Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:01 [musik] 0:07 [musik] 0:12 [musik] 0:20 Bismillahirrahmanirrahim. 0:23 Asalamualaikum warahmatullahi 0:24 wabarakatuh. Ikhwan akhwat 0:26 rahimakumullah. 0:27 Senang sekali. Syukur alhamdulillah kita 0:30 bisa bersama-sama pada minggu pertama di 0:34 bulan April ini untuk acara Bincang 0:38 komunikasi yang mudah-mudahan 0:40 mempersuasi kita semua yang mendengar 0:43 untuk menjadi sosok yang lebih keren 0:45 dari sebelumnya ya. Bersama 0:48 Dr. Leila Monaganim. Kita akan lewatkan 0:51 waktu kurang lebih 1 jam. bahasannya 0:54 nanti mudah-mudahan memang persis banget 0:57 seperti yang kita perlukan ya. Karena 0:59 Ramadan baru saja berlalu tetapi tentu 1:03 saja kebiasaan baik harus tetap kita 1:06 lanjutkan setiap ee kesempatan untuk 1:10 melewati Ramadan dan kemudian 1:13 menghadirkan kita sebagai sosok yang 1:16 lebih ee bertambah nilainya luar biasa. 1:19 Terkait dengan ini juga nanti 1:21 mudah-mudahan yang akan dibahas oleh ee 1:23 Mbak Mona. Kita sapa beliau yang sudah 1:26 hadir di sini. Asalamualaikum 1:28 warahmatullahi wabarakatuh. 1:29 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:30 wabarakatuh. 1:31 Sehat, Bugar, aman, terkendali. 1:33 Alhamdulillah. 1:34 Alhamdulillah. 1:35 Jadiin 1:37 maaf lahir batin untuk semua pendengar 1:39 radio silaturahim 1:41 bukan hanya di Cibubur tapi di mana 1:44 saja. 1:45 Mudah-mudahan belum habis ya maafnya ya. 1:47 Iya. [tertawa] 1:48 Oke, Mbak Mona terkait dengan habis 1:51 Ramadan nih. Habis Ramadan 1:53 ee selain ketakwaan yang kita jaga 1:56 karena kita hadir di Bincang komunikasi 1:59 ada kaitannya dengan komunikasi mungkin 2:02 ya. 2:02 Ada dong. 2:03 Jadi persisnya apa yang harus dijaga 2:05 nih? 2:06 Kita akan jaga lisan 2:08 seusai Ramadan. 2:10 Masyaallah. Jangan dikira tidak 2:13 diperjuangkan nih jaga lisan usai 2:15 Ramadan kayaknya udah udah lewat kok. 2:17 [tertawa] 2:18 Oke, seperti apakah gerangan? Yuk, kita 2:20 simak. 2:21 Terima kasih. Ee dan akhwat yang 2:24 dirahmati Allah. Terima kasih. 2:27 Asalamualaikum warahmatullahi 2:28 wabarakatuh. 2:29 Waalaikumsalam. 2:31 Kita membahas tentang ee sisi 2:35 negatif dan positif dari ee menjaga 2:39 lisan ya. 2:41 ee kita membahas tentang bagaimana sih 2:46 penyakit lisan yang 2:50 ada dalam kehidupan kita. Di antaranya 2:52 ada gosiping, 2:54 gibah gitu ya. He. 2:56 Kemudian juga marah-marah, emosian, 2:59 kemudian juga nyindir ya ee sarkastik, 3:05 sarkasme. Kemudian 3:08 ee di media sosial kita bikin hoax ya 3:13 atau komen-komen yang bikin marah atau 3:17 juga ee ria dalam ucapan yaitu pamer 3:22 misalnya. Begitu ya. 3:24 kita akan ngebahas hal itu apa yang 3:26 perlu kita lakukan ya ikhwan dan akhwat 3:29 ee 3:31 sekilas gosip atau gibah itu mulainya 3:36 dari obrolan kita lagi ngobrol-ngobrol 3:38 santai nih ketemu ngobrol santai terus 3:41 jadi mulai berubah nih ngomongin orang 3:43 lain nih gitu ya ee atau juga kita bikin 3:48 kritik yang enggak konstruktif, kritik 3:50 yang bikin orang kesal gitu ya dan ini 3:53 jadi memperkeruh suasana atau juga ee 3:59 ngobrolnya seru tapi isinya merugikan 4:03 orang lain. Ini semua adalah 4:06 bagian-bagian dari yang ee seharusnya 4:09 kita hindari di dalam bulan bulan-bulan 4:13 setelah selesai Ramadan ya. Karena 4:15 biasanya Ramadan itu kita jaga banget 4:18 gitu ya. Ah jangan deh supaya pahalanya 4:21 enggak hilang. supaya pahalanya 4:24 bertambah begitu ya. Tetapi seusai 4:26 Ramadan ee apa namanya? Setan-setan 4:30 dilepas gitu ya. [tertawa] Kita jadi 4:34 bisa ee apa namanya ee terperangkap oleh 4:39 ee ajakan-ajakan yang membuat ee seru 4:43 tapi sebenarnya berbahaya untuk 4:46 kehidupan kita. 4:48 Ee ikwan dan akhwat yang dirahmati 4:50 Allah. Ee kenapa dalam kehidupan 4:53 sehari-hari lisan kita lebih sulit 4:56 dikendalikan 4:58 dibandingkan tindakan? Ya, coba ee 5:02 jawabannya apa ee menurut ee Iman Akwat 5:06 sekalian? Kayaknya ee 5:09 lisan itu kan kesannya kayak enggak 5:13 enggak apa ya, enggak berdampak begitu 5:15 ya. Padahal sebenarnya sangat berdampak. 5:18 ini bisa nyakitin orang lain, bisa bikin 5:22 hubungan persaudaraan atau pertemanan 5:25 jadi retak. Bisa bikin lingkungan kerja 5:29 atau lingkungan komunitas kita, tetangga 5:32 kita jadi enggak nyaman. Reputasi 5:35 pribadi kita juga jadi menurun. Kemudian 5:38 juga hati kita jadi gelisah, kita jadi 5:40 enggak tenang karena kita enggak nyaman 5:43 juga gitu ya karena ngomongin orang 5:45 lain. Komunikasi jadi kehilangan makna 5:49 dan ee kebiasaan kita bisa jadi menjadi 5:55 ee terus-menerus kita lakukan begitu ya 5:58 tanpa kita menyadari otomatik langsung 6:00 otomatic pilot ya. 6:03 Ee rekan-rekan sekalian, kalau kita bisa 6:06 mengontrol banyak hal dalam hidup kita, 6:09 kenapa lisan kita sekali lagi justru 6:12 sering kita lepaskan tanpa kendali? 6:16 Ini perlu jadi refleksi kita untuk bisa 6:20 menjaga lisan kita. Ee beneran lisan itu 6:26 kayak begitu aja keluar tetapi 6:29 benar-benar dampaknya ya mengelola 6:32 ucapan 6:33 bukan 6:35 cuma sekedar e sopan santun tapi bagian 6:40 dari kedewasaan diri kita gitu ya. Ee 6:44 bisa kita ee melatih ee apa namanya 6:47 kendali diri. Kita juga membangun 6:50 kesadaran sebelum kita ngomong. Kita 6:53 juga menumbuhkan empati sama orang dan 6:57 juga kita ee meningkatkan kualitas dari 7:01 hubungan kita sama orang lain gitu. 7:04 Jadi komunikasi yang sehat kita perlu 7:07 bangun dengan kita jujur, dengan kita 7:12 lembut pengucapannya, 7:14 tidak menyakiti ee bertanggung jawab dan 7:18 memberi manfaat. Itu ee aturan-aturan 7:22 yang bisa berdampak besar dalam 7:25 kehidupan kita. Sekali lagi komunikasi 7:27 kita jujur dari hati. 7:30 He 7:30 ee lembut, kemudian juga tidak menyakiti 7:34 ya, kemudian juga bertanggung jawab. 7:37 Jangan ee ketika kita ngomongin orang 7:41 sebenarnya kita perlu bertanya. Kalau 7:44 saya 7:46 e kita ngerasa kayaknya itu enggak 7:48 apa-apa deh. Saya enggak ngomongin yang 7:50 jelek deh. Tapi coba pertanyaannya kalau 7:53 saya yang diomongin kayak gitu, gimana 7:56 perasaan saya gitu? 7:57 Jadi itu enggak memberi manfaat. Padahal 8:00 ketika kita memberi manfaat itu akan 8:02 menjadi nyaman. Iwan dan akhwat yang 8:05 dirahmati Allah. 8:07 Sisi transformasi yang bisa kita lakukan 8:09 adalah transformasi lisan dalam 8:12 kehidupan kita sehari-hari. Ngubah gosip 8:15 jadi percakapan yang berkualitas gitu 8:19 ya. Ee mengalihkan ke ide, ke solusi, ke 8:25 hal-hal yang positif gitu ya. Kemudian 8:28 ee yang juga kita perlu lakukan 8:31 mengganti marah 8:34 dengan jeda gitu ya. Jadi jangan 8:36 buru-buru marah kalau ada sesuatu yang 8:38 bikin kita marah, kenapa kita harus 8:41 marah gitu. Ee padahal belum tentu yang 8:44 diomongin itu enggak benar gitu ya. Tapi 8:47 ketika itu yang diomongin enggak benar, 8:49 kita bisa em menghindari marah dengan 8:53 berbagai pendekatan-pendekatan yang 8:55 perlu kita lakukan. Yaitu kita berhenti 8:58 dulu atau kita duduk atau kita tiduran 9:01 gitu ya 9:02 atau kita tarik napas gitu ya. banyak 9:05 hal kok yang bisa kita lakukan untuk 9:06 menghindari marah gitu. Ee 9:10 ini perlu kecerdasan emosional yang baik 9:14 gitu ya dan perlu ee teknik-teknik yang 9:20 bisa kita praktikkan dan itu akan 9:21 membuahkan ee hal-hal yang positif. 9:25 Jadi kita membiasakan ucapan yang 9:27 menguatkan, ngasih apresiasi pada 9:29 keluarga, kemudian juga mendukung teman, 9:33 kemudian juga mengakui usaha orang lain. 9:36 Jadi dari hal-hal yang negatif menjadi 9:38 positif. 9:41 dari hal-hal yang tadi gosiping, 9:42 emosional, marah-marah, nyindir-nyindir, 9:47 atau juga ee komen yang negatif atau 9:50 juga ee ri gitu ya menjadi hal-hal yang 9:53 positif tadi. Mengapresiasi orang, 9:57 keluarga kita bagus. ini refleksi ya dan 10:01 ini juga refleksi untuk saya sendiri 10:03 gitu ya untuk mengingatkan betapa banyak 10:05 hal yang masih bisa kita berikan ee 10:08 support positif pada lingkungan kita, 10:10 dukungan kemudian juga ee respect pada 10:14 upaya orang lain. Dia bantuin nyuci, dia 10:18 bantuin setrika, dia bantuin 10:20 kegiatan-kegiatan tertentu kita ee akui 10:23 ee usahanya. 10:25 Kemudian juga ee yang bisa kita lakukan 10:27 juga dengan ee daripada menyindir tadi, 10:31 kita juga bisa melakukan hal-hal yang 10:33 positif di media sosial, di digital gitu 10:36 ya. Eh, 10:39 daripada kita komen-komen yang negatif 10:42 di media sosial, kita bisa lakukan 10:44 dengan ee saring. Sebelum sharing 10:48 kita pastiin 10:50 kontennya itu yang kita bagikan adalah 10:52 konten-konten yang bagus, konten-konten 10:54 yang bermanfaat, enggak bikin orang 10:56 marah gitu ya. E berkomentar juga dengan 10:59 empati, enggak mudah terpancing. Jangan 11:04 komen-komen yang misalnya ada orang ee 11:07 nyebelin, terus kita komen juga ee untuk 11:12 balas juga dari perilaku orang tersebut 11:15 begitu ya. 11:15 He he. 11:16 Kemudian juga ri ee atau pamer ee dalam 11:22 ucapan gitu ya. Ee ee itu bentuk dari 11:25 ria gitu ya. ee maka yang perlu kita 11:29 lakukan adalah ee menghindari ria ee 11:34 memberikan ee hal-hal yang positif ee 11:37 kepada orang-orang yang ada di 11:38 lingkungan kita gitu ya. Menguatkan 11:41 orang yang sedang sulit. Ee orang yang 11:43 sedang sulit itu ee kalau kita kasih hal 11:46 yang ee apa ya yang berhasil yang kita 11:49 lakukan mungkin jadinya kecil hati gitu. 11:52 Maka kita perlu memberikan semangat, 11:54 mendoakan ee atau berharap kebaikan 11:57 untuk dia yang sedang terpuruk misalnya 12:00 gitu ya, menjadi ee modal penenang bukan 12:05 pemicu dari konflik kita gitu. Jadi 12:08 mengendalikan lisan adalah bentuk 12:10 kedewasaan dan kesadaran diri kita. Dan 12:14 kalau lisan kita terjaga, hubungan kita 12:17 jadi baik. ee kalau hubungan terjaga 12:22 maka hidup kita juga jadi tenang. Jadi 12:24 dampaknya besar sekali dalam kehidupan 12:26 kita. Jadi omongan lisan itu berdampak 12:32 besar ya. Penyakit lisan yang sering 12:35 muncul dalam kehidupan kita, sekali lagi 12:37 tadi gosiping. He 12:39 misalnya ee suaminya jarang pulang ya 12:43 gitu ya kita omongin 12:44 ee tetangga kita misalnya gitu ya. ee 12:48 kayaknya rumahnya lagi enggak beres ya 12:50 gitu ya. Padahal mau tahu doang nih gitu 12:53 ya. Pantas aja dia sering sendirian 12:56 mungkin ada masalah. Jadi kita 12:58 korek-korek gitu ya ee dengan ee ee 13:02 upaya-upaya untuk cari tahu tadi gitu 13:05 ya. Membahas masalah pribadi orang tanpa 13:09 orang itu ee memberikan izin apalagi 13:13 basisnya asumsi. Ah, kayaknya dia gini 13:16 deh. Kayaknya dia gini deh, gitu ya. 13:18 Padahal kita sendiri enggak tahu kondisi 13:21 aslinya gitu. Belum tentu kok dia lagi 13:24 sendirian itu berarti dia lagi rumah 13:27 tanggannya enggak beres gitu ya. Atau 13:29 misalnya suaminya jarang pulang, bisa 13:31 jadi karena ada kegiatan lain yang perlu 13:33 traveling, yang butuh waktu juga gitu. 13:37 Itu gibah tentang rumah tangga orang 13:39 lain atau gibah tentang ekonomi misalnya 13:42 gitu ya. gibah tentang gaya hidup 13:45 misalnya baru beli mobil, baru beli 13:49 mobil ya gitu ya. Emang dari mana 13:52 uangnya gitu ya? [tertawa] 13:54 Penasaran aja deh ingin tahu gitu ya. 13:57 Kete lagi susah kok gaynya tetap mewah 14:00 sih gitu 14:01 ya. Ee 14:04 itu 14:06 bisa jadi kategorinya gibah gitu. 14:08 Kenapa? karena mulai dengan menilai ee 14:12 kondisi finansial seseorang sambil 14:15 meragukan atau juga mencurigai gitu ya. 14:19 Ee karena kita melakukan 14:20 perbandingan-perbandingan 14:22 gitu ya yang sebenarnya itu biarin aja 14:26 gitu urusan dia, urusan orang lain gitu 14:29 ya [berdehem] dalam kehidupan kita. Atau 14:31 misalnya gibah tentang anak, tentang 14:34 pola asuh misalnya gitu ya. 14:37 anaknya kok bandel banget sih gitu ya. 14:40 Ya, ya itu tantangannya dia, itu 14:43 cobaannya dia gitu dalam kehidupannya 14:45 dia. Atau juga ibunya kali terlalu sibuk 14:48 kerja makanya anaknya begitu gitu. 14:52 Ee jadi ee kita melakukan gibah, 14:56 membicarakan kekurangan anak atau cara 14:59 mendidik ee orang lain tanpa empati atau 15:03 juga tanpa solusi. Jadi ini kategorinya 15:05 juga gibah. Kita sering merasa ini hanya 15:09 omongan biasa sekali lagi ya. Tapi kalau 15:13 itu yang diomonginnya tentang kita, kita 15:15 juga enggak nyaman. Balik lagi tadi kita 15:18 ditanyain orang lain ngomongin tentang 15:20 anak kita kayaknya anaknya kok gitu ya 15:23 gitu. Kita juga bete gitu ya sebel gitu 15:27 ya. Jadi 15:29 Iwan dan Ahwat cara elegan untuk 15:31 mengalihkan gibah ee atau percakapan 15:35 yang ee enggak perlu itu misalnya e soal 15:38 rumah tangga kayaknya rumah tangganya 15:41 lagi enggak beres deh misalnya begitu 15:43 ya. kita bisa tahu ee kita bisa ngasih 15:46 tahu ee mungkin dengan beberapa cara 15:49 seperti ini. Kita enggak tahu kok cerita 15:53 aslinya seperti apa atau cerita realnya, 15:56 kondisi keluarganya seperti apa. 15:59 Mudah-mudahan baik-baik aja ya, gitu. 16:01 Jadi kita ee responnya bisa jadi kayak 16:04 gitu gitu. 16:06 daripada nebak-nebak mungkin baiknya 16:09 kita 16:11 ajak ngobrol dia atau kita doain aja dia 16:13 gitu ee 16:16 tanpa menghakimi dengan nada yang 16:19 nyaman, yang lembut gitu ya. Itu juga 16:22 bisa kita lakukan. Terus misalnya kita 16:25 dengar ada gibahin gaya hidup atau 16:28 tentang ekonomi kayak tadi tuh dari mana 16:32 ya uangnya ya gitu ya. ee misalnya 16:34 tetangga kita beli mobil baru misalnya 16:36 begitu ya, dari mana ya uangnya ya? Itu 16:39 kan kayaknya mulai-mulai tuh gitu ya ke 16:41 arah-arah sana gitu ya. Kita bisa 16:43 ngerespon mungkin dia dapat rezeki kali 16:46 ya. Ee tiap orang kan beda ya 16:49 jalan-jalan rezekinya ya. ee 16:52 mudah-mudahan ee begitulah rezeki yang 16:55 dia dapat atau juga mudah-mudahan kita 16:58 juga segera dapat rezeki [berdehem] yang 16:59 lebih ee apa namanya sehingga kita bisa 17:03 beli yang kita mau juga gitu. atau tiap 17:06 orang kan juga punya prioritas dan 17:08 perjuangannya juga beda-beda. Maka ee 17:13 apa ya ketika sudah mulai mengarah ke 17:16 gibah tentang finansial atau tentang 17:18 gaya hidup, kita bisa sampaikan itu. 17:22 Atau kita bisa omongin mungkin kita bisa 17:25 fokus aja ke apa yang bisa kita 17:28 kendalikan atau bisa kita kelola gitu 17:30 ya. 17:31 ee gibah tentang anak misalnya gitu ya 17:35 atau pola asuh. Anaknya bandel banget 17:37 sih tuh dia ya. Nah, kita bisa ngerespon 17:41 dengan 17:43 memang mungkin anaknya lagi dalam fase 17:45 belajar ya atau fase 17:48 tertentu dalam hidupnya ya. Jadi tiap 17:51 anak itu kan beda ya. Jadi itu yang 17:53 mungkin ee tantangan yang sedang di 17:56 hadapi atau juga ngurus anak tuh 17:58 benar-benar enggak mudah loh. Pasti ada 18:01 tantangan masing-masing dari setiap 18:03 keluarga. 18:05 Semoga 18:06 anak-anak 18:08 dia dan anak-anak kita juga tumbuh 18:10 dengan baik gitu ya. Jadi teman-teman 18:13 semua ee ada beberapa teknik yang bisa 18:18 kita lakukan untuk menghindari gosip. 18:22 tanpa jadinya enggak enak hubungannya 18:26 kita gitu ya. Misalnya dengan teknik 18:28 empati. 18:30 Kalau kita yang dibahas gimana ya 18:32 rasanya ya gitu. Itu teknik empati. Jadi 18:35 kita refleksi nanyain lagi atau juga 18:39 teknik perspektif misalnya kita enggak 18:42 tahu cerita sebenarnya mungkin ada hal 18:45 yang belum bisa kita ee analisa atau 18:49 kita lihat juga gitu ya. itu jadi sudut 18:52 pandang kita ajak untuk ngelihat sudut 18:54 pandang atau teknik lain teknik 18:57 mengalihkan 18:59 ee topik dengan cara halus. 19:03 Ngomong-ngomong kemarin kamu sempat 19:07 lihat ada ee 19:12 ada apa ee ustazah 19:16 ee misalnya ustazah atau ee mama dedeh 19:21 misalnya yang datang ke daerah kita 19:22 misalnya begitu ya kita alihkan atau 19:26 dengan teknik netralisasi itu juga bisa 19:29 jadi teknik empati, teknik perspektif 19:32 ya, teknik ee mengembalikan topik dengan 19:36 cara halus, teknik netralisasi, 19:39 semua orang punya jalan hidup yang 19:41 beda-beda ya. Kita juga demikian. 19:45 Belum tentu 19:47 ee apa yang kita alami 19:51 sama seperti yang orang lain lihat gitu 19:54 ya. Jadi itu menetralisasi 19:57 atau juga dengan humor ringan teknik 19:59 lainnya. Wah, obrolan kita mulai 20:02 sensitif nih. [tertawa] Yuk, kita ganti 20:04 topik aja ya. 20:06 Nah, itu jadi ee teknik-teknik yang bisa 20:09 kita gunakan. Ee Ibu dan Akhwat yang 20:12 dirahmati Allah, kita menghindari gibah 20:15 bukan berarti membatasi obrolan loh, 20:18 tapi kita meningkatkan kualitas dari 20:21 percakapan kita. Lisan kita bisa jadi 20:24 sumber konflik, tapi bisa juga jadi 20:27 sumber [berdehem] 20:28 ketenangan. 20:30 Dan dua-duanya pilihannya ada di kita. 20:33 Itu sementara Makuningnya. 20:35 Masyaallah. Jadi, ikhwan akhwat enggak 20:39 bisa enggak sih ya karena lisan kita itu 20:43 cerminan dari diri kita sendiri yang 20:46 akan bikin selamat atau sebaliknya. 20:49 Betul. 20:50 Emm karena ini live, Anda bisa langsung 20:54 telepon 20:55 atau kalau kirim WA seperti biasa. Dan 21:00 kalau sudah ada yang masuk kita boleh 21:02 langsung ya Mbak Mona ya sebelum nanti 21:04 dilanjutkan dengan tambahan yang 21:06 lainnya. Ini dari Mbak Titu. 21:09 Heeh. 21:10 Terima kasih sekali bahasannya. Ngerem 21:12 lidah itu pakai apa ya? Kalau makan 21:15 pahit paling cuman kayak gitu tapi agar 21:18 bahasa yang kita pakai keren patokannya 21:22 tidak melukai orang lain tuh apa yang 21:25 tidak melukai diri sendiri gitu Mbak. 21:28 Heeh. 21:29 Ngerem lidah tuh gimana ya? [tertawa] 21:32 Ngerem lidah itu pertama adalah 21:34 kesadaran. Tadi menurut saya sih ya 21:37 terima kasih ya ee ini diskusinya. 21:40 pertama adalah kita dengan menyadari ee 21:44 bahwa ee betapa 21:49 banyak sekali peluang-peluang 21:53 kita jatuh atau kita menjadi ee 21:58 menenangkan gitu ya karena lisan kita. 22:02 He. 22:02 Jadi ternyata katanya ee banyak ee 22:07 perempuan bisa [tertawa] 22:10 masuk neraka itu karena di antaranya 22:12 lidah gitu ya. Jadi ee betapa sayangnya 22:16 gitu 22:16 ee lidah itu bisa jadi sumber ketenangan 22:19 atau juga sumber gibah atau sumber ee 22:22 mudarat gitu ya. Maka ee yang perlu kita 22:26 lakukan adalah kita senantiasa alert, 22:29 senantiasa waspada. Ini yang perlu kita 22:32 lakukan. Jadi kalau kita mulai 22:33 mengarah-ngarah ke sana, coba kita 22:36 gunakan teknik-teknik tadi. Ee Ibu siapa 22:38 tadi? 22:39 Titu. 22:40 Ibu Titu. Ibu Titu. Coba kita manfaatkan 22:44 ee teknik-teknik tadi ya. Ee 22:49 ini refleksi untuk kita semua ya karena 22:52 halus banget rasanya. Kayaknya enggak 22:56 kok, enggak bahaya kok gitu ya. Tapi 22:59 ketika kita bisa mengarahkan diri kita, 23:03 menjaga diri kita, dan menjaga 23:05 teman-teman yang kita sayangi, ini jauh 23:09 lebih baik gitu. Jadi dengan teknik 23:12 empati 23:13 ee 23:17 kayaknya kita ganti topik aja yuk kalau 23:21 kita Heeh. Soalnya kalau kita yang 23:24 dibahas kita juga enggak suka ya atau 23:27 kita gimana ya rasanya ya dan entar kita 23:31 nambahin dosa lagi. 23:33 Oke ee sama-sama kita ganti topik aja 23:38 ya. Atau juga 23:41 ee karena kita enggak tahu cerita 23:43 lengkapnya mungkin 23:45 kita belum lihat sebenarnya apa yang 23:49 terjadi dalam keluarganya. Misalnya ada 23:53 pasangan yang ribut gitu ya. Ee terus ee 23:57 ada kekerasan dalam rumah tangga 23:59 tetangga kita, terus kita ee 24:03 nyala-nyalahin. 24:05 Ee 24:07 iya mungkin kelihatannya begitu tapi 24:10 belum tentu seperti itu gitu. kita bisa 24:13 sampaikan seperti itu. Yuk, 24:17 mungkin kita doain aja, kita bantu dia 24:20 atau barangkali kita tenangin dia. 24:23 He. 24:24 Ee ini penting banget untuk kita jaga 24:27 diri kita gitu ya. [tertawa] 24:29 Pertahanan yang penting gitu. Ini ini 24:31 refleksi juga untuk saya begitu ya 24:33 supaya bisa menjaga seperti itu. Ee 24:37 terus juga kita juga bisa dengan 24:41 netralisasi. 24:43 Ya, semua orang punya jalan hidup yang 24:46 berbeda-beda ya. Itu juga bisa kita 24:49 lakukan. Mudah-mudahan ini menjawab ya, 24:52 Ibu Tiu. 24:52 Amin. Ternyata memang ya jaganya itu 24:56 macam-macam. 24:57 Ini dari Pak Juno. 24:59 Pak Juno. [berdehem] Heeh. 25:01 Kalau menunjukkan raihan prestasi tapi 25:04 di ranah kerjaan agar tidak diremehkan 25:08 itu termasuk salah enggak ya? Bukan 25:10 maksudnya ri atau pamer sih. 25:12 Terima kasih. Iya. 25:14 Ee ada batas tipis sekali gitu ya Ria 25:19 itu ya. Jadi ee ketika yang pertama 25:22 adalah menurut pendapat saya kita balik 25:24 kepada ee niat ee ini bukan ri ini mau 25:28 menjelaskan ee kinerja gitu ya. Ee dan 25:33 ada asbabun nuzulnya lah gitu ya. Jadi 25:37 ada ada proses yang memungkinkan untuk 25:40 percakapan itu gitu yang membuat kita 25:42 memang ee tepat untuk me 25:47 mengupas atau mengelaborasi ee 25:50 catatan-catatan itu. Misalnya kita 25:53 sedang menjelaskan ee kinerja ee kita 25:57 bisa jelaskan ee raihannya ini ee karena 26:01 proses ini dan dampaknya ini atau 26:04 hasilnya ini. itu kan karena memang 26:07 kinerja gitu. Jadi balik lagi ee yuk 26:11 kita cek dulu niatnya. Niatnya bukan 26:15 buat pamer. Jadi kalau lagi lagi ingin 26:18 pamer ee 26:21 yang sebenarnya karena kita sedang me 26:24 bermaksud ria gitu ya, coba yuk kita 26:28 rapiin lagi diri kita gitu. 26:32 ee maka balik lagi kita cek lagi 26:35 maksudnya apa. Kemudian ee kalau ini 26:38 adalah berhubungan untuk ee 26:43 refleksi kinerja atau juga untuk 26:46 membantu orang lain supaya bisa belajar. 26:49 Iya itu balik lagi sama niatnya tadi 26:51 gitu. 26:53 Demikian. Oke, ini dari tidak ada 26:58 namanya. Kalau seandainya seperti yang 27:01 tadi di sampaikan mengalihkan 27:05 pembicaraan ketika itu sudah 27:07 nyenggol-nyenggol yang enggak enak itu 27:11 ee pernah terjadi dianggap sok tahu, sok 27:15 bersih, sok keren. Itu bagaimana 27:18 menyikapinya dengan 27:20 lebih ee mantap. Iya. 27:23 Ohoh. 27:25 Ee 27:27 kita bisa sampaikan bahwa karena saya 27:31 enggak punya pengetahuan tentang itu, 27:34 jadi mm 27:37 I have no idea 27:40 saya harus ngomong apa tentang itu. 27:43 Jujur aja sampaikan itu. Jadi kalau 27:45 misalnya ee rekan-rekan lain memang 27:49 berminat untuk mengelaborasi tentang itu 27:51 lebih dalam lagi, ya ketika kita tahu 27:56 bahwa ini mengarah ke hal-hal yang 27:59 negatif, 27:59 hibah gitu ya, maka ya 28:02 kita bisa sampaikan bahwa ee saya enggak 28:05 bisa nambahin karena saya enggak punya 28:07 pengetahuan tentang itu gitu. itu. Lalu 28:10 kita jaga diri kita dengan ee niat bahwa 28:15 kita ingin 28:17 ee menghindari kita ingin menghindari 28:21 hal-hal yang [tertawa] Heeh. berdampak 28:23 negatif untuk diri kita 28:25 dan kita punya niat baik untuk mengajak 28:28 teman-teman semua untuk ke hal yang 28:29 positif. Kecuali misalnya kita sedang 28:34 membahas itu untuk tujuan yang baik. 28:37 Ee saya saya berikan sebuah contoh. Ada 28:39 sebuah keluarga ee lalu mendiskusikan 28:43 tentang masalah anggota keluarga 28:45 lainnya. 28:46 He. 28:46 Tetapi ee kita melihat dari sudut 28:49 pandang A, sudut pandang B, sudut 28:51 pandang C, dan lain sebagainya. Lalu 28:53 gimana solusi untuk menyelesaikan atau 28:55 membantu masalah dari keluarga kita yang 28:59 lain ini yang sedang dibahas? Itu 29:01 berarti tujuannya adalah bukan gibah. 29:04 meskipun yang dibahas adalah kekurangan 29:06 dia, tetapi tujuannya adalah untuk 29:09 mencarikan solusi terbaik. Begitu. Jadi, 29:12 batas tipisnya antara gibah dengan niat 29:17 lain itu kita harus clear. Maka ketika 29:20 kita ee teryakinkan bahwa ini bukan 29:23 gibah, so go ahead. Berikan kontribusi 29:26 positif untuk ikut berbicara dan ikut 29:28 memberikan pandangan kita. Tapi ketika 29:30 ini arahnya adalah gibah, kayaknya 29:32 ngomongin doang, enggak cariin solusi 29:35 gitu ya, maka kita bisa sampaikan yang 29:39 tadi dengan mengalihkan atau juga dengan 29:42 teknik. Kalau kita yang dibahas kita 29:45 juga enggak nyaman atau juga kita bisa 29:48 sampaikan bahwa saya sendiri enggak tahu 29:50 ininya dan ee 29:54 sori saya 29:56 ee 29:58 enggak ikutan. 30:01 Dan kita bisa 30:05 diam saja atau bisa kalau misalnya itu 30:08 menjadi lebih ini ya kita bisa 30:11 meninggalkan ee sor ya aku lagi ada 30:14 sesuatu yang harus aku kerjain misalnya 30:16 ee ada pekerjaan, ada tugas dan lain 30:19 sebagainya. 30:21 Kita bisa menghindari ee dengan cara 30:23 seperti itu. Ee 30:25 cari alasan yang masuk akal. 30:26 Cari alasan yang masuk akal. Heeh. Yang 30:27 yang halus gitu kan. kita tahu ya 30:29 situasinya ya atau ee aku punya makanan 30:33 enak deh. Yuk, kita [tertawa] 30:36 mendingan kita 30:38 pokoknya switch percakapannya. 30:40 Keren banget switch ini. Ini enggak 30:42 mudah ya, tapi kan perlu kita biasakan 30:45 ya. He. 30:46 Heeh. 30:47 Dia diajak enggak? Tapi 30:48 kenapa 30:49 yang kalau misalnya kita ngajak keluar 30:51 makan gitu yang tadi. 30:52 Iya dong. Yuk kita mendingan kita cari 30:55 makanan enak yuk. 30:57 In case dia lanjut ngomongin yang tadi 30:59 gimana? 30:59 [tertawa] 31:00 Ya, kita yang mulai diskusi yang lain. 31:04 Ada hal lain. 31:04 Oke. Ini Ibu Hilda bertanya, kalau orang 31:07 terdekat kita yang punya pengaruh luar 31:10 biasa itu kalau ngomong kebiasaannya 31:12 nyelekit. 31:13 Nyelekit itu ee tajam ya? 31:15 Tajam ya? Heeh. 31:16 Eh, kayaknya jadi karakternya apa yang 31:18 harus saya lakukan? 31:20 Iya. 31:20 Dia adalah ipar yang tinggal serumah. 31:24 Iya, iya iya. 31:26 Ee yang pertama adalah kita sendiri 31:29 tidak nyelekit begitu ya. Heeh. Jadi 31:33 karena biasanya nyelekit itu kalau 31:34 ditambahin nanti tambah panas tambah 31:37 panas gitu. 31:38 Jadi kita tidak nyelekit. 31:40 Kemudian kita cari cara ee sehingga dia 31:44 bisa belajar dari kita gitu ya supaya ee 31:47 ini terus sesekali kita ajak bicara 31:50 bahwa please jangan gitu dong ngomongnya 31:54 gitu. kita cari cara untuk ngobrol sama 31:56 dia gitu ya. Ee yang yang paling ee 32:00 cukup ee aman ee untuk awal-awal adalah 32:05 kita sendiri enggak nyelekit sama dia 32:07 sehingga dia bisa mencontoh. Tetapi 32:10 ketika itu menjadi belum jadi contoh 32:14 bagi dia, kita bisa sampaikan, boleh 32:17 enggak ngomongnya jangan kayak gitu 32:19 karena saya enggak enak dengarnya gitu. 32:23 Eh, saya udah berusaha banget untuk 32:26 enggak ngebalas ee nyelekit ngomongnya. 32:30 Saya juga udah hati-hati sekali. 32:32 Sometimes kita perlu kok ee 32:35 meluruskan seseorang di dalam situasi 32:38 yang cukup nyaman, tetapi dalam 32:40 pernyataan bukan marah-marah. Gimana sih 32:43 kamu kalau ngomong nyelekit mulu? E itu 32:45 kan jadinya agresif gitu ya. 32:47 Ee kalau kita biasa bahas itu ada empat 32:51 gaya komunikasi. satu 32:53 agresif yaitu 32:56 ee 32:57 apa ya? Dia ngerasa di atas jadi dia ke 33:00 bawah itu agresif gitu ya. Gimana sih 33:03 kamu? Atau nyelekit-nyelekit tadi di 33:05 situ gitu ya. Ee 33:07 bisa jadi ke sana ee agresif, 33:10 marah-marah itu ee agresif. Pasif 33:13 agresif ini nyindir-nyindir gitu ya. Itu 33:17 bisa jadi si nyelekit itu bisa kategori 33:19 pasif agresif atau agresif. gitu ya. 33:22 He. 33:23 Kalau nyelekit nyelekitnya masih dalam 33:27 ee nyindir-nyindir 33:29 atau ngomongnya ke sana sebenarnya ke 33:31 sini misalnya begitu ya. Itu kategori 33:33 pasif agresif. Dua-dua ini enggak bagus. 33:36 Yang ketiga adalah pasif. Pasif itu dia 33:39 posisinya dia merendah mulu gitu ya. 33:42 Jadi yang yang saya tadi sampaikan untuk 33:45 tidak kita juga tidak nyelekit 33:48 ngomongnya bukan berarti kita dalam 33:51 posisi lemah atau 33:53 ee 33:55 pasif tadi atau merendah gitu ya, tetapi 33:58 kita ngomongnya asertif. Yang terbaik 34:01 adalah asertif. Ngomong apa adanya. 34:05 Ngomong dengan baik, ngomong dengan 34:07 nyaman, ngomong dengan ee jelas, ngomong 34:11 yang mudah dipahami, 34:14 yang enggak di enggak enggak ditujukan 34:17 untuk bikin dia sakit hati, tapi bikin 34:20 dia jelas, enggak merendahkan diri di 34:24 bawah dia, enggak gitu. Tapi straight 34:27 langsung langsung enak kedengarannya, 34:30 sopan eh nyaman gitu ya ee positif gitu. 34:37 Itu yang perlu kita lakukan. Ee jadi 34:39 asertif. Kalau dia ee ee dia agresif dan 34:45 pasif agresif kita asertif. 34:48 Tapi kalau dia terus-menerus agresif 34:51 atau pasif agresif nyelekit tadi gitu 34:54 ya. Maka kita secara asertif kita 34:58 sampaikan eh ipar atau siapa namanya si 35:03 Miss ipar ini. Iparnya cewek atau cowok 35:06 gitu ya. Miss ipar lah misalnya e cewek 35:08 misalnya gitu ya. 35:10 Ee saya ee suka dengar kamu atau saya 35:15 pernah dengar kamu ngomong begini nih 35:17 gitu. Kalau kamu ngomongnya 35:21 ee sambil ee apa namanya? Gayanya kayak 35:26 sambil matanya 35:29 ee melotot atau misalnya ngomongnya 35:33 sambil 35:35 ee kok dihabisin sih misalnya begitu 35:38 atau kok ee enggak ngajak-ngajak sih 35:42 misalnya begitu ya. Eh, saya jadi 35:46 ngerasa ee kamu lagi marah sama saya, 35:49 jadi saya jadi enggak nyaman. Gimana 35:53 kalau kamu kalau ingin diajak kasih tahu 35:56 aja, ajak aku ya kalau pergi ke sana 36:00 gitu. Heeh. He. 36:01 Ee jadi ee saya jadi lebih ngerti 36:04 dibandingin kamu ngomongnya ee enggak 36:07 jelas, bikin saya jadi enggak nyaman 36:10 juga, bikin saya jadi ngerasa terpojok, 36:16 bikin saya jadi bahkan selanjutnya jadi 36:19 agak enggan untuk ngajakin gitu. Padahal 36:23 nih kan kita saudara ee saya ingin 36:26 sekali dekat sama kamu juga gitu. Jadi 36:29 ee cobalah kita cari cara untuk ngomong 36:33 sama ee beliau gitu ya dengan asertif 36:39 karena kita adalah pemenang dengan 36:41 asertif itu begitu dan menyamankan semua 36:43 pihak gitu. 36:47 Oke, Masing. 36:48 Iya. Jadi antara pasif agresif, agresif 36:51 dan asertif eh satu laginya apa? 36:54 Ee pasif. 36:56 Pasif. Pasif. Agresif, agresif dan 36:59 agresif. Assertif. 37:00 Assertif. 37:01 The best is assertif. 37:02 Meskipun jujur enggak gampang. 37:04 Enggak gampang. Enggak gampang. 37:06 Iya. Ini ada pertanyaan. 37:07 Belajar belajar untuk ngomong asertif ya 37:09 teman-teman semua. Iwan dan akhwat. 37:11 Heeh. 37:12 Ada pertanyaan, apakah gaya bicara 37:16 seseorang itu nurun? Karena 37:18 Heeh. ee ada keluarga yang ibunya suka 37:22 nyindir-nyindir itu anaknya juga suka 37:25 nyindir padahal dia udah SMP loh. 37:29 Iya. 37:29 Heeh. Ini emang nurun ya 37:31 menurut saya nurun. Nurun karena karena 37:35 lingkungan. [tertawa] Jadi belajar dari 37:38 lingkungan maksudnya bukan menurun 37:40 secara biologis ya menurut pendapat saya 37:42 ya. He. 37:43 Jadi, kan ee seseorang ini ee bisa 37:47 dipengaruhi oleh DNA atau bawaan ee dari 37:53 Allah Subhanahu wa taala gitu ya, secara 37:56 ee biologis, kemudian juga secara 37:59 pengasuhan 38:01 ee dan ee kepribadian dia gitu atau 38:04 secara lingkungan yang lebih luas gitu. 38:07 Nah, dalam proses pengasuhan, jadi dalam 38:10 proses pengasuhannya itu sangat mungkin 38:14 dipengaruhi 38:16 ee gaya orang-orang yang ada di 38:19 lingkungannya gitu ya. Misalnya biasa 38:22 ngomong asertif dia akan jadi asertif, 38:25 biasa ngomong agresif dia juga akan jadi 38:28 agresif gitu. Jadi anak-anak belajar 38:30 dari kehidupan ya. He 38:32 jadi ada tanggung jawab kita kalau 38:35 sampai anak-anak menjadi 38:38 pribadi yang 38:39 betul dari jauh yang kita harapkan. 38:41 Betul. Betul Mbak Nun. 38:42 Baik ini dari Ibu Santi yang ada di 38:45 Batam. 38:46 Ibu Santi. 38:47 Bagaimana cara melatih diri 38:49 agar sebelum bicara tuh kita bisa mikir 38:51 dulu 38:53 apakah ini [tertawa] bermanfaat atau 38:55 tidak. Betul. 38:56 Karena kadang ada saja orang yang asal 38:59 ngomong tanpa berpikir. 39:01 Iya. Iya. Yang bisa kita kendalikan 39:04 adalah diri kita sendiri. 39:06 Kita enggak punya hak prerogatif 39:08 terhadap diri orang lain, tubuh, 39:11 pikiran, dan perkataan orang lain, 39:14 tindakan orang lain. Kita enggak bisa. 39:17 Yang bisa kita kendalikan adalah diri 39:18 kita sendiri. Maka kita pun kepada orang 39:22 lain supaya orang lain ngikutin yang 39:24 kita mau pun mulainya dari diri kita 39:27 yaitu kita omongin, kita sampaikan. 39:30 Misalnya lingkungan kita ngomong ee 39:32 situasinya adalah ngomongnya langsung 39:35 aja tanpa mikir dan lain sebagainya. 39:38 Balik lagi tadi kita akan 39:40 ajakin orang-orang terdekat kita untuk 39:44 memberi kita memberikan contoh dulu 39:46 bahwa kita ini asertif gitu ya. Kita 39:49 juga kalau ngomong juga mikir-mikir, 39:51 "Nih kalau saya omongin nih dampaknya 39:53 kayak gimana ya?" gitu. Ee balik lagi 39:56 semua pada niat. Ketika kita meniatkan 39:59 untuk ngomongin orang, tetapi 40:01 ngomonginnya untuk niat yang baik, ya 40:04 enggak apa-apa menurut saya. 40:07 Orang kita juga mikirin orang lain, ya 40:09 kan? 40:10 Ee tetapi ketika kita niatkan untuk mau 40:15 gosiping, mau gibahin, mau tahu gimana, 40:19 mau ee nyindir-nyindir atau mau ee bikin 40:25 hoa gitu ya, 40:26 ee maka itu ee 40:31 sebaiknya kita hindari. Itulah diskusi 40:34 kita hari ini, menjaga lisan ee seusai 40:39 Ramadan. [tertawa] Karena biasanya 40:42 Ramadan kita jagain sebaik mungkin gitu 40:45 ya atau ee setan-setannya tadi diikat 40:48 gitu ya, [tertawa] sekarang bertebaran. 40:50 Jadi kita juga harus ee hati-hati. 40:53 [berdehem] 40:54 Yang bisa kita kendalikan adalah diri 40:57 kita sendiri. Orang lain itu kita 41:00 upayakan untuk kendalikan. 41:03 tetapi hasilnya bukan dalam ranah kita. 41:08 Kita usahakan, kita ee upayakan, tetapi 41:12 hasilnya itu adalah ranah Allah gitu ya. 41:18 Let's do our best and Allah will do the 41:21 rest. 41:22 Masyaallah. Emm, ini kalau diam lebih 41:26 baik dari berbicara di dalam kondisi 41:28 tertentu memang perlu dipertimbangkan 41:30 ya. Iya, betul, betul, betul. 41:32 [mendengus] 41:33 Pertanyaannya di dalam pergaulan modern 41:35 di media sosial, gimana dong cara jaga 41:40 ee lisan kita yang ada dalam bentuk 41:42 tulisan? [tertawa] 41:43 Iya, Mak. 41:45 Jadi ee 41:48 ada beberapa yang perlu kita perhatikan 41:52 ya sebelum mengirim pesan. Sebelum kirim 41:55 pesan itu kita perlu baca ulang. 41:57 Pastiin apakah benar eh pesan ini on the 42:02 right track gitu ya. Hapus kalimat yang 42:04 emotional dan defensive gitu. 42:06 Kadang-kadang ada kalimat-kalimat yang 42:09 pertama ketika kita baca ulang kita jadi 42:11 tahu kita nih ngerti apa enggak sih apa 42:13 yang kita tulis. Kadang-kadang 42:16 yang kita ee ada dalam pikiran kita 42:19 ketika kita sampaikan tidak lengkap, 42:20 tetapi ketika kita baca kembali kita 42:22 jadi tahu. Yang kedua, kita bisa hapus 42:26 apalagi lagi marah nih gitu ya, lagi 42:28 nulis lagi marah. Kita bisa hapus ee ee 42:33 pesan-pesan emosional atau juga defensif 42:35 gitu ya yang nanti isi pesannya adalah 42:40 agresif, pasif-agresif atau pasif. Maka 42:44 kita cari pilihan kata yang kesannya 42:49 eh asertif gitu ya, langsung eh to the 42:54 point ee enak kedengarannya, 42:57 bikin orang nyaman, 42:59 rasanya ee positif gitu ya. Terus ee 43:05 bayangkan orang yang bakal baca ini 43:07 reaksinya seperti apa begitu. Jadi 43:09 pastikan fakta 43:12 ee bukan emosi gitu. Ini yang perlu kita 43:15 lihat. Karena tulisan itu ketika orang 43:18 baca nanti kesannya jadinya emosional 43:20 gitu. 43:22 Ee ini yang perlu kita perhatikan ya 43:24 untuk ee media sosial sindiran-sindiran. 43:29 Misalnya ada kata-kata, kalau enggak 43:31 bisa tanggung jawab, mending enggak usah 43:33 janji. Misalnya ada kata-kata kayak gitu 43:35 kan enggak enak tuh. Ya kan? 43:37 ee 43:39 ada orang nulis kayak gitu kepada kita. 43:43 Ee kita bisa sampaikan aduh mohon maaf 43:47 nih ada apa ya ee kalau ada yang kurang 43:50 dari saya mohon disampaikan langsung. 43:52 Saya siap memperbaiki. Boleh saya tahu 43:54 apa yang he 43:56 ee 43:58 sudah saya lakukan misalnya begitu. 44:00 Iya. Jadi ee itu kan berarti dia kan 44:03 tadi kan marah ya kan katanya 44:07 kalau enggak bisa tanggung jawab enggak 44:08 usah janji, mending enggak usah janji. 44:11 Itu kan pasti ada sesuatu gitu. Maka 44:14 kita coba jelaskan responnya dengan 44:18 positif aja. Oh iya barangkali ada ya 44:21 yang salah ya. Ini kesannya adalah 44:23 dewasa, kesannya adalah enggak nyerang 44:26 balik misalnya. Gil, ada apa kan itu 44:30 jadinya jadinya lebih marah. Terus 44:32 mengundang komunikasi, membuka 44:34 komunikasi ada apa ya gitu. 44:38 Ee menurut saya itu perlu untuk kita 44:40 biasakan ya. 44:43 Oke. Enggak ada yang salah kalau semua 44:47 dipertimbangkan 44:49 meskipun lidah enggak bertulang. 44:50 I betul. Betul. [tertawa] 44:52 Betul. Oke, Mbak Mona. Mungkin ada yang 44:53 perlu ditambahkan sebelum rangkum 44:56 bahasan kita terkait dengan bagaimana 44:59 menjaga lisan seusai Ramadan. 45:02 Iya. Jadi ee yang perlu kita lakukan 45:07 Mbak Nuning, kita perlu memastikan bahwa 45:12 sekarang ini kan banyak berita-berita 45:14 provokatif, ada hoa 45:17 ada berita-berita yang kita dapatkan 45:19 tanpa tanpa verifikasi. Iya. Orang 45:22 sebar-sebarin 45:24 ee terus kita juga kadang-kadang mudah 45:26 terpancing 45:28 atau juga kita pamer dan lain sebagainya 45:31 gitu ya. Kita gibah, kita gosip ya ee 45:38 dalam situasi yang santai-santai 45:40 tiba-tiba jadi gosip. ini sangat sering 45:43 kejadian 45:45 karena kan apalagi e di bulan Ramadan ee 45:47 di bulan Syawal ini kan kita sering 45:50 sekali ketemu sama orang ee silaturahim. 45:54 Percakapan silaturahim itu jangan sampai 45:58 memperkeruh suasana dan juga merugikan 46:02 semua pihak. Merugikan kita, merugikan 46:04 orang lain, merugikan orang yang 46:06 diomongin juga gitu. Ini adalah penyakit 46:10 lisan yang berbahaya untuk hidup kita. 46:13 Yang kedua adalah emosional atau juga 46:16 marah, mudah tersulut emosi ee 46:21 karena stres atau karena tekanan hidup. 46:24 Ini banyak sekali kejadiannya saat ini 46:26 gitu ya. Ee ucapan tajam kita di 46:30 mana-mana ya, di lingkungan kita, di 46:33 kampus, di rumah, di tempat kerja atau 46:36 di teman gitu ya. keluar kata-kata 46:39 begitu saja ya tanpa kita pikir ini 46:44 berbahaya ya. Maka balik lagi itu 46:47 biasanya emosi ketika kita menggunakan 46:51 ee gaya bicara yang ee agresif dan pasif 46:56 agresif gitu ya. Maka yang perlu kita 46:58 lakukan adalah asertif atau juga 47:01 berkomentar negatif di matsos misalnya 47:05 gitu ya. ee informasi kita sebarkan 47:08 tanpa verifikasi atau juga omongan 47:11 kasar, debat-debat yang enggak perlu 47:13 misalnya begitu ya. Kita terpancing 47:15 emosi, terfok terprovokasi dengan 47:18 opini-opini 47:20 yang muncul gitu ya. Atau kita juga ria, 47:24 ria atau ee pamer ria dalam ucapan 47:29 begitu ya. ee itu membahayakan 47:32 menceritakan kebaikan kita ee karena 47:35 kita ingin mendapat pengakuan, ingin 47:37 terlihat lebih baik daripada orang lain. 47:40 Maka sekali lagi ee 47:44 lisan kita memang sulit untuk kita 47:47 kendalikan gitu ya daripada tindakan 47:49 kita, tapi dampaknya besar sekali. Bisa 47:52 bikin orang bete, bisa bikin orang sakit 47:55 hati, bisa hubungan jadi retak, bisa 47:59 lingkungan kerja jadi tidak nyaman, 48:01 lingkungan rumah jadi enggak nyaman, 48:03 lingkungan tetangga jadi enggak nyaman, 48:06 reputasi kualitas diri kita jadi menurun 48:09 karena orang jadi enggak percaya sama 48:10 kita. 48:11 itu tuh bagiannya suka ngomongin orang. 48:13 Hati gelisah, hati kita juga enggak 48:16 tenang karena kita merasa punya dosa, 48:18 kita ngomongin orang lain. Jadi, 48:21 komunikasi jadi kehilangan makna. 48:23 Padahal komunikasi itu mengeratkan. 48:26 Komunikasi itu sangat bermakna memahami 48:29 seseorang gitu ya. Hanya kebiasaan kita 48:33 tanpa kesadaran. Kalau kita ngobrol 48:35 dengan banyak orang, maka kita bisa 48:38 membuat pilihan. Komunikasi kita menjadi 48:41 bermakna atau komunikasi kita menjadi ee 48:45 negatif. Sebaiknya kita pilih yang aman 48:50 untuk hidup kita dunia dan akhirat. 48:52 Demikian, semoga bermanfaat. 48:55 Masyaallah. Terima kasih sekali Mbak 48:59 Mona untuk obrolan kita yang kebetulan 49:02 bahasannya memang diperlukan sekali. 49:05 Gosip, nyinyir, e sarkasme, kemudian 49:10 juga nyindir pamer tuh kayaknya bagian 49:12 dari hari-hari yang 49:13 betul 49:14 tanpa sengaja kita lakukan. Insyaallah 49:16 sih prentasenya 0 kom sekian tapi 49:19 mudah-mudahan ya. 49:21 Yang jelas saring sebelum sharing itu 49:24 yang perlu kita genggam erat ya. Ikhwan 49:26 akhwat. Dan kalau kita mampu 49:29 mengendalikan lisan, insyaallah akan ada 49:32 kemudahan kita melangkah lebih lanjut. 49:35 Sekali lagi terima kasih Mbak Mona dan 49:37 juga untuk yang sudah berkontribusi ee 49:40 bersama-sama dengan acara ini. Billahi 49:43 taufik wal hidayah. Wasalamualaikum 49:45 warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikum