Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:27 Bismillahirahmanirahim 0:28 alhamdulillahirobbil alamin Allahumma 0:30 sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali 0:32 sayyidina Muhammad Ikhwan dan Akhwat 0:34 yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala 0:36 yang dapat meraih kami lewat Radio Rasio 0:38 maupun lewat Rasio Visual Rasio TV via 0:41 YouTube Rasio. Assalamualaikum 0:43 warahmatullahi wabarakatuh. 0:46 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:47 wabarakatuh. 0:47 Masyaallah alhamdulillah Ikhwan dan 0:49 Akhwat kita berjumpa kembali di segmen 0:52 sahur bersama tokoh. Ibu-ibu yang saat 0:55 ini mungkin sedang menyiapkan hidangan 0:56 sahur jangan tinggalkan kompornya tetap 0:59 berhati-hati mungkin bisa dinaikkan 1:00 sedikit volumenya supaya bisa mengikuti 1:02 acara ini dari awal hingga akhir. Dan 1:05 alhamdulillah tokoh yang kali ini 1:07 dihadirkan di ruang dengar Ikhwan dan 1:09 Akhwat adalah tokoh yang masyaallah 1:12 insyaallah menginspirasi dan telah hadir 1:14 di tengah-tengah kita. Saya sapa 1:16 terlebih dahulu Ustadzah Qotrun Nada 1:19 Syatiri Ahmad. 1:20 Alhamdulillah assalamualaikum. 1:22 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:23 wabarakatuh alhamdulillah. 1:24 Kak Carolina pokoknya semangat terus. 1:26 Insyaallah kita semua doa bin doa 1:28 mudah-mudahan saling mendoakan masih 1:30 saya eh melihat contekan namanya 1:32 Boleh boleh boleh. 1:33 karena belum familiar iya dan panjangnya 1:35 juga panjang susah ya 1:36 Nah itu dia ujungnya aja berarti ya. 1:38 Izinkan saya memanggil Ustadzah Nada. 1:40 Nada aja. 1:41 Tak kenal maka tak sayang gitu yang 1:43 sudah kita sudah sepakati oleh karena 1:45 itu kiranya berkenan Ustadzah Nada 1:47 memperkenalkan diri kembali kepada para 1:49 pendengar apa yang sedang eh disibukkan 1:52 akhir-akhir ini dan sebagainya silakan 1:54 tafadhol. 1:55 Baik bismillahirahmanirahim 1:57 assalamualaikum warahmatullahi 1:58 wabarakatuh. 1:59 Waalaikumsalam. 2:00 warahmatullahi wabarakatuh. 2:00 Alhamdulillah washolatu wassalamu ala 2:02 Rasulillah, ikhwan dan akhwat eh 2:05 keluarga besar Rasio Media. 2:07 Alhamdulillah bisa silaturahim pada kali 2:10 ini dan eh tentunya perkenalkan dulu di 2:13 awal Qatrunnada Syatiri Ahmad, tapi 2:15 karena namanya panjang cukuplah 2:17 manggilnya dengan Nada aja. Jadi 2:18 hari-hari saya eh tidak jauh dari yang 2:23 namanya ibu-ibu. 2:24 He em. Tapi ibu-ibu 2:25 majelis taklim. Tidak jauh dari yang 2:27 namanya tempat-tempat kajian, karena 2:29 biasanya sehari-hari saya itu eh mengisi 2:32 eh kajian-kajian, ya kajian-kajian 2:34 kajian muslimah, kemudian juga mengisi 2:36 majelis-majelis taklim. Alhamdulillah 2:38 bisa keliling Jabodetabek, Jakarta, 2:40 Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, 2:41 alhamdulillah dan bahkan juga sampai ke 2:43 Jawa Barat dan ke daerah eh ke sanalah 2:46 gitu ya. Alhamdulillah dan alhamdulillah 2:48 juga Allah berikan izin bisa juga eh 2:51 berbagi, sharing melalui media televisi 2:54 dan eh menjadi narasumber tetap di Damai 2:56 Indonesiaku 2:57 He em. 2:57 di TVOne dan juga program Islam Itu 3:00 Indah di Trans TV, alhamdulillah. Dan 3:02 alhamdulillah bisa silaturahim dengan eh 3:04 Media Rasio hari ini. 3:05 Alhamdulillah. 3:06 Ya, mudah-mudahan eh silaturahim kita 3:07 bawa berkah ya semuanya. Amin ya rabbal 3:09 alamin. 3:11 Kami sangat eh terutama saya mewakili 3:14 pribadi dan juga para pendengar pada 3:16 umumnya sangat mengagumi juga tentu saja 3:18 mendoakan apabila kita bertemu dengan 3:20 sosok yang 3:22 usianya terbilang masih eh muda. 3:26 Masih muda. 3:26 Masih muda, masya Allah. Masih muda tapi 3:28 keilmuannya 3:28 Masya Allah, masya Allah. 3:30 bisa bermanfaat 3:32 dan itu menjadi cerminan apa sih yang 3:34 telah kita perbuat di usia kita yang 3:36 saat ini sehingga kita harus lebih lagi 3:39 memicu diri untuk fastabiqul khairat, 3:41 berlomba-lomba dalam kebaikan. Kami 3:43 ingin tahu Ustadzah Nada, sejak kapan 3:45 memutuskan untuk menjadi pendakwah 3:48 wanita pula. 3:50 Baik ya, sebenarnya saya terjun ke 3:52 masyarakat belum lama, secara secara 3:54 kafah, secara 100% gitu, ya. Ini belum 3:57 lama. Tepatnya pasca almarhumah ibunda 4:00 saya meninggal dunia. 4:01 Eh, 2015. Itu tahun 2015 adalah eh 4:05 langkah pertama saya betul-betul terjun 4:07 ke masyarakat 100%. 4:09 Eh, 2015 ke belakang sebenarnya sudah 4:11 juga mengisi kajian-kajian, tapi 4:13 sifatnya lebih minoritaslah. Artinya 4:15 sekitar 40% dalam kehidupan saya. Jadi, 4:18 hanya sesekali. Itu pun menggantikan 4:20 jadwal yang memang sudah almarhumah 4:21 punya. Jadi kan kebetulan eh ada 4:23 jadwal-jadwal yang kebetulan uzur ibu 4:25 saya misalnya gitu atau misalnya ada 4:27 satu kajian-kajian yang sifatnya tidak 4:30 karena memang saya belum terjun ke 4:31 masyarakat secara 100%. Jadi, di 2015 ke 4:34 belakang dari mulai mungkin sekitar 4:36 2012-an, 4:37 itu sudah mulai terjun ke masyarakat, 4:39 tapi tidak menjadikan dominasi kegiatan 4:41 harian saya. Nah, jadi persis tahun 4:43 2015, itu saya bismillahirrahmanirrahim 4:46 izin suami, maka eh hampir eh aktivitas 4:51 hampir 100% saya, yaitu saya eh 4:53 khidmatkan untuk masyarakat. 4:55 Jadi, benar-benar tongkat estafet dari 4:58 ibunda. 4:58 Tahun 2015. Karena almarhumah ibunda 5:01 saya Ustadzah Suryani Tahir itu wafat 5:03 tahun 2015. 5:05 Iya. Iya. Iya. Dan karena sudah 5:06 disebutkan perihal ibunda Allahyarham, 5:09 mudah-mudahan beliau juga berada di 5:10 tempat yang paling indah saat ini, 5:12 insyaallah. Ibunda Suryani Tahir ini 5:15 merupakan panutan kita semua, kita 5:17 yakini itu. Dan eh kami sangat eh 5:21 mengagumi beliau tentu saja dan 5:23 bagaimana eh nama besar beliau 5:25 mempengaruhi perjalanan eh Ustadzah Nada 5:28 hingga saat ini. 5:29 Iya, betul. Karena kalau saya bilang 5:31 hampir eh 80% 5:33 eh kelancaran, kemudahan atau em 5:36 jembatan langkah dakwah saya memang eh 5:40 awalnya itu memang atas nama besar 5:41 almarhumah. Karena ketika tahun 2015 5:44 almarhumah meninggal, karena kan ada 5:46 majelis-majelis taklim yang rutin 5:48 almarhumah ibu saya itu eee bina ya jadi 5:52 eee setiap hari itu ada majelis-majelis 5:54 ada kajian-kajian kajian-kajian di 5:56 tentunya Jabodetabek nah tentu ketika 5:58 sepeninggal almarhumah enggak pengen 6:01 majelis itu mati kan sehingga 6:02 alhamdulillah Allah izinkan eee para 6:06 pengurus-pengurus dari majelis taklim 6:07 meminta saya untuk melanjutkan untuk 6:10 mengisi dan eee tidak berubah jadi kitab 6:14 yang diajarkan almarhumah saya teruskan 6:16 waktunya juga tidak berubah jadi eee 6:19 tidak ada perubahan hanya saya 6:21 melanjutkan tongkat estafet itu aja 6:22 tentunya sangat berpengaruh ya dan dari 6:25 awal saya ngajar ngajar ngajar emm 6:28 eee pengajian yang memang masuk ke gang 6:30 kemudian di pinggir eee jalan kemudian 6:32 juga mungkin ada yang di tengah kota 6:34 dari situ mungkin alhamdulillah 6:36 berkembang berkembang alhamdulillah atas 6:39 izin daripada Allah sehingga 6:41 eee alhamdulillah Allah kasih emm 6:44 penjagaan lah sampai dengan saat ini 6:46 masih dipercaya sama masyarakat jadi 6:47 awal mulanya memang tentunya eee 6:51 aura almarhumah ibu saya dulu nih yang 6:53 membawa sehingga sampai dengan titik 6:54 saat ini saya enggak bisa pungkiri itu 6:56 yang pertama pasti dari nama almarhumah 6:58 menjadi beban tidak ketika bisa ustazah 7:02 begini dulu ibunya begini 7:04 iya iya sebenarnya gini emm ketika 7:06 almarhumah masih ada 7:08 beliau itu sudah mulai memberikan pesan 7:11 kepada saya ayo terjun ke masyarakat ayo 7:13 segera terjun ke masyarakat 7:15 ketika beliau masih ada kan rasa minder 7:18 nih ya kita nih ya Allah masa merasa 7:20 minder diberi motivasi sama almarhumah 7:22 ibu ayo kamu sudah selesai sekolah sudah 7:24 di di sekolahkan cukup jauh sudah bisa 7:27 mumpuni dan sudah loloslah seleksi dari 7:30 almarhumah sendiri yang menyeleksi saya 7:32 ayahanda juga menyeleksi saya cuma saya 7:34 masih belum belum merasa pantas untuk 7:36 terjun ke masyarakat sehingga ketika 7:38 diminta untuk menggantikan satu masa dua 7:39 masa saya agak agak mengelak gitu ketika 7:42 itu, karena ekspektasi mereka kan 7:43 seorang almarhumah Ustazah Dokter Hajah 7:45 Siti Suriani Thahir. Tapi ketika saya 7:47 datang 7:48 siapalah saya. Jadi ketika itu saya 7:50 agak-agak minder sebenarnya. Jadi tidak 7:52 saya jadikan eh 7:53 beban sih, cuma saya tidak mau 7:56 mengecewakan jemaah. Tapi ketika tahun 7:58 2015 itu eh sudah mulai eh 8:03 yang meminta jemaah, yang meminta 8:06 masyarakat. Saya tidak saya tidak min 8:08 saya tidak ingin diminta atau saya tidak 8:11 mengajukan diri. Tapi mereka yang datang 8:13 kepada saya, mereka minta untuk saya 8:16 hadir ke majelisnya. Alhamdulillah 8:18 sampai dengan sekarang hampir 7 tahun 8:20 ya, 6 tahun 7 tahun majelis itu sudah 8:22 mulai eh jalan. Jadi eh saya tidak 8:25 menjadi beban, kenapa? Karena jemaah 8:27 yang me datang kepada saya minta untuk 8:30 menggantikan. Jadi saya nikmati 8:32 semuanya, alhamdulillah mudah-mudahan 8:34 penuh dengan keridhoan dari Allah 8:35 Subhanahu wa Ta'ala. 8:36 Tentu saja ini skenarionya Allah ya, 8:38 kita hadir di jalankan. 8:40 Betul. 8:40 Dan ternyata masih ada juga eh tidak 8:42 percaya diri tadi disebutkan Ustazah eh 8:45 mungkin dari segi keilmuan. Padahal bisa 8:47 dibilang dari segi eh menuntut ilmu saja 8:50 juga sempat me mengenyam pendidikan di 8:53 Syiria. 8:53 Iya, ada masa di Syiria alhamdulillah. 8:55 eh masya Allah dan kalau almarhumah 8:57 ibunda itu di Kairo Kairo Mesir selama 8 8:59 tahun kurang lebih bersama Mbak Ayah 9:01 juga. Namun itu juga belum memupuk eh 9:04 kepercayaan diri untuk tampil ya 9:05 Ustazah. 9:06 Mungkin karena ekspektasinya seperti 9:07 sosok almarhumah ya. Jadi saya 9:09 khawatirnya karena sosok almarhumah 9:10 masih ada ya itu tadi disampaikan, bahwa 9:12 ekspektasinya tinggi kemudian saya yang 9:14 hadir pastinya ada perbedaan. Gitu. Nah 9:17 eh tapi kenapa tahun 2015 hilanglah 9:20 sedikit sedikit demi sedikit rasa minder 9:22 dan saya harus terjun ke masyarakat 9:24 karena ya semua kehendak dari Allah. 9:26 Beberapa bulan sebelum almarhumah 9:28 meninggal itu eh lagi dalam keadaan yang 9:31 santai ya di meja makan, makan ada 9:33 kalimat almarhumah yang me 9:35 mengucapkan pokoknya kamu jangan tunda 9:38 lagi, harus segera terjun ke 9:39 masyarakat." Karena kenapa ada kalimat 9:41 tunda? Karena biasanya 9:43 saya suka menunda-nunda. "Ayo gantiin 9:45 Mama di sini." "Aduh Mah, kayaknya aduh 9:48 ilmunya belum mampu untuk mengajar." 9:49 Gitu loh. Jadi ketika almarhumah bilang, 9:51 "Ayo jangan tunda lagi untuk kamu terjun 9:54 ke masyarakat, kamu sudah harus 9:55 menancapkan niat kamu terjun ke 9:57 masyarakat. Bukankah kita pengen jadi 9:59 manusia yang bermanfaat?" Nah itu 10:01 pesannya beliau. Jadi ketika beliau 10:02 meninggal dunia seperti wasiat yang 10:04 tertanam dalam hati. 10:05 He em. 10:05 Jadi justru menjadi beban kalau saya 10:07 tidak jalankan itu. 10:07 He em. Pada saat masih ada 10:09 masih ada minder gitu ya. Aduh enggak 10:11 deh kayaknya deh. Bismillah. Sesekali 10:13 ganti, sesekali menggantikan jadwal 10:15 beliau tapi tidak menjadi rutinitas 10:18 harian saya ketika itu. 10:19 He em. Nah, eh menurut Ustadzah Nada 10:22 sehingga eh memutuskan memberanikan diri 10:26 benar-benar terjun ke masyarakat, 10:28 kemudian berdakwah, tampil di depan umum 10:31 dan membagi ilmu-ilmu yang Ustadzah 10:34 dapat. Apakah eh memang merasa sangat 10:38 urgen untuk kehadiran seorang ulama 10:40 wanita yang di mana kita paham tidak se 10:43 walaupun memang tidak mudah juga untuk 10:45 seorang ulama pria untuk hadir namun 10:47 kesulitannya pasti sangat berbeda. 10:48 pasti. 10:49 Ya banyak yang bilang jadi ladang 10:51 fitnah. 10:52 Betul. 10:53 Kanan kiri masya Allah suami mendukung 10:55 tapi saya yakini em tidak mudah Ustadzah 10:59 sampai eh sepak terjangnya berada di 11:01 posisi seperti ini Ustadzah. 11:03 Ya pastilah ujian pasti ada ya. 11:05 He em. 11:05 Karena se semakin eh Allah ingin 11:07 mengangkat derajat seseorang pasti 11:08 ujiannya juga akan lebih tinggi lagi. 11:10 Ketika kita berusaha untuk meningkatkan 11:11 keimanan kita, Allah pun juga akan 11:13 menerjang kita dengan berbagai macam 11:15 ujian-ujian gitu ya. Tapi 11:18 eh 11:19 bahwasanya yang saya jadikan tekad 11:22 dasar, apa yang saya lakukan semata-mata 11:24 satu adalah birrul walidain. Itu satu. 11:26 Masya Allah. 11:27 Jadi apa yang saya lakukan semata-mata 11:28 hanya ingin menjalankan amanah dari 11:30 almarhumah. Jadi apapun yang ujian yang 11:33 menghadang, saya enggak menjadikan itu 11:35 soal dan saya enggak menjadikan itu 11:36 sebuah hambatan buat saya berjuang 11:38 karena saya ingin menjadi bakti kepada 11:40 orang tua, orang tua sudah enggak ada. 11:41 He eh. 11:42 Ladang apa yang saya ingin lakukan? Hal 11:44 apa yang ingin saya lakukan kecuali ini, 11:45 satu. Kemudian yang kedua, tentu yang 11:47 kita harapkan, kita pengin mengikuti, 11:49 kita ittiba kepada Baginda Rasul. 11:51 Ya, karena saya kepengin nanti ketika di 11:52 Padang Mahsyar bukan saya yang mencari 11:54 Nabi tapi cari Nabi yang mengenalkan 11:56 saya. 11:56 Masya Allah. 11:56 Nabi yang mencari saya. Kenapa? Karena 11:58 ketika di dunia saya mencoba untuk 11:59 membantu perjuangan dakwahnya Baginda 12:01 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. 12:02 Dan yang ketiga, yang saya cari ridhonya 12:04 Allah. 12:06 Satu juta manusia ingin menghujat saya 12:07 tapi ketika Allah ridho, semua akan 12:09 terasa indah. 12:10 Tapi kalau sekiranya satu juta manusia 12:12 mengangkat derajat saya tapi Allah 12:13 merendahkan, 12:15 tidak ridho, Allah tidak berkehendak, 12:16 maka tidak jadi apa-apa. Jadi satu juta 12:18 manusia ingin 12:19 menghina, merendahkan atau menghambat 12:22 perjuangan dakwah saya, bagi saya itu 12:23 bagian dari dinamika kehidupan dakwah, 12:26 saya nikmati, saya jalani, tapi saya 12:28 berserah. Selama Allah ridho, bismillah 12:31 saya jalani semuanya. Jadi itu kekuatan 12:33 saya. Jadi ketika ujian-ujian itu saya 12:34 nikmatin, Kak. Jadi alhamdulillah, 12:37 kalau sedih, susah, menangis, ngadu 12:41 kepada suami, yang namanya manusia, ya. 12:43 Innal insana khuliqa halu'a, manusia kan 12:45 tempatnya kita berkeluh kesah. Tapi 12:46 kalau kita berkeluh kesah kepada Allah, 12:48 bukankah Allah akan membukakan solusi 12:50 yang lebih indah lagi daripada itu 12:51 semua. Jadi, bismillah yakin saja. Ujian 12:53 banyak. 12:54 He eh. 12:54 Ujian banyak, enggak usah disebut. 12:56 Iya. 12:56 Tapi itu akan akan menjadi sebuah cerita 12:58 dalam proses dakwah ini. 13:00 Masya Allah. 13:00 Masya Allah, itu motivasi ketika 13:01 Ustadzah menyebutkan nanti Rasulullah 13:04 yang akan mencari kita karena syafaat 13:06 beliau dan 13:07 kita diakui sebagai umatnya. 13:09 Betul. 13:10 Sekujur tubuh ini rasanya langsung 13:11 merinding. 13:12 Masya Allah, betul betul betul. 13:14 Namun ke pertanyaan saya tadi, sebagai 13:16 bagaimana eh 13:18 apa ya, urgensi dari kehadiran ulama di 13:21 Indonesia, Ustadzah? Menurut pandangan 13:23 Ustadzah Nanda. 13:23 Iya, karena memang pertama, kewajiban 13:25 kita adalah amar ma'ruf nahi munkar, 13:27 siapapun itu orangnya. Jadi tugas kita 13:29 di muka bumi ini adalah mengajak kepada 13:31 kebaikan dan mencegah kepada 13:33 kemungkaran. Jadi tugas 13:34 mengajak kepada kebaikan bukannya 13:36 tugasnya seorang ustazah atau ustad saja 13:38 atau seorang yang alim saja tapi 13:40 siapapun tugasnya adalah mengajak kepada 13:43 kebaikan dan mencegah kepada 13:44 kemungkaran. Itu yang pertama. Nah, 13:46 kemudian dinamika saat ini bahwa 13:49 tentunya eee 13:52 perlunya ada seperti eee 13:55 pendekatan-pendekatan gitu ya. Dan saya 13:58 sih tidak menyampaikan bahwasanya saya 14:01 adalah the ones and only yang 14:03 menyampaikan kebaikan kemudian mencegah 14:05 kepada kemungkaran tentu banyak 14:06 guru-guru yang lain. Saya hanya berusaha 14:08 untuk di mana saya berada saya bisa 14:10 memberikan kemanfaatan buat masyarakat 14:12 sekitar. Jadi saya enggak muluk-muluk 14:14 sih Kak. Saya eee harapan saya eee 14:17 ketika saya di manapun saya berada ada 14:19 yang bisa saya lakukan dan memberikan 14:21 kemanfaatan kepada masyarakat tentunya 14:23 itu yang yang akan menjadi motivasi saya 14:26 untuk terus menyampaikan 14:28 kebaikan-kebaikan. 14:30 Eee perlu atau tidaknya namanya manusia 14:33 ini kan perlu banyak diingetin. 14:34 Betul. 14:35 Bukan saja saya mengingatkan tapi satu 14:36 masa saya mengingatkan diri saya 14:38 sendiri. Jadi kalau punya sedikit 14:39 rahasia ketika saya ngajar saya niat 14:41 bukan saya mengajar. 14:43 Tapi saya niat untuk ngajarin diri saya. 14:45 Jadi ketika saya membaca kitab kemudian 14:47 saya mengajar 14:48 saya niatkan dalam diri saya apa yang 14:50 saya sampaikan apa yang saya baca apa 14:51 yang saya sharing itu semata-mata bukan 14:54 saya ajarkan kepada mereka tapi untuk 14:55 mengingat diri saya. Jadi ketika saya 14:57 ngajar sama dengan saya belajar. 15:00 Jadi bukankah belajar itu terus-terusan 15:01 kan sampai kita meninggal dunia. Jadi 15:04 eee penting bagi saya saya terus sharing 15:07 membagi sedikit ilmu yang saya punya dan 15:10 tentunya proses itu saya juga ikut 15:12 belajar. Jadi sama-sama. 15:14 Kita ini manusia sering harus diingetin 15:16 ya. 15:17 Karena manusia itu kan tempatnya lupa. 15:18 Betul. 15:19 Tempatnya salah. 15:21 Jadi eee iman naik turun iman naik turun 15:23 Yazid wa yangkus 15:24 imannya manusia. Jadi tentunya itu 15:26 motivasi saya ketika saya sampaikan itu 15:28 juga kembali ke buat saya. 15:31 Jadi motivasi jalan terus. 15:32 Motivasi niat. 15:34 Selebihnya manajemen langit yang 15:36 Serahin sama Allah saja. 15:37 Masya Allah. Ya, tadi Ustadzah sempat di 15:40 awal menceritakan bahwa Ustadzah bukan 15:42 hanya di Jakarta atau di Jawa tapi sudah 15:45 juga 15:46 menghampiri para jamaah yang berada di 15:49 Pelosok. Nah, ee ketika Ustadzah apa 15:53 pandemi ini masih berjalan? 15:54 Atau sudah sangat berkurang? 15:56 Ketika pandemi kemarin banyak yang 15:57 online. 15:57 Ah. 15:58 Nah, kemudian tapi mulai 2 bulan ini 16:00 sudah mulai saya keluar. Maksudnya di 16:03 daerah-daerah mereka sudah berani. Belum 16:04 lama saya keluar dari pulang dari 16:05 Cirebon, Dari Kuningan, dari Jawa Barat 16:08 Sukabumi. Jadi mereka sudah mulai 16:10 membuka kajian-kajian offline-nya. Tapi 16:13 ketika pandemi kemarin 2 tahun hampir 16:15 seringnya online. 16:17 Paling jauh ke mana Ustadzah Nada? Eee 16:19 kalau paling jauh saya pernah diundang 16:21 sama PPI eee Timur Tengah. Timur Tengah 16:25 Sudan. 16:26 PPI Timur Tengah Sudan eee kebetulan ada 16:28 ada adik-adik kelas saya di sana. 16:30 Kemudian mereka mengundang saya. Jadi 16:32 PPI Timur Tengah Sudan dan Afrika. Timur 16:35 Tengah Sudan dan Afrika. Kemudian juga 16:37 saya pernah ke emm Australia. 16:39 Teman-teman juga di Australia juga 16:40 alhamdulillah tapi sifatnya online ya. 16:42 Masih online. 16:43 Emm kalau yang online lagi eee kayaknya 16:46 yang luar itu ya 16:48 Daerah sana tapi belum lama 16:50 Saya juga ngisi ke daerah eee Kuningan 16:53 eh bukan di Kuningan di apa namanya Di 16:55 daerah Indramayu. 16:57 Jawa Barat. Kemudian juga Jawa Barat ya. 16:59 Ya, doakan saja mudah-mudahan 17:00 manfaatlah. 17:01 Insya Allah. 17:02 Itu sifatnya masih online. 17:03 Masih online. 17:03 Mudah-mudahan suatu masa bisa bisa 17:05 offline, bisa ketemu sama teman-teman di 17:06 di di mana saja berada. 17:08 Insya Allah. 17:09 Selama masih membutuhkan insya Allah. 17:10 Sehat yang penting Allah ridho. Nah 17:13 Ketika eee apa namanya kajian 17:17 Pembahasan apa sih sebenarnya yang 17:19 paling 17:20 menarik untuk diikuti dan sehingga 17:22 mereka itu bisa betah duduk tanpa harus 17:24 nguap atau tanpa harus memutuskan untuk 17:27 beranjak begitu saja 17:28 tema apa nih ya yang paling menarik 17:30 sebenarnya kalau tema itu relatif ya 17:32 karena ketika saya masuk ke dalam satu 17:34 masyarakat ini kan kebutuhan mereka 17:35 berbeda-beda ada yang bermasalah di 17:37 keluarga ada yang bermasalah di ekonomi 17:40 ada yang bermasalah di macam-macam 17:42 begitu tapi memang saya mencoba untuk 17:44 mengadops bagaimana metode dakwah 17:46 almarhumah ibu saya yang di mana pertama 17:48 yang kita gunakan bahasanya bahasa 17:50 keseharian jadi di mana pun kita berada 17:52 apa pun pembahasan kita maka dengan 17:54 bahasa yang mudah dipahami sama mereka 17:56 bahasa yang yang seperti harian 17:59 biasa-biasa saja ini maka menjadi sumber 18:02 dasar mereka enggak ngantuk mereka tetap 18:05 standby dan mereka menikmati itu artinya 18:07 betul-betul masuk ke dalam hati yang 18:08 pertama jadi bahasanya bahasa yang 18:10 ringan 18:11 jadi ada ada semacam retorika dakwah 18:13 yang saya pakai di situ supaya mereka 18:15 karena gini ketika saya sampaikan dan 18:17 mereka tidak tidak ngantuk tidak reject 18:19 begitu ya tidak menolak maka kan 18:21 otomatis pesan itu akan sampai ke hati 18:22 dan tujuan kita dakwah adalah 18:24 menyampaikan sesuatu yang mereka sampai 18:25 ke hati ketika sampai ke hati mereka 18:27 implementasikan juga mudah kan begitu 18:29 nah itu tujuan saya jadi bahasanya 18:31 bahasa yang mudah saja nah kedua 18:34 saya mencoba melihat bagaimana 18:36 kebutuhan-kebutuhan majelis yang saya 18:38 datangi 18:39 yang paling-paling sering adalah 18:41 biasanya masalah kehidupan 18:44 hati masalah hati kalau hati ini kan 18:47 kayaknya semuanya itu di hati ya 18:50 sumber-sumber segala macam kebahagiaan 18:52 dari hati kesusahan dari hati jadi saya 18:54 sering sekali membahas tentang masalah 18:56 hati dan ini kan ke mana-mana nih mau 18:59 yang sudah menikah yang sudah belum 19:01 menikah bahkan yang sudah 19:03 tua sekalipun mohon maaf itu kan juga 19:04 bisa masuk dalam kehidupan itu 19:06 dan yang paling asyik juga ketika 19:08 membahas tentang masalah rumah tangga 19:10 iya kalau di Islam itu indah yang paling 19:11 sering dibahas perihal 19:14 Dan alhamdulillah betul dan beberapa 19:16 bulan ini nih saya lagi membahas tentang 19:18 tentang masalah rumah tangga ya. Jadi 19:19 ketika ditanya Iya Ustadzah soalnya 19:22 beberapa bulan saya lihat Ustadzah 19:23 membahas tentang rumah tangga. Iya 19:24 memang karena lagi relate banget dengan 19:26 kehidupan. 19:27 Fenomena layangan putus kah? 19:28 Betul karena 19:30 apalagi ketika kondisi pandemi ya. 19:32 Pandemi ini adalah yang paling tinggi 19:35 permasalahan kebanyakan dari rumah 19:36 tangga. Rumah tangga itu mungkin dari 19:38 faktor ekonomi. 19:39 Oh pandemi kemudian malah jadi booming 19:42 ya. 19:42 Jadi ada masalah, ada curhatan seorang 19:45 istri 19:46 kepada saya mengenai masalah suaminya 19:48 yang jobless, yang sudah enggak 19:50 dapat kerja lagi, sudah enggak ada 19:52 pemasukan lagi. Nah itu kan semua 19:53 kembalinya lagi tentang problematika 19:55 keluarga yang kembali ke mana? Ke hati. 19:59 Semua sumber dasarnya di hati. Kalau 20:01 hati ini kita perbaiki 20:03 ini menjadi bahasan yang menarik sih 20:05 sebenarnya. Kalau kita bahas hati itu 20:07 ini akan ke mana-mana. Kalau hati itu 20:08 akan baik maka akan baik semua semuanya. 20:10 Jadi mau orang yang berumah tangga 20:12 diuji, mendapat nikmat, orangnya sudah 20:14 tua atau mendapatkan 20:16 apapun kehidupan bukan hanya sekedar 20:18 rumah tangga, ujian dari ekonomi tapi 20:21 misalkan ujian dari tetangganya, ujian 20:23 dari teman yang menghina dia atau ada 20:25 ujian fitnah dan sebagainya. Itu semua 20:27 sumber kebahagiaan solusinya cuma satu, 20:29 hati. 20:30 Jadi makanya sering saya bahas itu 20:31 mengenai masalah bagaimana cara menjaga 20:33 hati, menghilangkan penyakit-penyakit 20:34 hati. Itu insyaallah. 20:36 Manajemen hati. 20:36 Manajemen hati insyaallah. 20:38 Masyaallah kian menarik perbincangan 20:40 kita ikhwan dan akhwat. Saya akan ambil 20:42 jeda, sayangnya kita memang tidak 20:44 membuka tanya dan jawab. Mudah-mudahan 20:46 nanti segmen berikutnya saya akan 20:48 memberikan pertanyaan-pertanyaan lain 20:49 yang insyaallah akan relate dengan apa 20:52 yang ikhwan dan akhwat rasakan saat ini. 20:53 Jangan ke mana-mana kita akan kembali 20:56 setelah nasyid berikut ini. 21:26 Ikhwan dan akhwat sahur bersama tokoh. 21:28 Saat ini kita bincang bersama Ustadzah 21:31 Qotrunnada Syatiri Ahmad atau kita 21:33 panggil Ustadzah Nada. Luar biasa, saya 21:36 baru sekitar 20 menit berjumpa dengan 21:38 Ustadzah namun rasanya 21:40 telah banyak pencerahan, inspirasi, 21:42 Masyaallah. 21:43 pengingat tentu saja 21:44 untuk kita semua. Mudah-mudahan ini bisa 21:47 jadi 21:48 apa ya, meeting start kita untuk menjadi 21:50 pribadi yang lebih baik lagi dan lebih 21:52 kuat. 21:53 Ustadzah jika 21:55 apa Ramadan ini, di mana Ramadan tentu 21:57 saja kehadiran keluarga dan yang paling 21:59 spesifik adalah kehadiran sosok seorang 22:01 ibu itu sangat penting untuk apa ya, 22:04 kita itu benar-benar takzim dan hikmat 22:06 menjalankan ibadah. Apa sih yang paling 22:09 apa ya, Ustadzah rindukan dari ibu 22:13 Hmm. 22:13 pada saat, kebiasaan-kebiasaan ibu pada 22:15 saat bulan Ramadan. 22:16 Eee, kalau cerita tentang masalah sosok 22:20 ibu dan Ramadan berkait ya, karena 22:23 kebiasaan kita kan kalau Ramadan ini kan 22:25 ber- berkumpul bersama dengan keluarga 22:27 tentunya, kemudian kita mendengarkan 22:30 pesan-pesan dari orang tua, kemudian 22:31 apalagi kalau nanti saat malam takbiran 22:33 Idul Fitri kita berhari raya bersama, 22:35 kemudian kita 22:37 berpelukan untuk mohon maaf satu dengan 22:38 lain itu kan adalah satu kesempatan yang 22:40 istimewa ya. 22:42 Eee, dan tentunya itu enggak ada ketika 22:44 orang tua enggak sudah meninggal dunia 22:46 dan juga mungkin ikhwan dan akhwat di 22:47 sana juga ketika sudah kehilangan orang 22:50 tua itu yang dirindukan. Ketika Ramadan 22:52 biasa berbuka buka puasa bersama, 22:55 tarawih bersama, kemudian makan ketupat 22:57 sama-sama itu adalah hal yang 22:58 dirindukan. Tapi Tapi 23:00 kita diajarkan oleh Baginda kita 23:02 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam 23:03 bahwasanya orang yang meninggal dunia 23:05 apalagi ketika dia meninggal membawa 23:06 keimanan sudah beristirahat mereka. 23:09 Tinggal PR kita nih yang ada di muka 23:10 bumi anak-anaknya, murid-muridnya, 23:12 keluarganya yang terus mendoakan mereka. 23:15 Insya Allah tidak akan terputus hubungan 23:16 itu. Tentu kerinduan ada, enggak akan 23:18 pernah hilang yang namanya rindu dari 23:20 anak kepada orang tua. Idul Fitri 23:22 pengennya bareng-bareng, pengennya ee 23:24 tarawih, salat berjamaah, kemudian juga 23:26 kepinginnya ada hal-hal apa yang ingin 23:28 kita tanya berkaitan dengan agama 23:29 misalnya tentang kehidupan misalnya 23:31 tentu kita 23:32 bertanya kepada orang tua. Tapi sekarang 23:34 enggak ada, jadi apa yang kita lakukan? 23:37 Tentu tentunya ee kita bisa terus 23:39 menggali ilmu, terus datang ke kajian 23:42 dan hubungan kita kepada orang tua tidak 23:45 akan terputus meskipun orang tua kita 23:46 sudah meninggal dunia. Doain, addua 23:48 walau lahumma, addua wal istigfar 23:50 lahumma, itu pesan Nabi. Doain, kirim 23:52 istigfar untuk keduanya, itu yang akan 23:54 mendekatkan hubungan kita kepada orang 23:56 yang sudah meninggal dunia. 23:58 Jadi enggak ada kalimat putus dengan 24:00 orang yang sudah meninggal dunia. 24:02 Insya Allah. 24:02 Tetap terhubung dengan 24:03 Tetap terhubung. 24:04 Banyak caranya Ustazah ya. 24:04 Betul, betul. 24:05 Ya 24:06 dan anak merupakan manifestasi dari 24:09 orang tua ya. Ee terbayang sosok Ustazah 24:13 yang saat ini kita doakan ya. 24:15 Amin. 24:15 Ee 24:16 Amin. 24:16 pasti memiliki sosok seorang orang tua, 24:19 ibu dan ayah yang luar biasa masya 24:21 Allah. Nah, di dalam masyarakat 24:24 memutuskan seorang anak untuk 24:27 diikhlaskan mengenyam pendidikan jauh 24:29 dari 24:30 dari dekapan nya itu merupakan salah 24:32 satu keputusan yang tidak mudah Ustazah. 24:35 Nah, kami ingin tahu apa yang orang tua 24:38 ee tekankan kepada Ustazah ketika 24:41 merelakan Ustazah mungkin pertama di 24:43 Jawa Barat ya enggak begitu jauh ya. 24:45 Tapi kemudian ke Syria apalagi tapi dulu 24:47 belum konflik lah ya dulu. 24:48 Belum, dalam keadaan yang sangat damai 24:49 waktu itu. 24:50 Beda banget ya sekarang keadaannya. Apa 24:52 sih Ustazah yang yang di di di jadikan 24:56 motivasi oleh orang tua kepada anak. 24:58 Enggak mungkin dipaksa kalau misalnya 25:00 saja bisa, bisa dengan percaya diri 25:03 menghabiskan waktu di luar negeri. 25:04 Iya, iya. Eh, sekarang ketika awal-awal 25:07 saya keluar eh ke sekolah tidak dekat 25:11 ya, karena kan saya ketika TK dan SD itu 25:13 masih di lingkungan Jakarta. Tapi ketika 25:15 masuk ke SMP atau sanawiyah lah ya, kita 25:17 saya sekolah sanawiyah alias setingkat 25:19 SMP dan SMA, terus kan saya langsung 25:21 keluar kota gitu ya daerah Sukabumi. Itu 25:23 juga bukan hal yang mudah bagi saya, 25:25 karena saya kepenginnya itu kan bareng 25:26 sama orang tua, bareng sama keluarga 25:28 dengan kenyamanan-kenyamanan, kenyamanan 25:29 hidup gitu ya. 25:31 ada ya keinginan seperti 25:31 Iya, itu manusiawi apalagi masih satu 25:33 SMP itu kan lagi senang-senangnya 25:35 berteman, bergaul, masih senang eh 25:37 dengan kenikmatan rumah gitu ya, 25:40 fasilitas yang ada misalnya. Nah, tapi 25:42 eh proses itu saya jalani emm karena 25:46 saya yakin sekarang saya bisa katakan 25:48 kepada ikhwan dan akhwat di mana saja 25:50 berada yang menyaksikan ini, bahwasanya 25:53 eh feeling orang tua itu selalu benar. 25:56 Kemudian yang kedua, tujuan orang tua 25:58 pasti ingin memberikan yang terbaik 25:59 untuk anaknya. 26:00 Ketika masuk satu sanawiyah, saya 26:03 dipondokkan di pesantren ada gejolak 26:05 hati. Saya eh jujur saja ketika satu 26:07 sanawiyah saya enggak mau berjauhan 26:09 sekolah dengan orang tua. Jadi penginnya 26:11 itu tetap di Jakarta. Bergejolak hati 26:13 kurang lebih beberapa bulan awal saya 26:15 masuk pesantren, karena emm 26:17 enggak mudah ya kita tinggal tiba-tiba 26:19 tinggal sendiri gitu, terus harus 26:20 mandiri. 26:21 Eh, enggak mudah. Eh, tapi selalu 26:24 ditanamkan oleh kalimat ibu saya atau 26:26 ayah saya ketika saya menangis, ketika 26:28 saya ingin balik ke pondok 26:30 kalau kamu kembali ke Jakarta dan kamu 26:32 memilih sekolah-sekolah umum lalu eh 26:36 eh bagaimana istilahnya kalau bahasa, 26:39 bahasa Betawi yang gampang gitu ya. 26:41 Saya enggak mau sekolah di pesantren 26:42 misalnya. Lalu bahasa yang paling 26:44 gampang adalah kamu mau jadi apa nanti? 26:46 Kalimat itu yang, yang, yang ditanamkan 26:49 oleh, yang suka disebut oleh ibu saya, 26:51 oleh ayah saya, kamu mau jadi apa nanti 26:53 kalau seandainya saya enggak suka di 26:54 pondok meskipun itu kalimat-kalimat yang 26:56 mungkin ekspektasi ayah dan ibu saya 26:59 adalah tentunya dengan punya dasar ilmu 27:01 agama sehingga nanti ujungnya pun saya 27:04 akan terjun memiliki ilmu agama gitu. 27:06 Tentunya yang tidak mondok pun insya 27:08 Allah juga bisa mendapatkan kesuksesan 27:11 pada bidangnya masing-masing gitu ya. 27:12 Nah, eee 27:14 ya tentunya motivasi yang terbesar 27:17 adalah saya ketika itu enggak tahu saya 27:19 akan jadi apa. 27:20 Saya enggak tahu saya kelak nanti 27:23 tugasnya apa setelah saya lulus. Saya 27:25 enggak tahu nanti kuliah saya akan 27:26 mengambil apa, tapi yang pasti ketika 27:28 saya masuk ke pesantren 27:30 saya ditanamkan eee 27:33 kebaikan-kebaikan dan saya yakin orang 27:35 tua enggak akan pernah salah untuk 27:36 anaknya dan satu yang menjadi garis 27:39 bawah saya, saya hanya ingin bakti 27:41 kepada orang tua. 27:42 Saya ikutin aja. Karena pasti ujungnya 27:44 akan baik. Jadi ketika dan alhamdulillah 27:46 saya alami sekarang ketika saya ikutin 27:48 aja apa kata orang tua, tentunya 27:50 semuanya akan bimbingan dari Allah juga 27:52 dan alhamdulillah saya bersyukur dengan 27:54 apa yang terjadi saat ini. Meskipun 27:56 prosesnya awalnya saya enggak mau juga 27:57 di pesantren ya. Tapi alhamdulillah saya 28:00 jalani semuanya tepat dua sanawiyah lah 28:03 karena saya juga sudah masuk organisasi, 28:04 sudah terbiasa dengan kehidupan 28:06 pesantren jadi jatuh cinta dengan 28:08 pesantren, jatuh cinta dengan ilmu 28:09 agama. Jadi kelas 1, 2, 3 sanawiyah, 28:12 kelas 2 itu sudah jatuh cinta dengan 28:13 pondok pesantren, sudah karena sudah 28:15 punya banyak teman, sudah banyak 28:17 aktivitas yang baik-baik, kita diajarkan 28:19 akhlak yang baik eee 28:21 bahkan di SMA-nya saya mengambil 28:23 Madrasah Aliyah Keagamaan. 28:25 Jadi memang kekhususan di aliyah itu 28:27 atau sejajar dengan SMA, saya sudah 28:29 mencoba untuk kepengen belajar lagi 28:31 semangat lagi untuk belajar ilmu agama. 28:33 Nah, jadi di udah mulai sadar nih ya, 28:36 udah mulai ada kesadaran dan ya itu saya 28:39 yakin adalah semua itu Allah 28:41 menggerakkan hati saya untuk lebih cinta 28:44 dengan hal semacam itu karena doa dari 28:46 orang tua. Jadi eh ikhwan dan akhwat 28:48 jangan pernah berputus asa ya, apapun 28:50 kita ingin jadikan anak kita jangan 28:52 pernah putus berdoa kepada Allah. Dan 28:54 saya juga punya anak yang pertama 28:56 sekarang sudah 2 tahun setengah tinggal 28:58 di Hadramaut, Yaman. Bukan hal yang 29:00 ringan. 29:01 Jauh dari anak dan anak yang kedua saya 29:03 juga pondok di Sukabumi 29:05 pesantren Alquran K.H. Abdullah Syafi'i. 29:07 Eh jadi saya sama suami di rumah berdua. 29:09 Eh enggak ringan juga sih ketika 29:12 berpisah dengan anak-anaknya tapi saya 29:14 meyakini satu hal ketika dia ditempa, 29:17 dididik di di di di di masa-masa 29:21 sekarang dengan ilmu-ilmu kebaikan, ilmu 29:23 agama bukankah nanti akan ada hasilnya. 29:26 Jadi sekarang bersusah susah payah nanti 29:27 akan ada hadiah, akan ada hal yang manis 29:30 yang akan didapat insyaallah. Itu 29:31 motivasinya. Jadi awalnya enggak lurus, 29:34 enggak mulus tapi karena sudah ikutin 29:36 saja deh apa kata orang tua. 29:37 Alhamdulillah semua akan indah pada 29:39 masanya. 29:40 Alhamdulillah. 29:41 Masyaallah, ibunya kecanduan pesantren 29:44 anaknya juga katanya saya dengar tadi 29:46 ada bocoran di luar. Maunya 8 tahun 29:49 orang tuanya yang melangsa jadilah 4 29:51 tahun saja. 29:53 Malah ibunya sudah 4 tahun saja tapi dia 29:55 masih senang dia masih pengen tinggal di 29:56 Hadramaut, Yaman. Masyaallah. Dan itu 29:58 adalah sesuatu yang turun temurun sih 30:00 ya. Jadi pertama doa orang tua itu 30:01 enggak akan pernah tertolak. 30:03 Itu dia enggak sih di ketika 30:04 bincang-bincang gitu sama anak dikasih 30:06 tahu pesantren enak loh ada ada 30:08 begitu-begitunya enggak sih Ustazah? 30:09 Eh karena memang anak saya saya sepakat 30:12 saya dalam mendidik anak sama suami 30:14 sepakat. Jadi alhamdulillah dalam dalam 30:15 konflik eh ketika mendidik anak tidak 30:17 ada konflik. Kita satu paham. Jadi 30:21 eh setuju kita adalah mendidik anak 30:23 dalam eh background-nya agama tapi tanpa 30:25 paksaan. Jadi ketika nanti dia mau 30:27 sekolah di mana silakan tapi tetap 30:29 background dasarnya adalah eh agama. Nah 30:32 anak saya yang pertama kelas 1 SMP sudah 30:35 saya eh letakkan di pesantren dan saya 30:38 dan suami sepakat itu. Anak yang kedua 30:41 juga da 1 SMP sudah saya letakkan di 30:43 pesantren. Kenapa pilih satu SMP? Karena 30:46 sudah usianya sudah cukuplah kalau SD 30:48 kan masih mereka masih butuh kita, masih 30:51 butuh kasih sayang kita, masih butuh 30:52 komunikasi dengan orang tua. Kalau SMA 30:54 sudah telat kayaknya ya, mereka sudah 30:56 tahu kehidupan dunia sehingga agak sulit 30:58 nih kalau masuk pesantren. Tapi kalau 30:59 satu SMP pengalaman saya, satu SMP itu 31:02 masih agak labil tapi bisa dibentuk di 31:05 mana di pondok pesantren. Jadi ketika 31:06 masuk satu SMP anak saya dua-duanya saya 31:09 masukkan ke pesantren. Alhamdulillah. 31:11 Eee di sama jadi kurang lebih ketika di 31:14 kelas dua SMP mereka sudah terbiasa, 31:16 sudah enjoy dan malah mereka sepertinya 31:19 sangat menikmati tinggal di pondok gitu 31:21 karena mungkin banyak temannya. Kemudian 31:22 juga dengan kehidupan yang aktif kan di 31:24 sana. Alhamdulillah dan saya yakin 31:27 ketika kita menanamkan sesuatu kita 31:29 kepada orang tua eee bakti kepada orang 31:32 tua tentu anak kita juga akan mudah kita 31:34 bentuk insyaallah. 31:35 Masyaallah alhamdulillah. 31:36 Tidak mudah kita membesarkan anak-anak 31:38 di era 31:39 Iya. 31:39 Betul. 31:40 generasi X, Y, Z saat ini milenial luar 31:42 biasa memang fitnah-fitnah yang 31:44 berkembang saat ini dan eee orang tua 31:47 saat ini memiliki eee apa ya seharusnya 31:50 memiliki tameng yang lebih eee tebal 31:52 lagi seharusnya. Nah, yang ingin kita 31:54 ketahui menurut pengalaman Ustazah boleh 31:56 juga dan juga mungkin dari almarhumah 31:59 ketika menerapkan cara mendidik 32:01 anak-anak. Mohon maaf Ustazah dari 32:02 berapa bersaudara? 32:03 Saya tujuh bersaudara. 32:04 Tujuh. 32:04 Saya anak keenam. 32:05 Anak keenam. Yang yang terjun ke dakwah 32:07 eee mendidik anak? 32:09 Saya dan adik saya. 32:10 Oh ada ada dua orang ya. 32:11 Iya jadi ada empat laki-laki kakak saya 32:13 kemudian eee kakak saya perempuan satu, 32:15 kakak saya perempuan satu ini di bidang 32:16 pendidikan tapi tidak terjun eee dakwah 32:19 tapi eee ngurus pesantren. 32:20 Heeh. 32:21 Eee saya dan adik saya yang memang 32:22 terjun ke masyarakat. 32:23 Masyaallah dan itu merupakan impian 32:25 seorang tua memiliki anak yang saleh dan 32:26 salehah masyaallah. Dan tadi kembali ke 32:29 eee apa pernyataan mengenai era digital 32:33 semua serba terbuka informasi sangat 32:36 deras gitu ya Ustazah. 32:38 Bagaimana sih kita ini menyikapi 32:41 perkembangan zaman yang seperti apa ya 32:44 roller coaster? 32:45 Iya. 32:45 Atas ke bawah, ke kanan, ke kiri, 32:47 tiba-tiba kita terbalik Ustazah. 32:50 Justru kita harus memanfaatkan keadaan 32:52 sekarang ini untuk media 32:53 kebaikan-kebaikan. 32:55 Media sosial 32:57 ya 32:58 sangat mudah kita mengakses apapun. Ya. 33:01 Nah, kalau kita berpikirnya dan kita 33:03 tidak memanfaatkan media itu dengan 33:05 sebaik-baiknya maka akan terjerumus 33:06 kepada hal-hal kemaksiatan naudzubillah 33:08 wa iyadzubillah. Tapi ketika kita 33:09 memanfaatkan ini ada media yang sangat 33:11 mudah untuk kita akses apapun itu 33:14 yang justru semestinya dan harapannya 33:17 kita bisa mengakses kebaikan-kebaikan. 33:19 Seperti kajian sangat mudah sekarang 33:21 kalau untuk mengakses kajian. Covid 33:23 kondisi pandemi kemarin di rumah saja 33:26 orang ibu rumah tangga yang enggak bisa 33:27 keluar rumah misalnya punya handphone 33:30 ketika dia memanfaatkan yang namanya 33:32 media sosial itu maka dia akan buka yang 33:33 namanya channel-channel YouTube untuk 33:35 kaitan-kaitan dakwah. Begitu juga yang 33:37 saya ambil momen ini di era sekarang 33:41 bahwa ternyata 33:42 masyarakat ini sekarang sudah handphone 33:44 di tangan 33:46 media komunikasi, media sosial sudah 33:49 mudah diakses sehingga saya sangat 33:52 memanfaatkan fasilitas itu untuk sharing 33:55 untuk mencoba sharing kebaikan-kebaikan. 33:58 Karena kan mandalla ala khairin falahu 34:00 mitslu ajri fa'ilihi kata Baginda Rasul. 34:02 Siapa yang menunjukkan satu kebaikan, 34:04 kebaikan itu dilakukan oleh orang lain 34:06 maka selama dilakukan kebaikan itu akan 34:08 mengalir pahala buat kita. Itu tujuan 34:10 saya. Jadi saya kalau mengharapkan masuk 34:14 surga dari amal saja saya agak pesimis. 34:17 Saya kalau mengharapkan masuk surga dari 34:19 sedekah saya aduh kayaknya sedekah saya 34:21 belum banyak. Tapi mudah-mudahan dengan 34:23 saya membagi ilmu sedikit, ilmu itu 34:25 dilakukan, diamalkan, dikerjakan terus 34:28 seperti snowball sehingga 34:30 mereka-merekalah yang akan membantu saya 34:32 untuk mendorong saya masuk dalam 34:33 surganya Allah. Jadi 34:34 media-media itu justru yang harus kita 34:36 gunakan sekarang untuk ee ladang dakwah. 34:39 Dan itu memang saya pakai sekarang. Jadi 34:41 saya sering live Instagram dan 34:43 alhamdulillah banyak sekali yang respon 34:45 bagus. Bahkan ketika saya beberapa 34:47 minggu saya enggak live di Instagram 34:48 karena kajian di tempat kajian sinyalnya 34:50 kurang bagus, mereka respon. Ustazah 34:52 kapan live lagi? Itu kan menambah 34:53 motivasi saya bahwa ternyata bisa 34:55 diakses di mana saja. 34:57 Termasuk ketika pandemi kemarin pun juga 35:01 saya tetap bisa mengadakan kajian. 35:02 Bahkan ketika pandemi kemarin kajian 35:04 online saya alhamdulillah masya Allah 35:06 itu hampir-hampir ramai juga gitu. 35:08 Maksudnya sering juga gitu karena ada 35:10 fasilitas ee media sosial atau Zoom yang 35:14 itu saya bisa dalam satu kajian bisa 35:17 dari beberapa daerah. Satu kajian 35:19 Instagram ternyata saya suka ee bertanya 35:22 dari mana nih teman-teman semuanya? 35:23 Ternyata dari Makassar, kemudian dari 35:25 Kalimantan, dari Garut, dari Batam gitu. 35:28 Dan mereka mengundang saya ke sana. 35:30 Bahkan juga beberapa kali saya pernah 35:32 kajian Zoom dengan ee 35:34 apa namanya teman-teman yang ada di luar 35:35 negeri. Itu kan fasilitas media sosial. 35:37 Jadi ketika kita gunakan sebaik-baiknya 35:39 maka akan mendatangkan kemanfaatan. 35:41 Jadi ee agak sedikit apa ya? Agak 35:44 sedikit jeli aja kita nih ngelihat 35:45 keadaan sekarang. Wah, kayaknya 35:46 masyarakat lagi seneng medsos nih. Kita 35:49 manfaatkan ee di di di dunia media 35:52 sosial. Dan ee gini Kak, sekarang banyak 35:55 remaja-remaja yang sudah suka dengan 35:56 kajian. 35:57 Kalau zaman dulu mungkin orang yang suka 35:59 dengan 36:00 pengajian hanya ibu-ibu yang 50 tahun ke 36:01 atas. 36:02 Sepuh-sepuh 36:02 Sepuh-sepuh yang memang udah tua gitu 36:04 yang jalan ke pengajian pun mohon maaf 36:06 yang kakinya juga udah mulai sakit gitu 36:07 ya. Nah, itu zaman dulu. Tapi zaman 36:09 sekarang enggak. 36:10 Oke. 36:10 Saya sangat sering sekali datang ke 36:12 kajian-kajian kajian-kajian remaja yang 36:14 mereka masih belasan tahun, masih 19 36:16 tahun, 20 tahun yang memang mereka belum 36:18 menikah. Dan semangatnya luar biasa. 36:20 He em. 36:21 Semangat mereka luar biasa. Kemudian 36:22 juga ee ee pengantin-pengantin apa? Ee 36:26 ibu-ibu muda yang baru punya anak kecil 36:29 satu, yang baru menikah 5 tahun, 3 36:31 tahun, mereka juga amat sangat semangat 36:32 ketika duduk di kajian. Jadi, itu juga 36:35 yang menjadi motivasi saya bahwa 36:37 sekarang orang banyak tuh, banyak yang 36:39 sudah back to religi atau back to 36:41 kajian. 36:42 Nah, itulah, eh, alhamdulillah ketika 36:45 saya terjun ke masyarakat alhamdulillah 36:47 respon mereka bagus, mereka sudah senang 36:49 dengan kajian, bahkan mereka sangat 36:50 merindukan yang namanya kajian-kajian. 36:52 Tinggal bagaimana penyampaiannya yang 36:53 relate kepada kehidupan mereka. 36:55 Kalau relate kan enak, jadi mereka 36:58 forum tanya jawabnya enak gitu. 37:00 Yang berbeda-beda masalah kan 37:01 kadang-kadang seperti itu. Jadi, saya 37:03 betul-betul memanfaatkan media sosial 37:04 untuk menjadi media dakwah agar bisa 37:07 sampai ke masyarakat. 37:09 Jadi, bisa dibilang eh, sebagai orang 37:11 tua bagaimana caranya kita bisa mendidik 37:13 anak-anak kita di era yang sangat, eh, 37:15 informatif dan terbuka saat ini adalah 37:17 kitanya sendiri, orang tuanya membekali, 37:20 eh, diri kita dengan ilmu yang seperti 37:22 yang saya bilang aksesnya nih luas nih. 37:24 Jadi masalahnya gini Ustazah, kita tuh 37:26 kadang-kadang karena kita miskin ilmu, 37:30 eh, sehingga kan semua masuk nih. 37:33 Um, tidak jarang kita langsung 37:35 mempercayai asal ditulis hadis dari 37:39 Sayyidina Ali bin Abi Thalib, padahal 37:40 apalagi kita tidak mengkonfirmasi dan 37:42 karena 37:43 kita cenderung untuk, eh, budaya, eh, 37:45 masyarakat Indonesia enggak semua 37:46 pendengar, eh, Rasya loh saya percaya 37:48 tidak, cuman kita tidak 37:49 Ada beberapa ada beberapa yang langsung 37:51 menerima 37:53 eh, apa namanya hadis atau quote atau 37:57 kisah kisah, eh, kenabian yang belum 38:00 tentu betul, akurat dan cenderung 38:03 menyesatkan sehingga kita mudah 38:04 mengkafirkan, kita mudah membidahkan. 38:07 Nah, itu yang yang yang ya 38:09 PR banget Ustazah. 38:10 Iya, betul itu PR banget sih, itu PR 38:12 banget dan juga PR bagi pendakwah juga 38:14 ya dan juga PR bagi pendakwah dan PR 38:15 bagi ibu. Karena meskipun seorang ibu, 38:19 mohon maaf, juga tidak aman-aman saja 38:21 ketika sudah anak saya amanah di 38:22 pengajian, tapi coba lihat dulu 38:23 bagaimana apa yang diajarkan. Selama 38:25 tidak lari dari Alquran, selama tidak 38:27 lari dari hadis, maka bismillah itu 38:29 adalah kajian yang betul-betul 38:31 berdasarkan 38:32 dalil yang atau sumbernya ya dari 38:35 Alquran dan hadis gitu ya. Cuma memang 38:37 yang kita harapkan adalah anak kita ini 38:40 memberikan kemanfaatan buat kita ketika 38:42 di dunia dan juga kemanfaatan kan buat 38:44 kita nanti ketika ketika kita pulang ke 38:46 alam barzah tentunya ya. Jadi 38:49 memang kegelian orang tua juga harus ada 38:52 dalam mendidik anak. Jadi dia baik-baik 38:54 saja kok teman-teman pengajian segala 38:56 macam gitu, tapi coba si ibu ini pun 38:58 juga harus meningkatkan kualitas. Jadi 39:00 ketika si ibu udahlah kan kalau zaman 39:02 dulu enggak apa-apa saya levelnya 39:04 mungkin 50 tapi yang penting anak saya 39:06 levelnya 80 misalnya. Tentu orang tua 39:08 ingin anak lebih daripada dirinya. Nah, 39:10 cuma sekarang nih zaman sekarang ini 39:12 orang tua juga harus upgrade juga. 39:15 Jadi ketika ingin anaknya meng-upgrade 39:17 kualitas dirinya, si orang tua pun juga 39:20 harus meng-upgrade. Contoh handphone. 39:22 Kalau si orang tua tidak ingin tahu 39:23 bagaimana meng-upgrade 39:25 pengetahuan tentang handphone, mengakses 39:27 handphone, maka akan 39:30 banyak sekali 39:32 kemudaratan yang akan terjadi. 39:34 Maksudnya gini. 39:36 Di handphone itu kan sesuatu hal yang 39:38 bagi sebagian orang orang tua itu agak 39:40 sulit mengakses. Caranya gimana enggak 39:42 ngerti pokoknya handphone-handphone 39:44 biasa gitu ya. Nah, 39:46 kalau kita tidak mengetahui caranya buka 39:49 ini, caranya buka itu, ini orang tua 39:51 enggak ngerti media sosial, anak main 39:53 media sosial dan kita merasa anak 39:55 aman-aman saja. Sehingga si ibu ini 39:58 orang tua tidak meng-upgrade kualitas 40:00 dirinya dengan 40:01 penyesuaian teknologi sekarang, akhirnya 40:04 anaknya naik ke atas, anaknya terus 40:06 mengikuti 40:07 zaman, 40:09 khawatirnya ada fitnah-fitnah yang tidak 40:11 bisa direm oleh orang tua. 40:12 Ehm. 40:13 Kesimpulannya orang tua harus 40:14 meng-upgrade diri untuk mengetahui 40:16 bagaimana sih ini anaknya benar apa 40:18 enggak. 40:18 Anaknya dalam jalur yang benar apa 40:20 enggak sih. Jadi orang tua jangan 40:21 diam-diam juga. Kalau zaman dulu mungkin 40:23 baik-baik saja, agak mudah untuk 40:25 mendidik anak. Kenapa? Karena selama 40:27 anak di rumah, orang tua tenang. Karena 40:30 enggak ada handphone, enggak ada tablet, 40:32 TV paling ya layar-layar channel-nya 40:34 juga terbatas, tayangannya juga belum 40:36 seba sesyi'ar sekarang, se seheboh 40:38 sekarang. Tapi kalau sekarang 40:41 anak di dalam rumah enggak 40:42 keluar-keluar, cuma di kamar sendirian, 40:44 pegang handphone, kita enggak tahu 40:45 komunikasi dengan siapa, lihatnya apa. 40:48 Maka di situlah diperlukan kualitas 40:49 seorang ibu untuk 40:51 membentengi anak. Jadi sekarang orang 40:53 tua ya harus terjun juga ke dunianya 40:55 anak-anak. Jadi 40:57 penyesuaian semuanya. Jadi media sosial 40:59 sebuah ladang kalau memang dia baik ya 41:02 dibawa baik, kalau memang dia menjadi 41:04 sebuah hal yang buruk, khawatirnya akan 41:05 terbawa buruk juga. Jadi orang tua harus 41:07 meningkatkan kualitas, uswah buat anak 41:10 dan dia juga harus menjadi apa ya, 41:12 menjadi benteng buat anak-anaknya. 41:14 Ya, melihat 41:15 cara Ustadzah menyikapi perkembangan 41:17 zaman, kemudian Ustadzah secara lugas 41:20 paham bagaimana cara menyikapi 41:23 perkembangan media sosial segala macam. 41:26 Apakah itu berarti Ibunda pada saat 41:29 Ustadzah remaja atau pada saat Ustadzah 41:31 beranjak 41:32 apa ya, 41:34 mau ABG gitu kan ya. 41:36 Juga diberikan kebebasan untuk apa ya, 41:38 bereksperimen, ingin mengetahui hal atau 41:41 dalam pergaulan dibatasikah? 41:44 Bagaimana pola asuh 41:45 yang di diberikan orang tua? 41:48 Justru orang tua saya itu sangat ketat. 41:51 Jadi kalau sekarang saya yang saya 41:52 terapkan kepada anak saya itu 41:53 fifty-fifty, saya tarik ulur. Ada 41:55 kalanya saya berikan kebebasan dengan 41:58 pantauan saya, ada kalanya saya 42:00 betul-betul saya batasi. Tapi kalau 42:02 zaman dulu itu kan jujur orang tua saya 42:04 itu sangat ketat dan sangat keras. 42:06 Jadi istilahnya saya bayangkan ya, saya 42:09 TK, SD itu di Jakarta, tentu setiap 42:12 setelah pulang saya belum kenal apa-apa 42:14 selain belajar, belajar dan belajar 42:15 enggak main-main ke mana-mana gitu ya. 42:17 Kemudian ketika di pesantren ya ketika 42:20 saya ketika di pondok pesantren ya sudah 42:22 apalagi di pesantren saya yang sana Ulya 42:23 Aliyah ini hampir 6 tahun saya kan itu 42:26 pesantrennya yang laki-laki 42:27 perempuan-perempuan gitu jadi memang 42:29 tidak dalam satu area, satu area tapi 42:32 dalam satu kelas ya perempuan-perempuan 42:33 semua enggak bercampur. Nah ketika 42:35 pulang ke rumah liburan kepenginnya kan 42:38 juga kita bermain tapi juga orang tua 42:40 batasin itu. 42:41 Orang tua sangat membatasi ke kepada 42:43 siapa dia jalan, perginya sama siapa 42:46 bahkan terkadang kalau misalnya sama 42:48 saudara yang memang bukan mahram seperti 42:50 kita sama sepupu 42:52 sama sepupu kan bukan mahram ya itu juga 42:54 saya enggak dikasih izin. Jadi 42:55 betul-betul orang tua saya dalam keadaan 42:56 yang eh 42:58 bukan mengekang tapi sangat membatasi 43:00 bagaimana pergaulan saya. 43:01 Berarti batasannya sangat jelas ya. 43:02 Batasannya sangat jelas. Apalagi dulu 43:04 kan sebenarnya enggak ada handphone, 43:05 enggak ada TV, enggak ada apa segala 43:07 macam enggak ada apalagi sekarang. 43:09 Sekarang ini sangat-sangat mudah anak 43:11 mengakses apapun lewat handphone. Jadi 43:13 orang tua otomatis harus lebih ekstra 43:15 lagi dalam mengontrol anak tapi tentu 43:19 dengan cerdas. Kenapa saya bilang dengan 43:21 cerdas? Anak sekarang itu enggak bisa 43:23 dibantah. Anak sekarang itu enggak bisa 43:24 di didoktrin. Karena dia akan lebih 43:26 keras lagi. Jadi kita tarik ulur ada 43:28 kalanya kita memberikan eh jadi anak ini 43:31 jadikanlah dia sahabat untuk diajak 43:33 komunikasi karena nanti dia akan terbuka 43:35 apa masalah dia. 43:37 Kita jangan terkungkung. Kita kalau 43:38 pakai metode zaman dulu kayaknya enggak 43:40 bisa deh dengan kondisi sekarang. 43:42 Dengan kita menggunakan metode 43:43 pendidikan anak 43:45 kita orang tua kita dulu kepada anak 43:47 kita sekarang itu enggak enggak agak 43:49 sulit ya. 43:50 Karena kalau dulu kan kita sam'an wa 43:51 ta'atan. Kita memandang orang tua aja 43:52 matanya enggak berani. Kalau lagi marah 43:54 oke nunduk. Masuk masuk enggak pernah 43:57 kita mau membantah. Jadi mandang orang 43:59 tua aja enggak pernah berani kalau orang 44:00 tua lagi marah. Kalau sekarang ini 44:02 mungkin ikhwan dan akhwat yang punya 44:04 anak juga ngalamin hal semacam itu. 44:06 Aduh masya Allah ya kenapa Karena 44:07 fitnahnya memang itu memang sudah 44:10 menjadi qadarullahnya dan eh itulah kita 44:13 tidak bisa merubah keadaan, kita tidak 44:14 bisa merubah era globalisasi sekarang, 44:16 tapi kitalah yang harus merubah mindset 44:18 kita, upgrade diri kita sehingga kita 44:20 bisa mengontrol anak kita dan selalu 44:22 dalam bimbingan. Mudah enggak? Sulit. 44:25 Tapi insyaallah bimbingan Allah rabbana 44:26 hablana min azwajina, kita doa sama 44:28 Allah terus-terusan insyaallah anak kita 44:31 qurrota a'yun menjadi penyejuk mata kita 44:33 insyaallah amin ya rabbal alamin. 44:35 Masyaallah, 44:36 ikhwan dan akhwat satu hal yang tidak 44:38 bisa dikendalikan oleh kita adalah 44:39 waktu. 44:40 Betul. 44:41 Tidak terasa lebih dari 45 menit kita 44:43 bersama-sama dan eh tidak terasa banget 44:46 betul 44:47 Tidak terasa ya tidak terasa tidak 44:48 terasa tidak terasa 44:49 Senang-senang sharingnya. 44:50 Sebelum kami benar-benar menutup kiranya 44:52 ustazah ada hal yang ingin disampaikan 44:54 kepada ikhwan dan akhwat perihal 44:57 perjuangan dakwah ini ustazah. 44:59 Baik. 45:00 Eh ikhwan dan akhwat di mana saja berada 45:03 tugas kita di muka bumi adalah ibadah 45:05 wa'bud rabbaka hatta ya'tiyakal yakin 45:07 Allah memang berfirman bahwasanya 45:10 eh tugas kita di muka bumi ini adalah 45:12 untuk ibadah. 45:14 Dan ibadah ini beraneka macam caranya. 45:17 Ada seorang yang memang bisa 45:18 menyampaikan eh kebaikan-kebaikan itu 45:21 cara ibadahnya. Seorang istri yang taat 45:23 kepada suami itu pun juga cara 45:25 ibadahnya, seorang suami mencari nafkah 45:26 itu pun juga nilai ibadahnya. Jadi 45:28 apapun yang kita lakukan selama kita 45:30 bisa membawa kemanfaatan minimal buat 45:32 diri kita agar kita lebih dekat kepada 45:34 Allah dan yang kedua kemanfaatan buat 45:36 lingkungan sekitar dan yang kita 45:38 harapkan 45:40 kemanfaatan lebih luas lagi itulah 45:42 tujuan kita karena insyaallah kita ingin 45:44 dikenal sebagai hamba Allah yang bisa 45:47 membawa kemanfaatan buat masyarakat dan 45:49 sekitarnya. Jangan putus asa, jangan 45:51 menyerah, rahmat Allah amat sangat luas, 45:53 banyak hal kebaikan-kebaikan yang bisa 45:54 kita lakukan. Jangan sepelekan sekecil 45:56 apapun kebaikan pasti akan dinilai mulia 45:59 di hadapan Allah subhanahu wa taala. 46:01 Wallahu a'lam bishawab. 46:02 Masyaallah, masyaallah terima kasih 46:04 Sama-sama. 46:05 atas waktunya. 46:06 Sama-sama. 46:06 Atas jamuannya. 46:07 Sama-sama, Masya Allah. 46:08 Ibadah mohon maaf. 46:09 Masya Allah. 46:10 Mohon maaf kalau saja ini kurang-kurang 46:11 bagaimana. 46:13 Saya akan berbuat lebih untuk kami dan 46:15 saya tadi lupa menginformasikan bahwa 46:16 saat ini kami berada di kediaman Ustazah 46:18 Nada dan eh kami dijamu dengan luar 46:21 biasa. 46:22 Eh rupa orang-orang saleh dan salehah. 46:24 Masya Allah. 46:24 Masya Allah, barakallah kita semua. 46:26 Amin. 46:26 Sehat untuk Ustazah dan keluarga. 46:28 Kak Karolina, alhamdulillah. 46:30 Terima kasih, mohon maaf apabila ada 46:31 kesalahan. Mudah-mudahan Allah 46:32 pertemukan kita kembali dalam kebaikan, 46:34 insya Allah. 46:34 Amin, amin, amin ya rabbal 46:35 Ikhwan dan akhwat selamat berburu pahala 46:37 Ramadan. Mudah-mudahan bekal kita pada 46:40 menjelang pagi hari ini bisa menjadikan 46:44 kita umat yang lebih baik lagi di ke 46:46 depannya. Terima kasih atas atensinya. 46:48 Terima kasih atas perhatiannya. Saya 46:51 Karolin undur diri. Subhanakallahumma 46:53 Wabihamdika Asyhadu Alla Ilaha Illa Anta 46:55 Astaghfiruka Wa Atubu Ilaih. Wabillahi 46:57 Taufiq Wal Hidayah. Wasalamualaikum 47:00 Warahmatullahi Wabarakatuh. 47:02 Waalaikumsalam.