Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:10 Bismillahirrahmanirrahim. 0:12 Asalamualaikum warahmatullahi 0:14 wabarakatuh, ikhwan akhwat 0:17 rahimakumullah. 0:18 Alhamdulillah wasyukurillah pada saat 0:21 ini kita dapat bersama-sama di bulan 0:24 Ramadan, 0:26 bulan yang penuh berlimpah berkah. di 0:30 acara sahur bersama Rasil. Semoga 0:34 kebersamaan di sahur bersama Rasil ini 0:37 menambah semangat kita ya, sekaligus 0:41 mempersuasi kita untuk dapat optimal 0:45 mengisi dan melewati hari-hari di bulan 0:49 penuh berkah ini dan bulan di mana kita 0:54 semuanya harus menahan diri juga menjaga 0:58 diri dari makan minum dan hal-hal yang 1:01 lainnya. melatih disiplin, kemudian juga 1:05 meningkatkan 1:07 empati kita, serta menghapus 1:11 dosa-dosa dan kesalahan kita dengan 1:13 ibadah yang lebih kita optimalkan. 1:16 Ini adalah bulan di mana kita semuanya 1:19 melatih untuk pengendalian hawa nafsu 1:22 dan juga karakter kita. 1:25 Ikhwan dan akhwat. Sahur bersama Rasil 1:29 kali ini menghadirkan 1:31 Ita Musfita, sosok yang sangat luar 1:35 biasa sebagai bidan perawat ee bedah 1:40 ortopedi deh kalau enggak salah. 1:42 Beliau ini merupakan relawan kemanusiaan 1:46 Indonesia yang kiprahnya 1:49 di berbagai zona konflik dan bencana 1:54 membawa misi kemanusiaan 1:56 berbagai krisis 1:58 baik itu global krisis bahkan juga kalau 2:04 kemungkinannya ada bukan di global saja 2:07 kepedulian beliau sangat luar biasa 2:09 sekali seperti halnya Beberapa informasi 2:13 mungkin pernah kita dengar adanya 2:17 tafan hayam di Filipina, kemudian juga 2:20 ada gempa di Turki dan Suriah serta zona 2:25 konflik di Palestina dan Afghanistan. 2:29 Beliau bersama Mercy membuat kita 2:32 semuanya kadang-kadang membaca 2:35 informasinya tuh jadi terpaku karena 2:38 terpukau. 2:40 Sekarang beliau sudah ada di sini. Kita 2:42 sapa Mbak atau Ibu nih, Mbak Ita 2:46 Muswita. Asalamualaikum warahmatullahi 2:48 wabarakatuh. 2:49 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:51 wabarakatuh. Terima kasih atas 2:53 kesediaannya bersama-sama acara ee sahur 2:58 bersama Rasil ini. Sebetulnya 3:01 gimana sih awalnya ceritanya kenapa Mbak 3:04 Ita Muspita itu memilih profesi di 3:06 bidang kesehatan? Kan banyak yang lain. 3:08 Eh 3:10 eh kisahnya tuh dimulai dari saya tamat 3:13 SMP Lan Banuning. 3:15 He. 3:16 Ee tamat SMP itu saya mau melanjutkan 3:20 SMA. He, 3:21 kebetulan saya diterima di SMA 70 di 3:24 dekat Blok M. 3:25 Iya. 3:25 Nah, 3:26 begitu pas ketika mau mulai proses 3:30 pendaftaran 3:31 He. 3:31 Ee 3:33 salah satu ee kakak saya atau ya kalau 3:37 enggak salah kakak saya, salah satu 3:38 kakak saya mengingatkan nanti kalau SMA 3:41 kuliahnya bagaimana gitu. He. 3:43 Sedangkan ee kami ini en bersaudara yang 3:46 alhamdulillah dibilang ee susah enggak 3:51 ee keluarga menengah lah rata-rata gitu. 3:53 Keluarga rata-rata. Terus ada usulan 3:56 dari ibu saya, gimana kalau masuk 3:57 perawat aja gitu. Kebetulan ada kakak 4:00 sepupu yang sudah masuk perawat. Ee 4:03 kalau habis masuk perawat itu ee bisa 4:06 langsung kerja loh gitu. Ya udah 4:09 akhirnya saya daftar perawat saya 4:11 diterima. He 4:12 ee 3 tahun pendidikan ee 4:17 selesai ee belum sampai di wisuda ee 4:21 kami semuanya sudah bekerja. Jadi kita 4:23 kerja dulu seminggu baru wisuda 4:25 menyusul. 4:25 Heeh. Oke. 4:27 Jadi habis tamat kerja langsung kerja 4:29 minggu depannya minggu depannya lagi 4:31 baru kita wisuda. 4:34 Iya 4:36 milih di kesehatan. Padahal kan banyak 4:38 yang ada ekonomi, ada sejarah waktu ee 4:42 sekolah itu. Itu memang sudah 4:44 tertarikah untuk menjadi bidan atau 4:48 perawat atau gimana? 4:49 Enggak kepikir, Mas Nuneng. Waktu itu 4:51 tuh kita anak-anak SMP ya, 4:53 anak SMP tuh enggak kepikir dulu tuh 4:55 kita enggak seperti anak sekarang nih 4:56 punya cita-cita. Kalau anak SD sekarang 4:59 kita tanya cita-citanya mereka sudah 5:00 berimajinasi yang 5:02 yang tinggi ya. Sedangkan kita dulu 5:04 kalau disuruh sekolah itu ya sudah ikut 5:06 aja gitu. Enggak ada kepikiran juga saya 5:09 nanti ke depannya akan jadi gimana gitu. 5:11 Enggak, enggak kepikir juga ini jalan 5:13 hidup aja ee berlalu aja begitu aja. 5:17 Iya. Dan kebetulan sekali dengan profesi 5:19 sebagai bidan dan juga ee perawat 5:23 bisa menjadi kita yang relawan luar 5:28 biasa itu ya. 5:29 Masyaallah. Di kemudian hari saya 5:30 berpikir ini jalan hidup. Bagaimana 5:33 kalau bisa digambarkan bagaimana 5:36 ceritanya kok terjun ke dunia 5:40 kerelawanan gitu? 5:42 Hm. 5:42 Apa yang memotivasi dan menarik untuk 5:45 ada di situ? 5:46 Iya. Ee baik. Dulu tuh waktu ee saya 5:50 tamat sekolah perawat 5:52 itu ada perang Bosnia. 5:54 Saya sempat bilang ke ibu saya, "Bu, 5:56 saya Ita kayaknya pengin deh ke situ." 5:58 Dimarahin sama ibu saya tuh nyari mati 6:01 gitu. Pokoknya ibu tuh waktu itu masih 6:03 belum siap kali karena saya juga baru 6:05 tamat. 6:05 Cuma karena lingkungan saya kebetulan 6:07 saya bekerja di salah satu rumah sakit 6:10 ee di Jakarta Selatan, rumah sakit ee 6:12 siaga. 6:13 Ee itu didirikan oleh Prof. Syekhap 6:16 Rukni Hilmi. 6:17 Nah, beliau itu benar-benar aktivis. 6:20 Jadi terbawa oleh 6:23 ee suasana, terbawa oleh lingkungan 6:27 sehingga jiwa ingin menolong atau itu 6:32 mengalir begitu aja. 6:34 Jadi ee mungkin karena lingkungan juga 6:36 kali ya, lingkungan karena Prof. juga 6:38 suka baksos ke mana-mana gitu. Kami nih 6:41 yang ibaratnya anak-anak kurcaci lah 6:44 ikut sama beliau. Jadi lama-lama kita 6:47 menyelami itu. Kemudian di rumah sakit 6:50 yang sama saya ee bertemu dengan dr. 6:53 Jose. Nah, dari dr. Jose perjuangan 6:57 Ambon. 6:58 Waktu itu saya juga belum turun karena 7:00 ee saya serta Prof. dan ee dokter-dokter 7:05 yang ada di Jakarta menghimpun dana 7:09 untuk ee teman-teman yang akan berangkat 7:11 ke Ambon untuk membeli obat-obatan. 7:14 Demikian. 7:17 Kalau dari apa yang saya tahu tuh mulai 7:21 dari 2006 7:23 sampai 2024 kemarin pun masih aktif 7:26 banget. Itu cukup panjang waktunya ya. 7:30 Perjalanan untuk apa yang sudah Mbak Ita 7:34 laksanakan sejak 2006 sampai sekarang 7:36 ini berpindah dari satu ee bencana ke 7:41 bencana yang lain, dari satu konflik ke 7:43 konflik berikutnya. 7:45 Andai kata nih melihat ke belakang 7:48 sebetulnya kan tahu risikonya besar, 7:51 kan tahu bahwa ini bukan hal yang mudah. 7:53 Kok masih juga sangat mencintai dunia 7:56 kerelawanan itu gimana ceritanya? 7:59 Eh, saya tahun 2006 itu bergabung dengan 8:02 Mercy. 8:04 Sebelumnya ee saya ikut baksos-baksos 8:06 tapi bukan dengan Mercy. Ee kemudian 8:09 saya berangkat ee ketika tsunami juga 8:12 belum melalui Mercy, melalui NGO ee 8:15 Australia. ee 8:18 mulai dari Aceh itu saya merasa bahwa 8:23 alhamdulillah dengan profesi saya 8:25 ternyata saya bisa berguna nih. 8:29 E 8:30 ee apa 8:32 di Aceh saya 3 minggu ee pasca tsunami 8:36 itu luar biasa babak belurnya Aceh. 8:39 bagaimana setiap kita memandang ee air 8:42 mata pasti akan ngalir. Semua orang dari 8:45 seluruh dunia itu ngelihat hancurnya 8:47 Aceh 8:48 ee pasti akan ee merasa gini, "Oh ya, 8:53 kita datang ke sini itu ada gunanya." 8:55 Walaupun Ivan ee cuma bisa ee narik 9:00 mayat, cuma bisa bukan cuma ternyata 9:03 kalau kita bilang enggak saya cuma ini. 9:04 Enggak. ternyata banyak sekali 9:06 membersihkan rumah sakit ee melakukan 9:10 sesuatu gitu. Jadi setelah dari tsunami 9:13 ee saya bergabung dengan Mercy, kemudian 9:17 Gempa Bantul. 9:18 Heeh. Heeh. 9:19 Ee berikut ee dengan Dr. Jose dan 9:21 teman-teman di Mercy. Dan kegiatan itu 9:23 bergulir gitu aja. Jadi ee setiap ada 9:26 bencana bahkan ketika saya saya sampai 9:28 sekarang ini saya enggak punya TV loh, 9:30 Mbak Nuning. Saya enggak punya TV. Saya 9:32 hanya dengar radio dari handphone radio 9:35 ya itu 9:36 ee jadi segala berita saya tuh enggak 9:38 tahu. Jadi saya termasuk telat ee dengar 9:40 berita ketika saya ibu saya telepon, 9:43 "Oh, kamu masih di Jakarta ini kan ada 9:44 gempa di sini gini. Ibu saya yang paling 9:46 dulu ngasih tahu." Jadi ibu saya tuh 9:49 lebih aware nih anaknya harusnya di sini 9:51 gitu. 9:52 Tahu banget kecintaan Mbak Ita pada 9:54 hal-hal semacam itu. Masyaallah. 9:57 Iya. Iya. 9:59 Dan pada saat berada di lokasi-lokasi 10:02 yang seperti Mbak Ida sampaikan tadi, 10:04 I 10:05 ada 10:07 menghadapi juga keterbatasan kan entah 10:09 itu obat, entah itu alat atau apa gitu. 10:12 Dan banyak orang yang membutuhkan 10:14 pertolongan padahal kita juga punya 10:16 keterbatasan. 10:17 Iya. 10:18 Itu bagaimana menetralisir perasaan 10:20 enggak nyaman karena aduh gue enggak 10:22 bisa bantu yang sana yang sini. Yang 10:25 jelas berdamai dengan perasaan karena 10:28 enggak bisa nolong banyak orang itu 10:30 mudahkah atau gimana? 10:32 Eh, gini, Mbak. 10:35 Kalau mungkin teman-teman relawan yang 10:37 lain juga akan merasakan kita itu ketika 10:39 kita dihadapkan sebenarnya bisa nih 10:42 dibantu kalau ada ini gitu, ada alat 10:43 ini, ada obat ini, itu seperti ingin 10:45 menjerit tapi kita sadar bahwa 10:48 ya sudahudah 10:49 ya udah emang begini memutar otak cara 10:53 bagaimana apapun harus kita bisa lakukan 10:55 ee sekecil apapun bantuan harus tetap ee 10:58 bisa kita lakukan. Arti kata kita enggak 11:01 hospital oriented karena terus terang 11:03 teman-teman 11:04 yang turun ke daerah bencana kan 11:05 rata-rata teman-teman dari rumah sakit. 11:08 Jadi mereka inginnya ideal. 11:10 Heeh. 11:10 Ee sedangkan di daerah bencana, di 11:12 daerah konflik untuk bicara ideal sangat 11:14 jauh gitu. 11:17 Lambat laun ee saya bisa ee beradaptasi 11:22 dengan keadaan itu. Kalau enggak bisa 11:24 ini, saya harus pakai ini. Kalau enggak 11:26 ini gitu. Idenya tuh timbul aja gitu di 11:28 lapangan. He. 11:30 Dan di dalam hati juga ada kedamaian. 11:32 Ya, emang beginilah kondisi di mana aku 11:35 enggak bisa 11:36 sepenuhnya melakukan hal-hal tertentu. 11:38 Betul. Betul. 11:39 Terkait dengan bergabung bersama Mercy 11:42 tadi 11:43 mendapatkan kesempatan untuk ke banyak 11:46 tempat. 11:47 Iya. 11:48 Yang paling ee mampir di kepalaku tuh 11:52 soal Gaza. Itu luar biasa banget. untuk 11:55 berangkat ke Gaza waktu juga memilih 11:58 untuk ke sana itu di kepala Mbak Ita ada 12:02 rasa apa? Takutkah atau justru merasa 12:05 enggak bisa nih gua mesti datang atau 12:07 gue mesti berangkat itu gimana? 12:09 Ya ee 12:11 kalau bicara masalah Gaza ya. Hm. 12:15 Gaza itu impian ee bagi semua orang ya 12:19 tentunya 12:19 banyak sekali orang bermimpi ingin ke 12:21 Gaza. 12:23 Salah satu doa saya yang Allah kabulkan 12:26 saya bisa berangkat ke Gaza melalui 12:28 Mercy, IMT Mercy. 12:31 Ee 12:32 saya dihubungi hari Sabtu untuk siap 12:36 enggak nih kita kurang orang gitu. Ee 12:39 siap saya bilang aja siap aja itu habis 12:41 tawaran ya. Masyaallah, 12:43 Kak. Siap enggak? Ee tapi ini formasi 12:46 yang dibutuhkan bukan perawat bedah tapi 12:48 bidan. Ya, enggak apa-apa. Saya bilang, 12:50 "Saya punya ijazah bidan." Saya bilang 12:51 gitu. Walaupun pada kenyataannya pada 12:53 praktik saya enggak megang kebidanan, 12:56 tapi saya di kamar bedah di bagian ee 12:59 bedah ortopedi. 13:00 Iya. 13:00 Nah, sudah singkat cerita, Sabtu saya 13:04 dikabari, kemudian Selasa kita 13:06 berangkat. 13:08 Selasa berangkat tuh dari Merc itu kalau 13:09 enggak salah sih yang habis salat zuhur. 13:11 Pagi jam 09.00 sebelum berangkat saya 13:13 izin di grup dengan keluarga. Mohon izin 13:16 saya akan berangkat ke Gaza gitu. Karena 13:18 gini Mbak Nuning, saya itu ketika saya 13:22 mau berangkat saya enggak mau ada yang 13:24 memperberat langkah 13:26 gitu. Tapi alhamdulillah saya dibesarkan 13:28 oleh keluarga yang dari ibu papa sangat 13:31 support dan kakak-kakak serta adik-adik 13:34 sangat support gitu. Jadi saya cuma 13:36 bilang, "Saya akan berangkat. Mohon doa 13:38 semoga pergi dan pulang bisa selamat." 13:40 Itu aja. Sudah. Alhamdulillah ee puji 13:44 syukur saya bisa masuk Gaza bersama tim 13:50 IMT 1. 13:52 Karena dukungan Ibu pasti ya. Karena Ibu 13:55 dengan adanya Mbak Ita sebagai relawan 13:56 tuh rasanya sudah sangat-sangat bahagia 13:59 ya. sementara tidak ada juga em apa 14:03 namanya penolakan dari anggota keluarga 14:05 yang lain mendukung sepenuhnya Mbak Ita 14:08 menjadi relawan Gaza itu. Nah, pada saat 14:12 baru datang ke sana ingat kembali masa 14:14 itu, itu ee 14:18 gimana rasanya? Kaget seperti apakah 14:21 gerangan atau kondisi di sana ternyata 14:23 hah enggak seperti yang gua bayangin 14:25 atau gimana? E iya. E ini masuk ke Gaza 14:29 juga enggak gampang ya, Mbak Nuning ya. 14:32 Ee 2 minggu dulu kita tunggu di Kairo. 2 14:36 minggu kemudian 14:37 jadi berhenti di Kairo 2 minggu 14:39 berhenti di Kairo karena ada aja tuh 14:41 rintangannya. Kurang inilah di kurang 14:44 ini kemudian di-cancel gitu belum dapat 14:46 green light macam-macam. Kami bersabar. 14:49 Kita ingat e dr. Josef pernah bilang 14:51 dalam jihad profesi itu salah satu jihad 14:54 yang berat itu menunggu dan bersabar. 14:56 He. 14:57 Bersama teman-teman IMT 1 kita menunggu. 15:00 Akhirnya ketika minggu pertama bulan 15:03 Ramadan kita alhamdulillah bisa masuk 15:07 Gaza. 15:08 Masuk Gaza pas sampai border Rafah biasa 15:12 welcome bom itu semuanya dapat. 15:16 Tapi kita semua relawan seluruh dunia 15:18 sudah sepertinya udah udah punya satu 15:20 komitmen. Apapun yang terjadi kita harus 15:22 masuk gitu. Akhirnya kita masuk melalui 15:26 pemeriksaan baru aja sampai di border. 15:29 Di dalam border itu azan magrib. 15:32 Heeh. 15:32 Suasananya sahadu banget. Kita buka 15:36 pakai air mineral ee dikasih kalau 15:39 enggak salah kita kurma kita udah kita 15:42 buka. Itu pun lebih dari cukup. 15:46 Karena di mindset kami ini, kita akan 15:49 datang ke suatu 15:51 negeri, 15:52 He. 15:53 Di suatu tempat yang lu jangan terlalu 15:56 banyak mau. Kita ee survive aja udah 15:59 alhamdulillah gitu. Jadi kita enggak 16:01 boleh bermanja diri gitu. Jadi ketika 16:03 kita datang 16:05 hujan waktu itu hujan kita diterima oleh 16:07 teman-teman yang kebetulan ee sudah 16:10 standby di Gaza. Ada Fikri, Reza, 16:13 Durgom, teman-teman ee yang jemput kita. 16:17 Kemudian listrik enggak ada. 16:20 Heeh. 16:20 Bangunan hancur. 16:22 Ee 16:24 mungkin kalau di ee TV yang kita lihat 16:28 ee 16:31 proses hancur ya. 16:32 Heeh. ee tapi enggak sepanjang jalan itu 16:35 diperlihatkan bagaimana kabel-kabel 16:36 listrik hancur, jalan hancur, kita 16:39 enggak bisa menemui gedung atau rumah 16:41 yang utuh itu sepanjang jalan itu yang 16:43 terjadi. 16:45 Kami ditempatkan 16:47 di rumah sakit yang kebetulan rumah 16:49 sakit itu dibangun oleh NGO di Indonesia 16:51 juga tuh. 16:52 Alhamdulillah yang digunakan bangunan 16:54 itu masih utuh waktu itu oleh KNRP. ee 16:59 kita di situ ee kurang lebih 1 minggu ee 17:04 kami diplot oleh ee Kementerian 17:07 Kesehatan Palestina ke beberapa rumah 17:09 sakit dari satu tim IMT yang pertama. 17:13 Ee kita sih sudah siap mau ditempatkan 17:16 di mana aja 17:17 kami ini sudah siap karena ketika kita 17:20 sudah dapat pembekalan dari Indonesia ee 17:23 dari ketua IMT Dr. Arif ee bahkan ketika 17:26 di Kairo pun beliau mendampingi ya jadi 17:30 ah sepahit apapun kita sudah siap gitu. 17:35 Keren banget. Dan kalau enggak salah 17:38 hampir 3 bulan ya di Gaza itu 17:40 tu hari 2 bulan setengah. 17:43 2 bulan seteng. 2 bulan setengah. Heeh. 17:44 12 seteng. 17:45 Dan terkait dengan profesi seorang bidan 17:49 tentu tidak akan pernah diam saja ketika 17:51 ada kelahiran terjadi kan. 17:53 Iya pasti 17:53 di sana banyak juga itu 17:55 h 17:55 angka kelahiran pada saat Mbak Ita 17:57 kebetulan ada di sana. 17:59 Iya. Eh, 18:02 saya ee dan teman yang relawan yang 18:05 perempuan itu dinasnya di rumah sakit 18:07 Emirati, rumah sakit khusus kebidanan. 18:09 Satu Gaza rujukannya hanya rumah sakit 18:11 itu. 18:12 Jadi, siapapun yang mau melahirkan ke 18:14 situ. 18:14 Iya, ke situ atau lahir di tenda, 18:16 dicapnya tetap di situ. 18:18 Karena mereka ee di Gaza itu sistemnya 18:20 luar biasa ya. Semua bayi Palestina yang 18:22 lahir di Gaza langsung dapat nomor 18:24 induk. 18:25 Heeh. 18:25 Jadi, Heeh. Jadi terupdate terus berapa 18:28 jumlah penduduk Gaza yang syahid dan 18:30 yang lahir. 18:33 Ee 18:35 sebelum saya kami tim kami masuk bulan 18:40 Oktober November itu lonjakan persalinan 18:43 karena satu Gaza disatukan di situ. 18:46 Rumah sakit itu kayak hektik banget. 18:49 Dalam sebulan persalinan R.000. 18:52 Heeh. Berapa seharinya tuh? 18:55 Nah, 18:55 masyaallah. Tapi ketika kita masuk ee 19:00 sehari dalam 24 jam persalinan 50 sampai 19:03 60 ya kurang lebih rata-rata segitu 19:05 persalinan. 19:07 Jadi bisa dibayangkan ee ruang yang 19:10 termasuk paling sibuk selain poliklinik 19:12 adalah ruang persalinan. 19:16 Nah, ngomong-ngomong soal membantu 19:20 persalinan kalau di tempat yang 19:22 aman-aman saja sih kayaknya enggak 19:24 masalah. I 19:25 ini bayangkan ada ledakan, ada situasi 19:29 yang serba enggak jelas itu enggak 19:31 terganggu emosinya atau kesediaannya. 19:35 Awalnya terganggu Wuning 19:39 awalnya tuh kita jadi mindsetnya balik 19:40 ke belakang. 19:41 Heeh. 19:43 Di Indonesia tuh enak banget ya nolong 19:45 persalinan. Ibu harus tenang. Ruangan 19:48 enggak boleh berisik. suami menemani 19:50 enggak ada suara drone yang terjadi 19:53 sangat bertolak belakang. 19:56 Yang hanya diperbolehkan di kamar 19:59 bersalin itu laki-laki tidak diizinkan 20:01 masuk ke dalam ruangan ini. Jadi ibu 20:03 hanya pasien atau kalau dia mempunyai 20:07 mertua atau ibu hanya satu pendamping 20:09 boleh masuk. Kenapa? Karena ruangannya 20:11 sangat terbatas. 20:14 Jadi apa yang biasanya e suami menemani 20:19 kasih support ke ibu situ enggak ada ibu 20:23 melahirkan. Bahkan ketika pembukaan 20:25 tujuh atau 8 20:29 ibu masih diperkenankan 20:32 berjalan di sekitar kamar bersalin. 20:35 Oke. 20:35 Kalau di rumah sakit kita pembukaan udah 20:37 langsung dapat kamar gitu. Ini enggak 20:40 bisa karena memang enggak ada ruang 20:41 perawatannya. Jadi kita cuma ada setting 20:44 delan ruang persalinan. 20:46 Ee kemudian kalau di VK-nya ya itu ada 20:50 lima meja persalinan. Jadi bisa 20:52 sekaligus Ibu lima orang melahirkan itu 20:55 bisa 20:55 ruangan yang 20:56 di ruangan Iya itu bisa karena mejanya 20:58 itu berjejer bisa. 21:01 Habis melahirkan pun ibu cuma dapat 21:02 waktu 2 jam. 21:04 Hah? 21:05 2 jam habis melahirkan pasien 21:07 dipulangkan kalau tidak ada perdarahan. 21:09 Kontraksi terus bagus. 21:12 pasien dipulangkan. 21:15 Sementara mendampingi ibu-ibu yang 21:17 melahirkan dengan waktu cuman 2 jam 21:19 dipulangkan. Padahal bisa jadi sebagian 21:22 daripada ibu-ibu yang melahirkan juga 21:24 ada keluarganya yang meninggal, suaminya 21:28 atau siapapun juga. Nah, ee itu 21:33 pada saat mendampingi mereka juga 21:35 kehilangan keluarga. Mereka juga cuma 21:38 punya waktu 2 jam di situ. 21:42 Sebagai perempuan yang pernah merasakan 21:44 bagaimana taruhan nyawa melahirkan bayi 21:48 itu. Mm Mbak I enggak apa-apa enggak 21:51 merasa gimana? 21:53 Hm. Merasa banget Mbak Nuning. Saya itu 21:56 kan mukain ee muka rambu hati rinto ya. 22:00 Alhamdulillah 22:00 mukanya rambut hatinya 22:01 eh hatinya rinto. Jadi suatu saat datang 22:04 tuh ibu didampingi oleh mertuanya 22:08 seorang ibu hamil. Terus ibu itu bisik 22:10 ke saya dengan bahasa Arab yang saya sih 22:12 enggak ngerti ya. Terus dia tepuk-tepuk 22:15 ee pundak saya. Terus saya tanya sama 22:17 teman saya, "Ibu ini ngomong apa sih? 22:19 Saya enggak ngerti. Takutnya enggak 22:20 sampai pesannya gitu kan." Akhirnya 22:22 teman saya ee 22:25 menterjemahkan, 22:26 "Ibu ini nitip. tolong bantu menantunya 22:31 melahirkan. 22:31 Iya, melahirkan. Karena anak saya baru 22:35 aja syahid minggu lalu katanya gitu. 22:39 Ee saya sudah siap tuh, Mbak Nuning. 22:40 Saya sudah siap dengan perlengkapan ee 22:43 pertolongan. Tapi karena saya tahu isi 22:48 pesan ibu itu 22:49 He 22:50 itu air mata langsung 22:53 ya pelupuk mata panasya basah. Aduh, 22:56 saya tuh kepikir gini ya, 22:59 ee ih gila ya, kok biasa aja gitu loh. 23:05 Ee dia cuma ibu itu memang kelihatan 23:07 rautnya sedih tapi mm 23:11 enggak seperti 23:13 histeris gitu loh. 23:15 Saya pikir nih makamnya tinggi deh. 23:17 Pokoknya kalau saya sih kayaknya 23:19 enggak kuat, 23:19 enggak kuat deh gitu. Kayaknya enggak 23:21 kuat gitu. 23:22 Kok bisa Ibu ini? Ya udah. Selesai 23:26 persalinan 23:28 anak kita rapikan. Kalau di sana kan 23:30 satu penolong, satu pasien satu 23:31 penolong, enggak ada pendamping. Jadi 23:33 misalnya saya menolong banuning, ya 23:35 sudah kita berdua aja. 23:36 Yang lain pun begitu. Jadi enggak bisa 23:38 sling. Sampai selesai anak saya rapikan 23:41 saya kasih lagi ke ibu itu ee saya 23:44 bilang, "Ni anak kamu laki-laki." Saya 23:46 bilang gitu. Selamat ya. Saya bilang 23:48 gitu. ee saya cium ee kening ibu itu, 23:52 kepalanya anaknya saya cium, saya kasih 23:55 ke ibu itu. Terus ibu itu ternyata dia 23:58 bisa bahasa Inggris walaupun sedikit. 24:01 Jadi setidaknya ada komunikasi lah ya. 24:03 Iya. Terus ee dia bilang ee 24:07 ee wajahnya seperti ayahnya. 24:11 Ah ketika ibu itu bicara gitu, mm saya 24:15 letakkan bayinya, saya bilang, "Saya ada 24:16 pasien lagi ya. Saya tinggal dulu. 24:19 Padahal saya ke groang ganti untuk 24:21 mau nangis saya. Aduh ya Allah 24:23 ee 24:25 berat banget ya hidup di sana. 24:27 Nah menyaksikan begitu banyak 24:32 hal-hal 24:34 yang membuat tadi itu pelupuk mata basah 24:38 karena air mata keluar terus. Sementara 24:41 kita tahu banyak sekali rumah yang 24:43 hancur, keluarga yang terpisah, 24:45 bercerai-berai, bahkan juga ee hal-hal 24:50 yang sama sekali ee tidak kita duga 24:53 sebelumnya 24:54 dari menyaksikan hal ini selama beberapa 24:57 waktu, enggak cuman sehari, du hari itu 25:00 kira-kira 25:02 pelajaran apa yang sangat kemudian 25:04 digenggam erat yang baik. 25:07 Mm. 25:10 Kalau ditanya peng pelajaran hidup, Mbak 25:14 Nuning, 25:16 mm saya 25:19 enggak bisa ya menguraikan satu persatu, 25:23 tapi yang saya ucapkan kepada Allah, "Ya 25:25 Allah, ternyata selama ini saya tuh 25:29 banyak banget nikmat yang kita terima, 25:32 keberuntungan. keberuntungan privilege 25:34 yang kita dapatkan tinggal di tanah air. 25:38 Eh, 25:41 saya enggak enggak habis pikir ya, Mbak 25:43 Nuning. Mereka bisa bertahan di tengah 25:47 kondisi yang sangat tidak menentu. 25:50 He. 25:51 Ee 25:53 di mana air sulit, 25:57 udara kalau dingin dingin sekali panas. 26:02 panas sekali. 26:04 Ee 26:06 anak ke mana, suami ke mana? He. 26:09 Aduh, saya enggak enggak tahu deh. Jadi 26:11 ketika saya sampai di Indonesia, 26:13 sepanjang saya keluar dari Gaza, saya 26:15 bilang, "Ya Allah, terima kasih kita 26:17 bisa hidup tanpa mendengarkan drone di 26:20 sana." Ya, mereka hidup dengan suara 26:22 yang berisik sekali. 26:25 Semuanya saya ucapkan, "Ya Allah, terima 26:26 kasih ee Engkau kembalikan hamba ke 26:30 dunia nyata. 26:32 Dunia tanpa tekanan menurut saya tinggal 26:34 di Indonesia. 26:36 Masyaallah. Apa yang kita dengar dari 26:39 Mbak Ita tentang semua yang dialami, 26:43 dirasakan sebagai relawan. Ini baru 26:46 sepenggal yang kita dengar dari Gaza ya. 26:49 Terkait dengan keberadaan selama di Gaza 26:54 menjadi relawan dan sekarang sudah 26:56 kembali ke Indonesia 26:58 itu ada enggak kerinduan pengin balik ke 27:00 sana gitu? pengin bertugas di 27:01 tempat-tempat yang penuh dengan 27:03 tantangan seperti itu. 27:05 Hm. Iya, Mbak N. ketika 27:09 ketika ee saya dan teman-teman pamit 27:13 dengan teman-teman di dalam 27:15 ee mereka bilang ee no ini bukan 27:18 perpisahan tapi kamu pergi untuk kembali 27:21 lagi. Dan saya meyakini bahwa ya saya 27:26 akan kembali lagi. Untuk waktunya saya 27:29 enggak tahu tapi saya sudah berjanji 27:31 bahwa kalau Allah kasih kesempatan saya 27:33 akan kembali lagi 27:34 ke Gaza. 27:36 Yang jelas ada kerinduan untuk menjadi 27:41 bagian daripada 27:43 kesulitan di sana. Itu berarti adalah 27:45 kita berkontribusi terhadap hamba-hamba 27:47 Allah. Ya. 27:48 Iya. 27:49 Nah, karena ini Ramadan ngomong-ngomong 27:52 terkait kita nih sebagai anak atau 27:56 sebagai orang tua, 27:58 bekal kita untuk mengisi Ramadan itu kan 28:02 banyak ya. 28:03 Iya. 28:03 Mbak Ita punya gagasan tertentu enggak? 28:05 Kira-kira siapa tahu yang dengar terus 28:07 jadi terinspirasi, terpersuasi gitu 28:10 terkait dengan 28:11 mengisi saat Ramadan ini yang ada 28:15 konteksnya dengan ayah bunda. 28:17 Oke. Ee Ramadan ee sejak 28:24 di Gaza itu saya ee Ramadan kan, Mbak 28:27 Nuning 28:27 ngalamin di sana juga ya pas Ramadan. 28:30 Ee di sana saya sudah menasbihkan diri 28:33 ya. ee saya sudah benar janji ee saya 28:36 harus khatam he 28:38 Quran 28:39 bersama teman-teman yang lain, enggak 28:40 hanya saya. Ee jadi kita hampir tidak 28:43 punya waktu luang 28:46 kecuali kita ee target kita nih Ramadan 28:49 harus kelar nih keta khatam gitu ya. He. 28:51 Sesulit apapun ee 28:54 itu alhamdulillah saya mungkin orang 28:58 yang terakhir kali ee khatam Quran 28:59 teman-teman. banyak yang sudah khatam 29:01 Quran. Tapi ketika saya keluar, saya di 29:03 Jordan baru saya khatam Quran. Tapi 29:06 sehabis itu saya berjanji sih ee 29:08 insyaallah Ramadan ini ee saya harus 29:12 khatam Quran, harus ada target. Karena 29:14 bagi saya kalau enggak baca Quran enggak 29:17 ditarget itu kadang-kadang kita terlena 29:19 ya. Iya. 29:20 Apalagi kalau kita sudah pegang 29:21 handphone kan 29:22 30 menit scroll itu enggak 29:24 enggak e enggak terasa 1 jam itu kalau 29:28 e bagi teman-teman yang mungkin enggak 29:30 terlalu lancar ngaji 1 jam itu bisa 1 29:34 juz 29:37 ee scroll scroll scroll 1 jam enggak 29:40 terasa. 29:41 Iya. 29:42 Kalau di TikTok dikasih tanda ah udah 29:44 lama. Tapi ketika kita bisa nyetop diri 29:46 kita itu kita enggak bisa. Nah, 29:48 insyaallah target Ramadan ini 29:50 mudah-mudahan Allah kasih kesempatan 29:51 saya bisa khatam. Iya. Kalau Mbak Ita 29:56 menikmati saat Ramadan di sana dan ingin 30:00 khatam, mudah-mudahan ikhwan akhwat kita 30:02 juga ya enggak sendirian juga enggak 30:04 apa-apa sekeluarga mungkin sehingga bisa 30:06 mengkhatamkan Al-Qur'an. 30:09 Bicara soal Ramadan di sana dan di sini 30:11 itu pasti ada bedanya. Tetapi yang jelas 30:14 kalau di dalam hati terasa 30:18 kekhusyukannya itu luar biasa banget. 30:20 Ramadan adalah bulan yang agung, bulan 30:24 yang penuh dengan berkah, bahkan juga 30:27 lebih baik daripada 1000 bulan katanya 30:29 kan ya bulan Ramadan itu. 30:32 Ingin tahu deh, Mbak 10 malam terakhir 30:35 itu Mbak Ita ngapain aja? Karena katanya 30:37 kan keren banget selama di sana atau 30:39 rencana di sini. Oke. Kalau selama di 30:42 sana kan kita enggak boleh ke mana-mana, 30:44 Mbak Nuning. Heeh. 30:45 Heeh. 30:45 Pasti kita isi di Gesos. Ee bersama 30:49 teman-teman itu biasanya di kamar 30:51 masing-masing. He. 30:52 Setelah kita briefing ee di kamar 30:55 masing-masing kita recite Quran. Kalau 30:58 di sini ee 31:01 saya juga dan kakak-kakak ee di kamar 31:04 masing-masing kita enggak enggak guyub 31:06 gitu ya. Tapi karena ee ada yang sudah 31:10 masuk ke jus ini beda jus gitu loh. Jadi 31:13 ya 31:15 semuanya kita harus targetin ee 31:17 mudah-mudahan ee 31:19 bisa 31:21 apa rencana-rencana target-target ee apa 31:26 yang kita lakukan dalam 10 hari terakhir 31:28 itu ada manfaatnya. 31:31 Ee biasanya sih ee tahun-tahun yang lalu 31:34 ya 31:35 ee saya iktikaf 31:37 ee di masjid. Tapi 31:40 10 hari ini saya belum ada terpikir nih 31:43 mau iktikaf di mana. 31:44 Di mana. Heeh. 31:46 Ya. Jadi ikhwan akhwat bisa juga pilih 31:49 iktikaf nih. Enggak usah sendiri dengan 31:51 pasangan mungkin 31:52 atau anak-anak diajak juga keren ya. He. 31:57 Sementara terkait dengan 32:00 apa ya 32:02 utamanya bersedekah di bulan Ramadan 32:05 nih, Mbak Ita? 32:06 Bagaimana mempersuasi kita semua untuk 32:10 itu tadi lebih mengutamakannya karena 32:12 ini kebetulan adalah 32:14 ee bulan yang sangat mulia ya. 32:17 Sedekah yang kayak apa yang kira-kira 32:19 paling akurat di bulan Ramadan ini? Eh, 32:24 sedekah itu macam-macam, Mbak Nuning. 32:27 Untuk saya pribadi 32:29 ee sedekah kepada keluarga terdekat. 32:33 Kebetulan juga saya pencinta kucing, 32:36 jadi saya punya kucing yang sangat 32:38 banyak. 32:39 25 32:41 dan itu adalah sedekah saya yang paling 32:43 dekat. 32:45 Ee jadi mudah-mudahan berharap Ramadan 32:48 ini bisa lebih banyak lagi saya 32:51 melakukan sesuatu enggak hanya dalam 32:53 bentuk ee materi, 32:56 tapi imateri pun insyaallah kalau bisa 32:58 saya lakukan saya lakukan. 33:00 Iya. Bicara soal sedekah, Mbak Ita 33:03 kemarin waktu ngobrol dengan ee 33:06 tukang ojek itu dia bilang, "Saya 33:10 sedekah profesi, Mbak. Kalau memang 33:12 harus sedekah hari Jumat menjelang salat 33:14 Jumat saya freikan penumpang sebanyak 33:18 tiga orang." Wow. 33:18 Masyaallah. 33:19 Jadi sedekah enggak cuman kita ngeluarin 33:21 duit, tapi uang yang seharusnya kita 33:23 terima enggak kita terima ya. Ih, keren 33:25 banget. Nah, bicara 33:28 dengan Ramadan terkait dengan sedekah 33:31 tadi, kalau ada orang mau sedekah 33:34 profesi keren banget ya. Ya udah enggak 33:36 usah bayar untuk jelang Jumat atau 33:38 mungkin juga 33:39 em 33:41 tukang batu 33:43 untuk hari Jumat aku bantuin 2 jam tapi 33:46 enggak usah dibayar. Itu keren banget 33:47 ya. Luar biasa. 33:48 Nah, 33:49 sementara 33:52 Ramadan itu kan identik dengan suasana 33:54 tenang ya Mbak Ita ya. 33:56 waktu menjalani Ramadan sambil berada di 34:00 tengah misi kemanusiaan itu yang 34:03 dirasakan waktu itu kembali ke waktu di 34:05 Gaza seperti apa? Lebih gimana atau 34:09 gimana nih ceritanya? 34:10 Ya, saya punya pengalaman Mbak Nuning. 34:13 Pengalaman yang enggak semua relawaan 34:15 teman-teman ee mengalaminya. Ee saat itu 34:20 saya diundang salah satu ee kolega di 34:24 rumah sakit untuk berbuka puasa bersama 34:27 ibunya karena ee mereka tinggal 34:31 terpisah-pisah. Mereka dari utara 34:33 sekarang di selatan. He. 34:34 Nah, jadi saya izin dengan ee 34:37 teman-teman di baseecamp untuk ee buka 34:40 puasa. Ee tentu ee titiknya udah di 34:45 ditentukan ya. Saya datang ke rumah dia 34:47 enggak jauh sih sebenarnya kalau dari 34:49 guest house itu ee rumah tendanya. Dia 34:52 bilang kita ini bukan rumah ya, tenda. 34:54 He he. 34:55 Ee oke. 15 menit sebelum azan saya sudah 35:00 datang. Mereka senang sekali saya datang 35:02 karena mungkin ini orang asing kali gitu 35:04 ya. Saya juga deg-degan sebabnya karena 35:06 kan memang ada larangan nih kita enggak 35:08 boleh keluar gesin 35:11 dengan beberapa pertimbangan bahwa ee 35:14 kakaknya teman pun akan nanti akan 35:17 mengantar saya kembali gitu. Demikianlah 35:19 sudah saya perhitungkan itu dan karena 35:21 jaraknya juga tidak terlalu jauh 35:23 tingkat cerita ketika azan ee keluarlah 35:27 satu gelas ee air mineral. Sebenarnya 35:29 sih itu gelas apa ee botolnya tuh botol 35:33 isi ulang gitu ya. yang 1, liter yang 35:36 besar. Kemudian ee ada 35:40 cangkir e sompel udah pecah-pecah satu 35:45 satu buah. 35:47 Kemudian ada roti ee roti orang Gaza itu 35:50 dia mereka buatnya tuh kalau lebaran ee 35:52 puasa itu kadang-kadang seperti pizza. 35:55 Heeh. Sekecil-kecil segini ada lima lima 35:59 buah gitu. Kemudian ada ayam yang 36:01 dipanggang. Ayam panggang itu cara 36:03 manggangnya unikuning dia pakai kaleng 36:06 black tahu kan kaleng black itu. Heeh. 36:08 Disungkup ayam dibumbuin disungkup 36:10 dibakar pakai areng gitu. Jadi oven gitu 36:13 oven ala Gaza lah saya bilang gitu. Udah 36:16 ee ayam kan bukan kesukaan saya. Saya 36:19 saya ayam itu sebenarnya pilihan makanan 36:21 terakhir saya gitu loh. Kalau enggak ada 36:22 yang lain saya baru makan ayam. 36:25 ditaruh di situ. Kami berkeliling ketika 36:28 azan, 36:29 ah saya lihat nih entar minumnya gimana 36:31 ya gitu. Karena kan kita banyak nih 36:34 banyak orang gelasnya cuma satu. 36:36 Ee akhirnya itu air di ee tuang ke 36:39 gelas. Gelas itu dikasih ke saya. Saya 36:42 bilang enggak tuh ada ibu. Ibu aja gitu. 36:44 Heeh. Iya. Kalau kita kan gitu. Udah 36:46 enggak apa-apa. Enggak enggak enggak 36:47 udah udah udah. 36:48 You are my guest katanya. You are our 36:49 guest kata dia gitu. 36:51 saya dikasih 36:53 eh saya tuh minumnya gini, Mbak Nuning. 36:57 Gila ya ee penghormatan banget gitu loh. 37:00 Saya saya enggak melihat wujud Heeh. 37:03 enggak melihat wujud gelas itu. Tapi 37:05 kalau saya yang diberikan itu pada 37:07 kondisi itu masyaallah memuliakan 37:10 tamunya gitu. Sementara 37:11 cuma satu-satunya lagi. 37:12 Iya. Cuma satu-satunya. Sementara mereka 37:14 minum akhirnya tanpa menyentuh mulut 37:16 satu satu gitu melalui botol gitu 37:19 gantian. 37:20 Iya. Masyaallah. Heeh. 37:21 Hah. Di situ saya bilang, "Masyaallah, 37:23 pengalaman yang 37:25 saya enggak bisa lupakan tuh waktu di 37:26 Gaza tuh ketika buka puasa dengan orang 37:30 Gaza aslinya. 37:32 Itu bukan cuman minumannya ya, bisa jadi 37:34 ketersediaan makanannya juga terganggu. 37:38 Ada suara-suara ledakan, ada suara 37:40 segala macam. 37:41 Luar biasa. Emm itu titik sangat 37:45 beratnya dirasa di bagian yang pas kapan 37:47 itu dengan puasa di sana itu minum tadi 37:50 karena 37:52 menjadi orang satu-satunya yang dikasih 37:54 gelas lain beda ya tapi hal-hal yang 37:56 perasanya pahit banget rasanya aduh 37:58 gimana gitu 38:00 pernah kejadian 38:01 ketika di Gaza 2 hari menjelang Ramadan 38:04 ee Idul Fitri Heeh 38:07 ada seorang ibu datang ke guest house 38:08 kita 38:09 sebenarnya guest house kita itu sudah 38:10 dikunci 38:11 Tapi entah gimana dia bisa masuk. 38:14 Dia bisa masuk ngetuk pintu. Ngetuk 38:16 pintunya orang Arab kan dok dok dok 38:19 gitu. 38:19 Enggak ada lembut-lembutnya. Dok dok 38:21 dok. 38:22 Udah gitu saya mau bukain pintu. 38:23 Sementara kita cuma berdua nih. Kita 38:25 takut kan enggak berani buka pintu. 38:27 Takut ada orang asing. 38:28 He. 38:28 Ternyata ibu itu masuk langsung masuk 38:31 terus dia dengan bahasa Arab yang kita 38:33 melongok gitu kita enggak ngerti. 38:35 Enggak ngerti. 38:35 Terus dia nunjuk ke payudaranya. 38:38 Saya menyusui gitu. Saya bisa nangkap 38:41 bahasa tubuhnya ya. Saya bisa saya 38:44 menyusui, saya mau itu dia tunjuk ke 38:48 kentang yang kita miliki. 38:49 Oke. 38:50 Kita tuh bukannya nyetok berlebihan Mbak 38:53 Nuni. Enggak. Karena kita itu satu tim 38:55 itu ada 38:56 13 orang. Jadi kita kentang itu memang 38:59 selalu ada gitu untuk makanan ee 39:01 pokoknya makanan kepepet kentanglah. Mau 39:04 direbus mau di yang penting ada kentang 39:05 gitu. Terus teman saya bilang, "Kalau 39:08 dikasih nanti semuanya datang." Benar 39:11 juga. H. Terus saya akhirnya 39:16 singkat cerita teman saya yang lain ee 39:19 sudah datang ke Gesos yang laki-laki. 39:21 Saya bilang, "Saya enggak bisa makan loh 39:25 kalau lebaran ini dia juga enggak 39:27 makan." 39:28 Masyaallah. 39:29 Dia di samping kami ee bikin tenda. Ada 39:32 empat tenda 39:33 ya. Karena yang lain yang di pinggir 39:35 jalan itu ada juga dapat bantuan, tapi 39:37 karena dia di dalam, jadi mereka tuh 39:39 empat tenda tuh enggak dapat bantuan. 39:41 Justru karena di dalam. 39:42 Iya. Saya hubungi Rima dari Mercy. Saya 39:44 bilang, "Rima kayak enggak bisa makan. 39:47 Kalau kita enggak bisa ee makan nih 39:50 nanti lebaran atau gimana kalau yang 39:53 mereka enggak." 39:54 Akhirnya dari Mercy kita kasih paket 39:56 lebaran tapi ee tidak melalui kami. Jadi 40:00 kita meng-hire pemuda setempat. tim 40:04 kemudian mengasih satu paket sembako 40:07 yang yang saya pikir saya sih cuma 40:09 kepikirnya gini, Mbak Nuning, ya udah 40:10 dikasih ee dikasih aja tepung 2 kilo, 40:13 gula 2 kilo itu segitu ya. Saya pikirnya 40:16 begitu ternyata dari Mercy itu dapat 40:18 tepung satu karung, 40:21 daging, ayam, kentang, 40:23 Mas 40:24 ee bawang, bawang bumbai gitu. He 40:29 itu Mbak Luning bahagianya saya itu 40:31 kita bisa ngintip dari gesos kita bisa 40:33 ngintip. Mereka enggak bisa ngintip ke 40:34 kita 40:35 tapi kita bisa bagaimana mereka nyiangin 40:38 apa yang kita kasih itu dengan wajah 40:41 gembira gitu. 40:42 Ee di situ saya berpikir, 40:45 "Ya Allah alhamdulillah ee hati ini lega 40:50 gitu." Walaupun kita enggak bisa bantu 40:51 banyak. 40:52 Kondisi saat itu tidak memungkinkan 40:54 untuk bisa membantu semuanya. Tapi 40:56 alhamdulillah ee saya sangat bahagia ee 40:59 di hari raya di Lebaran karena melihat 41:03 empat tenda itu anak-anaknya saya lihat 41:06 teriak-teriak senang gitu bergembira 41:08 gitu loh. Ini baru hari raya. Betul. 41:12 Nah, kondisi-kondisi yang dialami ini 41:15 terasa enggak peningkatan imannya jadi 41:17 berapa ke atas gitu ketika puasa dengan 41:21 kondisi yang seperti itu? Sangat Mbak 41:23 Nuning. Jadi pengin lagi dong puasa di 41:26 sana. 41:27 Sangat terasa. Heeh. Heeh. 41:30 Ramadan di tengah konflik harus membantu 41:33 melahirkan. Suasananya kayak gono. 41:36 Sementara keterbatasan ee 41:39 apa makanan dan segala macam juga 41:42 ada. Itu memang pembelajaran yang luar 41:44 biasa sekali 41:46 bahwa bersyukur itu enggak ada 41:48 berhentinya. Ya. 41:49 Betul. Betul. Heeh. Oke, ngomong ke 41:54 generasi anak-anak kita sekarang ini. 41:57 Bagaimana sih membantu mereka menjaga 42:00 keseimbangan dalam ibadah ritual dan 42:03 ibadah sosial? Sebab siapa tahu yang 42:05 mendengarkan acara ini juga bukan hanya 42:07 para bunda, ayah, tapi juga remaja. 42:10 Iya. 42:11 Menyeimbangkan antara ibadah sosial dan 42:13 ibadah em 42:16 ritual. 42:17 Eh, 42:19 terus terang ya, Mbak Nuning, remaja 42:21 sekarang ini sebenarnya tantangannya 42:22 lebih berat 42:23 daripada kita dulu. 42:25 Iya. Iya. 42:26 Kita enggak punya sosial media kita yang 42:28 jelas habis sahur lari-lari masih sempat 42:30 tuh main galasin ya, main kartu, main 42:33 apalah yang kita saat ini anak-anak 42:35 dikukung oleh lingkungan mereka enggak 42:38 bisa juga lahan bermain enggak ada. 42:41 Kemudian apakah saya juga enggak tahu 42:44 apakah sekarang anak-anak masih rutin 42:48 mengikuti pesantren kilat? Kalau dulu 42:50 kan kita dapat tanda tangan tuh, Ustaz. 42:52 Kita minta tanda tangan. Nah, apakah 42:54 sekarang masih berlaku? Terus 42:57 dengan ee kondisi ayah ibu yang bekerja 43:01 ini kan kalau anak sekolah bisa libur, 43:03 dapat libur sementara ayah ibu terus 43:05 bekerja. Heeh. Heeh. enggak ada 43:07 keseimbangan di situ. Nah, ini 43:09 sebenarnya tugas yang berat, Mbak 43:10 Nuning. Jadi, kalau 43:14 saya dibilang ada keseimbangan antara 43:18 ibadah sosial sama rutin, 43:21 baiknya 43:22 tugas berat ini orang tua untuk tetap 43:24 mengontrol anak-anaknya, untuk membatasi 43:27 anak-anaknya dalam bersosial media. 43:30 menjelaskan bahwa jangan menghabiskan 43:32 waktu untuk hal-hal yang enggak berguna. 43:37 Ee dijelaskan bahwa puasa itu banyak hal 43:39 yang bisa digunakan waktu banyak untuk 43:43 ee melakukan hal-hal baik gitu. 43:46 Iya. Jadi, ikhwan akhwat yang namanya 43:48 benda berukuran 5* 10 cm itu memang luar 43:52 biasa sekali pengaruhnya. Kalau Mbak Ita 43:54 bilang ibadah ritual yang biasa dengan 43:58 ibadah 43:59 sosial harus diseimbangkan. Apalagi di 44:01 zaman milenial seperti sekarang ini ya, 44:03 media sosial itu seringki membatasi daya 44:06 kritis dan kreativitas kita kan. 44:09 Anak-anak kita juga 44:10 anak-anak muda yang jadi harapan bangsa 44:12 ini terpengaruh banget ee mengikuti 44:16 opini mayoritas yang ada di media 44:18 sosial. 44:20 Menurut Mbak Ita, apa yang sebaiknya 44:23 dilakukan untuk menghambat arus yang 44:25 memprihatinkan ini? 44:29 Eh, kontrol orang tua, Mbak Nuni. 44:32 Jam segini jangan main. marah entar 44:33 dibanting 44:35 ee karena gini kalau saya lihat ee kok 44:39 sekarang terbalik ya kalau zaman dulu 44:41 dominasi orang tua besar, kalau sekarang 44:43 kayak dominasi anak yang besar 44:45 dan orang tua kayaknya 44:47 tanda kutip ya mudah-mudahan enggak 44:49 semuanya mudah-mudahan pendengar hasil 44:50 enggak begitu ya tapi yang saya lihat 44:53 menjadi lemah ketika berhadapan 44:56 bernegosiasi dengan anak untuk membatasi 44:58 sosial media. He he. 45:00 Bagi saya kembalikan lagi peran orang 45:01 tua bahwa orang tua dalam hal ini 45:04 berkuasa atas anak, mempunyai otoritas 45:07 yang tinggi. Anak harus ikut apa kata 45:10 orang tua. Karena ee gini, Mbak Nuning, 45:13 kalau situasi ini terus kita normalisasi 45:17 itu akan sulit ee akan kembali ee anak 45:22 semau-mau anak gitu. Jadi, ya saya harap 45:26 meskipun tidak mudah ya, 45:28 sangat tidak mudah. yang seperti ini 45:29 sangat tidak mudah pasti 45:31 mengendalikan anak-anak itu lebih susah 45:33 daripada mengendalikan pasangan. Eh, 45:35 salah. 45:35 Iya. 45:38 Iya. 45:39 Ngomong-ngomong 45:41 kalau di dalam bulan Ramadan ini tadi 45:46 kan kita bicara sedikit tentang 45:48 bagaimana sikap kita kepada ibunda. 45:51 Nah, ini barusan sikap ibunda dan 45:53 ayahanda terhadap anak-anak yang karena 45:54 mengalami hal-hal ini. 45:57 Mungkin ada yang bertanya, "Ya, di dalam 46:00 bulan yang sangat suci ini kita memang 46:02 harus bla bla bla." Tapi keterbatasan 46:05 kita sebagai hamba Allah, sosok yang 46:08 agak sedikit kepedulian kita yang utama 46:10 selain untuk keluarga ee kita di rumah 46:14 itu ke tetangga duluah atau ke saudara 46:17 jauh? Kalau menurut Mbak Ita 46:19 tetangga, Mbak 46:22 tega sama tetangga keterlaluan gitu. 46:23 Oh, 46:25 ke tetanggah 46:26 yang kalaupun ada apa-apa ya tetangga 46:28 dulu yang kalau saudara jauh bukannya 46:32 kita tidak perhatikan ya. Tapi kalau 46:33 kita boleh memilih antara disuruh 46:35 pilihan antara tetangga 46:37 dengan saudara jauh, 46:39 ya kalau saya ya tetangga dulu 46:44 yang pasti jadi pilihan untuk membantu 46:48 atau untuk dibantu 46:51 adalah ajaib kalau sampai ada yang 46:53 kelaparan kita enggak tahu ya. 46:54 Oh, 46:55 itu 46:55 sangat 46:57 gimana gitu ya rasanya. 46:59 Well, kita masih punya berapa menit nih 47:01 kira-kira ya? Kalau emm 47:05 Mbak Ita diminta ide atau gagasan agar 47:11 kita semua nih optimal di bulan Ramadan 47:14 ini dengan kondisi apapun, seperti 47:17 apapun kira-kira 47:19 apa tuh 47:20 idenya? 47:21 Heeh. 47:22 Eh 47:24 nih kalau bulan Ramadan ini undangan 47:27 iftar banyak ya. 47:28 Heeh. 47:29 Nah, harus benar-benar seleksi mana 47:32 undangan yang akan kita penuhi. Karena 47:36 terus terang ee 47:38 iftar bersama, buka bersama itu 47:41 ee kadang mengurangi frekuensi 47:45 kebersamaan dengan keluarga. 47:47 Saya sendiri, Mbak Nuning, dalam sebulan 47:49 ee selama Ramadan saya sangat selektif 47:52 untuk memilih buka puasa bersama. Saya 47:55 lebih memilih karena keseharian saya kan 47:57 saya jarang ada di rumah. 47:59 Jadi saya sangat memanfaatkan waktu saya 48:01 untuk buka bersama keluarga. Ee 48:06 saya berpikir masa itu mungkin enggak 48:08 akan terulang di Ramadan tahun depan. 48:11 Jadi kalau hanya untuk buka puasa ya 48:14 sebaiknya ayah ibu ee benar-benar 48:16 selektif deh menerima undangan. 48:19 Ee jangan sia-siakan kebersamaan dengan 48:21 keluarga terutama dengan anak-anak. 48:25 Iya ikhwan akhwat betapa menariknya pun 48:29 apa yang kita terima tawaran dari ee 48:32 komunitas dari mana saja untuk berbukber 48:36 ya. Tapi ketika di rumah membutuhkan 48:39 keberadaan dan kehadiran kita, 48:42 pilih-pilihnya harus sangat bijaksana 48:44 dong. 48:45 Iya, benar. 48:46 Oke, Mbak Ita. Mbak Ita selama ini dari 48:50 2006 sampai sekarang itu kan sudah 48:52 puluhan tahun menjadi relawan gitu. 48:56 Ngomong-ngomong soal em apa kira-kira 49:02 yang membuat Mbak Bita sangat 49:07 apa kon teksnya dengan relawan itu 49:10 sangat kuat. Terus misalnya 49:14 kan ada kita semua pasti punya waktu ya 49:16 sudah enggak bisa lagi. 49:17 Iya. Kira-kira warisan yang Mbak 49:20 berikan, warisan kemanusiaan kepada 49:23 kita-kita semua ini em seperti apa? 49:28 Mm bukan warisan ya kali Mbak N. 49:31 Warisannya bukan benda loh ya. 49:32 Iya iya ya saya paham. Ee 49:36 saya mencoba mengingatkan bahwa waktu 49:39 itu enggak akan terulang. Jadi kalau ada 49:42 kesempatan kita berbuat baik, ambil. 49:45 Iya. He he. 49:46 Setiap ada kesempatan berbuat baik, 49:48 ambil itu aja. Jangan terlalu berpikir 49:51 ke sana ke sini. Entar kalau ini 49:53 bagaimana ya, kalau ini begini ya. 49:55 Enggak. Karena hitung-hitungan manusia 49:57 itu beda dengan hitung-hitungan Allah. 49:59 Jalanin aja dulu. 50:01 Ee lakukan ee karena kita enggak tahu ke 50:04 depan itu apa yang menanti kita. Mungkin 50:06 aja ee bisa jadi itu hadiah Allah yang 50:09 terindah. Kalau kita sia-siakan 50:11 kesempatan untuk berbuat baik ee berarti 50:16 kita menapik ee atau menghindari hadiah 50:20 yang akan Allah berikan. He. 50:22 Demikian. 50:25 Satu lagi in case dari hati ke hati kita 50:29 bicara dengan saudara-saudara kita di 50:31 Indonesia ini, 50:32 I 50:33 kesibukan Mbak Ita di luar yang 50:35 menghadapi segala macam yang kayak gitu. 50:39 kira-kira pesan apa nih dalam tanda 50:41 petik di bold di stabilo untuk ee 50:45 saudara-saudara kita di sini ee 50:47 saudara-saudara kita di Indonesia ya. 50:49 Heeh. Ee sebenarnya harus kita sadari 50:52 bahwa kita punya privilege yang sangat 50:54 luar biasa. 50:56 Kita mempunyai banyak keuntungan 51:00 ee baik dari lingkungan 51:02 ee baik ee dari keluarga. 51:08 yang enggak boleh kita sia-siakan. 51:12 Ini enggak boleh kita sia-siakan karena 51:14 ee sekali kita menyanyiakan itu 51:17 mungkin enggak akan terulang lagi. 51:20 Kesempatan tidak datang dua kali enggak 51:21 datang dua kali. Betul. 51:23 He. 51:24 Baik, Mbak Ita. Terima kasih banyak 51:27 untuk kesediaannya hadir di acara sahur 51:31 bersama Rasil ini. 51:33 Mudah-mudahan di kesempatan lain kita 51:35 bisa ngobrol banyak untuk bisa 51:37 mempersuasi anak-anak ee atau siapapun 51:40 dari 51:42 ranah merah putih tercinta kita ini ya. 51:44 Sekali lagi terima kasih juga untuk 51:46 ikhwan akhwat yang bersama-sama Radio 51:48 Silaturahim. Mudah-mudahan kita semakin 51:51 optimal mengisi Ramadan kita sehingga 51:54 kalau kita kaitkan dengan yang Mbak Ita 51:56 bilang, belum tentu ada kesempatan 51:58 kedua. Masyaallah. Mudah-mudahan kita 52:01 bisa isi sepenuh hati, sepenuh jiwa, 52:03 sepenuh rasa Ramadan kita kali ini. 52:05 Baik. Subhanakallahumma wabihamdika 52:09 ashadu allaha illa anta astagfiruka wa 52:12 atubu alik. Billahi taufik wal hidayah. 52:15 Wasalamualaikum warahmatullahi 52:17 wabarakatuh. Waalaikumsalam 52:19 warahmatullahi wabarakatuh.