Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:06 Brasil 0:07 [Musik] 0:13 TV 0:16 sadaqallahulzim asalamualaikum 0:18 warahmatullahi 0:28 wabarakatuhumsalam lead dan calon leader 0:30 seluruh Indonesia kembali lagi kita pada 0:33 acara Ind lead yang pada malam hari ini 0:35 mengambil tema tentang DNA Anis dan PKS 0:39 Eh sahabat-sahabat sekalian sosok Anis 0:41 basweda dan PKS adalah dua entitas 0:44 politik yang sulit dipisahkan sudah 0:47 bersama sejak konstalasi Pilgup DKI 2017 0:51 yang cukup fenomenal dalam prosesnya di 0:54 mana Pak juga ketika itu di sini ya 0:57 sebagai ketua tim pemenangan juga 1:00 keduanya menjadi salah satu daya tarik 1:02 Kancah politik tanah air yang menarik 1:04 untuk dicermati di tengah arus dukungan 1:07 dari pemilih PKS yang meningkat timbul 1:10 pertanyaan mengapa Anis dipilih sebagai 1:14 calon presiden 1:16 oleh lebih dari Separuh pemilih 1:19 PKS secara figur politik Anis adalah 1:22 sosok yang memiliki kedekatan dengan PKS 1:24 seji menjabat sebagai Menteri setelah 1:27 perombakan kabinet 1:28 2016 Anis dan PKS terlihat seiring 1:32 perhalatan Pilgup DKI Jakarta 2017 ya 1:36 saat itu Anis Bedan bersama sandiaga Uno 1:39 diusung oleh PKS dan juga Gerindra 1:41 sebagai calon gubernur dan wakil 1:43 gubernur DKI Jakarta melawan Pak Ahok 1:46 ketika itu eh dan akhirnya memenangkan 1:50 kontestasi pertarungan dan Sejak saat 1:52 itu Pak Anis begitu dekat dengan PKS dan 1:55 selama menjabat menjadi gubernur DKI PKS 1:59 di DPRD menjadi fraksi yang paling 2:01 mendukung Pak Anis mengawal pemerintahan 2:06 daerah provinsi DKI yang dipimpin oleh 2:08 Pakis selama 5 tahun harmonisnya 2:11 hubungan Anis dengan PKS juga 2:13 tampak dalam 2:15 dukungan PKS kepada Anis dengan tidak 2:18 mendukung pengajuan hak interpelasi 2:20 terkait penyelenggaraan formula E ketika 2:22 Anis masih menjabat sebagai gubernur DKI 2:24 Jaka PKS menjadi satu dariaksi 2:28 yangemutustuk hak interpelasi puncaknya 2:31 pada 23 Februari lalu PKS akhirnya 2:33 mendeklarasikan Anis sebagai bakal calon 2:35 presiden pada pemilu 2:37 2024 selain memiliki rekam jejak yang 2:40 mumpuni sosok Anis yang dinilai bisa 2:42 menjadikan nasionalisme dan nilai agama 2:44 sebagai satu kesatuan dalam membangun 2:46 bangsa menjadi pertimbangan PKS dan 2:49 sekarang dalam 2:51 konstelasi untuk pemilihan cawapres PKS 2:54 jugaai penduk di dalamisi perubahan yang 2:57 juga mempercayakan dan menyerahkan 2:59 sepenuhnya keputusan penentuan calon 3:02 wakil presiden kepada Pakis Baswedan 3:05 Benarkah eh antara Anis dan PKS memiliki 3:09 hubungan dan asosiasi yang kuat untuk 3:12 itu pada malam hari ini kita ingin 3:14 mendiskusikannya bersama para narasumber 3:17 yang sudah kita undang dan hadir pada 3:19 malam ini yang pertama sudah hadir 3:21 bersama kita Bang pang syarwi eh 3:24 pengamat politik 3:25 eh dari foxpol sejak 3:28 2017 3:30 apa eh pengamat politik dari foxpol yang 3:33 senantiasa memberikan 3:35 eh survei-survei dan analisis serta 3:38 kajian perkembangan politik di Indonesia 3:41 nanti 3:42 mudah-mudahan pakang bisa memberikan 3:45 pandangan objektifnya kepada kita 3:47 seperti apa sih 3:48 sebenarnya hubungan antara Anis basedan 3:51 dan PKS ya di tengah 3:55 Ki 202 in nanya juga nantinya 4:02 eh apa akan hadir juga bersama 4:06 kita eh Pak Prof Firman Nur mungkin 4:10 nanti menyusul ya Prof Firman Nur dan 4:14 juga sekarang sudah hadir bersama kita 4:16 tuan rumah insider ST yang senantiasa 4:18 duet bersama B Roki Gerung pakani Al 4:22 selamat malam Asalamualaikum pakani 4:24 Selamat malam juga 4:26 budangi malam terima kasihudangi 4:30 siap Abang Bang pang ini luar biasa ini 4:33 luar 4:34 biasa ya dan Sebelum kita mulai acara 4:38 Ind pada malam ini dengan tema dnais dan 4:42 PKS kami inin mengucapkan terima kasih 4:44 yang sebesar-besarnya kepada seluruh 4:46 pemirsa Setia di dalam negeri dan luar 4:49 negeri acara ini e dapat disaksikan 4:52 secara langsung melalui siaran channel 4:54 YouTube 4:55 eh p TV dan jugail TV dan juga melalui 5:00 siaran radio rasil 720 am di jaborabek 5:05 dan beberapa kota di seluruh Indonesia 5:07 yang terhubung dengan jaringan radio 5:08 rasil dan juga kami mengucapkan terima 5:11 kasih kepada wartawan dan media yang 5:14 senantiasa Meliput dan memberitakan 5:16 acara ini semoga bisa menjadi sumbangsi 5:18 konten positif dan mencerdaskan 5:21 kehidupan berbangsa dan bernegara baik 5:23 kita mulai acara Ind ST pada malam ini 5:26 kepada pakani dipersilakan memberikan 5:28 pengantar dan juga pak paparannya 5:30 terkait Tema kita pada malam hari ini 5:32 DNA PKS Anis dan 5:36 PKS masih Bang haldi izin bang pangi eh 5:40 Prof Firman Bung Roki eh Leaders dan 5:44 calon leader 5:47 Bismillahirrahmanirrahim 5:49 asalamualaikum 5:51 warahmatullahi 5:52 wabarakatuh Waalaikumsalam 5:54 warahmatullahi wabarakatuh alhamdulillah 5:57 Allahumma Shi ala sayidina 6:00 m Selamat malam dan salam sejahtera 6:04 untuk kita 6:05 semua bang 6:09 pangimanur bung RG yang nanti akan 6:12 gabung mudah-mudahan bahagia sekali 6:14 malam ini Indonesia leader talk edisi 6:18 144 atau 145 dapat kembali menyapa eh 6:23 seluruh Leaders danal Leaders baik yang 6:26 berada di nusantara ataupun di mancegara 6:29 topik kita tentang Anis lagi-lagi Anis 6:33 tetapi kita coba Bang pangnya nanti 6:36 minta bantuannya ini gimana Anis 6:39 hubungannya dengan PKS Bang pangi 6:42 gitu Kenapa karena pendapat saya eh ada 6:47 tiga landasan utama 6:49 pertama orang baik harus ada dalam 6:52 lingkungan yang baik ya masis basedan Eh 6:56 sejak dari keluarga di di kampus ee di 7:01 Indonesia di UGM katakan sampai ke 7:05 ee Amerika balik lagi ee terbukti 7:09 memiliki 7:10 ee DNA ee berkualitas dan baik ya Partai 7:16 Keadilan Sejahtera 7:18 ee juga punya niat ya kalau di anggaran 7:21 dasarnya Bang pangi kita itu punya 7:25 tujuan mewujudkan cita-cita nasional ya 7:28 sebagaimana termaktub dalam pembukaan 7:30 undang-undang Dasar 1945 ya yaitu 7:33 memajukan eh melindungi segenap bangsa 7:35 dan seluruh tanah tumpah darera 7:36 Indonesia maajukan kesejahteraan umum 7:39 mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut 7:41 serta dalam perdamaian 7:43 dunia ketika Pilkada DKI perkenalan awal 7:47 eh secara formal dan officiial Mas Anis 7:51 sama PKS 7:52 eh saya agak eh beruntung tuh eh Bang 7:57 wangi karena ada di the center of 7:59 Eh bukan turbulen ya the center of 8:02 proses lah gitu loh karena mendampingi 8:05 Mas Anis bersama Bang sandi Ya bersyukur 8:08 dengan pertolongan Allah dan bantuan 8:11 dari seluruh eh warga DKI dan juga 8:14 seluruh masyarakat Mas Anis bangsandi 8:17 bisa memenangkan kontestasi Pilkada DKI 8:22 2017 selama 5 tahun 2017 sampai Husnul 8:26 Khatimah 2022 Partai Keadilan Sejahtera 8:29 eh 8:31 melakukan wat birqwa ya kerja sama yang 8:35 penuh kebaikan dan ketakwaan bersama Mas 8:38 Anis membawa Jakarta naik ke level yang 8:40 lebih rukun lebih adem lebih akur lebih 8:44 asyik ya lebih adem sehingga ee bisa 8:49 ee dirasakan manfaatnya oleh semua pihak 8:52 nah tentu kerjasama baik 8:55 di sampai 2022 ini menjadi modal mahal 8:59 bagi PKS yang sudah menetapkan Mas Anis 9:03 Baswedan sebagai calon presidennya 9:05 ee saya kebetulan karena juga mendapat 9:09 amanah sebagai anggota Majelis Sya ikut 9:11 serta Bang pangi ee Bagaimana ee proses 9:14 Mas Anis Itu dipilih oleh PKS ee 9:19 dasarnya dua ya yang pertama tentu kita 9:22 ingin menang dan yang kedua tentu 9:25 kemenangan yang penuh berkah ya yang 9:27 menang ini ee eh Mas Anis punya eh inner 9:32 beauty ya catatannya banyak tapi semua 9:35 juga punya banyak catatan Bang pangi ya 9:37 tetapi masuk top three eh dengan segala 9:42 kondisinya itu tidak mudah ya sehingga 9:46 eh peluang kemenangan Mas Anis nampak 9:49 dengan jelas 9:51 eh relawannya tumbuh seperti jamur di 9:54 musim hujan tetapi yang lebih utama buat 9:56 PKS kemenangan yang penuh berkah ya 9:59 Karena Mas Anis ee dengan akhlak yang 10:02 baik dengan komitmennya untuk ee 10:06 mewujudkan Islam rahmatan lil alamin eh 10:09 Insyaallah Eh sama sebangun dengan 10:12 tujuan PKS karena itu DNA Mas Anis sama 10:15 PKS ini penting ya tetapi dalam 10:18 perjalanannya wabil khusus setelah 3 10:21 Oktober 10:22 2022 ketika dengan sangat Brilian dan 10:26 saya sangat angkat topi kepada Bang Suri 10:29 palaloh serta partai nasem menjadi 10:32 partai pertama yang mendeklarasikan Anis 10:34 Itu ada pergeseran ya Bahasanya brand 10:38 Anis dengan PKS yang selama ini melekat 10:41 bahkan kalau Zul Bang Zul Van Lindan itu 10:44 bilangnya gini kalau Demokrat Nasdem PKS 10:48 dukung Anis maka Demokrat dapat 20 eh 10:52 Nasdem dapat 20 PKS dapat 60 gitu Bang 10:56 pangi gitu tapi dalam kenyataan 10:58 surveinya ya ternyata eh kesan pertama 11:02 begitu 11:03 menggoda sehingga nasdim luar biasa 11:06 mengambil momentum dan buat saya itu 11:09 sesuatu yang niscaya dan harus angka 11:11 Topi buat Nasdem karena demikian cerdas 11:15 mengambil move politiknya menjadi partai 11:17 pertama yang mendeklarasikan Anis dan 11:20 tentu menjadi tantangan buat PKS gimana 11:24 merebut kembali DNA Anis itu kepada PKS 11:27 sehingga karena pilek b jalan bareng 11:30 maka kita berharap Hotel eeknya itu 11:33 tidak sepenuhnya dominannya ke Nasdem 11:36 tapi PKSS juga dominan dan e kita juga 11:39 berharap dominan juga untuk eh Demokrat 11:41 sehingga kalau tiga partai pendukung ini 11:43 mendapatkan manfaat Hotel effect 11:45 soliditas kita juga menjadi kuat nah 11:48 terakhir yang ketiga pandangan saya 11:50 adalah bahwa PKS perlu langkah-langkah 11:53 strategis e membranding Mas Anis agar 11:56 punya DNA yang lebih bonding lebih 12:00 terikat lebih kokoh dengan PKS saya 12:03 mengusulkan setidaknya ada tiga hal ya 12:07 yang pertama Masuklah ke conscious mind 12:10 dalam hal ini kita mulai banyak main 12:13 gimik main jingle main eh eh e pantun 12:18 Anis dan PKS gitu loh sehingga 12:22 pelan-pelan itu menjadi terulang 12:24 terulang terulang yang dengannya eh 12:26 asosiasi Anis dengan PKS makin menguat G 12:30 yang kedua tentu budaya budaya budaya ya 12:33 PKS e dekat dengan keumatan bagaimana 12:37 brand Anis e dengan budaya keumatan 12:40 diperkuat sehingga ketika orang mikir 12:43 Anis otomatis mikirnya PKS ya ketika 12:46 orang mikir Anis otomatis milihnya PKS 12:49 ketika orang mikir Anis otomatis 12:52 related-nya conscious mind-nya itu PKS 12:54 nah ini bukan pekerjaan mudah bukan 12:57 pekerjaan mudah karena Nas punya hak 12:59 Demokrat punya hak semua partai lain 13:01 yang gabung juga punya hak karena itu 13:03 betul-betul 13:04 ee harapannya Bang pangil bisa ngasih 13:07 nih masukan gitu loh Apa saja atau 13:09 Firman Nur G loh eh untuk bisa 13:12 memberikan e tambahan gimana biar 13:15 Langkah Cerdas PKS bisa jalan di sisi 13:17 budaya terakhir tentu Eh bagaimana 13:21 endorser dari kalangan-kalangan utama 13:24 kita lihat bang pangi eh faktanya Pak 13:27 Prabowo itu itu banyak sekali 13:31 ee mendapat endorse dari Pak Jokowi dan 13:34 e naiknya luar biasa gitu sehingga Eh 13:38 bagaimana Anis PKS diendorse oleh banyak 13:42 pihak yang dengannya mudah-mudahan akan 13:44 terwujudlah bahwa bonding DNA Anis 13:47 dengan PKS itu menyatu dan itu menjadi 13:49 modal besar buat PKS Dalam strategi 13:52 pemenangan Pemilu pilek dan Pilpres 13:55 serta Pilkada itu bang Aldi sebagai 13:58 pengantar nya mudah-mudahan Eh kita bisa 14:01 mendalami bersama dengan kesempatan kali 14:04 ini ini Prof firmandur juga sudah hadir 14:06 Prof Selamat datang eh Matur nuun Prof 14:10 atas kehadirannya udah ada bangangi ada 14:14 Prof Firman luar biasa silakan tadi 14:17 pembukaan saya sudah Heeh ketemu lagi 14:20 kita 14:22 masemu apa kabar profman Iya Ustaz 14:26 kelihatan muda terus nih kalah kita ini 14:30 baik lanjut Terima kasih Pak Mardani 14:33 atas pengantarnya dan sekarang kita 14:36 langsung ke 14:37 UD pangi sharwiago sebagai peneliti 14:42 eh kajian politik di Indonesia dan juga 14:46 dari lembaga survei dan 14:48 gagian dipersilakan memberikan pandangan 14:51 dan mungkin data-data objektifnya 14:53 perkembangan politik terkini di 14:56 Indonesia dan juga terkait bag bimana 14:59 pos Pak Anis di antara partai koalisi 15:01 khususnya PKS kepada Bang pangi 15:06 dipersilakan ya terima kasih eh yang 15:10 saya hormati asalamualaikum 15:11 warahmatullahi 15:13 wabarakatuh ada Bang 15:16 Mardani kemudian yang saya hormati ada 15:18 Prof Firman yang kemarin sudah menguji 15:22 Saya ujian 15:24 disertasi kemudian 15:27 Eh Pak ya 15:29 Eh terima 15:31 kasih saya harus memulai dari mana kalau 15:34 bicara soal DNA ya 15:37 DNA dengan Anis 15:40 eh tentu kalau untuk memulainya Apakah 15:44 Memang e Anis Efek itu lebih besar 15:47 daripada pks-nya atau PKS justru masih 15:50 besar efeknya dibanding pakisnya yang 15:54 kedua tentu ada pertanyaan eh Apakah 15:57 betul bahwa B 16:01 eh yang paling merasakan keberkahan tiga 16:05 partai pengusung Anis ini siapa Apakah 16:08 betul PKS Apakah betul nasd Apakah betul 16:11 Demokrat karena tiga partai ini tentu 16:14 akan apa namanya akan mencoba 16:17 mendapatkan keberkahan dari mengusung 16:20 Anis peswedan Nah siapa yang paling 16:23 memungk untuk 16:25 mengakisiover atau atau melabeling bahwa 16:29 Anis adalah PKS atau PKS adalah Anis 16:32 atau Nasdem adalah Anis Anis adalah 16:35 Nasdem atau yang ketiga e Demokrat 16:38 adalah Anis Anis adalah Demokrat karena 16:42 kalau kita cermati sejauh ini memang ini 16:44 sedang diupayakan oleh semua partai 16:46 politik pengusung 16:48 untukempel bahwa mereka adalah 16:51 partaiai yang 16:54 kemudian mengusung atau 16:55 menganggapadernya Anis nah kalau melihat 16:59 Kal efek yang selama ini memang di 17:02 hasil-hasil riset selama ini bahwa 17:05 ketika calon presiden itu diusung maka 17:08 ada dua model model pertama adalah 17:11 Apakah betul bahwa suara pribadi Pak 17:14 Anis nanti lebih besar 17:16 jumlahnya dibandingkan dengan jumlah 17:20 suara partai pengusung dalam hal konteks 17:22 ini adalah PKS nasdam dan 17:25 Demokrat tentu hasilnya akan ada dua hal 17:28 boleh jadi nanti suaranya pribadinya 17:30 Pakis lebih besar dibandingkan partai 17:33 pengusung atau Model kedua jumlah partai 17:36 pengusung nanti akan lebih besar 17:38 suaranya dibanding suara pribadi Pak Nah 17:41 banyak kesimpulan-kesimpulan di dalam 17:43 riset-riset sebelumnya itu menyatakan 17:45 bahwa ketika Pak Jokowi dengan partai 17:48 pengusung di 17:49 2019 itu justru jumlah suara yang 17:52 dikumpulkan pribadi Pak Jokowi itu jauh 17:55 lebih besar daripada jumlahai 17:57 pengusung artinya dianggapal efek tidak 18:00 terlalu signifikan nah dan sebaliknya Eh 18:05 sekarang juga akan menjadi pertanyaan 18:07 Apakah Memang nanti suara Pakis lebih 18:10 besar daripada semuaai pusuh dari data 18:13 kita kemarin yang di bulan November 18:18 2022vei sebelumnya kita pernah juga 18:20 survei di bulan Juli kemudian November 18:22 terakhir nanti Agus ya nah inive 18:25 misalnya dari dat lama baru saya belum 18:27 bisa asikan itu masih first Open belum 18:30 dirilis ya Mohon maaf saya belum 18:32 sampaikan di sini tapi dari di bulan 18:35 November kemarin bahwa memang eh pemilih 18:39 Ganjar itu cenderung memilih eh PDIP dan 18:43 PKB dan pemilih Anis Itu cenderung 18:47 memilih eh PKS Dan nasd Dan sedangkan 18:50 pemilih Prabowo itu tietting lebih 18:53 banyak memilih 18:55 eh Gerindra nah misalnya total efek yang 18:58 paling besar dari tiga partai pengusung 19:00 ini adalah paling banyak dirasakan 19:03 oleh oleh PKS kotal efeknya itu adalah 19:07 yang eh 19:10 18,4% itu juga menjadi apa namanya 19:13 menjadi e apa efek eh pilihan antara 19:18 partai dengan presidennya jadi tootal 19:20 efek yang dirasakan oleh pemilih Anis 19:23 yang kemudian memilih PKS itu ada di 19:25 angka 19:27 18,4% 19:28 Kemudian yang kedua adalah Nasdem 19:31 sebesar 19:33 16,1% kemudian terakhir Demokrat hanya 19:35 sebesar eh 8,1% total efek yang pemilih 19:39 Anis kemudian memilih partai Demokrat 19:42 dengan data ini menunjukkan bahwa memang 19:44 dari tiga partai pengusung pada bulan 19:46 November kemarin itu yang paling besar 19:49 efek bahwa pemilh Anis itu lebih 19:51 cenderung dna-nya itu memilih PKS 19:54 sebesar 19:55 18,4% jadi Mereka cenderung eh pemilih 19:58 PKS itu memilih Pak anisnya eh itu 20:02 membuat bahwa memang eh PKS sudah pada 20:06 jalur yang 20:08 benar yang menjadi problem mungkin Prof 20:11 Firman juga bisa mengulas nanti 20:13 kesalahan atau membuat ee partai itu mau 20:16 dimatikan itu adalah ketika pemilih 20:20 partai atau grer itu tidak sejalan 20:23 dengan garis yang diputuskan oleh DPP 20:26 jadi ee DPP atau elit penentu di partai 20:30 politik tidak ikut garis selera grnya 20:35 pemilihnya makanya kalauai politik baik 20:38 nasd PKS dan Demokrat pasti sudah 20:40 menguji sebetulnya pemilihaiokrat cender 20:43 ke manaah data kitaang cender ke Anis 20:47 pemasender ke Anis pemili pksender ke 20:50 Anisah tapinya ada juga 20:54 yang 20:57 sayaungembuhya tapi ada kecenderungan 20:59 mereka e apa tidak ikut garis partai 21:03 pemilihnya nanti itu yang dikhawatirkan 21:05 pertanyaannya Kenapa kemudian pemilihnya 21:08 tidak ikut garis partai karena memang 21:11 basis GR pemilihnya itu tidak cenderung 21:13 kepada calon 21:15 presidennya Maka kalau kemudian ee 21:18 partai-partai pengusung ini tidak 21:19 hati-hati apabila berbeda keputusan DPP 21:23 dalam mengusung misalnya PKB itu 21:25 misalnya cenderung ke ee misalnya ke 21:28 Ganjar tiba-tiba PKB nanti memilih ke 21:30 Anis maka dalam konteks itu tentu saja 21:33 pemilih PKB akan tidak ikut garis partai 21:37 yang sudah diputuskan oleh DPP maka 21:39 dalam hal dua ini ada dua risiko pertama 21:41 adalah merugikan elektabilitas partainya 21:43 karena potensi pemilihnya split tidak 21:46 ikut garis partai karena tidak membaca 21:50 apa yang menjadi selera kehendak 21:52 intensitas dan arah dari pemilih 21:54 partainya artinya tidak mendengar apa 21:57 arus baw ya tapi ada nanti partai yang 22:00 sebetulnya irisan pemilik partainya itu 22:03 sama dengan calon presidennya maka itu 22:05 yang disebut dengan mungkin efek dari eh 22:08 keberkahan dari mengusung Pak Anis nah 22:11 tentu ini akan selalu berubah sekarang 22:14 saya lihat eh ada kemungkinan datanya 22:16 akan berubah karena Bagaimana sekarang 22:18 Demokrat berupaya untuk eh menyatakan 22:21 bahwa Anis adalah Demokrat kita lihat 22:23 Bagaimana spanduknya Demokrat hari ini 22:26 luar 22:26 biasa eh begitu juga eh PKS juga mencoba 22:31 mendekatkan bahwa PKS itu adalah Anis 22:34 Anis adalah PKS yang ketiga adalah 22:37 begitu juga Demokrat berusaha untuk eh 22:39 Demokrat selalu mengatakan apa saham 22:43 Anis adalah Demokrat eh Nasdem karena 22:46 dianggap kadernya Nasdem kemudian 22:48 Demokrat yang apa Maaf maksud saya 22:50 Nasdem yang pertama kali mendeklarasikan 22:52 Anis jadi Anis adalah bagian dari kader 22:55 Nasdem Nasdem adalah Anis maka dugaan 22:57 saya ya justru yang akan paling banyak 22:59 merasakan apa efek dari ini adalah eh 23:02 Nasdem bukan PKS bukan ee partai eh apa 23:06 partai 23:07 eh apa Demokrat gitu nanti akan lihat 23:11 perkembangannya tapi eh ada juga potensi 23:15 kemudian bahwa kalau data itu 23:16 menunjukkan nanti pemilih e ah menjadi 23:20 capresnya Anis maka yang akan 23:22 kemungkinan e kotal Efek itu juga akan 23:25 paling tinggi intensitasnya lebih kepada 23:26 Demokrat karena ada faktor ahynya itu 23:29 juga bisa akan menyalip apa total efek 23:32 atau pemilihnya e Demokrat itu nanti itu 23:37 cenderung memilih Pak Anis dan dan 23:40 kedekatan Anis dengan Demokrat itu akan 23:42 dekat dan pengaruh ahy itu akan bisa 23:44 membantu elektabilitas partai Demokrat 23:47 nanti bahkan justru yang paling 23:49 merasakan kebermanfaatan keberkahan atau 23:51 yang paling banyak mendapatkan 23:53 keuntungan ketika mengusung Anis bukan 23:55 nasd ada 23:56 kemungkinantensi itu bergeser ke 23:59 eh bukan Demokrat maksud saya Ada 24:02 potensi ke Demokrat karena ah maka 24:05 mungkin itu juga kekhaatiran hari ini 24:07 kenapa sualu Agak ragu-ragu untuk 24:10 menentukan ahy karena ada kemungkinan 24:13 juga akan 24:15 mengganguit karena ada ah sebagai tapi 24:19 itu perlu dipahami untuk apaa ini juga 24:22 bisa 24:26 berahan kemudian yang yang kedua soal 24:29 tadi endorse ya yang disampaikan Bang 24:32 mani memang eh Endor Pak Jokowi pengaruh 24:36 Pak Jokowi itu sangat kompatibel atau 24:39 sejalan dengan irisan tingkat e apa 24:42 namanyating atau levelidennya Pak Jokowi 24:45 jadi semakin besar bahwa Jokowi kutukane 24:48 kedua Pak Jokowi ini Maka ketingkat 24:51 kepuasannya kalau 24:53 misalnyatingnya sudah 70% sampai 75% 24:56 kita engak tahu kepuasan yang mana 24:58 Apakah breakdownnya itu ceruk segmennya 25:01 infrastruktur atau bantalan sosial yang 25:03 selama ini dihambur-hamburkan kepada 25:05 masyarakat atau kepuasan yang mana itu 25:07 yang juga menjadi semu sebenarnya Tapi 25:10 intinya tingkat kepuasan akan 25:12 berbarengan dengan Endor atau pengaruh 25:15 maka saya melihat bahwa kecenderungan 25:18 saya enggak Sebutkan datanya tapi 25:20 intensitas data kita bahwa pengaruh Pak 25:21 Joko makin kuat untuk mempengaruhi 25:24 prevensi pilihan masyarakat ikut dalam 25:26 memutuskan calon presidennya ikut tegak 25:29 lurus dengan Pak Jokowi ikut arahan 25:31 intensitas Pak Jokowi ini ada 25:33 kemungkinan bahwa ee memang data kita 25:36 pada bulan November atau Bulan Juli 25:38 kemarin November itu hanya 15% pengaruh 25:41 Pak Jokowi yang kemudian ikut 25:43 mempengaruhi pilihan masyarakat tapi ada 25:46 kecenderungan ketika tingkat kepuasaan 25:48 ini terus naik Pak jokowinya sering 25:51 gunting Pita ke Papua 17 kali Kemudian 25:54 beliau bandingkan dengan Presiden 25:55 sebelumnya hanya tuuh kali Hanya dua 25:57 kali 25:58 kemudian sering e apa namanya 26:00 peresmian-peresmian waduk ya 26:02 peresmian-peresmian KR kereta api lrt 26:06 kereta cepat nah ini akan memperkuat ya 26:10 tingkat kepuasannya nah ketika tingkat 26:12 kepuasan ini dianggap itu nyata bagi 26:15 masyarakat di depan mata bahwa itu ada 26:17 clear bahwa infrastruktur maka apa 26:20 namanya kita kembali kepada starting 26:23 atau soal 26:26 endakok semakin berpengaruh Maka kalau 26:29 kita lihat intensitas arah dukungan Pak 26:31 Jokowi 26:33 hanyaender du calon presiden yaitu Mas 26:36 GJ dan Pak prab Nah terbukti memang 26:38 ketika beliau menjaga gawang atau 26:41 sebagai saya gak mengatakan sebagai 26:43 operator atau di bawah kendali beliau 26:45 tapi ketika beliauain dua calon presiden 26:47 ini itu memang terasa dampaknya terhadap 26:51 dua calon presiden iniisa menurut 26:54 sayaitnya dija 26:56 terak mengatakan Pak Jokowi ini adalah 26:59 main dua kaki tapi sampai kapan Pak 27:01 Jokowi akan mengendorse dua calon 27:03 presiden ini apakah akan berhenti per 27:06 tanggal 14 Oktober besok atau akan tetap 27:08 lanjut beliau main dua kaki nah tetapi e 27:11 pengaruh ini selalu beliau gunakan untuk 27:13 menjaga eh apa namanya menaruh telur di 27:17 keranjang yang berbeda menjaga dua calon 27:19 presiden ini tapi untuk Pak Anis sering 27:21 kali memang beliau belum terlalu eh 27:24 kelihatan untuk mengendorsnya pak 27:27 termasuk lapangan sayaat tidak datar 27:30 termasuk Pak Anis juga tidak diajak lagi 27:33 karena memang sudah tidak punya panggung 27:34 lagi untuk peresmian untuk gunting P 27:37 berbeda dengan Pak Prabowo berbeda 27:40 dengan mas Ganjar itu masih punya 27:42 panggung sering Menemani pak Jokowi 27:43 dalam setiap rangkaian acara peresemian 27:46 dan gunting pita dan dianggap oleh 27:48 masyarakat itu adalah sebuah kinerja 27:50 sebuah prestasi yang kemudian itu 27:52 berpengaruh terhadap endnya Pak Jokowi 27:54 berpengaruh terhadap elekabilitas 27:56 tingkat Titi dan tingkat keterpilihan 27:58 calon presiden nah kemudian untuk 28:00 menjawab pertanyaan terakhir sebenarnya 28:02 DNA apa dna-nya eh PKS itu dekat ke Pak 28:06 Anis sebetulnya kalau kita lihat dari 28:08 data saya sebelumnya di bulan Juli juga 28:10 menunjukkan bahwa Pak Anis Itu cenderung 28:13 dianggap oleh masyarakat di benak 28:15 masyarakat Pak Anis Itu adalah pemimpin 28:17 yang religius religius dalam konteks itu 28:20 kalau nanti kita lihat data kita bulan 28:22 November atau bulan Agustus ini apakah 28:23 memang persepsi publik atau masyarakat 28:26 itu mengatakan bahwa Pak Anis Itu adalah 28:28 pemimpin yang religius 28:30 kemudian juga menunjukkan data misalnya 28:33 bahwa Pak Anis adalah bagian dari eh 28:36 kelompok yang EE misalnya lebih ke kanan 28:39 gitu nah ini 28:41 Eh ini akan membuat bahwa pengaruh bahwa 28:45 Pak Anis Itu dna-nya adalah PKS banget 28:48 gitu nah ini menjadi penting juga bahwa 28:51 mungkin eh nanti apa yang disampaikan 28:53 oleh prof Firman saya baca itu kemarin 28:56 mengatakan bahwa orang memilih bukan 28:58 hanya karena kesamaan agama yang dianut 29:02 bukan hanya kanan kiri atau ideologi 29:04 dalam bentuk kanan atau kiri nasalis 29:07 atau agama tapi juga karena pengaruh 29:09 yang lain ada pengaruh danusnya tapi 29:12 konteks ini 29:13 bahwaemangis diangesentasi dariompok 29:17 religius ketimbang yang lain meskipun 29:20 data-data lain menunjukkan bahwa Diang 29:23 pemimp yang cerem 29:26 yang gubernur yang berprestasi tapi juga 29:30 tidak banyak tidak sedikit juga 29:32 mengatakan bahwa Pak Anis adalah eh apa 29:35 namanya E representasi dari kelompok 29:37 kanan gitu Ini juga sesuai dengan PKS 29:40 yang agak e ke kanan dan itu Prof priman 29:44 mungkin lebih paham soal kanan kiri 29:45 ideologi kita ini tapi Intinya saya 29:48 enggak mau masuk ke dalam itu terlalu 29:49 jauh intinya memang 29:51 eh dna-nya pemilihnya PKS itu sudah 29:54 sangat eh apa namanya eh tidak terlalu 29:58 terjadi Apa perbedaan antara pilih 30:00 pemilih PKS dengan pemilih Anis kalaupun 30:03 seandainya ada dua pertanyaan Apakah 30:05 kalau misalnya tig partai ini 30:09 e kalau tiga partai ini mengusung Anis 30:12 makaai mana akan yang akan Ibu Bapak 30:14 pilih itu salah satu pertanyaan yang 30:16 indikatornya terukur sebetulnya Apakah 30:19 milih PKS Apakah milih Anas atauemili 30:22 Demokrat Kalau Ai ini mengusung Anis 30:25 maka akan kelihatan makah sebarannya itu 30:28 relatif lebih merata ke pks-nya juga 30:31 dapat ke demokratnya juga dapat ke 30:33 nasdemnya juga dapat atau memang ini 30:34 diakuisisi diov O satu partai saja yaitu 30:37 partai pengusung bahwa identity Anis 30:39 adalah Nasdem Nasdem adalah Anis Anis 30:41 efek berpengaruh terhadap e Nas eek atau 30:45 kemudian Apakah eh apabila misalnya Anis 30:49 tidak diusung oleh tiga partai ini maka 30:51 siapa yang akan Ibu Bapak pilih apakah 30:53 akan tetap memilih Anis atau tidak Itu 30:55 juga untuk menguji strong Poter atau ee 30:58 Betulkah DNA bahwa PKS itu adalah 31:01 dna-nya adalah Anis gitu jadi ee saya 31:04 pikir memang eh cenderung nanti eh 31:07 kelihatan juga bahwa eh lebih cenderung 31:09 pemilih PKS lebih besar ke Anis atau 31:12 pemilih eh Demokrat atau pemilih Nasdem 31:15 Nah kalau misalnya memang pemilihnya PKS 31:18 lebih besar memilih Anis itu berarti 31:20 data itu menunjukkan benar bahwa ee 31:23 pemilih ee DNA Anis Itu dekat dengan PKS 31:26 misal n data kita 31:28 misalnya di dalam E ini terakhir 31:33 soal soal data saya terakhir itu yang di 31:36 bulan November itu adalah mungkin karena 31:39 waktu ya tapi inti sebentar hanya e 31:42 datanya itu adalah Eh misalnya ya 31:45 pemilih e pemilih partai dengan pilihan 31:48 presiden kalau kita Cross tabulasi 31:50 breakd bahwa pemilih Ganjar itu 31:55 eh pemilih Ganjar itu berasal dari 31:58 pemilihnya ee PDIP nah pemilih Anis itu 32:02 berasal dari NasDem dan e PKS dan 32:05 Demokrat dan pemilih Pak Prabowo berasal 32:07 dari girindra nah eh pemilih Nasdem itu 32:11 eh 55 32:14 55,6% itu adalah eh memilih Anis 32:18 kemudian pilih pemilih PKS 32:21 48,7% memilih Anis dan EE pemilih 32:25 Demokrat memilih Anis 36 maksud saya 32:27 Terbalik ya pemilih Anis yang memilih 32:29 Demokrat 32:30 36% pemilih Anis yang e yang memilih PKS 32:34 itu 48% pemilih Anis yang memilih Nasdem 32:38 55,6% dari data ini menunjukkan bahwa 32:40 memang Nasdem pemilih Nasdem itu lebih 32:43 banyak pemilh Anis Itu cenderung lebih 32:45 banyak ke itu data bulan November 32:49 55,6% pemilih Anis ituend 32:54 signemend 55 6% itu memilih Nasdem 32:59 kemudian 48,7% pemilih Anis memilih PKS 33:03 kemudian pemilih Anis 36,2% cenderung 33:06 memilih Demokrat jadi dari tiga partai 33:08 ini cenderung pemilih Anis basisnya 33:10 adalah lebih besar signifikan memilih 33:13 memilih nasen eh splitnya tidak terlalu 33:16 besar Mungkin itu saja untuk untuk awal 33:19 diskusi terima kasih 33:20 eh asalamualaikum warahmatullahi 33:23 wabarakatuh Waalaikumsalam warm terima 33:26 kasih Bang pang satu pertanyaan sebelum 33:29 kita ke Prof Firman 33:31 eh mengenai kotal effectfek eh Pilpres 33:35 ya di pemilu Indonesia ini kita sudah 33:39 eh kemarin yang Pemilu serentak ini baru 33:42 tahun pemilu 2019 ya sebelumnya eh 33:45 pemilunya pemilu legislatif dulu ya Bang 33:49 Kalau kita lihat di pemilu 2019 kemarin 33:52 tidak ada partai yang dominan 33:54 mendapatkan Kotel ya dan memang mungkin 33:56 Mungkin ada yang partai tertinggi dapat 33:58 cov effect itu pun karena memang eh dari 34:01 dua figur capres kemarin memang dari 34:03 kadar partai masihmasing Ya seperti Pak 34:06 Jokowi dari PDIP juga Pako dari Gerindra 34:09 tapi kedua parttain ini juga tidak 34:11 mendapatkan Kotel efek yang cukup tinggi 34:13 ya kita ingat dulu Bagaimana Bu Puan itu 34:16 ada satu fotonya ketika mau pencoblosan 34:18 hari H dia menulis di lantai ya di jalan 34:23 30% gitu ya PDIP dia Harapan mimpi dia 34:27 PDIP dapat 34:29 30% ternyata tidak 20% pun gak tembus ya 34:33 Gitu begitu juga 34:34 Gerindra 34:36 yang tidak begitu dapat banyakel Darnya 34:40 Pak Prabowo padahal asosiasi figur Pak 34:42 Prabowo pasti mayoritas ke nah kira-kira 34:46 penyebabnya apa ini Mungkin Bang bisa 34:49 memberikan analisisnya kenapaotel e 34:51 dalam pilpr dan di Indonesia tidak 34:54 begitu tinggi dari seluruhang 34:57 ason caes jawapres 35:00 yang ya sebenarnya begini Bang bahwa itu 35:05 pertanyaan bet itu ada at bes at Keil at 35:10 makanyaat bahwaemang suarak 35:14 jok pengusnya 35:17 maka itu adai tidak 35:25 signar suara yang dikumpulkan oleh 35:27 partai politik melebihi jumlah suara 35:29 pribadi yang dikumpulkan oleh pasangan 35:31 jokowi K M Amin Nah ini apa menjadi 35:35 faktor Kenapa tidak terlalu efektif Kal 35:37 efek Ini dia ada Tapi menurut saya tidak 35:39 terlalu 35:40 signifikan nah sebetul jawabannya ada 35:43 dua Sebetulnya 35:44 Eh bisa saja itu karena orang 35:49 masih kan memilihai Karena ada urusannya 35:52 dengan tidak 35:54 hanyaai ya tapi ada calek di sana nah 35:57 calek ini juga tentu orang akan melihat 36:00 calek yang yang apalagi kalendar Pemilu 36:03 kita kan serentak 36:04 ya kalender Pemilu serentak ini membu 36:08 orang juga pemilu pada hari yang sama 36:10 waktu yang sama bilik yang sama pada 36:13 waktu yang sama itu akan memilihai dan 36:16 mili calon presiden nah di dalam orang 36:19 memilihai itu orangya dia k 36:25 dinya ur Calik yang cukup kuat 36:27 berpengaruh eh abilitynya kompetensinya 36:31 eh dia sangat bagus E recordnya itu juga 36:34 akan menjatuhkan pilihan orang terhadap 36:36 eh partainya karena orang kan lebih 36:38 cenderung kalau melihat tiga pola Apakah 36:40 orang pemilik kita itu lebih cenderung 36:42 memilih partai politik ataukah apa 36:46 pemilih kita cenderung memilih yang 36:48 kedua modelnya adalah lebih cenderung 36:50 memilih apa namanya partai pengusung 36:52 atau yang ketiga Orang lebih cenderung 36:54 memilih e apa figur yang diusung oleh 36:57 partai politik tersebut gitu Nah kalau 36:59 misalnya jawabannya adalah lebih 37:01 cenderung kepada bukan karena partai 37:03 pengusung bukan karena tokoh partai 37:05 politik tapi lebih cenderung kepada e 37:07 figur yang diusung oleh partai politik 37:09 tersebut maka sejauh mana calek-calek 37:11 yang berkualitas di partai itu juga akan 37:13 berpengaruh nah artinya ini tidak hanya 37:16 faktor partai ada faktor calek Nah itu 37:18 juga membuat belum tentu apaar Efek itu 37:21 besar atau tidak Nah kalau c-calnya 37:23 berkitas dan punyaensi untuk dongkr 37:27 elektabilitas figur caleknya itu lebih 37:29 kuat dari figur pada figur magnet 37:31 partainya maka itu sebetulnya signifikan 37:33 harusnya gitu Tapi kan tidak semua 37:35 calek-calek itu berkualitas di partai 37:37 politik nah pengaruh presiden tetap ada 37:40 menurut saya Karena kalau misalnya di 37:43 grindra paling besar pengaruh Presiden 37:45 itu kutalek itu adalah memang Del dekad 37:48 memang apa namanya ya bahwa orang 37:51 mengatakan Gerindra itu adalah Prabowo 37:53 Prabowo adalah Gerindra Nah kalau 37:55 prabowoek itu lebih besar daripada 37:57 grindra efek maka secara otomatis itu 38:00 pasti bahwa kemudian kalau 38:02 elektabilitasnya prabowwunya naik maka 38:04 partainya juga ikut otomatically 38:06 terdongkrak gitu karena Prabowo efeknya 38:09 yang mendongkrak 38:10 partainya nah Bagaimana nasib partai 38:13 yang tidak mengusung calon presiden 38:14 karena pemilunya serentak nah itu yang 38:15 saya sebut seringkiali musibah demokrasi 38:18 kutukan bagi partai politik yang tidak 38:20 punya calon presiden tidak punya calon 38:22 wakil presiden karena potensi partainya 38:24 untuk didongker oleh figur tadi enggak 38:26 ada lagi sudah tertutup Nah kalau besok 38:29 itu adalah Surya Palo misalnya anasdem 38:32 itu misalnya Anis itu lebih besar 38:34 daripada Nasdem dan orang mengatakan 38:35 adalah Anis adalah Nasdem Nasdem adalah 38:38 Anis dan Anis Efek itu lebih besar 38:40 daripada e Demokrat e Anis eh Efek itu 38:45 lebih besar daripada Nas eek maka 38:48 otomatically itu juga akan membantu 38:49 memulihkan eh elektoral dari partai Nas 38:54 nah begitu juga ahy dan dan apa namanya 38:57 partai yang lain gitu nah jadi problem 39:00 memang adalah besok karena kalendar 39:02 pemilunya serentak sama waktunya sama 39:05 apa jamnya sama maka potensi 39:09 partai-partai seperti PKS ini menjadi 39:11 challenge tantangan karena PKS tidak 39:14 mengusung kadernya sementara Besok itu 39:16 adalah Nasdem mengusung Anis sebagai 39:19 kadernya kemudian ahy dianggap misalnya 39:22 kalau Anis ahy jadi ah dianggap kadernya 39:25 Demokrat Nah kalau Besok itu ternyata 39:27 elektabilitas Kal efek atau efek pemilih 39:30 Anis lebih cenderung ke PKS ini keren 39:32 banget gitu Padahal PKS tidak bagian 39:35 dari dua kader yang diusungnya tapi 39:38 justru nanti adalah pemilih Anis Itu 39:40 cenderung ke PKS berarti sebetulnya 39:43 pengaruh yang tadi itu ya tidak 39:45 signifikan gitu untuk mendongkr 39:51 partai Baik terima kasih Bang atas 39:54 penjelasannya nanti kita lanjut 39:56 diskusinya Sekarang kita ke Prof Firman 39:58 Nur Asalamualaikum Prof 40:00 Firman Waalaikumsalam warahmatullahi 40:03 wabarakatuh Apa kabar Mas Alhamdulillah 40:07 Prof Firman tadi kita sudah mendengar 40:09 paparan dari Pak Mardani dan juga Bang 40:12 pangi ya Eh terkait dengan Bagaimana eh 40:16 asosiasi DNA Anis dengan PKS dan juga 40:18 pengaruh Effect dan juga di sini kita 40:21 ingin mendengar juga pandangan secara 40:23 ilmiah dan objektif dari profmanur 40:26 bagaimana konselasies kita dan bagaimana 40:29 mungkin terkait dengan tema kita ya 40:33 Kajian analisis dan apks dengan Anis ini 40:37 Prof dipersilak Iya 40:41 baik Terima kasih Mas haldi segar selalu 40:45 nih 40:46 Mas apa kabar kar baik 40:50 Prof I 40:54 kemudian Terima kasih atas sundakan ya 40:57 Baik saya coba menelaah eh DNA antara 41:02 PKS sebagai satu gerakan dan juga 41:04 sebagai partai dilihat dari sisi 41:07 historis dan juga 41:09 ideologis dan juga kekiniannya dengan 41:12 eksistensi seorang Anis Rasid 41:15 basuedan yang bagi saya eh terlepas itu 41:19 disebut dne atau bukan ada beberapa 41:22 arsiran yang 41:24 menyebabkan di anara keduanya nya ee 41:27 cukup dekat sebetulnya 41:29 ee saya boleh ya Ee menyampaikan 41:32 beberapa hal yang menurut saya membuat 41:35 arsiran di antara keduanya itu cukup 41:38 cukup banyak dan juga cukup melekat 41:41 begitu yang pertama 41:45 ee dan yang paling utama saya kira ini 41:48 adalah 41:49 ee keduanya berangkat dari satu semangat 41:53 kemandirian ee eh tidak bergantung pada 41:58 banyak elemen termasuk elemen 42:01 oligarki ya kalau belakangan ada 42:03 pengusaha yang mendukung Saya kira itu 42:05 konsekuensi demokrasi yang memang mahal 42:07 tapi untuk disebut sebagai 42:10 oligark Ya mungkin belum masuk kategori 42:12 itu ataupun kalau sudah termasuk oligark 42:15 saya kira Eh bisa ditanggulangi 42:18 selanjutnya bisa dikendalikan tapi 42:19 intinya adalah kita bisa ingat bahwa PKS 42:23 ini berangkat dari sebuah Gerakan dakwah 42:26 yang masif di kampus ya yang terlepas 42:29 dari kaki tangan Orde Baru proksi-proksi 42:32 rezim eh 42:34 sehingga sudah terbiasalah Ee ada di 42:37 pinggiran arena ya e tidak gelisah dan 42:41 canggung untuk ada di luar kekuasaan 42:44 karena memang dna-nya itu adalah sebuah 42:47 gerakan yang berasal dari luar kekuasaan 42:50 yang kemudian lambat laun ee tapi pasti 42:55 mulai Mas masuk kekuasaan dan pernah 42:57 menjadi bagian dari kekuasaan tapi Ee 43:00 tidak getol terus-menerus memaksakan 43:03 untuk ada di kuasaan dan tidak kaku atau 43:05 layu ketika ada di luar kekuasaan 43:08 Nah saya kira Pak Anis juga punya 43:12 kemandirian itu Pak Anis adalah sosok 43:14 yang 43:16 terbiasa berada di ee gerakan masyarakat 43:20 ee punya ide-ide besar dalam banyak hal 43:24 termasuk pendidikan yang dikelola secara 43:27 mandiri kolektif Ee tidak bergantung 43:30 pada 43:32 kekuasaan dan apalagi oligarki sehingga 43:36 terbiasa keduanya terbiasa berada di 43:39 kerumunan 43:41 nonkekuasaan untuk PKS baik pada saat 43:44 pembentukan atau pada saat oposisi kan 43:46 ada partai-partai itu gelisah kalau 43:48 kalau tidak punya kekuasaan atau di luar 43:51 kekuasaan tapi saya kira kedua keduanya 43:55 ini santai saja saja ya percaya diri 43:57 saja karena berangkat dari satu 44:00 idealisme yang diracik dari banyak aspek 44:03 Apakah itu religiositas apakah itu 44:06 nasionalisme dan lain-lain gitu Jadi 44:09 yang pertama saya kira 44:11 eh DNA itu berarsiran karena kemandirian 44:15 tadi Nah yang kedua keduanya 44:19 adalah elemen kritis ya elemen 44:23 yang terbiasa untuk menyampaikan 44:26 pandangannya secara 44:28 ee akademis secara objektif 44:32 Ee tidak 44:35 kemudian menjadi terikat giginya 44:37 lidahnya kata kata Buya Hamka begitu ya 44:40 ketika ada di panggung kekuasaan eh anis 44:43 tetap kritis ketika menjadi menteri 44:47 eh PKS meskipun gabung SBY waktu itu 44:51 juga kritis terhadap 44:53 sby jadi sama-sama merupakan ee elemen 44:58 kritis apalagi sekarang ya menjadi 45:01 bagian dari oposisi ini ee Saya kira 45:04 sangat kritis dan Pak Anis juga 45:06 sebetulnya dalam menyampaikan ide-ide 45:09 yang e Bernas dan sopan itu juga kritis 45:13 sebetulnya terhadap situasi yang ada 45:15 saat ini di mana kritisnya itu adalah 45:18 selalu menekankan bahwa negara ini 45:20 adalah milik semua orang keadilan sosial 45:22 harus ditegakkan Saya kira itu sikap 45:25 kritis yang sangat relevan dengan 45:26 situasi yang ada pada saat ini di mana 45:29 kekuasaan itu e sangat menjadi sangat 45:31 elitis dan kemakmuran itu hanya untuk 45:34 sebagian orang begitu ya Jadi selain 45:37 kemandirian DNA yang pertama adalah 45:39 elemen kritis yang ketiga Saya kira eh 45:43 adalah moralitas demokrasi jadi saya 45:46 melakukan riset mengenai oposisi di 45:48 Indonesia era kontemporer eh saya 45:50 menanyakan masalah demokrasi eh dan PKS 45:54 menjawab bahwa mereka rela menjadi 45:56 oposisi agar demokrasi tidak 45:59 mati karena tanpa oposisi kita sudah 46:04 daing kita sudah setengah setengah mati 46:07 begitu ya E untungnya masih ada eh 46:10 partai-partai yang merelakan dirinya 46:12 untuk berperan menjadi oposisi agar 46:16 Indonesia ini masih jamak disebut negara 46:18 demokrasi meskipun kritik terhadap 46:20 kualitas demokrasi kita juga hebat 46:22 begitu ya tapi eh kesadaran untuk 46:26 menyadari bahwa oposisi itu merupakan 46:28 satu elemen terhormat di dalam sistem 46:31 demokrasi itu ada di dalam PKSS ee dan 46:35 juga ee memberikan alternatif-alternatif 46:38 pemikiran ee banyak ee 46:40 kebijakan-kebijakan yang digodok di 46:42 parlemen dikritisi dan juga dioposisikan 46:45 oleh PKS dicarikan alternatif dan yang 46:49 terpenting adalah ee menjadi kekuatan 46:52 untuk tetap setia terhadap untuk 46:54 menjalankan ee substansi demokrasi yakni 46:57 checks and balances meskipun dengan less 47:00 than 20% oposisi tentu saja berat tapi 47:02 setidaknya ada yang memainkan peran itu 47:05 mau memainkan peran itu dan saya kira 47:07 moralitas demokrasi ini juga diangkat 47:09 oleh 47:10 Anis Mengingat bahwa serbuan terhadap 47:15 kandidasi dia luar biasa tapi dia tetap 47:18 eh berusaha keras untuk menjadi elemen 47:21 alternatif eh bagi apa yang ada di dalam 47:25 kehidupan politik kita saat ini yang 47:28 tanpa itu sebetulnya demokrasi Indonesia 47:30 akan semakin mati suri gitu ya nah jadi 47:33 ini sama-sama punya moralitas demokrasi 47:36 Jadi selain kemandirian elemen eh kritis 47:41 juga eh moralitas demokrasi kemudian DNA 47:45 yang lain yang saya kira juga juga 47:48 berarsiran di antara keduanya adalah 47:50 elemen 47:51 kolaboratif ya kita bisa ingat secara 47:54 objektif kalau kita telah ah perjuangan 47:57 PKS sejak awal itu e sudah bekerja sama 48:01 dengan elemen-elemen eh ee kebangsaan 48:05 elemen-elemen bahkan eh nonmuslim begitu 48:08 ya itu sudah bekerja sama dulu ada 48:11 partai Cinta Damai eh PKS pernah bekerja 48:14 sama baik di level nasional maupun di 48:16 level lokal untuk memajukan satu 48:19 kepentingan politik begitu dan eh Saya 48:23 kira juga spirit kolaboratif E itu salah 48:25 satu esensi dari bagaimana Anis mengela 48:29 Jakarta ya sebagai Kota kolaboratif 48:31 artinya siapun yang punya kemampuan 48:34 kontribusi 48:35 welcome 48:37 ya background ya sejauh itu bisa 48:41 dikolaborasikan not Jadi sebetulnya kiri 48:45 dan kanan di dalam politik kita menjadi 48:47 relatif di dalam konteks kolaborasi tadi 48:49 dan masing-masing apakah itu PKS Maun 48:53 sama-sama 48:54 punyauk 48:56 kolaborasi kemudian yang 48:59 berikutnya adalah mengusung keadilan 49:03 sosial ya DNA ini yang yang 49:05 digembar-gemborkan sejak awal PKS selalu 49:08 bilang harus berpolitik menghasilkan 49:10 satu keadilan karena keadilan itu banyak 49:13 kebaikan dekat dengan nilai-nilai 49:15 ketuhanan dan lain-lain EE sementara Eh 49:19 Pak Anis juga di dalam membentuk 49:21 pemerintahan menjunjung tinggi masalah 49:23 keadilan sosial ingin membuat Jakarta 49:26 bisa dinikmati oleh semua kelas semua 49:29 kalangan 49:30 ee tanpa memandang status sosial status 49:34 kelas begitu ya karena yang penting 49:36 produk-produk pemerintah produk-produk 49:39 kekuasaan itu harus dirasakan ee sebagai 49:42 milik bersama 49:43 ee sehingga memang makna keadilan sosial 49:46 ini e sama-sama ee didukung dan diusung 49:50 oleh kedua belah pihak begitu ya 49:53 Nah dengan mengusung tadi 49:56 kemandirian eh kemudian elemen kritis 50:00 moralitas demokrasi spirit kolaboratif 50:04 mengusung keadilan sosial saya kira ini 50:07 menjadi DNA yang baru terbarukan ya itu 50:10 adalah bahwa ini adalah dnanya perubahan 50:13 e Dan ini menjadi elemen penting karena 50:17 hakikat perubahan yang saya tangkap 50:19 sebetulnya dari PKS maupun dari Pakis 50:22 khususnya itu adalah perubahan terkait 50:24 dengan hal ya ini perubahan untuk 50:27 membuat Indonesia jauh menjadi lebih 50:30 demokratis jauh ee ingin membuat 50:32 Indonesia itu 50:34 milik milik bangsa 50:37 sendiri tidak bergantung dengan bangsa 50:40 lain dan yang ketiga E atau kita kenal 50:43 elemen kebangsaan sebetulnya Jadi selain 50:46 demokratik kebangsaan dan yang ketiga 50:49 adalah keadilan sosial jadi kalau kita 50:52 lihat 10 tahun belakangan ini kondisi 50:55 demokrasi kita ini semakin mengalami 50:58 stagnansi ada yang mengatakan sudah 51:01 mengalami kemunduran atau regresi dan 51:04 ini perlu perubahan agar demokrasi kita 51:06 ini tidak selalu dibajak oleh oligarki 51:08 dan saya kira semangat ini E 51:10 didengungkan dan itulah makna sebetulnya 51:13 menjadikan Indonesia menjadi demokrasi 51:16 lagi ini satu perubahan yang sangat 51:18 signifikan dan diperlukan oleh kita 51:20 sebagai satu bangsa yang kedua adalah 51:23 bahwa ini adalah 51:25 milik kita kebangsaan ee jangan sampai 51:29 negara ini dijual murah ee untuk asing 51:33 ya salah satu kritik terhadap omnibus 51:35 Law adalah salah satunya adalah karena 51:37 memungkinkan derasnya tenaga kerja asing 51:40 dan juga 51:42 memungkinkan sebah perusahaan 51:44 proporsinya dikuasai oleh pihak asing e 51:46 Juga misalnya 51:48 Eh bagaimana masalah biji nikel Eh ini 51:52 sangat menguntungkan pihak asing karena 51:54 kalau dia mau beli biji nikel misalnya 51:56 kita nikel ini sedang sedang booming ya 51:59 itu harganya e bisa 0 Do tapi di 52:01 Indonesia dijual 34 dolar dan itu 52:04 dimanfaatkan oleh perusan-perusahaan 52:06 asing sehingga mereka bisa melakukan 52:09 penetrasi dalam kehidupan ekonomi kita 52:12 gitu ya dengan adanya ee harga yang 52:15 demikian murah gitu ya dan juga yang 52:17 Saya dengar Bagaimana ee 52:18 perusahan-perusahaan asing kemudian akan 52:21 dominan di dalam pengelolaan masalah 52:23 nikel ini begitu Nah jadi hal-hal 52:26 seperti itu hal-hal yang kemudian secara 52:28 esensial eh sebetulnya mengorbankan 52:32 bangsa kita sendiri Ini juga perlu 52:34 dirubah dan saya kira sudah akan 52:36 mengarah ke sana dan yang terpenting 52:38 yang ketiga tadi elemen perubahan adalah 52:40 keadilan sosial eh karena sekali lagi Eh 52:43 ini tlan yang sangat penting karena kita 52:46 rasakan bahwa ada gap yang semakin 52:49 tinggi antara mereka yang sangat kaya 52:51 dengan yang hidup biasa-biasa saja atau 52:54 dalam garisem kemiskinan inilah Kenapa 52:57 kemudian Indonesia ee ee mungkin karena 53:01 bangsa yang suka tersenyum aja ya sejauh 53:03 ini kelihatan baik-baik saja padahal eh 53:06 kita bisa lebih baik lagi sebagai satu 53:08 bangsa keadilan sosial gap itu bisa kita 53:12 reduksi lagi sebagaimana amanah dari 53:14 konstitusi dan juga amanah dari eh 53:17 Pancasila itu sendiri mengenai e 53:19 keadilan sosial bagi seluruh rakyat 53:21 Indonesia jadi ee selain DNA tadi ketiga 53:25 hal masalah demokrasi kebangsaan 53:27 keadilan sosial saya kira itu menjadi 53:29 concern juga Apakah itu ke PKS maupun 53:33 juga ke Anis Baswedan sehingga ini 53:35 memperarat DNA yang kemudian menjadi 53:39 connect dan match 53:41 eh dengan para kader ataupun para 53:44 pengusung tadi yang disampaikan oleh Mas 53:46 Pange bahwa ini sudah terkoneksi secara 53:49 kuantitatif Bagaimana spirit tadi spirit 53:52 DNA dan juga spirit perubahan itu 53:55 jadiadi sangat terikat dan bisa jadi ini 53:56 menjadi sebuah komunitas politik yang 53:59 diperlukan oleh bangsa ini sebagai suatu 54:01 komunitas alternatif dari komunitas yang 54:04 mengagungkan seseorang dengan satu visi 54:08 misi tertentu politik tertentu yang 54:11 tentu saja berbeda dengan dengan visi 54:13 misi eh Anis dan juga PKS karena dna-nya 54:16 berbeda dan juga eh makna perubahan yang 54:19 ingin di di ee dikedepankan juga berbeda 54:23 so jadi saya kira eh dalam banyak hal 54:26 itu 54:27 Eh mengapa kita bisa sebut bahwa antara 54:30 PKS dan Anis Baswedan ini memiliki DNA 54:33 yang sama saya kira 54:38 demikian Baik terima kasih Prof Firman 54:41 Prof Firman pengin Eh nanya mengenai 54:44 peta 54:45 eh demografi ya sosial politik eh 54:50 masyarakat Indonesia Ya ada beberapa 54:52 data yang 54:53 menarik yang pertama adalah ee pemilih 54:57 parpol Islam semakin lama semakin 54:59 berkurang dari tahun ke tahun ya Ee 55:02 total parpol Islam di tahun 2019 kemarin 55:06 sudah Ee tinggal 30% itu jumlah pemilih 55:10 PKS P3 PKB gitu ya Eh pan dan lain-lain 55:15 EE PBB gitu nah kemudian fakta 55:19 berikutnya adalah ee yang EE dari 55:24 survei-survei yang objektif termasuk eh 55:27 mungkin survei internal partai-partai 55:29 yang ada bahwa kepuasan publik terhadap 55:32 Pak Joko itu cukup 55:34 tinggi cukup tinggi nah bagaimana 55:37 profman melihat kondisi masyarakat 55:40 indonesia ini apakah Memang secara 55:43 religiusitas Indonesia ini e memang 55:47 bukan masyarakat yang maksudnya secara 55:50 sekmennya itu Islam yang Islam 55:52 istilahnya tadi Kalau Bangbang itu 55:54 islamkan G tapi memang Islam Islam 55:58 moderat yang eh 56:01 segmenmen nasionalisnya jauh lebih besar 56:03 gitu ya daripada mungkin segmen pemilih 56:06 partai Islam dan salah satunya mungkin 56:09 kalau kita lihat Bagaimana pada er Pak 56:11 Harto ya dengan segala 56:14 apaontranya pemilih partai golk terbesar 56:17 ya ketika itu hanya tinggal 56:20 hanyaai asosiasi pemilih Islam ada di P3 56:23 kemudi yang di tengah nasionalis dan 56:26 pemilih yang apa yang sosialis lah gitu 56:30 ya sosialis itu ada di PDIP nah 56:33 bagaimana Prof Firman melihat eh peta 56:35 kondisi ini ya eh eh sosial demografi 56:39 masyarakat Indonesia gitu Dan mungkin 56:40 ini juga 56:41 menjawab Kenapa di survei-survei Pak 56:44 Anis eh eh elektabilitasnya tidak begitu 56:47 tinggi gitu ya karena terlalu 56:49 terasosiasi dengan Islam kanan dan 56:52 secara persentasenya juga sedikit 56:54 sebenarnya nah bagaimana Prof Firman 56:59 melihat Iya 57:02 eh I masalah survei ini saya kira masih 57:06 debatable ya 57:08 Eh tapi saya mau bicara begini Eh Anda 57:12 bisa bayangkan Dulu ketika masumi diisi 57:16 orang-orang hebat NU diisi diisi 57:18 tokoh-tokoh darah biru yang masih hidup 57:22 orang-orangnya jadi luar biasa antar um 57:25 dan NU itu tokoh-tokohnya banyak 57:28 networkingnya bagus 57:30 eh kesadaran ideologisnya tinggi itu 57:34 hanya 57:35 43% umat Islam punya suara politik ya 57:40 makanya susah sekali menjadi negara 57:42 Islam karena total di parlemen hanya 57:45 43% itu Dulu ketika tokoh-tokoh itu 57:48 masih sangat 57:49 dihormati sangat dikagumi sangat menjadi 57:53 dem gitu ya dan bagaimana Pesantren full 57:57 mendukung NU 58:01 eh masumi juga tokoh-tokohnya hebat ada 58:04 yang Perdana Menteri ada yang menteri 58:06 luar negeri dan lain-lain itu hanya 43% 58:10 gitu nah sekarang perjalanan panjang 58:13 Orde Baru melakukan deideologisasi 58:16 eh menjadikan kekuatan Islam menjadi 58:20 ekstrm kanan Al Murtopo pernah bilang 58:23 lambang ka'bah itu seperti kleng rusak 58:25 begitu ya bagaimana 58:27 sistematisnya Islam diberangus 58:30 masjid-masjid diawasi masa mengambang 58:33 penangkapan e tokoh-tokoh Islam 58:36 kritis itu luar biasa dan itu 58:39 berlangsung tidak 5 10 tahun tapi eh 58:43 hampir berdekade ya 58:46 Eh dan seiring dengan waktu juga ada 58:50 perubahan orientasi masyarakat untuk 58:53 menjadi eh 58:55 lebih e praktis lebih 58:58 pragmatis lebih melihat secara 59:01 materialistis jadi saya kira wajar kalau 59:04 kemudian 30% yang anda sebutkan tadi ini 59:07 terjadi setelah satu upaya pemberangusan 59:10 politik secara sistematis era orde lama 59:13 dengan dibubarkannya masumi misalnya dan 59:16 juga di era Orde Baru 59:19 bagaimana partai-partai di luar 59:21 pemerintah dikerjain habis-habisan 59:23 begitu ya sehingga saya kira eh 59:26 orientasi masyarakat ini eh melihat 59:28 menjadi lebih 59:30 substansialistik apalagi ada gerakan Cak 59:32 Nur melihat Islam sebagai substansi gitu 59:36 ya partai Islam yes partai islam no 59:39 sehingga di situ mulai berkembang satu 59:41 genre pemikir apa aliran politik yang 59:44 saya kira menjadi lebih relevan di 59:47 situasi kekinian e dianggap relevan 59:49 begitu yang lebih up to date sehingga 59:52 muncullah aliran-aliran yang EE mungkin 59:54 Dianggap leh relevanitu dan yang 59:56 berikutnya adalah politik itu adalah 59:59 uang apalagi demokrasi ya Eh sangat 1:00:02 memerlukan kekuatan finansial dan saya 1:00:04 kira kita bisa lihat Bagaimana kekuatan 1:00:06 finansial itu menggerumut di 1:00:08 partai-partai non Islam ya untuk 1:00:10 menyebarkan 1:00:12 ide-idenya visiisinya 1:00:14 eksistensinya 1:00:16 sehingga dari banyak aspek 1:00:19 sebetulnya% tapi saya ka kalau kita 1:00:22 lihat Bu perah mengatakan ada kekuatan 1:00:25 nasakom nasionalis agama dan 1:00:28 komunis agama itu memang hanya hanya 1:00:30 mungkin sepertiga saja dalam bayangan 1:00:32 Bung Karno ya kalau kita mau eh 1:00:35 berandai-andai gitu ya bukan suatu 1:00:37 kekuatan yang 100% diyakini menjadi 1:00:39 sebuah kekuatan politik dia bisa menjadi 1:00:42 kekuatan religius kekuatan sosial budaya 1:00:45 tapi secara politik eh Bung Karno sudah 1:00:48 menyadari eh itu Itu bukan sebuah 1:00:50 kekuatan yang equal dengan jumlah 1:00:52 mayoritas Islam di Indonesia jadi memang 1:00:55 demografinya eh Semakin Semakin demikian 1:00:58 dan ada eh ada potensi untuk mungkin 1:01:02 mengalami kemunduran karena tadi dari 1:01:05 sisi tokoh dari sisi kekuatan finansial 1:01:08 dari sisi kekuatan pesaingnya juga 1:01:10 bergerak begitu ya Sehingga itu akan ke 1:01:13 sana gitu Nah apakah itu akan terkait 1:01:16 dengan a Saya kira kanan Saya kira ini 1:01:20 memang coba untuk didengung-dengungkan 1:01:22 karena toh kenyataannya justru yang 1:01:25 pertama kali mengusung adalah Nasdem ya 1:01:27 Nasdem satu elemen politik yang dulu 1:01:29 saya kira pada politik DKI Jakarta dulu 1:01:32 sangat sangat Solid mendukuk Ahok begitu 1:01:35 ya tapi tapi ya ini politik satu upaya 1:01:39 pencitraan seingal seperti itu gitu ya 1:01:42 padahal kekuatan 1:01:44 e di belakang Anis kan merata ya Ada 1:01:47 kekuatan Pemuda Pancasila juga ada 1:01:49 kekuatan Demokrat ada kekuatan nasd 1:01:51 bahkan PKS diantara tiga ya hanya satu 1:01:54 sepertiganya saja gitu Nah saya kira 1:01:58 kalau kembali ke masalah survei ya ini 1:02:01 ini masih bisa diperdebatkan karena 1:02:03 kalau belajar dari survei-svei 1:02:05 sebelumnya kan konteks DKI 1:02:08 pun selalu kalah gitu ya dari surveve 1:02:12 juga dan bagaimana pengalaman survei di 1:02:14 Jawa Barat Saya kira juga ada pasangan 1:02:17 yang tidak diduga malah 1:02:20 perkatitu saya ka 1:02:23 itu adalah Saya kira masyarakat kita 1:02:27 saat ini memilih ee lebih dari sekedar 1:02:31 latar belakang primordial tapi juga ada 1:02:33 faktor-faktor lain yang dihitung ee 1:02:36 untuk kemudian menjadi aspirasi politik 1:02:39 mereka begitu ya artinya tidak selamanya 1:02:42 bergantung pada kekuatan primordial atau 1:02:45 ideologi keagamaan sebagaimana yang dulu 1:02:47 di tahun -an itu menjadi satu pegangan 1:02:50 betul bagi komunitas Islam Tapi itu pun 1:02:53 hasilnya hanya 43 1:02:55 3%u Saya kira demikian Baik terima kasih 1:02:59 profman Sekarang kita ke udah pangi 1:03:02 pertanyaan sama udah plus 1:03:04 mungkin juga analisisnya Apakah mungk ya 1:03:07 Jadi pertama dengan Apakah memang 1:03:11 masyarakat Indonesia ini secara 1:03:14 sosiemografinya sosial politik 1:03:15 demografinya memang dominannya 1:03:18 nasionalis ya kenaai Islam semak 1:03:21 berkurang eh total pemnya Pemilu 2019 1:03:25 kemarin sudah tinggal 30% semakin 1:03:28 berkurang ya dari 1:03:29 40% berkurang berurang terus sampai 30% 1:03:32 sekarang kita enggak tahu nanti 1:03:33 bagaimana di pemilu 2024 dan kemudian 1:03:36 yang kedua ada fenomena menarik juga 1:03:38 bahwa di Indonesia ini tidak ada partai 1:03:40 yang benar-benar dominan ya saat ini 1:03:42 pasca ord baru ya dulu golk yang begitu 1:03:45 sangat dominan 1:03:46 Eh bisa lebih dari 50% pemilihnya Nah 1:03:50 sekarang tidak ada bahkan untuk tembus 1:03:52 20% saja tidak ada bagaimana Bung pangi 1:03:56 melihat 1:03:57 fenomena basis-basis sebaran pilihan 1:04:00 politik masyarakat Indonesia ini yang 1:04:01 tidak ada satuun partai yang benar-benar 1:04:04 dominan saat ini pasca 1:04:07 reformasi ya bangdi ya Eh tadi profman 1:04:12 saya pikir sudah menjelaskan lebih lebih 1:04:14 dalam ya 1:04:16 soal harta Islam itu kering apa logistik 1:04:20 ya tidak kekuatan-kekuatan bohir itu 1:04:24 lebih banyak kepada kelompok-kelompok 1:04:25 partai nasionalis dan 1:04:28 ehnya logistik tidak cukup memadai 1:04:31 sementara demokrasi kita ini kan 1:04:33 demokrasi bantalan logistik gu bahwa 1:04:35 demokrasi yang kemudian masyarakat kita 1:04:38 Kian eh transaksional Kian pragmatis 1:04:42 selalu bicara jumlah bicara uang dan 1:04:44 barang dan Eh bagaimana pemilih kita 1:04:48 merendahkan dirinya merendahkan nilainya 1:04:51 dengan menerima uang yang dia pilih eh 1:04:54 yang Kemudian beliau eh transaksi barter 1:04:58 antara suara dengan jumlah uang nah ini 1:05:01 juga 1:05:03 menjadiaiai Islam saya pikir tidak 1:05:05 siapanding jug untuk Mak yang serupa 1:05:08 denganai-partai nasionalis yang 1:05:12 mengandalkan logistik yang cukup memada 1:05:15 itu yang kedua sebetulnya 1:05:18 adalahara is 1:05:23 isakiakun kalau kalau kita cermati 1:05:25 memang kan Soekarno pernah menguji ya ya 1:05:28 ujiannya sederhana challeng-ya Soekarno 1:05:31 bilang eh kalau mau menjadi negara Islam 1:05:34 Ya silakan tapi 1:05:36 eh kita harus Pemilu dulu 1955 1:05:40 terjadilah 1:05:42 Pemilu itu mungkin Prof juga tahu itu 1:05:45 Pemilu 1955 ternyata tantangan Soekarno 1:05:47 itu tidak terjawab bahwa kalau partai 1:05:49 islamumi atau NU atau Apun yang menang 1:05:53 bolehlah kita mengambil rute jalan 1:05:55 sebagai negara Islam tapi 1955 ternyata 1:05:59 partai islam tidak muncul sebagai 1:06:01 kekuatan yang dominan artinya tidak 1:06:04 pemenang pemilu juga yang pemenang 1:06:06 pemilu PNI Nah setelah ituya bilangah 1:06:10 kan kalian itu mayoritas tapi belum 1:06:12 tentu menjadi kekuatan yang menentukan 1:06:14 bukan mayoritas tapi bukan pemenang 1:06:19 jadiikian tungguuatulu 1:06:22 kekuatanak ter mampu dari 1955 sampai 1:06:25 sekarang sejarahnya begitu-gitu aja 1:06:27 partai islam saya enggak mengatakan 1:06:29 partai Islam sebagai Antara Ada Dan 1:06:31 Tiada ya tetapi memang sebagai kekuatan 1:06:34 yang dominan yang dipertimbangkan di 1:06:37 dalam kontestasi di dalam kekuatan 1:06:38 politik memang 1:06:40 belum apalagi memang partai-partai Islam 1:06:42 ini pemilih-pemilih dari partai islam 1:06:44 ini kan juga berharap yang memilih 1:06:47 mereka adalah pemilih muslim kan Nah 1:06:49 sementara pemilih muslim di 1:06:50 partai-partai lain juga ada jadi ceruk 1:06:52 segmennya juga sebetulnya kecil karena 1:06:55 di Partai Golkar juga ada pemilih Islam 1:06:57 di PDIP juga ada ya di partai-partai 1:07:00 nasionalis juga ada nah banyak kemudian 1:07:02 partai islam tidak mencoba penetrasi 1:07:05 segmennya Memang mereka hanya berharap 1:07:07 pemilih Islam itu memilih partai islam 1:07:10 itu juga menjadi tantangan ya challenge 1:07:12 bagi partai islam itu di samping memang 1:07:15 partai Islam sangat mudah dirobohkan 1:07:16 secara opini elemen yang ketiga secara 1:07:19 dibunuh eh secara King secara didongrb 1:07:22 secara eh apa secara operasi politik 1:07:25 sangat mudah misalnya ketika PKS kemarin 1:07:28 ketika dimainkan isu korupsi kemudian 1:07:30 isu wanita isu moral itu sangat mudah 1:07:33 Robohnya karena memang partai-partai 1:07:35 Islam ini kan cenderung membawa ee apa 1:07:37 moral dan etika ya di dalam politik nah 1:07:40 kemudian partai islam itu dijatuhkan 1:07:42 dengan moral sementara partai-partai 1:07:44 nasionalis dia tidak berani untuk 1:07:46 membawa ruangoral dan etika itu ke dalam 1:07:49 e partainya sehingga mereka sulit untuk 1:07:51 dijatuhkan dengan eh artinya saya 1:07:54 katakan bukan maksud saya begini beban 1:07:56 moralnya partai islam itu jauh melampaui 1:07:58 dari beban moral partai nasionalis 1:08:01 sehingga ini juga tetapi di satu sisi 1:08:03 mereka akan menjadi kekuatan ketika 1:08:05 memainkan partai yang bersih seperti PKS 1:08:08 itu tetap menjadi hari ini cenderung 1:08:10 pemilih kita misalnya hari ini cenderung 1:08:13 memilih partai yang bersih gitu partai 1:08:15 yang jujur partai yang berpihak kepada 1:08:18 kepentingan rakyat tidak hanya semboyan 1:08:20 gitu e membela misalnya BPJS yang sekian 1:08:24 hari makin dikurangi di tidak lagi 1:08:25 diover padahal itu harusnya gratis 1:08:28 sementara untuk berobat hari ini sudah 1:08:30 mulai banyak yang yang tidak di dikover 1:08:32 oleh BPJS pada saatnya sama misalnya 1:08:35 listrik mobil listrik disubsidi untuk 1:08:38 orang kaya motor listrik disubsidi R 1:08:40 juta mobil R juta tidak tepat sasaran 1:08:44 tapi suaraara suara yang lain ini enggak 1:08:46 ada partai islam juga diam nah ini juga 1:08:48 jadi problem bahwa partai islam tidak 1:08:51 berani untuk challeng itu untuk tantang 1:08:53 itu pada soal isu-isu nasionalis itu 1:08:55 padahal itu isu-isu yang sangat 1:08:57 betul-betul menguntungkan secara 1:08:59 elektoral bagi partai islam karena tidak 1:09:01 pas untuk memainkan isu-isu agama guu 1:09:03 jadi isu-isu yang berkenan berkesan 1:09:05 dengan apa namanya mengimbangi bahwa 1:09:09 keberpihakan kepada rakyat yang dibilang 1:09:11 oleh e Prof Firman tadi adalah keadilan 1:09:13 sosial itu yang mestinya diangkat oleh 1:09:15 partai islam Nah itu pun partai islam 1:09:18 kian hari tidak terlalu tangguh di situ 1:09:20 untuk 1:09:21 bertanding sekarang ini saja pghasilan 1:09:24 orang Indonesia hasil surve saya 1:09:26 konsisten dari 2019 sampai sekarang itu 1:09:29 Orang Indonesia itu saya lakukan survei 1:09:32 nasional ya mau surve Pilkada mau surve 1:09:36 Apun surapil danerusnya tahak Berapa 1:09:39 penghasilan orang Indonesia paling 1:09:42 signifikan di Indonesia hanya di bawah 1:09:44 700.000 ya itu 1:09:48 hampir% orang Indonesia berpenghasilan 1:09:51 hanya 1:09:52 diah00.000 3 juta ke atas itu hanya 1:09:55 5% dari populasi Indonesia Nah itu 1:09:58 bagaimana kita bicara ketimpangan ya 1:10:00 keadilan sosial gitu di satu sisi Diat 1:10:03 ini kan mereka makin pelit untuk subsidi 1:10:06 rakyat tapi subsidi teradap orang kaya 1:10:07 makin gila-gilaan n istil itulah peran 1:10:10 momentum itulah yang harus diambilkan 1:10:12 oleh partai islam itu pun tidak Maksimal 1:10:14 dilakukan saya PKS melakukan tapi belum 1:10:17 maksimal nah bagaimana kemudian 1:10:19 mengambil empati populisme sentimen itu 1:10:22 supaya itu merubah kepada elektoral nah 1:10:25 tetapi bersyukurlah masih ada PKS kata 1:10:27 Prof Firman sehingga Indonesia disebut 1:10:29 sebagai nemka demokratis termasuk 1:10:32 Demokrat kalau enggak ada a Salam kan 1:10:34 udahlah udah selesai gitu ah kita mau 1:10:37 Apapun kata pemerintah Indonesia DPR 1:10:40 hanya sebagai tukang stempel kan karena 1:10:42 sudah eksekutif Happy legislatif 1:10:44 happynya sudah enggak ada lagi itu fakta 1:10:47 eh kemudian soal apa terakhir tadi 1:10:49 bangdi 1:10:51 ya ya bang apa tidak ada ai yang dominan 1:10:54 di Indonesia 1:10:56 ini ya kalau partai tidak ada dominan 1:10:58 memang rela ya Setelah 1:11:01 reformasi sudahah gak ada lagi yang 1:11:03 dominan memang rela lebih merata ke 1:11:06 semua 1:11:07 partai itu pun saya gak faktornya banyak 1:11:10 sebetulnya tingkat partisipasi juga 1:11:12 mungkin jawabannya sederhana sih 1:11:16 Eh kalau melihat 1:11:18 ehemilih kita ini cenderung kanemili 1:11:21 mengayun lebihar ya ya kemudian mereka 1:11:25 ini kan mudah-muda migrasi pindah partai 1:11:28 itu gampang banget kemudian ee 1:11:31 kecenderungan mereka itu eh mudah e 1:11:35 partednya juga rendah Jadi mereka itu 1:11:38 tidak memungkinkan semua partai itu bisa 1:11:40 besar seperti OD baru karena kalau 1:11:42 Golkar kan kita tahu cara menangnya 1:11:45 misalnya kepengurusan waktu itu mungkin 1:11:47 Prof Firman juga tahu bahwa Dati sat itu 1:11:50 enggak boleh Dati du sudah enggak ada 1:11:52 lagi itu P3 sama PDIP gitu jadi 1:11:55 kepengurusan hanya pada tingkat provinsi 1:11:57 saja karena Golkar dianggap bukan partai 1:12:00 politik maka golk sampai ke daerah 1:12:02 kabupaten kan Nah sebelum abg-nya itu 1:12:06 kan kekuatan ABRI militer dan kondisi 1:12:08 sekarang sudah engak memungkinkan untuk 1:12:09 itu memang rela hampir merata semua 1:12:12 partai politik tidak ada yang dominan 1:12:14 karena memang 1:12:15 eh saya pikir memang E sistem atau 1:12:19 konteksnya tidak memungkinkan lagi 1:12:21 karena Eh ini bukan otoritari gitu Ini 1:12:24 kalau di orde baru kan otoritarian jadi 1:12:26 Soeharto sangat kuat ya bagaimana e 1:12:29 Golkar menjadi penopangnya itu adalah 1:12:32 birokrasi ya kemudian PNS kemudian 1:12:35 kekuatan-kekuatan yang lain Jadi 1:12:36 sekarang sudahah engak hampir enggak 1:12:38 ada kekuatan itu ya kemudian masyarakat 1:12:41 kita rasional juga jadi memilih mereka 1:12:44 lebih merata lebih melihat rekam jej 1:12:47 partai maka mereka sangat mudah suka 1:12:49 dengan partai dan mereka menghukum 1:12:50 partai besok juga sangat mudah untuk 1:12:52 tidak suka dengan partai itu tingkat 1:12:56 keterpilihannya juga berubah-rubah 1:12:57 migrasinya gampang besok milih PDIP 1:12:59 besok milih Demokrat besok milih PKS itu 1:13:01 gampang eh pemilih ideologisnya kurang 1:13:04 besar itu membuat partai kita enggak ada 1:13:06 yang signifikan jadi sebaran pemilih 1:13:09 kita tuh merata hampir ke semua partai 1:13:11 politik tapi kalau misalnya PDIP bisa 1:13:14 menang tiga kali ini sejarah juga selama 1:13:16 ini kan partai-partai incumben di ruling 1:13:19 party hanya Menang dua kali ya Tapi 1:13:21 kalau besok PDP menang tiga kali berarti 1:13:23 PDP termasuk unggul di dalam konteks 1:13:26 tiga kali menang Pemilu legislatif 1:13:28 berturut-turut biasanya Setiap Pemilu 1:13:30 itu ganti 1:13:34 pemenang Baik terima kasih bungangi dan 1:13:38 sekarang kita ke Prof Firman lagi ini 1:13:42 kita kembali lagi ke tema antara DNA 1:13:46 Anis dan D PKS ada yang menarik 1:13:50 iniman 1:13:52 bahka DKI itu ya 1:13:55 Eh ketika itu Anis bareng Sandi dan juga 1:13:59 partai pengusungnya ketika itu eh PKS 1:14:03 dan juga Gerindra ya Nah kemudian eh 1:14:08 ketika itu ada analisis memang bahwa kan 1:14:10 ada tiga paslon satu lagi ahy ya Agus 1:14:13 Silvi 1:14:14 eh bahwa masyarakat akhirnya eh di 1:14:18 putaran pertama itu lebih banyak memilih 1:14:20 Anis dari ahy karena strategi yang 1:14:23 berhasil mengasosiasikan eh Anis sandi 1:14:27 ketika itu yang lebih dekat ke umat 1:14:30 Apalagi kemarin ada gerakan 1:14:32 212 nah seperti itu sehingga itu yang 1:14:36 membuat seakan-akan Anis ini memang 1:14:39 terasosiasi kanan ya Nah kemudian ketika 1:14:42 sudah 5 tahun beliau menjabat menjadi 1:14:44 gubernur 1:14:45 eh dengan segala analisis beliau beliau 1:14:49 berusaha melepaskan asosiasi itu ya 1:14:52 asosiasi itu itu fokus P kinerja gitu ya 1:14:56 dan kemudian sekarang 1:14:59 Eh malah masuk 1:15:02 Nasdem kemudian eh Nasdem juga berusaha 1:15:05 mengasosiasikan Anis adalah kadernya 1:15:07 tadi saya agak tergtik dari Bang pangi 1:15:10 mengatakan 1:15:11 eh nasd mengusung Anis sebagai kader 1:15:14 padahal yang saya tahu juga bukan ya 1:15:17 bukan kader kader Nas mungkin tapi Anes 1:15:20 pendiri salah satu pendiri eh ya ormas 1:15:24 ormas ormas Nas memang tapi kalau 1:15:26 parttainya bukan walaupun Nah dengan 1:15:30 dengan kondisi eh seperti ini dan ke 1:15:33 depannya 1:15:35 eh menurut analisis Prof Firman Anis 1:15:38 akan mengasosiasikan diri sebagai citra 1:15:41 apa dalam rangka supaya bisa memenangkan 1:15:44 konestasipres ini ya kita eh apa namanya 1:15:47 Apakah eh dengan salah satu parpol atau 1:15:51 asosiasi ke hal yang lain yang mungkin 1:15:53 lebih ee berpeluang memenangkan 1:15:56 kontestasi 1:15:59 Pilpres Saya kira dia akan Beyond parple 1:16:02 ya dia kan t lainnya ya keadilan sosial 1:16:05 eh kemudian masalah demokrasi halhal 1:16:09 seperti itu ya kemudian juga 1:16:12 Eh bagaimana ee kemakmuran itu bisa 1:16:16 dirasakan oleh lebih banyak orang jadi 1:16:19 dia sudah sudah terlepas dari tema-tema 1:16:22 primordial ya Dan kalau kita lihat kan 1:16:24 juga ee ee bagian dari timsesnya ini 1:16:28 sudah lintas agama juga ee untuk 1:16:31 menyampaikan bahwa konsern dia di DKI 1:16:34 ini adalah menjadikan DKI milik semua 1:16:36 warganya nyaman begitu ya Ee apapun 1:16:39 latar belakang eh primordial yang mereka 1:16:42 miliki jadi eh Jakarta merupakan 1:16:44 laboratorium politik dari eh Anis untuk 1:16:48 menunjukkan banyak hal yang selama ini 1:16:51 ee ee eh diduga akan dia lakukan ya 1:16:55 diasumsikan bahwa ee dia akan menjadi 1:16:58 Bapak politik identitas dan lain-lain 1:17:01 tapi eh di Jakarta Inilah dia banyak 1:17:04 membuktikan eh bahwa eh semuanya masih 1:17:07 asumsi gitu ya dan bahkan beberapa 1:17:09 asumsi itu salah gitu ya Eh dan Anis kan 1:17:13 selalu bilang kalau kalau menilai saya 1:17:15 ya nilai E apa yang sudah saya lakukan 1:17:18 gitu ya secara objektif bukan kembali 1:17:20 ditarik-tarik ke masalah asumsi dan 1:17:24 Saya kira juga eh banyak kalangan 1:17:26 minoritas di Jakarta yang mengakui 1:17:29 kinerja yang yang toleran yang tidak 1:17:33 melihat latar belakang 1:17:38 agama I itu saya kira pembuktian bahwa 1:17:41 Anis ingin e tidak mau mandek di dalam 1:17:44 berpolitik hanya hanya masalah 1:17:47 primordial dan saya kira itu sudah 1:17:50 dibuktikan di 1:17:52 Jakarta misalnya ya dulu dia ditingkan 1:17:54 dengan eh FPI atau Islam kanan tapi 1:17:57 kebijakan mana di DKI yang eh 1:18:00 mengakomodir kepentingan Islam kanan 1:18:03 Islam radikal FPI dan lain-lain saya 1:18:06 kira eh itu itu asumsi ya dan itu biasa 1:18:09 dalam dunia politik untuk kemudian 1:18:12 perang wacana peran imaji peran eh ee 1:18:17 bagaimana orang kemudian coba untuk 1:18:20 didiskreditkan begitu ya dengan segala 1:18:23 aspek dengan segala cara tapi saya kira 1:18:26 eh itu e bagi Anis sendiri Sudah 1:18:30 selesailah persoalan-persoalan itu hanya 1:18:32 tinggal memang mau tidak mau karena ini 1:18:35 akan kembali ke persoalan-persoalan 1:18:37 seperti itu akan selalu bermunculan 1:18:39 tentu saja pada akhirnya ini akan 1:18:41 menjadi PR bagi tim sukses dari Anis 1:18:44 untuk bisa mengolahnya dengan baik eh 1:18:48 sehingga bisa menunjukkan sisi-sisi lain 1:18:50 dari seorang Anis yang tidak ber at 1:18:53 dengan masalah primordial Saya kira saya 1:18:56 kira itu jadi eh Anis Saya kira akan 1:18:59 akan di akan beond partai gitu akan 1:19:02 above partai dia akan mencoba menaungi 1:19:04 semua eh kelompok yang memberikan amanat 1:19:07 kepada dia untuk menjadi presiden dan 1:19:09 dia punya satu sikap yang yang 1:19:13 eh yang genuin dari seorang Anis gitu ya 1:19:17 Yang yang sudah dia miliki sejak awal 1:19:19 dan saya kira kalau kita bicara TR 1:19:21 record kan memang 1:19:24 sebetulnya bagaimana dia juga pernah 1:19:26 memimpin para Madina dia besar di 1:19:28 Amerika saya kira Justru lebih banyak 1:19:31 nilai-nilai moderat Anis ya 1:19:32 ketimbangkanan gitu hanya kebetulan 1:19:35 memang ketika di DK Jakarta tuh 1:19:37 timingnya pas ya ketika memang ada satu 1:19:40 aksi reaksi dari aksi e dari satu aksi e 1:19:45 seorang pemimpin politik yang Katakanlah 1:19:48 eh tidak kena dengan masyarakat Islam di 1:19:52 JKI Jakarta itu itu kemudian menimbulkan 1:19:53 reaksi dan Anis berada di tengah-tengah 1:19:56 seperti itu sehingga mau tidak mau 1:19:58 terimbas juga di dalam berpolitiknya 1:20:00 tapi kalau secara objektif kita lihat ke 1:20:02 belakang maka saya kira 1:20:04 eh Anis juga punya sikap politik sendiri 1:20:08 yang khas dia yang EE membuat eh 1:20:11 karakternya sekarang saat ini ya 1:20:13 terlihat sebagai pemimpin untuk eh tidak 1:20:16 hanya kalangan Islam saja sebetulnya 1:20:18 tapi itu tadi pasti di dalam dunia 1:20:20 politik akan ada upaya-upaya untuk 1:20:23 untuk melakukan satu rediksionis ya 1:20:26 penyederhanaan eh untuk menunjukkan Sisi 1:20:30 kelam dari seseorang untuk kemudian 1:20:32 dipolitisir ee sehingga bisa 1:20:35 mempengaruhi pilihan orang begitu tapi 1:20:37 kalau secara genuin tadi dna-nya tadi 1:20:40 DNA seorang Anis Saya kira eh trade 1:20:43 record dia sebagai kekuatan Islam kanan 1:20:45 itu 1:20:48 eh tidak terlalu melekat sebetulnya dari 1:20:51 sejarah sejarah seorang an gitu Dan ini 1:20:54 juga berarsiran sebetulnya ee dengan 1:20:58 dengan e PKS yang sebetulnya eh sejak 1:21:01 awal kalau mau sabar melihat Ideologi 1:21:04 dan gerakan-gerakan PKS juga sebetulnya 1:21:06 ee penuh dengan nilai-nilai yang moderat 1:21:08 gitu ketimbang kanan tapi ya kadang ee 1:21:11 namanya politik itu ada 1:21:13 pencitraan-pencitraan untuk 1:21:14 menggolong-golongkan sehingga 1:21:16 seolah-olah yang sebetulnya Ee tidak 1:21:18 terlalu kanan menjadi terlihat sangat 1:21:20 kanan begitu ya ee ee ee ee atau atau 1:21:24 yang e Enggak enggak kiri tapi kelihatan 1:21:27 sangat kiri itu itu itu biasa di dalam 1:21:29 dunia 1:21:30 politik Baik terima kasih eh Prof Firman 1:21:34 Eh sekarang ke Bang pangi ini eh Sebelum 1:21:38 kita akhiri 1:21:40 Eh kenapa di beberapa survei terakhir 1:21:43 ini Pak brobowo nilainya tinggi nih 1:21:46 tingkat itabilitasnya ee bahkan melebihi 1:21:50 Pak Ganjar nih fenomenanya Bang eh pangi 1:21:54 ya kemudian eh dan kenapa ya Bisa yang 1:21:58 dulunya Pak Prabowo itu dua periode 1:22:01 sebagai opos 1:22:02 Jokowi sekarang juga masyarakat 1:22:06 eh malah Banyak mendukung 1:22:09 beliau walaupun beliau sudah bergabung 1:22:11 dengan Pak Jokowi bagaimana Bang pang 1:22:18 melihat ya ini kan memang 1:22:24 apa namanya ya persepsi masyarakat itu 1:22:26 kan gak memang susah ya kita membacanya 1:22:30 mereka puas saja belum tentu puas itu 1:22:32 yang puas yang mana juga masih 1:22:34 bingung apa puas karena BLT kita gak 1:22:37 tahu bantuan langsung tunai yang item 12 1:22:41 itu atau puas karena to atau puas karena 1:22:44 kinerja atau puas 1:22:47 Ken 1:22:51 janangan puas Hari ini saya misalnya 1:22:54 dibuat hidup saya susah ya naikin harga 1:22:57 barang kebutuhan pokok semua naik semua 1:22:59 kan tiba-tiba datang ke rumah paket 1:23:02 kan lewat pos lewat BRI datang uang cash 1:23:07 r300.000 nah tiba-tiba yang hidup saya 1:23:10 hampir susah tadi Besok disurupai apakah 1:23:14 sama karena sudah masuk 300.000 rekening 1:23:17 Itu bisa masih saya bilang puas saya 1:23:20 masih puas walaupun hidup saya sudah 1:23:22 dipersusah gitu Nah yang mana itu yang 1:23:25 jug juga itulah persepsi masyarakat kita 1:23:28 enggak tahu yang mana gitu jadi eh itu 1:23:31 yang pertama yang kedua soal Pak Prabowo 1:23:33 gitu 1:23:34 ya ya namanya elektoral itu kan dinamis 1:23:38 ya hari ini orang milih Pak Prabowo 1:23:42 karena masih menhan ya kemudian masih di 1:23:46 masih e masih bisa gunting pita sama Pak 1:23:51 Jokowi bahkan beliau masih bisa 1:23:53 menggunakan apa jabatan menhnya itu 1:23:56 untuk kampanye gitu itu fair itu ya tapi 1:23:59 itu faktanya bahwa eh beliau lebih punya 1:24:02 panggung gitu ya kemudian Eh Pak Prabowo 1:24:07 dikatakan 1:24:08 lebih 1:24:09 nasionalis kemudian Pak prabow dikatakan 1:24:12 lebih tidak pendendam 1:24:14 eh atau lebih dianggap orang yang selama 1:24:17 ini terzalimi oleh Bu Mega oleh yang 1:24:22 misalnya seolah-olah begitu 1:24:24 dijanjikan nah ini yang kemudian membuat 1:24:27 ya persepsi masyarakat empatik aja 1:24:30 mungkin istilahnya tu underd e ya orang 1:24:32 yang terzalimi itu seaholah orang senang 1:24:34 gitu 1:24:35 empatik nah itu yang kemudian membawa 1:24:39 mungkin ada faktor itu yang membuat Eh 1:24:42 Pak prabo masih bisa berpotensi untuk E 1:24:46 berkontestasi dan menang gitu kan di 1:24:49 samping memang faktortainya bahwa 1:24:51 Gerindra itu eh besar 1:24:53 pengaruhnya karena P Pak Prabowo masih 1:24:56 Diany dikampanyekan oleh partai ya 1:24:59 mana-mana 1:25:01 caleknya ribuan kan calek DPR juga 1:25:04 banyak itu selalu mempromosikan Pak 1:25:06 Prabowo dan selalu mengatakan bahwa 1:25:09 Prabowo presiden Prabowo menang kan itu 1:25:11 masih itu masih terus berlanjut Nah itu 1:25:14 salah satu juga kekuatan Pak Prabowo 1:25:16 punya mesin yang cukup bisa 1:25:18 diandalkan nah di samping memang pakab 1:25:22 dianggap adalah tokoh yang misalnya yang 1:25:25 Mampu 1:25:26 melanjutkan Apa kebijakan atau yang apa 1:25:31 keberlanjutan yang senang yang 1:25:33 senang-senang dengan keberlanjutan yang 1:25:35 senang dengan kebijakan Pak Jokowi itu 1:25:37 juga ada kecenderungan memilih Pak 1:25:39 Prabowo karena Pak Prabowo tokoh yang 1:25:42 dianggap mampu untuk melanjutkan 1:25:43 program-program pemerintah kebijakan 1:25:47 pemerintah termasuk juga mungkin 1:25:50 eh di isu perubahan gitu tapi Pak 1:25:54 Prabowo lebih cenderung kepada isu 1:25:56 keberlanjutan meskipun ada juga mungkin 1:25:58 pemilih Pak Prabowo yang senang isu-isu 1:26:00 perubahan tidak semua isu-isu 1:26:03 keberlanjutan kemudian faktor-faktor 1:26:05 yang lain mungkin juga Masalah e Saya 1:26:08 dengar ya Bagaimana media sosialnya Pak 1:26:10 Prabowo logistiknya banyak besar hari 1:26:12 ini kan gitu Itu sempat menjadi opini 1:26:16 pembicaraan elit kan pembicaraan 1:26:18 orang-orang di warung-warung kopi kan di 1:26:21 tingkat elit bahwa Dana kampanye media 1:26:23 sosial Pak prabo lebih tinggi dibanding 1:26:24 yang lain itu juga berdampak kepada 1:26:28 sentimen populisme dan Citra 1:26:30 kan karena logistiknya besar belanja 1:26:33 belanja media sosialnya 1:26:35 besar itu juga mungkin ya Menurut saya 1:26:38 itu akan mempengaruhi secara itu kan 1:26:40 terstruktur berarti kan dalam politik 1:26:41 kan enggak ada yang 1:26:42 alamiah ada Desainnya ada arsiteknya 1:26:45 saya enggak yakin dalam politik itu 1:26:46 enggak ada yang alami politik itu kan 1:26:50 sesuatu yang diciptakan 1:26:53 tidak mungkin itu mengalir secara 1:26:54 sendiri itu kemungkinan ya membuat 1:26:58 pakabad dan ka-a 1:27:14 pakakaa 1:27:21 pandangandang n itu yang bisa beliau 1:27:22 lakukan untuk untuk hari ini ya tapi 1:27:25 kalau ada keajaiban besok ya pasti 1:27:26 beliau akan punya panggung lain kita 1:27:28 enggak tahu panggung apa yang akan 1:27:29 dipakai tapi yang jelas Pak prabo punya 1:27:34 panggung nah 1:27:37 kemudian mungkin yang kemarin 1:27:39 pemilih-pemilih yang kecewa dengan Pak 1:27:41 Prabu 1:27:43 eh dianggap pengkhianat atau dianggap 1:27:46 mengecewakan pemili itu Ya mulai juga 1:27:49 mungkin mereka berpikir 1:27:51 bahwa ya tidak tidak seperti itu juga 1:27:54 pikiran mereka hari ini bisa berubah 1:27:57 bahwa pak prab apa namanya ya dengan 1:28:00 narasi selama ini kan membantu 1:28:02 pemerintah KJA sama 1:28:05 berkoalisi menyelamatkan pemerintah jadi 1:28:08 sentimnya mulai tidak negatif ketika 1:28:10 pakab awal-awal bergabung ke pemerintah 1:28:12 kan 1:28:16 ne saya gak tahu pemilihnya yang kemar 1:28:18 kecewa ituih mfkan atau tap kecewa saya 1:28:22 gak yang kemarin karena Pak prabo 1:28:25 bergabung ke 1:28:26 pemerintah kalau misalnya mereka yang 1:28:29 tidak suka dengan Pak prab bisa saja 1:28:31 mereka ka bergabung ke pemerintah tapi 1:28:33 berapa persen yang tidak sukaakab kena 1:28:35 bergabung ke 1:28:39 pemerintahan kalau misak suka dengan 1:28:42 prab 1:28:43 karenaotorit atau tidak 1:28:51 suka dianggap 1:28:53 eh warisan orde baru misalnya itu berapa 1:28:56 persen yang tersisa yang percaya tapi 1:28:59 ternyata orang masih suka dengan Pak 1:29:00 prab karena dianggap tegas masih besar 1:29:03 orang mengatakan 1:29:05 bahakab Mi 1:29:07 ber masih banyak yang percaya bahwa Pak 1:29:10 prabal yang bisa melanjutkan programnya 1:29:12 Pak Jokowi masih dianggapakabalah 1:29:20 tokatuangs etalas atau ion atau apa 1:29:25 namanya ya aksesoris sebagai tokoh yang 1:29:27 mampu menjaga persatuan dan kesatuan 1:29:29 bangsa Nah kalau itu masih bes 1:29:31 intensitas arahnya seperti itu maka 1:29:35 memang tingkatabilitas pas akan secara 1:29:38 bonus 1:29:40 ituak karena sen negaai berkurang tapi 1:29:44 yang diakyarakat tentang 1:29:47 pakab Diang seb yang ada 1:29:50 Diak dalam pandangan masyarakat Bapak 1:29:53 Prabowo itu adalah tokoh negarawan misal 1:29:55 tokoh pemersatu tokoh yang bisa menjaga 1:29:59 melanjutkan program Pak Jokowi Nah 1:30:01 itu Eh cepat atau tidak bisa tidak 1:30:04 dinafikan bahwa itu menyebabkan salah 1:30:06 satu pak Prabu bisa unggul dibanding 1:30:08 yang lain k gitu Bang haldi baik eh 1:30:14 terima kasih Bang pangi dan ini Pak 1:30:16 marani juga sudah bergabung kembali 1:30:18 Asalamualaikum Pak 1:30:20 maranisam Prof 1:30:22 Maaf lanjutpas 1:30:25 ya Iya tadi bareng di Kompas 1:30:29 TV ya belain Mas Anis tadi di Kompas 1:30:35 tvang kiri kanan lanjut baik eh karena 1:30:40 sudah di penghujung acara p langsung 1:30:42 kita closing ideas ya dengan tema DNA 1:30:45 Anis eh dan PKS pada malam ini eh 1:30:48 seperti biasa seluruh eh narasumber eh 1:30:52 dipersilakan memberikan closing 1:30:53 statement atau istilah inial eh closing 1:30:56 ideas ya closing statement pertama atau 1:31:00 kepada Prof Firman persilakan 1:31:03 Prof 1:31:05 Eh 1:31:07 iya saya kira Indonesia membutuhkan eh 1:31:11 sebuah ee DNA yang eh yang bersifat 1:31:16 alternatif ee sebagaimana yang sedang 1:31:20 dicobakan oleh Pak Anis dan para 1:31:23 pendukungnya ya Ee Mengingat bahwa 1:31:27 Eh kalau kalau selalu begini 1:31:33 ee 1:31:34 khawatirnya ee apa Hal hal-hal apa yang 1:31:39 dikhawatirkan ini akan semakin 1:31:43 eh memburuk ya demokrasi kita akan 1:31:48 mengalamib eh ekonomi kita dengan 1:31:55 eh tingkat apa 1:31:59 eh 1:32:00 peningkatan yang diharapkan tidak juga 1:32:03 kunjung tiba bahkan e berdasarkan info 1:32:07 yang saya dapatkan itu mengalami flat 1:32:09 selama berapa tahun belakangan ee bahkan 1:32:13 cenderung untuk turun dibandingkan 1:32:15 negara-negara lain eh seperti eh 1:32:19 Malaysia seperti Singapura bahkan 1:32:21 Vietnam dan Filipin itu e semakin 1:32:24 semangat mengejar kita Vietnam dan 1:32:26 Filipin dan diprediksi beberapa tahun ke 1:32:28 depan akan jauh menjadi lebih baik 1:32:31 melewati Indonesia begitu sementara 1:32:33 Indonesia yang sumber daya manusianya 1:32:36 banyak sumber daya alamnya juga 1:32:39 berkelimpahan justru secara ekonomi 1:32:41 mengalami stagnansi nah ini kembali ke 1:32:44 persoalan Bagaimana ee salah urus negara 1:32:48 yang bisa jadi karena memang ee eh 1:32:52 perencanaan yang kurang baik korupsi 1:32:54 yang terus berlangsung checks and 1:32:56 balances yang lemah 1:32:58 eh situasi politik yang cenderung Pro 1:33:02 rezim ini eh akan membahayakan bagi 1:33:06 negara kita sehingga memang DNA DNA 1:33:09 perubahan yang di dalamnya termaktub 1:33:13 persoalan masalah kemandirian dari 1:33:16 oligarki terutama moralitas 1:33:19 demokrasi Spirit kritis terhadap 1:33:23 eh kekuasaan siapun itu kemudian 1:33:27 semangat kolaboratif dengan semua pihak 1:33:30 sejauh itu akan memberikan banyak 1:33:32 manfaat buat bangsa ini kemudian 1:33:34 komitmen terhadap keadilan sosial saya 1:33:37 kira itu harus dikuatkan menjadi satu ee 1:33:41 kekuatan yang betul-betul eh dihargai 1:33:45 dihormati oleh seluruh masyarakat 1:33:47 sehingga menjadi DNA yang yang pas ya K 1:33:51 dan kemudian bisa berbuat banyak gitu 1:33:54 hanya saja memang untuk bisa menciptakan 1:33:57 DNA itu tidak mudah Kenapa karena memang 1:34:01 masih ada kalangan yang merasa nyaman 1:34:03 dengan situasi saat ini terutama Para 1:34:07 pemilik kekuasaan dan 1:34:09 proksi-proksinya kalangan mapan yang 1:34:11 diuntungkan oleh 1:34:13 keadaan kalangan Ignorance yang tidak 1:34:16 peduli kalangan terakhir saya kira 1:34:19 kalangan ideologis yang merasa terancam 1:34:22 ideologinya kalau sampai Anis kemudian 1:34:25 Eh bisa take over gitu ya dan itu saya 1:34:28 kira wajar dalam suatu negara ada 1:34:30 kelompok-kelompok ideologis yang 1:34:32 berseberangan sebetulnya jadi saya kira 1:34:34 kita membutuhkan DNA itu namun untuk 1:34:36 mencapai ke sana jelas tidak mudah akan 1:34:39 ada selalu 1:34:41 serangan-serangan yang dialamatkan agar 1:34:44 kemapanan agar status quo situasi status 1:34:47 quo ini tetap bisa berjalan dan e 1:34:50 sayangnya dari kacamata demokrasi dari 1:34:54 kacamata ee ekonomi keadilan sosial itu 1:34:58 tidak menguntungkan bagi anak bangsa 1:35:00 kita secara umum Saya kira demikian yang 1:35:03 bisa saya sampaikan terima 1:35:07 kasih terima kasih profman dan 1:35:11 sekarangudah 1:35:16 dipersilakanat pert dalamtik itu bukan 1:35:20 hari ini ya itu adalah tren 1:35:24 keajaiban politik itu asumsi persepsi 1:35:27 masyarakat juga 1:35:29 dan politik itu tidak mudah kita harus 1:35:31 pesimis ya dalam posisi Apun karena ini 1:35:35 apa sangat-sangat dinamis tidak bisa 1:35:38 mengambil kesimpulan yang terlalu 1:35:40 melompat bahwa ini kalah ini menang 1:35:42 karena ini ini soal cuaca gitu cuaca ini 1:35:46 ibaratnya awan hitamnya di Depok kita 1:35:49 prediksi akan hujan di Depok belum tentu 1:35:52 bisa saja datang angin meniapkan awan 1:35:54 hitamnya sampai di Jakarta Selatan yang 1:35:57 hujan adalah Jakarta Selatan tapi kita 1:35:59 sudah prediksi ak jadi saya enggak 1:36:02 mengatakan bahwa politik itu ibarat 1:36:05 cuaca tetapi metamorfos metamarkosa 1:36:07 bahwa politik itu kadang-kadang itu 1:36:10 tidak bisa hanya diukur oleh lembaga 1:36:13 survei tapi Lembaga Survei adalah satu 1:36:16 cara indikator yang sebetulnya terukur 1:36:18 pada waktunya dan setelah itu kita engak 1:36:21 bisa prediksi lagi karena Kapan data itu 1:36:23 diambil juga akan mempengaruhi hasil 1:36:25 Bagaimana isu kemudian Bagaimana 1:36:28 perilaku pemilih masyarakat Bagaimana 1:36:30 budaya transaksional pragmatis buying 1:36:33 kemudian Bagaimana apa pengamanan suara 1:36:36 itu maka bakal banyak mengubah situasi 1:36:39 termasuk Posisi apa posisi-posisi yang 1:36:42 lain isu-isu yang kemudian bisa membuat 1:36:45 sentimen yang negatif ada isu-isu yang 1:36:47 kemudian macking elektoral jadi banyak 1:36:50 faktor abel menurut saya eh dan dalam 1:36:54 politik sering ada the power pet ada 1:36:56 kemudian keajaiban dalam politik ada 1:36:59 kejut-kejutan daya kejut-kejutan yang 1:37:01 membuat kita agak terkaget-kaget gitu 1:37:03 Nah itulah politik jadi saya mengatakan 1:37:06 bahwa inilah politik kita per hari ini 1:37:10 tapi besok saja itu kita enggak tahu 1:37:13 lagi bisa berubah 1:37:15 lagi baik terima kasih Terima kasih 1:37:19 sudah pangi dan sekarang Pak persilakan 1:37:23 Pak closing 1:37:25 ideas kasih Bang Aldi profman Matur nuun 1:37:28 eh Bang pangi terima kasih banyak Eh 1:37:31 Leaders dan calon Leaders eh DNA Mas 1:37:34 Anis itu Eh saya e menyimpulkannya dalam 1:37:39 satu bentuk Islam rahmatan lil alamin ya 1:37:43 DNA di mana Islam itu membawa 1:37:46 kebahagiaan makanya kita punyaine maju 1:37:49 kotanya bahagia harganya dan itu ee kita 1:37:53 lihat trotoar di DKI kita lihat ee 1:37:57 pemeluk agama bukan cuma Islam merasa 1:38:00 nyaman kita lihat bagaimana para guru 1:38:03 mendapat apresiasi kita lihat RSUD kita 1:38:06 terkelol dengan baik ada catatan-catatan 1:38:09 tetapi memang tentu catatan itu karena 1:38:12 memang dukungan di parlemen atau di 1:38:14 dprddki juga tidak mayoritas jadi dengan 1:38:18 DNA Islam rahmatan lil alamin ini Anis B 1:38:21 Wedan sama dan sebangun dengan Partai 1:38:24 Keadilan Sejahtera PKS ingin mewujudkan 1:38:27 Indonesia yang baldatun thyibatun warbun 1:38:30 Gofur Kalau bahasa Sederhana itu perut 1:38:33 kenyang ya kerja gampang dan sehat yang 1:38:37 senang gu loh sehingga masyarakat 1:38:40 betul-betul bisa benar-benar optimal 1:38:44 maju berkembang menuju negara yang 1:38:47 menjadi contoh dan teladan dan Mas Anis 1:38:50 eh tidak bicara janji ataupun kampanye 1:38:54 tapi track record yang ada di DKI 1:38:57 menjadi salah satu yang disampaikan 1:39:00 contohnya ketika bicara tentang keadilan 1:39:03 di jalanan maka Mas Anis bilang yang 1:39:06 paling tidak mendapat perhatian itu ya 1:39:10 ee e alat transport yang sebbenarnya 1:39:13 dimiliki oleh semua orang yaitu kaki 1:39:15 gitu makanya ada 1:39:18 340-an KM e yang dirapihkan sehingga dia 1:39:23 menjadi jalan yang mudah sehingga yang 1:39:25 tadinya Tamrin Sudirman e kuat cuma 1:39:28 dinikmati Oleh segelintir orang sekarang 1:39:31 seluruhnya bisa menikmati dan karena itu 1:39:34 apa yang ada di DKI PKS yakin Mas Anis 1:39:38 Mas Wedan akan 1:39:40 mewujudkannya dengan kemenangan yang 1:39:42 penuh berkah di pemilu 2024 ini bukan 1:39:47 perkara mudah Pak Prabowo luar biasa eh 1:39:50 berubahnya men jadi sangat santun Mas 1:39:52 Ganjar juga terus turun ke bawah tapi 1:39:56 justru ketika para Putra terbaik ini e 1:40:00 berkontestasi untuk mewujudkan yang 1:40:03 terbaik maka kita akan mendapatkan 1:40:05 kompetisi yang baik liga bola Prof 1:40:08 Firman yang saya suka itu 1:40:10 eh yang ada tempatnya halan tuh ya Liga 1:40:15 Inggris kadang-kadang sampai last minute 1:40:17 eh satu pertandingan terakhir belum 1:40:19 ketahuan dan itu yang menyebabkan 1:40:22 adrenalin dan kualitasnya menjadi 1:40:24 demikian disukai dan karena itu 1:40:27 Kompetisi yang baik akan 1:40:29 melahirkan merit syistem yang baik buat 1:40:31 kami PKS Ayo semuanya bekerja dengan 1:40:35 baik lakukan kontestasi K dan gagasan 1:40:38 dan Kami yakin kalau sistemnya baik 1:40:40 penyelenggaraannya baik kontestasi K dan 1:40:43 gagasan berjalan dengan baik pemel 1:40:44 berkualitas Anis Baswedan Insyaallah 1:40:47 menang Pemilu 2024 dan PKS Insyaallah 1:40:51 akan mendapatkan juga kepercayaan dari 1:40:53 masyarakat matur nuhun 1:40:55 semuanya 1:40:58 amin makasih B 1:41:01 profman Terima kasih Pak Mardani dengan 1:41:04 demikian berakhirlah acara ini kita pada 1:41:07 malam hari ini dengan tema DNA Anis dan 1:41:10 PKS eh kita berharap pemilu presiden 1:41:13 2024 eh bersama pemilu legislatif bisa 1:41:17 berjalan pada waktunya eh dan juga bisa 1:41:21 berjalan secara jujur adil dan 1:41:22 mudah-mudahan EE Indonesia diberikan 1:41:25 berkah oleh Allah terpilih pemimpin yang 1:41:28 bisa membawa keadilan sosial bagi 1:41:31 seluruh rakyat Indonesia termasuk 1:41:33 kesejahteraan 1:41:35 ee bagi seluruh rakyat Indonesia juga 1:41:38 baik terima kasih 1:41:39 eh pada narasumber dan pemirsa sampai 1:41:43 ketemu pada acara inial stok pekan depan 1:41:45 pada waktu dan channel yang sama 1:41:47 asalamualaikum warahmatullahi 1:41:49 wabarakatuhalaikumsalam warahmatullahi 1:41:51 wabarakatuh Terima 1:42:14 kasih