Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Brail TV.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, ikhwan
- akhwat rahimakumullah.
- Syukur alhamdulillah kita dikaruniai
- kesempatan untuk bersama-sama di acara
- psikologi keluarga yang mudah-mudahan
- bahasannya akan
- mengoptimalkan diri kita sebagai hamba
- yang sesuai dengan peran kita sebagai
- ayah ibu sebagai anak sebagai saudara
- atau apapun juga. Dan tidak lupa salam
- selawat kita lantunkan kepada junjungan
- umat Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam. Semoga kelak kita dipertemukan
- dengan beliau di saat-saat yang sangat
- kita rindukan di yaumil akhir.
- Ikhwan akhwat, seperti biasa, Ustaz yang
- akan mempersuasi kita sudah hadir
- bersama-sama di sini. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh,
- Ustaz Abu Bakar.
- Mudah-mudahan apa yang menjadi bahasan
- hari ini pun akan mempersuasi kita. Oh
- ya, Mas Krisna mohon izin enggak bisa
- hadir karena beliau sedang ada di
- Kalimantan menghantarkan buah hatinya
- menembuh Mahligai rumah tangga.
- Mudah-mudahan segera kembali sehingga
- minggu depan kita bisa bersama-sama
- lagi. Ustaz, sebelum kita mulai kita
- akan
- bersama-sama membaca ummul kitab.
- [Musik]
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- [Musik]
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- [Musik]
- arrahmanirrahim maiki
- yaumiddin iyyaka na'budu wa iyyaka
- nasta'
- ihdinasirathal mustaqimathalladzi
- giril magdubi alaihimadin.
- [Musik]
- Ikhwan akhwat
- rahimakumullah. Dua kasus yang hari ini
- akan dibahas oleh Ustaz Husein dan Ustaz
- Abu Bakar. Yang pertama, Ustaz, saya
- seorang istri yang menderita karena
- ditinggal meninggal suami sejak 14 tahun
- yang lalu dan saya menghidupkan
- anak-anak sendiri. Saya pikir mereka
- akan baik-baik saja. Ternyata setelah
- dewasa mereka tidak suka dengan saya,
- Ustaz. Saya baru tahu.
- Mereka sangat saya harapkan setelah
- besar bisa menjadi pengganti ayahnya.
- Ternyata tidak. Mereka senang melakukan
- perbuatan yang tidak pantas. Mereka
- melakukan sesuatu yang tidak benar.
- Keluar malam, pagi pulang dan terus
- terus dan terus tidur. Saya tidak tahu
- apa yang menyebabkan mereka seperti ini.
- Dan akhir-akhir ini dia sudah melakukan
- perbuatan yang tidak baik dengan saya,
- Ustaz. Dia marah-marah, bentak-bentak.
- Apa yang harus saya lakukan? Apa yang
- saya perbuat untuk dirinya agar mau
- kembali normal? Itu yang pertama,
- Ustaz. Yang satunya juga dari wanita
- ini. Saya satu-satunya anak wanita.
- Katanya kalau anak laki-laki ustaz itu
- perlu rida orang tua. Sementara anak
- perempuan perlu rida suami. Karena saya
- satu-satunya anak yang harus merawat
- orang tua. Suami akan tugas ke luar
- negeri sementara ayah sedang
- sakit-sakitan. Apa yang harus saya
- lakukan, Ustaz? Terima kasih. Iya, itu
- dua kasusnya.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Allahumma
- sholli ala Muhammadin wa ali Muhammad.
- Assalamualaika ya Rasulullah. Assalamu
- alaina wa ala ibadillah shihin.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullah.
- Allah minika
- rahmadunka ilman nafna
- bima wudubika minza
- wadal wazal wal fitar wa alhimna rusdak
- waati nufusana
- taqwaha waliyuha wa maulaha amma
- ba'du kewajiban untuk berbakti kepada
- kedua orang tua bukan Bukan hanya
- kewajiban
- laki-laki. Baik dia sudah
- beristri maupun belum
- menikah. Begitu juga seorang wanita
- sebelum bersuami. Setelah bersuami
- mereka wajib berbakti kepada ayah ibu
- mereka.
- Dan tidak ada sama sekali
- pertentangan antara bakti kepada kedua
- orang tua dengan ketaatan kepada
- suami. Begitu pula seorang laki-laki
- tidak ada sama sekali pertentangan di
- antara kewajiban dia pada kedua orang
- tua dan kewajiban dia kepada istri dan
- anaknya.
- Kewajiban tersebut dapat dilakukan
- secara
- bersama-sama.
- Apabila orang tua sudah lanjut
- usia atau orang tua dalam kondisi lemah,
- tidak lagi bekerja, maka kewajiban
- tersebut jatuh pada
- anaknya. Di samping mereka memberikan
- nafkah kepada kedua orang tuanya,
- memberikan nafkah juga untuk
- keluarganya.
- Banyak orang malu, "Ustaz, pendapatan
- kita ini sedikit tidak
- mencukupi." Kalau hati
- kamu berniat untuk berbakti pada ayah
- ibu kamu, malah kebaktian ini akan
- membuka pintu rezeki bagi kamu dan
- keluarga kamu. Tidak mungkin Allah
- memerintahkan kita untuk berbakti pada
- ayah ibu kita lalu Allah meninggalkan.
- Kita harus tahu bahwa antara
- norma-norma syariat dengan norma-norma
- alamiah itu
- berhubungan. Begitu kita mentaati Allah,
- Allah akan buka pintu rahmat
- keberkahannya dari langit maupun bumi.
- Jadi jangan kita beranggapan begitu kita
- mematuhi norma syariat, norma alamiah
- akan menjadi musuh kita sebaliknya.
- Karena alam semua dalam kendali
- Allah. Saian anyakul lahu kunakun.
- Begitu orang taat pada Allah, pintu
- keberkahan dari langit dan bumi akan
- dibuka. Tapi kalau di hatinya tidak ada
- niat untuk berbakti pada ibunya, dia
- hanya peduli pada istri dan anaknya,
- Allah tutup pintu rezeki. Astagfirullah.
- Dan dia menjadi anak yang
- durhaka. Dia hanya peduli terhadap
- dirinya, tapi tidak peduli terhadap
- kedua orang tuanya.
- Dia menjadi
- manusia yang mampu berumah tangga,
- memiliki pendidikan, pekerjaan karena
- jasa kebaikan kedua orang
- tuanya. Oleh karena itu, dengan tegas
- setelah hak Allah maka datanglah hak
- kedua orang tua kita.
- Waqbuka alla tabudu illa wabil walida
- ihsan.
- Allah
- menetapkan ini ketetapan langsung datang
- dari Allah.
- bahwa kalian dilarang untuk menyembah
- kecuali hanya kepada
- Allah. Dan Allah perintahkan kalian
- untuk memperlakukan kedua orang tua
- kalian dengan
- ihsan. Baik dia beriman tidak beriman,
- kewajiban kita sebagai anak
- memperlakukan mereka dengan baik dan
- mulia. Allah tidak mengatakan, "Dan
- wajib bagi kalian untuk mentaati kedua
- orang tua." Tidak.
- Karena tidak semua perintah orang tua
- bisa diikuti. Kalau perintahnya
- bertentangan dengan larangan Allah ya
- atau dengan perintah Allah, maka kita
- tidak boleh mentaati kedua orang tua
- kita dalam kemaksiatan kepada
- Allah. Contohnya orang tua memerintahkan
- kita untuk beli minuman keras, kita
- enggak boleh
- taati. Atau orang tua kita memerintahkan
- kita bekerja di hal satu pekerjaan yang
- berhubungan dengan yang haram. Kita
- enggak boleh taati. Katakan pada orang
- tua kita, "Ayah, ibu, ini perbuatan dosa
- yang bisa mencelakakan saya dan juga
- mencelakakan ayah ibu. Bukan karena saya
- tidak ingin taat atau berbuat
- kebajikan atau orang tua memerintahkan
- anaknya berbuat zalim pada istrinya."
- ini enggak boleh ditaati karena ini
- menyangkut hak orang lain. Tapi kalau
- menyangkut hak orang tua maka lain
- persoalan. Contohnya istrinya berbuat
- aniaya kepada ibunya, tidak menghormati,
- menyakiti perasaannya, maka dengan
- sendirinya apa? Anak kalau tidak mampu
- sama sekali mengubah kebiasaan istrinya
- memberikan nasihat yang baik, maka pada
- saat itu si anak ya
- dibolehkan untuk meninggalkan
- istrinya, mengganti istrinya dengan
- wanita lain yang lebih saleh. Dan contoh
- yang paling jelas, seorang pemain bola
- nonmuslim seperti Ronaldo, dia
- tinggalkan istrinya karena tidak
- menghormati orang tuanya. Ronaldo
- mengatakan, "Saya ini bisa menjadi
- seorang pemain
- bola seperti saat ini karena jasa ibu
- saya. Dia yang mencuci menjadi kulit
- cuci untuk membelikan sepatu buat saya.
- Kalau kamu tidak bisa menghargai ibu
- saya, saya tidak bisa menerima kamu di
- sisi saya nonmuslim."
- Jadi seorang anak bagaimanapun
- juga di saat dia mulai tumbuh dewasa,
- bekerja berpenghasilan baik, dia belum
- beristri, sudah beristri, wajib
- bertanggung jawab terhadap kedua orang
- tuanya. Baik mereka itu orang beriman
- atau tidak, ini merupakan kebaktian yang
- Allah perintahkan.
- Nah, seorang wanita juga wajib untuk
- berbakti pada ayah ibunya dalam
- berbicara tidak menyakiti orang tuanya.
- Dia berbuat baik pada orang tuanya pada
- apa-apa yang tidak bertentangan dengan
- keridaan
- Allah. Di samping dia berbuat baik pada
- ayah ibunya, dia juga mentaati suaminya.
- Mentaati suami juga bukan pada apa-apa
- yang diharamkan Allah. Jadi kewajiban
- kita untuk taat pada Allah dan taat
- kepada suami di jalan Allah. Begitu juga
- pada ayah ibu kita. Nah, dalam kasus
- yang Ibu alami tadi, orang tua
- sakit-sakitan tidak ada yang merawat
- mereka. Sedangkan
- ibu harus pergi bersama suami ke luar
- negeri, maka
- ibu bisa meminta pada keluarga atau
- siapa untuk mendampingi orang tua kalau
- bisa digantikan. Ya. Kemudian berikan
- nafkah buat yang
- menjaga. Berikan nafkah untuk yang
- menjaga. Buat yang menjaga.
- Tapi kalau tidak ada sama
- sekali, Ibu bisa minta izin sama suami,
- minta
- maaf kalau saya tidak bisa ikut. Bukan
- karena saya enggan tapi karena orang tua
- saya enggak ada yang merawat. Dia butuh
- saya. Jadi, saya minta keikhlasan kamu
- untuk mengizinkan saya mendampingi kedua
- orang
- tua. Bagaimana seandainya konsekuensinya
- suami mengancam? Kalau kamu tidak ikut
- saya, kita berpisah aja. Astagfirullah.
- Maka kalau si wanita
- mengatakan, "Bukan saya enggak mencintai
- kamu, tapi saya ingin berbakti pada ayah
- ibu saya membesarkan saya. Saya bisa
- menjadi seperti ini, jadi istri dan ibu
- bagi anak-anak kamu karena kebaikan
- kedua orang tua. Kalau memang harus
- berpisah, dia siap untuk menerima." Ini
- kebaktian untuk orang tua. Tapi kalau
- tidak ada
- alasan dia tidak taati suami ya buat
- suami tidak rida pada apa-apa yang
- dilakukan dan apa yang diminta suami
- yang menjadi
- haknya. Yang menjadi hak sua suami dia
- tidak penuhi bahkan melakukan perbuatan
- yang menyakitkan. Baru di sini dia dalam
- keburkaan Al. Tapi kalau dalam kasus di
- mana dia harus merawat ayah
- ibunya yang membesarkan dia, yang
- mendidik dia, dan tidak ada yang bisa
- menggantikan. Maka si istri minta
- keikhlasan suami untuk mendampingi ayah
- ibunya. Kalau sampai dia mengancam juga
- untuk
- meninggalkannya, insyaallah Allah
- berikan pengganti yang lebih baik lagi.
- Kalau di dunia tidak, di hari akhirat
- Allah akan gantikan yang lebih baik.
- Nah, ini bukan sikap durhaka terhadap
- suami, tapi terjadi
- tanazuk tarik-menarik di antara satu
- kebaktian pada ayah ibu, ketaatan kepada
- suami dan tidak ada yang bisa
- menggantikan dia untuk merawat orang
- tuanya. Tapi kalau dia punya
- saudara-saudara, dia berikan bantuan
- pada saudaranya untuk merawat
- ibunya. Dan hak orang tua ini setelah
- hak Allah Subhanahu wa taala. Seorang
- wanita walaupun dia mendapatkan rida
- suami tapi kalau dia durhaka pada orang
- tua dia tidak akan mencium.
- Jadi jangan kita menempatkan suami pada
- kedudukan yang berlebihan dari
- haknya. Allah perintahkan fashatu
- qonitatun hafidatun lilaibi bimaid.
- Wanita yang saleh itu yang taat pada
- Allah, taat pada suami, menjaga
- kehormatannya pada saat suami tidak ada.
- Karena apa? Penjagaan Allah. Karena dia
- menjaga Allah, Allah juga menjaga
- mereka. Tapi dalam kasus orang tua di
- sini
- beda. Jadi kita tidak ingin sama sekali
- ya kita ini punya anggapan yang
- merendahkan apa wanita seolah-olah cukup
- dengan keridaan suami. Walaupun derhaka
- pada ibu dia akan selamat. Ini merupakan
- omong kosong. Ini merupakan apa?
- Kelanjutan dari tradisi jahiliah.
- Imtidadun lil adat wat taqalidil
- jahiliyah. Seperti jahiliah orang-orang
- Arab dahulu. Karena di Indonesia juga
- banyak yang seperti ini.
- Mereka mengharuskan perempuan itu taat
- pada suaminya walaupun durhaka pada ayah
- ibunya. Dan suami sering mengancam kamu
- kalau tidak dapat keridaan saya tidak
- akan mencium bau surga. Padahal suaminya
- zalim. Suaminya tidak menjalankan
- kewajiban. Iya. Mereka menganggap wanita
- ini apa? Wanita kan pendampingnya. Allah
- perintahkan waasirun
- bil maruf. Gauli mereka dengan cara yang
- makruf.
- Fainumun. Kalau kamu tidak menyukai
- mereka pada sebagian hal jangan hanya
- fokus perhatian kamu pada apa yang kamu
- tidak
- suka. Kamu enggak menyukai sesuatu di
- sisinya banyak kebaikan-kebaikan.
- Jangan satu keburukan ya membuat mata
- kamu menutup dari segala kebaikannya. Di
- mana keadilan? Di mana rasa rah
- rahmat? Nah, berkaitan dengan yang kedua
- tadi, seorang ibu ditinggal wafat oleh
- suaminya selama 14 tahun. Dia merawat
- anak-anaknya berjuang dengan susah
- payah.
- Ternyata dia kecewa dengan sikap anak
- yang diharapkan bisa menjadi pengganti
- orang tuanya di saat dia tua. Ternyata
- anak tersebut tidak peduli pada ibunya,
- tidak menghargai kebaikannya, bahkan
- bersikap kurang
- ajar. Kira-kira kenapa sampai terjadi
- hal seperti
- ini? Jawabannya, Ibu, maaf ya.
- Dia mengalami kadar seperti ini.
- Sebetulnya output yang keluar
- daripadanya tergantung input yang masuk.
- Iya. Kalau inputnya baik, ibu didik dia
- untuk taat pada
- Allah. Ya. Kemudian ibu juga perintahkan
- dia untuk menjalankan perintah Allah.
- Perkenalkan juga kewajiban dia sebagai
- seorang anak.
- Ya, dari pelajaran-pelajaran yang Allah
- berikan dalam Al-Qur'an. Kemudian juga
- jaga lingkungan pergaulannya agar tidak
- bergaul dengan lingkungan yang tidak
- baik yang bisa mencemari
- jiwanya. Kalau jiwanya dikuasai hawa
- nafsu, hidup dalam pergaulan juga dalam
- lingkungan seperti ini, akhirnya apa?
- Nafsunya menutup kesadarannya.
- Oleh karena itu, orang tua yang mendidik
- anaknya untuk taat pada Allah,
- menghormati kebesaran keagungan Allah,
- Allah tanamkan di hati anak rasa hormat
- pada orang tua.
- Kemudian ibu juga dalam hidup ini ibu
- bekerja merawat anak, jadikan niat
- tujuannya ibadah. Jangan ibu gantungkan
- harapan ibu kepada anak ibu. Anak ibu
- ini makhluk. Seandainya dia peduli
- terhadap ibu, paling hanya sedikit.
- yang bisa diberikan untuk ibu. Tapi
- kalau ibu gantungkan harapan ibu kepada
- Allah, Allah akan memberikan segala
- kebaikan buat. Jadi sebetulnya di antara
- hal yang penting untuk kita biasakan
- dalam diri kita hendaknya kita hanya
- bergantung pada Allah. Bapak, Ibu dalam
- mendidik anak jangan bilang di hari tua
- nanti anaknya bakal mengayomi mereka
- atau merawat maupun memberikan nafkah
- buat mereka. Tidak. Dia minta kepada
- Allah. Kalau Allah yang memberikan dia
- karunia, anugerah, kehormatannya
- terjaga, kalimatnya dihormati. Tapi
- begitu kita gantungkan harapan pada
- anak, begitu anak memberi sedikit
- mengungkit panjang
- menyebut-nyebut, merendahkan orang
- tuanya. Saya teringat kepada satu
- orang ee Walaiti yang lahir di
- Habarumut.
- usianya cukup lanjut pada saat
- itu.
- Anak-anaknya sudah punya pekerjaan
- penghasilan besar. Sedangkan si bapak
- ini sudah tua lebih 80
- tahun tetap berdagang. He.
- Dia dagang kopi ya. Dia bawa kopi
- diserahkan kepada orang-orang yang dia
- kenal atau dagang ikan asin, ikan cucut,
- ikan
- lainnya. Dia taruh kemudian nanti
- beberapa ram kemudian dia tagih.
- Anaknya mengatakan, "Ya, Abah nakfi,
- kamu enggak usah kerja. Kami akan cukupi
- kebutuhan kamu." Dia bilanglah, "Aba
- ingin sampai akhir hayat tidak
- bergantung kepada siapapun kecuali hanya
- pada Allah Subhanahu wa taala."
- Malah mereka ingin memberi untuk
- anak-anaknya. Ini betul-betul apa? Ini
- betul-betul kemuliaan. Hingga sampai
- akhir hayatnya anaknya tidak
- berani mengucapkan sesuatu atau
- melakukan sesuatu yang merendahkan orang
- tuanya. Abah tidak bergantung pada
- kalian. Kalau anaknya memberi diterima
- tapi bukan dalam bentuk ketergantungan
- atau permintaan.
- Maksudnya bukan kita menyepelekan peran
- anak, tapi hendaknya hati kita jangan
- pernah kita gantungkan pada anak. Jangan
- gantungkan pada makhluk. Tapi waallahi
- fatawakalu intuntum mukminin. Kalau
- kalian beriman hendaklah kalian
- bertawakal kepada Allah. Seperti firman
- Allah innamal mukminun alladina
- ukirallah
- wajilat wauliat alaihim
- ayatuhuathum imana
- waihim yatawakalun.
- Sesungguhnya orang-orang yang
- benar-benar beriman ini kalau disebutkan
- nama Allah hati mereka bergetar antara
- rindu ya dan khawatir. Rindu kepada
- Allah penuh kecintaan. Khawatir dari
- amal-amal perbuatannya. Dia yakin Allah
- tidak akan pernah berbuat anay. Tapi dia
- khawatir amalnya ini ya yang dia perbuat
- membuat Allah Subhanahu wa taala
- mewalingkan wajahnya daripadanya. Orang
- kalau ada cinta pasti takut.
- cinta. Dia takut kalau sampai kekasih
- yang dicintai berpaling
- daripadanya. Wauliat alaihim ayatum
- imana. Kalau dibacakan ayat-ayat Allah
- imannya bertambah. Wahahim yatawakalun.
- Dan hanya kepada Allah mereka
- bertawakal. Oleh karena itu, Nabi yang
- menghadapi cobaan yang luar biasa dalam
- perjalanan hidupnya di Makkah maupun di
- Madinah. Allah mengajarkan kepada satu
- doa yang amat indah.
- Fain tawallau faqul hasbiallahu la
- ilahaillahu alaihi tawakaltu
- wahua. Kalau mereka berpaling wahai
- Rasulullah katakan
- hasbiallah Allah mencukupi aku. Aku
- sepenuhnya berserah diri pada Allah.
- Lailahaillahu tiada Tuhan selain
- daripadanya. Alaihi tawakal. Hanya
- kepadanya aku bertawakal. Wahua rabbul
- arsyil adim. Dan dia penguasa arasy yang
- maha
- agung. Ada seorang wanita ya menikah
- dengan seorang sebagai istri
- kedua. Allah kasih subhanallah ya. Tidak
- lama kemudian mungkin suaminya sudah tua
- ya meninggalkan dirinya. Si perempuan
- ini betul-betul merupakan perempuan yang
- rajin bekerja, berusaha.
- Allah kasih
- apa? Waktu dia meninggal dunia, dia
- meninggalkan kekayaan yang luar biasa.
- Masyaallah. Bukan
- sedikit. Yang menikmati anaknya yang
- laki-laki hidup dari hasil peninggalan
- kekayaan ibunya. Termasuk suami juga
- mendapatkan dan dia selalu
- berinfak. Jadi kalau kita perhatikan
- wanita ini tidak kalah dengan pria.
- Kalau dia katakan memiliki anak dan dia
- sebagai seorang janda, Allah akan bantu
- dia selagi dia berharap pada Allah. Tapi
- di saat dia berpegang kepada makhluk,
- pada saat itu Allah akan serahkan
- dirinya kepada pegangan menggantinya.
- Jadi yang paling nikmat ini kita selalu
- bertawakal, berpegang pada Allah. Nanti
- begitu kita bertawakal, Allah akan apa?
- Gerakkan anak-anak kita semuanya apa?
- Untuk berbakti pada kita, peduli
- terhadap kita. Sampai ada orang tua yang
- pusing karena diperebutkan sama
- anak-anaknya. Pokoknya Umi hari ini
- bareng saya. Umi mau apa aja? Ada yang
- menawarkan bahkan Umi mau rumah saya
- belikan rumah di samping rumah saya. Di
- samping rumah berlomba-lomba nawarkan
- mobil nawarkan ini. Masing-masing
- anaknya memperebutkan ibunya. Kenapa?
- Karena kecintaan mereka. Karena apa?
- Ibunya memperlakukan mereka dalam rangka
- ibadah. Mengharapkan rida Allah. Allah
- berserah diri pada Allah dan mereka tahu
- bagaimana perjuangan ibunya. Ada seorang
- wanita saya kenal betul suaminya
- meninggal dunia. Dia menjadi seorang
- janda. Anaknya banyak yang luar
- biasa. Dia berniaga dagang sedikit demi
- sedikit, sedikit demi sedikit.
- Subhanallah. Ternyata wanita ini justru
- apa? Yang tegar menghadapi goncangan.
- Orang-orang yang masih ada suaminya dari
- keluarganya tidak punya apa-apa.
- Sedangkan dia bisa mendidik anak-anak
- menjadi orang
- suksesyaallah. Dan semua anaknya tunduk
- di hadapan dia. Kenapa? Karena dia tidak
- pernah sama sekali bergantung pada
- mereka. Bahkan anak-anak bisa berusaha
- dari modal
- dia. Jadi, Ibu untuk tidak merasa
- kecewa jangan pernah gantungkan harapan
- ibu kepada makhluk. Gantungkan harapan
- ibu kepada Allah. Ibu akan menjadi
- wanita mulia. Anak-anak ibu akan
- menghormati ibu dan berdoalah pada Allah
- Taala agar anak ibu diberikan hidayah.
- Diberikan hidayah dan mulai saat ini
- banting haluan. Jadikan harapan ibu
- kepada Allah. Mudah-mudahan dia akan
- mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu
- wa taala. Jadi kita harus ingat
- anak-anak kita ini akan mengeluarkan ya
- tergantung apa yang masuk ke dalamnya.
- Kalau
- inputnya pendidikan dengan mengharapkan
- rida Allah berjalan di atas jalannya,
- insyaallah yang keluar pun seperti itu.
- Iya. Nah, banyak orang tua mendidik
- anaknya hingga sekolahnya berhasil
- sukses. Tapi
- sedikit yang diperkenalkan kepada Allah,
- diingatkan akan kewajibannya
- menjaganya. Akhirnya Allah Subhanahu wa
- taala tinggalkan si ibu bersama
- anak-anaknya. Karena si ibu sama sekali
- apa? Tidak menghargai Allah yang
- menciptakannya ataupun menciptakan
- anak-anak. Nah, mudah-mudahan ibu
- mendapat hidayah, anak-anak ibu juga
- mendapat hidayah dan Allah gantikan rasa
- duka di hati ibu dengan pengganti yang
- baik. Tentramkan hati ibu, pasrahkan
- jiwa ibu, jadikan ibu sebagai wanita
- salihah. Amin ya rabbal alamin.
- Wallahuam. Masyaallah.
- Jadi biar bagaimanapun juga berbaktinya
- anak-anak pada ibunda tidak lepas dari
- usaha sekaligus berserah diri ya. Buah
- jatuh tidak jauh dari pohonnya pernah
- dengar itu. Sementara nanti Ustaz Abu
- Bakar akan tambahkan yang membuat kita
- semakin tahu harus bagaimana.
- Kalau sekarang sudah ada caregiver, apa
- yang Ustaz Husein Alatas tadi sampaikan
- untuk bisa
- menyerahkan ibu yang sedang kurang
- sehat. Nah, seperti apakah gerangan
- Ustaz Abu Bakar
- menjelaskannya? Mari kita simak.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah segala puji dan syukur
- kepada
- Allah yang
- senantiasa kita
- rasakan. Puji dan syukur ini kita
- merasakan. Rasanya seperti apa?
- Kita tidak bisa menentukan rasanya
- seperti apa, tapi bagaimana nikmat itu
- akan terus berjalan ketika puji dan
- syukur selalu kita
- dapatkan dan kepada
- Rasulullah sebagai panutan
- kita yang
- memberikan telahan
- Dan bagaimana kita bisa
- mencontohnya yang dikirim oleh Allah
- sebagai contoh-contoh yang
- terbaik? Apakah kita akan
- tinggalkan?
- Tidak. Kita tidak akan tinggalkan.
- Kita akan bersama dengan Rasulullah,
- dengan para sahabat untuk
- benar-benar
- memberikan kepada kita sesuatu yang
- terbaik.
- Ada sesuatu yang
- terjadi. Seorang ibu, suami
- istri sedang
- asik-asyiknya mendidik
- anak. Sedang asyik-asyiknya mendidik
- anak, tiba-tiba seorang ayah
- meninggal. Itu ketentuan dari Allah.
- ketika itu
- meninggal. Ketika itu sudah enggak ada
- lagi ayahnya. Bagaimana si ibu itu? Dia
- akan
- kalut. Anak-anaknya masih dalam proses
- perkembangan.
- masih dalam proses perkembangan yang
- harus dididik, yang harus diarahkan,
- yang harus
- disekolahkan dan dia selalu
- terpikirkan nanti apa yang
- terjadi. Nah, si ibu tuh lagi bingung,
- lagi merasakan kebingungan dan dia
- berharap bahwa anaknya ini nanti sebagai
- pengganti
- ayahnya. Jadi, si anak ini akan
- menggantikan ayahnya.
- Jadi si ibu tuh berharap kepada anak
- itu. Jadi dia mengharapkan anaknya
- sebagai
- pengganti
- ayahnya dengan sendiri dia akan berikan
- pendidikan.
- tempat dia berusaha bekerja
- untuk
- memperhatikan memperhatikan bagaimana
- anak itu menjadi besar nantinya.
- Harapannya dia terhadap anak itu
- besar, harapannya selalu
- besar sehingga dia enggak tahu apa yang
- terjadi. Dia usahakan pendidikannya,
- sekolahnya sampai dia sudah besar.
- Ketika dia sudah
- besar, apa yang terjadi?
- yang terjadi
- [Musik]
- kebalikannya. Ibunya ngomong sedikit,
- dia
- marah. Memanggil
- membentak dengan seenaknya dia berkata
- seperti itu. Dia mengatakan anaknya
- mengatakan sesuatu kepada ibunya
- seenaknya.
- Seenaknya dia bicara
- mengomong enggak peduli di depan
- orang. Si ibu sudah mulai merasa
- ciut, merasa dirinya
- rendah di hadapan
- anak-anaknya. Dan anak itu sudah mulai
- bergaul.
- bergaul dia malam keluar sampai pagi dia
- tidur pagi enggak pernah diperhatikan
- apa yang dia harus
- lakukan. Salat pun tidak
- terjadi. Nanti salat nanti tidak. Kalau
- lagi pusing dia salat. Kalau lagi enak
- dia senang dia enggak salat.
- Jadi kalau salat itu ketika dia
- pusing, ibu sudah kebingungan bagaimana
- ini yang
- terjadi. Kebingungannya ini membuat
- hatinya
- resah. Apa yang
- terjadi? Kalau kita perhatikan.
- Kalau kita perhatikan bagaimana dia pada
- waktu masih ada ayahnya dan tidak ada
- ayahnya. Waktu masih ada ayahnya dia
- senang, dia bergembira, dia senang.
- Ketika tidak ada ayahnya tidak
- mendapatkan yang diberikan harus kamu
- sekolah, kamu harus begini.
- dipaksakan untuk melakukan
- sesuatu. Jadi, si anak tuh enggak bisa
- berbuat apa-apa. Dia akan nurutin ibunya
- aja. Sampai sudah mulai
- besar, anak itu
- berpikir, "Saya dari dulu suruh begini,
- suruh begitu, suruh begini." Enggak ada
- artinya. Beda waktu masih ada
- ayah, ayah yang melakukan, saya tidak
- melakukan. Dia
- bingung. Akhirnya dia memberontak kepada
- si
- ibu dia. Waktu dia ingin memberontak,
- waktu dia
- berontak, si ibu kaget. Kenapa kamu
- memberontak seperti ini?
- Dia tidak
- peduli. Dia marah, dia membentak, dia
- memanggil, dia minta sesuatu, dia
- bangun. Kenapa kok saya tidak
- dibangunin? Kenapa kok saya selalu
- seperti
- ini? Jadi si anak itu
- menuntut bagaimana tuntutan yang
- terjadi?
- Coba kalau kita
- perhatikan waktu dia sama ayahnya masih
- enak, ketika tidak ayahnya dia harus
- seperti ini, dia harus seperti itu. Dia
- semuanya dia tidak tahu apa yang dia
- harus lakukan.
- Pertama kali kita mendengar apa yang
- disampaikan oleh Ustaz Hisin bahwa ibu
- selalu berharap kepada
- anak-anaknya. Dia mengharapkan sebagai
- pengganti ayahnya
- nanti yang nanti dia akan
- tergantung, dia akan menggantungkan
- dirinya kepada si anak. Apa yang terjadi
- ketika dia
- menggantungkan? Dia mengharapkan kepada
- anak-anaknya ternyata berbalik. Dia
- tidak seperti yang
- diharapkan. Dia enggak seperti yang
- diharapkan melainkan berlebihan.
- Kalau kita tergantung pada orang lain,
- maka kita akan tergantung pada kalau
- kita tergantung pada anak, maka kita
- akan berubah dan si anak enggak
- tahu. Tapi kalau kita bergantung kepada
- Allah, insyaallah berubah semuanya.
- Ketergantungan pertama saat ayah itu
- meninggal, kita serahkan kepada
- Allah.
- Bagaimana Allah menetapkan bahwa
- anak-anak ini akan
- berkembang? Di
- sini
- ketergantungan sangat menentukan. Kalau
- kita tergantung pada Allah, insyaallah
- anak-anak itu akan lebih baik.
- Tapi kenyataannya
- tidak.
- Akhirnya berubah perubahan itu
- terjadi. Nah, sekarang bagaimana kalau
- perubahan itu sudah terjadi? Keinginan
- dia, harapannya dia tidak seperti yang
- diinginkan. Yuk, kita kembali
- lagi. Kita kembali lagi. Kembali. bahwa
- kita berharap kepada
- Allah. Itu yang
- pertama. Jadi kita kembali lagi, kita
- berharap pada Allah, kita kembalikan
- kepada
- Allah. Dan yang kedua,
- bagaimana menghadapi anak-anak ini? Kita
- tetap kita
- tetap ketika dia tertidur kita
- bangunkan karena dia anak bukan
- suami. Dia anak bukan suami. Maka kita
- tetapkan, kita tergantung pada Allah.
- Kemudian kita rasakan dia itu anak kita.
- anak kita lakukan bagaimana kita arahkan
- ketika dia malam keluar kita
- katakan
- tidak waktu dia tertidur kita
- bangunkan kita bangunkan dia mau marah
- dia mau kesal dia mau tidak kita diam
- kita tegarkan diri
- kita tegar
- Kita diam, dia marah, kita diam
- dulu. Ketika
- dia udah udah begitu kita diam, yuk
- bangun
- salat. Enggak perlu, udah enggak usah
- itu bangun salat.
- Kita hanya mengatakan dengan ketegasan
- bangun
- salat dengan seperti ini anak itu akan
- lama kelama enggak bisa sekali.
- Karena kita berharap pada Allah, Allah
- akan berikan pada dianya untuk
- merubah bagaimana dia bisa
- berubah. Dengan tegas kita katakan
- bangun salat. Ketika dia keluar malam,
- kita katakan tidak keluar
- lagi. Akhir dia keluar enggak apa-apa.
- Enggak apa-apa dia keluar tuh enggak
- apa-apa. Begitu balik besok tidak
- seperti
- ini. Waktu dia mau keluar magrib dia mau
- keluar kita katakan jam 09.00 sudah di
- rumah. Wah, Ibu bagaimana gimana? Diemin
- aja, biarin aja dia mau ngomel, dia mau
- apa, biarin. Tapi tetap kita katakan jam
- 09.00 sudah di
- rumah. Dengan sendirinya kata-kata jam
- 09.00 di rumah pikirannya
- terus-menerus. Dia pas lagi main, "Ah,
- jam
- 09.00 jam 10." Ah, sudah jam 11.00
- sudah. Tapi tetap kata-kata kita yang
- masuk ke dalam
- pikirannya jam 09.00
- sudah di
- rumah dengan tegas kita katakan jam
- 09.00 sudah di rumah. Terus nanti lagi
- kalau pasi pulang kita bangunkan, kita
- berbicara dia mau dengar, dia enggak mau
- dengar, biarkan
- saja, biarin
- aja. Tapi kita tetap menyampaikan yang
- benar. Kita berkata, kita berbicara
- tetap kembali kepada harapannya kita
- kepada
- Allah. Kita rubah, kita merubah. Bangun
- salat, pulang jam
- 09.00. Kalau ketemu, yuk kita makan. Ah,
- udah udah sudahudah enggak mau makan.
- Yuk, kita makan. Jadi taruh makan di
- meja
- makan. Nanti ketemu lagi. Kita berbicara
- dengan baik tapi sedikit enggak ngomel,
- enggak marah. Kita tidak perlu marah dan
- tidak menyalahkan. Tuh kamu keluar
- malam.
- Tidak. Nih tidur pagi ini kayak gini
- enggak baik. Karena malamnya malamnya
- keluar. kita tutup, kita tinggalkan,
- kita katakan bangun yuk
- salat. Tetap kita balik, kita kembali
- kepada diri
- kita. Kita tegas
- insyaallah dia akan
- berubah. Insyaallah dia akan
- berubah. Insyaallah. Ee yang
- kedua ya.
- Jadi rida
- Allah ada pada rida
- suami. Rida Allah ada rida pada orang
- tua. Nah, anak laki-laki atau anak
- perempuan kepada orang
- tua. Kalau anak perempuan kepada suami.
- Jadi anak perempuan itu ada
- dua, kepada suami,
- kepada orang
- tua. Bagaimana sekarang ketika mau sama
- orang tua sedangkan dia mau pergi ke
- luar
- kota, mau jalan ke keluar kota, enggak
- bisa.
- Dia
- [Musik]
- bingung bagaimana
- ini. Kita kembali yang seperti yang tadi
- sudah dikatakan, kita kembali kepada
- proses daripada ketentuan pada orang
- tua. Walaupun kita jauh, kita di luar
- kota, kita akan
- tetap kita tetap berkomunikasi. Sekarang
- sudah pakai WA, pakai ee telepon, sudah
- otomatis. Kalau dulu pakai surat ya, ada
- interaksi itu yang dibutuhkan.
- mengabarkan
- kebaikan-kebaikan kepada orang
- tua. Kalau kita di luar kota, kita
- mengabarkan
- kebaikan-kebaikan. Apa yang terjadi?
- Bukan
- keluhan. Bukan kita ngomel di Instagram,
- "Oh, begini begini, wah begitu." Ah,
- buka.
- Tetapi kita
- mengabarkan, kita mengabarkan
- berita-berita yang
- baik kepada orang tua, itu namanya taat
- kepada orang
- tua. Berbuat
- baik kepada suami, baik, kepada orang
- tua baik. Ternyata tidak. Orang tua itu
- tidak
- bisa enggak bisa meninggalkan.
- Ditinggalkan enggak bisa. Kita panggil
- orang lain yang bisa
- merawatnya. Orang lain yang bisa
- merawatnya. Enggak ada juga yang lain
- yang merawatnya. Kita panggil
- suster. Kita berbuat baik kepada suster
- itu. Berapa ongkosnya kita berikan?
- Jadi dengan tenang agar supaya orang tua
- kita ini bebas
- senang. Orang tua enggak mau, maunya
- kepada saya. Nah
- loh, orang tua enggak mau dikirim
- suster. Orang lain enggak mau. Maunya
- kepada saya yang dicari saya
- terus. Sedangkan saya punya
- [Musik]
- suami. Baik. Katakan di luar kota, baik,
- Bu, Pak. Saya mau ke keluar kota dulu.
- Tetap
- semuanya. Nanti datang lagi berbuat baik
- lagi seminggu, 2 minggu berangkat lagi
- ke keluar
- kota. Itu nikmat. Yang penting bagaimana
- bisa berbuat baik, bisa melakukan
- kebaikan kepada ibu dan
- ayah. Itu yang penting. Nah, ridanya
- Allah kepada ridanya suami. Kalau
- suaminya dapat rida dari Allah, karena
- suaminya itu berbuat baik.
- ridanya
- suami karena Allah. Karena Allah melihat
- suami itu berbuat baik. Kalau suaminya
- tidak berbuat baik, dia perilakunya yang
- aneh, bagaimana Allah akan memberikan
- rida? Allah tidak akan memberikan rida
- kepada orang yang tidak baik.
- Ketika
- suami berbuat baik, melakukan kebaikan,
- istrinya melakukan kebaikan, maka
- ridanya kepada istri. Jadi Allah
- memberikan ridanya kepada istri, bukan
- suami yang memberikan rida.
- Jadi Allah memberikan rida kepada suami
- ee kepada istri karena suami. Dia
- berbuat baik kepada suaminya, dia
- melakukan kepada suaminya, Allah
- ridakan. Jadi yang punya rida Allah
- bukan
- suami. Yang punya rida Allah, bukan
- orang
- tua. Perbuatan baik kita kepada mereka
- Allah akan berikan.
- Karena perbuatan
- baik, kata-kata perbuatan baik akan
- mendatangkan
- kebaikan. Maka Allah akan berikan rida
- dengan
- kebaikannya. Insyaallah kalau kita
- melakukan kebaikan pasti Allah akan
- berikan
- kebaikan insyaallah. Masyaallah.
- Masyaallah. Memang segala sesuatu
- lagi-lagi sampaikan berita baik. Jangan
- mengeluh itu bukan hanya kepada satu dua
- orang atau siapapun ya, tapi pada semua.
- Kita masih punya sedikit waktu. Ustaz
- Husein bisa tambahkan.
- Hidup ini merupakan
- liku-liku yang penuh dengan
- cobaan. Lulus dari yang satu kita
- memasuki cobaan kedua. Masyaallah. Terus
- panjang hidup kita. H. Oleh karena itu,
- jangan pernah kita berlari dari cobaan,
- masyaallah. Tapi mohon kepada Allah
- bantuannya untuk menghadapi cobaan
- tersebut dengan sebaik-baiknya. Betul.
- Oleh karena itu Allah Subhanahu wa taala
- dengan tegas mengatakan, "Qul ma ya
- bikumbi laulaukum." Katakan, "Tuhan
- kalian tidak akan peduli pada kalian
- kecuali kalau kalian minta." Oh.
- Kalau manusia kita minta sekali dia
- berikan, dua kali dia berikan, ketiga
- kali mukanya
- berubah, kemudian sering-sering kita
- meminta, akhirnya dia memandang remeh
- kita. Sebaliknya Allah
- semakin sering kita datang kepada Allah,
- mohon kepadanya, semakin betul-betul
- apa? Kita mendapatkan kecintaan dari
- Allah.
- Bahkan Allah mengumumkan
- [Musik]
- waqukumuniakum kalian berkata, "Mohonlah
- padaku, aku akan kabulkan permintaan
- kalian." Ada enggak kira-kira makhluk di
- sekeliling kita ini yang mengumumkan hal
- ini kepada saudara-saudara? Enggak,
- enggak ada. H kalau Allah Anda ingin
- minta siang hari, sore, malam hari, Anda
- bisa bermunajat langsung bersama Allah
- menyampaikan kelul kesah Anda, harapan
- Anda, dan insyaallah bantuan Allah akan
- hadir dengan cepat.
- Bahkan Allah mengatakan kepada rasulnya,
- "Waid sa'alaka
- ibadi kalau hambaku bertanya padamu, di
- mana aku?" Aku amat dekat, dekat, dekat
- yang luar biasa. Dalam bahasa Arab kata
- qarib itu namanya sifah musyabbah. He.
- Menunjukkan betapa dekatnya Allah. Tapi
- sayang Allah tidak pernah kita toleh.
- Jangankan kita pandang tidak kita toleh
- kecuali pada saat kita kepepet kejepit
- baru kita menoleh kepada Allah. Baru.
- He. Oleh karena itu, dalam menghadapi
- liku-liku kehidupan ini berlari berarti
- kita meninggalkan ujian. He. Kita akan
- gagal. Nah, banyak orang berlari dengan
- menyibukkan dirinya. Ada yang berlari
- dengan mempergunakan berbagai macam
- apa kesenangan yang Allah berikan
- padanya. Tiap dia diingatkan kepada
- Allah, dia marah. Kamu bikin hati enggak
- enak aja. Seharusnya kalau diingatkan
- kepada Allah, hati bergembira kan.
- Hatinya bergetar, penuh kerinduan, penuh
- harap kepada Allah Subhanahu wa taala.
- Masyaallah. Tapi
- kesimpulannya, ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah, Mbak
- Nuning, Ustaz Abu Bakar, kita
- semua ingin menunjukkan ke jalan terang.
- Betul sesuai dengan pengalaman hidup
- kita. H paling indah pada saat kita
- dalam seluruh kebutuhan kita kita
- bergantung dan berharap Allah dalam saat
- yang bagaimanapun sulitnya, Heeh. Allah
- mengulurkan tangannya di tengah-tengah
- kegelapan hidupnya. Oh. Dan kita rasakan
- pada saat itu selama ini kita ini lalai
- menjalankan kewajiban kita pada Allah.
- Sedangkan Allah selalu peduli memberikan
- perhatian kepada kita. Bahkan pada
- hal-hal yang jarang kita ingat. Jantung
- kita
- berdenyut satu harinya. Coba berapa kali
- denyut jantung
- kita, paru-paru kita kembang dan kuncut.
- Heeh. Baru kita menyadari begitu salah
- satu paru-paru kita tidak berkembang
- lagi, baru kita merasakan. Merasa.
- Begitu juga pada saat dia merasakan
- gangguan pada jantungnya, tiap kali dia
- merasakan serangan di ingat pada Allah
- Taala. Begitu juga orang yang cuci
- darah. Saya ingat seorang berkata,
- "Ustaz, apa artinya hidup ini?" Saya
- bilang, "Kamu tuh bersyukur pada Allah."
- Kenapa pada saat
- ini disebabkan karena penyakit kamu yang
- dulu biasa kamu lakukan dengan harta
- kamu keliling dunia bermain
- perempuan. Sekarang Allah Subhanahu wa
- taala hentikan hentikan.
- Kalau Allah wafatkan kamu pada saat itu
- yang ada suul khatimah.
- Tapi Allah berikan kesempatan buat kamu
- bertobat. Sampai orang ini ketika dia
- merasa putus asa sudah tidak ada
- kenikmatan hidup sama sekali. Dia pergi
- umrah bersama
- keluarganya. Kemudian pada waktu cuci
- darah dia putuskan untuk tidak cuci
- darah. Dia
- terkapar di hadapan Ka'bah. Dia ingin
- pergi kembali kepada Allah Taala.
- Ternyata ketika dia membuka matanya
- dipikir sudah sampai di akhirat.
- Ternyata berada di rumah sakit biasa
- cuci darah karena dia punya kartu
- keanggotaan. He saya bilang Allah
- berikan kesempatan buat kam pergunakan
- kesempatan ini untuk kembali pada Allah
- Subhanahu wa taala. Mudah-mudahan Allah
- ampuni dosa-dosa kamu. Karena orang baru
- menghargai arti hidup ini. Begitu dia
- berada pada saat-saat benar akan
- meninggalkan dunia baru dia menyadari
- dia punya modal yang begitu banyak untuk
- kembali kepada Allah. Bukan untuk
- membangun dunianya yang bakal apa? yang
- bakal runtuh, yang bakal ditinggalkan.
- Tapi dia membangun akhiratnya dengan
- potensi yang Allah berikan. Didik
- anaknya, dia juga berikan kesejahteraan
- buat anaknya. Mengingatkan mereka kepada
- Allah, berbuat kebaikan kepada sesama
- manusia. Begitu dia akan meninggal
- dunia, ketika datang malakul maut, dia
- mengatakan, "Ahlan birasul rabbi.
- Selamat datang utusan Tuhanku. Kau
- merupakan utusan yang aku rindukan ingin
- segera betul-betul berjumpa dengan Allah
- Subhanahu wa taala. Jadi jangan kita
- jadikan dunia ini sebagai tujuan kita.
- Jadikan dunia untuk membangun kehidupan
- yang sebaik-baiknya bagi diri kita,
- keluarga kita. Begitu pula untuk bekal
- hari akhir nanti. Subhanakallahumma
- wabihamdik ashadu alla ilahailla anta
- astagfiruka waubu walu minkum.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Ee ikhwan
- akhwat, dua kasus tadi bisa jadi
- menggambarkan sesuatu yang ada dalam
- tanda tanya kita. Kalau ada sesuatu yang
- ingin Anda tanyakan pun
- silakan di 0811999720.
- [Musik]
- Insyaallah apa yang dibahas oleh Ustaz
- Husein dan Ustaz Abu Bakar akan membuka
- sekat pemahaman baru kita. Baik, semoga
- kita semakin mampu menjadi sosok yang
- tepat dengan peran kita sebagai hamba
- Allah. Ya Allah, bimbing kami untuk
- mendapatkan rida dan ampunan-Mu. Sekali
- lagi terima kasih. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalamikumsalam.
- [Musik]