Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- Jadi itu sering wudu Wudu aja kalau
- batal wudu lagi. Iya ya. Seperti pohon
- kalau disiram air kan sehat lagi. Nah,
- begitu pula badan kita itu menurut
- konsep ilahiah hisab
- Rasulullah itu kan konsep kesehatan yang
- luar biasa. H ya. Allah yang menciptakan
- manusia. Kita harus ikut pedomannya.
- Maka konsepnya di
- antaranya ee hilal itu bisa Bilal itu
- bisa ee sandalnya kedengaran di depan
- Rasulullah di surga itu jawabnya kenapa
- bisa begitu? Saya menjaga batal
- wudu lagi batal wudu gitu.
- Nah, ternyata itu bagian yang sangat
- sederhana yang harus kita kerjakan
- dengan
- tanpa tenaga pengeluaran energi yang itu
- hanya wudu, hanya wudu, hanya wudu. Tapi
- kemalasan itu sering bersamaan dengan
- itu. Mau sehat tapi enggak mau syarat.
- Jadi kan sehatnya aja tapi usahanya
- enggak mau. Iya, itu kelirunya.
- N juga mengurangkan tidur. Mengurangi
- tidur. Iya. Kalau malam itu kan harus
- sembahyang fathajat
- bihijuk maquda.
- Semalam Bapak tidur berapa, Pak?
- Biasanya setiap malam. Ya kalau paling
- lama kan 5 jam itu paling lama. Paling
- ya sekarang ini dalam usia yang tinggi
- ini pendek waktu tidurnya. Jam . Jam
- 3.00 sudah bangun. Iya sudah bangun.
- Sudah mandi? Sudah mandi. Salat tahajud
- subuh gitu, Pak. Iya. Iya. Ya, sampai
- hari ini belum belum tidur nih. Oh,
- belum tidur ya. Dari malam ya. Ya. Malam
- sembahyang malam terus subuh. Subuh
- sampai dukha duha sekarang terus. Iya.
- Ya itu enak saja tidak ada. Karena
- konsep Allah itu menyehatkan. Iya. Iya.
- Iya. Jadi kalau kalau olahraga
- bagaimana, Bapak?
- Ya, seperti itu ada tradmill di atas
- itu. Di atas. Iya. Iya. Itu yang ya
- sebagai apa itu latihan kecil-kecilan.
- Iya. Iya. Iya. Jadi, masyaallah ya ee
- rahasia dari Pak Mansur di usia yang 3
- tahun menuju 90 tahun ini masyaallah ya.
- Salah satunya itu menjaga wudu.
- Masyaallah. Dan alhamdulillah terusang
- saya tidak berlebihan ya. pertama ketemu
- beliau kurang lebih 5 tahun yang lalu
- dan hampir setiap bulan kita ketemu ya
- Bapak ya rekaman dian beliau. Beliau ini
- tampak segar, bugar, kemudian
- ingatan-ingatan juga masih ingat ya
- tanggal-tanggal yang bersejarah.
- Masyaallah saya sendiri sih meskipun
- sudah buka-buka lagi lupa lagi lupa
- lagi. Masyaallah
- sama aja. Sama masyaallah.
- Iya. Alhamdulillah. Insyaallah mungkin
- perlu kita tiru ya. perlu kita ee
- amalkan. Meskipun tadi kadang-kadang
- malas kita coba ya untuk menjaga wudu
- insyaallah tetap diberikan kesehatan,
- kebugaran dan umur yang panjang dan juga
- bukan hanya panjang tapi bermanfaat
- tentunya ya. Amin. Amin ya rabbal
- alamin. Dan Ikh ikhwan Ahwat, di
- kesempatan ini kita akan kembali
- menggali ee karya Pak Mansur mengenai
- buku yang sangat fenomenal ya, buku api
- sejarah yang mungkin ikhwan-hwat di
- rumah sudah banyak yang memiliki ya,
- yang sudah ada juga yang ee istilahnya
- dapatkan di Rasil tepatnya di Etala eta
- Rasil ya Iwan Nawat. Alhamdulillah.
- Semoga tentunya bukunya bermanfaat nih.
- Dan mungkin bagian yang belum tahu
- bagaimana proses penulisannya, latar
- belakang penulisan buku ini,
- kendala-kendala Pak Mansur dulu ketika
- menulis buku ini seperti apa, sepertinya
- menarik untuk kita dengarkan kembali,
- ikhwan akhwat. Nah, bagaimana Pak bisa
- ya kita ingin mendengarkan kembali
- sejarah Bapak menulis buka api sejarah
- ini seperti apa sih gitu kan. Ini bagian
- sejarah juga ya Bapak ya? Iya.
- Jadi itu latar belakangnya seperti apa
- sih, Pak? Dulu, Pak, orang bisa menulis
- itu harus banyak membaca.
- Tidak ada penulis tanpa membaca karya
- yang lain, gitu. Jadi, dengan adanya
- kita membaca dan membaca, maka ada satu
- gairah untuk menulis.
- Karena kita membaca itu dicerdaskan oleh
- buku-buku yang kita baca. He
- jadi kalau kita membaca kemudian sadar
- dengan apa yang dibaca itu umpama kita
- itu
- membaca tentang hal Plato. Kita
- kebetulan di Pluto ya. Pluto itu nama
- satelit tapi ini Plato. Plato itu nama
- seorang tokoh Yunani yang dengan bukunya
- Politia. H itu hidup 300 tahun sebelum
- Masehi. Nah, itu dialah nama itu
- dijadikan standar tentang hal politik.
- Lalu e putra eh ee muridnya itu namanya
- Aristotiles. Aristoteles. Nah, sama-sama
- juga menulis hal
- politik. Lalu dialah di dalam dunia
- penulisan masalah perpolitikan, maka dia
- dianggap sebagai orang pertama bicara
- politik. Hm.
- Nah, saya kan sudah ngaji gitu ya.
- Setelah ngaji kok yang pertama ahli
- politik itu Nabi Adam. Hm. Sebelum ada
- manusia-manusia yang lain, beliau adalah
- ciptaan Allah yang pertama dan mempunyai
- gelar kenabian dan punya tugas ini
- jailun bil ardi khalifah.
- Jauh sebelum ya. Jauh. Tapi karena dunia
- Barat itu katanya ilmu harus bukan dari
- manusia yang namanya nabi. He. Maka
- kalau di-cut lalu seolah-olah apa itu
- bukan urusan kemanusiaan dalam arti ee
- masalah pemerintahan segala
- macam. Ini keliru pikir saya. H. Lalu
- karena saya sudah ngaji dan juga membaca
- itu, maka kepengin saya memadukan ilmu
- dengan Islam itu. Dan kebetulan saya
- membaca dibah bendera revolusi Bung
- Karno. Nah, Bung Karno dari di Flores
- mengirim surat kepada Ahan. Ahansan itu
- tuan Hasan yang pendiri dari Persis. H
- beliau menuliskan
- bahwa ulama-ulama Indonesia
- ini feelingnya terhadap sejarah kurang
- gitu feelingnya. Jadi perasaannya untuk
- ee membaca sejarah Indonesia itu kurang.
- Padahal isi Al-Qur'an ya banyak juga
- muni sejarah ya. Dan kemudian kalau
- membaca sejarah maka yang dibaca bukan
- api sejarahnya. Tapi abu sejarahnya. Abu
- sejarahnya. Iya. Jadi bedanya apa?
- Kalau membaca
- Nabi kemudian tidak dia bukan tokoh
- revolusi itu kan kena abunya. Hm.
- Maka Bungkar mengiatkan nabi-nabi itu
- adalah pembaharu. H nabi-nabi itu adalah
- sebagai ee pendobrak dari sesuatu yang
- pada waktu itu merupakan
- kejumutan, kebekuan,
- ketidakjalanan, pemandekan. Maka nabi
- itu mengak gerakan
- kebangkitan. Nah, Ji. Maka istilah
- antara abu dengan api itu beda sekali.
- He. Jadi kalau kita membaca Abu Sejarah,
- maka 25 nabi itu
- depolitization. Enggak ada
- pikiran-pikiran politiknya. Walaupun
- bicara tentang Firaun itu bukan masalah
- politik. Walaupun bicara Nabi Adam eh
- Nabi Ibrahim itu bicara dengan Nabi ee
- dengan Namrud itu bukan karena politik.
- Padahal itu Nabi mengadakan satu
- revolusi pembaruan-pembaruan pemikiran
- yang sudah
- dirusak oleh ketidakbenaran ajaran dari
- para penguasa-penguasa itu.
- Jadi yang menjungkir balikkan kekuasaan
- itu
- Nabi. Kenapa Nabi itu dianggap tidak
- mempunyai konsep kepolitikan? H itu yang
- ditangkap adalah abu sejarah,
- bukan bukan api sejarah. Iya. Dampak
- dari abu sejarah
- ini asal mulanya sebabnya itu katanya
- fikihnya ibih fikih hadr maut. Punten.
- Maaf, maaf saya bukan mengindah hadr
- maut. Bongkar begitu kan begitu. H. Jadi
- karena konsep kepolitikan itu
- ditiadakan asal akibat dari konsep yang
- dibuatkan oleh senkronya
- supaya para ulama-ulama itu bicara
- tentang wudu usoli, fikih aja ya. Iya.
- Yang yang dan itu pun tidak digunakan
- untuk membangkitkan satu kekuatan
- pribadi mendobrak sesuatu yang tidak
- benar.
- Takmuruna bil maruf mungkar. Itu adalah
- konsep kepolitikan yang dinamakan
- revolusi. Menolak yang kemarin,
- membangkit yang baru. Kan begitu.
- Nah, ini tidak pernah di
- dipikirkan secara mendalam di tengah
- penjajahan yang sedang menginjak kepada
- para ulama-ulama, tapi dengan tenang
- membaca itu tanpa ada mengambil
- konsep-konsep politik dari kenabian
- untuk memerdekakan Indonesia.
- Nah, istilah Bung Karno itu sudah
- presiden waktu di tengah pembuangan di
- timur itu. Maka itu abu sejarah yang
- dibaca bukan api sejarah. Nah, ya akibat
- saya membaca maka terbangkitkan pikiran
- saya. Oh, begitu. Jadi membaca sejarah
- Nabi itu harus
- tergabungkan pemikiran-pemikiran politik
- dari ilmu-ilmu politik itu dengan
- ilmu-ilmu yang dicampurkan disatukan
- dengan petunjuk-petunjuk qurani dan
- hadisi. Maka itu menjadi api sejarah. H.
- Lalu saya merenung untuk menulis.
- ketika saya akan menulis saya itu
- sesudah ee diminta oleh Pak Munawir
- Zazali itu. Nah, waktu itu ada Pak
- Kunto, Dr. Prof. Dr. Kunto, ada juga ee
- ini Prof. Dr. Taufik Abdullah, Tafik
- Abdullah dan beberapa
- tokoh-tokoh bawat sejarah.
- Lalu ee Munair Zazali itu menginginkan
- supaya dibuat sejarah perjuangan umat
- Islam. Lalu yang membuat banyak. Jadi
- konsepnya juga banyak. Lalu semuanya
- katanya menyetorkan pemikirannya nanti
- disentralisir kepada Pak Taufik Abdul
- Lahab gitu. Nah, jadilah buku itu
- setelah apa? Nah, ketika saya melihat
- bukunya itu bukan menjelekan, tidak.
- Hanya merasa ada yang kurang gitu. Iya.
- Karena itu
- pesanan peta Hana. H. Iya. I pada saat
- itu ya. Maka masih seperti itu. Heeh.
- Heeh. Loh, kok apa ya? Terasa ini bukan
- bukan sejarah yang sebenarnya harus
- dipakai oleh Departemen Agama itu tahun
- berapa kira-kira, Pak?
- Lupa saya itu yaitu Gusur masih belum
- sakit masih muda. Tahun-an ya Pak
- Munafir Zazali itu. Oh bukan 80 agak ke
- belakang lagi. Oh iya iya kira-kira
- begitu. Nah terus saya Pak Mansur aja
- yang mimpin enggak mau ini kan masalah
- apa itu kelembagaan antara lembaga
- negara dengan lembaga sejarah. yang
- punya menang itu LIPI ya orang LIPI
- waktu masih aktif mengajar ya masih
- aktif mengajar terus saya
- ee saya pikir kita harus membuat sendiri
- gitu berkonsider itu konsekuensinya
- segala-galanya harus dari sendiri hm
- gitu supaya lebih aman pemikiran
- kesejaraan saya ini original g original
- nah nyomong
- Lalu saya bilang pada Gus Dur, "Gus Dur,
- saya mau menulis
- sendiri." Kata Gus Dur, "Ya, jangan
- minta bantuan uang kepada umat Islam,
- bukan kepada Busur. Enggak, kepada umat
- Islam jangan. Karena umat Islam itu
- kalau dimintai untuk rajaban, he untuk
- mauludan gitu, itu mau. Tapi kalau Mbak
- sejarah enggak mau." Iya. Nah.
- Dengan adanya apa peringatan Gusur
- begitu, maka saya lalu oh ya saya harus
- sendiri
- bisa
- sendiri. Nah, kebetulan saya sudah
- pernah untuk menulis NU saya kan sudah
- pernah ke Tambak Beras.
- Nah, untuk ketemu dengan orang-orang
- Muhammadiyah dan sudah Pak Jarnawi, Pak
- ee Fahrudin AR gitu. Saya sudah ketemu
- tokoh-tokoh pada saat Iya. Untuk ketemu
- dengan Pak Nasir pembuat NKRI, Pak
- Prawoto sebagai e Perdana Menteri Master
- Room itu saya masih bisa H gitu. Jadi
- masih bisa bercengkerama gali data ya.
- Saya saya bertanya bertanya bertanya
- begitu.
- Lalu juga saya bisa
- ketemu tokoh-tokoh NU yang dari
- pesantren-pesantren
- itu. Saya pernah diberi majalah lama NU
- tapi pernah di apa hilang buku sejarah
- itu. Lalu saya juga untuk ee menulis
- tentang 45 itu saya ke Jogja bertemu
- dengan ini ee tempat dokumentasi keda
- kedulatan rakyat. H. Nah, kebetulan kok
- boleh
- difotokopi. Lalu saya fotokopi semuanya
- dari 45 sampai 50 dan itu ya yang
- penting-penting yang terkait dengan ee
- Islam. He. Nah, lalu saya sudah saya
- juga terus di yang namanya di museum itu
- sampai 1 bulan. Jadi, Bapak jalan
- sendiri ya berarti? Iya. Jalan sendiri,
- biaya sendiri. Sendiri.
- Nah, itu ee nah pada waktu itu ya
- karena saya percaya bahwa uang itu tidak
- membuat saya pintar
- gitu. Saya punya keyakinan begitu. Tapi
- ya saya pintar ya membuat saya pintar
- hanya sembahyang malam
- saum maka saya saum ya saum yang yang
- orangnya hebat itu Nabi Daud kan iya ya
- yang bisa menurukkan Nabi Sulaiman lalu
- saya puasa Daud jadi ketika pengumpulan
- data, penulisan menjaga saum juga Bapak
- ya. Iya saum Daud. Saya saum Daud.
- Masyaallah. Iya. Ya. Saya saum Daud itu
- hanya bisa 30 tahun lamanya. Masyaallah.
- Ya, kalau dibanding dengan Pak ee Pak
- Amin Rais itu 40 tahun sudah sampai
- sekarang masih masih iya kalau saya
- berhenti 10 tahun yang lalu. Masyaallah.
- Tetapi puasa puasa Senin Kamis masih
- terus, puasa tengah bulan masih terus.
- Kalau tahajud masih alhamdulillah ya.
- Iya. Puasa Nabi Musa pernah saya
- jalankan tiga kali. Siapa itu puasa Nabi
- Musa? 40 hari terus nonstop.
- itu 40 baru hanya tiga kali dari 40* 3.
- Nah, jadi
- selama saya mendekatkan diri pada Allah
- itu pensian sejarah itu mudah. Hm. Allah
- mudahkan ya. Terasa Allah mudahkan ya.
- Iya. Iya. Jadi saya ke British Kamsil
- apa yang saya cari itu ketemu ketemu
- ketemu. Jadi saya ke
- museum-museum seperti juga ke
- perpustakaan-perpustakaan angkatan darat
- itu di Bandung atau saya pergi ke tempat
- perpustakaan-pusakaan yang lain itu
- selalu saya mudah dijumpakan yang satu
- hari. Iya. itu kan ee mungkin buat
- sebagian orang atau banyak orang malah
- susah untuk mengaksesnya aja susah gitu.
- Apalagi Bapak mengakses mendapatkan tadi
- meng-copy lagi ya diizinkan. Masyaallah.
- Iya. Itu kemudahan-kemudahan ya. Betapa
- sulitnya untuk membaca buku itu saya
- tulis itu yang saya kutip-kutip saya
- tulis dengan tangan gitu.
- eh buku-buku umpama Jot Mcan Kehin
- dengan Rasul and Revolution Indonesia
- untuk mendapatkan buku itu susah waktu
- itu ya saya ke museum saya tulis itu itu
- go British Council juga saya pinjam apa
- itu saya tulis di tempat enggak ada
- fotokopi iya iya baru waktu masih mahal
- ikhwan akhwat jangan ngebayangin kayak
- sekarang ya kita buka internet klik copy
- paste gitu kalau kalau dulu kan
- Masyaallah. Iya. Kalau dulu masih
- seperti itu. Iya. Nah, tapi yang penting
- semangat membaca. Yang penting semangat
- membaca. Ya. Ya. Saya membaca itu.
- Karena saya malu dengan Buya Hamka. H.
- Buya Buya Hamka itu ketemu juga di
- museum. Padahal pagi subuh beliau itu
- baru mengajarkan Al-Qur'an. He. Tapi
- kira-kira jam seteng ee jam 0.30 itu
- sudah di museum. Oh. Nah, lalu saya
- potret itu foto Buya Hamka yang di sini
- itu adalah saya ambil di museum itu
- sama-sama ketemu di museum.
- Nah, karena saya adalah bagian dari
- lembaga sejarah yang dibangun oleh Buya
- Hamka itu, maka saya juga mengambil foto
- beliau itu di Buya Hamka itu. Nah,
- semangatnya Buya Hamka itu membaca luar
- biasa.
- Ini foto Buya Hamka yang saya ambil di
- museum. H ketika Bapak langsung
- mengambil Iya, saya ngambil. Oh,
- masyaallah. B Hamka. Jadi sudah setua
- itu beliau masih mau membaca membaca ya.
- Nah, apalagi saya yang muda kalau begitu
- maka saya harus bersemangat juga. Iya.
- Iya. Jadi bagi
- yang ingin
- menulis itu membaca.
- Dan yang kedua itu semua
- kegiatan-kegiatan itu yang membuat kita
- cerdas itu harus tahu di antaranya Allah
- itu. Jadi kita ibadah ya. Iya.
- Konsep-konsep ibadah menurut Al-Qur'an
- dan sunah itu kita jalankan. Masyaallah.
- Nanti saum gitu dan kemudian juga
- sembahyang malam. Salat malam ya gitu.
- Lalu tidak batal wudu gitu. Kalau untuk
- salat-salat wajib itu sudah jangan dit
- itu wajib. Iya. Jadi kalau saya di
- komputer itu kalau batal saya berhenti
- wudu lagi. Iya saya wudu lagi gitu.
- balik
- lagi itu nanti apalagi saya megang Quran
- itu harus selalu karena itu banyak
- kutipan-kutiban Quran maka saya juga
- enggak
- bisa la yamasu ilal mutatharun jadi saya
- megang itu itu saya diajari oleh
- orang-orang kiai-kiai NU harus dalam
- keadaan suci ya orang Al-Qur'an itu
- harus suci iya kalau yang lain
- mengatakan oh wudu itu hanya untuk salat
- he gak saya enggak ikut itu
- Maaf itu saya enggak ikut. Saya hanya
- kalau dia berpendapat begitu boleh aja.
- Tapi saya buku-buku yang saya pegang itu
- saya sudah enggak batal. H gitu. Saya
- takut kalau apa itu ee Quran itu sama
- kalau sedang batal. Nah, itu
- mencerdaskan
- ya. Jadi baca juga ngerti. Ini juga
- ngerti cepat ketemu yang iningatan juga.
- Ya
- Allahukakanya itu juga menguatkan kita
- dalam membaca itu.
- J membaca itu ngantuk, baca itu berat.
- Heeh. Tapi karena kita ee sudah itu
- sudah siap dengan metode Rasulullah gitu
- ya. He. Lalu saya gunakan itu. Jadi
- kalau metode penelitian, metode itu kan
- enggak ada wudu. Iya. Iya. Enggak ada
- salat. Iya. Iya. Tapi ya tadi saya saya
- selalu selalu menggabung antara
- pendapat-pendapat itu yang ya
- pakar-pakar ilmiah begitu membuat
- bukunya tentang hal metode penulisan.
- Saya juga para ulama-ulama besar dan
- kalau saya ketemu Bu ya Hamka sudah
- tidak ada. Asalamualaikum. Asalamualaika
- ya Bu ya. Itu punten
- maaf
- saya
- ketemu gitu.
- menulis Hasyim Asy'ari. Asalamualaikum
- Hasyim
- Asy'ari. Datang lagi mudah, mudah, mudah
- gitu ya. Semuanya saya berusaha untuk
- seolah-olah saya berhadapan dengan
- beliau
- gitu. Lalu saya tidak menganggap beliau
- wafat. W takut miktal fisabilillah amwat
- bal ahya wakinun
- hidup. Iya. Jadi saya lalu merasakan
- bahwa itu beliau-beliau
- itu pelaku sejarah yang ada depan saya.
- H maka saya tulis itu mungkin saya yang
- memudahkan itu ya. Iya. Iya. Antara lain
- itu dan kemudian bagaimana tidak mungkin
- saya bisa saya bersama dengan pelakunya
- kan gitu. Jadi aktor sejarahnya itu ada
- depan saya untuk bicara tentang hal
- musik integral. Pak Nasir depan saya
- beliau bicara gitu untuk ketemu tentang
- hal bagaimana Kartus Wio gitu. Saya
- ketemu dengan ada Zailani Kadar Sulihat
- tokoh-tokoh itu dia bicara tentang di
- yang
- sebenarnya bukan DI yang digambarkan
- oleh orang-orang lain itu. Di yang tidak
- merampok, DI yang tidak
- itu bicara dengan saya gitu.
- Lalu kartus itu enggak bisa disukur
- rambutnya karena 1 centti pun susah.
- Sakti. Nah, saya ketemu dengan
- orang-orang yang bersama Kartus Suryo
- yang apa itu diminta oleh K haji supaya
- bisa
- disukur itu Pangdam sini. H lalu cerita
- ini memang sakti kan begitu.
- Nah, itu juga untuk ketemu siapa yang
- membuat tanggal
- 17845 itu ada Pak Abdul Mukht itu juga
- orang sakti sudah cerita kesaktiannya
- segala macam yang apa kalau dia
- menghendaki apa-apa tuh gampang aja
- ibaratnya kelapa di atas itu enggak usah
- harus naik tunjuknya jatuh semuanya gitu
- mungkin sakti dalam arti ee karamah dari
- Allah mungkin ya iya itu umur saya dekat
- dengan beliau itu saya ketemu para
- pejuang-pejuang 45
- yang
- betul-betul ee orang yang berjuangnya
- tuh bukan karena ingin dapat kedudukan
- dari Menteri Agama
- atau camat betul betul atau membeli
- jabatan ketua KUA enggak ada itu. Tapi
- ikhlas
- ikhlasnyaubillah gitu. Nah, saya masih
- bisa ketemu dengan Pak ee Menteri
- Dahlan Ahmad Dahlan itu yang Muhammad
- Dalan yang dari NU. Saya suruh tidur di
- rumahnya gitu di belakang
- Sarinah. Jadi tokoh-tokoh itu kalau saya
- datang itu bukan beri uang tapi mengajak
- ngobrol. Iya gitu. Di situlah ya Iya.
- Kita mendapatkan informasi pengalaman
- pengalaman. Jadi hal-hal yang saya tidak
- pernah ketemukan
- dalam kehidupan literustakaan.
- He saya temukan di dalam
- pembicaraan-bicaraan itu langsung
- daripada pelaku sejarah tersebut ya.
- Iya. Ya. Pak Nasir itu orangnya hebat,
- tenang gitu ya. Kalau bicara PR saya
- dituduh saya ini kan pembuat Indonesia
- satu kesatuan negara kesatuan masa saya
- akan mengblok yang itu. Saya ke Sumatera
- Barat bukan untuk bergabung untuk
- menegur Ahmad
- Husein begitu. Jangan merusak kesatuan
- itu dengan membuat gerakan kedaerahan h
- kesukuan. Tapi ketika sampai sana itu
- sudah diserang di bom. Saya akan
- menjinakkan
- pikiran-pikiran dari Ahmad Husein. Jadi
- saya ketemu dengan Mr. Rum atau Pak Rum.
- Beliau juga cerita tentang beliau masih
- dalam syarikat Islam dulu sampai jadi
- pandu. Itu pandu itu pramuka sekarang. H
- ya, cerita-cerita
- begitu. Dan beliau sebagai orang yang
- dilukai di pemerintah kan gitu, di
- penjara segala macam. Tapi beliau itu
- tidak pernah membicarakan itu
- sebenarnya.
- Ya, lurus-lurus saja tentang hal iya apa
- yang dikerjakan oleh Mas Sumi. Itu apa.
- Jadi tidak ada ee baik Pak Nasir begitu.
- Beliau selalu menggunakan bahasa-bahasa
- yang santun dan baik. H gitu. Walaupun
- dia itu ke PRRI tadi, dia akan
- menyelesaikan secara face to face dengan
- pelakunya. Tapi tiba tadi bom. He. Dan
- kemudian saya dikatakan memihak kepada
- PRRI. Nah, kalimat itu enggak pernah ada
- di di dalam itu di dalam tulisan
- sejarah. H tapi dalam
- pembicaraan saya itu ada H saya tidak
- ikut PRRI. Saya ingin menyelesaikan PRRI
- dengan pendekatan
- kekeluargaan gitu ke sana itu. Itu kata
- Pak Nazir. Nah, hasil perbincangan atau
- wawancara seperti ini akhirnya Bapak
- muat di buku apa sejarah ini, Pak? Ya,
- sebagian belum dan juga mengenai masalah
- umat di gitu ya. Heeh. Jadi saya tanya
- kepada panglima
- DII-nya atau apa yang dipesankan oleh
- Kartus Biryo dia adalah taatilah Nasir.
- H macam-macam yang ee saya dapatkan
- dalam pembicara-pembicaraan itu. Ini
- orang-orang yang pertama mencetak ee
- proklamasi di ada saya pernah ketemu
- gitu.
- Nah, sampai begitu ditugaskan oleh Allah
- itu saya merasa seperti saya tidak
- mencari mencari-cari tapi ketemu
- dibukakan jalannya gitu sama Allah gitu
- ya. Iya. Bagaimana saya ketemu dengan
- pengkonsep
- 17845 dengan 9 Ramadan
- 1364 kemudian Jumat laginya. Kenapa?
- Kalau Bung tidak proklamasi pada hari
- itu 300 tahun yang akan datang baru
- ketemu. Heeh. Nah, dia itu orang yang
- ulama yang punya ke ya kesaktian itu
- siapa Masud? Abdul Mukhti. Abdul Mukti
- itu ketemu I dengan saya. Jadi, Bapak
- bisa ketemu yang
- begitu-begitu dengan Pak Isah Asyari
- sebagai tokoh ketua Front Antikumis.
- Saya ketemu dengan Pak Rusya Nuruddin
- yang konsep pertama Front Antikumis.
- saya ketemu gitu di dengan tokoh-tokoh
- semuanya itu
- ketemu baik NU, baik PERSIS, baik
- Muhammadiyah, PUI
- itu saya bisa merasakan gitu kok
- sepuh-sepuh dulu tuh begini gitu
- dalamnya tentang
- keislaman. Saya ketemu dengan tokoh SI,
- marhaban. Saya ketemu tokoh dengan Pak
- Syafi'i, saya ketemu dengan Pak
- Hasbullah, saya ketemu tokoh-tokoh SIS
- si yang betul-betul si si awal dulu.
- Iya. Yang betul-betul yang ikut dalam
- itu. Lalu yang tokoh-tokoh Garut yang
- terlibat dalam ee situasi Garut dulu he
- ee ditangkap oleh Belanda segala macam
- ketemu gitu. Dan mereka menceritakan ya
- iya banyak hal. Lalu tokoh-tokoh yang
- tidak setuju pada di he saya Kiai Musyad
- lalu Yusuf Tojuri macam lalu dari ee
- dari Singaparna saya bisa
- ketemu. Nah ketemu sayangnya saya tidak
- pernah punya rekaman gitu. H gitu hanya
- ketemu-ketemu sa enggak ada. Kalau
- sekarang ada HP gampang sekarang serba
- canggih ya. Ada ada motret gampang. Nah
- saya hanya ketemu begini saja. saya ke
- Surabaya, ke mana-mana itu saya ketemu
- itu dan Bapak pelaku-pelaku sejarah itu
- ee tidak ada yang waktu saya temui lalu
- kalau mau e apa minta informasi dari
- saya berapa H itu mau berapa berani-ber
- enggak ada gitu wani piro gitu ya enggak
- wani piro itu enggak ada jadi saya Bapak
- itu hanya diterima dengan baik terus
- kemudian saya bahkan diberi ini bukunya
- ininya
- itu baik-baik saja. Baik dengan Syekh
- Huden Zuri, bapaknya Menteri Agama
- sekarang. Iya. Iya. Itu itu kan termasuk
- yang menjebolkan pertahanan Inggris di
- Ambarawa. Ambarawa ngobrol ini ya.
- Betapa enaknya kita ketemu dengan
- tokoh-tokoh sejarah begitu gitu.
- Lalu tokoh yang
- mengusulkan seumur hidup Bung Karno jadi
- presiden
- Kholid dan juga ketemu apa dengan ee Dr.
- Sukiman Sanoyo. Nah, ini kan ee salah
- satu bentuk kemudahan dari Allah gitu
- diboskan jalan ketika Bapak berniat baik
- ingin menulis api sejarah ini dengan
- tadi latar belakang yang Bapak sampaikan
- ee ada enggak kendala-kendala juga Pak
- Mansur?
- ya kendalanya karena ee biaya itu kan
- dari sendiri. He. Jadi
- tanpa dengan biaya sendiri dan segala
- sendiri itu tidak ada pesan sponsor.
- Hmm. Jadi murni ya. Murni. Dan saya
- sebagai seorang dosen sejarah maka saya
- hanya menerapkan ilmu saja. Heeh. Metode
- penulisan sejarah tadi ya. Penulisan
- yang dikolaborasi dengan ee Al-Qur'an
- tadi ya, Pak Mas. Iya. Jadi kalau saya
- tidak ada diajari oleh mula-mula saya
- itu
- dibandungkan Persis itu menjadi basic
- saya mengerti agama bidah itu apa itu.
- Jadi persis. Kemudian ee dari
- Muhammadiyah saya diajari untuk
- menyantuni yatim piatu. He. Lalu buat
- gerakan ee IMM itu Muhammadiyah. Heeh.
- Nah, saya juga sering salat subuh dengan
- Habib Utsman
- gitu. Jadi, ada tiga hal yang saya
- membentuk diri saya. Kalau NU itu
- membuat hormat pada ulama. H gitu.
- Takzim kepada ulama. Iya. Iya. Itu
- NU dengan tokoh-tokohnya sampai ke pusat
- sana. Lalu kalau Muhammadiyah itu adalah
- kerja
- gitu. apa yang diimani, diyakini,
- dipraktikkan itu
- Muhammadiyah itu
- sebisa-bisa Muhammadiyah sekarang kaget
- saya mewah sekali gitu. Kalau dulu masih
- sederhana zamannya Pak A Fahrudin dengan
- Jarnawi itu masih masih sederhana,
- kursi-kursinya juga jelek waktu itu.
- Nah, Persis itu mengajari saya setiap
- jumatan saya mesti Persis. He. Selain
- tadi kendala materi ya, Pak Mansur, ada
- lagi kendala apa gitu yang mungkin e
- membuat Pak Mansur ya terhenti dulu
- akhirnya bisa lanjut lagi. Andai kata
- zaman Orla dan Orba itu memberikan
- kebebasan saya menulis H tidak ada
- bredel-bedel h karena saya menulis di
- panji masyarakat. Hm. H itu selalu
- redaksi memberi ingatkan pada saya
- tulisan saudara diberi coret-coret merah
- oleh Pak Harmoko. Oh pada saat itu ya
- langsung sama Pak Armoko ya. Iya itu
- dikirimkan ya kan itu sudah jadi Menteri
- Penerangan. Terus di Hamka itu mendapat
- teguran lalu ee baning masyarakatnya
- lalu saya sebagai penulisnya di
- diberitahu ini tegurannya ini tegurannya
- Arab dilunakkan gitu. H. H. Nah, andai
- kata tidak ada ya, Pak Jimat kan, saya
- juga enggak bisa menulis kan. Heeh. Itu
- yang memberi kesempatan waktu itu. Iya.
- Media untuk menyalurkan tulisan-tulisan
- sejarah Bapak ya. Iya. Nah, tidak ada
- urusan honor urusan itu enggak enggak
- ada urusan. Yang penting saya hanya
- menyampaikan fakta sejarah. Iya. Ada
- kepada menulis. He. Maka Hamka dengan
- Rusti Hamka itu itu yang membuat saya
- bisa menulis
- untuk dan adapun saya bisa mengajar
- UNPAT
- gitu. Adapun saya bisa berpikir ke apa
- itu kiai-kiai seperti Abdurrahman dari
- dari Mbak Persis ya. Kalau Ustaz
- Abdullah, Ustaz Komarin Saleh, Ustaz
- Rusuddin.
- Terus dari dana Alfalah itu Bapak
- Lukman itu sudah memberikan semangat
- yang luar biasa. Beliau dari Oxford
- University, tapi seorang kiai. Pernah
- menjadi ketua Bang
- Sukapura tapi beliau jatuh gitu
- kehidupannya. He. Tapi beliau memberi
- semangat yang hebat itu dana
- Alfalah.
- Lalu
- yang dari Ansar itu, Ansur itu yang yang
- memberikan semangat kekeluargaan yang
- dalam pada saya juga gitu.
- Lalu yang semakin dewasa saya dirangkul
- oleh
- Muhammadiyah dan kemudian saya mengerti
- Muhammadiyah itu apa. Tapi saya keliru.
- H kelirunya saya mau gerakan antiakum.
- Hm. Nah, di situ IMM yang saya dirikan
- itu terpaksa diambil alih itu diganti
- kepimpinannya. Saya dibekukan dengan
- Mursalin Dahlar. Jadi dulu Bapak salah
- satu pendiri IMM ya? IM secara nasional
- ada di Jakarta ya bersama Pak Amin Rais
- Kecelamatan. Iya. Tadi Bapak menjelaskan
- mengajar ee mungkin di antaranya di
- UNPAD di UIN itu sudah berapa lama Bapak
- dulu mengajar? Ya kalau sampai pensiun
- sekira 45-an. 45 tahun ya. Masyaallah.
- Dan itu sejarah ya. Mengajar sejarah.
- Iya. Jadi
- kalau ditambah dengan saya ngajar di
- UNPAS, di UNINUS, di UNISPA. Nah, di
- UNISPA itu Pak Muttaqin H ya universitas
- yang memberikan
- kesempatan sejarawan itu ngajar di situ.
- Itu hanya Pak Muttaqin
- saja. Nah, di situlah nanti Pak saya
- ikut membangun UNISBA ketika masih ada
- kuburan. Hm. Tahun berapa K itu, Pak? Ya
- sudah, Pak MIN keluar dari penjara dari
- RTM itu tahun 0-an enggak? Orde baru
- aja. Or mulai 6667 gitu. Iya. I. Nah,
- itu lalu ada Unisbal. He. Kemudian saya
- diberi kesempatan Pak Mansur idealisme
- Pak Mansur ajarkan di sini. Nah, saya
- megang tujuh fakultas itu semua
- mengajari sejarah, sejarah, sejarah.
- Nah, sekarang guru besar semuanya sudah
- Iya. Yang pernah apa itu yang saya
- anggap jadi mahasiswa Bapak sudah jadi
- guru besar semua ya? Iya. Sudah guru
- besar semua banyak juga di UNPAT guru
- besar semua gitu. He. Jadi lalu yang di
- UIN juga begitu. Jadi saya bisa ee
- melahirkan beberapa ee tokoh-tokoh
- yang apa mempunyai pandangan Islam. Iya.
- yang
- baik ee yang k yang baik ya karena tidak
- kenal dengan
- penjara jadi yang baik-baik saja gitu.
- Karena saya mengajari yang baik tentang
- sejarah jadi saya membangkitkan semangat
- keislaman untuk diindonisasikan
- gitu. dan para pejuang-pejuang Islam
- yang dahulu itu sudah mengislamkan
- Indonesia
- ini. Walaupun itu Pancasila tidak akan
- mungkin ada Pancasila kecuali Bung Karno
- itu bersama tidak bersama dengan Pak
- Sokro gitu.
- Nah, semua tidak akan mungkin
- supomo ya ikut merumuskan 45 tanpa
- beliau itu berada di Pakono ke berapa
- itu dari Solo
- juga Islam. He. Jadi konseptor-konseptor
- kenegaraan di republik ini itu sangat
- islami tapi tidak eklusif. Buktinya
- seperti Rasulullah dengan piagam Madinah
- lalu mengadakan piagam Jakarta. Ada
- maramis di dalamnya. He. Nah, ini yang
- perlu kita dalami. Maka ee saya tuliskan
- susunan kabinet Mas. Heeh. Itu ya ada
- Pak Kasimo dari Katolik dari itu
- semuanya ada. Nah, itu betapa
- keterbukaannya orang-orang Masumi
- terhadap
- kebersamaan gitu. Hanya yang tidak
- disujui oleh Mas itu PKI itu itu mesti
- di cut gitu. Nah, pemikiran-pemikiran
- ini saya tampung
- semua. Kemudian saya karena dekat-dekat
- dengan itu kecuali saya belum ketemu
- Idit. Belum ya belum perah tokoh-tokoh
- PKI itu saya enggak ketemu. Oh enggak
- ada sempat waktu. Entah Allah juga tidak
- menjumpakan saya dengan yang itu. Saya
- hanya dengan brosur-brosurnya, dengan
- itunya saya baca, baca, baca. Tapi tadi
- dengan tokoh-tokoh nasional, tokoh-tokoh
- Islam Allah pertemukan ya, Bapak ya. Ya,
- saya ketemu dengan Bung Karno gitu.
- Presiden ke istana. Iya. Saya pernah
- gitu. Jadi tokoh-tokoh semuanya yang
- bisa saya temu itu ya dulu kalau kita
- itu menteri itu hormat kita. H enggak
- seperti sekarang. Sekarang ini kan
- hilang. Siapa
- itu? Kalau dulu tuh e itu menteri itu
- kita hormat, ini hormat itu. Nah, Bapak
- untuk ee tujuan atau harapan Bapak
- sendiri dari penulisan buku ini dan tadi
- harapan Bapak kepada para pembaca ya
- yang sudah baca buku yang ee Bapak tulis
- ini seperti apa, Pak?
- Ya, supaya ngerti bahwa Islam Indonesia
- itu bukan Islam eksklusif. I Islam yang
- melahirkan
- NKRI dengan konsep keislaman tetapi
- keindonesiaannya juga kuat di dalamnya.
- Bisa dipasarkan, bisa dimengerti, bisa
- disosialisasikan. Pikiran-pikiran
- Islamnya itu untuk
- seluruh pemikir-pemikir di Indonesia.
- Hanya kalau ada halangan itu karena
- egoisnya Islam sudah memberikan yang
- terbaik. Semua gedung-gedung yang
- diambil e yang ditinggalkan oleh
- Belanda, pemuka-muka Islam tidak meminta
- gitu. Tetapi
- itu kita bisa melihat sekolahan Kristen,
- Katolik, semacam itu menikmati hasil
- sekolahan-sekolahan Belanda. Heeh. Gitu.
- Lalu anehnya nanti Islam dengan
- keswastaannya tidak diakui kes ada
- persamaan tertinggal baik materi ataupun
- dalam kepastian itu. Baru nanti setelah
- ada Gus Dur dengan Malik Fajar
- terjadilah WIN dirombak menjadi
- sekolahan yang mempunyai hak membangun
- fakultas kedokteran, membangun yang
- lain-lain. Ini ada satu langkah yang
- sangat baik untuk melepaskan Islam dari
- ke
- keterkungkungan. Karena sistem dulu
- Departemen Agama tidak boleh alumni
- kerja di lain-lain tempat itu dan
- sekolahan-sekolahan dari Departemen
- Agama tidak bisa masuk ITB gitu. He.
- Tapi kan zaman Gusur dibongkar semuanya
- lalu
- dipersamakan itu semuanya dibolehkan
- warga negara
- Indonesia. Nah. Perombakan ini adalah
- satu ee realitas dari
- pemikiran-pemikiran para pendiri dulu.
- He. Jadi ini yang diperlukan generasi
- muda untuk mengerti dari buku saya ini.
- Bukan saja itu Pancasilais, bukan. Saya
- itu hanya tahu Pancasila itu saya bukan
- Mas yang paling tulen. Tidak NU yang
- paling tulen tidak sama sekali. Saya
- bukan NU, saya bukan Muhammadiyah, saya
- bukan saya hanya sejarawan gitu. Dengan
- pemikiran-pemikiran yang netral ini,
- saya bisa melahirkan apa yang terjadi di
- Indonesia yang lalu dilupakan. Untuk
- diingat kembali, mari kita
- menghargai para pejuang-pejuang
- terdahulu.
- H ya, ini buku api Sejarah ini ee luar
- biasa tadi ee salah satu tujuan dan
- harapan Bapak tadi dan ikhwan akhwat ee
- bagi ikhwan akhwat yang mungkin baru ee
- tahu mengenai api sejarah. Nah, ini AP
- sejarah juga ada di Rasil. Bagi yang
- ingin mendapatkannya mungkin kesulitan
- mendapatkannya bisa datang ke Rasil atau
- menghubungi Rasil ya Ikhwan Akwat. Ya,
- bisa dilanjutkan Bapak seperti apa? Yang
- terakhir dari pistah kedua ini itu
- sampai ini dari
- 1942 yang kedua ini sampai ke 212. Hmm.
- Dari tahun 1942. Iya. Sampai ada demo
- 212. Oh, yang demo yang isi sejarahnya
- seperti itu yang jilid dua itu ada
- gambarnya tuh. He. Jadi, Pak Jokowi juga
- ada presiden ada. Karena saya harus
- menurutkan secara jujur karena bagian
- sejarah ya. Iya. Sejarah. Jadi kalau ada
- presiden yang paling pintar di dunia
- bisa buat pesat terbang yang saya
- tuliskan itu Habibi. Iya. Gitu. Jadi
- kalau ada ee peristiwa demo yang
- terhebat di dunia tidak membuat sampah
- menumpuk bersih dan tidak ada satu
- tangkal pemotong itu hanya 212. Ini yang
- dimaksud original tidak ada pesanan sana
- sini ya dalam penulisan ini ya. itu
- gambar ee santri-santri
- siap berjalan dari Ci Amis sampai itu.
- Itu untuk saya ingatkan Islam jangan
- diganggu. He. Walaupun dia santri itu
- sanggup berjuang itu walaupun tanpa
- sandal ibaratnya begitu sandalnya putus
- walaupun nyeker ya. Iya. Hab dia mau mau
- walaupun dengan jalan kaki itu walaupun
- perutnya tidak dipikirkan isinya kapan
- akan terisi kembali tapi ternyata Allah
- menyatukan antara ibu-ibu yang dan
- semuanya menjemput dia. Iya. Peristiwa
- sejarah yang luar biasa.
- semua kurang mengerti
- itu Islam selalu
- diganggu nanti tumbang sendiri jatuh
- yang menjatuhkan Islam. Jadi jangan
- sampai saya bukan menghebatkan Islam
- tapi sejarah aku
- membicarakan bicara bicara sendiri bahwa
- Islam Indonesia itu Islam yang bukan
- mendapatkan gelaran negatif. Tapi Islam
- yang benar dan kemudian sudah membuat
- Indonesia merdeka seperti hari ini. Itu
- berapa juta ulama yang dilindas oleh
- Belanda tapi tidak pernah punah Islam
- semakin tegak semakin
- berjaya. PKI boleh
- menghapuskan ulama-ulama di Madiun. PKI
- boleh menghancurkan jenderal-jenderal
- yang di Jakarta. Tapi dia sendiri hapus.
- Karena apa? Berkat rahmat Allah. Ini
- hakikat sejarah. H. Jangan menangkap
- sejarah abunya. Api sejarah Indonesia
- adalah berkat rahmat Allah yang maha
- kuasa. Dan negara Indonesia itu negara
- berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Itu
- apapun yang akan diperbuat orang-orang
- meniadakan apa yang telah digariskan
- orang tua-tua kita, pendahulu-pendalu
- kita ini, dia akan tergulung sendiri.
- Dia akan jatuh sendiri. Karena apa? Dia
- menangkap apu
- sejarah. Pelajarilah api sejarahnya.
- garis yang
- sebenarnya dari perjuangan itu tidak
- bisa terbelokkan oleh kekuatan apapun
- yang dipunyai oleh manusia. Karena api
- sejarah yang sebenarnya yang diimpikan
- oleh Bung Karno dan para
- pendahulu itu semuanya adalah tetap
- berjalan walaupun dihambat oleh yang
- lain-lain. Insyaallah kita akan bisa
- melihat pergantian apapun di Indonesia
- itu tidak pernah bisa memadamkan Islam.
- Allah akan menyempurnakan.
- Oleh karena itu, saya
- melalui TV silaturahim ini atau radio
- silaturahim ini hanya bukan
- menyombongkan kebenaran pemikiran saya.
- Tidak.
- Hanya sepercik pikiran-pikiran saya ini
- yang saya bisa menangkap dari peristiwa
- yang panjang dari abad 7 sampai abad ke
- sekarang
- adalah jalurnya itu
- jelas semua yang diletakkan oleh yang
- lama sampai kepada yang pertengahan
- sampai yang sekarang itu tetap ada tidak
- pernah hilang dan kalau itu akan ada
- menghilangkan dia sendiri yang
- hilang insyaallah gitu. Baik. Kita
- sebagai orang-orang yang diberikan aman
- oleh Allah jangan membisu.
- Sampaikan nanti generasi muda kita akan
- bisa bangkit dan akan membat Indonesia
- lebih berjaya daripada hari kemarin.
- Asal berpijak pada garis berkat rahmat
- Allah. Jangan keliru. Benarkan
- langkahnya dan perbaiki dalam
- pemikirannya itu sehingga
- pengindonesiaannya itu tidak
- bertentangan dengan Quran dan sunah.
- Masyaallah. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwan
- akhwat nanti mungkin bisa dilanjutkan
- sedikit Bapak ya. Ya, Ikwan Ahwat. Eh,
- buku Apis Sejarah ini ada dua jilid ya,
- mungkin bagi ikwan Ahwat yang belum
- punya di rumah ee dengan hard cover ya,
- dengan jilid yang tebal ya, Pak Mansur
- ya. Dan juga bahan kertasnya juga
- sekarang kalau enggak salah ini impor
- ya, Pak Mansur ya. Iya. dari Amerika
- dengan kualitas ee kertas yang sangat
- bagus, baik sekali di karena sebelumnya
- juga sudah apa sudah diterbitkan ya dan
- ini ee edisi revisi kemudian dengan
- bahan yang sangat bagus. Iwan Ahwat
- insyaallah kalau Ikwan Ahwat ee dapat
- buku ini ini cukup awet ya pemansur ya.
- Iya. Karena yang jelek walaupun head
- cover itu adalah bajakan. Iya. Nah, itu
- ada pemberitahuan dan peringatan.
- Hati-hati buku bajakan dari buku api
- sejarah ini memang ada juga ya di
- pasaran terutama dijual online ya Pak
- Mansur ya. Online ada Ibu. Iya. Dan ada
- juga yang original Pak Mansur ya. Dan
- ini diterbitkan oleh ee penerbit
- keluarga sendiri Bapak ya. Ibu kelu. Oh
- iya. Istri dari Pak Mansur ya. Bu Ibun.
- Itu dana semua dari Ibu ya. dana semua
- dari istri e Pak Mansur atau ibunya ya
- memang sebelumnya sudah diterbitkan oleh
- salah satu penerbit ya Pak Mansur. Iya.
- Dan sekarang diterbitkan kembali dengan
- revisi dengan tambah-tambah tadi kata
- Bapak yang terbaru tuh sejarah 212 Pak
- Mansur ya. Iya. Iwanawat yang ee ingin
- ee tahu informasi mengenai api buku api
- sejarah atau ingin membelinya, ingin
- mendapatkannya silakan bisa menghubungi
- ee Saudara Anis ya di etalase Rasil di
- toko buku Rasil. Nah, terakhir Pak
- Mansur, pentingnya sejarah untuk kita
- itu apa sih, Pak Mansur? Karena tadi
- Bapak bilang juga dulu Gus Dur pernah
- bilang kalau diminta untuk rajaban,
- untuk muludan,
- masyarakat Islam kita tuh sukarela
- memberi. Tapi kalau untuk sejarah itu
- enggak ada gitu. Enggak mungkin. Nah,
- sebenarnya penting sejarah itu apa sih,
- Pak? Ya, sejarah itu adalah satu kisah
- yang teruji kebenarannya
- dan juga teruji kesalahan pilihannya.
- Oleh karena itu, kalau kita tidak
- mendapatkan tersandung kesalahan baru,
- maka sebaiknya membaca sejarah itu.
- Insyaallah sejarah yang jujur penulisnya
- kita akan menyajikan yang benar. Jadi
- sejarah adalah
- berisi
- pengalaman-pengalaman gitu dari para
- pelaku sejarah yang dulu dan itu sudah
- teruji kebenarannya gitu. dia keliru
- atau dia benar gitu. Itu pada sejarah
- dalam sejarah sudah ada. Walaupun itu
- tidak bisa di verifikasi tetapi sering
- terjadi pengulangan
- gitu.
- Ibaratnya LGBT walaupun sekarang akan
- dibuat oleh Garin filmnya itu seharum
- bau
- badanmu. Tapi itu sudah merupakan
- pelanggaran yang akan nanti kalau berbak
- nanti yang namanya palu akan terjadi
- lagi. Itu pengulangan dari zaman Nabi
- Luth Alaih Salam.
- Jadi sejarah adalah
- merupakan semacam mercuar kalau di
- tengah lautan kapal supaya enggak
- terbentur
- karang. Kalau kita membaca sejarah kita
- akan dicerdaskan kalau kita tidak bisa
- membacanya akan datang. Karena apapun
- yang terjadi hari ini, sambungan dari
- masa lalu hari ini adalah akan merupakan
- langkah ke depan yang mereka masa depan.
- Kalau masa depan tidak tahu, kenapa
- tidak mau membaca masa lalu? Masa lalu
- adalah tersimpan pelajaran yang pantas
- untuk dijadikan bekal hari ini dalam
- maju ke masa depan.
- bukan mengutamakan masa lalu, tetapi
- kalau kita di mobil tanpa spion akan
- maju, maka walaupun spion itu kecil tapi
- bisa menyelamatkan kita akan maju karena
- menoleh ke belakang lebih dulu.
- Melangkah ke depan tanpa meloleh ke
- belakang itu satu kekeliruan untuk maju
- ke
- depan. Bagaimanapun juga kemanusiaan itu
- banyak kekurangan.
- konsep-konsep ajaran kesejarahan para
- nabi itu merupakan satu konsep
- kesejaraan yang akan datang yang perlu
- kita kaji, yang perlu kita jadikan
- pedoman. Dan kemudian kalau di Indonesia
- para pendahulu kita sudah memberikan
- contoh-contoh itu semua
- bangunan-bangunan yang ada di sekitar
- kita bicara tentang masa lalu yang perlu
- kita jadikan pedoman untuk tidak terjadi
- terulang kesalahannya.
- Sejarahlah yang bisa memberitahu begitu
- dan sejarawan yang bisa membaca walaupun
- fakta-fakta itu tidak begitu banyak
- tetapi bisa mengungkap kembali merupakan
- satu rangkaian
- ceritera kesejarahan yang bukan
- impian dan itu bisa jadikan pedoman
- hidup. contoh itu insyaallah kalau kita
- mendapatkan hidayah Allah akan bisa
- menangkap kebenaran sejarah.
- Baik, terima kasih Pak Mansur atas
- waktunya bincang-bincang sejarah Islam
- Nusantara kesempatan hari ini. Dan
- ikhwan akhwat sekali lagi ya, bagi
- ikhwan akhwat yang ingin lebih ee banyak
- lagi ee menggali mengenai sejarah ee
- sejarah Indonesia, sejarah Islam di
- Nusantara, bagaimana perjuangan para
- ulama, para santri ee untuk meninggalkan
- Negara Kesan Republik Indonesia yang Pak
- Mansur tulis di buku Sejarah. Silakan
- Iwan Awat bisa membacanya langsung. He.
- Dan mungkin ee buku ini selain untuk
- kita sendiri juga bisa mungkin untuk
- dihadiahkan kepada orang lain, Pak
- Mansur ya. Agar lebih banyak lagi yang
- membaca atau diwakafkan ke perpustakaan,
- ke masjid, ke sekolah-sekolah dan
- semakin banyak lagi yang ee terbuka
- pandangannya mengenai sejarah mengenai
- kebenaran sejarah yang ada di negara
- kita. Ya, Pak. ini merupakan penerbitan
- terakhir. Nanti akan ada penerbitan baru
- lagi yang akan saya
- terbitkan ya dalam sekarang sedang saya
- kebut untuk menulis untuk pesan-pesan
- bagi yang muda supaya bisa melangkah ke
- depan lebih benar. Judul buku yang baru
- atau visi?
- ujulnya baru kemungkinan itu menulis
- sejarah dan kemudian juga sang pendoprak
- itu juga akan saya sajikan seperti
- mengapa kalau kita membaca itu tidak
- melihat tokoh itu dengan bacaannya. Hm.
- Ini harus di tengah-tengah tanpa
- mengerti. Maka saya buatkan supaya
- ngerti. Baik ikhwan akhwat. Nampaknya
- waktu kita yang membatasi di kesempatan
- ini, Pak Mansur. Terima kasih.
- Insyaallah kita ketemu lagi bulan depan,
- Pak Mansur. Ya, sekali lagi terima kasih
- atas kesempatannya. Ikhwan akhwat.
- Akhirnya saya Rizal Hak bersama
- teman-teman yang bertugas ada Bang Ondi
- dan juga Bang Agus dan juga Pak Mansur.
- Kediaman Pak Mansur sendiri undur diri.
- Subhanakallahum whamdika asadua
- ilahailla anta
- astagfirillahfik walhidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam.
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]