Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:01 [musik] 0:07 [musik] 0:12 [musik] 0:20 Bismillahirahmanirahim. 0:23 Assalamualaikum warahmatullahi 0:24 wabarakatuh Ikhwan Akhwat 0:25 rahimakumullah. 0:27 Senang sekali syukur alhamdulillah kita 0:30 bisa bersama-sama pada minggu pertama di 0:34 bulan April ini untuk acara bincang 0:37 komunikasi yang mudah-mudahan 0:40 mempersuasi kita semua yang mendengar 0:43 untuk menjadi sosok yang lebih keren 0:45 dari sebelumnya ya. Bersama 0:48 Dokter Laila Mona Ganis. 0:50 Kita akan lewatkan waktu kurang lebih 0:52 satu jam. 0:53 Bahasannya nanti mudah-mudahan memang 0:56 persis banget seperti yang kita perlukan 0:58 ya, karena Ramadan baru saja berlalu 1:02 tetapi tentu saja kebiasaan baik harus 1:05 tetap kita 1:06 lanjutkan 1:07 setiap 1:09 kesempatan untuk melewati Ramadan 1:12 dan kemudian menghadirkan kita sebagai 1:15 sosok yang lebih 1:17 bertambah nilainya luar biasa. Terkait 1:20 dengan ini juga nanti mudah-mudahan yang 1:21 akan dibahas oleh 1:23 Mbak Mona. 1:25 Kita sapa beliau yang sudah hadir di 1:26 sini. Assalamualaikum warahmatullahi 1:28 wabarakatuh. Assalamualaikum 1:30 warahmatullahi wabarakatuh. 1:31 Sehat bugar aman terkendali? 1:33 Alhamdulillah. 1:34 Alhamdulillah. 1:35 Jadi 1:36 Wal Faizin. 1:36 Maaf lahir batin untuk semua pendengar 1:39 Radio Silaturahim bukan hanya di Cibubur 1:43 tapi di mana saja. Mudah-mudahan belum 1:46 habis ya maafnya ya. Iya. 1:48 [tertawa] 1:48 Oke Mbak Mona terkait dengan habis 1:50 Ramadan nih, habis Ramadan 1:53 selain ketakwaan yang yang jaga karena 1:57 kita hadir di bincang komunikasi ada 1:59 kaitannya dengan komunikasi mungkin ya. 2:02 Ada dong. 2:03 Jadi persisnya apa yang harus dijaga 2:05 nih? Kita akan jaga lisan seusai 2:09 Ramadan. Masya Allah, jangan dikira 2:12 tidak diperjuangkan nih jaga lisan usai 2:15 Ramadan. Kayaknya udah udah lewat kok 2:17 ya. 2:17 [tertawa] 2:18 Oke, seperti apakah gerangan? Yuk kita 2:20 simak. 2:21 Terima kasih eh ikhwan dan akhwat yang 2:24 dirahmati Allah. 2:26 Terima kasih, Assalamualaikum 2:28 warahmatullahi wabarakatuh. 2:29 Waalaikumsalam. Kita membahas tentang eh 2:33 sisi 2:35 negatif dan positif dari eh menjaga 2:39 lisan ya. 2:41 Eh 2:43 kita membahas tentang bagaimana sih 2:45 penyakit lisan yang 2:50 ada dalam kehidupan kita. Di antaranya 2:52 ada gossiping, 2:54 gibah gitu ya. 2:55 He em he em. Kemudian juga marah-marah, 2:58 emosian, kemudian juga nyindir ya, eh 3:04 sarkastik, sarkasme, kemudian 3:08 eh di media sosial kita bikin hoax ya 3:13 atau komen-komen yang bikin marah 3:16 atau juga eh riya dalam ucapan yaitu 3:21 pamer misalnya begitu ya. 3:24 Kita akan membahas hal-hal itu, apa yang 3:26 perlu kita lakukan ya ikhwan dan akhwat. 3:29 Eh 3:31 sekilas gosip atau gibah itu 3:35 mulainya dari obrolan kita lagi 3:37 ngobrol-ngobrol santai nih ketemuan, 3:39 ngobrol santai terus jadi 3:42 mulai berubah nih ngomongin orang lain 3:44 nih gitu ya. 3:45 Eh atau juga kita bikin kritik yang 3:48 enggak konstruktif, kritik yang bikin 3:50 orang kesel gitu, ya. Dan ini jadi 3:54 memperkeruh suasana. 3:56 Atau juga eee 3:59 ngobrolnya seru, tapi isinya merugikan 4:03 orang lain. Ini semua adalah 4:06 bagian-bagian dari yang eee seharusnya 4:09 kita hindari di dalam bulan 4:12 bulan-bulan setelah seusai Ramadan, ya. 4:15 Karena biasanya Ramadan itu kita jaga 4:17 banget, gitu, ya. Ah, jangan deh supaya 4:21 pahalanya enggak hilang, supaya 4:23 pahalanya bertambah, begitu, ya. Tetapi 4:26 seusai Ramadan, 4:27 eee apa namanya? Setan-setan dilepas, 4:31 gitu, ya. 4:32 [tertawa] 4:32 Kita jadi bisa eee apa namanya? Eee 4:37 terperangkap oleh eee ajakan-ajakan yang 4:41 membuat eee seru, tapi sebenarnya 4:44 berbahaya untuk kehidupan kita. 4:48 Eee Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati 4:50 Allah, eee kenapa dalam kehidupan 4:53 sehari-hari lisan kita lebih sulit 4:56 dikendalikan 4:58 dibandingkan tindakan? 5:00 Ya. 5:01 Coba, jo- eee jawabannya apa eee menurut 5:04 eee Ikhwan dan Akhwat sekalian? 5:07 Kayaknya eee 5:09 lisan itu kan kesannya kayak enggak 5:12 enggak apa, ya? Enggak berdampak, 5:15 begitu, ya. Padahal sebenarnya sangat 5:17 berdampak. Ini bisa nyakitin orang lain, 5:21 bisa bikin hubungan persaudaraan atau 5:24 pertemanan jadi retak, bisa bikin 5:27 lingkungan kerja atau lingkungan 5:30 komunitas kita, tetangga kita jadi 5:32 enggak nyaman, 5:34 reputasi pribadi kita juga jadi menurun, 5:37 kemudian juga hati kita jadi gelisah, 5:40 kita jadi enggak tenang karena kita 5:42 enggak nyaman juga, gitu, ya. Karena 5:44 ngomongin orang lain. 5:46 Komunikasi jadi kehilangan makna dan ee 5:51 kebiasaan kita bisa jadi menjadi ee 5:55 terus-menerus kita lakukan begitu ya, 5:57 tanpa kita menyadari. Otomatik, langsung 6:00 automatic pilot ya. 6:03 Ee rekan-rekan sekalian, 6:05 kalau kita bisa mengontrol banyak hal 6:07 dalam hidup kita, kenapa lisan kita 6:10 sekali lagi justru sering kita lepaskan 6:14 tanpa kendali? 6:16 Ini perlu jadi refleksi kita untuk bisa 6:20 menjaga lisan kita. 6:22 Ee 6:23 mmm beneran lisan itu 6:26 kayak begitu aja keluar, tapi 6:29 bener-bener dampaknya ya. 6:31 Mengelola ucapan 6:33 bukan 6:35 cuma sekedar kon ee sopan santun, tapi 6:39 bagian dari kedewasaan diri kita gitu 6:42 ya. 6:43 Ee bisa kita ee melatih ee apa namanya 6:47 kendali diri, kita juga membangun 6:50 kesadaran sebelum kita ngomong, 6:53 kita juga menumbuhkan empati sama orang, 6:56 dan juga kita 6:58 ee meningkatkan kualitas dari hubungan 7:01 kita sama orang lain gitu. 7:04 Jadi, komunikasi yang sehat kita perlu 7:07 bangun dengan kita jujur, dengan kita 7:11 lembut pengucapannya, 7:14 tidak menyakiti, 7:16 ee bertanggung jawab dan memberi 7:18 manfaat. Itu 7:20 ee aturan-aturan 7:22 yang bisa berdampak besar dalam 7:25 kehidupan kita. Sekali lagi, komunikasi 7:27 kita jujur, 7:28 dari hati, He em, he em. ee lembut, 7:32 kemudian juga tidak menyakiti ya, 7:35 kemudian juga bertanggung jawab, jangan 7:38 ee ketika kita ngomongin orang, 7:41 sebenarnya kita perlu bertanya. Kalau 7:44 saya 7:46 kita ngerasa kayaknya itu enggak apa-apa 7:48 deh, saya enggak ngomongin yang jelek 7:50 deh. Tapi coba pertanyaannya, kalau saya 7:53 yang diomongin kayak gitu, gimana 7:55 perasaan saya gitu. 7:57 Jadi itu enggak memberi manfaat, padahal 8:00 ketika kita memberi manfaat, itu akan 8:02 menjadi nyaman. 8:04 Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah 8:07 sisi transformasi yang bisa kita lakukan 8:09 adalah transformasi lisan dalam 8:12 kehidupan kita sehari-hari. Ngubah gosip 8:15 jadi percakapan yang berkualitas gitu 8:19 ya. 8:20 Mengalihkan ke ide, ke solusi, ke 8:24 hal-hal yang positif gitu ya. Kemudian 8:29 yang juga kita perlu lakukan, mengganti 8:32 marah 8:34 dengan jeda gitu ya. Jadi jangan 8:36 buru-buru marah kalau ada sesuatu yang 8:38 bikin kita marah. 8:40 Kenapa kita harus marah gitu? 8:42 Padahal belum tentu yang diomongin itu 8:45 enggak benar gitu ya. Tapi ketika itu 8:47 yang diomongin enggak benar, kita bisa 8:50 menghindari 8:52 marah dengan berbagai 8:53 pendekatan-pendekatan yang perlu kita 8:56 lakukan. Yaitu kita berhenti dulu atau 8:59 kita duduk atau kita tiduran gitu ya 9:02 atau kita tarik napas gitu ya. Banyak 9:05 hal kok yang bisa kita lakukan untuk 9:06 menghindari marah gitu. 9:09 Eee 9:10 ini perlu kecerdasan emosional yang baik 9:14 gitu ya dan perlu 9:17 teknik-teknik yang 9:19 bisa kita praktekkan dan itu akan 9:21 membuahkan 9:23 hal-hal yang positif. 9:24 Jadi kita membiasakan ucapan yang 9:27 menguatkan, ngasih apresiasi pada 9:29 keluarga, kemudian juga mendukung teman, 9:33 kemudian juga mengakui usaha orang lain. 9:36 Jadi dari hal-hal yang negatif menjadi 9:38 positif. 9:40 Dari hal-hal yang tadi gossiping, 9:42 emosional, marah-marah, 9:45 nyindir-nyindir, 9:46 atau juga ee komen yang negatif, atau 9:49 juga 9:51 ee ria gitu ya, menjadi hal-hal yang 9:53 positif tadi. Mengapresiasi orang, 9:57 keluarga kita bagus. Ini refleksi ya, 10:00 dan ini juga refleksi untuk saya sendiri 10:02 gitu ya. Untuk mengingatkan betapa 10:05 banyak hal yang masih bisa kita berikan 10:07 ee support positif pada lingkungan kita. 10:10 Dukungan, kemudian juga ee respect pada 10:14 upaya orang lain. 10:16 Dia bantuin nyuci, dia bantuin setrika, 10:19 dia bantuin kegiatan-kegiatan tertentu 10:21 kita ee akui ee usahanya. 10:25 Kemudian juga ee yang bisa kita lakukan 10:27 juga dengan ee daripada menyindir tadi, 10:31 kita juga bisa melakukan hal-hal yang 10:33 positif di media sosial atau di digital 10:35 gitu ya. 10:37 Ee 10:39 daripada kita komen-komen yang negatif 10:42 di media sosial, kita bisa lakukan 10:44 dengan 10:45 ee 10:46 saring sebelum sharing. Kita pastiin 10:50 kontennya itu yang kita bagikan adalah 10:52 konten-konten yang bagus, konten-konten 10:54 yang bermanfaat, enggak bikin orang 10:56 marah gitu ya. 10:58 Ee berkomentar juga dengan empati, 11:00 enggak mudah terpancing, jangan 11:04 komen-komen yang misalnya ada orang ee 11:07 nyebelin, terus kita komen juga ee 11:11 untuk balas juga dari perilaku orang 11:14 tersebut begitu ya. Heeh, heeh. 11:16 Kemudian juga ria. 11:19 Ee atau pamer ee dalam ucapan gitu ya. 11:23 Ee ee itu bentuk dari ria gitu ya. 11:27 Ee maka yang perlu kita lakukan adalah 11:31 ee menghindari riya, 11:33 ee, memberikan ee, hal-hal yang positif 11:37 ee, kepada orang-orang yang ada di 11:38 lingkungan kita gitu ya. Menguatkan 11:41 orang yang sedang sulit. Ee, orang yang 11:43 sedang sulit itu ee, kalau kita kasih 11:46 hal-hal yang ee, apa ya, yang berhasil 11:49 yang kita lakukan, mungkin jadinya kecil 11:51 hati gitu. Maka kita perlu memberikan 11:53 semangat, mendoakan, ee, atau berharap 11:56 kebaikan untuk dia yang sedang terpuruk 11:59 misalnya gitu ya. Menjadi ee, em, modal 12:03 penenang, bukan pemicu dari konflik kita 12:06 gitu. 12:07 Jadi, mengendalikan lisan adalah bentuk 12:10 kedewasaan dan kesadaran diri kita. Dan 12:14 kalau lisan kita terjaga, hubungan kita 12:17 jadi baik. Ee, kalau hubungan terjaga, 12:21 maka hidup kita juga jadi tenang. Jadi, 12:24 dampaknya besar sekali dalam kehidupan 12:26 kita. 12:27 Jadi, omongan, lisan itu 12:31 berdampak besar ya. Penyakit lisan yang 12:35 sering muncul dalam kehidupan kita, 12:37 sekali lagi tadi gosiping. 12:39 Misalnya, 12:41 ee, suaminya jarang pulang ya, gitu ya, 12:43 kita omongin ee, tetangga kita misalnya 12:46 gitu ya. 12:47 Ee, 12:48 kayaknya rumahnya lagi enggak beres ya, 12:50 gitu ya. Padahal mau tahu doang nih, 12:53 gitu ya. Pantes aja dia sering 12:54 sendirian. 12:56 Mungkin ada masalah. Jadi, kita 12:58 korek-korek gitu ya. Ee, dengan ee, ee, 13:02 upaya-upaya untuk cari tahu tadi gitu 13:05 ya. Membahas masalah pribadi orang tanpa 13:09 orang itu ee, memberikan izin. Apalagi 13:13 basisnya asumsi. Ah, kayaknya dia gini 13:16 deh, kayaknya dia gini deh, gitu ya. 13:18 Padahal kita sendiri enggak tahu kondisi 13:21 aslinya gitu. Belum tentu kok dia lagi 13:24 sendirian itu berarti dia lagi rumah 13:26 tangganya enggak beres gitu ya. Atau 13:29 misalnya suaminya jarang pulang bisa 13:31 jadi karena ada kegiatan lain yang perlu 13:33 traveling yang butuh waktu juga gitu. 13:37 Itu gibah tentang rumah tangga orang 13:39 lain. Atau gibah tentang ekonomi 13:42 misalnya gitu ya, gibah tentang gaya 13:44 hidup misalnya. 13:46 Baru beli mobil 13:48 baru beli mobil ya gitu ya. Emang dari 13:51 mana uangnya gitu ya. 13:53 [tertawa] 13:54 Penasaran aja dia ingin tahu gitu ya. 13:57 Kayaknya lagi susah kok gayanya tetap 13:59 mewah sih gitu. 14:01 Ya 14:03 eee 14:04 itu 14:06 bisa jadi kategorinya gibah gitu. 14:08 Kenapa? Karena 14:10 mulai dengan menilai eee kondisi 14:12 finansial seseorang 14:14 sambil meragukan atau juga mencurigai 14:17 gitu ya. 14:18 Eee karena kita melakukan 14:20 perbandingan-perbandingan 14:22 gitu ya. Yang sebenarnya itu biarin aja 14:25 gitu. Urusan dia, urusan orang lain gitu 14:29 ya [berdehem] dalam kehidupan kita. Atau 14:30 misalnya gibah tentang anak, tentang 14:34 pola asuh misalnya gitu ya. 14:36 Anaknya kok bandel banget sih gitu ya. 14:40 Ya iya itu tantangannya dia, itu 14:43 cobaannya dia gitu dalam kehidupannya 14:45 dia. 14:46 Atau juga ibunya kali terlalu sibuk 14:48 kerja makanya anaknya begitu gitu. 14:52 Eee jadi eee kita melakukan melakukan 14:55 gibah membicarakan kekurangan anak atau 14:59 cara mendidik eee orang lain tanpa 15:02 empati atau juga tanpa solusi. Jadi ini 15:04 kategorinya juga gibah. Kita sering 15:07 merasa ini 15:09 hanya omongan biasa sekali lagi ya. 15:12 Tapi kalau itu yang diomonginnya tentang 15:15 kita, kita juga enggak nyaman. Balik 15:17 lagi tadi. 15:18 Kita ditanyain orang lain ngomongin 15:20 tentang anak kita. 15:22 Kayaknya anaknya kok gitu ya gitu. Kita 15:24 juga bete gitu ya, sebel juga gitu ya. 15:27 Jadi 15:29 gimana nak buat cara elegan untuk 15:31 mengalihkan gibah 15:33 atau percakapan yang 15:36 enggak perlu itu misalnya soal rumah 15:38 tangga 15:39 kayaknya rumah tangganya lagi enggak 15:41 beres deh misalnya begitu ya. Kita bisa 15:44 tahu 15:45 kita bisa ngasih tahu mungkin 15:48 dengan beberapa cara seperti ini. 15:51 Kita enggak tahu kok cerita aslinya 15:53 seperti apa atau cerita real-nya, 15:56 kondisi keluarganya seperti apa. 15:58 Mudah-mudahan baik-baik aja ya gitu. 16:01 Jadi kita 16:02 responnya bisa jadi kayak gitu gitu. 16:05 Daripada nebak-nebak mungkin 16:08 baiknya kita 16:11 ajak ngobrol dia atau kita doain aja dia 16:13 gitu. 16:16 Tanpa menghakimi dengan nada yang nyaman 16:19 yang lembut gitu ya, itu juga bisa kita 16:22 lakukan. 16:23 Terus misalnya kita dengar ada gibahin 16:27 gaya hidup atau tentang ekonomi kayak 16:30 tadi tuh. 16:31 Dari mana ya uangnya ya gitu ya. 16:34 Misalnya tetangga kita beli mobil baru 16:36 misalnya begitu ya. Dari mana ya uangnya 16:38 ya. Itu kan kayaknya mulai-mulai tuh 16:40 gitu ya ke arah-arah sana gitu ya. 16:43 Kita bisa ngerespon mungkin dia dapat 16:45 rezeki kali ya. 16:47 Tiap orang kan beda ya jalan-jalan 16:50 rezekinya ya. 16:52 Mudah-mudahan 16:54 begitulah rezeki yang dia dapat atau 16:56 juga mudah-mudahan kita juga segera 16:58 dapat rezeki [berdehem] yang lebih 17:00 apa namanya sehingga kita bisa beli yang 17:03 kita mau juga gitu. 17:05 Atau tiap orang kan juga punya prioritas 17:08 dan perjuangannya juga beda-beda maka 17:13 apa ya ketika sudah mulai mengarah ke 17:16 gibah tentang finansial atau tentang 17:18 gaya hidup, kita bisa sampaikan itu. 17:22 Atau kita bisa omongin, mungkin kita 17:24 bisa fokus saja ke apa yang bisa kita 17:28 kendalikan atau bisa kita kelola gitu 17:30 ya. 17:31 Eee gibah tentang anak misalnya gitu ya 17:35 atau pola asuh. Anaknya bandel banget 17:37 sih tuh dia ya. 17:39 Nah, kita bisa merespon dengan 17:43 memang mungkin anaknya lagi dalam fase 17:45 belajar ya atau fase 17:48 tertentu dalam hidupnya ya. Jadi, tiap 17:51 anak itu kan beda ya. Jadi, itu yang 17:53 mungkin 17:54 eee tantangan yang sedang dia hadapi 17:56 atau juga ngurus anak tuh benar-benar 17:58 enggak mudah loh. Pasti ada tantangan 18:01 masing-masing dari setiap keluarga. 18:04 Semoga 18:06 anak-anak 18:08 dia dan anak-anak kita juga tumbuh 18:10 dengan baik gitu ya. Jadi, teman-teman 18:13 semua 18:15 eee 18:16 ada beberapa teknik yang bisa kita 18:18 lakukan untuk menghindari gosip 18:22 tanpa jadinya enggak enak hubungannya 18:25 kita gitu ya. Misalnya dengan teknik 18:28 empati. 18:30 Kalau kita yang dibahas, gimana ya 18:32 rasanya ya gitu. Itu teknik empati. 18:35 Jadi, kita refleksi nanyain lagi. 18:38 Atau juga teknik perspektif. Misalnya 18:41 kita enggak tahu cerita sebenarnya. 18:44 Mungkin ada hal yang belum bisa kita 18:47 eee analisa atau kita lihat juga gitu 18:50 ya. Itu jadi sudut pandang. Kita ajak 18:53 untuk melihat sudut pandang. 18:55 Atau teknik lain, teknik mengalihkan 18:58 eee topik dengan cara halus. 19:02 Ngomong-ngomong 19:04 kemarin 19:05 kamu sempat lihat ada 19:09 eee 19:11 ada apa eee ustazah 19:16 eee misalnya ustazah atau eee Mama Dedeh 19:21 misalnya yang datang ke daerah kita 19:22 misalnya begitu ya. 19:25 Kita alihkan atau dengan teknik 19:27 netralisasi itu juga bisa. Jadi teknik 19:30 empati, teknik perspektif ya, teknik 19:34 eee mengembalikan topik dengan cara 19:36 halus, teknik netralisasi 19:39 semua orang punya jalan hidup yang 19:41 beda-beda ya. 19:43 Kita juga demikian. 19:45 Belum tentu 19:47 eee 19:48 apa yang kita alami 19:51 sama seperti yang 19:53 orang lain lihat gitu ya. Jadi itu 19:55 menetralkan nasi. 19:57 Atau juga dengan humor ringan teknik 19:59 lainnya. Wah 20:01 obrolan kita mulai sensitif nih. 20:03 [tertawa] Yuk kita ganti topik aja ya. 20:06 Nah, itu jadi eee teknik-teknik yang 20:09 bisa kita gunakan. 20:11 Eee ikhwan dan akhwat yang dirahmati 20:12 Allah, kita menghindari gibah bukan 20:15 berarti membatasi obrolan loh. 20:18 Tapi kita meningkatkan kualitas dari 20:20 percakapan kita. Lisan kita bisa jadi 20:24 sumber konflik tapi bisa juga jadi 20:27 sumber [berdehem] ketenangan 20:30 dan dua-duanya pilihannya ada di kita. 20:33 Itu sementara Mbak Nuning. Masya Allah. 20:37 Jadi ikhwan akhwat enggak bisa memandang 20:40 enggak sih karena 20:42 lisan kita itu cerminan dari diri kita 20:45 sendiri yang akan bikin selamat atau 20:48 sebaliknya. 20:50 Ehm karena ini live Anda bisa langsung 20:54 telepon atau kalau kirim WA seperti 20:57 biasa 20:59 dan 21:00 kalau sudah ada yang masuk kita boleh 21:01 langsung ya Mbak Mona ya sebelum nanti 21:04 dilanjutkan dengan tambahan yang 21:06 lainnya. Ini dari Mbak Tituk. Heeh. 21:10 Terima kasih sekali bahasannya. Ngerem 21:12 lidah itu pakai apa ya? Kalau makan 21:15 pahit paling cuman kayak gitu, tapi agar 21:18 bahasa yang kita pakai keren, patokannya 21:22 tidak melukai orang lain tuh apa yang 21:25 tidak melukai diri sendiri gitu, Mbak? 21:27 Heeh. 21:29 Ngerem lidah tuh gimana ya? 21:31 [tertawa] 21:31 Ngerem lidah itu pertama adalah 21:34 kesadaran tadi menurut saya sih ya. 21:36 Terima kasih ya eh 21:38 ini diskusinya. 21:40 Pertama adalah kita dengan menyadari 21:43 eh bahwa eh 21:46 betapa 21:49 banyak sekali peluang-peluang 21:53 kita jatuh atau kita menjadi eh 21:58 menenangkan gitu ya 22:00 karena lisan kita. Heeh. Jadi 22:03 ternyata katanya eh 22:05 banyak 22:06 eh perempuan bisa 22:09 [tertawa] 22:09 masuk neraka itu karena di antaranya 22:12 Lidah. Lidah gitu ya. Jadi eh betapa 22:15 sayangnya gitu 22:16 eh lidah itu bisa jadi sumber ketenangan 22:19 atau juga sumber gibah atau sumber 22:21 eh mudarat gitu ya. 22:24 Maka eh yang perlu kita lakukan adalah 22:27 kita senantiasa alert, senantiasa 22:29 waspada. 22:31 Ini yang perlu kita lakukan. Jadi kalau 22:32 kita mulai mengarah-ngarah ke sana 22:35 coba kita gunakan teknik-teknik tadi. Eh 22:38 Ibu siapa tadi? Tituk. Ibu Tituk. Ibu 22:41 Tituk coba kita manfaatkan eh 22:44 teknik-teknik tadi ya. 22:46 Eh 22:49 ini refleksi untuk kita semua ya karena 22:52 halus banget rasanya 22:55 kayaknya enggak kok, enggak bahaya kok 22:57 gitu ya. 22:58 Tapi ketika kita bisa mengarahkan diri 23:03 kita, menjaga diri kita, dan menjaga 23:05 teman-teman yang kita sayangi 23:08 ini jauh lebih baik gitu. Jadi, dengan 23:11 teknik empati 23:13 eee 23:17 kayaknya 23:19 kita ganti topik aja yuk. Nah, gitu ya. 23:22 Heeh. 23:23 Soalnya kalau kita yang dibahas, kita 23:25 juga enggak suka ya. Atau kita gimana ya 23:28 rasanya ya? Dan entar kita nambahin dosa 23:32 lagi. 23:33 Oke. 23:34 Pas eee sama-sama kita ganti topik aja 23:37 ya. 23:38 Atau juga 23:41 eee karena kita enggak tahu cerita 23:43 lengkapnya, mungkin 23:45 kita belum lihat sebenarnya apa yang 23:48 terjadi dalam keluarganya. Misalnya 23:51 ada ada pasangan yang ribut gitu ya. 23:56 Eee terus eee ada kekerasan dalam rumah 23:59 tangga tetangga kita. Terus kita 24:02 eee nyala-nyalain. 24:04 Eee 24:07 iya, mungkin kelihatannya begitu, tapi 24:10 belum tentu seperti itu gitu. Kita bisa 24:13 sampaikan seperti itu yuk. 24:17 Mungkin kita doain aja, kita bantu dia, 24:19 atau barangkali kita tenangin dia. 24:22 Mmm heh. 24:24 Eee ini penting banget untuk kita jaga 24:27 diri kita gitu ya. 24:28 [tertawa] 24:29 Pertahanan yang penting gitu. Ini ini 24:31 refleksi juga untuk saya begitu ya, 24:33 supaya bisa menjaga seperti itu. 24:36 Eee terus juga kita juga bisa dengan 24:41 netralisasi. 24:42 Ya 24:44 semua orang punya jalan hidup yang 24:46 berbeda-beda ya. 24:48 Itu juga bisa kita lakukan. 24:50 Mudah-mudahan ini menjawab ya Ibu Tutut 24:52 ya. 24:52 Amin. 24:53 Ternyata memang ya, jaganya itu 24:56 macam-macam. 24:57 Betul. Ini dari Pak Juno. Pak Juno. 24:59 [berdehem] 25:00 Kalau menunjukkan raihan prestasi tapi 25:04 di ranah kerjaan agar tidak diremehkan, 25:08 itu termasuk salah enggak ya? Bukan 25:10 maksudnya riya atau pamer sih. Terima 25:13 kasih. Iya. 25:16 Ada batas tipis sekali gitu ya riya itu 25:19 ya. Jadi, 25:20 ketika yang pertama adalah menurut 25:22 pendapat saya kita balik kepada 25:25 niat. 25:26 Ini bukan riya, ini mau menjelaskan 25:30 kinerja gitu ya. 25:32 Dan ada ada asbabun nuzulnya lah gitu 25:37 ya. Jadi, ada ada proses yang 25:39 memungkinkan untuk percakapan itu gitu 25:41 yang membuat kita memang 25:43 tepat untuk mengupas atau 25:46 mengelaborasikan 25:50 catatan-catatan itu. Misalnya, kita 25:53 sedang menjelaskan 25:54 kinerja. 25:57 Kita bisa jelaskan raihannya ini karena 26:01 proses ini dan dampaknya ini atau 26:04 hasilnya ini, itu kan karena memang 26:07 kinerja gitu. Jadi, balik lagi 26:10 yuk kita cek dulu niatnya. Niatnya bukan 26:15 buat pamer. Jadi, kalau lagi lagi ingin 26:17 pamer 26:19 eee 26:21 yang sebenarnya karena kita sedang 26:24 bermaksud riya gitu ya. 26:26 Coba yuk kita 26:28 rapiin lagi diri kita gitu. 26:31 Maka balik lagi kita cek lagi maksudnya 26:35 apa. 26:36 Kemudian, 26:38 kalau ini adalah berhubungan untuk 26:41 refleksi 26:44 kinerja 26:45 atau juga untuk membantu orang lain 26:47 supaya bisa belajar, iya itu balik lagi 26:50 sama niatnya tadi gitu. 26:53 Demikian menurut saya. Ini dari namanya 26:59 kalau seandainya seperti yang tadi di 27:03 sampaikan mengalihkan 27:05 pembicaraan ketika itu sudah 27:07 nyenggol-nyenggol yang enggak enak itu 27:11 pernah terjadi dianggap sok tahu, sok 27:14 bersih, sok keren itu bagaimana He eh. 27:18 menyikapinya dengan lebih 27:22 mantap. Iya. Oh oh. 27:25 Eee 27:27 kita bisa sampaikan bahwa karena 27:30 saya enggak punya 27:32 pengetahuan tentang itu 27:34 jadi 27:35 mmm 27:37 I have no idea. 27:40 Saya harus ngomong apa tentang itu. 27:43 Jujur aja sampaikan itu. 27:44 Jadi kalau misalnya eee rekan-rekan lain 27:47 memang 27:49 berminat untuk mengelaborasi tentang itu 27:51 lebih dalam lagi 27:53 ya 27:54 ketika kita 27:56 tahu bahwa ini mengarah ke hal-hal yang 27:59 negatif 27:59 limbah gitu ya, maka ya 28:02 kita bisa sampaikan bahwa 28:04 eee saya enggak bisa nambahin karena 28:06 saya enggak punya pengetahuan tentang 28:08 itu gitu. 28:09 Itu. Lalu kita jaga diri kita dengan eee 28:14 niat bahwa kita ingin 28:17 eee menghindari kita ingin menghindari 28:21 hal-hal yang 28:22 konflik 28:22 [tertawa] 28:22 eee berdampak negatif untuk diri kita. 28:25 Dan kita punya niat baik untuk mengajak 28:27 teman-teman semua untuk ke hal yang 28:29 positif. Kecuali misalnya kita sedang 28:33 membahas itu untuk tujuan yang baik. 28:37 Eee saya saya berikan sebuah contoh. Ada 28:39 sebuah keluarga 28:41 eee lalu mendiskusikan tentang masalah 28:44 anggota keluarga lainnya. He em. Tetapi 28:47 eee kita ngelihat dari sudut pandang A, 28:50 sudut pandang B, sudut pandang C, dan 28:51 lain sebagainya. Lalu, gimana solusi 28:54 untuk menyelesaikan atau membantu 28:56 masalah dari keluarga kita yang lain ini 28:59 yang sedang dibahas. Itu berarti 29:01 tujuannya adalah bukan gibah. 29:04 Meskipun yang dibahas adalah kekurangan 29:06 dia, tetapi tujuannya adalah untuk 29:09 mencarikan solusi terbaik, begitu. Jadi, 29:12 batas tipisnya antara gibah dengan niat 29:17 lain itu kita harus clear. 29:19 Maka, ketika kita ee teryakinkan bahwa 29:23 ini bukan gibah, so go ahead, berikan 29:25 kontribusi positif untuk ikut berbicara 29:28 dan ikut memberikan pandangan kita. 29:30 Tapi, ketika ini arahnya adalah gibah, 29:32 kayaknya ngomongin doang enggak cariin 29:34 solusi, gitu ya. 29:36 Maka, 29:37 kita bisa sampaikan yang tadi dengan 29:40 mengalihkan atau juga dengan teknik 29:43 kalau kita yang dibahas kita 29:45 juga enggak nyaman atau juga kita bisa 29:48 sampaikan bahwa 29:49 saya sendiri enggak tahu ininya dan ee 29:54 sorry saya 29:56 ee 29:58 enggak ikutan. 30:01 Dan kita bisa 30:04 bisa diam saja atau bisa kalau misalnya 30:07 itu menjadi lebih ini, 30:09 ya kita bisa meninggalkan. Ee sorry ya, 30:13 aku lagi ada sesuatu yang harus aku 30:14 kerjain, misalnya. 30:16 Ee ada pekerjaan, ada tugas, dan lain 30:19 sebagainya. 30:21 Kita bisa menghindari ee dengan cara 30:23 seperti itu. 30:25 Cari alasan yang masuk akal ya. 30:27 akal, heeh. Yang yang yang halus, gitu 30:29 kan kita tahu ya situasinya ya. 30:31 Atau ee aku punya makanan enak deh, yuk 30:34 kita 30:35 [tertawa] 30:36 mendingan gitu. 30:38 Pokoknya switch percakapannya. Heem, 30:40 keren banget. Ini ini enggak mudah ya, 30:43 tapi kan perlu kita biasakan ya. He em, 30:45 he em. He em. 30:47 Dia diajak enggak tapi? 30:48 Kenapa? Yang kalau misalnya kita ngajak 30:50 keluar makan gitu yang tadi. 30:52 Iya dong, yuk kita mendingan kita cari 30:55 makanan enak yuk. In case dia lanjut 30:58 ngomongin yang tadi gimana? 30:59 [tertawa] 31:00 Ya kita yang mulai diskusi yang lain, 31:03 ada hal lain. 31:05 Ini Ibu Hilda bertanya kalau orang 31:07 terdekat kita He em. yang punya pengaruh 31:09 berbiasa itu kalau ngomong kebiasaannya 31:12 nyelekit. Iya. Nyelekit itu eh tajam ya. 31:15 Tajam ya. Eh kayaknya jadi karakternya, 31:17 apa yang harus saya lakukan? 31:20 Iya. Dia adalah ipar yang tinggal 31:22 serumah. Apa? 31:23 Iya. 31:24 Iya, iya. 31:26 Eh yang pertama adalah kita sendiri 31:29 tidak nyelekit begitu ya. He em, he em. 31:32 Jadi karena biasanya nyelekit itu kalau 31:34 ditambahin nanti tambah panas, tambah 31:37 panas gitu. 31:37 he em. Jadi kita tidak nyelekit. 31:40 Kemudian kita cari cara Eh. sehingga dia 31:44 bisa belajar dari kita gitu ya supaya eh 31:47 ini. Terus. Sesekali kita ajak bicara 31:50 bahwa please jangan gitu dong ngomongnya 31:53 gitu. Kita cari cara untuk ngobrol sama 31:56 dia gitu ya. 31:57 Eh. Yang yang yang paling eh cukup He 32:01 em. eh aman eh untuk awal-awal adalah 32:05 kita sendiri enggak nyelekit sama dia. 32:07 Sehingga dia bisa mencontoh. Tetapi 32:10 ketika itu menjadi belum jadi contoh 32:14 bagi dia kita bisa sampaikan 32:17 boleh enggak ngomongnya jangan kayak 32:18 gitu karena saya enggak enak dengarnya 32:21 gitu. 32:22 Eh. 32:24 Saya sudah berusaha banget untuk enggak 32:27 ngebalas 32:28 eh nyelekit ngomongnya, saya juga sudah 32:30 hati-hati sekali. Sometimes kita perlu 32:33 kok eh meluruskan 32:36 seseorang di dalam situasi yang cukup 32:38 nyaman, tetapi dalam pernyataan bukan 32:41 marah-marah. Gimana sih kamu kalau 32:43 ngomong nyelekit mulu? Ah, kayak gitu 32:45 kan jadinya agresif gitu ya. 32:47 Eh, kalau kita biasa bahas itu ada empat 32:50 gaya komunikasi. Satu, 32:53 agresif, yaitu 32:56 eh 32:57 apa ya? Dia ngerasa di atas, jadi dia ke 33:00 bawah itu 33:02 agresif gitu ya. Gimana sih kamu? Atau 33:04 nyelekit-nyelekit tadi di situ gitu ya. 33:06 Eh, 33:07 bisa jadi ke sana eh 33:09 agresif, marah-marah, itu 33:11 eh agresif. Pasif agresif ini 33:14 nyindir-nyindir gitu ya. Itu bisa jadi 33:17 si nyelekit itu bisa kategori pasif 33:19 agresif atau agresif gitu ya. 33:23 Kalau nyelekit nyelekitnya masih dalam 33:27 eh nyindir-nyindir 33:28 atau ngomongnya ke sana sebenarnya ke 33:31 sini misalnya begitu ya. Itu kategori 33:33 pasif agresif. Dua-dua ini enggak bagus. 33:35 Yang ketiga adalah pasif. Pasif itu dia 33:39 posisinya dia merendah mulu gitu ya. 33:42 Jadi, yang yang saya tadi sampaikan 33:44 untuk tidak kita juga tidak nyelekit 33:48 ngomongnya 33:49 bukan berarti kita dalam posisi lemah 33:52 atau eh 33:55 pasif tadi atau merendah gitu ya. Tetapi 33:58 kita ngomongnya asertif. Yang yang 34:01 terbaik adalah asertif. Ngomong apa 34:04 adanya, ngomong dengan baik, ngomong 34:07 dengan nyaman, ngomong dengan eh jelas, 34:11 ngomong yang mudah dipahami, 34:14 yang enggak di enggak enggak ditujukan 34:17 untuk bikin dia sakit hati, tapi bikin 34:20 dia jelas, enggak merendahkan 34:23 diri di bawah dia, enggak gitu. Tapi 34:26 straight, langsung, langsung enak 34:29 kedengarannya, sopan, 34:32 eh nyaman gitu ya. Eee, positif gitu. 34:36 Itu yang perlu kita lakukan. 34:38 Eee, jadi asertif. Kalau dia 34:42 eee, pa, eee, dia agresif dan pasif 34:45 agresif, kita asertif. 34:48 Tapi kalau dia terus-menerus agresif 34:51 atau pasif agresif, nyelekit tadi gitu 34:54 ya, maka kita secara asertif, kita 34:58 sampaikan. 35:00 Eh, ipar atau siapa lah namanya si Miss 35:03 Ipar ini, iparnya cewek atau cowok gitu 35:06 ya. Miss Ipar lah misalnya, eee, cewek 35:07 misalnya gitu ya. 35:10 Eee. 35:11 Saya 35:13 eee, suka dengar kamu atau saya pernah 35:15 dengar kamu ngomong begini nih gitu. 35:18 Kalau kamu ngomongnya 35:21 eee, sambil 35:23 eee, apa namanya gayanya kayak sambil 35:27 matanya 35:29 eee, melotot atau misalnya ngomongnya 35:33 sambil 35:34 eee, kok dihabisin sih? Misalnya begitu. 35:38 Atau kok eee, enggak ngajak-ngajak sih? 35:42 Misalnya begitu ya. 35:43 Eee, saya jadi ngerasa eee, kamu lagi 35:48 marah sama saya. 35:49 Jadi saya jadi enggak nyaman. 35:52 Gimana kalau kamu kalau ingin diajak, 35:55 kasih tahu saja. 35:57 Ajak aku ya kalau pergi ke sana gitu. He 36:00 em, he em. Eee, jadi eee, saya jadi 36:03 lebih ngerti dibandingin kamu ngomongnya 36:06 eee, enggak jelas, bikin saya jadi 36:09 enggak nyaman juga, bikin saya jadi 36:13 ngerasa terpojok, 36:16 bikin saya jadi 36:17 bahkan selanjutnya jadi agak enggan 36:20 untuk ngajakin gitu. 36:23 Padahal ini kan kita saudara. 36:25 Eee, saya ingin sekali dekat sama kamu 36:27 juga gitu. Jadi, eh cobalah kita 36:31 cari cara untuk ngomong sama 36:34 eh, beliau gitu ya dengan 36:38 assertive. Karena kita adalah pemenang 36:40 dengan assertive itu begitu dan 36:42 menyamankan semua pihak. 36:44 Gitu. 36:47 Oke, mana nih? Iya, jadi antara pasif, 36:50 agresif, agresif dan assertive. Eh, satu 36:53 laginya apa? 36:54 Eh, 36:55 pasif. Pasif, pasif agresif, agresif dan 37:00 assertive. Assertive. The best is 37:01 assertive. Meskipun jujur enggak 37:04 gampang. Enggak gampang, enggak gampang. 37:05 Iya. Ini ada pertanyaan. 37:07 untuk ngomong assertive ya teman-teman 37:09 semua Ikhwan dan Akhwat. 37:12 Ada pertanyaan, apakah gaya bicara 37:15 seseorang itu nurun karena Heeh. eh, ada 37:19 keluarga yang ibunya suka 37:22 nyindir-nyindir, itu anaknya juga suka 37:25 nyindir padahal dia udah SMP loh. Iya. 37:29 Heeh. Ini emang nurun ya? 37:31 Menurut saya nurun. Nurun karena 37:34 karena lingkungan. 37:36 [tertawa] 37:36 Jadi, belajar dari lingkungan. Maksudnya 37:39 bukan menurun secara biologis ya menurut 37:41 pendapat saya ya. Jadi, kan eh, 37:44 seseorang ini eh, bisa dipengaruhi oleh 37:48 DNA atau bawaan eh, dari Allah Subhanahu 37:53 Wa Ta'ala gitu ya secara 37:55 eh, biologis, kemudian juga secara 37:59 pengasuhan 38:01 eh, dan eh, kepribadian dia gitu atau 38:04 secara lingkungan yang lebih luas gitu. 38:07 Nah, dalam proses pengasuhan, jadi dalam 38:10 proses pengasuhannya itu sangat mungkin 38:14 dipengaruhi 38:16 eh, gaya orang-orang yang ada di 38:19 lingkungannya gitu ya. Misalnya biasa 38:22 ngomong asertif, dia akan jadi asertif. 38:25 Biasa ngomong agresif, dia juga akan 38:27 jadi agresif gitu. Jadi, anak-anak 38:29 belajar dari kehidupan ya. 38:32 Jadi, ada tanggung jawab kita kalau 38:35 sampai anak-anak menjadi 38:38 pribadi yang betul. Dari jauh yang kita 38:40 harapkan ya. 38:41 Betul, betul Mbak Noni. Baik, ini dari 38:44 Ibu Santi yang ada di Batam. 38:46 Ibu Santi. Bagaimana cara melatih diri 38:49 agar sebelum bicara tuh kita bisa mikir 38:51 dulu. 38:52 Apakah ini bermanfaat [tertawa] 38:54 atau tidak? Karena kadang ada saja orang 38:57 yang asal ngomong tanpa berpikir. Iya, 39:02 iya. Yang bisa kita kendalikan adalah 39:04 diri kita sendiri. 39:06 Kita enggak punya hak prerogatif 39:08 terhadap diri orang lain, tubuh, 39:10 pikiran, dan perkataan orang lain, 39:14 tindakan orang lain. Kita enggak bisa. 39:17 Yang bisa kita kendalikan adalah diri 39:18 kita sendiri. Maka, 39:21 kita pun kepada orang lain supaya orang 39:23 lain ngikutin yang kita mau pun mulainya 39:26 dari diri kita, yaitu kita omongin, kita 39:28 sampaikan. Misalnya, lingkungan kita 39:31 ngomong situasinya adalah ngomongnya 39:34 langsung aja tanpa mikir dan lain 39:37 sebagainya. Balik lagi tadi, kita akan 39:40 ajakin orang-orang terdekat kita untuk 39:44 memberi, kita memberikan contoh dulu 39:46 bahwa kita ini asertif gitu ya. 39:49 Kita juga kalau ngomong juga 39:50 mikir-mikir. Nih, kalau saya omongin nih 39:53 dampaknya kayak gimana ya gitu. 39:55 Eee, balik lagi semua pada niat. Ketika 39:57 kita meniatkan untuk ngomongin orang 40:01 tetapi ngomonginnya untuk niat yang 40:03 baik, iya enggak apa-apa menurut saya. 40:07 Orang kita juga mikirin orang lain, iya 40:09 kan? 40:10 Eee, tetapi ketika kita niatkan untuk 40:14 mau gosiping, mau gibahin, mau tahu 40:18 gimana, mau 40:20 eh nyindir-nyindir atau mau eh bikin 40:25 hoax gitu ya. He em, he em. Eh maka itu 40:29 eh 40:31 sebaiknya kita kita hindari. Itulah 40:34 diskusi kita hari ini. 40:36 Menjaga lisan 40:38 eh seusai Ramadan. 40:41 [tertawa] 40:41 Karena biasanya Ramadan kita jagain 40:44 sebaik mungkin gitu ya atau eh 40:46 setan-setannya tadi diikat gitu ya. 40:49 [tertawa] 40:49 Sekarang bertebaran. Jadi kita juga 40:51 harus eh hati-hati. [berdehem] 40:54 Yang 40:55 bisa kita kendalikan adalah diri kita 40:57 sendiri. Orang lain itu kita upayakan 41:01 untuk kendalikan. 41:03 Tetapi hasilnya bukan dalam ranah kita. 41:08 Kita usahakan, kita 41:11 eh upayakan tetapi hasilnya itu adalah 41:15 ranah Allah gitu ya. 41:18 Eh let's do our best 41:20 and Allah will do the rest. Masya Allah. 41:23 Ehm 41:24 ini kalau diam lebih baik dari berbicara 41:27 di dalam kondisi tertentu memang perlu 41:29 dipertimbangkan ya. 41:30 Iya, betul, betul, betul. 41:32 [mendengus] 41:33 Pertanyaannya di dalam pergaulan modern, 41:35 di media sosial gimana dong cara jaga 41:40 eh lisan kita yang ada dalam bentuk 41:42 tulisan. 41:43 [tertawa] 41:43 Iya, maksudnya itu. 41:45 Jadi eh 41:48 ada beberapa yang 41:50 perlu kita perhatikan ya sebelum 41:53 mengirim pesan. Sebelum kirim pesan itu 41:55 kita perlu baca ulang. 41:57 Pastiin apakah benar eh pesan ini on the 42:02 right track gitu ya. 42:03 Hapus kalimat yang emosional dan 42:05 defensive gitu. Kadang-kadang ada 42:07 kalimat-kalimat yang pertama ketika kita 42:10 baca ulang kita jadi tahu kita nih 42:12 ngerti apa enggak sih apa yang kita 42:13 tulis. Kadang-kadang 42:16 yang kita eh ada dalam pikiran kita 42:18 ketika kita sampaikan tidak lengkap. 42:20 Tetapi ketika kita baca kembali, kita 42:22 jadi tahu. Yang kedua, kita bisa hapus, 42:26 apalagi lagi lagi marah nih gitu ya, 42:28 lagi nulis lagi marah. Kita bisa hapus 42:31 eh eh pesan-pesan emosional atau juga 42:34 defensif gitu ya 42:36 yang nanti isi pesannya adalah agresif 42:41 pasif agresif atau pasif. Maka kita cari 42:46 pilihan kata yang kesannya 42:48 eh asertif gitu ya. Langsung 42:52 eh to the point 42:55 eh enak kedengarannya, bikin orang 42:58 nyaman rasanya 43:00 eh positif gitu ya. 43:03 Terus eh bayangkan orang yang bakal baca 43:06 ini reaksinya seperti apa begitu. Jadi, 43:09 pastikan 43:10 fakta 43:12 eh bukan emosi gitu. Ini yang perlu kita 43:15 lihat karena tulisan itu ketika orang 43:18 baca, nanti kesannya jadinya emosional 43:20 gitu. 43:22 Eh ini yang perlu kita perhatikan ya 43:24 untuk eh media sosial sindiran-sindiran. 43:29 Misalnya ada kata-kata, "Kalau enggak 43:31 bisa tanggung jawab, mending enggak usah 43:33 janji." Misalnya ada kata-kata kayak 43:34 gitu, kan enggak enak tuh, ya kan? 43:37 Eh 43:39 ada orang nulis kayak gitu kepada kita. 43:42 Eh kita bisa sampaikan, "Aduh, mohon 43:46 maaf nih, ada apa ya? Eh kalau ada yang 43:49 kurang dari saya, mohon disampaikan 43:51 langsung. Saya siap memperbaiki. Boleh 43:54 saya tahu apa yang Ehm ehm. eh 43:58 sudah saya lakukan." Misalnya begitu. 44:00 Iya. Jadi eh 44:02 itu kan berarti dia kan tadi kan marah 44:04 ya. Ehm. Kan katanya 44:07 "Kalau enggak bisa tanggung jawab enggak 44:08 usah janji. 44:09 Mending enggak usah janji. Itu kan 44:11 per 44:12 pasti ada sesuatu gitu. Maka kita coba 44:15 jelaskan responnya dengan positif aja. 44:19 Oh iya, barangkali ada ya yang salah ya. 44:22 Ini kesannya adalah dewasa, kesannya 44:24 adalah enggak nyerang balik misalnya. 44:27 Gila ada apa? Kan kan itu jadinya 44:30 jadinya lebih marah. Terus mengundang 44:32 komunikasi, membuka komunikasi ada apa 44:35 ya gitu. 44:38 Eee menurut saya itu perlu untuk kita 44:40 biasakan ya. 44:43 Oke, enggak ada yang salah kalau semua 44:47 dipertimbangkan 44:49 meskipun lidah enggak bertulang. 44:50 Betul. 44:51 [tertawa] 44:52 Oke Mbak Mona, mungkin ada yang perlu 44:53 ditambahkan sebelum rangkum bahasan kita 44:57 terkait dengan bagaimana menjaga lisan 45:00 seusai Ramadan. 45:03 Jadi eee yang perlu kita lakukan Mbak 45:07 Nunung 45:08 kita perlu memastikan bahwa 45:12 sekarang ini kan banyak berita-berita 45:14 provokatif, ada hoax 45:16 ada berita-berita yang kita dapatkan 45:19 tanpa tanpa verifikasi ya orang 45:22 sebar-sebarin 45:24 eee terus kita juga kadang-kadang mudah 45:26 terpancing 45:28 atau juga kita pamer dan lain sebagainya 45:31 gitu ya. Kita gibah 45:34 kita gosip ya. 45:37 Eee dalam situasi yang santai-santai 45:40 tiba-tiba jadi gosip. Ini sangat sering 45:43 kejadian. 45:45 Karena kan apalagi di bulan Ramadan di 45:47 bulan Syawal ini kan kita sering sekali 45:50 ketemu sama orang 45:52 eee silaturahim 45:54 percakapan silaturahim itu jangan sampai 45:57 memperkeruh suasana 45:59 dan juga merugikan semua pihak. 46:03 Merugikan kita, merugikan orang lain, 46:05 merugikan orang yang diomongin juga 46:07 gitu. 46:08 Ini adalah penyakit lisan yang berbahaya 46:12 untuk hidup kita. Yang kedua adalah 46:14 emosional atau juga marah. Mudah 46:17 tersulut emosi eee 46:21 karena stres atau karena tekanan hidup 46:24 ini banyak sekali kejadiannya saat ini 46:26 gitu ya. 46:27 Eee ucapan tajam kita di mana-mana ya, 46:31 di lingkungan kita, di kampus, di rumah, 46:35 di tempat kerja atau di teman gitu ya. 46:38 Keluar kata-kata begitu saja ya. 46:42 Tanpa kita pikir ini berbahaya ya. Maka 46:45 balik lagi itu biasanya emosi ketika 46:49 kita menggunakan 46:51 eee gaya bicara yang 46:53 eee agresif dan pasif agresif gitu ya. 46:57 Maka yang perlu kita lakukan adalah 46:59 asertif. Atau juga berkomentar negatif 47:03 di medsos misalnya gitu ya. 47:06 Eee informasi kita sebarkan tanpa 47:08 verifikasi atau juga omongan kasar, 47:11 debat-debat yang enggak perlu misalnya 47:13 begitu ya. Kita terpancing emosi, 47:16 terfokofo, terprovokasi dengan 47:18 opini-opini 47:20 yang muncul gitu ya. Atau kita juga 47:23 riya. 47:24 Riya atau eee pamper, riya dalam ucapan 47:29 begitu ya. Eee itu membahayakan. 47:32 Menceritakan kebaikan kita eee karena 47:35 kita ingin mendapat pengakuan, ingin 47:37 terlihat lebih baik daripada orang lain. 47:40 Maka sekali lagi 47:42 eee 47:44 lisan kita memang sulit untuk kita 47:46 kendalikan gitu ya daripada tindakan 47:49 kita. Tapi dampaknya besar sekali, bisa 47:52 bikin orang bete, bisa bikin orang sakit 47:55 hati, bisa hubungan jadi retak. Bisa 47:58 lingkungan kerja jadi tidak nyaman, 48:01 lingkungan rumah jadi enggak nyaman, 48:03 lingkungan tetangga jadi enggak nyaman. 48:05 Reputasi, kualitas diri kita jadi 48:08 menurun karena orang jadi enggak percaya 48:10 sama kita, ini si itu tuh bagiannya suka 48:12 ngomongin orang. Hati gelisah, hati kita 48:15 juga enggak tenang karena kita merasa 48:17 punya dosa. Kita ngomongin orang lain. 48:20 Jadi komunikasi jadi kehilangan makna, 48:23 padahal komunikasi itu mengerat kan. 48:25 Komunikasi itu sangat bermakna, memahami 48:29 seseorang gitu ya. 48:31 Hanya kebiasaan kita tanpa kesadaran. 48:34 Kalau kita ngobrol dengan banyak orang, 48:37 maka kita bisa membuat pilihan. 48:40 Komunikasi kita menjadi bermakna atau 48:42 komunikasi kita menjadi 48:44 eee negatif. 48:47 Sebaiknya kita pilih yang aman untuk 48:50 hidup kita dunia dan akhirat. Demikian, 48:53 semoga bermanfaat. 48:55 Masya Allah, terima kasih sekali Mbak 48:58 Mona untuk obrolan kita yang kebetulan 49:02 bahasannya memang diperlukan sekali. 49:05 Gosip, nyinyir, eee sarkasme, kemudian 49:09 juga nyindir, pamer tuh kayaknya bagian 49:12 dari hari-hari yang 49:13 Betul. 49:13 tanpa sengaja kita lakukan. Insya Allah 49:16 sih persentasenya 0, sekian tapi 49:19 mudah-mudahan ya. Iya. 49:21 Yang jelas saring sebelum sharing, itu 49:24 yang perlu kita gen kan erat ya ikhwan 49:26 akhwat dan 49:28 kalau kita mampu mengendalikan lisan, 49:31 insya Allah akan ada kemudahan kita 49:33 melangkah lebih lanjut. Iya. 49:35 Sekali lagi terima kasih Mbak Mona dan 49:37 juga untuk yang sudah berkontribusi eee 49:40 bersama-sama dengan acara ini. Billahi 49:42 taufik wal hidayah, wassalamualaikum 49:44 warahmatullahi wabarakatuh. 49:46 Waalaikumsalam. 50:11 Ya.