Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil
- alamin. Wasalatu wasalamu ala Sayyidina
- Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain.
- Rabbi zidni ilman Allahumma anfani bima
- alamtani wa alimni ma yanfauni warzuqni
- ilman yanfauni. Dipancarkan dari Jalan
- Masjid Silaturahim nomor 36 Kalimanggis,
- Cibubur, Bekasi. Radio Silaturahim dan
- hasil visual untuk Islam yang satu.
- Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah
- subhanahu wa taala, pendengar setia
- Radio Silaturahim di manapun Anda
- berada.
- Senang sekali di malam hari ini saya
- Angga Aminudin ditemani oleh Yusuf
- Sebangkit dan Setiabudi dapat kembali
- menyapa Anda ikhwan akhwat
- dalam acara bincang pendidikan.
- Seharusnya jadwalnya
- di pekan Ahad pekan ketiga, Nah, namun
- saat ini kita masuk di Ahad pekan
- keempat karena ada satu alasan ternyata
- kalau kata Pak Munif narasumber kita
- yaitu hari ini kita bertepatan dengan
- hari Ahad 25 November 2018 atau Hari
- Guru Nasional. Telah bersama kami
- narasumber kita
- Bapak Munif Khatib. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh Pak Munif.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Jadi hari ini spesial memang
- spesial time ya.
- Hari Guru Nasional ya?
- Hari Guru.
- Hari Guru 25 November
- November.
- 2018.
- Betul.
- Banyak ucapan, kayaknya banyak ucapan
- nih Pak Munif ya hari ini.
- Iya. Iya, saya buat apa flyer gitu
- He eh.
- tadi pagi ternyata sama teman-teman
- dibalas dengan ucapan-ucapan yang
- dahsyat sekali ya.
- Iya iya.
- Rata-rata kan teman saya guru ya.
- He eh.
- Jadi
- eh apa terasa betul gitu.
- Kalau flyer saya Mas Angga, saya
- bilang sama teman-teman guru untuk
- ayo hari ini kita bangun lagi komitmen
- diri.
- He eh.
- Itu untuk menjadi guru gitu.
- Jadi sudahlah santai sejenak gitu,
- tersenyum gitu.
- Tapi hari ini itu penyadaran untuk
- komitmen diri.
- He eh.
- Karena profesi guru itu sebenarnya
- profesi yang mulia.
- Iya.
- Profesi yang eh meneruskan tugas para
- nabi ini gitu.
- Betul betul.
- Iya.
- Guru itu menjadi apa dijadikan?
- Menjadi atau dijadikan?
- Maksudnya ada orang yang eh saya ingin
- menjadi guru gitu ya.
- Tapi ternyata ketika melihat di
- tengah-tengah masyarakat ini belum cocok
- jadi guru ya.
- Iya.
- Secara profesi dia bisa menjadi guru.
- Betul.
- Tapi secara secara pengabdian
- Iya.
- dia belum cocok menjadi guru. Tapi ada
- orang yang secara pengabdian ini sudah
- sangat cocok menjadi seorang guru.
- Iya.
- Tapi secara profesi oh dia bukan guru.
- Iya.
- Betul.
- melihat fenomena itu bagaimana?
- Iya, jadi sebenarnya
- ini anu apa harus-harus holistik jadi
- satu sebetulnya iya.
- Eee karena
- eee
- profesi guru ini unik Mas Angga.
- Heeh.
- Selain guru ini dituntut kompetensi
- gitu.
- Tapi ternyata benar-benar
- hati ini berperan gitu. Hati ini
- berperan.
- Heeh.
- Karena itu fakta kita lihat Mas Angga
- ya.
- Kalau di eee apa itu diimbangi dengan
- penghasilan guru.
- Namun seorang guru itu memang berhati
- mulia sebagai seorang guru biasanya
- income sekecil apapun enggak ada enggak
- enggak jadi masalah.
- Heeh.
- Itu karena
- yang seperti panggilan seperti itu.
- Iya iya.
- Itu. Tapi ya ada juga yang
- guru yang benar-benar menomorsatukan
- income ini.
- Heeh.
- Iya, jadi merasa punya kompetensi yang
- keren gitu. Jadi kemudian semuanya
- diukur dengan income itu. Nah, menurut
- saya yang kerut yang pertama tadi Mas
- Angga.
- Itu karena
- guru itu ya itu ya digugu dan ditiru.
- Gitu.
- Heeh. Iwan Ahmad untuk topik bincang
- pendidikan malam hari ini bersama Bapak
- Unif Fathib kita akan mengangkat topik
- mengenai menjadi guru abad 21.
- Iya.
- Abad milenial.
- Iya, abad milenial ya.
- Abad milenial.
- Refleksi perjalanan guru menjadi gurunya
- manusia. Latar
- Heeh.
- belakangnya mengangkat topik ini apa Pak
- Unif kaitannya dengan hari guru nih?
- Iya, karena gini.
- Sekarang ini Mas Angga, zaman sekarang
- ini
- anak-anak kita sudah
- ada di zaman milenial.
- Nah, maka
- ada tiga kemungkinan Mas Angga.
- Heeh.
- Zaman milenial ini kan zaman gadget.
- Iya.
- Zaman robot.
- Kemungkinannya adalah yang pertama
- kita
- memandang
- abad ini, gadget, robot itu
- adalah yang
- kita gunakan.
- Kita perintahkan.
- Kemungkinan yang kedua adalah kita
- bekerja sama ini sama robot.
- Dan kemungkinan yang ketiga kita
- diperintah sama robot.
- Dan ini sudah mulai terjadi Mas Angga.
- Iya.
- Nah, sehingga
- ketika
- yang kita hadapi tiap hari itu adalah
- anak-anak kita.
- He eh.
- Yang namanya manusia, maka
- di apa eh tagline-nya itu
- refleksi perjalanan
- guru menjadi gurunya manusia. Maksudnya
- siswa ini harus kita siapkan menjadi
- manusia. Jangan sampai kalah nanti
- dengan
- abad robot ini Mas Angga. Itu.
- Nah,
- eh
- kita kan tahu
- ada lompatan besar perubahan di abad
- milenial ini.
- Betul.
- 10 tahun yang lalu sam eh dibandingkan
- dengan sekarang aja lompatannya besar
- sekali.
- Nah, lompatan yang besar ini yang
- menjadi latar belakang dari tema malam
- ini Mas Angga.
- Yang pertama adalah
- ternyata
- para anak-anak kita ini, para para siswa
- kita
- ternyata hari ini
- mereka
- menghadapi masalah yang lebih besar
- daripada
- anak-anak kita sebelumnya.
- He eh.
- Dan masalah itu
- yang terbesar adalah malah masalah non
- akademis.
- He eh.
- Bukan masalah akademis ini.
- Mungkin 10 tahun yang lalu anak-anak
- kita mengalami masalah akademis.
- Susahnya ngerjain persamaan kuadrat.
- Susahnya belajar bahasa Inggris.
- He eh.
- Tapi hari ini anak kita hebat.
- Hanya dengan YouTube saja, semua masalah
- akademis selesai sudah.
- Itu.
- Tapi,
- mereka dihadapi dengan masalah non
- akademis. Nah, ini tantangan guru
- milenial.
- Harus benar-benar memandang
- problem
- peserta didik itu
- sudah benar-benar harus
- sudah menembus
- batas-batas
- keakademisan.
- Iya.
- Kalau guru memandang sebelah mata
- masalah non akademis peserta didiknya,
- Mas Angga,
- biasanya nanti akan berbuntut di masalah
- akademisnya itu. Jadi, non akademis ini
- punya pengaruh yang besar sekali. Kalau
- enggak selesai
- kepada masalah akademis.
- Anak yang kognitifnya pintar, Mas Angga,
- tapi ketika
- dia punya masalah di rumah,
- dia punya masalah di sekolah dengan
- teman-temannya atau komunitas yang lain,
- kemampuan kognitifnya itu bisa
- tereduksi. Nah,
- jadi
- guru milenial harus memandang bahwa
- peserta didik sekarang, anak-anaknya,
- itu
- punya masalah non akademis yang tidak
- seimbang dibandingkan dengan masalah
- akademis.
- Yang kedua,
- karena ini abad 21,
- kemampuan guru
- yang harus dihadapkan dengan bagaimana
- guru mengajar dan berhubungan dengan
- peserta didiknya harus multi tasking,
- Mas Angga.
- Hmm.
- Harus multi tasking.
- Sekarang sudah tidak zamannya guru yang
- fokus kepada satu mata pelajaran
- Iya.
- yang dihadapi. Ketika muncul mata
- pelajaran yang serumpun, tiba-tiba guru
- itu merasa, "Wah, saya tidak mampu." Ini
- sudah enggak musim lagi.
- Eee
- 2 minggu yang lalu kita baru pulang dari
- dari Tokyo, Mas Angga. Kita mengunjungi
- 4 sekolah di sana.
- Di situ kita melihat benar di sebuah
- sekolah Musashino di Tokyo.
- Itu
- guru
- matematika
- tapi bisa mampu meng-handle
- anak-anak berkebutuhan khusus. Di sana
- kebetulan autis.
- Ehm.
- Guru musik juga bisa mampu sebagai
- konseling. Bayang, konselor.
- Jadi
- Jadi psikolog.
- Iya, luar biasa. Jadi dan kepala
- sekolahnya mengatakan, "Oh, guru-guru
- kami harus multi-tasking."
- Ehm.
- Nah, karena zamannya dibutuhkan seperti
- itu.
- Nah.
- Mungkin dua ini tantangannya sebenarnya
- untuk refleksi
- Iya.
- guru milenial ini, Mas Angga.
- Topik hari ini pun menjadi guru abad 21,
- saya teringat eee
- saya searching barusan di salah satu
- berita
- Iya.
- eee Menteri Pendidikan dan
- Menteri Pendidikan
- Iya.
- dan
- eee Pak Muhadjir Effendy mengatakan
- bahwa di 2018 ini hari peringatan guru
- ada beberapa hal yang harus menjadi
- fokus. Yang pertama adalah bagaimana
- di abad 21 ini guru harus meningkatkan
- profesionalisme dalam hal mental dan
- kualitas ajar.
- Iya.
- Bicara tentang mental guru, Pak Munif?
- Di tahun ini apakah memang sudah siap
- guru ini menghadapi ya itu, menghadapi
- abad 21?
- Iya.
- manfaatkan semua hal.
- Iya. Iya.
- Kalau membaca berita di media, Mas
- Angga.
- Tentang mental guru kita.
- Biasanya yang ter-blow up yang
- jelek-jelek.
- Iya.
- Itu.
- Nah, ini mungkin media ya.
- Iya.
- Itu. Tapi saya percaya
- Ehm.
- eee tidak semuanya. Bahasa Jawanya tidak
- boleh kita gebyah uyah itu.
- Ehm.
- Bahwa mental guru di Indonesia
- menghadapi abad 21 ini masih belum siap.
- Kita tidak boleh mengatakan itu semua.
- Tapi memang
- saya merasakan sendiri, Mas Angga.
- Di sekolah saya,
- lalu masukan dari teman-teman, gitu.
- Ternyata
- mental guru menghadapi abad 21 ini,
- kalau menurut saya, Mas Angga, yang
- menjadi masalah benar adalah
- guru kita belum siap punya kompetitor.
- Punya pesaing
- yang hadir untuk ngajarin anak-anaknya.
- Dan pesaing itu adalah
- internet.
- Teknologi.
- Teknologi, itu. Guru-guru kita merasa
- belum siap itu.
- Iya.
- Ya, sayang sekali. Mestinya kan bisa
- menggunakan itu jadi kendaraan mestinya.
- Tapi ini tiba-tiba berubah fungsinya
- menjadi pesaing, seperti itu.
- Nah,
- ini yang
- menurut saya menyebabkan mental guru itu
- dari hari ke hari mulai decline, mulai
- menurun. Kenapa, Mas Angga? Karena
- siswanya dulu merasa apa?
- Apa ya fungsinya Bapak Ibu Guruku ini?
- Orang aku pegang handphone, pegang tab.
- Materi apa sih yang bisa tidak aku tahu?
- Bisa semuanya, gitu. Nah,
- jadi sumber informasi,
- sumber belajar
- yang mestinya zaman dulu itu 100%
- dikuasai oleh guru, sekarang sudah
- tidak, Mas Angga.
- Banyak sumber-sumber belajar yang
- selain guru. Dan itu lebih disukai,
- lebih menarik. Nah,
- ketika ini terjadi pada sosok seorang
- guru menghadapi kemajuan teknologi abad
- 21 dan
- teman-teman guru ini baper
- akhirnya makin menjauhi teknologi, nah
- maka ini terjadi penguncangan mental
- he em
- satu krisis ketidakpercayaan
- yang berawal dari krisis
- ketidakpercayaan terhadap kemampuan diri
- sendiri Mas Angga
- nah ini berdampak ketidakpercayaan
- kepada siswanya
- he em
- itu, terus melebar kalau sudah sama
- siswanya ketidak tidak percaya
- sama elemen-elemen pendidikan yang lain
- juga guru ini tidak percaya
- akhirnya
- ya yang namanya manusia
- kalau sudah
- susah sekali dalam pengembangan karena
- faktor-faktor mental dan
- ketidakpercayaan biasanya
- nah sifat-sifat yang tidak terpuji
- muncul
- he em
- pada diri seorang guru
- di media Mas Angga
- guru memukul siswa
- ini dibalas besoknya siswa memukul guru
- guru berantem
- dengan orang tua, minggu depannya orang
- tua berantem dengan guru lihat seperti
- muter lingkaran setan
- he em
- nah mungkin itu Mas Angga
- kecemburuan apa itu kecemburuan apa
- kompetitor ya pesaing lah gitu
- betul betul betul
- ya jika memang guru melihat kemajuan
- teknologi sebagai kompetitor
- bagaimana guru harus bisa menjadikan
- justru teknologi ini
- dimanfaatkan gitu
- betul
- memanfaatkan
- kemajuan
- teknologi, ada pengalaman Pak Munif
- dalam mengajar siswa ternyata
- eee
- ketika bahan ajar yang akan kita
- sampaikan siswa itu sudah tahu karena
- googling itu gitu, mungkin dia karena
- searching
- iya
- terobosan apa dari seorang guru untuk
- melatih mentalnya bahwa oh ketika saya
- misalkan membahas pengertian ini ini
- sudah sangat mudah sekali diakses gitu,
- lalu terobosan apa nih buat gurunya?
- Sekarang ini Mas Angga
- He eh.
- referensi itu banyak sekali
- Iya.
- Apakah referensi itu dalam bentuk
- ensiklopedia
- He eh.
- atau buku-buku
- ataupun softcopy macam-macam dari
- internet.
- Nah, terobosan yang mestinya
- dilakukan oleh guru
- guru itu
- meramu Mas Angga
- He eh.
- meracik
- materi ajar yang
- dia ajar dengan referensi-referensi ini
- apakah buku hardcopy maupun yang
- softcopy dari internet. Ditambah juga
- dengan film-film.
- Racikan ini saya sering sebut namanya
- digital modul.
- He eh.
- Nah, ketika
- guru
- menggunakan
- banyak referensi
- lalu
- menggunakan teknologi sebagai tools,
- sebagai alat sebagai media
- untuk memperlancar proses pembelajaran
- saya pikir inilah guru yang menguasai
- robot.
- He eh.
- Bukan dikuasai sama robot.
- Guru punya, pasti punya diferensiasi,
- pasti punya pembeda
- Iya.
- di depan siswanya ketika guru itu
- diberikan kesempatan kreatif untuk
- meracik modul-modul yang
- oleh teman-teman guru didapatkan dari
- banyak referensi.
- Berarti kesimpulannya zaman sekarang ini
- guru
- harus membuat digital modul. Kalau
- enggak ketinggalan Mas Angga, gitu.
- Ketinggalan oleh siswanya sendiri. Tidak
- ketinggalan oleh rekan-rekan guru.
- Iya.
- Tapi ketinggalan oleh siswanya sendiri.
- Siswanya.
- Betul, iya, itu.
- Nah, kalau di sekolah-sekolah binaan
- kita seperti di
- SMP IT, SMA IT Insan Mandiri
- di SD Silaturahim Islamic School di SMP
- SMA School of
- Nah, kita sejak tahun yang lalu sudah
- mulai melatih guru ini untuk membuat
- digital modulnya.
- Iya.
- Ini supaya
- kita tidak ketinggalan.
- Heeh.
- Ya, mengingat juga pidato dari Mendikbud
- di Hari Guru Nasional tahun ini.
- Iya.
- Dengan mudahnya informasi dan juga
- berkembangnya dengan sangat cepat
- kemajuan teknologi, namun ada satu hal
- yang harus digarisbawahi.
- Iya.
- Peran guru tidak akan pernah tergantikan
- oleh kemajuan teknologi. Nah, bagaimana
- mengembalikan pemahaman guru ini bahwa
- perannya itu tidak akan tergantikan
- sebagai amanah bangsa ini
- mengajarkan anak.
- Iya.
- Mengingatkan itu bagaimana tuh, Pak
- Mudip? Ya, kan? Itu kepada seorang guru.
- Iya.
- Ada empat level itu.
- Heeh.
- Supaya peran guru tidak tergantikan oleh
- robot ini.
- Iya, iya.
- Itu ada empat level.
- Level yang pertama biasanya
- eh saya kasih nama medium teacher.
- Heeh.
- Itu just tell.
- Guru yang baru bisa ngomong aja ke
- siswanya gitu.
- Tapi enggak boleh berhenti di sini.
- Kalau guru berhenti di sini, pasti akan
- terlindas
- Heeh.
- oleh teknologi.
- Naik level lagi
- namanya good teacher. Nah, sudah guru
- yang baik ini.
- Iya.
- Mutunya itu explain.
- Heeh.
- Jadi, ketika seorang guru sudah
- mampu melakukan penjelasan detail kepada
- siswanya yang beda dengan just tell,
- mulai satu level mengalahkan teknologi.
- Heeh.
- Karena terkadang teknologi itu tidak
- mampu menjelaskan secara detail kalau
- enggak kita putar ulang, putar ulang,
- putar ulang.
- Tapi kalau guru yang live
- dia dia dia bisa
- menjelaskan dengan explain, penjelasan
- sampai peserta didiknya memahami.
- Heeh.
- Gitu.
- Tapi, Mas Angga
- teknologi juga tidak mau kalah.
- Iya.
- Itu. Kadang-kadang teknologi
- meng-explain-kan,
- menjelaskan sebuah materi ajar sudah
- tidak dengan guru.
- Tapi dengan film-film fenomena alam.
- Ehm.
- Sehingga
- good teacher tadi kalau tidak dinaikkan
- level-nya kalah lagi Mas Angga dengan
- dengan ini, apa? Teknologi ini dengan
- gadget. Apa level yang ketiga?
- Excellent teacher.
- Ehm.
- Nah, mutunya adalah demonstrate.
- Ehm.
- Nah, jadi guru tiba-tiba mampu
- mendemonstrasikan
- Ehm.
- materi-materi ajarnya untuk
- ke eh manfaat atau kebutuhan
- sehari-hari.
- Iya.
- Nah.
- Kalau ini guru lakukan nah mudah-mudahan
- teknologinya kalah lagi Mas Angga.
- Iya.
- Nah, gadget-nya kalah lagi gitu. Tapi
- percayalah tetap teknologi akan mengejar
- ini.
- Ehm.
- Nah, sehingga menurut saya level
- tertinggi dari seorang guru adalah great
- teacher.
- Ehm.
- Yaitu inspire. Nah, ini Mas Angga.
- Guru yang
- menjadikan inspirasi peserta didiknya.
- Ehm.
- Nah. Ketika guru itu sudah pada masuk
- pada level ini
- seperti kata Pak Menteri tadi, saya
- sepakat.
- Ehm.
- Tidak akan pernah tergantikan
- oleh
- eh gadget
- oleh teknologi dan lain-lain. Karena
- inspirasi itu beda Mas Angga.
- Iya.
- Iya.
- Itu jadi empat tadi medium
- medium sebagai dasar.
- Excellent.
- Good, excellent dan great teacher.
- Great teacher.
- Ehm.
- Itu tahapan-tahapan itu Pak Munif di
- jika direfleksikan
- untuk perjalanan gurunya manusia
- Iya.
- gimana Pak Munif?
- Iya.
- Itu kan konsep ya.
- Iya, iya.
- Tapi ketika kita mau menjalankan
- iya
- konsep ini butuh SOP Mas Angga
- em
- butuh standar operation prosedur bisa
- diterapkan
- aplikasinya langsung
- kalau di sekolah binaan saya Mas Angga
- iya
- yang namanya medium sampai good teacher
- itu
- kita namakan level guru
- he em
- jadi di peraturan tata tertib sekolah
- guru itu punya level kayak pegawai
- negeri punya pangkat golongan
- golongan
- iya
- kita punya level bahkan
- punya lima kita
- he em
- sebelum medium itu the first teacher
- guru yang probation period yang masih
- pertama satu tahun masa percobaan begitu
- iya
- nah ini level sudah
- lalu
- ketiga ibaratnya kalau kita perjalanan
- guru
- satu tahun dulu percobaan
- diukur kemampuan dan komitmennya Mas
- Angga
- he em
- sekolah punya instrumen
- untuk ngukur itu kita sering namakan
- penilaian kinerja guru di situ nah
- ketiga Mas Angga
- yang the first teacher tadi hasil satu
- tahun penilaiannya semester pertama
- keluar penilaian semester kedua keluar
- penilaian berarti lulus misalkan
- angkanya Mas Angga
- naik level
- menjadi medium teacher
- nah medium teacher kita lihat satu
- putaran silabus berarti
- satu tahun dua semester
- ketika muncul penilaian kinerja guru
- hasilnya bagus levelnya naik lagi
- good teacher
- nah berarti kalau kita pakai hitungan
- guru yang pertama kali mengajar
- kalau benar-benar punya komitmen dan
- kompetensi
- artinya dia ini benar-benar sebagai
- seorang guru
- maka
- 4-5 tahun selesai
- Hmm.
- dia akan menjadi inspire teacher, great
- teacher
- nah
- kalau guru kita seperti itu semua, waduh
- Indonesia akan maju pendidikannya gitu
- kalau iya kalau begitu semua ya Pak
- Munif
- kalau begitu semua, iya
- tapi saya percaya sebenarnya bisa Mas
- Angga
- oh gitu
- iya sebetulnya bisa
- itu karena
- di konsep gurunya manusia itu
- tidak ada
- anak yang bodoh
- hmm hmm
- berarti
- kalau itu dibalikkan ke guru sendiri,
- tidak ada guru yang enggak bisa ngajar
- mestinya
- iya
- nah itu
- ketika benar-benar
- apa mendedikasikan
- jadi guru, maka ya kita harus tahu
- konsekuensinya gitu harus, enggak boleh
- berhenti belajar, harus kreatif dan
- lain-lain gitu
- nah yang banyak terjadi adalah
- ada yang menyelimuti kemalasan belajar
- gitu kadang-kadang
- dengan berbagai macam penyebab
- penyebab income
- iya
- iya kok berapa puluh tahun tetap jadi
- guru honorer
- hmm
- ini nah itu menurut saya selimut-selimut
- hitam
- selimut hitam
- yang iya mengikat guru
- menjadi bukan sebagai seorang guru
- mestinya gitu, kalau selimut ini
- berhasil dilepas satu persatu insya
- Allah saya percaya guru Indonesia itu
- pintar-pintar Mas Angga, keren-keren
- gitu
- mendidik bangsa ini kan seperti sebuah
- perjalanan bagi seorang guru ya Pak
- Munif ya
- iya
- yang mana dalam perjalanan itu
- ada suka dan dukanya
- betul
- ada naik dan turunnya
- iya
- Pak Munif melihat hingga saat ini
- pendidikan Indonesia peran guru sudah
- maksimal ya
- dengan segala keterbatasan dengan segala
- kekurangan dan masalah-masalah yang
- timbul.
- Betul.
- Lalu selimut-selimut hitamnya muncul.
- Iya, iya.
- Jadi,
- sebenarnya
- tantangan guru ini sekarang Mas Angga.
- Ini kalau boleh jujur saya ya.
- Iya.
- Tidak pada siswa Mas Angga.
- Tidak pada kurikulum.
- Tapi tantangan
- guru saat ini
- yang punya persentase lebih besar malah
- justru pada orang tua.
- Saya enggak tahu apakah penyebabnya
- perbedaan anu, apa itu generasi ini.
- Ada yang bilang generasi X, Y, Z, alfa,
- beta itu.
- Hmm.
- Itu. Jadi,
- anak-anak, yaitu siswa kita, itu lebih
- akrab, cepat
- dengan gurunya.
- Namun,
- keakraban antara guru dengan siswa, ini
- kadang-kadang tidak ditunjang sama
- paradigma orang tua.
- Ada data atau ada alasan mengapa
- mengatakan bahwa tantangan ke depan itu
- bukan siswa, bukan kurikulum, malah
- justru orang tua?
- Bagi seorang guru?
- Iya, data
- eee yang
- resmi itu susah ya kita ambil ya.
- Iya, iya.
- Saya selalu bilang kalau sekolah kita
- itu menerima 100 siswa,
- itu maksudnya menerima 300 siswa.
- Iya.
- Yang 100 siswanya sendiri, yang 200 ayah
- dan ibunya.
- Orang tuanya ya?
- Iya, orang tuanya. Kenapa?
- Kalau menurut saya,
- orang tua milenial ini yang punya anak
- sedang bersekolah, apakah di SD, di SMP,
- di SMA,
- orang tua zaman sekarang itu
- ter-pressure oleh kondisi.
- Hmm.
- Ya, ter-pressure oleh kondisi
- macam-macam ini.
- Iya.
- Pekerjaan, iya kan?
- Dan masalah-masalah yang lain yang mana
- mereka menginginkan putra-putrinya
- aman dari tekanan ini, psikologis
- He eh.
- kemajuan zaman ini.
- Iya.
- Lalu
- paradigma orang tua agar anaknya aman
- adalah
- orang tua mencoba mendesain anaknya
- untuk seperti
- Dia.
- dia, terutama dalam pemikirannya.
- He eh.
- Nah, ini yang menyebabkan mulai
- sumber awal dari masalah.
- He eh.
- Ketika orang tua yang ingin menjadikan
- anaknya sesuai dengan harapan orang
- tuanya.
- Bahkan orang tua tidak memberikan
- kesempatan kepada anaknya untuk anaknya
- itu jadi apa menurut sesuai dengan
- passion anaknya, bakat dan minatnya.
- Biasanya inilah sumber masalah.
- Nah, itu. Nah.
- Mungkin ini sebabnya Mas Angga, karena
- ada ada perbedaan zaman, ya.
- Iya.
- Antara saya saja usia 50 sekarang. Itu
- kalau melihat anak saya yang usia 22
- sekarang, itu sudah kelihatan ada
- perbedaan. Apalagi
- yang masih kuliah, yang masih SMA, SMP
- dan SD, itu kelihatan
- Sangat.
- perbedaannya, ya.
- Nah.
- Mungkin zaman kita dulu masih ada kaset,
- masih mesin ketik.
- Iya.
- Ini anak kita yang sekarang SD sudah
- enggak enggak kelihatan itu, enggak ada
- barang-barang itu.
- Nah, apalagi dengan pola informasi, ya,
- arus informasi yang demikian cepat.
- Nah. Sehingga
- ya, inilah sekali lagi peran guru
- ditantang kembali. Bahwa ini muridnya
- ternyata ada tiga.
- Murid itu sendiri dan kedua orang
- tuanya. Itu.
- Iya. He eh.
- Itu tantangan di mata Pak Munif, ya.
- Lalu, bagaimana tantangan-tantangan di
- luar yang saat ini masih saja menjadi
- masalah bagi seorang guru? Pertama,
- tentang kesejahteraan.
- Iya.
- Eh, kita lihat dalam beberapa tahun ini
- yang namanya demo guru itu masih
- terjadi, Pak Munif. Demo menuntut
- kesejahteraan, menuntut status dari
- honorer menjadi pegawai negeri, gitu ya.
- Yang kedua, catatan dari seorang guru
- adalah mengenai
- eh, infrastruktur dan fasilitas yang
- menama yang menamakan sekolah negeri di
- berbagai daerah yang belum merata di
- bangsa di negeri ini, gitu ya. Dan kalau
- untuk kota, mungkin bisa infrastruktur
- itu terlihat baik untuk hal pendidikan.
- Tapi, di area-area daerah belum tentu,
- gitu ya. Ini akhirnya
- menjadi masalah kualitas kualitas
- masyarakat yang jomplang, gitu ya,
- antara daerah dengan perkotaan. Nah, dua
- masalah itu dulu, Pak Munif. Dalam
- pandangan Pak Munif, bagaimana?
- Kalau menurut saya, solusinya adalah
- masuk dalam ranah
- politik pendidikan, pengambil kebijakan.
- Saya sebenarnya itu, apakah ini bisa
- dikatakan bermimpi atau berharap menjadi
- nyata?
- Iya.
- Kenapa
- profesi guru itu tidak ada
- spesialisasi
- dari pemerintah?
- Heeh.
- Spesialisasi status.
- Saya yakin negeri ini mampu, Mas Angga.
- Heeh.
- Satu saja profesi, jangan profesi yang
- lain. Guru saja, karena semua sepakat
- guru ini penting, gitu loh. Mau jadi
- pengusaha, ya tetap gara-gara guru itu.
- Mau jadi seorang dokter, ya gara-gara
- guru dan lain-lain. Nah, apa itu
- spesialisasi nya?
- Enggak usahlah dibedakan antara guru
- negeri dan swasta.
- Ayo, honorer, status, dan lain-lain.
- Sudahlah, jadikan semua guru tetap.
- Heeh.
- Kalau status itu sudah safe, aman, Mas
- Angga.
- Biasanya berdampak pada kualitas
- kerjanya. Nah,
- ayo hitunglah gitu. Negeri Indonesia ini
- luas sekali, besar sekali gitu loh.
- Ketika perbandingan database jumlah
- guru,
- apakah itu yang guru tetap, guru
- honorer, guru swasta,
- dijumlah total, lalu kemudian jumlah
- sekolah, nah,
- jadi jumlah rombel ini, rombongan
- belajar dari seluruh Indonesia,
- saya pikir kalau kita punya data
- statistik yang tepat, solusinya gampang
- aja, spesialisasikan status guru ini,
- lalu bagi rata
- ke kondisi
- apa, merata ke seluruh Indonesia.
- Perkara
- njomplang antara kota sama desa, saya
- pernah ke Kepulauan Sangihe Mas Anies.
- Itu, wah juga ngelihat sekolahnya kita
- ambil nafas ya kan.
- Kadang-kadang mau ngajar
- harus pakai sampan, nanti ya ngelewatin
- puluhan ikan hiu dan lain-lain, nyawa
- yang dipertaruhkan dan lain-lain. Nah,
- ketika Indonesia
- dalam kondisi-kondisi yang terluar itu,
- maka di sinilah pemerintah boleh
- memberikan keistimewaan-keistimewaan
- setelah spesialisasi status itu
- disamakan.
- Gitu.
- Nah, saya pikir ini bisa jadi tantangan.
- Gitu.
- Saya mendengar guru-guru kita yang
- ngajar di luar negeri misalnya di
- sekolah Indonesia di luar negeri,
- itu gajinya besar Mas Anies.
- Betul.
- Ya, seperti kemarin kita dari Jepang,
- gaji guru Indonesia yang ada di sekolah
- eh Indonesia di Tokyo itu besar sekali.
- Nah, besar sekali.
- Yang di Singapura juga besar.
- Makanya Singapura juga besar.
- Iya.
- Nah, padahal menurut saya itu sangat
- nyaman sekali dilihat dari
- infrastruktur.
- Betul.
- Nah, kalau menurut saya malah guru yang
- di pedalaman-pedalaman
- yang punya tantangan-tantangan nah itu
- yang harus di istimewakan.
- Saya yakin Mas Angga kalau pemerintah
- itu punya niat baik untuk membuat
- spesialisasi profesi guru ini utuh gitu.
- Ayo kita uwongkilah guru itu.
- Apalagi ini kan sekarang hari guru kan,
- kita uwak uwongki gitu.
- Berapa? Ayo kita hitung jumlahnya berapa
- juta guru? Gitu. Ketika itu dibandingkan
- dengan profesi profesi yang lain
- saya kok percaya, saya bukan ahli
- ekonomi Mas Angga yang bisa
- ngitung-ngitung antara pemasukan dan
- pengeluaran tapi kok saya percaya gitu
- loh.
- Kalau negeri ini mau memprioritaskan
- guru
- agar demo kesejahteraan itu sudah tidak
- ada lagi kan malu Mas Angga sebetulnya.
- Kalau berita itu sampai ke luar negeri
- itu sebenarnya
- Kementerian itu harus malu. Pasti
- sampai.
- Iya.
- Di era sekarang.
- Di satu sisi di negara lain
- profesi guru itu top.
- Ya, di atas profesi-profesi yang lain
- gitu.
- Ya, jadi itu Mas Angga menurut saya.
- Kualitas guru dan profesionalisme guru
- kembali kepada ee cita-cita guru yang
- bisa
- menciptakan generasi penerus bangsa.
- Nah sebagai refleksi di tahun ini
- Pemunif apakah guru sudah banyak
- mencetak para
- apa ya istilahnya para tokoh, para
- akademisi atau guru menciptakan guru
- lagi? Nah catatan Pemunif bagaimana nih
- terhadap bangsa Indonesia di tahun ini
- gitu ya melihat puluhan tahun guru-guru
- yang sudah mencetak generasi bangsa
- sampai saat ini.
- Iya.
- Kalau menurut saya saya optimis Mas
- Angga, optimis iya. Zaman sekarang
- ee
- problemnya tidak ada yang menghitung
- detail.
- Nah iya.
- Iya.
- Ketika nah ini ini tantangan juga ketika
- ada satu institusi gitu yang menghitung
- bagaimana keberhasilan guru-guru
- Indonesia ini dalam mencetak
- peserta didiknya menjadi orang seperti
- itu.
- Saya pikir itu harus dipublikasikan Mas
- Angga, harus dipublikasikan itu.
- Kalau saya saya optimis Mas Angga, cuma
- tidak terpublikasi saja gitu. Nah,
- karena itu yang terpublikasi yaitu yang
- jelek-jeleknya
- yang jelek-jeleknya dari sosok guru.
- Nah, saya melihat indikatornya
- sebetulnya sederhana gitu.
- Bagaimana sekarang
- teman-teman guru ini, teman-teman guru
- yang pekerjaannya adalah mengajar mulai
- jatuh cinta kepada jalur akademis Mas
- Angga.
- Nah, ini menurut saya indikator ini
- adalah
- wujud dari keberhasilan gurunya nah itu.
- Jadi
- yang S1 kepingin ngambil S2, yang S2
- kepingin ngambil S3 gitu.
- Yang sudah S3 tetap masih mau belajar
- mengambil private-private atau post
- doktoral dan lain-lain. Itu kelihatan
- sekarang mulai banyak sekali jumlahnya.
- Tapi bagaimana dengan profesi yang lain?
- Saya optimis.
- Profesi-profesi yang lain
- banyak sebenarnya Mas Angga yang
- profesi-profesi profesional muda
- Indonesia itu sudah bisa diperhitungkan
- di papan atas.
- Masalahnya tidak ter-record. Gitu.
- Ini salah satu bukti saja, tapi
- mudah-mudahan bukti yang satu ini
- sebenarnya kalau kita mau browsing
- banyak.
- Iya.
- Gitu. Saya punya sahabat
- ahli neurosains
- orang Indonesia di Jepang.
- Ehm.
- Bayangkan.
- Berapa puluh tahun mengabdikan dirinya
- di Jepang.
- Di Jepang.
- Di Jepang. Gitu. Nah, ketika
- Menteri Kesehatannya datang ke situ dan
- mendengarkan bagaimana presentasi
- eee tentang orang Indonesia ini yang
- asalnya enggak tahu kalau itu orang
- Indonesia.
- He
- Sampai akhirnya disuruh balik ke
- Indonesia. Nah, itu menandakan indikator
- bahwa orang-orang kita hebat. Gitu.
- Saya dapat informasi dari teman-teman di
- diaspora.
- He
- Bahwa
- betapa banyak orang-orang Indonesia
- yang sudah mulai memunculkan properti
- right, hak milik intelektual, mampu
- sudah.
- Iya.
- Menemukan konsep ini dipatenkan, membuat
- karya ini dihakciptakan.
- Iya.
- Dan lain-lain.
- Itu sekarang kan done di luar negeri
- semua.
- He
- Kenapa?
- Kan itu berarti berhasil guru mereka itu
- kan sebetulnya. Gitu.
- Itu itu pilihan apa bagaimana, Pak
- Munif?
- Balik lagi ke manusiawi.
- harus di sana itu? Kenapa enggak pulang
- ke Indonesia?
- Balik lagi ke manusiawi. Satu apa?
- Penghargaan
- He
- terhadap karya intelektual.
- Iya.
- Seorang profesi itu
- mohon maaf di luar negeri itu tinggi.
- He
- Tapi di kita masih belum.
- Iya.
- Gitu.
- Nah
- ketika ini
- sama, saya yakin rasa nasionalisme itu
- akan menarik pulang mereka. Gitu.
- He
- Nah, ini ini fakta.
- Iya.
- Orang-orang kita itu pintar masa enggak
- sebetulnya.
- Betul betul.
- Gitu.
- Lalu bicara mengenai kualitas bangsa
- dalam berbagai bidang, Pak Munif ya.
- Kalau dalam bidang pendidikan jelas
- orang akan melihat bahwa maju atau
- mundurnya dilihat dari gurunya.
- Iya.
- Lalu di bidang sosial kemasyarakatan
- juga terkadang orang melihat dengan
- banyaknya kriminalitas, banyaknya
- korupsi, banyaknya kejadian-kejadian
- yang ini selalu dilihat itu dulu
- sekolahnya gimana sih, itu gurunya
- gimana sih. Tapi berbeda dengan
- bidang-bidang yang contoh misalkan dalam
- ekonomi ketika ekonomi maju, orang tidak
- pernah melihat bahwa oh kenapa dia bisa
- jadi pengusaha dulu sekolahnya di mana,
- gurunya siapa gitu ya. Nah,
- majunya dan mundurnya sebuah bangsa,
- apakah bisa dilihat dari keberhasilan
- dan kegagalan seorang guru?
- Bisa juga.
- Saya pikir bisa Mas Angga.
- Bisa.
- Iya, dan itu berhubungan.
- Berhubungan.
- Iya, kan bangunannya adalah pondasi itu
- adalah pendidikan.
- Iya.
- Pondasi ee kemajuan bangsa saya
- analogikan dengan rumah ya Mas Angga ya.
- Pondasinya adalah pendidikan.
- Ketika pondasi sudah bagus, maka
- biasanya rumah itu dibangun
- pertama adalah kesehatan.
- Jadi kesehatan, ini ini hal pokok
- sebetulnya, iya.
- Bagaimana tidak sehat,
- ya pasti tidak produktif.
- Ketika sudah sehat badan kita, maka naik
- ke lantai duanya,
- yaitu kesejahteraan.
- Nah,
- kalau pondasinya pendidikan, lantai
- satunya kesehatan, dan lantai duanya
- adalah kesejahteraan, nanti bangunan ini
- akan bisa bertingkat-tingkat tergantung
- flowering-nya, kembangan-kembangannya,
- gitu. Asal sudah educated,
- sehat, dan
- berkecukupan, gitu. Nah,
- kalau kita zoom in ke pondasinya
- pendidikan, jantung pendidikan itu guru
- Mas Angga.
- Ibarat anyaman-anyaman cakar ayamnya
- pondasi ini, itu sebetulnya adalah guru,
- gitu.
- Bisa dibayangkan kalau gurunya
- bukan atau jauh dari inspire teacher,
- maka
- ya, apa ya, cakar ayamnya itu mungkin
- banyak yang bolong-bolong Mas Angga,
- gitu. Jadi berpengaruh ini, sangat
- berpengaruh, gitu.
- Memang tidak bisa mutlak dikatakan bahwa
- ketika ada seorang
- yang tiba-tiba melakukan perbuatan
- jelek, korupsi misalkan.
- Tiba-tiba ditarik mundur itu yang salah
- adalah sekolah dan gurunya.
- Pendidikannya tidak boleh mutlak kita
- katakan itu sebetulnya.
- Itu. Namun
- tetap
- kita harus berbalik paradigma.
- Ketika pendidikan itu holistik
- pondasinya kuat maka
- ketika seseorang di masanya nanti
- tergoda untuk melakukan korupsi,
- biasanya kalau pendidikannya holistik
- Mas Angga, itu akan menghindar. Nah,
- ini.
- Jadi, gimana ini caranya ya? Tidak boleh
- serta-merta ditarik itu penyebabnya
- adalah guru ya kan? Itu. Demikian juga
- keberhasilan sebetulnya.
- Nah,
- jadi tapi tetap pondasi adalah
- pendidikan Mas Angga.
- Pemerintah sebenarnya bisa
- terus mendampingi dan membantu guru ya
- untuk
- mencapai cita-cita tinggi misalkan
- sebuah negara.
- Contoh misalkan Indonesia ingin bebas
- dari korupsi atau meminimalisir korupsi.
- Yang digait adalah guru.
- Ini pemerintah punya program seperti
- ini. Guru dukung dong gitu misalkan
- dengan program di sekolah misalkan. Saya
- teringat ketika Anies Baswedan menjadi
- Menteri Pendidikan. Mari kita ciptakan
- guru-guru yang bisa mencetak
- generasi-generasi anti korupsi.
- Ataupun juga dengan program yang lain.
- Misalkan program selain korupsi gitu ya,
- dengan kesehatannya. Kita ciptakan
- guru-guru nanti yang masyarakat ini
- peduli terhadap kesehatan, peduli
- terhadap lingkungan. Kan bisa begitu Pak
- Menteri ya?
- Sangat bisa. Sekarang itu sudah
- dijalankan KPK Mas Angga.
- Jadi, Komisi Pemberantasan Korupsi itu.
- Nah, ini Ini di bulan Desember ini.
- Itu akan
- mengintegrasikan beberapa kementerian
- untuk meramu sebuah pendidikan anti
- korupsi.
- Bayangkan mulai jenjang playgroup,
- TK, SD, SMP, SMA, bahkan di perguruan
- tinggi.
- Nah, itu pada bulan Desember ini tiap
- tahun sebetulnya. Bahkan dilombakan
- materi-materinya itu.
- Nah,
- menurut saya Mas Angga, menurut saya
- kalau ini benar-benar diaplikasikan,
- benar-benar tidak hanya menjadi apa ya
- pemoles saja,
- itu saya percaya Mas Angga bahwa
- pendidikan yang holistis tadi akan
- berpengaruh pada kualitas SDM-nya nanti
- ketika anak-anak kita itu nanti punya
- profesi di situ.
- Nah,
- sebetulnya
- itu sudah dilakukan.
- Tahun kemarin saya ikut dilibatkan Mas
- Angga.
- Tahun ini
- jadwalnya yang anu apa tidak pas sama
- saya.
- Tapi sama teman-teman di KPK
- saya terus mendukung gitu loh. Saya
- terus mendukung.
- Itu karena ini penting sekali. Seperti
- yang tadi Mas Angga katakan bahwa
- dari menteri yang sebelumnya Pak Anies
- bisa sih sebenarnya dari pendidikan.
- Saya tanya sama
- eh salah seorang ketua KPK.
- Beliau mengatakan begini, "Pak Munif,
- KPK ini sekarang fokus 80%
- pada pencegahan. Bukan pada penindakan
- korupsi. Dan pencegahan itu 80%-nya ada
- di pendidikan.
- Anak mulai usia dini."
- Iya, pencegahan itu lebih penting ya
- daripada
- Iya, itu. Dan itu dengan pendidikan anti
- korupsi, begitu. Kadang-kadang saya
- lihat di panggung Mas Angga di KPK ini
- saya lihat di panggung. Bagaimana anak
- SD tiba-tiba memainkan drama
- tentang yang berkaitan dengan kejujuran,
- Iya.
- keterbukaan, hanya 30 menit segmen, tapi
- meresap betul di hati. Keren sebetulnya
- itu.
- Nah, ketika saya tanya, "Apakah model
- seperti ini tuh diterapkan di semua
- sekolah?" Ya itu, Pak Munif, kepentok
- pada kurikulum, terlalu banyak jam
- mengajar.
- Menurut saya, mestinya
- kita harus adil.
- Adil adalah menempatkan sesuatu pada
- tempatnya.
- Menurut saya,
- materi-materi anti korupsi, karakter
- building yang lain, life skill, problem
- solving, kreativitas, itu yang harus
- mendapatkan porsi yang besar dalam
- kurikulum ini.
- Itu.
- Nah, mudah-mudahan saja teman-teman KPK
- ini tidak kehabisan energi untuk tiap
- tahun selalu mengulang-ulang kembali
- bahwa pentingnya pendidikan anti
- korupsi.
- Mmm.
- Nah, Pak Munif, ini pertanyaan yang
- ingin saya tanyakan di momen spesial
- hari guru ini adalah
- eee Pak Munif sebagai salah satu
- penanggung jawab di Yayasan Pendidikan
- Insan Mandiri, yang di situ ada SMA-nya,
- ada SMP-nya,
- ada SD-nya, gitu ya.
- Ataupun Pak Munif sebagai penanggung
- jawab di School of Human, ataupun
- sekolah-sekolah yang selama ini Pak
- Munif terlibat di dalamnya.
- Cita-cita terbesar Pak Munif atau agenda
- besarnya dari guru yang terlibat di
- sekolah itu apa sih sebenarnya? Ingin
- mencapai apa, Pak Munif?
- Iya.
- Kalau saya ya,
- punya harapan ini, di semua sekolah,
- guru menjadi aset sekolah itu.
- Iya.
- Itu. Jadi,
- tiba-tiba
- guru itu merasa bahwa
- tidak boleh semena-mena meninggalkan
- sekolah
- yang sudah
- guru ini punya komitmen untuk bekerja.
- Iya.
- Sense of belonging.
- He eh.
- Ketika itu ada pada guru, ini harapan
- saya Mas Angga.
- Iya.
- Maka percaya sama saya, nempel. Guru
- automatically akan menjadi aset.
- He eh.
- Ketika guru sudah menjadi aset, maka itu
- modal Mas Angga.
- Ketika guru sudah merasa dirinya ini
- menjadi modal,
- apa yang terjadi? Guru ini akan loyal.
- Ini namanya sekolah, enggak mungkin
- enggak ada masalah. Detikan ada masalah.
- Iya.
- Satu detik masalah A, detik kedua
- masalah B.
- Susah
- He eh.
- kalau guru yang tidak loyal bisa
- handling gitu.
- He eh.
- Nah, berarti
- susah guru loyal ketika tidak punya
- sense of belonging, rasa memiliki.
- Iya.
- Punya rasa memiliki susah terjadi ketika
- guru merasa "Saya ini hanya sekrup kok."
- He eh.
- Iya.
- Beda, "Uh, saya ini aset."
- Nah.
- He eh.
- Gitu.
- Atau saya ini hanya butiran debu.
- Butiran debu.
- Ya itu, kalau saya
- saya punya sekolah, saya bilang sama
- guru-guru saya.
- He eh.
- "Kalian itu aset."
- Iya.
- "Kalian itu aset." Gitu.
- Bukan komputer, bukan laptop gitu, LCD,
- bukan itu gitu. Aset sekolah itu kalian.
- Gitu. Di Insan Mandiri juga begitu saya
- bilang. "Kalian, ayo."
- Gitu.
- Nah, ketika itu terbentuk pada jiwa
- seorang guru,
- kok kayaknya jadi bola salju yang
- eh apa, bergulir yang bisa menyelesaikan
- banyak masalah nanti. Itu harapannya.
- Saya tidak mau punya harapan guru harus
- terus belajar dan lain. Sudahlah, guru
- kita itu pintar-pintar sebetulnya.
- Ini problemnya psikis sebetulnya.
- Iya.
- Problem psikis, bukan problem kognitif
- sebetulnya. Itu Mas Angga.
- Baik Pak Munif, tidak terasa sudah
- hampir 1 jam kita berbincang, ya.
- Iya.
- Eh, kita nanti akan lanjutkan di sesi
- kedua, Pak Munif.
- Iya.
- Dan kepada Anda Ikhwan Akhwat yang ingin
- bergabung di acara kami, silakan
- sampaikan pertanyaan ataupun komentarnya
- mengenai
- topik yang kita bahas di Bincang
- Pendidikan kali ini, menjadi guru abad
- 21, refleksi perjalanan guru menjadi
- gurunya manusia. Bagi Anda yang ingin
- menyampaikan melalui pesan WhatsApp,
- silakan sampaikan ke nomor 0811
- 19 99720.
- Untuk berdialog langsung dengan Pak
- Munif Hatib melalui telepon, silakan
- bisa hubungi kami di nomor 0218451512.
- Kami akan segera kembali.
- Radio silaturahim dan hasil visual untuk
- Islam yang satu, ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
- Terima kasih masih bersama kami dalam
- acara bincang pendidikan di malam hari
- ini bersama Pak Munif Khatib.
- Kita tadi sudah banyak berbincang
- mengenai momen spesial di hari ini, Pak
- Munif ya. Hari guru gitu ya. Hari guru
- kita mengangkat topik mengenai ya guru
- menghadapi abad 21.
- Menjadi guru abad 21, menjadi guru abad
- milenial yang harus bisa memanfaatkan
- teknologi ya.
- Refleksi perjalanan guru menjadi gurunya
- manusia. Kita akan beberapa ke beberapa
- pertanyaan yang sudah masuk Pak Munif
- ya.
- Eee Bu Darma menyampaikan,
- "Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Pak Munif, selamat Hari Guru
- ya untuk Pak Munif."
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- "Pak Munif saya punya anak sekarang
- calon guru SD
- yang sedang PPLK.
- Heeh.
- Biar guru SD tapi saya sangat bangga.
- Semoga bisa ikut menyumbangkan ilmunya
- nanti buat anak-anak bangsa ini. Mohon
- tipsnya sebagai guru awal untuk melatih
- mentalnya bagaimana Pak Munif?"
- Masyaallah. Saya ucapkan selamat ya jadi
- guru ya.
- Untuk eee guru yang fresh graduate baru
- lulus ini, tipsnya adalah
- eee perkuat komitmen
- bekerja.
- Itu.
- Kalau komitmen itu kita perkuat,
- subhanallah ini kompetensi naik.
- Itu. Tapi kalau dibalik
- fokus kepada kompetensi tanpa
- ditunjang oleh komitmen, itu biasanya
- enggak naik-naik, pasti banyak masalah
- itu untuk guru-guru awal. Jadi apa itu?
- Perkuat komitmen itu. Satu
- eksistensi.
- Jadi jangan sampai telat itu guru muda.
- Ya, jangan sampai telat masuk ini,
- eksistensi ya kan? Keberadaan dia itu.
- Nah, kalau sudah
- Kokohkan gitu ya.
- Iya, dikokohkan itu ya kan? Gitu. Nah,
- yang kedua adalah
- ayo kita latih untuk fresh graduate guru
- ini
- ketertarikan, interesting.
- Itu terhadap
- agenda-agenda sekolah. Itu.
- Jadi ketika leader kepala sekolahnya
- menyampaikan agenda-agenda yang
- macam-macam
- harus tertarik gitu loh. Harus uh keren
- ya ini. Tidak alah males saya alah kayak
- gini. Nah, maka itu problem komitmen.
- He em he em.
- Nah, Mas Angga ada hasrat kalau sudah
- tertarik Mas Angga ketika ada duty
- ada tugas
- guru ini akan accepted menerima tugas
- itu.
- Nah, ini jadi ini kayak sebab dan akibat
- ini terus. Akan menerima oke.
- Iya.
- Iya kan? Nah, ketika guru sudah menerima
- tugas
- biasanya diselesaikan tugasnya itu
- tanggung jawab responsibility.
- Nah,
- ketika guru sudah punya rasa tanggung
- jawab apa yang terjadi? Tiba-tiba
- dia sangat peduli dengan teman-temannya
- He em.
- dengan siswa-siswanya
- dengan sekolahnya dengan yayasannya itu
- namanya sense of belonging.
- He em.
- Dan puncak dari komitmen itu adalah
- loyalty. Ketika sekolah ada masalah dia
- malah di garda terdepan untuk membantu
- sekolah itu menyelesaikan masalahnya.
- Guru muda
- guru yang baru mengajar kalau boleh saya
- usul tipsnya asah enam hal ini dulu di
- komitmen. Nanti satu tahapan
- eksistensi berhasil
- zero keterlambatan maka percaya sama
- saya kompetensinya naik bum gitu.
- Ketika naik ke level kedua rasa
- ketertarikan percaya sama saya
- kompetensinya akan naik ya jadi ngikutin
- ini sampai ke
- level yang tinggi tadi. Itu Mas Angga
- tips dari saya.
- Apakah ada catatan guru yang baru juga
- akhirnya
- menyerah dengan
- dengan keadaan?
- Ada.
- Akhirnya berubah jadi oh saya enggak mau
- jadi guru deh.
- Banyak Mas Angga ya iya iya iya.
- Banyak karena
- semua materi yang ada di kampus ketika
- diaplikasikan beda.
- Nah, ini ini.
- Iya.
- Beda loh kok begini kok begini seperti
- itu.
- Apalagi tadi ketika sebenarnya dia akan
- menghadapi tantangan sebenarnya bukan
- hanya siswa dan kurikulum.
- Iya.
- Tapi orang tua.
- begitu.
- Betul ya, begitu.
- Jadi kalau menurut saya, kalau menurut
- saya
- persiapan
- sarjana pendidikan
- He em.
- harus ada dua mata kuliah dasar
- Iya.
- yang benar-benar itu harus kuat.
- He em.
- Lulus S1 ini harus kuat.
- He em.
- Pertama adalah parenting.
- Nah, guru ini harus memahami pola asuh.
- Begitu.
- Iya.
- Mudah-mudahan beberapa mata kuliah sudah
- menjurus ke sini. Kayak psikologi
- perkembangan, psikologi pendidikan dan
- lain-lain.
- Tapi
- ada Mas Angga yang ini masih jarang.
- He em.
- Yaitu pemahaman terhadap diferensiasi
- anak-anak
- tentang anak berkebutuhan khusus.
- Iya, iya.
- Nah.
- Menurut saya dua ini yang harus kokoh
- sebetulnya.
- Kalau lulus jadi guru sudah kokoh
- terhadap ini, dia memahami sebenarnya
- pola asuh.
- Tergantung ini saya ngajar SD, bagaimana
- pola asuh SD, TK, PAUD, bagaimana pola
- asuh dengan anak-anak seperti itu, SMP,
- SMA, remaja bagaimana. Lalu
- guru ini memahami bahwa setiap anak itu
- enggak mungkin sama kecerdasannya.
- Betul.
- Bahkan ada anak berkebutuhan khusus,
- tapi itu bukan penyakit Mas Angga.
- Dan benar-benar guru ini bisa masuk ke
- situ
- maka dua ilmu ini saya pikir
- bisa menyelesaikan masalah-masalah tadi.
- Begitu Mas Angga.
- He em.
- Baik.
- Saya akan ke SMS selanjutnya dari Bunda
- Rido. Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Eh, Pak Munif mohon pendapatnya.
- Apa pendapat Pak Munif dengan yayasan
- pendidikan yang memakai sistem kontrak
- kepada guru-guru yang mengajar di
- sekolah tersebut.
- Ya.
- Jadi,
- eh, kontrak ini sebenarnya harus
- diartikan apa gitu?
- Outsourcing ya.
- Jadi,
- eh, yang yang ini menurut saya
- He em, he em.
- baik ya.
- He em.
- Surat-surat perjanjian kerja,
- kontrak atau kesepakatan kerja bersama,
- He em.
- itu punya tujuan satu saja Mas Angga.
- He em.
- Guru itu merasa aman bekerja.
- He em.
- Itu.
- Jadi, guru itu jelas
- dalam status pekerjaannya dan merasa
- aman. Itu.
- Nah,
- ada ketentuannya sebetulnya di
- Undang-Undang Guru dan Dosen Mas Angga.
- Yaitu, ketika ada penyelenggara sekolah,
- yayasan,
- lalu bekerja sama dengan seorang guru
- membentuk perikatan,
- He em.
- dalam sebuah pasal di Undang-Undang Guru
- dan Dosen itu dikatakan harus membuat
- yang namanya kesepakatan kerja bersama.
- Ya.
- Atau perjanjian kerja.
- Nah, kesepakatan kerja bersama ini kalau
- masuk di ilmu hukumnya Mas Angga,
- harus ada durasi waktu.
- Ketika durasi waktu ini mau dihilangkan
- menjadi seumur hidup, itu ya harus
- dijelaskan.
- He em.
- Nah,
- yang jadi masalah adalah
- untuk menjadi guru seumur hidup itu
- tidak fair. Kadang-kadang inisiatif
- untuk berubah dari guru menjadi bukan
- guru itu malah bersumber dari gurunya
- bukan dari yayasannya. Yayasan kepingin
- guru itu stay.
- Nah, karena itu kalau boleh saya
- usulkan,
- guru itu ketika ngajar,
- pertama kali ngajar,
- maka namanya itu KKB, kesepakatan kerja
- bersama. Dan itu ada
- eh apa landasan hukumnya gitu.
- Saya lebih memilih kata-kata KKB
- daripada kontrak.
- Daripada perjanjian kerja.
- Iya, iya.
- Tapi kesepakatan kerja bersama.
- bersama.
- Intinya di kesepakatan kerja bersama itu
- sebagai apa dia dan statusnya apa? Nah,
- ini bisa beda-beda setiap yayasan.
- Pasti jabatannya sebagai guru Mas Angga.
- Iya.
- Tapi statusnya apakah masa percobaan
- dulu dicoba?
- He em.
- Nah, itu status masa percobaan.
- He em.
- Nah, dan tolong status masa percobaan
- ini jangan sampai bertahun-tahun
- statusnya masa percobaan dulu.
- Ini harus ada limit. Kalau saya ya,
- ketika cepat masa percobaan ini selesai,
- itu lebih menguntungkan dari yayasan
- gitu.
- Iya, iya.
- Langsung guru akan berubah status
- menjadi guru tetap.
- He em.
- Nah, apakah guru itu punya status masa
- percobaan?
- Apakah guru tetap atau guru honorer?
- Yang hanya datang mengajar lalu
- diberikan honor dan lain-lain.
- Kalau ini dijelaskan dalam sebuah
- peraturan sekolah, itu akan memunculkan
- safe, rasa aman
- Iya.
- bagi guru itu, Mas Angga.
- Karena tadi kesepakatan kerja bersama.
- betul.
- Baik.
- Selanjutnya ini Bu Lisa menyampaikan
- pesannya. Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Pak Munif.
- Waalaikumsalam.
- Selamat hari guru untuk semua guru
- khususnya di tanah air. Semoga
- kesejahteraan guru lebih terjamin.
- Amin.
- Bagaimana, Pak?
- Bagaimana Pak Munif caranya supaya guru
- dan murid ini bisa merasa saling
- memiliki dan punya kedekatan yang lebih?
- Apalagi di zaman abad 21 ini ya seperti
- tadi dijelaskan oleh Pak Munif.
- Iya.
- Juga ada satu fenomena di abad 21 ini
- individualisme
- yang lebih menonjol.
- Betul. Betul.
- Abad 21 abad milenial mengusung
- individual. Betul itu.
- He em.
- Nah, karena itu
- enggak boleh kita kalah.
- Itu kita harus memunculkan fenomena yang
- melawan individual itu.
- Ehm.
- Nah, jadi kalau tadi apa pertanyaan
- pertama
- Itu berapa menit?
- Caranya supaya guru dan murid itu bisa
- merasa saling memiliki.
- Iya.
- Saya sederhana ya, Mas Angga ya.
- Ehm.
- Perannya dijadikan triple, segitiga.
- Ehm.
- Tiga peran.
- Ehm.
- Nanti
- siswanya akan keren sekali
- sesuai dengan zamannya.
- Ehm.
- Satu,
- guru itu berperan sebagai cendekiawan.
- Ini kan cendekiawan ini asli guru gitu,
- memberi ilmu, pengetahuan itu
- cendekiawan. Nah, sehingga ketika guru
- itu benar-benar
- merasa
- siswa yang diajar iya ya aku setiap kali
- diajarin dapat sesuatu yang nambah ilmu.
- Sudah, itu akan ada klik nanti.
- Iya.
- Yang kedua,
- harus menjadi orang tua guru. Nah, ini
- yang tadi saya katakan pola asuh ini
- harus selesai di kampus ini sebetulnya.
- Tidak harus guru punya peran jadi orang
- tua, guru harus menikah, enggak.
- Ehm.
- Guru yang masih bujangan pun ketika
- mengetahui ilmu pola asuh bisa.
- Ehm.
- Senjatanya adalah nasihat.
- Gitu. Orang tua itu nasihat biasanya.
- Iya.
- Nah,
- betapa nyaman anak-anak tiba-tiba ketika
- ada masalah gurunya itu jadi orang tua,
- jadi payung gitu.
- Selalu memberikan nasihat.
- Dan ketika anak-anak ini
- memunculkan kreativitasnya tingkat
- tinggi
- yang namanya remaja di abad milenial
- peran guru tiba-tiba juga bisa menjadi
- sahabat anak-anak ini. Nah,
- tiga peran ini tidak sederhana, saya
- gampang mengucapkan tapi praktiknya
- kadang-kadang itu tidak sederhana. Tapi
- menurut saya kalau kita coba melatih
- diri sebagai seorang guru untuk masuk
- dalam tiga peran ini, zaman sekarang
- insya Allah anak-anak itu akan merasa
- klik sama gurunya, gitu.
- Baik, Bu Lisa semoga terjawab dari
- pertanyaannya.
- Dan saya akan ke pertanyaan selanjutnya
- ini dari Ibnu Ainur Rafiq di Semarang.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Eh, Pak Munif mengenai ilmu niscaya akan
- semakin berkembang
- sesuai dengan perkembangan zaman.
- Pertanyaannya adalah bagaimana
- kita ataupun seorang guru supaya dapat
- menjadi guru yang memiliki karakter
- zaman dulu, zaman sekarang dan zaman
- yang akan datang. Jadi guru segala
- zaman. Terima kasih.
- iya.
- Sebenarnya guru segala zaman itu
- He em.
- inspire.
- Inspire.
- Menjadi inspirasi itu guru segala zaman.
- Iya.
- Gitu.
- Jadi
- eh, dan
- kalau inspirasi itu, inspire itu
- maksudnya ya.
- Punya kekuatan mempengaruhi lho
- maksudnya.
- He em, he em.
- Nah, kalau seorang guru sudah mempunyai
- kemampuan mempengaruhi
- siswanya dalam tanda kutip pengaruh baik
- He em.
- maka guru itu akan langgeng di setiap
- zaman.
- Jadi
- guru yang inspire
- itu melahirkan kemampuan mempengaruhi ke
- arah yang baik, gitu.
- Nah
- pertanyaannya
- kemampuan mempengaruhi ini akan muncul
- lalu siswanya mentaati
- He em.
- menerima pengaruh dari guru itu ketika
- guru itu punya senjata maksudnya.
- Senjatanya adalah akhlakul karimah,
- teladan itu.
- Nah, itu ya. Dan ini kita bisa lihat
- pada
- maha guru kita, yaitu nabi besar kita,
- Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi
- Wasallam, yang mana
- ketika
- awal pertama menjadi nabi
- para sahabatnya kepingin tahu, ini kita
- mau dibawa ke mana?
- Dengan kendaraan apa dan lain-lain.
- Itu. Rasulullah seorang inspire.
- Karena itu Rasulullah menjawabnya
- menjawabnya dengan innama buistu
- liutammima makarimal akhlak.
- Jadi sebenarnya
- yang ingin dijalankan oleh Rasulullah
- adalah bagaimana membaguskan akhlak
- sahabatnya dan umatnya ini.
- Karena
- ketika akhlak ini bagus, Mas Angga, apa
- yang terjadi? Punya kemampuan untuk bisa
- mempengaruhi orang lain.
- Dan
- pasti menjadi inspirasi banyak orang.
- Nah, itu sebenarnya rahasianya.
- Gitu.
- Nah, sekarang pertanyaannya, gimana
- dengan akhlakul karimah para teman-teman
- guru ini?
- Betul.
- Guru yang berakhlak.
- Iya, itu.
- Guru yang menjadi teladan, guru yang
- menjadi teladan ya.
- Itu tidak lekang oleh zaman, Mas Angga.
- Betul, betul.
- Iya.
- Jadi zaman apapun
- Apapun itu. Ketika guru itu sudah masuk
- dalam makam inspire, teladan
- karena punya akhlakul karimah
- kemampuannya bisa mempengaruhi, selesai
- gitu.
- Kalau saya tanya, bukan ramalan ya?
- Iya.
- Prediksi Pak Munif deh.
- Prediksi Pak Munif setelah abad 21,
- setelah abad milenial
- Iya.
- itu ke depan bagaimana sih pendidikan?
- Iya.
- Setelah era teknologi gitu ya.
- Iya.
- Ini ini anu ya, prediksi ya. Ya, enggak
- apa-apa. Kalau prediksi
- Kenapa akhlak itu makan akan selalu
- menjadi
- pegangan.
- Iya.
- Jadi, kalau menurut saya prediksi
- Heeh.
- kurikulum abad 22 ini
- ke atas
- yang benar-benar difokuskan
- Heeh.
- itu adalah akhlakul karimah, itu.
- Akhlakul karimah. Begitu.
- Eee dan mata pelajaran itu gaib sudah.
- Ini prediksi saya.
- Dan saya semuanya akan muncul menjadi
- sebuah proyek-proyek.
- Heeh.
- Itu.
- Saya pernah membaca salah satu analisa
- blogger sebenarnya begitu ya, ketika
- melihat perkembangan gadget dan juga
- teknologi yang tanpa batas, lalu
- menerobos semua norma-norma kemanusiaan,
- nanti akan kembali bahwa manusia itu
- akan kembali kepada akhlak.
- Iya.
- Kok tadi ketika saya dengar prediksi kok
- pas ya.
- Akan kembali ke akhlak, betul. Itu itu
- akar.
- ke tingkah laku manusia yang
- sesungguhnya begitu maksudnya.
- Mmm, seperti itu. Era gadget itu nanti
- juga akan berakhir ya.
- Berakhir.
- Mmm, baik.
- Wallahualam ya Pak Munif.
- Iya, tapi prediksi seperti itu. Karena
- menurut saya akhlaklah yang tidak lekang
- oleh zaman begitu.
- Mmm.
- Apa isi pengetahuan bisa berubah-ubah.
- Iya, iya.
- Betul ya, sepakat ya.
- Iya.
- Itu karya juga bisa berubah-ubah seperti
- itu, dipengaruhi oleh zaman begitu.
- Heeh.
- Benar ya, coba kita sekarang membuat
- telepon umum yang zaman dulu ya enggak
- laku,
- membuat kaset itu karya yang pakai pita
- ya enggak laku.
- Betul.
- Sudah semua, tapi akhlak tidak lekang
- oleh zaman. Ila yaumil qiyamah.
- Begitu.
- Baik.
- Ke pertanyaan selanjutnya Pak Munif, ini
- dari Diana di Batam.
- Iya.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Eee Pak Munif kenapa hari guru itu hanya
- dirayakan atau diperingati
- di tingkat sekolah formal saja,
- maksudnya tidak memasyarakat.
- Apalagi muncul gitu ya, profesi guru ini
- adalah profesinya para nabi karena nabi
- itu mengajarkan.
- Lalu bagaimana cara mengapresiasi mereka
- yang bukan profesinya sebagai guru tapi
- melaksanakan tugas guru.
- Iya.
- Ya, usul yang bagus ya.
- Iya, iya.
- Kalau sekarang memperingati hari guru
- kan
- menasional sudah.
- Ya, sudah alhamdulillah ada 25 November
- itu hari guru.
- Nah, mungkin yang ditanyakan
- kurang heboh.
- Iya kan, apakah itu
- di televisi
- dengan peringatan, acara-acara yang
- kreatif yang lain tentang guru mungkin.
- Itu.
- Mungkin itu ide-idenya, saya sih ya
- setuju-setuju saja gitu.
- He eh.
- Bahwa
- mestinya peringatan hari guru ini mau
- dibuat heboh tapi ya heboh-heboh yang
- masih dalam apa ukuran-ukuran anu ya,
- batas-batas norma sosial dan agama ya.
- Itu.
- It's okay lah seperti itu.
- Nah, tapi yang kedua saya pikir
- guru itu sebenarnya peran.
- Ketika ada orang yang bukan guru tapi
- berperan menjadi seorang guru.
- Bahkan inspire Pak Munif.
- Nah, ini.
- Inspirasi tapi dia bukan seorang guru.
- Berarti itu guru.
- He eh.
- Seperti itu.
- Ya, Nabi Muhammad.
- Nah.
- Itu kan, profesinya bukan guru tapi
- inspire seluruh umat manusia.
- Betul.
- Nah, jadi ya itu tadi.
- Murabbi ya kan, kan ada
- tingkat-tingkatannya itu sebetulnya.
- Seperti itu Pak Sangga.
- He eh.
- Sah-sah saja
- untuk bisa berkreasi lah bagaimana
- eh memperingati hari guru itu.
- He eh.
- Baik, saya akan ke pertanyaan terakhir
- ini Pak Munif.
- Iya.
- Dari hamba Allah di Jakarta Utara.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Pak Munif, saya pengalaman 5 tahun
- mengajar di salah satu sekolah swasta.
- Setelah itu saya keluar dan mendirikan
- bimbingan belajar dan menjadi guru
- privat sejak 2010.
- Iya.
- Dalam pengalaman saya itu, ya ternyata
- mengajar di bimbel dan menjadi guru
- privat lebih menjadikan saya seorang
- guru daripada di instansi sekolah.
- Apakah pengalaman ini bagaimana
- perjalanan buat saya Pak Munif? Mohon
- tipsnya.
- Iya.
- Oh. Oh ini pengalamannya.
- sudah pasti Mas Angga.
- Iya iya.
- Iya, guru privat sama guru di sekolah
- formal
- Pasti beda.
- Pasti beda.
- Artinya potensi problem lebih banyak di
- guru formal daripada guru privat.
- Itu pasti, secara quality, secara
- quantity.
- Contoh quantity, jumlah siswa.
- Privat dia fokus ke
- satu anak, dua anak. Tapi kalau di
- formal itu banyak anak.
- Yang kedua guru privat itu biasanya
- hanya
- mata pelajaran tertentu
- yang dia fokuskan di situ sesuai dengan
- kemampuannya.
- Ya pasti, saya pikir apapun
- peran kita ini, selama dalam tanda kutip
- guru tadi memberikan informasi
- pengetahuan kepada anak kita, apakah di
- formal ataupun non formal sebagai guru
- privat, tetap
- kita harus benar-benar
- menjadi teladan itu tadi.
- Iya.
- Iya kan? Itu dan kita harus benar-benar
- profesional. Memberikan yang terbaik,
- itu.
- Oh.
- Nah, jadi go on, lanjutkan gitu.
- Kadang-kadang ada anak yang masih butuh
- bimbingan individual
- Iya.
- dalam hal belajar dan memahami
- eh banyak ilmu di situ.
- Gitu Mas Angga.
- Itu pertanyaan terakhir yang bisa kita
- jawab Pak Munif ya, karena sudah
- dibatasi oleh waktu.
- Waktu ya.
- Sebagai penutup Pak Munif dari seluruh
- bahasan kita dan juga
- pertanyaan-pertanyaan masuk apa yang
- bisa disimpulkan?
- Ya.
- Eh.
- Yang ingin saya simpulkan di hari guru
- ini adalah
- semua teman-teman harus merasa yakin
- bahwa
- profesi ini adalah profesi yang mulia.
- Iya.
- Seperti dalam flyer itu.
- Melanjutkan tugas para nabi.
- He em.
- Itu yang pertama. Kalau sudah ada
- keyakinan ini
- masuk dalam hati semua guru Indonesia,
- insya Allah ini akan jadi landasan
- komitmen yang luar biasa.
- Iya iya.
- Yang kedua adalah
- menjadi guru yang bisa menaklukan zaman,
- tidak hanya abad 21, 22, 23 dan
- seterusnya adalah
- guru harus punya akhlakul karimah.
- He em.
- Harus menjadi teladan
- bagi peserta didiknya
- bagi keluarganya juga. Itu.
- Nah.
- Dan yang ketiga adalah
- menjadi guru
- tidak harus
- diimbangi dengan
- harapan untuk nilai-nilai uang yang
- diharapkan.
- Karena profesi guru ini unik sekali.
- He em.
- Itu.
- Profesi guru akan berhasil ketika hati
- merasa bahwa ya
- aku adalah guru.
- Ketika ini diresapi
- saya yakin
- rezki minallah akan turun dari situ.
- Saya punya banyak teman guru yang cukup
- secara finance.
- Iya.
- Dan itu berkah. Saya banyak teman
- seperti itu.
- He em he em.
- Santai hidupnya tapi berkah gitu.
- He em he em.
- Nah.
- Karena itu
- mudah-mudahan di hari guru ini
- benar-benar menjadi introspeksi kita.
- Komitmen diri sebagai seorang guru
- tambah terasa Mas Angga karena
- ibarat negeri ini, bangsa ini adalah
- sebuah mesin yang besar kita para guru
- adalah skrupnya yang menghubungkan
- bagian satu dengan bagian yang lain
- ketika skrup ini kendor, lepas maka akan
- runtuhlah
- bangsa ini itu Mas Angga dari saya
- Baik
- Subhanallah luar biasa Pak Munif ya,
- terima kasih banyak Pak Munif atas
- waktunya
- semoga kita bisa siaran lagi bulan depan
- ya
- Insyaallah bulan depan
- Demikianlah Ikhwan Akhwat yang dirahmati
- Allah Subhanahu Wa Ta'ala perbincangan
- saya dengan Pak Munif Khatib di acara
- Bincang Pendidikan, semoga apa yang
- disampaikan oleh beliau bermanfaat bagi
- kita semua, terima kasih banyak kepada
- Anda Ikhwan Akhwat yang sudah menyimak
- berpartisipasi
- semoga bermanfaat dan dari studio saya
- Angga Aminudin di malam hari ini
- ditemani oleh Yusuf Sebangkit dan juga
- Setiabudi undur diri billahi taufiq wal
- hidayah subhanakallahumma wa bihamdika
- asyhadu alla ilaha illa anta
- astaghfiruka wa atubu ilaik
- assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh
- Waalaikumsalam warahmatullahi