Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 Asalamualaikum warahmatullahi 0:02 wabarakatuh. Pemirsa dan pendengar Rasil 0:05 yang budiman. Saya Prof. Dr. Ir. Misri 0:08 Gozan mengucapkan selamat menunaikan 0:11 ibadah Ramadan 1447 0:14 Hijriah. Ee jadikanlah Ramadan ini 0:17 sebagai sekolahan yang terindah. 0:20 Sekolahan yang mampu menjadikan kita ee 0:23 keluar sebagai umat yang terbaik dan 0:25 kita membuat ee kurikulum. kita mampu 0:28 bisa membuat kurikulum sendiri atau 0:29 bersama-sama dengan keluarga kita juga 0:31 dengan masjid di sekitar kita dan juga 0:33 bersama orang-orang yang kita cintai. 0:35 Tetapkanlah ee target-target dan 0:38 bersungguh-sungguh bersama mereka semua 0:40 kita kondisikan di saat Ramadan ini 0:42 adalah saat yang paling tepat. 0:43 Mudah-mudahan kita keluar dengan ijazah 0:45 terbaik menjadi orang-orang yang 0:47 diampuni oleh Allah tapi juga sekaligus 0:49 juga menjadi orang-orang yang ee lebih 0:51 baik hidupnya di dunia dan ee juga di 0:53 akhirat dan bermanfaat untuk manusia 0:56 semuanya. Asalamualaikum warahmatullahi 0:58 wabarakatuh. 1:09 Bismillahirrahmanirrahim. 1:11 Alhamdulillahiabbil alamin. Hamdan 1:12 katsir thyiban barokan fih kama yuhibbu 1:15 waardo. Allahumma shalli wasallim 1:17 wabarik ala sayyidina Muhammad wa ala 1:18 ali sayyidina Muhammad. Masih 1:20 dipancarkan dari Masjid Silaturahim 1:22 nomor 36 Kalimanggis Cibubur Bekasi. 1:24 Radio Silaturahim dan juga Rasil TV 1:26 untuk Islam yang satu. Asalamualaikum 1:28 warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwan 1:30 akhwat yang dirahmati Allah. Senang 1:31 sekali di kesempatan ini kami bisa 1:34 kembali menjumpai ikhwan akhwat dalam 1:36 program acara sahur bersama Rasil. 1:39 Ikhwan akhwat. Saya Rizal Hak dan teman 1:41 yang bertugas di kesempatan ini ada Atep 1:44 Setiabudi dan juga ada siswi PKL eh Sela 1:48 dan Vina. Ya, alhamdulillah saat ini 1:51 ikhwan akhwat kami tengah berkunjung 1:54 bersilaturahim ke Universitas Indonesia 1:58 UI Depok tepatnya di Fakultas Teknik di 2:02 gedung IDE Fakultas Teknik UI Depok. 2:05 Alhamdulillah kita bersilaturahim 2:07 bertemu dengan salah satu sosok tokoh 2:10 yang luar biasa yaitu Prof. Dr. Ir. 2:15 Misri Gozan 2:17 eh Master Teknologi. 2:20 Betul. 2:20 IPU ASEAN Engineering. 2:23 Asalamualaikum warahmatullahi 2:24 wabarakatuh, Prof. 2:25 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:26 wabarakatuh. Selamat datang 2:28 di ruang kerja kami. 2:31 Terima kasih, Prof. ee sudah menyediakan 2:33 waktunya. Pasti di tengah kesibukan yang 2:35 masyaallah aktivitasnya. 2:37 Alhamdulillah kami senang sekali 2:39 disambut diberikan waktu untuk 2:41 bincang-bincang. nih ee Prof. ee kami 2:45 ini program yang memang bincang-bincang 2:47 ringan untuk memberikan inspirasi dan 2:50 nilai-nilai yang bisa di-sharing kepada 2:52 para pendengar kita 2:54 ee pendengar Saturahim dan juga pemirsa 2:56 Rasil TV, Prof. Nah, ee mungkin di awal, 2:59 Prof. kami ingin mengenal lebih jauh 3:03 sosok Profesor Misri Gozan itu latar 3:05 belakangnya seperti apa? mungkin latar 3:07 belakang pendidikan, 3:09 keluarga, lingkungan 3:12 yang bisa membentuk seorang Prof. Misri 3:15 Gozan sekarang itu seperti apa, Prof? 3:16 Mungkin bisa di-sharing, Prof. 3:18 I makasih nih. Selamat datang dan 3:20 mudah-mudahan ee bisa bermanfaat ya 3:24 acara ini. 3:25 Ee senang sekali dikunjungi. Kalau latar 3:29 belakang sih ya saya nih sebenarnya ee 3:33 lahir di Cirebon ya. 3:34 Cirebon. 3:35 Lahir di Cirebon. 57 tahun yang lalu 3:38 dari keluarga yang sederhana lah ya. 3:41 Dari ee ya sebagai saya anak ke paling 3:45 kecil dari empat bersaudara 3:47 dan lingkungan walaupun saya lahir di 3:50 Cirebon tapi ee ayah tuh sering 3:53 pindah-pindah. 3:53 Hm. 3:54 Bahkan pernah ke Jawa Timur cukup lama 3:56 juga di sana 5 tahun. Lalu selebihnya 3:59 banyak di ada pernah di Bekasi juga dan 4:02 di Jakarta selebihnya ya. Apaagi ya 4:05 kira-kira? 4:06 Nah, kalau boleh tahu, Prof. ee orang 4:09 tua terutama ayah dan ibu. 4:11 Oh. 4:11 Iya. Bagaimana ee dulu membuat Profzan? 4:15 Apakah ada yang berkesan di meja makan 4:17 profesor dulu seperti apa sih saat kecil 4:19 [tertawa] gitu? 4:20 Kalau ayah itu sebenarnya pegawai negeri 4:22 ya. 4:23 Pegawai negeri. Jadi dinas keliling 4:25 dinas keliling ee memang bekerja di 4:27 bidah itu bidangnya akuntansi. 4:29 Iya. pendidikannya juga sederhana, SMA 4:31 saja, tapi karena dipercaya begitu, jadi 4:34 ee ayah itu selalu punya apa ya rajin 4:37 untuk ee menulis dan membaca itu luar 4:40 biasa. Enggak pernah nyuruh kita tapi 4:42 selalu mencontohkan gitu. Apalagi kalau 4:45 sudah magrib itu sudah baca Quran sampai 4:47 isya itu enggak enggak berhenti itu ya. 4:50 Dan juga setelah itu ee kita selalu 4:53 lihat beliau kadang-kadang ee 4:56 mengerjakan pekerjaan yang di dari 4:58 kantor di sedikit di rumah, tapi menulis 5:01 ee semua pembukuan tuh rapi gitu ya. 5:03 Waktu wafat itu kita melihat tumpukan 5:06 buku akun pembukuan rumah tangganya itu 5:08 lengkap sekali. Sementara Ibu dari latar 5:11 belakang, dua-duanya dari Cirebon ya. 5:12 Ee Ibu seorang pendidik, seorang guru 5:15 SMP. He. 5:17 Ke mana pun ikut ayah selalu mendaftar 5:19 di apa SMP negeri gitu ya. Jadi selalu 5:22 mendapatkan tugas 5:23 dan dari muda itu bahkan sebelum menikah 5:26 juga sudah ee mendirikan sekolah tapi 5:29 karena jadi pegawai negeri akhirnya 5:31 ee sekolahnya tinggal tapi terus tetap 5:34 mengajar sampai pensiun begitu ya. Kalau 5:38 masalah makanan karena dua-duanya 5:39 Cirebon ya makanan sederhana. I 5:41 kami bukan, kami tidak pernah dididik 5:43 untuk 5:44 apa ya mendewa-dewakan makanan gitu ya. 5:46 Bahkan kami itu sebenarnya waktu sekolah 5:49 walaupun ayah ya sedang-sedang dibilang 5:52 terlalu mampu juga tidak gitu ya. 5:54 Di bidang kekurangan dibilang kekurangan 5:56 juga tidak gitu ya. Tapi ayah itu ee ibu 5:59 terutama itu selalu ee dan dicontohkan 6:02 oleh ayah ee tidak pernah membuat 6:04 memberikan 6:06 apa ya ee uang jajan nyaris tidak pernah 6:09 kami dibersampai. 6:10 Bahkan SMA itu baru pula diberikan uang 6:13 jajan itu pun sedikit ya kami sering 6:16 membawa bekal gitu ya. 6:18 Tapi yang jelas makanan di rumah sudah 6:19 sangat menyenangkan gitu ya. 6:22 Ee 6:24 perut kami perut Cirebon gitu ya. Oh, 6:26 gitu ya. 6:27 Walaupun pindah ke Jawa Timur, ditinggal 6:29 di Jakarta, di Bekasi, 6:30 makanan apun aman ya. 6:31 Makanan. Iya. Makanya ibu tuh masak. 6:33 Betul gitu ya. Jadi 6:35 itu yang tidak bisa dilupakan ya gitu 6:37 ya. Jadi sosok ibu dan ya ayah itu 6:40 memang sangat berpengaruh ya. 6:41 Iya. Sangat-sangat berpengaruh tidak 6:42 hanya untuk saya tapi juga kakak-kakak 6:44 saya karena saya paling kecil ya. 6:46 Itu sangat berpengaruh saya lihat. 6:48 Baik, Prof. Adakah ee pesan-pesan yang 6:52 mungkin masih diingat sampai sekarang 6:53 terutama dari orang tua? 6:55 Hm. terutama juga pesan keagamaan 6:57 sehingga Prof. sampai sekarang kan juga 6:59 sebagai dai juga lah, pendakwah juga 7:01 selain jadi seorang pendidik. Prof. 7:03 Bagaimana, Prof? 7:04 Iya. Ee pesannya mungkin kelihatan 7:07 kelise ya dari ayah itu jujur ya. 7:10 Hm. 7:10 Ee tapi ternyata kita sadari bahwa jujur 7:12 itu perlu keberanian gitu ya. Iya. I 7:15 dan ee ketika kita mulai mulai bekerja 7:19 waktu ayah masih ada tuh kita sering 7:21 berkonsultasi. ternyata ee ayah tuh 7:23 tidak ee ayah juga apa memberikan 7:26 dorongan kepada kita untuk masalah 7:28 keberanian ini. Tapi beliau juga 7:31 menyarankan bahwa keberanian itu harus 7:32 didukung dengan ilmu gitu ya. He. 7:35 Dan untuk itu kelihatannya 7:37 ee ayah saya tuh tidak terlalu banyak 7:39 bicara sebenarnya, tapi memberi banyak 7:41 contoh. Kalau yang banyak bicara ibu ya. 7:44 I [tertawa] 7:45 Ibu tuh ee karena juga sehari-hari kita 7:48 banyak berdekatan dengan Ibu, maka 7:51 ee Ibu itu jadi apa ya bicaranya tuh 7:54 kita banyak ingat ya. Iya. 7:55 Tapi jelas juga karena Ibu adalah 7:57 seorang guru ya ee kita tuh aman di 8:00 rumah gitu ketika ber apa ada masalah 8:03 ada pelajaran yang enggak bisa atau apa 8:05 dan ada satu kata yang ada kalimat kalau 8:07 ayah saya jujur ya masalah-masalah 8:09 kejujuran 8:10 itu kamu ee kamu jangan sampai enggak 8:12 dipercaya sama orang. Kamu kan ingin 8:14 dipercaya orang. 8:15 Jadi selalu dibalikkan pertanyaan gitu 8:17 ya. Kalau ibu itu ee ada satu banyaklah 8:21 ibu banyak tapi ada satu kalimat yang 8:23 saya enggak bisa lupa. Ee kalau kamu 8:26 punya masalah dengan orang yang 8:29 menghalangi kamu pendidikan 8:30 Heeh. 8:31 bilang ibu coba begitu. Ini seorang 8:34 perempuan ya 8:35 ee ibu tuh cuma apa? Intinya gini, kamu 8:38 jangan sampai punya masalah masalah 8:40 pendidikan apapun juga gitu ya. Ee 8:42 artinya ee tidak boleh terhalangi gitu 8:46 ya. dan ee kedua-duanya sepakat bahwa 8:49 kita harus sekolah, kami-kami semua 8:51 harus sekolah setinggi mungkin. 8:52 Alhamdulillah kakak saya juga ee doktor 8:55 gitu ya, ada master dan saya 8:57 alhamdulillah sudah profesor gitu ya. 8:59 Ee saya kira ee dorongan dari orang tua 9:02 luar biasa itu. 9:03 Masyaallah. 9:03 Walaupun ya ayah enggak sempat ngeras, 9:06 enggak sempat apa melihat saya profesor, 9:08 tapi ibu yang sempat 9:10 ee itu jadi saya kira ee dorongan untuk 9:13 mencoba sesuatu itu ayah juga ya. kamu 9:15 mau ke mana sih habis ini gitu selalu 9:18 kalau bisa ke luar negeri kenapa enggak 9:19 bisa gitu selalu jadi apa ya 9:22 ee diskusi dengan ayah dan ibu itu dapat 9:25 dorongan gitu 9:26 membuat percaya diri percaya diri itu 9:28 luar biasa betul betul 9:29 baik 9:30 bahkan kepada yang perempuan juga kakak 9:31 saya yang paling besar kan perempuan dia 9:32 pendaki gunung pernah 9:34 termasuk Kartini ee apa ya lima lima 9:37 lima Kartini yang mendaki gunung-gunung 9:40 besar ya di dunia gitu ya 9:42 iya masyaallah nah Ikhwan Awat yang baru 9:44 baru bergabung. Saat ini kita tengah 9:46 berbincang dengan Prof. Misri Gozan. Ini 9:50 kalau saya nyontek nih ee beliau ini kan 9:53 seorang ee guru besar 9:56 teknik bioproses 9:58 teknik kimia UI 10:00 juga sekaligus sebagai ketua satu 10:02 pengurus pusat Al-Irsad 10:04 Alislamiyah. Nah, Prof 10:09 D boleh ceritakan SD di mana sampai 10:11 menjadi guru besar sekarang. 10:13 Iya. seperti apa, Prof? 10:14 Ee sebenarnya saya biasa-biasa saja ya. 10:16 Artinya rata-rata kami di keluarga itu 10:19 berusaha keras ee karena tahu ya ayah 10:22 juga tidak terlalu ya kalau kami melihat 10:24 ngukur dengan teman-teman mah 10:26 besar-besar gitu. Kami sederhana gitu 10:28 ya. Kami seluruh berusaha untuk 10:30 mendapatkan sekolah negeri gitu ya. 10:32 Iya. Iya. 10:33 Alhamdulillah kami semua ee berempat itu 10:36 sampai SMA semuanya negeri kuliah juga 10:38 negeri semuanya 10:39 di Cirebon semua apa di 10:40 enggak kita saya apalah tidak pernah 10:41 tinggal di Cirebon kecuali waktu baru 10:43 lahir. Kalau kakak-kakak mungkin pernah 10:45 ya, tapi kalau saya tidak karena ee 10:47 waktu itu lebih banyak waktu kecil itu 10:49 di Bekasi lebih 10:50 Bekasi 10:50 sampai terus ke Jakarta terus ke Jawa 10:52 Timur. Ee kalau sekolah negeri semua 10:56 sampai SMA kuliah juga di UI S1-nya gitu 10:59 ya. Tapi yang tidak bisa dilupakan 11:01 sebenarnya 11:02 ayah selalu berusaha keras. Kalau dulu 11:03 sekolah tuh kan sampai jam 12.00 ya. 11:05 Ee itu siang itu kami dimasukkan 11:07 madrasah diniah. 11:09 Iya. Iya. 11:09 Ee kalau tidak walaupun ayah dan ibu 11:12 latar belakangnya alirsyad ya. Ee tetapi 11:15 ee kami cukup lega gitu ketika tidak ada 11:19 Alirsyadukkan Muhammadiyah 11:21 gitu. Sekolah Muhammadiyah kami berempat 11:23 itu masuk Muhammadiyah di Niah dulu ya. 11:25 Siangnya itu pulang sekolah negeri 11:27 sampai Iya. sampai menjelang magrib gitu 11:29 ya. 11:30 Ee baju kuning hijau ya [tertawa] 11:33 SD tapi hanya sampai SD. 11:34 Iya. Setelah itu 11:35 sampai kelas 6 SD gitu ya. 11:36 Betul. Setelah itu SMP kami rata-rata ee 11:39 kakak-kakak saya duluan gitu ya. Jadi 11:41 dipanggilkan guru ngaji di rumah. 11:44 Heeh. 11:44 Bagi yang sudah SMP ke atas itu guru 11:46 ngaji bahasa Arab segala. Cuma saya 11:49 mungkin karena paling kecil ya, paling 11:50 malas belajar bahasa Arab tu. [tertawa] 11:52 Kakak-kakak yang lain bisa gitu ya. 11:54 Iya. Iya. I. 11:55 Kemudian S2 di 11:57 saya S2 New Zealand. 11:58 New Zealand. Saya baru. 11:59 New Zealand. 12:00 Ee S3 di Jerman. 12:02 Teknik semua tuh. 12:03 Teknik semua. 12:03 Teknik semua. 12:04 Saya S1-nya teknik kimia. Dulu namanya 12:06 Gas Petrokimia mungkin e TGP ya. Teknik 12:10 gas petrokimia. Lalu berubah di tahun 12:12 90-an itu 90 akhir itu berubah jadi 12:14 teknik kimia. 12:15 Sementara waktu S2, S3 itu ada seorang 12:18 profesor yang saya sangat dekat ya, Ibu 12:21 Profesor Rukmiati itu profesor pertama 12:23 di di Teknik Kimia UI. Beliau 12:25 menyarankan, "Sudah kamu belajar ee 12:27 mencuci dosa orang teknik kimia." 12:30 Apa tuh? 12:30 Artinya jangan belajar ee bagaimana 12:33 ngotorin dunia, tapi belajar 12:36 membersihkan. 12:37 Kamu cari produksi bersih gitu ya. ee 12:40 contohnya misalnya teknik lingkungan 12:43 hidup gitu, tapi ke arah reaktornya 12:45 gitu. 12:46 Jadi kalau saya sampai hari ini juga 12:47 mengajarnya masih teknik bioproses 12:50 sebenarnya teknik kimia tapi ke arah ee 12:53 proses-prosesnya hayati menggunakan 12:56 bakteri gitu ya, jamur dan lain-lain. 12:58 Iya. Kenapa teknik Prof? Emang dari 13:00 kecil atau 13:01 Oh [tertawa] 13:02 apa ya? 13:03 Saya teringat ya 13:04 atau takdir yang disyukuri ya? 13:05 Ee ayah itu sangat senang dengan 13:07 matematik. 13:08 Oh. Oh, 13:09 dan sering kami berdiskusi logik gitu 13:11 ya. 13:11 Iya. Iya. 13:12 Dan itu mungkin secara alam bawah sadar 13:15 ya. 13:16 Bahkan berbicara masalah akidah di rumah 13:18 pun ayah selalu membawa logik gitu ya. 13:21 Nah, itu itu terbawa. Jadi kalau menurut 13:22 saya sebenarnya teknik itu logik ya dan 13:25 matematik logik fisik, fisika, kimia itu 13:27 konsekuensi saja gitu ya. Sederhana kok 13:30 sebetulnya. Asal logik kita itu terlatih 13:33 sebetulnya kita akan kuat. Nah, 13:34 sebenarnya ada satu juga selain orang 13:36 tua, ayah terutama yang kalau ibu sih 13:39 apa aja kita boleh gitu ya. 13:41 Ee 13:42 waktu itu sedang ramai-ramainya Habibi. 13:45 Iya. 13:45 Iya. Jadi saya pernah kebetulan 13:47 diwawancarai oleh majalah wanita. 13:49 Kebetulan sekolah dasar kami di terpilih 13:51 gitu ya. Ada tiga anak yang terpilih. K 13:54 saya satu-satunya laki-laki yang tempat 13:56 itu terpilih ya. Dan saya masih ingat 13:58 itu majalah Kartini kalau tidak salah 13:59 itu ya 14:00 salah satunya majalah Kartini. Beliau 14:02 tanya cita-citamu apa? pengin jadi apa? 14:04 Insinyur seperti Habibi. [tertawa] 14:07 Saya sendiri tidak tahu Habibi itu 14:09 insinyur dan insinyur itu apa? Habibi 14:11 itu insinyur apa dan insinyur itu apa 14:13 pun saya tidak tahu. 14:14 Dan di kemudian hari memang saya 14:16 mengejar ke Jerman ya Jepang atau Jerman 14:20 artinya mengikuti jejak. Betul. Betul. 14:22 Saya pokoknya ada kena apa ya tertanam 14:25 di dalam hati itu memang ingin jadi 14:26 insinyur gitu. 14:28 Masyaallah. Jadi sekarang sudah menjadi 14:31 apa dunianya ya? 14:33 Alhamdulillah. Alhamdulillah ya step ee 14:35 apa ya? Langkah demi langkahlah 14:37 dijalani. 14:38 Iya. Tadi Prof menyampaikan beberapa apa 14:41 istilahnya pelajaran atau nilai dari 14:43 orang tua ya. Bagaimana 14:45 pendidikan itu sangat penting Prof ya. 14:48 Nah, mungkin ada pesan buat ee orang 14:50 tua-orang tua yang masih mungkin 14:52 menganggap ya pendidikan itu penting, 14:54 tapi 14:55 sekarang apalagi mungkin karena biaya 14:56 segala macam enggak usah sekolah 14:57 tinggi-tinggi deh. 14:59 Nanti juga malah ada yang selanjut 15:00 dengan nanti juga kalau enggak punya 15:02 orang dalam agak itu bagaimana, Dok? Ee 15:05 Profesannya untuk 15:06 Iya. Dunia ini berubah ya, berubah terus 15:09 pastilah. 15:10 Ee suasana belajar juga berubah, metode 15:13 belajar juga berubah. Tapi ada satu hal 15:16 yang pasti tidak berubah, yaitu cara 15:18 kita berpikir. 15:20 Cara kita berik 15:20 karena manusia itu kan memang 15:22 ee apa ya sudah software-nya sudah sama 15:26 saja. 15:27 Saya tuh enggak terlalu percaya ya. 15:28 Misalnya ada Gen Z ada itu sebenarnya 15:32 sebenarnya ee software sama e 15:36 hardware-nya kan sama semua gitu. Dari 15:38 zaman Nabi Adam sampai sekarang software 15:40 hardware-nya sama. yang berubah itu 15:42 adalah memang situasi lingkungan dan 15:44 sehingga terpengaruh cara berpikir 15:46 sehingga sangat penting sebenarnya 15:48 membekali di rumah 15:49 itu dengan cara berpikir gitu ya. 15:52 Dan sebenarnya belajar itu apa sih 15:54 sebenarnya? Belajar adalah ee apapun 15:56 bidangnya ee belajar memecahkan masalah. 15:59 He. 16:00 Ketika kita menghadapi masalah kita 16:01 tidak takut tapi kita tahu cara 16:03 memecahkan masalah. Kalau logik 16:06 sederhana. Kebetulan kemarin juga baru 16:07 saya diminta mengajar logik di depan 16:10 mahasiswa-mahasiswa se-Indonesia 16:12 beberapa ya. 16:13 Iya. 16:13 Saya bilang sederhana sebenarnya logik 16:16 itu kan hubungan sebab dan akibat gitu 16:18 ya. Dan itu bisa diajarkan oleh 16:20 orang-orang tua dengan sangat sederhana. 16:23 Ee saat ini yang saya lakukan adalah 16:26 tidak pernah ee mendiamkan ketika 16:29 seorang anak bertanya. 16:30 Hm. 16:31 Ya. Karena di situlah sebenarnya pintu 16:33 logiknya otak itu simpul-simpul neuron. 16:36 saraf-saraf di kepala itu mulai 16:37 berkembang keluarnya dalam bentuk 16:40 pertanyaan 16:41 dan itu sangat penting bagi orang tua 16:43 yang mungkin tidak bisa menjawab jangan 16:45 malu 16:46 ee tapi juga jangan dihentikan gitu ya 16:49 kalau dan saya pun sering menghadapi 16:51 pertanyaan anak-anak yang bertubi-tubi. 16:52 Kadang pertanyaannya serius kadang 16:54 enggak serius gitu ya. Tapi kita tidak 16:56 boleh meremehkan. 16:58 Saya biasanya kalau enggak bisa jawab, 17:00 "Wah, Abi enggak bisa jawab. Kita cari 17:02 sama-sama yuk jawabannya di mana ya?" 17:04 balik lagi pertanyaan gitu. Jadi 17:06 kadang-kadang pertanyaan itu kita lempar 17:07 dalam bentuk pertanyaan. Saya enggak 17:08 pernah langsung memberikan jawaban 17:11 karena sebenarnya ketika memberikan 17:12 jawaban langsung itu agak sedikit 17:14 mematikan cara dia berpikir. Justru dia 17:17 disentuh dulu. Kenapa kamu nanya gitu? 17:19 Apa sih yang kamu maksud? Minimal itu 17:21 deh tanya. Apa sih yang kamu inginkan? 17:23 Ee kamu sedang mikirin apa gitu. Itu ke 17:25 sana dulu gitu. Itu sebenarnya mengajari 17:28 dia untuk sekaligus menguasai 17:30 perasaannya gitu ya. Kadang-kadang ada 17:32 anak orang nanya itu kan kadang-kadang 17:34 punya latar anak-anak tuh latar belakang 17:36 marah, latar belakang kesal sama 17:38 temannya. Kita kan enggak tahu orang tua 17:40 gitu. Tanya dulu gitu jangan-jangan kita 17:41 jawab apa ternyata yang dia dia pikirin 17:44 lain lagi gitu. 17:45 Bukan itu gitu ya. Jadi karena kita 17:47 balikin nanya terus kalau toh kita 17:49 enggak bisa jawab 17:50 ee atau sebenarnya selalu kita berusaha 17:53 deh untuk supaya dia enggak puas. 17:55 Oh justru 17:55 justru dia enggak boleh puas. Tapi ee 17:58 yang saya misalnya yang Abi tahu sih ee 18:01 sebabnya karena ini gitu, tapi mungkin 18:03 juga ya ee menurut kamu kenapa 18:05 sebenarnya jadi balikin lagi gitu 18:06 biar dia berpikir lagi 18:07 terus karena kuncinya sebenarnya memang 18:09 itu gitu dan alhamdulillah ee anak-anak 18:11 saya dua-duanya 18:13 ee 18:14 rasanya selalu lapar kalau masalah ya 18:16 pengetahuan gitu ya 18:18 dan tapi mereka enjoy gitu ya mereka 18:20 enjoy gitu dan 18:21 rasanya itu ayah saya itu kalau pulang 18:23 sekang kantor itu ee Pandi dan sudah 18:27 langsung ngumpul Pak anak ngobrol nanya 18:29 kamu gimana gitu. Udah harus 18:31 kadang-kadang kalau zaman dulu kan 18:33 ngerokok ya zaman dulu itu misalnya dia 18:35 pernah naruh asbak terus anak-anaknya 18:37 dikumpulin semua lihat di asbak ada 18:39 apaan kosong bah gitu ya abah kamu sudah 18:43 kumpul di belakang lemari sana nanti ee 18:45 eh belakang pintu nanti abah panggil 18:47 misalnya terus ayah tu rupanya ngerokok 18:50 atau mungkin sudah nyiapin kita enggak 18:51 tahu tapi enggak lama sih rasanya sih 18:52 enggak lama gitu itu tiba-tiba aspaknya 18:54 sudah penuh pas kita dipanggil asbak 18:55 sudah penuh 18:56 ah terus diaa bilang ee apa ee Ee 19:00 kira-kira Abah tadi ngapain? Ngerokok 19:02 gitu kan. Kamu tahu dari mana kan enggak 19:04 ngelihat Abah ngerokok gitu kan. Itu kan 19:06 itu ngerangsang logik dong. 19:08 Ya. Ya. Itu bekasnya. Nah, kamu tahu 19:11 enggak Tuhan itu ada apa enggak? Gimana 19:14 kamu buktiin Tuhan apa ada apa enggak? 19:16 Nah, terus kita mulai mikir kan sudah 19:18 mulai mentok tuh. Nah, dari dari 19:21 bekas-bekasnya di alam ini yang yang 19:23 ciptaannya semua itu semua tanda-tanda 19:26 itu sampai hari ini ingat gitu. 19:28 [tertawa] 19:29 Dan itu kita ngumpul di malam hari 19:30 ketika lampu mati. 19:32 Hm. Berkesan banget. 19:33 Oh, berkesan banget itu. Berkesan banget 19:35 itu. Itu apa adegan itu luar biasa itu 19:38 buat saya tuh. Saya paling kecil 19:40 bayangin ya lihat kakak-kakak gitu 19:41 bengong gitu. [tertawa] 19:43 Itu adegan itu buat saya luar biasa 19:45 sekali itu. 19:45 Iya. Iya. Kalau tadi mengenai pentingnya 19:48 pendidikan, Prof. Kita bergeser untuk 19:50 kadang-kadang di masyarakat kita juga 19:51 masih menganggap terutama untuk 19:53 perempuan ya. Perempuan tuh 19:55 enggak usah tinggi-tinggilah. Padahal 19:56 kan perempuan itu yang melahirkan 19:58 generasi. 19:59 Betul. Itu kuncinya. 20:00 Gimana, Prof? 20:01 Iya. Gini deh, laki-laki yang nyari mau 20:03 cari ibu ibu yang bodoh kan enggak kan? 20:06 Kamu mau ee hitung deh ya buat laki-laki 20:08 nih ya nyari perempuan yang gampang 20:10 maunya kamu ini nyari perempuan apa 20:12 nyari istri atau nyari pembantu? 20:15 [tertawa] 20:15 Itu berpikir ya cari dong yang yang 20:17 kira-kira ya ya kita bisa diskusilah 20:21 suami istri enggak jangan ee kalau 20:23 ketinggian banget juga enggak enak juga 20:25 ya. kanak bisa diskusi. 20:26 Terlalu rendah juga nanti marah-marah 20:28 terus di suami maksudnya apa gitu. 20:31 Ee kok cari istri yang ee kira-kira 20:35 mampu nanti kita titipkan anak-anak kita 20:37 di rumah kita itu tidak kita nyaman gitu 20:40 ya. Kita nyaman sehingga itulah 20:42 barangkali yang kalau di kami ya di 20:44 Alirsyad itu menyebutnya sebagai sukufu. 20:47 Sukufu 20:48 atau ee setara. Iya setara ya. 20:51 Artinya kesetaraan itu kan beda-beda ya. 20:53 Kan contohnya Rasulullah juga pernah ee 20:55 menikahkan ee dan akhirnya menikahkan 20:58 salah satu ini ya 21:00 sahabatnya. Tapi akhirnya karena tidak 21:02 sekufu ya terlalu beda jauh itu juga 21:04 enggak enak juga berbahaya juga. Saya 21:06 kira itu yang penting. Jadi anak-anak 21:09 kita itu nanti akan kita titipkan kepada 21:11 istri lebih banyak sebenarnya 21:13 ibunya kan ber lebih banyak 21:15 dan itu tidak hanya logik ya, tidak 21:17 hanya otaknya saja tapi juga yang paling 21:19 utama akhlak sebenarnya. 21:21 Akhlak. Oh, saya pernah tinggal di satu 21:23 daerah yang saya enggak usah sebutlah 21:24 ya, di segang 21:27 gitu ya. Dan ah itu dalam waktu setengah 21:30 tahun saja terjadi perubahan yang besar 21:32 pada anak saya itu mulai bingung 21:35 kelihatannya karena di rumah kita ada 21:37 akhlak tertentu yang adab tertentu 21:39 sementara di luar 21:41 dia dengar 21:42 di depan rumah itu bertentangan sekali 21:44 gitu. Akhirnya kami putuskan untuk 21:45 pindah 21:46 gitu Bu. Itu itu lebih utama. Itu 21:48 lingkungan juga perlu 21:49 lingkungan penting ya. Tapi memang 21:51 seorang istri itu sangat penting. Ada 21:53 istri yang bekerja itu juga penting juga 21:55 karena dia harus punya harga diri. Kalau 21:57 dia memang dia mampu bekerja atau di 21:58 rumah, saya kira itu pilihan lah ya. 22:00 Yang wajib bekerja kan laki-laki ya. Itu 22:02 wajib gitu seberapapun hasilnya. Kalau 22:04 perempuan tuh itu hak kebebasan gitu ya. 22:07 Jadi poinnya tadi pendidikan untuk 22:09 perempuan pun sangat penting sekali. 22:11 Sangatsangat penting 22:12 sangat penting ya. 22:13 Baik Prof. Em kalau kita melihat tadi 22:16 latar pendidikan ee Prof. Misri ini kan 22:19 pernah di luar negeri juga, Prof. 22:20 Mungkin Prof juga bisa me apa ya 22:22 istilahnya bisa membandingkan 22:24 bagaimana sih biar itu pertanyaan yang 22:26 umum sebetulnya yang Prof rasakan 22:28 sendiri Prof. 22:29 I tentu luar negeri kan beda-beda ya. 22:31 Saya alhamdulillah sempat di ee di New 22:34 Zealand, di Dresden yang memang lebih 22:36 banyak di New Zealand, di Islandia Baru 22:38 dan di Jerman tuh kan lebih ke arah ee 22:42 Eropa lah ya. 22:43 Hampir sama ya Sandia Baru dan Jerman. 22:45 Sebenarnya juga 22:46 ada perbedaan. perbedaan ya kalau New 22:48 Zealand kan memang negeri yang 22:50 ee bukan negeri klasik ya, tidak ada 22:52 bangunan-bangunan 22:54 kelak tua yang tapi mereka lebih banyak 22:56 ke tradisional sebenarnya. 22:58 E suku aslinya Mauri masih terpelihara. 23:01 Sementara Jerman lebih timur eh lebih ee 23:03 klasik ya apa bangunan-bangunan barok 23:06 segala. 23:07 Lalu saya juga pernah pos dog di Saudi. 23:10 Oh di Saudi. 23:10 Saya pernah juga pos dog di Saudi yang 23:12 memang timurnya gitu ya. Dan kami juga 23:15 ajak jalan-jalan keluarga ke Yordan, ke 23:18 beberapa negara gitu ya, baik di Barat 23:20 maupun di saya selalu saya bawa 23:22 keluarga. Kalau saya lihat sih manusia 23:24 pada dasarnya sama ya. 23:25 Sama ya 23:25 sama har 23:28 sama semua semua sama. 23:29 Ee fitrahnya itu sama 23:31 fitrahnya sama. 23:32 Dan saya saya justru tertarik sama 23:34 Alirsat itu karena itu yang prinsip 23:36 nomor empatnya itu ya. Ya 23:38 apa tuh? 23:38 Kesetaraan. 23:39 Kesetaraan 1 2 3 4 Oh nomor lima maaf 23:42 nomor lima 23:43 kesetaraan. Yang sat sampai empatnya 23:45 sama semua sama yang agama apa sama 23:48 romas-ormas lain tapi yang nomor lianya 23:49 ini kesetaraan 23:51 itu menurut saya menarik sekali. Iya. 23:52 Dan itu membuat kita berhadapan dengan 23:55 orang itu ya sesuai dengan Alquran ya 23:57 memang kita ini sama semua ya. 23:59 Iya. 23:59 Diciptakan ee apa? Bersuku-suku dan 24:03 berbangsa-bangsa qabailan gitu ya. 24:06 Supaya kita saling kenal dan dengan 24:07 mengenal itu kita bisa tukar sisi 24:09 pandang. He. 24:10 Nah, ketika kita bisa diskusi, 24:13 berkomunikasi barulah kita sebenarnya 24:14 apa sih intinya? Ya empati kan kita sama 24:16 orang menghargai. Kalau kita belum-belum 24:19 sudah merasa lebih tinggi atau bahkan 24:20 lebih rendah. enggak akan terjadi 24:22 komunikasi yang sehat gitu ya. Dan 24:24 alhamdulillah kita di kami ya baik saya 24:27 istri juga selalu dipertemukan gitu 24:29 walaupun istri enggak kuliah di sana 24:31 menemani saya saja menjaga anak-anak 24:33 tapi kami ee bergaul gitu dan itu selalu 24:35 menemukan 24:37 ee hikmah-hikmah banyak sekali bahwa 24:39 ketika kita mau belajar tidak hanya dari 24:40 orang Islam loh dari yang lain juga gitu 24:42 ya 24:43 walaupun kami selalu berusaha juga punya 24:45 komunitas muslim di sana baik yang 24:47 Indonesianya maupun orang luar gitu ya. 24:50 Kalau kira-kira PR saat ini untuk 24:53 pendidikan Indonesia apa, Prof? 24:54 Oh, banyak melihat [tertawa] 24:56 PR-nya banyak tapi biar menteri-menteri 24:58 aja yang tapi kalau terutama untuk 25:00 masyarakat lah. 25:01 Iya. Kebetulan kami ini ee juga ee 25:04 mengasuh ya kebetulan sebagai ketua satu 25:06 kami mengasuh sekolah-sekolah 25:07 Alirisyadnya ada ratusan sekolah juga 25:09 seluruh Indonesia sudah sampai ke 25:11 Merauke sampai ke pinggir dekat Papua 25:14 Nugini itu ya perbatasan di daerah Kerom 25:17 itu ada Alirsyad juga 25:18 ee di Sumatera juga ada di Sulawesi juga 25:22 ada kami ada berapa ee sebenarnya ee 25:25 pendidikan ini sebagian besar itu sudah 25:27 dilaksanakan atau diemban atau diampak 25:31 apa ya didukung oleh swasta sebenarnya. 25:34 Iya 25:34 ya. Dan terutama pesantren itu sebagai 25:37 pendidikan yang kuno yang ee paling 25:40 cocok sebenarnya untuk Indonesia ya 25:42 kalau 25:43 Oh menurut saya paling cocok 25:44 paling cocok 25:44 ee tentu sekarang sudah ada pesantren 25:47 modern ya. 25:47 Iya. 25:48 Ee tapi boarding 25:49 iya sebenarnya di situlah sebenarnya ya 25:52 entah itu boarding maupun tidak 25:54 itu ada rasa kebersamaan yang dibangun. 25:57 Heeh. 25:57 Ee saya melihat bahwa sekarang ini 25:59 sekolah itu tidak membangun kebersamaan. 26:02 Hm. 26:02 Tetapi justru kompetisi yang dibangun. 26:05 Kompetisi tidak salah gitu ya. Ee tetapi 26:09 kebersamaan itu penting gitu ya. Kita 26:12 boleh berkompetisi tapi kebersamaan itu 26:14 penting. Dan 26:15 Iya. Iya. Ee saya khawatir ya bahwa 26:19 anak-anak itu tercabut dari sosialnya 26:21 dengan gadget, dengan kompetisi yang 26:26 kompetisi enggak salah, gadget enggak 26:27 salah gitu ya, 26:28 tapi membuat individualis 26:29 menjadi individualis. Nah, itu itu yang 26:31 menurut saya PR yang kami sedang coba 26:34 rumuskan di sekolah-sekolah kami. 26:36 E sudah beberapa sudah berhasil gitu ya, 26:38 beberapa harus dibantu untuk mengatasi 26:40 itu karena memang 26:41 ee ee bullying itu juga terjadi di 26:45 mana-mana. Ya, itu kan sebenarnya 26:47 pendidikan di rumah yang tidak 26:48 mengajarkan kesetaraan. 26:50 Iya. 26:50 Ketika anak itu dibully oleh orang 26:52 tuanya atau dimarah, tidak bilang bully 26:55 tapi di dimarahi dengan tanpa sebab, 26:59 ucapan-ucapan kasar, itu kan menekan 27:02 membully sebenarnya ya. Dia belajar itu 27:04 di sekolah juga dia praktikkan. Jadi 27:05 sebenarnya kasihan kalau anak-anak yang 27:06 membully itu sebenarnya perlu dikasihani 27:08 se. 27:08 Jadi sudah dibully dari dalam rumah ya 27:10 sebenarnya dia membully keluar sebar dia 27:13 justru membully anak-anak lain karena 27:14 dia dibully di rumahnya entah oleh orang 27:16 tuanya oleh kakaknya. 27:18 Saya punya sahabat yang sampai hari ini 27:20 gitu ya masih kita kontak-kontakan. 27:24 Saya sempat mengunjungi rumahnya di 27:25 daerah. Ee itu trauma dibully oleh 27:29 tetangganya dan di hadapan orang tuanya. 27:32 He. 27:32 Itu saya kenal itu masalah itu sejak SMP 27:34 ya. jadi sahabat sejak SMP itu berbesar 27:37 berkesan sampai dia pensiun sekarang 27:40 gitu. 27:40 Oh, traumanya sampai 27:41 dia dia selalu mengatakan saya enggak 27:42 bisa ini gitu. Jadi jadi saya kalau 27:44 bersahabat dengan dia atau kontak dia 27:46 komunikasi itu saya selalu kamu bisa 27:47 kok, kamu bisa kok. Gitu 27:49 dan dia tahu bahwa ini sedang penyakit 27:51 nih gitu ya. Sedang muncul rasa tidak 27:53 bisa dia telepon misalnya gitu ya. 27:55 Aku kok gini ya kayak gini ya. Jadi dan 27:57 saya kira itu bayangin ya betapa banyak 28:00 sekali misal saya masih ingat waktu 28:02 kecil tuh ada seorang 28:04 ee keluarga ya dekat juga ketika saya 28:08 kan s orang tua kan dilarang makan 28:09 banyak permen misalnya gitu ya ada 28:11 ukurannya permen satu hari satu gitu ya 28:13 e karena saya sangat suka permen 28:14 anak-anak semua kan begitu 28:16 tapi ketika itu saya sudah cukup dan 28:18 waktu itu diberikan ke salah satu tante 28:19 saya gitu 28:20 terus ee dia bilang ini bodoh kamu 28:23 enggak mau gitu 28:25 karena yang lahir rebutan gitu Ya, bodoh 28:26 kamu ini dikasih enggak mau. Itu tuh 28:29 kita sudah kita sudah oh ini ungkapan 28:31 yang enggak pernah saya dengar dari 28:32 orang tua saya gitu. Walaupun saya tetap 28:35 respek tapi itu teringat selamanya. 28:37 Terus setelah sekarang saya sadari 28:39 bayangin anak-anak yang tiap hari sehari 28:42 lebih dari sekali saya diomongin begitu 28:44 aja seumur hidup teringat gitu ya. 28:46 Bayangin anak-anak yang dibully bully 28:49 seperti itu oleh keluarga dekat 28:50 dia akan tertanam terus ya. 28:52 Iya. 28:53 Akan tertanam terus. Apalagi nanti kalau 28:55 keseringan udah jadi kayak kebal, imun, 28:57 akhirnya menularkan kepada anak-anak 29:00 lain di luar seperti itu. 29:01 Oh iya, itu lebih berbahaya lagi ya, 29:03 Prof. 29:04 Betul. Sangat bahaya bullying itu sangat 29:06 bahaya. 29:06 Iya. I 29:06 itu problem besar dan itu lahir dari 29:10 filosofi masyarakat kita yang 29:12 merendahkan orang lain. 29:13 Iya. 29:14 Punya koneksi lebih tinggi gitu kan. 29:17 Punya ee orang kaya itu pasti lebih baik 29:20 gitu kan. Enggak enggak dong. Dilihat 29:22 dari 29:22 seperti mempunyai power gitu. I nanti 29:24 jangan-jangan anak-anak ini takut ya. 29:27 Yang penting punya koneksi yang penting 29:28 pamannya di mana. [tertawa] 29:30 Iya. Baik. 29:31 Baik, Prof. Kita lanjutkan. Em 29:34 Prof sekarang sudah apa istilahnya 29:36 menjadi guru besar dan saya mendengar di 29:38 usia 45, Prof. 29:40 Ee 44 ya? 29:42 44. Masyaallah. Sangat muda sekali Prof. 29:45 Kalau 29:46 Oh, betulbetul 40 sebelum 45 sih. Hampir 29:49 45 hampir. 29:50 Masyaallah. Nah, ini kan pasti 29:51 perjalanannya tidak mudah ya 29:53 perjuangannya pasti dari nol. 29:56 Ee 29:57 Prof. Misi sendiri apakah pernah 30:00 merasakan apa ya kegagalan dalam bidang 30:03 akademik tentunya atau dalam hidup. 30:05 Nilai apa yang bisa di-sharing ke ikwan? 30:07 Iya. Ee kalau ngelihat perjuangan saya 30:11 di pendidikan rasanya masih banyak orang 30:13 lain yang jauh lebih strugglen-nya lebih 30:16 hebat ya. I, 30:17 tapi bahwa setiap orang pasti punya 30:19 saat-saat yang genting gitu ya, ketika 30:23 ee misalnya tidak selalu mendapatkan 30:25 nilai yang terbaik misalnya gitu ya. 30:28 Atau 30:28 itu kan ee guru besar di usia 4-4 30:30 seolah-olah wah kayaknya gampang banget 30:32 nih kayak enggak ada. 30:33 Ada dua hal. [tertawa] Makanya saya 30:34 ingin menceritakan dua hal gimana? 30:36 Pertama adalah ee tidak pernah menyerah 30:39 gitu ya. Dan tidak pernah menyerah itu 30:42 bukan berarti kita tidak pernah kalah 30:44 gitu ya, 30:45 tidak pernah dapat nilai jelek gitu ya, 30:47 tidak pernah down, tidak, 30:48 tidak pernah. Tapi yang penting tidak 30:50 down, tidak give up, tidak menyerah gitu 30:52 ya. 30:53 Ee ketika kamu dapat nilai jelek itu 30:55 bukan berarti dunia berakhir. 30:58 Ee karena bisa jadi loh ada anak yang 31:00 terbiasa dapat nilai bagus, 31:02 nilainya salah sedikit aja, dia sudah 31:04 mau bunuh dirilah, mau apa, depresi 31:06 segala macam. Sementara anaknya terbiasa 31:08 jatuh malah udah enggak masalah gitu 31:10 buat dia. Nah, atau tidak pernah 31:12 menyelalu ada jalan gitu ya kan 31:15 ee mengukir di ee di batu itu ee belajar 31:19 di masa kecil itu ibarat mengukir di 31:22 atas batu gitu ya. 31:23 Tara belajar di usia dewasa itu 31:25 seperti mengukir di atas air. Artinya 31:28 itu ditanamkan betulah kedua orang tua 31:30 supaya kita betul-betul terbiasa 31:32 belajar. Itu tadi ee artinya gini 31:34 menghadapi sesuatu itu tidak menyerah. 31:36 Artinya memang sulit gitu loh. Sekolah 31:39 itu sulit. Kalau enggak sulit enggak 31:40 usah sekolah gitu kan. Kan sesederhana 31:42 itu loh logiknya gitu ya. 31:44 Iya. 31:44 Kalau enggak sulit ee tapi ingat bahwa 31:46 saya selalu menanamkan pada diri saya 31:48 dan kakak sebenarnya dari kakak itu 31:50 ucapan kamu tuh pasti bisa ngerjain 31:52 ujian karena yang bikin soal itu sudah 31:53 tahu ini memang untuk anak seusia kamu 31:55 gitu. 31:56 Itu ketika saya pernah menangis kok 31:58 susah banget ya soalnya gitu ngadu sama 32:00 kakak saya itu kakak saya bukannya 32:02 membela dia malah mendorong itu. Kamu 32:04 bisa kok gitu. ini memang sudah dibuat 32:07 soalnya untuk kamu. Jadi, ada 32:08 orang-orang di sekeliling kita yang 32:10 memang juga memberi dorongan itu penting 32:13 ya. Dan saya kira juga ee apa ya ee kita 32:19 selalu punya satu cita-cita yang jangan 32:23 saya gini, saya tidak pernah 32:24 bercita-cita jadi profesor misalnya, 32:26 tapi kan saya bercita-cita jadi 32:28 insinyur. Ketika saya mulai ngerti 32:30 insinyur apa itu kan mulai mulai mikir, 32:33 woh itu berarti saya harus belajar apa 32:35 nih supaya ke sana. Jadi yang kita 32:38 pikirkan how toya untuk sampai sana gitu 32:40 ya. Jangan tingginya cita-cita kita 32:43 bukan. Tapi 32:44 ee apa seperti apa kalau anak saya tuh 32:46 pernah bahkan cita-citanya jadi kasir, 32:49 jadi kasir 32:50 waktu dia TK gitu ya. Karena apa? Karena 32:53 dia kita selalu bawa dia belanja kan ya. 32:55 Nah, terus 32:56 kasir nerima uang mungkin 32:57 nerima uang. Waktu itu kan dia belum 32:58 belajar ngitung kan. Tapi dia senang 33:00 banget ngelihat kok ayah ibunya nyerahin 33:03 uang ke dia gitu ya. Dia senang banget 33:05 gitu kan rasanya. Terus itu jadi kita 33:07 buat motivasi buatnya kamu mau jadi apa? 33:09 Kasir katanya gitu. [tertawa] 33:11 Terus terus ee ibunya tuh agak sedih 33:13 gitu kok mau jadi kasir gitu ya. Terus 33:14 saya bilang, "Oh, kamu mau jadi kasir 33:16 mesti pintar ngitung gitu kan. Yuk kita 33:18 belajar ngitung yuk." gitu. Dia tuh 33:20 belajar ngitung itu sebelum masuk SD dan 33:22 itu happy banget gitu. Waktu itu ada 33:24 buku namanya 33:25 ee 33:27 during ya. During ya. Itu belajar 33:29 berhitung untuk bayi dan anak-anak. 33:31 Iya. Iya. 33:31 Untuk balita itu. Jadi kita baca 33:33 sama-sama saya sama istri saya terus 33:35 saya terapin. Ini gampang banget tu dari 33:37 kelereng dari apa jadi anak dikenalin 33:39 angka. Sekarang ini kita kok kayaknya 33:41 kalau baru bicara matematik itu sudah 33:43 langsung stres gitu ya. Karena mungkin 33:45 enggak terbiasa aja gitu. Cuma 33:47 sebenarnya sederhana kok. Itu logik 33:48 semua ini matematik. Kita juga bisa 33:50 bilang semua ini sosial gitu. Sama aja 33:52 seperti itu. Dunia ini satu gitu enggak 33:55 terpecah-pecah gitu ya. Cuma kita punya 33:57 keahlian kecenderungan melihat dari satu 33:59 sisi. 34:00 Iya. [tertawa] Kalau dengar matematik 34:02 kan kayak momok untuk sebagian 34:05 kita kan sebenarnya one [tertawa] step 34:06 ya. Kita kalau kita pikir dulu kita 34:08 nangis-nangis ya belajar alif apa alif 34:10 bata gitu ya A B C D nulis tuh setengah 34:13 mati itu nulis rapi. Tapi sekarang kok 34:15 gampang gitu karena kita terbiasa gitu. 34:18 Sebenarnya insinyur juga begitu kan kita 34:19 terbiasa kita sadar bahwa ini memang 34:21 untuk ukuran kita belajarnya jadi udah 34:24 kita enggak pernah stres kalau begitu 34:26 gitu. 34:27 Kita tahu itu berat tapi semangat gitu 34:29 ya. 34:29 Baik Iwan Awat saat ini kita tengah 34:32 berbincang dengan Prof. Dr. IR MRI Gozan 34:36 em 34:38 Teknologi ASEAN 34:41 Engineering. 34:41 Iya. 34:42 Ipu ya? 34:44 Iya. Insinyur profesional utama. 34:45 Oh, insinyur profesional utama. Baik. 34:48 Ee, Prof. Saat ini mungkin sudah jadi 34:50 apa ya permasalahan umumlah bagi orang 34:52 tua baik itu ya yang mempunyai anak 34:56 masih balita kemudian yang sudah 34:58 bersekolah. 34:59 Banyak juga pendengar kita yang sudah 35:00 sepuh nih cucunya. Masyaallah gitu 35:03 mengenai gadget nih. 35:04 Ah i 35:05 itu kan seperti apa ya ee pisau ya. 35:09 Iya. I 35:10 kadang-kadang ya banyak manfaatnya, 35:12 banyak juga. Ini kan mendestraksi juga. 35:14 Kalau dulu mungkin Prof tadi bilang 35:17 orang tuanya banyak membaca jadi kita 35:19 pun terbun. Nah sekarang kan orang 35:20 tuanya pun memang 35:22 pegang HP. Saya juga punya anak nih 35:24 [tertawa] karena lihat saya megang HP 35:25 terus. Ya seperti itu. Mungkin ada pesan 35:28 buat orang. 35:30 Iya sebenarnya sederhana saja ya. 35:32 ee gadget itu kan bagian dari 35:35 perkembangan zaman. 35:36 Iya. 35:37 Anak-anak itu harus menguasai. 35:39 Jangan sampai dia juga enggak menguasai. 35:41 Ee tapi juga kalau dia bergantung sama 35:44 gadget ee sehingga dia tercerabut dari 35:47 sosialnya itu berbahaya gitu ya. Jadi 35:50 orang tua tentu punya masing-masing 35:52 setiap keluarga kan punya nilai di rumah 35:55 yang berbeda-beda ya. Kalau kita kan di 35:57 Islam tuh kan betul-betul menghormati 35:59 sosial ya, menghormati berjamaah, 36:02 menghormati kehidupan orang tua kita 36:05 hormati dan segala. Artinya ee nilai itu 36:07 harus harus ditanamkan juga sejak kecil. 36:10 Iya. 36:11 Dan buktikan bahwa sebenarnya anak-anak 36:13 itu sederhana kok. Kalau orang tuanya 36:15 memberi contoh itu pasti dia akan 36:18 lakukan. H 36:19 ee saya masih ingat betul ayah itu 36:22 sangat cinta dengan buku ya. Ee atau 36:26 kembali dulu ke gadget tadi. Saya 36:27 mengumpamakan gadget ini seperti kita 36:29 main bola waktu kecil. 36:30 H 36:31 ee rasanya kita semua yang umuranumuran 36:34 saya waktu yang sekarang seumur masih 36:36 ingat bagaimana kita tidak bisa tidak 36:39 mau pulang saat main bola gitu ya. 36:42 Asikan main bola bahkan hujan pun makin 36:45 asik gitu ya. Saya kira sama saja kan 36:47 gadget sekarang karena dia asik 36:49 anak-anak itu. 36:50 Tapi kita tahu betul bahwa ada 36:52 batasan-batasan 36:53 magrib harus di rumah. Waktu remaja juga 36:55 kita mungkin sudah mulai suka main band 36:58 apa gitu. Saya waktu saya SMP saya main 37:00 band gitu. Ee tapi batasan ayah itu 37:04 betul-betul dia pegang saya pegang betul 37:06 dan ayah menghormati itu gitu. 37:08 Magrib itu sudah di rumah gitu. Nah, 37:10 jadi ada batasan-batasan yang harus 37:12 karena itu dari nilai. Nah, sedihnya 37:15 banyak sekali orang tua yang tidak punya 37:17 nilai bersama yang di disepakati antar 37:20 suami dan istri ayah dan ibu gitu ya. 37:22 Lebih parah lagi ee ibu ngomong A, ayah 37:25 ngomong Z. 37:27 Iya. 37:27 Ini bahaya. Betul. Atau ada contoh yang 37:30 mungkin tidak hanya ayah dan ibu tapi 37:32 juga guru. Saya masih ingat seorang guru 37:35 saya saat mengucapkan begini, "Kamu 37:39 jangan ngerokok ya." 37:41 [menghela napas] 37:43 itu saya pasti tidak bisa lupa adegar 37:45 itu di di kepala saya karena itu membuat 37:48 kebingungan luar biasa buat saya. Saya 37:50 masih kecil, masih SD waktu itu ya. 37:52 Guru itu di dalam kelas 37:54 melakukan itu. Dan buat saya itu saya 37:58 langsung saya ngomong sama ayah ibu 38:00 saya, "Ayah saya merokok." 38:01 Iya. I 38:02 gitu ya. Saya ngomong sama ayah ibu 38:04 saya, "Kenapa sih orang enggak boleh 38:06 ngerokok tapi kenapa juga yang ngomong 38:08 kok ngerokok gitu ya." I 38:10 dan saya tidak ingat jawabannya apa gitu 38:12 ya. Tapi yang saya ingat adalah ayah 38:15 saya selalu konsisten walaupun ngerokok 38:17 dia punya waktu-waktu gitu. 38:18 Dia tidak pernah merokok di hadapan kita 38:20 langsung. 38:21 Minimal di hadapan saya ya. 38:23 Saya tahu ketika dia merokok dia punya 38:25 tempat khusus, dia punya jadwal khusus. 38:27 Ketika dia bekerja dia konsentrasi dia 38:29 tidak merokok. 38:30 Saya tidak tahu kalau di tempat 38:32 kerjanya, tapi minimal yang kita lihat. 38:34 Nah, hal-hal seperti itu kita bisa 38:35 lakukan terhadap gadget 38:37 ya. kita jadi nilai yang utama lebih 38:40 dahulu gitu. Bahwa dia harus menguasai 38:42 gadget. Kalau enggak nanti dia enggak 38:43 bisa 38:44 dia kasihan 38:45 ketinggalan 38:46 ketinggalan gitu tapi dia tahu 38:47 batas-batasnya dan orang tua jagain itu 38:50 gitu. 38:51 Baik, Prof. ee kita berbicara ee tentang 38:54 bangsa ini nih, Prof. 38:56 Ya, kita kan sekarang lah terutama ya 38:58 mengenai kita berbicara tentang lapangan 39:00 pekerjaan [tertawa] I 39:01 Prof. Ya, masyarakat kita kan 39:04 mengharapkan dulu sempat dijanjikan 39:06 mengenai 19 lapangan apa 19 juta 39:08 lapangan pekerjaan. 39:10 Kemudian akhirnya kan sampai sekarang 39:11 belum 39:12 belum nampak hilalnya nih gitu kan. 39:14 Akhirnya kan banyak pengangguran, banyak 39:15 sarjana yang nganggur, 39:17 banyak master-master yang juga 39:19 menganggur. Akhirnya [berdehem] 39:21 mereka kalau kemarin tuh beberapa waktu 39:23 lalu kan sempat ramai kabur aja akhirnya 39:25 ke luar negeri. Akhirnya mereka pada 39:28 mencari kehidupan yang lebih layak gitu, 39:31 yang lebih menjanjikan di luar negeri 39:33 gitu ya, 39:34 menjadi PMI ya, pegawai migran Indonesia 39:37 baik legal ataupun ilegal. Dan juga ada 39:39 istilahnya juga mengenai brain drain ya, 39:42 banyak orang pintar, profesional yang 39:45 memilih bekerja dan 39:47 ya mencari rezekinya di luar gitu. 39:49 Bagaimana Prof melihat hal ini Prof? 39:52 Ya ee saya agak izin ya agak sedikit 39:56 panjang jawabnya. Prof. 39:58 Pertama melihat fenomena tersebut 39:59 sebenarnya sebuah kewajaran ya. 40:01 Iya. 40:02 Ee bahwa orang lari ke luar negeri itu 40:05 ee entah alasan apapun ya. He 40:07 entah kekecewaan atau memang sudah 40:09 direncanakan sejak awal itu hak 40:11 masing-masing. Dan saya kira itu sah-sah 40:13 saja. Negara tidak bisa melarang ya. 40:16 Tidak bisa melarang. Bahkan kalau negara 40:18 yang cerdas itu justru bisa memanfaatkan 40:21 dalam dua hal. Tanda bahwa rakyatnya 40:24 sedang membutuhkan gitu ya. 40:26 Dan dia harus sadar tuh negara. Kedua, 40:28 oh berarti ee harus bagaimana lebih baik 40:31 lagi memanfaatkan tenaga kerja dengan 40:33 baik gitu ya. Bukan menekan ya. Karena 40:36 itu tidak bisa air itu bagaimanapun akan 40:38 mencari jalannya sendiri gitu kan. 40:40 Kebutuhan hidup itu tidak bisa 40:42 dihalang-halangi gitu ya. Kebutuhan 40:44 intelektual juga sama tidak bisa 40:45 dihalang-halangi. Itu bagian pertama 40:47 jawaban saya. Pemerintah harus melihat 40:49 begitu dan di sisi lain pemerintah harus 40:51 juga bisa apa memenuhi janji-janjinya 40:55 ya. Nah, di sisi lain yang kedua sebagai 40:57 rakyat gitu ya, sebagai diri sendiri 41:00 untuk anak-anak muda gitu ya, itu hak 41:02 kalian kok seperti itu. Jadi ee di 41:05 manaun carilah tempat kerja yang sesuai 41:08 yang sesuai bidang, sesuai dengan 41:09 nilai-nilai yang kalian miliki. Karena 41:11 enggak semua tempat kerja punya nilai 41:13 yang sama dengan kita gitu ya. 41:15 Ee saya mungkin bisa kasih gambaran. 41:18 Nah, ini mungkin ee kalau saya membagi 41:20 jadi empat ya. E pekerjaan tuh 41:22 sebenarnya ada empat bagian. pertama 41:24 adalah akademik. 41:25 Iya. 41:26 Ya. Ee ini contohnya ya dosen, guru, 41:29 periset itu kan akademik. 41:30 Iya. 41:30 Ee kalau kedua bisnis. 41:33 Bisnis pengusaha ya. 41:34 Pengusaha. Ee ketiga ee bisnis itu bisa 41:37 dagang, bisa produksi ya. 41:39 Iya. 41:39 Bisa dagang, bisa produksi. 41:41 Ketiga, ee government, pemerintah. 41:44 Ee lalu keempat enggak ee ee ini ini 41:48 masing-masing kan punya logik sendiri 41:49 ya. Kalau lolok pendidik atau akademik 41:51 itu kebenaran terutama gitu ya. Kalau 41:54 logiknya ee bisnis kan ee apakah ini 41:58 bisa untung atau tidak 42:00 gitu ya. Kita masih bicara positif nih 42:02 ya bahwa semuanya benar gitu ya. Tapi 42:04 kalau ke akademik kan bicara yang paling 42:05 benar apa, yang paling yang lebih bagus 42:08 apa gitu kan. Nah, tapi kalau di sini 42:09 enggak, yang penting yang lebih duitnya 42:11 banyak mana gitu ya. Ini oke positif 42:13 gitu. government. Government itu kan 42:15 keteraturan, stabilitas, logiknya kan 42:18 beda. Nah, 42:19 ada pekerjaan-pekerjaan sebenarnya yang 42:22 tidak bisa dikerjakan oleh mereka ini, 42:24 ya. Itu bisa dikerjakan LSM. 42:26 LSM, 42:27 iya kan? Maka banyaklah 42:28 organisasi-organisasi massa. Dan kalau 42:31 dulu LSM itu ee dipandang rendah gitu ya 42:35 ee sebenarnya enggak juga sih karena 42:37 organ ormas itu juga dari dulu sudah ada 42:39 gitu. Itu jiwanya kan beda. Mereka bukan 42:42 akademik, mereka bukan bisnis. mereka 42:44 bukan government, 42:45 tapi mereka tersendiri gitu. Nah, ini 42:46 logiknya beda. Nah, jadi kita sebagai 42:49 orang tua atau sebagai diri sendiri itu 42:51 mestinya mulai nih melihat kita punya 42:53 kecenderungan yang mana gitu ya. Ee kita 42:55 mengarahkan diri kita atau mengarahkan 42:57 anak-anak kita 42:58 atau orang-orang terdekat kita itu lihat 43:00 dari sini ke mana? Kalau saya masih 43:02 melihat secara umum bisa dibagi empat 43:04 ya. 43:04 Nah, ee bahkan kita bahkan bisa jadi 43:07 government di luar negeri loh gitu kan. 43:09 banyak juga kan yang jadi 43:11 ee pegawai negeri, tentara segala di 43:13 luar. Kalau peraturannya kan sekarang 43:14 malah 43:15 saya dengar ada juga ya di luar negeri 43:17 jadi tentara walaupun balik ke 43:18 Indonesianya susah ya. Jadi 43:19 nah ini artinya gini 43:21 ee kita punya jiwa yang berbeda-beda. 43:23 Nah, orang tua mau ngedidik yang mana 43:24 nih gitu ya. Tapi yang jelas anak-anak 43:27 kadang-kadang orang tuanya mendidik 43:28 secara bisnis tapi bisa jadi loh 43:30 anak-anaknya itu adalah periset gitu ya 43:31 atau dosen jadi guru dan sebagainya. 43:34 Nah, ee nikmatin saja gitu ya mau main 43:37 di mana. Kalian punya belajarin logiknya 43:40 gitu ya. Pelajari logiknya. Memang sedih 43:43 sih bahwa itu kalau terpaksa harus nyari 43:45 keluar. Kenapa? Karena kita tidak 43:48 rasanya akan sangat sulit jadi warga 43:50 negara kelas 1 di luar negeri itu. 43:51 [mendengus] 43:52 Iya. 43:52 Sangat sulit. Tapi kalau kita di 43:54 Indonesia, kita bisa jadi warga negara 43:56 kelas 1 kira-kira gitu ya. Artinya kelas 43:58 1 tuh kita lebih mudah me merealisasikan 44:02 ide-ide pikiran kita. Kalau di luar 44:04 negeri kan kita ikut aturan yang sudah 44:05 ada saja 44:06 gitu ya. Kalau di dalam diri kan kita 44:07 masih bisa menyampaikan bahkan bisa 44:09 kalau dia berada di ABGLN dan saya 44:12 sebutnya ABGN ya ABGN saya menyebutnya 44:15 gitu ya ee non government ya LSM kan non 44:18 government kita masing-masing bisa 44:20 menyumbangkan pikiran kok buat negara 44:21 kita gitu ya dan itu bisa berubah 44:23 menjadi peraturan yang berlaku gitu ya 44:26 kalau Anda di ee bikin kebijakan 44:28 misalnya kan dosen juga bisa bikin 44:30 kebijakan government apalagi gitu kan 44:32 bisnis juga bisa kan bisnis menyalakan 44:35 suaranya nya lewat Kadin misalnya gitu 44:37 ya atau lewat lembaga-lembaga maka akan 44:39 mengubah. Tapi kalau di luar negeri 44:41 belum tentu gitu ya. Belum tentu bukan 44:43 berarti enggak bisa. 44:44 Jadi menurut saya ya ee memang 44:46 pemerintah harus menciptakan lapangan 44:49 pekerjaan tetapi kita nah ini yang 44:51 ketiga kita juga ee mungkin untuk anak 44:55 muda enggak ya mungkin belum tapi 44:57 kalau ada anak juga yang anak-anak muda 44:58 juga bisa membuat usaha itu bagus. Tapi 45:01 kita punya dididik nih harusnya di 45:03 sekolah-sekolah bagaimana membuat ee 45:06 atau di kampus-kampus bagaimana mulai 45:08 entrepreneurship. 45:10 Lucunya entrepreneurship itu diajarkan 45:12 oleh dosen atau guru yang tidak 45:13 entrepreneur. 45:14 Nah, ini kan jadi 45:16 kita ngajarin anak untuk main tinju tapi 45:18 bukan oleh petinju gitu kan atau 45:19 mengajarin anak berenang tapi tidak 45:21 bukan oleh perenang kan 45:22 bukan praktisinya 45:23 yang enggak bisa maksimal gitu ya. Bukan 45:24 praktisinya. Oleh sebab itu k negara 45:26 mesti kerja sama deh sama untuk 45:28 mendorong industri itu mau balik ke 45:31 kampus, balik ke sekolah-sekolah. Kalau 45:34 di saya masih ingat anak-anak saya itu 45:36 sekolah ada selalu baik di Jerman, ee di 45:39 New Zealand maupun di Saudi itu ada apa 45:43 ya namanya ya? Karir days. 45:45 Karier days. 45:45 Karir days. Jadi itu bisa mengundang 45:47 orang tua yang punya latar belakang 45:49 berbeda-beda. 45:50 Dia cerita aja kalau dokter sharing dia 45:53 pakai baju dokter. anak itu enggak usah 45:54 enggak usah tahu anatomi apa se tapi dia 45:57 melihat melihat antara sosok baru 46:00 karena terus besoknya lagi tentara, 46:02 besoknya lagi polisi, besoknya lagi 46:05 tukang kue gitu ya, bakeri misalnya 46:08 gitu, besoknya lagi apa waktu itu ya, 46:11 ustaz gitu ya. Nah, kenapa ini penting? 46:14 Karena ada satu buku di buku ekonomi itu 46:16 dijelaskan ee bahwa ee kalau tidak 46:20 dilakukan itu maka anak itu hanya akan 46:23 bisa mencontoh orang tuanya. Betapa pun 46:25 dia disekolahkan apapun juga anak tukang 46:28 sepatu itu hanya akan bisa menjadi 46:30 tukang sepatu. 46:31 H 46:32 karena itu dia tidak karena hanya itu 46:33 yang ada di 46:35 akses bekerja hanya itu 46:37 cita-cita bekerja atau idea bekerja. 46:40 Kedua, apa akses bekerja. Kalau akses 46:43 lapangan pekerjaan atau akses bekerja 46:45 itu kan tugasnya banyak orang untuk 46:47 menciptakan. Tapi kalau idea bekerja itu 46:50 sekolah sama guru ee orang tua itu bisa 46:53 melakukan gitu ya. 46:54 Heeh. 46:55 Bahkan kakak itu bisa melakukan kepada 46:57 adiknya. Yuk kita lihat-lihat ini ya. 46:59 Tapi ide yang positif loh, ideya juga 47:01 yang negatif. Saya masih ingat ee ibu 47:05 saya tuh selalu bilang gini, kalau saya 47:07 sudah mulai malas belajar gitu ya, dia 47:09 tunjukin ee mohon maaf ya ee orang yang 47:13 yang di jalanan tuh Nawisma atau orang 47:15 gila atau apa tuh kamu kalau enggak 47:17 belajar kayak gitu tuh jadinya itu buat 47:20 wah takutnya luar biasa walaupun kita 47:22 enggak stres tapi itu langsung menghujam 47:25 gitu ya bahwa 47:26 oh saya harus belajar nih gitu ya kalau 47:27 enggak nanti jadi kayak gitu gitu 47:29 harus sungguh-sungguh 47:29 harus sungguh-sungguh kayak gitu gitu 47:31 sementara 47:32 ee orang tua tuh selalu memuji misalnya. 47:35 Nah, ini juga bisa nih karir days 47:36 mungkin bisa digantikan dengan ketika 47:38 kita melihat sesuatu yang ada di TV 47:41 segala macam itu. Kita puji juga dong 47:43 karir-karir yang lain, enggak cuma 47:44 bintang, film dan pelawak gitu ya. Saat 47:46 ini kan memenuhi hampir seluruh jam 47:48 tayang TV-TV anak-anak atau YouTube 47:51 kita. 47:52 Ee sekarang sebenarnya anak-anak lebih 47:53 mudah ya memilih ya. 47:54 Iya. 47:55 Nah, bareng dong sama orang tua ajak tuh 47:57 duduk bareng. Nah, supaya apa? dia bisa 47:59 lihat, oh ada kok karir di tempat lain. 48:02 Oh, ada akses sesuatu yang yang bisa 48:04 kita kejar gitu. 48:06 Karena sekarang bagus sekali loh di di 48:08 apa kanal-kanal di podcast ataupun 48:11 apapun juga YouTube atau Instagram 48:13 segala anak-anak itu sudah lihat 48:14 berbagai macam lapangan pekerjaan tapi 48:16 ingat algoritmanya kan menj begitu dia 48:19 senang sesuatu itu ya sudah ke situ 48:21 terus diarahkan. Ini bahaya. Bahayanya 48:23 di situ. Jadi, tugas orang tua ngajak 48:25 dia untuk algoritma itu pusing gitu ya, 48:28 supaya kenalin dong yang yang lain-lain 48:30 gitu ya, supaya algoritmanya juga nanti 48:32 menyebar gitu. 48:33 Emang harus didampingi ya? 48:34 Didampingi. Betul. Jangan dihalangi 48:36 didampingi. Gadget itu bisa powerful 48:38 untuk anak-anak kita. 48:39 Iya. Nah, kalau Prof melihat tadi dari 48:41 sisi ya lapangan pekerjaan he 48:44 ee kemudian mungkin dari sisi pendidikan 48:46 juga ee Prof. setuju enggak kalau 48:48 Indonesia itu sebetulnya tidak 48:49 tertinggal sih? Sebetulnya sama aja tadi 48:52 kalau balik ke belakang software dan 48:53 hardware-nya sama gitu. 48:55 Iya. Ya. Ya. Kalau kita lihat jelas kita 48:59 ini sebenarnya ada dua ya tertinggal itu 49:00 kan ada dua. Manusianya, kualitas 49:03 pendidikan manusianya sama kondisi 49:06 negaranya. 49:07 Kalau kondisi negara memang mau tidak 49:09 mau kita harus akui alat-alat ukurnya 49:11 itu banyak sekali menunjukkan bahwa kita 49:15 eh is not the biggest atau it's not 49:18 among the best gitu ya. Tapi kita juga 49:20 harus sadar skala-skala misalnya ee 49:23 indeks kompetitif eh indeks eh ekonomi 49:25 kompetitif kita ACI ya kalau tidak 49:27 ekonomi kompetitif indeks kita ya agak 49:29 susah. Tapi ada ukuran-ukuran di dunia 49:31 yang menunjukkan bahwa kita ini bukan 49:33 tertinggal banget kok. Enggak kita tapi 49:35 kita memang tidak puncak sekali tapi 49:37 kira-kira kita berada di 49:38 ee sekitar 50% 49:42 kita selalu bermain di sini naik turun 49:43 naik turun dikit gitu ya. Nah artinya 49:46 apa? negara sebenarnya bisa kok ee 49:49 berusaha artinya di kita berada di 49:51 negara yang tidak jelek-jelek amat gitu 49:52 ya. Tapi artinya bahkan kita negara yang 49:55 cukup bagus sebenarnya gitu ya. 49:56 Iya. 49:57 Ee bahwa kondisi ekonomi sekarang sedang 49:59 tidak menguntungkan. Iya jelas itu ada. 50:01 Kalau kita bicara-nya juga kita bisalah 50:04 kita bicara GDP segala macam kita it's 50:06 not e kita enggak berada di paling bawah 50:09 enggak. Kita berada yang cukup-cukup 50:11 bagus apalagi ee misalnya 50:13 eh natural capital kita itu juga cukup 50:15 bagus. apa ee modal alam kita itu ada 50:19 ukurannya gitu ya. Itu ada ukuran 50:21 kapital kita bagus nomor 16 kalau enggak 50:22 salah dari hampir 200 negara di dunia 50:25 kita nomor 16 gitu. Itu kan something 50:28 gitu ya. Tapi endeks ekonomi kita ee ACI 50:31 kita itu nomor 65 kalau tidak salah ya. 50:34 Artinya loh kok hartanya banyak nomor 16 50:37 ee kira-kira negara 16 terkaya di dunia 50:40 tapi dari sisi alam tapi ee kegiatan 50:44 ekonominya enggak gitu. Nah, bagaimana 50:46 dengan yang anak-anak dengan tadi kan 50:47 negara gitu. Nah, 50:49 yang diri kita sendiri ya kita ee bagus 50:52 enggak sih kira-kira gitu? Kalau menurut 50:54 saya beda-beda gitu. Ada sekolah yang 50:56 bagus, melahirkan anak-anak yang bagus 50:58 gitu ya, sehingga mereka juara-juara 50:59 olimpiade juga segala macam. Lalu ada 51:02 anak-anak yang memang sekolahnya 51:03 tertinggal. Nah, sebenarnya saya sebagai 51:06 pendidik dan melihat juga di 51:07 sekolah-sekolah Alirsyad gitu ya, kami 51:09 tuh belajar kok bahwa faktor penentu itu 51:12 tidak hanya sekolah gitu. 51:13 Hm. H 51:14 rumah itu sangat penting, sosial itu 51:16 sangat penting, 51:17 lingkungan. 51:17 Jadi kalau kita ingin menciptakan 51:19 akademik 51:20 ee sekolah memang modal yang paling 51:22 besar gitu ya. A tadi gitu ya. 51:25 Kalau kita mau menciptakan bisnis, 51:27 lingkungan bisnis kita harus diperbaiki 51:28 gitu ya. 51:29 Iya. 51:29 Kalau kita mau menciptakan ee negara 51:32 yang bagus ya lingkungan government kita 51:34 harus diperbaik gitu ya. Ee kalau enggak 51:37 orang-orang yang terbaik belajar di 51:38 tempat, dia mengahlikan dirinya di atau 51:40 terdidik dengan baik, dia tidak punya 51:44 tempat yang bayangin kira-kira biji 51:45 duren ditaruh di padang pasir 51:49 ni 51:49 ya enggak bakalan tumbuh gitu kan. Kalau 51:51 toh tumbuh sengsara sekali gitu ya. 51:53 Harus kalau toh dia tumbuh sendiri pasti 51:56 sangat sengsara. Kalau toh dia 51:57 ditumbuhkan orang kaya dia harus 51:59 disiram, dikasih pupuk segala macam 52:01 gitu. Ee sementara sebaliknya pohon 52:03 kurma ditanam di Indonesia juga sengsara 52:05 juga kan gitu ya. Dia harus dijaga betul 52:07 supaya tumbuh. Artinya gini loh 52:09 ee kita kan diciptakan oleh Tuhan ini 52:11 punya macam-macam karakter. 52:13 Tinggal dicarikan negara ini menjamin 52:16 atau masyarakat kita atau keluarga kita 52:18 leh paling tidak menjaga supaya 52:20 lingkungan kita itu cocok dengan si 52:22 karakter masing-masing 52:24 gitu. Ada juga mengut mengungkapkannya 52:26 gini ya. E telur elang 52:28 iya 52:29 diaram oleh bebek. 52:31 Ah iya. ya bebek yang enggak bisa 52:33 terbang paling terbang 52:34 ya dia enggak akan pernah belajar 52:35 terbang tinggi kecuali dia melihat elang 52:38 gitu ya 52:39 ada atau dia melihat ketika dia lahir 52:41 yang akan dilihat pertama kan ibunya 52:42 bebek juga gitu kan bebek gitu padahal 52:44 dia anak elang dia merasa dirinya adalah 52:46 bebek gitu ya 52:47 ketika sampai suatu tertentu mungkin 52:49 akan ada kegelisahan 52:50 perlawanan orang juga begitu gitu ya 52:53 tapi ketika dia ngelihat elang atau dia 52:55 dia akan sadar oh saya ini elang gitu 52:57 dia ngelihat gitu ya saya enggak tahu ya 52:59 apakah ada bebek yang ngasa dirinya 53:00 elang Saya enggak tahu. Tapi tapi 53:02 rasanya itu enggak perlu kita bahas. 53:04 Tapi bahwa kita punya kemampuan sebagai 53:06 elang. 53:07 Iya. 53:08 Lingkungan kita adalah bebek gitu ya. 53:09 [tertawa] 53:10 Ya, sekali-kali keluarin deh dari tempat 53:13 dari tempatnya bebek gitu ya. Kita harus 53:15 keluar. Nah, 53:16 di situ barangkali orang tua belum tentu 53:18 siap. 53:19 Heeh. 53:19 Gitu ya. Ngelihat anaknya adalah elang, 53:22 bukan bebek seperti dirinya 53:23 gitu ya. Karena orang tuanya mungkin 53:25 bebek gitu, tapi anaknya mungkin elang. 53:27 Karena selama ini orang tuanya 53:28 sebenarnya elang tapi dididik secara 53:30 gitu ya. Kita enggak tahu juga. Jadi 53:32 memang tugasnya orang tua itu sederhana 53:34 gitu ya. Memberikan lingkungan yang 53:38 mampu anak-anaknya untuk berkembang dan 53:40 dia tidak membatasi dirinya lalu dia 53:43 konsisten. Cuma itu tugasnya orang tua. 53:45 Kalau punya nilai agama ya memang agama 53:47 itu konsisten kita kerjakan gitu ya. 53:50 Jangan orang tua bikin bingung gitu ya. 53:52 katanya Islam tapi enggak ngerti 53:53 nilai-nilai Islam atau bahkan agamanya 53:56 campur-campur gitu ya, 53:58 anak-anak pasti bingung nilainya pasti 54:00 akan berantakan gitu. Tugas orang tua 54:02 sederhana sebetulnya semua orang tua 54:04 mampu sebenarnya gitu ya. 54:06 Iya. Masyaallah. Analogi bebek dan 54:08 langsa tadi masyaallah ya. Kadang-kadang 54:11 ya lingkungan terutama di rumah yang 54:14 bentuk itu, Prof. 54:15 Iya. Betul. Di TV juga 54:17 guru ngomong apa. Begitu keluar sekolah 54:20 YouTube bicara lain gitu. 54:21 H. Kasihan anak-anak sekarang sebenarnya 54:23 kalau orang tuanya tidak punya konsisten 54:27 maka akan lebih parah lagi. 54:28 Iya. Iya. Baik. 54:29 Iya. 54:30 Baik, Prof. Ee masyaallah tidak terasa 54:32 sudah dikasih kode nih sama kameramen. 54:33 Mungkin ada waktu sedikit lagi ya. 54:36 Nih Iwan Nawat yang baru bergabung. Iwan 54:38 AT. Saat ini kami tengah berbincang 54:40 dengan Prof. Ir. Misri Gozan. ee beliau 54:44 merupakan guru besar ee di Universitas 54:48 Indonesia, tepatnya guru besar teknik 54:50 bioproses ee dan juga teknik kimia. 54:53 Beliau juga merupakan ketua satu 54:55 pengurus pusat Al-Irsyad Al-Islamiyah. 54:58 Beliau juga ee merupakan dai ya, 55:02 pendakwah, Prof. 55:05 Perbedaan atau persamaannya apa, Prof, 55:07 di bidang akademik dan juga bidang 55:09 dakwah 55:10 mungkin apakah kadang-kadang ada juga 55:12 kan yang mendikotomi, oh ini mah ee 55:15 dunia, ini akhirat 55:17 padahal keduanya juga sama nilainya 55:19 ibadah gitu. Ada pesan, Dok? E, Prof. 55:21 Ee sebenarnya agak lucu nih, ya. Agak 55:23 lucu karena 55:24 ayah saya dan ibu saya itu bukan dai, 55:27 bukan ustaz, bukan ustazah lah gitu ya. 55:29 tidak pernah saya tidak pernah melihat 55:31 ee ayah ibu saya berbicara ee agama di 55:34 depan banyak orang kecuali satu-satunya 55:37 ibu saya yang ngajar aja di kelas gitu 55:39 ya. Nilai-nilai juga ee ringan-ringan 55:42 ditanamkan atau mungkin tidak terasa 55:44 gitu ya. Tapi bahwa secara berbicara 55:46 orasi gitu atau berdakwah dalam tulisan 55:49 gitu ya 55:50 rasanya saya belum pernah lihat gitu ya 55:52 kecuali ibu saya. Nah, justru ibu saya 55:54 itu menjadi ustazah setelah anak-anaknya 55:57 juga jadi ustaz dan ustazah gitu ya. 55:59 Justru ibu tuh terbawa gitu ya sampai 56:01 akhir hayatnya tuh sampai ee masih 56:04 ceramah tuh kira-kira ee setengah tahun 56:06 menjelang meninggal ya. Itu masih 56:08 ceramah di sekolah Alirsyad gitu ya. ee 56:10 itu karena terbawa sebenarnya karena 56:12 jabatan dan karena anak-anaknya juga 56:13 mengajak mengajak Ibu situ. Nah, saya 56:17 ngelihat tadi bahwa apa ee saya sendiri 56:21 sebenarnya 56:23 ee SMP itu tidak sengaja ada lomba di 56:26 kelas, lomba di sekolah untuk lomba 56:29 ceramah gitu terus enggak ada yang mau 56:30 ikut. Saya didorong untuk ikut gitu. 56:32 Dorong untuk daftar, didaftarin gitu 56:34 kecelakaan yang baik gitu ya. [tertawa] 56:36 Sejak itu jadi belajar. Oh, keringat 56:38 basah saya. saya itu SMP bukan berarti 56:41 langsung bisa enggak. Saya bahkan sampai 56:43 kuliah pun dipaksa 56:45 itu ngisi khotbah Jumat gitu ya. 56:47 Saya tuh keringat dingin gampang banget 56:49 gitu ya dan ee celana saya basah semua 56:54 dari baju sampai celana karena 56:55 keringatnya udah luar biasa itu. Kalau 56:57 divideoin maklunya luar biasa itu ya. 56:59 Dulu untungnya belum ada YouTube gitu 57:01 [tertawa] 57:02 jadi latihan aja gitu ya. Tapi satu hal 57:05 yang menyenangkan dari dunia akademik 57:06 dan ee berdakwah itu adalah rasanya saya 57:10 memang sangat mencintai dunia pendidikan 57:12 gitu ya. He. 57:13 Dan saya sangat bahagia kalau ee saya 57:17 bisa mengantarkan sesuatu yang ada di 57:19 pikiran saya atau yang ada nilai-nilai 57:22 itu kepada baik itu nilai-nilai ee apa 57:26 agama ya, maupun nilai-nilai memang 57:28 misalnya teknik kan juga punya nilai ya, 57:29 bahwa 57:30 ee apa kalau kita bilang 0,1 ya 0,1 gitu 57:35 bukan 0,05 gitu ya. Kita bilang segitu 57:37 ya segitu gitu. gitu kan. Itu kan nilai 57:39 ya ee ketika kita bisa menyampaikan itu 57:42 dan anak-anak itu bisa pegang betul 57:43 nilai itu, itu terlihat tuh dari matanya 57:46 dari dia setelah lulus apa itu kan 57:48 terlihat itu bahagianya luar biasa gitu. 57:51 Itu tidak itu sesuatu yang terpuaskan. 57:54 Betul. Sebaliknya kita selalu berdoa 57:56 gitu jangan sampai ada yang jadi 57:57 koruptor misalnya gitu. Karena pernah 57:59 ada mahasiswa saya gitu ya yang juga ee 58:03 hampir-hampir gitu ya 58:05 nyerempet-nyerempet kita berdoa betul 58:07 gitu dosen-dosennya itu berdoa betul 58:09 aduh jangan sampai deh gitu ya. 58:11 Ada yang mendoakan jangan sampai masuk 58:12 penjara ada yang mendoakan mudah-mudahan 58:14 di hatinya enggak gitu deh. 58:15 Mudah-mudahan enggak benar gitu. Itu kan 58:17 doa pendidik ya gitu. Saya kira 58:19 itu kebahagiaan tersendiri loh mendoakan 58:21 berhasil gitu ya melihat itu dan itu ee 58:25 mungkin orang lain kalau bisnis kan lain 58:26 ya kebahagiaannya. Maka saya bilang 58:28 logiknya beda gitu ya, enggak bisa 58:30 disamain tuh logiknya berbeda gitu, 58:31 enggak bisa dipaksakan gitu ya. 58:33 Ee, Prof dari teknik [berdehem] Prof. 58:36 Iya. 58:36 Ee apakah semakin meyakinkan nilai-nilai 58:39 agama itu dari sisi logika? 58:41 Oh, sangat jelas. Sangat jelas. Quran 58:43 itu satu-satunya ee Islam itu 58:45 satu-satunya agama yang diridai oleh 58:46 Allah. Jelas itu enggak ada 58:48 tawar-menawar. 58:49 Dan semua pertanyaan ee apapun tentang 58:52 logik terjawab dengan 58:54 jelas di dalam Quran. Kalau toh kita 58:56 belum bisa menjawabnya, kita bisa tanya 58:58 pada ahlinya. Kalau toh tidak sekarang 59:01 itu ee saya tidak pernah tuh menemukan 59:03 sesuatu yang bertentangan. Saya hanya 59:05 menemukan sesuatu yang saya belum bisa 59:07 menjawabnya. Kenapa demikian gitu ya? 59:09 Dan uniknya Al-Qur'an itu seringki 59:11 menjawab pertanyaan. Padahal saya sudah 59:13 pernah menjawab ee pernah membaca ayat 59:14 itu. Tapi seiring dengan perkembangan 59:16 ilmu pengetahuan gitu ya dan juga 59:18 perkembangan diri saya, saya selalu 59:20 menemukan ayat ini seolah-olah belum 59:21 pernah kita baca gitu. He 59:22 karena kita selalu menemukan ee sisi 59:25 yang lainnya. Kasih contoh satu ya. 59:27 Iya. [tertawa] 59:28 Dulu kita pikir tuh ketika Allah bilang 59:30 misalnya ee apa ee lahum qulubun la 59:35 yafqahuna biha gitu ya. Mereka punya 59:37 hati 59:38 he 59:39 tapi tidak pernah digunakan untuk 59:40 berpikir. Loh kita mikir dong hati kok 59:44 mikir ya. 59:45 Iya iya. 59:45 Terus kita tanya hati itu bahasa 59:47 Indonesia bahasa Arabnya qulub. Kullub 59:49 itu adalah jantung. Herz. Cari yuk gitu 59:51 ya. Kebetulan T saya baru menemukan di 59:53 tahun-tahun 2000-an ketika S3 punya 59:55 waktu cukup banyak untuk melihat-lihat 59:57 jurnal gitu. Ternyata dunia menemukan 1:00:00 bahwa hati itu punya neuron sel-sel 1:00:02 saraf yang mirip dengan otak tapi 1:00:04 jumlahnya jauh lebih sedikit. 1:00:06 Heeh. 1:00:06 Jauh lebih sedikit itu jumlahnya kalau 1:00:09 otak tuh kalau enggak salah 5 miliar 1:00:10 atau 80 miliar saya lupa angkanya. Tapi 1:00:12 hati itu hanya sekitar puluhan ribu saja 1:00:15 40 atau 80.000 neuron 1:00:17 saraf yang sama. Tapi dan Quran 1:00:19 mengatakan lahumlubfah biha enggak 1:00:22 digunakan di sini tapi di sini. 1:00:24 Artinya ternyata punya fungsi yang beda 1:00:26 tuh hati atau jantung kita itu punya 1:00:29 fungsi sebagai panglima. 1:00:31 H 1:00:31 contoh ibu-ibu 1:00:33 perempuan ya kalau 1:00:35 ee lemah e yang lemah gitu misal 1:00:37 sama-sama nih sama-sama lemah menghadapi 1:00:39 pencuri. 1:00:40 H 1:00:40 yang satu sendirian yang satu ibu-ibu 1:00:43 pegang anak bayi. 1:00:44 He. 1:00:45 Si yang sendirian sudah pasti 1:00:47 teriak-teriak. Iya. Dia merasa diri 1:00:50 lemah, dia pasti kalah gitu ya. 1:00:51 Tapi si yang pegang bayi itu jantungnya, 1:00:55 panglimanya bilang, "Kamu lawan, 1:00:57 lindungi anak ini, 1:00:58 jangan tunjukkan kelemahan kamu." gitu 1:01:00 kan. 1:01:01 Itu panglima. Berikutnya otak sama badan 1:01:03 yang mikir, yang bergerak gitu ya, yang 1:01:05 bekerja. Itu contoh lahumlubah. 1:01:08 Sama juga laki-laki gitu kan. Kalau di 1:01:11 apa? Ternyata itu ee makanya beberapa 1:01:14 ada bukunya itu mengatakan bahwa jantung 1:01:16 itu punya fungsi berpikir namanya 1:01:18 berpikir cinta. 1:01:19 H. 1:01:20 Jadi go or no go gitu ya. Ee like or 1:01:24 dislike, ee benci atau senang gitu ya. 1:01:28 Nah, makanya jaga hati itu betul gitu 1:01:31 karena ee apa ikatan di ala fil jasadi 1:01:36 ee apaah ya. Sesungguhnya di dalam di ee 1:01:40 dalam diri itu ada segumpal daging. 1:01:43 Segumpal daging ya. 1:01:45 Ee apabila shaluhu faadat fasadat 1:01:49 jasaduhu ala fahqb. Kalau rusak rusak 1:01:53 semuanya seluruh tubuh. 1:01:54 Kalau bagus bagus semuanya seluruh 1:01:56 tubuh. 1:01:56 Ingatlah itu adalah hati gitu kan. Itu 1:02:00 menunjukkan betul dan itu secara 1:02:01 kedokteran dibuktikan gitu ya. Banyaklah 1:02:03 kalau panjang ceritanya bisa panjang 1:02:04 banget ya. Ada orang ditransplantasi. 1:02:06 Buku itu menjelaskan begitu bahwa 1:02:08 hatinya bisa berubah gitu, 1:02:09 kebiasaan-kebiasaan lamanya berubah 1:02:11 gitu. Jantungnya diganti gitu ya, ada 1:02:14 kan transplantasi itu berubah gitu. 1:02:16 Dan [mendengus] ketika orang jantungnya 1:02:18 sehat juga kan, maka tubuhnya juga 1:02:20 sehat. 1:02:21 Iya. 1:02:21 I kan dan kalau begitu tubuhnya 1:02:22 jantungnya sakit, seluruh tubuh sakit 1:02:24 semua gitu ya. 1:02:26 Masyaallah, Prof. Ee terkait teknologi 1:02:29 dan dakwah Prof. ee [berdehem] ini kan 1:02:31 Prof. Ini kan ahli di bidang teknologi 1:02:33 ya. H 1:02:33 sekarang zamannya AI, perkembangan 1:02:35 teknologi yang sangat luar biasa. Nah, 1:02:37 untuk potensi 1:02:39 teknologi untuk dakwah ini seperti apa, 1:02:40 Prof? ee melihatnya 1:02:43 agar tentunya dakwah juga tidak ter 1:02:45 ketinggalan zaman gitu ya. 1:02:47 I ya. 1:02:48 Seperti apa? Karena kan 1:02:48 kalau saya ahli teknologi banget enggak 1:02:50 lah ya. Tapi saya menguasai di bidang 1:02:52 saya lah. Kira-kira 1:02:52 iya. Apalagi kalau kita melihat kan 1:02:54 anak-anak muda gitu Genz Milenial kan 1:02:56 memang 1:02:57 iya 1:02:57 apa istilahnya mendapatkan dakwahnya itu 1:02:59 dari perkembangan teknologi. 1:03:01 Iya. Ya, itu juga saya sebenarnya ee 1:03:04 waktu kecil sebenarnya enggak banyak 1:03:05 kegiatan di Alirsyad. Enggak. Tapi 1:03:06 ketika justru setelah saya jadi 1:03:08 profesor, 1:03:09 saya mulai mencintai ee kegiatan di 1:03:12 Alirsad karena salah satu mabdnya 1:03:14 dasarnya itu adalah ilmu pengetahuan dan 1:03:15 teknologi. Jadi nomor lima tadi 1:03:17 kesetaraan, nomor enam tuh ilmu 1:03:19 pengetahuan teknologi, 1:03:21 ketujuh itu modernitas, kedelapan baru 1:03:23 ukhuwah gitu ya. Setelah Quran dan 1:03:25 sunah, akidah, ibadah, dan akhlak gitu 1:03:27 ya. Jadi saya wah ini ternyata menuk 1:03:31 tinggi ilmu pengetahuan gitu ya dan 1:03:33 modernitas gitu ya. 1:03:34 Sebagai contoh gitu, kita enggak bisa 1:03:36 lepas AI. 1:03:37 Iya, 1:03:37 enggak mungkin. Tapi jadikan itu sebagai 1:03:40 sarana belajar. Jangan menggantungkan 1:03:42 diri gitu ya. Kita enggak bisa 1:03:44 menggantikan Quran dengan AI. Tapi kalau 1:03:47 kita lupa, kita bisa bertanya pada AI, 1:03:49 ayat mana yang begini? 1:03:50 Ee atau kita bisa e men-challenge AI. 1:03:54 Misalnya kita bilang ada seorang sahabat 1:03:56 yang begini. ee lalu sahabat lain 1:03:59 diajarkan oleh Rasul 1:04:01 ee kita lihat tu ada hadis yang lain 1:04:03 kita bisa challenge tuh EA itu 1:04:05 kita bisa tanya yang tidak boleh adalah 1:04:07 lalu kita bergantung percaya begitu saja 1:04:09 hasilnya enggak boleh gitu ya tapi 1:04:12 menjadikan EA itu teman oh menurut saya 1:04:14 itu enggak bisa tidak sudah 1:04:16 sudah zamannya sekarang gitu ya tapi 1:04:18 kita tinggalkan ya rugi gitu kan 1:04:20 ee tapi kita bergantung 100% enggak 1:04:22 boleh gitu ya kita harus kembali lagi 1:04:24 pada Quran kita cek betul enggak ayatnya 1:04:26 gitu Karena ay juga sering ngacau juga 1:04:29 gitu kan ya, sering ngacau juga ayat 1:04:31 salah apa segala macam dia salah 1:04:32 menempatkan. Nah, bilangnya surah Al-Fat 1:04:35 misal ternyata surat almujadalah dan 1:04:36 sebagainya dia juga sering salah gitu. 1:04:39 Jadi kita mesti cek gitu ya. 1:04:41 Baik nampaknya tidak terasa waktu juga 1:04:44 Prof. 1:04:45 Luar biasa masyaallah perbincangan kita 1:04:47 di kesempatan ini. Bincang ringan 1:04:48 sebetulnya tapi banyak nilai-nilai yang 1:04:49 disampaikan oleh 1:04:51 Prof. Misri yang luar biasa. 1:04:52 Amin. Alhamdulillah. 1:04:53 Sekali lagi terima kasih Prof. atas 1:04:55 waktunya. Mungkin eh sedikit closing 1:04:58 statement untuk para pendengar dan 1:04:59 pemirsa dari perbincangan kita. Barik 1:05:01 ada yang bisa ditarik kesimpulannya, 1:05:03 Prof. silakan. 1:05:03 Ya. Jadi ee Allah Subhanahu wa taala itu 1:05:07 menciptakan segala sesuatu itu sudah pas 1:05:11 ukurannya. Tidak hanya yang kita yang 1:05:13 diciptakan di dunia ini sudah pas ya ee 1:05:16 tapi juga ee artinya tubuh kita sudah 1:05:19 pas. Kalau toh kita ada kekurangan 1:05:21 dibanding orang lain itu pasti pas kok 1:05:23 dengan yang alam yang Allah berikan 1:05:26 kepada kita gitu ya. Kalau toh kita 1:05:28 diberi penyakit ya saat ini sedang sakit 1:05:30 Allah juga sebenarnya sudah memberikan 1:05:32 obat-obatannya 1:05:33 ee dan kita hanya kita saja yang belum 1:05:35 menemukan. Jadi jangan pernah menyerah, 1:05:38 jangan pernah merasa Allah itu tidak 1:05:40 adil. Allah itu sangat adil. Kalau Allah 1:05:42 tidak adil, siapa lagi yang adil gitu 1:05:43 ya. Dan kalau toh kita merasakan ini 1:05:46 adalah sebuah ee ujian bagi kita, 1:05:49 jadikanlah itu sebagai harapan untuk 1:05:51 mendapatkan keridaan dari Allah. Kita 1:05:53 minta kepada Allah bahwa kalau toh kita 1:05:55 belum, "Ya Allah, kalau kita enggak si 1:05:57 kalau ternyata aku belum siap apa sesuai 1:06:00 dengan ee harapanmu ya Allah, jadikanlah 1:06:03 aku orang-orang yang ikhlas, aku orang 1:06:05 yang berserah diri dan mudah-mudahan itu 1:06:07 jadi alasan Allah memberikan kita surga 1:06:09 gitu ya. Surga itu hanya diberikan 1:06:12 semata-mata karena rahmat Allah gitu ya. 1:06:14 Tapi kita bisa meminta kepada Allah 1:06:16 alasan gitu ya. Aku sudah berusaha 1:06:18 seperti ini ya Allah belum berhasil ya. 1:06:20 Kita minta alasan untuk dikasihani oleh 1:06:22 Allah. Insyaallah kita akan dapatkan 1:06:24 semua. Karena setiap muslim itu masuk 1:06:25 surga gitu ya. Kecuali memang ada yang 1:06:27 sudah berbuat dosa dia dibersihkan dulu 1:06:30 gitu ya. Tapi kalau Allah rida, apapun 1:06:32 bisa diberikan oleh Allah. Mudah-mudahan 1:06:34 manfaat ya. [tertawa] 1:06:36 Baik terima kasih sekali lagi Prof. 1:06:38 Misri Gozan 1:06:40 atas waktu, atas inspirasi ya yang sudah 1:06:44 ilmu juga yang sudah diberikan kepada 1:06:45 kita semuanya. Iya, terima kuat sampai 1:06:48 ee Ramadan sampai akhir dan dapatkan 1:06:50 pahala terbesar di Ramadan ini. 1:06:51 Amin. Insyaallah. 1:06:53 Ikhwan Awat, semoga Ikhwanawat 1:06:55 perbincangan ini bermanfaat untuk kita 1:06:57 semua. Nilai-nilai yang disampaikan, 1:06:59 pesan-pesan yang disampaikan oleh Prof. 1:07:00 ee Misri Gozan juga insyaallah menjadi 1:07:03 bekal kita untuk hari ini khususnya dan 1:07:05 untuk kehidupan kita, Ikhwan Akhwat. Dan 1:07:07 akhirnya saya Rizalq bersama teman yang 1:07:10 bertugas di kesempatan ini ada Setia 1:07:12 Budi dan juga ada Sel dan Vina ya saya 1:07:16 lupa namanya yang e menemani tugas kita 1:07:19 di kesempatan ini. Akhirnya saya Rizal 1:07:21 Alhaq dan juga teman-teman yang 1:07:22 bertugas. Subhanakamika asadu alla 1:07:24 ilahailla anta astagfir asalamualaikum 1:07:26 warahmatullahi wabarakatuh. 1:07:28 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:07:30 wabarakatuh.