Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:03 [musik] 0:12 [musik] 0:17 [musik] 0:22 Assalamualaikum warahmatullahi 0:24 wabarakatuh Ikhwan Akhwat 0:25 rahimakumullah. 0:27 Alhamdulillah wasyukurillah kita 0:29 dikaruniai kesempatan untuk bersama-sama 0:31 di acara bincang komunikasi yang 0:34 mudah-mudahan membuat kita semakin mahir 0:37 ya, bukan hanya berbicara tapi juga 0:39 mempersuasi siapapun dengan 0:42 apa yang kita ingin dapatkan. Dapat di 0:45 sini tentu dalam tanda petik ya, karena 0:48 komunikasi adalah dua arah yang 0:50 tentunya 0:52 akan menjadi bagian yang selalu dan 0:53 selalu kita tingkatkan. Tidak lupa salam 0:56 selawat kita lantunkan untuk junjungan 0:58 umat kekasih kita Muhammad Rasulullah 1:00 sallallahu alaihi wasallam, semoga kelak 1:03 kita dipertemukan beliau di saat-saat 1:05 yang sangat kita rindukan di yaumil 1:07 akhir. 1:09 Seperti biasa narasumber kita adalah 1:11 Dokter Lely Monaganem yang sudah hadir 1:13 di sini, kita sapa beliau. 1:15 Assalamualaikum warahmatullahi 1:17 wabarakatuh. Waalaikumsalam 1:18 warahmatullahi wabarakatuh. Halo Mak 1:21 Nuning, apa kabar? Semoga sehat-sehat. 1:24 Suaranya tuh selalu wah keren banget Mak 1:27 Nuning ini ya. 1:29 Eee selamat Ramadan buat semua Ikhwan 1:32 dan Akhwat, Mak Nuning dan seluruh 1:35 sahabat di Rasel 1:37 eee di berbagai kota di Indonesia. 1:42 Eee hari ini nih kita akan ngebahas 1:44 tentang Ramadan ya, komunikasi Ramadan. 1:48 Ramadan tanpa drama, eee gitu Mak 1:51 Nuning. Drama yang seperti apakah yang 1:55 kita tidak ingin dengar? Betul. 1:57 [tertawa] 1:58 Silakan Bu Mona. [berdehem] 2:00 Terima kasih Bu Nuning. Sekali lagi 2:02 Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah, 2:04 wabarakatuh. 2:08 Eee alhamdulillahirobbil alamin, 2:11 washolatu wassalamu ala asrofil ambiya'i 2:13 wal mursalin wa'ala alihi washohbihi 2:15 ajma'in amma ba'd. 2:17 Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah, 2:20 mmm [berdehem] 2:21 saya mau dongeng sedikit tentang dialog 2:24 eee dengan Allah. Jadi ada 2:28 anak muda yang 2:31 eee 2:32 dia itu 2:34 menjalani hidup bagai air gitu ya. 2:38 Eee tetapi dia cukup baik, dia melakukan 2:40 sholat, puasa, 2:43 berdoa, eee zakat dan lain sebagainya 2:47 sesuai dengan kewajiban. 2:49 Eee waktu Ramadhan tiba, 2:52 dia juga melakukan puasa Ramadhan tapi 2:56 enggak enggak sungguh-sungguh gitu, 2:58 enggak klik banget gitu rasanya. Nah, 3:02 suatu malam eee ketika tarawih dia 3:05 mendengarkan eee ada eee imam yang 3:09 membaca ayat 3:12 "Dan apabila hambaku bertanya padaku, 3:16 padamu tentang aku, 3:19 maka jawablah sesungguhnya aku dekat. 3:24 Aku mengabulkan 3:27 permohonan 3:28 orang yang berdoa 3:30 apabila dia berdoa kepadaku." Itu ada di 3:34 dalam surat Al Baqarah 3:36 ayat 186. 3:38 Jadi dengan ayat itu dia mikir, "Mmm, 3:42 begitu ya? Selama ini aku kok 3:46 biasa aja. Apa benar nih Allah dekat 3:48 nih? Eee kenapa kok aku enggak ngerasain 3:52 eee 3:53 apa ya? 3:54 Kekuatan itu gitu. Aku enggak ngerasain 3:56 seklik itu gitu. Nah, 3:58 jadi akhirnya si pemuda ini 4:02 namanya Ali, dia akhirnya tidur. 4:05 Malamnya dia salat tarawih, eh salat 4:09 tahajud. Kemudian dia 4:12 di 4:13 salah satu sujud ya, terutama di sujud 4:16 terakhir dia benar-benar nangis gitu. 4:19 Apa sih selama ini 4:21 kok aku enggak bertelalu 4:23 apa namanya ngerasain energi dekat 4:26 dengan Allah gitu. 4:28 Selama ini aku ngerasa jauh. 4:31 Eh, 4:32 aku enggak benar-benar ngomong. Biasanya 4:35 cuman ada aturan bacaan yang dihafal, 4:39 itu aja yang diulang-ulang gitu. 4:41 Enggak tahu dari mana mulainya, tapi dia 4:44 mulai ngerasa 4:46 kayaknya benar deh Allah itu bisa 4:48 ngedengerin orang ngomong 4:51 real gitu, perasaan real gitu. Maka dia 4:54 mengeluarkan unek-unek 4:57 terdalam yang dia miliki dari hatinya. 5:01 Rasanya hari itu ringan gitu ya. 5:04 Dari mulai malam itu dia mulai sering 5:07 ngomong sama Allah. Jadi kalau ada 5:09 apa-apa dia berbicara dengan Allah. Dia 5:12 mulai ngerasain doanya itu real banget 5:15 gitu. Yang dia rasakan dia sampaikan, 5:17 yang dia rasakan dia sampaikan. 5:19 Harapannya, pujian-pujian dan lain 5:22 sebagainya. Ketika ada masalah besar dia 5:24 sampaikan dengan tulus lalu dia merasa 5:28 kayaknya ada solusi deh. Harusnya kayak 5:29 gini, harusnya kayak gini. Dia rasain 5:31 itu gitu. 5:32 Dan 5:33 dia merasakan makin dekat dengan Allah. 5:37 Nah, 5:38 lalu 5:40 si teman ini mencari tahu lagi gitu ya, 5:45 apa sih ciri-ciri orang yang dekat 5:47 dengan Allah? Allah tuh sayang sama kita 5:50 gitu ya. 5:51 Dijauhkan dari perbuatan dosa katanya. 5:54 Jadi ketika dia mau berbuat dosa, 5:57 dia merasa 5:59 eh kayaknya susah gitu. Kayak nya ada 6:03 udah deh gini dulu, udah deh gitu dulu 6:04 gitu. Jadinya akhirnya yang tadinya mau 6:06 berbuat dosa itu akhirnya menjadi 6:08 dibatasi. 6:10 Atau 6:11 dimudahkan berbuat kebaikan. Mau 6:15 bantu orang tiba-tiba ada ada 6:17 informasi-informasi. 6:19 Ada eh keinginan untuk melakukan sedekah 6:22 juga cepat enggak mikir panjang gitu ya. 6:25 Terus juga dikasih kesabaran ketika 6:28 ketika ada ujian. Dia merasakan 6:31 indikator-indikator itu mulai terasa 6:33 pada dirinya. 6:36 Eh 6:39 di Alquran surat Al-Insyirah 6:42 setelah kesulitan ada kemudahan atau 6:45 bersama kesulitan ada kemudahan. 6:47 Itu yang membuat dia semakin dekat 6:50 dengan Allah. Jadi komunikasi dengan 6:53 Allah eh menjadi makin intens 6:57 dengan adanya 7:00 Ramadan ini. 7:01 Ada juga seorang anak yang dapat eh chat 7:05 dari ibunya gitu ya. Nak, aku kangen 7:09 banget 7:10 eh dianterin ke masjid salat tarawih 7:13 bareng sama kamu di masjid gitu. 7:16 Pesan itu langsung mak jleb gitu ya ke 7:20 perasaan anak ke perasaan anaknya. 7:23 Eh dan dia me menyadari iya ya 7:27 kayaknya udah lama deh aku jauh dan aku 7:31 juga enggak peduli sama orang-orang yang 7:33 ada orang-orang penting ada di 7:34 sekelilingku gitu. 7:36 Jadi komunikasi 7:39 yang tulus atau bahkan yang sangat 7:42 sederhana pun bisa saja membuat 7:44 perubahan besar pada seseorang untuk 7:47 bisa lebih dekat kepada Allah gitu. 7:50 Eee 7:52 Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah, 7:54 Ramadan ini 7:56 eee 7:57 eee dijanjikan bahwa dibukakan 7:59 pintu-pintu langit kemudian ditutup 8:03 pintu-pintu neraka 8:04 dan 8:06 setan-setan akan dibelenggu gitu. Jadi 8:09 apalagi bahkan eee di bulan Ramadan ini 8:14 ada satu malam yang lebih baik dari 8:18 1.000 malam. Itu yang eee tepat untuk 8:20 kita dekati. 8:21 Eee ikhwan dan akhwat yang dirahmati 8:24 Allah, jadi Ramadan adalah sebuah 8:27 sekolah atau pesantren yang kurikulumnya 8:30 langsung diturunkan, langsung dijaga 8:33 oleh Allah subhanahu wa taala. 8:36 Jadi eee kegembiraan Ramadan itu 8:41 no drama ya. Bukan drama ini real gitu 8:44 ya. Kegembiraan Ramadan itu memang eee 8:49 ada di dalam hati-hati kita yang 8:52 benar-benar bisa melihat betapa 8:55 keagungan Ramadan ini, keberkahannya ini 8:57 betapa banyak sekali yang kita dapat 9:00 peluang-peluang berharga di bulan 9:03 Ramadan. Maka pantas sekali sejumlah 9:05 negara melakukan 9:08 eee eee apa ya? Melakukan eee 9:14 eee ungkapan kegembiraan melalui 9:16 berbagai cara gitu. 9:18 Ada yang eee sebelum Ramadan kita kita 9:21 dapat eee tulisan-tulisan atau twibbon 9:24 atau atau eee apa puisi atau pantun atau 9:29 ungkapan-ungkapan 9:31 eee selamat Ramadan dan lain sebagainya. 9:34 Di Semarang itu ada dugderan gitu ya. 9:37 What is dugderan? Dugderan itu ada 9:39 jualan-jualan 9:41 eh apa namanya? Eh 9:44 biasanya dari tanah-tanah liat gitu ya 9:46 eh 9:47 ini memori saya tahun 70-an ya. 9:50 [tertawa] 9:50 Ada jualan permainan tanah-tanah liat 9:53 terus buat masak-masakan tuh anak-anak 9:55 kecil, celengan dan lain sebagainya gitu 9:57 ya di dugderan itu. Eh ada juga bahkan 10:00 ada barongsai gitu ya. Eh ada juga eh eh 10:06 apa ikut-ikut menyambut begitu ya. 10:09 Kemudian di Jawa Barat eh ada munggahan. 10:12 Munggahan itu eh tradisi Islam suku 10:16 Sunda yang sangat kuat sekali. Mereka 10:20 akan datang ke rumah keluarga ini itu 10:22 dan lain sebagainya atau juga eh bahkan 10:26 mengecat rumah, beres-beresin rumah, 10:28 pasar kaget ya. Kemudian 10:32 berburu takjil. Kemudian di beberapa 10:34 negara di di Mekah ya. Ada eh apa 10:39 namanya? Ada meriam di udara sebagai 10:42 penanda eh 10:44 mulainya Ramadan. 10:46 Eh di Pakistan ada cemilan-cemilan khas 10:49 sama seperti di Indonesia 10:50 cemilan-cemilan khas yang kita lihat di 10:53 sepanjang jalan di mana saja banyak 10:56 sekali cemilan-cemilan khas yang eh eh 11:00 apa namanya? Di di di di 11:04 disajikan gitu ya. Siap untuk eh dijual 11:07 atau kita nikmati. Ada samosa, ada 11:10 pakora dan lain sebagainya. Di Mesir ada 11:12 lampion ya. Eh dipajang sepanjang 11:16 Ramadan, lentera warna-warni dan lain 11:18 sebagainya. Kemudian juga ada 11:21 makanan-makanan, kue-kue kering kalau di 11:24 negara-negara tertentu seperti Irak 11:26 misalnya begitu ya. 11:27 Di Sri Lanka, di Maldiv ya. Eh sebelah 11:30 barat Sri Lanka itu eh ada 11:33 tradisi-tradisi yang khusus untuk eh 11:36 menyediakan makanan-makanan khusus khas 11:39 Ramadan. Ada kue tepung, ada kue ikan 11:42 dan lain sebagainya gitu ya. Jadi, orang 11:44 bisa bisa sambil eh 11:48 menyampaikan puisi di di saat berbuka 11:52 puasa bahkan begitu ya. Di Maroko gitu 11:55 ya ada ada eh gondola tradisional dan 11:59 lain sebagainya. Di Indonesia eh 12:02 saya enggak tahu ya. Kalau dulu sangat 12:04 sering ya sahur 12:06 sahur gitu ya. Kalau sekarang eh sudah 12:09 jarang sih saya dengarnya. 12:10 [tertawa] 12:11 Di kampung saya. 12:13 Hah? Di kampung-kampung. Di 12:14 kampung-kampung masih ada ya. 12:16 [tertawa] 12:16 Di kampung saya 12:17 eh enggak dengar ya. 12:20 Eh di Australia juga ya dan lain 12:22 sebagainya. Jadi, penyambutan terhadap 12:25 Ramadan luar biasa. 12:27 Eh kenapa? Karena ini adalah 12:30 masa yang sangat berkah. Jadi, doa-doa 12:33 doa-doa selama 30 hari every time itu 12:37 benar-benar berharga sekali gitu. 12:39 Eh eh doa kepada Allah, dekat kepada 12:42 Allah, eh reflektif lagi gitu ya. Ini 12:45 ini ini ungkapan ini juga 12:48 khusus untuk saya sendiri supaya makin 12:50 diingatkan terus. Baik, Ikhwan dan 12:52 Akhwat. Eh itu adalah eh eh 12:56 komunikasi dengan Allah. 12:58 Nah, apalagi? Komunikasi saya dengan 13:00 saya, komunikasi kita dengan diri kita 13:02 sendiri. 13:03 Nih eh ada sebuah eh kisah gitu ya. 13:08 Eh seorang bapak yang jualan takjil ya 13:11 eh 13:12 tapi dia sangat dermawan. 13:14 Dia itu biasanya jualan di pinggir 13:17 jalan, tapi dia saat ini enggak dijual 13:20 tapi dikasih gratis gitu. 13:22 Masyaallah. Eh 13:24 dia bilang begini, "Ramadan itu bukan 13:27 cuman cari untung, kata dia gitu. 13:30 Ini juga kesempatan buat berbagi, 13:32 sedekah lagi dibuka sedemikian rupa, 13:35 diajak kita melakukan sedekah. Eee Allah 13:39 pasti akan mengganti dengan rezeki yang 13:42 lebih baik. Itu ungkapan yang dia terus 13:46 ingatkan kepada dirinya. Jadi, eee ini 13:50 adalah eee bentuk dia eee berefleksi 13:55 kepada eee pengalaman batinnya dia yang 13:59 eee diekspresikan kepada orang lain. 14:02 Kemudian, eee ikhwan dan akhwat, saya 14:06 ingin 14:07 eee mengingatkan tentang puasa itu 14:12 adalah 14:13 momen yang sangat berharga untuk kita 14:15 berkomunikasi dengan diri kita sendiri. 14:18 Eee pembentukan konsep diri, bagaimana 14:22 kita ngelihat ke diri kita gitu ya. 14:25 Seperti tadi, oh iya ya, aku nih 14:27 ternyata jauh ya sama Allah. Aku nih 14:30 ternyata 14:31 eee masih bisa 14:33 Allah tuh selalu tersedia, Allah itu 14:35 selalu dekat gitu, Allah tuh selalu 14:37 welcome gitu. Kalau kalau saya mau 14:40 mendekat itu akan 14:43 dengan sangat eee cepat Allah itu me 14:47 menyambutnya begitu ya. Nah, 14:50 refleksi-refleksi bagaimana kita 14:52 berkomunikasi dengan diri itu, itu 14:54 adalah proses kesadaran diri yang 14:56 penting sekali. 14:58 Jadi, eee di bulan Ramadan ini berkah 15:02 banget untuk kita bisa eee 15:05 mengingat-ngingat untuk enggak ngomong 15:07 kotor, enggak ngomong jorok, enggak 15:10 bohong, enggak berbuat yang enggak 15:12 benar, tapi terus berbuat yang baik. 15:14 Karena Ramadan adalah saat yang tepat 15:16 untuk memulai perbuatan yang baik dan 15:19 menghindari perbuatan yang buruk. 15:21 Refleksi-refleksi diri untuk 15:23 berkomunikasi dengan diri itu dan dalam 15:26 perilaku yang nyata ini 15:29 sangat-sangat berharga. 15:32 Eee 15:33 berlatih diri berbuat baik dan menjaga 15:36 lisan, menahan diri untuk berbuat yang 15:39 tidak 15:40 baik itu eee bagus untuk kita lakukan. 15:44 Kemudian latihan untuk bersyukur ya, 15:46 refleksi dirinya ya. Latihan untuk 15:48 disiplin sama waktu, manajemen waktu. 15:51 Aduh, ini penting sekali ya. Saya 15:52 sendiri merasakan 15:55 ini jam segini, cepat sekali waktunya. 15:58 Kadang-kadang aduh, masih ngantuk nih, 16:00 tidur lagi. Tapi eee sadar lagi, bentar 16:03 ya, ini sayang banget nih waktunya nih. 16:05 Oke, kerjakanlah. Jangan 16:07 tidur-tidur-tidur-tidur. 16:09 Coba lebih optimal dan lain sebagainya. 16:11 Jadi, refleksi diri memang eee lebih 16:13 berharga di bulan Ramadan ini. 16:16 Nah, komunikasi dengan sesama ini juga 16:20 saat momentum yang paling real gitu ya. 16:25 Eee 16:26 eee saya ingat eee ketika berada di eee 16:30 beberapa tahun yang lalu ya. Eee 16:34 pergi ke sebuah restoran untuk buka 16:39 puasa ya. Eee kemudian 16:42 eee karena antrenya panjang, baru sadar 16:44 bahwa itu antrenya panjang banget gitu 16:47 ya. Padahal sudah satu jam sebelumnya. 16:50 Tapi antrenya panjang banget. Cuman 16:52 memang pikirannya adalah ini memang eee 16:55 eee mau berbuka gitu ya. Jadi, ya sudah 16:59 tetap di dijalanin. 17:01 Ketika buka itu eee tempatnya belum 17:05 tersedia gitu ya. Tempatnya belum 17:07 tersedia. Terus ada orang ur 17:09 tahunya bahwa itu mulai buka itu ketika 17:11 orang sudah mulai krese-kresek gitu ya. 17:14 Ambil makanan, ambil minuman dan lain 17:15 sebagainya. Lalu ee, karena kami waktu 17:18 itu sama teman-teman 17:20 ee, memang ee, 17:21 di dalam sebuah kegiatan ya. Jadi, 17:23 memang ee, on the spot kita jalan di 17:25 sana. 17:27 Jadi, ee, pada saat itu 17:29 aduh, ini gimana nih, enggak ada ini 17:30 nih, enggak ada enggak ada apa-apa. Ada 17:32 orang nawarin, "Mau minum?" kata dia 17:34 gitu. 17:35 Dikasihin tuh minumannya sama ee, apa 17:38 kurma. 17:39 Masya Allah. 17:41 Rasanya berkah banget. Rasanya bahagia 17:46 banget gitu. Kebayang enggak sih, ee, 17:50 kita yang waktu itu masih punya duit 17:53 gitu buat belanja gitu. Tapi masih bisa 17:56 bersyukur sekali karena orangnya kalau 17:59 lagi lapar dikasih makanan itu blessing 18:01 banget ya gitu. Jadi, ee, 18:05 gimana ya, ee, 18:07 kebaikan kepada orang lain itu 18:12 sangat-sangat berharga. 18:14 Ee, dalam berbagai bentuknya. Tidak 18:16 hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan 18:18 perilaku. 18:20 Ee, ibadah khas adalah zakat di dalam 18:24 bulan Ramadan. Ini adalah bentuk dari 18:26 komunikasi kita karena kita ee, di 18:30 diberi aturan untuk menjalankan 18:34 ee, ibadah yaitu berzakat. Lalu, dengan 18:38 zakat itu untuk orang lain gitu. Jadi, 18:40 komunikasi sosial di bulan Ramadan ini 18:43 sangat-sangat kental. Kita dilatih untuk 18:47 punya empati. Enggak cuman dalam dalam 18:50 pikiran, tapi juga perilaku. Enggak 18:52 cuman dalam pikiran dan perasaan, tapi 18:54 juga perilaku gitu. Merasakan orang 18:57 lain. Ee, kita juga ee, apa namanya, me 19:01 me mencarikan solusi yang dihadapi oleh 19:04 orang lain ketika seseorang ee, 19:08 menghadapi kesulitan. Terutama dalam 19:10 konteks finansial gitu ya di dalam bulan 19:12 Ramadan ini. Menggerakkan ekonomi, ee 19:16 menghilangkan kesenjangan sosial. Jadi, 19:18 banyak sekali manfaat yang kita bisa 19:21 peroleh ee di dalam bulan Ramadan ketika 19:25 kita ee melihat dari perspektif ee 19:27 komunikasi sosial, begitu. 19:31 Ramadan juga ruang belajar untuk kita 19:34 merasa terhubung dengan orang lain, 19:36 gitu. 19:37 Itu tadi ee dikasih dikasih cemilan aja 19:41 gitu ya, iftar gitu ya. 19:44 Pada saat pada saat nunggu, padahal ee 19:47 ya intinya kita sama-sama punya duit 19:50 gitu buat makan, tapi lagi bener-bener 19:52 enggak ada nih di depan mata nih, itu 19:54 aja seneng banget. Bayangin yang enggak 19:56 punya duit, enggak punya makan gitu, 19:58 lapar gitu. Betapa bersyukurnya, betapa 20:01 kita ini serasa connected, terhubung. 20:04 Ee punya punya apa ya, ee 20:09 punya kesadaran dan hubungan yang 20:14 sangat kuat di dalam bulan Ramadan. Bisa 20:16 merasakan penderitaan orang lain, 20:18 beratnya situasi ini. Jadi, 20:21 ee Ramadan adalah ruang belajar yang 20:23 sangat bermakna untuk kita semua. 20:26 Ee kepedulian untuk bagi-bagi takjil, 20:29 kan itu sudah ada ya list-nya ya. Ini 20:31 siapa yang mau ikutan? Siapa yang mau 20:33 ikutan ini? Siapa yang mau ikutan itu? 20:35 Itu tuh disosialisasikan di dalam ee 20:38 grup WhatsApp atau himbauan-himbauan 20:42 gitu ya. Ayo, siapa yang mau ikutan ini? 20:44 Siapa yang mau ikutan itu? Itu luar 20:45 biasa, masyaallah gitu ya. 20:49 Ee jadi, Ramadan menjadi pesantren 20:55 terbuka yang bikin kita menjadi lebih 21:00 terjaga untuk berbuat baik ee dan 21:05 membatasi 21:06 ee untuk berbuat buruk. Ini 21:10 mewah banget, ya. Mewah banget. Jadi, 21:13 tadi tuh ee, ee, ini bukan drama, no 21:17 drama, ini real gitu ya. 21:19 Ee, ini real dan ini sangat berharga. 21:23 Bagaimana kita berkomunikasi dengan 21:24 Allah, kita berkomunikasi dengan diri 21:27 kita sendiri, refleksi, kita terhubung 21:30 dengan orang lain. 21:32 Orang-orang yang ada di sekitar kita 21:34 gitu. 21:36 Ee, Mbak Nuning, ee, kita mau lanjut 21:39 tentang komunikasi keluarga yang semakin 21:42 dekat begitu ya setelah ee, di atau di 21:45 bulan Ramadan ini. He em. Ee, sebelumnya 21:48 ada yang mau disampaikan dulu Mbak 21:49 Nuning? Em. 21:51 Dari apa yang sudah disampaikan, yang 21:55 memberikan terima kasih bahasannya ada 21:58 beberapa, Mbak Cin, kemudian Pak Hadi. 22:01 Dan ini terkait dengan 22:05 tanpa drama. Kalau sebelum masuk ke 22:08 Ramadan dramanya sudah bersimbah air 22:10 mata, pastilah masih ada drama ya Mbak 22:13 ya. Tapi kami menyimak bagaimana caranya 22:17 untuk tetap bisa bersyukur, berterima 22:19 kasih kepada Allah meskipun ditempa atau 22:22 didera derita. Iya. He em. 22:24 Jadi, ee, 22:27 ini enggak drama-dramaan tapi real. 22:29 [tertawa] 22:30 Real. Nangis sama Allah real. 22:33 Ee, sedih 22:35 omong sama Allah real. Karena setiap 22:37 manusia itu 22:40 ee, dikasih 22:42 ee, apa namanya, dikasih 22:47 ee, manusia itu bisa berbuat buruk, bisa 22:49 berbuat baik gitu ya. He em. Kalau yang 22:51 baik benar terus adalah malaikat, yang 22:54 berbuat ngaco mulu adalah setan gitu ya. 22:57 Manusia punya dua pilihan untuk bisa 23:00 membuat ngambil yang benar atau yang 23:02 enggak benar gitu ya. Nah, sekarang 23:05 dengan bulan Ramadan ini 23:08 eee 23:09 kita berusaha untuk tulus apa adanya 23:13 eee enggak drama-dramaan tapi tulus 23:17 ngomong sama Allah tulus ngomong sama 23:19 diri sendiri, tulus terhubung dengan 23:21 orang-orang baik yang ada di lingkungan 23:23 kita atau menciptakan lingkungan yang 23:26 baik dari lingkungan-lingkungan kita. 23:29 Termasuk juga lingkungan keluarga gitu. 23:34 Banyak sekali eee keberkahan di bulan 23:36 Ramadan. Kenapa? Karena 23:39 eee perjumpaan itu minimal dua kali 23:43 [tertawa] 23:44 iya kan? Sahur 23:46 masa sahurnya di luar kan jarang ya 23:49 sahur di luar ya. 23:50 Buka. Nah, ini buka nih kadang-kadang 23:52 challenge juga ya kalau kalau kalau 23:54 kalau eee sekarang ini kan masih libur 23:57 ya hari Sabtu, Minggu gitu ya masih 23:58 libur. Tapi kalau hari kerja biasanya 24:00 juga kadang eee ini ada challenge juga 24:05 gitu ya. Tetapi kebanyakan 24:07 eee durasi waktu kerjanya aja [berdehem] 24:10 menjadi lebih cepat kayak misalnya di 24:12 Jawa Barat eee saya dengar ada berita 24:15 setengah tujuh tuh mulai ngantor tuh 24:17 Lebih pagi. pagi-pagi gitu dipagiin 24:19 gitu. Jadi supaya siang sorenya lebih 24:22 cepat gitu. 24:23 Eee ma maka itu kan kan habis sahur masa 24:25 tidur ya kan? Ngapain tidur juga ya kan? 24:28 Mendingan eee buru-buru berangkat ke 24:30 kantor itu I think it's a good idea juga 24:32 gitu. Nah, dengan kita eee eee ada 24:36 perjumpaan dengan keluarga komunikasinya 24:38 menjadi meningkat. Eee ada ada 24:42 refleksi-refleksinya, 24:44 percakapan itu mahal banget. Bonding, 24:47 keakraban di dalam keluarga itu menjadi 24:49 kuat gitu. Karena kita eee punya eee 24:54 interaksi yang intens di rumah gitu. 24:56 Jadi secara kualitas, secara kuantitas 24:59 itu akan menjadi lebih 25:02 eh berharga 25:04 gitu ya. Di bulan Ramadan komunikasi 25:06 dengan eh keluarga, dengan saudara, 25:08 dengan 25:10 eh apa namanya keluarga besar gitu ya. 25:13 Apalagi nanti udah di ujung-ujung nih 25:15 ada ada ada eh ini ya eh Idul Fitri 25:20 begitu ya. Dan sebelumnya biasanya ada 25:23 eh buka puasa bersama dengan keluarga 25:26 biasanya gitu ya. Dengan buka bersama 25:28 dengan keluarga dan ada Idul Fitri, 25:30 kedekatan itu luar biasa gitu. 25:33 Eh kemudian eh kita juga bisa jadi 25:37 sebagian orang melakukan eh em munggahan 25:42 tadi ya, berkunjung ke orang yang lebih 25:43 dituakan gitu ya. Eh atau juga eh salat 25:47 tarawih bersama. Itu salat tarawih 25:51 misalnya eh di masjid atau di rumah, itu 25:53 kan keeratannya menjadi jadi lebih 25:55 tinggi gitu. Jadi, eh buka bersama itu 25:59 berkah banget gitu. Berkah banget. 26:02 Masak-masak, mikirin, ah makannya apa 26:04 ya? Maunya apa ya? Masak bareng yuk, 26:07 nyiap-nyiapin bareng yuk. Ini 26:10 sahur bersama, iktikaf nanti ada momen 26:14 iktikaf di eh 10 hari terakhir begitu 26:16 ya. Bagiin zakat fitrah, takbiran 26:20 bersama keluarga, mudik ya. 26:23 [tertawa] 26:24 Itu luar biasa itu pengalaman-pengalaman 26:27 berharga di bulan Ramadan begitu ya yang 26:30 i menguatkan komunikasi di di antara 26:33 kita, di dalam keluarga kita gitu. Iya, 26:36 Mbak Nuning. Iya. 26:38 Dan ini harus kita eh manfaatkan karena 26:41 kan pasti ada 26:43 apa namanya silaturahmi yang antara 26:45 keluarga nanti juga HBH-an. Iya. Dan 26:49 buka bersama ini ya gratis. Betul, betul 26:51 banget. Mhm. 26:53 Nah, ada beberapa aturan Mbak Nuning 26:56 tentang perilaku sebaiknya di bulan 26:58 Ramadan. Harusnya every time gitu ya. 27:02 Tapi paling tidak bulan ini. 27:03 bulan Ramadan lebih beres deh begitu ya. 27:06 Ayo kita simak dengan telinga jiwa kita, 27:07 jangan sampai kelewatan. 27:09 [tertawa] 27:10 Jangan bohong. Aduh, ini ini Susah nih 27:14 ya. 27:14 mudah. 27:14 [tertawa] 27:16 Ini enggak mudah direflektif juga nih 27:18 ya. 27:19 Eh. Mhm. 27:20 Al, barangsiapa yang tidak meninggalkan 27:23 perkataan dusta 27:25 ya 27:26 malah mengamalkannya 27:28 maka Allah tidak butuh dari rasa lapar 27:33 dan haus yang dia tahan. Udah deh, 27:36 enggak usah puasa deh kalau masih 27:38 bohong-bohong gitu loh kira-kira ya. 27:40 Itu ada dalam eh hadis ya. 27:44 Menahan diri dari perbuatan sia-sia. 27:47 Aduh, itu juga enggak sederhana tuh ya. 27:50 Menahan diri dari perbuatan sia-sia. 27:52 Yang enggak enggak perlu-perlu udah deh 27:54 gitu ya. 27:55 Mhm, mhm. Eh. 27:57 Eh, puasa bukan menahan lapar dan haus 28:01 saja, tetapi juga menahan diri dari 28:04 perbuatan buruk. Jadi bayangin coba. 28:06 Puasa kita tetap produktif, puasa kita 28:09 tetap berkinerja, itu keren banget 28:11 orang-orang yang bisa seperti itu ya. 28:13 Jadi dengan puasa enggak drama-dramaan, 28:15 aku lapar, 28:16 [tertawa] 28:16 aku tidur aja, aku begini, enggak gitu 28:18 ya. Tetapi produktif begitu ya. 28:21 Apabila orang mencelamu 28:25 atau berbuat usil, usil nih kepadamu 28:29 katakanlah 28:31 aku lagi puasa. 28:34 Aku lagi puasa. 28:36 Jadi 28:38 itu bikin orang 28:40 yang 28:41 ngusilin rasanya disentil gitu ya, jadi 28:44 mikir gitu ya. 28:46 Eee. 28:49 Ketika kita berpuasa, kan di di kita ini 28:54 eee setiap hari 28:56 tidak mungkin tidak berkomunikasi. 28:58 Dari mata, dari telinga, dari eee 29:02 penciuman dan lain sebagainya. 29:03 Itu sensasi yang kita rasakan, lalu 29:07 pikiran kita seperti apa, lalu kita bisa 29:09 menyampaikan kepada orang lain atau 29:12 kepada diri kita sendiri. 29:15 Ini atau apa gitu ya. Jadi 29:17 eee di dalam diri kita, kita menghindari 29:22 informasi-informasi yang masuk ke dalam 29:24 mata, telinga, penciuman kita yang 29:28 menimbulkan maksiat. Jadi, jagalah 29:31 penglihatanmu, 29:33 jagalah pendengaranmu, 29:36 jagalah penciumanmu, jagalah tindakanmu, 29:40 perilakumu, ucapanmu, begitu ya. 29:44 Janganlah kamu jadikan hari puasamu 29:48 dan 29:50 hari tidak 29:52 puasamu sama saja. 29:54 Jangan. 29:55 Pokoknya ini mah lebih keren, lebih 29:57 berharga, no drama. 29:59 [tertawa] 30:01 Jadi, eee begitu kira-kira Mbak Nuning 30:04 yang kita perlu lakukan sebagai umat 30:07 Islam 30:08 yang eee mendapat berkah ya. 30:12 Kan kita sering doanya gini nih. 30:15 Semoga kita dikasih kesempatan untuk 30:17 bertemu Ramadan berikutnya. Dan ini 30:19 sekarang ini lagi dapat kesempatan nih 30:21 gitu ya. 30:22 Eee. 30:23 Eee saya punya ipar Mbak Nuning beberapa 30:28 beberapa hari sebelum Ramadan eee 30:31 dipanggil 30:33 oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 30:35 Dan ini artinya dia tidak bisa menikmati 30:38 Ramadan lagi gitu. Jadi, begitulah. 30:41 Eee maka kita perlu berterima kasih ya, 30:44 dengan kesempatan berkah ini 30:47 untuk melaksanakan Ramadan 30:48 sebaik-baiknya 30:50 dan termasuk memperbaiki diri kita, 30:53 termasuk memperbaiki komunikasi kita, 30:55 Mbak Nuning. 30:56 Dan soal jaga tadi ikhwan akhwat mana 31:00 yang paling sulit? Jaga mata, jaga 31:01 telinga, jaga lidah, jaga mulut atau 31:04 jaga hati? Iya. Nah, dari yang 31:07 disebutkan tadi kalau menurut 31:10 Pak 31:11 Yusuf ya [tertawa] Heeh. 31:13 itu yang paling susah adalah jaga hati. 31:16 Heeh. 31:18 Gimana caranya, Mbak? Iya. Oh, tanyain 31:20 dong. Iya. 31:22 Jagalah hati. 31:24 Oh, nanti diputerin tuh lagunya tuh sama 31:25 Fahri tuh. Fahri cariin lagu gitu. 31:27 Jadi jagalah hati ya, memang betul 31:29 sekali, betul sekali. Maka itu tadi no 31:32 drama gitu ya, karena eh hati kita 31:35 bilang ah aku mah begini, aku mah 31:37 begini. 31:38 Eh 31:39 fokus saja dengan dengan jadi eh clear 31:43 banget di kepala kita apa sih apa sih 31:46 hal-hal berharga yang kita bisa dapatkan 31:49 di bulan Ramadan. Pelajari itu dan itu 31:52 eh kita kita pahami, kita hayati. 31:56 Dan berarti apa yang harus kita lakukan? 31:59 A, B, C, D udah lakukan saja gitu. 32:02 Eh oh saya enggak boleh bohong, jangan 32:05 bohong. Oh saya enggak boleh gibah, 32:09 hindari gibah. Oh saya eh perlu eh ber 32:14 eh produktif begitu ya atau saya perlu 32:17 baca Alquran lebih banyak atau saya 32:19 perlu beribadah, zikir di jalan. Setiap 32:21 kali jalan masih kok ada kesempatan gitu 32:24 ya, zikir, membaca apa saja untuk eh 32:28 membuat kita menjadi lebih lebih eh apa 32:32 ya lebih eh sadar gitu ya dengan dengan 32:36 eh siapa diri kita, siapa diri kita, 32:38 siapa Allah dan lain sebagainya. Jadi, 32:41 eh 32:43 hal seperti itu menurut saya, itu 32:47 akan membuat kita menjaga hati kita. 32:50 Karena kita berkomitmen penuh gitu. 32:52 Eh kemaren-kemaren 32:55 mungkin tidak seperti itu, sekarang 32:58 sayang, sama seperti yang tadi saya 33:00 ceritakan di awal. 33:01 Seorang yang akhirnya menyadari, 33:04 "Iya ya, aku kayaknya gini-gini aja deh. 33:07 Enggak ada yang lebih, selama ini cuman 33:08 ngejalanin aja, enggak optimal, enggak 33:11 ngelakuin secara 33:14 eh apa namanya? Secara benar gitu ya, 33:17 atau atau melakukannya enggak pakai hati 33:20 gitu. 33:21 Enggak pakai perasaan, enggak pakai 33:23 keterlibatan emosi. 33:25 Cuman ya udah karena wajib, 33:28 saya saya kerjakan saja. Maka, jaga hati 33:31 kita karena itu milik kita. 33:34 Eh 33:35 do your best and it is enough. 33:38 Percaya sama Allah, karena Allah yang 33:41 Maha tahu, Maha 33:44 eh 33:46 mengarahkan. Maka, kita minta sama 33:49 Allah. Kita minta dan 33:51 kita berusaha untuk menjalankan sesuai 33:54 aturannya. Itu 33:56 jaga hati yang menurut saya 33:59 sebaiknya kita lakukan. 34:00 Ini refleksi ya untuk diri saya sendiri 34:02 juga gitu ya. 34:03 Saya mencoba mengimajinasikan 34:07 kata-kata gondelan sama Allah gitu. 34:09 [tertawa] 34:10 Jadi, 34:12 "Iya ya, iya ya, harus gitu ya." gitu. 34:14 Jadi, gondelan nih, gondelan nih, ya 34:18 kayak anak-anak nih, "Ayo dong, aku gini 34:21 dong, tolongin aku dong." gitu. Atau 34:24 situasi saya lebih seperti ini, saya 34:26 ingin begini, saya ingin berbuat apa? 34:29 Diomongin. 34:30 Dan itu 34:31 diskusi-diskusi yang berharga. 34:35 Membuat hati kita menjadi lurus sesuai 34:38 dengan 34:39 eh aturan Islam bahwa Allah adalah 34:43 Tuhan, kita adalah hamba yang enggak ada 34:45 apa-apanya gitu. 34:47 Jaga hati 34:49 penting banget menurut saya sih. 34:50 Meskipun tidak mudah. 34:52 Tidak mudah betul. Tidak mudah. 34:54 Baik, terima kasih Ibu Dharma di Bekasi 34:57 buat Mbak Mona. 34:59 Ibu Ustazah Mona. Mona. Terima kasih 35:01 dengan bahasannya ya. Juga dari ini 35:04 tidak ada namanya. 35:06 Andai kata bisa setiap saat kita 35:10 menjadikan hari-hari seperti di bulan 35:13 Ramadan, tentu indah sekali. 35:16 Tetapi banyak yang justru terjadi 35:20 membuat kita tidak fokus di Ramadan 35:23 karena entah itu pekerjaan atau yang 35:26 lainnya. 35:27 Bagaimana caranya memisahkan antara ini 35:30 lagi Ramadan loh, ayo tinggalkan yang 35:32 lain. Saya tidak punya cara. 35:36 Eh menurut saya eh menjadi produktif itu 35:40 bagus. Ya. Tapi kita harus lebih pandai 35:44 untuk eh 35:47 komitmen kepada diri sendiri, tegas pada 35:49 diri sendiri karena kuncinya di 35:50 ketegasan gitu. 35:53 Oke, ini Ramadan, ini ada waktu untuk eh 35:56 ibadah, ini ada waktu untuk berkinerja. 35:59 Yang sia-sia sia. Tadi kan ada aturannya 36:01 nih, jangan yang sia-sia dong gitu yang 36:03 enggak penting-penting nih kayak 36:04 scrolling terus-terusan yang ngabisin 36:07 waktu gitu ya. Ini ngabisin waktu, ini 36:10 enggak enggak enggak penting. Oke, 36:12 sesekali misalnya oke saya butuh rehat 36:14 ya, saya butuh eh rehat 10 menit, 5 36:17 menit, 10 menit. Oke, boleh kita eh 36:20 refreshing gitu ya. 36:22 Tapi balik lagi udah deh, udah ya. 36:25 Nego-nego, eh that's what I do. 36:27 Nego-nego sama diri sendiri gitu ya. 36:29 Oke, sudah ya. 36:31 Mainnya beres dulu ya, sekarang fokus ke 36:33 ma- kepada yang lain. Produktif eh, 36:36 dengan kinerja yang 36:37 kita yakin ini adalah ibadah loh kerja 36:40 saya ini untuk kebaikan bersama dan lain 36:43 sebagainya begitu ya. 36:45 Dan juga 36:46 eh, untuk ibadah seperti eh, yang 36:50 disarankan di dalam bulan Ramadan ini 36:53 gitu. Me- melak- bukan 36:55 tambahan-tambahan, 36:57 salatnya ditambah 36:59 eh, dengan sunah-sunah, dengan 37:01 zikir-zikir, di jalan masih bisa, sambil 37:04 di jalan, sambil nunggu kendaraan, 37:06 sambil nunggu apa, sambil jalan masih 37:08 bisa zikir-zikir gitu. Jadi mmm 37:12 saya rasa komitmen diri aja yang penting 37:15 untuk kita lakukan. Jadi komunikasi saya 37:17 dengan saya itu penting. Tentu saja 37:20 dengan guidance-guidance yang jadi 37:23 rujukan ya. Supaya panduannya benar 37:26 begitu. 37:28 Iya. 37:29 Baik, kita lanjut lagi terkait dengan 37:31 bagaimana komunikasi dengan keluarga. 37:34 Nah, sekarang sama medsos Mbak Nuning. 37:36 [tertawa] 37:38 Jadi eh, coba rehat gitu ya atau 37:41 pinter-pinter main 37:44 berselancar di dunia maya gitu ya. 37:47 Jangan banyakin drama main-main, ah, aku 37:50 lagi laper nih, jadi scroll ikan kalau 37:53 scrolling tuh 37:55 10 menit, 30 menit, 1 jam, 2 jam, itu 37:57 cepat banget gitu. 37:59 Enggak ada, enggak enggak enggak kerasa 38:01 gitu capeknya. 38:03 Gitu ya. Jadi 38:05 kita coba bernegosiasi sama diri sendiri 38:08 ngapain saya ngabisin waktu itu gitu. 38:10 Atau ketika kita memang menggunakan 38:12 media sosial atau gadget, kita pilih 38:16 yang ber- harga untuk eh, pengembangan 38:18 diri kita, bukan yang eh, apa, 38:21 ngabis-ngabisin waktu begitu ya, 38:24 melakukan hal yang sia-sia. 38:26 Ini juga refleksi untuk saya sendiri 38:29 begitu ya. 38:30 Maka kita lebih fokus ke diri kita 38:33 sendiri. 38:34 Ee menghindari hal-hal yang bersifat 38:37 negatif yang bikin kita 38:41 ee 38:42 rugi. 38:44 Dan menambah hal-hal yang ber- bersifat 38:47 positif dengan cara kita tahu dulu apa 38:49 saja yang bisa kita lakukan, maka 38:51 kerjakan itu ee sebaik-baiknya. 38:54 Menikmati segala hal yang ada di 38:56 lingkungan kita. 38:58 Ini adalah kesempatan untuk berbuat baik 39:01 begitu ya. Lebih produktif. Ee apa 39:05 namanya, ee jangan habis-habiskan waktu 39:08 untuk berkomunikasi di media sosial yang 39:13 enggak berharga, yang enggak berguna, 39:16 yang ngabisin-ngabisin waktu juga 39:17 begitu. 39:20 Ee Mbak Nunung, kadang-kadang kita juga 39:23 ketika kita merasa oke, saya gunakan 39:26 media sosial tapi saya 39:28 ee produktif. 39:30 Enggak apa-apa. Misalnya kita share ee 39:34 ayat-ayat yang penting atau share sunah 39:38 yang 39:39 ee klik begitu ya dengan konteks yang 39:41 kita mau bahas, itu enggak apa-apa. 39:44 Artinya kita sadar, bukan berarti 39:46 no media sosial begitu ya, enggak sama 39:49 sekali. Tetap tapi kita punya kontrol 39:53 yang baik terhadap diri kita sendiri 39:55 begitu ya. 39:56 Mmm mungkin kita bisa manfaatkan melalui 40:00 gadget ada tadarusan ya, dengerin 40:03 ceramah dan lain sebagainya begitu. 40:07 Ee gosiping, nah ini juga perlu banget 40:11 nih untuk kita ini. Karena gosip itu 40:13 seru. Heeh, ngabisin waktu yang jadinya 40:16 enggak laper. 40:17 [tertawa] 40:18 Enggak berasa. Iya kan? Jadi, gosip itu 40:22 eh perlu kita hindari, ya. Kadang-kadang 40:24 kan kita ngomongin sesuatu kayaknya 40:26 makin seru, makin seru, makin seru gitu 40:28 ya. Eh, ini tidak membatalkan tetapi 40:31 bisa mengurangi pahala dari puasa kita 40:35 gitu ya. Dan bisa jadi kalau gosipnya eh 40:39 ngaco gitu ya, itu juga bisa jadi 40:41 berdosa begitu ya. 40:43 Puasa membuat kita jadi menghindari 40:46 untuk berkata kotor, bertengkar, 40:49 eh naikin suara karena kan laper nih, ya 40:52 kan? Bisa saja eh te- te- eh apa 40:55 namanya? Kekerasan, 40:57 eh tinggi nada itu menjadi lebih tinggi 41:00 gitu pada saat kita berpuasa. Apalagi 41:02 misalnya nyuruh orang-orang di 41:04 lingkungan, di rumah suruh bantuin 41:06 ini-itu enggak jalan-jalan, enggak move 41:08 on gitu ya. Itu nanti marah-marah dan 41:11 lain sebagainya. Itu juga bisa menjadi 41:13 eh enggak positif untuk kita gitu. Jadi, 41:16 banyak ributan di rumah, banyak 41:19 kekerasan, banyak drama di rumah gitu 41:21 ya. Eh, jadi berbicara yang penting dan 41:27 eh kalau lagi ini istigfar, zikir dan 41:30 lain sebagainya itu makin penting untuk 41:32 kita lakukan. 41:33 Eh, refleksi yang juga menarik Mbak 41:36 Nuning adalah hidup sederhana. 41:39 Mbok yo makanan-makanannya yang 41:41 sederhana aja bulan Ramadan ini. Enggak 41:44 perlu harus segala ada yang berlimpah 41:46 ruah yang kayaknya di pikiran ini serius 41:50 banget gitu buat buat makan gitu ya. 41:54 Eh, itu 41:56 itu penting untuk kita sadari. Kemudian 41:59 kekerap eh apa? Eh, kohesivitas ya, ke- 42:04 keeratan di dalam keluarga itu juga 42:07 penting. Saling bantu, eh jangan malah 42:10 ngerepotin orang tua kita gitu ya. Eh, 42:14 ngerepotin orang tua itu kerap kali 42:17 kerap kali terjadi ketika bulan bulan 42:19 Ramadan sampai di lebaran begitu ya. 42:22 Nanti misalnya si 42:24 apa namanya eh sibuk untuk ah aku mau 42:27 istirahat deh karena kan lagi liburan 42:30 gitu ya. Jadi nanti ngabisin waktu yang 42:34 seharusnya sama orang tua bisa buat eh 42:38 apa 42:39 buat dia nyaman tetapi malah menambah 42:42 berat untuk orang tua kita. Please 42:45 please hati-hati dengan itu gitu ya. 42:48 Oke Mbak Nuning. Anything else? Jadi 42:52 kalau jangan merepotkan orang tua 42:56 padahal 42:58 maksud Ibu dan biasanya di rumah Ibu itu 43:02 adalah ingin membuat anak-anaknya 43:04 menjadi jauh lebih bersyukur di bulan 43:07 Ramadan He em. sebagai anak harus gimana 43:10 nih? Iya, sebagai anak kasih tahu diri 43:12 Mbak Nuning. Oh STD ya, sikap tahu diri. 43:14 He em. [tertawa] Tahu diri bahwa eh dia 43:18 ada ada pergantian tampuk kepemimpinan 43:21 gitu ya. 43:22 [tertawa] 43:22 Tampuk tanggung jawab gitu ya. Jangan 43:25 gara-gara dia kan sudah dewasa nih sudah 43:27 dibantu dari kecil dari dari bayi dari 43:30 kecil. Setelah dia dewasa dia jangan eh 43:34 malah menambah berat pada orang tua 43:37 apalagi orang yang tua ya yang secara 43:40 fisik juga lemah tidak bisa eh apa 43:44 namanya dibebani terlalu banyak lagi 43:46 sementara dia juga enggak enak ingin 43:48 memberikan yang terbaik kepada 43:49 anak-anaknya. Ya tahu diri aja itu 43:51 memang penting sekali nih. Ini ini 43:53 banyak masalah nih terjadi nih. Ini 43:56 mungkin akan menjadi eh isu yang akan 44:00 muncul nanti gitu ya di akhir bulan 44:02 Ramadan gitu ya Iwan dan Nafas tetapi 44:05 eh, kita pikirkan dari sekarang. Jangan 44:07 sampai ngerepotin orang tua kita. 44:10 Nyenengin aja, permudah aja orang tua 44:13 kita. Karena apa? Hectic banget tuh di 44:15 bulan Ramadan akhir-akhir itu. He eh. 44:18 Eh, eh, kebutuhan untuk kebutuhan besar, 44:22 eh, persiapan di rumah, eh, repot 44:24 banget. Biasanya repot. Karena itu 44:27 memang budaya kita, gitu ya. 44:30 Nah, dengan dengan begitu, eh, anak-anak 44:33 yang sudah dewasa, eh, eh, malah malah 44:37 membebani gitu. Karena orang tua kan 44:39 enggak enak juga untuk tidak me, apa 44:42 namanya, menyamankan anak-anaknya 44:44 begitu, ya. Jadi, eh, banyak dramanya 44:48 tuh, drama-drama yang bikin, eh, kasihan 44:52 gitu hati orang tua kita gitu. 44:55 Oke, Mbak Nuning. 44:56 Ada pertanyaan yang tidak ada yang, eh, 44:58 namanya tidak ada. Kalau pulkam atau 45:01 pulang kampung, itu 45:04 akan mem, mem menghabiskan biaya cukup 45:07 banyak. Padahal orang tua juga sudah 45:10 enggak ada, cuma saudara-saudara. 45:13 Bagaimana kalau dana pulang kampungnya 45:16 dibuat untuk yang lain, untuk 45:20 donasi-donasi tertentu? 45:23 Nanti dianggap enggak peduli atau gimana 45:25 nih bagusnya? He eh. 45:27 Saya sih setuju ya untuk dilakukan 45:29 untuk, eh, bantu, eh, 45:32 lingkungan-lingkungan atau orang-orang 45:34 yang membutuhkan begitu, ya. Eh, tetapi, 45:38 eh, pulang kampung itu tetap perlu 45:40 menurut saya, ya. Pada bers, eh, 45:42 silaturahim pada keluarga. 45:44 Iya. Mungkin tidak di momen Lebaran. 45:46 Bisa saja momennya di momen-momen lain 45:49 begitu, ya. Karena kan Lebaran itu kan 45:52 arus lalu lintasnya sangat banyak 45:54 begitu, ya. Sangat 45:56 sangat, eh, apa, 46:00 ribetlah di jalannya begitu, ya. Jadi 46:03 jadi kita juga bisa berhitung atau juga 46:06 bisa mencarikan momen-momen lain ketika 46:09 memang perlu ada pertemuan-pertemuan 46:11 keluarga besar itu begitu ya. Tidak di 46:14 masa-masa itu ketika kita merasa 46:17 eh kayaknya di sana nanti ngerepotin 46:19 anggota keluarga kan 46:21 iya kan jadinya bisa jadi kan kita kita 46:23 sendiri yang tahu perhitungannya begitu 46:25 ya. Implikasinya terlalu merepotkan dan 46:28 dan lain sebagainya. Atau ketika kita 46:30 misalnya memang merasa itu diperlukan 46:33 dan itu adalah eh refreshing yang memang 46:36 diperlukan ya enggak apa-apa kita 46:38 berangkat setelah kita memang meyakini 46:40 kita mampu untuk melakukannya. Tapi 46:42 kalau tidak kita saya ingin mengatakan 46:45 tetap diperlukan untuk silaturahim. 46:47 Tetapi momennya barangkali kita bisa 46:50 agendakan tidak harus di bulan Ramadan 46:54 secara physically datang begitu ya. 46:57 [berdehem] 46:58 Bisa jadi bergantian ke sini atau ke 47:00 sana atau juga eh apa namanya momennya 47:05 setelah sekian lama setelah Ramadan 47:07 begitu. Ketika kita me melihat emak kan 47:11 kita juga dengan adanya keluarga besar 47:13 yang akhirnya misalnya orang tua eh 47:15 sudah berpulang kita bisa masing-masing 47:18 punya agenda-agenda lain begitu yang 47:19 tadinya tuh fokus menjadi berubah-rubah 47:23 begitu. He em. Jadi 47:25 agenda untuk pertemuan keluarga tetap 47:27 berharga tapi barangkali momennya bisa 47:30 kita pertimbangkan. 47:32 Ketika itu jadi concern begitu ya 47:33 terutama jauh, biayanya besar, enggak 47:36 ada dana dan lain sebagainya atau 47:38 dananya lebih baik buat yang lain 47:40 begitu. 47:41 Demikian. 47:43 Jadi tetap silaturahim dengan keluarga 47:45 itu 47:46 banget itu. harus diupayakan meskipun 47:48 tidak harus di 47:50 saat 47:51 apa lebaran 47:52 lebaran itu kita bisa bisa pakai telepon 47:55 sekarang kan media kan luar biasa kan, 47:57 pakai video call. 47:58 Video Call, ya kan, gitu. 48:02 Baik, sebelumnya silakan dilanjut kalau 48:05 ada materi yang perlu ditambahkan. 48:07 Nah, Mbak Nuning, kan kalau perempuan 48:09 itu kan ada haidnya ya. 48:11 Iya. Rek seminggu gitu ya. 48:13 Rek gitu ya, atau ada orang-orang yang 48:14 sakit gitu. 48:16 Ya, ee 48:17 toleran saja gitu, jangan ee me secara 48:20 ekspresif menunjukkan saya makan di 48:23 depan gitu ya. Ee 48:26 me menyembunyikan diri saja gitu, yang 48:29 berpuas, yang tidak berpuasa ketika 48:32 memang diperlukan ya ee me 48:36 ngambil tempat yang ee tepatlah begitu 48:40 ya. Ee untuk tidak secara apa ya, secara 48:44 terbuka gitu ya. 48:46 Ee jadi dramatis tuh bikin kita jadi 48:49 yang lain jadi enggak nyaman begitu ya. 48:52 Nah, yang berpuasa pun E 48:55 enggak perlu sakit hati gitu ya, memang 48:57 masing-masing ya kan, yang rapornya juga 49:00 masing-masing nanti gitu ya, 49:01 dibagikannya ee dikasihkannya rapornya 49:04 masing-masing kepada Allah gitu ya, jadi 49:07 sudah deh enggak usah terlalu ini, 49:08 tetapi siapapun yaitu kita, siapa ini 49:12 kita nih, kita lagi berpuasa, kita harus 49:14 menghargai yang tidak berpuasa. Kita 49:16 lagi tidak berpuasa, harus juga menga 49:18 menghargai yang berpuasa begitu. Jadi, 49:21 yang harus dibenahi adalah saya titik 49:24 gitu ya. 49:25 Ee 49:26 di ada kok, ada kok, boleh kok enggak 49:29 berpuasa kok gitu ya, dengan catatan 49:33 tertentu, ada aturannya gitu ya, lagi 49:36 haid, lagi sakit, perjalanan dan lain 49:39 sebagainya begitu. 49:41 Ee itu Mbak Nuning. 49:44 Iya, sangat sebetulnya 49:48 terkait dengan menjaga lisan, menjaga 49:52 pandangan mata, telinga dan sebagainya 49:54 tadi. 49:56 Orang yang biasa kasar, remnya ada di 49:59 mana nih? Iya. 50:01 Kebiasaan itu kan tidak mudah untuk 50:02 dibuang. 50:03 betul-betul. Yang biasanya dia kasar. 50:06 Eee, sementara eee. 50:09 Kan gini. Bulan Ramadan adalah momen 50:14 tepat banget. Untuk mengoptimalkan 50:18 perbuatan baik dan menghilangkan 50:22 perbuatan buruk gitu. Jadi ini bisa jadi 50:24 energi untuk kita. 50:27 Mulai, saya tidak akan kasar. Sadarin 50:31 deh, ketika mau mengungkapkan sesuatu 50:33 dipikir dulu karena, karena kalau kalau 50:35 pakai eee automatic pilot langsung aja 50:38 tet teret gitu ya. Kan biasa kasar nih, 50:40 jadi keluar kasarnya. Tapi ketika kita. 50:43 Eee, masukin dalam pikiran dulu. 50:47 Bentar ya, saya mau ngomong ini nih. 50:49 Oke. Udah bener nih gini-gini-gini 50:51 ngomongnya, baru ngomong. Memang ada 50:53 hang sih, iya. Dari enggak biasa jadi 50:55 biasa gitu ya. 50:57 Itu kan perlu pembiasaan dan perlu ada 51:01 diulang-ulang terus gitu ya. Tahu 51:04 konsepnya, tahu gimana cara ngomongnya 51:06 yang benar, dirasakan, dihayati. Oke 51:09 ini, ya dan itu dilakukan. Itu. 51:12 Itu tepat sekali gitu, jadi. 51:14 Bisa kok, yakin banget. Apalagi dengan 51:17 komitmen kita, apalagi dengan keyakinan 51:19 bahwa kalau kita meninggalkan yang buruk 51:22 dapat pahala, melakukan hal yang baik 51:25 dapat pahala juga. Jadi double-double 51:27 nih gitu. 51:28 Dan itu akan membuat kita jadi pribadi 51:31 yang lebih baik. So. 51:33 Let's do it. Saya tahu itu tidak mudah 51:35 tapi bisa, ya bisa, bisa banget. 51:39 Iya, puasa itu kan menjaga dari. 51:43 Makan minum, tapi menjaga atau puasa 51:47 dari berkata kasar itu juga keren banget 51:49 ya. 51:50 Betul banget. 51:51 Betul banget. Karena puasa itu tidak 51:53 hanya menahan lapar dan haus 51:57 eh. tetapi juga 51:59 eh perilaku yang baik kita. 52:01 Menahan bohong itu tidak mudah loh. 52:04 Betul, [tertawa] betul sekali, betul 52:06 sekali. 52:07 Oke. 52:08 Baik, lanjut. Oke, Mbak Nuning, eh 52:11 sepertinya itu yang ingin kita eh bahas 52:15 pada hari ini. 52:16 He eh. Jadi kita perlu hidup sederhana 52:19 eh enggak perlu yang apa ya, berlebihan 52:23 selama bulan Ramadan. Kan kadang-kadang 52:25 pikiran nih, aduh ingin makan ini, A B C 52:27 D. Takjilnya aja ada A B C D E F G H 52:30 gitu ya, atau beberapa gitu ya. Terus 52:32 menu ini, enggak enggak kuat, enggak 52:34 cuman 52:35 beberapa Suap. suap aja udah udah enough 52:39 deh gitu ya. Iya. Ngapain gitu. Udah 52:41 cukup aja. Dengan kita ngambil yang 52:44 cukup aja itu juga jadi positif kok 52:46 gitu. Kita jadi bisa lebih apa, eh lebih 52:50 berhemat, lebih 52:53 eh peduli sama orang lain. Oh iya, ini 52:56 sisa ini masih bisa saya gunakan untuk 52:57 yang lain dan lain sebagainya. Jadi kita 52:59 lebih 53:00 lebih apa ya, enggak enggak enggak 53:02 buang-buang, enggak melakukan hal-hal 53:04 yang tidak diperlukan begitu. Mumpung 53:07 baru hari kedua nih Ikhwan Akhwat. 53:09 betul. Menjaga hati, menjaga telinga, 53:12 mata, lidah dan pikiran serta yang 53:16 lain-lain, mudah-mudahan bisa kita 53:19 tingkatkan ya. Dan karena ini live, Anda 53:22 bisa telepon. 53:24 Kalau biasanya kalau Zoom atau 53:27 ya, hari ini kalau mau telepon silakan, 53:29 tapi kalau masih sibuk di dapur silakan 53:32 dilanjutkan. Kita jeda sejenak, nanti 53:34 kami kembali ke ruang dengar Anda. 53:46 Rasul TV 53:49 [musik] 53:55 [musik] 54:06 [musik] 54:14 Terima kasih masih bersama Rasul untuk 54:17 Islam yang satu dan 54:20 kita tengah bersama-sama bahas Ramadan 54:23 tanpa drama nih. 54:25 Heeh. 54:26 Untuk 54:27 maaf dan memaafkan itu kelihatannya satu 54:30 kata yang sangat umum kita dengar ya. 54:33 Iya. Tapi tingkat kesulitannya bagi 54:35 sementara orang cukup tinggi loh Mbak 54:37 Mona. Gimana nih? Eee 54:39 menyumbat tenggorokan kalau 54:42 [tertawa] 54:44 beberapa orang bisa sampai kayak gitu 54:45 gitu ya karena berat banget dia mau 54:47 minta maaf gitu ya. Susah banget ya mau 54:49 minta maaf ya gitu. 54:52 Eee 54:53 ya bet- betul betul Mbak Nuning. Jadi 54:56 eee ada asumsi yang salah di dalam eee 54:59 pikiran seseorang ketika mau minta maaf 55:03 itu dia seolah-olah mau mempertontonkan 55:06 kelemahan dirinya gitu atau dia yakin 55:08 dia 55:09 eee dia berbuat dia tidak terlalu yakin 55:12 bahwa dia berbuat salah tapi dia harus 55:15 minta maaf bahwa dia juga ada yang 55:17 salah. Jadi nego-nego di kepalanya terus 55:20 juga dia harus eee apa mempertontonkan 55:23 kelemahannya itu membuat jadi tercekak 55:25 gitu ya mau minta maaf aja gitu. 55:28 Eee susah banget. Nah 55:31 eee 55:32 Mbak Nuning eee 55:34 kenapa orang sering malas minta maaf. 55:38 Jadi, itu karena ego, ya. Jadi, ada 55:42 riset di eh eh Queensland, ya. 55:46 Bahwa orang yang enggan meminta maaf, 55:49 biasanya merasa dirinya punya power yang 55:52 lebih besar dari orang lain. 55:55 Eh, dan dia ngerasa 55:59 dia harus ngejaga self esteem-nya gitu. 56:02 Dengan dia enggan meminta maaf, itu dia 56:05 merasa dia 56:07 eh apa, egonya terjaga gitu. 56:11 Jadi, dia terbelenggu untuk tidak 56:12 meminta maaf. 56:14 Padahal, 56:16 minta maaf itu adalah sangat baik gitu 56:19 di dalam Islam. 56:22 Eh, meminta maaf itu sangat mulia 56:25 begitu. 56:27 Eh, 56:28 memaafkan 56:30 itu sangat baik, tapi meminta maaf itu 56:32 berat banget gitu. Jadi, 56:34 minta maaf itu perlu kita biasakan. Nah, 56:37 maka saya suka sekali ya di dalam 56:41 berbagai pertemuan itu, orang-orang yang 56:44 saleh-salehah itu, ketika ketemu itu 56:46 sering aduh, mohon maaf ya kalau ada 56:48 kesalahan. Itu keren banget. Saya punya 56:51 teman ya di sebuah grup WA. 56:55 Dia sudah cukup senior begitu ya. Eh, 56:59 beliau itu setiap hari menambahkan kata 57:02 mohon maaf lahir batin, ya. Eh, salam 57:06 dan mohon maaf lahir batin kalau ada 57:08 hal-hal yang kurang berkenan selama ini. 57:11 Saya tuh awal-awal membaca-membaca 57:13 begitu ya. 57:14 Iya ya, ini keren banget ya. Jadi, dia 57:18 meyak-memastikan bahwa 57:21 eh apa yang mungkin pernah terjadi itu 57:25 itu eh 57:27 dia apa ya, dia urai gitu ya dengan 57:30 meminta maaf. 57:31 Nah, bagus adalah 57:33 kalau cuman maaf ya, maaf ya, itu kan 57:36 kelihatannya umum. Yang bagus adalah 57:39 ketika memang ada real kesalahan, lalu 57:41 kita bisa secara spesifik menjelaskannya 57:44 dan meminta maaf. Ini maafnya karena 57:47 gini gitu. 57:48 Itu keren banget. 57:50 Itu keren banget, karena dia membuat eh 57:53 maaf itu enggak cuman maaf ya gitu aja, 57:55 tapi maafnya itu kenapa ya maaf gitu. 57:58 Itu itu bagus banget. Dan 58:01 eh biasanya di di awal bulan Ramadan 58:05 kita kan 58:06 Sudah lakukan itu ya. 58:07 Lakukan itu ya, tapi itu kan memang 58:09 cenderung ya basa-basi begitu ya. Eh 58:12 makanya kita kasih nilai tambah lagi 58:14 bahwa 58:15 itu real. 58:17 Eh terutama sama orang-orang yang 58:21 eh perlu eh kita minta in maaf gitu ya. 58:25 [tertawa] 58:26 Gitu Mak Nuning. Mememaafkan kesalahan 58:29 orang lain bisa jadi 58:32 tidak sulit juga dilakukan. Tapi ketika 58:35 torehannya itu meninggalkan bekas dan 58:37 jadi beban panjang, caranya untuk bisa 58:40 memaafkan dia gimana? Mak maafin dia ya? 58:43 Iya. 58:44 Eh jadi 58:45 kita memaafkan orang lain itu 58:48 ketika kita nah bulan Ramadan ini kan 58:51 bagus ya. Ini adalah bulan di mana kita 58:55 bisa 58:57 memastikan untuk memulai atau 59:00 mengoptimalkan 59:02 perbuatan baik dan meninggalkan 59:05 perbuatan buruk. Dengan keyakinan itu 59:08 kita akan dapat berkah yang besar karena 59:11 kita siap untuk memaafkan orang lain. 59:14 Memaafkan orang yang sudah nyakitin hati 59:17 kita gitu ya. Dan kita bisa 59:20 eh apa loloslah begitu ya, lulus dalam 59:24 eh apa eh Ramadan ini gitu. 59:27 Ee karena kita bisa menahan ego kita. 59:31 Kita yakin bahwa setiap orang pasti 59:33 berbuat kesalahan, pasti berbuat 59:35 kesalahan. Namanya juga namanya juga 59:37 manusia ya. Manusia enggak pernah enggak 59:39 salah gitu kan, pasti pernah salah, 59:42 pasti pernah berbuat salah. Ada berbuat 59:44 baik juga, tapi pasti ada berbuat 59:46 salahnya. Jadi ee dengan kita dengan 59:49 kita menyadari bahwa kita adalah manusia 59:51 yang lemah, kita adalah orang yang pasti 59:55 berbuat salah dan orang lain juga 59:57 berbuat salah gitu ya dan orang lain 59:59 sudah mau minta maaf ke kita itu sudah 1:00:01 keren banget gitu. 1:00:03 Maka sayang kalau kita enggak maafin. 1:00:06 Ini 1:00:08 ini 1:00:09 ini berharga banget kalau bisa ya bisa 1:00:11 kita lakukan. 1:00:11 Heeh, heeh. 1:00:12 Momen meminta maaf dan memberikan maaf 1:00:15 ini jadi fenomena psikologis ya Mbak 1:00:18 Mona ya. 1:00:19 betul banget. 1:00:20 Yang kalau kita lakukan 1:00:22 ee kebersamaan 1:00:25 untuk bisa 1:00:27 meminta maaf itu juga sesuatu yang tidak 1:00:30 mudah apalagi kalau tingkat sosialnya 1:00:32 berbeda. Iya. 1:00:34 Tadi waktu Mbak Mona cerita tentang 1:00:37 seorang pedagang yang menggratiskan 1:00:39 Iya. dagangannya ini ada yang terharu 1:00:42 sekali mendengarnya terkait dengan 1:00:45 memberikan di bulan Ramadan ini gratisan 1:00:48 dagangannya. Itu pedagang kaki lima di 1:00:51 pinggir jalan kah Mbak Mona? 1:00:52 Iya, iya betul. Jadi dia ee 1:00:56 apa namanya ee 1:00:59 mau bersedekahnya dengan cara itu gitu. 1:01:03 Luar biasa, luar biasa. 1:01:05 Memang dia ada yang sebagian dijual, 1:01:07 tapi sebagian juga ada yang disedekahkan 1:01:10 gitu. 1:01:11 Dahsyat kan, keren banget kan orang yang 1:01:13 kayak gitu gitu. 1:01:17 Nanti kalau sudah enggak lebar eh sudah 1:01:18 enggak bulan Ramadan, kalau kita pernah 1:01:21 melewati dia Heeh. Betul, 1:01:23 [tertawa] 1:01:24 betul. next time-nya gitu. 1:01:26 Mbak Nuning, jadi gini. 1:01:28 Kenapa kita perlu 1:01:30 eee 1:01:31 ulang-ulang penjelasan untuk berbuat 1:01:34 baik, untuk menghindari berbuat buruk, 1:01:38 untuk meminta maaf, untuk memaafkan, 1:01:41 untuk pokoknya seperti itu. Karena 1:01:44 manusia itu 1:01:46 banyak khilafnya. Jadi ketika 1:01:47 diingatkan, ayo bersedekah, ayo 1:01:50 berzakat, ayo berbuat baik, ayo gini, 1:01:53 ayo salat, ayo tambah zikir lebih 1:01:55 banyak, ayo baca Alquran. Itu 1:01:58 terus-menerus diung, diingatkan. Ini kan 1:02:01 namanya juga pesantrennya kita nih 1:02:02 setahun, satu bulan ini gitu. Di momen 1:02:05 di pesantren ini, ini berkah banget. 1:02:08 Kalau enggak lagi bulan Ramadan, 1:02:10 kecenderungan untuk ajakan-ajakan itu 1:02:13 bisa jadi tidak se 1:02:16 aktif gitu ya, 1:02:18 kita dalam keseharian di bulan Ramadan 1:02:21 begitu. 1:02:22 Atau bahkan ketika kita scroll, kalau 1:02:25 kita enggak 1:02:26 pakai pakai gadget ya. Kalau kita kan 1:02:29 itu kan ini ya, apa namanya tergantung 1:02:32 algoritma ya. Kalau kita sering menonton 1:02:35 yang religi-religi, keluarnya banyak 1:02:38 religi-religi yang datang. Sementara 1:02:40 kalau kita enggak nonton yang seperti 1:02:41 itu, nanti keluarnya ya yang repeated 1:02:43 yang biasa kita tonton. Nah, bayangkan 1:02:46 coba ya, kalau kita 1:02:49 eee 1:02:51 sudah apa membiasakan dengan 1:02:53 ungkapan-ungkapan atau memasukkan 1:02:56 informasi-informasi yang berbuat baik, 1:02:59 menghindari berbuat buruk, kita akan 1:03:01 menjadi terbiasa gitu. Kita akan menjadi 1:03:03 terbiasa dan 1:03:04 ini menjadi energi berharga untuk jadi 1:03:07 bersih dan masuk ke dalam 1:03:10 eee 11 bulan berikutnya gitu ya. 1:03:12 Eee 1:03:14 eee dengan modal-modal yang kita 1:03:16 dapatkan di bulan Ramadan ini. 1:03:18 So, 1:03:19 benar, jagalah hati. 1:03:22 [tertawa] 1:03:22 Jangan kau nodai. Jangan nodai hati. Ini 1:03:26 satu, entah statement atau pertanyaan, 1:03:28 tidak ada namanya. Bagaimana kita bisa 1:03:33 memberikan maaf kepada pengelola negeri 1:03:35 yang membuat negeri ini menjadi 1:03:37 berantakan. Bagaimana caranya memaafkan? 1:03:40 Membiarkan saja atau ee oh. 1:03:43 Iya. [tertawa] 1:03:44 Jadi, ee beberapa hari yang lalu saya 1:03:49 ikut menulis di media, di ee 1:03:53 Kompasiana, ketika ada pernyataan 1:03:56 tentang 1:03:57 kabur saja dulu gitu ya. 1:03:59 [tertawa] 1:04:00 Ada hashtag kabur saja dulu gitu ya. Ee 1:04:03 saya menulis ee jangan dong gitu. 1:04:06 Anak-anak Indonesia yang keren-keren 1:04:09 ini, ayo mau ke sekolah ke luar negeri, 1:04:11 mau belajar ke luar negeri, mau 1:04:14 kabur. 1:04:15 mau ee apa ee 1:04:18 bekerja selama sekian lama, nanti 1:04:21 kembali lagi atau belajar dan 1:04:23 sebagainya, itu bagus. Monggo, silakan. 1:04:26 Tapi jangan energinya marah gitu. Aku 1:04:30 mau kabur deh, kan itu kan marah kan 1:04:32 energinya. Ee atau juga kesannya kayak 1:04:35 aku enggak mau peduli lagi gitu sama 1:04:37 kondisi ini. Kan 1:04:40 PR kita bersama nih, ini rumah kita 1:04:42 bersama. Kita harus sama-sama rapiin, 1:04:45 sama-sama beresin. Barangkali kita juga 1:04:47 berkontribusi untuk membuat itu terjadi 1:04:51 gitu. Karena enggak mungkin ada banjir 1:04:54 kalau 1:04:55 pasti ada hubungannya dengan kita gitu. 1:04:57 Pasti kontribusi itu pasti ada link-nya 1:04:58 gitu. Mungkin kita enggak cukup berdoa 1:05:02 gitu, minimal ya kan. 1:05:04 Yang ter 1:05:05 ee ini ya, terakhir lah gitu ya. Kan 1:05:08 tadinya kita dengan ee tangan ee ya ya 1:05:11 artinya dengan real kita action gitu ya, 1:05:15 berbuat. Ambil alih, ambil bagian, ambil 1:05:18 posisi di situ gitu ya. Kedua, 1:05:22 kita dengan omongan gitu ya, seperti 1:05:24 yang saya lakukan. Saya tidak lagi di 1:05:27 posisi struktural dulu pernah berada di 1:05:29 posisi eh apa lembaga negara, sekarang 1:05:34 eh eh saya mengungkapkannya dengan 1:05:36 kata-kata gitu ya, dengan tulisan gitu 1:05:39 ya. Dan eh selanjutnya eh atau juga 1:05:42 dengan eh ajakan-ajakan di ruang-ruang 1:05:44 kelas atau di ruang-ruang publik di mana 1:05:46 saya memungkinkan untuk melakukannya. 1:05:48 Dan juga berdoa. Saya ingat banget Mbak 1:05:51 Nunung. 1:05:51 He em. Tahun 2013 ketika saya 1:05:55 berkesempatan untuk melaksanakan ibadah 1:05:57 haji, 1:05:58 saya 1:05:59 tersadarkan 1:06:01 ketika ada orang di depan saya gitu ya, 1:06:04 He em. ibu-ibu berdoa dan sambil 1:06:08 mencucurkan air mata, dia bilang begini, 1:06:11 "Ya Allah, 1:06:14 eh beresin para pemimpin di negara kami. 1:06:19 Beresin eh jaga dia, jaga pokoknya 1:06:23 doa-doanya itu tentang negara." 1:06:25 Saya terkagum-kagum Mbak Nunung. Masya 1:06:28 Allah itu luar biasa ibu itu ya. Dia 1:06:31 dengan sungguh-sungguh didoain semuanya 1:06:34 tuh. Bahwa Indonesia ini tolong dan itu 1:06:37 saya dengerin secara tulus gitu. Itu 1:06:39 ibu-ibu yang eh apa namanya em 1:06:43 yang punya tanggung jawab sosial. Eh 1:06:46 yang biasa saya sebut PSR, personal 1:06:48 social responsibility. Punya tanggung 1:06:50 jawab sosial yang sangat tinggi untuk eh 1:06:53 minimal doain deh gitu. Dan itu 1:06:55 sungguh-sungguh doanya sambil bercucuran 1:06:57 air mata. Lalu saya tulis itu Mbak 1:07:00 Nunung. Saya tulis ya, saya tulis eh 1:07:01 omongan-omongan dia itu sambil saya eh 1:07:04 ini lalu saya tulis di sebuah media ya, 1:07:06 di Republika waktu itu. 1:07:09 Saya tulis eh apa ya? 1:07:11 Ini nih yang perlu kita lakuin nih, 1:07:13 jangan-jangan nih kita kurang doain nih 1:07:16 sama para 1:07:16 [tertawa] 1:07:17 sama kondisi negara Indonesia ini gitu. 1:07:20 Jangan-jangan itu gitu. Dan karena 1:07:22 Ramadan adalah bulan di mana doa banyak 1:07:25 dikabulkan, yuk kita semua lantunkan 1:07:29 doa, panjatkan doa agar negeri kita 1:07:33 menjadi jauh lebih aman, nyaman. Iya, 1:07:36 iya, iya. Dan dan semuanya punya 1:07:38 kesadaran Mbak Nuning untuk yang punya 1:07:40 tugas menegakkan, menegakkan, dikasih 1:07:42 energi untuk menegakkan. Amin, 1:07:44 insyaallah. Heeh. Oke, ini pertanyaan 1:07:47 dari Batam nih Mbak Mona. 1:07:49 [berdehem] 1:07:49 Tema yang tak akan pernah habis untuk 1:07:51 dibahas, memaafkan. 1:07:54 Memang enak diucap tapi sulit. 1:07:57 Cuma enggak boleh nyerah, ada tip yang 1:07:59 dipraktikkan sahabat Nabi Muhammad 1:08:02 sallallahu alaihi wasallam hingga 1:08:04 dibilang Rasulullah itu ahli surga tiga 1:08:06 kali, yaitu memaafkan orang sebelum kita 1:08:11 tidur. Jadi jangan nunggu Ramadan baru 1:08:13 maaf-maafan, makanya susah untuk 1:08:16 melupakan. Sepertinya memang pemahaman 1:08:19 agama yang perlu didalamin sih. 1:08:21 Bagaimana menurut pendapat Ibu Mona 1:08:23 dengan kisah ini? Syukron, Abu Muaz di 1:08:27 Batam. 1:08:28 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 1:08:31 adalah 1:08:33 referensi penting 1:08:35 untuk kita. 1:08:37 Maka dengan kita belajar 1:08:40 dari beliau, apalagi dengan kisah-kisah 1:08:43 yang jelas gitu ya. 1:08:45 Eh bukan drama ya, real ceritanya. Kita 1:08:49 jadi 1:08:50 eh punya panduan, panutan, oh seperti 1:08:53 apa harusnya gitu. 1:08:55 Meskipun enggak mudah ya, sulit untuk 1:08:58 minta maaf atau ngakuin kesalahan, itu 1:09:01 juga 1:09:02 eh sulit. Maka kita juga perlu untuk 1:09:07 eh punya pegangan-pegangan. Jadi itu-itu 1:09:09 referensi yang berharga dari Rasulullah, 1:09:12 tapi juga kita punya pegangan-pegangan 1:09:13 personal gitu ya untuk gimana sih supaya 1:09:16 kita tuh kuat gitu untuk melaksanakan 1:09:18 itu. Ada beberapa tips baru nih. Ehm. 1:09:20 Yang pertama adalah 1:09:22 kita pikirin apa yang terjadi 1:09:27 dan perbuatan apa yang bikin kita minta 1:09:29 maaf. 1:09:30 Apa sih real kesalahannya? Kita pikirin. 1:09:34 Barangkali kita perlu perlu tulis gitu 1:09:36 ya karena karena itu masih kan dipikirin 1:09:39 terus ditulis. Misalnya ya kadang-kadang 1:09:41 kan kita perlu 1:09:42 eh 1:09:44 menalarkan kenapa kok 1:09:46 kita perlu minta maaf 1:09:49 di bagian mana gitu. Jadi eh 1:09:52 dengan kita oh ini ini nih, saya 1:09:55 ngomongnya nanti begini nih gitu ya. 1:09:57 Dengan kita ini kita bisa ngatur oh 1:10:00 ngomongnya gini gini gini gini. Terus 1:10:02 kita latihan untuk ngomong. Kan tadi ini 1:10:04 berat nih untuk minta maaf nih ya kan. 1:10:06 Mari kita pikirin, oke pantas nih saya 1:10:08 minta maaf nih. Kali kita tulis dulu, 1:10:11 kita runutin, oke saya ngomongnya ini 1:10:12 dulu misalnya begitu ya. Ini terutama 1:10:14 hal-hal yang penting banget ya karena 1:10:16 yang berat ya. 1:10:17 Terus latihan, gimana ngomongnya? 1:10:20 Latihan. 1:10:22 Eh 1:10:23 jelas, eh rasakan apakah omongan itu 1:10:26 sudah jelas gitu ya. 1:10:28 Eh akui kesalahannya dengan tulus dan 1:10:32 terasa tulus. Tulus dan terasa tulus 1:10:35 gitu ya. Eh jangan banyak alasan-alasan, 1:10:38 jangan banyak alasan-alasan bagus untuk 1:10:41 bilang bahwa kita tuh enggak bagus gitu. 1:10:43 [tertawa] 1:10:45 Terus eh menyesali 1:10:47 eh enggak nyalahin orang lain lagi, 1:10:50 enggak memperbesar cerita jadi banyak 1:10:53 dramanya lagi gitu ya. 1:10:55 Eh terus dengerin respon dari orang yang 1:10:57 kita minta in maaf itu. Barangkali dia 1:11:01 mau merespon, oke. Ngertiin bagaimana 1:11:04 responnya dia gitu ya. 1:11:06 He em. 1:11:07 Itu di antaranya beberapa catatan yang 1:11:09 perlu kita 1:11:11 eh, gunakan ketika kita mau meminta 1:11:13 maaf. 1:11:14 Ini, ini situasinya memang kita salah 1:11:17 gitu ya. Bukan tadi mohon maaf lahir 1:11:20 batin, selamat lebaran, selamat puasa, 1:11:22 bukan itu gitu ya. Tetapi situasinya 1:11:25 memang ada sesuatu yang perlu kita 1:11:26 maafkan, perlu kita meminta maaf dan ke 1:11:30 kita minta maaf dengan sungguh-sungguh 1:11:33 sehingga kita enggak bawa kesalahan ini 1:11:36 nanti di dunia, di akhirat nanti gitu. 1:11:39 Kan rugi. Iya kan? 1:11:41 Bayangin apalagi orang yang pernah kita 1:11:42 sakit hatiin terus dia dengan 1:11:45 sungguh-sungguh bilang 1:11:47 "Oke, catatannya nanti sama Allah ya." 1:11:49 Wah, itu berat banget tuh. Saya takut 1:11:51 banget sama orang-orang yang sampai bisa 1:11:53 bilang kayak begitu tuh gitu. 1:11:55 Dan takutlah sama orang yang bisa 1:11:56 ngomong kayak gitu. 1:11:59 Iya ya, kita sudah di ujung nih satu 1:12:01 pertanyaan dari Ibu Aminah. 1:12:03 Ehm, terima kasih sekali. 1:12:08 Kalau 1:12:09 ini Mbak Mona He em. Saya sering minta 1:12:13 maaf baik di WA atau langsung mungkin 1:12:16 ya. Anak, menantu tapi enggak pernah 1:12:19 dibalas. 1:12:20 Iya. 1:12:21 Enggak apa-apa. 1:12:22 bagaimana sebagai orang tua? 1:12:25 [tertawa] 1:12:25 Minta maaf itu kan komitmen untuk 1:12:27 menjaga hubungan ya. He em. Jadi, eh 1:12:31 do our best and it is enough. 1:12:34 Kita lakukan yang terbaik dan itu cukup. 1:12:36 Udah, nanti juga sadar sendiri. 1:12:39 Maka kalau kita bisa minta maaf dalam 1:12:42 situasi yang nyaman, maafin ya Bunda 1:12:45 enggak bisa 1:12:47 eh, membuat kamu sepenuhnya puas atau 1:12:52 maafin ya pernah sibuk sendiri waktu eee 1:12:57 kalian masih kecil, maafin ya Bunda 1:13:00 enggak bisa me nyelesaikan semua 1:13:03 kebutuhan yang kamu inginkan. 1:13:07 Eee kan ada keinginan ada kebutuhan ya. 1:13:10 Yang kebutuhan mungkin diselesaikan tapi 1:13:12 keinginan mungkin enggak seperti yang 1:13:14 kalian inginkan, atau juga Bunda enggak 1:13:17 sabar, Bunda begini, ma mohon maaf ya 1:13:20 gitu. Enggak apa-apa udah, yang penting 1:13:22 kita udah lakukan yang terbaik. Nanti 1:13:25 pelan-pelan anak-anak juga akan 1:13:26 menyadari. 1:13:28 Semoga 1:13:29 ini refleksi juga untuk saya ya. 1:13:32 [tertawa] 1:13:33 Iya, kita rangkum bahasan terkait dengan 1:13:38 Ramadan. 1:13:39 Ramadan. No drama. 1:13:41 [tertawa] 1:13:42 Oke baik Ikhwan dan Akhwat yang 1:13:44 dirahmati Allah, terima kasih ya sudah 1:13:46 bersama hari ini. Jadi eee ah 1:13:50 alhamdulillah 1:13:52 alhamdulillah wasyukurillah [bernyanyi] 1:13:55 Terima kasih ya Allah saya dikasih 1:13:57 kesempatan 1:13:58 eee masuk Ramadan tahun ini, semoga kita 1:14:01 semua bisa selesai Ramadan tahun ini dan 1:14:04 semakin kita menyadari betapa banyak 1:14:07 berkah Ramadan kita ini gitu. Maka 1:14:11 jangan sia-siakan mumpung baru hari 1:14:13 kedua, jangan sampai kita sia-siakan 1:14:16 Ramadan ini eee dengan eee eee 1:14:20 berkomunikasi yang intens kepada Allah, 1:14:23 dengan berkomunikasi yang reflektif 1:14:25 kepada diri kita sendiri untuk 1:14:27 mengoptimalkan berkah Ramadan ini. 1:14:30 Kemudian berkomunikasi efektif dengan 1:14:32 orang-orang di sekitar kita yang memang 1:14:34 lahannya adalah komunikasi sosial di 1:14:36 bulan Ramadan ini lagi berkah-berkahnya 1:14:39 kita dikasih melalui berbagai jalur 1:14:41 zakat, amalan, sedekah, kebaikan dan 1:14:44 lain sebagainya. Kemudian dengan 1:14:47 keluarga kita intens sekali luar biasa 1:14:50 melalui media sosial juga kita perlu 1:14:53 pandai-pandai 1:14:55 dalam memanfaatkannya 1:14:57 dan jangan lupa kesempatan emas untuk 1:15:01 menggugurkan ya, setahu saya baru 1:15:04 kemarin saya dengar tuh Ramadan itu kita 1:15:07 nih kayak dipretelin gitu ya dosa-dosa. 1:15:11 [tertawa] 1:15:11 Nah, ini kesempatan nih makanya jangan 1:15:13 ragu untuk mengungkap kan maaf jika itu 1:15:16 diperlukan 1:15:18 dan kita merasa itu salah gitu ya dan 1:15:20 berikan maaf ketika orang memintanya 1:15:25 begitu. 1:15:27 Wabillahi taufik walhidayah 1:15:28 wassalamualaikum warahmatullahi 1:15:31 wabarakatuh. Mohon maaf kalau ada yang 1:15:33 kurang berkenan. Waalaikumsalam 1:15:35 warahmatullahi wabarakatuh. 1:15:37 Ikhwan akhwat dari apa yang sudah kita 1:15:39 dengar sering-sering minta maaf tuh 1:15:42 keren banget. Meminta-minta tuh kan 1:15:44 enggak bagus ya, tapi untuk meminta maaf 1:15:47 itu paling luar biasa. Terus pemberian 1:15:51 yang nilainya tinggi banget juga adalah 1:15:53 pemberian memberi maaf. Jadi kata maaf 1:15:57 itu mudah-mudahan ada dalam genggaman 1:15:59 kita selama Ramadan ini 1:16:02 maaf memaafkan dan meminta maaf yang 1:16:04 akan berlanjut sesudah Ramadan nanti ya. 1:16:07 Baik ikhwan akhwat mudah-mudahan kita 1:16:09 bisa tingkatkan empati dan peduli kita 1:16:12 pada hal-hal yang terkait dengan yang 1:16:14 dibahas oleh Dokter Laila Ganim sore 1:16:16 hari ini. 1:16:18 Sekali lagi terima kasih banyak. 1:16:19 Sama-sama Mbak. Billahi taufik 1:16:20 walhidayah wassalamualaikum 1:16:22 warahmatullahi wabarakatuh. 1:16:23 Waalaikumsalam.