Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:27 Bismillahirrahmanirrahim. 0:28 Assalamualaikum warahmatullahi 0:30 wabarakatuh. 0:31 Waalaikumsalam. 0:31 Alhamdulillahirabbil alamin washolatu 0:33 wassalam ala sayyidina Muhammad wa ala 0:36 alihi wasohbihi ajmain. Rabbi zidni 0:38 ilman Allahumma anfa'ni bima alamtani wa 0:41 alimni ma yanfa'ni warzuqni ilman 0:43 yanfa'ni. 0:44 Dipancarkan dari Jalan Masjid 0:46 Silaturahim nomor 36 Kalimanggis Cibubur 0:48 Bekasi, Radio Silaturahim dan Rasio TV 0:52 untuk Islam yang satu. Ikhwan akhwat 0:54 yang dirahmati Allah subhanahu wa taala, 0:56 pendengar dan juga pemirsa di manapun 0:58 saja Anda berada. Senang sekali saya 1:00 Angga Aminudin dapat kembali menemani 1:02 waktu sahur Anda 1:04 di Ramadan kali ini 1443 1:07 Hijriah. Semoga dalam keadaan sehat 1:08 walafiat. Sambil menemani Anda yang 1:11 sudah bersantap sahur ya di jam 03.00 1:14 ini atau ibu-ibu nih yang masih 1:17 menyiapkan, masih masak di dapur tapi 1:19 selalu setia mendengarkan siaran Rasio. 1:21 Kali ini edisi sahur bersama tokoh kami 1:26 menghadirkan salah satu akademisi 1:29 dan juga dosen beliau ya kalau dilihat 1:32 dari pengalaman 1:34 ee dakwahnya dan juga pengalamannya di 1:37 dunia internasional wah cukup panjang 1:39 nih kalau harus saya bacakan. 1:41 Kami menghadirkan salah satu akademisi 1:43 dari Universitas Indonesia 1:46 Abdul Muta'ali M.A. M.I.P. Ph.D. 1:50 Assalamualaikum warahmatullahi 1:52 wabarakatuh Pak Ustaz. 1:53 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:53 wabarakatuh Kang Angga, sehat ya? 1:56 Alhamdulillah sehat, gimana Saya 1:58 manggilnya Pak Mutalib, ya? 1:59 Boleh, mangga-mangga. 2:00 Atau Ustaz Mutalib? 2:02 Mutalib saja. Ustaz kan ketinggian 2:03 begitu. 2:04 Ustaz ketinggian. 2:05 Khawatir nanti masuk juga dalam list 2:06 yang enggak bagus itu kalau disebut 2:08 Ustaz begitu. 2:10 Tapi khawatir juga, ya? 2:12 Walaupun kalau kata Bang Dullah, saya 2:14 ingat itu Ustaz Adi Hidayat, Ustaz Abdul 2:16 Somad masuk list. Apalagi saya yang 10 2:18 kali lebih 2:20 lebih radikal katanya. 2:22 Ya, seperti ingin menyindir. Baik. Eh, 2:25 Pak Abdullah Mutalib lahir di Karawang, 2:30 Cikampek lebih tepatnya ini, ya? 2:32 Betul. 2:32 Di Cikampek tahun 80. 2:35 Masih muda apa sudah termasuk tua kalau 2:37 segini? 2:38 Mudah-mudahan masih masih muda, ya. 2:40 Masih muda atuh, ya. 2:41 memberikan kontribusi untuk bangsa, 2:43 negara, dan agama. 2:45 Dan saat ini beliau 2:47 eh 2:49 kesibukan 2:50 sebagai 2:52 wakil direktur. 2:54 Wakil direktur sekolah tinggi adik 2:56 global. 2:57 Sudah selesai sebetulnya di 2:59 di awal tahun ini begitu. 3:00 Ehm. 3:01 Tapi kalau ngajar masih, ya? 3:03 Ngajar masih masih di UI. 3:04 Di pascasarjana. 3:05 Pascasarjana di Fakultas Ilmu 3:07 Pengetahuan Budaya, di FISIP, ya. 3:08 Di FISIP. Seperti biasa Ikhwan Akhwat 3:10 kami akan menghadirkan cerita yang tentu 3:14 saja akan memberikan inspirasi bagi Anda 3:18 karena perjalanan hidup seseorang ini 3:20 bisa jadi banyak yang bisa kita ambil 3:23 hikmahnya. 3:25 Kita ingin berkenalan dulu sebenarnya 3:26 kenapa Rasil ini menghadirkan Pak Abdul 3:29 Mutalib. Kalau dari gelarnya ada MA, 3:31 MIP, PhD. 3:33 Biasanya kita tuh pengin tahu 3:35 cerita riwayat pendidikannya gimana nih 3:38 Pak Mutalib ini. Biasa suka jadi 3:40 semangat tuh buat Ibu-ibu nantinya 3:41 kuliahin anak, ya. 3:43 Mangga, Pak. 3:44 Baik, terima kasih. Assalamualaikum 3:46 warahmatullahi wabarakatuh. 3:48 Bismillah wassalatu ala Rasulillah la 3:50 haula wala quwwata illa billah, wa ba'd. 3:53 Saya al-faqir Abdul Mutta'ali. 3:55 Nih, Bapak sebetulnya asli dari 3:58 Pandeglang, jadi kulon begitu ya. 4:00 Iya. 4:01 Ibu asli dari Warung Buncit. 4:04 Betawi. 4:04 Betawi. 4:05 Gitu, tapi tinggal di Cikampek, di 4:07 Karawang. 4:08 Ehm. 4:09 Maklumlah kalau orang Betawi itu 4:10 biasanya kalau kepepet-kepepet biasanya 4:12 agak menghindar ke belakang. 4:14 Apakah sebuah strategi perang begitu? 4:16 Atau kita enggak tahu. Pindahlah ke 4:19 sebuah 4:21 desa namanya Bakan Maja. 4:23 Ehm. 4:24 Bakan Maja itu artinya babakan 4:25 masyarakat Jakarta. 4:27 Oh. 4:28 satu wilayah di Cikampek, itu yang 4:31 penghuninya, penduduknya semua berbahasa 4:33 Betawi. 4:34 Oh, gitu. 4:35 Iya. Agak sulit ya kalau mendapatkan 4:38 orang pakai bahasa Sunda. 4:40 Ehm. 4:41 Maka saya bisa bahasa, ya sedikit bahasa 4:43 Sunda itu ya ketika pesantren di Ciamis. 4:45 Iya, iya. 4:46 Ketika pesantren di Karawang, tapi 4:48 enggak keluar dari situ ya enggak bisa. 4:50 Enggak bisa jadi bahasanya ada 4:52 Betawi begitu ya. 4:53 Bakan Maja nih tahun berapa itu? 4:55 Bakan Maja tahun 9 4:58 Jadi saya ketika 1 sampai 5 tahun itu di 5:01 Sentul. 5:02 Ehm. 5:03 Wadas, Pulau Jaya. 5:05 Di Kabupaten Karawang. Nah, sampai ayah 5:07 saya wafat saya pindah ke Cikampek. 5:09 Ehm. 5:10 Jadi ayah itu punya pesantren di Sentul, 5:12 Pulau Jaya, di di Wadas begitu. 5:15 Iya. 5:15 Tapi karena saya masih kecil akhirnya 5:17 yang mengurusnya ya alumni-alumni begitu 5:20 ya. 5:20 Ehm. 5:21 Sehingga ya sekarang hanya jadi musala, 5:24 jadi tempat pengajian. Tapi menjadi 5:27 pesantren dalam definisi sosial 5:29 masyarakat Indonesia mungkin sudah tidak 5:31 lagi begitu. Tapi alhamdulillah sekarang 5:32 para alumni mereka menghidupkan kembali 5:35 begitu ilmu-ilmu yang didapatkan dari 5:37 almarhum. Dan mudah-mudahan bisa ada 5:39 pesantren lagi. Nah, saya sejak tahun 85 5:42 itu di Cikampek. 5:43 Iya. 5:44 Di Cikampek, saya sekolah MI itu sore, 5:48 paginya SD. 5:48 Emm. 5:49 Begitu ya, sambil pesantren pulang pergi 5:51 pesantren kalong istilahnya begitu ya. 5:53 Itu khas tuh kalau anak-anak Jawa ya. 5:55 Eee. 5:56 Kemudian sampai tsanawiyah begitu. 6:00 Alhamdulillah ketika tsanawiyah saya eee 6:03 pesantren Qur'an di Mangunjaya. 6:06 Pesantren yang kemarin 6:08 terbakar 24 Februari itu, yang 8 orang 6:12 ada yang syahid begitu ya. 6:13 Yang santri itu ya? 6:14 Yang santri itu. 6:15 Gara-gara lilin kalau enggak salah. 6:17 Gara-gara lilin atau eee konsleting apa 6:20 itu, kipas angin begitu ya. 6:22 Kipas angin. 6:23 Nah, 8 orang syahid. Nah, saya pesantren 6:25 di situ. 6:26 Oh. 6:27 Alhamdulillah di situ sampai beberapa 6:29 juz kita eee hafal. Lalu ketika akan ke 6:33 SMA, saya ikut tes namanya MAN PK, 6:37 Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus. 6:39 Emm. 6:39 Itu program K.H. Munawir Syadzali itu 6:41 ya, mungkin ada makalah itu. 6:43 Iya. 6:43 Nah, saya termasuk terbaik di Kabupaten 6:45 Karawang. 6:46 Emm. 6:46 Akhirnya bisa ikut apa tes di 6:49 Mandarusalam MAN PK. 6:51 Alhamdulillah bisa selesai tahun 1999. 6:54 Lalu kuliah S1 di UIN Bandung 2 tahun 6:56 setengah. 6:57 Emm. 6:57 Alhamdulillah IPK saya. Jadi, 2 tahun 6:59 setengah itu karena 7:01 Kok cepat? 7:01 Alhamdulillah tuh. Jadi, ketika semester 7:03 1 IPK saya 4. 7:05 Emm. 7:06 Semester 2 IPK saya 4. 7:07 Wah. 7:08 Nah, ketika semester 3 saya mengambil 48 7:11 SKS. 7:11 Waduh. 7:13 Ketika semester 4 saya mengambil 48 SKS. 7:16 Ketika semester 3 saya mengambil mata 7:19 kuliah semester 3 juga semester 5. 7:21 Emm. 7:22 Ketika semester 4 saya mengambil mata 7:23 kuliah semester 4 juga semester 6. 7:25 6. 7:26 Akhirnya 7:27 tersisa hanya semester 7 saja. 7:29 Alhamdulillah. 7:30 Iya, sudah kosong. 7:30 Karena ada beberapa mata kuliah yang 7:32 dibebaskan. 7:32 Emm. 7:33 Contoh mata kuliah Qur'an Hadits Qur'an. 7:35 Kata profesor eee pengajar di situ, 7:37 "Yang hafal Qur'an katanya tidak usah 7:39 ikut kuliah, saya kasih nilai A 7:40 sekarang." 7:42 Yang hafal ilmu mantik Sulam Munawwarah. 7:44 Hafal, kemudian setor kepada saya, saya 7:47 kasih nilai A sekarang, enggak perlu 7:48 ikut kuliah. 7:49 Itu jurusan apa waktu itu ngambilnya? 7:50 Saya ngambil perbandingan mazhab dan 7:52 hukum. 7:52 Wah. 7:53 Ya, kemudian yang hafal ushul fikih 7:55 ketika itu ushul fikih ee Abdul Wahab 7:58 Khallaf. 7:58 Heeh. 7:58 Saya hafal tuh. Yang hafal kitab ini 8:01 enggak usah ikut kuliah, saya kasih 8:02 nilai A sekarang. Jadi alhamdulillah 8:04 banyak mata kuliah yang nilainya jama 8:05 taqdim. 8:07 Jadi saya tidak perlu ikut kuliah, 8:09 nilainya sudah dapat di di awal. 8:12 Nah, jadi basisnya kualitas. 8:14 Emm. 8:15 Ya, basisnya kualitas alhamdulillah itu 8:17 punya dosen-dosen yang menurut saya 8:20 ini sebut dengan merdeka belajar, 8:21 harusnya seperti ini begitu. Bukan 8:24 setiap hari kegiatannya baca buku itu 8:25 mah. 8:26 Alhamdulillah. 8:27 Sudah enggak pernah main-main lagi ini 8:28 mah. 8:29 Tuh Edo dengar. 8:31 Nah, jadi sebetulnya 8:33 para ulama dulu, profesor dulu, 8:35 guru-guru kita dulu itu sudah sudah 8:37 punya ide merdeka belajar. Jadi 8:39 Emm. 8:40 mindset-nya adalah kualitas, bukan 8:42 sekedar materialistik. 8:43 Iya. 8:43 Kuliah di sini tapi juga harus apa 8:46 kuliah lapangan kan begitu. 8:47 Iya. 8:48 Saya kira ee tidak seperti itu. Ini 8:50 mungkin koreksi kita ya terhadap MBKM. 8:53 Heeh. 8:53 Ya, ee bagaimana kuliah merdeka itu ya 8:56 merdeka dalam belajar. Ketika dia di 8:58 sudah menguasai, berikan dia untuk 9:00 belajar ilmu-ilmu yang lain. 9:02 Emm. 9:02 Sehingga 2 tahun setengah saya nulis 9:05 skripsi dengan judul pemikiran fikih 9:07 Syekh Abdul Qadir Al Jailani. 9:09 Nah, skripsi saya itu luar biasa 9:11 penentangnya banyak. 9:13 Ya. 9:14 Kenapa? Karena saya objek penelitian 9:17 saya itu kitab Al Ghunyah yang ditulis 9:19 oleh Syekh Abdul Qadir Jailani langsung. 9:21 Oh. 9:21 Ternyata 9:22 jangankan hadis palsu, hadis dhaifnya 9:24 pun enggak ada. 9:26 Menurut sebagian kalangan orang 9:27 menyatakan bahwa Syekh Abdul Qadir 9:29 Jailani dengan ini itunya banyak 9:31 khurafat, ini dan itu. Tapi ketika kita 9:34 teliti langsung kitabnya, ini basisnya 9:37 hadis semua. 9:38 Jadi saya mentakhrij, mengeluarkan 9:39 hadis-hadis tersebut. Ya, kemudian kita 9:42 cek bagaimana kualitasnya. 9:44 Amazing. Karena beliau mazhabnya 9:46 Hambali. 9:48 Syekh Abdul Qadir Jailani. 9:49 Iya, mazhabnya Hambali bukan Syafii. 9:51 Tapi perkembangannya malah banyak 9:52 tarekat yang lahir ini juga. 9:54 Nah, artinya apa? Bahwa tidak boleh itu 9:58 mengkriminalkan tarekat. 9:59 Nah. 10:00 Sehingga ada statement penting dari 10:02 seorang Ibnu Taimiyah. 10:03 He em, he em. 10:04 Lau kana thariqotuk, lau kana 10:06 thariqotuka thariqoti, andaikan tarekat 10:09 Sufiyah itu seperti tarekat Anda, wahai 10:11 Syekh Abdul Qadir Jailani, 10:13 itu saya ikut, la aqtabi biha, aku 10:15 bergabung. 10:16 Ibnu Taimiyah salah satu yang sempat ber 10:19 komunikasi. 10:20 Yang betul, dan dia termasuk yang 10:22 berbaiat kepada Syekh Abdul Qadir 10:23 Jailani. 10:24 Oh. 10:24 Begitu, jadi kalau ditanya murid Syekh 10:27 Syekh Abdul Qadir Jailani dalam tarekat 10:29 Qadiriyah siapa? Ibnu Taimiyah. 10:31 Yang sekarang dijadikan, mohon maaf ya, 10:34 dijadikan palu untuk apa? Untuk, mohon 10:36 maaf, mengkritik sana, mengkritik sini 10:38 dan lain sebagainya. 10:39 Realita, Pak Muttaqin, realitanya 10:41 seperti itu. Makanya perlu banyak 10:42 dai-dai yang baru belajar ini 10:45 mempelajari itu juga. 10:46 Kawan saya di Jordan, 10:48 walaupun beda jurusan ya, dia ngambil 10:50 disertasi judulnya Al-Ara Ibnu Taimiyah 10:52 As-Sufiyah. 10:53 He em. 10:53 Pandangan-pandangan tasawuf Ibnu 10:55 Taimiyah. 10:56 He em. 10:56 Luar biasa. Terkadang kita melakukan 10:58 profiling, framing. 11:00 Nah. 11:00 Kita terkadang mudah menyalahkan, 11:02 padahal kita enggak belajar. 11:03 He em, he em. 11:04 Ya, seperti teori aqua, lah, aqua itu 11:07 dia kalau penuh, 11:08 ya, kita goyang-goyang, itu enggak ada 11:09 bunyi. 11:10 He em. 11:10 Tapi kalau airnya sedikit, kita 11:12 goyang-goyang, kang anggeuy. 11:13 Tong kosong nyaring bunyinya. 11:17 Itu di UIN. 11:18 Ya, di UIN Bandung. 11:19 Dua tahun setengah. 11:20 Dua tahun setengah. 11:21 Waktu itu penentangnya masih ingat siapa 11:22 gitu yang kira-kira 11:23 Enggak usah disebutkan lah. 11:24 usah. 11:25 Enggak usah disebutkan. 11:26 Eh, prinsip eh, opini dan ide 11:28 argumentasinya bisa dipegang itu 11:31 akhirnya 11:32 Alhamdulillah. 11:33 lulus 11:33 Alhamdulillah lulus saya walaupun mohon 11:35 maaf saya sidang itu dua kali karena 11:38 sidang pertama eee ya dengan segala 11:41 keterbatasan saya ya 11:43 he em 11:43 dengan segala apa itu eee dinamika kala 11:47 itu itu sidang tesis saya itu tidak 11:49 diluluskan 11:50 oh 11:52 tidak diluluskan karena eee apa itu ada 11:56 isi dari skripsi itu yang berbeda dengan 11:59 dewan penguji 12:01 begitu harusnya kalau domainnya 12:02 pemikiran 12:04 itu sah-sah saja 12:05 ya 12:06 sebetulnya saya tahu masalah tidak 12:07 diluluskan itu mungkin karena saya 12:09 terlalu cepat regulasinya belum ada 12:12 regulasinya belum ada 12:13 kan begitu 12:14 iya iya iya 12:15 bid'ah itu kan artinya innovation dalam 12:17 hal ini kan bagus harusnya kan 12:20 maka saya perlu sidang yang kedua tapi 12:22 sidang kedua itu alhamdulillah ya saya 12:24 bisa menjelaskan kepada dewan penguji 12:26 kepada publik dan hasilnya luar biasa 12:28 itu di tahun berapa publikasinya 12:29 tahun 99 eh tahun 2002 saya masuk 99 di 12:33 UIN Bandung selesai 2002 dan skripsi 12:35 saya itu eee menjadi skripsi terbaik ya 12:39 yang dinilai oleh Mizan ketika itu ya 12:43 jadi eee itu alhamdulillah tahun 2002 12:46 itu skripsi yang terbaik karena berhasil 12:48 membongkar sosok pemikiran Syekh Abdul 12:51 Qadir Jailani yang penilaian 12:53 masyarakatnya agak berbeda begitu 12:55 apakah Mizan juga melakukan akhirnya 12:57 publishing untuk meluruskan pemikiran 13:00 saya tidak tahu setelah itu begitu 13:02 sepertinya sepertinya perlu sepertinya 13:03 ya karena 13:04 lihat kondisi 13:05 setelah itu email masuk dari beberapa 13:07 jurnal internasional kalau sekarang kita 13:09 sebut Scopus lah ya banyak yang minta 13:11 agar itu di diterbitkan begitu 13:14 oh 13:14 nah karena eee setelah pulang dari Timur 13:17 Tengah ada kesibukan ini dan itu dan itu 13:19 akhirnya belum sempat tapi sekarang saya 13:21 sedang garap begitu ya skripsi saya yang 13:24 tahun 2002 begitu 2020 2002 13:27 mudah-mudahan ya bisa eee publish 13:29 memberikan apa ya pandangan 13:33 yang komprehensif gitu, objektif. 13:36 Umat perlu, umat perlu pencerahan Pak 13:37 Mutalib. 13:38 Gitu. 13:38 Khususnya tentang pemikiran Abdul Qadir 13:40 Jailani ya. 13:40 jangan begini, jangan ketika berbicara 13:42 Syekh Abdul Qadir Jailani khurafat, 13:44 bid'ah, dhaif, hadisnya palsu, jangan 13:47 begitu. 13:47 Awalnya informasi yang untuk saya 13:49 pribadi aja saya terima awalnya begitu. 13:52 Ternyata beliau mazhabnya Hambali itu 13:54 punya metodologi 13:56 sangat ketat dalam hadis. 13:58 Iya, iya. 13:59 Ya, sangat ketat juga dalam dalam fikih. 14:01 He. 14:02 Saya kira 14:03 kita mesti adil dan harus banyak yang 14:05 minta maaf nih kepada Syekh Abdul Qadir 14:07 Jailani begitu ya. Kalau pandangannya 14:09 seperti itu. Nah, setelah itu saya dapat 14:12 beasiswa untuk ngambil S2 di di di ANU, 14:17 Australian National University. 14:18 2002 langsung berarti? 14:19 2002 langsung saya dapat beasiswa begitu 14:22 dari eh pemerintah Australi untuk 14:25 ngambil S2 di sana. Tapi Ibu tidak 14:27 mengizinkan. Tiba-tiba Ibu saya ketika 14:29 dapat beasiswa sakit. 14:31 Sakit saya bilang, "Nih kenapa?" 14:34 Enggak tahu. 14:34 He. 14:36 Eh, ya coba kita untuk belajar apa 14:40 berbakti kepada orang tua gitu ya, 14:41 karena kan Ayah saya wafat tahun 85. 14:44 He. 14:45 Ya, saya ketika usia 5 tahun. Jadi 14:47 nyaris Ibu itu bukan hanya Ibu tapi juga 14:49 Ayah. 14:49 Iya, iya. 14:50 Begitu. Kita coba cari tahu, "Mi, 14:52 kenapa?" Jadi rupanya 14:54 "Umi saya tidak tertarik saya ke Eropa, 14:56 saya ke Australi begitu." "Emangnya 14:58 kenapa Mi?" Begitu. 15:00 "Ya enggaklah kalau mau ke Eropa nanti 15:01 lah doktornya atau atau apa itu post 15:04 doc-nya. Sekarang ke Timur Tengah aja 15:06 dulu." 15:07 He. 15:08 Akhirnya alhamdulillah saya dapat apa 15:10 untuk bisa belajar S2 15:12 ke Sudan. 15:13 Sudan. 15:14 Ya, ke Sudan. Ke sana biaya sendiri tapi 15:17 sudah sampai di sana alhamdulillah dapat 15:18 beasiswa. 15:19 He. 15:19 Begitu. 15:20 Sampai 15:21 Eh, di Sudan saya ngambil S2 15:24 dua kali. 15:25 He eh. 15:25 Jadi saya ngambil ketika di Bandung saya 15:28 ngambil perbandingan mazhab dan hukum. 15:30 He eh. 15:30 Ketika sampai di Sudan rupanya untuk 15:33 fikih, ushul fikih itu yang 15:36 S2 yang buka belum ada. Itu masih apa 15:39 masih nunggu beberapa bulan. Sedangkan 15:41 visa kan itu ada expire-nya. 15:43 Ada batasnya ya. 15:44 Ada batasnya. Jadi terpaksa kita ambil 15:46 kampus yang buka begitu. 15:48 He eh. 15:48 Akhirnya pragmatis akhirnya. 15:51 Sehingga yang tadinya di Indonesia 15:54 hukum, hukum Islam perbandingan mazhab 15:56 itu dibelokkan menjadi linguistik. 15:58 Jadi enggak linier. 15:59 Jadi enggak linier. 16:00 Iya iya. 16:01 Tapi enggak jadi masalah yang penting 16:02 bisa apa bisa melanjutkan kuliah S2 di 16:04 Sudan di Timur Tengah. Nah, setelah 3 16:07 bulan ada pembukaan beasiswa ngambil 16:09 ushul fikih di El-Nile University. 16:11 Alhamdulillah saya dapat sampai selesai. 16:14 Jadi saya S2 satu dapat eh 16:16 linguistik dari Universitas Liga Arab. 16:19 Iya. 16:19 Gitu ya. Bidang linguistik. Kemudian 16:21 ngambil dari eh El-Nile S2 juga ushul 16:24 fikih. 16:25 He eh. 16:25 Begitu. Nah, ketika selesai S2 di mana 16:28 di El-Nile di eh 16:30 Liga Arab saya ngambil dapat beasiswa. 16:33 Iya. 16:33 S3 lagi di Sudan. Begitu. Tapi untuk 16:36 linguistiknya bukan untuk ushul fikihnya 16:38 karena belum belum ada beasiswa untuk S3 16:41 bidang bidang ushul fikih. 16:42 Iya iya. 16:43 Akhirnya pragmatis lagi sehingga saya 16:45 terpaksa menjadi 16:47 seorang linguis begitu. Tapi 16:48 alhamdulillah ilmu pesantren jadi 16:50 jadi bisa dimanfaatkan eh 16:53 apa Alfiyah, 16:55 kemudian Sulam Munawwarah, ya ilmu-ilmu 16:58 kepesantrenanlah. Nah, ketika saya 17:00 kuliah S2 di Sudan saya sambil kursus 17:03 bahasa Jerman di Goethe di Khartoum. 17:06 Sampai kepada level intermediate. 17:08 Gitu. Lalu saya tes 17:11 ketika itu ada pembukaan di DAAD. Jadi 17:13 eh apa itu funding pemerintah Jerman 17:16 kepada 17:17 eh masyarakat internasional yang ingin 17:19 kuliah di Jerman biasanya mereka punya 17:21 apa itu punya gute ya ya semacam center 17:25 center budayanya Jerman lah nah saya 17:27 ikut kuliah tuh ikut kursus bahasa 17:29 Jerman alhamdulillah sampai level 17:31 intermediate 17:32 kemudian ada pembukaan 17:34 beasiswa S3 di Frankfurt saya ikut lolos 17:37 tuh 17:37 Jerman 17:37 jadi kuliah di Sudan begitu tapi bisa ya 17:41 sedikit-sedikit bahasa Jerman dan dapat 17:43 beasiswa di Jerman nah ketika akan 17:45 berangkat ke Jerman ya kita akan 17:47 mengajukan visa kedutaan Jerman di Sudan 17:50 enggak keluar visanya 17:53 enggak keluar visanya kenapa 17:55 karena bukan enggak keluar visanya 17:57 mereka menyarankan saya harus punya 17:59 deposit 18:00 oh 18:01 bahwa saya ke sana tuh untuk kuliah 18:02 bukan untuk kerja 18:03 iya iya 18:04 nah akhirnya saya telepon ibu saya 18:07 mi ini pemerintah embesi Jerman ini 18:10 mensyaratkan 18:12 kita punya uang di rekening atau di 18:15 bentuk deposito itu 10.000 dolar 18:18 sekitar 100 juta kalau dirupiahkan ya 18:20 ketika itu 18:21 cukup besar ya 18:22 selama biaya-biaya kuliah ya 18:23 ah 18:25 umi saya cuma bisa apa melamun saja 18:28 dengar gitu 18:29 nah info-info dari ibu saya umi saya itu 18:32 sampai silaturahim ke beberapa orang 18:34 kaya di Cikampek 18:36 ya itu enggak ada yang mau meminjamkan 18:38 padahal cuma pinjam apa itu 18:40 deposit nah buat naruh 18:41 iya buat naruh saja gitu enggak akan 18:43 dipakai sama sekali cuma difoto bahwa 18:46 ini apa tuh cover depannya kemudian 18:49 angka terakhirnya 18:51 enggak ada yang berani meminjamkan tuh 18:53 subhanallah ya akhirnya saya enggak bisa 18:55 jadi berangkat ke Jerman 18:57 hmm 18:58 gitu ya 18:59 ah 19:00 ya tetap di Sudan 19:01 tetap di Sudan tapi alhamdulillah nah 19:03 ketika kuliah di Sudan selesai S3 19:07 lalu saya dapat beasiswa ngambil post 19:09 doc di Cairo University bidang 19:11 eh apa itu hukum internasional. 19:13 Itu langsung juga? 19:14 Langsung. 19:15 Jadi enggak ada jeda-jeda dulu baru 19:16 langsung? 19:17 dulu. Jadi, ya, karena saya melihat 19:20 kalau pulang ke Indonesia, saya ingin 19:21 langsung mengabdi, bisa memberi banyak 19:23 untuk, khususnya ibu saya, kan begitu. 19:25 Itu waktu itu peluang-peluang itu emang 19:27 terbuka ya, tergantung kitanya mau aktif 19:29 apa enggak? 19:31 Pertama saya ingin menyatakan, Kang 19:32 Angga ya, jadi Sudan itu negara miskin. 19:35 Heeh. 19:35 Itu negara miskin, tapi 19:38 ee, perhatiannya kepada education, dunia 19:41 pendidikan itu luar biasa. 19:42 Heeh. 19:43 S1 untuk satu universitas namanya Africa 19:46 University, International African 19:47 University, itu memberi 90 beasiswa tiap 19:50 tahun. 19:51 Heeh. 19:51 S2, dia memberi 40 19:54 tiap tahun. S3, dia memberi 20. 19:56 Tapi berapa yang diberikan our 19:58 government 19:58 Heeh. 19:59 kepada orang Sudan? Hanya satu orang. 20:02 Peluang itu luar biasa. 20:03 Iya, iya. 20:04 Ya, peluang itu luar biasa. Nah, 20:06 Sudan itu banyak memberikan beasiswa 20:08 karena memang banyak negara-negara hebat 20:11 semacam Brunei, 20:12 Iya. 20:12 kemudian Qatar, itu memberikan beasiswa 20:15 kepada Sudan, khususnya memang bidang 20:17 bahasa Arab 20:18 Heeh. 20:18 keislaman. Karena ulamanya masih murni 20:20 di sana. 20:21 Heeh. 20:21 Ya, ulamanya belum terkooptasi dengan 20:23 partai-partai begitu. 20:24 Iya, iya. Termasuk profesor untuk bidang 20:26 Alquran juga kan di Sudan itu 20:27 Oh, iya, cukup kuat. 20:28 Cukup 20:29 Cukup jadi rujukan untuk Timur Tengah. 20:31 Ya, makanya rata-rata bidang Quran, ya, 20:34 kemudian bidang Islamic Finance, 20:36 kemudian bidang bahasa Arab, yang di 20:38 Indonesia yang mengam, yang gelarnya 20:40 doktor di beberapa universitas 20:42 Iya. 20:42 tersebar di beberapa kampus itu 20:43 rata-rata dari Sudan. 20:44 Heeh. 20:45 Karena memang bahasa Arab Sudan itu 20:47 kata orang Sudan itu dari juna 20:49 fushhatuna, our dialect, our fushha, 20:52 katanya begitu. Ada satu kitab judulnya 20:55 Fiqhul Lughah, 20:56 ee, 20:58 Fiqhul Lughah karya As-Sa'alabi. 21:00 Heeh. 21:00 Itu terkait diksi-diksi kosakata fushha 21:03 bahasa Arab. Itu 90% dari kosakata 21:06 bahasa Sudan, Arab Sudan itu. 21:07 Oh. 21:08 Nah. 21:09 Tapi 21:10 ee ada ada di Alquran juga. 21:12 Ada di Alquran. Jadi sebetulnya 21:14 sangat pas begitu yang ingin memperdalam 21:16 Quran, tafsir dan lain sebagainya. 21:18 Oh. 21:19 Nah, itu pintu masuknya Sudan. 21:21 Mmm. Lalu peluang-peluang yang lain 21:23 karena kan tadi Pak Muhtali tahu-tahu 21:24 ada oh ada nih untuk di Jerman bahkan 21:27 gitu ya. Peluang-peluang itu ada 21:28 sebenarnya. 21:29 Peluang-peluang itu luar biasa. 21:30 Mmm. 21:31 Luar biasa. Saya ketika 21:33 pulang dari Sudan saya langsung daftar 21:35 ke Kemlu dan diterima jadi diplomat 21:36 begitu. 21:37 Tapi karena Umi saya waduh kalau jadi 21:40 diplomat berangkat lagi dong ke luar 21:41 negeri kan di posting sini 4 tahun, 3 21:44 tahun, 4 tahun, 5 tahun. 21:46 Kata Ibu saya sudah 21:48 di Indonesia saja. 21:49 Mmm. 21:50 Terus harus ngabdi di mana? Ibu saya 21:52 langsung nyebut nama satu kampus. 21:53 Mmm. 21:54 UI. 21:54 Nah. 21:56 Ketika itu saya daftar di UIN, ya. Saya 21:59 enggak sebut UIN mana ya, dapat di UIN 22:01 di kampus yang lain begitu. Saya sudah 22:03 ngajar 1 tahun belum diangkat-angkat. 22:05 Ya Allah. 22:05 Ya, lalu ah ya sudah kalau begitu saya 22:07 daftar saja di Kemlu lah, diterima. 22:09 Mmm. 22:10 Begitu, tapi Ibu saya nampaknya kurang 22:13 berkenan begitu. 22:13 Mmm. 22:14 Enggak usah di Kemlu lah. 22:15 Akhirnya kembali lagi ke UIN, cuma 22:16 enggak ada N-nya sekarang. 22:17 Ah. 22:20 Jadi kata Ibu saya 22:22 pilih UI, kamu kuliah di UI, ngajar di 22:24 UI. Saya bilang nih bagaimana ini 22:26 Muhtali jadi dosen di UI, di UIN saja 22:29 ditolak. 22:30 Apalagi komo deui. 22:31 Apalagi komo-komo deui kan begitu, 22:33 apalagi di di di UI. 22:35 Oh enggak begitu katanya. 22:37 Hitung-hitungan Allah itu enggak begitu, 22:38 ternyata benar. 22:39 Oh. 22:40 Luar biasa. 22:41 Menarik tadi ya sering di-mention ya 22:44 Umi-nya. 22:45 Berarti sosok Umi itu begitu 22:47 berpengaruh untuk mengambil keputusan. 22:51 Ya, jadi saya 22:53 apa ya sangat ngepas begitu dengan yang 22:55 dikatakan oleh Imam Ghazali, Ibu itu 22:57 Tuhan yang kelihatan begitu. 22:58 Mmm. 22:59 Ya, al um al ilahul manzhur, Ibu itu 23:02 Tuhan yang kelihatan. 23:03 Iya, iya. 23:04 Jadi memang 23:06 seperti restu tuh ya di situ adanya. 23:08 Iya. 23:09 Ehm. 23:10 Menariknya gini, Kang Angga ya. 23:12 Iya. 23:12 Saya ketika daftar di Kemlu itu 23:16 saya masih tinggal di Cikampek. 23:17 Ehm, ehm. 23:19 Ya. 23:19 Alhamdulillah tuh tahap eh administratif 23:22 lolos ya, tahap bahasa Inggris lolos. 23:25 Ehm, ehm. 23:26 Ya. Nah, tinggal tahap terakhir 23:28 interview untuk jadi diplomat. 23:30 Heem. 23:32 Ketika itu tanggal berapa ya? 18 Juni 23:35 kalau enggak salah 2007. 23:38 Saya daftar di Kemlu, tinggal tes 23:40 terakhir. 23:42 Nah, itu hari Rabu jam 10.00 pagi. Tapi 23:45 saya masih di Cikampek. 23:46 Ehm. 23:47 Artinya kan besok pagi-pagi ba'da subuh 23:49 saya harus ke Jakarta. 23:50 Iya. 23:51 2007. 23:52 Selesai salat subuh saya 23:53 berangkat-berangkat. Siap-siap gitu ya 23:55 mau berangkat ke Jakarta. 23:57 Kata Umi saya, "Jangan." 23:59 "Salat duha dulu." 24:02 Akhirnya kan mesti nunggu syuruk dulu 24:03 kan. 24:03 Oh, udah buru-buru itu ya. 24:04 Hah, padahal udah buru-buru nih. 24:06 Bayangkan jarak Cikampek-Jakarta itu ya 24:08 minimal 2 jam lah. 24:09 Iya. 24:10 Nah, 24:11 salat duha dulu 2 rakaat. Akhirnya saya 24:14 nunggu syuruk, salat syuruk, salat duha 24:15 2 rakaat. 24:16 Nih, udah 2 rakaat, "Jangan." 24:19 "Tambah lagi 2 rakaat." 24:21 Se enggak sampai 4 rakaat. 24:22 Ehm. 24:23 Udah 4 rakaat, 24:24 "Selesaikan 12 rakaat." 24:27 Jadi selesai-selesai sekitar jam 09.00. 24:29 Wah. 24:30 Sisa berapa jam, Kang Angga? 1 jam ke 24:32 Jakarta cukup enggak kira-kira? 24:34 Enggak cukup. 24:35 Iya, iya. 24:36 Tapi Allah punya rencana. 24:37 Ehm. 24:37 Berangkatlah saya jam 09.15. 24:40 Ehm. 24:40 Ya, itu baru berangkat dari rumah ke 24:42 terminal itu setengah jam, Pak. 24:44 Iya. 24:45 Subhanallah, berangkatlah ke terminal 24:47 Cikampek ya, sampai di sana jam 09.30. 24:50 Sisa jam 24:52 ya sisa setengah jam. 24:53 Itu perasaannya gimana di jalan? 24:54 Subhanallah, saya udah 24:56 la haula aja dah. 24:57 Ehm. Marah ke Ibu enggak mungkin. Kan 24:59 begitu. Tapi ya saya cuma taat saja. 25:01 Allah saya cuma taat. Saya birrul 25:03 walidain lah pelan-pelan walaupun enggak 25:04 bisa maksimal kan begitu. 25:06 Naiklah Warga Baru. 25:08 Turun di Kampung Rambutan. 25:09 Hmm. Warga Baru tahu enggak? 25:11 Warga Baru itu 25:12 Itu bis. 25:13 Bis paling keren lah. 25:14 Bis legend itu. 25:15 Bis legend. 25:17 Legend bis itu dari Cikabek ke 25:19 mana ke Kampung Rambutan itu. 25:21 Atau ke Tanjung Priok ke mana itu. Orang 25:23 Cikabek bisnya Warga Baru. 25:25 Nih pendengar yang punya pengalaman itu 25:27 itu luar biasa. 25:30 Nah, itu dari 25:33 apa tiba di Kampung Rambutan terminal. 25:36 Itu jam berapa Kang Angga? Tambah 2 jam 25:38 Kang Angga. 25:38 Bis ini jam 11.00 dong. 25:40 Ah, jam 11.00. 25:42 Waktu sudah selesai kan. 25:43 Iya. 25:44 Sedangkan itu interview jam 10.00. 25:46 Tapi lah haul lah. 25:48 Nah, dari Kampung Rambutan ketika itu 25:51 tesnya itu di 25:53 eh Pusdiklat Kemlu. Itu depan kalau 25:55 sekarang ini 8 depan Senayan City. 25:58 Hmm. 25:58 Yang bunderan itu tuh ya. Pakai mobil 26:01 Mayasari Bakti. 26:03 Oh, Rambutan Blok M. 26:04 Ah, Rambutan Blok M. 26:06 Iya, Rambutan Blok M. 26:07 Rambutan Blok M. 26:08 Itu turun persis di situ tuh di patung 26:11 itu tuh ya. 26:11 Iya. 26:11 Yang bunderan itu. Karena ke situ ke 26:13 situ langsung jalan saja ya. 26:16 Dilalahnya itu ketika saya naik Mayasari 26:18 Bakti itu saya satu kursi 26:21 dengan tokoh yang luar biasa menurut 26:23 saya karena bajunya rapi, pakai dasi, 26:26 wangi betul. 26:28 Beliau di pinggir, saya yang di lorong 26:31 itu. 26:33 "Dek, mau ke mana?" "Saya mau ke 26:34 Pusdiklat Kemlu." 26:36 Itu yang nanya duluan? 26:37 Yang nanya dia duluan. 26:39 "Ada apa?" 26:40 "Saya mau interview Pak jadi diplomat 26:42 RI." 26:44 "Emangnya mau jadi diplomat? 26:46 Targetnya apa?" "Ya, saya ingin 26:48 membahagiakan orang tua." 26:50 Begitu. 26:52 "Maksudnya apa? Paling tidak kalau saya 26:53 jadi Dubes Haji, saya bisa hajikan, 26:55 umrahkan ibu saya tiap tahun. Saya 26:57 bilang begitu. 26:58 Jadi alasan saya itu innocent betul. 27:01 Jujur banget. 27:02 Jujur banget. 27:03 Ya itu kan alasan ini, alasan globalnya 27:06 apa? Saya bilang. 27:07 Ya alasan global Indonesia itu 27:09 resources-nya luar biasa. 27:10 Iya. 27:11 Ya, kemudian 27:13 ini harusnya kalau kita mainkan, ini 27:14 Singapura enggak ada apa-apanya. 27:16 Ehm. 27:16 Cuma ini eh 27:18 mental leadership-nya enggak ada. 27:19 Iya. 27:20 Begitu. Jadi harusnya kita ini raja 27:23 ASEAN, bahkan raja Asia. 27:25 Ehm. 27:26 Singapura saja enggak punya resources 27:27 saja bisa menentukan dunia, kan begitu. 27:30 Investor terbesar di publik kita. Kok 27:32 begitu? 27:32 Ehm. 27:33 Wah ini bicara panjang lebar, 27:34 kebangsaan, keislaman, internasional. 27:37 Rupanya ketika Mahesari berhenti di 27:40 Bundaran Patung itu, beliau turun juga. 27:43 Eh, beliau turun juga tuh. 27:45 Sudah ada perasaan belum tuh? 27:46 Saya saya enggak ada perasaan apa-apa, 27:48 saya enggak ada perasaan apa-apa. 27:49 Iya iya. 27:50 Eh ini 27:51 saya masuk, beliau masuk. Kaget juga 27:53 saya. 27:54 Mulai. 27:55 Dipanggil. 27:56 Ya, eh 27:58 Abdul Mutalib, ya saya. Mohon maaf Bu, 28:00 saya telat. Iya Bapak terlalu telat Pak. 28:02 Jam berapa? Masa 11.30 datang? Eh, mau 28:05 diinterview jam 10.00, Bapak datang 28:07 11.30. Tapi tenang Pak, pengujinya juga 28:09 baru datang. 28:12 Jangan-jangan. 28:13 Subhanallah. Akhirnya saya dipanggil 28:15 masuk ke ruangan, ternyata si Bapak 28:16 tadi. 28:17 Luar biasa. 28:19 Asli? 28:20 Asli, si Bapak tadi. Sehingga 28:23 interview-nya Pak Mutalib sudah tadi di 28:25 bis ya. 28:27 Boleh disebut namanya? 28:28 Kenapa? 28:30 Beliau almarhum. 28:31 Ehm. 28:32 Beliau almarhum. 28:33 Subhanallah. 28:35 Nah, lalu ketika pengumuman saya cek 28:37 nama saya dari bawah, enggak ada. Karena 28:39 yang diterima cuma 60. 28:41 Dari? 28:42 Dari bawah. 28:43 Yang yang daftar tuh ya 10.000 lebih. 28:45 Kaya ribuan ya. 28:46 Ribuan. Saya cek nama saya Terakhir 60 28:48 enggak ada 28:49 Cuma 9 enggak ada terus enggak ada, 28:51 rupanya nomor 1 kan enggak 28:52 Subhanallah 28:54 Yang telat itu 28:55 Yang telat 28:57 Jadi 28:57 Tapi telatnya karena tadi 28:59 Ya itu desain Allah, the power the power 29:02 of um itu of ummi luar biasa itu 29:05 Makanya 29:07 Eee benar kata Imam Ghazali bahwa ibu 29:09 itu Tuhan yang kelihatan 29:10 Emm 29:11 Ridhollah fi ridhol walidain, ridho 29:13 Allah ada pada ridho orang tua Jadi yang 29:15 meluluskan saya ibu saya sebetulnya 29:18 Jadi ujiannya di ibu itu 29:20 Ya kalau kita mau pikirkan sebenarnya 29:21 kan pengujinya belum datang telat dan 29:23 pengujinya naik Mayasari juga itu 29:25 juga 29:26 Pengujinya bisa naik Mayasari juga 29:28 Subhanallah 29:29 Luar biasa 29:31 Yang jelas beliau juga mantan duta 29:33 besar, sempat jadi duta besar RI untuk 29:34 PBB, ya bisa di searching lah 29:36 Luar biasa 29:37 Luar biasa beliau 29:38 Kalau lagi Ramadhan gini yang diingat 29:40 dari ummi apa? 29:42 Apa ya? 29:44 Eee 29:47 Kan kita kan berebut ingin mendapatkan 29:48 Lailatul Qadar 29:49 Emm 29:50 Tapi kita enggak berebut untuk 29:51 mendapatkan ridho Orang tua itu 29:53 Nah 29:55 Nah itu tuh 29:55 Bisa jadi kita berebut Lailatul Qadar 29:57 padahal mohon maaf itu masih ada barrier 30:00 Ya ada 30:01 Penghalang 30:01 Ada penghalang, ada gap antara kita 30:03 dengan Lailatul Qadar 30:04 Emm 30:05 Yaitu apa? 30:06 Eee Ummi dur kan begitu ya, pintu ibu 30:10 begitu 30:10 Iya iya 30:11 Kan Pak Mu, kan Pak Mu Talib kan ke luar 30:13 negeri ya bertahun-tahun 30:15 Emm 30:15 Pasti sosok ummi ini waktu ketika 30:17 belajar tuh diingat terus 30:20 Ya 30:21 Memang ibu saya itu mungkin seorang 30:25 perempuan yang luar biasa tangguh ya 30:28 Tangguh karena oh masalahnya luar biasa 30:33 Kemudian juga debit problematika nya 30:37 juga luar biasa 30:38 Iya iya 30:39 Jadi ada masalah-masalah yang menyangkut 30:42 perdata yang luar biasa 30:44 karena itu ya 30:46 saya ingin 30:49 pulang itu selesai dengan seluruh gelar 30:51 akademik begitu ya 30:53 agar bisa maksimal untuk membela orang 30:55 tua begitu 30:56 ya target saya bisa 30:58 membangunkan terbaik rumah untuk ibu 31:00 saya ya rumah dunia rumah akhirat kan 31:03 begitu 31:03 subhanallah 31:05 pengalaman kerjanya berarti selain di 31:08 kemenlu ya 31:09 iya 31:10 di kemenlu juga di UI bahkan ngajar 31:13 kalau ngajar pernah di mana saja 31:15 ngajar saya di UIN pernah di UIN Syarif 31:17 Hidayatullah Ciputat kemudian di UNJ 31:20 kemudian di 31:21 Al-Azhar 31:23 ya ya sekarang 31:25 karena kesibukan di UI begitu 31:28 jadi saya baru ngajar 2 tahun itu sudah 31:31 diangkat oleh rektor menjadi sekretaris 31:33 umum pusat kajian Timur Tengah dan Islam 31:36 begitu yang keduanya tadi disebutkan 31:39 oleh Kang Angga Muhammad Luthfi Zuhdi 31:41 oh Pak Luthfi Zuhdi ini narasumber kita 31:43 juga 31:43 iya jadi Pak Luthfi Zuhdi beliau 31:45 direktur Timur Tengah saya ketika itu 31:46 sekjen ya 31:48 nah kita punya gawean kala itu 31:50 menyiapkan draft 31:52 bagaimana ini membangun relasi UI dengan 31:55 Timur Tengah kan melulu ketika berbicara 31:58 apa itu 32:00 kerjasama internasional ya dalam bentuk 32:03 hibah untuk menguatkan tridharma itu 32:05 biasanya jalurnya Eropa Amerika Jepang 32:08 dan lain sebagainya 32:09 Timur Tengah 32:10 sebenarnya Timur Tengah luar biasa 32:11 padahal itu Raja Abdullah dia 32:14 itu punya King Abdullah Chair 32:17 jadi semacam dana hibah yang luar biasa 32:21 Raja Abdullah Saudi 32:22 As-Saudi yang digantikan oleh Raja 32:24 Salman hari ini 32:26 itu punya King Abdullah Chair ya semacam 32:28 funding ya untuk tridharma dalam jumlah 32:31 yang luar biasa Harvard punya 32:34 Oxford punya Cambridge punya 32:36 saya bilang 32:37 kenapa Indonesia yang mayoritas muslim 32:40 ini enggak punya King Abdullah Chair? 32:42 Iya, iya. 32:43 Begitu, saya melihat ini sebuah peluang. 32:45 Betul. 32:45 Bukan bukan untuk mohon maaf ini gerakan 32:48 primordialism, bukan ya. Tapi paling 32:50 tidak bantuan itu itu 32:53 sangat bermanfaatlah untuk mengembangkan 32:55 keilmuan, 32:56 Iya. 32:57 untuk mengembangkan riset dan lain 32:58 sebagainya. Kenapa? Karena relasi 33:01 Riyadh-Jakarta lebih kuat ketimbang 33:03 Riyadh Cambridge, Riyadh Riyadh Oxford, 33:05 Riyadh Amerika, kan begitu. 33:07 Iya. 33:07 Kenapa enggak kita? Apa alasannya? 33:10 Hmm. 33:10 Yang kedua, agar kita menampilkan bahwa 33:12 eh Indonesia ini punya kampus hebat juga 33:14 loh. 33:14 Betul, betul. 33:15 Ya, buktinya apa? Di Harvard ada dosen 33:17 dari Indonesia. 33:18 Hmm. 33:19 Ya, di Cambridge ada dosen dari 33:20 Indonesia. Kenapa enggak Indonesianya 33:21 yang diberi? 33:22 Dan waktu itu belum ada universitas 33:24 satupun yang afiliasi ke sana. 33:26 Belum ada. 33:26 Bekerja sama. 33:27 Bekerja sama Indonesia belum ada. Nah, 33:29 akhirnya saya dengan eh senior saya 33:32 Pak Dr. Muhammad Luthfi, kita bikin 33:34 draft. 33:34 Hmm. 33:35 Apa kira-kira ya yang bisa menjadi 33:38 trigger agar UI ini bisa dibuka jalurnya 33:41 untuk eh kerja sama dengan eh Raja 33:43 Abdullah kala itu. 33:45 Ternyata kita bicara dengan banyak 33:47 pihak, termasuk dengan Prof. Alwi Shihab 33:49 kala itu. 33:50 Ya, kata beliau yang paling pas itu 33:52 ngasih doktor honoris causa. 33:54 Hmm. 33:54 Kira-kira itu pintu masuknya begitu. 33:56 Iya, iya, iya. 33:57 Akhirnya eh saya melakukan riset 33:59 kecil-kecilan. 34:00 Hmm. 34:00 Buat proposal UI akan memberikan doktor 34:02 honoris causa ke Raja Abdullah. 34:04 Iya, iya. 34:04 Kira-kira bidang apa ya? Ternyata ketika 34:06 kita teliti Raja Abdullahnya luar biasa. 34:08 Hmm, hmm. 34:09 Dia banyak menyelenggarakan interfaith 34:10 dialogue. 34:11 Oh. 34:12 Ya, interfaith dialogue. Jadi ini kan 34:14 luar biasa. Kenapa? Mohon maaf, mohon 34:16 maaf. Itu Saudi itu kan terkenal dengan 34:20 eh monoteologisnya. 34:21 Ya. 34:21 Ya. Monoteologis dalam artian bukan 34:24 hanya eh apa itu Wahabi dengan yang luar 34:28 sana. 34:28 Hmm. 34:28 Antar ahlussunnah pun itu mereka menjaga 34:31 jarak, kan begitu ya. 34:32 Iya, iya. 34:33 Tapi Raja Abdullah ini luar biasa 34:35 interfaith dialogue di mana? Di Madrid. 34:37 Tadi saya mau menanyakan itu, kok bisa 34:39 begitu? 34:39 Nah itu ya, itu itu luar biasa. 34:41 Itu luar biasa jadi Raja Abdullah itu. 34:43 Jadi dia bikin interfaith dialogue di 34:45 Madrid. 34:46 Interfaith dialogue di Vatikan. Makanya 34:48 di mohon maaf ya di sekitar Vatikan Raja 34:50 Abdullah bangun mushola. 34:53 Sampai ke Vatikan ya? 34:55 Sampai ke Vatikan, luar biasa. Bukankah 34:57 itu dakwah? 34:57 Betul betul. 34:58 Dakwah kan itu harus ekspansif. 35:01 Ya. 35:02 Nah ya walaupun ada hal-hal yang memang 35:04 itu sangat debatable begitu ya. Nah 35:07 akhirnya kita buat doktor Hamdan Rasyid 35:10 bidang apa? 35:11 Bidang peace. 35:12 Perdamaian. 35:13 Perdamaian. Karena sebetulnya kegaduhan 35:15 ini kan itu puncaknya pertama adalah 35:18 kerakusan manusia. 35:19 Iya. 35:20 Nah beliau banyak memberikan sumbangan 35:22 luar biasa. 35:23 Akhirnya bidang apa? Peace and humanity. 35:26 Cocoklah. Akhirnya kita coba melakukan 35:29 komunikasi intens dengan Embassy Saudi 35:31 di sini, dengan Kemlu. Nah di situlah 35:34 saya merasakan begitu. Oh ternyata untuk 35:38 apa itu menjadi seorang tokoh atau 35:42 bagaimana bangsa kita dilirik oleh orang 35:44 lain dan kita punya agenda global 35:46 semacam Palestina itu harus punya debit 35:49 komunikasi yang kuat. 35:50 Betul. 35:51 Ketika itulah saya komunikasi dengan 35:52 Embassy Saudi, dengan Embassy, dengan 35:54 mana itu? Dengan 35:57 Kemlu Arab Saudi. 35:59 Terkadang mereka menggunakan bahasa Arab 36:01 enggak mau. 36:02 Pokoknya bahasa Inggris saja kan begitu. 36:04 Ada semacam kegengsian saya bilang. 36:08 Ketika kita tampilkan bahasa Arab yang 36:10 fusha ah 36:11 Baru. 36:14 Akhirnya subhanallah kalau pakai bahasa 36:16 Inggris itu 30 SKS tapi kalau pakai 36:18 bahasa Arab 1 SKS selesai urusan. 36:21 Luar biasa. 36:22 Ayo proposal dirubah. 36:24 Proposal diterima akhirnya. 36:25 Diterima. 36:26 Proposal semua diterima yang tadinya 36:28 pakai bahasa Inggris ubah pakai bahasa 36:29 Arab ternyata lebih cepat. 36:32 Bahkan kita dipertemukan dengan tim 36:34 dewan kerajaan. 36:35 Oh. 36:37 Tahun berapa ini Pak Mut Ali? 36:39 2000 36:40 2000 36:43 eee 2009 2010. 36:45 Ketika rektornya Pak Gumilar. 36:47 Iya iya iya. 36:48 Nah, artinya bahwa komunikasi itu 36:50 penting. 36:50 Betul. 36:51 Makanya Allah ketika nyuruh Musa untuk 36:53 mendakwahi Firaun qul lahu qawlan 36:55 layyinan. 36:56 Mmm. 36:57 Ya, dia Firaun tapi qawlan layyinan. 36:59 Mmm. 37:00 Itu komunikasi. Karena eee komunikasi 37:03 itu dia sebatas vehicle, kendaraan. 37:05 Iya. 37:05 Tapi sampainya pesan itu menjadi konten 37:08 yang wajib disampaikan. 37:09 Nah, ini nanti kita akan bahas lebih 37:12 dalam nih sesuai dengan kapasitas tokoh 37:13 kita. Tapi kita jeda dulu Ikhwan Akhwat, 37:15 tapi akan segera kembali setelah yang 37:17 satu ini. 37:47 Rabbi Sallim wa Sallim dan Rasil TV 37:49 untuk Islam yang satu Ikhwan Akhwat yang 37:50 dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala. 37:52 Terima kasih masih bersama kami sahur 37:54 bersama tokoh kami menghadirkan salah 37:56 satu tokoh 37:58 yaitu Pak Abdul Mutalib MA MIP PhD yang 38:02 saat ini beliau eee kesibukannya memang 38:04 di Universitas Indonesia ya di Sekolah 38:07 Kajian Strategis dan Global. 38:09 Dan juga beliau juga aktif menjadi 38:12 pembicara di berbagai bidang 38:15 ada yang acara keagamaan gitu ya, acara 38:18 pendidikan khususnya pendidikan ini di 38:20 bidang komunikasi, internasional, hukum 38:22 bahkan gitu ya. Dan beliau juga mengisi 38:24 banyak sekali seminar-seminar yang 38:25 kaitannya dengan Timur Tengah, khususnya 38:27 juga dengan Palestina juga beliau banyak 38:28 mengisi. 38:30 Dan saat ini kalau dari keluarga sendiri 38:33 sudah punya anak berapa Pak Muttaqien 38:36 Ali? 38:36 Alhamdulillah saya dianugerahkan oleh 38:39 Allah 38:40 satu orang putri, dua orang putra. Anak 38:42 pertama putri, Rifqa Sarwatul Jannah, 38:45 usia 13 tahun. 38:47 Yang kedua Ahmad Kaisan Khalifah, usia 38:50 sembilan tahun. 38:51 Mmm. 38:52 Ya, yang kemudian yang ketiga Ahmad 38:54 Nabil Khalifah, dua tahun tujuh bulan. 38:56 Oh. 38:56 Sebetulnya ada yang keempat, itu antara 38:59 yang ketiga dan keempat begitu, tapi 39:02 keguguran. 39:03 Keguguran ya. Tadi belum cerita itu 39:05 dapat istri orang mana? 39:07 Oh ya, jadi istri saya itu sebetulnya 39:10 asli Tasik ya, keluarga Cipasung. 39:12 Mmm. 39:12 Ya, keluarga Cipasung. 39:13 Jadi kenalan waktu di pesantren ini? 39:15 Eee apa ya, semi dijodohkanlah. 39:19 Semi dijodohkan. 39:20 Ah. 39:20 Ya, alhamdulillah saya 39:23 santri tulen begitu ya. Kalaupun 39:26 sekarang menjadi akademisi ya anugerah 39:28 dari Allah subhanahu wa taala. 39:30 Tapi saya dapat istri itu yang 39:32 sebetulnya secara kubu itu satu utara, 39:35 satu selatan. 39:36 Sangat beda. 39:37 Iya. 39:37 Istri saya itu mojang jajaka. 39:41 Makanya saya ketika dijodohkan cukup 39:43 kaget begitu. Banyak kawan-kawan 39:45 browsing. Ya. 39:47 Siapa sih istrinya Muttaqien Ali? Dicek. 39:49 Siapa namanya Bro? Saya bilang enggak. 39:51 Rupanya mereka tanya ke kawan-kawan. 39:54 Siapa sih istri Muttaqien Ali? 39:55 Ketemulah Ririn Rindi Ayati. Dicek di 39:57 Google tet tet tet tet tet tet. Rupanya 39:59 dapat itu mojang jajaka. 40:01 Wah, mojang jajaka kayak apa itu? 40:03 ini katanya santri tulen katanya. Enggak 40:06 pernah lepas air wudu, kemudian baca 40:08 Quran. 40:09 Kok dapat santri jajaka? Saya bilang 40:11 mana yang untung, mana yang diuntungkan? 40:14 Saya bilang ya 40:16 apa itu, ini anugerah dari Allah. 40:18 Mudah-mudahan dia tidak musibah dapat 40:20 saya begitu. 40:22 Bukan musibah, tapi ujian. 40:27 Nah, Ikhwanul Akhwat kami ini sekarang 40:29 ini eee di kediaman beliau ya, kalau 40:31 dilihat dari ini background-nya buku 40:33 semua ini. 40:34 Biasa buku. 40:36 Ada yang berbahasa Jerman tadi satu ya. 40:38 Bahasa Jerman. Baik Pak Muttaqali 40:40 melihat 40:42 eee perkembangan saat ini sebenarnya 40:46 saya sih 40:47 pengennya ke Indonesia dulu ya. 40:49 Bagaimana kita bicara 40:51 kebangsaan 40:52 ketika Pak Muttaqali tadi menyinggung 40:54 komunikasi ini sangat penting. Ehm. Di 40:56 akhir-akhir ini yang 40:58 banyak sekali disoroti oleh publik itu 41:00 adalah 41:01 eee komunikasi sosial pembangunan yang 41:02 dilakukan oleh pemerintah kaitannya 41:04 dengan masyarakat. 41:05 Sebenarnya apa sih yang perlu 41:07 yang perlu menjadi perhatian kita? 41:11 Ya, eee saya melihat bahwa 41:14 umat Islam itu bisa jadi nature 41:19 dan ada kalau dalam penelitian kami 41:23 didesain, dikotak-kotakan memang ada 41:26 tapi 41:27 volumenya itu karena nature kita. 41:30 Ehm. 41:31 Saya melihat misalkan ya. 41:33 Misalkan kita ketika berbicara tokoh 41:35 tertentu, partai tertentu 41:37 Ehm. 41:37 itu langsung mental block. 41:40 Ya. 41:41 Ya. 41:41 Jangan senang sama dia, jangan pilih 41:43 dia, jangan mungkin 41:46 sebetulnya andaikan dia partai tertentu 41:49 itu bisa menjadi bagian dari sarana 41:52 dakwah kita itu luar biasa. 41:54 Ehm. 41:55 Ya. 41:56 Saya pernah pernah dekat dengan mereka. 41:59 Ehm. 41:59 Kan begitu. 42:01 Saya lihat sebetulnya mereka itu menjadi 42:03 seperti itu karena 42:05 bahasanya enggak ada yang bisiki untuk 42:07 ke masjid, enggak ada yang bisiki untuk 42:09 ke hasil kan begitu. 42:11 Enggak ada yang bisiki untuk ke Alfatah 42:14 dan lain sebagainya, enggak ada yang 42:15 bisiki. 42:16 Heeh. 42:16 Sehingga yang membisiki adalah 42:19 orang-orang di luar sana. 42:20 Heeh. 42:20 Yang secara notabene itu justru adalah 42:23 kompetitor kita. 42:24 Heeh. 42:25 Ya, dalam kerja-kerja dakwah ini, 42:28 begitu. 42:29 Iya. 42:29 Contoh saja. 42:31 Ya, ini sebetulnya ada satu tokoh itu 42:33 yang luar biasa. 42:35 Luar biasa dia. Kalau kita cek 42:37 genealogisnya 42:39 sudah sah. 42:40 Heeh. 42:41 Ibu Fatmawati, istri Pak Karno. 42:43 Iya, iya. 42:44 Kurang apa Bu Fatmawati? Bapaknya ulama. 42:47 Heeh. 42:47 Dia sendiri dia ahli agama dan lain 42:49 sebagainya. 42:49 Heeh. 42:51 Ya, tapi isu Fatmawati menjadi hilang di 42:53 Republik ini. 42:54 Iya. 42:55 Ya, fokusnya kepada Bapak, bukan kepada 42:58 Ibu Fatmawati. 42:59 Heeh. 43:00 Coba kalau isu ini dinarasikan, 43:02 dikomunikasikan dengan baik. 43:05 Kita kembali berbicara. 43:07 Bagaimana kalau kita bikin hari 43:09 mengingat Ibu? 43:10 Heeh. 43:12 Kita ada hari Ibu, kan begitu kan? Ada 43:15 hari Ibu. 43:15 Iya. 43:16 Tapi apakah secara politis ini sampai 43:18 hari Ibu itu kepada Ibu kita? 43:21 Ini luar biasa. 43:23 Heeh. 43:23 Karena sekarang ini narasi genetik 43:26 apa genetik politiknya itu lebih kepada 43:29 Bapak. Yang ditampilkan foto Bapak. 43:31 Betul. Betul enggak Kang enggak? 43:32 Betul. 43:32 Ada enggak foto Ibu? 43:33 Enggak ada. 43:34 Enggak ada. 43:35 Heeh. 43:36 Kenapa? Karena Ibu itu penting. 43:38 Dia simbol kembali ke musala. 43:40 Heeh. 43:41 Dia simbol kembali ke mana itu ke 43:43 surau-surau. 43:44 Heeh. 43:44 Simbol kembali ke 43:47 ke apa itu kebenaran universal. 43:49 Heeh. 43:51 Ini harus diangkat. 43:53 Hasil, buat acara itu. 43:55 Kembali ke Ibu. Subhanallah. 43:58 Kenapa? Karena ada yang mengupayakan 44:01 untuk memisahkan dia dengan Ibunya. 44:04 Betul. 44:06 Paham yang saya maksud? 44:07 Paham, paham. 44:08 Paham enggak ya? 44:08 Iya, iya. 44:09 Ya, seolah-olah 44:11 ini enggak boleh ingat Ibu. 44:14 Karena ibunya luar biasa. 44:15 Padahal ibunya jalurnya ulama ini. 44:17 Uh. 44:18 Bengkulu ya? 44:19 Luar biasa, dahsyat. Jalur Bengkulu. 44:21 He em, he em. 44:22 Ulama. 44:23 Iya. 44:25 Ah. 44:26 Kita bikin acara kembali ke Ibu. 44:30 Ya, ada enggak? 44:31 Malah rumah sakitnya sudah ada. 44:33 Iya, rumah sakit Fatmawati. 44:36 Subhanallah. Ini yang saya sebut dengan 44:38 komunikasi. 44:39 Betul, betul. 44:40 Jadi, dalam dakwah itu kita tidak boleh 44:43 itu memasang mental blok. 44:46 Itu biasanya mental blok itu kan lahir 44:48 dari ya, dia dapat informasi itu. 44:50 Nah, itu masalahnya. Oke, bagi mereka. 44:53 Tapi bagi mereka yang punya literasi 44:55 yang luar biasa. 44:56 He em. 44:56 Karena sejarah Islam kan sampai Nabi 44:58 bilang begini, "Ya Allah, Islamkan salah 44:59 satu dari dua Umar." 45:01 He em. 45:02 Umar bin Khattab atau Umar bin Hisyam. 45:04 He em. 45:04 Katanya doa itu masih sangat relevan 45:06 hari ini, begitu kan? Karena dakwah itu 45:08 tidak mengalahkan. 45:10 He em. 45:11 Politik mengalahkan, itulah bedanya 45:12 dakwah dengan politik. 45:13 Iya. 45:14 Kalau ingin mengalahkan, Anda politisi. 45:18 Dakwah itu tidak pernah mengalahkan, 45:19 tapi dakwah itu apa? Merangkul. 45:21 Merangkul, mengajak. 45:24 Nah, hari ini forum dakwah kita 45:26 mengalahkan, itu masalahnya. Ingin 45:29 mengalahkan. Jadi, dalam hati isinya 45:31 apa? Dendam. 45:33 Padahal isinya apa? Kata Nabi, "Al 45:35 Islamu la yantaqim." 45:37 Islam bukan agama pendendam. 45:40 Ketika Isabel Ferdinand menghabiskan 45:42 genosida muslim di Andalusia, 45:44 Iya. 45:44 Spanyol ya. Cuma dikasih dua pilihan. 45:48 Kalau stay di sini, Anda tanggalkan 45:50 keyakinan, atau keluar. 45:53 Sehingga saudara kita pilih apa? Keluar. 45:56 Yang tetap di situ, 45:58 genosida. 45:59 Dihabiskan. 46:01 Di benua di mana itu di eh bangsa yang 46:04 lain, seorang raja Ottoman, Bayezid II. 46:08 Dia punya kepedulian. 46:10 "Saya akan melakukan hal yang sama yang 46:12 dilakukan oleh 46:13 Isabel dan Ferdinand 46:15 ya kepada 46:17 bangsa-bangsa semuslim saya di sana. 46:19 Maka saya akan melakukan hal yang sama. 46:20 Seluruh non-muslim 46:22 di Ottoman akan saya genosida." 46:24 Hmm. 46:25 Disiapkan pasukan. 46:27 Ketika disiapkan pasukan, akan melakukan 46:29 genosida serentak, seorang ulama datang, 46:32 "Al-Islamu la yantaqim." 46:34 Hmm. 46:34 Islam bukan agama pendendam. 46:37 Akhirnya mereda dia. 46:39 Nah, kita ini politik 46:43 mohon maaf ini, merusak tatanan dakwah. 46:46 Iya. 46:46 Bukan berarti umat Islam enggak boleh 46:47 berpolitik, harus. 46:50 Tetapi politik dakwah, bukan politik eh 46:53 threshold. 46:54 Mereka sudah bikin politik dakwah, cuman 46:56 tadi caranya. 46:57 Nah, 46:59 ini acara-acara seperti ini, acara rasi 47:01 dan lain sebagainya. 47:03 Subhanallah, saya sampai hari ini 47:05 alhamdulillah itu 47:07 eh apa ya, eh selalu keep touch eh 47:11 kontak dengan Pak Muin Hayat begitu. 47:12 Iya, iya. 47:13 Ya, dengan beliau. 47:15 Ottoman. 47:15 Insya Allah kita nanti Syawal berkunjung 47:17 ke Melbourne. 47:18 Oh, iya, iya. 47:19 dengan Pak Muin ingin apa dis- discuss 47:21 beberapa 47:23 karena ketemu itu ada data yang saya 47:25 enggak punya, beliau punya. 47:26 Beliau punya. 47:27 Ada beliau data enggak punya, saya 47:28 punya, kan begitu. 47:29 Hmm. 47:30 Karena kan beliau hari Senin atau hari 47:31 Selasa sih? 47:32 Senin ya rasi 47:33 Hari Senin 47:33 Senin pagi. 47:34 Saya selalu dengarkan tuh beliau. 47:36 Iya, iya, iya. 47:36 Karena beliau itu manusia bisa jawab 47:38 soal apapun. 47:40 Google berjalan istilahnya begitu. 47:42 luar biasa dahsyat. 47:44 Nah, kembali lagi kepada politik dakwah. 47:46 Iya. 47:47 Jadi, dakwah itu tidak mengalahkan. 47:49 Hmm. 47:49 Kalaupun bisa mengalahkan, maka yang 47:52 timbul apa? Dendam, dendam, dendam. 47:54 Maka politik dakwah itu merangkul. 47:56 Hmm. 47:56 Jadi, jangan pernah memberikan kebencian 47:59 kepada dia karena salah kita kita enggak 48:00 pernah masuk komunikasi kita seperti apa 48:03 sih sekarang ini 48:04 sehingga mereka mendesain ah karena saya 48:07 dianggap musuh kalian 48:08 musuh kami juga akhirnya begitu 48:12 apa yang kita juga terjadi secara global 48:15 iya 48:15 yang kita lihat bagaimana pertikaian di 48:17 Timur Tengah itu yang atas landasannya 48:19 dendam ditambah lagi ada sponsor dan 48:23 provokator 48:24 iya jadi 48:25 tepuk tangan pihak ketiga pihak keempat 48:27 begitu jadi Francis Fukuyama itu Kang 48:30 Angga sempat menulis buku The End of 48:32 History and The Last Man 48:33 bukan di Asian Drama ya 48:35 hah 48:35 ada juga yang Asian Drama ya 48:36 bukan bukan 48:37 ini Francis Fukuyama 48:39 itu buku itu ditulis momentum kejatuhan 48:41 Soviet 48:42 oh iya 48:43 iya 88 ya 48:45 maka eh Last Man nya adalah kapitalis 48:48 satu tahun setelah itu buku itu dikritik 48:50 oleh muridnya Samuel Huntington 48:52 iya 48:53 kita Samuel Huntington the teacher 48:56 Anda salah 48:58 itu Last Man nya itu bukan kapitalis 49:03 ya kalau Last Man nya kapitalis itu 49:06 masih banyak tuh negara-negara Timur 49:07 Tengah yang enggak hancur ya buktinya 49:10 Amerika enggak bisa masuk 49:11 iya 49:12 iya 49:13 kenapa karena bodyguard nya ada Rusia 49:15 katanya 49:17 iya sekarang lihat kondisi hari ini 49:19 Bashar Assad kan enggak jatuh-jatuh tuh 49:21 Bashar Assad tuh 49:21 iya 49:22 tentaranya sekuat apa sih 49:24 iya tapi kok enggak jatuh-jatuh dia 49:26 Husni Mubarak Mesir oh luar biasa Al 49:28 Sisi nya lebih dahsyat 49:29 iya 49:29 tapi Husni Mubarak jatuh apa artinya 49:32 faktor bodyguard 49:34 artinya apa bahwa 49:37 sosialis belum hancur 49:38 iya 49:39 iya dia dalam wajah yang baru yaitu 49:40 Rusia 49:42 kata Samuel Huntington jangankan 49:43 kapitalis jangankan sosialis keduanya 49:46 kalian kolaborasi 49:48 iya itu enggak akan pernah mampu untuk 49:50 mengalahkan dunia ketiga 49:52 Ehm. 49:53 Ya. Dia sebutkan itu salah satu 49:54 negaranya Indonesia katanya. 49:56 Iya, iya, iya. 49:57 Indonesia katanya dengan mana itu dengan 49:59 Malaysia-nya, dengan negara-negara Timur 50:02 Tengah yang lain. Itu kalau bersatu, you 50:04 are nothing. 50:05 Ehm. 50:05 Huntington itu. 50:06 Iya, iya. 50:08 Nah, agar tidak terjadi unity 50:10 dibuatlah teori namanya Islamophobia. 50:13 Asbabun nuzulnya begitu. 50:16 Ya. 50:16 The Clash of Civilization itu 50:18 Ah, The Clash of Civilization 50:20 Ehm. 50:20 Samuel Huntington. Makanya itu George W. 50:23 Bush, ya, ini George W. Bush Junior 50:25 Ehm. 50:26 dia melakukan empat propaganda 50:28 terminologi. 50:28 Iya. 50:29 Pertama HAM. 50:31 Yang kedua teroris. 50:32 Ehm, ehm. 50:32 Kemudian yang ketiga Islamophobia. Yang 50:35 keempat terakhir ini nih 50:37 yang disebut dengan Great 50:39 Middle East. 50:41 Timur Tengah Raya. 50:42 Ehm. 50:42 Jadi siapapun dia walaupun di luar zona 50:46 geografis Timur Tengah semacam 50:48 Afghanistan, Iran 50:50 kemudian Turki. Ini kan enggak termasuk 50:52 Timur Tengah ini. 50:53 Iya. 50:53 Disebutnya apa? The Great Middle East. 50:55 Ehm. 50:56 Pokoknya siapapun deh 50:57 yang pakai peci kayak Kang Angga, kan 50:59 begitu. Yang 51:01 bercahaya, berwudhu seperti Kang Angga 51:03 begitu. Dia itu The Great Middle East. 51:06 Ehm. 51:06 Jadi ini Timur Tengah ini bukan sekedar 51:09 nama geografis zona 51:11 tapi dia sebuah ideologi kebencian. 51:14 The Great Middle East. 51:16 Iya. 51:16 Itu ditelurkan oleh siapa? Oleh George 51:18 W. Bush Junior. 51:19 Iya. 51:20 Dia begitu 51:22 menelurkan itu tuh. Nah, ini yang 51:24 disebut dengan kelompok eksternal. Jadi 51:25 memang hari ini permasalahan jadi 51:27 complicated. 51:27 Iya, iya. 51:28 Tapi saya lebih tertarik kita berbenah 51:31 dari dalam. Melakukan konsolidasi. 51:33 Ehm. 51:33 Ya, kalau bahasa kasarnya nunggu 2024 51:35 rapi-rapi rumah dulu. 51:39 Ya, rapi-rapi rumah kita, ya, anak belum 51:42 mandi tolong dimandikan. Istri belum 51:45 cantik pakai gincu digincukan, tapi di 51:47 dalam saja. 51:48 He eh. 51:49 Kan begitu. Kemudian ya masih pabala 51:51 taklah kalau istilahnya. Maka dirapikan 51:54 dulu. 51:54 Berbenah dari dalam ya ya ingat ketika 51:57 eh Islam yang terpecah-pecah ini ulama 51:59 Mesir pernah mengatakan itu ya. 52:01 Sebenarnya bukan Amerika yang hebat, 52:03 Barat yang hebat, Israel yang hebat 52:04 karena memang kitanya saja lagi 52:06 tercabik-cabik kitanya enggak bersatu. 52:08 Betul. 52:09 Ini kan misi misi persatuan bukan misi 52:11 yang mudah Pak Mutalib di saat ini nih. 52:13 Betul. Betul. 52:15 Bahkan menurut saya bukan hanya visi 52:17 bukan hanya misi ya misi persatuan ini 52:19 menjadi ada sebagian kalangan kita 52:21 enggak usah bersatu karena hadis Nabi 52:23 nya saja katanya 52:24 Berpecah. 52:24 Berpecah begitu Nabi berdoa dengan tiga 52:26 permintaan dua dikabul satu ditolak. 52:28 He eh. 52:29 Ya kita beriman kepada Nabi sudah enggak 52:31 usah bersatu dulu. 52:34 Saya bilang enggak begitu memahaminya. 52:36 Jadi tetap bahwa ikhtiar itu sebuah 52:39 kewajiban. 52:41 Ya Ikhwan wal Akhwat yang dirahmati 52:43 Allah Subhanahu wa Ta'ala luar biasa 52:44 tadi ya cerita 52:46 dari sosok kita ini saya 52:49 bagaimana juga sebenarnya Pak Mutalib 52:51 kami ingin 52:53 menggali ya 52:55 di kondisi saat ini 52:57 banyak orang yang mengira dan juga 53:00 memprediksi 53:02 Perang Dunia Kedu Ketiga itu akan 53:05 terjadi. 53:05 Akan terjadi belum maksudnya enggak lama 53:07 lagi. Akan terjadi enggak lama lagi. 53:10 Ya. 53:11 Pak Mutalib melihat politik global ini 53:13 gimana sebenarnya? 53:14 Ya memang kalau melihat 53:18 saya lebih tertarik nyebutnya konflik ya 53:20 tidak tidak invasion gitu. Kalau 53:21 invasion berarti saya dukung Ukraine 53:23 dong. 53:24 Gitu ya. Jadi memang 53:27 Putin itu tinggal tekan tombol nuklir 53:30 maka selesai ini luar biasa akan terjadi 53:32 Perang Dunia Ketiga. Jadi 53:35 eh NATO dan Amerika dia tidak berani ya 53:39 secara sekonyong-konyong membantu 53:40 Ukraine. 53:41 He eh. 53:42 Karena mereka tidak tahu Rusia punya 53:43 apa, begitu. Beda dengan beberapa negara 53:46 yang sering pamer, begitu ya, show up, 53:49 show force, begitu, nuklir ya, dan lain 53:50 sebagainya. 53:52 Nah, sehingga ya, Cina, kemudian Amerika 53:55 dan lain sebagainya, itu tidak merasa 53:58 takut, termasuk Korsel tidak merasa 53:59 takut dengan saudara sebelahnya. 54:02 Begitu, karena mereka sangat paham nih, 54:04 Korea Utara punya apa. Tapi kalau Rusia, 54:06 dia melakukan eksplorasi nuklir, 54:08 penelitian tentang apa, dia enggak 54:09 pernah bilang-bilang. 54:10 Betul. 54:11 Begitu. 54:12 Ini yang membuat Amerika eh, 54:14 bertanya-tanya, ini akan dikeluarkan apa 54:17 sih oleh Putin nih. 54:18 Begitu. Nah, dalam pada itu, 54:21 itu mereka tidak berani untuk membantu 54:23 Ukraina. Tapi yang menarik adalah 3 hari 54:26 ke belakang, ketika 54:28 eh, Vladimir Zelensky ditelepon oleh 54:30 Naftali Bennett, Perdana Menteri nya 54:32 Israel, begitu. Anda sudah hentikan, 54:34 ikuti syarat dari Putin. 54:36 Karena terlalu banyak korban yang 54:38 berjatuhan. 54:39 Anda punya apa sih? 54:40 Iya. 54:41 Kami juga enggak bisa bela. 54:42 Sudah Anda rapi-rapi, beberapa peneliti 54:45 tarik ke bunker, 54:46 dan beberapa zat kimia yang sudah kita 54:48 konstruksi, taruh di bunker. 54:50 Ini di-announce oleh Reuters. 54:55 Jadi, kita tahu tali-temali. Saya 54:57 diminta oleh beberapa TV ini lewat kawat 54:59 nih. 54:59 Hah? 55:00 Lewat kawat, terbaca oleh Reuters. 55:04 Saya gimana itu tim media apa istana 55:08 Ukraine itu, kok tidak tidak serapih 55:10 itu. 55:11 Makanya menarik sekali itu jepretan Al 55:15 Jazeera. 55:16 Ya. 55:17 Ini eh, konflik Israel, konflik eh, 55:21 Russia, Rusia dengan Ukraina ini, 55:24 ya, ini lebih kepada ketidakpiawaian, 55:28 ketidakcakapan seorang presiden, 55:31 katanya. Inilah akibatnya jika presiden 55:33 tidak punya eh, ability nya ini. Menarik 55:37 sekali nih jepretan Al Jazeera ini. 55:41 Nah, berat tadi yang saya diminta oleh 55:43 beberapa TV nasional, Pak Mutalib tolong 55:44 dong eh pengamat Timur Tengah membahas 55:47 Rusia dan Ukraina, saya bilang jangan. 55:49 Itu kapling kawan-kawan kita ahli ahli 55:51 Eropa saya bilang. Janganlah Timur 55:53 Tengah masa bahas itu. 55:54 Iya. 55:55 Eh, ternyata sekarang Naftali Bennett 55:57 menelepon Zelensky. Ah, akhirnya kita 56:00 harus masuk ini. Wah, ini ada apa-apanya 56:02 nih ada unsur la tanzur manzur bin 56:04 manzarun zuri. 56:05 Iya, mulai kebuka. 56:07 Baru kebuka. 56:09 Dan ternyata itu direspon kawat ini oleh 56:12 Putin. 56:13 Iya. 56:13 Jika Anda tidak menghentikan invasi ke 56:17 Palestina, maka saya tidak akan pernah 56:19 menghentikan. 56:20 Kirain itu hanya statement politis saja. 56:22 bukan ini serius serius ya. 56:24 Akhirnya kita jadi bertanya-tanya. 56:27 He eh. 56:27 Apakah ini yang dimaksud dengan Al 56:29 Maidah ayat 82? 56:31 He eh. 56:31 La tajidanna asyaddan nas adawatan 56:33 lilladzina amanu Yahuda 56:36 walladzina asyrakhu. 56:37 He eh. 56:38 Kita akan mendapatkan ya orang-orang 56:41 yang sangat besar permusuhannya 56:44 kepada orang-orang yang beriman yaitu Al 56:46 Yahuda 56:46 Al Yahuda. 56:47 orang-orang musyrik. 56:48 Musyrik. 56:49 Pada saat yang bersamaan Allah 56:50 melanjutkan wala tajidanna aqraba 56:52 mawaddatan lilladzina amanu alladzina 56:54 qalu inna nasara. 56:56 He eh. 56:57 Pada saat yang bersamaan nanti ada 56:58 pihak-pihak justru yang sangat dekat 57:01 dengan kita yaitu orang-orang Nasrani. 57:05 Jadi dalam terminologi politik istilah 57:07 kisisin itu Kristen Ortodok. 57:09 Kisisin. 57:10 Iya, kisisin itu Ortodok. 57:13 Begitu, dia tidak follow Vatikan. 57:16 Oh, banyak itu. 57:17 Eh. 57:19 Dia tidak follow Vatikan. 57:20 Saya jadi teringat 1453 ketika Al Fatih 57:24 itu menaklukan Konstantin itu kan enggak 57:27 sendirian juga dibantu oleh Rubah 57:28 Iya. 57:29 oleh Hungaria ahli. 57:30 Nah, terkadang ini yang disebut dengan 57:33 kepiawaian dalam dakwah. 57:35 Ehm. 57:35 Kita jangan menganggap di luar kita 57:37 musuh semuanya. Terkadang untuk tujuan 57:40 global, kita mesti menggunakan kawan 57:44 yang di luar kita. 57:45 Karena bisa jadi tujuan politik, tujuan 57:47 global sama kita. 57:49 Ehm, ehm. 57:51 Nah, ini jadi 57:52 saya kira apakah itu akan terjadi dunia 57:54 ketiga dan lain sebagainya, ini menjadi 57:56 terang benderang. 57:57 Ehm, ehm. 57:58 Ya, dunia Islam hari ini, mohon maaf ya, 58:00 mohon maaf, 58:01 humbuknya terlalu banyak. Arab Spring, 58:04 2008 sampai sekarang ke mana muaranya, 58:06 Kang Angga? 58:07 Betul. 58:08 Ya, Suriah butuh waktu 400 tahun untuk 58:11 recovery. 58:12 Ehm. 58:12 Yaman butuh tahun 150, 150 tahun untuk 58:15 recovery. 58:16 Betul. 58:16 Dan enggak jelas kapan selesainya. 58:18 Iya. 58:19 Kita cek, saya pernah ikut eh apa 58:21 evakuasi masyarakat kita dari Yaman 58:23 melalui Jizan, begitu ya. 58:25 Tuh, saya ketemu dengan beberapa 58:28 jurnalis begitu. Itu bom-bom apa, apa 58:31 istilahnya ya, peluru-peluru yang 58:32 digunakan. 58:33 Iya. 58:34 Ya, oleh mereka yang bersengketa di di 58:37 Yaman. Ternyata pelurunya made in dua. 58:39 Made in Washington and Moskow. 58:41 Ya, aduh. 58:42 Jadi rupanya kita ini cuma destinasi 58:45 korban saja begitu, aksi jual beli 58:47 senjata dan lain sebagainya. 58:49 Jadi di dunia ini ya, produsen perang 58:50 tuh masih itu. 58:51 Nah, jadi selama masih ada perang, 58:53 produksi ini luar biasa. 58:54 Stok barang masih banyak kayaknya, Kang 58:56 Angga. Itu masalahnya. 58:57 Nah, ini yang jadi di jajahan ini jadi 58:59 sorotan juga ketika stok barang masih 59:01 banyak, konflik kan harus ada terus. 59:03 Nah, itu masalahnya. Nah, maka di 59:05 sinilah Barat yang berbicara humanity, 59:07 Ehm. 59:08 human rights, 59:09 Ehm. 59:09 di mana, you are di mana? 59:11 Ehm. 59:12 Ini what the maksud ini, apa HAM itu 59:14 what the maksud? Kan begitu. Magna 59:17 Charta itu what the maksud? 59:20 Saya ingat 59:22 ya, ketika kita mengulas eh konflik 59:25 Timur Tengah bersama almarhum Dr. Jose 59:27 Rizal ya. 59:27 Heeh. 59:28 Pesan beliau itu 59:29 umat Islam ini harus tahu siapa musuh, 59:33 siapa kawan, 59:34 Heeh. 59:34 siapa lawan, siapa kawan. Tadi kan 59:36 disinggung, ya. Umat ini harus tahu mana 59:38 kawannya, gitu. Nah, musuh bersamanya 59:41 ini kadang-kadang 59:44 dia juga pakai orang-orang Islamnya 59:46 sendiri itu untuk dijadikan musuh kita 59:49 di dari dalam. Ini gimana, Pak Mutalim? 59:51 Selama kita menjadikan 59:53 saudara satu kiblat kita musuh, 59:56 Heeh. 59:56 maka kita akan sangat kesulitan. 59:58 Heeh. 59:59 Kasus Palestina itu, 1:00:01 Heeh. 1:00:01 ya, 1:00:02 selain masalah Israel, tapi di situ ada 1:00:06 the great homework, itu faksi-faksi. 1:00:09 Iya. 1:00:10 OKI itu didirikan, didesain, ya, 1967. 1:00:14 Itu memang khusus menangani Palestina. 1:00:16 Heeh. 1:00:17 Tapi dengan berjalannya waktu, nyaris, 1:00:19 ya, sejak 1970 sampai hari ini, bahkan 1:00:23 2015 kita sempat menjadi apa tuan rumah 1:00:26 pertemuan darurat itu, ya. 1:00:27 Iya. 1:00:28 Yang diundang faksi 1:00:30 X, faksi Y enggak diundang. 1:00:32 Heeh. 1:00:33 Padahal ketika dua faksi ini bisa duduk 1:00:35 bersama, itu 50%, 1:00:37 Heeh. 1:00:38 ya, kemerdekaan di tangan. 1:00:39 Iya. 1:00:40 Mohon maaf, dengan segala 1:00:42 eh apa itu debatable kita terhadap 1:00:45 Mursi, ya. 1:00:46 Heeh. 1:00:46 Tapi Mursi, dia 1:00:48 presiden dunia Islam pertama, mungkin, 1:00:52 Heeh. 1:00:52 satu minggu setelah haji angkat jadi 1:00:54 presiden dilantik, 1:00:56 berhasil mendudukkan Hamas dan Fatah di 1:00:58 Kairo. 1:00:58 Betul. Rafah terbuka. 1:01:00 Wah, Rafah terbuka. Padahal membuka 1:01:02 pintu Rafah sama dengan menembak kaki 1:01:04 sendiri, itu. 1:01:05 Iya. 1:01:05 Ya, karena perjanjian Camp David, ya, 1:01:07 itu kalau Rafah masih tertutup, maka 1:01:11 kacang kedelai gratis. 1:01:13 Heeh. 1:01:13 Ya, subsidi bahan makan pokok gratis, 1:01:15 kesehatan juga banyak subsidinya. 1:01:17 Heeh. 1:01:18 Dengan syarat ditutup Rafah. Dibuka, 1:01:21 maka yang gratis-gratis tadi jadi jadi 1:01:23 tidak ada. 1:01:23 Heeh. Makanya ketika Rafa dibuka, 1:01:26 mahal-mahal harganya luar biasa. 1:01:28 Begitu. Nah, Mursi satu minggu selesai 1:01:31 dilantik, itu bisa menundukkan Fatah. 1:01:33 Apa yang terjadi setelah itu? 1:01:35 Kantor PLO di Washington tidak bisa 1:01:37 diperpanjang. 1:01:39 Banyak konsekuensinya. 1:01:40 Nah, itu konsekuensinya. 1:01:42 Ya, artinya apa? Memang sangat 1:01:44 complicated. Jadi, perjuangan itu itu 1:01:48 dia seperti minum jamu. Pahit di 1:01:51 awalnya. Pahit dalam artian ya kita 1:01:54 belum tentu di Jadi, kita dapat unfollow 1:01:57 terus. Kalau diibaratkan kita seorang 1:01:59 penggiat media, kan? 1:02:01 Enggak akan di-follow, unfollow. 1:02:03 Perjuangan itu gitu. 1:02:04 Perjuangan itu begitu. 1:02:05 Unfollow, pasti itu. 1:02:07 Tapi orang minum madu, kan, pahit. 1:02:09 Ujungnya gimana tuh, Kang? 1:02:11 Sembuh. 1:02:12 Sembuh, menyehatkan. 1:02:14 Heeh. 1:02:14 Nah, bisa jadi kita sekarang dunia masih 1:02:17 ada, kita masih saya diwawancara orang 1:02:19 rasis, tukang putu tadi jalan di waktu 1:02:22 subuh, dia mau mau sahur, kan, begitu 1:02:24 ya. 1:02:25 Jadi, luar biasa. Jadi, nyaman ini. 1:02:27 Jadi, jangan-jangan nyamanan kita ini 1:02:29 karena 1:02:31 dibayar oleh darah-darah para syuhada 1:02:33 Palestina. Sehingga bumi ini masih 1:02:35 berjalan terus, kan, begitu, kan? 1:02:37 Iya, iya. 1:02:37 Subhanallah, ini 1:02:39 luar biasa, saya kira. 1:02:41 Nah, apakah akan terjadi perang dunia 1:02:43 ketiga? Saya bilang wallahualam. Tapi 1:02:46 indikasinya memang ada. Kapan pun bisa 1:02:48 ada kalau Rusia mau. Nah, dari sini kita 1:02:51 tahu kalau Rusia tidak mencet tombol, 1:02:54 dia akan memencet tombol andaikan 1:02:56 Naftali Bennett menghentikan. 1:02:58 Apa artinya bahwa seorang Putin yang 1:03:01 katanya otoriter, dia masih punya heart. 1:03:03 Heeh. 1:03:04 Dia masih punya hati. 1:03:06 Karena itu berbicara Palestina, keluar. 1:03:08 Jangan berbicara Al Quds. Tapi berbicara 1:03:10 humanity. 1:03:11 Kemanusiaannya dulu. 1:03:12 Tapi ketika di internal kita, kita 1:03:14 berbicara Al Quds. Karena kalau 1:03:15 berbicara ini Hamas, ini Fatah dan 1:03:18 sebagainya. 1:03:20 Itu wal khilafu 1:03:22 luar biasa. 1:03:24 Seperti halnya di negeri ini juga lah, 1:03:26 kalau sudah bicara itu ya. 1:03:27 Begitu, maka internal kita kita 1:03:28 berbicara Al Quds itu ada kiblat pertama 1:03:30 kita. 1:03:31 Iya. 1:03:32 Ya, itu ada Palestina. Bahkan kata Nabi, 1:03:34 tempat kita kumpul, tempat kita dan lain 1:03:36 sebagainya dalam hadis Nabi. 1:03:38 Baik, Pak Mutalib ini penginnya sih 1:03:39 terus ya, cuma sayang sekali ini kita 1:03:41 dibatasi oleh waktu. Sebagai penutup Pak 1:03:44 Mutalib, karena kita ini kan di momen 1:03:46 Ramadan ya. Kalau renungan dari Pak 1:03:48 Mutalib sendiri singkat untuk ikhwan dan 1:03:50 akhwat, ini apa yang ingin disampaikan? 1:03:54 Baik, terima kasih Kang Angga. Ramadan 1:03:57 ini saya kira ini refleksi 1:03:59 kita untuk membersihkan diri kepada 1:04:01 Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 1:04:02 Perang Badar itu informasinya 1:04:05 itu satu hari sebelum diumumkan 1:04:08 kewajiban puasa. 1:04:09 Begitu, jadi ketika diumumkan bahwa 1:04:12 suatu saat nanti kita akan di-challenge 1:04:15 kita diwajibkan untuk hadir di medan 1:04:17 laga, yaitu Perang Badar. 1:04:19 Karena sebelumnya orang-orang Yahudi, 1:04:21 orang-orang Nasrani itu 1:04:23 ya, dan beberapa komunitas yang lain itu 1:04:26 keluar dari barisan, begitu. 1:04:28 Nah, setelah turun ayat itu Al Baqarah 1:04:31 216, ya, kutiba alaikumul qitalu wa 1:04:33 kurhun lakum. Diwajibkan atas kalian 1:04:35 berjuang, padahal kalian enggak suka. 1:04:37 Itu para sahabat sedih. Kaum muslimin 1:04:39 sedih. 1:04:40 Tetapi 1:04:41 ya, esok harinya turun ayat apa itu? 1:04:44 Berpuasa. Nah, para sahabat senang 1:04:45 betul. Jadi puasa itu adalah modalitas, 1:04:48 puasa itu membersihkan diri. 1:04:50 Kita hari ini banyak cari muka, begitu 1:04:53 di zaman fitnah karena sulit mungkin 1:04:54 nyari ini, makan itu dan sebagainya. 1:04:57 Akhirnya kita sangat pragmatis. Nah, 1:04:59 puasa itu sebetulnya refleksi 1:05:02 mana sebetulnya pejuang-pejuang yang ee 1:05:05 hatinya ikhlas, mana NGO-NGO yang 1:05:07 hatinya ikhlas, mana civil society yang 1:05:09 hatinya ikhlas. Karena keikhlasan itu 1:05:12 diperlukan untuk persatuan. Bersatu 1:05:14 tanpa ada keikhlasan sangat berat. Saya 1:05:17 kira itu Kang Angga dan pemirsa Rasel 1:05:19 Baik. 1:05:20 Luar biasa, terima kasih banyak Pak 1:05:22 Muhtal ini atas waktunya dan juga 1:05:24 sharing-sharing ceritanya ini, semoga 1:05:26 memberikan inspirasi untuk pendengar dan 1:05:29 juga pemirsa di manapun saja Anda 1:05:30 berada. 1:05:31 Sekali lagi terima kasih. 1:05:33 Sama-sama. 1:05:33 Semoga Pak Muhtal Pak Muhtal ini selalu 1:05:35 sehat. 1:05:35 Amin. 1:05:36 Dan jangan jangan jadi yang terakhir ya, 1:05:38 nanti kami undang juga ke Rasel. 1:05:40 Insya Allah. 1:05:41 Mudah-mudahan jadi narasumber Rasel 1:05:42 nantinya. Pokoknya bersua dengan ikhwan 1:05:44 dan akhwat. Kami undur diri ikhwan 1:05:45 akhwat, mohon maaf atas segala kesalahan 1:05:47 kata. Billahi taufiq wal hidayah. 1:05:49 Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu 1:05:51 alla ilaha illa anta astaghfiruka wa 1:05:53 atubu ilaik. Assalamualaikum 1:05:55 warahmatullahi wabarakatuh. 1:05:56 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:05:58 wabarakatuh.