Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:13 2019 3:24 Ahlan wasahlan. 3:31 Bismillahirrahmanirrahim. 3:33 Asalamualaikum warahmatullahi 3:34 wabarakatuh. 3:35 Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad 3:37 wa ala ali sayyidina Muhammad. 3:39 Alhamdulillah kita berjumpa lagi hari 3:41 ini hari Selasa tanggal 8 Jumadil Awal 3:45 1448 Hijriah atau tanggal 19 Oktober 3:49 2026. Kita jumpa lagi dalam acara Ahlan 3:52 wasahlam. Ahlan wasahlan. Ya, di sini 3:55 kru kita yaitu ada Alfa Virza dan 3:59 Trianto yang sedang PKL. Kemudian Ustaz 4:02 Fahrur Rozi di meja operator yang 4:05 mendukung acara ini. Kita jumpa lagi 4:07 dalam acara Ahlan wasahlan. Ee kita akan 4:10 mengambil tema dampak kebakaran bagi 4:13 perilaku sosial. Kita mengundang kembali 4:17 yaitu 4:19 siapa ya? 4:21 Mbak Arustin Ilyas. 4:23 Asalamualaikum, Pak Arstin. 4:25 Waalaikumsalam warahmatullahi 4:26 wabarakatuh. 4:27 Selamat datang kembali di Rasil. 4:29 Senang sekali ketemu sekarang. 4:31 Heeh. 4:32 Lama ya? 4:32 I lama kita ketemu. Anda tahu enggak? Ee 4:36 istri saya tuh sang kucing ya. Kalau 4:38 makan di restoran ada kucing 4:41 dia yang disamperin kakinya. Disamperin 4:43 kaki kayaknya tahun ini. 4:44 Iya. Selalu gitu. 4:45 Iya. Kakinya ini kaki penyayang kucing. 4:48 Nah, begitu juga harus menempel 4:50 ketika Mbak Rusin lagi di Mekah. 4:53 Hawanya mengawasukan nolong orang. 4:56 Anak-anak kolong-kolong jembatan. Waktu 4:58 di Makkah banyak orang kesasar minta 4:59 tolongin ke Mbak Rustin. Ya 5:01 benar benar benar. Udah gitu itu kan 5:04 awalnya orang sudah tahu gitu ya. 5:06 Iya dan yang minta tolong ke saya kan 5:08 orang ibu nenek-nenek lah bukan orang 5:11 tua. 5:11 Nenek-nenek benar dan yang enggak bisa 5:14 bahasa Inggris enggak bisa bahasanya 5:17 Oh. Bukan orang Indonesia yang kesasar 5:18 bukan orang Turki orang mana gitu. Jadi 5:22 saya selalu cari ee yang pakai seragam 5:25 pasti dia tahu gitu. Saya serahkan aja 5:28 ke situ tapi tetap tangan saya tuh 5:30 dipegang gitu. Menarik sih gitu. 5:34 Menarik. Jadi saya mikir waktu itu ee 5:37 saya ee kami ee kelompok kami itu ee 5:41 dipimpin oleh siapa ya? Ee aduh yang 5:46 terkenal sekali Umar Sihab atau Umar 5:48 Sihab 5:49 adiknya Pak Umar Siihab. Oh iya ya 5:51 beliau terus oh Quraisiahab ya benar lah 5:54 waktu itu terus saya dikasih tahu gini 5:56 wah saya cerita kan tuh beliau tuh 5:58 bilang gini ya nanti kalau pulang dari 6:01 sini ibu nanti jadi pekerja sosial lah 6:04 saya sekarang sudah jadi ketua umum 6:07 pekerja sosial masyarakat ya sudah 6:10 memang 6:11 believe or not 6:13 itu semua akan terjadi. 6:14 Oke. Ngomong-ngomong ini kan di 6:18 Indonesia banyak hutan-utan kebakaran 6:19 nih ya. 6:20 Heeh. 6:21 Udah ke mana aja 6:22 sama aku? Sebetulnya di Jakarta aja 6:24 sudah merasakan, Mas. Heeh. Gitu loh. 6:27 Cuman saya punya teman di Banjarmasin. 6:31 Itu pun jarak hanya 10 mudah enggak 6:34 lihat lagi gitu. 6:35 Kayak apa ya? Kayak embun tapi panas, 6:38 Pak. Gitu. 6:40 Jadi benar-benar dia tuh di rumah terus 6:42 gitu. 6:43 Oh, dia ketakutan. Aku ketakutan cuman 6:46 satu. Apa? Takutnya kalau AC-nya mati. 6:48 Iya. Iya. 6:50 Panas banget gitu loh. 6:51 Iya. Anak saya kan di sana di 6:53 Palangkaraya. Di Kalimantan Tengah itu 6:55 Kalimantan Tengah itu. 6:56 Iya. Kalau keluar ya kalau kerja ya udah 6:58 dari rumah aja. 7:00 Saya pernah ke sana sama Kak Seto dulu 7:03 udah dipasang ASI udah semacam-macam 7:05 deh. 7:05 Betul. Betul. Betul. Dan yang sedih itu 7:08 anak-anak kecil yang banyak enggak kuat 7:10 ya gitu loh. 7:12 Ada yang sampai asma dan akhirnya juga 7:14 ya akhirnya enggak tertolong gitu. 7:16 Heeh. 7:17 Ngeri ngeri ngeri gimana ya? Apa sih? 7:20 Saya enggak enggak bisa enggak bisa 7:22 ngomong sih sebenarnya kalau melihat 7:24 keadaannya dan ceritanya. He. 7:27 Hampir semua di sana tuh kondisinya 7:31 gelap. 7:31 Iya. 7:33 Iya. itu doanya supaya jangan sampai 7:35 listrik mati. 7:36 Listrik mati kalau AC mati. 7:39 Betul. Kasihan anak-anak gitu 7:42 repot ya. 7:43 Jadi yang yang aku mikir kenapa ya kok 7:46 yang jadi korban kok malah yang gak 7:48 punya gitu loh. 7:50 Dan mereka tuh kecewa sama 7:52 gubernur-gubernurnya. 7:53 Iya betul. Betul sekali. Itu yang 7:55 namanya penggede-penggedenya tuh 7:57 pada jalan-jalan ke Singapura. 7:58 Jalan-jalan ke Singapura. Aku gak ngerti 8:01 ya nuraninya itu masih ada apa enggak 8:03 sih kalau sudah kayak begitu tuh. Ini 8:05 benar-benar rakyatnya tuh tereak loh di 8:08 situ. 8:09 Aku bilang demo kenapa? Boro-boro demo. 8:12 Napas aja enggak bisa. 8:16 Kalau ee Mbak Ras ada di sana gimana? 8:19 Apa 8:19 mau tak ajak demo? 8:21 Kalau aku ada di sana, Mas, mungkin aku 8:23 ya akan langsung datang ke tempat 8:25 penggede-penggede itu. 8:27 Saya datangin sendiri sendiri deh gitu 8:29 loh. Karena enggak ada jalan lain memang 8:32 harus ee apa dihadapin kayak begitu. 8:36 Hmm. 8:38 Oke, kita sudah ada yang pertanyaan ini. 8:44 Eh, 8:46 ketika kebakaran hutan terjadi, kita 8:48 sering menghitung berapa hektar hutan 8:50 yang terbakar. Tetapi apakah kita juga 8:52 menghitung berapa keluarga yang hilang 8:54 penghasilan, berapa anak yang hilangan 8:56 hak belajar, berapa masyarakat yang 8:59 kehilangan rasa aman? 9:00 Mengapa dampak sosial ini 9:03 belum selalu menjadi perhatian? dari Ibu 9:07 Fatimah di Pesanggrahan ya harusnya 9:10 sudah harus menjadi apa namanya itu ee 9:13 apa ee apa ya kalau aku bilang itu 9:17 nasional harusnya sehingga memang ee 9:21 semuanya fokus ke situ. Banjir nasional 9:24 misalnya kayak gitu ya. Ini harusnya 9:26 sudah dinasionalkan gitu loh. 9:28 Iya. 9:29 Ini kok saya mohon maaf ya aku gak 9:32 ngerti loh Pak Presiden tuh maunya apa 9:34 sih gitu. H 9:35 taruhlah ya bukan enggak enggak mungkin 9:38 beliaulah ya yang akan kerja tapi 9:43 apa yang yang ingin diomongkan tuh apa 9:45 kok saya enggak pernah melihat dia 9:47 dengan serius gitu loh sikapnya itu apa 9:50 kan harus ada 9:51 fokus pertama itu apa dulu misalnya 9:53 kayak begitu 9:55 ini kok enggak gitu loh kok kayaknya 9:57 dianggapnya cuman cuman ya itu ini 9:59 knalpot aja gitu apa apa perlu diajak ke 10:03 sana atau ditinggal tinggal di situ 2 10:05 minggu kayak gitu ya. 10:06 Jadi kadang-kadang 10:08 menyakitkan gitu loh. Apalagi sekarang 10:11 sudah ada apa namanya tuh medsos 10:14 televisi kan orang bisa ngelihat 10:16 ini Bapak Presidennya ngapain aja, 10:18 menterinya ngapain aja kan gitu. 10:20 Nah, sekarang menteri kehutanannya juga 10:22 enggak pernah ngomong yang 10:25 mbok aku kayak orang goblok gitu loh aku 10:28 itu karena saya melihatnya yang paling 10:31 banyak tersiksa itu adalah yang enggak 10:33 mampu. 10:34 Hm. 10:35 Penghuni-penghuni yang ada di 10:36 pinggir-pinggir hutan itu, Mas. Gitu 10:38 loh. Itu rumahnya habis semua gitu loh. 10:41 Belum lagi orang hutan. Kasihan hutang. 10:43 Kasihan satwa itu sudah habis di situ. 10:45 Kasihan. Padahal di situ itulah nyawa 10:48 dari Indonesia sebetulnya salah satu ya 10:51 gitu loh 10:52 situ. 10:54 Dan ini Mas yang kalau menurut saya 10:57 okelah kita kita berhak marah, kita 11:00 berhak sedih, tapi satu hal yang harus 11:04 kita rubah benar pendidikan anak-anak 11:07 gitu. Jadi anak-anak TK 11:11 SD itu udah deh stop nari-nari terlalu 11:14 banyak itu langsung ajarkanlah bagaimana 11:18 menanam yang benar pupuknya itu apa aja 11:21 itu sudah mulai harus diajarkan gitu 11:23 loh. 11:24 Ini suaraku sampai habis. 11:27 Aku tuh sedih kenapa enggak diajarin 11:29 begitu? Langsung di-switch gitu loh 11:31 mestinya. H 11:32 harus diajarkan kepada anak-anak itu 11:34 laki perempuan sama. Bagaimana menghemat 11:38 air itu dibuat satu diskusi gitu loh. 11:40 Kalau air kamu tinggal segini terus 11:42 gimana kamu caranya? 11:45 Supaya anak-anak itu mulai berpikir dan 11:48 tidak hanya teori gitu. 11:51 Nah, perlu juga ditanyakan kamu kalau 11:53 tidur lampunya dihidupin apa dimatiin 11:55 misalnya seperti itu. Itu sudah harus 11:57 mulai dibiasakan, diajarkan sehingga 11:59 menjadi karakter gitu loh. Jadi mendidik 12:04 anak Indonesia untuk ke depan. Masukkan 12:07 ini sebagai karakter, salah satu 12:09 karakter dari anak-anak Indonesia. 12:11 Karena kita itu punya ee berapa? 17.000 12:16 pulau dengan kelautan yang sekian 12:19 banyaknya. 12:21 Itu pun harus tahu anak-anak ini sejak 12:23 dini. Jangan nanti kalau udah gede dia 12:27 bisa baca sendiri. Enggak begitu. 12:30 Harus dilatih. 12:31 Dia harus punya kebanggaan terhadap 12:33 bangsa ini. 12:33 Iya. Nah, kalau dia tidak pernah 12:35 dilatih, dia tidak pernah ee praktik 12:40 dalam simulasi, gimana dia mempunyai 12:43 sense of belonging gitu loh. Kalau cuman 12:45 teori-teori dan saya belum yakin juga 12:49 gurunya ini ngeh apa enggak gitu loh. 12:52 Kan enggak semuanya anak-anak di 12:53 kota-kota besar, Mas. 12:55 Heeh. He. 12:55 Di pelosok kan juga ada guru. 12:57 Orang sering ya kalau misalnya sudah 13:01 satu guru enggak masuk gitu untuk guru 13:04 agama siapa? Diambilnya lah tukang kebun 13:07 karena dianggapnya bisa ngaji gitu. Woh 13:10 itu sering banget 13:12 dan itu udah udah bukan hal yang aneh 13:16 gitu loh. Cuman bangsa kita ini permisif 13:19 orangnya. Udah deh enggak apa-apa 13:22 mudah memaafkan ya. 13:23 Ya gitu. Enggak ada yang mau fight untuk 13:26 ke pemerintah itu. Enggak ada. Jadi 13:28 pemerintah itu memang enggak punya 13:29 oposisi sebetulnya. 13:32 Yang paling sakit itu yang yang enggak 13:34 mampu menengah ke bawah gitu loh. 13:37 Lah kalau yang masih punya duit dia bisa 13:39 aja pergi ke hotel nginap di hotel. 13:42 Ditinggallah rumahnya daripada sumpek di 13:44 situ ya ke Singapura kan gitu 13:46 ya kan. Penggedenya aja gitu 13:48 dengan alasan berobat. 13:50 Iya enggak? Jadi hal-hal yang seperti 13:52 inilah masih yang harus dimasukkan 13:54 sebagai karakter bangsa. Satu peduli. 13:58 Peduli itu aja. Peduli kesatwanya, 14:00 peduli ke lingkungannya dan peduli 14:04 terutama kepada manusia. Ya, gitu loh. 14:06 Dan itu kalau enggak dilatih enggak 14:09 bisa, Mas. gitu loh. Disimulasikanlah 14:12 gitu loh. 14:15 Umpamanya ini sedang kebakaran ya 14:16 bikinlah kertas terus ambil kertas yang 14:19 merah gitu tu di dalamnya dikasih. 14:22 Iya gitu loh. Gempang, ada simulasi. 14:24 Iya. Latihan sembunyi di bawah kolong. 14:26 Apa itu latihan. Latihan. Latihan. 14:29 Enggak cuman satu kali tok kalau ada 14:30 kepala dinasnya datang dipamerin habis 14:33 itu udah lupa lagilah gitu loh. Jadi 14:35 buatlah itu semua simulasi itu menjadi 14:38 karakter bangsa. ke depan yang selama 14:41 ini kita enggak pernah sampai dijadikan 14:43 itu karakter. Padahal kita punya pulau 14:46 yang segitu banyaknya, laut yang begitu 14:48 luasnya. Terus kita enggak ngerti 14:50 apa-apa tentang itu. Kita cuman tahu 14:52 digambar, kita cuman tahu sebagai teori, 14:56 kita cuman tahu didongeng. 15:00 Seperti itu, Mas. Gitu loh. Ini kayak 15:02 ini sekarang di Jakarta. Aku tuh mikir 15:04 gini, kalau di Jakarta memang di sudah 15:07 diajarkan hal-hal seperti itu ya. 15:09 Harusnya yang namanya Ancol tuh penuh 15:11 gantian sekolah itu di situ. 15:13 H 15:15 enggak tuh. 15:17 Karena mahal juga masuk tiketnya tuh. 15:19 Iya. Ada dong aturannya dari apa? Dari 15:22 gubernurnya. Kalau untuk pendidikan 15:25 harus gitu loh ya. Kalau enggak mau ya 15:27 jangan jadi gubernur kan gitu. Enak aja 15:30 ya. Semua 15:32 semua itu harus ada ada aturan dan ada 15:36 caranya. 15:36 H. 15:38 Silakan yang mau respon tentang 15:40 kebakaran hutan kami tunggu 15:41 pagi sudah marah 15:42 0811999720 15:46 dari Ibu Herlina. 15:50 Siapa kelompok masyarakat yang paling 15:51 merasakan dampaknya? Masyarakat adatkah, 15:54 petani, anak-anak lansia, dan masyarakat 15:57 perokotan? Mbak Restin? 16:00 Masyarakat yang menengah ke bawah. 16:02 Hm. 16:04 Karena apa? Karena mereka tidak bisa ke 16:06 mana-mana. He. 16:07 Kalau rumahnya sudah hancur jadi debu, 16:10 ya paling dia akan mungkin ya akan pergi 16:13 ke rumah saudaranya yang enggak terkena 16:16 gitu. 16:16 Tapi berapa lama bisa di situ kan? 16:18 Iya. Tapi berapa lama? Nah, itu jadi 16:22 pasti menengah ke bawah. Apakah dia itu 16:24 kiainya, apakah dia itu gurunya, 16:26 siapapun bisa kena gitu loh. Nah, ini 16:29 yang 16:30 ini yang harus kita masukkan karena 16:32 selama ini enggak ada untuk hal-hal yang 16:34 seperti ini. Masukkan itu dalam karakter 16:38 bangsa. Bagaimana mendidik anak-anak 16:41 kita itu sedini mungkin. 16:43 Hm. 16:44 Untuk mencintai lingkungan, satwa, 16:47 mencintai apa namanya udara ini dan 16:50 terutama mencintai sesama manusia. 16:53 sesama insan Allah lah gitu loh. 16:56 Oke. Dari Bu Vivi 16:59 pendidikan yang harus berubah tuh, Mas. 17:01 He bagaimana ee Mbak Rostin ee kabut 17:05 asap akibat kebakaran hutan mempengaruhi 17:07 aktivitas sehari-hari? Pendidikan anak, 17:10 pekerjaan, dan interaksi sosial? Ya, 17:12 tadi sudah dijawab ya. 17:13 Heeh. 17:14 Sama Mbak Rustin ya. Apakah kebakaran 17:17 hutan dapat memperlebar kesenjangan 17:19 sosial antara masyarakat mampu dan 17:21 masyarakat miskin? Dan mengapa? 17:23 Oh iya, jelas 17:25 pasti itu kesenjangan sosial tuh 17:29 ee begini begini ee orang kalau ee yang 17:32 enggak mampu nih ya Mas ya, semua 17:34 manusia itu kan punya punya karakter 17:37 baik, ada yang enggak baik. Apakah dia 17:40 itu koruptor di kelas tinggi sana kek, 17:42 apakah dia itu seorang gel kan juga 17:45 ketua dharma wanita setempat, 17:47 ibu gubernur loh. Ada ibunya mereka itu 17:49 yang melarat-melarat ini kan bisa nanti 17:52 si ibu ngusulin, eh ini ada restoran apa 17:54 ini, ayo kumpulin ini buat makan 17:56 mereka-mereka. Kan bisa kayak begitu 17:59 ya. Kalau suami sakit ya tahulah suami 18:01 sakit, tapi kan gubernur gitu loh. 18:03 Heeh. Mudah-mudahan deh ini menjadi ee 18:06 contoh. Karena Allah itu kalau ngasih 18:08 contoh ya enggak selalu yang bagus gitu 18:10 loh. 18:12 Ada juga kalau enggak ada yang kayak 18:13 begini kita enggak bisa bilang kan. Nah, 18:16 dianggapnya semua petinggi itu baik gitu 18:18 loh. Ternyata enggak juga. 18:21 Hmm. Oke. 18:24 Oke. Dari Ibu Lulu. Ketika hutan 18:27 terbakar, siapa yang sesungguhnya paling 18:29 menderita dan siapa yang paling 18:30 diuntungkan? Ada yang diuntungkan tuh. 18:33 Oh, ya ada. 18:34 Siapa 18:35 ya? Memang kan ini memang mau di 18:36 ditebang-tebang semua kan. 18:38 Ada berapa PT tuh yang kena itu? 18:41 PT-PT-nya PT-PT Indonesia. 18:44 H 18:44 perusahaan gede-gede gitu tapi mereka 18:46 tinggalnya di Singapura. 18:48 Saya dari kapan itu udah Suudon kayak 18:51 gitu tapi aku mikir kan belum enggak ada 18:54 buktinya. Itu kan cuman pemikiran aku 18:56 tok. Eh enggak tahunya kemarin di TV ada 18:58 di majalah Tembok ada. Oh emang bener 19:00 tuh maling tuh. Udah 19:02 gitu. 19:05 Jadi pura-puranya perusahaan Singapura 19:07 gitu ya? Enggak, dia tinggalnya di 19:09 Singapura gitu loh. Kantornya juga di 19:11 Singapura tapi punya orang Indonesia 19:13 juga. 19:13 Iya. 19:14 Heeh. 19:16 Kurang ajar enggak sih kayak gitu tuh? 19:19 Aduh, aku kenapa jadi marah banget ya? 19:22 Apa marahnya harus marah kok. Harus 19:25 marah. Ini ada yang nanya nomor 19:26 teleponnya Mbak Rustin Ilyas. 19:29 Silakan dicatat ya. 0812 19:33 88 8-nya 19:37 4 kali kemudian 11 45 0812 19:43 88 8 19:46 1145 19:48 Mbak Rustin Ilias 19:51 eh 19:57 Mbak Rustin cerita yang seru-seru aja 20:00 deh. Ya, mengenai anak-anak di jalanan 20:02 di Jakarta. 20:04 Gimana kabarnya sekarang? Katanya 20:06 ada perkembangan apa? 20:08 Kalau anak-anak 20:09 dengan harga naik ada pengaruhnya 20:10 enggak, Mbak Rustin? 20:12 Hah? Pengaruh apa ini? 20:14 Dengan harga-harga pada naik ada 20:16 pengaruh enggak kepada mereka? 20:18 Ya itu Mas apa, Mbak? 20:20 Yang nanya ada Mbak Lestari. 20:22 Oh, iya Mbak Lestari. Di mana-mana kalau 20:25 harga naik itu pasti korbannya 20:28 senegara ini korban. Tapi tentunya kalau 20:31 yang menengah ke atas ya enggaklah gitu. 20:34 Ee kalau anak-anak yang di Jakarta ya 20:37 alhamdulillah ee sekarang ini sudah 20:39 banyak berkurang ya anak-anak jalanan 20:41 itu. Tapi ini tapi 20:46 yang ada anak-anak ini cerdiknya nambah 20:51 gitu loh. Ee kualitasnya nambah. Nambah 20:55 enggak bagus ya maksud saya gitu tapi 20:57 kuantitasnya berkurang. He, 21:00 gitu. Nah, ini yang harus kita dekatin 21:02 gitu. Enggak bisa kita cuman ee 21:05 teori-teori aja. Jadi kalau di di apa 21:10 ini ya? Ini contoh lagi ya. Saya ulang 21:12 lagi. Waktu ee di daerah Kuningan itu 21:15 ada anak kecil. Ini satu cerita bukan 21:17 bukan karena dia jahat atau enggak. Ini 21:19 satu potret. Jadi ada anak apa saya 21:23 lewat di situ 21:24 ngelapin mobil. 21:25 Ngelapin mobil sambil lompat-lompat gitu 21:27 kan. Karena enggak enggak enggak apa 21:30 enggak nyampai gitu. Aku lihat, "Ya 21:32 Allah, ini anak 21:33 ini kalau ada mobil udah lampu hijau 21:37 gitu kan bahaya banget. Aku buka kaca, 21:40 saya tanya, "Heh, aku bilang gitu, sini 21:42 nak." Aku bilang gitu terus tak kasih 21:43 permen dia. Ee, kamu sendiri di sini 21:47 enggak, Bu? Sama siapa, Nak? Aku bilang, 21:50 "Sama emak." "Mana, emak?" "Noh?" Kata 21:52 dia nunjuk emaknya duduk di kolong 21:54 jembatan itu di Ngadem gitu kan. 21:57 Oh, terus saya bilang sama sopir saya, 22:00 kebetulan namanya Pak Kiman, Pak Kiman 22:02 muter di depan muter. Ibu mau ke mana? 22:04 Saya mau ketemu sama orang itu. Ngapain 22:06 sih, Bu? Udahlah antar saya ke situ. 22:08 Udah aku ketemu sama emaknya gitu. Jadi 22:10 aku duduk juga di kolong jembatan itu. 22:13 Saya nanya, "Pu, itu putrinya ya?" "Iya, 22:16 Neng." Dia bilang gitu. "Ini apa? Ee 22:18 lumayan dia dapatnya banyak katanya gitu 22:21 kan." 22:22 "Kok tega sih, Bu?" Saya bilang gitu. 22:24 "Itu kan masih kecil. Nanti kalau ada 22:26 apa-apa di jalan gitu, ini kan jalan 22:28 besar. Terus Ibu gimana ya kan? Makanya 22:31 kalau saya tega sudah saya tinggal 22:32 pulang. Dia bilang gitu. Makanya saya di 22:34 sini. Emang kenapa, Neng? Gitu. Iya. 22:39 Kalau anak sekecil itu sebaiknya jangan 22:41 disuruh kerja yang seperti itu, Bu. Udah 22:44 deh, Neng tahu apa gitu. Neng tahu apa? 22:48 Dia bilang gitu. Kita beda gitu. Kalau 22:51 saya enggak cinta sama anak saya, saya 22:52 enggak duduk di sini. He. 22:54 Nah, jadi Mas bahasa cinta orang tua 22:57 kepada anak itu juga ada kelas-kelasnya. 23:00 Heeh. 23:01 Kelas yang di bawah itu kayak apa? Dan 23:04 kerjaan di kolong jembatan tuh saya 23:05 mulai dari tahun 90-an lah gitu loh. 23:10 Itu emak-emaknya itu kalau bangunin 23:12 anaknya pakai kaki ditendangin. Bangun 23:17 bangun lu cari duit gitu lu bang. Terus 23:20 kalau dia yang kerja ngelapin mobil 23:22 enggak laku. Kalau emnya ya, 23:24 kalau emanya ya bilang 23:25 saya nih tadi Bu dari jam 0.00 dia 23:27 bilang gitu 23:29 sampai jam 09.00 kagak dapat apa-apa dia 23:32 bilang gitu. 23:33 Begitu anak saya nih dia dia lihatin itu 23:37 kardusnya gitu sopir saya sampai 23:39 kileng-kileng kepala. Tapi that it's 23:42 gitu 23:42 ya. Orang lebih kasihan kepada anaknya 23:44 dibanding ke ibunya. Betul gitu loh. 23:46 Jadi memang memang itulah kita itulah 23:49 bangsa kita gitu loh. Ngedidik enggak 23:52 ya cuman kasihan doang tapi buntutnya 23:54 kayak apa enggak mau mikir dia kan gitu. 23:58 Nah hal-hal yang seperti inilah yang 24:00 saya temui hampir tiap hari dan ee 24:03 perilaku-perilaku yang enggak berubah 24:05 kayak begitu. 24:09 Iya. 24:11 Di buku ini nih ada tulisan ya. 24:14 Iya. buku Tuhan. Kenapa salat itu mahal? 24:19 Iya, itu benar tuh. 24:20 Maksudnya ketika 24:22 jadi waktu mau salat. 24:23 Heeh. Jadi waktu itu anak dari anak-anak 24:26 dari Keramat Jati itu sudah sama Pasar 24:29 Minggu. Saya mikir saya sudah ngajarkan 24:32 ke mereka gimana nabunglah sampai aku 24:34 ajak ke mana? Ke kantor ee ke bank-ke 24:38 bank ya, bank-bank yang ada di sana ada 24:40 bank pasar kayak gitu. Tapi karena 24:42 mereka masih di bawah umur kan harus 24:45 pakai KTP, Mas, kalau kayak gitu. Jadi 24:47 akulah penanggung jawabnya gitu. Aku aja 24:49 aku ajarin ini kasir ini, ini, ini, ini. 24:52 Kok aku belum ngajarin salat ya mereka 24:53 ya. Mulailah aku gitu 24:56 yuk kita salat. Jawabnya itu yang bikin 25:00 aku kaget. Ngapain sih, Bu, salat kayak 25:02 yang punya duit aja? Loh, kok kayak yang 25:04 punya duit? 25:06 Ya kan kalau nanti kalau kita ambil wudu 25:08 kan 25:09 bayar. bayar waktu itu 50 perak ya kalau 25:12 enggak salah 50 apa 25 ya pi ya bayar 25:16 tuh 50 ya 50 akhirnya 25:21 ah aduh aku mikir 50 kali kalau kali 5 25:25 udah berapa Bu dia bilang gitu mendingan 25:27 buat makan gitu emang Tuhan mikirin kita 25:29 gitu 25:31 cilaka benarnya aku bilang gitu aku 25:33 speechless ya karena apa itu jawaban 25:36 yang sangat pragmatis gitu loh 25:39 apa yang kita lihat itu yang dia 25:41 omongkan gitu. Dan emang iya aku masih 25:44 saya tuh agak ngeyel kan kamu bisa ambil 25:48 wudu di masjid atau di musala kan ada 25:51 keran-keran di situ. Apaan baru masuk 25:53 sudah diusir dikira mau nyolong sendal 25:56 gitu. 25:58 Masyaallah. Jadi hal-hal yang seperti 26:00 itu memang kalau untuk orang miskin itu 26:02 sulit, Mas, gitu loh. 26:06 Kita cuman kasihan tapi sekilas to. 26:09 Nanti kalau agak kelamaan si orang 26:11 miskin itu ngedempet-dempetin kita, kita 26:13 kesal kan gitu. Ini ngapain sih? Kan 26:16 sudah dikasih tadi. Nah, gitu ya. West 26:18 toh. 26:20 Oke. Saya lagi baca buku ini Tuhan. 26:22 Kenapa salat itu mahal? Dia bilang 26:25 ketika kami memutuskan untuk menulis 26:27 buku tentang Rustin Ilias. Banyak yang 26:29 bertanya, "Siapa Rusin Ilias?" Menghadir 26:32 pertanyaan serupa itu, kami terdiam dan 26:34 berpikir ini pertanyaan yang sulit 26:37 karena sejujurnya memang seorang Rustin 26:39 bisa dideskripsikan ke dalam banyak hal. 26:42 Di mata kami, beliau adalah seorang 26:44 Bunda sekaligus sahabat yang pejuang 26:47 kemanusiaan, ibu bagi anak-anak di 26:49 jalanan Pasar Minggu, di Tomang, di 26:52 Bekasi, di Bojong, Ciputat, dan banyak 26:54 tempat lain. Ia juga seorang aktivis 26:56 yang segera turun. gunung saat mendengar 26:59 ada bencana. Maka ketika ditanya siapa 27:02 Rustin Ilias, harus kami katakan bahwa 27:04 sejatinya sosok Rustin Ilias tidak bisa 27:07 dijabarkan dalam sedikit kata. 27:11 Ya saking ininya ya, 27:12 saking banyak saking masih kurang 27:15 kerjaannya. 27:16 Padahal saya masih kecil 27:19 enggak apa ya ee lingkunganku enggak 27:21 kayak gitu gitu loh. Artinya aku 27:24 gak pernah hampir gak pernah melihat ya 27:26 Mas ya. Ibu saya seorang ee organisator. 27:30 Dia dari apa? Ketua apa ya? Ketua 27:35 gerakan wanita 27:38 zaman segitu. Terus kalau saya diajak 27:41 biasanya aku tuh diajak ke ee panti 27:45 panti asuhan Kartini atau untuk 27:48 anak-anak cacat gitu. Panti asuhannya 27:50 tuh di 27:51 kalau di Surabaya tuh di Jalan Pemuda 27:53 bagus gedungnya gede gitu. Jadi gedung 27:56 lagi gitu kan, gedung-gedung bekas 27:58 Belanda dulu tuh bagus-bagus gitu. Yang 28:00 anak-anak cacat juga gitu di Jalan Siia 28:02 itu. Itu pun yang jaga pasti ada buleya 28:05 gitu loh. 28:07 Aku 28:09 setelah tua nih kayak gini nih baru aku 28:11 mikir kalau gitu kolonial Belanda itu 28:15 baik juga ya ngajarin gitu loh enggak 28:18 dilepasin gitu. Jadi mereka yang 28:21 ngajarin dan sebagainya dan sebagainya. 28:24 Dari situ aku belajar gitu loh. Oh, 28:26 orang cacat itu gak enak begini. Orang 28:29 enggak punya emak, enggak punya ibu itu 28:31 enggak enak. Nah, akhirnya saya 28:33 keterusan waktu udah SMA mulailah aku 28:37 tuh jadi aktivis gitu. Jadi kalau saya 28:40 misalnya apa ee ada anak nemu gitu di 28:44 jalanan ya saya coba gitu bawa ke salah 28:48 satu panti asuhan. Heeh. 28:50 Biasanya yang gampang nerimanya itu 28:53 waktu itu ya punya Ibu Nasution itu di 28:57 sayap ibu 28:58 Jalan Radio Dalam situ di situ bayi-bayi 29:02 lucu-lucu gitu tapi anaknya siapa saya 29:05 enggak tahu. Nah hal-hal yang 29:06 itu yang biayai siapa? 29:08 Ee Ibu kalau Ibu Nasution itu em subsidi 29:13 ya dan beliau juga ee banyak sih 29:15 donaturnya dari Belanda, dari mana-mana. 29:18 Siapa yang enggak kenal Pak Nasution kan 29:20 gitu loh. Nah, Ibu Nas lah yang di situ 29:24 ya. Waktu di Surabaya juga kan barusan 29:25 tinggal di Jalan Majapahit ini daerah 29:27 elit ya. 29:28 Nganjap nomor 31. 29:30 Iya. Belakangnya sekolah Santa Maria. 29:32 Oh iya. Itu kamarnya ada 14 katanya. 29:34 Iya. 29:35 Waduh. 29:36 Tapi zaman segitu perasaan tuh biasa 29:38 sih, Mas. Rumah-rumah temanku atau 29:40 mungkin karena aku sekolah di Santa 29:42 Maria ya. 29:42 Heeh. 29:43 Iya sih. Kebanyakan dari orang-orang 29:45 menengah ke atas ya. 29:46 Nah. Ya memang segitu 14. 29:49 Terus ada pembantunya Mbak Rustin. Siapa 29:52 namanya itu? 29:54 Makmi. 29:55 Makmi. 29:56 Makmi. Mak Miang 30:00 itu? Iya. Dia ikut itu 30:03 40 tahun. 30:04 H. 30:05 Mulai dari saya Iya. Mulai dari saya 30:08 umur 3 tahun. Setia banget gitu loh. 30:11 Dulu dia pembantunya orang Belanda yang 30:13 tetangga kita. 30:14 Oh. Oh. 30:15 Nah, si Belanda ini pulang 30:17 terus dia diajak sama ibuku gitu. 30:20 Nah, di situ Mak Mi itu jadi apa ya? 30:24 Kalau saya aku nganggap dia itu ibu 30:26 kedua. 30:27 Ibu saya kan wartawan. He. 30:29 Jadi waktu ibu saya itu dinas ke luar 30:32 negeri gitu kan sampai 1 bulan, 2 bulan 30:35 gitu kan. Makmi ini udah kayak ibu saya. 30:38 Jadi kalau ada teman saya cowok gitu 30:42 datang gitu udah dia langsung duduk di 30:44 situ. 30:47 Kok lebih galak dari ibu kamu? 30:50 Ya itulah kesetiaan zaman dulu ya. 30:53 Karena kita menganggapnya itu 30:56 ee jadi saya terbiasa diajarkan oleh Ibu 30:59 tuh ini pembantu loh ya bukan pelayan 31:04 dan bukan budak. He 31:05 pembantu itu membantu assistance gitu. 31:09 Jadi ingat kamu ngak boleh teriak 31:11 manggilnya gitu meskipun kamarku 14 kan 31:14 jauh ke belakang gitu kan. Jadi kalau 31:17 saya perlu beliaunya ini makmi itu aku 31:20 yang lari ke belakang mak gitu makmak 31:23 bikin kue mak ya ayo gitu. 31:26 Mbak Rustin juga katanya ibunya Mbah 31:29 Rusin pernah dimarahin di istana ya. 31:33 Iya. 31:33 Yang marahin 31:34 Kristen Soekarno. Bung Karno 31:36 Bung Karno 31:36 dimarahin. Kenapa itu? 31:38 Karena ibu saya itu dulu ketua gerakan 31:42 Wita Sosialis. 31:44 He. 31:45 Yang dulu ketuanya itu ee Sultan Sahrir. 31:49 Jadi PSI lah gitu loh. 31:51 Nah, 31:53 ya PSI kan dibubarin sama Bung Karno. 31:55 He 31:55 gitu kan. karena gak bisa nerima komunis 31:58 waktu itu kan sama Mas Yumi 32:01 enggak bisa nerima komunis lah ibu saya 32:03 karena dia wartawan, banyak tugas 32:05 macam-macam dia ke Amerika. 32:07 Hm. 32:08 Saya enggak tahu kenapa Ibu itu 32:11 dianggapnya apa ee syar sosialism di 32:15 situ 32:16 gitu. 32:17 Nah, sudahudah waktu kita apa ee dulu di 32:20 Kemayoran ya, Mas ya. pesawat landingnya 32:22 itu di Kemayoran. 32:24 Kita kok Ibu itu gak keluar-keluar gitu 32:27 dari ini airportnya itu 32:29 masih di tempatnya bagasi lah segala 32:31 macam. Akhirnya sudah di belakangnya tuh 32:33 sudah Cakra Birawa gitu. 32:35 Hm. 32:35 Cakra Birawa Ibu ditunggu ee diminta ke 32:39 istana gitu. 32:41 H. 32:41 Eah. Terus udah Bung Karno sama Ibu tuh 32:45 bahasa Belanda lah aku gak ngerti. Tapi 32:46 yang saya jelas Bung Karno gebrak meja 32:48 gitu loh. What will gitu. Kamu itu 32:51 maunya apa sih gitu? Kok kamu di situ 32:54 mau saya ya saya bicara seperti itu 32:57 karena menurut saya memang seperti itu 32:58 gitu 32:59 lah. Kalau saya sekarang dibubarkan 33:02 partai saya itu hak Anda. H 33:04 tapi hak saya juga untuk bicara. 33:06 H 33:07 gitu ya. Ya enggak tahu. Jadi keberanian 33:11 itu mungkin yang saya tiru ya. Kalau 33:13 bapakku kan pegawai negeri, 33:16 dia enggak enggak ini apa bukan tipe 33:19 orang yang 33:20 eh enggak 33:21 jadi yang namanya pegawai negeri ya. Ya 33:23 wis gituah ya cukup satu kayak gitu. 33:28 Oke silakan yang mau bertanya kami 33:30 tunggu di 0811999 33:36 720 bersama Mbak Rustin 33:40 Ilyas. 33:43 Mbak Rustin, apakah hafal dengan 33:45 anak-anak yang di kolong jembatan itu 33:48 dalam menyapa mereka? 33:52 Kalau yang sudah lama saya hafal lah 33:54 gitu loh. Tapi kalau pendatang-pendatang 33:57 baru 33:59 kadang-kadang ya enggak hafal. Eh yang 34:01 ada tak suruh tulis namanya di kertas 34:03 ditempelkan nanti di dada pakai selotip 34:05 begitu. 34:06 Hm. 34:07 Kalau pas saya datang. 34:09 Hm. gitu. 34:11 Tapi lama-lama hafal juga. 34:13 Ada lagi dari siapa nih? Ini enggak ada. 34:16 Asalamualaikum, Mbak Rustin. Saya saya 34:20 mana tuh? 34:22 Saya Nugraha dari Cisalak. Izin 34:24 bertanya. Dengan kebakaran hutan yang 34:26 dibakar dengan sengaja bahkan sebelumnya 34:29 sudah terjadi di tempat lain, kira-kira 34:31 negara kita mau dibawa ke mana? 34:35 Hm. 34:36 Ya, harusnya dibetulin ya, dibenerin 34:39 gitu loh ya. Ya memang tanggung jawab 34:41 utama di sini itu yang paling tinggi ya 34:44 presiden lah tentunya kan. Nah, tapi kan 34:47 di daerah-daerah itu semuanya sudah ada 34:51 pimpinannya masing-masing 34:53 ya. Pimpinan mereka pimpinan itulah yang 34:55 harus di dijewer gitu loh yang harus 34:59 diminta pertanggungan jawabnya. 35:02 Jangan didiamin kayak gini kelamaan ini 35:04 gitu loh. 35:07 Oke. Kemudian di Arya di Depok. 35:09 Asalamualaikum, Mbak Rustin. Mbak 35:11 Rustin, bagaimana nasib dan 35:12 keberlangsungan para pencarian 35:15 pencarian masyarakat adat yang 35:18 bergantung pada ekosistem hutan setelah 35:20 terjadi kebakaran ini? 35:22 Ya, itu mereka tetap menjadi orang 35:25 Kalimantan, terutama suku Daya. 35:29 Mereka enggak pernah takut ya dalam 35:32 hal-hal karena memang mereka ada di 35:34 tengah-tengah situ. 35:36 Itulah rumah mereka. Jadi kalau ee hutan 35:38 itu dihancurkan kayak gitu, dia merasa 35:41 rumahku dihancurkan. Udah gitu ada yang 35:43 pimpinan yang ongo lagi 35:45 pakai mau apa di dirombak katanya mau 35:48 dijadiin apa namanya itu ee ladang sawit 35:51 itu kan enggak waras kayak gitu ya. 35:53 Ngamuklah orang Kalimantan 35:56 hati-hati aja tuh yang ngomong kayak 35:58 gitu. Harusnya kan kita harus tahu ya 36:02 Mas ya. Kalau kita itu memang negara ini 36:05 adalah binika tunggal ika. Enggak bisa 36:08 digebyah-huyah kayak gitu. Apa sih 36:09 gebyah-huyah itu disamaatakan kayak 36:11 gitu? Meskipun menurut si Bapak yang e 36:15 petinggi ini kalau diganti dengan sawit 36:19 akan hasilnya lebih banyak. Lebih banyak 36:21 untuk siapa kan gitu. 36:23 Iya untuk dia kali gitu. Tapi kalau 36:25 untuk orang-orang Dayak sendiri mereka 36:27 enggak butuh sawit, mereka butuh hutan. 36:29 Iya 36:30 gitu. 36:32 Salam Mbak Restin mengenai anak-anak 36:34 miris sekali. Saya tidak mengenal yang 36:36 di luar sana, tapi di lingkungan saya 36:39 juga ada. Semisal sudah larut malam 36:42 masih main. Kalau mau ngasih ngingetin 36:46 takut dikata kepo dan gimana ya? 36:50 Ee miris juga nih. Bagaimana sikap saya 36:52 Mbak Rustin? 36:53 Gini kalau begitu kan ada RT. 36:57 Ada RT-nya. Nah, kita datanglah ke RT, 37:01 kita ajak ngobrol 37:03 atau kalau misalnya itu ibu-ibu kan di 37:07 setiap kampung aku yakin adalah 37:09 pengajian atau arisan atau apa. Ngobrah 37:12 tentang anak-anak ini pasti nemu jalan. 37:15 Enggak mungkin emak-emak itu enggak nemu 37:17 jalan untuk anaknya. Apapun caranya. 37:21 Nah, kampung ini sama kampung onoh beda. 37:23 Hm. 37:24 Gitu loh, Mas. Enggak bisa disamain 37:27 gitu. Misalnya kampung yang di daerah 37:29 apa namanya tuh Jalan Keramat misalnya 37:32 di situ banyak orang Ambon. 37:33 Enggak bisa disamain dengan kampung yang 37:36 banyak orang Betawinya. 37:37 Oh, beda tuh ya. 37:38 Beda dong gitu. Culture-nya beda. Di 37:40 situ. Nah, ini haleluya sini samroh kan 37:42 beda gitu kan. Jadi enggak bisa. Lebih 37:45 baik biarkan begitu tapi tetap 37:47 bersahabat. 37:48 Karena pada saat-saat tertentu, pada 37:50 saat-saat yang apa namanya itu sangat 37:53 spesifik mereka membutuhkan ee kesamaan 37:56 gitu loh, Mas. 37:57 Hm. 37:59 Oke. Dari Mas Samelamat Mega. 38:03 Asalamualaikum Mbak Rustin. 38:05 Alhamdulillah menyimak. Izin bertanya, 38:07 Mbak Rustin. Apakah organisasi Mbak 38:09 Rustin ada kolaborasi 38:11 atau kerja sama dengan NGO semacam Green 38:14 Face, Partai Hijau Indonesia, Bebas 38:17 Rokok atau apalah dari Bapak Selamat 38:20 Mega di Mampang Prapatan? 38:22 Ee begini ya, Pak. Pak siapa? Pak Samat 38:25 ya, 38:26 Pak Selamat, 38:26 Pak Slamet. Bagi saya, saya dari tahun 38:29 90 sudah menjadi orang lapangan, suami 38:33 saya angkatan udara. Jadi saya ngajak 38:36 siapapun bagi saya berteman, saya 38:39 berteman dengan setan sekalipun, Pak. 38:41 Gitu loh. 38:42 Kalau aku enggak berteman dengan setan 38:44 sekalipun, aku enggak akan tahu 38:46 setan itu ngapain. Saya harus tahu gitu 38:49 loh. 38:49 Apakah saya berteman dengan yang 38:51 dinamakan tuna susilala, tuna apa itu 38:54 teman bagi saya gitu loh. Kalau diang, 38:56 "Ih, Mbak Rusin kok perginya ke situ? 38:58 Dulu ada keramatunggak ya lokalisasi itu 39:01 tempat saya nongkrong di situ." 39:03 Apa yang dilakukan di sana? Di situ kan 39:05 masih banyak anak-anak kecil-kecil 13 39:07 tahun, 14 tahun sudah jadi H 39:10 gimana coba? 39:11 Heeh. 39:12 Nah, waktu itu masih belum ada yang 39:14 namanya em menteri perempuan, 39:17 belum ada. Menteri untuk perempuan dan 39:20 anak itu belum ada. Itu baru. Jadi waktu 39:23 tahun 90 tuh enggak ada. Makanya ee 39:25 lokalisasi di situ. Cuma saya kecewanya 39:30 kenapa lokalisasi itu dibubarkan begitu 39:32 aja tanpa orang-orang ini disalurkan 39:35 dulu ke mana gitu loh. 39:36 He. 39:37 Saya waktu itu sudah apa ee kalau yang 39:41 di tempat lain ya saya enggak akan 39:43 ngomong di daerah mananya. Di tempat 39:44 lain saya bikin seperti ini. 39:48 Ee gubernurnya bilang di sini ada 39:51 lokalisasi yang akan dibubarkan. Tunggu, 39:53 Pak. Jangan seperti Jakarta. Jakarta tuh 39:56 enggak pakai babibu bubar aja kayak 39:58 gitu. Akhirnya apa ya? Akhirnya mereka 40:01 di jalan-jalan. 40:03 Hm. 40:04 Padahal saya tuh pernah ngritik ya, 40:08 Ibu-ibu. Waktu zaman dulu itu waktu ee 40:12 istri-istri ee dari petinggi pemda waktu 40:17 itu saya bilang, "Ini Bu, yang namanya 40:21 lokalisasi kan udah dibubarin. Terus 40:24 sekarang pada ke mana, Bu? 40:26 Di sini yang muslim siapa? Semuanya 40:29 muslim." Ya, wis. Terus saya bilang gini 40:31 deh, kita agama kita itu juga tidak 40:35 mengajarkan loh buang kotoran 40:37 sembarangan. 40:38 Semua itu harus ada tempatnya. Lah kok 40:41 ini kita buang kotoran sembarangan kalau 40:43 memangnya itu dianggap kotor. Saya 40:45 bilang gitu. 40:47 Kenapa kok dibuang sembarangan? 40:50 Wong tinja aja ada safety tank-nya kok. 40:52 Saya bilang gitu. 40:53 Lah kok ini enggak dianggap ada safety 40:55 tanknya tuh gimana. Nah, akhirnya 40:58 mudah-mudahan ya putra-putra Ibu itu 41:00 enggak didatangin atau mereka enggak 41:01 pacaran, aku sudah gemes aja gitu loh. 41:03 Saking saya enggak ngerti lagi mesti 41:06 gimana caranya ngingetin si ibu-ibu yang 41:09 terhormat ini gitu. 41:11 Hm. 41:12 Bahwa siapa sih, Mas, yang kepengin jadi 41:14 pelacur? Enggak ada anak kecil gitu 41:16 ditanya, "Kamu kalau udah gede mau jadi 41:18 apa, Nak?" Mak. Enggak ada bilang 41:21 gitu. 41:22 Enggak mungkinlah gitu loh, 41:24 ya. Paling pengin jadi dokter. 41:27 pengin jadi insinyur kan gitu. Enggak 41:30 ada ditanya, "Kamu pengin jadi apa, 41:31 Nduk?" Mak. Yo gak ono itu 41:35 ditutup-tutupi karena itu memang enggak 41:37 benar gitu loh. 41:41 Eh, asalamualaikum Mbak Rustin dari 41:43 Titin. Bagaimana Mbak Rustin bisa 41:45 penetrasi sana masuk ke sana? Bagaimana 41:50 Mbak Rosin bisa diterima oleh mereka dan 41:53 apakah Mbak Rosin memberikan perubahan 41:55 kepada mereka? 41:57 aku bisa diterima karena aku 42:01 apa ya? Aku gak membedakan diri aku 42:03 dengan mereka. 42:04 H 42:05 kalau saya misalnya sudah datang ke ke 42:08 tempat itu, 42:10 pertama 42:12 ice breaking aja deh ya gitu loh. 42:14 Semuanya tak aw tak peluin gini sambil 42:16 aku bawa kue-kue apalah dikit itu 42:19 terus saya lihat siapa di sini yang 42:21 paling diengaruhi 42:24 Heeh. yang punya pengaruh kayak gitu. 42:26 itu saya dekatin, saya ajak ngomong 42:28 gimana ya, Mas, enaknya atau Mbak atau 42:30 siapa gitu dari situ. He. 42:33 Nah, kita duduk bareng di situ. Jadi, 42:35 saya enggak pernah bicara kepada mereka. 42:38 H 42:38 saya bicara dengan mereka. 42:41 Hm. 42:42 Saya enggak pernah guruin, Mas. Gitu 42:43 loh. Karena ternyata ya seperti itu. 42:45 Anak Pasar Minggu itu lebih anteng 42:48 daripada anak keramajati. 42:50 Kenapa itu? 42:50 Karena kalau anak keramajati itu kan 42:52 anak pasar. 42:53 Hm. He. 42:54 Nah, dia kan bawa apa dulu ya? Bawa 42:56 kresek ya, 42:57 kresek, keranjang apa segala macam gitu. 43:00 Dan banyak pembeli di situ yang dia 43:02 harus ngenalin. Kalau kan enggak kenal 43:04 kan enggak dikasih duit nantinya kan. 43:05 Iya. 43:06 Nah, kalau anak Pasar Minggu itu 43:07 homogen. 43:10 Apaan Pasar Minggu? 43:12 Emm 43:14 anteng aja. Artinya mereka misalnya 43:16 disuruh jadi apa ya ee kenek keneknya 43:20 angkot-angkot itu masih kecil-kecil dulu 43:22 kan kayak gitu. 43:24 Jadi lepas ke jalan. Tapi kalau anak 43:27 keramajati dalam pasar gitu mereka. 43:29 Hmm. Karakternya beda ya. 43:31 Beda. Beda. Sama karakter dari anak yang 43:34 di 43:35 Tanjung Muara Angke. Muara 43:36 Mayara Bandung Periuk sama. 43:38 Heh. 43:39 Itu pendiam sekali. 43:41 Kenapa ya? 43:41 Karena mereka ngelihatnya cuman laut. 43:44 Hm. 43:44 Jadi kalau ketemu orang tuh agak gitu 43:47 h 43:48 enggak ramah. Nah, kita yang harus jadi 43:51 karakter-karakter itu harus aku 43:53 pelajarin gitu. 43:55 Kalau aku tiba-tiba akrab sama ke sana, 43:58 mereka ketakutan gitu enggak mau. 44:01 Ada enggak lalu lu mendapat perubahan 44:02 dari kunjungan Mbak Rustin? 44:04 Banyak 44:06 kan? Saya dari tahun '0 sekarang sudah 44:08 dewasa-dewasa. 44:10 Sudah ada yang jualan sepatu, ada yang 44:13 apa ya? Ee betulin apa ee komputer, ada 44:17 yang tukang potong rambut. Oh, udah. 44:20 Heeh. Yang jualan sepatu nih yang dia 44:23 terus ngajarin teman-temannya gitu. 44:24 Akhirnya dia pulang ke desa. He. 44:27 Dia jadi juragan sepatu di situ. H 44:30 gitu. 44:32 Mereka kriminal enggak sih? 44:33 Enggak. 44:35 Ih. Kriminal tuh di sebelah-sebelahnya 44:37 Mas 44:38 yang pakai dasi-dasi itu loh kriminal. 44:41 udah kriminal muna lagi kan gitu loh. 44:44 Sekarang bahasanya bahasa agama, besok 44:47 bahasa negara entar lusanya lagi nyuri 44:50 kan gitu. 44:52 Oke. 44:55 Sampai kapan Mbak Rus akan berkecimpung 44:57 di dalam dunia seperti ini? 44:59 Selama masih ada napas. 45:01 Masyaallah. 45:03 Nah, seperti hari ini juga ada rencana 45:06 sudah ada jadwal Long ya ke mana-mana. 45:09 Hari ini belum, tapi nanti biasanya 45:12 gini, Mas. Keluar dari sini baru 45:14 ngomong, "Vi anak enaknya ke mana?" "Oh, 45:15 iya, Bu. Ke situ belum? Ayo ke situ." 45:17 Yuk, gitu. Ke Ciputat kayak ke mana? Ke 45:19 mana? 45:19 Tapi setiap minggu selalu ada kunjungan. 45:21 Ya, 45:22 kalau sekarang bu phone saya udah oke 45:24 gitu loh. 45:25 Karena enggak selalu. Kalau dulu ya 45:27 belum ada HP. 45:29 Oh, mereka punya HP ya? 45:30 Punya. Jadi gini, di setiap ee lokasi 45:33 itu ada koordinatornya. 45:36 Kalau misalnya e Yani itu yang di 45:38 Ciputat, terus yang di kolong jembatan 45:40 Jelambar tuh Mbak siapa? Yang di Slipi 45:44 siapa? Kayak gitu. Keramat Jati siapa? 45:47 Pak Otong tuh di daerah Keramat Jati. 45:50 Setiap kunjungan selalu bawa bekal 45:53 enggak? Paling enggak makanan apa mereka 45:56 bawa ya. 45:56 Heeh. Tapi karena sekarang kan sudah 45:58 gede-gede malah saya yang dibawain. 46:01 Saya yang diba 46:05 sakit tuh dari dulu 46:08 ke rumah nengok gitu 46:10 terus bawa macam-macam gitu loh. 46:12 Heeh. 46:12 Bawa tomat, bawa ini gitu ya. Ya, aku ya 46:15 senang kan diolin gitu. Cuman begitu tak 46:18 lihat kok ini kenapa ini jadi ini kayak 46:22 gompel ininya ada yang putus gini. Ini 46:24 kamu dari mana? Ngambil jatuhan katanya. 46:28 Kan jam . Tuh barang-barang turun. 46:33 Ada yang dia nyuri dari mana motelin 46:35 kayak gitu ya. Aku anggap aja kenakalan. 46:38 Tapi artinya niatnya lebih bagus ya. 46:41 Iya begitu. Hm. 46:43 Kalau saya biasanya ada di kolong 46:44 jembatan gitu. Kalau dulu mereka itu ya 46:47 udah langsung begitu aku datang bruk aja 46:49 wuh tangannya langsung diginiin minta 46:51 dipotongin kukunya gitu loh. 46:53 Oh. 46:54 Nah, kukunya kan hitam-hitam 46:55 kayak gitu. Terus kalau 46:57 ada manja-manjanya juga ya. 46:59 Heeh. Manja mereka. Itulah Mas anak-anak 47:02 itu sebetulnya kangen di mana-mana anak 47:05 itu karakternya kan sama. Mau di anak 47:07 kolong jembatan, mau di anak istana 47:09 sama. 47:11 Maunya disayang, maunya dipeluk kan 47:14 gitu. Maunya diajak main sama anak di 47:17 mana pun sama gitu loh. 47:18 Hm. 47:19 Nah, Kak ini kayak begitu. Kalau saya 47:21 bawa musim hujan nih, saya bawa payung 47:24 gitu ya, nengok mereka kan saya taruh 47:27 nih payung, "Bu, 1 jam ya, Bu." gitu. 47:30 Dipinjam nih payungnya, dia ngojek 47:32 payung 47:34 enggak mau rugi. 47:36 Oh, gitu. Heeh. 47:37 Masyaallah. Oke. 47:40 Eh, 47:42 alhamdulillah saya menyimak. Ya Allah, 47:45 Mbak Rustin kok mohon maaf kok 47:47 mau-maunya ngurus gitu kan itu enggak 47:49 ada uangnya. 47:50 Enggak ada, tapi ada kebahagiaannya. 47:53 Saya banyak kalau saya ditanya, saya 47:56 selalu sering ditanya nih, 47:59 "Ngaarin apa sih, Mbak di situ?" Enggak, 48:01 aku enggak ngajarin mereka. Mereka yang 48:03 ngajarin aku tentang kehidupan. 48:05 Hm. 48:07 Gimana enggak ngajarin aku, Mas? Karena 48:09 umur 7 tahun sudah mikirin ini buat 48:11 emaknya, ini buat neneknya. 48:16 Saya yang aduh iya ya, anak ini udah 48:18 mikir, "Bu, ini asyik nih, Bu, nanti aku 48:21 dapat beli beras gitu." 48:24 Pekerjaan mereka apa? E 48:25 iya itu ee ngangkat barangkat barang 48:30 gitu. 48:30 Heeh. Heeh. 48:32 Ada jealous enggak di antara mereka? 48:33 Iya, biasalah, Mas. Kayak gitu. Tapi 48:35 selalu saya saya inikan lagi ya remaja 48:38 kayak apa sih kayak anak-anak gitu. 48:40 Oke. Sayang sekali ya waktunya sudah 48:44 habis enggak terasa. Oke ini banyak yang 48:48 nanya nomor tel Mbak Rustin. Saya akan 48:49 bacakan lagi ya. Silakan dicatat. Nomor 48:52 tel Mbak Rustin Ilyas. R O S. 48:58 Rustin. T I E Nasornya 49:03 0812. 49:05 Sudah 88 845 49:12 0812 49:14 88 888 49:17 1145 49:20 Rustin Ilias Mbin terima kasih Mbak Evi. 49:23 Terima kasih. 49:24 Oke 49:25 sama-sama Mas mudah-mudahan ada terakhir 49:27 mau disampaikan 49:30 emm apa ya? 49:32 Ya, kita harus mulai belajar ngajarin 49:36 anak-anak kita tentang hutan itu tadi. H 49:40 karena ini ini contoh hutan itu di sana. 49:44 Tapi bukan gak mungkin di Jawa juga bisa 49:47 terjadi. 49:48 Apakah buang puntung rokok sembarangan 49:51 ataukah apa namanya itu ee gak open 49:54 dengan tanaman. Ajarkan anak-anak itu 49:56 menanam. 49:58 Oke, 49:58 gitu. 49:59 Baik. Terima kasih Mbak Rustin. 50:02 Mudah-munhan kita bisa berjumpa lagi. 50:04 Saya Muhammad Krishna. Kemudian juga di 50:06 sini ada Alfa, ada Firza, ada Rianto, 50:10 dan eh Agi Farurji. Mohon pamit. 50:14 Wabillahi taufik walhidayah. 50:15 Wasalamualaikum warahmatullahi 50:16 wabarakatuh. Waalaikumsalam 50:18 warahmatullahi.