Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Brail [musik]
- TV.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Allahumma [berdehem] shalli ala Muhammad
- Muhammad.
- kita berjumpa lagi hari ini diantas
- dalam acara psikologi keluarga bersama
- peserta manajer dan
- kasus yang masuk adalah tentang seorang
- anak beberapa orang anak yang kurang
- sopan kepada orang tuanya yang pertama
- nanti jelasnya akan disampaikan oleh
- dan acara ini juga dapat didengar di
- radon Tans Sukabumi, Radio
- Sera FM di Batam, Radio Bur diwangi,
- kemudian radio Madina di Pontianak,
- Radio Rasal di eh di Palembang dan juga
- radio Rusia dan ruang Palembang eang di
- Bondo
- Baik kita mulai acara ini.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim.
- iki yaumiddin
- iyaka na'budu wa iyyaka nasta'
- ihdinasirathal
- mustaqim
- shathalladzina
- an'amta alaihim
- ghairil maghdubi alaihim wad
- Alhamdulillah kita sudah membaca
- al-Fatihah. Mudah-mudahan Allah mudahkan
- kita dalam memecahkan berbagai kasus
- yang masuk ke rasil. Baik untuk kasus
- lengkapnya akan dibacakan oleh Mbak Nur
- Tafadol.
- Terima kasih Mas Krishna. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz
- Husein, Pak Abu Bakar, dan ikhwan akhwat
- yang disayang Allah.
- Hari ini kita mudah-mudahan mendapatkan
- ee pencerahan terkait dengan bagaimana
- memerankan diri sebagai seseorang yang
- bisa jadi mirip dengan apa yang kita
- alami. Ee kasus pertama Ustaz, Ustaz
- Husein dan Ustaz Abu Bakar, saya
- ditinggal meninggal suami 5 tahun yang
- lalu, masih membimbing tiga anak yang
- sudah besar. yang kecil duduk di SMP
- kelas 2. Akhir akhir ini saya lelah
- hidup meskipun untuk masalah materi kami
- sama sekali tidak kekurangan. Anak saya
- yang laki-laki
- melindungi saya saat ini. Mereka sudah
- banyak protes ke saya, Ustaz. Karena
- saya selalu diatur dan dilarang.
- Tapi saya tahu mereka melakukan itu
- karena berbagai macam omongan orang
- tentang saya. Saya sering keluar untuk
- mencari nafkah, Ustaz. Dan ini diprotes.
- Yang besar tidak ingin melanjutkan
- kuliah sekolah karena ingin bekerja saja
- agar saya tidak usah keluar rumah dan
- bekerja. Saya tahu mereka hanya tidak
- ingin ibunya dibicarakan orang di
- sekitarnya, terutama saudara-saudara
- ayahnya. Jadi, Ustaz, saat ini saya
- mulai merasakan kelelahan menghadapi
- anak-anak saya. Insyaallah sih untuk
- orang-orang di sekitar saya masih bisa
- bertahan. mohon pencerahannya agar saya
- bisa menghadapi anak,
- membesarkan mereka bersama Allah. Terima
- kasih. Kemudian kasus yang kedua tentang
- membesarkan
- anak juga, tapi di sini lebih tepat ke
- cucu.
- Hari ini anak saya
- sudah berumah tangga
- tadi sebelumnya menitipkan anak kepada
- saya berumah tangga lagi maksudnya,
- Ustaz. Anak saya ini sudah berumah
- tangga. dia punya anak yang dilahirkan
- dari
- hamil duluan setelah bercerai dari
- suaminya. Sayalah yang mengasuh anak itu
- sekarang usianya 12 tahun.
- Saya marah kalau dia memarahi anak
- sambil terkadang sedikit mengumpatnya.
- Tapi sebagai nenek yang membasarkan
- cucunya dari orok merah,
- boleh dong, Ustaz. Saya menangis, Pak
- Ustaz. Kalau cucu saya diperlakukan
- seperti itu, dibentak-bentak dan
- dimarahin sama ibunya. Saat ini anak
- saya memarahi cucu, kemudian sayanya
- menasehati anak saya jangan terlalu
- kasar.
- Sekarang yang terjadi, Ustaz, cucu saya
- jadi pemarah juga dan emosinya selalu
- tak terbendung. Saya sebagai neneknya
- dan juga kakeknya suka dibentak-bentak.
- Ya Allah, Ustaz, anak saya ini bagaimana
- sampai anaknya atau cucunya berlaku
- seperti itu terhadap saya dan anak saya
- justru malah memusuhi saya, enggak mau
- menegur sama sekali. Pak Ustaz, dengan
- air mata yang berlinang, saya mohon
- pencerahan agar hati saya lebih sabar
- dan tengah tenang. Jazakillah. Terima
- kasih dari Ummu Fadilah di Bekasi. Dua
- kasus ini bikin mata panas. Tapi mari
- kita simak apa yang akan kita dapatkan
- dari Ustaz Husein dan Pak Abu Bakar.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Hamdan
- katsiran thyiban mubarokan fih kama
- yuhibbuna.
- Allahumma sholli wasallim wabarik ala
- abdika wa rasulika Muhammadin wa alihi
- wasohbihi wasallim.
- Rabbana [batuk][berdehem] atina min
- ladunka rahmah wahyyi lana min amrina
- rasyada. Rbana zidna ilman wa alhikna
- bisolihin. Amma ba'du.
- Ikhwan akhwat pendengar pemirsa yang
- dirahmati Allah.
- Ustaz Abu Bakar, Baroja, Ustaz Muhammad
- Krisna, Ibu Hajah Nur Ondi, dan seluruh
- rekan kru
- yang bekerja
- bersama kita
- dan semua ikhwan-akhwat Bapak Ibu yang
- berkontribusi dalam perjalanan dakwah
- kita. Semoga Allah subhanahu wa taala
- menerima amal
- ibadah
- dan juga persembahan yang selama ini
- Bapak Ibu lakukan.
- Semoga Allah subhanahu wa taala
- mengampuni dosa kita dan membimbing kita
- untuk betul-betul berjalan di atas jalan
- keridaan
- dengan penuh keikhlasan mengabdi
- kepadanya dan Allah menutup hidup kita
- dalam keadaan husnul khatimah. Saya
- ucapkan salamullahi alaikum jamian
- warahmatullah wabarakatuh.
- Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam
- surah at-Tahrim.
- Ya ayyuhalladzina amanu
- anfusakum
- wa ahlikumar.
- Wahai orang-orang yang beriman,
- lindungi jaga diri kalian dan keluarga
- kalian dari api neraka.
- Bagaimana kita menjaga diri kita,
- keluarga kita dari api neraka. Kita
- menjaga Allah
- tuntunannya, perintahnya.
- Dan kita juga menjaga diri kita dari
- apa-apa yang dilarang oleh Allah. Di
- saat kita bersalah, kita bertobat
- kembali kepada Allah.
- Kita ingatkan anak-anak kita, [berdehem]
- pasangan kita, cucu kita untuk selalu
- ingat dan dekat kepada Allah. Hingga
- yang tertanam dalam diri mereka
- pertama-tama
- adalah rasa hormat dan takut pada Allah.
- Apabila kita mengawali pendidikan anak
- kita dengan rasa hormat, takut kepada
- Allah, juga syukur dan cinta padanya
- dan mengutamakan yang di sisi Allah
- Subhanahu wa taala dari kehidupan dunia
- ini. Dengan sendirinya perilaku kita
- juga akan terkontrol. Di mana perilaku
- kita betul-betul akan menjaga,
- menghormati apa yang datang dari Allah
- dan mengutamakan Allah dari selainnya.
- Nah, balasan Allah Subhanahu wa taala
- bagi orang-orang semacam ini sebagaimana
- mereka mengutamakan Allah, Allah juga
- akan mengutamakan dirinya. Sebagaimana
- mereka menjaga Allah, Allah juga akan
- menjaga dirinya. Oleh karena itu, Nabi
- kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- selalu mengingatkan sahabatnya. Bahkan
- dari mulai dini
- satu hari Nabi menunggangi keledai
- bersama sepupunya yang pantas menjadi
- anaknya itu Ibnu Abbas radhiallahu anhu.
- Dia mengatakan, "Wahai anakku, aku
- berikan kamu wasiat beberapa kalimat
- ini dasar-dasar kehidupan yang paling
- utama. Ihfadillah, jaga Allah.
- Yahfka niscaya Allah akan selalu menjaga
- kamu.
- Ini kunci keselamatan kita ini.
- Ihfadillah tajidhu tujahak. Jaga Allah
- niscaya kamu akan selalu menjumpai Allah
- di hadapan kamu.
- Apa saja yang kamu inginkan Allah akan
- penuhi. Segala yang kamu takuti. Allah
- akan lindui.
- Waidza saalta fasalillah. Kalau kamu
- mohon sesuatu mohon pada Allah.
- Di saat kamu mohon pertolongan, mohonlah
- pertolongan kepada Allah. Kamu tidak
- akan pernah kecewa.
- Tapi yang menggantungkan hidupnya kepada
- makhluk
- atau kepada sesuatu yang lebih rendah
- materi,
- maka hidupnya pasti akan selalu
- mengalami kegundahan, kegelisahan.
- dia tidak akan mampu mengendalikan
- dirinya, tidak akan mampu juga
- mengendalikan anaknya, tidak akan mampu
- mengendalikan istrinya.
- Dan mereka tidak akan punya sistem dan
- standar nilai yang menjadi rujukan kalau
- mereka berbeda pendapat.
- Akhirnya masing-masing mengikuti
- nafsunya,
- mengikuti pendapatnya.
- Di saat amarah datang menguasai dirinya,
- dia tidak akan mendengar sama sekali apa
- nasihat yang disampaikan padanya.
- Nah, kasus pertama
- seorang ibu
- yang melahirkan anak tapi di luar
- perkawinan tadi kan
- sebelum menikah.
- Sebelum menikah ini sudah merupakan cara
- yang salah.
- Kemudian si ibu setelah bercerai dengan
- bapak ini yang menjadi penyebab
- pelahirnya anak di luar perkawinan
- menikah lagi lalu diserahkan anak dan
- oroknya kepada siapa?
- Ibunya.
- Kepada ibunya.
- Dia melupakan tanggung jawabnya. Sudah
- berbuat salah seharusnya dia bertobat
- kepada Allah. Dia mendidik anaknya. Dia
- menuangkan rasa cinta kepada si anak.
- Karena bagaimanapun nenek mencintai
- cucunya, tetap kebutuhan terhadap ibu
- itu enggak bisa digantikan.
- Tapi ternyata wanita ini sebagaimana
- telah melakukan kesalahan pertama,
- diabaikan anaknya karena mengikuti
- nafsunya menikah lagi dengan pria lain
- tanpa mempedulikan buah dari
- kesalahannya.
- Kemudian diserahkan pada sang nenek. Si
- anak tidak merasakan air susu ibunya,
- tidak merasakan perhatian, kasih sayang.
- yang dibutuhkan setiap anak manusia.
- Nenek dengan cinta kasih merawat anaknya
- atau merawat cucunya.
- Nah, biasanya seorang nenek itu ya
- biasanya lebih banyak memanjakan cucu.
- Kalau dulu bisa bersikap keras pada anak
- terhadap cucu
- lembut.
- Begitu juga kakek. Kakek juga banyak
- mengalah pada cucunya. Apalagi mengingat
- usia, semakin hari jiwanya semakin
- lemah. Nah, pertanyaannya,
- sudahkah ibu yang menjadi nenek ini
- menanamkan dari mulai pertama
- nilai-nilai dasar?
- Nilai-nilai dasar kehidupan yang mesti
- dipahami setiap insan
- dengan betul-betul menjaga Allah agar
- Allah menjaga dirinya, mengutamakan yang
- di sisi Allah. Kemudian dikenalkan
- kewajiban dia pada Allah, kewajiban juga
- pada orang tuanya.
- di saat dia menjalankan kewajibannya
- pada Allah, pada orang tuanya, itu
- rasa hormat, ketakwaan akan muncul,
- berkembang, tumbuh dengan pesat.
- Tapi di saat dia mengabaikan Allah
- Subhanahu wa taala atau anaknya tidak
- ditanamkan nilai-nilai
- dasar yang mesti ditanamkan pada setiap
- orang yang beriman
- tumbuh dengan liar dipengaruhi oleh
- lingkungannya dipengaruhi juga oleh
- pendidikan dan pengabaian apalagi dia
- memiliki seorang ibu yang saya anggap
- tidak bermoral
- memarahi ini anak mengab Abaikan
- tanggung jawabnya, bersikap kasar. Apa
- yang ditanamkan pada anak ini, itu yang
- akan tumbuh.
- Jadi, watak arogan yang ada pada anak
- ini didapatkan dari mana?
- Ibunya.
- Dari ibunya. Kemudian dia merasa dirinya
- terabaikan. Ya, dia menjumpai ibunya
- sibuk dengan pria yang bukan bapaknya
- dan tidak mungkin bisa menggantikan
- bapaknya. Kalau ibunya bersikap lemah
- lembut, peduli, memberikan kasih sayang,
- itu menjadi betul-betul nutrisi yang
- amat indah yang membuat jiwanya stabil.
- Oleh karena itu, nenek yang merawat cucu
- ini terima cucu sebetulnya yang tumbuh
- dalam kondisi jiwa yang tidak stabil.
- Oleh karena itu, kalau ingin memperbaiki
- anak ini otomatis harus apa?
- harus mengikuti prosedur-prosedur yang
- sehat normal. Nenek di samping
- memberikan kecintaan, memberikan juga
- pendidikan. Ibu juga sikapnya
- harus bertanggung jawab karena ini
- merupakan buah dari perbuatan dosa dia.
- Kalau tidak, maka di saat a ini tumbuh
- dalam perbuatan dosa kejahatan, si ibu
- akan memikul ya bukan hanya dosa
- perzinaan dia, tapi juga apa?
- akibat buruk yang dilakukan anak ini si
- ibu akan menanggung di hari kemudian
- nanti.
- Jadi sebetulnya
- terjadinya kenakalan, terjadinya juga
- perilaku yang tidak baik itu tidak
- mungkin muncul begitu saja. Dan jangan
- orang mengatakan bahwa anak zina itu ya
- anak zina itu tidak mungkin baik salah.
- Kalau hidup dalam lingkungan yang baik,
- pendidikan yang baik, melihat contoh
- yang baik, anak ini akan menjadi baik.
- Begitu juga anak Nabi juga bisa rusak
- kalau tumbuh dalam lingkungan pendidikan
- yang salah. Seperti anak Nuh,
- seperti istri Nabi Allah Nuh. Jadi,
- setiap manusia dilahirkan dalam keadaan
- fitrah, bersih, suci, tergantung
- bagaimana orang tua mewarnainya,
- lingkungannya. Nah, anak ini sekarang
- baru berusia 12 tahun.
- Nenek masih punya kesempatan dengan
- sabar.
- Jangan menggunakan sikap-sikap yang
- mencerca, mencaci. Daripada kita
- mencaci, lebih baik kita memperbaiki.
- Kalau seorang anak berbuat salah, di
- saat kita jatuhkan, kita cerca, berarti
- akan melahirkan perlawanan. Yang terbaik
- kata-kata yang halus.
- Saya mendengarkan pada saat-saat kecil
- nasihat, kata-kata yang halus ya dari
- seorang nenek itu berbekas di hati
- menimbulkan jaga rasa hormat. Karena
- setiap manusia itu bila diperlakukan
- dengan cara baik, jangankan orang baik,
- jangankan anak-anak, orang yang kasar
- saja diperlakukan baik, hatinya akan
- luluh. Tapi di saat diperlakukan dengan
- cara yang tidak baik, pasti akan
- melahirkan apa? Akan melahirkan
- perlawanan. Seperti pepatah Arab
- mengatakan, "Abagat yuwallidul infijar."
- Tekanan akan melahirkan letusan dan
- dedakan. Jadi yang dilakukan ini anak
- sebetulnya merupakan letusan atau
- letupan sekarang ini bisa menjadi
- letusan kalau dibiarkan. Jadi, Ibu
- nasihati anak ibu yang perempuan ini
- untuk bertobat.
- Ini merupakan buah dari perbuatannya.
- Jangan sampai dia menjadi penyebab
- lahirnya anak ya yang kelak akan
- melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak
- baik, maka dia akan memiliki saham yang
- terbesar.
- Dan hidup ini sebagaimana yang ibu tahu
- adalah pengorbanan. Ibu diciptakan
- sebagai khalifah ditempatkan di muka
- bumi ini bukan untuk bersenang-senang
- bereforia.
- Kalau tidak kakek dan nenek kita tidak
- akan menangis waktu diturunkan ke bumi.
- Kalau tidak bayi tidak akan menangis
- sewaktu dilahirkan ke dunia. Tapi
- kesenangan yang ibu rasakan seetulnya
- hanya merupakan selingan. Tapi ibu
- sedang diuji, sedang dicoba untuk
- mempertunjukkan jati diri ibu yang
- sebenarnya. Kalau ibu beriman, bertakwa,
- beram saleh, ibu akan menerima gajaran
- yang mulia di sisi.
- Tapi kalau ibu lupa kepada Allah, ibu
- juga termasuk dari orang yang ingkar.
- Ibu tidak melakukan amal-amal saleh
- dalam mendidik anak, mengingatkan mereka
- kepada Allah, ibu ikut bertanggung jawab
- pada apa yang ibu lakukan. Jadi dalam
- hal ini bila kita ingin betul-betul
- menjadikan keluarga kita sebagai
- keluarga yang berakhlak mulia, memiliki
- pekerti yang luhur, ya yang pertama
- kunci utamanya hubungkan anak ini dengan
- Allah.
- Hubungkan anak ini dengan
- Allah.
- Dengan Allah Subhanahu wa taala.
- Kemudian
- tunjukkan di hadapannya akhlak dan
- pekerti yang mulia.
- Karena ini yang diserap. Anak-anak tidak
- berdosa sama sekali. Di saat dia ya dari
- mulai kecil diperdengarkan kata-kata
- kasar, kata-kata yang kotor. Akhirnya si
- anak menyerap. Setelah dia menyerap dia
- akan bangga untuk apa? Untuk
- mengulanginya. Karena dianggap ini
- merupakan hal yang baik yang dicintai
- orang tuanya.
- Akhirnya si bapak kencing berdiri.
- si anak kencing lari. Jadi ingat firman
- Allah Subhanahu wa taala yang
- pertama-tama kita mesti utamakan
- bagaimana kita menjaga keselamatan
- jiwa anak kita dengan bertakwa kepada
- Allah juga selalu mengingat hari akhir
- bahwa hidup kita di dunia tidak akan
- lama.
- Nah, kasus yang kedua seorang ibu
- yang memiliki beberapa anak, dia
- mengatakan dalam soal materi dia tidak
- mengalami keluhan.
- Alhamdulillah dalam sisi materi tidak
- mengalami keluhan.
- Lalu ibu biasa keluar untuk mencari
- nafkah.
- Anak-anak
- ingin ibunya tidak bekerja.
- Lalu pertanyaannya
- mana yang lebih penting
- anak?
- Apakah materi?
- Tapi tadi anaknya memilih berhenti
- sekolah daripada ibunya bekerja dia aja
- yang bekerja. Agak su
- iya kan? Dia mengatakan alhamdulillah
- dari sisi materi cukup.
- Dari sisi materi cukup.
- Nah, pertanyaan mana yang lebih penting?
- Anak-anaknya ya, anak-anaknya
- keterangan kebahagiaan rumah tangganya.
- Apakah materi? Kalau yang dicari hanya
- tambahan,
- yang dicari tambahan saya kira
- ada salah satunya yang perlu berkorban.
- Tapi kalau yang dicari itu merupakan
- kebutuhan yang tak terelakkan di mana
- tanpa bekerja ya mereka tidak mampu
- untuk apa?
- Untuk melanjutkan kehidupan mereka
- secara normal.
- Membiayai pendidikan anaknya. Saya kira
- bisa dimusyawarahkan baik-baik.
- Panggil anaknya duduk sama-sama. Coba
- menurut kamu bagaimana ibu sekarang
- bekerja untuk mencari nafkah supaya
- kalian dapat sekolah?
- Nah, kalau seandainya ya saya berhenti,
- maka siapa yang akan menanggung nafkah
- rumah tangga?
- Si anak mengatakan, "Saya tidak tahan
- dengar omongan di sana sini." Ya, tidak
- tahan dengar omongan di sana si sini.
- Apalagi saya seorang laki-laki dalam
- usia dewasa kuliah. Betul kuliah
- merupakan satu keharusan ya, kebutuhan.
- Tapi saya kira kebaktian pada ibu.
- Kebaktian pada apa? Pada ibu ya
- lebih besar dibandingkan apa?
- Dibandingkan saya melanjutkan kuliah
- saya. Ada orang beranggapan tanpa kuliah
- masa depannya akan suram.
- Padahal di negara-negara barat, di
- negara-negara maju, tidak semua orang
- masuk perguruan tinggi. Yang masuk
- perguruan tinggi itu yang apa? Yang
- menjurus ke arah spesialisasi.
- Sedangkan sebahagiannya justru mereka
- lebih suka mempelajari hal-hal yang
- sifatnya keterampilan.
- Oleh karena itu, politeknik di
- tengah-tengah mereka berkembang. Bahkan
- level sekolah menengah atas sudah mampu
- untuk membuat mereka bekerja di
- perusahaan-perusahaan.
- Dan mereka meneliti karir mereka. Banyak
- orang-orang yang sukses bukan berasal
- dari perguruan tinggi, tapi banyak yang
- bergelar PhD, yang bergelar master. Tak
- ubahnya bagaikan tumpukan-tumpukan
- sampah. Bukan hanya tidak bermanfaat,
- bahkan mereka merugikan bangsa dan
- negara.
- Kenyataan.
- Oleh karena itu, kalau seandainya
- anak-anak ibu meminta ibu tidak bekerja
- keluar, ini juga menjaga kehormatan ibu
- lebih baik ya sebagai seorang janda.
- Nah, anak laki-laki ibu yang besar siap
- sementara waktu untuk tidak kuliah demi
- mencari naf nafkah. Saya kira merupakan
- apa? Merupakan hal yang baik. Kalau
- seandainya katakan saya sebagai seorang
- anak dalam usia kuliah melihat ibu saya
- keluar mencari nafkah untuk saya, saya
- merasa ini merupakan apa? Merupakan
- coretan noda di wajah saya. Seharusnya
- saya sebagai seorang laki-laki yang
- bekerja, saya berkorban untuk memberikan
- nafkah bagi ibu menjaga kehormatannya
- yang selama ini telah berjuang, bersusah
- payah, melahirkan, mendidik. Masa dia
- tidak merasakan apa? balasan dari
- anaknya. Masa sepanjang hidupnya dia
- harus apa?
- Harus berkorban demi anaknya. Maka tiba
- saatnya seorang anak untuk berbakti pada
- orang tuanya. Di samping juga membantu
- ibunya, membantu adik-adiknya. Apabila
- waktu nanti mengizinkan dia untuk
- melanjutkan kuliah, dia bisa melanjutkan
- kuliah. Tapi kalau saat ini dibiarkan,
- lama-kelamaan hatinya tidak tenang,
- akhirnya berat untuk melanjutkan kuliah
- kalau memang tidak ada biaya tanpa ibu
- bekerja.
- Tapi kalau seandainya biaya tercukupi,
- walaupun si ibu tidak bekerja,
- si anak bisa berkuliah ya pada sebagian
- waktu, bekerja pada sebagian yang lain,
- mendidik dia untuk menjadi laki-laki
- yang bertanggung jawab. [mendengus]
- Jadi kalau seandainya ibu tempatkan saya
- pada kedudukan anak ibu, saya tidak
- mungkin dapat diam, dapat tentram hati
- saya, kecuali saya yang tampil sebagai
- apa?
- sebagai orang yang memikul beban ini.
- Karena Allah mengatakan, "Arijalu
- qawamun alanisa." Kalau seandainya ayah
- pergi, seharusnya anak yang tampil ke
- depan untuk memikul beban tersebut,
- bukan membebani ibunya. Bagaimana
- perasaan dia? Orang mengatakan, "Kamu
- sudah dewasa, ibu, kamu dari mulai muda
- bekerja, sekarang harus bekerja mencari
- nafkah." membiayai kamu kuliah. Kuliah
- saya anggap merupakan satu kebutuhan
- yang leks.
- Kalau memang dia mampu untuk bekerja, ya
- berusaha ya
- berikan kesempatan buat dia. Berikan
- kesempatan buat dia untuk bekerja,
- berusaha. Satu waktu nanti dia ingin
- melanjutkan kuliahnya, dipersilakan.
- Jadi sering kita jumpai hal ini. Bahkan
- pernah satu kejadian ada seorang satu
- keluarga,
- ayahnya meninggal dunia.
- Dia memiliki beberapa anak laki-laki
- yang besar. satu laki-laki, kemudian
- adik-adiknya perempuan, kemudian
- ee adik-adik yang kecil-kecil laki-laki.
- Begitu ibunya meninggal dunia, yang
- paling besar mengatakan mulai saat ini
- saya dituntut untuk berdiri bertanggung
- jawab mengurus saya punya keluarga. Pada
- saat itu dia seorang engineer lagi
- kuliah dalam bidang apa? Engineering.
- Si ibu mengatakan, "Kamu selesaikan
- sekolah." Dia bilang, "Tidak."
- Kebaktian, kewajiban lebih penting
- daripada saya melanjutkan sekolah saya.
- Akhir dia berjuang, dia berikan nafkah
- untuk adik-adiknya semua. Semuanya
- sukses.
- Semuanya
- sukses.
- Sukses.
- Ada yang menjadi dokter, ada yang
- menjadi insinyur, ada yang menjadi ee
- orang-orang yang penting.
- Subhanallah.
- Orang-orang bilang, "Kamu bekerja keras.
- Sekolah kamu gagal, tapi adik-adik kamu
- sukses. Apa kamu tidak bersedih? Dia
- bilang, "Kenapa saya harus bersedih?
- Kesuksesan mereka merupakan tanaman yang
- saya tanam." Masyaallah.
- Tanaman yang saya tanam. Setiap kali
- saya melihat mereka
- menjadi orang-orang yang sukses,
- berhasil, saya juga berbakti pada ibu.
- Ini merupakan harapan kebanggaan buat
- saya. Sedangkan
- sebuah kertas yang menunjukkan saya
- sebagai seorang sarjana tapi gagal untuk
- menjadi seorang yang bermanfaat,
- berbakti. Apa artinya?
- Allah kasih subhanallah
- saudara-saudaranya semua ini
- menghormati dirinya persis seperti
- ayahnya.
- Dia tidak punya mobil,
- saudara-saudaranya beramai-ram berikan
- mobil. Berkumpul bersama-sama dalam
- suasana yang penuh kebahagiaan. Si ibu
- cinta, saudara-saudaranya juga cin
- cinta. Apa kebahagiaan yang lebih besar
- dari ini? Apa materi lebih berharga?
- Seperti seorang laki-laki karena ingin
- mendapatkan gaji yang lebih besar, dia
- pergi ke daerah gaji dua tiga kali
- lipat, tapi istri [mendengus] dibiarkan,
- anak-anak dibiarkan. Akhirnya
- anak-anaknya tumbuh dalam keadaan nakal.
- Lalu saya tanya, "Mana yang lebih
- penting buat kamu? Keluarga kamu apa
- tambahan materi?" keluar pulang kamu
- tinggalkan kerjaan kamu
- lebih baik kamu istri kamu jadi kepala
- rumah tangga yang tidak mungkin
- digantikan oleh siapa? Oleh istri kamu.
- [mendengus] Jadi terkadang orang ini
- lebih mengutamakan sesuatu apa?
- sesuatu ya yang tidak utama mengabaikan
- hal-hal yang penting. Begitu juga istri,
- suaminya bekerja mencukupi,
- dia mau bekerja, anak diserahkan pada
- pembantu. Suaminya mengatakan, "Apa
- kekurangan kamu? Saya siap memberikan
- kamu gaji." Dibilang tidak. Nanti saya
- diinjak-injak sama kamu. Kalau seorang
- wanita sudah menganggap suami sebagai
- lawan, bukan sebagai mitra pasangan, apa
- artinya berumah tangga?
- Si perempuan merasa kebebasan dia apa?
- Dihambat. Kalau pemberian dari suaminya
- dia tidak bebas. Tapi kalau dia punya
- uang, dia bisa apa? Bisa bersikap tegas
- di hadapan suaminya. Saya bilang, "Kamu
- wanita orang yang tidak mengenal tujuan
- hidup dan tidak mengenal apa arti dari
- kehidupan rumah tangga."
- Akhirnya yang terjadi apa? Terjadi
- konflik terus-menerus.
- Si bapak bersedih, berduka menyaksikan
- suasana tersebut. Akhirnya anak juga
- tumbuh dalam rasa kecewa terhadap
- ibunya. Ini pelajaran buat kita dalam
- segala hal. Hendaklah kita fokus pada
- hal yang utama. Dan yang mesti kita
- utamakan adalah apa? Keridaan Allah
- yang kita utamakan. Kita menjaga hak
- Allah melebihi dari yang lain.
- Insyaallah sebagai gantinya Allah akan
- memberikan kita yang terbaik dalam hidup
- ini. Wallahuam.
- Masyaallah. Jadi ikhwan akhwat dari dua
- kasus tadi bisa jadi satu di antaranya
- atau bahkan mungkin kedua-duanya pernah
- lewat di dalam perjalanan hidup kita.
- Mas R kalau aku enggak boleh kerja
- rasanya pasti enggak kuat. Enggak boleh
- siaran gitu rasanya enggak kuat. Tapi
- memang beda sekali karena anak-anak yang
- sungguh sangat luar biasa ingin sekali
- ibunda beristirahat karena ini merupakan
- cinta yang kata Ustaz juga keren banget.
- Sementara untuk yang pertama tadi kalau
- seandainya kita yang harus membesarkan
- cucu dengan kondisi seperti ini, apa
- yang Ustaz
- katakan bisa jadi merupakan jalan keluar
- yang berat enggak berat harus dijalanin.
- Lantas untuk memudahkan langkah
- kira-kira Pak Abu Bakar menyarankan apa
- ya? Silakan.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Terima kasih semuanya. [mendengus]
- Khususnya sangat menarik
- karena kita harus memutus rantai. Bukan
- hanya COVID saja yang harus diutus
- rantainya, tapi pola pendidikan pun kita
- perlu memutusnya.
- Karena ketika misalnya kita berharap
- mempunyai anak, pasti kita akan mendoa
- kepada Allah dengan rabbana hablana
- minasolihin.
- Jadi kita selalu berkeinginan setiap
- kita mendapatkan seorang ibu yang hamil
- menginginkan anak itu menjadi seorang
- yang saleh,
- yang akan berbakti kepada dirinya.
- Terutama yang terpikir adalah bagaimana
- dia bisa sayang sama ibunya. nanti kelak
- setiap orang, setiap insan. Nah, begitu
- fenomena masuk ke dalam kehidupan
- mungkin kemudian ee suaminya enggak ada,
- kemudian dia harus bekerja, dia harus
- melakukan segala sesuatunya. Di situlah
- proses perubahan sehingga fitrah yang
- ada pada anak itu akan berubah.
- fitrah yang Allah sudah tentukan
- strukturnya
- sudah rapi, sel-sel otak semuanya sudah
- rapi. Kemudian dia akan berubah karena
- intervensi
- kata-kata baik akan menjadi keluar
- dengan bahasa yang enggak baik. Walaupun
- kita menjadi seorang
- misalnya ketika dia memegang sesuatu
- yang berbahaya
- pasti kita akan panik. Padahal anak itu
- tidak tahu. Kemudian dimarahin, "Jangan
- kamu megang-megang ini lagi." Marahnya
- itu masuk sebagai intervensi yang
- merusak struktur yang Allah sudah
- tanamkan tersebut.
- Kata-kata marah, kata-kata membenci,
- kata-kata kesal. Mungkin kita
- mengalaminya karena apa? Karena
- capeknya, lelahnya omongan orang.
- yang kita sering dapatkan anak itu
- harusnya seperti ini, kamu harusnya
- begini. Tuh, itu anak itu, itu sih
- sebabnya kamu tuh berdosa, maka anak itu
- akan mengalami yang seperti itu. Tidak.
- Seperti yang tadi Ustazin katakan, anak
- itu enggak menjadi ee apa? Turunan dosa.
- Tidak.
- Anak itu akan terbentuk dikarenakan
- intervensi kita.
- marah. Terutama ketika kita marah, dia
- akan menyimpan. Kapan dia marah?
- Pertama, anak itu akan berimitasi.
- Dia akan mencontoh, melihat, mendengar,
- merasakan, disimpan. Pada suatu saat
- nanti
- semua yang dia dengar, yang dia lihat,
- yang dia rasakan akan keluar,
- akan keluar dengan sendirinya.
- Karena dia melihat neneknya kesal sama
- ibunya.
- Tuh, anak kamu sih enggak dipiara gitu.
- Kamu jalan melulu. Anak yang melihat
- mendengar kayak gitu. Akhirnya masuk
- karena ibu lagi mau ngelarang dia. Dia
- melarang ibu sih begitu
- saling menyalahkan.
- Saat itulah maka kehidupan kita akan
- bentuk konflik benturan. Karena apa?
- Karena masing-masing
- menuntut berkeinginan untuk dipenuhi. Si
- nenek minta dipenuhi, si ibu juga pengin
- memenuhi keinginan dia. Akhirnya si anak
- melihat tersebut muncul tiba umurnya 12
- tahun. Saya juga kepengin kok marah
- gitu. Nah, ini prosesnya fenomena
- ibu yang penuh dengan bekerja untuk apa?
- Untuk menafkahi keluarganya.
- Ketika anak sudah mulai besar, si ibu
- ragu. Apa yang diragukan?
- Anak saya bisa enggak bekerja kayak
- saya?
- Karena dia tidak pernah melihat anaknya
- tumbuh. Karena dia tidak pernah
- memperhatikan bagaimana anak ini bisa,
- bagaimana anak itu mau melakukan
- aktivitas kerja yang bisa membantu
- karena si ibu asik dengan dunianya
- pekerja. Nah, yang penting kasih makan,
- yang penting memberikan sesuatu yang
- tidak baik. Jadi, bagaimana anak
- tersebut tumbuh karena orang tua yang
- ingin memperhatikan anaknya. Ketika
- orang tua itu walaupun dia sendiri itu
- kehendaknya Allah yang baik. Bukan
- berarti nanti kalau seorang istri punya
- ee suami kemudian meninggal, kenapa kok
- Allah memberikan saya seperti ini?
- Tidak. Ada kebaikan yang kita akan
- dapatkan. ya mudah-mudahan saja dapat
- suami yang lebih baru lagi, yang lebih
- kuat lagi, yang lebih mampu. Kalau tidak
- itu adalah satu proses. Namun jangan
- kita lupakan Allah seperti yang tadi
- dikatakan, jangankan lupaan Allah,
- perhatikan anak kita karena Allah,
- perhatikan pekerjaan kita karena Allah.
- Di saat itulah kita bisa bersama.
- Tapi kalau kita hanya fokus, saya
- bekerja untuk anak saya, saya bekerja
- untuk anak saya, saya melakukan ini,
- saya harus menambah ini buat masa depan
- anak saya. Nanti kalau saya sudah
- pensiun, saya tinggal duduk saja.
- Omongan orang,
- guncingan, semuanya itu akan masuk
- kepada anak-anak kita. Mau tidak mau
- setiap individu
- akan menerima
- kita. Akan datang orang, [berdehem]
- "Tuh, ibumu kok keluar terus? Kamu
- bagaimana?" Ada omongan seperti itu.
- Untuk apa kamu jadi laki-laki?
- Diomongin lagi si ibunya.
- Punya anak laki kenapa kamu biarin kamu
- capek-capek kerja? Omongan itu akan
- masuk terus.
- Mau tidak mau kita sebagai seorang
- individu sebagai anak, ibu dan
- sebagainya, kita lihat mana yang
- prioritas yang kita harus lakukan.
- Seperti tadi, mana yang lebih baik,
- bekerja atau untuk anak kita? Mana yang
- lebih? Lihat, saya yakin semua individu
- tahu, mampu, mengerti tentang dirinya.
- Tinggal bagaimana dia mampu
- memprioritaskan. Oh, saya belum bisa
- melepaskan anak saya karena anak saya
- belum siap. Saya masih mampu.
- Guncingan orang itu pisahkan.
- Tetap saja lakukan kalau itu baik.
- Berikan kesempatan anak kita untuk
- menggantikan kita. Regenerasi kita lebih
- bagus.
- Tapi bukan berarti keasikan. Kalau sudah
- namanya keasikan,
- udah kita lupa sama dunia yang lain.
- Kalau sudah asyik bekerja, ada satu ibu
- ya, dia sudah sampai levelnya
- direktur,
- sudah top. Waktu pertama bekerja dia
- mengatakan gini, "Nanti saya akan
- mencapai dari itu." Jadi dia beras, dia
- lupakan anak-anaknya. H
- dia tetap anaknya ayo sekolah, ayo
- kerja. Semua fasilitas diberikan.
- Begitu sudah lelah
- dia sudah enggak mampu karena dia
- menengok ke bawah, dia menengok ke
- belakang, dia menenggok ke samping.
- Anak-anaknya mana? Hilang.
- Ada di hadapannya, ada di rumah, tapi
- tidak pernah bisa memberikan quratan.
- Apa sebabnya? anaknya sudah hidup dengan
- sendirinya. Keluar malam, pergi pagi
- pulangnya dan bawa temannya. Ibunya
- melek. Tidak. Saya harus kembali. Saya
- harus balikin anak-anak saya kepada
- saya, saya harus resign. Dia keluar dari
- pekerjaan.
- Dia keluar dari pekerjaannya, dia mulai
- membimbing lagi. Habis duitnya untuk
- membimbing anaknya. Jadi yang sekian
- lama capeknya dia balik lagi capek
- hidupnya.
- Belum tentu berubah.
- Belum tentu anak itu bisa berubah. Jadi
- uang yang sekian banyak untuk
- memperbaiki anaknya habis. Nah, mari
- kita putus
- rangkaian ini.
- Kita harus putus. Pola berpikir kita.
- Kita saat ini putus. Mungkin pola
- berpikir kita berada dari atas kita.
- Kita putus. Tidak.
- Kita lihat anak kita mulai membimbing,
- mulai mendekatkan diri kita pada Allah.
- Kita ajak anak-anak kita dengan nama
- Allah. Kita tunjukkan jalan ini yang
- terbaik. Orang tua harus menunjukkan.
- Harus menunjukkan.
- Harus menunjukkan. Kalau dulu
- ditunjukkannya pakai dikira di tangan
- nih.
- Ini teman Abiah.
- Jadi kita diangkat
- orang-orang itu ya ee saya punya enjin
- ya kayak gitu mesti ditarik sini bawa
- duduk dengerin dia ngomong dengan
- kebaikannya. Saya hanya melongok
- ngomongan itu. Ngomong bahasa blek blek
- blek. Saya masuk semua sampai sekarang
- sahabat dari jit kalau ketemu saya
- merasakan ih benar-benar karena apa? Itu
- kebaikan
- itu kebaikan ajak ke pamannya, ajak ke
- siapa itu adalah bentuk silaturahim agar
- si anak itu tahu bekerja bergerak. Maaf,
- anak itu tahu bergerak bukan? Maaf saat
- ini sekarang nih. Ayo belajar, ayo
- belajar, ayo belajar. Kursus setelah itu
- kursus
- les bimbel. Ya Allah, entar tukang
- bimbel marah sama kita. [tertawa]
- Nah, oleh karena itu kembali mari kita
- fokus bagaimana
- proses anak itu. Saya sering
- menyampaikan
- ketika kita mendidik anak kita, tiga
- yang penting kita tidak perlu sampaikan
- kepada anak-anak. Tidak marah, tidak
- menyalahkan, dan tidak banyak bertanya.
- Tidak banyak bertanya. Banyaknya kita
- bertanya dari mana? Ke mana kamu?
- Ngapain aja tadi? Kok main HP melulu kok
- enggak salat kamu? Kenapa kamu enggak
- salat? Kenapa kamu enggak salat? Kenapa
- kamu enggak makan? Kenapa
- pertanyaan-pertanyaan tersebut akan
- membentuk penuhnya orang? Ajak dia,
- informasikan kebaikan. Bagaimana salat
- itu bisa membuat kesejukan dalam
- hidupnya dia? Bagaimana salat itu akan
- mencegah kamu untuk main game. Bagaimana
- salat itu akan mencegah kamu untuk bisa
- bunuh diri? Yang sekarang lagi ramai.
- Nah, lagi ramai sekarang anak-anak tuh
- pengin bunuh diri, pengin bunuh diri,
- pengin bunuh diri. Ya, insyaallah di
- bulan ini, di bulan September ini, saya
- dapatkan lima anak mahasiswa semuanya
- pengin bunuh diri.
- Ada yang usi SMP
- ya? Ada yang tuh pengin bunuh diri,
- pengin bunuh diri. Sampai ada satu anak
- mengatakan kepada saya, Islam ini enggak
- adil. Kenapa enggak adil? Mau seorang
- pengin bunuh diri enggak boleh.
- Sampai mengatakan itu deh. Apa yang
- menyebabkan semua tersebut? Saya melihat
- bagaimana dia dipaksa, disalahin.
- Ketika dia enggak mau salat, disalahin,
- dimarahin.
- Karena dia belum mendapatkan, belum
- mengerti, belum menerima. Itu masih
- mereka masih kecil yang harusnya
- dibimbing. Saya sering menyampaikan,
- maaf tiga poin
- ya. Ketika kita ingin menyuruh dia untuk
- salat, kenalkan dulu salat itu. Dia
- melihat, dia mendengar kata-kata salat,
- ya. Dia melihat, dia memperhatikan.
- Kemudian informasikan.
- Yang kedua, informasikan. Nih loh salat
- itu seperti ini. Coba lihat wajahnya
- orang yang salat. Biar dia melihat, "Oh,
- ini orang yang salat."
- informasikan. Kalau dia sudah kenal yang
- namanya salat, kemudian dia masuk
- informasi tentang bagaimana salat
- tersebut, ajak dia, "Yuk, salat, yuk
- salat." Bukan kamu harus salat. Tidak
- ajak yuk salat, "Yuk salat."
- Setelah itu berikan kesempatan dia,
- percayakan dia bahwa dia akan melakukan
- salat karena dia sudah kenal, karena dia
- sudah mendapatkan informasi. dan dia
- tahu jalannya salat itu ke mana.
- Kalau ini tiga, kenalkan, informasikan,
- ajak dia, insyaallah
- seterusnya dia akan jalan sendiri. Namun
- kita harus putus.
- Kita harus memutus pola-pola yang
- membuat kehidupan
- kita sendiri merasa enggak nyaman
- melihat anak-anak kita seperti itu. Kita
- sendiri enggak nyaman melihat anak-anak
- kita itu. Kita sendiri enggak nyaman.
- Kenapa kita teruskan? Yuk, kita putus.
- Mulai saat ini. Tidak marah, tidak
- menyalahkan, tidak banyak bertanya.
- Tapi mari kita interaksi terus.
- interaksi yang baik, yang positif, yang
- menyenangkan, yang membahagiakan. 20
- menit cukup kalau sekarang 20 menit
- cukup. 20 menit itu yang akan
- menjalin
- hubungan interaksi pikiran kita dengan
- anak. 20 menit kita bercanda, bergurau
- dengan anak. Sudah. Karena kesibukan
- saat ini, kesibukan HP, kesibukan kerja,
- masa cuma 20 menit enggak ada waktu
- bersama.
- Ciptakan bersama anak tuh 20 menit,
- tapi tidak marah,
- tidak nasihat,
- tidak ngomel, tidak berbagai macam
- permasalahan dirinya si anak. Tapi
- bagaimana begitu duduk bersama dengan
- anak
- rasa senang, bahagia, senyum, girang,
- bercanda, saling mengitiki, tercipta. Di
- saat itulah ikatan anak tersebut akan
- kuat. Lepas dari 20 menit kita pergi,
- itu akan terkesan
- sampai kapanpun. Dia akan terus
- mengingat ayah bundanya.
- Insyaallah dia akan bahagia. Terima
- kasih
- Ikwan dan Awat. Ee demikian tadi acara
- psikologi keluarga. Mudah-mudahan apa
- yang disampaikan tadi bermanfaat juga
- untuk yang enggak punya kasus karena
- nasihat sangat umum ya. Ee bagus untuk
- kita semua. Baik, terima kasih atas
- perhatian Anda semua. Terima kasih Ustaz
- Abu Bakar Warja, Mbak Nur. Sampai jumpa
- hari Rabu depan. Saya Muhammad Krishna
- Oni Saputra Atep Setiabudi, kemudian
- Fahri, Anis dan Yusuf mohon pamit.
- Wabillahi taufik walhidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.