Dialog Topik Berita Radio Silaturahim: Ichsanudin Nursi Sebut Epstein Files Bukti Pembusukan Moral Elite Global

Cibubur, Rasilnews — Terbukanya Epstein Files di tengah ketidakpastian ekonomi dan dinamika politik nasional telah memunculkan krisis moral global yang membuat dunia terhenyak. Pengamat geopolitik dan sosial Ichsanudin Nursi menilai, kondisi tersebut menandai runtuhnya modal sosial Amerika Serikat, baik secara domestik maupun internasional.

Menurut Ichsanudin, Epstein Files tidak bisa dipahami semata sebagai kasus kriminal individu, melainkan cermin kerusakan moral elite Amerika dan Barat secara sistemik. Ia menegaskan bahwa terbongkarnya jejaring Jeffrey Epstein memperlihatkan keterlibatan politisi, pebisnis, dan tokoh berpengaruh dunia dalam praktik amoral yang selama ini ditutupi oleh citra demokrasi dan supremasi hukum.

Epstein Files menunjukkan bahwa moral elite Amerika sudah rusak. Moral global yang mereka pamerkan selama ini hanyalah etalase,” ujar Ichsanudin dalam Dialog Topik Berita Radio Silaturahim, Selasa (03/02/25).

Ia menjelaskan bahwa krisis moral tersebut sejalan dengan keruntuhan modal sosial domestik Amerika Serikat, yang ditandai oleh polarisasi tajam, pemiskinan, pengangguran, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta sulitnya akses terhadap layanan kesehatan dan perumahan bagi kelompok bawah dan warga lanjut usia.

Dalam pandangannya, dominasi Amerika di panggung global saat ini tidak lagi ditopang oleh nilai-nilai demokrasi liberal atau keadilan, melainkan oleh kekuatan militer dan kepentingan korporasi besar. Ichsanudin menyebut kondisi ini sebagai pergeseran dari military industrial complex menuju military financial industrial complex.

“Ujung dari kekuatan militer selalu kepentingan bisnis. Dan itu terlihat jelas dalam berbagai manuver geopolitik Amerika,” tegasnya.

Ia menyinggung sikap agresif Amerika terhadap sejumlah negara seperti Iran, serta ketegangan dengan Kanada dan negara-negara Eropa, sebagai bukti bahwa kekuatan dijadikan instrumen utama untuk mempertahankan pengaruh global. Menurutnya, situasi ini menandai pembusukan dominasi Amerika, bukan sekadar penurunan hegemoni.

Ichsanudin juga menilai materialisme yang dijadikan fondasi kekuasaan global tidak pernah mampu memberi daya tahan, kedamaian, dan keadilan. Karena itu, berbagai narasi demokrasi liberal, individualisme, dan mekanisme pasar bebas dinilainya telah kehilangan legitimasi moral.

Dalam dialog, ia mencontohkan ketahanan Iran, Rusia, China, serta perlawanan Gaza dan Taliban sebagai bukti bahwa martabat, kedaulatan, dan daya tahan bangsa tidak ditentukan oleh kekuatan material semata.

Berbicara tentang Indonesia, Ichsanudin menegaskan bahwa persoalan bangsa ini bersumber dari kerusakan di hulu, terutama pada sektor pendidikan dan kebudayaan. Ia mengkritik keras komersialisasi pendidikan yang menurutnya melanggar konstitusi dan nilai kemanusiaan.

“Ketika pendidikan dijadikan sektor bisnis, negara cuci tangan. Akibatnya muncul kerentanan psikologis dan krisis sosial,” ujarnya.

Ia menyinggung mahalnya biaya pendidikan serta berbagai kasus tragis akibat tekanan ekonomi sebagai bukti kegagalan sistem dalam melindungi masyarakat. Terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG), Ichsanudin mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak dilepaskan dari konteks agenda global seperti World Food Program, WHO, dan Schools Meals Coalition.

Menurutnya, program-program tersebut saling berkaitan dan berpotensi digunakan untuk standarisasi gizi, kesehatan, dan intelektualitas secara global, yang dapat menggerus kedaulatan kultural bangsa.

Menanggapi dinamika politik nasional dan pertemuan tokoh-tokoh kritis, Ichsanudin menekankan pentingnya membedakan persoalan hulu dan hilir. Ia menilai upaya perbaikan yang hanya menyentuh hilir tidak akan menyelesaikan akar masalah.

“Kalau air keruhnya dari hulu, seberapa canggih teknologi di hilir tidak akan menyelesaikan persoalan,” katanya.

Ia juga mempertanyakan relevansi upaya menjaga stabilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan kondisi nyata masyarakat yang mengalami penurunan daya beli, pemutusan hubungan kerja, dan ketidakpastian ekonomi.

Dialog Topik Berita Radio Silaturahim tersebut ditutup dengan penegasan bahwa Indonesia membutuhkan pemulihan menyeluruh—moral, mental, intelektual, dan kultural—sebagai prasyarat keluar dari krisis multidimensi yang tengah dihadapi.

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *