pasangan ya kan pasangan hidup gitu ya 1:02:16 kan 1:02:17 ee dengan dengan apa ya rekam jejak dan 1:02:22 lain sebagainya gitu. Itu yang 1:02:23 dibutuhkan untuk perempuan gitu. 1:02:26 Tapi kalau ee ya kitanya 1:02:31 enggak jelas ngomongnya juga bias gitu 1:02:33 ya. 1:02:34 Heeh. puisi dan lain sebagainya. 1:02:37 Oke. Tapi apa nih maksudnya nih? Gitu. 1:02:41 Menurut saya sih lebih baik dengan ee 1:02:45 apa ya menjalin hubungan dengan 1:02:48 menunjukkan 1:02:50 ee saling mengenal siapa saya, siapa dia 1:02:53 gitu ya. 1:02:54 Lalu setelah itu 1:02:57 baru ee posisi bahwa saya ya kan kan 1:03:01 kita harus saling mengenal. Iya. 1:03:03 Ee kita pernah bahas ya sebelumnya deh 1:03:05 gimana sih cara ee memasuki perkawinan. 1:03:09 Komunikasi sebelum memasuki perkawinan 1:03:11 kita pernah bahas sebelumnya gitu 1:03:12 bahwa kita tuh perlu mengenal dulu, 1:03:15 perlu sama-sama tahu visi misi, 1:03:17 sama-sama tahu background 1:03:20 dan lain sebagainya. Setelah kita merasa 1:03:22 teryakinkan ya kan? 1:03:24 Iya. 1:03:25 Both side merasa teryakinkan gitu, go 1:03:27 ahead gitu. Iya kan? Jangan cuman satu 1:03:30 satu pihak karena ee kalau ee ee apa 1:03:35 namanya ee yang perempuan yang laki-laki 1:03:39 merasa teryakinkan oleh yang perempuan, 1:03:40 perempuan tidak merasa teryakinkan 1:03:43 enggak akan jalan. 1:03:43 Enggak akan jalan. 1:03:44 Heeh. 1:03:45 Tapi ketika si cewek, si cowoknya 1:03:47 tertarik dan dia merasa, "Oke, saya 1:03:50 kayaknya siap deh untuk itu." Dia kejar, 1:03:53 kejar dan yakinkan perempuan tersebut 1:03:55 begitu. Heeh. Apalagi buat untuk ee 1:03:58 serius gitu ya. Ngenal keluarga juga. 1:04:00 Serius. Betul. Kenal keluarga. Heeh. 1:04:03 Masing-masing kenal kepribadian. 1:04:06 Bahkan ee ada ee sahabat saya 1:04:10 mengingatkan 1:04:12 pakai tes psikologis [tertawa] 1:04:16 untuk tahu ee apakah ini kepribadiannya 1:04:19 kayak gimana gitu ya kan. 1:04:21 Makanya saya [berdehem] 1:04:23 ee sekarang gitu ya bisa bilang taaruf 1:04:26 itu keren gitu. 1:04:27 Heeh. Keren. Taaruf 1:04:29 taaruf itu keren. Kenapa? Karena taaruf 1:04:32 karena kan gini ya, ada rasional, 1:04:35 ada emosional. 1:04:37 Heeh. 1:04:38 Ee kita ee emosionalnya perlu ya kan 1:04:43 rasanya perlu tetapi rasional juga perlu 1:04:46 gitu. Heeh. 1:04:48 Kemudian ee 1:04:50 ee orang tua sama e pendapat dari 1:04:53 keluarga dan juga dari dirinya sendiri 1:04:56 juga dua-duanya perlu gitu ya. 1:04:58 Dari keluarga itu cenderung akan melihat 1:05:01 data-data yang lebih real gitu ya, 1:05:05 lebih ke rasional. 1:05:07 Rasional. 1:05:07 Heeh. Ee calon-calon tersebut akan lebih 1:05:10 pakai emosional gitu. Jadi ya kita perlu 1:05:14 perlu dua layer itu untuk jadinya ee 1:05:17 kokoh gitu, jadinya ee solid gitu. 1:05:20 He. 1:05:22 Rasional dan emosional atau perlu ya? 1:05:24 Perlu 1:05:24 perlu perlu dua-duanya perlu. Heeh. 1:05:26 Jangan jomplang salah satu. Jangan. 1:05:28 Betul. Betul 1:05:30 juga. Mungkin kalau mau PDKT harus kita 1:05:32 asah kepekaan kita mungkin ya. 1:05:34 Kira-kira nih mau apa enggak nih orang 1:05:36 gitu karena kita suka kepepedan juga 1:05:38 nih. 1:05:39 Betul. [tertawa] Heeh. Heeh. harus peka 1:05:41 juga ya kepekaan gitu. 1:05:43 Kita boleh coba tapi juga ketika 1:05:45 misalnya dia tidak ee terima makanya 1:05:49 jangan langsung straight to the point. 1:05:51 Kita tunjukin dulu 1:05:53 kita ini seperti apa. 1:05:54 Heeh. 1:05:55 Ee dia tuh buat keputusan itu setelah 1:06:00 dia tahu siapa kita gitu ya kan. Jangan 1:06:03 dari awal kita udah aku suka kamu. Nah 1:06:05 dia enggak tahu siapa kita kan 1:06:07 sayang gitu. sementara kita merasa 1:06:10 kayaknya aku bisa deh sama kamu deh gitu 1:06:13 ya kan. He 1:06:14 yakinkan dia yakinkannya melalui 1:06:17 ee 1:06:19 momen-momen yang memungkinkan untuk bisa 1:06:21 mengenal begitu. 1:06:22 Iya. 1:06:23 Ikut organisasi bersama, ikut aktivitas 1:06:26 yang memungkinkan untuk adanya 1:06:28 interaksi, saling mengenal bahwa ini tuh 1:06:31 kualitasnya kayak gini gitu kan. 1:06:34 Betul. Betul. 1:06:34 Heeh. 1:06:35 Perlu proses dulu ya. 1:06:36 Betul. Betul. Dan kadang juga perkawinan 1:06:39 yang tapi enggak semua sih perkawinan 1:06:41 yang awadang dari teman dekat misalnya 1:06:43 gitu ya. Teman dekat kan lebih mengenal 1:06:45 biasanya seperti itu. 1:06:47 Iya. Iya. 1:06:47 Jadi 1:06:48 teman lu yang lama gitu baru. 1:06:49 Heeh. Jadi ee punya pasangan terus kita 1:06:53 bisa bilang bahwa dia itu sahabat aku 1:06:56 itu keren banget. 1:06:57 Hm. 1:06:58 Sahabat itu kan kan gini kenalan teman 1:07:02 sahabat ya kan levelnya. 1:07:04 Kenalan kita kenal doang. I 1:07:06 teman ya. Kita merasa teman gitu ya. 1:07:08 Kamu teman sahabat itu yang kita bisa 1:07:11 ngomong dari hati ke hati gitu. 1:07:14 Heeh. 1:07:15 Paling dekat gitu. Best lah istilah 1:07:16 besti gitu. Heeh. Kalau kalau ee kalau 1:07:21 kita pakai konteks peran saya istri, 1:07:26 kamu suami misalnya gitu ya. 1:07:28 He. 1:07:28 Berarti peran istri bla bla bla, peran 1:07:31 suami bla bla bla itu enggak nyaman. 1:07:33 Iya. Gimana kalau betul saya istri dan 1:07:36 kamu suami gitu, tapi kita bisa ngomong 1:07:39 dari hati ke hati tentang permasalahan 1:07:42 itu tadi ngomong dari hati ke hati itu 1:07:44 tidak sederhana gitu. Harus kita 1:07:46 upayakan gitu. 1:07:48 Betul. 1:07:48 Heeh. 1:07:49 Masyaallah. 1:07:50 Ada lagi ya. Ini 1:07:51 baik mungkin ditambahkan sebelum kita 1:07:53 dibasikan waktu. 1:07:54 Baik. Ee 1:07:58 Iwan dan akhwat yang dirahmati Allah. 1:08:00 Jadi 1:08:03 dari hati ke hati 1:08:05 terjadi ketika seseorang merasa 1:08:10 saya boleh menjadi diri sendiri di 1:08:12 hadapan kamu. 1:08:15 Saya boleh jadi diri sendiri di hadapan 1:08:17 kamu. Saya 1:08:19 feel free to express anything gitu. 1:08:22 [tertawa] 1:08:24 Karena itu ada empat hal yang harus 1:08:25 dibangun. 1:08:27 Ada rasa aman. 1:08:30 didengar, 1:08:32 dipahami, 1:08:34 baru kemudian disampaikan 1:08:37 apa masalahnya, 1:08:42 apa solusinya gitu. Jadi aman didengar, 1:08:49 dipahami baru disampaikan. 1:08:51 Dipahai. 1:08:51 Bukan 1:08:53 ada masalah lalu kasih nasehat lalu 1:08:57 dikoreksi. 1:08:59 Lalu solusinya seperti apa? Ini langsung 1:09:02 bikin batasan yang tegas gitu ya. Karena 1:09:06 orang tuh butuh dipahami, didengar, 1:09:09 diperhatikan, dianggap penting, disayang 1:09:11 gitu. Dan mungkin ini yang paling sulit. 1:09:14 Kadang orang yang terdekat kita tidak 1:09:18 butuh jawaban. 1:09:20 H 1:09:21 mereka hanya butuh seseorang yang mau 1:09:25 tinggal sejenak dalam perasaannya. 1:09:30 Kalau dikaitkan dengan komunikasi, ini 1:09:33 inti dari komunikasi yang kita saling 1:09:36 berdialog gitu. Jadi bukan sekedar 1:09:40 ngomong sama orang, tapi bertemu sama 1:09:44 orang lain, berjumpa sama orang lain, 1:09:47 memahami 1:09:49 dia adalah manusia. 1:09:52 Jadi itu semoga bermanfaat Ikwan dan 1:09:55 Akhwat dan terima kasih. [berdehem] 1:09:57 Mohon maaf kalau ada yang kurang 1:09:58 berkenan ya. 1:09:59 Baik, terima kasih Buana atas 1:10:01 pencerahannya, ilmunya di sore hari ini. 1:10:03 Alhamdulillah. 1:10:03 Dan demikian awat telah kita 1:10:05 bersama-sama simak bincang komunikasi 1:10:07 bersama Dr. Laila Monaganim dengan tema 1:10:11 sulit bicara dari hati ke hati. Semoga 1:10:14 apa yang telah disampaikan banyak 1:10:16 manfaat untuk semuanya dan kita akan 1:10:18 mencoba untuk berbicara dari hati ke 1:10:21 hati ya. Tidak apa namanya kita 1:10:23 upayakan. Jangan menuntut pasangan kita. 1:10:25 Kita sendiri yang mengupayakan. 1:10:26 Insyaallah semua akan baik-baik saja. 1:10:28 Baik, saya Fahri ditemani Ondi dan juga 1:10:32 Fajar pamit. Subhanakallahumma 1:10:33 wabihamdika asaduala ilaha illa anta 1:10:35 astagfiruka waubuik. Wasalamualaikum 1:10:37 warahmatullahi wabarakatuh.