Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
1:05 Bismillahirrahmanirrahim. 1:06 Assalamualaikum warahmatullahi 1:08 wabarakatuh. Alhamdulillahirabbil 1:10 alamin. Allahumma sholli ala Sayyidina 1:13 Muhammad wa ala ali Sayyidina Muhammad. 1:16 Dipancarluaskan dari Jalan Masjid 1:18 Silaturahim nomor 36, Kali Manggis, 1:21 Cibubur, Bekasi. Radio Silaturahim untuk 1:25 Islam yang satu. Ikhwan dan akhwat yang 1:28 dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala. 1:31 Bagaimana kabar Anda di siang hari ini? 1:33 Semoga selalu dalam keadaan sehat 1:35 walafiat dan selalu dalam lindungan 1:38 Allah Subhanahu wa Ta'ala. Senang sekali 1:40 kami dapat kembali menjumpai Anda dalam 1:44 program spesial kami di Sabtu 1:48 hari ini edisi 18 Muharram 1445 Hijriah 1:53 yang juga bertepatan di tanggal 5 1:55 Agustus 2023 1:58 Masehi. Hari ini Ikhwan dan Akhwat 2:01 bincang spesial kami yaitu mengangkat 2:05 sebuah ee buku menghimpun kebesaran 2:09 Allah. Ini cerita tentang pembangunan 2:12 Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. 2:15 Buku ini diterbitkan oleh 2:18 ee 2:20 Tim Mer-C ya, Medical Emergency Rescue 2:22 Committee. Dan telah hadir narasumber 2:24 kami di sisi saya ada Kang Nur Ikhwan 2:29 Abadi 2:30 yang terlibat aktif dalam pembangunan 2:33 Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. 2:35 Assalamualaikum warahmatullahi 2:36 wabarakatuh, Kang Ikhwan. 2:37 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:38 wabarakatuh. 2:39 Sehat, Kang Ikhwan? 2:39 Alhamdulillah, Mas Agus saja sehat, Mas. 2:42 Baik, ini cerita tentang buku ini ee 2:45 mungkin bisa sedikit digambarkan ke kita 2:48 nih sebelum 2:50 masuk ke yang lebih serius, Om. 2:52 Serius ya? 2:55 Iya, Mas Agus sejak lahir. 2:56 Assalamualaikum warahmatullahi 2:57 wabarakatuh. 2:59 Ee Mas Agus dan pendengar Radio Sil 3:00 semua, jazakumullah khair atas waktunya 3:02 ya sudah diberikan kepada kami. 3:08 Kalau kita bicara tentang Rumah Sakit 3:10 Indonesia yang ada di Jalur Gaza 3:14 ee 3:16 sebagaimana di judul buku ini menghimpun 3:19 kebesaran Allah ya. 3:22 Rumah Sakit itu enggak akan berdiri 3:25 tanpa pertolongan Allah Subhanahu wa 3:26 Ta'ala. 3:28 Karena 3:30 misi membangun Rumah Sakit di daerah 3:33 konflik 3:35 ee terpanjang di dunia ya. Konflik 3:38 Palestina itu kan sejak tahun 19 3:40 48. 3:41 48 ya bahkan sebelumnya sebelumnya sudah 3:43 mulai itu. 3:44 Ngebangun di daerah seperti itu gitu, 3:46 enggak kebayang buat kita gitu. 3:48 Kalau di Indonesia mungkin 3:50 material ada, tempat aman dan lain 3:52 sebagainya. Kalau di sana 3:54 materialnya susah, 3:56 enggak ada jaminan keselamatan, serangan 3:58 sewaktu-waktu bisa terjadi. 4:01 Nah, itu yang yang ada di benak kami 4:04 saat itu. Tapi 4:06 ya karena pertolongan Allah saja, Allah 4:08 mudahkan, ya. Allah mudahkan 4:11 pembangunan rumah sakit ini, sehingga 4:13 bisa bisa berdiri. Makanya judul 4:16 dari buku ini, yaitu menghimpun 4:18 kebesaran Allah. Karena setiap detik 4:22 yang terjadi yang kami rasakan di Gaza 4:24 itu benar-benar karena pertolongan 4:26 Allah. 4:27 Eh, sebentar. Kang Nur Ikhwan Kang Nur 4:29 Ikhwan sendiri eh berada di sana 4:33 ceritanya gimana bisa terpilih? 4:35 Nah, ini panjang ceritanya. 4:39 Iya, saat itu saya di di Cileungsi, kan. 4:43 Heeh. 4:43 Saat itu memang kita sedang 4:46 eh apa? 4:49 Kebetulan saya diamanahkan di Cileungsi 4:50 itu untuk mengurus haji dan umrah. 4:53 Oh. 4:54 Nah, di tahun 2008 akhir itu 4:57 ada pemberangkatan umrah eh 4:59 pemberangkatan haji di Zulhijah, kan. 5:01 Zulhijah eh di eh ke 5:05 ke Mekah Madinah. 5:07 Saya nelpon salah satu pembimbing haji 5:09 yang ada di sana. Kemudian di akhir 5:11 telepon dia bilang, 5:12 "Coba dicek di internet," katanya. "Itu 5:16 kok di sini pada mendoakan Palestina," 5:18 katanya begitu. 5:19 "Katanya ada 200 sampai 400 orang yang 5:21 meninggal hari ini karena dibom oleh 5:23 Israel." 5:25 Nah, ya sudah. 5:27 Dari situ 5:28 saya coba cek di internet, ternyata 5:29 benar begitu. Di tanggal 28 Desember itu 5:32 eh di hari pertama penyerangan eh 28 5:36 Desember 2008, ya. Hari pertama 5:38 penyerangan itu memang 200 orang 5:40 meninggal. 5:41 Nah, setelah itu ya berita kita cek 5:44 berita kita 5:45 kita lihat di 5:47 di televisi ya, segala macam. 5:49 Nah, kemudian 5:51 Ini pas perang Gaza 2008-2009. 5:55 Nah, di akhir perang itu kami mendengar 5:57 setelah selesai kan perang selama 22 5:59 hari. 6:00 He em. 6:01 Mendengar bahwa MER-C akan 6:03 membuat sebuah rumah sakit di sana. 6:05 He em. 6:06 Wah, saya bilang. 6:07 Sebelumnya Kang Nur Ikhwan sama MER-C 6:09 sudah 6:09 Belum, enggak tahu. 6:10 Oh, belum belum tahu Mas. 6:11 Belum belum kenal, belum kenal dengan 6:12 belum kenal dengan MER-C, belum tahu 6:13 Dokter Joserizal, belum tahu Bapak Farid 6:15 dan semuanya belum tahu lah gitu. 6:17 Cuman yang ada di pikiran saya saat itu, 6:19 ya Allah 6:20 seandainya saya bisa membantu di sana 6:22 He em. 6:23 ini 6:24 kesempatan yang luar biasa buat saya 6:26 gitu. Apa kek saya mau berangkat ke sana 6:28 He em. 6:29 mau jadi tukang cuci piringkah atau jadi 6:32 apa saja yang penting saya bisa bantu 6:33 saudara-saudara di sana. Karena melihat 6:34 situasi kan 6:35 cuci piring atau jadi insinyur di sana? 6:39 Ya gitu ya. Nah, terus 6:41 ya sudah. 6:42 Nah, ternyata MER-C eee buat pengumuman 6:46 bahwa eee 6:47 membutuhkan relawan insinyur. 6:50 He em. 6:51 Relawan insinyur. Ya sudah, pimpinan di 6:53 di pondok pesantren Al-Fatah yang 6:55 kemudian 6:56 yang 6:57 eee 6:57 apa namanya kemudian mencari 7:01 apa namanya anak-anak teknik sipil lah 7:04 yang yang yang bisa bekerja di bidang 7:05 konstruksi. Nah, saya 7:08 diminta untuk mengumpulkan CV-nya. 7:11 He em. 7:11 CV-CV teman-teman ini. Ada 10 CV yang 7:14 saya ini itu. 7:15 Termasuk Kang Ikhwan? 7:16 Belum. 7:17 Oh, jadi memang Kang Ikhwan 7:18 Belum. 7:19 tidak ada kebayang 7:20 Enggak ada kebayang. 7:20 akan berangkat ke sana. 7:21 Iya, iya gitu. 7:23 Nah, dari 10 CV itu 7:25 setelah terkumpul saya ajukan ke eee 7:28 Imam Yakhya Hamidy dulu, almarhum. 7:31 Mam, ini eee CV saya mau antar ke MER-C 7:34 gitu. 7:35 CV kamu ada enggak? 7:37 He em. 7:37 Wah, enggak ada Mam. Emang saya juga ya 7:39 masukin CV kamu gitu. Loh, saya juga 7:41 gitu. 7:42 Nah, akhirnya ya sudah dimasukkan CV-nya 7:44 dikirim ke Mercy. 7:45 Heeh. 7:47 Selang eh lama 7:49 eh mengajukan visa kan. 7:51 Heeh. 7:52 Mengajukan visa. Nah, dari 10 eh CV ini 7:55 eh 11 dengan saya lah ya. 7:57 Saya yang paling minim pengalaman. 8:00 Tidak ada pengalaman sama 8:01 Enggak ada pengalaman karena begitu 8:01 lulus kuliah saya diamanahkan ke 8:03 Cilangsi ngurusi hal yang enggak sesuai 8:05 dengan bidang jurusan saya gitu. 8:08 Maksudnya di haji dan umrah. 8:09 Haji dan umrah 8:10 kan enggak nyambung gitu kan. 8:12 Nah, sementara yang lain punya punya 8:14 pengalaman membangun gedung, membangun 8:16 jembatan dan lain sebagainya. 8:18 Berarti memang waktu itu Kang Nur Ikhwan 8:19 enggak masuk itu enggak? 8:20 Enggak enggak enggak masuk. Modalnya doa 8:22 saja doa ya Allah mudah-mudahan Allah 8:24 bisa kasih saya kesempatan ngebantu 8:26 saudara-saudara di Gaza gitu saja sudah. 8:29 Nah, sudah dikirim. 8:31 Nah, diajukanlah visa ke Mesir berapa 8:33 orang kan. 8:35 Setahun kalau enggak salah enggak 8:36 keluar-keluar 8:38 visa itu. 8:39 Ada beberapa nama kalau enggak salah Pak 8:40 Edi Wahyudi, kemudian Pak Heri Budianto, 8:43 terus eh Dede Isnaini. 8:45 Nah, kemudian eh setelah itu 8:49 eh dari 10 CV itu dipilih tiga orang 8:53 kalau enggak salah. 8:54 Pak Edi Wahyudi, Dede Isnaini, sama eh 8:59 Pak Heri Budianto. Saya terakhir saat 9:02 itu. 9:03 Dipanggil ke Mercy kemudian wawancara. 9:05 Heeh. 9:06 Termasuk saya lah waktu itu. Ditanya 9:08 sama Pak Farid. 9:10 Bisa bahasa Inggris? Enggak. 9:13 Bisa bahasa Arab? 9:14 Enggak. 9:15 Waduh ini orang tolol 9:16 padahal enggak bisa apa-apa gitu kan. 9:19 Ya sudah ya saya saya saya 9:21 enggak ada beban gitu kan di di ketika 9:24 dipanggil kemudian diwawancara. Ah, ya 9:26 sudahlah orang yang lain punya 9:27 pengalaman banyak saya apa gitu 9:29 pengalaman saya. 9:29 Heeh. 9:30 Ya sudah ya sudah setelah itu eh 9:33 aktivitas seperti biasa. 9:35 Eh saya ngurusin haji umrah kemudian eh 9:37 dengan Pak Tatang saat itu, kita sedang 9:40 bikin satu eee inilah eee satu bisnis 9:45 gitu ya, bikin peternakan kambing, bikin 9:47 he eh, bikin apa namanya rumah jamur 9:50 segala macam, karena memang 9:52 saat itu kita lagi lagi intens 9:54 pelatihan-pelatihan di situ gitu. 9:56 Ya sudah, kami berangkat. Nah, ketika 9:58 saya lagi persiapan itu, tiba-tiba ada 10:00 telepon dari Mbak Rima. 10:03 "Mas Nurihwan?" "Iya, Mbak." saya 10:05 bilang. 10:06 "Ini sesuai dengan 10:09 amanah imam, ya. 10:11 Ini yang berangkat Mas Ihwan." "Loh." 10:13 saya bilang. 10:14 Hah? 10:15 Kok bisa? 10:16 "Kok saya?" saya bilang. 10:18 "Iya, ini sudah sesuai dengan yang 10:20 diajukan dari Al Fatah sekian orang. 10:24 Yang berangkat itu Mas Ihwan." 10:26 Ya Allah, ya sudah. Saya hanya bisa 10:28 bilang begitu lah, gitu. 10:31 Ya, bismillah. Itu saat itu kan 10:32 Pertimbangannya apa? 10:33 Saya kurang tahu, kurang tahu 10:35 pertimbangannya, karena 10:36 eee saat itu kita sedang sibuk-sibuk 10:38 kerjaan lain, kemudian 10:40 yang diajukan eee ke visa untuk masuk 10:43 jalur Gaza lewat Mesir itu enggak 10:44 keluar-keluar. 10:45 He em, masuknya 10:46 Nah, kemudian ada satu grup di di di 10:50 Turki itu, nama yang bikin kelompok yang 10:53 namanya Freedom Flotilla 10:55 ingin menembus Gaza lewat jalur laut 10:57 gitu. Nah, Indonesia diundang, salah 10:58 satunya MER-C diundang. 11:00 Nah, MER-C eee 11:03 ingin ikut itu untuk supaya bisa 11:05 menembus Gaza, kemudian membangun rumah 11:07 sakit. 11:08 Dan 11:09 di Freedom eee 11:11 Flotilla 11:12 Flotilla itu termasuk Kang Ihwan? 11:13 Termasuk saya gitu. Ya sudah, akhirnya 11:15 akhirnya ikut. 11:17 Nah, dari situlah eee ceritanya dimulai. 11:20 He em. 11:21 Kalau tidak salah, Kang Ihwan juga salah 11:22 satu yang 11:24 ada di kapal Mavi Marmara, ya? 11:26 Iya, iya, di situ. 11:28 Ceritain dong. 11:30 Mabuk laut enggak? 11:32 Iya. 11:33 Tapi kan itu itu kan tua. 11:35 Ini ini apa ya? 11:37 Benar-benar pengalaman pertama. Kalau 11:40 teman-teman yang lain mungkin pengalaman 11:41 pertama di dunia kerelawanan itu mereka 11:44 biasanya ada tugas di daerah bencana 11:46 misalnya di Indonesia kan ada di Padang, 11:48 ada di Jogja. 11:49 Ada di Aceh segala macam kan. Nah, saya 11:52 enggak pernah ikut itu semua gitu. 11:54 Langsung ke 11:55 Pokoknya ngurusnya haji umroh aja. 11:57 Iya haji umroh gitu. 11:59 Ini langsung berangkat ke eh ke Gaza 12:02 nembus eh ikut Freedom Flotilla sehingga 12:04 pengetahuan saya kemudian eh apa 12:07 namanya? 12:08 Eh tentang Gaza, tentang eh Palestina, 12:12 tentang dunia kerelawanan itu memang 12:16 bukan minim gitu, tapi benar-benar nol 12:18 gitu. 12:19 Sehingga kita ber ketika berangkat ya 12:21 sudah saya hanya ikut aja ikut kemudian 12:24 eh dengan empat kan kita ber kita 12:27 berempat tadi itu dengan eh Mbak Upi 12:29 kemudian dengan Dokter Arif. Ada dari 12:31 wartawan TV One juga saudara Yasin gitu 12:34 kan. 12:35 Berangkat ke sana ya saya hanya ikut aja 12:36 ke mana mereka. 12:38 Nah, di ketika kami naik kapal itu 12:41 eh ketika akan berangkat karena kan kita 12:43 naik kapal 12:45 di tengah laut itu berhenti kurang lebih 12:46 2 hari apa 3 hari gitu. 12:48 Karena? 12:49 Karena eh nunggu kapal yang lain dari 12:52 dari Yunani sama dari dari Swedia gitu 12:54 kan berangkat. 12:55 Nunggu di situ kemudian ketika sudah 12:57 berkumpul semua semua relawan di Mavi 12:59 Marmara itu kita jalan gitu. 13:01 Nah, di jalan ketika akan mendekati 13:03 jalur Gaza itu 13:05 suasana agak tegang. 13:07 Tegang karena 13:08 eh dikabarkan Israel sudah menyiapkan 13:11 pasukannya untuk menghadang rombongan 13:13 tim kemanusiaan yang tanpa senjata ini 13:16 He eh he eh. 13:17 Nah, ya sudah gitu kan. 13:19 Akhirnya eh yang yang dokter 13:21 dikelompokkan dengan dokter, yang re 13:23 yang wartawan dengan wartawan kemudian 13:25 yang 13:26 eh yang kami sebagai relawan yang umum 13:28 dibagi di beberapa tempat. Nah, 13:30 relawan dari Indonesia dan Malaysia itu 13:32 ditempatkan di dek 4. 13:34 He eh. 13:35 Dek 4 saat itu. 13:37 Kemudian eh, sebelum berpisah 13:41 eh, kami dikumpulkan dan Dokter Arif 13:44 Bang Arif saat itu nge-briefing kami. 13:46 Ya, dia bilang ini situasi 13:48 begini-begini-begini dan 13:50 inilah 13:51 apa eh, 13:55 yang harus ditanggung oleh seorang 13:57 relawan. Resikonya ya 13:59 Nyawa. 13:59 nyawa gitu. 14:00 Saya cuma bilang 14:01 hah, masa begini sih, gini amat gitu 14:04 kan. 14:05 Lebay ini Bang Arif gitu kan. 14:07 Karena emang enggak kebayang di pikiran 14:09 saya bakal begitu gitu. 14:11 Ya udah akhirnya berpisah kan. Nah, 14:14 berpisah kami di dek 4 dengan relawan 14:17 eh, Malaysia, Indonesia bergabung di 14:18 situ. 14:20 Kebagian tugas kan jadi eh, apa namanya 14:23 dari pokoknya mereka bilang kalau kita 14:25 bisa lewat pagi ini masuk eh, tanpa ada 14:29 penyerangan kita bisa nembus Gaza gitu. 14:32 Ya udah berjaga-jaga kan semua jaga-jaga 14:34 gitu. 14:35 Jaga-jaga dibagi dua shift. Begitu 14:36 menjelang subuh 14:38 menjelang subuh eh, sebagian sholat. 14:42 He eh. 14:42 Sholat gitu kan. Kami bagi 14:45 kebagian shift kedua sholat itu. 14:47 Ya sudah begitu 14:49 eh, sholat eh, 14:52 lagi sholat di rakaat kedua kalau enggak 14:55 salah yang shift pertama itu Israel 14:57 nyerang. 14:58 He eh. 14:58 Dan nyerangnya itu di di perairan 15:00 internasional? 15:01 internasional lagi di tengah di laut 15:03 Mediterania. 15:04 tidak punya hak 15:05 Harusnya enggak enggak enggak enggak 15:06 punya enggak punya hak mereka untuk 15:08 nyerang 15:09 eh, rombongan kami gitu. 15:10 He eh. 15:11 Nah, kemudian diserang diserang itu dari 15:13 bawah ya mereka pakai speed boat. 15:15 He eh. 15:16 Seingat saya itu ada 30 speed boat. 15:18 Uh, banyak. 15:19 4 30 speed boat, 4 kapal perang, 15:21 kemudian eh ada 2 kapal 15:25 selam ya. Kemudian ada apa namanya? 15:28 Puluhan helikopter. 15:30 Heh, helikopter remote gitu. 15:32 Ya, kami diserang. Mereka coba masuk 15:34 lewat bawah kan? Lewat speedboat itu. 15:36 Begitu lewat bawah 15:38 apa namanya? Dihalau sama 15:40 relawan-relawan. 15:42 Dilawan di di disiram dengan air segala 15:44 macamlah 15:46 Enggak bisa, akhirnya mereka lewat 15:48 eh lewat udara pakai helikopter. Nah, 15:51 saya kebagian yang salat tahap kedua 15:54 gitu. 15:54 He em. 15:55 Waduh, panik gue ini belum salat nih 15:57 gitu kan. Udah saya masuk ke dalam, 15:58 ambil wudu 16:00 salat. Begitu salat 16:03 apa namanya? 16:05 Masuk tempat salat, sepatu saya lepas. 16:07 Tempat salat itu di luar gitu di di luar 16:09 jadi 16:10 di terbuka gitu terus ada ruang salat. 16:12 Kenapa dilepas sepatunya? 16:12 Nah, itu dia. 16:14 Panik kan? Salat sudah sudah enggak 16:16 enggak ini 16:17 enggak pakai sepatu kan? 16:18 Suara tembakan sudah di mana-mana nah 16:20 segala macam kan. 16:22 Begitu selesai salat, keluar sepatu saya 16:24 hilang sebelah. 16:26 Orang sibuk, saya sibuk cari sepatu 16:28 sepatu saya di mana. Lailahaillallah 16:31 gitu kan. 16:32 Cari sepatu saya. Begitu saya lagi eh 16:34 nyari sepatu, tiba-tiba ada tambang. 16:37 Heh. 16:37 Tambang dari helikopternya Israel tepat 16:39 depan muka saya. 16:40 Ah. 16:42 Ini tambang. 16:44 Terus saya ngelihat ke atas 16:44 Israel-Israel pada turun kan. 16:47 Ih, tambang saya bilang. Saya ambil 16:49 tambangnya, saya coba 16:51 Astagfirullahalazim gitu. 16:54 Nah, ya Allah. 16:55 Lalu tentara Israelnya gimana Pak Ustaz? 16:56 Ya, ditarik sama mereka kan. 16:57 Heh. 16:58 Ditarik dan saya menurut cerita kawan 17:01 saya memang 17:02 sudah dibidik sudah ada laser senjata 17:04 tentara Israel itu di punggung. 17:06 Heh. 17:07 Ketika saya ngelihatin apa namanya 17:09 artinya ya artinya memang 17:12 ya kalau Allah menghendaki dia narik itu 17:14 sudah enggak ketemu kita hari ini. 17:16 Tapi ya masyaallah tuh. 17:19 Nah, ini ada ada ada ada di sini nih. 17:21 Ada di buku ya? 17:22 Ada ada di buku ini ya. 17:23 Face to face enggak dengan tentara 17:25 Israel? 17:26 Eh, iya. 17:27 Iya. 17:27 Iya. 17:27 Dan ditanya nama, kamu dari mana enggak? 17:29 Ditanya. 17:30 Sudah sarapan belum enggak nanya gitu? 17:32 Iya, kita kemudian eh apa namanya 17:35 suasana sudah sudah enggak karuanlah, 17:37 tembakan di mana-mana. 17:39 Kemudian kami diminta oleh tim host host 17:42 ya dari IHH Turki itu. 17:44 Biar supaya jangan melakukan eh 17:46 perlawanan, jangan melakukan perlawanan. 17:48 Tentara Israel masuk semua, kemudian 17:51 kapal berhasil dikuasai. 17:53 Eh, kemudian kami 17:55 eh 17:57 diikat satu-satu. 17:59 Ehm. 17:59 Diikat pakai apa kabel kabel tis itu ya 18:02 di belakang terus disuruh ngadep ke 18:03 tembok gitu selama 18:05 saya kurang lebih ada 8 jam duduk. 18:07 Ehm. 18:08 Begitu di di diikat begini ya. 18:12 Nah, kemudian eh apa namanya? 18:15 Itu subuh itu. 18:17 Ehm. 18:17 Subuh diikat, kemudian kami dikumpulkan 18:19 di dek eh bagian belakang. 18:21 Ehm. 18:22 Kemudian 18:23 eh apa menjelang zuhur kami izin salat. 18:27 Eh, enggak diizinkan. 18:29 Ehm. 18:29 Sama Israel gitu. 18:31 Akhirnya setelah mendesak kita eh 18:33 protes keras kan segala macam. Ehm, 18:36 akhirnya kita diizinkan untuk salat. 18:38 Kabel tis dibuka yang tadinya di 18:39 belakang jadi di depan, kemudian kita 18:41 wudu. 18:42 Dan salat dalam keadaan tangan terikat 18:44 gitu. 18:45 Jadi di di ini. 18:45 Kejadian Mavi Marmara kan juga ada 18:47 korban ya? 18:47 Ada korban. 18:48 Ada berapa korban dan dari mana? 18:50 10 orang, semuanya dari Turki. 18:53 Karena di dek paling atas itu enggak 18:55 boleh eh relawan lain kecuali relawan 18:57 Turki. 18:58 Oh, sampai seperti itu? 18:59 Iya. 19:00 Alasannya? 19:00 Iya. 19:02 Mereka enggak mau ada korban dari dari 19:04 negara lain gitu. 19:06 Ehm. 19:06 Karena host-nya kan mereka kan yang yang 19:08 yang jadi ininya. Nah, jadi ya sudah 19:10 mereka 19:11 eh di situ dan ada salah seorang anak 19:15 ee apa namanya baru lulus SMA Furqon 19:18 Dohan namanya 18 tahun itu tewas di 19:20 tempat 19:21 ditembak di lehernya 19:23 Allah 19:23 kemudian di dada da dari titik nol 19:25 seperti ini dari jarak nol 19:26 oh 19:27 ee 19:29 Jadi memang mereka sudah ditarget oleh 19:31 oleh Israel dan Israel tahu 19:33 yang mau di ee apa namanya yang mau 19:37 ditembak di sana tuh siapa dari negara 19:38 mana Israel 19:40 Israel itu tentara Israel itu sudah bawa 19:41 list mana yang akan di 19:43 oh 19:44 bunuh gitu 19:45 dan listnya itu ada di di di di tentara 19:48 Israel jadi begitu tentara Israel turun 19:49 pertama kali 19:50 he 19:51 ya itu ditanggapin sama relawan 19:53 he 19:53 kemudian ee apa namanya senjatanya 19:56 dirampas kemudian dipukulin 19:58 ya 19:59 nah di dari tentara itulah dapat ee nama 20:03 sama foto foto-foto yang jadi target 20:05 mereka untuk 20:07 ee di di tangkap atau dibunuh gitu di 20:10 dan itu kebanyakan dari Turki 20:11 dari Turki gitu termasuk 20:13 yang yang apa namanya yang jadi target 20:15 tuh Syekh Raed Salah 20:17 Syekh Raed Salah 20:18 Syekh Raed Salah nah ini unik banget 20:20 Syekh Raed Salah ini 20:22 dari kesembilan korban ya sembilan 20:24 belakangan jadi 10 karena ini meninggal 20:26 di 20:27 yang meninggal di tempat tuh sembilan 20:28 orang dari kesembilan korban itu 20:31 Israel berpikir salah satunya Syekh Raed 20:34 Salah 20:35 em 20:36 Syekh Raed Salah 20:37 enggak tahunya bukan 20:38 nah 20:39 begitu semua relawan sudah ditangkap 20:41 semua sudah didudukkan di di tempat gitu 20:43 ya 20:44 nah kemudian 20:46 saya ada Syekh Raed Salah di situ 20:48 he 20:50 nah kemudian satu tentara datang 20:52 nanya Anda 20:54 Raed Salah iya saya Raed Salah 20:57 balik beda lagi yang nanya datang Anda 20:59 Raed Salah 21:00 iya Raed Salah 21:01 ditanya sampai beberapa tentara itu 21:02 nanya gitu 21:04 karena mereka berpikir dari kesembilan 21:05 korban yang sudah tewas itu, salah 21:07 satunya beliau ini gitu. 21:09 Loh. 21:10 Iya. 21:10 Berarti siapa dong kalau gitu yang 21:12 tewas? 21:12 Iya, itulah makanya kan ini yang luar 21:15 biasa ya, Israel sudah berpikir Sahid 21:17 Salah Tewas gitu ya. 21:19 Tapi Allah jaga beliau gitu, karena 21:21 salah satu korban itu ternyata mukanya 21:23 mirip Sahid 21:24 Sahid 21:25 Sahid Salah. 21:26 Terus kenapa 21:27 rekaman ini bisa bisa keluar? 21:30 Nah, ada salah satu relawan 21:32 Bisa dilihat sama dunia internasional. 21:34 apa namanya 21:35 kamera semua kan disita kan? 21:37 Iya, semua 21:38 kamera disita, kemudian waktu 21:41 penyerangan itu live. 21:43 Oh, iya. 21:44 Heeh, live karena 21:45 ee tim IHH, tim IHH itu 21:49 ee apa namanya memasang 21:52 ee kamera tersembunyi yang tidak 21:54 diketahui oleh Israel, kemudian 21:56 menghubungkan ke sebuah satelit gitu. 21:59 Nah, satelit yang dihubungkan itu, itu 22:01 yang enggak bisa di-hack oleh 22:03 yang enggak bisa di-hack oleh Israel. 22:06 Sehingga begitu kejadian Israel 22:08 menyerang, Israel menyerang kapal Mavi 22:11 Marmara itu 22:12 iya, kamera itu bisa on kemudian live 22:15 secara langsung gitu, sehingga dunia 22:16 bisa melihat gitu. 22:18 Rekaman-rekaman bagaimana mereka tentara 22:20 Israel turun menembaki satu persatu 22:22 ee para relawan yang tanpa senjata ini, 22:26 kemudian juga 22:27 ee apa namanya 22:29 ee sampai 22:31 Hmm. 22:31 bisa live gitu. Nah, kemudian ada banyak 22:34 kameramen yang memang 22:36 apa namanya 22:38 ee merekam kejadian-kejadian di sana. 22:40 Hmm. 22:42 Nah, itu ee kalau 22:44 enggak salah lolosnya itu karena kan 22:46 kita diperiksa semua nih. 22:48 Iya. 22:48 Semua diperiksa, saya sampai di lucuti 22:51 semua, ditelanjangi lah. 22:52 Hmm. 22:53 Ditelanjangi. 22:55 Ditelanjangin, kemudian ee apa namanya 22:59 di interogasi segala macam. Nah, salah 23:03 memory card-nya itu 23:05 itu berhasil diselundupkan karena 23:07 disimpan di, mohon maaf ya, di 23:10 kemaluan salah seorang wartawati. 23:12 Allahu Akbar. Sampai sekarang 23:13 Makanya, he eh, makanya bisa lolos itu. 23:15 ada di buku ini semua ceritanya ya? 23:17 Itu belum, kalau itu belum. 23:18 Oh, belum. 23:19 Belum, nanti di ini. 23:21 Baik. 23:21 Lebih detailnya Mavi Marmara ini. 23:23 Nah, Ikhwan dan Akhwat, cerita dari Kang 23:26 Nur Ikhwan ini 23:27 bisa Anda lihat di buku yang kami sedang 23:31 kupas menghimpun kebesaran Allah. Karena 23:34 memang 23:36 salah satu titik poin Kang Nur Ikhwan 23:38 itu bisa akhirnya membangun Rumah Sakit 23:41 Indonesia di Gaza ini dari kapal Mavi 23:43 Marmara ini ya? 23:44 iya, benar. 23:46 Benar. 23:46 Nah, 23:47 Kang Nur Ikhwan, kemudian 23:49 oh ya, untuk buku ini Ikhwan dan Akhwat, 23:51 Anda bisa membelinya, begitu ya. Dan 23:54 sekaligus ini juga 23:57 berinfak untuk program Gaza selanjutnya. 23:59 Iya, ya. Jadi, kita memang masih ada 24:03 ini kan 24:04 tahap pertama, tahap kedua Rumah Sakit 24:06 Indonesia sudah sudah sudah selesai. 24:09 He eh. 24:09 Kita mau ada tahap ketiga lagi membangun 24:11 sebuah poliklinik di depan Rumah Sakit 24:13 Indonesia. 24:14 He eh. 24:15 Ya, dan 24:16 ini yang akan terus kita 24:18 galang karena ternyata rumah sakit yang 24:21 sudah begitu besar kurang, Mas. 24:23 Masih kurang? 24:23 Masih kurang karena 24:25 ini jadi rumah sakit utama di Gaza 24:27 bagian utara. 24:28 Dan ini kan dekat dengan perbatasan 24:30 Dekat dengan perbatasan sehingga 24:32 apa, pasien-pasien itu membeludak gitu. 24:35 Sehingga di sana ini enggak bisa, yang 24:36 tadinya rumah sakit ini akan khusus 24:38 untuk traumatologi, ternyata akhirnya 24:39 jadi rumah sakit umum gitu ya, rumah 24:41 sakit umum untuk apa namanya, 24:45 warga yang ada di sana. 24:46 Ada beberapa pertanyaan yang cukup 24:48 menarik di saya. Ini kan Rumah Sakit 24:50 Indonesia di Jalur Gaza ini ada di dekat 24:53 perbatasan dengan Israel. 24:55 Iya. 24:56 Dan ketika perang terjadi sebenarnya 24:59 Israel akan sangat dengan mudah 25:01 menembak rumah sakit tersebut. Enggak 25:04 usah nembak lah, pakai rudal selesai 25:06 kan. Tapi kenapa dari awal pembangunan 25:09 sampai akhirnya jadi seperti sekarang 25:12 ini tidak ada satupun rudal Israel yang 25:15 mampir 25:16 ke rumah sakit Indonesia di jalur Gaza. 25:18 Ada, Mas. 25:18 Oh, ada? 25:19 Ada. 25:20 Beberapa kali bahkan. 25:22 Tapi ti 25:23 Di 2012 eh 25:26 eh 25:27 di 2014 kita kena. Dua rudal mendarat di 25:30 rumah sakit Indonesia. Itu posisi rumah 25:32 sakit Indonesia di 2014 itu sudah hampir 25:34 100% terjadi, ya. 25:36 Nah, satu di halaman apa namanya? 25:39 Halaman parkir 25:41 yang rudalnya. Kemudian yang kedua di di 25:44 kena gedung eh apa namanya? Kamar 25:47 jenazah. 25:48 Heeh. 25:48 Hampir hancur tuh kamar jenazah itu. 25:51 Kena seperti itu. 25:52 Heeh. 25:52 Dan dan apa namanya? Belum lagi efek 25:55 ledakan ya, efek efek blast itu karena 25:57 di depan rumah sakit kita itu 25:59 tempat latihan para pejuang kan di sana. 26:01 Nah, kalau tempat latihan para pejuang 26:02 itu sehari bisa 100 rudal mendarat di 26:04 situ. 26:04 Heeh. 26:06 Kalau efek blast-nya saja, Mas, ya, itu 26:08 bisa ngerobohin pintu besi yang kita 26:10 pasang di di di rumah sakit itu. 26:12 Di depan ini kan di di pintu masuk ini 26:14 kan pintu besi kan. Itu bisa lepas tuh 26:17 karena efek efek ledakan yang di terjadi 26:19 di depan 26:20 sakit itu. Jadi memang 26:21 eh apa namanya? 26:23 Eh rumah sakit kita ini memang ya 26:28 pernah jadi salah satu target 26:30 Heeh. 26:30 targetnya 26:31 Tapi tidak sampai dihancurkan? 26:33 Eh enggak enggak sampai hancur, 26:34 alhamdulillah. Jadi ketika bangunan 26:37 mortuary eh kamar jenazah itu kena, kita 26:40 langsung perbaiki gitu. Seperti itu. 26:42 Heeh. 26:43 Baik. 26:45 Kita akan mencoba untuk menghubungi Pak 26:47 Edi Wahyudi begitu, ya. 26:48 Iya, baik. 26:49 Heeh. Salah satu tim yang juga 26:52 ee ikut membangun Rumah Sakit Indonesia 26:55 di Jalur Gaza. Nah, kan kita juga tahu 26:57 nih, Mas Nur Ikhwan, bahwa Gaza ini 27:01 adalah salah satu penjara terbesar di 27:03 dunia. Bagaimana tidak 27:05 ee 27:07 hampir 20 tahun lamanya Gaza menjadi 27:10 satu-satunya kota yang 27:12 di apa namanya diblokade oleh Israel di 27:15 semua wilayah, di semua penjuru wilayah. 27:18 Begitu kita sudah berhubung dengan 27:21 Pak Edi Wahyudi. Assalamualaikum 27:23 warahmatullahi wabarakatuh, Pak Edi. 27:26 Waalaikumsalam warahmatullahi 27:28 wabarakatuh. 27:29 Sehat, Pak Edi? 27:31 Alhamdulillah bi khair. 27:33 Alhamdulillah. Ini Pak Edi lagi di mana? 27:36 Jakarta atau di Gaza? 27:38 Saya 27:39 Saya sedang di Lampung. 27:41 Oh, di Lampung, Pak Edi. 27:42 Ada pertandingan karate ini, ya. 27:44 Oh, subhanallah. 27:46 Pak Edi berapa lama di Jalur Gaza 27:49 membangun Rumah Sakit Indonesia di sana, 27:51 Pak Edi? 27:52 Ee alhamdulillah bi iznillah, atas izin 27:55 Allah, saya masuk awal 2011, ya, sampai 27:59 terakhir itu kurang lebih 10 tahun, lah. 28:02 Hmm. 28:04 Dengan Kang Nur Ikhwan sama? Atau duluan 28:07 Kang Ikhwan baru Pak Edi? 28:08 Saya duluan terus Pak Edi. 28:09 Bang Ikhwan masuk duluan, saya diterima 28:12 oleh Bang Ikhwan awal tahun 2011. 28:15 Oh, jadi di-shoot, ya? 28:17 Gabung. 28:18 Oh, gabung. Oh, gabung. 28:20 Gabung, gabung, gabung, bukan di-shoot. 28:22 Baik. Ada pengalaman enggak, Pak Edi? 28:24 Ini kan kita sedang berbincang tentang 28:26 sebuah buku yang diterbitkan oleh, 28:29 disusun oleh tim MER-C, menghimpun 28:32 kebesaran Allah. Mungkin bisa sedikit 28:33 cerita, lah. 28:34 Ee tentang keajaiban-keajaiban atau 28:37 mukjizat yang 28:39 Pak Edi rasakan ketika Pak Edi ada di 28:41 Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza 28:43 Palestina. 28:44 Iya. 28:46 Iya. Memang ee ketika 28:50 saat itu kan kami berada di Suriah, 28:53 tepatnya di Latakia. 28:56 Saya bersama rekan-rekan dari 28:59 ee Al Fatah itu 29:02 ee ada 29:03 ada di situ Ustaz Abdurrahman, kemudian 29:07 Bang Husein, kemudian ada 29:09 Mas Fauzi almarhum ya, dan juga 29:13 Abun Darusman. Itu ee bingung gitu ya 29:17 mau masuk Gaza ini ee bayangannya itu 29:19 kehancuran, 29:21 tidak ada makanan, tidak ada peralatan 29:23 dan sebagainya lah gitu. 29:25 Tapi ya bi iznillah ketika atas izin dan 29:29 qadarullahnya 29:31 ee kami masuk ke Jalur Gaza Palestina 29:34 awal tahun 2011, kemudian kami 29:38 ee melihat kehidupan di dalamnya itu 29:41 kami kaget. 29:42 He eh. 29:42 Karena 29:44 ya kaget karena ternyata 29:46 ee 29:48 memang di Jalur Gaza itu ee kami melihat 29:52 banyak misteri-misteri ilahi lah ya yang 29:54 kita lihat di sana. 29:56 He eh. 29:57 Gitu. Ee 29:59 di Gaza contohnya kami melihat 30:02 hasil-hasil tanaman 30:05 ee itu justru lebih bagus daripada 30:08 Indonesia gitu. Semangkanya lebih besar, 30:11 lebih ranum. Kacang tanahnya itu mungkin 30:14 per butirnya bisa tiga sampai empat kali 30:17 lipat besarnya dari yang dihasilkan di 30:19 Indonesia, kemudian labu dan sebagainya. 30:23 Nah, rasa kepenasaran kami itu berlanjut 30:27 ketika kami mulai untuk ee menggali ya 30:32 menggali basement untuk 30:36 Iya. 30:37 nya Rumah Sakit Indonesia pada saat itu 30:40 ee digali kurang lebih antara 6 sampai 8 30:43 meter lah ke bawah. 30:45 Iya. 30:45 Nah, saya itu melihat tuh dari mulai 30:49 pucuk sampai 30:54 jenis tekstur tanahnya ya. 30:56 Heeh. 30:56 Dan 30:57 anehnya itu justru di tekstur tanah itu 31:00 tidak ada unsur-unsur hara ya, 31:03 unsur-unsur yang bisa di sebenarnya 31:05 tumbuhan yang diperlukan tumbuhan gitu. 31:08 Jadi memang 31:09 kami berkeyakinan 31:12 bahwa memang 31:13 kesuburan yang ada di Gaza itu merupakan 31:16 karunia dari Allah semata gitu. Sebagai 31:20 bagian bahwa Gaza itu adalah bagian dari 31:23 salah satu bagian dari negeri Syam ya. 31:26 Bahwa negeri Syam itu kan Allah berkahi, 31:28 Allah Allah jamin keberkahannya. 31:31 Mungkin itu dulu, nanti silakan yang 31:33 lainnya. 31:35 Baik, jadi 31:36 banyak misteri, banyak 31:38 hal-hal tersembunyi di sana. 31:41 Ini banyak 31:41 Banyak sekali seperti yang tertulis di 31:44 buku yang diterbitkan oleh Mercylah. 31:47 Di sana demikian. 31:48 Saya ini berangkat duluan jadi setelah 31:50 Mavi Marmara itu Mas Agus. 31:52 Heeh. 31:53 Kemudian kita ke Indonesia, masuk Gaza 31:55 Mavi Marmara kan Mei ya, Mei kemudian 31:58 kami berhasil masuk Gaza itu 30 di bulan 32:01 Juli, 15 Juli kami berhasil masuk. Nah, 32:03 6 bulan kemudian baru Pak Edi menyusul. 32:06 Heeh. 32:06 Beserta 5 orang. 32:08 Nah, ketika menyusul itu saya di 32:11 SMS karena dulu belum ada WA, SMS oleh 32:13 Imam Hamidi almarhum itu. 32:16 Ikhwan ini 32:18 Ikhwan-ikhwan kita berangkat disebut ada 32:19 Pak Edi, ada 32:21 almarhum Fauzi, ada Ustaz Abdurrahman, 32:23 ada 32:24 Abundarusman 32:26 berangkat. Imam cuma bilang 32:28 tolong pertahankan, jangan pulang. 32:31 Heeh. 32:32 Nah, ini anak 5 nih. 32:35 Enggak tahu kalau mereka tuh 32:38 kalau masuk ke Gaza tuh bakal diam di 32:40 situ gitu. 32:41 Mereka hanya berpikir kan itu Asia 32:42 Karavan tuh Gaza. Masuk Gaza 32:45 3 hari, 4 hari pulang lagi ke Indonesia 32:47 gitu. Nah, sementara Imam kirimkan SMS 32:50 seperti itu ke saya. 32:52 Begitu mereka masuk, saya tunjukin dong 32:54 SMS-nya dong. 32:55 Ke Pak Edi, 32:57 ini SMS Imam. 32:58 Ada lemas. 33:01 Ya Allah gitu, saya cuman bawa baju 33:03 segini, saya belum persiapan cuman 33:05 sebulan gitu loh. 33:07 Tapi Subhanallah ya mereka 33:09 ke lima orang Ikhwan nih sami'na wa 33:12 ato'na. 33:13 Yang tadinya yang tadinya hanya berpikir 33:15 berapa tahun di sana? 33:16 Iya, yang tadinya mereka berpikir hanya 33:18 4 hari, 5 hari akhirnya sampai lebih 33:20 dari 1 tahun mereka di sana, 1 tahun 33:22 setengah. Di tahun pertama itu. 33:25 Nah, ini kan di sana kan juga terjadi 33:27 perang ya. Ketika terjadi perang apa 33:29 yang dilakukan oleh teman-teman relawan? 33:32 Saya ngalami dua perang. Kalau Pak Edi 33:35 mungkin lebih ya. 33:36 Perang beberapa kali Pak Edi. Saya 2012 33:38 dan 2014. 33:40 Di 2012 tuh di akhir bulan Zulhijah. 33:44 Ya di awal-awal Muharram tuh ya. Kami 33:47 lagi di tepi pantai saat itu sedang 33:49 lihat hilal. 33:51 Eh, salah satu wakil komandan tertinggi 33:53 dari pejuang di Gaza tuh dibunuh oleh 33:55 Israel. 33:56 Nah, begitu terjadi peperangan, saling 33:58 balas, serang-menyerang, ya kami hanya 34:01 bisa di 34:03 eh, di di di basement rumah sakit gitu 34:05 karena kita kan tinggalnya di di di 34:07 basement rumah sakit itu gitu. 34:09 Dan ya kami hanya standby di situ. 34:13 Karena di basement, ya kita enggak bisa 34:15 ngapa-ngapain sedangkan material sudah 34:17 masuk gitu. Ya kita kerjakan apa yang 34:19 kita bisa gitu. 34:20 Jadi selama peperangan itu sebenarnya 34:22 kita masih tetap kerja hanya di di 34:24 basement gitu ya. 34:25 Gitu itu. 34:26 Jadi orang lain perang enggak 34:27 Iya kita 34:28 Teman-teman bekerja ya? Kerja membangun. 34:32 Gitu. Pak Edi ini kan kalau kita bicara 34:34 pembangunan kan kita juga bicara masalah 34:36 material nih Pak Edi, ini gimana caranya 34:37 bisa masukin material ke jalur Gaza? 34:40 Orang aja sulit apalagi material kan 34:42 gitu. 34:42 Iya. 34:44 Iya. 34:46 Itu yang menjadi ee bagian cepatnya 34:49 rambut saya dari hitam berubah menjadi 34:51 putih. 34:55 Itu itu menjadi trending pembicaraan 34:58 teman-teman di Gaza itu. Tuh ada namanya 35:01 Engineer Sahdi ya. 35:02 Heeh. 35:02 Engineer Sahdi itu lagi duduk-duduk, iya 35:05 orang Gaza dia. 35:06 Iya. 35:06 Saya kan di sana dipanggilnya Abu Fikri. 35:08 Abu Fikri katanya. "Taal." katanya. 35:10 "Sini." katanya gitu kan. Saya pikir dia 35:12 manggil mau ngapain gitu kan. 35:14 Heeh. 35:14 Saya duduk di sampingnya. Terus dia buka 35:16 HP gitu kan. 35:18 Dia buka HP, dia tunjukin "Nih." 35:21 katanya. "Kamu nih masuk ke Gaza rambut 35:23 kamu hitam legam." katanya. 35:26 "Di Gaza inilah kamu berubah rambutnya 35:27 jadi putih." katanya. 35:31 Ya, itu salah satu ee yang membuat ee 35:34 kami ee berpikir keras ya untuk 35:36 pengadaan karena 35:38 ee terus terang memang dari tim ee 35:43 apa namanya? Desainer ya, tim struktural 35:45 dan sebagainya yang ada di Jakarta yang 35:47 digawangi oleh Pak Bapak Ir. Farid Talib 35:51 itu membuat besi bes apa desainnya 35:54 besi-besi yang cukup besar gitu. Salah 35:56 satu aja ya, salah satunya besi besar 35:59 dan itu kita udah berusaha semaksimal 36:01 mungkin nyari dan sebagainya tapi memang 36:03 tidak ada gitu pun. Nah, itu pun memang 36:07 ee 36:08 apa ya? Ee kita harus akhirnya 36:11 menghitung ulang di Gaza supaya 36:13 disesuaikan dengan ee besi-besi yang ada 36:16 di Gaza demikian. 36:18 Heeh. 36:18 Dan memang ee saya juga sempat adu 36:22 argumenlah sama Bapak Ir. Farid gitu. 36:25 "Pak, ini fondasinya kok besar-besar 36:27 benar sih? Saya bilang, enggak boros Pak 36:29 katanya. Udah jadi katanya, jalanin aja 36:32 katanya. 36:33 Bukan masalahnya nyari batunya aja susah 36:37 gitu. Dulu waktu awal-awal 36:38 Iya. 36:39 batu split itu dikarungin. 36:41 Iya. 36:41 Enggak ada itu. Jadi lewat kolong itu 36:44 batu-batu split dikirim dari luar Gaza 36:46 gitu. 36:48 Ya dari terowongan itu. Nah itulah 36:50 memang eh demikian juga semen ya. Kita 36:54 coba kita coba join sama UN ya, UNDP 36:57 kita datangin tuh kantornya. Baik untuk 37:00 besi, baik maupun untuk semen. Karena 37:02 kita kan keperluan semen kita itu eh 37:05 kita ini beda konstruksinya dengan 37:07 masyarakat Gaza ya. Kalau masyarakat 37:09 Gaza secara umum dia menggunakan eh 37:13 tidak full konkrit ya dia full dia itu 37:16 tidak full konkrit. Kalau kita kan 37:17 memang konstruksinya itu full konkrit 37:19 gitu eh full beton gitu. 37:21 Nah sehingga kebutuhan semen itu di atas 37:24 rata-rata gitu ya, di atas rata. Maka 37:26 kita coba nego ke UN dan sebagainya. Dan 37:29 mereka bilang boleh katanya tapi minta 37:31 fee katanya 40% lah gitu enggak salam 37:35 aja deh kalau minta 40% lah saya bilang. 37:38 Udah kita cari yang lain aja deh gitu. 37:40 Ya memang seperti itulah di antaranya ya 37:42 belum bahan-bahan yang lain. 37:44 ini kan kita sedang bangun rumah sakit. 37:47 Rumah sakit yang di kita nanti 37:49 diperuntukkan untuk masyarakat Gaza. 37:52 Seharusnya kan tidak ada fee atau paling 37:53 tidak mereka malah senang bisa dapat 37:56 bantuan atau terbantu oleh Indonesia. 38:00 Ya itu eh antara teori dengan realita di 38:03 lapangan seperti itulah gambarannya Mas. 38:07 Ya itu baru kita baru ya bicara material 38:11 itu. 38:11 He em. 38:12 Belum lagi kalau yang namanya 38:15 eh apa ya pekerja-pekerja di sana gitu 38:18 kan ya. 38:19 Ampun deh pokoknya. Eh ya mohon maaf ya, 38:23 mohon izin kita juga tahulah bahwa Gaza 38:27 itu arduan biya gitu ya 38:29 tapi saya dibisikin sama teman-teman di 38:32 sana, orang-orang Gaza yang memang 38:34 membackup kita, hati-hati katanya Abu 38:36 Fikri katanya 38:38 walaupun di sini arduan biya katanya 38:41 kalau hari ini habis diresmikan eee 38:44 pembesian besok pagi itu besi sudah pada 38:46 hilang katanya 38:48 oh gitu saya bilang, iya gitu 38:51 tapi ya alhamdulillah sih kalau 38:52 kehilangan eee material sih 38:54 alhamdulillah kita enggak pernah ya 38:56 untuk apa skala dari sisi konstruksi ya, 38:59 dari sisi struktural, cuman dari sisi 39:01 pekerjaan gitu 39:03 pekerjaan mereka itu kan asal jadi gitu 39:05 kan, mereka asal jadi sehingga 39:07 ya mohon maaf ya, saya juga koordinasi 39:10 ke Bang Iwan 39:12 eee Bang ini 39:13 gimana nih? Ya sudah Pak Edi eee 39:15 maksimalkan saja gitu, ya sudah saya 39:17 mainkan kan gitu dan alhamdulillah dari 39:20 pembangunan struktur yang pertama itu 39:23 sampai empat kali ganti 39:26 pemborong besi 39:27 dan tiga kali pemborong kayu, ampun Abu 39:30 Fikri nih katanya kerasnya lebih keras 39:33 dari batu katanya 39:35 Baik 39:36 ini kan 39:36 ya kita ya kita fair saja gitu loh, 39:39 karena kita kan di sisi satu sisi kita 39:42 ini eee sebagai relawan di sisi lain 39:44 kita di pundak-pundak kita ini berat 39:46 Bang 39:47 berat ya Mas ya, ada ada amanah yang 39:50 memang dipikul menjadi tanggung jawab 39:52 kita, kita ingin memberikan yang terbaik 39:53 untuk orang Gaza gitu loh 39:55 gitu, jadi misalkan contoh gini mereka 39:58 bilang, saya bilang eh tolong diikat 39:59 besi gitu kan 40:01 wah enggak bisa Pak, eee Abu Fikri ini 40:04 enggak bisa disemua diikat, oke kita 40:06 ambil jalan tengah gitu ya, eee one by 40:08 artinya eee one zero one zero kita 40:11 artinya ada yang diikat ada yang enggak 40:12 gitu kan 40:13 sudah sudah sudah di sudah disepakati 40:15 tuh seperti itu 40:16 eee tiba-tiba mereka bayangkan ya 40:19 konstruksi se selevel pondasi ya untuk 40:22 food plat ya, itu kan diperlukan 40:25 keutuhan eh struktur yang karena dia 40:28 kalau digetarkan besinya bisa bergerak 40:30 gitu ya kalau enggak diikat secara baik. 40:32 Kalau pergerakan besi itu eh dari jarak 40:34 aja udah berpengaruh tuh terhadap food 40:36 food plat karena sebuah bangunan itu 40:38 ditentukan dari struktur pondasinya. 40:40 Kalau pondasinya tidak baik ya maka ke 40:42 atasnya juga walaupun baik tidak akan 40:44 baik gitu. Nah, itu dari waktu kita 40:47 bilang ikat ya, ikat ya ikat pakai alat 40:49 itu pakai apa ya gegap itu ya. 40:52 Pakai gegap diikat tuh gegap. 40:54 Nah, saya mulai bergerak tuh udah jauh 40:56 jauh jauh. Tapi saya tetap pantau gitu 40:59 dari jauh gitu. Tahu enggak bagaimana 41:01 apa yang dia lakukan? Dia ikat pakai 41:03 tangan. 41:05 Itu 41:06 kawat besi cuman diputer-puter pakai 41:08 tangan enggak pakai alat terus udah 41:09 cepet tek tek tek tek gitu. Saya keluar 41:12 yang namanya suara teriak dari jarak 41:14 berapa 41:15 berapa meter itu? Teriak saya 41:17 sekuat-kuatnya. 41:22 Baru dia 41:24 ada yang lari tuh saya kejar itu. 41:27 Ya tapi alhamdulillah sih eh 41:30 kami enggak main fisiklah tapi kita 41:32 sifatnya eh sifatnya apa ya? 41:35 Eh pembinaan secara suara aja. 41:37 Intinya enggak habis pikir gitu aja ya 41:39 Pak Edi ya. 41:40 Enggak habis pikir enggak habis pikir. 41:44 Eh 41:45 Baik, ini ada pertanyaan Kang Ikhwan Pak 41:48 Edi dari Bunda Risa di Depok. 41:50 Assalamualaikum warahmatullahi 41:51 wabarakatuh. Berapakah harga buku 41:54 tentang Palestina yang diterbitkan MER-C 41:56 yang sedang dalam pembicaraan saat ini 41:58 dan bagaimana cara pesannya? 42:00 Eh 42:01 Bagaimana? 42:02 Untuk Kang Ikhwan. 42:04 Untuk harganya entar lihat coba saya 42:07 lihat. Ini bisa dipesan di di mana? 42:10 Bisa menghubungi MER-C ya. 42:12 Heeh. 42:12 Di 0811 42:15 990176. 42:18 Heeh. 42:19 Jadi, 0811990 42:22 176. Nanti harganya eh kami tanyakan 42:25 coba. 42:26 Ini harganya oh harganya belum 42:28 belum mulai. Nanti kami tanyakan. 42:29 Paling tidak eh buku jika Anda pesan 42:31 buku ini, ini sama saja dengan Anda 42:33 berinfak untuk rumah sakit yang ada di 42:34 Gaza. Begitu, ya? 42:35 Benar. 42:36 Salah satu dari buku ini yang cukup 42:39 menarik bagi saya adalah tantangan yang 42:41 sesungguhnya 42:43 bagi Nur Ikhwan rasakan setelah tim 42:46 Jakarta kembali ke Indonesia. Pak Farid, 42:48 Talib, kemudian ada Jose Rizal, Dokter 42:51 Arif, dan Bagel telah kembali ke tanah 42:52 air. Dan kini tinggal Nur Ikhwan sendiri 42:55 bersama tim konstruksi menghadapi 42:57 birokrasi dengan segala kerumitannya. 42:59 Ini 43:00 emang rumit, Kang Ikhwan? Bisa 43:03 diceritain, dong. 43:06 Jadi, kita berangkat dari Indonesia itu 43:08 sudah bawa 43:09 Heeh. 43:10 gambar lengkap. 43:11 Heeh. 43:12 Yang kita pikirkan ketika kita masuk 43:14 Gaza 43:15 Heeh. 43:15 kita eh lakukan tender, milih 43:17 kontraktor, langsung kerja, gitu. 43:19 Heeh. 43:20 Itu maksudnya Dokter Jose, Pak Farid, 43:22 Bang Arif datang ke sana itu itu. 43:25 Tapi, begitu kita masuk ke Gaza 43:27 mereka lihat gambar kita, "Wah, enggak 43:29 bisa begini." 43:31 Heeh. 43:32 "Harus gambar harus begini begini begini 43:34 begini begini begini." Dokter Jose itu 43:36 begitu rapat pertama kali di di divisi 43:39 divisi teknis Kementerian Kesehatan Gaza 43:41 itu 43:43 sampai naik-naik ke atas meja Dokter 43:45 Jose itu. Saya kan pertama kali ke sana. 43:47 Saya bingung, "Kok gini, ya?" 43:49 Gitu, gitu. 43:50 Sampai sampai saya ditegur sama Dokter 43:52 Jose, "Kamu ngomong, Wan, gitu. Jangan 43:55 jangan error begitu, gitu." Dia ngomong. 43:58 Dokter Jose kan bu dokter, kan? 44:00 Ngejelasin gambar itu kayak dia yang 44:01 insinyur, gitu. 44:03 Di sini, ke sini, ke sini. Gitu, gitu. 44:06 Nah, mereka minta 44:09 kita kan enggak ada basement bawa 44:10 ininya, apa namanya? 44:12 Eh, apa? 44:13 Gambar yang kita bawa itu, mereka minta 44:15 basement. 44:16 Nah, kemudian juga mereka berbagai 44:18 macamlah minta minta agak diperluas 44:20 rumah sakit gitu, karena mereka 44:22 beralasan basement ini sangat penting 44:24 untuk eh, apa namanya? Gudang obat. 44:27 He eh. 44:28 Karena mereka di sana selalu stok obat 44:30 itu 44:31 minimal untuk 3 bulan ke depan gitu, 44:32 kalau terjadi peperangan barang enggak 44:34 masuk mereka nah, 44:35 akhirnya kita eh, berpikir Dokter Yosi 44:38 saat itu 44:40 dengan Basim Naim ya, 44:42 eh, 44:43 bilang dana kita terbatas 44:45 karena memang dananya sangat terbatas 44:46 ya, kalau kita buat basement ya, dua 44:48 kali harga dari eh, yang kita rencanakan 44:50 gitu, tapi 44:52 eh, Menteri Kesehatan saat itu Dokter 44:54 Basim Naim, tenang saja eh, akhi katanya 44:57 kita ada Allah katanya begitu. 44:59 Ya, sudah akhirnya basement yang apa 45:01 namanya? Yang tadinya enggak ada 45:03 akhirnya kita 45:04 eh, apa namanya? Kita adakan begitu. 45:07 Nah, 45:09 enggak selesai di situ 45:11 proses pergantian gambar itu kurang 45:13 lebih 6 bulan. 45:15 He eh. 45:15 Sampai Pak Edi dan tim datang gitu. 45:18 Begitu tim dan Pak Edi datang gambar 45:19 sudah kelar. 45:21 Kita mau tender enggak mau juga coba. 45:25 Enggak mau juga mereka sama sana, enggak 45:26 bisa. 45:27 Ini 45:28 karena kita kan sudah melakukan 45:29 penyelidikan tanah dan segala macam. Ini 45:31 enggak rumah sakit harus diputar. 45:33 Hah? 45:34 Pintu basement harus di sini. 45:36 Rumah ini wah, pokoknya diputar-putar 45:38 lah gitu. 45:38 Pertimbangannya apa dari sana? 45:40 Enggak tahu, entah apa yang mereka yang 45:42 yang mereka pikirkan kan. 45:44 Jadi, eh, stuck tuh dengan Kementerian 45:46 Kesehatan. 45:48 Sementara Pak Farid dan Pak Idrus yang 45:50 akan masuk Gaza tertahan di Mesir kan, 45:52 enggak bisa masuk gitu. 45:54 Nah, kita akhirnya dimediasi oleh 45:56 Kementerian Luar Negeri. 45:57 Kementerian Luar Negeri mediasi kita 46:00 masih juga enggak enggak mau mereka, 46:03 pokoknya harus begini begini di apa 46:05 namanya posisi rumah sakit yang sudah 46:06 kita tentukan depannya mana, sampingnya 46:08 mana. Tempat masuk ke basement di mana 46:11 kita sudah tentukan, mereka ingin rubah 46:12 lagi. 46:14 Kita tetap 46:15 kita bertahan karena kita kan 46:17 berdasarkan 46:18 berdasarkan hasil teknis dari 46:19 penyelidikan tanah gitu kan. Dengan 46:22 tanah yang dari Universitas Islam Gaza 46:23 itu kita akhirnya dibikin desain yang 46:26 yang kita punya, nah mereka enggak mau 46:27 di situ. Mentok itu. 46:29 Mentok. 46:31 Telepon ke Pak Farid, Pak Farid ini 46:33 diskusi kita dimediasi oleh Kemlu, Kemlu 46:36 Palestina gagal nih. Kementerian 46:38 Kesehatan bertahan, oh ya sudah kata Pak 46:39 Farid. 46:40 Packing, pulang sekarang. 46:42 Wah, 46:43 kaget kan. Pulang Farid, iya pulang. 46:46 Enggak lama Dokter Yosi bilang ke mereka 46:48 Wan. 46:49 Kalau mereka enggak mau rumah sakit ini, 46:51 kami akan pindahkan rumah sakit ini ke 46:53 Afghanistan. 46:56 Begitu dibilang begitu panik mereka kan. 46:58 Orang-orang Gaza oh iya sudah mohon maaf 47:00 ini jangan dipindahin ke Afghanistan. 47:03 Jadi begitu kan, birokrasi yang yang 47:06 luar biasa. Nah akhirnya 47:08 kita 47:09 mulai tender itu. 47:12 Kita mulai tender itu 47:14 tanpa ngomong lagi ke mereka. 47:16 Mulai tender, sudah mulai tender 47:19 menentukan 47:21 apa namanya 47:22 kontraktornya, langsung kita mulai. 47:24 Tanpa mereka tahu, sebulan kemudian baru 47:26 mereka tahu. 47:28 Begitu 47:29 karena kalau enggak begitu ya 47:31 Enggak jadi-jadi. 47:31 Enggak jadi-jadi, yang Pak Edi tadi 47:33 dengan suara keras, rambut sampai putih 47:35 itu karena memang karakter orang-orang 47:38 Gaza itu keras-keras Mas Agus. 47:41 Keras orang Gaza di kita di daerah 47:44 konflik ya kemudian terjadi banyak 47:45 peperangan kemudian 47:47 ya orangnya kita bisa tahu seperti apa. 47:49 Nah kalau kita 47:51 eee 47:53 eee enggak ngikuti gaya begitu ya sudah, 47:57 Maka saya bilang 47:58 kalau kalau enggak enggak enggak keras, 48:01 enggak jadi ini rumah sakit. 48:04 Benar enggak jadi kalau kita bilang, "Oh 48:05 iya." Kalau orang Indonesia kan begitu, 48:07 "Oh iya." Oh enggak bisa, enggak jadi. 48:09 Makanya suara Pak Edi itu 48:13 menggema hampir tiap hari di 48:17 Sampai dia di di di julukin 48:20 eee 48:21 Singa padang pasir ya? 48:22 Lion of sight gitu. Jadi singanya 48:25 Rumah sakit. 48:26 Rumah sakit itu. 48:28 Karena tiap hari mengaum. 48:28 Karena suaranya mengaum gitu tiap hari. 48:32 Gitu ya. 48:33 Pak Edi sendiri kalau eee 48:37 kendala nya apa nih Pak Edi dari sisi 48:40 teknis Pak Edi? 48:43 Eee sisi teknis ya, ya itu tadi dari 48:46 sisi bahan bangunan ya. 48:49 Eee bahan bangunan, kemudian 48:52 ketika 48:54 selesai itu bangunan 48:56 kan masuk tahapan itu eee peralatan gitu 48:59 ya. 49:00 Nah, alhamdulillah biiznillah itu 49:04 kita peralatan juga eee betul-betul kita 49:07 berikan yang terbaiklah. 49:09 Misalkan kayak untuk peralatan-peralatan 49:12 radiologi yang kan itu ahlinya di dari 49:15 Jerman ya, kita ambil 49:17 peralatan-peralatan itu datangkan dari 49:19 Jerman. 49:20 Kalau untuk peralatan-peralatan seperti 49:23 bank darah, untuk laboratorium itu kan 49:25 dikuasai oleh Amerika. Nah, kita 49:27 datangkan dari negara Amerika tersebut. 49:30 Dan untuk kayak untuk se kayak untuk apa 49:33 namanya tuh radiologi Jerman, kemudian 49:36 untuk eee monitor dan sebagainya itu kan 49:39 Philips ya, itu dari Belanda. Itu pun 49:41 dari Belanda. Nah, kendalanya itu kan 49:43 semua itu harus eee masuk melalui eee 49:48 perbatasan kan. Tetap harus melalui 49:50 perbatasan eee Israel gitu. Nah, 49:53 dari mulai tender, sebelum kita mulai 49:56 pengadaan sampai mendatangkan itu 49:59 tertahan di perbatasan itu, semua 50:02 peralatan tuh harus menunggu 4 bulan di 50:04 perbatasan, bayangkan gitu kan. 50:06 Sementara waktu kita kan juga terbatas 50:09 para relawan. 50:10 Nah, untuk menunggu itu cukup lama. 50:12 Belum lagi 50:14 mereka itu kalau pemeriksaan itu masa 50:16 bodoh gitu. Misalkan ada ada satu 50:19 packing-an gitu ya. 50:21 Itu padahal sudah di-x-ray dan 50:23 sebagainya, tapi begitu mau 50:25 diberangkatkan itu di 50:27 cek lagi. 50:31 Halo, Pak Edi. 50:32 Terputus. 50:33 Ah, itu jebret gitu kan. Nah, itu 50:37 maksudnya mereka menghindari jangan 50:39 sampai di dalam packing-an itu ada 50:42 penyelundupan orang dan sebagainya. 50:43 Mungkin katanya mereka seperti itu 50:45 alasannya. Tapi kan dampaknya itu ada 50:48 sebagian peralatan itu yang rusak itu 50:50 akhirnya karena 50:52 cara pemeriksaan yang brutal seperti 50:54 itu. Padahal mereka sudah dicoba 50:55 di-x-ray dan sebagainya, tapi karena 50:58 mereka terikat dengan protap dalam 51:01 pengadaan peralatan ya seperti itu. Itu 51:03 salah satunya, Mas. 51:04 Baik. 51:05 Belum lagi he eh ya, silakan. He eh. 51:07 Gimana, Pak Edi? 51:10 Ya, itu dari sisi pengadaan. Belum kita 51:12 juga relawan-relawan ini terkendala 51:15 dengan musim ya. 51:16 He eh. 51:17 Karena kita di sana ada 4 musim. Ya, 4 51:20 musim. Ada musim panas, musim dingin, 51:22 musim semi, musim gugur. Dan itu 51:25 ekstrem. 51:27 Kalau sudah musim panas ya panasnya luar 51:31 biasa ekstrem gitu ya. Kita jangan 51:32 coba-coba kalau di struktural apa 51:35 pengawasan struktural itu enggak pakai 51:38 enggak pakai topi atau enggak pakai helm 51:40 itu rambut kita dipegang kayak habis 51:42 direbus itu panasnya. Kalau musim 51:45 dingin, dinginnya luar biasa sampai ada 51:48 relawan yang pecah pembuluh darah ya 51:50 sehingga dari telinga keluar darah, dari 51:53 hidung keluar darah itu karena dinginnya 51:55 betul-betul dingin ekstrem ya itu dari 51:57 sisi 51:59 apa namanya dari sisi iklim ya dan 52:01 lainnya begitu. Demikian. 52:03 Baik, terima kasih Pak Edi Ikhwan dan 52:06 Akhwat jadi saya baru saja dapat 52:08 informasi harga bukunya ini 200.000 per 52:11 eksemplar. 52:13 Tapi buku ini 200.000 ini untuk 52:16 infak Rumah Sakit Indonesia di Jalur 52:19 Gaza. 52:19 Mas Agus kenapa 52:22 diberi judul Menghimpun Kebesaran Allah? 52:25 Nah, itu kenapa 52:26 nanti dijawabnya setelah yang satu ini 52:28 ya. 52:29 Kang Nur Ikhwan, Ikhwan dan Akhwat yang 52:31 dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala 52:33 tetaplah bersama kami masih dalam 52:35 program bincang spesial menghimpun 52:38 kebesaran Allah. Nanti kami akan 52:39 menjawab kenapa judulnya Menghimpun 52:41 Kebesaran Allah. Nah, itu dia. 52:44 Tetaplah bersama kami masih dalam 52:46 bincang spesial. 57:05 Radio Silaturahim TV 57:12 Radio Silaturahim untuk Islam yang satu 57:15 yang masih dipancarluaskan dari Jalan 57:18 Masjid Silaturahim 57:20 nomor 36 Kalimanggis Cibubur Bekasi. 57:23 Ikhwan dan Akhwat terima kasih masih 57:26 bersama kami dalam bincang spesial 57:29 bersama eh tim Mercy ada Kang Nur Ikhwan 57:34 Abadi di samping saya. 57:37 Satu buku dengan judul Menghimpun 57:40 Kebesaran Allah. 57:42 Ini disusun oleh tim MER-C, ikhwan dan 57:45 akhwat ini bercerita tentang bagaimana 57:48 perjalanan dari awal sampai hari ini 57:52 hingga berdirinya Rumah Sakit Indonesia 57:55 di Gaza. 57:56 Dan cerita tentang Rumah Sakit Indonesia 57:59 di Jalur Gaza ini banyak kisah-kisah 58:01 yang menarik yang 58:04 hanya Anda bisa dapatkan dengan membeli 58:06 buku ini, ya, Menghimpun Kebesaran 58:08 Allah. 58:09 Dan buku ini itu kalau dari informasi 58:12 yang kami dapatkan 58:14 ee, kurang lebih harganya 200.000 rupiah 58:17 belum termasuk biaya kirim pemesanan di 58:21 ee, Tina 0811990176. 58:27 0811990176. 58:32 Dan setiap pembelian buku ini insyaallah 58:34 akan masuk 58:36 untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia 58:38 di Jalur Gaza. Baik, tadi kan 58:41 sebelum jeda 58:42 He em. 58:43 ee, ada satu PR nih, Kang, apa namanya? 58:47 Kenapa buku ini 58:49 diberi judul Menghimpun Kebesaran Allah? 58:52 Iya. 58:55 Kalau ngebaca buku ini 58:58 ada ketawanya 59:00 ada senangnya, ada nangisnya, ada geram, 59:04 campur aduk. 59:06 Karena di buku ini 59:07 ee, 59:10 adalah kisah para pelaku, ya, para 59:13 pelaku yang memang terjun langsung di 59:15 lapangan membangun Rumah Sakit ini. 59:17 Yang setiap pelaku 59:19 ee, yang terjun di pembangunan Rumah 59:21 Sakit ini 59:23 enggak pernah berpikir sedikit pun, ya, 59:26 bahwa Rumah Sakit ini akan jadi gitu, 59:27 Mas Agus. 59:29 Jadi, ketika 59:31 makanya setiap setiap relawan yang 59:34 melihat ketika rumah sakit rumah sakit 59:36 sudah berdiri tegak begitu, mesti nangis 59:39 gitu. 59:40 Karena enggak pernah berpikir gitu, ya. 59:42 Loh, kok tiba-tiba sudah bisa jadi gitu, 59:44 ya. Makanya diberi judul menghimpun 59:46 kebesaran Allah. Artinya, kalau bukan 59:49 karena pertolongan Allah, ya, rumah 59:51 sakit ini enggak akan pernah jadi. 59:54 Punya keahlian seperti apapun gitu, ya. 59:57 Kemudian, 59:59 mau dibayar bagaimanapun gitu, ya. 1:00:01 Kemudian, 1:00:03 membangun rumah sakit di daerah konflik 1:00:06 itu memang ya bukan pilihan gitu. Tapi, 1:00:08 subhanallah gitu. Karena pertolongan 1:00:10 Allah saja nih rumah sakit bisa jadi, 1:00:13 kemudian 1:00:15 eee ceritanya bisa dihimpun di buku ini, 1:00:19 ya. Masing-masing individu yang 1:00:21 yang yang yang 1:00:23 eee ditulis di buku ini punya pengalaman 1:00:27 masing-masing yang memang luar biasa, 1:00:29 Mas Agus, ya. Sehingga rumah sakit ini 1:00:30 bisa bisa terlaksana seperti itu. 1:00:34 Ehm. 1:00:35 Kenapa 1:00:37 ada pikiran rumah sakit itu tidak akan 1:00:40 jadi? 1:00:42 Karena memang enggak mungkin. 1:00:44 Iya, ketika ide ini di dilontarkan, kita 1:00:48 di dibilang orang gila. 1:00:51 Iya, kan. 1:00:52 Gila ini 1:00:54 mau bangun. 1:00:55 Mau ngebangun di mana? 1:00:56 Saya saya 1:00:57 saya waktu acara buka mata buka telinga 1:00:59 waktu masih ada almarhum Dokter Jos. 1:01:01 Memang 1:01:01 Iya. 1:01:02 waktu itu saya jadi operator, ya. Memang 1:01:03 Iya. 1:01:04 ya memang enggak masuk akal. 1:01:05 akal, Mas Agus. 1:01:06 Ya, dana dari mana? Dana dari mana? 1:01:09 Kemudian, ya, ngebayangin masuk Gaza itu 1:01:12 saja sudah sulit, kan. 1:01:13 Sulitnya luar biasa, Mas Agus. Kemudian, 1:01:16 belum lagi tadi cerita kita pengadaan 1:01:18 material, kan. Pengadaan material sampai 1:01:20 waduh, luar biasa. Itu di awal-awal tuh 1:01:22 semua material masuk lewat terowongan. 1:01:25 Terowongan, kalau terowongan sudah, ya, 1:01:27 gitu, apa, ya, sudah tertutup, ya, sudah 1:01:29 enggak bisa masuk. Berbulan-bulan 1:01:31 menunggu datangnya semen, segala macam 1:01:33 gitu, sampai kita enggak enggak bisa 1:01:35 ee kerja dan lain sebagainya. Jadi, 1:01:38 makanya 1:01:39 ee 1:01:40 begitu pertama kali ngecor nih, pondasi 1:01:43 sudah jadi pas ngecor, 1:01:44 si ada satu relawan tuh, si Abun 1:01:47 Darusman, nangis tersedu-sedu. 1:01:49 Kenapa? 1:01:50 Alhamdulillah bisa ngecor, gitu. 1:01:53 Coba, 1:01:53 karena susahnya gitu dari dari apa, dari 1:01:56 birokrasinya, kemudian penentuan ee 1:02:00 pemenang, kemudian pengadaan material 1:02:03 gitu. Begitu bisa ngecor, nangis dia 1:02:05 kayak anak kecil gitu, kan. Itu, masya 1:02:07 Allah. Makanya di setiap individu, 1:02:08 sebenarnya kalau setiap relawan 1:02:10 diwawancara, kemudian dihimpun dalam 1:02:11 satu buku ini, masya Allah tuh. 1:02:13 Mereka punya punya apa, ya, punya cerita 1:02:16 masing-masing yang 1:02:18 yang mereka alami itu, kan, itu semua 1:02:20 menarik gitu. 1:02:21 Dan mungkin ke depan, ya, kita bisa 1:02:24 wawancara 1:02:25 ada beberapa relawan yang ketika mereka 1:02:27 di sana, keluarganya ada yang meninggal. 1:02:30 Pak Edi sendiri, ibunya meninggal. 1:02:32 Dia tidak bisa nengok. 1:02:34 Dan tidak bisa mengiringi ke pemakaman. 1:02:36 Kemudian ada Mas Karidi di di buku ini, 1:02:38 kan, mertuanya meninggal. 1:02:41 Ada satu relawan lagi itu di di dari Al 1:02:44 Fatah, anaknya meninggal. 1:02:46 Di 2012. Baru berapa bulan di situ 1:02:50 meninggal. 1:02:52 Nah, kami yang tahu informasi duluan 1:02:54 bingung, kan, mau mau ngomong ke dia. 1:02:56 Gimana nih, gitu. 1:02:58 Khawatir syok, segala macam, kan. 1:03:00 Sudah kita kumpul sama Roh. 1:03:02 Ngomongnya muter-muter dulu, ke 1:03:04 mana-mana, begini ya, begini, tentang 1:03:06 kesabaran, segala macam. 1:03:08 Terakhir kita bilang, 1:03:10 "Anak antum meninggal." 1:03:11 Yang kecil. 1:03:13 "Oh, ya, sudah." 1:03:15 Terus kenapa muter-muter? 1:03:17 Iya. Capek juga kan? 1:03:19 Kita khawatir dia syok gitu mendengar 1:03:20 anaknya meninggal. 1:03:21 dia tidak syok. 1:03:22 Iya, dia bilang begini. 1:03:24 Oh ya sudah ini sudah takdir Allah. 1:03:26 Seandainya pun saya di sana di Indonesia 1:03:28 dibilang, saya enggak akan bisa mencegah 1:03:30 kematian anak saya. 1:03:31 Allahu Akbar. 1:03:32 Kita yang tadinya tegar malah kita yang 1:03:34 nangis gitu. Makanya ya Allah. 1:03:36 Memang memang enggak salah pilih orang. 1:03:38 paham tentang arti perjuangan. 1:03:42 enggak akan bisa mencegah anak saya 1:03:44 meninggal. 1:03:48 Karena 1:03:49 meninggal urusan Allah. 1:03:51 Kita yang tadinya tegar kita yang nangis 1:03:53 gitu. Ya Allah nih orang nih. 1:03:55 Memang luar biasa gitu. Nah artinya 1:03:56 memang 1:03:57 setiap individu gitu punya kisah 1:03:59 masing-masing. Mereka mengalami hal-hal 1:04:01 masing mana di di sini dihimpun di buku 1:04:04 ini gitu. 1:04:05 Di buku ini gitu. 1:04:07 Pak Ikhwan dari semua para pekerja yang 1:04:10 datang ke 1:04:12 rumah ke Gaza untuk membangun rumah 1:04:14 sakit yang besar di sana. 1:04:16 Di awal-awal ada enggak yang minta 1:04:18 pulang? 1:04:20 Ada. 1:04:21 Ada yang minta pulang? 1:04:22 Dan itu normal menurut saya karena kan 1:04:25 memang perlu adaptasi kan. Para pekerja 1:04:27 ini kan dari berbagai wilayah di 1:04:29 Indonesia. Ada yang dari Medan, ada yang 1:04:30 dari Jambi, ada yang dari Sumat, ada 1:04:32 dari Sumatera Selatan, Lampung, 1:04:33 Kalimantan, 1:04:34 Jawa Tengah, segala macam kan. Semua 1:04:37 punya karakter beda-beda gitu ya nah. 1:04:39 Ah dan proses adaptasi itu biasanya 2 1:04:42 bulan 3 bulan pertama lah. 1:04:45 3 bulan pertama itu 1:04:46 eh rasa rindu, rasa kangen itu memang eh 1:04:51 di situ gitu ya nah. 1:04:53 Kalau sudah lewat eh 3 bulan biasanya 1:04:54 akan nah itu ada salah satu relawan yang 1:04:57 yang apa namanya 1:04:59 ingin yang pengen pengen pulang gitu. Ya 1:05:02 hampir semua gitu cuman kan 1:05:04 ya 1:05:06 ketika terjadi eh ketika diberangkatkan 1:05:09 kan memang sudah punya komitmen gitu. 1:05:11 Kayak di 2012 misalnya kan 1:05:14 2000 2014 saya ngalami dua perang itu 1:05:17 desakan untuk kita keluar dari Gaza itu 1:05:19 luar biasa 1:05:20 he em 1:05:21 ada perang kita ada di dekat perbatasan 1:05:23 Israel 1:05:24 tank-tank Israel itu sudah kelihatan 1:05:26 gitu 1:05:27 he em 1:05:27 dari dari rumah sakit itu karena kalau 1:05:29 perang karena kita di dekat perbatasan 1:05:31 kemudian warga warga-warga sipil itu 1:05:34 ngungsi ke arah perkotaan gitu tinggal 1:05:36 kita jadi jadi bemperlah di situ 1:05:38 he em 1:05:38 iya kan nah desakan untuk kita keluar 1:05:40 itu luar biasa dari KBRI dari pemerintah 1:05:43 setempat kalian harus keluar dari situ 1:05:45 itu tempat berbahaya 1:05:47 itu tempat berbahaya kami akan evakuasi 1:05:49 kalian kami akan mendatangkan ambulans 1:05:51 kemudian tapi kami enggak bisa mendekat 1:05:54 hanya 300 meter kalian jalan kaki nanti 1:05:55 kami evakuasi gitu saking bahayanya 1:05:57 daerah itu kan 1:05:59 saya kumpulin kawan-kawan gimana nih 1:06:01 desakan 1:06:02 desakan ini apa desakan untuk kita 1:06:04 keluar luar biasa nih gimana 1:06:07 ya sudah sih mereka bilang 1:06:08 kasih kami waktu semalam boleh kami mau 1:06:10 istikharah 1:06:11 he em 1:06:11 istikharah Mas Agus 1:06:12 istikharah 1:06:13 istikharah gitu jadi jadi bukan mau 1:06:15 nikah saja yang istikharah mau nentuin 1:06:17 mau pulang mereka istikharah dulu gitu 1:06:18 he em 1:06:19 istikharah mereka malam pagi kita 1:06:20 musyawarah lagi kumpul gimana 1:06:23 ya mereka bilang 1:06:26 ketika kita mau berangkat ke Gaza 1:06:31 kita sudah tahu persis risiko apa yang 1:06:33 akan kita ambil 1:06:34 he em 1:06:35 iya kan 1:06:36 kemudian 1:06:39 kita datang ke sini mengemban amanah 250 1:06:42 juta rakyat Indonesia 1:06:43 he em 1:06:44 jadi apapun yang terjadi 1:06:47 apapun yang terjadi hatta nyawa kami 1:06:49 melayang kami akan tetap di sini 1:06:50 membangunkan melanjutkan pembangunan 1:06:52 rumah sakit 1:06:53 ya Allah saya bilang nih 1:06:55 kita yang khawatir tadinya malah 1:06:56 dikuatkan oleh oleh oleh mereka di situ 1:06:58 kita nangis bareng gitu 1:07:01 ya Allah saya bilang jadi apapun yang 1:07:03 terjadi kita harus di sini amanah kita 1:07:05 250 juta rakyat Indonesia ini duit 1:07:07 rakyat gitu. 1:07:09 Dan emang ini Mas Agus ya, kenapa Mercy 1:07:12 ya? 1:07:13 Kenapa Mercy ketika menyampaikan amanah 1:07:16 itu tidak melalui perantara gitu. 1:07:19 Karena memang ya emang harus disampaikan 1:07:21 gitu. Ini rumah sakit menurut Dokter 1:07:24 Arif itu bisa menghemat sampai 50% 1:07:26 ketika kita kerjakan sendiri itu. 1:07:28 Pekerja di sana itu pekerja harian di 1:07:30 sana itu satu hari 200 shekel atau 1:07:33 sekitar 500.000 kalau kurs sekarang. 1:07:36 200 bisa lebih bahkan tenaga ahli bisa 1:07:39 dibayangkan gitu ya. 1:07:40 Tapi di sana teman-teman yang bekerja? 1:07:42 Iya 1:07:43 relawan hanya sekedar relawan. 1:07:44 Berarti tidak dibayar sama sekali. 1:07:46 Diberi santunan untuk keluarga gitu yang 1:07:49 ditinggalkan hanya hanya itu saja gitu. 1:07:51 Apa tidak ada? 1:07:52 Sampai gini jadi di sana di sana daerah 1:07:54 konflik orang-orang UN 1:07:56 orang-orang ini dari banyak dari luar ya 1:07:58 kalau dari 1:08:00 ada yang dari Jepang dan bermacam kan 1:08:02 orang-orang UN itu. 1:08:03 Kalau orang UN di daerah konflik sana 1:08:05 apalagi selevel insinyur 1:08:07 minimal 10.000 dolar per bulan. 1:08:11 Minimal. 1:08:12 Nah jadi mereka orang-orang Gaza 1:08:14 berpikir kita itu kayak orang-orang UN 1:08:17 gitu. 1:08:18 10.000 kamu insinyur 1:08:19 antum muhandis kan Vietnam gitu kan. Wah 1:08:22 gede dong gajinya 10.000 masya 1:08:27 bahwa kita ini relawan kita ngebangun 1:08:29 ini dan 1:08:30 kalau kita bertujuan nyari duit di sini 1:08:32 alangkah ruginya kita gitu. 1:08:35 Iya kan rugi nyari duit nyari duit di 1:08:37 daerah begitu kan mending saya di 1:08:38 Indonesia kerja segala macam. 1:08:40 orang Gaza? 1:08:41 Tanggapan orang Gaza ya mereka bilang 1:08:43 ya heran gitu. 1:08:45 Allah saja 1:08:46 iya enggak enggak ada di zaman seperti 1:08:48 ini ya di zaman seperti ini ada yang 1:08:50 masih mau seperti itu. 1:08:53 Karena benar-benar enggak enggak enggak 1:08:55 enggak apa ya bu bukan pilihan lah kerja 1:08:58 di sana itu karena emang panggilan 1:08:59 panggilan dari teman-teman saja yang 1:09:01 pengen ngebantu di sana. 1:09:03 Tapi kan yang masuk ke sana juga 1:09:05 orang-orang pilihan akhirnya. 1:09:06 Ya Allah ya. 1:09:07 Artinya tidak semua orang-orang bisa 1:09:08 masuk ke sana bukan? 1:09:09 Iya, kita kan ngelihatnya kayak kayak 1:09:11 tadi ya. 1:09:13 Eee Mas eee siapa yang tadi yang anaknya 1:09:15 meninggal? Kita enggak nyangka dia 1:09:17 setegar itu. 1:09:18 Iya. 1:09:19 Enggak nyangka kita. Kita yang mau 1:09:21 nyampaikan gitu biar menguatkan dia 1:09:23 malah kita yang nangis gitu itu luar 1:09:25 biasa menurut saya. Artinya memang Allah 1:09:28 enggak salah pilih ketika 1:09:29 memberangkatkan orang yang di sana gitu. 1:09:31 Ya, seperti itu Mas Agus. 1:09:32 Heeh. 1:09:33 Nah, jadi ya 1:09:35 kalau bicara ini ini 1:09:37 ya bisa jadi apa ya inspirasilah buat 1:09:41 anak-anak sekarang gitu ya yang memang 1:09:43 eee 1:09:46 saya dikirimi salah seorang ustaz 1:09:48 kemarin 1:09:50 satu ayat 1:09:52 yang akhirnya saya jadiin status. 1:09:55 Ya, siapa yang mau milih dunia ya Allah 1:09:57 kasih dunia gitu. Tapi kalau mau milih 1:09:59 akhirat Allah kasih dunia dan akhirat. 1:10:01 Yang namanya perjuangan itu Kang Nur 1:10:03 Ikhwan adalah sesuatu yang mudah untuk 1:10:06 diucapkan. 1:10:07 Iya. 1:10:07 Tapi sulit untuk dilakukan. 1:10:08 Iya, dan enak diceritakan. 1:10:10 Dan enak diceritakan. 1:10:11 Iya. 1:10:13 Iya, begitu memang memang ya apa namanya 1:10:17 ini kan perjalanan mengukir sejarah ya. 1:10:19 Heeh. 1:10:20 Bahwa anak-anak Indonesia orang 1:10:21 Indonesia itu mampunya luar biasa gitu. 1:10:23 Iya. 1:10:25 Eee mungkin ada 1:10:28 apa namanya bangunan lain atau proyek 1:10:30 lain yang dilakukan oleh negara lain 1:10:31 lebih besar nilainya dibandingkan Rumah 1:10:34 Sakit Indonesia dalam dalam segi dari 1:10:36 nilai-nilai nominal ya. 1:10:38 Heeh. 1:10:38 Tapi Rumah Sakit ini luar biasa 1:10:40 bersejarahnya. Kalau dulu Pak Harto 1:10:41 mungkin ngebangun 1:10:43 Masjid Istiqlal di Bosnia gitu. Ini 1:10:45 rakyat Indonesia 1:10:47 dari desainnya, pekerjaannya, eee 1:10:49 insinyur, pengawas dan segala macam 1:10:51 orang Indonesia. 1:10:52 Jadi tangan-tangan Indonesia nih di sana 1:10:55 gitu. 1:10:55 ini juga 1:10:56 eee 1:10:58 banyak pendengar hasil yang juga dia 1:11:01 menyumbang. 1:11:01 Banyak, banyak justru 1:11:03 sakit di Gaza. Dan ini ini kan amal 1:11:05 jariyah yang tidak akan terputus sampai 1:11:07 Coba Mas perang di 2022, 21 apa 22 1:11:10 kemarin? Kita bisa saksikan orang-orang 1:11:14 eee yang terluka masuk ke dalam rumah 1:11:15 sakit itu. 1:11:16 Oh. 1:11:16 Ya Allah gitu, kita 1:11:18 Itu orang Gaza 1:11:19 kita ya Allah gitu, mudah-mudahan gitu. 1:11:21 Itu aja sih Mas Agus kita yang ada 1:11:23 mau apa gitu. Bok kalau kita di dari 1:11:26 dunia ini apa sih? 1:11:28 Dan 1:11:29 kita cari gitu. 1:11:30 Mungkin rugi ya orang-orang yang pada 1:11:33 saat itu ah kenapa enggak nyumbang gitu 1:11:34 kan. 1:11:35 Iya. 1:11:35 Eh gitu kan akhirnya karena kalau ini 1:11:37 kalau saya sudah jadi amal jariyah amal 1:11:39 jariyah ini jadi saksi di di hari 1:11:40 akhirat. 1:11:41 Iya, mudah-mudahan 1:11:42 Uang-uang ataupun apa namanya uang-uang 1:11:44 yang terkumpulkan ada yang 1.000, ada 1:11:46 yang 2.000 itu kan Dokter Joser cerita 1:11:47 seperti itu waktu di acara 1:11:48 Ada pemulung Mas 1:11:49 Bukan waktu itu iya. 1:11:50 Pemulung 1:11:51 Datang ke MER-C 1:11:52 Datang ke MER-C, dia bilang saya cuma 1:11:53 ada duit 20.000. 1:11:55 Ini saya kasih itu. 1:11:57 Cerita gitu dia ceritain kita ke kita 1:11:59 yang ada di Gaza makin 1:12:01 semangat kita di Gaza. Ya Allah gitu, 1:12:03 kita mengemban amanah yang luar biasa. 1:12:05 anak SD ya 1:12:06 dia ngumpulin 1:12:08 duit koin di celengan. 1:12:09 Di celengan kemudian dikasih itu. 1:12:12 Jadi 1:12:12 Dikasih sama celengan-celengan dia. 1:12:15 Makanya 1:12:16 pas nih kebesaran Allah yang menghimpun 1:12:18 kebesaran Allah. 1:12:20 Masya Allah itu Mas Agus. 1:12:21 Baik, ada komentar dari pendengar di 1:12:24 Sukabumi alhamdulillah sedang menyimak 1:12:26 seru, takjub dan ada lucunya juga. 1:12:29 Begitu ya dari 1:12:31 Bapak Rahman. Assalamualaikum Ustaz, 1:12:34 mohon info untuk HP-nya Kang Nur Ikhwan. 1:12:37 Boleh di-share? 1:12:38 Boleh, silakan. 1:12:39 Di berapa Kang Ikhwan? Monggo silakan. 1:12:42 Eee HP saya nomor 0812 1:12:45 He em. 1:12:46 eee 1:12:47 0812 1:12:48 2346 1:12:50 2346 1:12:52 6365 1:12:53 63 1:12:55 65 1:12:55 65 1:12:56 iya 1:12:57 Baik Ikhwan dan Akhwat, itu dia 1:12:59 nomor telepon Kang Ikhwan 0812 1:13:03 23466365 1:13:09 Lalu ada selanjutnya dari 1:13:13 Ibu Susmianti ya, Assalamualaikum 1:13:15 warahmatullahi wabarakatuh. Pengen beli 1:13:17 bukunya berapa harganya Pak Ustad kalau 1:13:19 bisa saya bayar di rumah. Untuk 1:13:24 Oh iya, Ibu Eni juga mohon kirim nomor 1:13:26 HP untuk beli bukunya, baik. Lalu ada 1:13:29 Mama Aisyah 1:13:32 Mama Kire dan Aro, Bismillah. 1:13:34 Assalamualaikum warahmatullahi 1:13:36 wabarakatuh. Waalaikumsalam. Afwan untuk 1:13:38 buku yang sekarang lagi live apakah 1:13:40 dijual? Iya Bu, Insya Allah dijual. Dan 1:13:42 Insya Allah hasil penjualannya ini untuk 1:13:45 iya, bangunan rumah sakit 1:13:46 pembangunan rumah sakit Indonesia jalur 1:13:48 gajah Ini kan eee lantai satu sudah, 1:13:50 lantai dua sudah. Apa yang diperlukan 1:13:53 lagi di rumah 1:13:54 Di eee 1:13:55 karena 1:13:56 bed yang kita bikin itu kurang, jadi 1:13:58 kita akan bikin satu poliklinik lagi Mas 1:14:00 Agus. 1:14:01 Poli umum di di depan seberang rumah 1:14:03 sakit, kita sudah diberi tanah di sana. 1:14:05 Nah itu yang akan kita bikin untuk 1:14:06 melayani keseharian mereka di sana gitu. 1:14:10 gitu Mas Agus 1:14:11 Dan bagi Anda Ikhwan dan Akhwat, bagi 1:14:15 Anda yang ingin mengundang untuk acara 1:14:17 bedah buku menghimpun kebesaran Allah 1:14:20 baik instansi, masjid, sekolah, kampus, 1:14:23 komunitas dan sebagainya bisa 1:14:25 menghubungi tim MER-C di 0811990176, 1:14:33 0811990176 1:14:39 ya. Insya Allah. Nah 1:14:42 eee 1:14:43 sebelum 1:14:45 berpisah Kang Nur Ikhwan, ada salah satu 1:14:48 kalimat di buku ini yang buat saya cukup 1:14:51 menarik. Sejarah akan terulang insya 1:14:53 Allah, kaum muslimin akan membebaskan 1:14:55 Masjidil Aqsa dan Baitul Maqdis sekali 1:14:57 lagi. Dan ini sudah dibuktikan dari 1:15:01 kerja keras di MER-C dan juga rakyat 1:15:04 Indonesia dengan membangun Rumah Sakit 1:15:06 Indonesia di jalur Gaza 1:15:08 yang kalau dipikir secara logika enggak 1:15:11 masuk akal. Ini bisa dibilang gila ini 1:15:14 tiba-tiba ada rumah sakit berdiri megah 1:15:16 di sana. Bahkan kalau kita 1:15:19 lihat foto-fotonya kan di web atau di 1:15:22 internet kan wah subhanallah banget nih 1:15:24 luar biasa megah. Dan kemarin ketika 1:15:26 terjadi perang kembali kan Rumah Sakit 1:15:28 Indonesia di jalur Gaza ini juga 1:15:31 menjadi salah satu rujukan untuk 1:15:33 menampung pasien-pasien yang terkena 1:15:37 apa ledakan dari tentara Israel. 1:15:40 Nah, kira-kira dari kalimat ini 1:15:43 mungkinkah akan terulang dan bagaimana 1:15:45 peran kaum muslimin? Karena 1:15:47 kalau kita bicara masalah pengetahuan 1:15:50 Palestina, hampir semua 1:15:52 taruhlah di Indonesia, tidak semua paham 1:15:54 tentang Palestina. Apa yang terjadi di 1:15:56 sana begitu ya. Dan hanya orang-orang 1:15:58 yang memahamilah tentang keadaan 1:16:00 Palestina itu sendiri yang dia paham 1:16:02 bahwa iya sejarah akan terulang, kaum 1:16:05 muslimin akan membebaskan sekali lagi 1:16:06 Baitul Maqdis. 1:16:08 Iya. 1:16:10 Kata kalau ngelihat situasi saat ini 1:16:15 agaknya ya secara dzohir ya, secara 1:16:18 kasat mata 1:16:19 membebaskan Al Aqsa dan Palestina itu 1:16:23 enggak mungkin gitu ya. 1:16:26 Kalau bukan karena janji Allah bahwa 1:16:28 kita akan dimenangkan dan Al Aqsa akan 1:16:30 kembali 1:16:31 kayaknya teman-teman yang berkecimpung 1:16:33 di bidang Palestina itu akan banyak yang 1:16:34 mundur Mas Ahyar. 1:16:38 Kalau bukan karena janji Allah ya. Heem. 1:16:40 Allah sudah menjanjikan bahwa Palestina 1:16:42 dan Al-Aqsa itu akan kembali. 1:16:45 Nah, rumah sakit ini 1:16:47 salah satu bukti kekuasaan Allah 1:16:48 Subhanahu Wa Ta'ala. 1:16:50 Yang kita pikir tadinya enggak mungkin, 1:16:53 yang kita pikir tadinya impossible, yang 1:16:55 kita pikir tadinya gila gitu. 1:16:57 Heem. 1:16:57 Tapi Allah buktikan di sini. 1:16:59 Rumah sakitnya bisa berdiri, 1:17:02 bisa digunakan, 1:17:03 Heem. 1:17:04 dan bisa dikerjakan oleh tangan-tangan 1:17:05 rakyat Indonesia sendiri. 1:17:08 Jadi, 1:17:11 rumah sakit ini simbol 1:17:13 optimisme 1:17:15 Heem. 1:17:15 ya, muslimin khususnya dari Indonesia, 1:17:18 rakyat Indonesia bahwa 1:17:20 pembebasan Al-Aqsa, 1:17:23 kembalinya, bebasnya Palestina dari 1:17:25 penjajahan, 1:17:26 itu insya Allah sebuah keniscayaan, Mas 1:17:28 Agus. 1:17:29 Seperti itu. 1:17:32 Nah, 1:17:33 ini kan juga 1:17:34 Kang Nur Ikhwan juga banyak dapat 1:17:36 inspirasi dari Imam Almarhum Mujiyadin 1:17:39 Ahmadi. 1:17:39 Iya. 1:17:40 Dan kita juga tahu bagaimana eh jamaah 1:17:42 muslimin juga ikut terlibat dalam 1:17:44 pembangunan ini. Mungkin sedikit 1:17:46 diceritakan, Kang Ikhwan. 1:17:49 Iya, jadi memang 1:17:50 eh bertemunya kita dengan eh 1:17:54 eh MER-C ya memang eh memang sudah 1:17:56 skenario Allah. 1:17:57 Heem. 1:17:58 Kita memang lagi kampanye ya, 1:18:01 mengelorakan semangat inilah ada satu 1:18:03 tanggung jawab umat Islam yang saat ini 1:18:06 perlu diperhatikan gitu kan ya. Perlu 1:18:08 diperhatikan bahwa 1:18:09 rumah satu masjid kita dari tiga masjid 1:18:12 yang memang 1:18:13 eh dimuliakan oleh Allah ya ada Masjidil 1:18:15 Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa 1:18:17 gitu. Ada satu masjid yang memang 1:18:19 saat ini masih dikuasai oleh eh Zionis 1:18:22 Israel. 1:18:23 Dan eh 1:18:25 masjid inilah yang memang harus jadi 1:18:27 tanggung jawab setiap umat Islam yang 1:18:29 ada di manapun berada sehingga kita 1:18:32 eh apa namanya selalu memang 1:18:34 mengkampanyekan 1:18:36 ya, 1:18:37 mengajak umat Islam ayo kita peduli 1:18:38 terhadap 1:18:40 Masjid Al-Aqsa terhadap 1:18:43 Palestina ini. 1:18:44 Seperti itu, Mas Agus. 1:18:46 Baik, subhanallah. Baik, ikhwan dan 1:18:48 akhwat sekalian lagi 1:18:51 bagi Anda yang 1:18:53 ingin memiliki buku ini, ini harga 1:18:56 bukunya 200.000 rupiah. 1:18:59 Dan karena ini penuh inspirasi, Mas 1:19:01 Agus, saya berpikir 1:19:05 tadinya kan 1:19:07 kita enggak mau cerita-cerita gitu, ya. 1:19:09 Udahlah gitu biar jadi ini. 1:19:10 Tapi kalau tidak diceritakan, 1:19:13 tidak dibukukan, tidak akan ada cerita 1:19:14 buat anak cucu. 1:19:15 benar. Dan dan ketika saya baca ulang 1:19:18 memang 1:19:19 memang 1:19:20 sejarah itu memang perlu ditulis, Mas 1:19:22 Agus. 1:19:23 Memang perlu ditulis. Untuk itu memang 1:19:24 kita harus sebarluaskan ini, 1:19:27 agar menjadi inspirasi khususnya buat 1:19:28 anak-anak muda, Mas Agus, bahwa 1:19:31 apa ya 1:19:33 sebuah misi yang dianggap orang gila, 1:19:35 sebuah tujuan yang dianggap orang enggak 1:19:37 mungkin itu itu kalau kita memang 1:19:41 berpegang teguh dengan 1:19:43 kepada 1:19:45 Allah gitu, insyaallah akan terjadi 1:19:46 gitu. Makanya tadi kita 1:19:49 silakan yang mau apa namanya, yang mau 1:19:53 melakukan bedah buku, ya. Khususnya 1:19:55 untuk anak-anak sekolah nih, sangat 1:19:57 penting ini, Mas Agus. 1:19:58 Karena 1:19:59 anak-anak sekolah kita ini anak-anak 1:20:01 muda, ya, khususnya di kampus-kampus 1:20:02 atau di sekolah-sekolah ini nih 1:20:05 memang harus baca buku ini seperti itu. 1:20:07 Karena perjuangannya luar biasa ini, 1:20:09 teman-teman semua. Seperti itu, Mas 1:20:11 Agus. 1:20:11 Baik. 1:20:13 Intinya adalah 1:20:14 lakukan saja, masalah hasil biar Allah 1:20:16 yang 1:20:16 Biar Allah yang menentukan. 1:20:18 menentukan 1:20:18 Iya. 1:20:20 Subhanallah. Jadi, cerita dari Kang Nur 1:20:22 Ikhwan Naba, Kang Nur Ikhwan ini memang 1:20:25 tidak ketebak, ya. 1:20:26 Dari yang ngurus umrah, haji dan umrah, 1:20:30 tiba-tiba harus bangun rumah sakit 1:20:32 Indonesia di jalur Gaza. 1:20:35 Sempat ketemu sama, bukan sempat tapi 1:20:38 berhadap-hadapan dengan tentara Israel. 1:20:39 Jadi, 1:20:40 kalau ada yang mana tentara Israel Kang 1:20:42 Ikhwan sudah sudah berhadapan langsung 1:20:44 dengan tentara Israel. 1:20:48 Ikhwan dan akhwat sekali lagi bagi Anda 1:20:51 yang ingin mengundang untuk bedah buku 1:20:54 menghimpun kebesaran Allah, buku yang 1:20:56 sedang kita bedah pada 1:20:58 eh siang hari ini, baik instansi, 1:21:01 masjid, sekolah, kampus, komunitas dan 1:21:04 sebagainya bisa menghubungi tim MER-C di 1:21:07 0811990176. 1:21:13 Sekali lagi 0811990176. 1:21:21 Harga buku yang sedang kami, Mbak Bu, 1:21:24 yang sedang kami bedah ini 1:21:26 eh kurang lebih 200 ribu rupiah belum 1:21:29 termasuk biaya kirim. 1:21:32 Silakan Anda pesan di Mbak Tina 1:21:34 0811990176. 1:21:39 Artinya ketika Anda membeli buku ini 200 1:21:41 ribu rupiah, Anda juga turut menyumbang 1:21:44 untuk Rumah Sakit Indonesia di jalur 1:21:47 Gaza yang insya Allah 1:21:49 ini menjadi amal jariyah 1:21:52 Anda hingga akhirat kelak. 1:21:55 Dan pembayaran via transfer ke Bank BSI 1:22:00 atau Bank Syariah Mandiri tidak bisa 1:22:03 COD. Baiklah Ikhwan dan Akhwat 1:22:06 kita sudah berada di penghujung waktu, 1:22:07 mungkin bisa ditutup dengan sedikit 1:22:09 kesimpulan dari Kang Ikhwan. 1:22:11 Iya. 1:22:13 Jazakallah khair Mas Agus, terima kasih 1:22:15 ya. 1:22:16 Ini memang 1:22:17 sebuah, menurut saya 1:22:20 sebuah sejarah ya yang memang harus 1:22:22 diketahui oleh 1:22:23 eh 1:22:25 eh rakyat Indonesia 1:22:27 ee, bahwa 1:22:29 ada satu rumah sakit yang jadi simbol 1:22:31 hubungan kita dengan Palestina, ya. 1:22:35 dengan 1:22:37 ee, Gaza, ya seperti itu. Dan ee, 1:22:41 mudah-mudahan dengan adanya buku ini 1:22:44 ya, bisa memberikan inspirasi, kemudian 1:22:47 ee, 1:22:48 yang jadi pelakunya, ya. Mudah-mudahan 1:22:52 amal jariyahnya terus 1:22:54 mengalir, ya. Kemudian juga 1:22:56 saudara-saudara 1:22:58 ikhwan dan akhwat 1:23:00 dari seluruh Indonesia yang menyumbang 1:23:02 rupiah demi rupiah, ya. Untuk 1:23:06 sehingga rumah sakit ini bisa 1:23:09 bisa berdiri, ya. Akan jadi ee, amal 1:23:13 jariyah senantiasa, ya. Hingga hari 1:23:15 kiamat sehingga 1:23:16 jadi pemberat timbangan kebaikan ee, 1:23:20 ee, antum semua di sisi Allah subhanahu 1:23:22 wa taala. Karena rumah sakit ini 1:23:23 sangat-sangat bermanfaat at, ya. 1:23:26 Ee, kita pernah disampaikan Mas Agus 1:23:29 sama orang-orang Gaza, "Kami tahu." 1:23:31 katanya kata orang-orang Gaza, "Kalian 1:23:32 mengumpulkan duit ini 1:23:34 ee, dari orang-orang miskin yang ada di 1:23:36 Indonesia." 1:23:37 serupiah demi rupiah, ya. Dan mayoritas 1:23:40 memang orang-orang yang enggak mampu lah 1:23:43 katanya seperti itu. Tapi di situlah 1:23:45 kami merasakan keberkahannya dari rakyat 1:23:47 Indonesia, seperti itu. 1:23:49 Mungkin negara lain menyumbang lebih 1:23:50 besar gitu, tapi kami tidak pernah 1:23:52 melihat itu. Yang kami lihat adalah 1:23:55 kepedulian rakyat Indonesia dalam 1:23:58 membantu kami ee, di Palestina. Kami 1:24:01 tidak melihat jumlah nominalnya, seperti 1:24:03 itu. Jadi mudah-mudahan para ikhwan dan 1:24:05 akhwat semua sekali lagi, ya. 1:24:07 Sangat-sangat ee, bermanfaat, ya. Rumah 1:24:10 sakit di sana sehingga bisa membantu 1:24:12 saudara-saudara kita di Jalur Gaza. 1:24:14 Demikian Mas Agus. 1:24:14 Terima kasih, Kang Ikhwan. 1:24:16 Ikhwan dan akhwat, sekali lagi ini dia 1:24:18 buku menghimpun kebesaran Allah 1:24:20 subhanahu wa taala. 1:24:22 Buku tentang pembangunan rumah sakit 1:24:25 buku tentang pembangunan Rumah Sakit 1:24:27 Indonesia di Jalur Gaza 1:24:30 cerita dari semua tim relawan yang 1:24:33 membangun Rumah Sakit di sana. Sekali 1:24:35 lagi Ikhwan dan Akhwat kami mohon undur 1:24:38 diri dari ruang dengar Anda mohon maaf 1:24:40 atas segala khilaf dan salah ila liqa 1:24:42 Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu 1:24:45 Alla Ilaha Illa Anta Astaghfiruka Wa 1:24:47 Atubu Ilaih Billahi Taufiq Wal Hidayah 1:24:49 Wassalamualaikum Warahmatullahi 1:24:51 Wabarakatuh.