Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:02 [musik] 0:15 Bismillahirrahmanirrahim. 0:17 Assalamualaikum warahmatullahi 0:19 wabarakatuh Ikhwan Akhwat 0:20 rahimakumullah. 0:22 Syukur alhamdulillah kita dikaruniai 0:23 kesempatan untuk berada bersama-sama di 0:26 hari Rabu ini di tausiah pagi yang 0:29 mudah-mudahan membuat kita semakin 0:32 pandai menjadi hamba Allah yang kemudian 0:35 kelak juga mendapatkan rida, ampunan dan 0:40 tempat yang sangat kita rindukan, yaitu 0:42 surganya Allah. Tidak lupa salam selawat 0:45 kita salamkan, kita sampaikan, kita 0:47 lantunkan kepada kekasih kita, penghulu 0:50 umat Muhammad Rasulullah sallallahu 0:53 alaihi wasallam beserta keluarga dan 0:55 kerabatnya. 0:56 Ikhwan Akhwat seperti biasa yang hadir 0:59 untuk tausiah pagi Radio Silaturahim 1:02 adalah Ustaz Abul Hidayat Sairojie. 1:04 Beliau sudah hadir. Assalamualaikum 1:06 warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. 1:07 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:08 wabarakatuh. 1:09 Alhamdulillah sehat bugar ya. 1:11 Insyaallah. 1:12 Aha. 1:13 Hari ini apakah gerangan nutrisi bagi 1:15 jiwa kami? 1:17 Kecenderungan manusia 1:19 itu kita coba kita 1:22 telusuri kemudian kita ambil yang 1:25 positifnya, kita tinggal yang 1:28 Jadi 1:29 Ikhwan Akhwat seperti apakah gerangan 1:31 kecenderungan kita sebagai umat, sebagai 1:34 manusia, sebagai hamba Allah yang harus 1:37 kita cermati dan kita sikapi? Yuk, kita 1:40 simak. Silakan, Ustaz. 1:43 [berdehem] 1:44 Bismillahirrahmanirrahim. 1:46 Assalamualaikum 1:49 warahmatullahi wabarakatuh. 1:52 Alhamdulillah 1:55 alhamdulillahilladzi 1:56 arsala rasulahu bil huda wa dinil haq. 2:00 Liyuzhirahu aladdini kullihi. 2:05 Wakafa billahi syahida. 2:08 Asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la 2:10 syarikalah. 2:12 Wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa 2:15 rasuluhu la nabiya ba'dah. 2:18 Allahumma sholli wasallim ala nabiyina 2:22 Muhammadin wa ala alihi 2:25 wa shahbihi wa dzurrihi wa man tabi'ahum 2:27 bi ihsanin ila yaumil qiyamah. Masya 2:31 Allahu kan 2:33 wa malam yasya' lam yakun. 2:36 La haula wala quwwata illa billah amma 2:39 ba'd. 2:41 Ayyuhal ikhwan rahimakumullah, para 2:43 ikhwan dan akhwat di manapun berada, 2:45 alhamdulillah 2:47 kita terus harus bersyukur kepada Allah 2:49 Subhanahu wa Ta'ala, ternyata 2:52 di tengah gonjang-ganjingnya kehidupan 2:55 dan munculnya kopat-kapit kehidupan 2:58 banyak sekali terjadi 3:00 perubahan-perubahan dan sekaligus 3:02 mengingatkan kepada kita 3:05 ternyata kita manusia di samping kita 3:08 sudah merasa hebat 3:10 tapi ternyata di mata Allah lemah 3:13 sekali. 3:15 Ketika Allah menyuruh Covid turun saja 3:17 ke dunia ini, kita sudah betul-betul 3:19 kopat-kapit. 3:21 Mudah-mudahan dengan ini menjadikan 3:23 manusia pada umumnya nya insaf diri. 3:27 Al-insafu min nafsihi, menyadari pada 3:29 dirinya 3:30 untuk kembali memposisikan 3:33 diri sebagai hamba di hadapan Sang 3:36 Pencipta untuk tunduk dan patuh terhadap 3:40 semua titah dan perintahnya. Amin ya 3:43 rabbal alamin. 3:45 Mudah-mudahan ikhwan dan akhwat semuanya 3:46 senantiasa dalam lindungan dan naungan 3:49 rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala 3:52 dijauhkan dari marabahaya, dari bala, 3:55 dan dari 3:57 berbagai macam keburukan-keburukan. 4:00 Mudah-mudahan bertambah imannya, lapang 4:03 rezekinya, 4:04 sehat jasmani rohaninya, dimudahkan 4:07 segala urusannya, 4:09 sampai nanti pada saatnya kita mampu 4:12 menapaki jenjang prestasi tertinggi 4:16 manusia di sisi Allah, yaitu menjadi 4:18 manusia takwa kepada Allah Subhanahu Wa 4:21 Ta'ala. 4:22 Amin ya rabbal alamin. 4:26 Hari ini kita masih merasakan betapa 4:28 hebohnya dunia. 4:31 Gejolak kehidupan tiada henti 4:35 yang menja yang mengindikasikan inilah 4:39 gejolak nafsu manusia. 4:41 Karena yang membuat gejolak sebenarnya 4:43 adalah manusia. Indah warnanya, bagus 4:47 bentuknya, tetapi justru manusialah yang 4:50 membuat gendra, 4:52 membuat masalah di dunia ini. 4:55 Bahkan 4:56 membuat rusak. 4:58 Selain memberikan nilai positif karena 5:01 sains dan teknologinya, 5:03 tapi juga membuat masalah dalam 5:06 kehidupan. 5:07 Sehingga 5:09 di abad milenium ketiga ini di kala 5:12 manusia sampai pada puncak 5:14 peradaban sains dan teknologi, 5:17 di samping kemudahan-kemudahan yang 5:19 didapatkan 5:21 dari dampak positifnya sains, penemuan 5:25 sains dan teknologi, 5:28 niat zaman dulu juga mengatakan begitu, 5:30 harta, 5:32 tahta, wanita. Tahta, harta, dan wanita. 5:35 Ta semua. 5:37 Inilah semua u biyeg kurep, namanya 5:40 manusia itu urusannya urusan ini. 5:45 Muncul fitnah, muncul persaingan, muncul 5:49 perebutan, muncul perkelahian, 5:52 muncul tawuran, dan muncul peperangan. 5:56 Karena 5:57 ini kecenderungan manusia yang tidak 6:00 terkendali. 6:04 Jadi bukan dilarang, memang boleh memang 6:06 manusia itu harus saling mencintai, 6:09 membutuhkan laki lawan jenisnya, 6:10 laki-laki pada perempuan, perempuan dan 6:13 kepada laki-laki. Tetapi yang membedakan 6:16 manusia yang bermartabat dan tidak 6:18 bermartabat dalam aplikasinya. 6:23 Kalau main serobot saja enggak pakai 6:25 aturan, oh ini berarti nafsu yang 6:27 diikuti, kebinatangan yang diikuti. 6:31 Kalau manusia yang punya susila dan 6:34 punya budaya, punya 6:36 martabat, dia akan tempuh dengan 6:39 prosedur yang baik, mengikuti 6:41 aturan-aturan sang pencipta. 6:45 Karena memang Allah telah menurunkan 6:46 syariat itu untuk diikuti, an-nizam atau 6:50 as-syariat. 6:51 Agama adalah aturan-aturan hidup 6:55 yang mengatur kita semuanya. Nah, dia 6:57 tempuh ini manusia bermartabat. 7:01 Demikian juga soal 7:05 kebanggaan pada anak. 7:08 Kalau seorang tua yang memang mengikuti 7:11 aturan Allah, dia sadar bahwa anak itu 7:13 titipan Allah. 7:15 Maka dia gulowentah, dia didik anak itu, 7:18 ditanamkan nilai-nilai keutamaan. 7:22 Nilai-nilai keutamaan itu adalah 7:24 ditanamkan di dalamnya ada iman kepada 7:27 Allah subhanahu wa taala. Dikenalkan 7:29 bahwa kita diciptakan oleh Allah dan 7:32 segala nikmat yang kita nikmati adalah 7:34 dari Allah, kemudian kewajiban kita 7:36 bersyukur, menyembah, tidak 7:38 menyekutukannya, dan melakukan 7:40 kebaikan-kebaikan. 7:41 Ini akan ditanamkan pada orang tua 7:45 dari orang tua kepada anak-anaknya. 7:48 Tapi kadang-kadang berbeda karena yang 7:50 diikuti adalah kecenderungannya 7:52 semata-mata, 7:54 maka yang ada adalah kebanggaan. 7:57 Memang anak itu gegantilaning ati, buah 8:01 buah ah permata jiwa. 8:04 Namanya anak itu luar biasa, 8:06 menyenangkan sekali. 8:08 Kebahagiaan itu pada anak, susah payah 8:11 orang tua bekerja keras, banting tulang, 8:14 sikil nggo sirah, sirah nggo sikil, 8:17 jungkir balik itu dalam membela anak. 8:19 Kebanggaan. Jangankan kok anak yang 8:22 pinter, 8:23 anak yang nakal aja ibu-ibu sering 8:26 ngerumpi sama tetangganya, dia cerita 8:28 anaknya, "Bu, anak ya Allah Bu, anak 8:31 saya koyo bandelnya." 8:33 Ini nada apa ini seperti ini? 8:37 Keluhan tetapi ada kebanggaan. 8:40 "Ya Allah Bu, anak saya itu bandelnya." 8:44 Tuh. 8:45 Itu ada kebanggaan, lho bandel kok 8:47 bangga. 8:48 Tetangganya enggak mau kalah, "Apalagi 8:50 Bu, anak saya ya Allah." 8:52 Jadi saling membanggakan kebandelannya, 8:55 apalagi kalau pinter. 8:57 Nah kemudian kesalahan kita adalah 9:00 kebanggaan itu terus 9:03 dipupuk tetapi lupa pada kewajibannya 9:06 sebagai orang tua pada anak bahwa itu 9:08 titipan Allah. 9:10 Agama tidak diperhatikan. 9:13 Apalagi kalau orang tuanya memang 9:15 makmur, 9:16 berkecukupan, serba ada, enggak ingin 9:19 anaknya itu menjadi sengsara. 9:22 Dulu orang tua truko, susah payah 9:26 untuk bisa mengadakan menjadi orang kaya 9:28 dimulai dari dengkul modalnya. 9:31 Tapi begitu sudah 9:34 apa namanya mapan, serba kecukupan, 9:37 serba ada, banyak uang. 9:40 Dia berpikirnya lain, soal anak. 9:42 Jangan anak saya menderita seperti saya. 9:46 Maka belum lahir saja sudah disiapkan 9:48 fasilitas rumah sakit yang terbaik. 9:52 Pakaian yang bagus-bagus. 9:54 Nama yang bagus. 9:56 Kemudian bahkan baby sitternya disiapkan 9:59 tidak cukup satu. 10:02 Belum lagi kalau dia sudah sekolah. 10:05 Dimanjakan betul, apa yang dia mau 10:07 dibelikan, minta uang dibelikan, mau 10:09 mainan dibelikan yang mahal. 10:12 Apalagi kalau sudah remaja, putri 10:14 cantik, gelis, jelita, mmm, masyaallah. 10:18 Tidak boleh kena tanah kakinya. 10:22 Pembantu disiapkan, mau pakai baju 10:24 disiapkan pembantu, mau pakai sepatu 10:26 disiapkan pembantu. 10:28 Jadi dia tidak pernah menyentuh 10:29 pekerjaan apapun, seperti putri raja. 10:34 Nah, ini kesalahan orang tua, tidak 10:36 menilai tidak mendidik pada nilai-nilai 10:39 utama. Sehingga walaupun secara fisik 10:42 kecukupan, 10:44 tetapi di sisi lain secara psikis, 10:46 kejiwaan, 10:47 dia menganggap bahwa hidup ini adalah 10:49 serba ada. 10:51 Kalau kemudian ketiadaan atau suatu saat 10:55 ada yang 10:56 tidak bisa di penuhi, maka mereka akan 11:00 tersiksa. 11:02 Orang biasa makan enak sekali waktu 11:04 ketemu punya tempe sama ikan asin, 11:07 sengsara itu. 11:09 Orang biasa makan enak. 11:11 Biasa di rumah itu mewah, segalanya ada, 11:14 serba 11:15 bersih. 11:16 Suatu saat masuk kampung, masuk, itu 11:18 tersiksa. 11:21 Jadi di sisi lain sebenarnya 11:24 orang tua yang keliru memanjakan anaknya 11:26 berarti sebenarnya sedang menanamkan 11:29 jiwa yang manja. 11:34 Kemudian jiwa yang lemah. 11:37 Yang tidak fight untuk bertarung pada 11:41 iklim kehidupan. 11:43 Dia menganggap hidup itu serba ada, 11:45 harus ada. Kalau tidak ada atau dia 11:47 tidak jumpai, pasti akan tersiksa. 11:50 Dan sekaligus menanam pada dirinya, 11:52 menuntut. 11:54 Anak menuntut, pokoknya harus ada. 11:58 Nah, ini bahayanya. 12:00 Ya, dan lain-lain. 12:03 Maka kewajiban orang tua mestinya 12:06 kecenderungan cinta kepada anak itu 12:08 didasari pada keimanan lebih dulu. 12:11 Tanamkan nilai-nilai keimanan. 12:16 Tanamkan pada jiwa anak itu welas dan 12:18 asih, berkasih sayang, akhlakul karimah. 12:22 Itu orang tua yang 12:24 baik. 12:26 Jadi tidak dimanjakan, tapi di sisi lain 12:28 kemudian agama jiwanya kosong, kering 12:31 kerontang. 12:33 Orang tua yang bijak, orang tua yang 12:35 bertanggung jawab justru kecenderungan 12:37 cintanya itu dimulai dari ditanamkan 12:41 nilai-nilai keutamaan. 12:44 Bahkan sudah dimulai dari awal. 12:47 Ketika suami mencari 12:51 istri, bukan hanya yang cantik saja. 12:53 Dicarikan 12:55 calon ibu yang bijak, ibu yang bisa 12:58 menjadi tarbiyatul yang akan mendidik 13:01 anak-anaknya. 13:03 Yang beriman dan bertakwa. 13:05 Maka Rasul memberikan empat kriteria 13:07 cari istri itu ada empat kriterianya. 13:11 Satu, karena jamaliyah, cantiknya. 13:14 Ini wajar, karena cakepnya. 13:17 Yang kedua, linasabiha, karena nasabnya, 13:19 keturunan dari orang-orang 13:21 baik. 13:24 Yang ketiga, limaliha, dari hartanya. 13:27 Kemudian yang keempat dari litiniha dari 13:28 agamanya. 13:29 Kalau bisa dapat empat-empatnya luar 13:31 biasa ini, tapi ini kan jarang. 13:34 Kalau yang pertama tidak, cantiknya 13:36 tidak, kemudian keturunannya enggak 13:39 begitu, 13:40 kemudian yang ketiga hartanya juga 13:42 enggak, cukup satu, litiniha agamanya. 13:47 Ini dari mulai awal sudah 13:49 begitu terhadap anak. Kemudian mulai 13:52 dengan doa-doa sepanjang dia berumah 13:54 tangga 13:55 selalu dikawal dengan doa-doa, suami 13:57 mendoakan istri, 13:59 istri mendoakan suami, begitu lahir anak 14:02 didoakan bersama, dibimbing, dikawal 14:04 terus, dididik agama, 14:07 sehingga anak tidak menjadi musuh dan 14:09 fitnah. 14:10 Demikian juga kecenderungan manusia 14:12 kepada harta, ini kadang-kadang 14:13 ceroboran, 14:15 lupa pematang batas antara satu 14:18 [mendengus] dengan yang lain. 14:20 Kadang-kadang karena 14:22 over 14:24 acting-nya, kecintaan, kecenderungannya 14:27 kepada dunia, pada harta benda, 14:29 dia lupa terhadap hak-hak orang lain, 14:33 sehingga main sikat saja, halal haram 14:35 hantam, dia tidak peduli. 14:37 Korupsi, manipulasi, 14:40 fitnah, 14:42 dan 14:43 banyak lagi cara-cara yang digunakan. 14:45 Dari 14:46 masalah personal sampai kepada urusan 14:49 urusan kebangsaan, urusan negara, kita 14:52 lihat 14:53 berebut soal emas dan perak, soal 14:57 potensi sumber daya alam, kita lihat di 15:00 peperangan-peperangan yang terjadi, 15:01 karena itu intinya perebutan dengan 15:04 karena pengendalian manusia dalam 15:06 menguasai harta benda yang tidak 15:08 terkendali. 15:10 Demikian juga 15:11 tentang peternakan, 15:14 kebun, sawah ladang dan sebagainya. 15:17 Ini masalah. 15:19 Sebenarnya maksud Allah memberikan 15:21 kecenderungan itu memang di selain ruh 15:24 hadiah dari Allah agar manusia itu 15:26 bahagia, tapi di sisi lain agar ini bisa 15:29 dimanfaatkan sebaik mungkin. 15:34 Tapi 15:35 ketika manusia kecenderungannya hanya 15:38 karena dorongan syahwat semata-mata, 15:42 nafsu terhadap tiga ta tadi 15:46 inilah yang menimbulkan masalah hebohnya 15:49 dunia seperti sekarang. 15:51 Nah, Allah sendiri menyatakan dzalika 15:53 mata'ul hayati dunya. Allah yang 15:56 menciptakan itu menginformasikan kepada 15:59 kita bahwa itu barang yang jadi 16:01 rebutanmu itu, itu sekedar kesenangan 16:05 sedikit. 16:07 Kesenangan yang semu. 16:09 Kesenangan yang relatif, kesenangan yang 16:12 tidak abadi. 16:15 Artinya jangan itu jadi fokus tujuan. 16:18 Apalagi sampai terjadi pembunuhan, 16:21 melahirkan dosa 16:23 fitnah dan sebagainya, jangan. 16:27 Dan Allah mengingatkan, 16:29 memberikan orientasi 16:31 bahwa wallahu indahu husnul ma'ab. Ada 16:36 yang lebih baik dari itu semua. 16:39 Kalau orang tua pada anaknya, "Nih 16:42 iku dudu kenikmatan sing hakiki. 16:46 Kwi barang dolanan, 16:49 ojo nganti podo podo pasulayan. Jangan 16:52 kamu itu rebutan, Nak. Itu kan barang 16:55 mainan, nanti juga sebentar bosan. 16:59 Ingat ada yang lebih baik. 17:01 Mau enggak kamu saya beri yang lebih 17:03 baik?" Tuh. 17:05 Allah dengan kasih sayang mengatakan 17:06 seperti itu. "Wahai manusia, ada yang 17:09 lebih baik dari itu, jangan jadikan 17:10 rebutan. 17:12 Jangan kamu serakah, jangan kamu tamak. 17:16 Ada di sisi Allah. 17:19 Di sisiku kata Allah. Itu ada yang 17:22 tempat kembali yang. 17:24 Baik, yang lebih baik daripada. Dunia 17:27 yang barang sak iprit itu. Barang yang 17:29 semu relatif itu. Bisa membahayakan. 17:33 Maka. Pada ayat berikutnya adalah Allah 17:35 berfirman qul a unabbiukum. Bikhairin 17:39 min dzalikum. Katakan maukah aku 17:41 tunjukkan kepadamu kepada yang lebih 17:44 baik dari itu. 17:48 Ini Gusti Allah loh yang nawarkan ini. 17:51 Kenapa sih kamu jadi berantem. Kenapa 17:54 kamu itu seolah-olah mau hidup selamanya 17:56 padahal hidup itu cuma sebentar hanya 17:59 setengah hari aja enggak nyampe. 18:02 Kenapa kenikmatan yang semu yang relatif 18:05 itu yang bisa membahayakan keimanan 18:07 masih kau pertahankan kau rebutan 18:10 menimbulkan dosa ada yang aku tunjukkan 18:13 padamu yang jauh lebih baik. 18:16 Lilladzina taqau inda rabbihim. 18:19 Jannatun tajri min tahtihal anhar. 18:22 Khalidina fiha wa azwajun mutahharatun 18:25 wa ridhwanun minallah. 18:27 Wallahu bashirun bil ibad. 18:30 Ada yang lebih baik. Apa itu. 18:32 Taqwa. 18:36 Kalau bisa kamu itu jangan rebutan 18:37 harta. 18:40 Kalau bisa itu semua jadikan. 18:43 Satu sarana. Yang mampu menopang hidupmu 18:46 yang menjadi orang yang taqwa. 18:49 Karena di sisi Allah. Di sisi Allah itu. 18:53 Di sisi Tuhanmu. Allah siapkan surga 18:56 sebagai tempat kembali. Yang penuh 18:58 dengan segala kenikmatan dan di sana 19:01 kekal dan abadi. 19:03 Kurang apalah Gusti Allah itu jelas 19:05 cetho gamblang. 19:07 Cetho welo-welo ditunjukkan ini loh 19:10 jalanmu kalau mau melangkah kalau kamu 19:12 ingin bahagia, kalau ingin sukses ini. 19:15 Silakan dunia, tapi jangan terlalu 19:17 serius, biasa saja. Jadikan ini sarana, 19:21 bukan sebagai the ultimate goal, tujuan 19:24 akhir. Ini sarana saja. Jadikan hartamu 19:28 mendorong kamu lebih takwa. Jadikan 19:30 pangkat jabatanmu menjadi orang yang 19:32 takwa. Jadikan kehidupanmu semuanya raih 19:36 takwa sebagai obsesi kehidupan. 19:40 Nah, inilah kecenderungan manusia. Oleh 19:42 karenanya 19:43 kecenderungan yang kita miliki 19:46 pada tiap manusia, mari kita gulawenta. 19:50 Mari kita kelola. 19:53 Agar ini bisa mengangkat harkat martabat 19:55 menjadi manusia yang punya posisi, 19:58 kedudukan tinggi di sisi Allah subhanahu 20:00 wa taala. 20:02 Ini mestinya harus kita gunakan. Jadi, 20:04 kalau kita ber 20:05 fokus ber 20:07 kutik dengan persoalan-persoalan seperti 20:10 ini 20:11 ya akhirnya kita akan lelah sendiri dan 20:13 ternyata kita bisa saja selama hidup 20:16 kita ternyata tidak mempunyai nilai 20:18 apapun. Artinya, ibarat 20:22 padi itu namanya gabuk, ndak berisi, 20:26 ndak berkualitas. Banyak manusia yang 20:28 kelihatan fisiknya hebat 20:31 tampan, kalau wanita cantik, beautiful, 20:34 luar biasa 20:36 tapi ternyata nol, ndak ada nilai di 20:39 mata Allah subhanahu wa taala. 20:40 Wallahualam 20:42 bissawab. 20:44 Masya Allah. 20:46 Jadi 20:47 kecenderungan itu kita semua miliki, 20:50 yang baik ataupun yang buruk dan kalau 20:53 kita abai selama ini, maka yang buruk 20:57 tadi akan menjadi bagian dari kebiasaan 21:00 terus merugilah kita. 21:02 Akankah kita biarkan ini semua atau kita 21:05 mulai untuk mencoba 21:08 menyiangi 21:10 menyelisik sedikit demi sedikit satu 21:12 demi satu mana kecenderungan yang selama 21:15 ini telah menjebak kita pada 21:17 kondisi-kondisi yang sama sekali 21:20 menjauhkan kita dari tujuan destinasi 21:24 tertinggi yang sangat-sangat kita 21:26 rindukan yaitu surganya Allah 21:28 mari kita renungkan. Kami kembali 21:30 sesudah jeda berikut. 21:38 [musik] 21:44 [musik] 21:49 [musik] 22:08 Terima kasih masih tetap bersama Rasill 22:10 untuk Islam yang satu di acara tausiah 22:12 pagi dengan menghadirkan Ustaz Abul 22:15 Hidayat Sairoji. Bahasannya 22:17 kecenderungan 22:19 manusia, kecenderungan kita nih kayak 22:22 apa. Ustaz kita boleh langsung ke 22:24 pertanyaan ya Ustaz dari hamba Allah. 22:27 Ustaz kalau egois, menang sendiri itu 22:30 fitrah ya? Kok kita semuanya punya? 22:33 Tapi kadang-kadang enggak sadar untuk 22:36 membuangnya, menang sendiri ini 22:39 belajarnya harus dengan apa? 22:41 Saya yatim piatu Ustaz. Oh oh. 22:43 Subhanallah, mudah-mudahan diberkati 22:45 Allah Subhanahu wa 22:46 Amin amin Allahumma amin. 22:48 Eee Mbak atau Abang atau enggak disebut 22:51 ya, laki-laki apa perempuan, muslimin 22:54 atau muslimah. 22:56 Eee ke ego sifat yang diberikan oleh 22:58 Allah Subhanahu wa taala itu penting. 23:01 Kalau enggak punya ego nanti dia gimana 23:03 memprotek diri, 23:05 menopang keberadaan diri. Cuma 23:08 masalahnya harus tetap terkendali. 23:11 Jadi seimbang. 23:13 Dia memikirkan dirinya perlu, 23:16 tapi juga menimbang ada tenggang rasa 23:19 terhadap orang lain. 23:20 Yang jadi masalah kalau egoistis, 23:23 nah. 23:25 Oke, sip. 23:26 Menjadi ananiah. 23:27 Jadi dia dia hanya memikirkan dirinya 23:29 sendiri, enggak pernah tenggang rasa 23:31 memikirkan orang lain. 23:33 Kalau bahasa asing sebutnya tepo seliro. 23:36 Ehm, ehm. 23:37 Jadi dia mesti ada mengukur orang lain. 23:39 Dia memperhatikan dirinya penting, 23:42 tapi jangan sampai over, apalagi 23:44 mengambil hak-hak orang lain. 23:47 Nah, di sinilah keseimbangan itu harus 23:50 di-manage dalam 23:52 hati kita. Maka dalam pengertian agama, 23:55 dalam buku indahnya itu berakidah ya, 23:59 saya tulis juga dijual di etalase. 24:02 Agama itu bukan hanya sekadar ritual, 24:06 salat, 24:07 umrah, haji, 24:09 tapi agama 24:11 pengertian ad-din yang artinya agama, 24:14 itu satu al-mulk, artinya kekuasaan. 24:18 Dimaksud kekuasaan di sini bukan 24:19 kekuasaan politik diturunkan agama untuk 24:22 menguasai manusia, bukan. 24:24 Tapi adalah orang beragama orang yang 24:26 menguasai hawa nafsunya. 24:30 Jadi orang beragama orang yang mampu 24:32 mengendalikan diri, 24:34 mengendalikan keinginan-keinginan 24:37 antara hak dan kewajiban, antara dirinya 24:40 dan orang lain. Nah, itu seimbang, 24:42 selalu seimbang, sejalan, harmonis. 24:46 Seperti yang disebut disabdakan oleh 24:47 Baginda Nabi, la yukminu ahadukum hatta 24:51 yakuna hawahu taba'an lima jitu bihi. 24:54 Belum beriman salah seorang di antara 24:57 kamu sehingga hawa nafsumu tunduk 24:59 terhadap apa yang aku bawa. 25:01 Yang dibawa Rasul adalah Alquran dan 25:04 penjelasan-penjelasan beliau. 25:07 Jadi di sini agama harus didalami. 25:11 Keimanan harus diperkuat sehingga nanti 25:13 kita mampu memanage 25:15 keinginan-keinginan termasuk membangun 25:18 kepribadian dengan ego yang tetap 25:21 terkendali 25:23 sehingga ego disertai dengan sifat 25:26 altruisme, kepedulian 25:29 bahkan rela berjuang untuk kebahagiaan 25:31 orang lain. Jadi dia memikirkan dirinya 25:33 juga memikirkan orang lain. Wallahualam. 25:36 Masyaallah. 25:38 Jadi ada batasan 25:40 ego dan 25:42 mementingkan diri sendiri yang 25:45 tidak bisa dinafikan kalau waktunya 25:48 salat, maaf aku mementingkan diriku 25:50 sendiri juga gitu ya Ustaz ya. 25:52 Yang lain entar dulu nunggu. Ini ada 25:54 pertanyaan dari seorang anak menghadapi 25:58 sus 25:59 saudara sekandung sedarah yang 26:02 mentang-mentang ayah dan ibu sayang 26:05 sekali dia suka menghabis-habiskan uang. 26:07 Kemarin motornya baru dipakai 4 bulan 26:10 dijual, dia bilang rusak, sudah enggak 26:13 enak dipakai. 26:14 Kita sebagai 26:15 ke-keluarga sebagai saudaranya harus 26:18 ngapain Ustaz? Geregetan diomelin tapi 26:21 ayah sama ibu memang sih uangnya cukup 26:24 tapi saya enggak suka aja melihatnya. 26:26 Oh, oke. 26:27 Iya, karena keluarga sebaiknya itu 26:31 disampaikan apa yang jadi unek-unek 26:33 keluhan itu kepada ayah bunda. 26:36 Kepada ibunda dan ayahanda tercinta, 26:38 sampaikan 26:41 dan kalau orang tua lupa supaya 26:43 diingatkan supaya ini kan akibatnya 26:46 tidak baik memanjakan anak. 26:48 Mentang-mentang segalanya punya, ingat 26:51 bahwa harta itu juga titipan Allah. 26:54 Kalau kita perlakukan semena-mena, 26:56 digunakan untuk hura-hura yang tidak 26:58 jelas, itu ada tanggung jawab. 27:00 Karena harta itu halalnya akan dihisab, 27:04 akan diaudit, akan diperiksa, haramnya 27:07 pasti diazab. 27:09 Nah, ini saya kira dengan lapang dada, 27:11 dengan cara yang baik, 27:13 sampaikan pada ayah bunda agar bisa 27:15 menasehati saudaranya. Kalau mungkin dia 27:18 yang nasehati, ya kalau bisa ya enggak 27:21 bagus juga. 27:22 Tapi biasanya kalau kok dua orang tua 27:24 dan tua dia akan mendengarkan. 27:26 Wallahualam. 27:27 Beda ya. 27:28 Baik, ini meskipun eh di luar 27:32 tema, tapi masuk juga sih. 27:34 Assalamualaikum, Pak Ustaz. 27:36 Waalaikumsalam warahmatullahi 27:37 wabarakatuh. 27:38 Semoga 27:39 dalam berkah Allah. 27:41 Pak, apakah kalau kita orang muslim ini 27:44 sakit, itu berarti Allah sayang sama 27:46 kita? Berarti pandemi ini adalah bentuk 27:50 kasih sayang Allah pada kita, Ustaz? 27:53 Iya. 27:55 Segala sesuatu itu tergantung bagaimana 27:57 kita menyikapinya. 28:00 Rasulullah pernah memuji pada seorang 28:02 beriman. 28:04 Aku kagum seorang beriman, orang mukmin, 28:08 orang beragama. 28:09 Kenapa? 28:10 Karena hidupnya itu stabil gitu loh. 28:14 Kalau dia mendapatkan kesenangan, 28:16 kelapangan, harta, kebahagiaan, 28:19 bertambah bertambah kebaikannya, 28:21 bertambah-tambah syukurnya. 28:23 Jadi makin kaya, makin loman, makin 28:25 dermawan, makin tinggi pangkatnya, makin 28:28 merakyat. 28:29 Makin pintar, makin tawaduk. 28:32 Jadi indah gitu loh. Ini yang namanya 28:34 berkah. 28:36 Jadi banyaknya harta itu banyak memberi 28:38 manfaat kepada banyak orang, banyak 28:40 orang tertolong. Kalau dia pintar, 28:42 ilmunya itu nular, 28:44 memberi banyak manfaat terhadap orang 28:46 banyak dan seterusnya. Sedangkan kalau 28:49 dia mendapatkan kesempitan, kesusahan, 28:53 dia sabar. 28:54 Nah, ternyata sabar itu lebih hebat 28:57 daripada kelapangan yang syukur. 28:59 Cuma memang sabar itu enak diucapkan, 29:02 prakteknya memang enggak benar. 29:04 Jadi terhadap penyakit, kalau bahkan 29:06 dalam 29:08 dalam sebuah riwayat disebutkan, kalau 29:10 Allah 29:11 mencintai hambanya, itu hambanya diuji. 29:16 Diberikan ujian. 29:19 Kenapa ujian? Lah kalau kita ujian kan 29:21 mesti apa, mau apa? Mesti mau naik kan? 29:23 He em, he em. 29:24 Dari tamtama mau jadi bintara kan mesti 29:27 Iya. 29:27 ujian. Orang yang dikenai penyakit, ada 29:31 tiga yang akan diambil, empat malah. 29:33 He em, he em. 29:34 Satu, 29:36 tenaganya. 29:38 Jadi letoy, 29:39 lemah, enggak berdaya. 29:41 Cahaya mukanya jadi pucat. 29:44 Nah, nafsu makannya. 29:46 Dan 29:47 keempat, dosanya. 29:50 Kalau dia iman dan sabar, ridho kepada 29:53 Allah, ini yang tiga akan dikembalikan, 29:55 tapi dosanya tidak dikembalikan. 29:58 Masya Allah. 29:58 Jadi kalau seorang dikasih penyakit itu, 30:01 adalah sebenarnya sedang dicuci. Ibarat 30:04 pakaiannya sudah lama dipakai, bau 30:06 keringat, 30:08 bau apek, ya kotor, ya berdebu, 30:11 masuk ke mesin cuci. Kan mesin cuci kan 30:13 enggak diam. 30:14 He em. 30:15 He em. Diputer giling. 30:17 Diputer giling, diuwes-uwes, maksudnya 30:20 supaya kotorannya itu hilang. 30:22 Belum cukup, kemudian diperas, 30:25 dikeringkan, diputer-puter, 30:28 dijemur, 30:30 disetrika, baru dikasih pewangi, masuk 30:33 lemari. 30:35 Kita juga manusia begitu. Jadi kalau 30:37 kita sedang diberikan sakit, sabar. 30:40 Ikhtiar kita lakukan. kalau sakit 30:42 berobat kewajibannya. 30:45 Kalau wabah yang muncul 30:48 menimpa orang-orang beriman, justru itu 30:51 orang termasuk mati syahid kalau dia 30:53 meninggal akibat wabah. 30:56 Jadi artinya apa? Mempercepat dia masuk 30:59 ke dalam surga. 31:01 Penderitaannya menjadikan menggugurkan 31:03 dosa. 31:05 Jadi sebenarnya 31:06 itu semuanya apa yang terjadi di muka 31:09 bumi ini 31:10 wujud daripada kasih sayangnya Allah 31:12 Subhanahu Wa Ta'ala. Hanya saja 31:15 tergantung bagaimana keimanan kita dalam 31:19 menghadapi 31:20 menyikapi terhadap hal yang ada ini. 31:23 Jadi pentingnya keimanan begitu. Dengan 31:25 keimanan 31:27 tidak hanya melihat dengan mata kepala 31:29 tidak hanya merasa-rasa dengan selera, 31:32 tapi dengan mata akidah keimanan, hati 31:35 nurani sehingga dia jernih melihat 31:37 persoalan, bahkan bisa melihat hikmah di 31:40 balik peristiwa. 31:42 Wallahualam. 31:44 Iya, bagaimana kita merespon itu yang 31:47 penting, tapi biasanya kalau sakit itu 31:48 ngeluh dulu ya. 31:50 Ini masih ada kaitannya dengan sakit, 31:52 Ustaz. 31:52 Iya. 31:53 Bagaimana kalau dalam kondisi seperti 31:56 sekarang ini kan ada orang yang sakit 31:58 tapi bukan karena eee pandemi Corona, 32:02 Ustaz. Cuma masalahnya dia itu benci 32:05 banget sama saya. Kalau saya tetap 32:07 datangi, saya tidak menambah penderitaan 32:11 karena saya diingatkan oleh suami saya 32:14 "Ditiliti, Nduk, orang itu tuh biar 32:17 bagaimanapun saudara." Oh, berarti masih 32:20 saudara. Iya. 32:22 Iya, kan ada istilah Jawa, sing waras 32:26 Ngalah. 32:26 Ngalah. 32:28 Kalau orang lain membenci kita, perlu 32:30 yang kita lakukan adalah evaluasi diri. 32:33 Kenapa orang benci kepada saya? 32:36 Opo salahku? 32:38 Apa yang menyebabkan orang benci pada 32:40 saya? Nah, itu metani badan syarira, 32:43 dicari itu kelemahan diri apa. 32:46 Oh, kalau kemarin saya ternyata memang 32:48 memperlakukan dia dengan cara yang 32:51 menyakitkan. Nah, evaluasi diri, 32:54 kemudian minta maaf. 32:56 Tapi kalau kita sudah evaluasi memang 32:57 kita tidak pernah berbuat salah, berbuat 33:00 dosa kepada dia, dia kok benci, 33:04 nah, itu urusan dia. Misalnya, 33:07 kita punya uang kok dia meriang 33:09 umpamanya. Nah, ini kan masalah hasad, 33:12 berarti penyakit hati. 33:14 Jadi, kalau orang lain membenci kita, 33:17 jangan dibalas dengan kebencian. 33:20 Kita tetap berbuat baik. 33:23 Ya, kalau tadi misalnya dia sakit, kita 33:24 tengok, kita doakan. 33:27 Kita bawa apa sesuatu yang bisa 33:30 meluluhkan hatinya. Kalau tidak diterima 33:33 juga, ya, itu urusan dia. Tapi bagus sih 33:35 suaminya tadi mengatakan, tilek ono, 33:38 artinya lihat sana dan didoakan. Tapi 33:41 tileknya jangan terus buat 33:44 buat apa, ya, buat masalah. Sampai sana 33:47 terus pamer gelang, pamer kalung, 33:49 pakaiannya yang mewah, bukan. Ya, 33:51 tunjukkan keprihatinan kita, im- empati 33:54 dan simpati dan empati kita. Kemudian 33:57 kita doakan. 33:59 Wallahualam. 34:00 Iya. Jadi, 34:03 kembali lagi kalau Ustaz tadi katakan 34:05 metani itu penting banget. Anda tahu 34:08 enggak sih metani? 34:09 Ca- mencari kutu. 34:11 Kalau orang nyari kutu itu berarti 34:12 dicari-cari, ya, enggak kelihatan tapi 34:14 harus dicari. 34:15 Belahan rambut itu dicari. 34:18 Eh, Ustaz, banyak sekali yang bertanya 34:20 soal penyakit, mungkin karena sedang 34:22 pandemi, ya. Kalau misalnya orang-orang 34:25 dengan Covid tidak boleh dijenguk, 34:29 kan kasihan, Ustaz, siapa tahu sakaratul 34:31 mautnya bisa dibimbing. 34:34 Kalau menurut agama kita seperti apakah 34:36 gerangan Ustaz? 34:37 Iya. 34:38 Karena tidak bisa membantu mem mem 34:40 membimbingnya ketika di sakaratul maut. 34:44 Iya, mestinya yang pakai APD 34:48 perawat ya. 34:49 Ini ada namanya 34:52 SOP-nya. Kalau orang begitu jangan hanya 34:54 di entrok-entrok nafas buat nafas buatan 34:58 tapi juga di talkin gitu. Tapi di rumah 35:00 sakit kan 35:01 enggak tahu kalau rumah sakit Islam itu 35:03 diajari apa tidak. 35:05 Ya karena situasi darurat seperti itu 35:07 bagaimana ya? Tidak ada jalan lain 35:09 kecuali berdoa. 35:12 Doa atau tengok membesuk orang sakit itu 35:14 kan juga doa yang penting. Jadi ketika 35:18 ada saudara kita, teman kita yang sakit 35:20 seperti itu, lantunkan doa. Tidak hanya 35:23 sekali dua kali, mungkin setiap salat 35:26 kita doakan. 35:28 Kemudian jamaah di masjid kita minta 35:30 doakan. 35:31 Kalau dalam situasi kritis kita doakan 35:34 mudah-mudahan husnul khotimah. Saya kira 35:36 insya Allah itu juga lebih efektif 35:38 karena langsung kepada 35:39 sang pencipta. Karena kita tidak bisa 35:42 mentalkinnya langsung. Wallahualam. 35:45 Eh pertanyaan berikutnya agak lucu sih. 35:48 Bicara soal kecenderungan Ustaz, apakah 35:51 pria memang cenderung untuk poligami ya? 35:54 He eh. 35:56 Iya. 35:58 Enggak usah nanya kalau laki-laki 35:59 laki-laki perempuan tuh yang nanya. 36:01 Enggak ada namanya. 36:03 Ya inilah sebab sebaiknya kalau nanya 36:06 pakai indikasi ya. 36:08 Eh apa namanya supaya kita tahu 36:10 jawabnya. 36:11 Mas apa Mbak gitu. 36:12 Kalau laki-laki memang terus terang aja 36:15 jujur saya sampaikan penginnya begitu. 36:17 Eh jadi itu ada kecenderungan yang 36:19 hampir dimiliki oleh semua pria. 36:21 Cuma kan ada batas-batasnya dan nikah 36:25 dua, tiga sampai empat yang dibolehkan 36:27 agama, itu bersyarat. 36:31 Jangan hanya 2, 3, 4-nya saja. 36:34 Mentang-mentang punya uang terus 36:35 semena-mena dia kawin lagi, kawin lagi, 36:37 kawin lagi. Ada syaratnya. 36:40 Syaratnya dia mampu enggak membimbing 36:43 dua wanita menjadi istrinya. Kemudian 36:46 dia menjadi bersaudara. 36:49 Ayo, ini enggak mudah ini. 36:52 Satu saja rewelnya amit-amit ini 36:54 kadang-kadang 36:55 ya 36:56 apa namanya susah suami enggak bisa 36:58 mengendalikan atau membimbingnya, 37:00 apalagi dua. 37:02 Apalagi tiga, apalagi empat. Jadi inti 37:04 rumah tangga itu adalah baik mau satu, 37:07 mau dua, mau tiga, sakinah, mawaddah 37:10 warahmah. 37:12 Bertebarnya kasih sayang. 37:15 Nah, kasih sayang itu kan buah. 37:17 Buah dari keimanan, buah dari keinsafan 37:19 diri. 37:20 Buah dari matangnya kepribadian yang 37:22 bersangkutan. 37:24 Kalau mau dua istri berarti trio. Ini 37:26 tiga-tiganya harus tahu posisinya. 37:30 Sehingga tercipta rumah tangga itu 37:31 sakinah, mawaddah, warahmah. 37:34 Kalau ngotot dia punya istri dua, mau 37:37 nikah dua karena banyak uangnya. 37:40 Tapi pasea saja, berantem melulu, 37:43 fitnah, suaminya bohong melulu, kemudian 37:46 selimpat-selimpat sana-sini, itu bukan 37:48 rumah tangga yang dikehendaki oleh 37:50 Islam. 37:52 Jadi kalau memang dia mampu laki-laki 37:54 betul 37:56 berarti dia apa namanya 37:58 leader, seorang leader yang mampu, 38:01 gentleman, dia mampu mengendalikan rumah 38:04 tangga sehingga akur yang tadinya 38:06 musuhan menjadi bersaudara. 38:08 Bisa? 38:09 Iya, harus begitu. Yang tua masuk angin 38:12 dikerokin sama yang muda, gitu loh. 38:15 Boleh juga itu ngambek berdua. 38:16 Iya, itu kalau bisa begitu. Tapi kalau 38:18 enggak bisa berlaku adil, kata Nabi 38:20 jangan satu saja. Enggak iso, kon iku. 38:24 Enggak iso loro-loro, enggak iso. Jadi, 38:26 mesti satu saja. 38:28 Jadi, ada syaratnya. Kalau enggak bisa 38:30 menciptakan rumah tangga yang bukan 38:32 surga, malah neraka. 38:34 Auzubillah. Wallahualam. 38:36 Ehm, yang berikutnya dari Pak Budi. Ini 38:38 pertanyaannya terkait dengan anak-anak 38:40 yang punya kecenderungan abai terhadap 38:43 nasihat orang tua karena asyik dengan 38:45 gawai. Gawai itu gadget. 38:48 Ini dialami semua anak, rasanya Ustaz. 38:51 Apa yang harus kami lakukan karena 38:53 ketika kasar, direbut, 38:56 dia ngambek, malah lari dari kami, tidak 38:59 pernah turun dari lantai atas. 39:02 Kenapa anak-anak sekarang seperti itu, 39:03 Ustaz? 39:04 Iya, inilah kalau mau disebut wabah juga 39:06 wabah. 39:08 Sebenarnya teknologi itu kan sebenarnya 39:09 ada dua nilai, positif bisa negatif. 39:13 Tapi, kebanyakan yang diambil itu yang 39:15 negatifnya. 39:17 Nah, di sinilah pandai-pandai kita orang 39:18 tua bagaimana supaya mengalihkan itu. 39:21 Ada kegiatan, ada program, ada apa. 39:25 Sehingga dia kalaupun bermain gadget itu 39:27 ada waktunya dibatasi. Kamu bermain 39:29 boleh nih waktunya. 39:31 10 menit, misalnya. Sudah itu sudah dan 39:33 dan seterusnya. Jadi, kedisiplinan dan 39:36 aturan-aturan yang jelas, 39:39 kemudian ada pengalihan-pengalihan 39:42 kepada pengalihan yang positif, ini 39:44 memang harus dilakukan. Di samping itu, 39:46 terus kalau punya anak dikawal dengan 39:49 doa setiap saat. 39:51 Kita ini kalau anak yang artinya senang 39:54 saja, anaknya ganteng, cakep, eh di 39:57 main-main, disandaiin, tapi lupa doa. 40:00 Padahal kalau gendong anak, anak masih 40:02 digendong, itu 40:04 lantunkan doa. 40:07 Doa kepada anak kita itu. Lihat anak 40:09 sedang sedang bermain, jangan hanya 40:11 senang saja. 40:12 Eh, anakku pintar, sudah bisa jalan. 40:15 Lantunkan doa. 40:17 Dalam hati kita, kita lantun mohon pada 40:19 Allah agar anakku ini menjadi orang yang 40:21 berguna, menjadi orang yang saleh. Itu 40:24 dilantunkan doa. 40:25 Melihat anak tidur di tempat tidurnya, 40:28 ditengok begitu bukan hanya dicium di 40:31 tapi lantunkan doa, bahkan 40:34 ketika kita salat 40:36 ketika anak sedang sekolah, kita kawal 40:39 dengan doa dari rumah atau dari kita 40:41 sedang bekerja ingat di rumah ingat 40:42 anak-anak, kita lantunkan doa. Jadi 40:45 selalu dikawal dengan doa-doa 40:47 insyaallah, wallahualam. 40:49 Iya. 40:51 Kelihatannya mudah tapi 40:53 sering terlewat ya. 40:55 Sering terlewatkan karena sibuk. 40:56 Yang tidak bisa tidak kita abaikan 41:00 memang menjadi bagian PR kita semua ya 41:03 dan waktu kita sudah mepet Ustaz mungkin 41:06 bisa dirangkum bahasan terkait dengan 41:08 kecenderungan kita sebagai manusia, mana 41:11 yang mesti dibuang, mana yang mesti 41:12 dipertahankan agar kita bisa menjadi 41:14 hamba Allah sebagaimana yang kita 41:16 rindukan. 41:17 Baik para ikhwan rahimakumullah. 41:21 Allah memang memberikan kecenderungan 41:23 itu kepada selera. 41:25 Islam tidak mematikan selera nafsu itu. 41:28 Boleh silakan cinta pada lawan jenisnya. 41:31 Masa enggak boleh, cuma aturannya 41:34 ditempuh. 41:36 Boleh kita cinta bangga pada anak-anak, 41:38 cuma jangan lupa didik anak dengan baik 41:42 supaya terarah hidupnya 41:44 dibangun kepribadiannya di atas takwa. 41:48 Boleh kita cinta harta yang banyak, yang 41:50 banyak pun boleh. Emas, perak silakan, 41:54 cuma juga harus tahu aturannya bagaimana 41:57 mendapatkannya, bagaimana 41:59 membelanjakannya. 42:01 Apa kewajibannya dia sebagai orang kaya 42:04 terhadap Allah, terhadap lingkungan, 42:07 terhadap saudaranya, terhadap orang 42:09 tuanya, itu harus dipenuhi. 42:11 Kalau enggak jadi malapetaka harta yang 42:13 banyak itu akan dibebankan, ditimpakan 42:16 kepada kita. 42:17 Syukur enggak jadi api neraka, kalau 42:19 kita salah gunakan jadi api neraka, 42:21 naudzubillahimin dzalik. 42:22 Kemudian juga pada 42:25 kendaraan, orang beli kendaraan 42:28 bisa menjadi azab bisa pahala. 42:32 Kalau umpamanya seseorang 42:34 beli kendaraan 42:36 karena manas-manasi tetangga. 42:40 Tetangganya beli motor 42:42 kita jangan motor, Bu, kita harus beli 42:44 mobil. 42:45 Supaya dia tahu bahwa kita ini lebih 42:47 kaya dari dia. 42:49 Nah, ini sudah lain niatnya. Dia beli 42:50 mobil Avanza, kita beli mobil Innova. 42:53 Jangan kalah, Bu, manas-manasi. Nah, ini 42:56 justru sepanjang perjalanan hidupnya itu 42:59 hanya memberikan catatan-catatan buruk 43:02 yang menimbulkan siksa dan tidak akhirat 43:03 karena kebanggaan seperti itu. 43:06 Jadi kendaraan itu diniatkan untuk 43:08 silaturahim 43:10 untuk yang bermanfaat, untuk ngaji, 43:13 untuk berjuang di jalan Allah, itu baru 43:17 berpahala. 43:18 Demikian juga yang lain-lain, maka 43:21 insyaallah 43:23 keinginan atau kecenderungan kita 43:26 terarah 43:27 dan terukur 43:30 dengan kaidah-kaidah agama, mana yang 43:33 boleh mana yang tidak. 43:35 Kalau sudah dapat harus bagaimana dan 43:37 seterusnya. Itulah yang membedakan 43:39 antara manusia yang beradab dan manusia 43:41 biadab adalah tergantung bagaimana kita 43:44 menjalani kehidupan sesuai dengan 43:46 aturan-aturan hidup yang Allah turunkan 43:48 kepada kita. 43:50 Mohon maaf segala kekurangan, kekeliruan 43:52 sebagai manusia biasa tentu saja tidak 43:54 luput dari itu semua. 43:56 Eee, semoga semoga Allah memberkati 43:59 antum semuanya di manapun berada dan 44:02 tetap hidup dengan di atas landasan 44:04 akidah lailahaillallah, 44:06 tujuannya adalah ridho Allah Subhanahu 44:09 Wa Ta'ala. Walafuminkum wassalamualaikum 44:11 warahmatullah wabarakatuh. 44:13 Waalaikumsalam warahmatullah 44:15 wabarakatuh. Ustad Abul terima kasih 44:18 sekali untuk em 44:21 nutrisi 44:22 pada pagi ini yang melengkapi sarapan 44:25 pagi tadi kita ya 44:27 ikhwan akhwat mudah-mudahan kalau toh 44:31 kita harus iri 44:32 jangan karena tetangga punya mobil 44:34 ataupun yang motor tapi kita iri yang 44:37 bisa menghadirkan ridho Allah, iri 44:39 kepada orang-orang yang begitu taat, 44:41 yang begitu rajin dan 44:43 begitu istiqomah dan 44:46 jangan lupa 44:47 kita semua 44:49 tanpa henti doa doa dan berdoa terus 44:51 untuk buah hati kita karena terus terang 44:53 hanya dialah yang akan meringankan siksa 44:55 kubur kita kelak insya Allah ya. Terima 44:58 kasih sekali lagi mudah-mudahan kita 45:00 jumpa kembali di tausiyah pagi di minggu 45:02 depan. 45:03 Billahi taufik wal hidayah 45:04 wassalamualaikum warahmatullahi 45:07 wabarakatuh.