Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- [musik]
- e
- [musik]
- [musik]
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Alhamdulillahiabbil alamin.
- Allahumma sholli ala Muhammad wa ala ali
- Muhammad. Ikhwan dan akhwat yang
- dirahmati Allah subhanahu wa taala.
- Bagaimana kabar Anda di pagi hari ini?
- Saat ini ikhwan dan akhwat saya tengah
- berada di salah satu masjid di bilangan
- Ciputat
- tepatnya di Kandang Jurang dan saya
- berada di Masjid Takwa Nanjar Yayasan
- Baituna di Jalan Cendrawasi Sawah Baru
- Ciputat.
- Di pagi hari ini kita akan sedikit
- berbincang dengan salah satu pembina
- Pondok Pesantren Darul Quran Yayasan
- Baituna,
- Ustaz Umar Ibrahim.
- Dan tentu saja kita akan sedikit
- mendapatkan ilmu dari beliau tentang
- pondok pesantren, masjid, dan ilmu
- beliau. Mari terus ikuti saya dalam
- program sahur bersama tokoh. He.
- Akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa
- taala. Jumpa lagi bersama kami. Saya Abi
- Agus ditemani teman-teman para pejuang
- dakwah ada Obi dan juga ada Imam dalam
- program sahur bersama tokoh. Pada pagi
- hari ini, Ikhwan dan Akhwat ee kami
- berada di
- Masjid Takwa Nanjar,
- Yayasan Baituna. Yayasan Baituna,
- tepatnya di daerah Ciputat,
- Kampung Sawah.
- Kampung Sawah,
- Bait Bintaro.
- Dekat dengan ee
- kandang jurang.
- Iya, Jurang Mango.
- Jurang Mang.
- Aduh.
- Baik, Ibuat. Di pagi hari ini kita
- bersama Ustaz Umar Ibrahim.
- Asalamualaikum, Pak Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Baik, Ustaz. Sehat ya?
- Alhamdulillah.
- Ee
- kalau pagi-pagi kegiatannya apa sih?
- Seperti biasa
- kita bangun sahur ya. Nah, biasanya
- sekitar jam .00 pagi.
- Kemudian
- para santri saya kadang-kadang ditemani
- oleh keluarga.
- Heeh.
- untuk bersama-sama mempersiapkan diri
- untuk sahur. Habis sahur biasanya
- sebelum subuh kita sudah ke masjid.
- Sebagaimana sunah Nabi.
- Heeh.
- Bahwa kita ada kegiatan mengaji, mengaji
- Al-Qur'an ya.
- Iya.
- Karena memang ponpes kami ini kan Ponpes
- tahfidul Quran.
- H.
- Jadi digunakan untuk itu sampai menunggu
- salat subuh datang.
- Habis salat subuh berjamaah selesai.
- Biasanya kita
- selama santri belum pulang ya itu mereka
- melakukan murajaah
- yaitu mengulangi hafalan-hafalan yang
- mereka
- sudah hafal bersama dengan gurunya. Kita
- ada guru tahfid namanya Ustaz Ali
- Kholidin.
- Heeh.
- Ada juga ustaz yang lain, Ustaz Ali
- Ismail dan ustaz-ustaz yang lain. Nah,
- ya.
- Dan seperti biasa juga di luar Ramadan
- dan bulan Ramadan khususnya
- biasanya
- selama mereka belum pulang ke kampungnya
- masing-masing
- biasanya kalau pagi jam 0.00 begini
- itu biasanya mereka belajar dengan Ustaz
- Ali Ismail yaitu belajar untuk bisa
- membaca kitab kuning.
- Kitab kuning?
- Iya. Karena terus terang aja pondok
- pesantren ya, khususnya di wilayah
- Jakarta.
- Ini pondok pesantren untuk putra atau
- putri?
- Untuk putra sementara ini untuk putra.
- Dan doakan insyaallah bila Allah
- memberikan rezeki kepada kita, kita akan
- membikin pondok lain untuk putri.
- Insyaallah.
- Insyaallah. Ada berapa?
- Kapas kapasitas kita itu sekitar
- 45.
- tempatnya memang agak besar tapi memang
- bisa menampung 45 karena setiap satu
- santri satu tempat tidur,
- satu kamar maksimal empat anak.
- Dan masuk di sini dites begitu
- mereka dites bila mereka
- lulus tes
- maka mereka dibebaskan dari biaya
- apapun.
- Tesnya apa saja? Ya, satu kalau
- menggunakan program yang lama ya kita
- punya program namanya Pasca Alia. Jadi
- mempersiapkan diri anak-anak untuk
- memasuki
- perguruan tinggi. Program kita 1 tahun
- 30 juz. Yang penting mereka punya ijazah
- aliah atau saraf plus bacaan
- Al-Qur'annya. Tahsinnya harus bagus.
- Karena begitu masuk di sini mereka sudah
- harus memulai menghafal. Hah.
- Alhamdulillah ya walaupun tidak semuanya
- 30 juz tapi minimal ya 17 juz ya 20 juz.
- Tapi kita janjikan kepada para calon
- mahasiswa kalau mereka hafal 30 juz
- selama 1 tahun dan insyaallah bisa masuk
- di salah satu perguruan tinggi yang
- didekat dengan kita.
- Karena saya ketepatan di UIN ya sama di
- PTIK. Heeh.
- Atau mungkin di Jamiatul Khair kalau
- mereka masuk dan lulus, kita akan
- carikan wali mahasiswa.
- Wali.
- Jadi mereka bisa kuliah gratis atas
- biaya Baituna atau melalui Baituna.
- Jadi wali mahasiswa nanti akan
- memberikan itu kepada Baituna untuk
- disalurkan kepada anak-anak kita
- yang mereka hafal 30 juz.
- H. Baik.
- Kemudian untuk konsep pendidikannya di
- sini apa sih?
- Nah. Ketepatan kita sekarang ini punya
- program baru. Program yang baru saya
- sebutkan ini berhenti.
- Berhenti tapi tetap anak-anaknya ada.
- Ya. Ya. Kita kan dalam Islam enggak
- boleh ingkar janji.
- Yang kita janjikan harus kita penuhi.
- Iya.
- Iya. Biar anak-anak nanti akan jadi
- seorang ulama. Ya ulama kan susah.
- [tertawa]
- Kalau jadi ustaz gampang. Iak itu ee
- agar supaya mereka nanti melalui proses
- kejujuran ini mereka akan menjadi orang
- yang pintar dan jujur khususnya kepada
- umat.
- Iya.
- Nah, ini program kita baru adalah
- program pondok pesantren setaraf aliah.
- Hm.
- Jadi berarti yang diterima adalah
- anak-anak yang lulus tsanawiyah atau
- SLTP.
- Heeh.
- Sama syaratnya. Yang penting dia lulus
- SLTP.
- Dan tesnya adalah tahsin.
- Heeh.
- Bacaan Al-Qur'annya bagus. Alhamdulillah
- ini baru mau dimulai.
- Heeh.
- Baru gelombang pertama nih.
- Heeh.
- Jadi gelombang pertama ini mereka belum
- selesai SLTV. Yang tertarik untuk
- mendaftar dari seluruh Indonesia sampai
- hari ini
- diperkirakan 28 anak.
- 28. E saya semoga aja nanti lubang yang
- kedua berarti nanti itu mereka setelah
- selesai SLTP
- bisa lebih besar.
- Makin banyak yang mendaftar kita akan
- seleksi lebih ketat dengan harapan
- maksimal kita akan terima sekitar 30
- karena kapasitasnya enggak mungkin
- melebihi daripada apa namanya ee
- tempat tidur.
- Tempat tidur. Betul. Yang ada
- di sini free Ustaz.
- Free. Kita punya moto di sini.
- memberi tidak meminta.
- Memberi tidak meminta. [tertawa]
- Sampai sekarang ya sampai sekarang ini
- kita tidak pernah Baituna mengajukan
- proposal ke mana saja.
- Baituna tidak pernah dalam acara-acara
- begini meminta bantuan kepada siapa
- saja.
- Lalu kemudian pendanyaannya dari mana?
- Nah, ini di sini ternyata banyak
- ustaz-ustaz di Jakarta ini
- Heeh.
- yang mau datang dengan pikirannya,
- dengan ilmunya, dengan waktunya, bahkan
- dengan uangnya. H.
- Nah, kalau kita bicara masalah
- pendidikan
- iya
- apalagi ini modelnya tahfiz ya,
- pesantren. Banyak santri
- kurang lebih ada 20 anak.
- Heeh.
- Ee dan di sini free. Nah, itu yang
- mungkin jadi pertanyaan di mana
- pendanaannya, Ustaz? Dari mana? Begitu.
- Baik. Insyaallah hari ini 20 akan datang
- akan lebih banyak lagi ya.
- Yayasan Baituna yang diketuai oleh Pak
- Abdullah Aljufri.
- Heeh.
- Saya sebagai pembinanya dan ada pembina
- yang lain yaitu Ustaz Husein Alatas,
- Ustaz Hamzah, Ustaz Fauzan
- itu kita punya moto di sini.
- Heeh.
- Memberi tidak meminta.
- Hm.
- Secara duniawi ya. Nah, jadi di
- pengajian kita yang setiap bulan tuh
- hari Sabtu terakhir yang hadir sekitar
- 500 lebih
- iya
- itu tidak pernah ada kata-kata minta
- bantuan secara materi. Enggak ada.
- Memang itu
- mutu kita.
- Heeh.
- Dan kita juga Yayasan Baituna tidak
- pernah mengajukan proposal ke siapapun.
- Negara manaun, partai [tertawa] manapun,
- ormas manaun. Jadi
- untuk minta bantuan
- di saat ee banyak lembaga-lembaga
- sekarang yang mereka ber apa namanya?
- bersandar pada
- instasi tertentu justru Baituna beda ya.
- Baituna bisa dikatakan independen
- begitu.
- Saya tidak mengatakan baituna. Saya
- yakin ada lembaga yang lain seperti ini.
- I
- karena ee ada cuma kami memang lebih
- cocok dengan membuat moto seperti itu
- ya.
- Iya. Dan kita punya ustaz-ustaz hebat
- yang mereka bukan cuma datang membawa
- ilmunya,
- Heeh.
- menyisihkan waktunya,
- tapi mereka juga kadang-kadang membawa
- uangnya.
- Datang ke sini tanpa harus kita minta.
- Nah, sekarang kenapa kita punya mutu
- seperti itu? Terus terang dalam dunia
- pendidikan itu pendekatan metodologi
- kadang-kadang lebih fasih daripada
- materi.
- Iya. Jadi, kami mengajarkan anak-anak
- untuk menghafal Al-Qur'an.
- Heeh.
- Tetapi bagaimana juga mempunyai cara
- berpikir qurani, sikap qurani. Nah,
- salah satu di antaranya adalah berpikir
- qurani, bersikap qurani adalah mempunyai
- sikap memberi lebih besar daripada
- mendapatkan sesuatu yang bersifat
- duniawi di waktu dia berada di dunia.
- Jadi, kita ingin santri-santri kita ini
- setiap ketemu dengan siapapun selalu
- yang dipikirkan apa yang bisa kami
- berikan? Apa yang bisa kami berikan? itu
- ditanamkan oleh para ustaz-ustaz yang
- memberikan materi kepada para santri di
- sini.
- Kami hanya ingin mengikuti ya. Jadi saya
- kira itulah yang kami teladani dari Nabi
- Muhammad sallallahu alaihi wa ali
- wasallam, keluarganya, para
- sahabat-sahabatnya yang mulia.
- Heeh. Mereka berdakwah dengan sikap
- memberi. Makanya tidak heran orang yang
- mempunyai sikap seperti ini biasanya
- akan lebih diterima oleh masyarakat yang
- ditemuinya. Kami kepin ingin
- santri-santri kami nanti insyaallah
- memberikan nuansa yang qurani untuk
- perkembangan dakwah di Nusantara. Heeh.
- Dengan hafal Quran, memahami Al-Qur'an,
- berpikir qurani, berjiwa qurani, salah
- satu sikap yang ditonjolkan adalah
- memberi dan memberi.
- Insyaallah.
- Baik,
- Ustaz. Saat ini
- kesibukannya juga sebagai dosen pasca
- sarjana.
- Nah, ini kan juga banyak menghadapi para
- mahasiswa
- dari berbagai macam latar belakang gitu
- kan. Kemudian Ustaz juga sering
- mengadakan diskusi-diskusi
- apa yang kemudian membuat Ustaz ee
- tertarik dengan dunia pendidikan di
- kampus?
- Iya, saya alhamdulillah
- sudah 40 tahun sebagai seorang pengajar.
- Ya,
- 40 tahun.
- Iya. Kalau saya katakan pendidik terlalu
- berlebihan.
- Gak tahu saya ini pendidik atau tidak,
- tapi yang jelas saya hanya mentransfer
- ilmu kepada mereka.
- 40 tahun. Wallahuam ya. Saya tidak boleh
- menilai diri saya kalau ada kelebihan.
- Iya.
- Dan saya awali mengajar dari SD
- H
- sampai perguruan tinggi. Jadi memang
- saya guru karir. Yang belum saya jadi
- guru TK. I saya ingin jadi guru TK. Nah,
- sekarang sudah waktunya saya mengajar
- S2, S3.
- Iya. Nah, muat saya
- ada satu hal yang menyenangkan karena
- saya bertemu dengan ustaz-ustaz
- kan saya mengajar saya dosen Uwin tapi
- diperbantukan di PTIG.
- He.
- PTIG itu gudangnya ustaz-ustaz dari
- berbagai macam kelompok.
- Kelompok apapun ada
- di UN ya.
- Iya. Ada ahli sunah wal jamaah.
- Heeh.
- Ada yang bukan ahli sunah wal jamaah.
- Ahli sunah wal jamaah dengan berbagai
- macam ragamnya ada semuanya. Heh. Heeh.
- Dan saya mengajar satu mata kuliah yang
- memang menarik yaitu terkait dengan
- pemikiran.
- Iya.
- Jadi pasti mata kuliah itu akan
- menyebabkan kelas itu menjadi hangat.
- Heeh.
- Tetapi dengan semangat
- melihat umat Islam itu ada satu
- perbedaan itu adalah hal yang wajar tapi
- tetap dalam satu bingkai yang tidak
- keluar dari Al-Qur'an. Saya terus terang
- aja, tidak ada satu taman yang paling
- indah kecuali di waktu saya mengajar di
- kelas dengan keberagaman ustaz-ustaz
- tadi. [tertawa]
- Saya mencintai kerjaan ini. Itu alam
- lain. Ini alam pondok. Alam lain.
- Alam [tertawa] lain.
- Tapi [berdehem]
- ternyata bisa mengcombine itu menjadi
- sesuatu yang lebih menarik.
- Saya di waktu masih mondok tahun 3
- di pondok pesantren di Bondowoso saya
- belajar kitab taklim mutaalim.
- Katanya ngajar itu menambah ilmu.
- Terus terang aja mengajar para mahasiswa
- yang beragam ini menambah ilmu bagi saya
- dan menambah wawasan khususnya tentang
- masalah persatuan Islam dan persaudaraan
- Islam.
- Baik.
- Iya. Iya, ikhwan dan akhwat yang
- dirahmati Allah subhanahu wa taala.
- Masih bersama Ustaz Umar Ibrahim dan
- saat ini kita berada di Masjid Takwa
- Nanjar, Yayasan Baitunai ya, Ustaz. Dan
- di pagi hari ini masih dalam program
- sahur bersama tokoh. Tadi kita bicara
- tentang masalah
- santri, kemudian ee program ee yang ada
- di pesantren ini. Kemudian dari mana
- pendanaannya dan ternyata memang
- pendanaannya dari para dermawan bisa
- dikatakan seperti itu.
- Iya. tanpa kita.
- Tapi mereka punya moto yang menarik para
- ikhwan dan akhwat yaitu motonya adalah
- memberi tapi tidak
- meminta.
- Meminta
- ini sesuatu yang sangat jarang yang
- ditetapkan di berbagai lembaga
- pendidikan. Nah, tadi terakhir kita
- bicara tentang masalah persatuan Islam
- karena Ustaz Umar Ibrahim ini juga salah
- satu dosen pasca sarjana UIN
- untuk program S2 S3 ya.
- Pasca sarjana Yuin yang diperbantukan di
- PTIG.
- Dibantukan di PTIK dan pernah menjadi
- santri ternyata di pondok pesantren di
- daerah
- Bondowoso.
- Bondowoso Jawa Timur.
- Bondowoso Bangel.
- Nah, Bondowoso Bangel. Dan
- mungkin saya ingin ingin bertanya,
- Ustaz. Pengalamannya apa dulu menjadi
- santri? Kalau sekarang jadi pembina
- santri. Tapi kan sebelum menjadi pembina
- santri pernah jadi santri dulu.
- Pengalamannya apa jadi santri?
- Ya, saya berawal dari
- keluarga yang tidak mampu ya.
- Heeh.
- Dan
- ada satu jiwa yang ditanamkan oleh ayah
- saya
- dari sisi keilmuan ya.
- Ilmuwan
- tidak pernah merasa puas dengan apa yang
- yang kita dapat.
- Nah,
- jadi oleh karena itu tuh melahirkan satu
- sikap belajar dan belajar tanpa harus
- memikirkan hasilnya apa gitu.
- Iya. karena hasil bukan urusan kita. He.
- Ee ini maaf bukan saya ingin
- menyombongkan diri. Di pondok di waktu
- itu ada program tamat itu sekitar 8
- sampai 9 tahun.
- Heeh.
- Tapi alhamdulillah dengan jiwa ini cuma
- belajar 4 tahun setengah bukan tamat
- saya, tapi saya mengajar
- 4 tahun setengah.
- I dan di pondok itu juga yang saya ajar
- sekarang sudah jadi doktor dan lain
- sebagainya.
- Dorongannya apa? bisa [tertawa]
- dorongannya hanya sesuatu yang ada dari
- dalam.
- Heeh.
- Bahwa kita di pondok ini tugasnya hanya
- belajar. Enggak lebih dari itu. Belajar,
- belajar. Jelas mengamalkan ya sebagai
- seorang muslim
- apa-apa yang harus kita amalkan. Hanya
- itu aja.
- Enggak pernah berpikir nanti saya akan
- jadi seorang ustaz berada di mana.
- Enggak. Yang saya pikirkan cuma belajar
- dan belajar. Karena saya yakin sebagai
- seorang muslim dan ditanamkan oleh ayah
- saya, ayah saya adalah guru saya yang
- pertama dan ustaz-ustaz saya
- bahwa siap yang bertakwa termasuk kan
- belajar ilmu Al-Qur'an itu bertakwa
- iya
- dan sabar
- maka insyaallah
- Allah Subhanahu wa taala akan memberikan
- kepada kita dua hal. Pertama adalah
- jalan keluar atas segala urusan kita.
- Dan yang kedua adalah Allah Subhanahu wa
- taala akan memberikan rezeki. Apapun
- bentuk rezeki itu tidak harus uang.
- Termasuk Ponpes ini adalah sebuah rezeki
- lahan kita untuk berdakwah. Iya enggak?
- Yang sebelumnya tidak disangka-sangka
- bagi saya yaitu dari arah yang kita
- tidak sangka-sangka. Sebelumnya
- Ponbas ini namanya apa?
- Kita namanya Darul Quran Baituna.
- Darul Quran Baituna.
- Iya. Ya, kalau Nanjar ini takwa Nanjar
- ini nama masjidnya.
- Semestinya yang lebih kita tonjolkan
- adalah bukan nama masjid.
- Heeh.
- Tapi nama
- pondok kita.
- Pondok pesantren.
- Lebih enak kalau dikenal sebagai Darul
- Quran. Baituna.
- Darul Quran.
- Nah, di dalam Darul Quran ada masjidnya.
- Hm. H.
- Karena masjid ini kan masjid wakaf dari
- seseorang yang ketepatan mewakafkan
- atas nama almarhumah istri beliau
- namanya Nanjar. H.
- Ya, kita harus jujur. Kita kasih nama
- Masjid Takwa. Ada Nanjarnya di sini.
- Jadi, Nanjar ini nama ee seorang ibu
- begitu.
- Seorang ibu yang baik
- yang ketepatan bersuami dari suami yang
- baik pula. Jadi ini adalah merupakan
- satu bangunan masjid ini adalah
- diwakafkan dan diberikan untuk umat atas
- nama almarhumah istri beliau. He.
- Tapi orang-orang di sini mungkin
- mengenalnya di sini Masjid Takwa Nanjar
- ya.
- Dulu bahkan bukan bukan Takwa Ken Najar
- yang dikenal adalah Masjid Nanjar.
- [tertawa]
- Tapi kita selalu berusaha kepada
- masyarakat kita beritahu bahwa ini
- baituna.
- Baituna?
- Iya baituna. Baituna artinya rumah kita.
- Betul. Oh,
- muslimin dengan keanekaragamannya
- silakan salat di sini.
- Heeh.
- Enggak akan dibatasi dan mereka tidak
- akan diplototin kalau berbeda gitu ya.
- [tertawa]
- Ada ada pesantrennya Darul Quran.
- Darul Quran Baitunah. Iya. Takwaj.
- Baik,
- Ustaz. Saya tertarik dengan tadi apa
- yang Ustaz sampaikan tentang persatuan
- di tengah keanekaragaman bangsa ini, di
- tengah keanekaragaman
- ee umat muslim gitu kan. Tadi ustaz juga
- menyebutkan banyak sekali pemahaman di
- negeri ini. Ahlusunah wal jamaah pun
- banyak sekali macamnya begitu.
- Iya. Iya.
- Sebenarnya
- apa tantangan kita saat ini, Ustaz?
- Ketika kita melihat persatuan umat Islam
- di negeri ini?
- Iya.
- Ee yang menurut saya
- iya
- yang perlu ditatah adalah
- pola pemahaman dan pola pemikiran.
- Nah, khususnya terkait dengan memaknai
- istilah ahlusunah dan ahlusunah wal
- jamaah.
- Ahli sunah
- ada ahli sunah ada ahli sunah wal
- jamaah.
- Sunah
- ee kita kan kadang-kadang pemahaman kita
- lebih banyak didasarkan kepada
- perkembangan historis yang ada sekarang
- ini.
- Kan segala sesuatu yang sudah berlalu
- itu namanya sejarah kan.
- Iya.
- Iya.
- Jadi kalau kita kembali kepada makna
- ahlusunah karena maka ahli sunah di
- waktu itu sesuai dengan sunah Nabi
- dikatakan ma alaihi ana wa ashabi.
- Apapun yang saya lakukan dan dilakukan
- oleh sahabat-sahabat
- saya. Nah, ternyata perbedaan itu sudah
- ada sejak zaman sahabat
- dalam memahami apa yang dilakukan oleh
- Nabi Muhammad.
- Heeh. Jadi siapapun orang yang mengikuti
- Sayidina Abu Bakar Assiddiq,
- Umar ibn Khattab, Utsman bn Affan
- radhiallahu anhum wa Imam Ali ibn Abi
- Thalib karamallahu wajha dengan
- keanekaragamannya ya enggak?
- Nah
- mereka maka kita katakan itu sebagai
- ahli sunah dari apapun nama mereka.
- Iya.
- Iya.
- Eh, ikhwan dan akhwat yang dirahmati
- Allah subhanahu wa taala. Ini dia Masjid
- Takwa Nanjar, Yayasan Baituna. Nanjar
- ternyata adalah nama seorang ibu yang
- memang mewakafkan
- tanahnya untuk
- suaminya mewakafkan.
- Iya. Untuk menjadi sebuah masjid dan ada
- pesantren Darul Quran Baitunah gitu,
- Ustaz ya. Dan mari kita masuk ke
- dalam masjid. Kita lihat di dalam ini
- ada acara apa saja kalau untuk
- ini masjid kosong
- ee para santri kita sedang belajar
- dengan Ustaz Ali.
- Heeh.
- Ustaz Ali Ismail yaitu mempelajari
- bagaimana cara membaca kitab kuning.
- Baik
- ya. Baik.
- Silakan kalau
- jadi ada pelajaran kitab kuning ya.
- Ikhwan akhwat. Mari kita bersama ikuti
- ee masih dalam program sahur bersama
- tokoh.
- Bismillah.
- Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah
- subhanahu wa taala. Saat ini kita berada
- di masjid sudah berada di dalam masjid
- Takwan Anjar.
- Dan Ustaz bisa diceritakan Ustaz ini
- masjid ini ee bagaimana? Jadi pertama
- kali di waktu dilimpahkan amanahnya
- kepada Yayasan Baituna,
- masjid ini seperti ini,
- model seperti ini.
- Walaupun ada renovasi-renovasi agar
- supaya kelihatan lebih bagus ya, ada
- tambahan-tambahan.
- Kemudian yang paling tambahan yang
- paling besar adalah pendopoh di depan
- tadi. Depan ada pendopoh.
- Ee dulu
- saya tidak tahu alasannya kenapa ya
- masjid ini sepi. Tetapi alhamdulillah di
- bawah
- Yayasan Baituna
- itu kalau magrib bisa sampai 4 saf.
- Hmm.
- Ee parkir-parkir juga penuh. Misal
- biasanya mereka menunggu sampai isya.
- Subuh pun sampai dua saf, tiga saf ya.
- Masyarakat lebih banyak ketimbang
- santri. Santri kan enggak banyak
- masalah.
- Dan kita ada pengajian-pengajian yang
- menggunakan masjid ini juga pengajian
- majelis-majelis taklim anak muda-muda di
- sini itu bergabung di tempat ini.
- H.
- Saya berharap insyaallah di kemudian
- hari pengajiannya akan lebih bagus.
- Yait tadi kembali kepada moto kita. Kita
- ingin memberi yang terbaik
- kepada masyarakat.
- Iya.
- Iya. segala sesuatu yang Allah berikan
- kepada kita.
- Dan memang setiap bulannya Ustaz Husein
- Alatas juga mengisi di sini ya.
- Baik. Iya. Setiap bulan Ustaz Husein
- Alatas, Ustaz Hamzah, Ustaz Fauzan,
- kadang-kadang Pak Heri juga ya.
- Itu hari Sabtu yang terakhir
- itu ngisi di sini mulai dari jam 0.30
- sampai zuhur.
- Heeh. Untuk bulan Ramadan ini juga
- biasanya ada kegiatan
- bulan Ramadan kita ada kegiatan hampir
- tiap hari untuk masyarakat ya.
- ketadarusan ya.
- Dan biasanya nanti kita ngadakan
- biasanya pada hari-hari tertentu seperti
- Nuzulul Quran dan lain sebagainya.
- Dan insyaallah bulan Ramadan ini akan
- lebih baik daripada Ramadan-Ramadan
- sebelumnya.Ayaallah.
- Insyaallah.
- Dan biasanya ada program qiyamulail di
- masih takun aja?
- Ee
- tahun yang lalu belum ya.
- Ee tahun ini insyaallah kita akan adakan
- program qiyamullail
- dan digabungkan juga dengan kegiatan
- tahfid. He.
- Karena kan pondok pesantren kita adalah
- konsen di bidang tahfidul Quran.
- Heeh.
- Dan kita berharap di kemudian hari di
- Ramadan ini insyaallah kita akan kerja
- sama dengan
- banyak lembaga-lembaga tahfid
- untuk menggunakan tempat ini
- bersama-sama.
- Sahur bersama, buka bersama. Kemudian
- program 10 hari terakhir di bulan
- Ramadan.
- Tiap hari kita adakan buka bersama.
- Heeh. ee free dari Baituna atau siapapun
- yang membantu Baituna tanpa kita meminta
- [tertawa]
- ya. Ee walhasil
- sebanyak apapun yang Allah berikan kita
- berusaha sebanyak apapun kita berikan
- kepada
- hamba-hamba Allah yang lain.
- Heeh.
- Untuk untuk program itu ee apa 10 hari
- menjelang akhir Ramadan juga ada?
- Ada. Ada insyaallah ada kita itu yaitu
- program-program khususnya malam-malam
- ganjil ya.
- Malam-malam ganjil
- dan biasanya kita lakukan yaitu kegiatan
- qiyamulail.
- Heeh.
- Qiyamulail dibimbing oleh ustaz atau
- dibimbing oleh santri kita. Kan
- santri-santri kita ini saya enggak tahu
- disebut ustaz atau tidak. Alhamdulillah
- mereka sudah hafal 30 juz, 20 juz.
- Mereka juga mahasiswa, mereka juga
- aktivis juga. atau misal ee kita
- libatkan itu
- insyaallah sudah sudah layak mungkin
- menyandang gelar Ustaz.
- Iya, insyaallah
- karena sudah hafiz.
- Iya, terserah masyarakatlah dipanggil
- ustaz atau tidak. [tertawa] Yang penting
- kan kita memberi
- mau disebut ustaz, mau dipanggil apa aja
- terserah itu misal.
- Tapi kalau kita bicara masih takonajar
- ini berapa sih luasnya, Ustaz?
- Tanah secara menyeluruh
- adalah 4.500
- m². Saya tidak tahu persis luasnya
- masjid ya. Yang tahu adalah ketua
- yayasan.
- Heeh.
- Saya kan di sini sebagai pembina belum
- sempat tanya. [tertawa]
- Baik, Ikhwan dan akhwat. Ee
- kita nanti akan berbincang lebih dalam
- lagi dan kami berharap Anda tetap masih
- bersama kami dalam program sahur bersama
- tokoh ziarah Masjid Takwa Nanjar.
- Yayasan Baitunah. Yayasan Baitun.
- Yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala.
- Masih bersama saya Abi Agus ditemani
- para rekan-rekan pejuang dakwah. Ada
- Robi dan Imam dan juga rekan-rekan para
- pejuang dakwah yang ada di berbagai
- daerah seperti di Sukabumi, Semarang,
- dan juga di Batam. di pagi hari ini
- masih dalam program sahur bersama tokoh.
- Sebuah program yang menghadirkan
- ee ustaz, ulama, habaib, kemudian tokoh
- masyarakat ataupun ahli akademis yang
- hadir menemani ikhwan dan akhwat dalam
- bersantap sahur di bulan Ramadan. Dan
- lokasi kita saat ini berada di Masjid
- Takwa Najar Yayasan Baitunah gitu ya,
- Ustaz ya. Baik, kalau tadi kita bicara
- panjang lebar tentang masjid ini dan
- kemudian kita juga bicara tentang ee apa
- ee latar
- juga salah seorang santri. Ustaz kalau
- kita bicara yang agak sedikit kekinian
- begitu ya.
- Kalau kata anak-anak sekarang, zaman
- now. [tertawa]
- Iya,
- zaman now. Apa sebenarnya tantangan umat
- Islam saat ini, Ustaz? Di tengah
- keanekaragaman yang begitu banyak sekali
- pemahaman, begitu banyak sekali
- perbedaan.
- Baik,
- ee
- saya ingin memulai dengan
- mengupas istilah zaman now, ya.
- Zaman itu bahasa Indonesia yang terambil
- dari bahasa Arab. Now itu adalah bahasa
- Inggris.
- H
- itu menggambarkan bahwa
- zaman ini adalah krisis kepribadian.
- Enggak jelas.
- Iya ya. Apakah
- zaman yang berasal dari sebuah bahasa
- yang tadi saya sebutkan now juga gitu
- ya. Enggak berasal dari bahasa Inggris.
- Makanya generasinya disebut dengan
- generasi micin. [tertawa]
- Jadi generasi yang pada dasarnya bukan
- pada ini pada umumnya ya banyak
- person-person yang luar biasa.
- Ee
- jadi mereka yang pada dasarnya
- menjadi hebat secara instan,
- tetapi kehebatannya itu tidak dibangun
- atas dasar kepribadian
- qurani.
- Kalau kita muslim qurani. Karena memang
- Al-Qur'an ini kan kitab yang mengajarkan
- Islam rahmatan lil alamin.
- Nah, di sini otomatis tanggung jawab
- lembaga-lembaga pendidikan formal maupun
- tidak formal, ustaz-ustaz,
- pendidik-pendidik dan pengajar-pengajar
- bagaimana menjadikan anak-anak dididik
- kita khususnya umat Islam yaitu
- mempunyai kepribadian
- yang qurani atau asyahsiah al-quraniyah
- sehingga dia mempunyai pola berpikir
- yang qurani juga yang wawasannya adalah
- rahmatan lil alamin.
- Ini tantangan kita.
- Nah, baituna
- atau darul Quran, baituna berusaha
- walaupun kecil. berusaha yakin bersama
- dengan lembaga-lembaga yang sama untuk
- menjadikan anak-anak yang secara real
- memang hidup di zaman now tapi tidak
- menjadi generasi micin tapi generasi
- yang qurani. Kira-kira demikian.
- H generasi Quran dan ini yang kemudian
- dicetak oleh Darul Quran, Yayasan
- Baituna. itu salah itu program kita yang
- terpenting
- cetak itu
- yang artinya kemudian bahwa
- diharapkan para santri setelah keluar
- dari Darul Quran Yasan Baituna ini bisa
- menjadi
- Al-Qur'an Al-Qur'an yang berjalan, bisa
- menyebarkan rahmatan lil alamin.
- Itu harapan Yayasan Baituna dan harapan
- semua yayasan-yayasan Islam di seluruh
- dunia. Ya, bukan satu satu yang khas
- untuk Baitunah, tapi semua
- yayasan-yayasan Islam di seluruh dunia
- harus bisa menjadikan anak didiknya
- sebagai generasi sebagaimana yang pernah
- dibentuk oleh Nabi Muhammad.
- Heeh. Generasi
- qurani dan berakhlak qurani, berpikir
- qurani, bersikap qurani. Saya kalau
- bicara qurani insyaallah kita akan bisa
- diterima di lingkungan kita yang kecil
- dan bisa diterima dalam lingkungan yang
- bersifat global seluruh dunia. Karena
- Al-Qur'an mengajarkan Islam yang
- rahmatan lil alamin.
- Bukan lil muslimin saja. Nah, Ustaz, ini
- kan saya termasuk generasi sekarang.
- Terkadang kita juga bingung, Ustaz, ee
- ketika kita ingin berguru karena terlalu
- banyak ustaz, terlalu banyak ulama gitu
- ya. Kira-kira bagi kita
- generasi-generasi saat ini siapa yang
- harus kita ikuti Ustaz? Karena yang
- ustaz ini ngomong ini, ustaz ini ngomong
- ini, ustaz ini ngomong ini, ulama ini
- ngomong ini. Jadinya kadang-kadang kita,
- "Oh, yang benar tuh yang ini. Oh, yang
- benar yang ini, yang ini salah, gitu."
- Ini gimana?
- Baik,
- itu sebuah tantangan ya, khususnya di
- media sosial ya.
- Iya.
- seorang ustaz
- mungkin saya [tertawa]
- menyalahkan ustaz yang lain di media
- sosial misal ya
- e yang dulunya biasanya diskusi itu di
- kelas yang kecil
- enggak terdengar di mana-mana tapi
- teknologi sekarang sudah begitu canggih
- orang berbisik saja
- terdengar oleh dunia secara utuh ya
- enggak?
- Heeh.
- Ee bukan berarti apa yang terjadi hari
- ini tidak ada di zaman dahulu. mungkin
- lebih dahsyat itu di zaman-zaman dulu
- yang namanya pergumulan pemikiran,
- perdebatan dan lain sebagainya luar
- biasa dahsyatnya. Cuma sekarang ini
- perdebatan-perdebatan yang begitu hebat
- yang dilakukan oleh ustaz-ustaz yang
- hebat juga
- melahirkan sebuah kehebohan karena apa?
- Disalurkan melalui sebuah media sosial
- yang mendengarnya kadang-kadang enggak
- siap untuk mendengarkan perdebatan model
- seperti ini.
- Hm. Saya tidak mengatakan salah benar,
- tapi menurut saya ada satu sikap yang
- tidak bijak membicarakan tentang
- perbedaan secara terbuka yang mana nanti
- akan didengar oleh umat Islam, mungkin
- di luar umat Islam yang notah ini tidak
- mempunyai kesiapan
- atau dasar-dasar pemikiran yang sedang
- diperselisihkan oleh ustaz-ustaz tadi.
- Heeh.
- Sehingga akan menimbulkan kegaduhan.
- kebingungan dan lain sebagainya. Oleh
- karena itu, menurut saya
- apa yang terjadi ini kita enggak bisa
- menutup mata ya. Sebab pelaku-pelakunya
- adalah orang-orang pintar yang disebut
- dengan ustaz. Heeh.
- Ah, saya ustaz tapi enggak pintar ya.
- Ustaz [tertawa]
- itu. Tetapi kalau itu dilakukan oleh
- seseorang yang biasa disebut dengan
- ulama,
- saya yakin
- seorang ulama meskipun berbicara di
- hadapan siapapun tidak akan melahirkan
- sebuah kegaduhan.
- Cuma yang jadi masalah di sini sekarang
- kadang-kadang kita menganggap kalau
- ustaz pasti ulama.
- Hm.
- Sedangkan enggak kalau ulama pasti ustaz
- ya. Sebab ulama itu kalau kembali pada
- Al-Qur'an
- itu disebutkan dengan istilah
- innama yaksyallaha min ibadihil ulama.
- Heeh.
- Mulakan kalimat innama adatul hasrin
- yang bahwasanya yang takut kepada Allah
- dari ciri ulama itu takut kepada Allah
- min ibadihi dari hambanya. Itulah yang
- disebut dengan ulama. Nah, dari firman
- Allah ini ada dua ciri ulama yang
- menonjol. Pertama adalah takut kepada
- Allah Subhanahu wa taala. Dan takut Mas
- Agus letaknya dalam hati. Ya, Mas Agus
- enggak pernah tahu apakah saya ini
- berbicara baik didasarkan pada takut
- kepada Allah atau takut penghasilan
- bulanan saya hilang atau tidak. AT misal
- [tertawa]
- ya enggak
- Anda tidak tahu saya ulama atau tidak
- kan gitu kan. Dan saya juga tidak tahu
- orang lain itu ulama atau tidak.
- Paling-paling saya berhus berbaik sangka
- berdasarkan lahir yang lahir yang kita
- saya lihat bahwa dia adalah ulama. Dan
- yang kedua min ibadihi.
- Orang disebut dengan hamba.
- Kalau yang bersangkutan itu
- dia pintar.
- Heeh.
- Dia mengamalkan ilmunya. Iya enggak? Dan
- yang ketiga, dia sangat bijak.
- menyampaikan ilmunya kepada yang lain
- sebagaimana sikap-sikap bijak yang ada
- pada para nabi dan para rasul.
- Sebab yang namanya ulama itu kalau
- disebut dengan hamba berarti
- keinginannya dia
- he
- itu betul-betul menyatu dengan keinginan
- Allah Subhanahu wa taala dan keinginan
- Allah itu ada di dalam Al-Qur'annya.
- Ah, sekarang kembali. Maaf-maaf ini
- sebelumnya saya juga ustaz. Misalnya
- apakah ustaz-ustaz seperti saya dan
- ustaz-ustaz yang lain mempunyai
- sifat-sifat khasiatullah?
- Kalau alim mereka alim. Amil atau tidak?
- Wallahuam.
- Arif bijak dalam menyampaikan
- perkataannya.
- Ah, itu
- ya bisa di dinilai tapi sangat sulitlah
- ya.
- seperti misal Pak Agus sebagai ustaz,
- saya Ustaz kita ada perselisihan
- pendapat misal
- kita tahu kalau perselisihan ini kita
- angkat di media sosial akan menyebabkan
- umat yang bersatu menjadi pecah yang
- pecah makin pecah. Apakah sikap saya
- menyampaikan perbedaan apalagi
- menggunakan bahasa yang kotor, bahasa
- yang tidak etis, yang tidak qurani,
- apakah masih bisa disebut saya yang
- punya sikap seperti itu sebagai ustaz
- yang bijak? Jawabannya tidak.
- Saya sebagai seorang muslim berharap ini
- tantangan kita tuh.
- Semoga ustaz-ustaz kita termasuk di saya
- akan menjadi ulama.
- Nah, semoga insyaallah dengan ciri-ciri
- yang tadi saya sebutkan.
- Takut kepada Allah, berusaha menyatukan
- keinginan kita dengan keinginan Allah
- dengan menjadi seorang alim, seorang
- amil sekaligus sebagai seorang arif yang
- bijak. dan
- dalam menyampaikan pandangannya
- dan pengakuan ini atau gelar ustaz
- ataupun ulama ini datang dari
- masyarakat. Betul. [tertawa]
- Kalau di Indonesia ya di Indonesia dari
- masyarakat.
- Ee ustaz dalam budaya kita
- itu adalah siapapun yang punya kemampai
- ilmu walaupun sedikit kalau dia
- mengajarkan kepada orang lain dia adalah
- ustaz.
- Heeh. Tapi belum tentu ulama.
- Belum tentu ulama. Itu ustaz dalam
- budaya kita mungkin. Maaf nih, Ustaz
- dalam budaya masyarakat Mesir lain.
- Ustaz itu harus doktor dulu.
- H.
- Maka tingkatan seorang profesor disebut
- dengan apa?
- Almarhalah al-ustaadziyah.
- Tingkatan keustan.
- Jadi kalau seandainya kemudian ada
- seseorang mengatakan saya ustaz. Mereka
- yakin kalau orang yang bersangkutan
- adalah betul-betul seorang profesor atau
- kalau enggak profesor, dia seorang ahli
- yang luar biasa dalam satu bidang.
- Saya ulangi lagi, Ustaz itu istilah
- budaya.
- Heeh.
- Iya. Istilah budaya. Setiap daerah
- mempunyai istilah-istilah untuk menyebut
- tokohnya. Dan yang kedua,
- ustaz itu juga tidak ada dalam Al-Qur'an
- dan sunah Nabi. Yang ada adalah alulama.
- Ulama adalah pewaris nabi.
- Nah, apalagi disebut dengan warasatul
- anbiya. Berarti kan walaupun dia tidak
- tidak nabi, tidak rasul, tapi ada
- sifat-sifat kemiripan dengan Nabi.
- Pintar mengamalkan,
- bijak menyampaikan, bahasanya halus,
- tidak marah-marah,
- sopan. Kalau mengkritik orang yang
- dikritik merasa tidak disudutkan,
- tapi makin asik bila dikritik oleh dia.
- Ini kan dibutuhkan
- satu kemampuan
- yang luar biasa untuk bersikap bijak
- seperti ini.
- Ya, alhamdulillah kita jadi ustaz. Tapi
- alhamdulillah summa alhamdulillah kalau
- kita menitih jalan untuk menjadi ulama.
- Ulama
- Indonesia, Pak Agus.
- Enggak butuh banyak ulama.
- Tidak perlu.
- Enggak perlu. Satu, dua, ulama. Cukup.
- Ulama itu keberadaannya
- kalau ada dua orang-orang baik, kelompok
- baik, semua baik kan. Kadang-kadang dua
- kelompok baik, dua-duanya bertikai.
- Kalau ulama yang datang,
- pertikaihan itu tidak akan lebar ke
- mala-malah.
- Pasti dia mengatakan, "Eh, masyarakat
- sesama muslim itu enggak boleh berkelai.
- Innamal mukminuna ikhwah. Karena jiwanya
- apa? Jiwanya itu adalah islah.
- Heeh. Heeh.
- Di mana pun dia sampaikan selalu
- mempunyai fungsi islah. Nah, kalau bukan
- ulama lain. Kalau ada masalah dia
- nimbrung, jiwanya tidak Islam, tapi
- mengambil keuntungan dari kegaduhan yang
- ada.
- Heeh.
- Umat tidak membutuhkan yang seperti ini.
- Umat membutuhkan ulama.
- Ulama pemersatu. ulama sebagai pewaris
- para nabi.
- Kalau di Indonesia ini, Ustaz, eh ulama
- yang menyatukan umat sudah banyak, Bu.
- Saya tidak mau menyebutkan sesuatu yang
- sekarang sedang berjalan, ya. Karena
- kalau sudah menyebutkan sesuatu yang
- sudah berjalan ini selalu konotasinya
- politis.
- H
- itu utusan pribadi saya. Tapi ini kan
- berbicara depan umat ya kan. Kita harus
- bijak. Jangan menyampaikan sesuatu
- kemudian umat jadi tidak bersatu.
- Di sejarah kita pernah terjadi
- itu yang saya kenal
- seperti Kiai Has Hasyim Asy'ari ya.
- K. Ha. Ahmad Dahlan.
- Buya Hamka.
- Buya Hamka.
- Luar biasa dengan buku-bukunya luar
- biasa.
- Dan merekalah para ulama Indonesia.
- Nah. Iya. semestinya tokoh-tokoh yang
- model seperti ini harus diteladani dan
- banyak mungkin ulama-ulama yang lain
- mungkin saya tidak sebutkan karena
- kekurangan pemahaman saya atau misal
- yang saya kenal-kenal model seperti ini.
- Ah saya kira
- di dalam nama-nama yang tadi saya
- sebutkan dan yang lain-lain itu
- mempunyai ciri yang tadi saya katakan
- tadi alim, amil dan arif bijak. Karena
- dalam hati mereka ada ketakutan kepada
- Allah Subhanahu wa taala. I. Baik,
- Ustaz. Fenomena saat ini kita melihat
- masyarakat
- ee
- haus akan sebuah ilmu.
- I.
- Iya. Dan apakah fenomena-fenomena ini
- menandakan kebangkitan umat?
- Ah, iya.
- Saya ketepatan, maaf-maaf.
- Penghobi kopi.
- Kopi.
- Iya. [tertawa]
- Dan kopinya itu kopi pahit,
- kopi tubruk begitu.
- Enggak perlu saya sebutkan nanti jadi
- ikhlas. [tertawa]
- Dan saya bikin sendiri kopinya.
- Jadi
- justru karena pahitnya kopi itulah saya
- saya apa namanya? Senang minum kopi.
- Kembali kepada permasalahan umat.
- Apa yang terasa pahit dari hubungan
- antar ini?
- semestinya harus menyebabkan kita makin
- sadar. Bukan menikmati kepahitan hidup,
- tetapi justru kita menikmati untuk
- menyelesaikan permasalahan kepahitan
- yang terjadi ini.
- Heeh.
- Heeh. Jadi umat yang seperti ini jangan
- kita sikapi dengan pesimis. Kita harus
- hadapi dengan optimis. senikmat kita
- meminum kopi yang pahit tadi atau misal
- kita hadapi mereka, kita edukasi mereka
- atau misal dengan tujuan betul-betul
- menyatukan bukan untuk
- kepentingan-kepentingan pribadi dan
- kelompoknya. Saya kira kalau setiap
- ustaz yang meniti jalan ulama ini
- melakukan yang seperti ini itu mampu
- mengeliminir
- mengeliminir
- perbedaan ini menjadi sebuah persatuan.
- Jadi berbeda tapi tetap dalam sebuah
- bingkai. Islam yang satu.
- Heeh.
- Jangan perbedaan digunakan nanti sebagai
- apa? Sebagai lahan untuk jadi konflik
- bisnis untuk mengaraut keuntungan
- sebesar-besarnya
- secara duniawi untuk dia dan kelompoknya
- yang menyebabkan umat yang luar biasa
- besarnya ini menjadi terkotak-kotak dan
- terkoyak-koyak.
- Bahkan kemudian mereka cekok dan
- berkelai satu dengan yang lain. Tapi
- saya sebagai seorang muslim, orang
- Indonesia yang beragama Islam, saya
- sangat optimis sekali bahwa di tempat
- kita ada lembaga-lembaga pendidikan, ada
- ormas-ormas yang luar biasa, baik NU
- maupun Muhammadiyah maupun yang lainnya
- yang betul-betul mempunyai keprihatinan
- bersama.
- Untuk apa?
- untuk tidak menjadikan perbedaan ini
- menjadi sebuah perpecahan, tapi
- perbedaan ini betul-betul menjadi
- rahmat bagi umat Islam. Bahkan bukan
- cuma untuk umat Islam, untuk bangsa
- Indonesia. Jadi bangsa Indonesia yang
- begitu besar ini menonton umat Islam
- mereka berbeda. Tapi perbedaan itu baksa
- tanaman tahu taman yang penuh dengan
- bunga-bunga yang beraneka ragam.
- Iya enggak?
- Beraneka ragam. Jadi melihat perbedaan
- itu menjadi indah.
- Seperti kita melihat perbedaan
- warna-warna di pelangi.
- Pelangi itu berbeda-beda tapi indah.
- Heeh.
- Bagaimana caranya? Ya itu tadi lembaga
- pendidikan kita betul-betul harus bisa
- menanamkan ajaran-ajaran tauhid
- yang mendinginkan hati dan mendinginkan
- pikiran. Sepelang itu enggak mungkin
- terjadi kalau enggak ada hujan.
- Masalahnya
- hujan dulu tanahnya kemudian jadi
- dingin. Iya enggak? Baru kelihatan
- pelai.
- Insyaallah. dengan kesadaran tauhid
- yang mutlak hanya Allah. Dan perbedaan
- yang terjadi pada kita ini berasal dari
- keterbatasan kita. Itu namanya ketadaran
- tauhid.
- Heeh.
- Kita akan melihat perbedaan-perbedaan di
- antara umat ini selama mereka kembali
- pada Al-Qur'an, sunah Nabi melalui
- tokoh-tokoh yang ahli terkait dengan
- keduanya baik dari keluarga Nabi maupun
- para sahabatnya, tabiin dan begitu
- seterusnya sampai ulama-ulama yang
- besar. Saya yakin umat akan teredukasi
- untuk melihat perbedaan itu hal-hal yang
- biasa saja [tertawa]
- dan tidak gampang terprovokasi dengan
- perbedaan itu menjadi terkoyak-koyak
- apalagi berkelai satu dengan yang lain.
- Wallahuam. Ustaz, bagaimana dengan
- banyaknya berita-berita hoa di media
- sosial? Yang ini kan kadang seperti yang
- tadi disampaikan di awal, membuat umat
- menjadi heboh dan terkadang kita yang
- enggak ngerti ikut-ikutan share gitu
- ya.
- Itu semua berawal
- dari
- kurangnya
- pemahaman.
- Kalau pemahaman pasti itu adalah akibat
- dari lembaga pendidikan. Ya, lembaga
- pendidikan manapun bertanggung jawab
- untuk mendidik anak didiknya itu
- berpikir dan bersikap Quran. Salah satu
- di antaranya adalah kesadaran untuk
- tabayyur. Kan Al-Qur'an mengatakan,
- iya,
- kalau datang kepada kita seorang yang
- fasik. Kenapa disebut dengan fasik?
- Karena yang bersangkutan tahu persis
- bahwa berita itu akan menyebabkan
- terjadinya perkelahian.
- Heeh.
- Percekcokan.
- Sebab seorang muslim yang baik selalu
- cinta kepada muslim yang lain. Manusia
- yang baik pasti cinta kepada manusia
- yang lain. Di waktu dia tahu bahwa
- berita ini akan menyebabkan percekcokan.
- Walaupun berita itu benar, kalau
- disampaikan bisa menyebabkan perpecahan
- mestinya keep dia tahan. Heeh.
- Dia telah melakukan dosa besar karena
- membiarkan umat ini menjadi pecah.
- Iya.
- Kalau itu terjadi, baik melalui HP kita,
- baik melalui internet, melalui apa saja,
- kewajiban kita yang pertama adalah
- fatabayyan.
- Nah, mestinya lembaga-lembaga pendidikan
- harus bisa mendidik anak didiknya selain
- pintar, dia kritis.
- Anak kritik ya.
- Iya. Tidak gampang untuk mempercayai
- segala sesuatu yang berakibat tidak
- baik.
- Jadi kalau lahir sekarang di komunitas
- kita, bangsa kita, anak-anak kita,
- masyarakat kita yang gampang mempercayai
- berita-berita yang tidak benar, apalagi
- kalau beritanya ada Al-Qur'annya dan
- sunahnya atau misal he
- dan mereka tidak berusaha untuk
- mengeceknya sedangkan mereka tidak tahu.
- Itu disebabkan karena memang sikap
- mereka bertentangan dengan Al-Qur'an.
- Mereka enggak punya sikap Quran. Dan
- yang salah menurut saya yang kurang
- itu adalah lembaga-lembaga pendidikan.
- Sebab kita ini terus terang aja kita
- adalah produk lembaga pendidikan yang
- pernah mengeluarkan kita.
- Iya. Ya,
- ini kewajiban lembaga pendidikan formal
- maupun informal, pengajian di mana pun
- harus mengedukasi masyarakat untuk tidak
- gampang percaya berita-berita bisa yang
- bisa memecah belah umat maupun bangsa
- ini.
- H karena
- akibat dari berta-berta ini sangat
- fatal, Ustaz. Ya,
- betul.
- Sangat fatal bisa menyebabkan
- perpecahan. Sebelum berpisah, Ustaz, ee
- biasanya Ustaz kalau sahur makannya apa,
- Ustaz? [tertawa]
- Saya berbuka puasa tidak pernah makan
- nasi.
- Heeh.
- E walaupun enggak makan nasi tetap badan
- saya gemuk. [tertawa]
- Dan saya biasanya makan
- makan bubur
- dan makan biasa kurma, air putih,
- buah-buahan, bubur, sahur baru makan
- nasi.
- Sahur baru makan nasi.
- Iya. Dan biasanya istri saya tahu
- bahwa saya suka dengan kuah-kuah bening.
- Heeh. yang baru dimasak. Jadi istri saya
- bangun duluan baru masak
- jadi hangat ya.
- Hangat jadi nasiing
- model-model begitu menghindari santan
- walaupun tetap kadang-kadang makan
- santan ku yang santan
- tapi tidak ada pantangan makannya.
- Alhamdulillah. Alhamdulillah. Jadi 1
- bulan itu makan nasi hanya pada sahur
- saja.
- Heeh.
- Dan itu badan lebih ringan, lebih sehat.
- Iya.
- Dan tetap olahraga. Jadi habis subuh
- enggak ada alasan karena bulan Ramadan
- tidur. [tertawa]
- Besok kebanyakan muslim tidur, Ustaz.
- Enggak. Mengakhirkan sahur
- yang itu sunah.
- Ya enggak tidur tidak tidur setelah
- salat subuh itu juga sunah Nabi.
- Iya.
- Ee ya olahraga mungkin enggak seperti di
- waktu di luar bulan Ramadan. Tapi saya
- suka naik sepeda.
- Ola olahraga secukupnya begitu ya.
- Iya. Di rumah ada sepeda, di sini ada
- sepeda gitu ya. Kira-kira demikian.
- Baik. Ikhwat. Itu tadi sedikit kebiasaan
- Ustaz Umar Ibrahim dalam bersantap sahur
- di bulan Ramadan ini. Dan mungkin ikhwan
- dan akhwat kami saat lagi akan undur
- diri. Mohon pamit dari ruang dengar Anda
- dalam program sahur bersama tokoh. Namun
- sebelum ditutup Ustaz, ada kesimpulan
- yang bisa disampaikan untuk pendengar
- dari ee perbincangan kita di waktu sahur
- ini.
- Iya.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Kita sebagai muslim,
- alhamdulillah Allah memberikan kepada
- kita anugerah yang luar biasa yang
- namanya Al-Qur'an.
- Bulan Ramadan ini adalah merupakan bulan
- Al-Qur'an. gunakan semaksimal mungkin
- untuk membaca Al-Qur'an, memahami
- Al-Qur'an, mengamalkan Al-Qur'an,
- berpikir secara qurani dan bersikap
- secara qurani sesuai dengan kemampuan
- kita.
- Dengan sikap yang sesederhana ini,
- walaupun proses belajarnya enggak
- sederhana, saya yakin kita akan bisa
- mensikapi banyak hal seruat apapun
- dengan cara yang mudah, dengan bantuan
- Allah Subhanahu wa taala melalui
- Al-Qur'an. Jangan sampai kita hanya baik
- pada bulan Ramadan, tapi kemudian kita
- tidak baik di luar bulan Ramadan. Kalau
- saya menggunakan istilahnya kisik,
- jangan jadi ramadaniun,
- tetapi jadilah rabbaniun, yaitu
- orang-orang yang selalu mempunyai
- nilai-nilai ketuhanan di dalam dirinya.
- Iya.
- Bulan Ramadan maupun di bulan Ramadan.
- Saya kira demikian. Baik. Baik.
- Wallahuam ustaz.
- Wallahuam, Ustaz. Baik, Ustaz Umar
- Ibrahim. Terima kasih banyak.
- Semoga ee selalu sehat di bulan Ramadan,
- Ustaz, ya. Amin.
- Amin ya rabbal alamin. Baik, ikhwan dan
- akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa
- taala. Demikian tadi bincang-bincang
- kita dalam program sahur bersama tokoh
- bersama Ustaz Umar Ibrahim langsung dari
- Masjid Takpenajar Yayasan Baituna.
- Semoga apa yang beliau sampaikan bisa
- bermanfaat dan kita bisa mengambil ibrah
- dan pelajaran dari apa yang beliau
- sampaikan barusan. Saya Abi Agus undur
- diri ditemani rekan pejuang dakwah OBI.
- Kemudian ada imam serta rekan pejuang
- dakwah yang ada di Semarang, Batam dan
- juga di Sukabumi. Mohon maaf atas segala
- kh salah. Ilalq wabillahi taufik wal
- hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.