Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 Bismillahirrahmanirrahim. 0:02 Asalamualaikum warahmatullahi 0:04 wabarakatuh, ikhwan akhwat 0:06 rahimakumullah. 0:07 Alhamdulillah kita dipertemukan di acara 0:11 perlindungan anak-anak hari ini yang 0:13 mudah-mudahan bahasannya semakin 0:17 mempersuasi kita menjadi ayah bunda yang 0:21 jauh lebih dirindukan oleh 0:25 [musik] 0:29 belum 0:32 coba jangan diketuk jangan diketek entar 0:35 maaf Ada gangguan. 0:39 Mudah-mudahan apa yang dibahas akan 0:43 mempersuasi kita semua untuk bisa 0:45 menjadi ayah bunda yang tepat untuk buah 0:49 hati kita, lebih-lebih juga untuk 0:52 anak-anak bangsa ini. 0:56 Ini tekan bawahnya. 1:03 Seperti biasa 1:05 hari ini 1:07 menghadirkan narasumber kita yaitu Dr. 1:11 Ampatil 5 yang tadi sewaktu off air ada 1:17 sedikit bahasan terkait dengan hmm 1:20 penting banget nih untuk para ikhwan nih 1:24 untuk 1:26 para ayah karena bahasannya anak yang 1:29 merasa aman itu kalau ayahanda tangguh. 1:32 Wow luar biasa ya. Mudah-mudahan 1:36 kita bersama-sama selama 1 jam ini akan 1:40 memberikan gambaran yang menambah kita 1:44 semakin mantap melangkah dengan 1:47 ketangguhan dan kekuatan. 1:50 Tidak lupa tentu saja salam selawat kita 1:52 lantunkan untuk junjungan umat kekasih 1:56 kita Muhammad Rasulullah sallallahu 1:59 alaihi wasallam. Semoga kelak kita 2:02 mendapatkan syafaat beliau. sekaligus 2:04 dipertemukan dengan beliau di saat yang 2:06 sangat kita rindukan di yaumil akhir. 2:09 Dr. Hamid sudah ada di sini. Kita sapa 2:11 beliau. Asalamualaikum warahmatullahi 2:13 wabarakatuh. 2:14 Waalaikumsalam. Apa kabar Bunda? 2:16 Alhamdulillah 2:18 bisa duduk di sini itu sebuah anugerah 2:20 ya. Apalagi kehadiran kita menjadikan 2:25 yang menyimak, yang mendengar sesuai 2:27 dengan bahasannya jadi tambah 2:30 pemahamannya. Jadi ayah yang tangguh, 2:34 anak yang merasa aman. 2:36 Anak yang merasa aman. Itulah ikhwan 2:39 akhwat, ayah yang tangguh anak yang 2:41 merasa aman akan jadi bahasan Dr. Hamid 2:45 Lima kali ini. Silakan. 2:47 Baik, terima kasih Bunda. 2:50 Bismillahirrahmanirrahim. 2:51 Asalamualaikum warahmatullahi 2:53 wabarakatuh. Waalaikumsalikumsalam. 2:55 Pendengar Radio Rasil di mana saja 2:58 berada. Alhamdulillah kita masih diberi 3:02 kesempatan oleh Allah untuk berbagi 3:05 informasi. Insyaallah kali ini kita 3:08 melanjutkan 3:10 pembahasan topik-topik sebelumnya. Kali 3:12 ini kita fokus kepada ayah yang tangguh, 3:18 anak yang merasa aman. ini apa yang 3:22 kita dapatkan dari pembahasan kali ini. 3:27 Ayahanda dan bunda di rumah, terutama 3:30 para ayah yang 3:34 perlu memikirkan 3:37 jauh-jauh hari untuk menjadi ayah yang 3:43 hebat itu sangat didambahkan oleh setiap 3:46 anak, baik itu anak laki-laki maupun 3:50 anak perempuan. Karena dari ayah mereka 3:54 banyak belajar hal-hal 3:58 terutama yang terkait dengan apa yang 4:01 ada di luar sana. 4:05 Resiliensi atau tangguh ini ini menjadi 4:10 topik bahasan dan topik-topik ini 5 4:16 tahun ke depan menjadi topik yang 4:19 menarik perhatian banyak orang. 4:22 Karena di RPCM 4:25 N 2025-2029 4:30 itu persoalan terkait dengan 4:33 perlindungan anak dan resiliensi anak 4:36 menjadi bahasan yang sangat penting 4:39 untuk kita ketahui bersama-sama. 4:43 sebagai tulang punggung keluarga, ayah 4:47 ini menjadi 4:49 ee individu yang sangat dinanti-nantikan 4:52 kehadirannya oleh ee anak-anak. 4:57 Tapi tidak semua anak itu mendapatkan 5:01 itu semua. terutama 5:04 ada 5:07 pasangan suami istri yang 5:10 karena 5:12 ada persoalan yang kemudian mereka 5:15 berakhir berpisah. Berpisah di sini ada 5:18 dua kejadian. Kejadian karena perceraian 5:22 atau karena meninggal dunia. Dan salah 5:27 satu yang mungkin yang ditinggalkan di 5:30 dunia itu adalah para ayah. Para ayah 5:35 yang masih memiliki anak-anak terutama 5:39 dari usia 0 sampai 18 tahun itu mereka 5:45 sangat mengharapkan kehadiran 5:49 ee ayahnya. Mungkin kalau terkait dengan 5:54 persoalan ditinggal mati oleh pasangan 5:58 itu mungkin ee anak ee semakin 6:04 menyadari bahwa itu memang sudah 6:07 kehendak dari yang menciptakan. Tapi 6:10 bagaimana kalau ada pasangan suami istri 6:14 akhirnya terpaksa berpisah karena 6:17 perceraian 6:18 yang kemudian 6:20 hak asu itu jatuh pada ibu ini. Akhirnya 6:26 anak-anak itu kehilangan sosok dari 6:29 ayah. 6:31 Ini yang perlu kita 6:34 bahas bersama-sama. Bagaimana ayah-ayah 6:37 yang akhirnya terpaksa berpisah dengan 6:41 anak-anak mereka karena putusan 6:44 pengadilan? Hak asuh itu jatuh kepada 6:47 ibunya. Seorang ayah yang hebat itu 6:51 harus selalu 6:54 terpastikan, 6:55 selalu menjalin komunikasi dengan 6:59 anak-anak mereka. 7:03 Atap rumah runtuh. He. 7:05 Tetapi tetap pelukan terhadap anak-anak 7:09 kita itu tetap ada. 7:12 Meskipun 7:15 dihalangi oleh jarak atau oleh waktu, 7:19 seorang ayah harus selalu ee memastikan 7:22 diri untuk menjalin komunikasi, 7:26 menjalin ee 7:29 dialog, diskusi bersama anak-anak kita. 7:33 Walaupun kehadiran kita kadang-kadang 7:37 tidak disukai, tetapi pada dasarnya 7:41 anak-anak kita tetap berharap kehadiran 7:45 sosok dari ayah itu tetap ada. Untuk itu 7:49 bagi mereka yang hari-hari ini tidak 7:53 pernah lagi berkomunikasi dengan 7:56 anak-anaknya, ayo para ayah yang ada di 7:59 rumah jalin komunikasi, cari nomor 8:03 telepon 8:05 ee ibu dari anak-anak tersebut. Lalu 8:09 kemudian pastikan buat agenda-agenda 8:13 yang mungkin pada saat proses perpisahan 8:17 oleh pengadilan itu ada 8:19 kesepakatan-kesepakatan, 8:21 kalau boleh kesepakatan-kesepakatan 8:23 itu tetap terus dijaga kalau boleh juga 8:27 diperbaharui 8:28 agar komunikasi dengan anak-anak itu 8:33 tetap intens. terutama anak-anak 8:37 perempuan yang 8:39 sangat berharap 8:41 kehadiran sosok dari seorang ayah. Siapa 8:45 lagi yang memperkenalkan 8:48 ee laki-laki yang ada di luar sana? 8:52 Kalau bukan itu cerita yang didapat oleh 8:56 anak kita dari ayahnya. 8:59 Untuk itu 9:02 ayah 9:04 mulai buat agenda baru 9:08 jalin komunikasi. Karena dengan 9:11 komunikasi itulah akhirnya 9:15 sosok kehadiran seorang ayah itu tetap 9:19 hadir pada diri anak-anak kita. 9:23 Kenapa persoalan ini menjadi penting 9:27 untuk kita diskusikan? 9:30 Karena banyak persoalan yang terjadi di 9:32 lapangan. 9:35 Seorang anak itu mungkin banyak 9:38 melakukan hal yang positif. Kita sangat 9:43 ee gembira dan sangat berterima kasih. 9:47 Tapi bagaimana kalau anak-anak yang kita 9:52 telah tinggalkan itu melakukan hal-hal 9:55 yang tidak diharapkan oleh masyarakat. 9:58 Akhirnya di sana juga 10:03 nama kita juga akan tersebut. Untuk itu 10:07 bagaimana supaya ini tidak terjadi? 10:10 Untuk itu Indonesia sejak tanggal 25 10:16 Agustus tahun 1990, 10:20 Presiden Soeharto telah meratifikasi 10:23 konvensi anak melalui keputusan Presiden 10:28 nomor 36 tahun 1990. 10:33 itu kemudian 10:35 sampai hari ini itu diikuti oleh 10:39 berbagai peraturan perundangan yang 10:43 selalu terpastikan terharmonisasi dengan 10:46 konvensi Hanak tersebut. Lahirlah di 10:49 antaranya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 10:53 1979 10:55 tentang kesejahteraan anak. 10:59 Pertanyaannya, apakah 11:02 ayah-ayah yang ada di masyarakat itu 11:07 pernah membaca undang-undang tersebut? 11:09 Di sana sangat gamblang apa yang menjadi 11:14 tanggung jawab, tugas dan fungsi dan 11:18 peran dari seorang ayah untuk memastikan 11:21 anak-anaknya itu menjadi anak-anak yang 11:24 merasa aman. 11:26 Kemudian yang kedua, undang-undang yang 11:29 baru nih, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 11:34 2024 tentang kesejahteraan ibu dan anak. 11:39 He. 11:40 1000 11:42 ee fase 1000 kehidupan pertama itu 11:47 menjadi undang-undang yang perlu kita 11:49 baca. di sana 11:51 banyak hal yang diatur oleh ee negara 11:56 melalui undang-undang tersebut untuk 12:00 kita baca, untuk kita pahami, untuk kita 12:04 mengerti 12:06 dengan kita membaca lalu memahami yang 12:11 diharapkan itu adalah bagaimana 12:13 pelaksanaannya. 12:15 Sebagai seorang ayah yang menghadirkan 12:18 seorang anak ke dunia melalui sulbinya 12:22 itu tetap akan dimintai 12:24 pertanggungjawabannya. Untuk itu 12:27 meskipun kita sudah dipisah oleh ruang 12:31 atau oleh waktu, kita harus tetap 12:34 berupaya dan harus selalu memastikan 12:38 bagaimana kehadiran sosok ayah itu tetap 12:42 ada pada diri setiap anak-anak kita. 12:46 Siapa mereka itu? Anak-anak yang lahir 12:51 dari sulbi kita. karena persoalan lain 12:54 akhirnya harus berpisah. Itu yang 12:57 menjadi tanggung jawab kita 13:01 di konvensi anak ada dua pasal penting 13:05 yang perlu 13:07 di pahami oleh setiap ayah. Kalau boleh 13:13 selain dua undang-undang yang saya 13:14 sebutkan tadi itu, coba ambil di Google 13:18 itu konvensi hak anak. Lalu kita baca 13:23 pasal 9. 13:26 Di pasal 9 itu 13:30 anak berhak untuk tidak terpisah dari 13:35 kedua orang tuanya. 13:39 Tetapi karena persoalan lain atas 13:43 putusan pengadilan akhirnya terpaksa 13:47 berpisah. He 13:49 tanggung jawab itu tidak terlepas. Untuk 13:53 itu harus kita pastikan bukan hanya saja 13:56 dari kebutuhan 13:58 ee rohani apa jasmani anak, tapi 14:02 kebutuhan 14:04 kejiwaan, emosi anak itu harus kita 14:09 pastikan. Coba bayangkan 14:12 apa yang terjadi pada anak-anak kita 14:16 yang pada awal-awal proses akhirnya ayah 14:20 dan ibunya berpisah itu mereka merekam 14:24 kan banyak hal yang seharusnya mereka 14:27 tidak rekam tetapi terpaksa mereka rekam 14:32 dan rekaman itu yang kemudian mereka 14:36 membangun persepsi mereka sendiri. 14:40 terkait dengan sosok ayahnya. Apalagi 14:43 kalau di dalam proses perjalanan waktu 14:48 itu, akhirnya 14:51 sosok ayah itu dari pandangan anak, 14:56 kayaknya ada yang salah dengan ayahnya, 14:59 kenapa harus berpisah dengan ibunya? 15:02 Kalau itu terbangun, apa yang harus kita 15:06 upayakan sehingga anak itu memiliki 15:09 pemahaman yang positif pada diri kita 15:13 kalau kita tidak selalu menjalin 15:18 komunikasi. Untuk itu 15:21 upaya kita harus bagaimana kita 15:24 meng-update, bagaimana kita menjalin 15:28 komunikasi, lalu bagaimana akhirnya kita 15:33 berdialog dari hati ke hati sehingga 15:36 terbangun sebuah persepsi baru bahwa 15:40 sosok ayah tetaplah ayah yang harus 15:44 dihormati oleh anak. Tapi sosok ayah 15:49 yang paling penting juga bagaimana 15:51 kehadiran ayah itu benar-benar hadir di 15:56 dalam diri setiap anak-anaknya. Untuk 15:59 itu tidak mau mau tidak mau kita harus 16:03 belajar nih bagaimana nih belajar 16:07 menjadi seorang ayah dengan 16:11 memastikan ada enam aspek. 16:15 memastikan bagaimana ayah yang tangguh 16:18 itu untuk coba 16:22 memastikan 16:24 anak kita merasa aman dengan kita. 16:29 Rasa aman itu akan muncul apabila ada 16:34 kepercayaan. Ah, kepercayaan itu bukan 16:38 datang dari anak, tetapi itu juga hadir 16:42 dari seorang ayah. Bagaimana kita 16:46 membangun kepercayaan itu kalau kita 16:48 tidak selalu berkomunikasi? 16:51 Untuk itu, bangunlah kepercayaan anak 16:56 pada diri kita. Dan itu yang kemudian 16:59 dan sebaliknya kita harus juga membangun 17:02 kepercayaan pada diri anak kita. itu 17:05 harus 100% dan ayah dan anak juga harus 17:10 percaya kepada kita 100%. 17:13 Dengan dia percaya akhirnya dia merasa 17:17 aman. Itu yang pertama. Yang kedua, 17:20 bagaimana anak itu akan belajar dari 17:25 kita dan kita juga belajar dari anak 17:29 kita. Seperti pembahasan yang kemarin, 17:33 seorang ayah harus belajar dari anaknya. 17:37 Banyak hal yang akan kita dapat. Belajar 17:41 itu bukan hanya hal-hal yang positif 17:44 juga belajar dari hal-hal yang negatif. 17:47 Dari belajar hal-hal negatif itu kita 17:50 akan berupaya bagaimana hal-hal negatif 17:54 itu tidak berulang. Itu tidak lahir 17:57 begitu saja. Tetapi itu melalui sebuah 18:00 proses belajar. Ah, ini coba kita 18:04 belajar dari anak-anak kita dan 18:07 kita otomatis anak-anak kita juga akan 18:11 belajar nih bagaimana nih pada saat aku 18:15 dewasa nanti aku tidak akan melakukan 18:18 hal yang serupa yang pernah dilakukan 18:20 oleh ayahku sehingga menyebabkan 18:24 pasangan suami istri itu berpisah dan 18:26 itu berdampak pada diriku. diriku ini 18:30 berarti anak ya. dan itu yang harus kita 18:34 komunikasikan terus-menerus sehingga 18:37 persepsi seorang anak terhadap orang tua 18:41 itu tetap 18:44 jelas dan ini yang menjadi penting. Lalu 18:48 yang ketiga, yang ketiga ini 18:52 menjadi hal yang sangat ee penting untuk 18:57 seorang ayah harus pastikan pada diri 19:00 ayah dan juga harus dipastikan pada diri 19:03 anak kita itu benar-benar terbangun, 19:06 yaitu persahabatan. 19:10 Jadi dengan anak kita itu kita jalin 19:14 persahabatan. 19:16 Apalagi persahabatan itu bagaimana 19:18 rasanya ya Bunda Nuning? He. 19:20 Seorang sahabat itu kalau sudah berpisah 19:23 waktu dan ruang itu kalau berjumpa itu 19:27 rasanya itu bagaimana? Jadi rasa rindu 19:30 itu juga menjadi 19:33 penting untuk menjadi pengikat. 19:35 Bagaimana seorang ayah itu selalu 19:39 dirindukan oleh anaknya. 19:43 Dan yang tidak kalah penting bagaimana 19:46 kita selalu rindu kepada anak kita 19:49 sehingga waktu itu kalau boleh besoknya 19:54 itu langsung bangun lalu kemudian terus 19:56 berkomunikasi dengan anak kita. Ibu 19:59 Bapak, 20:01 anak itu sampai dia meninggal saja atau 20:05 dia sudah punya anak, dia juga tetap 20:08 anak kita. Jadi tidak ada batasannya 20:11 jalin komunikasi 20:13 meskipun ada halangan sebesar gunung 20:18 itu harus kita daki dan kita harus ee 20:24 perjuangkan, kita harus upayakan 20:26 sehingga pada suatu waktu 20:30 dia merasa 20:32 dia adalah sahabat ayah dan ayah 20:36 bersahabat dengan anaknya. ini menjadi 20:39 poin penting bagaimana nih ketangguhan 20:42 harus kita upayakan dan sehingga anak 20:46 juga merasa aman nyaman dengan kita. 20:51 Kemudian yang keempat ni keempat ini 20:54 Bunda Nuning menjadi sangat penting yang 20:57 harus dimiliki oleh seorang ayah. 21:01 Seorang ayah adalah seorang individu 21:04 yang sudah dibekali oleh bakat dan minat 21:11 yang kemudian si anak juga memiliki dan 21:15 kemungkinan bakat minat dari ayah dan 21:19 anak itu ada ee 21:23 irisan. Nah, irisan-irisan itu yang 21:26 kemudian menjadi modal untuk seorang 21:30 ayah untuk selalu berkomunikasi dengan 21:34 anaknya. Dan ada satu kebanggaan, oh 21:37 ayahku bisa ini loh, ayahku bisa itu 21:40 loh. Dan kayaknya apa yang diupayakan 21:45 oleh ayah itu ada mengalir pada diriku. 21:49 Dan itu yang kemudian jadi modal. 21:52 Untuk itu coba para ayah identifikasi 21:57 apa bakat-bakat yang dimiliki 22:02 lalu minat yang dimiliki itu yang 22:04 kemudian di-share dengan anak kita yang 22:08 berpisah. 22:09 Syukur-syukur dia punya jadwal dengan 22:12 kita join bersama di rumah atau mungkin 22:15 kalau misalnya ee bakat dan minat itu 22:19 harus dipertemukan di suatu tempat 22:22 misalnya di amfiteater atau di studio 22:27 atau di 22:29 tempat-tempat pameran itu menjadi hal 22:33 yang menarik dan itu menjadi sangat ee 22:38 menyentuh untuk setiap ayah maupun 22:40 setiap anak di lapangan itu banyak kita 22:44 temukan orang-orang seperti itu, Bu 22:46 Nuning 22:47 atau aya di rumah. Ayo coba gali apa nih 22:51 minat kita, bakat kita. 22:55 Lalu yang kelima. Kelima ini ini yang 23:00 sangat penting untuk coba 23:05 ayah Anda melakukan introspeksi diri. 23:08 hal-hal apa nih yang negatif pada diri 23:13 kita yang kemudian yang membuat pasangan 23:18 hidup kita saja tidak menyukai dan 23:21 akhirnya harus berpisah melalui putusan 23:24 pengadilan yang kemudian berdampak 23:27 berpisah nih apa nih nilai-nilai negatif 23:31 kita apakah masih tersisa nilai negatif 23:36 kita kalau masih 23:38 Coba dicek ini apa penyebabnya. 23:41 Penyebab paling utama itu dapat 23:44 ditelusuri sampai pada masa anak atau 23:49 kita sebagai seorang ayah kan pernah 23:52 jadi seorang anak dan juga pernah 23:54 melewati kandungan. 23:56 Coba di dalam kandungan itu berarti 23:59 pemilik kandungan siapa? Ibu kita 24:01 sendiri atau nenek dari anak kita? Coba 24:06 kita tanya, 24:08 Bunda, boleh enggak bagi cerita pada 24:11 saat aku di dalam kandunganmu, 24:15 apa sebetulnya yang dilakukan oleh Bunda 24:18 bersama ayah dan apa yang dilakukan oleh 24:23 ayah, apa yang dilakukan oleh Bunda yang 24:27 kemudian itu berdampak pada diriku. ini 24:31 yang kemudian itu akan diketemukan 24:34 nilai-nilai negatif kita itu 24:37 kemungkinan besar ada ee 24:42 faktor pengaruh dari ayah dan ibu kita 24:46 sebelumnya. Kita tanya tuh pada saat 24:50 kita waktu bayi, pada saat kita waktu 24:54 jadi anak, waktu kita remaja, waktu saat 24:58 kita menjadi orang tua dan akhirnya 25:01 harus berpisah dengan anak-anak kita. 25:04 Dan perpisahan itu sebetulnya tidak kita 25:08 kehendaki. Dan tidak ada orang juga yang 25:10 menghendaki itu. Kita perbaiki hal-hal 25:13 yang negatif kita. Kalau yang hal yang 25:15 positif itu yang kemudian tetap kita 25:19 pertahankan otomatis. Begitu juga di 25:22 anak kita yang telah berpisah dengan 25:24 kita. Coba kita cek, kita telusuri, kita 25:28 juga tanya melalui komunikasi yang 25:31 intens, dialog, lalu kemudian pertemuan 25:35 yang sangat intim. Mungkin kita traktir 25:39 dia di restoran atau makan barang di 25:42 barang Tegal atau jalan-jalan. atau 25:45 nonton pas di situ banyak 25:48 obrolan-obrolan yang akan kita dapat dan 25:51 itu akhirnya sepertinya aku hari ini 25:56 telah menemukan ayahku dan sebaliknya 25:59 juga hari ini aku telah menemukan sosok 26:03 anakku yang sesungguhnya dan itu kalau 26:06 terjadi insyaallah hubungan seorang ayah 26:11 dan anaknya itu benar-benar sangat ee 26:15 menggembirakan bagi siapapun yang 26:18 melihatnya. 26:19 Lalu yang terakhir nih, 26:22 apa nih hal-hal yang menurut kita 26:28 ini kompetensi sosial? Kompetensi sosial 26:31 itu Bunda Nuning adalah 26:33 ee otonomi dari diri kita. Coba cek 26:37 apakah pada saat kita mau memutuskan 26:41 segala sesuatu itu selalu tidak 26:44 berdiskusi sebelumnya dengan siapapun. 26:49 terkait dengan anak, pasti anak kita 26:53 berharap banyak dari ayahnya dan kita 26:57 juga banyak berharap pada anak kita. Dan 27:01 itu semua keputusan tetap ada pada diri 27:06 kita masing-masing. Diri sebagai seorang 27:09 ayah maupun diri sebagai seorang anak. 27:12 Karena dampak dari pengambilan keputusan 27:15 itu konsekuensi ada pada diri setiap 27:19 individu. Tetapi kalau sebelum proses 27:23 pengambilan sebuah keputusan 27:26 itu yang kemudian berdampak itu diawali 27:28 dengan sebuah diskusi, insyaallah 27:32 banyak hal yang akan kita temukan. 27:35 kemungkinan kalau ada ee konsekuensi 27:39 yang muncul di kemudian hari yang 27:42 mungkin membebani itu dapat 27:46 diminimalisir bila itu selalu diawali 27:49 dengan dialog, 27:52 diskusi, musyawarah, lalu kemudian yang 27:55 tidak kalah penting adalah pada saat 27:59 memutuskan segala sesuatu si ayah maupun 28:04 si anak kita itu penuh tanggung jawab. 28:07 Ah, ini tidak lahir begitu saja, Bunda 28:10 Nuning. 28:10 He. 28:12 Ini tidak dapat dilakukan dengan Sim 28:15 Salabim hari ini berjumpa dengan anak 28:18 kita yang keenam-enam aspek ketangguhan 28:21 itu hadir. 28:23 Ini sebuah proses 28:25 dan itu tidak terjadi begitu saja. Nah, 28:30 ini pasal 9 Konvensiana. Yang kedua, 28:34 pasal 18. 28:37 Pasal 18 ini menyangkut tanggung jawab 28:42 dari seorang ayah sebagai ee orang tua 28:47 dari anak-anak kita. Anak-anak kita itu 28:52 sangat senang bila 28:55 orang tua-orang tua itu memiliki 28:59 tanggung jawab. Ah, tanggung jawab di 29:02 sini kita bisa punya pemahaman yang 29:06 berbeda-beda. Tapi bagaimana kita 29:09 memastikan bahwa setiap anak yang lahir 29:13 dari sulbi kita, dia akan menjadi 29:17 individu yang hebat yang dapat 29:20 membenggakan ee 29:24 keluarga, bangsa, negara, dan agama. 29:29 Untuk itu kita harus menginvestasikan 29:33 semua hal untuk anak-anak kita. 29:39 Apa tujuan kita bekerja? Apa tujuan kita 29:44 mengumpulkan semua kekayaan? tiada lain 29:48 untuk menginvestasikan pada diri anak 29:52 kita yang kemudian ke depan nanti 29:55 dari anak-anak kita itu akan lahir 30:00 individu-individu 30:01 yang tangguh 30:03 itu berarti menjadi cucu-cucu kita. 30:06 Kemudian 30:07 coba bayangkan 30:09 kalau kita memiliki anak yang sangat di 30:15 senangi, sangat disayangi, sangat 30:18 disukai oleh setiap orang yang 30:21 melihatnya meskipun masih dapat digaris 30:25 bawahi. 30:27 Coba lihat anak itu tetap hebat meskipun 30:31 ayah dan ibunya tetap berpisah. 30:34 Siapa dulu? Ayahnya siapa dulu ibunya. 30:39 Ah di sini poin penting tanggung jawab 30:42 itu. Jadi tidak serta-merta 30:47 lepas saat putusan pengadilan hak asu 30:51 jatuh kepada ibu. 30:54 Lalu kemudian si ayah berpangku tangan 30:59 atau bebas dari tanggung jawab. tidak 31:03 harus memastikan. Apalagi kalau anak itu 31:09 adalah anak perempuan, di sana kita akan 31:14 tetap akan dimintai sebagai wali. 31:19 Seorang wali ini 31:22 memang ada jatah dari pamannya, ada 31:25 jatah dari ee kakeknya atau kalau sudah 31:29 tidak ada akhirnya wali hakim. Tapi 31:33 menjadi seorang ayah itu tetap dituntut 31:36 untuk itu. Bagaimana memastikannya 31:39 anak laki-laki maupun anak perempuan 31:43 kita hidup dengan penuh kenyamanan, 31:49 keramahan, dan yang paling penting rasa 31:52 aman itu tetap muncul atau tetap lahir 31:56 pada diri anak-anak kita. ini ayahanda 31:59 dan bunda yang perlu kita ee dalami 32:03 bersama-sama. Untuk itu kita sebagai 32:07 ayah yang dalam pembahasan kali ini 32:12 mereka-mereka yang mengalami persoalan 32:14 akhirnya berpisah dengan ee anak-anak 32:19 dengan kita. Bagaimana kalau 32:24 sosok dari ibunya itu tidak ada? He. 32:28 Berarti ee berpisah, cerai. Ini juga 32:33 perlakuannya juga hampir sama. Apalagi 32:37 kalau si ayah 32:40 mencari ibu pengganti. Ini harus terus 32:44 dikomunikasikan dengan anak-anak kita. 32:47 komunikasi itu menjadi penting. 32:51 Ayah dan bunda, kehadiran 32:55 kita sebagai 32:58 seorang ayah pada diri anak-anak kita 33:02 walaupun pada diri anak itu ada luka 33:07 ataupun pada diri kita itu ada luka. 33:11 Kelukaan itu harus 33:15 kita upayakan tidak muncul. Yang muncul 33:19 adalah bagaimana di balik itu semua 33:22 sehingga anak merasa 33:26 terterima oleh kita dan anak merasa dia 33:31 menerima kita. 33:33 Penerimaan ini 33:36 tidak dapat diilai 33:40 dengan uang. 33:44 Mahal sekali 33:46 kemahalannya itu. Itu yang kemudian akan 33:49 berdampak pada kehidupan dia nanti. Nah, 33:52 untuk itu apa yang harus kita upayakan? 33:56 Ini semua harus kita 34:00 selalu belajar. Nah, untuk itu bagaimana 34:04 belajar menjadi seorang ayah? Mungkin 34:09 waktu awal-awal kita tidak banyak 34:13 membaca buku, kita tidak banyak 34:16 mempelajari 34:18 pengalaman-pengalaman 34:20 orang-orang yang hebat-hebat. 34:24 Untuk itu, coba mereka-mereka yang hari 34:28 ini terpisah dengan anak-anaknya segera 34:32 datangi 34:35 toko-toko buku, cari buku tentang 34:37 parenting, 34:40 baca buku tentang sirah nabawiyah, 34:45 sirah sahabat. 34:47 Di sana tuh banyak informasi-informasi. 34:49 Lalu kemudian 34:51 coba mulai cari siapa nih sosok 34:57 idola atau sosok yang kemungkinan kita 35:01 bisa mintai 35:04 informasi, berbagi informasi, berbagai 35:08 pengetahuan, berbagai pengalaman. Di 35:11 musala, di masjid pasti itu banyak 35:15 orang-orang yang dapat kita jumpai. 35:19 Kalau toh itu kita tidak dapatkan, 35:23 mulai agendakan, sekali-sekali datang ke 35:28 kantor urusan agama. Di sana itu ada 35:32 salah satu balai balai ee 35:38 perencanaan 35:40 keluarga ada. Coba pelajari di sana. 35:43 Kalau juga di sana tidak dapat, kalau 35:47 kita sempatkan datang ke ibu kota 35:50 kabupaten, di sana ada LK3S, 35:55 lembaga kesejahteraan 35:57 ee keluarga. 35:59 kita tanya, kita diskusi bagaimana ya 36:03 sebagai seorang ayah yang sudah berpisah 36:07 dengan anak kita itu bagaimana kita 36:10 harus menjalin komunikasi dengan mereka. 36:13 Tanya bertanya 36:16 itu murah, 36:20 tidak mahal tapi yang mahal itu mau 36:23 memulainya. Untuk itu ayo datang itu. 36:28 Kalau sempat juga masih di ibu kota 36:31 kabupaten atau di ibu kota 36:35 tuh kita cari pusat pembelajaran 36:39 keluarga. Di sana ada psikolog yang akan 36:43 menjumpai kita. 36:45 Hm. 36:46 yang akan membantu kita untuk mencari 36:50 berbagai informasi, berbagai ee 36:53 jawaban-jawaban yang 36:56 selalu muncul di benak kita. Pertanyaan 37:01 yang terus-menerus kita coba 37:04 tanya ke mereka yang ada di pusat 37:08 pembelajaran keluarga. Puspaga dibiayai 37:11 oleh negara tuh. 37:13 Kalau tidak cari lagi tuh banyak 37:17 tempat-tempat konsultasi yang sekarang 37:21 sudah mulai dipersiapkan oleh 37:24 mereka-mereka yang memperjuangkan hal 37:28 ini. Dan ini menjadi tantangan. Ada 37:32 ruang-ruang, ada asosiasi itu asosiasi 37:36 para orang tua tunggal. Tidak hanya 37:40 ibu-ibu di sana, 37:41 juga ada ayah-ayah. Nah, coba datangi di 37:46 sana, tukar informasi, 37:49 belajar. Jangan hanya didiamkan, jangan 37:54 hanya sendiri saja. Tapi yang tidak 37:57 kalah penting kita berkonsultasi dengan 38:01 pemilik alam ini melalui doa-doa, 38:04 melalui salat-salat. Untuk itu kita 38:07 harus banyak berupaya untuk melembutkan 38:11 hati kita untuk mau memulai proses 38:17 menjalin komunikasi dengan anak-anak 38:20 kita yang terpisah oleh ruang dan waktu. 38:25 Mereka sangat berharap kehadiran kita 38:30 dan juga kita sangat berharap untuk 38:34 menjumpai mereka. Ayah dan bunda di 38:37 rumah, topik bahasan kali ini memang 38:41 menjadi sebuah tantangan bagi setiap 38:45 ayah-ayah yang bermasalah. Untuk itu 38:50 kalau bukan hari ini, kapan lagi kita 38:53 untuk memulainya? Untuk itu ayo 38:57 kumpulkan berbagai informasi, 39:00 kumpulkan 39:02 berbagai bacaan, kumpulkan berbagai 39:05 ruang konsultasi, 39:07 kumpulkan teman-teman yang 39:11 sesama yang kemungkinan 39:14 dari teman-teman itu banyak hal yang 39:18 kadang-kadang kita tidak dapat dari 39:22 tempat lain, ternyata dari sharing 39:25 teman-teman kita itu kemungkinan di 39:28 antara teman-teman ada hal-hal yang 39:31 positif dan juga ada hal-hal yang 39:34 negatif. Dari hal-hal yang negatif itu, 39:37 itu yang kemungkinan akan menjadi topik 39:40 bahasan dari pertemuan 39:44 sesama yang memiliki pengalaman. Menarik 39:46 tidak nih, Bunda? 39:48 Untuk itu kita buka 39:51 ee kalau ada orang yang mau bertanya. 39:53 sampai di sini. 39:54 Baik. Luar biasa sekali ikhwan akhwat, 39:57 terutama para ikhwani. Karena kalau 40:00 ayahnya enggak tangguh, gimana anak-anak 40:02 bisa merasa aman ya seperti ee apa yang 40:05 sedang dibahas. Ini ada pertanyaan dari 40:07 Pak Budi. 40:09 Ee oh bukan di sini bukan Bapak tapi 40:12 Ibu. 40:15 Mbak Nuning, tolong. Ayahnya 40:18 sekarang ini sibuk enggak pernah ngajak 40:21 ngobrol anak-anak apalagi diskusi. 40:24 Dan sekarang anak kami sudah SMA itu 40:28 cuek banget terhadap ayahnya. Emang sih 40:31 nilainya bagus, dia cerdas tapi sama 40:34 sekali enggak ada kehangatan dan 40:35 kepedulian. Bahkan rasanya hilang rasa 40:38 hormatnya pada ayahnya yang sangat sibuk 40:40 itu. Apa yang harus saya lakukan, Pak? 40:43 Baik, terima kasih Bunda yang di rumah. 40:47 Ini berarti ada tantangan. Nah, 40:50 tantangan itu 40:53 dapat Bunda ee dapatkan jawabannya. 40:57 Coba Bunda ingat-ingat dulu kenapa Bunda 41:02 memilih 41:03 ayah dari anak-anak kita ini. Coba 41:08 kumpulkan hal-hal yang positif dari 41:12 ayah. Lalu kemudian itu yang 41:15 didiskusikan oleh Bunda dengan suami ya, 41:20 ayah dari anak kita. Lalu kemudian 41:24 kita 41:26 coba 41:27 kalau proses diskusi dialog itu sudah 41:32 mulai mengarah kepada hubungan ayah dan 41:36 anak. Nah, itu di situ baru kita mulai 41:39 masuk 41:41 dengan 41:43 menganalogikan atau mencari testimoni 41:46 dari pengalaman dari luar. Jangan bawa 41:49 yang terjadi pada anak kita. Dan untuk 41:54 anak kita itu nanti jadi ee akhiran dari 41:59 proses diskusi yang berharap diskusinya 42:03 itu ee semakin mengerucut kepada 42:08 pengambilan keputusan. Hanya ada sesuatu 42:11 yang aku harus perbuat. Aku di sini 42:14 adalah ayah. Karena muncul dari diskusi 42:18 ee Bunda dengan suami. Diskusinya di 42:22 mana? Diskusi cari waktu mungkin di 42:26 tempat tidur kah atau cari waktu untuk 42:31 ee refreshing kalau suaminya itu sibuk 42:35 sekali. 42:36 Kemungkinan besar ada waktu senggang 42:40 cari dan momen-momen itu coba 42:44 diutarakan. Dan kemudian kalau sudah ada 42:48 tanda-tanda kayaknya nih ada sesuatu 42:51 yang hilang pada diri ayah terutama 42:56 terkait dengan hubungan dia dengan anak 43:00 itu yang kemudian dia akan mencari 43:03 sendiri di mana-mana air itu akan 43:06 mengalir ke tempat yang rendah. Ah, itu 43:08 dia akan mencari tuh. 43:11 Coba ini proses 43:14 butuh waktu 43:16 tidak sim salabim tapi diawali dengan 43:20 tadi 43:21 apa yang pernah ibu dapatkan dari calon 43:27 suami yang hari ini jadi suami dan jadi 43:31 ayah dari anak kita. modal itu yang 43:35 menjadi dasar untuk membangun komunikasi 43:39 sehingga nanti berharap insyaallah Allah 43:44 memudahkan, 43:46 meridai dan memberi cahaya 43:50 si ayah ee mendapatkan hidayah. Lalu 43:53 hidayah itu yang kemudian membuat 43:56 kelembutan pada diri dia untuk menjalin 44:00 komunikasi dengan anaknya. Tapi yang 44:04 tidak kalah penting adalah rasa 44:07 bersalah. Rasa bersalah itu yang 44:10 kemudian akan dijawab dengan upaya-upaya 44:14 positif di kemudian hari. Demikian Bunda 44:17 masyaallah. Jadi, Hai, Dad. Halo, Ayah. 44:22 Kalau kerinduan istri adalah kehangatan 44:25 dan kepedulian Anda untuk ngobrol 44:28 diskusi dengan anak-anak. Iya, ini 44:31 kurang lebih sama dengan pertanyaan yang 44:33 berikutnya nih. Ee Pak Hamid ini juga 44:37 dari seorang ibu deh kayaknya karena 44:40 Iya, betul. Anak saya masih kuliah tapi 44:42 nyaris enggak pernah minta uang karena 44:44 dari media sosial hasilnya katanya sudah 44:47 cukup entah TikTok entah atau yang lain. 44:50 Bahkan emm 44:53 untuk uang kuliah itu kan lumayan besar 44:56 ya. Tetapi dia tidak minta. Sayangnya 44:59 ayahnya enggak pernah menunjukkan 45:01 kekaguman dan kepeduliannya atas 45:03 prestasi si anak ini. Dan sekarang 45:06 jadinya si bocah suka-sukanya sendiri. 45:10 Enggak ada tuh ngobrol-ngobrol semeja, 45:13 diskusi, ayahnya juga merasa enggak 45:16 masalah. Tapi sebagai ibu nih, kok 45:19 rasanya sedih ya? Punya suami kayak 45:20 gitu, punya anak kayak gitu, Kak. Enggak 45:22 ada kehangatan sama sekali. Ohoh. Mohon 45:25 pencerahannya, 45:26 Bunda, dengan apa yang Bunda ceritakan, 45:30 sebetulnya si ayahnya itu kagum kepada 45:34 anaknya, tapi enggak ditunjukin. 45:36 Dia tidak mau tunjukkan. Nanti pada 45:38 suatu waktu itu ee 45:42 rasa kagum ayah terhadap anaknya itu 45:46 akan terungkap. Dan kita tidak tahu ya, 45:51 coba Ibu coba telusuri tuh 45:54 jejak komunikasi 45:58 ayahnya dengan anak. Mungkin 46:03 mereka ee berkomunikasi mungkin saat ibu 46:07 di dapur, 46:08 mereka di ruang tamu 46:11 atau pada saat momen-momen tertentu 46:14 mereka berbagi cerita tetapi ibu tidak 46:17 tahu. 46:19 tahu enggak, Bunda, 46:21 anak-anak kita yang hebat itu dia mau ee 46:26 berekspresi 46:29 lalu kemudian dia berhasil mendatangkan 46:31 uang itu ada ee cerih payah dari 46:37 ayahnya, 46:39 minimal dari doa. Dan itu yang kemudian 46:43 harus selalu kita syukuri. Kalau itu 46:46 kita berhasil ketemukan dan itu menjadi 46:50 modal untuk bahan diskusi, suatu waktu 46:54 nanti anak kita akan merasa respek atau 46:58 hormat kepada ayahnya. Dan yang tidak 47:01 kalah penting adalah 47:03 hebat ya anakku sekarang sudah bisa cari 47:07 uang. Kalau aku hari ini diambil oleh 47:12 Allah, 47:13 aku sudah merasa tenang karena anakku 47:18 sudah mandiri. Itu menjadi sesuatu yang 47:22 sangat penting untuk ee kita syukuri 47:27 karena anak kita sudah memiliki 47:29 kemampuan. 47:31 kemungkinan kemampuan itu di luar ee 47:35 ekspektasi kita ya atau di luar 47:38 perkiraan kita dan itu 47:42 akan selalu terjadi. Pengalaman itu juga 47:46 sudah pernah kita lewati bersama-sama. 47:49 Und Nuning, ayah dan di rumah juga punya 47:52 pengalaman itu dan itu yang menjadi 47:54 penting 47:56 komunikasi. 47:58 Sharing berbagi cerita. 48:02 Kalau masih ada waktu magrib, dorong 48:07 ayahnya selalu bertanya kepada anaknya 48:12 walaupun anaknya tidak mau menjawab. 48:16 Selalu bertanya. Selalu bertanya. 48:19 kemungkinan pada satu waktu melalui doa 48:23 dari kita, akhirnya anak kita lembut, 48:26 dia mau berbagi cerita. Begitu juga 48:29 sebaliknya kalau si ayah itu masih agak 48:35 ee 48:37 kolot atau masih kokoh kekeh atau 48:42 [tertawa] 48:43 kita doakan semoga kelembutan akan lahir 48:47 dari doa-doa kita yang diijabah oleh 48:51 Allah itu harus ada upaya-upaya. 48:56 Demikian Bunani, 48:58 masyaallah, banyak sekali rasanya ya 49:01 ingin ditambahkan, tapi kita sudah 49:02 dibatasi waktu. Yang jelas bahwa 49:05 komunikasi itu penting banget. Bagaimana 49:09 nilai-nilai negatif kalau bisa jangan 49:11 muncul di antara kita di dalam keluarga. 49:14 Em, Pak Hamid closing statement dari 49:17 bahasan kita deh. 49:19 Baik, ayahanda dan bunda menjadi ayah 49:22 yang tangguh yang kemudian 49:25 anak merasa aman itu lahir. Tidak begitu 49:29 saja, dia harus berproses. Untuk itu 49:34 perkaya pengetahuan kita sebagai seorang 49:38 ayah tentang anak. pengetahuan ini 49:41 menjadi penting dan pengetahuan ini 49:45 kalau boleh diawali dengan membaca 49:49 aturan-aturan baik itu aturan di agama 49:53 maupun aturan internasional. Kalau di 49:56 pembicaraan kita ini berbasis pada 50:00 aturan 50:01 internasional, konvensi hak anak. Lalu 50:04 kemudian itu yang dijabarkan melalui 50:07 aturan-aturan nasional seperti 50:10 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 50:16 tentang kesejahteraan anak. Baca 50:20 undang-undang itu. Kedua, Undang-Undang 50:23 Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan 50:28 Ibu dan Anak. di sana dimintai tanggung 50:34 jawab 50:35 dari seorang ayah terhadap istrinya dan 50:39 terhadap anaknya. 50:42 Dengan kita membaca peraturan 50:43 perundangan itu, kita perkaya 50:46 pengetahuan kita juga. Siapa nih ayah? 50:50 Apa peran ayah? Pak perlu enggak 50:53 pengetahuan parenting itu kita dalami? 50:56 cari tuh berbagai lembaga-lembaga 50:59 sekarang juga bisa tanya juga di EA itu 51:03 baik itu alamat, fasilitas, judul buku, 51:08 judul artikel kita harus pelajari. 51:11 Kemudian tidak kalah penting Bunda 51:14 Noning, 51:14 keterampilan. Keterampilan komunikasi. 51:19 Komunikasi itu butuh keterampilan. Untuk 51:24 itu bagaimana kita menjadi seorang 51:26 public speaking, tapi yang tidak kalah 51:29 penting adalah menjadi pendengar yang 51:32 baik. Kita yang pernah menjadi anak, 51:36 kalau mau berkomunikasi dengan anak, 51:38 gunakanlah frekuensi anak, bukan 51:41 frekuensi ayah. Dan yang terakhir, 51:45 sikap kita sebagai orang tua, terutama 51:50 ayah terhadap anak-anak kita. 51:53 kepentingan terbaik mereka itu menjadi 51:56 utama. Tapi yang paling utama adalah 51:59 bagaimana sikap kita mau mendengarkan 52:03 mereka. Ini semua akan terlahir bila 52:07 kita selalu mengupdate informasi kita 52:10 dan kita selalu berdoa dan berharap 52:13 kepada Allah. Allah selalu memberikan 52:16 cahaya kepada kita yang hari ini sudah 52:19 lembut. 52:20 Amin. 52:20 Semakin lembut lagi. Demikian. 52:22 Asalamualaikum warahmatullahi 52:24 wabarakatuh. 52:24 Waalaikumsalam warahmatullahi 52:26 wabarakatuh. Ikhwan akhwat, 52:30 mudah-mudahan kita 52:33 bisa 52:34 mengembangkan kompetensi pososial kita 52:39 juga membiasakan diskusi sebelum ambil 52:41 keputusan 52:42 dan yang paling keren tuh menghadirkan 52:45 persepsi positif ya di rumah terutama 52:47 dari buah hati kita. Baik, mari kita 52:49 terus berusaha dan berjuang karena 52:51 anak-anak adalah titipan Allah yang 52:54 mudah-mudahan menjadi bagian dari 52:57 kesuksesan di hari akhir kita nanti. 53:00 Billahi taufik wal hidayah. 53:01 Wasalamualaikum warahmatullahi 53:03 wabarakatuh. 53:04 Waalaikumsalam warahmatullahi 53:06 wabarakatuh.