Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- Brail TV.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Ikhwan akhwat
- rahimakumullah.
- bersyukur sekali hari ini kita dapat
- bersama-sama di acara Bincang Komunikasi
- yang mudah-mudahan membuat kita semakin
- mahir mahir dalam banyak hal terkait
- dengan komunikasi yang semoga juga
- bahasan hari ini benar-benar mempersuasi
- kita untuk bisa
- menjalankannya ya tidak lupa salam
- selawat kita lantunkan untuk junjungan
- umat kekasih kita Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam Alam. Semoga kelak kita
- dipertemukan dengan beliau di saat yang
- sangat kita rindukan di yaumil akhir.
- Ikhwan akhwat, seperti biasa Bincang
- Komunikasi menghadirkan Dr. Laila
- Monaganim yang juga sudah siap untuk
- kita. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Mbak Mona.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Sehat ya?
- Alhamdulillah. Senang ketemu lagi.
- Meskipun sebulan sekali cukup, tapi ini
- merupakan kesempatan yang luar biasa.
- Heeh.
- Ngomong-ngomong tadi kan di ee off air
- sebelum kita on air nih, ikhwan akhwat
- bicaranya tuh tentang ada loh yang
- merupakan keterampilan berkomunikasi.
- Nah, kita mahir yang mana seperti apa
- persisnya gimana judulnya?
- Ee
- gimana caranya kita punya empat
- keterampilan supaya canggih
- berkomunikasi? Nah, canggih
- berkomunikasi berarti enggak ada salah
- paham, enggak ada salah mengerti dan
- sebagainya. Yuk, kita simak. Silakan,
- Mbak. Thank you. Halo, Iwan dan akhwat
- yang dirahmati Allah. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Hari ini kita ngobrolin tentang
- empat keterampilan penting banget buat
- bertahan hidup, yaitu keterampilan
- komunikasi.
- Ee ada empat. Yang pertama adalah
- mendengarkan,
- dua ngomong, tiga
- membaca, empat menulis. Nah, canggih
- banget. Keren banget kalau kita punya
- empat-empatnya dalam kehidupan kita.
- Yuk, kita bahas satu-satu, ya. Yang
- pertama, ee mendengarkan. Mendengarkan
- ini keren banget, perlu banget. ee
- karena kita punya dua telinga untuk
- mendengarkan.
- Ee mendengar dan mendengarkan beda.
- Mendengar adalah dengar doang.
- Mendengarkan be there, hadir,
- perhatian,
- menangkap pesan-pesannya.
- Ee kemudian ini juga penting kalau kita
- mau ngjawab apa yang kita dengarkan dan
- perlu ngerespon. Maka dengan
- mendengarkan
- kita bisa
- dapat informasinya, kita bisa memikirkan
- apa pesan yang perlu disampaikan, kita
- bisa menjawab, ngerespon dengan beres
- sesuai dengan ee pertanyaan atau ee apa
- informasi yang perlu kita respon dan
- juga dengan mendengarkan ee hubungannya
- jadi bagus tuh. Jadi mendengarkan adalah
- penting sekali ya. Ee di dalam Quran
- surah An-Nahl
- ee
- dan Allah telah mengeluarkan kamu dari
- perut ibumu
- tanpa mengetahui sesuatu pun. Enggak
- ngerti apa-apa.
- Dia ciptakan untukmu pendengaran,
- penglihatan,
- dan hati
- agar kamu menjadi orang-orang yang
- bersyukur. Jadi dengan kita punya
- pendengaran, punya penglihatan dan hati
- itu bikin kita jadi bersyukur. So,
- gimana caranya? Yuk, manfaatkan ini dan
- jadi pendengar yang bagus. Ini untungnya
- banyak sekali.
- ee
- mendengarkan itu perlu punya kecerdasan
- loh.
- Jadi banyak orang yang lebih suka
- ngomong atau debat daripada
- ee dengerin gitu. Dan ini keterampilan
- yang paling besar di dalam kehidupan
- kita. Sekitar 42%. Ini pernah ada sebuah
- kajian ya ee berapa persen ee
- mendengarkan itu? 42%, 32% itu bicara
- gitu ya. Jadi ee 74% dua-duanya itu.
- Kemudian membaca dan menulis. Menulis
- paling paling sedikit ya.
- Jadi memang mendengarkan itu penting. Ee
- mendengarkan itu ee penting untuk kita
- miliki. Karena dengan mendengarkan kita
- benar-benar jadi tahu apa sih pesan
- utamanya dan itu kita jadi belajar
- banyak itu dari mendengarkan begitu ya.
- ee masih ingat bagaimana Nabi Ibrahim ee
- alaih salam yang dengerin anaknya ya ee
- ketika mendapat perintah dari Allah
- Subhanahu wa taala ee dia dengerin dulu
- pendapat anaknya, "Gimana pendapat kamu
- gitu ya ee ketika saya mendapatkan
- perintah dari Allah dan mendengarkan itu
- keren banget." Jadi, e kita juga belajar
- bahwa orang tua pun perlu mendengarkan
- anaknya. Ini adalah sebuah sebuah ee apa
- ya? Sebuah ee contoh bijak, contoh
- penting bahwa orang tua perlu
- ngedengerin anaknya. ee tidak hanya
- klien gitu ya sebagai ee ee ee bisnis
- dalam bidang transaksional,
- bisnis-bisnis dan lain sebagainya.
- Tetapi real-nya tuh in many situation
- ketika kita punya hubungan baik sama
- orang, ingin ingin punya hubungan baik
- sama orang, mendengarkan itu menjadi
- penting sekali.
- Ee kemudian ee
- kalau kita pelajari gimana cara
- ngedengerin gitu ya, ada beberapa cara
- mendengar, mendengar dan mendengarkan
- beda ee beda ya. Mendengar itu tadi
- kedengaran doang, mendengarkan itu
- pikiran dan perasaannya ada di situ
- gitu. Matanya bisa melihat ke orang yang
- kita ajak ngomong. ee kemudian ee fokus
- pikirannya
- hadir gitu ya, enggak enggak ee ke
- mana-mana gitu. Kemudian ee kita juga ee
- bisa pakai respon oke heeh heeh gitu ya
- sehingga kelihatan mendengarkan dan
- kelihatan seperti orang mendengarkan
- gitu. Enggak cuman yang penting dengerin
- gitu ya, tapi
- dengerin dan kelihatan kayak dengerin
- gitu ya.
- Ee dengan
- suara Heeh. atau dengan ekspresi wajah
- yang ditundukkan dengan eye contact itu
- ee keren banget gitu ya. Ee gimana sih
- cara ee Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam dengerin gitu ya? Beliau
- dengerinnya dengan sabar. Waktu orang
- ngomong, "Ini keren banget. Ini
- pelajaran juga untuk semuanya termasuk
- saya ee menyimak gitu ya." Oke, dengerin
- gitu ya. Kalau ada yang ngomong
- Rasulullah diam terus enggak buru-buru
- ya ee ee dengerinnya enggak buru-buru,
- enggak menginterupsi percakapan atau
- pembicaraan dari orang yang diajak
- omong. Terus di beliau juga dengerin
- pendapat kontennya dari apa yang
- disampaikan oleh orang lain tersebut.
- Begitu. Jadi ini pelajaran berharga buat
- kita ya. Yuk kita dengarin dengan baik.
- Belajar dengarin dengan baik. Ini ada
- 42% kemampuan mendengarkan yang perlu
- kita kembangkan terus-menerus. Oke. So,
- e
- mendengarkan orang lain
- menjadikan
- kita
- mencinta, menjadikan orang lain jadi
- cinta dan sayang sama kita gitu ya.
- Karena ee ikatan batinnya itu jadi bagus
- gitu sama orang yang ee mau
- mendengarkan.
- Tahu enggak kalau mau punya hubungan
- baik sama pasangan, dengerin itu penting
- banget.
- Dan ee ee apalagi ee apa ya dua-duanya
- sebenarnya ya ini ini kebutuhan
- manusiawi ya. Laki-laki dan perempuan ee
- suami dan istri ee dua-duanya butuh
- didengarkan dan bagaimana perempuan juga
- ee ingin dimengerti dan didengarkan oleh
- pasangannya. ini butuh butuh kesabaran
- untuk ee suami mendengarkan dan juga
- sebaliknya ee
- cewek tuh kan banyak ngomong ya
- kadang-kadang
- kadang-kadang keinginan untuk ngomongnya
- itu enggak sempat buat dengerin
- pasangannya gitu. Tetapi ketika kita
- bisa mendengarkan itu keren banget. Jadi
- jadilah pendengar yang baik.
- Diam. Dengarkan,
- ee kasih perhatian sama orang. yang kita
- ajak ee yang kita dengarkan ee kemudian
- kasih tanggapan yang baik ya kemudian ee
- jadi pendengar yang baik ee itu punya
- kekuatan untuk membujuk, mempersuasi,
- bikin hubungan jadi bagus sekali. Ee oke
- itu tadi tentang mendengarkan. Mbak
- Nuneng ada yang mau diomongin tentang
- mendengarkan?
- Kalau tadi disebut 42% berarti porsinya
- lebih banyak daripada
- tiga yang lain ya.
- Daripada tiga yang lain. Pertama
- mendengarkan. Kedua bicara. H.
- Heeh. Bicara tuh 32%.
- Ini lumayan banyak juga. Tetapi
- mendengarkan itu ternyata paling
- penting gitu. He. Itu sebabnya kita
- punya telinga dua,
- bibir satu.
- Betul sekali. Kita dapat informasi
- berharga, kita bisa ngerespon, hubungan
- juga makin baik. ee menghormati. Karena
- kebutuhan dasar manusia itu adalah
- didengar, diperhatikan, dianggap
- penting, ee di apa ya ee disayang gitu
- ya. Itu itu kebutuhan. Jadi manusia tuh
- punya dua kebutuhan. Satu kebutuhan yang
- berhubungan sama feeling, sama ee
- pribadi gitu ya. Satu lagi
- kebutuhan-kebutuhan yang bersifat ee
- sesuatu yang perlu di
- apa? diselesaikan. Misalnya lapar butuh
- makan, haus butuh minum, ee kita pergi
- butuh kendaraan, ee kita butuh belajar
- butuh laptop misalnya begitu ya. Itu
- kebutuhan-kebutuhan atau misalnya ee
- kita sakit butuh diobati gitu ya. Jadi
- ee kebutuhan-kebutuhan itu adalah
- kebutuhan-kebutuhan
- dasar yang ada yang real berhubungan
- dengan sesuatu yang praktis gitu ya,
- yang real untuk diselesaikan, tapi juga
- ada kebutuhan humanis gitu, yaitu
- kebutuhan yang berhubungan sama feeling
- didengerin, dianggap penting, disayang,
- ee diperhatikan,
- enggak diremehin gitu ya. Nah, itu semua
- proporsi mendengarkan juga punya bagian
- yang besar sekali.
- Ee oke. Jadi dengan mendengarkan itu
- kita diam
- hadir dan mendengarkan orang yang kita
- ajak ngomong. Ee ternyata masalahnya 75%
- orang enggak beres dalam ngedengerin.
- Ee jadi kenapa? Karena dia
- dengerinnya selektif, dia dengerin yang
- dia mau dengar gitu ya. atau dia enggak
- dengerin atau dia enggak attentif,
- enggak hadir ketika ngedengerin atau dia
- ee ee
- ee
- ketika mendengarkan itu dia
- sudah siap dengan
- ee ee apa ya kayak kalau kayak main itu
- main bowling gitu. Main bowling. Dia
- udah siap dengan bola baru gitu. satu
- orang ee ngelempar bola bowling ee dia
- nungguin terus ee ee setelah orang
- tersebut dia siap dengan bola bowling
- baru gitu untuk dilempar. Jadi artinya
- ee enggak enggak kayak main ee tenis
- gitu. Ketika dia main tenis kan tiktokan
- tuh gitu ya. Ini ngomong apa terus ini
- ngebalas apa tapi itunya bolanya apa ya?
- bolanya sama gitu yang tik gitu ya. Tapi
- kalau yang e cara berpikir bowling tadi
- ngambil satu bola cekrek dia ngambil
- lagi isu baru lagi cekrek lagi. Jadi
- enggak enggak hadir enggak ada tiktokan
- di situ.
- Nah, itu dia ee pikiran kita enggak
- sepenuhnya ada di sana dan itu adalah
- jadi hambatan-hambatan dalam
- mendengarkan sibuk dengan diri sendiri,
- sibuk dengan masalah eksternal yang ada
- di kepalanya atau masalah internal yang
- ada di kepalanya atau dengerin yang dia
- mau dengar. Ah, saya mau dengerinnya
- ini. Enggak enggak dengar secara
- keseluruhan gitu ya. Ee itu jadi jadilah
- pendengar yang baik ya. Ini penting
- sekali. Ada beberapa adab dalam
- mendengarkan.
- Em
- dengar itu dengerin enggak sambil
- ngomong gitu ya. Ee kemudian juga ee
- tidak
- tidak di-cut gitu ya supaya orang bisa
- selesai terus wajahnya ada ke sana ke
- orang tersebut terus ee tidak
- menampakkan sikap yang berbeda gitu ya.
- Eh, meskipun misalnya gini, kita udah
- tahu tentang itu, kalau bisa udah sabar
- dulu dengerin gitu ya. Itu ini ini
- challenge juga untuk beberapa orang.
- Ee ekspresi kita kadang-kadang nunjukin,
- "Oh, gue udah tahu gitu ya."
- Ee terus ee e tidak menunjukkan bahwa
- aku lebih ngerti gitu ya. itu itu juga
- challenge ya untuk orang-orang tertentu
- yang sudah canggih di situ. Rasulullah
- itu luar biasa ya ketika dia udah sering
- dengerin tentang itu udah tahu tapi dia
- seperti sesuatu yang baru gitu. Itu
- dahsyat banget. Itu dahsyat banget. Jadi
- ketika mendengarkan Rasulullah itu hadir
- atentif dan sampai orang tersebut
- ngerasa
- aduh ini aku didengerin penting banget
- gitu.
- Oke, ee berikutnya ya yang kedua ya.
- Yang pertama tadi mendengarkan penting
- banget nih keterampilan itu. Yuk kita
- kembangin ee update terus ee maksudnya
- dirapiin terus gitu ya keterampilan itu
- sampai klik dalam berinteraksi itu dapat
- nih sama orang tersebut. Kedua adalah
- ngomong, berbicara.
- ee
- lisan itu sebenarnya penampilan luar
- kita gitu ya, omongan kita itu penting
- sekali ya dan percentage-nya juga besar
- gitu. Ingat ya, percentage pertama yang
- besar adalah mendengarkan. Kedua bicara
- bicara sekitar 32%.
- Jadi lisan itu adalah jalur
- interaksi yang penting sekali gitu ya.
- ee selain dari yang mendengarkan
- mendengarkan kita dapat lisan kita
- keluarin gitu ya. Nah, ee untuk itu kita
- perlu punya akhlak yang baik ketika kita
- berbicara. Jadi ketika kita berbicara
- kita harus pilih pilihan katanya ada
- rumusnya nih. Pilihan katanya yang
- pertama
- ee
- ee bikin orang ngerti ketika kita
- ngomong. Kedua, enak didengerinnya gitu
- ya.
- bikin orang ngerti yang kita omongin.
- Jadi kalau kita mau ngomongin tentang
- jambu air, dia juga ngerti jambu air.
- Kita mau ngomong jambu batu, dia juga
- ngerti jambu batu, gitu ya. Gimana
- caranya ngomongnya? Ee ketika kita mau
- ngomong tentang tolong dong ambilin satu
- baju
- kepada anak kita.
- Ee bajunya itu letaknya di lemari di ee
- di laci yang nomor sekian gitu ya.
- Bajunya warna warna tertentu, lacinya
- ini, terus ee kuncinya ada di sini.
- Kemudian em
- diambilnya di begini begini begini gitu.
- Itu
- sama seperti tadi jambu air jambu air
- gitu sampai dong dia ngerti banget ini
- di situ gitu. Nah itu itu rumus pertama
- bikin dia ngerti. Kedua bikin dia senang
- dengerinnya. Coba kalau kita ngomongnya
- sambil marah-marah, sambil pakai
- kata-kata yang enggak enak, itu pesannya
- enggak akan sampai gitu. Jadi ngomong
- juga perlu ada caranya ya.
- ee
- ketika kita ngomongnya
- ee
- yang
- ribut bikin ribut atau perkataan sia-sia
- atau ee perkataan yang bikin enggak
- senang gitu ya kan tadi rumusnya bikin
- dia ngerti, kedua bikin dia senang
- dengerinnya gitu ya. Kita enggak bikin
- dia ngerti, enggak bikin dia senang
- dengerinnya enak gitu ya. itu komunikasi
- enggak jalan gitu.
- Kita bikin dia ngerti tapi enggak enak
- dengerinnya. Misalnya kita udah tahu
- nih, saya butuh jambu batu
- sekilo atau butuh kentang sekilo gitu
- ya.
- Ee berarti ee dia ngerti nih kentang
- kayak gini nih gitu ya. Kecuali misalnya
- kita butuh tentang ukuran tertentu.
- Misalnya kita juga perlu ngomong ukuran
- tertentu. Oke, ngerti. Tapi ngomongnya
- enggak bikin dia enak dengerinnya.
- Misalnya dengan bentak-bentak, dengan
- suaranya yang kasar atau dengan pilihan
- katanya yang
- ee apa namanya? Ee ditambahin kata-kata
- bumbu-bumbu yang bikin enggak nyaman.
- dengerin ya itu implikasinya adalah
- komunikasinya enggak sampai gitu
- dan itu berdampak buruk. Jadi bikin dia
- ngerti, bikin dia senang. Senang doang
- nih. Aduh sayangku
- ee tolong dong aku butuh ee kentang
- misalnya gitu ya.
- Udah aku butuh kentang
- tapi enggak ada penjelasan jumlahnya.
- enggak ada penjelasan saya butuhnya
- sekarang atau bisa jadi nanti enggak
- sampai sih kentangnya itu pada jam yang
- kita butuhkan gitu. Jadi artinya enggak
- sama makna. Jadi komunikasi itu sama
- makna. Di kepala saya jambu air, di
- kepala dia jambu air. Di kepala saya
- jambu batu, di kepala dia jambu batu,
- gitu. Butuhnya kentang ya kentang
- sampainya jumlahnya segini dan lain
- sebagainya. Ketika tidak sampai seperti
- yang kita harapkan yang ada di kepala
- kita, berarti bisa aja dia enggak
- ngerti. Mungkin kita ngomongnya enggak
- bikin dia ngerti atau mungkin kita
- ngomongnya enggak bikin dia senang.
- Jadi, dua rumus ini bersatu. Ngerti tapi
- enggak senang enggak jadi. Senang tapi
- enggak ngerti enggak jadi juga gitu ya.
- Enggak ngerti enggak senang enggak jadi.
- Apalagi gitu ya. Jadi dua-duanya ini
- perlu satu. Anything mau dikomen, Mbak
- Noneng.
- Kalau mendengarkan yang enggak dengan
- hati, maksudnya dengerin cuman pakai
- telinga itu Heeh.
- Tampak di pandangan mata kah atau di ee
- apa namanya? Respon singkat seperti oh
- ya. Heeh. Gitu. Itu perlu banget untuk
- menunjukkan bahwa kita dengerin.
- Jadi ee ini ini yang mendengarkan ya.
- ketika kita mendengarkan, ketika kita
- kasih respon itu, itu akan
- memudahkan orang yang kita dengerin
- happy dan dia juga merasa dia dimengerti
- gitu ya. Kalau reaksi kita ee oke, heeh.
- Terus misalnya cureng atau gimana, itu
- juga sebenarnya reaksi yang kita
- sampaikan kepada dia bahwa aku belum
- ngerti. Mudah-mudahan dia bisa ngerespon
- tertentu. Yang bagus adalah ketika kita
- mendengarkan, kita juga ngerespon. Oke.
- Maksudnya kentang ya.
- Oh, jadi dijelaskan sedikit.
- Heeh. Ditambahin. Heeh. Itu juga akan
- lebih
- supaya dialognya juga jadi gitu.
- Iya. Iya.
- Heeh. Ee makanya makanya ketika kita
- berkomunikasi kita juga perlu
- memastikan,
- mengkonfirmasi dia ngerti apa enggak
- gitu.
- Dan itu perlu dilakukan setelah sekian
- sekian menit atau sekian apa gitu ya.
- Iya. Heeh. atau di dalam pada saat
- percakapan ini sesuatu yang kompleks
- nih. Ini nih kita tahu nih ini ketika
- kita
- ketika kita jadi intinya gini Mbak
- Duning. Ketika kita jadi pendengar
- jadilah pendengar aktif. Ketika kita
- jadi pembicara pembicara aktif
- memastikan bahwa dia paham. Ketika kita
- jadi pendengar kita memastikan bahwa
- ee kita kalau enggak ngerti kita confirm
- kita kita juga aktif gitu
- mengkonfirmasi.
- Jadi pasti nanti enggak ada salah dengar
- ya kalau sudah seperti itu ya. Heeh.
- Meskipun ikhwan akhwat kebanyakan dari
- kita tuh kalau dengerin diam itu
- kayaknya sih dengerin banget tapi
- mungkin juga
- enggak masuk semuanya ya kalau diam
- saja.
- Heeh. Heeh.
- Terus kalau seandainya Mbak Mana yang
- sering terjadi itu kan dia jelasin untuk
- X Y Z dia dari A terus panjang enggak
- sampai-sampai.
- Heeh.
- itu bagi kita yang bicara
- Heeh.
- tidak menarik atau enggak apa-apa.
- Ee kita sebagai pendengar ya atau
- kita dengerin nih. Tapi kok I panjang
- banget sih ya sudah tahu intinya aja
- kenapa sih? Kan kebanyakan orang seperti
- itu.
- Nah ini kita yang bicara tahunya kalau
- ee jangan seperti itu dilihat dari
- tanda-tanda apa?
- Ee sori saya belum paham. Gimana
- maksudnya?
- Mbak Mona ngomong panjang lebar. Aku
- enggak sabar. Biar Mbak Mona tahu kalau
- aku enggak sabar. He
- itu apa yang harus ee ditunjukkan oleh
- yang
- Iya mungkin dia bisa bereaksi ya.
- Oh oke.
- Terus terus terus gitu ya.
- Heeh. Ee terus ininya gimana? Guided aja
- juga bisa kita lakukan. Heeh.
- Iya. Iya. Karena kebanyakan pertanyaan
- dari beberapa teman-teman tuh ikhwan
- akhwat. Ih, ngomongnya panjang lebar
- amat sih gitu ya.
- Iya. Iya. Iya iya iya.
- I. Oke.
- Aku mau nambahin ya, Mbak Noning. Ini
- ini kejadian ee
- dengan anak saya.
- Anak saya bilang sesuatu yang saya ee
- saya tidak dengar. Heeh. Jadi menurut
- anak saya dia sudah menyampaikannya.
- Jadi dia
- ee menyampaikannya yang menurut dia dia
- sudah sampaikan. Saya sendiri tidak
- mendengar. Heeh. Enggak enggak dengar.
- Enggak enggak dong gitu.
- Dan dia tidak memastikan apakah saya
- udah clear apa enggak tentang itu gitu.
- Menurut dia sudah sampaikan, menurut
- saya saya enggak dengar gitu. Nah, ee ee
- akhirnya pada satu kesempatan di mana
- itu ee menjadi satu bahasan,
- He
- dia bilang, "Saya sudah sampai ini."
- Saya bilang, "Saya enggak dengar." Saya
- bilang, "Pastiin kalau saya ngerti
- gitu."
- Makanya ee sebagai penyampai pesan dia
- perlu memastikan
- bahwa yang disampaikan dipahami.
- Bahwa yang disampaikan pahami.
- Ketika kita menjadi pendengar kan
- semuanya dimulai dari saya. Titik ya.
- Heeh.
- Ketika saya sebagai pendengar saya perlu
- memastikan saya ngerti yang diomongin ya
- kan. Heeh. Ketika saya sebagai
- pembicara, saya perlu memastikan yang
- mendengarkan ngah. Heeh.
- Nah, karena saya tadi enggak dengar nih,
- enggak enggak dengarnya gitu ya.
- Sementara dia yang penting saya sudah
- ngomong, saya ngomong jauh-jauh juga di
- jaraknya jauh dan ee enggak kedengaran
- juga yang penting saya sudah ngomong itu
- itu
- tantangan juga. Betul.
- Kadang-kadang ada beberapa ee informasi
- yang ya ada dalam kehidupan sehari-hari
- kita itu keributannya itu gara-gara
- komunikasi itu sangat sering gitu.
- Simpel banget. Padahal ya bicara dengar
- bicara dengar cuma dua itu aja ya. Heeh.
- Betul. Betul banget. Heeh.
- Iya.
- Dan itu kunci banget itu dalam
- interaksi. Pastiin dia dengar dan
- pastiin yang kita ketika kita
- menyampaikan pesan bikin dia ngerti enak
- kedengarannya gitu. Itu penting banget.
- Iya. Jadi kalau tadi Mbak Mona bilang ee
- aku enggak dong. Dong yang dimaksud
- adalah paham Ikhwan Afad bahasa Jawa deh
- kalau enggak salah ya.
- Oke, lanjut lanjut.
- Oke. Baiklah. Jadi ee
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- bilang ee kalau bisa ngomong bagus
- ngomong yang bagus
- ngomong kalau enggak diam gitu ya. Nah
- ee coba ee saya coba interpretasi si
- ngomong bagus itu adalah balik lagi tadi
- ya bikin ngerti dan enak kedengarannya
- gitu ya. Ini ini penting
- termasuk enggak bertele-tele gitu ya.
- Betul, betul, betul, betul, betul.
- Kebaikan
- kita itu tergantung juga pada lisan
- kita. Jadi, lisan itu penting sekali
- untuk kita perhatikan ya. Ee
- dan ee sudahkah kita berhenti sejenak
- dan berpikir akan dampak dari perkataan
- yang kita keluarkan? Nah, itu juga
- penting ya. Jadi kalau ngomong dipikir
- dulu bikin karena jangan sampai bikin
- orang enggak nyaman gitu ya.
- Ee termasuk
- ee menjaga lisan di medsos gitu ya.
- Itu tantangan baru ya.
- Ee tapi teman-teman semua ee diam juga
- tidak sepenuhnya bagus ketika memang
- perlu untuk kita sampaikan ya kita kita
- sampaikan gitu ya. Kita hindari
- debat-debat apalagi yang kita sudah tahu
- nih ini pesannya enggak akan sampai nih
- karena dia insist dia keek sama ee sudut
- pandangnya. Keke ini ee warnanya biru
- yang satu keke warnanya kuning misalnya
- begitu ya. Jadi ya enggak jalan gitu.
- Jadi udahlah, baiklah. Menurut saya ini
- kuning, menurut Anda ini biru. Udah oke,
- thank you gitu. Udah enggak usah dibahas
- gitu.
- Tapi itu perlu pernyataan ya agar tidak
- berkepanjangan yang tidak nyambung.
- Iya. Sepakat untuk tidak sepakat enggak
- apa-apa juga ya kan.
- Oke.
- Heeh.
- Jadi memang sih lidah tak bertulang ya.
- Iya betul.
- Oke. Eh, Mbak Nuring, anything sebelum
- mau disimpulkan tertentu untuk
- bericara tadi kan mendengar bicara. Udah
- kita akan lanjut ke yang berikutnya.
- Gimana?
- Untuk dua itu berbicara dan mendengar
- kayaknya sudah cukup. Nanti kalau ada
- yang kurang jelas di akhir ditambahkan.
- Siap.
- Tapi terkait dengan lisan yang lidah tak
- bertulang tadi memang kita perlu harus
- sangat hati-hati. Seperti yang Mbak Wana
- bilang barusan, kebaikan kita tergantung
- lisan kita.
- Iya. Iya. Iya.
- Oke. Nanti pada saat berbicara itu ada
- beberapa gaya ngomong gitu ya. Ada gaya
- yang ngomongnya agresif
- langsung ngomongnya seolah-olah dia
- merasa di atas, orang lain di bawah. Itu
- agresif. Heeh. Jadi ee apa menekankan
- atau juga pokoknya agresif deh gitu ya.
- Itu itu gaya gaya ngomong ya. Ee
- kemudian ee pasif agresif dia berani
- tapi enggak berani-berani amat. Jadi
- nyindir-nyindir gitu ya. Heeh.
- Yang ketiga adalah pasif. Dia ngerasa di
- bawah. Kalau tadi dia ngerasa dia di
- atas gitu ya yang agresif pasif agresif
- dia di atas tapi enggak berani-berani
- amat. Yang pasif adalah yang dia ngerasa
- dia di bawah merendah. Ee dia enggak
- setuju dia diam aja atau juga dia enggak
- setuju dia ngein misalnya begitu ya. Itu
- juga enggak tepat. Yang tepat adalah
- asertif. berani menyampaikan
- menyampaikan dengan baik memperhatikan
- pikiran dan perasaan orang yang diajak
- berkomunikasi itu bagus. Jadi ngomong
- itu dengan baik gitu ya. Itu tadi
- cara-cara ngomong kita sudah pernah
- bahas tuh sebelum-sebelumnya ya. Tapi
- ini mau mengingatkan bahwa dari empat
- keterampilan pertama dengerin yang
- bagus, kedua ngomong yang bagus ketiga
- adalah membaca. Penting banget untuk
- kita membaca. Membaca dan menulis itu
- juga ibadah yang keren gitu ya. Membaca
- itu diwahyukan bacalah bacalah gitu ya.
- Wahyu ee ini ya dari ee surat ee yang
- pertama adalah bacalah gitu ya. Ee itu
- sebenarnya bacalah itu juga kesadaran
- kita dalam berkomunikasi. Memang
- kebanyakan orang mendengar dan bicara g
- ya persentage-nya membaca itu enggak
- terlalu banyak ya, tetapi itu penting
- sekali. Jadi kalau mendengar kita dapat
- informasi, membaca juga dapat informasi
- gitu ya.
- Kalau ee ngomong kita menyampaikan
- informasi ya, menulis kita menyampaikan
- informasi ya. Kalau ini spoken ngomong,
- kalau ini tertulis gitu ya. Jadi ee
- empat-empatnya itu penting. Ee
- Iwan dan Nahwat yang dirahmati Allah,
- membaca
- itu membuka jendela dunia. Kita jadi
- tahu banyak hal. Dan sekarang ini orang
- Indonesia ee punya ee ee tingkat pembaca
- yang sangat rendah gitu ya. Ee 1 tahun
- tuh berapa banyak buku yang kita baca
- itu sangat sedikit.
- kita baca, tapi bacanya baca ee media
- sosial. Baca media sosial yang
- omongannya juga ringan-ringan yang
- kadang-kadang kadang-kadang enggak
- enggak terlalu jelas, yang kadang-kadang
- juga ee cuman lucu-lucuan yang bukan
- menjadi vitamin untuk otak kita, tetapi
- juga cuman lucu-lucuan gitu yang ringan
- ringan, ringan ringan yang buat
- ketawa-ketiwi, yang buat itu sayang
- sekali ya. membaca itu luar biasa.
- Hal-hal yang ingin ku tahu ada di dalam
- buku ini. Abraham Lincorn bilang begitu
- ya.
- Sahabat terbaik
- adalah orang yang akan memberikanku
- sebuah buku yang belum aku ketahui. Ih,
- keren sekali. Membaca buku yang baik
- berarti memberi makanan rohani yang
- baik. Itu dari Buya Hamka ya.
- Semakin aku banyak membaca, semakin aku
- banyak berpikir,
- semakin aku banyak belajar, semakin aku
- sadar, aku tidak mengetahui apapun.
- Luar biasa ya. Luar biasa. Bacaan itu
- bikin kita kaya, bikin kita tahu banyak
- jendela dunia. Jadi, Mbak Nuni ketika
- saya ee menyempatkan untuk membaca lagi,
- kadang-kadang kan aduh banyak hal yang
- ee di depan mata penting dan mendesak
- ya. Ini urusannya manajemen waktu gitu
- ya.
- Penting mendesak, penting mendesak. Jadi
- harus dikerjain segera. Nah, ketika saya
- mulai sadar, oke jangan-jangan saya
- sibuk sama penting dan mendesak ya,
- mulailah saya punya investasi penting
- tapi enggak mendesak gitu. Di antaranya
- membaca gitu ya. Aduh, luar biasa.
- Banyak hal menarik sekali gitu yang saya
- temukan di dalam bacaan-bacaan itu. Do
- you think so? Mbak Nun kan suka baca
- baca itu ya di
- baca direkam untuk ee teman-teman ee
- disable netra
- itu ilmunya jadi banyak banget karena
- yang dibaca
- unpredictable banget. Oh, ternyata ini
- begini gitu.
- Iya. Jadi membacakan buat orang lain
- ternyata untuk diri sendiri pun nilainya
- luar biasa. Iya. Iya. Kayak kita
- menjelajah dan imajinasinya itu hidup
- sekali ketika membaca ya. Kita jadi tahu
- banyak hal yang menarik ya.
- Luar biasa. Heeh.
- Kita datang ke daerah dengan ee kondisi
- alam tertentu itu juga karena baca.
- Iya betul.
- Datang ke sana keren banget. Kalau
- enggak kan enggak tahu.
- Betul. Betul sekali. Ee saya ingat ya
- waktu anak-anak masih kecil sebelum kita
- ke satu tempat kita baca dulu waktu itu
- masih enggak terlalu ee terkontaminasi
- dengan media sosial gitu ya. Jadi ayo
- kita baca dulu. Kita tahu tentang apa
- yang di sana terus ceritain ee dibikin
- apa ya tulisan-tulisan kecil gitu ya
- tentang apa yang di sana. Jadi pas
- datang ke satu kota, oh ada ini, oh ada
- ini. Jadi imajinasinya oh ini
- penduduknya ini ee jumlahnya segini,
- orangnya pekerjaannya seperti ini,
- wilayahnya ini, dekat sini dan
- sebagainya. Itu pengetahuan yang luar
- biasa, gitu.
- Kalau enggak baca, enggak tahu.
- Kalau enggak baca, enggak tahu. Heeh.
- Betul.
- Budaya malas baca adalah kekuatan yang
- melemahkan sebuah bangsa. Dan ini
- mengganggu sekali secara perkembangan
- intelektual, sosial, ekonomi, politik,
- dan lain sebagainya. Membaca adalah alat
- paling dasar untuk meraih kehidupan yang
- baik. So,
- siapa yang malas membaca itu rugi
- sekali. Jadi membaca adalah bentuk
- komunikasi dari orang lain yang dia
- tulis lalu kita ee
- menyerapnya.
- Menyerapnya sama seperti mendengarkan
- gitu.
- He.
- Kalau mendengarkan spoken dan itu punya
- keterbatasan dalam mendengarkan. Ketika
- baca itu cenderungnya kaya dan berlimpah
- gitu. Mendengarkan itu oke juga kaya.
- Tetapi kadang-kadang ee e belum tentu
- semua orang tuh punya keterampilan dalam
- berbicara yang kita perlu dengarin
- dengan sebaik itu gitu. Jadi tulisan itu
- luar biasa. Biasanya kan dia perlu punya
- waktu untuk masuk gua me apa ya
- meramunya dengan cermat dan lain
- sebagainya. Lalu dipersembahkan dalam ee
- bentuk tulisan yang misalnya
- dipublikasikan kan dia pasti serius
- untuk membuatnya begitu.
- Jadi
- ee manusia punya dua cara untuk belajar,
- yaitu dengan membaca dan satunya
- berkumpul dengan orang-orang yang lebih
- pintar. Itu kata Will Rogers. Wah,
- Will Rogers ngingetin manusia tuh punya
- cara untuk jadi keren gitu ya. pertama
- baca, kedua kumpul sama orang-orang
- pintar, sama orang-orang hebat sehingga
- kita dengerin dia.
- Jadi ini adalah ruang besar untuk
- belajar ya. Ee membaca penting untuk
- peradaban Islam dan karya-karya luar
- biasa sampai sekarang ini di Islam ini
- adalah bentuk buku-buku yang ee apa
- namanya? ee
- yang kita tahu yang peradaban luar biasa
- dulu itu dari buku-buku gitu dan itu
- penjelajahan menarik. Jadi manfaat
- membaca, mengumpulkan ilmu pengetahuan,
- kemudian juga ee apa namanya
- kesempatan untuk meningkatkan dan
- berkonsentrasi.
- Karena banyak orang membacanya itu
- dengan adanya media sosial. Jadi makin
- cuman satu paragraf, satu paragraf very
- short. Ee jadi kita sebenarnya
- dilemahkan oleh perkembangan teknologi
- ee media sosial ini gitu ya. Maunya
- digital digitalisasi ini sebenarnya
- keberlimpahan tapi bikin orang malas
- baca juga gitu. Scroll yang ringan
- ringan, ringan yang udah serius
- pakai baca yang serius itu makin
- sedikit.
- ee
- membaca dapat mendekatkan kita kepada
- Allah Subhanahu wa taala ya. Ee dan ini
- alat untuk membuka paradigma berpikir,
- berucap, dan berperilaku
- dengan membaca potensi diri menjadi
- dilentingkan, menjadi bisa melihat
- banyak hal baru, terpacuh, terdorong ee
- untuk menjadi orang yang lebih baik,
- untuk menjadi orang yang maju. itu luar
- biasa ya. Jadi membaca menjadikan
- manusia mau berubah lebih baik dan ee
- membentuk manusia sebagai pelaku
- sejarah.
- Ee satu lagi Mbak Nun ya M
- yaitu
- menulis. Oke.
- Ee
- Allah bersumpah dengan alat tulis yaitu
- pena dan apa-apa yang mereka tuliskan.
- Jadi luar biasa ya. Nun demi kalam dan
- apa yang mereka tulis. Luar biasa.
- Masyaallah.
- Setetes tinta ulama lebih berat
- timbangannya di sisi Allah daripada
- ribuan darah syuhada yang meninggal di
- medan perang. Menurut Imam Alghazali, uh
- luar biasa. Kalau engkau bukan anak raja
- dan engkau bukan anak ulama besar, maka
- jadilah penulis. Menurut Imam
- Al-Ghazali. Jadi, jadilah penulis. Luar
- biasa.
- Menulislah itu. Itu tingkatan yang keren
- banget ya. Menulis itu sudah meramu
- sedemikian rupa dari berbagai bacaan.
- Menulis itu bisa kalau baca ya. Setelah
- kita meramu dari banyak bacaan, kita mau
- menulisnya.
- Ee tetapi selain dari tulisan yang
- menjadi satu karya-karya yang legendaris
- sejarah dan lain sebagainya, kita juga
- bisa menulis pesan-pesan kok. Maka
- menulis itu sama seperti berucap ngomong
- perlu bikin orang yang membaca tulisan
- kita ini ngerti dan enak tulisannya
- gitu. Jadi bisa bikin dia ngerti dan
- enak ee dibacanya gitu ya. ini dua yang
- penting juga
- karena ee kalau nulisnya
- bikin enggak enak itu Mbak Nuning kalau
- kita nulis di WA ya ee tulisan-tulisan
- di WA gitu ya
- terus
- kita enggak baca lagi si tulisan itu
- langsung send gitu ya bisa aja
- interpretasinya enggak bikin dong kan
- enggak bikin ngerti jadi ada dua sekali
- lagi ya bikin dia ngerti bikin dia enak
- baca bacanya atau ngedengerinnya gitu
- ya. Jadi bikin dia ngerti dan bikin dia
- nyaman. Bikin dia ngerti. Kadang-kadang
- yang kita tulis itu ee kalau kita enggak
- baca lagi ulang ulang lagi membacanya
- apalagi pesan penting bisa jadi ke
- mana-mana gitu.
- Heeh. Makanya baca lagi. Oke.
- Kadang-kadang ee saya kalau ketika ini
- penting sekali saya tulis di mana gitu
- ya? di satu ee di satu tulisan di
- misalnya mau nulis WhatsApp gitu ya.
- Saya tulis di satu tempat yang buka
- ditujukan oleh untuk orang tersebut.
- Lalu saya baca lagi, saya ulang terus
- saya kasih spasi. Oh ini kasih spasi ini
- spasi lagi baru dikirim gitu, Mbak
- Nuning.
- Iya makanya ada anu tempat edit gitu.
- Iya iya ada edit. Heeh. Tapi kan ketika
- kita kirim sudah langsung kan sudah
- langsung sampai kan. Makanya di ditulis
- di tempat lain dulu ketika itu penting
- ya gitu ya.
- Ee lalu dikirim. Jadi dipastikan tuh
- menulis itu penting sekali juga gitu.
- Itu adalah bentuk dari komunikasi.
- Perbaiki deh yuk kita perbaiki terus.
- Kira-kira itu deh Mbak Nuning.
- Kalau tadi dikatakan bahwa
- membaca membuka jendela dunia.
- Iya. Jadi kalau nulis berarti
- menulis artinya
- kita berani untuk
- me
- menyampaikan itu kan berarti menulis
- menyampaikan sesuatu ya bisa ilmu bisa
- juga
- membuka cakrawala orang lain juga.
- Nah cakrawala jadi bukan cuman jendela
- yang dibuka ya.
- Heeh.
- Menarik sekali kesulitannya menurut Mbak
- Mona antara dua yang belakangan tadi
- yaitu membaca dan menulis untuk
- kaitannya dengan pemahaman kita lebih
- sulit yang mana? Ee
- menulis Mbak Nuning. Heeh. Menulis. Jadi
- itu persentage paling sedikit ya dari
- keterampilan orang ya.
- Jadi kayak kita misalnya kita nulis tuh
- kayak kita merangkai bunga.
- Heeh.
- Iya.
- Heeh. kita pilih bunga-bunga yang baik,
- kita rangkai sedemikian rupa sehingga
- orang tertarik gitu untuk melihatnya,
- untuk ee
- apa namanya? Menikmati bunga tersebut
- begitu.
- Dan merangkai ini penting kalau enggak
- bunganya berantakan.
- Kalau enggak berantakan i
- ya disenggol sedikit jatuh-jatuh. Nah,
- itu berarti
- betul atau kita simpan aja kan itu kan
- berarti enggak.
- Betul.
- Heeh.
- He.
- Luar biasa sekali ee ikhwan akhwat.
- Kalau tadi kemampuan mendengar,
- kemampuan berbicara, sudah paham banget.
- Nah, sekarang ketika kita membaca
- memperkaya kita karena membuka ee
- jendela dunia,
- apa yang kita baca bisa dong ditulis.
- Iya. Oh, iya jelas.
- Karena ee mungkin targetnya beda. Yang
- kita baca adalah dari ilmuwan
- kita menuliskannya kembali untuk ee
- anak-anak muda tertentu. Betul.
- Menulis itu modalnya baca, Mbak Duning.
- Tanpa baca enggak bisa nulis.
- Iya. Menurut saya begitu deh. Kalau mau
- nulis yang bagus harus baca sehingga
- kita jadi meramu-ramu dari berbagai
- sudut pandang. Lalu kita ee lihat dari
- sudut pandang kita lalu kita tulis.
- Itu cakep banget ketika kita bisa
- berkontribusi untuk kemajuan orang lain
- melalui tulisan. Enggak cuman dari
- ngomong ya kan. meskipun cuma resep
- makanan
- itu
- itu kan membantu banget. Buktinya kita
- bisa ke dapur, kita bisa ke dapur bisa
- masak kan gara-gara baca kan. Itu aku
- kayaknya semua perempuan deh.
- Iya iya.
- Kalau lagi mau masak entar entar entar
- ya. Apa ya?
- Buka-buka lihat-lihat.
- Bahkan ketika zaman sekarang ini
- sebetulnya ini di-mix dengan ini
- berbahaya enggak sih? Itu tinggal klik
- ya.
- Nah.
- itu kalau kita mau menuliskannya juga
- boleh dalam buku kecil misalnya petunjuk
- singkat untuk bla bla bla gitu.
- He heeh.
- Kita bisa ramu sekarang ini media
- komunikasi luar biasa ya. Jadi kita bisa
- ramuh satu gagasan dalam bentuk
- bacaan-bacaan. Lalu kita tulis ref frase
- lagi di tulis lagi dalam bentuk yang
- lebih mudah untuk konsumen kita atau
- orang yang kita ajak ngomong. Oh ini
- buat anak SD berarti kita sedikit
- dengan bahasa mereka.
- Betul.
- Target pembacanya siapa.
- Target yang mau dengerin omongan kita
- siapa. Itu
- pilihan diksinya juga penting banget.
- Jadi
- betul betul. He
- bahasanya penting untuk bikin dia
- ngerti, bikin dia enak dengerinnya itu
- dia rumusnya itu.
- Soalnya beberapa orang mengatakan,
- "Aduh, bahasanya KBBI banget anu bet
- gitu ya."
- Meskipun KBBI betul tapi kenapa jadi
- bet?
- Betul, betul betul. ee
- memang ee bahasa Indonesia yang bagus
- dan benar itu ee perlu kita lestarikan
- ya. Ini ini refleksi juga ya untuk kita
- semua ya. Karena ee bahasa itu kaya
- banget. Jadi ketika kita harus tahu oke
- kita sedang bicara di event apa? kita
- menulis untuk karya ilmiah misalnya ya
- ee misalnya ee di kampus gitu ya nulis
- tulisan ilmiah jurnal atau tulisan ee
- skripsi, tesis, disertasi itu memang
- harus ada panduan-panduan tulisan
- akademik yang juga KBBI itu Mbak Nuning.
- Tetapi ketika dalam percakapan kita
- harus tahu kita lagi ngomong sama siapa
- ya gitu. Sama segmen siapa ya. Ketika
- kita ngomong sama anak TK kita perlu
- nyesuaiin sama bahasa yang anak TK itu
- bisa ngertiin gitu.
- Iya.
- Dan kalau kita pakai bahasa formal,
- bahasa yang ee apa yang sangat baku
- mungkin ee belum tentu ee tepat untuk
- segmen tertentu gitu. Jadi ya
- ee kreativitas kita memahami siapa orang
- yang kita ajak berkomunikasi itu penting
- banget. Jadi dengan siapa kita bicara
- sudah diperhitungkan sama Mbak Mona tadi
- ee pilihan kalimat-kalimatnya seperti
- apa. Kalau bisa lagi tambah sepotong dua
- potong bahasa daerah dia.
- Iya itu menarik.
- Bagus banget. Heeh. Heeh. Sesuai dengan
- orang yang kita ajak ngomong.
- Iya. dia misalnya dia orang Sunda paka
- saetik-setik lah bahasa Sunda gitu ya.
- I iya iya iya.
- Mbak Nunik ee jadi ternyata menulis itu
- juga bisa meninggikan derajat seseorang
- gitu ya
- lewat tulisan.
- Lewat tulisan. Heeh.
- Barang siapa menebarkan kebaikan dan ini
- niat kita yang kita luruskan niat.
- Niatnya adalah untuk menebarkan kebaikan
- melalui tulisan, melalui lisan ngomong
- gitu ya. Itu insyaallah akan mendapat
- pahala
- dan memuliakan kita juga.
- Luar biasa. Jadi keterampilan komunikasi
- ini bisa jalan yang
- mulai dari
- memberdayakan atau memperdayakan.
- Diberdayakan. Enggak ada kata perdaya
- kali.
- Iya. Dua-duanya bisa dua-duanya ya kan
- bisa positif bisa negatif gitu. So, so
- ketika kita punya pilihan, kenapa kita
- enggak pilih yang bagus, ya kan?
- Eh, jadi kalau kita yang negatif itu
- memperdayakan
- agar orang mabuk dengan bacaan kita
- melakukan hal-hal yang tidak baik tadi
- itu tempatnya di mana nanti dosa. Iya,
- betul. I kan?
- Iya. Iya.
- Ee nulis itu bisa menjadi obat supaya
- enggak lupa. Jadi keren banget menulis
- itu sebenarnya.
- Saya ee pernah sangat produktif menulis
- Mbak Nuni.
- Pernah saya ngalamin ee
- 3 bulan ada satu buku 3 bulan. Untuk
- untuk saya itu cepatlah gitu ya. Ee
- enggak enggak mudah untuk nulis satu
- buku dengan ee
- 270
- atau 250 lembar lah. Itu kan lumayan tuh
- lumayan besar ya. ee pernah menulis
- dengan waktu segitu gitu dan itu lumayan
- waktunya.
- Berarti sehari dua lembar tuh kalau 300
- ee dalam waktu 3 bulan kan.
- Iya. Tapi editingnya panjang, Pak.
- Oh iya betul betul editingnya panjang.
- Jadi memang ee kalau lagi produktif bisa
- gitu ya. Ini ini refleksi ya untuk saya
- sendiri juga untuk kembali supaya balik
- lagi stay knowledge lagi nulis lagi gitu
- ya. Setidaknya ikhwan akhwat kalau kita
- belum menulis untuk orang lain, tulis
- diari kita sendiri itu akan mengingatkan
- kita, oh ya waktu itu tanggal berapa ya
- tinggal buka.
- Itu keren banget. He itu itu bagus
- banget, positif banget untuk refleksi
- kita, untuk tahu, oh saya sudah sampai
- di sini di usia ini, saya begini ini,
- kejadian-kejadian ini. Ini luar biasa
- berharga sekali. Ee bagus sekali. Jadi,
- sebaik-baik manusia itu adalah manusia
- yang paling bermanfaat buat orang lain.
- Dan kalau kita ngedengerin yang
- bermanfaat, kalau kita ngomong yang
- bermanfaat, kalau kita baca yang
- bermanfaat, kalau kita nulis yang
- bermanfaat, keren banget tuh ya.
- Jadi empat-empatnya harus yang
- bermanfaat. Keren.
- Betul. Betul. Itu Mbak Nuning. Ee ada
- lagi yang mau disampaikan?
- Sebetulnya dari empat ini itu
- tingkat kesulitan yang paling sering
- kita alami adalah ketika kita menjadi
- pendengar yang bijak.
- Betul. Kalau bicara
- 5% enggak beres. Dan wahai pria, wanita
- perlu 30.000 kata satu hari sementara
- pria hanya 7.000. Jadi kalau kita banyak
- ngomong maklumi gitu asal ngomongnya
- tadi bermanfaat ya Mbak Mono ya. Betul
- betul betul.
- Iya iya. Ini refleksi ya untuk kita
- semua ya. Kalau tadi dari jumlah
- percakapan ee pilihan kata yang kita
- sampaikan tuh segitu banyaknya, coba
- kalau kita ngomongnya dipikir gitu ya,
- tidak akan sebanyak itu.
- Ee kalau ngomongnya dipikir kan kita
- akan milih pilihan kata yang bagus-bagus
- ya kan? He.
- Kalau ngomongnya enggak dipikir atau
- kita ee enggak mempertimbangkan untuk
- dapat manfaat sebaik-baiknya dalam
- percakapan
- percakapan itu. Ya udah kita ngomongnya
- udah bikin orang enggak nyaman, orang
- juga enggak dong, enggak ngerti lagi
- yang kita omongin begitu.
- Kalau terkait dengan bicara tadi, Mbak
- Mona,
- seberapa penting sih sebetulnya ee nada
- bicara kita?
- Nada bicara penting
- itu tidak mempengaruhi orang jadi berang
- gitu.
- Iya. Jadi ee di dalam berbicara, bicara
- itu kan ada kata, ada bukan kata-kata.
- Kata itu adalah pilihannya, diksinya. Ee
- bukan kata-kata adalah dari ekspresi
- kita dari
- ee tinggi kecepatan, kekerasan, tinggi
- nada, suaranya gitu ya. Ee ada intonasi
- gitu ya. misalnya
- ee
- ngomongnya dengan nada yang ngomongnya
- keras banget gitu ya atau ngomongnya
- dengan suara yang seperti ini atau
- ngomongnya
- fisik-bisik
- fisik misalnya begitu ya. Ada keras, ada
- sedang, ada bisik-bisik gitu ya. Itu
- kekerasan tuh. Ada yang ada yang
- ngomongnya itu cepat cepat cepat cepat
- banget gitu ya. Ada yang ngomongnya juga
- lumayan biasa sedang gitu ya.
- Ada yang ngomongnya itu
- lambat
- pengin jadinya. Heeh. Please deh gitu
- ya.
- Nah, ee kita perlu sedemikian rupa
- memainkan itu gitu dengan baik karena
- itu bisa berpengaruh atau kecepatan,
- kekerasan dan lain sebagainya itu
- berpengaruh sama apakah orang itu ngerti
- atau enggak, enak apa enggak gitu atau
- ee suara itu berpengaruh berpengaruhnya
- lumayan besar gitu ya. Sekitar 38%
- pilihan kata.
- sama suara itu berpengaruh. Apalagi
- kalau misalnya pakai telepon atau ee apa
- namanya? Wajahnya enggak kelihatan gitu
- ya. Karena wajah itu juga berpengaruh.
- Tapi kalau enggak ada wajahnya cuman
- suara dan ee kata-kata itu tinggi sekali
- tuh pengaruh suara gitu ya. Jadi
- hati-hati kalau ngomong gitu ya. Jangan
- di ee perhatikan
- cara kita ngomong bikin orang ngerti,
- bikin orang senang. dua itu deh dipegang
- deh dengan baik gitu.
- Ee satu hal Mbak Mona tadi bagaimana
- kita bisa menyeimbangkan antara bicara
- kita yang agresif, yang pasif atau yang
- asertif
- ee asertif tadi itu
- kan sesuai dengan kebutuhannya kan.
- Heeh.
- Itu tergantung karakter kita enggak sih?
- Eh, jadi ee ada empat gaya
- berkomunikasi. Agresif itu dia ngerasa
- di atas, orang lain dia simpan di bawah.
- Jadi dia yang penting, dia yang dominan,
- dia ngomongnya ee bisa ekspresi suaranya
- bisa ee pakai tekanan, pilihan katanya
- juga pakai tekan atau pilihan katanya
- yang agresif, yang ngeremehin dan lain
- sebagainya itu enggak boleh.
- egois gitu ya. Egois
- egois. Heeh. Itu egois. Ngerusak
- hubungan gitu ya. Ya, ini pilihan ya.
- Kalau ke situ enggak bagus. Kedua adalah
- ee pasif agresif. Dia di atas juga tapi
- dia enggak seberani-berani amat gitu ya.
- Seagresif itu gitu ya. Kalau ngomong itu
- dia nyindir-nyindir.
- Ah ee masa bisa misalnya begitu ya. Jadi
- agresiflah ya. agresif tapi pasif itu
- juga enggak bagus gitu ya karena dia
- masih ngerasa dia di atas orang lain di
- bawah. Yang bagus adalah yang di sini
- yang satu lagi yang enggak bagus adalah
- yang dia ngerasa di bawah jadi ngerimo
- orang lain menempatkan dia di atas dia.
- Dia ee menempatkan orang tersebut di
- atas dia. Merendahkan diri. Heeh.
- ee nerimo ee merendah, enggak ngerti,
- enggak berani ngomong, enggak ngerti,
- enggak berani nanya, itu pasif tuh gitu.
- Itu enggak bagus. Yang bagus adalah yang
- asertif, berani menyampaikan
- ee merasa diri sama dengan orang lain.
- Meskipun kita juga tahu diri ini
- posisinya siapa, ini ee usianya berapa,
- ini seperti apa, dan lain sebagainya.
- itu juga kita perlu perhatikan tentang
- budaya itu. Tetapi kita tidak merasa
- rendah diri,
- kita merasa ee kita rendah hati boleh,
- tapi enggak rendah diri gitu. Enggak
- minder, enggak ngerasa lebih di bawah
- orang lain. Ini hubungannya sama
- kepribadian seseorang.
- He
- ee dan hubungannya sama ee cara dia ee
- melihat orang lain begitu.
- It's it's your choice. Silakan pilih.
- Menurut saya sih yang paling bagus
- adalah yang asertif. Begitu. Kalau kita
- tetap mempertahankan itu berarti kita
- sudah siap untuk enggak punya hubungan
- baik sama orang gitu.
- Iya. Dan sayangnya kita sudah hampir di
- penghujung waktu nih. Kira-kira
- closing statement agar kita bisa menjadi
- pembicara yang oke, pendengar yang baik.
- Kemudian juga kita banyak membaca bukan
- karena sesuatu yang terpaksa tapi karena
- memang kebutuhan. untuk bisa menuliskan
- sesuatu. Kalau bisa empat-empatnya keren
- banget ya.
- Monggo.
- Iya.
- Ee komunikasi adalah
- keterampilan penting untuk bertahan
- hidup.
- Karena kita tidak pernah tidak
- berkomunikasi. Pasti kita berkomunikasi.
- Jadi ketika kita berinteraksi sama orang
- lain pasti kita berkomunikasi gitu ya.
- komunikasinya itu perlu empat
- keterampilan dasar yang kalau kita
- kuasain keren banget. Mendengarkan,
- membaca, eh bicara, mendengarkan,
- bicara, membaca, dan menulis. Yuk,
- upgrade terus. Perbaiki diri terus
- supaya kita bisa happy dan sejahtera
- dalam menjalani hidup kita. Semoga
- bermanfaat. Sampai ketemu lagi. Terima
- kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh, Mbak Mona. Terima kasih
- banyak. Dan untuk ikhwan akhwat yang
- bersama acara Bincang Komunikasi
- mudah-mudahan benar-benar ya kita mampu
- untuk mewujudkan bahwa kebaikan
- seseorang tergantung pada lisannya.
- Memang lidah tidak bertulang. Sekali
- lagi terima kasih Mbak Wanga. Billahi
- taufik wal hidayah. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.