Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:09 [musik] 0:16 [musik] 0:26 Allah senang sekali bisa bersama-sama 0:28 Anda kembali. 0:30 di acara bincang komunikasi bersama Dr. 0:34 Laila Monaganim yang mudah-mudahan 0:37 mempersuasi kita semuanya untuk bisa 0:40 lebih ringan melangkah ke depan di dalam 0:42 menghadapi perjalanan hidup kita terkait 0:45 dengan komunikasi nih ya. Tidak lupa 0:48 salam selawat kita lantunkan untuk 0:50 junjungan umat kekasih kita Muhammad 0:53 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. 0:55 Semoga kelak kita mendapatkan syafaat 0:58 beliau dan dapat bersama-sama beliau di 1:01 saat yang sangat kita rindukan di yaumil 1:04 akhir. Sebelumnya terima kasih juga 1:07 untuk radio-radio yang telah 1:09 bersama-sama menyebarluaskan siaran dari 1:13 Radio Silaturahim. Silaturahim yang ada 1:16 di Semarang di ee Banyuwangi ada suara 1:20 Habibullah ya. Kemudian Radio Latansa, 1:24 radio silaturahim yang ada di Jogja yang 1:27 di Bondowoso, kemudian juga Seila FM dan 1:31 Radio Madina serta Radio Rasal di 1:34 Palembang. Mudah-mudahan bahasan hari 1:37 ini tadi waktu di off air kayaknya 1:39 penting banget nih untuk kita pahami 1:41 dengan sepenuh hati, sepenuh rasa. Tapi 1:44 kita sapa dulu narasumber kita yang 1:47 cantik jelita ini. Asalamualaikum 1:49 warahmatullahi wabarakatuh, Mbak Mona. 1:51 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:52 wabarakatuh. Hai Mbak Nuning, sudah lama 1:55 enggak ketemu. 1:55 He. Mudah-mudahan kehadiran sebelum 1:58 puasa ini juga meringankan langkah kita. 2:02 Ngomong-ngomong kita ini kan harus kenal 2:05 baik dengan generasi di bawah kita yang 2:07 merupakan anak-anak kita ya. 2:09 Banyak yang enggak tahu bahwa mereka tuh 2:11 bla bla bla. Kita harus bla bla bla. 2:13 Nah, ini kan yang mau kita bahas. 2:14 Betul sekali. 2:15 Masyaallah. Jadi, ikhwan akhwat, 2:18 bagaimana kita bisa memahami generasi 2:22 yang sekarang ini kita sebut generasi 2:24 digital kali ya, karena luar biasa 2:26 sekali dengan internet dan teknologi. 2:30 Sementara mereka juga begitu adaptif, 2:32 begitu mahir, kritis, tapi kadang-kadang 2:36 ya kebawa nih. Nah, baiklah. Bagaimana 2:39 kita sebagai pendamping di dalam 2:41 perjalanan mereka 2:44 mencoba memahami cara mudah memahami 2:48 Genzi ya. 2:49 Iya. 2:49 Oke, silakan yuk kita dengar sepenuh 2:52 hati, sepenuh jiwa. Silakan Mbak Mona. 2:54 Terima kasih Mbak Nuning. Asalamualaikum 2:56 warahmatullahi wabarakatuh. 2:58 Waalaikumsalam. 3:00 Ah, senang sekali ketemu lagi hari ini 3:02 kita ngebahas tentang Genzi ya. Seru 3:05 banget nih Genzi nih ya. Yuk kita lihat 3:08 lihat e kita pernah membahas tentang Gen 3:10 beberapa saat yang lalu tentang generasi 3:13 sebenarnya semua generasi. Ee sekarang 3:16 kita ee mengingat kembali tetapi akan 3:19 lebih fokus kepada Genzi gitu ya. Mm 3:23 karena kita adalah makhluk sosial dan 3:25 kita hidup bersama dengan ee sejumlah 3:28 generasi. Ada tujuh generasi yang kita 3:32 hidup bersama saat ini. Tujuh generasi 3:34 ya, generasi tradisionalis 3:37 yaitu kelahiran 1922 sampai 1945 3:43 gitu ya sebelum kemerdekaan. Jadi e-eang 3:47 kita ya. Kemudian 46 sampai 64 yaitu 3:52 baby boomer ya. ee setelah ee lahiran, 3:58 setelah kemerdekaan lalu banyak jadi bom 4:01 bayi ya. Kemudian 65 sampai 80 Gen X ya 4:07 saya Gen X. 4:09 Kemudian 4:10 81 4:12 sampai 94 4:15 adalah gen milenial, gen Y, gen 4:18 milenial. Setelah itu, Gen Gen Z yaitu 4:23 95 sampai 2010 ya. Nah, anak-anak 4:27 sekarang ini banyak sekali Gen ya. Ee 4:31 jumlah Gen bisa sampai 30% 4:36 lebih ya kemungkinan ya sekitar segituan 4:38 dari jumlah penduduk di Indonesia. ini 4:41 riset tahun 2020 ya sekitar ee 56 tahun 4:46 yang lalu. 4:47 Kemudian setelah itu Gen Alfa 4:50 2011 sampai 2024 4:53 dan setelah itu gen beta 2025 sampai ee 4:59 seterusnya begitu ya. Nah, ee 2025 belum 5:03 banyak cerita-ceritanya, tetapi saat ini 5:06 kita akan ngebahas tentang Gen Z yang 5:11 sudut pandangnya dilihat dari gen ee X 5:15 ya, gen X 5:16 di atasnya tuh ya. Heeh. 5:18 Dua. Dua di atasnya. Jadi ee ceritanya 5:22 curhatan emak-emak, ibu-ibu atau orang 5:26 tua 5:27 ee seusia saya kepada anaknya 5:30 Genzi gitu ya. Genzi anak anak-anaknya. 5:35 Nah ee yuk kita lihat sebelumnya ee apa 5:38 sih yang ngebentuk manusia gitu ya. ee 5:41 manusia itu dibentuk dari ada tiga ya 5:44 yang kira-kira secara kelompok besarnya 5:47 begitu ya dari biologis atau secara 5:50 genetik di bawah beserta kelahiran 5:53 fitrahnya dari sana seperti apa. 5:56 Kemudian secara psikologis ya dari 5:59 bagaimana diasuhnya, 6:01 bagaimana pengalaman hidupnya dan lain 6:04 sebagainya gitu ya. Kemudian lingkungan. 6:07 lingkungan itu juga berpengaruh yaitu 6:10 temannya, masyarakat, budaya, ekonomi, 6:15 media, ee 6:18 sosial dan lain sebagainya, politik itu 6:20 juga berpengaruh. Jadi yang kita bahas 6:24 pada kesempatan ini adalah apa sih yang 6:28 berpengaruh terhadap orang-orang yang ee 6:33 apa namanya yang lahir di periode 6:36 tersebut begitu di periode tahun 1995 6:41 sampai 2010. Cara mikirnya kayak gimana 6:44 sih? Karena pada periode itu ada COVID, 6:47 ada digital yang luar biasa dan lain 6:50 sebagainya gitu. Kenapa begitu? Karena 6:54 ada sebuah kajian, sebuah penelitian 6:56 yang bilang bahwa 6:59 usia 5 sampai 15 hingga 20 tahun 7:04 itu kejadian-kejadian eksternal, 7:07 kejadian politik, sosial, lingkungan, 7:12 kesehatan ya. itu ternyata berpengaruh 7:15 pada karakter seseorang. Selain dari 7:18 tadi tuh dari biologisnya, genetiknya, 7:22 terus kemudian dari psikologisnya, 7:24 pengasuhan dan lain sebagainya. Jadi ee 7:28 ternyata peristiwa-peristiwa yang 7:30 terjadi itu berpengaruh begitu. Nah, 7:33 jadi ee disebut generasi itu biasanya 7:37 periodenya 20 tahun begitu ya. 20 tahun, 7:39 20 tahun dan lain sebagainya. Nah, ee 7:43 yuk kita lihat sedikit lagi pemetaannya 7:46 dari generasi yang ee dari yang 7:50 tradisionalis, baby boomers. Ya, sekilas 7:53 saja sekali lagi ya saya ingin ajak 7:56 untuk kita bisa ngelihat pemetaannya. 7:58 Setelah itu kita akan zooming, fokus ke 8:01 generasi ee 8:04 X kepada generasi 8:08 ee Genzi gitu ya. 8:11 Kalau generasi tradisionalis 8:13 atau ee tradisionalis atau yang tadi 8:17 kelahiran sebelum kemerdekaan 22 sampai 8:21 45 itu masa di mana seseorang ketika itu 8:28 lagi masa ee perang gitu ya. Jadi dengan 8:33 masa perang ee mereka itu banyak 8:36 berjuang gitu ya. masa perjuangan. Saya 8:38 bayangin ya, kemerdekaan ya, masa 8:41 perjuangan itu masa sulit secara 8:44 ekonomi, masa perjuangan dan lain 8:46 sebagainya. Maka keluarga itu jadi 8:49 sangat penting bagi mereka. komunitas 8:53 itu penting. Mereka juga punya dedikasi 8:56 yang tinggi, kerja keras, menghormati ee 9:00 otoritas gitu ya, menghormati ee kata ee 9:05 apa pemimpin ini lakukan apa iya 9:08 diikutin kata Pak RT-nya. Ayo kita ee 9:13 apa namanya? Ngumpul ngumpul begitu ya. 9:15 Jadi loyal patriotisme. Kenapa 9:19 patriotisme? karena ingin segera 9:22 merdeka. Kemudian orangnya cenderung 9:25 sabar ya percaya pada pemerintah itu di 9:29 generasi yang ee sebelum kemerdekaan. 9:32 Meskipun pada saat itu pemerintah dalam 9:36 konteks ee itu sebelum kemerdekaan 9:39 pemerintahnya dalam kerajaan-kerajaan 9:41 begitu ya. He. 9:42 Nah, setelah itu ada generasi setelah 9:47 generasi tradisionalis ada generasi baby 9:49 boomers. Baby boomers itu kelahiran 46 9:54 setelah kemerdekaan. 46 sampai 64. 9:56 Bolak-balik aja 46 sampai 64. 9:59 Misalnya kalau tradisionalis itu seperti 10:03 yang saya hormati Pak JK 10:07 ee ee kalau dari luar negeri Pak 10:09 Mahartir Muhammad atau Eyang Titik Puspa 10:13 ya beliau sudah meninggal ya. 10:15 Kemudian Baby Boomers itu misalnya ee ee 10:20 Ahmad Albar ya dunia ini panggung 10:25 sandiwara 10:26 panggung sandiwara itu yang nyanyi itu 10:28 ya. Nah, Ahmad Albar, Iwan Fals, 10:31 kemudian Mama Dede ya. Eh, itu itu 10:36 adalah kelahiran baby boomers begitu ya. 10:39 Nah, di baby boomers itu setelah 10:42 kemerdekaan. Jadi di masa itu udah 10:46 merasa lebih bebas makanya bayinya 10:49 banyak bom bayi gitu ya terjadinya ya. 10:53 Maka setelah kemerdekaan itu mereka 10:55 mulai mikir gimana ya ngisi ya industri 10:58 mulai berkembang. Mereka mulai mikirin 11:00 bagaimana membangun ekonomi dengan lebih 11:03 baik dan lain sebagainya. Nah, maka di 11:06 generasi baby boomers itu orangnya tuh 11:09 pekerja keras, orangnya disiplin, 11:13 orangnya PD. Ya, kalau yang sebelumnya 11:16 itu patuh, kalau yang ini PD. Kemudian 11:19 orangnya juga gaptek ya, cenderungnya 11:22 gaptek ee ee kalau compare sama sekarang 11:25 gitu ya, orangnya loyal. Jadi ee setelah 11:30 itu Gen X. Nah, ini dia Gen X yang akan 11:33 kita bahas pada kesempatan ini. Gen X 11:36 kepada Gen Z. Kenapa sih banyak banget 11:39 ributan, enggak ngertiin dan lain 11:41 sebagainya gitu ya. Habis ini kita akan 11:43 bahas secara detail. Nah, Gen X itu 11:46 kelahiran 65 sampai 80. Siapakah Gen X? 11:52 Mm, 11:54 Dedy Kobuzer, 11:56 Rosa, kemudian 11:59 Sandiaga Uno, kemudian Anis Basuedan dan 12:03 lain sebagainya. Begitu ya. Jadi di masa 12:06 itu adalah masa yang masih ee kita masih 12:11 main ee sapi tahu enggak sapinong? 12:16 Sapinong itu yang karet di 12:19 digabung-gabung terus ee apa di 12:23 di ee putar-putar gitu Mbak Duning 12:27 orangnya ada di situ gitu ya. main 12:29 engkle ya, masih main eh 12:32 permainan-permainan yang eh physically 12:34 kita ketemu orang begitu ya. Nah, jadi 12:38 di GenX itu yang kelahiran 65 sampai 80 12:44 ya ee itu masa transisi sebelum 12:49 selanjutnya digital gitu ya. Jadi ee dia 12:52 suka dia lebih toleran, 12:55 lebih suka keberagaman, 12:58 lebih terbuka pada kritik. Bedain sama 13:01 generasi sebelumnya yang ee kalau 13:04 tradisionalis yang pertama itu yang 13:06 sebelum kemerdekaan itu dikasih tahu 13:08 gini harus ikut gitu. 13:10 He 13:11 ngikutin. Sementara generasi X itu 13:15 cenderung terbuka pada kritik, cenderung 13:18 terbuka pada saran. dikasih tahu gini 13:20 dia mikirin terus masa itu adalah 13:23 ekonomi dan industri sudah berkembang, 13:26 sudah bangkit, sudah bagus. Bedain sama 13:29 yang sebelumnya yang masih 13:32 kemerdekaan. Setelah kemerdekaan mengisi 13:35 kemerdekaan yang sekarang adalah ee 13:38 mereka sudah mulai bangkit ekonomi 13:41 industri gitu ya. Ee kemudian juga 13:45 setelah itu baru gen ee milenial. ya 13:49 atau gen Y ya gen milenial. Gen Y itu 13:53 kelahiran 81 sampai 94. Ini enggak akan 13:57 kita bahas secara detail pada kesempatan 13:59 ini karena kita akan ngebahas Gen Z sama 14:05 gen X. Cara pandang kenapa kok ini tuh 14:09 sering beda pendapatnya, sering enggak 14:12 ngerti satu sama lain gitu ya. ini yang 14:15 akan kita bahas ee cara mudah untuk 14:18 memahami apa yang membuat seseorang 14:20 berpikir demikian begitu ya. Nah, Gen Y 14:24 atau milenial itu udah dia tahun 1 14:29 sampai 94 di mana ee teknologi sudah 14:32 berkembang begitu ya. Segala sesuatu 14:35 bisa ee ee berkembangnya beda sama 14:38 generasi sebelumnya. Kalau sebelumnya 14:41 itu kalau mau bikin industri 14:44 ee transportasi 14:46 pakainya em eh bluebird gitu ya yang ee 14:51 ada spirnya ada ini. Sementara kalau 14:54 yang eh gen gen 14:57 eh milenial itu bikinnya pakai Gojek 15:00 gitu ya, pakai pakai Grab gitu ya. Jadi 15:03 beda cara pandangnya, cara bikin 15:05 bisnisnya karena yang ini pakai 15:07 teknologi begitu. Jadi di milenial atau 15:12 gen Y itu teknologi luar biasa 15:15 berkembang. Berbagai hal pakai 15:18 teknologi. Kemudian waktu stay di layar 15:23 itu tinggi. Sementara generasi 15:25 sebelumnya ketemu itu ketemu ngobrol 15:29 sama orang. Sementara yang di sini 15:32 ngobrol sama orangnya lewat digital 15:35 begitu ya. 15:36 Ee ketergantungan sama teknologi makin 15:39 tinggi ee ada pergeseran cara berbelanja 15:43 di ee generasi Gen Y. Pada masa Gen Y 15:47 itu mulai ee milenial itu mulai ada 15:50 perilaku berbelanja dengan internet 15:52 makin tinggi. Kemudian Genzi. Gen ini 15:57 yang akan kita bahas. Gen Genzi lahir 16:00 brojol sudah pakai teknologi begitu. 16:04 Jadi mereka canggih, mereka mudah 16:07 menyerap teknologi, cerdas ee dalam 16:11 memahami teknologi, toleran pada 16:13 perbedaan. saking toleran pada 16:16 perbedaan. Bisa saja mereka mendengar 16:19 berbagai sudut pandang karena ee ee ee 16:22 dunia di jari saya dalam waktu ee ee 16:27 setiap hari itu berjam-jam dia di ee 16:32 dikunjungi 16:34 oleh teknologi sehingga input yang masuk 16:38 ke dalam pikirannya adalah berbagai 16:42 informasi yang luas sekali. 16:45 Ini berdampak besar sekali kepada 16:47 bagaimana berkomunikasi. Kok yang yang 16:50 Gen X ini enggak ngerti kenapa kok cara 16:54 pandangnya kok beda ya sama saya dulu ya 16:57 gitu. Makanya banyak 17:00 ributan ya. Mereka juga butuh healing 17:03 serba mudah ya. Kemudian ada COVID ingat 17:06 ya COVID itu di masa mereka lagi di usia 17:11 5 sampai 15 tahun begitu. 17:14 ee kemudian ee pembatasan ee sampai 5, 17:18 15 sampai 20 gitu ya di situ ya. Ee 17:21 pembatasan ee pembelajaran tatap muka 17:24 kemudian interaksi dengan orang makin 17:27 terganggu. Pengalaman belajar mereka 17:30 lebih cepat stres karena ketemu sama 17:33 orang ngobrolnya makin terbatas, 17:36 kesejahteraan emosionalnya terganggu 17:38 gitu ya, terisolasi. 17:41 Kemudian juga khawatir kesehatan, 17:44 bingung, "Aduh, kesehatan aku sehat 17:46 enggak ya? Aku cemas, depresi, makin 17:48 tinggi." Karena bayangin waktu COVID 17:50 waktu itu gitu ya, 17:51 kurangnya layanan ee kesehatan termasuk 17:54 kesehatan mental pada saat itu membuat 17:57 mereka menjadi lebih cemas. Kemudian 17:59 waktu itu ee pekerjaan, ekonomi juga 18:03 menurun. pada orang tua-orang tua mereka 18:05 ada banyak kendala-kendala ee secara 18:08 finansial juga pengangguran pada saat 18:10 itu meningkat. Implikasinya kepada 18:13 bagaimana mereka hidup itu juga 18:14 terganggu begitu ya. 18:16 hubungan sosial juga pembatasan 18:18 perjalanan mereka juga ee penutupan 18:22 tempat-tempat ee hiburan, larangan untuk 18:25 pertemuan dengan orang-orang bahkan ee 18:29 ketemuan pada saat wedding aja dengan ee 18:33 kakak-kakaknya atau saudara-saudaranya 18:36 aja dibatasi gitu untuk pertemuan 18:38 wedding aja gitu ya. Jadi perkembangan 18:41 eh tentang komunikasi antar pribadinya 18:44 tuh menjadi terganggu gitu ya. Nah, jadi 18:49 dengan adanya situasi itu apa yang 18:52 terjadi? Banyak sekali 18:53 perubahan-perubahannya ya. Sedikit 18:56 tentang gen alfa ya. Gen alfa itu adalah 18:59 2011 sampai 2024. 19:02 Itu anak yang benar-benar real brojo 19:05 langsung ee dengan teknologi begitu ya. 19:08 ee akrab dengan teknologi dan mereka itu 19:10 paling sejahtera. Eh ee biasanya yang 19:14 punya anak ee ee alfa itu adalah 19:18 milenial gitu ya, cenderung milenial 19:22 atau Genzi awal gitu ya yang punya anak 19:25 alfa. Nah, saya ingin ngajak untuk 19:29 ngelihat nih ya. Jadi yang kita bahas 19:31 sekarang bagaimana gen X kepada gen Z 19:35 gitu ya. 19:36 Gen itu maunya segala sesuatu jelas. Ini 19:40 ada ada pernyataan ada orang curhat 19:42 kayak gini. Saya ngerasa Gen itu segala 19:46 sesuatunya maunya jelas gitu ya. 19:49 Misalnya ada tugas harus jelas 19:51 disampaikan. Sementara GenX biasanya 19:54 enggak jelas karena diharapkan 19:56 inisiatif. Gen X dikasih tahu misalnya 19:59 ya datang ke kantor eh eh biasanya waktu 20:03 dulu GenX kerja di zaman ee waktu baru 20:07 lulus kuliah atau di usia 20-an dia 20:10 mulai kerja di zaman itu. Maak silakan 20:14 dia harus kreatif sendiri cari-cari. 20:16 Sementara Gen itu yang sekarang masuk 20:19 dunia kerja atau ngerjain sesuatu itu 20:22 dia ee cenderung di menurut generasi X 20:29 itu kurang inisiatif gitu. 20:32 Ee biasanya ee harus dijelasin harus 20:36 ngapain dan lain sebagainya. Jadi, Gen X 20:39 ngelihatnya atau bos-bosnya si Gen 20:43 ngelihat e Gen itu kayaknya kurang 20:48 kreatif deh begitu ya. Kurang ee apa 20:51 namanya? Ee harus dibimbing gitu ya, 20:55 harus diajari agar berinisiatif, enggak 20:59 mau trial and error gitu ya. Sementara 21:02 Gen jadi diam aja kalau enggak disuruh 21:05 gitu. Nah, ternyata kenapa begini gitu 21:09 ya? Kenapa begini perbedaan ini? Karena 21:14 ee gen X itu 21:18 informasinya terbatas waktu dulu gitu 21:21 ya. Jadi mereka harus buru-buru, memburu 21:24 ilmu begitu. Sementara Genzi lahir 21:28 informasinya sudah berlimpah, udah 21:31 terbiasa dapat ee berbagai informasi 21:33 dengan mudah begitu. 21:36 Jadi sementara kalau Gen X itu trial and 21:40 error, cobain segala sesuatu. Dia 21:42 ngelihat ke seniornya kayak gimana, 21:44 terus dia nyontek gimana caranya. Ee 21:48 jadi dia mencari tahu sendiri gitu ya. 21:52 Dulu itu diharapkan begitu karena 21:54 seniornya adalah bisa jadi tradisionalis 21:58 yang zaman sebelum kemerdekaan lahirnya 22:01 atau seniornya adalah baby boomer gitu 22:03 ya. Jadi mereka yang e senioritasnya 22:06 tinggi gitu. Sementara yang Genzi itu eh 22:11 tidak demikian. Jadi dianggap ee 22:15 ketidakjelasan informasi itu tantangan 22:19 untuk pamer skill gitu. Sementara Gen 22:22 karena segala sesuatunya sudah mudah dia 22:25 peroleh 22:26 ee dia sudah biasa ada instruksi 22:28 terstruktur gini gini gini gini gini 22:31 gitu ya. ada tutorial tutorial melakukan 22:35 a ada videonya. Jadi dia itu udah biasa 22:38 dapat informasi yang jelas, yang 22:41 terstruktur. 22:43 Jadi 22:44 ee dia itu ee apa namanya? Bisa jadi 22:48 dianggap tidak ee tidak punya inisiatif. 22:53 Padahal bukan demikian gitu. Bukan dia 22:56 enggak inisiatif, tetapi dia maunya 23:00 jelas. dia enggak mau salah melangkah 23:03 gitu. Jadi eh 23:06 cara pandangnya adalah dia mau dia 23:10 bukannya enggak kreatif loh, dia bisa 23:12 sangat kreatif ya. Genzi itu bisa sangat 23:15 kreatif tetapi dia mau ada panduan yang 23:18 jelas gitu. Nah, Gen X eh 23:25 bagi GenX anak Gen yang diam gitu ya 23:29 atau anak buah Gen yang diam kesannya 23:32 enggak punya inisiatif. Padahal 23:35 Gen lagi nunggu suruh ngapain gue 23:38 kerjain sebaik-baiknya gitu. 23:40 Nah, bagi Genzi sering dia takut 23:44 melangkah takut salah tadi gitu ya kalau 23:46 instruksinya enggak jelas. Sementara 23:49 yang Gen X biasanya enggak ada 23:51 instruksi, kreatif sendiri, cari-cari 23:54 sendiri begitu. Ee mereka menghargai 23:58 efisiensi Gen Genzi itu gitu ya. Efisien 24:01 aja kasih tahu gimana saya kerjain gitu. 24:04 Melakukan trial and error mah ngabisin 24:07 waktu kata dia begitu. Ee ngabisin waktu 24:11 dan bisa dihindari kalau komunikasinya 24:14 jelas dari awal ya udah bisa bisa 24:17 selesai. 24:18 gitu. 24:20 Jadi ee 24:22 ini enggak sederhana ya, Mbak Nuning ya. 24:25 Ketika ketika ee yang satu ngelihatnya 24:29 bahwa kamu enggak kreatif nih, [tertawa] 24:32 kamu enggak inisiatif nih, padahal 24:34 enggak, bukan gitu gitu. Gen Genzi tadi 24:39 inginnya clear dari awal apa yang harus 24:42 dia lakukan daripada memaksakan salah 24:44 satu pihak untuk berubah. Maka kita 24:48 harus tahu apa yang perlu kita lakukan. 24:51 Siapa nih kita nih? Kalau kita adalah 24:54 Gen X yang lebih senior, dia harus tahu 24:59 gimana ngedekatin Gen gitu. Ini Gen 25:02 bukannya enggak kreatif loh ya. Genzi 25:03 itu keren-keren orangnya, pintar-pintar 25:06 orangnya gitu. Maka 25:09 dia harus memberikan konteks hasil 25:12 akhirnya kayak gini. ngasih tahu gitu, 25:15 kasih tahu panduannya ini hasilnya kayak 25:18 gini nanti dipantau begitu. 25:21 Jangan tolong urus laporan bulanan 25:25 misalnya begitu. Itu itu abstrak gitu 25:28 tapi saya butuh laporan bulanan untuk 25:33 rapat direksi hari Jumat ya supaya 25:38 mereka paham kenapa kok biaya 25:41 operasionalnya naik. Jadi pakai format 25:45 tahun lalu tapi kasih improvisasi di 25:49 bagian grafik ya gitu. Jelas ee clear 25:54 kalau ngomong sama Gen itu ternyata gitu 25:57 ya. 26:00 [tertawa] 26:01 Ini ini ini curhat juga ini untuk saya. 26:05 Kenapa kok aduh anakku kok enggak paham 26:08 ya atau e generasi Genzi kok kurang 26:12 paham ya? apa yang saya mau gitu. 26:14 Setelah digali, ternyata cara pandang 26:17 itu yang berbeda. 26:19 Kemudian tentang definisi inisiatif gitu 26:22 ya. Bagi generasi X inisiatif itu 26:26 bergerak tanpa disuruh. 26:28 Generasi saya itu ya udah lu cari 26:31 sendiri, cari kreatif. 26:34 ee datang ke rumah orang langsung ikut 26:39 eh misalnya datang ke rumah saudara gitu 26:40 ya, ikut ikut ee beresin apa, ikut cari 26:44 apa, ikut apa apa secara kreatif ee dan 26:49 ee apa namanya? Mereka itu memang biasa 26:52 melakukan eksperimen trial and error 26:54 tadi gitu. Jadi ee 26:59 mereka mencoba untuk mencari ya hal 27:01 seperti itu gitu. Sementara 27:05 Gen 27:06 sangat terbantu dengan feedback instan. 27:09 Jadi ee 27:11 ayo jelas yang jelas informasinya gitu 27:15 ya. Daripada menunggu tugas selesai baru 27:17 dikoreksi. Mereka tuh lebih suka kalau 27:21 mereka dikasih tahu terus mereka dikasih 27:24 arahan kalau ada yang salah segera 27:26 dikasih tahu saat itu. Jangan nanti 27:28 kalau udah selesai di ujung baru dikasih 27:30 tahu gitu. Mereka enggak suka seperti 27:32 itu. Emang treatmen kita kepada generasi 27:36 yang berbeda itu ternyata berbeda 27:38 begitu. 27:39 Hm. 27:41 Ee ee kita lihat kalau generasi yang ee 27:45 tradisionalis yang sebelum kemerdekaan 27:48 itu ee memberikan 27:52 ee apa namanya? Saran pun kita harus 27:55 hati-hati gitu. karena itu ee ee apa 28:00 senioritasnya mereka cukup tinggi gitu. 28:02 Jadi kalau kita ee Bapak Ibu ee tolong 28:06 ya jangan lakukan ini gitu ya, itu akan 28:10 kalau kalau ee apa ya enggak hati-hati 28:13 ngomongnya bisa jadi bedalah gitu ee 28:15 persepsinya. 28:17 Nah, ee mendekati 28:20 cara memperbaiki dan ee menjembatani 28:24 perbedaan tadi sama Gen tadi adalah ee 28:29 ubah mendekati senior menjadi 28:31 monitoring. Jadi, jangan jangan gayanya 28:35 kita kayak X kepada ee generasi yang 28:40 lain. Mere kan berusaha dekatin kakak 28:43 kelas gitu ya. H 28:45 dekatin senior di kantor baik-baik sama 28:48 mereka gitu ya supaya diajarin, supaya 28:51 dikasih tahu, supaya gitu. Itu gaya yang 28:55 dulu. Kalau sekarang mereka enggak kayak 28:58 gitu. Mereka dikasih tahu dan mereka 29:03 dimonitor gitu. Ee dulu ee kita 29:08 mendekati senior secara langsung, 29:11 sekarang ee ajak mereka diskusi gitu. 29:16 Menurut kamu cara yang paling tepat 29:20 untuk ngerjain ini kayak gimana gitu. 29:22 Jadi mereka diminta untuk ngeluarin 29:25 gagasan langsung. Nanti kalau mereka 29:27 ternyata tidak 29:30 bisa menjelaskannya dengan baik, kita 29:32 kasih tahu, kita kasih arahan gitu. Jadi 29:36 mereka juga di diminta untuk ngembangin 29:38 gitu ya. Jadi ee kakak kelas atau 29:42 seniornya itu ditempatin untuk ikut 29:47 memberikan panduan secara langsung ee 29:51 memandu meng apa membimbing, 29:56 mengajak, mengingatkan gitu ya, mengasih 29:59 feedback gitu ya. Feedback-nya juga 30:02 harus nyaman karena mereka enggak mereka 30:05 egalit gitu. Mereka enggak enggak 30:07 senioritas gitu. 30:11 Jadi tangguh itu terbentuk karena 30:17 minimnya bimbingan untuk generasi X. 30:21 Sedikit bimbingan mereka harus kreatif 30:23 sendiri gitu ya. 30:26 Sementara Genzi kalau dibiarin mereka 30:30 bingung ee karena mereka ee hidup hidup 30:35 mereka itu di dalam situasi yang 30:38 bergejolak terus gitu. Jadi ee e dengan 30:42 dunia yang serba cepat itu mereka 30:46 sebenarnya aset besar karena mereka bisa 30:51 ee beradaptasi 30:54 tetapi mereka harus dikasih panduan 30:56 supaya mereka merasa enggak buang-buang 30:58 waktu. Coba ini, coba itu. 31:01 Saya sekarang juga bisa ngelihat. Benar 31:04 juga ya kalau zaman dulu tuh enggak ada 31:07 panduan kita coba ini kalau salah nanti 31:09 disalah-salahin gitu. 31:11 Iya. 31:12 Heeh. 31:15 Begitu ee Mbak Nun itu ee catatan yang 31:19 pertama ya. formality. Eh, ada yang mau 31:22 disampaikan dulu pengalaman mungkin Mbak 31:24 Nuning 31:25 yang mengganggu itu 31:28 He sekarang itu lebih dari setengah hari 31:31 loh bersama-sama dengan yang namanya 31:33 gadget itu. 31:33 Iya. 31:34 Kan kadang-kadang kita 31:36 mengingatkan dan segala macam. Tahu 31:39 enggak jawabannya? 31:39 Iya. 31:40 Ibu ini justru penting. 31:43 Iya. 31:43 Secerdas apapun kita, kalau kita enggak 31:45 bisa ada di ranah ini, nanti kita bakal 31:48 terbengkelai gitu. Iya, 31:50 itu memang sebegitu ya. 31:51 Iya. Iya. Jadi mereka kan hidupnya 31:54 dengan teknologi. Iya kan? Sementara ee 31:58 kita dari generasi Baby Boomer, Gen X 32:02 dan tradisionalis dulu enggak kayak 32:05 gitu. Jadi kita merasa aneh kalau mereka 32:08 terlalu dekat dengan gadget, kayaknya 32:11 sudah tergulung sama gadget gitu ya. He. 32:14 Padahal mereka dari dari lahir atau 32:18 mereka di masa perkembangannya mereka 32:20 melihat itu di depan mata gitu. Maka 32:24 kita perlu diskusi untuk membuat mereka 32:27 ngelihat bahwa eh hidup itu ketemu sama 32:30 orang juga perlu loh, tapi diajak 32:32 diskusi gitu. Karena mereka dibesarkan 32:35 dalam situasi yang seperti itu. Kita 32:37 juga tidak dibesarkan dalam situasi 32:39 seperti itu. Makanya kita anggap itu 32:42 tidak sepenuhnya penting. Sementara 32:44 mereka menganggap itu sepenuhnya 32:46 penting. Begitu kita merasa ketemu sama 32:49 orang penting loh. Gitu. 32:51 Mereka bilang di medsos itu ketemu 32:53 orang. 32:53 Ketemu orang. [tertawa] 32:54 Betul. Maka dialog diskusi untuk 32:58 memahami kenapa sih kok kamu mikirnya 33:01 begitu gitu. 33:02 Heeh. saya berjuang ee cukup serius 33:06 gitu, Mbak Duning, ya, untuk ngertiin 33:08 kenapa sih kamu mikirnya kayak gini 33:10 gitu. [tertawa] 33:11 Heeh. 33:12 Terus ee kemarin dulu itu waktu ngobrol 33:15 sama anak-anak 33:16 Heeh. 33:16 Udah deh sekarang bagusan lu bikin 33:18 konten, duitnya jelas daripada lu 33:20 ngelamar kerjaan paling-paling UMR itu 33:24 jadi daya tarik luar biasa bagi 33:26 anak-anak ya. 33:26 Betul banget. Betul banget. Betul 33:28 banget. Eh, 33:32 ketika berapa tahun lalu ee anak saya 33:36 bilang punya cita-citanya 33:38 lulus SMA? Ya, hampir lulus SMA waktu 33:41 masih SMA. Mau jadi YouTuber. Saya 33:43 kaget, "Ah, 33:44 apaan [tertawa] nih? 33:45 Jadi apa?" 33:49 Nah, ee sekarang kita bisa melihat bahwa 33:54 content creator itu ada pemasukannya 33:57 begitu. Jadi mereka udah jauh lebih 33:59 advance. Sementara kita melihat 34:01 pekerjaan yang real yang berhubungan 34:03 dengan ee profesi tertentu gitu ya. Itu 34:07 itu bukan profesi tuh YouTuber itu bukan 34:09 profesi atau content creator itu bukan 34:11 profesi at that time gitu ya. 34:13 Karena kita tidak terbiasa dengan itu. 34:16 Artinya lambat laun sekarang kita jadi 34:19 memahami atau saya juga jadi lebih 34:21 memahami oh iya ya ini juga bisa jadi 34:23 salah satu pendekatan begitu. 34:26 Tetapi ee ee bagi saya memiliki 34:31 pengetahuan yang 34:35 teknis khusus itu juga diperlukan. 34:37 Makanya ya kalau mau jadi content 34:40 creator apapun perlu ada skill-nya. 34:43 Kalau enggak ada skill-nya cuman 34:44 ngomong-ngomong doang mau apa ya kan. 34:46 He. 34:48 Oke Mbak Nuning. Saya mau ngelanjutin 34:50 dengan 34:50 Iya. 34:52 Formalitas. He 34:53 Gen X itu Gen X ya yang kelahiran 65 34:57 sampai 80 sangat menghargai hierarki. 35:03 Oke. 35:04 Iya atau formalitas. He 35:07 cara ngomong dengan atasan, etika 35:10 berpakaian, 35:12 penggunaan gelar sering dianggap 35:14 penting. Sementara Gen X eh Gen Z, Gen 35:20 ya yang kelahiran 95 sampai 2010 itu 35:24 anak-anak muda sekarang ini lebih suka 35:27 struktur yang flat datar, makanya 35:30 egaliter. Mereka gitu. 35:32 Mereka lebih menghargai atasan yang bisa 35:35 diajak diskusi santai 35:38 dan tampil apa adanya, otentik gitu ya. 35:41 Namanya otentik mereka nyebutnya gitu 35:43 ya. E bagi mereka rasa hormat itu dari 35:47 kompetensinya, bukan dari jabatan, bukan 35:51 dari usia. Nah, ketika mereka bertemu 35:55 dengan generasi sebelumnya yang 35:58 menghargai 36:00 ee senioritas, formalitas gitu ya, itu 36:04 jadinya 36:05 clash enggak sederhana tuh gitu. 36:08 Iya. 36:09 ee 36:11 kita ee dia cara dia memperlakukan pada 36:14 generasi sebelumnya itu 36:18 kayak ee kayak dia memperlakukan sama 36:21 temannya kan. Kalau di Jawa itu ada apa 36:25 unda usuk basa gitu ya, Mbak Nuning ya. 36:27 Mbak Nuning kan ee kadang suka ee apa ee 36:31 siaran pakai bahasa Jawa ya. Ada bahasa 36:34 apa atas yang 36:35 ada kromo inggil, ada biasa, ada ngoko, 36:39 ada. Ah, oke ya. Itu ya ee klasifikasi 36:42 ee apa bahasa itu kan. Kenapa bahasa ini 36:47 dipakai untuk ngomong sama siapa itu 36:50 berubah gitu sekarang ini. 36:53 Jadi tidak sederhana itu untuk 36:55 dua-duanya. di rumah misalnya ya 36:58 formalitasnya 36:59 anak itu masih memanggil ayah, ibu 37:03 begitu ya. 37:04 He 37:04 ee om, tante gitu ya. Ee tidak langsung 37:08 menyebut nama begitu. Ee anak kalau 37:12 ngomong ee orang tua kalau ngomong anak 37:15 enggak boleh menyela gitu ya walau tidak 37:19 setuju gitu ya. Eh, kemudian ini GenX 37:22 nih. Gen X nih. 37:25 Eh, saya minum dulu ya, Mbak Nuning ya. 37:26 Iya. Daripada kesedak. 37:27 Heeh. Daripada kesedak nih. Eh, 37:31 jadi memang sih ikhwan akhwat ya, 37:33 pemahaman akan hal ini sesuai dengan 37:37 perkembangan zaman dan bagaimana 37:39 pertumbuhan anak-anak kita memang perlu 37:41 sangat-sangat kita pahami. 37:43 Heeh. Oke, lanjut 37:44 Mbak Nuning. Jadi ini kalau Gen X 37:48 ya yang kelahiran 65 sampai 80 itu ee 37:54 kalau orang tua bicara 37:57 enggak boleh menyela meskipun enggak 38:00 setuju gitu ya. 38:01 Maksudnya memotong omongan, 38:02 enggak boleh memotong omongan. Kemudian 38:05 pakaian, sikap di rumah juga dijaga 38:08 sedemikian rupa, santun. Apalagi kalau 38:10 ada tamu begitu ya. Hormat itu tahu 38:15 posisi dan tata krama gitu. Itu hormat 38:18 namanya. 38:20 Nah, ee genzi itu otentik gitu. Otentik 38:27 orang berani ngomong, "Aku enggak 38:29 setuju, Ma." Karena menurut aku gini 38:31 gini gini gini gini. Si Gen X ini enggak 38:36 akan gitu sama orang tuanya yang 38:38 tradisionalis. 38:39 Kalau enggak setuju, jarang akan ngomong 38:43 bahwa aku enggak setuju. Sementara Genzi 38:46 akan berani ngomong, "Aku enggak setuju, 38:48 Ma. Aku enggak setuju, Pah." gitu ya. ee 38:52 lebih nyaman diskusinya dua arah. 38:55 Sementara ya cara diskusi ee saya ingat 39:00 ya salah satu keluarga saya 39:02 yang masih ee ee erat sekali dalam 39:07 budaya ee Jawa gitu ya. 39:12 itu ketika berbicara itu ee yang bicara 39:17 itu yang paling ditua, yang paling tua 39:19 gitu atau yang paling dituakan yang lain 39:21 diam gitu ya 39:22 ngedengerin. Sementara Gen itu enggak 39:26 mau kayak begitu. Lebih nyaman diskusi 39:28 dua arah bahkan soal keputusan keluarga 39:32 begitu. 39:33 keterbukaan emosi seperti aku capek, aku 39:37 butuh jeda, aku butuh privacy. 39:42 Boleh ya ngomong aku butuh privacy? 39:44 [tertawa] 39:47 Gen X kaget-kaget. Aduh butuh privacy. 39:51 Ya gitu. Itu wajar bagi dia karena 39:54 otentik apa adanya. Jadi hormat. Kalau 39:58 tadi eh gen X itu hormat tahu posisi, 40:01 tahu tata krama. Kalau Genzi hormat itu 40:06 diperlakukan setara, didengar begitu. 40:10 Jadi dengan adanya perbedaan itu gitu 40:14 ya, makanya bisa jadi gen X itu nganggap 40:18 gen itu enggak sopan. 40:20 Iya. 40:21 Gen itu ee seenaknya gitu. Ee padahal 40:26 Genzi bukannya seenaknya, dia otik apa 40:29 adanya gitu. 40:32 Nah, maka 40:34 orang tua gen yang X, gen X itu tetap 40:41 dihormati tanpa harus otoriter. 40:44 Gen X itu harus berubah, gen Z juga 40:47 harus berubah, memahami, saling 40:49 memahami. Gen X atau orang tua 40:54 tetap menurut saya harus dihormati, 40:57 tetapi dia enggak boleh otoriter begitu. 41:00 enggak boleh harus kayak gini gitu ya. 41:04 Yang dulu dia diperlakukan kayaknya gue 41:07 dulu digituin deh gitu ya. Sekarang kok 41:10 aku enggak boleh di ngegituin gitu. Jadi 41:14 ee dia sendiri merasa ee apa terganggu 41:17 gitu ya. Aku dulu digituin sekarang aku 41:19 enggak boleh ngegituin. [tertawa] 41:22 Curhat curhat. 41:25 Terus ee anak boleh berpendapat tapi 41:30 jangan kehilangan sopan santun dong 41:32 anak-anak. Ngikutin dong jangan jangan 41:36 semaunya. Begitu gitu. Mbak Nuning 41:39 ngalamin enggak situasi itu? Iya iya iya 41:41 [tertawa] aja pakai banget. 41:43 Iya. 41:43 Ee kita sambil lalu ke pertanyaan yang 41:46 dikirim ya. Boleh. 41:47 Ini kenapa anak-anak sekarang yang 41:50 disebut Mbak Mona tadi Genzi cenderung 41:53 menghindari nasehat yang sifatnya 41:57 menggurui. Mereka bilang, "Hah, enggak 41:59 gitu-gitu juga." Apakah ini bukan 42:02 berarti mereka enggak sopan kan ya? Tapi 42:05 kita sebagai orang tua merasa tetap aja 42:09 diidak sopani. Harus bagaimanakah saya? 42:11 Oh iya dari 0811. Sekian silakan. Iya. 42:16 Gen X atau orang tua gitu ya. Ee biasa 42:21 dulu di kasih tahu dan dengerin kan gitu 42:25 ya. dikasih tahu, dengerin ee tak tadi 42:29 ya, tahu posisi, tata krama, terus ee 42:32 karena orang tua Gen X itu adalah gen ee 42:37 tradisionalis yang zaman perang atau ee 42:42 zaman setelah kemerdekaan di awal-awal 42:45 Gen X orang tuanya baby boomer awal atau 42:49 tradisionalis gitu ya. E orang tua saya 42:51 tradisionalis gitu ya. Jadi ee di zaman 42:55 itu strata atau posisi eh itu memang 43:01 benar-benar ee patuh senioritas begitu. 43:05 Makanya kalau kita ngomong itu ee perlu 43:08 ee tata krama yang baik. Jangan terus 43:11 bahasanya juga terpilih gitu. Enggak 43:14 bisa kayaknya enggak kayak gitu deh. 43:16 Kayaknya ee gue enggak suka deh kayak 43:17 begitu gitu. Enggak ada tuh kayak begitu 43:19 se seperti itu bicaranya gitu. Jadi kita 43:24 udah biasa kayak gitu. Sementara 43:26 generasi sekarang yang dari awal sudah 43:29 di ee guyurin oleh berbagai informasi 43:34 yang ee kesetaraan 43:37 yang dari budaya Barat yang begitu masuk 43:41 dan mereka terima ee dengan 43:45 segala ragamnya gitu ya, maka mereka 43:49 tidak terlalu nyaman untuk diberi 43:53 masukan yang kesannya nya sebagai aturan 43:58 gitu harus kayak gini tapi mereka suka 44:02 ee 44:03 ada reasons kenapa kok harus kayak gini 44:07 gitu dan ee sebagai bujukan. Jadi kita 44:11 itu harus makin ee ee mampu dalam 44:16 menjelaskan sesuatu dengan alasan yang 44:19 dia bisa terima dan ada di 44:23 bagusnya kita lakukan ini deh. Kenapa? 44:26 Karena begini begini begini begini. Jadi 44:29 sesuatu yang kita yakini dulu adalah 44:32 paten udah enggak laku lagi gitu. 44:34 [tertawa] 44:35 Nasehat harus diimbangi dengan dialog. 44:38 Nasehat diimbangi dengan dialog. Betul 44:40 sekali. gitu-gitu doang ya. Oke, ini 44:42 satu lagi dari Pak Pur 44:44 Pur. 44:45 Heeh. 44:46 Purdi ya. 44:48 Kalau 30% penduduk Indonesia ini 44:50 sekarang merupakan Gen apa yang bisa 44:54 dilakukan pemerintah lebih baik dari 44:56 yang sekarang? Karena informasi dari 44:58 media sosial kadang-kadang juga akan 45:00 menyesatkan anak-anak kita. Harus 45:03 bagaimanakah kita? Eh, 30% ya, Mbak Mona 45:06 ya? 45:07 Iya. 29, sekian pers 45:09 ya. taruhlah 30% ya. Iya. He. 45:11 Jadi ee 45:14 kita mau apa nih? Mau ngubah supaya jadi 45:18 generasi yang kayak gimana yang kayak 45:21 dulu enggak bisa. He. 45:23 Heeh. Jadi generasi yang sekarang ini ya 45:28 adanya ini kita perlu menjaganya. 45:32 Ee dan ini akan terus tumbuh nantinya 45:35 jadi orang yang akan begitu. 45:39 Maka yang perlu kita jaga bersama adalah 45:42 kalau ada regulasi yang ingin di ee 45:46 sampaikan atau ada kebijakan yang ingin 45:49 di 45:50 di 45:53 hayati dilaksanakan oleh mereka, kita 45:56 harus rasional sama mereka. Harus 45:58 menjelaskan dengan cara yang dia bisa 46:01 terima. Harus ada dialog gitu. 46:05 Jadi enggak bisa ee 46:08 gaya 46:10 udah ini aja ya gitu. Kayak dulu tuh 46:13 generasi yang tradisionalis ngegituin ke 46:17 X gitu enggak bisa atau tradisional 46:20 tradisionalis ngegituin ke baby boomer 46:23 gitu enggak bisa. 46:27 Ee maka yang berubah siapa? Saya si 46:32 sayanya di mana? sayanya GenX makanya 46:34 saya harus berubah gitu, harus lebih 46:37 memahami bagaimana pendekatan terbaik 46:39 gitu. 46:41 Mbak Mona 46:42 ini PR-nya banyak nih. Termasuk 46:44 bagaimana pendekatan pemerintah, I kan? 46:47 He. 46:47 Pendekatan pemerintah itu kalau dulu 46:49 pendekatannya ee top down gitu ya. 46:52 Sekarang pemerintah udah harus ngubah 46:55 gayanya. Gayanya gaya menyampaikan 46:58 informasi, mendialogkan gitu. 47:00 Jadi dialog memang luar biasa penting 47:02 ya. 47:02 Betul. Betul. 47:03 Ini ada pertanyaan. Sebetulnya bukan 47:06 pertanyaan ya. 47:08 Anak saya itu selalu bilang, "Mama 47:10 jangan angkat telepon sembarangan kalau 47:12 enggak tahu. Ngapain sih? Nanti banyak 47:14 loh gangguannya." Dulu kita enggak 47:17 kepikiran seperti itu, ya, Mbak Nuning. 47:18 Ini kenapa mereka punya keyakinan bahwa 47:22 enggak perlu merespon hal-hal yang kita 47:25 enggak tahu. Gimana, Mbak Mona? 47:27 Oke. 47:28 Iya. Ee jadi eh kalau kalau Gen X itu 47:35 Gen X saya ya tahun ee 5 sampai 80. 47:40 He. 47:41 Itu di zaman dulu bayangin ya zaman dulu 47:43 ya ee lebih suka komunikasi langsung ya 47:47 kan. Kita kan ketemu orang langsung ya 47:49 kan telepon atau juga rapat langsung 47:53 tatap muka karena ngerasa lebih jelas, 47:55 lebih bisa ngerasain emosi ee emosi 48:00 feeling satu sama lain gitu. Nah, 48:04 sementara Gen itu eh digital native 48:09 lahir ee lebih sering cemas kalau nerima 48:14 telepon mendadak gitu ya. dia dia enggak 48:16 suka nerima telepon mendadak gitu. Ee 48:19 dia lebih nyaman komunikasinya enggak 48:22 langsung ketemu sama orangnya ee lewat 48:25 WhatsApp dulu. 48:26 He. 48:27 Jadi dia punya waktu untuk mikirin. 48:28 Iya. 48:29 Ee terus ee dia ee mikirin jawabannya 48:32 terus nanti dia jawab. Nanti setelah itu 48:34 kalau baru enggak ngerti baru oke boleh 48:36 teleponan. Memang beda ee perbedaannya. 48:40 Nah, sekarang kita berhadapan dengan 48:43 penggunaan ee ee apa ya ee penyimpangan 48:49 pemanfaatan teknologi gitu ya. Ada scam, 48:52 ada ee apa penggunaan yang ngacau-ngaca 48:55 lah telepon yang ujuk-ujuk ee nawarin 48:59 apa, nawarin apa gitu. 49:01 Itu membuat kita menjadi 49:04 ee juga berhati-hati ya kan. kita 49:07 menjadi lebih berhati-hati tetapi secara 49:10 alamiah kita lebih suka teleponan 49:12 langsung. 49:13 Itu yang terjadi, Mbak Nuning. 49:17 Saya saya mengajar mahasiswa karena saya 49:21 peduli gitu ya. Dulu waktu zaman saya 49:24 masih ee kuliah ee saya yang akan 49:28 menghubungi dosen saya karena dosen saya 49:31 generasi ee tradisionalis atau baby 49:35 boomers gitu ya. 49:37 saya menghubungi beliau ee ee dengan 49:42 pemahaman senioritas yang aduh itu orang 49:45 yang sangat saya hormati dan lain 49:46 sebagainya. 49:48 sekarang sama mahasiswa 49:51 ee karena saya sudah berusaha untuk 49:54 memahami nih ya ini cara pandang saya 49:57 berusaha untuk memahami saya telepon nih 49:59 duluan nih itu boleh tuh dimatiin oh 50:03 saya kaget-kaget 50:05 boleh ya dimatiin ya kaget-kaget saya 50:08 padahal tahu itu ee dari dari saya 50:11 setelah saya saya ee kaget dulu gitu ya 50:14 agak syok gede e menyaksi ikannya gitu. 50:18 Aduh, kayaknya kalau dosen saya dulu jam 50:22 berapa pun juga 50:24 telepon ya diterima 50:25 telepon. 50:26 Aduh, pasti jarang telepon. Saya yang 50:28 duluan nelepon ya kan karena ee 50:30 mahasiswanya gitu ya. 50:32 H 50:32 apalagi kalau beliau menelepon berarti 50:34 kan ada sesuatu yang penting banget nih. 50:36 Saya pasti akan waduh ada apa nih? Ada 50:38 apa nih? Gitu ya. Tapi saya akan segera 50:41 menelepon ini. Saya menelepon untuk 50:44 ngasih tahu untuk ayo kita ee ngebahas 50:47 ini yuk. B tujuannya nih untuk untuk di 50:50 kepala saya ingin membantu tetapi 50:52 dimatiin itu kaget saya. Nah, 50:55 butuh waktu untuk mengerti cara mikirnya 50:58 kayak gimana sih? Emang boleh ya dosen 51:01 ditutup matiin gitu? 51:03 Enggak sopan amat. 51:04 Enggak sopan amat gitu ya. 51:06 Tetapi setelah akhirnya saya pahami, oh 51:09 gitu ya cara pandangnya ya, mereka 51:11 enggak nyaman malah jawabnya kayak 51:14 begini, 51:15 "Bu, maaf bisa WA dulu [tertawa] 51:19 boleh ya ngomong gitu ya, gitu." Saya 51:21 pun kaget. Tetapi setelah akhirnya saya 51:24 pahami, oh iya ya, mereka enggak nyaman 51:27 dengan itu begitu dengan langsung 51:29 dikontak. Mereka uncertain gitu 51:32 dan jujur terhadap 51:33 dan jujur apa adanya. Iya, 51:36 makanya kaget-kaget nih si dua generasi 51:38 ini ketemunya. 51:40 Jadi saya setuju kalau saran dari Genzi 51:45 tadi untuk hati-hati kalau ada telepon 51:47 itu benar karena ada posisi 51:51 penyalahgunaan penggunaan telepon 51:53 begitu. 51:53 Sekarang ini merembah luar biasa. 51:56 Tapi di sisi lain dalam hubungan mereka 51:59 menghindari bertelepon ya. 52:02 Heeh. Anak saya aja kalau saya e kontak 52:05 ee belum tentu tuh segera diangkat 52:08 begitu ya akan ya sudah saya akan nanya 52:10 dulu nak boleh 52:13 [tertawa] 52:15 aduh gitu ya akhirnya ee setelah itu 52:18 baru mengerti oh kenapa jadi memahami 52:21 cara berpikir komunikasi itu lebih 52:23 memahami cara 52:24 cara berpikir merasa dan berperilaku 52:26 seseorang kenapa kok dia begitu Mbak 52:28 Noning 52:29 kalau kita menuntut sama-sama dia juga 52:32 harus belum tentu mudah karena mereka 52:34 kan generasi baru. Terus ngomong-ngomong 52:37 mereka cukup kritis ya terhadap banyak 52:39 hal ya. 52:39 Kritis mereka Mbak Nuning. Mereka banyak 52:42 menanyakan segala sesuatu itu boleh ya 52:45 nanya begitu ya gitu kalau kita 52:48 sebelumnya kan enggak boleh apalagi 52:50 nanya sesuatu yang sensitif begitu ya. 52:52 Mereka akan secara terbuka maka cara 52:55 kita pun harus berubah. Cara kita untuk 52:58 lebih membuka diri untuk memahami kenapa 53:01 kok dia berpikir seperti itu. Bukan 53:03 berarti enggak sopan, tetapi orang yang 53:06 sudah biasa transparan, orang sudah 53:08 biasa udah deh formality-nya di diangin. 53:11 Heeh. Di-cut aja deh, gitu. 53:15 Terus kalau telepon mendadak tadi ya ee 53:19 itu tuh mereka enggak enggak nyaman 53:21 gitu, Mbak Nuning. Takut salah jawabnya 53:24 gitu. Jadi pertimbangan-pertimbangan itu 53:27 mereka bukan bukan mereka cuek. Jadi 53:31 enggak ngangkat itu bukan mereka 53:32 mengabaikan tapi mereka sendiri menjaga 53:36 diri sendiri supaya enggak cemas 53:39 berkomunikasi gitu. Jadi [tertawa] 53:41 masalah mental health-nya mereka sendiri 53:44 juga gitu. 53:47 Ya, sayangnya kita sudah di penghujung 53:50 nih. 53:50 Jadi, closing statement-nya terkait 53:53 dengan bagaimana memahami Genzi ini 53:57 mudah-mudahan bisa segera juga kita 53:59 serap ya. Kayaknya enggak gampang sih, 54:00 jujur. 54:01 Iya. 54:02 Iya, silakan Pak Mona. Eh, Iwan dan 54:04 akhwat yang dirahmati Allah, terima 54:06 kasih. Eh, diskusi ini semoga 54:09 mencerahkan, memberikan insight, 54:13 mengingatkan kita bahwa ee 54:17 kita tidak pernah tidak berkomunikasi. 54:19 Diam pun kita berkomunikasi. Maka kita 54:21 perlu mempelajari keterampilan ini. Ini 54:24 keterampilan penting dalam 54:27 ee kehidupan kita begitu ya. Maka kita 54:31 juga perlu berkomunikasi dengan orang 54:34 yang berbeda generasi dari kita. Kita 54:37 ngertiin kenapa mereka ee cara 54:40 berpikirnya seperti apa. Dari 54:41 tradisionalis, 54:43 dari baby boomers, dari 54:47 milenial, dari Genji, dari Alfa. Susah 54:50 banget nanti. Beda banget nih Alfa nih. 54:53 Gitu ya. ee eang-eang sama Alfa nih akan 54:56 ee challenging juga dan gen Z eh dan gen 55:00 e beta gitu ya. Jadi dengan perbedaan 55:02 itu yang perlu kita lakukan adalah 55:05 jangan baperan ya. 55:07 Ngertiin cara mikirnya mereka. Kenapa 55:09 kok mereka begitu? Terus kita juga perlu 55:12 terbuka untuk dialog, respek sama 55:17 generasi masing-masing. Semua orang 55:20 ingin dihormati, semua orang ingin 55:21 dianggap penting, semua orang ingin 55:23 tidak diremehkan. Semua orang ingin ee 55:28 ini jangan ingin nyamanlah hidupnya 55:30 dengan kita. Maka kita juga harus 55:32 berubah. Jangan stereotype. Wah, anak 55:35 Gensi ini pasti begini. Kenapa dia 55:38 begitu? ada rasional yang bisa kita 55:40 pahami dan kita pilih cara berkomunikasi 55:44 sebaik-baiknya. 55:46 Semuanya dimulai dari diri kita sendiri. 55:48 Demikian, Mbak Noning. Emm, ini 55:51 sebetulnya sudah closing statement ya, 55:53 tapi kalau masih ada yang tanya kayaknya 55:54 kita masih punya waktu deh. 55:55 Oke oke oke boleh boleh boleh. 55:57 Oke. Nah, pertanyaannya tunggu sebentar 56:00 dari tidak ada namanya cenderung 56:04 menghindari nasehat itu bagian dari 56:06 mereka. Mohon informasi tambahan 56:09 bagaimana sebagai orang tua menasehati 56:13 yang tidak di sangkal begitu saja di 56:17 awal harus dengan cara apa? Terima 56:20 kasih, Mbak. [tertawa] 56:22 Iya. Jadi ee 56:26 cenderung mereka menghindari nasehat ya. 56:28 Kenapa? Kenapa nasehat ee kenapa mereka 56:31 menghindari nasihat? Mungkin mungkin 56:35 cara menasehatinya mungkin kita perlu 56:37 evaluasi kembali gitu. Karena cara ee 56:41 nasehat itu mungkin kita ngelihat 56:46 ee yang benar gini dia melakukan yang 56:49 salah sehingga kita kasih tahu harusnya 56:53 kayak begini. Padahal, nah itu kalau 56:56 gayanya adalah gaya gaya top down gitu 56:59 ya, dari atas ke bawah ee dan kita 57:03 nunjukin bahwa dia salahnya di sini sini 57:05 sini 57:06 pasti gagal. 57:07 Bisa jadi Heeh. Bisa jadi mereka enggak 57:09 mau nerima. 57:10 Iya, betul. Betul. 57:10 Nah, kalau gayanya adalah kita diskusi, 57:14 ajak dialog, 57:15 ajak dialog. Balik lagi tadi 57:17 kalau perlu nanya. 57:18 Kalau perlu nanya, kenapa kok kamu 57:20 begini ya? Gitu. Penjelasan dia 57:22 kenapa kok kamu enggak nerima telepon? 57:25 [tertawa] 57:27 Aduh itu kaget saya Mbak Nuning 57:30 teleponnya di tret gitu di-off dimatiin. 57:34 Kaget saya beneran. Maksudnya kalau anak 57:37 sendiri masih 57:39 hah nangis-nangis tapi juga ya udah deh 57:42 gitu ya. Tapi ini ee 57:46 ee 57:48 apa namanya? kategorinya dalam konteks 57:50 ini adalah mahasiswa gitu. Itu kan bikin 57:53 saya kaget gitu ya. Tapi setelah saya 57:55 memahami, oh iya ya, akhirnya saya 57:58 bilang, "Yuk kita teleponan yuk jam 58:01 segini yuk gitu." Atau bisa enggak ee 58:05 kita ngobrol jam segini gitu? Ternyata 58:07 itu jauh lebih mudah ngubah kok cara 58:10 komunikasinya itu ternyata beda gitu. 58:13 Jadi 58:14 dan jadinya enggak enggak ada yang 58:16 negatif gitu. ee ee gaya-gaya kita yang 58:21 sudah dibiasain aturan atasan, bawahan 58:25 gitu, [tertawa] 58:27 aturan senioritas sama ee yang di 58:30 bawahnya gitu ya, diasuh begitu sama 58:33 orang tua kita yang generasi 58:35 tradisionalis, 58:38 yang generasi di zaman senioritas masa 58:42 perang harus patuh, harus ngikutin, 58:44 harus senior gitu ya. itu udah enggak 58:47 bisa lagi kepakai. Makanya dialog itu 58:51 penting. 58:53 Bikin dia mengungkapkan pikiran dan 58:55 perasaannya. Bikin kita mengungkapkan 58:58 pikiran dan perasaannya. Kita kasih tahu 59:01 kenapa ini lebih baik seperti ini. 59:04 Ini ini enggak mudah. 59:06 [tertawa] 59:06 ini cocok banget dengan pertanyaan bukan 59:08 pertanyaan sih ee statement dari Ibu 59:11 Susi. Kalau begitu Mbak Mona, 59:14 yang namanya informasi yang kitaikan itu 59:20 harus dengan apapun juga mau marah, mau 59:23 apa dialog, dialog, dan dialog setuju. 59:26 Saya juga akan mencoba apa-apa nanya, 59:28 apa-apa nanya. Jadi memang begitu ya, 59:30 Nak, sekarang ya. 59:30 Iya. kita coba untuk ngomong dari hati 59:32 ke hati, minta waktu ee ya maksudnya yuk 59:37 kita ngobrol yuk atau kita tentukan ee 59:41 tetapi ada kesepakatan juga gitu ya. Ee 59:43 ini 59:44 ini memang kadang-kadang ee ngomongin 59:46 ego juga gitu ya. Kayaknya saya harus 59:48 minta waktu deh sama dia. [tertawa] 59:51 Tapi ya ya memang begitu. Akhirnya saya 59:54 ee negonya begini, "Nak, yuk kita 59:56 sepakati yuk kita ngobrol jam segini yuk 59:59 gitu." Nah, itu ternyata lebih efektif. 1:00:01 Eh, Nak, kita ngobrol yuk jam segini 1:00:04 cuman sebentar kok kita ngobrolnya tek 1:00:06 udah gitu. 1:00:07 Jadi, 1:00:07 jauh lebih efektif. 1:00:08 Jadi, kita harus bersahabat, kemudian 1:00:11 juga harus 1:00:12 santai. Enggak boleh dengan gaya 1:00:15 komunikasi yang tadi itu top down 1:00:17 plus dengan terlalu formal juga enggak. 1:00:20 Iya, betul. 1:00:21 Wahai ikhwan akhwat, yuk belajar. Iya, 1:00:23 [tertawa] betul, Mbak Noni. 1:00:25 Iya, kayaknya bisa ditambahkan terkait 1:00:29 dengan ee transparansi antara kebutuhan 1:00:32 kita sebagai orang tua dengan anak yang 1:00:35 termasuk Genzi ini yang sebetulnya sih 1:00:37 bagus, tapi bagi kita enggak cocok. 1:00:40 Iya. 1:00:40 Iya, kan? 1:00:41 Ee saya akhirnya berusaha untuk 1:00:43 menjelaskan secara jujur bagaimana dulu 1:00:46 saya dibesarkan gitu ya. 1:00:48 Oh, biar dia punya gambaran. 1:00:49 Heeh. Heeh. dengan pemetaan generasi ini 1:00:53 itu membuka banyak hal yang 1:00:56 ee tadinya sekat-sekat gitu. Jadi e dulu 1:00:59 saya tuh begini loh karena begini begini 1:01:01 begini logikanya. Kemudian sekarang kok 1:01:04 begini begini begini kenapa? Karena 1:01:07 akhirnya jadi diskusi, akhirnya jadi 1:01:09 ngobrol bla bla bla gitu. Implikasinya 1:01:12 menjadi terbuka begitu Mbak Nuning. 1:01:14 Ee 1:01:16 ngobrol di ruang makan itu berharga 1:01:18 sekali. 1:01:19 [tertawa] 1:01:20 ngobrol di ruang makan shotsot gitu ya. 1:01:22 Tapi berharga sekali. 1:01:24 Iya. 1:01:24 Heeh. Ee sekarang saya kalau ngajakin 1:01:27 ngobrol sama anak saya ee ee berusaha 1:01:30 untuk menjelaskan yuk kita ngobrol yuk 1:01:32 sekarang yuk gitu ee dengan waktu 1:01:34 tertentu gitu ya. Mm atau saya datangin 1:01:38 ee minta waktu sebentar nak ngobrol ini 1:01:42 yuk. Ee terus akhirnya selesai sudah 1:01:44 saya tinggal gitu. Jadi 1:01:47 kayak minta waktu yang cukup lama itu 1:01:49 udah enggak laku lagi tuh gitu kayaknya 1:01:52 atau duduk di sini. When I was young ya 1:01:56 dulu ya waktu saya sama orang tua saya 1:01:58 didudukin tuh tuk tuk tuk tuk tuk 1:02:00 dikasih tahu kayak semacam ceramah gini 1:02:03 gono gono gon gono. Ya udah dulu 1:02:06 didengerin aja sambil 1:02:07 manggut-manggut, 1:02:08 manggut-manggut sambil sebenarnya dalam 1:02:10 hati, "Aduh, udah deh, udah deh, udah 1:02:12 deh." gitu ya. Tapi enggak ada yang 1:02:13 berani ngomong. Sekarang ditinggal, 1:02:16 ditinggal. Enggak beres, enggak enggak 1:02:18 jadi ngomongnya gitu loh. 1:02:21 Jadi sekali lagi menghadapi ee Genzi ini 1:02:25 kita perlu pemahaman baru 1:02:28 dan juga sikap-sikap yang 1:02:30 benar-beneran kita perbarui dari 1:02:32 kebiasaan kita terhadap orang tua dulu. 1:02:35 dibanding dengan kehadapan anak-anak 1:02:37 kita terhadap kita sekarang ini. 1:02:38 Ngomong-ngomong dengan kondisi seperti 1:02:40 ini, kalau dalam hitungan kadar stres 1:02:43 itu ee pernah enggak Mbak Mona hadapi? 1:02:46 Heeh. 1:02:47 Anak-anak loh yang stres. 1:02:48 Oh iya. Itu gimana kita 1:02:50 anak cukup cukup stres karena tekanan 1:02:53 ekspektasi dari berbagai generasi yang 1:02:56 juga mungkin ee menekan gitu. 1:03:00 He 1:03:00 kayaknya mereka tuh salah aja gitu. 1:03:04 Iya kan? Kenapa? Kenapa? Karena mereka 1:03:06 masih di posisi sebagai anak-anak yang 1:03:09 masih bocah bocah baru masuk kerja. He 1:03:12 atau ee masih ee ee kuliah gitu ya yang 1:03:17 ee di dipertanyakan mereka di bawah 1:03:21 mereka atasan-atasannya adalah orang 1:03:23 yang enggak ngertiin gitu mungkin ya kan 1:03:25 karena mereka beda generasi gitu. 1:03:28 Mungkin yang milenial akan berbeda gitu 1:03:31 ya. K. Kenapa kita tidak bahas milenial 1:03:33 sekarang? Karena yang kontras banget itu 1:03:35 di sini gitu. Milenial ee masih agak 1:03:39 narik ke atas, narik ke bawah gitu. 1:03:41 Begitu juga ada perasaan-perasaan kayak 1:03:43 gitu. Tapi yang lebih jelas kelihatan di 1:03:46 dalam dunia ee kehidupan sehari-hari 1:03:48 maupun dunia kerja itu Gen itu Mbak 1:03:52 Nuning sekarang ini. 1:03:53 He. 1:03:54 Kenapa banyak orang bilang 1:03:57 Genzi itu kesannya begini, kesannya 1:04:00 begitu? 1:04:02 Enggak kok, sebenarnya they are 1:04:03 excellent. Mereka keren, mereka kreatif, 1:04:07 mereka tuh smart. Saya saya yakin itu 1:04:10 betul. 1:04:12 Cuman mereka beda gayanya gitu. Maka 1:04:16 yang berubah kita maksudnya 1:04:19 menyesuaikan diri 1:04:19 siun siapapun. Heeh. Genze juga 1:04:23 ee harus belajar cara berkomunikasi sama 1:04:25 orang generasi yang lain juga gitu. Dia 1:04:27 harus ngebuka diri juga. Jangan semua 1:04:29 orang harus nyesuaiin sama dia. Enggak. 1:04:31 Nah, sekarang yang siapa yang perlu 1:04:35 memperbaiki diri? Saya. Siapa saya? Oh, 1:04:37 saya Genzi. Saya harus memperbaiki. Tahu 1:04:40 diri dong kalau komunikasi sama 1:04:42 eang-eang kayak gimana gitu. Tahu diri 1:04:44 dong kalau komunikasi sama seang 1:04:48 angkatan kayak gimana. sama gen ee dia 1:04:51 akan kesulitan untuk mendapatkan e 1:04:54 approval dari Gen X kalau gayanya adalah 1:04:57 gaya egaliter. Kayak ujuk-ujuk ee 1:05:03 misalnya begini, 1:05:05 "Bu, ee saya ingin 1:05:09 ee minta 1:05:12 ee tanda tangan sekarang." bayangin 1:05:15 [tertawa] 1:05:17 boleh ya minta tanda tangan sekarang ya 1:05:18 gitu kayaknya guided gitu. Nah, itu 1:05:21 pilihan katanya perlu di ini. Kalau dulu 1:05:24 itu enggak boleh kayak gitu. Nah, 1:05:25 sekarang ee Gen X gen Gen Z kalau lagi 1:05:29 mau ngomong sama Gen X coba dong 1:05:32 perhatiin cara ngomongnya gitu. Selamat 1:05:35 pagi dulu, selamat siang dulu atau 1:05:37 asalamualaikum dan lain sebagainya. Saya 1:05:40 ini ini ingin gini begini begini. 1:05:42 Makanya panduan panduan berwatsapp, 1:05:45 panduan menelepon itu perlu 1:05:47 diperhatikan. Panduan tata krama karena 1:05:50 beda tata kramanya. Bukan mereka enggak 1:05:53 enggak beres, enggak. Mereka beda cara 1:05:57 dibesarkan bertata krama karena tata 1:05:59 krama mereka banyak dipengaruhi oleh 1:06:02 digital gitu 1:06:03 yang titik-titik titiknya tidak sama 1:06:06 dengan kita punya ya. Tap 1:06:08 Iya. Digital itu kan dari berbagai 1:06:10 negara Mbak Nuning. 1:06:11 Iya betul. 1:06:11 Heeh. Beda banget dan egaliter. Yang 1:06:14 yang bikin digital siapa? Usia berapa? 1:06:17 Iya kan? 1:06:18 He he. 1:06:19 Gayanya juga beda. Dan itu yang masuk ke 1:06:21 dalam ee software mereka. [tertawa] 1:06:25 Ini ada ee bukan pertanyaan sih. Tadi 1:06:29 kan bicara 1:06:30 ada 1:06:32 pendengar yang mengatakan anakku lulus 1:06:35 kuliah enggak mau cari kerja. dia lebih 1:06:37 suka dengan penghasilan yang mengagumkan 1:06:40 ketika berada 1:06:42 di 1:06:43 industri kreatif seperti konten kreator 1:06:47 dan juga podcast atau vlog dan lain 1:06:50 sebagainya. 1:06:51 Jadi kalau begitu bagaimana kalau 1:06:55 kemudian ke depan anak-anak makin enggak 1:06:57 mau kuliah? [tertawa] 1:07:00 Eh 1:07:00 enggak perlulah pokoknya yang penting 1:07:02 ini. Nah, bagaimana ini komentar Mbak 1:07:04 Mona? 1:07:05 Iya. Jadi, Mbak Nuning eh content 1:07:09 creator ini sekarang makin 1:07:12 industri yang besar ya, makin makin 1:07:14 banyak gitu ya. Jadi ee ee maka maka ini 1:07:20 juga bisa jadi salah satu pilihan. Heeh. 1:07:24 Tetapi saran saya apa yang dikontenin 1:07:28 kalau enggak ada isinya? isinya tetap 1:07:30 kompetensi individu. Kita mau konten 1:07:33 tentang 1:07:36 ee apa namanya ee tentang ee ee mobil 1:07:43 misalnya kita harus tahu tentang mobil, 1:07:45 kita harus punya background pengetahuan 1:07:46 itu gitu. 1:07:48 Jadi makin kalau enggak makin makin kita 1:07:51 berkualitas makin kualitas juga 1:07:53 kontennya gitu. Terus pada enggak mau 1:07:55 kuliah, 1:07:57 terus belajarnya dari mana gitu. 1:08:00 dia bisa jadi gini, belajar mah tetap ya 1:08:04 menurut saya belajar itu tetap gitu. 1:08:06 Apakah belajar otodidak atau belajar 1:08:09 dengan sistem? Kalau kuliah itu ada 1:08:11 sistemnya, ada aturannya, ada 1:08:13 kurikulumnya, ada paketnya, ada ee ee ee 1:08:17 ee dijaga juga pendidiknya ee orang yang 1:08:21 punya ee standar kualitas tertentu 1:08:24 begitu. Jadi masuk lembaga pendidikan 1:08:28 itu jauh lebih mudah karena sistemnya 1:08:31 sudah ada. Tetapi kalau cuman dari 1:08:34 lembaga pendidikan tanpa mengembangkan 1:08:36 kualitas diri sendiri itu ee enggak akan 1:08:40 bagus juga gitu. Maka sebaiknya adalah 1:08:43 menurut saya nih 1:08:46 menurut saya kuliah itu penting gitu. Ee 1:08:49 atau belajar itu penting. Apakah belajar 1:08:51 formal atau informal dua-duanya penting 1:08:53 gitu. Kalau mau belajar formal ee 1:08:56 melalui lembaga pendidikan atau kuliah 1:08:59 itu ee jauh lebih mudah. Tapi kalau kita 1:09:03 ditambah sama kualitas kreativitas 1:09:06 sendiri, wah cepat set gitu dibandingin 1:09:09 sama 1:09:10 ya tetap kita mau belajar tapi belajar 1:09:12 sendiri. Bisa juga belajar tapi kan 1:09:15 belajar sendiri kan kurikulumnya harus 1:09:17 cari sendiri gitu tetap belajar kok. 1:09:20 Bagi saya kuncinya tetap belajar begitu. 1:09:23 Iya. Heeh. 1:09:24 Jadi bukan berarti lantas 1:09:27 tidak perlu mengambil kesempatan untuk 1:09:31 menjadi seseorang kecuali jadi apa tadi? 1:09:33 Konten kreator. 1:09:35 Content creator itu harus ada isinya loh 1:09:37 gitu. He. Oke. Jadi kuliah tetap aja 1:09:41 karena toh itu juga merupakan jalur lain 1:09:44 ya untuk mencapai sesuatu. 1:09:45 Betul. kuliah itu dengan pengetahuan 1:09:48 tersebut kalau mau nanti jadi content 1:09:50 creator ya kita bisa mengisinya dari 1:09:52 pendekatan itu gitu. Tentu saja harus 1:09:54 ditambahin sama kreativitas yang luar 1:09:56 biasa begitu. 1:09:58 Em ini kan dekat Ramadan ya Mbak Mona 1:10:01 ya. 1:10:01 Bagaimana mereka dengan kebiasaan yang 1:10:04 seperti itu yang bukan niat buruk untuk 1:10:06 enggak sopan sama orang tua, bukan 1:10:10 sengaja untuk tidak menghargai. 1:10:12 Heeh. 1:10:14 Kebetulan bisa jadi ini juga disimak 1:10:17 oleh Genzi. 1:10:18 Heeh. 1:10:19 Pesan Mbak Mona terkait dengan dekat 1:10:22 puasa. Yuk deh. Oke, kalian memang 1:10:24 begini tapi 1:10:26 bisa enggak tingkatkan? Nah, mungkin itu 1:10:29 bisa bermanfaat. 1:10:30 Oke. Ee para Genzi, anak-anak muda, 1:10:33 kebanggaan kita ee masa depan Indonesia 1:10:38 banyak tergantung pada kalian juga gitu 1:10:40 ya. So, ini karena kalian adalah 1:10:42 kebanggaan Indonesia, Gen ee 1:10:47 kembangkan diri terus ee tingkatkan 1:10:51 potensi diri ee tingkatkan kemampuan 1:10:55 berkomunikasi dengan semua generasi. 1:10:57 Karena generasi yang dulu-dulu itu juga 1:10:59 punya pengetahuan yang besar sekali. 1:11:01 Punya punya apa namanya? ee ee cara ee 1:11:08 dia punya kearifan yang luar biasa gitu 1:11:11 untuk kita kita belajar kepada mereka 1:11:14 gitu. Yang di zaman kemerdekaan dulu 1:11:17 orang-orang hebat, orang yang mengisi 1:11:19 kemerdekaan. Bagaimana generasi-generasi 1:11:22 sebelumnya yang punya punya ee apa ya e 1:11:27 pengetahuan yang luar biasa untuk kita 1:11:29 belajar. Nah, ee masa puasa ini adalah 1:11:33 masa masuk pesantren gitu ya. Masa masuk 1:11:37 pesantren itu ee kita mengasah hati, 1:11:42 mengasah pikiran, mengasah iman kita 1:11:44 gitu ya. Maka di zaman masuk pesantren 1:11:47 itu, pesantren itu bisa ilmunya ilmu 1:11:51 ilmu kehidupan, ilmu agama gitu ya. 1:11:55 kembangin diri sedemikian rupa. Ee apa 1:11:59 namanya? Ee ee kembangkan potensi diri 1:12:03 sedemikian rupa. Pahami dalam konteks 1:12:06 komunikasi, pahami ee lintas generasi 1:12:10 dengan sebaik-baiknya. Belajar dari 1:12:12 mereka juga dan ee jadilah orang yang 1:12:16 terbaik. Begitu karena Indonesia butuh 1:12:20 butuh generasi ee Genzi. 1:12:24 sebagai calon pemimpin masa depan. Dan 1:12:27 kalau imannya bagus, kita bersyukur 1:12:30 sekali karena Genzi adalah harapan kita 1:12:34 semua. 1:12:35 Ini refleksi untuk kita semua, Mbak 1:12:37 Nuni. 1:12:38 Semua semua orang ya, termasuk Genzi ini 1:12:42 ee balik lagi untuk dekat dengan apa 1:12:46 namanya ee ibadah, untuk dekat dengan 1:12:50 masjid, untuk dekat dengan tempat-tempat 1:12:52 ibadah untuk Genzi itu ternyata kemauan 1:12:56 dia untuk berbagi kepada orang lain jauh 1:12:58 lebih tinggi dibandingkan generasi 1:13:00 sebelumnya. Maka ee ee kalau saya 1:13:04 menyebutnya PSR-nya itu tanggung jawab 1:13:06 sosial individunya lebih tinggi itu bisa 1:13:09 dikembangkan lagi di masa Ramadan gitu 1:13:13 ya. Masa berkembang, masa berdaya, masa 1:13:17 berkarya, insyaallah akan berkah untuk 1:13:20 kita semua. 1:13:21 Masyaallah. 1:13:23 Terima kasih banyak nih, Mbak Mona. 1:13:25 Mudah-mudahan bukan hanya ee Gen X yang 1:13:29 memang menyimak siaran dari Rasil, tapi 1:13:31 kalau Gen juga mendengarkan. 1:13:34 Heeh. ini pun semoga bisa mempersuasi 1:13:37 karena terus terang ya besarnya populasi 1:13:40 Genzi yang tadi Mbak Mona katakan 30% 1:13:43 dari penduduk Indonesia ini menjadikan 1:13:46 Genzi penentu arah perkembangan bangsa 1:13:49 kita dan bagian penting dari bonus 1:13:53 demokrasi Indonesia. 1:13:55 Masyaallah. Mudah-mudahan ya kita lanjut 1:13:57 lagi nanti dengan bahasan yang akan 1:14:00 menggelitik dan menggerak serta 1:14:03 mempersuasi anak-anak muda kita. Terima 1:14:05 kasih. 1:14:06 Billahi taufik wal hidayah. 1:14:08 Wasalamualaikum warahmatullahi 1:14:10 wabarakatuh.