Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:08 Brail 0:34 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 0:36 warahmatullahi wabarakatuh. 0:38 Waalaikumsalam. Allahumma shalli ala 0:40 sayyidina Muhammad wa ali sayyidina 0:41 Muhammad. Alhamdulillah kita berjumpa 0:43 lagi hari ini hari Kamis tanggal 13 0:47 Agustus 0:49 2026. Sekarang masih bulan Safar atau 0:52 bukan? Ini apa sekarang 29 Safar ya, 0:55 1448 Hijriah. Kita jumpa lagi dalam 0:59 acara ruang kesehatan. Biasanya acara 1:02 ini dibakar oleh Mbak Nuning. Tapi Mbak 1:03 Nuning lagi sibuk ini 1:06 di luar negeri ya. Oke, jadi kami 1:09 gantikan lah ya. Mudah-mudahan tetap 1:11 berkenang. Kami akan menghadirkan 1:14 Dr. Dr. 1:18 Fidiansyah, SpKJ, MPH. Kita akan 1:23 mengambil tema hakikat kemerdekaan bagi 1:25 kesehatan jiwa. sudah ada di sini. Ondi 1:28 Saputra dan Rianto juga Rafa dan Reva. 1:33 Waduh kayak penyanyi nih. Asalamualaikum 1:37 dokter. 1:38 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:40 wabarakatuh. Mas sehat selalu. 1:42 Alhamdulillah. 1:44 Kita nih sudah merdeka apa belum sih? 1:47 Nah. 1:50 Oke, Dok. bisa diuraikan mengenai apa 1:53 itu hakikat kemerdekaan bagi kesehatan 1:56 jiwa. Silakan, Dr. Fidiansyah. 1:59 Baik, ee pendengar Radio Rasil yang 2:02 dirahmati Allah. Ini kesempatan karena 2:07 ee 4 hari lagi ya, 2:09 enggak terasa 2:10 kita 2:11 kita akan 2:13 merayakan Semaraknya 2:14 Iya. Dan 81 2:15 81 tahun yang lalu. 2:18 Persis seperti pertanyaan Mas Ris tadi 2:20 bahwa sudahkah sudah merdeka nih gitu ya 2:22 di dalam hakikat yang seutuhnya? 2:26 Karena banyak ulasan-ulasan merdeka yang 2:28 juga bisa ditinjau dari sudut pandang 2:31 sosial, politik dan sebagainya termasuk 2:33 ekonomi ya. Apakah sudah merdeka ekonomi 2:35 misalnya itu banyak pakar-pakar yang 2:37 sudah merasa topik ini e pada kapasitas 2:41 saya nih ee dalam konteks kesehatan jiwa 2:43 juga ada hal yang harus kita coba ee 2:46 tinjau ee apakah juga kesehatan jiwa 2:49 kita sudah merdeka. 2:51 Hm. 2:51 Nah. Nah, apa hubungannya kalau kita 2:54 kaitkan dengan ee kesehatan jiwa dalam 2:58 konteks kemerdekaan? 3:00 bisa kita coba pahami tadi beberapa saat 3:05 yang lalu lagu Indonesia Raya 3:08 berkumandang tuh. 3:09 Iya 3:10 ya. Dan hampir setiap Senin upacara 3:15 atau kegiatan-kegiatan seremonial 3:19 lagu ini kan sebetulnya dinyanyikan 3:21 sebagai disebut lagu kebangsaan. 3:23 Iya. 3:25 Indonesia Raya. Nah, ada bait yang seb 3:28 kaitannya tadi dengan ee hakikat 3:30 kemerdekaan tadi. 3:32 Apa yang kemudian dinyanyikan sebagai 3:34 suatu merdeka-merdeka? Nah, kemudian 3:36 Anda ada bait, bangunlah jiwanya, 3:40 bangunlah badannya. 3:42 Jadi kemerdekaan itu dari sejarah yang 3:45 kemudian kita sudah lalui 3:48 dan para 3:50 founding father kita yang mencoba untuk 3:53 memerdekakan bangsa ini, memilih lagunya 3:56 pun bukan sembarang pilihan kata-kata 3:59 dan narasi yang tanpa tanpa tujuan. 4:02 Pasti ada tujuan. Kenapa dia 4:04 mendahulukan bangunlah jiwanya barulah 4:07 bangunlah badannya? 4:09 Artinya pada masa-masa kita dijajah 4:12 yang kita memang sedang perjuangan 4:13 kemerdekaan di dalam konteks bernegara 4:16 dan berdaulat. Kita enggak punya 4:18 kedaulatan sehingga para pejuang mencoba 4:21 memerdekakan itu. Nah, setelah kemudian 4:25 mereka membangun kesatuan dan persatuan 4:29 dengan sejarah sumpah pemudanya dan 4:30 sebagainya. 4:32 Dan kalau kita ikuti sejarah ini kan 13 4:35 Agustus 1945 4:38 itu tanggal 7 Ramadan. 4:41 Iya. 4:42 Karena 17 Agustus itu 10 Ramadan. 4:44 H. 4:45 Artinnya pada saat itu saja kemerdekaan 4:47 itu diraih dengan sebuah perjuangan 4:49 orang sedang berpuasa. 4:52 Bayangkan ketika orang berpuasaangkan 4:54 lemas gitu kan, enggak ada tenaga, 4:56 energi kurang. Tidak. Kenapa? Karena 4:58 yang mereka milikilah jiwanya. Jiwanya 5:00 tangguh. Hm. 5:01 Jadi kemerdekaan yang memang mereka 5:04 sudah coba raih itu karena sudah 5:07 terbentuk pembangunan jiwa yang kokoh 5:10 dari semangat membebaskan dari belenggu 5:12 penjajahan. Memang hakikatnya secara 5:15 lahiriahnya. Tapi secara individual 5:18 setiap orang saat itu sedang 5:20 memerdekakan jiwanya. Ayo bangun jiwa 5:23 ini dan baru kemudian bangun badannya. 5:26 Nah, sayang memang lagu yang selalu 5:29 dinyanyikan sebagai lagu kebangsaan 5:32 dan dihayati sebagai sesuatu semangat 5:34 kepersatuan 5:36 itu mungkin menjadi sebuah formalitas 5:38 saja, enggak memahami lagi hakikat 5:40 sebenar tadi. sehingga apa yang dibangun 5:43 ya fisik badan tadi 5:46 ya kitaak enggak nyukut MBG lah ya 5:50 tapi nyebut juga 5:52 fisik yang dibangun lupa 5:54 akhirnya membangun bangunlah jiwanya itu 5:57 agak menjadi terh 6:01 apa tidak terwadahi 6:03 dan akibatnya apa kelihatan memang hotel 6:06 jembatan, transportasi kelihatan tampak 6:10 h 6:11 namun hakikat bangunlah jiwanya tidak 6:13 berkesinambungan karena memang dia 6:14 enggak enggak kelihatan seperti sebuah 6:16 pengan fisik. Dia kelihatan nyata, diaak 6:18 kelihatan langsung. Pembangunan jiwa itu 6:20 betul-betul suatu tahapan yang nanti 6:23 salah satu teori yang akan saya kupas di 6:26 dalam aspek kesehatan ini yang juga 6:28 dikenal oleh para pakar-pakar kesehatan 6:30 mental itu adalah teori Eric Eriksen ya 6:34 yang mencoba untuk melihat bagaimana 6:36 pembangunan seorang manusia itu 6:39 bertahap. 6:41 Tidak bisa manusia lahir itu langsung 6:44 punya jati diri. Oh, ini seorang 6:46 Fidiansa, ini seorang Marsisa. Ini 6:48 seorang enggak ada enggak ada bisa tahu 6:50 dari awal tanpa sebuah tahapan yang 6:52 menurut Erik Eriksen itu minimal ada 6:55 delan tahap untuk mencapai suatu tahap 6:57 yang disebut dengan sudah aktualisasi 6:59 diri. Nah, nanti ada satu ee tahapan 7:04 yang disebut orang ini sudah merdeka apa 7:06 belum. Inilah kaitan kemerdekaan yang 7:09 kita coba semarakan di 17 Agustus. Mari 7:12 kita coba kembalikan. Ayo, sudahkah kita 7:15 setiap orang ini mengevaluasi 7:18 pembangunan jiwanya? 7:20 Karena kalau tidak ya tadi negara ini 7:24 akan terus digerus dengan hakikat yang 7:27 sekarang bisa kita nyatakan kalau 7:29 dikatakan kecerdasan intelektual. Oke, 7:32 banyak profesor, banyak doktor, banyak 7:35 sudah minimal level pendidikan kita 7:37 sudah SMA misalnya gitu kan. Jadi 7:39 kategori yang disebut dengan eh 7:41 inteligency cion-nya sudah enggak 7:43 diragukan. Tapi lupa tuh pada 7:45 pembangunan jiwa adalah emosional 7:47 spiritualnya. 7:48 Nah, ini yang harus kita coba ee 7:51 serasikan pada semangat lomba-lomba 7:55 apapun yang kemudian dibangun dalam 7:56 konteks merayakan kemerdekaan ini. 7:59 Mestinya juga setiap warga negara 8:02 khususnya di negara Indonesia ini ayo 8:05 maknai kemerdekaan yang sudah kita raih 8:08 ee 81 tahun itu betul-betul sudah juga 8:13 memerdekakan jiwanya. Nah, kalau ini 8:15 belum merdeka wajar jiwanya pun menjadi 8:19 gamang, menjadi galau. Dan kalau sudah 8:21 jiwa galau, IQ yang brilian bisa 8:24 disalahgunakan. 8:28 Yang kita sebut para koruptor pasti 8:30 IQ-nya genius. 8:32 Iya. 8:33 Tidak mungkin dia bisa memanipulasi 8:34 data, melakukan rekayasa, memodifikasi 8:38 kalau dia tidak punya kecerdasan 8:39 inteligensi. 8:41 Yang jadi masalah justru kecerdasan 8:42 emosional, spiritualnya, kecerdasan 8:44 jiwanya. Nah, ini belum merdeka itu 8:46 berarti. Nah, jadi kalau dikatakan 8:48 sekarang merdeka secara lahiriah ya kita 8:52 memang sudah enggak ada belenggu. Tapi 8:53 ingat sekarang lagi ramai yang disebut 8:55 dengan ee 8:58 perang nonmiliter atau dalam istilahin 9:00 perang proxi. Dia enggak menghadirkan 9:03 seperti Iran sama Amerika dengan 9:04 senjata-senjata nuklir dan rudalnya. 9:07 Tidak. di masukkan sisipan-sisipan 9:09 pemikiran, paradigma, mindset 9:12 yang dijajah di situ. Nah, ini yang 9:14 enggak kita sadari. Nah, ini yang kita 9:16 waspadai. Semoga kemerdekaan 81 tahun 9:19 ini juga ee membuka semangat kita tidak 9:22 hanya semarak kepada 9:24 kemerdekaan-kemerdekaan lahiriah, tapi 9:26 juga ayo sudahkah kita memerdekakan 9:28 jiwa-jiwa kita? 9:33 Oke, masih di acara ruang kesehatan 9:36 bersama Dr. Dr. 9:39 Fidiansyah, SpKJ, MPA. Silakan yang mau 9:42 bertanya kami tunggu di 0811999 9:49 720. 9:51 Ee 9:54 dokter ee di kampung saya kegiatan 9:59 memasak bendera sudah mulai berkurang. 10:01 Biasanya dari awal sudah ini apakah itu 10:03 ada pengaruh psikologis juga dalam hal 10:05 ini? 10:06 Nah, ini juga fenomena kan bahwa ada 10:09 semacam sebuah himbauan bahwa bendera 10:11 memang sebetulnya sudah dipasang 1 10:13 Agustus. Itu himbauan yang ingin mencoba 10:15 merakkan bahwa bukan pada 17. Tapi 10:17 ternyata pada fenomena yang tadi 10:18 disampaikan oleh pemeriksa sudah mulai 10:21 kurang gitu. Sehingga semangat bendera 10:25 sebagai simbol dari sesuatu kebangkitan 10:29 daripada kemerdekaan itu dirasakan di 10:31 berapa di berapa wilayah tadi dikatakan 10:33 kok tidak menjadi sesuatu yang ee cukup 10:37 disemaraki gitu ya. Nah, ini tentu sudah 10:40 menyangkut tuh tadi ada ee 10:45 persepsi-persepsi yang muncul di 10:46 masyarakat sehingga kayaknya belum 10:50 enggak enggak semangat merdeka. Kalau 10:52 kita bandingkan tadi 17 Agustus 1945 he 10:55 di mana suasana penjajahan begitu sangat 10:58 memang mencekam. He. 11:00 Para penentu kebijakan mencoba merancang 11:02 disebut Pancasilanya 11:04 ee butir-butir proklamasinya itu kan 11:06 sibuk. He. 11:07 Kalau kita belajar sejarah tentang 11:09 detik-detik proklamasi, 11:11 sekarang kita sudah menikmati 11:14 sebetulnya, tapi tadi fenomena tadi 11:16 menggambarkan bahwa berarti memang ada 11:19 yang keliru nih. 11:21 Fenomena masyarakat yang tadi ditanyakan 11:23 oleh pembisa tadi sudah mulai tergerus 11:26 ya. Semangat itu tidak lagi menjadi jiwa 11:28 yang memang dimiliki pada masa-masa di 11:31 awal tadi. Nah, ini tentu sudah 11:33 mengisyarat ini indikasi memang 11:35 indikasi ada ketidakpuasan psikologis 11:38 yang diahkan masyarakat tentang 11:39 kemerdekaan ini. PHK ee barang-barang 11:43 naik dan segala macam ini yang harus 11:45 kita coba ee waspadai. Jadi setuju ini 11:49 ee sinyal-sinyal ini perlu kita coba 11:51 perhatikan agar kita tidak menjadi 11:54 sesuatu yang nanti ee terlambat ya untuk 11:57 bisa kita ee perbaiki. 12:00 Oke. Ee pelancaran selanjutnya dari 12:03 Bapak Joko. Bagaimana membedakan antara 12:06 kebebasan yang menyehatkan jiwa dan 12:08 kebebasan yang justru merusak diri dari 12:12 Bapak Joko. 12:15 Oke. Menarik ya. kata bahwa merdeka 12:19 memang selalu diidentikan dengan bebas 12:23 sepertinya ya, bahwa oh kita sudah bebas 12:26 dari belenggu penjara ee bebas dari 12:28 tekanan. 12:30 Hakikatnya sebenarnya bukan itu. Nah, 12:32 ini yang kita akan bahas pada jiwa bahwa 12:35 merdeka dalam konteks yang kita sebut 12:37 sebagai hakikat bukan kebebasan itu 12:40 sendiri. Karena apa yang tadi disinyalir 12:42 ketika orang merdeka mengatakan bebas, 12:45 itu yang terjadi mungkin pada konflik 12:46 anak dengan orang tua. 12:48 Anak ketika kemudian merasa sudah 12:50 menjadi seorang dewasa, 12:53 aku sudah bebas menentukan pilihan 12:54 pendapat. 12:55 Hm. 12:56 Aku sudah tidak lagi dalam kukungan 12:58 arahan dan perintah serta instruksi yang 13:01 orang tua harus lakukan. Dan itu banyak 13:03 kasus yang menunjukkan ini kesalahan. 13:05 kesalahan mengartikan kebebasan 13:07 kedewasaan itu sehingga seolah-olah 13:10 membebaskan dia dari arahan ee disiplin 13:13 ee nasehat. Keliru betul ya. Jadi kalau 13:16 diartikan ee kebebasan dari kemerdekaan 13:19 itu yang berlebihan dan salah tempat 13:22 setuju sekali. Nah, ini yang mungkin 13:25 yang akhirnya menjadi apa yang kita 13:27 kenal dengan free seks itu kan 13:29 kebebasan. 13:30 Tapi salah kan? Jadi seks yang diartikan 13:33 menjadi bebas padahal dia harus ada 13:35 rambu-rambunya 13:37 free drug ya bebas menggunakan obat 13:40 akhirnya disebut dengan narkotika dan 13:42 sebagainya. Jadi ini harus kita waspadai 13:44 gerakan-gerakan ini yang mencoba untuk 13:47 menumpangi arti kemerdekaan dengan 13:51 kemudian mengedepankan kebebasan untuk 13:53 lepas dari sebuah norma-norma. termasuk 13:57 tadi makanya di awal kita sudah singgung 14:00 kecerdasan kemerdekaan itu sudah bisa 14:02 kita lalui dari kecerdasan intelektual 14:05 tapi belum pada emosional dan spiritual. 14:07 Nah, ini yang harus kita waspadai. Jadi, 14:09 betul mari kita jaga jangan kebablasan 14:13 mengartikan kemerdekaan ini sebagai 14:14 sesuatu hal yang ee tidak bisa kita coba 14:17 ee jaga ya. 14:19 Oke. Dari Ibu Marta di Sinabung. Mengapa 14:23 seseorang yang hidup serba berkecuk 14:25 berkecukupan belum tentu memiliki jiwa 14:29 yang merdeka? Waduh, 14:32 betul sekali ya. Merdeka tidak selalu ee 14:36 linier dengan kekayaan. Merdeka tidak 14:39 selalu linier dengan ee kedudukan 14:42 pangkat ee pendidikan dan sebagainya. 14:47 Jadi kalau dikaitkan tadi, apakah bisa 14:49 terjadi fenomena justru ketika dia 14:51 berlimpah dengan semua kemudahan? Ya, 14:54 ada dia dapat pangkat, dia dapat 14:55 jabatan, dia dapat harta, dia dapat 14:57 semua belum tentu 14:59 dia sebenarnya pada konteks merdeka. 15:01 Karena apa? Karena merdeka hakikat 15:03 sebenarnya lebih kepada emosional, 15:06 spiritual tadi adalah dia terbebaskan di 15:08 dalam konteks diri dia menjadi dirinya. 15:11 He. 15:12 Tentu dengan menjadi dirinya bukan 15:14 kembali bebas. Sekali lagi artinya 15:16 menjadi dirinya tentu dengan rambu-rambu 15:18 yang kita sebut. Yang pertama adalah 15:20 dalam teori Erikson itu disebut dia 15:23 sudah memenuhi basic trust. Dulu 15:27 kalau ilustrasikan sekarang misalnya 15:30 seorang bayi lahir, 15:32 adakah kemerdekaan di situ yang dia 15:35 miliki? Belum. 15:36 Oh, belum ya? 15:37 Karena dia bergantung kan. Oke. 15:40 Dia nyusu disusuin, semua kebutuhan 15:42 pakaian dipakaiin. Kalau dikatakan 15:45 merdeka belum ada, belum ada 15:46 kemandirian. Karena yang dibutuhkan pada 15:48 tahap itu menurut teori Eriksen itu yang 15:50 disebut dengan basic trust dulu. 15:53 Tumbuhkan kepercayaan pada diri si 15:55 bayi-bayi ini tentang lingkungannya. 15:59 Jadi kalau si bayi tadi tumbuh dan 16:00 berkembang lalu dia merespon apa yang 16:03 diinginkan tidak bisa ngomong kan. Ma 16:06 aku haus. Enggak bisa begitu. Mak, aku 16:09 pipis. Enggak bisa. Dia cuma ea ea ea. 16:12 Nah, ketika ea-ya itu lingkungan 16:15 merespon nih. He. 16:17 Ah, anakku nangis ya? E haus ya, Nak? 16:19 Ya, dijejelin, dijelin susu. Masih 16:21 nangis. Eya eya. 16:23 Dalam si benak-anak karena dia enggak 16:25 bisa ngomong, "Maah, aku bukan haus." 16:27 Kira-kira gitu tapi disusuin. Anak 16:30 bilang, "Nih, emak gua enggak ngerti gue 16:32 nih. 16:33 Ini terjadi mistras namanya." 16:35 Heeh. Sehingga dari bayi yang nangis itu 16:38 dia sedang menguji lingkungan. Ngerti 16:39 tidak sih kebutuhan saya? 16:41 Itu disebut dengan apa yang sedang 16:44 tumbuh dalam kemerdekaan pertama adalah 16:46 bagaimana kita menamkan dasar 16:49 kepercayaan pada setiap pertumbuhan 16:51 kebutuhan anak. 16:52 Ternyata si anak nangis karena digigi 16:54 semut. H 16:56 kan enggak enak dia. He. 16:57 Mau dijejajelin susu enggak akan member 17:00 makin ayo dijejelin ini emak enggak 17:03 ngerti gue. Kira-kira 17:06 bar soal nangis e-ya itu sudah 17:07 menggambarkan ah lingkungan gua enggak 17:10 gua percaya 17:11 ini enggak ngerti gue. 17:13 Nah itulah kemudian Erik Sem ini fatal. 17:16 Kalau ini tidak didapatkan maka dia akan 17:19 menjadi nanti mistrust. He. 17:21 Dan ini dasar daripada tumbuh 17:23 kemandirian, kemerdekaan yang nanti akan 17:25 menjadi ee terganggu. Ini terganggu juga 17:29 dari situ. 17:29 Oke. 17:30 Ee jadi menarik ketika memang dikatakan 17:32 bebas dengan kemerdekaan dengan 17:35 atribut-atribut 17:36 embel-embel kekayaan enggak ada 17:38 hubungannya. Oke. 17:40 Karena yang dipentingkan justru 17:41 emosional spiritual ketika di sini 17:43 mendapatkan ee tumbuh kembang tadi mau 17:45 miskin tidak berpendidikan, tapi kalau 17:47 si ibu memahami kebutuhan dasar tadi 17:50 terjadilah basic trust yang tepat. 17:53 Oke. Baik. Dari Bu Lisa di Kebayaran 17:56 Baru, Dok. Mau tanya mengenai penggagas 17:59 ee orang hafal Quran lalu dikasih 18:01 minuman air keras. Apakah dia juga 18:04 mengalami gangguan jiwa? Apa tidak tahu 18:06 itu melanggar agama? ee kurang kurang 18:09 dia penghafal Quran 18:11 terus minum 18:12 enggak e kasus ada kasus 18:14 buat buat game 18:16 ya siapa mau hafal Quran ayo ke panggung 18:19 dia di acara apa sih DJ apaapa gitu 18:22 oke 18:22 lalu dia hafal dia baca surat Wadduha 18:24 lalu dikasih 18:26 hadiah minuman keras 18:28 oh 18:28 ini lagi viral nih lagi ramai nih 18:30 yang ditanyakan oleh Isa nih 18:32 jadi ininya apa konteksnya 18:33 apakah dia mengamal gangguan jiwa itu 18:36 kan mestinya dia sudah tahu Tahu dong 18:38 hafal Quran hafiz 18:39 hafal kan kontradiksi. Heeh. Ken kenapa 18:43 dia bikin seperti itu? 18:45 Oke ya. Tentu pada kasus-kasus seperti 18:47 ini penilaian kita tetap harus 18:49 komprehensif dengan data-data yang 18:50 didukung ya. Ee tidak ada korelasi 18:54 langsung ya ketika dia sendiri hanya 18:56 sekedar hafiz Quran kan dalam ee 19:00 Al-Qur'an juga diingatkan tuh dalam 19:02 surat Aljumah. 19:04 Masalina hum tauratam yahmilu ya tidak 19:08 membacanya ya perumpamaan orang yang 19:10 membawa Taurat lalu dikatakan bawa 19:13 Taurat lalu dia tidak mengamalkannya 19:14 sama seperti himar membawa buku-buku 19:17 gitu. Jadi kalau seorang hafiz juga 19:20 hanya sekedar sebuah proses menghafal 19:23 bisa jadi 19:25 tapi tidak menginternalkan terhadap apa 19:27 yang tadi kontradiktif yaarti bukan 19:29 bukan salah tentang kehafizannya 19:32 tapi individu si hafiznya itu yang 19:35 betul-betul tentu ada sesuatu yang perlu 19:38 kita 19:38 ee eksplorasi. 19:40 Jadi ee bisa terjadi apa yang disinyalir 19:44 tadi perlu dieksplorasi. pasti ada 19:46 sesuatu pada diri seorang itu. 19:48 Heeh. 19:48 Karena kontradiktif sesuatu yang tentu 19:51 bukan jiwa yang merdeka namanya. Karena 19:53 dia masih dibelenggui. Mungkin kan 19:54 iming-iming tadi kalau dikasih ini nanti 19:57 ee berani melakukan sesuatu hal yang 19:59 berbeda akan ada riwayat. Nah, itu yang 20:01 dia terjebak dengan kebebasan yang salah 20:03 lagi. H. Oke. 20:04 Jadi setuju tentu ada sesuatu yang 20:08 terjadi pada orang itu. 20:09 Oke. 20:09 Hanya memang kita tidak bisa mendapatkan 20:12 ee ulasan yang lebih dalam sebelum kita 20:14 sendiri melakukan analisis terhadap 20:16 kasus tersebut. 20:17 Oke, dari Ibu Nita. Asalamualaikum, Dok. 20:21 Waalaikumsalam, 20:21 Dok. Apakah kemampuan menerima diri 20:23 sendiri merupakan salah satu bentuk 20:25 kemerdekaan jiwa? 20:28 me 20:29 menerima 20:31 kemampuan menerima diri sendiri. 20:34 Oke. 20:34 Merupakan salah satu bentuk kemerdekaan 20:36 jiwa. 20:37 Ya, ini betul sekali ya. Jadi salah satu 20:40 karakter kenapa kita bicara tentang 20:42 hakikat keberikan pada kesehatan jiwa 20:44 tadi bahwa setiap orang harus memberikan 20:48 dirinya dengan cara apa? Dia menerima 20:50 dulu. Dalam konteks yang kita sebut 20:53 sebetulnya rukun iman itu takdir baik 20:54 dan buruk. 20:55 H 20:55 ya. Ada orang lahir mungkin cacat yang 20:58 disebut cacat bawaan. 21:00 Dia enggak punya kaki. 21:03 Apakah dia kemudian mengeluh dengan 21:05 ketiadaan kaki tadi? Berarti dia belum 21:06 merdeka tentang kebertimaan tadi. 21:08 Jadi betul sekali bahwa salah satu ciri 21:11 orang yang sudah pada hakikat merdeka, 21:14 dia betul-betul menerima takdir baik 21:16 tentang dirinya, menerima dirinya dan 21:18 selalu melihat potensi. Dan itu ada 21:20 sebuah ee kasus di mana dia sekarang 21:23 menjadi seorang motivator itu. 21:25 Hm. He. 21:25 Dia enggak punya kaki lahir dua. 21:27 Iya. Iya. Ya. 21:28 Tapi dia sekarang punya punya istri, 21:30 punya anak dan menjadi motivator bahwa 21:32 ketiadaan kaki tidak membuat dia tidak 21:35 menerima dirinya. Nah, ketika dia 21:37 menerima dirinya tadi lalu dia melakukan 21:39 inovasi-inovasi tentang keterbasaan 21:41 tadi. 21:42 Mendapatkan lihat tadi hakikat yang 21:43 lebih hebat tadi bukan fisik yang 21:45 menentukan ee kesuksesan saya, tapi 21:48 emosional, spiritual saya. Saya 21:49 terbebaskan dengan cara tadi saya terima 21:52 diri saya apa adanya yang Tuhan sudah 21:54 berikan. Lalu saya cari potensi diri 21:56 saya untuk dari keterbatasan tadi untuk 22:00 mendapatkan peluang-peluang yang mungkin 22:02 orang lain tidak bisa. Buta misalnya 22:04 lahir, apakah kemudian tidak bisa 22:06 sukses? Bisa. Sangat bisa. Tidak punya 22:09 tangan. Ya, bahkan ada kasus yang cukup 22:12 ee 22:14 sangat heroik ya dalam konteks yang dia 22:17 cerebal palsy. 22:18 Hm. Ya. Jadi bukan hanya kemudian ee 22:23 sumber-sumber fisik itu yang rusak itu 22:26 ee pada kaki dan tapi pada sumber 22:28 otaknya. 22:29 Sehingga waktu lahir ini menjelang lahir 22:32 si dokter-dokter yang akan melahirkan 22:34 sudah mendeteksi 22:36 Bapak, Ibu 22:38 hasil deteksi alat yang sudah kami 22:40 periksa anak ini akan mengalami serebal 22:43 pelasi. Otaknya enggak berkembang. 22:45 dia nanti mengurus tentang kehidupan dia 22:47 sendiri akan terbatas. 22:50 Ada pilihan kita terminasi, kita sebut 22:52 kita akhiri di mana beban nanti Bapak di 22:55 dalam membesarkan anak ini hilang. 22:57 Boleh itu. 22:58 Itu ditawarkan tadinya 22:59 sama si dokter tadi 23:01 atau mau langsung dengan semua 23:03 konsekuensinya kami sudah berikan. Jadi 23:05 ee konsekuensi ini enggak kami terima 23:08 kata bapak ibunya. 23:09 Bapak ibunya hafizah. 23:11 Hm. 23:12 Kami terima. Ini kan ee konsep menerima 23:14 diri kami terima dokter ini ah amanah. H 23:18 sepanjang kehamilan si ibu karena 23:20 hafizah dia baca Quran. 23:23 He. 23:23 Suaminya begitu mengelus setiap 23:25 kesempatan berinteraksi dengan istrinya 23:27 dipegang perutnya sambil hafizah. 23:29 Sekarang jadi hafiz Quran. 23:31 Iya. Kayaknya pernah kita undang ke sini 23:33 tuh. 23:33 Ee iya 23:34 masih kecil kan muda ya. Ya. Jadi itu 23:37 kebertimaan tadi merupakan kemerdekaan 23:40 di dalam ee membuat jiwa dia betul-betul 23:43 berkembang. 23:44 Hm. 23:45 Ya. Ee Dr. Fidi, saya punya teman ee 23:49 satu ya, dia terima 23:52 kanser, satu lagi juga penerima kanser 23:54 juga cuman satu menerima dia goeng, satu 23:57 lagi enggak terima. Kok lebih lebih 24:00 tenang yang nerima bahwa dia nerima ee 24:03 kanser. 24:04 Luar biasa. ini menambah lagi tadi 24:06 bagaimana sikap merdeka di dalam salah 24:10 satu karakter menerima tadi sebuah 24:12 kondisi dirinya 24:14 orang sakit yang kita sebut mungkin 24:16 dokter sudah lepas tangan ya stadium 24:19 terminalkah sudah stadium lanjut 24:22 terbukti hasil penelitian orang yang 24:25 menerima itu punya angka harapan 24:27 terhadap kondisi kesehatan itu lebih 24:29 baik kualitas hidupnya dibandingkan 24:31 orang tadi ngeluh 24:33 dengan semua aduh dik kayak mau jadi 24:35 rontok, aduh jadi lemas. Itu tepat 24:38 sekali. Penelitian sudah membuktikan apa 24:40 yang tadi diungkapkan bahwa kebertimaan 24:43 kita di dalam hadapi satu kondisi sakit 24:46 menyebabkan kekuatan emosional sebelum 24:48 tu menghadapi hidup lebih sejahtera, 24:51 lebih tangguh, lebih resilience namanya. 24:53 Dia bisa tetap punya kelenturan, 24:55 kelentingan di dalam menghadapi beban 24:58 hidup. tidak pada konteks yang dikatakan 25:00 tadi penderitaannya, 25:02 He. 25:02 Tapi dia bisa melihat sisi lainnya ee 25:05 dengan berbagai macam cara yang disebut 25:07 dengan teknik-teknik mindfulness dan 25:09 sebagainya. Jadi setuju sekali ee betapa 25:12 tadi rangkaian daripada pertanyaan 25:15 apakah merdeka salah satu karakter 25:17 kebertimaan. Betul. Nah, kebertimaan 25:19 ketika kemudian kita hadapkan dengan 25:21 suatu kondisi sakit itu akan menjadi 25:23 kekuatan 25:24 di dalam juga melawan penyakit itu 25:26 sendiri. 25:28 Saya pernah dok e besuk seorang ustaz 25:30 dia mau diamputasi. Saya datang ke sana 25:32 saya ngilu lihatnya dia ketawa-ketawa 25:35 aja gitu. 25:36 Luar biasa sayaah tingkat kebertimaannya 25:38 dia ngajakin bencana saya enggak bisa 25:40 nerima bencana dia gitu. Gua mesti ber 25:43 apa bergurau gitu. 25:45 Luar biasa. Luar biasa. 25:46 Kenapa orang bisa seperti itu? Dia bisa 25:48 satu lagi yang enggak. Nah, makanya tadi 25:51 dalam konteks yang kita sebut eh basic 25:53 trust ya, setelah orang eh mendapatkan 25:57 kepercayaan 25:58 maka dia akan masuk ke dalam tahap 26:01 keduanya ya. Kalau tadi umur 0 sampai 1 26:04 tahun bayi menilai tentang bagaimana 26:07 lingkungan menerima dia, ini tahap 26:09 keduanya akan masuk ke dalam tadi 26:11 yang disebut dengan fase inisiatif. 26:14 Kenapa bayi enggak tahu kaki bisa 26:17 berjalan? 26:18 Hm. Bayi tidak tahu tangan bisa 26:20 mencengkeram. 26:22 Bayi tidak tahu apa yang ada dalam 26:24 perangkatnya. Betul-betul lu coba gigi, 26:27 mulut, enggak tahu. Tapi dia hanya 26:29 merasakan saja. 26:30 Lama-lama kan si mulut yang tidak hanya 26:32 menghisap mulai menggigit. He. 26:35 Kaki yang sudah mulai tadi pengin 26:36 ngerangkang, 26:38 tangan mulai menjamah yang awalnya tidak 26:40 terarah. He. 26:41 Nah, ketiga tidak terakhirlah kemudian 26:43 terjadi inisiatif. 26:45 Nah, orang yang kemudian sudah tadi 26:47 merdeka pada tahap ee kepercayaannya, 26:50 maka merdeka keduanya adalah di dalam 26:52 inisiatifnya dia. Nah, 26:54 banyak orang tua tidak paham ini 26:57 menilainya ini nakal. 26:59 Eh, kamu nih ee lagi nyusul digigit 27:02 sakit kamu. Padahal dia pasti tidak 27:05 berniat menyusu itu menggigit untuk 27:07 menyakiti. He. 27:08 Dia mencekam dengan batasan yang mungkin 27:11 ee sesuatu yang tidak terkontrol. ada 27:13 barang jatuh dia ya memang enggak tahu. 27:16 Nah, fase inisiatif ini kalau enggak 27:17 dimerdekakan oleh setiap lingkungannya 27:21 menjadi orang yang kemudian e tidak 27:23 percaya diri 27:24 karena akan merasa salah terus. Apa yang 27:26 dilakukan seperti ah salah ini enggak 27:29 boleh apalagi kemudian dipukul ee 27:31 dibatasi ee ditaruh aja di kerangkeng. 27:34 Udah kamu duduk manis aja enggak bisa di 27:36 merangkang. Aduh, udah kayak penjara tuh 27:39 dalam benak pikiran si bayi ini nih. Ini 27:41 lingkungan enggak percaya banget sih. 27:43 Pengin jalan enggak boleh. Ada hanya 27:45 dibatas sebuah tempat yang terbatas. 27:47 Memang tenang. Tapi dia menjadi orang 27:50 yang tidak percaya diri nantinya. Jadi 27:52 betul sekali bahwa tadi tingkat 27:54 kepercayaan itu akan meningkat ketika 27:57 fase inisiatif kehidupan juga 28:00 dimerdekakan. Bagaimana merdekakannya? 28:02 Tentu pada rambu-rambu yang sesuai. 28:04 Bukan berarti tadi kebebasan yang tanpa 28:06 arah. 28:07 Oke. 28:08 Oke. 28:08 Baik, Iwan dan AOT masih di acara ruang 28:10 kesehatan bersama 28:13 Dr. Dr. Fidiansyah, SpKJ, MPH. Kita 28:17 mengambil tema hakikat kemerdekaan bagi 28:20 kesehatan jiwa dari Bapak Herman. 28:22 Asalamualaikum eh Dr. Fidi. Dok, saya 28:25 mau tanya bagaimana cara membebaskan 28:27 diri dari rasa takut berlebihan terhadap 28:30 penilaian manusia? 28:32 Oke, 28:33 ya. Eh, ada istilah yang disebut dengan 28:37 gangguan cemas menyeluruh ya, 28:40 generalized anxiety disorder. Jadi, 28:42 suatu gangguan yang hampir mirip 28:45 dikatakan tadi, 28:46 cemas ya pada setiap situasi. Mau keluar 28:50 rumah cemas, masuk kantor cemas, 28:53 berinteraksi dapat tugas cemas, apa saja 28:55 ya, anak pergi cemas ya. Jadi sesuatu 28:59 yang kemudian dia tidak bisa lokalisir 29:02 mana batasan-batasan yang kemudian dia 29:04 harus bisa kelola. Nah, tentu ee kita 29:08 harus melihat secara komprehensif pada 29:11 empat hal. Yang pertama bahwa kecemasan 29:15 itu sendiri pada konteks yang kita sebut 29:20 masalahnya sudah lama maka sudah 29:22 terganggu yang disebut dengan 29:23 neurotransmitter di otaknya. 29:26 Jadi, neurotransmitter adalah sebuah zat 29:28 kimia yang akan menghubungkan antara sel 29:31 saraf satu dan yang lain-lain itu 29:33 bekerja. He. 29:34 Kalau di mesin tuh minyaknya, 29:36 I. 29:36 Nah, bayangkan mesin enggak ada minyak. 29:38 He. 29:39 Ya, dia akan rusak dan akan tidak 29:41 bekerja dengan optimal. Nah, kira-kira 29:43 di otak yang kemudian sudah terjadi 29:45 cukup lama dan terus-menerus itu terjadi 29:49 gangguan itu dan itu tidak bisa hanya 29:51 kemudian diperbaiki dengan ee tiga 29:53 teknik yang lain. Dia mau tidak mau 29:55 harus pakai farmakoterapi namanya. 29:57 Diberikan dulu zat-zat kimia yang 29:59 mencoba untuk menyerasikan lagi hubungan 30:02 antar sel saraf itu bekerja harmoni. 30:04 Nah, itu tergantung nanti pada konteks 30:07 yang dialami. Ada orang sudah enggak 30:09 bisa ngapa-ngapain tuh. Udah saking 30:11 cemasnya akhirnya hanya di rumah saja. 30:13 Enggak berani ngapa-ngapain ketemu orang 30:15 enggak berani ee melakukan tugas yang 30:17 enggak berani. Akhirnya kan 30:17 produktivitas terganggu. Sudah begitu 30:20 kepikiran lagi kan nanti akhirnya enggak 30:22 bisa tidur, 30:24 makan enggak nafsu. Jadi imbas ke 30:27 semuanya merembat ke fisiknya. Udah 30:29 enggak bisa tidur, enggak makan, 30:31 akhirnya enggak berdaya, mendingan mati 30:33 aja. Nah, itu kan imbas daripada suatu 30:36 ketidak ee cepatan di dalam membantu. 30:39 Padahal dia memang pada tahap tentu 30:41 perlu tuh neerotransmitter tambahan yang 30:43 kita sebut farmakoterapi. Namun tidak 30:45 semua ya tidak semua kasus ini harus 30:47 dimulai dengan farmakoterapi. Dia bisa 30:49 pada tahap yang keduanya yang disebut 30:51 dengan behavior therapy. Kita ubah 30:54 perilaku dia dari takut yang mungkin ee 30:58 sendirian ya terpaksa ditemani 31:00 prosesnya. Dia enggak bisa langsung. 31:03 Oke, kamu berhadapan dengan situasi apa? 31:05 Ditemenin dulu oleh orang yang relatif 31:07 menenangkan dia ketika men sesuatu. Itu 31:08 namanya behavior terapi. Kemudian kita 31:11 lakukan juga cognitive terapy bahwa 31:13 mindset itu akan menentukan 31:16 redanya apa yang dirasa. Maka tanamkan 31:18 ya saya tenang, saya damai ya saya 31:21 tenang, saya damai, saya aman. Tanamkan 31:23 tuh afirmasi positif namanya. Itu yang 31:25 disebut dengan cognitive behavior 31:27 therapy. Tidak cukup di situ harus 31:29 sosial terapi tadi melibatkan unsur 31:31 sosial. 31:32 ee ada beberapa kasus misalnya pada 31:34 pekerjaan ya dia enggak tepat 31:36 ditempatkan di situ padahal kapasitasnya 31:39 pintar setelah intelijensi tapi karena 31:41 tidak tepat ditempatkan pada tempat jadi 31:43 cemas dia. 31:45 Nah, setelah diperiksa kami 31:46 rekomendasikan mohon pihak HRD 31:48 mempertimbangkan penempatan ini setelah 31:51 ditempatkan yang cocok berkembang 31:54 gitu. Nah, itu yang disebut dengan 31:56 sosial terapi, lingkungan meli terakhir 31:59 spiritual terapi. Ada Allah, ada penjaga 32:02 yang kemudian bisa melindungi kita tentu 32:04 dengan masing-masing yang kita 32:05 praktikkan. Agama Islam dengan doa pagi 32:08 petang dan sebagainya. 32:10 Oke. Kemudian dari Bapak Mustafa di 32:11 Kerembangan. Asalamualaikum, Dr. Fidi. 32:14 Waalaikumsalam warahmatullah. 32:15 Di usia yang semakin lanjut seperti apa 32:18 yang seperti apa bentuk kemerdekaan yang 32:21 paling penting bagi kesehatan jiwa? 32:24 usia lanjut ya berarti sudah pada tahap 32:26 kalau RXR sudah di akhir aktualisasi ya 32:30 tadi masih konteksnya kebertimaan ya 32:34 bahwa jiwa ketika dia sudah berkembang 32:36 dan tumbuh pada level yang sudah paling 32:38 optimal yang kita sebut lanjut usia maka 32:41 tetap harus menumbuhkan kebermartabatan. 32:45 Nah, tetap usia yang lanjut bukan 32:48 berarti rapuh, lesu, dan tidak berdaya 32:51 tapi harus punya martabat. Jadi pada 32:54 orang-orang yang sudah masuk ee di atas 32:56 60 tahun, mari kita coba ee 32:59 keberterimaan tadi tentang pertama pasti 33:01 ada kemunduran fisiologis, tidak lagi 33:04 kemudian mata ee jelas, bahkan ada 33:07 koreksi dengan operasi katarak misalnya, 33:09 mungkin pendengaran kurang dikasih 33:11 alat-alat bantu dengar dan sebagainya. 33:13 Semua alat bantu ini menunjukkan ikhtiar 33:15 namanya. Jadi hindari suatu 33:18 keberpasrahan yang kemudian tanpa sebuah 33:21 koreksi. 33:22 Hm. Ya, mungkin lutut sudah agak sedikit 33:25 osteopor ya itu sudah keniscayaan 33:27 misalnya, 33:27 tapi ada koreksi yang bisa dilakukan. 33:29 Nah, yang pertama berterima dulu lalu 33:32 tetap koreksi. Mata bisa dikoreksi 33:34 dengan teknologi sekarang katarak bisa 33:37 ya. Kemudian perangkat-perangkat tadi 33:39 kurang dengar daripada kemudian juga 33:40 pembicaraan bisa ada alat bantu yang 33:42 bisa membantu. 33:44 Jadi kebertimaan harus diikuti dengan 33:47 ikhtiar. Karena ikhtiar pada usia lanjut 33:48 dalam kemerdekaan adalah 33:51 menerima adanya proses yang memang akan 33:54 ada perubahan pada lingkung itu sendiri. 33:56 Anak menikah punya anak dia akan sudah 33:59 memisahkan diri. Lingkungan yang tidak 34:01 punya jabatan pasti sudah kita post 34:03 syndrome. Enggak ada lagi 34:04 kemudahan-kemudahan keberterimaan juga 34:06 terhadap perubahan tadi. Namun sekali 34:08 lagi 34:10 tidak menutup kemudian upaya untuk 34:13 melakukan aktivitas. Ini yang harus 34:14 dijaga. Jadi jaga aktivitas. jaga tetap 34:17 sesuatu yang bisa ada kebermartabatan 34:21 terhadap ee usia yang sudah Allah 34:23 anugerahkan di atas 60 tahun. 34:26 Oke. Kemudian dari Bapak Maman Suerman. 34:29 Asalamualaikum Dr. Fidi. 34:30 Waalaikumsalam warahmatullahi 34:31 wabarakatuh. 34:32 Saya dari Depok nih ingin bertanya, 34:34 introvert itu termasuk penyakit jiwa 34:36 atau bukan? 34:38 Ya, dalam istilah psikologi ada dua 34:42 kategori karakter seseorang dibagi pada 34:44 introvert dan ekstrovert ya. 34:47 yang ingin menggambarkan sesuatu pola 34:49 introvert artinya apa? Dia lebih suka 34:53 segala sesuatu dia internal sendiri 34:55 tidak bisa diekspresikan. 34:57 Marah dia pendem, kesal dia pendem. 35:00 Sebaliknya kalau dia mudah sekali 35:03 sedikit aja marah langsung bukan hanya 35:06 verbal bahkan bisa prak prak prak bisa 35:10 gebrak meja misalnya gitu kan. E ituvert 35:13 menggambarkan bagaimana dia mencoba 35:16 meluapkan apa yang sedang terjadi dengan 35:18 segala macam mekanismenya misal mulai 35:20 dari mulut, gestur dan sebagainya. 35:22 Apakah dua kategori ini selalu 35:25 berkonotasi negatif? Tidak. Sebetulnya 35:28 dalam konotasi yang kita sebut the right 35:31 man on the right place, peran para HRD 35:33 maupun para kesehatan mental yang 35:36 membantu adalah tadi orang introvert itu 35:39 tentu akan tumbuh dan berkembang pada 35:42 suasana milu yang tidak perlu 35:43 berinteraksi. peneliti itu perlu 35:45 introvert kan dia asik saja 35:48 ya it pembuat programming ya sudah 35:51 dia hasil dengan komputer 35:54 dia enggak bisa mengekspresikan silakan 35:55 diekspresikan dengan perangkat teknologi 35:58 penelitian tumbuh itu. Jadi tidak selalu 36:01 tadi apa yang dikatakan karakter itu 36:03 menjadi terhambat karena adanya suatu 36:06 pola. Namun tentu suburnya potensi tadi 36:10 karena kita menyesuaikan dengan 36:11 lingkungan inilah merdeka dia. dia 36:13 merdeka dengan keintrovertannya begitu 36:15 dengan dia MC itu harus strovert. Misal 36:18 gitu kan pembawa acara ee apa customer 36:21 service itu harus strovert karena dia 36:23 harus bisa menampilkan peran di dalam 36:26 interaksi ya. Jangan kemudian 36:28 orang-orang yang begitu ditan di 36:29 laboratorium 36:32 malah terpendam dia. Enggak merdeka dia 36:34 ketika keekstrofannya 36:36 dibelenggu dengan pekerjaannya. 36:38 Oke. Dari Ibu Yuni di Ciputat, Dr. 36:40 Fidiansah. Saya Ibu Yuni di Ciputat. 36:43 Bagaimana dengan jiwa yang terus-menerus 36:45 didera perasaan bersalah karena 36:47 kesalahan-kesalahan masa lalu? Apakah 36:49 juga disebut jiwanya belum merdeka? 36:52 Bagaimana menghapus atau 36:55 minimalisir 36:56 meminimalisir perasaan bersalam walaupun 36:59 telah meminta maaf dan bertobat dari Bu 37:02 Yuni di Ciputat. 37:03 Subhanallah. ini ee Bu Yuni tentu rasa 37:06 bersalah adalah keniscayaan. Karena kita 37:09 bukan ee makhluk yang tidak pernah 37:12 khilaf, tidak pernah salah. Pasti ada 37:13 salah. Namun kan ketika segala sesuatu 37:16 berlebihan bahaya. 37:17 Hm. 37:18 Jadi apapun ketika rasa bersal 37:20 berlebihan tentu berbahaya. Ketika kita 37:22 tadi menginternalisasikan tentang apa 37:25 yang kita sebut ee rasa bersalah bisa 37:27 dua. 37:28 Heeh. 37:29 ada kekecewaan kita karena sesuatu 37:32 kondisi ya sehingga kita merasa bersalah 37:35 atau sebaliknya ada orang yang 37:37 menimbulkan memang dampak kepada kita 37:40 sehingga menimbulkan sesuatu kemarahan 37:43 juga rasa bersalah juga nih kenapa jadi 37:45 terjadi begitu. Nah, tentu pada kedua 37:47 kondisi ini bisa dilakukan ee apa yang 37:50 tadi Bu katakan dalam konteks upaya 37:53 kesehatannya disebutkan forgiveness 37:54 terapi. 37:56 Terapi memaafkan dulu. 37:58 Hm. memaafkan pertama untuk diri kita. 37:59 Betul sekali. Makanya kemudian tadi Bu 38:02 Yunit merupakan hal yang bagus ketika 38:05 kita menginternalisasikan tadi 38:08 saya khilaf, saya salah dengan segala 38:10 macam doa yang bisa kita panjatkan ya. 38:13 Rabbanaamna anfusana waillam tagfirlana 38:15 watarhamna. Itu kan doa yang ketika Nabi 38:18 Adam dengan Siti Hawa mendapatkan suatu 38:22 kafarah yang dari sesuatu kondisi 38:25 dipisahkan. Lalu mereka ketemu itu doa 38:28 itu yang menggambarkan iya ya betapa 38:31 aniaya diri kami ya. Kalau bukan karena 38:33 maaf dan ampunan-Mu ya Allah kami 38:35 menjadi orang yang aniaya. Jadi ini 38:37 lanjutkan ya kebiasaan tadi untuk bisa 38:41 ee berdamai dengan diri kita dengan 38:44 memberikan ee ungkapan tadi pernyataan 38:46 yang berhubungan dengan kekhilafan kita. 38:48 Nah apa yang kemudian dengan orang lain? 38:51 Berikan. 38:53 Jadi, maaf itu bukan hanya untuk diri 38:55 kita, tapi juga berikan juga untuk pihak 38:57 lain. Nah, ini sering orang terjebak 38:59 ketika memaafkan itu nunggu orang itu 39:01 minta maaf. Pokoknya gua enggak maafin 39:04 kalau enggak minta maaf sampai mati 39:06 sampai kiamat. 39:08 Belum tentu gitu. Dia sendiri berada 39:10 pada suatu kestabilan. Nah, itu berarti 39:13 konflik pada dirinya. Jadi, memaafkan 39:15 untuk orang lain jangan menunggu syarat 39:17 yang bersangkutan harus minta maaf. He. 39:20 Karena itu yang akan menjadi justru 39:22 belenggu bara api ketika kita enggak 39:24 maafkan sesuatu kondisi. Sudah maafkan 39:27 saja. Lepas daripada gua udah maafin 39:29 entar berulang lagi. 39:32 Maafin berulang lagi. Yaah. Tiada batas 39:35 pakai paket unlimited. 39:37 Kalau kita kuotanya kan unlimited kan, 39:39 pakai Wii unlimited, pakai ini. Maaf 39:43 juga adalah kondisi yang enggak boleh 39:45 pakai paket yang terbatas, unlimited. 39:48 Baik dari hamba Allah nih. 39:50 Asalamualaikum, Dr. Fidi, 39:52 Dok. Bagaimana Dokter melihat ulah para 39:54 pejabat di atas sana dari sisi 39:56 kejiwaannya? Kadang saya sebagai awam 39:59 merasa aneh dengan 40:00 kebijakan-kebijakannya. Apakah banyak 40:03 dari mereka NBD? 40:06 Iya, 40:06 pertanyaan di pinggir juran. 40:09 Tentu memang di dalam mencoba 40:10 menganalisis satu kasus ada kode etik 40:14 yang tentu terbatas pada pekerjaan kami. 40:17 Kami tentu tidak bisa melakukan satu 40:19 penilaian daripada satu kasus tanpa 40:22 adanya memang pemeriksaan. Jadi kalau 40:26 sifatnya hanya sebuah fenomena sosial 40:27 tentu memang kita harus lebih hati-hati 40:30 karena kalau tidak nanti terjebak dengan 40:32 hal yang terlalu berlebihan. Namun 40:34 memang tentu kita perlu waspadai ya apa 40:37 yang terjadi pada kondisi yang kita 40:39 katakan tadi para pejabat, para penentu 40:42 kebijakan yang memang ee mestinya 40:46 menjaga dan melanjuti kemerdekaan itu 40:48 sendiri dari amanahnya tadi. Nah, tentu 40:51 kita berharap segala apa yang sudah kita 40:54 lalui, kita berharap Allah terus makin 40:57 perkokoh ee kemerdekaan yang set ketahi 41:00 sehingga para pejabatnya pun kita doakan 41:02 ya betul-betul mendapatkan satu momen. 41:04 Nah, bagaimana peran kita? Ya, jangan 41:07 berhenti juga untuk menyuarakan 41:08 kebenaran. Hm. 41:10 Jadi ketika kita sendiri melihat adanya 41:12 suatu penyimpangan bahkan yang sudah 41:14 membahayakan dari sesuatu kondisi ee hal 41:17 yang pada hajat banyak, orang pintar 41:20 diam itu lebih berbahaya. 41:22 Hm. 41:23 Diamnya orang-orang yang mengetahui 41:25 adanya suatu ee kemudaratan itu lebih 41:28 berbahaya 41:30 ketimbang dia memang kemudian harus 41:32 menyuarakan. Makanya tentu juga 41:34 menyuarakan dengan yang dikatakan 41:36 perintah yang Allah berikan. 41:39 bilufanha 41:40 munkar. Menyerukan juga dengan teknik 41:43 yang makruf dan mencegah kemunkaran pun 41:46 juga harus dengan teknik yang makruf 41:47 gitu. 41:48 Jadi bukan berarti demo tanpa sebuah 41:51 proses yang ee betul-betul terkoridor 41:54 pada koridor-koridor aturan. Menyuarakan 41:56 kebenaran pun bukan fitrah dan 41:58 sebagainya. Jadi selama koridor-koridor 42:00 ini kita lalui, kita berperan pada semua 42:03 level. Jadi apa yang tadi dirasakan 42:05 ketika kita tahu suarakan ya suarakan 42:08 apa yang menjadi hajat orang banyak yang 42:10 terganggu untuk kita ingatkan 42:13 ya. Oh, soal yang ini tema kenapa ya 42:15 banyak peminat sekali nih tema ini nih 42:18 dari Asalamualaikum Dr. Fidi. Saya 42:21 Alfarido dari SMK Tarunabakti ingin 42:25 bertanya Dr. E Fidi. Dalam konteks 42:28 kesehatan mental manakah bentuk 42:30 keterjajahan jiwa modern yang paling 42:33 sering menghambat 42:35 independensi individu 42:38 dalam konteks modern? Ya. Ya. Jadi betul 42:42 ini ee SMK tentu sebuah komunitas yang 42:45 sedang mencoba untuk menumbuh kembangkan 42:47 potensi-potensi orang yang terarah. 42:49 Makanya lulusan SMK kan diharapkan siap 42:51 pakai ya. Ee berbeda dengan 42:53 lulusan-lulusan SMA. Nah, di era modern 42:56 yang sekarang harus kita waspada ada 42:58 gerakan yang disebut dengan saintologi 43:01 ya atau tadi yang sedikit sudah ee 43:04 disampaikan itu perang nonmiliter atau 43:08 perang proxi. Perang yang bukan 43:11 menghadirkan adanya bala tentara, 43:13 artileri dan sebagainya, tapi perang 43:15 pemikiran yang akan menyusui, 43:17 mengintervensi paradigma-paradigma 43:19 tentang pemikiran yang kita sebut logis 43:22 ya, bahkan dikatakan ilmiah, akademik 43:24 dan sebagainya. ini yang harus 43:26 diwaspadai generasi sekarang. Karena 43:28 susupan ini yang mereka sekarang mencoba 43:31 untuk memberikan sebuah ee 43:35 dogma baru bahwa di dunia yang penuh 43:38 dengan kemajuan teknologi, maka 43:40 referensi yang harus kita pakai adalah 43:42 referensi yang selalu ada perbaharuan. 43:46 Jadi bahaya ee perang proksi sekarang 43:48 adalah bahaya tentang referensi. 43:51 referensi mereka selalu mencoba 43:53 berkiblat pada buku-buku atau teks-teks 43:56 yang dikatakan selalu ada revisi, revisi 43:58 1, revisi 2, revisi 3. Mereka ingin 44:01 menggiring kalau ada sebuah buku enggak 44:03 ada revisi, berarti itu enggak bukan 44:04 menjadi referensi. 44:06 Oh, gitu. 44:06 Hati-hati nih kitab suci kan enggak ada 44:09 enggak ada revisi. Al-Qur'an dari 14 44:11 abatelnya kayak begitu. Nah, itu 44:12 dianggap ini bukan buku bermutu. H 44:15 kan enggak ada Al-Qur'an versi 2002, 44:17 versi 2005. Itu paradigma yang memang 44:20 kita harus hati-hati sehingga sekarang 44:22 mereka menyisihkan kitab suci sebagai 44:25 referensi yang sudah usang. Nah, ini 44:28 hati-hati ya. Dunia kemajuan teknologi 44:30 mencoba menggiring seolah logika ee 44:33 keilmiahan menjadi tolak ukur daripada 44:36 suatu kebenaran. Padahal biar bagaimana 44:39 referensi kitab suci lebih dari 44:41 segalanya. Bahkan dalam konteks Islam 44:44 sudah sangat jelas itu ketika Rasulullah 44:47 mencoba untuk menyampaikan risalahnya 44:48 terakhir tarok fikum amr aku tinggalkan 44:51 dua perkara lantadiluakum 44:54 kamu tidak akan sesat selama ber 44:56 Al-Qur'an dan hadis jadi hati-hati 44:59 kemajuan teknologi keniscayaan bahkan 45:01 kita menjadi mudah ya dengan radio rasil 45:05 bisa di ada di mana-mana karena kemajuan 45:06 teknologi ya itu keniscayaan 45:08 tapi yang akan disampaikan dakwah nah di 45:11 situ bedanya nya. Jadi bagaimana 45:13 kemudian teknologi dipakai juga untuk 45:15 menyampaikan peran-peran dan 45:16 kebermanfaatan. Mudah-mudahan kalau dua 45:19 ini digabungkan seperti inin ya, 45:21 ilmu tanpa agama itu bisa sesat karena 45:25 ini enggak ada arah. 45:26 Bom nuklir ditipakan untuk membunuh ya 45:29 padahal nuklir dipakai buat teknologi 45:31 kesehatan. Bisa itu bedanya di situ. 45:34 Begitu juga agama kalau dia tidak 45:36 menggunakan teknologi dia akan ee 45:39 lumpuh. Artinya lu enggak ada 45:41 akselerasi. Bayangkan kalau sampai 45:43 sekarang, "Oh, Nabi pergi haji pakai 45:44 unta, umat Islam pergi hanj nurutin 45:47 pakai unta, kapan nyampainya sampai Arab 45:49 Saudi gitu? Itulah kira-kira teknologi 45:52 cuma 10 jam nyampai. Jadi itu kombinasi 45:55 agama dengan ilmu ketahuan adalah 45:57 sesuatu yang saling melengkapi." 45:59 Oke, selanjutnya dari Bapak Bahti 46:02 Pamulang. Dok, jika seseorang bebas 46:05 secara fisik tetapi terus dikuasi oleh 46:07 amarah, iri, dendam, dan kecemasan, 46:10 apakah ia sudah benar-benar merdeka? 46:14 Ya, ini masuk ke dalam ee juga substansi 46:17 kemerdekaan tadi bahwa merdeka sekali 46:19 lagi bukan kemudian terbebas dari cara 46:23 mengekspresikan perasaan. Jadi betul 46:25 sekali bahwa kalau dia sudah kemudian ee 46:29 terbawa oleh pelampiasan emosi ya tentu 46:33 sudah menjadi isyarat ini belum merdeka. 46:36 Jadi merdeka itu juga tentu dengan 46:39 makruf dengan kalimat, kata, tindakan 46:42 yang santun. Dan itu yang Rasulullah 46:45 peragakan di dalam konteks sejarahnya. 46:48 Bayangkan ketika sudah dalam tekanan 46:50 yang sudah tidak lagi sanggup, beliau 46:52 enggak memang juga ngebray hijrah. 46:55 Ketika hijrah masih diperangi lagi, 46:57 masih pengin diserang lagi, ya bertahan 47:00 melawan. Tapi bukan berarti menyerang. 47:02 Tapi begitu menyerang fatu Makkah tidak 47:04 ada setetes darah pun. Jadi dendam iri 47:07 dan sebag itu memang harus terbebaskan 47:11 dalam konteks yang memang kita katakan 47:12 merdeka. Merdeka juga dalam cara 47:15 mengekspresikan perasaan tetap santun. 47:18 Dekat makruf tetap baik tetap sesuai kur 47:20 agama. 47:21 Ya. 47:21 Oke. Dari Ibu Rini. Asalamualaikum Dr. 47:26 Fidi. Mohon maaf di luar konteks. Dok, 47:28 mohon maaf kalau orang sudah keluar dari 47:31 rumah sakit jiwa, apakah lalu dia nanti 47:33 akan kambuh lagi atau sudah bebas? Jadi 47:36 dia tidak terkena lagi gangguan jiwa. 47:39 Oke, gangguan jiwa ada tiga level yang 47:41 secara umum bisa kita sederhanakan. 47:43 Ringan, sedang, dan berat. Biasanya 47:45 kalau orang sudah dirawat tentu kategori 47:48 berat sehingga proses pemulihannya 47:51 membutuhkan ee waktu yang relatif lebih 47:54 panjang. Apakah bisa pulih? Sangat bisa. 47:59 Makanya kita yakin setiap penyakit ada 48:01 obatnya. Itu rumusnya. He. 48:03 Masalah kambuh sama seperti flu kalau 48:06 kita ilustrasikan. 48:08 Tadi yang bertanya siapa? Ibu Rini ya. 48:11 Ibu Rini ya. 48:11 Ibu R kan terserang flu hari ini. 48:15 Apakah tidak menutupkan 6 bulan yang 48:17 akan datang bisa flu? Bisa. Apa 48:20 dikatakan flu-nya enggak sembuh? Fluya 48:23 sembuh. Hanya daya tahan kita turun 48:25 lagi. Tidur kita mungkin tidak ini gizi 48:28 kita masuk lagi kuman virus influensanya 48:31 ya kena flu lagi. Kondisi kesehatan jiwa 48:33 juga begitu. Ketika dia kita pulihkan, 48:36 maka semua ee benteng-benteng termasuk 48:40 obat di situ bagaimana cara berpikir, 48:42 cara berpilaku dilakukan, maka dia bisa 48:45 menjaga stresor-stresor yang bisa 48:47 mengambuhkan. 48:48 Tapi ketika cara-cara benteng ini dia 48:51 enggak lanjutkan, ah udah enak ah obat 48:54 enggak diminum, mutusin sendiri. Ketika 48:56 ada stres sedikit ya kampu lagi. 49:00 Jadi sangat bisa pulih sebesar apapun 49:03 derajat daripada ringan, sedang dan 49:05 berat. Gangguan jiwa yang dialami setiap 49:07 orang dengan semua ikhtiar yang kita 49:09 lakukan pada empat pendekatan. Pada 49:11 jasadiahnya kita lakukan tadi pendekatan 49:13 obat pada psikologis kognitif terapi. 49:15 Pada sosialnya kita berikan sosial 49:17 terapi. Pada spiritualnya kita berikan 49:19 spiritual terapi. 49:21 Oke, mungkin ini pertanyaan terakhir, 49:23 Dok. Mohon maaf ee dokter praktiknya di 49:25 rumah sakit jiwa mana. 49:28 Iya saya di baseecamp saya di Marzuki 49:30 Mahdi Bogor ee di Jalan Cilendek 49:34 tepatnya Jalan e Sumeru 114 itu rumah 49:37 sakit jiwa pertama di Indonesia. 49:40 Oh. 49:40 Dibangunnya 1882. 49:44 Ini pertanyaan masih banyak aja masuk 49:46 nih dari Bapak Joko Santoso Cinere. Saya 49:49 mau tanya ciri-ciri stres itu apa? Oke. 49:53 Ya, kalau sering kita di ee sekedar jok 49:56 saya tanya setiap orang, "Mas Kristen 49:58 lagi stres enggak hari ini?" Stres. 50:00 Nah, itu jawaban yang betul. Sering 50:03 orang mengatakan enggak, saya lagi 50:04 enggak stres. Oh, itu udah udah pasti 50:06 denial namanya. Ya, dia mencoba untuk 50:09 tidak menerima. Karena stres adalah 50:12 keniscayaan sepanjang manusia hidup. 50:14 Heeh. 50:15 Harus. Karena dengan adanya stres kita 50:17 melakukan ikhtiar, melakukan proses 50:19 adaptasi namanya. Jadi kata kunci stres 50:22 bukan terletak pada sumber stresnya. 50:25 Apakah kemiskinan itu selalu membuat 50:27 orang sakit jiwa? Tidak. Apakah justru 50:30 orang kaya justru memang membuat orang 50:33 sakit jiwa? Tidak. He. 50:35 Apakah orang berpendidikan menjamin 50:37 tidak sakit jiwa? Tidak. Apakah sebalik 50:38 orang yang tidak pendidikan menjadi juga 50:40 akan sakit jiwa? Tidak. Jadi sumber 50:42 stres pada sifatnya netral. Siapa yang 50:45 menentukan daya adaptasi? namanya 50:47 daya apa seorang ketika menghadapi stres 50:49 tadi 50:50 ada orang miskin ya justru miskin 50:53 membuat dia saya akan berusaha dengan 50:56 segala macam keterbatasan saya enggak 50:58 mau berada pada kondisi yang terpuruk 51:01 namanya dia Eustress itu ada orang kaya 51:04 nih aduh hidup sudah serba enak enggak 51:06 ngapa-ngapain Rp50 juta ditransfer Bapak 51:08 ibunya 51:10 seks bebas narkotika enggak produktif 51:14 saking enaknya jadi kata Kata kunci 51:16 menghadapi stres bukan pada sumber 51:18 stresnya, tapi bagaimana melatih daya 51:20 adaptasi. Itulah yang diajarkan di dalam 51:22 proses pemulihan. Dan agama mengajarkan 51:26 itu. Agama pada dasarnya mengajarkan 51:28 bagaimana kita mencoba untuk 51:32 memerdekakan jiwa kita melalui kiat-kiat 51:35 yang agama sudah pedomani. 51:38 Baik. 51:39 Alhamdulillah ya. Ee tadi sudah dijawab 51:42 ya ee praktiknya dr. di Bogor ya, di 51:46 Rumah Sakitzuki 51:47 Marzuki Mahdi. Silakan kalau mau 51:49 konsultasi bisa datang ke sana. Terima 51:51 kasih, Dok, atas 51:52 sama-sama 51:53 tema yang diajukan pada pagi hari ini. 51:56 Hakikat kemerdekaan bagi kesehatan jiwa. 51:59 Laku keras nih, banyak pertanyaan. 52:00 Terima kasih, Dok. Mudah-mudahan kita 52:03 bisa berjumpa lagi di ruang kesehatan 52:04 lainnya. Saya Muhammad Krishna Ondi 52:07 Saputra dan Algi mohon pamit. Wabillahi 52:09 taufik walhidayah. Wasalamualaikum 52:10 warahmatullahi wabarakatuh.