Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:01 [musik] 0:04 Rasul TV 0:12 Bismillahirahmanirahim. Assalamualaikum 0:14 warahmatullahi wabarakatuh. 0:15 Alhamdulillahi rabbil alamin washolatu 0:17 wassalamu ala Muhammad wa ala alihi 0:20 wasahbihi ajmain. Rabbi zidni ilman 0:23 Allahuma anfa'ni bima alamtani wa alimni 0:25 ma yanfa'ni warzuqni ilman yanfa'ni. 0:28 Dipancarkan dari Jalan Masjid 0:29 Silaturahim nomor 36 Kalimanggis Cibubur 0:32 Bekasi, Radio Silaturahim dan Rasul TV 0:35 untuk Islam yang satu. Ikhwan akhwat 0:37 yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala 0:39 di manapun saja Anda berada yang dapat 0:41 mendengarkan dan menyimak siaran kami di 0:43 malam hari ini, apa kabar Anda? Semoga 0:47 semuanya dalam keadaan sehat walafiat. 0:50 Adapun yang di malam hari ini dalam 0:52 keadaan sakit, semoga Allah Subhanahu wa 0:55 taala segera menyembuhkan penyakitnya 0:57 dan tentu saja terus bersabar 1:00 dan bagi Anda pendengar Rasul stay tune 1:02 terus di siaran-siaran Rasul. Senang 1:04 sekali ikhwan akhwat di malam hari ini 1:06 saya Angga Aminudin ditemani oleh Fahri 1:09 di operator, ada Ondy di kameramen. Kami 1:12 hadir dalam acara Buka Mata Buka Telinga 1:16 bersama Dokter Sarbini Abdul Murad. 1:19 Assalamualaikum warahmatullahi 1:20 wabarakatuh Dokter Ben. Nah, 1:22 panggilannya Dokter Ben ya. 1:23 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:24 wabarakatuh. Waalaikumsalam. 1:25 Sehat Dokter Ben ya? 1:27 Alhamdulillah sehat. 1:28 Pak Desi 1:29 Kita masuk pekan keempat nih di bulan 1:32 Agustus, bulan kemerdekaan. Siapa tamu 1:35 kita malam hari ini Dok? 1:39 Sekarang kita undangin Mbak Desi 1:41 Fitriani. 1:42 Mbak Desi Fitriani. 1:43 Mbak Desi wartawan wartawan senior Metro 1:46 TV. 1:47 Iya. 1:48 terbang yang luar biasa di Metro TV. 1:50 Masyaallah. Sudah bergabung dengan kita 1:52 Mbak Desi Fitriani, wartawan senior 1:55 Metro TV. Assalamualaikum warahmatullahi 1:57 wabarakatuh, Mbak Desi. 1:59 Waalaikumsalam, assalamualaikum buat 2:01 semuanya. Pak Dokter Ben, apa kabar 2:03 Dokter Ben? 2:04 Alhamdulillah sehat ya, Mbak Desi ya. 2:07 Mas Angga, terima kasih. 2:09 Alhamdulillah. Mbak Desi, eh jadi kalau 2:13 eh liputan-liputan 2:15 di luar negeri itu selain Gaza, ke mana 2:17 saja, Mbak? 2:19 Eh Afghanistan, eh itu ada dua juga, ke 2:23 Yaman, ke Lebanon, Suriah. 2:26 Eh rata-rata dari konflik semua sih itu 2:29 ya. 2:29 Makanya itu kok lahan konflik semua, 2:30 Mbak Desi. Itu liputan di lahan konflik 2:32 semua. 2:35 Jadi bisa disebut wartawan perang ini 2:37 ya. 2:38 [tertawa] 2:38 Nah, katanya begitu. 2:41 Eh dapat penghargaan dari presiden juga 2:43 kan sebagai jurnalis konflik. 2:45 Iya, iya. Tahun berapa itu, Tan? 2:48 Tanda tanda jasa wirakarya itu tahun 2:51 2000 berapa ya? 2020 ya? 2:54 Eh 2000 iya 2020. 2:56 2020. Masya Allah. Dan sekarang masih 2:58 aktif di Metro TV ya? 3:00 Masih alhamdulillah masih. 3:02 Masih. 3:03 Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah 3:05 subhanahu wa taala, topik kita di malam 3:06 hari ini nasib pers dan jurnalis di 3:09 Palestina. 3:11 Ini kalau saya kutip berita Dokter Ben, 3:13 berita terbaru ini ya, baru dirilis 3:16 bahkan 3 jam yang lalu. 3:18 Eh Tirto memberitakan jurnalis yang 3:21 gugur di Gaza lebih banyak dari Perang 3:23 Dunia II. 3:25 Jadi angka kematian jurnalis di Gaza ini 3:26 akibat serangan Zionis Israel melebihi 3:29 yang terjadi di Perang Dunia I dan II, 3:31 bahkan Perang Vietnam dan juga 3:34 Perang Afghanistan. Jadi dikatakan 3:37 perang di Gaza, Palestina ini eh 3:40 tercatat 240 jurnalis dan angka ini 3:43 melebihi jumlah jurnalis yang gugur di 3:45 Perang I Dunia I, Perang Dunia II, dan 3:48 juga Perang Vietnam, Perang Afghanistan. 3:50 Ini tentu saja 3:52 menjadi eh sorotan gitu ya bagi banyak 3:54 pihak khususnya para jurnalis sebenarnya 3:57 yang terjadi di Gaza ini kaitannya 4:00 dengan dunia pers gitu ya, ini kan tidak 4:03 bisa dipandang 4:05 begitu saja gitu ya Dok ya. Nah ini yang 4:08 akan kita angkat di malam hari ini. 4:09 Sebagai pembuka Dokter Ben, silakan 4:11 menyampaikan 4:13 apa yang kita sorot di topik kita nasib 4:16 pers dan jurnalis di Palestina ini. 4:20 [berdehem] 4:20 Ya, 4:21 ya Mas Angga bawa um 4:23 kita perhatikan sekarang bahwa perang di 4:25 Gaza ini kan hampir 2 tahun dengan 4:28 korban berbagai macam lapisan masyarakat 4:30 ya. 4:31 Ada sipil kemudian um 4:34 juga terdiri dari anak-anak 4:36 wanita dan sebagainya. Juga sebagai 4:39 berbagai macam profesi, ada wartawan, 4:41 jurnalis kemudian ada dokter, juga ada 4:44 engineering dan sebagainya. Macam. 4:46 Jadi ini ini seperti kata Mas Angga tadi 4:48 itu bahwa jumlah ini jumlah sangat 4:50 fantastis sekali ya. 4:52 Tapi kita harus um berterima kasih 4:54 kepada teman-teman jurnalis bahwa dengan 4:57 mereka yang orang-orang terdepan 4:59 memberikan gambaran real 5:02 situasi kondisi yang ada di Gaza 5:04 maka dunia ini memahami bagaimana 5:07 situasi kondisi yang begitu parah yang 5:09 terjadi di di Gaza. 5:11 Dan ini adalah satu profesi yang sangat 5:14 luar biasa menurut saya itu adalah 5:15 mereka mempertaruhkan jiwa mereka nyawa 5:18 mereka untuk memberitahukan bahwa di 5:20 Gaza terjadi kelaparan, ada genosida 5:23 yang dilakukan oleh Israel. Tanpa mereka 5:25 menginformasikan itu maka kita akan buta 5:28 dengan situasi kondisi yang ada di Gaza. 5:31 Mungkin kita juga tahu 5:32 sepenggal-sepenggal informasi yang ada 5:33 di Gaza. 5:35 Sehingga dengan keberanian mereka maka 5:37 sekarang dunia 5:38 mulai menekan Israel untuk segera 5:41 menghentikan perang. Ini tidak lain 5:42 tidak bukan karena 5:43 teman-teman jurnalis yang mempertaruhkan 5:45 nyawanya yang kemarin kita sama-sama 5:47 tahu saya lupa namanya yang meninggal di 5:49 Gaza itu yang 5:50 Anas Asy-Syarif 5:52 Ya Anas Asy-Syarif yang yang 5:53 sangat-sangat eh apa mengenaskan ya apa 5:55 yang terjadi 5:56 Terbakar he em 5:57 Masya Allah jadi jadi sebenarnya itu eh 5:59 jurnalis sama seperti profesi medis juga 6:01 Mas Angga dia tuh punya apa ya 6:04 lisensi yang untuk tidak di apa tidak di 6:07 diperlakukan sama kombatan gitu ya jadi 6:09 mereka itu punya hak untuk melaporkan 6:11 dan 6:12 eh semua pihak harus menghormati tugas 6:14 mereka nah itu merupakan eh 6:17 undang-undang yang dilindungi oleh 6:18 undang-undang eh Konvensi Jenewa mungkin 6:20 ya untuk untuk memberikan akses kepada 6:23 para wartawan 6:24 Nah Mas Angga bahwa kita sengaja 6:26 mengundang Mbak Fitri karena beliau 6:28 sudah punya pengalaman jadi 6:30 para pendengar Gatra Siaga mempunyai 6:31 satu apa ya menjadi menjadi 6:34 penguat ya pengumuman bahwa beliau 6:36 seorang wanita tapi beliau mempunyai 6:38 satu spirit yang begitu luar biasa yang 6:40 memberikan informasi 6:42 eh kepada kita semuanya kepada publik 6:44 sehingga banyak peristiwa-peristiwa yang 6:46 terjadi 6:47 eh di di di di Palestina mungkin juga 6:49 beliau nanti-nanti eh Mbak Desi juga 6:51 bisa menceritakan di dalam 6:52 konflik-konflik yang lain yang keduanya 6:54 adalah untuk bisa menguatkan eh 6:57 semangat ya semangat ukhuwah Islamiyah 6:59 di kalangan kita 7:00 bahwa eh kehadiran kita di sana di 7:02 samping tugas-tugas jurnalis ada juga 7:04 adalah juga tanggung jawab kita sebagai 7:06 sesama muslim khususnya untuk bisa 7:09 bersilaturahmi dan kita bisa mem memberi 7:13 kabar 7:14 eh peristiwa yang yang mereka alami pada 7:16 hari ini 7:17 Nah oleh sebab itu eh saya pikir eh 7:20 tugas kita [berdehem] tugas kitalah 7:22 untuk memberikan saya memberikan 7:24 apresiasi ya kepada eh teman-teman 7:26 wartawan dan 7:28 bentuk penghargaan ini juga diberikan 7:30 oleh pemerintah kepada Mbak Desi atas eh 7:33 atas dedikasi beliau ya karena sangat 7:36 sedikit eh wartawan yang berani terjun 7:38 ke daerah konflik sangat-sangat sedikit 7:39 sekali ya karena memang eh 7:42 ini istilahnya tuh tertekan tertekan 7:44 matilah istilahnya itu tertekan gitulah 7:46 artinya belum tentu bisa bisa balik, 7:48 belum tentu bisa selamat ya karena 7:50 karena ini kan semua ini membutuhkan eee 7:53 apa ya membutuhkan satu kualitas ya 7:56 kualitas keimanan yang tinggi ya, 7:58 terlepas apapun ini kan Mbak Desi punya 8:00 pengalaman bagaimana beliau bisa masuk 8:02 ke ke terowongan yang mungkin nanti bisa 8:04 juga disampaikan kepada pada pendengar 8:06 kita sebagai apa sebagai penguatlah 8:09 penguat bahwa 8:10 dan semua yang kita lakukan ini adalah 8:12 bentuk daripada ukhuwah Islamiyah 8:13 persaudaraan kita terhadap eee 8:15 saudara-saudara kita yang ada di Gaza. 8:18 Saya pikir sebagai pembuka ini mungkin 8:20 eee seperti yang seperti itu Mas Angga 8:22 hingga pendengar eee kita ini bisa 8:24 memahami bahwa eee tugas jurnalis bukan 8:27 tugas yang yang mudah yang ringan, sama 8:30 juga seperti profesi dokter juga 8:32 sangat-sangat berat tugas beliau dan dan 8:34 lebih lebih sangat apa ya rentan untuk 8:37 menjadi target dibandingkan dengan 8:39 profesi dokter ya kalau dokter kan jelas 8:40 di rumah sakit ya, tapi kalau profesi 8:42 jurnalis kan dia kan mobile enggak bisa 8:44 dia eee berdiam atau menetap pada satu 8:47 tempat pasti dia akan pergi satu titik 8:49 ke titik yang lain untuk mendapatkan 8:50 informasi yang yang update. 8:52 Saya pikir itu Mas Angga sebagai awal 8:54 pembukaan dari saya. 8:56 Oke Dokter Ben dan 8:58 [berdehem] 8:58 sebelum saya ke Mbak Desi 9:01 eee bagaimana sebenarnya hukum 9:03 melindungi dalam perang gitu ya, ketika 9:06 kita tahu tadi juga disinggung oleh 9:08 Dokter Ben eee Konvensi Konvensi Jenewa 9:10 posisi jurnalis itu dalam perang itu 9:12 setara 9:14 warga sipil yang tidak boleh eee 9:16 dibunuh, namun kita juga tahu sepanjang 9:18 perang 9:19 eee ketika Zionis Israel itu 9:22 eee menginvasi Gaza gitu ya 9:25 Israel tidak mengizinkan jurnalis 9:27 internasional masuk ke Gaza untuk 9:29 melaporkan secara bebas makanya 9:31 eee banyak media mengandalkan wartawan 9:33 lokal di Gaza untuk eee liputan lalu 9:36 sebenarnya kondisinya benar-benar 9:39 setelah sejak sejak ee Tufanul Aqsa itu 9:43 apakah betul-betul tidak ada jurnalis 9:45 asing di Gaza hingga saat ini begitu ya 9:48 lalu bagaimana ee beredarnya informasi 9:51 dan juga nilai berita lalu juga 9:54 aktualitas beritanya yang menjadi 9:55 jaminan 9:57 ee bahwa berita ini benar-benar begitu 9:59 ya kondisinya seperti ini kita 10:00 melihatnya seperti apa mungkin bisa ada 10:04 ee pandangan nih dari Mbak Desi kami 10:07 silakan Mbak Desi 10:09 [berdehem] 10:09 Ya baik Assalamualaikum terima kasih Mas 10:11 Angga dan Dokter Ben 10:12 [tertawa] 10:13 jadi kalau memang tadi Mas Angga juga 10:15 sudah ee singgung ya bahwa dalam ee 7 10:19 Oktober sampai hari ini itu ee 22 bulan 10:24 15 hari itu 240 orang ee jurnalis mati 10:28 syahid saya bilangnya mati syahid karena 10:29 ini tugas dari jurnalis sendiri 10:32 mengungkapkan fakta dan peristiwa jadi 10:34 pada dasarnya jurnalis itu apa ngapain 10:36 sih jadi itu memberitakan fakta dan 10:38 peristiwa yang terjadi 10:39 He em 10:39 nah 10:40 dari ee 7 Oktober sampai sekarang itu 10:43 240 orang dan yang paling terbanyak 10:45 kalau kita ambil kalkulasi 240 orang itu 10:48 dibagi dengan ee 22 bulan itu sekitar 11 10:52 orang nah ketika saya lihat data 10:54 nama-namanya itu ee saya cek ternyata 10:57 korban wartawan paling tinggi itu di 11:00 bulan Desember 2023 sebanyak 30 orang 11:05 He em 11:05 itu wartawan saja ya 11:06 He em 11:07 wartawan saja jadi 11:09 warta kenapa wartawan itu menjadi korban 11:11 seperti yang Dokter Ben cerita tadi 11:12 bahwa dia sama seperti ee fungsinya 11:15 seperti dokter tapi kalau dokter 11:16 mengobati kalau ini kan memberitakan 11:17 fakta dan peristiwa itu pasti berada di 11:19 garis depan 11:20 di garis depan memberitakan fakta dan 11:22 peristiwa yang terjadi 11:24 nah ini korbannya kan bukan hanya dari 11:27 ee nah kalau saya lihat nama-namanya itu 11:29 bukan hanya dari kontributor atau 11:31 wartawan Al Jazeera yang seperti pada 11:34 tanggal 11 kemarin 4 orang meninggal 11:36 Hmm. 11:37 pada saat mereka berada di tenda 11:39 pengungsian yang dekat dengan rumah 11:41 sakit Syifa kalau enggak salah ya. 11:43 Kemudian beberapa wartawan bahkan sampai 11:45 keluarganya bahkan ada juga yang di 11:47 di bom rumahnya karena dia memberitakan 11:51 tentang 11:52 fakta yang terjadi ya di Gaza sendiri. 11:55 Nah, dan tidak hanya perempuan seperti 11:57 yang kita bilang tadi itu ada juga 11:58 laki-laki kalau saya enggak salah itu 12:00 namanya ada 12:02 eee 12:03 dari perempuan 12:07 [batuk][berdehem] 12:08 itu eee 12:10 Asako Salam kalau enggak salah ya gitu. 12:13 Itu dia meninggal pada 2024 12:16 awal. 12:16 Nah, dan juga tadi juga sempat 12:18 disebutkan bahwa jumlah jurnalis yang 12:21 meninggal atau yang mati syahid 21 orang 12:23 ini adalah lebih besar daripada eee 12:26 jumlah eee jurnalis yang meninggal pada 12:29 Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia 12:31 Kedua dengan total keseluruhan cuma 68 12:33 orang. Itu pada tahun 1914 dan sampai 12:36 1939. 12:38 Nah, untuk Perang Vietnam cuma 63 orang. 12:41 Dan untuk Perang Afghanistan 127 orang. 12:43 Artinya ini sudah berlipat-lipat dari 12:48 eee jurnalis yang gugur di medan perang. 12:50 Kalau Vietnam 63, Perang Afghanistan 12:53 kemarin yang baru-baru ini 127 orang di 12:55 tahun 2001 kemarin dan juga Perang Dunia 12:57 cuma 68 orang. Artinya bahwa sebenarnya 13:01 itu kan eee hak jurnalis berada di 13:03 daerah konflik itu kan dilindungi 13:05 dengan PBB dan juga-juga dari 13:07 internasional. Kalau kita di Indonesia 13:08 ada Dewan Pers-nya, ada KPI juga ada 13:10 pemerintahan, kementerian. Tetapi kalau 13:13 misalnya di internasional kita juga ada 13:15 hak internasional. Cuma permasalahannya 13:18 eee roket dan peluru itu tidak bermata. 13:21 Hmm. 13:21 Jadi eee mereka enggak bisa memilih mana 13:23 warga sipil, mana Hamas, mana eee 13:26 patriot, mana wartawan. Nah, 13:29 yang ada di lokasi tersebut menjadi 13:31 korban. Tetapi permasalahannya ternyata 13:33 Israel itu tidak hanya menggempur atau 13:35 menghancurkan rumah-rumah yang memang 13:37 notabene masyarakat atau Hamas yang 13:38 mereka pikir itu-itu, tetapi juga 13:40 rumah-rumah wartawan dan tempat tenda 13:43 penampungan wartawan. 13:45 Yang seperti yang dilakukan oleh yang 13:46 terjadi pada empat rekan kami di Al 13:48 Jazeera. Dan artinya 13:51 bahwa Israel ini mencoba membungkam, 13:53 membungkam bagaimana supaya wartawan 13:55 itu, jurnalis itu tidak memberitakan apa 13:57 yang pembantaian genosida yang terjadi 13:59 di Gaza. Bahkan tidak hanya itu saja, 14:01 ketika Al Jazeera berada di Israel, 14:05 mereka akhirnya menutup dan mengambil 14:06 semua kamera Al Jazeera yang ada di 14:08 kantor berita di Israel. Nah, terakhir 14:11 saya juga mendengar beberapa kontributor 14:13 atau 14:14 arti perwakilan dari beberapa negara 14:16 yang ada di Israel juga tidak boleh 14:18 memberitakan berita. 14:19 Terakhir itu ketika Iran membombardir 14:22 dengan 300 drone-nya ke Israel, setelah 14:25 itu keluar beberapa gambar ketika 14:28 ketakutan masyarakat Israel. Nah, 14:30 beberapa wartawan kontributor itu dicoba 14:33 tidak lagi diizinkan untuk mengambil 14:35 gambar di di Israel. Sementara di Gaza 14:37 sendiri kan itu 14:39 seperti yang dikatakan tadi bahwa tidak 14:40 saya kontributor yang ada di situ tapi 14:43 menggunakan masyarakat 14:44 masyarakat lokal ataupun kantor berita 14:46 lokal di Gaza untuk diambil. Nah, saya 14:49 sendiri 14:50 di Metro TV itu mungkin kalau memang mau 14:53 jujur, 14:53 He eh. 14:54 kami itu terakhir akhir-akhir ini agak 14:55 kesulitan mendapatkan gambar. Kenapa? 14:58 Karena biasanya kami juga mendapatkan 15:00 gambar dari kantor berita Rusia, dari 15:03 beberapa IPTN dan juga dari Al Jazeera. 15:06 Tapi dengan berkurangnya sumber video 15:08 yang masuk, akhirnya kami mencoba untuk 15:10 memilah-milah dari influencer ataupun 15:13 video-video amatir dari masyarakat yang 15:16 ada di Gaza. Cuma ini kan kami harus 15:19 karena ininya ya, mesti dilihat apa ini 15:21 memang terjadi hari ini atau tidak. Cek 15:23 and riceknya memang lebih banyak lagi. 15:25 Nah, kalau memang mau jujur 15:27 ee beberapa kantor berita, kantor berita 15:30 asing nih ya seperti yang di Inggris 15:31 atau yang di Jerman itu ee 15:34 dan beberapa negara-negara Eropa itu kan 15:36 mereka istilahnya gambar mereka bagus 15:40 tetapi 15:41 isi beritanya itu memihak kepada Israel 15:45 Hmm. 15:45 atau Amerika 15:46 sementara kami kan ingin profesional ini 15:49 artinya dua ini terjadi pembantaian loh, 15:51 ini terjadi kelaparan, ini terjadi 15:53 pembunuhan genosida di di Gaza kenapa 15:56 kok beritanya jadi begitu terus 15:58 sementara gambarnya seperti ini. Nah, 15:59 dari Al Jazeera itu memang ee lebih ini 16:02 ya lebih apa yang fakta terjadi yang di 16:04 Gaza ini jadi ya ee beberapa bulan 16:07 terakhir ini apalagi setelah kematian 16:09 dari tim Al Jazeera kemarin itu kami 16:12 terpaksa harus mencari gambar dan ee 16:15 video-video amatir dari influencer yang 16:17 ada di Gaza sendiri nah artinya bahwa 16:20 [berdehem] ee ini kan fakta peristiwa 16:22 seperti apapun fakta dan peristiwa tidak 16:24 bisa ditutup-tutupin nah, kerjanya 16:26 wartawan bukannya ingin mengorek-ngorek 16:28 masalah bukannya ingin membesar-besarkan 16:30 malah enggak 16:31 Hmm. 16:31 karena kami juga punya kode etik, kode 16:33 etik sendiri bahwa tidak boleh 16:35 menyebarkan berita bohong, tidak boleh 16:37 melebih-lebihkan atau mengurangi tapi 16:39 harus sesuai dengan fakta dan peristiwa 16:41 dan fakta itu murni apa yang terjadi itu 16:43 sudah kode etik dan itu sudah sudah sah 16:46 kalau ada pelanggaran kalau di Indonesia 16:47 kita kena Dewan Pers atau kena ada dapat 16:49 surat cinta seperti semacam surat 16:51 peringatan 16:52 Hmm. 16:52 tapi kan 16:53 ini masalahnya ketika kita mau ngambil 16:56 gambar di sana itu itu dibatasin dan itu 16:59 fakta itu ditutup-tutupi 17:01 Hmm. 17:01 artinya upaya Israel Zionis Israel 17:03 membungkam ee jurnalis ee di dunia 17:07 ataupun di Indonesia sendiri itu memang 17:09 sengaja ditutup jadi kayaknya semua 17:11 enggak boleh lihat lagi gitu loh 17:13 Hmm. 17:14 jadi kayak kalau memang mau jujur kan 17:15 kadang-kadang gambar yang tayang di 17:17 TV-TV itu kan gambarnya potret ya. Kalau 17:19 untuk TV kan biasanya pakainya 17:21 landscape. Jadi kalau gambar-gambar 17:23 potret itu berarti kita ngambil gambar 17:24 dari eh influencer misalnya atau dari 17:26 masyarakat saja yang memvideokan dengan 17:28 video amatirnya. 17:30 He 17:30 Itu sih Pak Dokter Ben sama Mas Tangga. 17:33 he he he. Nah, eh yang 17:35 [berdehem] 17:36 Bagaimana Mbak Desi eh ketika kita ingin 17:40 eh tahu gitu ya 17:42 tindakan sistematis yang dilakukan oleh 17:45 eh Israel gitu ya yang menargetkan 17:48 memang betul-betul menargetkan apalagi 17:50 Al Jazeera sudah mengkonfirmasi bahwa eh 17:52 target utama tentara Israel itu selain 17:56 warga sipil ya wartawan gitu, wartawan 17:59 juga. 18:00 Sampai ada usaha-usaha gitu kan yang 18:02 dilakukan eh mendesak eh federasi 18:04 jurnalis internasional gitu ya. Lalu 18:07 juga mengajak eh apa mengkampanyekan 18:10 bagaimana kepedulian para jurnalis 18:12 internasional untuk kondisi yang ada di 18:14 Gaza gitu ya. Apakah langkah-langkah ini 18:17 Mbak Desi juga eh lihat gitu ya diblok 18:20 juga gitu sama eh Zionis gitu sama 18:22 Israel gitu ya. Jadi ada sistematis itu 18:24 bukan hanya terjadi di Gaza tapi di luar 18:27 di dunia dia tuh mengkondisikan itu 18:29 gitu. Bagaimana Mbak? 18:31 Mbak Desi. [berdehem] 18:32 Kalau kita lihat eh yang sekarang 18:33 berkonflik itu kan yang masih kan 18:35 Ukraina dengan Rusia ya. 18:36 He. 18:36 Eh kalau jauh ini sih ketika kami dari 18:39 eh Metro TV atau buat TV-TV Indonesia 18:41 yang datang ke sana ya mereka masih 18:43 buka. Tidak separah yang dilakukan 18:45 Israel. 18:46 He. 18:47 Tidak separah yang dilakukan Israel. 18:48 Memang ada upaya untuk bahwa ya 18:50 jangankan itulah kalau kita di di di 18:53 Indonesia saja ketika ada konflik di 18:55 Aceh, GAM atau OPM di Papua itu kan atau 18:58 misalnya itu kan pasti penginnya 19:00 suaranya lebih membela eh apa rentan 19:03 pemerintah Indonesia ini enggak usah 19:05 jauh-jauh lah contohnya. Jadi tetapi ini 19:08 kan benar-benar mereka mengu menutup 19:10 menutup menutup dan tidak memberikan 19:11 akses dan bahkan mereka kenapa? Kenapa 19:15 kalau kita kemarin ke beberapa diskusi 19:17 ya, kenapa 19:18 tim Aljazeera menjadi korban? Karena 19:20 Aljazeera adalah satu-satunya televisi 19:22 yang bisa yang di ditangkap dunia dan 19:25 kita ambil, kami kami cuplik, kami 19:27 ambil, kami kami ada izin MUI-nya kan. 19:29 He eh. 19:30 Bahwa bisa menceritakan apa yang sudah 19:32 diberitakan oleh Aljazeera atau 19:33 penyiaran langsung dari mereka bisa kita 19:35 bisa mengambil. Bahkan mereka juga 19:37 sering ngasih YouTube-YouTube-nya untuk 19:39 bisa setelah bernegosiasi kan. Kemudian 19:42 artinya kita bisa menyebarkan dengan 19:44 beberapa TV-TV dunia. Nah, ketika ini di 19:47 dibungkam mungkin sudah beberapa kali 19:49 mungkin, tapi kan upaya pembunuhan 19:52 wartawan itu apapun hukumnya itu enggak 19:54 boleh. 19:54 He eh. 19:55 Karena 19:56 kita kan tidak membela yang mana yang 19:58 ini, tapi kan fakta yang terjadi yang 20:00 diungkapkan. 20:01 Iya. 20:01 Jadi kesannya ini yang jadi bingung, 20:04 kenapa kenapa didiamkan gitu loh. 20:06 Nah. 20:06 Kenapa Israel terus didiamkan untuk ini 20:09 pertanyaan orang bodoh gitu kan 20:10 misalnya. 20:11 He eh. 20:11 Kenapa sih kok Israel cuma satu yang 20:13 belain cuma dua atau tiga negara gitu 20:15 loh yang sekarang sudah mulai tergerus, 20:17 kita melawan 44 negara muslim. 20:19 He eh. 20:20 44 negara muslim di belum lagi di Eropa. 20:23 Kalau kita ikutin kemarin saya ikut 20:25 dengan Freedom Flotilla yang waktu yang 20:27 pertama kemarin untuk yang di Turki 20:29 kemarin, itu 44 negara dan itu lebih 20:32 dari 38 negara itu adalah negara-negara 20:35 Eropa yang non muslim. Maaf ya maksudnya 20:38 He eh. 20:38 ini artinya ini kan bukan antar Islam 20:40 dengan non muslim, tetapi ini 20:41 benar-benar masalah kemanusiaan ini 20:43 nyawa gitu loh. Dan ini sudah 22 bulan, 20:46 15 hari atau 687 hari. 20:49 Nah, sampai kapan? Kenapa tidak tidak 20:51 ada mulut untuk menghentikan itu? 20:53 Jangankan untuk membungkam 20:55 Israel eh stop jangan bunuh wartawan. 20:57 He eh. 20:57 Untuk yang seperti yang terjadi setiap 20:59 hari enggak bisa. 21:01 He eh, he eh, he eh, he eh. 21:03 Harusnya ada aksi loh. 21:05 Harusnya ada gebrakan, tapi memang 21:07 seperti ini. Kalau wartawan dia kayak 21:09 kalau kita pikir-pikir kenapa Israel 21:11 mengatakan itu? Kalau wartawan 21:13 dibungkam, wartawan distop, enggak ada 21:14 gambar, mereka akan lebih leluasa. 21:17 Enggak ada lagi kontrol, enggak ada lagi 21:19 kontrol. Karena fungsi jurnalis itu 21:21 adalah sebagai kontrol. 21:22 Iya, iya, iya. 21:23 Kalau kontrol sosial, kontrol semuanya. 21:26 Nah, ini eh insyaallah kalau memang jadi 21:28 berangkat ada eh kapal dari Indonesia 21:31 akan bergabung dengan 8 40 kapal dari 44 21:35 negara akan bergerak dari eh Eropa 21:38 dan mau di Mediterania akan bergabung 21:40 untuk mendobrak masuk ke Gaza. Itu seba 21:43 setiap negara memasukkan eh juk 21:44 jurnalis-jurnalisnya dan influencer. 21:46 Jadi kalau memang eh misi ini berjalan 21:48 sesuai dengan rencana pada tanggal eh 4 21:50 nanti akan start start mulai dari Eropa 21:53 itu, itu artinya bahwa untuk mendobrak 21:56 itu pemberitaan pasti akan ke mana-mana. 21:57 Cuma masalahnya bagaimana apa-apa bisa 22:00 menembus blokade daripada Zionis Israel 22:02 di Laut Mediterania untuk bisa 22:04 memasukkan bahan makanan, bantuan, dan 22:07 para jurnalis dan tim sukarelawan untuk 22:09 masuk ke Gaza. 22:10 Yang penting sekarang itu 22:13 jurnalis bisa masuk aja dulu ya ke Gaza 22:15 gitu ya, Mbak Desi ya? 22:16 Iya. 22:17 Iya. Jadi eh 22:19 sekarang ini kan jumlah jurnalis yang 22:21 ada di Gaza ini kan semakin terbatas ya. 22:23 Iya. 22:23 Karena kita juga eh kantor berita kantor 22:26 berita kantor berita sebagian sudah 22:27 tidak ada di sana karena memang 22:30 kondisinya memang enggak bisa 22:31 ngapa-ngapain lagi gitu. Jadi memakai 22:32 seperti yang dikatakan tadi memakai 22:33 warga lokal. Nah, permasalahannya warga 22:36 lokal yang berada di situ, baik itu dari 22:38 eh 22:39 Axsor TV, dari Palestina TV, dari kantor 22:43 berita atau media-media yang ada itu, 22:45 itu kan sudah banyak menjadi korban. 240 22:49 orang itu bukan jumlah yang sedikit 22:51 dalam waktu 22 bulan. 22:52 Iya, iya, iya. Itu banyak. 22:54 Besar, lebih besar dari perang 22:55 Afghanistan, Perang Dunia [berdehem] 1 22:57 dan 2, Perang Vietnam. Jadi ini 2 kali 23:00 lipat dari korban eh wartawan di di 23:03 Afghanistan. 23:04 Jadi, eh 23:06 ya, sebagai wartawan 23:09 saya ngerasa sedih aja. Uh, ke mana? Ke 23:12 mana dunia? Ke mana dunia? 23:15 Ke mana dunia? Kami kan hanya 23:16 memberitakan di garis depan, sama 23:18 seperti tim medis membantu Pak Pak 23:20 kenapa kenapa sampai dibiarkan 23:22 orang-orang kelaparan? 23:24 Dan ini sudah bulan ke-6 23:26 kasus kelaparan terjadi di Gaza. 23:29 Sampai sekarang kan belum ada yang bisa 23:30 masuk memasukkan 23:32 bantuan kecuali air drop dari udara. 23:35 Dan Indonesia juga melakukan itu 23:36 kemarin. 23:37 Iya. Mbak Desi, apakah melihat 23:39 badan-badan pers di seluruh dunia ini 23:41 melakukan upaya gitu ya, selain cuman 23:43 mengutuk aja melalui media-medianya? 23:48 Kalau kita lihat dari terjadi atas kasus 23:51 dari Al Jazeera, pasti seluruh dunia 23:53 juga mengecam itu kan. Termasuk dari 23:56 berbagai negara mengecam kenapa Israel 23:58 melakukan 24:00 eh, pembunuhan terhadap 24:02 empat wartawan Al Jazeera pada tanggal 24:04 11 Agustus kemarin. 24:06 Tapi 24:07 sepertinya kayak orang tutup mata tutup 24:10 telinga Israel. 24:11 Heeh. 24:12 Zionis itu 24:13 ya, saya sedih sekali kenapa 24:15 kok sampai dibiarkan seperti ini. Ya, 24:18 sebenarnya kan wartawan juga harus 24:20 dilindungi. 24:22 Cuma alasannya ya memang 24:24 mereka punya maksud tertentu membungkam 24:26 keberadaan wartawan supaya tidak ada 24:28 lagi pemberitaan dan mereka bisa 24:29 semena-mena. 24:30 Kalau tidak ada pemberitaan, siapa 24:31 kontrolnya? Enggak ada. 24:33 Iya, iya. 24:33 Mereka bisa semena-mena dan tidak ada 24:35 lagi gambar. Tapi ketika gambar-gambar 24:37 itu masih ada, video dan foto-foto 24:39 bagaimana pembantaian Zionis Israel 24:41 terhadap masyarakat Gaza, dunia pasti 24:43 akan terus mengutuk Israel. 24:45 Tapi ketika video, gambar dan berita itu 24:47 sudah ditutup 24:48 Heeh. 24:49 orang enggak tahu informasi apa yang 24:50 terjadi kecuali berharap dari media 24:52 sosial sosial. 24:55 Oke, Mbak Desi. 24:57 Dokter Ben, saya ini me mengutip 25:01 eh salah satu jurnalis dari Gaza sebelum 25:05 eh Anas Al-Sharif itu eh syahid gitu ya. 25:08 Dalam kutipannya itu, "They want to 25:12 genocide without witnesses. This world 25:15 is a lie." Jadi memang pembantaian dan 25:18 genosida ini jangan sampai ada 25:21 ada ada bukti-buktinya gitu ya, ada 25:23 saksi-saksinya. Dan kita lihat bahwa 25:25 wartawan ini 25:27 kalau dikatakan itu bisa seperti tentara 25:30 kan, bersenjatakan kamera, bersenjatakan 25:33 pena istilahnya gitu ya, eh 25:35 secarik-secarik kertas. Gimana, Dok? 25:39 Jihadnya wartawan ini gitu ya. 25:42 Apalagi kondisi di Gaza, Palestina 25:44 sekarang. 25:46 Ya, menurut saya saya melihat bahwa 25:49 eh kontributor atau atau jurnalis yang 25:52 jurnalis wartawan eh di Gaza itu itu 25:55 mereka dedikasi itu luar biasa, ya 25:57 dedikasi luar biasa menurut saya ya. 25:59 Artinya mereka itu benar-benar maksimal 26:01 itu memberikan informasi kepada dunia 26:04 bahwa ini ya peristiwa yang terjadi di 26:06 Gaza yang yang di luar nalar manusia. 26:09 Jadi di zaman modern ini ada ada 26:12 peristiwa yang yang begitu 26:14 enggak masuk akal ya, orang membantai 26:16 orang itu. 26:17 Semua semua elemen masyarakat yang 26:19 dianggap berbahaya menurut Israel itu 26:21 dihajar semua itu. 26:23 Nah, makanya bagi Israel wartawan itu 26:25 adalah eh kelompok yang berbahaya. 26:28 Hmm. 26:29 Nah, walaupun pada sisi lain kita lihat 26:31 bahwa eh IDF pun 26:33 secara tidak langsung mereka kan 26:35 memberikan informasi juga di IG mereka 26:37 kan. Ya, sedang menembak orang, 26:40 meledakkan bangunan dan sebagainya gitu 26:42 kan. Jadi IG juga itu secara tidak 26:45 langsung tanda petik mereka juga 26:46 wartawan yang tidak langsung memberikan 26:48 informasi bahwa ini loh gua kerjain di 26:50 sana, gua bunuh manusia sipil dan segala 26:52 macam-macam gitu. 26:53 Jadi memang seperti kata Mbak Desi, 26:55 memang jurnalis itu adalah satu kelompok 26:57 yang paling ditakutkan oleh Israel 26:59 karena 27:00 kita tahu lah bahwa sebagian besar ya 27:02 itu media itu kan dipegang oleh Israel. 27:05 Kalau dulu mereka bisa mengatur, 27:07 mengatur sesuai selera-selera sesuai 27:08 selera mereka. Tapi pada hari ini zaman 27:11 hari ini enggak bisa mereka buat 27:12 semena-mena kan. Artinya ada 27:14 wartawan-wartawan yang memang punya 27:16 profesionalisme mereka yang memberikan 27:18 informasi yang seimbang dan kalau 27:19 seimbang ini yang terjadi seperti ini. 27:22 He eh. 27:23 Artinya dengan mereka memberikan 27:24 informasi sebenarnya mereka bukan 27:25 memihak kepada Palestina, bukan memihak 27:28 pada pada pada Hamas tapi mereka 27:30 melaporkan secara real kan ini loh 27:31 peristiwa yang dilakukan oleh oleh 27:33 Israel. 27:34 Nah, makanya oleh sebab itu 27:36 harus ada langkah-langkah yang 27:38 yang apa ya, langkah-langkah yang memang 27:40 harus lebih-lebih mendunia ya untuk 27:43 meneriakkan ini bahwa 27:45 eh Israel dan Amerika itu adalah dua 27:48 negara yang sangat bertanggung jawab 27:49 sehingga terjadi genosida yang 27:51 yang pada dunia modern ini yang 27:55 yang itu jangan enggak enggak enggak 27:56 masuk akal gitu loh. Artinya kok seperti 27:58 kata Mbak Mbak Desi 28:00 Mbak Desi apa Mbak Desi sangat enggak 28:02 masuk akal kok ada itu tentara atau 28:04 negara yang katanya negara modern itu 28:07 perilakunya sangat primitif gitu. 28:09 Nah, makanya maka dengan dengan 28:11 informasi-informasi yang disampaikan 28:12 oleh wartawan itu sangat terpukul. Dan 28:14 sampai si Golan apa Galan Yuval Galan 28:18 kemudian Benjamin ini kan diputuskan 28:20 bersalah ini kan semua karena karena 28:22 jasa daripada eh para syuhada ya 28:25 kontribusi wartawan yang ada di di Gaza. 28:28 Maupun juga yang ada di di Tepi Barat. 28:30 Nah, sampai kenapa di Tepi Barat enggak 28:32 se enggak sedestruktif ya 28:35 informasi apa enggak enggak sebesar 28:36 informasi dari Gaza karena tadi itu 28:38 karena itu di Tepi Barat karena itu di 28:39 bawah di bawah pengaruh atau kekuasaan 28:42 Israel. Mereka bisa men bisa dengan 28:44 dengan apa ya, dengan cepat menyetop eh 28:47 informasi-informasi yang terjadi di Tepi 28:48 Barat. Soalnya Tepi Barat pun enggak 28:49 enggak kalah seremnya juga peristiwa 28:51 yang ada di Gaza. Jadi, 28:52 semua ini adalah berkat jasa daripada 28:55 eh wartawan. Jadi, mereka itu adalah 28:57 bukan hanya 28:59 bekerja secara profesional, itu bagian 29:00 juga 29:01 apa ya? Bagian juga seperti 29:03 pejuang-pejuang atau menjadi 29:04 mujahid-mujahid yang terdepan juga untuk 29:06 memberitakan itu. Dan mereka para 29:08 syuhada-syuhada semua. Artinya, syuhada 29:11 bukan hanya para mujahidin yang syuhada, 29:13 bukan cuma Brigade Izzuddin al-Qassam 29:15 atau An-Nashir atau atau Martial Arts, 29:17 tapi wartawan juga adalah bagian dari 29:20 syuhada. Karena mereka itu adalah dengan 29:22 seperti kata Mas Angga, dengan-dengan 29:23 pena, dengan kamera, mereka 29:25 menginformasikan peristiwa-peristiwa 29:27 seperti ini, kan? 29:28 Nah, peristiwa-peristiwa inilah yang 29:30 membuka mata hati dunia bahwa yang 29:32 terjadi hari ini adalah benar-benar 29:34 eh genosida yang seperti kata Mas Edi 29:36 sini kenapa dua orang yang mendukung kok 29:38 ramai-ramai dunia kok bisa diam, enggak 29:40 enggak bisa melakukan apa-apa untuk 29:42 menghentikan genosida yang terjadi di 29:44 Gaza. 29:45 Nah, maka Mas Angga Mas Angga eh 29:47 semua semua yang namanya etika etik, 29:49 perlindungan terhadap eh wartawan itu 29:52 sama sekali diabaikan oleh semua 29:54 diabaikan. Jadi, kalau yang negara lain 29:56 tidak boleh melakukan apapun, jadi kalau 29:58 misalnya boleh. Mungkin saya ingat dulu 30:00 ada peristiwa mungkin Mas Edi kalau 30:01 enggak salah saya itu waktu peristiwa 30:04 eh operasi di Timor Timur dulu ya. Itu 30:07 ada dua orang wartawan Australia 30:09 meninggal itu karena dituduh TNI yang 30:10 nembak. Cuma dua orang sampai 20 tahun 30:13 itu kan menjadi ramai terus. Itu dua 30:15 orang yang ya itu enggak tahu gimana 30:17 peristiwanya dia meninggal, tapi sampai 30:19 hari ini masih dipersoalkan terus sama 30:21 Australia. 30:22 Nah, tapi ini 240 orang yang meninggal 30:24 Iya iya. 30:25 yang jelas-jelas kita dengan mata kepala 30:28 melihat bagaimana bagaimana mereka 30:30 menjadi korban. 30:32 Masya Allah, tapi dunia bisa diam, 30:34 bungkam, mingkem apa yang dilakukan oleh 30:36 Israel. 30:37 Jadi, jadi 30:38 kadang-kadang enggak habis pikir kenapa 30:40 Kok 30:41 kok bisa terjadi seperti itu ya? Maka 30:43 ini ini jasa para wartawan, jurnalis ini 30:45 jasa juga Mas Angga yang paling luar 30:46 biasa saya pikir ya. Kita buka mata kita 30:49 hari ini karena karena 30:50 karena jurnalis lah yang memberitakan. 30:52 Terserah apakah itu ee jurnalis di di 30:55 stasiun-stasiun besar maupun kecil 30:57 maupun yang amatiran tapi semua mereka 31:00 itu bergerak secara bersama memberikan 31:02 informasi secara detail secara 31:04 sistematis 31:05 ee peristiwa demi peristiwa yang 31:07 terjadi. Jadi 31:08 pada jam ini terjadi peristiwa di Gaza 31:10 maka ee enggak lama kemudian ada 31:12 informasi langsung. Jadi saya waktu itu 31:13 tahun waktu awal-awal Masjidil Aqsa 31:15 terjadi serangan Israel itu jasa 31:17 wartawan paling besar. Saya selalu 31:19 kontak sama teman-teman wartawan, kita 31:20 kasih informasi juga wartawan memberikan 31:22 informasi kepada kita sehingga kita 31:23 update ee peristiwa-peristiwa yang yang 31:25 terjadi. Maka 31:27 waktu itu antara Masjidil Aqsa dengan 31:28 wartawan benar-benar hubungan sangat 31:29 dekat sekali. He em. Saya 31:31 kapan pun diminta saya selalu selalu 31:33 saya jawab, selalu saya berikan 31:35 informasi karena 31:37 menurut saya ini adalah ini pekerjaan 31:38 mereka ini pekerjaan yang sangat mulia 31:39 sekali memberikan informasi kepada 31:41 publik sehingga publik ini ngeh kan. 31:43 Jadi kita ngeh semua ini kan enggak 31:44 enggak bisa lepas dari dari teman-teman 31:46 wartawan. Ada dulu stasiun-stasiun 31:49 televisi yang sedikit ee apa pro ke ke 31:53 ke sana tapi setelah melihat peristiwa 31:55 ini mereka berubah total ya berubah 31:57 total untuk memberikan 31:58 informasi-informasi bahwa ini 31:59 benar-benar yang terjadi secara real. 32:01 Dan saya bersyukur sekali Mas Angga itu 32:03 ada VOA ini ya VOA kita itu 32:06 kemudian 32:08 ee minta informasi dalam saya itu 32:10 tentang misalnya tentang ee ditemukan ee 32:12 apa terowongan Hamas di di itu ya 32:15 di Gaza di di FSI. Dan kita jelasin 32:18 secara detail ya untuk 32:19 meng-meng-meng-counter 32:20 informasi-informasi itu. Kita tahu bahwa 32:22 wartawan ini bukan bukan mengorek-ngorek 32:24 itu tapi mereka itu adalah untuk mencoba 32:26 meng-counter teorinya meng-counter apa 32:28 yang diungkapkan oleh 32:29 He em. 32:29 ee Daniel Hagari waktu itu ya. 32:32 He em. 32:32 Dan kemudian sehingga juga bagaimana 32:34 jasa teman-teman di VOA juga waktu itu 32:37 ketika eh saya buat surat ke Joe Biden 32:40 ya, Joe Biden surat panjang sebuah surat 32:42 itu untuk 32:43 Amerika tantangan lah untuk menghentikan 32:45 itu. Itu yang nanya kepada John Kerry 32:47 itu kawan kita Mas Angga 32:49 tanya eh kira John Kerry surat dari ini 32:52 ini ini, dia dia yang dia yang jawab. 32:53 Jadi dia saya bahwa para-para wartawan 32:55 ini 32:56 disaat yang luar biasa dalam dalam 32:57 membuka mata hati 32:59 eh dunia melihat eh peristiwa yang ada 33:01 di Gaza. Nah, makanya saya sama 33:03 [mendengus] teman-teman di kantor saya 33:04 katakan bahwa mereka itu apapun yang di 33:06 informasi oleh wartawan kasih kasih 33:08 informasi. 33:09 Semua harus terbuka, semua harus serba 33:11 cepat karena mereka itu eh memberikan 33:14 informasi dan publik harus tahu detik 33:16 demi detik peristiwa yang terjadi di 33:17 Gaza karena sangat cepat sekali Mas 33:19 Angga nanti hari ini peristiwa mungkin 33:21 ada peristiwa lebih besar lagi dan ini 33:22 terus sampaikan. Alhamdulillah 33:25 kita juga bisa melihat bagaimana publik 33:27 kita hari ini itu kan itu luar biasa 33:29 simpati dengan 33:30 dengan dengan Palestina ya, dengan Gaza 33:33 kemudian bagaimana antusias antusias 33:36 warga kita itu tidak lepas daripada 33:38 eh apa visual yang sampaikan oleh eh 33:41 jurnalis yang ada di Gaza. 33:43 Seperti itu 33:44 Oke. 33:45 [tertawa] 33:46 Ini kalau anggota dewan kayak Dokter Ben 33:48 gitu ya 33:49 wartawan pada senang kayaknya. 33:51 [tertawa] 33:52 Kasih informasi apapun. 33:54 Baik, Mbak Desi saya akan ke 33:58 ada istilah begini Mbak Desi 34:00 tidak ada informasi yang seharga nyawa. 34:03 Nah 34:04 ini kalau untuk kasus eh genocide di 34:07 Gaza 34:09 kira-kira masih tepat enggak gitu ya eh 34:12 ketika seorang wartawan itu yang dia 34:14 akan turun itu eh memang 34:17 nanti 34:19 semangat dan motivasinya itu sudah beda 34:21 gitu ketika dia melihat kondisinya 34:24 eh pembunuhan seperti itu gitu. Oh, ini 34:25 sudah bukan buat laporan berita dan 34:27 bukan hanya mengandalkan surat tugas 34:29 dari Pemred saja tapi ini sudah 34:31 panggilan kemanusiaan gitu ya. Dari 34:33 pengalaman Mbak Desi gimana Mbak Desi 34:34 dengan kondisi di Gaza yang wajib banget 34:37 sebenarnya di laporkan ke dunia. 34:40 Ya, benar Mas Angga. Jadi sebenarnya 34:42 kalau dipikir-pikir ya, kan kalau satu 34:44 paket berita itu kan paling 2 menit 34:45 pernah 34:46 atau kalau liputan khusus 7 menit atau 34:49 misalnya setengah jam. 34:51 Eh, ngapain sih jauh-jauh buat bikin 34:53 berita eh cuma 1 menit, 3 menit atau 34:56 setengah jam atau 1 jam spesial report 34:58 seperti itu. Kalau untuk headline paling 35:00 5 menit jauh-jauh. Ini kan nyawa 35:03 taruhannya gitu loh. Tapi kalau bagi 35:05 saya 35:07 kalau udah niat memang sudah penugasan, 35:09 enggak usah ditugasin karena beberapa 35:11 kali mungkin Dokter Ben tahu. Dokter Ben 35:13 pokoknya disikut ya kalau enggak ikut 35:15 pokoknya awas ya 35:17 pokoknya Metro TV ikut ya Metro TV ikut 35:18 ya. Sampai kalau kantor kamu enggak 35:21 capek Des ikut di daerah-daerah konflik. 35:22 Ya, kalau misalnya dibilang iri ya 35:24 teman-teman pada pada ke Eropa, ke 35:26 Perancis gitu kan jalan-jalan segala 35:28 macam ini liputannya dari ujung ke ujung 35:30 konflik lagi, konflik lagi, konflik 35:32 lagi. Jalan-jalan orangnya benar-benar 35:33 berkonflik. 35:34 [tertawa] 35:36 Sebenarnya eh ada ada ada panggilan hati 35:40 ya kalau misalnya kayak sekarang. 35:42 Mau ke Gaza lagi enggak? Oh, jangan 35:43 ditanya. 35:44 Kalau mau harus bisa berangkat, bisa 35:46 berangkat, bisa terbang terbang sekarang 35:47 begitu. Jadi walaupun di ongkosin kantor 35:49 apa enggak dikasih ongkos pokoknya 35:50 berangkat. Nah, Dokter Ben tahu itu loh 35:52 berapa kali kan eh akhirnya berangkat 35:55 balik lagi. Nah, terus 35:56 ini kan bukan masalah sebagai tugas 35:58 sebagai jurnalis tapi memang sudah 36:00 panggilan hati cuma saya juga tidak bisa 36:03 menjamin apakah seluruh wartawan bisa 36:05 seperti itu atau tidak. Karena gini, 36:07 semua orang itu bisa jadi wartawan, bisa 36:09 bisa meliput ke mana saja bisa. Tapi 36:11 tidak semua wartawan bisa kuat mental 36:14 meliput daerah konflik. Karena di daerah 36:16 konflik itu tekanan tidak hanya 36:18 eh bawa fakta ada yang di lapangan 36:21 tetapi juga keberanian, bagaimana 36:24 memberitakan supaya eh apa berita itu 36:26 sesuai dengan fakta peristiwa. Dan kalau 36:29 di Indonesia, di luar negeri kita 36:30 mungkin enggak dapat ancaman dari, 36:32 pihak-pihak yang dekat. Kalau di 36:34 Indonesia, kalau liput di Indonesia, oh, 36:35 berani beritakan si A, 36:37 kita diancam sama si B. Si B diancam 36:39 sama si A. Nah, tapi kalau kita meliput 36:41 di daerah Gaza, kita lebih lepas. Tapi 36:43 ini kan masalah panggilan hati, 36:44 panggilan jiwa profesional 36:46 jurnalistiknya aja untuk untuk ke sana. 36:48 Banyak orang, mungkin banyak ya, tidak 36:50 hanya untuk ke Gaza, itu, eh, ketika 36:53 ditugaskan ke daerah konflik, 36:55 itu, eh, sebentar minta pulang. Karena 36:57 apa? Rasa takutnya dia itu mengalahkan 37:00 dari, eh, misinya atau ini jiwa untuk, 37:03 eh, 37:04 beritakan fakta dan peristiwa ketika 37:06 melihat genosida yang terjadi di Gaza. 37:09 Kalau saya, kalau misalnya, insya Allah, 37:10 kalau datang ke sana sudah enggak mau 37:11 pulang lagi, sampai selesai. Dan kalau 37:13 enggak diajak, berangkat. Kalau enggak 37:15 dikasih duit sama kantor, berangkat 37:16 sendiri, cari duit sendiri. Ya, 37:18 maksudnya, eh, itu kan masalah dari hati 37:21 ya. Bagaimana kalau kerja di daerah 37:23 konflik kan beda dengan di daerah yang 37:25 biasa. Kalau dari daerah konflik itu, 37:27 kita kerja, eh, kalau tidak ada 37:30 keinginan yang tinggi, enggak ada mental 37:31 yang kuat, itu enggak semuanya bisa. 37:34 Nah, ketika misalnya gini, 37:37 eh, sampai di Gaza, 37:39 apakah liputannya hanya, eh, sekitar 37:41 bawa kerusakan, korban jiwa? Enggak 37:43 juga. Tetapi kan kita berpikir, apa lagi 37:46 yang bisa kita angkat? Misalnya, waktu 37:48 itu saya sempat nyangka, eh, bilang, 37:50 Mas, saya masuk terowongan bawah tanah 37:51 Gaza. Itu masuk terowongan bawah tanah 37:53 Gaza itu kan enggak gampang. 37:55 He eh. 37:55 Karena enggak semuanya bisa diizinkan. 37:57 Tapi dengan negosiasi bagaimana kita 37:59 mendekati, eh, petugas di sana bahwa 38:02 saya, saya, waktu itu saya ngumpet 38:04 sendiri, VJ. 38:05 He eh. 38:05 Jadi, bawa kamera sendiri, ambil gambar 38:07 sendiri, masuk terowongan bawah tanah 38:08 sendiri, ada sekitar 600 m. Sudah begitu 38:11 mau keluar, tiba-tiba ada pengumuman di 38:13 daerah, di, eh, Rafahnya itu. Itu jadi 38:17 itu kan 38:18 lo, eh, lubang, dalam itu 38:19 bercabang-cabang cabang. Nanti keluarnya 38:21 itu di bawah atap, eh, rumah siapa gitu 38:23 kan atau ini jadi ketutup gitu loh. Nah, 38:27 ada dilema juga ketika kita memberitakan 38:30 terowongan bawah tanah Gaza itu berarti 38:33 kan itu ee 38:35 tayang. 38:36 Kalau sekarang kan tayangnya lebih luas 38:38 ketika hanya di TV tapi dari TV kan naik 38:40 ke YouTube, YouTube juga naik di medsos 38:42 dipotong-potong lagi ke medsos. Nah, ee 38:44 resikonya resikonya apa? Resikonya ee 38:47 diketahui oleh pihak-pihak lawan. Nah, 38:49 berarti mereka pasti akan ada pemboman 38:51 di situ. 38:52 Sama, sama ketika ee mungkin masih ingat 38:55 ketika 38:56 ee 38:58 ee pemboman yang terjadi di ee Jakarta 39:01 di Kuningan ee 39:03 Marriott Marriott 39:05 Marriott itu setelah 39:07 jadi 39:07 kan waktu itu kan 39:09 terjadi ledakan kemudian apa yang akan 39:10 dilakukan? Membantu korban atau 39:13 mengambil gambar? 39:14 Heeh. 39:15 Ini kan jadi setiap ada pembahas diskusi 39:18 apalagi ketika setelah 3 bulan setelah 39:19 itu dipertemukan antara wartawan dengan 39:22 para korban dan keluarga korban. 39:24 Para keluarga korban dan korban banyak 39:26 mengucap wartawan. 39:27 Dia bilang gini 39:28 "Kalau Anda membantu pada saat itu saya 39:30 enggak akan separah ini. Kalau Anda 39:31 membantu anak saya masih hidup. Kalau 39:32 Anda membantu tidak mengambil gambar. 39:34 Kenapa pada saat kesusahan kalian malah 39:36 mengambil gambar?" 39:36 Heeh. 39:37 Tapi sebenarnya momen itu kan tidak 39:39 datang dua kali. 39:41 Jadi kalau ke 39:42 ini sebenarnya perang perang perang 39:44 batin ya bukan berarti wartawan itu 39:46 enggak punya hati enggak juga. 39:49 Tapi selagi kita ambil sebentar baru 39:52 tolong atau tolong sebentar ambil-ambil 39:54 itu kan menjadi pilihan karena ini kan 39:55 bermain dengan detik dan menit ya. 39:57 Apalagi kalau TV TV itu kehilangan satu 39:59 menit hilang enggak dapat gambar enggak 40:01 bisa bercerita. 40:02 Heeh. 40:03 Jadi ee 40:05 ya ini sebenarnya 40:07 bagaimana kita untuk menyesuaikan dengan 40:09 kondisi di situ jadi 40:11 antara jurnalistik dan kemanusiaan itu 40:13 harus jadi satu dan mental juga. Nah, 40:16 apa yang terjadi kemarin di dengan empat 40:18 jurnalis Al Jazeera? Apa coba tanggapan 40:21 dari ID FT Israel? Mereka bilang, "Itu 40:24 bukan wartawan, itu itu masuk dalam 40:26 kelompok Hamas." 40:27 He eh. 40:28 ID card jelas kok. 40:30 Iya. 40:30 Dia naik si 40:32 Syarif ya. 40:33 Al Jazeera Syarif. 40:34 Iya, iya. Selalu siaran dan orang lihat 40:37 itu seluruh dunia dan lu tahu kok. Dan 40:39 dia juga ada di medsos semuanya bahwa 40:40 dia memang jurnalis, bukan kelompok 40:42 Hamas yang dituduhkan oleh Israel Israel 40:44 Israel. 40:46 Jadi, eh rata-rata musuh itu dia selalu 40:50 membuat eh sesuatu agar memang 40:54 bahwa putusan mereka untuk mengebom 40:56 tenda pengungsian tempat wartawan itu 40:57 benar. Padahal padahal apa? Jawabannya 40:59 juga enggak jelas. 41:00 He eh. 41:01 Alasannya enggak jelas dan itu salah 41:02 gitu loh. 41:03 Sudah jelas wartawan kok punya ID card 41:05 kecuali enggak ada ID card wartawan ya, 41:07 kecuali tidak terdaftar. Dan kantor 41:09 berita Al Jazeera juga 41:11 ini memang 41:12 eh apa jurnalis kami. 41:14 Bukan bukan Hamas yang seperti mereka 41:16 beritakan. 41:17 He eh. 41:18 Nah, wartawan kenapa mereka bisa menuduh 41:20 itu? Karena kami wartawan ini kan punya 41:22 bebas kebebasan misalnya ada dua 41:24 kelompok yang bertikai. Kami bebas untuk 41:26 mewawancarai kelompok Hamas, kami bisa 41:28 mewawancarai Israel, kami bisa 41:29 mewawancarai IDF, kami bisa mewawancarai 41:32 16 kelompok sayap bawah tanah Gaza. Saya 41:34 juga waktu kemarin ke Gaza itu 41:36 malam-malam itu minta maaf ya Ben, saya 41:38 ngilang dari dari 41:40 dari dari penginapan karena 41:42 saya mewawancarai kelompok Hamas. 41:44 He eh. 41:44 Bagaimana senjata mereka, bagaimana 41:46 pelatihan militer mereka dari satu kem 41:48 ke kem dan itu bisa dilakukan hanya pada 41:50 malam hari. Pada pukul 09.00 sampai 41:52 pukul 01.00 dini hari. Jadi, itu bisa 41:55 berapa senjata dan segala macam. 41:56 Sebenarnya ketika memberitakan itu, 41:58 ketika itu naik di televisi atau naik di 42:01 media sosial, itu kan eh 42:03 Israel pasti pihak lawan akan tahu. Akan 42:06 tahu bahwa oh mereka punya senjata ini, 42:08 oh tempat latihannya ini. Tapi ya 42:11 ya ya 42:12 saya pikir ya Indonesia tidak sebesar Al 42:14 Jazeera atau CNN. 42:16 [tertawa] 42:16 Jadi, 42:17 mereka tidak tidak terlalu ini mungkin. 42:20 Iya, iya. 42:20 Tapi memang memang sudah ada di media 42:22 sosial, ada di If You YouTube, ada di eh 42:25 Metro TV sendiri. Tapi ketika kita 42:27 mewawancarai bahwa mereka bilang, 42:29 "Kami 42:30 untuk membebaskan Masjidil Aqsa." 42:32 Perjuangan. 42:32 Ehm. 42:33 Jadi, sebenarnya cukup ya sederhana. 42:35 Tapi kenapa 42:37 Israel yang tadinya negara kecil hanya 42:39 dititipin, ya sudah daripada nanti eh 42:42 belum dapat pembagian enggak negara, 42:44 taruh saja di Palestina sedikit sini. 42:46 Ternyata dia melebarkan melebarkan 42:47 melebarkan melebarkan wilayah bahkan 42:49 akan mengambil semuanya. Kan ini kayak 42:51 orang di orang numpang rumah, kemudian 42:54 dikasih tumpangan rumah, bukan mengambil 42:56 rumah itu sendiri bukan rumahnya sama 42:58 tanah-tanahnya sama isi yang terkandung 43:00 di dalamnya. Bumi dan air di dalamnya 43:02 mau diambil semua. Kan ini sebenarnya 43:05 maaf maaf kata ya agak ini kurang ajar 43:07 gitu loh gitu. Itu namanya orang numpang 43:09 kurang ajar itu gitu kan. 43:10 Ehm. 43:11 Jadi, eh 43:13 tapi kenapa dunia diam? 43:14 Kenapa? 43:16 Kenapa ini dibiarkan? 43:17 Ehm. 43:19 Dan dua dua per tiga eh perempuan dan 43:21 anak-anak yang jadi korban. 43:23 Iya. 43:23 Dari 60.800 sekian sampai hari ini. 43:27 Dan terakhir kemarin itu wartawan eh 43:29 dari TV 43:31 kameramen TV Palestina Muhammad Al 43:33 Madhun 43:33 Oh, iya. 43:34 jadi korban 43:34 Betul. Ehm. 43:36 Khalid Khalid Muhammad Al Madhun ya, 43:38 kameramen Palestina TV. 43:39 Kameramen itu. 43:40 Setelah empat orang dari eh 43:43 itu 43:44 eh Syarif Hasan. 43:45 Nah. 43:47 Saya jadi teringat ini eh Mbak Desi ya, 43:49 mengutip draft 43:51 UN Convention 1975 Jenewa ya. 43:55 Jadi, istilah eh orang-orang yang 43:56 bekerja di bidang jurnalis seperti 44:00 koresponden, reporter, 44:02 fotografer, asisten teknis film, 44:06 lalu juga radio dan kameramen televisi 44:09 bahkan 44:10 ini jabatan-jabatan dan posisi-posisinya 44:13 disebut langsung nih di UN Convention 44:16 ini di di draft-nya gitu ya bahwa 44:19 orang-orang ini dilindungi gitu tidak 44:21 boleh dibunuh ketika perang 44:24 lalu juga kita ingin menyoroti 44:27 perang narasi juga Mbak Desi kan yang 44:30 diberitakan oleh ya CNN dan juga 44:33 jaringan Fox News ya gitu ya 44:36 ini kan seolah-olah melawan gitu melawan 44:38 narasi yang seolah-olah kalau masyarakat 44:41 melihatnya oh ada jurnalis yang pro 44:43 Zionis ada jurnalis yang pro Gaza gitu 44:46 ya mereka melupakan nih yang jurnalis 44:49 pro terhadap Zionis ini melupakan 44:50 kemanusiaannya gitu ya sementara yang 44:52 pro Gaza banyak mengangkat 44:54 kemanusiaannya nah perang narasinya ini 44:56 gimana nih Mbak Desi 44:58 ya jujur aja berita itu kan tidak bisa 45:00 menyenangkan semua pihak 45:02 nah 45:03 menyenangkan semua orang 45:04 hmm 45:05 nah enggak usah jauh-jauh ke Gaza ketika 45:07 terjadi konflik di Aceh di Papua seperti 45:09 saya bilang tadi 45:10 iya 45:11 ketika kita mewawancarakan GAM 45:13 sebenarnya kan sebagai jurnalis kan 45:14 wajib dong saya wawancara GAM juga saya 45:16 wawancara juga dengan aparat saya 45:17 wawancara dengan pemerintah dan masuk 45:18 masyarakat setempat tapi kenyataannya 45:21 apa setelah wawancara dengan eh GAM kami 45:24 dipanggil setelah wawancara dengan 45:25 aparat kami diancam jadi 45:28 ya 45:29 ya itulah resikonya akan terjadi gitu 45:31 loh 45:32 hmm 45:34 oke 45:34 jadi ya eh ya 45:37 tugas jurnalis ya siapa sih yang bisa 45:39 menjamin nyawa orang enggak ada 45:41 hmm 45:41 kalau di kantor 45:42 berangkat ke Gaza eh pulang selamat ya 45:45 ya siapa yang mau jamin 45:46 hmm hmm 45:46 orang tua 45:47 dan profil dari mata ke mata nya 45:50 paling juga ya udah doain gitu ini jujur 45:53 ya waktu pertama kali turun ke daerah 45:55 konflik itu di daerah di daerah Aceh 45:58 saya kan biasanya kalau berangkat kan 46:00 kantor kasih asuransi kasih surat itu 46:03 kan. 46:03 Oh iya. 46:03 Sampai di belanya sama orang tua, "Ini 46:05 enggak ada lagi apa yang di Metro TV 46:06 yang mau berangkat?" Ini waktu pertama 46:08 kali liputan konflik. "Kenapa perempuan 46:10 yang disuruh?" dia bilang. "Kenapa 46:12 enggak ada laki-laki lain?" dia bilang. 46:14 Terus kemudian enggak, pokoknya mau 46:15 berangkat pas berangkat. 46:17 Jadi pas hari kedua adik saya telepon, 46:19 karena itu pas malam itu. 46:21 "Eh Uni, eh tadi di rumah tadi malam eh 46:24 tadi malam di rumah ada pengajian." 46:25 "Pengajian apa? Ada apa?" 46:27 "Buat selamatan, buat pengajian anak 46:29 yatim buat Uni biar selamat di daerah 46:31 konflik." 46:32 [tertawa] 46:32 Jadi waktu itu adik saya enggak ngasih 46:34 tahu yang yang ngasih tahu itu adik yang 46:36 kebetulan kan. 46:37 Heeh. 46:37 "Oh ada pengajian ya?" terus bilang, 46:39 "Kenapa Mah? Kenapa kok dikasih 46:41 pengajian?" "Ya biar biar selamatlah ini 46:43 kan ini itu." Tapi sekarang kalau ada 46:45 konflik enggak berangkat, "Kok enggak 46:46 berangkat? 46:47 Ah. 46:47 Kok diam aja? 46:48 [tertawa] 46:48 Kok enggak berangkat? Kok masih 46:49 berangkat lagi?" 46:51 "Memang sudah ada penggantinya di 46:52 kantor." gitu. 46:53 Jadi 46:53 Waduh. 46:55 Wah itu wajib lapor itu. 46:57 Heeh. 46:57 Kak satu hari itu bisa tiga kali wajib 46:59 lapor. Amanah, aman, mantap, amanah. 47:02 Tapi kalau sekarang 47:03 "Kok enggak berangkat sih? Itu mau ke 47:05 Gaza, itu ke Afghanistan, ini ke sini. 47:07 Kok enggak di enggak di kirim lagi sama 47:08 kantornya?" 47:08 [tertawa] 47:11 Luar biasa. 47:12 Kalau 47:13 awal-awal anaknya enggak boleh berangkat 47:15 takut, tapi sekarang-sekarang kalau 47:16 enggak berangkat 47:17 Ditanyain. 47:18 [tertawa] 47:20 Baik. Nah Dok, ini sebenarnya kisah 47:23 pekerjaan jurnalis perang kan 47:26 jadi hal yang menarik ya. Masyarakat ini 47:28 harus tahu apalagi ketika kita ingin 47:32 ingin tahu banget gitu kondisi mereka 47:33 itu bagaimana sebenarnya mereka jurnalis 47:35 ini tetap dipaksa normal gitu ya. Saat 47:38 perang terjadi gitu. Terus ada dilema 47:40 kan di kondisi perang tuh di tempat 47:42 perang tuh dilema-dilemanya pun 47:43 macam-macam gitu. Ya Dokter Ben sebagai 47:46 tenaga medis juga pasti mengalami itu 47:47 juga ketika melihat korban-korban perang 47:49 gitu ya. Dalam pandangan Dokter Ben 47:51 gimana sebenarnya ketika jurnalis itu 47:53 dipaksa mereka itu normal saat perang 47:56 terjadi terus dilema-dilema dirinya itu 47:58 muncul gitu. 48:00 Iya. 48:01 Eh, nah gini Mas Angga, jadi 48:04 seperti kata Mbak Desi tadi, itu semua 48:05 harus ada panggilan hati memang. 48:07 Hmm. 48:08 Kalau enggak ada panggilan hati, itu 48:09 akan terjadi konflik, eh konflik 48:11 kebatinan lah. Saya pernah ketemu satu, 48:12 salah satu wartawan, bareng-bareng waktu 48:14 itu ke sana. 48:15 Kalau enggak salah saya ke Irak dulu ya. 48:17 Heeh. 48:17 Terus saya ceritakan dia eh 5 tahun 48:19 kemudian atau 6 tahun kemudian saya 48:21 ketemu dia. 48:22 Heeh. 48:22 Dia sudah jadi Pemred sebuah koran besar 48:24 ya Jawa. 48:26 Nah, terus dia dia cerita sama saya, 48:28 "Eh, Dok, saya sampai sekarang masih 48:29 terngiang-ngiang, Dok." Jadi trauma itu 48:31 enggak hilang sampai sekarang dia itu. 48:33 Waktu itu sudah 6 tahun setelah dia dari 48:35 Irak gitu ya. Jadi 48:36 saya lihat bahwa memang eh kalau 48:38 orang-orang atau wartawan yang berangkat 48:41 ke daerah konflik tanpa panggilan hati 48:44 bukan ada misi kemanusiaan 48:46 itu pulang itu selalu ada 48:48 ada kekhawatiran, ada segala macam ini. 48:50 Tapi kalau misalnya memang ini panggilan 48:52 hati, di samping panggilan 48:53 profesionalisme dia enggak hati, itu 48:55 enteng-enteng saja seperti kata Mbak 48:56 Desi tadi. Enteng-enteng saja artinya ya 48:58 saya harus harus melaporkan 49:00 peristiwa-peristiwa yang yang terjadi 49:02 hari ini misalnya dan ini tidak tidak 49:05 tidak dibenarkan. Artinya ini bukti 49:06 sejarah. Artinya ini atau para wartawan 49:08 ini kan lagi membuat sejarah di mata 49:10 Angga. Sejarah yang dibuat yang ini kan 49:12 akan menjadi konsumsi sejarah ke depan 49:14 nanti anak cucu kita. Itu kan semua akan 49:16 tertulis atau tervisualkan oleh oleh 49:19 teman-teman wartawan pada hari ini. Nah, 49:21 makanya 49:22 eh menurut saya kalau wartawan yang 49:24 memang eh 49:26 ke daerah konflik itu sama dengan kayak 49:27 dokter di masa Mas Angga bilang harus 49:28 panggilan hati. Jadi enggak semua orang 49:31 itu mau. Jadi di antara 200.000 dokter 49:33 di Indonesia misalnya itu yang yang mau 49:35 ke Gaza itu kan berapa orang itu kan 49:37 melalui seleksi yang yang panjang. Oke 49:40 dia misalnya, "Oke, saya mau, tapi ibu 49:43 saya enggak mau." 49:44 Hmm. 49:44 "Oke ibu mau, dia mau tapi istri saya 49:47 enggak mau." Gitu loh. Jadi kan semuanya 49:48 kan berkait-kait kan. Artinya eh 49:50 independensi seseorang itu jadi jadi 49:53 luntur ketika dia memutuskan pergi ke 49:55 daerah konflik. Saya pikir teman-teman 49:57 wartawan begitu juga. Artinya, oke 49:58 panggilan ini panggilan kantor, saya 50:00 mau. Wah, saya 50:02 Datok saya enggak kasih gitu misalnya 50:04 gitu kan. 50:05 Atau ini enggak kasih gitu loh. Jadi, 50:06 ini mempengaruhi mereka. Jadi, 50:09 artinya ketika seorang yang berangkat ke 50:11 daerah konflik itu memang dia beserta 50:13 lingkungan terdekatnya itu harus saling 50:15 support gitu loh. Kalau enggak support 50:16 itu jadi repot juga. Saya enggak jadi. 50:18 Iya iya. 50:18 Ketika dia nanti itu di sana tuh 50:21 ditelepon kan ditelepon. "Loh kok enggak 50:22 kapan balik? Bagaimana gini segala 50:23 macam." 50:24 Hmm. 50:25 Saya kira begitu makanya. 50:26 Baik. Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah 50:29 Subhanahu Wa Ta'ala, saat ini Anda 50:31 sedang menyimak siaran langsung siaran 50:34 live buka mata buka telinga bersama 50:36 Dokter Sarbini Abdul Murad, 50:39 pengamat nah pengamat Timur Tengah, 50:41 pengamat eh Palestina gitu ya, seorang 50:45 relawan dan juga Mbak Desi Fitriani 50:47 jurnalis Metro TV, jurnalis yang 50:51 pengalamannya begitu banyak di 50:52 daerah-daerah konflik yang terjadi. 50:56 Dan kami mengundang Anda ikhwan akhwat 50:57 untuk bergabung. Silakan sampaikan 50:59 pertanyaan ataupun komentar Anda di 51:01 nomor WhatsApp Rasya di 0811 51:04 19 99720. 51:07 Dokter Ben dan Mbak Desi kita akan jeda 51:09 dulu ya. Kita akan jeda dulu dan kita 51:12 akan masuk di sesi kedua dengan menjawab 51:14 pertanyaan-pertanyaan yang sudah masuk 51:16 dari pendengar. Ikhwan akhwat tetaplah 51:18 bersama kami. Kami akan segera kembali. 51:25 Rasya [musik] 51:26 TV 51:33 Radio Silaturahim dan Rasya TV untuk 51:35 Islam yang satu. Ikhwan akhwat yang 51:37 dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala, 51:38 terima kasih masih bersama kami dalam 51:40 siaran live buka mata buka telinga 51:43 bersama Dokter Sarbini Abdul Murad dan 51:46 juga Mbak Desi Fitriani. Nasib pers dan 51:50 jurnalis di Palestina. Saya akan ke Bu 51:54 Ani Chani. Assalamualaikum 51:56 warahmatullahi wabarakatuh. 51:57 Alhamdulillah hadir menyimak buka mata 51:59 buka telinga di malam hari ini. 52:02 Begitupun Bu Nurjanah 52:05 menyimak melalui siaran YouTube. Ini 52:08 sampai di screenshot ini Onny. 52:11 Di screenshot menyimak ini ya. 52:13 Siarannya melalui eh menyimak melalui 52:15 YouTube karena ini Bu Nurjanah ini dari 52:18 Singapura ya nyimaknya ya. 52:20 Begitupun Eyang Sri juga menyimak siaran 52:23 di malam hari ini. Mbak Wartawati. Ya. 52:28 Juga Dokter Ben. Terima kasih atas 52:31 analisanya. 52:33 Begitupun ini ada Pak Ahmad di Depok. 52:35 Assalamualaikum warahmatullahi 52:36 wabarakatuh. Info yang sangat berharga 52:39 di acara buka mata buka telinga di malam 52:42 hari ini. 52:43 Sementara itu Tuan Baron. 52:46 Assalamualaikum warahmatullahi 52:47 wabarakatuh. Salut untuk jurnalis 52:49 perempuan yang meliput 52:52 di tempat konflik. 52:54 Lalu di sini juga ada 52:57 ini tidak menyebutkan nama. Di dari 52:59 08387265 53:02 sekian-sekian. Assalamualaikum 53:03 warahmatullahi wabarakatuh. 53:05 Bagaimana menurut Mbak Desi ketika 53:09 wartawan itu harus menyampaikan 53:12 kebenaran tapi 53:14 media pimpinannya 53:17 tidak setuju. 53:19 Dalam hal ini berita-berita tentang 53:21 Palestina. Bagaimana sebenarnya? Oke. 53:25 [tertawa] 53:26 Ini kaitannya jurnalis yang turun ke 53:27 lapangan dapat fakta-fakta tapi sudah 53:30 mentok di meja redaksi biasanya enggak 53:32 di enggak disampaikan. Itu gimana Mbak 53:35 Desi? 53:38 Eh ya tapi alhamdulillah ya sampai 53:40 sejauh ini ini eh mungkin 53:43 eh, kita kalau lihat eh, 53:45 TV nasional ya, eh, mungkin ada juga 53:47 yang sedikit mengotak-ngotakkan ini 53:48 TV-nya eh, Gaza, ini TV-nya lebih ke 53:52 Israel, ini gini karena kan kita sumber 53:54 beritanya. Tapi alhamdulillah tuh kalau 53:56 di Metro TV apapun yang soal Gaza bahkan 53:58 kita punya segmen khusus Gaza kalau 54:00 setiap di akhir program pasti ada Gaza, 54:02 ada ada liputan internasional pasti 54:03 Gaza. Kalau satu hari itu kan berarti 54:05 kan bisa ribuan ya berita internasional, 54:08 tapi kami mendahulukan eh, satu segmen 54:10 itu pasti berita-berita Gaza semuanya. 54:13 Bahkan kalau enggak ada kami korek eh, 54:14 korek-korek maka ini maaf-maaf ya, 54:17 sampai saya bilang di Metro TV itu saya 54:19 dibilang wah, ini pengikut Hamas nih, 54:21 ini udah bukan. [tertawa] Karena saking 54:23 saking Gaza Gaza banget saya dibilang. 54:26 Jadi ketika saya tanya, saya tanya 54:28 eh, 54:29 kok eh, ini pokoknya dia kalau bikin 54:31 berita enggak bisa sudah misalnya sudah 54:33 penuh nih, dia bikin misalnya 4 berita, 54:35 sudah sudah penuh di eh, berita prime 54:37 time news di sore, dia kasih ke 54:39 [berdehem] pagi atau kemudian kasih ke 54:40 siang lagi atau dia bikinin buat 54:42 headline news. 54:43 Terus saya tanya, kenapa? 54:44 Jadi gini Des, dia bilang. 54:46 Gua enggak enggak tega melihat bagaimana 54:48 masyarakat di Gaza. 54:50 Sebagai jihad ini anggaplah sebagai 54:51 jihad, dia bilang. Kalau enggak sanggup 54:53 pergi ke Gaza, paling enggak ini yang 54:55 bisa saya berikan untuk masyarakat Gaza 54:56 bagaimana dia membagi informasi, bahkan 54:59 sampai cari di media sosial-media 55:01 sosial. Itu ada beberapa produser tuh, 55:03 produser hak kita nyebutnya produser 55:04 Hamas. 55:05 Tapi semuanya hampir iya, bahkan kita 55:08 sebenarnya kalau mau jujur itu kalau 55:11 berita selama selama sebulan tuh ya, 10% 55:13 berita tentang Israel juga enggak 55:15 nyampe. 55:15 Banyakkan Gaza. 55:17 Bagaimana kita masyarakat Gaza, ini 55:19 kalau mau jujur ya, ini sebenarnya 55:19 enggak boleh sih, tapi ya 55:21 lihat aja gitu, tapi kalau misalnya jadi 55:23 tidak ada pembatasan kalau di Metro TV 55:25 alhamdulillah tidak ada pembatasan bahwa 55:27 tidak boleh segala macam enggak, bahkan 55:29 mereka bilang ada lagi enggak Des? Ada 55:30 lagi enggak Des? Ya, kalau seperti kami 55:33 berapa kali minta Pak Ben, Pak Ben 55:35 narasumber dong misalnya Pak Ben mau 55:36 minta tolong, kadang-kadang sudah malam 55:38 ya, Pak, kadang-kadang pagi-pagi banget 55:39 jam 5 pagi. 55:40 Iya. 55:41 Minta kayak gitu, Pak Ben, ada 55:42 gambar-gambar enggak dari tim dokter 55:44 yang ada di sana atau memang masih ada 55:46 tim-tim yang di sana. Jadi, eh 55:49 apa pun yang tentang Gaza pasti kita 55:50 ambil. Apalagi terkait kalau misalnya 55:52 tim medis Indonesia yang di sana, 55:54 dibilang gitu. Karena kita memang eh 55:55 kesulitan mendapatkan gambar. Dalam 55:57 sebulan terakhir ini enggak nyampe ini 55:59 sudah semakin sulit mendapatkan gambar. 56:01 Akhirnya banyak gambar-gambar dari eh 56:03 video amatir, kan enggak tahu itu 56:05 gambarnya lebih potret, kan. Kalau 56:06 misalnya TV kan ambilnya landscape. 56:08 He eh. 56:08 Kalau potret-potret berarti kan kanan 56:10 kirinya kan ada hitam, kalau enggak 56:11 putih gitu. 56:12 He eh. 56:12 Jadi ya tetap diakal-akalin. Nah, kalau 56:15 memang ada kan beberapa pimpinan yang eh 56:18 melarang untuk eh memberitakan 56:22 saya pikir kalau di Indonesia ya 56:24 kalau di Indonesia berita Gaza masih 56:26 dengan 56:27 mempunyai space yang besar. 56:29 Ehm. 56:30 Alhamdulillah benar. 56:31 Alhamdulillah. Oke, saya kalau ke Dokter 56:33 Ben, Dok, ada istilah keberpihakan 56:35 media. Kalau misalkan jurnalis-jurnalis 56:38 atau wartawan-wartawannya, 56:40 reporter-reporternya yang turun, yang 56:41 hunting berita, tapi juga kan harus 56:43 tergantung dari sikap lembaganya atau 56:45 sikap medianya. Bagaimana keberpihakan 56:47 keberpihakan media yang Dokter Ben lihat 56:49 khususnya di Indonesia terhadap eh 56:51 situasi di Gaza atau Palestina, Dok? 56:54 [berdehem] 56:56 Ya. Memang ada ada tuh ada enggak ada ya 56:59 seperti ada apabila itu ada ada yang 57:02 eh kita enggak mau seperti itu tapi 57:04 sudah jelas 57:05 Ehm. 57:05 karena karena manis. Dan juga 57:07 media-media yang memang 57:09 eh dia kalau misalnya kita enggak paham 57:13 kita menganggap itu netral, tapi kalau 57:15 kita paham kita tahu pemirsa kan tahu 57:17 gitu. 57:17 Ehm. 57:17 Tapi karena Indonesia ini mayoritas dan 57:19 pro Palestina, tapi dia enggak enggak 57:22 bisa terang-terangan untuk menyatakan 57:24 dia itu pro pro Israel gitu. Tapi kalau 57:26 kita 57:27 sudah penggiat Palestina tahu kita wah 57:29 ini kok begini kita tahu kita tahulah 57:31 gitu. 57:32 Jadi, pengalaman saya Pak 57:35 pada awal-awal serangan Israel itu kan 57:36 eh saya mencoba untuk meyakinkan semua 57:38 wartawan walaupun pertanyaan-pertanyaan 57:40 itu kadang-kadang agak nyeleh ya kalau 57:41 pertama eh wartawan luar ya. Artinya ya 57:44 ada yang menyalahkan Hamas segala macam 57:46 tapi saya juga saya pikir lah itu saya 57:48 saya kan harus corong corongnya 57:50 Palestina juga ini kan untuk untuk bisa 57:52 menjelaskan kepada publik eh rentetan 57:54 peristiwa yang dan sebagainya. Dan 57:56 memang masalahnya enggak kita itu memang 57:58 eh di samping profesi jurnalisme memang 58:00 ada ada misi-misi yang misi-misi 58:02 kemanusiaan itu harus kita tempatkan 58:04 nomor satu gitu loh. Jadi ke peristiwa 58:07 Palestina-Israel ini netral-netralnya 58:09 wartawan itu artinya membela Palestina 58:11 hari ini. Wartawan netral nih netral mau 58:13 melaporkan sesuai dengan dengan fakta 58:15 segala macam berarti pasti orang Islam 58:17 bilang ini pro Palestina sebenarnya 58:18 mereka itu adalah fakta yang mereka 58:20 sampaikan. Nah pada hari ini itu memang 58:22 kalau orang yang ada pro Israel itu 58:24 memang memang mata mata hatinya sudah 58:26 tertutup memang dari kondisi hari ini. 58:29 Mmm. 58:30 Mungkin gini Mas Angga aku ada tambahin 58:32 ya. Jadi 58:33 Iya. 58:33 Jadi sebenarnya kenapa ada 58:37 kenapa lebih banyak 58:38 kenapa tidak semuanya itu melihat fakta 58:41 dan peristiwa itu lebih memihak kepada 58:43 misalnya ada yang membela Israel. Karena 58:45 kalau dilihat dari secara keseluruhan ya 58:48 dari berbagai diskusi yang kita ikuti 58:49 atau misalnya ini bahwa orang masih di 58:51 Indonesia ini masih beranggapan bahwa 58:53 perang Israel sama genosida yang terjadi 58:55 di Gaza adalah perang Islam dengan 58:57 Kristen. Itu yang sebagian bagian dan 59:00 mindset-nya itu masih seperti itu. 59:01 Mereka tidak bicara soal kemanusiaan 59:03 tapi ini perang antar agama karena 59:04 mayoritas yang di Gaza itu adalah Islam 59:07 yang di Israel adalah Kristen. Tapi 59:09 mereka juga harusnya tahu bahwa di Gaza 59:10 itu ada gereja loh bahkan gereja jadi 59:12 korban jadi jadi jadi apa 59:15 kena ledakan juga bahkan sampai 59:17 mengatakan minta supaya tidak lagi 59:19 terjadi hal seperti itu. Artinya bahwa 59:21 ini Gaza ini kan negara dengan 59:23 keberagaman agamanya tapi memang 59:24 mayoritas Islam. Nah Israel kan juga 59:26 tidak ada tidak semuanya eh Kristen 59:28 semua, ada juga Islam di situ. 59:30 Eh, mindset yang terjadi di Indonesia 59:32 ini tidak semuanya ya, tapi ketika saya 59:35 melihat mungkin 59:36 banyak di berita bahwa sampai dulu ada 59:39 eh apa eh darah eh saus tomat dibilang 59:42 darah, di ini segala macam itu kan dari 59:44 anak-anak waktu itu. Nah, 59:46 ini yang harus dirubah dulu. Ini bukan 59:48 masalah agama, tapi ini masalah 59:50 kemanusiaan, genosida yang terjadi di 59:52 Gaza. Makanya eh ini kan 59:55 berita eh faktor berita media massa ini 59:57 kan macam-macam ya, Mas Angga sudah 59:59 tahu, sudah tahu. Jadi, ada yang offset 1:00:02 yang benar, ada yang yang yang terdaftar 1:00:03 di Dewan Pers, ada yang tidak terdaftar 1:00:05 di Dewan Pers, ada yang mentaati dengan 1:00:07 kode etik jurnalistiknya, ada yang 1:00:08 tidak. Jadi, mungkin beberapa eh 1:00:12 media-media yang mungkin tidak terdaftar 1:00:14 di Dewan Pers atau misalnya yang memang 1:00:16 terja dari kelompok tertentu atau dari 1:00:19 eh 1:00:20 orang-orang tertentu kan bikin-bikin 1:00:22 website gampang sekarang. Dengan modal 1:00:24 10 juta bisa bikin website. 1:00:26 Dia tinggal daftar segala macam, dia 1:00:28 bisa bikin masukin berbagai macam 1:00:29 berita. Nah, ini apa bisa 1:00:30 dipertanggungjawabkan? Ya, belum tentu 1:00:32 semuanya bisa dipertanggungjawabkan. 1:00:33 Tapi, kalau sudah terdaftar di Dewan 1:00:35 Pers itu punya sudah punya aturan 1:00:37 sendiri, kode etiknya, segala macam. 1:00:39 Jadi, kayaknya yang perlu diubah itu 1:00:41 mindset-nya bahwa ini bukan perang agama 1:00:44 antara Islam dengan Kristen, tapi ini 1:00:45 genosida yang terjadi di Gaza. 1:00:49 Serangan daripada Israel. 1:00:51 Makanya beritanya jadi kadang-kadang 1:00:53 kanan kiri, kanan kiri, tapi kan 1:00:54 sebenarnya 1:00:56 jurnalis itu kan sesuai dengan fakta dan 1:00:57 peristiwa. 1:00:58 Iya. 1:00:59 Nah, apa yang dilihat ketika wartawan 1:01:01 tidak lagi boleh berada di Israel, 1:01:03 berarti kan wartawan adanya di Gaza. 1:01:05 Jadi, pemberitaannya itu lebih banyak di 1:01:07 Gaza. Nah, tapi sekarang ternyata 1:01:09 wartawan yang ada di Gaza itu dibom 1:01:11 juga. 1:01:12 Di di dituduh bahwa itu jadi kelompoknya 1:01:14 Hamas, padahal kan dia memang ada di 1:01:16 situ. Jadi, 1:01:17 eh cara pandang berita itu kan di mana 1:01:19 posisi kita. Ketika misalnya kita berada 1:01:22 di Israel, berarti kan cara pandangnya 1:01:24 dari sudut Israel. Ketika kita berada di 1:01:26 eh Gaza, berarti Gaza. Makanya perlu 1:01:28 kontributor dari seluruh dunia. Atau 1:01:30 kalau misalnya kayak kami di Metro TV 1:01:31 itu setiap daerah, setiap negara kami 1:01:33 punya kontributor atau stringer. Kalau 1:01:36 tidak ada kontributor stringer. 1:01:37 Atau misalnya ada eh biro-biro yang ada 1:01:39 di situ. Jadi, beritanya itu bisa cover 1:01:41 both side. Jangankan itu, untuk berita 1:01:43 satu politik saja yang ada di Indonesia 1:01:45 itu kan ada dari berbagai pengamat, dari 1:01:47 berbagai narasumber. Karena cara pandang 1:01:50 mereka berbeda-beda. Nah, ini yang perlu 1:01:52 di di di betulin dulu mungkin nih 1:01:54 seperti itu. 1:01:56 [berdehem] 1:01:57 Oke. 1:01:58 Saya akan ke pertanyaan selanjutnya. Ini 1:02:00 dari Firdaus di Bogor. Assalamualaikum 1:02:01 warahmatullahi wabarakatuh. 1:02:05 Kenapa 1:02:06 perang ataupun konflik menjadi magnet 1:02:10 yang menarik 1:02:11 bagi para jurnalis? 1:02:14 Oke. 1:02:15 Ini pertanyaan pendengar nih. Saya 1:02:17 kembali ke sini dulu. 1:02:20 Kenapa menjadi menarik? Ini bukan 1:02:21 masalah menarik, ini masalah masalah 1:02:23 berita berita. Jadi, tugas jurnalis 1:02:25 memberitakan fakta dan peristiwa. Ketika 1:02:28 fakta dan peristiwa itu memang 1:02:30 terjadi, ya itu diberitakan. Selagi itu 1:02:33 belum habis, pasti akan terus. Nah, tapi 1:02:36 eh tapi ininya eh persentasenya mungkin 1:02:38 eh tiap hari tidak tidak sama ya. Ketika 1:02:40 misalnya hari ini 1:02:42 dum, ada apa ledakan eh serangan eh 1:02:45 roket dari Israel ke Gaza. 1:02:47 Nah, atau misalnya dari Iran ke Gaza. 1:02:49 Ya, begitu. Ataupun dari eh Israel ke 1:02:51 Iran ataupun dari Gaza ke Israel. Itu 1:02:54 kan pasti hari besok itu headline itu 1:02:56 pasti akan sama. 1:02:57 Hmm. 1:02:57 Ada berapa jumlah korban serangan. Tapi 1:02:59 ketika misalnya tidak ada serangan, 1:03:02 tidak ada ini, pasti kadarnya itu 1:03:03 persentasenya itu agak sedikit ini apa 1:03:06 eh berkurang. 1:03:07 Jadi, bukan satu-satu hari berita Gaza 5 1:03:11 jam dalam 24 jam, enggak juga. Karena 1:03:13 itu kan tergantung naik turun. Karena 1:03:14 berita itu kan mana yang update itu. 1:03:17 Nah, ketika misalnya eee 1:03:20 eee misalnya ada sesua- oh ini ada ada 1:03:23 berita yang besar di Indonesia, itu bisa 1:03:26 bisa semakin kecil itu. 1:03:28 Tapi itu kan beritanya cuma satu hari. 1:03:30 Jadi, yang teraktual, yang tercepat, 1:03:32 yang ini, itu kan ada kadar nilai 1:03:34 beritanya itu ada. 1:03:36 Jadi, kalau misalnya itu di Gaza ada 1:03:38 serangan, ada kejadian, misalnya 1:03:39 tiba-tiba PBB mengumumkan atau yang 1:03:41 mengumumkan jumlah korban 60.850, 1:03:45 sekarang itu pasti besok headline-nya 1:03:46 sudah itu sama semuanya. Ketika misalnya 1:03:49 keluar gambar, keluar gambar di media 1:03:50 sosial, ada anak kecil menggendong 1:03:53 adiknya yang masih bayi, kemudian 1:03:54 terkena eee pecahan 1:03:57 roket, itu jadi trending, jadi headline 1:03:59 di seluruh di seluruh media massa. Jadi, 1:04:02 berita itu kan dia naik turun, tapi 1:04:04 tidak menghilangkan bahwa satu hari 1:04:06 tidak ada berita Gaza, enggak. Kalau di 1:04:07 Metro TV, alhamdulillah pasti ada. 1:04:09 Mmm. 1:04:11 Ini sudah 7 orang dari 7 Oktober itu 1:04:13 banyak ini masalah tinggal berapa berapa 1:04:15 segmen naiknya gitu. 1:04:17 Mmm. Oke, baik. Saya akan ke Dokter Ben. 1:04:20 Dokter Ben, karena tadi menyinggung 1:04:22 eee sebuah kejadian atau peristiwa 1:04:24 perang, konflik, kalau kita mengacanya 1:04:27 di Palestina, ini kan kondisi yang oh 1:04:29 puluhan tahun gitu ya, konflik, perang, 1:04:31 bahkan sekarang genocide istilahnya 1:04:32 muncul, pembunuhan gitu ya. 1:04:34 Bukan dengan kata 1:04:36 istilah mena- menarik untuk berita gitu 1:04:38 ya, ataupun menarik untuk para relawan. 1:04:40 Tapi ini kan harus menjadi perhatian 1:04:42 sebenarnya, perhatian semua pihak gitu 1:04:44 ya, relawan, tenaga medis, tenaga 1:04:46 jurnalis, tenaga apapun yang bisa 1:04:47 membantu ke tempat konflik itu. 1:04:49 Bagaimana memahamkan dan menyadarkan 1:04:51 masyarakat bahwa ini ketika terjadi 1:04:53 sesuatu hal, apalagi yang kaitannya 1:04:55 dengan eee 1:04:57 eee unsur-unsur kemanusiaan gitu ya, ini 1:04:59 jadi perhatian semua pihak. Eee 1:05:01 bagaimana, Dok, kita 1:05:03 eee memberikan narasi penerangan ini? 1:05:08 Eee gini, Mas Angga. Jadi, ini kan 1:05:10 [berdehem] 1:05:10 yang namanya 1:05:12 yang namanya apa ya korban itu kan kan 1:05:15 ada thriller ya tidak thriller artinya 1:05:17 kita bagaimana misalnya 1:05:20 orang melihat darah bercucuran kemudian 1:05:23 eee 1:05:25 orang terbakar segala macam itu secara 1:05:26 psikologis ini kan sangat mem- 1:05:28 mempengaruhi banyak orang jadi 1:05:30 sebenarnya itu 1:05:31 eee 1:05:32 kenapa orang bukan tertarik ya bukan 1:05:34 jadi jadi begitu berita besar 1:05:37 karena menyangkut dengan dirinya kan 1:05:38 manusia sebagai makhluk hidup ya artinya 1:05:41 bagian dari dari apa yang yang dia alami 1:05:44 atau pernah pernah mengalami atau 1:05:46 melihat orang gitu ya 1:05:48 artinya bagaimana eee 1:05:50 orang-orang yang mengalami korban yang 1:05:52 begitu mengendaskan begitu tragis ini 1:05:55 kan mempunyai efek psikologis yang yang 1:05:58 begitu besar menurut saya jadi kenapa 1:06:00 eee ini seperti kata Made jadi kadang 1:06:02 jadi trending berita misalnya pembunuhan 1:06:04 wartawan atau eee bagaimana misalnya 1:06:07 anak kecil yang sebenarnya dia tuh tidak 1:06:10 tidak berdosa anak bayi tiba-tiba 1:06:12 misalnya oksigen dicabut itu ya di ICU 1:06:16 misalnya dan sebagainya ini kan sangat 1:06:17 menyentuh kemanusiaan ya karena kita 1:06:19 bicara kemanusiaan bicara tentang 1:06:20 kebatinan kebatinan kemudian bicara 1:06:23 masalah hal-hal sifatnya kasih sayang 1:06:26 tiba-tiba ada peristiwa di luar nalar 1:06:28 itu kan menjadi sesuatu hal yang sangat 1:06:30 traumatis bagi-bagi orang jadi 1:06:32 jadi kenapa misalnya eee 1:06:35 eee apa ya orang itu mengingat sesuatu 1:06:38 itu yang yang berupa visual kan lebih 1:06:40 menyayat hati ya lebih 1:06:42 lebih ke keingat-ingat gitu ya bagaimana 1:06:44 misalnya anak-anak kecil anak SD 1:06:46 misalnya misalnya melihat ada anak 1:06:48 sebaya dia tiba-tiba menjadi korban 1:06:50 kemudian dia kan menjadi hal yang sangat 1:06:52 sangat mendalam bagi seorang anak 1:06:54 atau bagaimana misalnya seorang eee adik 1:06:57 melihat kakaknya meninggal atau kakak 1:06:58 melihat adiknya meninggal atau melihat 1:07:00 orang tuanya meninggal ini kan 1:07:03 sehari-hari yang orang bisa alami ini 1:07:04 kan ini ini kebetulan terjadi di Gaza 1:07:07 Jadi dilakukan oleh sebuah negara yang 1:07:09 memang 1:07:10 eee di luar nalar, di luar nalar eee 1:07:13 manusia artinya 1:07:15 mereka itu melakukan hal-hal yang memang 1:07:17 sebenarnya tidak-tidak harus dilakukan 1:07:19 ya. Anak kecil ini dibunuh, anak kecil 1:07:22 di dimatiin dengan alasan ya oh ini 1:07:24 karena dia masih kecil nanti kalau sudah 1:07:26 besar dia melawan kami gitu kan. Ini hal 1:07:28 yang enggak masuk akal gitu ya. Dan kita 1:07:30 lihat bagaimana misalnya ada orang 1:07:32 mempertentangkan konflik antara Islam 1:07:34 sama Yahudi dan sebagainya. Ini konten 1:07:36 ini kan ada ada juga media yang mencoba 1:07:38 mengalihkan ke mana, ada yang mencoba 1:07:40 yang proporsional dan sebagainya. Jadi 1:07:42 saya enggak saya lihat bahwa eee yang 1:07:44 namanya 1:07:45 bercerita tentang perang ini kan satu 1:07:48 eee satu episode yang enggak akan pernah 1:07:50 orang lupakan kan. Karena di situ ada 1:07:52 hidup, ada kehidupan juga ada kematian 1:07:54 di situ. 1:07:55 Ada penderitaan, ada ada tangis air mata 1:07:59 dan sebagainya. Emm, seperti itu 1:08:00 masalahnya. 1:08:01 Ada Pak Wahyu di Jakarta. 1:08:03 Assalamualaikum warahmatullahi 1:08:04 wabarakatuh. Pak Dokter Ben. 1:08:07 Ini ada yang lebih aneh lagi. 1:08:09 Bagaimana bila ada tokoh ataupun ulama 1:08:12 gitu ya di negeri ini yang masih 1:08:15 berswafoto dan bahkan satu meja, meja 1:08:19 makan dengan orang-orang Israel. 1:08:21 Bagaimana Dok? Wah ini di luar dari ini 1:08:23 Dok. Bagaimana pendapat Dokter Ben ini? 1:08:26 [mendengus] 1:08:26 Ya eee saya kira itu satu apa 1:08:28 [berdehem] 1:08:29 Menurut saya itu ya 1:08:32 sepatutnya pantas dilakukan seperti itu 1:08:34 ya, enggak pantas. 1:08:35 Karena 1:08:37 karena 1:08:37 ada [tertawa] kadang ada orang punya 1:08:38 persepsi begini ya. 1:08:40 Saya ini kan 1:08:41 tujuan saya kan untuk mendamaikan 1:08:43 konflik ini. Kalau saya enggak dekat 1:08:45 sama tokoh-tokoh atau pemimpin mereka, 1:08:47 gimana saya bisa menyuarakan ini gitu 1:08:49 loh. Nah, saya ketemu sebenarnya saya 1:08:51 ingin menyuarakan bahwa saya ingin 1:08:53 mendamaikan 1:08:54 eee konflik ini sehingga eee Israel sama 1:08:56 Palestina ini bisa damai. 1:08:58 Nah, kadang-kadang ada orang terlalu 1:09:00 over ya, terlalu under apa terlalu over 1:09:02 estimasi, ya. Saya katakan dia bisa 1:09:05 kehadiran dia itu bisa, bisa merubah 1:09:07 semua suasana, semua peristiwa. 1:09:10 Bisa merubah sejarah, gitu. 1:09:11 Kadang-kadang orang selalu menganggap 1:09:13 dia itu kayak, kayak Trump, gitu, ya. 1:09:15 Donald Trump bisa merubah semua. Saya 1:09:17 pikir ada, ada di, analisis yang, yang 1:09:20 keliru, menurut saya, ya. Artinya yang 1:09:22 bagus, yang baik, itu okelah. Anda ingin 1:09:24 mendamaikan, bagus, punya baik. 1:09:26 Tapi, tapi kan caranya itu kan enggak 1:09:27 seperti itu. Anda enggak punya kapasitas 1:09:29 yang yang mumpunilah. Contohnya seperti 1:09:32 misalnya Jusuf Kalla, kan, pertama 1:09:33 mencoba untuk mendamaikan konflik 1:09:35 Palestina dengan, dengan Israel. Saya 1:09:37 katakan kepada beliau yang lebih cocok 1:09:38 adalah bagaimana mempersatukan antara 1:09:40 Palestina dengan Palestina, antara 1:09:41 faksi. Itu lebih, lebih memungkinkan. 1:09:44 Nah, kalau misalnya antara Palestina 1:09:45 dengan Israel, seorang Jusuf Kalla, saya 1:09:47 pikir beda-beda. Beda kisahnya antara, 1:09:50 apa, MoU Helsinki, yang ketika bisa 1:09:52 mendamaikan di Indonesia, Aceh sama 1:09:55 pemerintah Indonesia, gitu, sama Israel 1:09:57 sama Palestina itu sangat beda sekali, 1:09:59 gitu, loh. Itu kapasitas seorang JK, 1:10:01 gitu. 1:10:02 Apalagi misalnya ada tokoh-tokoh, salah 1:10:03 satu ormas, misalnya, mencoba itu. Saya 1:10:05 pikir 1:10:06 ini terlalu over estimasi, lah, saya 1:10:08 pikir itu. 1:10:11 Iya. 1:10:12 [terkesiap] 1:10:12 Selanjutnya saya akan pertanyaan dari 1:10:14 08138075 1:10:16 sekian-sekian. Tidak menyebutkan nama. 1:10:18 Assalamualaikum warahmatullahi 1:10:20 wabarakatuh. 1:10:21 Bagaimana dengan adanya pendapat orang 1:10:25 yang mengatakan, eh, bahwa hati-hati 1:10:28 dengan berita dari media sosial. Lalu 1:10:32 kalau ingin dijadikan sumber rujukan 1:10:34 untuk dibuat berita atau informasi 1:10:36 disampaikan ke orang banyak, itu 1:10:37 bagaimana? 1:10:39 Oke. 1:10:40 Saya kembali sini, ya. 1:10:42 Apalagi tadi diceritakan, ya, Mbak Desi, 1:10:44 ya, ketika memang gambar-gambar yang 1:10:45 diperoleh dari jurnalis itu enggak 1:10:47 didapat, gitu, ya. Akhirnya kan dari 1:10:49 media sosial, influencer, eh, netizen, 1:10:52 gitu, kan. Akhirnya kita ambil. Itu 1:10:53 sebenarnya bagaimana prosesnya, Mbak? 1:10:57 Ya, memang jadi gini, kalau dalam di 1:10:59 Indonesia ya, yang masuk dalam media 1:11:00 massa itulah media radio, cetak, 1:11:03 televisi, website dan itu semua yang 1:11:04 sudah terdaftar di Dewan Pers dan atau 1:11:06 di dalam Pers. [berdehem] Nah, media 1:11:08 sosial ini tidak bisa 1:11:09 dipertanggungjawabkan. 1:11:10 Ehm. 1:11:11 Karena dan tidak ada belum sampai di 1:11:13 kalau di Indonesia belum ada aturan yang 1:11:15 benar-benar eee mengikat kecuali ada 1:11:17 berita bohong dengan ITE tadi, 1:11:20 Undang-Undang ITE. 1:11:21 Nah, eee untuk itu itu perwujudannya cek 1:11:24 and recheck. Jadi, ini biasanya kami eee 1:11:27 dan mungkin TV-TV nasional dan juga ya 1:11:29 yang akan eee media-media nasional 1:11:32 itu kami harus mengkonfirmasi. Misalnya 1:11:35 ada gambar di di eee di YouTube-nya eee 1:11:38 eee Mas Angga gitu ya atau Mas Angga 1:11:40 lagi di sana jadi di Gaza. Nah, kami 1:11:43 pasti akan berkomunikasi dulu, ini kapan 1:11:46 peristiwanya? Eee dan kemudian ini eee 1:11:48 di mana kejadiannya? Terus kita coba cek 1:11:50 lagi, benar enggak? Sama enggak? Ini 1:11:52 gambarnya kapan? Nah, terus kembali ke 1:11:53 kami minta izin, boleh enggak kami pakai 1:11:55 gitu loh. Nah, biasanya yang kita pakai 1:11:57 itu adalah eee gambar-gambar dari eee 1:12:01 kontributor ataupun eee yang kan kayak 1:12:03 eee salah satu itu kan dia punya punya 1:12:05 medsosnya juga ya, punya IG-nya juga. 1:12:07 Jadi, kita ambil dari itu. Nah, terus 1:12:08 sudah gitu pernah eee ada yang meninggal 1:12:10 dulu eee yang YouTube-nya ramai itu 1:12:12 siapa? Eee 1:12:13 Ehm. 1:12:14 Muhammad Husein ya di Gaza ya di Gaza 1:12:15 itu walaupun orangnya sudah meninggal 1:12:17 waktu dia meninggal tapi atau eee 1:12:19 influencer itu sudah meninggal tapi 1:12:21 ternyata akunnya itu masih aktif. 1:12:23 Ehm. 1:12:23 Jadi, itu teman-teman ya. Itu juga kita 1:12:26 selalu menanyakan dulu. Kalaupun kita 1:12:28 mengambil gambar gambar dari eee dari 1:12:31 kontributor ataupun dari eee Al Jazeera 1:12:33 yang di sana kan itu kan akun-akun 1:12:35 pribadi ya. Itu kami harus minta izin 1:12:37 dan di dicek dulu. Jadi, enggak bisa 1:12:39 langsung ambil caplok tayang caplok 1:12:41 tayang itu enggak bisa 1:12:41 dipertanggungjawabkan, enggak bisa. 1:12:43 Karena kan ada kode etik tersendiri. 1:12:45 Jadi, kalaupun ngambil gambar harus 1:12:46 minta izin, kemudian mengeceknya dulu, 1:12:49 kalau sudah oke baru kita tayangkan. 1:12:51 Jadi, bukan berarti semua gambar-gambar 1:12:53 apalagi kalau di medsos itu kan gambar 1:12:56 tahun kapan yang di mana kadang-kadang 1:12:58 di di bukan bukan di Gaza dinaikin ke 1:13:01 situ karena untuk kecepatan. Enggak usah 1:13:03 untuk peristiwa di luar negeri, di 1:13:05 Jakarta saja ketika ada penangkapan 1:13:07 teroris itu penangkapan teroris tahun 1:13:09 kapan ketika ada penangkapan teroris 1:13:11 sekarang itu dikeluarin sekarang. Jadi, 1:13:13 memang harus cek and ricek memang 1:13:15 [berdehem] fungsinya memang harus 1:13:16 seperti itu. Enggak bisa saya itu 1:13:17 langsung saja. 1:13:19 Mmm. 1:13:20 Tapi memang saya setuju dengan yang 1:13:21 menambahkan tadi Pak Wahyu 1:13:23 seperti itu. Jadi, sebenarnya kenapa ee 1:13:28 bisa duduk satu meja 1:13:29 Iya, masih ada gitu ya. 1:13:31 Dan mereka juga ternyata melakukan itu 1:13:33 pada wartawan. Kenapa sih katanya 1:13:35 wartawan ee 1:13:36 ini profesional kok ee liputannya ee 1:13:39 misalnya Israel juga diliput, Gaza juga 1:13:41 diliput misalnya di Jakarta. 1:13:43 Kok Aceh Agam diliput, pemerintah itu 1:13:46 tuh aparat diliput. Itu di mana? 1:13:49 Lah, kan fungsinya wartawan itu bebas 1:13:51 bisa ke mana-mana. Artinya gini, kalau 1:13:53 pinjam kata-katanya Pak Wismoyo, kalau 1:13:55 mau menang dalam peperangan kenali 1:13:57 dirimu, kenali musuhmu. Seribu kali 1:13:59 perang, seribu kali menang. Jadi, kalau 1:14:01 kita mau berperang jangan hanya melihat 1:14:03 diri sendiri tapi juga lihat di 1:14:05 sekeliling kita, pelajari juga musuh 1:14:07 bagaimana. Ya, sudah benar kalau saya 1:14:09 sependapat dengan Dokter Ben. Jadi, 1:14:10 bagaimana mau melawan, bagaimana mau 1:14:12 menjelaskan supaya menghentikan genosida 1:14:15 kalau tidak mau bertemu, tidak mau ber 1:14:17 membicarakan secara ee damai gitu. Jadi, 1:14:21 itu juga terjadi pada wartawan Dokter 1:14:22 Ben. Mereka bilang, "Oh, gini-gini-gini. 1:14:25 Wah, kamu sudah wartawannya OPM, kamu 1:14:28 wartawannya GAM karena kamu liputannya 1:14:30 sama mereka. Kamu enggak cinta tanah 1:14:32 air, enggak merah putih, enggak segala 1:14:33 macam." Oh, enggak bisa begitu. Kan kita 1:14:35 bebas ke mana-mana. Wartawan juga 1:14:37 manusia tapi kan kita juga punya kode 1:14:38 etik bahwa kita bebas karena kalau kita 1:14:41 sudah membela cuma satu pihak berarti 1:14:43 saya jadi PR-nya dong, jadi humas. Kita 1:14:45 bukan humas, kita enggak dibayar 1:14:47 humas. Tapi kan untuk di media di media 1:14:49 massa. Karena wartawan enggak punya jam 1:14:51 kerja. Enggak ada jam kerja wartawan. 1:14:54 Jadi kalau 1:14:56 iya pantang pulang sebelum selesai. Jadi 1:14:58 sudah kayak pemadam kebakaran. Jadi 1:15:00 kalau ditanya [tertawa] berapa waktu 1:15:01 kalau misalnya kalau editor editor saja 1:15:04 editor itu dia masih punya 1:15:06 ini jadi pakai kartu nih. Misalnya over 1:15:08 over jam kerja editor kan satu hari itu 1:15:10 misalnya 6 7 jam. Atau 6 jam. Selesai 1:15:13 berarti kan dia ada ada ininya ada ada 1:15:15 pemasukan sendiri ada poinnya sendiri 1:15:16 kan. 1:15:17 Kalau wartawan enggak ada. Wartawan 1:15:19 [tertawa] 1:15:20 Kalau belum selesai liputan terus. 1:15:22 Lembur buat wartawan. Pernah dengar 1:15:24 enggak? 1:15:25 Enggak ada lemburan. Kalau reporter sama 1:15:27 kameramen dapat lemburan enggak ada. 1:15:29 [tertawa] 1:15:29 Kerja 48 jam satu hari. Kalau beritanya 1:15:32 belum dapat terus jangan boleh pulang 1:15:34 ya. 1:15:35 Satu lagi Simatupang siang malam tunggu 1:15:37 panggilan. Kalau handphone [tertawa] 1:15:39 enggak diangkat jadi panik. Itu SP1 itu. 1:15:41 Dua kali SP2 SP3 tiga kali SP sudah 1:15:44 keluar. Ya gara-gara enggak terima. 1:15:47 Jadi makanya enggak boleh kita jauh-jauh 1:15:48 dari kantor kalau ada apa-apa kan 1:15:49 langsung berangkat. 1:15:50 [tertawa] 1:15:51 Oke, itulah Iwan Nawawi 1:15:54 pengalaman seorang wartawan gitu ya. 1:15:56 Selanjutnya saya akan ke ini hamba Allah 1:15:58 ya tidak menyebutkan nama dari Bekasi. 1:16:00 Assalamualaikum warahmatullahi 1:16:01 wabarakatuh. 1:16:03 Menyimak siaran di malam hari ini itu 1:16:06 kondisi wartawan saat ini memang sangat 1:16:09 memprihatinkan. Apakah ada hubungannya 1:16:13 dengan dibunuhnya para wartawan di Gaza 1:16:16 Palestina dengan meningkatnya juga 1:16:20 korban jiwa untuk warga sipil dan 1:16:23 membabi butanya serangan-serangan Zionis 1:16:25 Israel di Palestina. Oke. 1:16:28 Saya akan ke Dokter Benni dulu ya. 1:16:31 Ada hubungannya enggak Dok ketika 1:16:32 jurnalis-jurnalis ini dibunuh 1:16:35 Israel itu tentaranya lebih bringas lagi 1:16:38 gitu. Kelaparannya makin panjang. 1:16:41 Kondisi Gaza makin memprihatinkan. 1:16:46 Mungkin kalau hubungan langsung mungkin 1:16:47 enggak ada ya, Ustaz enggak ya. Mungkin 1:16:48 hubungan 1:16:49 langsung kali ya. 1:16:51 Karena memang yang yang dilakukan oleh 1:16:53 Benjamin Netanyahu itu adalah lebih ke 1:16:56 ambisi-ambisi bagi dia kalau dia gampang 1:16:59 ditangkap. Jadi, ini menurut saya itu eh 1:17:02 enggak ada hubungan langsung. Mungkin 1:17:04 tidak langsung iya kali ya. 1:17:05 Heeh, heeh. 1:17:06 Begitu, Ustaz enggak? 1:17:07 Baik. Kalau menurut Mbak Desi gimana, 1:17:10 Mbak? 1:17:11 Kalau ya benar sih secara langsung 1:17:13 tidak, tapi imbasnya mungkin ada. Karena 1:17:15 apa? Ketika wartawan dibungkam dan pintu 1:17:18 untuk informasi itu ditutup, 1:17:20 Heeh. 1:17:20 itu juga pasti akan mempengaruhi mereka 1:17:23 lebih leluasa. Jadi, misalnya kalau 1:17:24 sudah enggak ada bayangkan kalau sudah 1:17:26 enggak ada wartawan kayak misalnya eh 1:17:28 Syarif eh maaf saya kemarin menikmati 1:17:30 Said itu dibungkam. Berarti kan 1:17:32 pemberitaannya, gambarnya kan agak 1:17:34 mungkin sedikit berkurang. 1:17:35 Iya, makin sulit, heeh. 1:17:36 Nah, tapi kalau wartawan tidak boleh 1:17:38 lagi eh di Israel, bagaimana ketakutan 1:17:40 masyarakat Israel? Bagaimana cerita 1:17:42 Israel itu kan memang masyarakatnya kan 1:17:44 juga Netanyahu kan di dikecam juga. 1:17:46 Heeh. 1:17:46 Mereka juga takut. Kenapa dibilang itu? 1:17:48 Mereka juga ketakut-ketakutan ketika 1:17:50 serangan dari Iran, serangan dari eh 1:17:52 dari Gaza sendiri kan mereka ketakutan. 1:17:54 Gambar ketakutannya mereka yang panik 1:17:56 langsung lari-lari ke bank atau bisa 1:17:58 lari ke dalam 1:17:59 dalam rumah atau apa cari-cari tempat 1:18:01 itu, itu kan dulu masih kita dapat. 1:18:03 Sekarang sudah enggak pernah lagi kita 1:18:04 dapat itu gambar-gambar ketika 1:18:06 masyarakat Israel seperti itu. Jadi, 1:18:08 sebenarnya ketika 1:18:10 Eh. 1:18:11 di dibungkam dibungkam dan juga pintu 1:18:13 untuk informasi dan mendapatkan fakta 1:18:16 dan peristiwa dan enggak apa khususnya 1:18:17 untuk TV gambar itu ya itu agak imbasnya 1:18:20 pasti ada sih. 1:18:22 Ada karena kita sudah 1:18:23 eh itu dibungkam, bagaimana ngambil 1:18:25 gambar? Karena yang pemberitaan yang 1:18:28 paling seperti yang tadi tadi memang 1:18:29 benar bahwa berita itu ketika dia ada 1:18:31 gambar, 1:18:33 Heeh. 1:18:33 ada gambar apalagi ada audionya dan dan 1:18:35 gambarnya memang benar-benar fakta 1:18:37 ketika misalnya ber kelaparan terus 1:18:40 sudah gitu dalam waktu dalam seminggu 1:18:42 terakhir itu kan 1:18:43 eh hampir 180 orang anak-anak meninggal 1:18:47 dan perempuan karena enggak ada makanan 1:18:48 kan. Nah, ketika mereka ber 1:18:51 mengorek-ngorek mencari makan itu itu 1:18:52 kan sudah gambar berbicara. 1:18:55 Dan mata dunia melihat itu kita itu ber 1:18:58 19 itu langsung viral dan berita itu di 1:19:01 mana-mana bahwa kelaparan terjadi tempat 1:19:03 pengungsian. 1:19:05 Hmm. Jadi memang sekarang ini 1:19:08 eh kalau informasi utamanya 1:19:12 sumbernya dari mana nih yang digali oleh 1:19:15 Metro lah khususnya Mbak Desi? 1:19:18 Ya, kalau sekarang kan kita eh kita 1:19:20 berlangganan dengan beberapa kantor 1:19:21 berita ya. 1:19:22 Tidak hanya kantor eh dan juga ada 1:19:24 dengan beberapa dengan Al Jazeera dan 1:19:26 beberapa media juga yang ada di sana. 1:19:28 Jadi eh kita ngambil gambar dari situ 1:19:31 tapi memang 1:19:32 beberapa ini kan sudah agak mulai susah 1:19:34 ya dan tim bukan susah ya enggak 1:19:36 sebanyak dulu gitu loh. Jadi kita coba 1:19:39 dengan beberapa eh 1:19:41 akun-akun yang memang 1:19:43 bisa dipertanggungjawabkan dan kita 1:19:44 sudah mendapatkan izin ambil dari situ. 1:19:47 Dan kita juga dapat informasi dari 1:19:48 beberapa tim medis Indonesia yang ada di 1:19:50 sana. 1:19:51 Eh kami tanya kepada Dokter Ben kan eh 1:19:53 jadi apa sih sebenarnya yang terjadi? 1:19:56 Bahkan ketika eh ada 1:19:59 tim medis kita yang lagi di rumah sakit 1:20:00 ternyata rumah sakit itu masih dibom. 1:20:01 Jadi eh kita coba untuk siaran langsung 1:20:03 dari situ. Tapi yang pasti informasi itu 1:20:06 kan tidak pernah berhenti. Informasi 1:20:08 tentang Gaza tidak akan pernah berhenti 1:20:10 sampai sekarang ini. Sudah 687 hari jadi 1:20:13 pasti selalu ada di semua segmen 1:20:15 pemberitaan. Dari dari kalau di Metro TV 1:20:17 dari Metro Pagi, Metro Siang, Selamat 1:20:19 Pagi Indonesia Metro sampai Top News 1:20:21 Malam sampai Headline sampai juga eh 1:20:24 Metro Hari Ini itu pasti ada segmen 1:20:25 Gaza-Gazanya. 1:20:27 Iya. 1:20:28 Oke. 1:20:30 Baik, sementara itu dari Pak Enjang nih 1:20:33 di Sukabumi. Assalamualaikum 1:20:34 warahmatullahi wabarakatuh. Menyimak, 1:20:36 semoga narasumber selalu sehat. Oke, 1:20:39 kita sudah dibatasi oleh waktu ini 1:20:40 Dokter Ben dan juga Mbak Desi. Saya akan 1:20:43 ke Mbak Desi dulu ya sebagai penutup 1:20:45 Mbak Desi. 1:20:46 Singkat. 1:20:48 Ya, ee jadi 1:20:50 memang tugas jurnalis itu kan ee 1:20:53 tidak mudah ya. 1:20:54 Karena untuk meliput daerah konflik 1:20:55 seperti yang dibilang tadi tidak hanya 1:20:57 sekedar kemauan ataupun penugasan dari 1:21:00 kantor tapi juga butuh mental dan juga 1:21:02 dari hati. Kalau kita kerja dari hati 1:21:05 apapun sesulit apapun juga medan di 1:21:07 lapangan pasti kita akan bisa jalanin. 1:21:10 Tapi kalau ketakutan itu sudah ada dari 1:21:12 awal, takut ini takut ini, semua orang 1:21:13 bisa mati di mana saja tapi kan ini 1:21:15 adalah tugas bagaimana ee 1:21:17 masing-masing tim dokter dengan jihadnya 1:21:19 sendiri, perjuangannya sendiri dengan 1:21:21 tugasnya sendiri, jurnalis dengan jihad 1:21:23 dan tugasnya sendiri dan ini juga harus 1:21:25 dari hati. Tapi ee 1:21:28 wartawan itu kan juga manusia ya. 1:21:29 Mhm. 1:21:30 Jadi ya enggak bisa juga dituntut semua 1:21:32 wartawan itu harus bisa untuk ee 1:21:34 meliput ke daerah konflik enggak bisa 1:21:36 juga karena pasti beda-beda ininya. 1:21:39 Mhm. 1:21:39 Jadi ee se pemberita ee harusnya 1:21:42 seharusnya 1:21:44 jangan tutup mata dan hati ataupun pintu 1:21:47 dan jangan bungkam ee para jurnalis 1:21:49 untuk meliput ke di daerah Gaza 1:21:52 bagaimana genosida terjadi di Gaza yang 1:21:54 sampai sekarang sudah 687 1:21:58 hari. 1:21:58 Mhm. 1:21:58 Jangan kami bungkam. Biarkan pers 1:22:00 bersuara, biarkan pers tetap 1:22:02 memberitakan peristiwa terjadi di Gaza 1:22:04 dan kami mengutuk atas upaya-upaya 1:22:06 Israel yang terus membungkam ataupun 1:22:08 mematikan atau membunuh ee para jurnalis 1:22:11 yang berada di Gaza. 1:22:13 Baik. 1:22:14 Dokter Ben, sebagai penutup Dok. 1:22:19 Ya, ee 1:22:21 kita kita mendoakanlah ya kita mendoakan 1:22:24 semoga semoga saudara-saudara kita yang 1:22:26 ada di Gaza dimenangkan oleh Allah. 1:22:29 Dan Allah mengalahkan 1:22:32 Israel dalam hal ini. 1:22:34 Dan kemudian kita juga berharap 1:22:36 mendoakan kepada 1:22:38 saudara-saudara kita jurnalis di Gaza 1:22:40 yang telah gugur, semoga Allah berikan 1:22:42 tempat yang mulia di surga Firdaus. 1:22:45 Dan juga kepada wartawan-wartawan 1:22:48 yang memang punya komitmen yang kuat dan 1:22:51 kita dorong sehingga mereka menjadi 1:22:53 orang-orang yang terdepan dalam 1:22:55 memberikan informasi terhadap 1:22:57 apa peristiwa yang terjadi di Gaza pada 1:23:00 hari ini. Dan kita harus berterima kasih 1:23:02 pada teman-teman wartawan yang telah 1:23:04 punya dedikasi yang tinggi dan mereka 1:23:05 orang terdepan dalam memberikan 1:23:07 informasi kepada 1:23:08 kita sehingga kita bisa memahami, 1:23:10 mengetahui secara persis 1:23:11 peristiwa-peristiwa yang terjadi di 1:23:13 Gaza. Ini semua adalah tidak tidak lain 1:23:15 tidak bukan karena memang 1:23:17 upaya-upaya yang yang sangat luar biasa 1:23:20 dilakukan oleh wartawan yang ada di 1:23:21 Gaza. 1:23:22 Semoga Allah melindungi mereka. Demikian 1:23:24 itu Mas Angga. 1:23:26 Baik Dokter Ben, terima kasih banyak dan 1:23:28 juga Mbak Desi, terima kasih banyak 1:23:30 sudah menjadi narasumber di BMBT malam 1:23:33 hari ini. Dan Dokter Ben 1:23:35 Mbak Desi, semoga selalu sehat. Insya 1:23:38 Allah kita jumpa lagi dua pekan ke depan 1:23:40 ya Dokter Ben ya. 1:23:41 Dan Mbak Desi kayaknya ditunggu nanti 1:23:43 sama Dokter Ben untuk berangkat lagi ke 1:23:45 Gaza. 1:23:46 [tertawa] 1:23:46 Jangan bosan-bosan ya Mbak Desi ya. 1:23:48 Siap bosan-bosan. 1:23:50 Pernah ninggalin 1:23:51 [tertawa] 1:23:52 Desi ya. 1:23:54 Demikianlah Ikhwan Akhwat yang dirahmati 1:23:56 Allah Subhanahu Wa Ta'ala diskusi kita 1:23:58 di siaran Buka Mata Buka Telinga malam 1:24:01 hari ini. Semoga apa yang disampaikan 1:24:03 oleh narasumber memberikan manfaat untuk 1:24:06 kita semua dan kami undur diri. Terima 1:24:08 kasih banyak atas kebersamaan Anda, 1:24:10 mohon maaf atas segala kesalahan kata. 1:24:11 Billahi Taufiq Wal Hidayah. 1:24:13 Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu 1:24:15 Alla Ilaha Illa Anta Astaghfiruka Wa 1:24:16 Atubu Ilaih. Assalamualaikum 1:24:18 Warahmatullahi Wabarakatuh.