Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Ikhwan akhwat
- rahimakumullah.
- Senang sekali. Syukur alhamdulillah kita
- bisa bersama-sama pada minggu pertama di
- bulan April ini untuk acara Bincang
- komunikasi yang mudah-mudahan
- mempersuasi kita semua yang mendengar
- untuk menjadi sosok yang lebih keren
- dari sebelumnya ya. Bersama
- Dr. Leila Monaganim. Kita akan lewatkan
- waktu kurang lebih 1 jam. bahasannya
- nanti mudah-mudahan memang persis banget
- seperti yang kita perlukan ya. Karena
- Ramadan baru saja berlalu tetapi tentu
- saja kebiasaan baik harus tetap kita
- lanjutkan setiap ee kesempatan untuk
- melewati Ramadan dan kemudian
- menghadirkan kita sebagai sosok yang
- lebih ee bertambah nilainya luar biasa.
- Terkait dengan ini juga nanti
- mudah-mudahan yang akan dibahas oleh ee
- Mbak Mona. Kita sapa beliau yang sudah
- hadir di sini. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Sehat, Bugar, aman, terkendali.
- Alhamdulillah.
- Alhamdulillah.
- Jadiin
- maaf lahir batin untuk semua pendengar
- radio silaturahim
- bukan hanya di Cibubur tapi di mana
- saja.
- Mudah-mudahan belum habis ya maafnya ya.
- Iya. [tertawa]
- Oke, Mbak Mona terkait dengan habis
- Ramadan nih. Habis Ramadan
- ee selain ketakwaan yang kita jaga
- karena kita hadir di Bincang komunikasi
- ada kaitannya dengan komunikasi mungkin
- ya.
- Ada dong.
- Jadi persisnya apa yang harus dijaga
- nih?
- Kita akan jaga lisan
- seusai Ramadan.
- Masyaallah. Jangan dikira tidak
- diperjuangkan nih jaga lisan usai
- Ramadan kayaknya udah udah lewat kok.
- [tertawa]
- Oke, seperti apakah gerangan? Yuk, kita
- simak.
- Terima kasih. Ee dan akhwat yang
- dirahmati Allah. Terima kasih.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Kita membahas tentang ee sisi
- negatif dan positif dari ee menjaga
- lisan ya.
- ee kita membahas tentang bagaimana sih
- penyakit lisan yang
- ada dalam kehidupan kita. Di antaranya
- ada gosiping,
- gibah gitu ya. He.
- Kemudian juga marah-marah, emosian,
- kemudian juga nyindir ya ee sarkastik,
- sarkasme. Kemudian
- ee di media sosial kita bikin hoax ya
- atau komen-komen yang bikin marah atau
- juga ee ria dalam ucapan yaitu pamer
- misalnya. Begitu ya.
- kita akan ngebahas hal itu apa yang
- perlu kita lakukan ya ikhwan dan akhwat
- ee
- sekilas gosip atau gibah itu mulainya
- dari obrolan kita lagi ngobrol-ngobrol
- santai nih ketemu ngobrol santai terus
- jadi mulai berubah nih ngomongin orang
- lain nih gitu ya ee atau juga kita bikin
- kritik yang enggak konstruktif, kritik
- yang bikin orang kesal gitu ya dan ini
- jadi memperkeruh suasana atau juga ee
- ngobrolnya seru tapi isinya merugikan
- orang lain. Ini semua adalah
- bagian-bagian dari yang ee seharusnya
- kita hindari di dalam bulan bulan-bulan
- setelah selesai Ramadan ya. Karena
- biasanya Ramadan itu kita jaga banget
- gitu ya. Ah jangan deh supaya pahalanya
- enggak hilang. supaya pahalanya
- bertambah begitu ya. Tetapi seusai
- Ramadan ee apa namanya? Setan-setan
- dilepas gitu ya. [tertawa] Kita jadi
- bisa ee apa namanya ee terperangkap oleh
- ee ajakan-ajakan yang membuat ee seru
- tapi sebenarnya berbahaya untuk
- kehidupan kita.
- Ee ikwan dan akhwat yang dirahmati
- Allah. Ee kenapa dalam kehidupan
- sehari-hari lisan kita lebih sulit
- dikendalikan
- dibandingkan tindakan? Ya, coba ee
- jawabannya apa ee menurut ee Iman Akwat
- sekalian? Kayaknya ee
- lisan itu kan kesannya kayak enggak
- enggak apa ya, enggak berdampak begitu
- ya. Padahal sebenarnya sangat berdampak.
- ini bisa nyakitin orang lain, bisa bikin
- hubungan persaudaraan atau pertemanan
- jadi retak. Bisa bikin lingkungan kerja
- atau lingkungan komunitas kita, tetangga
- kita jadi enggak nyaman. Reputasi
- pribadi kita juga jadi menurun. Kemudian
- juga hati kita jadi gelisah, kita jadi
- enggak tenang karena kita enggak nyaman
- juga gitu ya karena ngomongin orang
- lain. Komunikasi jadi kehilangan makna
- dan ee kebiasaan kita bisa jadi menjadi
- ee terus-menerus kita lakukan begitu ya
- tanpa kita menyadari otomatik langsung
- otomatic pilot ya.
- Ee rekan-rekan sekalian, kalau kita bisa
- mengontrol banyak hal dalam hidup kita,
- kenapa lisan kita sekali lagi justru
- sering kita lepaskan tanpa kendali?
- Ini perlu jadi refleksi kita untuk bisa
- menjaga lisan kita. Ee beneran lisan itu
- kayak begitu aja keluar tetapi
- benar-benar dampaknya ya mengelola
- ucapan
- bukan
- cuma sekedar e sopan santun tapi bagian
- dari kedewasaan diri kita gitu ya. Ee
- bisa kita ee melatih ee apa namanya
- kendali diri. Kita juga membangun
- kesadaran sebelum kita ngomong. Kita
- juga menumbuhkan empati sama orang dan
- juga kita ee meningkatkan kualitas dari
- hubungan kita sama orang lain gitu.
- Jadi komunikasi yang sehat kita perlu
- bangun dengan kita jujur, dengan kita
- lembut pengucapannya,
- tidak menyakiti ee bertanggung jawab dan
- memberi manfaat. Itu ee aturan-aturan
- yang bisa berdampak besar dalam
- kehidupan kita. Sekali lagi komunikasi
- kita jujur dari hati.
- He
- ee lembut, kemudian juga tidak menyakiti
- ya, kemudian juga bertanggung jawab.
- Jangan ee ketika kita ngomongin orang
- sebenarnya kita perlu bertanya. Kalau
- saya
- e kita ngerasa kayaknya itu enggak
- apa-apa deh. Saya enggak ngomongin yang
- jelek deh. Tapi coba pertanyaannya kalau
- saya yang diomongin kayak gitu, gimana
- perasaan saya gitu?
- Jadi itu enggak memberi manfaat. Padahal
- ketika kita memberi manfaat itu akan
- menjadi nyaman. Iwan dan akhwat yang
- dirahmati Allah.
- Sisi transformasi yang bisa kita lakukan
- adalah transformasi lisan dalam
- kehidupan kita sehari-hari. Ngubah gosip
- jadi percakapan yang berkualitas gitu
- ya. Ee mengalihkan ke ide, ke solusi, ke
- hal-hal yang positif gitu ya. Kemudian
- ee yang juga kita perlu lakukan
- mengganti marah
- dengan jeda gitu ya. Jadi jangan
- buru-buru marah kalau ada sesuatu yang
- bikin kita marah, kenapa kita harus
- marah gitu. Ee padahal belum tentu yang
- diomongin itu enggak benar gitu ya. Tapi
- ketika itu yang diomongin enggak benar,
- kita bisa em menghindari marah dengan
- berbagai pendekatan-pendekatan yang
- perlu kita lakukan. Yaitu kita berhenti
- dulu atau kita duduk atau kita tiduran
- gitu ya
- atau kita tarik napas gitu ya. banyak
- hal kok yang bisa kita lakukan untuk
- menghindari marah gitu. Ee
- ini perlu kecerdasan emosional yang baik
- gitu ya dan perlu ee teknik-teknik yang
- bisa kita praktikkan dan itu akan
- membuahkan ee hal-hal yang positif.
- Jadi kita membiasakan ucapan yang
- menguatkan, ngasih apresiasi pada
- keluarga, kemudian juga mendukung teman,
- kemudian juga mengakui usaha orang lain.
- Jadi dari hal-hal yang negatif menjadi
- positif.
- dari hal-hal yang tadi gosiping,
- emosional, marah-marah, nyindir-nyindir,
- atau juga ee komen yang negatif atau
- juga ee ri gitu ya menjadi hal-hal yang
- positif tadi. Mengapresiasi orang,
- keluarga kita bagus. ini refleksi ya dan
- ini juga refleksi untuk saya sendiri
- gitu ya untuk mengingatkan betapa banyak
- hal yang masih bisa kita berikan ee
- support positif pada lingkungan kita,
- dukungan kemudian juga ee respect pada
- upaya orang lain. Dia bantuin nyuci, dia
- bantuin setrika, dia bantuin
- kegiatan-kegiatan tertentu kita ee akui
- ee usahanya.
- Kemudian juga ee yang bisa kita lakukan
- juga dengan ee daripada menyindir tadi,
- kita juga bisa melakukan hal-hal yang
- positif di media sosial, di digital gitu
- ya. Eh,
- daripada kita komen-komen yang negatif
- di media sosial, kita bisa lakukan
- dengan ee saring. Sebelum sharing
- kita pastiin
- kontennya itu yang kita bagikan adalah
- konten-konten yang bagus, konten-konten
- yang bermanfaat, enggak bikin orang
- marah gitu ya. E berkomentar juga dengan
- empati, enggak mudah terpancing. Jangan
- komen-komen yang misalnya ada orang ee
- nyebelin, terus kita komen juga ee untuk
- balas juga dari perilaku orang tersebut
- begitu ya.
- He he.
- Kemudian juga ri ee atau pamer ee dalam
- ucapan gitu ya. Ee ee itu bentuk dari
- ria gitu ya. ee maka yang perlu kita
- lakukan adalah ee menghindari ria ee
- memberikan ee hal-hal yang positif ee
- kepada orang-orang yang ada di
- lingkungan kita gitu ya. Menguatkan
- orang yang sedang sulit. Ee orang yang
- sedang sulit itu ee kalau kita kasih hal
- yang ee apa ya yang berhasil yang kita
- lakukan mungkin jadinya kecil hati gitu.
- Maka kita perlu memberikan semangat,
- mendoakan ee atau berharap kebaikan
- untuk dia yang sedang terpuruk misalnya
- gitu ya, menjadi ee modal penenang bukan
- pemicu dari konflik kita gitu. Jadi
- mengendalikan lisan adalah bentuk
- kedewasaan dan kesadaran diri kita. Dan
- kalau lisan kita terjaga, hubungan kita
- jadi baik. ee kalau hubungan terjaga
- maka hidup kita juga jadi tenang. Jadi
- dampaknya besar sekali dalam kehidupan
- kita. Jadi omongan lisan itu berdampak
- besar ya. Penyakit lisan yang sering
- muncul dalam kehidupan kita, sekali lagi
- tadi gosiping. He
- misalnya ee suaminya jarang pulang ya
- gitu ya kita omongin
- ee tetangga kita misalnya gitu ya. ee
- kayaknya rumahnya lagi enggak beres ya
- gitu ya. Padahal mau tahu doang nih gitu
- ya. Pantas aja dia sering sendirian
- mungkin ada masalah. Jadi kita
- korek-korek gitu ya ee dengan ee ee
- upaya-upaya untuk cari tahu tadi gitu
- ya. Membahas masalah pribadi orang tanpa
- orang itu ee memberikan izin apalagi
- basisnya asumsi. Ah, kayaknya dia gini
- deh. Kayaknya dia gini deh, gitu ya.
- Padahal kita sendiri enggak tahu kondisi
- aslinya gitu. Belum tentu kok dia lagi
- sendirian itu berarti dia lagi rumah
- tanggannya enggak beres gitu ya. Atau
- misalnya suaminya jarang pulang, bisa
- jadi karena ada kegiatan lain yang perlu
- traveling, yang butuh waktu juga gitu.
- Itu gibah tentang rumah tangga orang
- lain atau gibah tentang ekonomi misalnya
- gitu ya. gibah tentang gaya hidup
- misalnya baru beli mobil, baru beli
- mobil ya gitu ya. Emang dari mana
- uangnya gitu ya? [tertawa]
- Penasaran aja deh ingin tahu gitu ya.
- Kete lagi susah kok gaynya tetap mewah
- sih gitu
- ya. Ee
- itu
- bisa jadi kategorinya gibah gitu.
- Kenapa? karena mulai dengan menilai ee
- kondisi finansial seseorang sambil
- meragukan atau juga mencurigai gitu ya.
- Ee karena kita melakukan
- perbandingan-perbandingan
- gitu ya yang sebenarnya itu biarin aja
- gitu urusan dia, urusan orang lain gitu
- ya [berdehem] dalam kehidupan kita. Atau
- misalnya gibah tentang anak, tentang
- pola asuh misalnya gitu ya.
- anaknya kok bandel banget sih gitu ya.
- Ya, ya itu tantangannya dia, itu
- cobaannya dia gitu dalam kehidupannya
- dia. Atau juga ibunya kali terlalu sibuk
- kerja makanya anaknya begitu gitu.
- Ee jadi ee kita melakukan gibah,
- membicarakan kekurangan anak atau cara
- mendidik ee orang lain tanpa empati atau
- juga tanpa solusi. Jadi ini kategorinya
- juga gibah. Kita sering merasa ini hanya
- omongan biasa sekali lagi ya. Tapi kalau
- itu yang diomonginnya tentang kita, kita
- juga enggak nyaman. Balik lagi tadi kita
- ditanyain orang lain ngomongin tentang
- anak kita kayaknya anaknya kok gitu ya
- gitu. Kita juga bete gitu ya sebel gitu
- ya. Jadi
- Iwan dan Ahwat cara elegan untuk
- mengalihkan gibah ee atau percakapan
- yang ee enggak perlu itu misalnya e soal
- rumah tangga kayaknya rumah tangganya
- lagi enggak beres deh misalnya begitu
- ya. kita bisa tahu ee kita bisa ngasih
- tahu ee mungkin dengan beberapa cara
- seperti ini. Kita enggak tahu kok cerita
- aslinya seperti apa atau cerita realnya,
- kondisi keluarganya seperti apa.
- Mudah-mudahan baik-baik aja ya, gitu.
- Jadi kita ee responnya bisa jadi kayak
- gitu gitu.
- daripada nebak-nebak mungkin baiknya
- kita
- ajak ngobrol dia atau kita doain aja dia
- gitu ee
- tanpa menghakimi dengan nada yang
- nyaman, yang lembut gitu ya. Itu juga
- bisa kita lakukan. Terus misalnya kita
- dengar ada gibahin gaya hidup atau
- tentang ekonomi kayak tadi tuh dari mana
- ya uangnya ya gitu ya. ee misalnya
- tetangga kita beli mobil baru misalnya
- begitu ya, dari mana ya uangnya ya? Itu
- kan kayaknya mulai-mulai tuh gitu ya ke
- arah-arah sana gitu ya. Kita bisa
- ngerespon mungkin dia dapat rezeki kali
- ya. Ee tiap orang kan beda ya
- jalan-jalan rezekinya ya. ee
- mudah-mudahan ee begitulah rezeki yang
- dia dapat atau juga mudah-mudahan kita
- juga segera dapat rezeki [berdehem] yang
- lebih ee apa namanya sehingga kita bisa
- beli yang kita mau juga gitu. atau tiap
- orang kan juga punya prioritas dan
- perjuangannya juga beda-beda. Maka ee
- apa ya ketika sudah mulai mengarah ke
- gibah tentang finansial atau tentang
- gaya hidup, kita bisa sampaikan itu.
- Atau kita bisa omongin mungkin kita bisa
- fokus aja ke apa yang bisa kita
- kendalikan atau bisa kita kelola gitu
- ya.
- ee gibah tentang anak misalnya gitu ya
- atau pola asuh. Anaknya bandel banget
- sih tuh dia ya. Nah, kita bisa ngerespon
- dengan
- memang mungkin anaknya lagi dalam fase
- belajar ya atau fase
- tertentu dalam hidupnya ya. Jadi tiap
- anak itu kan beda ya. Jadi itu yang
- mungkin ee tantangan yang sedang di
- hadapi atau juga ngurus anak tuh
- benar-benar enggak mudah loh. Pasti ada
- tantangan masing-masing dari setiap
- keluarga.
- Semoga
- anak-anak
- dia dan anak-anak kita juga tumbuh
- dengan baik gitu ya. Jadi teman-teman
- semua ee ada beberapa teknik yang bisa
- kita lakukan untuk menghindari gosip.
- tanpa jadinya enggak enak hubungannya
- kita gitu ya. Misalnya dengan teknik
- empati.
- Kalau kita yang dibahas gimana ya
- rasanya ya gitu. Itu teknik empati. Jadi
- kita refleksi nanyain lagi atau juga
- teknik perspektif misalnya kita enggak
- tahu cerita sebenarnya mungkin ada hal
- yang belum bisa kita ee analisa atau
- kita lihat juga gitu ya. itu jadi sudut
- pandang kita ajak untuk ngelihat sudut
- pandang atau teknik lain teknik
- mengalihkan
- ee topik dengan cara halus.
- Ngomong-ngomong kemarin kamu sempat
- lihat ada ee
- ada apa ee ustazah
- ee misalnya ustazah atau ee mama dedeh
- misalnya yang datang ke daerah kita
- misalnya begitu ya kita alihkan atau
- dengan teknik netralisasi itu juga bisa
- jadi teknik empati, teknik perspektif
- ya, teknik ee mengembalikan topik dengan
- cara halus, teknik netralisasi,
- semua orang punya jalan hidup yang
- beda-beda ya. Kita juga demikian.
- Belum tentu
- ee apa yang kita alami
- sama seperti yang orang lain lihat gitu
- ya. Jadi itu menetralisasi
- atau juga dengan humor ringan teknik
- lainnya. Wah, obrolan kita mulai
- sensitif nih. [tertawa] Yuk, kita ganti
- topik aja ya.
- Nah, itu jadi ee teknik-teknik yang bisa
- kita gunakan. Ee Ibu dan Akhwat yang
- dirahmati Allah, kita menghindari gibah
- bukan berarti membatasi obrolan loh,
- tapi kita meningkatkan kualitas dari
- percakapan kita. Lisan kita bisa jadi
- sumber konflik, tapi bisa juga jadi
- sumber [berdehem]
- ketenangan.
- Dan dua-duanya pilihannya ada di kita.
- Itu sementara Makuningnya.
- Masyaallah. Jadi, ikhwan akhwat enggak
- bisa enggak sih ya karena lisan kita itu
- cerminan dari diri kita sendiri yang
- akan bikin selamat atau sebaliknya.
- Betul.
- Emm karena ini live, Anda bisa langsung
- telepon
- atau kalau kirim WA seperti biasa. Dan
- kalau sudah ada yang masuk kita boleh
- langsung ya Mbak Mona ya sebelum nanti
- dilanjutkan dengan tambahan yang
- lainnya. Ini dari Mbak Titu.
- Heeh.
- Terima kasih sekali bahasannya. Ngerem
- lidah itu pakai apa ya? Kalau makan
- pahit paling cuman kayak gitu tapi agar
- bahasa yang kita pakai keren patokannya
- tidak melukai orang lain tuh apa yang
- tidak melukai diri sendiri gitu Mbak.
- Heeh.
- Ngerem lidah tuh gimana ya? [tertawa]
- Ngerem lidah itu pertama adalah
- kesadaran. Tadi menurut saya sih ya
- terima kasih ya ee ini diskusinya.
- pertama adalah kita dengan menyadari ee
- bahwa ee betapa
- banyak sekali peluang-peluang
- kita jatuh atau kita menjadi ee
- menenangkan gitu ya karena lisan kita.
- He.
- Jadi ternyata katanya ee banyak ee
- perempuan bisa [tertawa]
- masuk neraka itu karena di antaranya
- lidah gitu ya. Jadi ee betapa sayangnya
- gitu
- ee lidah itu bisa jadi sumber ketenangan
- atau juga sumber gibah atau sumber ee
- mudarat gitu ya. Maka ee yang perlu kita
- lakukan adalah kita senantiasa alert,
- senantiasa waspada. Ini yang perlu kita
- lakukan. Jadi kalau kita mulai
- mengarah-ngarah ke sana, coba kita
- gunakan teknik-teknik tadi. Ee Ibu siapa
- tadi?
- Titu.
- Ibu Titu. Ibu Titu. Coba kita manfaatkan
- ee teknik-teknik tadi ya. Ee
- ini refleksi untuk kita semua ya karena
- halus banget rasanya. Kayaknya enggak
- kok, enggak bahaya kok gitu ya. Tapi
- ketika kita bisa mengarahkan diri kita,
- menjaga diri kita, dan menjaga
- teman-teman yang kita sayangi, ini jauh
- lebih baik gitu. Jadi dengan teknik
- empati
- ee
- kayaknya kita ganti topik aja yuk kalau
- kita Heeh. Soalnya kalau kita yang
- dibahas kita juga enggak suka ya atau
- kita gimana ya rasanya ya dan entar kita
- nambahin dosa lagi.
- Oke ee sama-sama kita ganti topik aja
- ya. Atau juga
- ee karena kita enggak tahu cerita
- lengkapnya mungkin
- kita belum lihat sebenarnya apa yang
- terjadi dalam keluarganya. Misalnya ada
- pasangan yang ribut gitu ya. Ee terus ee
- ada kekerasan dalam rumah tangga
- tetangga kita, terus kita ee
- nyala-nyalahin.
- Ee
- iya mungkin kelihatannya begitu tapi
- belum tentu seperti itu gitu. kita bisa
- sampaikan seperti itu. Yuk,
- mungkin kita doain aja, kita bantu dia
- atau barangkali kita tenangin dia.
- He.
- Ee ini penting banget untuk kita jaga
- diri kita gitu ya. [tertawa]
- Pertahanan yang penting gitu. Ini ini
- refleksi juga untuk saya begitu ya
- supaya bisa menjaga seperti itu. Ee
- terus juga kita juga bisa dengan
- netralisasi.
- Ya, semua orang punya jalan hidup yang
- berbeda-beda ya. Itu juga bisa kita
- lakukan. Mudah-mudahan ini menjawab ya,
- Ibu Tiu.
- Amin. Ternyata memang ya jaganya itu
- macam-macam.
- Ini dari Pak Juno.
- Pak Juno. [berdehem] Heeh.
- Kalau menunjukkan raihan prestasi tapi
- di ranah kerjaan agar tidak diremehkan
- itu termasuk salah enggak ya? Bukan
- maksudnya ri atau pamer sih.
- Terima kasih. Iya.
- Ee ada batas tipis sekali gitu ya Ria
- itu ya. Jadi ee ketika yang pertama
- adalah menurut pendapat saya kita balik
- kepada ee niat ee ini bukan ri ini mau
- menjelaskan ee kinerja gitu ya. Ee dan
- ada asbabun nuzulnya lah gitu ya. Jadi
- ada ada proses yang memungkinkan untuk
- percakapan itu gitu yang membuat kita
- memang ee tepat untuk me
- mengupas atau mengelaborasi ee
- catatan-catatan itu. Misalnya kita
- sedang menjelaskan ee kinerja ee kita
- bisa jelaskan ee raihannya ini ee karena
- proses ini dan dampaknya ini atau
- hasilnya ini. itu kan karena memang
- kinerja gitu. Jadi balik lagi ee yuk
- kita cek dulu niatnya. Niatnya bukan
- buat pamer. Jadi kalau lagi lagi ingin
- pamer ee
- yang sebenarnya karena kita sedang me
- bermaksud ria gitu ya, coba yuk kita
- rapiin lagi diri kita gitu.
- ee maka balik lagi kita cek lagi
- maksudnya apa. Kemudian ee kalau ini
- adalah berhubungan untuk ee
- refleksi kinerja atau juga untuk
- membantu orang lain supaya bisa belajar.
- Iya itu balik lagi sama niatnya tadi
- gitu.
- Demikian. Oke, ini dari tidak ada
- namanya. Kalau seandainya seperti yang
- tadi di sampaikan mengalihkan
- pembicaraan ketika itu sudah
- nyenggol-nyenggol yang enggak enak itu
- ee pernah terjadi dianggap sok tahu, sok
- bersih, sok keren. Itu bagaimana
- menyikapinya dengan
- lebih ee mantap. Iya.
- Ohoh.
- Ee
- kita bisa sampaikan bahwa karena saya
- enggak punya pengetahuan tentang itu,
- jadi mm
- I have no idea
- saya harus ngomong apa tentang itu.
- Jujur aja sampaikan itu. Jadi kalau
- misalnya ee rekan-rekan lain memang
- berminat untuk mengelaborasi tentang itu
- lebih dalam lagi, ya ketika kita tahu
- bahwa ini mengarah ke hal-hal yang
- negatif,
- hibah gitu ya, maka ya
- kita bisa sampaikan bahwa ee saya enggak
- bisa nambahin karena saya enggak punya
- pengetahuan tentang itu gitu. itu. Lalu
- kita jaga diri kita dengan ee niat bahwa
- kita ingin
- ee menghindari kita ingin menghindari
- hal-hal yang [tertawa] Heeh. berdampak
- negatif untuk diri kita
- dan kita punya niat baik untuk mengajak
- teman-teman semua untuk ke hal yang
- positif. Kecuali misalnya kita sedang
- membahas itu untuk tujuan yang baik.
- Ee saya saya berikan sebuah contoh. Ada
- sebuah keluarga ee lalu mendiskusikan
- tentang masalah anggota keluarga
- lainnya.
- He.
- Tetapi ee kita melihat dari sudut
- pandang A, sudut pandang B, sudut
- pandang C, dan lain sebagainya. Lalu
- gimana solusi untuk menyelesaikan atau
- membantu masalah dari keluarga kita yang
- lain ini yang sedang dibahas? Itu
- berarti tujuannya adalah bukan gibah.
- meskipun yang dibahas adalah kekurangan
- dia, tetapi tujuannya adalah untuk
- mencarikan solusi terbaik. Begitu. Jadi,
- batas tipisnya antara gibah dengan niat
- lain itu kita harus clear. Maka ketika
- kita ee teryakinkan bahwa ini bukan
- gibah, so go ahead. Berikan kontribusi
- positif untuk ikut berbicara dan ikut
- memberikan pandangan kita. Tapi ketika
- ini arahnya adalah gibah, kayaknya
- ngomongin doang, enggak cariin solusi
- gitu ya, maka kita bisa sampaikan yang
- tadi dengan mengalihkan atau juga dengan
- teknik. Kalau kita yang dibahas kita
- juga enggak nyaman atau juga kita bisa
- sampaikan bahwa saya sendiri enggak tahu
- ininya dan ee
- sori saya
- ee
- enggak ikutan.
- Dan kita bisa
- diam saja atau bisa kalau misalnya itu
- menjadi lebih ini ya kita bisa
- meninggalkan ee sor ya aku lagi ada
- sesuatu yang harus aku kerjain misalnya
- ee ada pekerjaan, ada tugas dan lain
- sebagainya.
- Kita bisa menghindari ee dengan cara
- seperti itu. Ee
- cari alasan yang masuk akal.
- Cari alasan yang masuk akal. Heeh. Yang
- yang halus gitu kan. kita tahu ya
- situasinya ya atau ee aku punya makanan
- enak deh. Yuk, kita [tertawa]
- mendingan kita
- pokoknya switch percakapannya.
- Keren banget switch ini. Ini enggak
- mudah ya, tapi kan perlu kita biasakan
- ya. He.
- Heeh.
- Dia diajak enggak? Tapi
- kenapa
- yang kalau misalnya kita ngajak keluar
- makan gitu yang tadi.
- Iya dong. Yuk kita mendingan kita cari
- makanan enak yuk.
- In case dia lanjut ngomongin yang tadi
- gimana?
- [tertawa]
- Ya, kita yang mulai diskusi yang lain.
- Ada hal lain.
- Oke. Ini Ibu Hilda bertanya, kalau orang
- terdekat kita yang punya pengaruh luar
- biasa itu kalau ngomong kebiasaannya
- nyelekit.
- Nyelekit itu ee tajam ya?
- Tajam ya? Heeh.
- Eh, kayaknya jadi karakternya apa yang
- harus saya lakukan?
- Iya.
- Dia adalah ipar yang tinggal serumah.
- Iya, iya iya.
- Ee yang pertama adalah kita sendiri
- tidak nyelekit begitu ya. Heeh. Jadi
- karena biasanya nyelekit itu kalau
- ditambahin nanti tambah panas tambah
- panas gitu.
- Jadi kita tidak nyelekit.
- Kemudian kita cari cara ee sehingga dia
- bisa belajar dari kita gitu ya supaya ee
- ini terus sesekali kita ajak bicara
- bahwa please jangan gitu dong ngomongnya
- gitu. kita cari cara untuk ngobrol sama
- dia gitu ya. Ee yang yang paling ee
- cukup ee aman ee untuk awal-awal adalah
- kita sendiri enggak nyelekit sama dia
- sehingga dia bisa mencontoh. Tetapi
- ketika itu menjadi belum jadi contoh
- bagi dia, kita bisa sampaikan, boleh
- enggak ngomongnya jangan kayak gitu
- karena saya enggak enak dengarnya gitu.
- Eh, saya udah berusaha banget untuk
- enggak ngebalas ee nyelekit ngomongnya.
- Saya juga udah hati-hati sekali.
- Sometimes kita perlu kok ee
- meluruskan seseorang di dalam situasi
- yang cukup nyaman, tetapi dalam
- pernyataan bukan marah-marah. Gimana sih
- kamu kalau ngomong nyelekit mulu? E itu
- kan jadinya agresif gitu ya.
- Ee kalau kita biasa bahas itu ada empat
- gaya komunikasi. satu
- agresif yaitu
- ee
- apa ya? Dia ngerasa di atas jadi dia ke
- bawah itu agresif gitu ya. Gimana sih
- kamu? Atau nyelekit-nyelekit tadi di
- situ gitu ya. Ee
- bisa jadi ke sana ee agresif,
- marah-marah itu ee agresif. Pasif
- agresif ini nyindir-nyindir gitu ya. Itu
- bisa jadi si nyelekit itu bisa kategori
- pasif agresif atau agresif. gitu ya.
- He.
- Kalau nyelekit nyelekitnya masih dalam
- ee nyindir-nyindir
- atau ngomongnya ke sana sebenarnya ke
- sini misalnya begitu ya. Itu kategori
- pasif agresif. Dua-dua ini enggak bagus.
- Yang ketiga adalah pasif. Pasif itu dia
- posisinya dia merendah mulu gitu ya.
- Jadi yang yang saya tadi sampaikan untuk
- tidak kita juga tidak nyelekit
- ngomongnya bukan berarti kita dalam
- posisi lemah atau
- ee
- pasif tadi atau merendah gitu ya, tetapi
- kita ngomongnya asertif. Yang terbaik
- adalah asertif. Ngomong apa adanya.
- Ngomong dengan baik, ngomong dengan
- nyaman, ngomong dengan ee jelas, ngomong
- yang mudah dipahami,
- yang enggak di enggak enggak ditujukan
- untuk bikin dia sakit hati, tapi bikin
- dia jelas, enggak merendahkan diri di
- bawah dia, enggak gitu. Tapi straight
- langsung langsung enak kedengarannya,
- sopan eh nyaman gitu ya ee positif gitu.
- Itu yang perlu kita lakukan. Ee jadi
- asertif. Kalau dia ee ee dia agresif dan
- pasif agresif kita asertif.
- Tapi kalau dia terus-menerus agresif
- atau pasif agresif nyelekit tadi gitu
- ya. Maka kita secara asertif kita
- sampaikan eh ipar atau siapa namanya si
- Miss ipar ini. Iparnya cewek atau cowok
- gitu ya. Miss ipar lah misalnya e cewek
- misalnya gitu ya.
- Ee saya ee suka dengar kamu atau saya
- pernah dengar kamu ngomong begini nih
- gitu. Kalau kamu ngomongnya
- ee sambil ee apa namanya? Gayanya kayak
- sambil matanya
- ee melotot atau misalnya ngomongnya
- sambil
- ee kok dihabisin sih misalnya begitu
- atau kok ee enggak ngajak-ngajak sih
- misalnya begitu ya. Eh, saya jadi
- ngerasa ee kamu lagi marah sama saya,
- jadi saya jadi enggak nyaman. Gimana
- kalau kamu kalau ingin diajak kasih tahu
- aja, ajak aku ya kalau pergi ke sana
- gitu. Heeh. He.
- Ee jadi ee saya jadi lebih ngerti
- dibandingin kamu ngomongnya ee enggak
- jelas, bikin saya jadi enggak nyaman
- juga, bikin saya jadi ngerasa terpojok,
- bikin saya jadi bahkan selanjutnya jadi
- agak enggan untuk ngajakin gitu. Padahal
- nih kan kita saudara ee saya ingin
- sekali dekat sama kamu juga gitu. Jadi
- ee cobalah kita cari cara untuk ngomong
- sama ee beliau gitu ya dengan asertif
- karena kita adalah pemenang dengan
- asertif itu begitu dan menyamankan semua
- pihak gitu.
- Oke, Masing.
- Iya. Jadi antara pasif agresif, agresif
- dan asertif eh satu laginya apa?
- Ee pasif.
- Pasif. Pasif. Agresif, agresif dan
- agresif. Assertif.
- Assertif.
- The best is assertif.
- Meskipun jujur enggak gampang.
- Enggak gampang. Enggak gampang.
- Iya. Ini ada pertanyaan.
- Belajar belajar untuk ngomong asertif ya
- teman-teman semua. Iwan dan akhwat.
- Heeh.
- Ada pertanyaan, apakah gaya bicara
- seseorang itu nurun? Karena
- Heeh. ee ada keluarga yang ibunya suka
- nyindir-nyindir itu anaknya juga suka
- nyindir padahal dia udah SMP loh.
- Iya.
- Heeh. Ini emang nurun ya
- menurut saya nurun. Nurun karena karena
- lingkungan. [tertawa] Jadi belajar dari
- lingkungan maksudnya bukan menurun
- secara biologis ya menurut pendapat saya
- ya. He.
- Jadi, kan ee seseorang ini ee bisa
- dipengaruhi oleh DNA atau bawaan ee dari
- Allah Subhanahu wa taala gitu ya, secara
- ee biologis, kemudian juga secara
- pengasuhan
- ee dan ee kepribadian dia gitu atau
- secara lingkungan yang lebih luas gitu.
- Nah, dalam proses pengasuhan, jadi dalam
- proses pengasuhannya itu sangat mungkin
- dipengaruhi
- ee gaya orang-orang yang ada di
- lingkungannya gitu ya. Misalnya biasa
- ngomong asertif dia akan jadi asertif,
- biasa ngomong agresif dia juga akan jadi
- agresif gitu. Jadi anak-anak belajar
- dari kehidupan ya. He
- jadi ada tanggung jawab kita kalau
- sampai anak-anak menjadi
- pribadi yang
- betul dari jauh yang kita harapkan.
- Betul. Betul Mbak Nun.
- Baik ini dari Ibu Santi yang ada di
- Batam.
- Ibu Santi.
- Bagaimana cara melatih diri
- agar sebelum bicara tuh kita bisa mikir
- dulu
- apakah ini [tertawa] bermanfaat atau
- tidak. Betul.
- Karena kadang ada saja orang yang asal
- ngomong tanpa berpikir.
- Iya. Iya. Yang bisa kita kendalikan
- adalah diri kita sendiri.
- Kita enggak punya hak prerogatif
- terhadap diri orang lain, tubuh,
- pikiran, dan perkataan orang lain,
- tindakan orang lain. Kita enggak bisa.
- Yang bisa kita kendalikan adalah diri
- kita sendiri. Maka kita pun kepada orang
- lain supaya orang lain ngikutin yang
- kita mau pun mulainya dari diri kita
- yaitu kita omongin, kita sampaikan.
- Misalnya lingkungan kita ngomong ee
- situasinya adalah ngomongnya langsung
- aja tanpa mikir dan lain sebagainya.
- Balik lagi tadi kita akan
- ajakin orang-orang terdekat kita untuk
- memberi kita memberikan contoh dulu
- bahwa kita ini asertif gitu ya. Kita
- juga kalau ngomong juga mikir-mikir,
- "Nih kalau saya omongin nih dampaknya
- kayak gimana ya?" gitu. Ee balik lagi
- semua pada niat. Ketika kita meniatkan
- untuk ngomongin orang, tetapi
- ngomonginnya untuk niat yang baik, ya
- enggak apa-apa menurut saya.
- Orang kita juga mikirin orang lain, ya
- kan?
- Ee tetapi ketika kita niatkan untuk mau
- gosiping, mau gibahin, mau tahu gimana,
- mau ee nyindir-nyindir atau mau ee bikin
- hoa gitu ya,
- ee maka itu ee
- sebaiknya kita hindari. Itulah diskusi
- kita hari ini, menjaga lisan ee seusai
- Ramadan. [tertawa] Karena biasanya
- Ramadan kita jagain sebaik mungkin gitu
- ya atau ee setan-setannya tadi diikat
- gitu ya, [tertawa] sekarang bertebaran.
- Jadi kita juga harus ee hati-hati.
- [berdehem]
- Yang bisa kita kendalikan adalah diri
- kita sendiri. Orang lain itu kita
- upayakan untuk kendalikan.
- tetapi hasilnya bukan dalam ranah kita.
- Kita usahakan, kita ee upayakan, tetapi
- hasilnya itu adalah ranah Allah gitu ya.
- Let's do our best and Allah will do the
- rest.
- Masyaallah. Emm, ini kalau diam lebih
- baik dari berbicara di dalam kondisi
- tertentu memang perlu dipertimbangkan
- ya. Iya, betul, betul, betul.
- [mendengus]
- Pertanyaannya di dalam pergaulan modern
- di media sosial, gimana dong cara jaga
- ee lisan kita yang ada dalam bentuk
- tulisan? [tertawa]
- Iya, Mak.
- Jadi ee
- ada beberapa yang perlu kita perhatikan
- ya sebelum mengirim pesan. Sebelum kirim
- pesan itu kita perlu baca ulang.
- Pastiin apakah benar eh pesan ini on the
- right track gitu ya. Hapus kalimat yang
- emotional dan defensive gitu.
- Kadang-kadang ada kalimat-kalimat yang
- pertama ketika kita baca ulang kita jadi
- tahu kita nih ngerti apa enggak sih apa
- yang kita tulis. Kadang-kadang
- yang kita ee ada dalam pikiran kita
- ketika kita sampaikan tidak lengkap,
- tetapi ketika kita baca kembali kita
- jadi tahu. Yang kedua, kita bisa hapus
- apalagi lagi marah nih gitu ya, lagi
- nulis lagi marah. Kita bisa hapus ee ee
- pesan-pesan emosional atau juga defensif
- gitu ya yang nanti isi pesannya adalah
- agresif, pasif-agresif atau pasif. Maka
- kita cari pilihan kata yang kesannya
- eh asertif gitu ya, langsung eh to the
- point ee enak kedengarannya,
- bikin orang nyaman,
- rasanya ee positif gitu ya. Terus ee
- bayangkan orang yang bakal baca ini
- reaksinya seperti apa begitu. Jadi
- pastikan fakta
- ee bukan emosi gitu. Ini yang perlu kita
- lihat. Karena tulisan itu ketika orang
- baca nanti kesannya jadinya emosional
- gitu.
- Ee ini yang perlu kita perhatikan ya
- untuk ee media sosial sindiran-sindiran.
- Misalnya ada kata-kata, kalau enggak
- bisa tanggung jawab, mending enggak usah
- janji. Misalnya ada kata-kata kayak gitu
- kan enggak enak tuh. Ya kan?
- ee
- ada orang nulis kayak gitu kepada kita.
- Ee kita bisa sampaikan aduh mohon maaf
- nih ada apa ya ee kalau ada yang kurang
- dari saya mohon disampaikan langsung.
- Saya siap memperbaiki. Boleh saya tahu
- apa yang he
- ee
- sudah saya lakukan misalnya begitu.
- Iya. Jadi ee itu kan berarti dia kan
- tadi kan marah ya kan katanya
- kalau enggak bisa tanggung jawab enggak
- usah janji, mending enggak usah janji.
- Itu kan pasti ada sesuatu gitu. Maka
- kita coba jelaskan responnya dengan
- positif aja. Oh iya barangkali ada ya
- yang salah ya. Ini kesannya adalah
- dewasa, kesannya adalah enggak nyerang
- balik misalnya. Gil, ada apa kan itu
- jadinya jadinya lebih marah. Terus
- mengundang komunikasi, membuka
- komunikasi ada apa ya gitu.
- Ee menurut saya itu perlu untuk kita
- biasakan ya.
- Oke. Enggak ada yang salah kalau semua
- dipertimbangkan
- meskipun lidah enggak bertulang.
- I betul. Betul. [tertawa]
- Betul. Oke, Mbak Mona. Mungkin ada yang
- perlu ditambahkan sebelum rangkum
- bahasan kita terkait dengan bagaimana
- menjaga lisan seusai Ramadan.
- Iya. Jadi ee yang perlu kita lakukan
- Mbak Nuning, kita perlu memastikan bahwa
- sekarang ini kan banyak berita-berita
- provokatif, ada hoa
- ada berita-berita yang kita dapatkan
- tanpa tanpa verifikasi. Iya. Orang
- sebar-sebarin
- ee terus kita juga kadang-kadang mudah
- terpancing
- atau juga kita pamer dan lain sebagainya
- gitu ya. Kita gibah, kita gosip ya ee
- dalam situasi yang santai-santai
- tiba-tiba jadi gosip. ini sangat sering
- kejadian
- karena kan apalagi e di bulan Ramadan ee
- di bulan Syawal ini kan kita sering
- sekali ketemu sama orang ee silaturahim.
- Percakapan silaturahim itu jangan sampai
- memperkeruh suasana dan juga merugikan
- semua pihak. Merugikan kita, merugikan
- orang lain, merugikan orang yang
- diomongin juga gitu. Ini adalah penyakit
- lisan yang berbahaya untuk hidup kita.
- Yang kedua adalah emosional atau juga
- marah, mudah tersulut emosi ee
- karena stres atau karena tekanan hidup.
- Ini banyak sekali kejadiannya saat ini
- gitu ya. Ee ucapan tajam kita di
- mana-mana ya, di lingkungan kita, di
- kampus, di rumah, di tempat kerja atau
- di teman gitu ya. keluar kata-kata
- begitu saja ya tanpa kita pikir ini
- berbahaya ya. Maka balik lagi itu
- biasanya emosi ketika kita menggunakan
- ee gaya bicara yang ee agresif dan pasif
- agresif gitu ya. Maka yang perlu kita
- lakukan adalah asertif atau juga
- berkomentar negatif di matsos misalnya
- gitu ya. ee informasi kita sebarkan
- tanpa verifikasi atau juga omongan
- kasar, debat-debat yang enggak perlu
- misalnya begitu ya. Kita terpancing
- emosi, terfok terprovokasi dengan
- opini-opini
- yang muncul gitu ya. Atau kita juga ria,
- ria atau ee pamer ria dalam ucapan
- begitu ya. ee itu membahayakan
- menceritakan kebaikan kita ee karena
- kita ingin mendapat pengakuan, ingin
- terlihat lebih baik daripada orang lain.
- Maka sekali lagi ee
- lisan kita memang sulit untuk kita
- kendalikan gitu ya daripada tindakan
- kita, tapi dampaknya besar sekali. Bisa
- bikin orang bete, bisa bikin orang sakit
- hati, bisa hubungan jadi retak, bisa
- lingkungan kerja jadi tidak nyaman,
- lingkungan rumah jadi enggak nyaman,
- lingkungan tetangga jadi enggak nyaman,
- reputasi kualitas diri kita jadi menurun
- karena orang jadi enggak percaya sama
- kita.
- itu tuh bagiannya suka ngomongin orang.
- Hati gelisah, hati kita juga enggak
- tenang karena kita merasa punya dosa,
- kita ngomongin orang lain. Jadi,
- komunikasi jadi kehilangan makna.
- Padahal komunikasi itu mengeratkan.
- Komunikasi itu sangat bermakna memahami
- seseorang gitu ya. Hanya kebiasaan kita
- tanpa kesadaran. Kalau kita ngobrol
- dengan banyak orang, maka kita bisa
- membuat pilihan. Komunikasi kita menjadi
- bermakna atau komunikasi kita menjadi ee
- negatif. Sebaiknya kita pilih yang aman
- untuk hidup kita dunia dan akhirat.
- Demikian, semoga bermanfaat.
- Masyaallah. Terima kasih sekali Mbak
- Mona untuk obrolan kita yang kebetulan
- bahasannya memang diperlukan sekali.
- Gosip, nyinyir, e sarkasme, kemudian
- juga nyindir pamer tuh kayaknya bagian
- dari hari-hari yang
- betul
- tanpa sengaja kita lakukan. Insyaallah
- sih prentasenya 0 kom sekian tapi
- mudah-mudahan ya.
- Yang jelas saring sebelum sharing itu
- yang perlu kita genggam erat ya. Ikhwan
- akhwat. Dan kalau kita mampu
- mengendalikan lisan, insyaallah akan ada
- kemudahan kita melangkah lebih lanjut.
- Sekali lagi terima kasih Mbak Mona dan
- juga untuk yang sudah berkontribusi ee
- bersama-sama dengan acara ini. Billahi
- taufik wal hidayah. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikum