Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:07 Brail TV. 0:15 Bismillahirrahmanirrahim. 0:17 Asalamualaikum warahmatullahi 0:19 wabarakatuh. Ikhwan akhwat 0:20 rahimakumullah. Sehat semua? 0:22 Alhamdulillah. Dan bersyukur juga hari 0:26 ini kita bisa bersama-sama di acara 0:28 perlindungan anak untuk buah hati kita, 0:31 untuk tunas-tunas muda 0:34 Indonesia yang mudah-mudahan kalau kita 0:37 ikut berkontribusi menumbuh kembangkan 0:40 mereka dengan cara-cara yang diperlukan, 0:44 insyaallah generasi kita juga akan 0:46 semakin cemerlang. Nah, tidak lupa salam 0:50 selawat kita lantunkan untuk junjungan 0:52 umat kekasih kita Muhammad Rasulullah 0:54 sallallahu alaihi wasallam. 0:56 Mudah-mudahan kelak kita dipertemukan 0:58 dengan beliau ya di saat yang sangat 1:00 kita rindukan di yaumil akhir. Ikhwan 1:03 akhwat, bagi 1:05 Anda yang memiliki buah hati masih 1:09 bocil, bisa jadi bahasan hari ini akan 1:12 ee mempersuasi kita semua meskipun juga 1:16 enggak bocil, yang sudah agak sedikit ee 1:18 besar pun juga memerlukan 1:21 gambaran terkait dengan materi yang akan 1:23 kita bahas hari ini bersama Dr. Hamid 1:27 Pati seperti biasa dan beliau sudah 1:29 hadir di sini. Asalamualaikum 1:32 warahmatullahi wabarakatuh. 1:33 Waalaikumsalam. Apa kabar, Bunda? 1:35 Alhamdulillah sehat-sehat ya semua ya. 1:38 Alhamdulillah. 1:39 Tadi sebelum on air kita bicara soal hmm 1:42 bagaimana nih mencegah eksploitasi anak. 1:44 Nah, persisnya seperti apa bahasan kita? 1:47 Ee topik hari ini terkait dengan 1:49 pengasuhan berbasis hak anak. Heeh. 1:51 Fokusnya pada pencegahan 1:54 eksploitasi 1:56 ee pada anak melalui daring. 1:59 Nah, ini dia ikhwan akhwat. Daring 2:03 kelihatannya satu kata yang ya 2:05 biasa-biasa aja. Tapi bagi keluarga yang 2:07 anak-anaknya mabuk kepayang dengan 2:10 daring ini, pasti kesedihannya luar 2:12 biasa. Yuk, kita simak dengan telinga 2:14 jiwa kita. Silakan. 2:16 Baik, terima kasih Bunda. 2:18 Bismillahirrahmanirrahim. 2:19 Asalamualaikum. warahmatullahi 2:21 [berdehem] 2:22 wabarakatuh. 2:23 Waalaikumsalam. 2:24 Pendengar Radio Rasil di mana saja 2:26 berada, alhamdulillah kita masih diberi 2:30 kesempatan oleh Allah untuk berbagi 2:32 informasi. Insyaallah kita akan membahas 2:37 lanjutan materi-materi yang sebelumnya, 2:40 tapi hari ini fokus ke pengasuhan 2:43 berbasis hak anak khususnya terkait 2:46 dengan bagaimana orang tua itu memiliki 2:52 pengetahuan, keterampilan, dan sikap 2:54 terkait dengan pencegahan 2:58 eksploitasi seksual ee terhadap anak 3:02 melalui daring. 3:04 Ini Bunda Nuning. Kemarin saya baru 3:06 balik dari Bali. 3:09 Ada pelatihan selama 3 hari melatih 3:14 jaksa dan hakim se Provinsi Bali. di 3:18 sana menarik ya topik yang dibahas fokus 3:22 pada ee 3:26 online child sexual exploitation and 3:29 abuse atau 3:31 eksploitasi pada 3:35 anak melalui daring. Ah apa sebetulnya 3:39 apa penyebabnya? Nah, ini yang perlu 3:42 diwaspadai oleh ayah dan bunda. Sebelum 3:45 kita mengetahui 3:48 penyebab awal terkait dengan 3:53 topik yang kita bahas hari ini, kalau 3:56 boleh ee ayahanda dan bunda me 4:02 identifikasi 4:04 undang-undang yang perlu ada di 4:06 handphone kita supaya menjadi bekal 4:08 untuk kita bahas, untuk kita pelajari 4:13 secara bersama-sama. 4:15 sehingga kita tidak kehilangan ee 4:19 rujukan untuk 4:22 menjelaskan kepada siapa saja termasuk 4:25 kepada anak kita. Kalau boleh ini jadi 4:29 tema yang kita bahas bersama-sama dengan 4:32 anak-anak kita di di rumah. pertama 4:36 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 4:40 tentang tindak pidana kekerasan 4:43 seksualah itu kalau boleh undang-undang 4:46 itu ada di handphone kita. Kemudian yang 4:49 kedua, 4:51 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008. 4:57 Lalu kemudian Undang-Undang Nomor 4:59 9 ee 19 tahun 2016. 5:04 Kemudian Undang-Undang Nomor 1 Tahun 5:06 2024. Wah, sudah berapa Undang-Undang 5:08 itu Bu Undang-Uuning? Sudah ada empat 5:10 ya. 5:10 Iya. Kemudian 5:12 yang kelima ee Undang-Undang 5:16 Nomor 20 5:19 3 5:20 atau 2023 tahun 2002 Undang-Undang 35 5:25 Tahun 2014 kemudian Undang-Undang Nomor 5:29 17 Tahun 2016 itu lengkap. Terus yang 5:33 terakhir ini kalau boleh kita memiliki 5:37 undang-undang yang terbaru, 5:39 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 ee 23 5:45 tentang kitab Undang-Undang Hukum 5:47 Pidana. 5:48 Ah, semua undang-undang ini kalau boleh 5:51 ada di handphone Ibu Bapak supaya kita 5:55 punya alasan ee atau punya argumen untuk 5:59 meyakinkan kepada anak kita 6:02 supaya dia tidak mudah tuh ee memegang 6:04 gadget atau kita ee leluasa memberi 6:08 gadget. Nah, ini ini penting. Lalu yang 6:11 perlu kita syukuri juga ini sudah mulai 6:14 dikembangkan di salah satu provinsi ini 6:17 ada di wilayah Rasil ya, Provinsi Jawa 6:20 Barat 6:21 di di mana gubernur 6:24 memberi ee 6:27 batasan 6:28 anak-anak 6:30 SD, SMP itu 6:33 tidak boleh diberi gadget. guru-guru, 6:37 kepala sekolah tidak boleh memberi 6:40 tugas-tugas 6:42 yang kemudian memaksa anak harus 6:45 menggunakan gadget. Ini salah satu upaya 6:47 yang dilakukan oleh gubernur agar 6:51 anak-anak tidak terpapar oleh ee 6:55 pengaruh yang kemudian yang berdampak 6:58 mereka kepada eksploitasi seksual 7:01 melalui daring. 7:02 Hm. 7:03 Ini penting sekali. 7:05 Ah, pertanyaan awal ini sebetulnya apa 7:09 yang menyebabkan anak-anak kita masuk ke 7:12 jebakan ini? Ini sebetulnya diawali oleh 7:16 pengabaian dari orang tua nih. Anak 7:23 diberi akses ee gadget lengkap dengan 7:27 paket atau wifi atau jaringan internet. 7:31 ini yang kemudian 7:34 yang akan memudahkan anak itu terpapar 7:39 oleh ee kasus ekspluitasi ini. Apalagi 7:44 orang tua melakukan pengabaian, tidak 7:46 ada kontrol. Pokoknya anak nangis 7:49 sedikit, ulama main kasih aja itu ee 7:51 gadget, kasih aja handphone. Ah, 7:55 pokoknya supaya dia tenang. Nah, ini 7:57 sebetulnya ee malapetaka awal orang tua. 8:01 Kalau ada kasus-kasus seperti ini 8:03 sebetulnya diawali oleh orang tua. Untuk 8:06 itu apa yang kami mintakan tadi membaca 8:11 sekitar tujuh undang-undang ya itu 8:13 dibaca baik-baik. 8:16 Karena menjadi ayah dan ibu itu adalah 8:20 utama dan menjadi pendidik pertama dan 8:23 utama. Kalau kita tidak punya 8:25 pengetahuan, lalu anak kita akan 8:29 ditangani oleh siapa? Ah, salah satu 8:34 pengabaian itu kita tidak mau belajar. 8:37 Ee pertemuan hari ini atau siaran hari 8:39 ini lebih meikan 8:43 informasi agar kita mau ambil bagian 8:46 untuk itu. Itu 8:48 awal tuh Bunda Nuning. Jadi anak diberi 8:51 handphone, diberi gadget. Lalu kemudian 8:54 gadgetnya itu lengkap dengan paket. 8:58 Apalagi kalau paketnya banyak Bunda 8:59 Nuning. 9:00 Lalu kemudian internetnya ini menjadi ee 9:05 hal yang perlu kita ketahui awal. Kalau 9:08 sudah tahu berarti berarti kita sudah 9:11 bisa introspeksi diri. Kenapa anak saya 9:13 nih gua pendiam udah apa ini? Kedua, 9:19 gadget yang digunakan 9:22 itu dijadikan sebagai pengganti orang 9:25 tua tanpa disertai dengan nilai, etika 9:31 atau penguatan karakter. 9:35 Ini berarti pengabaian yang kedua, Bunda 9:38 Nuning. 9:39 Iya. 9:40 Jadi udah ini handphone terserah kamu 9:44 mau buat apa tanpa dibangun sebuah 9:48 kesepakatan kan kita harusnya Bun boleh 9:51 enggak aku punya handphone-nya ayah 9:53 boleh enggak aku memiliki handphone itu 9:56 kan harusnya diawali oleh ayo sebelum 9:58 kamu punya handphone boleh enggak 10:00 diskusi sama ayah diskusi sama bunda 10:03 hal-hal apa yang perlu kita sepakati 10:06 misalnya time screen batasan penggunaan 10:10 ee gadget itu 10:13 boleh kamu pakai gadget, tapi Bunda dan 10:16 Ayah sepakat hanya 30 menit. Setuju 10:19 enggak? Ah, masa ayah aku cuma 30 menit 10:22 nih. Nah, itu berarti kan di situ 10:24 berdiskusi 10:26 itu kesepakatan. Lalu hal-hal apa yang 10:29 perlu kita ee akses? Itu kan juga harus 10:33 perlu didiskusikan. 10:35 Ayah setuju. Tetapi nih perhatikan. 10:39 Kamu boleh mengambil hal-hal yang 10:41 positif saja. 10:43 Ah positif kan banyak tuh. 10:45 Tetapi ada hal yang perlu kamu kamu 10:51 jadikan itu menjadi pengingat. Apa itu? 10:53 Pertama kalau ada kekerasan itu kamu 10:56 tidak boleh ekspresikan. Lalu kemudian 10:59 pornografi. 11:01 Lalu kemudian intoleransi. Nah, yang 11:03 kita sedang bahas ini terkait dengan 11:05 yang dua ini, Bunda Nuning. 11:06 Heeh. 11:06 Kekerasan, kekerasan seksual dan 11:09 pornografi. Khusus pornografi juga ada 11:12 undang-undangnya itu Bunda Ning nomor 40 11:15 tahun 2008. 11:18 Wah, jadi banyak undang-undang yang 11:21 harus dibaca orang tua ini. Bukan harus 11:23 yang bersarjana hukum membaca 11:25 undang-undang ini. Orang tua, ayah, ibu. 11:30 Ayo, sudah ada ini aturan-aturan, kenapa 11:33 kita tidak baca? Dan kalau kita 11:36 membacanya itu harus dengan perspektif 11:40 perlindungan anak sebagaimana jadi 11:43 ee apa nama acara yang ada di Radio 11:47 Rasil ini 11:49 itu 11:50 kita harus ee nilai etikanya bagaimana. 11:54 Lalu kemudian 11:56 kita harus pastikan kita memberi gadget 12:00 pada anak itu harus ada batasannya, 12:03 harus ada aturannya, tidak main dia 12:06 nangis sudah kasih aja. Itu [mendengus] 12:09 ee racun bukan? 12:12 Lalu yang ketiga ini, Ibu Nuning, 12:16 awal malapetaka yang perlu diwaspadai 12:19 anak-anak masuk ke 12:22 eksploitasi daring ini adalah komunikasi 12:26 dalam keluarga yang sangat lemah. Jadi, 12:30 sudah tidak ada komunikasi. Padahal kita 12:34 negara Pancasila di sila keempat itu 12:37 apa, Bunda Ning? Ee musyawarah, kan? 12:39 Nah, musyawarah itu kan selalu diawali 12:42 oleh komunikasi. 12:44 Kalau sudah tidak ada komunikasi berarti 12:46 di rumah itu otoriter. Sudah dapat 12:50 dipastikan bahwa hak asasi manusia yang 12:53 pertama adalah berpolitik atau bersuara 12:56 itu tidak jalan. 12:57 Iya. Karena antara ayah, antara ibu dan 13:01 anak itu saling apa itu 13:05 pokoknya hanya ayah yang benar, hanya 13:08 ibu yang perlu didengar, lalu anaknya 13:11 gimana nih? 13:13 Untuk itu kita perlu harus pastikan 13:17 komunikasi dalam keluarga harus kuat. 13:20 Kalau ada bocoran atau ada kasus-kasus 13:23 seperti ini, berarti komunikasi di rumah 13:25 tidak bagus. 13:26 Iya. sehingga 13:28 anak 13:31 jarang mau bercerita 13:35 saat mengalami hal-hal yang 13:37 mencurigakan. 13:39 Kok nih kamu diam kenapa nih? Ahah. Ini 13:41 tidak tidak ada lagi karena tidak ada 13:43 komunikasi. Lalu yang keempat, 13:47 yang keempat ini adalah anak dibiarkan 13:52 menjelajah internet sendiri. 13:55 Hm. Hm. padahal belum memahami bahaya 13:58 dan batasan-batasan. Nah, ini 14:01 ini yang ee coba kita mulai pahami ee 14:06 secara baik-baik. Sudah dapat dua 14:09 informasi nih ya. 14:10 Nih informasi pertama tadi 14:12 undang-undang. Kedua, awal mulai anak 14:16 ini masuk ke 14:19 jadi korban itu ternyata pengabaian dari 14:24 orang tua. 14:26 Ini orang tua nih. pengabayan itu masuk 14:30 sebagai salah satu bentuk kekerasan yang 14:34 diatur di Undang-Undang Nomor 23 Tahun 14:37 2004 tentang Bunda Bunda 14:40 H 14:40 penghapusan kekerasan dalam rumah tangga 14:42 itu ada empat bentuk kekerasan 14:45 fisik, psis, seksual, penelantaran. Nah, 14:49 penelantaran salah satu melakukan 14:51 pengabaian. 14:54 [menghela napas] 14:54 Lalu tahap awal anak tercebat kasus 14:59 online itu bagaimana ceritanya? Ini 15:01 mulai sudah diberi dia akses gadget lalu 15:06 sudah mulai main game. Sudah asik nih. 15:09 Ah sekarang bagaimana ini? dia mulai 15:13 terjebak ke 15:16 eksploitasi 15:18 khususnya seksual ee melalui daring yang 15:22 diatur oleh Undang-Undang 15:24 Nomor 15:26 12 tahun 2022 yaitu kontak awal dengan 15:30 orang asing. 15:31 Nah, 15:32 melalui apa? Media sosial, 15:36 game online atau aplikasi chat. Ah, coba 15:41 kita mulai. Ee, Bunda di rumah pastikan 15:46 apakah anak kita itu aktif enggak di 15:48 media sosial. 15:49 He. 15:50 Mulai kita coba telusuri 15:54 di usia kapan? Pokoknya dari 0 sampai 18 15:58 tahun. Coba cek apakah anak kita sudah 16:02 mulai aktif enggak di media sosial. 16:05 Kemudian 16:07 apakah anak kita aktif enggak di game 16:10 online? Nah, game online itu udah kita 16:13 sudah pastikan kalau anak kita main ee 16:17 game online, apalagi kalau yang free 16:21 itu di 16:22 ee susupi dengan iklan-iklan. 16:26 Apalagi kalau ee 16:29 anak ini main game online-nya, tenaganya 16:34 sudah mulai hilang dan dia akan game 16:37 over. 16:37 He. 16:38 Untuk mendapatkan poin, 16:40 salah satu upaya itu melalui klik iklan 16:44 yang ada. 16:45 Nah, 16:45 dengan dia klik iklan nambah nyawanya 16:48 atau napasnya supaya bertenaga. Ah, kita 16:51 tidak tahu di iklan-iklan itu juga 16:55 disusupi. Apalagi kalau ada iklan yang 16:58 aneh-aneh. Ini penting juga kita harus 17:00 coba cek apakah anak kita suka main game 17:04 online atau di gadgetnya. Kemarin saya 17:07 punya 17:09 ee keponakan 17:11 He 17:12 udah SMA. 17:15 Dia pengin mau masuk tentara, tapi saya 17:19 lihat dia bangun apanya ini kannya 17:21 bermasalah. Tanya, "Ada game enggak di 17:24 handphone-nya?" Ada. Langsung hapus. 17:28 Akhirnya dihapus benar Ning. Iya. 17:30 Ada kolega saya, ayahnya dokter 17:34 ee ibunya aktivis. Anak, anaknya ee suka 17:39 pakai handphone-nya ibunya. 17:40 Hm. 17:42 di handphone-nya ada game. Ini mau udah 17:46 di kelas 6 mau lulus dan mau masuk SM P 17:50 tapi dia masih fokus di 17:54 di game online dan dia mau bebas ya. 17:58 Salah satu mau bebas harus hapus. 18:02 Untuk itu, Ayah dan Bunda, kalau 18:05 handphone kita ada game, game sekecil 18:09 apapun misalnya cuma ee titering atau 18:12 main kartu atau main apa, itu 18:16 awal malapetaka untuk anak-anak kita. 18:19 Hapus. Ini bukan perintah ya, cuma saya 18:23 minta aja nih. Hapus. Kemudian ee 18:28 aplikasi chat. Ah, ni chat apa kali yang 18:31 mit sekarang yang itu mat banyak 18:33 digunakan oleh banyak orang yang 18:36 terjebak pada eksploitasi seksual sampai 18:39 ke prostitusi. Ini menjadi penting. Ini 18:42 awal mulanya dari yang tadi kontak awal 18:46 dengan ee orang asing melalui fasilitas 18:50 yang ada nih. Itu awal. Kemudian 18:55 setelah anak-anak kita sudah aktif di 18:57 medsos, sudah aktif di game, aktif di 19:01 chat, 19:02 ternyata ada individu yang di sebelah 19:06 sana itu memang profesinya untuk 19:10 melakukan penipuan. Ah, dia sudah mulai 19:14 bujuk rayu dengan menggunakan identitas 19:17 palsu. 19:18 Iya. Kita tidak tahu anak kita sudah 19:23 mulai tertarik dengan orang ini, mulai 19:25 percaya, terbangun kepercayaan. Pelaku 19:28 berpura-pura menjadi teman, kasih poin, 19:33 kasih Oh, pokoknya 19:36 kita dibuat ya seperti kejadian 19:40 anak-anak yang menjadi korban kekerasan 19:42 seksual itu kan diawali kasih permen. 19:45 Iya. 19:46 Bukan langsung hari itu dia, tapi para 19:48 pedovil itu juga sama. Bojuk, bujuk 19:52 bujuk, bujuk. Akhirnya dia ee wah 19:57 kayaknya 19:59 baik banget ini. Apalagi lihat ini 20:02 kayaknya mbak atau Mas atau om atau 20:05 tante atau apa. Kok baik banget ya mau 20:08 kasih ee apa 20:12 poin, mau mau kasih apa semua. Akhirnya 20:15 game-nya supaya bisa hidup terus ini 20:17 mulai mancing menunjukkan perhatian. Oh, 20:21 udah mulai ada perhatian. Tanya-tanya 20:23 nih kalau di chat ya gimana ibunya? Wah, 20:26 ibu aku sibuk aku ini. Ah, sudah mulai 20:29 curhat tuh. sudah mulai tari pancing. 20:32 [tertawa] Asik nih 20:33 kayaknya ee 20:36 anak ini kayaknya bisa masuk ke jaringan 20:38 nih. Nah, ini ini penting nih. Dan 20:42 membangun kedekatan udah mulai dekat. 20:47 Ayah dan Bunda, hari ini kasus terkait 20:51 dengan 20:54 online child eh sexual exploitation and 20:59 abuse itu 21:02 lumayan tinggi. Nah, ini ini menjadi 21:05 penting untuk kita ee perlu pahami. 21:09 Kemudian yang ketiga, Bunda Nuning, 21:11 sudah mulai dari permintaan konten 21:13 pribadi. 21:15 sudah mulai konten pribadi sudah mulai. 21:19 Eh, boleh enggak ee kirim dong fotonya? 21:22 Foto 21:24 [mendengus] anak kecil kanya. Oke, boleh 21:27 nih kirim lagi. Masih satu badan Bu 21:30 Nuning. 21:31 Iya. 21:32 Kok kayaknya 21:34 ini belum lengkap nih, masih ada nih. 21:38 Coba boleh enggak kamu di kamar mandi? 21:42 Ee di kamar. Ah, berarti kan udah saat 21:45 kamu tidur kirim tuh foto dia. Sudah 21:48 mulai nih. Asik nih. Ayah Anda dan bunda 21:52 ini menjadi penting. 21:54 Check check and reck ni jangan main ee 22:00 apa main memberi keluasan kepada anak 22:04 kita nih. Udah nanti bilang melanggar 22:06 hak asasi manusia. A kita berdebat nanti 22:08 itu ya 22:09 berdiskusi 22:11 kemudian 22:12 kalau semua foto video sudahud masuk 22:16 kepada anak kita ah sudah mulai masuk 22:18 tuh Bunda Nuning. 22:19 He 22:20 ee ancaman dan pemerasan. Eh, kan foto 22:25 kamu sudah banyak sama om nih, sama 22:26 tante nih, sama Mas nih, sama Mbak nih. 22:30 Kalau kamu enggak kirim ee transferan, 22:33 ah itu sudah mulai ngancam ini. Jika 22:37 menolak pelaku akan 22:40 menyebarkan ini 22:42 diancam deh. 22:43 Padahal dia tidak berani juga mengancam. 22:45 Kena undang-undang. ada undang-undang 22:47 apalagi undang-undang yang terbaru 22:49 Undang-Undang Nomor 1 tahun 2024 tentang 22:53 perubahan yang kedua Undang-Undang IT 22:55 itu sangat ee kuat ini 23:01 ada itu ee oknum polisi. Maka Polres 23:05 yang kena tuh, itu kasus tuh dia 23:08 menjebak-menjebak 23:10 proses hari ini ee atau kemarin-kemarin 23:13 kita dengar mahasiswa yang memberi akses 23:16 ee 23:18 anak ke oknum itu 23:20 nangis-nangis karena dia awal-awal 23:24 fine-fine aja, tapi di balik itu dia 23:26 tidak tahu. ini coba telusuri di rumah 23:30 kita kalau kita tidak pengin anak kita 23:33 menjadi korban. Lalu kemudian ini yang 23:37 perlu kita ketahui 23:40 ada tiga bentuk kejahatan 23:44 ee 23:46 seksual terhadap anak melalui 23:49 ruang digital ini, Bunda Ning. 23:51 Iya. 23:52 Berarti ini informasi keempat ya. He 23:54 pertama namanya grooming online. 23:59 Tadi yang tahap-tahap awal itu sudah 24:00 mulai dicerita tuh 24:01 grooming online. Jadi Bundauning dia 24:05 awali dengan mendekati anak secara 24:08 daring dengan manipulasi emosional. 24:12 Iya. 24:13 Jadi dia sip. 24:16 Apa ciri-ciri anak kita sudah mulai 24:19 masuk ke grooming online? Nah, nih 24:22 pengetahuan yang perlu diketahui oleh 24:24 setiap ayah dan bunda di rumah yang 24:28 menjadi 24:30 ayah dan ibu itu juga menjadi pengawas, 24:33 jadi pemantau, tapi yang tidak kalah 24:35 pentingnya bertanggung jawab terhadap 24:39 anaknya. Apa itu 24:41 ciri-ciri grooming? Kontak awal itu 24:45 ramah. Pelaku sering berpura-pura 24:48 menjadi teman sebaya. 24:51 atau sosok yang menyenangkan. 24:54 Coba tanya-tanya sama anak kita, "Kak, 24:58 apa kabar hari ini? 25:01 Mbak, apa kabar hari ini? 25:05 Bagaimana ee pemanfaatan handphone?" 25:09 Nah, tanya 25:11 tanya. 25:12 Oh, iya, Bun. kayaknya ada orang yang 25:16 mulai minta foto kepada aku. Wah, itu 25:18 awal itu. 25:19 Ah, sudah mulai di di 25:22 siapa? Siapa? Ah, Bunda kalau yang 25:24 hebat, yang cerdas sudah mulai di 25:26 curiga, 25:28 udah mulai tidak perlu curiga, sudah 25:30 mulai mengidentifikasi. Ini kayaknya 25:33 perlu kita telusuri latar belakang orang 25:35 ini. 25:36 Hm. 25:37 kan sekarang kita bisa nanti juga saya 25:40 akan beri akses ke mana kita harus 25:43 melapor ya supaya lebih canggih. Tapi 25:45 ini mulai tanda-tanda 25:48 perasaan curiga muncul kok gini anakku 25:50 gitu enggak boleh 25:53 curiga ee boleh tapi tidak gunakan 25:57 curiga tapi mulai dasar untuk mau 25:59 bertanya mencari tahu 26:01 supaya tidak memunculkan itu ee stigma 26:04 lagi. Nanti kita cari. Oh, narik ya. 26:07 Apa? Terus apalagi? Siapa? Ada berapa 26:10 orang yang seperti itu? Oh, kita mulai. 26:12 Wih, Bu interogasi 26:16 aku punya teman satu grup tuh sudah 26:18 mulai, Bundan Bun. Nah, udah jadi dapat 26:22 itu informasi. 26:23 Iya. Iya. 26:24 Tapi kalau 26:25 alhamdulillah sudah marah-marah enggak 26:27 dapat itu, Bundan. Jadi, sudah mulai 26:29 nanya pelan-pelan kita ajak. Anak kan 26:33 percaya kepada kita 100%, tapi kita 26:35 harus percaya kepada anak kita 100%. 26:38 Itu yang tadi menghindarkan itu 26:42 kemudian 26:45 si pelaku itu sudah mulai membangun 26:48 kepercayaan dengan percakapan rutin. 26:51 Sudah perhatian. 26:53 Bun, Bun, kayaknya ee yang teman online 26:57 aku itu udah mulai kasih aku apa ee poin 27:03 atau kasih gift atau supaya aku bisa 27:06 main game terus. Nah, itu itu 27:08 tanda-tanda. Jadi, 27:10 sudah mulai ada kasih puji-puji, 27:13 kasih-kasih hadiah, mukanya [tertawa] 27:15 menerik. Apalagi sekarang di kalau kita 27:19 di YouTube itu atau di TikTok atau di 27:22 apa itu kan ada Bunda Nuning stiker 27:24 stiker yang ada harganya itu Bunda 27:27 Nuning bisa diuangkan kalau sudah 27:29 monetisasi. 27:31 Tapi ini belum nih 27:33 ini yang kecil-kecil yang sudah mulai 27:35 mancing anak kita. 27:37 Kemudian 27:38 si pelaku udah mulai kalau udah mampu 27:43 dia mengikat si korban atau anak kita, 27:46 dia sudah mulai membuat isolasi. Eh, 27:49 nanti 27:50 kamu jangan cerita sama bundamu ya. Wah, 27:53 itu jadi jangan cerita sama temanmu. 27:57 Jadi anaknya akhirnya sudah mulai 28:00 keikat. 28:01 Iya. 28:02 Terisolasi. Jadi dia kayaknya dia sudah 28:06 mulai 28:07 dekat terus jadi 28:08 dekat tapi kok [tertawa] aku tidak boleh 28:11 bagi informasi kepada ayahku ibuku. Ini 28:15 berarti sesuatu nih. Nih. Ini mulai kita 28:19 coba. Ayah Anda dan bunda ini ajak anak 28:23 teman anak kita cerita nih. 28:27 Ee tapi enggak boleh marah-marah. 28:30 Harus dengan suasana yang penuh riang 28:32 gembira dan ramah. Kalau boleh sambil ee 28:37 situasi santai. Tapi jangan pegang 28:40 gadget. Heeh. 28:42 Tapi kalau anak kita mau nunjukin ini 28:44 bun orangnya ah boleh ituai akses supaya 28:47 kontak mata dengan anak kita itu ada. 28:52 Ini penting sekali untuk kalau sudah 28:55 kita identifikasi anak kita sudah 28:57 diisolasi oleh si pelaku nih. Nih sudah 29:01 mulai tahap kedua nih. Ah tahap ketiga 29:05 karena anak sudah mulai diisolasi 29:08 lalu dia sudah tidak mau tidak mau lagi 29:10 berbagi cerita dengan orang tuanya. 29:12 Heeh. Si anak udah mulai terikat kalau 29:16 dia sudah mengirim foto. Eh, kan kamu 29:20 kemarin baru ngirim foto yang ini. Boleh 29:22 enggak kirim yang lain? Boleh enggak 29:24 yang ini? Udah semua sudah mulai 29:26 dieksploitasi itu, Bunding. 29:27 Iya. Iya. 29:28 Kirim semua foto, bentuk apa semua anak 29:32 kita akhirnya tidak lagi ditutupi oleh 29:36 satu benang pun. 29:38 itu udah udah tingkat tinggi itu. 29:42 [tertawa] 29:43 Kemudian anak kita sudah mulai di sex 29:47 torsion. Nah, itu yang kedua. Jadi tadi 29:49 yang grooming 29:51 online itu ciri-cirinya. Yang kedua, 29:56 anak masuk ke sex torsion, anak dipaksa 30:02 mengirim konten seksual. Hm. 30:06 Nah, itu udah itu udah udah udah parah 30:10 itu udah level keparahan dan anak sudah 30:14 mulai 30:17 ee 30:19 anak sudah mulai diminta 30:21 kirim uang. 30:23 Heeh. Kalau tidak kirim uang ditekan 30:28 foto kamu yang kemarin yang kamu kirim 30:30 sama ee teman itu sama orang yang kita 30:34 kenal atau si seseorang yang ada di luar 30:38 sana. sudah mulai tuh nih kirim 30:42 [tertawa] kirim ke rekening kalau tidak 30:45 haah nih sudah mulai diancam nih 30:50 kemudian kalau kamu tidak punya uang 30:53 kirim dong gambar yang lain jadi sudah 30:55 mulai Bu Undang-Uuning kirim semua dah 30:59 intinya adalah akhirnya anak kita sudah 31:02 mulai tertekan apalagi kalau ini udah 31:07 tingkat yang ketiga nih 31:09 bentuk dari eksploitasi yang ketiga, 31:13 gambar-gambar ini akhirnya disebar. Ah, 31:16 sebar sudah ada pangsanya, Bunda Ning, 31:19 para ee pedofil. Sekarang pedofil sudah 31:23 tidak lagi 31:25 susah-susah jumpai anak, tapi dia 31:28 melalui gambar-gambar yang sudah 31:30 dikirim. Nah, ini biasanya sudah 31:32 dilakukan oleh mereka-mereka di dalam 31:35 jaringan. Nah, untuk itu Bunda Nuning, 31:39 Ayahanda, 31:40 Bunda di rumah sudah mulai perlu 31:43 memikirkan apa yang harus kita lakukan. 31:47 Untuk itu, 31:49 apa kunci dari ini semua? 31:53 Ini tergantung dari 31:56 bagaimana ayah dan ibu sebagai pengasuh. 32:01 He 32:02 pengasus yang hebat otomatis ditandai 32:05 memiliki kompetensi. Ah, kompetensi 32:08 salah satunya adalah pengetahuan. 32:12 Pengetahuan tadi bisa dibaca dari apa 32:14 yang kita bicarakan, 32:16 tetapi kembali lagi harus baca delapan 32:20 undang-undang yang sudah kita sebut 32:21 tadi. 32:22 Bunda Nending masih hafal 32:23 undang-undangnya salah satunya. 32:25 Ya ngeri juga sih begitu banyak ya yang 32:28 23 tahun harus baca itu semua benih 32:32 bagaimana kita bisa mendampingi anak 32:34 kita 32:35 bagaimana kita mau diskusi dengan siapa 32:37 saja kalau kita tidak tahu informasi ini 32:39 penting 32:40 karena kita berstatus sebagai ayah dan 32:43 ibu itu harus berpengetahuan salah satu 32:46 pengetahuan yang kita bahas terkait 32:49 dengan bagaimana 32:51 menghindarkan anak kita masuk ke 32:55 jaringan eksploitasi 32:57 seksual melalui daring. Itu pengetahuan 33:01 harus kita tahu. Kemudian yang kedua, 33:04 ayah Anda dan bunda harus memiliki 33:07 keterampilan. Salah satu keterampilan 33:09 adalah berbicara dengan anak. Public 33:12 speaking-nya berdiskusi dengan anak. 33:15 Karena anak kita ini ee dia memiliki 33:20 frekuensi berbicara harus kita gunakan 33:23 frekuensi anak. Jangan pakai frekuensi 33:26 orang tua. 33:27 Pertanyaan, apakah orang tua punya 33:29 pengalaman atau punya frekuensi anak? 33:31 Punya karena dia dulu pernah jadi anak. 33:35 Itu gampang ya. Jadi bicara dengan anak. 33:38 Lalu keterampilan juga kita harus 33:41 memiliki kemampuan untuk menelusuri itu 33:45 ee apa pengetahuan tentang IT, tentang 33:50 komputer, tentang itu semua harus kita 33:52 tahu. Lalu kita punya keterampilan untuk 33:55 menggunakan itu semua. Jadi jangan hanya 33:58 punya gadget, punya handphone, punya 34:03 paket, lalu punya apa nih? punya Wi-Fi 34:07 tapi tidak tahu apa-apa, tidak punya 34:09 keterampilan untuk ee menggunakannya. 34:12 Ah, ini orang tua yang harus berupaya 34:17 lebih cerdas dari anak-anak kita. Jangan 34:19 dibalik ya. Sekarang ini banyak orang 34:22 mengatakan sekarang ya anak-anak kita 34:25 ini lebih cerdas dari kita. Ah, itu 34:27 berarti orang tua yang ee mulai melempar 34:32 handuk. Padahal yang paling mengetahui 34:35 itu adalah orang tua. Ya, ini penting 34:39 sekali. Kemudian sikap kita. 34:42 Sikap 34:45 bagaimana kita menyikapi dengan 34:46 anak-anak kita ini. Nah, ini kita harus 34:49 menggunakan prinsip non diskriminasi. 34:52 Jadi kita harus Lalu 34:55 kedua kepentingan terbaik bagi anak. 34:59 Jangan sampai anak-anak kita ini 35:02 terjerat dalam ee 35:05 eksploitasi seksual melalui daring ini. 35:08 Ini kita ee tidak memiliki sikap. Lalu 35:13 yang tidak kalah penting Bening ini 35:15 [berdehem] sikap yang paling penting 35:17 adalah 35:18 bagaimana kita mau mendengarkan 35:21 pandangan anak. Jadi mau mendengarkan 35:25 mereka penting kita ajak mereka 35:27 berdiskusi, kita ajak mereka berbicara. 35:30 Untuk itu 35:32 hal yang tidak kalah penting. Tapi yang 35:35 tidak kalah penting lain adalah menjaga 35:38 privasi anak. 35:39 Heeh. 35:40 Lalu menjaga privasi rasa aman termasuk 35:45 dunia digital. Nah, ini ini kenapa 35:49 privasi? Jangan main cerita sama 35:52 tetangga. Woh, sekarang anak aku ini 35:54 [tertawa] 35:55 ke jari apa ke ranjingan 35:59 gadget. Enggak usah diceritain. Itu 36:02 membuka aib. Apalagi kalau dia tahu. 36:04 Jadi hanya ibu, ayah, dan anak itu yang 36:08 tahu. Kemudian kita cari jalan 36:10 keluarnya. jalan keluarnya yang paling 36:12 penting adalah 36:16 apa tanda-tanda kalau anak itu 36:19 nih pengetahuan juga nih Bunda Ning. 36:21 He. 36:22 Apa tanda-tanda anak sudah jadi korban 36:27 atau sudah mulai masuk ke ee dekapan 36:33 ee jaringan ee para penjahat-penjahat 36:37 itu. pertama nih menjadi lebih tertutup 36:42 dan emosional. 36:44 Oh, 36:48 gimana tuh kalau mulai tertutup ning 36:52 ya? Tidak mau bicara apa-apa, tidak mau 36:54 cerita apa-apa. 36:56 Ah, itu di tahapan mana itu tadi? 36:58 Isolasi. 36:59 Isolasi. 37:00 Jadi dia tidak mau bicara. 37:03 Lalu kalau ditanya sama bundanya, 37:07 emosional. 37:07 Emosional [tertawa] karena ada sesuatu 37:09 yang dia jaga nih. Jangan sampai nih aku 37:13 sudah komitmen sama 37:14 orang itu 37:15 ee teman palsu ini. Wow. 37:18 Kedua, terlalu lama menggunakan 37:20 perangkat digital 37:22 secara pribadi. Tadi time screen. 37:25 He 37:26 kita kalau tidak punya aturan ya bebas 37:30 nih tadi. Kalau ada aturan tadi 30 menit 37:33 lebih dari itu tidak boleh. Matanya 37:37 apa ee gangguan lehernya semua terganggu 37:43 tangan. Apalagi kalau pegang gadget itu 37:44 benaring 37:45 rasa itu ya kita kayak mau macul berapa 37:51 meter itu pegang gadget padahal gadget 37:53 itu ringan sekali tapi lama-lama jadi 37:56 berat apalagi kalau yang kita lihat yang 37:59 kita baca emosi semua membuat kita marah 38:05 apalagi sekarang nih jadi kita lihat 38:08 mulai oh kok anak ini main gadget terus 38:12 ada batas berarti ayah ibunya mungkin 38:15 bekerja nih. Ini hati-hati pokoknya 38:19 tanda-tanda. Kemudian [menghela napas] 38:22 takut atau gelisah saat ditanya tentang 38:25 aktivitas online-nya. Oh itu dah berarti 38:28 dia sudah ngirim foto. 38:30 Ada sesuatu. ada sesuatu nih ya nih 38:33 gampang benar ni mulai telusuri kemudian 38:37 kok 38:40 kemarin ada kiriman dari 38:44 apa online 38:45 hari ini kok ada ah ini mulai ada hadiah 38:48 hadiah hadiah hadiah hadiah itu salah 38:51 satu tuh tanda-tanda anak-anak jadi dia 38:54 tidak membeli tapi dikasih hadiah itu 38:57 menarik [menghela napas][terkesiap] 38:59 semoga ayah Anda dan bunda Anda punya 39:01 pengalaman seperti ini. Lalu bagaimana 39:03 tuh kalau ada nih? Ah, untuk itu 39:06 apa nih yang harus kita bangun supaya 39:09 anak kita tidak masuk ke jaringan ini? 39:13 Pertama, bangun komunikasi dua arah. 39:17 Mulai kapan? Dalam perut, dalam 39:20 kandungan. Berarti ayah dan ibu mulai 39:24 berdiskusi dengan anak kita sejak anak 39:27 kita dalam kandungan. Kemudian saat dia 39:32 lahir itu kita ajak diskusi, kita ajak 39:36 berbicara, berkomunikasi. Kalau anak 39:39 kita itu sudah mulai dia ee senyum, 39:43 terus dia mulai ee senang, dia mulai 39:47 tertawa, itu berarti sudah ada kontak 39:50 yang bagusnya. Ni 39:51 ayah dan ibu yang paling tahu tentang 39:55 anak ayah dan ibu sendiri. Bagaimana 39:58 posisi kita sekarang? Anak kita masih 40:00 sering berdiskusi tidak? Itu kalau tidak 40:02 berarti perlu. Untuk itu biasa apa kabar 40:06 anak Pak Hamid? Apa kabar anak P? Apa 40:10 apa anak? Apa kabar anak Papa hari ini? 40:13 Ngapain? Boleh dong ayah pengin tahu. 40:18 Pendek-pendek kal nanti insyaallah dia 40:20 akan bagi. Alhamdulillah sehat. 40:24 Kalau kita komunikasi ini udah WA 40:27 bagaimana nih apa nih kok enggak dibalas 40:30 tapi kelihatan 40:31 dibaca [tertawa] berarti ada sesuatu ya. 40:34 Nah ini penting dah. 40:36 Kemudian gunakan tools pengawasan 40:40 digital. 40:42 kita perlu gunakan tools sekarang ini ee 40:47 apa saja terutama anak-anak di bawah 40:49 usia 18 tahun itu kan mereka belum punya 40:53 hak untuk membuat email itu selalu 40:55 membuat email dari menggunakan email 40:58 ayah atau ibu 40:59 ibu iya 41:00 ah di sana kan selalu ada verifikasi dua 41:02 arah atau verifikasi dua tahap kita cek 41:06 ini adakah yang mau minta verifikasi nih 41:09 langsung kita tanya Kak 41:11 Mbak DK, Mas 41:15 sedang mau mengaktifkan akun apa nih? 41:18 Bunda bisa tahu enggak? Ayah bisa tahu 41:21 enggak? Ah, kalau itu tidak pernah 41:25 terjadi pada anak kita selama ini, ini 41:30 kita termasuk orang tua yang melakukan 41:33 pengabaian dan itu harus 41:35 dipertanggungjawabkan. 41:37 penting kan nanti sudah jadi korban 41:39 terus teriak-teriak terus bilang negara 41:41 tidak hadir. Negara hadir itu sudah ada 41:43 undang-undang. Ibu bapak sudah baca 41:45 belum? Kalau belum berarti ibu bapak 41:49 membuat negara tidak hadir di rumah. 41:52 Nah, jadi jangan main salah-salah ini. 41:56 Ini polisi di mana nih? Ee jaksa di 41:59 mana? 42:00 jaksa polisi itu tugasnya nanti sudah 42:03 ada kasus baru mereka bisa tangani itu. 42:07 Sebelum ada kasus siapa nih yang 42:10 meningkatkan ee 42:14 kompetensi pencegahan apa penegakan 42:16 hukum? 99,9% 42:21 penegakan sebuah hukum itu dilakukan 42:23 oleh orang tua dengan cara diskusi, 42:27 dengan cara menyampaikan 42:30 supaya tidak terjadi. Kalau terjadi 42:33 sudah ada kesadaran diri. Ini semua 42:36 karena kealpaan atau karena kelalaian. 42:39 Dan di situlah kita harus bertanggung 42:42 jawab. Bukan disalahkan nih Komendigi 42:45 terus presiden terus menteri tidak 42:48 melakukan apa-apa 42:50 tidak memfilter ini. Itu semua dilepas 42:54 dalam pasar bebas tapi kuncinya ada di 42:58 ayah dan ibu. Nah, ini penting. 43:02 Gunakan tools. Tools seperti eh Google, 43:07 terus Play Store itu selalu meminta itu 43:10 salah satunya ee apa nomor telepon atau 43:16 ee email kita. Kalau anak kita sudah 43:19 buat email sendiri lalu kita tidak 43:23 tegur, itu berarti kita membuat anak 43:25 kita tidak jujur. 43:27 Nah, membuat anak kita jadi calon pelaku 43:31 kejahatan yang akan datang. Ini penting 43:33 juga harus kita ini agak sedikit keras 43:35 enggak apa-ing ya. Tapi ini demi 43:39 menekankan kepada orang tua. Jadi tidak 43:43 boleh kita me biarkan 43:47 semua kealpaan ini lalu kemudian yang 43:51 menderita anak kita. Tidak boleh penting 43:53 nih. 43:54 Kemudian libatkan anak dalam membuat 43:58 aturan penggunaan 44:00 teknologi. Kita aja diskusi nih 44:03 positifnya berapa, negatifnya berapa. 44:06 ini ada negatifnya. Bagaimana solusi 44:09 supaya dia menjadi positif? Ah, itu kita 44:11 bisa olah-olah itu kita bisa atur tuh. 44:14 Lalu yang tidak kalah penting adalah 44:16 memberikan pemahaman kepada anak kita. 44:20 Sejak kapan kita memberikan pemahaman? 44:22 Sejak anak itu sudah mulai mengakses. 44:25 Boleh pinjam enggak nih? Ah, nih. Sini 44:29 boleh enggak? Ayah mau cerita? Ah, 44:31 boleh. Kalau anak kita sudah mulai 44:33 cerita ini enggak neneknya, tantenya, 44:37 bibinya, kakeknya, pamannya kalau lihat 44:40 ada keponakan mau nangis kasih aja 44:42 gadget. Ini orang-orang yang membuat 44:46 calon-calon ee korban yang akan datang. 44:49 Ini orang-orang ini yang harus 44:50 bertanggung jawab. Untuk itu, kalau ada 44:53 kasus seperti itu apa yang harus kita 44:55 lakukan? Tenangkan. Kalau ada anak yang 44:58 sudah jadi korban yang ya. 45:00 Iya. Heeh. 45:01 Ah. 45:03 Kita ajak anak itu diskusi. Tenangkan 45:05 dan yakinkan bahwa ia tidak bersalah. 45:09 Ia tidak bersalah. Yang bersalah siapa 45:11 sesungguhnya? 45:12 Ayah ibunya. 45:13 Ayah ibunya. [tertawa] 45:15 Clear ya. Kedua, amankan semua bukti 45:19 digital 45:21 secara ee forensik. Nanti kita 45:24 screenshot, 45:25 kita log pesannya, kita buatkan 45:28 videonya, itu kita simpan semua. Nih 45:31 penting nih kalau sudah ada kasus ya. 45:33 Kalau yang belum kasus lebih banyak 45:35 ceramah-ceramahnya. 45:37 Kemudian 45:39 laporkan ke pihak berwenang. Ke siapa? 45:43 Cyber Polri. Nah, ini Cyber Polri. Terus 45:46 Komdigi. Komdigi itu ada ee web-nya tuh 45:50 lapor. Sekarang Komigi juga orang 45:52 bingung mau lapor ya. 45:55 judi online saja bocor. Jadi ini penting 45:59 juga. Tapi siapa lagi kita akan percaya 46:02 kalau bukan ke pemerintah? Kita 46:04 percayalah. 46:05 Iya 46:05 untuk sementara ini. Kemudian 46:09 cara melaporkan juga ini Bunda Ning ke 46:12 08 46:14 111129 46:18 129. 46:19 Sapa 129? Ah, nanti 46:24 kalau laporan itu masuk ke sana, 46:26 kemudian anak kita teridentifikasi, 46:29 insyaallah 46:31 data itu akan diolah 46:34 oleh Kementerian Pemberaan Perempuan 46:36 kemudian dikirim ke UPTD PPPA Provinsi. 46:39 He. 46:40 Dari UPTD Provinsi akan melacak si 46:43 korban ini rumahnya ada di mana? Di 46:45 kabupaten atau di kota? Nanti data itu 46:47 dikirim ke kabupaten atau ke kota yang 46:50 di mana anak tinggal. 46:52 Nanti dari kabupaten kota itu UPTDP-nya 46:56 akan mengirim mobil perlindungan anak. 47:00 Nah, nanti di sana si anak akan 47:03 dijemput, 47:04 akan di 47:07 tanya, akan diajak diskusi oleh tim. 47:11 Jadi ada identifikasi awal, 47:14 lalu kemudian 47:16 akan ada psikologo, ada peksos. Hasil 47:20 kajian dari ini yang kemudian akan 47:24 dibahas dalam manajemen kasus atau case 47:28 managemen. 47:29 Iya. dari manajemen kasus otomatis sudah 47:33 mulai nih anak ini perlu di rehap secara 47:38 medis, direp secara sosial anak ini 47:42 perlu dikapasiti lagi. Bagaimana dengan 47:46 pelaku? Ah, pelaku data informasinya 47:50 akan diolah oleh teman-teman kepolisian. 47:54 Jadi cyber crime dari 47:58 Polri, Polda dari terus di Polres kalau 48:02 sudah ada tapi di Polres sudah ada UPPA. 48:06 Jadi polisi khusus untuk anak ada 48:08 perempuan. 48:09 Nanti dia tangani itu kemudian dibuat 48:12 lapor kejaksaan lalu kemudian dibawa ke 48:16 pengadilan. Akhirnya si pelaku bisa 48:19 tertangkap. Insyaallah hari ini si 48:22 pelaku-pelaku itu tidak akan kabur 48:25 karena [tertawa] 48:26 ada data-datanya. 48:28 Tapi 48:30 ini tidak akan terlaksana 48:34 apabila tidak ada kerja sama dari orang 48:37 tua. Jadi orang tua menjadi penting. Ini 48:40 mungkin informasi yang bisa kita 48:42 sampaikan dan semoga ayahanda dan bunda 48:45 di rumah minimal dapat PR untuk mencari 48:49 undang-undangnya. Demikian. 48:51 Asalamualaikum warahmatullahi 48:52 wabarakatuh. 48:53 Waalaikumsalam warahmatullahi 48:54 wabarakatuh. Kita masih ada sedikit 48:57 waktu. Kalau ada yang mau ditanyakan 48:59 karena ini live silakan saja telepon 49:02 juga boleh. Ini tentang Undang-Undang 49:05 yang nomor 23 tahun 2002. Kemudian 49:09 tahun 2016 juga ada ya 35 dan semuanya. 49:12 Serta yang nomor 40 tahun 2008 49:16 ada lagi nomor berapa tuh? 23 enggak 49:19 cuma 2002 ya, ada yang 2004 ya. Semuanya 49:22 dibaca dan dipahami. 49:24 Emm. 49:26 Ini ada pertanyaan dari Bu Ida tadi 49:28 bicara tentang stiker yang bisa ditukar 49:31 uang seperti apa ya agar saya nanti bisa 49:34 ngintip gadget anak saya kebetulan baru 49:36 SMP kelas 2 tapi kesenangannya pada 49:42 gadget itu memang sudah membuat saya 49:45 berlinang air mata. Ooh. Bunda, Bunda 49:49 yang bertanya. Saya sarankan anak Bunda 49:53 diajak ke Puspagah 49:55 H 49:56 pusat pembelajaran keluarga untuk 49:59 mencarikan solusi yang lebih detail 50:01 karena akan diakses oleh psikolog ini 50:05 sudah diarah ke tingkat keparahan 50:07 apalagi ee Bunda tidak lagi ee apa 50:14 memiliki kemampuan untuk mengontrol itu 50:18 sudah bablas namanya itu. Nah, ini Bunda 50:22 kalau mau menyelamatkan anak Bunda 50:23 langsung ke Puspagah, pusat pembelajaran 50:26 keluarga di Kabupaten Ibu Bapak 50:28 setempat. Kalau di Depok ada tuh namanya 50:31 Puspaga Harmoni. Kalau di Tangerang ada. 50:34 Di DKI Jakarta hampir di setiap Rpetra 50:38 ada psikolog-psikolognya. 50:40 Kalau di Jogja di setiap Puskesmas sudah 50:42 ada psikolog. itu penting. 50:45 Kalau kita biarkan nanti Bunda juga yang 50:49 akan ee 50:50 kerepotan. 50:51 Kerepotan. 50:52 Bagus. Atas pertanyaan Ibu. Saya tidak 50:55 akan menjelaskan tentang stiker karena 50:58 ee dari stiker aja dari apa yang Bunda 51:01 sampaikan 51:02 ee mau mengintip itu berarti kontrolnya 51:05 sudah tidak ada 51:06 dan saran ini penting segera. 51:10 Demikian Bunding 51:12 ini tidak ada namanya bertanya tentang 51:14 kalau sudah terlanjur anak asik karena 51:17 kesalahan kami, apa yang harus 51:19 dilakukan? Kalau merebut gadgetnya pasti 51:22 akan terjadi 51:23 horor dan error. Tapi kalau menghapus 51:27 tadi kira-kira yang ada di situ aplikasi 51:30 apa saja yang sebaiknya tidak ada tapi 51:32 dia tetap bisa bermain gadget? Iya. 51:36 Tidak disebutkan usianya berapa. 51:38 Kalau boleh gadget tidak ada game udah 51:42 game-nya jadi buang semua game. 51:44 Pakai cara sekarang sekarang di TikTok 51:46 Bunda atau di Instagram pakai videonya 51:49 Gubernur Jawa Barat. 51:52 Halo. Kalau ada yang pasih pakai gadget 51:54 tuh lapor ke ee Dedi Mulyadi ya 51:59 ditangkap nanti nanti Pak Dedi datang ke 52:02 rumah. Ah pakai itu juga boleh. Tapi 52:05 saran saya kembali lagi ke Puspaga, 52:07 Pusat Pembelajaran Keluarga. Di sana 52:09 Bunda akan di 52:12 ajak untuk berdiskusi lebih awal dan 52:15 anak akan didampingi khusus dan ini 52:18 menjadi penting. Jangan sampai nanti ee 52:21 anak kita masuk ke ketergantungan yang 52:24 tinggi lalu dia masuk ke jaringan. Bukan 52:27 hanya anak perempuan loh, Bunding. 52:29 Heeh. anak laki dan perempuan itu 52:32 berpotensi sama-sama akan jadi korban 52:35 eksploitasi seksual melalui daring. Dan 52:38 ini menjadi penting untuk kita ketahui 52:43 bersama-sama. 52:45 Ini dari 0812 sekian sekian. Tadi saya 52:50 dengar SMP bahkan SD tidak boleh memberi 52:55 tugas di mana anak-anak kemudian harus 52:59 mencari informasinya dari gadget. Apakah 53:03 semua sekolah sudah melakukannya atau 53:06 sebagai orang tua itu apakah harus 53:09 mendatangi sekolah? Karena saya tahu 53:12 banyak anak-anak yang kalau buka gadget 53:15 ini ada tugas nih harus dilihat dari ini 53:17 ini. Nah, itu apa yang harus kami 53:20 lakukan? Bukan ke Puspaga dong ya, Pak 53:23 ya. Karena datang ke sekolah gitu atau 53:26 gimana? 53:26 Baik. Nah, ini yang mulai menerapkan 53:29 melalui surat edaran Gubernur Jawa Barat 53:32 ke setiap kepala-kepala dinas memastikan 53:36 anak-anak lagi tidak harus buat PR terus 53:39 tidak perlu buat bawa gadget, pegang 53:41 gadget. Bagaimana dengan kita bukan yang 53:44 ada di Jawa Barat. 53:46 Hah? Berarti ada di luar itu berarti 53:49 kita punya inisiatif sendiri. Segala 53:53 sesuatu. Pertama nih 53:56 harus bangun kepercayaan 53:59 100% kepada anak kita dalam penggunaan 54:03 gadget. Itu pertama. Yang kedua, kita 54:07 harus memastikan ada aturan atau ada 54:11 kesepakatan. pertama terkait dengan time 54:14 screen, 54:16 batasan waktu mengakses layar 54:20 itu harus punya itu batasan 54:22 setengah jam tadi ya, 54:23 setengah jam. Lalu kemudian yang kedua, 54:27 yang ketiga 54:29 penggunaan gadget hanya untuk hal-hal 54:32 tadi. Kalau misalnya bukan di wilayah 54:35 Jawa Barat berarti 54:38 memberi keleluasan kepada anak untuk 54:41 menggunakan gadget hanya hal-hal yang 54:44 positif. 54:45 Misalnya ada PR atau mencari informasi 54:48 atau apa itu. Ah, yang ke empat nih. 54:53 Heem. 54:55 Bagaimana kalau di gadget kita itu ada 54:59 game atau ada apa? Mungkin Bunda atau 55:03 ayah harus mendalami pertama siapa 55:07 programmer gadget ini. 55:09 Nah, 55:09 kita harus tahu programmer game ini 55:11 siapa. 55:13 kita bisa telusuri itu ada ee kredit di 55:18 setiap gadget itu sama seperti di video 55:20 atau di film tuh ada kan ada kredit 55:22 title-nya tuh 55:24 siapa ee penulisnya. Ah ini siapa yang 55:29 mengembangkan ini. Kita harus tahu latar 55:32 belakang orang itu. 55:34 Itu yang pertama. Yang kedua, kita harus 55:36 tahu siapa perusahaan yang mengembangkan 55:39 gadget ini atau mengembangkan game ini. 55:44 Lalu yang ketiga, game ini ditujukan 55:47 untuk siapa? Umur berapa? 55:50 Dan yang keempat, apa nih ee keuntungan 55:55 kalau anak memain game ini? Akhirnya ada 55:58 sesuatu yang dia dapat. Bunda Nuning, 56:00 sebetulnya dari game itu banyak yang 56:02 kita dapat. Lalu kita perlu bangun 56:05 sebuah pemahaman. Game yang ada di 56:09 gadget itu adalah permainan pasif. 56:15 Yang idealnya ada permainan 56:17 aktif. Permainan aktif itu berarti main 56:20 di luar, di mana itu semua bersama 56:22 teman-temannya. 56:23 Iya. 56:24 Karena 56:26 si programmer ini membaca pasar. 56:29 kayaknya banyak orang tua ini tidak lagi 56:32 mendampingi anaknya main, tidak peduli 56:34 main anaknya, lalu anaknya ini juga 56:36 tidak ee suka main di luar. Ah, akhirnya 56:40 dipindahlah permainan aktif itu ke 56:43 permainan pasif. Akhirnya apa dampaknya 56:46 di permainan pasif? 56:48 Anak secara sosial dia tidak dapat 56:53 perkembangan sosial tidak dapat pening 56:55 yang ada adalah emosi. 56:58 Lihat lebih ke individu. 57:01 Kalau game perang-perang yang ada 57:04 bagaimana supaya dia tidak mati berarti 57:06 dia harus 57:08 membuat lawannya itu jadi 57:12 hilang atau jadi korban. Bagaimana nih? 57:15 Akhirnya dia punya strategi. Untuk 57:18 membangun strategi sebetulnya dapat dari 57:20 game, tetapi itu maunya ya didapat di 57:25 permainan aktif. 57:28 Ini pilihan. Pilihan 57:31 apa yang terbaik untuk anak kita. Kita 57:35 ajak diskusi dengan anak kita. Dan 57:37 sebetulnya yang memutuskan adalah ayah 57:41 dan ibu. Demikian mungkin 57:44 ya kita juga sudah di penghujung nih. 57:46 Mudah-mudahan 57:48 eh closing statement dari bahasan 57:50 terkait dengan bagaimana pencegahan 57:53 eksploitasi terhadap anak-anak kita ini 57:56 bisa kita lancarkan. Silakan. 57:59 Baik, terima kasih Bunda. Yang pertama 58:02 kita harus menghimpun semua 58:04 undang-undang ke gadget kita. 58:07 pertama Undang-Undang Nomor 12 Tahun 58:10 2022 tentang 58:12 tindak pidana 58:14 kekerasan seksual. Yang kedua, 58:18 Undang-Undang Nomor ee 11 Tahun 2008 58:23 dirubah menjadi Undang-Undang Nomor 19 58:26 Tahun 2016 dirubah menjadi Undang-Undang 58:28 Nomor 1 Tahun 2024. 58:32 Kemudian yang ketiga, Undang-Undang 58:34 Perlindungan Anak. Undang-undang nomor 58:36 23 tahun 2002, Undang-Undang Nomor 17 58:40 Tahun 2016, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 58:45 2014. Nah, itu baca tuh. 58:48 Keempat, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 58:52 2023 tentang KUHP. Ah, di sana itu ada 58:56 Bu Bunda Nuning 58:58 anak-anak yang apa terkait dengan 59:00 eksploitasi seksual itu diatur di situ 59:02 berapa ee hukumannya. Lalu, 59:06 lalu yang paling penting juga nih baca 59:09 Undang-Undang Nomor 4 ee Nomor 40 tahun 59:14 2008 59:16 tentang pornografi. 59:18 Ah, terkait dengan pemanfaatan gadget 59:21 agar kita ini tidak mudah dipengaruhi 59:24 oleh orang luar atau orang lain, perlu 59:27 juga nih baca Undang-Undang Nomor 27 59:31 Tahun 2022 tentang 59:35 perlindungan data pribadi. Nah, untuk 59:38 itu jangan mudah kita memberikan 59:42 informasi. kita kan ada nih ee nih biasa 59:44 nih di bimbel ada bimbel online tuh ada 59:49 bahasa Inggris juga atau ada bahasa 59:51 bahasa atau buat PR terus ada apa nih ee 59:55 harus memasukkan ee identitas kita 59:59 sebagai orang tua yang hebat kita harus 1:00:01 pastikan 1:00:03 siapa nih pemilik ee aplikasi ini. Kalau 1:00:09 menurut kita aplikasi ini alamatnya 1:00:12 tidak ada, terus hotline pengaduannya 1:00:16 juga tidak ada, apakah layak bagi kita 1:00:20 untuk kita percayai lembaga ini? He 1:00:23 lembaga cyber negara saja bocor 1:00:27 informasi kita apalagi kepada 1:00:29 lembaga-lembaga seperti [tertawa] ini. 1:00:31 Untuk itu sebagai orang tua, sebagai 1:00:34 orang yang diberi amanah oleh Allah 1:00:37 untuk memastikan anak kita benar-benar 1:00:40 menjadi individu yang hebat, dia tidak 1:00:43 mengalami tekanan, dia tidak mengalami 1:00:45 eksploitasi, dia tidak mengalami apa eh 1:00:49 bullying atau stigma. itu semua 1:00:52 kontrolnya ada di ibu bapak. Kehadiran 1:00:56 negara 1:00:57 ditandai dengan kehadiran ibu bapak 1:01:00 membaca semua undang-undang itu. Jadi 1:01:03 jangan ada kasus baru mau lapor. Itu 1:01:06 yang pastikan. Kedua, kalau kita mau 1:01:10 meningkatkan pengetahuan kita, negara 1:01:12 sudah membentuk Puspaga, pusat 1:01:15 pembelajaran keluarga. di sana gratis 1:01:18 ada psikolog. Ibu mau nanya apa saja 1:01:21 boleh telepon tanya anjang sana ke sana. 1:01:26 Boleh juga undang ke sekolah kita supaya 1:01:30 semua orang tua murid tahu. Kalau sudah 1:01:33 berkasus, kalau ada yang kita curigai, 1:01:36 kita telepon ke Sapa 129 0811129129. 1:01:48 Insyaallah di sana anak kita akan 1:01:51 ditangani oleh unit pelayanan terpadu, 1:01:55 unit pelayanan teknis daerah pemberaya 1:01:58 perlindungan perempuan dan anak. Dan itu 1:02:02 sudah ada aturannya PPRES nomor 55 tahun 1:02:07 2024. 1:02:09 Sebagai orang tua perlu juga baca pepres 1:02:11 itu supaya kita tidak ee merasa tidak 1:02:15 tahu apa-apa. Demikian. 1:02:17 Semoga Allah memberikan cahaya kepada 1:02:20 kita yang hari ini sudah semakin lembut 1:02:23 mendampingi, membimbing, mendampingi 1:02:25 anak-anak kita malah lebih ee lembut 1:02:29 lagi. Demikian. Asalamualaikum 1:02:31 warahmatullahi wabarakatuh. 1:02:33 Waalaikumsalam warahmatullah 1:02:35 wabarakatuh. Terima kasih, Dr. Hamid 1:02:38 Patilima. Dan untuk ikhwan akhwat yang 1:02:40 bersama-sama Radio Silaturahim 1:02:44 catat Puspaga itu adalah satu pertama 1:02:47 yang bisa kita hubungi ketika mengalami 1:02:49 sesuatu di rumah dengan buah hati kita. 1:02:53 Dan kalau bisa hapus aplikasi game sih 1:02:56 keren juga ya. Baik, banyak sekali yang 1:02:58 memang jadi PR ee orang tua milenial 1:03:01 sekarang ini. Mudah-mudahan semuanya 1:03:04 dimudahkan Allah ya. Terima kasih sekali 1:03:06 lagi. Billahi taufik wal hidayah. 1:03:08 Wasalamualaikum warahmatullahi 1:03:10 wabarakatuh. 1:03:10 Waalaikumsalam.