Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:12 Assalamualaikum Bang Ihsanuddin Nursi. 0:15 Waalaikumsalam 0:17 warahmatullahi wabarakatuh. 0:19 Sehat selalu Bang, ini pendengar Brasil 0:23 Turki beberapa tempat telah menunggu 0:25 Bang Ihsanuddin Nursi di ujung telepon. 0:27 Apa kabar Bang pagi hari ini? Sehat 0:29 selalu 0:31 Ramadan satu hari lagi kalau enggak 0:32 salah ya. 0:33 Kalau kalau fisik kita sama pikiran kita 0:37 sehat. 0:38 Tapi kalau keuangan negara lagi acak 0:41 adut. 0:42 Nah ini dia, ini dia. Ini yang luar 0:45 biasa nih, ini ribuan triliun menjadi 0:48 taruhannya. Ya bukan hanya 300-an 0:51 triliun tapi pidana korupsi ini 0:53 pencucian uang di Republik ini nampaknya 0:56 luar biasa tenang-tenang kan masih ada 0:59 11 triliun lagi di kantong. Nah siapa 1:01 tuh yang ngomong dulu? Saya lupa ini ada 1:03 tulisan dari pendengar macam begitu. 1:06 Tapi Bang Mahfud MD ini Menko yang satu 1:10 ini entah ini Menko yang membuat undang 1:13 merubah undang-undang yang mana saya 1:14 lupa itu ya. Tapi kayaknya Bang Mahfud 1:17 ini mengingatkan terus bahkan sekarang 1:19 ini sudah 349 1:22 triliun TPPU. Kalau headline hari ini 1:25 diberi judul lebih berbahaya daripada 1:28 korupsi. Mungkin bisa menjelaskan Bang 1:31 ini ada korupsi gaya baru atau gimana 1:34 ini Bang ini? 1:35 Ini baru satu apa nih baru satu 1:37 institusi ya belum Departemen Agama, PU 1:40 PR apa yang lainnya gitu belum nih ini 1:43 ceritanya. Silakan Bang. 1:45 Bismillahirrahmanirrahim. 1:47 Assalamualaikum warahmatullahi 1:49 wabarakatuh. 1:49 Waalaikumsalam warahmatullahi. 1:51 Emm. 1:53 Saya kemarin diundang oleh 1:56 oleh Kesatuan Aksi Menyelamatkan 1:59 Indonesia. 2:00 Ehm. 2:01 Bicara tentang 2:03 300 triliun itu yang 2:05 melibatkan 2:07 Ehm. 2:07 Ehm. 2:09 Puluhan 2:10 pegawai 2:12 Ehm. 2:12 Ehm, Kementerian Keuangan gitu. 2:14 Ehm. 2:16 Saya bilang 300 triliun itu seujung kuku 2:18 cuma saya bilang. 2:19 Wah, loh. 2:21 Ehm. 2:22 Ehm, belajar dari apa yang pernah saya 2:25 ungkapkan ke publik saya bilang. 2:27 Ehm. 2:27 Belajar dari data-data yang saya himpun. 2:31 300 triliun itu enggak ada apa-apanya 2:32 apalagi statusnya TPPU karena 2:35 ehm 2:36 harta tidak wajar yang dimiliki oleh 2:38 pejabat 2:40 Kementerian Keuangan dari mulai 2:42 eselon 3 gitu ya yang 2:45 tidak punya kewajiban untuk membuat ehm, 2:47 laporan harta kekayaan 2:50 pejabat negara gitu. 2:51 Ehm. 2:52 Ehm, itu sudah 2:54 sudah terjadi di institusi lain. 2:57 Ehm, mereka yang pangkatnya cuma 3:00 tamen gitu ya yang rendah-rendah gitu. 3:03 Itu sudah bisa beli harta luar biasa di 3:06 bidang properti. 3:08 Membangun restoran, tempat bermain luar 3:10 biasa di 3:11 di tempat-tempat wisata yang semestinya 3:13 tidak bisa dibangun tapi mereka bisa 3:15 bangun gitu. Itu kan pencucian uang. 3:19 Jadi kalau kalau kita pergi ke 3:21 kawasan-kawasan tertentu gitu ya, 3:23 misalnya kita pergi ke 3:25 daerah Garut, di daerah Bandung, di 3:27 daerah ehm, Puncak, di daerah ehm, 3:31 mana-mana gitu ya. Itu ada tempat-tempat 3:33 yang sebenarnya mustahil dibangun tapi 3:35 menjadi demikian hebat dibangun karena 3:38 karena ada duitnya. 3:39 Karena ada duitnya. 3:41 Belum belum ada konsum, konsumennya 3:43 belum ya? 3:44 Yang penting ada duitnya dulu. 3:46 Bukan enggak, itu kan kalau residensial 3:48 belum ada konsumennya. Ini tempat makan, 3:50 tempat kuliner, tempat wisata. 3:52 Ehm. Yang mestinya tidak ehm, 3:54 dan itu sulit untuk dibangun tapi bisa 3:56 dibangun gitu, aneh gitu maksud saya. 3:58 Dan itu investasi besar. 4:00 Dan itu bukan hanya terjadi di kawasan 4:01 Jawa Barat, di kawasan Banten juga sama. 4:05 Eh, dibangun sedemikian megahnya, 4:07 mewahnya dengan konstruksi luar biasa 4:09 itu juga terjadi kayak gitu. Itu bagian 4:11 dari TPPU. Artinya tidak wajar. Kalau 4:15 Rafael Alun Trisambodo kan jelas 4:17 kelihatan. Dia punya eh, dia punya emas 4:21 sampai 60 kilo, dia punya duit sampai 4:25 56,1 4:26 miliar. Lalu ada 13 istri pejabat pajak 4:31 punya saham di 28 perusahaan. Itu kan 4:35 ini enggak, ini bentuknya properti gitu. 4:37 Yang di dalam bentuk properti itu kita 4:39 lihat ini dahsyat, ini luar biasa ini. 4:42 Kalau betul-betul duitnya itu duit halal 4:44 gitu ya, tidak mungkin bangun investasi 4:46 kayak gitu gitu loh. Logikanya gitu 4:47 gitu. 4:48 Dan orang langsung curiga dan terjadi 4:50 juga di tengah kota. 4:52 Cuma eh, ditunjukkan dengan cara pakai 4:54 proksi tertentu. Misalnya proksi si A, 4:57 tapi ternyata bukan si A yang punya. Si 4:59 A cuman sekedar namanya aja, di 5:00 belakangnya adalah 5:02 pejabat ini gitu. 5:04 Itu pencucian uang. Nah, kalau ditemukan 5:06 itu kayak gitu gitu ya, mestinya kan itu 5:09 nampak pada eh, eh, transaksi keuangan, 5:12 pada aliran dananya kayak apa, ke mana 5:15 larinya gitu. Ah, itulah yang ditemukan 5:17 oleh PPATK yang disampaikan ke Mahfud 5:19 sejak 2009 dan sampai dengan 2000 sampai 5:23 dengan Februari kemarin 2023. 5:25 Jumlahnya 300 triliun. Saya bilang 5:28 begini, 5:29 kalau kita hitung dari 2009 sampai 5:32 dengan Februari 2023, 5:34 eh, eh, berapa per tahunnya? Maka 5:37 didapat angka antara 20 sampai dengan 5:40 23,5 triliun. Kalau didapat angka 20 5:44 sampai dengan 23,5 triliun, maka per 5:47 bulannya begitu ya, itu kan yang 5:49 dimainkan angka sampai 900 sampai 900 5:52 miliar kan. 5:53 Ehm, iya iya. 5:55 Kan kan 5:57 sampai kayak gitu kan sampai sampai 5:58 sampai sampai 1,8 sekian miliar 6:02 sampai kayak gitu 20 triliun dibagi aja 6:04 12 gitu. Makanya dapat sampai 1,8 900 6:07 sampai 1,8 triliun angkanya. Kebayang 6:11 enggak di mereka berputar uang sampai 6:13 kayak gitu gitu. Ratusan miliar sampai 6:16 dengan triliun. Nah itu baru cerita 300 6:19 triliun. Padahal kalau pakai 6:21 pakai 6:23 konstruksi misalnya strategic transfer 6:25 pricing di mana rata-rata 6:27 perusahaan-perusahaan besar apakah asing 6:29 atau domestik rata-rata melakukan 6:32 strategic transfer pricing yakni 6:34 pendapatan diubah menjadi biaya. 6:38 Angkanya jauh lebih gede tuh. 6:41 Sebagaimana pernah terungkap oleh audit 6:43 BPK di mana kita minta sebuah perusahaan 6:46 yang kerja sama dengan BUMN ternyata 6:48 melakukan strategic transfer pricing 6:50 gitu. Itu diaudit oleh BPK dan terbukti. 6:53 Saya misalnya punya datanya juga 6:55 misalnya tentang perusahaan-perusahaan 6:56 asing yang melakukan kayak gitu-gitu. 6:58 Itu kan karena pemerintah tidak tidak 7:01 punya nyali menghadapi investor-investor 7:04 asing yang melakukan kayak gitu-gitu. 7:06 Jadi bukan hanya para pejabat 7:08 perusahaan-perusahaan asing juga 7:09 melakukan kayak gitu. Jadi modus nominal 7:12 pajaknya berapa tarifnya berapa lalu 7:15 terjadi penurunan atas bayar pajaknya 7:17 gitu. Pada kasus ehm 7:20 pada kasus Rafael kan bisa kelihatan ke 7:22 mana transaksinya apa waktu itu dia 7:24 menjabat apa. 7:26 Begitu juga pada perusahaan-perusahaan 7:27 besar misalnya kita ingat begini 7:29 ehm ketika ehm kasus Hadi Purnomo 7:32 mencuat walaupun kemudian oleh PTUN 7:35 dibebaskan tapi modus operandinya 7:37 kelihatan tax loss carry forward. Gitu. 7:40 Ehm begitu juga pada kasus Gayus 7:43 Tambunan, saya ada saya punya ada 7:45 sekitar dalam inventaris saya itu ada 7:47 ada 13 nama gitu ya. Di dalam di dalam 7:51 eee eee 7:52 12, sori, 12 nama. Ada 12 nama yang bisa 7:56 kita urut habis-habisan dalam masalah 7:57 pajak. Jadi ketika kita masuk ke dalam 8:00 TPPU ya TPPU berarti kan 8:03 eee itu baru sekedar yang masuk ke dalam 8:05 perbankan. Nah, saya cerita tadi tentang 8:08 yang masuk-masuk ke dalam dunia properti 8:10 baik apa itu tempat wisata, tempat 8:12 kuliner atau tempat lain-lain gitu. 8:16 Ada lagi yang modusnya eee agak aneh 8:18 dikit. Tahu enggak apa kira-kira? 8:19 Apa tuh, Bang? 8:20 Ehm. 8:21 Beli lukisan. 8:22 Lukisan. 8:24 Iya, kalau 8:27 Iya. 8:28 Nah, itu ada beli lukisan kayak gitu. 8:31 Prestasi ya. 8:32 Ya, memang luar luar biasa ini apa di di 8:36 tengah eee apa maraknya korupsi yang 8:40 nampaknya kalau zaman dulu kan kita 8:42 bilang su 100, 200 juta sudah kaget. 8:46 Sekarang tuh bukan miliaran lagi, 8:48 triliun. Wih. Gila apa memang sedemikian 8:50 atau memang uangnya itu sudah 8:52 terdegradasi dengan inflasi atau gimana, 8:54 Bang, sebenarnya? 8:56 Nah, eee saya mencoba menarik relasi 9:00 eee 9:01 kan tesis besarnya begini. Saya 9:04 eee saya pernah khusus belajar soal 9:07 begini gitu ya. 9:08 Karena itu nama saya masuk di Panama 9:10 Papers lalu kemudian saya belajar ke 9:12 mana-mana gitu ya. 9:14 Nama saya masuk sudah terlanjur nama 9:15 saya masuk, saya gua belajar aja 9:16 sekalian nyemplung di situ gitu. 9:19 Apa sih jalurnya gitu? Ah, penelitian 9:21 partisipatif namanya. 9:23 Eee. 9:25 Ehm. 9:25 Dalam konstruksi misalnya 9:28 kita ambil eee 9:31 transaksi-transaksi itu 9:33 itu sebenarnya sederhana modusnya karena 9:36 ini eee model Indonesia dalam perpajakan 9:38 adalah self assessment atau menilai 9:41 sendiri atas 9:43 atas pajak yang harus dia bayar gitu ya, 9:46 menjadi wajib pajak ee menjadi wajib 9:48 pajak yang baik dan belum tentu menjadi 9:51 petugas pajak yang baik gitu ya, kalau 9:53 kita lihat kayak gitu. 9:55 Maka ee kata kuncinya adalah tadi 9:58 perpajakan itu berarti di Direktorat 10:00 Pemeriksaan dan Pengawasan, nah gitu. 10:03 Nanti bisa dilihat kayak gitu. Itu nanti 10:05 soal datanya segala macam itu bisa 10:07 dilihat diambil di situ gitu. 10:10 Itu salah satu modus ininya. Nah, kalau 10:12 kita mau ngambil lagi lebih jauh cerita 10:14 tentang ee angka-angka itu gitu. 10:18 Kemarin saya mengemukakan no taxation 10:20 without representation, jadi tidak ada 10:22 pajak tanpa politik gitu. Jadi 10:26 pajak itu keputusan politik. Nah, ketika 10:28 politik itu demikian berkuasa, maka 10:31 pajak itu 10:33 ya begitu kecenderungan ke kesalahan 10:35 politik akan diikuti dengan 10:37 kecenderungan kesalahan pada pajak gitu 10:39 ngelihatnya. 10:40 Itu terjadi di Amerika. Kenapa misalnya 10:43 pada saya pernah ungkap juga di Rahasil 10:46 kenapa sampai Harvard menerbitkan why 10:47 people don't trust the government gitu. 10:50 Ee nah itu terwujud kemarin di Amerika 10:52 ketika Obama memerintah, Obama memburu 10:55 para ee warganya yang tidak mau kena 10:57 pajak di dalam negeri yang tinggi gitu. 11:00 Corporate tax-nya tinggi, ee ee pajak 11:03 perusahaan tinggi dan pajak pribadinya 11:05 juga tinggi. Nah, mereka taruh di tax 11:07 haven island, tax haven island tuh 11:09 kurang lebih ada sekitar 11:11 19 pulau gitu ya yang menyatakan bebas 11:14 pajak. 11:15 Bahama, ee Saint Kitts and Nevis, 11:18 macam-macamlah. 11:19 Ee di Amerika sendiri juga ada kayak 11:21 gitu gitu. Nah, 11:24 ketika kita masuk ke dalam hitungan 11:25 angka-angka yang besar 11:27 itu akan kelihatan dari relasi begini. 11:30 Ee 11:31 tax rasionya berapa? PDB-nya berapa? 11:35 Nah, kalau kemudian diambil standar, 11:37 lalu saya kemarin ngitung begini. 11:39 Kalau dia menghitung standar tax rasio 11:42 10,38% 11:45 sebagaimana dinyatakan oleh pejabat 11:46 berwenang. 11:47 Tax rasio kami sekarang naik di 2022 11:50 sebesar 10,38%. 11:54 Baik, kalau begitu sekarang berapa 11:55 PDB-nya? PDB-nya 19.000 11:59 882 12:01 triliun. Maka 12:03 ee jumlah pajak yang mesti didapat 12:05 adalah ee segitu, 10,38 12:08 Ehm. 12:09 10,38. Berapa mestinya didapat? Nah, kan 12:11 bisa kelihatan. 12:12 Ehm. 12:13 Nah, kemarin kok kurang? Angkanya ee 12:15 saya hitung-hitung angkanya kurang tuh. 12:17 Jadi, kalau misalnya dihitung cuma 12:18 sekitar pendapatan pajak sekarang 12:20 berdasarkan itu, ee 2.000 triliun 12:22 sekian. 12:23 Ee sorry, 9 1.900 triliun sekian. 12:26 Itu saya dapat dapat angka kurang lebih 12:28 kekurangannya untuk masuk ke kas negara 12:31 sebesar 103 triliun. Kalau hitungannya 12:32 kayak gitu gitu. 12:33 Ehm. 12:34 Itu baru relasi tax rasio terhadap PDB. 12:37 Nah, sekarang kita ubah lagi. Bagaimana 12:39 PDB terhadap uang berputar dalam 12:41 perspektif bisnis? 12:43 Cara cara menghitungnya. Nah, karena 12:45 PDB-nya adalah 19.882 12:48 triliun gitu, misalnya kita ngelihatnya 12:50 gitu ya. 12:50 Ehm. 12:51 Lalu ee kita lihat uang beredarnya ee 12:53 sekian. Saya kemarin dapetin uang 12:55 beredar itu 43,9%. 12:58 Maka bisa kita lihat 13:00 ee relasi 43, sekian persen itu yang 13:03 yang 8.000 menjadi 8.000 sekian triliun. 13:06 Itu perpajakannya gimana? Berapa persen 13:08 perpajakannya? Itu bisa direlasikan 13:10 dengan yang namanya corporate tax. 13:13 Ee kepada uang beredar itu. 13:15 Ehm. 13:16 Corporate tax kan yang banyak beredar 13:18 kebanyakan pada corporate itu karena 13:20 corporate 13:21 ee pada pada ee ee 13:24 ee pada ee data perbankan kelihatan 13:26 betul menguasai sekali ee ee peredaran 13:30 uang itu gitu. 13:31 He eh. 13:31 Jumlahnya kayak gitu besarnya. Diambil 13:33 aja 13:34 menjadi 22% itu gitu. 13:36 He eh. 13:37 Kaliin. Nah, itu juga angkanya besar 13:38 dari situ didapat. Itu salah satu cara 13:40 kita ngitungnya cara cara lebih lanjut 13:43 misalnya kita ngambilnya begitu ya. 13:45 Eh. 13:47 Ini kan sesungguhnya bisa dilihat 13:50 pada peredaran uang 13:52 kalau pakai data 13:53 LPS. 13:54 Karena pihak ketiga sebagai bentuk 13:57 simpanan di situ, kemudian uang beredar 13:59 lalu kita hitung sebagai M2 dengan M1 14:02 berkaitan dengan PDB maka bisa kita tahu 14:04 juga 14:05 angka itu prediksinya berapa. 14:09 He eh. 14:09 Diambil lagi dengan prediksi perkiraan 14:11 pertumbuhan investasi, konsumsi dan 14:13 macam-macam dapat angka pajak. Jadi 14:15 kalau angkanya cuma segitu ya kecil 14:18 gitu. 14:20 Ih, luar biasa. Nah, 14:23 kita loncat nih Bang. Ya, kita di tengah 14:26 di tengah sedemikian besarnya nih ya di 14:29 dunia perpajakan 14:30 rupanya para kepala desa ini sedang 14:33 melirik uang baru segar nih di tengah 14:36 isu Bapak Pembangunan dan juga 14:39 isu tentang pengguliran apa tuh 14:42 perpanjangan belum lama ini kemarin 14:44 mereka datang lagi dengan alasan 14:46 Undang-Undang Desa yang berapa tahun 14:49 saya lupa itu eh minta lagi supaya uang 14:54 desa itu ditambah 83.000 nih desa ini. 14:58 Ini kekuatan politik luar biasa atau ada 15:00 partai kepala desa nanti saya enggak 15:01 ngerti nih Bang. Tapi uangnya ini enggak 15:05 tanggung-tanggung sehingga Megawati pun 15:07 garuk-garuk kepala ya ketua partai 15:09 terbesar ini 15:10 begini enggak pada mikir minta segitu. 15:12 Lantas ada Menko yang bilang sabar dulu 15:14 sabar kita hitung pelan-pelan gitu. Apa 15:17 yang terjadi sebenarnya ini Bang? Sedang 15:20 eh cari-cari kesejahteraan rakyat atau 15:23 ada cerita di balik cerita ini? Silakan, 15:25 Bang. 15:26 Eh, 15:27 ada cerita. 15:28 He eh. 15:29 Cerita berkaitan dengan Bumdes, siapa 15:31 yang menguasai Bumdes. Kan nanti 15:34 jatuh uang eh, 1 miliar 1 desa itu 15:37 ujungnya adalah soal 15:39 eh, rencana kerja pemerintah desa, gitu 15:42 ya. Yang akhirnya berujung pada eh, 15:45 APBDes, anggaran pendapatan dan belanja 15:47 desa, gitu. 15:48 Iya. 15:49 Lalu kemudian diaktifkan kan supaya dana 15:51 itu bergulir didirikanlah Bumdes, lalu 15:53 bikin lagi kemudian persatuan Bumdes. 15:56 Iya, betul. Betul. 15:57 tidak muncul di permukaan adalah soal 15:59 bagaimana tadi rencana kerja pemerintah 16:02 desa yang menjadi APBDes, eh, anggaran 16:05 pendapatan dan belanja desa, lalu 16:07 berkaitan dengan itu kan enggak muncul 16:08 di situ, enggak kelihatan di situ. Dan 16:11 kita tidak pernah tahu efektivitas dana 16:13 Desa ini. 16:13 efektivitas dana desa itu kita tidak 16:15 pernah tahu. 16:16 He eh. 16:17 Yang yang kita pernah dengar adalah 16:19 Kepala kepala desa 16:20 pernah 16:20 ditangkap KPK, gitu. 16:23 Kita pernah dengar gitu-gitu. Eh, sampai 16:25 kayak gitu. Nah, kalau mereka munculin 16:28 lagi soal anggaran desa masuk berkaitan 16:30 dengan perpanjangan 16:31 He eh. 16:32 kan sebelumnya sudah minta 9 tahun. 16:35 Oh, iya. 16:36 Sudah minta perpanjangan menjadi 9 16:37 tahun, mereka sudah minta juga eh, eh, 16:41 perangkat desanya juga sudah minta kayak 16:42 gitu. 16:43 He eh. 16:44 Nah, 16:45 gagasan besarnya menjadi soal eh, 16:48 eh, 16:49 ini menunjukkan ini menarik loh. 16:50 He eh. 16:51 Dalam dalam dalam analitikal menjadi 16:53 sesuatu yang sangat menarik. 16:55 Bahwa apa yang dilakukan oleh al oleh 16:57 Asosiasi Pemerintah Desa seluruh 17:00 Indonesia, APDESI tadi menggambarkan 17:04 peran partai politik mandul. 17:07 He eh. 17:08 Itu bahasa sederhananya. 17:10 Iya. 17:10 Peran partai politik mandul. 17:12 Di sini kepala desa 17:13 Kalau itu mestinya eh, eh, berjalan eh, 17:16 dalam konstruksi eh, eh, partai 17:18 politiknya memang berperan optimal, maka 17:21 aspirasi itu mestinya muncul dari partai 17:23 politik berkuasa dan partai politik yang 17:26 mendukung pemerintahan. Saya enggak 17:29 bicara partai politik yang di luar 17:30 pemerintahan ya, karena yang di luar 17:32 pemerintahan juga terkadang enggak jelas 17:34 sikapnya. 17:36 Jadi, 17:37 kalau kita ambil konstruksinya begitu, 17:40 maka sikap APDESI menggambarkan partai 17:42 politik mandul di satu sisi, sisi lain 17:45 sikap APDESI 17:47 punya agenda politik tersendiri begitu. 17:50 Kalau dia mau menjadi partai politik, 17:52 saya kira akan lain. Karena 17:55 ujung-ujungnya nanti berkaitan dengan 17:57 dengan 17:58 ya macam-macam deh, 18:00 berkaitan dengan 18:02 perangkat birokrat dan seterusnya 18:05 begitu. Pada saat yang sama harus saya 18:08 saya informasikan ke pemirsa Radio TV 18:10 dan pendengar Radio Radio Rasio. 18:14 Tidak ada satu desa yang hingga hari ini 18:18 punya kejelasan tentang 18:21 batas-batas 18:22 desa secara spasial. 18:26 Sedap enggak? Satu, yang kedua, tidak 18:29 ada kejelasan tentang sesungguhnya 18:31 angka-angka akurat tentang kemiskinan, 18:34 pengangguran, 18:36 dan penguasaan atas tanah. Angkanya 18:38 raba-raba semuanya, dua. 18:43 Yang ketiga, tidak ada data konkret 18:46 tentang kebutuhan dan potensi desa. Ini 18:48 jadi disertasi soalnya. Menjadi sebuah 18:51 disertasi ini kajian ini nih yang saya 18:53 bilang barusan tadi menjadi disertasi 18:55 untuk merumuskan bagaimana sebaiknya 18:57 satu kebijakan yang muncul di perdesaan 18:59 berbasis istilah saya 19:01 data yang 19:02 akurat dan akurat. 19:04 Apa sengaja dibikin abu-abu atau 19:05 bagaimana, Bang? 19:07 Ah, 19:08 menarik loh kalau kita terusin di sini. 19:10 Hmm. Dan itu enggak diurus oleh APDESI. 19:12 Oh. 19:13 Nah, menarik kan? 19:16 Mestinya dia. 19:17 APDESI tidak ngurusin misalnya tentang 19:20 eh geospasialnya desa itu mana, 19:22 batas-batas desa itu mana sesungguhnya. 19:24 Hmm. 19:24 Eh dengan kondisi luas berapa sehingga 19:26 akhirnya kita punya tingkat akurasi yang 19:28 tinggi pada batas-batas desa dan luas 19:30 desa dengan potensinya, dengan 19:32 kebutuhannya, dengan data kemiskinan dan 19:34 penganggurannya, dengan data eh eh 19:37 dengan data macam-macam pada struktur, 19:38 pada ekonomi yang desanya. Itu enggak 19:40 ada. 19:43 Hmm. 19:44 Data valid, akurat, aktual, relevan, 19:46 signifikan, istilah saya empat. Data 19:48 aktual, akurat, apa relevan, signifikan, 19:52 itu enggak ada itu enggak dimiliki. Eh 19:54 menariknya lagi berlanjut lagi, 19:57 BPS bikin. Eh BPS bikin bikinnya gimana? 20:00 Kan gitu kan. BPS bikinnya survei. 20:03 Hmm. 20:04 Iya. 20:05 Artinya tingkat kesalahannya tinggi, 20:07 tingkat aktualisasi akuratnya belum bisa 20:09 dipercaya. Apa indikatornya? 20:11 Indikatornya adalah eh tadi, ketika saya 20:13 memburu tentang jumlah UMKM di pedesaan, 20:17 UMKM di kabupaten atau kotamadya, UMKM 20:20 di provinsi. Itu ketika saya bertanya ke 20:23 provinsi, saya dilempar ke eh ke tingkat 20:25 dua. Ketika saya tanya tingkat dua, 20:28 turun lagi ke bawah. Enggak ada yang 20:29 bisa jawab secara benar gitu. 20:32 Saya tanya itu bukan satu provinsi loh. 20:34 Iya. 20:34 Ketika saya harus survei tentang UMKM 20:36 gitu ya. Saya mau survei ini soal UMKM. 20:39 Eh saya datang 20:40 saya tanya, saya muncul gitu. Wah, kok 20:43 enggak ada yang bisa ngejawab secara ini 20:44 datanya sumbernya dari mana? Oh ini dari 20:46 dinas. Dinas sumbernya bagaimana? Cara 20:48 surveinya gimana? Gitu. 20:49 Hmm. 20:50 Jadi ketika APDESI bersuara tentang 20:53 bapak pembangunan, pembangunan apa yang 20:55 terjadi di desa? 20:57 Hmm. 20:57 Pembangunan apa sekarang? 20:59 Pembangunan ketimpangan jelas kelihatan. 21:01 Saya dapatin angka misalnya tadi, 21:03 uang beredar 43% sehingga gambaran 21:06 ketimpangannya yang kuat gitu. 21:08 Iya. 21:08 Kelihatan dari situ. Uang beredarnya 21:10 berapa? 8.800 sekian triliun. Eh, 21:13 kemudian eh itunya 19.882. 21:17 Maka ya uang beredar hanya 43% 43,5% 21:21 43,5% itu bisa ditarik padanya namanya 21:23 dana simpanan pihak ketiga. Eh, eh ini 21:26 yang dalam kita ambil data BPS. Maka 21:28 kelihatan bahwa uang beredar itu cuma di 21:30 orang kaya. Nah, jadi deh kelihatan 21:32 bahwa sesungguhnya pasar kesulitan 21:34 likuiditas. Maka terhambat perekonomian. 21:37 Maka ketika bicara tentang pertumbuhan 21:39 ekonomi 5,31 21:41 buntutnya adalah bukti trickle down 21:44 effect gagal. 21:47 Nah, ketika trickle down effect gagal 21:48 itu kita aplikasikan ke APDESI, maka 21:50 APDESI APDESI sebenarnya bicara apa soal 21:53 pembangunan desa? Wong trickle down 21:54 effect-nya gagal kok gitu. 21:57 Iya, sekarang dari 1 miliar pengin 10 22:00 miliar gitu kan luar biasa. 22:01 analisanya begitu tuh, itu akan 22:03 kelihatan nih. Semuanya bermain dalam 22:05 rangka agenda politik gitu memahaminya. 22:08 Di tengah tahun politik ini ya begitu. 22:12 Eh, 22:12 tapi Bang ini me- memasuki Ramadan ini 22:18 eh ya APDESI sedang punya program lain 22:21 tapi ada yang juga punya program lain. 22:23 Di kabar pagi hari ini tuh CNBC 22:26 mengingatkan tentang 22:28 April nanti PLN akan menyesuaikan harga 22:32 lagi. Bakal berubahkah alasannya ICP ya 22:36 Indonesia Crude Price juga inflasi 22:39 harga batu bara dan juga kurs rupiah 22:42 terhadap dolar. 22:44 Ini sebenarnya saya ingat dulu ya ketika 22:47 Bung Hatta ini ribut sama Bung Karno 22:49 urusan listrik. Harusnya listrik masuk 22:52 ke dalam koperasi tapi kan sekarang 22:54 menjadi oligarki ini sekarang. 22:57 PLN hanya menguasai kabel-kabel saja. 22:59 Apa benar itu Bang? Ini ini kisah ini. 23:02 kita ini diatur oleh beberapa orang 23:04 oligarki urusan setrum yang kita 23:06 peroleh, bahkan memasang panel listrik 23:09 sendiri saja 23:11 kesandung sama regulasi gitu sekarang, 23:13 nah bagaimana Bang? 23:15 Oh ini menarik lagi bicara 23:17 Harus yang menarik-menarik pagi-pagi 23:19 gini Bang 23:20 Bukan, karena saya menjadi saksi ahli 23:22 dalam gugatan Undang-Undang kelistrikan 23:24 di Mahkamah Konstitusi dua kali 23:29 Jadi artinya ketika ditanya kayak gini 23:32 data-data saya keluar, apalagi kemarin 23:34 saya bicara lagi tentang energi di 23:36 Balikpapan bersama Serikat Pekerja 23:38 Pertamina gitu ya lalu saya bicara juga 23:41 di Serikat Pekerja PLN di Medan kemarin 23:43 gitu 23:45 omongan begini kenapa saya bilang 23:46 menarik? Karena pada hakikatnya 23:49 dia cuma sekedar menggambarkan eee 23:52 sistem neoliberal berjalan tanpa 23:55 hambatan 23:58 kesimpulannya sistem neoliberal berjalan 24:00 tanpa hambatan 24:02 artinya jangan bicara pasal 33 ayat 1, 2 24:05 dan 3 ya 24:06 itu cuma kata-kata indah, kata-kata 24:09 manis gitu artinya jangan bicara soal 24:11 sumpah jabatan ya, itu cuma kata-kata 24:14 waktu mau menjabat gitu, enggak usah 24:16 diomongin itu gitu karena pada 24:18 hakikatnya putra neoliberal berjalan 24:20 tanpa hambatan nah itu terindikasi dari 24:23 mulai harga energi, harga listrik, harga 24:26 beras air, pendidikan semua sektor yang 24:31 sifatnya hajat hidup orang banyak itu 24:33 sudah tunduk pada prinsip komersial, 24:36 gitu Pertamina misalnya ngakuin bahwa 24:39 dia sudah tunduk pada hukum komersial, 24:41 maka harga energi naik PLN diam-diam dia 24:45 tunduk pada harga komersial, nah itu 24:46 makanya April nanti akan naik gitu, 24:49 ketika semua begitu tunduk pada harga 24:50 komersial itu menggambarkan namanya 24:52 neoliberal, pendidikan juga akan muncul 24:55 dengan nama PTN BH, Perguruan Tinggi 24:58 Negeri 24:59 Badan Hukum yang sebenarnya 25:00 Undang-Undang BHP-nya sudah batal 25:02 Mahkamah Konstitusi, tapi berdiri PTN BH 25:05 misalnya. Itulah yang 25:07 yang rektor-rektor pada kena pasal itu 25:09 ya gitu. 25:10 Air walaupun Undang-Undang Sumber Daya 25:12 Airnya sudah dibatalkan, tetap saja air 25:14 diperjualbelikan dengan bentuk air dalam 25:16 kemasan, air dalam galon gitu. 25:21 Selamat menikmati dunia liberal gitu. 25:23 Selamat menikmati ultra neo liberal gitu 25:26 bahasa sederhananya. Jadi kalau nanti 25:28 naik, ya itu konsekuensi logis dari 25:31 sistem ultra neo liberal, enggak usah 25:33 kaget gitu. 25:35 Gitu. 25:35 Padahal kalau kita ngelihat yang namanya 25:38 rencana 25:40 umum pengadaan tenaga listrik, kita 25:42 lihat yang namanya juga tentang cetak 25:45 biru energi di Indonesia gitu ya. 25:49 Kan terjadi pergeseran penggunaan dari 25:51 energi fosil gitu dari dan bahan impor 25:54 menjadi milik sendiri. Tapi ketika milik 25:56 sendiri saya heran, ketika Anda dulu 25:58 mengatakan ini ini ketika saya gegap 26:01 gempita bicara tentang bagaimana cetak 26:04 biru atas 26:05 sistem energi ini Dewan Energi Nasional 26:07 gitu ya, di Energi Nasional. Itu kan 26:09 cetak birunya adalah pengurangan 26:12 ketergantungan pada pasokan-pasokan dari 26:14 luar sehingga menggunakan kekuatan dari 26:17 energi dalam negeri energi primernya. 26:19 Ini saya ingat betul saya berdebatnya 26:20 sama pertama dulu sama Menteri Energi 26:23 paling lama yang namanya Purnomo 26:25 Yusgiantoro gitu. 26:29 Lalu kemudian debat dengan beberapa 26:30 orang. Saya bilang bukan diskusi ya, 26:32 debat. 26:33 Karena ada beda pendapat di situ gitu. 26:36 Jadi 26:37 dari sana kelihatan ada inkonsistensi. 26:41 Nah, ketika kita ketemunya inkonsistensi 26:42 kebijakan dan kemudian ada yang 26:44 konsisten kalau kalau pakai bejana 26:46 berhubungan, kalau kita pakai yang 26:48 namanya hukum Archimedes, kan akan 26:50 kelihatan ketika ada sesuatu yang 26:52 inkonsisten pasti ada yang konsisten 26:53 dong. Kan gitu kan ngelihatnya. Nah, 26:56 begitu kita ngelihat ada inkonsistensi 26:57 pada pada Undang-Undang Dasar 45 Pasal 27:00 33, maka ada yang konsisten, 27:02 inkonsistennya neoliberal itu. Nah, 27:04 kemarin di Medan saya buktikan itu. 27:06 Sesungguhnya yang sedang berjalan adalah 27:09 ultra neoliberal dari hulu sampai dengan 27:12 hilir. 27:13 Nah, tadi makanya ditanya sama Aisyah 27:15 Thalib, kita mau pasang aja sekarang. 27:17 Nah, itu karena retailnya sudah di sudah 27:19 diecer. 27:21 Terutama di Pulau Jawa, Jawa Bali 27:23 maksudnya, yang begitu banyak padat 27:24 penduduknya dan itu menggiurkan untuk 27:26 mengambil keuntungan di situ, gitu. Itu 27:28 hilir. Hilirnya sudah di sudah diecer, 27:31 sudah komersial. Hulunya juga mau 27:33 digituin, gitu. Padahal energi primernya 27:36 sangat tergantung pada swasta. Apa 27:38 keliatannya? 62% dari batubara, gitu. 27:41 Padahal pada 2010 ketika krisis kemarin, 27:45 2008 ya, sebelum masuk ke 2010. 27:47 2008-2010 itu krisis karena kan pernah 27:50 tuh eh pasar modal di 27:52 ditutup gitu ya beberapa hari. Salah 27:55 satu gagasan saya adalah negara 27:57 mengambil sejumlah perusahaan yang 27:58 disuspen gitu ya, 28:00 eh yang batubara gitu, yang gede-gede 28:02 yang batubaranya, untuk digabungkan 28:04 dengan Bukit Asam agar bisa menjamin 28:05 pasokan ke PLN. Enggak mau tuh. 28:12 Ya, jadi gagasan-gagasan 28:17 dan sambil memohon ampunan dari Allah, 28:19 mohon ampunan dari Allah. Mohon ampunan 28:20 ya. Sambil kita memunculkan gagasan 28:22 penyelesaian kayak gitu-gitu ya, kita 28:24 jadi bingung, ini para pejabat ini 28:26 mikirnya apa ya? 28:29 Masya Allah la haula wala quwwata illa 28:30 billah. Kita berpikir untuk ketahanan 28:33 energi dalam negeri, kita berpikir untuk 28:35 ketahanan ekonomi nasional dengan 28:37 melihat hajat hidup orang banyak tidak 28:38 dikomersialkan. Cina itu punya ketahanan 28:41 ekonomi dari gejolak, dari serangan 28:43 ekonomi barat, itu karena hajat hidup 28:47 orang banyak dia tidak dikomersialkan. 28:52 Dari yang namanya mulai barang sampai 28:54 dengan jasa. 28:56 Jasa yang paling tinggi misalnya kalau 28:57 di dalam dalam sistem sekarang teknologi 28:59 sekarang di payment system, jasa 29:01 pembayaran, sistem pembayaran. Ketika 29:03 diganggu oleh yang namanya kekuatan Jack 29:05 Ma dan Masayoshi Son gitu ya. 29:07 Iya. 29:08 Itu diambil diambil, enggak bisa loh 29:11 sampai mempengaruhi sistem pembayaran. 29:13 Terjadi persaingan saja diantara sistem 29:15 pembayaran milik swasta dengan milik 29:17 negara, Cina enggak memberikan 29:18 kesempatan itu. 29:20 Enggak dikasih kesempatan. 29:21 Iya. 29:22 Karena mengganggu sistem pembayaran 29:23 nasional itu mengganggu hajat jasa 29:25 pemerintahan, jasa yang yang dibutuhkan 29:28 oleh yang namanya 29:29 masyarakat. Itu bagian dari public 29:31 services gitu dan itu tidak mungkin 29:33 dikomersialkan gitu. 29:36 Iya iya apapun kita lihat Cina dia 29:39 mengelola 29:40 rakyat itu dengan luar biasa sehingga 29:44 mulai mereka mengatur dunia, ya Arab 29:47 Saudi, Iran sekarang 29:50 apa Rusia dengan Ukraina walaupun hari 29:53 ini dikabarkan NATO mulai meluncurkan 29:56 pesawat-pesawatnya untuk memantau 29:58 pesawat 30:00 Rusia. Ini Cina menjadi sebuah peran 30:03 tersendiri sedang mencari panggung 30:05 dunianya. Apa yang Bang ini akankah 30:08 mempengaruhi kestabilan dunia ke depan 30:11 atau sebaliknya atau apa yang sedang 30:13 terjadi ini persaingan macam baru begini 30:16 Bang. 30:18 Yang sedang terjadi adalah setuju atau 30:20 tidak setuju dominasi Amerika walaupun 30:24 sedang dipertahankan itu makin merosot. 30:26 Hmm. 30:27 Setuju tidak setuju. 30:28 Hmm. 30:29 Eh eh bahkan 30:31 ketika kemarin lagi-lagi Korea Utara 30:35 meluncurkan misilnya 30:37 Misil antar benua. 30:39 yang ramai menjadi pemberitaan dunia 30:40 barat, weh Korea Utara kembali 30:42 meluncurkan nuklirnya. 30:46 Yang ramai, saya saya tidak tahu pem 30:48 pemberitaan dalam negeri gimana ya, tapi 30:50 saya baca di pemberitaan luar negeri. 30:51 Woi, itu responnya luar biasa gitu. 30:54 Jadi, seluruh media-media bergengsi di 30:56 barat sana itu menceritakan tentang 30:58 Korea Utara yang meluncurkan misal. 31:01 Padahal Korea Utara bersahabat dengan 31:03 Cina, bersahabat dengan Rusia. 31:06 Artinya, 31:07 walaupun Amerika tetap merupakan negara 31:10 yang paling banyak hulu ledak nuklirnya, 31:13 tapi dengan kemampuan Cina, dengan 31:15 kemampuan Korea Utara, bahkan dengan 31:17 kemampuan Rusia, 31:19 Amerika mikir juga. 31:21 Mikir juga menghadapi situasi kayak 31:23 gitu. Itu yang saya sebut sebagai dalam 31:26 perspektif militer, kemampuan yang 31:29 namanya Amerika sudah mulai disaingi 31:33 oleh kekuatan-kekuatan lain. Itulah 31:35 pergeseran 31:37 dari unipolar ke multipolar. Dari perges 31:40 dari segi kekuasaan yang tadinya dalam 31:43 hubungan bersegi banyak, 31:45 sorry, dari ber 31:46 dari 31:47 kekuasaan yang tadinya sangat ditentukan 31:50 oleh Amerika sekarang menjadi bersegi 31:51 banyak. Itu yang diakui juga oleh mereka 31:54 melalui National Defense Strategic of 31:55 US, Oktober 2022. 31:58 Itu yang pertama. Yang kedua, dari 32:00 perspektif ekonomi, 32:02 walaupun Amerika menikmati keuntungan 32:04 atas perang Ukraina Rusia, tapi mereka 32:07 juga terganggu sehingga mereka 32:11 merasa perlu juga 32:13 bagaimana memainkan isu-isu politik 32:17 isu-isu ekonomi politik di kawasan 32:19 tertentu. 32:20 Bisa kita lihat misalnya di kawasan 32:22 ASEAN. Walaupun sudah muncul 32:25 Regional Comprehensive Economic 32:27 Partnership yang digagas oleh Cina, 32:29 mereka tetap memunculkan Indo-Pacific 32:31 Economic Forum sebagai pengganti 32:33 Trans-Pacific Partnership. Nah, itu 32:35 mereka meng, dan itu itu menggambarkan 32:37 bahwa kalau pakai bahasa Cina Amerika 32:40 tetap ingin bertahan sebagai negara yang 32:42 dominan di kawasan Asia Tenggara. Tetapi 32:45 pada saat yang sama, bisa kita lihat 32:47 juga ternyata kekuatan Cina menyerang 32:49 habis-habisan kawasan ASEAN. ASEAN plus 32:52 three-nya menjadi 32:55 gambaran bahwa terjadi pergeseran 32:57 kekuatan ekonomi politik di kawasan 32:59 ASEAN. Di kawasan Eropa sama, di kawasan 33:02 jazirah Arab sama gitu. Nah, Cina merasa 33:05 punya daya, maka dia muncul sebagai juru 33:07 damai antara Ukraina Rusia. Makanya dia 33:09 tawarkan bagaimana mengakhiri perang 33:12 Ukraina Rusia. Tapi apakah model Cina 33:15 ini merupakan model yang berhasil untuk 33:18 mengubah dari multipol, dari, 33:21 dari unipolar ke multipolar dan akhirnya 33:23 negara menjadi lebih baik? Saya bilang 33:25 enggak. 33:26 Hmm. 33:26 Enggak begitu ngelihatnya gitu. Maka 33:29 ketika ada beberapa orang, 33:31 misalnya mengusulkan ke beberapa tokoh 33:33 supaya kita tetap berhubungan dengan 33:35 negara adidaya tertentu dan ini begitu 33:37 gitu ya. 33:37 Hmm. 33:38 No, Indonesia sudah benar dengan ekonomi 33:40 politik, bukan hanya politik luar negeri 33:42 bebas aktifnya. 33:44 Ulang, ulang. Bukan hanya politik luar 33:46 negeri bebas aktifnya, tapi yang 33:48 dibutuhkan adalah sikap ekonomi politik 33:51 luar negeri yang bebas aktif. Nah, 33:53 bagaimana ekonomi politik luar negeri 33:54 bebas aktif? Itu bukan outward looking, 33:57 mesti inward looking. Nah, kalau inward 34:00 looking maka tak kotinya adalah hajat 34:02 hidup orang banyak baik pada barang 34:04 maupun pada jasa 34:06 pada jasa tidak boleh dikomersialkan, 34:09 baru kita bisa bicara ekonomi politik 34:11 luar negeri bebas aktif. Begitu. 34:15 Gitu, nih negeri sebenarnya sudah luar 34:17 biasa pondasinya. 34:18 Oh, luar biasa. 34:19 Masya Allah, masya Allah. 34:21 Jadi kemarin, saya tambahin, 34:22 sesungguhnya dari segi perpajakan saja, 34:24 dari segi perpajakan saja Indonesia 34:26 sesungguhnya bisa mengurangi hutang 34:29 Rusia dari aspek pajak. 34:30 Gitu, kemarin tuh saya bilang 34:33 Saya belum bicara sumber daya ya, saya 34:34 belum bicara. Saya bilang saya belum 34:36 bicara kemarin tuh saya ngomong di depan 34:37 di depan para eh teman-temanlah gitu ya 34:40 karena diskusinya kemudian di eh 34:41 streaming kemudian disebarluaskan. 34:43 Dari segi pajak saja sesungguhnya kita 34:45 sangat signifikan bisa mengurangi hutang 34:48 kalau pajak itu dikelola dengan benar. 34:49 Satu, ditambah dengan yang namanya 34:51 pengelolaan sumber daya dengan baik. 34:52 Ditambah dengan yang namanya kawasan. Oh 34:54 waduh, enggak mungkin negeri ini jadi 34:56 negeri pengutang deh gitu. 34:58 Masya Allah. 34:58 Saya saya 35:00 Lalu kemudian di di di di di 35:02 dikagum-kagumilah yang namanya Sri 35:04 Mulyani sebagai Menteri Keuangan 35:05 terbaik. Ya itu karenanya dia sebagai 35:06 Menteri Keuangan terbaik ya. 35:08 Memang kata seorang diplomat yang saya 35:11 pernah dengar langsung ini ya, Pak Alex 35:13 punya asisten ini waktu Ali Alatas 35:15 dibilang kita ini kalau di forum dunia 35:18 katanya kita punya tekanan tonjokan itu 35:21 misalnya 90 yang kita pakai cuma 15 35:24 katanya. 35:25 Ini orang seluruh dunia tahu negeri kita 35:27 macam gimana tajirnya gitu. Tapi ya 35:30 begitulah nasib hamba Allah inilah. 35:32 Mudah-mudahan Allah berikan sebuah 35:34 kekuatan tiba masa datang ya. 35:36 ketika sampai pada nasib hamba-hamba 35:38 yang seperti itu keluarlah kalimat saya. 35:41 Ehm. 35:42 Kalimat saya ya, Indonesia lebih banyak 35:44 pengkhianatnya daripada pejuang penegak 35:46 UUD 45-nya gitu. 35:47 Iya. 35:49 Terakhir Bang penutup di bincang kita 35:51 pas 08.40 nih. 35:53 Apa Bang ingatkan kita nih 2 hari 35:55 sebelum Ramadhan nih. 35:57 Ini eh hari terakhir Sya'ban. 35:59 Ehm. 36:00 Ya. Hari terakhir Sya'ban. 36:02 Aduh eh besok 36:05 kita sudah siap-siap melangkah ke 36:07 Ramadhan. 36:08 Betul. 36:09 Eh saum hanya mungkin dijalankan dengan 36:11 kejujuran optimal. 36:13 Ehm. 36:14 Kejujuran kalbu. 36:16 Kejujuran pikiran, kejujuran ucapan, 36:19 kejujuran tindakan. 36:21 Kalau negeri ini masih tetap dijalani 36:23 dengan kebohongan yang akan ada adalah 36:26 kehancuran. 36:28 Karena ee level ke level ke kebohongan 36:31 yang makin terus-menerus dijalankan 36:33 makin tinggi dan tanpa rasa bersalah 36:35 atas kebohongan itu, itu menggambarkan 36:38 betapa sesungguhnya 36:39 ee apa yang saya gambarkan sebagai 36:41 bangsa terbelah itu. Kita menggambarkan 36:43 kita sedang melembagakan suasana vuca. 36:46 Vuca-nya itu bukan vuca alami, bukan 36:49 volatile, uncertain, complex, ambigu 36:51 alami, tapi vuca 36:53 vuca-nya adalah vuca yang direkayasa. 36:55 Persoalan pokoknya, kalau dia vuca yang 36:58 direkayasa, maka sesungguhnya dia 37:00 menggambarkan kita hidup dalam kebiasaan 37:02 berbohong dan tidak akan ada 37:04 ketentraman, kedamaian dalam kehidupan 37:07 ee yang penuh dengan kebohongan. Jadi, 37:09 ketika ada ada pihak yang menyatakan, 37:11 "Jangan ganggu umat Islam yang dalam 37:14 yang hidup dalam ketentraman dan 37:15 kedamaian." Itu salah. 37:17 Karena sudah diganggu kok gitu. 37:20 Itu sudah diganggu gitu. Sudah diganggu 37:22 untuk tidak hidup tentram damai. Nah, 37:24 persoalan pokoknya menjadi agenda apa di 37:26 balik yang namanya vuca yang yang dibuat 37:28 itu gitu. Agenda apa? Nah, itu yang 37:31 mestinya kita telusuri dengan baik ee ke 37:33 mana arah kebijakan itu. Apa misalnya ee 37:36 apa sekedar kata-kata Pancasila, saya 37:38 Pancasila, tapi isinya bukan atau apa. 37:41 Ini yang mestinya kita ajak bicara umat 37:43 ee Islam dan bangsa Indonesia secara 37:46 menyeluruh supaya kita betul-betul tidak 37:48 keluar dari kata pembukaan 37:50 baik alinea satu, alinea dua, alinea 37:52 tiga yang saya sebut sebagai pentingnya 37:54 meneladani tidak akan dimakan. Ramadan 37:56 ini ee harusnya membakar seluruh 37:59 kebohongan itu. 38:01 Ramadan ini harusnya ngebakar seluruh 38:04 kedustaan itu. Ramadan ini harusnya 38:06 ngebakar seluruh kepalsuan-kepalsuan 38:09 itu gitu. Tanpa pembakaran kepalsuan, 38:11 kedustaan, kebohongan, maka seperti yang 38:14 saya tulis dua tahun lalu, kita tidak 38:16 akan pernah memulai untuk memperbaiki 38:17 bangsa ini. 38:19 Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu 38:21 alla ilaha illa anta astagfiruka wa 38:23 atubu ilaih. 38:24 Assalamualaikum warahmatullahi 38:25 wabarakatuh. 38:28 Waalaikumsalam 38:29 warahmatullahi wabarakatuh.