Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Radio Silaturahim dan juga Rasel TV
- untuk Islam yang satu, Ikhwan Akhwat
- yang dirahmati Allah Subhanahu Wa
- Ta'ala, masih menemani Anda di waktu
- sahur.
- Bincang inspirasi kami sahur bersama
- tokoh, kita tadi sudah banyak
- berbincang dengan Bung Mahfudin Nigara.
- Bis eh itu kalau pengalaman
- di media
- di mana saja?
- Selama ini sampai saat ini
- Ya, saya pertama jadi wartawan 1979 di
- Majalah Olahraga Olimpik.
- He em. Kemudian 81 sampai 84
- 85 pertengahan He em. saya di Harian
- Kompas.
- Kemudian 84 itu juga ya tadi jadi masih
- merangkap gitu 84 resminya sampai 94
- saya di Mingguan Bola He em. yang punya
- Kompas.
- He em.
- Kemudian setelah itu saya bersama dengan
- Pak HBL diri
- kemudian Pak Nirwan Bakrie saya membuat
- eh media Go.
- Media Go itu yang mendatangkan Sampdoria
- ke Indonesia tahun 94.
- Jadi itu itu kebanggaan tersendiri buat
- saya lah ya, mendatangkan Saya baru tahu
- ternyata
- yang menjadi promotornya itu
- Go ya? Ya, Go yang yang mendatangkan
- Sampdoria ke Indonesia waktu itu. Masih
- waktu itu striker-nya Giuseppe Signori
- ya? Masih Signori, ada Lombardo Lombardo
- Ada eh Maldini, iya.
- Ah, jadi
- Kita kita mereka ikut pesta dengan kita
- malamnya gitu kan. Ya senanglah masa
- hari saat itu kita mendatangkan eh
- Ternyata
- Cuma waktu itu memang kita enggak tidak
- bermaksud berbisnis karena
- Tiketnya pun gratis, kita gratiskan.
- Jadi jangan jangan bangga juga nih kalau
- orang sekarang bilang kita bikin gratis
- nih
- Waktu itu dan 100 ribu orang datang.
- Waktu itu Kurniawan ikut Sampdoria main
- gitu. Iya
- Kurniawan Kurnia Sandy ya kalau enggak
- salah.
- Kurnia Sandy enggak main tapi yang main
- Kurniawan.
- Iya, tahun 94. 94 bulan eh Mei. Berarti
- itu di waktu berdekatan dengan kan
- AC Milan pernah datang ya. Ah, setelah
- itu setelah Setelah Lambo setelah
- Setelah Sampdoria Sampdoria baru.
- Sampdoria duluan. Saya saya dulu
- yang merancang AC Milan juga saya dulu
- tetapi saya kemudian keluar dari dari
- tempat Edi Sofyan karena waktu itu ya
- saya melihat ada yang kurang paslah
- dengan saya sehingga saya keluar. Nah,
- setahun setelah Sampdoria baru AC Milan
- datang.
- Dan bermasalah Ehm
- Ehm sampai selesai bermasalah, tapi
- Sampdoria alhamdulillah enggak ada
- masalahnya.
- Setelah itu baru ada Klub besar
- lagi sebetulnya jauh sebelum itu banyak
- sekali tim-tim dunia datang ke
- Indonesia.
- Ya ada Eusebio pernah main di Indonesia
- Eh kemudian Eh
- Apa namanya?
- Eh
- Johan Cruyff pernah main di Indonesia,
- Beckenbauer pernah ke sini.
- Jadi banyak sekali sebelum kita sebelum
- GO bikin GO itu Pak,
- kekosongan yang sudah lama enggak pernah
- ada lagi. Kenapa? Karena
- dianggap sepak bola Indonesia sudah
- enggak menarik sehingga orang enggak mau
- datang. Sekarang orang mau datang.
- Kenapa? Karena
- mania di sini luar biasa gitu. Itu yang
- membuat orang
- mau kembali ke tim-tim luar klub-klub
- luar negeri mau kembali lagi datang ke
- Indonesia. Ah, cuma memang milih-milih.
- Karena kalau si X ini ah, ini pasti
- bermasalah nih, dia enggak mau. Karena
- pasti bayar 20% harus main AC Milan itu
- nyaris enggak main.
- Kontrak 20% datang ke Jakarta
- satu hari sebelum main harus lunas,
- enggak lunas. Hampir enggak main.
- Orang enggak tahu aja itu. Ya, gitu.
- Baik. Nah,
- Bung, bicara lagi tadi
- eh, mengenai olahraga di negeri ini
- gitu, ya.
- Kenapa kok sepak bola kok bisa bisa
- menyentuh masyarakat Indonesia sih?
- Kenapa sih? Ya, seperti tadi saya
- katakan selain selain sepak bola ini
- adalah olahraga tertua yang lahir di
- Indonesia.
- Selain sepak bola ini ikut memerdekakan
- bangsa, ya.
- Sepak bola ini adalah olahraga yang
- menggugah emosi kita. Karena nontonnya
- bisa rame-rame dan penonton itu bisa
- meluapkan apresiasi di lapangan tanpa
- takut disebut apapun gitu.
- Itu yang membuat kenapa sepak bola bisa
- menjadi bagian yang lekat dengan
- masyarakat. Murah,
- masif,
- dan penuh gelora. Padahal kan kalau main
- bicara prestasi, bulu tangkis lebih jauh
- ke mana-mana.
- Iya, enggak salah juga Bung Angga.
- Tetapi memang setelah era Liem Swie King
- dan kawan-kawan, bulu tangkis meskipun
- masih punya prestasi dan kita tahu bahwa
- Susi Susanti eh, dan suaminya, ya, Alan
- Budikusuma Sugiarto
- atlet Indonesia pertama yang mampu
- meraih medali emas di Olimpiade
- tetapi secara utuh bulu tangkis tidak
- lagi mampu
- Tidak lagi. Iya, menggairahkan orang
- untuk menonton gitu. Kenapa? Karena
- sudah terlalu banyak hiburan yang kita
- Zaman saya dulu, zaman Bung Krisna ya,
- kecil karena kebetulan saya seumur sama
- beliau
- He
- enggak ada tontonan
- TV itu kita mulai jam 6 sore
- kemudian jam 12 malam mati He
- kemudian radio mulai
- jam 5 pagi
- kemudian jam 12 mati
- kalau mau dengar radio asing mesti
- diam-diam gitu kan
- sekarang semua terbuka, semua ada
- apa namanya online, ada segala macam
- yang membuat orang
- terpaku ke situ dan kalau ada di luar
- itu tidak punya atraksi enggak enggak
- akan
- Nah, bulu tangkis itu
- sensasinya hanya sedikit He dibanding
- sepak bola. Sepak bola ini sensasinya
- bisa terus-menerus dibangun gitu. Nah,
- ini juga tantangan buat Pak Wiranto
- sekarang yang memimpin PBSI
- kembalikanlah bulu tangkis, ciptakan
- sensasi-sensasi yang membuat orang mau
- datang lagi untuk menyaksikan
- eh bulu tangkis kita gitu.
- Kalau di sebelum tahun 90-an, tahun 80,
- 70 masyarakat Indonesia itu ingin
- menikmati Piala Dunia atau Piala Eropa
- dulu gimana?
- Oh, lebih seru lagi.
- Dulu lebih seru lagi? Waduh, itu kita
- nonton Piala Dunia itu
- finalnya sudah kejadian, kita sudah
- nonton finalnya, tapi babak
- penyisihannya kita nonton kemudian. Kok
- bisa? Nah, menarik kan? Jadi, dulu itu
- final Piala Dunia, semifinal dan final.
- Iya. Pembukaan, semifinal dan final. Itu
- TVRI. He Ya, kita nonton
- di rumah tetangga gitu yang punya TV di
- kampung saya itu cuma 6 orang yang punya
- TV. Nah, lalu kemudian tahun berikutnya
- bapak-bapak saya masuk dalam ke-10 10
- besar di kampung yang punya TV gitu.
- Jadi kita nonton rame-rame di TV orang
- tetangga. Nah,
- Piala Dunia itu hanya pembukaan, semi
- final dan final.
- Partai selanjutnya itu disiarkan setelah
- kita dapat rekamannya.
- Karena enggak bisa live, enggak ada kita
- belum mampu
- seperti itu. Nah, yang unik juga
- wartawan sama juga wartawan cetak.
- Wartawan gitu juga? Jadi wartawan cetak
- kita baca kisah Piala Dunia itu, nah 1
- bulan setelah itu. Jadi Piala Dunia
- tutup hari ini, wartawannya sampai ke
- Jakarta 3 hari kemudian, nah dari situ
- perjalanan Piala Dunia itu kita baca
- gitu. Baik, Iman Rachman menarik bicara
- tentang Piala Dunia dengan Bung Nigara
- karena beliau dua kali meliput eh Piala
- Dunia di tahun Piala Dunia yang tahun 90
- di Itali. Itali. 94 di Amerika. Di
- Amerika, betul.
- Itu pengalamannya gimana itu, Bung?
- Ya,
- di Itali eh saya waktu itu masih di
- Mingguan Bola, tapi waktu di Amerika
- saya sudah di Mediago. Nah, di Itali itu
- kebetulan eh anak saya yang kedua baru
- lahir. Nah, jadi meninggalkan istri yang
- baru melahirkan dengan anak yang masih
- merah gitu. Oh gitu? Waduh, perasaan tuh
- wah. Nah, untungnya untungnya nih jadi
- sebelum saya bicara yang lain untungnya
- di Roma maupun di banyak presenter itu
- ada telepon gratis yang disiapkan oleh
- panitia Piala Dunia, yaitu waktu itu
- dipimpin oleh Mr. Montezemolo, itu
- memberi
- telepon gratis ke seluruh dunia.
- Tapi batas tuh mulai jam sekian sampai
- jam sekian. Alhamdulillah tuh dari di
- Roma itu ada 8 telepon gratis, 8-8 nya
- orang Indonesia yang menguasai.
- Jadi orang Indonesia tuh maunya gratis
- kan? Ah, jadi gratis saja kita telepon
- gitu. Enggak, itu ada bahasa menguasai
- gitu. Memang. Oh, iya. Karena kan Piala
- Dunia 90 itu wartawan Indonesia
- terbanyak sepanjang sejarah. 33 wartawan
- Indonesia meliput. Sampai panitia di
- Italia itu bingung.
- Saya punya teman wartawan Jepang, ya.
- Dia bilang, "Indonesia kan enggak ikut
- Piala Dunia? Kalau Jepang nih enggak
- ikut, tetapi Jepang ini eh sponsor."
- Kemudian saya punya teman eh pemain
- nasional Korea Selatan bek beberapa kali
- ketemu eh bek kirinya Korea Selatan Cho
- Kwang-Rae namanya. Dia bilang, "Negara
- negara Anda aneh gitu. Enggak ada negara
- Anda, kenapa Anda ikut
- penonton wartawan banyak wartawan paling
- dibanding Korea sama Jepang kita paling
- banyak."
- Itu jawabannya gimana, Bing? Oh, kita
- bilang, "Sepak bola di Indonesia
- merupakan agama kedua setelah agama
- mayoritas." Saya bilang gitu sambil
- ketawa tentunya, kan?
- Ah, akhirnya ya
- setelah itu FIFA mengubah kebijakan.
- Jadi, waktu itu 33 wartawan Indonesia
- 33-nya dapat ID. Waduh. Nah, setelah itu
- dibatasin. Indonesia dapat lima saja,
- enggak bisa lebih. Setelah tahun 90?
- Setelah itu. Makanya 94 itu saya dapat
- pas harian karena Ehm. eh Piala Dunia
- itu kan satu tahun sebelum wartawan
- daftar. Nah, waktu itu saya transisi tuh
- mau pindah ke mau mendirikan Gola. Jadi,
- saya enggak daftar.
- Ehm. Tetapi waktu saya datang ke sana
- diurus oleh teman-teman di sana, saya
- dapat pas harian. Ehm. Jadi, pas harian.
- Nah, saya juga menikmati itu. Cuma
- memang beda di Italia dengan di Amerika.
- Di Italia itu negaranya kan kecil. Iya.
- Dari eh Milan
- ke
- eh
- Milan ke Roma misalnya.
- Sisilia itu naik pesawat cuman satu jam
- 20 menit. Iya.
- Eh sementara di di Amerika itu dari Los
- Angeles ke New York enam jam ke
- di Amerika berapa kota?
- Miami
- Saya beberapa kota aja, saya enggak
- enggak enggak karena saya udah udah
- ngambil kebijakan-kebijakannya, saya
- base saya di California. Tapi saya ke
- apa San Francisco, ke San Diego
- begitu-begitu. Ah cuma enggak enggak
- jauh dari situlah. Tapi kalau yang di
- Itali saya 44 hari setiap hari pindah.
- Setiap hari pindah, setiap hari pindah,
- setiap hari pindah gitu. Jadi memang
- luar biasa itu butuh speed yang yang
- prima gitu. Dan itu saya punya kenangan
- di buku saya ah bukan otobiografi ya,
- ada buku saya dulu Bung Krisna udah saya
- pernah saya kasih tuh buku itu. Apa
- judulnya?
- Itu ah
- apa
- sekoper apa bukan diplomasi kerupuk
- udang. Oh iya iya. Diplomasi kerupuk
- udang. Nah di situ ada bagian di mana
- mertua saya itu
- sangat sayang pada saya, saya di
- dibawain rendang kering
- apa apa namanya itu kentang kering itu
- balado yang dikeringin gitu ah itu. Jadi
- bawa Indomie
- bawa mi instan gitu ya.
- Bawa mi instan dan kita
- saya biasa kalau di luar negeri saya
- daripada makan di restoran mahal ah kita
- masak sendiri ah gitu. Jadi kita nik
- betul-betul menikmati itu
- cuma hati kan karena istri baru
- melahirkan
- anak masih merah jadi
- kata kata istri saya setiap pertandingan
- bola anak saya itu selalu nonton yang
- kecil yang baru lahir ini. Saya istri
- saya bilang tuh papa tuh dia ada di sana
- gitu. Ah jadi itulah indah sekali gitu
- berkeliling-keliling di Itali itu. Jadi
- semua pelosok saya datengin 44 hari luar
- biasa sempat dikejar-kejar sama
- hooligans waktu di Sisilia. Oh. Jadi
- saya
- Hooligans-nya Itali hooligans Inggris?
- Inggris Inggris Inggris. Waktu itu ah
- dia lawan ketemu Belanda.
- Waktu di bawah kita habis makan bersama
- wartawan fotografer Kompas almarhum Mas
- Kartono, kemudian fotografer ee Street
- Time, Jerry Se,
- ee kemudian
- ee ada saya lupa wartawan apa
- ee Sunday Times,
- kemudian saya dan dua wartawan Jepang.
- Wartawan Jepang naik ke atas karena kan
- sudah di Indonesia ini kan baru ada
- jalan gitu-gitu kan, jalan
- bertingkat-tingkat. Saya 82 sudah di
- Jepang ketemu jalan bertingkat, parkir
- di
- tingkat lima. Waduh ini di mana ini jauh
- benar. Ya norak-norak gitu. Sekarang
- Indonesia alhamdulillah sudah punya
- jalan flyover di mana-mana gitu. Nah,
- wartawan Jepang sampai dulu di atas
- langsung dianiaya oleh hooligan. Wah,
- kita lari semua lompat. Dan itu ada
- insting di mana semua pada masa ke ee
- apa kepepet itu, kita bisa loncat
- sedemikian jauh dan sedemikian tinggi.
- Dan enggak mikir dulu kalau lagi gitu ya
- langsung loncat saja. Wah, karena bukan
- bukan apa-apa. Kill them, kill them.
- Wah, siapa yang mau dibunuh kan. Wah,
- kita lari saja sudah. Nah, ini mungkin
- salah satu sisi negatif bukan sih kalau
- misalkan ada timnya kalah itu
- fans itu pasti selalu marah.
- Sebetulnya enggak juga ya. Yang yang
- ya ini ini otokritik juga buat
- teman-teman atau atau adik-adik saya
- junior atau anak-anak saya yang sekarang
- jadi wartawan. Iya.
- Lebay kita ini cara memberitakannya.
- Jadi ada kerusuhan, wah diolah
- sedemikian rupa. Ya orang ikut jadinya.
- Kan mestinya ini di boleh diberitakan
- karena ini berita, tapi enggak perlu
- diungkap sedemikian rupa sehingga jadi
- orang terinspirasi untuk melakukan hal
- itu. Iya. Kan di Inggris di Sisilia itu
- mati
- apa hooligan kan ditembak sama orang
- Itali.
- Waktu dia mau bikin rusuh. Wah, kita
- juga gitu. Di buku saya ada juga itu.
- Kita masuk restoran, orang hooligan lagi
- ngamuk-ngamuk. Kita masuk sudah enggak
- mundur enggak bisa nih.
- Oh, saya bilang cuma dua saja saya
- bilang, kita mati digebukin
- atau dia takut sama kita.
- Bagaimana? Ada wartawan Jepang yang
- bayar wartawan Jepang karena wartawan
- Jepang takut jadi selalu ngajak kita.
- Saya angkat kursi
- pukulin ke meja.
- Kaget mereka kan? Wah, orang berani ber-
- diam dia.
- Kalau kita masuk terus kita diam dia
- serbu oleh dia kan? Ini kita pukul meja
- dulu pakai kursi. Duak, kaget kan dia?
- Sudah.
- Kita lihatin saja, berhenti dia. Dia
- keluar.
- Sebetulnya sama saja dia juga takut
- bukannya enggak cuma karena kita takut
- dia jadi berani gitu.
- Nah, cuma itu jangan di- jangan di-ikuti
- gitu karena itu juga kita iya kita kita
- ee keadaan terpaksa kita melakukan hal
- itu karena kalau enggak kan pilihannya
- kita dianiaya oleh dia. Kita enggak bisa
- keluar lagi. Masuk waduh, ini situasi
- enggak menguntungkan gitu. Baik, Bung.
- Ini tadi kembali ke Piala Dunia 90 ya.
- Ini kayaknya ajangnya
- masih ajangnya Maradona.
- Maradona, betul. Roberto Baggio yang
- baru muncul gitu ya.
- betul. Johan Cruyff juga masih
- Iya, Lombardo di situ ada.
- juga ada gitu ya. Akhirnya tapi kan yang
- muncul juaranya adalah Jerman. Jerman.
- Saya kebetulan ee menyaksikan final
- sebagai fotografer dan
- menariklah ya di Itali itu. Ee pada masa
- itu
- menjelang final atau gini, pada saat
- pembukaan di Milan Argentina kalah 1-0
- dari
- ee ee apa Kamerun.
- Kemudian hari ke- kedua pertandingan
- pindah di Roma.
- Waktu itu Itali melawan Austria.
- Austria menang 1-0.
- Austria menang 1-0 itu, sopir bus, sopir
- taksi,
- semua enggak ada, semua pesta.
- Kita wartawan yang harusnya naik bus,
- diantar sampai ke tempat
- Jadi enggak bisa.
- Enggak bisa. Wah, kita marah rame-rame.
- Kita kita berdoa deh Italia jangan
- juara. Ini baru menang sehari sekali ini
- aja kita udah kerepotan gitu.
- Apalagi kalau juara ya. Nah, saya
- melihat bahwa Maradona itu adalah sosok
- yang mampu mampu memisahkan, bayangin
- ini.
- Napoli itu kan bagian dari Italia. Iya.
- Tetapi karena Maradona itu adalah
- ikonnya Napoli, He eh.
- orang Napoli membela Argentina,
- bukan membela Italia. Sehingga orang
- Roma mengatakan bahwa orang Napoli itu
- bukan orang Italia.
- Ehm. Gitu, karena kan mereka ketemu di
- semifinal kan.
- Betul. Kalah Italia kan. Iya. Nah,
- jadi waktu itu Maradona datang, kita
- kebetulan masih di luar,
- Maradona datang naik bus, orang Napoli
- semua nyambut tuh. Diserbu oleh
- orang-orang orang-orang Roma, orang
- Milan, orang karena merasa bahwa
- "Anda kok malah membela Maradona gitu."
- Nah, saya lihat di situ memang Maradona
- menjadi
- inspirator bagi rakyat Napoli yang
- miskin, menjadi Napoli yang kemudian
- dikenal di seluruh dunia.
- Sampai bisa mengalahkan bendera bendera
- negaranya sendiri.
- Betul. Untuk orang untuk Napoli.
- Membangkitkan, bayangkan waktu waktu
- Maradona dikontrak
- di Napoli, He eh.
- perkenalannya itu
- kan enggak punya duit Napoli ini.
- He
- Perkenalannya itu
- rakyat itu beli tiket.
- Nyumbang uang untuk Napoli supaya
- ada uang untuk Maradona. Jual segala
- macam yang dia punya. Ehm.
- Nah, nah di Indonesia ini ada fenomena
- itu. Itu Arema.
- Nah, Arema itu kalau mau main, Aremania
- itu jual apa saja. Iya, iya. Jadi kalau
- kalau Bung Angga nanti satu hari ke
- Malang, lihat Arema mau main bola, mau
- main mau main lawan ke terutama lawan
- tim-tim yang lebih yang kuat gitu.
- Mmm, mmm, mmm. Ah, cari barang murah.
- Karena mereka akan jual barang murah.
- Demi Arema, ya? Demi Arema. Karena
- suporter. Dan fenomena ini juga Arema
- menjadi inspirator bagi
- masyarakat eee Malang.
- Bersama kebersamaan itu
- dibangun oleh Arema. Jadi ini almarhum
- Pak Acub yang punya dulu kan yang
- membangun Arema. Nah, mereka itu enggak
- ada penonton yang enggak bayar di Arema.
- Jadi kalau ada penonton masuk molos,
- ditangkap oleh mereka. Mmm. Nah,
- sementara di daerah lain
- kalau bisa molos, ngapain bayar. Ah, di
- sana enggak.
- Biar pintu dibuka, mereka kalau enggak
- punya tiket enggak mau masuk.
- Berarti mereka sudah ada kecintaan.
- Nah,
- sebetulnya ini contoh yang bagus ya,
- Arema. Eee sehingga mesti jadi contoh
- bagi banyak mania di Indonesia. Kembali
- ke Itali.
- Di Itali saya kira eee banyak sekali
- hal-hal yang saya dapat pelajaran di
- sana.
- Eee bagaimana orang Itali yang ramah
- gitu, enggak seperti kita dengar
- sebelumnya orang Itali itu oh, mafia
- segala macam. Dia mafia tuh di negara
- lain. Di Itali enggak ada mafia gitu.
- Gitu ya. Sama dengan restoran Padang
- adanya di luar di luar Padang. Di Padang
- enggak ada restoran Padang kan gitu.
- Heeh.
- Seperti itulah kira-kira. Berbeda dengan
- di Amerika. Di Amerika itu eee
- terlalu jauh sehingga nuansa sepak
- bolanya tuh enggak terbangun.
- Tidak terbangun. Apalagi di laga-laga
- awal pertandingan
- banyak draw
- dan golnya sedikit membuat orang Amerika
- malas nonton. Mmm. Sampai akhirnya
- presiden eee Bill Clinton waktu itu me
- menghimbau bisa enggak sih di dicetak
- gol yang banyak gitu. Iya.
- Karena orang Amerika senang dengan gol.
- Kalau gol tuh wah mereka gitu. Sementara
- sepak bola sendiri
- justru kalau enggak gol itu yang Hmm.
- menarik orang gitu kan.
- Bahkan sampai final aja malah ada
- penalti gitu ya Amerika. Nah,
- ada juga kisah lucu ketika saya meliput
- Piala Eropa tahun 92 di Swedia. Swedia.
- Waktu itu kita datang lebih awal.
- Jadwalnya karena orang Indonesia kan
- cari yang hemat. Tiketnya yang lebih
- murah datang lebih cepat 3 hari sebelum
- peralatan. Eh, bukan
- pembukaan. Bukan pembukaan pertandingan,
- pembukaan presenter, pembukaan nah Oh,
- bahkan lebih jauh dong itu. Iya,
- lebih-lebih jauh. Jadi 5 hari ke game.
- Game-nya baru masih 5 hari baru buka.
- Kita datang ke Stockholm.
- Kemudian
- eh, kita cari tempat di mana
- presenter ada.
- Lalu kita datang ke sana. Ternyata
- sekolahan. Hmm. Sekoalahan ada tukang
- sapu lagi nyapu. Kita beberapa
- wartawanlah ada
- 12 oranglah
- itu lagi bayangin.
- Kita bukan orang Eropa kan. Jadi tukang
- sapu bilang kita nanya apa ini alamat
- sesuai ini? Iya ini. Loh kok enggak ada
- presenter-nya? Oh, nanti masih 3 hari
- lagi.
- Ini sekolah belum libur jadi besok baru
- libur sekolah itu. Anda dari mana gitu?
- Anda mau ngapain? Mau liput Piala
- Ero-Piala Eropa. Ada dari mana? Dari
- Indonesia. Eh, Indonesia itu bukan
- Eropa.
- Kenapa Anda ada datang katanya.
- Oh, kita enggak bisa jawab. Tapi kita
- senang gitu karena si tukang sapu tuh
- ngomongnya serius gitu mengatakan orang
- Indonesia Indonesia itu bukan Eropa
- kenapa Anda ke sini gitu. Mau meliput
- sepak bola Eropa untuk apa
- Ya itulah kenangan-kenangan
- kenangan-kenangan indah dan di Swedia
- itu saya
- juga mendapat apa ya
- anugerah dari Allah menyaksikan 24 jam
- siang. Belum pernah kan?
- Berarti malamnya kapan dong?
- Enggak ada. Oh, enggak ada malamnya. 3
- hari.
- 22, 23, 24. Berarti kalau bulan puasa
- gimana sih ya? Kalau bertepatan dengan
- bulan puasa berarti Itu di situlah
- keluar fatwa dari ulama sedunia.
- Jadi katanya, katanya nih banyak
- eh emir-emir dari negara Arab kalau Juni
- dia puasanya ke Selandia Baru.
- Karena Selandia Baru musim
- dingin
- malamnya lebih banyak dari siang.
- Gitu.
- Nah, kalau bulan puasa sudah mulai
- apa eh Desember, Januari, Februari
- mereka ke
- Barat. Karena di Barat malamnya panjang.
- Gitu. Nah,
- keluar fatwa jadi kalau
- malamnya enggak ada
- ya enggak perlu puasa nanti diganti.
- Karena 24 jam Karena 24 jam. Dan itupun
- tidak tidak full ya sampai ber
- Iya, tapi tapi selama bulan Juni sampai
- Juli waktu saya datang waktu itu kalau
- enggak salah tanggal 11
- 11 Juni He em. saya pulang eh kira-kira
- Juli tanggal berapa lah gitu. He em.
- Nah, itu malam terbanyak itu 4 jam.
- Hanya Hanya 4 jam.
- Hanya 4 jam. Jadi waktu saya pertama
- datang
- saya memang pernah dikasih tahu oleh
- almarhum Benny Mulyono waktu itu eh bos
- saya dari Warna Agung
- dia bilang Negara kamu akan ketemu mid
- summer aftern. Apa itu Om? Mid summer
- aftern itu di mana enggak ada malam yang
- ada siang. He em. Jadi Allah mengatur
- dunia itu dahsyat sekali.
- Jadi matahari itu di sini.
- Dia kapan siangnya eh kapan malamnya?
- Nah, sebaliknya kalau Desember
- matahari di sini, dia enggak dia
- Desember itu 27, 28, 29 atau 23, 24, 25.
- Ehm.
- Dia enggak ada enggak ada siang.
- Jadi, kalau musim winter itu
- siangnya sedikit
- malamnya banyak. Nah, itu yang fatwa
- puasa enggak boleh mencari tempat
- seperti itu.
- Gitu. Baik, Bung Nigarra saya juga ingin
- bertanya tentang bagaimana sepakbola dan
- apa ya politik dunia lah istilahnya
- seperti itulah.
- Eee sekarang
- sudah menjadi bisnis yang sangat luar
- biasa sepakbola, apalagi di di Piala
- Dunia. Lalu kaitannya dengan
- negara-negara berkembang, kalau tadi ada
- ada ungkapan bahwa
- ingin maju sebuah negara itu harus maju
- olahraganya Ehm.
- sekarang kita lihat negara-negara Islam
- yang bisa dikatakan mungkin belum
- terlalu maju dalam hal ekonomi dan
- politik akhirnya dalam hal olahraga pun
- belum bisa bicara banyak gitu ya.
- Apalagi untuk sepakbola gitu. Negara
- Islam kan masih hanya partisipan, belum
- bisa menjadi eee trend centernya gitu
- lah. Anda melihat ini bagaimana karena
- termasuk nanti ke Indonesia juga.
- Sebetulnya eee relatif ya kalau dibilang
- negara Islam enggak maju olahraganya,
- saya kira
- enggak seluruhnya benar. Ehm. Iran
- pernah ikut Piala Dunia. Ehm.
- Eee kemudian eee Aljazair pernah ikut
- Piala Dunia.
- Iya.
- Kemudian
- Arab Saudi pernah ikut Piala Dunia.
- Jadi, di Arab Saudi olahraga sangat
- maju.
- Eee fasilitasnya dibangun dengan baik.
- Bawa atlet awalnya dia me
- mela apa mengundang orang-orang untuk
- menjadi warga negaranya
- sama seperti kita, saya waktu itu tim
- eee apa namanya eee
- mencari pemain dari di Belanda yang ada
- darah Indonesianya untuk dijadikan warga
- negara Indonesia. Nah,
- itu membuat mereka maju dan
- sultan-sultan di Arab Saudi itu punya
- kewajiban. Saya juga punya cerita
- menarik ketika ikut Piala Asia Antar
- Klub di mana waktu itu tahun 1985
- tuan rumahnya Arab Saudi, mainnya di
- Jeddah. Dan Kramayudha Tiga Berlian
- adalah klub Indonesia yang ikut ke itu
- dan menempati posisinya nomor empat.
- Dari 16 tim posisinya nomor empat
- Indonesia waktu itu ya tahun 85. Dan
- kita menjadi
- yang bertanggung jawab terhadap tim
- Kramayudha Tiga Berlian ada keluarga
- Albuksan. Albuksan ini pada saat itu
- merupakan orang terkaya ke-10 di Arab
- Saudi. Dia penguasa seluruh minyak wangi
- dunia
- enggak ada yang enggak yang enggak ada
- sahamnya dia. Heeh. Jadi emang spesialis
- minyak wangi.
- Punya stadion sendiri, bayangin. Rumah
- punya stadion. Nah, kebayang rumahnya
- segede apa kan? Iya. Punya kebun
- binatang sendiri
- dan 5.000
- karyawannya
- ya termasuk di pabrik ya, di rumah tuh
- ada sekitar 150-an. Itu cuma dari dua
- kota. Heeh. Dari Madura dan dari
- Cianjur. Waduh. Itu. Yang apa Madura itu
- masak, yang Cianjur itu bagian
- bersih-bersih. Heeh. Nah, sama itu dari
- 5.000 karyawan ya seluruhnya orang
- Madura dan orang Cianjur, enggak mau
- orang daerah lain gitu. Saya enggak
- ngerti waktu itu saya tanya kenapa ya
- itu mereka cocok lidah masak masakan
- Madura dengan masakan Arab cocok jadi
- mereka. Kemudian orang Cianjur kenapa
- orang Cianjur? Karena
- bersih, ngebersihinnya rumahnya bersih
- gitu. Jadi gitu. Nah,
- dia total
- total me apa namanya itu memberikan
- perhatian terhadap perkembangan sepak
- bola
- di
- tempatnya dia total dan ini membuat Arab
- Saudi maju olahraganya gitu, maju
- olahraganya. Nah, yang kita maksud maju
- olahraga itu kan bukan berarti kita
- menjadi juara semuanya enggak gitu,
- bukan itu. Yang disebut maju itu ya
- pemerintah ngasih sarana, prasarana apa
- dana yang baik gitu.
- Kan diutamakan oleh negara ini sehingga
- atlet itu
- kalau di Cina atau di Korea, saya ini
- jadi atlet nasional. Hari ini saya
- berhenti nih di Korea nih, hari ini saya
- pensiun
- maka bulan depan
- saya pasti bergaji 5.000 US dolar
- seumur hidup saya.
- Di Indonesia
- sudah selesai nih hari ini saya selesai
- jadi atlet. Alhamdulillah.
- Alhamdulillah. Cari hidup sendirilah di
- mana-mana.
- Sehingga itu yang itu yang enggak ada
- tanggung jawabnya jadinya ya. Kalau di
- kita lihat saja Guus Hiddink
- mampu membawa Korea Selatan ke semifinal
- iya Piala Dunia 2002
- seumur hidup naik Korean Air atau nginep
- di hotel yang pemiliknya orang Korea
- gratis dia dengan istrinya
- cuma dua ya dia dengan istrinya gratis
- seumur hidup itu itu penghargaan buat
- dia ya
- iya
- artinya apa orang jadi oh iya, sekarang
- kan gini
- dokter apa MPR ada, DPR ada pensiunnya
- PNS ada pensiunnya
- iya
- kok atlet enggak ada pensiunnya
- harus ada pensiun dong iya iya sekarang
- alhamdulillah peraih medali emas
- Olimpiade dapat 2 miliar alhamdulillah
- bukan itu maksudnya iya dikasih 2 miliar
- anak muda kasih 2 miliar beli mobil
- beres selesai kan iya lalu entar ya kan
- tanggung jawab dia Bukan itu, jangan
- pakai Arab Saudi nih.
- Amin Dabo adalah kapten tim nasional
- Arab Saudi 1985. He em, he Amin Dabo,
- juara Afrika.
- Begitu dia membawa, dia orang Mesir
- yang menjadi warga negara apa Arab
- Saudi.
- Arab Saudi. Begitu dia
- selesai jadi apa atlet
- dia pensiun
- oleh raja
- Arab Saudi, bukan King Salman yang
- sekarang.
- Yang sebelumnya. Yang sebelumnya.
- Dibuatkan Amin Dabo Sport Center. He em.
- Jadi kalau Bung Angga satu hari ke
- Pantai Cornish
- Cornish. Saya enggak tahu kalau sekarang
- ya, masih ada apa enggak tuh Amin Dabo
- Sport Center. Itu gedung 39 lantai apa
- 29 lantai. Gede tuh tulisannya Amin Dabo
- Sport Center.
- Hadiah dari
- negara untuk dia. He em.
- Kita pertanyaan kita sederhana.
- Susi Susanti juara Olimpiade, Alan
- Budikusuma juara Olimpiade. Dia bisa
- hidup sekarang
- sehat walafiat
- rumah cukup nyaman di Kelapa Gading He
- em. dari pemerintah? Bukan. Usaha-usaha
- dia ya. Usaha dia.
- Usaha dia. Jadi maksud saya
- enggak salah dia ngasih 2 miliar, tetapi
- anak muda dikasih 2 miliar
- ngasih pacarnya, ngasih orang tua,
- ngasih ini. Terus dia hidup dia ke depan
- gimana? Baik. Bukan itu, harusnya
- disiapin. Oke, begitu Anda pensiun, maka
- Anda peraih medali emas Olimpiade nih,
- dapat pensiun seumur hidup 50 juta
- setiap bulan.
- He em.
- Kan terjamin hidupnya kan. Betul. Mau
- dong orang ke situ untuk jadi atlet,
- gitu.
- Jadi atlet, akhir olahraga juga lebih
- bisa maju gitu ya. Baik, Bung Nigara
- mungkin saya ke ke
- terakhir dari bincang-bincang kita nih,
- karena sudah dibatasi waktu.
- Di momen
- Ramadan, kita dalam menjalankan ibadah
- ibadah di bulan Ramadan, salah satunya
- adalah puasa gitu ya. Kaitannya dengan
- olahraga, biasanya kalau puasa malas
- olahraga.
- Sebenarnya masih harus olahraga enggak
- sih kalau puasa?
- Saya
- memberi contoh yang pertama, pemain
- Jerman, Mesut Ozil.
- Ingat kan? Iya, itu muslim ya?
- Dan dia puasa. Dia puasa. Dia puasa,
- karena waktu Piala Dunia kapan pas
- puasa, dia puasa. Pelatihnya marah, dia
- bilang jangan marah. Oh, Piala Dunia
- 2014 kemarin. Oh, iya betul ya, heeh.
- Jangan marah.
- Saya akan tetap menya melakukan apa yang
- Anda instru instruksikan dan enggak akan
- kehilangan tenaga. Heeh. Dia puasa.
- Heeh. Jadi enggak ada alasan kita, ini
- dulu nih dulu nih PSSI, dulu nih PSSI
- dan cabang-cabang olahraga, kalau
- pelatnas puasa seminggu di Jakarta
- kemudian ke luar negeri.
- Jadi kan musafir kan, boleh enggak
- puasa? Heeh.
- Itu selalu begitu, selalu begitu gitu
- loh.
- Padahal enggak ada kaitannya, enggak ada
- kaitannya. Betul berkuranglah kualitas
- fisik kita menurun, itu enggak ada
- enggak ada yang bisa sanggahlah ya, tapi
- bukan itu jadi alasan.
- Kalau itu jadi alasan, itu pelari
- Ethiopia Ethiopia enggak makan. Iya. Dia
- bisa jadi juara dunia.
- Masih ingat petinju namanya Julio Cesar
- Chavez, fisiknya terbentuk bukan karena
- makan.
- Orang susah kok.
- Dia lari 7 kilo sekolah, jauhnya 7 kilo.
- Heeh. Pagi dia lari, pulang dia lari,
- enggak minum tuh, enggak makan.
- Bisa tuh.
- Jadi enggak ada alasan untuk karena
- puasa terus enggak olahraga, karena
- puasa terus
- eh olahraganya dibatasin, jangan. Jadi
- justru
- ya ya mungkin saya lebay kalau bilang
- ini ujian. Enggak, enggak ujianlah ya.
- Jadi, kita nikmatin aja se
- sebaik-baiknya. Dulu sih waktu kecil
- dulu kalau sekarang sudah sudah beda ya,
- sudah usia juga, kesibukannya lain. Dulu
- kecil tuh olah justru tanya Bung Krishna
- lah. Nah, dia kebetulan enggak jauh-jauh
- tuh dia Bukit Duri, saya Guntur.
- Kelakuan anaknya sama tuh. Habis subuh
- main bola. Main bola puasa itu. Sama
- dong.
- Iya.
- Waktu kecil kayak gitu ya.
- Iya, main main galasin, main
- uber-uberan. Kan tenaganya hilang. Tapi
- apa kita terus enggak puasa? Puasa
- terus, enggak ada masalah.
- Lapar haus tapi enggak batal ya kita.
- Loh, enggak.
- Terus puasa ya. Iya. Saya enggak kuat
- juga.
- Lapar haus tuh kan gini. Uh, kita lapar
- ya? Lapar. Iya.
- Wah, kita haus ya? Ya, haus gitu.
- Kita minum. Pasti minum. Tapi kalau kita
- tekadnya enggak ya ya enggak. Masalahnya
- itu
- kita mau apa enggak gitu.
- Kita bersepakat apa enggak bahwa puasa
- itu bukan halangan, tapi puasa itu
- adalah memang kewajiban kita yang harus
- kita jalani dan olahraga adalah tanggung
- jawab kita yang harus kita jalani juga.
- Kalau petinju favorit yang jadi
- inspirasi siapa sih? Sekarang?
- Sekarang saya ya masih melihat
- Bernard Hopkins dan Oscar De La Hoya ya.
- Tentu Muhammad Ali lah kalau kalau kita
- lihat itu Muhammad
- Saya lihat
- Oscar De La Hoya
- sempat dua kali
- tergoda untuk
- setelah kalah dari Manny Pacquiao, dia
- sempat salah arah, hampir jadi bencong.
- Kemudian balik lagi. Kemudian setelah
- kalah dari Mayweather, dia terpuruk.
- Sekarang bangkit lagi, tetapi bawa
- bisnisnya sekarang memang sedang menurun
- karena dia kehilangan Richard Server
- sebagai CEO-nya dia
- dan itu tetapi dia adalah anak imigran
- yang mampu menjadi orang dengan baik.
- Hmm. Bernard Hopkins, mantan preman,
- mantan pencuri, jangan lupa loh Bernard
- Hopkins Islam dan Bernard Hopkins puasa
- dan Bernard Hopkins menjalankan
- sepanjang yang saya tahu ya, menjalankan
- syariat Islam dengan baik.
- Hmm. Bernard Hopkins sebelum main selalu
- baca doa dan
- doanya dan Bernard Hopkins sudah haji.
- Oh gitu. Nah, kalau sepak bola kalau
- sepak bola?
- Sepak bola saya kira relatif saja ya.
- Saya paling suka dengan Kevin Keegan
- karena itu adalah pujaan saya dari
- Liverpool. Pantesan deh tadi ngomongnya
- hooligan hooligan gitu.
- Karena Kevin Keegan ini pemain besar,
- pemain hebat yang nasibnya enggak
- beruntung tetapi tidak salah jalan.
- Kenapa nasibnya tidak beruntung? Kevin
- Keegan itu tidak pernah ikut Piala Dunia
- padahal dia elit pemain dunia. Tidak
- pernah ikut Piala Dunia kenapa? Karena
- pada masa itu Inggris tidak pernah lolos
- Piala Dunia.
- Nasib Kevin Keegan
- ditentukan oleh teman-teman yang lain
- karena Inggris enggak lolos maka dia
- menjadi bintang dunia yang belum pernah
- mencicipi Piala Dunia.
- Baik.
- Tetapi dia tidak salah jalan. Itu yang
- paling penting. Ya orang kan
- kadang-kadang atas nama kegagalan, atas
- nama anu terus salah jalan. Betul betul.
- Nah, ya ini yang enggak boleh gitu.
- Kalau olahragawan, atlet nasional yang
- harus bukan harus ya, bisa kita jadi
- patu panutan siapa sih menurut
- Bung Negara?
- Eee
- saya di saya pesepak bola yang saya rasa
- patut dibaca sejarahnya, bisa jadi
- panutan Soetjipto Soentoro.
- Eee Soetjipto Soentoro adalah
- orang
- atau atlet yang mampu memperlihatkan
- karakter keindonesiaannya dengan baik
- dan benar gitu ya.
- Sementara kalau di
- cabang lain
- di
- tenis misalnya
- saudara Wailan Walalangi
- ya itu juga bisa dijadiin contoh
- bagaimana
- eee
- sikap brangasan dia
- itu bisa dibawa positif dalam
- pertandingan. Enggak banyak orang bisa
- seperti itu. Dia mengolah emosi dia di
- dalam pertandingan sehingga dia
- menjadi raja tenis pada masanya dia
- gitu. Dan dia menjadi juara
- eee Sea Games berulang-ulang kemudian
- eee eee apa namanya
- eee
- ikut Olimpiade juga termasuk atlet
- Indonesia yang ikut Olimpiade.
- Gitu. Itu dua dua tokoh yang menurut
- saya bisa dijadiin panutan.
- Baik Bung Negara terima kasih banyak
- atas waktunya. Semoga perbincangan kita
- ini menginspirasi Ikhwan dan Akhwat.
- Terima kasih banyak sekali lagi.
- Sama-sama Bung Negara. Demikianlah
- Ikhwan Akhwat yang dirahmati Allah
- Subhanahu Wa Ta'ala.
- Sahur bersama tokoh eee bersama
- Bung Mahfudin Negara wartawan sepak bola
- nasional senior tadi kita sudah banyak
- berbincang-bincang
- eee mengenai banyak hal kaitannya dengan
- olahraga dan juga mengenai cerita-cerita
- beliau eee menyangkut biografi beliau.
- Selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga
- tadi perbincangan kami menemani waktu
- Anda itu dengan hikmat dan juga
- bermanfaat. Saya Angga Aminudin undur
- diri. Billahi taufik wal hidayah.
- Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu
- alla ilaha illa anta astagfiruka wa
- atubu ilaik. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.