Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 [musik] 0:12 Brail TV. 0:19 Bismillahirrahmanirrahim. 0:21 Asalamualaikum warahmatullahi 0:23 wabarakatuh, ikhwan akhwat 0:24 rahimakumullah. Syukur alhamdulillah 0:27 kita dapat bersama-sama kembali di sekat 0:30 acara bincang komunikasi yang hadir 0:33 setiap minggu pertama, tiap bulannya 0:36 yang mudah-mudahan akan membuat kita 0:38 semakin mahir berkomunikasi, semakin 0:40 membawa kita menjadi hamba-hamba Allah 0:43 yang mampu membuat hamba-hamba yang lain 0:47 paham persis dengan apa yang kita bahas 0:50 atau yang mereka bahas. Dan tentu saja 0:54 tidak lupa salam selawat kita lantunkan 0:56 kepada kekasih kita Muhammad Rasulullah 0:59 sallallahu alaihi wasallam beserta 1:00 keluarga dan kerabatnya. Mudah-mudahan 1:02 ya kelak kita dipertemukan di saat-saat 1:05 yang sangat kita rindukan. Untuk sore 1:08 ini seperti biasa yang hadir adalah tamu 1:12 kita, narasumber tetap kita Bincang 1:15 Komunikasi yaitu Dr. Laila Monaganim. 1:18 dari ujung ke ujung dengan ee kemudahan 1:23 virtual kita dapat bersama-sama ya Mbak 1:25 Mona ya. Asalamualaikum warahmatullahi 1:26 wabarakatuh, Non. 1:28 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:30 wabarakatuh. Apa kabar Mbak Nuning? 1:33 Kabarnya 1:35 baik dalam tanda petik baik banget gitu. 1:38 [tertawa] 1:39 Karena kadang-kadang ketika kita diberi 1:41 kesempatan untuk melakukan hal-hal yang 1:43 tidak dilakukan orang lain itu kayaknya 1:45 sesuatu banget deh apapun warnanya. 1:48 Hari ini kita bicara soal apa, Mbak 1:50 Mona? 1:51 Iya, Mbak Noning kan tahu ya sekarang 1:52 ini banyak ee banjir ya. Ada juga ee 1:57 beberapa bencana-bencana yang kita alami 2:00 begitu ya. Jadi kita membahas tentang 2:02 komunikasi saat bencana itu yang akan 2:05 kita bahas hari ini. 2:06 Jadi di dalam bencana seperti apapun 2:09 kondisinya tetap diperlukan komunikasi 2:12 dan itulah yang akan jadi bahasan kita. 2:15 Wow. Jadi, ikhwan akhwat, ketika saudara 2:18 kita kena badai entah di mana, ketika 2:22 keluarga kita kena gempa entah di mana, 2:25 banjir entah di mana, tidak satuun di 2:28 antara kita yang tidak ingin mendengar 2:29 kabarnya. Tetapi itu pun bagian dari 2:32 yang tetap menjadi ee perhatian kita 2:36 semua. Kadang-kadang 2:38 salah sapa malah jadi salah kapra ya. 2:41 Oke, mari kita simak apa yang akan 2:42 disampaikan oleh dr. Laila Monaganim 2:44 terkait dengan komunikasi di saat 2:47 bencana. Silakan Mbak Mona. 2:49 Terima kasih Mbak Nuning, Ikhwan, dan 2:51 Akhwat yang dirahmati Allah. 2:53 Asalamualaikum warahmatullahi 2:55 wabarakatuh. 2:56 Waalaikumsalam. 2:59 Ee alhamdulillahiabbil alamin wasalatu 3:01 wasalamu ala asrofil iyaai wal mursalin 3:04 waa alihi 3:06 wasohbihi ajmain. Amma baad. 3:09 Ee ikhwan dan akhwat yang dirahmati 3:12 Allah. Ee hari ini kita elaborasi 3:16 tentang bencana ya. Sebenarnya ini bukan 3:20 sesuatu yang kita harapkan tentunya 3:22 pasti bukan sesuatu yang kita harapkan. 3:25 Ee namun ee realitas atau apapun 3:28 keputusan Allah kita perlu mensikapinya 3:31 dengan sebaik-baiknya. 3:33 beberapa ee saat yang lalu ee kira-kira 3:37 2 bulan yang lalu kalau enggak salah tuh 3:39 saya bantuin ee sharing ya dengan ee 3:43 teman-teman terkait dengan bagaimana sih 3:45 sikap kita terhadap bencana begitu ya ee 3:49 ee teman-teman di ee BNPB. 3:52 Nah, ee hari ini ee mari kita lihat 3:55 beberapa data ya. 3:57 [mendengus] 3:57 E di tahun 4:01 2018 itu ada di Indonesia ada 2.426 4:06 data dari BNPB 4:08 ee bencana alam. 2019 tidak kurang dari 4:13 Rp3.700an 700an bencana alam ya bisa 4:18 jadi ee kebakaran, hutan, lahan, 4:22 longsor, puting beliung, kekeringan, 4:25 banjir, 4:26 abrasi dan lain sebagainya. Di ee 4:30 Desember 2020 itu ee akhir Desember 2020 4:36 dicatat sebanyak 2.929 4:40 bencana alam. Nah, ee jadi memang ee 4:44 alhamdulillah di bawah dari tahun 4:47 sebelumnya ya 2019 ya mudah-mudahan 4:50 tahun ini ee semakin ee berkurang 4:53 bencananya atau insyaallah tidak ada 4:55 lagi ya. 4:57 Ee 4:58 kita tahu ee 5:01 Indonesia ini riskan gitu ya, karenanya 5:04 sampai sudah ada undang-undangnya yang 5:06 khusus ngebahas tentang gimana sih cara 5:08 nanggulangin bencana. Kalau kita 5:10 klasifikasikan bencana itu karena 5:12 bencana alam, bencana alam tuh misalnya 5:16 gempa bumi ee letusan, gunung berapis, 5:20 tsunami, kemudian kekeringan, longsor, 5:23 ee kebakaran hutan, ee kemudian angin 5:26 topan dan sebagainya. Ada juga bencana 5:28 yang non alam, misalnya gagal teknologi, 5:33 ee wabah penyakit kayak sekarang ini 5:36 gitu ya. Kemudian bencana karena manusia 5:39 itu juga lain lagi ya, konflik sosial 5:41 dan lain sebagainya. Kita tidak akan 5:43 membahas tentang itu. Yang kita bahas 5:44 spesifik tentang bencana alam gitu ya. 5:47 Ee kemudian ee bencana alam itu 5:53 bagaimana sih di Indonesia? Terutama di 5:55 Indonesia ini kalau kita lihat di kita 5:57 ee wilayah geografis ee di antara dua 6:00 penua kemudian ada lintasan ee kulistiwa 6:04 ya rawan tuh gitu ya. untuk ee ee 6:07 wilayah kita ini rawan terhadap bencana. 6:11 Jadi kita ada di apa ya pertemuan tiga 6:14 lempengan tektonik gitu ya ee di tiga 6:18 lempengan ee tektonik dunia bahkan ya. 6:21 Kemudian juga di ee apa namanya kita 6:25 adalah pertemuan dari tiga sistem ee 6:28 pegunungan misalnya ya. Kemudian juga 6:31 kita punya sungai yang besar kecil 6:35 jumlahnya cukup banyak bahkan ada yang 6:37 menyebut 500 30%-nya melintasi wilayah 6:41 padat manusia gitu ya padat penduduk. 6:45 Kemudian juga ruang wilayah juga masih 6:48 masih memang challenge untuk di 6:50 Indonesia ya karena masih belum terlalu 6:51 tertib kemudian juga ee dan lain 6:55 sebagainya. Jadi ee Indonesia kalau 6:59 boleh dibilang negara yang cukup rawan 7:02 terhadap bencana. Karenanya 7:05 ee kita perlu punya ee kemampuan untuk 7:11 ee menghadapinya begitu ya. Beradaptasi 7:14 atau 7:15 mengantisipasi begitu ya. Ee kenapa sih 7:19 bahasan ini bahasan komunikasi? Karena 7:22 ketika ada bencana ketidakpastian tinggi 7:25 gitu ya. Jadi dengan komunikasi 7:28 mengurangi ketidakpastian. 7:30 Nah, kalau kita lihat ee di ee Al-Qur'an 7:34 juga ada bencana ada bahasan tentang 7:36 bencana alam gitu ya. 7:37 He 7:38 seperti misalnya banjir bandang ya di 7:42 dalam surah Al-Qur'an kemudian waktu 7:44 zaman Nabi Nuh kemudian hujan batu 7:46 kemudian gempa bumi dan lain sebagainya 7:48 itu juga dibahas di ee 7:51 di Al-Qur'an ya. Nah, ee kita lihat pada 7:55 saat-saat bencana itu banyak sekali 7:57 peristiwa-peristiwa gitu ya. Peristiwa 7:59 peristiwa yang mungkin humanis juga gitu 8:02 ya. Peristiwa inspiratif, peristiwa 8:04 sedih, peristiwa heroik, peristiwa duk, 8:08 terus bagaimana bertahan hidup. Banyak 8:09 sekali cerita-cerita. Dari cerita-cerita 8:12 itu kita juga bisa membayangkan atau 8:14 kita bisa belajar sesuatu. 8:17 ee saat ini ee tadi pagi aja hujan 8:21 [tertawa] ini. 8:22 Iya, betul. 8:23 Ee ee ee sahabat saya dari Jawa Tengah, 8:27 dari Semarang ya nelepon bilang, "Aduh, 8:29 ini lagi banjir di rumahnya gitu ya. 8:32 Airnya tuh difotoin gitu ya, divideoin." 8:35 He 8:36 ee saya ingat betul ini 8:39 challenging benar. Jadi, bagaimana kita 8:43 mensikapi ya kemarin juga ada ee gunung 8:46 dan lain sebagainya gitu ya. Nah, ee 8:50 hambatan 8:52 hambatan di dalam komunikasi. Jadi 8:55 ketika kita berkomunikasi salah satunya 8:57 hambatannya adalah cuaca gitu ya. 8:59 He. 9:00 Ee ee banyak kegalauan ketika ada 9:05 bencana ya, bencana banjir apa saja 9:08 bencana tadi gitu ya. Karena sekali lagi 9:11 semua butuh kepastian. Mereka cari 9:13 informasi gitu ya. 9:14 He. 9:15 Ee bagaimana supaya ketidakpastian itu 9:19 berkurang? Kita perlu melakukan 9:21 serangkaian upaya. Misalnya kita ngecek 9:24 jalannya kalau banjir ya 9:26 ee terus e enggak langsung juga 9:28 berangkat kemudian pastiin lihat ee 9:31 bagaimana informasi ee ee apa informasi 9:35 bencana, informasi GPS dan lain 9:37 sebagainya gitu. Jadi kita perlu 9:39 melakukan upaya-upaya apalagi sekarang 9:41 ini banyakan diminta di rumah begitu ya. 9:44 He. 9:44 Nah ee 9:47 informasi bencana biasanya pada saat 9:50 bencana cenderungnya itu simpang siur. 9:53 Karenanya sekali lagi informasi itu 9:54 penting sekali dan perlu ada komunikasi 9:57 yang baik gitu ya. Eh, saya berikan 9:59 contoh ini sekian tahun lalu ya, ketika 10:02 ada gempa bumi di Palu gitu ya. Ee tahun 10:05 2005 itu benar-benar orang tukalang 10:08 kabut pastinya pada saat bencana orang 10:11 bingung ya aku ke mana, aku ngapain dan 10:13 lain sebagainya. 10:15 ee berteriak-teriak orang ee misalnya 10:18 ada orang bilang misalnya ya tentang air 10:21 misalnya ya ee ada banjir, orang teriak 10:24 wah makin bingung, makin heboh ke mana 10:26 arahnya dan lain sebagainya gitu ya. Ee 10:29 barang-barang disiapin dan lain 10:30 sebagainya. Ee kemudian ee pada saat 10:35 bencana kita bisa melihat bagaimana ee 10:41 ee kadang-kadang tanpa ada informasi, 10:44 ujuk-ujuk ada bencana. Iya kan? 10:47 kadang-kadang kita tidak bisa atau 10:49 ee sistemnya 10:51 ee teknologi 10:53 apa ya kecerdasan manusia belum mampu 10:55 misalnya memprediksi potensi tersebut 10:58 misalnya kan ee sudah ada 11:00 teknologi-teknologi seperti di ee apa 11:03 namanya meteorologi dan geofisika untuk 11:05 mengecek cuaca dan lain sebagainya 11:06 tetapi ada yang unpredicted begitu ya. 11:09 Nah, ee itu 11:13 kita pastinya mengupayakan gitu ya ee 11:18 bagaimana caranya mengatasi supaya tidak 11:20 tidak 11:22 unpredicted ya. Tetapi ya itu yang 11:25 terjadi karenanya pada saat sekali lagi 11:27 pada saat bencana kecenderungan orang 11:30 bingung ya. pemerintah 11:34 mengupayakan. Kita tahu bahwa pemerintah 11:37 sudah punya tanggung jawab melalui BMKG 11:40 misalnya gitu ya, untuk memberikan 11:41 informasi-informasi bagaimana curah 11:43 hujan, bagaimana gerakan bumi, bagaimana 11:47 ee dan lain sebagainya melalui teknologi 11:49 misalnya misalnya melalui ee apa media 11:52 sosial, media massa dan lain sebagainya 11:55 di diinformasikan gitu ya. Kemudian, mm 12:00 ee kalau kita lihat bagaimana bencana 12:02 itu ada ada beberapa ee 12:05 penanggulangannya ya. Ada beberapa cara 12:08 penanggulangannya. Pertama adalah 12:10 pencegahan. Pada saat kita sebelum 12:13 terjadi bencana kita perlu seperti apa 12:16 sih ee ee kita berkomunikasinya, kita 12:18 akan elaborasi di situ, ya. Kemudian 12:21 kesiapsiagaan gitu ya ee ketika terdapat 12:24 potensi bencana. Jadi sebelum bencana, 12:27 belum belum ada itu ya kita sudah punya 12:31 ee seperangkat pengetahuan. Kemudian 12:33 saat kita sudah dapat ee green light 12:37 gitu ya ee atau ee lampu kuning ya ada 12:40 bencana nih kemungkinan nih gitu ya. 12:43 Jadi kita siap-siap kemudian pada saat 12:46 ya kita ngerespon bencana tersebut dan 12:49 setelahnya gitu ya itu gimana ee 12:53 upaya-upaya itu dilakukan gitu ya di 12:56 dalam penanggulangan bencana oleh ee 13:00 lembaga-lembaga, oleh pemerintah dan 13:02 juga sebaiknya kita lakukan juga gitu 13:05 ya. 13:06 Ee termasuk juga bagaimana berkomunikasi 13:09 dengan anak karena anak itu paling 13:11 rentan. ee mereka belum bisa 13:13 menyelamatkan diri sendiri. Jadi, 13:16 peluang untuk menjadi korban akan 13:17 menjadi lebih besar. Di mana itu 13:20 letaknya? Di dalam mitigasi, terutama di 13:22 dalam mitigasi, di dalam sebelum terjadi 13:25 gitu ya. Sebagai informasi kadang-kadang 13:28 kita kenapa kok kesannya ujuk-ujuk nih 13:31 gitu ya. Kenapa ujuk-ujuk nih? Karena 13:34 kita tidak pernah mempersiapkan diri 13:38 bahwa di dalam di dalam kehidupan kita 13:43 ada juga loh sesuatu yang tidak kita 13:46 harapkan tetapi ada datanya ada jumlah 13:49 sekian ribu per tahun itu itu bukti 13:53 bahwa ada di sekitar kita. Itulah yang 13:56 perlu kita punya kemampuan untuk 14:00 menguasai ee apa namanya 14:03 informasi-informasi tersebut begitu ya 14:05 dan bagaimana menanganinya. Jadi ee ee 14:11 apa yang terjadi pada anak gitu ya. Ee 14:13 misalnya misalnya keluarga kita tidak 14:15 punya tidak punya pengetahuan yang cukup 14:18 terkait dengan bagaimana persiapannya 14:20 kalau ada bencana. Implikasinya terutama 14:22 anak. anak itu paling berpeluang menjadi 14:25 korban yang paling besar, bisa jadi 14:27 traumatik fisik, psikis, dan juga ee 14:30 apalagi pada saat dia ee kehilangan ya 14:34 orang tua-orang tua gitu ya. 14:37 Jadi ee keluarga dapat mengatasi 14:41 bencana, dapat membantu untuk mengatasi 14:43 bencana, menyediakan ee apa namanya? 14:47 informasi-informasi yang dibutuhkan, 14:49 mengajari, membuat mempersiapkan diri ya 14:53 dan ee apa namanya mengatasinya pada 14:56 saat reaksi pada saat sebelum terjadi ya 15:00 sebagai pengetahuan pertama kemudian 15:03 ketika sudah ada berita-berita akan 15:05 terjadi dan pada saat terjadi dan 15:08 setelahnya gitu. itu itu bagus kalau 15:10 kita bisa 15:13 mensikapi gitu ya, memiliki pengetahuan, 15:16 memiliki kemampuan untuk menyampaikan ee 15:19 ee hal itu. 15:22 Ee beberapa beberapa catatan yang bisa 15:26 kita lihat bahwa ee 15:32 bencana itu ada 15:35 negatifnya 15:36 tetapi juga ada positifnya. 15:39 meskipun kita juga aduh please jangan 15:41 bencana itu gitu ya, tetapi kita bisa 15:44 lihat selalu ada gitu. Ee tentu saja 15:48 dengan adanya bencana sarana prasarana 15:50 terganggu. Ee ee barangkali bahkan 15:55 handphone kita enggak bisa jalan. 15:57 Ee barangkali ee alat alat 15:59 telekomunikasi kita enggak bisa jalan 16:01 gitu ya. alat transportasi kita enggak 16:03 bisa jalan, aksesnya enggak bisa jalan. 16:06 Harta jadi masalah, benda, jiwa, 16:09 gangguan aktivitas, gangguan 16:11 perekonomian itu tidak mudah untuk kita 16:16 ee apa ya kita terima, tetapi ya itu ee 16:20 realitasnya. Karenanya ee ee kemampuan 16:23 kita untuk memprediksi atau 16:27 mengatasi se minim mungkin dampaknya itu 16:31 itu akan jauh lebih baik. 16:33 Kalau banjir misalnya jalan terendam ya 16:36 ee dan lain sebagainya ya. Ee dari sisi 16:40 komunikasi itu sulit kita berhubungan 16:43 dengan keluarga. misalnya baterainya 16:45 habis ya ee baterai HP habis misalnya 16:49 akses jalan sulit dan lain sebagainya 16:52 atau dicolokin enggak enggak ada 16:54 listriknya misalnya begitu ya. Jadi ee 16:58 persiapan-persiapan itu ee mari kita 17:01 upayakan. 17:03 Ada dampak positif juga ini perlu 17:06 kebesaran hati untuk bisa ee 17:11 melihat dampak tersebut gitu ya. Dampak 17:14 positif adalah lebih sadar bahwa Allah 17:18 itu maha kuasa. Kemudian kita juga ee ee 17:23 kita 17:26 dengan dengan 17:28 kita menghadapi apa ya ee tantangan 17:32 bencana ini kita menjadi lebih berbagi. 17:37 Kita menjadi rasa kita secara feeling 17:40 menjadi lebih terasah gitu ya. He 17:43 ini besar sekali pembelajaran luar biasa 17:45 yang tadinya lulug jadi iya ya saling 17:48 tolong-menolong kohesivitasnya menjadi 17:50 tinggi makin peduli, makin kenal satu 17:53 sama lain. Kita tahu bagaimana 17:55 organisasi-organisasi 17:57 mulai memikirkan bagaimana berbagi, 17:59 bagaimana mengumpulkan berbagi, dan lain 18:02 sebagainya. mencari akses untuk membantu 18:04 atau menghubungkan antara antara 18:07 individu, keluarga-keluarga atau 18:09 orang-orang dengan ee orang yang yang 18:12 sedang mengalami bencana. Jadi kerja 18:16 sama ee warga di RT makin kuat ee 18:20 seperti yang tadi ee kita klasifikasikan 18:24 ee bukan ini bencana non alam misalnya 18:26 seperti COVID misalnya begitu ya. ee 18:29 masyarakat bisa saling bantu ee tetangga 18:32 dan lain sebagainya mikirin iya ya kita 18:35 kasih ini bawain ini untuk ini kita 18:37 kumpulin dana dan lain sebagainya. Jadi 18:40 ee ternyata ada ada 18:43 dampak reflektif besar terhadap adanya 18:48 bencana itu. Kita jadi lebih sadar ee 18:51 harus ee apa namanya ee percaya ada 18:55 sunatullah. ee kita jadi berpikir gimana 18:58 caranya untuk tidak merusak lingkungan 19:00 gitu ya. 19:01 Itu 19:02 itu juga bentuk komunikasi 19:05 dalam diri kita sendiri ee ketika kita 19:09 bisa ee memaknai bencana ini dengan 19:12 sebaik-baiknya. 19:15 Ee kemudian bagaimana komunikasi dengan 19:18 orang lain begitu ya. Ee kita akan bisa 19:21 lebih ee antisipatif ya terhadap 19:23 bencana. Ee kemudian ee di antaranya 19:27 misalnya mitigasi, kita dengar ee 19:31 ada beberapa wilayah di Indonesia 19:35 memberlakukan misalnya ya misalnya ee ee 19:40 ganjil genap misalnya begitu atau 19:43 pembatasan kendaraan misalnya begitu. 19:45 itu kan untuk meminimalisir adanya 19:47 masalah-masalah lebih lanjut lagi. Jadi 19:49 penjagaan ee apa yang dilakukan itu 19:55 lebih lebih besar gitu ya. Situasi 19:58 ketika tidak terjadi bencana atau pada 20:00 saat terjadi bencana dengan cara-cara 20:03 yang dilakukan itu di antaranya 20:05 pemerintah membuat membuat 20:07 keputusan-keputusan. Nah, ee ini 20:11 informasi atau keputusan pemerintah ini 20:12 perlu dikomunikasikan, perlu 20:14 dis-sharingkan kepada masyarakat supaya 20:16 masyarakat tahu, supaya masyarakat lebih 20:18 lebih sadar. ee seperti ee ee di 20:23 sehari-hari yang kita dengar di daerah 20:25 rumah saya itu tiap hari ada orang yang 20:29 pakai kendaraan ee pakai toowak, kasih 20:32 tahu tentang ee ee protokol kesehatan, 20:36 mengingatkan kembali apa-apa yang perlu 20:39 dilakukan. [berdehem] Itu juga kan 20:41 mengkomunikasikan bagaimana kita 20:43 mengantisipasi atau bereaksi, merespon 20:47 bagi yang sudah kena. barangkali itu 20:49 adalah ee bagaimana merespon itu bagi 20:52 yang belum, bagaimana mengantisipasi 20:54 dirinya. Nah, sebagai individu 20:59 yang perlu kita lakukan adalah pertama 21:01 cari tahu terhadap ee apa yang terjadi 21:06 di dalam bencana itu. Misalnya dari 21:10 media massa, media sosial, dari teman, 21:13 dari saudara, cari tahu. Kemudian kita 21:16 juga bisa ngingat kembali pengalaman 21:18 kita gitu ya. Ee pengalaman-pengalaman 21:21 sebelumnya. Kadang-kadang kita lupa 21:22 kenapa kok terjadi lagi sesuatu yang 21:25 kita tidak memprediksi begitu. Padahal 21:29 sebenarnya kita punya pengalaman gitu. 21:31 Dulu pernah kok ada kejadian ini kita 21:34 tidak melakukan misalnya ya ee 21:36 surat-surat enggak disimpan di tempat 21:39 yang ee cukup tinggi misalnya lagi 21:41 banjir cukup tinggi yang membuat kita 21:44 jadi ee secured gitu ya secara ee 21:47 legalisasi, dokumentasi dan lain 21:50 sebagainya gitu. itu kan penting sekali. 21:52 Nah, ee karenanya kita perlu cari tahu 21:55 ee dan kita juga bisa belajar dari 21:57 pengalaman-pengalaman kita. Ee misalnya 22:00 tentang banjir. Apa yang perlu dilakukan 22:02 sebelum banjir, pada saat banjir, 22:05 setelah banjir, bagaimana ee sikap-sikap 22:09 kita dan lain sebagainya. 22:11 Mitigasi ee juga bisa kita lakukan ee ee 22:16 apa namanya ee dengan deteksi-deteksi 22:19 dini gitu ya. Ada anak SMA, Mbak Noning 22:22 yang kreatif. Dia bikinin 22:24 ee peringatan sebelum diterjang banjir 22:28 gitu ya. Ada alat dia bikin ee dia bikin 22:31 alatnya nih, informasinya. Kemudian di 22:34 BMKG seperti yang tadi ya. Ee kemudian 22:38 ee BMKG misalnya ngasih ngasih informasi 22:40 ini di Tinggi Air, di Katu kalau di 22:44 Jakarta ya. Heeh. 22:45 Ee ee segini misalnya ini informasinya 22:48 potensinya banjir atau misalnya ada ee 22:52 gempa ee potensi ee apa namanya ee 22:55 tsunami atau tidak dan lain sebagainya. 22:58 Kemudian kita juga perlu rajin menyimak 23:00 informasi potensi-potensinya misalnya ya 23:03 dari media dan lain sebagainya. Dan kita 23:06 perlu hati-hati terhadap hoa karenanya 23:11 bisa jadi pada saat ee situasi uncertain 23:15 ini enggak pasti ini pada saat 23:17 situasi-situasi 23:18 ee bencana atau ee dengar ada bencana 23:24 yang lain belum terjadi bencana 23:26 itu informasinya bertumpuk-tumpuk gitu 23:28 ya atau ee ee kita tidak tahu nih benar 23:31 apa enggak nih. Jadi perlu cari dari 23:34 sumber-sumber yang benar gitu ya. 23:37 Waspadai hoax karena cukup banyak. Jadi 23:40 cari sumber yang kredibel. Kemudian ada 23:44 lagi informasi terkait dengan bencana 23:46 yang sebenarnya mungkin tidak terlalu 23:48 mudah untuk kita peroleh ya. Tetapi ini 23:50 jadi refleksi juga mungkin untuk di 23:52 daerah-daerah mungkin banyak ya. Atau 23:54 kalau sensitivitas kita- kitaita ini e 23:57 ternyata ee apa namanya? hewan-hewan itu 24:02 punya ee informasi deteksi dini bencana 24:06 gitu. Ee karena ee hewan punya 24:10 sensitivitas atas perubahan bencana 24:13 dibandingkan manusia gitu ya. Ee dia 24:17 bisa mendeteksi ini akan ada bencana. 24:19 Akibatnya mereka punya kesempatan untuk 24:22 menyelamatkan diri lebih daripada 24:24 manusia. He 24:26 eh sensitivitas dari binatang itu kita 24:32 bisa temukan di dalam komunikasi yang 24:34 alamiah gitu ya. Misalnya katak. Katak 24:38 pada saat banjir misalnya ya, itu katak 24:42 itu dia bisa memprediksi 24:46 bakal datangnya bencana alam ee di 24:50 antaranya banjir, gempa bumi gitu ya. 24:54 He. 24:54 Ee 24:56 kemudian dia juga bisa ee merasakan 25:00 perubahan kimia dari air tanah gitu ya 25:05 dengan ee tanda-tanda yang dia rasakan. 25:07 Jadi, jadi kita juga bisa ngelihat kalau 25:11 kalau misalnya katak itu bereaksi 25:13 tertentu, kita perlu 25:15 ee melihat oh iya ya barangkali ada 25:18 sesuatu gitu. Jadi ee kita 25:21 mereka punya insting juga ya. 25:23 Mereka punya insting juga. Jadi ketika 25:24 kita melihat ada reaksi-reaksi dari 25:26 binatang-binatang tertentu yang 25:28 sebenarnya tidak tidak biasa kita lihat, 25:30 kita bisa belajar dari mereka gitu. Kita 25:33 bisa membaca itu sebagai deteksi dini. 25:35 Ada seorang ilmuwan biologi 25:38 ee dia meneliti katak. Dia meyakini 25:42 bahwa katak melarikan diri ke daratan 25:46 yang lebih tinggi. 25:47 He 25:48 ee 25:50 setidaknya mereka merasa aman gitu ya 25:54 dari kejatuhan bebatuan, dari longsor, 25:58 dari banjir gitu. Cerdas kan? dahsyat 26:02 gitu loh. Jadi katak itu punya 26:05 kecerdasan untuk mencari pelarian 26:09 terbaik di mana dia aman dari kejatuhan 26:13 bebatuan. 26:14 He. 26:16 Luar biasa. Capung misalnya Mbak Nuning, 26:18 capung ya pada saat banjir ee 26:23 jumlah capung 26:25 yang terbang di sekeliling kita 26:27 cenderung ee 26:29 tiba-tiba berubah banyak gitu ya. ee ee 26:33 ini ee 26:35 cenderung sedikit Mbak Nuning. 26:37 Terbalik malahan. Oh. 26:38 Apabila ee di perkotaan ya, terutama di 26:42 perkotaan gitu ya, tapi di desa pun jadi 26:45 mengurang gitu. 26:47 Buat yang tinggal di dekat sungai atau 26:50 danau gitu ya, Capung sering terbang di 26:52 sekeliling rumah tapi tiba-tiba mereka 26:55 terbang ber sekeliling area tempat kita 26:59 ee apa namanya? ee 27:03 kan jadi gini, capung itu biasanya tidak 27:07 terlalu banyak, tetapi pada saat capung 27:09 itu membanyak 27:11 berarti 27:11 biasanya itu air akan naik. 27:14 Ah 27:15 air laut naik atau e atau air sungai 27:18 meluap naik efeknya bisa jadi banjir. 27:22 Jadi betul Mbak Nuning tadi 27:24 bahwa 27:26 ee kemunculan dari capung yang yang ee 27:31 tidak umum gitu ya menimbulkan 27:34 informasi sebenarnya untuk kita untuk 27:37 kita menjadi sensitif dan 27:40 mengantisipasi. Jadi dengan ee dengan ee 27:44 apa ee ee hewan-hewan di sekeliling kita 27:47 yang tiba-tiba muncul, kita juga bisa 27:49 belajar sesuatu. 27:51 Lele misalnya, [tertawa] 27:53 jadi alam [berdehem] berbicara ya. Heeh. 27:55 Lele gimana lele? 27:56 Heeh. 27:58 Ee 28:00 ini 28:01 kucing kucing dulu deh. Kucing. 28:03 Oke. 28:03 Kucing bisa memprediksi bencana alam. 28:07 Dia mengevakuasi bayinya gitu. [tertawa] 28:13 Iya. Dibawa dulu bayinya. Ini research 28:16 dari international journal ya 28:18 eh dari apa namanya? Environmental 28:22 research public health. Jadi dia 28:25 menganalisa dengan 28:27 hati-hati tentang bagaimana sikap kucing 28:31 ketika bencana. Jadi ee insting mungkin 28:35 insting orang tua kucing terhadap 28:37 anaknya [tertawa] 28:39 anjing misalnya ya. prediksi perubahan 28:41 cuaca ekstrem ee reaksinya dia menggigil 28:45 dan gemetar ya. Ee sebelum terjadi badai 28:49 petir misalnya ya, anjing punya 28:51 sensitivitas indra perasa 28:54 yang ee 10.000 kali lebih kuat 28:57 dibandingkan manusia. Jadi bayangin 28:59 coba, 29:00 mm dia punya kemampuan mencium suhu 29:04 udara, mencium ee ee apa situasi ee 29:09 kemudian suhu udara yang berubah, gempa, 29:12 babadai, gempa bumi gitu ya. Ini ada 29:15 research dari pengamat ee hewan piaraan 29:18 ya di Amerika. rata-rata ee hanya 5% 29:22 pemilik kehilangan anjing ee ee setiap 29:25 hari itu ee 29:27 ee 5% pemilik kehilangan anjing 29:30 peliharaan mereka. Tapi suatu hari 29:33 ketika pengumuman kehilangan anjing 29:37 meningkat drastis 20 sampai 30% itu 29:40 kemungkinan besar akan ada bencana dalam 29:43 sekian hari mendatang misalnya begitu. 29:47 Jadi anjing 29:49 sudah tahu sebelumnya. Jadi dia akhirnya 29:52 jadi kabur ee menyelamatkan diri gitu. I 29:55 [tertawa] 29:57 ee 30:00 hewan ternyata punya kemampuan deteksi 30:03 gitu ya. Luar biasa. Gajah misalnya Mbak 30:06 Nuning ya. He. 30:07 Seminggu sebelum Krakatau meletus itu 30:10 ada sirkus di ini dari salah satu ee 30:13 catatan yang saya baca ya. 30:15 Ada sirkus Lampung yang punya gajah 30:18 kecil. Itu sikapnya mulai aneh gitu si 30:21 gajah itu. Dia meraung-raung, berlarian 30:24 ke sana ke mari ee susah dihentikan gitu 30:27 ya. He. 30:28 Jadi ee di satu pulau kecil di Thailand 30:32 yang Thailand juga banyak sekali gajah 30:34 gitu ya, dia juga ngalamin binatang itu 30:37 juga sibuk ee ribut dan lain sebagainya. 30:42 Dia tiba-tiba lari cepat gitu ya si 30:44 gajah-gajahnya seperti ketakutan. Jadi 30:47 ternyata gajah itu punya sensitivitas 30:52 atas bencana alam yang kebetulan bencana 30:56 alamnya adalah tsunami gitu atau bencana 30:59 alamnya adalah ee letusan gunung gitu. 31:03 Jadi kita perlu pertama yang perlu kita 31:07 lakukan adalah ee melihat ada sisi 31:11 positif dan negatif ee apa ya ya ini 31:14 qadarullah gitu. Allah yang maha maha 31:17 kuasa, Allah yang maha ee membuat 31:20 keputusan apapun. Jadi untuk ee adanya 31:24 untuk potensi sesuatu yang memang ee 31:27 diizinkan oleh Allah, mari kita membuat 31:30 persiapan yang lebih baik. Bagaimana 31:32 caranya kita ee ber ee mencari informasi 31:36 ya, mencari informasi 31:39 membuat diri kita punya informasi, 31:42 menggali informasi-informasi, 31:44 kemudian melihat dari informasi yang 31:46 diberikan oleh sekeliling gitu ya, 31:48 termasuk dari dari apa namanya 31:52 lembaga-lembaga yang punya kredibilitas, 31:55 kemudian juga dari media-media, 31:58 kemudian juga dari alam, dari 32:01 binatang-binatang dan lain sebagainya. 32:04 Ee nanti kita lanjutkan lagi ya, Mbak 32:05 Nuning. Gimana? 32:07 Iya. Luar biasa. Jadi, ikhwan akhwat, 32:11 bumi yang kita tinggali ini sudah berapa 32:14 tahun umurnya ya, sudah semakin menua 32:17 dengan kerusakan-kerusakan baik yang 32:19 terjadi oleh alam ataupun juga perilaku 32:22 kita. kerusakan-kerusakan yang bisa 32:24 mempengaruhi aktivitas bumi tempat kita 32:28 tinggal ini dan juga ee polusi udara 32:32 yang kita bikin itu bukan berarti tidak 32:36 ikut berkontribusi, tapi yang jelas 32:38 aktivitas bumi yang seperti diceritakan 32:42 Mbak Mona memang terjadi dari waktu ke 32:44 waktu yang bisa disebut bencana yang ya 32:48 kalau binatang saja sejak zaman bahala 32:51 itu mereka sudah punya sensitivitas ya 32:54 Mbak Mona ya. Anjing, kucing, capung, 32:56 bahkan gajah bisa bereaksi tertentu 32:58 jelang terjadinya bencana. Luar biasa 33:01 alam sudah memberikan tanda-tanda dan 33:04 kita harusnya semakin cerdas juga untuk 33:08 menyikapinya. Yang jelas komunikasi di 33:11 dalam berbagai bentuk yang terjadi di 33:14 bencana alam kita ini akan merupakan 33:17 bagian yang harus kita sadari 33:19 sepenuhnya. Tapi sebelum kita lanjutkan 33:20 kembali, kita akan jeda terlebih dahulu. 33:24 [musik] 33:36 Brail [musik][bernyanyi] 33:37 TV. 33:43 Iya. Masih bersama Rasil untuk Islam 33:45 yang satu di acara Bincang Komunikasi 33:47 bersama Dr. Laaganim. kita tengah bahas 33:50 tentang bagaimana komunikasi saat 33:53 bencana yang sudah ee kita simak di awal 33:57 tadi. Mbak Mona, kalau kita punya 34:00 tanggung jawab untuk melakukan sesuatu 34:03 biar enggak terjadi bencana-bencana yang 34:05 umumnya itu karena banyak ulah kita 34:08 seperti biar enggak banjir ee buang 34:11 sampah sembarangan dan segala macam itu. 34:13 Berapa pedulikah masyarakat kita di 34:16 zaman sekarang ini atau ada cara-cara 34:19 tertentu dari pemerintah untuk meng apa 34:22 mengurangi meminimalisir 34:23 kemungkinan-kemungkinan ini? 34:25 Iya, Mbak Nuning. Ini kan kita hidup 34:28 bersama ya dalam dunia ini ya. 34:31 Gimana caranya supaya kita sama-sama 34:34 ngerawat dunia ini bersama gitu. Jadi 34:37 supaya menghindari ya kan 34:41 terjadinya bencana di antaranya bencana 34:43 banjir atau bencana alam lainnya kita 34:46 perlu punya perilaku yang sadar gitu ya. 34:50 Misalnya enggak buang sampah 34:52 sembarangan, kemudian juga ee punya 34:56 punya apa namanya? Saluran yang benar 34:59 ketika kita bikin rumah atau kalau belum 35:03 ya berarti kita rapiin gitu ya. kemudian 35:06 simpan ee apa namanya bak penyimpanan 35:10 air bersih cukuplah gitu ya sehingga 35:13 kalau ada apa-apa tuh kita ee potensi 35:16 itu bisa kita minimalisir gitu ya. 35:19 Kemudian juga kita amankan surat-surat 35:22 surat rumah, surat ijazah atau dan 35:24 surat-surat berharga lainnya. Kemudian 35:26 ee kita siapkan juga ee apa namanya ee 35:32 ee supporting lah makanan dan lain 35:34 sebagainya gitu. Jadi kita mempersiapkan 35:37 diri ee baik jangka 35:40 jangka panjang, jangka menengah, atau 35:42 jangka pendek gitu ya. Kalau misalnya 35:44 kita udah udah ini hampir nih gitu ya 35:45 situasinya misalnya gitu. 35:48 Ee ee kemudian apa yang perlu kita 35:51 lakukan? Jadi yang tadi informasi 35:53 pertama adalah kita belajar dulu, kita 35:56 cari tahu, kita belajar dari pengalaman, 35:58 kita belajar dari informasi-informasi 36:00 ee dan kita melakukan 36:02 persiapan-persiapan yang diperlukan 36:04 karena ini tanggung jawab kita bersama. 36:05 Terus apa yang perlu kita lakukan kepada 36:08 keluarga kita sendiri gitu ya. 36:10 Nah, ini penting banget 36:11 gimana kita [tertawa] 36:12 memfasilitasi ya komunikasi di dalam 36:15 keluarga. bagaimana kita memfasilitasi 36:17 anggota keluarga bisa bereaksi dengan 36:19 cepat dan tepat dalam situasi yang 36:22 darurat. Dan dia memahami di luar kepala 36:26 ketika ada bencana itu ee anggota 36:30 keluarga sudah siap gitu ya. Jadi kita 36:32 perlu mendiskusikan ee bagaimana ee 36:36 terkait dengan bencana ini pada anak. 36:37 Kalau orang yang udah gede, anaknya udah 36:40 remaja atau udah gede, kira-kira dia 36:41 tahu deh. Karena dia mungkin sudah 36:43 ngalamin dari sesuatu yang dia tidak 36:46 predicted gitu ya. Sekarang anak-anak 36:49 kita kasih ee informasi yang cukup 36:52 cara ee dengan cara-cara yang mudah 36:55 dipahami. Jadi ee anak-anak bisa tahu 36:58 apa yang ee dia perlu lakukan. Kenapa 37:01 kenapa ee orang tua itu penting untuk 37:03 menyampaikan atau juga guru ya, terutama 37:06 orang tua? karena ee mereka adalah orang 37:09 yang dipercaya begitu ya. Mereka orang 37:11 yang punya pengaruh gitu. Jadi kalau 37:14 orang tua nganggap udahlah saya aja 37:16 nyiapin semua gitu ya. Nanti dia cuma 37:18 dikasih tahu ee reaksinya atau ngikutin 37:22 gitu ya. itu akan lebih menyulitkan 37:24 dibandingkan dia dimodalin informasi, 37:28 dimodalin strategi, cara-caranya 37:30 sehingga semuanya bisa berkontribusi. 37:34 Eh, jadi eh ada data dari UN eh 37:40 International Strategy for Disaster eh 37:43 bilang bahwa 60% 37:46 bencana alam, korban bencana alam adalah 37:49 anak-anak. Jadi 37:51 memang perlu [berdehem] persiapan 37:54 ee yang cukup untuk anak-anak dalam 37:56 menghadapi bencana. Ee 37:59 jadi ee persiapan itu ee karena orang 38:03 tua bisa jadi cenderung panik pada saat 38:05 bencana ya. Dia saving pikirannya ke 38:07 mana-mana. Apalagi kalau kalau enggak 38:09 balik lagi tadi komunikasi bencana itu 38:11 penting supaya orang tuh punya persiapan 38:13 Mbak Nun. Karena di dalam hidup kita ada 38:15 juga seperti itu. 38:16 Nah, kalau kita kalau orang tua 38:19 oke saya sudah ngerti gitu ya si orang 38:21 tua tadi ya karena dia mau punya 38:23 persiapan tapi dia ngasih tahu ke 38:25 anak-anaknya. Dia sendiri pada saat 38:27 ngalamin bencana itu juga panik gitu. 38:29 Jadi anak-anak jadi ketakutan atau 38:31 enggak enggak nyiapin dengan cukup gitu. 38:34 Nah, gimana caranya? kita perlu ceritain 38:36 ke anak-anak ee tentang bencana yang 38:40 bisa menimbulkan orang terluka, ee 38:42 kerusakan-kerusakan apa, saluran-saluran 38:46 telepon, listrik, air bisa terputus. 38:48 Jadi anak mampu membayangkan potensi ee 38:54 apa yang akan terjadi ketika itu ee 38:56 terjadi. Atau misalnya dari televisi 38:59 kita bisa perlihatkan ini nih situasinya 39:02 kayak gini nih. Ditambah dikasih 39:04 informasi sehingga 39:06 can imagine gitu ya. 39:07 Iya. ee 39:10 lalu diskusikan sehingga anak-anak bisa 39:13 membayangkan dengan lebih jelas lagi. ee 39:16 membayangkan atau mendiskusikan ee 39:20 masalah bencana yang mungkin mungkin 39:23 akan menimpa dalam ee dalam kehidupan 39:27 kita itu bisa mengurangi ketakutan dan 39:31 membuat anak menjadi lebih siap dan ee 39:35 dia akan juga tertarik untuk 39:37 mengetahuinya bagaimana cara menghadapi 39:40 kalau ada itu terjadi begitu. Jadi, anak 39:43 perlu diajarkan bagaimana dan kapan 39:46 mereka meminta bantuan misalnya begitu. 39:49 Mereka perlu punya persiapan apa 39:52 misalnya begitu. Ee ketika misalnya 39:55 ketika misalnya ada masalah dengan orang 39:57 tua mereka, dengan keluarga mereka. Jadi 40:00 dibandingin anak-anak kan bingung kan 40:02 semua orang apalagi bingung, anak-anak 40:03 juga pada bingung misalnya pada saat 40:05 kejadian itu. Nah, kalau anak-anak sudah 40:07 dikasih tahu, dia akan lebih tahu 40:10 bagaimana bersikap. anak-anak kecil 40:12 misalnya begitu. 40:13 He. 40:14 Ee ajak anak-anak misalnya ber ee punya 40:18 punya catatan misalnya ya ee kalau ada 40:21 telepon darurat itu ke mana neleponnya 40:23 gitu ya. 40:24 Kemudian juga siapa lingkungan kita. Oh 40:28 si ini saudaranya ini atau tetangganya 40:31 ini. Karena kan ketika bencana kan yang 40:33 paling dekat adalah ee tetangga kita 40:36 begitu Mbak Nuning ya. He 40:38 ee orang tua perlu menjelaskan kepada 40:42 anak ketika tahu apa yang terjadi dan 40:44 bagaimana latihannya. Misalnya gempa, 40:47 dia hidup di lingkungan yang banyak 40:49 gempa gitu ya, dia harus ngajarin cara 40:52 ee apa cara menghadapi pada saat gempa, 40:56 perilakunya ada di mana? di segitiga 40:58 safety atau juga pada saat banjir. Ee 41:02 ketika saya kecil dulu, saya tinggal di 41:04 tempat yang cukup sering banjir. Mbak 41:05 Runi. Saya saya ingat sekarang ini ya 41:08 belajar berenang enggak dulu. [tertawa] 41:10 Ee tapi saya ingat saya enggak enggak 41:13 ada tuh mitigasi e apa ya pelajaran 41:16 tentang apa sih yang perlu kita lakukan. 41:18 Jadi kalau ada ya seru-seruan aja gitu. 41:21 [tertawa] 41:21 Jadi enggak enggak ada informasi itu ya. 41:24 Jadi menghadapi saja begitu. yang sibuk 41:26 ya orang tua yang nyapin ini, nyapin ini 41:29 dan lain sebagainya gitu. Terus saya 41:31 ingat ee saya pernah ee ee luka di 41:34 kepala Mbak Duning ee jatuh gara-gara 41:38 kepet pada saat ee ee banjir. Pada saat 41:42 banjir jadi 41:43 iya 41:43 ee apa ya geblak gitu ya [tertawa] 41:48 karena ee karena lari-lari dan lain 41:50 sebagainya. Jadi memang ee apa ya 41:55 sensitivitas anak-anak kan riang gitu 41:57 ya, jadinya 41:57 betul 41:58 ee cuek aja gitu. Nah ee itu itu yang 42:03 perlu di ini. Kemudian bagaimana P3K dan 42:07 sebagainya kita perlu persiapkan juga ee 42:09 di di rumah ya. Ceritakan pada anak 42:12 bahwa saat bencana mereka juga bisa kok 42:15 dibantu sama orang lain gitu ya. Jadi, 42:17 siapa saja yang boleh ngebantu? 42:19 Misalnya, misalnya ada oh ada misalnya 42:22 mentok-mentok ya, ada petugas bencana, 42:24 ada polisi, ada palang merah, ada 42:28 tetangga, ada guru misalnya, ada ee 42:31 terutama terutama tetangga ya atau dan 42:34 lain sebagainya. Ini situasi yang 42:36 ekstrem misalnya ya kan kita juga ada 42:39 situasi itu gitu. Bagaimana menghubungi 42:42 anggota keluarga kalau terpisah dan lain 42:44 sebagainya. Jadi ee saat kejadian ee 42:50 sebelum kejadian apa yang perlu 42:52 dilakukan? Kita juga bisa belajar dari 42:54 media massa, Mbak Nuning ya, dari media 42:56 massa ee e apa ee dengan 43:00 lingkungan-lingkungan kita l gitu ya. ee 43:03 dengan ee media massa kita bisa belajar 43:06 bagaimana cara-caranya kalau kita enggak 43:08 tahu atau juga misalnya di lingkungan 43:11 kita ada 43:13 diskusi dengan tetangga-tetangga apa 43:15 yang perlu kita lakukan. Kan sekarang 43:16 ini kita punya WhatsApp grup ya. Justru 43:19 kohesivitas di RT itu menjadi lebih 43:21 tinggi dengan adanya grup ee 43:23 grup WA. Heeh. 43:25 grup WA atau grup ee sosial media 43:27 lainnya, Telegram dan lain sebagainya. 43:30 mungkin WA sebentar lagi sudah [tertawa] 43:32 lenyap lagi gitu ya. Nah, ee misalnya ee 43:36 sosial media dan lain sebagainya ee kita 43:39 jadi bisa saling memberikan informasi. 43:41 Nah, di situ ee komunikasi dengan 43:44 tetangga jadi lebih intens ya kan. Saya 43:47 merasakan Mbak Nuning ee dengan adanya 43:50 dengan adanya pandemi ini kohesivitas di 43:53 lingkungan itu jauh lebih tinggi. Karena 43:55 kita justru justru dengan makin diam di 43:58 rumah makin makin kita berinteraksinya 44:00 tuh lebih intens. Biasanya kan kalau 44:02 ketemu hai gitu ya, tapi enggak ngobrol 44:05 gitu ya. Ini bisa ngobrol karena ada 44:08 grup gitu. Nah, ee itu juga bisa kita 44:12 lakukan. ee siapa tetangga kita juga 44:16 bisa saling berbagi. Siapa tetangga yang 44:18 ahli misalnya siapa dokter di lingkungan 44:21 kita, siapa perawat, siapa tenaga 44:23 kesehatan, siapa polisi. Ee kira-kira 44:26 bantuan apa yang bisa si ini tuh mampu 44:28 membantu apa gitu ya di kita diskusikan 44:31 di dalam lingkungan kita bagaimana kalau 44:33 perut dukungan. Nah, itu pun kita 44:35 sampaikan kepada 44:37 anak-anak kita 44:38 ketika kita bisa memprediksi ini bahaya 44:41 nih situasinya nih bisa jadi un control. 44:43 Kalau masih bisa dikontrol kira-kira ya 44:46 kita bisa kerjakan sendiri gitu. Tapi 44:48 tetapi dalam situasi tertentu kita perlu 44:50 ee apa namanya? Mempersiapkannya dengan 44:53 sebaik-baiknya gitu. 44:56 Kesiapan anak itu perlu kita siapkan. 45:00 Gimana Mbak Nuning? Ada yang mau 45:01 diomongin dulu? Ee boleh kalau ke sambil 45:04 lalu ke pertanyaan ya. 45:06 Boleh, Mbak. 45:07 Oke. Ini pertanyaannya soal surat-surat 45:11 penting ee Mbak Nuning, Mbak Mona itu 45:15 sebaiknya diletakkan di dalam tempat 45:18 yang aman dari air dan api, tapi seperti 45:22 apa ya? Dan kalau keluarga harus tahu 45:25 nyimpannya di mana berarti diumumkan 45:28 gitu. Anak-anak, 45:31 ini barang penting yang kalau Mama sama 45:32 Papa enggak ada di rumah, kalian mesti 45:34 selamatkan kalau terjadi sesuatu. 45:36 Begitukah? Atau mungkin ada gagasan 45:38 lain? Terima kasih. I, 45:41 terima kasih sharing-nya ya. Karena ini 45:43 membuat kita jadi lebih perhatian atas 45:45 isu itu. 45:46 Jadi memang kita perlu ee punya ee 45:50 pertimbangan-pertimbangan 45:52 yang baik gitu ya. Ee apa namanya? di 45:55 mana nyimpannya, di mana yang aman. 45:58 Kalau misalnya potensinya adalah potensi 46:01 banjir, berarti jangan diletak di bawah 46:03 atau di laci yang kira-kira berpotensi. 46:06 Tapi kalau misalnya ee ee potensinya 46:08 kalau kebakaran kan mungkin ee kita 46:11 enggak bisa prediksi gitu ya. Ee kecuali 46:13 sistem e saluran saluran listriknya 46:17 emang kacau gitu ya. [tertawa] 46:19 Iya. Iya. 46:21 Potensi itu ada gitu ya. Tetapi dalam 46:23 situasi yang ini ee ee apa namanya? Ee 46:27 kalau banjir ee lingkungan ee 46:30 geografisnya berpotensi gempa, potensi 46:33 itu ada gitu. Berarti kita perlu 46:34 mempersiapkan diri gitu. Jadi di mana 46:38 letaknya? Ya carilah yang mana yang 46:42 paling aman. Saya ingat ya di apa di ee 46:47 rumah saya juga ee 46:50 lalu dipikir gitu ketika sudah mulai ada 46:53 kecenderungan ada berita-berita seperti 46:55 itu. Wah, mulai dipikir lagi di mana nih 46:58 letaknya nih dar 46:58 terus surat penting jadiin satu 47:01 jadiin satu disimpan, dikasih tahu atau 47:03 yang kita merasa benar ini aman gitu ya. 47:06 He 47:07 ee ee atau juga ya ee yang kita simpan 47:12 juga di safety box misalnya begitu. 47:15 Iya. 47:15 Ee ee tetapi kalau banjir kan ya ya 47:19 mudah-mudahan tidak gitu ya. Tetapi 47:20 kalau banjir kan ee mungkin ee berbagai 47:23 hal kena juga gitu. Tetapi ya 47:25 mereka juga pasti sudah memikirkan juga 47:27 di mana letak yang paling aman untuk 47:29 benda-benda tersebut begitu. 47:31 Dan kalau ditaruh di lemari jangan 47:32 dikunci. Yang mau ngambil aja susah ya. 47:35 [tertawa] Heeh. Jadi ee sensitivitas 47:39 kita, cari solusi atas masalah kita itu 47:42 akan jauh lebih baik dibandingkan sama 47:45 kita cuek gitu ya. Ee dengan komunikasi 47:48 bencana ini penting gitu ya. Penting 47:50 untuk kita ketahui, penting untuk kita 47:52 lebih sensitif di ee ada lagu-lagu ya 47:57 yang mengingatkan lagu-lagu daerah atau 48:00 juga ee informasi-informasi yang juga 48:04 disampaikan ya. Kemarin saya punya ee 48:06 kelompok teman-teman yang ngumpul gitu 48:08 ya ee sama e Bu Nini El Kararim, sama 48:14 Drter Lia sama aduh banyak teman-teman 48:16 bagus-bagus tuh keren-keren ya suka 48:18 ngumpul kami bersama-sama ee ee 48:21 ngediskusiin tentang ee ee judulnya 48:25 judulnya grupnya tuh Ring of Fire. 48:27 Kemarin saya sudah bilangin sama beliau, 48:28 "Ikutan yuk ngobrol di sini" gitu. Cuman 48:30 ee belum belum belum intens ya. Ee jadi 48:34 tadi tadi kelupaan tuh gitu ya. Saya mau 48:36 ajakin beliau. Beliau tuh punya cerita 48:38 banyak bagaimana culture itu di 48:41 Indonesia punya lagu-lagu 48:44 atau juga pantun-pantun gitu ya yang 48:49 menjelaskan bagaimana cara mengatasi 48:53 bencana. 48:54 Ee misalnya lagu apa ya? Saya lupa 48:56 lagunya ya. Tapi ee kira-kira kira-kira 48:59 kalau ada tanda ini binatang ini berarti 49:02 kita harus ini. Jadi balik lagi belajar 49:04 dari binatang tadi gitu. He. 49:06 Kearifan lokal di Indonesia itu juga 49:09 cukup baik dalam ee mengatasi ee bencana 49:16 dalam mempersiapkan diri dalam membuat 49:19 kita dalam kondisi siap ready gitu ya 49:22 kan. Satu yang pertama jangka jauh nih 49:25 siap-siap dulu nih gitu ya. tah nih 49:27 belajar nih gitu ya atau menghindari nih 49:30 dengan sikap-sikap kita. Kedua, dalam 49:32 kondisi kita nih hampir nih gitu ya 49:35 sudah ada tanda-tanda ngerespon nih ee 49:37 tanda-tanda nih gitu ya. Yang ketiga 49:39 saat kita dan setelah itu gitu. Nah, 49:42 tahapan-tahapan itu 49:44 ee dengan kita sadari kita akan jadi 49:46 lebih waspada dengan kita mendiskusikan 49:50 isu ini. Mudah-mudahan kita menjadi 49:52 punya tanggung jawab bersama gitu ya. 49:54 Kalau kita sebut itu PSR, personal 49:56 social responsibility 49:58 untuk 49:59 ee menjaga, menghindari potensi adanya 50:03 bencana. Contoh bencana banjir, jangan 50:05 membuang sampah atau juga punya 50:07 persiapan-persiapan gitu. Nah, ee dan 50:11 dan lain sebagainya itu yang perlu. 50:14 Kemudian bagaimana kita mencari 50:16 informasi. Pemerintah punya punya 50:18 keputusan yang penting untuk 50:20 menginformasikan kepada masyarakat dan 50:23 informasinya sampai. Jangan ee 50:26 informasinya sampai. Kemudian hoa itu 50:28 gimana cara mengatasinya? Kalau kalau 50:30 kita sedang ee ini kan informasinya jadi 50:33 berlimpah tapi 50:34 ee bikin bingung atau enggak benar. 50:37 Makanya kita perlu punya apa ya? Jangan 50:39 jangan yang penting dapat informasi 50:41 terus kita ee Iya. Iya. Iya, gitu ya. 50:45 Tapi kita harus cari yang benar. 50:47 Pemerintah pun harus 50:49 menyampaikan dengan sebaik-baiknya 50:51 sehingga meminimalisir gitu. Ee kita 50:54 kita belajar banyak kok dengan COVID ini 50:56 ya kan Mbak Nuning. Ini bencana non ee 50:59 alam ya. 51:00 Kita belajar banyak bagaimana 51:02 sikap-sikap pada saat bencana ini 51:04 awal-awal dulu komunikasinya 51:06 seperti apa? [tertawa] 51:08 Heeh. Itu itu karena ee ketidaksiapan 51:13 gitu. tidak siapan pada saat yang 51:15 harusnya sudah di tahap merespon gitu ya 51:18 ee sudah tahap mempersiapkan diri itu 51:20 malah malah enggak enggak enggak tepat 51:23 gitu cara ber 51:24 ee apa cara bereaksinya gitu ya 51:28 sehingga implikasinya jadi pada saat 51:30 kejadiannya bisa jadi sekarang ini 51:33 negara Indonesia salah satu yang ee 51:36 mengalami tantangan besar gitu ya untuk 51:38 ngalamin ini. 51:39 Heeh. Karena ternyata 51:41 informasi yang berlimpah saja terkait 51:43 dengan ee bencana pandemi kemarin itu ee 51:46 untuk bisa menyadarkan warga 51:49 iya 51:49 yang begitu mengancam dengan hal-hal 51:52 yang harus kita patuhi saja harus 51:54 dilakukan dengan tepat. Kalau enggak ya 51:56 akibatnya yang masuk yang hoa tadi dan 51:58 sebagainya ya. 51:59 Iya. atau main-main misalnya ya kan 52:02 waktu awal-awal kan banyak main-main tuh 52:03 gitu loh. Jadi enggak enggak cepat dalam 52:06 bereaksi itu itu ini ini isu ini gitu 52:09 bagaimana kita mengatasi bencana gitu. 52:12 Tapi yang saat ini kita bahas nih lebih 52:14 ke bencana alam gitu Mbak Noning. 52:16 Iya. Jadi kalau seperti yang Mbak Mona 52:18 gambarkan tadi, perlu dong adanya 52:20 pelatihan ya, pelatihan dan juga 52:23 internalisasi ee kebiasaan-kebiasaan 52:26 yang ee membuat kita bisa menghadapi 52:29 situasi itu dengan siap, berkelanjutan. 52:33 Iya, betul. Kalau kita tidak tinggal 52:36 tinggal tidak tinggal di daerah bencana, 52:38 mungkin kita tidak mengalami tapi bagi 52:40 daerah-daerah yang memang sering 52:41 mengalami bencana alam itu pasti saya di 52:45 Jogja itu Merapi sering sekali ngadat 52:48 ya. Itu yang namanya kentongan tuh bunyi 52:51 kencang kalau terjadi sesuatu yang akan 52:53 membuat kita harus waspada gitu. Enggak 52:56 tahu kalau di daerah lain pakai apa 52:57 mungkin taak-toak di masjid ya bisa 52:59 dipakai ya Mbak Mona ya. Betul, betul ee 53:03 betul Mbak Nuning. Itu yang perlu kita 53:07 aktifkan ya. Karena apa? Orang kalau 53:10 terlalu banyak informasi yang ada di ee 53:14 apa di misalnya media sosial, sementara 53:18 lingkungan yang dekat di rumah kita 53:21 ee enggak ngasih berita gitu ya. Ee 53:24 enggak ngasih e saya kayak tadi 53:26 kentongan tadi gitu ya. itu itu kita 53:29 juga akan jadi ngerasa oh itu masih jauh 53:32 gitu atau kita malah ketakutan banget 53:34 gitu padahal enggak tuh gitu cukup cukup 53:36 baik kok cukup-cukup 53:37 jadi parno ya 53:38 jadi parno yang sebenarnya enggak perlu 53:40 gitu tetapi saya juga mau mengingatkan 53:43 Mbak Nuning 53:44 Indonesia 53:46 tadi kan beritanya tuh segini nih ribuan 53:49 nih gitu loh dan sudah di ee diprediksi 53:54 bahwa kondisi Indonesia yang ada di 53:56 letak tadi letak geogr grafis tadi. 53:59 Heeh. 53:59 Selain keindahan yang luar biasa, tetapi 54:02 juga punya potensi untuk rawan bencana 54:05 gitu. 54:06 Iya. 54:06 Jadi ya ini perlu untuk kita 54:09 untuk kita pelajari begitu. 54:12 Iya. Kalau selama ini Mbak Mona kan ee 54:15 orang-orang yang ee ahli itu cenderung 54:19 mewujudkannya dalam bentuk tulisan. 54:22 Sementara masyarakat kita lebih suka 54:24 atau paham dengan cara kalau di ee 54:27 didengar apa di diperdengarkan bukan 54:30 enggak semua punya hobi baca. Apalagi 54:32 kalau misalnya kita bayangin sekarang 54:35 ini enggak semua tempat bisa mengakses 54:38 internet dengan mudah. Jadi harus ada 54:41 pilihan-pilihan informasi dan juga 54:44 pemberitahuan yang ee 54:47 apa masih masuk 54:50 apa ya bisa dikatakan tradisional ya. 54:52 Iya. Jadi ada di tataran pemerintah 54:55 perlu ngapain ya kan. Jadi komunikasi 54:57 bencana di lingkungan pemerintah perlu 54:59 ada di masyarakat, di individu, di 55:02 keluarga kita sendiri. Kita harus 55:04 memfasilitasi keluarga kita. Ee kita 55:07 ajarin anak-anak kita gitu ya. termasuk 55:10 juga misalnya anak-anak kita punya atau 55:12 keluarga kita punya disaster kitalnya 55:14 gitu ya, kotak siaga misalnya begitu ya. 55:17 Nanti kalau ada bencana kita harus 55:18 ngapain ngumpulin alat-alat ini kalau 55:21 bisa ready dan lain sebagainya. Ini 55:24 perlu perlu begitu perlu untuk kita 55:27 siapkan. Jadi ee apa fasilitasi 55:33 terkait dengan komunikasi itu juga perlu 55:38 Mbak Mona banyak yang mengacungkan 55:40 jempol keren mengingatkan kita pada 55:42 hal-hal semacam ini yang kita terima di 55:45 YouTube kita. Tapi ini dari Muhammad 55:48 Irfan bilang keren banget. Semoga Allah 55:52 lindungi Mbak Mona, penyiar-penyiar, 55:54 Habib-Habib, ulama-ulama semuanya. ee 55:58 serta semua sivitas radio tercinta. Ada 56:01 pertanyaan, bagaimana mengakses bantuan 56:04 ketika kita terjebak di suatu bencana 56:08 sementara alat komunikasi semuanya lagi 56:09 terputus? 56:12 Bagaimanakah gerangan, apa yang harus 56:14 dilakukan pertanyaan itu? Silakan, Mbak 56:16 Mona. 56:18 Yang pertama adalah berdoa kepada Allah 56:21 Subhanahu wa taala karena Allah yang 56:23 maha kuas 56:24 segala. Iya. 56:27 Itu deh. Itu yang kedua adalah 56:30 sebenarnya ee pemerintah punya tanggung 56:34 jawab untuk secara aktif dan pemerintah 56:37 harus punya sistem dan yang saya tahu 56:39 demikian sudah ada gitu loh ya ee apa 56:43 namanya BNPB dan lain sebagainya gitu ya 56:45 yang sudah mempersiapkan gitu ya tetapi 56:48 juga ada di orang-orang di lingkungan 56:50 kita gitu ee di lingkungan kita. Makanya 56:53 tadi kita harus tahu ee siapa tetangga 56:57 kita gitu ya. Terus kita harus tahu ee 57:00 apa cari cara untuk misalnya ke tempat 57:03 yang terlihat misalnya begitu atau ee 57:09 ee secara aktif membunyikan sesuatu yang 57:12 membuat kita mendapat perhatian misalnya 57:14 begitu. 57:15 I kan. Jadi, jadi kita perlu cari. Jadi 57:18 ee kita yang misalnya ya ee insyaallah 57:22 tidak ya ee kita yang atau orang 57:25 tersebut yang misalnya sedang mengalami 57:27 bencana, dia harus secara aktif 57:30 menginformasikan dengan berbagai cara 57:32 gitu ya, dengan segala e kesederhanaan 57:35 yang dia miliki. Misalnya keterbatasan 57:38 ee gadget enggak ada, enggak ada sinyal 57:40 dan lain sebagainya, dia harus cari 57:41 cara. tetapi juga pemerintah atau juga 57:45 warga sekitar punya tanggung jawab 57:46 karena mereka juga punya list kok warga 57:49 itu kan makanya komunikasi di lingkungan 57:52 itu penting Mbak Nuneng [tertawa] karena 57:54 kita tuh dikenal sama lingkungan kita 57:57 gitu loh. Jadi siapa sih orang yang 57:59 paling 58:00 ee apa ya ee paling cepat membantu 58:07 saudara kita jauh misalnya gitu ya sulit 58:09 gitu tapi lingkungan tetangga dan lain 58:12 sebagainya 58:13 dengan komunikasi yang baik dengan 58:15 mereka komunikasi tetangga yang baik 58:17 dengan mereka implikasinya adalah mereka 58:20 akan ngecek kok siapa nih yang terdampak 58:22 nih siapa nih yang ee belum ketemu 58:25 orangnya nih gitu. ini memungkinkan. 58:28 Terus misalnya anak ini ee keleleran 58:31 sendiri misalnya begitu ya. 58:32 Ee dia kan jadi tahu kalau enggak 58:35 anak-anak kan suka bingung kan. Mbak 58:36 Nuning pernah ngedengar enggak atau 58:39 mungkin kita semua pernah dengar ya 58:41 orang lagi anak-anak lagi di jalan terus 58:43 bingung gitu ya ngapain? Ngerti enggak? 58:45 Anak yang smart dia akan oke berarti 58:48 saya nih harus ke polisi nih ya kan? Dia 58:50 akan cari tuh polisi atau oh berarti 58:52 saya nih harus ee cari RT nih gitu ya. 58:55 dia akan ngomong atau dia cari ee orang 58:57 yang kira-kira dia bisa percaya nih 58:59 siapa nih, enggak siapa aja ya kan. 59:02 Nah, dengan dengan kemampuan seperti 59:05 itu, itu kan kita menjaga keluarga kita, 59:08 mengkomunikasikan kepada lingkungan kita 59:11 di ee apa bagaimana supaya tidak panik 59:15 ee ee ee 59:17 sikap ee apa ya ee kalau lagi panik oke 59:21 caranya nenangin diri oke saya harus 59:24 pintar nih cara solusinya nih ngadapin 59:27 ini. Nah, si anak itu perlu difasilitasi 59:30 dengan informasi-informasi seperti itu, 59:32 gitu. 59:33 He he. Terkait dengan anak nih, Mbak 59:35 Mona. Ada ada bukan informasi ya, tapi 59:38 lampu mati berjam-jam anak harus tahu 59:41 how to do-nya. Kan saya ngajarin 59:44 bagaimana ngidupin lampu teplok, 59:46 kemudian juga lilin tapi ee dengan cara 59:49 yang aman. Eh, diketawain sama 59:52 teman-teman. Tapi faktanya kan memang 59:54 bingung ya kalau gelap. Kalau gelap 59:56 kalau ngidupin teplok. Teplok tahu 59:58 enggak sih, Mbak Mona? Orang 1:00:00 tahu tahu 1:00:00 tahu. Lampu 1:00:01 zaman dulu kita ya, 1:00:03 lampu minyak tanah gitu ya. Tapi kalau 1:00:06 banjir gimana dong persiapannya? 1:00:08 Kayaknya kami akan pindah ke daerah yang 1:00:10 sungainya sering meluap. Ooh. Di Jakarta 1:00:14 dekat 1:00:15 Pondok Gede ya katanya. Apa iya? Enggak 1:00:17 tahu juga deh. Gimana mempersiapkan 1:00:19 anak-anak kalau misalnya banjir naik 1:00:21 lantai du eh kalau punya lantai du. 1:00:23 Kalau enggak gimana? [tertawa] 1:00:24 Iya. Jadi yang pertama tadi yang tentang 1:00:27 itu ya ee kita harus 1:00:29 lampu mati. Heeh. 1:00:30 Eh ada apa ya semacam simulasi gitu Mbak 1:00:32 Nuning. Kita sudah tahu nih potensinya 1:00:35 ada kayak begini. Berarti harus ada 1:00:37 simulasi di dalam keluarga kita sehingga 1:00:39 menjadi ee apa ya tidak galau gitu ya. 1:00:44 Ee menjadi ee tidak panik kemudian tidak 1:00:47 berdampak traumatis kepada anak gitu ya. 1:00:52 dia tahu bagaimana bereaksi yang kayak 1:00:54 tadi tuh lampu mati di ee berarti 1:00:58 mentok-mentok ya kan kalau sekarang kan 1:00:59 ada ee apa ya lampu yang langsung nyala 1:01:03 gitu ya di sekarang sudah banyak juga ya 1:01:05 yang langsung ee kalau lampu mati dia 1:01:08 langsung nyala misalnya begitu ada yang 1:01:10 enggak punya kalau yang enggak punya 1:01:12 gimana misalnya tadi yang templok tadi 1:01:14 ya ajarin itu gitu loh ajarin itu. Heeh. 1:01:17 justru eh kan apa ya eh namanya 1:01:21 defensive strategy ya eh apa survival 1:01:24 survival strategi mempertahankan diri 1:01:28 sendiri ya kan ee saya punya teman tuh 1:01:30 keren banget ya dia bilang e dia ajarin 1:01:33 anak-anaknya Mbak Nuning bagaimana ee ee 1:01:37 hidup di hutan gitu ya Mbak Nuning. Ini 1:01:39 sampai-sampai ekstremnya kayak gitu ya. 1:01:41 He 1:01:43 bagaimana hidup di hutan, makan 1:01:45 seadanya, enggak ada apa-apa gak bawa 1:01:47 apa-apa cari makan dan dia harus mampu 1:01:49 beradaptasi dengan rum dengan dengan 1:01:52 hutan, dengan alam. Dia harus pikir 1:01:55 makan apa dan lain sebagainya kayak 1:01:57 pramuka tapi rumah sendiri gitu saking 1:02:00 Heeh. 1:02:01 dicoba ya. Yuk kita coba. Sabtu Minggu 1:02:03 besok enggak ada apa-apaan di rumah 1:02:04 gitu. [tertawa] 1:02:06 Iya, itu itu bagus banget. Jadi itu itu 1:02:09 yang dilakukan ee untuk e survival tadi. 1:02:12 Lalu yang kedua tadi Mbak Nuning kalau 1:02:14 apa? Banjir ya. 1:02:15 Heeh. 1:02:17 Iya. Ya, itu tadi anak-anak misalnya 1:02:20 lagi banjir ya. Makanya dengan kita 1:02:22 kasih pelajaran nih, anak nih jadi 1:02:24 mikir, "Oh, iya berarti saya harus naik 1:02:26 nih." gitu ya. Atau kalau naik 1:02:28 mentok-mentoknya apa misalnya begitu ya 1:02:30 kan. ee kita harus kasih pelajaran 1:02:33 bagaimana si anak ini ee punya punya ee 1:02:38 ee apa ya ee ee langkah-langkah yang 1:02:42 perlu mereka lakukan kalau mereka 1:02:44 menghadapi ini gitu. Misalnya misalnya 1:02:47 yang ee anak itu harus ke mana, ke rumah 1:02:51 siapa misalnya gitu ee yang lebih tinggi 1:02:53 misalnya begitu. Kalau ya kan kalau 1:02:55 orang tuanya masih ada dan bisa menemani 1:02:58 mereka. Tetapi jika dalam situasi yang 1:03:00 sangat ekstrem misalnya gitu ya, dia 1:03:02 harus ke mana atau dia naik ke mana gitu 1:03:05 ya. itu kalau anak-anak enggak enggak 1:03:07 ngerti kan bisa saja misalnya dia pegang 1:03:10 apa tuh pegang listrik misalnya ya ee 1:03:13 ada apa kena kena saluran listrik 1:03:16 misalnya begitu itu juga berbahaya atau 1:03:19 nyalain apa nyalain apa pengetahuan itu 1:03:22 kan 1:03:22 jadi simulasi nih Mbak Mona harusnya 1:03:24 kita lakukan ya 1:03:25 iya simulasi Mbak Nun 1:03:26 enggak cuman di diceritain doang tapi 1:03:28 ayo kita kerjain umpamanya gitu 1:03:29 seolah-olah ya 1:03:30 sesuatu sesuatu yang misalnya kita sudah 1:03:32 memprediksi nih Mbak Nuning ya karena di 1:03:35 beberapa daerah tertentu itu saya mau 1:03:37 kasih tahu Mbak Nunengke tadi saya 1:03:39 ceritain 1:03:40 dulu waktu saya kecil saya tinggal di 1:03:43 daerah yang banjir berkali-kali setahun 1:03:46 berapa kali banjirnya gitu loh 1:03:47 nih saya punya teman Mbak Nuning 1:03:49 sekarang ini dia tinggal di daerah yang 1:03:52 setahun berapa kali banjir Jakarta loh 1:03:54 Mbak Nuning ya ee 1:03:56 certain daerah ee terus ee sudah ada 1:03:58 perubahan-perubahan yang dilakukan dan 1:04:00 sekarang kata dia enggak enggak enggak 1:04:02 enggak banjir lagi di daerah dia. Tapi 1:04:04 beberapa yang beberapa tahun sebelum ini 1:04:07 nih kata dia dia banjir. Nah, jadi yang 1:04:10 saya mau bilang ini nih artinya enggak 1:04:13 cuman enggak cuman di ee tempat yang 1:04:18 jauh gitu. Artinya kita harus tahulah di 1:04:20 mana kita hidup, di mana potensi banjir 1:04:22 itu, di mana potensi gempa, di mana 1:04:26 potensi ee 1:04:28 unpredicted lainnya begitu. Jadi 1:04:31 misalnya daerahnya tinggal daerah 1:04:32 tsunami ya. ya daerah yang di pesisir 1:04:36 melulu eh bakal kena tsunami lagi gitu 1:04:38 ya. 1:04:39 Kita kan enggak tahu gitu. Nah, itu dia 1:04:41 harus mempersiapkan diri, dia harus 1:04:42 ngajarin dan sebagainya. Tetapi kan kita 1:04:44 sendiri kita juga tahu, oh iya ya 1:04:46 ternyata ee daerah sekarang ini cukup 1:04:50 banyak kok ee kejadian-kejadian yang 1:04:52 kita tidak bayangkan. 1:04:55 Longsor misalnya, ya kan? Kalau longsor 1:04:57 daerah-daerah yang di sana ya, yang 1:04:59 daerah-daerah yang banyak itu ya gitu 1:05:01 ya. atau gempa misalnya unpredicted 1:05:03 gempa berarti kita harus kayak gimana 1:05:05 gitu loh. 1:05:07 Kalau banyak 1:05:07 pokoknya persiapan peranya itu yang 1:05:09 penting ya kalau kita ada di daerah 1:05:11 bencana. Mbak Mona ini ada Mbak Hani 1:05:13 yang mau berbagi cerita. Jadi 1:05:15 alhamdulillah sebagai warga Jakarta 1:05:17 beberapa tahun yang lalu saya biasa 1:05:19 langanan banjir sering punya kolam 1:05:21 renang dadakan. 1:05:23 Tapi setelah bersama warga sekitar rumah 1:05:26 melakukan pengerukan untuk God, 1:05:28 mengerukan saluran gorong-gorong yang 1:05:31 juga dilakukan PMR itu, alhamdulillah 1:05:33 saat ini sudah bebas banjir meskipun 1:05:36 hujan deras kayak apapun. Yang jelas 1:05:39 membuang sampah harus disiplin dan 1:05:41 enggak boleh sembarangan. Nah, ini ya 1:05:42 kesadaran tadi ya. Ya, begitulah. Ada 1:05:45 upaya pasti ada hasilnya juga. Bapaknya 1:05:48 tadi kalau enggak salah ee BNPB mencatat 1:05:53 berapa? 2000 lebih ya bencana alam 1:05:57 terjadi di Indonesia dari 2018 yang lalu 1:05:59 itu. 1:06:00 Iya. 1:06:00 Nah 1:06:00 eh datanya itu ee BNPB Badan Nasional 1:06:05 Penanggulangan Bencana yang terakhir 1:06:08 2020 tanggal 29 Desember 1:06:11 itu berapa? 1:06:12 Hampir 3.000 2.929 1:06:14 bencana alam. 1:06:15 Masyaallah. dan korban meninggalnya 1:06:17 entah berapa ribu ya. Sementara yang 1:06:20 mengungsi entah jutaan juga 1:06:22 datanya. Heeh. 1:06:23 Tapi seperti yang barusan Mbak Hani 1:06:24 ceritakan kalau kita hand dengan 1:06:26 tetangga kiri kanan kemudian ada bantuan 1:06:29 juga dari PEMPR untuk mendukung kegiatan 1:06:32 kita insyaallah tidak terlalu ee 1:06:35 berkepanjangan ya apalagi dengan 1:06:38 kesadaran enggak buang sampah 1:06:39 sembarangan. 1:06:40 Iya. Oke. 1:06:43 Kemudian 1:06:44 atau sudah ini kayaknya sudah jam ini 1:06:48 ya, Mbak Noning. 1:06:50 Oke, nanti kita ee close 17.30-an ya. 1:06:53 Kalau ada yang mau disampaikan Mbak 1:06:54 Mona. Iya, Mbak Nuni. Pertama 1:06:58 ee bencana itu ada ya kan dan Allah 1:07:03 punya kuasa 1:07:05 dengan apapun yang Allah mau. Jadi ee 1:07:10 kita beradaptasi gitu ya dengan apapun 1:07:13 situasi itu. 1:07:15 Ee komunikasi bencana penting. 1:07:18 Ee apa itu perangkatnya? 1:07:21 sebelum jauh-jauh 1:07:23 pada saat kita hampir menghadapi sudah 1:07:26 ada sudah ada lampu kuning. 1:07:28 He. 1:07:29 Pada saat terjadi bencana dan setelahnya 1:07:31 kita tadi ee membahas secara umum saja 1:07:34 begitu ya. Ee dan juga gimana caranya 1:07:38 persiapan diri kita? Diri kita perlu ee 1:07:41 punya pengetahuan tentang itu, punya 1:07:45 kecerdasan untuk memilah dan memilih 1:07:46 berita. Mengapa demikian? Karena 1:07:49 komunikasi pada saat terjadi bencana 1:07:52 ketidakpastian tinggi dan komunikasi 1:07:55 mengurangi ketidakpastian. Tetapi 1:07:57 komunikasi yang berlimpah dan terlalu 1:07:59 banyak dan membingungkan atau hoa ada 1:08:02 juga itu akan bikin orang enggak nyaman 1:08:05 gitu ya. Ee untuk membuat kita jadi 1:08:08 bingung malah malah malah enggak dapat 1:08:10 informasi yang cukup. Karenanya kita 1:08:11 perlu smart smart dalam memilih 1:08:15 informasi dari sumber-sumber yang 1:08:16 credibleel. kemudian juga mempersiapkan 1:08:19 diri kita dan enggak ya udahlah saya ee 1:08:23 aman-aman saja. Jadi ee siap terhadap 1:08:26 potensi itu tuh jauh lebih baik. Apalagi 1:08:28 sekarang ini kita dengar ada masalah ini 1:08:31 ada masalah sekarang pun kita sedang 1:08:33 mengalami gitu ya bencana ee ee non alam 1:08:37 ya 1:08:38 dan bencana alam juga begitu ya kan. ee 1:08:41 gimana caranya ini ini ee yang yang 1:08:45 mungkin tinggal di daerah yang kurang 1:08:47 banyak atau tidak ee mengalami banjir 1:08:50 ya. Jangan jadi semau-maunya karena 1:08:53 Indonesia ini atau dunia ini 1:08:55 bersama-sama kok hidup bersama. Jadi ee 1:08:57 kerusakan yang dia bikin itu akan 1:08:59 menimbulkan 1:09:01 ee dampak yang buruk pada lingkungan 1:09:04 yang lain juga. Jadi, yuk kita 1:09:06 bersama-sama menjaga kebersihan, menjaga 1:09:09 ee ee ee apa ee menyimpan membuang 1:09:12 sampah dengan sebaik-baiknya, buat jalur 1:09:15 yang benar dan lain sebagainya. Tanggung 1:09:16 jawab untuk menjaga lingkungan ini perlu 1:09:18 kita lakukan. Kemudian mempelajari 1:09:21 bagaimana kita ee harusnya dalam 1:09:23 mengatasi bencana. Kemudian 1:09:26 ee apa namanya? mempersiapkan keluarga 1:09:30 kita, membuat anak-anak kita untuk ee 1:09:34 punya apa ya modal modal yang cukup 1:09:38 dalam menghadapi ee bencana ini gitu ya. 1:09:42 punya survival eh strategy. Eh jadi anak 1:09:46 tidak panik, jadi anak tidak trauma, 1:09:49 kemudian juga ee apa namanya jadikan 1:09:53 anak itu jadi orang yang siap ee ketika 1:09:56 menghadapi bencana. Kemudian anak punya 1:09:59 bekal dalam memprediksi berarti saya 1:10:01 harus punya strategi seperti apa, bisa 1:10:03 mikirin mau ngapain dan lain sebagainya 1:10:06 gitu ya. Itu yang perlu kita lakukan di 1:10:09 dalam diri kita, di dalam keluarga kita, 1:10:12 dan juga di dalam lingkungan kita. 1:10:14 Lingkungan ini penting sekali. 1:10:16 Komunikasi dengan tetangga, komunikasi 1:10:18 dengan lingkungan itu sangat penting. 1:10:20 Karena pada saat bencana mereka yang 1:10:23 akan jauh lebih cepat tahu si ini ada, 1:10:26 si ini enggak ada. Terus siapa yang 1:10:28 perlu dimintain tolong, siapa yang perlu 1:10:31 ee kita tolong juga begitu ya. 1:10:33 barangkali ee tempat mana yang lebih 1:10:36 tepat untuk ditinggali oleh satu sama 1:10:38 yang lain. Ee kemudian juga pemerintah. 1:10:43 Pemerintah perlu ee terus-menerus punya 1:10:46 tanggung jawab secara undang-undang, 1:10:49 secara negara, punya tanggung jawab 1:10:51 untuk menjaga warganya, untuk 1:10:53 kesejahteraan masyarakat. berarti harus 1:10:55 terus-menerus aktif, terus-menerus aktif 1:10:57 memberikan ee ee apa upaya-upaya 1:11:00 menghindari dan juga 1:11:02 mengkomunikasikannya. 1:11:03 Karenanya pemerintah juga harus update 1:11:06 terus dengan tepat, memilah dan memilih 1:11:08 di mana masyarakat ini supaya dapat 1:11:10 informasi yang benar. Karena saat ini 1:11:13 namanya ee teknologi informasi saat kita 1:11:17 bahas ya, dampak dari berlimpahnya 1:11:20 informasi sehingga kita tuh jadi percaya 1:11:22 sama sesuatu yang 1:11:24 kalau kita yakin ya percaya. Heeh. Bukan 1:11:27 benarnya tapi ah percaya aja ya ee 1:11:30 namanya ee melampaui kebenarannya post 1:11:33 truth kita sebut itu ya. suatu saat kita 1:11:36 akan bahas itu ya, bahwa itu tuh juga 1:11:38 berbahaya. Karenanya kemampuan kita 1:11:40 untuk bisa smart dalam mengkonsumsi 1:11:43 informasi atau juga bikin informasi 1:11:46 untuk lingkungan kita itu juga perlu 1:11:48 kita tingkatkan. 1:11:50 Ee semoga kita semua bisa terjaga dari 1:11:54 bahaya ee dari marah bahaya, dari 1:11:57 bahaya-bahaya yang tidak kita harapkan 1:12:00 tentu saja. Semoga bermanfaat diskusi 1:12:03 kita hari ini, Mbak. 1:12:05 Insyaallah. Yang jelas Mbak Mona, 1:12:07 komunikasi di dalam bencana ini bukan 1:12:11 hanya diperlukan pada saat kondisi 1:12:13 darurat ya, tetapi justru pranya itu 1:12:16 lebih penting. Jadi kalau kita ada di 1:12:19 daerah-daerah yang rawan entah itu 1:12:21 banjir entah itu gempa atau retakan 1:12:25 tanah ee kita harus senantiasa 1:12:30 mencoba memahami. Bukan hanya kita dan 1:12:32 keluarga tetangga kiri kanan meskipun 1:12:35 pemerintah sudah banyak membantu tapi 1:12:37 kesadaran kita pribadi sangat penting 1:12:40 sekali. pelatihan dan internalisasi 1:12:43 kebiasaan menghadapi hal-hal bahaya 1:12:46 bencana ini memang harus dilakukan 1:12:48 secara berkelanjutan ya. 1:12:50 Bikin tenang, bikin sabar. Satu lagi 1:12:52 Mbak Nuni. Heeh. Heh. 1:12:54 Doa yang banyak. [berdehem] 1:12:55 Ah, itu pasti. Heeh. 1:12:57 Oke, 1:12:58 Mbak Mana pernah datang ke tempat 1:13:00 bencana melihat bagaimana paniknya warga 1:13:03 dan bagaimana ee kondisi itu membuat 1:13:06 kita semua betul-betul hanya menyerah 1:13:08 pada 1:13:09 apa yang sedang terjadi. 1:13:11 Terasa banget ya. Heul. 1:13:15 Pernah waktu di Jogja itu ee semua 1:13:18 dipersiapkan untuk segala macamnya. 1:13:21 Waktu itu saya ke bagian ini Mbak Mona, 1:13:23 ke bagian ee di bagian logistik ya. 1:13:26 Tetapi ketika sampai di sana banyak 1:13:27 anak-anak yang enggak terurus. Mereka 1:13:30 tetap dengan ketakutan tapi enggak jelas 1:13:31 mau diapain. Akhirnya ee aku dengan satu 1:13:35 teman berinisiatif untuk mengambil semua 1:13:38 makanan yang ada di mobil-mobil yang ee 1:13:41 mengantarkan truknya untuk dijadikan 1:13:43 hadiah buat permainan buat anak-anak. 1:13:46 Ini terasa sekali. Seperti yang tadi 1:13:48 Mbak Mona bilang bahwa 60% bencana alam 1:13:51 itu korbannya biasanya anak-anak itu 1:13:53 memang betul sekali anak-anak. harus 1:13:55 dibekali persiapan. Bahkan ketika itu 1:13:57 sedang terjadi pun mereka rasanya ee 1:14:01 gimana ya, bingung enggak jelas mau 1:14:03 ngapain juga gitu. 1:14:05 Oke, Mbak Mona mungkin ada yang bisa 1:14:07 ditambahkan. Kita masih punya waktu 3 4 1:14:09 menit. 1:14:10 Ee enggak Pak Nuning. Ee sudah itu saja. 1:14:15 Insyaallah kita semua dilindungi oleh 1:14:17 Allah Subhanahu wa taala. 1:14:18 Amin. Amin. 1:14:21 Terima kasih, Mbak. Terima kasih sekali 1:14:22 lagi Mbak Mona juga teman-teman ikhwan 1:14:25 akhwat yang berada bersama-sama baik di 1:14:27 Rasil TV ee di YouTube ya dan juga 1:14:31 informasi ee menyenangkan bahwa acara 1:14:35 ini apa membuat kita sadar terima kasih 1:14:38 banyak. Tapi karena bisa jadi kita 1:14:40 enggak ada di daerah bencana ya tidak 1:14:42 banyak yang bisa kita ungkapkan. Sekali 1:14:44 lagi Mbak Mona terima kasih banyak. 1:14:46 Seperti yang tadi Mbak Mona janjikan, 1:14:47 next mungkin kita bicara soal yang itu 1:14:49 tadi. Dan untuk ikhwan akhwat 1:14:50 rahimakumullah, insyaallah kita dan 1:14:53 anak-anak meskipun tidak berharap tapi 1:14:56 siap menghadapi apapun yang terjadi 1:14:58 ketika alam berbicara lain. Terima 1:15:01 kasih. Billahi taufik walhidayah. 1:15:03 Wasalamualaikum warahmatullahi 1:15:04 wabarakatuh.