Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:03 [Musik] 0:08 Brail TV. 0:15 Bismillahirrahmanirrahim. 0:18 Asalamualaikum warahmatullahi 0:20 wabarakatuh. Ikhwan akhwat 0:21 rahimakumullah. 0:23 bersyukur sekali hari ini kita dapat 0:24 bersama-sama di acara Bincang Komunikasi 0:28 yang mudah-mudahan membuat kita semakin 0:31 mahir mahir dalam banyak hal terkait 0:33 dengan komunikasi yang semoga juga 0:37 bahasan hari ini benar-benar mempersuasi 0:40 kita untuk bisa 0:44 menjalankannya ya tidak lupa salam 0:46 selawat kita lantunkan untuk junjungan 0:48 umat kekasih kita Rasulullah sallallahu 0:52 alaihi wasallam Alam. Semoga kelak kita 0:54 dipertemukan dengan beliau di saat yang 0:56 sangat kita rindukan di yaumil akhir. 0:59 Ikhwan akhwat, seperti biasa Bincang 1:01 Komunikasi menghadirkan Dr. Laila 1:03 Monaganim yang juga sudah siap untuk 1:06 kita. Asalamualaikum warahmatullahi 1:08 wabarakatuh, Mbak Mona. 1:09 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:11 wabarakatuh. 1:11 Sehat ya? 1:12 Alhamdulillah. Senang ketemu lagi. 1:15 Meskipun sebulan sekali cukup, tapi ini 1:18 merupakan kesempatan yang luar biasa. 1:20 Heeh. 1:21 Ngomong-ngomong tadi kan di ee off air 1:24 sebelum kita on air nih, ikhwan akhwat 1:27 bicaranya tuh tentang ada loh yang 1:30 merupakan keterampilan berkomunikasi. 1:33 Nah, kita mahir yang mana seperti apa 1:36 persisnya gimana judulnya? 1:38 Ee 1:40 gimana caranya kita punya empat 1:42 keterampilan supaya canggih 1:44 berkomunikasi? Nah, canggih 1:46 berkomunikasi berarti enggak ada salah 1:48 paham, enggak ada salah mengerti dan 1:50 sebagainya. Yuk, kita simak. Silakan, 1:52 Mbak. Thank you. Halo, Iwan dan akhwat 1:56 yang dirahmati Allah. Asalamualaikum 1:58 warahmatullahi wabarakatuh. 2:00 Waalaikumsalam. 2:02 Hari ini kita ngobrolin tentang 2:05 empat keterampilan penting banget buat 2:09 bertahan hidup, yaitu keterampilan 2:13 komunikasi. 2:14 Ee ada empat. Yang pertama adalah 2:18 mendengarkan, 2:20 dua ngomong, tiga 2:24 membaca, empat menulis. Nah, canggih 2:28 banget. Keren banget kalau kita punya 2:30 empat-empatnya dalam kehidupan kita. 2:32 Yuk, kita bahas satu-satu, ya. Yang 2:35 pertama, ee mendengarkan. Mendengarkan 2:39 ini keren banget, perlu banget. ee 2:43 karena kita punya dua telinga untuk 2:46 mendengarkan. 2:48 Ee mendengar dan mendengarkan beda. 2:51 Mendengar adalah dengar doang. 2:53 Mendengarkan be there, hadir, 2:57 perhatian, 2:59 menangkap pesan-pesannya. 3:01 Ee kemudian ini juga penting kalau kita 3:04 mau ngjawab apa yang kita dengarkan dan 3:09 perlu ngerespon. Maka dengan 3:13 mendengarkan 3:15 kita bisa 3:17 dapat informasinya, kita bisa memikirkan 3:21 apa pesan yang perlu disampaikan, kita 3:24 bisa menjawab, ngerespon dengan beres 3:27 sesuai dengan ee pertanyaan atau ee apa 3:33 informasi yang perlu kita respon dan 3:35 juga dengan mendengarkan ee hubungannya 3:38 jadi bagus tuh. Jadi mendengarkan adalah 3:42 penting sekali ya. Ee di dalam Quran 3:48 surah An-Nahl 3:50 ee 3:52 dan Allah telah mengeluarkan kamu dari 3:55 perut ibumu 3:58 tanpa mengetahui sesuatu pun. Enggak 4:01 ngerti apa-apa. 4:04 Dia ciptakan untukmu pendengaran, 4:08 penglihatan, 4:10 dan hati 4:12 agar kamu menjadi orang-orang yang 4:14 bersyukur. Jadi dengan kita punya 4:17 pendengaran, punya penglihatan dan hati 4:20 itu bikin kita jadi bersyukur. So, 4:23 gimana caranya? Yuk, manfaatkan ini dan 4:26 jadi pendengar yang bagus. Ini untungnya 4:29 banyak sekali. 4:31 ee 4:34 mendengarkan itu perlu punya kecerdasan 4:36 loh. 4:37 Jadi banyak orang yang lebih suka 4:41 ngomong atau debat daripada 4:44 ee dengerin gitu. Dan ini keterampilan 4:47 yang paling besar di dalam kehidupan 4:49 kita. Sekitar 42%. Ini pernah ada sebuah 4:53 kajian ya ee berapa persen ee 4:56 mendengarkan itu? 42%, 32% itu bicara 5:00 gitu ya. Jadi ee 74% dua-duanya itu. 5:04 Kemudian membaca dan menulis. Menulis 5:07 paling paling sedikit ya. 5:09 Jadi memang mendengarkan itu penting. Ee 5:12 mendengarkan itu ee penting untuk kita 5:16 miliki. Karena dengan mendengarkan kita 5:20 benar-benar jadi tahu apa sih pesan 5:22 utamanya dan itu kita jadi belajar 5:24 banyak itu dari mendengarkan begitu ya. 5:28 ee masih ingat bagaimana Nabi Ibrahim ee 5:33 alaih salam yang dengerin anaknya ya ee 5:37 ketika mendapat perintah dari Allah 5:40 Subhanahu wa taala ee dia dengerin dulu 5:43 pendapat anaknya, "Gimana pendapat kamu 5:45 gitu ya ee ketika saya mendapatkan 5:48 perintah dari Allah dan mendengarkan itu 5:52 keren banget." Jadi, e kita juga belajar 5:55 bahwa orang tua pun perlu mendengarkan 5:57 anaknya. Ini adalah sebuah sebuah ee apa 6:01 ya? Sebuah ee contoh bijak, contoh 6:06 penting bahwa orang tua perlu 6:09 ngedengerin anaknya. ee tidak hanya 6:13 klien gitu ya sebagai ee ee ee bisnis 6:17 dalam bidang transaksional, 6:19 bisnis-bisnis dan lain sebagainya. 6:21 Tetapi real-nya tuh in many situation 6:24 ketika kita punya hubungan baik sama 6:27 orang, ingin ingin punya hubungan baik 6:29 sama orang, mendengarkan itu menjadi 6:31 penting sekali. 6:33 Ee kemudian ee 6:37 kalau kita pelajari gimana cara 6:40 ngedengerin gitu ya, ada beberapa cara 6:42 mendengar, mendengar dan mendengarkan 6:44 beda ee beda ya. Mendengar itu tadi 6:47 kedengaran doang, mendengarkan itu 6:50 pikiran dan perasaannya ada di situ 6:52 gitu. Matanya bisa melihat ke orang yang 6:55 kita ajak ngomong. ee kemudian ee fokus 7:00 pikirannya 7:02 hadir gitu ya, enggak enggak ee ke 7:04 mana-mana gitu. Kemudian ee kita juga ee 7:08 bisa pakai respon oke heeh heeh gitu ya 7:13 sehingga kelihatan mendengarkan dan 7:16 kelihatan seperti orang mendengarkan 7:17 gitu. Enggak cuman yang penting dengerin 7:19 gitu ya, tapi 7:21 dengerin dan kelihatan kayak dengerin 7:23 gitu ya. 7:24 Ee dengan 7:27 suara Heeh. atau dengan ekspresi wajah 7:30 yang ditundukkan dengan eye contact itu 7:34 ee keren banget gitu ya. Ee gimana sih 7:37 cara ee Rasulullah sallallahu alaihi 7:40 wasallam dengerin gitu ya? Beliau 7:43 dengerinnya dengan sabar. Waktu orang 7:46 ngomong, "Ini keren banget. Ini 7:48 pelajaran juga untuk semuanya termasuk 7:50 saya ee menyimak gitu ya." Oke, dengerin 7:56 gitu ya. Kalau ada yang ngomong 7:59 Rasulullah diam terus enggak buru-buru 8:02 ya ee ee dengerinnya enggak buru-buru, 8:06 enggak menginterupsi percakapan atau 8:09 pembicaraan dari orang yang diajak 8:12 omong. Terus di beliau juga dengerin 8:16 pendapat kontennya dari apa yang 8:19 disampaikan oleh orang lain tersebut. 8:21 Begitu. Jadi ini pelajaran berharga buat 8:24 kita ya. Yuk kita dengarin dengan baik. 8:27 Belajar dengarin dengan baik. Ini ada 8:29 42% kemampuan mendengarkan yang perlu 8:32 kita kembangkan terus-menerus. Oke. So, 8:35 e 8:37 mendengarkan orang lain 8:40 menjadikan 8:42 kita 8:44 mencinta, menjadikan orang lain jadi 8:47 cinta dan sayang sama kita gitu ya. 8:49 Karena ee ikatan batinnya itu jadi bagus 8:52 gitu sama orang yang ee mau 8:54 mendengarkan. 8:56 Tahu enggak kalau mau punya hubungan 8:58 baik sama pasangan, dengerin itu penting 9:00 banget. 9:02 Dan ee ee apalagi ee apa ya dua-duanya 9:07 sebenarnya ya ini ini kebutuhan 9:09 manusiawi ya. Laki-laki dan perempuan ee 9:12 suami dan istri ee dua-duanya butuh 9:16 didengarkan dan bagaimana perempuan juga 9:19 ee ingin dimengerti dan didengarkan oleh 9:22 pasangannya. ini butuh butuh kesabaran 9:26 untuk ee suami mendengarkan dan juga 9:28 sebaliknya ee 9:31 cewek tuh kan banyak ngomong ya 9:32 kadang-kadang 9:34 kadang-kadang keinginan untuk ngomongnya 9:36 itu enggak sempat buat dengerin 9:38 pasangannya gitu. Tetapi ketika kita 9:39 bisa mendengarkan itu keren banget. Jadi 9:45 jadilah pendengar yang baik. 9:47 Diam. Dengarkan, 9:50 ee kasih perhatian sama orang. yang kita 9:54 ajak ee yang kita dengarkan ee kemudian 9:58 kasih tanggapan yang baik ya kemudian ee 10:03 jadi pendengar yang baik ee itu punya 10:07 kekuatan untuk membujuk, mempersuasi, 10:10 bikin hubungan jadi bagus sekali. Ee oke 10:15 itu tadi tentang mendengarkan. Mbak 10:18 Nuneng ada yang mau diomongin tentang 10:19 mendengarkan? 10:21 Kalau tadi disebut 42% berarti porsinya 10:25 lebih banyak daripada 10:27 tiga yang lain ya. 10:27 Daripada tiga yang lain. Pertama 10:29 mendengarkan. Kedua bicara. H. 10:31 Heeh. Bicara tuh 32%. 10:34 Ini lumayan banyak juga. Tetapi 10:35 mendengarkan itu ternyata paling 10:37 penting gitu. He. Itu sebabnya kita 10:39 punya telinga dua, 10:40 bibir satu. 10:41 Betul sekali. Kita dapat informasi 10:43 berharga, kita bisa ngerespon, hubungan 10:46 juga makin baik. ee menghormati. Karena 10:50 kebutuhan dasar manusia itu adalah 10:52 didengar, diperhatikan, dianggap 10:55 penting, ee di apa ya ee disayang gitu 11:00 ya. Itu itu kebutuhan. Jadi manusia tuh 11:03 punya dua kebutuhan. Satu kebutuhan yang 11:05 berhubungan sama feeling, sama ee 11:08 pribadi gitu ya. Satu lagi 11:10 kebutuhan-kebutuhan yang bersifat ee 11:13 sesuatu yang perlu di 11:16 apa? diselesaikan. Misalnya lapar butuh 11:19 makan, haus butuh minum, ee kita pergi 11:23 butuh kendaraan, ee kita butuh belajar 11:26 butuh laptop misalnya begitu ya. Itu 11:28 kebutuhan-kebutuhan atau misalnya ee 11:31 kita sakit butuh diobati gitu ya. Jadi 11:36 ee kebutuhan-kebutuhan itu adalah 11:38 kebutuhan-kebutuhan 11:40 dasar yang ada yang real berhubungan 11:44 dengan sesuatu yang praktis gitu ya, 11:46 yang real untuk diselesaikan, tapi juga 11:49 ada kebutuhan humanis gitu, yaitu 11:51 kebutuhan yang berhubungan sama feeling 11:54 didengerin, dianggap penting, disayang, 11:59 ee diperhatikan, 12:01 enggak diremehin gitu ya. Nah, itu semua 12:06 proporsi mendengarkan juga punya bagian 12:09 yang besar sekali. 12:11 Ee oke. Jadi dengan mendengarkan itu 12:16 kita diam 12:18 hadir dan mendengarkan orang yang kita 12:20 ajak ngomong. Ee ternyata masalahnya 75% 12:25 orang enggak beres dalam ngedengerin. 12:28 Ee jadi kenapa? Karena dia 12:32 dengerinnya selektif, dia dengerin yang 12:35 dia mau dengar gitu ya. atau dia enggak 12:36 dengerin atau dia enggak attentif, 12:39 enggak hadir ketika ngedengerin atau dia 12:42 ee ee 12:45 ee 12:46 ketika mendengarkan itu dia 12:50 sudah siap dengan 12:53 ee ee apa ya kayak kalau kayak main itu 12:58 main bowling gitu. Main bowling. Dia 13:01 udah siap dengan bola baru gitu. satu 13:04 orang ee ngelempar bola bowling ee dia 13:09 nungguin terus ee ee setelah orang 13:12 tersebut dia siap dengan bola bowling 13:14 baru gitu untuk dilempar. Jadi artinya 13:17 ee enggak enggak kayak main ee tenis 13:21 gitu. Ketika dia main tenis kan tiktokan 13:24 tuh gitu ya. Ini ngomong apa terus ini 13:27 ngebalas apa tapi itunya bolanya apa ya? 13:31 bolanya sama gitu yang tik gitu ya. Tapi 13:35 kalau yang e cara berpikir bowling tadi 13:39 ngambil satu bola cekrek dia ngambil 13:42 lagi isu baru lagi cekrek lagi. Jadi 13:44 enggak enggak hadir enggak ada tiktokan 13:48 di situ. 13:50 Nah, itu dia ee pikiran kita enggak 13:54 sepenuhnya ada di sana dan itu adalah 13:55 jadi hambatan-hambatan dalam 13:57 mendengarkan sibuk dengan diri sendiri, 13:59 sibuk dengan masalah eksternal yang ada 14:01 di kepalanya atau masalah internal yang 14:03 ada di kepalanya atau dengerin yang dia 14:07 mau dengar. Ah, saya mau dengerinnya 14:09 ini. Enggak enggak dengar secara 14:11 keseluruhan gitu ya. Ee itu jadi jadilah 14:16 pendengar yang baik ya. Ini penting 14:17 sekali. Ada beberapa adab dalam 14:19 mendengarkan. 14:21 Em 14:23 dengar itu dengerin enggak sambil 14:25 ngomong gitu ya. Ee kemudian juga ee 14:30 tidak 14:32 tidak di-cut gitu ya supaya orang bisa 14:34 selesai terus wajahnya ada ke sana ke 14:37 orang tersebut terus ee tidak 14:41 menampakkan sikap yang berbeda gitu ya. 14:45 Eh, meskipun misalnya gini, kita udah 14:48 tahu tentang itu, kalau bisa udah sabar 14:50 dulu dengerin gitu ya. Itu ini ini 14:53 challenge juga untuk beberapa orang. 14:57 Ee ekspresi kita kadang-kadang nunjukin, 15:00 "Oh, gue udah tahu gitu ya." 15:03 Ee terus ee e tidak menunjukkan bahwa 15:07 aku lebih ngerti gitu ya. itu itu juga 15:10 challenge ya untuk orang-orang tertentu 15:12 yang sudah canggih di situ. Rasulullah 15:14 itu luar biasa ya ketika dia udah sering 15:17 dengerin tentang itu udah tahu tapi dia 15:19 seperti sesuatu yang baru gitu. Itu 15:21 dahsyat banget. Itu dahsyat banget. Jadi 15:24 ketika mendengarkan Rasulullah itu hadir 15:28 atentif dan sampai orang tersebut 15:31 ngerasa 15:32 aduh ini aku didengerin penting banget 15:35 gitu. 15:37 Oke, ee berikutnya ya yang kedua ya. 15:40 Yang pertama tadi mendengarkan penting 15:43 banget nih keterampilan itu. Yuk kita 15:45 kembangin ee update terus ee maksudnya 15:48 dirapiin terus gitu ya keterampilan itu 15:50 sampai klik dalam berinteraksi itu dapat 15:54 nih sama orang tersebut. Kedua adalah 15:57 ngomong, berbicara. 16:00 ee 16:02 lisan itu sebenarnya penampilan luar 16:05 kita gitu ya, omongan kita itu penting 16:09 sekali ya dan percentage-nya juga besar 16:12 gitu. Ingat ya, percentage pertama yang 16:14 besar adalah mendengarkan. Kedua bicara 16:17 bicara sekitar 32%. 16:20 Jadi lisan itu adalah jalur 16:26 interaksi yang penting sekali gitu ya. 16:29 ee selain dari yang mendengarkan 16:30 mendengarkan kita dapat lisan kita 16:33 keluarin gitu ya. Nah, ee untuk itu kita 16:37 perlu punya akhlak yang baik ketika kita 16:39 berbicara. Jadi ketika kita berbicara 16:42 kita harus pilih pilihan katanya ada 16:45 rumusnya nih. Pilihan katanya yang 16:49 pertama 16:50 ee 16:52 ee bikin orang ngerti ketika kita 16:54 ngomong. Kedua, enak didengerinnya gitu 16:58 ya. 16:59 bikin orang ngerti yang kita omongin. 17:03 Jadi kalau kita mau ngomongin tentang 17:06 jambu air, dia juga ngerti jambu air. 17:09 Kita mau ngomong jambu batu, dia juga 17:11 ngerti jambu batu, gitu ya. Gimana 17:13 caranya ngomongnya? Ee ketika kita mau 17:17 ngomong tentang tolong dong ambilin satu 17:22 baju 17:24 kepada anak kita. 17:28 Ee bajunya itu letaknya di lemari di ee 17:33 di laci yang nomor sekian gitu ya. 17:37 Bajunya warna warna tertentu, lacinya 17:40 ini, terus ee kuncinya ada di sini. 17:44 Kemudian em 17:47 diambilnya di begini begini begini gitu. 17:50 Itu 17:52 sama seperti tadi jambu air jambu air 17:54 gitu sampai dong dia ngerti banget ini 17:56 di situ gitu. Nah itu itu rumus pertama 18:00 bikin dia ngerti. Kedua bikin dia senang 18:05 dengerinnya. Coba kalau kita ngomongnya 18:08 sambil marah-marah, sambil pakai 18:11 kata-kata yang enggak enak, itu pesannya 18:15 enggak akan sampai gitu. Jadi ngomong 18:18 juga perlu ada caranya ya. 18:22 ee 18:24 ketika kita ngomongnya 18:27 ee 18:29 yang 18:31 ribut bikin ribut atau perkataan sia-sia 18:34 atau ee perkataan yang bikin enggak 18:38 senang gitu ya kan tadi rumusnya bikin 18:39 dia ngerti, kedua bikin dia senang 18:42 dengerinnya gitu ya. Kita enggak bikin 18:44 dia ngerti, enggak bikin dia senang 18:47 dengerinnya enak gitu ya. itu komunikasi 18:51 enggak jalan gitu. 18:53 Kita bikin dia ngerti tapi enggak enak 18:56 dengerinnya. Misalnya kita udah tahu 18:58 nih, saya butuh jambu batu 19:03 sekilo atau butuh kentang sekilo gitu 19:06 ya. 19:08 Ee berarti ee dia ngerti nih kentang 19:11 kayak gini nih gitu ya. Kecuali misalnya 19:14 kita butuh tentang ukuran tertentu. 19:16 Misalnya kita juga perlu ngomong ukuran 19:17 tertentu. Oke, ngerti. Tapi ngomongnya 19:20 enggak bikin dia enak dengerinnya. 19:22 Misalnya dengan bentak-bentak, dengan 19:25 suaranya yang kasar atau dengan pilihan 19:28 katanya yang 19:30 ee apa namanya? Ee ditambahin kata-kata 19:34 bumbu-bumbu yang bikin enggak nyaman. 19:36 dengerin ya itu implikasinya adalah 19:39 komunikasinya enggak sampai gitu 19:41 dan itu berdampak buruk. Jadi bikin dia 19:44 ngerti, bikin dia senang. Senang doang 19:47 nih. Aduh sayangku 19:49 ee tolong dong aku butuh ee kentang 19:55 misalnya gitu ya. 19:58 Udah aku butuh kentang 20:01 tapi enggak ada penjelasan jumlahnya. 20:03 enggak ada penjelasan saya butuhnya 20:06 sekarang atau bisa jadi nanti enggak 20:09 sampai sih kentangnya itu pada jam yang 20:12 kita butuhkan gitu. Jadi artinya enggak 20:14 sama makna. Jadi komunikasi itu sama 20:17 makna. Di kepala saya jambu air, di 20:19 kepala dia jambu air. Di kepala saya 20:21 jambu batu, di kepala dia jambu batu, 20:23 gitu. Butuhnya kentang ya kentang 20:25 sampainya jumlahnya segini dan lain 20:27 sebagainya. Ketika tidak sampai seperti 20:30 yang kita harapkan yang ada di kepala 20:34 kita, berarti bisa aja dia enggak 20:36 ngerti. Mungkin kita ngomongnya enggak 20:39 bikin dia ngerti atau mungkin kita 20:42 ngomongnya enggak bikin dia senang. 20:44 Jadi, dua rumus ini bersatu. Ngerti tapi 20:46 enggak senang enggak jadi. Senang tapi 20:49 enggak ngerti enggak jadi juga gitu ya. 20:51 Enggak ngerti enggak senang enggak jadi. 20:53 Apalagi gitu ya. Jadi dua-duanya ini 20:55 perlu satu. Anything mau dikomen, Mbak 21:00 Noneng. 21:02 Kalau mendengarkan yang enggak dengan 21:05 hati, maksudnya dengerin cuman pakai 21:06 telinga itu Heeh. 21:08 Tampak di pandangan mata kah atau di ee 21:13 apa namanya? Respon singkat seperti oh 21:15 ya. Heeh. Gitu. Itu perlu banget untuk 21:18 menunjukkan bahwa kita dengerin. 21:20 Jadi ee ini ini yang mendengarkan ya. 21:23 ketika kita mendengarkan, ketika kita 21:25 kasih respon itu, itu akan 21:28 memudahkan orang yang kita dengerin 21:33 happy dan dia juga merasa dia dimengerti 21:35 gitu ya. Kalau reaksi kita ee oke, heeh. 21:40 Terus misalnya cureng atau gimana, itu 21:43 juga sebenarnya reaksi yang kita 21:45 sampaikan kepada dia bahwa aku belum 21:47 ngerti. Mudah-mudahan dia bisa ngerespon 21:50 tertentu. Yang bagus adalah ketika kita 21:53 mendengarkan, kita juga ngerespon. Oke. 21:57 Maksudnya kentang ya. 21:59 Oh, jadi dijelaskan sedikit. 22:00 Heeh. Ditambahin. Heeh. Itu juga akan 22:02 lebih 22:03 supaya dialognya juga jadi gitu. 22:07 Iya. Iya. 22:08 Heeh. Ee makanya makanya ketika kita 22:11 berkomunikasi kita juga perlu 22:13 memastikan, 22:17 mengkonfirmasi dia ngerti apa enggak 22:19 gitu. 22:21 Dan itu perlu dilakukan setelah sekian 22:24 sekian menit atau sekian apa gitu ya. 22:27 Iya. Heeh. atau di dalam pada saat 22:30 percakapan ini sesuatu yang kompleks 22:32 nih. Ini nih kita tahu nih ini ketika 22:34 kita 22:35 ketika kita jadi intinya gini Mbak 22:37 Duning. Ketika kita jadi pendengar 22:40 jadilah pendengar aktif. Ketika kita 22:42 jadi pembicara pembicara aktif 22:44 memastikan bahwa dia paham. Ketika kita 22:47 jadi pendengar kita memastikan bahwa 22:50 ee kita kalau enggak ngerti kita confirm 22:54 kita kita juga aktif gitu 22:56 mengkonfirmasi. 22:57 Jadi pasti nanti enggak ada salah dengar 23:00 ya kalau sudah seperti itu ya. Heeh. 23:02 Meskipun ikhwan akhwat kebanyakan dari 23:05 kita tuh kalau dengerin diam itu 23:08 kayaknya sih dengerin banget tapi 23:10 mungkin juga 23:11 enggak masuk semuanya ya kalau diam 23:13 saja. 23:14 Heeh. Heeh. 23:14 Terus kalau seandainya Mbak Mana yang 23:16 sering terjadi itu kan dia jelasin untuk 23:20 X Y Z dia dari A terus panjang enggak 23:24 sampai-sampai. 23:24 Heeh. 23:25 itu bagi kita yang bicara 23:28 Heeh. 23:29 tidak menarik atau enggak apa-apa. 23:31 Ee kita sebagai pendengar ya atau 23:33 kita dengerin nih. Tapi kok I panjang 23:35 banget sih ya sudah tahu intinya aja 23:37 kenapa sih? Kan kebanyakan orang seperti 23:38 itu. 23:39 Nah ini kita yang bicara tahunya kalau 23:42 ee jangan seperti itu dilihat dari 23:44 tanda-tanda apa? 23:46 Ee sori saya belum paham. Gimana 23:48 maksudnya? 23:49 Mbak Mona ngomong panjang lebar. Aku 23:51 enggak sabar. Biar Mbak Mona tahu kalau 23:53 aku enggak sabar. He 23:55 itu apa yang harus ee ditunjukkan oleh 23:58 yang 23:58 Iya mungkin dia bisa bereaksi ya. 24:01 Oh oke. 24:02 Terus terus terus gitu ya. 24:03 Heeh. Ee terus ininya gimana? Guided aja 24:06 juga bisa kita lakukan. Heeh. 24:09 Iya. Iya. Karena kebanyakan pertanyaan 24:12 dari beberapa teman-teman tuh ikhwan 24:14 akhwat. Ih, ngomongnya panjang lebar 24:16 amat sih gitu ya. 24:17 Iya. Iya. Iya iya iya. 24:18 I. Oke. 24:19 Aku mau nambahin ya, Mbak Noning. Ini 24:20 ini kejadian ee 24:23 dengan anak saya. 24:25 Anak saya bilang sesuatu yang saya ee 24:29 saya tidak dengar. Heeh. Jadi menurut 24:34 anak saya dia sudah menyampaikannya. 24:36 Jadi dia 24:38 ee menyampaikannya yang menurut dia dia 24:41 sudah sampaikan. Saya sendiri tidak 24:43 mendengar. Heeh. Enggak enggak dengar. 24:45 Enggak enggak dong gitu. 24:47 Dan dia tidak memastikan apakah saya 24:50 udah clear apa enggak tentang itu gitu. 24:53 Menurut dia sudah sampaikan, menurut 24:55 saya saya enggak dengar gitu. Nah, ee ee 24:59 akhirnya pada satu kesempatan di mana 25:02 itu ee menjadi satu bahasan, 25:04 He 25:05 dia bilang, "Saya sudah sampai ini." 25:07 Saya bilang, "Saya enggak dengar." Saya 25:09 bilang, "Pastiin kalau saya ngerti 25:12 gitu." 25:14 Makanya ee sebagai penyampai pesan dia 25:18 perlu memastikan 25:20 bahwa yang disampaikan dipahami. 25:21 Bahwa yang disampaikan pahami. 25:23 Ketika kita menjadi pendengar kan 25:26 semuanya dimulai dari saya. Titik ya. 25:29 Heeh. 25:29 Ketika saya sebagai pendengar saya perlu 25:33 memastikan saya ngerti yang diomongin ya 25:36 kan. Heeh. Ketika saya sebagai 25:39 pembicara, saya perlu memastikan yang 25:42 mendengarkan ngah. Heeh. 25:45 Nah, karena saya tadi enggak dengar nih, 25:46 enggak enggak dengarnya gitu ya. 25:49 Sementara dia yang penting saya sudah 25:51 ngomong, saya ngomong jauh-jauh juga di 25:54 jaraknya jauh dan ee enggak kedengaran 25:56 juga yang penting saya sudah ngomong itu 25:57 itu 26:00 tantangan juga. Betul. 26:02 Kadang-kadang ada beberapa ee informasi 26:05 yang ya ada dalam kehidupan sehari-hari 26:08 kita itu keributannya itu gara-gara 26:11 komunikasi itu sangat sering gitu. 26:14 Simpel banget. Padahal ya bicara dengar 26:16 bicara dengar cuma dua itu aja ya. Heeh. 26:19 Betul. Betul banget. Heeh. 26:21 Iya. 26:21 Dan itu kunci banget itu dalam 26:22 interaksi. Pastiin dia dengar dan 26:25 pastiin yang kita ketika kita 26:27 menyampaikan pesan bikin dia ngerti enak 26:31 kedengarannya gitu. Itu penting banget. 26:34 Iya. Jadi kalau tadi Mbak Mona bilang ee 26:38 aku enggak dong. Dong yang dimaksud 26:40 adalah paham Ikhwan Afad bahasa Jawa deh 26:42 kalau enggak salah ya. 26:44 Oke, lanjut lanjut. 26:46 Oke. Baiklah. Jadi ee 26:51 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 26:53 bilang ee kalau bisa ngomong bagus 26:57 ngomong yang bagus 26:58 ngomong kalau enggak diam gitu ya. Nah 27:01 ee coba ee saya coba interpretasi si 27:04 ngomong bagus itu adalah balik lagi tadi 27:07 ya bikin ngerti dan enak kedengarannya 27:11 gitu ya. Ini ini penting 27:14 termasuk enggak bertele-tele gitu ya. 27:16 Betul, betul, betul, betul, betul. 27:19 Kebaikan 27:21 kita itu tergantung juga pada lisan 27:23 kita. Jadi, lisan itu penting sekali 27:26 untuk kita perhatikan ya. Ee 27:31 dan ee sudahkah kita berhenti sejenak 27:35 dan berpikir akan dampak dari perkataan 27:37 yang kita keluarkan? Nah, itu juga 27:39 penting ya. Jadi kalau ngomong dipikir 27:42 dulu bikin karena jangan sampai bikin 27:45 orang enggak nyaman gitu ya. 27:47 Ee termasuk 27:50 ee menjaga lisan di medsos gitu ya. 27:57 Itu tantangan baru ya. 28:00 Ee tapi teman-teman semua ee diam juga 28:05 tidak sepenuhnya bagus ketika memang 28:08 perlu untuk kita sampaikan ya kita kita 28:10 sampaikan gitu ya. Kita hindari 28:13 debat-debat apalagi yang kita sudah tahu 28:15 nih ini pesannya enggak akan sampai nih 28:17 karena dia insist dia keek sama ee sudut 28:20 pandangnya. Keke ini ee warnanya biru 28:24 yang satu keke warnanya kuning misalnya 28:26 begitu ya. Jadi ya enggak jalan gitu. 28:29 Jadi udahlah, baiklah. Menurut saya ini 28:32 kuning, menurut Anda ini biru. Udah oke, 28:35 thank you gitu. Udah enggak usah dibahas 28:37 gitu. 28:38 Tapi itu perlu pernyataan ya agar tidak 28:40 berkepanjangan yang tidak nyambung. 28:42 Iya. Sepakat untuk tidak sepakat enggak 28:44 apa-apa juga ya kan. 28:45 Oke. 28:46 Heeh. 28:47 Jadi memang sih lidah tak bertulang ya. 28:49 Iya betul. 28:51 Oke. Eh, Mbak Nuring, anything sebelum 28:55 mau disimpulkan tertentu untuk 28:59 bericara tadi kan mendengar bicara. Udah 29:02 kita akan lanjut ke yang berikutnya. 29:03 Gimana? 29:04 Untuk dua itu berbicara dan mendengar 29:07 kayaknya sudah cukup. Nanti kalau ada 29:09 yang kurang jelas di akhir ditambahkan. 29:12 Siap. 29:13 Tapi terkait dengan lisan yang lidah tak 29:17 bertulang tadi memang kita perlu harus 29:19 sangat hati-hati. Seperti yang Mbak Wana 29:21 bilang barusan, kebaikan kita tergantung 29:23 lisan kita. 29:24 Iya. Iya. Iya. 29:25 Oke. Nanti pada saat berbicara itu ada 29:28 beberapa gaya ngomong gitu ya. Ada gaya 29:31 yang ngomongnya agresif 29:35 langsung ngomongnya seolah-olah dia 29:37 merasa di atas, orang lain di bawah. Itu 29:39 agresif. Heeh. Jadi ee apa menekankan 29:45 atau juga pokoknya agresif deh gitu ya. 29:48 Itu itu gaya gaya ngomong ya. Ee 29:51 kemudian ee pasif agresif dia berani 29:55 tapi enggak berani-berani amat. Jadi 29:57 nyindir-nyindir gitu ya. Heeh. 30:00 Yang ketiga adalah pasif. Dia ngerasa di 30:04 bawah. Kalau tadi dia ngerasa dia di 30:06 atas gitu ya yang agresif pasif agresif 30:09 dia di atas tapi enggak berani-berani 30:11 amat. Yang pasif adalah yang dia ngerasa 30:14 dia di bawah merendah. Ee dia enggak 30:18 setuju dia diam aja atau juga dia enggak 30:22 setuju dia ngein misalnya begitu ya. Itu 30:25 juga enggak tepat. Yang tepat adalah 30:27 asertif. berani menyampaikan 30:30 menyampaikan dengan baik memperhatikan 30:32 pikiran dan perasaan orang yang diajak 30:35 berkomunikasi itu bagus. Jadi ngomong 30:38 itu dengan baik gitu ya. Itu tadi 30:41 cara-cara ngomong kita sudah pernah 30:43 bahas tuh sebelum-sebelumnya ya. Tapi 30:45 ini mau mengingatkan bahwa dari empat 30:48 keterampilan pertama dengerin yang 30:50 bagus, kedua ngomong yang bagus ketiga 30:53 adalah membaca. Penting banget untuk 30:56 kita membaca. Membaca dan menulis itu 31:01 juga ibadah yang keren gitu ya. Membaca 31:05 itu diwahyukan bacalah bacalah gitu ya. 31:09 Wahyu ee ini ya dari ee surat ee yang 31:13 pertama adalah bacalah gitu ya. Ee itu 31:19 sebenarnya bacalah itu juga kesadaran 31:22 kita dalam berkomunikasi. Memang 31:23 kebanyakan orang mendengar dan bicara g 31:26 ya persentage-nya membaca itu enggak 31:27 terlalu banyak ya, tetapi itu penting 31:31 sekali. Jadi kalau mendengar kita dapat 31:33 informasi, membaca juga dapat informasi 31:37 gitu ya. 31:38 Kalau ee ngomong kita menyampaikan 31:41 informasi ya, menulis kita menyampaikan 31:45 informasi ya. Kalau ini spoken ngomong, 31:47 kalau ini tertulis gitu ya. Jadi ee 31:51 empat-empatnya itu penting. Ee 31:55 Iwan dan Nahwat yang dirahmati Allah, 31:57 membaca 31:59 itu membuka jendela dunia. Kita jadi 32:03 tahu banyak hal. Dan sekarang ini orang 32:06 Indonesia ee punya ee ee tingkat pembaca 32:11 yang sangat rendah gitu ya. Ee 1 tahun 32:15 tuh berapa banyak buku yang kita baca 32:17 itu sangat sedikit. 32:20 kita baca, tapi bacanya baca ee media 32:24 sosial. Baca media sosial yang 32:27 omongannya juga ringan-ringan yang 32:30 kadang-kadang kadang-kadang enggak 32:33 enggak terlalu jelas, yang kadang-kadang 32:35 juga ee cuman lucu-lucuan yang bukan 32:39 menjadi vitamin untuk otak kita, tetapi 32:41 juga cuman lucu-lucuan gitu yang ringan 32:43 ringan, ringan ringan yang buat 32:45 ketawa-ketiwi, yang buat itu sayang 32:47 sekali ya. membaca itu luar biasa. 32:51 Hal-hal yang ingin ku tahu ada di dalam 32:54 buku ini. Abraham Lincorn bilang begitu 32:57 ya. 32:58 Sahabat terbaik 33:00 adalah orang yang akan memberikanku 33:04 sebuah buku yang belum aku ketahui. Ih, 33:07 keren sekali. Membaca buku yang baik 33:09 berarti memberi makanan rohani yang 33:13 baik. Itu dari Buya Hamka ya. 33:17 Semakin aku banyak membaca, semakin aku 33:21 banyak berpikir, 33:23 semakin aku banyak belajar, semakin aku 33:26 sadar, aku tidak mengetahui apapun. 33:31 Luar biasa ya. Luar biasa. Bacaan itu 33:34 bikin kita kaya, bikin kita tahu banyak 33:37 jendela dunia. Jadi, Mbak Nuni ketika 33:41 saya ee menyempatkan untuk membaca lagi, 33:44 kadang-kadang kan aduh banyak hal yang 33:46 ee di depan mata penting dan mendesak 33:49 ya. Ini urusannya manajemen waktu gitu 33:51 ya. 33:52 Penting mendesak, penting mendesak. Jadi 33:53 harus dikerjain segera. Nah, ketika saya 33:56 mulai sadar, oke jangan-jangan saya 33:58 sibuk sama penting dan mendesak ya, 34:00 mulailah saya punya investasi penting 34:02 tapi enggak mendesak gitu. Di antaranya 34:04 membaca gitu ya. Aduh, luar biasa. 34:07 Banyak hal menarik sekali gitu yang saya 34:09 temukan di dalam bacaan-bacaan itu. Do 34:11 you think so? Mbak Nun kan suka baca 34:14 baca itu ya di 34:17 baca direkam untuk ee teman-teman ee 34:21 disable netra 34:22 itu ilmunya jadi banyak banget karena 34:25 yang dibaca 34:26 unpredictable banget. Oh, ternyata ini 34:28 begini gitu. 34:29 Iya. Jadi membacakan buat orang lain 34:32 ternyata untuk diri sendiri pun nilainya 34:35 luar biasa. Iya. Iya. Kayak kita 34:37 menjelajah dan imajinasinya itu hidup 34:40 sekali ketika membaca ya. Kita jadi tahu 34:42 banyak hal yang menarik ya. 34:45 Luar biasa. Heeh. 34:46 Kita datang ke daerah dengan ee kondisi 34:49 alam tertentu itu juga karena baca. 34:52 Iya betul. 34:52 Datang ke sana keren banget. Kalau 34:54 enggak kan enggak tahu. 34:55 Betul. Betul sekali. Ee saya ingat ya 34:59 waktu anak-anak masih kecil sebelum kita 35:02 ke satu tempat kita baca dulu waktu itu 35:06 masih enggak terlalu ee terkontaminasi 35:10 dengan media sosial gitu ya. Jadi ayo 35:14 kita baca dulu. Kita tahu tentang apa 35:15 yang di sana terus ceritain ee dibikin 35:20 apa ya tulisan-tulisan kecil gitu ya 35:22 tentang apa yang di sana. Jadi pas 35:23 datang ke satu kota, oh ada ini, oh ada 35:27 ini. Jadi imajinasinya oh ini 35:28 penduduknya ini ee jumlahnya segini, 35:31 orangnya pekerjaannya seperti ini, 35:33 wilayahnya ini, dekat sini dan 35:35 sebagainya. Itu pengetahuan yang luar 35:37 biasa, gitu. 35:37 Kalau enggak baca, enggak tahu. 35:39 Kalau enggak baca, enggak tahu. Heeh. 35:40 Betul. 35:42 Budaya malas baca adalah kekuatan yang 35:45 melemahkan sebuah bangsa. Dan ini 35:48 mengganggu sekali secara perkembangan 35:51 intelektual, sosial, ekonomi, politik, 35:53 dan lain sebagainya. Membaca adalah alat 35:57 paling dasar untuk meraih kehidupan yang 36:00 baik. So, 36:02 siapa yang malas membaca itu rugi 36:04 sekali. Jadi membaca adalah bentuk 36:06 komunikasi dari orang lain yang dia 36:10 tulis lalu kita ee 36:13 menyerapnya. 36:14 Menyerapnya sama seperti mendengarkan 36:16 gitu. 36:16 He. 36:17 Kalau mendengarkan spoken dan itu punya 36:20 keterbatasan dalam mendengarkan. Ketika 36:22 baca itu cenderungnya kaya dan berlimpah 36:24 gitu. Mendengarkan itu oke juga kaya. 36:27 Tetapi kadang-kadang ee e belum tentu 36:30 semua orang tuh punya keterampilan dalam 36:32 berbicara yang kita perlu dengarin 36:34 dengan sebaik itu gitu. Jadi tulisan itu 36:38 luar biasa. Biasanya kan dia perlu punya 36:40 waktu untuk masuk gua me apa ya 36:43 meramunya dengan cermat dan lain 36:45 sebagainya. Lalu dipersembahkan dalam ee 36:48 bentuk tulisan yang misalnya 36:50 dipublikasikan kan dia pasti serius 36:52 untuk membuatnya begitu. 36:55 Jadi 36:57 ee manusia punya dua cara untuk belajar, 37:00 yaitu dengan membaca dan satunya 37:04 berkumpul dengan orang-orang yang lebih 37:06 pintar. Itu kata Will Rogers. Wah, 37:10 Will Rogers ngingetin manusia tuh punya 37:14 cara untuk jadi keren gitu ya. pertama 37:17 baca, kedua kumpul sama orang-orang 37:19 pintar, sama orang-orang hebat sehingga 37:21 kita dengerin dia. 37:25 Jadi ini adalah ruang besar untuk 37:28 belajar ya. Ee membaca penting untuk 37:31 peradaban Islam dan karya-karya luar 37:35 biasa sampai sekarang ini di Islam ini 37:37 adalah bentuk buku-buku yang ee apa 37:41 namanya? ee 37:44 yang kita tahu yang peradaban luar biasa 37:47 dulu itu dari buku-buku gitu dan itu 37:50 penjelajahan menarik. Jadi manfaat 37:53 membaca, mengumpulkan ilmu pengetahuan, 37:56 kemudian juga ee apa namanya 38:00 kesempatan untuk meningkatkan dan 38:02 berkonsentrasi. 38:04 Karena banyak orang membacanya itu 38:06 dengan adanya media sosial. Jadi makin 38:09 cuman satu paragraf, satu paragraf very 38:11 short. Ee jadi kita sebenarnya 38:14 dilemahkan oleh perkembangan teknologi 38:17 ee media sosial ini gitu ya. Maunya 38:21 digital digitalisasi ini sebenarnya 38:23 keberlimpahan tapi bikin orang malas 38:26 baca juga gitu. Scroll yang ringan 38:29 ringan, ringan yang udah serius 38:31 pakai baca yang serius itu makin 38:34 sedikit. 38:36 ee 38:38 membaca dapat mendekatkan kita kepada 38:40 Allah Subhanahu wa taala ya. Ee dan ini 38:45 alat untuk membuka paradigma berpikir, 38:49 berucap, dan berperilaku 38:52 dengan membaca potensi diri menjadi 38:55 dilentingkan, menjadi bisa melihat 38:57 banyak hal baru, terpacuh, terdorong ee 39:01 untuk menjadi orang yang lebih baik, 39:03 untuk menjadi orang yang maju. itu luar 39:04 biasa ya. Jadi membaca menjadikan 39:08 manusia mau berubah lebih baik dan ee 39:13 membentuk manusia sebagai pelaku 39:16 sejarah. 39:18 Ee satu lagi Mbak Nun ya M 39:22 yaitu 39:24 menulis. Oke. 39:28 Ee 39:31 Allah bersumpah dengan alat tulis yaitu 39:34 pena dan apa-apa yang mereka tuliskan. 39:38 Jadi luar biasa ya. Nun demi kalam dan 39:43 apa yang mereka tulis. Luar biasa. 39:45 Masyaallah. 39:46 Setetes tinta ulama lebih berat 39:51 timbangannya di sisi Allah daripada 39:54 ribuan darah syuhada yang meninggal di 39:58 medan perang. Menurut Imam Alghazali, uh 40:01 luar biasa. Kalau engkau bukan anak raja 40:05 dan engkau bukan anak ulama besar, maka 40:09 jadilah penulis. Menurut Imam 40:12 Al-Ghazali. Jadi, jadilah penulis. Luar 40:16 biasa. 40:18 Menulislah itu. Itu tingkatan yang keren 40:21 banget ya. Menulis itu sudah meramu 40:23 sedemikian rupa dari berbagai bacaan. 40:26 Menulis itu bisa kalau baca ya. Setelah 40:28 kita meramu dari banyak bacaan, kita mau 40:30 menulisnya. 40:32 Ee tetapi selain dari tulisan yang 40:35 menjadi satu karya-karya yang legendaris 40:38 sejarah dan lain sebagainya, kita juga 40:40 bisa menulis pesan-pesan kok. Maka 40:42 menulis itu sama seperti berucap ngomong 40:45 perlu bikin orang yang membaca tulisan 40:48 kita ini ngerti dan enak tulisannya 40:53 gitu. Jadi bisa bikin dia ngerti dan 40:56 enak ee dibacanya gitu ya. ini dua yang 41:00 penting juga 41:04 karena ee kalau nulisnya 41:09 bikin enggak enak itu Mbak Nuning kalau 41:11 kita nulis di WA ya ee tulisan-tulisan 41:14 di WA gitu ya 41:15 terus 41:16 kita enggak baca lagi si tulisan itu 41:19 langsung send gitu ya bisa aja 41:21 interpretasinya enggak bikin dong kan 41:23 enggak bikin ngerti jadi ada dua sekali 41:25 lagi ya bikin dia ngerti bikin dia enak 41:28 baca bacanya atau ngedengerinnya gitu 41:30 ya. Jadi bikin dia ngerti dan bikin dia 41:34 nyaman. Bikin dia ngerti. Kadang-kadang 41:37 yang kita tulis itu ee kalau kita enggak 41:40 baca lagi ulang ulang lagi membacanya 41:43 apalagi pesan penting bisa jadi ke 41:45 mana-mana gitu. 41:46 Heeh. Makanya baca lagi. Oke. 41:49 Kadang-kadang ee saya kalau ketika ini 41:51 penting sekali saya tulis di mana gitu 41:54 ya? di satu ee di satu tulisan di 41:58 misalnya mau nulis WhatsApp gitu ya. 42:00 Saya tulis di satu tempat yang buka 42:03 ditujukan oleh untuk orang tersebut. 42:05 Lalu saya baca lagi, saya ulang terus 42:07 saya kasih spasi. Oh ini kasih spasi ini 42:10 spasi lagi baru dikirim gitu, Mbak 42:12 Nuning. 42:15 Iya makanya ada anu tempat edit gitu. 42:19 Iya iya ada edit. Heeh. Tapi kan ketika 42:22 kita kirim sudah langsung kan sudah 42:23 langsung sampai kan. Makanya di ditulis 42:25 di tempat lain dulu ketika itu penting 42:27 ya gitu ya. 42:29 Ee lalu dikirim. Jadi dipastikan tuh 42:31 menulis itu penting sekali juga gitu. 42:33 Itu adalah bentuk dari komunikasi. 42:36 Perbaiki deh yuk kita perbaiki terus. 42:38 Kira-kira itu deh Mbak Nuning. 42:40 Kalau tadi dikatakan bahwa 42:44 membaca membuka jendela dunia. 42:47 Iya. Jadi kalau nulis berarti 42:49 menulis artinya 42:52 kita berani untuk 42:55 me 42:57 menyampaikan itu kan berarti menulis 42:59 menyampaikan sesuatu ya bisa ilmu bisa 43:02 juga 43:03 membuka cakrawala orang lain juga. 43:05 Nah cakrawala jadi bukan cuman jendela 43:07 yang dibuka ya. 43:08 Heeh. 43:09 Menarik sekali kesulitannya menurut Mbak 43:11 Mona antara dua yang belakangan tadi 43:14 yaitu membaca dan menulis untuk 43:18 kaitannya dengan pemahaman kita lebih 43:21 sulit yang mana? Ee 43:25 menulis Mbak Nuning. Heeh. Menulis. Jadi 43:28 itu persentage paling sedikit ya dari 43:30 keterampilan orang ya. 43:32 Jadi kayak kita misalnya kita nulis tuh 43:34 kayak kita merangkai bunga. 43:36 Heeh. 43:37 Iya. 43:37 Heeh. kita pilih bunga-bunga yang baik, 43:40 kita rangkai sedemikian rupa sehingga 43:42 orang tertarik gitu untuk melihatnya, 43:45 untuk ee 43:48 apa namanya? Menikmati bunga tersebut 43:51 begitu. 43:51 Dan merangkai ini penting kalau enggak 43:53 bunganya berantakan. 43:55 Kalau enggak berantakan i 43:56 ya disenggol sedikit jatuh-jatuh. Nah, 43:58 itu berarti 43:59 betul atau kita simpan aja kan itu kan 44:01 berarti enggak. 44:02 Betul. 44:03 Heeh. 44:03 He. 44:05 Luar biasa sekali ee ikhwan akhwat. 44:08 Kalau tadi kemampuan mendengar, 44:10 kemampuan berbicara, sudah paham banget. 44:13 Nah, sekarang ketika kita membaca 44:16 memperkaya kita karena membuka ee 44:19 jendela dunia, 44:21 apa yang kita baca bisa dong ditulis. 44:23 Iya. Oh, iya jelas. 44:24 Karena ee mungkin targetnya beda. Yang 44:27 kita baca adalah dari ilmuwan 44:29 kita menuliskannya kembali untuk ee 44:31 anak-anak muda tertentu. Betul. 44:35 Menulis itu modalnya baca, Mbak Duning. 44:37 Tanpa baca enggak bisa nulis. 44:38 Iya. Menurut saya begitu deh. Kalau mau 44:42 nulis yang bagus harus baca sehingga 44:44 kita jadi meramu-ramu dari berbagai 44:48 sudut pandang. Lalu kita ee lihat dari 44:50 sudut pandang kita lalu kita tulis. 44:53 Itu cakep banget ketika kita bisa 44:56 berkontribusi untuk kemajuan orang lain 44:59 melalui tulisan. Enggak cuman dari 45:01 ngomong ya kan. meskipun cuma resep 45:04 makanan 45:06 itu 45:06 itu kan membantu banget. Buktinya kita 45:08 bisa ke dapur, kita bisa ke dapur bisa 45:10 masak kan gara-gara baca kan. Itu aku 45:14 kayaknya semua perempuan deh. 45:18 Iya iya. 45:18 Kalau lagi mau masak entar entar entar 45:20 ya. Apa ya? 45:21 Buka-buka lihat-lihat. 45:24 Bahkan ketika zaman sekarang ini 45:27 sebetulnya ini di-mix dengan ini 45:29 berbahaya enggak sih? Itu tinggal klik 45:31 ya. 45:32 Nah. 45:33 itu kalau kita mau menuliskannya juga 45:34 boleh dalam buku kecil misalnya petunjuk 45:37 singkat untuk bla bla bla gitu. 45:39 He heeh. 45:40 Kita bisa ramu sekarang ini media 45:44 komunikasi luar biasa ya. Jadi kita bisa 45:47 ramuh satu gagasan dalam bentuk 45:51 bacaan-bacaan. Lalu kita tulis ref frase 45:55 lagi di tulis lagi dalam bentuk yang 45:58 lebih mudah untuk konsumen kita atau 46:01 orang yang kita ajak ngomong. Oh ini 46:03 buat anak SD berarti kita sedikit 46:06 dengan bahasa mereka. 46:07 Betul. 46:08 Target pembacanya siapa. 46:10 Target yang mau dengerin omongan kita 46:12 siapa. Itu 46:13 pilihan diksinya juga penting banget. 46:15 Jadi 46:15 betul betul. He 46:16 bahasanya penting untuk bikin dia 46:19 ngerti, bikin dia enak dengerinnya itu 46:22 dia rumusnya itu. 46:23 Soalnya beberapa orang mengatakan, 46:25 "Aduh, bahasanya KBBI banget anu bet 46:28 gitu ya." 46:30 Meskipun KBBI betul tapi kenapa jadi 46:32 bet? 46:35 Betul, betul betul. ee 46:38 memang ee bahasa Indonesia yang bagus 46:42 dan benar itu ee perlu kita lestarikan 46:47 ya. Ini ini refleksi juga ya untuk kita 46:50 semua ya. Karena ee bahasa itu kaya 46:53 banget. Jadi ketika kita harus tahu oke 46:56 kita sedang bicara di event apa? kita 47:01 menulis untuk karya ilmiah misalnya ya 47:04 ee misalnya ee di kampus gitu ya nulis 47:08 tulisan ilmiah jurnal atau tulisan ee 47:12 skripsi, tesis, disertasi itu memang 47:15 harus ada panduan-panduan tulisan 47:17 akademik yang juga KBBI itu Mbak Nuning. 47:21 Tetapi ketika dalam percakapan kita 47:23 harus tahu kita lagi ngomong sama siapa 47:25 ya gitu. Sama segmen siapa ya. Ketika 47:28 kita ngomong sama anak TK kita perlu 47:31 nyesuaiin sama bahasa yang anak TK itu 47:34 bisa ngertiin gitu. 47:35 Iya. 47:36 Dan kalau kita pakai bahasa formal, 47:38 bahasa yang ee apa yang sangat baku 47:43 mungkin ee belum tentu ee tepat untuk 47:47 segmen tertentu gitu. Jadi ya 47:51 ee kreativitas kita memahami siapa orang 47:55 yang kita ajak berkomunikasi itu penting 47:57 banget. Jadi dengan siapa kita bicara 48:01 sudah diperhitungkan sama Mbak Mona tadi 48:03 ee pilihan kalimat-kalimatnya seperti 48:06 apa. Kalau bisa lagi tambah sepotong dua 48:09 potong bahasa daerah dia. 48:10 Iya itu menarik. 48:11 Bagus banget. Heeh. Heeh. Sesuai dengan 48:14 orang yang kita ajak ngomong. 48:15 Iya. dia misalnya dia orang Sunda paka 48:17 saetik-setik lah bahasa Sunda gitu ya. 48:20 I iya iya iya. 48:22 Mbak Nunik ee jadi ternyata menulis itu 48:26 juga bisa meninggikan derajat seseorang 48:29 gitu ya 48:30 lewat tulisan. 48:31 Lewat tulisan. Heeh. 48:33 Barang siapa menebarkan kebaikan dan ini 48:36 niat kita yang kita luruskan niat. 48:38 Niatnya adalah untuk menebarkan kebaikan 48:41 melalui tulisan, melalui lisan ngomong 48:44 gitu ya. Itu insyaallah akan mendapat 48:47 pahala 48:49 dan memuliakan kita juga. 48:51 Luar biasa. Jadi keterampilan komunikasi 48:53 ini bisa jalan yang 48:56 mulai dari 48:56 memberdayakan atau memperdayakan. 48:59 Diberdayakan. Enggak ada kata perdaya 49:01 kali. 49:01 Iya. Dua-duanya bisa dua-duanya ya kan 49:04 bisa positif bisa negatif gitu. So, so 49:07 ketika kita punya pilihan, kenapa kita 49:09 enggak pilih yang bagus, ya kan? 49:10 Eh, jadi kalau kita yang negatif itu 49:12 memperdayakan 49:14 agar orang mabuk dengan bacaan kita 49:17 melakukan hal-hal yang tidak baik tadi 49:19 itu tempatnya di mana nanti dosa. Iya, 49:21 betul. I kan? 49:22 Iya. Iya. 49:25 Ee nulis itu bisa menjadi obat supaya 49:30 enggak lupa. Jadi keren banget menulis 49:32 itu sebenarnya. 49:36 Saya ee pernah sangat produktif menulis 49:39 Mbak Nuni. 49:41 Pernah saya ngalamin ee 49:44 3 bulan ada satu buku 3 bulan. Untuk 49:47 untuk saya itu cepatlah gitu ya. Ee 49:51 enggak enggak mudah untuk nulis satu 49:52 buku dengan ee 49:56 270 49:58 atau 250 lembar lah. Itu kan lumayan tuh 50:01 lumayan besar ya. ee pernah menulis 50:04 dengan waktu segitu gitu dan itu lumayan 50:07 waktunya. 50:08 Berarti sehari dua lembar tuh kalau 300 50:11 ee dalam waktu 3 bulan kan. 50:13 Iya. Tapi editingnya panjang, Pak. 50:15 Oh iya betul betul editingnya panjang. 50:18 Jadi memang ee kalau lagi produktif bisa 50:22 gitu ya. Ini ini refleksi ya untuk saya 50:24 sendiri juga untuk kembali supaya balik 50:27 lagi stay knowledge lagi nulis lagi gitu 50:30 ya. Setidaknya ikhwan akhwat kalau kita 50:32 belum menulis untuk orang lain, tulis 50:34 diari kita sendiri itu akan mengingatkan 50:37 kita, oh ya waktu itu tanggal berapa ya 50:38 tinggal buka. 50:39 Itu keren banget. He itu itu bagus 50:41 banget, positif banget untuk refleksi 50:44 kita, untuk tahu, oh saya sudah sampai 50:46 di sini di usia ini, saya begini ini, 50:49 kejadian-kejadian ini. Ini luar biasa 50:51 berharga sekali. Ee bagus sekali. Jadi, 50:55 sebaik-baik manusia itu adalah manusia 50:57 yang paling bermanfaat buat orang lain. 50:59 Dan kalau kita ngedengerin yang 51:02 bermanfaat, kalau kita ngomong yang 51:04 bermanfaat, kalau kita baca yang 51:06 bermanfaat, kalau kita nulis yang 51:08 bermanfaat, keren banget tuh ya. 51:11 Jadi empat-empatnya harus yang 51:12 bermanfaat. Keren. 51:14 Betul. Betul. Itu Mbak Nuning. Ee ada 51:17 lagi yang mau disampaikan? 51:20 Sebetulnya dari empat ini itu 51:24 tingkat kesulitan yang paling sering 51:26 kita alami adalah ketika kita menjadi 51:30 pendengar yang bijak. 51:31 Betul. Kalau bicara 51:32 5% enggak beres. Dan wahai pria, wanita 51:35 perlu 30.000 kata satu hari sementara 51:37 pria hanya 7.000. Jadi kalau kita banyak 51:39 ngomong maklumi gitu asal ngomongnya 51:41 tadi bermanfaat ya Mbak Mono ya. Betul 51:43 betul betul. 51:44 Iya iya. Ini refleksi ya untuk kita 51:46 semua ya. Kalau tadi dari jumlah 51:48 percakapan ee pilihan kata yang kita 51:50 sampaikan tuh segitu banyaknya, coba 51:52 kalau kita ngomongnya dipikir gitu ya, 51:55 tidak akan sebanyak itu. 51:57 Ee kalau ngomongnya dipikir kan kita 51:58 akan milih pilihan kata yang bagus-bagus 52:00 ya kan? He. 52:01 Kalau ngomongnya enggak dipikir atau 52:03 kita ee enggak mempertimbangkan untuk 52:06 dapat manfaat sebaik-baiknya dalam 52:08 percakapan 52:08 percakapan itu. Ya udah kita ngomongnya 52:11 udah bikin orang enggak nyaman, orang 52:13 juga enggak dong, enggak ngerti lagi 52:15 yang kita omongin begitu. 52:17 Kalau terkait dengan bicara tadi, Mbak 52:19 Mona, 52:20 seberapa penting sih sebetulnya ee nada 52:23 bicara kita? 52:25 Nada bicara penting 52:26 itu tidak mempengaruhi orang jadi berang 52:28 gitu. 52:28 Iya. Jadi ee di dalam berbicara, bicara 52:32 itu kan ada kata, ada bukan kata-kata. 52:36 Kata itu adalah pilihannya, diksinya. Ee 52:41 bukan kata-kata adalah dari ekspresi 52:44 kita dari 52:46 ee tinggi kecepatan, kekerasan, tinggi 52:50 nada, suaranya gitu ya. Ee ada intonasi 52:54 gitu ya. misalnya 52:57 ee 52:59 ngomongnya dengan nada yang ngomongnya 53:02 keras banget gitu ya atau ngomongnya 53:06 dengan suara yang seperti ini atau 53:08 ngomongnya 53:09 fisik-bisik 53:10 fisik misalnya begitu ya. Ada keras, ada 53:13 sedang, ada bisik-bisik gitu ya. Itu 53:16 kekerasan tuh. Ada yang ada yang 53:19 ngomongnya itu cepat cepat cepat cepat 53:21 banget gitu ya. Ada yang ngomongnya juga 53:22 lumayan biasa sedang gitu ya. 53:25 Ada yang ngomongnya itu 53:29 lambat 53:29 pengin jadinya. Heeh. Please deh gitu 53:32 ya. 53:34 Nah, ee kita perlu sedemikian rupa 53:38 memainkan itu gitu dengan baik karena 53:41 itu bisa berpengaruh atau kecepatan, 53:45 kekerasan dan lain sebagainya itu 53:47 berpengaruh sama apakah orang itu ngerti 53:50 atau enggak, enak apa enggak gitu atau 53:54 ee suara itu berpengaruh berpengaruhnya 53:57 lumayan besar gitu ya. Sekitar 38% 54:01 pilihan kata. 54:03 sama suara itu berpengaruh. Apalagi 54:06 kalau misalnya pakai telepon atau ee apa 54:10 namanya? Wajahnya enggak kelihatan gitu 54:12 ya. Karena wajah itu juga berpengaruh. 54:14 Tapi kalau enggak ada wajahnya cuman 54:17 suara dan ee kata-kata itu tinggi sekali 54:21 tuh pengaruh suara gitu ya. Jadi 54:23 hati-hati kalau ngomong gitu ya. Jangan 54:25 di ee perhatikan 54:27 cara kita ngomong bikin orang ngerti, 54:30 bikin orang senang. dua itu deh dipegang 54:32 deh dengan baik gitu. 54:35 Ee satu hal Mbak Mona tadi bagaimana 54:38 kita bisa menyeimbangkan antara bicara 54:40 kita yang agresif, yang pasif atau yang 54:44 asertif 54:45 ee asertif tadi itu 54:46 kan sesuai dengan kebutuhannya kan. 54:48 Heeh. 54:49 Itu tergantung karakter kita enggak sih? 54:51 Eh, jadi ee ada empat gaya 54:54 berkomunikasi. Agresif itu dia ngerasa 54:57 di atas, orang lain dia simpan di bawah. 55:01 Jadi dia yang penting, dia yang dominan, 55:04 dia ngomongnya ee bisa ekspresi suaranya 55:08 bisa ee pakai tekanan, pilihan katanya 55:12 juga pakai tekan atau pilihan katanya 55:14 yang agresif, yang ngeremehin dan lain 55:18 sebagainya itu enggak boleh. 55:21 egois gitu ya. Egois 55:23 egois. Heeh. Itu egois. Ngerusak 55:25 hubungan gitu ya. Ya, ini pilihan ya. 55:27 Kalau ke situ enggak bagus. Kedua adalah 55:31 ee pasif agresif. Dia di atas juga tapi 55:35 dia enggak seberani-berani amat gitu ya. 55:38 Seagresif itu gitu ya. Kalau ngomong itu 55:41 dia nyindir-nyindir. 55:44 Ah ee masa bisa misalnya begitu ya. Jadi 55:48 agresiflah ya. agresif tapi pasif itu 55:52 juga enggak bagus gitu ya karena dia 55:54 masih ngerasa dia di atas orang lain di 55:56 bawah. Yang bagus adalah yang di sini 55:59 yang satu lagi yang enggak bagus adalah 56:01 yang dia ngerasa di bawah jadi ngerimo 56:05 orang lain menempatkan dia di atas dia. 56:08 Dia ee menempatkan orang tersebut di 56:11 atas dia. Merendahkan diri. Heeh. 56:14 ee nerimo ee merendah, enggak ngerti, 56:18 enggak berani ngomong, enggak ngerti, 56:21 enggak berani nanya, itu pasif tuh gitu. 56:24 Itu enggak bagus. Yang bagus adalah yang 56:26 asertif, berani menyampaikan 56:28 ee merasa diri sama dengan orang lain. 56:32 Meskipun kita juga tahu diri ini 56:34 posisinya siapa, ini ee usianya berapa, 56:38 ini seperti apa, dan lain sebagainya. 56:41 itu juga kita perlu perhatikan tentang 56:43 budaya itu. Tetapi kita tidak merasa 56:46 rendah diri, 56:48 kita merasa ee kita rendah hati boleh, 56:51 tapi enggak rendah diri gitu. Enggak 56:53 minder, enggak ngerasa lebih di bawah 56:56 orang lain. Ini hubungannya sama 56:58 kepribadian seseorang. 57:00 He 57:01 ee dan hubungannya sama ee cara dia ee 57:06 melihat orang lain begitu. 57:09 It's it's your choice. Silakan pilih. 57:12 Menurut saya sih yang paling bagus 57:13 adalah yang asertif. Begitu. Kalau kita 57:15 tetap mempertahankan itu berarti kita 57:17 sudah siap untuk enggak punya hubungan 57:18 baik sama orang gitu. 57:20 Iya. Dan sayangnya kita sudah hampir di 57:23 penghujung waktu nih. Kira-kira 57:26 closing statement agar kita bisa menjadi 57:28 pembicara yang oke, pendengar yang baik. 57:31 Kemudian juga kita banyak membaca bukan 57:35 karena sesuatu yang terpaksa tapi karena 57:37 memang kebutuhan. untuk bisa menuliskan 57:40 sesuatu. Kalau bisa empat-empatnya keren 57:42 banget ya. 57:43 Monggo. 57:44 Iya. 57:46 Ee komunikasi adalah 57:51 keterampilan penting untuk bertahan 57:54 hidup. 57:56 Karena kita tidak pernah tidak 57:58 berkomunikasi. Pasti kita berkomunikasi. 58:00 Jadi ketika kita berinteraksi sama orang 58:03 lain pasti kita berkomunikasi gitu ya. 58:05 komunikasinya itu perlu empat 58:08 keterampilan dasar yang kalau kita 58:12 kuasain keren banget. Mendengarkan, 58:17 membaca, eh bicara, mendengarkan, 58:20 bicara, membaca, dan menulis. Yuk, 58:23 upgrade terus. Perbaiki diri terus 58:26 supaya kita bisa happy dan sejahtera 58:30 dalam menjalani hidup kita. Semoga 58:32 bermanfaat. Sampai ketemu lagi. Terima 58:35 kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi 58:37 wabarakatuh. 58:38 Waalaikumsalam warahmatullahi 58:39 wabarakatuh, Mbak Mona. Terima kasih 58:41 banyak. Dan untuk ikhwan akhwat yang 58:44 bersama acara Bincang Komunikasi 58:47 mudah-mudahan benar-benar ya kita mampu 58:50 untuk mewujudkan bahwa kebaikan 58:53 seseorang tergantung pada lisannya. 58:55 Memang lidah tidak bertulang. Sekali 58:57 lagi terima kasih Mbak Wanga. Billahi 58:58 taufik wal hidayah. Wasalamualaikum 59:00 warahmatullahi wabarakatuh.