Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:05 Brail TV. [musik] 0:12 Bismillahirrahmanirrahim. 0:13 Alhamdulillahiabbil alamin. Hamdan 0:15 kirsiran thiban barokan f yuhibuna. 0:18 Allahumma shi wasallim wabarik ala 0:20 sayidina Muhammadin waa ali sayidina 0:22 Muhammad. masih dipancarkan dari Jalan 0:24 Masjid Silaturahim nomor 36 Kalimanggis 0:27 Cibubur Bekasi, Radio Silaturahim dan 0:29 juga Rasul TV untuk Islam yang satu. 0:32 Asalamualaikum warahmatullahi 0:33 wabarakatuh. Ikhwan akhwat yang 0:34 dirahmati Allah. Senang sekali di 0:36 kesempatan ini kami bisa kembali 0:38 menjumpai ikhwan akhwat dalam program 0:40 acara Psikologi keluarga. 0:44 Program Psikologi Keluarga merupakan 0:46 program ee berbagi ilmu dan inspirasi 0:49 untuk membahas berbagai persoalan, 0:51 terutama persoalan dalam rumah tangga, 0:53 keluarga, ibu, ayah, dan [berdehem] anak 0:56 dari sudut pandang syariat Islam dan 0:59 juga dari ilmu psikologi. Alhamdulillah 1:01 seperti biasa narasumber kita, guru-guru 1:03 kita sudah hadir, Susan Atas dan juga 1:07 Pak Abu Bakar Baraja. Asalamualaikum 1:09 warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. 1:09 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:11 wabarakatuh. 1:12 Kabar baik dan sehat tentunya ya. 1:13 Alhamdulillah. 1:13 Alhamdulillah. Baik, Ikhwan Akhwat. 1:16 Insyaallah di kesempatan ini kita akan 1:18 membahas tiga ee buah kasus ya, 1:21 insyaallah Ikhwan Ahwat. Dan seperti 1:23 biasa sebelum saya bacakan kasus ee 1:26 kasusnya dan nanti juga dijawab oleh 1:28 narasumber kita Ustaz Husein dan Pak Abu 1:30 Bakar, kita awali dengan pembacaan Quran 1:32 surah Al-Fatihah. Kami persilakan Ustaz 1:34 untuk membimbing kami. 1:36 Auzubillahiminasyaitanirjim. 1:42 Bismillahirrahmanirrahim. 1:48 Alhamdulillahi 1:50 rabbil alamin 1:54 arrahmanirrahim 1:58 maiki yaumiddin. 2:02 Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta' 2:08 ihdinasirathal 2:10 mustaqim. 2:14 anamta alaihim 2:18 giril magdubi alaihim wadin. 2:28 Amin. Amin. Amin ya rabbal alamin. Baik 2:30 ikhwanat. Ee insyaallah 1 jam ke depan 2:32 kita akan ee mengupas tuntas dari tiga 2:37 ee kasus. Yang pertama mungkin yang 2:40 pertama saya bacakan ini dari hamba 2:42 Allah ee ketika saya mengalami situasi 2:45 tidak baik di masa lalu sehingga 2:47 melakukan khilaf pada diri dan keluarga 2:51 sehingga akhirnya saya diingatkan Allah 2:54 dengan sebuah peristiwa di mana saya 2:57 menjadi tidak berdaya. Di sana saya 2:59 mulai bertobat dan terus berusaha 3:01 memperbaiki diri. Namun baik keluarga 3:05 atau lingkungan justru masih menilai 3:07 saya dengan perbuatan yang sudah saya 3:09 tinggalkan. Saat ini saya kehilangan 3:12 harapan dan saya juga seperti hilang 3:16 tujuan. Karena selama saya melakukan 3:18 yang tidak baik pun sebenarnya saya 3:21 masih terus mengutamakan kebaikan untuk 3:24 keluarga. Namun justru saat saya sadar 3:27 dan ingin kembali, keluarga saya 3:30 menolak. 3:32 Perhatian yang saya lakukan seperti 3:33 tidak dihargai. Saya berkorban untuk 3:36 mengutamakan keluarga menjadi tidak 3:38 bernilai. Saat ini saya merasa sendiri 3:42 dan bagaimana 3:44 yang harus saya lakukan, Ustaz? Mohon 3:46 nasihatnya. Terima kasih. 3:49 Bismillahirrahmanirrahim. 3:50 Alhamdulillahiabbil 3:52 alamin 3:54 hamdan katsiran thyyiban mubarokan fih 3:58 kama yuhibbu rabbuna. 4:01 Allahumma sholli wasallim wabarik ala 4:04 abdika wa rasulika sayyidina wa nabina 4:07 Muhammadin wa alihi wasohbihi wasallim. 4:14 Subhanakallahumma 4:16 wabihamdik wastagfiruka waubu ilai. 4:22 Wala haula wala quwwata illa billahil 4:25 aliyilim. 4:26 Allahumma atina minika rahmah waimna 4:29 minadunka ilman nafi bimaamana. 4:34 Ikhwan akhwat, Bapak Ibu 4:38 para jemaah yang dirahmati Allah. 4:40 Salamullahi alaikum jamian 4:43 warahmatullahi wabarakatuh. 4:49 [berdehem] 4:50 melakukan kesalahan 4:56 kita lakukan dengan mudah, 4:59 tapi menghapuskan dan melupakannya 5:02 merupakan 5:04 sesuatu yang sulit. 5:08 Kalau seorang melakukan kesalahan, 5:12 kesalahan tersebut akan meninggalkan 5:15 bekas dan trauma. 5:17 terhadap seorang yang menjadi korban. 5:21 Baik itu suami 5:23 melakukan kesalahan terhadap istrinya, 5:27 istri melakukan kesalahan kepada 5:29 suaminya. 5:30 Apalagi kalau menyangkut kepercayaan. 5:33 Merusak kepercayaan mudah, tapi untuk 5:36 mengembalikan kepercayaan amat sulit. 5:40 Oleh karena itu, untuk menghadapi 5:42 situasi semacam ini, 5:45 untuk menggerakkan hati pasangan kita, 5:48 keluarga kita untuk dapat menerima 5:50 kembali, yang pertama kita bertobat 5:53 memohon ampun kepada Allah dengan 5:56 taubatan nasuhah yang betul-betul tulus 6:00 dan sungguh-sungguh. 6:02 Karena yang kuasa untuk menghapuskan 6:04 trauma di hati pasangan kita hanya 6:06 Allah. 6:11 Bagaimanapun kita berusaha 6:13 berkata manis, 6:16 berbuat kebaikan, 6:18 tapi kalau Allah Subhanahu wa taala 6:21 tidak kehendaki, semua itu akan gagal. 6:25 Oleh karena itu, di samping kita berbuat 6:26 salah kepada pasangan kita, wanita pada 6:29 suaminya atau suami pada istrinya, 6:33 kita juga melakukan kesalahan dan dosa 6:35 terhadap Allah Subhanahu wa taala. Oleh 6:38 karena itu, pertama-tama mohon ampun 6:41 kepada Allah. 6:43 Barang siapa yang rajin dan 6:45 banyak-banyak memohon ampun bertauat 6:48 kepada Allah, Allah Subhanahu wa taala 6:50 akan anugerahkan baginya dari setiap 6:53 kesempitan kelapangan. 6:56 Allah akan membuka 6:59 dinding yang merintangi dan menghalangi 7:02 kita. Allah berfirman, "Waman 7:05 yattaqillah yaj'alahu 7:07 makhraja." Siapa yang bertakwa kepada 7:09 Allah, Allah akan berikan jalan keluar 7:12 baginya. Allah juga akan memberikan 7:15 baginya rezeki dari jalan yang tidak 7:17 terduga-duga. Di samping yang terduga 7:19 dari hasil usahanya, jalan yang tak 7:22 terduga. Dan kita harus sadar bahwa kita 7:26 ini amat dekat dengan Allah. Allah tidak 7:29 pernah meninggalkan kita. Allah 7:32 menantikan dari kita doa yang tulus 7:36 sebagaimana yang Allah ajarkan dalam 7:38 suratul fatihah yang selalu kita baca 7:40 dalam salat kita iyaka na'budu wa iyaka 7:43 nastain. 7:45 [mendengus] Insyaallah begitu kita 7:47 bertobat kepada Allah, memperbaiki diri 7:50 kita, memohon ampun atas kesalahan kita, 7:54 dan jangan bosan kita melakukan hal ini 7:57 sampai Allah membuka pintu hati pasangan 8:00 kita. 8:03 Saya ceritakan pengalaman seorang yang 8:06 mengadu kepada saya. Seorang wanita 8:08 cantik jelita. 8:12 Priya juga tampan. 8:16 Priya kebetulan seorang pengusaha. Dia 8:19 mampu. 8:21 Kemudian banyak orang 8:24 membujuk dirinya 8:26 untuk menghibur diri di tengah-tengah 8:28 kepenatan hidup. Kamu kan orang mampu, 8:31 orang punya dan kamu juga tambahan. 8:33 [mendengus] 8:34 Akhirnya si pria ini tergoda oleh bujuk 8:36 rayu temannya. Akhirnya dia melakukan 8:39 kesalahan. Walaupun kesalahan tersebut 8:41 tidak fatal sebetulnya tidak terlalu 8:43 fatal. Tidak sampai dia bergaul 8:46 tapi berkenalan dengan perempuan, 8:47 berjalan bersama-sama. 8:52 Akhirnya setelah dia melakukan 8:53 perbuatannya, dia menyesal. 8:55 Dia bertobat kembali kepada Allah. Cuma 8:57 kesalahan dia. Dia bercerita pada 8:59 istrinya. 9:01 Saya melakukan kesalahan. 9:04 Saya menyesal dan bergelisah. 9:07 Saya ceritakan kepada kamu ini minta 9:09 maaf atas kesalahan yang saya lakukan. 9:12 Siri istri begitu mendengar 9:15 marah. 9:17 Di samping marah 9:21 dalam benaknya yakin tidak mungkin 9:22 suaminya hanya berjalan sama-sama. Pasti 9:25 melakukan hubungan. 9:28 Jadi kecurigaan akhirnya mengembangkan 9:29 apa? 9:31 Mengembangkan 9:34 prasangka hingga problemnya semakin 9:36 sulit. Akhirnya si perempuan semenjak 9:38 saat itu tidak mau digauli oleh 9:39 suaminya. 9:42 Suaminya misal 9:44 suaminya betul-betul amat-amat mencintai 9:48 istrinya. Si istri saya tanya, "Kamu 9:50 cinta suami kamu enggak?" Dia bilang, 9:51 "Saya amat mencintainya, Ustaz. 9:55 Tapi saya enggak bisa menerima dia. 9:58 Setiap kali dia mendekat, saya ada 10:00 perasaan tidak nyaman di hati saya. 10:03 Akhirnya saya panggil 10:06 suaminya. Saya bilang, "Yang bisa 10:08 menghapuskan perasaan tidak nyaman di 10:10 hati istri kamu hanya Allah." 10:13 Dialah muqallibul qulub. Ketahuilah kamu 10:16 bisa aja ya kamu menikahi pasangan kamu. 10:20 Kamu menikah dengan sebanyak perempuan 10:22 yang kamu inginkan. Tapi kamu tidak akan 10:24 mampu menguasai hati mereka karena hati 10:27 mereka di tangan Allah. Dengan mudah 10:30 Allah membalik kecintaan mereka menjadi 10:32 kebencian. Dan Allah kuasa untuk 10:34 membalik kebencian juga menjadi apa? 10:37 Seperti firman Allah. Asallahu an yajala 10:39 bainakum wainalladina aadaitum minhum 10:42 mawaddah. Wallahu qadir. Wallahu gfur 10:46 rahim. 10:48 Mudah sekali bagi Allah. Harapan terbuka 10:52 Allah Subhanahu wa taala mengubah di 10:55 antara kalian dan orang yang kalian 10:57 perai. 10:59 Mengubah kebencian menjadi kecintaan, 11:02 permusuhan menjadi perdamaian. Bagi 11:04 Allah itu merupakan hal yang mudah. 11:06 Allah maha kuasa lagi maha pengampun. 11:09 Nah, dalam hal ini kalau Anda menjumpai 11:11 istri Anda menutup pintu 11:14 untuk menerima Anda kembali, mungkin 11:16 juga anak-anak terbawa, lingkungan juga 11:20 mungkin masih dikuasai oleh prasangka 11:23 buruk, Anda perbaiki diri Anda, bertobat 11:27 kepada Allah, mohon ampun kepadanya dan 11:29 Anda jangan merasa bahwa Anda ee ditolak 11:35 oleh istri Anda hingga Anda mengambil 11:37 keputusan. 11:39 yang tidak diperhitungkan sama sekali. 11:42 Akhirnya menimbulkan problema yang lebih 11:44 besar lagi. J kalau Anda masih mencintai 11:46 pasangan Anda, mencintai anak-anak Anda, 11:48 coba kembali kepada Allah, mohon 11:52 petunjuknya, mohon ampun atas kesalahan, 11:56 kemudian jalankan perintah Allah. Salat 11:59 kalau bisa lima waktu di masjid, kecuali 12:02 kalau ada halangan. Kalau Anda memiliki 12:04 rezeki bersedekah, berbagi. Karena 12:07 berbagi, bersedekah ini apa? Sebagaimana 12:09 kita menolong saudara kita, Allah juga 12:12 akan menolong kita dalam kesulitan kita. 12:16 Kemudian juga kita memperbaiki hubungan 12:18 silaturahmi kita. Bisa saja cobaan yang 12:22 Anda hadapi ini karena 12:23 kesalahan-kesalahan Anda sebelumnya. 12:27 Karena Allah Subhanahu wa taala maha 12:29 pengasih lagi maha penyayang tidak akan 12:31 sama sekali apa mengambil nikmat dari 12:33 satu kaum kecuali disebabkan karena 12:36 mereka merusak nikmat tersebut dengan 12:38 keingkaran dan rasa tidak syukur. 12:41 [mendengus] Anda mengatakan bahwa Anda 12:43 sudah banyak berkorban untuk keluarga. 12:47 Bagaimanapun besarnya pengorbanan Anda, 12:49 kalau Anda tidak menghargai Allah yang 12:51 telah menganugerahkan nikmatnya kepada 12:54 Anda, maka Anda tidak akan pernah sama 12:56 sekali menemukan ketentraman dan 12:58 kebahagiaan. Mengapa kita selalu 13:00 diingatkan untuk membaca 13:02 bismillahirrahmanirrahim? 13:04 Bukan hanya sekedar doa, tapi ini 13:07 mengungkapkan syukur kita kepada Allah 13:10 yang menganugerahkan semua ini. Maka 13:12 kita menyebut pertama-tama namanya 13:14 sebelum kita menikmati nikmatnya. Oleh 13:17 karena itu, mengucapkan 13:18 bismillahirrahmanirrahim 13:20 sebagai ungkapan syukur kita juga kita 13:24 melakukan sesuatu dengan mengharapkan 13:27 iringan rahmat dan kasih Allah. Coba 13:29 Anda dekatkan diri kepada Allah, 13:30 bertobat dari kesalahan, jalankan salat 13:34 lima waktu dengan baik. Kemudian Anda 13:37 mohon kepada Allah untuk membuka hati 13:39 yang tertutup. 13:40 Araian yaqu lahu kun. Begitu juga 13:44 masyarakat yang tadinya 13:46 dikuasai oleh prasangka buruk. Begitu 13:49 Anda bertobat, memperbaiki diri salat 13:51 berjamaah, 13:52 masyarakat akan lupa akan kesalahan 13:54 Anda. 13:56 Jadi 13:57 jalan satu-satunya kembali pada Allah. 14:01 [mendengus] 14:02 Mohon pada Allah untuk menghilangkan 14:04 perasaan tidak nyaman di hati pasangan 14:06 Anda. Insyaallah Allah Subhanahu wa 14:08 taala [mendengus] akan kembalikan 14:12 apa-apa yang tidak menyenangkan. 14:14 Insyaallah Allah Subhanahu wa taala akan 14:16 mengembalikan kebahagiaan Anda dan 14:18 membuat Anda bersyukur atas nikmat Allah 14:21 dan juga mengingatkan Anda bahwa bersama 14:24 Allah baru kita akan menemukan 14:26 kebahagiaan kita. lupa kepada Allah, 14:28 kita akan kehilangan apa yang kita 14:30 miliki. Termasuk di antaranya 14:33 ketentraman dan kedamaian hati kita. 14:35 Wallahuam. 14:37 Baik, terima kasih Ustaz atas 14:38 jawabannya. [terkesiap] Kami juga ingin 14:39 mendengar penjelasan dari Pak Ubaka dari 14:41 sisi psikologi seperti apa. Tentunya kan 14:44 ini cukup berat juga ya Abu Bakar kita 14:47 sudah ingin apa istilahnya menjadi baik, 14:50 berbuat baik, bertobat, tapi penerimaan 14:55 tidak tidak yang kita harapkan gitu. 14:57 Tadi kan dijelaskan 14:59 malah tidak dihargai secara manusiawi 15:02 kita pun kan meskipun kita salah mungkin 15:03 ya merasa apa ya kecil hati, merasa 15:07 kecewa juga gitu. H 15:08 mungkin kalau tidak tahan bisa kembali 15:10 lagi melakukan 15:12 hal yang khilaf tadi. Bagaimana Pak 15:14 Bakar sekarang? 15:15 Oke. [berdehem] 15:18 Asalamualaikum warahmatullahi 15:21 wabarakatuh. [berdehem] Waalaikumsalam 15:22 warahmatullahi wabarakatuhikumsalam 15:24 warahmatullahi wabarakatuh. 15:26 Alhamdulillah, 15:28 segala puji yang kita punyai kepada 15:31 Allah, yang kita harapkan kepada Allah, 15:35 yang kita miliki hanya kepada Allah. 15:39 [mendengus] 15:40 Pujian-pujian kita ini menentukan diri 15:45 kita 15:47 sampai sejauh mana pujian-pujian kita 15:50 yang bisa mendekatkan diri kita kepada 15:53 Allah. 15:56 Oleh karena itu, kasus yang kita dengar 16:00 bahwa seseorang yang ingin bertaubat, 16:05 [berdehem] 16:06 dia ingin bertobat 16:09 namun lingkungannya tidak bisa terima. 16:14 Dia baru berkeinginan bertobat, apalagi 16:17 dia sudah bertobat. 16:21 dia sudah melakukan sesuatu tapi 16:24 lingkungan 16:26 tidak menghargai. 16:30 Jadi seakan-akan [berdehem] apa yang 16:33 diusahakannya 16:35 itu [berdehem] seakan sia-sia. N 16:39 itu kata dirinya 16:43 ketika kita bertobat, 16:45 keluarganya sudah mengetahui kalau dia 16:49 bertobat ini bohong. 16:50 Hm. 16:52 Mungkin dulu dia bertingkah lakunya 16:55 ngulangin lagi, ngulangin lagi. 16:59 Jadi yang sekarang kita harapkan bahwa 17:04 dia ingin bertobat, benar-benar bertobat 17:07 kepada Allah. 17:09 Kalau dia ingin bertobat kepada Allah, 17:13 yakin bahwa dia akan selesai kalau dia 17:17 bertobat kepada Allah. Namun dia 17:20 perhatiannya kepada keluarga. 17:23 Iya, 17:24 itu yang diharapkan. Tapi 17:28 perhatian dia yang pertama kali dia yang 17:31 harus lakukan adalah kepada Allah. 17:36 Tobatnya kepada Allah ini yang 17:39 menentukan untuk selanjutnya. 17:43 Ketika dia sudah bertobat kepada Allah, 17:47 yakin kepada Allah, sudah lepaskan 17:50 dirinya meyakinkan itu keluarga, 17:54 lingkungan, apapun itu tidak menjadikan 17:58 permasalahan. 18:02 Apakah keluarganya itu menjadikan 18:04 permasalahan? Dia ingin bertobat, 18:07 keluarganya tidak terima. Oke. 18:11 Dia ingin bertobat kepada Allah, 18:14 lingkungannya tidak terima. Oke. H 18:19 yakinkan dia bertobat kepada Allah, 18:21 tetap berbuat baik. 18:25 [mendengus] Dan perhatikan pada dirinya 18:28 bahwa dirinya yakin tidak akan bisa 18:33 melakukan lagi dan dia harus punya 18:37 penanaman diri. 18:39 meyakinkan pada dirinya 18:42 bahwa perbuatan-perbuatan yang jelek itu 18:46 tidak akan pernah terjadi. 18:49 Tidak akan pernah terjadi. 18:54 Jadi dia meyakinkan pada dirinya bahwa 18:58 perbuatan yang dia lakukan, perbuatan 19:01 yang menyimpang, perbuatan yang tidak 19:04 baik itu tidak pernah terjadi. 19:09 Dia harus meyakinkan pada dirinya, bukan 19:14 pada keluarganya, 19:17 bukan pada lingkungannya, tapi yang dia 19:19 harus meyakinkan adalah pada dirinya. 19:23 Dan dia akan terus mengatakan 19:27 tidak akan pernah terjadi. 19:31 Tidak akan pernah terjadi. Tidak pernah 19:33 terjadi. Dia tidak akan pernah terjadi. 19:38 Jadi dia meyakinkan bahwa 19:40 perbuatan-perbuatan itu tidak pernah dia 19:43 terjadi. Jadi perbuatan-perbuatan yang 19:46 negatif itu [mendengus] 19:49 tidak pernah terjadi. Jadi enggak pernah 19:51 akan ada perbuatan yang negatif itu 19:55 diulangi karena dia sudah menyatakan 19:58 bahwa itu tidak akan pernah terjadi. 20:02 Kemudian yang paling penting lakukan 20:06 berbuat baik. 20:10 Lakukan perbuatan baik. Ketika dia 20:15 menghadapi sesuatu, lakukan perbuatan 20:18 baik. 20:20 Ketika dia melakukan perbuatan baik, 20:23 jangan mengharapkan keluarga, lingkungan 20:27 memperhatikan perbuatannya. Dia tetap 20:32 dia berbuat baik karena Allah. 20:35 Karena Allah dia berbuat baik. 20:40 Perbuatan baik yang terus-menerus 20:44 yang terus-menerus 20:45 akan menghapus dirinya. 20:50 berbagai macam peristiwa yang dia akan 20:53 hadapi, 20:55 yang dia akan menghadapi itu berbagai 20:57 macam 21:00 seperti apa? Waktu dia ingin melakukan 21:03 perbuatan baik, ada aja yang bicara, 21:07 "Oh, dia cuman buat omongan doang. Oh, 21:10 dia cuman buat ini. Oh, dia untuk biar 21:14 supaya kita bisa terima 21:17 itu omongan-omongan orang. Lepaskan. 21:22 Biarkan saja dia ngomong, dia ngomel, 21:25 dia pai. Diamkan. Tetap berbuat baik. 21:32 Ketika dia melakukan perbuatan baik, 21:34 enggak usah kita mikirin, enggak usah 21:37 kita mikirkan. Oh, tadi kan saya sudah 21:39 ngasih uang, tadi kan saya sudah 21:41 memberikan sesuatu, tadi kan saya sudah 21:43 melakukan sesuatu. Enggak usah kita 21:46 pikirkan. Saya sudah berikan sudah. Dan 21:49 bilang kepada Allah, "Ya Allah, saya 21:52 sudah kasih, sudah selesai." 21:55 Jadi, tidak lagi menentukan, oh orang 22:00 itu harus terima, orang itu harus 22:03 berbuat baik kepada saya. Tidak. Lakukan 22:06 perbuatan baik karena Allah. Dia lakukan 22:10 perbuatan baik. Merem sudah selesai. 22:14 Kalau [berdehem] seperti ini 22:18 dia mengatakan saya tidak akan pernah 22:20 lagi, 22:21 dia mengatakan saya tidak akan pernah 22:24 lagi 22:26 selesai dan berbuat baik. 22:30 Insyaallah 22:34 akan diterima kapan? Wallahuam. 22:38 Kapannya itu kita tinggal menentukan 22:44 insyaallah. 22:45 Baik. Jadi sepenuhnya kembalikan kepada 22:48 Allah ya. 22:49 Hati istri, hati masyarakat ya 22:53 sepenuhnya kepada Allah kita serahkan. 22:56 Dan tentunya tadi ustaz-ustaz 22:57 menyampaikan juga Pak Abu Bakar 22:59 menyampaikan tentunya dengan ikhtiar dan 23:01 ibadah sepenuhnya kepada Allah Ustaz ya 23:03 dengan ibadah-ibadah yang mungkin bisa 23:05 ditingkatkan tadi salat berjamaah di 23:07 masjid dan kebaikan-kebaikan lainnya. 23:10 Baik, kita lanjutkan, Ustaz dengan kasus 23:12 ee lainnya. 23:13 Nah, Ustaz, saya sering melihat di media 23:16 sosial mengenai berita kekerasan dalam 23:19 rumah tangga. Istri dipukul, dibentak, 23:23 malah ada yang sampai dibunuh, Ustaz. 23:26 Ada juga seorang istri ini kebalikannya, 23:28 seorang istri yang membunuh suaminya 23:30 oleh selingkuhannya sendiri atau 23:32 menyuruh pembunuh bayaran, Ustaz. Nah, 23:34 banyak komentar terutama dari netizen 23:37 perempuan kalau mereka itu jadi takut 23:39 untuk menikah setelah melihat 23:42 kejadian-kejadian seperti ini yang 23:44 banyak terjadi, Ustaz. Akhirnya mereka 23:46 memilih hidup sendiri atau akhirnya 23:48 menikah di usia yang sudah ee tidak 23:51 produktif lagi. Bagaimana Ustaz melihat 23:53 ini dari sisi syariat? Bagaimana juga 23:56 bakar melihat juga dari sisi psikologi. 23:58 Terima kasih, Ustaz. 24:00 Bismillahirrahmanirrahim. 24:03 Seorang pria ataupun wanita di saat 24:06 memilih pasangan, 24:09 banyak dari mereka tidak melibatkan 24:12 Allah. 24:14 Kita hanya mengetahui yang lahir, 24:18 tapi yang batin yang akan datang, yang 24:21 maha tahu adalah Allah. Oleh karena itu, 24:24 kenapa Nabi kita mengingatkan kita dalam 24:28 setiap pengambilan keputusan untuk 24:31 melakukan dua hal? 24:33 Pertama, kita beristikharah. 24:36 Mohon Allah memilihkan kita pasangan 24:39 yang betul-betul sesuai dengan diri 24:41 kita. Kata istikharah itu diambil dari 24:44 istakhar yastakhiru. 24:47 Khira artinya pilihan. Istakhara memohon 24:50 Allah yang memilihkan. 24:53 Jadi istikharah itu mohon kepada Allah 24:56 untuk memilihkan kita. Yang kedua, 24:59 musyawarah. 25:01 Karena 25:03 orang melihat dengan sepasang mata sama 25:05 orang yang melihat dengan 100 mata 25:08 berbeda. 25:10 Kita kalau ingin melihat katakan apakah 25:14 ini orang layak menjadi pasangan kita? 25:16 Tidak. E tidak. Kita dengan sendirinya 25:18 apa? 25:20 Kan bertanya pada orang-orang yang tahu 25:22 tentang dirinya. Enggak mungkin kita 25:25 bertanya pada yang bersangkutan kamu 25:26 orang baik apa bukan? 25:28 Tiap orang pasti akan menunjukkan 25:29 dirinya orang baik. 25:30 Baik. Maka orang Arab bilang, "Lasal 25:33 wasalq." Jangan kamu tanya 25:38 kepada s tentang seseorang kepada 25:40 dirinya, tapi tanya teman-temannya 25:42 siapa. 25:44 Dari teman-temannya, 25:47 karakter mereka, kita tahu bahwa ini 25:48 orang berkumpul sama mereka berarti kan 25:51 satu apa? 25:53 satu jenis 25:56 burung berkumpul bersama-sama 25:59 yang sejenis dan serupa. 26:02 Kemudian tanya dari teman-teman yang 26:03 bisa dipercaya bagaimana pribadinya. 26:07 Jadi kita harus tahu betul-betul orang 26:09 yang akan menjadi pasangan kita, baik 26:11 itu pasangan wanita kita atau seorang 26:14 wanita memilih pasangan pria. 26:18 Kalau kita temukan dia orang yang 26:19 beriman, bertakwa dan pribadinya baik. 26:24 insyaallah akan menjadi pasangan yang 26:26 baik. 26:28 Tapi kalau kita hanya melihat 26:29 penampilan, 26:31 kekayaan, 26:34 kemudian juga mengharapkan 26:36 agar pasangan kita ini mengangkat 26:38 martabat kita atau paling tidak menjaga 26:41 martabat kita tanpa melihat bagaimana 26:44 kepribadiannya, bagaimana hubungannya 26:47 dengan Allah. 26:49 Kalau dia menjaga hubungannya dengan 26:50 Allah, maka setiap ucapan perilakunya 26:53 bersama kita, dia akan menjaga dirinya. 26:56 Betul. 26:57 Karena takut pada Allah. 26:58 Tapi kalau dia tidak menghargai Allah, 27:01 dia akan bersikap baik di hadapan kita 27:03 ya untuk menyenangkan apa pasangan yang 27:06 dia suka. Begitu dia jemuh, dia bosan, 27:09 tinggalin 27:10 ditinggalkan. Atau mungkin dia bertahan 27:13 [berdehem] tapi yang keluar dari 27:14 mulutnya kata-kata yang tidak 27:16 menyenangkan, sikap yang tidak 27:17 bertanggung jawab. Karena apa? 27:19 Di hatinya tidak ada Allah dan hari 27:21 akhirat. Dia beranggapan dia bebas 27:22 melakukan apa saja bahkan bisa 27:24 mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. 27:26 Kamu beruntung kahib masanya. [berdehem] 27:28 [mendengus] 27:31 Kemudian kalau kita memilih pasangan 27:33 wanita, kamu perhatikan bagaimana sikap 27:37 ibu wanita ini kepada suaminya. 27:42 H 27:43 karena anak itu ya anak perempuan dia 27:47 akan mengidolakan ibunya. 27:48 He. 27:50 Kalau kita pilih anak laki-laki untuk 27:53 anak perempuan, kita, lihat bagaimana 27:56 sikap ayahnya terhadap istrinya. 27:59 terhadap ibunya. Kalau ayahnya bersikap 28:02 santun, tidak suka memukul, bersikap 28:06 baik, ya insyaallah anak laki-lakinya 28:09 akan mengidolakan bapaknya. 28:11 H. 28:13 Jadi di samping kita mohon petunjuk 28:15 kepada Allah, kita bermusyawarah ya 28:19 tanya kira-kira bagaimana perilaku orang 28:21 tersebut dan lihat teman-temannya 28:24 nanti 28:25 apa yang Allah Subhanahu wa taala 28:28 tenangkan di hati kita, tenteramkan 28:31 itu pilihan Allah. tidak harus bermimpi. 28:34 Tapi kalau kita bergelisah, kita resah, 28:36 kita takut ya 28:38 atau dengar kabar yang tidak baik 28:39 mengenai calon kita, sebaiknya kita 28:42 tarik diri walaupun kita sudah jatuh 28:44 cinta. 28:44 Hm. 28:45 Jadi mohon pilihan Allah Subhanahu wa 28:48 taala karena Allah maha tahu. Yang 28:51 kedua, kita bermusyawarah 28:54 kemudian kita lihat bagaimana perilaku 28:57 keluarganya. 29:00 Jadi, Kang Rizal, [berdehem] kita banyak 29:02 jumpai pria menikah dengan seorang 29:04 wanita, hidup berumah tangga, punya anak 29:07 atau mengalami trauma 29:10 karena istrinya ternyata mulutnya bawel, 29:14 dia hanya mau didengar tidak mau 29:16 mendengarkan suaminya. 29:17 H 29:18 kalau diperintahkan selalu menentang, 29:20 membangkang, bwanya mau saja apa menang 29:24 sendiri. 29:26 Kalau menerima kebaikan walaupun banyak 29:29 ya kemudian mengalami sedikit cobaan 29:32 langsung dia berkeluruh kesah dia lupa 29:33 akan kebaikan suaminya. 29:35 Masyaallah. 29:36 Perempuan seperti ini ya perempuan yang 29:38 akan membawa sial dalam hidup. 29:42 Kalau kita pilih perempuan seperti ini, 29:45 jangan salahkan Allah. 29:46 H 29:47 kita yang memilih wanita yang akan 29:50 meracuni kehidupan kita dan membawa 29:52 kesusahan. Akhirnya dia trauma. trauma 29:55 tidak mau menikah lagi. Ini banyak kasus 29:58 sekarang. 30:00 Ada juga perempuan waktu dia mau menikah 30:03 dia tidak berhati-hati, tidak bertanya 30:05 pada Allah, mohon pilihannya, tidak juga 30:08 bermusyawarah. Laki-lakinya katanya 30:11 gajinya R25 juta baru mulai kerja atau 30:13 Rp50 juta. Tampan, meyakinkan. 30:18 Cinta 30:18 basa-basi juga mulusnya manis. Uh, 30:21 mertua sudah cerita, masyaallah orang 30:23 tuanya ini laki-laki. Masyaallah dia 30:26 baik sama ibunya. Gajinya baru mulai 30:29 kerja sudah 25 juta. Punya kendaraan 30:31 pribadi, punya jaminan juga dari 30:33 perusahaan. 30:36 Sering bolak-balik umrah. 30:40 Dia tidak pernah istikharah. Dia 30:41 beranggapan apa? 30:43 Yakin. 30:43 Dia betul-betul menerima anugerah yang 30:46 besar. Ternyata laki-laki ini depan 30:49 orang tuanya baik, depan orang-orang 30:51 juga baik, tapi pergaulannya liar. 30:54 H 30:55 di kantornya, [berdehem] dalam 30:56 lingkungan pergaulannya, 30:59 dia menampakkan dirinya salat, taat 31:02 dalam acara-acara perkumpulan, tapi 31:04 ternyata di luar tidak salat, tidak 31:07 bersikap baik. Jadi kalau hanya melihat 31:10 penampilan luar kita memilih pasangan 31:12 kita, jangan sesalkan kalau seandainya 31:14 kita dibuat kecewa. Nah, banyak 31:17 perempuan trauma ya. [mendengus] 31:19 Ternyata suaminya yang dilihat begitu 31:21 santun, begitu baik, jadi pujian buat 31:24 orang-orang banyak. Tapi ternyata dia 31:27 orang yang bersikap kencang, 31:30 tidak berperasaan, mau menang sendiri, 31:34 menuntut dia punya hak dipenuhi, tapi 31:36 hak istrinya tidak dipenuhi. 31:37 Dipenuhi. He. 31:39 Nah, yang mengetahui jiwanya siapa? 31:41 Sebaik 31:43 yang paling mengetahui jiwanya adalah 31:44 Allah subhanahu wa taala. Kita mohon 31:47 petunjuk dari Allah agar Allah pilihkan 31:50 buat kita pasangan yang Allah ridai yang 31:52 cocok buat kita dan kita musyawarah agar 31:56 tidak salah-salah langkah. Nah, zaman 31:58 sekarang kalau laki-laki tampan melamar 32:01 enggak diperiksa lagi mengenai 32:02 akhlaknya. He. 32:03 Apalagi dengan kendaraan yang cukup 32:06 baik, dengan juga cara hidup yang cukup 32:09 mewah, 32:09 dengan jabatan, Ustaz. 32:11 Nah, banyak perempuan yang tergiur oleh 32:13 pria-pria semacam ini. Akhirnya menjadi 32:15 korban baru menyesal. Jadi sebetulnya 32:19 melarikan diri dari perkawinan 32:20 sebetulnya bukan jalan keluar. 32:25 Karena hidup sendiri juga bukan sesuatu 32:28 yang nyaman. Dia akan hidup sepanjang 32:30 hidupnya dalam keadaan kesepian. 32:33 Kesepian bukan problema yang kecil. 32:37 Lama-kelamaan bisa menimbulkan gangguan 32:39 jiwa. Nanti hanya ngomong sendiri, 32:42 mendengarkan juga bisikan-bisikan di 32:44 telinga sebagai gejala-gejala gangguan 32:47 jiwa yang semakin lama akan semakin 32:49 barat. 32:49 Iya. 32:50 Bahkan membuat dia juga mudah 32:51 marah-marah, lepas kontrol, tidak 32:54 mengendalikan diri. 32:57 Ini bukan jalan keluar. Begitu juga 32:59 menikah [berdehem] dengan pas seorang 33:02 apa? Dengan seorang yang tidak kita 33:04 kenal kepribadiannya, 33:06 tidak juga mendapatkan restu dari Allah 33:08 juga merupakan apa? Merupakan penjara 33:11 yang amat mengerikan yang gelap dan 33:13 pengap. Oleh karena itu, kita 33:16 alhamdulillah tidak pernah ditinggalkan 33:18 Allah. Sekejap pun enggak pernah 33:19 meninggalkan kita. Kenapa kita enggak 33:22 bertanya, "Ya Allah, apakah pria ini 33:23 merupakan pasangan yang tepat buat saya 33:25 atau tidak?" 33:27 Kalau tidak tolong jauhkan ya Allah 33:29 [mendengus] dan buat hati saya ikhlas 33:32 menerima ini. Kalau dia merupakan 33:33 pasangan yang tepat bagi saya, Allah 33:36 tenteramkan hati saya, tenteramkan 33:37 hatinya dan berikan petunjuk jalan 33:40 keluar bagi kita berdoa 33:43 agar dapat kita mengarungi kehidupan 33:45 dengan baik. Dan alhamdulillah 33:47 saya kalau berhadapan dengan satu urusan 33:51 saya istikharah terlebih dahulu hasilnya 33:53 baik. 33:55 Tapi kalau kita lengah dan lupa, 33:57 subhanallah hasil akhirnya walaupun di 34:00 permukaan nampak baik. Oleh karena itu, 34:03 dalam setiap keputusan kebijakan 34:06 banyak-banyaklah kita beristikharah. 34:08 Tidak harus di malam hari. Subuh kita 34:10 bisa beristikharah, zuhur bisa 34:12 beristikharah, asar juga bisa, magrib, 34:15 isya. Insyaallah Allah subhanahu wa 34:19 taala akan memberikan penerangan kepada 34:21 kita dan Allah paling suka terhadap 34:23 hambanya yang bertanya lebih dahulu 34:26 kepada Allah dan tidak melangkahi Allah. 34:28 Dalam surah Al-Hujurat Allah berfirman, 34:30 "Ya ayyuhalladzina amanu la tuqaddimu 34:33 baina yadaillahi waasuli. Wahai orang 34:35 yang beriman, jangan kalian mendahului 34:38 Allah dan rasulnya. Jangan melangkahi 34:40 Allah dan rasulnya. Bertakwalah pada 34:43 Allah. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi 34:44 Maha Tahu. Jadi Allah paling suka kepada 34:47 hambnya. 34:48 H 34:48 yang kalau memilih sesuatu bertanya 34:50 terlebih dahulu kepada Allah, "Ya Allah, 34:52 apakah ini perbuatan baik? Apakah ini 34:54 pasangan yang baik buat aku? Kalau 34:56 memang ia tentramkan hatiku, bahagiakan 34:59 kami dan bimbing kami berdua agar selalu 35:01 dalam keridaanMu." Nah, itu subhanallah 35:03 walaupun belum diterima saja hati sudah 35:05 enak perasaan. [berdehem] 35:07 Betul gak? 35:08 Heeh. Apalagi setelah Allah Subhanahu wa 35:11 taala membuka jalan kebaikan buat saya. 35:14 Akhirnya yang saya ceritakan tadi 35:17 ee perempuan yang mengeluhkan suaminya 35:20 setelah suaminya berdoa, beristigfar, 35:23 berselawat bangun di waktu malam 35:25 tah-tahu istrinya langsung 35:28 merasakan hatinya kembali tenang. 35:30 Tenang, 35:31 kegelisahan, rasa tidak nyamannya hilang 35:33 sama sekali. 35:34 Masyaallah. Jadi ingat 35:37 kita dalam hidup ini jangan pernah kita 35:40 lepas 35:42 untuk mengingat Allah. 35:44 Karena Allah Subhanahu wa taala yang 35:47 tahu mana yang baik untuk kita, mana 35:49 yang buruk untuk kita dan Dia Maha Kuasa 35:51 untuk mengabulkan doa kita. Allah kuasa 35:54 untuk membalik. Yang tadinya 35:57 sulit menjadi mudah, yang gelap menjadi 35:59 terang, yang lapang menjadi sempit, yang 36:02 tadinya tidak menyenangkan. Begitu Allah 36:05 Subhanahu wa taala rida, kita akan 36:06 merasakan kedamaian dan kebahagiaan. 36:09 Wallahuam. 36:10 Baik, terima kasih kembali Ustaz atas 36:11 jawabannya. Kita juga ingin mendengarkan 36:13 dari Pak Bubakan tentunya mungkin banyak 36:16 kasus juga yang klien-klien yang apa 36:19 istilahnya curhat mungkin ke Pak Abu 36:20 Bakar. Mungkin banyak yang sudah nikah 36:22 juga. 36:23 cerai akhirnya trauma tidak mau menikah 36:25 lagi. Tentunya banyak seperti Abu Bakar 36:27 lihat [tertawa] hari ini. 36:28 Masyaallah. 36:30 Bismillahirrahmanirrahim. 36:34 Jadi kita ketahui bahwa seperti yang 36:38 tadi sudah diterangkan bahwa memilih itu 36:41 harus istikharah. 36:45 Jadi ketika kita sudah istikharah 36:49 insyaallah semuanya itu baik. 36:51 Hm. 36:52 Nah, [berdehem] 36:53 kejadian yang di kasus media sosial, 36:59 kasus 37:01 kesal sama istri, kesal sama suami, 37:05 enggak senang melihat istrinya begitu 37:09 begini, ngomongnya aja sudah enggak 37:11 enakin. 37:14 Nah, itu 37:16 merupakan kasus di mana dia tidak 37:19 istikharah. 37:21 [berdehem] Karena dia tidak pernah 37:22 meminta bahwa dia baik atau tidak baik. 37:27 Jadi waktu memilihnya itu melihat uh 37:30 kelihatannya keren, wah ganteng, wah 37:34 cantik. 37:36 Dia ngelihat, diambil 37:38 dijadikan. [berdehem] 37:41 Nah, ketika menikah 37:43 apa yang terjadi? 37:46 masing-masing bertahan dengan kemauan 37:49 dan keinginannya dia. Jadi kemauan dan 37:54 keinginan itu enggak pernah kita 37:57 selesaikan. 37:59 Padahal ada unsur-unsur keinginan dan 38:04 kemauan dirinya. Nah, antara keinginan 38:08 dan kemauan satu sama yang lain, kalau 38:11 masing-masing punya kemauan dan 38:14 keinginan, apa yang terjadi? 38:17 Yang laki-laki mempunyai keinginan, yang 38:19 perempuan juga punya keinginan. 38:21 Masing-masing punya keinginan. 38:25 Padahal dikatakan 38:28 istri harus ikut kepada suami. Itu saja 38:34 sudah menunjukkan bahwa bagaimana 38:37 mengikutinya 38:40 ya bukan berarti dia harus mengikut ke 38:44 mana pun mengikut. Tidak. 38:46 Kebaikan-kebaikan suami kita harus ikut. 38:51 ketentuan-ketentuan [berdehem] 38:53 yang ditentukan oleh suami, insyaallah 38:55 kita akan ikut. 38:59 [berdehem] 39:00 Istri yang seperti ini insyaallah dia 39:03 akan mendapatkan. Namun 39:06 kejadian yang luar biasa. 39:09 Perceraian, 39:11 membunuh, 39:12 enggak ngelihat perhatiannya berbagai 39:16 macam yang membuat kita takut. Dan 39:20 orang-orang yang melihat itu ih ngeri 39:24 [berdehem] 39:25 saya enggak mau menikah. 39:28 Dia mengatakan, "Saya enggak mau 39:30 menikah. Kalau menikah digituin ngapain? 39:33 Kalau menikah nanti saya marah, nanti 39:36 diomelin, nanti diinikan. Untuk apa saya 39:39 dimarahi? 39:40 Nanti melakukan sesuatu disalahkan, 39:43 untuk apa saya mau disalahkan?" 39:47 Nah, perhatikan media sosial yang 39:51 seperti ini akan [berdehem] mengganggu 39:54 pikiran-pikiran kita. 39:58 Media sosial yang seperti ini akan 40:01 [berdehem] memberikan 40:02 pengetahuan-pengetahuan kita yang 40:05 menolak semua. 40:07 Kita enggak perlu, 40:09 kita tidak perlu memperhatikan media 40:14 sosial. Media sosial itu dia, bukan 40:17 saya. Ada yang membunuh, itu dia, bukan 40:20 saya. 40:23 Saya tidak akan seperti itu. 40:26 Media sosial bercerai, ada perceraian, 40:29 banyaknya kasus perceraian. orang 40:32 mengatakan bahwa ee perceraian itu 40:36 sampai ngantri. 40:39 Padahal cuman ngantri berapa orang dan 40:42 berapa orang yang tidak ngantri itu 40:45 tidak pernah ditunjukkan. [berdehem] 40:49 Nah, kita perhatikan 40:52 itu mereka bukan berarti kita ambil, 40:56 bukan berarti kita perhatikan. 41:00 Itu mereka, bukan saya. Kalau kita 41:04 menjadi diri kita dan kita katakan itu 41:08 mereka bukan saya, insyaallah tidak akan 41:11 terpengaruh. 41:13 oleh media sosial yang begitu merah yang 41:17 mudah begitu 41:19 buat diri kita terpengaruh. Tidak. H 41:23 karena saya adalah diri saya. 41:27 Karena kita menanamkan kepada diri kita 41:31 bahwa kita adalah diri kita. 41:37 Ketika kita menanamkan pada diri kita 41:40 bahwa saya adalah saya, jadi enggak 41:43 terpengaruh sama apa sama semuanya. 41:46 Karena ketika dia mengenalkan dirinya 41:50 kepada dirinya, dia tahu pada dirinya 41:53 dia dekat dengan Allah. 41:58 Dia akan berdekatan dengan Allah dan dia 42:01 meyakinkan kepada Allah karena dirinya 42:05 yang Allah ciptakan dengan baik. 42:11 Fi aksani takwim. 42:14 Jadi dengan sebaik-baiknya 42:17 jadi dirinya sudah diciptakan akhirnya 42:19 dia mengenal saya adalah saya. Dia akan 42:22 kepada Allah. 42:26 Dia akan dekat dengan Allah ketika dia 42:30 mengatakan saya adalah saya. Media 42:32 sosial itu media sosial. 42:35 Kenapa kok kita perhatikan? Kenapa kok 42:38 kita memperhatikan, kita meyakinkan 42:41 bahwa saya nanti seperti itu? Tidak. 42:45 Yakinkan pada diri kita bahwa saya tidak 42:50 seperti itu. 42:52 Jadi kita harus meyakinkan pada diri 42:55 kita bahwa saya tidak seperti itu. 43:00 Melihat media sosial katakan itu dia 43:02 bukan saya. Itu mereka bukan saya. 43:07 Meyakinkan pada diri kita itu mereka 43:10 bukan saya. Kalau saya yakinkan kepada 43:14 Allah, berbuat baik, benar perlakuannya, 43:19 itu saya 43:21 ketika itu [berdehem] saya yakinkan 43:25 insyaallah media sosial hilang 43:27 dan tidak ada terpengaruh sedikit pun 43:29 dengan media sosial. 43:32 Insyaallah. 43:33 Baik, sebelum kita ke kasus ee 43:36 selanjutnya, Ustaz, tadi mengenai ee 43:38 kasus ini ee biasanya kan memang 43:41 berita-berita yang buruk itu cukup viral 43:44 gitu ya dibandingkan berita-berita 43:46 positif. Kan banyak juga kan rumah 43:47 tangga yang harmonis, banyak juga yang 43:50 pernikahannya berjalan dengan baik gitu 43:52 ya. Yang artinya ee yang positif-positif 43:56 malah tidak banyak terdengar gitu, tidak 43:59 banyak diberitakan. Mungkin ini juga 44:01 menjadi apa istilahnya masukan untuk 44:03 kita terutama yang anak-anak muda lah ya 44:06 yang baru nikah muda. Mungkin bisa 44:09 di-share juga pernikahannya yang positif 44:11 gitu, Ustaz. Agar tadi yang terutama ya 44:14 netizen-netizen perempuan yang trauma 44:16 melihat kasus-kasus seperti itu menjadi 44:19 tidak trauma, tidak takut. Nah, iya 44:21 betul. 44:22 Selain itu juga peran 44:23 peran orang tua, Ustaz. peran orang tua 44:26 dalam memilih ee kan jodoh itu juga 44:29 mungkin penting ya, karena tidak 44:31 sepenuhnya 44:33 anaknya sendiri yang mencari jodoh. 44:34 Artinya kan memilih jodoh kan suatu apa 44:37 ya ee pekerjaan yang tidak mudah gitu. 44:40 Apalagi melihat kasus-kasus seperti itu. 44:43 Tentunya peran orang tua dengan kadarnya 44:46 yang tepat ya, intervensi orang tua 44:48 untuk membantu mencarikan jodoh yang 44:50 baik, yang saleh juga itu penting kan. 44:53 Betul. Karena mungkin sekarang tradisi 44:56 terutama di Indonesia banyak juga yang 44:58 ya yang menyerahkan sepenuhnya kepada 45:00 anaknya untuk mencari jodoh. 45:02 I terserah anak 45:03 terserah. Akhirnya kan ya karena kalau 45:06 sudah cinta akhirnya 45:08 iya menutup mata yang penting tadi ya 45:11 ganteng 45:12 terus jabatannya kekayaannya. 45:14 Iya karena dia sudah memperhatikan itu. 45:16 Iya betul. Nah, mungkin ya itu tadi 45:18 peran orang tua juga mungkin penting ya 45:20 untuk 45:21 membantu mencarikan jodoh yang saleh dan 45:24 salehah yang baik untuk anak-anaknya 45:25 gitu. 45:26 Insyaallah. 45:26 Begitu, Ustaz ya. Baik, kita ke ee kasus 45:30 yang ketiga ini terkait 45:34 anak-anak ya dan gadgetnya. 45:38 Alhamdulillah kami hidup bahagia dan 45:39 senang dari pertama pernikahan sampai 45:42 saat ini pun kami alhamdulillah bahagia 45:44 dan senang, Ustaz. Yang jadi masalah 45:47 anak kami yang laki-laki sudah masuk di 45:49 pondok sekarang kelas 2 SMP atau MTs ya 45:53 terpengaruh dengan teman-temannya ketika 45:56 pulang dia tidak menghafalkan ayat-ayat 45:59 yang sudah dihafalkan di pondoknya 46:01 murajaah mungkin ya begitu juga salatnya 46:04 tidak di masjid. Jadi senangnya main 46:07 games kalau dibilangin dia marah dan 46:10 tidak mau mengerjakan. Jadinya di rumah 46:13 malas-malasan saja. dia chatan atau ya 46:18 komunikasi dengan teman-temannya 46:21 melalui WhatsApp kemudian pergi 46:25 dengan teman-temannya. 46:26 Iya. Kemudian pergi dengan 46:27 teman-temannya ya yang saya tidak tahu 46:29 ke mana, Ustaz. Jadi saya bingung 46:31 menghadapinya. Mohon pencerahannya 46:33 Ustaz. Terima kasih. 46:34 Bismillahirrahmanirrahim. 46:35 Alhamdulillahiabbil alamin. Allahumma 46:37 sholli ala Muhammadin wa al rbana zidna 46:40 ilman waqna bih. 46:43 Anak pada usia SMP 46:47 sedang mencari jati dirinya. 46:50 Dia berada pada masa puber. 46:53 Setiap orang pada masa-masa itu ingin 46:56 betul-betul mencari jati dirinya. 47:00 Dia dihargai di tengah-tengah 47:01 teman-temannya, 47:03 dihormati, disambut, tidak dilecehkan. 47:07 Dengan sendirinya pengaruh lingkungan 47:10 itu bisa lebih kuat dari pengaruh orang 47:11 tua. 47:13 Apalagi kalau orang tuanya jarang 47:15 berikan apresiasi. Hubungan orang tua 47:17 dengan anak kurang begitu dekat. 47:19 Sedangkan teman-temannya justru apa 47:22 yang memberikan apresiasi pujian-pujian 47:26 ya. Kemudian dia ingin dong di tengah 47:29 teman-temannya diterima, disambut, tidak 47:31 disepelekan, dan direcehkan. Akhirnya 47:33 mengikuti apa yang dilakukan 47:35 teman-temannya. 47:37 Kalau teman-temannya, 47:39 orang-orang yang baik-baik, tubuh dalam 47:41 lingkungan yang baik, ini pasti akan 47:43 bermanfaat. Tapi kalau sebaliknya, 47:46 kasihan anak kita yang terkontaminasi 47:50 oleh lingkungan mereka pada saat dia 47:52 sedang menjadi mencari jati diri 47:55 dan ingin diterima dalam lingkungan 47:56 tersebut. 47:59 Oleh karena itu, 48:01 kita harus memilih sekolah buat anak 48:04 kita atau [berdehem] pesantren yang 48:05 orientasinya itu akhlak. Bukan hanya ee 48:09 mengejar nilai tertinggi, bisa masuk di 48:12 sekolah tinggi. Ini bukan jaminan 48:14 kesuksesan. 48:16 Walaupun itu merupakan salah satu ee 48:20 jalan menuju kesuksesan. Tapi kalau dia 48:24 menjadi fokus perhatian kita, sekolah 48:26 unggulan anaknya meraih angka yang 48:28 tertinggi merupakan hal yang penting 48:32 berkaitan dengan akhlak pribadi dan 48:34 karakternya kita akan misal. Oleh karena 48:37 itu, Al-Qur'an berbicara kepada kita 48:40 dengan dua bahasa. 48:42 Pertama bahasa ini. Kedua, bahasa hati. 48:47 Kalau hanya kita fokus kepada 48:50 peningkatan kecerdasan, tapi hatinya 48:53 tidak diajak berbicara, 48:56 tidak didekati, maka anak tersebut tahu 49:01 bagaikan robot yang menerima program 49:04 yang bermacam-macam. Bahkan AI kalau 49:07 kita lihat dalam memberikan jawaban 49:09 cerdas, cepat dalam waktu beberapa detik 49:12 memberikan jawaban yang memuaskan bahkan 49:15 bisa memberikan jawaban ya yang 49:19 membutuhkan mungkin lebih dari dua 49:20 semester. 49:25 Kita lihat tapi GPT tidak akan mampu 49:29 untuk berbicara kepada hati kita 49:32 sebagaimana Al-Qur'an berbicara. 49:36 Oleh karena itu, 49:40 perhatikan 49:41 sekolah di mana anak kita belajar. Dan 49:44 juga ingat orang tua bukan hanya sekedar 49:47 memberikan uang saku, 49:49 biaya sekolah, kemudian dia mengatakan, 49:51 "Ayahnya bersusah payah untuk kalian. 49:54 Setiap bulan sebagian besar pendapatan 49:57 ayah untuk sekolah kalian." Ini justru 50:00 merupakan gugatan, [berdehem] beban buat 50:02 anak. 50:04 beban buat si anak bisa saja dalam 50:06 hatinya saya enggak minta ayah masukkan 50:08 saya sekolah maha betul gak jadi jangan 50:11 anak pada masa-masa pertumbuhan ini 50:13 dibebari dengan dengan 50:16 berbagai macam beban perasaan tapi 50:19 lakukan pendekatan pribadi yang hangat 50:22 mesra hingga dia betul-betul merindukan 50:26 kedekatan dengan orang tuanya merindukan 50:28 juga pandangan orang tuanya 50:31 kita bertanya apa yang kamu rasakan 50:33 Engak bagaimana teman-teman kamu di 50:36 sekolah? Biarkan anak terbuka 50:38 menceritakan. Jangan orang tua jaga 50:40 image. Maunya dengar yang baik saja tapi 50:44 buka hati anak Anda dan jangan kita 50:48 jemu-jemunya merangkul anak kita. 50:51 Berbicara yang manis. Ya, setelah kita 50:54 tahu bahwa di sekolah di pesantren yang 50:56 baik, kita ajak bicara sering-sering. 50:58 Kita berikan motivasi, berikan apresiasi 51:02 ya. di saat dia pulang juga coba temani 51:06 anak-anak kita. Sekarang repotnya Bapak 51:09 Ibu sibuk dengan pekerjaan mereka hingga 51:11 anak tidak memiliki tempat untuk curhat. 51:15 Akhirnya dia berkembang dalam bidang 51:17 pendidikan tapi bahasa hatinya tidak. 51:21 Jadi kalau bisa orang tua ya 51:23 berkomunikasi baik itu bapak, Ibu dengan 51:25 anaknya dan saya lihat orang-orang tua 51:28 yang dekat dengan anak-anaknya, 51:31 kesehatan jiwa anaknya sehat. 51:35 Di saat dia pulang dari sekolah, pulang 51:37 dia cerita sama ayahnya, sama ibunya apa 51:39 yang dijumpai di sekolah. Dan kita 51:41 jangan bosan-bosan untuk mendengarkan 51:43 cerita anak kita. 51:45 Jadi kalau kita lihat anak kita katakan 51:48 bercerita tentang sesuatu yang salah 51:50 kita ingatkan jangan kamu lakukan ini. 51:53 Ini berbahaya buat kamu. Dengan sendikat 51:55 si anak punya sistem nilai dan neraca 51:57 standar yang jelas. Dari mulai kecil 52:01 dibina karakternya, didekati juga 52:04 hatinya, ditanyakan keluh kesahnya. Ini 52:08 yang saat ini hilang. Apalagi anak 52:12 menghadapi serbuan jajet daripada dengar 52:14 orang tuanya ngoceh ngomel tidak pernah 52:17 sama sekali apa bertanya tentang dirinya 52:20 dia asyik dengan jajet pelarian buat 52:22 dia. Tapi kalau orang tuanya akrab 52:24 hangat bertanya pada anaknya apa yang 52:27 kamu inginkan? Ada masalah kamu di 52:29 sekolah kamu enggak usah malu-malu. 52:31 Kalau sudah mulai masuk katakan SMP 52:33 biasa mulai suka sama perempuan. Kamu 52:35 ada teman perempuan di sekolah kamu yang 52:37 kamu suka. J pembicaraan seperti ini 52:39 dianggap hal yang jangan dianggap tabuh. 52:42 Nanti ingatkan [berdehem] 52:44 kalau kamu suka, kamu sekarang harus 52:47 belajar bersungguh-sungguh karena 52:49 perempuan tidak akan menghargai orang 52:50 yang gagal. 52:52 Berikan motivasi kalau memang nanti kamu 52:55 dewasa, kamu masih menyukai dia, ayo 52:58 sipamarkan nanti. Jangan kita bilang, 53:00 "Kamu masih kecil jangan suka berpikir 53:02 orang perempuan." Ini salah besar. Ini 53:05 salah besar. Karena itu bukan hal yang 53:08 dia mau. Itu datang dengan sendirinya 53:10 pada masa-masa puber. 53:12 Fitrahnya. 53:12 Iya. Fitrah dia pada masa itu mulai dia 53:15 suka pada lawan jenisnya. Jadi jangan 53:17 bilang kamu jangan mikir soal perempuan 53:19 dulu. Ajak anak kita berkomunikasi 53:22 secara baik. 53:24 Bagaimana 53:26 akhlak wanita tersebut? 53:29 Bagaimana pribadinya? Bagaimana orang 53:31 tuanya? Ajak. Itu omongan ya yang 53:34 kebanyakannya dianggap tabu oleh orang 53:36 tua. 53:37 Padahal ini omongan sebetulnya menjadi 53:39 ventilasi buat dia untuk bisa curhat 53:41 sama orang tuanya. [mendengus] Jangan 53:43 curhat sama teman yang salah. Nanti 53:45 orang tua yang mengarahkan wah 53:46 kelihatannya ayah lihat di perempuan 53:49 akhlaknya kurang baik. Nanti bisa 53:50 menimbulkan kesengsaraan buat kamu. 53:52 Lebih baik kamu lihat perempuan seperti 53:55 pribadi ibumu. 53:57 Gimana sikap ibumu? Itu yang akan 53:59 membahagiakan kamu. Ayah ini bahagia. 54:00 Alhamdulillah. karena dapat dukungan 54:03 dari ibu diusahakan terbuka 54:06 dalam masalah ini. Kemudian juga kalau 54:08 anak perempuan kita, kita ingatkan untuk 54:10 tidak sembarangan dekat dengan laki-laki 54:14 ini akan menjadi apa? Noda buat kamu. 54:17 Kalau laki-laki berbuat salah, dunia 54:19 memberikan maaf. Tapi kalau perempuan 54:22 sekali tergores, 54:25 masyarakat akan terus mencemuhkan 54:29 dirinya. Tapi ingat, ibu dekati anaknya, 54:33 ayah juga dekati anaknya, dampingi dia, 54:36 ajak anak laki-laki pada saat libur 54:38 untuk berkunjung kepada teman-temannya 54:40 biar dia mendengarkan pembicara orang 54:42 tua. Nanti di saat dia nyeletuk 54:44 memberikan tanggapan, berikan 54:45 pengarahan. 54:47 Kalau salah jangan di depan umum, di 54:49 rumah nanti perbaiki kesalahannya. 54:52 Kalau benar kamu berikan apresiasi. Oleh 54:55 karena itu kita jumpai di antara satu 54:57 hal yang 54:59 saya jumpai di Mesir ee artinya bukan 55:03 menggambarkan pertumbuhan anak di Mesir 55:06 sempurna. Salah satu kebaikan yang saya 55:08 lihat yang mengejutkan saya anak kecil 55:11 itu di saat kumpul bersama orang tua dan 55:13 teman-temannya bisa nyeletuk 55:16 tapi orang tua anggap biasa. 55:19 Kita kan di sini enggak bisa begitu. 55:21 Betul enggak? Zaman kita dulu, kamu anak 55:23 kecil tahu apa ini anak bisa nyeletuk, 55:27 bisa memberikan tanggapan kepada apa? 55:29 Teman orang tuanya bisa mengatakan saya 55:31 enggak sependapat. Bayangkan anak kecil, 55:34 anak SD. 55:36 Jadi itu tumbuh dengan keterbukaan 55:39 hingga akhirnya dia bisa mendapatkan 55:43 pengarahan p dari orang tuanya. Di saat 55:45 ada yang salah, orang tua di rumah 55:46 meluruskan ini jangan kamu lakukan. Ini 55:48 boleh kamu lakukan. tadi cara kamu 55:50 berbicara kurang tepat kan indah sekali 55:53 kan dan saya pernah kumpul dengan satu 55:57 pertemuan 55:59 terdapat paman kemenakan dan 56:01 teman-temannya orang dewasa semuanya si 56:04 paman mengajukan pendapat dan ide ya 56:06 lama kemudian si kemenakan mengatakan 56:09 saya dalam hal ini pam tidak sependapat 56:11 dengan anda 56:13 si paman enggak marah apa dasar ucapan 56:19 kamu dia paparkan argumennya. Si paman 56:21 berpikir sebentar saya sependapat dengan 56:24 kamu 56:25 ini jangan dianggap hal sepeleeh. 56:28 Ini merupakan apresiasi ya yang mendidik 56:31 dia untuk tidak mokong pada pendapat 56:35 yang salah karena dimulai dari yang tua 56:37 memberikan bimbingan yang baik. Jangan 56:39 dibiarkan orang karena bangga diri larut 56:42 dalam apa? 56:44 Larut dalam mempertahankan pendapatnya. 56:46 Jadi berkaitan dengan anak Bapak ini 56:49 sebetulnya 56:51 apa yang dilakukan tidak lepas dari 56:53 kesalahan orang tua. 56:55 Pertama 56:57 tidak melihat memperhatikan bagaimana 57:01 karakter dari sekolah tersebut. 57:04 Oleh karena itu, pilih sekolah yang 57:06 orientasinya mendidik anak-anak kita. 57:08 Seperti kita jumpai di Australia, anak 57:11 sebelum belajar macam-macam, bahkan di 57:12 Jepang selama setahun, 2 tahun diajarkan 57:16 bagaimana karakter yang baik, disiplin, 57:19 beradab ya, hingga dilatih anak untuk 57:22 berbaris dengan rapi, tidak mendahului 57:25 temannya, keman bersikap toleransi, 57:28 membantu teman. Ini yang akan menjadi 57:31 [mendengus] fondasi bagi apa? Bagi 57:33 pertumbuhan jiwanya yang sehat. Kalau 57:36 kita kan tidak belajar agama di 57:38 pesantren pun dimulai dengan 57:39 hafalan-hafalan ya yang tidak dipahami 57:42 seperti beliau kan. Lama-kelamaan 57:43 bagaimana? Jembuh kan? Jembuh 57:46 bosan 57:47 bosan. Tapi kalau apa yang dibacakan 57:50 diterangkan maknanya diberikan 57:52 contoh-contoh yang indah itu akan 57:54 melekat di hatinya pada umur di mana 57:57 pada saat itu dia menyerap pengetahuan. 58:01 Kemudian 58:03 jaga hubungan Anda dengan anak Anda 58:07 sebaik-baiknya lebih daripada Anda 58:08 memperhatikan pekerjaan Anda di kantor. 58:11 Jadi, Bapak pesan pada ibunya pada saat 58:14 dia keluar atau Ibu juga berpesan pada 58:16 ayahnya bawakan hadiah-hadiah yang 58:19 sifatnya mendidik. Bukan hadiah-hadiah 58:22 belikan Apple, belikan ini. Itu yang 58:25 dihargai lama-kelamaan sepanjang 58:26 hidupnya apa? Iya. ulang tahun diberikan 58:30 materi. 58:30 Materi. Jangan berikan hadiah-hadiah 58:32 yang mendidik. Bernai tapi mendidik. 58:35 Indah sekali kan? 58:38 Kemudian 58:39 ajak dia untuk melakukan 58:41 kunjungan-kunjungan, 58:43 baik itu wisata tepi pantai merenungkan 58:46 ayat-ayat Allah akan mensyukuri nikmat 58:48 Allah. Dulu ayah bekerja mulai dari 58:51 keadaan noh. Kemudian ayah mulai bekerja 58:56 sedikit. Begitu mulai ayah punya 58:57 pendapat menikah dengan ibu kamu, tapi 58:59 ibu kamu memberikan betul-betul 59:01 motivasi, dukungan, semangat buat ayah. 59:05 Ini dengan sendiri mengisyaratkan 59:07 pendidikan kepadanya untuk melihat 59:09 wanita yang baik yang bisa memberikan 59:11 motivasi dan dukungan. Bukan hanya 59:13 pandai bersaleh. 59:15 Kemudian apa? 59:19 Baca Al-Qur'an bersama-sama. 59:23 Ayah membaca atau ibu membaca, 59:25 terjemahkan. perdengarkan buat anak kita 59:27 sambil memberikan artinya. 59:30 Subhanallah. Tertanam sedikit demi 59:32 sedikit ya, tapi akan melekat di hati 59:35 daripada orang dari mulai kecil 78 tahun 59:37 hafal Al-Qur'an tapi mirip dengan seekor 59:41 keledai yang memikul tumbukan buku di 59:43 atas punggungnya tapi dia tidak 59:45 mengambil manfaat kecuali keletihan 59:48 atau seekor keledai yang memikul 59:50 berkantong-kantong air tapi dia mati 59:52 kehausan 59:54 karena tidak mampu apa membuka kantung 59:56 tersebut dan meminum airnya. Jadi 59:58 hendaknya kita hidup realistis. 1:00:02 Apa yang kita tanamkan kita buktikan 1:00:05 melalui perilaku kita. 1:00:07 Apa yang kita ingin tanamkan pada anak 1:00:09 kita, kita harus lebih dulu betul-betul 1:00:11 melakukan. Dan untuk membuat anak kita 1:00:15 menerima, hatinya harus betul-betul 1:00:17 menyambut kita. Jadi kalau sekarang dia 1:00:19 tidak mau dengar kita, dia marah, 1:00:22 tersinggung di saat dia dihalang-halangi 1:00:24 untuk berjajat, kenapa? Kan dia merasa 1:00:27 dia lebih baik daripada Bapak dan Ibu. 1:00:30 Teman-temannya lebih menyenangkan 1:00:32 daripada sikap Bapak dan Ibu. Jadi rubah 1:00:35 mulai sikap 1:00:37 ketemu dengan anak kita ya yang tadinya 1:00:40 anak terus membuang muka begitu akhirnya 1:00:42 mulai memeluk dia, diajak jalan, 1:00:44 diberikan hadiah, mulai hatinya terbuka. 1:00:47 Seperti seorang ulama ketika saya 1:00:48 membawa seorang ee tokoh ya pejabat 1:00:52 tinggi negara Indonesia 1:00:55 berjumpa dengan seorang ulama di Makkah. 1:00:59 Dia mengatakan, "Ustadz, kita ingin 1:01:01 berjumpa dengan dia." Mendengarkan 1:01:02 nasihat kita. Berjumpa dengan dia, ulama 1:01:06 tersebut menyambut kita. 1:01:09 Kemudian 1:01:11 si bapak ini bertanya, 1:01:13 "Dalam hidup ini dari mana kita mulai? 1:01:17 Beliau mengatakan iftahal qulubanas 1:01:20 yaftahum. 1:01:22 Buka hati orang nis mereka akan membuka 1:01:26 akal mereka untuk mendengarkan kita 1:01:29 untuk merenungkan apa-apa yang kita 1:01:31 ucapkan. Begitu juga perlakuan kamu pada 1:01:33 pasangan kamu, pada keluarga kamu. 1:01:36 Karena berteman, bersosial itu bahagian 1:01:39 penting dalam kehidupan manusia. 1:01:42 Jadi mulai dengan membuka hati manusia. 1:01:46 Jangan sakiti dia. Jangan kita 1:01:48 menjatuhkan martabatnya. Mulai dari 1:01:51 hal-hal yang disepakati, mulai kita 1:01:53 mendengarkan di anak kita juga lebih 1:01:55 penting lagi. Jangan kita anggap ini 1:01:57 anak kecil. 1:01:58 Anak zaman sekarang kita heran. Baru 1:02:00 kelas 1 SD pembicaraannya, susunan 1:02:03 kata-katanya luar biasa. Bayangkan coba 1:02:07 saya punya cucu, 1:02:10 bapaknya tepuk pantatnya. Masih kecil 1:02:13 kan marah sama ayahnya. Kenapa kamu 1:02:16 tepuk pantan saya ini enggak boleh sama 1:02:18 sekali. Bayangkan coba anak usia baru 4 1:02:20 tahun. 1:02:22 Bayangkan coba. 1:02:25 Artinya apa? Anak sekarang yang lebih 1:02:27 peka dibandingkan dulu. Dia lebih pandai 1:02:30 memainkan jej dibandingkan kita. 1:02:32 Betul-betul. 1:02:35 Jadi 1:02:36 pandang anak-anak kita ini seperti orang 1:02:39 dewasa. 1:02:40 Ajak dia berbicara dengan santun, dengan 1:02:42 baik. Ajak makan bersama, ajak bicara 1:02:46 dia, ajak bercanda agar tidak tegang. 1:02:49 Jangan sekali-kali orang tua jaga imet, 1:02:54 jaga wibawa supaya anak menghormati 1:02:56 kita. Kita ingin takut-takuti anak kita, 1:02:58 apa gunanya semua ini? I 1:03:00 tapi kalau anak kita tumbuh dengan 1:03:02 kecintaan pada kita, dia akan sesuaikan 1:03:04 dirinya dengan keridaan orang tua. Jadi 1:03:06 kesimpulannya coba cara Bapak Ibu 1:03:09 memperlakukan anak di rumah. Jangan 1:03:12 bosan-bosan merangkul anak Anda tapi 1:03:14 dengan penuh keadilan pada semua anak 1:03:16 Anda. Kemudian tanya apa persoalannya. 1:03:20 Jangan kita anggap mereka tidak memiliki 1:03:22 persoalan. Saya ingat pada masa kecil, 1:03:25 pada masa ketika itu saya baru pada 1:03:27 level SMP. Pada masa puber kita tuh 1:03:30 bermuram gurek 1:03:32 yang luar biasa. 1:03:36 Lalu saya ketemu orang tua, 1:03:38 dia bertanya, "Kenapa kamu sedang 1:03:40 stres?" Stres. 1:03:43 Stres apa? Kamu belum cari uang, belum 1:03:45 usaha, orang tua kabut yang susah payah 1:03:48 untuk berusaha. Dia tidak memahami 1:03:51 bagaimana kondisi kita pada saat itu 1:03:54 sedang betul-betul limbung. 1:03:57 Limbung. 1:03:59 Maka saya ingat bahwa setiap anak pasti 1:04:03 juga mengalami keadaan yang sama. Apa 1:04:05 yang saya alami pada masa puber anak 1:04:07 kita mengalami bahkan sekarang lebih 1:04:09 dahsyat dibandingkan dulu. 1:04:12 Lebih dahsyat dibandingkan dulu. Jadi 1:04:14 coba buat hidup sederhana, realistis, 1:04:18 terbuka bersama anak kita. Kalau perlu 1:04:20 jadikan kita, kehidupan kita sebagai 1:04:22 contoh buat anak kita, tapi yang tidak 1:04:24 membosankan. Dan ingat, jangan biasakan 1:04:26 begini. 1:04:28 jari 1:04:29 biasakan begini ya baik dengan sikap 1:04:32 maupun kata-kata akan membuat anak kita 1:04:33 jauh 1:04:35 tapi tanya 1:04:38 apa yang kamu inginkan 1:04:39 h 1:04:41 tanya juga apa yang sedang kamu alami di 1:04:44 sekolah bersama teman-teman dulu saya 1:04:46 anak punya anak ingat saya punya anak 1:04:48 rata-rata kalau pulang dari sekolah 1:04:49 cerita sama ibunya yang laki yang 1:04:50 perempuan ceritakan di sekolah begini 1:04:52 kenapa malu-malu 1:04:54 iya 1:04:54 nah paling enggak kan ibunya bisa 1:04:56 mengarahkan si anak I 1:04:57 kalau kita enggak sempat Bapak, si Ibu 1:04:59 bisa marah. 1:05:01 Dan jangan kalau dia katakan bilang, 1:05:04 "Saya suka sama si fulan, kita ceria." 1:05:06 Jangan. Itu masa-masa tuber biasa. 1:05:09 Perempuan suka sama laki-laki di sekolah 1:05:11 atau laki-laki suka sama perempuan 1:05:12 tinggal diarahkan 1:05:14 dengan cara yang baik. Jangan kita 1:05:17 seperti membuat bendungan di hadapan 1:05:19 anak kita, tapi alihkan airnya supaya ke 1:05:21 arah yang 1:05:23 baik. Jadi kasih ini masalah bahasa 1:05:26 hati. 1:05:27 Iya. 1:05:27 Kita banyak menggunakan bahasa ini. 1:05:29 Bahasa hati Quran diperhati karena 1:05:30 Al-Qur'an dan Rasul berbicara dengan 1:05:34 kedua bahasa tersebut. 1:05:35 Masyaallah. 1:05:36 Mudah-mudahan bermanfaat buat kita. 1:05:38 Wallahuam. 1:05:38 Baik, terima kasih kembali Ustaz atas 1:05:40 jawabannya. Nah, Pak Abub Bakar seperti 1:05:42 apa, Pak Abub Bakar? Tadi Ustaz ee 1:05:44 mengingatkan juga bahwa kita orang tua 1:05:46 juga harus evaluasi ya, harus 1:05:48 introspeksi. Anak seperti itu juga 1:05:50 mungkin ya melihat orang tuanya. Dan 1:05:52 tentunya tadi kita juga harus 1:05:54 mengapresiasi anak, memberikan 1:05:56 kepercayaan diri kepada anak ketika dia 1:05:58 diapresiasi. Bagaimana, Pak? 1:06:02 Ee bismillahirrahmanirrahim. 1:06:06 Insyaallah apa yang sudah diterangkan 1:06:10 sama Ustaz Husin 1:06:12 itu merupakan satu hal yang benar. 1:06:17 Yang jadi kita perhatian di sini adalah 1:06:20 bagaimana orang tua tiba-tiba kaget. 1:06:26 Kaget melihat anak yang tadinya salatnya 1:06:30 ke masjid, hafalannya Quran, duduk sama 1:06:35 orang tua, tiba-tiba pulang dari pondok 1:06:39 1 tahun, 2 tahun, 1 tahun setengah 1:06:45 dia sudah tidak menghafal Quran. Dia 1:06:48 main gadget, dia main sama teman. 1:06:53 Orang tuanya kaget. 1:06:56 Nah, ini ee perhatikan seperti yang tadi 1:07:01 bagaimana kita berhubungan dengan anak. 1:07:04 Nah, perhatikan anak, berikan kesempatan 1:07:10 buat anak melakukan sesuatu. H. Jadi 1:07:15 ketika dia tidak sempat ke masjid, 1:07:19 ya sudah itu dia. Cuman kita tetap 1:07:23 ingatkan. 1:07:24 Kita ingatkan yuk waktunya ke masjid. 1:07:28 Aduh entar dulu Pak itu. Ini oke sekali 1:07:32 nanti kita tetap ingatkan lagi. Yuk kita 1:07:35 ke masjid selalu kita ingatkan hafalan 1:07:38 Quran juga murajaah juga. 1:07:42 Ketika kita meraja ayo, aduh entar dulu 1:07:44 deh, entar dulu. Oke, kita katakan 1:07:47 meraja ayo. 1:07:49 Jadi selalu kita perlakukan mengingatkan 1:07:55 agar supaya dia bisa seperti itu. Namun 1:07:59 kalau kita tidak ingatkan, ya sudah dia 1:08:03 pergi, 1:08:05 kita ingatkan. Ketika dia tidak mau 1:08:08 merojah, enggak apa-apa. Nanti kita 1:08:10 ingatkan lagi ketika dia lagi belum ke 1:08:13 masjid kita biarkan tapi kita tetap 1:08:16 ingatkan untuk ke masjid. 1:08:20 Jadi judulnya cuman ringan, ingatkan 1:08:24 dirinya kepada masjid, murajaah, 1:08:28 perlakuan yang baik, tingkah laku yang 1:08:30 baik. Kalau kita lihat kasusnya 1:08:34 hanya semacam sedikit. Cuman orang tua 1:08:38 kaget melihat. Kenapa kok kaget? Karena 1:08:41 dia berhubungan, "Wah, ini nih karena 1:08:44 teman-temannya ini karena begini. Oh, 1:08:47 ini karena Nah, pikiran orang tua 1:08:52 melebihi daripada keadaan si anak. 1:08:57 [berdehem] Keadaan si anak belum ke 1:08:59 mana-mana sudah di 1:09:02 lebihkan." Waduh, dia dia nih 1:09:05 pengaruhnya sama anak sama 1:09:06 teman-temannya nih. Kalau pengaruh sama 1:09:09 teman-temannya nanti dia akan bahaya. 1:09:12 Itu tidak pernah terjadi. Kita fokuskan 1:09:15 pada anak kita baik. 1:09:18 H. 1:09:19 Jadi perhatikan orang tua bahwa anak 1:09:23 kita baik, selalu dalam pandangan yang 1:09:29 baik. Kemudian ingatkan udah usia 1:09:32 seperti itu apa yang diterangkan sama 1:09:34 Ustaz Husin yang tadi sudah diterangkan 1:09:38 sudah jelas, sudah rapi ya. Cuman yang 1:09:42 perlu kita ingatkan untuk kembali. 1:09:47 Ingatkan. [berdehem] Insyaallah kalau 1:09:49 terus kita ingatkan nanti dia balik lagi 1:09:52 ke pondok, pulang kita ingatkan lagi. 1:09:56 Insyaallah dia akan lebih baik. 1:09:59 Bismillah. 1:10:01 Baik, insyaallah alhamdulillah semua 1:10:03 luar biasa jawaban-jawabannya dan kita 1:10:06 sudah tidak terasa Ustaz sudah di 1:10:08 pengujung acara. 1:10:09 Mungkin ada closing statementnya dari 1:10:10 tiga kasus ini, Ustaz. Singkat saja. 1:10:12 Silakan. 1:10:13 Bismillahirrahmanirrahim. Jadi 1:10:14 kesimpulannya orang tua kadang-kadang 1:10:16 fokus pada hal-hal 1:10:20 yang seharusnya 1:10:23 ditempatkan di belakang. 1:10:28 Kamu sering bermain, sering ini, sering 1:10:31 itu, mengabaikan pelajaran kamu. Kamu 1:10:32 bakal jadi orang gagal nanti 1:10:35 menjadi pengangguran. Itu kata-kata 1:10:37 menjatuhkan dan memutuskan semangat anak 1:10:41 kita. Ustaz Abu Bakar tadi berikan 1:10:43 harapan. Berikan harapan berikan 1:10:47 motivasi bukan menjatuhkan dan menutup 1:10:50 pintu harapan buat anak-anak kita. 1:10:53 Karena orang yang sering memberikan 1:10:54 harapan buat anaknya, si anak 1:10:56 betul-betul akan apa? Akan merasakan 1:10:59 rasa cinta kepada orang-orang yang 1:11:01 membuka pintu harapan. Tapi mereka yang 1:11:04 suka menutup pintu harapan orang lain, 1:11:06 menceritakan hal-hal yang sifatnya 1:11:07 negatif, lama-kelamaan ini akan melekat 1:11:11 pada apa? Jiwa anak kita yang 1:11:13 mendengarkan sampai menjadi seorang yang 1:11:15 apatis. 1:11:17 Nah, ini yang tidak baik. Makanya 1:11:18 Rasulullah mengatakan, "Basyiru wala 1:11:21 tunafiru." Berikan kabar gembira. Jangan 1:11:23 buat orang takut dan lari. Wayassiru 1:11:26 wala tuassiru. Permudah, jangan 1:11:28 dipersulit. 1:11:30 Ditekankan akhlak kepribadiannya. Begitu 1:11:33 jiwanya stabil, dia akan peduli terhadap 1:11:35 pelajarannya. Betul enggak? Jadi yang 1:11:37 penting basyiru wala tunassiru. Yassiru 1:11:41 wala tuassiru. Fainna [mendengus] maal 1:11:44 usri yusro. Inna maal usri yusra. 1:11:47 Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla 1:11:51 ilahailla anta astagfiruka wa atubu 1:11:53 ilaik. Walinkum. Wasalamualaikum 1:11:56 warahmatullahi wabarakat. 1:11:58 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:12:00 wabarakatuh. Demikianlah ikhwan akhwat 1:12:03 program acara psikologi keluarga di 1:12:05 kesempatan ini. Semoga penjelasan dari 1:12:08 Ustaz Husin Altas dan juga Pak Abu Bakar 1:12:11 insyaallah menambah ilmu untuk kita 1:12:13 semuanya terutama untuk memperkokoh, 1:12:16 menjadikan keluarga kita lebih harmonis 1:12:18 insyaallah dan juga ee senantiasa dalam 1:12:21 bimbingan Allah Subhanahu wa taala 1:12:22 tentunya saja. Baik, saya Rizal Hak 1:12:25 bersama teman yang bertugas ada Kang 1:12:27 Atep Setiabi. Billahi taufik wal 1:12:30 hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi 1:12:32 wabarakatuh. Waalaikumsalam 1:12:33 warahmatullah.