Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- TV
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, ikhwan akhwat
- rahimakumullah.
- Alhamdulillah ya, kita dipertemukan di
- acara Bincang Komunikasi bersama Dr.
- Laila Monaganim yang mudah-mudahan
- mempersuasi kita semua dan memotivasi
- kita untuk bisa melangkah lebih baik
- terkait dengan berkomunikasi.
- Tidak lupa salam selawat kita lantunkan
- untuk junjungan umat kekasih kita
- Muhammad Rasulullah.
- sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak
- kita mendapatkan syafaat beliau dan
- dipertemukan di saat yang sangat kita
- rindukan di yaumil akhir. Ikhwan akhwat,
- narasumber kita sudah hadir, Dr. Laila
- Monaganim. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Sehat, Bugar Gar ya?
- Alhamdulillah, Mbak Nuning. Sehat?
- Alhamdulillah. Alhamdulillahamdulillah.
- Dan wajahnya tampak lebih cerah. Amin.
- Alhamdulillah. I
- tadi waktu of air kita bicara tentang
- bagaimana ya cara pandang kita,
- keyakinan kita
- dan penilaian kita atau sebaliknya dari
- orang yang berbicara dengan kita itu
- tampaknya tidak mudah ya bagi semua
- orang ya.
- Heeh. Heeh.
- Persisnya jadi ee aura
- yes. [tertawa]
- Aura kita.
- Aura kita.
- Seperti apakah gerangan?
- Seperti apakah gerangan?
- Mari kita simak sepenuh hati, sepenuh
- rasa. Silakan Mbak Mona.
- Terima kasih Mbak Nuning. Ee Iwan dan
- akhwat yang dirahmati Allah.
- Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Yuk kita bahas aura bukan aura kasih,
- [tertawa]
- [terkesiap] aura diri dalam
- berkomunikasi.
- Nah, ee atau ee bahasa lainnya adalah
- konsep diri gitu ya.
- Jadi ee
- apa sih yang ada di dalam diri kita,
- dalam pikiran kita ketika kita
- berkomunikasi sama orang lain? Nah,
- komunikasi saya dengan saya atau cara
- saya melihat diri saya, cara saya
- melihat aura saya gitu ya, akan
- berpengaruh pada perilaku saya pada
- orang lain
- dan ini akan memberikan
- ee
- ee reaksi orang lain kepada saya lagi
- gitu. Jadi, jadi umpan balik orang
- kepada diri saya. Jadi, bagaimana cara
- saya memandang diri
- kemudian akan tertampil pada perilaku
- saya. He.
- Dan perilaku saya kepada orang lain
- menimbulkan reaksi orang lain kepada
- diri saya. Jadi, muter di situ gitu.
- Ini yang seru untuk kita bahas pada hari
- ini ya.
- ee kecenderungan
- orang untuk kalau berperilakunya itu
- sesuai dengan cara dia melihat dirinya.
- Ini
- ee ketika seseorang berperilaku itu
- dipengaruhi oleh cara dia ngelihat
- dirinya. Ini adalah komunikasi saya
- dengan saya.
- Kalau saya berpikir saya menarik, saya
- akan benar-benar menarik. Kalau saya
- berpikir
- saya ee malu, saya akan malu. Kalau saya
- berpikir saya
- cuek, saya akan cuek. Kalau saya
- berpikir saya ee
- ee
- baik, saya akan baik. Hm.
- Jadi
- ee
- pikiran itu berpengaruh pada bagaimana
- orang lain jadi merasakan diri kita
- karena itu yang kita proyeksikan, itu
- yang kita tampilkan, gitu.
- Jadi apa yang dipikirin
- menjadi aura diri kita dan menjadi
- perilaku.
- Jadi eh ada yang bilang kayak begini,
- "You don't think what you are. You are
- what you think." H
- Anda tidak berpikir
- apa diri Anda, tapi Anda adalah apa yang
- Anda pikirkan gitu ya. Jadi ee untuk itu
- kita kita perlu ee
- memahami cara berpikir kita ini sensitif
- loh dalam kita ngobrol sama orang lain
- gitu.
- Nah, ee kalau kita berpikir positif,
- maka kita jadi positif.
- Konsep diri atau aura diri positif itu
- ada ee indikator-indikatornya gitu ya.
- Yang pertama, ketika
- diri kita yakin bahwa kita mampu
- mengatasi masalah,
- maka
- ee aura diri kita jadi positif.
- Kelihatan kayak
- PD untuk nyelesaiin masalah gitu.
- Ketika kita merasa kita setara sama
- orang lain, aura diri kita juga
- menampilkan bahwa kita tuh sama kok sama
- orang lain. Enggak minder, enggak lebih
- tinggi, enggak sombong, enggak ngerasa
- lebih hebat atau enggak ngerasa lebih
- kecil gitu. Nah, jadi pikiran itu
- ee cara saya memaknai diri saya
- itu akan mencerminkan aura diri saya
- gitu. Yang tadi saya yakin saya mampu
- ngatasin masalah maka kita akan
- mengekspresikan kita mampu mengatasi
- masalah. Kedua, saya merasa saya sama
- kok sama orang lain gitu. Enggak lebih
- tinggi, enggak lebih rendah. Maka aura
- kita menampilkan seperti itu.
- Dia juga bisa menerima pujian tanpa rasa
- malu gitu ya. Orang tersebut kalau
- dipuji ya
- ee masyaallah alhamdulillah gitu aja.
- Enggak jadi ah enggak gitu ya ee atau
- rasanya seperti malu dan lain sebagainya
- gitu.
- Dia sadar bahwa setiap orang punya
- berbagai perasaan,
- punya berbagai keinginan dan perilaku
- yang tidak sepenuhnya disetujui oleh
- orang lain, oleh masyarakat. Jadi dia
- bisa nerima bahwa bisa jadi orang lain
- itu
- atau setiap orang bisa punya pikiran,
- punya perasaan, punya perilaku yang
- mungkin masyarakat enggak setuju. Bisa
- aja toh itu normal aja. Orang yang ber
- konsep diri positif akan ngelihat hal
- itu, tidak secara negatif memaknai orang
- lain. Kemudian orang yang berkonsep diri
- positif
- atau mengekspresikan aura diri positif
- karena apa? dia mampu memperbaiki
- dirinya karena [berdehem] dia sanggup
- mengungkapkan
- hal-hal kepribadian yang enggak
- disenangi
- dan berusaha mengubahnya. Jadi, dia bisa
- otentik nerima dirinya gitu. Oke, saya
- enggak bisa ini atau saya enggak suka
- ini dan tapi saya siap untuk
- memperbaikinya.
- Jadi, dia
- merasa mampu nyelesaiin masalah. bukan
- berarti bukan berarti harus ee apa
- namanya pernah punya pengalaman
- nyelesaiin masalah itu. Punya pengalaman
- enggak punya pengalaman ya enggak
- apa-apa kita selesaiin aja, kita
- berusaha jalanin aja gitu. Itu orang
- yang ee cara berpikirnya begitu, auranya
- akan tampil positif. Kemudian dia
- ngerasa sama orang lain. Dia enggak
- ngerasa lebih tinggi atau lebih rendah.
- dia nerima pujian biasa aja gitu ya.
- Kemudian dia juga sadar bahwa semua
- orang punya pikiran, perasaan, dan
- perilaku yang belum tentu orang lain
- bisa terima, belum tentu masyarakat bisa
- terima gitu ya. Ya, enggak apa-apa gitu.
- Dan juga dia mampu memperbaiki dirinya.
- dia sanggup menyampaikan
- ee hal-hal yang dia enggak suka atau dia
- enggak ngerasa nyaman, tapi dia berusaha
- untuk menyelesaikannya, berusaha untuk
- mengubahnya, gitu. Jadi orangnya sekali
- lagi saya suka dengan kata-kata otentik
- itu gitu ya.
- Kalau
- kamu merasa kamu pandai, kamu saleh,
- kamu rajin, kamu bertanggung jawab, itu
- karena cara berpikirnya
- ee saya pandai, saya saleh, saya rajin,
- saya bertanggung jawab, dan perasaannya
- juga saya PD, saya enggak suka menyerah,
- enggak mudah menyerah, saya suka
- tantangan. Jadi pikirannya kayak gitu,
- perasaannya kayak gitu, perilakunya
- kayak gitu, orang auranya membacanya
- kayak gitu gitu.
- Nah, Mbak Nuning, ada satu
- panduan yang menurut saya menarik untuk
- bisa tahu orang yang punya
- konsep diri positif sehingga bisa
- menampilkan aura yang positif itu
- karakteristiknya kayak gimana ya? Yuk,
- kita bahas satu-satu ya, Mbak Nuning ya.
- ini saya mengambil dari Hamek ya.
- Pertama adalah
- dia orangnya yakin betul bahwa
- ee punya nilai-nilai dan prinsip-prinsip
- tertentu.
- Dia bersedia mempertahankannya. Dia
- yakin satu keyakinan tertentu atau
- prinsip-prinsip tertentu dan bersedia
- mempertahankannya.
- meskipun pendapat orang lain tuh beda
- sama pendapatnya dia gitu
- atau menghadapi pendapat dari kelompok
- lain yang kuat misalnya dia yakin bahwa
- ee ini warnanya putih begitu Mbak Nuning
- ya.
- He.
- Ee dia akan tetap meyakini itu dan akan
- berpegang pada itu meskipun orang lain
- berpegang bahwa itu bukan putih misalnya
- begitu ya. Ee nah kalau kalau ini kalau
- ini ee tampak tampak clear gitu ya ee ee
- warnanya ya. Tapi dalam keyakinan
- misalnya kita meyakini bahwa si A benar
- atau si B gitu ya. Itu kan satu
- keyakinan yang kita yakin. Meskipun
- orang lain bilang itu salah tapi dia
- yakin dia tuh akan tetap
- mempertahankannya gitu. bersedia
- mempertahankannya.
- Tapi
- dia juga merasa ee dirinya cukup tangguh
- untuk mengubah prinsip itu kalau ada
- bukti yang bilang itu salah. Jadi
- misalnya
- dia meyakini bahwa perginya itu ke
- kanan.
- Meskipun orang lain bilang ke kiri, dia
- akan tetap bilang ke kanan. Tetapi
- ketika bukti menunjukkan bahwa yang
- benar adalah ke kiri, dia akan enggak
- apa-apa mau tuh pindah ke kiri gitu. Itu
- orang yang punya konsep diri positif dan
- dia akan menampilkan aura yang positif
- gitu, Mbak Nuning.
- Iya.
- Mmagi ya, Mbak Nuning ya
- untuk yang itu tadi aja harus punya rasa
- percaya diri.
- Iya, exactly. Betul, sekali.
- Tanpa itu. Heeh.
- Iya. ya.
- Oke.
- Situasi lain misalnya Mbak Nuning ya ee
- ketika kita ee
- bisa menyampaikan satu pandangan ee
- bahwa ee pilihan terbaik adalah ee
- cara A.
- Hm.
- Orang lain pada bilang cara B, cara C.
- dia tetap bilang cara A karena dia
- meyakini dan dia punya data yang
- menjelaskan bahwa cara A adalah cara
- terbaik. Tapi orang ini bersedia kalau
- nanti cara B adalah lebih baik setelah
- ada data yang lebih tepat, bukti
- bahwa dia salah, dia tidak merasa binder
- untuk mengakui kesalahannya dan
- berpindah ke cara B begitu.
- Keren kan kalau ada orang kayak begitu,
- Mbak Nuning.
- Terus sebaliknya kalau ada yang dablek
- percaya sama [tertawa] yang dirinya
- sendiri doang.
- Iya percaya diri sendiri. Padahal ada
- bukti lain yang menyatakan I
- lebih akurat gitu misalnya.
- Betul. Betul.
- Ya.
- Kemudian yang kedua adalah supaya
- auranya positif nih gitu ya.
- ee cara berpikirnya adalah dan
- perasaannya adalah mampu bertindak
- berdasarkan pernilaian yang baik tanpa
- merasa bersalah, berlebihan
- atau menyesali tindakannya kalau orang
- lain enggak tidak setuju. Jadi dia itu
- akan
- ee memilih yang a tadi ketika dia yakin
- A.
- Meskipun orang lain ee merasa yang benar
- adalah B, tapi dia masih meyakini bahwa
- yang benar adalah A gitu. Dia tidak
- merasa
- ee merasa bersalah. Dia tidak merasa
- menyesali tindakannya. Kenapa dia
- percaya A? meskipun orang lain enggak
- setuju gitu, ya udah enggak apa-apa
- disalahin juga ee ketika dia masih
- meyakini bahwa itu adalah benar ya dia
- bukan berarti jadi jadi agresif ya
- enggak.
- Tetapi dia
- ee punya keyakinan gitu itu akan
- tertampil pada auranya. [tertawa]
- Ya udah, enggak apa-apa. Salah. Enggak
- apa-apa. Enggak apa-apa berbeda gitu.
- Bukan berarti salah ya. Ini kan karena
- dia masih yakin.
- Lain kalau misalnya sudah
- kebentur-bentur ya.
- Lain lain misalnya kalau benar salah
- ternyata. Iya kan?
- Iya.
- Heeh.
- Contohnya apa, Mbak Nuning? Misalnya
- pengalaman
- terkait dengan aku punya pendapat A
- padahal yang lainnya bukan A misalnya.
- Itu dengan ee kesehatan misalnya.
- Heeh.
- Banyak orang bilang enggak bisa kalau
- kita begini begini. Hah. Padahal beda
- pendapat.
- Betul.
- Itu kadang-kadang terjerembap sendiri
- kita pada kondisi bahwa enggak
- apa-apanya itu jadi
- apa-apa.
- Itu terkait dengan kesehatan. Belum lagi
- kalau ee bukan dengan kesehatan tapi
- dengan perasaan.
- Ee maksudnya gini Mbak Duning. Yang
- kedua tadi adalah ketika kita ee punya
- keyakinan tentang kesehatan kita,
- cara makan ini, kalau mau ini misalnya
- begitu ya, cara sehat supaya enggak
- sakit apa makan bawang misalnya begitu
- ya.
- Nah, sementara orang lain bilang enggak,
- enggak kayak gitu. Nah, kita itu tidak
- merasa kecil hati. Iya.
- Ee meskipun orang lain enggak setuju.
- Oke. Saya misalnya ya saya masih
- meyakini itu atau saya meyakini saya
- pergi ke tenaga medis misalnya begitu
- daripada pakai obat-obat ee apa ya ee
- herbal-herbal yang kita masih tidak
- terlalu yakin
- gitu misalnya. He
- i kan e ketika kita bisa tetap tegar
- gitu ya, [tertawa]
- itu tuh kerasa auranya gitu, Mbak
- Nuning.
- Nah, ini yang perlu diciptakan.
- Iya.
- Padahal aura itu kalau kita enggak yakin
- dengan diri sendiri pasti enggak keluar.
- Iya, betul sekali. Betul.
- Siapa sih gue? Nah,
- satu pertanyaan itu kan kadang-kadang
- membawa kita kepada suasana, posisi,
- perasaan tertentu.
- Iya. Iya.
- Meskipun kita mungkin ya punya kok rasa
- percaya diri, tapi kalimat aku nih siapa
- sih?
- Ketika berhadapan dengan ee
- kelompok-kelompok tertentu.
- Betul.
- Itu munculnya biasanya karena apa?
- Pengalaman atau karena apa?
- Eh karena kita punya pengalaman, karena
- kita punya pengetahuan, karena kita
- punya keyakinan. He
- itu kalau kita jaga betul itu akan jadi
- positif gitu, Mbak Nuning.
- Jadi dasar kepribadian kita ya
- dengan pengalaman itu.
- Betul teman-teman semuanya ngajakin
- ngerokok misalnya gitu ya. Nah dia tidak
- tidak mau merokok tidak. Dan dia merasa
- bahwa ya udah enggak apa-apa silakan
- Anda merokok saya [tertawa] enggak
- ngerokok gitu ya kan. He.
- Jadi enggak enggak merasa kecil, enggak
- ngerasa enggak ngerasa ee terlalu
- bersalah berlebihan ketika menolak
- temannya gitu. Ee kalau orang lain
- enggak setuju sama perilakunya gitu, ya
- udah dia tenang aja gitu. Nah, itu
- auranya itu kerasa gitu, Mbak Nuning.
- Oke,
- lanjut. Lanjut. Yang ketiga. Yang ketiga
- adalah
- dia tidak menghabiskan waktu yang enggak
- perlu untuk mencemaskan apa yang
- terjadi,
- yang akan terjadi besok,
- yang telah terjadi masa lalu, dan apa
- yang sedang terjadi di waktu sekarang.
- Jadi enggak ngabisin waktu
- untuk cemas aja gitu. Jadi dia akan
- berbuat yang terbaik. Enggak perlu
- cemas-cemas aja apa yang kemarin besok
- kayak gimana ya, kemarin kok kayak
- begitu ya, sekarang kok kayak gini ya
- gitu.
- Ini orang yang auranya keren, [tertawa]
- auranya positif. Kita lanjut Mbak
- Nuning, ya.
- Iya.
- Dia punya keyakinan pada kemampuannya
- untuk mengatasi persoalan
- bahkan ketika dia menghadapi kegagalan
- atau kemunduran. Wih, keren banget nih
- orang auranya. Uh,
- jadi orang yang punya keyakinan, oke, I
- can handle it, gitu ya. Saya bisa
- jalanin ini, saya bisa ngerjain ini.
- Ketika dia pernah gagal juga atau sedang
- mundur, tapi dia punya keyakinan yang
- sangat baik gitu. Amin.
- [mendengus]
- Kemudian
- I can handle it gitu ya. Saya bisa
- jalanin ini, saya bisa ngerjain ini.
- Jika dia pernah gagal juga atau sedang
- mundur, tapi dia punya
- Baik, Mbak Nuning ya.
- Terganggu. Maaf banget itu.
- Enggak apa-apa, Mbak Nuning. Ee
- selanjutnya adalah mm
- orang yang punya konsep diri positif.
- Yang kelima adalah dia merasa sama
- dengan orang lain. Enggak ngerasa lebih
- tinggi, enggak ngerasa lebih rendah.
- Sebagai manusia tidak tinggi hati. atau
- minder. Walaupun ada perbedaan dalam
- kemampuan tertentu, misalnya latar
- belakang keluarga, sikap orang lain
- kepada dirinya, dia tuh
- tetap
- merasa sama orang lain gitu. Ee ini
- enggak mudah, Mbak Nuning di dalam
- situasi di mana dia berada dalam lingkup
- orang-orang yang pada
- apa namanya? ee
- posisi yang tinggi-tinggi misalnya
- begitu ya.
- He
- bisa jadi seseorang merasa minder
- atau dia berada di latar belakang orang
- lain yang ee misalnya posisinya adalah
- ee
- secara ekonomi di bawah dia misalnya
- begitu. Terus dia merasa dia lebih hebat
- gitu. Nah, ini enggak kayak gitu gitu.
- orang yang konsep dirinya positif,
- yang kerasa dari auranya itu kalau cara
- mikirnya kayak gitu, auranya kerasa
- gitu, vibes-nya kerasa kayak gitu gitu.
- Nah, kemudian dia sanggup menerima
- dirinya sebagai orang yang penting dan
- bernilai bagi orang lain. Paling tidak
- bagi orang-orang yang dipilih sebagai
- sahabatnya. dia ngerasa dia orang
- penting untuk orang-orang yang ada di
- lingkungannya.
- He.
- Ee atau orang-orang yang dianggap
- sebagai sahabatnya. Jadi, dia juga
- merasa diri berharga gitu.
- Itu vibes-nya akan kerasa, auranya akan
- kerasa, gitu.
- Kemudian Mbak Nuning,
- dia dapat menerima pujian tanpa
- pura-pura rendah hati dan menerima
- penghargaan tanpa rasa bersalah.
- Jadi orang ini adalah kalau dipuji
- terima kasih atau masyaallah
- alhamdulillah gitu ya.
- Ee
- dan menerima penghargaan tanpa rasa
- bersalah gitu. Jadi oke alhamdulillah
- masyaallah terima kasih misalnya kita
- ucapkan seperti itu gitu ya.
- dia cenderung menolak usaha orang lain
- untuk mendominasinya. Orang yang
- ee
- kan kalau kita lihat dari gaya
- berkomunikasi itu ada empat ya.
- Satu
- agresif, dua pasif agresif, tiga
- ee pasif, empat asertif.
- Dia nih asertif gitu. dia tidak merasa
- lebih tinggi ee ngeremehin orang lain,
- ngerasa ngenyek-ngenyek ke orang lain,
- atau merasa siap untuk atau merasa mau
- didominasi sama orang lain, merasa diri
- lebih rendah dari orang lain. Enggak
- kayak gitu. Vibes-nya adalah vibes yang
- punya kepercayaan diri gitu. Tapi enggak
- sombong. balik lagi tadi gitu.
- Dia sanggup mengaku pada orang lain
- bahwa dia mampu merasakan berbagai
- dorongan dan keinginan dari perasaan
- marah sampai cinta, dari sedih, sampai
- bahagia, dari kecewa yang mendalam
- sampai kepuasan yang mendalam pula.
- Hm.
- Dia bisa ngomong senang, dia enggak bisa
- ngomong hal yang sedih, dia bisa
- ngomong, dia bisa nyampein perasaan bers
- marah. nya dia bisa menyampaikan rasa
- cintanya,
- sedih, bahagia, kecewa atau puas yang
- mendalam.
- Ini orang yang seperti ini kan ada di
- dalam kehidupan kita ada sesuatu yang
- mengecewakan dan pantas untuk kita
- sampaikan bahwa saya kecewa akan hal itu
- gitu.
- He,
- Mbak Nuning, kita enggak mudah
- menemukan. Saya pernah punya satu
- pengalaman menyampaikan satu perasaan
- kecewa kepada seseorang yang menurut
- saya memang itu ee cukup pantas untuk
- disampaikan, tetapi tidak mudah untuk
- mendapatkan reaksi yang seperti yang
- saya harapkan gitu ya.
- Saya jadi kaget, aduh ee
- ini kok jadi seperti ini ya reaksinya.
- Cukup awalnya saya cukup menyadari bahwa
- oke ini tidak seperti yang saya harapkan
- tapi ya lambat laun ya udahlah enggak
- apa-apa saya terima juga gitu ya. Itu
- itu ada dalam hidup ini gitu.
- He.
- Mbak Nuning. Yang berikutnya adalah
- dia mampu menikmati dirinya secara utuh.
- ini vibes-nya akan, auranya akan keluar
- keren. Dia mampu menikmati dirinya
- secara utuh dalam berbagai kegiatan
- meliputi ada kerja, ada main, ada
- pengungkapan diri yang ee kreatif,
- persahabatan, atau sekedar mengisi
- waktu. Jadi, dia itu bisa jadi manusia
- yang fleksibel gitu. lagi main-main
- bisa, lagi kerja bisa, lagi serius bisa
- ee lagi mengungkapkan diri secara
- kreatif bisa gitu persahabatan atau
- cuman ngasih ngisi waktu dan lain
- sebagainya itu dia bisa melakukannya.
- Ee pernah enggak nemuin orang yang kayak
- gitu, Mbak Nuning?
- Tidak mudah. Karena itu tadi banyak hal
- yang kemudian seseorang merasa tadi Mbak
- Mona bilang ada yang merasa tertekan
- terintimidasi
- punya kepribadian seperti asertif tadi
- itu
- hebat ya kerjuangan
- perlu iya iya iya iya perlu kedewasaan
- perlu kematangan ya
- nah yang ke-11 adalah Mbak Nun dia peka
- pada kebutuhan orang lain pada kebiasaan
- sosial yang telah diterimanya
- dan terutama sekali pada gagasan bahwa
- dia tidak bisa bersenang-senang dengan
- mengorbankan orang lain. Peka dia, dia
- sensitif orang lain ternyata butuh apa.
- Dia juga bisa nerima oh bagaimana
- kebiasaan masyarakat itu seperti apa.
- Terus dia juga enggak mau
- bersenang-senang di atas kesulitan orang
- lain.
- Ini orang yang tercermin pada auranya,
- pada vibes-nya. Vibes-nya positif. Kalau
- kita bilang nih orang nih vibes-nya
- positif banget. Nah, ini ciri-cirinya
- kayak gini nih. Gitu.
- Dan pada saat kita berkomunikasi dengan
- dia, kita akan nyaman berkomunikasi
- dengan orang itu, gitu. Mbak Nuning, ada
- yang mau ditambahin enggak, Mbak Nuning?
- Kalau
- mungkin ada sharing
- yang terkait dengan
- orang yang punya harga diri terlalu
- tinggi itu sebetulnya salahnya ada di
- mana sih? Iya. Di harga diri yang
- terlalu tinggi artinya enggak tepat
- begitu ya. Karena terlalu tadi ya
- enggak tepat ya. Itu karena
- pikirannya kayak begitu,
- perasaannya kayak begitu,
- maka terasa dalam perilakunya seperti
- itu gitu. Tidak hanya dalam mungkin
- perilakunya dari verbal nonverbal,
- kata-katanya, dari gerak tubuhnya
- nunjukin bahwa
- aku lebih tinggi dari kamu. Ee nanga
- misalnya gitu ya
- atau misalnya dari pilihan katanya yang
- yang ee menyakitkan misalnya gitu atau
- pilihan intonasinya yang menyakitkan
- misalnya begitu. Itu karena mindsetnya
- Mbak Nuneng, konsep dirinya. Iya. Iya.
- Kira-kira karena banyak yang menyimak
- acara kita kan, Ayah Bunda ya.
- Iya.
- Pengaruh dari orang tua terhadap anak
- dengan kepribadian yang seperti itu
- besar sekaliah atau lebih banyak
- lingkungan yang mempengaruhi
- semua Mbak Nuning,
- situasi situasi dirinya ee pengalaman
- anak tersebut ee kenyamanan dia,
- lingkungan-lingkungan keluarga yang
- berpengaruh, lingkungan sosial yang
- berpengaruh gitu. ketika dia misalnya ee
- punya keinginan tapi
- dia tidak dicukupi, dia ditekan dan lain
- sebagainya sehingga dia merasa ee konsep
- dirinya enggak utuh gitu.
- Iya.
- Heeh.
- Mm.
- Tadi Mbak Mona bilang, kita tuh
- seharusnya
- bisa sensitif terhadap kondisi
- seseorang.
- Heeh.
- Ini kepedulian yang luar biasa banget.
- Karena sensitif
- memandang kondisi seseorang itu kan
- perlu kesabaran, pemahaman,
- kedewasaan. Itu juga perlu dipelajari.
- Iya.
- Ee
- kalau orang bisa sensitif pada ee
- kondisi orang lain,
- kondisi orang lain itu karena dia
- itu tadi konsep dirinya positif.
- Hmm. He
- dia bisa merasakan perasaan orang lain
- karena semua orang tuh punya kebutuhan
- dasar yang sama.
- Butuh butuh ee kebutuhan praktis,
- kebutuhan personal, dihargai, dianggap
- penting, diperhatikan, didengar. Ya kan?
- itu kan kebutuhan yang universal gitu
- Mbak Nuni. Semua orang butuh itu dan dia
- bisa merasakan ketika orang lain. Jadi
- kalau orang yang selfish, yang
- eh egois, yang konsep dirinya negatif,
- He
- ee dia akan enggak peduli sama hal-hal
- itu. Ee kita boleh lihat konsep diri
- yang positif dan negatif ya, Mbak
- Nuning. Tadi yang positif, sekarang yang
- negatif kecuali ada yang mau disampaikan
- dulu.
- Lanjut dulu.
- Lanjut dulu ya. Oke, Mbak Nuning tolong
- carikan Mbak Nuning yang anak-anak
- belajar dari kehidupan. Ee bila dia
- diemehkan
- dia akan begini. Bila
- ada ada puisi, ada puisi yang
- menjelaskan seperti itu. Itu itu terasa
- dari konsep diri ini. Tetapi izinkan
- saya membahas dulu tentang konsep diri
- ee negatif ya.
- Eh, ini adalah konsep diri negatif.
- Empat tanda orang yang punya konsep diri
- negatif gitu ya. Dia peka pada kritik.
- Dia kalau dikritik itu peka sekali
- gitu ya.
- Orang ini sangat enggak tahan kalau
- dikritik.
- Kalau ada kritik yang diterimanya dia
- enggak tahan. Mudah marah, mudah naik
- pitam. Dalam komunikasi, orang yang
- punya konsep diri negatif cenderung
- menghindari dialog yang terbuka
- dan bersih keras mempertahankan
- pendapatnya dengan berbagai justifikasi
- atau logika yang keliru. Jadi biasanya
- orang yang seperti ini tuh kalau di
- kritik sedikit misalnya ada sesuatu
- kesalahan dia dikasih ee kritik dia akan
- sangat emosional. Apalagi yang
- mengkritiknya tidak menggunakan
- pendekatan yang asertif.
- Hm.
- Yang mengkritiknya menggunakan
- pendekatan yang agresif atau pasif
- agresif. Ini akan jauh lebih buruk lagi
- begitu. Tetapi orang yang berpikir yang
- konsep diri positif ketika dikritik dia
- bisa switch untuk melihat bahwa oke
- ee ini adalah hadiah, ini adalah e
- kesempatan saya untuk memperbaiki diri.
- Thank you very much eh sudah ngasih
- masukan berharga untuk saya bisa lebih
- baik gitu ya. Nah, itu beda banget sama
- orang yang konsep dirinya negatif yang
- auranya jadi kelihatan kerasa gitu
- vibes-nya jadinya vibes-nya negatives
- gitu. Kemudian yang kedua adalah orang
- yang punya konsep diri negatif responsif
- sekali kalau dipuji. Yang tadi ee lemes
- banget kalau dikritik. Respon ini
- responsif sekali kalau dipuji. Dan
- hiperkritis pada orang lain. Sangat
- kritis sama orang lain. Selalu ngeluh,
- mencela, meremehkan apapun siapapun.
- Mereka enggak pandai, tidak sanggup
- mengungkapkan penghargaan, enggak pandai
- menghargai orang lain, enggak pandai
- mengungkapkan apresiasi atau pengakuan
- atas kelebihan orang lain. Jadi,
- orangnya ee kalau dikritik itu melempem
- banget, kalau dipuji wow banget.
- Melambung, melambung banget.
- Melambung banget gitu ya. Dan enggak
- bisa ee apa namanya? memberikan ee
- penghargaan kepada orang lain. Kemudian
- yang berikutnya adalah orang dengan
- konsep diri negatif cenderung merasa
- tidak disenangi orang lain. Kayaknya dia
- nyebel sebel deh sama gue deh. Kayaknya
- dia gini deh dan lain sebagainya dan
- lain sebagainya gitu ya.
- Kemudian orang yang punya konsep diri
- negatif bersikap pesimis terhadap
- kompetisi. Enggak mau ikut kompetisi. Ah
- udah deh mendingan saya gini aja. karena
- dia takut untuk melakukan kompetisi
- begitu, Mbak Roning.
- Masyaallah. Jadi, bagaimana kita dinilai
- orang itu juga
- terkait banget dengan bagaimana kita
- menilai diri kita sendiri ya.
- Betul. Betul. Saya lagi cari anak-anak
- belajar dari kehidupan. Itu judulnya
- puisinya Mbak Nuning.
- Oh, ya.
- Heeh.
- Mudah-mudahan ketemu
- anak belajar dari
- yang jelas ikhwan akhwat selama Mbak
- Mona mencari puisi tadi godaan itu
- datang silih berganti.
- Sementara
- ee ajakan yang buruk tiba-tiba juga bisa
- saja datang dari kiri kanan depan
- belakang tergantung bagaimana konsep
- diri kita untuk bisa melangkah dengan
- tegar dan tegap ya. Yakin ada lagu kan?
- Pernah dengar enggak? Dunia ini
- panggung
- panggung sendiwara. Jadi memang sih
- banyak hal yang bisa kita temui pada
- saat perjalanan kita di dunia yang cuma
- sandiwara ini
- yang merupakan kesenangan bagi mereka
- yang lalai tentu ya Mbak Mona ya. Kalau
- yang serius enggak enggak merasa
- ee sak enake dewe gitu.
- Ini Mbak Nuning.
- Iya. Jika dia dibesarkan dengan celaan,
- celaan
- anak belajar memaki. Jika dibesarkan
- dalam kasih sayang dan dukungan, anak
- belajar menghargai diri sendiri dan
- orang lain. Nah, jadi ini ee ada
- sejumlah ee puisinya ya yang menjelaskan
- anak-anak belajar dari kehidupan.
- Children learn what they live.
- Bacain dong.
- Iya, saya sedang mencari yang full-nya
- ya.
- Nah, ini dia Mbak Nuning. Maksudnya ini
- menjawab tadi yang Mbak Nuning sampaikan
- bahwa kenapa kok orang ee apa yang
- membuat seseorang memiliki perilaku yang
- konsep diri negatif karena
- lingkungannya. Bisa jadi karena hal-hal
- ini. Jika anak dibesarkan dengan celaan,
- dia belajar memaki.
- Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
- dia belajar berkelahi. Jika anak
- dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar
- rendah rendah diri. Jika anak dibesarkan
- dengan hinaan, dia belajar menyesali
- diri. Jika anak dibesarkan dengan
- toleransi, dia belajar menahan diri.
- Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
- dia belajar percaya diri. Jika anak
- dibesarkan dengan pujian, dia belajar
- menghargai.
- Jika anak dibesarkan dengan
- sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar
- keadilan.
- Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,
- dia belajar menaruh kepercayaan. Jika
- anak dibesarkan dengan dukungan, dia
- belajar menyenangi dirinya. Jika anak
- dibesarkan dengan kasih sayang dan
- persahabatan, dia belajar menemukan
- cinta dalam kehidupan.
- Ini ee menarik sekali ya.
- Iya.
- Jadi, Mbak Nuning ee
- ee
- masa kecil itu berpengaruh sekali kepada
- konsep diri seseorang. Tidak hanya itu,
- pengalaman. He
- ee misalnya pengalaman di ee kasih
- perilaku yang enggak menyenangkan atau
- pengalaman traumatis sekali atau
- ee itu akan membentuk pikiran, keyakinan
- ee persepsi dan lain sebagainya. Jadi
- tadi si konsep diri itu aura kita kalau
- kita ketemu sama orang ini auranya asik
- deh. Auranya vibes-nya positif deh.
- Bicara belum saja sudah bisa dirasakan.
- Nah, itu karena isi kepalanya kayak
- gitu. Yang tadi tuh konsep dari positif.
- Dan kalau isi kepalanya konsep diri
- negatif ya jadinya jadinya kita ngerasa
- kayaknya enggan deh dekat sama dia deh
- gitu. Itu vibrasi ya.
- Itu vibrasi.
- Betul.
- Iya. Iya.
- Jadi ikhwan akhwat kalau di rumah
- Heeh.
- buah hati kita sering sekali mendapatkan
- dorongan dari kita sebagai orang tuanya.
- Rasa percaya dirinya juga akan tumbuh
- dengan baik.
- Betul.
- Waktu ke waktu ya. He.
- Karena dukungan dari kita orang yang
- terdekat dari mereka dengan mereka itu
- akan memunculkan rasa menyenangkan bagi
- mereka dan juga senang terhadap diri
- mereka sendiri.
- Betul. Betul.
- Apakah kita mudah melakukan itu di
- rumah? [tertawa]
- Apalagi kalau tadi Mbak Mona bilang di
- antara puisi tadi kan bahwa kalau hinaan
- atau celaan
- Heeh. membuat mereka yang anak-anak kita
- yang dihina dan dicela ini jadi gampang
- memakai.
- Enggak salah juga ya. Karena itu kita
- yang memunculkan perasaan itu.
- Betul. Betul. Betul.
- Sementara tadi kalau banyak dihina
- meskipun cuman sepele
- tapi
- intinya adalah membuat anak merasa
- terhina. Yang muncul apa?
- Yang muncul jadinya rendah hati. Rendah
- rendah rendah diri. Rendah diri bukan
- rendah hati. rendah hati. Keren dong.
- Keren. Heeh. Rendah diri.
- Rendah diri. Jadi pemarah. Jadi merasa
- ee ingin berkelahi, merasa
- ingin nonjok gituing. [tertawa] Betul.
- Betul. Dan itu peran kita luar biasa ya
- sebagai orang tua. Apalagi di Golden Age
- yang sampai 10 tahun
- itu.
- Masyaallah.
- Betul.
- Ini karena live kalau ikhwan akhwat mau
- telepon juga bisa. Iya.
- Ee kalau ada yang mau ditanyakan.
- Iya, mungkin
- Om ini informasi sebentar dari Mbak
- Retno nih. Masyaallah, makasih banyak.
- Bincang parentingnya mengena banget.
- Saya ingat dulu waktu kuliah pelajaran
- psikolog belajarnya satu semester itu ya
- yang dibahas ini masyaallah. Oke. I
- emm, sebentar sekali lagi kalau ada yang
- mau kirim
- ee pertanyaan melalui WA atau bisa juga
- telepon karena ini live dan seperti yang
- Mbak Mona barusan bilang, kita break
- sebentar. Silakan kalau seandainya ada
- yang ingin ditanyakan ya. Terima kasih
- untuk radio-radio yang juga
- menyebarluaskan siaran-siaran dari
- Rasil.
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- Masih bersama Rasil untuk Islam yang
- satu di acara Bincang Komunikasi bersama
- Dr. Laila Monaganim. Jadi, ikhwan
- akhwat, kalau cara pandang kita,
- keyakinan dan ee penilaian terhadap diri
- sendiri, baik itu secara fisik atau
- psikologi atau ya itu ternyata bikin
- kita nyaman atau enggak nyaman ya, Mbak
- W ya.
- Iya. Oke. Ee kebetulan ada yang bertanya
- terkait dengan eman,
- kok sering banget kita enggak nyambung
- sama orang. Itu yang salah saya atau
- bagaimana ini? [tertawa]
- Iya iya iya ya.
- Ngomongin masak sama bapak-bapak enggak
- nyambung dong. Benar.
- Pasti bukan itu maksudnya. Iya.
- Iya. Jadi ee kadang-kadang kita mau mau
- cerita aja gitu ya, tapi orang lain
- ngasih
- misalnya kita lagi ngomong sama pasangan
- kita, kita mau lagi mau curhat aja gitu
- ya, tapi pasangan kita
- udah mendingan gini aja,
- bentar bentar bentar aku sebenarnya mau
- curhat doang nih, enggak mau cari solusi
- nih, gitu. bisa aja kayak gitu kan
- tujuannya itu beda gitu atau ee dia
- enggak sungguh-sungguh dengerin karena
- ketika seseorang mendengarkan dengan
- baik itu ee dia akan pertama dia akan
- ee
- ee nyambung ya enak rasanya gitu. Kedua,
- dia ngerti
- apa yang ee ditanyakan. ketiga, dia
- ngerti cara ngeresponnya. Mungkin aja
- dia enggak dengerin secara utuh sehingga
- ee vibes-nya enggak enak gitu ya,
- auranya enggak enak, kemudian dia juga
- enggak nyambung ee karena dia enggak
- dong, jadi dia ngeresponnya enggak
- nyambung gitu. Jadi ee kenapa orang kok
- enggak nyambung? bisa jadi karena
- beberapa alasan itu atau ketika kita
- ngomongnya mungkin enggak enggak enggak
- selevel-nya dia gitu misalnya kita
- ngomongnya ee beda beda beda bahasa gitu
- bukan beda bahasa ee bahasanya ya tapi
- beda beda beda ketinggian ngomongnya
- gitu misalnya ee ngomongnya ee dia
- orangnya ngomongnya
- ee ee
- bahasanya untuk
- untuk bahasa sehari-hari. Sementara kita
- ngomongnya bahasanya yang serius banget
- gitu. Jadi enggak nyambung atau
- situasinya lagi enggak enggak enak gitu,
- enggak enggak enggak pas gitu. Bisa saja
- kan situasinya enggak pas. Misalnya dia
- baru pulang capek banget.
- Jadi kalau kita merasa omongannya kok
- enggak nyambung ya
- kali-kali karena yang bisa kita
- kendalikan adalah diri kita sendiri.
- Maka kita yang perlu mencari cara untuk
- supaya nyambung. Oh ya mungkin bahasanya
- dipermudah. Oh mungkin cari waktunya
- gitu
- gitu.
- Iya
- bukan cuman bahasannya berarti ya.
- Bukan cuman bahasannya. Betul. Kalau
- tadi kan aku bilang ngobrolin soal
- masakan sama Bapak-bapak. Kalau yang
- memang enggak pernah ke dapur enggak
- nyambung kali ya.
- Tetapi bisa jadi ee caranya seperti yang
- Mbak Mona bilang cara menyampaikannya.
- He.
- Ee kalau bahasanya gaul kita pakai
- bahasa e apa? KBBI.
- KBI
- kan enggak lucu juga ya. Baik, ini kita
- ke pertanyaan berikutnya dari Mas Tejo
- Sukmono.
- He
- izin bertanya ya. Bagaimana konkretnya
- mengatasi anak usia 14 tahun yang
- gandrung main game Roblox?
- Meskipun belum parah sih, tapi kan
- sangat disayangkan waktunya terbuang
- dengan hal tersebut
- dan sepertinya berpengaruh di dalam
- emosinya
- terkait dengan betul
- hal ini bagaimana ya berkomunikasinya.
- Iya.
- Ee ini Bapak atau Ibu ya? Bapak Tejo
- Sukmo,
- Pak Tejo e tantangan
- banyak orang tua ya, anak-anak yang
- masih ee remaja, dia ee tergulung oleh
- apa namanya? Permainan-permainan yang
- seru gitu ya. ee dan memang perjuangan
- dari orang tua untuk me apa memastikan
- ee anaknya ee di jalan yang tepat untuk
- anak di usia tersebut. Jadi ada ada
- pelajaran-pelajaran yang harus dia
- selesaikan untuk kehidupannya dia, baik
- pelajaran sekolah maupun pelajaran
- kehidupan dan lain sebagainya. Yang
- perlu kita lakukan adalah cari waktu
- yang pas, yang nyaman.
- ee ajak ngobrolnya yang benar-benar
- nyaman gitu. Terus kita bisa jelaskan
- ee
- bahwa aku cinta
- ke kamu, I love you very much, gitu ya.
- Ee jadi yuk kita ngobrol yuk ee hal-hal
- yang penting untuk kehidupan kehidupan
- ke depan
- ke depan supaya kamu juga ee apa namanya
- jadi orang yang sukses, yang bermanfaat,
- yang saleh gitu. Kita ajakin ngobrol,
- kita ajakin ke mana dulu pembahasannya.
- Lalu kita balik ke pembahasan. Mudalnya
- kita jelaskan dulu tentang
- ee perjalanan hidup seseorang itu ee
- ee nanti tuh misalnya usia segini, usia
- segini, usia 20 misalnya dia dia enggak
- enggak benar-benar belajarnya nanti dia
- enggak bisa dapat apa yang dia
- cita-citakan, enggak bisa kuliah dengan
- baik dan lain sebagainya gitu. Jadi kita
- kasih kasih gambaran-gambaran
- supaya dia bisa melihat dengan dengan
- apa dengan baik dan ee upaya itu perlu
- sungguh-sungguh atau kita alihkan dulu.
- Kan itu kan tadi percakapannya ya
- ngomongnya kayak gimana ya.
- Upaya-upayanya juga bisa dengan berbagai
- perilaku dan juga omongan. Jadi kita
- jangan dimarah-marahin karena itu
- ternyata enggak jalan gitu. ee kita
- pakai cara sebagai ee orang tua yang
- agresif itu enggak jalan, tetapi seperti
- asertif dekatin bahwa saya tuh sahabatmu
- yang ingin mencarikan cara yang terbaik
- supaya kamu juga happy sekarang dan ke
- depan gitu. Kalau kamu ngelihat itu
- nanti resikonya besar seperti apa dan
- lain sebagainya. Saya gambarkan juga
- resikonya ee enggak jadi apa-apa
- resikonya
- mm pelajaran sekolah jadi rusak dan lain
- sebagainya. Nah, itu kita perlu
- pendampingan yang baik, perlu dekat,
- perlu perlu nyaman hubungannya sama si
- anak ini gitu ya. He.
- Ee sehingga anak itu jadi percaya, jadi
- butuh butuh waktu untuk membuat anak itu
- percaya gitu. Dibandingkan kita langsung
- omongin
- ee enggak enggak boleh dan lain
- sebagainya begitu. Heeh.
- Oke. Ini
- ini perjuangan Mbak Nuning.
- Pernah mengalami Heeh.
- Dari Mbak Rina yang ada di Bekasi.
- Bagaimana caranya membangun aura positif
- saat berbicara agar lawan bicaranya
- merasa nyaman? Heeh.
- Meskipun yang kita sampaikan adalah
- hal-hal yang kurang menyenangkan.
- Iya. Ee
- aura positif kita itu perlu kita
- pikirkan dalam ee di kepala kita, di
- dalam perasaan kita, dan kita akan
- terasa dalam bagaimana kita
- menyampaikannya. Jadi apa yang kita mau
- sampaikan Heeh.
- Ini baik enggak untuk dia?
- Meskipun
- enggak enak tapi ini memang harus
- disampaikan. Ya, sampaikan gitu.
- Misalnya ee
- kita mau sampaikan bahwa dia ternyata
- tidak lulus dalam sebuah tes misalnya
- begitu ya. Enggak enak kan
- menyampaikannya tapi itu perlu
- disampaikan. Saya
- tidak mudah untuk menyampaikan hal ini,
- tapi saya harus sampaikan
- ee apa adanya ya. Jadi kita cari cara
- untuk menyampaikannya tidak merasa lebih
- tinggi, tidak merasa lebih rendah, buat
- situasinya nyaman,
- kita berempati sama dia. Jangan
- ngomongnya kamu enggak lulus gitu ya.
- Tapi ee kita cari waktu yang ini. Oke.
- Ee banyak hal positif yang sudah ee
- terjadi dalam proses ini. Misalnya kita
- jelaskan dulu apa yang sudah positif,
- apa yang ini. Kesimpulannya adalah ini.
- Tapi banyak hal yang bisa kita ambil
- dari pengalaman berharga ini. Ajak dia
- untuk bisa melihat dengan cara yang
- positif gitu.
- Iya.
- Heeh.
- Enggak mudah. Tapi bisa kalau memang ee
- apa namanya?
- apa yang ingin disampaikan adalah untuk
- kepentingan dia. Ini agak mirip dengan
- apa yang ditanyakan Ibu Siti yang ada di
- Cibubur nih.
- Heeh.
- Bagaimana
- kalau kita lagi kondisi emosi atau marah
- pada saat berbicara tapi bisa tetap
- tenang?
- Heeh.
- Emosi marah
- tapi tenang. Gimana tuh? [tertawa]
- Ee kan ada cara-caranya ya. ee tarik
- napas
- ee keluarkan gitu ya. Ee tenangkan dulu
- pikiran kita kemudian kasih jeda
- sebentar ya. Jadi jangan langsung
- ngomong ee lagi emosi kemudian bisa
- dengan duduk dulu gitu ya atau kalau
- masih emosi dengan tiduran dulu gitu ya
- tenangkan diri atau ambil air wudu. Jadi
- jangan emosional
- karena ini akan merugikan diri kita
- gitu. tenangkan diri dulu. Tapi itu
- memang perlu disampaikan. Oke,
- sekarang saya sudah tenang. Cari
- sisi-sisi positif dari percakapan tadi
- bahwa ee
- misalnya kita lagi marah sama seseorang
- dan orang itu melakukan kesalahan, coba
- dilihat bentar ya. Saya belum tahu kok
- sudut pandang dia. Kenapa dia melakukan
- kesalahan itu yang saya pikir itu adalah
- kesalahan gitu.
- Tenangin dulu. Oke, saya mau ngebahas
- tentang ini ya. Ini begini begini
- begini. Kita sampaikan saja
- deskriptifnya
- ee penjelasannya secara jelas aja gitu.
- Ee saya enggak nyaman di sini nih
- perasaan saya begini begini. Ketika kita
- secara jujur itu juga positif kok ya.
- Kita bisa menyampaikan pikiran dan
- perasaan kita. Saya jadi enggak nyaman
- merasakan seperti ini. Tapi secara
- deskriptif aja disampaikan bukan saya
- jadi masinya janganak enggak kayak gitu
- gitu. Heeh. [tertawa]
- Iya. Iya.
- Heeh.
- Jadi deskriptifnya memang seperti itu,
- tapi emosinya simpan.
- Emosinya simpan.
- Ini tadi ibu-ibu ya, sekarang Bapak nih
- ee yang ada di Depok. Pak Fajar.
- I Pak Fajar. Apakah aura diri itu bisa
- dirasakan dari nada suara doang saja
- tanpa melihat langsung?
- Jadi kalau misalnya mungkin lewat
- telepon atau bagaimana ya mungkin
- maksudnya
- terus
- melatih agar tanpa
- lihat aura diri kita nyaman itu
- latihannya gimana?
- Iya.
- Oke. [mendengus]
- Iya. Aura diri itu kerasa dari suaranya,
- kerasa dari tampilan fisiknya, terasa
- dari ee tampilan fisik dan nonverbalnya
- gitu, gerakan tubuhnya ya. Karena ee
- kita jadi orang jadi bisa ngerasain kita
- tuh kayak gimana sih gitu. karena karena
- ee welcome, karena ee ee positif, karena
- suaranya juga kerasa positif dan lain
- sebagainya. Itu aura itu diciptakannya
- di dalam pikiran dan perasaan kita.
- Ketika kita merasakan bahwa kita merasa
- setara dengan orang lain, kita enggak
- ngerasa lebih tinggi dari orang lain,
- kita juga enggak ngerasa lebih rendah
- dari orang lain, kita merasa kita mampu
- menyelesaikan masalah, kita merasa kita
- ee ee bisa menerima
- pujian dan kritikan dari orang lain.
- Ketika dipuji, oke, oke, berarti saya
- tahu saya sudah benar di perilaku X,
- gitu. Ketika kita dikritik, kita jadi
- tahu bahwa oke, berarti saya tahu bahwa
- saya ee jadi lebih ee memahami bahwa
- saya tidak benar di perilaku yang ini.
- Jadi, saya malah berterima kasih karena
- kamu ngasih tahu ke aku supaya saya jadi
- lebih baik, gitu. Kemudian kita juga
- merasa bahwa setiap orang punya pikiran
- dan perasaan masing-masing. Jadi dari ee
- kriteria-kriteria yang tadi sudah
- disampaikan ketika kita yakini dalam
- diri kita, auranya akan terpancar gitu.
- Jadi si vibes positive vibes atau aura
- positif tadi akan terasa gitu.
- Kalau Pak Andi di Bogor itu bertanya
- terkait dengan ikhlas.
- Heeh. Kalau ikhlas di dalam hati, apakah
- benar-benar bisa mempengaruhi aura di
- dalam komunikasi kita sehari-hari?
- Iya. Iya, bisa. Menurut saya bisa.
- Karena ikhlas itu kan perasaan legowo,
- perasaan
- eh
- welcome, perasaan terbuka begitu ya
- kepada orang lain. Jadi ee atau terhadap
- sesuatu yang menimpa diri kita gitu ya.
- Itu juga memberikan dampak positif pada
- vibes kita gitu. He.
- Jadi eh yuk kita tambahkan terus. Jadi,
- you are what you think gitu ya. Ketika
- kita pikiran kita merasa bahwa kita ini
- bisa, kita bisa. Ketika pikiran kita
- merasa kita enggak bisa, ya kita enggak
- bisa. Maka si pikiran ini ketika kita
- mau berkomunikasi sama orang lain atau
- di dalam keseharian kita, kita kelola
- sedemikian rupa dengan konsep diri
- positif yaitu yang tadi itu ee meyakini
- betul nilai-nilai prinsip tertentu dan
- mau mempertahankannya.
- Tapi kita mau berubah kalau kita ngerasa
- oh itu ternyata salah ya yang saya
- yakini ya. Enggak apa-apa baik-baik aja.
- Terus kita ee tidak merasa bersalah
- berlebihan. Kalau ada orang lain enggak
- setuju sama kita, ya udah enggak
- apa-apa. Ikhlas aja gitu. Ee orang lain
- enggak setuju sama kita, ya kita ikhlas
- aja. Kemudian enggak ngabisin waktu
- untuk mencemaskan yang kemarin, yang
- besok, yang sekarang. Ikhlas aja. Itu
- juga positif.
- Heeh. Heeh.
- Kalau ikhlas sedemikian luar biasa
- pengaruhnya, kita semua memang harus
- belajar ya. Apapun itu belajar ikhlas.
- Belajar.
- Emm. Baik. Ini asalamualaikum dari
- Rahmat.
- Pak Rahmat di Jakarta Timur.
- Silakan.
- Pertanyaannya gimana caranya biar
- komunikasi kita itu memancarkan wibawa
- tapi hilang dari kesan sombong?
- Heeh.
- Nada suara kali ya atau sikap tubuh
- juga.
- Iya. Betul.
- Ee kalau yang dari pembahasan kita ini
- adalah dari cara berpikir kita dulu tadi
- gitu ya. Cara berpikir kita merasa
- setara, merasa enggak lebih tinggi,
- enggak lebih rendah dari orang lain.
- Merasa bahwa kita ee bisa mengatasi
- masalah. Kalau kita merasa oke ada
- masalah, terus kita bisa ngatasi
- masalah, kita bisa ee
- menyampaikan pikiran dan perasaan kita
- sebaik mungkin, feel free lah gitu dalam
- hidup kita. Itu akan membuat kita
- menjadi orang yang nyaman ya, Mbak
- Nuning.
- Ee jadi Bapak tadi mengatakan bahwa dia
- gimana Mbak Nun? Saya buka lagi tadi.
- Tunggu sebentar.
- Gaya gaya tercermin dari mana gitu ya,
- Mbak Nuning ya?
- Iya.
- Iya. Tercermin yang pertama dari pikiran
- kita. Ketika pikiran kita seperti itu,
- ekspresi suara kita juga jadi nyaman.
- Kalau kita enggak ngerasa kita lebih
- tinggi dengan lebih rendah dari orang
- lain, ya biasa aja gitu
- kalau kita merasa. Jadi dari pilihan
- kata kita juga jadi mikir. Karena
- pikiran itu kan menghasilkan omongan
- kan. He.
- Kita enggak ngerasa lebih tinggi, enggak
- ngerasa lebih rendah. Ngerasa kalau
- salah, kalau kita yakin akan sesuatu ya
- kita pegang. Kalau kita merasa, "Oh,
- ternyata yang benar adalah itu." Oh,
- oke. Sor ya. Saya tadi berpikir begini,
- ternyata yang benar seperti ini. Saya
- memilih yang ini. Enggak apa-apa juga
- gitu.
- Iya.
- Enggak benar, enggak enggak sombong.
- Jadi, Pak Rahmat di Jakarta Timur
- semoga menjawab Pak Rahmat.
- Mudah-mudahan ya. Enggak kok, enggak
- akan terkesan sombong kalau tadi apalagi
- dibingkai dengan ikhlas. Ya,
- betul.
- Memberi nasihat orang bukan hal mudah.
- Tapi kalau
- tujuan kita baik dan ada rasa ikhlas,
- kalau toh nanti dia protes,
- kayaknya suaranya jadi lebih keren ya.
- Iya. Iya.
- Penyampaiannya. [tertawa] Baik. Ini lagi
- dari hamba Allah di Bekasi.
- Asalamualaikum Mbak Mona.
- Waalaikumsalam.
- Kita kan sering ingin didengar.
- Iya.
- Ingin dihargai saat bicara.
- Iya. Iya. Iya. Tapi
- apakah nanti jangan-jangan buruknya aura
- komunikasi kita justru karena kita
- jarang mau mendengar orang lain, maunya
- didengar?
- Iya. Iya.
- Jadi, setiap orang punya kebutuhan untuk
- didengar, untuk diperhatikan, dianggap
- penting, tidak direndahkan,
- ee disayang,
- ee dihargai gitu ya. Itu kebutuhan dasar
- semua orang. Nah, ketika kita bisa
- menempatkan kebutuhan itu ada pada
- setiap orang. Setiap orang bisa punya
- perasaan yang sama, punya perasaan,
- punya keinginan, punya perilaku yang
- bisa saja ee apa namanya ee berbeda
- dengan kita gitu ya kan. Jadi ee ketika
- kita punya pikiran dan ee perasaan
- ee ingin dihargai, orang juga ingin
- dihargai, maka ee kita akan mendengarkan
- orang lain, kita akan memberikan
- perhatian sama orang lain. Ee dan dengan
- begitu orang lain akan membalasnya gitu.
- Jadi kita kasih aja dulu ke orang lain
- sehingga orang lain akan membalasnya.
- Jangan dari awal kita sudah minta dulu
- gitu.
- Iya. Iya.
- Heeh. Mudahkah? Rasanya iya, tapi bisa
- juga tidak. Tergantung lagi kepada diri
- kita.
- Betul.
- Sekali lagi pokoknya terima kasih banyak
- nih yang sudah menyimak ee bincang kita
- hari ini.
- Ini dari emm siapa nih?
- Oh, Pak Dudi.
- Pak Dudi,
- gimana caranya memperbaiki
- aura komunikasi yang udah terlanjur
- dikenal negatif nih oleh orang-orang di
- sekitar kita?
- Gimana caranya?
- Ee caranya adalah ubah aja, [tertawa]
- perbaiki aja aura aura negatifnya jadi
- aura positif. Ee lakukan ee nanti nanti
- ee ee waktu yang akan menjawab begitu.
- Jadi dengan kita mengupayakan,
- memberikan yang terbaik, memberikan
- perhatian, jadi kita dulu yang sekarang
- mengupayakan
- ee berpikir positif ee konsep diri
- positif kita pertahankan. Kemudian dari
- sana ee kita akan
- membuat orang-orang di sekeliling kita
- merasakan aura positif kita gitu.
- Kok berubah ya, S?
- Kok berubah ya? Heeh.
- Iya.
- Iya. kita bisa merasakan itu kok sama
- orang lain.
- Tidak ada yang tidak bisa diperbaiki
- kalau niatnya
- betul
- kuat kemudian mau kita laksanakan
- meskipun ini perjuangan enggak gampang
- ya.
- Betul.
- Oke. Emm kalau tadi Pak Dudi tanya
- tentang itu,
- ini dari
- siapa nih? Oh, Ibu Diana yang ada di
- Depok.
- Ibuana
- di era media sosial sekarang
- orang bisa terlihat baik lewat
- kata-katanya. Ya,
- tapi
- berbeda di dunia nyatanya.
- Iya.
- Mana sih sebenarnya yang mencerminkan
- aura diri seseorang?
- Iya.
- Apa di medsos atau
- ini di di medsos ee tulisannya
- bagus-bagus gitu ya. Jadi memang medsos
- itu punya
- ee peluang untuk seperti itu gitu ya.
- Bisa saja apa yang dituliskan berbeda
- dengan apa yang dipikirkan dan dirasakan
- dalam keseharian. Maka yang perlu kita
- lakukan adalah jangan sepenuhnya percaya
- sama medsos dan kita juga perlu
- berhati-hati dalam menggunakan medsos.
- Cobalah ee ee menggunakan dengan otentik
- untuk kita gitu, tapi tidak sepenuhnya
- ee apa ya meyakini ee
- medsos karena itu adalah framing gitu
- ya. Ada ada ee tampak muka, tampak
- belakang gitu ya. tampak mukanya
- seseorang itu ditampilkan dalam media
- sosial. Bisa saja ee di dalam pagung
- aslinya kehidupannya belum tentu sama
- seperti itu. Ketika kita bisa melihat
- orang sama itu, itu bagus berarti
- begitu. Jadi ee kita perlu berhati-hati
- terhadap ee orang-orang termasuk kita
- juga perlu berhati-hati terhadap diri
- kita sendiri. Jangan sampai kita
- menampilkan yang ee dua panggung begitu
- ya. itu
- ya maksudnya dua panggung tak ee
- dalam konteks yang negatif gitu ya yang
- ee panggung yang sama dalam konteks yang
- positif itu yang sebaiknya kita lakukan.
- Iya. Ini dari Mbak Nin Nira. Iya. Nira.
- Seringki
- saya merasa enggak nyaman ketika
- berkomunikasi dengan siapapun bahkan
- dengan keluarga
- itu sayanya yang perlu memperbaiki diri
- tapi bagian apa ya kok enggak nyaman
- enggak zamannya apa ya kalau ada engak
- dijelasin atau kalau orang yang memang
- pendiam dan suka mengurung diri iya
- sekarang ini banyak orang ee apa ya ee
- sibuk sendiri gitu ya jadi
- ee
- orang yang ee introvert gitu ya. Karena
- media sosial membuat kita jadi sendiri
- dan lain sebagainya. Maka
- percakapan-percakapan yang memperhalus
- eh small talks ya, omongan-omongan
- ringan itu perlu kita biasakan deh.
- Karena kalau kita enggak biasa ngomong,
- jadi kan ee dalam kehidupan keluarga itu
- kan percakapan-percakapan ringan itu
- diperlukan gitu. He
- enggak enggak ngomongin sesuatu yang ee
- tugas teknis dan lain sebagainya begitu
- saja gitu. Tapi percakapan ringan ee
- bahasa sundanya heri gitu ya atau
- candaan dan lain sebagainya itu sangat
- diperlukan dan itu menjadi penghalus.
- Kemudian ee etiket dalam pergaulan ee
- atau ee percakapannya, cara ngomongnya
- juga enggak pakai gaya yang tadi ya,
- gaya agresif, gaya pasif-agresif,
- nyindir-nyindir atau gaya yang
- galak-galak dan lain sebagainya. Itu
- akan menghangatkan gitu ya. Jadi topik
- percakapannya kita cari supaya ee ee
- kita juga bisa dekat sama orang-orang
- yang ada di rumah kita, di lingkungan
- kita, gitu ya. Dan juga cara kita
- berbicaranya juga yang baik sehingga
- kita jadi ngerasa nyaman gitu. ee
- curhatan perasaan bisa sharing. Coba deh
- ee saya mencoba melakukan seperti ini,
- Mbak Nuning. Ketika saya ketemu sama
- seseorang,
- saya mencoba untuk klikin nama dia. Apa
- ya yang bisa saya pelajari dari dia ya?
- Apa ya percakapan yang menarik ya dari
- dia ya?
- Itu saya dapat loh Mbak Nuning
- dengan cara seperti itu.
- Dengan cara seperti itu. Heeh. Jadi Oh
- iya ya. ternyata menarik sekali dirinya
- ya gitu. [tertawa]
- Niat dan keinginan untuk melakukan itu
- perlu ditumbuhkan.
- Perlu ditumbuhkan. Heeh.
- Iya. Iya.
- Ini ada pertanyaan tidak disebutkan
- namanya. Heeh.
- Bagaimana kalau saya sering sekali
- merasa tidak mampu ini enggak bisa, itu
- enggak bisa. Heeh.
- Itu kalau nanti anak saya
- sudah berumur 34 tahun, apa yang harus
- saya lakukan agar dia tidak seperti
- saya?
- Iya. Yang pertama dari sekarang ee
- sebaiknya ee Ibu ee punya konsep diri
- yang positif tadi bahwa ee saya
- mampu, saya mampu atas sesuatu meyakini
- bahwa saya mampu. Gimana caranya? Ya
- mampuin aja gitu. Bahwa kita tuh mampu
- kok nyelesaiin masalah kok. Dalam hidup
- ini pasti ada masalah dan kita bisa
- nyelesaiin kok.
- Pasti ada jalan keluarnya gitu.
- eh berusaha do your best and it is
- enough. Eh dan kemudian berdoa gitu.
- Usaha doa ee apa ya apa tuh tadi? Ee
- berdoa, berusaha dan tawakal gitu ya.
- Iya. Tambah ikhlas.
- Ikhlas ya. Ee semua itu akan membuat
- kita menjadi kuat, kokoh gitu.
- Iya. Karena kita melakukan yang terbaik.
- Eh do your best. It is enough. lakukan
- yang terbaik dan enggak apa-apa itu udah
- cukup gitu. Kalau ternyata itu belum
- belum berhasil ya kita cari cara lagi
- untuk menyelesaikannya. Karena ketika
- kita punya punya keyakinan, oke saya
- pasti bisa menyelesaikannya.
- Kalau ee sekarang belum selesai nanti
- pasti Allah pasti membantu. Nah,
- keyakinan-keyakinan itu perlu kita
- tumbuhkan gitu. Saya enggak bisa ini,
- enggak bisa itu. Perlu enggak? Misalnya
- kayak begini, saya enggak bisa cara
- benerin AC. Perlu enggak? Enggak perlu.
- Ya udah, enggak usah. Saya enggak bisa
- cara benerin lampu atau ee apa namanya?
- Mm mesin e kulkas misalnya begitu ya.
- Perlu enggak? Enggak perlu. Cari aja
- orang lain. Jadi kita merasa mampu untuk
- mengatasinya bisa jadi oleh diri kita
- sendiri atau melalui caranya
- ahlinya gitu. enggak perlu kita mampu
- melakukan semua hal gitu. Ini akan bikin
- stres ya. Enggak semua orang tahu semua
- hal begitu. Memang kita memang manusia
- yang lemah. Kapasitas kita tidak bisa
- menguasai semua hal yang ada di dunia
- ini. Jadi yang bisa kita lakukan kita
- jadi kayak mata ee pisau itu ya ee jadi
- bagian yang kita ee asah itu yang memang
- ee bukan yang tumpul tapi yang tajam
- gitu. Kita pertajam terus gitu. Jadi
- skill yang kita lakukan, yang kita
- miliki kita perdalam, kita tingkatkan,
- kita tambah lagi dan lain sebagainya.
- Yang enggak enggak bisa kita lakukan ya
- kita bisa mengatasinya. Belum tentu kita
- saya misalnya enggak bisa benerin kulkas
- ya enggak akan saya kutak-kutik. Mbak
- Nuning itu ngabisin waktu. Heeh.
- Ngabisin waktu saya kutak-kutik malah
- ngerusak gitu. Saya aja cari orang yang
- [tertawa]
- bisa benerin itu kan. Kok saya mampu
- menyelesaikan masalah? Ketika kita punya
- keyakinan bahwa kita mampu, itu akan
- membuat kita menjadi oke bisa kok. Nanti
- tanya aja sama orang lain, cari cara.
- Gampang tanya pasti Allah cari ee kasih
- jalan. Heeh. Nah, dengan demikian
- membuat kita menjadi lebih percaya diri
- dan ini akan berpengaruh kepada
- lingkungan kita, anak-anak kita, gitu.
- Dan kalau kita bisa menerima kelemahan
- kita,
- Heeh.
- mengakui
- Heeh. Kemudian ya kalau memang harus
- dipelajari belajar boleh juga keren juga
- ya.
- Betul. Iya. Kalau perlu dipelajari ya
- belajar. Betul.
- Ketika kita merasa tidak mampu
- Heeh.
- di A, di B, di C,
- He.
- kayaknya merasanya enggak deh, enggak
- gue banget.
- Heeh.
- Itu kan memunculkan rendah diri juga
- kan.
- Iya, betul, Mbak Nuning.
- Ini pertanyaan dari Pak Budi.
- Iya.
- Seseorang
- Heeh. yang merasa rendah diri, sering
- menyalahkan diri sendiri. He.
- Adik saya itu sering sekali, "Iya deh,
- salahku, salahku." Tapi saya sebagai
- kakaknya rasanya kok aduh kapan tegar
- dan tangguhnya nih. Apa yang harus saya
- lakukan?
- Itu yang namanya konsep diri negatif,
- Mbak Nuning.
- Si adik tadi itu ya.
- Iya. Auranya jadinya negatif. Kenapa?
- Karena dia merasa meyakini peka sama
- kritik. Kemudian juga dia juga tidak ee
- merasa tidak mampu menyelesaikan masalah
- gitu ya. Merasa tidak ee pesimis, merasa
- tidak disenangi oleh orang lain. Nah,
- gimana caranya? Yuk, kita dorong, kita
- support dia untuk punya konsep diri
- positif tadi. Merasa mampu menyelesaikan
- masalah, mengatasi masalah, bisa
- merasa tidak di bawah orang lain, tidak
- lebih tinggi dari orang lain, merasa
- setara sama orang lain. Itu
- perasaan-perasaan yang tadi kita sudah
- kupas itu kita masukkan dalam pikiran
- kita.
- He
- ee enggak enggak semua hal harus kita
- kuasai. Tapi ketika kita memang
- benar-benar enggak mampu ngerjain itu,
- kita mampu mencarikan solusi untuk
- menyelesaikan masalah itu ketika masalah
- itu perlu diselesaikan. Ya kan? Tanya
- sama ahlinya, minta bantuan orang lain,
- enggak apa-apa gitu. Nah, kita dorong
- tuh e saudara kita untuk bisa punya
- kepercayaan diri seperti itu. Saya pun
- enggak punya kemampuan untuk benerin
- kulkas, tapi
- ada ahlinya.
- Saya akan tanya pada ahlinya.
- He.
- Saya enggak akan sibuk berpikir bahwa
- saya tuh bukan ahli kulkas. Sedih banget
- saya. Enggak. Saya punya keahlian
- tertentu yang saya bisa kembangkan dan
- saya kembangkan.
- kita perluas aja keahlian kita, tapi ee
- ada hal-hal yang memang menjadi minat
- kita, passion kita kembangkan. Yang
- enggak jadi minat kita, kita minta orang
- lain. Karena itulah hidup kita
- bersama-sama di dunia ini. Begitu.
- Iya. Ini terkait dengan pertanyaan ee
- orang tua. Agar
- anaknya bisa punya rasa percaya diri,
- perlukah di
- berikan pujian-pujian pada hal-hal
- sederhana yang dia lakukan?
- Iya.
- Mohon petunjuknya.
- Iya. Menurut saya iya ee pada hal yang
- ee pujiannya itu ee cukup gitu.
- Ee misalnya dia ee apa namanya?
- mengambilkan minuman itu kan sederhana
- ya. Ee kita bilang, "Makasih ya sudah
- bawain Bunda minuman."
- Ee itu kan e apresiasi
- kecil tapi keren ya bagi dia ya.
- Heeh.
- Ee terus misalnya ee ee sesuatu yang dia
- bisa menyelesaikan satu bisa memasak
- gitu ya, memasak memasak nasi goreng
- misalnya begitu ya. itu kan untuk anak
- umur 10 tahun mungkin tantangan gitu ya
- dan dia bisa memasak nasi goreng.
- Wow keren banget nasi gorengnya.
- Masyaallah hebat banget nih anak bunda
- nih gitu. Ee
- ee apresiasi
- atas perilaku dia gitu. Jadi ee itu akan
- membuat dia merasa lebih hebat ee lebih
- lebih percaya diri lebih ee yang dia
- lakukan sudah on the right track. Benar.
- ee kemudian yang dia memang pantas untuk
- dapat apresiasi ya kenapa enggak? Kenapa
- mahal sih gitu? Ada ada orang yang punya
- prinsip ee memang harus melakukan harus
- melakukan yang terbaik dalam hidup. Ya
- udah lakukan saja, enggak usah dipuji.
- Ada yang punya prinsip seperti itu.
- Saya memiliki keyakinan bahwa enggak
- apa-apa kok kita memuji ee karena
- manusia tuh punya kebutuhan dasar.
- dihargai, dianggap penting, disayang, di
- ee perhatikan gitu.
- Kelihatannya sepele pujian itu, tapi
- akan membuat sang anak merasa
- dirinya ternyata berguna.
- Betul.
- Keren banget ya.
- Kalau tadi ee ini tidak ada namanya
- bicara soal saya punya teman itu kok
- mau-maunya sih kalau di tekan sama
- orang, diperbudak sama orang.
- Heeh.
- Itu salah di mana ya? Saya kok jadi
- takut nanti kalau saya tidak mampu
- membesarkan anak saya dengan baik. Mau
- ditekan orang, mau disuruh-suruh orang.
- Iya.
- Ada orang seperti itu.
- Ada orang seperti itu.
- Kenapa? karena dia bisa jadi ee konsep
- dirinya negatif.
- He.
- Karena dia merasa dia tidak setara
- dengan orang lain. Dia enggak bisa
- nyelesaiin masalah. Jadi dia ee
- dikerjain sama orang lain. Oke. Dia
- merasa enggak pede, dia merasa ee apa
- namanya? takut dikritik sama orang lain,
- dia merasa di bawah orang lain. Bisa aja
- tuh konsep diri seperti itu.
- Ee kasihan orang yang seperti itu. Maka
- ee ketika kita ee memiliki orang
- terdekat kita atau sahabat kita atau
- orang yang kita kenal seperti itu, kita
- bantu, kita bantu, kita ajakin ngomong,
- kita ee apa namanya? ee kita ajakin
- ngomong bahwa menurut aku itu kayaknya
- enggak perlu deh seperti itu dan lain
- sebagainya. Kita kita dengarkan pikiran
- dan perasaan dia.
- Oh, barangkali dia punya pengalaman,
- trauma masa lalu dan lain sebagainya
- gitu. Jadi kita bantu dia juga gitu
- untuk bisa
- ee menjadi orang yang lebih percaya
- diri.
- Karena seseorang yang bersedia dia
- apa-apain itu pasti ada alasannya ya
- sebelumnya ya.
- Iya. Ini kan kita melihatnya itu sudah
- sampai keterlaluan kan itu tadi ya kan
- dia sudah dewasa sudah berarti
- pengalamannya sampai dia udah deh mau
- diapain terserah ngalah pokoknya aku
- aman gitu kali ya.
- Masyaallah.
- Heeh. Kasihan ya. He kalau ada yang
- seperti ini sebagai sahabat bisa jadi
- ikhwan akhwat perlu ee sedekah bantuan.
- Bantuannya adalah pemahaman. Ya.
- Betul. Betul. Oke, lanjut dulu Mbak Mona
- sambil kita tunggu pertanyaan yang lain.
- Mbaking, I think eh saya
- conclude ya, Mbak Nun eh bahwa yang
- pertama
- ee aura diri yang positif dalam
- berkomunikasi itu kita ciptakan.
- ee ketika kita punya ketika kita
- berpikir kita bodoh, maka kita akan
- benar-benar bodoh. Ketika kita berpikir
- kita pintar, kita akan bisa pintar.
- Ketika kita berpikir kita baik, kita
- akan menjadi baik, gitu.
- Wow. You are what you think.
- You are what you think. Makanya penting
- sekali untuk kita memikirkan yang
- positif. Maka konsep diri yang positif
- tadi ketika pikiran kita, perasaan kita
- akan terekspresikan dalam ee perilaku
- kita, percakapan kita, omongan kita, dan
- vibes kita, aura kita pada orang lain,
- gitu. Ee yang saya ingin ee jelaskan
- kembali, kita yakin bahwa kita punya
- prinsip tertentu dan mau
- mempertahankannya. Nanti kalau ada ada
- ternyata kesimpulannya ada ada yang
- lebih baik, ya udah kita mau pindah PD
- aja enggak apa-apa gitu. Terus kita ee
- tidak merasa bersalah berlebihan, enggak
- ngabisin waktu untuk mencemas-cemaskan
- masa lalu, masa depan, masa kini.
- Kita juga punya keyakinan untuk mampu
- mengatasi persoalan. Ee bahkan ketika
- kita pernah gagal, kita punya keyakinan
- untuk bisa menyelesaikan masalah. kita
- merasa sama orang lain, enggak ngerasa
- lebih tinggi, enggak ngerasa lebih
- rendah. Kita merasa diri kita sanggup
- jadi orang penting bagi orang lain gitu
- ya. Orang-orang yang kita pilih sebagai
- sahabat kita. Ee ketika dipuji kita bisa
- menerima dengan baik. Kita cenderung
- tidak mendominasi orang lain tadi itu
- ya. Karena ada orang lain yang mau
- mendominasi orang lain. Itu berarti
- orang yang dua-duanya konsep dirinya
- negatif tuh. mendominasi dan mau
- didominasi gitu.
- Kemudian kita ee sanggup mengaku bahwa
- ee kepada orang lain bahwa dia kita
- mampu merasakan suka, senang, gembira,
- sedih, dan lain sebagainya. Kita mampu
- menikmati diri kita secara utuh. Bisa
- bersenang-senang, bisa sedih, bisa
- ketawa-ketawa, bisa serius. ada ada
- kegiatan kita peka pada pikiran dan
- perasaan orang lain. Ini keren banget
- kalau kita bisa terapkan dalam diri kita
- ya.
- Masyaallah.
- Heeh.
- Iya. Iya. Terima kasih sekali Mbak Mona
- untuk bahasan
- aura konsep diri kita ini
- memang ya ee ikhwan akhwat kita
- kebetulan juga sudah di penghujung ini.
- Bagaimana sudut pandang kita, keyakinan
- kita juga penilaian kita terhadap diri
- kita sendiri. ternyata ee sangat
- mempengaruhi
- i
- tentang aura tadi itu ya Mbak Mona ya.
- Iya.
- Dan terima kasih sekali lagi untuk Anda
- yang bersama-sama radio silaturahim
- dibincang komunikasi yang sayangnya cuma
- hadir sebulan sekali. [tertawa]
- Mbak Mona terima kasih ya.
- Sama-sama. Terima kasih.
- Billahi taufik wal hidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh.