Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:03 Bismillahirrahmanirrahim. 0:04 Asalamualaikum warahmatullahi 0:06 wabarakatuh. 0:07 Alhamdulillahi rabbil alamin. Allahumma 0:10 sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali 0:12 sayyidina Muhammad. Dipancar luaskan 0:14 dari Jalan Masjid Silaturahim nomor 36 0:17 Kalimanggis Cibubur Bekasi Radio 0:20 Silaturahim untuk Islam yang satu. 0:22 Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah 0:24 Subhanahu wa taala. Senang sekali saya 0:26 Abi Agus dapat kembali menemani Anda 0:29 dalam program Bincang Inspiratif, sebuah 0:33 ruang diskusi yang menghadirkan berbagai 0:35 tema aktual dari sudut pandang Islam 0:37 sekaligus menghadirkan solusi dan 0:39 inspirasi bagi kehidupan kita. Ikhwan 0:42 dan akhwat, generasi muda hari ini hidup 0:45 di tengah kemajuan teknologi yang luar 0:47 biasa. Namun di balik berbagai kemudahan 0:50 itu, tantangan yang mereka hadapi juga 0:54 semakin besar. Mulai dari krisis 0:56 identitas, pergaulan bebas, 0:59 penyalahgunaan narkoba, maraknya konten 1:02 negatif di media sosial hingga berbagai 1:04 gaya hidup yang bertentangan dengan 1:07 nilai-nilai Islam, termasuk fenomena 1:10 LGBT yang semakin banyak diperbincangkan 1:13 di tengah masyarakat. Di sisi lain, kita 1:16 juga melihat masih banyak anak muda yang 1:19 merasa jauh dari masjid. Padahal sejak 1:23 zaman Rasulullah sallallahu alaihi 1:25 wasallam, masjid bukan hanya tempat 1:27 untuk menunaikan salat, tetapi juga 1:30 pusat pendidikan, pembinaan akhlak, dan 1:33 tempat lahirnya generasi terbaik umat. 1:36 Lalu bagaimana agar masjid kembali 1:39 menjadi rumah yang nyaman bagi anak 1:41 muda? Apa yang bisa kita pelajari dari 1:44 keberhasilan Masjid Jogokarian dalam 1:47 membina generasi muda? Di hari ini, 1:50 Ikhwan dan Akhwat, Bincang Inspiratif 1:52 menghadirkan dua narasumber kita, Gus 1:56 Haider 1:58 dan juga Ustaz Hammad Rosyadi, LC. 2:01 Asalamualaikum warahmatullahi 2:02 wabarakatuh. 2:03 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:05 wabarakatuh. 2:05 Sehat ya, Gus? Sehat, Ustaz? 2:07 Sehat. 2:08 Baru sekali kemari. 2:09 Iya, baru pertama nih. 2:10 Baru pertama kali. Gus Haider juga sama. 2:12 Sama. Iya, 2:13 baru pertama kali. Tapi kalau Rasil keo 2:15 Karyaan sudah sering. 2:18 Masyaallah. Ikhwan ikhwat. Tema bincang 2:20 inspiratif kita ee yaitu masjid milik 2:24 anak muda membangun generasi beriman, 2:27 berdaya, dan menginspirasi. 2:31 Dan kita ucapkan terima kasih kepada dua 2:34 narasumber kita yang telah hadir di 2:35 Radio Silaturahim. Sebelum saya 2:38 tanya-tanya nih, mungkin ingin menyapa 2:40 pendengar hasil. Silakan mulai dari KUS 2:42 atau Usta1, monggo silakan. 2:44 Asalamualaikum warahmatullahi 2:44 wabarakatuh semuanya, sahabat pendengar 2:47 Rasil di mana pun berada, kami mendoakan 2:50 semoga semuanya diberikan keberkahan 2:52 dari Allah dan diberikan jalan keluar 2:55 atas segala permasalahan yang sedang 2:56 dihadapi saat ini. Mari kita hadapi 3:00 hari-hari dengan senyuman dan penuh 3:03 prasangka baik p Allah. Tuh, 3:06 masyaallah. Monggo, Ustaz. Buat 3:08 teman-teman pendengar dari Radio 3:10 Silaturahim, ee 3:13 salam kenal, saya Hammad Rasyadi dan 3:17 insyaallah kita 3:19 semoga akan banyak berjumpa di 3:21 momen-momen yang baik ke depannya dan 3:23 semoga kita juga nanti akan berjumpa di 3:26 akhirat bersama Nabi sallallahu alaihi 3:28 wasallam yang kita cintai. Amin ya 3:29 rabbal. Amin ya rabbal alamin. Oh ya, 3:31 ikhwan dan akhwat ee Gus Haidar ini 3:34 adalah putra dari Ustaz Muhammad Jazir 3:38 HP yang mana kita tahu Ustaz Jazir juga 3:42 ee pernah beberapa kali ke Radio 3:44 Silaturahim dan beliau adalah salah satu 3:47 tokoh dakwah Indonesia yang dikenal luas 3:49 sebagai penggerak kemakmuran masjid 3:51 melalui Masjid Jogokarian. Tapi mungkin 3:54 banyak ee kaum muslimin yang bertanya 3:57 ASP-nya itu apa sih, Gus? Iya. Kalau di 4:01 apa KTP itu enggak ada SP-nya 4:03 sebenarnya. 4:04 Oh, gitu ya. 4:04 Dan juga bukan gelar juga. Jadi beliau 4:07 memang kreatif ya orangnya. Jadi 4:09 sering bikin-bikin sendiri gitu. 4:12 Nanti singkatannya itu bisa sesuai 4:14 kondisi. 4:15 Oh, gitu 4:16 ya. Misalnya lagi pengajian berarti 4:19 ASP-nya ahli soal pengajian. 4:20 Oh, gitu. 4:22 Kalau lagi ngomongin Pancasila, ahli 4:23 soal Pancasila. Oh, 4:25 misalnya gitu. 4:26 Masyaallah. Baik. Eh dan beliau e 4:30 dimakamkan di kompleks pemakaman ee 4:34 Ahmad dekat Ahmad Dalen ya. 4:35 Iya. Satu kompleks Karangkajen. 4:38 Karangkajen. 4:38 Pemakaman Karang Kajen. 4:39 Karangkajen. Karang Kajen. 4:41 Nah ee Ustaz atau Gus kalau kita melihat 4:45 kondisi hari ini, 4:46 Heeh. 4:47 anak muda hidup di zaman yang dikatakan 4:50 serba muda. 4:51 Informasi begitu cepat, hiburan tersedia 4:54 tanpa batas. Kita juga melihat media 4:57 sosial menjadi bagian dari kehidupan 4:59 sehari-hari. Namun di sisi lain justru 5:02 semakin banyak anak muda yang mengalami 5:04 krisis identitas, 5:06 kecemasan, kemudian kehilangan arah 5:08 hidup, bahkan merasa hidupnya kosong. 5:11 Menurut Ustaz, apa yang sebenarnya 5:14 sedang terjadi dengan generasi muda kita 5:16 saat ini? 5:17 Ya, jadi kondisi kita ee terutama 5:20 anak-anak muda zaman sekarang kan 5:22 didominasi sama Genzi sama Gen Alpha ya. 5:24 Heeh. 5:25 Gen dan Gen Alpha, orang-orang yang 5:27 lahir tahun 98 ke atas itu adalah 5:32 anak-anak yang tumbuh dan akrab dari 5:35 kecilnya dengan yang namanya gadget. 5:38 Heeh. 5:39 Saya ingat kalau saya pribadi, enggak 5:40 tahu kalau Mas Haidar ya. Heeh. 5:42 Ee saya pribadi itu usia 5 atau 6 tahun 5:44 tuh sudah mainan komputer, 5:46 sudah belajar ngetik di word gitu ya. 5:48 Heeh. Heeh. Dan kemudian seiring 5:50 berjalannya waktu ya akhirnya kita juga 5:51 tumbuh dan sangat dekat dengan gadget 5:54 kan. Dan di masa-masa ini tuh 5:56 perkembangan teknologinya cepat banget. 5:58 H 5:59 kalau saya kita dulu mungkin masih cuman 6:01 TV gitu ya, internet belum banyak tetapi 6:04 ee kemudian beralih ketika ramai warnet 6:07 gitu misalnya. 6:09 Lalu oh dulu kita masih kecil tu wartel 6:11 dulu ya. 6:12 Wartel terus wartel mati. Warnet. warnet 6:15 di pikiran sebagian orang mungkin adalah 6:16 salah satu bisnis yang juga sustain. 6:18 Ternyata enggak enggak selama itu ya 6:20 cepat se 6:21 mati juga 6:22 karena sekarang game-game sudah di 6:24 tangan di genggaman orang enggak harus 6:25 keluar. 6:27 Jadi kita tumbuh jadi orang atau banyak 6:31 bersosial itu bukan hanya di dunia nyata 6:34 tetapi juga banyak di dunia maya. 6:36 Di satu sisi memang positif yaitu cepat 6:38 informasi. Edukasi itu banyak banget. 6:41 Seperti kalau dibandingan zaman dulu 6:43 mungkin kalau para sahabat atau tabiin 6:45 mereka dapatin satu hadis perjalanannya 6:48 hari-hari atau berbulan-bulan. Kita 6:51 sekarang tinggal tanya sama chat GPT 6:54 gitu kan atau cloue apa hadis tentang 6:56 ini langsung muncul. 6:57 Iya. 6:57 Langsung ada riwayat-riwayatnya. Apakah 6:59 ini sahih apa diif macam-macam. 7:02 Kemudian terasa banget ee akses 7:06 informasi yang mudah ini ketika 7:09 anak-anak muda tuh wawasannya luas 7:11 banget dan aware terhadap kayak masalah 7:13 mental health. H 7:15 mental heal itu pasti sudah dialami juga 7:16 sama ee orang tua-orang tua kita. Cuman 7:19 enggak tahu ini namanya apa. 7:22 Oh, ternyata di zaman sekarang ada yang 7:23 namanya orang Nvid yang dia ini misalnya 7:25 narsis, ada yang manipulatif, 7:28 kemudian ada masalah 7:30 ee 7:32 kesehatan mental dan sebagainya jadi 7:34 lebih aware. Itu ada sisi positifnya. 7:36 Cuman tadi ketika ditanya kok tapi 7:39 anak-anak muda itu banyak yang hampa ya 7:42 atau bahkan ngerasa 7:44 perjalanan hidupnya itu kayak enggak 7:45 seberapa. Itulah sisi negatif dari 7:49 akses yang begitu mudah itu. Akhirnya 7:50 kita tuh jadi tahu sebahagia apa sih 7:53 orang-orang? Wah ada orang yang 7:57 dia itu sudah umrah dari kecil misalnya 8:00 sama keluarganya 8:01 2 bulan ya. E ada yang haji dari 2 8:03 bulan. 8:05 2 bulan sudah haji kita masih belum 8:07 ngapa-ngapain gitu. 8:08 Masih main gundul. 8:09 Masih 2 bulan belum main gundu juga. 8:11 Kemudian ternyata ada orang yang 8:14 usia belum 20 sudah mencapai R miliar. 8:18 Itu kan akhirnya kayak kita sebenarnya 8:20 tumbuh sebelum kita tahu itu kita tumbuh 8:22 dengan bahagia dengan perjalanan yang oh 8:25 teman-temanku sama juga lagi mungkin 8:28 sekolah kemudian kuliah pokoknya 8:30 happy-happy aja. Tetapi setelah tahu, 8:32 wih ada yang sukses banget nih. Lah 8:34 ternyata gua enggak berharga ya. Wah ini 8:37 ada yang sudah bahagia ketemu jodohnya 8:39 yang masih belum menikah. Ahah aku belum 8:42 ini ada yang bahagia punya anak. 8:43 Akhirnya ketika dia belum Allah 8:45 karuniakan anak sedih. Jadi ee akses 8:49 informasi yang begitu deras dan begitu 8:51 mudahnya di satu sisi memang memberikan 8:53 dampak positif, tapi di sisi lain itu 8:56 juga kalau kita enggak kuat dalam punya 9:00 kacamata dan filter yang bagus, akhirnya 9:03 kita membuat perjalanan kita seolah-olah 9:05 enggak ber e hasil atau seolah-olah diri 9:08 kita tuh enggak berharga dan diri kita 9:11 belum pantas untuk diapresiasi. Mungkin 9:13 itu salah satu yang membuat banyak di 9:15 antara kita merasa hampa itu. Apalagi 9:17 kan tadi ketika kita di media sosial 9:21 interaksinya jarang ketemu, jarang 9:23 ngumpul ataupun malu kalau cerita-cerita 9:25 masalah. 9:26 Akhirnya kita merasa aduh yang kayak 9:28 gini cuman aku doang. Jadi bahasanya 9:30 anak-anak muda tuh di Instagram tuh 9:33 kayaknya semua orang bahagia dan 9:34 berhasil kecuali aku. 9:36 Karena yang satu lagi makan enak di 9:38 posting, yang satu lagi 9:40 jalan-jalan diposting, yang satu habis 9:43 ngerayain ulang tahun diposting. 9:45 Sedangkan kita misalnya ketika nonton, 9:47 aduh habis gagal atau lagi sedih air kan 9:49 semakin terpuruk gitu. 9:51 He 9:51 kondisinya. Jadi mungkin salah satu 9:53 dampak media sosial yang negatif. Heeh. 9:56 Ke sana sih kalau yang saya pahami. 9:57 Padahal ketika lagi posting foto 10:00 jalan-jalan, dia enggak tahu kalau itu 10:02 pas lagi lancar sebelah sanya sudah 10:04 macet lagi gitu kan. 10:05 Iya. itu juga kadang-kadang l pos itu 10:07 kalau kata anak zaman sekarang ini 10:09 sebenarnya postingan berapa bulan yang 10:11 lalu tapi gara-gara daripada kosong 10:13 posting deh 10:15 jujur saya kadang kayak begitu 10:18 jadi 10:19 aduh status lagi kosong nih 10:20 scroll-scroll sampai tahuntahun berapa 10:22 posting 10:23 tapi kenapa kalau anak-anak ee terloy 10:25 yang generasi-generasi 90 itu enggak 10:28 tertarik dengan itu ya 10:29 iya itu mungkin beda 10:31 pertumbuhannya ibaratnya kalau saya 10:32 sering membandingkan tuh lima anak usia 10:35 5 tahun yang lahir tahun 90-an dengan 10:38 anak 5 tahun yang lahir tahun 2000-an 10:40 pasti yang dia lihat, yang dia pegang, 10:43 yang dia dengar itu beda. 10:44 Iya. Iya. 10:45 Bisa jadi yang 2000-an ya udah lihat HP 10:49 gitu ya. Entah yang apakah smartphone 10:51 atau yang masih ketik-ketik cuman kan 10:52 HP. 10:53 Kemudian ya yang dia dengar juga 10:55 berbeda. Jadi kayak itu pengaruh sih 10:58 kalau yang saya pahami seperti itu. 11:00 Iya. Jadi saya melihat bahwa anak muda 11:03 sekarang ini ee tantangan 11:06 lebih kompleks dari generasi sebelumnya. 11:09 Ee ada tekanan ekonomi, kemudian 11:12 sulitnya mendapatkan pekerjaan, 11:14 bahkan meningkatnya PHK, pengaruh media 11:17 sosial, budaya instan, pergaulan bebas, 11:21 penyalahgunaan narkoba, hingga berbagai 11:24 penyimpangan perilaku yang perlahan 11:26 dianggap sebagai sesuatu yang biasa. 11:28 Nah, dari berbagai tantangan ini, Ustaz, 11:30 mana yang menurut Ustaz paling 11:31 mengkhawatirkan? 11:34 Tergantung dengan situasi ataupun ee 11:41 daerah tempat dia tinggal gitu ya. Jadi 11:45 kalau di wilayah-wilayah 11:48 misalnya yang 11:52 di sana tuh berjalan begitu cepat ya 11:54 orang-orang misalnya kayak di ibu kota 11:57 itu salah satu yang lumayan menjadi 12:00 tantangan dan sangat berpengaruh juga 12:02 pada mental anak muda itu soal 12:03 pekerjaan. 12:04 Iya. 12:05 Karena itu kadang jadi tolok ukur 12:06 kesuksesan, tolok ukur harga diri 12:08 seseorang apalagi buat laki-laki gitu. 12:11 Heeh. 12:12 Dan ini jadi satu masalah. 12:14 Nah, akhirnya kadang anak-anak yang 12:17 merasa, "Wah, aku enggak berhasil atau 12:19 enggak menemukan kebahagiaan dalam ini, 12:22 cari pelarian melalui tadi entah itu 12:25 narkoba kah 12:27 atau pergaulan bebas atau bahkan sampai 12:29 yang 12:30 LGBT seperti itu." Waliajubillah. 12:33 Mungkin 12:34 Mas Haider ingin menambahkan. 12:37 Silakan, Gus. 12:39 Kalau ditanya yang paling 12:40 mengkhawatirkan, ternyata ee susah juga 12:42 ya jawabnya karena kita enggak bisa 12:44 ngasih nilai ke masing-masing persoalan 12:47 itu begitu. Tapi kalau buat saya sendiri 12:50 yang paling mengkhawatirkan itu ya 12:53 kekosongan mereka dari sentuhan 12:57 yang membawa kepada hidayah sebetulnya. 13:00 Jadi 13:02 ee titik sentuhnya itu sebenarnya mau di 13:05 mana? H 13:06 karena ee mereka itu sibuk kan sudah 13:09 sibuk sekolah begitu. Sementara di 13:11 sekolah sebetulnya prioritas utamanya 13:13 juga bukan masalah ee 13:17 apa ya keagamaan mereka sebenarnya 13:21 ibaratnya ilmu urusan agama itu kan 13:24 hanya pelengkap saja di sekolah 13:25 biasanya. 13:25 Iya. Yang 2 jam seminggu. 13:27 Iya. Heeh. Sebetulnya yang meskipun juga 13:30 kalau kita lihat ee kemampuan sekolah 13:32 untuk menyentuh satu kelas 40 orang 13:35 misalnya kan berat sekali. Sementara di 13:37 rumah orang tuanya beranggapan bahwa 13:41 kalau sudah saya sekolahkan di sekolah 13:42 yang bagus sudah tanggung jawab saya 13:44 selesai begitu. Pendidikannya sudah 13:46 selesai di situ. Akhirnya apa? Di 13:49 sekolah mereka tidak mendapat sentuhan 13:51 yang mereka butuhkan. Di rumah sama saja 13:54 begitu. Heeh. Heeh. 13:55 J mereka itu di ruang pertama yaitu 13:57 keluarga dan ruang kedua sama-sama tidak 13:59 mendapatkan apa yang mereka butuhkan. 14:02 Nah, kekhawatiran saya justru di sini 14:04 apakah ee mereka ini mendapatkan apa 14:08 yang sebenarnya menjadi hak mereka untuk 14:11 ee ada orang-orang yang mengingatkan 14:13 kepada Allah yang mengingatkan kita ini 14:15 mau ngapain begitu dan mau mendengarkan 14:18 mereka. 14:19 Nah, permasalahannya orang kemudian ee 14:23 mengira permasalahannya akan selesai 14:25 kalau dinasehhati, dikasih tahu, 14:27 dimarahin begitu. 14:28 Iya. Iya. 14:29 Sementara yang mereka lakukan itu justru 14:31 membuat mereka semakin jauh 14:33 dan ee kenyamanan itu mereka dapatkan di 14:36 tempat yang lain. 14:37 Heeh. 14:38 Ya, di game tadi misalnya dan 14:40 sebagainya, tongkrongan. 14:42 Orang-orang yang akhirnya malah 14:45 mengapresiasi, menerima tadi mengisi 14:47 kekosongan itu malah 14:48 Heeh. orang-orang yang menyeret dia jauh 14:50 dari hidayah. Itu yang mungkin salah 14:52 satu hal mendasar itu ya. Tadi kalau di 14:55 Masjid Jogo Karyan sendiri kan sering 14:57 dijadikan contoh ee Gus 14:59 sebagai masjid yang hidup dan berhasil 15:01 menarik banyak anak muda 15:03 untuk aktif berkegiatan. Kita tahu 15:05 bagaimana kegiatan di Jogok Keren itu 15:08 ee selalu penuh sama anak muda. Beberapa 15:11 kali saya ke sana itu terutama pas di 15:13 bulan puasa ya. H 15:14 itu lagi pas buka puasa. W masyaallah 15:17 itu. 15:18 Alhamdulillah. apa namanya menunya? 15:19 Masyaallah. Nah, menurut ee Gus Haider 15:22 sendiri filosofi utama yang kemudian 15:26 membuat Masjid Jogokarian mampu menjadi 15:29 ramah dan menjadi rumah bagi semua 15:32 kalangan terutama generasi muda? 15:35 Kalau bahasanya Bapak saya dulu tuh ini 15:38 bahasa simpel ya, simplifikasi ya. J 15:40 apa Gus? Cah enom kui doyan segora, 15:42 doyan suaro. 15:43 Opo kowe? 15:44 Bahasa Indonesianya anak muda itu doyan 15:48 nasi enggak doyan suara. 15:50 Suka makan. 15:50 Suka makan. 15:51 Oh suka makan. 15:52 Suka makan tapi enggak suka diceramahin 15:55 gitu. 15:56 Ee sebetulnya kalau kita telan 15:58 mentah-mentah mungkin ya enggak enggak 16:01 serta-merta terus kalau kasih makan 16:02 berarti kita berhasil bisa gitu. Enggak 16:05 enggak sesederhana itu juga. 16:06 Tapi poinnya di situ adalah kita itu 16:08 memikirkan kebutuhan mereka sebetulnya. 16:10 H 16:11 memikirkan dari sudut pandang mereka. 16:13 Karena enggak semua orang itu sudah 16:14 merasa butuh terhadap ilmu. 16:18 Ada sesuatu hal lain yang mengancam 16:20 survival mereka sebetulnya bagi mereka 16:22 ya. 16:23 H 16:23 ee mungkin buat kita mungkin itu enggak 16:27 penting tapi buat seorang anak muda 16:28 diterima sama teman-temannya penting 16:30 sekali. 16:30 Iya. 16:31 Maka kalau dia enggak punya iPhone 16:32 misalnya, itu bisa jadi masalah besar 16:34 buat dia. He. 16:35 Dalam persepsi dia ya. 16:36 Iya. Iya. 16:37 misalnya ya atau masalah yang lain 16:41 ee pergaulan dan sebagainya. Kemudian 16:43 tadi masalah karir yang mereka itu 16:48 berada dalam kondisi yang ke mana-mana 16:51 itu yang didapatkan perbandingan kan 16:53 tadi 16:53 perbandingan ya enggak adil sebetulnya. 16:55 Heeh. sehingga muncul kecemasan yang 16:58 besar tadi. Nah, kecemasan ini ee 17:03 sebetulnya kan positif ketika dia 17:05 kemudian menjadi kesadaran untuk 17:08 bertindak yang sesuai dengan yang dia 17:10 butuhkan. Misalnya, "Oh, saya cemas nih, 17:13 enggak punya uang, enggak punya 17:14 pekerjaan," maka dia bertindak cari 17:16 pekerjaan, dia usaha atau apa, itu bagus 17:19 begitu. Tapi ee kecemasan itu kalau 17:21 tidak di-manage dengan baik, dia akan 17:25 mengarahkan kepada cara mencari pelarian 17:28 yang enggak 17:31 positif gitu. 17:32 Heeh. 17:32 Cara dia mengatasi kecemasan itu dengan 17:34 dilupakan. 17:36 Nah, cara melupakannya ini yang 17:37 beda-beda ya. Paling sederhana main game 17:39 lah. 17:40 Heeh. 17:40 Main game itu kan memberi ilusi progres, 17:43 kemenangan. 17:43 Kemenangan. Wah, saya sudah naik di Epic 17:47 nih, gitu. Misalnya kalau di Mobile 17:49 Legends enggak tahu ya. Saya enggak 17:51 pernah main. 17:52 Iya. Itu tiap hari main. Kenapa? Karena 17:54 mau naik ranking, mau push rank gitu. 17:58 Iya. 17:58 Game itu memang memberikan kesan atau 18:02 perasaan ya, 18:03 diapresiasi 18:05 yang mungkin itu enggak kita temukan di 18:06 kehidupan nyata. 18:08 Keberhasilan-keberhasilan kecil di game 18:09 itu misalnya 18:11 ee naik level ada apresiasinya, oh ada 18:13 suaranya. Heeh. 18:14 Kemudian nanti kalau berhasil ngebunuh 18:17 lawan itu juga wah 18:19 epik apa segala macam. Nanti kalau 18:22 double kill dua dua orang bisa dibunuh. 18:25 K kan senang diapres itu sebetulnya yang 18:27 untuk mengisi kekosongan itu tadi ee 18:30 ruang itu ya 18:32 ee ruang dalam hati kita butuh itu. 18:34 Tinggal siapa yang bisa memenuhi itu 18:36 ya? Apakah orang di sekitarnya kalau 18:38 keluarga yang dia enggak temukan itu ya 18:40 dia cari di sekolah mungkin. Kalau 18:41 sekolah enggak juga dari teman-teman 18:44 mungkin kalau teman-teman ditolak juga 18:45 dia ke game atau tadi ee bahkan mungkin 18:49 main game juga bareng sama teman. 18:50 Iya. 18:51 Makanya kita melihat di masjid harus 18:53 bisa mengisi ruang itu. 18:54 Heeh. 18:55 Kita melihat kita harus jadi ruang 18:57 ketiga yang aman dan nyaman buat mereka. 19:00 H. 19:01 Jadi kalau di masjid itu kita berusaha 19:03 untuk tidak men-judge ya misalnya masih 19:07 pakai anting di sini gitu ke masjid 19:11 ya kalau bisa enggak usah 19:11 disebut-sebutlah masalah itunya begitu 19:13 lebih ke kita menerima mereka dulu 19:16 begitu nantinya di sini tetap jadi 19:18 remaja mas 19:19 iya kita 19:20 yang mungkin pacaran 19:22 ya kita enggak jadi kalau di bahasa 19:26 psikologi itu ada istilah unconditional 19:29 positif regard. 19:30 Iya. 19:31 Jadi 19:31 apa itu 19:32 ee memberikan 19:34 perlakuan positif tanpa syarat, 19:37 penerimaan tanpa syarat. Nah, ini yang 19:39 menjadi obat dari perbandingan tadi. 19:43 Karena orang itu merasa sedih dan tidak 19:45 pantas itu karena dia membandingkan 19:47 dengan orang lain. Kemudian dia merasa 19:49 saya tuh enggak pantes. Ya kan? Misal 19:51 anak muda itu takut ke masjid, kenapa? 19:54 Ah, saya bisa baca Quran aja enggak 19:56 bisa. Itu yang teman-temannya sudah pada 19:58 hafal berapa juz? H 19:59 saya ya enggak bukan tempat saya di sini 20:02 gitu kan 20:02 enggak pantas masjid di masjid gitu. He 20:05 he. 20:06 Itu itu jadi salah satu barir ya barir 20:09 tidak terlihat dan mungkin malu juga 20:11 untuk mengakuinya. I 20:12 jadi yang kita tahu ini kenapa ya anak 20:14 muda kok jauh kok enggak mau aja ke 20:15 masjid. Di satu sisi dianya itu merasa, 20:19 "Ah, aku tuh ngajinya belum lancar. Aku 20:22 tuh hafalannya baru sedikit. 20:24 aku ya mungkin masih punya pacar tadi di 20:28 lingkungan luarnya, maka dia merasa 20:31 enggak pantas. Tapi 20:32 Heeh. 20:33 ee tadi yang saya tahu juga ee di 20:35 Jokarian itu macam-macam banget orangnya 20:39 dan akhirnya itu ya udah pokoknya kita 20:41 belajar bareng jadi yang lebih baik 20:44 ngelakuin hal-hal bermanfaat 20:45 bersama-sama. 20:45 Jadi memang cara pendekatannya itu 20:48 berbeda. 20:49 Heeh. 20:49 Begitu. Tapi ada pengalaman enggak yang 20:51 dilakukan oleh Masjid Jogo Karian? Heeh. 20:53 Ee sehingga anak muda ini datang bukan 20:56 karena dipaksa, 20:57 tapi mereka hadir karena merasa nyaman 21:00 dan kemudian memiliki ikatan dengan 21:02 masjid. 21:03 Iya, kayak yang tadi ya saya sebutkan ee 21:07 tipsnya ayah saya tuh. Hean suoro itu 21:10 kalau yang beliau lakukan betul-betul 21:12 literal seperti itu. Ee 21:15 kalau datang ke tempat nongkrongnya 21:16 anak-anak muda, ayah saya itu enggak 21:18 pernah tanya ee sudah salat belum atau 21:22 gimana ngajinya? Bukan gitu. Yang tanya 21:24 sudah makan belum gitu, 21:25 mau makan ke mana gitu. 21:28 Ee hal sederhana yang saya ambil di situ 21:31 adalah kita itu sebagai orang yang mau 21:34 berdakwah ya atau membuat mengajak 21:36 kepada kebaikan itu seringki 21:40 ee loncat. Jadi kita penginnya itu 21:44 dengan menyampaikan sesuatu orang 21:45 langsung jadi saleh gitu. 21:46 Iya. itu kan enggak seperti itu. Dan ee 21:51 saya tuh merenungkan atau senang sekali 21:54 ketika memahami arti kata nasih itu 21:59 nasi. 21:59 Nasih itu kan orang yang memberi 22:01 nasihat. 22:02 Oh. 22:03 Tapi kita kan menganggap nasihat itu ya 22:05 omongan gitu, kata-kata. Heeh. Sementara 22:08 kata nasih sendiri sebenarnya menyimpan 22:10 makna itu orang yang menginginkan 22:13 kebaikan untuk orang itu. 22:16 Nah, di sinilah ee letaknya saya kira 22:18 yang menjadi miss karena orang itu kalau 22:21 datang-datang menceramahi ee anak muda 22:24 itu tidak menangkap dia sebagai orang 22:25 yang menginginkan kebaikan untuk dia. 22:28 Orang kamu tuh kenal saya aja enggak 22:30 begitu. Tahu saya seperti apa ee 22:32 perjuangan saya seperti apa, masalah 22:34 saya seperti apa aja. Enggak kok. 22:36 tiba-tiba ngasih nasihat begitu. Bagi 22:39 mereka itu ancaman begitu. 22:42 Nah, jadi ee membangun trust, membangun 22:45 kepercayaan bahwa saya ini datang ke 22:47 sini menginginkan kebaikan untuk kamu. 22:49 Begitu. Itu yang harus dibangun oleh 22:51 teman-teman di masjid kepada anak-anak 22:54 muda di sekitarnya. Dan agak susah kalau 22:57 kita hanya mengandalkan tiba-tiba 22:59 langsung kajian kajian begitu agak 23:01 susah. Harus masuk ke kecemasan mereka, 23:04 kesenangan mereka. 23:06 Jadi kita bukan orang asing di situ. 23:07 Berarti kalau misalnya kita masuk ke 23:09 perkumpulan mereka sudah surat belum? 23:10 Itu salah ya? 23:11 Bukan salah juga, tetapi 23:14 ee 23:15 tidak pas 23:16 kita melihat ini sebagai proses yang 23:18 panjang. 23:19 Oh. 23:19 J kalau kita menilai benar salahnya itu 23:22 dari satu potongan gitu jadi enggak. Ini 23:25 kalau kita misalnya tadi konteksnya 23:27 bagaimana supaya mereka nyaman dengan 23:29 kita, 23:30 mungkin pertanyaan sudah salat belum? 23:32 itu bukan bagian yang membuat seseorang 23:35 nyaman. Walaupun nanti mungkin setelah 23:38 nyaman baru kita 23:39 Heeh. 23:40 ngobrol ngobrol. Gimana tadi? Sudah 23:42 zuhur belum? Ini sudah mau asar. 23:43 Iya. 23:44 Ya, salat dulu. 23:46 Heeh. 23:46 Misalnya. 23:47 Tapi ini kan juga dialami oleh orang tua 23:49 ya ee ketika ingin menasihati atau ingin 23:52 masuk ke dalam cara berpikir anak-anak. 23:54 Nah, 23:55 iya. 23:55 Ada tips enggak? atau mungkin sebagai 23:58 ustaz atau Gus Haider sendiri bisa ee 24:01 kemudian karena banyak orang tua itu 24:03 sendiri yang akhirnya tidak bisa 24:04 merangkul anaknya sendiri begitu. 24:07 Itu yang terjadi karena di rumah mereka 24:09 ke kamarnya masing-masing 24:11 main HP sendiri-sendiri termasuk orang 24:13 tuanya juga YouTubean sendiri 24:15 kalau nonton Netflix gitu ya. 24:16 Iya. Nah, sekarang yang hilang itu 24:19 percakapan sebenarnya percakapan yang 24:21 bermakna atau bahasanya itu meaningful 24:23 conversation. 24:25 Dan percakapan yang bermakna itu hanya 24:28 bisa terjadi ketika dua-duanya 24:32 saling mau mendengarkan. 24:34 Nah, orang itu sering meremehkan 24:37 mendengarkan gitu loh. Mendengarkan tuh 24:38 ya sudah tinggal dengerin aja. Enggak 24:40 mendengarkan itu butuh skill ya. 24:42 Mendengarkan tuh sesuatu yang kita 24:44 pelajari kan kita 24:45 Heeh. He. 24:46 Serius begitu. Heeh. 24:47 Makanya kalau bahasa Arab ada samiah, 24:50 ada istamaah ya, Ustaz ya. 24:52 Heeh. Kalau kita mendengarkan dengan 24:54 sungguh-sungguh itu pakai usaha itu 24:56 active 24:57 listening begitu. Bukan hanya hearing 24:59 saja kan. 25:00 Iya. 25:00 Nah, di antara skill untuk 25:04 mendengarkan itu ya berusaha untuk 25:07 betul-betul peduli dengan yang 25:08 diomongkan. Makanya kemudian bertanya 25:11 pertanyaan-pertanyaan yang tepat sesuai 25:13 dengan yang mereka butuhkan untuk 25:15 ditanya. memberi respon yang sesuai 25:17 dengan yang mereka butuhkan. Kalau kita 25:21 udah jadi kalau pertanyaannya gimana 25:23 cara mendekatinya sebenarnya lebih 25:24 banyak mendengarkannya sebenar itu 25:27 orang tua atau anak? 25:28 Iya dua-duanya ya kalau kita sebagai 25:30 orang tua ya 25:31 dengarin anak dengarin anak gitu. 25:33 Dengarin iya kalau di Jogoarian itu kami 25:37 udah mungkin 2 bulanan terakhir 25:39 Heeh. 25:40 itu ada program namanya Lelaki 25:43 bercerita. 25:45 Jadi ini khusus anak-anak muda terutama 25:47 kan karena ada stigma lelaki tidak 25:50 bercerita kan. 25:51 Oh 25:51 ini kita pengin lelaki bercerita. Nah di 25:53 karena laki-laki banyakan diam ya. 25:54 Diam diam tiba-tiba pinggir pinggir 25:57 jembatan aja lompat 26:00 lompat. 26:01 Jadi ee di forum itu kalau yang kami 26:06 jalankan 26:08 justru nanyain hal-hal sederhana kayak 26:11 apa yang bikin kamu bahagia nih 26:12 kira-kira akhir pekan ini. 26:14 Ini forumnya enggak banyak ya, cuma 26:15 enggak banyak emang anak-anak muda e 26:18 sekitar 5 10 orang begitu. 26:19 Iya ini memang internal gitu tadi salah 26:22 satunya untuk 26:23 ee ngikat juga supaya semakin nyambung 26:25 ya secara emosional. Apa yang bikin kamu 26:28 senang di pekan ini? Ada hal apa yang 26:33 membuat kamu bisa sejenak melupakan 26:37 masalah gitu? Hari teman-teman yang 26:38 cerita ee ada yang suka motoran keliling 26:41 kota. 26:42 Heeh. 26:43 Ya udah enggak jelas ke mana pokoknya 26:44 keliling aja. 26:45 Iya. 26:45 Ada juga yang membuat bahagia kemarin 26:48 pas cerita itu. I sekarang aku lagi ini 26:52 nih kerja dapat kerjaan di satu tempat. 26:55 Tadinya tuh dia adalah orang Oh, waktu 26:57 awal-awalnya pas masih kenalan tuh 26:59 dia insecure karena 27:01 Oh 27:02 dia gap year, dia enggak keterima kuliah 27:04 gitu kan. Akhirnya teman-temannya pada 27:06 kuliah di kampus-kampus yang mereka 27:08 inginkan. Yang satu ini belum sempat 27:10 gitu. 27:12 Ee kemudian kita ngobrol-ngobrol bahwa 27:14 GPI itu enggak apa-apa di mungkin itu 27:16 jadi momen kita untuk belajar segala 27:18 macam. Saya cerita bahwa saya juga 27:19 gapier bahkan mungkin kalau di total 3 27:21 tahun saya gapier ni. 27:24 Akhirnya di situ timbul kepercayaan diri 27:26 lagi. Kemudian jadi 2 minggu sekali biar 27:29 ada update gitu kan live update. Kalau 27:31 seminggu sekali mungkin terlalu dekat 27:32 nih jangkanya 2 minggu sekali. Kemarin 27:35 di pertemuan yang terakhir ini kerja 27:37 dia semangat senang 27:39 di apa namanya ngawas-ngawasin 27:42 karyawan jadi supervisor. 27:43 Heeh. 27:44 Di salah satu usaha kakaknya. 27:46 Jadi yang kayak gitu-gitu akhirnya ee 27:50 membuat mungkin tadi memberikan ruang 27:52 aman kemudian dan itu dilakukan di 27:57 lingkungan yang anak-anak remaja masjid. 28:00 Bahkan kami pengin dan mulai pertemuan 28:03 yang lalu itu di kantor remaja masjid. 28:05 Jadi ya sudah ngumpul di situ 28:07 supaya ee roh kemasjidannya itu juga 28:11 tetap. 28:11 Tapi kan laki-laki bercerita itu 28:13 bercerita itu tidak hanya anak-anak muda 28:15 aja, Ustaz. Iya, benar. 28:16 Bapak-bapak juga harus banyak bercerita 28:18 karena 28:18 sebenarnya gitu 28:19 ee bebannya itu lebih berat. 28:21 Berat banget. Berat banget. 28:23 Ada ada ada ada sesi itu juga buat 28:25 Bapak-bapak bercerita. 28:26 Bapak belum sih ya soalnya masih 28:28 anak-anak mudanya yang 28:30 Bapak-bapak kita ada kajian yang lingkup 28:33 lebih kecil juga ada. 28:33 Lebih ke kajiannya. 28:35 Heeh. 28:36 Cara ee temanya sabar menghadapi hidup 28:38 begitu, Ustaz. 28:41 Jadi kita itu kadang lupa bahwa 28:44 ibaratnya laki-laki juga butuh pelukan. 28:47 Hm. 28:48 Yang memeluk secara emosional kan 28:50 biasanya kita yang diminta untuk 28:52 memberikan rasa aman kepada keluarga, 28:54 kepada istri, kepada anak-anak kan. 28:57 Padahal sebenarnya kita juga butuh gitu 28:59 laki-laki itu dan itu dari sejak muda 29:02 sampai ya dewasa bahkan artinya saling 29:05 ee berangkulan. Maka salah satu sunah 29:07 itu kan ee ketika bersalaman misalnya 29:10 fikiih kemudian merangkul seperti itu. 29:13 Heeh. 29:14 Itu memberikan rasa bukan yang apa ya 29:19 bukan yang aneh-aneh tapi itu memberikan 29:20 rasa emosional gitu bahwa 29:24 Iya. 29:25 Ya. Ada yang peduli dan seterusnya. Saya 29:27 ingat ada cerita dari salah satu ustaz 29:30 itu. Jadi di forum pasca pengajian di 29:33 Bandung itu ada bapak-bapak ee ada sesi 29:37 para bapak-bapak jemaah itu berpelukan 29:39 aja saling mendoakan. 29:41 Masyaallah. 29:41 Semoga kalau ada masalah Allah mudahkan. 29:44 Dikasih gitu tuh 29:46 nangis. Banyak bapak-bapak yang menangis 29:49 soalnya mungkin ini beban bebannya 29:51 dipendam gitu. 29:52 Dipendam sendiri. Ada yang nanggung 29:54 orang tua yang lagi sakit, ada yang lagi 29:56 masih terdil hutang. 29:57 Ada yang enggak tahu nanti anak-anak 29:59 gimana bayar sekolahnya. 30:01 Akhirnya ketika dengan pelukan lalu di 30:03 sambil saling mendoakan. 30:04 Iya. 30:06 Itu memberikan ee kekuatan juga di hati 30:09 ya. 30:10 Kalau Ustaz Hammad dan Gusider sekarang 30:12 masih anak muda kan ya 30:13 posisinya masih anak muda. Kalau saya 30:15 sudah jadi bapak-bapak nih. 30:17 Saya anak muda dan beranak dua. 30:19 Oh beranak dua. Masyaallah. Tapi enggak 30:21 kelihatan sudah nikah ustaz. Kalau 30:23 guusider 30:24 saya belum. Oh, masih muda. 30:26 Masih muda. 30:28 Muda dan belum bapak-bapak. 30:29 Belum Bapak-bapak. 30:31 Baik. Nah, ee kita juga melihat ini ada 30:34 fenomena yang cukup menarik, Ustaz, 30:36 yaitu fenomena LGBT, ya. 30:39 Ee ya ini 30:42 menyasarnya juga banyak anak-anak muda. 30:45 Karena kita tahu bahwa saat ini kan gaya 30:47 hidup bebas, kemudian krisis moral 30:50 hingga kampanye LGBT ini masif nih di 30:53 ruang digital. Nah, menurut Ustaz dan 30:56 juga Gus Haider sendiri, seberapa 30:58 penting kemudian masjid ini hadir 31:01 sebagai benteng pembinaan akidah dan 31:04 akhlak bagi generasi muda? 31:07 Monggo. 31:08 Ya, kalau di 31:12 ATubaya ayat 18 yang kita jadikan 31:14 rujukan itu kan memang kita ngambilnya 31:17 masjid itu perannya di situ. Jadi 31:20 di situ kan innama yamuru masajidallahi 31:22 man amana billahi wal yaumil akhir waqah 31:25 waakah walam yaksya illallah faasaakunu 31:29 minal mutadin. Kita ambilnya kalau di 31:31 Jawa karian inspirasinya yang harus 31:33 dilakukan masjid itu ya hal-hal itu. 31:35 He. Yang pertama harus menanamkan iman. 31:37 Yang kemudian 31:39 ngajak salat, kemudian memastikan 31:42 masyarakatnya bisa sejahtera dengan waat 31:44 zakah tadi. Kemudian ee menghasilkan 31:47 pemimpin-pemimpin yang ee hanya takut 31:50 kepada Allah walam yaksya illallah. Itu 31:53 peran yang harus dilakukan oleh masjid. 31:54 Ya. Jadi ee kalau masjid tidak 31:59 melakukan apapun untuk membekali 32:02 anak-anak muda muslim di sekitarnya, ya 32:05 kita di masa depan yang akan merasakan 32:08 akibatnya nanti. 32:10 H 32:10 iya. Dan memang harus kita mengambil 32:12 peran. Kalau spesifik pertanyaan tentang 32:16 LGBT ya kita perlu perlu mempelajari 32:19 lagi sebenarnya yang menjadi titik 32:23 kritisnya itu di mana gitu yang harus 32:24 kita jaga itu seperti apa, bagian 32:26 mananya. 32:28 Kalau kita lihat sekarang kan 32:32 seksualitas yang menyimpang itu ee 32:37 apa namanya? 32:39 sangat mudah menyebar karena akses 32:41 terhadap informasi itu sangat mudah kan. 32:43 Iya. I 32:44 ya pornografi dan sebagainya begitu. 32:47 Anak usia 32:50 berapa? 7 tahun 8 tahun. Saya juga 32:52 enggak habis pikir kenapa anak usia 32:54 segitu sudah dipasih HP yang ada 32:55 internetnya. 32:56 Itu kan enggak masuk akal begitu. 32:58 Maksudnya orang dewasa saja 33:01 mengendalikan diri main HP aja susah. 33:03 Apalagi anak SD sudah pegang HP sendiri. 33:07 ada internetnya di dalamnya itu kan 33:09 ibaratnya kita ngirim anak bayi ke 33:11 perang medan perang enggak dikasih vokal 33:13 apa-apa gitu kan. 33:15 Nah, cuman ya sekarang kondisinya 33:17 terlanjur kayak gitu. Kita enggak bisa 33:18 bikin peraturan di masjid, bikin 33:21 peraturan sekampung enggak boleh anak SD 33:23 PKKP kan enggak bisa juga ya. 33:24 Iya. Iya. He. 33:25 Jadi yang bisa kita lakukan adalah 33:27 memperbanyak imunnya sebetulnya. 33:29 Heeh. 33:30 Bekalnya. 33:31 Nah, itu ya wallahualam ya cara yang 33:34 terbaik bagaimana. Tapi kita berusaha 33:36 apa yang kita bisa yang kita lakukan. He 33:38 seperti itu. 33:39 Iya. I 33:40 terkait ee isu LGBT. 33:44 Heeh. 33:45 Mungkin kalau dari yang saya pahami ini 33:49 mungkin juga untuk kita ke depan sebagai 33:52 orang tua ataupun 33:53 dalam lingkup masjid gitu ya. Salah satu 33:57 yang perlu diedukasi atau mungkin 34:01 sebelumnya itu tabu gitu ya, 34:02 itu adalah soal seks education. H 34:07 tentang mengajari anak-anak kita 34:11 tentang ya seksualitas walaupun tentu 34:14 saja sesuai dengan jenjangnya 34:15 masing-masing ya. Misalnya salah satu 34:17 yang ee 34:20 anak-anak kita itu atau dulu mungkin 34:22 kita pas masih kecil diajarkan misalnya 34:24 soal menyebut alat kelamin aja. 34:26 Iya. 34:27 Misalnya biasanya kita diajarin ini 34:29 burung gitu ya. Padahal burung kan lain 34:32 benda lain. Ada kalau ngomongin burung 34:34 orang jadi juga agak tabuk. Padahal ini 34:36 kan alat lamin kita punya nama sendiri. 34:38 Iya. Iya. bukan sesuatu yang jorok, 34:41 tetapi sesuatu yang misalnya istilah 34:43 ilmiah, medis, 34:45 istilah medis dan sebagainya itu perlu 34:47 diajarkan. Karena ketika 34:50 enggak hadir orang tua kita atau kita 34:54 sebagai orang tua ngajarin yang seperti 34:55 itu kepada anak-anak, 34:59 dia akan belajar dari teman-temannya 35:02 istilah-istilahnya. 35:04 kemudian menggunakan istilah itu untuk 35:06 apa? Akhirnya kan jadi buat memaki orang 35:09 lah segala macam ee sesuatu yang tabu. 35:13 Bahkan saya pernah ada satu teman yang 35:16 dia itu kalau ngomong selalu ada imbuhan 35:19 kata-kata jorok gitu. 35:21 Saya bilang, "Ngapain sih pakai kayak 35:22 ginian?" Ya kalau enggak kayak gini tuh 35:24 enggak akrab. Kayak gini tuh akrab. 35:26 Akhirnya kan dia belajar bahwa oh kalau 35:29 ngomong yang jorok itu adalah tanda 35:31 keagraban. 35:33 Karena dulu mungkin ya wallahualam 35:35 bagaimana orang tuanya ketika ee 35:38 memberikan pesan segala macam mungkin 35:40 tidak sampai ke sana. Jadi seks 35:43 education menurut saya itu juga salah 35:45 satu hal yang perlu untuk ditambahkan ya 35:48 dalam kurikulum-kurikulum 35:51 rumah tangga. Dimulai dari rumah tangga 35:53 pastinya mungkin kalau masih dibikin 35:55 program-program di TPA TPA ya 35:58 dikenalkan. Eh, termasuk salah satu yang 36:01 dijelaskan juga adalah misalnya 36:02 penyimpangan-penyimpangan 36:04 itu juga mesti dikasih tahu kisah Nabi 36:06 Luth 36:07 dan sebagainya. Saya ingat 36:09 saya itu dulu pertama kali suka 36:11 perempuan waktu masih TK 36:16 suka ada ini kayaknya menarik gitu. 36:17 Heeh. 36:18 Dan alhamdulillah sampai sekarang 36:19 sukanya perempuan. 36:21 Akhirnya ketika saya punya anak, saya 36:22 itu juga pengin memastikan dia senang 36:24 perempuan. Saya tanya, 36:26 "Di TK kamu ada yang cantik enggak?" 36:28 gitu teman dibilang ada alhamdulillah 36:30 bagus berarti saya pengin mengajarkan 36:33 kepada dia bahwa rasa tertarik dengan 36:35 wanita itu tidak salah 36:37 itu fitrah ya 36:37 itu fitrah 36:38 iya bukan berarti kita nyuruh dia 36:40 pacaran, tapi 36:41 suka itu fitrah enggak apa-apa kamu suka 36:43 sama perempuan atau misalnya yang 36:45 perempuan suka sama laki-laki itu enggak 36:47 apa-apa dan itu justru dijaga cuman 36:49 jangan melewati batas-batas interaksi 36:52 yang diatur oleh syariat ini juga 36:53 menurut saya adalah bagian dari seks 36:55 education juga bahwa laki-laki ya senang 36:57 sama perempuan dan itu wajar. 36:58 Papa sayang sama mama, mama sayang sama 37:01 papa dan seterusnya. Hm. Manggilnya papa 37:03 mama. 37:04 Papa mama. 37:04 Masyaallah. 37:06 Baik. Nah, Ustaz ee Jok Karyan ini kan 37:09 juga punya banyak program sosial ya, 37:11 Gus. 37:12 Iya. mulai dari pendidikan, 37:13 pemberdayaan, ekonomi, hingga pembinaan 37:16 remaja. Dari program-program tersebut 37:19 mana yang menurut Gus Haider sendiri 37:21 paling efektif yang bisa menjadi pintu 37:24 masuk bagi anak muda agar mereka ini 37:27 lebih dekat dengan Islam dan kemudian 37:29 memiliki lingkungan pergaulan yang baik. 37:31 Karena kalau tadi masalah kalau ngomong 37:34 jorok kemudian menjadi akrab ini mungkin 37:36 lebih kepada pergaulan, Ustaz, ya. 37:38 Pergaulan. 37:38 Jadi, pergaulan yang membentuk karakter 37:40 anak muda itu gitu. Nah, menurut Gus 37:42 Haidar sendiri gimana, Gus? 37:45 Iya, ee memang remaja itu kan masa di 37:48 mana ketika referensi sosialnya seorang 37:53 remaja itu pindah ya. Yang dari tadi 37:55 dulu waktu kecil dia referensinya ke 37:58 orang tua, sekarang referensinya ke 37:59 teman sebaya gitu. Maka peran teman 38:02 sebaya, apalagi teman sebaya yang agak 38:04 lebih tua, 38:06 jadi more knowledgeable yang lebih tahu 38:09 tentang beberapa hal itu sangat 38:10 berpengaruh ke mereka. Ee 38:15 tapi yang agak susah itu bagaimana kita 38:18 merekayasa supaya terjadi interaksi yang 38:20 positif di situ kan sebenarnya kalau 38:23 dibiarin mungkin nongkrongnya tempat 38:25 yang ee bukan belajar yang baik-baik 38:28 tapi belajar yang enggak bagus gitu. 38:30 Nah, maka kita perlu menyediakan ruang 38:32 di situ juga. Kalau secara strategis 38:36 saya melihatnya di masjid itu ee kita 38:40 harus mikir jangka panjang. 38:42 Heeh. 38:42 Karena ee bukan urusan setahun 2 tahun 38:46 kan sebetulnya. Maka yang harus 38:48 dikerjakan itu banyak dan ee di banyak 38:52 sisi, dari banyak sudut. misalnya ee 38:56 misal kita merasa sekarang anak 38:58 remajanya ada permasalahan, mungkin 39:01 salah satu sebabnya itu karena di 39:03 keluarganya ee kurang bagus kondisinya 39:07 begitu, maka kita harus punya usaha 39:10 untuk memperbaiki kondisi itu. Meskipun 39:13 sekarang kalau kita mau dampaknya ke 39:15 remaja yang itu mungkin sudah terlambat 39:17 begitu, 39:18 tapi kan kita berpikir jangka panjang. 39:20 Iya. maka harus ada ee bagaimana masjid 39:23 bisa ee berupaya supaya 39:26 keluarga-keluarga itu menjadi lebih baik 39:28 kondisinya 39:30 dengan ee parenting misalnya atau 39:33 belajar tentang pendidikan anak dan 39:35 sebagainya itu kita sediakan. Kemudian 39:38 di sisi lain dari masjid sendiri kita 39:41 ada wadah yang memang kita siapkan untuk 39:44 dari anak-anak sampai mereka dewasa 39:46 nanti. Jadi ketika anak-anak mereka di 39:49 Hamas namanya himpunan anak-anak masjid 39:51 ya 39:52 itu mereka TPA itu mereka berkegiatan 39:55 gitu kan. 39:56 Nanti setelah mereka ya ada siber 39:59 namanya sinau bareng itu 40:01 belajar bareng 40:02 belajar bareng. Heeh. 40:04 Nanti SMP kita bikinin wadah lagi. Jadi 40:08 di mana mereka bisa tetap ke masjid dan 40:11 ee dapat sesuatu yang menyesuaikan ke 40:14 usia mereka. Kalau tadinya masih Iqra 40:17 gitu, sekarang SMP ya sekarang mulai ada 40:20 diskusinya, mulai apa namanya? Ee 40:23 kajian, mulai kita kasih amanah begitu. 40:28 Jadi kita ee di masjid itu mikirnya 40:31 jangka panjang. 40:33 Dan menurut saya yang paling penting 40:34 memang di kaderisasi. 40:36 Kaderisasi tetap paling penting gitu ya. 40:39 Ee dengan berbagai level dan berbagai ee 40:43 jenjang yang kita sedang kita hadapi ya. 40:46 Heeh. 40:47 Tapi itu model kita ketika nanti kita 40:49 mau bikin program dan sebagainya model 40:52 paling utama kita ya kader-kader yang 40:54 ada gitu. I. 40:56 Dan kita melihat anak-anak kecil yang 40:57 ada sekarang ini mungkin enggak kerasa 5 41:00 tahun lagi mereka sudah bisa jadi 41:02 orang-orang yang ikut ngurusin kegiatan 41:04 sebetulnya. 41:06 Dan 5 tahun tuh cepat sekali kalau di 41:08 ini di kampung. He. 41:10 Enggak kerasa gede. 41:14 Kalau Ustaz sendiri 41:16 yang mana nih? 41:17 Yang tadi 41:19 apa 41:19 terkait dengan ee ee apa namanya? ee 41:23 program yang paling efektif bagi anak 41:26 muda untuk bisa masuk ke masjid. 41:28 program-program yang saya lihat tadi 41:32 efektif ya dari teman-teman terutama 41:35 teman-teman Joko Karian karena 41:36 sebetulnya saya adalah orang baru juga 41:38 di Jokarian baru dari 2023 cuman bersama 41:43 dan melihat ya bagaimana 41:47 ya betul yang disampaikan Mas Heder dari 41:49 kecil sebetulnya jadi enggak tiba-tiba 41:52 anak-anak muda Kampung Jokarian tuh 41:54 diajak tetapi rata-rata anak-anak remaja 41:56 masjid itu adalah anak yang lulus dari 41:58 Hamas itu tadi yang apa namanya 42:01 sebelumnya sudah diberikan 42:04 sesuatu oleh masjid berupa tadi ee akses 42:07 untuk belajar bersama-sama itu menurut 42:10 saya penting banget karena boleh jadi 42:13 ada anak-anak yang tumbuh di keluarga 42:15 yang orang tuanya itu kerjanya malam 42:17 hari ya 42:18 sehingga enggak bisa tuh nemenin 42:19 ngerjain PR dan sebagainya. di situ 42:21 masjid hadir untuk ayo bareng aja 42:24 belajar di masjid sama kakak-kakak dan 42:26 mereka punya teman-teman. Akhirnya itu 42:28 kan tumbuh rasa aku tuh bagian dari 42:30 masjid nih. Dari kecil udah ee ter 42:35 sibghah gitu ya istilahnya atau tercelup 42:37 bahwa 42:38 terwarnai ada identitas bahwa aku adalah 42:40 bagian dari masjid jago karian. Sehingga 42:43 ketika nanti tumbuh dia jadi remaja ya 42:45 dia tetap gabung walaupun dengan 42:47 berbagai macam passion-nya. tadi ada 42:49 yang ee dia mungkin 42:54 punya teman lalu dia nyoba-nyoba nyemir. 42:57 Iya. 42:57 Atau yang tindik segala macam. Tetapi 43:01 identitas bahwa dia adalah anak Jokarian 43:03 itu tetap ada dan dia alhamdulillah 43:05 tetap hadir gitu. Enggak merasa minder, 43:07 enggak merasa sebagai orang lain di 43:09 antara mereka. Jadi salah satu program 43:11 yang paling efektif mungkin kalau kita 43:13 berharap langsung dari remaja itu 43:15 challenging ya menantang walaupun bukan 43:17 mustahil juga. Tetapi kalau pengin kita 43:20 membicarakan efektif jangka panjang, 43:21 justru dari kecil-kecil ini dari 43:23 anak-anak SD itu 43:25 kita bikinkan program bareng-bareng di 43:27 masjid ee misalnya bimbel kah itu kalau 43:30 misalnya di Jakarta ya 43:32 dan apa namanya punya sumber daya yang 43:34 besar bisa tuh belajar bareng di masjid 43:38 nanti berkegiatan jalan-jalan bareng di 43:40 masjid tetapi ya dikasih identitas bahwa 43:43 aku tuh ee himpunan atau kumpulan 43:46 anak-anak masjid gitu. itu. Jadi ketika 43:49 dia proses tadi menjadi remaja menemukan 43:54 berbagai hal di dunianya yang baru, dia 43:57 tetap punya identitas 43:58 bahwa dia adalah remaja masjid juga. 44:02 Kalau untuk masjid Koreaan sendiri ada 44:04 ee berapa banyak anak muda yang ee 44:08 tergabung menjadi bagian dari DKM? 44:12 Iya. Kalau jadi Masjid Jawaran itu kan 44:15 sesuai namanya ya, kita itu sasaran 44:17 dakwah utamanya warga kampung Jaarian. 44:20 Jari itu nama kampung ya. Jadi yang jadi 44:25 sasaran atau tanggung jawab dakwah kita 44:26 ya anak-anak di kampung. Kalau pas ee 44:31 keluar semua ya ratusan sih. Seratusan 44:34 lebih ya. 44:36 Tapi ya sama seperti di tempat-tempat 44:38 lain pasti ada yang aktifnya sampai pada 44:40 titik mana begitu, ada yang ee rutin 44:44 sampai di tadi kegiatan yang lebih intim 44:47 lagi seperti yang lelaki bercerita. Tapi 44:50 ada juga yang ikutnya cuman ketika ada 44:52 takbirtakbir keliling misalnya 44:55 gitu ya. Ya memang itu kondisinya 44:58 seperti itu. Dan tadi mungkin melengkapi 44:59 yang tadi ya. 45:00 Iya. ee 45:03 yang sering ini kita itu memandang ee 45:08 memandang mereka itu sebagai orang 45:11 manusia yang punya permasalahan ya 45:14 karena setiap orang punya permasalahan 45:16 tapi juga punya potensi. 45:18 Jadi dua hal ini yang perlu kita coba 45:21 cari sebetulnya permasalahan utama 45:23 mereka itu apa sih dan kita bisa bantu 45:26 apa mereka di situ? 45:27 Heeh. 45:28 Yang pertama. Yang kedua, mereka punya 45:29 potensi apa dan mereka bisa dikembangkan 45:31 seperti apa. Nah, karena potensi ini 45:34 yang menjadi modal mereka untuk 45:37 menyelesaikan permasalahan mereka 45:38 sendiri sebetulnya. 45:39 Heeh. 45:40 Dan di sini yang kadang-kadang ee 45:42 masjid-masjid belum mengambil di situ 45:46 karena 45:47 ee anak muda hanya dianggap sebagai 45:49 subjek, sebagai objek saja 45:51 ya. Dia diundang datang kajian begitu. 45:55 Sementara dia itu punya kebutuhan yang 45:56 lain. Kebutuhan untuk mengembangkan 45:58 dirinya, 45:59 kebutuhan untuk diakui bahwa dia itu ada 46:02 kontribusinya, ada maknanya dia hadir di 46:06 dalam dunia ini, gitu loh. 46:08 Yang itu kadang-kadang pengurus masjid 46:10 atau yang senior tidak kurang peka 46:13 terhadap hal itu. Jadi enggak 46:14 enggak mau dikasih amanah. Kalau kita 46:17 berusaha bikin hal-hal sederhana di mana 46:20 mereka bisa belajar beramanah. tadi 46:23 belajar bertanggung jawab, belajar 46:25 berorganisasi. 46:27 Misalnya kemarin anak-anak yang agak 46:29 nakal-nakal itu kemarin kita kasih 46:31 project bikin turnamen esports misalnya 46:35 main Mobile Legends sama 46:37 Mobile Legends 46:38 apa kemarin Free Fire itu 46:41 ya jadi pengalaman mereka begitu. 46:43 Iya. 46:44 Dan senang begitu ketika diberi amanah. 46:47 Kan kita tidak menafikan ya bahwa banyak 46:49 masjid sekarang itu yang akhirnya jadi 46:51 tempat orang tua ya, Ustaz. 46:52 Iya. 46:53 Pengajian ibu-ibu orang tua, pengajian 46:55 ibu-bapak orang tua. Sedangkan anak 46:57 mudanya enggak ada gitu. 46:58 Anak mudanya itu hadir salat tapi habis 47:01 itu udah 47:01 iya 47:02 enggak pengin terlibat dalam sebagai 47:04 keremajaan 47:05 atau terlibat dalam kepanitiaan. Karena 47:08 ya itu tadi mungkin ada perasaan aku 47:11 belum pantas. 47:12 Iya 47:13 aku masih nakal aku masih suka ini, suka 47:16 itu. Nah, ini mungkin salah satu yang 47:17 perlu kita 47:18 Iya. Iya. 47:19 Ee bereskan bersama-sama. membersihkan 47:21 stigma. 47:22 Heeh. 47:23 Ee tentang remaja masjid. Tadi saya 47:24 diceritakan oleh Mas Haidar tentang 47:26 bagaimana 47:28 pemuda-pemuda masjid Indonesia dulu yang 47:31 tergabung dalam apa? BKP. 47:33 BKPMI ya. Heeh. 47:35 Itu bahkan misalnya yang 47:36 perempuan-perempuan tuh enggak berjilbab 47:38 gitu. belum berjilbab karena memang 47:40 adaan 47:41 ada aturan yang melarang ya saat itu. 47:43 Tapi artinya bisa loh sebetulnya kalau 47:46 kita bikin remaja masjid itu terasa 47:48 lebih inklusif 47:50 buat siapa aja. 47:51 Bukan buat orang yang sudah benar aja 47:53 tetapi yang masih mau berproses pun juga 47:56 diterima, dirangkul dan dihargai. 47:59 Heeh. Heeh. Baik. Nah, ee seandainya ini 48:03 ee banyak ee seringkiali pengurus masjid 48:07 Mas Haider ee ee Ustaz yang menguluhkan 48:10 sulitnya mengajak anak muda untuk aktif. 48:13 Padahal kalau lihat kita potensi masjid 48:15 itu 48:16 untuk kemudian bisa ee apa namanya? 48:19 Memperdayakan anak muda dan anak muda 48:22 bisa berdaya di masjid itu kan sangat 48:23 besar. 48:24 Tapi banyak 48:25 banyak dari DKM sendiri yang bilang, 48:28 "Ah, sulit nih ngajak anak muda" gitu 48:29 kan. He. 48:30 Kalaupun 48:32 ada ya tidak signifikan, tidak begitu 48:35 banyak. 48:37 Seandainya ada pengurus masjid di 48:38 berbagai daerah yang mungkin 48:40 mendengarkan radio silaturahim pada hari 48:42 ini, langkah sederhana apa yang bisa 48:45 langsung dilakukan agar kemudian masjid 48:48 menjadi tempat yang ramah, hangat, dan 48:50 menarik bagi generasi muda? 48:54 langkah yang paling praktis ya 48:56 tentukan minimal satu orang yang akan 49:01 jadi penanggung jawab untuk mikirin 49:04 dakwah buat anak muda ini. 49:06 H 49:06 karena saya merasa sebenarnya banyak 49:08 masjid yang enggak ada itu 49:10 enggak ada divisi anak mudanya begitu. 49:12 divisinya mungkin ada, tapi secara 49:14 personal itu rasa tanggung jawab itu 49:16 belum 49:18 terinternalisasi bahwa saya tuh mau ini 49:20 loh ke anak-anak muda. Jadi ee kita kan 49:23 berpikir dakwah itu enggak sesederhana 49:26 mikir organisasi sebetulnya. 49:28 Kadang-kadang dakwahnya itu bukan di 49:30 program. 49:33 Maksudnya gimana? Misalnya saya merasa 49:36 saya berhasil berdakwah sama adik-adik 49:38 itu ketika mereka WA malam-malam, 49:43 Mas, lagi luang enggak temenin ke 49:46 Warkop misalnya. 49:47 Heeh. 49:48 Aku mau cerita. Menurutku itu momen yang 49:51 lebih berhasil daripada bikin program 49:53 apa gitu. 49:55 Iya. Cuman ee orang yang mau meluangkan 49:58 waktu dan tenaganya untuk dengerin 50:01 anak-anak ini 50:03 ada belum di masjid jenengan, masjid 50:05 Anda itu sudah ada belum? Nah, itu perlu 50:08 dicari ketika sudah ada ya kemudian ya 50:12 distan kalau bisa mendengarkan anak muda 50:15 yang sudah ada, sudah dekat, sudah bisa 50:18 diakses begitu dari mereka itu 50:20 sebenarnya 50:21 ee minatnya ke arah mana gitu. Nah, itu 50:24 coba di fasilitasi ya. Cuman ee apa ya? 50:31 Bukan terus ngikutin mereka terus, tapi 50:34 ee sambil proses itu sambil memahami 50:37 mereka itu sebenarnya kebutuhannya apa. 50:39 Heeh. 50:39 Karena kadang-kadang mereka sendiri juga 50:40 enggak sadar kan dengan kebutuhan mereka 50:42 sendiri. 50:44 Nah, di situ sih menurut saya langkah 50:46 paling praktisnya di situ. Daripada 50:48 bikin program sekarang tentukan dulu 50:50 siapa yang mau melakukan itu sebetulnya. 50:54 H 50:54 ya. 50:55 Heeh. 50:55 Dan jangan terpaku bikin program, bikin 50:58 apa. Bukan bukan di situ. Tapi lebih ke 51:00 interaksi 51:01 antar manusianya itu terjadi dulu. 51:03 Heeh. 51:04 Dan kadang-kadang kita harus ngalah, 51:05 kita har yang ngajakin ke mana. 51:08 Heeh. He. 51:08 Kalau mereka yang har kumpul di masjid 51:11 kadang-kadang belum bisa juga kan. 51:13 He heh. 51:13 Iya. 51:14 H. 51:15 Baik. Apalagi kita akan menghadapi bonus 51:17 demografi. Kemudian ee Indonesia Emas 51:22 2045. Jika ini tidak diantisipasi se 51:26 dini mungkin, mungkin kita akan 51:27 kehilangan momen ini, Ustaz. 51:28 Iya, betul. 51:30 Dan tantangan anak muda pun bukan cuma 51:32 hanya soal masalah pekerjaan, tapi 51:35 masalah degradasi moral ini juga menjadi 51:37 tantangan tersendiri. Iya. 51:39 Dan masjid itu memiliki peran bagaimana 51:41 kemudian masjid punya tanggung jawab 51:44 agar generasi muda ke depan terutama 51:46 Indonesia ini dia bisa lebih ee tidak 51:49 hanya soal ee pengetahuan saja yang oke, 51:53 tapi juga masalah iman dan takwa juga 51:56 paling tidak harus benar-benar bisa apa 52:00 namanya membentuk generasi muda itu 52:02 begitu ya. I. Nah, ee terakhir Ustaz ee 52:05 saya ingin ke Ustaz untuk anak-anak muda 52:08 yang saat ini ee ee jauh dari masjid dan 52:13 belum memiliki komunikasi yang baik atau 52:15 sedang mencari makna hidup. Apa pesan 52:18 dari Ustaz Hammad yang ingin Ustaz 52:20 sampaikan kepada anak muda agar mereka 52:23 berani kembali mendekat kepada Allah dan 52:25 menjadikan masjid sebagai tempat 52:27 bertumbuh? 52:29 Oke. Ee sebelum masuk ke pesan terakhir 52:32 tadi saya pengin menambahkan sedikit 52:34 soal program ya. 52:35 Ee kalau dari saya ada tiga 52:41 program ini sudah kayak calon 52:45 apa namanya? Kepala daerah ya. 52:47 Tapi saya melihat dari beberapa 52:48 pengalaman ya. Heeh. 52:51 Ada tiga nih yang menurut saya bisa 52:53 menarik anak-anak muda itu untuk ke 52:54 masjid. Yang pertama kalau kita pengin 52:57 dapat yang laki-laki, artinya peserta 53:00 laki-laki atau anak-anak muda khususnya 53:02 laki-laki itu dibuatkan wadah untuk 53:06 mereka diajarkan atau dibimbing secara 53:09 karir, 53:11 bimbingan karir. Jadi tempo hari saya 53:13 diminta oleh salah satu mahasiswa pasal 53:16 sarjana UIN Sunan Kalijaga untuk jadi 53:19 apa istilahnya itu, Mas? fasilitator. 53:21 Fasilitator 53:23 penelitian dia, dia bikin 53:26 ee kurikulum modul bimbingan karir 53:29 berbasis masjid dibuka pendaftaran di 53:31 masih jauh karan. Pesertanya dibatasi 53:34 kalau enggak salah 20 gitu ya. 20 53:37 laki-laki, 20 perempuan. Itu yang 53:39 laki-laki full. Yang perempuan cuman 53:41 tiga atau empat. Itu empat. Jadi kalau 53:44 ngomongin soal pekerjaan, soal 53:46 finansial, soal yang berbau terhadap ee 53:51 apa namanya? Tugas laki-laki sebagai 53:53 provider itu laki-laki datang, anak muda 53:55 datang 53:57 dibimbing karir. 53:59 Ini bisa jadi salah satu daya tarik 54:01 program yang menarik laki-laki. Kalau 54:03 perempuan apa? Perempuan itu pranikah. 54:07 Program pranikah di mana-mana. program 54:10 apun pasti program peranikah, persiapan 54:12 peranikah, edukasi itu yang perempuan 54:14 penuh, yang laki-laki dikit sebaliknya. 54:17 Jadi ee dua ini. Kemudian yang ketiga 54:20 adalah taaruf deh. 54:22 Yang ikut program bimbingan karir itu 54:25 sama pranika. 54:27 Menurut saya itu salah satu atau tiga ya 54:29 program yang menurut saya kalau ada 54:31 enggak sih yang bisa narik anak muda 54:34 itu? Insyaallah saya percaya banget 54:36 laki-laki itu jangankan yang gratis ya, 54:39 yang berbayar aja mereka bakal keluar 54:40 tuh merasa itu ada investasi buat 54:42 penghasilan dan sebagainya. 54:43 Diulang lagi, Ustaz. Programnya apa aja 54:45 Ustaz? 54:45 Yang pertama program bimbingan karir 54:48 berbasis masjid. He. 54:50 Lalu bimbingan pranikah yang bocengin 54:52 cewek gitu ya. Yang cowok tuh bimbingan 54:53 karir. Kalau diajak pranikah enggak 54:55 datang dia. 54:56 Mereka memikir persiapan nikah itu ya 54:58 duit. Ya sudah kita sediakan bimbingan 55:00 karir. 55:00 Iya. Iya. 55:01 Yang sudah bekerja gimana supaya 55:03 karirnya meningkat? yang belum kerja 55:04 gimana biar dapat pekerjaan gitu kan. 55:06 Membantu juga nih pekerjaan dari wakil 55:09 presiden kita yang menjanjikan Rputa8 55:11 pekerjaan. 55:12 Iya. 55:13 Lalu yang ketiga adalah taaruf. Itu tadi 55:16 mungkin wadah ee ketika orang pengin 55:19 nyari jodoh yang baik seperti itu. 55:21 Baik. Nah, buat teman-teman tadi yang 55:22 pesan terakhir itu ya 55:24 yang teman-teman yang mungkin masih agak 55:26 ragu atau merasa malu untuk kembali 55:29 aktif di masjid, 55:32 ketahuilah teman-teman bahwa masjid itu 55:35 bukan hanya untuk orang-orang yang sudah 55:39 saleh, bukan hanya untuk orang-orang 55:41 yang sudah berhasil meninggalkan maksiat 55:45 kepada Allah. Masjid itu adalah tempat 55:50 bagi orang yang suka bertaubat. 55:54 Artinya suka bertaubat artinya dia masih 55:56 banyak salahnya. 55:57 Heeh. 55:57 Dia banyak salah tetapi dia terus 55:58 kembali kepada Allah. Jadi kalau 56:00 teman-teman punya kesalahan, punya 56:02 kekeliruan, punya masih merasa jauh, 56:06 jangan membuat kita untuk pergi menjauh 56:09 dari masjid. Justru kita perlu lebih 56:12 sering kepada masjid. Kata Allah, 56:13 "Innallaha yuhibbut tawwabin." Allah 56:16 cinta sama orang-orang yang suka 56:18 bertaubat. Bukannya orang sudah bersih, 56:20 enggak ada dosa, tetapi terus 56:21 memperbaharui tobat-tobatnya. Maka terus 56:25 kembali sama Allah. Semoga dengan kita 56:27 begitu terus, lama-lama juga Allah 56:29 bimbing kita menjadi orang yang lebih 56:32 baik, sejahtera di dunia dan juga 56:35 selamat di akhirat. Amin ya rabbal 56:37 alamin. 56:37 Amin. Baik. Dan terakhir untuk Gus 56:39 Hider. Ini pesan terakhir juga dari Gus 56:41 Haider buat ee kita semua. Apa harapan 56:43 Gus Haider ee terhadap masa depan masjid 56:47 masjid di Indonesia? Heeh. 56:49 Seperti apa masjid yang ideal agar 56:52 benar-benar menjadi pusat ee ibadah, 56:55 pusat pendidikan, pusat pembinaan 56:57 keluarga sekaligus menjadi benteng umat 57:00 Islam dalam menghadapi berbagai 57:02 tantangan zaman termasuk krisis moral 57:05 dan berbagai penyimpangan perilaku yang 57:08 berkembang di tengah masyarakat. 57:11 Ya, harapannya kita sebagai masjid bisa 57:13 mengambil peran yang lebih besar ya 57:15 dan bisa berkontribusi, bisa 57:19 apa ya mewarnai peradaban dengan lebih 57:22 lebih apa lebih banyak lagi. Begitu 57:27 saya tuh ee kalau kita mengambil 57:31 inspirasi ketika Rasulullah itu mulai 57:34 praktik membangun peradaban kan 57:36 sebenarnya ketika beliau hijrah ke 57:37 Madinah ya. 57:38 Iya. Dan ada hadis yang sangat ikonik 57:42 itu yang diriwayatkan oleh Abdullah bin 57:44 Salam ketika Rasulullah datang pertama 57:46 kali ke Madinah itu yang diucapkan 57:50 pertama kali ini yang afsyus salam ya 57:55 waimut thaam wasilul arham wasallu baili 57:58 wasasu niam begitu menurut saya itu ee 58:03 apa ya starter pack peradabannya 58:05 sebenarnya di situ yaitu kita pengin 58:08 ingin memastikan di masjid itu kita 58:09 menjalankan itu semua dulu begitu. 58:11 Heeh. 58:12 Afsyus salam. Apakah kita di masjid itu 58:14 sudah menyebarkan salam? Maksudnya 58:17 wilayah yang kita tanggung jawab 58:19 dakwahnya ini misalnya sekampungkah atau 58:21 berapa RW kah itu kita sudah kenal semua 58:24 belum sebetulnya? 58:25 Iya. 58:26 Kita sudah punya datanya belum begitu. 58:29 Nah, jadi ee buat masjid-masjid yang 58:33 ingin kemudian untuk berkembang ya saran 58:36 saya harus punya database, harus punya 58:38 data. 58:38 Hm. 58:39 Data siapa? Data jemah, data masyarakat. 58:42 Begitu sehingga dari data itu kita 58:45 bisa menentukan sebetulnya yang mereka 58:47 butuhkan itu apa begitu. Jadi tidak 58:49 sesuai selera kita aja begitu. 58:51 Heeh. Heeh. 58:51 Kemudian waimut thaam itu kan sebetulnya 58:54 bentuk memenuhi kebutuhan orang yang 58:56 paling sederhana. Kebutuhan yang paling 58:58 sederhana ya makan. Sebetulnya orang 59:00 lapar diberi makan sehingga dia bisa 59:03 hidup begitu. Tapi ya sekarang mungkin 59:06 kebutuhan makan mungkin sudah ada MBG, 59:09 mungkin ada kebutuhan yang lain begitu 59:11 yang menjadi 59:13 koncern utama mereka. Nah, masjid harus 59:15 berperan di situ. Kita cari apa yang 59:17 bisa kita lakukan ya. Wasilul arham itu 59:20 berarti ya kita mendorong bagaimana 59:23 keluarga itu bisa kuat lagi sebagai 59:25 pondasi peradaban yang paling ini kan 59:29 inti atomnya itu kan di keluarga 59:31 sebetulnya yang ini kita merasakan 59:34 sekarang memang paling berat di situ. 59:37 Jadi keluarganya 59:39 enggak ada interaksi antara anggota 59:40 keluarga tuh. 59:42 Itu wasallu bilaili wannasunam ini 59:44 mengingatkan kita bahwa apapun yang kita 59:47 kerjakan itu pada akhirnya adalah cara 59:50 kita untuk mencari rida Allah dan 59:52 berhasil tidaknya itu terserah Allah 59:54 caranya seperti apa. Meskipun kita 59:57 merasa kecil sekali yang kita lakukan 59:59 itu tidak signifikan, kalau Allah 1:00:01 menakdirkan ada kebaikan yang lahir dari 1:00:04 situ maka akan lahir juga. Begitu. Heeh. 1:00:06 Jadi saran saya buat masjid-masjid 1:00:09 jangan 1:00:12 menunda lagi begitu ya. Jangan merasa, 1:00:14 "Wah, saya masjid kecil, wah saya enggak 1:00:16 bisa apa-apa, saya sudah kayak gini 1:00:18 aja." Enggak. Kita bisa melakukan bahkan 1:00:21 dari hal yang terkecil. Di Jokoarian 1:00:23 juga dulu ee ayah kami dan rekan-rekan 1:00:27 begitu memulai dari hal-hal yang sangat 1:00:28 sederhana sekali. misalnya 1:00:30 ee gimana sih biasanya biar masjid bisa 1:00:33 berperan ke masyarakat 1:00:35 ee ternyata ada peluang misalnya waktu 1:00:38 itu lagi ada 1:00:40 DBD wadbah DPD demam berdarah 1:00:44 ya sudah masjid bagi bubuk abate begitu 1:00:46 misalnya itu kan sederhana sekali murah 1:00:48 sekali begitu 1:00:49 tapi masyarakat kemudian oh melihat 1:00:52 masjid itu hadir begitu 1:00:55 nah maka ayo kita pikirkan masjid kita 1:00:57 itu bisa hadir lewat buat apa begitu 1:01:00 buat masyarakat dan mungkin khususnya 1:01:01 buat teman-teman pemuda sekarang. Karena 1:01:04 trennya sih kalau yang secara umum ya 1:01:07 kayak ekonomi dan lain-lain masjid sudah 1:01:09 banyak yang pada turun kan. 1:01:10 Heeh. 1:01:11 Mungkin yang di kalangan anak muda ini 1:01:12 yang kita masih banyak masjid yang belum 1:01:15 punya ee apa yang dilakukan untuk mereka 1:01:17 seperti itu. 1:01:18 Iya. I jadi masjid bisa lebih berperan 1:01:20 ke depannya. 1:01:21 Iya. 1:01:21 Ee Gus Haider. 1:01:23 Terima kasih Gus Haider. Terima kasih 1:01:25 Ustaz atas kehadirannya di Radio 1:01:27 Silaturahim. Ikhwan dan akhwat, 1:01:29 alhamdulillah ee 1:01:31 tidak terasa kita telah sampai di 1:01:33 penghujung bincang inspiratif pada hari 1:01:35 ini. Terima kasih kami sampaikan kepada 1:01:38 dua narasumber 1:01:40 dan juga Ustaz Hammad Rasyadi, LC atas 1:01:42 ilmu, pengalaman, dan juga inspirasi 1:01:45 yang telah dibagikan kepada kita semua. 1:01:47 Semoga apa yang telah disampaikan 1:01:49 menjadi amal jariah dan memberikan 1:01:52 manfaat yang luas bagi umat. Mari kita 1:01:54 mulai dari diri sendiri dan keluarga. 1:01:57 Ajak anak-anak, remaja, dan generasi 1:01:59 muda untuk semakin dekat dengan masjid, 1:02:01 aktif dalam kegiatan yang bermanfaat, 1:02:03 serta menjadikan nilai-nilai Al-Qur'an 1:02:06 dan sunah sebagai pedoman dalam 1:02:08 menghadapi berbagai tantangan kehidupan. 1:02:11 Saya Abi Agus ditemani Neza di meja 1:02:14 Switcher Rasil TV juga seluruh tim yang 1:02:17 bertugas pamit undur diri. Terima kasih 1:02:19 atas kebersamaan kita semua. Tetap setia 1:02:22 bersama Radio Silaturahim untuk Islam 1:02:25 yang satu, untuk Indonesia bersatu. 1:02:27 Subhanakallahumma wabihamdika asadu alla 1:02:30 ilahailla anta astagfirukafik 1:02:34 walidah. Wasalamualaikum warahmatullahi 1:02:36 wabarakatuh. Waalaikumsalam 1:02:38 warahmatullahi wabarakatuh.