Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:02 Ya, di sini ada Abi Agus guru kita. 0:04 Kemudian juga ada Fatan Qolbi NTT 0:07 Betawi. Kemudian ada Neza. Halo Neza, 0:11 terima kasih atas otak-otik kameranya 0:15 sehingga acara ini bisa tersayang. Saya 0:17 sedang berada di UTA Universitas 17 0:20 Agustus 45 di Sunter. Ketua yayasannya 0:23 adalah Bapak Bambang Sulistomo. 0:28 Usianya sudah 70 tahun ke atas. 0:30 Merdeka. 0:31 Merdeka. 0:32 Dia sabar saya nih. 0:34 Asalamualaikum, Mas Bambang. 0:36 Waalaikumsalam warahmatullahi. 0:37 Saya manggil Mas aja ya. 0:38 Soalnya masih muda. 0:40 Kelihatannya [tertawa] 0:42 malam dulu suka ketemu di UI ya di Taman 0:45 Sastra. 0:48 Mas Bambang 0:51 sebagai anak ee kedua 0:53 dari Bung Tomo ya. 0:55 Iya. 0:55 Saya manggilnya Bung Tom supaya orang 0:57 langsung cep nangkap gitu. Oke. Oke. 0:59 Ee pertama perempuan 1:02 Bas Bambang perempuan-perempuan gitu ya. 1:05 Apa kenangan paling berkesan dari Babe 1:08 ini? 1:09 Ee ya kadang-kadang saya merasa ee 1:15 melihat figur Bapak itu 1:18 karena kita ini semua anak-anak sama 1:20 Bapak itu dekat sekali. 1:21 Oh dekat ya. 1:22 Dekat sekali. Malah Bapak seringkiali 1:23 ngajak bercanda, ngajak ngobrol, ngajak 1:26 cerita-cerita mulai cerita yang lucu 1:28 sampai cerita yang menyeramkan sampai 1:30 cerita politik. 1:31 Hm. 1:31 Bapak tuh terbuka orangnya. Jadi saya 1:34 merasa Bapak ini benar-benar ee seorang 1:38 pendidiklah ya. 1:40 Sebagai orang tua dia bukan hanya 1:42 ngelarang ini itu. Sebagai orang tua 1:45 bukan hanya nyuruh-nyuruh ini itu, tapi 1:47 juga dia memberikan 1:48 pengertian-pengertian 1:50 pemahaman-pemahaman tentang 1:51 kehidupan-kehidupan 1:53 ee masyarakat, tentang kehidupan negara. 1:56 pemahaman itu yang buat saya menarik 1:59 sebab tidak semua tidak semua orang ee 2:02 mau mengajarkan pemahaman-pemahaman 2:04 tentang kesadaran berbangsa misalnya 2:07 Bapak saya begitu. Jadi dia 2:08 ee dia mencoba mengajak anak-anaknya 2:12 untuk bicara tentang semuanya. 2:15 Dan yang kedua, Bapak mau kita semua 2:17 sekolah. 2:18 Hm. 2:19 Dengan segala pengorbanan nyari apa? 2:22 nyari uang sekolah ya, Bapak. Saya kan 2:24 terus-terang aja 2:25 ee 2:27 pada waktu ee enggak kerja apa-apa cuma 2:31 dapat pensiun, mau dapat apa ya udah 2:33 begitu aja Bapak. 2:34 Bapak bukan pegawai negeri itu. Bukan 2:36 bukan. Jadi Bapak sempat sampai sempat 2:39 berternak ayam 2:41 jualan telur ayam 2:42 dijual ke tetangganya. Betul. Jadi, 2:45 Bapak Utara ayam sekitar 50 ekor dan 2:47 tiaptiap hari itu ada telur sampai 2:50 bereng kilo atau 1 kilo set dibawa ke 2:53 tetangganya diantar-antar dijual gitu 2:56 sama ibu saya. Jadi, 2:58 jadi ibu saya pun 3:02 pada waktu dia harus menyiapkan pakaian 3:04 seragam buat anak-anaknya jahit sendiri. 3:06 Hm. 3:07 Dan bapak saya oke-oke aja. Jadi kita 3:09 beli kain, beli jahit sendiri sampai di 3:12 sekolah saya. Sekolah saya dulu 3:14 perguruan Cikini. 3:15 He. 3:15 Sekolah orang Gedongan lah. 3:17 Iya. 3:18 Mereka tanya saya, "Bang, seragam lu di 3:21 mana?" Ah, ini seragam gue kok 3:23 jahitannya lain sendiri [tertawa] 3:26 ya. Karena enggak ada kantong, enggak 3:29 ada slating cuman diikat gitu aja. Terus 3:32 ini modelnya model baru. Iya. Ini IB ini 3:36 ibu gue beli Malang. Padahal padahal 3:38 jahitan ibu saya sendiri sampai 3:40 demikian. Jadi Bapak saya tidak mengajak 3:44 untuk nyari uang atau apa enggak. 3:46 Seadanya aja buat kita hidup seadanya 3:48 itu sudah diajarkan Bapak sejak awal 3:51 gitu. Dulu Mas Bemang sekolah SD-nya di 3:53 SD Cahaya Pateria. Cahaya Patria di 3:56 Tengku Umar ya. Sekarang masih ada tuh. 3:57 Betul 3:58 ya? Itulah dulu sempat pindah ke Jalan 4:00 Bojonegoro situ tuh jalan dekat di 4:03 belakang Megaria itu ada sekolah tapi 4:04 enggak tahu mudah-mudahan masih ada apa 4:06 enggak dulu di situ t sekolah 4:08 dulu yang megang sekolah itu orang 4:11 Kementerian Penderangan 4:13 Bapak Haryoto, Ibu Lis Haryoto terkenal 4:15 dulu sebagai tokoh perempuan 4:17 di Cikini rumahnya 4:18 Heeh. 4:19 Sekarang enggak tahu apa masih ada apa 4:20 enggak tapi kayaknya mungkin susah 4:23 [tertawa] 4:24 sekarang susah ya. 4:26 Dulu SMP-nya SMP Percik ya. 4:28 Iya. Grundik ini SMA-nya SMA 3. 4:31 Iya, SMA 3. I 4:32 SMA 3 nih banyak orang-orang terkenal 4:34 dari SMP SMA 3 nih 4:36 ya. Kumpulnya sama 4:37 penyanyi banyak sebenarnya. 4:38 Iya sama orang-orang beken lah. 4:40 Y MS sama Violoping 4:43 lifting sabi saya. Ling saya itu 4:46 olahragawan biasanya. 4:47 E Bapak Adaksa juga dari SMA3 tuh ya. 4:51 Iya. 4:52 E kemudian di PISIP yaipnya. 4:55 Nah, waktu Bung Tomo itu mengerahkan 4:57 waktu 10 November 45. 4:59 Heeh. 5:00 Itu atas atas nama apa bendera apa kok 5:03 bisa begitu banyak orang ikut untuk 5:06 meneriakkan itu? 5:07 Ya, Bapak itu 5:08 atas nama orgas siapa 5:09 itu? Ee Bapak saya itu kebetulan 5:14 wartawan. 5:15 Hm. 5:15 Jadi wartawan itu wartawan kantor berita 5:18 Jepang Dome lah sekarang jadi antara itu 5:20 kan. Nah, Bapak itu kan selalu harus 5:22 kumpulkan sumber-sumber berita 5:24 h 5:25 dari berbagai ee narasumber gitu ya. 5:27 Jadi datangnya ke tokoh-tokoh politik 5:30 itu, ke tokoh-tokoh NU, Muhammadiyah, 5:34 anak-anak muda yang aktif-aktivis itu 5:36 sebagai sumber sebelum wawancara di di 5:39 kantor berita itu. 5:40 Akhirnya dikenal banyak orang. 5:43 Yang kedua, Bapak saya itu anggota 5:44 pramuka. 5:45 Hm. 5:46 Dulu ee dulu namanya Pandu lah ya. 5:49 Pandu. 5:50 Pandu namanya Pandu KBI, kepanduan 5:53 bangsa Indonesia. Nah, KBI itu salah 5:56 satu kepanduan yang asasnya nasionalis. 5:58 Hm. 5:59 Kan ada yang yang Islam juga ada kan. 6:02 Tapi ini yang nasionalis dan Bapak 6:04 mencapai 6:06 strata pandu tingkat satu. 6:09 Hm. 6:10 di Indonesia hanya tiga orang pandu 6:13 tingkat satu itu. Pandu kelas Garuda lah 6:15 katanya 6:16 Bapak Pandu. Jadi Bapak punya teman 6:18 aktivis kepanduan, punya teman aktivis 6:21 ee kemasyarakatan dan sebagainya. Nah, 6:24 di situ Bapak kenal sama banyak orang. 6:25 Nah, pada saat Belanda sudah masuk itu 6:30 ya ya kan Jepang kalah. 6:33 Hm. Dan kemudian ee 6:36 ada ancaman dari orang-orang di luar 6:39 Jepang itu ee mau ngambil negara kita 6:42 mau dijajah lagi. 6:43 Heeh. 6:44 Ya, pada enggak mau dong. 6:45 Heeh. 6:45 Ya, pada enggak mau. Kemudian muncul 6:48 perobekan bendera itu. 6:50 He. 6:50 Muncul resolusi jihad dari teman-teman 6:53 dari narasumber. 6:54 Itu di di hotel apa ya? 6:55 Di hotel oranya. 6:57 Sekarang hotelnya hotel apa ya? 7:00 Ah, 7:01 ilmi bukan? 7:02 Terkenal. ee di di Surabaya itu. 7:06 Nah, kemudian ee 7:08 Bapak di situ lihat bagaimana orang mau 7:11 mengganti 7:12 merah putih biru. Birunya disobek, orang 7:16 Belana marah tonjok-tonjokan jatuh mati. 7:19 Nah, terus Bapak saya mimpin di situ. 7:22 Hm. 7:23 Ya, mimpin nyanyikan lagu Indonesia 7:25 Raya. Dan kemudian, nah, nah di situ 7:27 Bapak melihat bahwa semangat ini enggak 7:29 boleh padam karena memang banyak 7:32 orang-orang yang ingin Belanda masuk 7:34 lagi. 7:35 Hm. 7:36 Ikut sama Inggris karena Inggris yang 7:38 bawa itu. Inggris bawa orang Belanda. 7:40 Bapak nah tapi kan enggak punya senjata. 7:44 Yang punya senjata Jepang. 7:46 Hm. 7:46 Mulailah gerakan-gerakan untuk ngambil 7:48 senjata Jepang. 7:50 Nah, gerakan-gerakan itu Bapak saya ikut 7:52 termasuk berunding sama tentara Jepang 7:54 untuk minta senjatanya sampai sampai 7:58 komandaran tentara Jepang nangis 8:00 menyerahkan samurai bahwa samurai itu 8:02 kan buat orang Jepang kan senjata yang 8:04 sangat apa dihargai sekali semacam apa 8:08 sakral 8:08 sakra 8:09 sampai nangis nyerahin samurai itu terus 8:12 Bapak terima dan nah senjata itu kan 8:14 banyak sampai satu saat senjata seban 8:18 banyak kumpulnya Itu itu teman-teman di 8:20 Jakarta 8:22 kan ada Badan Persiapan Usaha 8:25 Kemerdekaan Indonesia BPU BPKI itu kan 8:27 tokohnya tokohnya itu ada Malik. 8:30 Heeh. 8:30 Telepon Bapak gini-gini waduh kita 8:33 enggak punya senjata nih yang benar nih. 8:35 Terus Bapak saya Bapak saya ke Jakarta. 8:37 He. 8:37 Ketemu Pak Adam Malik. 8:39 Heeh. 8:39 Ketemu Pak Adam Malik terus ketemu ee 8:41 sidang-sidang BPU PKI itu 8:43 pada waktu ada Mas Menteri Luar sudah 8:46 belum belum ya? Belum apa-apa ya? masih 8:48 laskar. Ee dia itu kebetulan juga 8:50 wartawan Dome yang ada di Jakarta. 8:52 He. Oke. 8:53 Kantor berita Dome. Bapak saya kantor 8:55 berita Dome di Surabaya. Ketemu. Terus 8:57 kemudian sama Pak Adam Malik diajak ke 8:59 sidang BPU BPKI. Itu Bapak saya ngelihat 9:02 ngelihat ee tokoh-tokoh yang berapa 9:05 belas orang itu kan sidang merumuskan 9:07 negara itu. 9:08 Bapak saya sampai ngomong gini waktu 9:10 pada saat mereka kita ini kalau merdeka 9:12 enggak punya uang. 9:14 Sempat Bapak saya cerita itu di gedung 9:17 BPU PPKI itu di Pejambon itu Bapak saya 9:20 sampai copot baju. 9:21 Kalau enggak punya uang ini baju saya 9:24 tolong jual untuk kemerdekaan kita gitu. 9:27 Hm. 9:28 Nah itu tidak semua orang dengar cerita, 9:31 tapi itu dikenal sama ya kalau masih 9:34 hidup sih saya kira. Jadi Bapak saya 9:35 sampai copot baju, banting bajunya 9:37 kenapa takut merdeka ini ini bisa dijual 9:40 nih baju saya gitu. He 9:42 karena mereka berpikir merdeka itu harus 9:44 ada uang. Kalau kalau enggak ada uang 9:45 enggak bisa merdeka gitu kan. 9:47 Enggak bisa enggak bisa mendirikan 9:48 negara. 9:49 Sudah. Terus Bapak saya pulang ke 9:50 Surabaya dikirim tuh senjata-senjata 9:53 Jepang. Senjata-senjata kita kereta api. 9:56 He. 9:56 Jadi senjata-senjata dari Surabaya itu 9:58 berapa gerbong tuh dikirim ke Jakarta. 10:01 He he. 10:01 Jadi yang ngirim teman-teman. Nah, saya 10:03 itu Bapak saya dikenal sebagai orang 10:05 yang mengkoordinir perlawanan termasuk 10:08 juga 10:09 ya yang dari polisi Pak Yasin, Pak Cak 10:12 Abdul Arnowo, tokoh-tokoh itu. 10:14 Bapak saya dikenal sebagai salah satu ee 10:17 pemimpin laskar. He. 10:19 Akhirnya Bapak saya bikin laskar. He. 10:22 Setelah bikin laskar mereka pikir gini, 10:25 "Wah, kalau bikin laskar aja 10:27 komunikasinya gimana? Dulu belum ada HP 10:29 kan? Dulu belum [tertawa] ada. Belum ada 10:31 radio. Belum ada radio. Tapi gini 10:34 ya sudah kita bikin wawancar radio. 10:35 Gimana caranya? 10:37 Kan Jepang di setiap kecamatan ada radio 10:40 buatan Jepang. 10:41 He. 10:42 Yang setiap waktu tertentu menyiarkan 10:44 propaganda Jepang. 10:45 Iya. 10:46 Dulu ada tuh. 10:47 Hm. 10:47 Terus Bapak saya bilang, "Ya tinggal Pak 10:49 ini radionya sudah ada, tinggal 10:50 pemancarnya. Bikinlah pemancarnya sama 10:53 teman Bapak namanya Pak Wahab. Itu ahli 10:56 radio, lulusan Jepang juga 10:58 bikin radio pemancar. Jadi dicoba jadi 11:01 terus disiarin orang dengar semuanya 11:03 kan. Ooh ini siaran dari mana gitu kan. 11:07 Ternyata RRI tahu itu dan RRI waktu itu 11:11 sudah itu minta supaya bisa dirilay sama 11:13 RRI. 11:14 He 11:15 ma Bapak saya itu tadi dengan ril radio 11:18 itu Bapak saya mengerahkan orang jadi 11:20 orang dengar segala macam. Nah bangkit 11:22 perlawanannya sama. 11:23 Iya Bapak. Allahu Akbar. Itu Pak siapa 11:26 yang merekam itu 11:28 R? 11:29 Ya, sebelumnya bukan RRI, baru radio 11:32 biasa, tapi setelah RRI 11:35 ee ee apa merelay itu jadi makin besar. 11:39 Itu ucapan takbir itu memang ee awalnya 11:42 memang Bapak saya yang menginisiasi itu. 11:44 Jadi waktu RRI itu makin banyak kan. 11:47 Jadi ternyata ucapan takbir itu di 11:49 seluruh Indonesia di kedengaran. 11:50 Masyaallah. 11:50 Nah, itu yang menggalang rakyat untuk 11:53 mau maju bertempur. Ya, saya saya enggak 11:56 bisa bayangkan rakyat dengan bambu 11:58 runcing berangkat ya baris gitu terus 12:00 kemudian bertempur ngadapin tentara 12:04 sekutu. 12:05 Bambu runcing diginiin kayak kayak mau 12:07 nembak nembak pakai apaan bambu runcing. 12:10 Ya kadang-kadang saya enggak kepikir 12:12 kok berani gitu. 12:13 Pertolongan Allah ya. 12:14 Iya betul betul betul. Tapi kalau yang 12:16 bawa pedang, bawa kelewang, bawa tombak, 12:18 saya kira masih masuk akalah pakai bambu 12:21 runcing. Ya, saya kira hal-hal seperti 12:24 ini yang membuat saya merasa bahwa Bapak 12:27 saya ini berhutang. 12:28 H 12:29 Bapak saya punya hutang sama republik 12:32 ngajak orang perang. 12:33 Hm. 12:34 Ngajak orang gugur. 12:36 Hm. Jadi, Bapak saya itu berhutang sama 12:38 republik ngajak orang perang dan ngajak 12:40 orang gugur. Bayangin bawa bambu runcing 12:43 apa enggak mempan tembak. Pasti ditembak 12:46 pasti gugur. Makanya itu yang gugur di 12:49 Surabaya itu 20.000 orang. 12:51 Oh, 20.000 orang ya? 12:51 Lebih 20.000 orang itu yang ketahuan. 12:53 He. 12:54 Dan itu banyakan juga pahlawan tanpa 12:57 nama. 12:58 Hm. karena enggak ketahuan siapa bapak 13:00 ibunya, siapa tantenya, siapa paknya 13:03 itu. Itu itu dimakamkan gitu aja enggak 13:06 pakai nama. Yang sempat dimakamkan di 13:09 pahlawan zaman makam pahlawan juga 13:10 enggak pakai nama. 13:12 Banyak sekarang 13:13 yang jadi bapak saya merasa berdosa 13:16 ngajak orang perang, ngajak orang gugur. 13:19 Hm. 13:20 Nah, itu yang membuat Bapak saya 13:21 seringki 13:23 punya pikiran radikal. 13:25 Hm. 13:26 Terus revolusioner untuk mengingat 13:28 tentang perjuangan itu. Terus radikal 13:30 revolusioner untuk mengingat bahwa lu 13:33 jangan sembarangan lu, bangsa lo ini 13:34 dulu susah. H 13:36 buat merdeka itu gugur sampai mati. Lu 13:38 kok seenaknya sendiri? Bapak saya sering 13:40 ngomong gitu. 13:41 Heeh. 13:42 Dan itulah yang membuat saya 13:43 dan Bapak terdepan waktu itu kan. 13:45 Iya. Orang pidato dikejar ke mana-mana 13:47 kan namanya orang punya pemancar enggak 13:49 mungkin enggak dicari. 13:50 Hm. 13:52 Punya pemancar radio enggak mungkin 13:53 enggak dicari. Dia kabur-kaburan. Habis 13:55 siaran sini pindah lagi siaran terus 13:57 kabur-kabur terus. Masyaalli. 13:59 Nah, itu yang membuat Bapak saya merasa 14:01 merasa berdosa. Ngajak orang perang, 14:04 ngajak orang gugur. Tapi kok keadaan 14:06 kita masih kayak gini gitu loh. 14:08 Heeh. 14:09 Nah, itu [tertawa] 14:12 ya. Jadi tadi Agus tanya, "Nah, 14:13 kenapa 14:14 Mas Bambang melihat Indonesia sekarang 14:16 jadi bagaimana? Mengingat dulu bagaimana 14:18 perjuangan Bung Tomo?" Ya, kalau 14:19 sekarang bagaimana, Pak, sebagai anak 14:21 dari Bung Tomo melihat Indonesia 14:23 sekarang? Ini 14:23 saya prihatin aja. Saya prihatin bahwa 14:26 dari segi apanya? Mana bagian mana yang 14:28 bikin prihatin? prihatin dari segi 14:30 pengelolaan negara terutama 14:32 kita pernah zaman sebelum Bung Karno 14:36 ee dengan Undang-Undang 45 kita pernah 14:39 mengelola negara dengan sistem demokrasi 14:41 parlementer. 14:43 Tiap berapa bulan ee parlemen berganti, 14:46 ganti perdana menteri ganti. Kemudian 14:48 Bung Karno keluar dekit 5 Juli Bung 14:51 Karno jadi presiden. Setelah presiden 14:54 itu tahun berapa? tahun 56 itu Bung 14:57 Karno jatuh diganti dengan Ordo baru Pak 15:00 Harto ya, Pak Harto jatuh diganti dengan 15:04 reformasi dan seterusnya. Nah, ini 15:07 membuat saya ee sebagai anak muda itu 15:10 merasa 15:11 kok negeri ini diatur dengan cara yang 15:15 tidak sesuai dengan cita-cita 15:16 kemerdekaan. 15:17 He 15:18 cita-cita kemerdekaan yang cita-cita 15:20 kemerdekaan yang mana? 15:21 Nah, katanya kita punya ideologi. 15:24 Ideologi kan ide. Ide itu kan dari ide. 15:27 He. 15:27 Logi dari ilmu. Logos. Jadi ilmu tentang 15:30 kebaikan, tentang ide-ide kok kita 15:33 enggak jalankan. 15:34 He. 15:35 Jadi ilmu tentang ide-ide yang baik 15:36 tentang negara kita ini kok kita enggak 15:38 jalankan. Kok kita biarkan rakyat 15:41 seenaknya aja. 15:42 Heeh. 15:43 Enggak enggak boleh enggak boleh, enggak 15:45 boleh, enggak boleh ngritik, enggak 15:47 boleh berkata tidak. 15:49 Padahal kan dalam pembukaan 15:51 Undang-Undang Dasar 45 itu pembukaan 15:54 disebutkan bahwa maka lahirlah Republik 15:57 Indonesia yang berkeduatan rakyat 16:00 berdasarkan 16:02 ketuhanan pada kemanusiaan, kebangsaan 16:04 dan seterusnya kan keadilan sosial. 16:07 Jadi artinya lahirlah negara Republik 16:10 Indonesia yang berkedolotan rakyat 16:13 berdasarkan Pancasila. Artinya dasar 16:15 kita itu kedolotan rakyat. 16:18 Heeh. 16:19 Rakyat berdaulat tuh gimana sih? Ya, 16:22 rakyat tidak boleh dilarang-larang dong 16:24 kalau ingin berbuat baik. He. 16:27 Rakyat enggak boleh dilarang-larang dong 16:28 untuk bicara. Rakyat enggak boleh 16:31 dilarang-larang dong untuk memilih 16:34 memilihi memilih kepentingan politiknya 16:37 untuk memilih pendidikannya. Rakyat 16:39 enggak boleh dilarang-larang dong untuk 16:40 untuk memilih pekerjaannya yang layak. 16:43 Ya kan? 16:44 Enggak boleh dilarang-larang. Itu 16:45 namanya kedolotan rakyat. Nah, tapi 16:48 rakyat berdaulat apa boleh seenaknya? Ya 16:51 enggak juga. 16:53 Rakyat berdaulat itu harus dengan dasar 16:56 ketuhanan, 16:57 kemanusiaan, 16:59 ya, persatuan ya, sampai kedolan, sampai 17:04 keadilan, sampai kemudian ee ee ee 17:08 berdasarkan keadilan sosial. Jadi, 17:11 rakyat juga enggak boleh sembarangan 17:12 berdasarkan itu. H. Jadi kedotan rakyat 17:15 itu berdasarkan itu sehingga tidak 17:17 mungkin 17:17 tidak mungkin terjadi rakyat yang main 17:21 benar main benar sendiri. 17:23 H 17:24 ya enggak mungkin dengan berdasarkan 17:27 lima sila itu enggak mungkin rakyat mau 17:30 menang sendiri. H 17:31 hmm 17:32 ya kecuali enggak ada aturan. Nah 17:34 aturannya ada di mana itu? Aturannya itu 17:36 ya ada di pembukaan dan Undang-Undang 17:38 Dasar 45. 17:39 Hm. Sehingga kalau itu kita jalankan 17:41 dengan benar, kedotan rakyat itu pasti 17:44 mengatur negeri ini dengan benar. Pasti 17:46 ngatur dengan benar, kecuali memang 17:48 enggak ada aturannya. Nah, itu yang 17:51 membuat kita sekarang ini merasa nih 17:53 aturannya mana? Kok ada Bung Karno 17:56 berkuasa eh diturunkan. Eh, kok ada Pak 17:59 Harto berkuasa eh diturunkan. Eh, ada 18:03 kok kok ada Pak Hab ee Pak siapa Gus Dur 18:06 dan sebagainya. Kok seperti itu. Nah, 18:08 ya. Jadi artinya bahwa kita enggak 18:12 mengelola negara ini berdasarkan 18:13 Pancasila. 18:14 Hm. 18:15 Kita tidak mengelola bangsa ini 18:17 berdasarkan kedotan rakyat, berdasarkan 18:19 Pancasila. Tidak. Itu yang membuat saya 18:21 prihatin 18:22 gitu, 18:24 Mas Babang, saya ingin tanya mengenai 18:25 sejarah TNI. Apakah 18:28 Bung Tomo termasuk pendiri dari TNI atau 18:31 bagaimana? Dan apakah Bung Tomo kenal 18:33 dengan Pak Sudirman Sudirman? 18:35 Iya. Begini, pada saat ee 18:38 peperangan mempertahankan kemerdekaan 18:41 tahun 45 18:43 itu 18:44 almarhum Bapak saya sempat membuat 18:47 laskar namanya BP, barisan Pemberontakan 18:51 rakyat Indonesia 18:52 dan jumlahnya banyak dan ada di 18:54 mana-mana. 18:56 Kemudian Bapak saya juga bikin 18:57 kaderisasi 18:58 Heeh. 18:58 untuk bikin laskar BPRI termasuk bikin 19:01 barisan berani mati. H 19:03 itu dipilih orang-orang yang memang 19:05 berani mati betul untuk bertempur. Nah, 19:07 pada saat sekutu masuk ke negeri kita 19:13 kan ngajak pemimpin-pemimpin kita untuk 19:16 meng di diculik di di disandra 19:19 diungsikan itu kan 19:21 Bung Karno, Hatta, Sahril 19:23 dan para pemimpin itu di di diculik 19:25 Sandra. Nah, Pak Dirman tidak mau. 19:29 Hm. 19:30 Nah, kenapa? Karena Pak Dirman telah 19:33 membikin organisasi namanya TNI tahun 19:35 47. 19:36 Hm. 19:37 Pak Dirman mempersatukan laskarlaskar 19:40 itu ya bikin namanya TNI. Pak Dirman 19:44 dipilih sebagai panglima TNI. 19:47 Pak Urip Sumarjo wakil panglima. 19:50 Terus ada beberapa jenderal lain 19:51 termasuk Pak Suryadarma megang angkatan 19:54 udara kan. 19:56 Pak Nasir Angkatan Laut. Terus Bapak 19:57 saya megang 20:00 koordinator 20:01 ee koordinator TNI untuk urusan ee 20:04 peperangan. 20:05 Hm. 20:07 Jadi Bapak saya dapat pangkat jenderal 20:09 Mayor. 20:09 Oh, jenderal Mayor ya. 20:10 Jenderal Mayor, Pak Dirman, Jenderal 20:13 Pak. 20:13 Kalau sekarang bukan Jenderal Marnya 20:15 ee ya itu enggak ada. Itu bintangnya 20:18 satu. 20:18 Bintang satu 20:19 tapi termasuk ee nah jadi pimpinan TNI 20:22 ada fotonya itu. Itu ada cuma ada tujuh 20:24 orang. 20:26 Siapa aja itu? 20:26 Pak Dirman, Pak Urip, Bapak saya, Pak. 20:30 Ada beberapa orang. Terus Pak Nasir 20:32 masih ada fotonya? 20:33 Ada. Ada fotonya. Itu foto waktu 20:36 pelantikan yang lantik Bung Karno 20:39 di Istana Jogja. Jadi Bapak saya 20:41 pimpinan TNI tahun '7 itu. 20:43 H. 20:44 Jadi kalau TNI bilang lahirnya 5 Oktober 20:47 salah. He. 20:48 TNI lahir 47 bulan Juni kalau enggak 20:51 salah. bulan Juni. 20:52 Bulan Juni yang lantik Bung Karno. 20:55 Nah, jadi ee terus kemudian pada waktu 21:00 para pimpinan itu di ditangkap oleh 21:03 Belanda, di diungsikan 21:06 ya ee Bapak saya juga memilih gerilia 21:10 bersama Pak Dirman. Pak Dirman milih 21:13 gerilia 21:15 bergeril di mana-mana melawan 21:17 penangkapan itu. Bapak saya gerilia. 21:20 Nah, setelah KMB Konsi Maja Bundar 21:25 kan Belanda dinyatakan enggak sah. 21:29 Heeh. 21:29 Iya kan? 21:31 Enggak sah. Dan pemimpin-pemimpin 21:33 kembali ke sini dikembali dari dari 21:36 pencul apa kita bilang penculit apa gitu 21:37 ya. Dan kembali dan kemudian kan kembali 21:41 ke Jogja. 21:43 Nah, Pak Dirman selesai gerilnya juga 21:45 balik ke Jogja. Tapi Pak Dirman tidak 21:48 kayaknya enggak bersedia jadi pimpinan 21:49 TNI lagi. 21:50 Nah, Bapak saya ikut enggak bersedia. 21:53 Dia solider sama Pak Dirman. 21:56 Oke. 21:56 Enggak mau jadi pimpinan TNI. Jadi, 21:57 Bapak saya akhirnya ya selesai. 22:00 H. 22:00 Nah, itu sebabnya waktu 22:03 Bapak saya meninggal, ibu saya ditanya, 22:05 "Bu, Ibu selama ini dapat apa?" "Dapat 22:07 apa?" "Enggak dapat apa-apa?" He. 22:09 Oh, ternyata Pak Parjor Rustam sebagai 22:11 sekretarisnya Pak Dirman. 22:13 Heeh. 22:14 mengurus kelengkapan administrasi Bapak 22:16 saya sebagai mantan TNI. 22:19 Hm. 22:20 Administrasi di Mabes TNI waktu itu. 22:23 Manhancam-nya Pak Yusuf 22:26 diurusin. Dapat surat pensiun ibu saya. 22:29 Surat pensiun bahwa ibu saya itu 22:31 suaminya itu mantan pimpinan TNI. Dapat 22:34 pensiun ibu saya. 22:35 Hm. Sampai wafatnya beliau ya. ya 22:39 tempat pensiun TNI. Tadinya enggak dapat 22:40 apa-apa, tapi Pak Parj Rustan sebagai 22:42 sekretaris Pak Dirman waktu itu ee dalam 22:45 perjuangan itu 22:48 dapat surat itu ibu ibu saya dapat 22:51 pensiun TNI. Jadi saya jelek-jelek ini 22:55 anak tentara [tertawa] 22:56 cuman saya enggak pernah menggunakan 22:58 tentara untuk sewenang-wenang.Allah 23:01 saya menggunakan tentara untuk nolong 23:03 rakyat. Heeh. 23:04 Itu yang penting. 23:06 Oke 23:08 ya. Kami masih berada di kantornya 23:11 Bapak 23:13 Bambang Sulistomo. Siden kopi ya. 23:15 Di kantornya di Uta ini ada macan putih 23:20 nih kayak di Kediri. Di desa apa? Bolong 23:23 Jeruk. 23:23 Iya. Ini turunannya macan. 23:27 Ini isinya nih ratusan ribu nih. 23:29 [tertawa] 23:30 S dolar dolar. 23:34 kami desain kopi lagi. Nah, nah kenapa 23:38 ee mm Bung Tomo kan wafat di Makkah 23:41 waktu itu tahun berapa ya? 23:42 '81. 23:43 81. Kenapa dimakamkannya di Indonesia 23:45 bukan di di Makla? Kalau di Makkah itu 23:49 ya? 23:49 Kenapa? Jadi begini. 23:52 Itu sejarahnya Bapak mau berangkat naik 23:54 haji itu 23:55 Bapak lagi mau salat Jumat 23:58 ee siang-siang eh berangkat-berangkat 24:00 salat Jumat. Bapak lihat berhenti terus 24:03 dengar azan terus Bapak nangis. H. 24:06 Bapak nangis terus Bapak jalan kaki dari 24:08 rumah tuh kan 24:09 di mana waktu di Jak 24:10 Taman Seropati kan Bapak jalan Besugi 24:12 kan 24:13 jalan kaki nangis terus nyebrang jalan 24:16 lewatin gereja Stefan eh gereja ayam itu 24:19 lewat Bernas terus langsung ke 24:21 oh Riska apa Masjid Sunda Kelapa 24:23 Sunda Kelapa terus Bapak ke Masjid Sunda 24:25 Kelapa 24:27 terus Bapak pulang dari sana salat habis 24:29 salat Jumat ngomong sama Ibu saya kok 24:31 merasa harus ikut ibadah haji 24:35 Heeh. 24:36 Ibu saya bilang, "Yes, alhamdulillah 24:37 gini-gini kan." Terus Bapak bilang, 24:40 "Tapi dari mana ya ee dananya?" 24:43 Heeh. 24:44 Karena Bapak saya kan enggak kerja 24:45 apa-apa. 24:46 He. 24:47 Ibu saya bilang, "Ya, ya gimana 24:50 caranya?" Ya, ya, ya. Kita usaha ikhtiar 24:53 aja. Kata Ibu bilang gitu kan. 24:55 Terus Bapak ikhtiar datang ke 24:56 orang-orang yang Bapak yang kira-kira 24:58 mampu. Termasuk yang terakhir datang ke 25:01 rumahnya Mas Agung. 25:04 Mas Agung. Oh iya. Gunung Agung 25:07 punya Gunung Agung 25:08 kan dia muslim. 25:09 Mas Agung. Heeh. 25:10 I dia muslim terus Bapak bawa lukisan. 25:13 Bapak tuh hobinya ngelukis. 25:15 Oh gitu. 25:16 Lukisannya masih ada. Dan Bapak bawa 25:18 lukisan dibawa ke Mas Agung ditawarkan 25:22 untuk dibeli. 25:23 Hm. 25:25 Ini beli aja lukisan saya untuk biaya 25:28 naik haji. Untuk apa gitu? untuk BNK 25:30 Haji. Oh, ya. Ya udah, ya udah ya udah. 25:33 Berapa sih BNK haji? H 25:35 saya gini. Terus datang lagi ke siapa 25:37 lagi? Ee 25:39 membawa apa gitu. Akhirnya terkumpul 25:41 berangkat haji. H 25:43 Bapak, Ibu, 25:45 kakak saya Tin Sulistami 25:48 sama adik saya Ratna Sulistami. Yang si 25:52 Sulistami sama saya enggak ikut. 25:53 He. 25:54 Berangkat berempat ke sana. 25:57 Waktu sana itu Bapak kan ee 26:01 melihat bahwa pengurusan haji itu ya 26:04 sudah seperti itulah. Ada syekh kemudian 26:07 Syekh itu akan mencari rumah untuk 26:11 jemaah haji. Nah, Bapak saya itu waktu 26:13 datang Syekh itu belum ada syekh yang 26:16 ngurus yang ngurus perumahan haji itu. 26:18 Hm. 26:19 Ya, bapak saya heran loh mana ini loh. 26:22 Ternyata syekhnya ada. Syekhnya enggak 26:24 enggak dikasih tahu bahwa dia dapat 26:26 jemaah. 26:27 Heeh. 26:28 Kan satu koter jumlahnya 350 orang tuh 26:31 enggak dapat jemaah. Jadi, jadi Bapak 26:32 saya loh ini jadi gimana? Waduh saya 26:34 mohon maaf saya belum tahu kalau saya 26:36 dapat jatah ini. Jadi gimana ya? Ah 26:39 akhirnya Bapak saya ikut ngurus. 26:41 He. 26:41 Ikut ngurus ee jemaah yang 300 koter itu 26:45 naik turun tangga lantai 4 lantai 5. 26:48 Terus 26:48 ini sudah sampai di Mekah nih. 26:49 Iya. 26:50 Naik naik turun tangga bapaknya kan 26:52 sudah umur berapa? sudah tua kan. Terus 26:54 dia itu ee enggak ada tempat buat tidur. 26:57 Akhirnya ee dapat ee bekas WC. Bekas WC, 27:02 bekas kamar mandi dipakai untuk tempat 27:03 tidur sama ibu. 27:05 Oh, ya. 27:06 Kan karena enggak kebagian kamar, enggak 27:08 ada yang urus. 27:09 Dia seadanya aja siapa gitu 27:12 yang ngurus. Terus sudah terus Bapak ya 27:14 sudah biasa. Terus Bapak ibadah biasa 27:17 terus ternyata pada saat Bapak kena 27:19 stroke. 27:20 Hm. 27:20 Karena lupa minum. 27:22 Oh. Oh, 27:23 kan ngurusin jemaah banyak. 27:24 He. 27:25 Ngurus jemaah untuk pindah ke sana 27:27 kemari untuk untuk gimana segala macam 27:29 stroke. Maka dibawa ke rumah sakit. Ibu 27:33 saya enggak tahu. Ibu saya dikasih tahu 27:34 stroke. He. 27:36 Pada saat jemaah semuanya harus ke 27:38 Arafah. 27:38 Heeh. 27:39 Harus wukuf kan. Semuanya harus ikut 27:42 tuh. 27:42 Iya. 27:43 Termasuk yang 27:44 sakit sakit ikut. 27:45 Harus ikut. Heh. 27:46 Bapak saya ikut. Nah, yang kita agak ini 27:49 kok ibu saya enggak diundang mendampingi 27:52 Bapak waktu wukuf. 27:54 Hm. 27:54 Padahal Bapak saya itu juga ikut 27:56 rombongan yang digotong-gotong apa pakai 27:59 pakai ambulansi itu 28:01 di rumah sakit. Jadi, Bapak saya ikut 28:03 ikut di di tempat tidur rumah sakit di 28:05 di Arafah. 28:06 He. 28:07 Tapi ibu saya sama kakak saya sama adik 28:09 saya enggak diajak. 28:10 Hm. 28:11 Begitu saat azan 28:16 mereka wukuf istilahnya apa? Kalau azan 28:18 pas wukuf itu kan azan wukuf terus 28:22 ada yang takbir ada yang bilang Bung 28:25 Tomo meninggal, Bung Tomo meninggal 28:27 gitu. 28:27 Hm. 28:28 Ibu saya kaget loh. 28:31 Suami saya ada di mana? Kata orang 28:33 bilang di sana. Di rumah sakit. Nah udah 28:36 baru Bapak diantar lihat ke rumah sakit 28:38 Bapak sudah meninggal. 28:39 Hm. H 28:40 Bapak sudah meninggal 28:42 terus sudah itu ya semua ngurusin. Nah, 28:46 semua ngurusin terus ada ee pemakaman 28:49 kan biasanya kalau orang sudah di sana 28:50 kan enggak perlu diinilai karena sudah 28:52 bersih kan dimakamkan di 28:54 Malang di Iya. 28:56 Di Arafah itu dimakamkan sana. 28:58 H. 28:59 Terus ditanyakan sama petugas haji dan 29:02 sebagainya, Dirjen Haji ini Bapak mau 29:06 dimakamkan di mana? 29:08 Ya, ibu saya biasanya di mana kalau 29:10 begini katanya bilang ya dimampkan di 29:12 sini aja di makam di Arafah itu. 29:14 He 29:15 ya. Jadi sudah selesai terus saya 29:18 ditelepon sama tokoh orang Madura itu. 29:22 Siapa namanya itu? 29:23 Orang Bakin itu. Orang orang Bakin 29:26 telepon saya. 29:27 Pak siapa? Aduh lupa saya namanya. 29:29 Anaknya kebetulan teman juga ya. Pak 29:32 Bambang ini Bapak meninggal loh. Kapan 29:35 meninggalnya? Gimana loh? Jadi gimana 29:37 dimakamkan di mana? Dia langsung naik 29:38 gitu ya sebaiknya dimakamkan di di 29:41 Indonesia dong. 29:42 He he. 29:43 Loh tapi biasanya enggak boleh makam di 29:44 Indonesia. Harus di loh 29:46 ya gimana caranya ya enggak tahu. 29:48 Pokoknya saya ingin bapak saya dimakan 29:50 ke saya bilang gitu. 29:51 Heeh. 29:52 Kenapa? Ya supaya ziarahnya gampang di 29:54 sini. 29:54 Heeh. Heeh. 29:55 Udah sudah ya sudah ngomong gitu sudah. 29:58 Waktu Bapak pulang ke Indonesia kan 30:01 dikawal ramai-ramai di itu tanya saya. 30:04 Saya sebelum itu sudah ngomong sama 30:06 teman-teman ini gimana caranya ya supaya 30:08 Bapak saya bisa dimakamkan di Indonesia. 30:11 Nah, saya ketemu sama Mas Murdiono. H 30:16 dari itu ya ketemu Mas siapa? 30:21 Ee aduh beapa beberapa orang dari Seknek 30:25 itu saya bilang saya ingin gini-gini ya. 30:27 Tapi enggak Pak Bambang ini caranya agak 30:30 sulit karena biasanya kalau sudah 30:31 dimakamkan di sana susah gini ya. Tapi 30:33 gimana caranya gini? Terus saya saya 30:35 ketemu Pak Muhammad Nasir. He 30:38 tokoh apa? Tokoh tokoh umat Islam yang 30:40 yang berpengaruh di berpengaruh di Saudi 30:43 itu ee apa 30:45 al apa Alislam apa 30:47 terus ketemu dengan teman-teman yang 30:50 lain. Akhirnya saya ngomong bahwa saya 30:51 ingin gini-gini. Hukumnya apa ya? 30:53 Hukumnya macam-macam orang ini. Sudah. 30:55 Terus akhirnya ee selama 67 bulan kita 31:00 nunggu sambil 31:02 ee saya sempat dikirim ke Saudi juga 31:05 untuk ngelihat kira-kira tempatnya Bapak 31:07 dimangkamkan di mana. Ternyata masih 31:09 ada. 31:09 Hm. Heeh. 31:10 Jadi saya dikirim ee oleh pemerintah 31:13 untuk berangkat berangkat ke sana. Terus 31:16 saya lihat di makam Arafah, ternyata ada 31:20 seorang orang penggembala domba yang 31:25 ngelihat waktu Bapak saya dimakamkan 31:26 ramai-ramai kan ramai-ramai kan. Heeh. 31:29 Dia ngelihat ditunjukin situ. Oh iya di 31:30 sini kita kasih tanda 31:32 saya enggak dikasih nama soalnya kan 31:34 enggak kasih nama. Enggak ada nama sudah 31:35 kasih nama sudah terus kita pulang lagi 31:37 ke Jakarta akhirnya disimpulkan bahwa 31:40 memang ada tempatnya yang yang Bapak 31:42 makan. Udah akhirnya kita berangkat 31:44 untuk ngambil. 31:45 Hm. 31:46 Jadi waktu itu Pak Harto setuju ya 31:48 sudah dimakamkan waktu itu padahal ya 31:50 sudah dimakamkan Pak Harto setuju 31:52 semuanya. Pak Sarwedi juga bantu. Pak 31:54 Sarwedi bantu banyak sekali karena dia 31:56 Irjen dari Deplu kan. He 31:58 Pak Sarwede. Terus Pak Sukarton Marmo 32:01 Sujono. 32:02 Terus satu lagi siapa yang sekitaris 32:04 militer tuh? 32:05 Ah saya lupa namanya. Astagfirullah 32:07 ya. Ee 32:10 akhirnya kita ketemu. Jadi waktu 32:12 dibongkar itu jadi kayak ini kan ee ada 32:17 ada berapa belas lubang gitu kan. Lubang 32:19 dibuka pakai ee kayak riol gitu kayak 32:22 apa kayak beton-beton gitu dibuka. 32:25 itu udah ada kelihatan tuh jenazah empat 32:27 orang terus dilagirin terus dia buka 32:29 terus dilihat yang kayak Bapak oh ini 32:32 ditunjuk itu benar 32:33 h 32:33 dibuka ee kainnya terus lihat giginya 32:36 kan kebetulan dokter 32:38 Iya 32:39 dokter gigi bapak saya yang di Tosari 32:43 itu dokter siapa 32:45 Pak Nasution namanya dia titipin gigi 32:48 palsu 32:49 jadi semuanya serba serba me surprise 32:53 semuanya He 32:54 gigi palsu terus dibawa ke bawah 32:56 ditunjukkan gigi palsu ternyata sama 32:58 kita ambil jenazahnya. 33:00 Hm. 33:01 Jadi ee kita lihat gitu kita 33:03 jadi yakin enggak ketukar ya Mas? 33:04 Iya. Terus dibungkus dikasih peti 33:07 dikasih lambang merah putih terus dibawa 33:09 ke Indonesia. Nah di Indonesia 33:12 dimakamkan di 33:13 Iya karena keluarga ibu dan bapak saya 33:16 selalu bilang kalau nanti meninggal 33:19 jangan dimakamkan di makam pahlawan. Oh, 33:23 itu pesan dari Bapak. 33:24 Iya. Dengan dengan Bapak, dengan Ibu 33:26 semuanya bukan tidak menghormati makam 33:29 pahlawan, tapi Bapak lebih baik 33:30 dimakamkan bersama rakyat. 33:32 Rakyat. Oh, ya. Oke. 33:34 Ya udah, Pak R Bapak dimakamkan di 33:36 Ngagel di makam sama rakyat. 33:38 Di mana? 33:38 Di Ngagel di Surabaya. Oh, Surabaya. 33:40 Iya. Jadi inspektur upacaranya Pak 33:42 Surono. He. 33:43 Pak Rono waktu itu main kopol hukam atau 33:46 Pak Rono 33:47 atau apa ya? para inspektur upacara 33:49 terus upacara kenegaraan lah dengan 33:52 dengan ya sudah terus dimakamkan 33:56 sudah jadi kita merasa bahwa Bapak sudah 33:59 kita kembalikan ke tanah air bukan 34:01 berarti tidak menghargai orang meninggal 34:03 di sana tapi Bapak kita ingin supaya 34:06 untuk memudahkan ziarah. 34:08 Hm. itu yang dikatakan oleh beberapa 34:10 ulama ee ya sudah istilahnya untuk 34:14 memudahkan saja bukan untuk menghormati 34:17 makam atau apa. Bukan bukan apa 34:19 dan yang ziarah kan bukan cuma pihak 34:21 keluarga aja orang Indonesia juga 34:23 banyak. 34:23 Amin. Amin. Alhamdulillah. 34:25 Alhamdulillah. Sekarang juga begitu. 34:27 Eh sekarang di ngagal ya. 34:28 Iya ngagal. Jadi itu perjuangan dan ibu 34:32 saya waktu meninggal kemarin juga 34:34 dimakamkan di Ngagel. 34:35 Di Ngagel juga ya. Ibu di kota wisata 34:37 kalau enggak salah itunya. E iya 34:39 terakhir ibu kota wisata ibu kalau 34:41 enggak salah orang paling cantik waktu 34:43 itu ya. 34:43 Oh kalau saya lihat fotonya Ibu itu 34:46 [tertawa] 34:46 ada foto Ibu nanti bisa dilihatin itu 34:49 ibu itu yang yang yang benar-benar 34:52 bintangnya orang zaman dulu lah. 34:55 [tertawa] 34:55 Apalagi setelah apalagi setelah Ibu ee 34:58 berumur punya anak itu makin punya anak 35:01 makin cantik Ibu. 35:02 Masalah. 35:05 Iya iya. Oke, oke, oke, oke. Kita break 35:08 dulu. Nanti setelah ini kita akan 35:09 kembali lagi masih bersama Bapak Babang 35:13 Sulistomo, putra dari Bung Tomo. 35:20 [musik] 35:36 Masih bersama sor bersama tokoh atau sor 35:40 bersama Rasil bersama 35:43 Mas Bambang Sulistomo, putra dari Bung 35:46 Tomo. Nah, sebagai putra 35:50 Bung Tomo kan Anda ini tentu punya jiwa 35:54 patriotik ya di Dewan Ketahanan 35:57 Nasional. Betul ya. 35:58 Iya. 35:59 Ikut juga ngatur GBH ini. 36:01 Iya betul. Nah, kenapa ngikut demo-demo 36:04 sampai area di penjara itu gimana itu 36:06 ceritanya? Tuh, 36:07 waktu itu saya sebagai aktivis mahasiswa 36:11 kan ada masalah modal asing. 36:14 H 36:15 waktu itu kita menentang modal asing 36:18 yang tidak digunakan sebaik-baiknya 36:20 untuk kemakmuran rakyat. He. 36:22 Modal asing hanya untuk ee ya untuk 36:25 bisnisnya orang-orang besarlah. Kita 36:27 anggap begitu. 36:29 modal asing yang tidak meneteskan rezeki 36:32 kepada rakyat. Kita bikin demo 36:35 ya yang jadi sasaran waktu itu modal 36:37 Jepang. [tertawa] 36:39 Saya kadang-kadang berpikir ya sudahlah 36:41 ini kan pengalaman. Jadi kita bikin 36:43 demo. Saya mimpin demo pertama kali ke 36:47 Kemayoran. 36:48 Hm. 36:49 Ya, kita rapat. 36:50 Kenapa Kemayoran? 36:51 Waktu itu datang Tanaka. Perdana Menteri 36:53 Jepang. 36:54 Oh, Tanaka masih 36:55 datang Perdana Menteri Jepang kan? Kem 36:57 iya di Kemayoran. Saya saya rapat sama 36:59 teman-teman waktu itu ada Bram Zakir, 37:02 ada siapa yang yang pemain seniwara dulu 37:05 siapa yang ee ah perempuan tuh 37:09 ee kok saya lupa namanya saya lupa ya 37:11 banyak teman-teman yang lain ya rapat di 37:14 situ. Kita rapat kita berangkat ke 37:17 Kemayoran dengan menyiapkan 37:18 poster-poster. 37:19 Hm. 37:20 Ya. Tapi kan kita tahu di sana sudah 37:22 banyak polisi nunggu karena gitu gitu. 37:26 Nah, terus kemudian ya kita rapat nih 37:29 gimana caranya. Akhirnya kita bikin 37:32 semacam demo pura-pura satu tempat. 37:35 Ternyata kita demo di sini [tertawa] 37:37 yang banyak wartawannya ya. 37:39 Begitu banyak wartawannya 37:40 untuk mengecoh ya. 37:41 Oh, wartawan buat. 37:43 Iya. Waktu itu yang perempuan siapa sih? 37:46 Aduh aktivis perempuan nih yang yang 37:49 teater koma tuh. 37:50 Oh, Ratna. Ratna apa? Nano Nano 37:53 Riantarno. 37:54 Ah, satu lagi, satu lagi 37:56 yang suaminya juga ee 37:59 artis dia ya. 38:02 Suaminya ee pembawa apa sutadara 38:06 terkenal. Ah saya lupa. Sudah itu terus 38:09 ada 38:09 buat Rana Sarompet. Bukan 38:11 bukan bukan bukan satu lagi e saya lupa 38:13 kok. Mohon maaf ya saya lupa namanya di 38:15 sori aja. Nah, terus sudah itu ee 38:18 selesai demo. Nah, setelah itu kita 38:20 dikenal sebagai kelompok yang memang 38:23 radikal. 38:24 Hm. 38:25 Demu di mana-mana dan kita diundang di 38:27 mana-mana dan kita diundang bicara di 38:29 mana-mana. Di UI, di mana-mana kita 38:30 bicara karena mereka lihat kita. Nah, 38:33 inilah sebabnya ee saya ee pada saat 38:38 terjadi gerakan 15 Januari ya saya 38:40 ditangkap duluan. 38:42 Hm. He 38:43 ya bersama teman-teman yang lain saya 38:46 ditangkap bersama 38:47 Bisman Siregar. 38:48 Iya Hariman Siregar 38:50 Eko Jatmik Zatmik. 38:53 Terus kemudian Remil Yemenak 38:56 kemudian 38:57 ya anak-anak Salim Utajulu 39:00 ee teman-teman dari UI. Teman UI ada 39:02 lima yang di luar UI ada tujuh atau tiga 39:05 gitu kan. Nah, kita ditangkap, kita 39:08 ditempatkan di ee rumah tahanan militer 39:11 di Jalan Budi Gutomo. 39:13 Hm. 39:14 Di sana tuh ada rumah taner. Ternyata 39:17 waktu ke dalam, di dalamnya sudah banyak 39:20 orang-orang tahanan politik yang yang 39:21 lain. 39:22 He. 39:22 Tahu dari mana? 39:23 Dari mana? 39:24 Dari PKI. [tertawa] 39:26 Oh, kok disatukan sama mereka? 39:28 Tokoh-tokoh PKI yang paling hebat karena 39:30 mereka dibawa dari Blitar waktu mereka 39:33 mencoba bikin ini lagi di Blitar. 39:35 ketangkap kan oleh operasi trisulanya 39:38 Pak Witarmin ketangkap dibawa di situ 39:41 juga 39:42 satu rumah satu ruangan ada berapa. Nah 39:44 kita dapat satu ruangan satu orang tapi 39:46 ketemu sama itu dan saya beruntung 39:49 kenapa karena saya bisa ketemu 39:51 tokoh-tokoh PKI kelas berat 39:53 Samkamarusaman, Pak Ruslan Partawijaya 39:56 Pak Munir tokoh Sopsi. Saya beruntung 39:58 bisa dialog-dialog dengan mereka. 39:59 Kenapa beruntung? 40:00 Ya karena 40:01 saya disusi 40:02 mungkin. Iya. Itu teman-teman lain kan 40:04 kalau situ kan main badminton, main 40:06 gapling. Enggak. Saya kalau ke situ 40:08 pasti saya datang ke tempat mereka. Jadi 40:10 mereka kalau sore itu kumpul misalnya 40:13 kumpul beberap tokoh-tokoh PKI. Saya 40:15 datang aja saya bilang gini ee mohon 40:17 maaf saya ee polit biro satu mau ikut 40:21 diskusi ya gitu. [tertawa] 40:23 Saya bilang gitu. Saya bilang saya polit 40:25 biro. 40:26 Oh silakan Mas. Silakan Mas. Saya saya 40:28 ikut ngomong tapi ya ngomong biasalah 40:30 tentang politik-politik. Jadi, jadi saya 40:33 kenal baik dengan tokoh-tokoh PKI dan 40:35 saya tahu betul pola pikiran teman-teman 40:37 Bapak PKI itu 40:39 ya. Meskipun mereka sudah tua, sudah 40:41 susah, tapi enggak pernah kelihatan 40:42 susah. 40:43 Mereka ideologi benar-benar ideologi. 40:45 He. 40:46 Bukan orang politik yang cuman ya bukan 40:48 orang politik yang cuman ikut menikmati 40:50 kekuasaan kayak sekarang 40:52 mereka ideologis. Jadi enggak ada 40:54 susahnya. Oh, 40:55 sudah ditahan pun mereka tetap tetap 40:57 sampai mereka mau dieksekusi pun mereka 41:00 tetap itu. Jadi tokoh-tokohnya sampai 41:02 saya bikin lukisan. 41:04 Lukisan saya dan istri saya dibuat oleh 41:07 Pak ee salah satu untuk biro khusus 41:09 namanya siapa saya lupa itu. Saya bikin 41:11 saya taruh lukisannya itu 41:13 saya kasih uang Pak mohon maaf ini saya 41:16 bayar ya. Iya enggak apa-apa. Makasih. 41:18 Makasih. Ketua biro khusus wakilnya Pak 41:20 Samka Kamur Jaman. He 41:22 ya. Ee saya sampai sekarang saya simpan 41:24 lugis saya taruh di ruang saya. Jadi 41:26 saya kumpul sama teman-teman PKI itu 41:29 saya beruntung karena saya sebagai anak 41:30 muda jarang-jarang ketemu orang PKI yang 41:33 tua-tua kan 41:34 jarang-jarang loh. 41:35 Jadi saya merasa saya beruntung ya 41:37 sudahlah. Jadi malah teman-teman kayak 41:39 si Eko almarhum Eko zaman dulu kalau 41:41 ketemu saya ini Mas Bambang kan dibina 41:43 PKI katanya. [tertawa] 41:46 Itu kepian mereka apa yang paling 41:48 terlihat kepannya mereka apa yang paling 41:51 tonjol. Ya enggak mereka enggak bicara 41:53 tentang bagaimana hebatnya ideologi 41:56 karena dia tahu orang kayak saya kan 41:58 kalau dikampanyin hebatnya ideologi kan 42:00 karena saya sudah belajar belajar 42:02 komunisme kan dari dari sekolah kan jadi 42:04 saya tahu jadi buat dia enggak jadi dia 42:07 dia bicara tentang kehidupan sehari-hari 42:09 gimana mereka sempat dikejar-kejar 42:12 ya jadi hal-hal seperti itulah 42:14 gimana mereka kenapa mereka dulu e 42:17 merasa ada yang merasa bahwa ini kita 42:20 kecolongan 42:21 ya, PKI banyak ya seperti itulah. Jadi 42:23 saya banyak cita-cita seperti itu dan 42:25 saya bersyukur ee ditahan di RTM itu 42:28 saya dapat ilmu yang orang lain enggak 42:31 [tertawa] 42:32 saya kira anaknya Aidit sekarang pun 42:34 juga belum pernah dialog sama sama 42:37 Aidit. Pasti [tertawa] saya dialog sama 42:40 tokoh PK yang paling berat. H 42:42 Pak Ruslan Partawijaya, Pak Munir itu 42:44 tokoh-tokoh. 42:45 Ada lagi yang satu lagi yang orang 42:46 Muhammadiyah tuh yang jadi di dibuang di 42:51 Bovenendig 42:52 tokoh Muhammadiyah. 42:53 He. 42:53 Tapi tapi ya dianggap kiri lah itu ya. 42:57 Bukan orang tua Pak Pardi namanya. Pak 42:59 Supardi namanya. 43:01 Salatnya ya salat benar. 43:02 Oh salat. Tapi 43:03 salat benar. 43:04 Iya iya salat 43:06 ya. Jadi, jadi banyak. Jadi, jadi saya 43:08 kira ee banyak hal yang yang menarik dan 43:12 saya akan cerita nanti kalau saya bikin 43:13 buku harian, saya akan cerita pertemuan 43:15 saya dengan tokoh-tokoh PKI yang 43:16 hebat-hebat itu. [tertawa] 43:19 Enggak ada orang lain enggak pernah. 43:21 Bayangin orang lain main badminton, main 43:24 gaplay. Saya ngobrol sama mereka kok 43:27 jarang. 43:28 Tapi mereka tidak berusaha mempengaruhi. 43:30 Enggak 43:30 ya? Mungkin mempengaruhi. Tapi kan 43:32 mempengaruhi orang kayak saya. 43:33 Jangan-jangan saya yang mempengaruhi. 43:35 [tertawa] 43:37 kan kita sama-sama ya kalau dia masih 43:39 muda kan kalau saya kan ya kan ya engak 43:42 saya enggak tahu apakah mereka pegai 43:44 saya apa tidak tapi saya enggak saya 43:46 enggak kerasa tapi saya merasa bahwa 43:47 mereka bicara apa adanya gitu loh ya 43:51 [tertawa] 43:52 ngobrol sama Bang Sistomo ya enggak jadi 43:54 dari politik lah 43:56 saya mau mau pindah nih di sini ada 43:58 kalender Persaudaraan Bambang Sedunia 44:01 kok ada ya 44:01 iya Persaudaraan Bambang Sunia 44:02 Persaudaraan Bambang Sedunia ada sih 44:04 Iya, ada. 44:05 Itu siapa mendirikan? 44:07 Ini waktu saya diundang mereka makan. 44:10 Makan buka puasa. Buka puasa di Kembang 44:13 tuh ada kafe kecil gitu diundang datang 44:16 ini Pak Bambang ini kita bikin 44:19 organisasi kita semua nama Bambang. 44:21 Berapa orang nih? Tujuh orang loh. Tujuh 44:23 orang dapat dari mana ini? Udah mau 44:25 bikin apa? Organisasi gimana kira-kira? 44:27 Ya terserah saya sih ikut aja lah gitu 44:29 kan. bikin udah udah buka puasa atau 44:32 satu waktu dia rapat lagi bikin 44:34 lama-lama kok bikin serius lama-lama 44:37 anggotanya sekarang sudah 1700 44:39 seluruh dunia tuh 44:40 seluruh iya dunia jugal lah artinya di 44:42 Jakarta ya 44:43 terus kemudian mereka minta bikin akte 44:46 bikin akte buat apa buat ini supaya kita 44:48 disahkan sebagai organisasi oh ya boleh 44:51 eh saya suruh tangan tangan [tertawa] 44:53 bikinnya di rumah saya lag jadi 44:55 ada kalendernya lagi nih 44:57 persaudaraan Bambang Sudin ada juga Agus 44:59 Sudina Ada Tobing sedunia 45:01 ada juga kan ya Asep yang paling banyak 45:03 juga Asep Asep juga ada 45:05 tapi kurang aktif yang paling aktif ya 45:07 Bambang ini. 45:07 Oh kegiatannya apa gitu 45:09 ya kita kepengin nama Bambang itu 45:11 mendunia lah. Jadi kan banyak orang 45:13 sekarang namanya George ya namanya eh 45:18 Michael namanya apa BR nama-nama 45:22 Indonesia kan iya Joni kan jarang nama 45:24 Indonesia kita kepengin nama Bambang tuh 45:26 ada lagi. Jadi bukan nama Bambang tuh 45:28 bukan nama orangorang orang orang 45:31 kampung yang pinggiran. [tertawa] 45:36 SBY ikut enggak? 45:37 Ee enggak tahu. Pokoknya dia dengar 45:40 pasti 45:41 ada beberapa tokoh-tokoh juga. Aduh ya 45:43 pasti dia dengar 45:45 ya. Nanti nanti kita ajak juga lah. 45:47 [tertawa] 45:49 Pokoknya kalau ketemu SBY asal jangan 45:51 nanya soal ijazah aja. [tertawa] 45:57 main di jurang ya. [tertawa] 46:01 Oke. 46:02 Iya. Iya. 46:03 Mas B ee sebagai dosen ngajar apa sih? 46:06 Dulu saya ngajar waktu saya jadi dosen 46:08 di perguruan tinggi Universitas Krishna 46:11 di Payana. Saya hampir 14 tahun di sana. 46:14 Saya ngajar mengantar sosiologi. 46:16 He. 46:17 Terus kemudian saya juga ngajar di 46:18 Perbanas. H 46:21 di Perbana saya diminta oleh Mas 46:23 Profesor Tong Mas Watno ngajar. Saya 46:25 ngajar ee ekonomi pembangunan. 46:28 Hm. 46:28 Jadi terpaksa saya belajar ekonomi 46:30 pembangunan. Terpaksa saya jadi saya 46:33 mencoba mengajarkan ilmu-ilmu yang 46:35 kaitannya kaitan kuat dengan 46:37 kemasyarakatan lah. He. 46:39 Dan itu kan tidak perlu tekbook yang 46:41 berat-berat kan. 46:43 Ekonomi pembangunan paling berapa sih 46:44 yang yang hukum-hukumnya? Sosiologi juga 46:48 paling berapa. Jadi saya mencoba ee 46:51 mengajarkan hal-hal yang berkaitan erat 46:53 dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. 46:55 Berapa semester tuh? 46:57 Ee kalau kalau itu dua ya sampai du 47:00 semester. 47:01 Dua semester. 47:02 Kalau sistem sosial 2 semester. Kalau ee 47:06 pengantar ee ekonomi pembangunan satu 47:08 semester. 47:08 H. 47:10 Jadi kan waktu itu saya sempat juga di 47:13 antara itu diajak main film. 47:14 Hm. 47:15 Main film saya. 47:16 Oh iya ya. Film apa ya? Ya, itu dulu 47:17 apa julnya 47:18 ya waktu itu kan 47:19 November 28 bukan? 47:21 Iya bukan 47:21 sama Tegu Karya 47:22 itu kan dulu ada TV. 47:25 TV belum ada TV swasta 47:27 masih TVRI ya. 47:28 TVRI. 47:30 Nah TVRI itu kan punya program ee ee 47:32 kampanye-kampanye tentang Pancasila 47:35 ya. BB7 lah. 47:36 Heeh. 47:37 BB7 satu waktu mereka bilang gini, "Pak 47:40 Bambang, Pak Bambang mau main film di 47:42 BP7 sebagai apa?" Ya, sebagai aktornya. 47:45 Aktor apaan? Gitu. [tertawa] Iya. Film 47:47 BB7 kayak apa? Saya coba baca 47:49 skenarionya. Saya baca skenario BB7. 47:52 Wah, ini kampanye melulu isinya. 47:56 [tertawa] 47:57 Kalau kampanyulu orang enggak akan 47:58 nonton gitu. Harus ada konfliknya dong. 48:01 Konflik apa, Bambang? Ya, konflik di 48:03 antara tokoh-tokohnya. Sehingga orang 48:05 ngelihat konflik ini solusinya 48:07 Pancasila. I gitu kan. 48:09 Mereka bilang, "Wah, enggak bisaang ini. 48:12 Banyak enggak setuju nih." Iya. Akhirnya 48:14 mereka konsultasi konsultasi dari TVRI 48:17 konsultasi SM BB7 48:20 konsultasi sama ee Seknek katanya. 48:23 Hm. 48:23 Katanya sampai ke Pak Harto juga. 48:24 [tertawa] 48:25 Heeh. 48:26 Ternyata Pak Harto Seknek setuju. 48:29 Oh. 48:29 Jadi 3 empat film setelah itu isinya ya 48:32 konflik semuanya. Saya sebagai pengacara 48:35 konflik, saya sebagai petani konflik 48:38 sebagai konflik. Tapi yang nonton banyak 48:41 waktu itu belum ada e TV swasta, 48:43 belum ada yang lain ya. 48:45 Saya saya pengin juga ngumpulin itu TV 48:46 tuh pengin lihatnya. 48:49 Katanya di katanya orang tertarik karena 48:52 ada penggambaran realitas sosial. 48:54 H 48:55 dulu kan enggak boleh kan zaman Pak 48:56 Harto 48:57 iya 48:57 konflik politik mana boleh. Ini dimodet 49:00 lagi. J Pak Harto boleh sudah sampai. 49:02 Nah setelah itu Selamat Raharjo. 49:04 Hmm 49:05 telepon saya. Mas, aku tak ngajak 49:08 sampean main film ya. Main film apa 49:10 [tertawa] samajo 49:12 ya? Ini ada film bagus nih tentang apa? 49:15 Mau enggak jadi polisi? Oh, jadi polisi. 49:17 [tertawa] 49:18 Jadi polisi. Gua bilang gua bilang 49:20 polisi yang apa? Polisi yang jujur atau 49:22 polisi yang polisi [tertawa] yang 49:26 yang main-main. 49:27 Polisi yang main di film India. 49:29 Iya. Gua bilang kalau polisi yang jujur 49:31 gua mau 49:32 ya. Ini bagus, Pak Bambang ini. Ya udah. 49:35 Akhirnya waktu itu e kapolrinya Pak 49:38 siapa lupa saya kapolrinya itu. Terus 49:41 sudah akhirnya saya lihat skenarionya 49:43 wah ini bagus nih tentang kehidupan 49:46 religius polisi yang 49:48 yang yang melakukan kejahatan 49:51 karena pamannya itu kiai lah gitu. Wah, 49:55 bagus nih. Udah saya main akhirnya main 49:57 di Semarang, di mana-mana. Selama Rahajo 50:00 kan ngajak saya waktu di Semarang itu 50:02 ngajak saya jalan-jalan ke Pasar Salah 50:04 3. 50:04 Hm. 50:05 Di Pasar Salah Tig yang dikenal bukan 50:07 Selamat Raharjo, saya dikenal. 50:10 Bapak-bapak bilang gini, "Loh, Mas, ini 50:12 kan Mas yang main di film, di TV itu kan 50:15 [tertawa] 50:16 sama enggak dikenal." Karena saya 50:19 bilang, "Itu untungnya main film di TV 50:22 karena layar kacek." He satu 50:26 saya bilang gitu. Jadi 50:29 kurang ajar aku sing ngjak Mas Bambang 50:31 sing dikenal [tertawa] 50:34 sekarang masih hidup. 50:36 Jadi saya saya merasa ya sejak tapi 50:40 setelah itu waktu Pak Mas Rharjo minta 50:43 saya ngisi suara kan kalau mau dapat 50:46 citra film citra bingar harus sendiri 50:48 ya. Iya. Padahal kalau sekarang kan 50:50 enggak pakai gini-gini, enggak pakaiini, 50:52 enggak pakai ngisi-ngisi lagi kan 50:53 langsung gitu kan. 50:54 Dulu ngisi suara 50:55 saya bilang kayak apa sih ngisi suara? 50:57 Saya datang ke PFN yang lain gak ada 50:59 gizi suara semuanya kan. Saya kan main 51:01 sama Satan Harjo sama siapa lagi tuh? 51:04 Hidayah sama si ya 51:07 mereka ngisi suara. Ah gua malas ah. Loh 51:09 entar Mas enggak dapat citra biar aja 51:11 ngapain dapat citra akhirnya 51:13 pakai suara siapa? 51:14 Ada orang ee suara yang sering ee 51:18 direkam suaranya sama Roy Martin H 51:22 ya. Orang yang sering sering pakai suara 51:24 Roy Martin dipakai buat saya gitu. Nah, 51:28 ternyata itu bukan hanya itu. Ternyata 51:30 rekaman di di apa di 51:34 kameranya 51:35 bukan kamera apa yang buat 51:37 ee tap recorder itu ternyata dipakai di 51:40 situ ya. Akhirnya ya mungkin suara saya 51:42 juga biar aja lah ya. Tapi yang lain ee 51:46 semuanya dapat citra, saya enggak dapat 51:47 citra 51:49 enggak masalah yang penting 51:51 berarti peran pembantu utama waktu itu 51:52 ya. 51:52 Oh iya utama habis saya saya pelakunya 51:57 karena saya yang karena saya yang meng 52:01 menangkap penjahat itu. 52:02 Judulnya apa? 52:03 Kodrat. 52:04 Kodrat. 52:05 Oh kodrat. Nah itu kodrat 52:06 nonton aja ya. He 52:08 ada di YouTube ada ya? 52:09 Ya ada ada ada. 52:10 Oh iya. E cucu saya enggak percaya, cucu 52:13 saya lihat gitu kan. 52:14 Ee katanya Eyang main film. Iya betul. 52:17 Film apaan? Ah masa film apaan sih? 52:20 Pasti Eyang main filmu-lujuan kan. 52:22 [tertawa] 52:23 Coba lihat. Eh dia lihat. Eh kaget dia. 52:25 Woh hebat juga yang main film jadi 52:27 polisi. [tertawa] 52:32 Luar biasa ya. E Mas Bambang. Apa yang 52:37 Mas Bambang kenang tentang Surabaya? 52:40 saya ini ee 52:45 ternyata hidup saya ini kan banyak di 52:47 Malang, Jakarta ya. Tapi saudara-saudara 52:52 saya banyak di Surabaya. 52:54 Terakhir-terakhir kali setelah Bapak 52:56 enggak ada, saya kembali mendekat dengan 52:59 teman-teman Surabaya. 53:01 Hm. 53:02 Teman-teman Surabaya sangat mencintai 53:04 kita. Teman-teman Surabaya benar-benar 53:07 ee kepengin ee dekat dengan kita dan 53:10 beberapa sudah meninggal, Mas, 53:12 teman-teman Surabaya. Jadi, 53:14 eyang-eyangnya pun sudah enggak ada ya. 53:17 Jadi, saya merasa bahwa Surabaya ini 53:22 kota yang harus dikembalikan kekuatan 53:24 spiritualnya. Hm. 53:28 Sekarang saya saya senang sekali dengan 53:31 walikota yang sekarang ini dan 53:32 wakil-walikota 53:33 sewaktu mereka membela 53:36 orang yang digusur itu. 53:37 He 53:38 ada kan yang digusur dan walikota sama 53:41 wakilnya membela 53:43 dan saya bangga itu yang kita minta kota 53:46 Surabaya harus kembali seperti itu. 53:48 Hm. 53:49 Membela keadilan. Kota Surabaya harus 53:51 membela orang susah. Heeh. 53:53 Kota Surabaya harus menunjukkan bahwa 53:55 kota pahlawan itu harus ditunjukkan 53:57 dengan bukti. 53:59 Bukan hanya berupa gedung-gedung, bukan 54:01 hanya berupa lukisan-lukisan, 54:03 pameran-pameran, tapi bukti bahwa kita 54:06 mewarisi nilai-nilai kepahlawanan untuk 54:08 menolong orang susah. 54:09 Kenapa Romya Bung Tomo tidak dijadikan 54:11 monumen? 54:13 Ya, itu 54:14 ada enggak niat dari pemerintah? Saya 54:17 sudah pernah diundang he 54:19 oleh satu organisasi ee 54:23 ke kejuangan di sana. Mereka sedang 54:26 mereka sedang 54:27 di jalan apa sih? 54:28 Sedang enggak enggak tahu mereka 54:29 mengusulkan satu di mana. Mereka sedang 54:31 merancang itu. 54:33 Mereka minta minta izin pada kami minta 54:35 izin Pak Bamang gimana? Oke silakan 54:37 silakan saja gitu dan saya tidak ikut 54:40 merancang tidak ikut apa nanti terserah 54:42 mereka. Jadi mereka sedang merancang 54:45 itu. Mudah-mudahan saja ee usaha mereka 54:48 diridai sama Allah Subhanahu wa taala. 54:49 Oh, sudah ada arah ke sana ya? 54:50 Iya, sudah. 54:51 Iya, sudah ada. Jadi dari para pejuang 54:55 dan anak-anak muda 54:57 yang menginginkan ada simbol-simbol kota 55:00 pahlawan. 55:01 Mereka kumpul dan saya diundang 55:03 dan saya bersyukur ya. Mudah-mudahan 55:05 diridai oleh Allah Subhanahu wa taala 55:07 lah 55:07 usaha itu ya. 55:09 Oke. 55:09 Heeh. 55:10 Nah, kalau makanan di Surabaya paling 55:12 enak apa? Apalagi kalau bulan Ramadan 55:13 ini posisi di [tertawa] mana t paling 55:15 enak kalau di Surabaya? 55:16 Saya sekarang ini kalau makan Surabaya 55:19 kan sudah macam-macam makanannya nih. 55:21 Saya biasanya makan ya rujak cingur Mas 55:25 ya. 55:25 Itu di mana m 55:26 itu rujak cingur? Di jalan ada di 55:29 belakang di di belakang jalan apa ya? Di 55:32 belakang jalan yang hotel Weta di 55:34 belakang itu ee namanya aduh siapalah 55:40 terus makan rawan setan. 55:42 Oh, rawon setan dari sana. 55:44 Iya. Iya. 55:45 Oh, 55:45 ya. Katanya rawon yang berani makan 55:47 rawan setan hanya jin. [tertawa] 55:49 Kalau jangan kalau bukan jin jangan 55:51 berani makan rawon setan. 55:53 Bisa dimarahin sama setan. 55:55 Ya. Terus kemudian 55:57 banyak makanan Surabaya sekarang ini 55:59 macam-macam dan 56:00 banyak restoran-restoran yang membuka 56:02 ee warung-warung ee misalnya di sekitar 56:06 Tuku Pahlawan itu. Wah, macam-macamlah. 56:08 He. 56:09 Dan saya ee tapi kan saya sudah tubuh 56:12 emas. 56:12 He. 56:13 Saya takut juga kalau makan kolesterol. 56:15 [tertawa] 56:15 Kolesterol-kolesterol. 56:17 Ini sudah tua gue gue entar berat badan 56:20 saya naik. Enggak [tertawa] 56:22 kolesterolah jalan terus kan. 56:24 Iya. Harus. Harus. 56:25 Saya olahraga yang sederhana aja ya. 56:27 Olahraga pernapasan. 56:28 Hm. 56:29 Ya. 56:30 Anak-anaknya Mas Bambang dan Cucu 56:33 diingatin enggak kita nih anaknya Bung 56:36 Tomo harus jaga jaga nama baik Bapak 56:38 gitu. begitu enggak? 56:39 Ee begini ee kalau anak-anak saya mereka 56:42 tahu yang yang agak ini adalah generasi 56:45 ketiga Juju. Kalau anak-anak saya mereka 56:48 tahu mereka tapi mereka seringki enggak 56:51 enggak enggak pernah nyinggung soal Bung 56:54 Tomo. Enggak pernah nyinggung. Hanya 56:55 saja kalau ada hari pahlawan, ada TV 56:59 muat itu, ada medsos muat itu, mereka 57:02 selalu bilang, "Yangkung, yang kung nih 57:04 ada ini 57:06 Pak kata anak saya ini, ini, ini, ini 57:08 ada gitu." Mereka selalu kasih saya 57:10 dan itu buat saya ya cukup 57:12 menyenangkanlah. Alhamdulillah 57:14 anak-anak saya, cucu saya ee ya meskipun 57:17 tidak apa ya, tidak mengagung-agungkan 57:20 gitu, tapi mereka ingatlah. Yang penting 57:22 buat kita bukan diagung-agungkan sebagai 57:25 putra pejuang bukan. Tapi yang penting 57:26 ingat aja bahwa 57:28 perjuangan ini juga menghasilkan sesuatu 57:30 yang harus kita harapkan baik gitu. 57:32 Hm. 57:33 Gituah. Jadi mudah-mudahan saja sebab 57:36 kan sekarang kan banyak orang yang 57:38 merasa 57:40 pahlawan itu udah enggak ada udah enggak 57:43 ada arti sama sekali ya. Karena apa? 57:45 Karena nilai-nilainya enggak kita 57:46 perjuangkan sih. 57:48 Karena nilai-nilainya tidak kita jaga. 57:51 karena nilai spiritualnya 57:54 tidak di tidak dikembangkan untuk 57:57 kebaikan bangsa ini kok itu sebabnya. 58:00 Jadi itu sebabnya pwan-pahlawan enggak 58:03 dianggap saya kira itu 58:05 ya Mas itu Bung Tomo ketika mengucap 58:08 Allahu Akbar itu pase banget dulu orang 58:10 pengajian juga. 58:11 Iya 58:12 pengajian dia. 58:13 Iya dulu Bapak dekat dengan teman-teman 58:15 dari R Telu Lama. 58:16 Hm. Oh gitu. 58:18 Iya. Dan kemudian 58:19 memang orang dekat juga ya. 58:20 Iya. Karena orang Jawa Timur kan masih 58:21 gitu, Mas, ya. 58:23 Orang Jawa Timur apapun juga gitu. Tapi 58:25 Bapak memang hidupnya susah jadi nyari 58:27 uangnya ee apa hidupnya susah sekali. 58:31 Sempat jadi yang saya bilang itu, Mas. 58:33 Sempat jadi penjaga bola tenis dan 58:35 uangnya dipakai jualan telur. 58:37 Iya. Iya. jualan e waktu besar waktu 58:39 jadi udah jadi 58:42 pejuang pun masih jualan jualan ayam 58:45 telur itu. Nah, tapi waktu kecil ya 58:47 gitu. Ibu saya ya, Eyang saya dari ibu, 58:51 ibu bapak saya itu nyuci pakaian. 58:54 Jadi cari nyaji pakaian-pakaian 58:56 orang-orang yang mampu dicuci, di 58:58 dibersihin, di ditetrika, dikasih orang. 59:01 Jadi, jadi itu memang kehidupan yang 59:03 Bapak saya katakan pada saya dan 59:06 adik-adik, adik kakak saya itu ya itu 59:08 kehidupan yang memang dijalani oleh 59:10 orang tua saya. 59:12 Masyaallah. 59:14 Sor bersama tokoh bersama Bapak Bambang 59:18 Sulistomo, putra dari Bung Tomo. 59:21 Iya. 59:21 Ee bukunya ini ada enggak sih Bung Tomo? 59:24 Buku 59:24 banyak 59:25 Bu. Ada yang nulis siapa? 59:27 Bapak. Jadi Bapak Iya Bapak Bapak nulis 59:30 buku sendiri. Buku puisi juga ada. 59:32 Puisi-puisi dibukukan. Buku tentang 59:34 manajemen kenegaraan juga ada. Meskipun 59:37 tipis-tipis. He 59:38 ya. Ada beberapa 59:40 masih ada bisa didapatkan tuh. 59:41 Ada ada kalau salah ada tapi nanti ya 59:43 bisa dicarilah di perpustakaan. 59:47 Iya. 59:47 Oke. 59:48 Baik. Ee demikian tadi bincang-bincang 59:51 kami dengan Bapak Bambang Sulistomo, 59:56 putra dari Bung Tomo yang luar biasa 59:58 banyak yang kita dapat dari bulan ini. 1:00:00 Terima kasih, Mas Bambang. Dan saya 1:00:02 terima kasih pada teman-teman Radio 1:00:04 Rasil sebab mendengarkan ocean-ocean 1:00:07 saya ini harus sabar juga. [tertawa] 1:00:10 Ocean-ocean saya seringki ya 1:00:13 meledak-meledak tapi niatnya bukan 1:00:16 jelek. Niatnya bagaimana mengangkat 1:00:19 mengangkat yang enggak benar [tertawa] 1:00:21 supaya jadi benarlah. 1:00:22 Oke. Betul 1:00:23 ya. Sebab siapapun juga ingin negeri ini 1:00:25 benar. Siapapun juga siapapun juga anak 1:00:28 cucu kita kepengin negeri ini benar. 1:00:29 Kalau benar kan kita sebagai ee 1:00:32 orang-orang yang pendahulunya itu kan 1:00:34 lebih mudah memberikan kehidupan pada 1:00:36 mereka. 1:00:37 Saya kira itu hal yang biasalah. H 1:00:39 perbangan berita selalu ngikutin ya. 1:00:41 Iya. Oh, selalu ikut. Oh, saya Oh, itu 1:00:43 baik internasional maupun dalam. 1:00:45 Iya. Iya. Dan yang penting jangan kita 1:00:48 selalu merasa paling benar. 1:00:49 He. 1:00:50 Ya, saya enggak pernah merasa paling 1:00:52 benar. Kalau saya salah ya salah. Tapi 1:00:55 ya kalau teman-teman saya ada yang 1:00:56 seperti itu ya biarin aja. 1:00:58 [tertawa] 1:01:00 Oke, baik. Terima kasih, Mas Bamang. 1:01:03 Mudah-mudahan secara ini bermanfaat ya. 1:01:05 Saya Muhammad Krisna, Agus ee Pambang 1:01:08 Agus, Adi Abi Agus, kemudian juga Neza 1:01:11 ee dan Gavan ya. 1:01:14 Iya. 1:01:14 E mohon pamit. Sampai jumpa lagi. 1:01:17 Wabillahi taufik walhidayah. 1:01:18 Asalamualaikum warahmatullahi 1:01:19 wabarakatuh. 1:01:19 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:01:20 wabarakatuh. Masih. Okay.