Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Wasatu
- wasalamu ala Muhammad wa
- ajid allahumani
- bimaamani dipancarkan dari jalan masjid
- silaturahim nomor 36 Kalimantan Cibi
- Bubur Bekasi, radio silaturahim dan juga
- rasil visual untuk Islam yang satu.
- Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah
- subhanahu wa taala, apa kabar Anda di
- waktu sahur kali ini? Semoga selalu
- dalam keadaan sehat walafiat dan segala
- sesatunya selalu dilancarkan oleh Allah
- subhanahu wa taala. Senang sekali saya
- Angga Aminuddin dapat kembali menyapa
- Anda di mana pun Anda berada. Menemani
- waktu sahur
- Anda. Di mana pun Anda berada saat ini
- dapat mendengarkan siaran kami daerah
- Batang dan sekitarnya melalui Radio
- Salah FM. Anda yang berada di daerah
- Sukabumi dan sekitarnya melalui Radio
- Latansa FM. daerah Banyuwangi melalui
- suara Habibullah dan juara hasil
- Semarang yang berada di daerah Semarang
- dan sekitarnya. Dan juga alhamdulillah
- kita di tahun ini sudah mengudara di
- daerah Jogja melalui Radio Silaturahim
- Jogja dan juga bagi Anda yang berada di
- daerah Gorontalo melalui Radio Poliama
- di acara sahur bersama tokoh edisi kali
- ini kami mendatangkan salah satu tokoh
- pemuda. Nah, biasanya kan tokoh-tokohnya
- tuh yang usianya sudah agak-agak di atas
- gitu ya. Nah, sekarang saya kami rasil
- mengundang tokoh pemuda dari pimpinan
- pusat pemuda Muhammadiyah yaitu ketuanya
- langsung baik Bang Dahnil Ankar.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Jadi sejak
- sejak 2014 ya? Iya
- saya sejak 2014nya saya ketua pimpinan
- pusat salah satu. Iya iya. Ada ketua
- umum, ada ketua. Hm. Jadi periodenya 5
- tahun ya, periodenya 4 tahun. Pemuda
- Muhammadiyah itu 4 tahun. Saya 2014
- sampai dengan 2018 akhir. Kenapa enggak
- disampaiin sama Presiden 5 tahun? Jadi
- pemuda Muhammadiyah itu kan ee
- organisasi kader ya. Kalau Muhammadiyah
- 5 tahun, maka pemuda Muhammadiyah 4
- tahun, nanti ke bawah lagi IRM IPM cuma
- 2 tahun. Kenapa? karena ee sebagai
- organisasi kader dia harus terus apa ya
- berproses. Kemudian di ee kalau dalam
- dakwah itu ada marhalah dakwah kira-kira
- ada tahapannya. Nah, ini bagiannya. Jadi
- ee pilihan pemuda Muhammadiyah
- periodisasinya itu ya 4 tahun itu. Baik.
- Aktivitasnya bagaimana nih, Bang Dahnil?
- Kayaknya kayaknya sibuk banget kayaknya.
- Saya seperti biasa rutinitas saya
- mengajar. I, saya dosen di Universitas
- Negeri Sultan Agamaasa setiap hari di
- Fakultas Ekonomi dan Bisnis ya. Kemudian
- selebihnya saya di ee Pemuda
- Muhammadiyah dan juga ya bisnis ya untuk
- apa untuk ee menjaga biasanya saya
- menggunakan berbisnis itu untuk menjaga
- marwah ee gerakan, kemudian marwah diri
- begitu ya agar ee secara ekonomi juga
- harus bercukupan. dosen. Saya pikir saya
- dosen di Universitas Negeri. Jadi ee
- tapi yang jelas ee apa namanya? Anda
- tahu sendiri gajinya PG seperti itu.
- Selain itu saya juga punya beberapa ee
- bisnis ya terutama properti dengan
- perkebunan. Dan yang hot Bang Dahnil
- juga aktif menulis dan buku terbaru ini
- ada di tangan saya judulnya Nalar
- Politik Rente.
- Ini buku saya ke-elapan. Buku keedelapan
- terbaru ya. Iya. Nalar politik rente ini
- ee trilogi dari tiga buku ya. Ada
- pertama judulnya Akrobat Pembangunan.
- Iya. Ee kemudian kedua dinasti rente.
- Kemudian yang ketiga ini nalar politik
- rente. Jadi temanya ya seputar tentang
- apa perilaku perilaku ee apa politik
- Indonesia yang yang bingkai politiknya
- itu berburu rente, berburu ee apa
- keuntungan pribadi ya. Iya. I itu
- seperti jadi lahan bisnis bagi politisi
- kita untuk menumpuk harta bukan untuk ee
- memberikan pelayanan kepada ee
- masyarakat. Mengangkat penyimpangan gitu
- ya. Penyimpangan yang terjadi di negeri
- ini. Kalau dilihat dari bukunya ini ada
- satu ee endorsement dari novel Baswedan
- gitu ya. Ada juga Busro Muqadas. Kalau
- ikhwan akhwat ee aktif di media sosial
- apalagi Twitter pasti akan dekat sekali
- nih dengan sosok Dahnil Anzar Simanjunta
- ketika ee mengetik nama novel Baswedan
- gitu ya. Bahkan sampai sekarang itu akun
- Twitter-nya masih di angka iya masih di
- nama-namanya 300 saya menghitung hari
- bagi saya itu simbol simbol untuk
- mengingat publik ya. di Twitter saya itu
- saya berganti setiap hari misalnya
- seperti ini ya saya tunjukkan ini hari
- ini
- 3009 hari
- 339 hari jadi memang pelaku penyerangan
- belum tertangkap ee belum tertangkap itu
- cara saya untuk apa mengingatkan publik
- e ada satu peristiwa peristiwa yang
- belum terungkap sama sekali hampir 1
- tahun jadi saya sengaja terus menghitung
- hari setidaknya publik ingat Oh, ini
- kenapa kok ada orang yang ngitung hari
- gitu? Ini perhitungan bahwasannya oh iya
- ini belum diselesaikan. Banyak
- kasus-kasus besar, kasus-kasus yang high
- profil itu gak tuntas sama sekali. Nah,
- walaupun saya diledek ngapain sih
- ngitung hari tapi bagi saya sebagai apa?
- Sebagai simbolisasi movement, gerakan
- itu penting. Nah, kenapa saya memberikan
- perhatian khusus bagi kepada novel? Ya,
- bagi saya penyerangan terhadap novel itu
- bukan cuma penyerangan terhadap novel
- secara pribadi, tapi itu adalah serangan
- terhadap agenda pemberantasan korupsi.
- Tambah lagi secara pribadi saya dengan
- novel tentu punya hubungan baik ya,
- sahabat saya. Novel, coba Anda
- perhatikan novel itu diserang pada saat
- subuh. Satu kebiasaan novel yang tidak
- pernah berubah. yang novel itu adalah
- penyidik KPK yang terbiasa merubah pola
- beraktivitas untuk menghindari serangan,
- teror. Dia biasanya kalau pergi ke
- kantor dari tidak sama dari satu jalan
- gitu. Besok bisa berbeda, kendaraannya
- juga bisa berganti, bisa naik ojek, bisa
- bawa mobil, kadang bisa ee naik taksi,
- macam-macam dia berubah. Tapi satu yang
- gak pernah berubah dari novel dan itu
- gak mungkin dia rubah apa? Salat di
- masjid. salat di masjid dan itu dibaca
- oleh betul itu yang jadi subuh ee apa
- novel pasti ke masjid. Nah, apa ee itu
- memberikan apa saya yang apa yang punya
- spirit e sama bagi kami salat subuh ke
- masjid itu penting sekali. Ee terus
- terang saya mungkin kita banyak dari
- kita gak mungkin lima lima waktu bisa
- salat ke masjid. Tapi subuh bagi saya
- secara pribadi itu jadi apa? simbolisasi
- penting silaturahim dan segala macam
- selain kewajiban ya. Betul. Jadi
- simbol-simbol pemaknaan dari situ kan
- juga penting. Nah, bagi saya ee novel
- apa namanya? Ee punya kesalehan ee
- pribadi yang tinggi sekali. Nah, itulah
- yang kemudian jadi kekuatan dia dalam
- pemberantasan korupsi. Saya punya
- keyakinan orang yang bertauhid tinggi
- itu enggak akan pernah takut dengan
- apapun. Dan orang yang bertauhid tinggi
- itu enggak akan pernah kalah. dalam
- pertempuran apapun. Karena bagi kita
- walaupun yang dilawan itu ee besar
- begitu, maha kuat, kekuatan besar, orang
- bertauhid itu gak pernah merasa kalah.
- Musa dulu juga ee kalau dipikir secara
- rasional gak mungkin bisa mengalahkan
- Firaun. Tapi apa yang membuat Musa terus
- melawan tauhidnya? Tauhidnya kepada
- Allah Subhanahu wa taala. Itulah
- kemudian sampai saya bikin puisi untuk
- apa?
- mengekspresikan pentingnya tauhid. Kami
- di Muhammadiyah sering sebutnya tauhid
- yang murni. Orang yang bertauhid dan
- yang murni, anak muda yang bertauhid
- yang murni, dia enggak takut apapun.
- Yang dia takut cuma satu, Allah
- Subhanahu wa taala. Itu aja. Baik. Kalau
- misalkan ee suara novel Basuhdan itu
- sudah menemani Yohan Afad di siarannya
- Rasil, nah ini ada ada temannya sekarang
- gitu ya. Tadi cerita tentang ee Bang
- Novel. Sebenarnya siapa ini Bang Nahnil
- Anzar Simanjuntang ini? Nah, ini di
- waktu sahur ini kami akan kenalkan
- kepada Anda. Mungkin bisa sharing
- berbagi cerita gitu ya. Cerita-cerita
- yang mungkin bisa diceritakan oleh Bang
- Dahnil yang bisa menginspirasi karena
- kita tahu kan dari media oh ini sosok
- Bang ini gitu. Banyak. Iya, banyak yang
- tanya saya, "Mas Danil, kok enggak
- enggak takut?" Banyak misalnya dalam
- kasusiono begitu ya, kami di pemuda
- Muhammadiyah yang secara konfrontatif ya
- ee membela dan mencari keadilan untuk
- keluarga. Siono saya dituduh pro
- terorislah, saya dituduh macam-macam
- gitu ya. Nah, tapi bagi saya ee itu kami
- lakukan sebenarnya untuk melawan
- stigmatisasi terhadap umat Islam. He
- umat Islam dituduh terorislah segala
- macam. Nah, di sisi lain yang kami
- lakukan dan saya lakukan bersama pemuda
- Muhammadiyah untuk mencari keadilan
- justru kami ingin melakukan
- deradikalisasi.
- Kenapa terorisme di Indonesia ini, Mas,
- banyak muncul karena dendam? Kalau
- mereka enggak dapat keadilan, maka
- mereka akan punya dendam yang luar
- biasa. Maka kami berusaha mengubur
- dendam dengan cara mencari keadilan.
- Nah, Teman-teman banyak yang menasehhati
- saya, bahkan orang tua sayail itu harus
- berhenti hati-hati karena di enggak ada
- yang melakukan perlindungan dan kamu
- semuanya polisi dihadapi, sepihak
- politisi dihadapi, penguasa negeri
- dihadapi. Itu enggak enggak gampang loh.
- Saya selalu bilang loh, saya pernah
- dapat kesempatan kedua loh. Jadi saya
- merasa gak punya rasa takut yang sama
- sekali terkait dengan itu. Apa
- kesempatan kedua yang saya maksud? Mas,
- saya dulu itu punya pengalaman di 2
- tahun yang lalu itu ee dinyatakan stroke
- mata. 2 tahun lalu. 2 tahun lalu saya
- dapat stroke mata dari K struk mata itu
- masih bisa melihat enggak? Enggak bisa
- melihat. Mata kanan saya ini itu
- tiba-tiba gak bisa melihat sama sekali.
- Nah, kemudian di masuk ke dokter Jakarta
- E Center di sini di Menteng. Di Menteng
- sana. Kemudian ee dokter menyatakan ini
- sulit untuk normal. Kemudian dokter
- bilang, "Coba dibawa ke Singapura."
- Akhirnya saya dibawa ke Singapura. Di
- Singapura hal yang sama ini sulit
- normal. Bahkan sama dengan ee ponisnya
- dokter di Jakarta E Center itu bisa
- menjalar ke mata sebelah kiri. Ke mata
- sebelah kiri ini bisa juga ee buta gak
- bisa melihat sama sekali. Jadi saya
- kemudian keluarga saya, bapak saya, ibu
- saya, anak istri saya itu semuanya stres
- dengan itu. Saya masih muda kemudian
- dinyatakan bisa buta. Iya. Jadi itu 2
- tahun yang lalu. Kemudian ee di
- Singapura saya seminggu akhirnya karena
- gak ada kepastian akhirnya putuskan
- supaya saya gak kembali ke rumah saya
- dulu di Tangerang. Saya diputuskan
- dibawa orang tua saya kembali ke kampung
- orang tua saya dulu di Binjai. Binjai.
- Binjai. Saya di sana ditinggal empat
- orang tua saya sambil melakukan apa?
- Makan obat seperti biasa ya. Usaha
- macam-macam ee secara medis semuanya
- ikhtiar pengobatan. Nah, tapi ada satu
- kebiasaan yang saya lakukan begitu. Saya
- akhirnya karena aktivitas saya, saya kan
- jalan sulit karena gak bisa melihat dan
- yang di kiri itu agak kabur. Tapi saya
- berusaha tetap ke masjid gitu rutin
- secara rutin. Kemudian
- apa ee dalam setiap salat saya, saya
- cuma berdoa satu hal saja. Apa yang saya
- doakan itu, "Ya Allah, kalau saya punya
- kesempatan dan ee Engkau memberikan
- mukjizatmu dalam bahasa Indonesia
- kira-kira begitu doa saya, maka
- berikanlah kesempatan kepada saya. Kalau
- saya bisa kembali normal, saya mau
- bekerja untuk agamamu." Itu saja saya
- bilang begitu. Hampir setiap doa saya
- itu Mas Mas Angga. Jadi saya bacakan doa
- setiap salat fardu, salat sunah tahajud
- saya itu karena saya stres sekali,
- frustasi sekali. Maka doa itu yang
- selalu saya panjatkan dan saya kalau
- malam itu tidur takut. Kenapa saya
- takut? Ketika saya membukakan mata, saya
- sudah enggak bisa ngelihat lagi. Bahkan
- ada satu kejadian pada saat malam
- terbangun saya tengah hari eh tengah
- malam maksud saya. Kemudian gelap sudah
- semuanya. Saya teriak seteriak-teriaknya
- di rumah itu, di rumah orang tua saya.
- Saya pikir saya enggak bisa ngelihat
- lagi. Saya teriak sekuat-kuatnya. Kaget.
- Kemudian ternyata tiba-tiba masuk dari
- luar hidupin lampu. Ternyata mati lampu,
- Mas. Jadi bukan apa, ternyata lampunya
- mati. Tapi karena saya takut, saya pikir
- saya udah udah buta. Jadi itu saya
- rasakan hampir 3 bulan. Jadi doa itu
- terus saya panjatkan di bulan kedua itu
- pelan-pelan mata apa mata kanan saya ini
- itu bisa ngelihat pelan-pelan sampai
- bulan kedua. berapa lama sampai normal?
- 3 bulan. Jadi mata saya normal itu doa.
- Nah, itulah yang kemudian saya bilang,
- "Loh, saya seperti ada perjanjian
- primordial kedua gitu." Misalnya kan ada
- saya buat janji pada Allah dan kemudian
- janji itu seolah-olah ditagih langsung,
- Mas. Ditagih dari saya tiba-tiba ada ee
- apa ee perempuan yang ngadu ke
- Muhammadiyah yang namanya Suratmi itu.
- Hm. ee Zatmi itu ngadu. Jadi waktu itu
- saya belum normal ee apa sedemikian
- rupa, tapi saya sudah kembali ke
- Jakarta. Ketika sudah ngadu itu saya
- enggak ada pikir apa-apa. Saya cuma
- jangan-jangan ini langsung tagihan ya.
- Tagihan itu langsung dikirim Allah gitu.
- N akhirnya saya, orang tua saya semuanya
- mereka menghalangi itu hati-hati. Saya
- bilang, "Enggak, saya enggak ada yang
- bisa ngalangi saya sekarang." Gitu. Saya
- dapat kesempatan kedua maka saya
- kerjakan. Hal yang sama itu jugalah
- kemudian terjadi ketika Novel diserang.
- Nah, saya waktu itu dikontak istri
- novel. E kemudian saya dengan Pak Buso
- datang ke tempat novel di rumah sakit.
- Nah, itulah kenapa novel dibawa ke
- Singapura karena pengalaman itu yang
- saya ceritakan yang diminta novel ke
- saya ketika kumpul keluarganya. Mas
- cerita cerita apa? Cerita saya yang tadi
- di novel ingin menyampaikan kepada
- keluarganya jangan takut ada Allah gitu
- ya. Ada Allah yang pasti bantu kita.
- Kalau kita berbuat baik pasti Allah
- bantu kita. Itu yang saya selalu kagum
- dengan novel ya, kepercayaan dan saya
- saya berusaha belajar tentang itu dan
- banyak orang-orang yang belajar
- bahwasanya kekuatan yang maha dahsyat
- itu kalau kemudian kita percaya dan
- menyerahkan diri sepenuhnya pasti di
- ditemani dan dibantu. Nah, Bang dapat
- pendidikan apa dari keluarga sehingga
- punya karakter dan kepribadian yang
- sekarang? Bapak saya itu ee pengusaha ya
- dari kecil apapun beliau lakukan. Ee ibu
- saya orang desa dari Aceh, bapak saya
- orang Batak, ibu saya orang Aceh. Nah,
- jadi kami dulu tinggal di ee Aceh, Bapak
- saya pernah dinas di Aceh. Kemudian dari
- Aceh ee Bapak saya harus hijrah ke
- Sumatera Utara karena usahanya dibakar.
- Waktu itu ada
- masa GPK namanya, gerakan pengacau
- keamanan. He. Ee Pak Harto menyebutnya
- begituyebutnya itu. Heeh. Jadi ee
- kemudian usaha kami dibakar, usaha bapak
- saya tengah malam saya dibawa ke kami
- keluarga di saya masih SD kelas 6. Kelas
- 6 dibawa ke Sumatera Utara. Nah,
- keluarga ibu saya tinggal di sana karena
- apa? Tempat usaha Bapak saya itu punya
- kilang-kililang kayu itu dibakar oleh
- GPK segala macam. kami ee kemudian ke ee
- Sumatera Utara tepatnya di Sibolga,
- kampung Bapak saya di situ mulai saya
- SMP di sana. Jadi mulai dari awal. Nah,
- kejadian lagi di Sibolga ternyata usaha
- Bapak saya bangkrut. Kemudian Bapak saya
- apa ee harus memulai dari awal. Akhirnya
- Bapak saya memutuskan pindah ke Jakarta.
- Nah, di Jakarta Bapak saya itu dagang
- apa? Dagang ikan. He. Nah, kami ketika
- pindah itu saya ketika pindah ke
- Jakarta, saya harus masuk SMA pada saat
- itu, Mas. Saya enggak bisa sekolah waktu
- itu. Waktu itu karena enggak duit sama
- sekali segala macam. Akhirnya saya
- dibawa oleh om saya mendaftar ke SMA
- Muhammadiyah Cawang di Celeduk. Di
- Celeduk. Saya enggak bayar sama sekali.
- Masuk ke Cileduk itu pendaftaran gak
- bayar. Kemudian selama 3 tahun saya
- sekolah di situ gak bayar dan dapat
- beasiswa. He. Jadi pada saat itu saya
- mau masuk SMA Negeri 1 Celeduk tapi
- bayar halus mahal enggak punya. Akhirnya
- mutuskan, "Ya sudah nilai saya bagus.
- Saya dari dulu juara satu ibaratnya
- kalau sekolah itu. Nah, akhirnya di
- sekolah ini." Nah, makanya bagi saya
- Muhammadiyah itu bukan sekedar
- organisasi secara organisatoris atau
- tempat saya berkegiatan ee atau apa
- kendaraan dakwah saya. Tapi bagi saya
- Muhammadiyah itu punya hubungan
- emosional sekali. Ketika saya nak punya
- harapan Muhammadiyah itu seperti
- memberikan harapan. Sekolah Muhammadiyah
- itu memberikan harapan anak miskin ini.
- Nah, di Bapak saya pejuang memang
- pejuang secara ekonomi luar biasa.
- Biasanya Bapak dagang apa ikan subuh ee
- tengah malam saya ikut di situ. Saya
- jadi tukang parkir di Celeduk. Jadi
- semua hal kami lakukan. Bahkan ibu saya
- itu ee kalau mau makan malam itu harus
- menunggu saya pulang. Kenapa? Karena
- saya jam 2 sampai jam .00 itu parkir di
- Cileduk. Parkir di depan rumah sakit.
- Saya jaga parkir di situ. Jadi habis
- apa? Habis parkir baru saya pulang, saya
- bawa uang kemudian baru ibu beli makanan
- buat adik-adik. Saya anak yang paling
- tua ya. Jadi ee bagi saya pendidikan ee
- apa?
- pendidikan kehidupan yang dialami dan
- orang tua saya itu jarang mengajarkan
- secara lisan karena mereka lebih banyak
- apa memberikan contoh. Bapak saya
- memberikan contoh ee bertahan hidup
- kemudian punya kebermanfaatan ee hidup.
- Bapak itu selalu pesan begini orang tua
- saya itu ee hidup itu cuma punya dua
- pilihan. Pilihannya itu apa? kamu harus
- dikenang dalam sejarah. Pilihan dikenang
- dalam sejarah cuma dua, jadi sangat baik
- atau sangat jahat. Jadi, Firaun itu
- masuk Quran karena dia sangat jahat. Abu
- Lahab itu masuk Quran karena dia sangat
- jahat. Nah, atau yang sangat baik
- pilihan hidup itu cuma dua. Jangan yang
- di tengah ini. Kalau yang di tengah ini
- kamu hidup kemudian mati kemudian
- dikubur dan kamu enggak dikenang sama
- sekali. Jadi buatlah sesuatu yang sangat
- itu yang buat kamu dikenang dalam dalam
- sejarah dan tapi yang pasti jangan
- sangat. Betul yang tentu yang
- pilihan yang ingin disampaikan pesan
- oleh orang tua saya pilihan itu hanya
- ini. Pilihan ini jadilah yang sangat itu
- jangan pernah tanggung. Kira-kira
- begitu. Heeh. Heeh. Heeh. Lalu ee yang
- dilihat dari Bang Nanil sekarang
- pergerakan sosialnya Muhammadiyah itu
- dari masa awal ya. Masa awal K. H. Ahmad
- Dahlan. Iya. Lalu masa yang terpengaruh
- oleh masa politiknya Orde Lama, Orde
- Baru gitu, reformasi dan sekarang era
- milenial. He. Perbedaannya apa? Tant
- tantangan yang makin besar gitu ya. Lalu
- tanggung jawabnya bagaimana? Saya
- melihat apa melihat watak utama watak
- utama gerakan Muhammadiyah yang diusung
- oleh Kiai Dahlan itu adalah kalau dalam
- bahasa sosiologi itu adalah altruistik
- atau dalam bahasa tasawuf itu futuah.
- Nah, levelnya makamnya gitu loh. Jadi
- bekerja untuk kepentingan ee orang
- banyak atau kepentingan publik dalam
- bahasa sosialnya. He. Nah, jadi orang
- yang memilih
- bermuhammadiyah ee aktif di organisasi
- Muhammadiyah menggunakan Muhammadiyah
- sebagai kendaraan dakwahnya, maka
- pilihan dia adalah bekerja untuk
- kepentingan umat, untuk kepentingan
- publik. Levelnya altruisme atau makamnya
- tadi futuah tadi. Nah, maksudnya apa?
- Kiai Dahlan memulai gerakan ini dengan
- semangat bagaimana agar Islam hadir di
- tengah masyarakat sebagai solusi. Nah,
- pada saat ee abad 19 yang lalu itu 1912
- yang di tergambar oleh Kiai Dalan agama
- yang dibawa ee pada saat itu tidak
- ditampilkan sebagai solusi
- sebagai pencerahan, sebagai instrumen
- berkemajuan yang membuat maju peradaban.
- Tapi agama justru digunakan sebagai alat
- mengeksploitasi. Jadi agama digunakan
- oleh elit elit tertentu digunakan
- sebagai bahan eksploitasi untuk
- kepentingan dia. Terutama elit-elit yang
- punya pemahaman agama lebih baik dan
- segala macam. Nah, Kiai Dahlan hadir
- justru kemudian ingin menghadirkan Islam
- di tanah Jawa pada saat itu sebagai
- solusi. Bagaimana Islam bisa mendorong
- ee umat keluar dari kemiskinan,
- bagaimana ee Islam bisa mendorong umat
- keluar dari kebodohan dan sebagainya.
- Maka kemudian pilihan dakwah Kiai Dahlan
- itu adalah pilihan dakwah kebudayaan.
- kebudayaan maksud saya adalah ketika
- host Cokro Aminoto atau tokoh-tokoh yang
- lain memilih jalur politik, Kiai Dahlan
- memilih jalur kebudayaan melalui apa?
- Melalui pendidikan, melalui kesehatan,
- dan ee pemberantasan kemiskinan. Ini
- yang dilakukan Kiai Dahlan. Bukan
- berarti kemudian Kiai Dahlan gak peduli
- dengan politik. Keliru. Justru Kiai
- Dahlan tetap aktif di SI di Budi Utomo.
- Nah, tapi Kiai Dahlan melihat ada yang
- absen dalam kerja-kerja kebudayaan
- jangka panjang. Karena orang-orang yang
- memilih bekerja di kebudayaan pasti
- harus sabar karena ini pekerjaan jangka
- panjang. Pendidikan itu adalah pekerjaan
- jangka panjang. Kesehatan itu pun
- demikian. berbeda dengan politik. Nah,
- tapi Kia pesan yang ingin dilakukan,
- disampaikan Kiai Dahalan, instrumen
- politik itu akan tetap menjadi instrumen
- eksploitatif kalau kemudian kita tidak
- memperbaiki pendidikannya, kesehatannya,
- dan kesejahteraan ekonominya. Nah,
- pilihan dakwahnya itu di sini artinya
- membela mustanfin. Maka kenapa ayat yang
- paling berpengaruh atau surat yang
- paling berpengaruh di Muhammadiyah dan
- banyak diajarkan oleh Kiai Dahlan itu
- adalah surah Al-Maun dengan surah Al-Asr
- yang kemudian kita kenal sebagai teologi
- almaun, kita kenal sebagai teologi
- al-Asr. Almaun adalah simbolisasi
- kepedulian sosial. Bagaimana agama itu
- bisa bermanfaat dan
- kemudian melepaskan umat dari
- kemiskinan. Nah, bagi Kiai Dahlan ee
- agama itu adalah amal. Agama itu adalah
- amal saleh. Sama dengan ketika
- menterjemahkan surah Al-Asr itu. Kalau
- istilah apa Buya Hamka dalam tafsir
- Al-Azhar itu menyebutkan e kalau kita
- baca Al-Asr itu setidaknya ada empat
- pesan utama. Pertama pesan keimanan ee
- tentang pesan waktu ya. pesan waktu dan
- di situ ada dimensi kean. Kemudian kedua
- pesan amal
- [Musik]
- saleh itu adalah pesan
- tausiah kebenaran dan tausiah kesabaran.
- Nah, itu pesan yang ingin disampaikan
- dalam ee apa Al-Asr itu. Nah, di situ ee
- bagi Muhammadiyah itu sudah mencakup
- instrumen dan cita-cita berkemajuan.
- Cita-cita mau maju itu gimana? Lihat
- waktu, manfaatkan waktu sebaik mungkin.
- Untuk apa? Untuk beramal
- saleh. Amal saleh itu apa? Ilmu
- pengetahuan itu adalah amal saleh. Maka
- untuk maju kita harus menghidupkan ilmu
- pengetahuan. Kita harus menghidupkan
- efek. Nah, setelah itu apa? Kita masuk
- pada semangat tausiah kebenaran. Watwasa
- bilhaq itu tadi. Jadi sampaikan
- kebenaran amar makruf nahi mungkar. I.
- Jadi ee semangat itu harus terus
- dihidupkan. Nah, setelah nyampaikan
- kebenaran ya harus bersabar, harus
- bertoleransi. Tidak semua orang bisa
- menerima kebenaran. Tidak semua orang
- bersepakat dengan kita. Nah, saat itulah
- kita harus bertoleransi dan punya
- semangat dialektikal. Nah, ee bagi saya
- Muhammadiyah bekerja di ruang ini, ruang
- kebudayaan. Nah, kalau dalam sejarah
- kemudian Muhammadiyah bersinggungan
- dengan politik misalnya dulu dengan Mas
- Yumi, Muhammadiyah jadi motor Mas Yumi
- bahkan ee terakhir ini di sini misalnya
- bersinggungan dengan apa anak muda
- Muhammadiyah pernah bikin PMB. Nah,
- sekarang banyak tersebar di mana-mana.
- Saya pikir itu adalah bagian yang tidak
- bisa dilepaskan. Memang kerja-kerja
- kebudayaan pasti akan bersinggungan
- dengan kepentingan politik. Tetapi ee
- yang tidak boleh dilakukan menurut saya
- adalah menggunakan Muhammadiyah itu
- sebagai kendaraan politik. Itu yang yang
- berbahaya. Tadi menarik ketika bahas
- tentang konsepnya Kiai Dahlan dan juga
- teologi almaun, teologi al-Asr. Muncul
- juga konsep selain tauhid rububiyah,
- tauhid uliahiyah, muncul tauhid sosial.
- Iya. Heeh. Nah, ini kan kaitannya dengan
- masyarakat. Heeh. He. Namun ketika
- bicara tauhid juga ee fakta membenturkan
- akhirnya gitu ya ketika Islam ini
- dipahami oleh masyarakat Indonesia ee
- berdasarkan ee sosok kalau menurut kiai
- ini Islam tuh begini, fikih itu begini.
- Tapi ada kiai lain juga yang mengatakan
- enggak Islam tuh begini, fikihnya
- begini. Nah, ini jadi permasalahan juga
- ketika kita ingin bersama-sama gitu ya
- membangun sosial kemasyarakatan
- keislaman yang baik. tapi dibunuhkan
- dengan permasalahan fikih, permasalahan
- beda pandangan. Nah, Muhammadiyah
- menyikapinya gimana tuh? Itulah Masangga
- saya melihat sosok Kiai Dahlan itu
- visioner sekali. Bayangkan ada kiai
- tahun 1912 itu sudah mikirin ada
- organisasi perempuan Islam. Jangankan
- yang di Indonesia, Muhammad Abduh saja
- sebagai tokoh pembaruan Islam itu enggak
- pikirin ada organisasi perempuan dunia
- Islam. itu Kiai Dahlan di Indonesia itu
- mikirin itu yang namanya Aisiah itu
- bahwasanya pendidikan peradaban itu
- dimulai dari perempuan. Saya mau katakan
- apa melihat ada orang kita mendengarkan
- ee pemahaman agama dari tokoh segala
- macam karena ada absensi. Absensi apa?
- Absensi pendidikan. Ada absensi nalar
- akal sehat. Nah, karena akhirnya
- beragama itu dilakukan secara dogmatis.
- Dogmatis. Kemudian taklid istilahnya
- gitu kan. Itu yang terjadi. Kenapa
- mereka mengalami itu? Karena pendidikan.
- Nah, itulah kenapa pilihan Kiai Dahlan,
- kalau saya suka menggunakan istilah saya
- Kiai Dahlan itu jalan dakwahnya adalah
- jalan dakwah nalar ilmiah. Nalar ilmiah
- apa? Kiai Dahlan ingin menghadirkan
- generasi Islam yang merawat akal
- sehatnya. H. Dia menjadi generasi Islam
- yang otonom pemikirannya.
- pemikirannya itu adalah hadir akal
- sehatnya itu. Jadi dia bisa menyaring
- dia punya tradisi belajar. Kalau orang
- tradisi belajar itu dia enggak akan
- taklid. Pasti dia tidak akan punya
- referensi tunggal. Kenapa? Karena dia
- pasti selalu apa ee ingin tahu
- mengembangkan pengetahuannya. Nah, maka
- jalan yang akan kita harus kita pilih
- dalam memahami agama seperti itu,
- trennya seperti itu, itu jalan
- pendidikan, Mas. Maka cerdaskanlah
- orang-orang Islam ketika mereka cerdas,
- mereka akan terbiasa dengan perbedaan.
- Misalnya begini, saya ee terakhir
- misalnya ada pelarangan apa cadar di
- universitas. Yang melarang universitas
- loh, Mas. Islam pada Islam lagi. Dan itu
- bagi saya bagi saya konyol. Kenapa
- konyol? Pertama dari sisi universitas
- dia sudah mencerabut watak universitas.
- Universitas itu tempat universalitas.
- Artinya semua mazhab, semua ideologi itu
- sah di situ. Mereka harus bertarung
- secara ideologi, secara ide, gagasan,
- proses dialektika itu terjadi situ.
- Terbuka. Kalau kemudian tiba-tiba ada
- yang represif bilang, "Eh, ideologi ini
- enggak boleh, eh ini." Berarti dia sudah
- mencerabut watak
- universalitas dari universitas. Saya
- kaget kok ada seorang apa atau ee
- profesor akademisi punya tindakan
- represif di universitas. Artinya dia
- sudah mencabut watak universitas. Itu
- kedua Islam loh. Islam itu beragam
- sekali. Al-Qur'an itu absolut. Al-Qur'an
- absolut. Tafsir-tafsir terhadap
- Al-Qur'an itu bisa berkembang sedemikian
- rupa. Saya tentu gak bersepakat dengan
- cadar. Kami di Muhammadiyah tentu selalu
- menghimbau. Enggak ada tuh bercadar.
- Jadi kalau bercadar bukan bukan orang
- Muhammadiyah. Karena bagi kami ya
- auratnya perempuan wajah dan ee apa yang
- bukan aurat perempuan ya wajah dan
- telapak tangan. Nah, tapi kalau kemudian
- ada yang menafsirkan berbeda ya kami
- harus menghormati itu. Kalau kami gak
- sepakat dengan itu, pilihannya apa?
- Pilihannya dialektika, dialog. Nah,
- dialog, tradisi dialog itu hanya bisa
- lahir dari orang-orang yang merawat
- nalar ilmiahnya, yang terdidik. Nah,
- itulah kenapa tradisi ee umat Islam yang
- diajarkan Kiai Dahlan melalui
- pendidikan. Nah, sekarang Mas Angga yang
- absen di negeri kita ini itu adalah
- tradisi dialog. Pertama gak mau belajar.
- Coba anak muda sekarang nih juga kritik
- buat anak muda. Coba lihat anak muda apa
- bacanya Twitter. Twitter itu hanya
- berapa karakter dan mereka sudah merasa
- pintar itu. Dan itu gak pernah baca
- buku. He. Coba. Jadi karena gak pernah
- baca buku, tradisi baca enggak ada,
- tradisi tulis gak ada. Kemudian
- kerjaannya main Twitter. Akhirnya apa
- ya? Misleading terus, enggak paham
- terus, salah paham terus. Makanya coba
- kalau Mas Angga ikutin Twitter saya,
- pasti saya suka sekali menggunakan
- istilah nalar. Nalar. Saya sedang
- mengingatkan eh ke mana-mana itu bawa
- nalar. Nalar itu gimana supaya bisa
- dirawat? baca, tulis, diskusi. He. Jadi
- setelah dibaca, diskusi, tulis ya. Tapi
- sekarang tradisi baca itu malah
- berkurang. Betul. Jadi coba kalau kita
- lihat dulu kalau di mobil orang bawa
- buku baca di jalan sekarang enggak, Mas.
- Kan semuanya ini. Padahal tahapantahapan
- mengkaji sesuatu mulai dari baca dulu.
- Betul. Semuanya dimulai dari tradisi
- baca. baca baca belum apalagi mengkaji
- nalarnya di mana berislam saja ayat
- pertama surat pertama itu iqra. Nah,
- tradisi ini yang menurut saya di
- Indonesia dan di Islam Indonesia itu
- mengalami dekadensi dan itulah yang
- menyebabkan tradisi dialog itu enggak
- adil. Akhirnya apa yang terjadi? Jadi
- tadi yang Mas Angga sampaikan ini
- pokoknya yang benar kelompok gua nih,
- kelompok saya ini yang paling benar.
- Padahal dari setiap kelompok pasti ada
- pesan kebenaran dan itu rentan sekali
- ketika dimasuki paham yang anti yang
- tidak sepaham dengan dia. Diberikan isu
- gitu ya. Nah, akhirnya kan terjadi
- negeri ini anarkis. Anarkis anarkis
- muncul anarkis. Nah, makanya saya selalu
- mengingatkan anak muda harus punya
- tradisi dialektika dialog dan modal
- dialog itu adalah nalar yang sehat.
- Termasuk ini tahun politik. tahun
- politik itu kan hoa di mana-mana, maka
- yang harus dihadirkan itu akal sehat
- lagi. Baik, Bang Nadil, kita seperti
- harus jeda dulu gitu ya. Memang kalau
- pengin diterusin pengin terus gitu
- yaus tetap bersama kami. Kami akan
- segera kembali.
- yang keedelapan gitu ya. Bang Dahni
- lahir di Pemantang Jaya Langkat. Nah, 10
- April. Benar-benar masih muda. Yan Afad
- tahun '82 nih lahirnya gitu ya. Beliau
- dosen, pengusaha juga gitu ya. Penulis
- juga dan aktif di organisasi
- Muhammadiyah sudah cukup lama ya. Iya.
- saya sejak kecil ya, sejak kecil ya,
- saya sejak kecil itu punya pengalaman
- begini, ini juga nanti tentang dialog
- ya. Jadi saya punya pengalaman kecil itu
- ada di kampung saya itu saya tinggal
- kecil itu di Aceh di Kuala Simpang Aceh
- Timur dulu sekarang Aceh Tamiang. Nah,
- jadi sek di rumah saya ini ada ini rumah
- saya di sini ada masjid besar gitu di
- sini ada langgar. Langgar itu musolah
- kecil gitu kecil. Nah, biasanya kami
- kalau anak-anak kecil, anak-anak SD
- kelas 5, kelas ee 4 begitu salat kan
- biasa ke masjid magrib terutama
- ramai-ramai. Nah, biasa anak kecil ini
- kalau salat di masjid ini ee ribut,
- berisik, bercanda gitu kan. Nah,
- bercanda, bisik pasti ganggu. Nah, itu
- satu hari ee marbotnya marah, orang tua
- di situ marah, kami dimaki-maki, ini
- macam-macamlah pokoknya menyakitkan
- hati. anak-anak kayak gitu ya. Sekarang
- juga masih jadi kami dimaki-maki itu
- oleh anak-anak itu dimarah-marahin. Nah,
- kemudian sebagian besar teman-teman saya
- enggak enggak enggak berani ke masjid
- itu. Enggak lagi ke masjid itu. Nah,
- tapi kemudian satu hari saya ada namanya
- Atuk. Kami manggilnya Atuk. Dia rumahnya
- di sini. Atuk tu kakek. Iya, atuk itu
- kakek. Beliau nih setiap hari salat
- jalan lewat rumah saya di masjid langgar
- ini. Padahal rumah apa dia? rumahnya di
- sini lebih dekat ke masjid, tapi dia
- kelanggar ini. Nah, ini langgar
- Muhammadiyah. Nah, atuk ini asal lewat
- sini selalu ketemu saya karena saya ke
- masjid ini. Satu hari saya enggak enggak
- berangkat ke masjid kan. Nah, atuk lewat
- kok enggak ke masjid? Ayo, atuk.
- Akhirnya saya ikut atuk ini. Saya itu
- masih kelas 4 SD. Nah, atuk inilah
- kemudian ajak ke masjid ini di
- dilanggar. Dilanggar itu. Kemudian apa
- yang dilakukan A? Ato itu nyuruh saya
- azan.
- Azan kamu azan tuk ya bisa kan azan saya
- senang sekali kan anak-anak kecil ketemu
- mik gitu ya wah senang sekali saya azan
- di sini dipercaya kan azan akhirnya agen
- saya di situ. Akhirnya besok setiap apa
- setiap salat berjamaah saya ke situ
- selalu bareng dengan atuk ini atuk
- selalu azan azan azan gitu akhirnya Mas
- apa yang terjadi saya merasa pengkaderan
- Muhammadiyah saya itu dimulai dari situ.
- Saya mau katakan apa? Atuk itu ramah
- sekali. Kalau saya atuk ini ramah sekali
- terhadap anak kecil dan dia memberikan
- kesempatan pada anak kecil yang ketika
- di masjid ini itu diusir, itu dibentak
- segala macam. Nah, saya mau katakan apa?
- Anak kecil apa orang-orang yang dianggap
- nobody itu kalau kemudian diberikan
- kesempatan kemudian dididik mereka bisa
- jadi somebody. Saya mau katakan apa?
- Pendidikan yang diberikan atuk itu
- adalah pendidikan yang luar biasa. Atuk
- memberikan kepercayaan, atuk memberikan
- kesempatan. Kepercayaan dan kesempatan
- itu membuat anak kecil ini percaya diri.
- Anak muda itu percaya diri. Nah, bagi
- saya di Indonesia dan umat Islam di
- Indonesia itu harus diorongkan didorong
- seperti itu. Berikan kesempatan, berikan
- kepercayaan. Mereka akan mengembangkan
- diri mereka menjadi orang-orang yang
- lebih hebat. Dan ini cerita dari ato
- ini. Dan sekali lagi waktu itu saya
- kelas 4 dan itu saya merasa wah luar
- biasa gitu. Pengalaman luar biasa.
- Pengalaman luar biasa. Saya masih ingat
- sampai sekarang. Sudah punya anak berapa
- Bang Danil? Saya punya anak empat. Istri
- satu. Istri satu ya. Kalau istri orang
- Sumatera juga. Istri saya orang Jawa.
- Jawa Tengah. Iya. Saya itu apa namanya?
- Ee Bapak mertua saya itu Kiai NU dari
- Cepu. Bapak mertua saya itu kiai NU dari
- Cepu. Ibu mertua saya itu juga muslimat
- NU. Terus dulu pas lagi ngelamar ini
- pemuda itu. Iya. Nah, ini ceritanya lucu
- Mas Sil. Jadi dulu ketika saya ngelamar
- yang paling ngotot terima lamaran saya
- itu ibu mertua saya justru bukan istri
- saya. Istri saya itu mantan ketua Kohati
- HMI ya. Saya waktu itu IMM. Waktu saya
- nikah muda sekali. Itu masih umur 22. 22
- ya. Heeh. Waktu itu kan doktrin nikah
- dini gitu ya. 22 tahun nikah Bang Nanil.
- Saya nikah istri saya waktu itu umur 21.
- Nah, ketika ketika saya lamar istri
- saya, Ibu yang mau terima segera lamaran
- saya itu justru adalah ibu mertua saya.
- Istri saya ragu. Kenapa, "Bu, nanti ini
- nikah dengan anak Muhammadiyah ini repot
- katanya." Kok repot? kata ibu muda. Iya.
- Bayangkan dia nanti lebaran suka duluan.
- Saya ketawa kan lebaran duluan. Nah,
- kemudian kalau subuh kalau Mas Danil itu
- enggak ke masjid, dia salat di rumah dan
- dia pasti jadi imam saya, dia enggak
- pakai qunut. Maka saya enggak qunut,
- katanya. Nah, tradisi NU kita bisa
- hilang. Kata istri saya tuh apa kata ibu
- mertua saya? Ibu mertua saya sederhana
- bilang, "Bagus, beda-beda itu bagus.
- Malah justru itu bisa kamu bikin kamu
- saling belajar."
- Kata ibu mertua saya. Tapi kata ibu
- mertua saya, ini yang paling penting.
- Ini serius loh, Mas. Mas Arsil kalauak
- eh Mas apa, Mas Angga kalau gak percaya
- nanti saya kasih nomor telepon ibu
- mertua saya. Jadi ibu mertua saya itu
- bilang, "Ada dua hal yang lebih penting
- yang harus kamu pahami. Anak
- Muhammadiyah itu punya dua kelebihan
- yang enggak dipunyai oleh rata-rata kiai
- NU." K apa, Ibu? Pertama, anak
- Muhammadiyah itu jarang yang poligami
- kata ibu mertua saya.
- Jadi kamu aman. Kata ibu mertua saya,
- "Ini serius loh, ibu mertua saya itu
- pertama anak Muhammadiyah itu jalan
- poligami. Kamu aman kata ibu mertua
- saya." Kemudian yang kedua apa? Yang
- kedua itu anak Muhammadiyah itu jarang
- yang
- merokok. Jadi hemat, cermat, dan
- bersahaja. Jadi saya punya dua itu.
- Akhirnya gara-gara jarang berpoligami,
- bukan berarti enggak ada loh, Mas ya.
- Jadi orang Muhammadiyah itu memang
- jarang berpoligami. Memang rata-rata e
- apa mimpi saja enggak berani poligami
- orang Muhammadiyah itu. Kemudian ini
- kayaknya enggak ada kultur ya. Hah?
- Enggak ada kultur ya. Itu kayak
- corporate kultur ya. Jadi kalau
- corporate kultur itu kayak kebiasaan
- saja gitu ya. Jadi jarang gitu jarang.
- Kemudian kedua gak merokok. Akhirnya
- gara-gara dua ini saya menikah dengan
- istri saya. Tapi kalau bapak mertua ah
- saya nanti ya itu itu beda lagi
- ceritanya. Beda lagi ceritanya. Aduh,
- karena menarik sekali enggak. Tapi saya
- mau sampaikan pesan pentingnya adalah
- paling pasan paling penting yang
- disampaikan ibu mertua saya adalah
- dialog itu penting. Jadi seperti apa
- perbincangan kita pada subuh kali ini.
- Dialog itu penting karena dialog itu
- membuat kita saling paham, saling paham.
- Nah, kunci dialog apa? Nalar yang sehat,
- akal yang sehat terbuka. Atau tadi kalau
- kita kutip dari surat apa? Al-Asr tadi
- ya. Poin keempat seperti yang
- disampaikan Bu ya Hamka. Watwasso bilhaq
- watar. Sabar ini itu adalah kunci yang
- tadi disebut toleransi. Penting
- menyampaikan kebenaran. Ya. He. Dan
- mencampaikan kebenaran. Kemudian yang
- punya tugas membolak-balikkan hati dan
- menerima kebenaran itu adalah Allah
- Subhanahu wa taala. Jangan kemudian kita
- ambil tugas Tuhan itu, kita paksa orang
- untuk nerima kebenaran. itu tugas kita
- menyampaikannya. Setelah itu apa? Sabar
- dan bertoleransi. Hm. Nah, bicara nalar
- terus saya akan ke buku nih ya. Ee Bang
- Dahnil nalar politik rente. Ini latar
- belakangnya kenapa sih mengangkat ini
- berangkat dari kekhawatiran, berangkat
- dari kegemasan juga gitu. Iya. Jadi saya
- ngelihat ada kalau apa ada tokoh Chinese
- itu ee apa ee siapa namanya? Jaya
- Suprana itu kan memperkenalkan
- kelirumologi. Bagi saya yang memang
- terjadi di Indonesia itu memang
- kelirumologi. Kelirumologi apa? Politik
- itu disebutnya ruangnya kalau secara
- sosiologi, secara teori disebut itu
- ruang pengabdian. Iya. Kalau misalnya
- Mas Angga memutuskan terjun ke politik,
- maka ee yang harus Mas Angga pahami
- adalah ketika masuk ke politik, maka
- nalar yang dibawa oleh Mas Angga itu
- adalah pengabdian, kesukarelawanan.
- Makanya gak ada tuh profesi politisi.
- Enggak ada. Enggak ada. E politisi itu
- bukan profesi. Maka dia e jadi
- kesukarelawanan orang yang masuk
- politik. maka harus dipahami itu adalah
- ruang pengabdian. Orang yang jadi PNS
- harus dipahami itu adalah ruang
- pengabdian. Sedangkan kalau Anda mau
- kaya, kalau Anda ingin apa? Mendapat
- harta dalam jumlah yang banyak, maka
- berbisnislah. Itu ruang ruang apa? Ruang
- untuk memaksimalisasi keuntungan.
- Walaupun dalam Islam tentu harus ada
- sedekah, ada infak ee zakat dan
- sebagainya. Nah, dalam teorinya ada
- istilah Agustomte itu nyebut istilah
- altruisme dan egoisme. Nah, politik itu
- ruangnya altruisme. Altruisme itu
- artinya mengedepankan kepentingan orang
- banyak ketimbang kepentingan pribadi.
- Egoisme itu sebaliknya kepentingan
- pribadi atas segalanya. Nah, politik itu
- seharusnya ketika kita jadi politisi,
- jadi pejabat negara, jadi presiden,
- bupati, walikota, gubernur, itu yang
- harus dibawa adalah nalar
- altruisme. Nah, kalau nalarnya altruisme
- dia pasti enggak korupsi. Kenapa? Karena
- yang dia pahami adalah memberikan
- pelayanan publik kepada masyarakat. Ini
- level altruisme ini kalau dalam Islam
- levelnya ihsan. Nah, dia dia merasa
- terus diawasi ingin bekerja untuk publik
- kemudian akan maksimal untuk publik.
- Nah, tapi yang terjadi di Indonesia
- justru sebaliknya.
- Nalar ketika orang masuk politik yang
- dibawa adalah nalar
- egoistik. Nah, nalar orang-orang
- egoistik tentu dia ingin mengedepankan
- kepentingan pribadinya, kelompoknya.
- Akhirnya apa yang terjadi? dia ingin
- memaksimalkan ee utilitas pribadinya,
- keuntungan pribadinya. Akhirnya ketika
- masuk politik yang dicari adalah
- keuntungan pribadi. Akhirnya apa yang
- dilakukan? Berburu rente. Nah, itulah
- yang kemudian saya gunakan istilah nalar
- politik rente. Karena apa? Karena
- politik kita bawa nalar egoistik yang
- akhirnya berburu rente. Rente itu
- mencari keuntungan ya dengan cara yang
- tidak halal. Kalau sudah rente itu
- mencari keuntungan dengan cara yang
- tidak halal. Nah, karena dia ingin apa?
- Memperkaya diri, akhirnya segala sesuatu
- dilakukan ee demi menumpuk harta,
- akhirnya korupsi dan sebagainya. Nah,
- itu yang kita hadapi pada saat ini
- politik kita. Dan akhirnya persaingannya
- malah bukan pastabiquul khairat, malah
- saling sikut-mikut,
- jatuh-mjatuhkan gitu ya. Iya. Saling
- menjerumuskan. Jadi semangat arenanya
- politik kan jadi ngeri. Betul. Jadi
- semangat politik bukan lagi tawanu alal
- birri wa takwa, tapi sudah berubah jadi
- justru bersekongkol, bersekongkol untuk
- keburukan. Itu yang terjadi.
- Bersekongkol untuk keburukan ee untuk
- apa? Untuk berburu rente. Iya. Jadi kita
- temukan makanya kan dulu istilah ketika
- kita sebentar lagi nih di bulan Mei ini
- kan reformasi nih. Bulan puasa ini kan
- reformasi. Nah, perlawanan utama ketika
- reformasi itu kan
- KKN. Kita sekarang kan jarang kita
- dengar istilah KKN, seringnya korupsi.
- Korupsi yang benar itu kan KKN itu ya
- lengkap ya, korupsi. E korupsi, kolusi,
- nepotisme.
- Kolusi dan nepotisme. Ini itulah ada
- persekongkalan itu ya. Orang masuk
- politik akhirnya berkolusi,
- bernepotisme, akhirnya lahirlah dinasti
- politik, dinasti rente. Tujuannya apa?
- korup lagi tujuannya apa? Beru-buru
- rente. Tapi saya mau katakan Mas Angga
- itu bukan gejala elit saja, menular ke
- gejala masyarakat kita. Masyarakat kita
- pun akhirnya ketika pemilihan nih mau
- pemilihan nanti pilkada-pilkada ini
- sebentar lagi mereka kalau datang ada
- politisi datang yang mereka minta apa?
- Amplop. Iya. baru milih akhirnya ketemu
- tuh nalar rente ketemu negara nalar
- rente transaksi jadi pasar politik kita
- ya jadi pasar transaksi suara tapi kalau
- sudah masuk kea masyarakat kan itu bisa
- jadi masyarakat ya korban dari ya itu
- pasti iya korban dari sistem yang
- menghadirkan ini karena elit kita itu
- tidak menggunakan partai politik dan
- politik sebagai sarana edukasi dan
- jangan lupa masangga ee apa demokr ASI
- Indonesia ya. Ee kan kita luar biasa ya
- negara Islam berpenduduk Islam terbesar
- di dunia tapi kemudian bisa menerapkan
- demokrasi dengan baik dan ini jadi best
- practice di dunia. Tapi jangan lupa ee
- roh material demokrasi kita, votersnya,
- pemilihnya itu kalau dari sisi
- pendidikan rata-rata lama sekolah orang
- Indonesia itu kan hanya 7,3 tahun.
- Artinya enggak lulus SMP. Engak lulus
- SMP. Jadi itulah orang-orang yang tidak
- lulus SMP itulah yang jadi voters. Jadi
- bayangkan dengan tingkat pendidikan yang
- tidak lulus SMP itu itulah ee yang
- menentukan ee kualitas demokrasi kita.
- Maka saya selalu berkeyakinan pilihan
- dakwah Kiai Dahlan melalui Muhammadiyah
- itu enggak pernah keliru. Yaitu melalui
- pendidikan.
- Terus ee memberikan pendidikan dan juga
- bimbingan kepada masyarakat kita
- menghadapi tahun-tahun ee politik
- khususnya selebih khusus bagi lembaga
- Muhammadiyah sendiri. He. Pasti kan
- memperhatikan bagaimana anggotanya nanti
- menentukan pilihannya gitu ya. Lalu
- secara umum kepada masyarakat Indonesia,
- Muslim gitu ya. Apa sih yang perlu kita?
- Saya sih selalu menghimbau masyarakat ee
- selalu gunakan akal sehatnya. Ketika
- memilih tentu yang dilihat adalah rekam
- jejaknya, apa yang sudah dilakukannya
- selama ini. Itu pertama. Kemudian kedua,
- tentu lihat integritasnya. Integritas
- itu kalau dalam agama Rasul pernah
- ditanya oleh sahabat kan maddin ya
- Rasul. Agama itu apa Rasul? Kan jawab
- jawab Rasul juga singkat. Adin husnul
- khuluk. Agama itu adalah akhlak yang
- baik. Jadi, integritas ini tentu adalah
- akhlak yang baik. Jadi, esensi dan
- substansi dari agama itu sebenarnya
- adalah akhlak yang baik. Itu gak ada
- Islam tanpa akhlak yang baik itu. Jadi,
- Islam itu bukan sekedar tentang syariat,
- tapi integrasi antara akhlak dan syariat
- itu. Nah, oleh sebab itu ee integritas
- ini adalah syarat yang utama. Jadi kalau
- melihat siapa yang akan maju, calon
- kepala daerah, calon presiden, akhlaknya
- gimana? Kalau dia rajin berbohong, mudah
- berbohong gitu ya. Ya, saya pikir ee apa
- syaratnya sudah hilang ya. Jangan
- dipilih orang-orang yang rajin berbohong
- apalagi kalau kemudian dia mau bayar
- untuk suara. Jadi jangan pernah terima
- apa ee politik uang atau pemberian uang.
- Kenapa? karena pasti kita sedang
- memperdagangkan masa depan kita
- gara-gara uang itu. Jadi, bagi saya
- rekam jejak integritas yang ketiga tentu
- adalah programnya. Nah, tentu kalau bagi
- umat Islam secara keseluruhan saya
- misalnya mengutip Ibnu Taimiyah bilang
- politik itu ee harus dalam rangka
- adiratuddin Asia satu dunia. Politik itu
- harus digunakan sebagai apa? penjaga
- agama dan mensiasati dunia. Jadi tentu
- mensiasati dunia itu ada iptek-nya tadi
- saya sebutkan, ada rekam jejaknya dan
- harus dipastikan orang-orang itu punya
- komitmen untuk menjaga Islam. Nah, itu
- yang penting ya. Jadi apa menjaga Islam
- yang saya maksud tentu adalah menjadikan
- Islam itu sebagai nilai berpolitik bukan
- kemudian menjadikan Islam sebagai alat
- politik. Itu penting. Jadi itu dua hal
- yang berbeda. Islam sebagai nilai
- politik dan Islam sebagai alat politik.
- Jadi jangan sampai kemudian kan banyak
- nih politisi tiba-tiba ngomongin Islam
- ketika mau pilkada. Iya. politisi
- ngomongin Islam ketika mau pilpres. He.
- Tapi kemudian dalam ee sejarah hidupnya,
- dalam setiap langkah dan tarikan
- nafasnya gak ada tuh nilai-nilai Islam
- sama sekali. Jadi tentu kita mudah
- melihat ee saran saya kepada seluruh
- pendengar ee apa radio ini. Lihatlah
- pemimpin itu apakah kemudian dia
- mengusung dan membawa nilai Islam yang
- sesungguhnya atau mengintegrasikan nilai
- Islam dalam setiap tarikan nafasnya.
- Kalau lebih khusus kepada generasi
- Mersos gimana ngasih nasehatnya? Karena
- generasi Mersos yang dilihat adalah yang
- paling banyak tampil di Mesos gitu ya
- kan?
- Tentu itu tadi ya. Rajin-rajinlah baca.
- Nah, ini ya rajin baca itu kunci kita
- mengenal gitu. Rajin tadi kan saya
- sampaikan rekam jejak kan melalui medsos
- kita bisa ngelihat rekam jejaknya. Iya.
- Dari medsos juga bisa kita tracking
- misalnya konsistensi dia konsistensi dia
- berkat lah. Kalau di medsos sebutlah
- berkata ya. ee apa dari tradisi metsos
- itu opininya seperti apa,
- keberpihakannya terhadap Islam seperti
- apa, itu dia punya komitmen menjaga
- nilai Islam? Tidak. Atau jangan-jangan
- cuma sekedar menjadikan Islam sebagai
- alat politik. Nah, itu yang dua yang
- yang harus diperhatikan. Jadi, ee syarat
- utama bermetsos itu bagi saya adalah
- gunakan akal sehat. Akal sehat. Akal
- sehat itu gunakan. Jadi ee lihat rekam
- jejak orang seperti apa, gak mudah
- share, gak mudah percaya. Kan tadi mesos
- itu akhirnya yang menghasilkan apa?
- Menghasilkan pencitraan yang kosong,
- dramatologi politik. Itu yang terjadi
- kan belakangan ini. Jadi drama-drama
- politik. Jadi hindarkan misalnya menilai
- politisi itu dari tampilan fisiknya.
- Iya. Ya kan? Pencitraannya. Tapi
- lihatlah politisi dari rekam jejaknya,
- integritasnya, kemudian pemikirannya,
- ide dan gagasannya. Bukan sepatu apa
- yang dia pakai, bukan baju apa yang dia
- pakai, bukan kendaraan apa yang dia
- pakai atau apa dia, apakah dia tidur di
- apa tidur di nipan atau apa ya, tapi
- yang paling penting adalah ee
- konsistensi cara berpikirnya,
- integritasnya dan sebagainya. Hm. Lalu
- kalau bicaraos
- produ nah ini muncul nih istilah-istilah
- seperti itu gitu kan. Iya. Ee bahkan
- produsen Hoa ini juga ternyata telah
- menjadi bagian dari ee produksi
- bisnis industri islamofobia. Oh iya iya.
- Sekarang ee konsep memproduksi
- produk-produk islamofobi digunakan juga
- ternyata di media sosial dan juga ee
- produk-produk hoa. Sepertinya apa ya
- konsep kejahatan ini kan berkolaborasi
- yang diserang lagi-lagi umat Islam yang
- diserang lagi-lagi tatanan masyarakat
- gitu ya. Nah, bagi seorang ee public
- figure, tokoh, pejabat, ulama, ustaz.
- Nah, saya sekarang ke situ nih. Kalau
- kan ke masyarakat terus iya
- mengantisipasi itu bagaimana? Jadi
- jangan sampai umat ini nanti jadi korban
- lagi. Iya, Mas. Sangga saya selalu apa
- ingat sekali pesan dari host Jokro
- Aminoto. He. Ini penting buat generasi
- Islam. Kostokro Aminoto itu pesan tiga
- hal. Aktivis Islam atau sebutlah umat
- Islam harus punya tiga ciri utama
- katanya. pertama adalah setinggi-tinggi
- semurni-murninya tauhid. Heeh.
- Setinggi-tingginya ilmu pengetahuan,
- sepintar-pintarnya siasat. Jadi,
- generasi Islam, anak muda Islam harus
- murni tauhidnya, harus tinggi ilmunya,
- harus pintar siasatnya. Nah,
- kadang-kadang anak muda semangat Islam
- kita, semangat Islam anak muda, anak
- muda kita atau jemaah kita sebutlah
- sudah murni ini. Iya. ee tauhidnya sudah
- tinggi ilmunya, tapi kadang-kadang yang
- alpa itu siasatnya. Saya mau katakan
- gini, saya di medsos itu punya apa?
- Jurus jitu. Saya selalu ingatkan seluruh
- kader pemuda Muhammadiyah, jangan
- sekali-sekali pakai fake account, jangan
- pakai akun palsu. Akun palsu. Iya. Akun
- anonim. He. Kalau Anda pakai akun
- anonim, syarat pertama Anda langsung
- hilang. Orang yang enggak berani
- menampilkan identitasnya itu pasti punya
- ee niat jelek. Iya. Gak ada orang yang
- punya niat baik. Oh, kami kan enggak mau
- ri itu bohong. Ng begitu. Jadi kalau
- udah udah niatnya pakai akun palsu pasti
- dia punya niat jelek. Nah, saya mau
- katakan apa syarat yang selalu kami
- sebutkan, jangan pakai akun palsu, akun
- anonim. Makanya saya kasar kalau di
- sosial media itu jurus jitu saya untuk
- mengingatkan semua orang. Saya menyebut
- mereka dengan istilah tuyul sosial
- media. Kenapa kerjaannya tuyul sosm?
- Karena kita enggak tahu wujudnya, enggak
- tahu apa. Tiba-tiba apa? Memfitnah,
- tiba-tiba seenaknya, tiba-tiba
- berpendapat tanpa peduli e apa proses
- dialog, enggak paham apa-apa mereka.
- Makanya kemudian saya menggunakan
- istilah tuyul sosial media walaupun
- kemudian disebut ini kasar sekali, Mas.
- Semuanya itulah cara saya untuk
- mengingatkan. Ada orang yang diingatkan
- dengan cara berdialog, ada orang yang
- perlu kita ingatkan. Karena ini era
- sosial media itu kita perlu gimik ee apa
- narasi yang bisa apa mengingatkan orang.
- Orang ketika diingatkan puk langsung
- terpukul. Nah, oleh sebab itu saya
- selalu nyut jangan gunakan anonim
- kemudian jangan sembarangan share,
- jangan sembarangan RT. He insyaallah
- saya terus ee terus berusaha menjaga
- itu. Nah, makanya ee apa
- produsen-produsen hoa ini sebenarnya
- bisa kita lawan kalau kemudian kita
- tidak tidak ini ya tidak tidak terjebak
- dengan dengan upaya mereka terutama
- menebar hoa itu dengan tadi itu ya apa
- ee ingatkan mereka dengan narasi-narasi
- yang mungkin bagi mereka itu apa
- menyakitkan. Saya sih bagi saya penting
- untuk untuk itu begitu.
- penting bentuk
- perlawanan kalau dibiarkan malah mereka
- terus membagi buta. Nah, terus kenapa
- kemudian ee apa seolah-olah ada upaya ee
- ada ini ada gejala islamofobia yang
- masif di sosial media. Nah, itulah yang
- kemudian memunculkan banyak akun-akun
- yang kemudian melawan itu. I sebenarnya
- akun-akun perlawanan. Nah, itu yang
- selalu saya ingatkan kepada teman-teman
- ee aktivis Islam. Perlawanan itu pun
- tidak bisa dilakukan dengan fake news.
- H. Nah, justru ketika misalnya
- dikembangan Islamofobia melalui fake new
- e pakai pakai akun-akun anonim ya, pakai
- akun anonim. Kemudian kita lawan pakai
- akun anonim juga kemudian pakai fake
- news gitu ya. Yang terjadi apa Mas? Yang
- terjadi nih e maka yang diciduk itu kita
- Iya.
- Ada enggak fakta kita melakukan fake
- news? Ada. Nah, jadi sebenarnya bisa
- jadi ini yang pertama akun-akun ini
- sebenarnya nyuruh sedang memprovokasi
- kita. Iya. Terpancing. Terpancing
- melakukan salah satu ke cara mereka ya.
- Kita diciduk. Sementara mereka sudah
- punya strategi. Mereka sudah sejak awal
- melakukan itu. Nah, itu yang saya selalu
- mengingatkan teman-teman aktivis di
- sosial media ya. Jangan-jangan
- perlawanan Anda justru kemudian
- sebenarnya menjebak Anda. Makanya saya
- selalu sebut akal sehat itu harus
- digunakan. Tadi strategi siasat itu
- harus digunakan. Kalau mereka pakai fake
- news, kita pakai yang asli. Asli dan
- terang begitu loh. Jangan akhirnya yang
- jadi yang fake itu nanti mereka itu
- nyata. Kalau aparatur hukum enggak
- bertindak berarti ada yang salah. salah
- berarti emang ada yang produksi sengaja
- untuk memprovokasi kita. Nah, ini kan
- enggak. Kita pun pakai ee sebagian
- kawan-kawan tu pakai akun-akun anonim.
- Nah, ini nanti pelan-pelan bergeser.
- Mereka tenggelam dengan sendirinya
- karena sudah berhasil memprovokasi itu.
- Maka yang ditindak secara hukum ini.
- Nah, itu yang enggak dipahami oleh
- teman-teman di sosial media dan di
- pergerakan Islam. sekarang misalnya
- ramai-ramai MCA itu udah udah kena
- jebakan ituah kena jebakan. Padahal saya
- sejak lama kalau Anda perhatikan
- ngikutin sosial media saya, saya
- mengingatkan terus itu mengingatkan itu
- karena Mas permainan apa intelijen
- permain penjebakan umat Islam ini kan
- sudah dilakukan dengan pola-pola yang
- berulang. Sebut ya saya Pak Busro. Pak
- Busro guru saya yang terus mengingatkan
- saya ini misalnya dulu komando jihad.
- Iya. kemudian
- diotori pada dibentuk sendiri oleh LB
- Murdani. Nah, itu terus berulang kok.
- Makanya saya sering menggunakan ada
- ternak terorisme. Ada kok yang sengaja
- menernak terorisme. Mereka sendiri yang
- buat, mereka sendiri yang berantas
- supaya anggaran kemudian masuk. Nah,
- yang hal-hal seperti ini itu yang jarang
- dipahami oleh umat. Kalau itu saya
- selalu ngingati ya siasatnya harus
- pintar dong. Nah, makanya itulah
- pentingnya berjamaah, Mas Angga. Betul.
- Berjamaah ituakendiri,
- enggak boleh sendiri-sendiri. Kalau kita
- berjamaah, ada yang mengingatkan, ada
- akses informasi yang cukup dari jemaah
- besar. Nah, makanya jemaah-jamaah
- seperti Muhammadiyah, seperti NU,
- Alwasliyah, Persis itu penting. Jaga
- masing-masing jemaahnya dan kemudian Pak
- jemahnya ikuti apa yang disampaikan oleh
- pemimpin dari ee organisasi
- masing-masing. Baik, mengenah nilai kita
- nih karena dibatasi waktu gitu ya. Emang
- kalau yang sahur sih enak dengar cerita
- kita nih gitu ya. Cerita terus gitu.
- Tapi kita belum sahur ya. kita belumur.
- Baik, sebagai penutup ee Bang Dahnil,
- ada pesan pesan Ramadan apa dari seorang
- ee Dahnil Anzar, ketua PP Pemuda
- Muhammadiyah? Iya, bagi saya Ramadan itu
- atau puasa itu seperti buku saya ini
- nanti puasa itu menggembirakan puasa.
- Bagi saya puasa itu adalah ibadah yang
- menggembirakan.
- Berislam itu harus menggembirakan. Maka
- jamaah sekalian, mari kita gembirakan
- puasa kita. Menggembirakan puasa itu
- bagaimana? Maksud saya ingat loh, ketika
- kita sahur, kita bergembira kan. Nah,
- kemudian kita satu harian itu menahan
- lapar, menahan haus ya kan? Menahan itu
- susah payah ya. Kemudian akhirnya pada
- saat jelang magrib kita berbuka kita
- gembira. Tapi kegembiraan kita itu gak
- boleh kita nikmati sendiri. Apa yang
- disuruh dalam ibadah puasa? maksimalkan
- sedekahmu. Artinya sedekah itu
- menggembirakan siapa? Menggembirakan
- yang miskin. Bahkan nanti ketika Idul
- Adha kita enggak boleh eh maaf Idul
- Fitri kita gak boleh bergembira sendiri.
- Harus menggembirakan ee orang-orang
- miskin, para apa? Mustahik ng maka kita
- harus berzakat. Nah, saya mau katakan
- berislam itu menggembirakan kemanusiaan.
- Berislam itu menggembirakan kehidupan.
- Maka puasa kita kali ini harus
- dipastikan menggembirakan. Maka
- gembirakanlah puasa, gembirakanlah
- kehidupan, gembirakanlah kemanusiaan.
- Ini dalam satu riwayat juga kan ee waktu
- yang paling menyenangkan ketika berpuasa
- waktu ketika berbuka. Makanya
- perbanyaklah sedekah kata Rasul gitu ya.
- Betul. Karena menggembirakan ke
- mana-mana. Baik, Bang Nahil. Terima
- kasih banyak. Sama-sama Mas Angga. Ya,
- semoga ee segala aktivitasnya selalu
- dalam perlindungan Allah Subhanahu wa
- taala gitu ya.
- Mudah-mudahan ini tidak yang terakhir
- gitu ya. Mudah-mudahan di waktu yang
- lainnya bisa kembali siaran dihasil
- bukan hanya di acara ini saja. Semoga
- selalu sehat ya Bang ya. Amin.
- Demikianlah yang dirahmati Allah
- Subhanahu wa taala. Acara sahur bersama
- tokoh kali ini kami menghadirkan Dahnil
- Anzar Simanjuntak, Ketua PP Pemuda
- Muhammadiyah. Beliau seorang dosen,
- seorang penulis, seorang pengusaha juga
- gitu ya. Aktivis juga pasti dai juga
- gitu. Karena kesibukan beliau juga
- ceramah, ngisi khotbah gitu ya. Pokoknya
- ini pengguna yang komplit.
- Semoga bermanfaat bagi Anda dan dapat
- menginspirasi Anda. Saya angga Aminuddin
- ditemani oleh Muhammad Robi dan juga
- Muhammad Imam undur diri. Billahi taufik
- wal hidayah. Mohon maaf atas segala
- kesalahan kata. Subhanakallahumma
- wabihamdika asadu allahailla anta
- astagfiruka wauubu ilaik. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- [Musik]