Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 Assalamualaikum warahmatullahi 0:02 wabarakatuh. Kepada pemirsa dan 0:04 pendengar Rasil TV, saya Yasmin Syahab 0:07 mengucapkan selamat menjalankan ibadah 0:10 puasa di bulan Ramadan 1447 Hijriah. 0:15 Semoga ibadah kita berjalan lancar, 0:19 diberikan keberkahan, rahmat, dan 0:22 kemudahan dalam menjalankan ibadah ini. 0:25 Wasalamualaikum warahmatullahi 0:27 wabarakatuh. 0:32 [musik] 0:38 Bismillahirrahmanirrahim. 0:40 Asalamualaikum warahmatullahi 0:42 wabarakatuh. Ikhwan akhwat 0:43 rahimakumullah. 0:45 Alhamdulillah wasyukurillah kita dapat 0:48 bersama-sama kembali di acara sahur 0:51 bersama Rasil di bulan Ramadan yang 0:54 berlimpah berkah ini. Tidak lupa tentu 0:58 saja salam selawat kita lantunkan untuk 1:00 junjungan umat kekasih kita Muhammad 1:03 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. 1:05 Semoga kelak kita dipertemukan dengan 1:08 beliau di saat-saat yang sangat kita 1:11 rindukan di yaumil akhir. 1:14 Ikhwan akhwat, bersama-sama di bulan 1:18 Ramadan, acara sahur bersama Rasil ini 1:21 semogalah menambah semangat kita 1:24 sekaligus juga mempersuasi kita semuanya 1:27 untuk bisa lebih optimal mengisi dan 1:29 melewati di saat-saat yang sangat luar 1:33 biasa berlimpah berkah ini. 1:36 Mudah-mudahan 1:38 sahur bersama Rasil di bulan di mana 1:41 kita harus menahan diri. bukan hanya 1:44 menahan haus dan lapar, tetapi juga 1:48 menahan hal-hal yang bisa membatalkan 1:52 kita mulai dari terbit matahari sampai 1:54 tenggelam matahari. 1:57 Mungkinkah kita mencapai ketakwaan dan 1:59 disiplin setelah kita lewati Ramadan 2:01 ini? Mudah-mudahan ya bulan berlimpah 2:05 berkah yang mempunyai 2:09 makna luar biasa bagi kita kali ini akan 2:12 menghadirkan 2:14 Prof. Yasmin Zaki Sahab. Beliau adalah 2:18 Profesor FISIP Universitas Indonesia 2:21 yang sebelumnya merupakan guru besar 2:24 antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan 2:27 Politik UI meraih gelar sarjana di 2:30 Universitas Indonesia. kemudian 2:32 melanjutkan studi MA-nya di Australian 2:36 National University dengan gelar PhD 2:39 dari University of London. Dan tesis 2:44 beliau nih, ikhwan akhwat adalah The 2:48 Position of Betawi Woman. Wow. Sementara 2:52 judul desertasinya 2:54 The Creation of Ethnic Tradition, The 2:57 Betawi of Jakarta. Masyaallah. Kita yang 3:00 tinggal di Jakarta rasanya perlu tahu 3:02 banyak nih ya. Bumi yang kita pijak 3:04 adalah Betawi. Dan Profesor Yasmin ini 3:09 sangat peduli terhadap budaya Betawi. 3:12 Tahu enggak? Buku yang ditulisnya itu 3:14 cukup banyak membahas soal Betawi. 3:18 Di antaranya Betawi dalam perspektif 3:21 kontemporer, perkembangan potensi dan 3:24 tantangannya. Busana Betawi juga sejarah 3:27 dan prospek pengembangannya 3:29 serta identitas dan otoritas 3:32 rekonstruksi tradisi Betawi. Masyaallah. 3:35 Jadi enggak heran ya kalau 3:39 sebagai bentuk apresiasi dari pemerintah 3:42 dari Provinsi Jakarta, beliau menerima 3:46 penghargaan kategori humanis pada 3:50 penghargaan budaya di tahun 2013. Nah, 3:54 ikhwan akhwat, itulah narasumber 3:58 sahur bersama Rasil kali ini, Profesor 4:02 Yasmin Zaki Sahab yang sudah hadir 4:05 bersama kita. Kita sapa beliau. 4:08 Asalamualaikum warahmatullahi 4:09 wabarakatuh. 4:10 Waalaikumsalam warahmatullahi 4:12 wabarakatuh. Terima kasih untuk 4:13 kesediaannya hadir di sahur bersama 4:16 Rasil 4:17 yang mudah-mudahan membuat kita semua 4:20 semakin bisa melangkah dengan nyaman di 4:23 bulan penuh berkah ini. Oh ya, terkait 4:25 dengan pilihan 4:28 pada saat mau kuliah dulu itu 4:31 terpersuasi oleh apa? Atau ada mungkin 4:34 dari ayah bunda gitu 4:36 ya. Sebenarnya ketika saya SMA, satu 4:39 mata kuliah yang paling kita tidak suka 4:41 adalah antropologi kok. 4:42 Sejak SMA sudah suka antropologi? 4:44 Tidak suka 4:45 malah [tertawa] justru tidak suka. 4:46 Malah tidak suka. Heeh. Belakangan baru 4:49 kita sadar ya. Karena pengajaran di SMA 4:51 itu antropologi mengajar suku-suku 4:53 terkebelakang, suku-suku terasing. Kita 4:57 sebagai anak-anak muda waktu itu kurang 4:59 tertarik gitu ya. Suku Mentawai, suku 5:01 Dayak dan sebagainya. Lalu ee saya 5:04 sangat tertarik ee akan hukum. 5:07 Jadi cita-cita tuh maunya masuk Fakultas 5:09 Hukum, Mbak. Masuk Fakultas Hukum. Ee 5:11 dan saya senang sekali kalau nonton 5:13 film, membaca buku semua yang terkait 5:16 dengan hukum, cita-cita detektif, 5:18 mengenai kriminal dan sebagainya. 5:21 Lalu ketika saya mau masuk universitas, 5:24 saya katakan pada ayah saya bahwa saya 5:26 ingin mengambil hukum gitu di UI. 5:30 Ee waktu itu ee Pak Fuad bekas Menteri 5:33 Kebudayaan ya, Dr. Fuad Hasan baru lulus 5:37 sebagai dokter dalam psikologi. Jadi 5:39 kita masih famili sepupu 5:41 sepupuan ya. Iya. Iya. Dengan Pak Fuat 5:43 Hasan. Terus ayah saya bilang, "Ayo kita 5:46 tanya Kak Fuat." Karena Om, saya tidak 5:48 setuju saya masuk hukum. 5:50 Jangan. Itu pekerjaan paling berbahaya. 5:51 Banyak dosanya [tertawa] 5:54 ternyata betul juga banyak tantangannya. 5:56 He. 5:56 Lalu akhirnya kita memutuskan pergi ke 5:58 Kak Fuad. Lalu, ke rumah Kak Fuad. Kak 6:02 Fuad katakan, "Ah, kenapa ngambil 6:04 hukum?" 6:04 Mahasiswanya ratusan, 6:07 tidak serius. Kamu ambil saja 6:08 antropologi. Ayah saya sebagai orang 6:11 awam, apa itu ilmu antropologi? Wah, itu 6:14 ilmu paling bagus. Kata mahasiswanya 6:16 baru sedikit, padahal Indonesia sangat 6:18 membutuhkan. 6:19 Dalam hati saya, ya Allah, ilmu yang 6:21 paling saya tidak suka gitu ya. Tapi 6:23 karena nasihat dari Pak Fuad dan ayah 6:25 saya berpikir bahwa Pak Fuad paling tahu 6:28 dia dosen di UI, dia seorang psikolog 6:32 yang mengadakan bimbingan. Lalu ayah 6:34 saya bilang, "Bagaimana kalau masuk 6:35 antropologi?" Ah, lalu saya memutuskan, 6:38 "Okelah." 6:39 Dan keadaan menjadikan apa? 6:41 Ketika mau mendaftar antropologi 6:43 zaman dulu enggak seperti sekarang kan, 6:45 masih pakai meja-meja, 6:46 fakultas-fakultas. Eh, saya mau beli 6:49 formulir untuk antropologi. Hei, tanya 6:51 teman-temannya antropologi di mana tuh? 6:53 dari mana 6:55 sangat tidak di 6:56 kenal pada waktu itu akhirnya 6:58 jadi terpersuasi oleh sepupu tercinta 7:02 Fuad Hasan ya untuk masuk antropologi I 7:06 dan menyimak perjalanan Formin 7:09 dalam kecintaannya terhadap Betawi itu 7:13 tampaknya sungguh luar biasa 7:15 dari tesis-tesis yang dibuat, buku-buku 7:18 yang ditulis itu bisa muncul kepedulian 7:22 terhadap hal itu tuh 7:23 Gimana ceritanya? 7:25 Sama seperti tadi, tidak disengaja dan 7:27 secara kebetulan. Jadi ketika itu saya 7:29 bar tahun 3 saya baru pulang 7:31 menyelesaikan MA saya. 7:33 Nah, judul tesis saya The Position of 7:35 Betawi Woman. Nah, waktu saya pulang 7:37 baru beberapa bulan Fakultas Ilmu Budaya 7:40 itu ulang tahun 7:41 mengadakan seminar nasional ee salah 7:45 satu judulnya mengenai Betawi. Mereka 7:48 meminta saya bicara ya saya bicara aja 7:50 tesis saya the position of Betawi Woman. 7:53 Nah, ee waktu itu tesis saya didasarkan 7:57 atas penelitian di Condet. Jadi bagian 8:00 yang kita namakan Betawi di pinggiran 8:01 kota Jakarta yang agak berbeda dengan 8:04 Betawi yang ada di pusat kota gini. 8:06 Kota 8:06 ee ketika ee keesokan harinya, keesokan 8:10 harinya ee surat pembaca ya waktu itu di 8:13 Kompas ada surat pembaca dari Persatuan 8:16 Wanita Betawi yang tidak puas dengan 8:18 presentasi saya karena negatif mengenai 8:21 Betawi. Betawi tertinggal di bidang 8:23 pendidikan, pekerja, keterlibatan wanita 8:26 dalam angkatan kerja dan seterusnya. 8:28 Lalu saya jawab besoknya ee bahwa itu 8:33 didasarkan atas data condet. Jadi tidak 8:35 mewakili ketahui secara keseluruhan. 8:38 Nah, ditutuplah pembicara waktu itu. 8:40 Tapi di antara teman-teman kita mulai 8:41 bertanya ini siapa ya persatuan wanita 8:44 Betawi menulis di Kompasti bukan 8:47 orang-orang yang kita bicarakan yang 8:49 tidak berpendidikan dan sebagainya. 8:51 Apakah betul mereka orang Betawi? Ah, 8:53 jangan-jangan nih orang Jawa yang 8:54 mewakili Betawi atau orang Minang atau 8:57 orang Batak gitu. 8:59 Selesai pembicara seperti itu saya 9:00 lupakan. Lalu saya ada kesempatan 9:03 mengambil S3 di London. [mendengus] 9:06 Pertama saya ingin mengambil demografi. 9:08 Lalu cerita panjang saya kembali lagi ke 9:10 antropologi. Saya nulis apa? Saya 9:12 teringat siapa ini orang Betawi yang 9:15 elit gitu ya. Tapi tidak pernah muncul, 9:18 tidak diketahui, tiba-tiba dia muncul. 9:21 itu yang mentrigger saya menulis 9:23 mengenai ee elit Betawi. Saya ke Jakarta 9:27 penelitian 6 bulan. Tapi dalam 9:29 penelitian selama 6 bulan itu saya tidak 9:31 lagi bermain dengan orang-orang Betawi 9:33 yang seperti dicondet. Tapi di antara 9:35 kaum elit, anggota DPR, organisasi 9:38 insinyur, dokter dan sebagainya. Oh, 9:41 inilah banyak ya orang elit Betawi. Tapi 9:44 selama penelitian 6 bulan itu saya tidak 9:46 tertarik lagi kepada elit Betawi. Tapi 9:49 saya tertarik ada satu gejala yaitu 9:52 bagaimana orang Betawi mengkonstruksi 9:55 kembali kebudayaan mereka, 9:57 mengkonstruksi kembali tradisi mereka. 10:00 Dan saya kira itulah salah satu 10:01 kehebatan dari penelitian antropologi 10:03 ya. Jadi kalau ilmu lain, kalau meneliti 10:07 sering ingin tahu mengenai X, lalu 10:09 penelitiannya mengenai X. Tapi kalau 10:11 antropologi itu harus kosong pikirannya. 10:14 Dia turun ke masyarakat, dia meneliti, 10:17 dia lihat apa yang terjadi. Ternyata 10:19 yang terjadi berbeda dengan apa yang 10:21 ingin dia teliti. Waktu itu misalnya ada 10:24 12 calon doktor di ee yang belajar 10:27 bersama-sama saya yang pergi ke 10:29 lapangan. 10:30 Hanya dua yang tidak berubah judulnya. 10:33 10 orang berubah termasuk saya. Jadi 10:35 penelitian saya mengenai konstruksi 10:37 kebudayaan Betawi itu iya. Iya. Ee 10:39 kembali kepada kepedulian Prof. Yasmin 10:43 terhadap budaya Betawi ini. Kalau boleh 10:47 tahu seberapa optimal sih nilai-nilai 10:50 pendidikan Islam di dalam budaya Betawi 10:54 secara stereotype itu? Betawi memang 10:57 sangat dikenal sebagai salah satu etnik 10:59 yang paling islami di samping 11:01 etnik-etnik lainnya di Indonesia. 11:03 Sehingga kita sebelum menelitikan 11:05 biasanya kita melahap dulu 11:07 tulisan-tulisan dalam hal ini mengenai 11:09 kebetawian. 11:10 Semua ee tulisan itu padahal 11:12 penelitiannya misalnya mengenai 11:14 linguistik, mengenai kesenian, tanjidor 11:17 dan sebagainya. Tapi selalu ada 11:19 statement yang mengatakan orang Betawi 11:22 dengan Islam sebagai mata uang. 11:24 Sebelahnya Betawi, sebelahnya Islam. 11:26 Betawi identik dengan Islam. Nah, tapi 11:29 lebih banyak juga yang mengatakan ee 11:31 Betawi sangat fanatik terhadap Islam dan 11:34 kefanatikan ini menyebabkan dia 11:36 tertinggal di bidang pendidikan. 11:39 Dan kita semua percaya, kita semua 11:41 percaya orang Betawi itu tertinggal di 11:44 bidang pendidikan seperti 11:46 penyajian saya ketika saya bercerita 11:49 mengenai wanita Betawi di Condet. He. 11:51 Tapi setelah saya meneliti Betawi baru 11:55 saya sadar loh kok ini tidak pernah 11:57 terlihat oleh para peneliti. Justru 11:59 salah satu etnik yang paling maju 12:02 pendidikannya di bidang Islam adalah 12:03 orang Betawi. Mereka bukan cuma belajar 12:06 di pesantren-pesantren di Jakarta atau 12:08 di Indonesia, tapi sejak tahun 1900 awal 12:12 sekali sudah sangat banyak orang-orang 12:15 Betawi yang belajar di luar negeri, 12:17 terutama Makkah, Madinah, Timur Tengah, 12:20 di Mesir. Dan mereka tinggal di sana 12:22 sampai belasan tahun. Kembali ke 12:24 Indonesia meneruskan profesi ayahnya, 12:27 membangun pesantren, melahirkan 12:29 santri-santri yang begitu kondang. 12:32 Mereka menguasai bahasa Arab dengan 12:33 sangat baik. 12:35 Dan kok ini tidak dilihat gitu sebagai 12:37 kemajuan pendidikan orang Betawi itu. 12:40 Karena definisi pendidikan adalah 12:42 definisi yang digunakan oleh Barat. 12:44 Ketika orang ahli di dalam bidang Islam 12:47 bisa bahasa Arab, tinggi pendidikannya 12:49 itu dikategorikan [tertawa] 12:51 tidak berpendidikan. 12:52 Iya. Iya. Ya. Jadi, Ikhwan akhwat 12:55 kepedulian Prof. Yasmin terhadap Betawi, 12:59 budaya Betawi. Dan tentu juga kalau em 13:03 di zaman sekarang ini di mana 13:07 disebut zaman milenial, budaya lokal itu 13:10 banyak ditinggalkan karena diganti 13:13 dengan kehadiran medsos yang menampilkan 13:15 hal-hal dan hil-hil yang menggiurkan 13:18 dari luar sana. Nah, itu bagaimana 13:21 caranya ya agar anak-anak kita enggak 13:24 terjebak dan berada di ranah itu, tetapi 13:29 tetap bisa memiliki nilai yang positif 13:33 dan karakter yang bisa punya ee nilai 13:37 cinta Indonesia. 13:39 Gimana tuh? 13:41 Jadi kadang-kadang saya agak kurang 13:42 setuju, Mbak. Agak berbeda pendapat gitu 13:44 ya. Kalau dikatakan generasi muda nih 13:46 tidak tertarik kepada ee kebudayaan 13:49 lokal mereka gitu. 13:50 Kalau kita lihat aja sekarang, saya 13:52 tidak boleh menyebut merek ya, nanti 13:54 seperti iklan. [tertawa] 13:57 Kita lihat banyak ee apa resto, banyak 14:00 kuliner, banyak ee cabang kesenian dan 14:03 sebagainya yang sangat diminati oleh 14:06 kaum muda. 14:07 Ee dua contoh aja kalau ini tidak 14:09 apa-apa. Dua, dua contoh terkait ke 14:12 Betawian yang pernah begitu populer di 14:14 Jakarta. Mungkin Mbak Nuring juga ee 14:16 tahu itu dulu tahun -an ada kelompok 14:20 yang namanya Lenong Rumpi. 14:22 Iya, Lenong. 14:23 Itu kan Lenong Jakarta yang dimainkan 14:25 oleh mereka-mereka para artis yang 14:27 memang sudah terkenal di bidangnya. Ya, 14:29 itu kalau Lenong Rumpi main Jakarta 14:31 sepi, 14:32 kita mau naik becak aja enggak ada. 14:34 Semua tukang becak nonton Lenong Rumpi. 14:36 [tertawa] 14:36 Anak-anak juga tidak belajar. mereka 14:38 menikmati lenong rumpi. Itu yang 14:40 pertama. Yang kedua ya juga yang sangat 14:42 terkenal ee bajai bajuri. Bajai bajuri 14:46 itu luar biasa menyerap penonton di 14:48 televisi yang mentayangkan itu. 14:50 Artinya apa? Bahkan generasi muda, saya 14:53 cukup mengadakan penelitian waktu itu 14:55 mereka sangat menikmati baik lenong 14:57 rumpi ataupun bajai bajuri. 14:59 Artinya mereka bukan tidak menikmati 15:02 yang lokal, tetapi ee cara penyajiannya 15:05 yang tidak menyentuh minat anak-anak 15:07 muda ini. Jadi bagaimana mengemas ini 15:10 gitu ya. Jadi perlu nih yang menyajikan 15:14 hal-hal yang barusan Prof. Yasmin bilang 15:17 ee diubah sedemikian rupa sehingga 15:19 menarik, lebih menarik penampilannya. 15:21 Dan 15:22 karena terus terang saja di zaman yang 15:24 seperti sekarang ini banyak 15:26 tawaran-tawaran yang disimak, diterima 15:29 oleh generasi muda kita. Bahkan orang 15:32 bilang sih banyak yang bikin bingung, 15:35 bimbang atau bahkan menyesatkan 15:38 emm 15:39 sebagai generasi penerus kita mereka 15:41 yang bertanggung jawab terhadap 15:43 bersinarnya Indonesia. Menurut Prof. 15:45 Yasmin sebaiknya apa nih yang harus 15:47 dilakukan oleh kita-kita yang ada di 15:50 atas mereka usianya? 15:52 Saya pikir kalau melanjutkan pertanyaan 15:54 Mbak Tuning pertama ya mengenai metsos 15:56 sekarang kan sepertinya medsos 15:58 mengalahkan semuanya. 15:59 Betul. 15:59 Jadi artinya kesempatan dan tantangan 16:02 itu ada di medsos. 16:04 Ee contoh lagi ya dari ee sebuah film 16:08 itu. Film Peppa Pig itu kan film 16:11 anak-anak Mbak. Tapi saya tuh sangat 16:13 menikmati film itu dan saya menggunakan 16:16 itu untuk mendidik cucu-cucu saya dengan 16:19 menonton Peppa publik. Bagaimana selalu 16:21 harus menggunakan kata please, kata 16:24 sorry, kata jadi ee bagaimana ketika dia 16:27 memilih-milih teman itu dibangun 16:30 ceritanya. ee memang ini bukan bidang 16:32 saya berbicara konten sebuah media, tapi 16:35 saya sangat yakin kita ketika kita 16:38 berhasil mengolah konten penyajian 16:41 cerita media, nah itu ee merupakan salah 16:45 satu cara yang paling tepat untuk 16:48 generasi muda. 16:51 Kalau terkait dengan ayah ibu nih, 16:53 anak-anak sekarang Genzi kita ini itu 16:56 masih cukup sebagaimana zaman kita dulu 16:59 enggak sih? Pengaruh orang tua tuh luar 17:01 biasa. Kalau Ibu bilang no, ya kita 17:04 entar dulu dan segala macam itu. 17:06 Sekarang menurut Profes gimana? 17:08 Berubah [tertawa] 17:10 cukup berubah ya. Dan saya juga sebutkan 17:13 saya cukup konsern gitu mengenai 17:15 bagaimana posisi orang tua bahkan posisi 17:19 guru. Jadi kita lihat ini kan agen-agen 17:21 pendidik ya terhadap generasi muda. Nah, 17:24 banyak hal yang sebenarnya sering 17:27 dilihat masalah kecil gitu oleh 17:29 masyarakat. Tetapi itu salah satu faktor 17:32 yang berpengaruh. Kita lihat misalnya ee 17:36 cara memanggil. Cara memanggil kita kan 17:39 ee antara umur berbeda ada panggilan ya 17:42 apalagi terhadap orang tua kemudian 17:45 sikap ee kebebasan gitu. Jadi ketika 17:50 saya mungkin termasuk aliran kuno juga 17:52 ini Mbak ya memang karena sudah tua juga 17:54 ketika bicara mengenai hak anak dan 17:56 sebagainya memberi kebebasan, saya 17:59 termasuk pihak yang saya bilang tidak 18:01 bisa begitu. Bahwa orang harus tahu 18:04 hak-hak dan kewajibannya yang dibatasi 18:06 oleh peraturan-peraturan. Mereka tahu 18:09 posisi dia di mana, haknya di mana, 18:11 peraturan bunyinya sebagai apa. Jadi 18:14 mereka harus bertindak bagaimana gitu. 18:16 Karena ee ketika ini dilanggar, mulailah 18:20 muncul persoalan-persoalan yang kita 18:22 katakan seperti kebablasan 18:24 tindakan generasi muda terhadap ee 18:28 generasi yang lebih tua. Bahkan misalnya 18:30 begini ee ada ucapan-ucapan di dalam 18:33 sistem kekerabatan ya. Cara menyapa di 18:36 dalam sistem kekerabatan, kita kan punya 18:39 sapaan-sapaan tersendiri dan sapaan itu 18:41 mengandung makna gitu. Kalau dijelaskan 18:44 kepada si anak ini makna sapan ini 18:47 begini karena posisinya ini kamu harus 18:50 bertindak seperti ini, sopan santunnya 18:52 seperti ini. Tapi diganti aja biar keren 18:55 kan. Ambil sapaan-sapaan dari luar yang 18:57 sama sekali bukan sapaan kita. 19:00 Kelihatannya kecil ya, tapi itu 19:02 berpengaruh di dalam orang bertingkah 19:04 laku gitu. 19:06 Iya. Banyak sih yang ee beda tipis umur 19:10 tapi tetap lebih tua. Enggak dipanggil 19:11 abang, enggak dipanggil kakak, panggil 19:13 nama. [tertawa] Sekarang 19:14 itu karena memang warnanya sudah seperti 19:17 itu ya. 19:17 Karena juga ee kan kita dunia menjadi 19:20 satu aja ya, menjadi kecil gitu. Mereka 19:23 dilihat melihat keluar kalau tidak ada 19:25 hubungan cuman beda umur itu kan tidak 19:29 digunakan ee istilah menyapa langsung 19:32 dipanggil namanya. He. 19:34 Nah, ketika kita memanggil seseorang 19:36 hanya dengan nama, beda sekali dengan di 19:39 depannya ada kata abang dengan kata Pak. 19:42 Lalu ini dianggap ee biasa orang tidak 19:45 memberikan perhatian, perlahan-perlahan 19:47 berubah, akhirnya berubah terhadap sikap 19:50 anak, terhadap tindakan anak atau 19:52 sikap-sikap generasi muda terhadap 19:54 generasi tua. Tapi memang tidak mudah 19:57 kalau tiba-tiba kita harus merubah ini 19:59 gitu kan. Nah, ini bagaimana caranya? 20:01 Oh, iya. lembaga-lembaga memberikan 20:03 pendidikan terhadap keluarga, terhadap 20:05 ibu. Di sekolah ini diajarkan gitu ya, 20:08 bahwa tidak menyerap begitu saja 20:10 kebudayaan asing yang memang berbeda 20:11 dengan kita kecuali kita siap menerima 20:15 [berdehem] e bahwa beginilah keadaannya 20:16 ya generasi muda terhadap generasi tua. 20:19 Jadi tetap ya sebagai orang tua di 20:21 rumah, mari kita persuasi anak-anak 20:24 untuk enggak jangkar. Kalau orang Jawa 20:26 bilang, kalau orang Betawi bilang apa, 20:27 panggil nama doang. [tertawa] Oke. 20:30 Jadi ee terkait dengan meningkatkan etos 20:33 kerja nih, Prof. Terkait juga dengan ee 20:36 bagaimana memegang teguh integritas kita 20:40 sebagai modal utama perjalanan hidup 20:43 kita kan ya, Ikhwan Akhwat. Pernahkah 20:46 Prof. mengalami kondisi di mana ee kalau 20:50 orang bilang nyungsep gitu atau 20:53 terjerembab atau apa? kesulitan semacam 20:55 ini ee membuat kita harus introspeksi 20:59 ya. Enggak seberapa penting enggak sih 21:01 nilai introspeksi bagi langkah kita biar 21:04 aman gitu. 21:05 Kalau mau sharing pengalamanya 21:08 sebenarnya ilmu ini merupakan bagian di 21:11 dalam ilmu antropologi. Jadi kita kalau 21:14 mengadakan penelitian ada satu stage 21:16 yang harus kita lakukan yang kita 21:19 namakan refleksi. Jadi pagi-pagi siang 21:22 itu kita mengadakan penelitian, malamnya 21:24 kita melakukan refleksi. 21:26 Semua informasi yang kita dapat kita 21:29 catat, kita olah kembali, lalu kita 21:31 refleksi diri kita sendiri bagaimana ee 21:35 ee pengalaman-pengalaman kita selama 21:38 sehari itu. Lalu apa yang mesti kita 21:40 perbaiki? Apa yang mesti kita lakukan? 21:43 Jadi tanpa kita duduk merenung, 21:46 memikirkan apa yang sudah terjadi, kita 21:48 tidak bisa menilai diri kita sendiri. 21:50 Nah, ini saya gunakan juga kalau ee apa 21:55 setiap hari kita ada waktu kita refleksi 21:58 apa yang kita lakukan, apa kesalahan 22:00 kita, kenapa terjadi peristiwa seperti 22:03 ini. Jadi amat tergantung juga dengan ee 22:06 apa peristiwa tadi kata Mbak Ning kalau 22:08 kita tadi apa terjembap [tertawa] 22:10 terjerembap nyungsep. Nah, kalau terkait 22:14 keagamaan, apakah kita kembali kepada 22:17 jalan-jalan yang ditawarkan agama atau 22:20 cara lain tadi menilai diri kita sendiri 22:22 atau kita mengcombine semuanya dan ini 22:25 memang dibutuhkan latihan. Pertama ee 22:27 kita perlu mensosialisasikan juga kepada 22:30 anak didik kita apakah anak, cucu, 22:33 mahasiswa, murid. Bagaimana perlu kita 22:37 melakukan refleksi? tanpa melakukan 22:39 refleksi mungkin khawatirnya kita selalu 22:42 menganggap diri kita yang paling benar. 22:43 Nah, ini dia. [tertawa] 22:45 Jadi ee apalagi ini di bulan Ramadan ya, 22:48 Ikhwan Akhwat. Merenung sebagaimana yang 22:51 tadi Prof. Yasmin katakan apa yang sudah 22:53 kita lakukan. Kemudian jangan lupa punya 22:56 catatan harian ya [tertawa] agar kita 22:58 bisa selalu ee melihat kembali apa yang 23:03 sudah dilakukan. Kalau kemudian terjadi 23:05 hal-hal yang tidak kita harapkan, kita 23:10 jadi tahu ini gara-gara ya salah sendiri 23:12 juga gitu. 23:13 Ketika melakukan refleksi baru kita 23:15 sadar, oh iya kok tadi saya ngotot 23:17 seperti ini rupanya gini gini gini baru 23:19 bisa kita lihat secara lebih objektif 23:22 gitu. 23:24 Ramadan adalah bulan berlimpah berkah 23:27 yang penuh dengan pengampunan. Kalau 23:30 menurut Prof. Yasmin nih, apa yang harus 23:33 kita utamakan di bulan yang datangnya ee 23:36 360 hari sekali? [tertawa] 23:40 Sebenarnya bukan menurut saya juga, 23:41 Mbak. Karena kalau kita apalagi 23:44 akhir-akhir ini kan saya lebih banyak 23:45 waktu gitu untuk melakukan aktivitas 23:49 yang beda dengan antropologi 23:51 ya. Sebenarnya isinya sih sama, cuman 23:53 caranya berbeda-beda. Perbanyaklah 23:56 ibadah, gitu. Nah, 23:58 perbanyak [berdehem] ibadah. 23:59 Perbanyaklah ibadah. Ternyata ee caranya 24:02 saya tidak tahu mungkin kalau generasi 24:03 muda disampaikan hal seperti ini ya 24:06 untuk orang tua lebih banyak menyerap 24:08 karena lebih banyak waktu dan lebih 24:10 banyak sadar perjalanan sudah lebih 24:12 pendek. 24:13 Jadi ee ada macam-macam ibadah. Lalu apa 24:17 makna dari ibadah tersebut? apa yang 24:19 kita dapatkan kat melakukan seperti dan 24:22 itu ditawarkan luar biasa banyaknya yang 24:25 orang bisa memilih sesuai dengan 24:27 kondisinya. Jadi tidak tidak perlu 24:30 selalu misalnya harus iktikaf kalau 24:32 iktikaf itu berat gitu kan. He. 24:33 Tapi kok banyak bahkan hal-hal yang 24:36 paling kecil yang bisa kita lakukan di 24:38 bulan Ramadan sampai hal-hal yang begitu 24:42 apa ya menuntut satu usaha dan itu 24:45 memberikan warna baru kita istirahat 24:48 dari kehidupan 11 bulan dan menggunakan 24:51 yang 1 bulan ini untuk membentuk diri 24:53 kita, sisi rohani kita itu diberi 24:56 kesempatan. Jangan jasmani saja. Kakak 25:00 Betawi luar biasa banget ya. Kalau soal 25:04 anak-anak generasi kita sekarang ini, 25:07 Prof. 25:08 Bagaimana membuat mereka paham untuk 25:12 menyeimbangkan antara ibadah sosial dan 25:17 ibadah ritual? 25:20 Ini juga kita sedikit perbeda pendapat 25:22 nih, Mbak Tun. [tertawa] 25:23 Enggak apa-apa. Perbedaan pendapat 25:25 adalah sesuatu. 25:27 Jadi menurut saya setiap ibadah itu yang 25:31 selalu dikenakan dengan istilah ibadah 25:33 ritual. Jadi setiap ritual itu ada aspek 25:36 sosialnya. 25:37 Jadi kita tidak usah berusaha 25:41 memikirkan bagaimana ya saya melakukan 25:43 ritual supaya saya ada peran juga di 25:45 bidang sosial atau ee yang kita lakukan 25:49 di bidang sosial sebenarnya itu ada 25:51 nilai-nilai agama, ada nilai ibadah. 25:54 Cuman mereka tidak tahu. Karena biasanya 25:56 kalau bicara ibadah, bicara agama, ya 25:58 itulah sekitar-sekitar doa, salat, 26:02 mengaji. 26:03 Sebenarnya kan kita memberi senyum aja 26:06 sudah ibadah ya kan. Memberi salam lebih 26:08 dulu itu sebuah ibadah. Tapi mereka 26:11 tidak tahu bahwa mereka melakukan ibadah 26:14 gitu. juga perbuatan-perbuatan. Misalnya 26:17 kita pergi ke masjid, kita otomatis oh 26:20 ada kotak, kita memberikan amal, kita 26:22 beribadah itu sosial juga. 26:25 Iya. 26:26 Dan media sosial itu sebetulnya bisa 26:28 jadi lahan ibadah. Karena dari beberapa 26:30 yang kita ee simak ya, Prof. Ya. 26:33 Iya. 26:33 Ketika seorang anak muda menyaksikan 26:36 sesuatu terkait dengan kepedihan 26:39 kehidupan seseorang entah itu di pinggir 26:41 jalan atau di kampungnya yang kemudian 26:43 di-upload di medsos. Yuk kita bantu 26:46 mereka. Itu bisa terkumpul begitu banyak 26:49 yang bisa membantu orang-orang yang 26:51 membutuhkan. Jadi enggak selalu medsos 26:53 itu negatif. 26:55 Banyak sekali pos saya aja banyak 26:57 mendapat ilmu agama ya dari metsos itu 26:59 juga ya. Asal yang penting kritis gitu 27:01 maksudnya. 27:02 Betul. Nah, terkait dengan yang barusan 27:04 kita bahas membagikan sesuatu 27:08 kepedulianah atau apa? Kalau dalam hal 27:13 bersedekah nih kan luar biasa nilainya 27:16 kan di bulan Ramadan ini. 27:18 Tapi enggak semua orang bisa sedekah 27:20 yang ada di dalam dompet. 27:22 Enggak ada yang bisa sedekah yang 27:24 pokoknya yang membutuhkan dana biaya. 27:27 Prof. Ada ide enggak kira-kira sedekah 27:28 yang mana lagi? 27:30 yang bisa dilakukan oleh semua lini 27:33 tanpa harus kebingungan soal dananya. 27:37 Bukan cuman senyum doang sih, apalagi 27:39 [tertawa] 27:40 tapi enggak apa-apa banyak senyum juga 27:41 orang senang itu. 27:42 Tapi kalau senyum-senyum sendiri nanti 27:43 dimasukin ke grogol. [tertawa] 27:46 Iya. Ee sebenarnya di lingkungan sendiri 27:50 itu banyak sekali kesempatan orang ya, 27:52 Mbak untuk beribadah gitu. Kalau kita ke 27:57 masjid membantu ee 27:59 bersih-bersih, 28:00 bersih-bersih di masjid, kita lihat 28:02 bukenanya atau memberikan 28:05 masukan-masukan gitu. Saya saya sering 28:08 juga gitu sebab orang yang ada di dalam 28:10 sering tidak tahu, tapi orang yang di 28:12 luar ini yang bisa merasakan dan tidak 28:15 usah selalu harus di masjid. Kalau kita 28:17 jalan lihat ada batu, lihat ada apa, 28:20 kita singkirkan lag itu juga hal-hal 28:23 yang merupakan sedekah 28:25 ibadah itu yang merupakan [tertawa] 28:26 sedekah. 28:27 Saya kira ee banyak juga seringkiali ee 28:30 mungkin ini ya kalau menurut pertanyaan 28:32 Mbak Tuning. Jadi justru memberikan 28:34 inspirasi kepada para penceramah. Coba 28:37 banyak jugalah berceramah karena banyak 28:39 orang yang tidak tahu gitu bahwa ada 28:42 hal-hal yang kelihatannya kecil, tidak 28:44 membutuhkan ee apa dalam hal ini uang 28:48 bahwa itu merupakan satu ibadah. 28:50 Sementara kita dituntut beribadahlah 28:52 sebanyak-banyaknya supaya nanti kalau 28:55 kita pergi kita punya bekal. Orang 28:57 piknik aja kita kalau enggak ada bekal 28:59 kan enggak 28:59 bawa air, bawa makan, bawa uang. Nanti 29:02 ini untuk perjalanan yang panjang kita 29:04 butuh juga bekal. Ternyata banyak juga 29:07 bekal yang bisa dilakukan tanpa kita 29:10 harus mempunyai uang misalnya tanpa kita 29:13 jadi sesuai dengan kondisi kita seperti 29:16 apa, kekuatan kita seperti apa. Cuman 29:18 yang kita kurang adalah pengetahuan. 29:21 Pengetahuan kurang karena kurang adanya 29:23 sosialisasi. Jadi ee mungkin sosialisasi 29:27 itu yang dibutuhkan ya, Mbak ya. 29:28 Memberikan pengetahuan kepada banyak 29:30 orang. Banyak loh di luar sana 29:32 kesempatan beribadah. 29:34 Jangan sangka beribadah tuh cuman yang 29:36 tadi kita katakan [tertawa] doa salat 29:39 masjid kan. 29:42 Kalau Ramadan ini bulan yang penuh 29:45 berkah, ada 10 hari yang istimewa di 29:47 bulan Ramadan ini yang katanya juga sih 29:51 itu malam-malam 10 hari terakhir tuh 29:54 paling dicintai Allah. Ada gagasan ide 29:57 ngapain ya enaknya? Siapa tahu yang 29:59 tahun-tahun kemarin kita belum kerjain 30:01 di 10 hari terakhir itu 30:03 mungkin pertama refleksi tadi ya, Mbak 30:05 ya. 30:06 Jadi ee bagaimana ee terutama anak-anak 30:09 muda juga orang yang tua juga banyak 30:11 seperti anak muda, Mbak. 30:13 Perlu 30:13 banyaknya kurang butuh refleksi kita 30:16 refleksi dulu dulu-dulu kita Ramadan 30:19 seperti apa gitu. Nah, lalu dengan dia 30:22 rajin sekarang tidak usahlah mesti 30:24 datang. Oh, saya tidak ada waktu ke 30:26 majelis taklim dan sebagainya. 30:28 menyediakan banyak sekali informasi. 30:31 Nah, bagaimana dia mengcombine informasi 30:34 pengetahuan mengenai ibadah di 10 hari 30:37 terakhir ini dengan hasil refleksinya 30:40 tadi. 30:41 Dan kalau menurut pengalaman saya juga 30:43 berbicara dengan banyak teman, ternyata 30:46 sekarang juga kan iktikaf tuh sudah 30:48 merupakan satu tradisi sendiri di antara 30:51 generasi muda. Ses sesuatu yang nyaman 30:54 gitu. Kalau dia tahu apa yang bisa dia 30:57 lakukan, apa yang dia peroleh, apa makna 31:00 dari iktikaf. Saya sering sekali 31:03 sekarang ngobrol-ngobrol, eh ternyata 31:04 iktikaf tuh enak sekali. Kalau dulu 31:06 cerita kan berat, kita harus satu malam 31:09 di masjid beribadah, masjid 31:12 duduk dulu. Jadi sesuatu baru kita 31:15 rasakan setelah kita melakukan itu. Iya. 31:19 Jadi ee tidak ada sesuatu yang bisa kita 31:24 betul-betul maknai tanpa melakukannya. 31:26 Kalau cuman baru dalam bayangan, angan, 31:29 lain lagi ceritanya itu ya 31:31 tergantung dari yang cerita juga. Tapi 31:33 saya pikir paling penting tadi tuh 31:34 refleksi itu juga, Mbak kan. Kita kalau 31:36 melakukan refleksi kita bisa tahu 31:38 sebenarnya ee apa sih 31:40 kekurangan-kekurangan kita, apa yang 31:42 mesti kita isi. Nah, ini diisi oleh 31:45 pengetahuan dan beruntung sekali ya 31:47 anak-anak yang hidup di zaman sekarang 31:49 pengetahuan untuk kesempatan mendapat 31:52 pengetahuan. 31:53 Terima kasih kepada medsos, kepada 31:55 televisi. 31:56 Heeh. 31:57 media memang luar biasa meskipun untuk 32:00 yang masih perlu bimbingan ayah bunda 32:03 sangat diperlukan tuh ya terkait dengan 32:06 jangan nonton itu terus kalau yang masih 32:08 belum dewasa kan 32:10 ya bahkan banyak ibu-ibu muda yang 32:12 bingung deh tanpa benda 5* 10 cm ini 32:15 anakku rewel terus [tertawa] 32:19 nah emm 32:22 sebagai sosok yang perjalanannya sudah 32:25 begitu panjang antara antara sukses dan 32:28 setengah sukses atau bahkan mungkin juga 32:30 pernah mengalami kegagalan itu 32:34 bagaimana sih menciptakan keseimbangan 32:37 dalam perjalanan hidup kita ini agar ee 32:42 bahagia 32:44 sukses itu bisa berjalan seiring. Yang 32:47 kebanyakan kan kalau enggak sukses 32:49 enggak bahagia. Tapi bagaimana biar 32:51 seiring? Karena tahu segala sesuatunya 32:53 tetap kadar kan. 32:55 Betul. He. 32:55 Adakah tips untuk biar sukses enggak 32:58 sukses kita bahagia gitu [tertawa] 33:00 berdasarkan pengalaman ya? 33:01 Heeh. 33:02 Nah, kalau berdasarkan pengalaman 33:03 [mendengus] 33:03 kita keseimbangan kebutuhan jasmani dan 33:06 rohani gitu loh. 33:08 Nah, akhir-akhir ini saya mendapat 33:10 pengalaman, saya ingat dulu lagu Bimbo 33:14 itu lewat begitu saja di kuping saya. 33:16 Berkumpullah dengan orang-orang saleh 33:18 ya, lewat begitu. Tapi setelah saya 33:21 menjalani perjalanan ini, terutama 33:23 setelah saya pensiun, saya mulai banyak 33:25 juga pindah memasuki dunia-dunia yang 33:27 dulu hampir tidak tersentuh di dunia 33:29 saya. Heeh. 33:30 Oh, ini loh yang dimaksud dengan Bimbo. 33:33 Karena kita dengan pergi ke 33:35 tempat-tempat tertentu, berkumpul dengan 33:38 orang-orang tertentu itu langsung diberi 33:40 ee contoh bukan cuman bicara ee apa ya 33:44 berupa informasi, kata-kata tapi kita 33:47 melihat sendiri gitu tindakan mereka. 33:50 Lalu ee kita juga terbawa kan di mana 33:53 kata pepatahnya orang Betawi main sama 33:56 tukang minyak tanah kita bau. Main 33:58 dengan tukang jual minyak wangi kita 34:00 wangi. Oh ini yang dimaksud oleh Bimbo. 34:03 Jadi ee bagaimana sediakan waktu mengisi 34:06 pengetahuan kita ya jangan cuma dengan 34:08 yang jasmani tapi dengan yang rohani. 34:11 Bagaimana bermain di tempat-tempat yang 34:13 juga menyajikan kesempatan rohani. 34:16 bagaimana bergaul dengan orang-orang 34:18 yang dunianya banyak berbicara masalah 34:20 rohani. Tapi ee waktu muda kita memang 34:23 sibuk sekali, Pak. Ada target, ada 34:25 target. Sehingga saya sendiri melakukan 34:27 itu. Kita lupa ya sekali-sekali aja 34:31 nanti waktu masuk bulan puasa dan 34:33 sebagainya. Tapi kalau ini diberi 34:35 pengetahuan, diberi kesadaran, orang 34:38 tahu, orang sadar, diberi kesempatan dan 34:41 lagi-lagi saya melihat kesempatan 34:43 sekarang banyaknya luar biasa. Jadi 34:45 keseimbangan tindakan kita sendiri 34:48 memasuki dunia jasmani, memasuki dunia 34:51 rohani. Janganlah kita terlalu terpukau 34:53 dengan kebutuhan jasmani dan sebagainya 34:56 lalu melupakan ini. Dan ketika itu 34:58 terjadi, itu terjadi ketidakseimbangan 35:00 dan membawa kepada kerisauan. Kakak, 35:03 jangan sampai risau datang karena kita 35:05 bimbang dan enggak seimbang. Ya, 35:07 [tertawa] 35:08 ya. Ramadan memang penuh dengan 35:10 tantangan, tetapi juga berlimpah tawaran 35:12 tergantung bagaimana kita memilih sikap 35:15 kita. Kalau ada kalimat you are, what 35:17 you think, you what you feel, waduh 35:19 perasaan dan pikiran gue ternyata 35:21 pengaruhnya luar biasa sekali. Nah, 35:23 untuk em 35:25 kembali ke soal pergeseran nilai-nilai 35:28 Ramadan ini ee terhadap kehidupan kita 35:32 terkait dengan 35:34 ee etnik Betawi nih. Mungkin bisa di 35:37 tadi kan sudah kita dengar ya, Ikhwan 35:39 Akhwat ya, bagaimana etnis Betawi yang 35:42 di pinggir sama yang di pusat berbeda. 35:44 Tetapi terkait dengan ee nilai-nilai 35:48 Ramadan itu cukup 35:51 clear jugaah. Perbedaannya 35:54 memang mereka mempunyai tradisi dan 35:57 tradisi 35:58 ya yang terkait dengan Ramadan gitu. Di 36:02 masjid saya ini juga ee ada itu ee satu 36:05 tradisi ketika tanggal 27 kita semua 36:09 membawa makanan lalu setelah selesai 36:11 tarawih makan bersama. Sebenarnya 36:13 mungkin nilai makanannya tidak terlalu 36:15 besar ya, tapi yang besar adalah 36:17 kebersamaan. Lalu semua orang memakan 36:19 makanan yang bersama. kita kita kenal 36:22 siapa ini kan orang Jakarta kita kurang 36:25 komunikasi. 36:25 Iya. 36:26 Ada satu tradisi yang akhir-akhir ini 36:28 dihidupkan kembali sudah berapa tahun 36:30 ini saya ngalami yaitu pawai obor 36:33 untuk menyambut Ramadan. Dulu kan lama 36:36 sekali hilang pawai obor. Waktu saya 36:38 anak-anak ada pawai obor. Lalu sering 36:41 itu mereka memasang lampu ee lampu dari 36:44 minyak tanah dari bekas bohlam yang 36:47 menunjukkan buat puasa berapa hari lagi 36:49 akan berakhir. Ya, itu secara emosional 36:52 meskipun itu kelihatannya cuman 36:54 lampu-lampu atau pawai obor secara 36:57 emosional itu sangat membangun gitu 36:59 semangat religius kita. Ketika Pak Wi 37:02 obor lewat anak-anak dengan bawa 37:04 obornya, Allahu Akbar, Allah dan 37:06 seterusnya gitu. Itu membangkitkan 37:09 semangat kita. Oh iya, Ramadan is coming 37:11 gitu. Lalu kita siap untuk Ramadan. He. 37:14 Mudah-mudahan ikhwan akhwat sekarang ini 37:16 di Ramadan kali ini kita masih bisa 37:18 menyaksikan pawai obor bukan sekedar ee 37:21 apa tuh kalau yang di lempar ke atas 37:24 petasan. Petasan [tertawa] 37:26 di malam ee 37:29 malam besoknya hari raya itu banyak 37:32 orang bermain petasan, menikmati 37:34 petasan. 37:35 Itu ada bahayanya kalau obot bahaya. 37:36 Nah, iya betul. 37:39 terkait dengan istilah ee birul walidain 37:43 yang fardu ain. Di mana-mana mungkin 37:46 juga kita semua belajar bahwa 37:48 tugas utama kita sebagai anak terhadap 37:51 ayah bunda bla bla bla panjang banget. 37:53 Mulai dari zaman dulu sampai sekarang 37:56 itu ee tentu ada perkembangan, ada 37:59 perubahannya. Tetapi ee kira-kira 38:03 bagaimana kita 38:06 mengaplikasikan 38:07 mengutamakan ayah bunda di bulan Ramadan 38:11 ini yang mungkin masih berapa hari lagi 38:12 gitu? 38:13 Iya. 38:14 Menurut Prof. Yasmin, apa yang paling 38:17 baik? Misalnya kemarin tuh ngobrol, coba 38:20 pernah enggak meluk ibu ayah dari 38:21 belakang? 38:23 Itu sebuah surprise. Mereka pasti akan 38:25 ee wih kenapa nih anak gue gitu kan. 38:28 Nah, mungkin ada hal-hal lain lagi yang 38:30 bisa menunjukkan betapa sebetulnya 38:34 I love you. Gila, pokoknya cinta banget 38:36 sama Ayah Bunda gitu. [tertawa] 38:39 Iya. Iya. Memang sekarang yang kita 38:42 lihat adalah perubahan perubahan yang 38:44 besar ee salah satunya komunikasi antara 38:49 anak dan orang tuanya. 38:51 Kalau untuk yang masih anak-anak tidak 38:53 terlalu bermasalah, Mbak ya. ee mungkin 38:56 yang bermasalah adalah cara 38:58 mengekspresikan hormat. Nah, nah ee 39:02 hormat ini ee mungkin berbeda yang 39:05 dirasakan yang dituntut oleh orang tua 39:07 dan anak muda yang tadi sudah kita 39:10 diskusikan bicara mengenai hak kewajiban 39:13 dan sebagainya sehingga ee [mendengus] 39:15 mereka tidak merasa itu sebagai tidak 39:18 hormat. Nah, yang lebih terasa sekarang 39:21 ketika ee mereka berangkat dewasa, 39:26 berumah tangga sendiri, berumah sendiri, 39:29 di masukkan lagi dengan alat komunikasi 39:33 yang menyebabkan kita tidak perlu 39:35 bertemu langsung 10 39:37 dengan WA selamat pagi yang gimana, apa 39:40 kabar? 39:41 Lalu ada komunikasi tidak merasa perlu 39:44 datang gitu. Nah, padahal suatu ekspresi 39:48 cinta akan lebih dirasakan tadi Mbak Nun 39:50 katakan itu kalau kita ada persentuhan 39:53 fisik tadi kita bertemu secara langsung 39:56 bukan JS hello mel HP atau videoan dan 40:00 sejenisnya. Jadi bagaimana kalau 40:02 biasanya kalau bulan Ramadan aktivitas 40:05 kan memang berkurang ya di mana-mana pun 40:07 mereka rapat apa ayo ya tapi Ramadan 40:10 kita enggak bisa ini kita bubar kantor 40:12 jam .00 sehingga dari jam .00 sampai 40:14 malam kita bebas. Nah, ini diusahakan 40:18 oleh mereka yang tinggalnya berjauhan 40:19 dengan orang tua. Coba banyak-banyaklah 40:22 buka puasa bersama kalau perlu nginap. 40:25 Lalu iktikaf tadi bersama. Jadi, coba 40:28 kontak dengan orang tua menjadi lebih 40:30 tinggi. Ini kesempatan ini bisa 40:32 dilakukan di bulan Ramadan karena 40:35 waktunya lebih banyak 40:37 dan ee acaranya juga ee berisi hal-hal 40:41 yang religius yang untuk apa ya 40:44 ketenangan rohani, pengisian kebutuhan 40:46 rohani. Jangan cuman jasmani aja, tapi 40:49 secara emosional [mendengus] rohani dan 40:50 seterusnya. Jadi santapan itu rohani 40:53 penting ya, penting. 40:55 Bukan santapan yang ada di meja doang. 40:58 Dia memberi ketenangan. 40:59 Iya. 41:00 Yang di meja cuman ketenangan perut aja, 41:02 Mbak. 41:03 Ngomongin soal santapan, banyak di 41:05 antara kita di anggota keluarga ini 41:07 malah buka puasanya di luar. 41:10 Iya. 41:10 Ya. Enggak bisa buka puasa di rumah, di 41:12 sana, di sana, dan di sana. Nah, ee 41:15 kepedulian kita terhadap dengan 41:17 bagaimana buka di rumah bersama dengan 41:20 ayah bunda, dengan anak biar meningkat 41:23 meskipun bukan berarti 29 hari selalu 41:26 buka terus di rumah ya kan. Tapi agar 41:29 muncul kesadaran please deh, masa iya 41:32 sih cuma bersenang-senang sama 41:33 teman-teman melulu. 41:35 Kira-kira ada sentilan apa? [tertawa] 41:39 Kalau terkait pernyataan tadi juga, Pak. 41:41 Sebenarnya itu mengisi yang tadi saya 41:43 katakan bulan Ramadan karena kita lebih 41:46 banyak waktu gitu ya dan memang kosong. 41:49 Kenapa itu tidak diisi lebih banyak 41:51 berkomunikasi dengan keluarga? Nah, ee 41:55 lalu kita memakai tradisi untuk tidak 41:57 merepotkan tuan rumah juga untuk 41:59 membentuk komunikasi saling mengenal 42:02 lebih jauh dengan membawa makanan 42:04 masing-masing. Jadi kan makanannya 42:07 sangat bervariasi. Lalu orang 42:09 menunjukkan kemampuan dia ini loh saya 42:11 ahli sekali dalam masakan ini gitu dan 42:15 itu bisa dinikmati bersama. Jadi ee agak 42:19 beda kalau makanan dari restoran dengan 42:22 yang di bawah anggota keluarga [tertawa] 42:25 memunculkan komunikasi ini siapa yang 42:27 bikin cara bikinnya gimana. Oh lain kali 42:29 saya mau juga seperti ini. Maka 42:32 muncullah komunikasi di antara keluarga 42:34 yang tadinya cuman J say hello-helo aja 42:37 yang formal gitu ya. 42:38 Iya, Prof. Yasmin. Kebersamaan kita di 42:42 Sahur Bersama Rasil ini kita sudah di 42:45 penghujung deh kayaknya ya. Terkait 42:47 dengan dulu ee Prof. Yasmin kan pilih 42:51 antropologi 42:53 karena kebetulan seperti yang ee Abang 42:55 Fuad Hasan bilang sedikit peminatnya dan 42:58 segala macam 42:59 itu dulu begitu. Sekarang kayaknya 43:01 anak-anak yang pilih antropologi juga 43:03 sangat kurang itu menurut informasi di 43:06 luar sana. 43:08 juga sebenarnya banyak dari apa? Karena 43:10 kita membatasi, menerima mereka yang 43:12 dapat. 43:13 Oh, gitu. Karena kalau ada yang bilang, 43:14 "Ah, enggak keren ah ilmu antropologi 43:16 itu gimana?" 43:17 Karena salah satunya juga penyebabnya 43:19 saya tidak tahu kenapa ya. 43:21 Heeh. 43:21 Ini jadi bicara antropologi ya enggak 43:23 apaapa. Heeh. Banyak orang yang 43:25 sebenarnya tidak tahu apa itu 43:26 antropologi. Mereka lebih berpikir 43:29 sebenarnya antropologi lebih dekat ke 43:31 sosiologi. Tapi orang menyangka 43:33 antropologi itu arkeologi. Nah, 43:35 perbedaan ini ya Heeh. 43:37 I ikhwan akhwat enggak terasa 1 jam itu 43:40 seperti baru beberapa menit gitu ya atau 43:42 mungkin baru beberapa detik saking 43:44 asyiknya kita menyimak eh Prof. Yasmin 43:47 di acara sahur bersama Rasil. Yuk kita 43:51 simak dengan telinga jiwa kita closing 43:53 statement beliau. Oke. 43:56 Nah, salah satu hal yang menarik dari 43:58 pembicaraan tadi adalah mengenai 44:00 kehidupan keluarga di mana banyak sekali 44:03 terdapat perubahan-perubahan dari 44:05 bagaimana kita menyapa seseorang, 44:08 bagaimana kita bertikah laku, menyadari 44:11 posisi dan sebagainya. Nah, nilai-nilai 44:14 seperti ini memang harusnya ditanamkan 44:17 kepada anak-anak di dalam keluarga. Dan 44:19 yang paling besar di sini adalah peran 44:21 orang tua khususnya ibu. Jadi ee 44:24 bagaimana Ibu sebagai agen dalam 44:27 memperkenalkan peraturan-peraturan dalam 44:29 keluarga ini 44:31 mensosialisasikan kepada anak-anaknya 44:34 agar anak-anaknya ee dapat bertingkah 44:37 laku bertindak memahami nilai-nilai yang 44:41 ada di dalam keluarga mereka. terkait 44:45 inir siaran radio Rasil yang mestinya 44:49 nilai-nilai islami, nilai-nilai 44:51 Indonesia yang islami dan ini ditanamkan 44:54 melalui peran Ibu. 44:58 Masyaallah. 44:59 Terima kasih sekali Prof. Yasmin untuk 45:01 kehadirannya di sahur bersama Rasil. 45:06 Mudah-mudahan Ramadan tahun depan masih 45:08 ketemu kita ya. Insyaallah. 45:10 Dan ikhwan akhwat, kita akan sudahi 45:14 kebersamaan kita sahur sebentar lagi dan 45:19 insyaallah sampai di penghujung Ramadan 45:22 tak satu pun yang menghalangi kita untuk 45:25 ee puasa dan beribadah. Billahi taufik 45:29 wal hidayah. Wasalamualaikum 45:30 warahmatullahi wabarakatuh.