Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi taala
- wabarakatuh.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil alamin.
- Arahmanirrahim. Maliki yaumiddin. Apa
- kabar seluruh pecinta Rasil di mana saja
- Anda berada? Selamat berjumpa di acara
- sahur bersama tokoh. Insyaallah saya
- Nurfitri Tahir, ada Ondi juga Agus dan
- Neja akan menemani Ikhwan dan Akhwat
- selama Ikhwan dan Akhwat menikmati sahur
- hari ini. Alhamdulillah ikhwan dan
- akhwat hari ini kita sudah ditemani oleh
- narasumber kita yang istimewa, fenomenal
- dan legendaris. Siapa lagi kalau bukan
- Bu Kamelia Malik. Asalamualaikum.
- Waalaikumsalam warahmatullahi taala
- wabarakatuh. Apa kabarnya? Baik,
- alhamdulillah sehat. Segar sekali hari
- ini kelihatannya segar ya. Tetap
- semangat di bulan puasa ya. Sekarang
- saya manggilnya apa? Ee Mbak juga boleh,
- Upi juga boleh. Mbak juga. Upi kali ya.
- Pasti umurnya jauh nih.
- Ya Allah.
- Oke. Ee Mbak Kamil ya kalau saya baca
- gitu ya ceritanya kan sepertinya tumbuh
- tuh di lingkungan yang sangat kental
- dengan seni gitu. Suasana di rumah waktu
- kecil itu bagaimana sih, Mbak? Iya,
- benar-benar emang keluarga
- saya Allah anugerahkan
- ee bakat-bakat seni dari mulai abang
- saya, ibu saya juga sebetulnya, ayah
- saya juga. Jadi memang saya hidup di
- lingkungan itu. Tetapi waktu kecil itu
- kita sekolah seperti anak-anak biasa.
- Enggak pernah diarahkan atau ee
- diharuskan gitu untuk mengikuti
- jejaknya, jejak ayah saya. Malahan ayah
- saya tuh tidak sebetulnya tidak punya
- keinginan kalau anaknya ya saya ya jadi
- seniman. Dia enggak enggak punya
- keinginan itu. Heeh. Jadi saya tumbuh
- kembang ee ikuti perjalanan kehidupan di
- keluarga saya. Saya lihat ayah saya ee
- punya apa ya namanya? Punya lingkungan
- seni. Kemudian dia juga punya studio
- Persari di mana di situ pada zaman
- dahulu tuh bikin film-film layar lebar
- ya bukan seperti sekarang. Jadi sering
- di rumah tuh ada syuting gitu. Itu dari
- seni peran ya artinya gitu. Nah,
- kemudian ee saya punya abang yang senang
- nyanyi ya, Ahmad. Ahmad Albar tuh senang
- nyanyi. Oh, memang dari kecil juga ya?
- Dari kecil. Dari kecil. Jadi dia
- sebetulnya mampu bernyanyi dengan warna
- musik apa aja. Karena waktu kecil tuh
- saya suka lihat dia nyanyi lagu pop,
- lagu-lagu kalau dulu kan lagu pop ya.
- Dia mulai ee jadi rocker itu setelah dia
- bersekolah di Belanda. Tapi sebelumnya
- di Indonesia tuh dia punya grup band ya,
- band-band pop. Ee tapi kadang-kadang ibu
- saya juga suka punya lingkungan
- seniman-seniman yang misalnya S AS
- Effendi, Munif Bahaswan gitu kan
- pelaku-pelaku seni Melayu dangdut. Jadi
- ya kita berdangdut juga gitu, kita
- sering dengar itu. Kemudian kakak saya
- yang paling tua saat di Albar, kakaknya
- Ahmad itu penari.
- Lengkap sekali ya. Suka nari. Heeh. Nah,
- saya memang senang nari, senang nyanyi,
- tapi sebatas senang dulunya. Cuman
- sebatas senang. Jadi saya juga enggak
- berpikir kalau saya akan jadi penyanyi
- gitu ya. Enggak, enggak berpikir gitu.
- Cuman saya senang nyanyi, saya senang
- nari. Dan zaman dulu di lingkungan kita
- itu di dekat-dekat rumah kita kan selalu
- ada sanggar-sanggar tari. Beda sama
- sekarang. Jadi sekarang kita enggak
- pernah lihat itu lagi ya. Sehingga
- anak-anak cuman lihat ya dari mungkin
- dari TV, dari apa gitu ya. Kalau dulu
- tuh di dekat-dekat rumah tuh ada taman
- atau ada pasti ada sanggar tari dan
- ibu-ibunya akan menyekolahkan
- anak-anaknya di situ. Tari-tari
- tradisional serimpikah itu, tari sumat
- kah itu. Jadi kayak gitu. Nah, dulu tuh
- saya ikut disekolahkan tari juga
- dimasukin ke balet.
- Jadi sedikit punya basic lah gitu.
- multitalenta berarti gitu deh maksudnya
- cuman ambil dikit-dikit. Nah, kemudian
- mungkin setelah saya ambil keputusan
- untuk melangkah di jalur seni, akhirnya
- ee semua yang ibu saya atau ayah saya
- berikan ya, artinya pelajaran-pelajaran
- itu menjadi modal buat saya gitu. Baik.
- Terus kalau ee Mbak Kamelia sendiri
- waktu kecil termasuk yang feminin kah
- apa tomboy apa gimana? H
- feminin banget enggak, tapi juga enggak
- tomboy. Jadi saya bisa bisa jadi
- feminin, bisa juga sportif gitu, bisa
- juga ya pakaian juga begitu. bisa yang
- ee
- sendirela-senderela juga ya zaman dulu
- mungkin ya princess-princess tapi bisa
- juga casual bisa. Jadi saya saya suka
- ikutin perkembangan gitu ikutin
- perkembangan ee mode ya. Oke. Dari
- kecil. Iya. Heeh. Dari kecil
- ngarang-ngarang sendiri gitu. Oh. Jadi
- apa? Matching-matching send. Matchingin
- sendiri. Kadang-kadang kalau kakak saya
- pergi, saya suka pakaiin baju-baju kakak
- saya. Dari saya masih kecil.
- sepatu-sepatu haknya tuh sampai rusak,
- sampai saya dimarahin gitu. Jadi saya
- sudah kelihatan memang dari kecil gitu
- nyanyi-nyanyi di depan kaca sendiri
- sambil nari-nari gitu kan. Kita suka
- lihat juga anak-anak kecil banyak
- sekarang yang seperti itu kan. Iya. Nah,
- dulu saya gitu. H cuma mungkin bedanya
- kalau dulu itu banyak sanggar seni
- seperti yang bakat. Nah, itu yang saya
- bilang sekarang jadi kiblat kita tuh
- keluar kan. Heeh. Jadi misalnya ee
- tari-tarian apa break dance lah apalah
- gitu cenderung jarang
- yang mau belajar
- tarian-tarian milik bangsanya sendiri
- gitu. Nah, itu yang saya harap bahwa
- mungkin yang lain boleh diambil tapi
- kita akan bangga apabila di satu negara
- tetangga nanti kita bisa tampil dengan
- apa yang kita punya. Jadi saya pengin
- banget bilang ke anak-anak sekarang atau
- ke ibunya gitu ya, kalau anaknya
- berbakat apakah dia mau masukin ke balet
- ke apa, tapi tarian tradisional juga
- amat perlu, amat perlu untuk bikin kita
- nanti satu waktu
- menjadi bangga. Karena misalnya kita
- mesti pergi ke satu negara misalnya di
- negara itu semua oh kalau Jepang apa
- semua kan mereka betul-betul apa fanatik
- ya sama ee produk-produk mereka apakah
- itu produk seni ataupun apa aja gitu
- kan. Nah kalau kita terus masa kita di
- negara orang mau break dance gitu kan he
- paling enggak kan kita bisa kasih lihat
- apa yang kita punya gitu apa yang
- Indonesia miliki gitu. Eh, Mbak, Mbak
- sendiri ngelihat enggak pengaruh dari
- adanya ee apresiasi seni ee nasional
- yang lebih banyak di zaman Mbak kecil
- dan sekarang itu terlihat enggak sih?
- Waktu waktu saya kecil jauh lebih
- banyak. Hm. Karena itu di sekolah
- misalnya
- ada
- hari-hari tertentu ya gitu ya,
- event-event tertentu itu kita suruh nari
- kan nari-nari tarian Indonesia. Apakah
- tari saman, apakah Serimpi, apakah tari
- Jawa ya Jawa, apakah tari Sunda, apakah
- tari Kalimantan kan begitu kan. Nah,
- sekarang ini
- kadang-kadang kalau itu
- [Musik]
- dibutuhkan ya enggak kita
- mesti cari nya susah gitu loh kita dapat
- yang memang tempat itu benar-benar udah
- ada. Ada sih, ada misalnya dulu kayak
- zaman Pak Harto tuh kan ada pelangi
- Nusantara di Taman Mini ya itu Bapak
- sama Ibu Sampurno waktu itu yang
- mengelola. Jadi kalau ada tamu negara
- dari luar ya penari-penari dari situ
- sudah siap siap sajilah gitu ya. Siap
- tampil dengan profesional. Nah,
- mudah-mudahan aja yang seperti itu masih
- banyak tapi saya lihat
- udah kurang. sendiri. Kalaupun ada
- acara-acara di media-media televisi itu
- semua gerakan-gerakannya tuh udah yang
- serba Barat ya, serba modern gitu enggak
- salah. Tapi ee kita pasti akan lebih
- bangga kalau kita pun
- mampu yang kita punya dulu gitu loh.
- Baik. Kalau nyebut budaya Indonesia nih,
- Mbak Kamelia kan ada darah Sundanya, ada
- darah Jawanya, ada darah Padangnya, dan
- ada darah Arabnya. Sepertinya di rumah
- tuh kultur yang dominan apa tuh, Mbak?
- Kita sebenarnya sih Indonesia ya,
- maksudnya makanan makanan Arab makan.
- He. Suka banget kambing-kambing, makanan
- Padang apalagi gitu kan. di mana-mana
- paling gampang makanan-makanan Padang
- ya. Ke mana aja kalau ada makanan Padang
- kita rasa safe, aman gitu. Makanan Sunda
- apalagi suka juga. Jadi memang semuanya
- semua dan saya bergaul juga punya teman
- sama banyak apa ya namanya banyak teman
- enggak pilih-pilih gitu dia dari mana
- apa. Saya justru merasa saya jadi kaya
- karena saya punya banyak teman dari
- bermacam-macam daerah karena emang sudah
- terbiasa dari kecil juga ya. Iya. Dan ee
- bapak ibu saya orangnya bergaul gitu.
- He. Jadi enggak enggak
- cuman kecil gitu ya. Dia bergaul luas.
- Dari kecil tuh Mbak Kamilia suka diminta
- membantu orang tua ketika melakukan
- kegiatan seni atau lebih banyak lihat.
- Oh ngelihat. Heeh. Ya banyak lihat. Dulu
- masih waktu saya kecil masih zamannya
- kakak saya. Ibu saya langsung turun
- untuk kakak saya yang saat dia Albar itu
- kalau nari bikin acara. Dulu kan hotel
- cuman satu hotel berbintang yang bagus.
- Benar itu HI kan. He. Nah, jadi kakak
- saya suka nyari nari di situ, ibu saya
- suka bikin acara-acara di situ. Kemudian
- baru Mas I Ahmad gitu punya grup band,
- tapi itu mereka sendirilah sama
- teman-teman sekolahnya gitu ya, SMA gitu
- waktu itu saya tahunya itu saya hanya
- ngelihat aja saya memulai karir saya di
- dunia seni khususnya musik itu justru
- setelah saya umurnya udah
- 20 E gitu waktu kecil saya nari-nari
- aja. Oh, oke. Heeh. Nyanyi-nyanyi di
- sekolah aja gitu. Terus tapi orang tua
- setuju memberikan suka? Kalau ibu saya
- iya. Kalau bapak saya karena umur saya
- waktu itu 17 dia sudah meninggal jadi
- dia enggak lihat. Mungkin kalau Bapak
- saya ada mungkin justru itu
- menghambat maksudnya ya. Karena memang
- dia dulu enggak enggak enggak kepingin
- gitu. Heeh. dia dia selalu dulu suka
- ngomongnya pokoknya nanti kalau besar
- jadi
- ustazah kan jauh banget ya iya tapi ya
- saya mau juga jadi ustazah penginnya ya
- insyaallah mesti belajar mesti belajar
- mesti apa ya mesti mesti memperbaiki
- diri sendiri aja masih belum
- belum apa ya belum rapi gitu
- membenahinya tuh belum rapi PR itu
- sepertinya. Nah, jadi itu ayah saya itu
- justru ke situ. Padahal dia sendiri
- lingkungannya seni gitu. Dia produser,
- dia tokoh perfilman ya. E dia
- awal-awal bikin-bikin festival film di
- Indonesia bahkan di Asia gitu. Jadi dia
- tuh aktif tapi mungkin gitu. Mungkin dia
- ngelihatnya gini, kalau saya lihat
- sekarang mungkin dia orang tua zaman
- dulu kan ngerasa anak perempuan
- sebaiknya
- ee di rumah aja belajar masa ngaji gitu
- kali ya. Mungkin mungkin ya. Tapi Allah
- ee punya kehendak lain, kehendak lain
- dan ee saya happy. Alhamdulillah. Yang
- penting itu ya, Mbak ya. Ee terus kalau
- tadi Mbak cerita Mbak bisa menari,
- menyanyi, bermain film. Kalau diminta
- memilih satu nih di antara tari ee
- film dan juga musik mana yang mau
- dipilih? Iya semua suka tanya gitu.
- Oh, saya agak sulit mau bilang karena
- semuanya punya
- kenikmatan ee
- berbeda-beda. Tapi kalau secara kerja,
- secara kerja nih
- ya itu lebih simpel dan lebih lebih saya
- adalah nyanyi karena
- itu tidak terlalu
- kolektif. Kalau film tuh kan bekerja
- sama orang, ini mesti ada tenggang rasa.
- Kalau nyanyi itu kita tinggal datang,
- latihan, kemudian ber ee berhubungan
- sama pemusik-pemusik, kemudian kita bawa
- diri kita sendiri. Artinya tanggung
- jawab ada di kita kan. Kita bisa nyanyi
- dengan baik dan benar apa tidak, kita
- bisa memukau atau tidak gitu. Tapi kalau
- film kita mesti bekerja
- sama pemain-pemain lain gitu ya. dalam
- berakting kita mesti ee total artinya ee
- kita mesti mengimbangi ee acting lawan
- gitu kan. Ah itu dalam segi itunya
- memang menyanyi menjadi
- lebih simpel menurut saya cara kerjanya
- tapi nikmatnya beda. He. Dan selalu
- kangen juga pengin syuting ah gitu
- misalnya pengin tampil di layar kaca ah
- gitu. itu beda ya. Nah, nari juga gitu.
- Kalau nari karena saya
- penari lebih banyak nari tunggal
- daripada nari rampak. Jadi lebih enak
- kalau nari rampak itu kan kita mesti
- sama koordinasi. Koordinasi feelingnya
- mesti sama ee gerakannya mesti sama gitu
- kan. Karena bersama-sama gitu kan. Kalau
- misalnya gerakan kepalanya satu
- gini-gini, yang satunya masih
- telat-telat aja kan kelihatan. Tapi
- begitu kita nari
- sendiri itu kita bebas. Mau explore apa
- aja kita bebas gitu dan enggak punya
- keterikatan bahwa kita harus ee apa ya
- namanya? rampak gitu.
- Jadi beda. Jadi kalau saya ditanya
- itu saya selalu bilangnya ya begini,
- saya butuh tuh semua gitu. Saya masih
- pengin ada di situ semua waktu itu ya.
- Kalau sekarang saya sudah
- ngurang-ngurangin keaktifan saya. Tapi
- kalau ditanya mana lebih simpel, lebih
- enak dalam segala halnya nyanyi. Baik.
- Ee sehubungan tadi Mbak Kamilia
- menyebutkan ee udah ngurang-ngurangin
- aktivitas gitu. I itu ada hubungannya
- dengan Mbak Camelia sekarang berhijabkah
- dan sebenarnya apa sih cerita di balik
- Mbak Camelia juga enggak tahu nih hijab
- nih. Maksudnya gini, ee dulu saya enggak
- pakai waktu saya nyanyi-nyanyi masih
- aktif banget saya enggak pakai karena ya
- itu tadi ee mungkin selalu saya bilang
- itu kebutuhan ee profesi ya. Ee
- kesadaran untuk mengatakan bahwa itu
- sebetulnya kebutuhan yang lebih penting
- berhijab tuh masih ke belakang. Tapi
- saya selalu bilang kalau ditanya kok
- belum berhijab sih? Kok enggak pakai
- hijab sih? Gitu. Saya enggak pernah tuh
- bilang
- sama orang atau sama siapapun bahwa itu
- bukan kewajiban gitu loh. Saya enggak
- pernah. Saya selalu bilang doain ya satu
- waktu saya bisa berhijab gitu. Saya
- enggak pernah juga bilang bahwa gini,
- "Ah, enggak penting hijab di kepala yang
- penting hatinya berhijab." Saya enggak
- pernah bilang gitu. Karena saya tahu
- pasti itu Allah bilang bahwa itu
- harus. Cuman sayanya aja masih bandel ya
- kan? Saya aja masih ngelawan perintahnya
- Allah. Itu proses. Jadi lebih baik saya
- bilang, "Saya masih bandel, saya masih
- belum taat sama aturannya Allah pada
- saat itu. Tapi saya selalu di dalam
- lubuk hati yang paling dalam, saya
- selalu bilang mudah-mudahan satu saat
- Allah izinkan saya berhijab dan orang
- mendoakan gitu." Jadi mungkin karena
- ngomongnya gitu ya, tiba-tiba aja
- sekarang saya mungkin berhijab sudah
- sekitar 8 tahun 9 tahun gitu deh.
- Masyaallah. Heeh. Alhamdulillah ya.
- Alhamdulillah. Keburuk.
- Iya kan? Kalau tiba-tiba Allah ee enggak
- mau ya kan? Aduh sedih banget saya. Tapi
- itu jadi ee hijab itu memang perintah.
- Hijab itu wajib. Mudah-mudahan semua
- yang ee pernah kayak saya dapat
- kesempatan juga kayak saya untuk
- menggunakan hijab. Karena pada akhirnya
- ee semua perjalanan kita, semua apa yang
- kita rangkai di dunia ini, mau itu
- apakah, mau stop apa, balik-baliknya
- kepada Allah penciptanya dan pasti Allah
- tanya apa aja yang sudah dikerjakan yang
- yang Allah suruh kan gitu ya. Jadi saya
- cuman bilang mudah-mudahan walaupun
- setapak demi setapak saya bisa menyadari
- bahwa saya masih punya kesalahan banyak,
- kekurangan banyak, PR-PR banyak untuk
- nguber pembenahan ibadah. Masyaallah.
- Tapi jarang loh Mbak Kamelia ee yang
- bisa bilang bahwa iya doain aja biar
- saya bisa berkurum. Karena kan biasanya
- seperti yang Mbak Kamilia bilang, banyak
- yang bilang enggak penting, yang penting
- hatinya berhijab. Saya dengar suka gitu.
- Waktu mereka ngomong gitu juga saya
- selalu dalam hati gini, aduh padahal kan
- yang suruh bukan orang itu gitu kan.
- Yang suruh kan Allah. Jadi sebenarnya
- kita kan kalau sportif tuh enak ya. Iya.
- Artinya kalau jadi orang yang sportif
- itu enggak perlu bohong-bohong tuh lebih
- enggak punya beban. bahwasanya kita
- memang belum taat kepada Allah itu
- memang urusan kita kepada Allah bukan
- urusan orang lain. Tapi pada saat orang
- mengingatkan kita kepada yang kebenaran,
- maunya disambut juga dengan baik.
- Makanya saya takut tuh bilang, "Ah,
- enggak penting pakai hijab, yang penting
- hati kita berhijab." Saya enggak pernah
- itu. Saya takut karena saya tahu itu
- perintah Allah. Jadi saya selalu saya
- selalu bebankan itu kepada mereka.
- doain mudah-mudahan saya pada satu waktu
- pakai jangan sampai saya enggak pakai
- doain ya. Oh iya ya. Dan mereka
- memang memang ngomongnya juga niatnya
- baik ya kan. Jadi ya mereka mungkin saya
- bisa pakai karena doa-doa mereka dan
- teman-teman saya tuh semua sudah pakai
- saya dulu yang belum. He. Heeh. Karena
- saya juga gini, aduh gimana nih
- ya? Saya tari tradisional saya itu pakai
- kebaya, pakai konde gitu kan. Jadi kalau
- pakai hijab agak aneh kan yang tarian
- ya, yang tarian jaipongan dan tarian
- jaipongan itu orang mau bilang itu
- erotis tapi sebetulnya itu
- em itu tarian
- dinamis ya. Jadi benar-benar
- ee harus dipelajarin itu dari ujung kaki
- sampai ujung kepala sampai tangan,
- sampai dada itu benar-benar emang ee
- duuh apa ya namanya? Teknik. Jadi enggak
- bisa asal goyang bisa dapat tarian itu.
- Jadi mesti belajar. Jadi saya waktu itu
- lagi senang-senangnya gitu. Jadi
- kayaknya enggak pantes nih gimana enggak
- connect gitu kan sementara gitu. Jadi
- waktu itu.
- Tapi ya itu tadi karena mungkin niat
- saya tetap tahu mana benar mana enggak,
- mana yang saya masih bisa dan belum bisa
- pada saat itu, mana yang saya harap satu
- waktu saya bisa. Kemudian ya saya dapat
- ini sekarang. Tapi kayaknya dari awal
- tanpa beban ya. Bakalam. Oh, enggak
- pakai juga enggak beban enggak berniat,
- enggak apa, enggak ini enggak enggak
- bilang enggak apa gitu enggak gitu. Dan
- tarian itu memang estetika, bukan
- erotika gitu. Jadi emang estetika benar.
- Kita enggak bisa nari itu untuk ee
- sehari belajar bisa tari. Iya. Karena
- pakemnya gitu kan apanya gitu ya. Ini
- ini tarian memang saya suka banget
- karena selama ini saya lihat
- selalu ke mana aja dunia tahunya cuman
- Indonesia atau Bali. H tari itu tarian
- Bali gitu kan. Padahal ada tarian Jawa
- Barat yang sangat dinamis. gitu. Saya
- belajar dari penciptanya yaitu Pak Gugum
- Gum Gumbira ya dari orang Bandung
- sendiri yang orang dan dia juga ngerasa
- bahwa
- ee cuman satu nih penari saya yang kayak
- kamu ekstrem gitu. Berani banget nangis
- sendiri kemudian bikin gerak-gerakan
- yang total gitu ya, dimodifikasi sama
- saya sendiri gitu.
- Nah, tapi saya rasa saya sudah cukup
- puas, saya sudah cukup bersyukur bisa
- nari itu ya udah terus pakai pakai
- mula-mula bingung ini masih nyanyi tapi
- pakai tapi saya lihat semuanya pada
- nyanyi pakai gitu kan cuma ya sesuaikan
- aja terus bingung juga gini cari
- modelnya yang gimana ya saya pantesnya
- gitu kan adaptasi saya tuh enggak loh
- saya tuh pokoknya ma yang paling panjang
- simpel saya untel-untel aja. Jadi enggak
- pernah panggil orang udah gini. Kecuali
- sekarang sudah tahu mau pesta mau apa
- saya enggak bisa. Nah, baru de mau mau
- again. Tapi kalau sejauh
- ini saya dimudahkan. Hai pakai sendiri.
- Ah, ya udah sendiri aja. Terus
- ngarang-ngarang sendiri. Dulu saya lihat
- gini kayak sekarang
- ini dulu saya lihat orang kok kalau
- pakai hijab ya aku lihatin bajunya
- coklat nanti pasti hijabnya
- krem atau pakai gitu. Ah saya enggak ah
- saya mau pakai baju bunga-bunga,
- hijabnya bunga-bunga, tasnya bunga-bunga
- gitu ya. Jadi maksudnya berani-beraniin
- diri sendiri aja. Nah, terus saya
- pakai-pakai lama-lama orang bilang, "Kok
- kamu berani ya ininya bunga, ini bunga?"
- Iya. Kenapa? Enggak apa-apa kan? Yang
- penting kan ee apa namanya? Masih satu
- nuansa gitu. Lama-lama itu jadi satu
- kenikmatan buat saya. Mau bikin baju tuh
- saya pikirin ini bajunya kotak-kotak,
- hijabnya apa ya? Gitu-gitu. Itu jadi
- satu apa ya?
- satu mainan baru, satu ee hobi baru.
- Karena emang bahkan ada darah seni jadi
- sudah. Iya. Ngarang-ngarang. Heeh.
- Ngarang-ngarang. Terus mula-mula
- teman-teman saya kaget tapi lama-lama
- dia bilang, "Lama-lama aku juga pengin
- tuh pakai gitu." Ya coba aja itu cuman
- masalahnya berani atau enggak, terus PD
- atau enggak. Iya kan? Nah, gitu. Terus
- ee support teman-teman, keluarga ketika
- Mbak pertama kali berhijab semuanya
- kalau cuman bilang gini, "Saya senang
- tuh mereka bilang ke saya gitu, aduh
- jangan sampai buka lagi ya
- gitu." Itu aja. Dan itu yang sampai
- sekarang di setiap doa saya, saya bilang
- sama Allah,
- "Mudah-mudahan jangan kasih kesempatan
- saya buka lagi." Jadi, saya memang minta
- ditemanin sama Allah mudah-mudahan
- jangan tinggalkan satu saat pun saya
- untuk berpikir membuka hijab saya gitu.
- Karena saya tuh merasa kalau
- sampai kalau sampai saya gitu gitu loh,
- saya ngeledek banget gitu kan.
- Artinya saya meremehkan sekali gitu.
- Walaupun saya enggak ngurusin orang yang
- mau buka tutup hijab silakan aja kan dia
- punya tanggung jawab sendiri. Tapi saya
- saya ke hati saya tuh gitu. Aduh kalau
- sampai buka tuh kayaknya keterlaluan
- banget gitu ya. Saya di saya ya. Tetapi
- saya lihat banyak orang bisa aja gitu
- ada orang yang enggak enggak ambil
- keputusan.
- Ada orang yang enggak ambil keputusan,
- tapi dia cuman hijab itu hanya sebagai
- aksesori. Jadi di bulan puasa aja dia
- pakai terus dia enggak enggak komit gitu
- kan ya itu fine-fine aja ya. Mungkin dia
- masih pengin coba-coba. Tapi ada yang
- udah bilang kan memproklamirkan gitu kan
- bahwa saya hijrah ya gini gitu gitu.
- Kemudian dengan entengnya pula dia buka
- dengan alasan yang lain lagi gitu. Itu
- aja
- yang saya enggak kecewa tapi saya sedih
- gitu. Sedih ya gitu ya. Aduh coba
- tadinya jangan bilang dulu buka pakai
- buka pakai aja gitu kan. Kayak dulu saya
- sebelum pakai gitu. Kalau bulan Ramadan
- kayak sekarang ini aduh udah bingung
- aduh cari apa ini baju muslim gimana nih
- gitu. Terus gudungnya pakainya cuma
- segini aja deh gitu kan. Asal gitu nanti
- turun nanti naikin lagi nanti turun
- nanti naikin itu kan dulu. Tapi itu dulu
- memang saya belum
- belum bilang saya mau pakai
- tapi mungkin dan saya enggak pernah
- bilang saya mau pakai. Oh gitu. Jadi
- pada kaget dong. Iya emang enggak pernah
- bilang enggak pernah. Terus tak aja
- orang tanya udah pakai udah pakai. ya
- yang dilihat apa pakai kan gitu udah
- terius aja gitu jadi enggak ada enggak
- ada expose gitu untuk bilang ini karena
- saya pakai ini tuh pun enggak tahu ya
- udah mau banget sih ya habis itu saya
- ngerasanya cukup ngomong-ngomong sama
- Allah aja lah ngapain mesti
- ngomong-ngomong sama orang gitu kan yang
- suruh Allah kan bukan orang kalau orang
- yang perintah belum tentu saya mau iya
- kan iya tapi karena Allah perintah saya
- kemarin itu
- melanggar enggak enggak pakai-pakai lama
- gitu kan dan kayaknya ini kayak dapat
- kesempatan untuk pakai itu kayaknya
- dapat perhatian luar bias lah dari Allah
- gitu. Alhamdulillah. Tapi mungkin iya
- bisa dimengerti ya Mbak Kamilia untuk ee
- seniman untuk dan saya bukan yang
- alus-alus loh. Iya saya nari ekstrem
- gitu kan. nyanyi juga. Aduh, saya dengar
- musik aja langsung uh pengin joget aja.
- Enggak, enggak. Bukan yang aduh yang
- gitu-gitu bukan. Jadi kan emang pada
- saat
- itu saya tuh bilang gitu maksudnya
- ngomong-ngomong entar gimana nih kalau
- enggak connect gitu ya bajunya. Tapi
- akhirnya bisa kok dapat baju yang cantik
- juga dengan hijab, dengan
- gerakan-gerakan yang tentunya pas ya
- gitu kan pas lagi gitu. Tapi happy juga
- orang lihat gitu. Seperti sekarang kan
- saya lihat banyak teman-teman saya yang
- pakai nyanyi, saya enggak lihat janggal
- gitu. Dia cantik juga gitu ya. Tapi ya
- mungkin sesuatu
- keputusan segala sesuatu dari biniat ya
- dari nama itu. Udah gitu aja deh. Itu
- pasti itu pasti masyaallah. Jadi niat ya
- gitu. Iya. Kalau belum niat banget
- emang jangan. Alhamdulillah berat.
- Insyaallah niatnya sudah mantap ya.
- tetap minta
- doanya PR kan katanya kan iman itu naik
- turun tebal tipis kan. Jadi aku sekarang
- kalau ditanya mau jadi apa saya mau jadi
- pengemis doa minta doa dari semua.
- Alhamdulillah patut saya tiru tuh Mbak
- Amelia. Baik ikhwan dan akhwat kita akan
- jeda sejenak. Ikhwan dan akhwat bisa
- mungkin mengambil minum atau nambah
- sahurnya. Kita akan kembali setelah jeda
- yang satu ini.
- H
- [Musik]
- Ikhwan dan akhwat, masih di acara sahur
- bersama tokoh. Kali ini kita sedang
- berbincang dengan Mbak Kamelia Malik. Ee
- Mbak Kamelia dulu waktu kecil Ramadan
- tuh gimana sih di rumah dan di
- kampungnya Mbak Kamelia? Oh iya. Saya
- tuh Ramadan di Jakarta. Saya lahirnya di
- Jakarta. Jadi ee di keluarga tuh di
- keluarga ibu saya, di keluarga bapak
- saya sama ya.
- Nah, itu
- benar-benar lebaran Ramadan itu
- benar-benar jadi sesuatu yang
- ditunggu-tunggu dan banyak
- ritual-ritualnya, banyak apa ya, banyak
- kebiasaan-kebiasaan yang mesti kita
- jalanin. Pertama-tama kalau di bapak
- saya, bapak saya tuh orangnya pokoknya
- nomor
- satu puasa, harus puasa.
- Kemudian dia itu senang
- sedekah, senang banget dia. Pokoknya
- apa-apa harus jadi kita di
- dikasih ee tanggung jawab. Misalnya
- gini, setiap
- sore mesti buka pintu rumah Bapak saya
- nih ya. Jadi di meja makan tuh selalu
- sudah mesti ada makanan. Itu puasa
- enggak puasa. Jadi setiap orang boleh
- datang untuk makan. Apalagi puasa. Terus
- kita di depan rumah itu taruh taruh
- kayak bukan ember ya. Kalau dulu tuh ada
- tempat beras gitu. Heeh. Jadi kalau dulu
- kan ibu-ibu, orang-orang minta-minta
- gitu kan datangnya ke rumah-rumahan
- bukan kayak di sini di pinggir jalan
- sekarang gitu kan. Jadi mereka tuh sudah
- tahu mana-mana rumah yang suka
- bersedekah tuh dia datang. Nah saya dari
- kecil sama adik saya tuh yang paling
- senang ngambilin beras gitu. Oh. untuk
- kasih. Iya. Dan itu selalu ada di
- pikiran saya sampai hari ini. Nah,
- belakangan saya pengin bikin gitu ke
- anak saya kan maksudnya ikutin gitu ya.
- Tapi enggak bisa di di era kehidupan
- seperti ini enggak enggak bisa. Jadi
- sekarang itu anak-anak lebih suka bawa
- karung beras anterin gitu. Padahal tuh
- dulu begitu enaknya, lucunya terus
- gantian. Aku pengin aku yang aku yang
- nuang-nuangin gitu kan berapa tuangan
- gitu kita udah tahu ya semuanya bawa
- bungkusin. Nah itu itu yang selalu saya
- ingat. Habis
- itu ya buka-bukanya. Jadi sebelum buka
- ee udah sedia-sedia makanan. Lapar
- matanya lah. Anak kecil kan namanya
- lapar matanya. He. Dan bapak saya selalu
- main sogok nih. Maksudnya gini,
- kasih kasih iming-iming.
- Nah, kasih semangat dengan kalau bisa
- setengah hari nanti dapat jajan gini,
- kalau bisa full gitu. Nah,
- itu kayaknya anak-anak orang juga semua
- digituin ya. Banyak kan sama orang. Tapi
- bapak saya banget-banget bikin aturan
- itu. Ibu saya justru yang agak
- longgar-longgar maksudnya ya kalau mau
- puasa puasa, kalau mau enggak juga belum
- umurnya. Maksudnya gitu. Kalau bapak
- saya
- enggak. Oh harus gitu. Dari mulai umur
- berapa tuh sudah dilatih? Aku dari puasa
- dari umur 6 tahun. Hmm. Dari umur 6
- tahun. Tapi terus terang ya masih
- suka minum air kamar mandi gitu ya.
- Masih suka ee pura-pura di sekolah,
- pura-pura ke mana gitu. Sekolahan
- soalnya dulu sekolahan saya
- sekolahan Islam. Jadi puasa tuh
- benar-benar harus puasa kan. Nah, tapi
- namanya anak kecil akalnya tuh kan ya
- banyak aja masih bawa ini masih. Nah,
- benar-benar puasa yang benar banget udah
- takut banget itu di umur 11 12 deh.
- Kalau yang ke bawah itu saya ngaku
- banget deh. Masih bisa di rumah puasa,
- di jalan buka, entar di rumah balik
- puasa. Pura-pura puasa lagi. Itu segitu.
- Makanya waktu saya punya anak, saya juga
- justru takutnya anak saya di umur-umur
- segitu kayak saya gitu kan. Itu biasa ya
- kan itu biasa gitu. Iya. Terus makanan
- buka favorit waktu kecil apa?
- Hmm semua deh. Makan rendang tuh pasti.
- Kalau orang Padang tuh sedia rendang itu
- pasti karena itu makanan kuat tahan.
- Jadi bisa untuk buka, bisa untuk sahur,
- bisa dibawa. Kalaupun kita mau pergi ke
- mana-mana bisa dibawa gitu ya. Jadi
- rendang itu pasti deh dari lingkungan
- padang. Kalau ibu saya sih biasanya
- masakannya masakan Indonesia sama
- masakan Arab ya. Kambing sama masakan
- Jawa gitu. Heeh. Terus apa sih Mbak
- Kamilia bedanya kira-kira Ramadan di
- saat sekarang dan Ramadan ketika Mbak
- Kamil waktu kecil? Oh ya, waktu kalau
- saya ingat bulan puasa, saya sawi ingat
- masa kecil saya itu lebih nikmat. Hmm.
- Anak sekarang enggak senikmat itu saya
- lihat karena dia dari mall ke mall gitu
- ya. Kalau kita dulu pagi-pagi aja ke
- pasar aja udah mau ikut sama pembantu
- kita udah pesan-pesan. Nanti beli
- gandaria ya, nanti beli ini ya, nanti
- aku mau bikin ee biji salek ya. Dan
- semua dulu serba bikin kan. He beli
- barangnya bikin di rumah. Jadi uh dari
- mulai bikinnya aja itu udah udah nikmat
- gitu kan ikut-ikut bikin terus udah
- mulai ee mau buka mau dekat buka tuh
- udah nyiap-nyiapinnya gitu. Kalau
- sekarang saya juga rasanya sedih banget.
- Sekarang kita saya tinggal berdua sama
- anak saya yang besar memang ya. Jadi
- saya gini, Dam, kita mau gojekin makanan
- apa ya, gitu.
- Iya, sekarang kan gitu ya. Ya, maksudnya
- anak saya udah pengin aku ini deh, ah
- Ibu ini aja gitu. Udah jarang gitu
- pengin masak saya tinggal cuman tinggal
- berdua kan. Jadi simpel-simpel aja.
- Terus sekarang saya sibuk banget
- sekarang-sekarang ini apalagi nih yang
- Ramadan ini kali nih sibuk sama
- aksi-aksi damai apa gitu anak saya jadi
- ketinggal ya. Tapi anak saya udah udah
- sarjana ekonomi, jadi dia sudah bisa
- cari sendiri. Cuman kan kadang-kadang
- kita pengin ya bisa buka duduk gitu.
- Saya lebih semangat untuk apa ya
- berjuang nih untuk ee dapat kejujuran
- dari Pilpres ini gitu. ee saya berharap
- banget ee Indonesia bisa jadi negara
- yang besar dan berjiwa besar untuk
- menjadi ee negara yang
- bermartabat, kemudian jujur, kemudian
- bisa
- cepat mengurus rakyat yang masih ee
- susah, sulit ya kan. terus ee membuat
- negara ini
- bisa sejajar bersihnya dengan
- negara-negara lain yang kita lihat ya
- apa Jepang lain-lain lah gitu ya. Itu
- cita-cita deh. Jadi pengin jadi kali ini
- saya putuskan
- memang Rabanan untuk berjuang.
- Masyaallah tadi Mbak Kamelia menyebut
- nama anak Mbak Kamelia yang namanya
- Sadam ya. Sadam. Saya sempat nonton tuh
- di TV waktu itu Mbak Kamelia bilang,
- "Iya saya waktu itu sama anak saya Sadam
- ke Amerika kok diimigrasinya dibilang
- kenapa namanya diin saya?" Sayanya yang
- pergi anak saya ini anak saya ini enggak
- mungkin bisa masuk kali ya mungkin. Nah,
- dia juga saya juga enggak kasihlah gitu
- kan. Saya yang pergi, anak saya tuh
- nempel di pasport saya karena masih bayi
- anak baik gitu namanya Sadam. Jadi
- ulang-ulang sadam sadam. Iya. So what?
- Aku bilang gitu kan. Terus waktu saya ke
- Akso Hm. Ya. Di situ kan bertemu sama
- orang-orang Israel gitu kan. Ya itu saya
- didorong-dorong berapa kali karena
- pasportnya ada Sadam. Terus dikira saya
- bawa loh ini kan baby anak kecil gitu.
- Jadi dia dengar nama Sadam aja. Tapi
- saya bangga banget berarti Sadam itu
- hebat.
- Fenomenal berarti bayinya aja. Wow, luar
- biasa. Itu Saddam Husein memang kita
- idola. Oh, gitu. Ibu saya tuh idola
- banget sama Saddam Husein. Saya juga,
- saya juga, saya tahu dia orang
- pemberani, orang gitu kan bertanggung
- jawab. Dia pun mati bersama rakyatnya
- kan. Bukan katanya kabur seperti orang
- Amerika bilang kan. Tidak. Dia kalau
- enggak
- dimasukin apa tuh gas mungkin dia udah
- lawan kan. Cuman karena dia dimasukin
- kasnya, dia difly, dia dari lubang ke
- lubang. Jadi bohong kan kalau orang
- bilang dia cuman ambil uangnya terus dia
- kabur. Mana dia sampai digantung ya kan?
- Itu saya
- luar biasalah orang-orang pemberani
- untuk berjuang untuk kebenaran. Ya,
- sadamnya sendiri bangga enggak dengan
- sadamnya mula-mula gini. Aduh, Ibu siapa
- sih yang kasih nama aku sadap nih. Kan
- gitu. Kenapa? Semua orang bilang kamu
- pasti enggak bisa masuk Amerika. Gitu
- kan. Kan begitu ya kan? Nanti kamu pasti
- enggak bisa ya enggak masuk Amerika
- emang kenapa enggak kenapa-napa juga di
- Amerika juga nginjak tanah kok sama
- kayak di mana-mana bisa lihat di TV
- Amerika kayak apa bilang gitu. Tapi dia
- gitu tapi saya pikir kali mungkin
- sekarang enggak ya. He mungkin ya kan
- setiap waktu itu kan bush ya yang luar
- biasa. Tapi dia bilang gitu. Nah, saya
- yang minta saya anaknya karena laki
- namanya Saddam itu ibu saya. Oh,
- masyaallah. Kasih nama Sadam. Enggak ada
- pasti anak laki-laki yang namanya Sadam.
- Pasti cuman anak kamu. Oh, iya ya. Dan
- Sadam itu di dalam perjuangannya gini.
- Pokoknya ibu saya cerita gitu. Pokoknya
- ibu saya kalau cerita Sadam, he
- berapi-api. Aduh. Berapi-api dan dia
- tahu benar, dia ngerti banget tujuannya
- Sadam apa gitu.
- Dan sekarang saya lihat kan benar h
- artinya ada satu orang yang berani.
- Amerika itu memang adik kuasa kan
- tapi tidak
- adasa ya. Ih, bagus banget, Mbak. Benar.
- Dia adikuasa, tapi dia tidak adasa.
- Jadi, dia selalu
- merasa jadi polisi dunia. Jadi apa? Jadi
- kalau saya bisa bilang Amerika itu
- tolonglah setelah dia ee adik kuasa tapi
- dia jadi adik rasa, pasti dia akan jadi
- negara yang paling baik untuk dunia.
- karena memang dia negara yang sangat
- berkembang, maju, cerdas, apa kan gitu
- kan demokrasi gitu. Tapi karena kurang
- adirasa itu dan mungkin kebutuhan dia
- juga dengan ekonomi untuk membiayai
- negaranya yang minyak, yang ini, yang
- itu politik ya. Tapi kan Sadam benar
- gitu ya kan dia kan enggak mungkin mau
- mau diatur gitu kan untuk sama Iran kan
- Irak-Iran itu kan. Jadi jadi saya
- penginnya yang benar ya benarlah gitu.
- Jangan jangan ngurusin negara orang
- kalau mau bantu bantu yang adil kan
- gitu. Jadi saya pikirannya gitu. Jadi
- waktu itu saya bilang sama Sadam,
- "Enggak apa-apa, tapi nanti kali setelah
- berubah negaranya apanya, cara
- berpikirnya orang Amerikanya pun mungkin
- ya. Tapi buat saya, saya enggak pernah
- menyesal." Setelah ada teror bukan ada
- serangan Amerika ke
- Irak sampai Sadam di seperti itu sampai
- akhirnya wah Irak dihancurkan,
- dilumpuhkan secara total. itu kan negara
- sejarah Islam yang luar biasa kan. Jadi
- sebenarnya kalau dia mau bunuh salam kan
- gampang tapi kayak mau menghancurkan
- semuanya kan itu yang saya sedih
- gitu. Baru saya lihat sekarang ada
- bayi-bayi yang namanya Sadam. Tapi dulu
- cuman anak saya aja.
- Cuman anak lu deh kayaknya yang namanya
- Sadam. Enggak apa-apa gua bilang aku
- pakai hati kau kasih nama dia gitu.
- Baik. Tadi Mbak Kamelia juga nyebut
- betapa besar pengaruhnya Ibu Mbak
- Kamelia terhadap Mbak dan hidupnya
- masyaallah cukup panjang ya menemani dia
- meninggal umur 87.
- H 87. Pelajaran apa yang paling
- berharga? Oh dia juga pemberani tuh
- kayak saya.
- dia tuh juga orangnya berani terus
- ee
- ya apa ya termasuk pendobrak-pendobrak
- gitu gitu. He. Lingkungan Arab kan kita
- tahu ya ada keterbatasan yang luar biasa
- gitu. Tapi ibu saya tuh termasuk yang
- berani sejak dulu. Mudah dari muda.
- Heeh. Dari muda.
- Hm. Dan mudah-mudahan aja Allah terima
- amal ibadahnya, dimaafkan semua amin.
- Kesalahan-kesalahannya ya kepada Allah
- terutama kan. Amin. Kepada manusia juga
- tapi kepada Allah terutama.
- Mudah-mudahan. Kalau kehilangan seorang
- ibu itu enggak peduli berapa umur kita,
- kita akan tetap merasa kehilangan. Ini
- apa pengaruh sih, Mbak? Sebenarnya
- pengaruh. Pengaruh saya kalau kehilangan
- itu saya enggak pernah terlalu
- dramatisir ya. Karena saya selalu sadar
- bahwa setiap kelahiran, setiap kehidupan
- pasti ada kematian. Itu kan pasti. Dan
- itu berlaku kepada hamba Allah. Semua
- hamba Allah. Jadi kita enggak boleh ee
- apa ya ee tolak keputusan Allah yang
- akan datang kepada setiap hamba-hambanya
- siapapun
- itu. Jadi emang yang paling sedih
- itu kalau kita kangen. Hm. Ya, yang saya
- selalu takut itu kalau begitu meninggal
- ya kita
- nangis, kita sedih. Tapi di dalam hati
- saya gini, udah nih selesai, nanti juga
- kita mati ketemu apa enggak nanti Allah
- yang tahu. Ya kan?
- Tapi kalau kangen, H itu aja yang paling
- saya takut kalau tiba-tiba kangen. Dan
- memang semakin lama itu ternyata semakin
- kangen. Bukan semakin lama jadi bisa
- lupa. Semakin lupa enggak. Heeh. Kalau
- saya ya kan semakin kangen, semakin
- ingat setiap setiap ada ee perubahan
- waktu seperti ini. Udah mau dekat
- lebaran, udah puasa lagi. Oh ingat lagi
- dia dulu kalau ada dia ini puasa begini
- dia masak-masak. Ibu saya senang masak
- sampai udah sakit pun dia masih suka
- masak bawa kompornya di kamar gitu
- sambil e iya gitu gitu. Itu aja yang
- selalu saya apa? Saya selalu ingat sama
- penyesalan saya ee sama apa-apa yang
- pernah
- saya ee enggak sepakat gitu sama dia ya.
- Yang suka saya suka ngelawan. Ah itu
- jadi itu aja yang itu yang saya ingat
- dan terus kangen. Hm. Tapi kalau
- ditinggal kan semuanya pasti ya. Iya
- betul ya Allah. Terus jadi kalau
- pelajaran paling berharga dari ayah Mbak
- Kamelia. Oh banyak ayah saya sebentar
- tapi karena dia orangnya spesial
- dia orangnya tuh
- ee dia politikus, dia seniman, berjiwa
- seni lah, dia pedagang. Jadi komplit.
- Nah, dia tuh selalu
- bilang kalau dagang itu harusnya begini
- gini gini gitu kan. Kalau di tempat
- seniman kita harus begini, harus ceria.
- Ee kalau di politik kita harus tahu
- strategi. Itu selalu selalu saya dengar.
- Dan lingkungan Bapak saya itu ya
- lingkungan waktu itu
- ibunya Gus Dur ya, Ibu Wahid ya. Terus
- ee Pak Hatta gitulah terus ee Bung Karno
- lingkungannya itu dulu ya. Jadi ee
- Pak kalau senimannya Asrul Sani, Usmar
- Ismail, Miss Bahu Sabiran yang gitu-gitu
- kalau senimannya dan bintang-bintang
- film ee legendaris yang dulu ya. Terus
- kalau politiknya Mbak Pak Subhan, Idham
- Khalid yang gitu-gitu Saifuddin Suhri
- itu akrab di lingkungan Bapak saya. Jadi
- saya lihat semua gimana bapak saya
- kepada seniman gimana. Kadang-kadang itu
- saya bilang ini bapak saya ini
- bertolak-tolak belakang tapi kok bisa
- dia beramu padu gitu kan. Misalnya dia
- juga pernah di Nahdatul Ulama salah satu
- ketua di di NU gitu kan. Jadi kan itu
- kan ke seni kan luar biasa. Tapi bisa
- loh dia gimana dia berhadapan sama
- politikus-politikus sama ulama-ulama
- gitu ya. Oh dia hormat banget tuh sama
- ulama-ulama. Pokoknya dia ikut kata
- ulama. Jadi kayak sekarang nih ya istima
- ulama ikut ITM ulama dia begitu. Habis
- itu di tempat seniman-seniman dia enjoy
- banget.
- Dia enjoy banget. Jadi
- sangat bisa membaur ya, Mbak ya? Iya.
- Jadi mungkin kalau dulu pun dia jadi di
- jadi pembicaraan mungkin ya ini kok di
- ulama gini, di seniman gini gitu mungkin
- ya. Tapi ya itu dia gitu, itu dia. Jadi
- saya dapat banyak pelajaran dari dia dan
- yang paling saya ingat
- benar dia itu orangnya
- lucu, pergaulannya luas, sering bikin
- orang ketawa.
- Kemudian dia
- itu murah hati
- dan dia enggak pernah takut melangkah
- dalam kehidupan. Punya uang, enggak
- punya uang. Dia tuh PD banget. Beneran?
- Iya, benar. Dan dia bilang sama saya
- gini, "Kamu jangan
- pernah berantem sama teman kamu karena
- uang. Jangan.
- Karena uang tidak akan pernah bikin
- uang. Tapi teman bersahabat kita bisa
- bikin uang. Jadi maksudnya kalau kerja
- sama yang baik itu bisa, tapi uang ya
- enggak bisa ya. Kalau mau
- dibunga-bungain itu lain kan artinya
- gitu. Tapi kalau kita bikin sesuatu
- program itu kan persaaran karena teman
- bisa bikin uang. Jadi jangan deh gitu.
- Jangan silaturahmi. Heeh. Silaturahmi
- itu kebersamaan. dan dia selalu bilang
- kebersamaan itu besar. Jadi beda sama
- perorangan. Jadi kalau kita bisa
- bergandeng tangan sama siapapun
- bersama-sama kita pasti akan jadi lebih
- besar walaupun sendiri pun kita bisa
- melangkah gitu. Jadi saya makanya tahu
- kalau dia senang berorganisasi kenapa
- dan saya juga akhirnya senang
- berorganisasi karena saya ngerasa punya
- banyak teman itu untung gitu loh
- daripada cuman sedikit.
- teman tadi ee Mbak Kamelia menyebut
- tentang ijtima ulama. Ulama yang paling
- Mbak Kamelia suka saat ini siapa dan
- kenapa? Sekarang Habib
- Rizq, habibnya ya, ulamanya banyak. He.
- Tapi sebenarnya saya enggak pernah lihat
- siapa, tapi dia ngomong apa gitu yang
- saya lihat. Jadi saya enggak pernah sama
- figurnya gitu.
- Oh, jadi kultus atau apa gitu ya? Tidak.
- Tapi dia lagi bicara apa nih? Dia bicara
- benar atau enggak benar gitu ya kan? Ee
- kalau Habib Rizq ini saya lihat ya dari
- dulu saya ini bukan baru istima ulama
- sekarang ini terus karena kemarin ini
- 212 itu Habib Riz enggak dari dulu waktu
- Habib ditangkap pun saya ikut masuk
- anterin ke penjara. Dulu Habib pernah
- ditangkap. Masyaallah. H. Dulu tuh
- pernah ditangkap ibunya sama saya naik
- apa di kuat roda waktu itu ibunya masih
- bawa-bawa foto Habib gitu depan istana
- saya
- ikut ada saya ada Yatif Oktavia ada
- beberapa teman jadi saya ngikutin gitu
- Habib ini luar biasa masyaallah
- sebenarnya orang salah aja gitu
- memang keras gitu kan misalnya dakwahnya
- atunya keras nah itu kan setiap orang
- punya style-nya
- ya kan Habib enggak bisa disamain
- misalnya maaf sama halusnya A Gim gitu
- kan atau lembutnya siapa gitu enggak.
- Tapi yang saya lihat dia ngomong yang
- benar dan Habib itu pintar banget.
- Mbak Kamelia mungkin sering diskusi
- kali. Genius enggak? Saya sering dengar
- apa ceramahnya dia, ngomongnya dia.
- Sekarang ini apalagi spiritnya dia ee
- kasih tahu kita jelas bahwa oh ini ee
- ini benar, ini boleh dijalanin, ini
- tidak boleh, ini konstitusional, ini
- tidak, ini begini, ini begini, ini
- begini, ini begini. Pancasila ini itu
- ini itu. Saya lihat-lihatin ini benar
- semua nih, Habib ini luar biasa gitu
- kan. Jadi komplit dia gitu dia komplit.
- Jadi dia ilmu agamanya luar biasa.
- Kemudian ibu ilmu kenegaraannya juga ya
- kan pengetahuan tentang undang-undang
- kenegaraan dan lain-lainnya juga luar
- biasa. Terus saya lihat juga dia orang
- yang
- sebenarnya enggak pembenci, tak tidak
- permusuhan, tidak begitu. Jadi dia ya
- dia mau omongin apa yang dia bilang itu
- harus diomongin, itu harus disampaikan.
- Misalnya hukum Allahnya begini di
- Qurannya begini ya begini gitu enggak
- pleset-peletin, enggak diperhalus-halus
- gitu kan. Nah apa yang boleh ee
- toleransi kita terhadap ini terhadap ini
- ter sebagaimana jauh. Saya banyak
- belajarnya dari justru dari lihat Habib
- ngomong. Tapi banyak ulama-ulama besar,
- ulama-ulama ee
- ulama-ulama yang masih belum populer pun
- kalau di daerah-daerah saya lihat kalau
- memang dia bagus, kalau memang saya
- hormat dan menghargai gitu. Gimana Mbak
- Kamelia melihat sekarang perkembangan
- dakwah di Indonesia ini menggembirakan
- enggak menurut Mbak Kamelia?
- bagi yang semangat untuk terus berdakwah
- di jalan Allah lillahi taala ya karena
- Allah kemudian ee karena
- kebenaran, kemudian karena
- kejujuran,
- tidak apa ya cari-cari muka atau ee mau
- ngambil kepentingan sendiri benar-benar
- karena Allah untuk mencerdaskan umat.
- saya
- hormat. Tapi bagi
- yang cenderung
- ee apa ya mau cari pembenaran aja,
- kemudian
- meleset-melesetkan ayat-ayat
- Allah, membuat ee semua menjadi
- samar-samar, tidak pasti.
- Saya prihatin karena apa yang Allah
- katakan ya itu yang harus dia
- katakan. Iya kan? Itu aja bagi saya itu
- aja. Tapi siapapun anak kecil kek apa
- yang mau ajarin saya, saya happy. Karena
- saya haus. Saya belum punya banyak ilmu
- tentang itu. Tapi saya kan dikasih rasa
- sama Allah untuk belajar dan dimulai
- dengan rasa, dimulai dengan niat.
- Dimulai dengan membuka hati
- selebar-lebarnya ya untuk
- ee cari imunnya
- Allah. Dari mana aja saya akan tampung.
- Masyaallah. Terus kan Mbak Kamelia saat
- ini lagi sibuk-sibuknya seperti yang
- tadi Mbak Kamelia ee katakan. Apa yang
- membuat Iya. Apa yang membuat semangat
- itu ee timbul? Apa yang membuat Mbak
- Kamelia bergerak? dan apa harapan? Oh,
- iya. Keinginan-keinginan bangsa ini
- menjadi bangsa
- yang bermartabat, bangsa yang
- berkualitas, bangsa
- yang baik terhadap seluruh anak
- bangsanya, rakyatnya. Bisa membuat adil,
- makmur. Kemudian bisa membuat ee semua
- punya penghasilan atau pekerjaan. yang
- layak sesuai dengan profesinya, sesuai
- dengan keahliannya, sesuai dengan
- skill-nya. Betapa sedihnya kalau kita
- lihat sekarang ee kita makan, sebagian
- orang makan dari sampah kita. H
- ngorek-ngorek sampah kita. Iya. N saya
- masih lihat tuh di di kantor saya kalau
- pagi ibu-ibu banyak gitu bawa-bawa
- kardus, bawa-bawa plastik gede,
- korek-korek sampah di sampah saya
- diambil ini, diambil itu, diambil ini.
- Kadang-kadang sedih mereka kalau lihat
- saya, saya sambil jalan itu dia mungkin
- malu ya. Ini saya mau ambil ini untuk
- kasih makan ayam, untuk apa, saya enggak
- rasa itu untuk kasih makan ayam. Hm.
- Jadi itu itu kesenjangan itu masa sampai
- hari gini,
- masa sampai hari gini gitu ya. Kita
- masih mesti lihat kayak gitu, sedihlah.
- Kemudian anak-anak
- sarjana-sarjana yang udah jadi yang
- mungkin ibunya sekolah ini itu anak-anak
- dari jual sawahnya, dari gadein apanya,
- dari jual periasanya, barangkali dari
- apa kayak gitu. Terus saya tidak
- menghina pekerjaan apapun selagi itu
- halal. Tapi enggak seimbang sekolah yang
- di dibayar sama mahal-mahal itu.
- Tiba-tiba dia misalnya cuman jadi tukang
- Gojek karena enggak keterima di sini,
- enggak ini gini. Tukang Gojek terhormat
- sangat. Tapi kan enggak mesti jadi
- sarjana ekonomi jadi tukang Gojek. Kalau
- jadi tukang Gojek belajar nyupir aja
- yang benar gitu kan. Misalnya enggak
- sampai emak bapaknya jual ono ini, ono
- ini. Orang mau bilang takdir ya, utusan
- Allah iya. Tapi negara ini punya
- tanggung jawab gitu sama ee anak
- bangsanya gitu kan. Entar saya dengar
- lagi dikirim jadi apa TKW lah, TKI lah,
- apalah gitu kan. Di sana entar dapat
- penyiksaan-penyiksaan gitu. Waduh, kita
- kok kenapa jadi negara gede gini jadi
- kirim-kirim tenaga ke negara-negara
- kecil itu, gitu kan. Misalnya, misalnya
- jadi khayalan saya tuh sekarang aduh
- pengin ya semua
- bisa saling gitu artinya saling tenggang
- rasa ya kan. Kalau orang pintar bukan
- untuk mempermalukan yang bodoh. Orang
- kaya kan bukan untuk menghina yang
- miskin gitu kan. Jadi untuk saling
- bantu. Yang pintar ngajarin yang bodoh,
- yang kaya bantu yang miskin ya yang
- sehat bantu yang papa gitu. Nih
- kesehatan pun
- begitu. Orang sakit ini itu apalah
- segala macam susah ya. Kita aja sakit
- ngeri nih. Uh sakit masuk rumah sakit
- ini pasti ratus-ratus juta nih ya kan.
- Oh ada enggak nih asuransi? Ada enggak
- ini OBPJS? Apa ini? pusing. Apalagi yang
- kecil barangkali dia pikir udahlah di
- rumah aja daripada sampai ke situ pun
- udah sakit badannya nambah gara-gara
- kantongnya juga sakit enggak punya
- uangnya kan.
- Nah, Kayalan pengin jadi
- satu ini negara besar yang punya ee aduh
- kekayaan besar gitu ya. coba juga berh
- jiwa besar untuk
- mm kompak
- bersama-sama ngurus dulu yang paling
- urent yang paling penting yaitu rakyat
- jelata supaya
- bisa salah bisa makan wajar aja bukannya
- bikin dia e kalau dia malas ya memang ya
- tapi ini keluhannya kan dia enggak malas
- dia mau cari kerja dia mau apa tapi gitu
- Itu kan anaknya aja udah ngabisin
- duitnya banyak nih. Sawah sudah terjual,
- rumah udah gini gini gini.
- Akhirnya bawa ma bawa Gojek atau bawa
- mobil gitu. Tidak hina. Apapun pekerjaan
- buat saya tidak hina. Cuman seimbang
- enggak
- itu? Iya kan? Iya. Jadi menyediakan
- sarana pekerjaan
- terhadap loh ini banyak ni loh
- sarjana-sarjana yang jadi
- ini semua mau bersekolah.
- Iya kan? Iya. Aduh. Jadi jangan jangan
- lama-lama deh berkutipit cuman di
- kedudukan aja gitu. Ber bolak-balik
- ribut cuman urusan jabatan aja sama
- mempertahankan kekuasaan. Lupa dia bahwa
- kekuasaan jabatan itu tanggung jawabnya
- luar biasa gitu. Iya kan? Kalau orang
- dikenang tuh kan karena perilaku dan apa
- yang telah dia ukir, apa yang telah dia
- buat untuk bangsanya gitu kan. Misalnya
- siapapun orang itu artinya setiap
- kehidupan, setiap profesi itu punya
- tanggung jawab dunia akhirat itu pasti
- gitu. Nah, maksud saya ini
- yang petinggi-petinggi
- ini kan enggak bisa cuman duduk di
- ketinggiannya aja dong. Iya kan?
- ya kan enggak cuman bisa harus
- dihormati, harus dituruti gitu. Udah
- lakukan apa
- gitu. Dan sekarang
- kayaknya dunia semakin tua, semakin
- padat, saingannya pun juga udah seram
- ya. Persaingan tenaga manusia pun sudah
- hampir tidak terpakai ya kan. banyak
- elektronik, banyak apa-apa yang bisa
- buat orang sudah enggak butuh lagi sama
- manusia. Kemudian em pemusik aja
- sekarang sudah enggak kepakai karena
- semua orang bisa bikin musik di langsung
- di digital ya, digital komputer apa gitu
- kan. Udah jadi pemain musik
- yang apa sih namanya yang
- benar-benar itu udah enggak kepakai.
- Kasihan gitu. Saya cuma lihatnya kayak
- gitu.
- Jadi mudah-mudahan kita punya
- kesadaran yang paling penting itu yang
- memang
- kesadaran terpenting dari semua. Sehebat
- apapun kalau kita enggak
- sadar-sadar akan apa situasi yang
- terjadi,
- berat. Kan kalau bikin kesalahan
- secara apa sih namanya tuh? Berjamaah
- gitu ya.
- lakukan kesalahan-kesalahan secara
- bersama-sama gitu kan. Kenapa enggak
- sekarang bikin kesadaran secara
- bersama-sama? Ya bisa aja kan tinggal
- digituin aja kan. Baik. Ini udah
- waktunya soalnya gitu.
- Udah sudah waktunya. Tapi apak sudah
- waktunya Mbak optimis bahwa Indonesia
- dapat menjadi bangsa yang besar.
- Insyaallah optimis tergantung daya juang
- anak bangsanya. Insyaallah. dan kemauan
- keras untuk meraih itu dan tetap di
- jalannya yang benar ya di jalan yang
- benar pengin banget su saya salut untuk
- Mbak Kamelia sama-sama salut semua oh
- sama-sama dengan saya juga saya sudah
- lama nih enggak ngomong-ngomong soalnya
- kalau ngomong takut emos
- untuk bulan puasa jadi emosi ba ini ini
- bulan puasa untuk ngerem Memang betul,
- tapi katanya ada kan untuk jihadnya
- semakin pahalanya semakin besar. Betul.
- Kita berjihad sambil bersabar. Iya.
- Berjihad sambil bersabar dan sambil
- terus mohon kepada Allah. Karena pada
- akhirnya ketentuan Allah yang harus kita
- terima kan. Setuju Mamuak. Terima kasih
- banyak Mak atas kesempatan. Aku juga
- terima kasih banyak. Terima kasih untuk
- semuanya yang sudah bersama-sama kita.
- Terima kasih banyak. Sukses
- untuk semua. Amin ya rabbal alamin. Ee
- ikhwan dan akhwat, demikian tadi acara
- sahur bersama tokoh kita pagi ini, Mbak
- Kamelia Malik. Ee insyaallah semua
- ikhwan dan akhwat ee menikmatinya
- sebagaimana kami semua di sini. Akhir
- kata saya Nurfitri Tahir bersama segenap
- kru undur diri. Subhanakallahumma
- wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta
- astagfiruka wa atubu ilaik.
- Wasalamualaikum. warahmatullah
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi taala wabarakatuh.