Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:03 [musik] 0:09 [musik] 0:24 Allah. 0:26 Bismillahirrahmanirrahim. 0:28 Asalamualaikum. warahmatullahi 0:30 wabarakatuh. Alhamdulillahiabbil alamin. 0:33 Wasalatu wasalamu ala sayyidina Muhammad 0:36 wa ala alihi wasohbihi ajmain. Rabbi 0:39 zidni ilma allahumfani bima alamtani 0:42 waimni ma yangfani warzuqni ilman 0:44 yangfoni. Dipancarkan dari jalan Masjid 0:47 Silaturahim nomor 36 Kalimanggis Cibubur 0:50 Bekasi. Radio Silaturahim dan Rasil TV 0:53 untuk Islam yang satu. Ikhwan akhwat 0:55 pendengar dan pemirsa di mana saja Anda 0:58 berada yang dapat mendengarkan dan juga 1:01 menyimak siaran kami. Apa kabar Anda di 1:04 pagi menuju siang hari ini? Semoga kabar 1:07 Anda selalu dalam keadaan sehat 1:08 walafiat. Adapun yang hari ini dalam 1:11 keadaan sakit, kami doakan semoga cepat 1:14 sembuh dan selalu setia mendengarkan 1:17 siaran-siaran Rasil. Di kesempatan kali 1:20 ini, Angga Aminuddin kembali hadir. Ihon 1:22 Ahwat. Saya ditemani oleh ALGI di 1:25 operator, ada juga Ondi di kameraman. 1:29 Kami hadir dalam acara kajian rutin kita 1:32 setiap hari Selasa setelah acara topik 1:35 berita hadir kajian ekonomi Islam dan 1:39 bersama narasumber kita dari Dewan 1:41 Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia 1:44 yang alhamdulillah beliau telah hadir di 1:46 studio, Ustaz Ikhwan Basri. 1:48 Asalamualaikum warahmatullahi 1:49 wabarakatuh, Pak Ustaz. 1:51 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:52 wabarakatuh. Gimana kabarnya, Pak Ustaz, 1:53 hari ini? 1:54 Alhamdulillah sehat walafiat. 1:56 Sehat, Pak Ustaz. Ya, 1:57 sehat walafiat. Alhamdulillah. 1:59 Kita dapat kembali siaran langsung 2:01 menyapa Ikhwan Akhwat. Dan ikhwan 2:03 akhwat, insyaallah topik kita di edisi 2:07 hari Selasa ini kita sudah masuki hari 2:10 yang ke-21 ya di bulan Oktober 2025. 2:14 Kita membahas akan membahas mengenai 2:16 harapan baru bagi perkembangan ekonomi 2:20 Islam. Nah, bagaimana ekonomi Islam 2:24 melihat perkembangannya gitu. Di sini 2:27 ketika ikhwan akhwat 2:30 [berdehem] 2:31 kita melihat ya air-air ini ee 2:35 pemerintah melalui Menteri Keuangan 2:37 banyak geberakan-geberakan gitu ya yang 2:39 dilakukan. Nah, bahkan kalau kita lihat 2:43 media sosialnya ternyata ada tim ada 2:46 timnya apaak Ustaz? ee timsosnya nih 2:48 karena begitu aktif gitu ya 2:49 informasi-informasinya sampai kita tuh 2:52 tahu gitu apa saja hari ini besok gitu 2:55 ya yang dilakukan sampai ketika kemarin 2:58 ee masyarakat Indonesia itu baru lihat 3:00 tumpukan uang 13 triliun lebih ya Pak 3:03 Ustaz ya itu kita lihat ya bagaimana 3:05 menteri dan presiden juga ee tampil di 3:08 situ dan kita lihat sosok dari seorang 3:11 menteri yang energic gitu ya bahkan 3:13 beberapa media ee memberikan ee ee hal 3:16 yang ee progresif dari gebrakan-gebrakan 3:19 ini. Akhirnya masyarakat itu ee melihat 3:23 gitu ada secercah harapan katanya untuk 3:26 perekonomian. Tapi ketika disinggung 3:29 mengenai ekonomi Islam kayaknya enggak 3:31 ada sedikit pun ini ya [tertawa] 3:33 enggak ada sedikit pun tentang ekonomi 3:35 Islam. Jangankan menjadi viral ya 3:38 menjadi beberapa pemberitaan pun itu 3:41 yang disoroti oleh media itu enggak ada 3:43 gitu ya. Nah, akhirnya publik itu 3:45 bertanya-tanya sebenarnya ee ekonomi 3:48 Islam ini ke mana dengan bahasa itu, ke 3:51 mana di Indonesia akhir-akhir ini. Maka 3:53 dari itu kita melihat bagaimana 3:55 sebenarnya yang terjadi [berdehem] 3:57 gitu ya di Indonesia ini tentang gerakan 4:01 ekonomi Islam ataupun ekonomi ee syariah 4:04 itu. Ikhwan Ahad, kami juga mengundang 4:06 anak untuk bergabung. Silakan sampaikan 4:08 pertanyaan ataupun komentarnya tentang 4:10 topik yang akan kita bahas ke nomor 4:12 WhatsApp Rasil di 0811999720. 4:18 Pak Ustaz mengawali perbincangan dan 4:20 kajian kita, apa yang Pak Ustaz ee 4:23 soroti ketika masyarakat ini ee melihat 4:26 perkembangan ekonomi Islam di 4:29 tengah-tengah gejolak ee ekonomi di 4:32 negeri ini, Pak Ustaz. 4:34 Iya, [berdehem] 4:35 terima kasih, Mas Sangga. 4:37 Asalamualaikum warahmatullahi 4:39 wabarakatuh. 4:40 Alhamdulillahiabbil alamin wabihi 4:43 nastainuhu ala umuri dunya waddin 4:46 wasalatu wasalamu ala asrofil iyaai wal 4:49 mursalin nabiyina Muhammadin wa ala 4:52 alihi wa ashabihi ajmain. Amma ba'du. 4:55 Para pemirsa Rasil TV dan para pendengar 4:59 radio silaturahim yang dirahmati Allah 5:01 subhanahu wa taala. Alhamdulillah 5:05 ee kita bersyukur ke hadirat Allah 5:06 Subhanahu wa taala 5:09 sehingga dengan rahmatnya, 5:12 dengan fadlun-Nya, dengan keutamaan 5:14 anugerah-Nya 5:16 kita pada pagi hari ini dapat 5:19 melaksanakan siaran 5:22 live ya. setelah minggu lalu kita off 5:24 karena ada banyak pekerjaan di luar sana 5:28 yang tidak bisa membuat kita tidak bisa 5:31 melakukan siaran ee secara live. E 5:34 kemudian hari ini alhamdulillah saya 5:36 Masangga dan teman-teman dihasil sudah 5:39 selesai semua acara di luar dan kita 5:41 bisa melaksanakan siaran live. Kemudian 5:45 tadi sudah disinggung oleh Mas Sangga 5:47 ya, bahwa ee berbagai berita viral dan 5:52 juga berita mainstream ya harus utama 5:55 juga ya yang menyoroti sepak terjang 5:59 Menteri Keuangan yang baru ini dalam 6:01 waktu 1 bulan lebih sudah memberikan 6:04 banyak pernyataan ya geberaka dan 6:07 pernyataan-pernyataan hampir tiap hari 6:09 ya diliput oleh media ee Sosm ya, 6:15 termasuk juga media mainstream. Nah, di 6:17 sini banyak jemaah dari kita itu ee apa 6:22 namanya? Bergembira gitu ya, merasa 6:26 senang sekali dengan ee cara Menteri 6:30 Keuangan kita yang baru ini ee 6:32 menjalankan tugasnya sebagai Menteri 6:34 Keuangan. 6:35 Bahkan ee kegembiraan itu sampai-sampai 6:40 ee sebagian ya daripada masyarakat kita 6:44 bela-belain dengan cara yang 6:48 eforia ya. 6:50 Karena merasa bahwa akan ada era baru 6:53 yang membuat kita mungkin perekonomian 6:56 kita menjadi lebih baik. Segala macam 6:59 kesusahan dalam ekonomi akan bisa 7:01 hilang. Persalan korupsi juga akan bisa 7:04 dikurangi atau paling tidak dikurangi 7:07 ya. Kemudian ada yang sampai 7:09 pengembalian aset ee nilainya itu 13 7:14 triliun ya. Itu baru kali ini ada 7:18 pengembalian hasil korupsi itu 7:19 dikembalikan pada negara. 7:21 Ya, 7:22 luar biasa. Jadi seperti ini beberapa 7:24 hal yang mungkin bisa kita ee singgung 7:28 mengenai ee sepat terjangnya Menteri 7:31 Keuangan yang baru ini. Di sini 7:34 sebetulnya para jemaah itu ee dari satu 7:39 sisi mereka bergembira, mereka senang ya 7:41 dengan cara ini karena ini agak berbeda 7:43 ya lebih nendang dibandingkan dengan ee 7:46 Menteri Keuang sebelumnya. 7:48 Tetapi kalau didiskusikan lebih dalam 7:51 lagi dari teman-teman ini apa 7:54 hubungannya dengan ee apa namanya ee 7:57 ekonomi syariah atau keuangan syariah 8:00 yang sudah menjadi bagian tak 8:02 terpisahkan daripada 8:04 ekonomi nasional juga keuangan nasional. 8:07 Tapi bukan hanya sepi dari pemberitaan 8:10 dari sepak terjang Pak Menteri Keuangan 8:12 ini, melainkan juga sama sekali tidak 8:15 ada di Tris tadi Mas Angga sudah mencoba 8:18 untuk melakukan 8:20 apa pengembaraan sosial, media sosial 8:22 belum ada 8:24 ee judul ataupun ditemukan judul atau 8:27 bunyinya itu beritanya tentang bagaimana 8:30 nasib ekonomi syariah enggak ada. 8:33 Oleh karena itu, para jemaah ini ee 8:37 bertanya-tanya 8:38 jika umpamanya 8:40 tujuan makroekonomi Islam, tujuan 8:43 ekonomi Islam itu adalah menghindarkan 8:46 diri dari riba. Ya. Ya. Kalau tujuan 8:50 ultimate-nya itu tidak mau bermuamalah 8:52 dengan riba. Karena riba itu hukumnya 8:54 haram. 8:56 Kemudian 8:58 jika tujuan utama daripada ekonomi Islam 9:00 itu adalah tidak mau bermuamalah dengan 9:03 goror dengan spekulasi 9:07 ya dan tidak mau bermuamalah dengan judi 9:11 dengan segala variannya ini adalah ee 9:15 dosa besar tiga di dalam makroekonomi. 9:18 Tetapi tiga-tiganya sama sekali tidak 9:21 disinggung. Maka 9:25 sebetulnya geberakan 9:28 yang dilakukan oleh Pak Menteri ini 9:31 tidak sama sekali terkait dengan ee 9:35 pembangunan atau pengembangan ekonomi 9:37 syariah atau pengembangan 9:40 keuangan syariah. 9:43 Nah, karena itu maka menyiasati seperti 9:45 ini adalah kita bertanya-tanya lah 9:50 ngapain aja kalau gitu ya. Ngapain aja 9:52 kita menunggu-nunggu atau berharap-harap 9:54 jika kemudian dalam apa namanya dalam 9:58 konteks ini sama sekali tidak ada 10:01 silver line ya kalau dalam bahasa Eropa 10:04 ya. Garis perak yang ada di angkasa yang 10:07 menandakan bahwa persoalan yang rumit 10:09 akan ee mendapatkan solusinya. Nah, itu 10:12 itu enggak ada tanda-tanda seperti itu, 10:14 enggak ada ya. Nah, karena itu maka 10:17 justru ini menjadi ee tantangan juga 10:20 menjadi tanda-tanya besar sekali akan ke 10:23 mana ee perekonuman kita dan akan 10:27 bagaimana keuangan syariah kita yang 10:30 kita jadikan bagian tak terpisahkan 10:33 daripada keuangan nasional. Nah, ini 10:37 jadi menjadi sedih gitu. Itu yang 10:40 pertama. Yang kedua adalah sebetulnya ee 10:45 kebijakan ekonomi 10:48 yang berasal dari akar yang sama ya. 10:52 Ekonomi kita kapitalis 10:55 ya kan. Kemudian bukan hanya kapitalis 10:57 ekonomi kita ini basisnya kapitalis 11:00 kemudian dikuasai oleh oligarki ya. Dan 11:05 oligarki itu sedemikian kuatnya mereka 11:08 mencekeraman sendi-sendi ekonomi di 11:09 kita. 11:11 Maka bagaimana seorang yang punya posisi 11:14 sebagai Menteri Keuangan bisa memberikan 11:17 suatu kebijakan 11:19 yang 11:21 tidak 11:23 apa namanya melayani kepentingan 11:25 daripada oligarki. 11:28 Nah, ini dianggap sebagai suatu sosok 11:30 yang seperti itu ya, tidak mau melayani 11:33 oligarki dan bahkan bertentangan dengan 11:35 ini dengan ee kebijakan yang sebelumnya 11:38 ya. 11:41 yang kita harus pahami adalah dalam 11:44 konteks ini bahwa kebijakan ekonomi 11:48 itu tidak bisa kita rasakan seketika. 11:51 Jadi misalkan kalau kita itu bikin 11:53 program katanya zaman dulu itu ada 11:56 pelita misalnya kita awal tahun ini 12:00 pelita tahun pertama dari 5 tahun 12:03 kebijakan yang kita buat itu 12:07 tidak serta-merta bisa kita rasakan. 12:09 Ya, 12:10 kecuali dalam keadaan yang sangat 12:12 genting ya. Misalkan pada zaman kita 12:15 tahun 5 itu kan apa inflasi 66 65 66 12:21 inflasi luar biasa ya. Ya, orang itu 12:26 menerima uang itu kepenginnya segera 12:29 dibelikan barang. Karena apa? Karena 12:31 uang yang kita terima pagi ini 12:34 nanti sore hari itu juga nilainya akan 12:37 berubah. He. 12:39 Makanya kalau orang itu punya rupiah 12:42 pada saat itu pagi pagi-pagi mending 12:44 dibelikan barang pada saat pagi supaya 12:47 nanti ee kita enggak terkena money 12:51 illusion ya. Ilusi uang yang jumlahnya 12:54 sama, nominalnya sama, tapi dibelikan 12:56 barang enggak bisa sama padahal itu pagi 12:58 hari dan sore hari dalam 1 hari. Ya, 13:01 seperti itu. Nah, di situ perlu 13:04 kebijakan yang super keras ya, very hard 13:08 gitu ya. 13:09 Ya, itu pernah kita lakukan ya 13:11 dulu kalau enggak salah itu menterinya 13:12 adalah 13:14 Ali Wardana. Masih muda banget itu Bapak 13:17 itu. Belum 40 tahun 60-an, 66 itu ya. 13:22 Itu yang bisa mengubah yang tadinya 13:24 katakanlah ee 30 di belakang angka 13:28 menjadi 10 itu ya. 13:31 Tapi bukan dengan cara sonerik atau 13:34 dengan cara apa namanya apa itu namanya 13:37 redinomas enggak ya menggunakan cara 13:40 yang sangat keras pada waktu itu 13:43 kebijakan seperti itu. Nah, ini juga 13:45 begitu. Jadi kalau dalam keadaan ekstrem 13:48 seperti itu mungkin bisa terjadi tapi 13:50 kita kan biasa-biasa saja. Jadi suatu 13:53 kebijakan dibikin oleh presiden ataupun 13:56 menterinya itu dalam bidang ini tidak 13:59 bisa segera kita rasakan ya. Tidak bisa 14:02 segera kita rasakan. Misalkan ee hari 14:05 dilantiknya atau 1 hari dilantiknya atau 14:08 seminggu dilantiknya setelah seminggu 14:10 setelah dilantik berusaha bergembira ee 14:12 naik rupiah naik. Tapi kan itu itu 14:14 sangat singkat short time hari-hari 14:18 berikutnya kan sama aja ya ee sama harga 14:22 sama apa indeks juga ee fluktuatif ya. 14:25 Nah, yang parahnya sekarang hari-hari 14:27 ini kan rupiah juga sungkur ke 14:29 mana-mana. Iya kan? Ya. Jadi itu tidak 14:33 menjamin. Hm. tidak menjamin. Yang 14:36 ketiga adalah ee sebaiknya kalau menurut 14:40 kita seorang pejabat itu adalah tidak 14:43 banyak omong ya. J Pak Liardana itu 14:47 enggak pernah banyak ngomong 14:49 omongannya teratur. Ya, 14:52 saya merasa itu terjadi begitu itu ya. 14:55 Karena apa? Karena makin banyak omong 14:57 makin banyak tafsiran. Kemudian lawan 14:59 kita akan mentafsirkan yang 15:00 berbeda-beda. Orang yang bergembira tapi 15:03 tidak punya basis ekonomi akan 15:05 menafsirkan yang lain-lain. Nah, ini 15:07 yang terjadi di media sosial kan begitu 15:09 yang terjadi orang ngasih komen-komen 15:12 seolah-olah benar ya. Padahal dia enggak 15:14 punya backing daripada ekonomi. Ada 15:17 kadang kadang-kadang komennya itu 15:20 mengadu mengadu domba satu kelompok 15:22 dengan kelompok yang lain. Ya, intinya 15:25 itu ya apa? karena konten kreator ingin 15:28 dilihat kontennya dan lain sebagainya. 15:30 Yang jelas dia punya bahan tapi 15:32 akibatnya seperti itu me memblurkan ya 15:36 ee me me apa mengaburkan persoalan ya 15:40 padahal ekonomi biasa-biasa aja enggak 15:43 ada. Jadi kita bisa akan merasakan itu 15:47 mungkin ya 3 bulan nanti paling cepat 15:49 itu 3 bulan ke depan akhir tahun inilah 15:51 bagaimana itu pun bisa belum bisa kita 15:53 pastikan bahwa penyebabnya adalah karena 15:55 kebijakan. bisa ditafsirkan lain ya 15:58 gitu. 16:00 Nah, ini menimbulkan banyak masalah 16:04 sebetulnya dari sisi itu. Tapi 16:06 teman-teman yang diskusi ini dengan kita 16:09 itu kan menyorotinya ee 16:11 kebijakan-kebijakan ini sebenarnya 16:13 kaitannya dengan ekonomi Islam apa ya. 16:16 Jika kita sebagai kaum muslimin 16:19 komunitas terbesar yang menyusun 16:21 kependudukan Indonesia ini 90%nya ris 16:24 itu semuanya diharamkan bermuamalah 16:26 dengan riba 16:28 dan diharamkan bermuamalah dengan gor 16:32 dan diharamkan bermuamalah dengan judi 16:36 dan lain sebagainya. Maka 16:40 kebijakan yang seperti ini sebetulnya 16:41 tidak ada hubungannya ya selama kita 16:43 tetap menjadikan interest rate, suku 16:46 bunga, faedah, riba sebagai the most 16:50 important variable in our economy in 16:54 term of eh monetary policy and fiseral 16:58 policy. Kok jadi bahasa Inggris 17:01 [tertawa] 17:01 kayak 17:02 keterusan 17:02 ngajar ya. 17:04 Mohon maaf ini ya. Jadi apa namanya 17:09 ee 17:11 landscape-nya itu kan koridornya itu 17:14 adalah kebijakan 17:16 kebijakan fiskal. 17:19 Dan kebijakan fiskal ini biasanya kalau 17:21 kita lihat tekbook makroekonomi dari 17:24 barat konvensional itu di tangan 17:27 Kementerian Keuangan. 17:30 Sedangkan monoter itu berada di bank 17:32 sentral. Bank Sentral pada umumnya di 17:35 beberapa negara itu berdiri sendiri, 17:38 independen, bukan bagian daripada 17:40 pemerintah. Nah, Indonesia juga 17:42 mengikuti hal yang seperti itu. 17:44 Maka kebijakan 17:46 moneter yang dikomandani oleh Gubernur 17:50 bank sentral 17:52 dengan kebijakan fiskal yang dikomandani 17:56 oleh Menteri Keuangan atau Kementerian 17:58 Keuangan harus sinkron. 18:01 Nah, kapan kita nyetel, 18:04 setting atau tuning itu loh ee misalnya 18:08 fiskalnya begini, monitornya begitu. 18:11 Kalau ini enggak sinkron, ekonomi ya 18:15 tidak jalan dengan baik ya, nabrak sana, 18:17 nabrak sini. Tapi yang kita lihat dari 2 18:21 bulan terakhir ini yang dinyatakan 18:24 sendiri oleh Pak Menteri Keuangan adalah 18:26 belanja, belanja, belanja. Nah, kita 18:28 juga sudah memberikan apa itu seri 18:33 siaran kita live 2 minggu lalu kan 18:35 tentang belanja 18:36 ya tentang belanja bagaimana ekonomi 18:38 Islam itu menganjurkan kepada umatnya 18:41 kepada kaum muslimin agar belanja 18:43 belanja belanja fisabilillah bukan 18:46 belanja-belanja ngawur aja itu 18:49 belanja-belanja yang dikaitkan dengan 18:51 infaq fisabilillah ada kata anfiqu 18:53 yunfiquun 18:55 tunfiquun infaq dan lain sebag 18:57 Sebagaimana ada 73 kata infak dengan 19:01 pecahannya di dalam Al-Qur'an yang 19:04 menunjukkan kepada kita betapa ekonomi 19:06 Islam, betapa ekonomi syariah itu 19:10 mementingkan 19:13 belanja di jalan Allah sebagai penggerak 19:17 daripada ekonomi. Makanya dari sini 19:20 seperti ada irisan antara 19:24 antara kebijakan ekonomi Islam dalam 19:26 bidang fiskal. dengan yang dilakukan 19:28 oleh Pak Menteri Keuangan sekarang ini 19:30 seperti ada riset yaitu menganjurkan 19:33 agar selalu uang itu jangan jangan 19:36 nganggur ya. Jangan nganggur, jangan 19:39 dibiarkan nganggur ya. Tetapi uang itu 19:43 dijadikan alat untuk biaya, auto untuk 19:46 belanja. Maka di dalam ekonomi Islam itu 19:49 berkata ya, ada Pak Meo bahwa jika 19:53 seandainya uang itu bisa bicara, dia 19:55 akan ngomong seperti ini, "Wahai kaum 19:57 muslimin, belanjakanlah saya, 19:59 belanjakan, belanjakanlah saya." Ya, itu 20:03 karena dengan belanja itu akan 20:05 menggerakkan perekonomian. Mau 20:07 perekonomian itu Islam, mau pemerintah 20:10 apa ekonomi itu kapitalis, enggak 20:12 masalah. Sebab belanja itu kata kuncinya 20:15 ya. 20:16 itu. Nah, jadi 20:20 hanya dari sisi ini yang beririsan itu. 20:23 Tapi bagaimana ultimate gol-nya, tujuan 20:26 akhir daripada ekonomi Islam di mana ee 20:30 bunga atau riba itu tidak menjadi 20:32 variabel atau non variabel karena 20:35 hukumnya haram, bermuamalah dengan riba. 20:38 dengan kebijakan yang baru tidak ada 20:39 hubungannya dengan pengembangan ekonomi 20:42 syariah. Nah, kalau kita kaitkan lagi 20:44 dengan umpamanya ee gor ya. Ya, goror 20:49 itu kalau dibahas secara lebih luas 20:53 dalam konteks ekonomi baik itu makro 20:55 ataupun mikro, baik dalam konteks fiskal 20:58 maupun moneter itu mungkin akan banyak 21:01 sekali indikasi yang menunjukkan betapa 21:04 besarnya gor terjadi dalam ekonomi kita. 21:07 H 21:07 ya. 21:10 Ya. Bisa goror, bisa tagrir. 21:13 Artinya gor itu kan ee ketidakjelasan 21:16 misalnya ya. Tapi ketidakjelasan apabila 21:20 disengaja 21:22 untuk nipu orang kan jadi takrir ya. 21:25 Jadi gor takrir nanti itu kalau kita 21:28 bongkar-bongkar di dalam kebijakan ini 21:30 mungkin angkanya bisa triliunan juga. 21:32 Nah, sehingga bisa kita apa namanya kita 21:36 simpankan secara pre ya, bahwa andai 21:40 kata goror ini kita hindari dalam sebuah 21:42 perekonomian mungkin akan kita dapatkan 21:46 ee saving yang luar biasa, pengalihan 21:49 sumber daya kepada hal-hal yang tidak 21:50 bersifat goror dan itu menuju kepada 21:53 kesejahteraan masyarakat. Belum lagi 21:56 yang faktor yang ketiga yaitu faktor apa 21:58 tadi? Ee judi 21:59 ya. 22:00 judi ini sudah menjadi penyakit yang 22:02 sulit kita hindari ya. Tetapi dalam 22:06 Islam sudah tegas bahwa judi itu 22:08 dilarang apapun bentuknya ya. Dan 22:11 sekarang ini bentuk-bentuk judi 22:13 mengikuti perkembangan teknologi. 22:15 [berdehem] Ada judi ya judi itu yang 22:19 tradisional kan seperti adu jangkrik 22:22 saja. 22:23 Adu jangkrik. Adu Jangkrik itu 22:26 nominalnya kecil 22:28 yang pelakunya juga kecil ya anak-anak 22:30 itu remaja. Tapi kalau ini dibiarkan 22:33 bahwa di jangkrik yang tadinya itu hanya 22:35 ya aku jangkrik enggak ada masalah tapi 22:37 dibarengi dengan judi itu menjadi sebuah 22:41 fenomena ekonomi. Kemudian kalau sudah 22:44 lebih dewasa lagi lebih besar lagi aduh 22:47 jago ya. Dulu saya kecil waktu masih di 22:50 kampung. W hampir tiap hari kita lihat 22:52 itu judi pakai adu jagung. 22:55 Iya. 22:55 Tapi mungkin juga masih ada sekarang di 22:57 beberapa tempat yang 22:58 sabung. 22:59 Iya. Sambung ayam itu ya. Ya. Beritanya 23:01 juga masih kita dengar ada di berbagai 23:04 kota ya. Kemudian ada lebih besar lagi 23:09 adu banteng. [tertawa] 23:12 Adu banteng adu kebu gitu ya. Diadu adu 23:16 domba misalnya. Jadi itu adalah apa 23:19 namanya ee alat saja yang dipakai 23:23 intinya itu adalah transaksi judi dan 23:26 itu sudah menjadi.Jadi itu yang judi 23:28 tradisional yang bisa kita lihat secara 23:30 visual. 23:31 Judi yang sekarang enggak terlihat dan 23:32 itu lebih besar dan itu lebih berbahaya 23:35 dan korbannya 23:37 semua kalangan masyarakat 23:39 termasuk ya kalangan kaum muslimin 23:42 sendiri. He. 23:44 Anaknya orang yang terkenal, 23:46 kesalehannya bapaknya eh anaknya 23:48 mainjudi. 23:49 Iya. Anaknya polisi, bapaknya polisi, 23:51 anaknya berjudi. 23:53 Bapaknya tentara TNI anaknya berjudi. 23:55 Bapaknya guru anaknya berjudi dan lain 23:58 sebagainya. Bahkan mungkin ada yang kita 24:00 dengar bapaknya menteri ya, anaknya juga 24:02 ada yang berjudi. 24:03 Iya. 24:03 Iya kan? 24:04 Jadi sudah begitu. Nah, apakah kita 24:08 mengambil kebijakan 24:10 dalam bidang fiskal ini? mengabaikan 24:13 bahayanya judi. Nah, kalau kita kaitkan 24:16 itu semuanya kebijakan Pak Menteri 24:18 Keuangan yang enggak ada hubungannya 24:20 karena ini sepertinya beda gitu ya. Jadi 24:24 jemaah itu akhirnya berkesimpulan 24:26 begini. [mendengus] Ee kalau kita lihat 24:30 tujuan utama daripada ekonomi Islam itu 24:32 how to eliminate 24:34 ya interest from the economy, 24:37 gor and speculation from the economy. 24:41 Kemudian 24:42 apa itu judi, 24:45 gamble ya, gambling per ekonomi. Maka 24:49 yang sekarang ini ada itu enggak ada 24:50 hubungannya ya. justru mungkin malah 24:53 memperkuat nomor satu terutama adalah 24:55 bunga ya. 24:57 Sedangkan kita kaum muslimin yang berada 24:59 di negeri ini yang posisinya itu 90% 25:04 tidak ada harapan akan adanya 25:08 berkurangnya peran atau berkurangnya 25:11 pengaruh daripada riba itu kepada 25:13 ekonomi kita. sekalipun kita ini 25:16 memiliki perbankan syariah ya karena 25:20 tidak ada niat ataupun tidak ada 25:22 kebijakan bagaimana membesarkan 25:26 bank syariah ini sehingga orang itu 25:28 tidak lagi menggunakan bunga, tidak lagi 25:31 menggunakan riba 25:34 ya walaupun diganti menterinya atau 25:37 mungkin gubernur sentralnya juga bank 25:38 sentralnya dibantungkin enggak menjadi 25:40 soal tetapi yang menjadi soal adalah 25:43 pengaruh kebijakan terhadap terhadap 25:46 pertumbuhan ya ekonomi syariah dan 25:49 keuangan syariah 25:51 itu adalah zero. [tertawa] 25:54 Itu yang disebutkan oleh para jemah ini 25:56 sangka h 25:59 untuk sementara ya karena kita belum 26:01 lihat ya 26:01 iya 26:02 perkembangan berikutnya. Terus Pak 26:04 Ustaz, kita juga ini kan di antara tadi 26:07 Pak Ustaz menjelaskan ketika 26:09 implementasi kebijakan ya, seorang 26:11 menteri itu yang tidak bebas ee dalam 26:14 memilih hal-hal gitu ya atau variabel 26:17 yang tersedia itu 26:20 apakah Pak Ustaz juga melihat 26:22 kebijakan-kebijakan itu ada yang 26:24 beririsan dengan ekonomi Islam lah gitu. 26:28 Iya. 26:28 Contoh ee bagaimana 26:31 efisiensi gitu. 26:32 Iya. Lalu juga bagaimana ee mengutamakan 26:37 keadilan gitu. Lalu mengutamakan oh dana 26:41 ini mungkin harusnya untuk ini gitu ya. 26:44 Iya. 26:44 Atau dana ini lebih penting untuk ini 26:46 daripada untuk bayar utang projject apa 26:47 gitu ya. 26:49 Kalau secara prinsip Pak saya secara 26:50 prinsip ya apakah ada beririsan dengan 26:53 Iya ada. Misalkan secara umum kan ada 26:55 yang sama. 26:56 He 26:57 tujuan kebijakan fiskal e termasuk juga 27:00 kebijakan moneter ya ada yang sama. He 27:03 dalam makroekonomi disebutkan satu ya 27:07 menciptakan lapangan pekerjaan 27:09 iya itu to create employment iya 27:12 menciptakan lapangan pekerjaan to 27:15 stabilize moner 27:18 currency dalam itu ee menstabilkan nilai 27:22 nilai tukar mata uang 27:24 ya kemudian 27:28 memberi membikin pertumbuhan ekonomi how 27:30 to make ekonomi grow bagaimana membuat 27:34 ekonomi ini tumbuh ya itu. Kemudian 27:39 investasi 27:40 kebijakan investasi artinya kalau kita 27:43 ingin ee memberikan lapangan pekerjaan 27:45 baru kepada ekonomi, 27:49 maka mau enggak mau kita harus me apa 27:52 namanya mengundang investor, 27:56 meningkatkan investasi. 27:58 Nah, investasi ini sebenarnya ada dua. 28:00 Satu investasi domestik dan satu 28:03 investasi yang kita inginkan berasal 28:05 dari luar negeri ya. 28:07 Luar negeri. 28:08 Kalau kita mengandalkannya investasi 28:10 domestik itu terbatas untuk memberikan 28:13 lapangan pekerjaan sehingga tujuan 28:14 makroekonomi kita dalam sektor ini sulit 28:17 untuk bisa dicapai. 28:20 Karena itu yang paling utama adalah 28:23 bagaimana 28:25 membuat investor asing itu beramai ramai 28:28 datang ke sini. 28:29 Tentu kita harus berikan sesuatu yang 28:32 manis ya yang mereka tuh senang di sini. 28:35 Senang menanamakan modalnya di sini. 28:37 Tidak ke Vietnam, tidak ke Singapura, 28:39 tidak ke Malaysia, tidak ke apa itu 28:42 Thailand, tidak ke Filipina, tapi ke 28:43 sini. Nah, kita harus bisa membandingkan 28:46 bagaimana 28:48 yang kita tawarkan kepada investor asing 28:50 itu lebih baik dalam hampir segala hal 28:54 ya daripada misalnya Malaysia, daripada 28:57 misalnya Filipin, Thailand dan lain 28:59 sebagainya. Kita menang umpamanya dalam 29:01 hal buruh yang murah ya, 29:04 buruh atau tenaga kerja yang melimpah 29:05 ruah di Indonesia dan bisa dikasih gaji 29:09 yang murah. itu suatu hal yang 29:11 keunggulan nomor satu di Indonesia ya. 29:14 Kemudian padat karya, kemudian teknologi 29:17 enggak tinggi-tinggi ya seperti itu atau 29:20 yang diserap di dalam negeri atau 29:23 misalkan barang-barang yang dibutuhkan 29:24 dalam negeri tapi belum dibuat di sini 29:27 atau bisa dibuat sini tapi menggunakan 29:29 bahan baku dari negeri 29:30 tapi pasarnya besar. karena itu juga 29:32 menjanjikan ya banyak karena itu sektor 29:34 energi, sektor otomotif ya kemudian 29:38 elektronik dan sebagainya banjir dari 29:41 Korea, dari Jepang, dari Cina ya 29:43 [mendengus] karena pasarnya sangat 29:44 besar. Nah, kalau yang ini irisan ya. 29:48 Jadi tujuan makroekonomi Islam juga sama 29:51 menciptakan lapangan pekerjaan karena 29:54 pengangguran itu madarat dalam ekonomi 29:57 Islam ya. pengangguran itu madarat ya, 30:00 bukan maslahah. 30:01 Heeh. 30:01 Iya. Karena madarat itu harus 30:03 dihilangkan ya. Karena caranya 30:06 menghilangkannya bagaimana? Ya, 30:08 meningkatkan investasi, mengundang 30:11 investor asing untuk bikin pabrik di 30:13 sini sehingga jumlah penduduk kita yang 30:16 tidak punya lapangan pekerjaan ini 30:18 terserap di situ. Itu ini irisannya sama 30:22 ya. Tapi yang tidak ada irisan yang sama 30:24 ya kebanyakan moneter ya. Ya, misalnya 30:27 suku bunga tetap menjadi the most 30:29 important variable. 30:31 Heeh. 30:31 Iya. 30:33 Nah, kalau 30:33 Iya kan 30:34 kalau tujuan meningkatkan dari tadi 30:37 mulai pertumbuhan, menyediakan lapangan 30:40 pekerjaan yang pasti mengurangi 30:42 pengangguran. 30:44 Kalau secara langsung Pak Ustaz ada 30:45 pengaruhnya enggak ke ekonomi Islam 30:47 kira-kira ini 30:48 atau ke keuangan syariah lah gitu ya. 30:50 Iya. Sebetulnya kan kalau kita membuat 30:53 ee apa namanya? mengimplementasikan 30:56 kebijakan ee 30:59 makroekumi untuk menarik investor asing. 31:02 Heeh. 31:02 Apapun lapangannya ya. Misalnya 31:05 kata-kata pabrik ya. He. 31:06 Pabrik mesin ee pabrik mobil misalnya 31:09 Toyota. Hampir semua punya Jepang ada di 31:11 sini ya. 31:12 He 31:13 ya. Ada Toyota, ada Honda, ada Isuso, 31:14 ada apa lagi? Mitsubishi ya, ada Nissan 31:19 ya. Ada di sini semua pabriknya 31:22 ya kan. 31:23 itu kan sektor ril sebetulnya sektor di 31:25 mana kita bekerja. 31:27 Tapi pada saat yang sama sektor keuangan 31:31 itu ngikut. 31:32 H 31:32 ya. Contoh misalnya ya 31:35 Toyota ke sini Toyota tidak mungkin 31:38 ambil partner banknya itu Indonesia. 31:45 Itu nomor satu. Dia pasti bank-bank yang 31:48 punya dia. 31:48 Oh, punya dia. [berdehem] Berarti kan 31:49 dari luar gitu ya. 31:50 Iya. Jadi akan ada 31:52 ee pertumbuhan atau cabang-bank Jepang 31:55 apa namanya. Walaupun bank-bank itu 31:58 menggunakan bahasa Indonesia. 31:59 Iya. 32:00 Iya. Tapi pemilihnya Jepang loh. Banyak 32:02 se kita lihat 32:03 Cina juga gitu ya. 32:04 Cina juga sama. 32:05 Korea juga gitu. 32:07 Kita itu enggak sengak enggak enggak 32:09 sadar ya bahwa 32:11 apa sampai sekarang ini 32:12 Heeh. 32:13 Sudah banyak bank-bank yang dari Korea. 32:16 Ada yang menggunakan bahasa Korea. 32:17 Iya. 32:18 Ada yang menggunakan bahasa bahasa kita. 32:20 gitu kan 32:21 e yang bank yang dicaplok-caplok itu 32:23 bank Bukupin. [tertawa] 32:25 Oh 32:25 iya. 32:25 Ini semua jangan dikira independen dari 32:28 perusahaan-perusahaan Korea. Enggak. Dia 32:30 selalu berhubungan dengan itu. 32:33 Ya, itu jadi terkait selalu terkait 32:36 termasuk yang ee Amerika. Amerika banyak 32:40 perusahaannya di sini. 32:41 Iya. 32:41 Makanya ada City Bank, ada macam-macam 32:44 bank-bank yang 32:45 Belanda juga ya. Oh iya, Belanda kan 32:47 karena dulu pernah di sini ya bank-bank 32:50 kita itu akuisi dari bank Belanda 32:53 BNI ya kan BI juga itu itu dulu Bank 32:57 Belanda 32:58 dan lain sebagainya. Contohnya Bank Cina 32:59 juga mulai banyak sekarang I kan 33:02 Singapura ya. H 33:04 Singapura itu diam-diam banyak itu 33:06 banknya dan gede-gede. 33:08 H 33:08 bahkan ee menawarinya kepada 33:12 nasabah-nasabah baru ee luar biasa 33:15 canggihnya. 33:16 Hm. 33:16 Ya, dulu pernah ya banknya itu enggak 33:19 punya cabang di Indonesia. Cabangnya e 33:22 memang bank Singapura ya punya 33:23 Singapura. Tapi cara mendapatkan 33:26 nasabahnya ke sini, ke hotel, ke mall, 33:28 ke mana datang. 33:30 Hm. 33:30 Kak gitu ya. Ya, bank kita kan enggak 33:33 ada. Mana ada Bank BNI yang kasih orang 33:36 Malaysia datang ke orang Malaysia jadi 33:38 nasab kita. Enggak ada. Mereka luar 33:40 biasa. Sampai pernah itu ya akhirnya kan 33:44 melanggar ketentuan dari bank kita gitu 33:47 ya. 33:47 Tapi yang harus kita sadari adalah bahwa 33:51 ee dalam kerja sama ee dalam hal ini 33:54 kita ingin memberikan ee lapangan 33:57 pegarisan kepada ee kita, kepada 34:00 penduduk kita. Lalu kita itu apa 34:02 namanya? Menarik investor asing kemudian 34:04 bikin pabrik di sini. Itu kita bekerja 34:08 pada ee kebijakan sektoril ya yang 34:12 intinya adalah menyerap tenaga kerja dan 34:14 ini manfaat ya 34:16 maslahat kan bukan madarat. Jadi dalam 34:19 ekonomi Islam itu pengangguran itu 34:20 madarat ya bukan maslahat yang harus 34:23 kita hindari. Nah untuk untuk 34:25 menggantinya harus dengan masyarakat. 34:27 Maslahatnya apa? yaitu mendirikan pabrik 34:29 yaitu mengundang investor asing agar 34:32 supaya datang ke sini dan menyerap 34:34 tenaga kerja. Nah, ketika terjadi 34:36 penyerapan tenaga kerja employment yaitu 34:39 lapangan pekerjaan ini mulai muncul dan 34:41 ada tenaga kerja yang menutup atau 34:44 mensuplai maka pengangguran akan 34:46 berkurang, maslahat akan wujud dan apa 34:49 nam madarat akan berkurang. Memang tidak 34:51 bisa dihilangkan sama sekali ya. Ya, 34:53 tetapi paling tidak madarat itu harus 34:55 kita kurangi. Yang kedua adalah bahwa 34:58 ketika sektoral itu bangkit dari kerja 35:02 sama dengan investor asing, maka negara 35:05 yang menjadi 35:07 yang memiliki pabriknya di Indonesia itu 35:09 tidak akan diam dalam sektor manajernya 35:12 e keuangannya. Mesti akan bikin cabang 35:14 di sini. Ya, jadi seperti Jepang kita 35:17 sudah banyak sekali SMBC itu kan punya 35:19 berapa bank di sini? banyak sekali. Seis 35:22 itu sumitomo, Misubisi gabungan jadi 35:24 satu. Ya. Ya. Orang gak tahu SMBC itu 35:28 singkatan dari apa ya dikiranya 35:31 Surabaya, Magelang itu bukan ya. 35:33 Itu Sumitomo itu konglomerat besar 35:39 Mitsubishi. Kita tahunya Mitsubishi itu 35:41 mobil atau truk padahal di situ 35:43 Mitsubishi itu bank ya. 35:45 Semuanya begitu ya. 35:48 Jadi, makanya kalau menurut 35:52 kita seandainya bank-bank dari luar 35:55 negeri itu kita larang bikin di sini, ya 35:58 mereka juga enggak akan mau mendirikan 36:00 pabrik itu. 36:01 Iya kan? Makanya tetap aja aliran itu ee 36:05 masuk ke bank-bank mereka. 36:07 Iya. Makanya ee perusahaan-perusahaan 36:10 otomotif itu tidak memiliki tidak pasti 36:13 membutuhkan dia punya perusahaan 36:15 perbankan ya untuk mendukung dia dan itu 36:18 membuat mereka menjadi sangat cepat 36:20 bertumbuh gitu. Jadi ini kalau kita tadi 36:24 ceritanya kan irisan antara kebijakan 36:27 ekonomi makro Islam dengan kebijakan 36:29 makroekonomi konvensional ada yang sama 36:32 dalam hal ini. Ini kita sebutkan yang 36:34 sama itu adalah 36:35 adanya employment ya. 36:38 Bahwa tujuan makro ekonomi mau ee makro 36:41 yang yang konfirun yang bukan yang Islam 36:44 tetap yaitu menciptakan lapangan antar 36:46 kerja mengurangi pengangguran, 36:47 menstabilkan currency nilai tukar. 36:50 Heeh. He. 36:50 Nah, terus kita bertanya, "Nah, kita ini 36:53 apa menggunakan kebijakan untuk 36:55 melakukan stabilisasi 36:57 ee moneter untuk menstabilkan rupiah, 36:59 Pak? Wong rupiah hancur terus enggak 37:02 pernah." Ya, kita sudah melakukan itu, 37:04 tapi kita kalah. [tertawa] 37:08 Kita sudah all out itu apa yang kita 37:10 punya, segala senjata kita pakai untuk 37:14 menjaga rupiah stabil, 37:16 kalah terus 37:17 tetap boncos gitu ya. 37:20 Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah 37:21 subhanahu wa taala. Saat ini Anda 37:23 menyimak kajian ekonomi Islam live 37:26 bersama narasumber kita, guru kita, 37:28 Ustaz Ih Basri. Silakan sampaikan 37:30 pertanyaan ataupun komentarnya ke nomor 37:32 WhatsApp di 0811999720. 37:39 Kami akan rehat sejenak. Kami akan 37:40 kembali di sesi kedua dengan menjawab 37:43 pertanyaan-pertanyaan yang sudah masuk. 37:44 tetaplah bersama kami. 37:48 [musik] 37:55 [musik] 38:02 [musik] 38:11 Radio Silaturahim dan Rasil TV untuk 38:13 Islam yang satu. Ihat, pendengar dan 38:15 pemirsa di mana saja berada. Terima 38:17 kasih masih bersama kami dalam kajian 38:19 ekonomi Islam. Narasumber kita Ustaz 38:21 Ikhwan Basri menyampaikan mengenai 38:23 harapan baru bagi perkembangan ekonomi 38:25 Islam. Bagaimana teropong ekonomi Islam. 38:29 Ee saya akan membacakan atensi dari Ibu 38:31 Ani Cani Hudaifah. Asalamualaikum 38:33 warahmatullahi wabarakatuh. 38:35 Pak Ustaz semoga selalu sehat. 38:37 Alhamdulillah, Pak Ustaz, saya hadir 38:38 menyimak ee di radio pencerahan dengan 38:42 kajian ekonomi Islam. Begituun ini Pak 38:47 Sodikin yang menyimak siaran di pagi 38:49 hari ini. Begitu juga 38:53 Viza Fitriana, Bu Fiza ya menyimak. 38:57 Ada juga Pak Anwar menyimak siaran di 39:01 ekonomi Islam kali ini. Dan sebelum kita 39:04 ke beberapa pertanyaan kalau dari Pak 39:07 Ustaz sendiri, Pak Ustaz melihat gitu 39:09 ya, ini ketika viral terus pemberan 39:13 pemberitaan menteri ekonomi kita. 39:16 Kira-kira harapan ada enggak, Pak Ustaz? 39:19 Ya, menjadi harapan gitu bagi pegiat 39:22 ekonomi Islam dengan sepak terjang 39:25 menteri yang baru ini, Pak Ustaz? 39:27 Iya, terima kasih Masang. Para pemirsa 39:29 Rasil TV dan para pendengar Radio 39:31 Silaturahim yang dirahmati Allah 39:32 Subhanahu wa taala. 39:35 Ee dunia kita sudah berbeda daripada 39:38 dunia yang kita alami 35 tahun yang lalu 39:41 ya. 39:42 Pada waktu itu belum ada internet ya. 39:45 Jadi komunikasi sosial itu sangat 39:47 terbatas dibandingkan kita sekarang. 39:49 Aksesnya juga sangat terbatas dan 39:51 kecepatannya juga sangat terbatas. yang 39:54 kita alami sekarang ini adalah zaman 39:57 media massa absolut lah kalau menurut 40:00 saya katakan dalam pengertian bahwa 40:02 segala macam perkara itu bisa 40:04 diviralkan, 40:05 segala macam persoalan itu bisa di ee 40:08 jadikan berita dan 40:12 pemberitannya bukan wartawan, siapa aja, 40:15 semua orang ya. Karena itu maka apapun 40:18 yang menjadi ee berita akan meluas 40:23 dengan cepat. Apalagi itu adalah sumber 40:25 berita. Kalau menteri, kabinet ataupun 40:29 istana negara itu sumber berita. 40:32 Ada wartawan di situ 24 jam ya. Iya kan? 40:36 Nah. Nah, itu apa namanya akan diliput 40:40 oleh semua orang bahkan mereka yang 40:43 bukan ahli berita, bukan wartawan, bukan 40:46 siapa-siapa ya. Ada seperti content 40:49 creator itu kan akhirnya punya bahan 40:51 untuk dijadikan konten. [tertawa] 40:53 Iya. 40:54 Nah, orang-orang seperti ini upload apa 40:57 yang mereka buat itu di media-media 40:59 sosial. ada Instagram, ada Facebook, ada 41:02 YouTube dan lain sebagainya 41:04 yang sudah menafsirkan sendiri bahan 41:08 berita yang dia peroleh. Jadi misalnya 41:10 mungkin Pak Menteri ngomongnya begitu, 41:12 tapi tidak dimasukkan untuk itu. Nah, 41:15 oleh contentor itu dibuatlah komentar 41:17 dia menurut versi dia 41:19 sehingga menjadi kabur itu dan betapa 41:22 banyaknya ee itu di dunia maya ya. 41:26 Karena itu maka ee apa namanya ee dalam 41:29 hal ini kita 41:32 menginginkan, kalau saya sendiri sih 41:34 menginginkan begini, seorang pejabat itu 41:37 jangan banyak bicara ya. Ya, ya bicara 41:41 boleh tetapi dikontrol gitu ya. Karena 41:45 kalau kita enggak bisa ngontrol 41:47 pembicaraan kita, maka efek berikutnya 41:51 itu multiplayer-nya banyak banget ya. 41:54 akan diterima oleh mereka-mereka yang 41:56 tidak punya ee apa namanya kompetensi di 41:59 bidang itu dengan komen-komen yang 42:02 negatif, yang positif dan lain 42:04 sebagainya macam-macam gitu ya. Dan itu 42:06 tidak akan bisa membuat perkara itu 42:08 menjadi lebih jelas ya. Akhirnya energi 42:11 kita habis di situ. Tapi kalau ini yang 42:13 diinginkan 42:15 ya kita jadi bangsa yang seperti ini ya. 42:17 Makanya menurut saya itu dan sebagai 42:21 pelajaran selama hidup saya itu hidup ee 42:25 saya hidup bukan hanya di Indonesia, di 42:27 luar negeri 42:28 itu yang saya lihat adalah seorang 42:31 pejabat itu tidak pernah bicara. Eh 42:33 bukan tidak pernah bicara tapi di konter 42:36 ya. Saya beri contoh ya. Kalau di kita 42:38 ini zaman Pak Harto [tertawa] 42:41 [terkesiap] 42:42 itu pencapaiannya luar biasa. apa yang 42:44 dicapai dalam rangka dalam jangka waktu 42:46 tahun 1965 sampai 70 atau 69 lah. 42:50 He. 42:51 Ekonomi makro ekonomi itu on the track 42:53 itu tidak lama dari kekacauan ya sangat 42:57 kacau ya katanya 43:00 Pak Dr. Budiono dalam bukunya itu 43:03 sautnya bukunya itu yang berjudul ee 43:05 bahasa ekonomi Indonesia atau apa itu 43:07 dari zaman Belanda sebelum VOC malah 43:10 sampai dengan hari ini ketika kondisi 43:13 negara tidak punya reserve ya tidak 43:16 punya apa namanya devisa. 43:18 Heeh. 43:19 Habis kita devisa untuk ee mengatur 43:22 negara karena kacau ada PKI ada 43:25 pemberutangan di mana-mana habis ya. ya 43:28 kita enggak bisa membik impor kita 43:30 padahal kita impor dan kita enggak punya 43:32 apa namanya uang untuk membayar dan kita 43:35 harus makan kemudian kekurangan pang 43:38 inflasi sampai 500% dan lain sebagainya 43:41 itu semua kekacauan ekonomi bisa 43:42 diselikan dalam waktu yang relatif 43:44 singkat dan tidak banyak bicara gitu 43:46 loh. 43:46 Iya. 43:47 Yang ada adalah sanjungan dari berbagai 43:51 kelompok ya yang menunjukkan bahwa 43:54 ini berkinerja. 43:56 Begitu juga setelah tahun 0 sampai tahun 43:59 90 kinersi makroekonomi kita pertumbuhan 44:02 ekonomi rata-rata 7% per tahun. Dia 44:05 enggak pernah banyak bicara pejabat 44:06 menteri dan lain sebagainya bicara 44:07 seperlunya. 44:10 Ee dulu ketika saya kuliah di Pakistan 44:12 itu 44:14 zaman Presiden Jul Haq tahun 44:18 78 44:20 saya itu di sana beliau itu apa namanya 44:24 kecelakaan pesawat itu tahun '88 bulan 44:27 Agustus kalau enggak salah tanggal 14 44:30 pokoknya sebelum 17 Agustusan ya. H. 44:33 Jadi, nah saya selalu baca berita harian 44:37 saya baca berita dulu pada waktu itu ada 44:40 koran ya. 44:41 He, 44:41 belum ada internet. Jadi, yang saya baca 44:43 korannya itu di The Pakistan Time selalu 44:46 itu karena di kantor saya di ee sekolah 44:48 saya ada The Muslim itu Syiah 44:51 kelihatannya. Kemudian The Down itu dari 44:54 KC ya. Dan the news yang terakhir itu 44:57 The News. 44:58 Nah, apa namanya komen-komen politisi, 45:02 lawan-lawan daripada Za itu luar biasa. 45:05 Heeh. 45:05 Menyerang dia. Tapi yang saya cari 45:08 jawaban dia itu apa? Enggak ada. Enggak 45:10 ditanggapi sama sekali. 45:11 Engak ditanggapi. 45:12 Dia tetap pergi ke kantor pakai sepeda 45:15 hotel ya. 45:15 H. 45:16 Iya. Bagaimana itu? Jadi hanya 45:19 perilakunya yang membuat orang orang 45:22 asing terutama kalau orang Pakistan 45:23 mungkin sudah biasa. 45:25 Kalau saya salut ya. Bagaimana dia 45:27 seorang presiden ke kantor makai sepeda 45:29 ontel [tertawa] 45:31 di saat semua lahan politiknya menyerang 45:34 dengan bahasa yang sangat kasar 45:37 tapi dia tidak memberikan jawaban. Ya. 45:39 Jadi ya itulah yang saya melihat 45:43 perbandingannya. Nah, di sini pejabat 45:45 banyak bicara ya. 45:48 Dan bicaranya itu memberikan harapan. 45:50 He. 45:50 Padahal harapan itu insyaallah bisa 45:52 terjadi, insyaallah bisa tidak. 45:55 Harapan. 45:55 Iya kan? Kita kan enggak bisa memastikan 45:57 apa yang kita kerjakan terhadap ekonomi 45:59 kita 4 bulan ke depan ini bisa begini. 46:03 Enggak bisa. He. 46:04 Maka kita bilang insyaallah. Dengan 46:06 insyaallah itu pun kita belum tentu 46:08 bisa. Apalagi tanpa insyaallah. 46:11 Ya, makanya 46:14 ya di dalam Al-Quran dikatakan surah 46:16 Alkahfi itu jangan kamu mengatakan besok 46:20 saya akan melakukan ini illa kecuali 46:23 dengan insyaallah. Iya kan? 46:25 Iya. 46:26 Nah, ini tanpa insyaallah bilang sana 46:28 bilang sini itu bagi saya merupakan adab 46:32 yang harus kita jaga ya. 46:35 Karena sebagai seorang pejabat itu 46:37 jangan sampai kita itu ngumbar 46:38 pernyataan apalagi pernyataan itu 46:41 ditujukan pada lawan kita. [tertawa] 46:43 Jadi akhirnya perang ya. Iya, 46:46 itu. Nah, yang saya itu miris adalah 46:49 suatu pernyataan dari siapapun juga 46:51 menteri atau siapa juga yang punya 46:53 pejabat ee jabatan publik itu ee tidak 46:58 menghitung menimbang omongannya dan 47:01 bahkan memberikan harapan-harapan yang 47:03 membuatkan membuat masa itu ee ingin apa 47:07 nam seolah-olah sudah sudah terwujud 47:09 begitu ya. 47:10 Nanti apabila kenyataannya tidak seperti 47:13 itu, 47:14 itu kita malunya setengah mati 47:16 ya. Setengah mati. 47:18 Mau diletakkan di mana 47:20 ee muka kita bahwa kita seolah-olah bisa 47:23 melakukan sesuatu di mana itu bukan 47:25 dalam kontrol kita. 47:26 Saya kira itu Masangga ya. 47:28 Baik, Pak Ustaz. Ini ada pertanyaan dari 47:31 Syekh Ayub Al bin Said. Asalamualaikum 47:34 warahmatullahi wabarakatuh. 47:34 Waalaikumsalam war. Pak Ustaz, apakah 47:36 ekonomi Islam bisa bangkit di negeri 47:38 kita saat ini? Apalagi 47:42 riba ini kan masih meraja lela, Pak 47:44 Ustaz. Dan riba itu adalah dosa. 47:47 Masyaallah. Syekh Said, Syekh siapa 47:49 namanya? 47:49 I Ayub. Al Ayub. Masyaallah. 47:51 Mudah-mudahan 47:53 ee kita semuanya dirahmati Allah 47:55 Subhanahu wa taala ya, Syekh Ayub ya. 47:57 Jadi 47:59 dengan pertanyaan tadi itu ya kita 48:01 enggak bisa menjawab dengan terang ya 48:03 bahwa masa depan ekonomi Islam di 48:06 Indonesia ini cerah ya karena faktor 48:10 utama ya variabel utama yang begitu 48:13 penting di dalam pengambilan kebijakan 48:16 dan merupukan pilar daripada ekonomi itu 48:18 sendiri tidak hilang 48:20 ya. 48:21 Jadi ekonomi kita ini mengikuti dual 48:24 system ya. dual sistem artinya ekonomi 48:27 konvensional 48:29 dan ekonomi syariah dijadikan satu bisa 48:32 berkembang dua-duanya. Tapi kalau kita 48:35 lihat kebijakan Pak Menteri Keuangan kan 48:37 enggak menyinggung sama sekali ekonomi 48:38 Islam. 48:38 H 48:39 yang disinggung adalah ee ekonomi 48:42 konvensional. Intinya adalah ini 48:45 konvensional akan diperhatikan 100%. 48:49 Semua tenaga sumber daya pemerintah 48:52 diarahkan untuk mengembangkan ekonomi 48:54 tapi konvensional 48:55 dan 0% tidak dipakai untuk syariah. 48:59 Ya, sebenarnya pengkhianatan terhadap ee 49:01 amanah ya undang-undang karena 49:03 dua-duanya harus punya peran di dalam 49:06 ini. Bahkan ekonomi syariah itu 49:08 memberikan peran pelengkap kalau pada 49:10 kondisi seperti ini bisa memberikan 49:13 peran pelengkap kepada apa yang tidak 49:15 dimiliki oleh konvensional. terutama 49:17 dalam hal ini adalah zakat. Selama ini 49:20 pemerintah itu tidak secara 49:24 tulus lah kalau dalam pengertian saya 49:27 atau tidak secara ee mati-matian 49:32 menjadikan zakat ini sebagai sumber 49:34 utama untuk me ee menyelamatkan 49:38 perekonomian Indonesia. Padahal ada di 49:40 situ letaknya ya. yang gak tahu ini 49:43 faktornya apa, faktornya sekuler kah 49:46 atau orang-orang yang KTB-nya Islam tapi 49:50 tindakannya sekuler, konvensional, 49:52 wallahuam bis itu semuanya ada 49:54 jawabannya ya. Tetapi 49:57 bagi orang yang ngerti kalau kita ini 50:00 komposisinya penduduknya 89% umpamanya 50:04 harusnya kebijakan itu fair bahwa 80% 50:07 dari penduduk ini harus diberdayakan dan 50:10 80% 50:11 85 eh 89% penduduk ini memiliki sesuatu 50:15 yang tidak disentuh sama sekali. 50:17 Dia memiliki zakat, dia memiliki wakaf, 50:21 dia memiliki macam-macam sedekah, infak, 50:24 dan lain sebagainya. konsep-konsep yang 50:26 tidak ditemukan di dalam ekonomi 50:28 konvensional. 50:30 Kalau kita itu membesarkan ilmu e 50:32 ekonomi konvensional itu kita sepertinya 50:35 masuk dalam jebakan terus. He. 50:39 Saya ngomong ini enggak enggak apa ya, 50:41 bukan pakai data Amerika itu yang kita 50:44 bangga-banggakan 50:46 sekarang bagaimana dengan ekonomi ya 50:48 enggak jelas kapitalis tapi dikuasai 50:50 oleh 50:52 apa ya itu. 50:53 Iya. 50:54 Orang orang Amerika sendiri mengatakan 50:56 Trump itu bukan presiden, itu king gitu 50:59 ya. 51:00 We are we have no we have no king in our 51:03 history. Katanya kami sepanjang sejarah 51:05 enggak punya raja. Kami punya presiden. 51:08 Tapi yang dilakukan oleh Trump ini 51:09 raja. 51:10 Raja kebijakan bertentangan dengan 51:12 kapitalis. Sekarang seluruh negara Eropa 51:15 enggak ada yang maju. Mana ada negara 51:17 Eropa yang sekarang ekonominya bersinar. 51:20 Jerman, Prancis ada. 51:22 Apakah kita akan perjuangan kapitalisme? 51:25 He. 51:26 Apakah kita akan perjuangan apa namanya 51:29 konvensional yang mentok sana mentok 51:31 sini sekarang sudah end of game dia akan 51:34 berakhir. 51:36 Yang ada sinarnya cuma ekonomi Islam. 51:38 Iya. 51:39 Tapi bagi orang yang tidak punya 51:41 pandangan, dia tidak tahu itu. He 51:44 ya. Mudah-mudahan ee Syekh Ayub ini bisa 51:48 mengerti itu bersama kita bahwa the 51:51 ultimate future itu adalah ekonomi 51:54 Islam. Barang siapa yang yang 51:56 membesarkan, mengagungkan, 51:58 memperjuangkan ekonom konvensional itu 52:02 masa depannya sudah bisa dilihat adalah 52:05 kehancuran 52:07 karena tidak diri oleh Allah Subhanahu 52:09 wa taala. Kita bisa mengom begitu 52:11 sekarang dan kita akan buktikan bahwa ke 52:12 depan ekonomi Islam itu lebih baik. H 52:15 ya. 52:15 Selanjutnya, Pak Ustaz ada Pak Wahid di 52:18 Bintan. Asalamualaikum warahmatullahi 52:20 wabarakatuh. 52:21 Waalaikumsalam warahmatullah. mengenai 52:23 irisan 52:24 ekonomi konvensional dengan ekonomi 52:27 Islam. Bagaimana Pak Ustaz memahami 52:30 fiskal dalam ekonomi Islam? Oke 52:34 ya. Fiskal ini di tangan Menteri 52:37 Keuangan intinya adalah governance 52:40 government spending, pajak, taxation dan 52:43 lain sebagainya. 52:44 H. 52:45 Jadi saya bisa membaca itu pikirannya 52:47 Pak Menteri Keuangan. Dia mengatakan 52:49 bahwa apa yang saya lakukan ini ada ada 52:53 dalam sejarah, 52:54 ada bukunya. Kan saya ahli ekonomi 52:57 bukan ekonomi abal-abalitu. [tertawa] 53:00 Senang saya melihatnya. 53:02 Tapi ya tapi enggak disebutkan peristiwa 53:05 apa. Tapi saya bisa menelusuri itu 53:07 peristiwa pada tahun 1930-an ketika 53:10 dunia kena great depression. 53:12 Hm. 53:14 Di mana suku bunga pada waktu sudah 53:16 below 2% ya. suku bunga itu sudah di 53:19 bawah 2%. 53:22 Nah, kalau dalam pengertian mereka makin 53:24 kecil suku bunga itu harusnya sektor ril 53:28 itu ini apa? Bergerak. 53:30 Karena orang enggak ada gunanya nabung 53:32 di bank, enggak ada dapat hasil apa-apa. 53:34 Heeh. 53:35 Maka yang harus mereka lakukan adalah 53:37 membelanjakan uang itu untuk yang hal 53:39 yang produktif. Tapi itu enggak 53:41 dilakukan sehingga terjadilah Malaysia 53:43 apa musibah besar yang disebut GR 53:45 depression itu. Nah, yang bisa 53:47 menyelamatkan dalam konteks ini menurut 53:49 mereka adalah John Mkins ya [mendengus] 53:54 yang disebut model kinya itu eh apa nam 53:57 solusinya atau resepnya adalah 54:00 increase government spending. Jadi 54:03 belanja pemerintah harus dinaikkan. 54:07 Artinya apa? harus ada pemerintah 54:11 menciptakan pekerjaan ya dengan cara 54:13 bagaimana ya dia apa namanya mencetak 54:16 uanglah gitunya kriting money gitu ya 54:18 di sektor yang lain sektor moneternya 54:20 gitu. 54:20 Jadi orang-orang yang nganggur karena 54:22 dulu itu ee banyak barang enggak bisa 54:26 beli karena apa? Karena orang 54:29 pendapatannya sudah turun. Tapi 54:32 pabrik-pabrik itu tetap memumpah 54:34 barangnya ke ekonomi. Karena antara 54:38 orang tidak bisa beli barang dengan 54:40 produksi ini kan lag enggak bisa 54:42 seketika. 54:43 He 54:44 lag. Ada beberapa jat apa waktu yang 54:47 tidak sama ya. Lalu kemudian apa yang 54:49 terjadi? Barang enggak terserap ada di 54:51 mana-mana. Orang juga mau beli enggak 54:53 punya uang. Pengangguran di mana-mana. 54:55 Perampokan dulu di New York, di Amerika 54:57 itu perampokan di mana-mana waktu tahun 54:58 itu ya. 55:00 Ee enggak seperti itu. Ee mungkin lebih 55:02 buruk daripada tahun 99 dari kita. 55:04 Jelas. Iya. Menurut saya sih lebih buruk 55:06 ya. 55:07 Nah, maka selamat apa namanya ekonomi 55:10 kapitalis yang hancur pada waktu itu 55:13 akhirnya diselamatkan dengan model 55:15 kinzin ya, yaitu dengan apa itu ee 55:19 belanja pemerintahan belanja 55:21 pemerintahan dinaikkan. Pokoknya mencip 55:24 pemerintah itu menciptakan pekerjaan, 55:25 bikin gedung, bikin jalan, bikin 55:27 gorong-gorong, bikin dan lain sebagainya 55:29 semuanya dibuat dan siapapun yang 55:31 bekerja dikasih uang. 55:32 He. 55:33 Akhirnya uang orang itu menerima 55:34 pendapatan dan akhirnya pendapatan 55:36 dipakai untuk belanja, belanja, belanja 55:37 terus. Nah, ini yang menurut saya Pak 55:41 Menteri itu inspirasinya di sini ya. 55:44 Nah, tapi kalau menurut monoteris 55:47 seperti Milton Freedman enggak enggak 55:50 ada. itu semuanya salah persepsi katanya 55:53 deh. 55:53 Iya. 55:54 Jadi yang paling penting e kebijakan 55:57 yang paling nendang di dalam bidang 55:59 ekonomi monoteris. Kalau mazhabnya 56:01 monoteris, kalau fiskalis seperti ini ya 56:04 berdata menunjukkan begitu ya. 56:07 Tapi itu enggak bisa dipakai sepanjang 56:08 jalan. Setiap kita mendapat kasus kita 56:11 kemudian bercermin ke kasus itu enggak 56:14 enggak selalu begitu gitu loh di dalam 56:16 ekonomi ya. Dulu dosen saya itu ngomong, 56:20 "Jika ada satu persoalan dan ada 10 ahli 56:22 ekonomi, He, 56:24 akan ada 11 pendapat yang berbeda 56:27 [tertawa] 56:28 itu." Oke. 56:29 Jadi, memahami fiskal dalam ekonomi 56:32 Islam itu ada beberapa prinsipnya. 56:35 Iya, hampir sama kalau 56:37 yaitu memberi apa nama meningkatkan 56:40 belanja pemerintah. 56:41 Iya. 56:42 Ee kemudian kan gak ada hubungannya 56:44 dengan bunga karena bunga itu sektornya 56:46 di moneter ya. 56:46 Iya. I. 56:47 Jadi kita ketika menghadapi masalah ee 56:51 pengangguran yang banyak banget, 56:54 kemudian roda ekonomi enggak jalan, 56:57 sejarahnya menunjukkan bahwa kebijakan 57:00 fiskal lebih ee lebih nendang 57:04 dibandingkan dengan kebijakan moneter. 57:07 Meskipun para ahli ekonomi berdebat 57:09 dalam hal ini, tapi ya itu bagi saya itu 57:12 sesuatu yang boleh-boleh saja tapi ini 57:14 nyata gitu ya. bahwa dalam hal tertentu 57:16 kebijakan fiskal itu lebih ini lebih 57:18 nendang tapi enggak dalam segala hal 57:20 gitu ya. 57:21 Itu n 57:22 i dalam Islam kan ada selain teknya ada 57:25 zakat ya 57:26 dan zakatnya itu yang dipakai untuk 57:28 memberikan oli supaya roda ekonomi 57:30 berjalan gitu. 57:31 Iya. Baik Pak Ustaz. Sayang sekali itu 57:34 pertanyaan terakhir yang bisa kita jawab 57:35 Pak Ustaz ya. Masih ada Pak Pur ini. 57:39 Lalu juga Ibu Nani yang menyampaikan. 57:42 Alhamdulillah menyimak Pak Ustaz di pagi 57:44 hari ini. Dan juga ini ada Pak Aji gitu 57:49 ya. Mohon maaf ini tidak sempat terjawab 57:52 pertanyaannya. Sebagai penutup Pak Ustaz 57:56 bahasan kita apa? 57:58 Terima kasih Masangka. Jadi diskusi dari 58:00 teman-teman itu apa? Euforia 58:05 gembira, senang dengan pernyataan Pak 58:07 Menteri Keuangan yang terkesan kubui 58:09 katanya itu ya. 58:11 Jadi senang tapi kita bisa melihatnya 58:15 karena itu ada seperti suasana baru, 58:17 pendekatan baru dan lain sebagainya 58:19 oke-oke aja. Tapi ketika dikaitkan 58:22 dengan ultimate Islamic economic goal, 58:25 tujuan utama daripada ekonomi Islam itu 58:28 enggak nyambung kelihatannya. Karena 58:30 yang pertama ekonomi Islam itu 58:33 mengharamkan riba. Dan dalam paket ini 58:36 kan riba itu bagian terpenting daripada 58:40 isi paketnya itu kan. Meskipun demikian 58:44 ee ketika kita menginginkan agar supaya 58:47 ekonomi ini bergerak, rodanya ber apa 58:51 namanya? bergerak ke depan, maju tumbuh 58:53 dan lain sebagainya. Kebijakan yang 58:55 dipakai ini ee akan mengarah ke sana 58:59 karena intinya adalah tidak menyisakan 59:02 ee uang itu mandek uang itu disimpan ya 59:06 uang itu harus dipakai untuk belanja dan 59:08 belanja itu akan menggerakkan ekonomi. 59:10 Dan ini kita sudah sudah ceritakan pada 59:13 2 minggu yang lalu ya. Kalau ada yang 59:15 mau mendengarkan atau menyak bisa 59:18 dilihat di apa namanya di YouTube ya. 59:21 atau di di Instagram ada enggak ya? 59:23 Di YouTube, Ustaz. 59:24 YouTube aja ya. Oke, saya kira itu. Jadi 59:26 kesimpulan kita adalah ee belum ada 59:29 hubungan ee relevansi ya kebijakan ee 59:32 ini sekarang ini dengan tujuan 59:34 makroekonomi Islam yang 59:36 di mana tidak ada bunga, tidak ada gor, 59:38 tidak ada judi 59:41 ee di dalamnya gitu. 59:44 Demikianlah ikhwan akhwat pendengar 59:46 setia rasil kajian ekonomi Islam di 59:50 edisi hari ini bersama guru kita Ustaz 59:52 Ihwan Basri. Semoga apa yang beliau 59:54 sampaikan bermanfaat bagi kita semua. 59:57 Terima kasih banyak atas kebersamaan 59:58 Anda. Mohon maaf atas segala kesalahan 1:00:00 kata. Kami undur diri. Billahi taufik 1:00:02 wal hidayah. Subhanakallahumma 1:00:04 wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta 1:00:06 astagfiruka wa atubu ilaik. 1:00:08 Asalamualaikum warahmatullahi 1:00:09 wabarakatuh.