Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:26 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 0:27 warahmatullahi wabarakatuh. 0:29 Alhamdulillahiabbil alamin wasalatu 0:31 wassalamu ala sayyidina Muhammad waa 0:33 alihi wasbihi ajmain. Rbi zidni ilma 0:36 allahumfani bima alamtani waimni mafuni 0:39 warzuqni ilman yangfoni. Dipancarkan 0:41 dari jalan masjid silaturahim nomor 36 0:44 Kalimanggis Cibubur Bekasi, radio 0:46 silaturahim dan Rasil TV untuk Islam 0:49 yang satu. Ikhwan akhwat, pendengar dan 0:52 pemirsa di mana pun saja Anda berada 0:54 yang dapat mendengarkan siaran kami. 0:56 Senang sekali di pagi hari ini saya 0:59 Angga Aminudin ditemani oleh Algi di 1:02 meja operator, ada Ondi di meja 1:04 kameramen, Iwan Ah. Kami hadir dalam 1:07 kajian di hari Selasa, kajian ekonomi 1:11 Islam. Alhamdulillah kita dapat siaran 1:14 live di kesempatan hari ini. Kita sudah 1:17 memasuki hari yang ke-14 di bulan April 1:22 2026 kalau tidak salah. Ini hari yang 1:24 ke-24 ya, Oni ya di bulan Syawal ya 1447 1:29 Hijriah. Alhamdulillah narasumber kita 1:32 Ustaz Ikhwan Basri telah hadir di 1:35 studio. Asalamualaikum warahmatullahi 1:37 wabarakatuh, Pak Ustaz. 1:37 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:39 wabarakatuh. 1:40 Bagaimana sehat, Pak Ustaz? 1:41 Alhamdulillah. Sehat walafiat. 1:43 Sehat walafiat. Suasananya kan masih di 1:46 bulan Syawal ini. 1:47 Iya. 1:47 Ternyata masih ada yang halal bihalal, 1:48 Pak Ustaz, di pekan ini. 1:49 Iya. Kita baru datang dari berbagai otak 1:51 ini. 1:52 Baru dong sudah silaturahim kayaknya 1:54 nih. 1:55 Betul. 1:56 Betul. Ya, insyaallah pasti ada 1:58 pelajaran yang bisa diambil ya, Pak 2:00 Ustaz ya. Makanya ketika Ustaz 2:02 mengusulkan bahasan kita mengenai 2:05 membangun ekonomi berbasis silaturahim, 2:07 saya langsung googling dari mulai ee 2:10 silaturahim lebaran, silaturahim halal 2:12 bihalal. Ternyata memang banyak sekali 2:15 ini, Pak Ustaz, ini banyak ee [berdehem] 2:18 berita maupun konten media sosial yang 2:22 menjadikan halal bihalal ini mendorong 2:26 ekonomi umat. Benar. 2:27 Saya ini mendapat satu link model dari 2:31 ee Discominfo. Lalu juga ini kabupaten 2:36 ee ada nih apa ee website di Kabupaten 2:39 Jember lalu juga ada di Lampung Selatan. 2:41 Ternyata banyak nih Pak Ustaz halal 2:43 bihalal Menko perekonomian juga ya 2:46 menghadirkan optimisme ekonomi. Ada juga 2:49 ini halal bihalal dorong UMKM di Banten. 2:52 Wah banyak ini ternyata 2:55 ketika halal bihalal dikaitkan dengan 2:56 silaturahim, dikaitkan dengan ekonomi. 2:59 Saya googling banyak sekali. 3:01 Dan secara 3:02 yang saya alami pengalaman kemarin juga 3:04 Pak Ustaz kita kekumpul sama keluarga 3:05 gitu ya. Ya, 3:06 ya tidak lepas memang yang kita 3:07 bicarakan tuh dari mulai ini usaha 3:10 bagaimana, ini ada perang nih efeknya 3:12 gimana. [tertawa] 3:13 Lalu juga ada saudara-saudara yang baru 3:15 PHK, Pak Ustaz. Iya. 3:16 Yang nyari kerjaan sulit, 3:18 sudah lulus hampir 2 tahun kuliah, kerja 3:21 masih serabutan gitu ya. 3:23 Nah, di lain sisi juga ada yang mudah 3:24 gitu ya kerja nih. Belum lagi kita 3:26 bicara peluang-pulang kerja yang 3:28 kaitannya ee dengan apa e nuansa politik 3:32 gitu ya. Nah, ini jadi hal yang menarik 3:35 akan kita angkat sebenarnya ikhwan 3:37 akhwat gitu ya, 3:39 membangun ekonomi berbasis silaturahim. 3:43 Nah, Ikhwan Ahmad juga nanti bisa 3:46 menyampaikan komentar ataupun 3:47 pertanyaannya mengenai topik yang kita 3:49 bahas. Silakan kirimkan ke nomor 3:51 WhatsApp Rasil di 0811999720. 3:58 Nah, Pak Ustaz tadi ya bagaimana memulai 4:03 perbincangan kita, kajian kita kaitannya 4:06 dengan silaturahim ini bisa jadi basis 4:09 perekonomian umat. Monggo, Pak Ustaz. 4:12 Terima kasih, Pak Ustazah. [berdehem] 4:14 Asalamualaikum warahmatullahi 4:15 wabarakatuh. 4:17 Alhamdulillahiabbil alamin wasalatu 4:20 wasalamu ala asrofil iya wal mursalin 4:23 nabiyina wa rasulina wa habibina 4:26 Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi 4:28 ajmain. Amma ba'du. Para pemirsa Rasil 4:32 TV dan para pendengar radio silaturahim 4:36 yang berbahagia dan yang dirahmati oleh 4:39 Allah subhanahu wa taala. 4:41 Alhamdulillah 4:43 kita bersyukur ke hadirat Allah 4:44 Subhanahu wa taala yang senantiasa 4:48 mencurahkan rahmat-Nya kepada kita 4:51 sekalian sehingga pada pagi hari ini 4:55 dari rahmat dia itu kita dapat 4:58 melaksanakan aktivitas salat subuh 5:02 berjamaah atau di rumah dan menjalankan 5:05 fungsi kita sehari-hari sebagai manusia 5:07 dan termasuk adalah mendengarkan 5:11 kajian ekonomi Islam di pagi hari ini. 5:15 Mudah-mudahan 5:17 rahmat Allah terus-menerus 5:20 tidak putus-putusnya diberikan kepada 5:22 kita dan kita sebagai hamba-Nya selalu 5:25 bersyukur mensyukuri atas rahmat 5:28 tersebut tanpa ada putus sebagaimana 5:32 rahmat Allah tidak putus. Amin ya rabbal 5:35 alamin. Nah, seperti yang dimukadimi 5:37 oleh Mas Angga tadi bahwa beliau sendiri 5:40 juga merasakan betapa 5:43 efek daripada silaturahim. 5:47 terutama karena kemarin kita ini 5:49 melaksanakan lebaran dan kita 5:52 melaksanakan silaturahim berkunjung ke 5:54 handai tolan kita sana saudara kita di 5:58 kampung-kampung 5:59 di tempat kita dulu dilahirkan dan 6:01 dibesarkan dan itu memberikan 6:05 makna ekonomi yang luar biasa ya. Jadi 6:09 dampaknya sudah diketahui oleh para 6:13 pengamat ekonomi, ahli-ahli ekonomi 6:14 termasuk juga oleh pemerintah kita, 6:17 Menteri Perekonomian dan lain sebagainya 6:20 ya. Sehingga perputaran uang itu cepat 6:24 sekali, velocity kecepatannya itu 6:27 meningkat berkali-kali lipat sehingga 6:29 kebutuhan akan uang untuk transaksi itu 6:32 meningkat mungkin puluhan persbandingkan 6:35 hari-hari yang normal. yang menunjukkan 6:37 betapa besarnya ee gerak ekonomi atau 6:41 betapa cepatnya perputaran ekonomi pada 6:45 ee halal bihalal atau lebaran 1 Syawal 6:49 1447 6:50 Hijriah. Dan juga ee silaturahim yang 6:54 kemudian dilakukan oleh kaum muslimin 6:56 atau umat yang lain juga sehingga 6:59 memberikan dampak ekonomi yang luar 7:01 biasa. Ya. Tetapi ya yang harus kita ee 7:04 lihat itu di balik hingar-bingar roda 7:08 ekonomi yang begitu kencang, di balik 7:11 kebutuhan ee apa namanya ee permintaan 7:15 uang yang tinggi untuk fasilitas 7:17 transaksi fisik atau digital itu ada 7:21 hal-hal yang di balik itu ya. Ya, di 7:24 balik daripada itu ada ada 7:26 macam-macam keluan seperti saya katakan 7:28 oleh masang kita ketemu dengan keluarga 7:31 kita handai tolan kita dan bercerita 7:34 cerita itu akhirnya ada yang mengarah 7:36 kepada persoalan-persoalan sosio 7:39 ekonomi, kemudian sosiaya atau 7:42 sosiultural kemudian sosiolitik. Ya, 7:45 tiga masalah ini hampir tidak pernah 7:47 lepas dari perbincangan di manapun. 7:51 Apakah kita bercengkerama dengan 7:53 saudara-saudara kita di kampung atau 7:56 kita salat berjama atau musala di 7:58 kampung yang jauh dari keramaian atau 8:01 kita ketemu dengan ee teman-teman kita 8:04 yang sudah lama tidak jumpa dan itu 8:07 persoalan yang kita bincangkan pasti 8:10 akan berkisar di antara tadi itu sosio 8:14 ekonomi, sosiolitik, sosiokultural, sosi 8:17 religius ya itu. Nah, memang tidak ada 8:23 yang menafikan bahwa kegiatan yang 8:27 dikaitkan dengan silaturahmi ataupun 8:29 halal bihalal yang terjadi setelah 1 8:33 Syawal ini itu di mana-mana terjadi 8:38 peningkatan permintaan. Bahkan sebelum 8:41 itu terjadi ketika bulan puasa itu juga 8:43 peningkatan permintaan terhadap makanan, 8:46 minuman, pakaian, dan lain sebagainya 8:47 tinggi sekali. 8:49 dan transportasi juga demikian. Sehingga 8:52 banyak sekali kejadian kalau orang-orang 8:54 yang punya alat transport misalnya bus 8:58 atau apa itu kalau ingin menambah 9:01 armadanya itu ee rilisnya itu ya di 9:03 bulan Ramadan ya karena itu bulan yang 9:06 paling pas ya. Para pemirsa yang 9:09 dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala. 9:11 Jadi di balik daripada silaturahmi ini 9:13 kita ee mendengarkan beberapa hal yang 9:18 menurut saya perlu kita angkat di dalam 9:20 sesi ini ya. Untuk memberikan ee 9:23 perhatikan untuk memberikan perhatian 9:25 konsern kita bahwa ekonomi Islam itu 9:28 bukan hanya konsern kepada hal-hal yang 9:30 sifatnya makruh tetapi juga ee sifatnya 9:34 mikro. Ya. Jadi misalkan tentang tadi 9:37 Mas Ang cerita apa di kalangan 9:39 keluarganya ada yang PHK yang selama ini 9:44 bertahun-tahun dia bekerja dan dia punya 9:47 al mungkin sudah berkeluarga dan punya 9:48 anak punya tanggungan eh tiba-tiba 9:52 di PHK 9:53 ya sehingga 9:56 membingungkan orang lah. Mungkin 9:58 peristiwa ini bukan hanya di kalangan 9:59 satu keluarga, mungkin di mana di 10:01 mana-mana ada. Dan kebetulan saya juga 10:03 ada ya kemarin kita itu ke Jawa Tengah 10:07 ya, 10:08 kemudian ke Jawa Barat ya, dan ini nanti 10:10 akan ke Jawa Tengah lagi. Ee 10:12 cerita-cerita tentang hal itu penuh ya. 10:15 kita sendiri bersilaturahmi kepada orang 10:18 yang ya kurang lebih seperti itu, enggak 10:21 punya pekerjaan, tetap punya tanggungan 10:24 dan ee keluarga itu tidak punya 10:27 pekerjaan sama sekali ya akhirnya 10:29 menggantungkan kepada banyak keluarga. 10:33 Nah, seperti ini sebetulnya bukan hal 10:35 yang jarang. saya kira cukup banyak 10:38 karena tahun beberapa tahun kemarin ya 10:40 mungkin 2 tahun yang lalu 10:41 itu isu PHK kan sampai ratusan ribu 10:44 ya awal tahun Januari 2024-2025 10:49 itu topik kita pada waktu itu mengawali 10:51 tahun mengawali ee PHK yang masif ya 10:56 tetapi sekarang ini adalah bersamaan 11:00 dengan silaturahim jadi kita 11:02 berbincang-bincang dengan mereka dan 11:04 perbincangan itu sifatnya sangat 11:06 independen, tidak ada tekanan, 11:09 tidak ada rasa takut ya 11:11 karena apa yang mereka alami ini 11:13 benar-benar harus mendapatkan perhatian 11:16 dari ya ulul amri. Karena misalkan ya 11:20 masalah pengangguran atau PHK, 11:24 orang akan berpikir kenapa hanya 11:27 keluarga saya yang kena PHK ya? Kenapa 11:31 hanya keluarga saya yang dapat pekerjaan 11:33 sifatnya itu serabutan tadi yang Mas 11:35 Angga sebutkan? Kenapa sebagian ada yang 11:38 punya kesempatan masuk pegawai negeri 11:41 menjadi PNS, menjadi ASN ee menjadi 11:45 pegawai BUMN dan lain sebagainya. Kenapa 11:49 tidak semua orang mendapatkan kesempatan 11:51 itu? Oke, dia tidak mendapatkan 11:53 kesempatan itu tapi ada di bidang 11:55 pertanian tapi dia enggak punya sawah. 11:58 punya sawah pun cuman ee berapa petak 12:01 yang tidak sampai 1 hektar. Ini tidak 12:04 mungkin untuk menghidupi ee kehidupan 12:07 keluarga itu dalam kehidupan sehari-hari 12:10 apalagi 12:12 untuk membiayai anak-anaknya ke sekolah. 12:14 Nah, gak mungkin. Dan peristiwa ini atau 12:17 kejadian seperti ini banyak sekali. Maka 12:19 orang itu cerita dengan santainya 12:23 [tertawa] 12:24 ya memang apakah tidak ada ya sebuah 12:28 ekonomi misalnya sebuah sistem ekonomi 12:31 yang menganggap rakyatnya itu anggota 12:33 keluarga gitu loh. Kalau rakyatnya 12:36 semuanya dianggap anggota keluarga, maka 12:39 jika sebagian mereka mendapatkan 12:41 kesempatan untuk menjadi pegawai negeri 12:44 atau menjadi ASN atau menjadi pokoknya 12:48 pegawasta, maka yang lain pun harus 12:50 punya kesempatan yang sama untuk hal 12:53 seperti itu. Bukan pada bidang itu, tapi 12:56 pada bidang yang lain. 12:57 He. 12:58 Nah, kalau kita lihat statistik jumlah 13:02 penduduk Indonesia yang menjadi ASN itu 13:03 berapa juta? jumlah yang bagian bagian 13:07 negeri berapa juta, anggota TNI berapa 13:10 juta, anggota Polri berapa juta dan 13:12 seterusnya ya itu kali enggak enggak 13:14 nyampai R juta enggak enggak enggak 13:17 optimis sampai segitu ya paling-paling 13:19 mungkin R juta optimismenya 13:22 ditambah dengan pegawai BUMN ya 13:25 seandainya di angka R juta maka penduduk 13:29 kita ini kan R80 juta masih ada 260 juta 13:33 yang tidak punya punya lapangan 13:35 pekerjaan yang disediakan oleh 13:36 pemerintah 13:38 ya. Ya, kelebihan 20 e 260 juta ini 13:43 harus diserap oleh sektor swasta ya. E 13:47 pabrik-pabrik yang punya swasta ya gitu 13:49 ya. Sektor pokoknya sektor swasta. Nah, 13:51 kalau kalau dioptimismekan 13:54 ya kira-kira berapa juta tenaga kerja 13:57 yang bisa diserap oleh sektor swasta 14:00 dalam berbagai lapangan perkebunan, 14:03 apa namanya industri otomotif, 14:06 elektronik semuanya pokoknya ya. Itu 14:10 apakah bisa sampai R juta? Misalkan kita 14:12 optimis sampai R50 juta, masih ada R 14:15 juta lagi yang tidak ter ee tersediakan 14:19 bagi mereka lapangan pekerjaan. Jadi 14:21 kalau ee sebuah pemerintahan ya yang 14:26 menganggap sebuah negara yang menganggap 14:28 penduduknya ini adalah warga negara atau 14:30 keluarga sendiri, maka mereka tidak 14:33 boleh memilah-milah ya sebagian kita 14:36 bikin begini, yang sebagian kita 14:37 biarkan. Gak bisa begitu ya. semua harus 14:40 diberikan kesempatan yang sama untuk 14:42 memiliki penghasilan yang sama. 14:45 Jadi seandainya saya ini enggak enggak 14:47 masuk PNS, enggak masuk ASN, enggak 14:50 masuk Polri, enggak masuk TNI, dan 14:52 enggak menjadi pegawai swasta misalkan, 14:54 maka saya harus ee saya bekerja di 14:57 pegunungan misalnya ee di perkebun kebun 15:01 kayak bukan kebun apa ya, bukan kebun 15:05 kayak rambutan atau kayak kebun sawit 15:07 bukan. Tapi berkebun di kampung-kampung 15:09 itu ya memanfaatkan lahan seperti itu. 15:12 Maka walaupun dia hanya mencangkul atau 15:15 membajak maka pendapatannya harus pada 15:19 kisaran seperti yang diterima oleh 15:21 pegawai negeri. Ya, konsekuensinya 15:24 sebegitu. Nah, sekarang kita enggak 15:28 tidak ada sistem kalau kita melihat 15:30 tidak tidak seperti itu. 15:33 Banyak sekali pengangguran ya. Dan 15:35 selama bertahun-tahun dia tetap 15:38 pengangguran. Mungkin setelah dia ee 15:41 sekolah SMA kemudian dia tak punya 15:43 pekerjaan berpuluh-puluh tahun dia tetap 15:45 enggak mendapatkan pekerjaan. He. 15:47 Dan ini jumlahnya banyak ya. Statistinya 15:50 saya tidak tahu. Tapi di dalam data 15:52 statistik PPS itu mesti ada ya. Berapa 15:55 pengamen, berapa pengemis, berapa orang 15:58 yang tidak punya pekerjaan tapi mencari 16:00 pekerjaannya di pinggir-pinggir jalan, 16:02 di tepi jalan bahkan di tengah-tengah 16:03 jalan. Ya, 16:06 saking bagi mereka yang melakukannya ini 16:09 tidak memiliki apa namanya tidak 16:12 memiliki kesempatan ya dan negara tidak 16:16 memberikan kesempatan dan membiarkan 16:18 mereka. Makanya orang-orang yang bekerja 16:22 di pinggir jalan atau tengah jalan dalam 16:25 keadaan panas atau kehujan dan lain 16:27 sebagainya jumlahnya bukannya berkurang 16:30 ya, 16:31 jumlahnya makin 16:32 makin banyak ya. Karena apa? Karena 16:35 dibiarkan. Ya, sekarang kalau kita lihat 16:37 bahwa pihak mana yang membiarkan warga 16:40 negara seperti ini di memberikan apa-apa 16:43 ee 16:45 orang yang kita ada ajak bicara di 16:48 kampung negara itu zalim apa tidak? Ya, 16:51 siapa yang berbuat zalim 16:53 dalam hal ini? Jika rakyat yang apa 16:56 namanya yang tidak memiliki kesempatan 16:59 tetap tidak memiliki kesempatan dan 17:02 negara tidak hadir di sana. Sementara 17:05 sebagian daripada warga negara ada yang 17:06 menjadi pegawai negeri, ada yang menjadi 17:09 ASN, ada yang menjadi TNI Polri dan lain 17:11 sebagainya yang bergaji. 17:13 Sebagian juga menjadi pegawai swasta dan 17:15 seterusnya tapi sebagian lain tidak 17:17 memiliki apa-apa dan tidak merasakan 17:19 kehadiran negara. 17:21 Nah, ini yang kita rasakan ketika kita 17:23 ini silaturahim ya. Ya, jadi keluhan itu 17:27 masang enggak 17:27 keluhan semua. 17:28 Iya, keluhan semua. Saya sampai ditanya, 17:30 "Ustaz, 17:31 bisa enggak ngasih pekerjaan?" Allahu 17:33 Akbar. 17:34 Ya, saya hanya memberikan motivasi ya. 17:37 Ya, motivasi ya. motivasi agar supaya 17:41 mereka bertahan dan mereka bisa ee 17:44 secara kreatif memenuhi kebutuhannya 17:46 sendiri atau ee memenuhi hajatnya 17:48 sendiri dengan keadaan yang ada. Sama 17:51 dengan ketika Nabi Muhammad sallallahu 17:53 alaihi wasallam ketemu seorang pemuda 17:56 yang meminta-mintanya. 17:58 Ya, 18:00 melihat itu Rasulullah melihat dari sisi 18:03 psikologisnya. Ini anak muda masih 18:07 segar, bugar badannya, kesehatannya 18:09 masih prima, tapi enggak mau kerja, dia 18:14 malah minta-minta. Maka ditanya oleh 18:15 Rasulullah, "Kamu punya apa di rumah?" 18:18 Ya, saya punya 18:21 itu kayak mangkok lah gitulah ya. 18:24 Heeh. 18:25 Sama ini hasir. Khasir itu likhaf apa 18:29 namanya? kayak selimut tapi dipakai 18:32 untuk lalas tidur atau dipakai untuk 18:34 nutup badan juga bisa. Bawa sini ya. 18:38 Makanya kemudian dibawa menghadap Nabi 18:40 Muhammad sallallahu alaihi wasallam lalu 18:41 kemudian dilelang ya kepada para 18:44 sahabatnya. Siapa yang mau beli ini? Ada 18:47 yang bilang 1 dirham. Siapa yang mau 18:50 lebih banyak? Saya Rasulullah. 2 dirham. 18:52 Pada angka 2 dirham berhenti. Ya kata 18:56 Rasulullah. Oke. 2 dirham mana? 18:58 diberikanlah itu ee barang itu. Jadi 19:02 yang dua dirham diterima oleh 19:04 Rasulullah. Kemudian ee beliau berkata 19:07 pada pemuda ini, "Ini uang ada 2 dirham. 19:09 Satu dirham ini pakai untuk kebutuhan 19:11 kamus hari ini. Yang satu lagi berikan 19:14 kampak. 19:16 Nah, kalau setelah sudah beli kampak 19:18 bawa ke sini." Iya. Maka pemuda itu hari 19:22 itu punya dua 2 dirham tapi dia jual 19:25 aset lewat lelang ya kan. Jadi 19:27 Rasulullah enggak mengabulkan permintaan 19:30 mengemis kemudian dikasih uang enggak. 19:32 Tapi memberdayakan 19:34 kemampuan orang ini sehingga dia itu 19:37 bisa memenuhi kebutan sendiri. Nah, 19:39 setelah punya 2 dirham yang satu 19:41 diberikan untuk kebutuhan hari itu, yang 19:43 satu dipelikan kapak. Nah, sesudah 19:45 dibelikan kapak datang menghadap beliau. 19:46 H 19:47 ini Rasulullah kapaknya. Kemudian 19:49 Rasulullah apa namanya? ee mencoba untuk 19:53 memegang kapaknya dan mencoba untuk ee 19:56 menggunakannya apakah ini normal atau 19:58 bukan. Setelah diketahui itu baik 20:00 kemudian dibilang, 20:03 "Bawa kapek ini dan kamu cari apa?" 20:07 "Cari kayu bakar 20:09 untuk kamu jual kepada orang." Nah, 20:12 jangan jangan datang kepada saya kecuali 20:16 setelah 2 jumatan, 2 minggu maksudnya 20:19 lah. Kemudian 2 jumatan itu kemudian dia 20:21 datang dan melaporkan semua. Akhirnya 20:24 dihitung apa yang dia peroleh dari 20:26 kegiatan itu sudah lebih daripada cukup 20:29 ya. He. 20:29 Nah, jadi saya melakukannya begitu. Tapi 20:32 kan enggak mungkin seorang bagaimanapun 20:34 juga itu memberikan lapangan pekerjaan. 20:37 Kalaupun bisa itu sangat terbatas. 20:39 paling satu atau dua. Nah, lapangan 20:41 pekerjaan itu yang bertanggung jawab 20:43 memberikan ya negara ya. Nah, kalau 20:47 mereka tidak mendapatkan lapangan 20:48 pekerjaan atau mungkin mereka 20:50 mendapatkan tetapi pekerjaannya itu 20:52 tidak memenuhi hajat ya pendapatan yang 20:55 diperoleh tidak mungkin bisa memenuhi 20:59 hajat. Katakanlah per hari cuma R30.000 21:02 orang dua. Ya, ini apa yang saya 21:04 ceritakan ini beneran 21:06 fakta. 21:07 Fakta. H 21:08 R.000 21:10 orang dua, ibu dan anak. Iya kan? Lalu 21:15 kemudian R30.000 bagaimana? 21:18 Makan P atau sarapan? Allahu Akbar. Nah, 21:22 cerita ini memberikan apa namanya? 21:25 pelajaran kepada kita bahwa 21:29 masih lebih banyak lagi warga negara 21:32 kita itu yang tidak memiliki lapangan 21:35 pekerjaan. Tapi jumlah statistikinya 21:37 berapa kita tidak tahu. 21:38 Kalaupun yang dapat memiliki lapangan 21:42 pekerjaan yang pasti kayak misalkan 21:43 pegawai negeri, ASN atau kemudian TNI, 21:47 Polri dan lain-lain atau mereka yang 21:49 bisa bergabung di swasta, sektor privat 21:53 jumlah yang cukup banyak tapi itu juga 21:55 apa turun naik kadang ditutup 21:58 perusahaannya, kadang datang perusahaan 21:59 baru dan seterusnya. Jadi fluktuatif 22:01 sekali. ee masih banyak sekali daripada 22:06 rakyat Indonesia itu yang tidak memiliki 22:08 pekerjaan. Makanya sebagai indikasi 22:12 indikator daripada ee sulitnya mencari 22:15 pekerjaan itu di setiap kota itu kalau 22:18 kita lihat 22:20 banyak sekali orang yang 22:23 apa nam bekerja tapi di jalan gitu bukan 22:26 di pinggir jalan di tengah jalan kan di 22:28 misalkan di sini nih Cibubur Cilengsi 22:31 itu kan dari ujung ke ujung itu orang 22:33 jualan bukan hanya jualan gemblong tapi 22:38 jualan Jualan ini jualan apa itu? 22:41 Topeng-topeng yang menari-nari. 22:43 Masyaallah. 22:44 Dan saya punya ketemu dengan orang 22:46 seperti itu. Alhamdulillah beliau itu 22:49 selalu salat ya. Ya. Jadi akhirnya 22:53 jadilah lapangan pekerjaan yang 22:54 seharusnya enggak mungkin di mana pun 22:56 enggak boleh orang itu menari-nari 22:58 jalan. Tapi apa yang mereka lakukan 23:00 karena terpaksa. 23:01 Nah, seharusnya fenomena ini kan makin 23:04 hari makin sedikit. 23:05 Iya. Tapi kita enggak makin menjadi-jadi 23:08 makin banyak merata-rata. 23:10 Sekarang setiap ada gang ada penunggunya 23:14 ya. 23:14 Puga 23:15 Pak Ugaah ya. 23:17 H 23:17 enggak punya izin dari RT enggak masalah 23:20 ya. Yang penting dia dia mau begitu ya. 23:24 Dan ini awalnya mungkin dulu terbatas di 23:26 kota-kota besar sekarang sampai di 23:27 kampung sekalipun. 23:29 Mungkin sekarang di kampung lebih dig 23:31 daya karena bisa menakut-nakuti orang 23:34 ya. 23:35 Nah, ini merata-rata ya lah melalui 23:39 silaturahmi dari kampung-kampung kita 23:41 mengetahui betapa 23:44 apa namanya 23:46 mirisnya 23:47 ekonomi ini. Ya memang betul bahwa ee 23:53 apa namanya pergerakan atau roda ekonomi 23:55 itu berputar cepat. permintaan uang M1 23:59 ya M1 itu istilah ekonomi ya mata uang 24:02 rupiah yang bentuknya kertas atau koin 24:05 itu itu tinggi sekali ya bahkan Bu juga 24:09 begitu naruh apa namanya ee membagi uang 24:13 baru rilis baru selalu di bulan Ramadan 24:15 ya kan menunjukkan betapa betapa 24:18 besarnya peningkatan permintaan terhadap 24:20 mata uang rupiah pada waktu itu. Tapi 24:22 jangan lupa bahwa di balik hingar-bingar 24:25 itu ada sebagian daripada warga kita 24:28 yang cari makan aja susah, kemudian cari 24:32 lapangan pekerjaan susah, banyak kena 24:34 PHK, kemudian sekolah yang sudah tamat e 24:37 sudah tamat sekolah SMA, SMK atau S1, S2 24:42 bahkan juga ada yang D1, D2 yang tidak 24:45 mendapatkan pekerjaan sama sekali dan 24:47 akhirnya mereka adalah pengangguran 24:50 intelektual ya, pengangguran dan 24:52 educated ya and employee ya menganggur 24:56 tapi mereka adalah sumber daya manusia 24:59 yang sebenarnya canggih karena mereka 25:01 edukatif terdidik ya terdidik gitu. Nah 25:05 ini ee mungkin mungkin mukadimahnya itu 25:09 seperti itu Masangga ya. Jadi kita 25:11 menyoroti tadi itu penting sekali ya 25:14 makna sebuah silaturahim punya dampak 25:17 terhadap ekonomi luar biasa. H 25:20 tapi silaturahim yang kita lakukan malah 25:22 mendengarkan keluhan 25:24 menemukan fakta-fakta. 25:25 Menemukan fakta ya. Finding. 25:27 Iya. 25:28 Problem ekonomi masyarakat. 25:30 Heeh. Nah, Pak Ustaz melihat fakta-fakta 25:32 itu, apakah 25:34 ini suatu ketidakadilan 25:37 atau bagaimana, Pak Ustaz? Harusnya ini 25:39 kan menjadi perhatian negara, gitu ya. 25:41 Iya. 25:42 Apakah ini negara sengaja ya 25:44 membeda-bedakan ada yang mudah untuk 25:46 bekerja, ada yang tidak atau bagaimana, 25:49 Pak Ustaz sebenarnya masalah 25:50 pengangguran dan masalah pekerjaan untuk 25:53 ee masyarakat ini? 25:55 Ee setiap pemerintah itu memiliki tujuan 25:58 atau gol ya, 26:00 sasaran pembangunan. Iya kan? 26:03 Misalkan mengurangi pengangguran itu 26:06 sasaran dalam makroekonomi mesti ada. 26:09 Pemerintahan saya dalam 5 tahun yang 26:11 akan datang akan mencoba mengurangi 26:15 pengangguran yang pada saat saya ngomong 26:17 ini 26:19 40%. 26:21 Selama 5 tahun kita akan bekerja sekuat 26:24 mungkin sehingga 26:27 tercapai tujuan kita separuh daripada 26:31 orang yang tidak mendapatkan pekerjaan 26:33 atau penggoran itu berkurang. Jadi 26:35 mengurangi dari 40% ke 20% dalam jangka 26:39 5 tahun itu selalu ada ya. Karena ee 26:44 tujuan apa namanya? Tujuan pemerintahan 26:46 itu salah satu yang paling utama adalah 26:49 itu mengurangi pekerjaan dengan cara 26:51 bagaimana ya? Dengan cara membikin 26:53 lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan 26:55 dibikin dengan cara apa? Ya tanya kepada 26:58 menteri-menteri yang di apa namanya? 27:01 Yang diangkat itu ya. Tapi yang seperti 27:04 ini sebetulnya hal yang istilahnya itu 27:09 taken for granted ya semua orang tahu 27:11 ya. 27:13 Ada negara yang miskin 27:16 bukan hanya miskin kelebihan penduduk 27:20 sehingga 27:22 ee lapangan pekerjaan itu hampir enggak 27:25 ada di negara itu. Tapi dia bisa 27:28 memberikan jalan keluar dengan cara apa? 27:31 dengan cara mengekspor 27:33 sumber daya manusianya ke luar negeri, 27:35 ke seluruh dunia ya. Misalnya 27:37 Bangladesh. 27:39 Kalau kita umrah ya kita tahu akhirnya 27:42 siapa yang membersihkan Masjidil Haram, 27:45 membersihkan Masjid Nabawi itu sekarang 27:47 mungkin 90% orang Bangladesh ya. 27:51 Dulu-dulu ada dari kita, mungkin 27:52 sekarang juga masih ada dari sat du saya 27:54 sering ketemu 27:55 ee dari Pakistan juga mungkin ya. Tapi 27:58 umumnya mereka dari sana dan itu bukan 28:01 hanya di asar Saudi Arabia. Orang 28:03 Bangladesh yang yang bekerja di Saudi 28:06 Arab mungkin jumlahnya mungkin R jutaan 28:08 ya. 28:08 I 28:09 belum di Malaysia ya. Malaysia itu kalau 28:11 kita landing di Kuala Lumpur keluar 28:13 sebentar mesti wajahnya Bangladesh. He. 28:16 Kita beli apa e penunggunya orang 28:18 Bangladesh di Jalan Kuala Lumpur 28:20 Bangladesh semua. Sehingga sekarang itu 28:23 Malaysia itu disebut sebagai negara 28:25 Malayides. 28:27 Banyak sekali orang Banglades 28:29 sehingga tidak nampak lagi Melayunya ya. 28:33 Apalagi di Kuala Lumpur atau kota-kota 28:35 yang besar ya sangat dominan ya. Artinya 28:39 apa? Mereka negara yang kelebihan 28:41 penduduk tapi pemerintahnya punya ke 28:45 konsen 28:46 punya visi. Ya enggak apa-apa penduduk 28:48 banyak kita ekspor sebagai tenaga kerja. 28:52 Makanya di mana-mana di ee banyak sekali 28:55 orang Bangladesh ya dan orang Bangladesh 28:58 lebih banyak diterima daripada 28:59 katakanlah India atau Pakistan ya. Lebih 29:03 lebih apa namanya supel itu orangnya ya. 29:06 Nah, seperti itu. Jadi ee visi untuk 29:10 membuat bagaimana supaya sebagian besar 29:13 penduduknya itu penyelapangan pekerjaan 29:15 yaitu tugas pemerintah. Ya, kalau tidak 29:18 mau menjalankan atau memberikan lapangan 29:20 pekerja ya jangan berkuasa ya. Jadi 29:23 memberatkan ya memberatkan orang. Kalau 29:26 disebut ketidakadilan ya sebetulnya 29:28 begini jika itu di dibiarkan dan sengaja 29:31 itu ketidakadilan ya. Tapi kalau seperti 29:34 itu memang kekurangannya dia sudah 29:36 berusaha semaksimal mungkin dan tetap 29:39 tidak bisa. Nah, itu mungkin ee 29:42 ketidakadilan itu jadi kurang relevan. 29:46 Tapi tidak ada kata tidak bahwa kita gak 29:49 bisa melakukan kalau dalam konteks 29:51 Indonesia terlalu banyak ya bagi saya 29:53 cara atau solusi 29:56 ya. solusi bagaimana orang-orang ini 29:58 bisa punya pekerasan. Dari sisi ee lan 30:01 pertanian kita ini masih punya 30:04 tanda-tanda yang tidak apa penghuninya 30:05 yang bisa diproduktifkan lah. Kenapa 30:08 enggak dipikiri orang-orang yang punya 30:10 kealian pertanian kemudian ke sana? itu 30:12 dari sisi apa namanya pertanian ee ada 30:15 hubungannya dengan transmigrasi yang 30:17 sudah dilakukan seperti itu. Tapi di 30:20 dengan cara lain juga banyak sekarang 30:23 ada industrialisasi, ada hilirisasi dan 30:25 seterusnya ini pasti 30:29 memerlukan atau menghajatkan banyak 30:33 lulusan-lulusan atau sumber daya manusia 30:36 yang diperlukan di situ. kita masih 30:38 banyak lagilah data. Saya kira 30:40 pemerintah punya lebih banyak. Cuma 30:42 masalahnya adalah kalau kita lihat dari 30:44 sisi fisiknya kalau kita berkunjung ke 30:47 kota-kota yang mana, gejala makin 30:51 banyaknya orang bekerja di sektor yang 30:53 berbahaya ya sebetulnya bukan sektor 30:56 masa bekerja sebagai penarif di jalan 30:58 mana ada gitu kan. 31:00 Itu itu berbahaya. beza enggak boleh di 31:02 jalan atau di pinggir jalan itu sangat 31:05 membahayakan dan secara keamanan itu 31:07 tidak baik ya Bangladesh yang seperti 31:11 saya ceritakan tadi itu kalau kita ke 31:15 sana enggak ada Pak Oga 31:16 enggak ada 31:17 ya enggak ada tukang kepala enggak 31:18 pengemis 31:19 pengemis banyak 31:20 oh pengemis banyak 31:21 pengemis banyak tapi setahu saya 31:22 pengamen enggak ada 31:24 iya 31:25 kalau pengemis di kita mendaratnya di 31:26 Daka Oh banyak 31:28 sudah banyak ya 31:29 itu 31:31 Ya, mungkin sekarang agak berubah tapi 31:33 20 tahun yang lalu aduh itu lapangan 31:36 terbang kita landing. Saya tidak bisa 31:39 membisakan mana pengemis yang akan 31:41 menyebut kita. 31:42 Oh, gitu. [tertawa] 31:45 Kalau di kita enggak ada, enggak bisa 31:46 masuk Cengkareng itu ya. Tapi begitu 31:49 kita keluar ada jebrit gitu ya. Ada di 31:53 tikungan ada tukang jeprit. Tukang 31:56 parkir liar 31:57 di Daga itu enggak ada ya? Enggak ada di 31:59 situ 32:00 pengamen paksa ya. Dan di sini itu 32:04 jumlahnya meraja lela makin hari makin 32:07 mungkin tidak terkontrol. Maka sudah 32:09 saatnya dinas yang berlaku, dinas sosial 32:12 atau dinas apapunlah 32:14 supaya mendata dan apa namanya 32:17 memberikan solusi karena ini bagian 32:19 daripada problem kita. kita punya pajak 32:22 ya dan kita juga kemarin-kemarin itu ada 32:26 apa nam 32:28 uang dikembalikan dari korupsi orang 32:30 yang dikembalikan dari korupsi 32:32 yangasan aset undang-undang aset 32:36 berapa triliun kemarin itu ya seperti 32:38 itu kan dipakai aja untuk 32:40 untuk iya kembali kepada rakyat dikeksi 32:42 untuk mendidik orang-orang seperti ini 32:44 sehingga punya 32:45 keahlian punya skill yang dengan skill 32:49 itu biasa hidup 32:50 Tapi itu enggak dilakukan 32:52 ya. Wallahualam. Dilakukan apa enggak. 32:54 Jadi kalau tidak dilakukan pertanyaan 32:55 tadi jadi ketidakadilan ini disengaja 32:59 disengaja. 32:59 Naudubillah minzalik. 33:01 Apalagi gejala sosialnya ini makin 33:04 terlihat Pak Ustaz ya ada yang terjamin 33:06 dia itu secara kehidupan ee dilihat ee 33:10 dari dari formalnya, dari 33:13 institusionalnya, tapi ada juga yang 33:15 bahkan dia untuk masuk jalur ke itu saja 33:18 enggak bisa gitu. enggak enggak enggak 33:20 masuk gitu. Sebenarnya pemerataan dalam 33:23 hal ee masyarakat ini dia bisa mengakses 33:26 pendidikan, pekerjaan, lalu juga bantuan 33:31 pemerintah gitu ya. Syaratnya apa sih 33:33 sebenarnya, Pak Ustaz? 33:35 Dulu kita pernah ini kan pernah bukannya 33:37 sekali kayaknya beberapa kali tentang 33:40 ada istilah yang pertama adalah keadilan 33:43 sosial, 33:44 social justice. Yang kedua adalah 33:46 keadilan ekonomi ya. 33:49 Iya. Ini salah satu aspek daripada 33:52 ekonomi Islam yaitu 33:54 keadilan sosial. Bahwa setiap orang yang 33:58 menjadi warga negara dalam sebuah 34:00 perekonomian Islam itu derajatnya sama. 34:03 H 34:04 ya. Mau beragama Islam atau bukan, yang 34:07 penting mereka itu hidup dalam naungan 34:09 negara Islam. Maka mereka penduduk itu 34:12 enggak dibeda-bedakan mau muslim atau 34:14 nonmuslim. mereka tetap berhak untuk 34:17 hidup dan mereka memiliki hak yang sama. 34:20 Iya, itu yang pertama. Yang kedua adalah 34:22 ee economic justice, keadilan ekonomi. 34:26 Dalam hal ini Islam itu memandang bahwa 34:29 setiap orang yang hidup dalam 34:30 naungan-naungan sebuah perekonomian 34:33 Islam memiliki hak yang sama untuk 34:36 mendapatkan akses kepada sumber daya. I 34:40 jadi tidak ada undang-undang, peraturan 34:43 atau apapun yang menghalang-haling 34:45 sebagian daripada rakyat yang hidup 34:47 dalam naungan perekonuman Islam itu 34:50 untuk mendapatkan akses kepada sumber 34:52 daya. Jadi kalau dipraktikkan terjadi 34:55 seperti ini. Jika ada anggota warga 34:58 negara yang bisa menjadi ANS 35:02 [tertawa] 35:03 ASN atau PNS itu 35:05 iya ini maka kalau ada yang ee lapangan 35:09 lapangan pekerjaan di ASN sudah tutup 35:11 sudah enggak bisa dibuka lagi untuk 35:13 periode ini sudah sudah kelebihan enggak 35:16 nanti dibuka lagi beberapa tahun yang 35:17 akan datang. Maka yang tidak kebagian 35:20 itu dibawa ke sektor katanya pertanian. 35:23 Nah, pertanian ini kan harus bisa 35:25 menghasilkan seperti menghasilkannya ASN 35:27 tadi. 35:28 Iya. 35:29 Ini kalau ASN itu 2A. Ah, kalau enggak 35:33 tahu sekarang 2A apa 3 ya mulainya ya. 35:35 Tiga. Itu itu berbeda-beda dari satu 35:38 provinsi ke provinsi di Jakarta ini 35:39 misalkan R juta 35:42 per bulan. Maka orang yang tidak menjadi 35:45 ee apa namanya? tidak bergaji di 35:47 Jakarta, 35:49 tapi dia hidup di Ponorogo sana, di 35:51 pucuk gunung sana. Dia harus mendapatkan 35:55 apa namanya penghidupan dari bertani itu 35:57 kurang lebih ya sama hasilnya kalau 35:58 dihitung secara nominal rupiah ya gitu 36:02 loh. Itu namanya berkeadilan. Gak bisa 36:06 kita mengatakan begini, "Kamu kan hidup 36:08 di kampung ya cukuplah Rp1.200 gak bisa 36:11 begitu Rp1.200 juga enggak cukup di 36:14 kampung juga sekarang gitu kan. He 36:15 ya. Nah, jadi harus aksesnya itu sama 36:19 ya. Mereka mendapatkan aksesnya. Kalau 36:21 di sini enggak bisa di sektor A enggak 36:23 bisa diganti ke sektor B, tapi potensi 36:25 pendapatnya harus sama di sektor A tidak 36:28 boleh dipersulit. Ya, itu namanya 36:31 implementasi daripada keadilan ekonomi. 36:33 Ya. 36:34 Dan itu tidak ada background yang 36:37 mengabaikan background lah. Mau 36:38 background itu misalkan dia beragama 36:40 Islam atau dia beragama Hindu atau 36:42 beragama enggak masalah. Dia manusia 36:44 yang tetap punya kebutuhan untuk makan 36:47 hidup yang sama dengan kita. Karena itu 36:49 harus direat ya, diperlakukan sama ya 36:52 diberikan ke apa kesempatan yang sama. 36:55 Kalau ada undang-undang yang membuat ya 37:00 antara individu dalam sebuah negara ini 37:03 dibeda-bedakan karena background-nya ee 37:06 kulturalnya beda-beda misalnya karena 37:08 agama ini lebih diprioritaskan gak bisa 37:10 begitu. Itu membiarkan ketidakadilan. 37:13 Iya. Jadi mudah-mudahan yang terjadi di 37:16 kita ini ya memang tapi sulit ya untuk 37:19 tidak dikatakan membiarkan ya membiarkan 37:22 keadaan. Karena kalau kalau seandainya 37:25 tidak dibiarkan gejala atau fenomena ini 37:28 harusnya berkurang ya di mana-mana harus 37:31 berkurang dan tidak ada penanganan ya 37:35 tidak ada penanganan yang ya kita dapat 37:38 melihatnya serius gitu ya. He ya 37:41 itu karena itu maka dibilang nanti takut 37:44 apa namanya negara ini berbuat zalim 37:47 kepada rakyatnya. Karena apa? Karena 37:49 membiarkan rakyat tidak memiliki 37:51 kesempatan untuk bekerja dan karena itu 37:53 mereka tidak bisa mendapatkan 37:55 penghasilan dan karena itu mereka 37:57 menjadi miskin. Ya, kalau ini dibiarkan 38:00 dan pemerintah tahu maka zalim ya. 38:04 Iya. Tadi sedikit Ustaz sudah singgung 38:06 mengenai visi ekonomi gitu ya. ingin 38:08 menjadikan semua orang itu sama-sama 38:10 memiliki hak untuk hidup. Nah, sekarang 38:13 kalau kita masukkan ke prinsip islami 38:16 gitu, Pak Ustaz ya. Prinsip islami bahwa 38:20 ee untuk hidup ini kita perlu sejahtera, 38:23 untuk ibadah ini kita perlu punya modal 38:25 gitu ya. bagaimana dukungan negara 38:27 maupun unsur-unsur yang bukan negara nih 38:30 Pak Ustaz, ormas kah atau gerakan-rekan 38:32 lain kah di di Indonesia yang ustaz 38:34 lihat bagaimana tuh, Pak Ustaz untuk 38:35 menuju muslim ini hidupnya sejahtera 38:38 gitu dengan 38:39 ee perhatian terhadap pekerjaan ataupun 38:41 dunia usaha muslim. 38:42 Iya. Jadi ee pemerintah itu fungsinya 38:46 adalah 38:47 memberikan 38:49 ee memenuhi kebutuhan pokok ret. Nah, 38:54 basic need fulfillment istilahnya 38:57 pemenuhan kebutuhan pokok paling tidak 39:00 alal akal eh atlist ya. 39:03 Atl 39:04 iya atlis yang harus dilakukan oleh 39:06 pemerintah bisa memberikan pemenuhan 39:09 kebutuhan pokok. Umpamanya kebutuhan 39:11 pokok itu adalah makan, sarapan eh 39:14 sarapan pagi ya, kemudian makan siang, 39:16 makan malam dengan dengan standar gizi 39:19 ya. papan papan itu rumah atau ya rumah 39:23 ya atau kemudian pakaian. 39:25 Artinya apa? Kalau ada rakyat yang tidak 39:29 punya pakaian, wajib pemerintah itu 39:31 memberikan pakaian menutup aurat mereka. 39:34 Ya, kalau memang orangnya budayanya 39:37 enggak menutup aurat, ya dididik supaya 39:40 menutup aurat. Tapi pemerintah 39:42 berkewajiban wajib hukumnya pemerintah 39:44 itu memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya 39:48 ya dengan sumber yang ada ya. Kalau 39:51 sumber-sumber daya yang ada di negara 39:54 ini dikelola dengan baik pasti akan 39:57 lebih cukup lebih dari cukupnya untuk 39:59 sekedar memenuhi kebutuhan pokok rakyat 40:01 kalau kita di Indonesia. Iya gitu saya 40:05 yakin 1000% lah gitu ya. Kalau tidak 40:09 bisa itu pasti mungkin pemerintah malas, 40:11 pemerintah enggak punya visi, kemudian 40:14 di diduduki orang-orang bodoh gitu ya, 40:18 yang tidak punya tanggung jawab ya 40:20 sehingga sumber dana atau sumber-sumber 40:23 apa nama pendapatan pemerintah di 40:25 korupsi, dialihkan kepada sebagian kecil 40:28 orang-orang elit bagi antara mereka 40:30 sehingga rakyatnya enggak punya apa-apa. 40:32 Kecuali kalau seperti itu. Iya ya. Tapi 40:35 seandainya sumber daya yang kita miliki 40:37 ini, bumi, air dan lain sebagainya ini 40:41 dikuasai oleh negara dan dipergunakan 40:43 sebesar-besarnya untuk kemakmuran 40:45 rakyat, 40:46 maka apa yang kita miliki lebih daripada 40:49 cukup. Ya, 40:50 kalau kita lihat bentangan dari Pak 40:52 Menteri Pertanian beberapa waktu yang 40:54 lalu, hilirisasi kelapa saja itu berapa 40:57 triliun? 40:58 Iya. 40:58 Iya kan? 40:59 Itu baru kelapa yang ada di mana-mana. 41:02 He. 41:02 Misalnya kelapa itu orang enggak usah 41:04 tanam tumbuh sendiri. [tertawa] 41:06 Iya. 41:06 Iya kan? 41:07 Kemudian hilirisasi yang lain-lain ya 41:10 bisa kopi, bisa padi, bisa dan lain 41:13 sebagainya. Jagung kedelek. Masyaallah. 41:16 Itu kalau hitung-hitungan Pak Menteri 41:18 sangat optimis ya. Ya. 41:20 Itu dari situ belum lagi yang lain-lain. 41:23 Masyaallah. Jadi tidak ada alasan bahwa 41:26 tidak mungkin tidak pemerintah itu tidak 41:29 bisa memenuhi kebutuhan pokok yang 41:32 paling basic ya. Mereka terlalu bisa ya. 41:35 Tapi masalahnya kenapa sebagian kita ini 41:37 kemudian tidak bisa memenuhi kebutuhan 41:40 pokok terutama dalam hal makan sehingga 41:44 makanan yang dilak yang di yang di apa 41:47 makanan yang dimakan oleh rakyat kita 41:48 itu tidak mengandung nutrisi yang cukup 41:51 sehingga menimbulkan stan stunting. Iya. 41:54 I 41:55 orangnya kecil ya. Orang Indonesia itu 41:57 kecil. 41:58 He. 41:58 Karena apa? Karena makanannya kerupuk 42:01 ya. He 42:02 bukan berarti kerupuk itu enggak 42:04 bergij-bergja, tetapi jangan hanya 42:06 kerupuk, harus ditunjang dengan telur, 42:09 harus ditunjang dengan ee daging, entah 42:11 daging sapi, daging ayam, ikan, dan lain 42:15 sebagainya agar supaya tercukupi susu 42:18 ya, agar supaya ee penduduk kita itu 42:21 menjadi 42:23 standar ya, tidak kekurangan makanan ya. 42:27 Saya kira itu Masang ya. 42:29 Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah 42:31 subhanahu wa taala. Saat ini Anda sedang 42:34 menyimak kajian ekonomi Islam siaran 42:37 live kita di edisi hari ini. Kami 42:40 mengundang Anda untuk bergabung. Silakan 42:42 sampaikan pertanyaan ataupun komentarnya 42:43 ke nomor WhatsApp Rasil di 0811999720. 42:50 Tetaplah bersama kami. Kami akan kembali 42:52 di sesi kedua dengan menjawab 42:54 pertanyaan-pertanyaan dari Anda. 43:02 [musik] 43:06 [musik] 43:13 [musik] 43:22 Radio Silaturahim dan Rasil TV untuk 43:24 Islam yang satu. Ikhwan akhwat yang 43:27 dirahmati Allah subhanahu wa taala. 43:28 Terima kasih masih bersama kami dalam 43:30 kajian ekonomi Islam membangun ekonomi 43:34 berbasis silaturahim. Itu tadi sudah 43:38 dipaparkan gitu ya di sesi pertama oleh 43:41 Ustaz Ih Basri. Dan sesi kedua ini kita 43:44 akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang 43:45 sudah masuk. Namun sebelumnya ini ada 43:48 maklumat terlebih dahulu pengumuman. 43:50 Ikhwan akhwat, hadirlilah Majelis Umahat 43:53 Silaturahim 43:55 hari 43:57 hari Rabu ya, 15 April. Oh, berarti 44:00 besok nih mulai jam 09.00 sampai jam 44:02 11.00 44:03 di Masjid Silaturahim. Insyaallah yang 44:06 akan menjadi penceramahnya adalah Habib 44:08 Muhammad Isa Alkaf dengan tema 44:11 menguatkan hubungan dengan Allah. Yang 44:14 akhwat yang berkesempatan hadir ya 44:16 majelis umat silaturahim besok jam 09.00 44:19 sampai jam 11.00 di Masjid Silaturahim. 44:22 Saya akan ke Ibu Fiza Fitriana. 44:26 Asalamualaikum warahmatullahi 44:27 wabarakatuh. Alhamdulillah menyimak 44:29 kajian di hari ini. Terima kasih Pak 44:32 Ustaz. Ada juga Ibu Lise juga menyimak. 44:35 Wah, semoga Ibu Lise selalu sehat ya, 44:37 Ibu ya. Menyimak siaran di pagi hari ini 44:41 ekonomi Islam. Begituun Ibu Ani Cani 44:44 Hudzaifah. Asalamualaikum warahmatullahi 44:46 wabarakatuh. 44:48 Insyaallah, Pak Ustaz dan juga pejuang 44:50 dakwah Rasil selalu sehat walafiat, 44:53 menyimak selalu ekonomi Islam di Radio 44:56 AM20. 44:58 Sementara itu ini ada Pak Abdullah di 45:03 Bekasi. Asalamualaikum warahmatullahi 45:05 wabarakatuh. 45:06 Waalaikumsalam. Pak Ustaz, pengalaman di 45:09 keluarga saya kalau ada acara 45:11 silaturahim keluarga besar, 45:13 ada sebagian keluarga yang melihat latar 45:16 belakang ekonomi. Jadi seperti 45:18 dibeda-bedakan mana yang kaya, mana yang 45:21 miskin. Sehingga kalau bagi orang yang 45:23 miskin, keluarga yang miskin itu malas 45:26 untuk acara kumpul apalagi silaturahim 45:28 halal bihalal. Kenapa, Pak Ustaz? Pola 45:31 seperti ini ketimpangan justru ada di 45:34 keluarga kita. Yang kaya dan yang miskin 45:37 dibeda-bedakan. Mohon pencerahan. Terima 45:39 kasih. 45:40 Ya, terima kasih. [berdehem] Ee 45:44 mungkin apa yang disampaikan oleh Pak 45:46 Abdullah itu bukan hanya mewakili 45:48 beliau, ada banyak juga yang 45:49 mengalaminya. Ya, artinya keluarga itu 45:52 tidak semuanya ee berada kekayaannya 45:55 sama atau apa namanya? Ada yang kaya, 45:58 ada yang miskin pada umumnya begitu. 46:00 Nah, biasanya yang miskin dan kurang 46:02 berhasil itu agak minder ya. Nah, kadang 46:05 enggak datang ya kan. Kalau saya justru 46:08 saya datangi 46:09 datang ke rumahnya walaupun nun jauh di 46:12 sana. Saya suka sih begitu itu nyari 46:15 karena Bapak saya dulu itu 46:16 salah satu yang saya 46:19 apa lihat beliau ini selalu 46:20 bersilaturahim 46:22 sampai orang atau keluarga yang sudah 46:24 enggak jelas alamatnya tangi 46:26 tetap dicari ya. He. 46:28 Dan saya itu [mendengus] merasakan 46:29 betapa efek dampak baiknya ini bagi kita 46:32 ya. 46:33 He. 46:33 Jadi kalau kita itu silaturahmi hanya di 46:37 keluarga kita saja kemudian apa namanya 46:40 sebagian ada yang datang terutama yang 46:43 berhasil biasanya begitu. Yang tidak 46:45 berhasil atau kurang berhasil biasanya 46:47 mind kemudian mereka enggak datang. Nah, 46:49 ini harus kita datangi ya. 46:52 kita mendatangi itu saja sudah punya ee 46:56 dampak. Dalam hadis dikatakan, "Barang 46:59 siapa yang ingin ya dipanjangkan 47:02 umurnya, diluaskan rezekinya, falyasil 47:05 rahimahu, hendaklah dia menyambung 47:08 silaturahim." 47:09 Nah, kalau mereka yang tidak apa 47:12 berhasil kemudian minder enggak mau 47:14 datang ke kita, kita yang punya 47:17 kelebihan dari sisi keluasan waktu, 47:20 keluasan rezeki harus kita datangi. Iya. 47:24 Kedatangan kita, langkah kita ke ke 47:26 saudara kita yang kurang berhasil itu 47:28 sudah dicatat sebagai silaturahim. Dan 47:30 dampaknya apabila kemudian kita 47:32 bersedekah kepada dia, tahu keadaannya 47:33 kayak gimana, 47:35 kita bersedekah kepada dia lebih lagi 47:37 pahalanya dan hidup kita akan lebih 47:40 lapang, lebih luas, pikiran kita lebih 47:44 terang, hati kita lebih tenang, dan 47:46 rezeki kita ee akan diam diluaskan oleh 47:49 Allah Subhanahu wa taala. Jadi, mari 47:51 kita ee biasakan ee silaturahmi kepada 47:56 saudara-saudara kita yang tidak mau 47:58 silaturah kepada kita karena mereka 48:00 enggak punya biaya untuk transport. H, 48:03 justru itu yang kita harus datangi 48:05 karena kita mampu ya, jangan diputus ya. 48:08 Iya. 48:08 Nah, itu ajaran Islam yang sebenarnya di 48:10 situ. Nah, kalau dilihat dari dampaknya 48:12 jelas ya kan kita datang ke sana 48:14 bersedekah dengan sedekah itu kemudian 48:16 kita bisa memberikan e mereka itu bisa 48:18 belanja bisa ee makan minum bisa 48:22 berbelanjalah yang akhirnya kegiatan 48:24 ekonomi itu jalan itu luar biasa. Iya. 48:27 Kalau sebaliknya 48:28 kalau sebaliknya ya jarang terjadi 48:31 miskin [tertawa] yang kaya 48:32 yang miskin jarang karena biasanya 48:34 minder kan ya. He. 48:35 Jadi kita yang diberikan kelebihan oleh 48:38 Allah, justru kita ini yang harus 48:40 berbuat banyak pada mereka ya. Itu 48:42 jangan kita siasakan. Insyaallah efeknya 48:45 dampaknya secara ekonomi ya. Bagus 48:47 sekali bagi kita juga 48:50 juga bagi yang kita silaturahimi. 48:52 Ya, 48:53 itu yang kita sebutkan ekonomi berbasis 48:55 silaturahmi seperti ini 48:57 ya. Kita mencari orang atau 48:59 bersilaturahmi pada orang yang kita 49:00 dengar mungkin dia adalah sanak saudara 49:03 kita atau bukan. Tapi kita tahu bahwa 49:05 fulan ada di sana dan keadaannya enggak 49:07 baik-baik saja. Oke, saya datang 49:10 itu. He 49:12 itu paling baik itu ya. 49:13 Itu paling baik. 49:14 Iya. Ini ekonomi berbasis silaturahim. 49:16 Iya, itu ya. 49:17 Iya. 49:18 Selanjutnya dari kol 08117. 49:22 Sekian-sekian tidak menyebutkan nama. 49:25 Asalamualaikum warahmatullahi 49:26 wabarakatuh. 49:27 Waalaikumsalam warahmatullah. 49:28 Pendengar dari Batama. Pak Ustaz, 49:31 bagaimana dengan orang yang mudah 49:33 mendapatkan pekerjaan karena dia 49:35 menghalalkan segala cara? Sudah jelas 49:39 pembukaannya ditutup, tapi dia bisa 49:41 melewat jalur belakang. Di negeri ini 49:43 sudah tidak aneh. Mohon pencerahan. 49:45 Terima kasih. 49:46 Terima kasih. Ya, jadi [berdehem] 49:49 apa namanya? 49:51 jalur belakang. 49:52 Ee mencari rezeki itu jangan hanya 49:55 dilihat dari sisi mencari rezeki itu 49:58 loh. 49:59 He. 50:00 Tapi adalah ada dua dua konotasi yang 50:04 harus kita selalu sandingkan. 50:06 Heeh. 50:07 Yaitu halal dan thayib. 50:09 Halal. 50:09 Iya. 50:10 Halal itu kita hanya tahu kalau kita itu 50:13 belajar agama. Iya. 50:15 Orang yang tidak belajar agama enggak 50:17 akan tahu halal itu apa. Makanya di sini 50:19 penting fikih muamalah ya. Fikih tentang 50:23 bagaimana kita ingin mendapatkan 50:24 pekerjaan yang halal ya. Itu bukan di 50:27 fikih ibadah 50:29 ya. Babnya bab fikih muamalah. Kalau 50:32 kita tiap hari ee belajar fikih ibadah, 50:37 salat, wudu, dan seterusnya, tetapi 50:39 tidak pernah belajar fikih muamalah, 50:42 bisa jadi kita ini ibadahnya on time, 50:46 baik, tetapi cara kita mendapatkan 50:48 rezeki itu tidak dijamin halal. 50:50 H 50:51 ya. Apa namanya? Barang yang kita 50:53 konsumsi belum tentu halal karena kita 50:54 enggak tahu itu ada ilmunya. Jadi, 50:57 halalan thayiban itu perlu ilmu fikih 51:00 muamalah. He. 51:01 Jadi misalkan gini, ada orang yang 51:04 bekerja pedagang ya, pedagang baik, 51:07 tijaruh dianjurkan dalam agama. Nah, 51:10 saja pedagang ya kan. Tapi pedagangnya 51:13 di trotoar. 51:14 Heeh. 51:15 Ya loh, kok bisa di trotoar? Sudah bayar 51:18 kepada preman situ Pak kat [tertawa] 51:21 1 tahun R juta katanya. Loh, apakah 51:23 preman itu yang memilih ke trotoar? He 51:26 noh kan preman sendiri juga enggak 51:28 enggak halal caranya karena bukan hak 51:30 dia, itu hak negara ya kan. Jadi seperti 51:34 itu. 51:35 Sudah 51:37 tempatnya saja sudah enggak benar ya. 51:39 Walaupun yang dijual itu mukena misalkan 51:42 sarung, kopiah, alat-alat ibadah. Tapi 51:45 kalau di tempat yang salah, di tempat 51:47 yang haram yang bukan haknya. 51:49 Hm. Akhirnya di dalam perdagangan, hasil 51:52 perdagangan itu tidak sepenuhnya halalan 51:55 thayibah. Ada unsur haram ya. Apalagi 51:58 kemudian apa namanya dia berjualannya 52:02 itu mengabaikan waktu. 52:04 He. 52:05 Azan tetap di apa? Tetap dibuka. 52:09 Salat enggak diperhatikan. Jumat enggak 52:11 diperhatikan. Puasa jalan terus. Artinya 52:14 puasa restorannya tetap jalan siang hari 52:16 malah diperpanjang 52:18 waktunya. Nah, seperti ini. Nah, itu itu 52:23 mencampur antara rezeki yang diberikan 52:25 oleh Allah secara halal. Tetapi kemudian 52:27 ada unsur haram karena ee melakukan hal 52:31 yang di luar agama. Ya, misalnya tidak 52:33 salat, misalnya tidak memberikan 52:36 kesempatan karya untuk salat, kemudian 52:39 waktu salat ee Jumat tetap jalan, enggak 52:43 ada karyawan yang salat Jumat. 52:44 Nauzubillah minzalik. yang lain. Kalau 52:46 sudah seperti ini biasanya orang-orang 52:50 itu tidak pernah memberitkan yang lain 52:52 sehingga apa namanya kehalalan bagi 52:56 mereka itu suatu hal yang ya tipis-tipis 52:58 sekali dipikir gitu. Apalagi untuk 53:02 mendapatkan kalau lihat jalan belakang 53:03 bagi mereka biasa saja. Maka apa 53:07 namanya? Perlu kita sadari bahwa untuk 53:09 mendapatkan rezeki yang halal, yang 53:12 halal dan thayib itu kita perlu belajar 53:15 ilmu fikih namanya fikih muamalah ya. 53:19 Nah, mudah-mudahan di sekitar lingkungan 53:21 ibu atau yang dari Batam ini ada masjid 53:25 yang di situ kemudian ee ada kajian 53:27 fikih muamalah untuk kita belajar agar 53:29 supaya kita itu mendapatkan rezeki 53:32 halalan thayibah sesuai dengan syariah 53:34 ya. 53:35 Karena dengan halal dan thayib itu 53:37 efeknya kepada diri kita bagus sekali, 53:40 pada keluarga kita, kepada istri kita 53:42 dan anak kita baik. Tapi kalau kita itu 53:44 mendapatkan rezeki yang abu-abu 53:47 gara-gara tidak tahu apa itu halal, apa 53:50 itu haram dan kemudian kita itu berikan 53:53 rezeki itu kepada keluarga kita, anak 53:56 kita, maka efeknya sangat apa namanya? 53:59 Ahad berbeda. Saya itu ya silaturahim 54:03 tadi itu. 54:03 Iya. ketemu dengan orang yang 54:07 mohon maaf saya cerita he 54:11 ada istri perempuannya yang suaminya 54:13 polisi. 54:15 Polisi pensiun, polisi meneruskan 54:18 bikin kafe. Nah, kafenya si istri ini 54:21 maunya kita jangan di kafe lah, Mas. Ini 54:24 aja kita tutup aja. Kenapa? Kan itu ini 54:28 ya karaoke malam hari jualan ya 54:31 macam-macam. 54:32 Di zaman seperti ini, 54:34 He. 54:34 Istrinya sudah sadar 54:36 karena diberikan pilihan mau saya atau 54:39 mau kafe suaminya bilang mau kafe 54:41 cahilah itu orang. 54:42 Oh, gitu ya. 54:43 Iya. 54:45 Misah. 54:46 Heeh. 54:46 Ya. 54:47 Nah, masalahnya adalah saya juga lihat 54:50 bahwa hubungan ini panas terus dari dulu 54:53 karena pendapatannya begitu. 54:54 Hm. 54:56 Jadi pendapatan yang kita peroleh 54:59 dengan mengabaikan halal dan haram 55:03 thayib kita apa kita tidak pertimbangkan 55:06 sama sekali aspek halal dan thayib maka 55:11 suasana dalam keluarga ini panas ya 55:13 tidak ada kasih sayang istri dengan 55:15 suami 55:16 dengan anak 55:17 tidak ada keberkahan ada panaslah 55:19 panasnya hubungannya tidak tidak enak 55:22 dan akhirnya semuanya begitu karena 55:24 sekali roh haram itu kita langgar, 55:27 dampak buruknya terus akan ee kita 55:30 rasakan. Saya kira itu Masang ya. 55:32 Baik, terakhir Pak Ustaz ini dari hamba 55:34 Allah di Jakarta. Asalamualaikum 55:35 warahmatullahi wabarakatuh. 55:38 Seperti halnya dalam hadis Pak Ustaz, 55:42 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 55:45 bersabda, "Barang siapa yang ingin 55:46 diluaskan rezekinya dan dipanjangkan 55:48 umurnya, maka hendaknya ia menyambung 55:51 silaturahmi." 55:52 Bagaimana, Pak Ustaz? 55:55 Sepertinya silaturahim itu kan dapat 55:58 membantu orang lain [mendengus] 56:00 lalu dapat mendatangkan pahala dan 56:01 rezeki. 56:03 Menurut saya konsep silaturahim bertemu 56:05 itu sebenarnya itu membantu orang lain. 56:10 Apakah salah Pak Ustaz pemahaman ini? 56:11 Mohon penjelasan. Iya, sudah betul 56:15 silaturahim itu [berdehem] 56:17 dengan apabila kita lakukan maka kita 56:20 sebetulnya membantu orang walaupun 56:22 mungkin kita tidak harus mengeluarkan 56:24 duit ya pertemuan kita dengan mereka 56:26 yang kita datangi. Kita mendengarkan 56:29 keluhan mereka meskipun kita tidak 56:31 mereka gak bisa memberikan solusi, 56:34 mendengarkan cerita mereka itu saja 56:36 sudah bagus. Karena mereka ini selama 56:37 ini mungkin tidak punya tempat untuk 56:40 curhat, hanya sekedar untuk ngomong aja 56:42 enggak punya gitu kan. Nah, ketika 56:44 ketemu dengan kita, mereka sempat dan 56:48 ngomong secara lepas begitu saja 56:50 problem-problemnya. 56:52 Sekalipun kita itu sendiri tidak mampu 56:54 memberikan solusi secara fisik ya, 56:57 kedatangan kehadiran kita itu dicatat 57:00 oleh Allah sebagai amal yang baik dan 57:02 ini dampaknya kepada kita baik. Maka 57:04 untuk bersilaturahim itu kita itu harus 57:06 punya niat yang baik ya lillahi taala. 57:09 Karena apa? Karena ajaran Islam, ajaran 57:11 Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam 57:12 menganjurkan kita bersilaturahim dan 57:14 kita sebagai hambanya yang taat 57:16 melaksanakan silaturahim ini kepada 57:18 orang yang masih ada hubungannya dengan 57:20 keluarga kita ataupun teman kita yang 57:24 membutuhkan kita, membutuhkan kedatangan 57:27 kita, bukan membutuhkan harta kita, 57:30 membutuhkan kedatangan kita. Karena 57:32 banyak sekali masalah yang bisa mereka 57:34 selek dengan kehadiran kita. Jadi 57:36 silaturahim itu multidimensi dan ketika 57:39 kita melaksanakan silaturahim, langkah 57:41 kaki kita, motor yang kita pakai, 57:44 kendaraan yang kita pakai menuju tempat 57:45 itu, semua itu fisabilillah dapat bala 57:48 dari Allah Subhanahu wa taala. Dan 57:50 dampaknya 57:51 kepada kita secara psalogis itu enak, 57:54 baik, kepada orang yang kita datangi 57:56 juga enak dan baik, lapang dan lain 57:58 sebagainya. Dan itu akan memberikan 58:01 cara-cara bagi kita oleh Allah Subhanahu 58:03 wa taala untuk diluaskan rezekinya. Ya 58:07 caranya wallahualam. Kita enggak tahu 58:09 kita matematika Allah. Kita enggak tahu 58:10 matematikanya. 58:11 Iya. 58:13 Baik, itu menjadi pertanyaan terakhir 58:14 yang bisa kita jawab di kesempatan kali 58:16 ini sebagai penutup Pak Ustaz dari 58:19 kajian kita di hari ini apa? 58:21 Terima kasih, Mas Angga. Para pemirsa 58:23 Rasil TV dan para pendengaru silaturahim 58:26 yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. 58:28 Sebetulnya dalam aspek membangun ekonomi 58:31 berbasis silaturahim itu sebetulnya 58:33 aspeknya dua ya. Pertama adalah 58:36 silaturahim yang kita lakukan secara 58:39 fisik akan menggerakkan roda ekonomi. 58:42 Apalagi kalau silaturahim itu sifatnya 58:44 masif kayak lebaran gitu ya. Itu 58:48 mau tidak mau kita harus mengakui bahwa 58:50 gerakan ekonomia, roda ekonomi berputar 58:52 dengan cepat. Itu yang pertama. Yang 58:55 kedua, aspek yang lain yang paling 58:57 penting adalah kita dapat melakukan ee 59:00 atau mendapatkan data info-info yang 59:03 mungkin tidak masuk di data nasional ya, 59:06 tentang berbagai hal, 59:07 tentang besaran-besaran makroekonomi 59:10 misalkan ee PHK, misalkan keluhan orang 59:13 tidak memiliki pekerjaan ee kemudian 59:17 tutup usahanya dan lain sebagainya. Ini 59:19 semuanya bisa kita dengarkan lewat 59:22 silaturahim tadi. Dan kita mencoba untuk 59:24 memberikan sharing ya kepada yang kita 59:28 datangi sebagai silaturahim untuk 59:30 mencoba bukan hanya mendengarkan tetapi 59:32 mencoba memberikan solusi walaupun 59:34 solusi secara makro itu di tangan 59:36 pemerintah, di tangan negara seperti 59:39 pengangguran, lapangan pekerjaan dan 59:41 lain sebagainya. Tapi paling tidak kita 59:43 bisa memberikan motivasi, dorongan 59:46 kepada orang-orang yang pada saat itu 59:47 sangat membutuhkan. Ee tidak tidak 59:50 jangan tidak apa namanya jangan menunggu 59:53 kehadiran negara untuk bisa 59:54 menyelamatkan. Jika kita pada saat itu 59:57 bisa memberikan motivasi 59:58 untuk memulai hidup yang baru atau 1:00:01 memulai ee kerjaan yang baru beda dengan 1:00:04 sebelumnya, maka kita lakukan dan itu 1:00:07 sangat baik, itu sangat membantu ya. 1:00:10 Efeknya itu baik sekali. Dan dengan cara 1:00:12 seperti ini maka 1:00:16 janji Allah Subhanahu wa taala apa? Akan 1:00:18 diluaskan rezekinya 1:00:20 dengan cara bagaimana matematikanya 1:00:22 tidak sama dengan matematika manusia 1:00:25 itu. 1:00:27 Baik, Pak Ustaz. Demikianlah ikhwan 1:00:29 akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa 1:00:30 taala, kajian ekonomi Islam edisi hari 1:00:33 ini bersama guru kita Ustaz Ikhwan 1:00:35 Basri. Semoga apa yang beliau sampaikan 1:00:37 bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih 1:00:40 banyak atas kebersamaan Anda. Kami dari 1:00:42 studio undur diri. Mohon maaf atas 1:00:45 segala kesalahan kata. Billahi taufik 1:00:46 wal hidayah. Subhanakallahumma 1:00:48 wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta 1:00:50 astagfiruka wa atubu ilaik. 1:00:52 Asalamualaikum warahmatullahi 1:00:54 wabarakatuh. 1:00:55 Waalaikumsalam.